Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 1

- S. H. Mintardja -

NAGA SASRA & SABUK INTEN


§

AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.

Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.

Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.

Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.

Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut.

Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.

Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.

Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.

Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.

Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.

Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.

Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.

Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.

Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu.

Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.

Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.

Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu.

Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.

Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.

TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu.

Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.

Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.

“Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.

Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo.

Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.

Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.

Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.

Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima.

Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.

Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang.

Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.

“Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.

Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya.

Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.

Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya.

Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya.

“Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.”

Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.

“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.

Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”

Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.
Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!”

Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.”

Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini.

SEORANG pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka?

Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi.

Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi. “Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami.”

Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati.

“Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri?”

Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu.

“Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang,” kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula.

“Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang.

“Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara.”

Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik.

“Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.”

“Belum cukup,” jawab Baureksa semakin marah. “Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang?”

Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam.
Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu.

“Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa?” tanya Demang tua itu.

Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya.

“Orang itu harus berkata sebenarnya,” katanya.

“Kalau tidak mau?” pancing Demang itu.

“Dipaksa!” jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu.

“Bagus… terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya.

Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik.

Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?.

Berbeda sekali dengan pikiran Baureksa.Ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya.

Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya.

“Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu,” pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka.

“Gagak Ijo…!” tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras.

Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Baureksa.

Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.

“Suruh orang itu bicara,” perintah Baureksa.

“Bicara tentang apa Kakang?” tanya Gagak Ijo.

Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras, “Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”-

Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu.

Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang.

PERISTIWA semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

“Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.

“Siapa namamu?”

Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya.

“Namaku Mahesa Jenar.”

Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa.

“Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.”

Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya.

“Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”

“Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar.

Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras.

“Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.”

Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah.

“Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum.

Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar.

Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.

Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.

Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.

Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala.

Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada.

GAGAK IJO membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas. Sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali.

Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya.

Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya?

Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal.

Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada.

Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai di mana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji.

Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri.

Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karena itu sebelum cambuk Baureksa sempat
mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali di samping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu. Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh.

Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar.

Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti.

Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya.

Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak.

Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya.

Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula. Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali.

Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan.

Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab.

Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan.

Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa.

SEMENTARA itu Baureksa dan Gagak Ijo telah diangkat orang ke dalam sambil menunggu Ki Asem Gede. Kini perhatian orang seluruhnya tertumpah kepada Mahesa Jenar yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada Demang Pananggalan, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah seterusnya yang akan diperbuat oleh demang tua itu?

Sebenarnya pada saat itu Demang Pananggalan telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke rumah kademangan dan memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang memasuki gelanggang.

“Kakang Demang,” kata orang itu dengan nada yang berat berwibawa, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri terhadap orang asing ini.”

Alangkah terkejutnya Demang Pananggalan melihat orang itu memasuki gelanggang. Ia menjadi kebingungan, sebab sama sekali ia tidak menduga bahwa persoalannya akan berlarut-larut. Orang itu adalah pemimpin pasukan yang menangkap Mahesa Jenar tadi, dan ia adalah adik kandung demang tua itu. Beberapa kali adik kandungnya yang bernama Mantingan itu menyatakan ketidaksenangannya atas sikap Baureksa yang sering adigang-adigung-adiguna. Dan mendadak ia ingin membelanya.

Melihat kebingungan dan keragu-raguan Demang Pananggalan, Mantingan menyambung, “Aku tidak akan membela seseorang, Kakang. Tetapi aku tidak mau orang lain menyangka betapa lemahnya kademangan ini. Kami tidak tahu siapakah orang asing itu. Syukurlah kalau ia bermaksud baik, tetapi kalau orang itu ingin menjajagi kekuatan kita, alangkah berbahayanya. Sedangkan keterangan yang diberikan bukanlah berarti suatu kebenaran yang harus kita percaya demikian saja.”

“Tetapi maksudku bukan kau, Mantingan,” kata demang itu tergagap. Sebab ia tahu bahwa adiknya adalah orang yang berilmu. Ia adalah orang yang lebih hebat daripada dirinya sendiri. Ia adalah murid kedua Ki Ageng Supit di Wanakerta.

Mantingan adalah seorang dalang yang secara kebetulan sedang mengunjungi kampung halamannya, yang baru saja didatangi oleh gerombolan yang menculik gadis-gadis. Dan Mantingan diminta untuk sementara tetap tinggal, kalau ada kemungkinan gerombolan penculik itu datang kembali.

Tetapi saat itu Mantingan seperti tidak mendengar kata-kata kakaknya. Ia segera menyerahkan trisulanya kepada orang terdekat yang dengan gugup menerima senjata itu tanpa kesadaran.

“Ki Sanak,” kata Mantingan kepada Mahesa Jenar dengan sopan, “aku belum pernah bertemu dengan kau sebelumnya dan juga belum pernah mempunyai suatu persoalan apapun. Tetapi tadi kau telah mempertunjukkan ketangkasan dan ketangguhanmu. Maka perkenankanlah aku sekarang mencoba untuk melayanimu dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki.”

Mahesa Jenar sibuk menduga-duga dalam hati. Orang ini sikapnya agak berbeda dengan orang lain yang berada di situ. Menilik sikapnya, sudah seharusnya kalau Mahesa Jenar lebih berhati-hati melawannya.

“Dan sekarang,” sambung Mantingan, “awaslah… aku mulai.”

Dan sesudah itu, benar-benar ia mulai menyerang. Langkahnya tetap ringan. Ia membuka serangannya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya bersilang melindungi dada.
Melihat serangan ini, Mahesa Jenar terkejut. Ia kenal gerakan pembukaan ini. Ketika orang itu dipanggil namanya, sama sekali ia tidak menduga bahwa orang itu pulalah yang berdiri di hadapannya. Bahkan sedang mengadu tenaga dengan dirinya. Ia adalah Dalang Mantingan dari Wanakerta, murid Ki Ageng Supit. Ia sering mendengar nama itu. Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama: Samber Nyawa.

Gerak pembukaan ini jelas berasal dari Ki Ageng Supit, yang meskipun belum setaraf dengan gurunya tetapi Ki Ageng Supit juga mempunyai nama yang dikagumi.

Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat berpikir banyak. Sebab ia segera sibuk melayani lawannya, yang bergerak menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang cukup tangguh. Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat hanya bersikap mengelak dan menghindar saja. Ia tidak bisa hanya bersikap mempertahankan diri saja. Untuk mengurangi kebebasan gerak lawannya, ia harus ganti menyerang.

Serangan Ki Dalang Mantingan semakin lama menjadi semakin hebat pula. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat dibarengi gerak kakinya yang ringan cekatan. Sekali tangan Mantingan itu sudah berubah menyambar kening. Tetapi Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja, dan ia adalah murid Pangeran Handayaningrat yang juga disebut Ki Ageng Pengging Sepuh.

Untuk melawan Mantingan, sengaja Mahesa Jenar mempergunakan tanda-tanda khusus dari perguruannya, sebab jelas bahwa perguruannya mempunyai beberapa persamaan dengan gerak-gerak yang dilakukan oleh Mantingan.

Segera Mantingan pun dapat pula mengenal tata berkelahi Mahesa Jenar yang juga seperti ilmunya sendiri, mempunyai sumber yang sama. Yaitu peninggalan almarhum Bra Tanjung, yang diwarisi oleh Raden Alit yang sedikit bercampur dengan gerak-gerak penyerangan yang mantap dari Lembu Amisani. Tetapi yang ia tidak tahu dari manakah Mahesa Jenar mempelajari tata berkelahi itu, yang memiliki banyak perubahan dan penyempurnaan-penyempurnaan dengan gabungan-gabungan yang tepat dan berbahaya.

Itulah sebabnya Mantingan harus berhati-hati benar dan memeras segala kepandaiannya untuk memenangkan pertandingan ini.

KETIKA Mantingan berhasrat untuk cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini, ia memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk kemudian sebagai angin ribut melanda lawannya.

“Hebat …!” pikir Mahesa Jenar ketika ia menerima serangan bertubi-tubi dari Mantingan.

“Memang perguruan Wanakerta memiliki keistimewaan yang tak dapat diabaikan.”

Kemudian terpaksa ia membuat beberapa langkah surut. Tetapi Ki Dalang Mantingan tidak menyia-nyiakan tiap kesempatan. Cepat ia maju dengan melancarkan gempuran-gempuran hebat.

Rupa-rupanya Ki Dalang Mantingan menjadi agak gusar ketika serangan serangannya tidak segera dapat mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya seperti Gagak Ijo dan Baureksa.

Demang Panggalan menjadi semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki orang asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cedera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Istana Demak. Tetapi disamping itu, Demang Pananggalan sangat sayang kepada adiknya, dan ia sama sekali tidak rela kalau adiknya mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya.

Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Mantingan menjadi semakin dahsyat dan ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri sehingga geraknya tak terkekang lagi.

Ketika serangannya yang dilancarkan dengan kedua tangannya sekaligus mengarah ke sasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Mahesa Jenar, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut Mahesa Jenar. Melihat perubahan itu Mahesa Jenar terpaksa meloncat mundur.

Tetapi Mantingan rupa-rupanya sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka, demikian Mahesa Jenar meloncat mundur, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama. Rupa-rupanya Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa serangan-serangan Mantingan akan sedemikian bertubi-tubi datangnya, sehingga terasalah tumit Mantingan mengenai pinggangnya.

Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit.

Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi.

Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian.

Dan memang sebenarnyalah demikian.

Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut.

Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi.

Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah.

Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan.

Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini.

Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.

Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak.

Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu.

Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.

“Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi?”

Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti.

Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo.

“Apa yang terjadi …?” ulangnya.

Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih.

KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya. “Anakmas, apa yang terjadi?” tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan

“Apa yang terjadi?” ulangnya kembali.

Demang Pananggalan merasa sulit untuk memberi jawaban. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, kenapa ini sampai terjadi?

Ketika Pananggalan tidak segera menjawab, Ki Asem Gede kembali memandang kepada Mahesa Jenar. Matanya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia masih belum yakin kepada penglihatannya.

Ketika ia memasuki halaman itu, dan melihat pertarungan yang sengit, hatinya tersirap. Ia pernah melihat orang yang bertempur melawan Demang Pananggalan kakak-beradik.

Ia merasa pernah bertemu dengan orang itu di Demak, ketika ia bersama-sama dengan kakaknya, yang juga seorang ahli obat-obatan, memenuhi panggilan Panji Danapati, untuk mengobati anaknya yang sakit.

“Anakmas…” katanya kemudian, “bolehkah aku ini, orang tua yang tak berharga menanyakan sesuatu kepada anakmas?”

Melihat wajah orang tua itu, hati Mahesa Jenar menjadi lunak seketika, bahkan ia agak malu kepada diri sendiri yang masih sedemikian mudahnya terbakar oleh nafsu.

“Silahkan, Bapak…” jawabnya. “Apakah kiranya yang ingin Bapak ketahui?”

“Maafkanlah orang tua ini,” kata orang tua itu selanjutnya sambil menatap Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. “Maafkan aku, kalau aku berani mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Anakmas di Demak.”

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia mulai mengingat-ingat, apakah ia benar-benar pernah bertemu dengan orang itu.

“Aku pernah datang ke Demak,” sambung Ki Asem Gede, “bersama-sama dengan kakakku, untuk mencoba menyembuhkan sakit putera Panji Danapati, salah seorang perwira dari perajurit pengawal raja.”

Mendengar kata-kata Ki Asem Gede, tiba-tiba Mahesa Jenar jadi teringat pertemuannya dengan orang tua itu. Pada saat itu ia sedang berkunjung ke rumah kawan sepasukan yang pada saat yang bersamaan sedang memanggil dua orang tua untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Dan ia jadi teringat, bahwa salah seorang dari kedua orang itu, adalah yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Di sana…” Ki Asem Gede melanjutkan, “aku bertemu pula dengan seorang perwira lain, kawan Panji Danapati itu. Kenalkah Anakmas dengan Panji Danapati?”

Mahesa Jenar agak ragu, tetapi perlahan-lahan ia mengangguk juga.

“Nah…” kata orang tua itu pula, “kalau begitu aku tidak salah lagi, Anakmaslah yang aku jumpai di ndalem Danapaten. Benarkah?”

Mahesa Jenar masih saja ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin melupakan saja apa yang pernah terjadi. Meskipun sebenarnya ia masih ingin mengabdikan diri kepada negerinya, tetapi dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga, saudara seperguruannya, lebih baik ia menyingkirkan diri, dan mencari cara pengabdian yang lain.

Juga penegasan tentang dirinya akan mempermudah setiap usaha untuk menangkapnya, apabila ia dianggap berbahaya seperti Ki Kebo Kenanga. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi bentrokan dengan orang-orang yang sedang menjalankan kewajibannya, serta,kawan-kawan seperjuangannya dahulu. Maka lebih baik baginya untuk menjauhkan diri saja dari setiap kemungkinan itu.

Tetapi sekarang ia tidak dapat mengingkari pertanyaan orang tua itu. Karena itu, kembali Mahesa Jenar mengangguk lemah.

Oleh anggukan itu, tiba-tiba Ki Asem Gede membungkuk lebih hormat lagi dan dengan suaranya yang lembut ia berkata, “Kalau begitu Anakmas ini adalah tuanku Rangga Tohjaya.”

Perkataan Ki Asem Gede itu seperti petir datang menyambar telinga Ki Dalang Mantingan serta Demang Pananggalan. Ia pernah mendengar nama itu, bahkan nama itu terlalu besar untuk disebut-sebut sebagai seorang pahlawan yang sudah mengamankan Demak dari gangguan-gangguan kejahatan.

Mahesa Jenar sendiri agak terkejut juga mendengar nama itu disebutkan. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada mengiyakan. Sebab Ki Asem Gede itu pasti pernah mendengarnya dari Panji Danapati, bahwa ia sebagai seorang perwira pengawal raja, disamping namanya sendiri mendapat gelar Rangga Tohjaya.

Demang Pananggalan dan Ki Demang Mantingan masih berdiri termangu-mangu. Mereka masih belum yakin benar akan kata-kata Ki Asem Gede, sampai Ki Asem Gede menyapanya.

“Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, belumkah adi berdua pernah mendengar nama itu?”

Mereka berdua tersadar oleh sapa itu. Dengan hati-hati Demang Pananggalan mencoba bertanya, “Ki Asem Gede, aku memang pernah mendengar gelar itu serta kebesarannya, tetapi aku belum mengenal wajahnya, karena aku orang yang picik dan sama sekali tak berarti. Tetapi perkenankanlah aku bertanya bahwa beliau tadi berkenan menyebut gelarnya dengan Mahesa Jenar …?”

Ki Asem Gede tertawa lirih.

“Benar Adi berdua, Mahesa Jenar adalah namanya, sedang gelarnya sebagai seorang prajurit adalah Rangga Tohdjaja.”

Hati Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan berdegup keras.

Tetapi pandangan mata mereka masih mengandung seribu macam pertanyaan, sehingga akhirnya Mahesa Jenar sendiri mengambil keputusan untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya sebagai suatu hal yang tak mungkin lagi diingkari.

“Bapak Demang dan Kakang Mantingan, memang sebenarnyalah aku yang bernama Mahesa Jenar, telah menerima anugerah nama sebagai seorang prajurit, Rangga Tohjaya.”

Mendengar penjelasan itu detak jantung Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadap-hadapan dengan seorang yang sakti. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai terjadi Rangga Tohjaya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas.

Seperti digerakkan oleh satu tenaga penggerak, Dalang Mantingan dan Demang Pananggalan cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Mahesa Jenar, dan bersama-sama membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dada,

Demang Pananggalan berkata, “Kami mohon ampun ke hadapan Anakmas Rangga Tohjaya, bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Anakmas yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menjerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani.”

MAHESA Jenar terharu juga melihat Demang tua itu ketakutan. Sejak semula ia sudah menduga bahwa Demang tua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan Demang tua itu sendiri.

Maka berkatalah Mahesa Jenar, “Bapak Demang Pananggalan dan Kakang Mantingan, tak ada sesuatu yang harus aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang silahkan Ki Asem Gede mengobati kedua orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya benar-benar.”

Kembali Demang Pananggalan dan Mantingan mengagguk hormat, lalu mereka mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke Kademangan.

Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan keheran heranan. Mereka yang pernah mendengar nama Rangga Tohjaya dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berderai derai, seakan akan dengan mengenal nama itu mereka sudah terhitung orang yang terkemuka dalam kalangan kepahlawanan.

Sementara itu Ki Asem Gede sudah mulai melakukan kewajibannya. Ternyata luka Gagak Ijo dan Baureksa tidak ringan. Beberapa kali mereka tak sadarkan diri. Untung Ki Asem Gede segera turun tangan. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi.

Kecuali itu, ternyata Ki Dalang Mantingan juga mengalami cedera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti biasa dan di beberapa bagian yang terkena serangan Mahesa Jenar tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Mantingan cukup kuat sehingga Ki Asem Gede tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menolongnya.

Ketika keadaan sudah agak reda, dan Ki Asem Gede sudah tidak sibuk lagi, duduklah mereka di atas bale-bale besar di pendapa Kademangan, mengelilingi lampu minyak yang nyalanya bergoyang-goyang diayun-ayunkan angin.

Di luar, gelap malam mulai turun sebagai tabir raksasa berwarna hitam kelam. Sedangkan di langit satu demi satu bintang mulai bercahaya menembus hitamnya malam.

Mereka mulai berbicara dan bercerita tentang diri masing-masing. Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Diceritakannya seluruh masalah mengenai dirinya, kenapa ia sampai meninggalkan Demak.

“Aku telah menanggalkan pakaian keprajuritan dan telah menyisihkan segala macam senjata, dengan suatu keinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi rupa-rupanya Tuhan sendiri belum berkenan, sehingga aku masih dikendalikan oleh nafsu,” kata Mahesa Jenar.

Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala, dan mereka merasa juga bersalah, sehingga Mahesa Jenar terpaksa menyesali dirinya.

Sementara itu mulailah hidangan mengalir. Demang Pananggalan yang merasa telah menyakiti hati Mahesa Jenar, ingin sedikit mengurangi kesalahannya dengan menghidangkan apa yang mungkin dihidangkan pada saat itu. Sedangkan Ki Asem Gede, kecuali seorang yang bijaksana serta mempunyai ilmu obat-obatan, ternyata juga seorang yang jenaka. Banyak hal yang dapat ia ceritakan tentang dirinya dengan lucu sekali, sehingga suasana menjadi meriah dan akrab.

Diceritakan, bagaimana ia terpaksa sekali mengobati seorang yang sakit, hanya dengan air saja, tanpa ramu-ramuan obat yang lain. Sebab, pada saat itu ia sedang berada dalam perjalanan dan tak membawa obat-obatan yang diperlukan.

“Tetapi… tiga hari kemudian orang itu datang kepadaku, dengan membawa empat ikan gurameh sebesar penampi, sebagai ucapan terima kasih atas obat-obatku yang mujarab,” kata Ki Asem Gede.

“Sebabnya,” sambung Ki Asem Gede, kenapa obat-obatku banyak yang dapat berhasil, adalah sebagian besar dari mereka yang aku obati mempunyai kepercayaan kepadaku. Bahwa seseorang yang menderita sakit merasa berbesar hati, adalah merupakan obat yang banyak menolongnya. Lebih daripada itu, semuanya adalah berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi… —suara Ki Asem Gede terputus—.

Mereka yang mendengarkan jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba saja wajah Ki Asem Gede yang cerah menjadi muram? Beberapa kali ia menelan ludah, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.

“Tetapi…” ulang Mahesa Jenar yang ingin mendengar kelanjutan ceritera Ki Asem Gede itu.

“Ah tak apalah,” tukasnya. “Segala sesuatu ada pengecualiannya. Sebagai seorang yang beratus bahkan beribu kali menyembuhkan orang sakit, maka sekali-kali Tuhan tak memperkenankan juga. Itu adalah suatu bukti akan kebesaran-Nya,” lanjut Ki Asem Gede.

Mahesa Jenar maklum bahwa ada sesuatu yang tak mau ia sebutkan. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut.

“Nah… Anakmas…” sambung Ki Asem Gede kemudian, sambil berusaha untuk mengembalikan suasana, “kenapa tidak saja Anakmas berceritera tentang apa yang Anakmas jumpai di perjalanan. Tidakkah Anakmas menjumpai kejadian kejadian yang lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini? Seorang seperti Adi Pananggalan dan Adi Mantingan berlagak sebagai seorang sakti.”

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar tersenyum, demikian juga Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan, meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka masih tergetar.

KARENA pertanyaan itu, Mahesa Jenar teringat akan keperluannya datang ke desa itu. Yaitu, ingin mengetahui jawaban teka-teki tentang adanya kerangka yang dijumpainya di puncak Gunung Ijo.

“Ki Asem Gede, Bapak Demang Pananggalan serta Kakang Mantingan. Memang sebenarnya ada aku jumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah sebabnya maka aku datang kemari.”

Ketika Mahesa Jenar tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang mendengarkanpun menjadi bersungguh-sungguh pula.

“Di puncak Gunung Ijo,” sambung Mahesa Jenar, “aku jumpai sesuatu yang mencurigakan. Alat-alat minum yang berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk sesaji, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat itu, aku ketemukan pula kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.”

Mendengar pertanyaan itu Demang Pananggalan menundukkan muka dalam-dalam. Ki Asem Gede mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya, sedangkan Dalang Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Melihat keadaan itu maka makin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa daerah ini pasti langsung mengalami bencana yang bertalian dengan peristiwa Gunung Ijo.

“Anakmas…” jawab Ki Demang Pananggalan dengan suara yang dalam. “Akulah orangnya, kalau ada orang tua yang sama sekali tak berguna.”

Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Apalagi aku sebagai seorang Demang, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.”

Kembali Demang tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh menusuk gelapnya malam. Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok sambil berceritera tentang kehebatan pertarungan siang tadi.

Demang Pananggalan mengeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus gelap, seolah-olah ada yang dicarinya di kegelapan itu. Tetapi rupa-rupanya ia ingin melanjutkan ceriteranya. Ki Demang pun meneruskan ceritanya.

“Ketika itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Didesa ini mereka berhenti dan minta untuk menginap barang semalam. Mereka memasuki desa ini menjelang senja. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap pimpinannya yang ramah maka kami tak dapat menolak permintaan itu. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang suami-isteri yang akan mengadakan ziarah ke Gunung Baka. Tetapi ketika malam pertama telah lewat, mereka minta untuk diperkenankan bermalam semalam lagi sambil melepaskan lelah dan mengadakan persiapan-persiapan untuk sesaji. Permintaan ini pun tak dapat aku tolak.”

Sekali lagi ia berhenti. Rupa-rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kemudian ia kembali menyambung ceritanya.

“Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada malam kedua mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat menyaksikan peristiwa itu. Pengantar gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya sampai pingsan.”

Maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami. Segera Banjar Kademangan yang kami sediakan sebagai tempat penginapan mereka, kami kepung rapat-rapat. Mereka segera kami ancam untuk menyerah. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami, orang-orang hampir seluruh desa ini. Ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi.

Cepat-cepat kami menyerbu masuk. Tetapi rupa-rupanya mereka telah siap menanti kedatangan kami. Dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk bertempur. Apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang tangguh. Maka lenyaplah segala kesan keramah-tamahan mereka. Bahkan tampaklah betapa dahsyat cara mereka menjatuhkan lawan. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Segera orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur mati-matian. Dan aku beserta Baureksa dan Gagak Ijo sebagai orang-orang yang paling dapat dipercaya pada waktu itu, berhasil menerobos masuk ke banjar, sehingga kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan suami-istri pemimpin gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolah-olah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Si istri itu pun ternyata mempunyai ilmu yang tinggi, ditambah lagi betapa kasarnya cara mereka bertempur. Si Suami menerkam dan mengaum seperti harimau, sedangkan si isteri menyerang dengan jari-jari yang dikembangkan. Wajah-wajah mereka yang ramah itu sekarang sudah berubah menjadi wajah-wajah iblis yang menakutkan.

Tetapi aku sama sekali tidak peduli. Mungkin saat itu, akupun berkelahi seperti iblis. Tetapi kemudian ternyata bahwa kami bertiga bukanlah lawan mereka. Apalagi tenagaku adalah tenaga orang tua yang sangat terbatas. Ketika nafasku sudah mulai mengganggu, segera aku merasa terdesak, sedangkan serangan mereka semakin lama menjadi semakin kasar.”

Demang tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan,

“Saat itu aku sudah berpikir bahwa rupa-rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sebab daya tahanku semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi Baureksa dan Gagak Ijo sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata Tuhan menghendaki lain. Rupa-rupanya salah seorang telah memberitahukan kesulitan-kesulitan kami ini kepada Ki Asem Gede, yang pada saat yang tepat datang menolong kami.”

Demang itu berhenti berceritera. Pandangan matanya yang suram itu dilemparkan kepada Ki Asem Gede. Lalu katanya, “Selanjutnya Ki Asem Gede-lah yang lebih mengetahuinya.”

Mahesa Jenar mendengarkan cerita Demang tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang betapa Demang tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi rupa-rupanya lawannya adalah orang yang perkasa.

Ki Asem Gede yang diminta melanjutkan cerita itu, berkisar sedikit. Dipandangnya pelita yang nyalanya bergerak-gerak oleh angin yang berhembus ke pendapa. Ia batuk-batuk sedikit, lalu mulailah ia bercerita.

“Anakmas, sebenarnya bukanlah pertolongan yang aku berikan, tetapi semata-mata hanyalah karena kebetulan saja dan terutama atas kehendak Tuhan. Aku bukanlah orang yang mempunyai kepandaian yang cukup untuk bertanding. Kalau pada masa mudaku, sekali dua kali aku pernah terlibat dalam suatu pertarungan, itu sama sekali bukan karena aku mampu melakukannya, tetapi itu hanyalah karena kebodohan dan kesombonganku yang kosong saja.”

DIAM-DIAM Mahesa Jenar mengamati tubuh Ki Asem Gede yang sudah tua itu. Kulitnya sudah melipat-lipat dan hampir seluruh rambutnya, bahkan alisnya pun telah memutih seluruhnya. Namun gerak-geriknya masih tampak tanda-tanda kelincahan. Ini menandakan bahwa pada masa mudanya ia adalah seorang yang kuat. Bahkan mungkin sampai saat ini pun ia masih memiliki kekuatan itu.

“Pada masa mudaku,” sambung Ki Asem Gede, “memang aku pernah berguru kepada seseorang yang dikenal dengan nama Ki Tambak Manyar.”

Mendengar nama itu disebut-sebut, Mahesa Jenar terhenyak, sebab ia pernah mendengar nama itu dari almarhum gurunya bahwa almarhum Ki Tambak Manyar adalah seorang prajurit Majapahit yang tangguh. Karena itu, mau tidak mau ia harus memandang Ki Asem Gede sebagai seorang yang berilmu, baik dalam obat-obatan maupun ilmu tata berkelahi. Bahkan rupa-rupanya ia memiliki kecerdasan otak yang tidak mengecewakan pula.

“Tetapi,” lanjut Ki Asem Gede, “sebagai aku katakan tadi, aku tidak banyak mendapat kemajuan. Barangkali tubuhku terlalu ringkih untuk melakukan hal-hal yang berat dan keras. Karena itu Ki Tambak Manyar melatih aku dalam hal mempergunakan senjata sebaik-baiknya. Baik jarak pendek maupun jarak jauh. Dan ini adalah suatu keuntungan. Sebab ilmu ini dapat aku berikan kepada banyak orang sekaligus meskipun tidak sedalam-dalamnya, kecuali hanya kepada satu-dua orang saja. Terutama dalam hal mempergunakan bandil, panah, supit dan sebagainya.”

Orang tua itu berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia melanjutkan,

“Kepandaian yang tak berarti itu ternyata berguna juga dalam suatu waktu, dimana Adi Pananggalan hampir menjadi korban keganasan orang-orang berkuda itu. Ketika aku datang, penduduk kademangan ini telah kehilangan semangat dan hampir putus-asa. Sedangkan kalau sampai terjadi penduduk daerah ini melarikan diri, akibatnya akan hebat sekali. Orang-orang berkuda itu pasti akan melakukan tindakan-tindakan yang ganas dan kotor lainnya. Karena itu, segala usaha untuk mengusir mereka itu harus dijalankan. Pada saat itulah, maka aku mengumpulkan orang-orang yang sudah ketakutan itu dan berusaha untuk membangkitkan semangatnya kembali. Aku peringatkan kepada mereka bahwa sebaiknya kita melawan orang-orang berkuda itu dari jarak jauh, sebab dengan mengadu kekuatan sudah jelas bahwa kepandaian dan keperkasaan mereka jauh di atas kita. Dengan jumlah yang banyak dan serangan-serangan jarak jauh, mungkin kita akan berhasil mengacaukan mereka.”

Dengan mempergunakan senjata ini, lanjut Ki Asem Gede, rupa-rupanya semangat mereka bangkit kembali. Dan sebentar kemudian, setelah segala siasat ditentukan, mulailah kami menyerang orang-orang berkuda itu dari jarak jauh dan dari segala jurusan. Orang-orang kami mempergunakan panah, supit dan bandil. Sedang rupa-rupanya orang-orang berkuda itu tidak bersiap untuk melakukan pertempuran jarak jauh, sehingga berhasilah siasat kami untuk mengacaukan perhatian mereka. Apalagi kami mempergunakan panah yang ujungnya kami balut dengan kain berminyak serta kami nyalakan. Akhirnya pemimpin mereka suami isteri itu terpaksa keluar dari Banjar dan akhirnya merekapun dapat kami usir pergi.

“Tetapi yang menyedihkan kami adalah, Adi Demang Pananggalan, Baureksa dan Gagak Ijo, mengalami luka-luka yang cukup berat, serta tidak sadarkan diri. Apalagi gadis yang ditangkapnya itu. Ia mengalami ketakutan yang sangat sehingga akhirnya ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadarannya.”

Kembali Ki Asem Gede berhenti. Ia membetulkan duduknya dan seolah-olah menunggu Mahesa Jenar meresapi kata-katanya.

Bagi Mahesa Jenar, persoalannya menjadi semakin jelas. Bahwa pernah terjadi percobaan untuk menculik gadis di daerah ini. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan. Tetapi meskipun demikian, rupanya, di daerah ini rombongan itu berhasil mendapatkan gadis-gadis untuk korban upacaranya yang aneh itu.

“Kemudian sesudah itu…” Ki Asem Gede melanjutkan lagi, “di atas salah satu puncak pegunungan Baka, yaitu puncak Gunung Ijo, hampir tiap malam terlihat api yang menyala-nyala. Kami kemudian hampir memastikan bahwa rombongan orang-orang berkuda itu pergi ke sana. Kami merasa bahwa rombongan itu adalah rombongan yang berbahaya, tetapi kami tidak segera dapat memburunya sebab kami mengetahui kekuatannya.

Meskipun demikian kami memutuskan untuk pada suatu saat akan menyusul mereka. Mengusir mereka atau kalau mungkin menghancurkan mereka sama sekali. Akan tetapi beberapa waktu kemudian tidak lagi pernah nampak nyala api di puncak Gunung Ijo. Dan sekarang Anakmas datang dengan membawa penjelasan tentang apa yang kira-kira pernah terjadi di atas puncak Gunung Ijo itu.”

Cerita Ki Asem Gede diakhiri dengan suatu tarikan nafas yang panjang. Suatu tarikan nafas penjelasan.

Mahesa Jenar sekarang sudah pasti, bahwa orang-orang berkuda itu adalah orang orang yang mempunyai kepercayaan sesat.

Memang pernah terdengar adanya suatu aliran kepercayaan yang dalam upacaranya menggunakan gadis-gadis sebagai korban, disamping pemanjaan nafsu-nafsu lahirlah yang lain. Minuman keras, makan dengan suatu cara yang hampir dapat disebut buas, dan sebagainya.

Suasana kemudian menjadi sepi. Sedang malam semakin lama semakin dalam. Mereka dihanyutkan oleh pikiran masing-masing serta gambaran-gambaran yang mengerikan tentang apa yang terjadi atas gadis-gadis yang dijadikan korban kepercayaan sesat semacam itu.

DI bagian belakang rumah Kademangan itu, tampak adanya suasana yang berbeda sama sekali. Beberapa orang perempuan sedang sibuk mempersiapkan makan malam yang kali ini berbeda dengan kebiasaan, karena adanya seorang tamu yang sangat mereka hormati. Mereka telah menyembelih beberapa ekor ayam yang paling besar yang dapat mereka tangkap. Mereka juga telah mengundang juru masak yang paling terkenal di Kademangan itu. Sehingga tiba-tiba saja seolah-olah Demang Pananggalan sedang melangsungkan suatu perhelatan.

Di pendapa Kademangan, Ki Asem Gede-lah yang mula-mula mencoba memecahkan kesepian, dan berusaha untuk mengubah suasana, melenyapkan ketegangan yang mencekam.

“Adi Pananggalan, tidakkah Adi berhasrat menjamu Anakmas Mahesa Jenar? Tentang ceritera orang-orang berkuda itu, baiklah kita simpan lebih dahulu, sampai kesempatan lain. Aku kira Anakmas Mahesa Jenar perlu melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh serta telah meladeni Adi berdua bermain loncat-loncatan. Nah, Adi Pananggalan, aku ada usul. Adi pasti setuju kalau gamelan Adi Pananggalan itu dibunyikan.” kata Ki Asem Gede kepada Demang Pananggalan.

Demang Pananggalan tersenyum mendengar usul itu. Memang ia mempunyai seperangkat gamelan yang bagus, baik bahannya maupun bunyinya. Tentu saja Demang Pananggalan tidak dapat menolak usul itu. Maka, katanya kepada orang-orang yang berada di halaman,

“Siapa yang di luar?”

“Aku, Bapak Demang,” jawab salah seorang diantaranya.

Sebentar kemudian orang itu berdiri dan melangkah naik ke pendapa.

“Berapa orang seluruhnya?” tanya Demang tua itu lebih lanjut.

“Enam atau tujuh orang, Bapak Demang,” jawab orang itu.

“Nah, aku kira telah cukup. Mari kita bermain-main dengan gamelan. Ki Asem Gede ingin mengenang masa mudanya sebagai seorang penggemar gending,” ajak Demang Pananggalan.

Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh.

“Lebih dari itu…, aku adalah seorang penari juga. Tetapi tidak adakah seorang pesinden yang baik di desa ini?” sahut Ki Asem Gede.

Kembali Ki Demang Pananggalan tersenyum, juga Mahesa Jenar dan Mantingan. Rupanya Ki Asem Gede adalah seorang penggemar uyon-uyon.

“Nah, kalau begitu panggil Nyai Jae Manis,” kata Demang Pananggalan kepada orang tadi, yang sudah turun ke halaman.

“Baik Bapak Demang,” jawabnya, sambil melangkah turun. Sebentar kemudian terdengar suara berbisik-bisik dan meledaklah tawa yang tertahan dari orang-orang yang berada di halaman.

“Tetapi yang paling gembira dengan usul ini,” sambung Ki Asem Gede, “adalah Adi Mantingan, yang telah beberapa lama tidak mendengar suara gamelan.”

Kembali terdengar mereka tertawa riuh.

Sebentar kemudian mulailah segala sesuatunya berlangsung dengan meriah. Hidangan yang disiapkan oleh Nyai Demang satu demi satu mengalir keluar. Sementara itu bunyi gamelan yang berpadu dengan suara Nyai Jae Manis benar-benar dapat membelai hati pendengarnya.

Di halaman, satu demi satu orang berdatangan untuk turut serta menikmati suara pesinden kenamaan dari daerah ini.
Tetapi belum lagi mereka puas menikmati semuanya itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang berlari kencang. Makin lama makin dekat dan makin dekat.
Mendengar derap kuda itu, Demang Pananggalan, Mantingan, Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar serentak mengangkat mukanya untuk mengetahui dari mana arah kedatangan mereka. Sedangkan di halaman segera terjadi keributan. Perempuan-perempuan berlari-lari kesana-kemari, anak-anak menangis menjerit-jerit. Mereka masih belum melupakan peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika ada rombongan orang-orang berkuda yang mengganggu ketenteraman desa mereka.

Untunglah bahwa Demang Pananggalan cepat bertindak. Ia segera meloncat ke halaman dan mengatasi keadaan.

“Perempuan dan anak-anak masuk ke rumah,” perintah Demang Pananggalan dengan suara nyaring.

“Sedangkan semua laki-laki di halaman ini, segera memencar dan berusaha untuk mendapatkan senjata apa saja. Kita masih belum tahu siapakah yang datang, tetapi keselamatan desa ini di tangan kalian,” lanjut Demang.

Laki-laki Kademangan ini bukanlah bangsa pengecut. Tetapi meskipun demikian, hati mereka berdebar-debar juga mengenangkan kebuasan orang-orang berkuda yang datang beberapa waktu yang lalu.

Cepat-cepat mereka berpencar dengan senjata seadanya di tangan masing-masing. Karena mereka sama sekali tidak bersiaga, maka kecuali yang sedang bertugas ronda, mereka semuanya tidak bersenjata. Untuk mencukupi kebutuhan, ada yang memegang sabit rumput, kapak pembelah kayu, kayu penumbuk padi, kayu tajam untuk mengupas kelapa, bahkan ada yang bersenjata perunggu wilahan gamelan, di tangan kanan dan kiri.
Beberapa orang yang rumahnya berdekatan dengan pendapa kademangan, berloncatan pulang untuk mengambil tombak, pedang dan apa saja yang ada untuk mempersenjatai kawan-kawan mereka.

Tetapi getaran hati mereka terasa jauh berkurang ketika mereka melihat di atas tangga pendapa kademangan berdiri Ki Asem Gede dan Ki Dalang Mantingan dengan trisulanya di tangan, serta tamu mereka yang gagah perkasa, Mahesa Jenar, yang juga bergelar Rangga Tohjaya, dengan sikap yang tenang dan meyakinkan.

Pada saat itu, suara derap kuda itu sudah demikian dekatnya. Sesaat kemudian mereka melihat empat orang penunggang kuda berturut-turut menyusup regol memasuki halaman Kademangan.

Ketika para penunggang kuda itu melihat kesiap-siagaan orang-orang di halaman itu, mereka tampak terkejut, dan sekuat tenaga mereka menarik kendali kuda masing-masing sehingga kuda-kuda itu berdiri dan meringkik-ringkik. Secepatnya kuda itu menjejak kaki depannya di atas tanah, secepat itu pula para penunggangnya berloncatan turun.
Bersamaan dengan itu, lega pulalah hati setiap orang yang berdiri di halaman, karena mereka menyaksikan bahwa kedua penunggang kuda yang di depan tampak samar-samar oleh cahaya lampu, memakai sabuk putih, serta segulung tali berjuntai di pinggangnya dan di pinggang yang lain tergantung kantong yang berisi batu-batu pilihan. Itulah ciri-ciri murid Ki Asem Gede yang bersenjatakan bandil. Dua orang yang lain pun tidak menunjukkan tanda-tanda yang berbahaya, meskipun di pinggang mereka tergantung kapak yang tajamnya putih berkilat-kilat oleh cahaya lampu.

WAJAH Ki Asem Gede segera berkerut ketika menyaksikan orang-orang berkuda yang datang itu. Dijelaskan bahwa ia sedang berusaha untuk menguasai debar jantungnya.
Begitu kedua murid Ki Asem Gede menjejakkan kakinya, segera mereka dengan cepat menghadap gurunya, sedangkan kedua orang yang lain berdiri sambil memegang kendali keempat ekor kuda itu.

Kedua murid Ki Asem Gede itu segera membungkuk hormat, dan salah seorang diantara mereka berkata, “Ki Asem Gede, kedua kawan ini adalah murid-murid Ki Wirasaba.”

Mendengar laporan itu wajah Ki Asem Gede makin berkerut. Ia memandang kepada kedua orang itu dengan gelisah, lalu dengan langkah cepat ia mendekatinya. Rupanya ia ingin berbicara dengan orang-orang itu tanpa didengar oleh orang lain.

“Bagaimana?” tanya Ki Asem Gede, setelah orang itu mendekat. Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, tetapi karena jaraknya tak begitu jauh, maka suara itu terdengar juga oleh orang-orang yang berdiri di atas tangga.

Dua orang itu sebelum menjawab, matanya menyambar beberapa orang yang berdiri di halaman, lalu ke Ki Asem Gede.

“Katakanlah,” desak Ki Asem Gede.

“Mereka telah menculik Nyi Wirasaba,” jawab salah seorang diantaranya.

“He..?” Ki Asem Gede terkejut bukan alang-kepalang, tubuhnya yang sudah kisut itu menggigil.

“Kalian tak berbuat apa-apa?”

Kedua orang itu menundukkan kepala. Mereka tak berani memandang wajah Ki Asem Gede yang sedang menahan gelora hatinya.

“Kami telah mencoba, tetapi kekuatan kami tak berarti. Dua orang kakak seperguruan kami telah mereka lukai dengan berat, dan bagi kami satu-satunya adalah melaporkan ini kepada Ki Asem Gede. Tetapi kebetulan Ki Asem Gede tiada di rumah, sehingga kami tadi diantar kemari.” jawab orang itu. Tampaklah tubuh Ki Asem Gede semakin menggigil.

Diluar dugaan mereka yang berada di halaman itu, tiba-tiba secepat kilat Ki Asem Gede meloncat ke atas salah satu kuda itu. Sekali tarik kendali, kuda itu telah berputar dan meluncur bagai anak panah.

Mereka yang menyaksikannya menjadi terpaku diam, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Demikian juga keempat orang yang datang berkuda tadi, berdiri saja tegak seperti patung.

Belum lagi mereka tersadar, mendadak mereka melihat sesosok tubuh melayang pula ke atas punggung kuda yang satu lagi. Dengan kecepatan yang luar biasa pula, kuda ini melompat mengikuti arah larinya kuda yang dinaiki oleh Ki Asem Gede.

Orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar. Ketika ia mendengar percakapan Ki Asem Gede dengan keempat orang berkuda itu, ia sudah mengira kalau terjadi sesuatu. Maka ketika secepat itu Ki Asem Gede melarikan kudanya, ia makin yakin bahwa tentu ada kesulitan dengan menantunya. Dan dialah orang yang pertama-tama dapat menguasai dirinya dari pergolakan perasaannya, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengikuti orang tua itu.

Kuda Ki Asem Gede lari dengan kecepatan penuh di malam yang gelap dengan meninggalkan debu putih yang berhambur-hamburan, ke arah utara menyusur kali Opak. Jalannya begitu sempit dan berbahaya. Tapi Ki Asem Gede sama sekali tak menghiraukan. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Pucangan, dimana ia yakin kalau anaknya, Nyi Wirasaba, ditahan. Ia tahu betul bahwa segerombolan orang-orang ternama di daerah itu, yang merasa cukup mempunyai kesaktian, menjadi takabur dan berbuat sewenang-wenang.

Kejahatan-kejahatan seringkali mereka lakukan. Pemerasan dan penganiayaan. Dan yang paling jahat adalah pengambilan istri orang. Ini mereka lakukan, karena mereka merasa tak terkalahkan. Bahkan mereka juga mengambil gadis-gadis untuk dijadikan istri mereka yang keempat, kelima atau kesekian. Tak seorangpun yang dapat mencegahnya. Sedang kali ini yang menjadi korban adalah anak Ki Asem Gede.

Mengingat semuanya itu, hati Ki Asem Gede bergolak hebat sekali karena marahnya. Sejak ia mengasingkan diri di Asem Gede, ia sudah tak pernah lagi berangan-angan bahwa pada suatu kali ia masih harus bertempur. Ia merasa sudah masanya menyepi dan mempergunakan sisa hidupnya untuk diabadikan pada perikemanusiaan.

Tetapi menghadapi persoalan seperti sekarang ini? Wajah Ki Asem Gede yang lunak dan damai itu berubah menjadi merah darah. Mulutnya terkatub dan giginya gemeretak. Kudanya yang berlari seperti setan itu rasa-rasanya begitu lambatnya, sehingga berkali-kali Ki Asem Gede terpaksa menggebraknya.

Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki kuda Ki Asem Gede itu, telah menolong Mahesa Jenar untuk dapat mengikutinya dari jarak yang agak jauh. Untunglah bahwa kudanya agak lebih baik sedikit dari kuda Ki Asem Gede, sehingga jarak mereka makin lama makin dekat.

Berapa lama mereka berkuda, tak lagi terasa, karena perasaan mereka masing-masing begitu tegangnya. Ki Asem Gede ingin segera sampai ke tempat tujuannya, sedangkan Mahesa Jenar sibuk menduga-duga apa yang sudah terjadi atas anaknya.
Perjalanan mereka kini menyusup belukar, menjauhi Sungai Opak. Meskipun keadaan di dalam belukar itu gelapnya bukan main, Mahesa Jenar mempunyai penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam, sehingga dengan mendengarkan derap kuda Ki Asem Gede, ia dapat menyusup lewat jalan sempit itu ke arah yang benar.

Setelah beberapa lama mereka menelusur jalan belukar, akhirnya mereka sampai ke mulutnya. Begitu mereka muncul dari belukar, terasa hawa sejuk menyapu muka. Mahesa Jenar lebih merasakan segarnya udara, sebab Ki Asem Gede perhatiannya penuh tertumpah kepada putrinya.

Kini jalan yang mereka lalui mulai menanjak dan berliku-liku. Rupanya mereka telah sampai di kaki Gunung Merapi. Lama-lama di sebelah timur telah membayang warna merah.

“Hampir fajar,” dengus Mahesa Jenar seorang diri. Kuda-kuda mereka kini telah mulai menyusur jalan persawahan. Juga di daerah ini padi sedang berbunga. Batang-batangnya yang berwarna hijau segar itu ditaburi oleh warna kemerahan fajar menjadi sedemikian bagusnya, sehingga untuk sementara Mahesa Jenar terpaku perhatiannya.

Tetapi ketika diingatnya orang tua yang di depannya itu semakin melarikan kudanya, ia pun segera mengesampingkan keindahan fajar. Sekali ia sentakkan kakinya, kudanya berlari semakin cepat seperti terbang.

Tiba-tiba kuda Ki Asem Gede membelok ke timur, dan sebentar kemudian menyusup masuk ke sebuah desa.

ITULAH Pucangan. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan jejak. Dengan ujung kendali, kudanya dicambuk agar melaju lebih cepat lagi.

Ki Asem Gede tak sedikit pun mengurangi kecepatan kudanya. Ketika sampai di muka sebuah rumah yang berhalaman luas dan beregol besar, ia membelokkan kudanya memasuki halaman. Kuda yang semula lari seperti kuda gila itu, langsung menuju ke pendapa rumah itu. Baru ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Ki Asem Gede menarik kendali dan berhenti di muka pendapa.

Pendapa itu ternyata tertutup dinding di empat sisinya. Pintunya masih tertutup rapat, dan lampu di dalamnya hanya menyala remang-remang. Cepat Ki Asem Gede turun dari kudanya. Sebentar ia tertegun. Tempat itu tampaknya sunyi. Tetapi ia yakin kalau putrinya berada di tempat itu. Itulah rumah pemimpin gerombolan orang-orang yang merasa dirinya tak dapat dirintangi kemauannya, bernama Samparan.

Ki Asem Gede mengetok pintu itu keras-keras. Sekali, dua kali, tak ada yang menyahut. Akhirnya Ki Asem Gede tak sabar lagi. Dengan kedua sisi telapak tangannya ia memukul daun pintu itu sekuat tenaga, hingga berderak-derak. Maka patahlah palang pintu itu, sehingga terbuka lebar-lebar. Cepat-cepat ia meloncat masuk, dan tampaklah olehnya lima orang sedang duduk di atas sebuah balai-balai bambu yang besar menghadapi meja kecil berisi bermacam-macam makanan dan minuman keras.

Kelima orang itu memandang Ki Asem Gede dengan pandangan kosong, dan sikap yang acuh tak acuh, sehingga Ki Asem Gede semakin marah.

”Kalian menculik anakku!” teriaknya. Sikap Ki Asem yang sudah tua itu tampak garang dan sama sekali berobah dari sifat keramah-tamahannya.

”Kami sudah mengira kalau kau akan datang ke pondokku yang jelek ini,” jawab salah satu dari kelima orang itu, yang rupanya adalah pemimpinnya, Samparan.

”Tetapi adalah kurang bijaksana kalau seorang tamu mesti merusak pintu,” sambung orang itu. Lalu terdengarlah suara mereka berlima tertawa berderai-derai.

Direndahkan demikian, Ki Asem Gede semakin marah. Cepat ia membungkuk mengambil palang pintu yang telah dipatahkannya tadi, dan dilemparkan sekuat tenaga ke arah meja kecil di atas bale-bale di antara kelima orang itu. Begitu hebatnya lemparan Ki Asem Gede sehingga meja kecil yang tertimpa palang pintu itu pecah berserak-serakan. Suara tertawa kelima orang itu jadi terputus karena terkejut.
Mereka cepat-cepat meloncat menjauh, dan turun dari balai-balai itu. Mereka sama sekali tidak mengira kalau orang tua itu masih memiliki tenaga yang sedemikian kuatnya.

Sebentar kemudian terdengar Samparan tertawa terbahak-bahak.

”Bagus …, bagus …. Alangkah hebatnya,” kata Samparan.

Ki Asem Gede sudah tidak mau mendengarkan lagi. Kembali ia berteriak.

”Aku datang untuk mengambil anakku.”

Lagi, Samparan tertawa, tapi kali ini tawanya dingin.

”Kami telah berbuat suatu kebaikan bagi penduduk di sekitar daerah ini, dengan menyimpan anakmu.”

”Apa kau bilang?” potong Ki Asem Gede.

”Anakmu telah melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk dengan mengganggu ketentraman rumah tangga orang, meskipun ia sudah bersuami.”

”Omong kosong!” teriak Ki Asem Gede semakin marah. Kembali Samparan tertawa.

”Sudah seharusnya kau tidak percaya, sebab kau ayahnya. Tetapi ketahuilah bahwa di daerah ini telah timbul keributan karena pokal anakmu. Bahkan lebih dari itu, di daerah barat daya telah timbul wabah penyakit. Kau tahu sebabnya? Ketahuilah, bahwa itu disebabkan karena salah istrimu itu pula, sehingga danyang-danyang menjadi marah.” sambung Samparan.

Ki Asem Gede sudah sampai pada puncak kemarahannya sehingga seluruh tubuhnya bergetar. Ia tahu benar betapa liciknya orang-orang itu, dan betapa pandainya mereka memutar balik kenyataan.

”Samparan…” jawab Ki Asem Gede dengan suara menggigil. ”Aku tahu siapakah kau. Jadi kau tak usah banyak bicara di hadapanku. Aku tahu bahwa anakku menolak menuruti kehendakmu dan kawan-kawanmu, gerombolan iblis ini, sehingga kau terpaksa menculiknya dan menyimpannya. Sekarang aku minta anakku itu kau serahkan kepadaku.”

Samparan mendengus lewat hidungnya, lalu berkata lagi, ”Aku tetap pada keteranganku. Dan kami berlima atas persetujuan rakyat di daerah ini, telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman atas anakmu itu. Aku hanya meniru apakah hukuman yang dijatuhkan pada orang demikian pada jaman dahulu, yaitu dilempari batu sampai mati.”
Mendengar jawaban itu, tubuh Ki Asem Gede semakin menggigil dan giginya gemertak menahan marah yang hampir meledak.

”Hanya Sultan di Demak yang berhak menjatuhkan hukuman mati, atau orang yang telah mendapat kuasanya. Orang-orang Pucangan ini pun tak berhak melakukan itu, apalagi iblis-iblis macam kau ini.” teriak Ki Asem Gede.

Samparan mengangguk-angguk, lalu kembali terdengar tawa iblisnya.

”Betul…, betul Ki Asem Gede, tetapi di daerah terpencil sejauh ini, jari-jari kekuasaan Demak tak begitu terasa. Maka sudah sewajarnyalah kalau kami yang merasa sedikit ada kemampuan, membantu berlakunya undang-undang di daerah ini, menghapuskan kekhianatan.”

Hampir Ki Asem Gede tak dapat menahan dirinya. Untunglah bahwa pikirannya masih dapat bekerja. Ia merasa tak akan mampu melawan kelima orang itu.

”Di Demak,” kata Ki Asem Gede kemudian, ”untuk tiap-tiap keputusan ada hak pembelaan. Berlaku jugakah peraturan ini?”

Mendengar pertanyaan ini kelima orang itu tampak berpikir. Tetapi sebentar kemudian terdengar kembali tawa iblis keluar dari mulut Samparan.

”Kau cerdik sekali Ki Asem Gede. Kau ingin menjadikan persoalan ini menjadi persoalan umum.”

”Bukankah telah kau katakan bahwa putusanmu itu atas persetujuan penduduk di daerah ini? Bukankah dengan demikian hal itu sudah menjadi persoalan umum?”

SAMPARAN kembali merenung. Tampak ia berpikir untuk mengatasi usul Ki Asem Gede itu. Kalau sampai terjadi ada semacam pengadilan bagi persoalan ini, dimana dapat hadir saksi-saksi, maka terang hal ini tidak menguntungkan pihaknya. Tetapi akhirnya ia ketemukan juga suatu cara untuk mengatasinya.

“Ki Asem Gede, kami adalah bangsa yang mengenal keadilan. Kenapa kami keberatan kalau diadakan pembelaan? Tetapi karena kekuasaan tertinggi dalam persoalan ini adalah di tangan kami, maka kamilah yang menentukan cara pembelaan itu.”

“Bagaimana caranya?” Dalam kesulitan ini Ki Asem Gede hanya dapat mengharap suatu perkembangan persoalan yang dapat menguntungkan dirinya.

Samparan menarik alisnya tinggi-tinggi, kemudian menjawab, “Keadilan yang tertinggi terletak di tangan takdir. Karena itu pembelaan dalam persoalan ini pun sudah seharusnya kalau didasarkan atas hal itu. Tegasnya, pembelaan itu hanya dapat dilakukan dengan sebuah pertarungan. Kau boleh memilih seorang pembela, atau barangkali kau sendiri?

Sedang di pihak kami pun akan ada seorang yang harus mempertahankan keputusan kami itu. Nah, kemudian segala sesuatu terserah pada kehendak takdir.”

Kemudian Samparan menarik nafas panjang-panjang. Ia yakin kalau pihaknya pasti akan menang. Sebab bagaimana hebatnya Ki Asem Gede, tetapi karena umurnya yang sudah lanjut itu, tentu tidak akan berbahaya lagi.

“Setan…,” dengus Ki Asem Gede. Tetapi meskipun demikian ia masih berusaha untuk mendapat suatu kesempatan. “Bagus…, aku terima cara itu. Sekarang aku minta ditetapkan waktu. Minggu depan barangkali?”

Samparan jadi tertawa terbahak-bahak. Ia menangkap maksud Ki Asem Gede. “Kau memang licik sekali. Kau mengharap bahwa kau dapat mencari bantuan orang lain. Atau dalam kesempatan itu kau dapat membebaskan anakmu. Nah Ki Asem Gede… supaya persoalan ini tidak berlarut-larut, aku tetapkan hari pertarungan ini adalah hari ini. Bukankah fajar sudah datang?”

Seperti disengat ribuan lebah, Ki Asem Gede mendengar putusan Samparan itu. Bahwa setan itu betul-betul licik, kini telah terbukti. Dan ia sesali ketergesa-gesaannya tadi. Kalau saja ia tadi membicarakan soal ini dengan sahabat-sahabatnya.

Ki Asem Gede sendiri bukan berarti takut menghadapi persoalan itu, meskipun misalnya ia harus menyerahkan nyawanya. Tetapi taruhannya terlalu besar. Kalau ia kalah, berarti kekalahan itu berlipat dua, sedangkan ia sendiri sadar bahwa tenaganya sudah mulai surut.

Apalagi menghadapi iblis-iblis yang segar dan sedang tumbuh.

Kembali Ki Asem Gede menyesali dirinya. Biasanya ia berlaku tenang. Tetapi menghadapi persoalan satu-satunya anak yang diharapkan dapat melanjutkan namanya, ia jadi kehilangan ketenangan itu.

Tetapi pada saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang berat, dan mengandung pengaruh yang luar biasa.

“Ki Asem Gede akan menerima ketetapan hari itu. Dan Ki Asem Gede akan menunjuk aku sebagai pembelanya.”

Mendengar suara itu, semua yang berada di dalam ruangan segera memandang ke arah pintu di mana berdiri seorang dengan sikap yang tenang meyakinkan. Itulah Mahesa Jenar.

Melihat kehadiran Mahesa Jenar tanpa diduga-duga itu, Ki Asem Gede menjadi girang bukan kepalang, sampai hampir-hampir ia berteriak. Cepat-cepat ia melangkah mendekati dan menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya yang baru saja dikenalnya itu.

Sementara itu kelima orang penghuni rumah itu memandang dengan heran dan mencoba menebak-nebak. Siapakah gerangan orang yang begitu besar kepala sehingga berani menawarkan diri untuk membela anak Ki Asem Gede itu? Sedang wajah orang itu belum pernah dikenalnya.

“Siapakah dia?” tanya Samparan kemudian.

Hampir saja Ki Asem Gede menyebut gelar Rangga Tohjaya untuk sekaligus menakut-nakuti kelima orang itu. Tetapi melihat gelagat itu, segera Mahesa Jenar mendahului, “Aku adalah Mahesa Jenar, sahabat Ki Asem Gede.”

“Mahesa Jenar?” ulang Samparan. Nama itu pun sama sekali tak terkenal di daerah ini. Orang yang paling mereka takuti adalah Dalang Mantingan, yang beberapa waktu lalu berhasil menangkap tiga serangkai perampok yang bernama tunggal Samber Nyawa. Dan seandainya Dalang Mantingan pada saat itu ada di situ pun belum tentu dapat mengalahkan mereka berlima yang merasa mempunyai kekuatan dua kali lipat dari kekuatan Samber Nyawa itu. Hanya tentu saja kalau Mantingan ada di situ, ia takkan berani membuat tantangan pertarungan yang demikian. Tetapi sekarang yang ada hanya orang yang sama sekali tak ternama.

Melihat keragu-raguan orang-orang itu, serta takut kalau mereka mengubah peraturannya, segera Mahesa Jenar menambahkan, “Aku kira tak ada lagi persoalan. Apapun yang akan terjadi atas diri kami nanti, yang melaksanakan pertandingan itu, bukanlah suatu soal yang perlu direnungkan. Aku adalah laki-laki seperti kalian juga.”

Perkataan Mahesa Jenar ini rupa-rupanya telah berhasil menyentuh harga diri Samparan serta kawan-kawannya, apalagi mereka telah merasa bahwa kehebatan mereka sukar mendapat tandingan.

Dalam pada itu salah seorang kawan Samparan segera melangkah setindak maju, dan dengan suaranya yang nyaring berkata, “Kakang Samparan, apa yang sudah terucapkan sebaiknya dilaksanakan. Aku belum kenal orang ini, dan orang ini pun rupa-rupanya belum kenal kami. Baiklah kini kami saling berkenalan. Aku usulkan sebagai pelaksanaan dari peraturan itu, pertandingan diadakan di halaman rumah ini secara terbuka. Siapa saja boleh menyaksikan. Dan satu soal lagi, pertarungan dilaksanakan sampai selesai. Maksudku, sampai salah satu pihak tak mampu melawan. Jadi tidak boleh menarik diri. Siapa yang menang mempunyai hak untuk berbuat apapun atas yang kalah, dan atas barang taruhan.”

Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan, bahwa Mahesa Jenar merupakan sebuah umpan yang sangat lunak.

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Sedang Ki Asem Gede yang semula sangat girang, kini menjadi agak cemas juga.

“Kalau… seandainya… Mahesa Jenar kalah…? Akh tak mungkin,” pikir Ki Asem Gede.

Sementara itu Samparan tak mengangguk meskipun ia tidak seyakin Watu Gunung, kawannya yang telah melengkapi peraturan tadi. Ia menduga bahwa orang itu pun sedikit-banyak mempunyai pegangan sehingga berani menyatakan dirinya sebagai pembela.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

12 Komentar

  1. Heru Setiawan said,

    Senin, 15 Februari 2010 at 14:39

    Cerita Silat Jawa Nogo Sosrso dan Sabuk Inten ini saya baca sejak tahun 1967, dan ternyata tata bahasa, alur cerita serta cara penceritaannya (setelah saya baca saat ini) baik sekali dan tidak kalah dengan cerita-cerita silat mandarin.

  2. cahyo said,

    Minggu, 30 Mei 2010 at 08:38

    saya sdh pernah baca cerita ini, tapi tidak bosan2nya saya ulang2 kembali, sdh sekian tahun saya cari, syukur saya menemukan kembali melalui web ini, rasa rindu untuk kembali membaca terasa terobati kembali

  3. Ari__ said,

    Selasa, 1 Juni 2010 at 11:27

    Inilah bukti sejarah budaya bangsa, bahwa kitapun mempunyai cerita budaya yg tak kalah menarik dgn bangsa lain. Marilah anak bangsa, kita angkat ini semua menjadi kebanggaan bangsa, dan semoga dapat bermanfaat untuk generasi penerus bangsa. Amiin

  4. Jonet Suratno said,

    Selasa, 1 Juni 2010 at 22:59

    benar-benar tidak kalah dengan cerita silat mandarin,inilah salah satu cerita yang sangat menarik sekali,yang di kemas oleh anak bangsa tulen.

  5. Nano said,

    Kamis, 7 April 2011 at 13:44

    Cerita sangat bagus, saya sudah lama sekali mencari buku ini , mohon bagi yang mengetahui penerbitnya dan menjual atau dapat dibeli mohon dikonfimasikan ke saya atau alamat email nano@bps. co.id
    terima kasih

  6. Rabu, 26 September 2012 at 19:23

    SH mintarjo memang tiada duamya

  7. cah mlangsen said,

    Jumat, 25 Januari 2013 at 09:50

    Singgih Hadi Mintardja,di jelang akhir th 60 an, mengarang buku fiksi persilatan Nagasasra Sabukinten. Dia mampu sisipkan persilatan dlm sejarah kesultanan di Jawa dlm kemasan yg apik.
    Saingan buku Nagasasra Sabukinten dg tokoh hero Mahesa Jenar, waktu itu buku Bende Mataram, dg tokoh hero Sangaji, karya Herman Pratikto. Hanya 2 judul buku itulah yg merajai fiksi persilatan Jawa dan menjadikan best seller…!! Jika ditilik perbedaan karya SH Mintardja dan Herman Pratikto yg kadang sedikit ambil/cuplik cerita silat dari Cina. Jika SH Mintardja banyak ambil nama daerah misal Mentaok, Tambakboyo dll, maka Herman Pratikto dlm Bende Mataram hanya sedikit. Nagasasra Sabukinten lebih kuat unsur Jawa dibandingkan Bende Mataram.

  8. DJOKO SUSILO said,

    Sabtu, 2 Maret 2013 at 02:42

    Apakah masih ada cetak ulang dalam kurun waktu 1 th terakhir ini…mohon infonya

  9. taufan arif said,

    Rabu, 1 Mei 2013 at 10:25

    aku suka cerita ini sejak saya masih sd ….

  10. taufan arif said,

    Rabu, 1 Mei 2013 at 10:26

    saya suka sekali ceritera ini sejak masih sd, saya dulu punya bukunya walau saat itu bukunya lusuh sekali. dan sekarang usia saya 45 tahun

  11. Senin, 13 Mei 2013 at 19:41

    “Dalam pada itu….”
    Awal kalimat yang khas dari banyak cerita karya bapak S.H. Mintardja.

    Dulu saat masih kecil saya dilarang oleh ayah kalau baca buku ini karena beliau khawatir saya akan menirukan adegan dalam cerita. Jadi kalau membaca saya harus mencuri kesempatan saat ayah pergi. Entah dapat info dari siapa akhirnya ayah mengetahuinya juga dan saya diberitahu lagi agar tidak membaca. Tapi setelah sekian kali ketahuan, ayah tidak lagi melarang malah menambah koleksi buku-buku sejenis. Wah… senang sekali rasanya.
    Bagi saya ini karya yang sangat bagus, bahasanya baik, alur ceritanya baik, isi ceritanya menarik.
    Terimakasih sekali buat mas Daniel.

  12. Sudigdo Adi said,

    Sabtu, 8 Februari 2014 at 22:22

    Saya baru berumur 66 tahun dansejak seri pertama saya menyukai novel sejarah perjuangan si kerbau merah atau mahesa jenar . Salam Sudigdo Adi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: