Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 2

Lanjutan dari jilid 1

BELUM lagi ia berkata apa-apa kembali Watu Gunung menyambung, “Nah sekarang siapakah diantara kami yang pantas melayani kawan itu?”

Mendengar nada pertanyaan ini, Samparan tahu bahwa Watu Gunung bernafsu untuk menjadi jago yang harus bertanding dengan Mahesa Jenar. Watu Gunung adalah seorang yang termasuk paling kuat di antara mereka. Kalau Samparan yang terpilih menjadi pemimpin, adalah karena dialah yang tertua dan terbanyak mempunyai pengalaman, baik dalam tata perkelahian maupun dalam lika-liku pembicaraan dan tipu muslihat.

Agar tidak mengalami kegagalan, Samparan pun sependapat dengan Watu Gunung, bahwa sebaiknya orang yang terkuatlah yang harus melayani orang asing ini, sehingga tidak ada kemungkinan mengalami kekalahan.

“Baiklah kawan-kawan …, aku memilih Adi Watu Gunung untuk melayani tamu kita nanti,” kata Samparan.

Watu Gunung menjadi gembira mendengar putusan ini. Sebaliknya kawan-kawannya yang lain merasa kecewa karena tidak dapat bermain-main dengan seorang yang sama sekali tak bernama tetapi sudah berbesar kepala untuk mencoba-coba menghalang-halangi kemauan mereka. Tetapi bagaimana pun mereka akan turut merasakan hasil kemenangan Watu Gunung nanti.

Memang, sebenarnya Watu Gununglah yang paling berkepentingan pada saat itu. Sebagai seorang pemuda, sebelum meninggalkan kampung halamannya, dahulu ia pernah berangan-angan untuk dapat mengawini anak Ki Asem Gede. Tetapi ia kalah beruntung dengan Wirasaba, sehingga ia terpaksa mengalami patah hati. Sekarang, ia ingin membalas sakit hatinya dengan menculik Nyi Wirasaba.

Watu Gunung berperawakan tinggi gagah, bertubuh kekar, dan sebenarnya ia agak tampan juga. Kalau ia sejak semula menjadi orang baik-baik, mungkin ia juga akan mendapatkan istri yang cantik. Tetapi sekarang, hampir semua perempuan menjadi pingsan kalau mendengar nama Watu Gunung disebut orang.

“Sekarang, sambil menunggu siang, sebaiknya tamu-tamu ini kami persilahkan beristirahat di gandok sebelah timur. Adi Wisuda, tolong antarkanlah tamu kita ke sana,” kata Samparan.
Orang yang dipanggil Wisuda, salah seorang dari lima orang itu, segera mempersilahkan Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar untuk mengikutinya ke gandok sebelah timur. Di sana, mereka berdua ditinggalkan untuk beristirahat.

Ki Asem Gede terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, ketika dilihatnya Mahesa Jenar segera merebahkan dirinya di amben.

“Ki Asem Gede, semalaman aku tidak tidur, dan pagi-pagi benar aku sudah harus berpacu kuda dengan Ki Asem Gede, maka sebaiknya aku tidur sebentar agar aku nanti dapat melayani Watu Gunung itu dengan sedikit ada kegembiraan,” kata Mahesa Jenar. Sesudah berdiam diri sebentar, terdengarlah segera nafas Mahesa Jenar mengalir secara teratur. Ia sudah tertidur.

Ki Asem Gede heran bukan main. Sebentar lagi ia harus mengadu tenaga antara hidup dan mati melawan seorang yang termasuk mempunyai kehebatan dalam tata pertarungan. Tetapi sekarang, dengan enaknya ia tidur mendekur.

Ketika hal itu direnungkan dalam-dalam, ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak memandang remeh calon lawannya. Dengan beristirahat, meskipun hanya sebentar, ia akan dapat memulihkan tenaganya, sehingga dengan demikian ia akan dapat bertanding dengan baik. Mendapat pikiran yang demikian ia pun merasa bahwa dirinya juga perlu mengaso, siapa tahu tenaganya nanti diperlukan.

Ternyata hatinya tidak setenang Mahesa Jenar. Ia tetap kuatir akan nasib anak satu-satunya itu, dan ia juga khawatir kalau Samparan dan kawan-kawannya berbuat curang. Karena itu ia hanya berbaring. Matanya sama sekali tak dapat dipejamkan.

Pada saat itu sinar mahatari pagi telah mulai masuk menyusup lubang-lubang dinding meskipun masih condong sekali. Sekali dua kali telah terdengar suara gerobag lewat di jalan di depan rumah itu. Dan di halaman telah sibuk beberapa orang mengatur arena untuk bertanding siang nanti. Beberapa orang yang lewat, ketika melihat beberapa tonggak ditancapkan dan tali-tali direntangkan, mereka tahu bahwa akan ada pertandingan lagi di halaman rumah Samparan yang juga dikenal sebagai rumah setan.

Sebenarnya tak seorang pun yang ingin dekat dengan rumah serta penghuninya itu, sebab mereka takut kalau entah harta kekayaannya, entah ternaknya, dan yang ditakuti adalah kalau istri atau gadisnya dikehendaki oleh iblis-iblis itu. Tetapi di samping itu mereka juga ingin melihat tiap-tiap pertarungan yang memang sering diadakan di halaman itu, dengan mengharap-harap sekali waktu ada orang yang dapat mengalahkan, syukur mengubur kelima iblis penghuni rumah itu.

Tetapi sampai sekarang, kalau ada orang yang menuntut istri atau anaknya, dan terpaksa melewati pertandingan di arena itu, tentu dibinasakan dengan kejamnya. Sedang istri atau anak mereka, malahan menjadi barang taruhan yang makin tak berharga.

Demang Pucangan sendiri tak dapat mengatasinya. Dan tak seorangpun berani melaporkan kepada atasan yang berwenang. Sebab dengan perbuatannya itu nyawanya jadi terancam. Kembali kali ini akan ada sebuah pertandingan. Orang sudah menduga bahwa hal ini tentu berhubungan dengan hilangnya Nyi Wirasaba. Tetapi siapakah yang akan memasuki arena?. Ayahnya, Ki Asem Gedekah? Atau salah seorang muridnya? Atau siapa?

Sementara itu Mahesa Jenar masih enak-enak tidur. Berbareng matahari semakin tinggi, Ki Asem Gede semakin gelisah.

Adalah di luar dugaannya kalau pada saat itu salah seorang pelayan Samparan masuk ke gandok itu dengan membawa hidangan minuman dan makanan. Rupanya mereka akan menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang baik hati, serta perbuatannya itu betul-betul untuk kepentingan penduduk setempat.

Dengan ketajaman hidung seorang ahli obat-obatan, Ki Asem Gede mencium minuman dan makanan itu, kalau-kalau ada semacam racun atau obat bius di dalamnya, tetapi ketika menurut pendapatnya tak terdapat apa-apa maka sedikit demi sedikit ia mencoba mencicipinya sebelum Mahesa Jenar bangun, yang tentu akan minum dan makan juga. Rupanya minuman dan makanan itu benar-benar bersih.

“Rupanya Watu Gunung begitu yakin akan memenangkan pertandingan ini seperti yang sudah-sudah,” pikir Ki Asem Gede.

Sementara itu Mahesa Jenar telah menggeliat bangun. Dengan tangannya ia menggosok-gosok matanya yang nampak merah kurang tidur. Ketika ia melihat adanya beberapa macam hidangan, ia memandang Ki Asem Gede dengan penuh tanda tanya.

KI Asem Gede tahu bahwa Mahesa Jenar ragu-ragu, sehingga ia segera menjelaskan, “Anakmas, kita telah mendapat kehormatan untuk menikmati masakan dari Pucangan. Sebagai orang yang mendalami masalah obat-obatan, aku telah meyakinkan bahwa makanan ini bersih dari racun maupun obat bius.”

Mendengar keterangan itu Mahesa Jenar menjadi tak ragu-ragu lagi. Cepat tangannya menyambar mangkuk minuman dan segera minum beberapa teguk teh hangat, disusul beberapa potong makanan. Segera setelah itu, tenaganya terasa telah pulih kembali, setelah semalam tidak tidur dan berkuda sekian jauhnya.

Berita akan adanya pertarungan di halaman rumah Samparan itu segera meluas. Beberapa orang yang pergi ke pasar bergegas untuk segera pulang, supaya dapat menyaksikan pertandingan itu. Beberapa orang yang merasa mempunyai sedikit kekuatan, mencibirkan bibir. Mereka menganggap bahwa orang yang berani mencoba melawan rombongan Samparan adalah orang yang telah jemu hidup. Padahal orang-orang itu tidak mampu melawan gerombolan Samparan.

Sementara itu, Mahesa Jenar yang diributkan, sama sekali tak menghiraukan kesibukan orang-orang di halaman rumah Samparan. Pada saat-saat semacam itu, ia merasa perlu menenangkan pikiran dan memusatkan tenaga. Seperti biasa, Mahesa Jenar sama sekali tak pernah meremehkan lawannya. Sebab sikap yang demikian akan menghilangkan kehati-hatiannya.

Ketika matahari sudah agak tinggi, selesailah segala persiapan. Para penonton telah banyak, mengelilingi arena. Sebentar kemudian terdengar kentongan dipukul orang lima kali – lima kali berturut-turut. Suaranya memencar menghantam dinding-dinding jurang dan tebing pegunungan, yang kemudian dilemparkan kembali. Menggema seperti aum harimau kelaparan mencari makan.

Demikianlah suara kentongan itu, seolah seperti suara malaikat pencabut nyawa yang memanggil-manggil korbannya.

Kemudian keluarlah dari pendapa rumah itu, Samparan beserta empat orang kawannya. Masing-masing dengan pakaian yang hampir sama. Celana hitam sampai lutut, kain lurik merah soga, sabuk kulit ular bertimang emas, dan berikat kepala merah soga pula, tanpa baju.

Kelima orang itu langsung menuju ke arena. Orang-orang yang berkerumun bersibak memberi jalan.

Sementara itu Mahesa Jenar juga sudah dipanggil. Seperti orang yang segan-segan, ia berjalan bersama Ki Asem Gede menuju ke arena. Pakaiannya adalah pakaian kusut, dan habis dipakai tidur.

Meskipun ia bernama Mahesa Jenar, anehnya ia suka warna-warna hijau. Kainnya lurik berwarna hijau gadung. Ikat kepala dan bajunya juga.

Mahesa Jenar dengan acuh tak acuh menjawab, “Selamat pagi Watu Gunung, aku sengaja tidak mandi, sebab aku takut kalau airmu memperlemah semangatku, sehingga aku tak dapat melayani permainanmu dengan baik.”

Melihat Mahesa Jenar, beberapa orang mulai menilai-nilai. Memang agak aneh bagi mereka. Begitu tenang dan sama sekali tidak gugup. Dipandang dari segi ketegapan tubuhnya, ternyata Watu Gunung lebih tinggi sedikit dari lawannya, serta otot-ototnya tampak lebih kuat. Umurnya pun tampaknya tak terpaut banyak.

Orang-orang yang sedang sibuk menilai itu menjadi bingung. Mereka sama sekali tak menemukan satu hal pun dari Mahesa Jenar yang dapat melebihi lawannya. Tingginya, besarnya, otot-ototnya dan segalanya. Tetapi ketika mereka memandang matanya seakan-akan mereka menjadi yakin kalau Mahesa Jenar akan memenangkan pertarungan ini. Mereka sama sekali tak sampai pada pikiran bahwa mata yang terang-cemerlang itu memancarkan suatu kebesaran pribadi yang tak ada bandingnya.

Hal ini rupanya dirasakan juga oleh Samparan dan kawan-kawannya, sehingga ketika Watu Gunung bertemu pandang dengan Mahesa Jenar, hatinya berdegup.

Untuk menutupi kerisauan hatinya, Watu Gunung berteriak, “Kakang Samparan, senjata apa yang pantas aku pakai?”

Samparan yang tak mengira akan mendapat pertanyaan itu dengan sekenanya saja menjawab, “Apa yang kau pilih!”

Kembali Watu Gunung jadi kebingungan, dan untuk mengatasinya, ia ingin mencari jawab pada lawannya dan sekaligus untuk lebih merapati kegelisahannya.

“Mahesa Jenar, senjata apakah yang kau ingin pakai?”

Mahesa Jenar merenung sebentar, kemudian jawabannya makin menjadikan Watu Gunung kebingungan. “Watu Gunung… senjata adalah barang yang berbahaya. Sedang permainan ini hanya sekadar untuk menentukan pihak manakah yang dibenarkan Tuhan. Karena itu aku menganggap bahwa aku tak ingin mempergunakan senjata.”

Watu Gunung menjadi semakin keripuhan, apalagi ketika Mahesa Jenar menyambung,

“Tetapi meskipun demikian, kalau kau ingin mempergunakan senjata, kalau itu sudah menjadi kebiasaanmu, aku sama sekali tak keberatan, sedangkan bagiku sendiri senjata itu hanya akan merepotkan saja.”

Muka Watu Gunung menjadi merah seperti darah. Malu dan marah bercampur aduk. Belum pernah ia direndahkan sedemikian. Dan sekarang orang yang tak bernama itu berani berbuat demikian. Maka dengan suara lantang penuh kesombongan dan kemarahan, ia menjawab,

“Aku bukanlah bangsa pengecut yang hanya berani bermain dengan senjata. Kalau aku bertanya tentang senjata itu maksudku sudah tegas, berkelahi sampai salah satu diantara kita mati. Tetapi kalau kau takut melihat tajamnya senjata, baiklah aku juga tidak akan bersenjata, sebab dengan tanganku ini aku akan dapat mematahkan lehermu.”

Orang yang mendengar ucapan ini bulunya berdiri. Watu Gunung sudah terkenal kehebatannya dan kekejamannya. Apalagi ia sekarang dikendalikan oleh kemarahan yang besar. Tetapi hal itu bagi Mahesa Jenar adalah suatu keuntungan. Sebab dengan kemarahan itu Watu Gunung akan kehilangan sebagian dari pengamatan dirinya.

Sementara itu Watu Gunung sudah berteriak, “Mahesa Jenar marilah kita mulai.”

Mahesa Jenar segera mempersiapkan diri. Ia tidak mau dikenai oleh serangan yang pertama kali dan digerakkan oleh hawa kemarahan, yang tentu akan menambah kekuatan lawannya.
Dan apa yang diduga oleh Mahesa Jenar adalah benar. Belum lagi mulutnya terkatub rapat, Watu Gunung sudah meloncat maju dan langsung menyerang ulu hati Mahesa Jenar. Serangan itu begitu garang nampaknya seperti harimau menerkam mangsanya.

ORANG-ORANG yang menyaksikan pertarungan itu, darahnya sudah tersirat sampai ke kepala. Tetapi Mahesa Jenar yang sudah bersiaga, cepat menarik kaki kirinya ke belakang dan memutar sedikit tubuhnya, sehingga pukulan itu tak mengenai sasarannya. Gagal dari serangan pertama ini Watu Gunung menyerang pula dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar, tetapi juga seperti serangannya yang pertama. Serangan ini pun dengan mudahnya dapat dihindarkan.

Melihat kedua serangannya itu menyentuh pakaian lawan pun tidak, Watu Gunung menjadi semakin marah. Kembali ia membuka serangan dengan tangannya ke arah dada, dan sekaligus mempersiapkan tangan yang lain untuk menutup jalan menghindar. Rupa-rupanya serangan ini hampir berhasil mengenai lawannya. Tetapi pada saat terakhir ketika tangannya sudah berjarak setebal jari dari dada, Mahesa Jenar segera menarik tubuhnya ke belakang dengan satu loncatan yang cepat, ia menghindar ke arah sebelah dari tangan yang lain. Watu Gunung menjadi semakin uring-uringan.

Dan meluncurlah kemudian serangan-serangan yang cukup dahsyat. Tetapi beberapa orang telah menjadi cemas. Sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar selalu terdesak. Pada saat terakhir, Mahesa Jenar merasa betul-betul terdesak. Memang lawannya pada saat itu tidaklah dapat dianggap ringan, meskipun belum sekuat Mantingan, tetapi Watu Gunung mempunyai keistimewaan juga. Ia begitu percaya kepada kekuatan jarinya, sehingga berkali-kali ia menyerang dengan menyodok perut, kening dan mata.

Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menguji kekuatan daya tahan lawannya. Ketika pada suatu saat pertahanan dada Watu Gunung terbuka, cepat-cepat Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan ini. Seperti seekor burung menyambar belalang, ia pergunakan sisi telapak tangannya untuk menghantam dada lawannya. Serangan itu begitu mendadak dan cepat sehingga lawannya tak sempat menghindarinya.

Merasa kena hantaman di dadanya, cepat-cepat Watu Gunung mundur selangkah. Mulutnya meringis sebentar menahan sakit. Tetapi oleh daya tahan badannya, segera rasa sakit itu hilang.

Mengalami hal ini, Watu Gunung malahan sekali lagi meloncat mundur, dan aneh sekali, ia tidak bersiap-siap untuk menyerang atau bertahan, malahan ia berdiri di atas kedua kakinya yang direnggangkan dan kedua tangannya bertolak pinggang.

Melihat sikap yang demikian, Mahesa Jenar pun menjadi tertegun heran. Tetapi menghadapi sikap ini ia tidak berani gegabah, sebab siapa tahu bahwa sikap ini adalah suatu sikap untuk mengelabuinya dan memancingnya dalam suatu keadaan yang tak menguntungkan.

Mahesa Jenar semakin heran ketika tiba-tiba Watu Gunung tertawa keras dengan suaranya yang nyaring. Begitu kerasnya ia tertawa sampai menimbulkan getaran-getaran di dada orang yang mendengarnya.

Sebaliknya para penonton yang melihat Watu Gunung bersikap demikian, seketika tubuhnya menjadi gemetar. Sebab dengan demikian Watu Gunung sudah menemukan suatu kepastian bahwa dalam waktu singkat ia pasti akan dapat menghancurkan lawannya. Dan, biasanya dipegangnya kedua kaki lawannya itu, diputar di udara, dan dengan sekali tetak dihantamkan pada pohon sawo di tepi arena itu sehingga kepalanya menjadi pecah berserakan.

Melihat hal itu, Ki Asem Gede ikut menjadi cemas. Ia melihat nyata-nyata bahwa pukulan Mahesa Jenar tepat mengenai dada, tetapi pukulan itu tak mengakibatkan apa-apa.

Tetapi melihat ketenangan Mahesa Jenar, Ki Asem Gedepun menjadi agak tenang pula. Satu kesalahan dari Watu Gunung dan para penonton pertarungan itu adalah bahwa mereka tidak menyadari kalau pukulan Mahesa Jenar itu hanya mempergunakan sebagian kecil dari seluruh kekuatannya. Dengan melihat akibat dari pukulan percobaan itu, Mahesa Jenar dapat mengukur bahwa kalau ia mempergunakan tigaperempat saja dari kekuatannya, dada Watu Gunung itu sudah pasti akan rontok.

Ketika suara tertawa dari Watu Gunung makin menurun, para penonton pun menjadi semakin gelisah. Sebab, demikian suara itu berhenti, demikian Watu Gunung akan menyerang dengan dahsyatnya tanpa menghiraukan hantaman lawan. Dan biasanya pada waktu yang singkat ia telah berhasil meringkus kaki lawan itu dan membenturkan kepalanya di pohon sawo.

Berbeda dengan semua pikiran-pikiran itu, tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat kesan yang aneh dari suara tertawa itu. Ia jadi terkenang pada suatu peristiwa yang sangat memalukan dan hampir-hampir menjatuhkan namanya. Peristiwa itu terjadi beberapa waktu yang lalu ketika ia masih menjabat sebagai perwira pasukan pengawal raja.

Pada saat Demak sedang membentuk dirinya dan memperkokoh kedudukannya, di mana dibutuhkan kekuatan yang sebesar-besarnya, maka di daerah pantai selatan berdirilah suatu himpunan dari beberapa tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam yang ingin mempergunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri serta golongannya. Gerombolan ini diketuai oleh seorang yang sakti dan berkekuatan luar biasa, yang menamakan dirinya Lawa Ijo. Sehingga gerombolan itu pun kemudian lazim disebut gerombolan Lawa Ijo.

Pada masa jayanya, Lawa Ijo mempunyai daerah pengaruh yang luas di daerah selatan sepanjang pantai sampai ke daerah Bagelen dan Banyumas. Menurut kabar, gerombolan ini bersarang di hutan Mentaok.

Demikian merasa dirinya begitu kuat, sampai Lawa Ijo sendiri beserta beberapa orang kepercayaannya berani melakukan pengacauan di ibukota kerajaan Demak. Meskipun pasukan keamanan sudah dikerahkan namun Lawa Ijo tak pernah bisa dijumpai, kecuali hanya bekas-bekas perbuatannya yang kadang-kadang tak mengenal perikemanusiaan, dan tanda-tanda pengenal yang sengaja ditinggalkan, yaitu secarik kain yang bergambar seekor kelelawar berwarna hijau dan berkepala serigala diikatkan pada sebilah pisau, yang agak panjang.

Bahkan kekurangajarannya memuncak lagi dengan usahanya memasuki kamar perbendaharaan istana, dimana disimpan harta kekayaan istana beserta benda-benda untuk upacara yang terbuat dari emas, berlian dan permata-permata lainnya. Adalah suatu aib yang tercoret di muka para pengawal istana, kalau pada saat itu tak seorang pun yang mengetahui bahwa lima orang gerombolan Lawa Ijo yang dipimpin oleh Lawa Ijo sendiri sampai dapat memasuki halaman istana bagian dalam.

Untunglah bahwa pada saat-saat dimana gerombolan Lawa Ijo sedang mengganas, pasukan pengawal istana telah mengambil langkah-langkah seperlunya untuk menghadapi segala kemungkinan. Sehingga tiap malam tidak hanya para prajurit yang bertugas ronda keliling, tetapi juga para perwira.

MALAM itu adalah malam dimana Mahesa Jenar sedang mendapat giliran bertanggungjawab pada keselamatan raja serta istana seisinya. Dan justru pada malam itu pulalah gerombolan Lawa Ijo bertindak.

Pada malam itu kira-kira hampir tengah malam, Mahesa Jenar di ruang penjagaannya merasakan angin aneh bertiup perlahan-lahan. Begitu nyamannya sampai para perajurit merasa kantuk dengan tiba-tiba dan bahkan menjadi tak kuat lagi menahan matanya. Mahesa Jenar sendiri merasa bahwa ia pun tak luput dari serangan itu. Tetapi ia adalah seorang perajurit yang berpengalaman. Begitu ia merasakan suatu ketidakwajaran, hatinya menjadi curiga. Meskipun demikian ia tidak segera bertindak.

Mula-mula ia pusatkan kekuatan batinnya untuk melawan akibat angin yang aneh itu, sehingga lambat laun ia berhasil mengatasinya. Kemudian ia sendiri pun berpura-pura merebahkan diri di samping seorang perwira bawahannya yang sudah hampir tak kuat lagi menahan kantuknya. Tetapi begitu Mahesa Jenar berbaring, lalu berbisiklah ia perlahan-lahan sekali kepada perwira bawahannya itu.

“Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya dirimu telah terkena sirep. Sadarlah dan cobalah melawan.”
Mendengar bisikan Mahesa Jenar ini, Gadjah Alit menjadi seperti tersadar dari kantuknya. Cepat-cepat ia pun memusatkan seluruh kekuatan batinnya dan dengan sekuat tenaga ia melawannya. Akhirnya ia pun sedikit demi sedikit berhasil menguasai dirinya kembali.

Ketika Mahesa Jenar melihat bahwa Gadjah Alit telah dapat menguasai dirinya, kembali ia berkata, “Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya ada sesuatu yang tidak wajar di dalam istana ini. Aku kira sebagian besar penjaga sudah terlibat dalam cengkeraman sirep itu. Tetapi baiklah kita tidak usah ribut. Marilah kita berdua berusaha untuk menguasai keadaan.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan kakang Rangga Tohjaya?” tanya Gadjah Alit.

“Dengan berpura-pura tidur, mereka tentu tidak mengira kalau kita tengah mengadakan penyelidikan. Marilah kita berpencar. Lewat pintu belakang dari ruangan ini. Kau pergi ke utara dan aku ke selatan. Kalau salah satu diantara kita melihat hal yang mencurigakan dan kiranya kita masing-masing seorang diri tak mampu mengatasi, sebaiknya kita memberi tanda dengan sebuah suitan.”

“Baiklah kakang Rangga,” jawab Gadjah Alit.

Dan setelah beberapa saat tak terjadi apa-apa, perlahan-lahan dan berhati-hati sekali mereka berdua menyelinap pintu belakang ruang jaga dengan tidak membangunkan seorang pun, agar orang yang bermaksud jahat itu sama sekali tak menduga bahwa diantara sekian banyak penjaga itu ada yang terluput dari sirepnya.

Dengan berlindung pada bayang-bayang dan batang-batang tanaman mereka berdua menyelidiki keadaan taman itu dengan seksama. Gadjah Alit ke utara, sedangkan Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya ke selatan. Beberapa lama mereka tak menemukan tanda apa-apa. Malahan halaman dalam istana itu rasanya jauh lebih sepi dari biasanya. Tapi Mahesa Jenar dan Gadjah Alit adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman dan mempunyai ketajaman batin yang luar biasa.

Mahesa Jenar yang meskipun pada waktu itu belum melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, tetapi ia sudah mendapat firasat bahwa ia telah berdekatan dengan apa yang dicarinya. Itulah sebabnya ia segera diam menenangkan diri di belakang sebuah tanaman yang agak rimbun. Dipusatkannya segala perhatiannya ke suasana di sekelilingnya. Angin aneh yang ternyata adalah mengalirnya kekuatan sirep dari seseorang yang cukup kuat ilmu kebatinannya, masih saja bertiup. Bahkan daya sirep itu demikian kuatnya sehingga baik Mahesa Jenar maupun Gadjah Alit harus tetap menyediakan sebagian perhatianya untuk tetap melawan pengaruhnya.

Dengan mengukur kekuatan angin aneh itu, Mahesa Jenar sedikit banyak dapat menjajaki sampai dimana kehebatan orang yang memasangnya. Dengan demikian Mahesa Jenar harus betul-betul waspada, sebab ia tahu betul bahwa orang yang memasang sirep itu tentulah seorang yang mempunyai kesaktian tinggi. Dari tempat persembunyiannya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa tiga orang yang bertugas jaga di sudut dinding halaman itu telah tertidur semuanya.

Tombaknya disandarkan pada dinding halaman, dan mereka bertiga begitu saja menggeletak tidur di atas rumput.

Maka setelah agak lama Mahesa Jenar menanti, datanglah saat yang menyebabkan denyut jantung Mahesa Jenar bertambah cepat. Karena pendengarannya yang sangat tajam itulah maka ia mendengar suara berdesir di atas atap balai perbendaharaan istana. Ketika dengan matanya yang setajam telinganya itu pula ia mengamat-amati arah suara itu, darahnya jadi tersirap. Dilihatnya samar-samar bayangan yang berkerudung hampir seluruh tubuhnya berjalan mengendap-ngendap.

Tiba-tiba bayangan itu berhenti hanya beberapa depa saja di atasnya. Mahesa Jenar segera mengatur jalan nafasnya supaya tidak didengar oleh bayangan itu. Dan memang rupa-rupanya bayangan itu sama sekali tidak mengerti kalau di bawahnya bersembunyi seseorang.

Bayangan itu kemudian berdiri dan terdengarlah suatu suitan nyaring. Setelah itu ia berdiri tegak sambil memandang ke arah sudut pagar halaman. Tiba-tiba muncullah berturut-turut, hampir seperti seekor berati yang terbang dan hinggap di atas dinding pagar yang tingginya satu setengah kali tinggi orang. Dan kemudian terdengarlah tawa itu.

Bayangan di atas balai perbendaharaan itu memperdengarkan suara tertawa yang walaupun tidak keras tetapi memancarkan suatu pengaruh yang luar biasa, sehingga seseorang yang mendengarnya hatinya menjadi begitu pedih seperti mendengar rintihan hantu kubur. Bukan itu saja.

KEEMPAT bayangan yang muncul kemudian itu memperdengarkan suara tertawa yang sama, sehingga terpaksa Mahesa Jenar harus segera dengan kekuatan batinnya menutupi lubang-lubang pendengaran hatinya untuk tidak menerima pengaruh jahat dari suara itu. Kemudian keempat orang itu meloncat dengan gaya seperti seekor burung, turun ke halaman. Seperti terapung di udara, mereka berlari ke arah bayangan di atas atap itu.

Sementara itu dari arah lain Mahesa Jenar melihat bayangan seorang yang pendek bulat berlari seperti batu berguling-guling masuk jurang begitu cepatnya ke arah empat bayangan itu. Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, bayangan itu sudah langsung menyerang. Hati Mahesa Jenar berdebar bertambah cepat.

Bayangan yang gemuk pendek dan menggelinding cepat sekali tadi sudah pasti adalah Gajah Alit. Rupanya ketika Gajah Alit mendengar suitan bayangan di atas atap itu, ia mengira kalau Mahesa Jenarlah yang memberi tanda kepadanya untuk membantunya. Maka ketika ia dengan hati-hati sekali pergi ke arah suara itu, ia mendengar suara tertawa bersahut-sahutan. Dan ia melihat keempat bayangan itu seperti terbang mengarah ke balai perbendaharaan. Maka dengan tidak banyak pertimbangan lagi ia langsung menyerang keempat bayangan itu.

Keempat bayangan itu rupa-rupanya sama sekali tidak menduga kalau ia akan mendapat serangan demikian hebatnya. Sehingga dalam beberapa saat rupa-rupanya Gajah Alit telah berhasil melukai satu di antaranya. Tetapi ketiga yang lain menjadi sangat marah dan segeralah terjadi pertempuran yang hebat sekali.

Sementara itu Mahesa Jenar belum memperlihatkan diri. Kecuali keadaan masih belum memerlukan, rupanya Gajah Alit tidak begitu banyak mengalami kesulitan. Meskipun ia harus bekerja mati-matian melawan tiga orang yang mempunyai tenaga tempur yang cukup, ia sendiri memandang perlu untuk tetap mengawasi gerak-gerik bayangan di atas atap balai perbendaharaan itu. Dan apa yang diduganya ternyata benar. Bayangan di atas atap itu ternyata adalah pemimpinnya, yaitu Lawa Ijo sendiri.

Melihat keempat orangnya itu tak segera dapat mengatasi lawannya, Lawa Ijo tampaknya tidak sabar lagi. Tiba-tiba ia mengeluarkan suatu suitan nyaring dan seperti seekor elang menyambar ia terjun dari atap. Kedua tangannya dikembangkan dan tampaklah jari-jari tangannya yang kokoh kuat itu siap menerkam Gajah Alit. Mahesa Jenar yang memang sudah siap, tidak membiarkan Gajah Alit dilukai, segera ia pun meloncat dari persembunyiannya. Geraknya tampak kuat, tangkas dan teguh seperti seekor banteng yang terluka menyerang lawannya.

Mendengar suitan dari atas atap itu, Gajah Alit segera sadar bahwa suitan itu seperti yang didengarnya tadi, ternyata bukanlah suara Mahesa Jenar. Maka segera ia melontarkan diri jauh ke belakang sampai empat lima depa, dan segera bersiap menghadapi kemungkinan dari musuhnya yang baru itu. Melihat gerak yang demikian cepatnya ketiga musuhnya jadi terkejut, demikian juga Lawa Ijo yang terpaksa membuat satu gerakan di udara untuk mengubah arah terjunnya.

Tetapi kembali di luar dugaannya bahwa dari arah lain datanglah dengan garangnya suatu serangan yang dahsyat. Kembali Lawa Ijo mengubah gaya tubuhnya. Meskipun demikian ia tak mempunyai kekuatan lagi untuk menyerang ke arah yang berlawanan, sehingga segera ia melipat tangan kanannya untuk melindungi dada, sedangkan tangan kirinya disiapkan untuk menyerang.

Pada saat kaki Lawa Ijo baru saja menyentuh tanah, datanglah serangan Mahesa Jenar dengan dahsyatnya, sehingga terjadilah suatu benturan yang sangat hebat dari dua tenaga raksasa. Tetapi rupanya Mahesa Jenar menang perhitungan, sehingga Lawa Ijo terdorong ke belakang dan kehilangan keseimbangan. Ia berguling dua kali ke belakang dan barulah ia dapat tegak kembali.

Lawa Ijo merasakan dadanya sangat nyeri, nafasnya agak sesak. Pukulan Mahesa Jenar yang dilontarkan sepenuh tenaga itu rupanya telah melukai bagian dalam tubuh Lawa Ijo. Meskipun demikian, pada saat benturan itu terjadi, tangan kiri Lawa Ijo ternyata telah dapat mengenai pundak Mahesa Jenar, sehingga tangan kanan Mahesa Jenar pun menjadi sakit dan geraknya menjadi terbatas.

Gajah Alit yang melihat munculnya Mahesa Jenar dengan tiba-tiba itu menjadi girang, dan geraknya bertambah mantap. Sambil menyerang kembali ia sempat berkata, “Ee.., kakang Rangga, rupa-rupanya kau mau mengajak main sembunyi-sembunyian.”

Tetapi Mahesa Jenar diam saja, sebab ia sedang berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh.

Segera terjadi dua kancah pertarungan yang dahsyat. Mahesa Jenar melawan Lawa Ijo, dan Gajah Alit melawan tiga orang pengikut Lawa Ijo. Mungkin karena Lawa Ijo telah berhasil dilukainya lebih dahulu, maka pertempuran antara Mahesa Jenar dan Lawa ijo yang namanya terkenal ke segala pelosok dan ditakuti oleh siapapun, berhadapan dengan Mahesa Jenar tak dapat berbuat banyak. Sekali dua kali memang ia bisa mengenai tubuh Mahesa Jenar, tetapi sebaliknya Mahesa Jenar telah mengenainya dua kali lipat.

Karena tangan kanannya terluka, Mahesa Jenar memusatkan serangannya pada kecepatan gerak kakinya. Dan ternyata ini berbahaya sekali bagi Lawa Ijo. Pada suatu kali Lawa Ijo dengan dahsyatnya menyerang arah tenggorokan Mahesa Jenar dengan dua buah jarinya yang dirapatkan. Cepat-cepat Mahesa Jenar menghindar dengan menarik tubuhnya sedikit ke samping. Tetapi secepat kilat Lawa Ijo mengubah serangannya dengan suatu tendangan ke arah ulu hati Mahesa Jenar.

Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga hanya dengan gerakan yang kecepatannya tak dapat dilihat, Mahesa Jenar berhasil menangkis serangan itu dan dengan tangannya mendorong kaki itu ke dalam. Dorongan itu begitu kuatnya sehingga Lawa Ijo terputar setengah lingkaran. Maka kembali Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan ini. Belum lagi kaki Lawa Ijo itu menjejak tanah, Mahesa Jenar telah memberikan suatu tendangan dan dengan tumitnya ia mengenai lambung lawannya. Kembali Lawa Ijo terlompat beberapa langkah.

Karena dada Lawa Ijo memang sudah terluka, maka pukulan ini rasanya jauh lebih hebat dari serangan yang pertama, sehingga Lawa Ijo terlompat ke belakang. Mahesa Jenar yang akan memburunya, terpaksa segera menghentikan geraknya.

Seleret sinar putih terbang menyambar dadanya. Secepat kilat ia miringkan tubuhnya, dan sinar putih itu lari hanya berjarak setebal daun dari dadanya, mengenai dinding balai perbendaharaan dan langsung menancap di sana hampir sampai ke tangkainya.

TERNYATA benda itu adalah sebilah pisau yang pada tangkainyadiikatkan secarik kain yang bergambar seekor kelelawar hijau dengan kepala serigala. Melihat pisau itu tertancap begitu dalam, hati Mahesa Jenar tersirap juga. Kalau saja pisau itu menancap di dadanya, entahlah apa jadinya.

Sementara itu terjadilah suatu hal di luar dugaan. Setelah melemparkan pisaunya, segera Lawa Ijo meloncat ke belakang dan secepat kilat ia melarikan diri. Mahesa Jenar tentu saja tak membiarkan Lawa Ijo lari, sehingga ia segera mengejarnya. Tetapi di luar dugaannya pula, kedua orang yang turut mengeroyok Gajah Alit segera meninggalkannya dan menghadangnya.

Mereka sekarang sudah memegang senjata di tangan masing-masing. Sebuah belati panjang. Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali. Sedianya ia sama sekali tak ingin melayani orang itu, supaya tidak kehilangan Lawa Ijo. Tetapi kedua orang itu nekad menyerang Mahesa Jenar. Terpaksa Mahesa Jenar berhenti untuk melayani kedua orang itu. Baik Mahesa Jenar maupun Gajah Alit mengerti akan maksud kedua pembantu Lawa Ijo itu, yaitu untuk memberi kesempatan kepada pemimpinnya supaya dapat meloloskan diri.

Karena itu Gajah Alit pun berusaha untuk menghindari pertarungan dengan lawannya yang tinggal seorang itu untuk dapat mengejar Lawa Ijo. Tetapi lawannya itu pun sudah seperti orang kemasukan setan. Maka akhirnya Mahesa Jenar dan Gajah Alit mengambil keputusan untuk menyelesaikan lawan masing-masing, baru berusaha menangkap Lawa Ijo.

Tetapi belum lagi mereka berhasil menyelesaikan pertempuran itu, Lawa Ijo telah meloncat ke atas dinding halaman. Kemudian kembali terdengar suara tertawa itu, suara tertawa yang menusuk-nusuk hati begitu pedihnya seperti suara rintihan hantu kubur. Dengan cepat tertawanya itu makin lama makin terdengar jauh dan lemah.

Menyaksikan hilangnya Lawa Ijo di depan matanya, Mahesa jenar dan Gajah Alit menjadi gusar bukan kepalang. Dan sekarang kegusarannya itu hanya dapat ditumpahkan kepada lawannya yang ketika itu juga sudah berusaha untuk melarikan diri. Maka dengan kekuatan penuh, Mahesa Jenar segera menghantam lawannya. Pisau yang dipegang oleh kedua orang itu sama sekali tak berarti.
Pukulan Mahesa Jenar melayang mengenai kepala salah seorang di antaranya, sehingga terdengar suatu jerit ngeri. Disusul teriakan keras dari yang seorang lagi karena tulang-tulang rusuknya rontok disambar kaki Mahesa Jenar. Maka seperti batang pisang keduanya roboh di tanah dan tak bergerak-gerak lagi.

Belum lagi gema teriakan itu berhenti, terdengarlah suara keluhan yang tertahan. Rupanya Gajah Alit pun berhasil menyelesaikan pertempurannya. Hanya saja ia mempunyai cara sendiri untuk menumpahkan kemarahannya. Dengan tangannya yang pendek kukuh itu ia menyambar leher lawannya. Lalu dengan ibu jarinya yang kokoh ia menekan leher itu sampai nafas lawannya putus.

Namun meskipun pada pagi harinya terjadi kegemparan dalam istana, serta hampir tiap-tiap mulut menyatakan pujian terhadap Mahesa Jenar dan Gajah Alit, yang telah berhasil menggagalkan usaha Lawa Ijo, bahkan dapat pula membinasakan empat orang anggotanya, tetapi Mahesa Jenar tetap merasa kagum akan kekuatan tenaga batin lawannya. Meskipun terjadi perkelahian begitu hebatnya, serta beberapa kali terdengar teriakan dan suitan, namun tak seorang pun dari mereka yang tertidur karena pengaruh sirep itu terbangun.

Apalagi suara tertawa itu. Alangkah tajamnya, sehingga mempunyai pengaruh yang luar biasa. Orang yang tidak mempunyai daya tahan yang kuat tentu akan terpengaruh karenanya, akhirnya menggigil ngeri dan kehilangan tenaga.

Sekarang, pada saat ia bertanding melawan Watu Gunung untuk kepentingan Ki Asem Gede, kembali ia mendengar tertawa yang demikian. Mirip sekali dengan suara tertawa Lawa Ijo. Orang-orang yang tak berkepentingan serta tak terlibat dalam perkelahian itu pun menjadi menggigil karenanya. Bahkan beberapa orang telah terduduk lemah tanpa kekuatan lagi untuk dapat berdiri.

Mengingat pengalaman berhadapan dengan Lawa Ijo, kegusaran hati Mahesa Jenar seperti tergugah. Dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seseorang penjahat yang sudah berada di bawah hidungnya terluput dari tangannya. Meskipun ia sekarang bukan lagi seorang prajurit Demak, ia tetap memiliki jiwa pengabdian untuk kedamaian hati rakyat. Karena itu sekali lagi ia ingin bertemu dengan Lawa Ijo, yang sejak peristiwa itu namanya tak pernah terdengar lagi.

Mahesa Jenar yakin, bahwa apabila tak terbinasakan, pada suatu saat pasti Lawa Ijo akan muncul kembali. Watu Gunung yang memiliki ciri-ciri khas sama dengan Lawa Ijo, tentu mempunyai hubungan erat. Mungkin Watu Gunung adalah bekas gerombolan Lawa Ijo, atau mungkin juga muridnya. Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mempermainkan orang ini sebagai undangan buat kehadiran Lawa Ijo.

Kenangan dan pikiran-pikiran itu hanya sebentar saja melintas di otak Mahesa Jenar. Sementara itu suara tertawa Watu Gunung sudah kian lemah, kian lemah. Para penonton pun menjadi kian ngeri dan ketakutan. Beberapa orang diantaranya terjatuh lemas seperti dicopoti tulang-tulangnya. Saat yang mengerikan tentu segera tiba. Para penonton yang mengharap segera berakhir riwayat kelima iblis itu, meratap dalam hati.

Tepat pada saat mulut Watu Ganung terkatup, matanya segera berubah jadi merah dan liar. Wajahnya tampak bertambah bengis. Ia memandang Mahesa Jenar dengan tajam. Tangannya direntangkan ke samping, sedangkan jari-jarinya yang kuat itu dikembangkan, siap untuk menerkam dan merobek lawannya. Setapak demi setapak ia maju mendekati umpannya.

Sementara Mahesa Jenar pun telah siap, dan telah mendapat keputusan untuk mempermainkan lawannya. Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati, sebab ia tahu betapa kuatnya Lawa Ijo. Kalau saja orang ini dapat mewarisi segala kehebatan Lawa Ijo, pertarungan tentu akan menjadi sangat sengit.

Ketika jarak mereka tinggal kira-kira dua depa, Watu Gunung menggeram hebat. Lalu dengan gerak yang cepat sekali ia melompat menerkam Mahesa Jenar. Serangan yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga, serta dari jarak yang begitu dekat dengan kecepatan yang tinggi, menjadikan darah para penonton berdesir. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar tidak sempat menghindari serangan itu. Ia hanya dapat melindungi dirinya dengan tangannya, yang disilangkan di muka dadanya untuk menahan terkaman jari-jari Watu Gunung.

Memang saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha menghindar. Ia hanya mempergunakan tangannya untuk melindungi dadanya.

KETIKA serangan itu datang, terdengarlah beberapa jeritan tertahan, justru dari para penonton. Sedangkan Ki Asem Gede pun tak sempat mengedipkan matanya. Mereka mengira bahwa akan terjadi suatu benturan yang dahsyat dan tangan Mahesa Jenar akan dipatahkan.

Tetapi apa yang terjadi adalah jauh dari itu. Sama sekali tak terjadi benturan yang keras. Sebab waktu tangan Watu Gunung menyentuh tangannya, Mahesa Jenar surut ke belakang selangkah untuk memusnahkan tenaga lawan. Sesudah itu ia gunakan enam bagian tenaganya untuk mendorong lawannya.

Watu Gunung sama sekali tidak mengira bahwa ia akan mengalami pelayanan yang demikian. Karena itu seperti bola besi yang dilemparkan ke udara oleh tenaga seekor banteng, ia melayang sebentar dan terjatuh beberapa depa ke belakang. Hanya karena kelincahan dan keuletannya saja maka ia tidak terpelanting dan jatuh bergulingan.

Meskipun tubuhnya bergetar, Watu Gunung berhasil tegak di atas kedua kakinya, bahkan ia telah siap pula dengan sebuah pertahanan.

“Bagus. Ulet juga orang ini,” desis Mahesa Jenar.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mau memberi kesempatan lagi. Watu Gunung geragapan, cepat-cepat ia rendahkan tubuhnya dan melindungi lambungnya dengan siku. Tapi rupanya Mahesa Jenar tidak betul-betul menyerang lambung itu, sebab sebentar kemudian tangan kanannya sudah berputar mengenai tengkuk Watu Gunung. Kembali Watu Gunung terhuyung-huyung ke samping. Dikerahkannya semua tenaganya untuk menahan tubuhnya supaya tidak jatuh, dan dengan susah payah ia berhasil juga.

Perubahan yang terjadi demikian cepatnya itu, menyebabkan para penonton terkejut bukan kepalang. Malahan kemudian ada yang tidak percaya pada apa yang terjadi. Setan mana yang telah membantu Mahesa Jenar mendapat kekuatan itu.

Samparan beserta ketiga kawannya sampai berdiri. Sebagai orang yang penuh pengalaman, Samparan segera melihat kekuatan Mahesa Jenar yang luar biasa itu.

Kalau mula-mula Mahesa Jenar tampak lemah dan tak bertenaga, itu karena ia sedang menjajagi sampai di mana kekuatan lawannya. Kalau mula-mula ia merasa yakin bahwa Watu Gunung akan berhasil, sekarang adalah sebaliknya, ia menjadi yakin kalau Watu Gunung akan binasa, atau setidak-tidaknya namanyalah yang binasa. Rupanya ketiga kawannya pun berpikir demikian.

Apalagi Mahesa Jenar telah mendesak demikian hebatnya. Anehnya, serangan serangan Mahesa Jenar tidak tampak membahayakan. Pada suatu kali, ketika Mahesa Jenar meloncat dengan dahsyatnya ke udara, kakinya bergerak menyambar kepala Watu Gunung, sehingga Watu Gunung terpaksa merendahkan diri untuk menghindar. Tetapi segera kaki itu ditarik, dan sekali menggeliat Mahesa Jenar telah berdiri di belakang Watu Gunung. Tangannya bergerak cepat sekali ke arah kepala Watu Gunung. Serentak hati para penonton tergetar. Hampir saja mereka bersorak, karena pasti kepala Watu Gunung akan terhantam.

Tetapi rupanya Mahesa Jenar berbuat lain. Ia hanya menyambar saja ikat kepala Watu Gunung yang berwarna merah soga itu.

Mendapat perlakuan ini, wajah Watu Gunung menjadi merah, semerah ikat kepalanya yang disambar Mahesa Jenar itu. Giginya gemeretak menahan marah, dan tubuhnya bergetar secepat getaran darahnya. Bagi orang seperti Watu Gunung, lebih baik kepalanya diremukkan daripada dihina sedemikian.

Ki Asem Gede, yang sejak melihat perubahan sikap Mahesa Jenar sudah mendapat kepastian akan akhir dari pertarungan itu, melihat Mahesa Jenar berbuat demikian tak dapat lagi menahan geli hatinya. Tertawanya melontar tak terkendalikan sampai tubuhnya berguncang-guncang.

Mendengar suara Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh, hati Watu Gunung semakin terbakar. Maka secepat halilintar menyambar, tangannya tergerak, dan seleret sinar menyambar dada Mahesa Jenar.

Melihat sinar itu, sesaat Mahesa Jenar bimbang. Kalau ia menghindar, tentu pisau itu akan mengenai salah seorang penonton yang berdiri diluar arena itu. Tetapi ia tidak mempunyai waktu banyak untuk berbimbang-bimbang. Pada saat yang tepat ia miringkan tubuhnya seperti apa yang ia lakukan sewaktu ia menghadapi keadaan yang sama, ketika ia bertempur dengan Lawa Ijo. Tetapi sekarang ia tidak menghendaki pisau itu menelan korban orang yang tak berdosa.

Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, tangan Mahesa Jenar menyambar tangkai pisau itu. Tahu-tahu pisau itu sudah di tangannya.

Melihat adegan itu, penonton menjadi gempar. Mereka menjadi lupa bahwa diantara mereka masih ada empat orang iblis yang menyaksikan pertunjukan itu dengan penuh kemarahan. Kecenderungan mereka untuk memihak Mahesa Jenar akan menambah dendam keempat orang itu.

Ki Asem Gede yang paling tak dapat menguasai dirinya. Seperti orang anak kecil ia berteriak-teriak memuji. “Bagus …, bagus …, bagus ….”

TIBA-TIBA teriakannya dan kegemparan penonton pun mendadak terhenti. Mereka melihat seorang dengan lincah meloncat ke dalam arena sambil memegang sebuah pedang pendek.

Itulah Gagak Bangah. Anggota termuda dari kawanan iblis itu. Rupa-rupanya ia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya melihat Watu Gunung dihinakan sedemikian. Meskipun ia merasa bahwa ia sendiri tidak akan mampu melawan Mahesa Jenar, tetapi berdua dengan Watu Gunung adalah lain soalnya.

Gagak Bangah sendiri tidak sekuat Watu Gunung, tetapi ia mempunyai kelebihan dalam hal kecepatan bergerak. Dan kecepatannya itu apabila digabungkan dengan kekuatan tenaga Watu Gunung mungkin akan dapat merobohkan lawan yang bagaimanapun tangguhnya. Melihat seorang kawannya memasuki arena, hati Watu Gunung yang sudah tipis sekali itu menjadi tergugah kembali. Ia sudah tidak peduli lagi kepada peraturan yang ditentukan dalam pertarungan itu.

Melihat seorang lagi masuk dalam arena, Mahesa Jenar terkejut. Ia surut beberapa langkah ke belakang, dan pandangannya mengandung pertanyaan. Tetapi dengan tak banyak cakap, Gagak Bangah sudah memutar pedang pendeknya dan dengan kecepatan yang luar biasa ia menyerang Mahesa Jenar.

“Tunggu… apakah kau ingin menggantikan Watu Gunung?”

Terpaksa Mahesa Jenar ingin mendapat penjelasan sambil meloncat menghindari serangan itu. Tetapi, ia tidak mendapat jawaban, bahkan kini Gagak Bangah dan Watu Gunung menyerang bersama-sama.

“Kalian melanggar peraturan,” sambung Mahesa Jenar sambil meloncat menghindari sambaran pedang pendek dan kemudian cepat sekali ia meloncat dua depa ke belakang sebelum kaki Watu Gunung mengenai tungkaknya.

“Tidak ada suatu peraturanpun yang dapat mengikat kami,” teriak Gagak Bangah dengan garangnya. “Kami berdiri di atas segala peraturan. Kalau kami berhak menentukan peraturan, kami pun berhak mengubah atau menghapus peraturan itu.”

Mahesa Jenar jadi sadar bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang licik dan tidak bersikap jantan. Ia paling benci pada sifat-sifat yang demikian. Ia lebih menghargai seseorang yang mengakui kekalahannya daripada orang yang licik dan curang. Itulah sebabnya kemarahan Mahesa Jenar tergugah.

Tetapi ia sekarang berhadapan dengan dua orang yang mempunyai keistimewaan masing-masing dan tergolong dalam tingkatan yang cukup tinggi. Karena itu ia harus mengerahkan sebagian besar kepandaiannya.

Ki Asem Gede yang menyaksikan kecurangan itu pun menjadi gusar. Untuk melawan dua orang, belum tentu Mahesa Jenar dapat menang. Karena itu ia sudah membulatkan tekad untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Tetapi baru saja ia akan meloncat, tiba-tiba terdengarlah sebuah bisikan.

“Jangan berbuat sesuatu Ki Asem Gede.”

Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Dan terasa di kedua belah lambungnya melekat ujung senjata tajam. Ketika ia menoleh, dilihatnya Wisuda dan Palian, yakni anggota ke-3 dan ke-4 dari kawanan iblis itu berdiri di belakangnya dan mengancamnya dengan keris. Maka terpaksa Ki Asem Gede mengurungkan niatnya, meskipun hatinya bergelora hebat, sambil menanti suatu kesempatan.

Sementara itu, pertempuran di arena bertambah hebat. Gagak Bangah dengan gesitnya menyambar-nyambar sambil mempermainkan pedang pendeknya, seperti seekor Sikatan menyambar belalang. Sedangkan Watu Gunung pun dengan mengandalkan kekuatannya menyerang dengan garangnya. Apalagi kini ia telah memegang pula sebuah belati panjang yang dicabutnya dari bawah kainnya, seperti yang dilemparkan tadi.

Mahesa Jenar ternyata tidak mengecewakan. Diam-diam ia merasa bersyukur bahwa dengan tidak sengaja Watu Gunung telah memberinya sebilah pisau belati panjang. Dan dengan senjata itu ia melayani kedua lawannya. Ia pernah mendengar bahwa belati kawanan Lawa Ijo terkenal keampuhannya serta terbuat dari baja pilihan. Apalagi kini senjata itu ada di tangan Mahesa Jenar yang mempunyai kepandaian dalam mempergunakan segala macam senjata. Maka dalam waktu yang singkat ujung belati itu dengan dahsyatnya menyerang lawannya dan seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu mata pisau yang mematuk-matuk dengan garangnya.

Keadaan yang seimbang dari pertempuran itu tidak berlangsung lama. Sebab segera Mahesa Jenar berhasil mendesak lawannya ke dalam keadaan yang sulit. Sebenarnya Mahesa Jenar tidak biasa membinasakan lawannya, apalagi tidak ada sebab-sebab yang memaksa. Ia lebih suka mengampuni seseorang apabila orang itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa.

Tetapi tidak demikian halnya terhadap orang-orang yang licik dan curang. Sebab orang-orang yang demikian sudah tidak menghargai lagi sifat-sifat kejantanan dan kekesatriaan. Orang-orang semacam itulah yang selalu akan menimbulkan bencana. Karena itu terhadap orang-orang yang demikian, juga kepada lawannya itu, Mahesa Jenar telah mengambil keputusan untuk membinasakannya.

Maka segera ia merangsang lawannya lebih hebat lagi. Pisau panjang yang berada di tangannya itu bergerak semakin cepat sehingga hampir merupakan gumpalan gumpalan sinar yang bergulung-gulung mengerikan sekali.

Watu Gunung dan Gagak Bangah sama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Maka diam-diam mereka berdua mengeluh dalam hati. Karena mereka tadi memberi kesempatan kepada orang ini untuk bertanding membela anak Ki Asem Gede. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh mereka berdua.

Sesaat kemudian terdengarlah bunyi berdentang dari senjata yang beradu. Ternyata pisau panjang Mahesa Jenar telah menyambar pedang pendek Gagak Bangah. Sambaran itu begitu kuatnya sehingga tangan Gagak Bangah merasa nyeri sekali. Belum lagi ia dapat memperbaiki keadaannya, kembali pedangnya disambar oleh pisau Mahesa Jenar. Dan benar-benar kali ini ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa sehingga pedangnya terpental jatuh.

Melihat keadaan itu, Watu Gunung segera berusaha menolong kawannya. Dengan lompatan yang cepat ia mendesak maju, dan membabat tangan Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar telah menarik tangannya kembali dan dengan sisi telapak tangan kirinya ia menghantam pergelangan tangan Watu Gunung. Hantaman itu sedemikian kerasnya terlepas dari tangannya. Maka kini sampailah saatnya untuk mengakhiri pertempuran.

MAHESA JENAR tidak mau membunuh lawannya dengan senjata. Segera dilemparkannya belati itu, dan secepat kilat sebelum Watu Gunung dan Gagak Bangah sempat menjatuhkan dirinya, kedua tangan Mahesa Jenar masing-masing meraih kepala kedua orang itu. Dengan tenaga yang didasari kegusaran hati, dibenturkannya kedua kepala itu sekuat tenaga. Maka terdengarlah suara hampir seperti sebuah ledakan diikuti oleh jerit ngeri melengking. Sekejap kemudian suara itu terputus dan kedua orang itu rebah di tanah dengan kepala pecah.

Berbareng dengan itu. Ki Asem Gede yang melihat bahwa pertempuran itu hampir selesai, segera memutar otaknya. Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari ancaman Wisuda dan Palian. Sebab tidak mustahil apabila kedua orang itu melihat kedua kawannya dibinasakan, maka mereka pun akan dibinasakan pula. Maka untuk sementara Ki Asem Gede berbuat seperti orang yang ketakutan dan tak berdaya.

Ketika Wisuda dan Palian baru memperhatikan saat-saat terakhir dari kedua kawannya, Ki Asem Gede segera bertindak. Dengan kecepatan yang luar biasa ia merendahkan dirinya dan kedua tangannya menangkap pergelangan Wisuda dan Palian yang memegang senjata. Dengan sekuat tenaga kedua orang itu ditarik ke depan lewat atas pundaknya.

Pada saat kedua orang itu terpelanting dengan kedua kakinya di atas, Ki Asem Gede mengubah gerakannya dengan menyentakkan kedua tangan korbannya itu kembali ke belakang. Dengan demikian kedua orang yang sebelumnya sama sekali tidak curiga itu terangkat dan dengan dahsyatnya terbanting ke depan. Kepala dua orang itu membentur tanah. Maka tanpa ampun lagi kedua orang itu lehernya terpuntir dan nafasnya putus seketika.

Orang-orang yang melingkari arena, melihat dua kejadian yang mengerikan dan terjadi pada saat yang hampir bersamaan itu, terdiam seperti patung. Bahkan tubuh mereka hanya dapat sebentar memandang Mahesa Jenar dan sebentar memandang Ki Asem Gede, yang sesudah mengeluarkan seluruh tenaganya itu kemudian menjadi lemas dan terduduk di atas tanah.

Mahesa Jenar tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Asem Gede. Maka ketika ia melihat keadaannya, ia menjadi cemas. Cepat-cepat ia melangkah menghampirinya. Dan pada saat yang demikian para penonton menjadi tersadar tentang apa yang baru saja terjadi. Segera terjadilah kegemparan. Beberapa orang berdesak-desakan ingin menyaksikan mayat-mayat di tengah arena itu, tetapi sebagian ingin melihat apa yang terjadi dengan Ki Asem Gede.

Kegemparan itu segera berubah menjadi jeritan yang hampir bersamaan keluar dari beberapa mulut para penonton. Sebab pada saat Mahesa Jenar sudah hampir sampai pada tempat Ki Asem Gede terduduk, ada tombak meluncur yang datangnya sangat cepat. Apalagi Mahesa Jenar sama sekali tak mengetahui, karena perhatianya tertuju pada Ki Asem Gede.

Mendengar jeritan-jeritan itu Mahesa Jenar terhenti. Dan segera perasaannya yang tajam menangkap bahwa ada sesuatu terjadi di belakangnya. Cepat-cepat ia membalikkan diri. Semuanya itu terjadi hanya dalam waktu yang singkat, maka tak ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menghindarkan diri. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah, dengan tangannya melindungi dada.

Tetapi ketika tombak itu hampir menancap di tubuh Mahesa Jenar, terjadilah suatu benturan yang dahsyat diiringi dengan suara gemericing senjata beradu, sehingga timbullah bunga api yang memancar. Kembali para penonton terkejut bukan main. Kecuali Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede, tak seorangpun yang melihat bahwa dari arah lain menyambar pula sebuah senjata sehingga membentur tombak yang hampir saja menembus tubuh Mahesa Jenar.

Apalagi ketika dua senjata yang beradu itu jatuh di tanah, maka darah orang-orang yang berkeliling arena itu berhenti dibuatnya. Ternyata tombak yang dilempar kearah Mahesa Jenar itu patah ujungnya, sedangkan di sampingnya menancap sebuah trisula,

“Mantingan…!” Teriak salah seorang diantara mereka.

“Ya, Dalang Mantingan,” sahut yang lain.

Sebentar kemudian arena itu telah dipenuhi oleh teriakan orang menyebut nama Mantingan. Memang, Mantingan telah terkenal di daerah itu sejak beberapa waktu yang lampau. Tetapi kemudian lama ia tidak muncul, dan sekarang mereka melihat lagi sebuah trisula, yang bertangkai kayu berian, dan pada pangkalnya berukiran kuncup bunga kamboja. Hampir semua orang mengenal benda itu. Di mana benda itu berada, di sana Mantingan pasti ada, dan sebaliknya.

Tetapi meskipun mereka sudah mengetahui hal itu, ketika mereka mengikuti arah pandangan mata Mahesa Jenar, darah mereka tersirap juga melihat seseorang duduk dengan tenangnya di atas seekor kuda yang berwarna abu-abu. Sungguh mengagumkan. Tetapi kekaguman mereka segera berubah menjadi keheran-heranan ketika mereka melihat Ki Dalang Mantingan, yang mempunyai nama demikian agungnya itu menunduk hormat.

“Malaikat manakah orang ini, sehingga orang seperti Mantingan masih juga menunduk hormat?” pikir mereka.

Tetapi mereka tidak sempat berpikir banyak, sebab mereka segera melihat Mantingan meloncat turun dan memburu ke arah dari mana tombak pendek tadi dilemparkan.

“Kau Samparan?” desis Mantingan.

Dan tampaklah diantara penonton, Samparan yang pucat dan gemetar. Ia kenal betul kepada Mantingan. Kalau pada saat yang lalu ia masih berani membusungkan dada, itu karena membanggakan kekuatan mereka berlima. Tetapi kini empat kawannya telah mengalami nasib yang mengerikan, sehingga hatinya pun berubah menjadi kerdil.

“Masih inginkah kau mengadakan sayembara tanding?” tanya Mantingan melanjutkan.

“Ampun Ki Dalang. Aku hanya sekadar menuruti permintaan Watu Gunung,” jawab Samparan gemetar.

Mantingan tersenyum mendengarkan jawaban ini, dan ia heran pula melihat kelakuan Samparan yang begitu pengecut.

Sementara itu Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede yang sudah agak pulih kekuatannya telah pula berdiri di samping Mantingan.

Melihat tokoh-tokoh itu, hati Samparan semakin kecil dan wajahnya semakin putih. Untunglah bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berhati lapang, selapang lautan yang sanggup menampung aliran sungai.

“AKU ampuni kau kalau anakku pada saat ini masih seperti pada saat kau ambil dari suaminya,” kata Ki Asem Gede kemudian.

“Demi Tuhan, putrimu disentuh pun tidak,” jawab Samparan cepat-cepat.

“Antarkan aku padanya,” perintah Ki Asem Gede.

Segera Samparan mempersilahkan Ki Asem Gede, Mahesa Jenar dan Mantingan untuk mengikutinya. Lewat Gandok sebelah barat, mereka masuk ke belakang menyusup masuk ke dapur, dan di sana mereka masuk ke kamar mandi yang kosong tak berair. Ternyata dasar kolam kamar mandi itu adalah sebuah pintu rahasia untuk memasuki ruang di bawah tanah.

Ki Asem Gede dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Apakah tempat itu bukan suatu alat perangkap saja.

“Kau mau main gila Samparan?” tanya Ki Asem Gede dengan suara geram.

“Mana aku berani berbuat sesuatu terhadap kalian,” sahut Samparan bersungguh-sungguh. Meskipun demikian mereka harus berhati-hati juga. Ki Asem Gede kemudian berjalan dahulu, baru Samparan di belakangnya kemudian Mahesa Jenar dan Mantingan dengan trisulanya di belakangnya lagi sambil mengawasi kalau-kalau Samparan akan mengkhianati mereka.

Ruang di bawah tanah itu terdiri dua bagian. Bagian pertama adalah sebuah ruangan yang terbuka dan kosong, diterangi beberapa obor yang ditancapkan pada dinding ruangan. Di bagian atas ruangan tampak beberapa lubang udara yang dengan jalur-jalur bumbung dari tanah liat dihubungkan dengan udara terbuka. Sedang bagian kedua adalah sebuah ruang yang dipisahkan oleh sebuah dinding papan dengan ruang yang pertama. Dinding itu mempunyai sebuah pintu yang kuat dan dikancing dengan sebuah palang kayu yang cukup besar.

“Di situlah Nyai Wirasaba disimpan oleh Watu Gunung,” kata Samparan sambil menunjuk pada palang pintu yang besar itu.

Ki Asem Gede jadi tertegun. Ia ragu-ragu untuk membuka pintu itu. Jangan-jangan ada sesuatu yang berbahaya. Rupanya Samparan mengerti isi hati Ki Asem Gede, maka sambungnya, “Bolehkah aku membukanya?”

Ki Asem Gede masih ragu-ragu sebentar, tetapi kemudian katanya, “Bukalah, tetapi jangan main gila.”

Samparan maju perlahan-lahan mendekati pintu itu. Matanya memandang dengan tajam, seakan-akan ingin melihat langsung ke dalam ruangan yang tertutup itu. Baru setelah ia merenung sejenak, tangannya bergerak membukanya.

Baru saja pintu itu terbuka, serentak mereka terkejut melihat seorang yang meloncat keluar dan langsung menyerang Samparan dengan sebuah patrem. Untunglah bahwa Samparan sempat menghindar. Tetapi serangan itu tidak hanya terhenti di situ, bahkan bertambah sengit. Hanya sayang bahwa penyerangnnya tidak mempunyai pengetahuan tata berkelahi yang cukup sehingga dengan mudahnya Samparan mengelakkan diri.

Ketika orang itu melihat beberapa orang lain berada di tempat itu, apalagi setelah melihat Ki Asem Gede, ia jadi tertegun dan sebentar kemudian berubah menjadi keheran-heranan.

Tetapi sesaat kemudian ia berlari menjauhkan diri dan memeluk kaki Ki Asem Gede. Ia Nyai Wirasaba, putri Ki Asem Gede.

“Ayah!” serunya. Tetapi kemudian suaranya di kerongkongan. Ki Asem Gede pun memandang putrinya dengan terharu. Dengan susah payah ia berhasil membendung air matanya sehingga tidak mengalir. Baru beberapa lama ia tidak mengujungi putrinya itu. Dan sekarang ia menyaksikan putrinya dalam keadaan yang menyedihkan.

Orang-orang yang menyaksikan perisitiwa itu, mau tidak mau juga merasa terharu. Bahkan Samparan, seorang iblis yang selama ini tidak mempunyai rasa perikemanusiaan sedikitpun, menyaksikan hal itu dengan suatu perasaan yang aneh. Perasaan yang belum pernah dimilikinya.

Setelah suasana agak reda, segera mereka keluar dari ruangan di bawah tanah itu, dan untuk menenangkan perasaan Nyai Wirasaba, mereka sementara waktu beristirahat di gandok sebelah barat.

“Setan-setan itu tidak berbuat jahat kepadamu?” tanya Ki Asem Gede kepada putrinya.
Nyi Wirasaba tidak segera menjawab. Tetapi ia memandang Samparan dengan pandangan yang jijik, benci dan penuh kemarahan.

“Manakah kawan-kawan iblis itu?” tanya Nyi Wirasaba kepada Ki Asem Gede.
Beberapa kali Nyi Wirasaba memandang Mahesa Jenar dan Mantingan dengan penuh pertanyaan. Lamat-lamat ia ingat, bahwa dengan Mantingan ia pernah berkenalan. Tetepi di mana, dan kapan? Sedangkan yang satu lagi sama sekali ia belum pernah melihat.

Ki Asem Gede mengerti perasaan putrinya, maka segera diceritakan apakah yang sudah terjadi. Dan tiba-tiba saja Nyi Wirasaba berdiri lalu membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar dan Mantingan. Dengan suara yang terputus-putus ia menyatakan betapa besar terima kasihnya atas pertolongan mereka. Sekaligus ia teringat bahwa Mantingan telah dikenalnya pada waktu mereka masih sama-sama kecil. Tetapi yang kemudian tak lagi pernah bertemu sejak Mantingan mengikuti gurunya ke Wanakerta.

MAHESA JENAR dan Mantingan tak habis-habisnya memandangi wajah Nyi Wirasaba. Wajarlah kiranya kalau Watu Gunung tergila-gila kepadanya. Betapa bahagianya orang itu, yang telah menerima anugerah Tuhan berupa kecantikan wajah yang sempurna, dan keserasian tubuh yang tanpa cela.

Mantingan yang pada masa kanak-kanaknya sering bermain dan bertengkar bersama, tidak pernah membayangkan bahwa pada usia dewasanya perempuan ini akan memiliki kelebihan dari kawan-kawannya sepermainan.

Tak seorang pun yang mengetahui bahwa Nyai Wirasaba sendiri selalu meratap di dalam hati, menyesali nasibnya yang jelek. Karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bulat, yang telah beberapa kali menjeratnya ke dalam kesulitan-kesulitan yang hampir tak dapat diatasi. Bahkan pada saat yang terakhir ini, ia telah mengambil keputusan bahwa apabila tak ada pertolongan yang datang, ia lebih baik mengakhiri hidupnya dengan sebilah patrem yang berhasil dibawanya di dalam sabuknya, daripada hidup di dalam lingkungan iblis-iblis itu.

Setelah perasaan Nyi Wirasabaa agak tenang, maka segera Ki Asem Gede mengajaknya meninggalkan rumah itu. Di luar masih banyak orang yang sejak tadi belum mau meninggalkan halaman itu. Meskipun mereka setiap hari melihat wajah Nyi Wirasaba, kalau Nyi Wirasaba kebetulan pergi ke pasar atau ke sawah, tetapi kali ini mereka ingin juga melihat wajah itu. Wajah yang menjadi sebab berakhirnya kelaliman Samparan dan kawan-kawannya.

Ketika Nyi Wirasaba tampak melangkah ke luar pintu rumah Samparan, orang-orang berdesak-desakan mengerumuninya. Nyi Wirasaba menunduk malu. Di belakangnya menyusul Ki Asem Gede, Mantingan, Mahesa Jenar dan kemudian Samparan.
Suasana segera berubah menjadi tegang kembali ketika tiba-tiba Mahesa Jenar membalikkan diri, dan secepat kilat menangkap tangan Samparan dan diputarnya ke belakang. Samparan terkejut bukan kepalang, sambil menyeringai kesakitan. Tangan Mahesa Jenar yang menangkapnya itu begitu erat seperti tanggem besi yang menjepit tangannya. Bahkan tidak hanya Samparan yang terkejut, tetapi juga orang-orang yang menyaksikan, termasuk Ki Asem Gede dan Mantingan.

“Adakah aku berbuat salah?” rintih Samparan.

“Kau tidak berbuat salah, tetapi aku ingin mendapat keterangan dari kau,” jawab Mahesa Jenar.

Samparan dan orang-orang yang menyaksikan sibuk menduga-duga, keterangan apakah gerangan yang dikehendaki oleh Mahesa Jenar.

“Samparan, kau dan Watu Gunung adalah termasuk dalam satu gerombolan yang mempunyai persamaan kesenangan. Yaitu berbuat kejahatan. Dalam dunia kejahatan, sahabat jauh lebih berharga dari saudara, bahkan orang tua. Rahasia rahasia yang tak pernah didengar oleh keluarga sendiri, kadang-kadang didengar oleh sahabat-sahabatnya. Nah, katakanlah, aku yakin kau mengetahuinya, apakah hubungan Watu Gunung dengan Lawa Ijo?” lanjut Mahesa Jenar.

Mendengar pertanyaan ini Samparan terkejut seperti disambar petir meleset. Tidak pula kalah terkejutnya Ki Asem Gede, Mantingan dan mereka yang ikut mendengarnya. Nama Lawa Ijo adalah nama yang tabu diucapkan. Sebab dengan menyebut namanya saja, sudah cukup alasan bagi Lawa Ijo untuk membunuh. Meskipun pada saat-saat terakhir Lawa Ijo tidak pernah lagi muncul, tetapi apabila nama itu disebutkan, orang yang mendengarnya telah cukup menggigil ketakutan.

Samparan tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri pada suatu titik yang berbahaya sekali. Ia semakin takut kepada Mahesa Jenar, yang sama sekali tak diduganya akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Dari manakah gerangan ia mencium kabar tentang Watu Gunung dan hubungannya dengan Lawa Ijo? Teranglah bahwa ia bukan orang sejajarnya, bahkan tidak sejajar dengan Mantingan. Kalau tidak, ia tidak akan seenaknya saja menyebut nama Lawa Ijo.

Ki Asem Gede dan Mantingan pun tergetar juga hatinya. Mereka berdua pun maklum akan kehebatan Lawa Ijo.

“Jawablah!”- desak Mahesa Jenar. Sementara itu, pegangannya pun makin dikuatkan. Samparan berdesis menahan sakit.

“Aku tak tahu,” jawab Samparan mencoba berbohong. Tetapi belum lagi ia selesai mengucapkan jawabannya, tangannya yang terpuntir itu terasa semakin sakit, dan terangkat ke atas.

“Kau tak mau menjawab?” geram Mahesa Jenar. Keringat dingin memenuhi tubuh Samparan. Ia merasa serba salah, dan seakan-akan ia telah dihadapkan pada suatu keharusan memilih, mati di tangan Lawa Ijo atau Mahesa Jenar.

“Aku tak mengetahui seluruhnya. Aku hanya pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Watu Gunung,” jawab Watu Gunung.

“Apa katanya?” desak Mahesa Jenar pula. Kembali Samparan ragu-ragu.

“Kau takut kepada Lawa Ijo?” bentak Mahesa Jenar yang sudah mulai jengkel.

“Bagus. Kau takut dibunuhnya. Tetapi bagaimana kalau yang melaksanakan pembunuhan itu aku?” lanjut Mahesa Jenar.

Tubuh Samparan mulai menggigil. Ia sudah melihat kedua kawannya dipecahkan kepalanya oleh orang itu. Kalau ia tidak menuruti perintahnya, jangan-jangan kepalanya akan dipecahkan pula. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berkata, dengan harapan Lawa Ijo sudah tidak akan muncul kembali.

“Yang aku ketahui, Watu Gunung adalah tidak saja anggota gerombolan itu, tetapi ia adalah saudara muda seperguruan Lawa Ijo.”

Mendengar jawaban Samparan ini, orang-orang jadi gemetar dan ketakutan. Saudara muda Lawa Ijo binasa di desa mereka.

“Katakan yang lain, aku jadi tanggungan kalau Lawa Ijo marah,” sahut Mahesa Jenar.

Samparan merasa bahwa ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti perintah itu.

“Watu Gunung pasti pernah berkata, di mana Lawa Ijo sekarang.”

Samparan dengan sangat terpaksa akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi sebelum mulutnya bergerak, tiba-tiba ia merasa Mahesa Jenar mendorongnya sehingga ia terpelanting jatuh.

Dan sementara itu sebuah pisau belati melayang tepat lewat tempatnya berdiri tadi, langsung mengenai dinding dan tembus masuk ke dalam rumah. Dalam pada itu, berkelebatlah sesosok tubuh di antara penonton meloncat lari meninggalkan halaman.

MANTINGAN tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Secepat kilat ia memburunya, yang kemudian disusul oleh Mahesa Jenar. Tetapi Mantingan belum berpengalaman menghadapi orang-orang gerombolan Lawa Ijo.

Maka ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang yang dikejarnya itu tiba-tiba berhenti membalikkan diri, dan sebuah sinar putih menyambar dadanya. Mantingan terkejut bukan main. Secepat kilat ia memukul sinar putih itu dengan trisulanya. Terdengarlah suara berdentang hebat.

Tangan Mantingan yang memegang trisula itu bergetar hebat, sedangkan pisau yang dilemparkan ke dadanya itu berubah arah. Tetapi meskipun demikian, lengannya tergores juga sedikit. Ia tertegun mengalami peristiwa itu. Dan Mahesa Jenar yang melihat darah di lengan Mantingan jadi terhenti pula.

Sementara itu orang yang telah melemparkan pisau itu sempat menyelinap di antara pepohonan dan menghilang. Dari kejauhan terdengarlah gema suara orang tertawa. Suara itu mengiris ulu hati seperti suara ringkikan hantu kubur.

“Lawa Ijo telah datang,” desis Mahesa Jenar.

“Diakah Lawa Ijo?” tanya Mantingan.

“Mungkin, tetapi setidak-tidaknya salah seorang dari gerombolan itu,” jawab Mahesa Jenar.

“Aku ingin suatu kali dapat bertemu dengan Lawa Ijo. Nah lupakan dia Kakang Mantingan untuk sementara. Marilah kita kembali. Mungkin Samparan dapat menunjukkan tempatnya,” lanjut Mahesa Jenar.

Maka segera mereka kembali ke rumah Samparan. Tampaklah orang-orang yang masih berdiri di halaman itu berwajah pucat-pucat ketakutan. Beberapa diantaranya menggigil, terduduk tak berdaya. Apalagi waktu terdengar suara tertawa di kejauhan.

Ketika Ki Asem Gede melihat tangan Matingan berdarah, cepat ia berlari menyongsongnya.

“Kau terluka?” tanya Ki Asem Gede.

Mantingan mengangguk mengiakan.

Cepat-cepat Ki Asem Gede memeriksa luka itu. Dan sebentar kemudian tampak ia mengangguk-angguk. “Tidak beracun,” gumannya.

“Karena itu marilah kita lekas meninggalkan tempat ini dan menyerahkan kembali anakku kepada suaminya. Sementara itu aku dapat mengobati luka Adi Mantingan, yang untung tak berbahaya,” kata Ki Asem Gede.

Sementara itu Ki Asem Gede melihat Samparan seperti orang yang tidak sadar terduduk, di tanah. Tingkah Samparan tampaknya menggelikan. Sifat-sifat garangnya sama sekali tak berbekas. Apalagi setelah ia hampir saja disambar pisau. Yang ia tahu pasti, bahwa itulah pisau gerombolan Lawa Ijo.

“Samparan, kau kenapa?” tegur Mahesa Jenar.

Samparan memandang kepada Mahesa Jenar dengan mata yang layu dan mengandung suatu permohonan untuk mendapat perlindungan. Mahesa Jenar menangkap maksud itu.

“Samparan, kau jangan berbuat demikian. Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?
Bagaimanapun kau adalah laki-laki yang mengenal cara untuk membela diri. Meskipun demikian, kalau kau memang merasa tak mampu berdiri sendiri, kau dapat mengikuti Kakang Mantingan nanti ke Prambanan. Aku memang masih memerlukan engkau. Tetapi pada saat ini kau barangkali tidak lagi dapat mengucapkan sepatah kata pun. Kakang Mantingan nanti kalau kembali ke Prambanan, akan mampir kemari menjemputmu. Dan percayalah bahwa pada waktu ini Lawa Ijo tidak akan berani menginjak rumah ini. Sebaliknya kau pun jangan meninggalkan rumah ini. Sebab ada dua kemungkinan, ditangkap oleh Lawa Ijo atau akulah yang akan memburumu,” kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang meyakinkan itu, Samparan menjadi agak
tenang sedikit. Perlahan-lahan ia berdiri dan membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar. Ia mempunyai suatu kesan yang aneh. Kehebatannya, kegarangannya, tetapi juga keluhuran budinya. Sehingga tidak langsung, ia telah memandang ke dirinya sendiri, yang beberapa saat lalu masih merasa sebagai seorang yang tak terkalahkan.

Samparan termenung. Alangkah luasnya dunia ini. Entah berapa saja orang-orang yang sakti tinggal di dalamnya. Baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Yang satu memenangkan yang lain, dan yang lain lagi dapat mengatasinya pula. Dalam waktu yang sesingkat itu, Samparan telah menyaksikan orang-orang seperti Watu Gunung, Ki Asem Gede, Mantingan, Lawa Ijo, dan Mahesa Jenar. Belum lagi nama-nama yang pernah didengarnya dan yang belum dikenalnya.

Segera setelah itu, Ki Asem Gede beserta kawan-kawannya meninggalkan tempat itu untuk menghantar Nyi Wirasaba kepada suaminya yang rumahnya tak begitu jauh, hanya berantara dua bulak yang tak begitu lebar.

Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan.

Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi Wirasaba.

Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka.

Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa. Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?

Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki Asem Gede.

Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki Wirasaba tinggal.

RUMAH Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatang-binatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya.

Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitarnya.

Waktu Mahesa Jenar dan Mantingan melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.

Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan.

”Kakang …, Kakang Wirasaba …, aku kembali Kakang. Kembali kepadamu….” Sesudah itu, yang terdengar hanyalah tangis Nyi Wirasaba yang tak tertahan lagi.

Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu kembali.

Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung. Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam.

”Nyai, masihkah aku berhak menerima kau kembali? Atau masih berhakkah kau kembali kepadaku …?”

Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki Wirasaba.

”Apakah maksudmu, Kakang?”

”Nyai, kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak menerima kau kembali.”

Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali meledaklah tangisnya.

”Kakang, aku masih bersih seperti kemarin, Kakang. Bukankah dengan demikian aku masih berhak kembali kepadamu? Kalau aku tidak lagi merasa berhak kembali kepadamu, kau hanya akan tinggal dapat mengenang namaku, sebab aku telah bertekad untuk bunuh diri. Tetapi kalau orang lain yang membebaskan aku, kenapa kau merasa tidak berhak lagi menerima aku?” kata Nyi Wirasaba diantara sedu-sedannya.

”Nyai, laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri,” jawab Wirasaba.

Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.

Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat menduga, kalau orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Tetapi yang masih merupakan pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?

Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya, Wirasaba menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat dengan tetap masih duduk bersila di atas pembaringannya.

”Selamat datang Bapak Asem Gede.”

Ki Asem Gede membalas hormat.

”Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat ia diambil darimu.”

Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.

”Siapakah yang telah membebaskan istriku?” tanya Wirasaba.

Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini dianggap merendahkan orang tua itu.

MELIHAT gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi hatinya.

“Bapak Asem Gede, aku mempunyai dugaan bahwa orang itu telah membebaskan istriku. Aku juga mempunyai dugaan bahwa orang itu telah berhasil membebaskan istriku dengan kekerasan. Sebab mustahil Samparan dan Watu Gunung akan melepaskan korbannya begitu saja sebelum nyawanya dapat dicabut. Adakah orang yang menyabung nyawa tanpa pamrih?”

Mendengar sindiran itu, hati Mahesa Jenar tergoncang hebat. Tidak kalah pula terperanjatnya Mantingan dan Ki Asem Gede, sehingga wajah mereka menjadi semburat merah. Nyi Wirasaba melihat gelagat yang kurang baik itu. Dan kembali sebuah goresan tajam melukai hatinya yang sudah hampir sembuh. Cepat ia menjatuhkan diri di samping pembaringan suaminya, berlutut sambil menangis.

“Kakang, aku telah kembali kepadamu. Jangan lepaskan aku lagi.”

Mendengar ratap istrinya, sebenarnya hati Wirasaba terobek-robek karenanya. Ia pun sebenarnya sangat mencintai istrinya, sebagaimana istrinya mencintainya. Tetapi perasaan harga diri yang berlebih-lebihan telah melibat hati Wirasaba, sehingga sedikit pun ia tidak menunjukkan getaran perasaannya.

Mata Wirasaba yang sayu memandang keluar lewat jendela di samping pembaringannya. Memandang daun-daun yang bergoyang-goyang digerakkan angin, serta kilatan-kilatan matahari yang jatuh bertebaran di atas tanah pegunungan yang kemerah-merahan.

Suasana kemudian dikuasai oleh kesepian yang tegang. Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Kutuk apakah yang ditimpakan Tuhan atas dirinya, sehingga ia mengalami suatu kejadian yang demikian rumitnya? Haruskah pada suatu saat ia berhadapan dengan Wirasaba sebagai lawan? Kalau demikian, maka menang atau kalah ia akan tetap sama saja. Sama-sama mengalami penderitaan batin.

Kalau Mahesa Jenar kalah, maka kekalahan itu tak akan dapat dilupakannya seumur hidupnya. Sebaliknya kalau ia menang, bagaimanakah nasib Nyai Wirasaba? Sebab dengan demikian Ki Wirasaba pasti tidak akan mau menerimanya kembali. Bahkan mungkin ia akan membunuh dirinya.

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jalan keluar, tiba-tiba didengarnya Wirasaba berkata,

“Nyai, aku akan menerima kau kembali sebagaimana kau terlepas dari tangan Samparan.”

Suara Wirasaba itu terdengar sebagai gemuruhnya seribu guntur yang menggelegar bersama-sama. Suasana menjadi bertambah tegang. Peluh dingin telah mengalir di seluruh tubuh Mahesa Jenar. Apa yang diduganya ternyata benar-benar terjadi.

Sampai saat itu pun ia masih belum dapat menemukan suatu pilihan. Bagaimanapun, sebagai seorang laki-laki ia tidak bisa menelan tantangan itu begitu saja. Sehingga dengan demikian tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya yang melonjak lonjak. Hampir saja ia melangkah maju dan menerima tantangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Nyai Wirasaba masih menangis, bahkan makin menjadi-jadi, ia kembali ragu-ragu.

Akhirnya setelah perasaannya berjuang beberapa lama, Mahesa Jenar mengambil suatu keputusan yang sangat berat. Sebagai seorang laki-laki, apalagi sebagai seorang yang berjiwa prajurit, ia belum pernah menghindari suatu tantangan. Tetapi kali ini bertekad, berkorban buat kedua kalinya, untuk ketentraman hidup putri Ki Asem Gede. Karena itu ia berdiam diri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ki Asem Gede menjadi kebingungan, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ia pun mempunyai pikiran yang sama dengan Mahesa Jenar. Kalau saja Mahesa Jenar menerima tantangan itu, Mahesa Jenar bukanlah tandingan Wirasaba. Bagaimanapun hebatnya menantunya, tetapi setinggi-tingginya yang dapat dicapainya adalah tingkat Dalang Mantingan. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini.

Belum lagi suasana yang tegang itu terpecahkan, mendadak mereka dikejutkan oleh suatu bayangan yang melayang, meloncat masuk lewat jendela yang terbuka di samping pembaringan Wirasaba. Geraknya cepat dan lincah sekali. Mereka menjadi semakin terperanjat ketika mereka melihat siapakah orang itu. Ternyata orang yang telah berdiri tegak diantara mereka adalah Samparan.

“Pengecut tua, kau curi anakmu dengan laku seorang perempuan. Aku telah merampasnya dengan kejantanan. Aku telah melukai dua orang murid Wirasaba yang menghalangi maksudku. Seharusnya kau ambil perempuan itu dengan laku seorang jantan pula. Nah, sekarang aku datang untuk mengambilnya kembali,” teriak Samparan sambil menuding wajah Ki Asem Gede.

Melihat tingkah laku, sikap dan kata-kata Samparan, Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Apalagi yang mau diperbuat oleh setan kecil ini?

Sedangkan Mantingan mempunyai tanggapan lain. Mungkin kawanan Lawa Ijo telah datang untuk menuntut balas atas kematian Watu Gunung dengan mempergunakan Samparan sebagai umpan.

Lain pula dengan Ki Wirasaba. Melihat kedatangan Samparan dan mendengar kata-katanya, matanya menjadi berkilat-kilat. Seakan-akan suatu cahaya terang memancar di dalam jiwanya.

“Samparan, kau pun tidak berlaku jantan. Kau tidak mengambil istriku dari tanganku. Kau hanya berani melayani anak-anak yang baru dapat meloncat-loncat tak berarti. Kalau benar katamu, Bapak Ki Asem Gede mengambil istriku, Bapak Asem Gede ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Nah, sekarang, kalau kau inginkan istriku, ambillah ia dari tanganku dengan laku seorang jantan,” sahut Wirasaba.

Samparan tertawa dingin.

“Kau bermaksud demikian?”

Ki Wirasaba tertawa nyaring. Wajahnya kini menjadi cerah seperti cerahnya matahari.

Mahesa Jenar yang berotak cerdas segera menangkap arah persoalannya. Diam-diam ia memuji kelincahan otak Samparan. Tetapi lebih dari itu, ia kagum maksud baik Samparan, meskipun dengan tindakannya itu ia menghadapi kemungkinan yang berat sekali.

“Kau telah mengundang orang-orang ini untuk melindungi istrimu?” tanya Samparan dengan nada menghina.

Wirasaba yang tinggi hati, segera merasa tersinggung. Dengan marahnya ia menjawab.
“Samparan, mulutmu terlalu lancang. Aku belum kenal mereka keduanya. Mereka datang bersama-sama Bapak Asem Gede. Urusan ini adalah urusanku dengan kau. Jadi kau dan akulah yang harus menyelesaikan.”

KEMBALI Samparan tertawa dingin.“Wirasaba, jangan kau mimpi akan masa lampau. Memang beberapa tahun yang lalu kau merupakan seorang tokoh yang mempunyai nama cemerlang. Sebutanmu cukup menggetarkan. Tetapi dengan kakimu yang lumpuh sekarang ini, kau menjadi sebatang seruling gading yang telah retak,” kata Samparan.

Mahesa Jenar dan Mantingan terperanjat dua kali lipat. Ternyata Wirasaba adalah orang yang terkenal dengan sebutan Seruling Gading. Seorang tokoh penggembala yang tak ada tandingannya diantara mereka. Kekuatan tubuhnya dan kepandaiannya meniup seruling merupakan suatu paduan yang sudah ditemukan. Tetapi Seruling Gading itu kini sudah lumpuh.

Kata-kata Samparan itu juga merupakan jawaban atas teka-teki yang selama ini selalu membelit pikiran Mahesa Jenar dan Mantingan. Karena kelumpuhannya itu pulalah agaknya, maka Wirasaba tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya.

Mendengar ejekan Samparan itu, hati Wirasaba menjadi terbakar. Ia sudah hampir tak dapat menguasai kemarahannya. Cepat tangannya meraih senjatanya dari bawah bantalnya. Sebuah kapak bertangkai yang panjangnya kira-kira hampir sedepa.

“Kalau kau tidak membawa senjata, Samparan …, kau boleh meminjam senjata-senjata ku. Manakah yang kau sukai?” kata Wirasaba sambil menunjuk ke sudut ruang. Pada dinding yang ditunjuk itu bergayutan bermacam-macam senjata. Kapak, tombak, pedang, keris dan sebagainya.

Perlahan-lahan Samparan berjalan ke sudut ruang tempat senjata itu tergantung. Dengan tenangnya ia mulai menimang-nimang senjata itu satu demi satu.

“Wirasaba, alangkah banyaknya jenis senjatamu sebagai pertanda kebesaran namamu.”

“Hanya saja tak satu pun sebenarnya yang cukup berharga kau pergunakan. Tetapi baiklah aku mencoba tombak pendekmu ini untuk melayani kapakmu yang terkenal itu.”

Wirasaba menjadi bertambah marah mendengar celaan itu, sehingga kemudian ia tidak sabar lagi. Ia telah bersiap dan menggeser tubuhnya ke tepi pembaringan. Samparan yang telah mendapatkan pilihan senjata diantara sekian banyak macam senjata yang tergantung di sudut ruang itu pun segera mempersiapkan diri.

Ki Asem Gede dan Mantingan segera mengetahui pula maksud Samparan. Itulah sebabnya mereka berdiri termangu-mangu penuh kekhawatiran akan keselamatan Samparan. Tetapi Samparan berdiri tenang-tenang saja, meskipun ia tahu pasti tingkat ketinggian ilmu Wirasaba.

“Samparan, mulailah!” Wirasaba menggeram tidak sabar lagi.

Samparan memperdengarkan suara tertawa yang hambar dan dingin. Sebentar ia memandang wajah Mahesa Jenar yang dikagumi. Sorot matanya memancar aneh, sebagai sorot mata anak-anak yang dilepas dari pelukan bapaknya yang akan pergi berperang.

Tetapi sekejap kemudian Samparan segera meloncat dengan lincahnya, sambil memutar tombaknya menyerang Wirasaba.

Mahesa Jenar melihat segala gerak Samparan dengan terharu. Ia memandang Samparan sebagai seorang anak yang telah hilang, dan kini sedang berusaha untuk kembali ke pangkuan kebenaran. Samparan sedang berjuang untuk menebus segala dosa yang pernah dilakukan.

Samparan mulai dengan sebuah tusukan ke arah dada Wirasaba. Sebenarnya gerak Samparan cukup lincah dan mantap. Hanya sayang bahwa ia tidak dapat menyelaraskan gerakan-gerakan kaki dengan tangannya. Sedangkan Wirasaba ternyata memang seorang yang berilmu cukup tinggi. Meskipun ia tidak dapat mempergunakan kakinya, tetapi dengan gerak tangannya yang tampaknya tidak banyak membuang tenaga, ia dapat menangkis serangan-serangan Samparan, sehingga tusukannya meleset ke samping. Bahkan sekaligus ia siap menghantam lengan Samparan dengan tangkai kapaknya.

Cepat Samparan menarik serangannya, dan selangkah meloncat ke kiri. Kembali mata tombak Samparan akan mematuk lambung lawannya. Namun Wirasaba cukup cekatan. Dengan tenaganya, ia memutar kapaknya untuk menangkis serangan tombak Samparan.

Demikianlah, pertarungan itu semakin lama semakin bertambah sengit. Samparan telah mengeluarkan hampir segenap ilmunya untuk menundukkan lawannya. Sedangkan Wirasaba, bagaimanapun hebatnya, namun karena ia hanya mampu menangkis serangan lawannya dan hanya mampu menyerang dalam jarak yang sangat terbatas, maka tampaklah ia mulai terdesak. Untunglah bahwa ia memiliki sepasang tangan yang kuat dan cekatan, sehingga pada saat-saat yang sangat berbahaya ia masih berhasil membebaskan dirinya dari ujung tombak Samparan.

Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede, yang menyaksikan pertarungan itu, mengikuti dengan perasaan yang tegang. Berbagai macam gambaran membayang di kepala masing-masing. Kali ini pun mereka diliputi oleh kecemasan-kecemasan yang sangat tak menyenangkan.

Apalagi Nyai Wirasaba yang tak dapat mengerti persoalan yang dihadapi saat itu. Hatinya menjadi bergolak sedemikian hebatnya, sehingga ia tidak berani lagi menyaksikan pertempuran itu.

Maka, semakin lama semakin jelaslah bahwa Samparan akan berhasil menguasai keadaan. Ia mempergunakan suatu cara yang sangat menguntungkan. Sesaat ia meloncat maju sambil menyerang, tetapi sesaat apabila serangannya gagal, ia segera meloncat surut menjauhi Wirasaba untuk menghindari serangan-serangannya yang sangat berbahaya.

Melihat cara Samparan bertempur, Wirasaba menjadi semakin kalap, disamping rasa penyesalan yang meluap-luap atas cacat kaki yang dideritanya. Karena itulah maka cara bertempurnya pun semakin lama menjadi semakin kabur. Sehingga pada suatu saat, dengan gerak tipu yang cepat sekali, tombak Samparan mengarah ke leher Wirasaba. Wirasaba segera mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan itu. Tetapi selagi kapak Wirasaba bergerak, Samparan mengubah serangannya. Dengan satu putaran yang cepat tombaknya mengarah ke perut Wirasaba.

Melihat perubahan yang cepat sekali itu Wirasaba terkejut, secepat kilat ia mengayunkan kapaknya memukul tombak Samparan. Pada saat yang demikian, kedudukan Wirasaba menjadi lemah sekali. Kalau Samparan menghindari bentrokan itu, kemudian dengan perubahan sedikit ia memukul kapak Wirasaba dengan arah yang sama, maka mungkin sekali kapak itu akan terlempar jatuh. Tetapi pada saat ia akan melakukannya, tiba-tiba terlintaslah di dalam benaknya, suatu ingatan, bahwa ia tidak benar-benar berhasrat untuk mengalahkan Wirasaba.

SAMPARAN datang sekadar untuk membebaskan Mahesa Jenar dari syak wasangka.

Kalau ia betul-betul memenangkan pertarungan itu, maka maksudnya untuk menebus kesalahannya, tidak akan berhasil. Ia tidak akan dapat mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga Wirasaba yang telah dirusaknya. Malahan mungkin ia akan menyaksikan Wirasaba yang akan merasa sangat tersinggung kehormatannya itu, bunuh diri, bahkan akan disusul pula oleh istrinya. Karena pikiran yang demikian, maka sesaat Samparan kehilangan pemusatan pikiran.

Sementara itu, waktu yang sesaat itu dapat dipergunakan oleh Wirasaba sebaik-baiknya. Segera ia dapat memperbaiki keadaan. Dengan suatu gerakan yang dahsyat, kapaknya mengayun ke arah kepala Samparan. Samparan tersadar tepat pada saatnya. Tetapi ia tidak lagi dapat menghindar. Segera disilangkannya tombak pendeknya untuk menangkis kapak Wirasaba. Maka terjadilah suatu benturan yang hebat.

Ternyata tenaga Wirasaba luar biasa kuatnya. Juga tombak Wirasaba yang dipergunakan Samparan adalah tombak pilihan yang tak terpatahkan oleh kekuatan Wirasaba sendiri. Tetapi tenaga Samparan lah yang tak dapat menandingi kekuatan-kekuatan itu, sehingga tangan yang memegang tombak itu tergetar hebat, dan tombak itu meleset lepas dari pegangannya.

Mereka yang menyaksikan kejadian itu darahnya serasa terhenti. Sebab kelanjutannya tentu akan mengerikan sekali. Mahesa Jenar yang sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi, hampir saja meloncat maju untuk mencegahnya. Untunglah segera ia sadar, bahwa kalau ia berbuat demikian, akibatnya akan sangat tidak menyenangkan bagi dirinya maupun bagi ketenteraman hati Wirasaba. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah mengharap suatu keajaiban sehingga apa yang ditakutkan itu tidak terjadi. Tetapi rupanya tidak demikianlah yang terjadi.

Tombak Samparan yang disilangkan itu berhasil menyelamatkan kepalanya, tetapi kapak Wirasaba yang terayun demikian derasnya dan digerakkan oleh kekuatan yang luar biasa itu, tidak seberapa mengalami perubahan arah. Maka terjadilah suatu goresan panjang merobek dada Samparan.

Terdengarlah suatu keluhan yang tertahan. Samparan terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Dari lukanya menyembur darah yang merah segar. Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede tergoncang hatinya melihat peristiwa itu. Telah berapa puluh kali mereka melihat darah yang mengucur dari luka, tetapi jarang mereka mengalami kejadian seperti ini.

Wirasaba yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu, memandang Samparan dengan tak berkedip. Dari wajahnya memancar perasaan puas dan dendam sedalam lautan. Ia merasa bahwa dengan demikian telah terbalaslah sebagian rasa sakit hatinya, dan ia merasa bahwa tak ada hutang budi kepada siapapun.

Samparan, yang dadanya terbelah, masih berusaha sekuat sisa tenaganya untuk keluar dari ruangan itu. Kedua tangannya ditekankan pada dadanya yang terluka itu.
Mahesa Jenar memandangnya dengan penuh haru. Cepat ia menyusul, diikuti oleh Mantingan dan Ki Asem Gede. Tepat sampai di luar pintu, rupanya Samparan sudah tidak dapat lagi menguasai keseimbangan badannya. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat menangkapnya, ketika ia hampir saja terjatuh. Dan dengan perlahan-lahan Samparan diletakkan di atas tanah.

Meskipun lukanya sangat membahayakan, tetapi wajah Samparan sama sekali tak menunjukkan rasa sakit. Bahkan dengan tenangnya ia memandang Mahesa Jenar, Matingan dan Ki Asem Gede berganti-ganti. Kemudian dengan tersenyum ia berkata, “Ki Asem Gede. Ki Dalang Mantingan dan Ki Sanak Mahesa Jenar, aku sudah berusaha untuk mengurangi kesalahanku.”

“Puaskanlah hatimu. Nah sekarang biarlah aku mencoba menyembuhkan luka-lukamu,” jawab Ki Asem Gede sambil mengangguk-angguk.

“Tak ada gunanya, Ki Asem Gede,” jawab Samparan sambil menggelengkan kepalanya, dengan suara sangat pelan.

“Biarlah aku coba,” desak Ki Asem Gede, meskipun ia sendiri sudah melihat, bahwa hampir tak ada kemungkinan untuk mengobati luka Samparan itu.

Kembali Samparan memaksa dirinya tersenyum dan menggeleng perlahan-lahan.

“Ki Sanak Mahesa Jenar …, sebelum aku mati, baiklah aku katakan kepadamu suatu rahasia yang ingin kau ketahui. Bukankah sekarang aku tidak perlu takut kepada Lawa Ijo dan kepada siapapun? Kau mau mendengar?” desah Samparan kemudian.

Mahesa Jenar segera merapatkan dirinya. Lalu jawabnya, “Aku ingin mendengar, Samparan. Tetapi sekarang bukan waktunya. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah, karena itu kau harus beristirahat.”

Samparan menarik nafas dalam-dalam. “Waktuku tinggal sedikit. Dengarlah. Menurut Watu Gunung, Lawa Ijo sekarang berada di Pasiraman. Sebuah telaga kecil di seberang hutan Mentaok. Desa tempat tinggalnya itu pun bernama Desa Pasiraman pula.
Desa itu terletak tepat di tepi hutan. Agak ke barat sedikit terdapatlah hutan yang hampir dipenuhi oleh pohon pucang, sehingga hutan itu disebut Alas Pucang Kerep,” kata Samparan. Samparan berhenti sebentar. Terdengar arus nafasnya semakih cepat.

“Beristirahatlah Samparan. Keterangan itu sudah cukup bagiku,” jawab Mahesa Jenar

SAMPARAN berusaha untuk menggeleng.“Belum cukup. Di sana Lawa Ijo sedang menggembleng diri. Ia sedang berusaha untuk memulihkan luka-lukanya yang dideritanya ketika ia sedang berusaha mencuri pusaka-pusaka di Kraton Demak,” lanjut Samparan sangat lemah.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar keterangan itu.

“Kalau demikian, Lawa Ijo inilah yang pernah dilukainya dahulu,” pikir Mahesa Jenar.

“Usaha Lawa Ijo untuk memulihkan diri, ternyata sekarang sudah berhasil. Ia selalu berada dalam pengawasan gurunya. Aku belum pernah bertemu dengan gurunya itu, tetapi seperti apa yang digambarkan oleh Watu Gunung, aku dapat membayangkan bahwa gurunya itu adalah seorang iblis yang jarang ada duanya,” sambung Samparan hampir berbisik-bisik.

Mahesa Jenar menjadi tertarik pada cerita Samparan, sehingga ia lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang yang luka berat. Maka desaknya tidak sabar, “Siapakah nama gurunya itu?”

“Ia adalah seorang yang mempunyai kesaktian luar biasa. Namanya Pasingsingan.”

“Pasingsingan?” ulang Mahesa Jenar. Terkejutnya bukan alang kepalang.

Mahesa Jenar pernah mendengar nama itu dari gurunya, baik Syeh Siti Djenar maupun Ki Ageng Pengging Sepuh. Tetapi tokoh ini sama sekali tak digambarkan sebagai seorang tokoh yang aneh dan sakti. Tetapi yang didengarnya, Pasingsingan adalah seorang yang luhur budi. Seorang penolong yang tak pernah memperkenalkan wajah aslinya, karena ia selalu memakai topeng. Hanya karena topeng itu dibuat sedemikian kasar dan jelek, maka Pasingsingan digambarkan sebagai seorang yang berwajah menakutkan.

Adakah sesuatu peristiwa yang terjadi sehingga tokoh itu berbalik diri dari lingkungan putih ke lingkungan hitam? Tetapi sementara itu Samparan telah mulai berbisik lagi. “Beberapa waktu yang lalu …, Lawa Ijo pernah dilukai oleh seorang senapati Demak, waktu ia sedang berusaha untuk mendapatkan pusaka.”

Mendengar cerita ini Mahesa Jenar semakin tertarik.

“Ki Sanak, dalam lingkungan golongan hitam terdapat suatu kepercayaan, bahwa barang siapa memiliki sepasang pusaka yang mereka perebutkan, adalah suatu pertanda bahwa orang itu akan dapat merajai seluruh golongan hitam. Dengan demikian akan cukup kekuatan dan dukungan bila pada suatu saat mendirikan suatu pemerintahan tandingan yang kekuasaannya akan dapat menyaingi kekuasaan Demak.” Suara Samparan menjadi semakin perlahan-lahan, tetapi masih cukup jelas.

“Sedangkan Lawa Ijo, atas petunjuk Pasingsingan, akan mencuri langsung pusaka asli, yang menurunkan sepasang pusaka yang diperebutkan itu,” lanjut Samparan.

“Apakah ujud dan nama pusaka-pusaka itu?” Tiba-tiba Ki Asem Gede menyela.

Samparan menarik nafas untuk mengatasi denyut jantungnya yang semakin memburu.

“Pusaka-pusaka itu berupa keris. Seekor naga bersisik seribu dan sebuah keris lain berlekuk sebelas dengan pamor yang memancarkan cahaya kebiru biruan.”

“Naga Sasra dan Sabuk Inten,” potong Dalang Mantingan mengejutkan.

“Ya, demikian mereka menyebut namanya. Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi yang sepasang, yang mereka perebutkan itu masih meragukan. Pasingsingan mengira bahwa keris itu hanyalah keturunannya saja, sedang yang asli masih berada di keraton. Untunglah bahwa pada saat Lawa Ijo akan mencuri pusaka-pusaka itu, ada dua orang prajurit terlepas dari pengaruh sirepnya yang terkenal. Empat orang anak buah Lawa Ijo terbunuh, sedangkan Lawa Ijo sendiri terluka di bagian dalam dadanya,” jelas Samparan.

Sekarang Mahesa Jenar semakin bertambah jelas bahwa Lawa Ijo yang berusaha memasuki gedung perbendaharaan itulah yang dimaksud oleh Samparan.

“Untunglah bahwa ada orang-orang seperti kedua prajurit itu. Alangkah gagahnya. Kemudian Lawa Ijo dapat mendengar bahwa kedua prajurit itu bernama Rangga Tohjaya dan Gajah Alit,” tambah Samparan.

Sekarang Ki Asem Gede dan Mantingan yang terperanjat. Rangga Tohjaja adalah Mahesa Jenar. Jadi kalau demikian Mahesa Jenar pernah bertempur, bahkan melukai Lawa Ijo. Dengan tak mereka sadari terloncatlah sebuah pertanyaan dari mulut Ki Asem Gede, “Jadi Anakmas pernah melukai Lawa Ijo?”

Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar menjadi bimbang sebentar. Samparan, yang meskipun dalam keadaan parah, tampak wajahnya berubah hebat mendengar pertanyaan Ki Asem Gede itu. Ia menyebutkan bahwa yang melukai Lawa Ijo adalah Rangga Tohjaja dan Gajah Alit, tetapi kenapa Ki Asem Gede bertanya kepada Mahesa Jenar?

Mahesa Jenar menangkap perubahan wajah Samparan. Pikirannya mengatakan, tak baik orang yang pada saat-saat terakhir masih menyimpan teka-teki. Karena itu ia menjawab pertanyaan Ki Asem Gede. Tetapi jawaban ini ditujukan kepada Samparan.

“Samparan, barangkali kau heran, bahkan mungkin tak percaya. Tetapi biarlah aku beritahukan kepadamu supaya kau percaya. Supaya kau menjadi jelas. Akulah Rangga Tohjaja yang kau maksudkan tadi. Memang aku pernah bertempur dan melukai Lawa Ijo di halaman dalam Istana Demak. Karena itulah aku akan selalu mencarinya.”

Belum lagi Mahesa Jenar selesai berkata, tiba-tiba dilihatnya mata Samparan yang tenang itu, membasah. Lalu kata-katanya terputus-putus.

“Jadi … inikah pahlawan itu? Berbahagialah aku dapat bertemu dengan Tuan. Nah, Tuan Rangga Tohdjaja, mudah-mudahan usahaku yang kecil ini dapat mengurangi dosaku. Akhirnya hendaklah tuanku ketahui, bahwa Pasingsingan berpendirian, apabila keturunan dari kedua pusaka itu saja mempunyai kasiat yang demikian, apalagi pusaka-pusaka aslinya.”

Sejenak kemudian wajah Samparan menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia berusaha menguasai jalan pernafasannya. Tetapi bagaimanapun, keadaannya bertambah parah. Darah masih mengalir dari lukanya.

Tiba-tiba sebagai seorang tabib, tersadarlah Ki Asem Gede bahwa ia harus bertindak secepatnya untuk menyelamatkan jiwa Samparan, sampai kemungkinan yang terakhir.

“Adi Mantingan, marilah kita angkat Samparan ini ke Gandok Wetan. Barangkali ada suatu cara untuk mengobatinya,” kata Ki Asem Gede kepada Mantingan.

Mendengar kata-kata itu, segera Mantingan bangkit dan siap bersama-sama Ki Asem Gede mengangkat Samparan.

DENGAN senyuman yang sayu, Samparan berbisik perlahan. “Terimakasih Ki Asem Gede. Tetapi masih ada suatu rahasia lagi yang perlu Tuan ketahui, Rangga Tohjaja. Besok pada bulan terakhir tahun ini, akan ada suatu pertemuan para sakti dari aliran hitam untuk menilai ilmu masing-masing, dan sekaligus mencari seorang tokoh sebagai pemimpin mereka. Kecuali kalau sebelum itu seseorang diantara mereka dapat membuktikan bahwa ia telah memiliki pusaka-pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Dalam hal ini maka mereka hanya akan menentukan urutan hak saudara tua dari setiap gerombolan.”

Kemudian denyut jantung Samparan turun dengan cepatnya. Wajahnyapun menjadi semakin pucat. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk melanjutkan ceritanya.
“Bulan terakhir tahun ini, tepat pada saat purnama naik, di lembah Tanah Rawa-rawa, akan hadir dalam pertemuan itu antara lain Lawa Ijo dari Mentaok. Sepasang Uling dari Rawa Pening sebagai tuan rumah, yaitu Uling Kuning dan Uling Putih. Suami-istri Sima Rodra dari Gunung Tidar, Djaka Soka, Bajak Laut yang berwajah tampan dari Nusakambangan, yang mendapat julukan Ular Laut.”

Sebenarnya Samparan masih akan berkata menyebut beberapa nama lagi, tetapi ia sudah terlalu lemah.

“Sudahlah Samparan. Jangan pikirkan semua itu. Tenangkanlah dan beristirahatlah,” potong Ki Asem Gede.

Samparan tersenyum buat terakhir kalinya. Ia menarik nafas panjang, dan sesudah itu terhentilah denyut jantungnya. Mereka yang menyaksikannya, untuk sesaat menundukkan kepala masing-masing dengan rasa haru.

Perlahan-lahan tubuh itu kemudian diangkat dan diletakkan di atas bale-bale di Gandok Wetan. Tetapi wajahnya sekarang tidak lagi membayangkan kejahatan seperti yang pernah dilakukan semasa hidupnya. Wajah itu kini bagaikan kotak kaca yang sudah dibersihkan isinya dari kotoran-kotoran yang semula memenuhinya.

Kemudian Ki Asem Gede segera memanggil beberapa orang pelayan dan murid-murid Wirasaba. Mereka diminta merawat mayat Samparan. Mayat seorang yang pernah menggemparkan Pucangan dengan kejahatan-kejahatan. Selain itu, kepada murid-murid Wirasaba bahkan kepada Nyi Wirasaba, Ki Asem Gede minta supaya tidak mengatakan suatu apapun tentang peristiwa Samparan dan kawan-kawannya kepada Ki Wirasaba.

Maka, Samparan adalah satu-satunya diantara kelima orang gerombolannya yang mendapat penghormatan terakhir pada saat penguburannya. Pengorbanan Samparan sebagai penebus dosa tidaklah sia-sia. Untuk beberapa lama Ki Wirasaba dapat menikmati ketenteraman hidupnya kembali di samping istrinya yang setia.

Pada malam setelah semua peristiwa itu terjadi, Mantingan dan Mahesa Jenar diminta untuk tinggal di rumah Ki Wirasaba bersama-sama Ki Asem Gede. Tetapi untuk menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan salah faham, maka sengaja Mantingan dan Mahesa Jenar tidak banyak bercakap-cakap dengan Ki Wirasaba. Hanya dalam kesempatan itu, ketika mereka duduk-duduk bertiga, Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan dan Ki Asem Gede, berceriteralah orang itu, tentang sebab-sebabnya Ki Wirasaba menjadi lumpuh.

“Wirasaba adalah seorang pilihan dalam kalangannya. Yaitu para penggembala. Ia mendapat gelar Seruling Gading karena kepandaiannya meniup seruling. Pada usia yang masih sangat muda, ia mulai dengan perantauannya dari satu daerah ke daerah yang lain untuk menuruti keinginannya yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Ia sebenarnya berasal dari Karang Pandan, di kaki Gunung Lawu. Sehingga pada suatu saat sampailah ia ke Prambanan. Kedatangannya bagiku sangat menguntungkan. Sebab pada saat itu aku sedang dibingungkan oleh sebuah lamaran yang mengerikan. Anakku, istri Wirasaba itu, pada saat itu sedang menerima lamaran dari seorang yang sangat ditakuti di daerah kami.

Tetapi orang itu bukanlah orang baik-baik. Adatnya sangat kasar dan angkuh. Sehingga anakku bersumpah di hadapanku, kalau terpaksa ia harus menjalani perkawinan itu, berarti bahwa hidupnya harus diakhiri,” cerita Ki Asem Gede.

“Kehadiran Wirasaba merupakan angin baru bagi anakku. Perkenalan mereka semakin lama menjadi semakin erat. Sebagai orang tua aku segera mengetahui bahwa hati mereka terjalin. Pradangsa, orang yang ingin mengawini anakku itu, melihat hubungan yang semakin erat itu. Ia menjadi marah bukan kepalang. Sebagai seorang yang merasa dirinya tak terkalahkan, ia berusaha menyelesaikan persoalan itu dengan caranya. Ditantangnya Wirasaba untuk berkelahi. Aku yang belum mengetahui tingkat ilmu yang dimiliki oleh Wirasaba, menjadi cemas. Tetapi Wirasaba sendiri menerima tantangan itu dengan senang hati,” lanjut Ki Asem Gede.

Pada suatu hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pertemuan itu di atas sebuah gundukan pasir di pinggir sungai Opak. Aku yang selalu kecemasan, memerlukan dengan diam-diam berusaha untuk dapat mengikuti pertemuan yang tidak menyenangkan itu.

Yang mula-mula datang ke tempat itu adalah Wirasaba, tepat pada saat warna merah di langit yang terakhir terbenam ke dalam warna kelam. Rupanya sengaja ia datang lebih awal untuk mengetahui keadaan tempat itu.

Setelah beberapa saat ia mengamati tempat itu sejengkal demi sejengkal, maka duduklah Wirasaba di atas sebuah batu di tepi sungai yang mengalirkan airnya yang jernih. Dari dalam bajunya dikeluarkannya sebuah seruling yang terbuat dari pring gadhing. Sambil menunggu kedatangan lawannya, ia mulai berlagu dengan serulingnya itu. “Baru sekali itu aku mendengar Wirasaba meniup serulingnya. Dan memang sudah sewajarnyalah kalau ia mendapat sebutan Seruling Gading,” kata Ki Asem Gede.

Mula-mula serulingnya itu membawakan lagu yang sejuk menyongsong datangnya bulan. Nadanya seperti silirnya angin senja. Kemudian lagu itu menurun makin dalam, tetapi sesaat kemudian melonjak riang, seriang wajah gadis yang menyongsong datangnya kekasih. Sesaat kemudian berubahlah lagu Wirasaba mendendangkan kisah cinta. Sambil menatap wajah bulan, ia berlagu dengan lembutnya.

Tetapi sebentar kemudian ia meloncat berdiri. Sedang serulingnya masih saja berlagu. Dipandangnya tenang-tenang Candi Jonggrang sebagai lambang keagungan cinta yang tiada taranya. Kesanggupan Yang Maha Besar, yang dilahirkan karena cinta. Candi Jonggrang yang mengagumkan itu dapat diciptakan hanya dalam waktu satu malam, sebagai suatu usaha raksasa untuk memenuhi tuntutan cinta.

Maka beralunlah seruling Wirasaba dengan lembut dan mesra. Seakan-akan ia mengungkapkan suatu ceritera rakyat tentang cinta abadi antara Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi. Dan karena itulah maka lahir segala isi bumi ini.

WIRASABA sebagai lazimnya penggembala, tiada dapat terpisah dari serulingnya. Sahabat pada saat-saat sepi, pada saat-saat binatang gembalanya asyik bermain di padang rumput. Karena itulah maka setiap lagu yang dipancarkan dari serulingnya, selalu melukiskan kisah yang terjalin di hatinya.

Sebagai seorang yang hidup bebas di padang-padang terbuka, dalam berlagu pun Wirasaba ternyata tidak mau terikat pada gending-gending yang sudah ada. Lagunya menjangkau jauh melampaui batas gending-gending yang dirasanya terlalu miskin untuk mengungkapkan seluruh perasaannya. Karena itu lagunya bebas terlontar tanpa ikatan. Namun demikian dapat melukiskan segenap warna dalam jiwanya.

Tetapi, ketika ia sedang asyik tenggelam dalam lagunya, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang merobek-robek kekhusukan lagu yang hampir sampai ke puncak keindahannya.

“Aku segera mengenal suara itu. Suara Pradangsa. Kali ini rupanya ia ingin memperlihatkan kesaktiannya dengan menyalurkannya lewat suara tertawanya yang mengerikan. Cepat-cepat aku berusaha untuk tidak hanyut ke dalam pengaruhnya. Tetapi disamping itu aku pun menjadi cemas kembali. Wirasaba memang seorang ahli meniup seruling. Tetapi Pradangsa bukanlah seorang penggemar lagu. Ia adalah seorang yang kasar dan hanya dapat menghargai kekuatan tenaga. Bukan kemesraan dan kelembutan.”

Ki Asem Gede melanjutkan ceritanya.

“Apalagi ternyata suara tertawa itu tidak segera berhenti. Tetapi gelombang demi gelombang terdengar seperti susul-menyusul. Seperti datangnya ombak lautan segulung demi segulung menghantam tebing.”

“Dalam kecemasanku itu, tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara seruling Wirasaba. Tetapi setelah itu aku menjadi bersyukur. Bahkan aku menjadi berbangga hati. Suara seruling yang mesra lembut itu segera berubah melengking tajam. Kemudian Wirasaba berteriak penuh kemarahan karena cintanya terganggu. Yang sama sekali tak aku duga, adalah bahwa kemarahan Wirasaba yang dilontarkan lewat nada-nada serulingnya itu pun ternyata mengandung pengaruh yang luar biasa pula. Maka kemudian seakan-akan terjadilah benturan dahsyat antara suara tertawa Pradangsa dengan nada-nada seruling. Wirasaba yang sebentar melonjak, naik tajam, dan kemudian turun menukik kembali, lalu menggelegar seperti guruh yang dengan penuh kemarahan menghantam gunung,” cerita Ki asem Gede.

Karena benturan itulah maka seolah-olah tercapailah suatu keseimbangan, sehingga kedua suara itu semakin lama semakin lirih … semakin lirih. Bahkan akhirnya keduanya berhenti dengan sendirinya.

Tepat pada saat suara itu berhenti, meloncatlah sebuah bayangan dari seberang, dengan tangkasnya dari batu ke batu menyeberangi sungai Opak. Dari geraknya yang cepat dan tangkas, sudah dapat dikira sampai dimana kekuatan tenaganya.

Belum lagi Pradangsa menjejakkan kakinya di tepian, mulutnya sudah mendahului berteriak dengan suara gunturnya.

“Hai anak cengeng. Rupanya kau hanya mampu menjadi seorang penipu seruling. Itu saja kau hanya bisa membawakan lagu-lagu cengeng seperti apa yang baru saja kau lagukan.”

Wirasaba adalah seorang yang tinggi hati. Mendengar dirinya disebut anak cengeng, segera bangkitlah kesombongannya.

“Memang, aku hanya mampu melagukan lagu-lagu cengeng. Lagu-lagu cinta dan kasih. Tetapi aku adalah orang yang tahu diri. Sekali dua kali aku pernah bercermin, meskipun hanya di permukaan air. Maka sadarlah aku bahwa wajahku jauh lebih tampan daripada wajahmu yang kasar itu. Karena itulah aku berhak melagukan lagu cinta dan kasih. Tidak saja lagu maut seperti yang kau miliki satu-satunya.”

Pradangsa adalah seorang yang kasar dan sombong. Ia tidak pernah menerima hinaan yang sampai sedemikian. Karena itu segera darahnya naik ke kepala.

“Setan! Aku tidak pernah menyesal bahwa wajahku kasar dan jelek. Tetapi dengan tenaga yang aku miliki, aku mampu berbuat apapun. Aku mampu memperistri setiap perempuan yang aku kehendaki. Nah, kau sekarang mencoba mengganggu kebiasaanku itu. Karena itu bersediakah untuk mati?” jawab Pradangsa.

Wirasaba tidak mau banyak bicara lagi. Diselipkannya seruling pring gadingnya ke dalam bajunya.

“Kau hanya mau berbicara saja?” potongnya.

Pradangsa bergumam di dalam mulutnya, dan kemudian kembali ia tertawa nyaring. Tetapi suara tertawanya terputus ketika Wirasaba membentak.

“Aku tidak banyak waktu, bersiaplah.”

Pradangsapun rupanya juga menganggap bahwa waktunya telah tiba. Karena itu ia pun segera bersiap. Dengan tidak banyak lagi persoalan, segera mereka terlibat dalam sebuah perkelahian. Dalam bagian permulaan nampak bahwa Wirasaba dapat melayani Pradangsa dengan baik, seperti suara serulingnya yang mengimbangi suara tertawa lawannya. Geraknya cukup cekatan. Tetapi yang masih meragukan, apakah ia dapat mengimbangi perkelahian ini?

Pradangsa hampir tidak pernah menghindarkan diri dari setiap serangan. Setiap serangan itu selalu dibenturnya dengan serangan pula, sebab ia sangat percaya pada kekuatannya.
Demikian pula agaknya pada saat itu.

Pradangsa sama sekali tidak menghindarkan diri ketika Wirasaba menyerangnya dengan dahsyat. Rupanya Pradangsa mengira bahwa Wirasaba hanya mampu meniup serulingnya saja. Memang bentuk tubuh Wirasaba tidaklah sebesar Pradangsa. Tetapi apa yang telah terjadi?

SAAT itu, ketika Pradangsa membalas serangan Wirasaba yang dahsyat, ternyata dalam tubuh Wirasaba yang tidak sebesar lawannya itu tersimpan suatu tenaga yang hebat sekali, yang sama sekali tak diduga oleh Pradangsa. Sedangkan Pradangsa sendiri adalah seorang yang memiliki tenaga raksasa pula.

Tetapi ternyata, Wirasaba yang telah sekian kali merantau, menjelajahi beberapa daerah, memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sedangkan Pradangsa hanyalah seorang tokoh lokal yang telah mencapai puncak kekuatannya. Ia sudah merasa tak terkalahkan. Memang Pradangsa adalah seorang kuat atas pemberian alam.

Maka ketika terjadi benturan itu, tampaklah betapa picik pengetahuan Pradangsa. Ia hanya memusatkan tenaga serta perhatiannya pada kedua belah tangannya. Dengan sepenuh tenaga yang ada padanya menghantam tangan Wirasaba yang menyerang dadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pada sekejap sebelum benturan itu terjadi, Wirasaba mengubah serangannya dengan menarik tangan kirinya. Ketika tangan kanannya membentur tangan Pradangsa, ibu jari tangan kirinya sempat mengetuk leher Pradangsa.

Akibat benturan itu pun sangat hebat sekali. Bagaimanapun uletnya Wirasaba, ia tergetar surut. Demikian juga Pradangsa, terdorong mundur. Karena ketukan jari pada lehernya, Pradangsa merasa bahwa nafasnya menjadi sesak. Inilah sumber kekalahan Pradangsa. Sebab dalam perkelahian seterusnya, Pradangsa selalu diganggu oleh peredaran nafasnya yang semakin lama terasa semakin sesak dan sakit.

Meskipun demikian, pertempuran itu masih juga berlangsung lama. Mereka tampaknya seperti dua ekor ular yang saling berlilitan dan timbul-tenggelam diantara lawannya.

Tetapi sampai sekian, kepastian dari akhir pertempuran itu sudah jelas. Sebab Wirasaba jauh berpengalaman. Apalagi ia bertempur tidak saja dengan tenaganya, tetapi juga dengan otaknya. Sedangkan Pradangsa hanyalah mirip seekor babi yang terlalu percaya pada kekuatannya. Meskipun ia memiliki kelincahan, namun dalam beberapa saat kemudian ia sudah benar-benar dikuasai oleh serangan-serangan Wirasaba yang menjadi semakin keras. Akhirnya Pradangsa menjadi semakin terdesak. Dan tampaklah bahwa pertempuran itu sudah hampir selesai.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan. Ketika Pradangsa merasa bahwa ia tidak mampu mengalahkan lawannya, dilakukannya suatu kelicikan. Tangannya tiba-tiba menggenggam potongan-potongan besi lembut dari kantongnya, yang kemudian dilemparkan ke arah Wirasaba. Tampaklah betapa terkejutnya Wirasaba.

Potongan-potongan besi itu bertebaran mengarah hampir ke segenap bagian tubuhnya.

Untunglah bahwa Wirasaba berpikir cepat. Dengan tangkasnya ia meloncat tinggi-tinggi. Namun tindakannya itu tidak dapat menyelamatkan seluruh tubuhnya. Beberapa potong besi itu masih juga mengenai kakinya. Akibatnya hebat sekali. Waktu ia terjun kembali, ternyata ia sudah tidak dapat tegak lagi di atas kedua kakinya yang luka-luka. Mengalami peristiwa itu, Wirasaba menjadi marah sekali. Ia menjerit nyaring.

Tiba-tiba saja tangannya sudah menggenggam sebuah kapak kecil, suatu jenis senjata yang digemari. Dengan penuh kemarahan kapak kecil itu dilemparkannya ke arah lawannya. Demikian kerasnya lemparan itu, sehingga yang tampak hanyalah seleretan sinar yang menyambar dada Pradangsa, yang kemudian disusul sebuah jerit ngeri dan suara tubuh Pradangsa yang terbanting jatuh, untuk tidak bangun kembali.

Ki Asem Gede berhenti. Beberapa kali ia menelan ludah. Agaknya ia menjadi haus setelah berceritera demikian panjangnya. Meskipun demikian ia masih meneruskan ceritanya.

”Pada saat itulah aku berlari-lari kepada Wirasaba yang masih terduduk di tanah. Wirasaba terkejut melihat kedatanganku. Ia mengangguk hormat meskipun sambil menyeringai kesakitan. Tetapi aku tidak sempat membalasnya. Perhatianku hanya terpusat pada kakinya. Aku mempunyai dugaan bahwa potongan-potongan besi itu berbisa. Sebab seorang seperti Pradangsa itu tidak mustahil berbuat demikian. Dan dugaanku itu benar. Ketika luka-luka itu aku teliti, ternyata tak mengeluarkan darah setetes pun. Maka cepat-cepat aku suruh Wirasaba menelan ramuan-ramuan obat pelawan bisa. Tetapi hasilnya tidak seperti yang aku harapkan.”

“Biasanya,” lanjut Ki Asem Gede, setiap luka yang mengandung bisa, setelah menelan ramuan obatku itu segera mengeluarkan darah yang berwarna kebiru-biruan. Ramuan itu juga menghanyutkan segala racun yang telah menyusup ke dalam darah daging. Tetapi tidak demikianlah kaki Wirasaba itu. Luka-luka di kakinya tetap tidak mengalirkan darah.

Bahkan di sekitar luka itu tumbuhlah bengkak-bengkak. Maka dapatlah aku mengambil kesimpulan bahwa bisa yang dipergunakan oleh Pradangsa adalah bisa yang keras sekali.

”Karena itu aku tidak berani memperpanjang waktu. Ramuan obat yang aku berikan hanya sekadar menahan bisa itu saja. Tetapi karena kaki Wirasaba kedua-duanya hampir tak dapat lagi dipergunakan, terpaksa aku memapahnya,” ujar Ki Asem Gede.

”Baru ketika sampai di rumah, di bawah cahaya lampu, aku dapat mengetahui dengan pasti bahwa potongan-potongan besi itu direndam dalam ramuan warangan yang kuat sekali. Aku mempunyai dugaan bahwa warangan itu dicampur dengan bisa sejenis laba-laba hijau yang terdapat di hutan Tambak Baya,” tambahnya.

Meskipun Ki Asem Gede sudah berusaha keras sebagai seorang tabib, tetapi sama sekali tak berhasil melawan bisa itu. Yang dapat dilakukan hanyalah membatasi menjalarnya racun itu ke bagian tubuh yang lain.

”Itulah Anakmas Mahesa Jenar dan Adi Mantingan, sebab-sebab yang menimbulkan cacat pada Wirasaba. Tetapi hal yang membesarkan hatiku adalah, bahwa anakku tetap setia pada janjinya, meskipun laki-laki yang dikaguminya itu telah cacat. Sehingga perkawinan mereka pun dapat dilangsungkan,” jelas Ki Asem Gede.

Ki Asem Gede mengakhiri ceriteranya dengan suatu tarikan nafas yang dalam.

Seolah-olah sesuatu yang menyumbat hatinya kini telah terlontar keluar. Meskipun demikian nampak juga suatu perasaan kecewa yang tersirat di wajahnya.

Sebagai seorang tabib kenamaan, Ki Asem Gede merasa mendapat suatu peringatan langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa bagaimanapun usaha anak manusia, namun keputusan terakhir berada di tangan-Nya. Sudah beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang yang ditolongnya, diobati dan disembuhkan. Namun terhadap sakit menantunya sendiri, yang bergaul hampir setiap hari, ia tak mampu berbuat apa-apa.

”Tak adakah obat yang dapat menyembuhkannya?” tanya Mahesa Jenar.

”Tidak ada,” jawab Ki Asem Gede. Mata Ki Asem Gede jadi suram dan gelisah. ”Bahkan obat yang aku berikan itu pun tak dapat menanggulangi sepenuh-penuhnya. Mungkin bisa itu tak menjalar ke bagian tubuh yang lain, tetapi pada bagian yang terluka bisa itu seperti api yang tersimpan di dalam sekam. Sedikit demi sedikit membunuh setiap bagian tubuh di sekitar luka itu,” lanjutnya.

Ki Asem Gede terdiam sebentar. Seperti orang yang terbangun dari tidur, dan tiba-tiba ia berkata, ”Ada Anakmas …, ada.”

”Ada?” ulang Mahesa Jenar dan Mantingan berbareng.

Namun kemudian tampaknya Ki Asem Gede menjadi kendor kembali.

KI Asem Gede terdiam sebentar. Seperti orang yang terbangun dari tidur, dan tiba-tiba ia berkata, “Ada Anakmas …, ada.”

“Ada?” ulang Mahesa Jenar dan Mantingan berbareng.

Namun kemudian tampaknya Ki Asem Gede menjadi kendor kembali.

“Ada Anakmas, tetapi aku kira obat itu tidak dapat diketemukan.”

“Sudahkah Bapak berusaha?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

Ki Asem Gede menggelengkan kepalanya. “Mustahil …, mustahil,” desisnya.

“Katakanlah Ki Asem Gede, mungkin di antara kami ada yang pernah mendengar atau melihatnya,” desak Mahesa Jenar.

Ki Asem Gede tampak ragu-ragu sebentar, tetapi akhirnya ia berkata.

“Anakmas, memang ada obat untuk melawan bisa yang bagaimanapun kerasnya. Tetapi obat itu hampir hanyalah merupakan dongeng belaka.”

Mahesa Jenar dan Mantingan mengerutkan keningnya bersama-sama seperti berjanji. Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar bertanya.

“Kenapa Ki Asem Gede? Apakah obat itu terlalu sulit untuk didapatkan?”

“Anakmas benar. Sebab obat yang dapat melawan segala bisa itu, sepengetahuanku adalah bisa Ular Gundala,” sahut Ki Asem Gede sambil mengangguk.

“Ular Gundala?” ulang Mahesa Jenar.

“Aku pernah mendengar nama ular itu,” sela Mantingan.

“Ya, ular Gundala,” tegas Ki Asem Gede. “Ada dua macam ular Gundala. Yaitu ular Gundala Seta dan Ular Gundala Wereng. Kedua-duanya mempunyai jenis bisa yang tak terlawan. Tetapi kedua-duanya mempunyai sifat yang berlawanan. Bisa ular Gundala Wereng, bekerja seperti pada umumnya bisa, meskipun ketajamannya berlipat-lipat. Tetapi bisa ular Gundala Putih bekerja sebaliknya. Kalau kedua jenis ular bisa itu berbenturan maka akhirnya akan menjadi tawar. Karena itulah maka bisa ular Gundala Putih-lah yang dapat menjadi obat yang sangat mujarab untuk menawarkan segala macam bisa, meskipun kalau bisa itu berdiri sendiri akan mempunyai akibat yang berbeda.”

“Itu adalah pengertian secara umum saja. Sebab disamping itu masih ada sebab-sebab lain, kenapa bisa ular Gundala itu sedemikian ampuhnya. Menurut ceritera, ular Gundala adalah semacam senjata dari para Dewa. Ular Gundala Wereng adalah senjata dari Sang Batara Kala, sedangkan ular Gundala Seta adalah senjata Batara Wisnu.

Kalau senjata-senjata itu sedang dipergunakan, maka memancarlah bunga-bunga api di udara. Kalau sinarnya putih kebiru-biruan, itulah pancaran dari ular Gundala Seta, senjata Wisnu. Sedangkan ular Gundala Wereng memancarkan cahaya merah membara agak kehitam-hitaman,” jelas Ki Asem Gede.

Wajah Ki Asem Gede masih membayangkan kekecewaan. Bahkan mendekati putus asa. Tetapi ketika Mahesa Jenar mendengar ceritera ini, ia menjadi teringat kepada sahabat karibnya semasa mereka masih muda. Pada saat mereka baru menginjak ambang pintu kedewasaan. Yaitu seorang yang kemudian terkenal bergelar Ki Ageng Sela, yang pada masa anak-anaknya bernama Anis atau beberapa orang memanggilnya Nis dari Sela.

Sela adalah seorang yang luar biasa. Geraknya cepat melampaui kilat. Bahkan sampai beberapa orang mengatakan bahwa ia mewarisi kecepatan bergerak ayahnya yang juga bergelar Ki Ageng Sela, yang menurut ceritera dapat menangkap petir.

Pada suatu kali, ketika Ki Ageng Sela sedang menyepi di tepi sendang Jalatunda, tiba-tiba ia disambar oleh semacam sinar putih kebiru-biruan. Untunglah bahwa ia dapat bergerak cepat luar biasa, sehingga ia dapat menghindari sambaran sinar itu. Bahkan ia masih juga sempat menangkapnya.

Tetapi demikian tangannya menyentuh benda itu, terkejutlah ia bukan kepalang. Sebab pada saat itu tangannya terasa telah menangkap seekor binatang yang bulat panjang.
Untunglah bahwa sebelumnya ia pernah mendengar ceritera tentang seekor ular yang pandai terbang dan bercahaya. Ular yang diceriterakan menjadi penggembala hujan. Maka secepat kilat benda yang ditangkapnya itu sebelum sempat menggigitnya, dibantingnya ke tanah.
Adalah suatu keuntungan bahwa binatang itu tidak dihantamkan pada sebatang pohon atau batu. Sebab kalau demikian, binatang itu pasti akan remuk. Saat itu, ia dapatkan binatang itu masih utuh, meskipun terbenam lebih dari sejengkal ke dalam tanah.

Kemudian bangkai ular itu diambilnya. Ternyata ular itu adalah seekor ular yang aneh.

Panjangnya dibanding dengan besarnya dapat dikatakan terlalu pendek. Sisiknya berwarna putih mengkilap agak kebiru-biruan. Pada bagian kepalanya tergoreslah semacam lukisan jamang, sedangkan pada ujung ekornya melingkarlah warna kuning keemasan.

Ketika ular aneh itu dibawa pulang, terlihatlah binatang itu oleh Ki Ageng Warana. Melihat bangkai ular itu, Ki Ageng Warana terperanjat, apalagi ketika ia mendapat keterangan dari Sela. Maka segera orang tua itu minta izin kepada Sela untuk mengambil bisanya.
Sela yang menganggap binatang itu hanya sebagai barang yang aneh, sama sekali tidak keberatan. Ia tidak mengira kalau karena itu ia mendapat semacam obat yang tak ada bandingnya. Obat penawar segala macam bisa yang bagaimanapun tajamnya. Racun dari bisa binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

Oleh Ki Ageng Warana, binatang itu diperas bisanya. Dengan mempergunakan keahliannya, ia dapat menampung bisa itu. Kemudian dengan berbagai ramuan, bisa itu berhasil dipadatkan. Tetapi hanya tinggal kecil sekali, hanya kira-kira sebesar biji kacang tanah. Biji sari bisa ular ajaib itu dihadiahkan kepada Ki Ageng Sela. Meskipun Ki Ageng Warana minta sebagian kecil, Ki Ageng Sela pun sama sekali tidak keberatan.

Dengan biji bisa itu, Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.

Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndamnya dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam di dalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.

Mahesa Jenar sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak hanya mendapat kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia juga mendapat hadiah dari sahabatnya, sebagian dari biji bisa itu.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: