Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 3

Lanjutan dari jilid 2

DENGAN biji bisa itu Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.

Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndam dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam didalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.

Mahesa Jenar, sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak saja mendapat kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia mendapat hadiah dari sahabatnya sebagian dari biji bisa itu.

Maka, diceriterakannya semua itu kepada Ki Asem Gede. Tentang ular yang bersinar putih kebiru-biruan serta tentang biji bisa Ular itu. Barangkali biji bisa itu dapat dipergunakan untuk mengobati kaki Wirasaba sebagaimana bisa ular Gundala Seta.

Ki Asem Gede dan Mantingan mendengar ceritera itu dengan penuh perhatian. Wajah Ki Asem Gede sebentar tampak berkerut, sebentar terkejut, kemudian sebentar menjadi cerah, untuk seterusnya muram kembali. Tetapi kemudian tiba-tiba jadi bersinar terang.

“Anakmas,” kata Ki Asem Gede kemudian setelah Mahesa Jenar selesai berceritera, ” Ki Ageng Warana adalah raja dari segala tabib. Sayang aku sampai sekarang belum pernah berkesempatan bertemu dengan beliau. Sebab beliau adalah seorang yang aneh. Sebentar nampak, sebentar menghilang. Berbahagialah anakmas Nis dari Sela dapat bertemu dengan orang tua yang aneh itu. Dan berbahagia pulalah Anakmas Mahesa Jenar bersahabat dengan Anakmas Sela. Sebab menurut ciri-ciri yang Anakmas ceriterakan itu, ular yang menyambar demikianlah yang bernama ular Gundala.”

“Tetapi Ki Ageng Warana tidak menamakan ular itu ular Gundala, tetapi disebutnya ular Gundala seta.” Mahesa Jenar menjelaskan.

Tiba-tiba cahaya mata Ki Asem Gede menjadi cerah secerah matahari pagi yang memercik diatas rumput-rumput hijau.

“Ya itulah Anakmas…. Memang terdapat beberapa dongeng mengenai ular ajaib itu.Sebagai senjata dewa-dewa, ia disebut Ular Gundala. Tetapi sebagai penggembala air dilangit ia disebut ular Candrasa Seta,” katanya hampir berteriak.

Kemudian Mahesa Jenar mengambil sebuah tabung bambu kecil yang diikatkan di bagian dalam pakaiannya. Tetapi meskipun obat itu tak pernah terpisah dari tubuhnya, bahkan ia pernah mendapat tusukan di simpul jalan darahnya oleh Ki Ageng Warana, namun ia masih belum pernah melihat bukti kasiatnya.

Ki Asem Gede menerima benda itu dengan dada berdebar. Diamat-amatinya benda itu dengan saksama.

“Anakmas Mahesa Jenar, marilah kita lihat kasiat benda ini,” katanya. Kemudian Ki Asem Gedepun segera mengambil sebuah cawan tembikar dan bumbung berisi bisa. Segera biji bisa ular itu direndamnya di dalam air, lalu diteteskannya bisa dari dalam bumbungnya ke dalam air rendaman itu, setelah biji bisanya disisihkan kedalam tempat yang lain.

Apa yang terjadi sangatlah mengejutkan. Air di dalam cawan itu menjadi seakan-akan menggelegak dan mendidih. Maka setelah timbul beberapa gumpal asap, air di dalam cawan itu menjadi surut. Akhirnya sesaat kemudian air itu menjadi tenang kembali.
Semuanya memandang peristiwa itu tanpa berkedip. Kemudian berkatalah Ki Asem Gede,

“Ini adalah suatu benturan langsung antara dua jenis bisa tanpa perantara. Maksudnya adalah, bahwa kedua jenis bisa itu tidak bekerja atas sesuatu zat, misalnya yang satu membekukan sedang yang lain mencairkan darah. Dan anakmas dapat menyaksikan sendiri betapa hebatnya bisa Ular Gundala atau Candrasa itu.”

Mahesa jenar termenung sejenak. Lalu katanya, “Kalau begitu, dapatkah Ki Asem Gede mengobati kaki kakang Wirasaba?”

“Akan aku coba, tetapi harus perlahan-lahan. Sebab bisa di dalam tubuh Wirasaba telah bekerja terlalu lama. Kalau tubuhnya itu tidak mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia telah lama binasa. Karena itu aku tidak berani mengobatinya sekaligus. Benturan yang berlebihan di dalam tubuhnya antara dua jenis bisa itu akan dapat membunuhnya. Dan untuk itu akan memerlukan waktu,” jawab Ki Asem Gede.

Akhirnya Ki Asem Gede minta kepada Mahesa Jenar untuk diizinkan meminjam biji bisa itu. Ia akan mencoba sedikit demi sedikit mengobati kaki Wirasaba yang bertahun-tahun tak dapat dipergunakan.

Sementara itu malam menjadi semakin dalam. Bunyi jangkrik terdengar saling bersahutan dengan kemersik daun yang digerakkan oleh angin malam sejuk. Sementara itu, Ki Asem Gede atas nama anak menantunya mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat.

Tetapi malam itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasrat untuk tidur. Ketika ia sudah membaringkan dirinya, teringatlah kembali semua peristiwa yang dialaminya pada hari-hari terakhir. Maka barulah terasa penat-penat di bagian-bagian anggota badannya.

Selain itu terngianglah kembali semua ceritera Samparan pada saat terakhir sebelum menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tentang Lawa Ijo, tentang pertemuan yang akan diadakan oleh golongan hitam, tentang pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, dan tentang seorang yang disebut oleh Samparan bernama Pasingsingan. Semuanya itu masing-masing bagi Mahesa Jenar memerlukan perhatian-perhatian khusus.

SEBENARNYA kalau Lawa Ijo atas petunjuk Pasingsingan ingin mendapat pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten dengan memasuki Gedung Perbendaharaan Istana, ia pasti akan kecewa. Sebab kedua pusaka itu sedang jengkar meninggalkan tempat penyimpanannya. Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang membawanya.

Sedangkan kepada Pasingsingan sendiri, Mahesa Jenar tak habis-habis heran. Bahkan hampir tak masuk akal, kalau sampai Pasingsingan mempunyai seorang murid semacam Lawa Ijo. Mengenai pertemuan golongan hitam itu pun akan merupakan suatu peristiwa yang cukup menarik.

Kecuali itu, bila Lawa Ijo telah menyatakan diri untuk mengambil bagian dalam pertemuan itu, pastilah bahwa pagi-pagi ia telah mempersiapkan diri. Ini berarti bahwa Lawa Ijo selalu berusaha untuk memperdalam segala ilmunya sampai sedalam-dalamnya. Apalagi di bawah asuhan seorang sakti yang bernama Pasingsingan.

Lalu bagaimanakah dengan dirinya? Dengan terbunuhnya salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo, bahkan saudara muda seperguruannya, berarti Mahesa Jenar sudah berhadapan langsung dengan golongan itu. Golongan Lawa Ijo yang bersarang di hutan Mentaok.

Karena itulah maka Mahesa Jenar mulai menilai dirinya kembali. Sebenarnya ia tidak ingin lagi mempergunakan tenaganya dan ilmu tata berkelahi yang pernah dipelajarinya untuk memecahkan soal. Tetapi berhadapan dengan gerombolan Lawa Ijo, soalnya menjadi lain. Terhadap gerombolan itu, dan gerombolan hitam umumnya, ia tak dapat berbuat lain, kecuali harus mempersiapkan diri dalam keadaan siaga tempur.

Maka, dengan tak sesadarnya Mahesa Jenar mengamat-amati tangannya dengan jari-jarinya yang kokoh kuat. Telah berapa jiwa melayang karenanya, selama ia berusaha menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan sekarang, tangan ini harus siap membunuh pula, juga untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Bahkan alangkah menariknya untuk mengetahui pula kejadian-kejadian dalam pertemuan yang akan diselenggarakan oleh golongan hitam itu, pada saat purnama naik, bulan terakhir tahun ini.

Maka dengan tidak sengaja pula, Mahesa Jenar bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu. Malam sudah begitu dalam dan sepi. Kecuali suara-suara binatang malam yang sekali-kali memecah sunyi.

Pada saat yang demikian tiba-tiba saja timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mencoba kembali kekuatan tenaganya. Mungkin akan berguna nanti. Kalau ada kesempatan, bukankah suatu hal yang baik sekali untuk membinasakan segala tokoh-tokoh hitam pada saat mereka berkumpul? Tetapi mereka pun bukanlah kumpulan anak-anak kecil yang dapat ditakut-takuti oleh seekor anjing yang sedang menggonggong.

Belum lagi Mahesa Jenar mendapat sasaran untuk memulai, tiba-tiba didengarnya sayup-sayup suara yang bergetar panjang, mendirikan bulu roma. Suara itu menggetarkan udara seperti getaran gelombang pantai. Bagi penduduk Pucangan, suara itu memang sering terdengar. Bahkan hampir setiap malam, apabila kademangan itu telah terbenam dalam sunyi malam. Setiap penduduk kademangan yang mendengar suara mengerikan itu tubuhnya tentu akan menggigil karenanya.

Tetapi sebaliknya adalah Mahesa Jenar. Mendengar suara itu tiba-tiba timbullah kegembiraannya. Dengan lincahnya ia segera meloncat turun ke halaman. Untuk beberapa saat ia berdiri mendengarkan dari mana arah suara yang menggeletar itu. Mahesa Jenar merasa bahwa ia akan mendapat kawan berlatih yang baik. Maka kemudian dengan tidak berpikir panjang lagi. Segera ia meloncat dan seperti kilat berlari ke arah suara yang menarik hati itu, agak jauh di luar pedesaan.

Ketika sekali lagi suara itu terdengar semakin panjang, Mahesa Jenar menjadi bertambah gembira, sehingga ia semakin mempercepat langkahnya. Tampaklah ia kemudian seperti bayangan yang terbang dalam kegelapan. Setelah beberapa lama berlari, Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Dari sinilah arah suara tadi terdengar. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan, ia mengamat-amati keadaan di sekitarnya, yang penuh semak-semak dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar.

Tiba-tiba telinga Mahesa Jenar yang tajam menangkap suara berdesir dari dalam semak-semak itu. Cepat ia membalikkan diri ke arah suara itu, dan bersiaga. Apa yang dicari, kini telah muncul dari balik batang-batang ilalang.

Mahesa Jenar tersenyum, ketika dilihatnya seekor harimau loreng sangat besar, hampir sebesar kerbau, memandangnya dengan keheran-heranan. Matanya yang kehijaua-hijauan memancar seperti lentera yang menyorot kepadanya. Untuk beberapa saat harimau itu berdiri mematung. Agaknya harimau itu heran, manusia manakah yang telah mengantarkan dirinya sendiri untuk menjadi santapan malamnya.

Ketika harimau itu perlahan-lahan maju ke depan, darah Mahesa Jenar berdesir juga. Alangkah besar dan garangnya. Dan dengan tidak sesadarnya, kembali Mahesa Jenar mengawasi tangannya serta jari-jarinya yang kokoh kuat.

Pada telapak tangan Mahesa Jenar, seolah-olah terbayang apa yang pernah terjadi pada saat terakhir, sebelum gurunya melenyapkan diri dan kemudian ternyata wafat. Pada saat ia mendapat warisan ilmu yang sebenarnya sangat hebat. Suatu ilmu yang dapat dikatakan tersimpan di tangan Mahesa Jenar. Sebab kalau ia ingin menerapkan ilmu itu, haruslah dipergunakan sisi telapak tangannya.

Meskipun pada dasarnya ilmu itu mempergunakan kekuatan jasmaniah, tetapi tidaklah demikian seluruhnya. Bertahun-tahun Mahesa Jenar melatih diri meyakinkan ilmu itu, yang mempergunakan unsur-unsur gerak pendahuluan 10 macam. Sebelum itu ia masih harus membiasakan keadaan jasmaniahnya. Setiap pagi dan sore menghantamkan sisi telapak tangannya pada bermacam-macam benda. Dari pasir, kayu, sampai ke batu. Sepuluh unsur gerak pendahuluan itu hanyalah sekadar patokan untuk menekan lawannya sampai sedemikian rupa sehingga pada saat yang terakhir dimana keadaan sudah memungkinkan, dilontarkanlah pukulan dengan sisi telapak tangan.

Tetapi pukulan itu tidak akan memenuhi harapan, bila saat itu tidak dibarengi dengan suatu kekuatan batin yang luar biasa besarnya, serta pemusatan tenaga. Inilah sebenarnya yang sulit dilaksanakan. Untuk dapat melakukan ini semua, Mahesa Jenar harus bekerja keras beberapa tahun lamanya.

LATIHAN-LATIHAN itulah yang sangat terasa berat. Pada taraf permulaan Mahesa Jenar harus melatih mengatur pernafasan, kemudian pemusatan pikiran dan terakhir menggabungkan segenap kekuatan lahir batin. Semua itu untuk disalurkan lewat sisi telapak tangannya.

Dalam pelaksanaannya tidaklah mesti 10 unsur gerak itu dilakukan berurutan. Tetapi unsur yang hanya sekadar merupakan patokan yang dapat dibolak-balik, diambil beberapa bagiannya saja menurut kebutuhan. Bahkan dapat dimasuki dan digabungkan dengan unsur-unsur gerak yang lain.

Setelah Mahesa Jenar menjalani semua latihan-latihan itu, hasilnya sangat hebat. Tangan Mahesa Jenar, bila dikehendaki seolah-olah dapat berubah menjadi palu besi yang sangat berat.

Tetapi meskipun demikian, sampai saat itu Mahesa Jenar belum pernah mempergunakan ilmunya itu untuk melawan sesama manusia. Ia baru mencoba menghantam-hancurkan kayu dan bahkan batu. Tetapi terhadap sesama manusia, Mahesa Jenar masih belum sampai hati mempergunakannya. Sebab, akibatnya dapat dibayangkan.

Namun sekarang Mahesa Jenar merasa berhadapan dengan lawan yang tak dapat diabaikan. Apalagi Lawa Ijo adalah murid Pasingsingan. Lebih-lebih kalau Pasingsingan sendiri ikut campur dalam urusan ini.

Karena itu, Mahesa Jenar memutuskan, bahwa ia harus mempersiapkan ilmunya itu. Ilmu yang pernah dipelajarinya dengan sungguh-sungguh dan bersusah payah.

Sekarang, ia mendapat sasaran yang tepat. Seekor harimau loreng yang sangat besar sekali, yang pasti sangat mengganggu penduduk di sekitar daerah ini. Sebab seekor harimau yang hampir sebesar kerbau ini tentu akan senang menangkap ternak para petani.

Meskipun kekuatan jasmaniah harimau sebesar itu, jauh berlipat dari kekuatan jasmaniah manusia biasa, Mahesa Jenar yakin bahwa ia akan dapat mengatasinya, dengan ilmunya yang oleh gurunya disebut Sasra Birawa.

Sementara itu, Mahesa Jenar segera tersadar oleh suara gemersik kaki harimau yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Harimau itu telah merunduk sangat rendah, dan siap menerkam.
Sambil mengaum keras, harimau itu dengan garangnya meloncat akan menerkam Mahesa Jenar. Kedua kaki depannya menjulur hampir lurus dengan tubuhnya. Kuku-kukunya yang tajam siap merobek-robek mangsanya. Sedang taring-taringnya yang tajam-runcing, menyeringai. Mengerikan sekali.

Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang yang telah terlatih baik untuk menghadapi setiap kemungkinan dan segala macam bahaya. Maka ketika dilihatnya harimau itu meluncur menerkamnya, dengan cekatan Mahesa Jenar merendahkan diri dan meloncat ke samping.
Harimau itu kembali mengaum dengan hebatnya. Rupanya ia sangat marah ketika mangsanya terlepas dari terkamannya. Tetapi selama harimau itu masih mengapung di udara, ia sama sekali tak dapat mengubah geraknya.

Ketika harimau itu mendarat di tanah, ia menjadi terkejut sekali. Tidak saja karena sasarannya telah menghindarkan diri, tetapi juga karena tiba-tiba saja terasakan sesuatu yang menghantam punggungnya, dan bahkan seperti melekat dengan eratnya.
Setelah Mahesa Jenar berhasil menghindarkan diri, maka tepat pada saat harimau itu menjejakkan kakinya di atas tanah, dengan kecepatan luar biasa Mahesa Jenar meloncat ke atas punggung harimau itu, dan menghantamnya sekali. Seterusnya kedua tangannya dengan eratnya berpegangan pada leher harimau itu.

Tetapi harimau adalah binatang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau disebut raja hutan. Apalagi seekor harimau yang sedang marah, seperti yang sedang dihadapi oleh Mahesa Jenar.

Harimau itu menggeliat dengan sepenuh tenaga untuk melepaskan pegangan Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar dengan eratnya mencengkeram leher harimau itu, sehingga tangan itu tidak terlepas.

Akhirnya harimau yang sudah mencapai puncak kemarahannya itu meloncat tinggi. Setelah terjun kembali, segera menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Bagaimanapun eratnya pegangan Mahesa Jenar, tetapi mengalami hal yang demikian tak urung tangannya terlepas juga. Bahkan ia terlempar ke samping, sampai beberapa langkah dan jatuh berguling-guling. Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki keuletan yang luar biasa.

Demikian Mahesa Jenar jatuh terguling beberapa kali, segera ia meloncat dan tegak kembali tepat pada saatnya. Sebab pada saat itu, harimau yang marah itu telah siap kembali menerkam. Tetapi setelah mengalami kegagalan, rupanya harimau itu mendapat suatu pengalaman, bahwa dengan suatu terkaman dari jarak yang jauh, ia tak berhasil menguasai mangsanya. Maka kali ini harimau itu tidak lagi merunduk lalu meloncat. Perlahan-lahan tetapi pasti, harimau itu mendekati lawannya.

Mahesa Jenar bertambah berhati-hati melihat perubahan sikap harimau itu. Untuk melawan langsung seekor harimau sangatlah berbahaya. Kuku-kukunya serta gigi-gigi yang tajam itu dapat merobek kulitnya. Maka diputuskannya untuk segera mengakhiri perkelahian.
Mahesa Jenar segera bersikap. Tanpa mempergunakan unsur-unsur pendahuluan untuk menekan lawannya. Ia berdiri di atas satu kakinya, menghadap langsung pada harimau itu. Satu kaki lainnya diangkat dan ditekuk ke depan. Sebelah tangannya menyilang dada, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.

Mahesa Jenar secepatnya mengatur peredaran nafasnya, memusatkan pikiran dan menyalurkan segala kekuatan lahir dan batin ke sisi telapak tangannya. Maka ketika harimau itu mengaum dahsyat, serta dengan garangnya menerkamnya, Mahesa Jenar pun telah siap dan terdengar ia berteriak nyaring.

Ia memutar kaki yang diangkatnya itu setengah lingkaran dan membuat satu loncatan kecil kesamping. Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun deras sekali menghantam tengkuk harimau itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali. Harimau itu mengaum lebih keras lagi dibarengi dengan gemeretak tulang patah.

Sekejap kemudian harimau itu melenting tinggi, dan sesaat lagi terdengarlah gemuruh tubuhnya jatuh ke tanah, tidak bergerak lagi selama-lamanya. Harimau itu mati karena patah tulang lehernya oleh kekuatan tangan Mahesa Jenar yang telah mempergunakan ilmu Sasra Birawa.

Sesaat kemudian malam menjadi sunyi kembali. Yang terdengar, kecuali tarikan nafas Mahesa Jenar, adalah suara-suara binatang malam dan belalang bersahutan.

Di langit, bintang-bintang gemerlapan, seperti permata yang ditaburkan di atas selembar permadani biru kelam.

DENGAN tajamnya Mahesa Jenar mengawasi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Ia dapat sedikit berbangga hati, bahwa sampai sekarang ia mendapat kebahagiaan untuk memiliki ilmu gurunya yang dahsyat itu. Seandainya yang dikenai itu manusia biasa, maka dapatlah dibayangkan, bahwa manusia itu akan hancur lebur tanpa sisa.

Belum lagi Mahesa Jenar puas menikmati kemenangannya, tiba-tiba terdengarlah suara gemersik ilalang di belakangnya. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya dan segera bersiaga.
Tetapi ketika ia melihat siapakah yang berdiri di belakangnya, ia menjadi terkejut bukan kepalang. Kalau misalnya Lawa Ijo yang berada di situ, ia tidak akan seterkejut pada saat itu. Ternyata yang berdiri di belakangnya, dengan wajah cerah, secerah bintang yang gemerlapan di langit, adalah Nyai Wirasaba.

Dalam beberapa saat Mahesa Jenar tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, sedang Nyai Wirasaba tertunduk malu. Tetapi kemudian, Mahesa Jenar berhasil menguasai perasaannya, dan dengan sedikit tergagap ia bertanya. “Nyai Wirasaba, kedatangan Nyai sangat mengejutkan aku.”

Nyai Wirasaba masih diam tertunduk. Sampai Mahesa Jenar meneruskan, “Apakah yang Nyai maksudkan, sehingga Nyai memerlukan datang kemari?”

Akhirnya Nyai Wirasaba menjadi seperti tersadar dari sebuah mimpi. Memang kedatangannya pun adalah seperti peristiwa dalam mimpi.

Nyai Wirasaba, pada saat sebelum perkawinannya, sangat mengagumi suaminya karena ketangguhan, kejantanan serta keberaniannya. Tetapi kemudian suaminya menjadi lumpuh, sehingga tak ada lagi yang dapat dikaguminya. Meskipun demikian ia tetap mencintainya.

Tiba-tiba muncullah seorang yang menurut anggapannya sangat mengagumkan pula, berani dan bersifat jantan. Ketika Mahesa Jenar keluar dari ruang tidurnya dan berdiri di halaman, sebenarnya Nyai Wirasaba sudah berada di halaman pula, untuk membeningkan pikirannya yang kusut. Mendadak pada saat itu terdengarlah aum harimau di kejauhan.

Ketika dilihatnya Mahesa Jenar, menjadi gembira dan berlari ke arah suara itu, tanpa sadar ia segera mengikutinya untuk sekadar dapat menyaksikan sikap jantan Mahesa Jenar.

Meskipun ia tidak berlari secepat Mahesa Jenar, arah suara harimau yang mengaum berkali-kali itu telah menuntunnya sampai ke tempat pertarungan itu. Apalagi ketika ia menyaksikan bagaimana Mahesa Jenar membunuh lawannya. Hatinya menjadi melonjak dan tak dapat dikuasainya lagi.

Karena itulah, ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Jenar, ia menjadi agak bingung. Tetapi kemudian dijawabnya juga dengan penuh kejujuran. “Aku tidak tahu, kenapa aku kemari.”

“Tidak tahu?” sahut Mahesa Jenar heran.

“Ya, aku tidak tahu. Mungkin hanyalah terdorong oleh keinginanku menyaksikan suatu peristiwa yang dapat mengungkat kembali suatu kenang kenangan yang indah pada masa muda.”

“Apa yang Nyai Wirasaba lakukan adalah sangat berbahaya. Bagaimana kalau aku tidak dapat memenangkan pertandingan ini? Barangkali Nyai Wirasaba pun akan menjadi santapan macan loreng itu,” kata Mahesa Jenar kemudian.

“Tidak mungkin. Aku yakin kalau harimau itu akan terbunuh,” jawab Nyai Wirasaba.

“Nyai Wirasaba yakin?” tanya Mahesa Jenar. Matanya memancarkan berbagai pertanyaan.

Kembali Nyai Wirasaba tertunduk diam. Dia sendiri tidak tahu kenapa ia mempunyai perasaan demikian.

“Nah, sebaiknya Nyai Wirasaba sekarang pulang. Adalah berbahaya sekali bagi Nyai untuk tetap berada disini.” Mahesa Jenar menasehati seperti anak kecil yang kemalaman bermain.

Tetapi Nyai Wirasaba tetap tak bergerak. Bahkan tiba-tiba saja perasaannya terbang ke alam angan-angan yang pahit. Tiba-tiba saja ia rindukan kembali masa gadisnya beberapa tahun lampau. Saat-saat pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Wirasaba, serta cita-citanya untuk dapat menimang seorang anak laki-laki yang segagah, seberani dan sejantan ayahnya. Tetapi sekarang, selama Wirasaba lumpuh, hampir seluruh bagian bawah tubuhnya, selama itu pula ia tak dapat mengharap menimang seorang anak laki-laki seperti yang dirindukannya.

Kembali perasaan Nyai Wirasaba melonjak dan tak dapat dikendalikan, sehingga tiba-tiba ia tersedan.

Mahesa Jenar adalah seorang laki-laki yang mempunyai perbendaharaan pengalaman yang luas sekali. Tetapi meskipun ia pernah berkenalan dengan banyak sekali wanita, ia sendiri belum pernah bergaul terlalu rapat.

Sehingga wanita baginya adalah makhluk yang asing, yang mempunyai perasaan di luar kemampuannya untuk menjajaginya. Apalagi ia sendiri belum beristri. Maka ketika dilihatnya Nyai Wirasaba menangis, hatinya menjadi bingung kalang kabut.

Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri tidak merasakan adanya suatu kesalahan yang dapat menusuk perasaan. Karena itu untuk beberapa saat ia hanya dapat berdiri diam seperti patung, sedangkan perasaannya bergolak menebak-nebak, apakah sebabnya Nyai Wirasaba menangis. Akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan yang sangat ditakutinya.

KARENA pengetahuan Mahesa jenar tentang perasaan seorang wanita sangat sempit, maka ia telah mempunyai tanggapan yang salah terhadap Nyai Wirasaba.

Karena itulah ia bertambah cemas.

“Nyai, aku telah mengorbankan harga diriku dengan tidak menerima tantangan Ki Wirasaba, sekedar untuk mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga kalian. Dan sekarang, ketenteraman yang sudah hampir pulih kembali itu akan terganggu pula, apabila kita berdua pada malam begini berada di tempat ini. Karena itu pulanglah dan lupakanlah segala angan angan itu,” kata Mahesa Jenar dengan suara gemetar.

Nyai Wirasaba adalah seorang wanita yang berperasaan halus, sehalus rambut dibelah tujuh. Ditambah pula sudah beberapa tahun ia meladeni suaminya yang cacat kaki, sehingga ia menjadi semakin perasa.

Maka ketika ia mendengar perkataan Mahesa Jenar, ia terperanjat. Meskipun Mahesa Jenar sama sekali tak bermaksud jahat, dan perkataannya itu diucapkan dengan jujur menurut perasaannya, tetapi akibatnya seperti sembilu yang lansung membelah ulu hati Nyai Wirasaba. Sebagai seorang wanita yang dididik oleh seorang saleh seperti Ki Asem Gede, maka sudah tentu ia mementingkan sifat-sifat keutamaan seorang wanita. Diantaranya sifat setia dan bakti kepada suaminya.

Dengan demikian, maka perkataan Mahesa Jenar telah menggelorakan darahnya. Ia merasa tersinggung dengan anggapan itu. Meskipun ia sangat mengagumi keperwiraan seseorang, namun ia menjadi gusar juga karena tuduhan itu. Maka dijawabnya kata-kata Mahesa Jenar itu dengan suara yang bergetar.

“Tuan, aku telah mengagumi keperwiraan Tuan, keberanian dan kejantanan Tuan. Dan dengan tidak sadar pula aku telah mengikuti Tuan sampai ke tempat ini untuk menyaksikan keperwiraan Tuan. Hal ini mungkin disebabkan aku terlalu mengagumi kejantanan suamiku pada masa muda kami berdua. Dengan menyaksikan kejantanan Tuan, aku mendapat suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali kepada kenangan masa silam. Suatu masa yang penuh dengan harapan dan cita-cita. Tetapi Tuan telah menuduh aku dengan tuduhan yang menyakitkan hatiku.” Suara Nyai Wirasaba tersekat di kerongkongan oleh air matanya yang mendesak.

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tidak kurang terperanjatnya. Tetapi ia tetap tidak dapat mengerti, Kalau demikian halnya, mengapa seorang wanita seperti Nyai Wirasaba sampai bersusah payah mengikutinya. Karena Mahesa Jenar adalah seorang yang berdada terbuka serta tidak suka menyembunyikan perasaannya, maka berkatalah ia, “Tetapi sampai demikian perlukah Nyai Wirasaba pergi ke tempat ini pada malam begini?”

Sekali lagi dada Nyai Wirasaba yang penuh itu terguncang. Ia menjadi bertambah gusar mendengar kata-kata Mahesar Jenar itu. Tetapi seperti halnya Mahesa Jenar yang tak dapat menjajagi perasaannya, Nyi Wirasaba pun tidak tahu sama sekali akan ketulusan hati Mahesa Jenar. Bahkan ia menyangka bahwa dalam kesempatan itu Mahesa Jenar ingin memancing-mancing untuk meraba-raba perasaannya. Karena itu dengan marahnya ia berkata, “Tuan, aku tidak menyangka bahwa hati Tuan ternyata palsu. Maka baru sekarang aku mengerti kenapa suamiku berkata, bahwa tak mungkin seseorang menyabung nyawanya tanpa pamrih. Tetapi Tuan jangan mimpikan air mengalir ke udik.”

Sekarang Mahesa Jenar yang merasa dadanya terguncang. Ia tidak dapat membayangkan bahwa wanita cantik seperti Nyai Wirasaba itu dapat sedemikian marahnya sehingga mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan demikian pedihnya. Karena itu, seluruh tubuh Mahesa Jenar menggigil karena ia berusaha menahan diri. Disamping itu ia mulai merasa bahwa mungkin perkataan-perkataannya telah menyinggung perasaan Nyai Wirasaba. Maka dalam kebingungan itu, ia hanya dapat berdiri terpaku seperti patung.
Tak ada sepatah katapun yang diucapkan. Sampai Nyai Wirasaba menyambung pula,

“Tuan, barangkali Tuan menyangka bahwa suamiku hanya dapat bermain main dengan suatu permainan yang jelek dengan Samparan. Tetapi ketahuilah Tuan, bahwa aku mengharap ia lekas sembuh. Dan sesudah itu aku tidak tahu apakah aku masih dapat mengagumi ketangkasan Tuan di hadapan suamiku.”

Sekali lagi dada Mahesa Jenar terguncang. Ia adalah seorang laki laki yang mengutamakan keperwiraan seorang ksatria. Ia sudah menahan dirinya sekian lama sejak ia menerima sindiran-sindiran Wirasaba di hadapan Mantingan dan Ki Asem Gede. Seandainya Nyai Wirasaba tidak langsung menyinggung harga dirinya sebagai seorang laki-laki, mungkin ia masih dapat menahan dirinya, meskipun dadanya akan menjadi sesak.

Tetapi sekarang, Nyai Wirasaba yang karena marahnya, telah langsung merendahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki dengan memperbandingkannya dengan Wirasaba. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak dapat lagi membendung aliran perasaannya yang semakin deras mendesak dan telah cukup lama tertahan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menyambut tantangan itu dengan sebaik mungkin, meskipun nafasnya menjadi berdesakan. “Mudah-mudahan Ki Wirasaba lekas sembuh. Dan aku akan mencoba melayaninya, meskipun barangkali aku tidak akan dapat memberi kepuasan… dan ….”

Sebenarnya masih banyak yang akan diucapkan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sedangkan yang keluar dari mulutnya adalah, “Nyai, kalau ada kesalahanku maafkanlah, tak ada gunanya aku lebih lama tinggal di sini. Perkenankanlah aku pergi. Tolong pamitkan kepada mereka berdua, dan lain kali aku mengharap dapat bertemu kembali. Juga kepada Ki Wirasaba, sampaikan salamku, sampai bertemu apabila ia telah sembuh kembali.”

Belum lagi Mahesa Jenar mengucapkan seluruh kata-katanya, terdengar suara Nyai Wirasaba hampir berteriak, “Salahkulah kalau aku sampai datang kemari, apapun sebabnya, karena aku seorang wanita.”

Kemudian diluar dugaan Mahesa Jenar, Nyai Wirasaba segera berlari meninggalkan tempat itu.

Mahesa Jenar terpaku di tempatnya. “Alangkah tumpulnya perasaanku. Sungguh aku tidak mengerti, apa yang baru saja terjadi,” gumamnya.

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jawaban, didengarnya dari arah samping suara gemersik rumput kering. Cepat ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.

TERNYATA apa yang dijumpainya mengejutkannya pula. Orang yang datang itu adalah Ki Dalang Mantingan. Sesaat darah Mahesa Jenar jadi berdegupan. Kalau ada orang ketiga yang menyaksikan hadirnya Nyai Wirasaba di tempat itu, dapatlah menimbulkan bermacam-macam kemungkinan. Tetapi karena ia percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan menjelekkan namanya, maka segera ia pun dapat menguasai dirinya kembali.

Sementara itu terdengar Mantingan berkata, “Adimas, maafkanlah kalau kedatanganku sangat mengejutkan Adimas.”

“Tidak. Tidak seberapa Kakang Mantingan. Tetapi sudah lamakah kakang berada di sini?” jawab Mahesa Jenar sambil menggeleng lemah.

“Sudah… Sudah lama. Aku menyaksikan semua yang terjadi. Sejak Adimas membunuh harimau itu dengan tangan, sampai perselisihan paham yang terjadi antara Adimas dan Nyai Wirasaba,” sahut Mantingan.

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil kembali menggeleng lemah. Kemudian katanya, “Aku tidak mengerti kenapa hal-hal serupa itu bisa terjadi. Kau dengar seluruh pembicaraan kami Kakang?”

“Seluruhnya. Aku datang ke tempat ini bersamaan waktunya dengan Nyai Wirasaba,” jawab Mantingan.

“Kau tahu bahwa aku di sini?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Ya, sebab ketika aku mendengar aum harimau dan terbangun dari tidurku, aku tidak melihat Adimas di pembaringan. Segera aku pergi mencarinya. Ketika aku turun ke halaman, aku melihat Nyai Wirasaba sedang berlari dengan kencangnya ke arah suara harimau itu. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan hal semacam itu. Segera aku pun pergi menyusulnya. Dan seterusnya seperti apa yang terjadi di sini.”

Mendengar keterangan Mantingan, Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian untuk beberapa saat mereka berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai kembali Mantingan berkata, “Adimas, sebenarnya apa yang terjadi hanyalah karena kesalah-pahaman belaka.”

“Apa pendapat Kakang tentang hal itu?” sela Mahesa Jenar.

“Maafkanlah kalau aku katakan, bahwa tidak banyak yang Adimas ketahui tentang perasaan seorang wanita. Sebaliknya Nyai Wirasaba menerima keterbukaan dada Adimas itu dengan kemasgulan dan kegusaran. Sebenarnya tak ada persoalan apa-apa antara Adimas dan Nyai Wirasaba. Karena itu tak ada alasan bagi Adimas untuk tergesa-gesa pergi.”

Mahesa Jenar diam sejenak. Ia mencoba mencerna keterangan Ki Dalang Mantingan.

Tetapi akhirnya kembali ia menggeleng lemah. Katanya, “Kakang Mantingan, aku kira lebih baik aku pergi. Banyak hal yang tidak menguntungkan apabila aku tetap tinggal di sini. Kakang tahu bahwa aku bukanlah seorang yang sabar dan pradah untuk menerima perangsang perangsang yang dapat membakar perasaanku. Aku juga masih belum tahu apakah Wirasaba sudah puas dengan kematian Samparan.”

Kembali mereka berdiam diri. Udara malam yang lembab di daerah pegunungan mengalir dibawa arus angin perlahan-lahan. Dan dalam keheningan itu kembali suara-suara malam bertambah jelas.

Sebenarnya sangatlah berat perasaan Mantingan untuk melepas Mahesa Jenar pergi. Meskipun baru beberapa hari ia mengenalnya, namun seolah-olah hatinya telah tergenggam erat dalam tali persahabatan. Karena itu ia berusaha keras untuk menahan Mahesa Jenar.

“Adimas,” katanya sejenak kemudian mengusik sepi malam, “kalau Adimas berkeras untuk meninggalkan tempat ini, bukankah lebih baik Adimas pergi ke Prambanan? Kakang Demang Penanggalan akan merasa berbahagia kalau Adimas sudi tinggal beberapa hari di rumahnya.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab ajakan itu. Memang pernyataan yang demikian itu mungkin sekali. Tetapi mengingat kemungkinan-kemungkinan lain, dimana Ki Asem Gede turut berkepentingan, adalah kurang pada tempatnya. Sedangkan ia sama sekali tidak mengerti persoalannya. Tidaklah enak perasaan Mahesa Jenar untuk meninggalkan keluarga Ki Asem Gede dan kemudian tinggal pada keluarga Mantingan.

Dengan demikian suasana menjadi kaku, seperti garis-garis karang di tebing-tebing pegunungan yang merupakan lukisan-lukisan hitam di atas dasar kebiruan langit yang ditaburi bintang-bintang.

Akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu ketetapan. Ia harus pergi meninggalkan daerah itu. “Kakang Mantingan, terpaksa aku tidak dapat mengubah keputusanku. Banyak hal yang dapat aku lakukan kalau aku melanjutkan perjalananku. Mungkin aku dapat menemukan sarang Lawa Ijo di hutan Mentaok atau gerombolan orang-orang berkuda yang membuat upacara-upacara aneh dengan mengorbankan gadis-gadis itu.”

Sampai sekian Mantingan sudah menduga bahwa sulitlah baginya untuk tetap menahan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar meneruskan, “Kakang Mantingan, meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, namun aku masih tetap ingin mengabdikan diriku. Sebab pengabdian yang sebenarnya tidak harus melulu ditujukan kepada raja, tetapi sebenarnyalah bahwa pengabdian harus ditujukan kepada rakyat. Karena itu aku akan merasa berbahagia sekali kalau aku dapat berbuat sesuatu untuk ketenteraman hati rakyat. Nah kakang Mantingan, sampai sekian saja pertemuan ini.”

Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan Mantingan. Betapa kagumnya ia terhadap Mahesa Jenar yang telah menemukan garis tujuan bagi hidupnya. Meskipun ia sendiri juga selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang serupa, yaitu membasmi kejahatan, tetapi apa yang dilakukannya itu adalah diluar kesadaran bagi sesuatu tujuan yang besar. Karena itu apa yang dilakukannya adalah suatu perbuatan sepotong-sepotong tanpa suatu garis penghubung dari yang satu dengan yang lain.

Kemudian terdengar kembali Mahesa Jenar berkata, “Kakang Mantingan, sampai di sini kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi. Kalau Kakang Mantingan tidak berkeberatan, di akhir tahun ini, dua hari sebelum purnama penuh, kita bertemu di sekitar Banyu Biru dan Rawa Pening. Bukankah pada saat itu akan terjadi sesuatu yang penting?”

Seperti diperingatkan akan kelalaiannya, Mantingan menjawab, “Baiklah Adimas. Baiklah kita menyaksikan pertemuan para tokoh-tokoh sakti dari aliran hitam itu. Sementara itu masih ada waktu bagiku untuk sedikit menambah pengetahuanku yang sangat picik ini. Sesudah itu aku juga akan segera kembali ke Wanakerta. Mudah-mudahan aku diizinkan oleh guruku, Ki Ageng Supit.”

“AKU kira Ki Ageng Supit tidak akan keberatan, selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan garis kebijaksanaan negara. Nah, Kakang Mantingan, selamat tinggal. Salamku buat Ki Asem Gede dan Demang Penanggalan.”

Dengan perasaan yang sangat berat Mantingan melepas Mahesa Jenar pergi. Sebenarnya Mahesa Jenar pun merasa betapa beratnya meninggalkan daerah ini, meskipun ia mengalami banyak hal yang tak menyenangkan. Tetapi justru karena itu ia akan tetap terkenang pada sahabat-sahabatnya, dimana ia sendiri sedang mengalami kesulitan.

Kini kembali Mahesa Jenar dengan pengembaraannya. Mula-mula ia berjalan menyusur jalan yang dilaluinya ketika ia mengikuti Ki Asem Gede. Tetapi ia tidak mau terus sampai ke Prambanan. Karena itu, ketika jalan ini akan memasuki belukar, ia mengambil jurusan lain. Ia memilih jalan yang membelok ke barat, menyeberangi Sungai Opak. Meskipun ia sama sekali belum mengenal daerah yang dilaluinya, tetapi sedikit banyak ia mengenal ilmu perbintangan yang diharapkan dapat menuntunnya ke arah yang dikehendaki.

Demikianlah Mahesa Jenar sebagai seorang perantau berjalan dari desa ke desa, dari kademangan yang satu ke kademangan yang lain. Dilewatinya desa-desa Semboyan, Kalimati, Temu Agal, terus ke selatan, lewat daerah Si Lempu dan Cupu Watu. Terus kembali membelok ke barat tanpa berhenti.

Maka pada saat fajar menyingsing sampailah Mahesa Jenar ke depan mulut hutan yang lebat, yang terkenal dengan nama Alas Tambak Baya.

Sampai daerah ini Mahesa Jenar berhenti sejenak. Dipandanginya hutan lebat yang terbentang di hadapannya. Meskipun hutan itu tidak begitu besar, tetapi sangat berbahaya. Di dalamnya bersarang banyak jenis binatang berbisa. Karena itu jarang orang yang lewat. Sebab kecuali binatang-binatang berbisa yang dengan sekali sengat dapat membunuh seseorang, juga di dalam hutan itu banyak bersarang penyamun-penyamun dan perampok-perampok.

Hanya rombongan yang agak besar dengan kawalan yang kuat sajalah yang berani menyeberangi hutan ini. Kebanyakan mereka adalah pedagang-pedagang dari pesisir utara yang membawa barang-barang untuk dipertukarkan dengan hasil-hasil hutan. Tetapi meskipun rombongan-rombongan itu telah menyewa beberapa orang pengawal yang dianggapnya kuat, namun tidak jarang diantara mereka yang tak berhasil keluar lagi dari hutan ini.

Pada saat nama Lawa Ijo sedang cemerlang beberapa saat yang lalu, daerah ini pun merupakan daerah pengaruhnya. Tetapi tiba-tiba ia seakan-akan menarik diri dan melepaskan semua hak-haknya atas beberapa daerah. Ternyata apa yang dilakukan oleh Lawa Ijo adalah memusatkan perhatian dan waktunya untuk memperebutkan dan menemukan pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten, di samping persiapan-persiapan untuk menghadapi pertemuan puncak dari tokoh-tokoh sakti aliran hitam.

Karena itu timbullah kesan seakan-akan kekosongan pemerintahan di wilayah pengaruh Lawa Ijo. Penjahat-penjahat kecil yang semula harus tunduk pada setiap peraturan yang dibuat oleh Lawa Ijo, sekarang merasa bebas dan dapat berbuat sekehendak hati mereka. Tidak jarang terjadi bentrokan-bentrokan dan pertempuran-pertempuran antara satu golongan dengan golongan yang lain, untuk memperebutkan rezeki.

Demikianlah kira-kira isi hutan lebat yang bernama Tambak Baya, yang sebenarnya hanya merupakan anak dari induk hutan yang lebih besar dan dahsyat, yaitu Alas Mentaok.

Tetapi, meskipun seakan-akan Lawa Ijo telah menghentikan sebagian besar dari kegiatannya, namun tak segolongan pun dari para penjahat kecil yang berani melakukan pekerjaannya di hutan induk yang lebat ketat itu. Sebab bagaimanapun, mereka masih menghormati pusat kebesaran kerajaan Lawa Ijo.

Sementara itu Mahesa Jenar masih tegak memandang kehijauan hutan di hadapannya, yang berkilat-kilat terkena cahaya matahari, karena pantulan embun pagi yang sedang mulai menguap. Dalam keheningan udara pagi, hutan itu tampaknya seakan-akan tubuh raksasa yang sedang terbujur lelap. Mengerikan.

Untuk menyeberangi hutan itu Mahesa Jenar memerlukan waktu beberapa hari, sampai dijumpainya pedesaan kecil di daerah Pliridan. Sesudah itu ia akan sampai ke bagian hutan yang bernama Beringan dan di bagian selatan yang penuh dengan rawa-rawa, bernama Pecetokan. Untuk melampaui kedua daerah ini pun diperlukannya waktu beberapa hari pula. Kalau ia ingin menemui padukuhan, ia harus menyusup ke selatan, ke daerah Nglipura dan Mangir.

Mengingat itu semua, Mahesa Jenar merasa perlu untuk mendapat bekal makanan secukupnya. Maka sebelum memasuki hutan itu diperlukannya untuk singgah di pedukuhan yang terdekat untuk membeli bahan makanan sekadarnya. Disamping itu ia mengharap pula bahwa di dalam hutan itu pun akan tersedia bahan makanan, terutama daging.

Di sebuah gardu di tepi sebuah desa, dilihatnya banyak orang sedang berjualan. Rupanya gardu itu merupakan tempat berkumpul bagi mereka yang akan menyeberangi hutan. Mereka menunggu sampai jumlah yang cukup, kemudian bersama-sama mengupah beberapa orang yang kuat untuk mengawal mereka sampai ke Nglipura, Mangir atau daerah Begelen di seberang hutan Mentaok setelah melintasi pegunungan Manoreh.

Lalu lintas ini mulai ramai kembali sejak Lawa Ijo melepaskan beberapa daerah pengaruhnya. Sedangkan terhadap perampokan-perampokan kecil, para pengawal bersama-sama para pedagang dalam jumlah yang cukup besar, merasa mampu untuk menandingi perampok-perampok itu.

Diantara mereka yang berkumpul di situ terdapat beberapa orang saudagar, beberapa orang yang barangkali akan mengunjungi sanak saudara di tempat yang jauh. Mereka semua menyandang senjata. Ada yang membawa tombak, kapak, pedang yang berjuntai di pinggang, keris, dan sebagainya.

Yang menarik perhatian Mahesa Jenar, diantara mereka ada seorang gadis yang cantik. Menilik pakaiannya, ia pasti termasuk salah seorang dari keluarga yang cukup. Tetapi melihat wajahnya, tampaklah betapa suram dan sayu. Mungkin ada sesuatu masalah yang memaksanya untuk melawat demikian jauhnya sehingga terpaksa harus menyeberangi hutan Tambak Baya.

SELAIN gadis itu, Mahesa Jenar juga tertarik kepada seorang muda yang berwajah tampan dan bersih. Umurnya tak banyak terpaut dengan umurnya sendiri. Pemuda itu berpakaian rapi seperti seorang pedagang kaya. Kainnya lurik berwarna cerah, sedangkan bajunya agak gelap berkotak-kotak. Dari celah-celah bajunya tampaklah timang emasnya berteretes intan. Serasi benar dengan kulitnya yang kuning bersih. Namun agaknya ia terlalu berani dengan menonjolkan kekayaannya melewati daerah yang berbahaya itu.

Kedatangan Mahesa Jenar diantara mereka sama sekali tidak menarik perhatian. Baik bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan maupun para pengawal yang tampaknya telah siap. Sebab, keadaan Mahesa Jenar dengan pakaiannya yang kusut serta janggut dan kumisnya yang serba tak teratur itu, tampak seperti seorang perantau yang biasanya memang mencari kesempatan untuk dapat berbareng dengan rombongan-rombongan yang demikian.

Para pengawal sudah sering melihat hal yang serupa. Dan dari para perantau semacam ini sama sekali tak dapat diharap untuk menambah upah mereka. Tetapi karena biasanya para perantau itu tidak pernah mengganggu, maka para pengawal pun tak pernah merasa keberatan, malahan hampir tak peduli. Bahkan dari para perantau ini dapat pula diambil keuntungannya, dengan menambah jumlah orang dalam rombongan itu, yang juga berarti menambah satu tenaga apabila sesuatu terjadi.

Mula-mula Mahesa Jenar sama sekali tak menaruh perhatian atas rombongan itu, sebab ia tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Tetapi karena diantara orang-orang itu agaknya ada yang menarik perhatiannya, maka ia pun mencoba untuk mendekati mereka dengan berpura-pura membeli beberapa macam makanan.

Semakin dekat semakin jelaslah kedukaan yang menggores di wajah gadis cantik itu. Menurut dugaan Mahesa Jenar, gadis itu umurnya berkisar diantara 20 tahun. Menilik sikap, kata-kata dan beberapa gerak-geriknya, gadis itu adalah gadis yang manja. Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. Mengapa gadis manja ini menempuh perjalanan yang berbahaya?

Pada saat itu Mahesa Jenar masih belum tahu, apakah gadis itu mempunyai kawan seperjalanan diantara rombongan itu. Sedangkan pemuda tampan itu pun semakin menarik perhatiannya pula.

Meskipun pemuda itu berwajah tampan dan bersih serta bersikap sopan, tetapi ketika Mahesa Jenar sempat memandang matanya, ia menjadi curiga. Mata yang redup dan selalu bergerak-gerak bukanlah mata orang baik-baik. Bibirnya yang tipis dan selalu menyungging senyum yang aneh itu pun telah menyatakan bahwa ia mempunyai sifat yang tidak berterus terang dan meremehkan orang lain.

Karena itulah maka Mahesa Jenar kemudian membatalkan niatnya untuk mendahului rombongan itu. Ia merasa tertarik untuk mengikuti iring-iringan itu. Ketajaman perasaannya mengatakan bahwa ada hal yang tidak wajar pada pemuda tampan itu.

Ternyata Mahesa Jenar tidak perlu menunggu lama, sebab sebentar kemudian terdengarlah aba-aba dari pimpinan pengawal yang sudah setengah umur untuk menyiapkan kawan-kawannya yang terdiri dari kira-kira 10 orang, untuk segera berangkat, mumpung hari masih pagi.

Semakin curigalah Mahesa Jenar terhadap pemuda itu, karena kemudian tampak sikapnya yang semakin sopan berlebih-lebihan. Dengan sangat cekatan ia membantu kawan-kawan dalam rombongan itu, terutama gadis cantik yang juga menarik perhatian Mahesa Jenar itu.

Sebentar kemudian siaplah semuanya. Beberapa orang pengawal membawa beban masing-masing, disamping senjata mereka. Dan hampir setiap orang dalam rombongan itu membawa bungkusan besar dan kecil. Tetapi tidak demikianlah pemuda itu. Kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya, tak sehelai benang pun dibawanya. Namun di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang agak panjang, berwarna hitam mengkilap.

Kembali terdengar pemimpin rombongan itu memberikan aba-aba. Sesaat kemudian mulailah iring-iringan itu bergerak. Jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan itu, kecuali para pengawal, kira-kira berjulmah 25 orang. Diantaranya hanya terdapat tiga orang wanita. Dua diantaranya berjalan dengan suami masing-masing. Sedangkan gadis cantik yang menarik perhatian Mahesa Jenar, ternyata hanya seorang diri.

Mahesa Jenar segera mengikuti rombongan itu. Dan dengan tidak diduganya sama sekali, seorang wanita yang berjalan dengan suaminya, memanggilnya. Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Tetapi agar tidak mencurigakan, ia mendatangi wanita itu.

“Bapak, sukakah Bapak membawa beberapa bebanku ini? Nanti aku akan memberi sekadar upah,” kata wanita itu kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar bimbang sebentar. Hatinya menjadi geli.

“Barangkali kau mau menentukan berapa besarnya upah yang kau minta?” sambung suaminya.

Cepat-cepat Mahesa Jenar membungkuk hormat. Lalu jawabnya, “Akh .., terserahlah kepada Tuan. Berapapun besarnya upah yang akan Tuan berikan, pasti akan sangat menyenangkan. Dengan demikian aku akan dapat membeli sekadar oleh-oleh buat anak-anakku.”

SUAMI-ISTRI itu mengangguk-angguk. Lalu diserahkannya beberapa bebannya kepada Mahesa Jenar.

Hal ini sebenarnya menguntungkan Mahesa Jenar, sebab dengan demikian ia dapat mendekati rombongan itu tanpa suatu kecurigaan. Tetapi ia terpaksa mendongkol juga. Sebenarnya ia lebih senang jalan berlenggang daripada membawa beban yang cukup berat itu. Meskipun sebenarnya Mahesa Jenar bertubuh kuat, namun ia pun harus ber-pura-pura merasa berat.

Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu, mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan itu memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih ular.

Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan demikian. Karena itu tampaklah betapa bijaksana ia membawa orang-orang yang di bawah tanggung jawabnya itu. Apabila jalan amat sulit, tidak segan-segan ia menolong, bahkan menggendong para wanita dalam rombongan itu. Meskipun pemimpin rombongan itu rambutnya telah berwarna dua, tapi ia masih tampak sehat, tangkas dan kuat.
Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya amat lambat pula.

Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir terbenam, segera pemimpin rombongan memerintahkan tiga orang pengawal berpencar untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.

Sebenarnya Mahesa Jenar sangat merasa tidak sabar berjalan bersama dengan rombongan ini. Kalau ia berjalan sendiri, mungkin jarak yang ditempuhnya adalah 2 atau 3 kali lipat. Tetapi sekarang, setelah ia terikat dengan rombongan itu, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti dengan menahan diri.

Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa orang telah jatuh tertidur.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tak tertarik untuk tidur. Meskipun ia juga merasakan lelah. Oleh pemilik barang yang dibawanya, Mahesa Jenar mendapat pinjaman sehelai tikar. Dan di atas tikar itu ia merebahkan dirinya.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.
Dalam keremangan cahaya api, mata Mahesa Jenar yang tajam melihat betapa gadis cantik itu menjadi ketakutan. Sebentar-sebentar ia duduk, sebentar berbaring. Tetapi sebentar kemudian ia membenamkan kepalanya diantara bungkusan-bungkusan kecil yang dibawanya. Sebab tidak ada seorang pun di dalam rombongan itu yang dapat dimintai perlindungan seperti kedua wanita yang lain, kecuali bulat-bulat ia menggantungkan dirinya kepada para pengawal.

Tetapi yang terlebih menarik perhatian adalah si pemuda tampan. Tampak sekali betapa gelisahnya. Ia sama sekali tak membawa apapun, kecuali tongkatnya. Karena itu ia sama sekali tak berbaring.

Sebentar ia duduk, sebentar kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir. Baru setelah lewat tengah malam, tampaknya ia agak tenang. Ia duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada sebatang kayu. Tidak lama kemudian tampaklah pernafasannya berjalan perlahan dan teratur. Rupanya ia tertidur.

Melihat pemuda yang aneh itu tertidur, Mahesa Jenar pun menjadi agak tenang. Dan tidak atas kehendaknya sendiri, Mahesa Jenar pun tertidur pulas.

Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadang-kadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri beberapa ekor anjing hutan.
Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung jawab melakukan tugasnya. Selain itu pemimpin rombongan itu pun kadang-kadang bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran. Sedangkan mereka yang telah merasa mengupah orang untuk menjaga dirinya, merasa bahwa keadaan mereka telah aman. Karena itu mereka tidak lagi merasa perlu untuk tetap bangun semalam suntuk.

Ketika malam sudah menjadi semakin jauh, telinga Mahesa Jenar yang tajam sekali itu, mendengar suatu suara yang aneh. Meskipun pada saat itu ia sedang tertidur, tetapi suara itu dapat didengarnya, bahkan telah menyadarkannya.

Perlahan-lahan ia membuka matanya sedikit. Dan apa yang dilihatnya dari celah-celah kelopak matanya adalah sangat mengejutkan sekali. Tetapi meskipun demikian ia tidak segera bertindak.

Dilihatnya pada waktu itu, tiga orang yang bergiliran jaga dan duduk di dekat perapian, telah menggeletak tak bergerak. Sedangkan disampingnya berjongkok si pemuda tampan.

“Alangkah hebatnya pemuda ini,” pikir Mahesa Jenar. Ia dapat merobohkan ketiga-tiganya tanpa banyak ribut-ribut. Untunglah bahwa telinganya telah terlatih baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Melihat hal yang demikian, Mahesa Jenar menjadi semakin waspada. Apalagi ketika pemuda tampan itu kemudian berdiri dan memandang berkeliling. Dan apa yang diduganya adalah benar.

Perlahan-lahan pemuda itu berjalan berjingkat ke arah gadis cantik yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa pemuda tampan itu akan melarikan gadis yang sedang lelap itu.

Melihat hal yang sedemikian, ia tidak dapat tinggal diam. Meskipun ia sendiri tidak akan bertindak langsung, tetapi seharusnyalah bahwa ia berusaha untuk mencegahnya.

PERLAHAN-LAHAN dan hati-hati sekali tangannya meraba-raba mencari sebuah kerikil kecil. Ketika sudah didapatnya, maka dengan hati-hati pula kerikil itu dijentikkan ke arah kaki pemimpin pengawal yang sedang tidur pula.

Rupanya pengawal itu mempunyai perasaan yang tajam pula. Ketika ia merasa tubuhnya tersentuh kerikil yang dilemparkan Mahesa Jenar, ia pun segera terbangun. Maka apa yang pertama-tama dilihatnya adalah ketiga orangnya yang sedang bertugas telah menggeletak. Sesudah itu lalu dilihatnya si pemuda tampan berjalan hati-hati ke arah gadis yang sedang tidur lelap.

Melihat hal itu, kepala pengawal itu segera dapat menghubungkan persoalannya. Maka marahlah ia bukan kepalang. Mukanya menjadi merah seperti darah. Dengan cekatan sekali ia bangun dan meloncat dengan garangnya. Tanpa bertanya lagi tangannya segera terayun ke arah tengkuk si pemuda tampan.

Tetapi adalah di luar dugaan sama sekali, meskipun gerak pemimpin pengawal itu cukup cepat dan tanpa diduga-duga, namun dengan suatu gerakan miring yang sederhana, pemuda itu dapat menghindarinya.

“Hebat…” pikir Mahesa Jenar. Pemuda ini cekatan luar biasa. Siapakah ia sebenarnya?

Ketika pemimpin pengawal itu merasa bahwa pukulannya dapat dielakkan dengan mudah, ia menjadi semakin marah. Dengan geramnya ia melompat maju sekaligus tangannya menyambar leher. Tetapi kembali serangannya itu gagal. Dengan mencondongkan tubuhnya, pemuda tampan itu dapat menghindarkan diri, bahkan sekaligus kakinya mengait kaki lawannya. Untunglah bahwa orang tua itu masih lincah juga, sehingga dengan satu loncatan ia dapat melepaskan diri.

Melihat cara orang itu menghindari serangannya, si pemuda tampan menjadi tertawa kecil.

“Bagus… Pak, kau masih juga pandai bermain bajing loncat,” kata pemuda itu.

Sementara itu, para pengawal yang lain, serta orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu pun terbangun mendengar keributan-keributan itu. Beberapa orang menjadi gugup dan bertanya-tanya. Tetapi para pengawal yang lain, yang melihat pemimpinnya bertempur, segera ikut serta melibatkan diri tanpa banyak berpikir.

Sejenak kemudian terjadilah suatu pertempuran yang sengit. Pemuda itu seorang diri harus bertempur melawan tujuh orang. Tetapi ternyata pemuda itu benar-benar tangguh luar biasa.

Melawan tujuh orang yang telah berani menyatakan dirinya menjadi pengawal perjalanan di daerah yang berbahaya, sama sekali ia tidak tampak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia berloncatan ke sana kemari diantara pepohonan hutan. Tongkat hitamnya berputar-putar melindungi tubuhnya. Meskipun para pengawal itu mempergunakan bermacam-macam senjata, ada yang memakai pedang, ada yang mempergunakan tombak, gada besi dan sebagainya, tetapi semuanya itu tampaknya tidak banyak berguna.

Beberapa orang lain pun kemudian dapat menerka apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu. Karena dalam keadaan demikian, mereka merasa senasib, maka merekapun menjadi marah. Beberapa orang kemudian segera bangkit dan menyatakan kesetiakawanan mereka, untuk menangkap pemuda tampan itu.

Tetapi adalah aneh sekali. Pemuda itu tampaknya licin seperti belut. Geraknya cepat dan lincah sekali, bahkan mirip dengan gerak seekor ular yang melilit-lilit diantara pepohonan, tetapi sejenak kemudian menjulur melakukan serangan yang berbahaya. Malahan setelah mereka bertempur beberapa lama, tampaklah bahwa pemuda itu tetap menguasai keadaan. Bahkan beberapa saat kemudian ia masih sempat tertawa-tawa dan berteriak nyaring.

“Jangan kalian turut campur. Aku inginkan gadis itu.”

“Jahanam,” bentak kepala pengawal, “aku telah menyanggupkan diri melindungi semua yang menjadi tanggung jawabku. Bagaimanapun hebatnya kau, aku akan tetap melawan sampai kemungkinan terakhir.”

Kembali pemuda itu tertawa, katanya, “Aku akan menghitung sampai bilangan 10. Siapa yang tidak mau minggir, bukan salahku kalau ia binasa.”

Mendengar ancaman itu beberapa orang merasa ngeri juga sehingga bulu roma mereka berdiri.

“Satu … dua … tiga …..” Pemuda itu mulai menghitung bilangan.

Sampai bilangan ini, telah banyak diantara mereka yang meloncat keluar dari gelanggang. Bagaimanapun perasaan kesetiakawanan mereka namun karena mereka tidak langsung berkepentingan, maka mereka merasa lebih baik minggir daripada turut menjadi korban. Karena itu, setelah bertempur beberapa lama, terasalah bahwa pemuda itu adalah pemuda yang perkasa.

Sampai bilangan ketujuh, tak ada lagi seorang pun yang berani membantu ketujuh pengawal yang sedang bertempur mati-matian itu. Sehingga pertempuran itu semakin nampak berat sebelah. Tetapi dalam pada itu Mahesa Jenar merasa kagum dan hormat kepada ketujuh pengawal itu, yang tidak lagi menghiraukan keselamatan diri mereka dalam melakukan kewajiban.

Sejenak kemudian Mahesa Jenar merasa tak sampai hati melihat keadaan yang demikian, maka segera ia melompat dan masuk ke dalam arena pertempuran. Tetapi sampai sedemikian jauh ia sama sekali tidak merasa perlu memperlihatkan kepandaiannya. Ia berkelahi dengan cara yang nampaknya sama sekali tak teratur dan sekaligus untuk mengetahui sampai dimana keperkasaan lawannya.

Pemuda tampan itu, ketika melihat Mahesa Jenar masuk ke dalam kancah perkelahian, terpaksa menghentikan hitungannya dan berkata kepada Mahesa Jenar, “Hai orang tolol, kau jangan bermain-main di situ. Menyingkirlah.”

Mahesa Jenar pura-pura tak mendengar seruan itu. Dengan gerak yang bodoh ia menyerang terus bersama-sama ketujuh orang pengawal itu. Beberapa saat kemudian, kembali pemuda itu mengulangi seruannya, tetapi juga kali ini Mahesa Jenar tidak mempedulikannya. Ia berkelahi dengan gerak sekenanya saja. Bahkan ia menyerang pemuda itu dengan segenggam tanah yang dilemparkan ke mukanya, karena ia memang tidak bersenjata.

Akhirnya pemuda itu menjadi gusar. “Bagus, kalau kau tak mau berhenti, aku akan melanjutkan hitunganku, lalu sesudah itu kalian akan mampus semua. Dan gadis itu akan aku bawa pulang tanpa seorang pun dapat menghalangi,” kata pemuda itu.

Mendengar teriakan pemuda tampan itu, gadis cantik yang menjadi sasarannya menjerit ngeri, tetapi suaranya hilang ditelan oleh kelebatan rimba.

AKHIRNYA si pemuda sampai juga pada hitungan yang ke 10. Sesudah itu ternyata ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan. Secepat kilat ia maju menggempur lawannya. Tongkatnya berputaran cepat bukan main, seolah-olah berubah menjadi segulung awan hitam yang menakutkan.

Mahesa Jenar melihat gelagat ini, tetapi ia masih saja bertempur tanpa aturan.

Pertempuran itu segera berubah menjadi semakin cepat dan dahsyat. Tongkat hitam itu melayang menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Tetapi sampai sekian lama tak seorangpun yang dapat dikenainya. Si pemuda sendiri kemudian menjadi heran, kenapa tongkatnya tak menyelesaikan pertempuran sebelum fajar. Menilik kepandaian ketujuh orang yang mengeroyoknya, ia sudah dapat memastikan bahwa sedikitnya empat diantaranya harus sudah binasa, apalagi si perantau tolol itu.

Tetapi karena sampai sedemikian jauh ia masih belum mampu menjatuhkan seorang pun, Mahesa Jenar, yang dalam mata si pemuda merupakan orang tolol yang berani, sangat mengganggu perkelahian itu. Sekali waktu ketika tongkatnya melayang ke arah tengkuk salah seorang lawannya, tiba-tiba perantau tolol itu melemparkan pasir ke arah mukanya, sehingga ia terpaksa memejamkan matanya. Dengan demikian maka calon korbannya itu sempat menghindarkan diri.

Pada saat lain, ketika hampir saja tongkatnya berhasil menyodok leher, si pemuda tolol itu kakinya terantuk batu, sehingga jatuh tertelungkup menimpa lawan yang hampir binasa itu. Dengan demikian mereka jatuh bergulingan. Dan juga kali ini tongkatnya tak menemukan sasaran.

Si pemuda akhirnya marah kepada Mahesa Jenar. “Hai orang tolol. Jangan berbuat gila di sini. Kalau kau tak mau lekas minggir, kaupun akan kubinasakan. Bahkan kaulah yang pertama-tama akan mengalami nasib jelek,” teriaknya geram.

Mendengar seruan itu, sadarlah Mahesa Jenar bahwa pemuda itu sudah benar-benar marah. Maka tidak sepantasnya lagi kalau ia bermain-main saja. Maka segera ia pun mempersiapkan diri untuk menyambut setiap serangan yang benar-benar akan dilancarkan kepadanya.

Sementara itu, terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan mereka semua. Tidak saja para pengawal dan mereka yang melakukan perjalanan, tetapi juga pemuda itu dan Mahesa Jenar. Tiba-tiba dalam suasana keributan pertempuran, diantara kesepian rimba itu, menggetarlah suara tertawa nyaring yang semakin lama terdengar semakin mengerikan.

Segera, semua yang mendengar suara itu mengenal, bahwa itulah suara maharaja yang kekuasaannya terbentang meliputi seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya. Ia adalah yang sangat ditakuti dengan namanya yang seram, Lawa Ijo.

Bahkan kali ini suara tertawa itu sedemikian mengerikan, seperti memenuhi seluruh rimba dan mengepung mereka dari segala penjuru. Demikian hebatnya pengaruh suara tertawa itu, seperti mengguncang-guncang dada. Sehingga arahnya pun tak dapat diketahui dari manakah sumber suara itu. Beberapa orang menjadi bingung dan ketakutan, bahkan ada yang menjadi lemas dan hampir pingsan. Tidak ketinggalan para pengawal pun segera nampak sangat cemas. Sebab munculnya Lawa Ijo setelah beberapa lama lenyap itu, adalah sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka.

Mahesa Jenar yang mempunyai telinga sangat tajam, dengan saksama memperhatikan suara itu. Meskipun perlahan-lahan, akhirnya dapat diketahui dari manakah asalnya.

Tetapi rupanya pemuda tampan itu pun bukan orang biasa. Pendengarannya ternyata sangat tajam. Untuk mengetahui arah suara itu, diangkatnya wajah. Meskipun tidak secepat Mahesa Jenar, ia pun akhirnya dapat mengetahui sumber suara itu. Maka segera ia pun bersiaga menghadap ke arah suara itu, sambil berteriak.

“Hai Lawa Ijo, kau jangan main gila di hadapanku. Ayo keluarlah dari sarangmu. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki dengan memperdengarkan suara tertawamu yang memuakkan itu?”

Mendengar seruan pemuda itu, semua orang, termasuk Mahesa Jenar, menjadi bertanya-tanya dalam hati. “Siapakah dia, yang telah berani menantang Lawa Ijo ini?”

Sementara itu suara tertawa Lawa Ijo pun semakin lama semakin surut, dan akhirnya mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melayang turun dari dahan yang cukup tinggi. Tetapi yang sama sekali tak diduga-duga, kecuali oleh Mahesa Jenar dan pemuda tampan itu, ternyata Lawa Ijo bertengger di atas dahan yang hanya berjarak tidak lebih dari 20 depa dengan mereka.

Samar-samar oleh cahaya api yang masih menyala, tampaklah bahwa Lawa Ijo pun sebenarnya masih muda. Usianya tidak juga terpaut banyak dengan pemuda tampan itu maupun dengan Mahesa Jenar. Tubuhnya kekar kuat, matanya hitam mengkilat memancarkan sinar kekejaman dan kebengisan. Sedangkan di bawah hidungnya melekatlah kumis yang lebat hitam melintang menyeramkan.

Meskipun pada saat itu Lawa Ijo tersenyum, tetapi senyumnya sama sekali tidak menambah manis wajahnya, bahkan beberapa orang yang melihatnya menjadi gemetar ketakutan, seakan-akan melihat senyuman malaikat pencabut nyawa yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

PERLAHAN-LAHAN, setapak demi setapak, Lawa Ijo berjalan mendekati pemuda tampan itu. Di pinggangnya membelit kain berwarna putih dengan lukisan hijau di atasnya. Pastilah itu gambar yang menyeramkan. Kelelawar dengan kepala serigala. Sedangkan di tangan kanannya tergenggam sebilah pisau belati panjang.

Ternyata pemuda tampan itu sama sekali tidak gentar. Meskipun demikian ia tidak mau merendahkan Lawa Ijo. Tangannya segera memutar tongkat hitamnya, dan tiba-tiba dari dalamnya ia mencabut sebilah pedang kecil yang lentur.

Melihat hal itu Lawa Ijo tertawa, tetapi kali ini tertawanya pendek. Lalu ia berkata, “Ular Laut gila, kau jangan main gagah-gagahan di daerah ini.”

Mendengar kata-kata Lawa Ijo, sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. “Inilah agaknya yang disebut Samparan dengan panggilan Ular Laut yang memiliki wajah tampan dan bernama Jaka Soka. Karena itulah maka dengan enaknya ia dapat melawan tujuh orang, bahkan lebih dari itu. Dan dengan beraninya pula ia menantang Lawa Ijo,” pikir Mahesa Jenar.

Mendengar ucapan Lawa Ijo, Jaka Soka sama sekali tidak menjadi takut. Malahan kembali bibirnya yang tipis itu menyungging senyum aneh.

“Daerah inikah yang kau maksud?” jawab Jaka Soka.

“Jaka Soka, kau jangan mencari perkara. Kau tahu bahwa seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya serta segala isinya adalah daerah wewenangku,” sambung Lawa Ijo.

“Hem… telah berapa bulan atau berapa tahun kau merendam diri di sarangmu? Dan tahu-tahu sekarang masih mengatakan daerah ini daerah wewenangmu. Lawa Ijo, menurut pikiranku daerah ini sekarang merupakan daerah tak bertuan,” gumam Jaka Soka.

“Kau jangan mengigau Soka. Aku belum pernah melepaskan hak yang pernah aku miliki. Kalau beberapa waktu terakhir aku tidak pernah berbuat sesuatu, itu bukannya aku tak lagi berwenang di daerah ini. Hanya saja, dalam waktu-waktu itu aku tak merasa perlu untuk berbuat apa-apa. Anggapanmu bahwa daerah ini daerah tak bertuan itu sama sekali salah, selama aku masih bernafas. Nah sekarang tinggalkan daerah ini,” perintah Lawa Ijo.

Jaka Soka sama sekali tak terpengaruh oleh kata-kata Lawa Ijo itu. Bahkan kemudian ia tertawa kecil.

“Lawa Ijo, kau jangan berlagak seperti seorang yang paling berkuasa. Apa dasarmu kau berani memerintah aku untuk meninggalkan daerah ini? Kau masih belum menunjukkan bahwa kau memiliki sepasang pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Juga belum pasti bahwa kau akan berhasil memenangkan semua pertandingan yang akan kami selenggarakan akhir tahun ini. Jadi pada saat ini kau dan aku masih belum mempunyai sangkut paut apapun,” jawab Jaka Soka.

Lawa Ijo menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Lalu bagaimana seharusnya?”

“Seharusnya kau tak usah mengganggu aku. Tetapi kalau kau tetap tak menghendaki aku melakukan perbuatan-perbuatan di daerah ini, seharusnya kau paksa aku pergi,” jawab Jaka Soka.

Kembali Lawa Ijo tertawa pendek.

“Kau masih seperti masa-masa lampau. Setelah kau capai tingkatmu yang hampir sempurna sekarang ini, seharusnya kau tak lagi banyak bernafsu untuk berkelahi. Dan apakah artinya pertempuran diantara kita. Beberapa waktu yang lampau kita pernah berkelahi sampai beberapa hari. Dan tidak seorangpun dari kita yang kalah. Kalau pada saat ini kami kembali bertempur, menurut pendapatku hasilnya akan sama saja. Karena itu baiklah kita hormati persetujuan yang pernah kita buat mengenai daerah kerja kita masing-masing,” kata Lawa Ijo.

Jaka Soka menjadi bimbang. Dahinya berkerut dan otaknya berputar cepat. Melihat Jaka Soka ragu, Lawa Ijo menambahkan, “Atau kalau kau merasa tidak perlu lagi dengan persetujuan itu, baiklah dihapus saja sama sekali. Aku tak keberatan kau melakukan kegiatan di wilayah ini, tetapi kau jangan menyalahkan aku kalau aku akan melakukan kegiatan di Nusa Kambangan dan di lautan. Sebab aku pun pernah menjadi bajak laut pada usia 14 tahun.”

Dahi Jaka Soka semakin berkerut. Dan akhirnya pecahlah tertawanya. “Memang, kau penjahat tak tanggung-tanggung Lawa Ijo. Baiklah kalau demikian aku mengalah,” katanya.
“Tetapi….” Jaka Soka berhenti berbicara, tetapi matanya merayap kepada gadis cantik yang duduk gemetar dan ketakutan.

Lawa Ijo pun mengerti maksud Jaka Soka. Sahutnya sambil tersenyum, “Soka, kemana kau pergi, selalu kau bawa pulang gadis-gadis. Apakah sarangmu masih belum penuh?”
Jaka Soka tertawa lirih, jawabnya, “Alangkah bodohnya kau. Nusa Kambangan cukup luas untuk menampung semua gadis dari pulau Jawa ini. Dan atas gadis ini kau tidak keberatan?”

Mendengar percakapan mereka, gadis itu menjadi semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil dan keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Sekarang di hadapan kedua penjahat terkenal itu, rombongan yang berjumlah 10 orang dengan mereka yang telah tersadar dari pingsannya pun tidak mungkin dapat menghalangi maksud Ular Laut yang gila itu. Meskipun orang-orang lain juga merasa ketakutan dan ngeri, tetapi sebesar-besarnya mereka hanya harus menyerahkan barang-barang mereka. Tetapi gadis itu harus menyerahkan dirinya.

Satu-satunya harapan baginya adalah kalau Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, melarang Jaka Soka berbuat sesuatu di daerah ini. Sebab Lawa Ijo sendiri, menurut berita yang tersiar, tak pernah menculik atau menghendaki seorang gadis.

Tetapi alangkah kecewanya gadis itu, bahkan hampir saja ia jatuh pingsan ketika didengarnya Lawa Ijo berkata sambil tertawa pendek, “Jaka Soka, sebenarnya aku sama sekali tak mengubah pendirianku. Tetapi sebagai seorang sahabat, baiklah aku hadiahkan gadis itu kepadamu. Aku sama sekali tak berkepentingan dengannya, sebab aku mempunyai kepentingan lain.”

Mendengar jawaban Lawa Ijo, Jaka Soka menjadi gembira sekali. “Lawa Ijo, memang hanya itulah yang sebenarnya aku kehendaki dari rombongan ini. Hanya barangkali kau anggap aku bersalah, bahwa aku tidak minta izinmu dahulu. Nah, sekarang kau telah mengizinkan,” katanya.

Sekali lagi Lawa Ijo tertawa. “Terserahlah kepadamu, Soka,” katanya.

Mendengar keputusan Lawa Ijo, gadis itu semakin putus asa. Tak ada lagi harapan baginya untuk melepaskan diri dari tangan penjahat itu.

MAHESA JENAR selalu memperhatikan perkembangan keadaan dengan cermat. Ia dihadapkan pada satu persoalan yang juga cukup rumit. Di sini, tanpa diduga-duga ia telah bertemu dengan Lawa Ijo yang sengaja akan dicarinya. Tetapi di sini juga, ada seorang yang dapat mengganggu pertemuan itu. Yaitu Jaka Soka yang ternyata mempunyai kekuatan seimbang dengan Lawa Ijo.

Kalau pada saat itu Mahesa Jenar membuat perhitungan dengan Lawa Ijo, ia sendiri belum tahu pasti siapakah yang akan menang. Apalagi kalau kemudian Jaka Soka ikut campur, maka masalahnya akan merugikan. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, melawan dua orang adalah pekerjaan yang berat sekali, bahkan mungkin diluar kuasanya.

Tetapi diluar itu ia menghadapi soal baru. Jaka Soka menghendaki untuk membawa gadis itu pulang ke Nusa Kambangan. Apakah hal yang demikian dan berlangsung di bawah hidungnya akan dibiarkan saja? Andaikan ia bertindak, dalam hal ini pun ada kemungkinan ia terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang itu. Sebagai seorang prajurit pilihan, Mahesa Jenar sama sekali tidak mengenal takut. Kalau ia sampai berpikir demikian, masalahnya adalah atas dasar perhitungan cara dan bagaimana untuk mencapai maksudnya.

Selagi Mahesa Jenar sibuk berpikir, Jaka Soka dengan matanya yang redup dan senyum aneh yang menghiasi bibirnya yang tipis, telah mulai bergerak dan berjalan perlahan-lahan ke arah gadis cantik itu. Sementara itu Lawa Ijo berteriak bergurau, “Jaka Soka, sebenarnya aku iri hati melihat ketampanan wajahmu. Tetapi kau rupanya adalah seorang tampan yang sial. Sebab gadis-gadis yang kau kehendaki menjadi pingsan kegirangan, karena akan mendapat pasangan yang setampan kau ini.”

Jaka Soka sama sekali tak mendengar perkataan Lawa Ijo itu. Ia sedang kegirangan akan mendapat gadis yang demikian cantiknya, melebihi semua gadis yang pernah dilihatnya.

Tetapi terjadilah suatu hal diluar perhitungannya. Dalam keputus-asaan, gadis itu memutuskan untuk lebih baik membunuh dirinya. Ia sama sekali tidak mau dinodai kehormatannya oleh iblis-iblis yang demikian itu. Maka secepat kilat ia mengambil keris dari dalam bungkusan yang dibawanya, dan segera ia menarik keris itu dari warangkanya.

Jaka Soka sama sekali tidak mengira bahwa hal yang demikian akan terjadi. Karena itu ia terkejut, sehingga langkahnya terhenti. Ia masih belum tahu, maksud yang sebenarnya gadis itu menarik keris. Karena itu ia harus berhati-hati. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat keris itu melayang menuju kearah dada gadis itu sendiri.

Jaka Soka tersadar. Karena itu harus dicegahnya. Tetapi sayang jaraknya masih terlalu jauh. Sehingga terloncatlah teriakan dari mulutnya yang berbibir tipis itu dengan noda yang cemas. Cemas akan kehilangan gadis itu. “Jangan …. Jangan lakukan itu.”

Tetapi teriakannya itu menggetar tanpa sesuatu pengaruh apapun atas gadis yang sudah bertekad untuk mati daripada jatuh di tangan bajak laut yang berwajah tampan itu.

Tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan melontar dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan gadis itu, sehingga keris yang digenggamnya tidak sampai menembus dadanya. Gadis itu terkejut bukan kepalang. Demikian juga semua yang menyaksikan. Bahkan Jaka Soka dan Lawa Ijopun menjadi terkejut dan heran melihat orang dapat bergerak demikian cepatnya.

Itulah Mahesa Jenar yang telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa gadis cantik itu. Dan sekaligus keris itupun telah berpindah ketangannya pula. Tetapi belum lagi debar jantung mereka berhenti, kembali mereka terkejut, terutama Mahesa Jenar sendiri, Jaka Soka dan Lawa Ijo, ketika mereka melihat keris yang sekarang sudah berada di tangannya.

“Kiai Sigar Penjalin,” desis mereka hampir bersamaan.

Itulah nama keris yang dipegang oleh Mahesa Jenar. Keris yang berbentuk lurus. Satu sisinya melengkung hampir setengah lingkaran, sedangkan sisi yang lain datar seperti kebiasaan keris. Mirip seperti batang penjalin yang dibelah dua dan diruncingkan ujungnya. Yang mengejutkan mereka adalah, keris itu terkenal sebagai pusaka seorang sakti yang mempunyai nama sejajar dengan Pasingsingan. Yaitu Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak Wanasaba. Demikian terkejutnya Mahesa Jenar sampai tangannya yang memegang keris itu gemetar.

Maka setelah agak reda sedikit dan nafasnya mulai teratur, Mahesa Jenar berdiri dengan teguhnya memandang tajam kepada Jaka Soka. “Apakah yang kau kehendaki dari gadis ini?” tanya Mahesa Jenar.

Getar hati Jaka Soka sementara itu telah turun. Tetapi sekarang otaknya dihinggapi oleh suatu pertanyaan. Perantau tolol itu, kenapa tiba-tiba saja dapat berbuat sedemikian cepatnya, sehingga jiwa gadis cantik itu tertolong. Selain itu, gadis itu ternyata memiliki keris Kiai Sigar Penjalin. Apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Alas?

Jaka Soka berpaling kepada Lawa Ijo untuk mendapat pertimbangan. Ternyata Lawa Ijo pun pada saat itu sedang berpikir keras. Ia memandang keris Sigar Penjalin yang berada di tangan Mahesa Jenar itu tanpa berkedip. Baru setelah beberapa saat kemudian ia berkata,

“Jaka Soka, menurut pendapatku sebaiknya kita tidak membuka suatu persoalan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Sebab dengan membawa keris Sigar Penjalin, gadis itu mempunyai hubungan dengan Ki Ageng Pandan Alas.”

Jaka Soka dalam hati kecilnya membenarkan juga keterangan Lawa Ijo itu. Sebab ia pun tahu bahwa Ki Ageng Pandan Alas termasuk orang yang aneh. Ia selalu berada di mana saja merantau dari satu tempat ketempat lain.

Namun demikian, ia sayang juga melepaskan gadis cantik yang sudah sekian lama diikutinya. Sebab dalam pengamatannya, belum pernah ia menemukan gadis secantik itu. Kalau kali ini ia tak berhasil membawanya pulang, maka seumur hidupnya belum tentu ia akan menjumpainya lagi.

Sebaliknya, gadis cantik itu sama sekali tidak menduga bahwa keris yang dibawanya mempunyai pengaruh yang sedemikian hebatnya. Ia sendiri belum pernah mendengar nama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak. Keris yang dibawanya adalah keris peninggalan ibunya pada saat ibunya menghembuskan nafas terakhir.

MENURUT ibunya, keris itu adalah keris kakeknya, seorang petani miskin yang pada saat itu sedang merantau mencari daerah baru yang lebih subur, yang barangkali dapat dipakai sebagai tempat tinggal yang baru. Dan menurut ibunya, kakeknya sekarang berada di desa Pliridan. Daerah antara hutan Tambak Baya dan Beringan, bagian dari hutan Mentaok. Suatu daerah yang baru dibuka oleh beberapa orang, yang nampaknya subur untuk daerah pertanian.

“Lawa Ijo,” kata Jaka Soka kemudian setelah berpikir sejenak. “Memang aku sebenarnya segan terhadap orang tua itu. Tetapi menurut pikiranmu apakah ia mengetahui bahwa gadis itu aku bawa pulang ke Nusa Kambangan?”

“Soka,” jawab Lawa Ijo, “Pandan Alas itu tidak ubahnya seperti hantu yang berada di mana saja, pada saat apa saja. Ia seolah-olah memiliki seribu mata dan seribu telinga yang bertebaran di seluruh tanah ini.”

“Tetapi ternyata sekarang ia tak ada di tempat ini,” potong Jaka Soka

“Kau jangan berkeras membawa gadis itu, Soka. Meskipun seandainya Pandan Alas pada saat ini tidak melihat dan mengetahui, tetapi perbuatan itu kau lakukan di hadapan saksi-saksi yang pada suatu ketika pasti akan terdengar pula oleh hantu yang bertelinga seribu itu. Kalau sudah demikian halnya, kau tidak akan dapat lagi hidup tenteram dan berlindung di mana pun di dunia ini.”

Jaka Soka terdiam. Tampak alisnya berkerut-kerut. Tiba-tiba terdengarlah ia menjawab dengan jawaban yang sama sekali tidak terduga-duga. Semua yang mendengar menjadi terkejut, seperti tanah tempat mereka berpijak itu runtuh.

“Lawa Ijo, kau benar. Memang aku seharusnya tidak berbuat itu di hadapan saksi-saksi. Karena itu maka akan aku bunuh semua orang yang menyaksikan peristiwa ini, kecuali kau,” kata Jaka Soka dengan suara mantap.

Baru mendengar kata-kata itu, dan belum lagi Jaka Soka berbuat sesuatu, orang-orang yang mendengarnya seolah-olah telah terbang nyawanya. Lawa Ijo yang matanya memancarkan sinar kebuasan dan kebengisan itu pun terkejut mendengar keputusan Jaka Soka untuk membunuh sekian banyak orang itu.

“Jaka Soka, sebaiknya kau pikir masak-masak apa yang akan kau lakukan itu. Apalagi hal itu terjadi di daerah kuasaku,” kata Lawa Ijo memperingatkan.

“Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya,” jawab Jaka Soka.

Dahi Lawa Ijo tampak berkerut. Rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat mengerti.

Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu. Karena gadis itulah maka nyawa mereka terancam.

Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng Pandan Alas.

Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian, hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.

“Lawa Ijo, seharusnya kau tak usah takut kepada Pandan Alas. Sebab Paman Pasingsingan tentu tidak akan tinggal diam andaikata Pandan Alas salah duga terhadapmu mengenai masalah ini,” sambung Jaka Soka ketika Lawa Ijo lama tak menjawab.

Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.

Maka terjadilah kegemparan diantara mereka. Beberapa orang telah menangis merintih-rintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.

Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terang-terangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.

DALAM keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang gemetar.

“Saudara-saudara seperjalanan… aku minta maaf kalau kehadiranku diantara saudara-saudara menyebabkan saudara-saudara menemui kesulitan. Tetapi ketahuilah bahwa orang ini tidak akan berguna membunuh saudara-saudara sekalian, sebab aku telah memutuskan untuk bunuh diri.”

Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar. Lalu katanya, “Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”

Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar sangat terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab, terdengar suara Jaka Soka.

“Perantau tolol. Jangan kau serahkan kepadanya, supaya aku selamatkan jiwamu. Berikan saja keris itu kepadaku.”

Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.

Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka.

“Jaka Soka yang dikenal sebagai seorang Bajak Laut yang menakutkan. Buat apa aku mengharap kau membebaskan jiwaku. Kalau aku terpaksa berkubur di tengah-tengah hutan Tambak Baya ini. Karena aku membela kebenaran, aku sama sekali tidak akan menyesal. Karena itu selagi aku masih bernafas, kau tak akan dapat menyentuh gadis yang belum aku kenal sebelumnya ini.”

Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apa-apa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar orang tolol yang berani.

Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung jawab ia berkata, “Jaka Soka, akupun pernah mendengar kebesaran namamu. Dan sekarang aku sempat menyaksikan pula. Bahkan sekaligus aku dapat mengetahui betapa biadabnya Bajak Laut dari Nusa Kambangan ini. Karena itu, bagaimana aku berani berlagak di hadapanmu. Tetapi karena kali ini aku sedang dibebani oleh suatu tanggung jawab, maka bersama-sama perantau yang belum aku kenal ini, aku bersedia menjadi banten. Apa artinya sisa umurku yang tinggal beberapa tahun lagi, kalau dilumuri oleh suatu pengkhianatan akan tugas yang dibebankan di pundakku.”

“Cukup!” potong Jaka Soka. Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala. Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di tangan.

Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada diantara mereka yang memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu.

“Bapak …, Bapak telah lanjut usia. Apalagi orang yang dilawan bukan sembarang orang. Karena itu minggirlah. Biarlah aku yang berumur sebaya melawannya, untuk mewakili mereka yang berhati kecil, sekecil hati kelinci, sehingga kehilangan rasa kesetiakawanan mereka. Bahkan ada yang sampai hati menyalahkan gadis ini pula. Tetapi karena aku tidak sepantasnya mempergunakan keris Sigar Penjalin milik seorang sakti ini, baiklah keris ini aku titipkan kepadamu. Janganlah gadis ini diberi kesempatan untuk bunuh diri sebelum kita semua binasa.”

Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benar-benar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.
Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo.

“Lawa Ijo, tolong bawakan tongkatku ini,” kata Jaka Soka dengan nada geram. Lalu katanya kepada Mahesa Jenar, “Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”

SEGERA sesudah itu Jaka Soka bersiap untuk menghancur-lumatkan orang yang telah berani menghinanya. Sementara itu Mahesa Jenar pun telah bersiap pula. Sebab ia tahu benar bahwa lawannya itu adalah orang yang mendapat sebutan Ular Laut yang Ganas dari Nusa Kambangan.

Mereka yang menyaksikan adegan itu, hatinya berdegub, dipenuhi oleh bermacam-macam persoalan. Meskipun ada juga yang merasa tersentuh oleh sindiran Mahesa Jenar, bahwa tak seorang pun diantara mereka yang berani membela gadis yang sedang dalam kesulitan itu. Bahkan ada pula yang mengumpatinya, kecuali para pengawal yang merasa memikul tanggung jawab.

Tetapi tak seorang pun dari mereka yang menaruh setitik harapan kepada perantau yang tolol meskipun berani itu. Bahkan ada yang menganggap kelakuan Mahesa Jenar itu hanya akan menambah kemarahan Jaka Soka, sehingga akan mempercepat kematian mereka tanpa pertimbangan lagi.

Gadis cantik itu sendiri memandang Mahesa Jenar sebagai orang yang aneh. Setelah menyaksikan Mahesa Jenar bersama-sama dengan para pengawal tak dapat memenangkan perkelahian melawan pemuda tampan yang ternyata bernama Jaka Soka itu, tiba-tiba sekarang ia, si perantau itu, ingin melawannya seorang diri.

Disamping perasaan itu, timbul pula suatu perasaan lain yang asing dalam diri gadis itu. Suatu perasaan dimana ia ingin mendapatkan perlindungan dari orang yang aneh itu lebih daripada yang lain-lain, juga lebih daripada para pengawal itu sendiri, meskipun ia tidak tahu apakah orang itu akan dapat melakukannya. Sesaat kemudian, kembali terdengar Jaka Soka menggeram hebat.

“Sebenarnya sayanglah tanganku ini dikotori oleh darah kelinci seperti tampangmu itu. Tetapi karena kau adalah kelinci yang paling tak tahu diri, maka terpaksa aku ingin menguliti tubuhmu.”

Kata-kata itu benar-benar menyeramkan. Tetapi lebih-lebih lagi ketika orang-orang itu melihat tangan Ular Laut itu menjulur dengan dahsyatnya ke arah tulang-tulang iga Mahesa Jenar. Rupanya Jaka Soka yang seakan sedang gila dibakar oleh kemarahannya itu, ingin membunuh lawannya dengan pukulan yang pertama.

Mereka yang menyaksikan gerak Jaka Soka itu tersirat darahnya. Beberapa orang memejamkan matanya, sebab menurut dugaan mereka tulang-tulang iga perantau tolol itu segera akan rontok seluruhnya. Bahkan beberapa orang segera memegangi dada masing-masing, se-olah-olah tulang iga merekalah yang akan lepas berderai-derai.
Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar telah benar-benar siap dan waspada. Sebab ia tahu bahwa lawannya bukanlah lawan biasa, tetapi ia adalah seorang pemuda yang mempunyai nama di kalangan aliran hitam.

Meskipun demikian ia kagum juga melihat kegesitan Ular Laut itu. Melihat serangan yang datang dengan dahsyatnya, segera Mahesa Jenar dengan cepatnya pula mengelak ke samping. Seterusnya ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena itu, ketika ia berhasil membebaskan diri dari serangan pertama Jaka Soka, segera ia membuka serangan pula. Sebuah serangan dengan kakinya menyambar perut lawannya.

Tetapi Jaka Soka bukan anak kemarin sore. Ketika ia merasa bahwa serangannya yang pertama gagal, segera ia mengubah sikapnya dan dengan satu gerakan melingkar ia berhasil mengelakkan serangan Mahesa Jenar.

Sebaliknya Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Melihat lawannya menghindar, cepat-cepat ia memotong arah dan tahu-tahu ia sudah berada di muka Jaka Soka kembali, sekaligus menyerang dengan tangkasnya ke arah leher lawannya. Jaka Soka menjadi terperanjat bukan buatan. Apalagi sebelumnya ia memandang orang itu sebagai seorang yang tak berarti meskipun mempunyai cukup keberanian. Dengan demikian kewaspadaannya jadi berkurang.

Karena itu, ketika dengan tak diduganya sama sekali lawannya itu dapat bergerak dengan lincahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri. Mau tidak mau ia harus melawan serangan itu dengan sebuah pertahanan yang rapat, kalau ia tidak mau binasa.

Karena itu terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Mahesa Jenar telah mempergunakan sebagian besar tenaganya, sedangkan Jaka Soka pun telah mengerahkan kekuatannya pula. Akibatnya adalah hebat sekali. Tubuh Mahesa Jenar bergetar hebat dan ia terdorong surut kebelakang. Jaka Soka pun terlempar beberapa depa, dan kemudian meski sudah berusaha, ia tak berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya. Sehingga ia jatuh beberapa kali berguling, barulah ia berhasil meloncat tegak kembali.

Mengalami hal ini, dada Jaka Soka serasa akan pecah. Darahnya mendidih dan menggelagak sampai kepala. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa lawannya, yang dalam pandangannya semula tidaklah lebih dari seekor kelinci yang tidak tahu diri itu, ternyata memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya. Karena itu, matanya menjadi semakin menyala.

Tahulah Jaka Soka sekarang, kenapa tadi ia sama sekali tidak berhasil membunuh seorang pun dari para pengawal yang mengeroyoknya. Rupanya orang ini tidak saja kebetulan menubruk kawan-kawannya, melemparnya dengan pasir pada saat tepat tongkatnya hampir menyambar korban, kemudian jatuh bergulingan menimpa beberapa orang yang dadanya hampir rontok oleh tongkatnya. Hal itu pastilah disengaja untuk menyelamatkan para pengawal itu. Sebab ternyata bahwa orang itu mempunyai kepandaian yang luar biasa.

Mahesa Jenar sendiri terkejut pula mengalami benturan itu. Ternyata tenaga Jaka Soka pun dahsyat, sehingga ia tergetar surut. Dalam hal ini Mahesa Jenar sadar, bahwa Jaka Soka terlalu menganggapnya tak berarti, sehingga apabila Jaka Soka sungguh-sungguh menggempurnya dengan segenap kekuatan dan ilmunya, maka keadaannya pasti akan lain. Bahkan mungkin keadaannya akan berimbang.

Sesaat kemudian, baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar telah mempersiapkan diri kembali untuk memulai perkelahian. Mereka berdua sadar, bahwa kekuatan mereka tidak terpaut banyak. Maka kunci kemenangan dari pertempuran ini terletak dalam kepandaian serta keprigelan mereka membawakan diri dalam keadaan-keadaan yang genting.

SEBENTAR kemudian perkelahian itu segera mulai kembali dengan sengitnya. Cara berkelahi Jaka Soka itu benar-benar seperti ular. Melingkar, melilit lawannya dan mematuk dengan jari-jarinya demikian dahsyatnya. Geraknya cepat dan licin tak terduga-duga.

Sedangkan Mahesa Jenar bersikap lebih tenang. Ia bertempur seperti seekor banteng yang teguh, kokoh dan tangguh. Ia tidak begitu banyak bergerak, tetapi demikian tubuhnya berkisar, menyambarlah udara maut ber-putar-putar.

Perkelahian itu berlangsung demikian dahsyatnya. Mereka bergerak sambar menyambar diantara pepohonan hutan, sehingga terdengarlah suara berderak batang-batang patah kena sambaran tangan mereka yang keras bagaikan besi.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu telah berlari-lari berpencaran. Sedang dalam otak mereka berkecamuk seribu satu pertanyaan mengenai diri perantau aneh itu. Setelah mereka menyaksikan betapa hebat tenaganya, serta betapa dahsyat caranya bertempur, mereka menjadi kebingungan.

Adanya Jaka Soka diantara mereka, serta munculnya Lawa Ijo dengan tiba-tiba itu saja, telah cukup memeningkan kepala mereka. Apalagi keputusan Jaka Soka untuk membunuh mereka semua, karena mereka menyaksikan perbuatannya, menculik seorang gadis. Dan sekarang, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang lagi, yang semula mereka anggap sama sekali tak berarti, tetapi ternyata dapat mengimbangi ketangkasan Jaka Soka. Karena itu, pastilah akan muncul pula sebuah nama diantara mereka yang akan mengejutkan pula.

Nama orang yang mereka sangka perantau tolol itu.

Di saat yang sedemikian tegangnya, dimana berputar-putar udara yang bernafaskan maut, pecahlah fajar di ujung Timur. Cahayanya yang kuning kemerah-merahan melimpah ke persada bumi yang dipenuhi oleh segala macam pertentangan. Pertentangan-pertentangan yang mudah diselesaikan, pertentangan-pertentangan yang sulit diselesaikan, bahkan kadang-kadang terdapat pertentangan-pertentangan yang tak mungkin dipecahkan.

Meskipun cahaya kemerahan itu masih begitu lemah untuk dapat menerangi pedalaman hutan yang lebat, tetapi berkas-berkas cahayanya yang menerobos dedaunan, sedikit banyak telah dapat pula menyibak gelapnya malam, dan mengurangi kepekatan rimba, menggantikan cahaya perapian yang telah terlalu lama padam. Maka makin lama semakin tampak jelaslah dua bayangan yang sedang mati-matian mengadu tenaga itu.

Sementara itu Lawa Ijo telah mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Di dalam hati ia memuji juga keuletan Jaka Soka yang pada akhir tahun ini akan bersama-sama mengadakan semacam pertandingan dengan beberapa orang lainnya, termasuk dirinya.

Diam-diam ia merasa mendapat keuntungan dengan kejadian itu. Sebab dengan demikian ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Jaka Soka, yang pada akhir tahun ini pasti akan menjadi salah seorang lawannya yang berat. Karena itu sejak pertempuran berkobar, perhatiannya terikat kepada setiap gerak Jaka Soka.

Tetapi setelah pertempuran itu berlangsung agak lama, Lawa Ijo menangkap gerak-gerak yang menarik perhatiannya dari lawan Jaka Soka. Maka segera perhatiannya beralih. Gerak orang ini demikian tenang, kokoh dan tangguh. Pastilah ia bukan orang sembarangan. Sesaat kemudian mendadak Lawa Ijo terkejut sekali sampai ia meloncat selangkah ke depan. Matanya dengan tajamnya mengawasi setiap gerak Mahesa Jenar sampai matanya seolah-olah mau meloncat dari kepalanya.

Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu pada gerak-gerak Mahesa Jenar. Gerakan-gerakan yang pernah dilihatnya, bahkan pernah dialami kedahsyatannya. Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, secepat sambaran halilintar, ia meloncat maju ke tengah-tengah arena pertempuran. Sementara itu dengan nyaringnya mulutnya berteriak, “Jaka Soka, minggirlah!”

Baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar serentak terkejut mendengar seruan itu. Apalagi ketika mereka melihat bahwa Lawa Ijo telah meloncat ke tengah-tengah mereka. Maka sesaat pertempuran itu terhenti, dan tanpa berjanji lebih dahulu, mereka bersama-sama meloncat selangkah surut. Wajah Jaka Soka masih merah membara sebagai ungkapan kemarahan yang menyala di dalam dadanya.

“Lawa Ijo, apalagi yang kau maui dariku sehingga kau hentikan perkelahian ini. Meskipun aku tidak segera dapat membunuh orang yang sombong ini, tetapi aku sudah bertekad untuk melayani sampai berapa hari pun, bahkan bertahun-tahun sampai salah seorang dari kami hancur,” kata Jaka Soka.

“Kau benar Soka, tetapi sudah aku katakan, bahwa daerah ini adalah daerahku, sehingga kaupun harus menurut angger-angger-ku,” sahut Lawa Ijo.

Jaka Soka memandang Lawa Ijo dengan mata yang menyalakan api kemarahan. “Apalagi yang kau kehendaki dariku?” katanya.

“Aku tak menghendaki apa-apa lagi daripadamu, Soka, kecuali serahkan orang ini kepadaku,” jawab Lawa Ijo.

Mata Jaka Soka bertambah berapi-api lagi.

“Lawa Ijo, apakah kau sudah memandang aku sedemikian rendahnya sehingga kau perlu menolong aku?” kata Jaka Soka lagi.

LAWA IJO mendengus pendek. Sambil menggeleng ia berkata, “Sama sekali tidak, kawan. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, bahwa yang aku hadiahkan kepadamu hanyalah gadis itu saja. Dan sekehendakmulah kalau yang lain-lain akan kau bunuh. Tetapi orang ini tidak. Sebab aku sendirilah yang akan membereskannya.”

Mendengar ucapan Lawa Ijo itu, wajah Jaka Soka menjadi semakin menyala. Giginya gemeretak dan tubuhnya menggigil menahan marah. Dengan suara gemuruh ia menjawab, “Aku bukan perempuan yang perlu perlindungan laki-laki. Buat apa aku menerima hadiah dari seekor kelelawar busuk seperti tampangmu itu? Lawa Ijo… jangan coba merendahkan aku.”

Meskipun wajah Lawa Ijo nampaknya jauh lebih buas dari wajah Jaka Soka yang tampan itu, namun ternyata kepala Lawa Ijo agak lebih dingin. Karena itu ia sama sekali tidak menunjukkan kegusarannya mendengar kata-kata Jaka Soka itu. Bahkan ia masih menjawab dengan tenang meskipun tampak pula kegarangannya.

“Jaka Soka, aku tidak peduli atas tanggapanmu terhadap permintaanku. Serahkan orang itu kepadaku. Sebab aku mempunyai urusan yang lebih penting dari urusanmu. Urusanku menyangkut nama baik dan harga diri perguruanku, sedang urusanmu hanyalah urusan perempuan itu saja.”

Oleh keterangan Lawa Ijo yang terakhir itu, nyala kemarahan Jaka Soka menjadi surut.

Sedang pancaran matanya yang berapi-api itu pun segera redup dan membayangkan keheranan. Tanyanya kemudian, “Kau katakan bahwa kau mempunyai urusan dengan orang ini perkara perguruanmu?”

Lawa Ijo mengangguk.

Jaka Soka menjadi bertambah heran. Dan tanpa disengaja ia memandang Mahesa Jenar. Baru sekarang ia memperhatikan lawannya itu dengan saksama. Tubuhnya tegap kekar. Dadanya bidang. Meskipun ia berwajah lunak, tetapi pandangan matanya memancarkan kecermelangan pribadinya.

“Pantas bahwa aku tak dapat menjatuhkannya. Siapakah orang ini?” pikir Jaka Soka.

Pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Jaka Soka.

Dan sekaligus semua telinga yang berada di sekitar arena itu segera memperhatikan. Sebab pertanyaan yang demikian itu timbul pula di setiap hati orang menyaksikan pertempuran itu. Bahkan diantara mereka telah timbul harapan baru, setelah mereka menyaksikan kridha orang yang mereka anggap tidak lebih dari seorang perantau. Lebih-lebih sepasang suami-istri yang telah merasa terlanjur menyuruh orang itu membawakan beban mereka.

Maka semua perhatian pada saat itu tertambat pada mulut Lawa Ijo yang akan menjawab pertanyaan Jaka Soka.

Sementara itu terdengarlah Lawa Ijo tertawa pendek. Kemudian barulah ia menjawab, “Jaka Soka… jangan kau terkejut kalau aku mengucapkan nama orang ini. Ia adalah orang yang telah membunuh adik seperguruanku kemarin lusa. Watu Gunung. Dan yang tidak akan pernah aku lupakan, orang ini pernah pula melukai bagian dalam dadaku.”

Berdebarlah setiap jantung mereka yang mendengar kata-kata ini. Pastilah orang ini bukan orang sembarangan. Tidak terkecuali Jaka Soka. Sudah sejak lama ia mengenal Lawa Ijo. Dan pernah pula ia berkelahi melawan orang ini. Tetapi tak pernah salah seorang dari mereka berdua dapat mengatasi yang lain. Kalau orang ini pernah melukai Lawa Ijo pastilah ia memiliki kesaktian yang tinggi.

Kemudian terdengarlah Lawa Ijo melanjutkan kata-katanya, “Sayang bahwa ia tidak bersikap perwira. Ia menyerang aku pada saat aku sedang meloncat turun dari atap gedung perbendaharaan istana Demak.”

Hati Mahesa Jenar melonjak mendengar sindiran Lawa Ijo. Ia sama sekali tak mau menerima keterangan itu. Sebab pada saat ia menyerang Lawa Ijo, ia sedang berusaha untuk melindungi Gadjah Alit yang justru diserang oleh Lawa Ijo dengan sikap yang tidak perwira. Kecuali Lawa Ijo tidak menyerang dari depan, juga pada saat itu Gadjah Alit sedang dikerubut oleh tiga orang. Tetapi meskipun demikian ia tidak merasa perlu melayani fitnah itu. Karena itu ia diam saja.

Dalam pada itu, Jaka Soka pun segera teringat bahwa memang Lawa Ijo pernah bercerita kepadanya, tentang luka yang dideritanya pada saat ia berusaha memasuki gedung perbendaharaan di Demak. Karena itu sebelum Lawa Ijo menyebut nama Mahesa Jenar, ia mendahului berteriak, “Lawa Ijo, kalau demikian inikah orangnya yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya yang terkenal itu?”

Mendengar nama itu tergetarlah perasaan mereka yang pernah mengenal kebesarannya. Lebih-lebih para pengawal dan para pedagang yang datang dari pesisir utara. Tetapi dalam pada itu, dalam dada masing-masing terbersitlah semacam harapan baru yang menjadi semakin teguh, bahwa jiwa mereka akan tertolong. Karena itu menjadi semakin besarlah hati mereka. Selain itu para pengawal kemudian telah bersiap pula terjun ke dalam pertempuran seandainya Lawa Ijo dan Jaka Soka akan bersama-sama menyerang Rangga Tohjaya.

Tetapi rupanya Lawa Ijo tidak akan berbuat demikian.

“Jaka Soka, karena itulah aku minta kerelaanmu untuk membuat perhitungan dengan Rangga Tohjaya ini. Sebab aku mempunyai dugaan, bahwa ia pun sedang mencari aku. Maka sebaiknya kami tidak menyia-nyiakan pertemuan ini,” kata Lawa Ijo.

Sekarang, setelah mengerti persoalannya, Jaka Soka tidak lagi merasa direndahkan oleh Lawa Ijo. Ia pun menganggap bahwa sikap Lawa Ijo yang demikian itu adalah wajar. Karena itu ia menjawab, “Sekehendakmulah Lawa Ijo. Sebab daerah ini adalah daerahmu. Tetapi urusan gadis itu akan tetap menjadi urusanku, meskipun aku akan menunggu sampai kau selesai. Kalau kau tak berhasil dalam usahamu untuk membalaskan dendam adikmu, aku akan juga membuat perhitungan dengan orang ini. Sebab ia dengan sengaja telah mempermainkan aku ketika ia bersama-sama dengan para pengawal yang mengerubut aku.”

“Bagus. Sekarang minggirlah,” desis Lawa Ijo.

Sesudah itu maka Lawa Ijo menghadap ke arah Mahesa Jenar. Matanya yang sudah memancarkan kekejaman serta kebengisan itu menjadi bertambah mengerikan.

“Tohjaya, bersiaplah. Aku akan membuat perhitungan,” ujar Lawa Ijo geram.

Mahesa Jenar tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat, tetapi ia maju beberapa langkah mendekati Lawa Ijo dengan sikap yang meyakinkan dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.

SEMENTARA itu langit telah menjadi semakin cerah. Angin pagi yang bertiup lambat-lambat menggoyangkan daun-daun pepohonan dan membuat suara berdesir diantara cabang-cabangnya. Suaranya merintih, seolah-olah suara lagu yang mengiringi ratapan hati setiap orang yang menyaksikan permainan maut antara Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya dengan Lawa Ijo. Dua orang yang sama-sama terkenal dari aliran yang berlawanan, yang pada saat itu sedang mengadakan perhitungan hutang pihutang nyawa.

Namun betapa moleknya wajah pagi, tak seorang pun yang berada di sekitar arena pertempuran itu sempat memperhatikan. Bahkan tak seekor burung pun di tempat itu yang sempat berkicau menyambut datangnya matahari.

Seperti Jaka Soka, Lawa Ijo pun tak akan merendahkan dirinya melawan Mahesa Jenar dengan mempergunakan senjata. Tetapi setelah ia mengembalikan tongkat hitam Jaka Soka, ia tidak menitipkan belati panjangnya, melainkan dengan kekuatan jari-jarinya, belatinya itu dipatahkan, dan kemudian dilemparkan jauh-jauh. Mau tidak mau, mereka yang menyaksikan pertunjukan itu hatinya terguncang.

Segera setelah itu, maka dengan suatu suitan nyaring, Lawa Ijo mulai menyerang lawannya. Kedua tangannya direntangkan dan jari-jarinya siap merobek tubuh lawannya. Dengan suatu loncatan yang dahsyat, ia menyambar kepala Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar sadar bahwa apabila serangan ini mengenai sasarannya, maka ia yakin bahwa kepalanya akan dapat berlubang sedalam jari. Sebelum ini, Mahesa Jenar pernah bertempur dengan Lawa Ijo, karena itu ia tidak dapat mengira-ngirakan kekuatannya, meskipun ia yakin bahwa selama ini pastilah Lawa Ijo telah mendapat tambahan yang tidak sedikit.

Melihat serangan Lawa Ijo yang dahsyat itu, segera Mahesa Jenar merendahkan dirinya, tetapi sekaligus dengan tangannya ia menyerang perut lawannya dengan empat jari.
Sebenarnya Lawa Ijo sadar bahwa serangannya yang pertama pasti tak akan mengenai sasarannya. Karena itu ia selalu waspada, sehingga ketika ia melihat serangan Mahesa Jenar, dengan tangkasnya pula ia menghindarkan diri. Ia menarik sebelah kakinya ke belakang dan berputar sedikit. Kemudian sambil merendahkan diri ia menghantam tangan Mahesa Jenar dengan sikunya. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau tangannya disakiti. Ia segera menarik serangannya dan mendadak ia meloncat setengah langkah surut, tetapi demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melontarkan dirinya ke samping Lawa Ijo, dan dengan tumitnya ia menghantam lambung.

Lawa Ijo terkejut melihat gerakan ini. Kaki Mahesa Jenar bergerak demikian cepatnya.

Tetapi Lawa Ijo pun mempunyai cukup pengalaman. Segera ia merendah hampir rata tanah.
Tetapi demikian ia merendah, kakinya secepat kilat menyambar betis Mahesa Jenar.

Sekarang Mahesa Jenar yang berada dalam keadaan yang sulit, selagi satu kakinya terangkat. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cukup tenang, sehingga dalam keadaan yang nampaknya demikian sulitnya ia masih sempat mengelakkan diri. Dengan sebelah kakinya ia menjejak tanah dan meloncat tinggi. Dengan satu gerakan kakinya, Mahesa Jenar dapat mengubah arah, sehingga tubuhnya terjatuh kembali beberapa depa dari lawannya.

Lawa Ijo menjadi marah melihat serangan-serangannya yang dilakukan dengan segenap tenaganya itu sama sekali tak berhasil. Karena itu segera ia pun menyerang kembali dengan dahsyatnya. Tangannya, dengan sepuluh jari yang kokoh bergerak menyambar-nyambar dari segala arah.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpaku seperti patung. Hati mereka terpukau oleh pertunjukan maut yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya.

Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak batang-batang kayu yang patah terhantam, baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh Lawa Ijo. Sedang tanah tempat mereka bertempur, seolah-olah telah berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dari segala tumbuh-tumbuhan.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin hebat. Tampaklah betapa hebatnya mereka berdua. Sampai sekian lama tidak nampak siapakah diantara keduanya yang lebih unggul. Lawa Ijo bertempur dengan penuh dendam akan pembalasan, sedangkan Mahesa Jenar bertempur dengan suatu tekad yang telah bulat pula, melenyapkan kejahatan sampai ke akarnya.

Demikian dahsyatnya pertempuran itu, sehingga waktu berjalan cepat sekali. Dengan tak terasa, matahari telah miring rendah di ufuk barat. Seolah-olah sengaja mempercepat jalannya untuk menghindari kesaksian, bahwa di tengah-tengah hutan Tambak Baya telah terjadi suatu pergulatan maut yang mengerikan.

Daerah pedalaman hutan yang selamanya tak pernah menerima cahaya matahari sepenuhnya itu, kini telah kembali suram. Cahaya matahari yang sudah semakin lemah, tidak mampu lagi menembus sepenuhnya kelebatan daun-daun pepohonan rimba yang liar dan pekat itu.

Dua orang perkasa yang sedang bertempur mati-matian itu pun nampak tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki ketahanan jasmaniah yang luar biasa. Baik Mahesa Jenar maupun Lawa Ijo memang pernah mengalami pertempuran sampai berhari-hari. Kali ini mereka telah mengerahkan segala tenaga mereka. Setelah hal itu berlangsung hampir sehari penuh, terasalah bahwa kemampuan mereka mulai menurun.

Dalam hal ini, yang lebih merasa gelisah adalah Lawa Ijo. Perasaannya dibebani oleh dendam yang tiada taranya. Sejak dirinya dilukai di halaman Kraton Demak, ia sudah berjanji di dalam hatinya, bahwa pada suatu saat ia harus membinasakan orang yang telah melukainya itu. Ditambah lagi, orang itu pula yang telah membunuh adik seperguruannya.

Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menghancurlumatkan orang ini.

Tetapi ternyata, setelah sekian lama ia merendam diri serta mencecap ilmu gurunya yang sakti, Pasingsingan, dengan penuh semangat, namun sudah sehari ia bertempur masih belum ada tanda-tandanya bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya, apalagi membinasakan. Karena itu ia menjadi tidak sabar lagi. Tujuannya hanyalah secepat mungkin membinasakan Rangga Tohjaya. Dengan demikian barulah ia merasa puas.

UNTUK mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai Kelabang Sayuta.

Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin. Tetapi belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali. Demikian terjadi beberapa kali.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi buta namun tidak kurang pula berbahayanya.

Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila, kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya. Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil.

Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar.

Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula.

Ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan kecil.

Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.!

Seterusnya, tidak hanya rasa perih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi pucat seputih mayat.

Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheran-heranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh, dapat dirobohkan justru pada saat ia menyerang dan dibalas dengan sebuah serangan pula.

Para pengawal rombongan, yang merasa telah mendapat perlindungan dalam melakukan tugasnya, melihat kejadian itu dengan hati yang remuk. Pemimpin pengawal, dengan tidak menghiraukan keselamatan diri, segera meloncat mendekati Mahesa Jenar yang masih terduduk dan menggigil hebat.

Segera pemimpin pengawal itu berjongkok di samping Mahesa Jenar sambil meraba-raba tangannya. Tetapi ketika ia menyentuh tangan Mahesa Jenar itu, alangkah terperanjatnya. Tangan itu dingin seperti beku dan di beberapa tempat tampaklah semacam bisul-bisul yang baru tumbuh. Segera pemimpin pengawal yang tua dan berpengalaman itu mengetahui bahwa tubuh Mahesa Jenar telah terkena racun yang mengerikan. Maka segera ia dapat memastikan bahwa racun ini pasti berasal dari cincin yang dipakai oleh Lawa Ijo, yang bermata batu akik merah menyala, yang bernama Kelabang Sayuta.

Sejenak kemudian Lawa Ijo perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Meskipun masih agak pening, ia sudah dapat berdiri tegak. Maka ketika ia melihat Mahesa Jenar terduduk di tanah dengan wajah yang pucat, ia menjadi bergembira. Dan tiba-tiba terdengarlah suara tertawanya yang menakutkan seperti suara hantu yang memanggil-manggil dari lubang kubur.

Semua yang mendengar suara itu tegaklah bulu romanya. Kekalahan Mahesa Jenar berarti nyawa mereka akan lenyap. Sebab Jaka Soka telah mengambil keputusan untuk menghilangkan jejak penculiknya.

HATI pengawal tua yang menahan tubuh Mahesa Jenar yang lemas itu, juga berdebar. Ia menjadi sangat sedih. Bukan karena takut menghadapi kematian yang sudah membayang di matanya, tetapi hatinya menjadi pedih sekali bahwa kemungkinan besar jiwa

Mahesa Jenar, seorang pahlawan yang tanpa menghiraukan dirinya sendiri telah berusaha menyelamatkan rombongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya, tak akan tertolong lagi. Lebih-lebih ketika diingatnya bahwa Lawa Ijo telah melakukan perbuatan yang curang dan keji, dengan mempergunakan racun yang keras sekali untuk menumbangkan lawannya.

Maka hati pengawal tua itu serasa menyala dibakar oleh kemarahan. Ia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai mati. Seperti serangga menjelang api. Tetapi ketika ia akan bangkit dan melawan dengan mengamuk sejadi-jadinya, tiba-tiba terasa hawa yang hangat mengalir dalam tubuh Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut, tetapi ia tetap menahan dirinya. Hawa yang hangat itu ternyata mengalir semakin deras dan bahkan hampir mencapai titik panas tubuh yang wajar.

Timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Apakah yang akan terjadi dengan Mahesa Jenar ini? Sebentar kemudian bahkan panas itu dengan cepat naik melampaui batas panas tubuh yang biasa. Hal ini menjadikan pengawal tua itu semakin bingung. Apalagi sampai sekian lama Mahesa Jenar sendiri seolah-olah pingsan dan tidak bergerak sama sekali.

Memang Mahesa Jenar pada saat itu sedang kehilangan tenaga. Batu akik Kelabang Sayuta itu mempunyai kekuatan mirip dengan bekerjanya racun. Bahkan hampir sekuat racun bisa ular Gundala Wereng. Sehingga tubuh yang dikenainya, meskipun hanya segores kecil, akan menjadi bengkak-bengkak seperti ditumbuhi oleh beribu-ribu bisul. Kemudian tubuh itu akan lemas dan mengalami kelumpuhan menyeluruh, dan akhirnya disusul dengan kematian, dalam waktu yang singkat.

Ketika kekuatan akik Kelabang Sayuta itu sedang bekerja didalam tubuh Mahesa Jenar dengan mengikuti peredaran darah, tiba-tiba terjadilah suatu benturan yang dahsyat di dalam tubuh itu. Sebab pada saat itu, ketika tersentuh rangsangan dari luar, bisa ular Gundala Seta yang ada dalam tubuhnya mulai bekerja pula. Dalam pergolakan itu timbullah panas, sehingga tubuh Mahesa Jenar menjadi melampaui titik panas yang wajar.

Bisa ular Gundala Seta mempunyai kasiat yang luar biasa. Lebih-lebih ular ini adalah senjata Wisnu untuk melawan Kala, lambang dari keangkaramurkaan. Maka sedikit demi sedikit bisa ular Gundala Seta yang memang sudah ada di dalam tubuh Mahesa Jenar itu mendesak lawannya, menawar racun akik Kelabang Sayuta. Dengan demikian tubuh Mahesa Jenar menjadi berangsur-angsur baik kembali.

Meskipun demikian Mahesa Jenar adalah orang yang cerdik. Ia tidak segera menunjukkan keadaan itu. Sebab apabila sampai diketahui bahwa ia berangsur-angsur baik, tidak mustahil Lawa Ijo akan segera bertindak. Membinasakannya sekaligus.

Dalam hal yang demikian ia masih saja berpura-pura tidak sadarkan diri dan membiarkan tubuhnya ditahan oleh pengawal tua itu.

Lawa Ijo, dengan dada menengadah, memandang tubuh Mahesa Jenar. Matanya memancarkan kepuasan hatinya. Ia tertawa berkepanjangan sampai Jaka Soka membentaknya.

“Hai Kelelawar Hijau yang busuk. Jangan kau tertawa demikian. Aku bisa jadi pening mendengar suaramu yang memuakkan itu.”

Tetapi Lawa Ijo sama sekali tak mendengarnya. Ia sedang menikmati kemenangannya.

“Soka, lihatlah…. Orang ini yang diagung-agungkan oleh prajurit Demak. Di sini ia menjumpai kematian sedemikian nistanya. Dan tak seorang pun akan sempat menguburnya. Apalagi dengan suatu upacara keprajuritan, diiringi dengan tunggul-tunggul dan panji-panji. Sebab orang-orang lain pun segera akan mengalami nasib yang sama karena tanganmu,” kata Lawa Ijo.

Jaka Soka merasa diperingatkan akan tugasnya. Segera ia pun tersenyum aneh, sedangkan matanya yang redup membayangkan tuntutan maut yang mengerikan.

“Bagus, Lawa Ijo. Kita akan sama-sama menikmati kemenangan. Dan tak seorang pun dapat menahan aku membawa gadis cantik itu pulang ke Nusa Kambangan,” jawab Jaka Soka.

Tetapi sebentar kemudian, kepuasan mereka dipecahkan oleh suatu kenyataan yang sangat aneh bagi Lawa Ijo. Tak pernah seorang pun yang dapat melepaskan diri dari kematian, apabila tubuhnya tergores sedikit saja oleh aji Klabang Sayuta. Tetapi apa yang disaksikan sekarang adalah sama sekali tidak masuk akal.

Demikianlah ketika Mahesa Jenar merasa bahwa tubuhnya telah pulih kembali, segera dengan kecepatan gerak laksana kilat menyambar, ia meloncat, dan tahu-tahu ia sudah berdiri dihadapan Lawa Ijo. Semua yang menyaksikan hatinya tercekam, seperti melihat mayat yang bangun dari kubur. Bahkan mereka seolah-olah melihat diri mereka sendirilah yang karena pertolongan Tuhan Yang Maha Esa telah dibebaskan dari daerah mati.

Mahesa Jenar disamping rasa sukur yang tak terhingga, bahwa lantaran sahabat karibnya, Kiai Ageng Sela, ia telah menerima anugerah Tuhan yang telah membebaskannya dari pengaruh segala macam bisa. Namun ia juga menjadi marah bukan kepalang kepada Lawa Ijo.

Ternyata Lawa Ijo yang telah mematahkan pedangnya sendiri dengan jari-jari sewaktu perkelahian akan dimulai, bukanlah benar-benar seorang jantan. Seperti juga Watu Gunung, Lawa Ijo sama sekali tidak memperhatikan sikap kejujuran dalam segala masalah.

Wajah Mahesa Jenar berubah menjadi merah membara. Mulutnya terkatub rapat, tetapi giginya gemeretak. Terhadap orang-orang yang demikian, tidak lagi ada sikap yang manis.

Maka karena marahnya yang meluap-luap, Mahesa Jenar tidak lagi dapat mengendalikan dirinya sendiri. Sebelum Lawa Ijo sadar terhadap kejadian itu, Mahesa Jenar telah mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Secepat kilat Mahesa Jenar meloncat maju, dan dengan sedikit merendahkan diri ia menghantam lambung lawannya dengan ilmunya yang terkenal, Sasra Birawa.

LAWA IJO melihat segala gerak-gerik lawannya seperti dalam mimpi. Ia baru sadar ketika tiba-tiba dilihatnya Mahesa Jenar meloncat dekat sekali di hadapannya, dan tangannya melayang ke arah lambungnya. Tetapi segala sesuatunya telah terlambat. Terkena pukulan sisi telapak tangan Mahesa Jenar yang dilambari ilmu Sasra Birawa itu rasanya bagaikan tertimpa seribu gunung yang runtuh bersama-sama.

Demikian Lawa Ijo merasakan kedahsyatan Sasra Birawa, pandangannya terlempar dengan derasnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya mengarah tepat ke sebatang pohon raksasa yang berdiri kokoh kuat bagai benteng baja.

Mereka yang menyaksikan peristiwa itu menjadi bingung. Mereka tidak dapat mengerti perasaan apa yang berkecamuk di kepalanya, seolah-olah terlepas dari kesadaran diri. Sebab kejadian yang dilihatnya itu adalah hal yang tak dapat dibayangkan bisa terjadi.

Tetapi belum lagi tersadar, telah disusul pula oleh suatu peristiwa yang lain, yang tidak dapat mereka mengerti pula. Beberapa orang menjadi sedemikian bingungnya sehingga pingsan.

Tubuh Lawa Ijo yang melayang demikian derasnya dan hampir-hampir membentur sebatang pohon raksasa itu, tahu-tahu sudah berada dalam dukungan seorang yang berjubah abu-abu. Tak seorang pun tahu dari mana dan kapan ia datang. Wajah orang itu sama sekali tidak tampak, karena ia mengenakan topeng yang buatannya kasar dan jelek.

Semua orang memandang orang berjubah itu dengan tubuh gemetar.

Dalam pada itu, tiba-tiba Jaka Soka segera melangkah maju dan dengan hormatnya.

“Paman Pasingsingan, aku menyampaikan hormat setinggi-tingginya!” kata Jaka Soka kepada orang berjubah itu.

Pasingsingan. Nama itu mendengung kembali di telinga Mahesa Jenar. Inilah rupanya Guru Lawa Ijo yang telah datang untuk menolong muridnya. Maka mau tidak mau hatinya tercekam pula.

Ia pernah mendengar kesaktian orang ini dari gurunya. Dan sekarang, ia telah berhadap – hadapan dengan orang itu dalam keadaan yang tak menguntungkan.

“Rangga Tohjaya….” Tiba-tiba terdengar Pasingsingan berkata, tanpa menghiraukan salam Jaka Soka. Suaranya berat, dalam dan tak begitu jelas seperti bergulung dalam perutnya, karena pengaruh topeng yang dipakainya itu.

“Untunglah Lawa Ijo bukan sembarang orang, sehingga meskipun ia terluka parah, tetapi aku yakin bahwa ia masih akan dapat hidup,” sambung Pasingsingan.

Orang itu berhenti sejenak. Matanya yang berada dibalik topengnya itu memandang
Mahesa Jenar dengan tajamnya.

“Hal itu adalah karena pertolonganku. Kalau tidak, ia pasti sudah binasa terbentur pohon ini. Karena itu, kau aku anggap telah melakukan pembunuhan atas muridku,” lanjut Pasingsingan.

Kembali hati Mahesa Jenar melonjak. Ia tahu apa arti kata-kata itu. Dalam hal yang demikian, tiba-tiba ia teringat kepada almarhum kedua gurunya yang merupakan angkatan yang sama dengan Pasingsingan itu. Kalau saja mereka masih ada, pasti mereka tidak akan membiarkannya berhadap-hadapan sendiri. Tetapi sekarang ia seorang diri menghadapinya.
Sebagai seorang prajurit pastilah Mahesa Jenar tidak selalu menggantungkan dirinya kepada orang lain. Karena itu, meskipun ia tahu, bahwa kekuatannya tak seimbang, ia bertekad untuk melawan mati-matian. Maka segera kembali ia memusatkan pikiran, mengatur jalan pernafasannya dan mengumpulkan segala tenaganya pada sisi telapak tangannya, meskipun ia belum bersikap.

Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan mendengus lewat hidungnya, “Hem…, kalau Sasra Birawa itu gurumu yang mempergunakan, barangkali aku harus berpikir bagaimana menghindarinya. Tetapi kalau hanya kau yang akan mencobakan pada tubuhku, barangkali sebaiknya aku menyediakan diri sebelum aku membunuhmu!”

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, mau tidak mau hati Mahesa Jenar bergetar hebat. Bukan karena ia takut mati. Tetapi kematian yang demikian pada saat ia diperlukan untuk melindungi suatu rombongan yang akan binasa, adalah sayang sekali.

Tetapi apa boleh buat.

Sementara itu tampaklah Pasingsingan bergerak maju. Ia selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar tanpa meletakkan Lawa Ijo dari dukungannya.
“Tohjaya, kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan kau telah beruntung mewarisi ilmu saktinya Sasra Birawa. Karena itu lawanlah aku. Supaya kau mati dengan tangan merentang, bukan mati sebagai seekor lembu yang disembelih,” kata Pasingsingan.

Mahesa Jenar yang sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada mati, kini seperti sudah tidak mempunyai perasaan lagi. Tak perlu lagi ada pertimbangan-pertimbangan lain. Maka segera ia pun bersiap untuk menerjang lawannya, menjelang saat matinya. Sementara itu Pasingsingan berdiri dengan acuh tak acuh saja seperti tidak akan terjadi sesuatu atas dirinya.

Orang-orang lain yang berada di situ, sudah seperti orang linglung yang tak tahu apa-apa. Perasaan mereka sudah terbanting-banting beberapa kali sampai hancur.

Meskipun ada diantara mereka yang matanya terbuka dan seolah-olah memandang Mahesa Jenar dan Pasingsingan berganti-ganti, tetapi mereka tidak mengerti tentang apa yang dilihatnya. Mereka tidak lagi dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi Pasingsingan akan dapat berbuat sekehendaknya atas Mahesa Jenar tanpa ada yang dapat merintanginya.

Tetapi sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh suara berdentangnya orang menebang pohon. Ini adalah suatu keanehan baru, sesudah bertubi-tubi terjadi peristiwa-peristiwa yang aneh berturut-turut.

Pada saat itu, meskipun matahari belum tenggelam, tetapi sinarnya sudah demikian lemahnya sehingga tidak dapat lagi menembus rimbunnya daun-daun pepohonan rimba, sehingga di dalam hutan itu sudah menjadi agak gelap. Pada saat yang demikian, tidaklah biasa seseorang menebang pohon.

APALAGI di tengah hutan Tambakbaya. Orang-orang yang mencari kayu, baik kayu bakar maupun untuk perumahan, tidak akan menebang kayu di tengah rimba yang demikian lebatnya. Lebih-lebih tidak jauh dari tempat itu, baru saja terjadi pertarungan yang dahsyat antara Mahesa Jenar dan Lawa Ijo. Berkali-kali terdengar Lawa Ijo bersuit atau berteriak nyaring. Mustahil kalau suara-suara itu tak didengarnya.

Tetapi ternyata suara itu terus terdengar. Bahkan semakin lama semakin jelas. Makin nyatalah, bahwa sumber suara itu tidak begitu jauh. Yang lebih mengherankan lagi, suara berdentangnya pohon yang ditebang itu, bagaikan nada-nada lagu yang mempesona.

Rupanya Pasingsingan heran juga mendengar suara itu. Diangkatnya wajahnya yang terlindung dibalik topengnya dan tampaklah ia mendengarkan suara itu dengan saksama. Dalam keadaan yang demikian, suasana berubah menjadi sunyi. Suara berdentangnya pohon ditebang itu menjadi bertambah jelas seakan-akan memenuhi seluruh rimba. Gemanya bersahut-sahutan disegala arah sehingga amat sulitlah untuk mengetahui dengan pasti sumber suara itu.

Sebentar kemudian suara itu menjadi agak kendor dan semakin perlahan-lahan pula. Tetapi sementara itu disusullah dengan mendengungnya suara baru yang juga seharusnya tak mungkin terjadi.

Di tengah-tengah rimba yang liar pekat, dan yang diliputi oleh suasana perkelahian dan hawa pembunuhan itu, menggemalah sebuah lagu. Dandanggula yang diungkapkan oleh sebuah suara yang indah. Lagu itu sedemikian mempesona, sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi lupa akan segala-galanya kecuali lagu itu sendiri.

Jaka Soka dan Mahesa Jenar adalah orang yang cukup masak. Tetapi meskipun demikian tampak juga bahwa mereka dihinggapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Dandanggula itu terdengar begitu jelas sehingga kata demi kata dapat dimengerti dengan baik. Bunyi syair dari tembang itu adalah:

Lir sarkara, wasianing jalmi
Ambudiya budining sasatnya
Memayu yu buwanane,
Ing reh hardaning kawruh,
Wruhing karsa kang ambeg asih,
Sih pigunane karya,
mBrasta ambeg dudu,
Mengenep nenging cipta,
Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik,
Memuji tyas raharja (Kusw)

Tak seorang pun yang mengetahui tanggapan Pasingsingan atas lagu itu dengan pasti, sebab wajah orang itu tertutup oleh kedok. Tetapi melihat sikapnya, ia sama sekali tidak senang mendengarnya, meskipun lagu itu dibawakan oleh suara yang merdu dan syairnya mengandung nasihat yang baik. Sebagaimana seseorang harus berusaha menyelamatkan dunia ini dengan banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang luas tentang cinta manusia untuk memberantas kejahatan. Serta dengan mengendapkan cipta untuk mengetahui batas antara baik dan buruk. Disertai doa kepada Tuhan untuk kebahagiaan.

Kemudian malahan Pasingsingan menjadi gelisah ketika ia mendengar lagu itu diulang kembali.

Akhirnya, tiba-tiba ia berputar menghadap ke utara dan dengan garangnya ia menggeram. Sedang kata-katanya sangat mengejutkan mereka yang mendengarnya, seperti halilintar meledak di atas kepala masing-masing. Termasuk Mahesa Jenar dan Jaka Soka.

”Setan tua…! Apa maksudmu mengganggu urusanku? Baiklah. Hanya sayang kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Karena itu lain kali aku akan menemuimu, kalau aku tidak sedang membawa beban seperti kali ini. Sampai ketemu Pandan Alas!” kata Pasingsingan. Setelah itu tanpa diketahui arahnya, tahu-tahu Pasingsingan telah lenyap dari pandangan mereka beserta Lawa Ijo.

Lenyapnya Pasingsingan itu tidak begitu menarik perhatian Mahesa Jenar dan Jaka Soka. Seperti berjanji, mereka setelah mendengar nama Pandan Alas, segera meloncat ke utara, kearah mana Pasingsingan tadi menghadap. Mereka menduga, bahwa dari sanalah sumber suara tadi datangnya. Sebab kebetulan Mahesa Jenar dan Jaka Soka berbareng ingin melihat wajah orang aneh itu.

Tetapi setelah agak jauh mereka menyusup, yang mereka temui hanyalah bekas luka pada pokok sebuah pohon raksasa. Meskipun mereka hanya menemui bekasnya saja, namun telah cukup menggetarkan hati mereka. Sebab menurut pendengaran mereka, waktu Ki Ageng Pandan Alas menebang pohon itu hanyalah sebentar saja, sedang yang mereka lihat bekasnya adalah luar biasa.

Sebatang pohon raksasa yang besarnya lebih dari empat pemeluk, ternyata telah luka hampir separonya. Sedang tatal kayu bekas tebangan itu, berbongkah-bongkah hampir sebesar kepala anjing. Sungguh mengagumkan. Apalagi ketika disamping pohon itu, yang mereka ketemukan hanyalah sebuah kampak kuno dari batu, yang diikat pada setangkai dahan basah sebagai pegangannya.

”Luar biasa,” desis Jaka Soka.

Mahesa Jenar mengangguk mengiakan. ”Aku tidak dapat mengira kekuatan apa yang telah membantu orang itu, sehingga ia dapat berbuat sedemikian mengagumkan.”

Jaka Soka tidak menjawab. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Akhirnya setelah dipertimbangkan bolak-balik ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu serta mengurungkan maksudnya menculik gadis yang memiliki keris Sigar Penjalin milik Ki Ageng Pandan Alas.

”Mahesa Jenar, ternyata aku salah duga kepadamu. Karena itu baiklah kali ini aku mengaku kalah dan mengurungkan niatku menculik gadis cantik itu. Aku merasa bersyukur, bahwa kau tidak mempergunakan ilmumu yang menurut Paman Pasingsingan disebut Sasra Birawa, ketika melawan aku. Kalau demikian halnya, maka aku kira aku pun akan jadi lumat. Juga benar apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo, bahwa Pandan Alas benar-benar berada di segala tempat. Sekarang baiklah aku pergi dulu. Sampai lain kali,” kata Jaka Soka kepada Mahesa Jenar.

SELESAI mengucapkan kata-kata itu, segera dengan lincahnya Jaka Soka alias Ular Laut yang terkenal sebagai bajak laut yang bengis itu meloncat dan lenyap diantara lebatnya hutan.

Tinggallah kini Mahesa Jenar seorang diri. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah dan persoalan. Tetapi yang penting adalah mengatur rombongan itu kembali. Dan kemudian membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut.

Ketika Mahesa Jenar sampai di tempat rombongan, ia melihat bahwa beberapa orang telah tampak mulai agak tenang kembali. Terutama para pengawal. Malahan ada diantaranya yang sudah dapat mengatur barang-barangnya. Meskipun demikian mereka masih saja nampak ketakutan. Ternyata ketika mereka mendengar gemerisik daun yang disebakkan oleh Mahesa Jenar, mereka masih terkejut juga. Tetapi ketika mereka melihat, bahwa yang datang adalah Mahesa Jenar, perasaan mereka nampak lega. Malahan ada yang berlari-lari menyambut dan langsung berjongkok dan menyembahnya. Terutama sepasang suami-istri yang telah minta kepadanya untuk membawa bebannya. Kedua orang itu menyembah sambil menangis minta diampuni.

Segera Mahesa Jenar pun menenangkan mereka, serta segera minta agar para pengawal menyalakan api. Sebentar kemudian beberapa orang telah mengumpulkan kayu, serta apipun segera dinyalakan.

Mereka, seluruh anggota rombongan, telah duduk mengelilingi api yang menyala-nyala dan menjilat-jilat ke udara. Daun-daun di atas nyala api itu bergerak-gerak seperti menggapai-gapai kepanasan. Malam pun segera turun dengan cepatnya. Pepohonan serta dedaunan nampak seperti diselimuti oleh warna yang hitam kelam. Di sana-sini mulai terdengar kembali suara-suara binatang malam.

Pada wajah-wajah di sekeliling api itu, masih menggores rasa cemas dan takut.

Kejadian-kejadian siang tadi sangat berkesan di hati mereka. Pertarungan-pertarungan dahsyat dan kejadian-kejadian yang aneh terjadi berturut-turut seperti peristiwa-peristiwa dalam mimpi yang menakutkan.

Terutama gadis cantik yang hampir-hampir saja menjadi sumber bencana. Ia masih saja merasa bahwa dirinya bersalah sehingga rombongan itu mengalami kekacauan, ia, bahkan hampir dimusnahkan, kalau tidak secara kebetulan ada seorang perkasa yang melindunginya. Karena itu ia masih saja belum berani memandang wajah-wajah kawan seperjalanannya.

Sejenak kemudian, kesepian itu dipecahkan oleh Mahesa Jenar yang berkata kepada orang-orang dalam rombongan itu. “Kawan-kawan, bahaya tidak lagi bakal datang, setidak-tidaknya malam ini. Karena itu tenanglah dan beristirahatlah. Aku kira kalian sehari penuh masih belum juga makan. Sekarang kesempatan itu ada. Sesudah itu kalian bisa tidur nyenyak seperti tadi malam.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, mereka serentak diperingatkan oleh rasa lapar yang semula tak dihiraukan. Segera diantara mereka membuka bekal-bekal mereka, tetapi tidak sedikit diantara anggota rombongan itu yang sudah tidak punya rasa lapar lagi. Juga sesudah itu, tak seorang pun yang dapat merasa kantuk.

Sejenak kemudian mulailah Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, tentang bagaimana baiknya rombongan tersebut.

Menurut pendapat Mahesa Jenar, sebaiknya rombongan itu tidak meneruskan perjalanan. Sebab kalau pada langkah pertamanya mereka sudah menemui kesulitan, kelanjutannya pun akan tidak menguntungkan.

Kemungkinan-kemungkinan yang tak menguntungkan adalah banyak sekali. Lawa Ijo, terang, bahwa ia tidak berdiri sendiri. Ia adalah seorang pemimpin dari sebuah gerombolan yang cukup besar. Hanya sekarang gerombolan itu seakan-akan sedang dibekukan. Tetapi, kalau sampai mereka mendengar, bahwa kepala mereka dilukai, mereka pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu, selagi masih ada waktu, sebaiknya rombongan itu besok pagi berangkat kembali ke tempat semula.

Tak seorang pun diantara mereka yang dapat menolak pendapat ini. Memang pada umumnya mereka telah dihinggapi perasaan takut yang luar biasa. Untunglah, bahwa pada saat itu datang Mahesa Jenar menolong mereka. Kalau tidak, mereka pasti sudah jadi bangkai.

Tetapi dalam suasana yang demikian, mendadak gadis cantik yang merasa dirinya bersalah, berkata kepada Mahesa Jenar, “Tuan, aku terpaksa tidak dapat menerima saran Tuan untuk kembali. Sebab aku memang tidak punya tempat untuk kembali. Tetapi aku juga tidak dapat memaksa rombongan ini berjalan terus. Karena itu, baiklah kalau rombongan ini berjalan kembali dengan para pengawal, aku akan berjalan sendiri melanjutkan perjalanan ke Pliridan. Hanya sebagai bekal perjalanan, aku minta kerisku tadi dikembalikan kepadaku. Sebab kalau aku bertemu seorang seperti pemuda yang akan menculik aku, sebaiknyalah kalau aku bunuh diri.”

Gadis itu mengucapkan kata-katanya dengan mata sayu diwarnai oleh hatinya yang putus asa. Ia merasa tidak berhak lagi berkumpul dengan orang-orang serombongannya. Sebab ia telah merasa berbuat kesalahan yang tak termaafkan.

Mahesa Jenar dan beberapa orang tampak mengerutkan keningnya. Memang dalam keadaan terjepit, ada diantara mereka yang sampai hati mengumpati gadis itu. Tetapi dalam keadaan yang demikian, timbul pulalah perasaan iba terhadapnya.

GADIS itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Matanya yang bulat, nampak mengambang air mata yang ditahan sekuat-kuatnya.

Tak ada jalan buat kembali, ujarnya lirih.

Dalam kata-kata itu, ternyata bahwa ada sesuatu rahasia yang menyelubungi diri gadis itu.
Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang diri gadis itu, yang sampai saat itu masih belum dikenal namanya.

Siapakah sebenarnya kau ini? Serta apakah hubunganmu dengan Ki Ageng Pandan Alas? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Gadis itu mengangkat mukanya sedikit. Lalu jawabnya, Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal siapakah Ki Ageng Pandan Alas itu. Kalau aku memiliki keris yang tuan hubungkan dengan nama Pandan Alas, adalah diluar pengetahuanku. Aku menerima keris itu dari almarhum ibuku, sedangkan ibu menerimanya dari kakek. Seorang petani miskin yang sedang merantau mencari daerah baru, dan sekarang menurut almarhum ibuku, kakek itu tinggal di daerah Pliridan. Dan sama sekali tak bernama Pandan Alas, tetapi bernama Ki Santanu, sedangkan aku sendiri dinamai oleh ayahku, Rara Wilis.

Mahesa Jenar mendengarkan jawaban gadis yang bernama Rara Wilis itu dengan seksama.

Pengakuannya, bahwa ia sama sekali tak mengenal Ki Ageng Pandan Alas semakin menarik perhatian Mahesa Jenar. Mendadak berkilatlah dalam hatinya, suatu keinginan untuk mengetahui rahasia yang menyelubungi gadis itu. Sehingga berkatalah Mahesa Jenar,

Bapak-bapak para pengawal, serta saudara-saudara seperjalanan. Barangkali aku mempunyai suatu cara yang dapat memenuhi kehendak kalian. Sebaiknya kalian kembali dengan para pengawal, mungkin tak akan banyak menemui halangan, sedangkan gadis ini, yang berkeras hendak melanjutkan perjalanan dan menemui kakeknya, biarlah aku antarkan saja. Sebab perjalanan ke Pliridan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu melonjaklah kegirangan di hati Rara Wilis.

Tiba-tiba matanya yang berkaca-kaca itu jadi berkilat-kilat. Tetapi sebentar kemudian kembali perasaan kegadisannya menguasai dirinya, sehingga wajahnya jadi kemerah-merahan, serta kembali ia menundukkan mukanya.

Mahesa Jenar pun menangkap perubahan wajah Rara Wilis. Dan tidak disadarinya hatinya pun bergoncang. Sebaliknya beberapa orang lain menjadi kecewa mendengar keputusan Mahesa Jenar untuk tidak menyertai mereka kembali. Sebab bersama sama dengan Mahesa Jenar, mereka semua merasa bahwa keamanan mereka terjamin.

Sementara itu kembali Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, serta memberi petunjuk mengenai beberapa kemungkinan. Sehingga akhirnya terdapat suatu keputusan, bahwa mereka semuanya akan kembali dengan para pengawal, sedangkan Mahesa Jenar sendiri akan mengantar Rara Wilis sampai ke Pliridan.

Demikianlah pada malam itu hampir tak seorang pun dapat tidur, kecuali beberapa orang, karena lelah lahir dan batin, seakan-akan terlena sambil bersandar di pokok pepohonan. Berbeda dengan siang tadi, dimana hari seakan-akan berlari demikian cepatnya, malam itu rasa-rasanya tak bergerak. Suara binatang malam, serta desiran angin rimba terasa sangat menjemukan dan menakutkan. Mereka semua mengharap agar malam lekas berakhir. Sehingga cepat-cepat mereka dapat pergi meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Baru setelah mereka mengalami kejemuan yang luar biasa, terdengar ayam rimba berkokok bersahut-sahutan. Dari celah-celah kelebatan dedaunan hutan, tampaklah membayang warna merah di langit. Segera orang-orang itu semua mengatur barang-barangnya dan menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang berlawanan dengan yang ditempuhnya kemarin, kecuali Rara Wilis yang setelah menerima kembali kerisnya akan melanjutkan perjalanannya ke Pliridan, diantar oleh Mahesa Jenar sendiri.

Maka setelah semuanya bersiap, serta setelah para pengawal dan mereka yang mengadakan perjalanan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada Mahesa Jenar, mulailah mereka berangkat kembali. Di depan sendiri berjalan pengawal tua itu dengan senjata di tangan. Baru setelah rombongan itu lenyap dibalik pepohonan, Rara Wilis beserta Mahesa Jenar pun berangkat melanjutkan perjalanan ke barat, ke daerah Pliridan.

Di perjalanan, tidak banyak yang mereka percakapkan, kecuali apabila Mahesa Jenar memandang perlu untuk memberitahukan tempat-tempat berbahaya atau binatang binatang berbisa.

Tetapi perjalanan Mahesa Jenar sekarang bertambah laju, karena tidak harus bersama-sama dengan rombongan yang besar. Sekali dua kali Mahesa Jenar pun harus berlaku seperti pemimpin rombongan pengawal, menuntun bahkan menggendong Rara Wilis apabila jalan sangat sulit, meskipun keduanya agak segan-segan. Tetapi terpaksalah hal itu dilakukan. Sebab memang sekali dua kali mereka menjumpai rintangan yang berat.

Demikianlah mereka berjalan terus seakan-akan tak mengenal lelah. Bagi Rara Wilis, perjalanan ini, meskipun melewati daerah hutan yang tak kalah liarnya dengan yang ditempuh kemarin, tetapi rasanya tidak begitu berat. Bahkan setelah lebih dari setengah hari ia berjalan, sama-sekali tak terasa lelah olehnya, haus ataupun lapar.

Perjalanan yang begitu sulit itu bagaikan sebuah tamasya, diantara kehijauan ladang serta keindahan taman. Gemerisik daun kering yang dilemparkan oleh angin, terdengar merdu. Rara Wilis sendiri tidak begitu menyadari, kenapa hatinya menjadi sedemikian bening dan cerah.

Tidak banyak hal yang mereka temui di perjalanan. Ketika malam datang, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Setelah rumput-rumput liar di bawah pohon itu dibersihkan, segera Rara Wilis merentangkan tikarnya, sedangkan Mahesa Jenar mengumpulkan kayu dan kemudian menyalakan api.

Malam itu pun dilampauinya dengan tak ada sesuatu yang terjadi. Pagi-pagi setelah mereka mempersiapkan diri, segera perjalanan pun dilanjutkan.

Perjalanan itu masih harus melampaui satu malam lagi. Maka pada hari ketiga itu, Rara Wilis serta Mahesa Jenar menempuh perjalanan yang terakhir untuk mencapai daerah Pliridan.

MATAHARI telah miring ke barat, hutan Tambakbaya semakin lama semakin bertambah tipis. Pepohonan tidak lagi selebat dan liar seperti daerah pedalaman. Sementara itu terasa debaran jantung yang aneh dalam dada Rara Wilis. Telah lebih sepuluh tahun ia tak berjumpa dengan kakeknya. Sekarang, ia ingin mencarinya di daerah yang tak dikenalnya.

Sebentar kemudian mereka telah sampai pada perbatasan hutan. Di depan mereka tinggallah beberapa grumbul kecil yang tidak begitu berarti.

“Inilah daerah Pliridan,” gumam Mahesa Jenar hampir kepada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan Mahesa Jenar, Rara Wilis yang berjalan di depan jadi terhenti. Beberapa macam perasaan bercampur aduk di otaknya. Sekali ia menarik nafas panjang. Alangkah lega hatinya setelah hutan yang lebat itu dapat dilewatinya.
Tetapi sementara itu lalu kemana ia mesti pergi?

Sekali dua kali ia menoleh kepada Mahesa Jenar. Wajahnya yang cerah itu menjadi agak suram oleh kebimbangan hatinya. Mahesa Jenar dapat menangkap perasaan Rara Wilis.

“Rara Wilis, dapatkah kau menunjukkan di daerah manakah kira-kira kakekmu tinggal?” tanya Mahesa Jenar. Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Memang ia sama sekali tak mengerti arah tempat tinggal kakeknya. Ia hanya mendengar, bahwa kakek itu tinggal di daerah Pliridan.

Mahesa Jenar juga menjadi agak bimbang. Ia beberapa tahun yang lalu pernah mengenal daerah ini. Tetapi apa yang dilihatnya sekarang, ternyata mengalami banyak perubahan.

“Tuan,” kata Rara Wilis dengan penuh keragu-raguan, “Aku sama sekali tidak membayangkan kalau demikianlah keadaan daerah Pliridan. Menurut gambaran angan-anganku. Pliridan adalah sebuah desa yang dilingkungi oleh persawahan dan ladang. Tetapi ternyata daerah ini hanyalah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul liar.”

“Tetapi aku kira tidaklah demikian seluruhnya, Rara Wilis. Beberapa tahun yang lalu, desa-desa seperti yang kau bayangkan itu memang pernah ada. Entahlah kenapa sekarang keadaan itu berubah. Meskipun demikian aku yakin, bahwa di sekitar daerah ini masih juga didiami orang. Karena itu baiklah kita coba mencarinya.”

Di wajah Rara Wilis masih saja membayang kebimbangan hatinya, bahkan kebimbangan itu kemudian berubah menjadi suatu ketakutan. Bagaimanakah kalau ia tak dapat menemui kakeknya? Pastilah, bahwa Mahesa Jenar tak akan dapat terus-menerus menemaninya. Melihat perubahan wajah Rara Wilis, Mahesa Jenar pun menangkap perasaannya, karena itu ia mencoba menghiburnya.

“Rara Wilis, tak usah kau merasa takut. Aku masih mempunyai perasaan kuat, bahwa di sini masih didiami orang. Seandainya tidak demikian, maka aku bersedia mengantar kau pulang ke rumah ayahmu.”

Tetapi akibat perkataan itu adalah sebaliknya dari yang diharapkan. Karenanya Mahesa Jenar menjadi terkejut sekali ketika dilihatnya Rara Wilis malahan meneteskan air mata. Meskipun sudah ditahan sekuat-kuatnya.

Sekarang Mahesa Jenar yang kebingungan. Sekali lagi ia merasa demikian tumpulnya perasaannya. Ia pernah mengalami suasana yang bersamaan, meskipun keadaannya berbeda. Yaitu pada waktu ia berhadapan dengan Nyai Wirasaba. Pada saat itu juga ia menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.

Sekarang Rara Wilis itu pun menangis di hadapannya tanpa sebab. Justru pada saat ia berusaha untuk menghiburnya. Karena itu perasaannya menjadi tidak enak sekali.

Tetapi setelah ia mempunyai sebuah pengalaman yang tak menyenangkan, ia tidak lagi mau menebak-nebak. Maka terlintaslah dalam pikirannya, bahwa jalan yang terbaik adalah menanyakan sebabnya, kenapa Rara Wilis menangis. Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi agak lega sedikit. Dan dengan hati-hati sekali ia mencoba bertanya.

“Rara Wilis, aku telah mencoba untuk menenangkan hatimu, tetapi justru akibatnya adalah sebaliknya. Karena itu, dapatkah aku menanyakan, apakah sebabnya kau menangis?”

Rara Wilis tidak segera menjawab. Ia melangkah beberapa kali ke samping, dan kemudian menjatuhkan dirinya duduk di rumput-rumput liar. Dari matanya masih saja terurai tetesan-tetesan airmata. Baru setelah beberapa saat, ia menjawab dengan kata-kata yang tersekat-sekat.

“Tuan, aku merasa bersyukur, bahwa aku dapat berjumpa dengan seorang yang demikian baik hati seperti Tuan. Karena itu tak adalah jalan bagiku untuk menyatakan terima kasihku yang tak terhingga. Tetapi sangatlah menyesal Tuan …, bahwa kalau aku tak dapat menemukan kakekku, aku tak dapat kembali kepada ayahku. Meskipun ayahku dahulu tergolong orang yang berada, tetapi tak adalah tempat bagiku di sana.”

Mahesa Jenar menjadi semakin menebak-nebak tentang keadaan gadis aneh itu. Rupanya banyak rahasia yang menyelubungi dirinya, sehingga ia terpaksa menempuh perjalanan yang sedemikian berbahayanya.

“Rara Wilis,” tanya Mahesa Jenar kemudian, “aku bukanlah ingin terlalu banyak mengetahui tentang dirimu, tetapi bagiku kau adalah seorang gadis yang diselubungi oleh kabut rahasia yang kelam.”

“Mungkin Tuan benar,” jawab Rara Wilis, “Tetapi buat tuan tidaklah sepantasnya kalau aku menyembunyikan sesuatu rahasia.”

Mata Rara Wilis yang bulat tetapi sayu itu memandang Mahesa Jenar, seperti mata kanak-kanak yang minta perlindungan. Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Di luar kesadarannya ia pun ikut serta duduk diatas rumput-rumput liar.

Setelah diam sejenak, Rara Wilis memulai ceritanya. “Tuan, ayahku adalah seorang yang banyak mempunyai pengaruh di daerah Pegunungan Kidul. Meskipun daerah itu tandus dan kering, tetapi ayahku mempunyai peternakan yang cukup, sehingga dapatlah ia digolongkan orang berada. Tetapi ibuku adalah keturunan orang yang miskin. Kakekku semasa masih tinggal di Pegunungan Kidul, tidaklah lebih dari seorang buruh yang bekerja dengan upah yang sangat kecil. Meskipun demikian kakek termasuk orang yang tidak mau menjadi beban orang lain. Sepuluh tahun yang lalu kakek yang merasa kehidupannya semakin hari semakin sulit, terpaksa pergi meninggalkan kampung halaman. Memang sebelum itupun kakek adalah seorang perantau. Mungkin ini disebabkan oleh kehidupannya yang sulit, sehingga pada saat-saat tertentu, yaitu pada saat paceklik, kakek pergi meninggalkan kampung untuk beberapa bulan. Tetapi sejak 10 tahun yang lalu, kakek tidak kembali pulang.”

RARA WILIS pun bercerita bahwa pada masa kanak-kanak, “apabila kakek berada di rumah, selalu digendongnya kemana ia pergi. Kepergiannya tidak terlalu lama mempengaruhi perasaanku. Sebab ayah dan ibuku selalu memanjakan aku. Tetapi akhir-akhir ini terjadilah peristiwa-peristiwa yang merusak kehidupan damai itu. Beberapa tahun yang lalu, di kampung halamanku, datanglah seorang perempuan dari Bagelen. Kelakuannya tidaklah seperti lazimnya perempuan-perempuan di daerah kami. Di daerah kami banyak pendekar yang ternama, termasuk ayahku yang bernama Ki Panutan. Tetapi tidaklah biasa seorang perempuan jadi pendekar. Berbeda halnya dengan perempuan pendatang itu. Ternyata ia adalah seorang pendekar perempuan, yang tidak diduga-duga. Ia pun telah dapat mengalahkan beberapa pendekar ternama di daerah kami.”

Rara Wilis berhenti sejenak. Alisnya tampak berkerut. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah berlaku.

“Tuan …,” sambungnya beberapa saat kemudian. “Keanehan perempuan itu tidak saja pada kependekarannya, tetapi juga pada tingkah lakunya. Kadang-kadang ia bersikap garang dan kasar seperti halnya pendekar laki-laki di daerah kami. Tetapi kadang-kadang ia menjadi lunak dan mesra, penuh sifat halus seorang wanita.”

Rara Wilis kembali berhenti bercerita sejenak.

“Rupanya gabungan dari kedua sifat-sifat itulah yang telah memecahkan kebahagiaan rumah-tangga kami. Sebab ternyata hubungan perempuan itu dengan ayahku semakin hari semakin rapat. Ibuku adalah perempuan lugu, yang hanya dapat bekerja di dapur dan meladeni seorang suami seperti apa yang dilakukan perempuan-perempuan lain di desa kami. Ibuku tidaklah dapat memberi saran, nasihat atau apapun semacam itu kepada ayahku sebagai seorang pendekar. Juga ibuku tidak pandai merayu hati laki-laki. Dan karena itulah maka semakin dekat ayahku dengan perempuan pendatang itu, semakin jauh ia dari ibuku. Rupanya hal itu dapat dilihat oleh penduduk di daerah kami, sehingga menimbulkan suasana yang kurang menyenangkan. Tetapi lebih daripada itu, ayah pun perangainya seakan-akan berubah. Ia pun kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh. Minum minuman keras dan hal-hal kasar lainnya. Kepadaku pun ayah menjadi semakin jauh pula.”

Lagi-lagi Rara Wilis berhenti sejenak. “Alangkah benciku kepada perempuan itu, seperti ia juga sangat benci kepadaku. Bahkan ia selalu menyakitiku tanpa ada pembelaan dari ayah, apalagi ibu yang hanya dapat memelukku dan menangisi. Waktu itu, tak banyak yang dapat aku ketahui, selain pada suatu hari datanglah beberapa orang pendekar terkenal, yang dulu adalah sahabat-sahabat ayahku. Tanpa kuketahui sebab-sebabnya, mereka bertempur melawan ayahku serta perempuan pendatang itu. Rupanya ayahku memang seorang pendekar pilihan dan perempuan itu pun tak kalah garangnya. Sehingga meskipun ayah dan perempuan itu dikerubut, tetapi dapat juga memberi perlawanan yang berarti. Ibuku sendiri waktu itu tak dapat berbuat lain, kecuali memelukku dan menangis sejadi-jadinya di belakang dapur rumah kami. “

“Akhirnya …,” lanjut Rara Wilis, “bagaimanapun kuatnya ayahku serta perempuan pendatang itu, namun tidaklah dapat menahan arus kemarahan pendekar-pendekar ternama di dareh kami yang demikian banyak jumlahnya. Sehingga sejak itu, ayahku pergi dengan perempuan pendatang itu, dan tidak pernah kembali. Sejak itu pula ibu selalu menanggung kesedihan yang tak terhingga, meskipun anehnya, tetangga-tetangga bersikap baik sekali. Bahkan para pendekar yang mengerubut ayahku, bersikap manis sekali kepada ibuku. Bahkan istri-istri mereka selalu berusaha untuk dapat bercakap-cakap dan menghibur ibuku. Tetapi rupanya ibuku lebih suka mengurung dirinya serta membenamkan diri dalam duka.” Kata Rara Wilis, “beberapa tahun kemudian membayanglah puncak kesedihan yang bakal terjadi. Ibuku sakit. Semakin lama sakit itu semakin keras dan seolah-olah sudah terasa, bahwa sakit itu tak akan dapat diobati. Ternak kami yang sekian banyaknya, kekayaan kami, tidak dapat membendung arus kematian yang semakin lama semakin deras bergulung-gulung menghantam tebing-tebing kehidupan ibuku.
Maka setelah beberapa tahun kemudian dari kepergian ayahku, ibuku menutup mata, serta meninggalkan keris yang Tuan namakan Sigar Penjalin itu kepadaku, sebagai suatu bukti bahwa aku adalah keturunan Ki Santanu dari Pegunungan Kidul. Jadi sama sekali bukan Ki Ageng Pandan Alas dari Wanasaba. Maka akupun akhirnya merasa, bahwa aku tidak dapat hidup tanpa ada satu pun yang aku cintai. Meskipun aku mendapat warisan yang cukup banyak, tetapi semuanya itu tak berarti bagi hidupku yang kering.”

Rara Wilis mengakhiri ceriteranya dengan sedu-sedan yang seperti meledak dari rongga dadanya.

Mahesa Jenar mendengarkan ceritera Rara Wilis itu dengan penuh haru. Rupanya kegersangan hati gadis itulah yang mendorongnya untuk menempuh jalan yang sangat berbahaya, mencari kakeknya, sekadar untuk dapat menyangkutkan cinta serta harapannya. Mungkin ia mengharapkan kakeknya suka kembali ke kampung halaman, untuk bersama-sama hidup dalam suasana yang hanya dapat dikenangnya kembali.

Tetapi meskipun Mahesa Jenar dapat ikut serta sepenuhnya merasakan betapa keringnya hidup tanpa sangkutan cinta, namun ia tidak dapat berbuat suatu untuk menenangkan hati gadis cantik itu. Oleh karenanya ia menjadi gelisah sendiri. Perlahan-lahan ia berdiri lalu berjalan mondar-mandir tanpa tujuan.

Sementara itu, matahari telah hampir menyelesaikan perjalanannya yang sunyi mengarungi langit. Cahayanya yang masih ketinggalan, tampak gemerlapan di atas punggung-punggung bukit.

Mahesa Jenar masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Dalam hatinya berkecamuk perasaan heran yang tiada habis-habisnya. Bagaimana mungkin seorang ayah dapat melupakan putrinya, hanya karena seorang perempuan yang tak dikenal asal-usulnya, sehingga ia telah melepaskan hari depan gadisnya serta hari depan garis keturunannya?

Beberapa saat kemudian, ketika Rara Wilis telah menjadi agak tenang, Mahesa Jenar pun segera mempersilahkannya untuk berjalan kembali. Sebab bagaimanapun Mahesa Jenar masih mengharapkan untuk dapat menjumpai seseorang di daerah ini.

PERJALANAN di daerah ini tidaklah sesulit berjalan di hutan. Mereka hampir tidak pernah menemui rintangan-rintangan yang berarti.

Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti. Matanya memandang ke satu arah dengan tajamnya, dan sejenak kemudian ia meloncat beberapa langkah, lalu berjongkok, mengamati sesuatu.

Rara Wilis terkejut bercampur heran melihat tingkah laku Mahesa Jenar. Ia pun segera berlari dan ikut serta mengamati arah yang sama. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Karena itu dengan herannya ia bertanya, “Tuan, adakah Tuan melihat sesuatu? “

“Rara Wilis …. Lihat rumput-rumput ini,” jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis memandang rumput yang ditunjuk oleh Mahesa Jenar itu dengan seksama, tetapi ia tetap tidak melihat sesuatu. “Ada apa dengan rumput-rumput itu?,” tanyanya.

“Lihatlah, rumput ini rebah dan patah-patah. Lihatlah di tempat itu, juga terdapat hal yang sama, juga di sebelah sana dan sana. Kau tahu artinya? Apalagi di tempat yang tanahnya agak gembur ini.”

Rupanya otak Rara Wilis pun tidak begitu tumpul, sehingga ia berteriak menebak. “Telapak kaki manusia …?”

Ya, sahut Mahesa Jenar. Telapak kaki yang masih agak baru. Pasti seseorang baru saja melewati daerah ini. Mungkin ia adalah penduduk daerah Pliridan ini, atau mungkin….

Mahesa Jenar tidak melanjutkan perkataannya. Tetapi Rara Wilis dapat menangkap kelanjutannya. Mudah-mudahan bukanlah penjahat-penjahat itulah yang sengaja dikirim untuk mematai-matai perjalanan kita, katanya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri sejenak. Otaknya bekerja keras untuk mencoba menebak, siapakah kira-kira yang meninggalkan bekas tapak kaki yang masih segar itu.

Menurut pendapatnya, ada empat kemungkinan, yaitu penduduk setempat, Jaka Soka, Pasingsingan, atau Ki Ageng Pandan Alas. Diam-diam ia membandingkan telapak kaki itu dengan telapak kakinya sendiri.

Ternyata telapak kaki itu agak lebih dalam. Menurut pendapatnya, pastilah orang itu adalah orang yang gemuk sekali, atau orang yang membawa beban agak berat. Tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya, bahwa Pasingsingan adalah kemungkinan yang paling dekat, sebab Pasingsingan dalam perjalanannya kembali ke Pasiraman mendukung Lawa Ijo yang terluka. Dan tidaklah mustahil kalau jalan ini dilewati, sebab arah perjalanannya sesuai dengan arah jalan ini.

Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Ia tidak ingin menggelisahkan hati gadis itu. Karena itu ia menjawab,” Tidaklah begitu penting Rara Wilis, tetapi sebaiknya kita beralih jalan.”

Rara Wilis mengerutkan dahinya, otaknya memang cukup cerdas, karena itu ia menjawab, “Kalau Tuan sampai menganggap perlu untuk menempuh jalan lain, pastilah ada sesuatu yang sangat penting. Katakanlah Tuan, supaya aku tidak usah menebak-nebak.”

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain, kecuali mengatakan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam otaknya. Rara Wilis pun sependapat dengan pikiran itu. Maka mereka memutuskan untuk mencari jalan lain.

Demikianlah mereka meninggalkan dan menjauhi jalan setapak yang paling mungkin dilalui orang. Mereka membelok ke arah selatan, menyusup gerumbul-gerumbul kecil menuju ke arah pepohonan yang agak lebat di depan mereka. Mungkin di daerah itu terdapat mata air, atau tempat yang aman untuk bermalam, atau sukurlah kalau didiami orang.

Ketika mereka sampai, ternyata tempat itu tidak juga ditinggali manusia. Memang, di sana terdapat sebuah mata air yang mengalirkan air cukup deras, dan ditampung dalam sebuah telaga yang hijau bening.

Pada saat itu, matahari telah sampai di garis cakrawala. Sinarnya sudah tidak lagi dapat menembus takbir gelapnya malam, yang turun perlahan-lahan, tetapi pasti akan menelan bumi.

Mehesa Jenar segera mengadakan persiapan untuk bermalam. Hanya untuk kali itu, menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sebaiknyalah kalau tidak menyalakan api, meskipun Mahesa Jenar sadar bahwa andaikata bekas-bekas kaki tadi benar-benar bekas kaki Pasingsingan, pastilah ia tidak sengaja akan menjebaknya. Sebagai orang seperti Pasingsingan, apabila dikehendaki tentu tidak akan meninggalkan jejak sedemikian jelasnya.
Meskipun demikian Mahesa Jenar harus selalu tetap waspada. Dipersilahkan Rara Wilis untuk beristirahat, berbaring di atas tikar yang masih saja dibawanya ke mana-mana. Sedang Mahesa Jenar sendiri duduk bersandar pohon sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.

Alam pun segera menjadi hitam. Untunglah, bahwa bulan yang remaja menghiasi langit diantara taburan bintang-bintang. Sehingga sinarnya yang remang-remang dapat menembus dedaunan yang tidak begitu lebat seperti lebatnya hutan.

Mata Mahesa Jenar yang tajam itu selalu menembus keremangan malam untuk menangkap tiap-tiap gerakan yang mungkin mencurigakan. Tetapi tiba-tiba saja mata itu terbanting ke tubuh seorang gadis cantik yang berbaring diam di depannya. Dengan demikian jantungnya berdesir cepat tanpa sadar.

MAHESA JENAR pernah bertemu, melihat dan berkenalan dengan puluhan bahkan ratusan gadis cantik. Bahkan ia pernah berkenalan dengan seorang yang menurut pendapatnya memiliki kecantikan yang sempurna, yaitu Nyai Wirasaba.

Tetapi tidaklah pernah ia merasakan suatu getaran yang aneh seperti dirasakannya pada malam itu.

Diam-diam Mahesa Jenar memandangi tubuh yang terbaring seperti sebuah golek kencana itu. Dari ujung kakinya, tangannya, dadanya sampai ke rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin malam yang berhembus lirih.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai manusia biasa, Mahesa Jenar juga kadang-kadang membayangkan suatu rumahtangga yang tenteram dan lumrah. Tetapi segera Mahesa Jenar dapat langsung memandang ke dirinya sendiri. Ia tidak lebih dari seorang perantau yang akan menjelajahi desa demi desa, hutan demi hutan, untuk mengabdikan keyakinannya. Untuk itu, maka masih banyaklah yang harus dikerjakan.
Karenanya, oleh kesadarannya tentang dirinya, maka segala perasaan-perasaan yang berdesir di hatinya terhadap gadis cantik itu segera didesak sekuat-kuatnya.

Maka dengan serta merta direnggutkannya pandangannya dari tubuh Rara Wilis, dan segera dilemparkan kembali ke arah bayang-bayang daun dan ranting-ranting yang selalu bergerak-gerak, seolah-olah sedang mengganggunya. Angin malam yang berdesir di dedaunan masih saja menyapu wajahnya, dan sekali-sekali terdengar di kejauhan ringkik kuda liar yang terkejut mendengar teriakan-teriakan anjing hutan.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja ia terbanting kembali ke dalam suasana yang kini sedang dihadapi. Suatu daerah asing yang diliputi oleh suasana yang membahayakan. Segera diangkatnya kepalanya, serta diperhatikannya keadaan di sekelilingnya dengan saksama. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas, Mahesa Jenar mendapatkan suatu firasat, bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.

Mendadak telinganya yang tajam itu mendengar suara berdesir lambat sekali. Tetapi Mahesa Jenar sudah cukup mendapat gambaran bahwa seseorang datang mendekatinya. Orang itu pasti bukanlah orang yang mempunyai ilmu yang terlalu tinggi. Sebab gerak serta pernafasannya tidaklah dikuasainya dengan baik.

Karena itu sekaligus Mahesa Jenar dapat mengetahui dari arah mana orang itu datang. Tetapi ia tidak segera mengadakan tindakan apa-apa. Ia ingin mengetahui lebih dahulu, apakah kira-kira maksud orang itu mengintainya. Karena itu ia tetap duduk di tempatnya, serta bersikap seperti tak mengetahuinya. Meskipun dalam keadaan yang demikian ia sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Suara berdesir itu pun semakin lama semakin jelas, serta suara tarikan nafasnya semakin memburu pula. Tetapi pada jarak tertentu suara itu tidak lagi maju. Rupanya orang itu baru mempersiapkan diri untuk menyerang.

Mendadak Mahesa Jenar terkejut ketika mendengar suara itu mundur dan menjauh. Segera Mahesa Jenar tahu, bahwa orang itu tidak bermaksud menyerang, tetapi hanya mengintai saja. Hal yang demikian itu malahan akan dapat mengandung bahaya yang lebih besar. Karena itu segera Mahesa Jenar bangkit dan dengan beberapa loncatan saja ia sudah berdiri di samping orang yang mengintainya.

Orang itu terkejut. Mahesa Jenar yang dikira tidak mengetahui kehadirannya, kini tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Karena itu tidaklah mungkin ia dapat melepaskan diri. Dengan demikian ia menghentikan langkahnya, dan tidak ada jalan lain kecuali mendahului menyerang. Orang itu segera mengangkat goloknya, dan dengan sekuat tenaga dibabatnya pundak Mahesa Jenar.

Mendapat serangan yang tiba-tiba, Mahesa Jenar menjadi terkejut pula. Ternyata meskipun orang itu tidak dapat menguasai pernafasannya dengan baik, tetapi ia mempunyai keistimewaan pula.

Mendengar desing golok yang terayun deras sekali, Mahesa Jenar barulah dapat mengukur kekuatan tenaga orang asing itu. Ketika golok itu sudah hampir menyinggung tubuhnya, segera Mahesa Jenar berkisar sedikit, serta meloncat selangkah ke samping. Dengan demikian golok yang tak mengenai sasarannya itu terayun deras sekali, sehingga oran gyang memegangnya agak kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian Mahesa Jenar segera meloncat maju dan menangkap pergelangan tangan orang itu, langsung diputarnya ke belakang. Dengan sekali dorong, orang itu telah jatuh tertelungkup dan tidak dapat bergerak lagi, kecuali berdesis menahan sakit.

“Kau siapa?,” tanya Mahesa Jenar geram. Tetapi orang itu tidak menjawab. Demikianlah sampai Mahesa Jenar mengulangi pertanyaan itu dua kali. Akhirnya Mahesa Jenar menjadi jengkel dan menekan punggung orang itu semakin kuat serta memutar tangan yang terpuntir itu semakin keras, sehingga orang itu mengaduh kesakitan.

“Kalau kau tak menjawab, tanganmu akan aku patahkan,” desak Mahesa Jenar.

Rupanya orang itu pun masih merasa perlu memiliki tangan sehingga dengan terpaksa menjawab, “Aku adalah Sagotra.”

“Apa maksudmu mengintai kami? ” desak Mahesa Jenar lebih lanjut. Kembali orang itu diam saja. Mahesa Jenar menjadi semakin jengkel, dan ia menekan orang itu lebih keras lagi, sehingga orang itu mengaduh lebih keras pula.

“Jawablah! Atau tanganmu betul-betul patah.” Mahesa Jenar makin geram.

“Tak ada gunanya kau memaksa aku berkata lebih banyak lagi, jawabnya. Rupa-rupanya ia harus merahasiakan tugasnya betul-betul, sehingga sampai ke ajalnya kalau perlu.
“Keadaanku sudah pasti, berkata atau tidak berkata, aku akan menemui kematian. Karena itu biarlah aku mati dengan menggenggam rahasia,” sambung orang itu.

Mahesa Jenar kagum juga melihat kejantanan orang itu, sampai berani menantang maut.

Tetapi ia ingin untuk mendapat keterangan tentang maksud orang itu, yang pasti tidak baik.

Maka setelah mendapat suatu cara ia berkata, “Baiklah, kalau kau tidak mau berkata. Aku hormati kejantananmu. Tetapi janganlah tanggung-tanggung. Aku ingin melihat pameran kesetiaan. Kau pernah mendengar cerita, bahwa di daerah ini banyak terdapat Ngangrang Salaka…? “

Mendengar Mahesa Jenar menyebut Ngangrang Salaka, tengkuk orang itu serentak meremang. Jantungnya berdegup hebat, sampai tubuhnya terasa gemetar. Ngangrang Salaka adalah sejenis semut ngangrang yang luar biasa buas serta rakusnya. Binatang apapun yang sampai terperosok ke sarangnya pasti hancur dimakannya. Keluarga semut itu membuat sarang di bawah pohon-pohon yang sudah membusuk, dengan memerlukan tanah 10 atau 15 langkah persegi. Tubuh semut itu besarnya tidak terpaut banyak dengan semut ngangrang biasa, hanya warnanya yang merah mempunyai beberapa baris-baris putih perak.

Mahesa Jenar merasakan, bahwa kata-katanya mempunyai akibat pada orang itu. Dengan demikian ia melanjutkan, “Kalau kau belum pernah mendengar, baiklah kau akan aku perkenalkan dengan semut itu. Tetapi sebelumnya lebih baik kalau kakimu aku patahkan dulu supaya kau tidak dapat lari darinya.”

Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera Mahesa Jenar melepaskan tangan orang itu. Tetapi segera pula menangkap lipatan lutut kaki kanan, sedangkan tangan Mahesa Jenar siap mematahkan pergelangan kaki kirinya, dijepitkan pada lipatan lutut kaki kanan.

“Jangan…, jangan…!” teriak orang itu tiba-tiba. “Bunuhlah aku dengan cara lain. Tetapi aku jangan kau siksa di sarang semut Salaka”
.
“Itu adalah urusanku. Sekehendakkulah untuk memilih cara bagaimana sebaiknya membunuh kau,” jawab Mahesa Jenar.

TAMPAKNYA Mahesa Jenar betul-betul akan melaksanakan ucapannya itu, karenanya maka kembali orang itu berteriak, “Jangan, jangan, bunuhlah aku dengan cara lain.”

Kembali Mahesa Jenar tertawa dingin. “Seorang yang telah berani menyatakan dirinya sebagai pengemban tugas, seharusnya tidak takut menghadapi segala macam bahaya.”

“Aku sama sekali tidak takut mati. Tetapi cara kematian yang demikian adalah mengerikan sekali. Lepaskan aku dan biarlah aku bunuh diri,” teriak orang itu.

Kembali Mahesa Jenar mengagumi orang itu, tetapi keterangan yang diperlukan harus didapatnya. Maka katanya, Kalau kau mau berkata, aku beri kau kebebasan untuk memilih jalan kematian.

Lagi orang itu diam menimbang-nimbang. Rupanya terjadi pergolakan hebat di dalam dirinya. Baru ketika Mahesa Jenar menekan pergelangan kakinya ia berteriak, Baiklah aku berkata asal aku dibebaskan dari siksaan ngangrang Salaka.

Baiklah…, berkatalah, jawab Mahesa Jenar.

Lalu dilepaskannya pergelangan kaki orang itu, dan ia melangkah satu langkah surut.

Mengalami perlakuan yang demikian, orang itu ternyata sangat terkejut. Ia tidak tahu maksud lawannya yang dengan begitu saja telah melepaskan tangkapannya. Sehingga untuk beberapa saat ia tetap tertelungkup tanpa bergerak, sampai Mahesa Jenar menegurnya, Duduklah dan berkatalah.

Kembali ia tersentak mendengar tegur Mahesa Jenar. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di hadapan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar telah pula duduk menghadapi orang yang menamakan dirinya Sagotra.

Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak berkedip. Rupanya ia sedang mencoba memahami sikapnya. Mula-mula Sagotra menganggap bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang bengis dan kejam, seperti yang tiap-tiap hari dilihat di dalam tata pergaulannya. Tetapi kemudian seperti orang yang sama sekali tidak menaruh prasangka apa-apa, ia dilepaskan.

Kalau hal itu disebabkan karena keyakinan akan kemenangannya, pastilah ia tidak bersikap sedemikian lunak. Mungkin ia sudah diangkatnya tinggi-tinggi, diputar di udara, lalu dibantingnya ke tanah. Barulah setelah setengah mati, disuruhnya ia berkata. Atau mungkinkah segala-galanya akan dilakukan nanti setelah ia selesai berkata? Sebab menurut pertimbangannya, tidaklah mungkin orang yang melakukan pengintaian seperti apa yang dilakukannya itu akan dilepaskan, karena akibatnya akan membahayakan. Mengingat hal itu, Sagotra menjadi ngeri.

Mahesa Jenar menangkap kebimbangan hati Sagotra.

“Sagotra,” berkatalah. “Aku hanya ingin keteranganmu, lebih daripada itu tidak.”

Sagotra sama sekali tidak mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi meskipun demikian ketakutannya menjadi jauh berkurang. Menilik sikap, kata-kata serta maksudnya, pastilah Mahesa Jenar bukan orang yang bengis dan kejam. Karena itu Sagotra menjadi malu kepada diri sendiri. Bahwa orang yang dipercaya untuk melakukan tugas ini dapat luluh hatinya hanya oleh gertakan saja.

Tetapi disamping itu ia menjadi kagum pada Mahesa Jenar yang mempunyai sifat-sifat yang tak pernah dijumpainya dalam tata pergaulan di sarangnya. Tiba-tiba saja ia merasa kengerian dan kejemuan untuk dapat bertemu dengan gerombolannya kembali, yang tidak pernah merasakan betapa indahnya hidup manusia yang dapat menikmati terbitnya fajar, serta bulatnya bulan. Serta betapa tenteramnya hidup ini apabila ia berkesempatan mengagungkan alam. Lebih-lebih penciptanya, Tuhan Yang Maha Agung. Hal yang demikian tidaklah pernah dialami selama Sagotra hidup di dalam sarang gerombolannya, dimana setiap saat hanyalah berlaku hukum kekerasan dan pembunuhan bagi mereka yang tidak mentaati peraturan.

“Tuan,” katanya kemudian, “Benarkah Tuan yang bernama Rangga Tohjaya?”

Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.

“Aku telah mendapat tugas untuk mencari Tuan,” lanjutnya.

Kembali Mahesa Jenar mengangguk perlahan.

“Sekarang aku sudah kau ketemukan,” kata Mahesa Jenar.

“Ya, aku sudah menemukan Tuan. Tetapi keperkasaan Tuan jauh diatas dugaanku. Sehingga Tuan tanpa menoleh dapat melihat kedatanganku.”

“Tetapi kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kau temukan aku? Bahkan kau hanya mengintip lalu pergi?”

Sagotra membetulkan duduknya, lalu jawabnya, “Memang, aku hanya mendapat perintah untuk menemukan tempat Tuan. Sesudah itu aku harus melaporkan. Sebab kami yakin, bahwa untuk menangkap Tuan diperlukan 10 sampai 20 orang yang tergolong tingkat atasan dalam gerombolan kami.”

“Kau ini sebenarnya termasuk gerombolan apa?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

Kembali orang itu ragu-ragu. Dengan menyebutkan nama gerombolannya, mungkin sangat tidak menguntungkan baginya. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang sama sekali tidak memancarkan rasa permusuhan, hatinya agak tenang sedikit.

Meski dengan jantung berdegup, berkatalah Sagotra, “Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak berani menyebut nama gerombolanku, sebab aku tahu bahwa Tuan mempunyai persoalan yang mendalam dengan pemimpinku. Meskipun demikian, karena sikap Tuan yang tak pernah aku temui dalam gerombolan kami, menimbulkan kepercayaan pada diriku, bahwa Tuan mempunyai kepribadian lain daripada orang-orang kami.”

Orang itu berhenti sejenak untuk meyakinkan kata-katanya sendiri. Lalu sambungnya,

“Tuan… kami adalah gerombolan Lawa Ijo.”

Pengakuan itu sama sekali tidak mengejutkan hati Mahesa Jenar. Memang ia sudah mempunyai dugaan bahwa kemungkinan terbesar orang itu datang dari gerombolan Lawa Ijo atas perintah Pasingsingan. Hanya kecepatan mereka bertindak itulah yang mengagumkan.

“Sagotra, kata Mahesa Jenar kemudian, Aku dengar gerombolan kini sedang dibekukan. Benarkah itu?”

“Benar, Tuan. Tetapi meskipun demikian, kami, beberapa orang tetap dalam tugas kami. Sedang orang lain yang tidak diperlukan diperkenankan untuk sementara meninggalkan sarang kami. Tetapi kami 25 orang yang merupakan anggota inti di bawah pimpinan Wadas Gunung, saudara muda seperguruan Lawa Ijo, harus selalu bersiap untuk setiap saat bertindak,” kata Sagotra.

Mendengar nama Wadas Gunung, Mahesa Jenar jadi teringat kepada Watu Gunung, yang menurut Samparan juga merupakan saudara muda seperguruan dengan Lawa Ijo. Karena itu ia bertanya,” Sagotra, kenalkah kau dengan Watu Gunung?”

“Ya, pastilah aku kenal. Ia adalah saudara kembar Wadas Gunung. Dan kedua-duanya saudara seperguruan Lawa Ijo. Aku juga sudah mendengar kabar yang dibawa oleh Ki Pasingsingan, bahwa Watu Gunung telah Tuan binasakan ketika ia sedang mengunjungi kampung kelahirannya. Serta karena itu pulalah sekarang kami 20 orang di bawah pimpinan Wadas Gunung sendiri sedang mencari Tuan,” jawab Sagotra.

Mendengar keterangan terakhir dari Sagotra ini hati Mahesa Jenar tergoncang pula, 20 orang sedang mencarinya. Sementara itu Sagotra melanjutkan, “Tetapi anehlah Tuan, bahwa kali ini Ki Pasingsingan salah hitung. Hal seperti ini belum pernah terjadi. Kami telah mendapat petunjuk untuk mencegat Tuan di suatu tempat. Menurut perhitungan Ki Pasingsingan, pada hari ini menjelang malam Tuan pasti sampai ke tempat itu. Tetapi ternyata perhitungan itu meleset. Dan tuan telah mengambil jalan lain menghindari tempat yang telah kami persiapkan untuk menjebak Tuan. Karena itu, kami lima orang telah disebarkan untuk mencari Tuan.”

Mahesa Jenar mendengarkan keterangan Sagotra dengan penuh perhatian. Akhirnya ia bertanya,
“Kapan kah Pasingsingan sampai ke sarang gerombolanmu? “

“Kemarin lusa, ” jawab Sagotra.

“Kemarin lusa? ” ulang Mahesa Jenar dengan herannya. Sulit baginya untuk membayangkan kecepatan berjalan Pasingsingan. Ditambah lagi ketika ia teringat telapak kaki yang masih tampak baru, yang ditemuinya sore tadi. Mahesa Jenar menjadi bertambah heran lagi.

Kemudian Mahesa Jenar bertanya, “Adakah orang lain yang kau temui lewat jalan yang seharusnya aku lalui?”

“Tidak Tuan, tidak ada. Kalau ada, pastilah orang itu kami tangkap. Sebab pasti orang itu kami sangka Tuan, karena diantara kami tidak ada yang pernah mengenal wajah Tuan, kecuali hanya ciri-ciri Tuan yang digambarkan oleh Ki Pasingsingan.”

Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. “Adakah pihak ketiga yang sengaja memberi tanda kepadanya supaya mengambil jalan lain? Ia jadi bingung menimbang-nimbang. Tetapi sampai sekian lama tak dapat ia memecahkan teka-teki itu. Satu-satunya kemungkinan yang membayang di kepala Mahesa Jenar hanyalah Ki Ageng Pandan Alas. “

Belum lagi masalah telapak kaki bisa dipecahkan, mereka melihat di arah sebelah selatan warna merah membayang di udara. Pasti di sana ada orang yang menyalakan api. Segera Mahesa Jenar ingat, bahwa Wadas Gunung beserta 20 orangnya sedang bersiap menghadangnya. Tetapi menilik arahnya, pasti bukan mereka.

“Sagotra…,” kata Mahesa Jenar kemudian. “Kawan-kawanmukah yang menyalakan api itu? “

Sagotra memandang pula ke arah warna merah yang mewarnai keremangan malam. Ia menggeleng perlahan. Lalu jawabnya, “Bukan Tuan. Itu pasti bukan kawan-kawan. Mereka menghadang Tuan tidak di arah itu.”

“Lalu siapakah menurut pendapatmu yang menyalakan api itu?”

Sagotra tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia menjawab, “Tuan, mungkin itu adalah orang tua yang agak kurang waras, yang merupakan satu-satunya penghuni daerah ini.”

“Satu-satunya?” sahut Mahesa Jenar agak terkejut. “Jadi didaerah ini tidak lagi ditinggali manusia kecuali orang tua itu?”

Sagotra menggelengkan kepalanya.

“Tidak, Tuan. Memang daerah ini sekarang sama sekali kosong, kecuali seorang itu, ” jawab Sagotra kemudian.

“KENAPA orang itu tidak pergi?” tanya Mahesa Jenar. “Tidakkah dia takut menghadapi keganasan gerombolan-gerombolan itu? Ataukah dia sedemikian hebatnya sehingga tak seorang pun berani mengganggunya…?”

” Tidak, Tuan…. Ia sama sekali tidak memiliki kepandaian apa-apa. Aku sendiri pernah datang mengunjunginya. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, orang itu agak kurang waras. Ia merasa bahwa ia sama sekali tidak mempunyai milik, sehingga menurut perhitungannya tidak akan ada orang yang datang mengganggunya, ” sahut Sagotra.

Mahesa Jenar mendengar keterangan Sagotra dengan saksama. Ia mulai menghubung hubungkan keterangan itu dengan kakek Rara Wilis. Mungkinkah orang tua itu adalah Ki Santanu…?

“Siapakah nama orang tua itu?” tanya Mahesa Jenar tiba-tiba.

Sagotra menggelengkan kepalanya. Tak ada orang yang mengetahui nama sebenarnya. Aku juga pernah menanyakan kepadanya, tetapi ia hanya menyebutkan panggilan yang biasa diperuntukkannya saja.

“Ya, siapa panggilan itu?” desak Mahesa Jenar

“Orang memanggilnya dengan sebutan Ki Ardi.”

“Ardi? “ulang Mahesa Jenar. Sagotra mengangguk.

Tiba-tiba terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa Ardi dapat berarti Gunung. Sedang kakek Rara Wilis pun berasal dari daerah pegunungan. Ah, apakah salahnya kalau ia berkenalan dengan orang tua itu?

“Sagotra…,” katanya kemudian, “Dapatkah kau menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi itu?”

Sagotra diam-diam menimbang-nimbang. Ia menjadi agak kebingungan. Tentang dirinya sendiri, ia belum mendapat penyelesaian. Sekarang ia mendapat pekerjaan baru, mengantarkan Mahesa Jenar ke rumah orang tua itu. Tetapi sesudah itu lalu bagaimana? Mestikah ia harus bunuh diri, atau Mahesa Jenar akan membunuhnya…? Serta bagaimanakah kalau ia bertemu dengan kawan-kawannya yang juga sedang mencari Mahesa Jenar?

Mahesa Jenar melihat kebingungan hati Sagotra serta sedikit banyak menangkap perasaannya.

Tetapi disamping itu mendadak timbul pula kebimbangan di hatinya sendiri. Lalu bagaimana dengan Sagotra itu kemudian? Kalau orang itu dilepaskan, maka soalnya akan berkepanjangan. Pastilah ia akan melaporkan semuanya kepada Wadas Gunung dengan keduapuluh kawannya. Dan ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat. Sedangkan untuk membunuhnya, tidaklah terlintas dalam angan-anannya. Sebab orang seperti Sagotra bukanlah seorang yang pantas untuk menerima hukuman yang demikian berat. Sebab ia tidaklah lebih dari seorang pesuruh.

Karena itu kemungkinan satu-satunya adalah membawa Sagotra itu seterusnya, sampai keadaan terasa aman. Mendapat pikiran yang demikian itu, maka Mahesa Jenar segera mengambil keputusan.

“Sagotra, barangkali kau segan untuk melakukan permintaanku, menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi, sebab kau merasa bahwa tak ada gunanya kau berbaik hati kepadaku. Tetapi ketahuilah Sagotra, aku terpaksa memutuskan untuk membawamu kemana aku pergi, demi keamananku. Kalau aku seorang diri, barangkali aku segera melepaskanmu. Lalu sesudah itu aku dapat menyelamatkan diriku secepat-cepatnya. Tetapi sekarang aku sedang melindungi seorang gadis. Karena itu, janganlah membantah perintahku. Janganlah kau takut, bahwa sesudah semuanya selesai aku akan membunuhmu. Sebab bagiku kau tidak lebih dari sebuah alat yang tak perlu dirusak. “

Kalau yang berkata demikian itu Wadas Gunung, atau salah seorang dari rombongannya, hati Sagotra pasti tidak akan banyak terpengaruh. Sebab ia tahu pasti, bahwa kata-kata yang demikian itu sama sekali tak berarti. Bagi Wadas Gunung serta kawan-kawan segerombolannya, tidak ada batas antara sahabat yang setia pada hari ini, serta lawan yang harus dibinasakan hari esok.

Tetapi yang berkata demikian adalah orang lain. Orang yang baru saja dikenalnya, bahkan yang telah diserangnya dengan sekuat tenaga untuk dibunuh. Namun demikian orang itu masih berkata kepadanya, bahwa ia masih boleh mengharap untuk dapat menyaksikan matahari terbit esok pagi. Dan kata-kata ini mempunyai kesan yang jauh berlainan dengan segala pujian, janji dan segala macam yang pernah keluar dari pemimpin-pemimpin rombongannya. Karena itu hati Sagotra bergoncang hebat. Tanpa sadar, Sagotra meloncat, lalu bersujud di muka Mahesa Jenar sampai mencium tanah. Dan anehnya, sejak ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, serta kemudian terperosok dalam dunia yang hitam kelam, baru sekaranglah orang yang bernama Sagotra itu sampai meneteskan air mata. Bukan saja karena ia terlepas dari terkaman maut. Sebab hal yang demikian itu telah seringkali dialami.

Dalam segala kegiatannya sebagai anggota gerombolan penjahat, banyak tangkapan-tangkapan maut yang dapat dihindari Sagotra. Tetapi ia tidak pernah merasa terharu sama sekali mengalami peristiwa-peristiwa itu, bahkan yang ada di dalam benaknya adalah dendam yang membara, serta kebanggaan dan kesombongan.

Mahesa Jenar menyaksikan sikap Sagotra itu dengan penuh keheranan. Ia tidak dapat menangkap seluruh perasaan yang bergelut dalam dada orang itu, sehingga tampak sangat menggelikan. Bahwa orang itu tinggi tegap, berkumis tebal serta berkulit hitam mengkilap, tetapi menangis tersedu-sedu.

“Sagotra, agak aneh kelakuanmu itu bagiku. Seorang laki-laki macam kau yang dengan sikap jantan berani menentang maut, kini tiba-tiba menangis macam anak-anak, ” kata Mahesa Jenar.

“Tuan…,” jawab Sagotra sambil mengangkat kepalanya, “Tak pernah selama hidupku merasakan sesuatu yang demikian mengharukan seperti kali ini.”

SAGOTRA merasakan bahwa ternyata bukanlah kekerasan melulu yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. “Meskipun Tuan bermodalkan kekuatan yang tiada taranya, tetapi sikap Tuan adalah suatu penguasaan mutlak atas diriku. Seandainya Tuan tidak berbuat demikian, mungkin dalam kesempatan-kesempatan yang ada aku pasti akan menyerang Tuan, atau setidak-tidaknya aku ingin mati sebagai seorang laki-laki sejati. Tetapi sekarang, hidup matiku bulat-bulat di tangan Tuan. Juga seandainya Tuan ingin menyaksikan aku mati di sarang semut Salaka, tidaklah menjadi masalah lagi bagiku,” kata Sagotra.

Mahesa Jenar terharu juga mendengar kata-kata Sagotra. Tetapi meskipun demikian, ia tetap berhati-hati. Sebab kata-kata itu keluar dari mulut seorang penjahat yang cukup mempunyai ikatan yang sempurna.

Tidak mustahil bahwa cara-cara yang demikian sering dilakukan untuk mengurangi kewaspadaan lawan. Hanya karena kejadian itu tampaknya meyakinkan, maka Mahesa Jenar pun tidak perlu lagi terlalu mencurigainya. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri, hanyut oleh arus perasaan masing-masing.

Sementara itu nyala api di sebelah selatan itu pun tampak semakin terang. Angin malam pun terasa demikian dingin menggigit tulang.

“Sagotra, marilah kita pergi,” kata Mahesa Jenar kemudian, memecahkan kediaman mereka.

“Mari Tuan,” jawab Sagotra.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri tegak serta memandang ke arah Rara Wilis berbaring.

“Tetapi mestikah gadis itu aku bangunkan? ” desis Mahesa Jenar.

“Atau kita menunggu sampai besok, ” sahut Sagotra.

“Tidakkah ada bahayanya? Apakah tidak mungkin salah seorang kawanmu datang pula ke tempat ini? Dengan demikian kaupun pasti akan mendapat kesulitan, ” jawab Mahesa Jenar.

Sagotra diam menimbang-nimbang. Memang mungkin sekali salah seorang dari kawannya datang pula ke tempat ini meskipun mula-mula mereka berpencaran.

“Jadi bagaimana pendapat Tuan?” tanya Sagotra lagi.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia pun sedang berpikir, bagaimana sebaiknya. Kalau pada saat itu ia langsung bersama-sama Rara Wilis, pergi ke arah api itu, tidakkah ada kemungkinan orang-orang yang sedang mencarinya pergi ke arah api itu juga?

“Sagotra, tidakkah kawan-kawanmu juga akan pergi ke arah api itu?”

“Aku kira tidak, Tuan. Pasti mereka tahu bahwa arah itu adalah arah rumah Ki Ardi,” jawabnya.
Tetapi mungkin pula mereka berpikir bahwa di sana akan dapat mereka temukan kami, yang dapat diperhitungkan, bahwa kami akan pergi ke arah api itu.

Sagotra mengangguk kecil. Memang masuk akal pula bahwa kawan-kawannya mempunyai perhitungan yang demikian. Jadi bagaimanakah sebaiknya…?

Kembali mereka diam menimbang-nimbang. Memang tidaklah mudah menghindari gerombolan Lawa Ijo yang berjumlah 20 orang, justru di wilayah mereka sendiri. Sagotra yang merupakan salah seorang dari gerombolan itu pun masih belum dapat menemukan, bagaimanakah jalan yang sebaik-baiknya untuk menghindari kawan-kawannya.

“Tuan…” akhirnya Sagotra bertanya, “Adakah sesuatu kepentingan Tuan dengan orang itu?”

Mendapat pertanyaan yang demikian, Mahesa Jenar agak menjadi repot untuk menjawabnya. Pastilah ia tidak akan dapat mengatakan bahwa ia sedang mencari seseorang ada hubungannya dengan keris Sigar Penjalin. Sebab pastilah ia mendapat jawaban bahwa orang itu bernama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak, Wanasaba.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat bahwa kakek Rara Wilis itu menyebut dirinya Ki Santanu.

Karena itu segera ia menjawab, “Sagotra, sebenarnya kedatanganku ke daerah Pliridan ini adalah untuk mencari seseorang yang bernama Ki Santanu. Kalau aku dapat bertemu dengan Ki Ardi, mungkin aku akan dapat menanyakan kepadanya tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Mungkin ia mengenal orang yang bernama Ki Santanu itu.”

Sagotra tampak mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Sebab ia dalam melakukan tugasnya banyak berhubungan pula dengan penduduk, sehingga hampir semua dikenalnya. Tetapi nama Santanu belum pernah dikenalnya.

“Tuan, barangkali aku dapat mengenal semua orang di sini sedemikian baiknya, seperti juga Ki Ardi. Tetapi nama itu belum aku dengar. Mungkin disamping namanya ia mempunyai sebutan lain, atau barangkali Tuan dapat mengatakan kepadaku bagaimanakah ciri-ciri orang itu? ” jawab Sagotra.

Mahesa Jenar menggeleng perlahan-lahan. Katanya, “Aku sendiri belum pernah mengenal wajahnya. Ia adalah kakek gadis itu. Nah, mungkin kau dapat bertanya kepadanya. Marilah kita tengok ia, barangkali sudah bangun.”

Sagotra tidak menjawab. Segera ia berdiri dan berjalan di belakang Mahesa Jenar. Tetapi mendadak terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Cepat seperti kilat, Mahesa Jenar meloncat ke arah tikar yang masih terbentang. Tetapi Rara Wilis sudah tidak ada lagi terbaring diatasnya. Jantung Mahesa Jenar bergelora hebat sekali.

Sadarlah ia bahwa ia telah berbuat suatu kelengahan. Di daerah yang berbahaya serta mengandung banyak rahasia ini, ia telah terlalu lama meninggalkan Rara Wilis seorang diri. Segera ia berdiri tegak serta mengangkat kepalanya. Memusatkan pikiran serta segenap pancainderanya untuk menangkap tiap-tiap gerakan maupun suara di sekitarnya. Tetapi tidak ada yang tampak selain daun dan ranting yang digoyangkan angin, serta tak ada yang didengar selain gemersik dedaunan itu, serta tarikan nafas Sagotra.

MAHESA JENAR adalah seorang yang cukup matang. Ia memiliki ketenangan pikiran serta kecepatan bertindak. Tetapi meskipun demikian, kali ini hampir kehilangan semua sifat-sifatnya itu. Pada saat ia menghadapi Pasingsingan, ia masih tetap sadar dan dapat menguasai pikiran sepenuhnya. Tetapi sekarang ia menghadapi suatu peristiwa yang belum pernah dirasakan.

Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai suatu peristiwa yang langsung menusuk perasaannya yang paling dalam. Dalam ketidaksadarannya tiba-tiba Mahesa Jenar berlari kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Rara Wilis.

Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas, sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada itu. Dan memang demikianlah kiranya.

Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian eratnya.

Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sendiri.
Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil Rara Wilis. Tetapi tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa Rara Wilis telah lenyap, menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya gemeretak. Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk menyalurkan amarahnya.

Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali, dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.

Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.

Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula lebih dari batu itu.

Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat sekali.

Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi, tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi, pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya fajar.

Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya, mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil menggeram, “Setan, rupanya kau telah memancing aku untuk menjauhi Wilis.”

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar bertindak diluar kesadarannya.

Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama semakin menekan.

Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba, justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.

“Tuan, aku tidak akan menghindarkan diri dari hukuman yang akan Tuan jatuhkan atas diriku. Sebab hal yang demikian adalah wajar sekali. Tetapi yang aku sangat sedih adalah justru kematianku disebabkan oleh suatu hal yang sama sekali tak kumengerti. Sebab aku sama sekali tak sengaja menjauhkan Tuan dari gadis itu. Maka, kalau Tuan benar-benar akan membunuhku, bunuhlah aku sebagai salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo yang ingin mencelakakan Tuan, ” kata Sagotra suara susah payah.

Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang belum pernah dijamah dosa.

Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifat-sifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.

“Maafkanlah aku,” Sagotra, bisik Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali. Hampir saja air matanya tidak lagi dapat ditahannya.

“Sagotra…,” kata Mahesa Jenar selanjutnya, yang bagaimanapun masih ingin mendapat lebih banyak penjelasan, “Benarkah kau tidak berbuat itu?”

“Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula,” jawab Sagotra.

Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra. Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya. Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar biasa pula.

Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat, bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Kiai Sigar Penjalin.

Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula. Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara Wilis.

Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.

Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut dan berderai berserakan.

Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu, geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.

Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan pasti arah suara itu.

Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat ke atas dengan memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran Dandanggula yang lamat-lamat sampai ke telinganya. Pada saat itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat, karena hilangnya Rara Wilis.

Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu.

Maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu, cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat.

Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.

Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.

Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara Dandanggula itupun telah berhenti.

Sementara itu, bulan pun telah rendah sekali, hampir sampai ke garis cakrawala, sehingga malam menjadi semakin kelam. Mahesa Jenar menjadi semakin mengeluh dalam hati. Dirasanya betapa picik pengetahuan serta rendah ilmu yang dimilikinya, sehingga dalam keadaan seperti ini sama sekali ia tidak berdaya.

Pada mulanya ia merasa, bahwa cukuplah kiranya bekal yang dimiliki untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang dalam perantauannya. Tetapi ternyata menghadapi tokoh-tokoh macam Pasingsingan, Ki Ageng Pandan Alas, ia tidak lebih dari seorang anak kecil yang baru pandai berdiri.

Tiba-tiba saja ia menangkap bayangan yang membayang tepat di hadapan wajah bulan yang hampir lenyap itu. Heranlah Mahesa Jenar, kenapa baru saat itu ia menangkap bayangan yang berada di tempat terbuka.

Dalam keremangan bulan yang masih memancarkan sinarnya yang terakhir itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas bayangan dari dua orang, laki-laki dan perempuan. Ia hampir pasti bahwa perempuan itu adalah Rara Wilis, sedang laki-laki yang membimbingnya itu tampak bertubuh kurus tinggi.

Melihat hal itu berdebarlah jantungnya cepat sekali. Tetapi ketika ia hampir saja melompat mengejar bayangan itu, tiba-tiba ia menjadi tertegun heran. Kedua orang itu melambaikan tangannya kepadanya, seakan-akan menyampaikan ucapan selamat tinggal.

TERASA ada suatu kesan yang aneh meraba-raba hati Mahesa Jenar. Mula-mula timbul suatu perasaan yang sakit, ketika ia melihat Rara Wilis bersama-sama dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Tetapi ketika Mahesa Jenar teringat akan lagu Dandanggula yang baru saja didengarnya, segera teringat pulalah ia akan Ki Ageng Pandan Alas. Lebih-lebih ketika ternyata laki-laki itu dengan tangannya yang lain melambaikan sebilah keris yang tampak seperti membara di keremangan malam.

Tahulah Mahesa Jenar, bahwa itulah Sigar Penjalin yang sudah berada di tangan pemiliknya. Juga mau tidak mau pastilah ia menghubungkan nama Ki Santanu dengan Ki Ageng Pandan Alas. Maka dengan sedih serta hati yang kosong, diluar sadarnya Mahesa Jenar mengangkat tangannya pula untuk melambaikan salam perpisahan.

Sesaat kemudian lenyaplah bayangan itu bersama dengan lenyapnya butiran-butiran yang pernah berkilau di hatinya.

Sekali lagi Mahesa Jenar lemas seperti kehilangan segala tulang-belulangnya. Sebagaimana manusia biasa, ia merasa betapa sedihnya perpisahan yang terjadi secara tiba-tiba itu.

Terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi, sejak pertama kalinya ia tertarik kepada wajah Rara Wilis yang terselip diantara beberapa orang yang akan menyeberang hutan Tambakbaya. Terbayang pula bagaimana pada malam pertama gadis cantik itu ketakutan mendengar teriakan-teriakan binatang hutan, serta bagaimana Jaka Soka berusaha untuk menculiknya, sehingga terpaksalah ia ikut serta dalam perkelahian antara para pengawal dengan Jaka Soka. Dengan terpaksa pula ia harus berhadapan untuk kedua kalinya dengan Lawa Ijo. Juga terbayang dengan jelas, bagaimana selanjutnya ia harus mengantar Rara Wilis seorang diri ke daerah Tambakbaya yang rasanya bagaikan tamasya yang tak akan terlupakan. Juga pada saat terakhir dimana ia menunggui gadis itu, yang tidur dengan nyenyaknya karena lelah. Kakinya, tangannya, dadanya yang penuh berisi serta rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin.

Mahesa Jenar terduduk di rerumputan liar sambil menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Ingin ia segera melenyapkan segala kenang-kenangan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha, semakin jelas gambaran-gambaran itu menerawang di hatinya.

Sagotra juga masih saja berada di belakang Mahesa Jenar, dapat merasakan kesedihan Mahesa Jenar sepenuhnya. Meskipun selama ini perasaannya dikuasai oleh nafsu untuk membunuh, merampas dan sebagainya, tetapi sebagai manusia ia pun pernah merasakan tali batin yang pernah menjeratnya.

Tetapi sampai sekian, yang tak dimengertinya, kenapa Mahesa Jenar sama sekali tak berbuat apa-apa ketika ia menyaksikan bayangan yang tiba-tiba muncul di depan wajah bulan yang hampir tenggelam itu. Meskipun ia tahu betapa hebatnya orang yang membawa Rara Wilis itu, tetapi ia mengagumi Mahesa Jenar sebagai manusia luar biasa. Sehingga meskipun dengan agak ragu-ragu ia beranikan diri untuk bertanya, “Tuan, kenapa Tuan tidak bertindak ketika mereka menampakkan diri di hadapan Tuan?”

Mahesa Jenar baru merasa bahwa ia berkawan, ketika ia mendengar sapa itu. Perlahan-lahan ia menoleh, serta menjawabnya, “Sagotra, tidakkah kau tahu siapa dia? Sehingga tak akan bergunalah kalau aku mengejarnya.”

“Siapakah orang itu, Tuan?” tanya Sagotra ingin tahu.

“Ki Ageng Pandan Alas,” jawab Mahesa Jenar.

“Ki Ageng Pandan Alas…?” ulang Sagotra terkejut. “Jadi dialah orangnya yang mempunyai kesaktian sejajar dengan Ki Pasingsingan? “

Mahesa Jenar mengangguk perlahan, sedang Sagotra dengan penuh ketakjuban menggeleng-gelengkan kepalanya. Itulah sebabnya maka orang itu berhasil mengambil Rara Wilis tanpa diketahui oleh orang seperti Mahesa Jenar.

“Kenapa Rara Wilis ia ambil?” tanyanya lebih lanjut. “Adakah hubungan antara mereka? “

“Aku tidak tahu, Sagotra,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi yang aku ketahui adalah Rara Wilis membawa keris Sigar Penjalin.”

“Itulah pusaka Ki Ageng Pandan Alas,” potong Sagotra.

“Ya,” sambung Mahesa Jenar. “Tetapi Rara Wilis mengatakan, bahwa keris itu berasal dari kakeknya yang bernama Ki Santanu.”

Tiba-tiba saja karena kata-katanya sendiri Mahesa Jenar teringat pada nama yang disebutkan Sagotra, yaitu Ki Ardi. Apalagi ketika ia memandang ke arah selatan, masih tampaklah di sana bayangan warna merah di udara. Maka timbullah kembali keinginannya untuk bertemu dengan orang itu. Sebab darinya ia ingin mendapat beberapa keterangan tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah itu. Karena itu katanya kepada Sagotra, “Sagotra, marilah antarkan aku kepada Ki Ardi.”

“Masih adakah gunanya?” sahut Sagotra.

“Aku tidak tahu, Sagotra. Tetapi antarkan aku ke sana,” jawab Mahesa Jenar.

Maka dengan tidak menjawab lagi Sagotra langsung berdiri serta bersama-sama Mahesa Jenar menempuh jalan ke arah selatan menuju rumah Ki Ardi.

Demikianlah malam menjadi gulita, karena kedipan bintang-bintang di langit tidak mampu menyibakkan gelapnya malam.

Mereka berjalan tanpa lagi banyak berbicara. Sagotra yang tampaknya sudah agak biasa berjalan di daerah ini, berjalan di depan. Sedang Mahesa Jenar, meskipun belum banyak mengerti tentang daerah yang dilalui, tetapi ia mempunyai pandangan yang tajam sekali, sehingga tidaklah banyak menemui kesulitan.

Demikianlah maka setapak demi setapak mereka mendekati arah api yang masih menyala-nyala.
Maka setelah mereka berjalan beberapa lama, melewati padang ilalang, serta menyusup gerumbul-gerumbul kecil yang berserakan disana-sini, sampailah mereka di sebuah bukit kapur yang kecil. Mahesa Jenar serta Sagotra tidak langsung menampakkan diri, tetapi dari jarak beberapa depa mereka masih berdiri di semak-semak. Dari situlah mereka menyaksikan tempat kediaman Ki Ardi

KI ARDI sendiri yang pada saat itu sedang berada disamping api yang menyala nyala, sedang memahat sebuah batu besar. Ternyata rumah Ki Ardi tidaklah lebih dari sebuah goa di bukit kecil itu, yang langsung menghadap ke batu besar yang sedang dipahatnya.

Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati pahatan Ki Ardi itu, ia menjadi kagum. Di atas batu yang besar itu dipahatkan gambar seekor ular naga besar, yang tampaknya sedang marah.

Kepalanya menengadah ke atas, serta mulutnya menganga lebar. Disela-sela giginya yang runcing mengerikan itu tampaklah lidahnya menjulur keluar. Sedang ekor naga itu terurai ke belakang, berlekuk-lekuk. Di belakang serta di depan ular yang sedang marah itu, tampaklah dua ekor yang tak kalah garangnya, siap menerkam. Kuku-kuku serta taring-taring harimau itu tampak tajam menakutkan.

Sebelum itu Mahesa Jenar telah sering melihat pahatan-pahatan batu serta patung-patung yang bagus buatannya di kota-kota. Bahkan candi-candi yang termasyur pun telah sering pula dikunjungi. Namun pahatan Ki Ardi itu tidak pula kalah indahnya. Garis-garisnya tegas dan mantap, sehingga pahatan itu dapat mengungkapkan watak serta keadaan binatang-binatang itu sejelas-jelasnya.

Mereka yang menangkap pahatan itu segera akan dapat merasakan, bahwa seolah-olah sebentar lagi akan terjadi pergulatan dahsyat antara naga raksasa itu melawan dua ekor harimau yang ganas.

Sagotra yang hampir sepanjang hidupnya tak pernah mengenal arti bentuk semacam itu, tak begitu dapat mengenal betapa tinggi nilai pahatan Ki Ardi. Yang tampak olehnya pada saat itu tidaklah lebih gambar seekor naga yang hendak bertempur melawan dua ekor harimau. Tidak nampak olehnya mata naga itu sedemikian menyala karena marahnya, sedang kedua harimau itu telah begitu bernafsu untuk menguasai lawannya.

Mahesa Jenar yang mengagumi keindahan pahatan itu, tidak jemu-jemu selalu memandanginya dengan saksama. Baris demi baris dinilainya dari berbagai sudut. Tetapi lebih dari itu, mendadak ia terperanjat. Hatinya bergoncang hebat, sampai diluar sadarnya ia meloncat maju. Melihat hal itu, Sagotra menjadi terkejut pula. Apalagi yang menyebabkan Mahesa Jenar berbuat demikian? Tidak pula kalah kagetnya Ki Ardi sendiri, sampai-sampai ia terlonjak.

Apa yang nampak pada Mahesa Jenar, lukisan naga itu tidak lain daripada lukisan Keris Nagasasra. Ketika tanpa disengaja ia menghitung lekuk tubuh naga itu yang berjumlah 11, maka Nagasasra itu sekaligus mewujudkan dapur Sabuk Inten pula.

“Nagasasra Sabuk Inten…?” desis Mahesa Jenar.

Ki Ardi yang masih belum dapat menguasai dirinya, menjadi ketakutan, sampai tubuhnya gemetar. Tanpa menduga-duga, tiba-tiba saja seseorang telah muncul di sampingnya tanpa suara.

Dengan mata yang menyorotkan berbagai dugaan Mahesa Jenar bergantian memandang kepada Ki Ardi dan hasil pahatannya yang berwujud Nagasasra Sabuk Inten. Melihat bentuk Naga yang hampir tepat seperti bentuk keris Kiai Nagasasra, yang hanya berbeda ukurannya saja, pastilah Ki Ardi pernah setidak-tidaknya melihat keris itu, sedang dapur Sabuk Inten yang menyamai lekuk keris Kiai Sabuk Inten pun menimbulkan dugaan pada Mahesa Jenar bahwa Ki Ardi pernah melihat kedua duanya, yang kebetulan pada saat ia meninggalkan Demak, kedua keris itu sedang lenyap dari gedung perbendaharaan.

Apalagi telah didengarnya pula dari Samparan bahwa ada kepercayaan golongan hitam, bahwa kedua keris itu telah mempunyai keturunan atau rangkapannya masing-masing yang justru sedang diperebutkan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan pasti adalah yang diperebutkan itu benar-benar rangkapannya atau malahan aslinya yang lenyap dari perbendaharaan Kerajaan Demak.

Berbagai pikiran hinggap pergi di kepala Mahesa Jenar. Tetapi tidaklah mungkin kalau hal ini hanyalah suatu kebetulan. Atau malah Ki Ardi termasuk salah seorang dari golongan hitam yang juga sedang memperebutkan keris itu? Sedemikian besar keinginannya untuk memilikinya, sehingga terwujud dalam pahatannya sebagai ungkapan perasaannya. Malahan tiba-tiba Mahesa Jenar teringat pada kata-kata Samparan beberapa hari yang lalu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bahwa di kalangan hitam terdapat nama sepasang suami-istri Sima Rodra.

Tetapi menurut Samparan, Sima Rodra itu berdiam di Gunung Tidar. Namun tidak mustahil kalau si suami pergi merantau dalam usahanya menemukan Nagasasra dan Sabuk Inten. Kalau demikian halnya, anehlah kalau Lawa Ijo sampai tidak tahu, bahwa di daerahnya bermukim salah seorang saingannya. Kalau saja Sagotra yang tidak mengerti, itu adalah hal yang wajar.

Tetapi apa yang dilukiskan dalam pahatan itu, hampir jelas sekali. Dua ekor harimau yang dikatakan itu adalah suami Sima Rodra yang sedang siap menerkam seekor naga yang melukiskan Keris Kyai Nagasasra sekaligus Kyai Sabuk Inten.

Karena itu Mahesa Jenar ingin mendapatkan kepastian dari dugaannya. Kalau saja orang itu benar-benar Sima Rodra, pastilah ia mempunyai ketahanan yang setingkat dengan Lawa Ijo. Karena itu ia tidak ingin terlibat dalam pertempuran, sebab dalam keadaannya yang sekarang ini, dimana jiwanya sedang bergolak, maka tidaklah mustahil baginya, segera mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa apabila sedikit saja ia terdesak. Karena itu ia ingin dengan singkat serta tanpa diduga-duga, menguasai orang itu, sehingga tidak usah terjadi pertempuran. Sedang ia akan dapat memaksa lawannya untuk memberi keterangan tentang kedua keris itu.

Maka setelah Mahesa Jenar mendapat kepastian pikiran, segera dengan gerakan kilat ia meloncat menangkap dengan tangkapan mati pergelangan tangan Ki Ardi. Tetapi apa yang dialami adalah diluar dugaan. Ketika tangannya menyentuh kulit Ki Ardi terasalah bahwa tangan itu sedemikian kendornya, serta tak bertenaga. Sehingga Mahesa Jenar malah terkejut.

Dengan tak disengaja maka mulailah Mahesa Jenar memandangi tubuh Ki Ardi. Ternyata baru saat itulah ia dapat mengenal tubuh itu dengan seksama, sebab sejak kehadirannya, perhatiannya telah terikat oleh pahatan orang itu.

Ki Ardi meskipun tidak tergolong tinggi, namun ia tidaklah pendek. Umurnya telah agak lanjut, dan ini ditandai oleh kerut-kerut mukanya serta rambutnya yang sudah putih. Ketika Mahesa Jenar memandang mata orang tua, yang menatapnya dengan keheran-heranan atas kelakuannya, Mahesa Jenar menjadi terkejut. Meskipun orang itu matanya yang tampaknya sedemikian bening, seolah-olah air di dalam sumur, yang dalam sekali. Juga nampaklah dasarnya yang berputar-putar semakin lama semakin dalam, seakan-akan sumur itu akan mengisap hanyut. Mahesa Jenar menjadi semakin heran, bahkan kemudian menjadi cemas, sebab dirinya menjadi seakan-akan ikut serta berputar semakin cepat.

Sadarlah Mahesa Jenar kemudian, bahwa ia sama sekali tidak berhadapan dengan seorang yang mengutamakan kekuatan jasmaniah. Tetapi orang tua itu ternyata mempunyai kekuatan batin yang luar biasa, sehingga dengan kekuatan itu ia dapat mempengaruhi orang lain. Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi melihat perputaran yang melilitnya itu, sehingga segera tangan Ki Ardi dilepaskan dan ia meloncat tiga langkah surut.

Sagotra sama sekali tidak tahu maksud serta akibat perbuatan Mahesa Jenar itu, sehingga ia masih saja berdiri diam seperti patung. Tetapi ia menjadi heran, ketika dilihatnya tiba-tiba Mahesa Jenar membungkuk hormat kepada orang itu, sambil berkata, Maafkan aku Ki Ardi, aku telah salah duga terhadap Bapak.

Ki Ardi masih saja memandanginya dengan sorot mata keheranan. Bahkan kesan-kesan ketakutannya pun masih ada. Dan inilah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin pening. Orang yang mempunyai pengaruh sedemikian besarnya, hanya dengan sorot matanya saja, tetapi yang seakan-akan tidak sadar akan kekuatannya sendiri, sehingga masih saja berkesan ketakutan.

Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Bagaimanapun, ia adalah seorang bekas prajurit pengawal raja yang sudah sering mengalami hal-hal yang tampaknya diluar kewajaran. Maka dalam hal itu pun segera Mahesa Jenar sadar, bahwa pastilah ada suatu rahasia yang menyelubungi orang tua itu. Pastilah ada hal-hal yang sengaja disembunyikan. Mungkin ia sengaja berbuat demikian supaya orang tidak mengenal atau menduga, bahwa sebenarnya ia mempunyai kelebihan dari orang lain.

Maka dengan hormatnya, sekali lagi Mahesa Jenar berkata, Maafkan, aku yang salah duga terhadap Bapak.

Sejenak kemudian tampaklah bibir orang itu bergerak-gerak dan terdengarlah suaranya kecil bergetar, “Tuan, apakah salahku sehingga Tuan menyakiti aku?”

Mahesa Jenar menundukkan mukanya dengan penuh penyesalan atas kelancangannya. Maka jawabnya, “Bapak, sama sekali Bapak tidak bersalah. Tetapi akulah yang berbuat kesalahan terhadap Bapak.”

Orang tua itu tidak menjawab lagi. Hanya matanya yang sudah cekung itu merenung jauh sekali menembus gelap malam. Kembali Mahesa Jenar kagum atas mata itu, yang seakan-akan dapat menelan segala isi padang ilalang luas itu, bahkan isi dari hutan Tambakbaya.

Ingin ia menghubungkan orang tua ini dengan Ki Ageng Pandan Alas yang diduganya juga Ki Santanu. Tetapi Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang mempunyai kekuatan jasmaniah luar biasa, sehingga hanya dengan kapak batu kuno ia dapat melukai sebatang pohon yang besarnya lebih dari empat pemeluk, hampir separonya. Sedangkan orang tua ini mempunyai tubuh yang kendor dan sama sekali tak bertenaga. Apalagi baru beberapa saat berselang Ki Ageng Pandan Alas pergi bersama-sama Rara Wilis. Meskipun demikian, setiap kemungkinan bisa terjadi. Mengingat hal itu semua, Mahesa Jenar semakin sibuk berpikir.

Akhirnya ia mengambil ketetapan bahwa sebaiknya ia dengan baik-baik bertanya, mengenai pahatan itu.

“Bapak…, yang kau lakukan mendorong keinginanku untuk mengetahui pahatan yang sedang Bapak buat itu,” kata Mahesa Jenar.

Orang itu menjadi heran mendengar kata-kata Mahesa Jenar. “Adakah dengan membuat pahatan ini aku telah berbuat kesalahan terhadap tuan? ” jawab orangtua itu.

“Tidak Bapak,” sahut Mahesa Jenar cepat-cepat, ” Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah yang sedang Bapak pahat itu? “

Kembali orang itu heran. Kemudian dengan langkah yang lambat serta agak kebongkok bongkokan orang itu berjalan menjauhi pahatannya beberapa depa, lalu mengamat-amati dengan seksama.

Tiba-tiba saja ia tersenyum, serta matanya menjadi cerah. “Pahatanku sudah hampir selesai. Apa yang tadi tuan tanyakan?”

“Pahatan itu…. Apakah yang sedang Bapak pahat?” tanya Mahesa Jenar.

“Tidakkah Tuan tahu…. ” kata orang tua itu sambil mendekati pahatannya. Dan kemudian diraba-rabanya hasil kerjanya itu dengan mesra. “Bukankah ini seekor naga? Katakanlah Tuan, apakah aku tidak berhasil melukis seekor naga?”

“Tentu, tentu,” jawab Mahesa Jenar dengan cepat
.
“Lalu apa yang Tuan tanyakan?” tanya orang tua itu.

“Maksudku, apakah yang Bapak lukiskan itu seekor naga, atau suatu bentuk dari benda-benda yang pernah Bapak lihat sebelumnya?”

Orang tua itu semakin heran. “Adakah Tuan pernah melihat sesuatu benda yang mirip dengan pahatanku ini?”

Mahesa Jenar jadi ragu. Mula-mula ia ingin mengatakan tentang keris Nagasasra yang mempunyai bentuk yang sama dengan pahatan naga itu. Mustahil kalau kesamaan itu hanyalah kebetulan saja. Kesamaan cita dalam cipta yang sampai sedemikian dekatnya dengan aslinya. Kesamaan yang sedemikian itu pastilah yang satu diilhami oleh yang lain atau malahan salinan sepenuhnya. Tetapi akhirnya diurungkannya keinginan itu. Karena tidak akan banyak gunanya. Sebab pastilah orang tua itu sengaja merahasiakan.

Akhirnya Mahesa Jenar hanya berkata, “Tidak… Bapak, tetapi apa yang Bapak pahatkan adalah suatu bentuk yang dahsyat sekali. Ataukah Bapak pernah melihat seekor naga yang sedemikian?”

KI Ardi mengerutkan keningnya. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum. “Belum, Tuan. Aku belum pernah melihat seekor naga pun. Yang pernah aku lihat hanyalah ular-ular kecil yang sering berkeliaran di sekitar tempat ini. Tetapi aku pernah mendengar dongeng dongeng tentang seekor naga. Nah, menurut gambaran angan anganku sedemikianlah kira-kira bentuknya.”

Kembali orang tua itu meraba-raba pahatannya. Ia nampaknya bangga serta bahagia sekali atas hasil kerjanya.

“Tuan…,” katanya kemudian, “Silakan Tuan berdua duduk. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang juga. Sebab tidaklah mungkin untuk ditunda. Sementara itu silakan Tuan mendengarkan dongeng tentang naga yang sedang aku pahatkan ini.”

Tanpa menunggu jawaban, Ki Ardi segera mulai dengan kerjanya kembali. Mahesa Jenar dan Sagotra segera mengambil tempat duduk di dekat api yang masih menyala-nyala. Suaranya gemeretak, karena ledakan-ledakan kecil yang ditimbulkan oleh dahan-dahan yang sedang dimakan api.

Sambil memahat, Ki Ardi mulai berceritera.

“Naga ini menurut ceritera dilahirkan dalam dua alam yang berbeda tempatnya. Tetapi dalam pahatanku ini, tidaklah kedua-duanya aku lukiskan, tetapi aku ingin mendapat satu bentuk kesatuan dari dua ekor naga itu. Seekor naga dilahirkan di samodra, sedangkan satu lagi dilahirkan di angkasa. Tetapi diatas bumi ini mereka bertemu dan bersahabat. Keanehan dari kedua ekor naga itu adalah, yang seekor bersisikkan emas, sedangkan yang seekor, di leher, perut serta ekornya berbalutkan intan permata. Pada suatu hari, raja yang sedang berkuasa diatas bumi ini, merasa disusahkan oleh seorang putrinya,” kata Ki Ardi mengawali ceritanya.

“Putri itu,” lanjut Ki Ardi, “jatuh cinta kepada seorang yang sama sekali tak dikehendaki oleh ayahandanya. Sebab laki-laki itu bukanlah laki-laki biasa. Menurut ceritera, laki-laki itu berasal dari bintang kemukus yang sering membawa bencana. Hanya karena laki-laki itu terlalu sakti, maka tidak ada yang berani mengganggunya. Maka pada suatu ketika bertemulah raja itu dengan kedua ekor naga yang sedang merantau mengelilingi bumi ini.
Raja itu kemudian minta kedua ekor naga itu untuk mengusir laki-laki yang mengganggu puterinya. Kedua ekor naga itu menyanggupinya. Didatanginya laki-laki yang berasal dari bintang kemukus itu. Maksudnya, apabila tidak perlu, masalahnya akan diselesaikan dengan damai. Tetapi rupanya laki-laki itu merasa yakin akan kesaktiannya, sehingga akhirnya terjadilah pertempuran yang maha dahsyat. Kedua ekor naga itu pun ternyata mempunyai kesaktian yang luar biasa. Laki-laki itu dengan bersenjatakan petir di kedua belah tangannya menyerang dengan ganasnya, sedangkan naga yang bersisik emas itu, dari mulutnya menyembur api yang menyala-nyala. Sementara itu naga yang bersisik intan permata itu, dari kedua matanya memancar sinar yang beracun.”

“Tetapi karena kesaktian mereka masing-masing, senjata-senjata itu hampir tidak banyak berguna. Laki-laki bintang itu ternyata tidak saja mampu bertempur di atas daratan. Sekali-sekali ia terjun pula ke dasar lautan. Tetapi naga yang lahir di dalam samodra itu tidak membiarkannya.
Disusullah ia ke dasar lautan dan bertempurlah mereka di sana. Air laut pun menjadi bergolak seakan-akan mendidih. Kalau laki-laki itu jemu bertempur di lautan, terbanglah ia ke angkasa. Dan bertempurlah mereka di udara.”

“Demikian dahsyat pertempuran itu sampai langit menjadi gelap, hanya kadang-kadang saja memancar kilat dan petir disela oleh semburan api yang tak terkira panasnya, keluar dari mulut naga bersisik emas itu.”

“Demikianlah pertempuran itu berlangsung sampai 40 hari, 40 malam. Tetapi masih saja belum ada yang nampak akan kalah. Bahkan pertempuran itu semakin lama semakin sengit. Sekali waktu terjadi di dalam samodra, dan sekali waktu di angkasa,” cerita Ki Ardi.

Tiba-tiba orang tua itu berhenti, sambil perlahan-lahan ia berjalan mundur menjauhi pahatannya. Sebentar ia tersenyum dan sebentar kemudian keningnya berkerut.

“Tuan, pahatanku telah selesai. Apakah kata tuan tentang ini?” kata orangtua itu kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang sejak semula telah merasakan keindahan pahatan itu menjawab, “Bagus, Ki Ardi.”

Ki Ardi tertawa perlahan. Lalu sambungnya, “Baru sekarang aku mendapat pujian atas hasil kerjaku. Selama ini tidak pernah seorang pun, jangankan pujian-pujian, sedang perhatian saja tidak pernah aku dapatkan. Sagotra dengan kawan-kawannya yang sering berkeliaran di daerah ini, sama sekali tidak dapat menikmati hasil pekerjaanku. Nah, Sagotra, apa katamu sekarang?”

Sagotra yang sejak tadi berdiam diri, menjadi agak bingung untuk menjawab pertanyaan Ki Ardi itu. Maka ia menjawab sekenanya saja, “Bagus, Ki Ardi.”

Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Sagotra. “Apa yang bagus?”

Sagotra menjadi agak tersipu mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak mau kalah. “Nagamu itu Ki Ardi, kalau saja bersisikkan emas benar-benar, serta berbalutkan intan permata, mungkin umurmu tidak lebih dari malam ini.”

Kembali Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh. “Pastilah itu terjadi kalau nagaku benar-benar seperti dongeng yang pernah aku dengar itu. Tetapi sesudah kau bunuh aku, kau juga akan mati ditelan nagaku ini.”

Rupanya Sagotra bukan ahli berdebat. “Orang tua gila. Kalau kau tanyakan pendapat orang lain mengenai pahatanmu itu, pastilah kau mengharap orang itu memujinya. Tetapi pahatanmu itu sebenarnya sangatlah jelek,” gerutu Sagotra.

Ki Ardi masih saja tertawa. Rupanya ia sudah biasa bergaul dengan Sagotra serta kawan-kawannya Lawa Ijo yang lain.

“Sebaiknya kau makan dulu, baru menilai pahatanku ini. Nah masuklah ke mulut gua itu, nanti kau akan mendapatkan jagung bakar. Makanlah itu, baru kau memberikan pendapatmu,” kata Ki Ardi kepada Sagotra.

Tetapi Sagotra rupanya malu dengan adanya Mahesa Jenar di situ. Karena itu pura-pura saja ia tidak mendengar. Bahkan ia berkata terus, “Ki Ardi, aku lebih suka mendengar dongenganmu daripada menyaksikan pahatanmu itu.”

Sambil masih tertawa, Ki Ardi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah aku lanjutkan dongeng itu, tetapi aku ingin bertanya, siapakah kawan barumu ini?”

Mendengar pertanyaan itu darah Mahesa Jenar tersirap, sedang Sagotra menjadi bingung, bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Sebentar mereka berdiam diri mencari jawaban, akhirnya Mahesa Jenar yang menjawab, “Ki Ardi aku dan Sagotra secara kebetulan saja bertemu di perjalanan. Dan Sagotra telah berbaik hati mengantarkan aku ke arah api yang Bapak nyalakan.”

Ki Ardi mengangguk-angguk kecil. “Anehlah kalau hal itu terjadi. Biasanya apa yang dilakukan oleh Sagotra dan kawan-kawannya membunuh dan merampas terhadap siapa saja yang dijumpainya di daerah ini, ” lanjutnya.

“Ki Ardi, jangan kau membual. Lebih baik kau berkata atau berceritera tentang hal-hal yang baik, potong Sagotra dengan nada tidak senang.”

Mendengar kata Sagotra yang diucapkan dengan nada keras, Ki Ardi nampak agak takut juga.

Maka katanya membetulkan, “Maaf Sagotra… maksudku bukan tidak baik, aku hanya ingin bergurau saja. Nah sekarang aku lanjutkan saja ceriteraku.”

Kemudian Ki Ardi mengambil tempat duduk di hadapan Mahesa Jenar, juga di dekat api. Sebentar kemudian mulailah ia melanjutkan ceriteranya.

“Kedua ekor naga itu, yang telah berumur 40 hari 40 malam, belum dapat menguasai lawannya. Karena itu pertempuran semakin bertambah sengit. Seluruh penduduk bumi menjadi ketakutan. Tidak ada tempat untuk mengungsikan diri. Sebab pertempuran itu terjadi di seluruh permukaan bumi, di seluruh lautan, dan diseluruh langit. Raja bumi itu pun menjadi bertambah prihatin. Apalagi putrinya setiap hari selalu menangis saja. Tetapi untuk mengabulkan permintaan putri itu, tidak terlintas di dalam pikiran ayahanda raja. Karena itu ia tidak tahu apa yang akan dikerjakan. Akhirnya ia terpaksa menunggu saja akan kesudahan pertempuran yang maha dahsyat antara laki-laki dari bintang kemukus itu dengan dua ekor naga yang dimintai bantuan.
Demikianlah pertempuran itu masih berlangsung terus, di laut timbul gelombang sebesar gunung, di darat bertiup angin topan yang dahsyat. Sedangkan di udara, petir menyambar-nyambar guruh dan bunga-bunga api yang maha panas. Sampai hari yang ke-100, keadaan masih belum berubah, hati raja bertambah gelisah pula.
Maka pada hari yang ke 101, dengan tidak disangka-sangka menghadaplah seekor naga yang amat sederhana, ke hadapan raja. Naga itu berwarna agak kehitam-hitaman. Matanya berkilat-kilat seperti bintang. Dengan rendah hati naga itu berkata kepada raja, Paduka yang memerintah kerajaan bumi, perkenankanlah hamba mengabdikan diri kepada Paduka serta diperkenankan membantu kedua saudara hamba yang sedang bertempur melawan laki-laki yang berasal dari bintang kemukus.

Tentu saja permintaan itu dikabulkan oleh raja. Maka dengan senang hati, naga itu langsung menuju ke medan pertempuran yang saat itu sedang terjadi di daratan. Kedatangannya menimbulkan perbawa yang luar biasa, sehingga dengan tiba-tiba saja pertempuran itu berhenti sejenak.

Melihat kedatangan naga ini, mereka bertiga yang sedang bertempur menjadi heran. Maka bertanyalah naga yang bersisik emas, Hai naga yang sangat sederhana, tanpa menunjukkan tanda-tanda kebesaran apapun, apakah maksud kedatanganmu?
Naga itu menjawab, Saudaraku, aku datang untuk membantumu.

Mendengar jawaban itu, naga berbalut intan merasa tidak senang. Lalu katanya, Saudaraku hanyalah mereka yang dapat menunjukkan tanda kebesarannya.

Alangkah sedih hati naga yang kehitam-hitaman itu, ditambah lagi laki-laki dari bintang kemukus itu memakinya pula. Kau yang mirip sebatang pohon roboh itu akan turut serta dalam permainan ini…?

Tetapi disabarkannya hati naga yang sederhana itu. Jwabnya, Terserahlah kata-kata kalian atas diriku. Tetapi aku ingin menunjukkan pengabdianku.
Kalau demikian kerjakanlah itu sendiri, kata naga bersisik emas.
Ya, kerjakanlah sendiri, sahut naga yang bersalutkan intan.
Baiklah, jawab naga yang kehitam-hitaman itu. Silakan kalian beristirahat.
Mendengar kata-kata Naga Hitam itu, alangkah marahnya laki-laki bintang yang merasa dirinya sangat sakti. Maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung diserangnya naga hitam itu dengan kedua belah tangannya yang memegang petir. Tetapi apa yang disaksikannya sangatlah mengagumkan. Naga hitam itu melingkar cepat sekali dan dengan sekali menggerakkan ekornya kedua petir itu pun telah dapat direbutnya, dan dengan suara menggelegar petir-petir itu dibantingnya di punggung gunung sampai pecah berserakan.

Laki-laki bintang itu terkejut menyaksikan hal yang demikian. Tetapi ia pun tidak kurang saktinya. Segera kedua tangannya itu bergerak menangkap guruh yang sedang berkeliaran di langit. Maka dengan sekuat tenaga, guruh itu pun dihantamkan ke kepala lawannya. Naga itu melihat guruh yang dengan suara gemuruh mengarah ke kepalanya, segera menyemburkan angin kencang dari mulutnya, sehingga guruh itu pun terlontar kembali ke arah laki-laki bintang itu.

KARENA kecepatannya menghindar, laki-laki itu tidak hancur karena senjatanya sendiri. Dengan kejadian-kejadian itu, laki-laki bintang kemukus yang merasa dirinya tak terkalahkan itu menjadi marah sekali. Dikeluarkannya segala kesaktian serta kepandaiannya yang terakhir untuk menyerang naga hitam itu. Maka segera terjadilah pertempuran yang tak terkira dahsyatnya.
Tidak hanya lautan menjadi bergolak, topan mengalir dengan derasnya, serta petir menyambar-nyambar, tetapi segera hutan-hutan menjadi terbakar. Lautan mendidih serta gunung-gunung terlempar berserak-serakan. Kedua lawan yang sedang mengadu tenaga itu telah mempergunakan apa saja yang dapat dipegangnya untuk dijadikan senjata.

Maka semakin ketakutanlah segenap penduduk negeri bumi itu. Pada hari yang ketujuh, pertempuran itu bertambah seru dan cepat. Laki-laki bintang kemukus itu telah mengalami perkelahian 100 hari melawan dua ekor naga yang cukup sakti. Tetapi tenaganya masih tetap segar.

Sekarang ia baru tujuh hari bertempur melawan seekor naga yang dikatakannya sebagai sebatang pohon yang roboh saja, namun ia merasa bahwa tenaganya telah mulai kendor. Ia telah mencoba mengerahkan segala kesaktiannya, tetapi tidaklah banyak hasilnya.

Sekali waktu ia berhasil menangkap ekor naga hitam itu. Lalu dengan tangannya yang kokoh kuat itu, diputarnya naga itu di udara, sehingga menimbulkan angin putaran yang luar biasa. Baik di darat maupun di lautan. Banyak gunung dan pulau-pulau yang terangkat dan terlempar bertebaran.

Tetapi naga itu tidak pula kehilangan akal. Tubuhnya yang kehitam-hitaman itu tiba-tiba menyala-nyala, sehingga ketika tangan laki-laki bintang itu merasa panas, terpaksa naga itu dilepaskan dan terlontar ke udara. Timbullah suatu pemandangan yang mengerikan. Suatu lingkaran api berputar-putar di udara.

Sebentar kemudian berubahlah naga itu menjadi gumpalan api yang bergulung-gulung menghantam lawannya. Laki-laki bintang itu menjadi agak kebingungan. Maka segera ia menghindar dengan terjun ke dasar Samodra. Namun api-api itu pun menyusulnya ke dasar samodra, dengan api masih tetap menyala, sehingga air lautan menjadi mendidih karenanya. Segera laki-laki itu meninggalkan lautan, dan terbang ke udara. Naga itu juga tetap mengejarnya.
Kemana laki-laki itu pergi, gumpalan api itu tetap menyusul di belakangnya, sehingga akhirnya laki-laki bintang kemukus itu merasa bahwa ia tak mampu lagi menandingi naga hitam yang dapat menyalakan api dari tubuhnya, jauh lebih panas daripada api yang keluar dari mulut naga yang bersisik emas, dan jauh lebih berbahaya dari sorot beracun di kedua belah mata naga yang berbalut intan permata.

Maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke asalnya. Segera laki-laki bintang itu pun terbang lebih tinggi, dan akhirnya lenyaplah ia berlindung di balik kabut beracun yang memancarkan cahaya yang menyilaukan, yang menyelubungi dunianya, yaitu bintang kemukus.

Setelah melihat lawannya kembali ke asalnya, naga hitam itu merasa bahwa tugasnya telah selesai. Segera ia turun kembali ke bumi untuk menemui kedua naga yang bersisik emas dan berbalut intan. Mudah-mudahan setelah ia menunjukkan jasanya, sudilah kiranya kedua naga itu mengaku sebagai saudara.

Tetapi alangkah kecewanya, ketika ia sampai di bumi, kedua ekor naga itu sudah tidak ada lagi.
Maka menghadaplah naga hitam itu kepada baginda raja bumi untuk menanyakan kalau-kalau kedua ekor naga itu sudah mendahuluinya menghadap. Di sepanjang jalan, naga hitam itu selalu bersyukur di dalam hati, mereka dalam keadaan telah hampir pulih kembali. Orang-orang sudah tidak lagi ketakutan.

Agak berbanggalah hatinya kalau ia mendengar beberapa orang menyebut-nyebutnya sebagai pahlawan yang berhasil mengusir laki-laki bintang kemukus yang membawa bencana wabah berbahaya. Tetapi kebanggaan itu disimpannya dalam hati, sebab ia merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah amal pengabdian semata.

Ketika ia menghadap raja bumi, alangkah terkejutnya waktu ia melihat upacara penyambutan yang luar biasa. Ia bahkan menjadi malu dan kaku.

Ketika ia berkesempatan menghadap baginda, yang pertama ditanyakan adalah kedua ekor naga yang bersisik emas dan berbalut intan. Tetapi dengan menyesal, baginda bersabda, Naga Hitam.., kedua saudaramu itu telah meninggalkan kerajaan bumi di luar pengetahuan kami, seorang menteri yang melihatnya, menanyakan kemana mereka pergi. Naga bersisik emas menjawab bahwa ia akan pergi tanpa tujuan, sebab ia telah merasa bersalah menghinakan engkau. Sedangkan naga yang berbalut intan berkata bahwa ia minta maaf kepadamu. Juga mereka merasa malu sekali bahwa mereka tak dapat memenuhi janjinya, mengusir laki-laki dari bintang itu.

Naga hitam itu menjadi sedih sekali. Hampir saja ia meneteskan air mata. Untunglah bahwa ia sadar, kalau ia sedang berada diantara mereka yang menyambutnya dengan penuh kebesaran.

Dari baginda, naga hitam itu mendapat hadiah sebuah gua yang indah sekali, yang berdinding emas dan bertahtakan intan berlian. Tetapi naga hitam itu masih saja senang berkeliaran di rawa-rawa dan hutan-hutan, sebagai daerah permainannya masa kanak-kanak.

Sekali waktu masih terasa kesedihan hatinya mengenang kedua ekor naga yang pergi meninggalkannya.

KI ARDI menghentikan ceritanya sejenak. Ia membetulkan duduknya sambil kembali mengamat-amati pahatannya, seolah-olah ingin memahami kesesuaian antara bentuk pahatannya serta isi ceriteranya.

Sagotra meskipun orang yang kasar, namun rupanya ia gemar juga mendengarkan dongeng tentang kesaktian-kesaktian. Karena itu ketika beberapa saat Ki Ardi masih belum melanjutkan ceriteranya, ia berkata, “Ki Ardi ceriteramu bagus sekali. Tetapi rupanya kau sengaja menjengkelkan kami dengan memutus-mutus ceritera itu.”

Sekali lagi Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh. Lalu jawabnya, “Sabarlah Sagotra, pastilah ceritera itu aku lanjutkan…. Nah dengarlah baik-baik.”

“Naga hitam itu sepanjang waktunya masih dipergunakan untuk mengharap pada suatu saat bertemu kembali dengan kedua Naga yang dirasanya senasib. Apalagi setelah keduanya mengaku bersalah terhadapnya.”

“Tetapi akhirnya yang paling menyedihkan adalah, ketika ia mendengar kabar bahwa terjadilah kerusuhan-kerusuhan di istana raja bumi. Banyak bangsawan dan kesatria saling bertengkar, bertempur, bahkan saling membunuh. Soalnya adalah karena mereka berebut untuk mendapatkan putri baginda yang pernah jatuh cinta pada laki-laki bintang kemukus. Sedemikian hebatnya perebutan itu sehingga para bangsawan dan kesatria tidak malu-malu lagi mempergunakan laskar pengikut masing-masing untuk mencapai maksudnya. Sehingga memang kadang-kadang terjadilah pertempuran-pertempuran kecil diantara mereka.”

“Hampir saja naga hitam itu marah, dan mengambil keputusan untuk memusnahkan sekalian bangsawan dan kesatria, malahan kerajaan bumi sekaligus. Tetapi untunglah bahwa ia dapat menyabarkan diri. Sebab ia pun pernah merasa berjuang untuknya.”

“Adapun naga yang bersisik emas serta naga yang bersalut intan memang sebenarnya pergi meninggalkan kerajaan bumi karena menyesal dan malu. Mereka pergi merantau tanpa arah dan tujuan, dengan maksud untuk bertapa dan menjauhkan diri dari masalah-masalah lahiriah. Sebab ternyata tanda-tanda kebesaran yang mereka miliki tidaklah dapat dipergunakan untuk mengatasi lawan yang cukup sakti, bahkan tidak berguna sama sekali.”

“Kabar kepergian kedua ekor naga itu menggemparkan kerajaan-kerajaan di luar bumi. Yaitu kerajaan di bawah tanah, di bawah lautan dan di lapisan-lapisan langit. Serentak mereka menyebar panglima-panglimanya untuk menemukan serta membujuk kedua ekor naga untuk berpihak kepada mereka masing-masing.”

“Dengan perhitungan kesaktian kedua ekor naga itu digabungkan dengan kesaktian-kesaktian yang telah ada pastilah dapat mengalahkan kerajaan bumi, walaupun dibantu oleh naga hitam yang sakti.”

“Pada suatu saat sampailah ia di suatu daerah yang kelam. Daerah yang sama sekali tak dikenal.”

Kembali Ki Ardi berhenti. Dan kembali pula ia memandangi pahatannya. Sebentar kemudian katanya, Nah, pada bagian inilah ceritera itu aku ambil sebagai bahan pahatanku ini. Daerah kelam itu dikuasai oleh dua ekor harimau raksasa yang berkulit hitam legam. Ternyata kedua ekor harimau ini pun ingin dapat menguasai kedua ekor naga itu. Baik secara halus ataupun secara kasar.”

“Ketika ternyata kedua ekor naga itu menolak bekerja sama dengan mereka, terjadilah suatu perselisihan. Sehingga akhirnya pertempuranpun tak dapat dihindarkan. Sebenarnya kedua ekor harimau itu tak dapat menguasai lawannya, kalau saja daerah mereka tidak menguntungkan.
Daerah kelam yang penuh rahasia itu sangat membingungkan kedua ekor naga itu. Sehingga akhirnya naga itu pun hanya bertahan apabila diserang. Tetapi setelah ia terjebak ke dalam daerah itu, sulit bagi mereka untuk mencari jalan keluar.”

Sampai sekian Ki Ardi menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya legalah hatinya, seolah-olah ia telah melahirkan suatu rahasia yang selama ini disimpannya.

Tetapi sementara itu Sagotrapun mendesak, “Tidakkah Ki Ardi akan mengakhiri dongeng itu?”

“Mengakhiri…? Bagaimana aku akan mengakhiri? Kejadian itu memang baru sampai sekian,” jawab Ki Ardi.

“Baru sampai sekian…?” tanya Sagotra heran.

Mahesa Jenar pun tidak kalah herannya. Apalagi ketika dilihatnya perubahan garis wajah Ki Ardi. Kesan-kesan kejenakaan yang selama ini selalu tersembul diantara tawanya, lenyap sama sekali. Bahkan ketika Mahesa Jenar memandang matanya, yang sejak semula sudah mengagumkan, kini seakan-akan dunia ini ada di dalamnya.

Tetapi rupanya Sagotra tidak melihat perubahan itu, sehingga masih saja ia mendesak, “Ki Ardi… katakanlah akhir dari dongeng itu. Nanti aku akan memuji pahatanmu itu pula.”

Ki Ardi tersenyum, tetapi senyumnya kosong. Malahan tiba-tiba ia berkata sambil berdiri,

“Tunggulah Sagotra, akhir dari cerita ini masih agak lama. Sekarang aku akan masuk sebentar. Kawanilah Tuan ini.”

Rupanya Sagotra ingin lekas-lekas mendengar akhir ceritera itu sehingga ia menggerutu tak habis-habisnya. Meskipun demikian Ki Ardi seolah-olah tidak mau lagi mendengarkan. Ia berjalan perlahan- lahan masuk ke dalam goa dan sejenak kemudian lenyaplah ia ditelan gelap.

Mahesa Jenar yang melihat perubahan itu, menjadi curiga. Tetapi ia sama sekali tak menunjukkan kecurigaannya. Hanya saja karena mungkin segala sesuatu dapat terjadi, maka haruslah ia bersiaga.

Apalagi ketika sampai beberapa lama, Ki Ardi masih juga belum muncul. Kecurigaan Mahesa Jenar semakin bertambah. Kembali terasa betapa bodohnya, sehingga ia dapat dipermainkan oleh keadaan. Ataukah ia sudah berubah menjadi seorang penakut, yang selalu diliputi oleh perasaan was-was dan curiga…?

Sagotra pun akhirnya merasa tidak sabar, hanya masalahnya yang berbeda. Maka segera ia pun berdiri dan memanggil-manggil Ki Ardi. Tetapi tidak ada terdengar orang menyahut.

Tampaknya Sagotra telah terbiasa bergaul dengan Ki Ardi. Tampaknya telah pula Sagotra terbiasa masuk-keluar rumahnya. Maka, ketika panggilannya tiada mendapat sambutan, segera Mahesa Jenar pun berdiri dan melangkah menuju ke mulut goa. Dan sejenak kemudian ia pun telah lenyap ditelan gelap.

SAAT itu, Mahesa Jenar tinggal duduk seorang diri disamping api yang masih menyala-nyala. Bayangan-bayangan yang ditimbulkan tampak selalu bergerak-gerak. Kadang-kadang membesar bagai akan menerkam, dan kadang-kadang mengecil seperti akan lenyap.

Suasana malam itu rasanya diliputi oleh suatu rahasia. Dan ini sangat menggelisahkan Mahesa Jenar. Aneh, bahwa pada saat itu ia merasa kehilangan ketenangan.

Sejenak kemudian, apa yang digelisahkan ternyata terjadi. Tiba-tiba dengan tak diketahui arahnya, di atas bukit kapur kecil itu tampaklah sesosok tubuh manusia yang berdiri tegap. Meskipun cahaya api itu samar-samar mencapainya, tetapi tidak dilihatnya wajah orang itu dengan jelas, meskipun Mahesa Jenar yang berpandangan sangat tajam.

Segera Mahesa Jenar pun meloncat berdiri. Ia tidak tahu maksud orang itu. Tetapi pastilah ia tergolong orang sakti, sehingga dengan begitu saja, tanpa diketahui arahnya, ia sudah hadir di situ. Sehingga untuk menjaga diri dari segala kemungkinan, segera Mahesa Jenar memusatkan pikirannya, mengatur pernafasannya serta menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, meskipun ia belum bersikap.

Melihat kesiagaan Mahesa Jenar, orang itu tertawa lirih. Bunyi tertawanya lunak dan menyenangkan. Ketika kemudian orang itu berkata, Mahesa Jenar menjadi terkejut, sampai tubuhnya gemetar. Suara orang itu ternyata kecil dan nyaring.

“Mahesa Jenar, tidak perlu kau kerahkan ilmumu Sasra Birawa, aku tak bermaksud apa-apa. Maafkan kalau aku mengejutkan engkau.”

Ternyata suara itu pernah didengarnya. Ya, bahkan baru saja. Suara itu adalah suara Ki Ardi. Jadi ternyata benarlah dugaannya, bahwa Ki Ardi bukanlah orang sembarangan.
Apalagi ketika orang itu melambaikan sebilah keris yang tampaknya seperti membara di kegelapan malam. Jantung Mahesa Jenar serasa akan berhenti.

“Kalau begitu, Tuan adalah Ki Ageng Pandan Alas,” sahut Mahesa Jenar tergagap.

“Ya… sengaja aku bersembunyi di sini untuk membayangi setiap gerak Pasingsingan yang aku sangsikan keasliannya. Sebab Pasingsingan, adalah sahabatku dimasa muda, tidaklah tergolong dalam aliran hitam. Dan sementara ini, Pasingsingan memelihara murid kesayangannya yang kau lukai, biarlah aku mengurus keluargaku pula. Kau sementara ini dapat tinggal di sini. Seminggu lagi kau dapat menuai jagung di belakang bukit ini. Baru setelah itu kau lanjutkan perjalanmu.
Sayanglah jagung itu kalau tak ada yang memetiknya,” ujar orang itu.

Dengan tak sengaja Mahesa Jenar melangkah maju mendekati bukit kapur itu. Tetapi segera Ki Ardi yang ternyata juga Ki Ageng Pandan Alas mencegahnya.

“Mahesa Jenar, aku masih belum mempunyai waktu untuk menemuimu. Yang penting kau ketahui adalah tak perlu Sagotra kau beritahu masalah ini. Mungkin ia sudah berubah pikiran, tetapi di dalam keadaan terpaksa sulitlah ia menyimpan rahasia. Juga kau tak perlu menjelentrehkan ceritera yang baru saja aku ceritakan. Aku percaya bahwa pasti kau tahu maksudnya, kalau aku katakan bahwa Naga Hitam itu kemudian dikenal dengan nama Kyai Sengkelat.”

“Nah, Mahesa Jenar,” kata Ki Ardi kemudian, baiklah aku pergi dahulu, aku harap kita dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.

Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Ki Ageng Pandan Alas telah pergi dengan cepatnya dan segera lenyap ditelan gelap.

Sepeninggal Ki Ageng Pandan Alas, kembali Mahesa Jenar merasa, bahwa apabila ia berhadapan dengan tokoh-tokoh itu, alangkah kecil dirinya. Ki Ageng Pandan Alas, Ki Pasingsingan dan yang pernah didengarnya lagi dari gurunya tentang orang-orang yang setingkat dengan mereka itu, kecuali gurunya sendiri almarhum juga yang terkenal dengan sebutan Pangeran Gunung Slamet, Ki Ageng Sora Dipayana dari pinggang Gunung Merbabu yang kemudian hampir tak pernah terdengar namanya, dan juga yang terkenal dengan sebutan yang aneh Titis Angentan yang berasal dari Banyuwangi yang memiliki kesaktian seperti Adipati Blambangan Wirabumi yang hanya dapat dikalahkan oleh Raden Gajah pada waktu itu.

Tetapi sementara Mahesa Jenar merenungkan dirinya, teringatlah ia akan pesan Ki Ageng Pandan Alas tentang dongengannya yang dihubungkannya dengan Kyai Sengkelat. Cepat-cepat ingatan Mahesa Jenar bekerja. Akhirnya diketemukanlah hubungan dongengan Ki Ardi itu dengan cerita yang pernah didengarnya. Yaitu tentang Naga yang bersisik emas dan bersalut intan pastilah yang dimaksud Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang pada waktu itu, untuk menyembuhkan penyakit seorang putri Majapahit, terpaksa pada suatu malam bertempur di udara dengan sebilah keris sakti pula yang bernama Kyai Condong Campur.

Tetapi kedua keris itu tak dapat menyelesaikan tugasnya, malahan Kyai Sabuk Inten agak mengalami luka-luka, patah sedikit ujungnya. Sementara itu Kyai Sangkelat yang dapat mengusir Kyai Condong Campur sehingga menjelma menjadi bintang kemukus yang masih mendendam kepada umat manusia dengan memancarkan bermacam-macam kuman penyakit.

Juga jelaslah sudah sekarang dimana Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu berada. Pastilah kedua keris itu ada di tangan suami-istri Sima Rodra dari Gunung Tidar. Dengan menceriterakan itu pastilah maksud Ki Ageng Pandan Alas minta kepadanya untuk menemukan kembali kedua keris itu. Tentu saja Mahesa Jenar menerima tugas ini dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu tampaklah Sagotra keluar dari dalam goa. Ia masih saja menggerutu. Orang itu gila, dimana ia bersembunyi, gumamnya.

“Tuan… orang itu tidak ada di dalam rumahnya. Sudah aku aduk sampai ke sudut-sudutnya tetapi aku tak bisa menemukannya. Memang kalau orang itu sedang kambuh gilanya, rumah ini sering ditinggalkan begitu saja sampai berhari-hari. Mungkin kini tiba-tiba sakitnya itu datang lagi, kata Sagotra kepada Mahesa Jenar.”

“SUDAHLAH Sagotra,” jawab Mahesa Jenar “janganlah kau pikirkan orang tua itu. Biarlah ia mendapatkan kepuasan dengan caranya sendiri. Sekarang baiklah kita bicarakan masalah kita sendiri, masalahmu dan masalahku.”

Tiba-tiba tersadarlah Sagotra terhadap keadaannya, sehingga membelitlah kembali kegelisahan hatinya.

“Sagotra,” kata Mahesa Jenar melanjutkan, “apakah kau akan kembali kepada kawan-kawanmu ?. Kalau demikian pertimbanganmu, sekarang aku kira belum begitu terlambat. Tentang diriku terserah kepadamu. Apakah akan kau laporkan kepada kawan-kawanmu apakah tidak.”

Tampaklah Sagotra diam-diam menimbang-nimbang dipikirkannya setiap segi yang mungkin menguntungkan dan yang mungkin mencelakakan. Bagaimanakah akibatnya kalau ia kembali kedalam gerombolannya. sedangkan kalau tidak lalu kemanakah ia akan pergi ?. Setelah Sagotra berkenalan dengan seorang seperti Mahesa Jenar, terasalah betapa miskinnya hidup dalam sarang gerombolan. Meskipun ia tidak pernah merasakan kekurangan akan sandang dan pangan, tetapi ternyata bukanlah itu-itu melulu yang diperlukan bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Karena itu, timbulah keinginannya untuk dapat menemukan suatu kehidupan baru.

“Tuan,” katanya kemudian, “sebenarnya aku tidak lagi mempunyai keinginan untuk kembali kepada gerombolanku. Tetapi karena selama ini aku hanya mengenal penghidupan yang sedemikian, aku menjadi bingung, bagaiman aku harus memulai penghidupan baru. Atau barangkali kalau tuan menghendaki, aku dapat ikut serta dengan tuan kemana tuan pergi.”

Mendengar permintaan Sagotra, Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Sudah wajarlah kalau Sagotra merasa canggung untuk memulai suatu macam penghidupan yang lain daripada selama ini dilakukannya. Tetapi iapun tidak akan dapat menerima Sagotra selalu bersamanya. Sebab banyaklah hal-hal yang tidak boleh dimengerti oleh orang lain, yang harus dikerjakan.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat suatu pikiran yang dapat menolong menemukan jalan keluar. Katanya “Sagotra, kau tidak dapat terus menerus bersamaku. Sebab akupun tidaklah tahu pasti akan masa depanku. Tetapi aku mau menunjukkan kau suatu jalan keluar yang barangkali dapat kau tempuh, apabila benar-benar kau menghendaki jalan keluar dari penghidupanmu yang hitam sekarang ini. Dan sekaligus kau dapat menolong aku pula, maukah kau ?”

Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak dapat berkedip. Permintaan Mahesa Jenar untuk menolongnya adalah suatu penghormatan baginya. Karena itu dijawabnya kemudian “Tuan, apa yang tuan perintahkan pasti akanaku lakukan dengan sepenuh kemampuan yang ada padaku. Nah katakankah tuan.”

“Sagotra,” kata Mahesa Jenar selanjutnya “tolonglah aku menyampaikan kabar kepada sahabatku. Pergilah kau menyeberang hutan Tambak Baya. Terserahlah jalan mana yang akan kau ambil. Tetapi arahnya adalah arah diamana kau temukan aku tadi, sedikit agak ke utara. Kau akan sampai disebuah desa diseberang hutan Tambak Baya yang bernama Cupu Watu. Dari sana kau langsung menuju kearah timur. Lewat sebuah candi yang terkenal dengan nama Candi Tara, bekas tempat pemujaan dewi Tara. Dari sana kau langsung menuju Prambanan. Temuilah Demang yang bernama Panaggalan. Sampaikan salam keselamatanku kepadanya. Dan katakanlah aku mengharap kedatangan adiknya Ki Dalang Mantingan di daerah Rawa Pening, dua hari sebelum purnama penuh, pada bulan terakhir tahun ini.”

“Katakanlah bahwa Ki Dalang Mantingan sudah tahu kepentingannya. Selanjutnya atas tanggunganku mintalah perlindungan kepadanya untuk dapat hidup dalam lingkungan keluarga Kadenmangan itu. Asal kau mau mencurahkan segala ketulusan serta keihlasan hati, pastilah kau akan diterima dengan baik.”

Sagotra agak berbimbang sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Memang ia selalu ragu-ragu untuk dapat mempercayai dirinya sendiri. tetapi ia tidak mau mengecewakan Mahesa Jenar. Karena itu ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan memenuhi permintaan itu sedapat-dapatnya.

Maka setelah segala petunjuk-petunjuk yang diperlukan telah diberikan oleh Mahesa Jenar, segera Sagotrapun bersiap untuk menempuh suatu perjalanan yang cukup berbahaya bagi dirinya. Tetapi sebenarnya Sagotra bukanlah seorang penakut. Dan ia termasuk tokoh yang ke 6 sesudah Wadas Gunung, Carang Lampit dan sebagainya diantara ke-20 orang yang sedang mencegat Mahesa Jenar. Karena itu setelah berketetapan hati untuk menempuh perjalanan itu, maka iapun tak pula mengenal gentar.

Karena perjalanan didaerah hutan itu akan berlangsung beberapa hari, meskipun dengan agak malu-malu sedikit diperlukannya juga mengambil beberapa ontong jagung sebagai bekal perjalanannya.

Dan berangkatlah Sagotra pada malam itu juga supaya tidak terlambat. Sebab apabila ditunggu sampai besok pastilah beberapa lawannya sudah mencarinya.

Sepeninggal Sagotra, Mahesa Jenar segera merasa betapa sepinya tinggal seorang diri ditengah padang, dibawah sebuah bukit kapur. Tetapi bagaimana juga ia ingin memenuhi permintaan Ki Ageng Pandan Alas untuk tinggal kira-kira seminggu di tempat itu.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja (1933 – 1999)
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

2 Komentar

  1. nandang h said,

    Selasa, 3 Agustus 2010 at 21:08

    dimana sy bisa baca lanjutannya

  2. Jumat, 20 Juli 2012 at 13:18

    buagus


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: