Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 6

Lanjutan dari jilid 5

MAHESA Jenar segera tertegun heran. Apakah hubungannya dengan nama yang pernah dimilikinya. Tetapi ketika sekali lagi ia memandang murid Pandan Alas itu, hatinya terguncang hebat. Apalagi ketika orang itu menundukkan wajahnya yang tampak kemalu-maluan.

Mahesa Jenar segera mengenal siapakah murid Ki Pandan Alas itu. Karena itu wajahnya menjadi terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Rupa-rupanya kau sudah mengenalnya Mahesa Jenar, ” bertanya Pandan Alas sambil tertawa.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Mulutnya jadi seperti terkunci.

Kemudian terdengar tertawa Pandan Alas semakin keras. Katanya; “Aku jadi geli, kalau aku teringat ketika Mahesa Jenar jadi marah bukan main dan hampir saja membunuh orang yang sama sekali tak bersalah beberapa pekan yang lalu di hutan Tambak Baya, ketika ia kehilangan bebannya.”

Juga kali inipun Mahesa Jenar tidak menjawab.

Ketika kata-katanya tidak mendapat jawaban Pandan Alas melanjutkan, “Mahesa Jenar, inilah muridku yang aku katakan. Siapakah nama yang pantas aku berikan kepadanya?.”

Mendengar pertanyaan yang berturut-turut itu hati Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia sendiri tidak mengetahui, kenapa ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga ia kehilangan ketenangan. Murid Pandan Alas itu, meskipun jelas berpakaian seperti seorang pemuda, namun ketika Mahesa Jenar memandangnya agak lama, ia segera mengenal bahwa murid Pandan Alas itu sama sekali bukan seorang pemuda, melainkan ia adalah seorang gadis cantik yang sedang mekar, yang tidak lain adalah cucu Pandan Alas sendiri yaitu Rara Wilis yang pernah dikenalnya dan pernah ditolongnya. Pertemuan yang tidak diduga itu membuat Mahesa Jenar kehilangan ketenangan. Disamping itu iapun menjadi heran pula bahwa sedemikian cepat Ki Ageng Pandan Alas telah kembali bersama gadis itu. Kalau demikian ketika Ki Ageng Pandan Alas sedang bertempur dengan Pasingsingan, Rara Wilis pasti disembunyikan ditempat yang tidak begitu jauh dari Banyu Biru.

Pada saat kenangannya sedang menelusur kembali ke masa lampau terdengan kembali Pandan Alas berkata, “apakah kau mempunyai pilihan nama yang baik Mahesa Jenar ? Aku sendiri bingung memberi nama yang sesuai. Tetapi yang jelas aku tidak akan memberinya nama Lawa Ijo, meskipun nama aselinya bermakna hijau juga.”

Mahesa Jenar masih saja belum dapat menguasai dirinya sehingga mulutnya masih belum dapat mengucapkan kata. Bahkan ia menjadi gelisah. Melihat sikap Mahesa Jenar, Pandan Alas tertawa semakin keras, katanya, “Barangkali kau tidak siap menghadapi kejadian yang sangat tiba-tiba datangnya ini Mahesa Jenar. Tetapi tidak mengapa. Maksudku hanyalah supaya kau tahu bahwa cucuku ini aku bawa, supaya aku dapat melakukan dua pekerjaan sekaligus, yaitu yang pertama untuk mengetahui siapakah yang telah membawa kedua keris Kiai Nagasasra dan Sabukinten, sedangkan yang kedua, supaya diperjalanan aku masih dapat mengajari anak ini selangkah dua langkah ilmu yang tak berarti, supaya ia dapat menjaga keselamatan dirinya. Sokur ia berhasil melepaskan pengaruh jahat ibu tirinya atas bapaknya yang sekarang bermukim di Gunung Tidar.”

Mendengar kata-kata Pandan Alas yang terakhir Mahesa Jenar terkejut, sahutnya;” Maksud Ki Ageng, Sima Rodra Gunung Tidar ?”

“Ya,” jawab Pandan Alas. “Sima Rodra muda itu adalah bekas menantuku yang kemudian kena pengaruh seorang perempuan, maka ia seperti berubah ingatan. Sekarang keturunanku satu-satunya adalah Wilis ini. Karenaitu, meskipun ia seorang gadis aku akan mencoba untuk membuatnya setidak-tidaknya dapat menyamai ibu tirinya. Maka supaya pantas aku beri ia pakaian laki-laki dan seharusnya namanyapun harus nama lelaki pula. Nah apa katamu kalau anak ini aku beri nama Pudak Wangi ?.”

Kembali Mahesa Jenar terbungkam. Tetapi nama itu rasanya amat manisnya. karena itu, meskipun ia tidak menjawab, tetapi dengan tidak disengaja ia mengangguk juga. Ia terkejut ketika Pandan Alas meneruskan, “Ha rupanya kau setuju juga. Bukankah Pudak adalah nama dari bunga Pandan. Aku harap cucuku kelak akan dapat menjadi bunga Pandan yang wangi.”

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia ingin menjawab tetapi ia tidak tahu bagaimana, sampai akhirnya Pandan Alas berkata lagi, “Mahesa Jenar kenapa kau diam saja. Setuju atau tidak, atau barangkali kau punya nama yang lebih baik ?.”

“Tidak Ki Ageng” akhirnya terpaksa ia menjawab sekenanya, “nama itu sudah baik sekali.”

“Bagus, Kau setuju dengan nama itu bukan. Nah kalau pada suatu ketika kau bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, jangan kau apa-apakan dia,” sahut Ki Ageng Pandan Alas. “Nah sekarang aku akan pergi. Marilah Pudak Wangi. Sebaiknya kau minta diri pada Mahesa Jenar.”

Wajah Rara Wilis segera berubah menjadi merah. Ia mencoba tersenyum, tetapi alangkah sulitnya. Dengan terpaksa ia berkata, “Selamat tinggal tuan, aku mohon diri untuk mengikuti kakek mencari pusaka yang hilang.”

Mendengar kata cucunya segera Pandan Alas membetulkan, “eh Mahesa Jenar adalah murid sahabatku. Kenapa kaupanggil dengan sebutan tuan? kau sekarang adalah muridku. Panggil dengan sebutan yang lebih akrab sebagai dua murid dari dua orang sahabat.”

Kembali wajah Rara Wilis kemerahan. tetapi terpaksa ia berkata, “Aku mohon diri kakang, aku akan menyertai guru.”
“Begitulah panggilan seorang sahabat,” kata Pandan Alas sambil tertawa nyaring. Sementara itu terdengar Mahesa Jenar menjawab, “mudah-mudahan semuanya selamat, yang pergi dan yang ditinggalkan.”
“Baiklah Mahesa Jenar,” sahut Pandan Alas. “Lekaslah mandi. Aku akan berangkat. Mungkin untuk waktu yang agak lama kita tidak bertemu. Selamat tinggal.”

SESUDAH mengucapkan kata-kata itu segera Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis yang kemudian bernama Pudak Wangi itu pergi meninggalkan Mahesa Jenar dan berjalan perlahan-lahan menyusup pepohonan. Mahesa Jenar berdiri tegak seperti patung mengawasi mereka berdua. Pikirannya tiba-tiba menjadi risau. Ia tidak tahu kenapa hatinya bergetar ketika mendengar Pandan Alas mengatakan bahwa mungkin untuk waktu yang lama mereka tidak akan bertemu.

Malam tadi, ketika ia melihat Pandan Alas itu berangkat untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang, ia tidak merasakan perasaan seperti pada saat itu.
Baru beberapa saat kemudian Mahesa Jenar seperti orang sadar dari mimpi. Kembali ia turun ke mata air untuk mandi. Tetapi bagaimanapun terasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu ketentraman hatinya.

Rara Wilis meskipun sudah berpakaian seperti seorang pemuda, namun wajah itu selalu mondar-mandir saja di dalam otaknya.

Karena itulah maka setelah ia mandi dan kembali ke rumah sahabatnya, ia tampak agak lain dari biasanya. Tetapi ia selalu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.

Dua-tiga hari kemudian, Mahesa Jenar merasa agak kurang enak untuk tinggal berdiam diri di rumah sahabatnya itu. Bagaimanapun ia merasa turut bertanggung jawab pula atas hilangnya pusaka-pusaka Demak yang telah dengan susah payah diketemukan dan direbut dari tangan Sima Rodra. Karena itu, meskipun ia tahu pasti bahwa yang berhasil merampas kedua pusaka itu, termasuk angkatan gurunya atau setidak-tidaknya mempunyai kesaktian yang setingkat dengan gurunya, serta Ki Ageng, namun adalah kewajibannya pula untuk mencoba-coba menemukannya kembali.

Mahesa Jenar memutuskan menemui Ki Gajah Sora untuk minta diri, dan kemudian meneruskan perantauannya, dan apbila mungkin untuk mendapatkan kembali Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten yang telah hilang.

Tetapi ketika pada suatu pagi, Mahesa Jenar telah bersiap-siap untuk minta diri, tiba-tiba terdengarlah sayup-sayup suara kentongan yang dipukul bertalu-talu dengan irama dara muluk ganda. Itu adalah suatu pertanda bahwa ada pejabat penting dari Istana Demak yang datang ke Daerah Perdikan Banyubiru.

Tanda itu kemudian diulang dan diulang oleh pemukul-pemukul kentongan yang lain, sehingga suaranya terdengar semakin lama semakin dekat.

Mendengar tanda-tanda itu, Gajah Sora tampak agak sibuk mempersiapkan penyambutan. Tetapi bagaimanapun tampak membayang di wajahnya perasaan yang hambar dan kurang tenang. Meskipun ia belum tahu akan kepentingan para pejabat itu, namun ia mendapat firasat bahwa sesuatu yang kurang baik akan terjadi.
Wanamerta yang masih belum sembuh benar, segera diundang pula. Beberapa pejabat lain, dengan sendirinya telah hadir pula setelah mendengar tanda-tanda itu.
Mahesa Jenar yang mengerti juga akan tanda-tanda itu menjadi agak bingung. Ia meninggalkan Demak serta melepaskan pakaian keprajuritan karena perbedaan-perbedaan pendapat dengan beberapa pejabat istana.
Dan sekarang di suatu tempat yang jauh dari istana, pejabat itu datang untuk suatu keperluan. Ia menjadi bimbang, apakah ia harus menemui pejabat-pejabat itu ataukah tidak.

Akhirnya setelah menimbang masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar minta kepada Gajah Sora untuk diberi kesempatan tidak usah menemui mereka dan kehadiran tamu-tamu tersebut. Juga tidak perlu dikabarkan bahwa Mahesa Jenar sedang berada di Banyubiru. Ia akan berada di dalam ruangan tengah sambil mendengarkan apakah kepentingan para pejabat itu datang ke daerah perdikan Banyubiru.

Sejenak kemudian terdengarlah di kejauhan suara sangkakala. Itu adalah suatu pertanda bahwa yang datng adalah pejabat-pejabat penting.

Mendengar sangkakala itu, Gajah Sora menjadi bertambah sibuk. Diperintahkan seorang meniup sangkakala pula untuk menyatakan kesediaan kepala perdikan Banyubiru menerima tamu-tamu penting dari pusat.

Sementara itu beberapa orang telah siap di atas kuda untuk menyongsong tamu-tamu dari Demak itu. Ketika Ki Ageng memberikan tanda-tanda, segera mereka pun berangkat.

Mahesa Jenar yang menanti kedatangan tamu-tamu itu dari ruang dalam menjadi semakin lama semakin gelisah. Kalau saja ia telah meninggalkan tempat itu, maka apapun yang terjadi, ia sudah tidak melihatnya lagi. Tetapi sekarang, pada saat ia masih berada di tempat itu, dapatkah kiranya ia berdiam diri? Sebab dalam tangkapan Mahesa Jenar, kedatangan para utusan dari Demak itu pasti ada sangkut-pautnya dengan keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Beberapa saat kemudian, sebelah punggung Mahesa Jenar basah oleh keringat dingin yang mengalir karena kegelisahannya. Terdengarlah derap kuda di halaman.

Perasaan ingin tahu Mahesa Jenar sedemikian besar sehingga lewat lubang-lubang papan sambungan dinding, ia mengintip. Ketika ia melihat pemimpin rombongan dari Demak itu, dadanya bergetar. Rupa-rupanya rombongan ini dianggap sedemikian pentingnya sehingga telah ditunjuk untuk memimpin rombongan ini, seorang perwira dari pengawal bandar Bergota, yaitu Palindih, seorang perwira yang sangat terkenal, yang pada saat Pangeran Sabrang Lor menyerang Portugis di Malaka, dialah yang mempergunakannya sebagai batu loncatan untuk meluaskan jari-jari penjajahannya ke Pulau Jawa dan sekitarnya. Ia sudah menjabat sebagai pimpinan dari salah satu kapal dalam armada yang dipimpin langsung oleh Adipati Unus sendiri.

Pada saat itu Gajah Sora, yang masih sangat muda, yang ikut sebagai sukarelawan dalam penyerangan itu, beruntung terpilih menjadi anggota pengawal Sabrang Lor. Karena pemuda itu telah menunjukkan ketangkasan yang luar biasa, maka dari Pangeran, ia menerima hadiah sebuah tombak pusaka.

Karena itu, ketika Ki Ageng Gajah Sora melihat, siapakah yang datang, maka dengan tergopoh-gopoh ia turun ke halaman menyambut tamunya dengan salam persahabatan. Mereka telah saling berkenalan dan telah mengetahui kebesaran masing-masing.

TAMU-TAMU dari Istana Demak itu segera dipersilahkan naik ke pendapa, dimana telah hadir para pejabat tanah perdikan dan pimpinan-pimpinan laskar Banyubiru. Di belakang, Nyi Ageng pun telah bekerja keras menyiapkan suguhan yang dianggapnya pantas, untuk menjamu tamu-tamu dari kota.

Setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, serta setelah mereka yang datang mendapat jamuan pelepas haus, maka mulailah Arya Palindih menyampaikan keperluannya datang ke Perdikan Banyubiru. Meskipun wajahnya tampak keras, tetapi karena umurnya yang telah agak lanjut, maka ia berusaha untuk berhati-hati.

Anakmas Gajah Sora… izinkanlah aku menyampaikan pesan Baginda untuk Anakmas kepala daerah Perdikan Banyubiru. Pertama Baginda Sultan Demak menyampaikan salam taklim untuk Anakmas, serta doa mudah-mudahan pemerintahan perdikan Banyubiru yang didasarkan atas ketetapan sejak Baginda Brawijaya Pamungkas ini dapat berlangsung dengan sempurna, serta keputusan Baginda untuk tetap menghormati prasasti ketetapan tanah perdikan ini, kata Arya Palindih.

Adapun yang kedua, lanjut Arya Palindih, Baginda Sultan Demak mengucap syukur ke hadirat Allah bahwa Anakmas dari Banyubiru yang sudah dikenal oleh Baginda sejak penyerangan kedaerah Utara, yang pada saat itu Pemerintahan Demak masih dipegang oleh Pangeran Sabrang Lor, telah berhasil menyelamatkan kedua pusaka istana, Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Mendengar kata-kata itu, yang diucapkannya dengan jelas setiap suku katanya, baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar yang berada di ruang dalam, dadanya merasa seolah-olah tertindih beban yang sangat berat. Wajah Gajah Sora segera berubah, serta pandangannya menjadi suram. Meskipun hal itu telah diduganya, namun bagaimanapun darah Gajah Sora mengalir bertambah cepat juga.

Maka dengan agak gemetar serta berusaha untuk menguasai diri, Ki Ageng Gajah Sora menjawab, Paman Arya Palindih yang aku hormati…. Pertama-tama aku merasa sangat berbesar hati atas kesudian Paman serta atas kemurahan hati Baginda mengutus sebuah rombongan untuk datang ke daerah yang terpencil ini. Adapun yang kedua, aku menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya pula atas perhatian Baginda kepada hasil yang telah aku dapatkan, yaitu menyelamatkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Sampai sekian kata-kata Gajah Sora terputus. Hatinya menjadi semakin gelisah serta dadanya bertambah berdebar. Dengan berusaha sedapat-dapatnya untuk menguasai dirinya ia melanjutkan, Tetapi Paman, sebaiknya aku berkata terus terang, bahwa mungkin karena kesalahanku, karena aku tidak mampu menjaga keselamatan kedua pusaka itu, maka beberapa hari yang lalu kedua pusaka itu hilang kembali.

Mendengar keterangan Gajah Sora itu, Arya Palindih terkejut, sehingga duduknya tergeser ke belakang. Dengan mata yang mengandung seribu satu macam pertanyaan, ia memandangi Gajah Sora tanpa berkedip.

Gajah Sora merasakan bahwa sesuatu bergolak di dalam dada Arya Palindih, karena itu ia merasa perlu untuk memberikan penjelasan atas hilangnya kedua pusaka itu.

Maka dengan sedikit bergetar Gajah Sora menceriterakan bagaimana ia berhasil mendapatkan kedua keris itu di Gunung Tidar, sampai kedua keris itu hilang dicuri orang, dengan kesaksian orang-orang yang pada saat itu masih belum sembuh benar, seperti Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya. Tetapi sudah tentu Gajah Sora sama sekali tak menyebut-nyebut nama Mahesa Jenar atau yang lebih terkenal dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Meskipun Gajah Sora telah mengatakan semuanya yang terjadi, tampaknya Arya Palindih masih memancarkan rasa kesangsian. Beberapa kali ia memandang berkeliling. Kepada Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Sawungrana dan kepada para pengiringnya, seolah-olah ia minta penjelasan yang lebih banyak lagi, serta minta pertimbangan-pertimbangan.

Akhirnya setelah beberapa saat mereka berdiam diri, berkatalah Arya Palindih, Anakmas Gajah Sora, aku tahu betapa besar kemampuan Anakmas. Anakmas adalah salah seorang kepercayaan almarhum Pangeran Sabrang Lor yang juga disebut Adipati Unus pada usia yang masih sangat muda. Sekarang Anakmas telah berusia dua kali lipat. Aku percaya bahwa dalam usia yang sekarang ini Anakmas telah merupakan seorang yang maha perkasa.
Ditambah lagi aku dengar laskar Banyubiru adalah laskar yang teguh dan perwira. Masih adakah gelombang-gelombang perampok yang hanya dapat mencegat pedagang-pedagang yang tak berdaya itu, berani mendekati Banyubiru? Apalagi memasuki rumah kepala daerah perdikan?

Paman Arya Palindih… jawab Gajah Sora, Apa yang Paman katakan adalah benar. Tetapi yang datang ke Banyubiru bukanlah rombongan pencuri-pencuri kerdil yang hanya mampu membongkar dinding. Tidakkah Paman pernah mendengar nama-nama seperti Lawa Ijo, Sima Rodra, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Jaka Soka dari Nusakambangan dan yang lebih terkenal lagi Pasingsingan, Sima Rodra tua dari Lodaya, Bugel Kaliki dari lembah Gunung Cerme…?
Mereka itu semua telah beramai-ramai datang ke Banyubiru seperti orang yang dahulu-mendahului, seolah-olah kedua pusaka itu dapat mereka miliki dengan seenaknya saja. Kami telah berusaha sekuat tenaga kami, sampai beberapa orang kami luka parah, bahkan anakku sendiri terluka.

ARYA PALINDIH menarik nafas dalam-dalam. Dahinya tampak berkerut-kerut. Meskipun usianya telah melebihi setengah abad, namun ia masih tampak segar dan perkasa. Beberapa rambut putih yang tumbuh di pelipisnya, tampak menambah wibawanya. Beberapa saat lamanya ia tidak berkata apa-apa. Ia sedang mencoba memahami keterangan-keterangan Gajah Sora, yang bagaimanapun sebenarnya agak janggal baginya.

Kemudian terdengarlah ia berkata, Aneh. Aneh sekali. Kenapa mereka baru akan memperebutkan pusaka-pusaka itu setelah berada di tangan Anakmas. Kenapa mereka tidak merebutnya selagi pusaka-pusaka itu masih berada di tangan Sima Rodra Gunung Tidar.

Gajah Sora mengerutkan keningnya. Ia sadar bahwa Arya Palindih agak membimbangkan keterangannya. Karena itu ia melanjutkan, Adakah Paman dapat membayangkan kekuatan raksasa yang mendatangi Banyubiru bersama-sama…?
Tentang keheranan Paman, kenapa baru setelah pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru, mereka beramai-ramai memperebutkan itu sama sekali tak aku ketahui. Itu adalah soal mereka.
Tetapi mungkin sebelum itu tak seorangpun yang mengetahui, bahwa kedua pusaka itu berada di tangan Sima Rodra. Baru setelah kedua pusaka itu lenyap dari tangannya, ia sengaja meniup-niupkan berita bahwa pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru.

Itupun aneh, jawab Palindih. Dengan demikian ia akan mendapat banyak saingan.

Pendapat Palindih itu memang masuk akal. Gajah Sora terdiam untuk beberapa saat. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kedua pusaka itu telah lenyap. Lalu apakah yang harus dikatakan, selain mengatakan apa yang telah terjadi. Apapun yang akan dikatakan, tetapi sudah pasti bahwa pada saat itu, ia tidak akan dapat menunjukkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sesaat kemudian Arya Palindih melanjutkan, Anakmas…, aku memang telah pernah mendengar beberapa diantara nama-nama yang Anakmas sebutkan itu.
Tetapi bagiku adalah sulit untuk dapat membayangkan bahwa kekuatan dari sebuah gerombolan perampok akan dapat menyamai kekuatan Banyubiru. Bagaimanapun kuatnya Bugel Kaliki dari Gunung Cerme, namun dapatkah ia melawan para pengawal seperti yang anakmas katakan itu?

Mendengar kata-kata Arya Palindih, kuping Gajah Sora rasa-rasanya seperti terjilat api. Karena itu segera wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi meskipun demikian ia berkata tenang, Paman…, mungkin Paman tidak percaya. sebab Paman adalah seorang perwira prajurit yang lebih sering bertempur dalam satuan yang besar.
Bukan pertempuran perorangan yang kadang-kadang mempunyai segi-segi yang jauh berbeda. Meskipun aku tahu bahwa secara perseorangan pun Paman termasuk seorang yang mumpuni. Atau barangkali karena Paman adalah seorang yang maha kuat, sehingga Paman sukar membayangkan kelemahan orang lain?

Kata-kata Gajah Sora pun tak kurang tajamnya, sehingga sekali lagi Arya Palindih menggeser duduknya. Tetapi Arya Palindih juga berusaha menahan dirinya, sehingga masih dalam suasana yang baik ia berkata, Mungkin Anakmas, mungkin. Aku lebih senang mengatur siasat daripada menangani lawan. Juga terhadap orang seperti Bugel Kaliki, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya itu pun aku akan mempergunakan siasat untuk menjebaknya.

Kembali perasaan Gajah Sora seperti tertusuk sembilu. Maka katanya di dalam hati, Sayang Paman Palindih belum pernah bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Pasingsingan, Sima Rodra, Ki Ageng Pandan Alas atau ayahnya sendiri.

Tokoh-tokoh yang lebih percaya pada dirinya sendiri daripada bertempur dalam satuan-satuan yang besar, dalam keadaan-keadaan tertentu. Seandainya sekali waktu Arya Palindih dapat berkenalan dengan salah seorang diantara mereka, maka mungkin ia akan berubah pendirian. Sebab mulai dengan penggemblengan diri, Arya Palindih telah berada di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga kecuali para pelatih di dalam lingkungannya, ia tidak banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh di luar.
Berbeda dengan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka masuk di dalam lingkungan keprajuritan dengan bekal yang telah cukup. Itulah sebabnya, mereka mempunyai kelebihan.

Suasana kemudian menjadi tegang. Masing-ma-sing berusaha untuk tetap menguasai dirinya de-ngan baik.

Tetapi bagaimanapun mereka telah merasa bahwa keadaan tidak menguntungkan. Arya Palindih datang dengan menjunjung kewajiban, sedang Gajah Sora terpaksa terlibat dalam keadaan yang bertentangan dengan tugas tamu-tamunya.

Apalagi ketika Arya Palindih kemudian melanjutkan, Anakmas, sebenarnya, perkenankanlah aku menyatakan, bahwa yang ketiga kalinya, dari keperluanku datang kemari, adalah menjunjung perintah Baginda Sultan Demak, untuk menerima kembali kedua pusaka Istana yang hilang itu, serta ada bersama kami, Baginda mengirimkan berbagai hadiah yang seharusnya aku terimakan kepada Anakmas sebagai tanda terimakasih Baginda kepada Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Setelah berkata demikian, Palindih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah sesuatu yang menyekat dadanya telah terlontar keluar.

Sebaliknya, dada Gajah Sora kini bertambah sesak. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bertindak. Bagaimanapun ia seharusnya mentaati perintah Baginda Sultan Demak. Tetapi kedua karis itu benar-benar telah lenyap. Yang menyulitkan adalah, bahwa Arya Palindih tidak dapat mempercayai keterangannya.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar yang mendengarkan segala pembicaraan Gajah Sora dan Arya Palindih tidak kalah gelisahnya. Pikirannya pun menjadi kalut. Tidak aneh kalau pada suatu saat mereka saling tidak dapat menguasai diri, maka akibatnya akan menjadi jelek sekali.

MAHESA JENAR kenal betul keduanya, kelebihan-kelebihan mereka dan kekurangan-kekurangan mereka. Mungkin dalam pertempuran seorang lawan seorang, Gajah Sora akan dapat menguasai lawannya, meskipun tidak dengan begitu mudah. Tetapi dengan beberapa orang, Arya Palindih merupakan seorang pemimpin yang berbahaya sekali. Usianya yang telah banyak itu, telah menunjukkan kematangannya. Ditambah dengan pengalamannya yang jauh lebih banyak daripada Gajah Sora. Apalagi orang-orang yang dibawa Arya Palindih rata-rata mempunyai kekuatan yang sama. Berbeda dengan orang-orang Banyubiru, selain Gajah Sora, maka jarak kepandaian mereka agak jauh.

Dalam kegelisahannya, Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, semoga keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan.

Paman Arya… akhirnya Gajah Sora berkata, Seharusnya aku merasa bahwa aku mendapat kehormatan yang besar menerima hadiah langsung dari Baginda Sultan Demak. Tetapi sekali lagi, bahwa kali ini terpaksa aku tidak dapat menyerahkan kedua pusaka itu, karena kedua-duanya sudah tidak berada di tanganku lagi. Kalau Paman tidak percaya, aku persilahkan Paman berbuat sekehendak Paman untuk membuktikan kebenaran kata-kataku.

Maafkanlah aku, Anakmas, jawab Palindih, Aku kira tak ada artinya, seandainya aku menggeledah rumah Anakmas ini.
Lalu apakah yang akan Paman lakukan? tanya Gajah Sora.

Arya Palindih tidak segera menjawab. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seolah-olah sedang membanding-bandingkan kekuatan prajurit yang dibawanya dengan Laskar Banyubiru yang berada di pendapa. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, dengan nada yang sudah agak berbeda, Anakmas, aku adalah petugas negara. Sebenarnya aku sama sekali tidak menaruh syak terhadap Anakmas. Tetapi aku merasa bahwa telah terjadi keanehan-keanehan di sini. Sampai saat ini orang masih percaya, bahwa Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten bersama akan dapat merupakan pusaka kebesaran raja-raja di Jawa. Bahkan ada yang percaya, bahwa hanya mereka yang memiliki pusaka-pusaka itu yang dapat merajai pulau ini dengan selamat. Karena itu, seandainya Anakmas memiliki kepercayaan yang sedemikian, hendaknya Anakmas merelakan keinginan Anakmas merajai pulau ini, sebab disamping pusaka-pusaka itu, ketentuan tahta masih bergantung kepada wahyu pula.

Kata-kata Arya Palindih, yang diucapkan dengan jelas itu, setiap patah, seolah-olah merupakan sebuah tusukan langsung ke arah jantung Gajah Sora. Karena itu ia menjadi gemetar menahan diri. Mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam, meskipun di dalam dadanya bergulung-gulung keterangan-keterangan yang banyak sekali, yang seperti banjir akan menjebol tanggul.

Sadarlah ia sekarang, bahwa pasti ada pihak ketiga yang akan memancing ikan di air keruh. Ia jadi curiga, siapakah yang memberitahukan kepada para pejabat di Istana Demak, bahwa kedua pusaka itu telah berada di tangannya. Siapapun yang telah mengatur sedemikian cermatnya sehingga seolah-olah segala sesuatu itu berjalan menurut urutan-urutan yang sudah ditentukan. Beberapa gerombolan bersama-sama datang menyerbu daerahnya, sesudah itu, pejabat-pejabat Istana datang kepadanya untuk minta pusaka-pusaka yang telah lenyap itu.

Tetapi justru karena kesadaran akan adanya pihak ketiga yang sengaja akan mengadudomba dirinya dengan alat-alat negara itu, maka ia menjadi agak tenang. Karena itu meskipun masih dengan bibir yang gemetar ia menjawab,

Paman Palindih. Sekali lagi aku mohon maaf. Paman telah mengenal aku sejak aku masih muda. Aku selalu mementingkan kepentingan negara diatas segala-galanya. Jangankan aku berangan-angan untuk menjadi raja di pulau ini, sedangkan daerah perdikan yang hanya selebar daun sirih ini pun aku sama sekali tak keberatan ketika Ayah Sora Dipayana menyatakan untuk membagi dua. Kemudian lebih dari pada itu aku tak dapat memberikan keterangan lebih banyak lagi. Tetapi harap Paman ketahui bahwa aku berkata sejujur-jujurnya.

Arya Palindih adalah seorang prajurit yang sudah berpengalaman. Wajahnya yang masih tampak segar itu ditandai oleh kekerasan hati serta sifat kepemimpinan yang tegas. Namun bagaimanapun ia adalah pengemban tugas negara yang mempunyai batas-batas tertentu.

Sebenarnya ia sama sekali tidak dapat mempercayai ceritera Gajah Sora itu. Ia mendapat keterangan bahwa pusaka-pusaka itu benar-benar telah berada di Banyubiru. Dan ceritera tentang serbuan-serbuan itu adalah usaha Gajah Sora sendiri untuk menyembunyikan kedua pusaka-pusaka itu. Dan ia tidak dapat mengerti akan keterangan-keterangan yang didengarnya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana teraturnya Laskar Banyubiru menerima kedatangannya, sehingga anehlah kalau hanya beberapa orang gerombolan liar sampai dapat berhasil merampas kedua pusaka itu.

Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, kembali Palindih bertanya,

Anakmas, bolehkah aku bertanya lagi, kenapa Anakmas tidak segera menyerahkan kedua keris itu ke Demak setelah Anakmas berhasil merampasnya, sehingga sampai Sultan Demak terpaksa memerintahkan petugas-petugasnya untuk datang mengambilnya? Untunglah bahwa Sultan Demak cukup bijaksana sehingga masih juga beliau mengirimkan hadiah-hadiah untuk Anakmas.

Pertanyaan yang demikian, sama sekali tak diduganya. Karena itu Gajah Sora menjadi bingung. Memang ia merasakan suatu kekhilafan bahwa sampai beberapa hari ia masih belum menyerahkan keris itu. Tetapi maksudnya mula-mula adalah untuk menenangkan suasana dahulu. Pada suatu saat secara tiba-tiba ia akan mengejutkan Baginda dengan penyerahan kedua pusaka itu. Disamping itu ia terlalu percaya pada kekuatan laskarnya dan lingkungan ayahnya, Sora Dipayana. Namun bagaimanapun ia telah berbuat suatu kekhilafan. Karena itu, karena ia tidak mungkin berkata lain, maka dengan jujur ia menjawab, Paman, memang aku telah melakukan kekhilafan.

JAWABAN Gajah Sora itu sama sekali juga tidak diduga oleh Palindih, seperti juga Gajah Sora tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan yang demikian. Dan jawaban ini telah mengejutkannya. Sebab ia melihat dari mata Gajah Sora bahwa ia telah berkata sejujur-jujurnya. Karena itu ia jadi bimbang. Namun bagaimanapun keterangan Gajah Sora tentang hilangnya kedua pusaka itu sangatlah aneh baginya.
Memang, Arya Palindih pernah mendengar nama-nama beberapa orang penjahat ulung. Bahkan ia mendengar pula bahwa diantaranya pernah berhasil memasuki Istana Demak dan hampir saja memasuki Gedung Perbendaharaan. Untung pada saat itu, seorang perwira yang perkasa dari pengawal raja yang bernama Rangga Tohjaya dapat mencegahnya.

Arya Palindih juga pernah mendengar tokoh-tokoh angkatan yang lebih tua daripada Lawa Ijo yang berhasil memasuki istana itu, sebagai siluman-siluman yang berbahaya.
Namun meskipun demikian, lepas dari masalah percaya atau tidak percaya, Palindih adalah seorang perwira yang tegas dan taat akan kewajibannya. Ia adalah prajurit sejati, namun cukup bijaksana. Karena itu berkatalah Arya Palindih, Anakmas, pengakuan Anakmas bahwa Anakmas khilaf telah membuka pikiranku.
Tetapi bagiamanapun juga aku adalah prajurit yang mendapat tugas untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana itu. Dan aku telah melakukan tugasku. Sayang bahwa menurut keterangan Anakmas, kedua pusaka itu telah lenyap. Karena aku tidak mendapat kekuasaan untuk bertindak lebih jauh, maka aku tidak akan melakukan hal-hal lain kecuali melaporkan peristiwa ini kepada Baginda Sultan.
Baru kemudian kalau ada kewajiban-kewajiban lain serta ketentuan-ketentuan lain, mungkin aku segera akan datang kembali ke Banyubiru.

Kata-kata Arya Palindih itu merupakan angin sejuk yang telah mengendorkan semua wajah-wajah yang tegang dari semua yang hadir di pendapa itu. Bahkan Mahesa Jenar yang mendengar percakapan dari balik dinding, juga menarik nafas lega. Dengan demikian setidak-tidaknya ada waktu sehari dua hari untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Untunglah seandainya dalam waktu yang singkat itu Ki Ageng Pandan Alas atau Ki Ageng Sora Dipayana setidak-tidaknya telah mendapat keterangan tentang kedua pusaka yang hilang itu.

Gajah Sora yang dapat menanggapi keadaan serta kebijaksanaan Arya Palindih segera menjawab, Paman, aku sejak semula memang percaya bahwa Paman selalu bertindak bijaksana. Meskipun demikian aku akan selalu berusaha untuk meyakinkan Paman bahwa aku telah berkata dengan jujur. Aku berjanji bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga serta kemampuan yang ada di daerah ini, berusaha menemukan kembali kedua keris yang hilang itu sebagai bukti kesetiaanku kepada negara.

Arya Palindih mendengarkan ucapan Gajah Sora itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Di dalam hatinya menjalar suatu pengertian yang berpengaruh. Akhirnya dengan kata-kata yang lunak ia berkata, Anakmas…, Anakmas adalah bekas prajurit pilihan pada masa Anakmas masih muda. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengerti peristiwa yang terjadi menurut ceritera Anakmas, namun aku percaya bahwa oleh jiwa kepahlawanan yang tersimpan di dalam dada Anakmas itu, maka Anakmas telah berlaku sebenarnya.

Baik Gajah Sora, Arya Palindih, Mahesa Jenar dan semuanya yang hadir di pendapa itu menyadari, bila sampai terjadi suatu bentrokan, akibatnya pasti akan jelek sekali. Sebab Laskar Banyubiru tidak dapat dianggap remeh. Laskar yang berakar pada jiwa rakyat yang setia. Mungkin Demak akan dapat mengatasinya dengan tidak banyak kesukaran.

Tetapi korbannya pasti akan banyak sekali. Tidak saja korban jiwa, tetapi korban yang lebih besar artinya bagi negara yang pada saat itu sedang terancam oleh kekuasaan penjajahan Portugis yang sudah membangun pangkalannya di Malaka. Maka usaha yang pertama, yang harus diutamakan adalah memperkuat garis armada Banten – Jakarta – Cirebon – Demak – terus ke timur – Supit Urang – langsung ke Hitu dan Ambon, sebagai garis utama untuk melumpuhkan usaha Portugis, terutama di bidang perniagaan laut dan kesiap-siagaan armada, yang setiap saat dapat menerobos ke wilayah Demak.

Bersandarkan pada kesadaran itulah, maka kemudian Arya Palindih yang tegas namun bijaksana itu berkata, Anakmas, aku kira tugasku kali ini sudah selesai, meskipun tidak seperti yang aku harapkan. Dengan demikian aku akan minta diri, dan mudah-mudahan perkembangan selanjutnya tidak akan menyulitkan Anakmas dan kami.

Meskipun Gajah Sora mencoba menahannya, Arya Palindih sudah memutuskan untuk segera pulang ke Demak dan melaporkan apa yang sudah terjadi, dengan harapan bersama bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan baik.

Sepeninggal Arya Palindih, segera Gajah Sora mengadakan pertemuan dengan segenap pembantunya serta Mahesa Jenar. Namun banyak hal yang tak dapat mereka selesaikan.

Sebab kuncinya terletak pada kedua keris yang hilang itu. Tetapi adalah menjadi kewajiban Gajah Sora untuk memerintahkan kepada semua laskarnya agar tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan suasana.

Tetapi bagaimanapun, setelah peristiwa kedatangan utusan dari Demak itu, Gajah Sora menjadi perenung. Mahesa Jenar yang semula bermaksud meninggalkan Banyubiru, kemudian menjadi tidak sampai hati. Karena itu ditahankannya dirinya untuk tetap tinggal di Banyubiru sebagai kawan berunding dan berbincang Gajah Sora.

Hiburan yang utama bagi Gajah Sora adalah anaknya yang kini sudah hampir pulih kembali. Bahkan sudah mulai lagi dengan tingkahnya yang aneh-aneh dan diluar kebiasaan anak-anak yang sebaya dengan Arya Salaka, yang kadang-kadang sangat memusingkan kepala ayahnya. Meskipun pada umumnya Arya tidak berani membantah peringatan-peringatan ayahnya, tetapi kadang-kadang diluar pengawasan ia melakukan hal-hal yang berbahaya.

BEBERAPA hari kemudian tidak terjadi hal-hal yang luar biasa. Rakyat dengan tenang dan tenteram bekerja di sawah serta ladang mereka. Padi-padi yang sudah mulai menguning, bahkan ada diantaranya yang sudah masak untuk dipetik. Berduyun-duyunlah wanita turun kesawah serta saling menolong memotong padi, sedang laki-laki bergotong royong bekerja menyiapkan sawah-sawah yang telah dituai untuk ditanami kembali. Rumah-rumah yang terbakar pada saat penyerbuan gerombolan-gerombolan liar itu, secara gotong royong telah dibangun kembali. Bahkan tampak lebih kokoh dan lebih baik daripada yang semula.
Kehidupan yang aman damai telah memancar kembali menjiwai daerah Perdikan Banyubiru.

Tetapi, tidak demikian halnya dengan perasaan Gajah Sora. Meskipun sehari-hari ia tampak tenang dan segar, serta seperti biasanya ia ikut serta bekerja dengan rakyat Banyu Biru untuk kesejahteraan daerahnya, namun didalam hatinya tersimpan duri yang selalu menusuk-nusuk perasaannya.

Bagaimanapun, ia tidak dapat melupakan, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertanggungjawabkan hilangnya kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Meskipun ia dapat mengharapkan etikad baik dari Arya Palindih, namun bagaimanapun usaha-usaha dari pihak ketiga pasti masih selalu ada. Usaha-usaha dari golongan yang tidak ingin melihat kehidupan damai di Banyubiru khususnya, dan Demak pada umumnya. Tidak aneh kalau hal ini didalangi oleh orang-orang yang sengaja merongrong kebesaran Demak untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebab di dalam lingkungan mereka ada orang-orang yang cukup tangkas otaknya. Pasingsingan, Bugel Kaliki, Sima Rodra tua dapat mewayangkan orang-orang dalam yang tidak teguh imannya.

Karena itu, karena kecurigaannya kepada golongan-golongan yang ingin dengan sengaja mengeruhkan suasana. Gajah Sora telah mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan beberapa orang kepercayaannya ke Demak untuk mengetahui perkembangan keadaan. Orang-orang itu bertugas untuk mendengarkan desas-desus tentang keadaan Banyu Biru yang tersiar dipusat pemerintahan itu, serta kalau perlu mengadakan perlawanan dengan menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada kalangan yang seluas-luasnya.

Tetapi akhirnya, dengan dada yang gemuruh Gajah Sora mendengar laporan dari salah seorang kepercayaannya itu, bahwa di Demak telah berkembang keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Di Demak dengan tak diketahui sumbernya, telah tersiar berita bahwa kini di Banyubiru telah diadakan latihan keprajuritan secara teratur dan besar-besaran, sebagai salah satu usaha untuk tetap mempertahankan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Orang-orang Gajah Sora yang tidak seberapa jumlahnya itu telah berusaha untuk menyebarkan berita yang sebenarnya, namun rupanya arus kabar yang sengaja mengeruhkan suasana itu tak dapat dibendungnya. Bahkan akhirnya telah mempengaruhi beberapa pejabat Istana Demak.

Belum lagi Gajah Sora sempat mendalami serta mengupas masalah itu, datanglah orangnya yang kedua dengan suatu berita yang lebih mengejutkan lagi, yaitu, bahwa Demak telah mengirim satu pasukan untuk meneliti keadaan di Banyubiru.

Mendengar berita ini, pikiran Gajah Sora seolah-olah menjadi gelap. Karena itu segera ia memanggil pembantu-pembantunya beserta Mahesa Jenar. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan apabila pasukan dari Demak itu benar-benar mendatangi Banyubiru.

Persoalan ini kemudian menjadi buntu. Tak seorangpun yang dapat memberikan ketetapan pendirian. Tetapi bagaimanapun, mereka merasa bahwa sebenarnya mereka sama sekali tak bersalah dengan hal ini. Gajah Sora hanyalah berbuat suatu kekhilafan yang sebenarnya tak begitu besar seandainya akibatnya menjadi lain.
Akhirnya, ketika tak seorangpun yang berhasil memecahkan persoalan itu dengan sebaik-baiknya, maka satu-satunya kemungkinan adalah menunggu sampai pasukan dari Demak itu datang, dan kemudian bersama-sama memperbincangkan masalahnya. Gajah Sora sadar bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap, sebab kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan selalu akan terjadi. Maka yang dapat dilakukan sekarang adalah mempertinggi kewaspadaan.

Diantara mereka yang selalu gelisah karena keadaan, maka yang paling gelisah adalah Mahesa Jenar, karena ia dapat melihat kebenaran sikap masing-masing.

Ia tidak dapat menyalahkan Ki Ageng Gajah Sora seandainya orang itu tetap merasa tak bersalah. Sebab ia sendiri telah berjuang mati-matian untuk merampas keris-keris itu, dan kemudian dengan sekuat tenaga pula telah dipertahankannya. Juga orang-orang Gajah Sora pasti akan mempertahankan kepala daerah mereka yang mereka segani dan cintai itu.

Tetapi sebaliknya, ia mengerti juga alasan Sultan Demak seandainya Baginda murka. Sebab Baginda merasa bahwa yang paling berhak atas kedua pusaka itu adalah pemerintah.

MALAM harinya, Mahesa Jenar hampir tidak dapat memejamkan mata. Ia selalu berangan-angan apakah kiranya yang terjadi seandainya pasukan Demak itu telah berada di Banyubiru. Yang menambah kesulitan pikiran Mahesa Jenar adalah, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?

Baru ketika ayam berkokok untuk ketiga kalinya, Mahesa Jenar terlena diatas pembaringannya untuk beberapa saat. Sebab sebentar kemudian ia mendengar hiruk-pikuk di halaman. Segera ia meloncat bangun dan lari keluar. Dilihatnya beberapa orang telah berada di sana, sedang Ki Ageng Gajah Sora dengan wajah merah menyala berdiri di ambang pintu rumahnya.

Segera Mahesa Jenar naik ke pendapa, langsung menuju kepada Gajah Sora. “Kakang…, apakah yang terjadi?”

Gajah Sora memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang gelisah. “Aku tahu kesulitanmu Adi, karena itu sebaiknya kau tidak ikut serta,” jawabnya.

“Apakah yang akan Kakang lakukan?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Aku tidak dapat menahan diri lagi,” jawabnya. “Aku telah memerintahkan untuk menyiapkan laskar Banyubiru. Aku tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku hormati kebesaran Demak sebagai pimpinan tertinggi atas segala pemerintahan di daerah-daerah, namun alangkah kerdilnya pikiran mereka.”

Mendengar jawaban Gajah Sora itu darah Mahesa Jenar serasa berhenti. Dengan penuh kebingungan ia bertanya kembali, “Apa yang telah mereka lakukan?”

Sementara itu terdengarlah tanda bahaya bergema di seluruh lereng bukit Telamaya, disusul dengan tanda-tanda supaya laskar Banyubiru berkumpul di alun-alun. Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah mendengar tanda-tanda itu. Apa yang telah mereka lakukan…?

Gajah Sora tidak menjawab, tetapi sorot matanya bertambah menyala. Ketika dilihatnya kudanya telah siap di halaman, tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, ia berlari melintasi pendapa dan langsung meloncat ke atas punggung kudanya. Sesaat kemudian Gajah Sora sudah lenyap diantara beberapa orang yang bersama-sama memacu kudanya ke alun-alun, dimana sudah berkumpul segenap Laskar Banyubiru.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai otak yang jernih, sehingga beberapa saat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali.

Maka dengan tangkasnya ia meloncat ke belakang, ke kandang kuda. Diambilnya kuda abu-abu yang biasa dipakainya.
Dengan cekatan ia mempersiapkan pelananya. Dan dalam sekejap kemudian, ia telah berlari diatas punggung kuda abu-abu itu menyusul Gajah Sora, serta apabila mungkin mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Tetapi ketika ia keluar dari halaman, segera di arah timur tampak api menyala-nyala. Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang, sehingga terlontar suatu teriakan tertahan. Tak mungkin…. Tak mungkin. Tentara Demak bukan gerombolan-gerombolan liar yang biasa membakar rumah dan merampok isinya.

Maka segera timbul gambaran di dalam otaknya, bahwa ini pasti suatu usaha pengadu-dombaan. Walaupun demikian ia bermaksud untuk membuktikan siapakah yang telah berbuat gila itu. Segera ia menarik kekang kudanya, dan memutar ke arah api yang menyala-nyala di sebelah timur itu. Kudanya yang lari secepat angin itu, dalam beberapa saat kemudian telah hampir sampai di tempat api yang menyala-nyala. Di beberapa tempat, ia bertemu dengan orang-orang yang berusaha mengungsikan diri. Kepada salah seorang diantaranya, ia bertanya, “He…, Kakang yang menjauhkan diri dari keributan, tahukan kau siapakah yang membakari rumah-rumah itu?”

Orang itu berhenti sejenak, lalu memandang kepada Mahesa Jenar dengan heran. Tetapi bagaimanapun ia selalu mengharap perlindungan dari manapun datangnya. Maka jawabnya, “Aku tidak tahu, tetapi mereka selalu berteriak-teriak, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit dari Demak yang mendapat perintah untuk menghancurkan Banyubiru, sebab Banyubiru akan memberontak terhadap Demak.”

“Bagaimanakah cara mereka berpakaian?” selidik Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Mereka memakai baju merah, ikat kepala merah dan celana merah pula. Adapun kainnya berwarna hitam,” jawab pengungsi itu.

Wiratamtama, desis Mahesa Jenar.

“Terimakasih, Kakang,” kata Mahesa Jenar kepada orang itu sambil menarik kekang kudanya, yang kemudian berlari kembali secepat angin ke arah api yang semakin lama semakin tinggi seolah-olah akan menjilat langit.

Pakaian orang-orang yang membakar rumah itu, adalah pakaian prajurit Demak dari kesatuan penggempur yang bernama Wiratamtama, yang terdiri dari orang-orang pilihan dan perwira, bahkan dapat dikatakan sama dengan pasukan pengawal raja, yang disebut kesatuan Nara Manggala. Tetapi pakaian mereka agak berbeda. Sebab Nara Manggala memakai ikat kepala biru, ikat pinggang kuning. Karena itu ia semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang telah menamakan diri mereka prajurit-prajurit dari Demak itu.

Ketika matahari mulai bercahaya di arah timur, Mahesa Jenar sampai di tempat kebakaran. Ternyata orang yang membakar rumah-rumah itu sebagian besar sudah melarikan diri. Tinggallah di sana-sini beberapa orang saja yang masih berusaha untuk menemukan barang-barang yang berharga dari rumah-rumah yang terbakar itu.
Melihat kelakuan mereka yang tak ubahnya dengan anjing yang mengais di keranjang sampah, hati Mahesa Jenar terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Ia tidak saja merasa marah, bahwa orang-orang yang menamakan diri prajurit-prajurit itu telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah, tetapi kelakuan mereka adalah suatu penghinaan langsung terhadap kebesaran nama Wiratamtama khususnya dan prajurit Demak umumnya.

Karena itu segera ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa sama sekali mereka bukanlah prajurit-prajurit Demak yang sebenarnya. Karena itu tanpa bertanya-tanya lagi Mahesa Jenar segera menyerbu ke arah mereka.

BEBERAPA orang yang sedang sibuk mencari barang-barang itu, segera terkejut ketika mereka mendengar derap kuda mendekati mereka, apalagi ketika dilihatnya seorang yang belum dikenalnya langsung menuju ke arah mereka, dengan sikap yang garang.

Segera mereka melihat bahaya yang datang. Tetapi karena jumlah mereka yang banyak itu, mereka sama sekali tidak takut ketika dilihatnya bahwa yang datang hanyalah seorang. Meskipun demikian mereka bersiap-siap pula menanti kedatangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang memacu kudanya seperti badai, dengan penuh kemarahan langsung menyerang orang-orang yang menantinya dengan sikap tak acuh itu. Baru ketika tiga orang bersama-sama terpelanting dengan meninggalkan suara parau yang terputus, sadarlah mereka bahwa yang datang itu bukan orang sembarangan.

Dengan kebingungan karena terkejut mereka mencoba mempersiapkan senjata-senjata mereka, tetapi itu tidaklah banyak gunanya, sebab sekejap kemudian Mahesa Jenar telah mengulangi serangannya. Sekali lagi dua orang sekaligus terlempar dengan mengumandangkan teriakan tinggi.

Orang-orang lain yang melihat kelima kawannya sudah menggeletak tak bernyawa itu, menjadi ketakutan, dan dengan tidak menunggu lebih lama lagi segera mereka melarikan diri bercerai-berai.

Mahesa Jenar segera berusaha menangkap salah seorang diantaranya. Dan kemudian membantingnya di tanah. Dengan ibu jarinya yang kuat Mahesa Jenar siap menekan leher orang itu. Sementara itu ia bertanya, Siapakah kau sebenarnya?

Orang itu menjadi ketakutan setengah mati. Karena itu, meskipun ia berusaha menjawab, tetapi mulutnya menjadi tergagap-gagap tak keruan. Mahesa Jenar menyumpah-nyumpah di dalam hati. Karena bagaimanapun ia memaksa, mulut orang itu pasti tak akan dapat mengeluarkan kata-kata yang dapat dimengerti.

Akhirnya dengan sangat marah Mahesa Jenar menarik bajunya sehingga orang itu berdiri. Bersamaan dengan itu darah Mahesa Jenar tersirap sampai ke kepala, ketika dilihatnya, melingkar perut orang itu sebuah ikat pinggang yang lebar, dengan gambar dua ekor uling yang saling melilit. Karena itu Mahesa Jenar berteriak nyaring, Kau dari gerombolan Uling Rawa Pening…?

Mulut orang itu tampak bergerak-gerak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak ubahnya seperti suara orang bisu. Meskipun demikian karena kepalanya mengangguk-angguk, tahulah Mahesa jenar bahwa orang itu benar-benar dari gerombolan Uling Rawa Pening. Karena itu marahnya semakin membara di dalam dadanya. Alangkah banyaknya unsur-unsur yang ingin merusak kedamaian tanah perdikan kecil di lereng bukit Telamaya itu.

Tetapi kemudian Mahesa Jenar terkejut ketika ia mendengar suara tertawa di belakangnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Arya Salaka agak jauh di belakangnya, duduk di atas kuda hitamnya. Begitu asyiknya Mahesa Jenar mengurusi tangkapannya, sehinga ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan Arya yang tentu dengan sengaja bersembunyi dan sangat berhati-hati.

Apa kerjamu di situ Arya? teriak Mahesa Jenar.
Apa pula yang Paman kerjakan itu? jawab Arya berteriak pula.
Mendapat jawaban yang nakal itu, Mahesa Jenar menjadi jengkel.

Kemarilah, panggilnya keras-keras.

Perlahan-lahan Arya menjalankan kudanya mendekati Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak mau dekat benar, sebab ia mengira bahwa Mahesa Jenar akan marah kepadanya.
Dengan masih memegangi tangkapannya erat-erat, Mahesa Jenar mengulangi pertanyaannya Apa kerjamu disini?

Arya menjadi agak bingung, sebab ternyata Mahesa Jenar benar-benar tak senang akan kehadirannya. Meskipun demikian ia menjawab dengan jujur. Aku melihat Paman memacu kuda ke arah timur. Aku kira pasti ada hal-hal yang menarik sehingga aku ingin ikut melihatnya.

Lalu apa yang sudah kau lihat? desak Mahesa Jenar.

Paman Mahesa Jenar menangkap kelinci, jawab Arya. Mau tidak mau Mahesa Jenar menjadi geli mendengar jawaban Arya. Memang anak itu nakalnya bukan main. Nah, ayo lekas pulang, perintah Mahesa Jenar.
Nanti bersama Paman, jawab Arya.
Mahesa Jenar menjadi bertambah jengkel. Pulanglah Arya, supaya ayahmu tidak marah.
Aku takut pulang sendiri, jawabnya mengelak.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa Arya sama sekali tidak takut. Maka mau tidak mau ia harus mengantar anak itu pulang. Lalu dengan sebuah sentakan yang keras Mahesa Jenar mendorong tangkapannya sehingga orang itu terdorong dan terbanting menelentang. Matanya memancarkan perasaan takut yang amat sangat, sedang nafasnya seperti berdesak berebut keluar. Arya menjadi geli melihat orang itu. Tidakkah Paman bermaksud membunuh orang itu?

Mendengar kata-kata Arya orang itu menjadi semakin ketakutan, sehingga akhirnya malahan Mahesa Jenar menjadi kasihan kepadanya. Kalau kau masih mempunyai sisa tenaga, pergilah cepat-cepat menjauhi aku sebelum aku mencekikmu, katanya.

Orang itu menjadi ragu-ragu sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar, seperti ia tidak percaya pada pendengarannya. Sampai kemudian terdengar, Pergilah!
Orang itu segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Mahesa Jenar, seperti kuda pacu di lapangan pertandingan.

Arya melihat kelakuan orang itu seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Maka timbullah kenakalannya, untuk menakut-nakuti orang itu. Tangkap orang itu, Paman…, tangkap orang itu. Ia akan melaporkan kepada pemimpinnya bahwa Paman ada di sini.

Mendengar Arya berteriak-teriak, orang itu berlari semakin cepat tanpa menoleh, dibarengi dengan suara tertawa. Arya bergelak-gelak. Arya baru berhenti tertawa ketika didengarnya Mahesa Jenar berkata, Marilah Arya, ada kerja yang lebih penting daripada menunggumu bermain-main di sini.

BELUM lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan terdengarlah suara sangkakala bergema. Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata – Itulah pasukan dari Demak.-

Dari Demak? ulang Arya.

Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih hati ayahnya.

Marilah kita lihat, ajaknya.

Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi. Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu.

Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha.

Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan.

Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya. Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali menemui Ki Ageng Gajah Sora.

Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.

Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta.

Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta.

Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan.

Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak yang sudah tak bersarung.

Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup.

Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.

Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya hambar, Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?

Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit Demak yang melakukan pembakaran itu.

Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah. Meskipun demikian ia bertanya, Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar terhadap gelar Cakra Byuha itu?

Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru kemudian Mahesa Jenar berkata, Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman yang berbahaya.

Sudahlah Adi, potong Gajah Sora. Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu, tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta.

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan pasukan-pasukan dari Demak.

Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara. Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.

SELANGKAH demi selangkah Laskar Banyubiru maju terus, dan selangkah demi selangkah mereka semakin dekat dengan pasukan-pasukan yang datang. Tetapi setiap jengkal mereka maju, setiap kali pula dada Mahesa Jenar merasa terbentur sesuatu yang seolah-olah hendak pecah oleh ketegangan yang semakin memuncak.
Sebentar kemudian pasukan itu menyusup, menerobos pepohonan dan kebun-kebun yang sedang memamerkan buah-buahan yang lebat, menembus pagar-pagar dan meloncati dinding-dinding rendah untuk tidak mengubah tata barisan mereka, dalam gelar perang Dirada Meta.

Kemudian muncullah pasukan itu di lapangan terbuka, sebuah padang rumput tempat para penggembala melepaskan binatang-binatang peliharaan. Masih dalam tata barisan yang teratur, mereka menuruni lereng bukit Telamaya.

Sejenak kemudian Gajah Sora melambaikan tangannya, dan berhentilah iring-iringan pasukan Banyubiru. Bersamaan dengan itu hampir berbareng terdengarlah gumam yang seperti mengumandang diantara anggota laskar itu. Sebab jauh di hadapan mereka, di bawah kaki bukit Telamaya, tampaklah dalam gelar Cakra Byuha pasukan-pasukan dari Demak.

Lebih dari itu semua adalah goncangan dada Mahesa Jenar. Kini benar-benar dadanya serasa akan meledak. Tidak saja sedapat mungkin dirinya selalu berusaha untuk menjauhi setiap prajurit dari Demak, untuk melenyapkan segala kenangan pada masa kebanggaannya sebagai seorang prajurit pengawal raja, tetapi sekaligus ia merasa terharu melihat kebesaran pasukan itu. Meskipun masih belum begitu jelas, tetapi bagi Mahesa Jenar apa yang dilihatnya itu seolah-olah telah melekat di pelupuk matanya.

Dengan membeda-bedakan warna pakaian mereka yang tampak seperti kelompok-kelompok yang beraneka warna, Mahesa Jenar segera mengenal pasukan dari kesatuan apa saja yang telah ditugaskan untuk datang ke Banyubiru. Karena pengenalan itu pula Mahesa Jenar merasakan suatu tekanan yang dahsyat dalam hatinya. Sebab ia mengetahui dengan pasti bahwa benar-benar pasukan itu merupakan pasukan tempur yang kuat sekali.

Dalam gelar Cakra Byuha yang merupakan lingkaran bergerak itu, tampaklah dalam kelompok depan pasukan Wira Tamtama dengan bendera yang terkenal, Tunggul Dahana, bendera yang mempunyai dasar merah dan bergaris hitam lintang melintang. Pada gerigi di sebelah kiri tampak pasukan penggempur Angkatan Laut Demak yang terkenal. Pasukan ini diikutsertakan dengan suatu kemungkinan terjadi pertempuran di daerah rawa-rawa.

Di bawah panji-panji Sura Pati, yaitu sebuah panji-panji yang berwarna merah bergambar ikan sura raksasa yang menggigit sebilah keris berwarna putih, pasukan penggempur Angkatan Laut yang bernama Wira Jala Pati itu merupakan kesatuan yang mengerikan.

Yang lebih menggetarkan dada Mahesa Jenar adalah pasukan yang berada dalam lingkungan gerigi sebelah kanan. Pasukan ini adalah pasukan yang tak asing lagi baginya. Sebab ia sendiri pernah menjadi bagian pasukan tersebut, yaitu pasukan Nara Manggala di bawah panji-panji Garuda Rekta, panji-panji yang berwarna kuning, dengan lukisan seekor garuda berwarna merah, yaitu pasukan pengawal raja.

Mahesa Jenar sadar bahwa pasukan inilah yang harus membawa kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dengan selamat sampai di Istana.

Sedang pada gerigi bagian belakang, yang jumlahnya tidak begitu banyak, tampaklah pasukan inti dari pasukan pengawal kota, yang disebut pasukan Manggala Sraya, dengan bendera merah bergaris silang putih, bernama Tunggul Mega.

Tetapi lebih dari segala itu, lebih dari kemegahan bendera-bendera Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega, adalah panji-panji yang berada di tengah lingkaran yang bergerigi itu. Sebuah panji-panji yang dikelilingi oleh sekelompok kecil prajurit dari kesatuan Manggala Pati yang hampir dapat dikatakan kesatuan berani mati. Panji-panji itu adalah bendera Kerajaan Demak yang berwarna gula kelapa.

Menyaksikan semuanya itu, Mahesa Jenar seolah-olah mendadak menjadi seorang lumpuh yang duduk di atas kudanya. Kesadarannya hilang, dan ia menurut saja kemana kudanya berjalan.

Hal itu bukanlah disebabkan ia merasa takut berhadapan dengan kesatuan itu. Sebab ia adalah setingkat dengan setiap perwira yang memimpin setiap kesatuan dalam pasukan Demak itu. Bahkan mungkin Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan-kelebihan yang langsung diterima dari gurunya. Tetapi perasaan yang tak dapat disebutkan sebabnya telah menjalari dirinya.

Tanpa disengaja, Mahesa Jenar memandang ke arah Gajah Sora yang masih diam seperti patung memandangi pasukan Demak yang mendekatinya. Perasaannya bergolak hebat. Sebenarnya Gajah Sora sama sekali tidak mencemaskan pasukannya. Sebab ia merasa bahwa kekuatan kedua pasukan itu tidak akan terlalu banyak terpaut.

MESKIPUN nilai dari setiap anggota Laskar Banyubiru tidak dapat menandingi prajurit-prajurit dari Demak, Gajah Sora juga mempunyai beberapa orang pilihan dan mempunyai pasukan yang lebih banyak. Kalau perlu ia dapat mengubah gelarnya dalam gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba seperti banjir melanda pasukan Demak.
Untuk beberapa saat pasukan Banyubiru di bawah panji-panji Dirada Sakti, yaitu panji-panji merah berlukiskan gajah yang berwarna kuning emas itu masih diam tak bergerak, sementara pasukan Demak semakin lama semakin dekat. Karena itu semakin jelaslah kemudian setiap langkah dari setiap orang dalam gelar Cakra Byuha yang sempurna. Namun sampai sekian mereka masih belum dapat mengenal orang-orang yang diserahi tugas memimpin pasukan Demak itu.

Sesaat kemudian setelah pasukan itu menjadi semakin dekat, tampaklah seorang yang duduk diatas kuda berwarna sawo, yang agaknya memegang pimpinan, melambaikan tangannya. Maka segera berhentilah pasukan itu. Pemimpin pasukan itu, yang karena jaraknya yang masih agak jauh, belum dapat dikenal, segera memanggil dua orang pembantunya. Rupanya mereka sedang merundingkan siasat.

Mahesa Jenar kini merasa bahwa ia sudah tidak akan mampu berbuat sesuatu. Dua pasukan yang sudah berhadapan agaknya sukar untuk ditahannya. Apalagi ketika yang diduganya benar-benar terjadi. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak tidak mungkin dapat melawan pasukan Banyubiru dalam gelar yang demikian, sebab keadaan medan memang menguntungkan pasukan Banyubiru yang berada di tempat yang lebih tinggi.

Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak harus mengubah tata barisannya sehingga mereka dapat mencapai tempat yang sama tinggi. Pemimpin pasukan Demak itu dilihatnya mengangkat kedua tangannya dan kemudian dengan gerak melingkar tangannya bersilang dan kemudian direntangkan kembali. Itu adalah suatu aba-aba untuk mengubah tata barisannya.

Pasukan Demak adalah pasukan yang terlatih baik. Karena itu segera setiap pimpinan kelompok dengan serentak mengulangi aba-aba pimpinan pasukan, dan sesaat kemudian pasukan itu tampaknya menjadi berserak-serakan tak karuan. Tetapi sebenarnya mereka sedang bergerak untuk menempati tempat-tempat mereka dalam gelar perang yang baru, Garuda Nglayang.

Meskipun dengan gelar ini pasukan Demak sama sekali tak bermaksud mengepung pasukan Banyubiru, tetapi mereka berusaha untuk mencapai tempat yang cukup tinggi, sebab dengan gelar yang memencar ini, sayap-sayap kanan dan kiri akan dapat maju mendahului induk pasukannya, dan seterusnya menerjang dari arah lambung.

Melihat pasukan dari Demak telah memulai dengan gerakannya, setiap laskar Banyubiru segera menjadi gelisah. Mereka serentak memandang kepada Gajah Sora, untuk menunggu perintah lebih lanjut, terutama pimpinan-pimpinan kelompok.
Sebenarnya Gajah Sora segera dapat berusaha mencegah maksud pasukan Demak itu dengan mengubah gelarnya pula. Hal ini disadari oleh setiap pemimpin laskar Banyubiru. Karena mereka pun telah siaga untuk melaksanakan perubahan gelar itu. Namun untuk beberapa saat Gajah Sora tidak memberikan perintah sesuatu.
Bantaran dan Sawungrana yang memegang pimpinan sebagai ujung-ujung gading dalam gelar Dirada Meta, Pandan Kuning dengan beberapa pasukan pilihan sebagai pengawal panji-panji Dirada Sakti, menjadi semakin gelisah. Wanamerta dan Panjawi pun tidak dapat mengetahui sebabnya, kenapa mereka masih harus diam menunggu. Mahesa Jenar juga menebak-nebak di dalam hati, apakah maksud sebenarnya dari Gajah Sora itu. Ataukah ia mempunyai suatu siasat di luar pengetahuannya?
Andaikata Mahesa Jenar memegang pimpinan, pasukan Banyubiru harus segera berubah dalam gelar Wulan Panunggal, untuk menghalangi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang melengkung itu, sehingga dapat mengimbangi kekuatan sayap Garuda Nglayang, apalagi jumlah mereka lebih banyak.
Dalam setiap perhitungan perang, waktu memegang peranan yang penting, sehingga meskipun hanya sekejap, kadang-kadang mempunyai arti yang besar.
Demikianlah pasukan Demak yang terlatih baik itu, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk dapat menempati kedudukannya yang baru. Bahkan pasukan sayap kanan dan kiri telah mulai mendaki tebing.

Melihat semuanya itu, Panjawi dan Sawungrana hanya dapat saling memandang, dan sekali dua kali mereka melemparkan pandangannya kepada Mahesa Jenar yang berada di luar kedudukan gelar, meskipun ia berada tidak jauh dari mereka itu.
Sebenarnya di dalam hati Mahesa Jenar tersimpanlah suatu kecemasan yang sangat besar, melihat tingkah laku Gajah Sora. Mungkinkah ia menjadi mata gelap dan putus asa, sehingga sejak langkah pertama sudah akan dipergunakan gelar-gelar yang menentukan seperti gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu?

Memang, gelar itu akan cepat mencapai penyelesaian, tetapi korbannya tak akan dapat dihitung lagi.

Karena itu Mahesa Jenar menunggu perkembangan keadaan dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak akan mengganggu pemimpin pasukan.

Sementara itu, sayap-sayap kiri dan kanan dari pasukan Demak telah mencapai tempat yang sama tinggi dengan pasukan Banyubiru. Bahkan mereka telah siap pula melancarkan serangan ke arah lambung pasukan Banyubiru yang masih mempergunakan gelar Dirada Meta. Dalam hal ini dengan suatu isyarat tangan dari pemimpin mereka, pastilah mereka akan segera bergerak.

Tetapi rupanya dalam barisan Demak pun terjadi sesuatu. Pemimpin pasukan mereka ternyata tidak segera memberikan aba-aba untuk mulai menyerang. Agaknya mereka menjadi heran pula, kenapa dalam keadaan yang demikian pasukan Banyubiru masih belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk mulai bertindak. Karena itu, pemimpin pasukan dari Demak itu pun tidak tergesa-gesa bertindak.

SEMENTARA itu, terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terduga-duga. Dengan suara lirih dan dalam, terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora memanggil Wanamerta dan Panjawi. Sesaat kemudian Gajah Sora memalingkan mukanya, mencari Mahesa Jenar, dan dengan isyarat ia diminta mendekatinya.

Ketika Mahesa Jenar melihat wajah Ki Ageng Gajah Sora, ia menjadi terkejut. Wajah itu nampak begitu suram dan basah oleh keringat yang tak sempat diusapnya. Segera ia menarik kekang kudanya, dan cepat-cepat mendekatinya.

Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar. Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata, Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyubiru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku…. Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat.

Gajah Sora berhenti sebentar, lalu lanjutnya, Tetapi aku tak akan melawannya.

Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorangpun yang menyatakannya.
Dengarlah dengan baik, sambung Gajah Sora, Mungkin Adi Mahesa Jenar yang paling dapat mengerti perasaanku.

Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Demak.

Beberapa tahun yang lampau…, lanjut Gajah Sora, Aku pernah bertempur melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa.

Kembali Gajah Sora terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali. Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan.

Mendengar kata-kata itu, bulu tengkuk Mahesa Jenar serasa serentak berdiri. Kata-kata itu langsung menyusup ke perasaannya yang paling dalam. Agaknya perasaan yang demikian pulalah yang menyebabkan dirinya seperti orang yang kehilangan pegangan.

Tetapi Wanamerta dan Panjawi mempunyai tanggapan yang lain. Wajahnya menjadi tegang. Mereka tidak begitu mengerti maksud Gajah Sora. Karena itu Wanamerta segera bertanya, Bagaimanakah maksud Ki Ageng sebenarnya?

Lalu apakah yang akan Ki Ageng lakukan? sela Panjawi yang menjadi semakin gelisah.

Aku akan berbicara dengan mereka, jawab Gajah Sora.

Mendengar jawabnya itu Wanamerta dan Panjawi saling memandang dengan kebingungan.

Mereka tidak datang untuk berbicara, jawab Panjawi kemudian, Tetapi mereka datang dengan gelar perang.

Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah-olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak.

Kalau mereka tidak dapat berbicara, kata Gajah Sora Sora selanjutnya, aku akan menyertai mereka ke Demak. Sebab aku percaya bahwa pemerintahan berjalan dalam garis-garis hukum. Bagaimanapun juga masalah ini adalah masalah kita bersama yang harus dapat kita selesaikan, tanpa pertumpahan darah.

Wanamerta dan Panjawi agaknya masih belum begitu mengerti maksud Gajah Sora, sehingga terdengar suara Wanamerta agak tertahan, Anakmas, kami adalah orang-orang yang bersedia dibujur-lintangkan untuk keselamatan Anakmas.

Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu katanya, Paman…, aku tahu kesetiaan Paman dan segenap laskar Banyubiru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara. Termasuk Banyubiru. Sebab Banyubiru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini, kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah, termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyubiru.

Wanamerta dan Panjawi menundukkan mukanya dalam-dalam. Di dalam hatinya telah membayang sedikit pengertian akan ucapan pemimpinnya yang sangat dicintainya itu. Namun bagaimanapun, agaknya amat sulit baginya untuk melepas Gajah Sora pergi sebagai seorang terdakwa yang telah melakukan pengkhianatan.

Karena itu Wanamerta masih mencoba bertanya, Anakmas, tidakkah Anakmas dapat berbicara dengan mereka dalam kesempatan lain yang lebih baik, sehingga Anakmas tidak dianggap sebagai seorang tangkapan?
Tak akan ada lagi kesempatan kecuali ini, Paman. Sebab kalau aku tidak mempergunakan kesempatan ini, pasti akan terjadi pertumpahan darah sesama kita yang tak ada artinya, jawab Ki Ageng Gajah Sora.

Kembali Wanamerta menundukkan kepalanya. Ia kenal betul akan sifat dan watak Gajah Sora. Apabila ia sudah menjatuhkan keputusan, maka tak seorang pun yang akan dapat mengubahnya. Karena itu, dengan perasaan yang tertekan ia terpaksa berdiam diri.

Sebaliknya Panjawi yang masih belum dapat mengendapkan dirinya, berkata menyela, Ki Ageng…, sebenarnya kami lebih senang apabila Ki Ageng memerintahkan kepada kami untuk menghunus pedang kami daripada melepaskan Ki Ageng pergi sebagai seorang tawanan.

GAJAH SORA tersenyum pahit. Lalu jawabnya, “Aku bukanlah tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum pasti dapat mereka kalahkan.”

“Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng,” sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.

“Panjawi…” jawab Gajah Sora, “Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya.”

Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat, sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya kembali.

Adi Mahesa Jenar… kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. Wanamerta dan Panjawi, Di manakah Arya?

Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah melupakan anak ini.

Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi? sambung Gajah Sora.
Benar, Kakang, jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit. Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggungjawabkannya.

Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.

Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata-kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, Arya…, kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.

Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan. Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat.

Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka sadar akan arti kata-kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.

Apakah artinya ini Ki Ageng? tanya Panjawi dengan suara bergetar.
Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku, sahut Arya dengan riangnya. Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang ini?
Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.

Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan kepada eyangmu Wanamerta, kata Gajah Sora dengan suara lembut.
Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya. Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya, Ayah akan pergi jauh sekali?

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya. Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi…?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain daripada mengiyakan.

Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta.

Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora.

Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian ia berkata kepada Wanamerta, Sepeninggalku perintahkan pasukan ini mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman selama aku pergi.
Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu, lanjut Gajah Sora kepada Mahesa Jenar.

Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak.

Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya.

Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang hampir berlari memburu.

Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu.

WANAMERTA memandangi Arya dengan dada yang sesak. Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan berteriak-teriak sejadi-jadinya.

Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring, Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta…?

Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru.

Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.

Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan.

Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru. Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai hal ini akan aku berikan kemudian, kata Wanamerta.

Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru.

Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.

Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu.

Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.
Arya…, marilah kita pulang, kata Wanamerta lembut.
Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.
Pulanglah, Arya… sambung Mahesa Jenar, Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?

Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.

Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru? tanya Arya di sela-sela isaknya.
Pasti, Arya, jawab Mahesa Jenar. Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.

Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.

Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.

SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi.

Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.

Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi.

Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.

Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.

Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.

Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob.

Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.

Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.

Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.

Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya.

Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.

Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya.
Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga.

Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.

Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.

Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.

Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu.

Mendapat pikiran itu, terus saja Mahesa Jenar memutar kudanya, dan dengan mengambil jalan melingkar ia menuju ke arah bukit kecil, dimana orang-orang yang dicurigainya itu berada. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mendekati orang itu dari arah belakang.

Maka setelah Mahesa Jenar berhasil mencapai bukit kecil itu, ia segera turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon dengan ikatan yang tidak begitu keras, supaya apabila setiap saat diperlukan, tidak terlalu sukar baginya untuk melepaskan tali itu.

Dengan hati-hati sekali ia merangkak naik dan selalu berusaha untuk melindungi dirinya dengan batang-batang pohon dan daun-daun yang rimbun. Bahkan kadang-kadang ia memilih jalan menyusur tebing-tebing yang curam agar tidak menarik perhatian.

Di atas bukit itu ternyata beberapa orang berkuda yang dengan saksama mengikuti jalannya pertempuran di lembah. Mahesa Jenar yang dengan sangat hati-hati berhasil mendekati mereka, segera mengenal siapakah mereka itu.

PADA saat Mahesa Jenar mengetahui orang-orang yang berkuda itu, rasanya dirinya seperti terlempar ke dalam sebuah khayalan yang sangat menakutkan dan sukar untuk dipercaya. Karena itu jantungnya terasa seperti berdentam-dentam tak keruan. Cepat ia berusaha menguasai diri dan mengatur pernafasan untuk menenangkan dirinya. Meskipun demikian, ia menjadi gemetar juga.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang cukup berpengalaman, sehingga apa yang dilakukan bukanlah pencetusan perasaannya belaka, tetapi juga hasil dari pemikirannya yang masak.

Karena itu, meskipun di hadapannya berdiri tokoh-tokoh yang seolah-olah merupakan kejadian yang hanya dapat terjadi di dalam mimpi, namun ia tetap dapat mempergunakan pikirannya dengan baik.

Orang-orang berkuda itu adalah deretan dari tokoh-tokoh yang dikenalnya sebagai tokoh-tokoh golongan hitam yang cukup tangguh. Diantaranya adalah Lawa Ijo dan Padas Gunung yang rupanya telah sembuh, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Suami-istri Sima Rodra, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan yang lebih mengejutkan hati Mahesa Jenar adalah hadirnya Lembu Sora bersama-sama dengan mereka.

Dengan demikian maka apa yang terjadi di Banyubiru seolah-olah kini menjadi terang benderang baginya.

Berkumpulnya tokoh-tokoh itu adalah suatu petunjuk yang jelas. Karena itu setelah ia mendapat kesimpulan dari peristiwa yang tak tersangka itu, otaknya pun segera bekerja keras. Yang harus diusahakan pertama-tama adalah menarik pasukan pasukan yang menyerang pasukan dari Demak itu. Sesudah itu entahlah apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Menilik tata tempat mereka berada, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa Lembu Sora yang berada di tempat paling depan adalah orang yang paling berkepentingan dengan pertempuran itu. Sedang menurut perhitungan Mahesa Jenar, laskar yang paling banyak dari para penyerang itu adalah laskar Lembu Sora.

Sekali lagi Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke lembah yang semakin samar dilapisi debu yang mengepul tinggi. Tetapi dengan jelas ia dapat menyaksikan pertempuran yang semakin dahsyat. Laskar penyerang itu kemudian hampir kehilangan pegangan, sehingga serangannya sudah mengarah ke gelar Gelatik Neba.

Melihat hal itu, maka Mahesa Jenar merasa perlu untuk segera bertindak sebelum korban semakin banyak yang jatuh. Bagi Lembu Sora dan orang-orang seperti Lawa Ijo dan sebagainya, banyaknya korban tidak merupakan soal. Yang penting, adalah maksud mereka tercapai.

Setelah berpikir berulang kali, dan menimbang untung-ruginya, Mahesa Jenar memutuskan untuk mengambil jalan yang sangat berbahaya. Sebab sudah tidak ada pilihan lain baginya kecuali menempuh bahaya itu.

Dengan lebih berhati-hati lagi Mahesa Jenar merangkak semakin dekat dengan orang-orang berkuda. Untung mereka terlalu asyik menyaksikan pertempuran di lembah, sehinggga kehadiran Mahesa Jenar sama sekali tak mereka ketahui.
Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, seperti harimau yang menerkam mangsanya, Mahesa Jenar sambil menggeram meloncati Lembu Sora yang sama sekali tidak menduganya.

Karena itu, ia sama sekali tidak bersiaga, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Segera Mahesa Jenar mendekapnya dan karena dorongan kekuatan loncatannya maka Mahesa Jenar telah mendorong Lembu Sora sehingga keduanya jatuh berguling dari atas kuda.

Mahesa Jenar yang telah memperhitungkan setiap gerakannya dengan saksama, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebaliknya, Lembu Sora menjadi bingung, dan untuk beberapa saat ia seperti kehilangan pikirannya.

Lembu Sora menjadi sadar ketika lengan Mahesa Jenar yang kuat telah melingkari lehernya. Cepat tangan kanannya bergerak meraba hulu kerisnya yang terselip di lambung. Tetapi ia menjadi terkejut ketika keris itu sudah tidak ada.

Ketika Lembu Sora berusaha untuk mencapai tangkai pedangnya, tiba-tiba terasa ujung sebuah senjata tajam melekat di punggungnya. Tahulah ia sekarang bahwa orang yang mendorongnya telah berhasil pula menghunus kerisnya. Segera Lembu Sora menggigil karena marah, matanya merah menyala dan nafasnya mengalir bertambah cepat.

Orang gila manakah yang telah melakukan pekerjaan terkutuk ini? kata Lembu Sora sambil menggeram.

Sementara itu, orang-orang lain yang menyaksikan kejadian yang hanya sekejap itu menjadi tertegun. Sesaat mereka pun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang dilakukan.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, Akulah, Mahesa Jenar.
Kau orang Pandanaran…, desis Lembu Sora semakin marah, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab setiap ia bergerak, keris yang menempel di punggungnya itu terasa semakin menekan.

Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.
Aku sudah menduga bahwa kau tidak berani berlaku sebagai seorang jantan, sambung Lembu Sora.

Aku hanya dapat berlaku jantan terhadap orang jantan pula, jawab Mahesa Jenar.
Kau kira aku tidak mampu membunuhmu kalau kau menyerang aku berhadapan? kata Lembu Sora hampir berteriak.
Aku tidak peduli, tetapi membinasakan kakak kandung dengan caramu itu, adalah bukan laku seorang jantan. Kau bermaksud membinasakan pasukan Demak itu, dengan harapan Gajah Sora yang tertuduh berbuat khianat dengan menipu dan kemudian menjebak. Adakah itu laku seorang jantan?
Aku sedang berusaha membebaskannya, jawab Lembu Sora.

MAHESA JENAR memang sudah menduga bahwa Lembu Sora pasti akan beralasan demikian. Karena itu ia meneruskan, Membebaskan Ki Ageng Gajah Sora dan kemudian tidak memberinya tempat menetap karena ia akan selalu diburu oleh alat-alat negara?

Ki Ageng Lembu Sora, kau tidak usah banyak bercerita. Sekarang perintahkan orang-orangmu untuk menarik laskarmu yang menyerang pasukan Demak itu.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terkedjut bukan buatan. Karena itu pula maka darahnya menjadi semakin mendidih membakar hatinya.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu telah mulai memiliki kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu pula mereka menjadi cemas sebab sebagian dari mereka telah mengenal siapakah Mahesa Jenar, bahkan Lawa Ijo, Wadas Gunung, Jaka Soka dan Sima Rodra telah mengetahui sampai di mana kekuatan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar… jawab Lembu Sora, Kau jangan mencoba-coba menakut-nakuti aku dengan permainanmu yang licik itu. Kau kira aku dapat kau paksa dengan caramu yang murahan ini?

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi keris di punggung Lembu Sora itu semakin menekan, sehingga ia terpaksa menahan napas.

Kawan-kawan Lembu Sora hanya dapat menyaksikan semuanya itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tak berani berbuat sesuatu, sebab dengan demikian berarti riwayat Lembu Sora akan berakhir.

Meskipun demikian, Lawa Ijo telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa Lembu Sora.

Tuan, Rangga Tohjaya yang perwira. Aku telah mengenal dan merasakan betapa dahsyatnya ilmu Tuan yang dinamakan Sasra Birawa. Tetapi meskipun demikian aku yakin kalau Tuan tak dapat mengalahkan kami semua ini sekaligus, katanya sambil tertawa dalam.

Lawa Ijo… jawab Mahesa Jenar, Aku tidak merasa bahwa aku akan dapat mengalahkan kalian. Yang penting bagiku sekarang adalah Ki Ageng Lembu Sora memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari pertempuran. Setelah itu, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku. Tetapi mudah-mudahan Ki Ageng Lembu Sora akan menjadi pelindungku yang baik.

Kau gila! bentak Lembu Sora. Lepaskan aku, dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.
Itu adalah soal yang mudah, sahut Mahesa Jenar, Tetapi perintahkan orang-orangmu menarik diri.

Mendengar kata-kata itu Lembu Sora menjadi semakin marah, sampai dadanya serasa akan pecah. Apalagi ketika ujung keris itu serasa semakin menekan punggungnya.

Akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menuruti permintaan Mahesa Jenar. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang kaku tegang di sekitarnya tanpa mendapatkan suatu kesan apapun juga. Kemudian berkatalah ia kepada salah seorang yang berkuda itu, Berilah tanda untuk menarik pasukan.

Orang yang diajaknya berbicara itu rupanya ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang berkeliling, dan seolah-olah ia minta penjelasan dari setiap orang yang berada di situ. Tetapi setiap wajah yang ditatapnya hanyalah mengesankan kebimbangan dan ketegangan. Sampai akhirnya ia memandang wajah Jaka Soka. Hanya wajah inilah yang berkesan lain. Mahesa Jenar yang pada saat itu juga memandang Jaka Soka, melihat suatu perasaan yang aneh. Apalagi ketika kemudian ia berkata kepada orang yang memandangnya untuk mendapat penjelasan itu. Jenawi, tak usah kau beri tanda untuk menarik pasukan, katanya.

Semuanya yang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu menjadi terkejut. Lebih-lebih Lembu Sora sendiri, sampai ia membentak kepada Jaka Soka, Apakah maksudmu?

Tampaklah senyum menghias bibir Jaka Soka. Sedang matanya yang redup itu memandang Lembu Sora dengan sinar yang aneh. Pandangan yang demikianlah yang pernah menarik Mahesa Jenar dalam suatu perjalanan menyeberang hutan Tambakbaya. Meskipun wajah Jaka Soka itu cukup tampan dan bersih, namun wajah yang demikian bagi Mahesa Jenar tidaklah lebih atau kurang daripada wajah iblis yang paling berbahaya.

Mereka menjadi bertambah terkejut lagi ketika mereka mendengar jawaban Jaka Soka atas pertanyaan Lembu Sora, Maksudku… Ki Ageng, tak usah laskar Ki Ageng itu ditarik. Biarlah mereka membinasakan pasukan Demak itu. Dengan demikian bukankah benar kata Rangga Tohjaya atau Mahesa Jenar itu, bahwa Ki Ageng Gajah Sora tak akan mendapat tempat lagi di dunia ini, sebab selalu akan diburu oleh alat-alat negara. Syukur kalau segera ia dapat tertangkap dan dihukum mati.

Aku tidak berkata tentang Kakang Gajah Sora, potong Lembu Sora, Tetapi tentang aku sendiri.

Kembali Jaka Soka tersenyum. Kalau kau juga mati karena Mahesa Jenar, adalah baik sekali bagi kami. Dengan demikian saingan kami telah berkurang satu orang lagi, katanya.

Tutup mulutmu, bentak Lembu Sora sambil menggigil karena marah yang tak tertahankan lagi.

Kalau aku dapat lepas dari tangan pengecut ini, aku ingin meremas mulutmu itu Jaka Soka, sambungnya lagi.

Kembali terdengar Jaka Soka berkata di sela-sela senyumnya, Jangan marah Ki Ageng, dan jangan menyesal atas nasib jelek yang kau alami.

Tubuh Lembu Sora, menjadi semakin menggigil, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa oleh tekanan keris Mahesa Jenar. Sedang kawan-kawannya yang lain pun tidak kalah terkejutnya mendengar kata-kata Jaka Soka itu, sampai terdengar Uling Kuning yang kasar berkata, Tidakkah kau dapat diam Ular Laut gila?

Mendengar kata-kata Uling Kuning itu, malahan Jaka Soka tertawa lembut. Jangan berpura-pura Uling Kuning, katanya.

Atau akukah yang harus menutup mulutmu? potong Uling Kuning.

Jaka Soka agaknya tidak senang mendengar kata-kata Uling Kuning yang kasar itu, sehingga ia memutar kudanya menghadap Uling Kuning. Cobalah kalau kau mau, katanya.

ULING KUNING ternyata betul-betul orang yang kasar dan terburu nafsu. Hampir saja ia mendera kudanya menyerang Jaka Soka kalau saja kakaknya, Uling Putih tidak mencegahnya. Kenapa kau perlu mendengarkan omongan orang gila itu? kata Uling Putih.

Terdengarlah Lawa Ijo menyambung, Alangkah beraninya kalian. Tetapi apa yang dapat kalian perbuat atas orang itu. Orang yang sudah jelas menghalangi usaha kami?

Sejenak kemudian mereka semuanya saling berdiam diri. Otak mereka bekerja keras untuk dapat mencapai suatu penyelesaian tanpa merugikan diri sendiri. Tetapi kesepian yang tegang itu kemudian tersobek oleh suara Mahesa Jenar yang lantang, Aku tidak peduli apakah kalian ini sebenarnya sedang bersekutu atau sedang bersaing. Tetapi sekali lagi aku minta, tariklah pasukan penyerang itu.

Mahesa Jenar mengakhiri kata-katanya sambil menekankan kerisnya lebih keras lagi. Terdengar Ki Ageng Lembu Sora berdesis perlahan. Kemudian katanya, Kalian tak akan dapat berbuat sesuatu atas tanah ini serta segala isinya tanpa aku. Karena itu jangan halangi Jenawi memberi tanda untuk menarik pasukan.

Semua mata kemudian tertuju kepada Jaka Soka yang masih dalam keadaan siaga untuk menghadapi Uling Kuning. Tetapi sesaat kemudian tampaklah kembali sebuah senyuman di bibirnya. Senyum iblisnya. Rupa-rupanya kalian lebih senang berpura-pura, meskipun kalian sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Baik mengenai tanah perdikan Banyu Biru maupun mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Apakah kalian kira bahwa pertemuan akhir tahun itu nanti akan dapat memberi kepuasan kita semuanya? Itu adalah omong kosong yang besar. Kalian tahu pasti bahwa Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten itu akan menuntut kematian demi kematian, sampai akhirnya ia jatuh di tangan orang yang terkuat diantara kita, bahkan guru-guru kita atau pendekar-pendekar angkatan tua itu. Meskipun demikian aku akan tetap hadir di pertemuan akhir tahun, yang sebenarnya tak berarti apa-apa itu. Nah sekarang aku tidak mempunyai urusan lagi di sini. Aku akan pergi saja, dan pulang ke Nusakambangan.

Setelah berkata demikian segera ia memutar kudanya dan menderanya. Kuda itu segera meloncat dan berlari, seperti gila, diikuti oleh dua orang berkuda yang berlari menyusulnya. Kedua orang itu pasti pembantu-pembantu kepercayaannya.

Sejenak kemudian orang yang bernama Jenawi itu bergerak maju. Sekali lagi ia masih memandangi setiap wajah yang ada disitu. Sesudah tidak ada kesan-kesan lain, maka segera ia mengambil sebuah bundaran logam yang mengkilap. Dengan bermain-main sinar matahari yang memantul dari logam itu, ia sebenarnya sedang memberikan aba-aba ke arah bukit di seberang tempat pertempuran itu.

Ternyata tanda-tanda yang dikirim lewat logam yang mengkilap itu dapat sampai ke alamatnya. Dan karena itulah kemudian dari balik gerumbul-gerumbul di lereng sebelah, terdengar suara sangkakala mengumandang dengan nyaringnya. Itulah aba-aba kepada para laskar Lembu Sora yang bergabung dengan laskar-laskar para tokoh hitam untuk mengundurkan diri. Tetapi yang terbanyak dari laskar penyerang itu adalah laskar Lembu Sora, sebab dialah yang merasa paling berkepentingan dengan tanah perdikan Banyubiru.

Sebentar kemudian segera tampaklah perubahan pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya di lembah. Pasukan gabungan yang menyerang pasukan Demak itu segera berpencaran dan mengundurkan diri cerai berai. Sebab sebenarnya mereka merasakan betapa dahsyatnya bertempur pasukan-pasukan Wira Tamtama, Wira Jala Pati, Nara Manggala, Manggala Sraya, dan lebih-lebih kesatuan Manggala Pati yang mengawal Sang Saka Gula Kelapa.

Karena itu ketika mereka mendengar tanda untuk mengundurkan diri, maka dengan tidak perlu diulang lagi, mereka telah saling berebut dahulu meloncat menjauhi prajurit-prajurit Demak yang bertempur dengan semangat yang tinggi sebagai pengemban kewajibannya, melindungi ketenteraman negara.

Sekali lagi bulu tengkuk Mahesa Jenar rasa-rasanya tegak berdiri, ketika dilihatnya bendera-bendara Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega tetap berkibar dengan megahnya, memagari Sang Saka Gula Kelapa.

Pasukan Demak yang menyaksikan penyerang-penyerangnya berlari cerai berai, ternyata sama sekali tidak berusaha untuk mengejar atau menghancurkan dengan senjata-senjata jarak jauh. Tetapi ketika pertempuran itu telah reda segera pasukan Demak itu mengubah gelarnya menjadi Gedong Minep kembali. Dan dalam gelar ini mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Demak. Beberapa orang dari prajurit Demak itu segera merawat kawan-kawan mereka yang terluka, malahan ada beberapa diantaranya yang gugur, untuk dibawa bersama-sama dengan mereka.

Melihat kenyataan itu, meskipun korban dari kedua belah pihak itu sama sekali tak seimbang, tetapi terlukanya seorang saja dari prajurit Demak telah dapat menjadi sebab murkanya Sultan Demak. Dan pasti Gajah Sora yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala kemurkaan itu. Mengenangkan hal itu jantung Mahesa Jenar berdenyut semakin cepat. Dan karena kenangannya yang melambung itu pulalah, maka ia menjadi lengah.

SEBENARNYA Lembu Sora bukan pula orang yang dapat diremehkan. Bagaimanapun ia adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora. Karena itu ia pun cukup mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.
Ketika tekanan ujung keris Mahesa Jenar tiba-tiba mengendor, tahulah Lembu Sora bahwa perhatian Mahesa Jenar hampir seluruhnya tertuju kepada pasukan-pasukan di lembah. Entahlah, ia sedang menekuri kekalahan pasukan gabungan itu, atau sedang berbangga hati karena pasukan Demak masih tampak segar bugar, atau ia sedang mengenangkan nasib Gajah Sora. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahesa Jenar telah meninggalkan sikap hati-hati. Karena itu Lembu Sora ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang hanyut dalam arus kenangannya yang mengawang, tiba-tiba Lembu Sora yang mempunyai kekuatan besar sekali itu, menjatuhkan dirinya setelah dengan cepat sekali ia merenggut lengan Mahesa Jenar yang melingkar di lehernya. Demikian ia berguling di tanah, demikian kakinya menyambar perut Mahesa Jenar yang agak kurang bersiaga.

Demikian keras tendangan Lembu Sora, juga karena Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka segera ia terdorong ke belakang beberapa langkah. Hanya karena keuletan serta pengalamannya maka ia tidak sampai jatuh terlentang.

Meskipun mendadak, perut Mahesa Jenar terasa mual dan sakit, namun ia segera dapat menguasai keseimbangannya kembali. Meskipun demikian hatinya berguncang karena terkejut. Juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi terkejut pula, tetapi cepat mereka dapat menanggapi keadaan.

Karena itu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar surut beberapa langkah, serta segera dapat menguasai dirinya kembali, mereka tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Lebih-lebih Lawa Ijo yang tahu pasti sampai dimana kedahsyatan tangan Mahesa Jenar. Maka sebelum Mahesa Jenar dapat menguasai diri sepenuhnya, Lawa Ijo mendera kudanya, langsung menyerang Mahesa Jenar dengan tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang putih mengkilap.

Tetapi ia menjadi gugup ketika dilihatnya, dalam sekejap Mahesa Jenar telah berdiri dengan marahnya. Di atas satu kakinya, tangan kirinya menyilang dada sedang tangan kananhya terangkat tinggi- tinggi.

Lawa Ijo telah mengenal unsur gerak Mahesa Jenar yang demikian itu. Maka ketika ia telah hampir sampai di hadapan Mahesa Jenar, dengan kebingungan dan tanpa perhitungan ia meloncat dari kudanya. Meskipun gerakannya itu sama sekali tak dihitungkan dengan saksama, namun ia berhasil menyelamatkan nyawanya. Sebab pada saat itu benar-benar karena marah yang tak tertahankan Mahesa Jenar telah memutuskan untuk melawan orang-orang itu dengan Sasra Birawa yang menjadi andalannya. Tetapi pada saat ia mengayunkan ilmunya, Lawa Ijo dengan gugup telah menjatuhkan dirinya, sehingga tangannya tidak berhasil menghancurkan dada Lawa Ijo. Tetapi pukulan Mahesa Jenar itu telah mengenai punggung kuda Lawa Ijo, yang kemudian dengan dahsyatnya kuda itu memekik tinggi, tetapi sekejap kemudian seperti batu saja jatuh terguling tak bernafas lagi. Tulang belakang kuda itu patah serta beberapa tulang iganya remuk.

Melihat kedahsyatan pukulan Mahesa Jenar, semua yang menyaksikan terguncang hatinya. Namun tak ada pilihan lain dari mereka itu, kecuali melawan bersama-sama.

Maka dengan menggeram dahsyat Sima Rodra segera menyerang dengan tombak pusakanya dan bersamaan dengan itu sepasang Uling Rawa Pening pun telah mengayunkan cambuknya. Cepat Mahesa Jenar meloncat undur untuk menghindari tombak Sima Rodra yang menyambar dengan dahsyatnya. Dan pada saat itu pula Lembu Sora telah mencabut pedangnya yang berukuran luar biasa besarnya.

Tetapi meskipun ia masih belum berani mendekat. Baru ketika Lawa Ijo telah bersiaga pula, mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda-beda. Sebenarnya untuk menghadapi sekian banyak tokoh-tokoh sakti itu Mahesa Jenar merasa bahwa tenaganya tidak akan mencukupi. Tetapi apapun yang terjadi, pantang ia menghindari.

Karena itu, segera ia menghimpun segenap kekuatan yang ada padanya untuk dapat memberikan perlawanan yang sebesar-besarnya. Dengan ayunan yang deras sekali, Lembu Sora mengarahkan pedangnya ke leher Mahesa Jenar, dan bersamaan dengan itu pula Lawa Ijo menusuk ke arah lambung, untuk menangkap gerakan Mahesa Jenar apabila ia menghindari sambaran pedang Lembu Sora dengan merendahkan diri.

Tetapi ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak menghindar dengan merendahkan diri, bahkan dengan loncatan yang keras ia menerkam Lawa Ijo. Gerakan ini sangat mengejutkannya, sehingga dengan cepat ia menarik pisaunya dan segera pisau itu dipergunakannya untuk melindungi dirinya dengan gerakan-gerakan yang berputar. Tetapi Mahesa Jenar pun segera mengurungkan serangannya.

Sementara itu pedang Lembu Sora yang berat telah berdesing di belakang punggungnya. Cepat ia memutar tubuhnya dan dengan dahsyatnya tangan Mahesa Jenar menyusul arah gerakan pedang itu, dengan sisi telapak tangannya yang berlandaskan ilmunya Sasra Birawa. Ternyata akibatnya adalah hebat sekali. Pedang Lembu Sora adalah bukan pedang sewajarnya. Tetapi adalah pedang yang dibuat khusus untuknya, dengan ukuran yang tidak lazim, serta dari baja pilihan. Tetapi demikian sisi telapak tangan Mahesa Jenar menyentuh punggung pedang itu, terdengarlah gemeretak pedang itu patah dan disusul dengan keluhan tertahan.

Terasa betapa nyerinya tangan Lembu Sora sampai pangkal pedang itu terlempar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedahsyatan ilmu Sasra Birawa itu mampu mematahkan pedangnya. Ketika ia melihat kuda Lawa Ijo jatuh dan mati, ia masih belum begitu kagum, meskipun hal itu telah mengejutkannya pula. Apalagi ia tidak segera dapat menyaksikan bahwa pukulan Mahesa Jenar itu telah meremukkan tulang-tulang iga kuda itu.

KARENA terkejut, heran dan kagum campur-aduk, juga pada saat itu ia teringat ceritera ayahnya tentang beberapa orang sahabatnya, diantaranya adalah Ki Ageng Pengging Sepuh yang terkenal dengan ilmu Sasra Birawa, Lembu Sora menjadi seperti terpaku di tempatnya. Kesempatan itulah yang akan dipergunakan oleh Mahesa Jenar. Ia sudah tidak dapat memaafkan lagi kesalahan Lembu Sora yang sudah sampai hati mengkhianati kakaknya. Maka segera ia bersiaga dan bersiap meloncat ke arah Lembu Sora dengan pukulan mautnya.

Tetapi keadaan segera berubah dan berselisih dengan rencananya. Mahesa Jenar pernah melawan Wadas Gunung bersama dengan kira-kira 20 orang sekaligus, dan dengan suatu keyakinan yang penuh ia akan dapat mengalahkan mereka. Sekarang ia berhadapan tidak lebih dari 8 atau 9 orang. Tetapi mereka bukanlah Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking, Bagolan dan sebagainya. Mereka yang dihadapi sekarang adalah Lawa Ijo, Suami Isteri Sima Rodra, Sepasang Uling dan Lembu Sora. Karena itu keadaannya akan sangat jauh berbeda.

Pada saat itu, pada saat ia telah mengambil suatu kepastian akan dapat membalaskan sakit hati Gajah Sora, mendadak ketika ia hampir meloncat, menyerbulah kuda Suami-Istri Soma Rodra seperti gila menerjangnya. Dan bersamaan dengan itu pula meluncurlah dua buah sinar putih dari tangan Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Meskipun mereka tidak pernah bertempur berpasangan, tetapi karena ilmu mereka cukup tinggi, mereka dengan mudahnya saling menyesuaikan diri dan saling mengisi. Demikianlah Sima Rodra dan sebagainya telah bekerja mati-matian untuk menyelamatkan Lembu Sora.

Mengalami serangan-serangan yang hampir bersamaan itu, Mahesa Jenar terpaksa mengurungkan serangannya. Dengan merendahkan diri dan memutar tubuhnya sekaligus, ia berhasil menghindari serangan dua pisau Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Tetapi pada saat itu kuda suami-istri Sima Rodra telah demikian dekatnya. Untuk menghindarkan diri dari injakan kaki kedua ekor kuda itu, Mahesa Jenar terpaksa berguling-guling beberapa kali.

Dengan gerakannya itu, Mahesa Jenar berhasil menyelamatkan dirinya, tetapi serangan berikutnya telah mendatanginya pula. Dengan cara yang sama dengan Sima Rodra, Uling dari Rawa Pening menyerang berpasangan pula. Serangan itu tidak kurang hebatnya. Ditambah lagi dengan sepasang cambuk yang berdesing-desing di udara. Agar tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu, Mahesa Jenar melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya.

Tetapi malang bagi Mahesa Jenar. Ternyata ia terlalu jauh meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang. Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Mahesa Jenar dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang yang sangat dalam.

Peristiwa itu sama sekali tak terduga oleh siapapun. Karena itu, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi jurang itu untuk melihat Mahesa Jenar tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi jurang itu.

Mahesa Jenar sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung di langit.

Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Mahesa Jenar terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya.

Lawan-lawan Mahesa Jenar yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Mahesa Jenar.

Meskipun demikian, mereka merasa betapa panas hati mereka, karena dengan tindakannya yang luar biasa itu, Mahesa Jenar telah menggagalkan maksud mereka untuk menghancurkan tentara Demak, atau setidak-tidaknya membuat tentara itu lumpuh, sehingga dengan demikian hukuman yang akan dijatuhkan kepada Gajah Sora pasti sangat berat. Tetapi dengan serangan yang tak begitu berarti itu, masih ada kemungkinan bagi Gajah Sora untuk mengelakkan diri, atau malahan diantara para prajurit Demak itu dapat memberikan keterangan bahwa serangan itu bukan dari Laskar Banyubiru.

Tetapi bagaimanapun, usaha mereka ada juga hasilnya meskipun hanya sedikit. Yang pasti adalah bahwa Gajah Sora untuk beberapa saat tidak berada di Banyubiru. Keadaan ini pasti akan dapat dipergunakan sebagai modal untuk melaksanakan rencana-rencana yang akan disusun kemudian.

Karena itu, ketika sudah tidak ada lagi yang akan mereka lakukan, serta mereka telah yakin bahwa Mahesa Jenar tidak akan mungkin menyelamatkan diri dalam keadaan yang demikian, maka segera mereka meninggalkan tempat itu. Selanjutnya mereka menuju ke tempat yang telah mereka tentukan sebagai tempat berkumpul bagi segenap laskar gabungan.

Namun bagaimanapun, kata-kata Uling Laut dari Nusakambangan, Jaka Soka sebagai seorang pemimpin Bajak Laut yang sangat ditakuti, membekas pula di dalam otak mereka. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten pasti akan menuntut kematian demi kematian, sampai kedua pusaka itu jatuh ke tangan orang yang terkuat. Dan wajarlah apabila orang yang terkuat itu kemudian dapat merajai golongannya.

Demikianlah hampir sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka yang mengucapkan kata-kata. Mereka sedang sibuk menaksir-naksir diri, menaksir-naksir kekuatan gerombolan masing-masing serta orang-orang mereka yang dapat mereka percaya. Sebab, akhirnya dalam tata pergaulan yang tak terikat oleh hukum itu, kekuatan jasmaniahlah yang akan dapat menentukan siapakah yang berkuasa.

SEMENTARA itu, Laskar Banyubiru yang menarik diri kembali, telah sampai di alun-alun Banyubiru. Wanamerta, Panjawi, Arya Salaka dan beberapa pimpinan laskar yang lain segera menghadap Nyai Ageng Gajah Sora dan menceriterakan apa yang telah terjadi.

Nyai Ageng mendengarkan cerita itu dengan berdiam dan menundukkan kepala.

Tetapi kemudian nampaklah butiran-butiran airmata setetes demi setetes jatuh di pangkuannya. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang tabah, yang sadar akan kedudukan suaminya sebagai seorang kepala daerah perdikan yang sekaligus menjadi panglima laskarnya.

Namun mengalami peristiwa kali ini, Nyai Ageng Gajah Sora tidak dapat menahan airmatanya. Bahkan kemudian didekapnya Arya Salaka, anak laki-laki satu-satunya, dan kemudian kepala anak itu ditekankan ke dadanya seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi.

Maka setelah cukup mereka memberikan laporan mereka, Wanamerta dan kawan-kawannya segera mohon diri untuk memberikan beberapa keterangan kepada laskar Banyubiru yang masih berkumpul di alun-alun, dan yang kemudian akan dibubarkan.

Tetapi dalam keadaan ini Wanamerta sadar bahwa Banyubiru harus tetap mempertinggi kewaspadaan, dan bahkan Wanamerta telah mengambil keputusan untuk mengadakan persiapan yang lebih saksama dengan mengadakan latihan-latihan keprajuritan.

Sementara itu, matahari tetap beredar dalam garis perjalanannya. Angin pegunungan yang sejuk bertiup semakin sore semakin kencang, menggoyang pepohonan dan merontokkan daun-daun kuning yang telah tidak dapat berpegangan lebih erat lagi.
Pada saat itu, ketika Arya sedang duduk bertopang dagu di atas tangga pendapa rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kuda abu-abu lengkap dengan pelananya, tetapi tanpa penunggangnya. Kuda itu berjalan perlahan-lahan memasuki halaman.

Arya kenal betul bahwa kuda itu adalah kuda yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar, karena itu segera ia berlari ke pintu gerbang untuk menengok apakah Mahesa Jenar masih berada di luar halaman. Tetapi di luar gerbang itu sama sekali tak ada seorangpun kecuali dua orang laskar yang sedang berkawal.

Kau lihat kuda ini, Kakang? tanya Arya kepada salah seorang.

Ya, aku melihat, jawab orang itu.

Tanpa penunggang? tanya Arya lagi, menegaskan.

Ya, jawab orang itu pula, Kuda itu datang tanpa penunggangnya.

Segera Arya menjadi sangat cemas. Apakah yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Segera ia meloncat ke atas punggung kuda itu dan dilarikan ke arah timur untuk melihat barangkali Mahesa Jenar langsung pergi ke mata air tempat ia biasa mandi.

Tetapi hatinya menjadi kecewa ketika di sanapun ia tidak melihat orang yang dicarinya.

Dengan perasaan yang semakin cemas segera Arya kembali ke pendapa. Setelah itu ia meloncat turun, langsung berlari ke pringgitan, dimana Wanamerta yang belum sampai hati meninggalkan rumah itu, sedang tidur untuk melepaskan lelah.

Eyang Wanamerta…! teriak Arya, Lihatlah ke halaman.

Wanamerta terkejut mendengar Arya berteriak. Segera ia meloncat ke halaman dan apa yang dilihatnya adalah seekor kuda abu-abu tanpa penunggang.

Wanamerta pun kenal kuda itu, maka iapun menjadi terkejut dan kemudian cemas.

Apakah kuda ini datang tanpa penunggangnya?
Ya, Eyang, jawab Arya. Kuda itu datang tanpa penunggang.
Dimanakah Anakmas Mahesa Jenar? gerutu Wanamerta seolah-olah kepada diri sendiri.

Aku telah mencarinya ke belik tempat Paman Mahesa Jenar sering mandi dan tidur di bawah beringin di lereng sebelah, tetapi di sana Paman tidak ada, sahut Arya.

Wajah Wanamerta tampak berkerut-kerut. Ia agaknya sedang berpikir dan kecemasan. Sesaat kemudian dipanggilnya pengawal gerbang. Panggil Adi Pandan Kuning, Sawungrana, Bantaran serta Panjawi. Suruhlah mereka membawa anak buah masing-masing 10 orang. Kami akan mencari Anakmas Mahesa Jenar. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan anakmas itu, perintahnya.

Yang disuruhnya segera melangkah pergi dengan tergesa-gesa ke kandang kuda, dimana kudanya ditambatkan. Dan sebentar kemudian orang itu telah meluncur di atas punggung kudanya seperti dilemparkan.

Sebentar kemudian orang-orang yang dipanggil itu telah lengkap berkumpul di pendapa. Mereka mendengar keterangan singkat dari Wanamerta bahwa kuda abu-abu yang dipergunakan Mahesa Jenar telah kembali tanpa penunggangnya. Karena itu dicemaskan kalau Mahesa Jenar telah menemui sesuatu kecelakaan. Padahal hadirnya Mahesa Jenar di Banyubiru pada saat itu, pada saat Ki Ageng Gajah Sora tidak ada, sangat diperlukan untuk melindungi tanah perdikan yang sedang kehilangan pemimpinnya, serta terancam bahaya dari segala penjuru.

Setelah mengadakan pembicaraan sebentar, maka dibagilah pekerjaan mereka. Bantaran dan anakbuahnya tetap berada di halaman itu, Sawungrana menjadi penghubung di antara halaman itu dengan rombongan pencari yang terdiri dari Wanamerta sendiri, Pandan Kuning, Panjawi dan anak buahnya.

Mereka masing-masing telah menyiapkan alat-alat untuk mengirimkan tanda-tanda bahaya apabila setiap saat diperlukan. Sementara itu para penjaga pun telah diperintahkan untuk memukul tanda supaya setiap laskar Banyubiru tetap dalam keadaan siap.

Ketika segala sesuatunya telah siap, maka segera rombongan itu berangkat, disusul dengan rombongan Sawungrana dengan arah yang sama, tetapi dengan kecepatan yang lebih kecil. Mereka pertama-tama menuju ke tempat mereka melihat Mahesa Jenar yang terakhir kalinya, yaitu pada saat pasukan Banyubiru akan ditarik kembali dari daerah pertempuran.

SAMPAI di tempat itu segera beberapa orang berusaha untuk mendapatkan jejak kaki kuda. Dan ketika jejak itu diketemukan maka mereka mencoba untuk mengikuti dengan harapan dapat memecahkan teka-teki hilangnya Mahesa Jenar.

Mudah-mudahan kuda itu hanya nakal saja sehingga penunggangnya ditinggalnya lari, desis Wanamerta perlahan-lahan. Tetapi nyata bahwa dibalik kata-katanya itu tersembunyi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat.

Dengan tekunnya mereka mencoba untuk mengikuti terus jejak seekor kuda yang mereka sangka adalah kuda yang dipakai oleh Mahesa Jenar, sebab arah kuda ini berbeda dengan arah kuda-kuda yang lain dari laskar Banyubiru. Kalau jejak kuda yang lain berjalan ke arah barat, maka jejak yang seekor berjalan kearah timur.

Mereka menemukan jejak ini berhenti di sebuah tempat yang agak tinggi, dan yang kemudian melingkar menuju ke sebuah bukit di sebelah lembah.

Tetapi mereka akhirnya menemukan jejak itu terputus. Dan tahulah mereka bahwa kuda itu telah ditambatkan di sebatang pohon. Dari tempat itu disebarlah beberapa orang untuk menyelidik beberapa tempat dengan suatu harapan bahwa mereka akan menjumpai Mahesa Jenar sedang mencari kudanya.

Tetapi yang mereka jumpai adalah mengejutkan sekali. Beberapa orang yang tersebar itu ada yang sampai pada bekas daerah pertempuran antara pasukan Demak dengan laskar Lembu Sora. Di situ, mereka menemukan beberapa bekas darah, senjata senjata yang tertinggal dan sebagainya. Sedang orang lain, yang juga mencari Mahesa Jenar telah sampai di atas gundukan tanah, dan mereka pun menjumpai bekas-bekas perkelahian. Seekor kuda ditemukan telah mati. Yaitu kuda Lawa Ijo yang telah dibunuh oleh Mahesa Jenar dengan tangannya.

Wanamerta mendengar semua laporan itu dengan dahi yang berkerut-kerut. Otaknya berputar seperti baling-baling. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dari apa yang telah disaksikan oleh anak buahnya. Tetapi yang pasti adalah keadaan telah menjadi semakin gawat. Dan sesuatu dapat terjadi atas Banyubiru. Maka terlintaslah dalam angan-angannya bahaya dari segala penjuru siap untuk menerkam tanah perdikan yang seolah-olah sedang lumpuh itu.

Setelah beberapa saat mereka tak mendapatkan suatu hasil apapun, mereka segera kembali dengan hati gelisah.

Pada malam hari itu juga beberapa pemimpin Banyubiru segera mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan segala segi yang mungkin terjadi pada keadaan seperti itu. Akhirnya, setelah mereka membahas beberapa masalah, sampailah mereka pada suatu keputusan, bahwa satu-satunya kemungkinan, apabila keadaan memaksa, mereka akan minta bantuan kepada Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit. Sebab dalam pertimbangan mereka, Ki Ageng Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa Lembu Sora sendiri ternyata memegang peranan penting dalam kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.
Hilangnya Mahesa Jenar, terutama bagi Arya Salaka, terasa menekan sekali dalam dadanya. Ia telah kehilangan ayahnya, dan kemudian orang yang dipercaya oleh ayahnya untuk mengasuh serta menjadi gurunya dalam olah kanuragan. Disamping itu Mahesa Jenar adalah kawan bermain-main yang menyenangkan. Itulah sebabnya maka kemudian ia menjadi pendiam dan selalu bermenung.

Ibunya yang tidak kalah sedihnya, namun yang selalu berusaha untuk menghiburnya, kadang-kadang menjadi sangat cemas melihat perkembangan Arya dari hari ke hari. Ia lebih senang menyendiri dan pergi ke tempat-tempat yang sepi. Kadang-kadang malahan ia sama sekali tidak mau tidur di dalam rumah, tetapi untuk beberapa malam Arya Salaka tidur dihalaman belakang.

Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya juga telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menggugah kegembiraan Arya, tetapi usaha mereka sama sekali tak berhasil. Sehingga akhirnya mereka hanya dapat menyaksikan dengan hati cemas atas sifat-sifat Arya yang telah berubah itu.

Dalam pada itu, apa yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Pada saat Mahesa Jenar terpelanting ke dalam jurang, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ketika Mahesa Jenar mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, paga bambu dengan sebuah kendhi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu terselip di dinding.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar dan terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya.
Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar. “Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.

SEGERA Mahesa Jenar tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Mahesa Jenar menjawab perlahan.

“Ya bapak.”

Orang itu mengangguk, lalu duduk dibale, sambungnya, ” jangan angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar.

Mahesa Jenar mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Tetapi tubuhnya adalah tubuh idaman bagi setiap lelaki. Mungkin karena ia harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya setiap hari, maka badannya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir keseluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula pendek.

Rupanya orang itu sadar ia sedang diamati. Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya. “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku ?.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.

“Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Disini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal disini kecuali aku seorang diri.”

Kembali Mahesa Jenar mencoba mengangguk.

“Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi kedalam mulut Mahesa Jenar. Sebenarnya memang leher Mahesa Jenar terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan kedalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar.

Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.

“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali angger suka air jeruk.”

Sesudah berkata demikian orangitu segera melangkah pergi. dan tinggallah Mahesa Jenar seorang diri, berbaring didalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa. Sebab bagaimanapun dahsyatnya kekuatan Sasra Birawa yang dimilikinya, namun untuk melawan tujuh orang sekaligus, agaknya ada diluar batas kemampuannya.

Kemudian oleh angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring Mahesa Jenar, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Mahesa Jenar akhirnya jatuh tertidur.

Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk disampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Mahesa Jenar orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis didalam lontar itu. Maka segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita yang agaknya menarik hati.
Pada saat itu tubuh Mahesa Jenar telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.

Bait pertama dari cerita itu menggambarkan tentang dua orang sahabat yang pergi merantau untuk berguru kepada seorang sakti. Meskipun kedua orang itu hanyalah sahabat saja, namun mereka telah merasa dirinya lebih dari dua orang bersaudara.

Karena itu apapun yang terjadi selalu mereka tanggung bersama.

Akhirnya sampailah mereka kesuatu lembah yang amat sepi. Lembah yang sama sekali tak pernah disentuh oleh kaki manusia. Disana dijumpainya seorang petapa yang telah menjauhkan diri dari kehidupan. Ia hanya tinggal mengabdikan sisa hidupnya untuk menyembah Yang Maha Agung.

Kedua orang sahabat itu kemudian menyerahkan hidup matinya kepada sang petapa sakti. Petapa yang telah menjauhkan diri dari kesibukan manusia itu semula ragu.

Tetapi karena kesadaran akan pembinaan kebajikan, akhirnya kedua orang itu diterima menjadi muridnya. Diajarinya mereka berdua tentang berbagai ilmu lahir dan batin. Jaya Kawijayan dan olah kanuragan sehingga kedua sahabat itu kemudian menjadi dua orang yang gagah perkasa.

Petapa sakti itu mengharap agar kedua pemuda itudapat melanjutkan dharma bhaktinya kepada tata pergaulan manusia membina kebajikan dan memusnahkan kejahatan.

Adapun petapa sakti itu, tak seorangpun yang pernah mengenal wajahnya, serta nama yang sebenarnya. Sebab ia selalu memakai topeng yang sangat kasar buatannya, berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan.

Mendengar nama Pasingsingan disebutkan, Mahesa Jenar terkejut bukan main. Tanpa disengaja ia mengulangi nama itu sampai orang itu terkejut dan berhenti.

PERLAHAN-LAHAN ia menoleh kepada Mahesa Jenar, dan ketika ia melihat Mahesa Jenar duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, ” katanya.

Begitulah, Bapak, jawab Mahesa Jenar.

Tetapi agaknya, adakah yang menarik perhatian Angger dalam ceritera ini? tanya orangtua itu kemudian.

Tetapi ketika Mahesa Jenar akan menjawab terdengar orang itu melanjutkan, Aku pernah mendengar kata orang bahwa lagu dapat dipergunakan untuk banyak tujuan. Dalam peperangan, lagu dapat membangkitkan semangat bertempur dan berkorban. Seorang prajurit yang telah kehilangan semangat, akan bangkit keberaniannya apabila ia mendengar sangkakala dalam irama yang menggelora. Sebaliknya, lagu akan sangat berguna pula dalam waktu bercinta.

Orang itu berhenti berbicara. Kemudian terdengarlah ia tertawa berderai. Anakmas pasti pernah bercinta, katanya tiba-tiba.

Perkataan itu mengejutkan Mahesa Jenar. Tanpa disengaja ia menggelengkan kepala. Melihat Mahesa Jenar menggeleng, orangtua itu mengerutkan keningnya, dan dengan nada keheranan ia bertanya, Angger belum pernah bercinta?

Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah oleh pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi tanpa disengaja ia menggelengkan kepalanya pula.

Orangtua itu kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, Baiklah aku berkata tentang masalah yang lain.

Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya, Kata orang, lagu dapat pula menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Nah, tadi aku mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Angger derita, meskipun suaraku sama sekali tak merdu dan lagunya pun barangkali banyak yang salah.

Terima kasih, Bapak, sahut Mahesa Jenar. Mungkin karena lagu itu pula aku jadi berangsur baik. Tetapi isi ceritera yang Bapak lagukan itu pun sangat menarik perhatianku.

Angger juga tertarik pada ceritera-cerita semacam itu? katanya pula. Kalau begitu kita mempunyai persamaan kesenangan. Tetapi, sampai sekarang aku masih belum mengenal siapakah Angger ini sebenarnya?

Oleh pertanyaan orangtua itu, barulah Mahesa Jenar menyadari kekakuan hubungannya dengan orang itu. Sebab masing-masing masih belum saling mengenal namanya. Karena itu, ketika orangtua itu menanyakan namanya, segera dijawabnya. Namaku Mahesa Jenar, Bapak…, dan siapakah Bapak ini pula?

Akh, aku adalah orang yang sama sekali tak berarti. Tetapi meskipun demikian, baiklah Angger mengenal namaku.

Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan, Namaku adalah Ki Paniling.

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. Kemudian ia bertanya pula, Ceritera yang Bapak baca sangat menarik perhatianku. Dari manakah ceritera itu Bapak dapatkan?

Kening orangtua itu berkerut kembali. Agaknya ia sedang mengingat-ingat. Tetapi kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia menjawab, Aku tidak ingat lagi Angger, di mana dan kapan aku mendapatkan naskah itu. Tetapi aku kira itu adalah salinan dari naskah-naskah yang ada di mana-mana. Jadi bukanlah berisikan suatu ceritera yang sedemikian menarik perhatian.

Bagaimanapun, keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang isi naskah itu, yang telah menyebut-nyebut nama Pasingsingan, namun ia selalu berusaha untuk menguasai diri. Sebab ia masih belum tahu benar dengan siapakah ia berhadapan.

Meskipun menilik sikap, kesederhanaan, cara berpikir serta hal-hal lain, orang itu bukanlah orang jahat, namun ia tidak dapat meninggalkan sikap hati-hati.

Masih panjangkah ceritera itu? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Tidak, jawab Ki Paniling, Angger ingin membaca sendiri?

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya. Ki Paniling kemudian menyerahkan lontar yang dibacanya itu kepada Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar kemudian menjadi kecewa ketika kelanjutan dari ceritera itu hanyalah tinggal beberapa bait saja, yang menceriterakan tentang keperkasaan dua orang murid Pasingsingan yang seakan-akan dapat terbang seperti burung rajawali. Adapun nama dari kedua orang itu, yang dianggap lebih tua karena memiliki beberapa kelebihan adalah Radite, sedang yang muda disebut Anggara.

Tidakkah Bapak mempunyai kelanjutan ceritera ini? tanya Mahesa Jenar dengan penuh keinginan untuk mengetahui.

Orangtua itu mengangguk-angguk sejenak, lalu berkata, Menurut ingatanku, aku ada mempunyai tiga jilid dari naskah itu. Tetapi cobalah nanti Bapak cari, barangkali sedang dipinjam orang selagi mereka punya keperluan.

Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, Istirahatlah Angger. Bapak akan mencari jilid kedua dan ketiga dari kitab itu.
Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu.

Mahesa Jenar heran mendengar kata-kata Ki Paniling. Kemanakah ia akan mencari kedua jilid yang lain? Adakah di sekitar rumah ini? Atau rumah-rumah orang lain?

Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengingsar tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri.

Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan.
Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan.

KETIKA memandang ke arah matahari terbit, Mahesa Jenar juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Paniling.

Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Mahesa Jenar melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Paniling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Mahesa Jenar melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya.

Tetapi disamping itu, timbullah suatu masalah lain di dalam kepalanya. Mahesa Jenar ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai tempat yang didiami oleh manusia.

Memang mungkin pada saat itu Ki Paniling sedang mencari kayu, misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar menjadi semakin berbelit-belit di kepalanya.

Setelah Mahesa Jenar berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat.

Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali. Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Paniling.

Tetapi baru saja ia memutar tubuhnya, tiba-tiba terdengarlah suara ramah, Adi Darba, itulah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.

Segera Mahesa Jenar memandang ke arah suara itu. Dilihatnya Ki Paniling sedang bercakap-cakap dengan seorang petani lain, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka.

Orang yang dipanggil Darba itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang tidak wajar.

Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Paniling, aku jadi agak heran, katanya dengan jujur.

Ki Paniling tersenyum lebar. Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia, jawabnya.

Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Mahesa Jenar berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.

Mahesa Jenar…, kata Paniling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti lazimnya orang memanggil kemenakannya. Inilah pamanmu Darba. Ia termasuk salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Darba?
Darba tertawa kembali. Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorangpun yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.

Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki Paniling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar.

Sekarang, singgahlah sebentar, Darba, ajak Paniling.

Terimakasih. Masih banyak yang akan aku kerjakan pagi ini. Mengairi sawah dan memasak gula, jawab Darba. Aku juga masih nderes tiga pohon lagi.

Bagus, sahut Paniling. Kalau masak, gulamu nanti antarlah kami buat minum air jahe.
Tentu, tentu… potong Darba, yang lalu melangkah pergi setelah mengangguk kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar melihat keakraban pergaulan dalam hidup sederhana itu dengan perhatian yang luar biasa. Alangkah jauh bedanya dengan pergaulan orang-orang kota yang banyak dibumbui oleh sikap berpura-pura.

Setelah petani yang bernama Darba itu hilang di kelokan jalan, segera Ki Paniling melangkah mendekati Mahesa Jenar sambil berkata gembira, Rupanya angger telah banyak mendapat kemajuan. Sukurlah kalau Angger telah dapat berjalan-jalan. Maafkanlah kalau aku terpaksa menyebut Angger sebagai kemenakanku. Hal itu hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Sebab di padepokan kecil ini segala sesuatu yang tak berarti dapat saja menjadi peristiwa yang besar.

Tak apalah, Bapak, jawab Mahesa Jenar. Mana saja yang baik untuk Bapak, akan baik pula untukku.

Bagus, bagus… sahut Ki Paniling, Sekarang marilah kita pulang, Angger masih jangan terlalu banyak bergerak.

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi segera ia melangkah mengikuti Ki Paniling.
Sebentar kemudian mereka telah sampai ke pondok Ki Paniling. Mahesa Jenar langsung dipersilakan berbaring untuk memulihkan kekuatannya, sedang Ki Paniling segera menyalakan api serta mengupas jagung.

Kembali terasa angin yang semilir mengusap tubuh Mahesa Jenar. Dan karena kesegaran dan kepenatan yang bercampur-baur, akhirnya sekali lagi Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya hiruk-pikuk di halaman. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tetapi untuk menjaga diri segera ia bangkit, dan memperhatikan keadaan dengan saksama. Di luar, didengarnya beberapa suara orang laki-laki menyebut-nyebut namanya. Tetapi kemudian ia menjadi tersenyum sendiri, namun juga dihinggapi oleh perasaan gelisah.

ORANG-ORANG itu ternyata adalah sahabat-sahabat Ki Paniling yang telah mendengar kabar bahwa kemenakannya datang mengunjungi kampung mereka yang kecil dan terpencil ini. Karena itulah mereka memerlukan datang untuk mengucapkan selamat datang serta menyampaikan salam perkenalan.

Ki Paniling sendiri agaknya menjadi kerepotan untuk memberi penjelasan kepada sahabat-sahabatnya, tentang kemenakannya. Tetapi rupanya ia cerdik juga. Supaya tidak ada salah keterangan dengan Mahesa Jenar, sengaja ia berbicara keras-keras dengan harapan bahwa dongengannya itu didengar pula oleh Mahesa Jenar.

Adik-adik sekalian, kemenakanku ini datang dari daerah yang jauh sekali. Ia pada saat-saat yang lampau telah pergi merantau hampir ke seluruh sudut bumi. Yang terakhir ia mengabdikan dirinya di pusat kerajaan. Yaitu pada Sultan Demak. Di sana ia menjadi seorang prajurit yang gemblengan, kata Ki Paniling.

Kemudian terdengar suara orang-orang itu bergumam. Agaknya mereka menyatakan perasaan kagum terhadap salah seorang prajurit kerajaan yang sudi berkunjung ke kampung kecil itu. Malahan seorang diantaranya berkata, Anehlah kau Bapak Paniling. Kenapa kau mempunyai kemenakan yang menjabat sebagai prajurit Demak, tetapi kau hidup miskin bersama-sama dengan kami di sini?

Mendengar pertanyaan itu, terdengar Ki Paniling tertawa. Yang menjadi prajurit bukanlah aku, tetapi kemenakanku.

Kalau begitu banyaklah yang sudah dilihatnya, kata yang lain, Dapatkah kiranya kita mendengar ceriteranya?

Tentu, tentu…, apabila ia sudah bangun, jawab Ki Paniling. Tetapi jangan tanyakan tentang kedudukannya sebagai prajurit, sebab ia telah mengundurkan diri.

Mengundurkan diri? tanya mereka hampir berbareng.

Ya, jawab Paniling.

Kenapa? tanya mereka kembali.

Paniling diam sejenak. Baru kemudian ia dapat menjawab, Sampai hal yang sekecil-kecilnya kalian ingin tahu?

Itu bukan kecil soalnya, jawab salah seorang, Tetapi adalah masalah yang besar. Seorang prajurit bagi kami adalah seorang yang luar biasa. Kalau sampai ia mengundurkan diri, pasti ada hal-hal yang luar biasa.

Kembali terdengar Paniling tertawa. Otakmu mengkilap seperti batu akik. Bagus, kau takut kalau kemenakanku itu menjadi buruan, atau dipecat karena kejahatan? Bagus, dengarlah, ia mengundurkan diri karena perbedaan pokok mengenai kepercayaan. Ia tidak mau menentang kawan-kawan seperjuangannya dalam satu pertentangan jasmaniah. Karena itu lebih baik ia mengundurkan diri, meskipun dengan demikian bukan berarti masa kebaktiannya terhenti pula. Ia tetap berjuang untuk kesejahteraan kawula Demak, kata Paniling.

Kemudian terdengarlah orang-orang di luar rumah itu bergumam puas. Tetapi tidak demikianlah perasaan Mahesa Jenar yang justru menjadi bergolak hebat. Keterangan Ki Paniling itu bagi Mahesa Jenar bukanlah sekadar kebetulan semata-mata. Tetapi adalah suatu ceritera yang tepat seperti apa yang dialaminya. Karena itu dadanya jadi bergoncang.

Bersamaan dengan itu muncullah sebuah kepala di ambang pintu. Sedemikian tiba-tiba sehingga Mahesa Jenar menjadi terkejut. Hampir saja ia meloncat menangkapnya, tetapi untunglah dalam sekejap kepala itu telah lenyap kembali disusul dengan suara seseorang, Kakang Paniling, kemenakanmu telah bangun.

He…. jawab Paniling, Bagus, kalau begitu kalian dapat menemuinya, tetapi jangan lupa kepada pesan-pesanku.

Sesaat kemudian beberapa orang telah melangkah masuk. Salah satu diantaranya segera membentangkan sebuah tikar pandan yang kasar, dan di atas tikar itulah segera mereka duduk. Mau tidak mau Mahesa Jenar harus duduk pula di atas tikar pandan itu. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan kewaspadaan, meskipun hanya sekejap. Ia tidak tahu jenis sarang apa pula yang sekarang sedang dimasukinya.

Maka mulailah sahabat-sahabat Paniling saling berebutan memperkenalkan diri mereka serta bertanya-tanya. Bertanya tentang hal-hal yang kadang-kadang menggelikan bagi Mahesa Jenar. Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka benar-benar petani-petani miskin yang sebagian besar masih sangat rendah pengetahuannya.

Memang ada satu dua diantaranya yang pernah pula merantau, tetapi pengalaman yang didapatnya pun sama sekali tak berarti.

Kalau demikian, akhirnya Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa yang sebenarnya kurang wajar adalah Ki Paniling sendiri. Memang sejak semula ia telah bertanya-tanya dalam hati tentang orang ini. Bagaimana ia dapat sampai ke pondoknya, dan bagaimana ia sengaja menyebut-nyebut Pasingsingan, lagi pula ia dapat menebak dengan tepat tentang dirinya, bahkan tentang kedudukannya sebagai bekas prajurit pun diketahuinya. Karena itu ia menjadi gelisah. Untunglah bahwa pertemuan itu tidak berlangsung terlalu lama.

SETELAH matahari sampai pada titik puncaknya, segera mereka mohon diri, pulang ke rumah masing-masing. Yang terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Darba.

Dengan tertawa pendek ia berkata, Mahesa Jenar, datanglah sekali-sekali ke pondokku meskipun tidak lebih baik dari pondok ini. Aku juga hidup seperti pamanmu, Paniling. Berbeda dengan orang lain di sini yang hidup berkeluarga, dengan anak-istri. Tetapi kami, aku dan pamanmu, hidup sebatang kara.

Baiklah, Paman, jawab Mahesa Jenar mengangguk.

Mata Mahesa Jenar yang tajam menangkap sinar yang gemerlapan dalam mata petani yang kekurus-kurusan itu. Sinar itu bukanlah sinar mata seorang petani miskin.

Rupanya dua orang ini harus mendapat perhatian sepenuhnya. Tetapi Mahesa Jenar pun adalah orang yang berotak cemerlang. Karena itu segala sesuatu diperhitungkannya dengan cermat. Juga terhadap kedua orang ini, ia bersikap sangat hati-hati.

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak mempunyai prasangka yang jelek terhadap Paniling maupun Darba. Sebab cahaya mata mereka serta pancaran wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan sesuatu kepalsuan. Tetapi meskipun demikian ia memperhitungkan pula kemungkinan-kemungkinan yang sebaliknya. Malahan kadang-kadang timbul dugaannya, apakah salah seorang diantaranya itu adalah Pasingsingan?

Setelah semua orang, juga Darba telah meninggalkan rumah itu, segera Paniling menyodorkan beberapa jagung rebus beserta gula kelapa yang masih baru kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang memang merasa lapar segera menerimanya dan dengan lahapnya ia menghabiskan bagiannya. Setelah itu tidak banyak yang mereka percakapkan. Apalagi Paniling segera pergi ke kebun untuk menyiangi tanaman-tanamannya.

Baru ketika matahari telah hilang di balik batas antara siang dan malam, serta Paniling telah menyalakan oncor jarak, mereka duduk di atas satu-satunya tempat pembaringan yang ada di dalam ruang itu.

Tiba-tiba tanpa ditanya Paniling berkata tentang kitabnya, Angger, ternyata kedua jilid dari kitab itu belum aku ketemukan. Aku tanyakan kesana-kemari, agaknya belum aku jumpai siapakah yang telah meminjamnya. Apakah Anakmas tertarik sekali dengan ceritera itu?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan menjawab pertanyaan itu. Namun demikian katanya, Aku sangat tertarik kepada ceriteranya, Bapak.

Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya. Ceriteranya memang menarik. Tetapi ceritera itu adalah ceritera biasa saja sebenarnya, sambung Paniling.

Ya, jawab Mahesa Jenar tiba-tiba. Ia sedang mencoba untuk memancing pikiran orang tua itu.

Aku juga pernah mendengar ceritera yang hampir sama, katanya.

Orang itu tampak agak terkejut, tetapi sebentar kemudian kesan itu telah hilang kembali. Malahan ia tersenyum sambil menjawab, Angger juga pernah mendengar? Di mana…?

Di Banyubiru, sahut Mahesa Jenar.

Banyubiru…? Dekat Rawa Pening? tanya Paniling.
Ya, kenapa? tanya Mahesa Jenar pula.
Akh, ceritera itu sampai tersiar demikian jauhnya, jawab Paniling.
Demikian jauhnya? Mahesa Jenar yang sekarang keheranan.

Ki Paniling kembali mengernyitkan alisnya. Dan kembali pula ia tersenyum lebar.
Bukan jauh sekali, katanya kemudian, Tetapi buat ceritera yang tak berharga itu, adalah suatu kehormatan besar apabila sampai tersiar ke daerah-daerah yang agak jauh.

Terasa bagi Mahesa Jenar ada sesuatu yang dapat ditangkapnya dari kata-kata Paniling, karena itu segera ia menyahut, Kalau ceritera itu sampai di sini, bukankah telah tersebar ke tempat yang lebih jauh lagi?

Paniling terkejut mendengar jawaban Mahesa Jenar. Tetapi hanya sekejap, karena hanya sesaat kemudian ia telah tertawa sambil berkata, Mungkin, mungkin Angger benar.

Mahesa Jenar tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi, karena itu ia ingin mendesak lebih lanjut. Ki Paniling, aku juga pernah mendengar ceritera tentang Pasingsingan itu di Banyubiru. Cobalah Ki Paniling sudi mendengarkan ceritera yang aku dengar itu untuk diperbandingkan dengan kelanjutan dari ceritera Ki Paniling yang tercecer, dari kitab jilid 2 dan 3. Adakah persamaannya ataukah hanya persamaan nama melulu.

Mahesa Jenar melihat orang tua itu menjadi agak gelisah, tetapi ia tidak mau kehilangan kemungkinan untuk menyentuh-nyentuh perasaan Ki Paniling yang paling dalam. Dengan demikian ia akan segera tahu dengan siapa ia berhadapan. Dengan kawan atau lawan. Maka segera Mahesa Jenar melanjutkan, Menurut ceritera yang tersebar luas di Banyubiru, tidak saja yang tertulis di lontar-lontar, tetapi bahkan telah menjadi ceritera rakyat yang tersebar dari mulut kemulut, mengatakan bahwa Pasingsingan sama sekali bukanlah seorang yang baik hati, bukan seorang yang pasrah diri kepada Yang Maha Agung, ia sama sekali tidak mengagungkan kebajikan, apalagi mempunyai dua orang murid yang bernama Radite dan Anggara. Tetapi Pasingsingan adalah orang yang sama sekali berlawanan dengan sifat-sifat itu. Ia mempunyai murid-murid yang sama jahatnya dengan dirinya sendiri, yang menamakan dirinya sebagai nama pahlawan, yaitu Lawa Ijo, Wadas Gunung dan Watu Gunung. Yang sama dengan ceritera Bapak adalah bahwa Pasingsingan itu memang sakti, namun ia telah mempergunakan kesaktiannya untuk kejahatan, merampok, membunuh, merampas isteri orang, me….

Bohong! tiba-tiba Paniling berteriak keras. Wajahnya jadi tegang dan merah. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Cepat ia hendak bangkit ketika dilihatnya wajah Paniling menyala. Mahesa Jenar sadar bahwa hal yang tak dikehendaki bisa terjadi. Karena itu ia cukup waspada.

TIBA-TIBA tangan Ki Paniling terjulur untuk menangkap baju Mahesa Jenar. Cepat ia mengelak, dan dengan gerakan kuat ia menerkam Paniling. Mahesa Jenar tidak mau didahului oleh orangtua yang masih belum diketahui siapakah dia dan sampai dimanakah kekuatannya.

Dengan menangkap orangtua itu, Mahesa Jenar bermaksud memaksanya untuk menjelaskan siapakah sebenarnya dirinya itu.

Tetapi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang ketika ia sama sekali tak berhasil menyentuh Ki Paniling dalam tempat yang demikian sempitnya. Bahkan tiba-tiba terasa tangannya terpilin dan lenyaplah segenap kekuatannya yang memang belum pulih seluruhnya. Tetapi bagaimanapun ia merasa bahwa Paniling mempunyai kekuatan yang jauh di atas kemampuannya. Bahkan andaikata kekuatannya samasekali tak terganggu sekalipun. Namun orangtua itu akan dapat dengan mudah menangkapnya.

Mengalami peristiwa itu, Mahesa Jenar segera teringat kepada pertemuan-pertemuannya dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana yang juga sama sekali tak diduganya. Dengan demikian ia dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa orang ini pun pasti tergolong angkatan itu pula. Kalau saja orang ini Pasingsingan, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya.

Tetapi tiba-tiba terasa tangkapan pada tangannya itu semakin kendor, semakin kendor, bahkan akhirnya dilepaskan. Dan dengan keheran-keheranan Mahesa Jenar melihat Ki Paniling itu membanting diri diatas bale-bale, yang kemudian dengan kedua telapak tangannya menutupi mukanya.

Mahesa Jenar jadi ragu dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi suatu kelegaan telah membersit di hatinya. Sebab jelas orangtua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya.

Setelah beberapa saat suasana ruangan sempit itu dicengkam oleh kesepian yang tegang, maka perlahan-lahan Ki Paniling mengangkat mukanya. Muka yang tadi tampak merah membara, kini menjadi pucat keputih-putihan. Bahkan dari matanya memancar sinar duka.

Mahesa Jenar jadi merasa bahwa ia telah berbuat sesuatu yang menyebabkan orangtua itu susah. Maka katanya, “Maafkan aku, Bapak, barangkali aku telah berbuat suatu kesalahan.”

Tiba-tiba Ki Paniling tersenyum lebar, namun senyumnya adalah senyum yang pahit. “Tidak, Angger…, Angger tidak berbuat suatu kesalahan. Tetapi akulah yang bodoh. Sebagai orangtua aku telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tetapi itu ada sebabnya.”

Mata orangtua itu semakin membayangkan kedukaan yang dalam. Hanya kadang kadang saja ia memandang kepada Mahesa Jenar, tetapi kemudian kembali matanya menatap ke titik-titik, jauh tak terhingga.

Lewat pintu rumah kecil yang belum ditutup itu, terasa angin malam menghembus halus, menggoyang-goyang nyala pelita jarak yang melemparkan cahaya suram ke segenap arah.

Untuk beberapa lama mereka berdua masih berdiam diri. Perlahan-lahan Mahesa Jenar pun kemudian duduk kembali di samping Ki Paniling.

“Angger…” kata Ki Paniling kemudian memecah sepi, “Maksudku hanya ingin mengatakan bahwa ceritera yang Angger dengar itu sama sekali tidak benar. Atau barangkali lebih baik aku katakan bahwa ceritera itu tidak sama dengan ceritera di dalam kitab-kitabku. Mungkin benar kata Angger bahwa kedua ceritera itu ditulis oleh orang yang tidak sama, hanya kebetulan nama tokoh-tokohnya sajalah yang bersamaan.”

“Demikianlah Bapak, ceritera itu bukanlah tidak mungkin bersamaan nama, ” jawab Mahesa Jenar.

“Ceritera yang aku baca, Angger…” kata Paniling, “Pasingsingan adalah orang yang baik hati. Menjunjung tinggi keluhuran budi, serta pasrah diri kepada Yang Maha Agung.”
“Dapatkah aku mendengar ceritera itu, Bapak? ” tanya Mahesa Jenar.
Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. “Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau,” sahut Paniling.
Mahesa Jenar kurang mengerti kepada kata-kata Paniling itu. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sampai akhirnya Paniling berkata kembali, “Baiklah Angger…, aku tidak tahu apakah ada gunanya kalau aku berceritera.
Sebab kau bukanlah anak-anak yang mudah tertidur karena dongeng-dongeng yang menyenangkan serta mengasyikkan.”
Mahesa Jenar menundukkan kepala mendengar kata-kata Ki Paniling yang rupa-rupanya sudah mengetahui maksudnya, memancing-mancing keterangan tentang dirinya.
“Angger Mahesa Jenar…,”kata Ki Paniling lebih lanjut, “Bagian kedua dari ceritera itu mengatakan bahwa setelah kedua murid Pasingsingan itu menjadi dua orang yang hampir mumpuni, maka Pasingsingan ingin menyerahkan jabatannya, meskipun jabatan itu disandangnya atas kemauan sendiri, kepada muridnya yang tua.
Tetapi pada saat itu datanglah seorang yang mengaku murid Pasingsingan yang tertua, yang merasa berhak untuk mengenakan tanda-tanda kebesaran gurunya, yaitu jubah abu-abu, topeng yang kasar dan yang terutama adalah sebuah belati panjang berwarna kuning emas berkilau-kilauan, yang disebut Kyai Suluh, serta cincin bermata batu akik merah menyala yang dinamai Akik Klabang Sayuta. Hampir tak ada orang yang dapat melawan kesaktian belati panjang serta akik Klabang Sayuta itu.”

Sampai sekian terasa punggung Mahesa Jenar meremang. Ia kenal semua benda-benda yang disebutkan itu.

Ia pernah melihat Pasingsingan memegang sebuah pisau belati yang berwarna kuning gemerlapan pada saat orang itu hendak bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas, yang juga terpaksa menarik pusakanya Sigar Penjalin.Sedang akik Klabang Sayuta yang beracun itu, tidak saja ia pernah melihat, tetapi ia pernah merasakan betapa dahsyatnya. Kalau saja di dalam darahnya tidak mengalir bisa Ular Candrasa, entahlah apa yang terjadi atasnya.

KI PANILING kemudian melanjutkan ceritanya, Tetapi agaknya Pasingsingan tidak begitu terkena hatinya kepada bekas muridnya yang telah lama meninggalkannya. Karena itu ia tetap pada pendiriannya, menyerahkan semua tanda-tanda jabatannya kepada Radite. Maka pada suatu hari, dengan tidak diketahui oleh siapapun, Pasingsingan telah lenyap. Tetapi jubah abu-abu serta semua miliknya itu ditinggalkannya di dalam ruang tidur Radite. Dan sejak itulah Radite kemudian mengembara dengan nama Pasingsingan untuk mengamalkan kebajikan demi kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam pengembaraan itu pula ia berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti yang lain, yang juga berusaha untuk menegakkan kebajikan bagi kesejahteraan umat mahusia. Diantara sahabatnya terdapat seorang yang bernama Kiai Ageng Pengging Sepuh, yang kemudian mempunyai seorang murid yang menjadi Prajurit Pengawal Raja bernama Rangga Tohjaya.

Kembali punggung Mahesa Jenar meremang. Bahkan kali ini keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia jadi agak bingung. Ternyata Paniling telah hampir mengetahui keseluruhan dari perjalanan hidupnya. Ia akhirnya malu sendiri, ketika ia merasa bahwa pancingan-pancingannya terasa berhasil untuk memaksa Paniling berceritera. Tetapi agaknya orangtua itu telah dapat menebak seluruh isi hatinya.
Adapun Anggara… Ki Paniling meneruskan, Telah diserahi tugas untuk menunggui tempat pertapaan Pasingsingan. Dan orang itupun dengan setia melakukan kewajibannya.

Tetapi… sambung Ki Paniling dengan nada yang merendah, Peredaran roda tidak selamanya menempuh jalan datar. Radite akhirnya bertemu dengan murid tertua dari Pasingsingan, yang menamakan dirinya Umbaran. Dari segi keperwiraan jasmaniah, maka Umbaran ada di bawah kepandaian Radite.

Ki Paniling berhenti sebentar. Terasa bahwa nafasnya berangsur cepat. Wajahnya tampak semakin pucat sedang matanya semakin sayu. Kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya, Karena itu Umbaran tidak dapat memaksa Radite untuk menyerahkan tanda-tanda kebesaran gurunya. Namun demikian ada saja jalan yang dapat ditempuhnya. Dan ini termuat pada bagian ketiga dari kitab ini. Bagian yang paling menyedihkan.

Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi, Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah. Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan, sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di dalam genggaman gadis itu.

Akhirnya… lanjut Ki Paniling, Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi.

Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata, Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali.

Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan, Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya.

Tetapi kemudian… lanjut Ki Paniling, Menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi.

Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.

Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat. Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan.

Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab, Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu yang kau ingin ketahui?

Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat? kata Mahesa Jenar kemudian, Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?

Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat. Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite…, nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu.

KI PANILING termenung sejenak.

Kemudian lanjutnya, Itu adalah hukumanku yang paling berat. Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja, kata Ki Paniling.

Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.

Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya, Bagaimanakah kalau ada seorang lagi yang menyatakan dirinya sebagai Pasingsingan?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata, Adakah orang lain yang kau kenal sebagai Pasingsingan pula?

Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah abu-abu yang mengambil kedua keris itu.

Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya, Kau lihat orang itu bertopeng pula?
Itu yang tidak aku ketahui, jawab Mahesa Jenar.

Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah abu-abu itu.

Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar, Tuan, bolehkah aku mengetahui, di manakah murid yang seorang lagi dari Pasingsingan itu?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar. Adakah kau menduga bahwa murid yang satu itu menamakan diri Pasingsingan pula?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia menjadi ragu. Bukan maksudku untuk berkata demikian, Tuan.

Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula, Apakah yang menamakan dirinya Paman Darba itulah orangnya?

Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu, sampai Mahesa Jenar agak terkejut.

Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya.

Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri mengulangi kata-kata Paniling, Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau.

Kemudian terdengar Paniling berkata, Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan.

Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar? tanya Darba.

Akan aku coba, Tuan, jawab Mahesa Jenar.

Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana? Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan pula tentang Pasingsingan…?

Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba, Kepada kedua orang itu, juga kepada Titis Anganten, Pangeran Gunung Slamet, kau tidak usah merahasiakan. Kalau mereka akan melenyapkan Pasingsingan adalah urusan mereka, bukankah begitu Kakang?

Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.

Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya, Kakang Paniling, masihkah kau ingin mengadakan perhitungan dengan Umbaran? Aku kiranya hanya akan mengotori tanganmu saja dengan darah yang telah digenangi kejahatan. Apalagi kau terikat kepadanya dengan sebuah perjanjian aneh itu, untuk seterusnya tidak saling mengganggu. Kenapa kau tidak memerintahkan aku saja untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah aku tidak terikat oleh suatu apapun?

TIBA-TIBA wajah Darba yang bening itu berubah, seolah-olah menjadi batu padas yang maha keras.

Sabarlah Darba, jawab Paniling yang wajahnya masih setegang tadi, Aku kira akan datang saatnya.

Wajah Darba perlahan-lahan menjadi lunak kembali. Dengan langkah yang perlahan lahan pula ia duduk di samping Mahesa Jenar.

Kakang Paniling kagum melihat caramu bertempur melawan 7 orang yang termasuk orang-orang kuat. Memang Kakang Pengging Sepuh telah hampir tercermin seluruhnya di dalam dirimu. Kalau kau kelak dapat mengendap ilmu Sasra Birawa sehingga mendapat bentuk yang lebih masak lagi, aku kira kau akan menjadi tepat seperti bayangan Kakang Pengging Sepuh yang mengagumkan.

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar pujian itu, tetapi bersamaan dengan itu pula segera ia teringat kepada nasib Banyubiru yang dalam keadaan lumpuh itu.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Paniling dan Darba tak berkata-kata pula. Baru beberapa lama kemudian berkatalah Mahesa Jenar, Dan sekarang ke-7 orang yang mengeroyokku itu sedang merencanakan kehancuran Banyubiru.

Paniling dan Darba tampak mengerutkan kening nya. Kemudian kata Paniling, Perencana dari peristiwa Banyubiru itu bukanlah orang bodoh. Karena itu kaupun harus sangat berhati-hati untuk melawannya.

Apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, melawan 7 orang sekaligus, adalah perbuatan yang terlalu berani. Kalau kau tewas dalam pertarungan semacam itu, maka kau sudah tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Sedang agaknya kau tak pernah berfikir untuk menghindar. Untunglah bahwa aku berhasil menggugurkan tanah yang kau injak, ketika kau berdiri terlalu ke tepi, dengan sebuah lemparan. Sehingga kau dengan tak usah merasa melarikan diri dari gelanggang, telah dapat terselamatkan, meskipun kau harus menggelinding ke dalam jurang.

Dada Mahesa Jenar terasa berdesir mendengar kata-kata Paniling. Agaknya orang tua itulah yang telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Dengan demikian maka tanpa disengaja ia berkata dengan gemetar, Terima kasih Tuan, terima kasih atas pertolongan itu.

Dalam hati Mahesa Jenar memancarlah perasaan kagum yang tak terhingga. Dengan satu lemparan, Radite menggugurkan tanah tempat ia berpijak.

Paniling tersenyum lebar. Aku juga pernah mengalami masa muda. Masa darah kita menggelora, dimana kita kadang-kadang kehilangan kemampuan untuk mengakui kekurangan diri, jawabnya.

Terasa oleh Mahesa Jenar kebenaran kata-kata Paniling. Memang dalam saat yang demikian terasa alangkah kecilnya apabila seseorang menghindarkan diri dari arena. Tetapi apabila benar-benar ia dapat ditewaskan, maka untuk selanjutnya ia tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, adalah suatu keuntungan bahwa ia masih hidup.

Mahesa Jenar… kata Paniling kemudian, Memang sebaiknya kau kembali ke Banyubiru. Ketahuilah bahwa kau sekarang ini berada di hutan Pudak Pungkuran. Perjalanan ke Banyubiru dapat kau tempuh kira-kira dalam satu hari. Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa. Kau pulihkan dahulu kekuatanmu.
Di sini aku mempunyai beberapa jenis akar yang dapat menolong menambah lancar aliran darah serta menambah kesegaran tubuhmu.

Mahesa Jenar segera menyatakan terima kasihnya. Dengan demikian ia dapat beristirahat untuk beberapa saat di rumah Ki Paniling.

Beberapa hari kemudian setelah tubuhnya terasa pulih kembali, serta keadaan telah memungkinkan, maka Mahesa Jenar mohon diri kepada Paniling untuk kembali ke Banyubiru. Paniling dan Darba yang merasa pentingnya kehadiran Mahesa Jenar di tanah perdikan yang kehilangan pemimpin itu, segera mengizinkannya, diiringi beberapa pesan dari seorang tua yang telah banyak makan garam, kepada seorang pemuda yang darahnya masih cepat mendidih.

Disamping itu, Paniling juga memesannya untuk tidak berkata apa-apa tentang Pasingsingan apabila tidak dianggapnya perlu sekali. Sebab sampai saat itu, belum ada orang lain yang pernah mengenal wajah asli dari Pasingsingan, apalagi Pasingsingan tua, guru Radite, yang pada saat itu, baik Radite maupun Anggara tidak tahu apakah Pasingsingan masih hidup ataukah sudah tidak ada lagi.

Maka pada suatu pagi yang cerah, diiringi oleh kicauan burung-burung liar, Mahesa Jenar melangkah dengan segarnya menuju ke Banyubiru.

Bagaimanapun ia merasa bahwa ia ingin segera sampai. Sebenarnya daerah Banyubiru, yang paling menarik bagi Mahesa Jenar adalah Arya Salaka. Kepada anak ini Mahesa Jenar menaruh perhatian sepenuhnya. Apalagi sejak ayahnya Ki Ageng Gajah Sora, menyerahkan Arya kepadanya dalam olah kanuragan. Maka seolah-olah ia telah dibebani suatu tanggungjawab. Apabila kelak pada waktunya Arya dewasa, dengan tidak memiliki sesuatu yang pantas dipakai sebagai pegangan bagi seorang kepala daerah perdikan, maka ialah yang paling dapat disalahkan.
Mengenangkan hal itu, tiba-tiba saja Mahesa Jenar ingin segera sampai ke Banyubiru.

Karena itu segera ia mempercepat langkahnya. Tetapi karena ia menempuh suatu perjalanan yang belum pernah dilalui sebelumnya, dan hanya dikenalnya dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Paniling, maka perjalanannya tidak dapat terlalu cepat. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengenali jalan-jalan dan tempat-tempat seperti yang disebut oleh Paniling.

Dengan demikian maka ia tidak dapat mencapai Banyubiru dalam sehari. Meskipun matahari telah tenggelam di langit, Mahesa Jenar dengan perlahan-lahan tetap melanjutkan perjalanannya. Apalagi ketika dari jarak yang agak jauh, remang-remang di hadapannya hanya taburan bintang-bintang.

Mahesa Jenar melihat bayangan hitam yang membujur seperti seorang raksasa yang baru berbaring. Itulah pegunungan Telamaya. Karena itu maka Mahesa Jenar seakan-akan merasa terhisap oleh pegunungan itu, serta rasa rindunya kepada Arya Salaka semakin menjadi-jadi. Segera ia pun mempercepat langkahnya.

RASANYA Mahesa Jenar sudah tidak sabar lagi terhadap kakinya yang sudah mulai lelah. Tetapi ketika ia sudah semakin dekat, tiba-tiba dadanya berdentam keras sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Dari kota Banyubiru Mahesa Jenar melihat nyala api yang semakin lama semakin besar.

Sekarang Mahesa Jenar menjadi benar-benar tidak sabar lagi. Seperti seekor kijang yang sedang diburu, Mahesa Jenar meloncat dan kemudian berlari sekencang kencang ke arah api yang menyala-nyala. Apalagi sebentar kemudian didengarnya suara tanda bahaya menggema memenuhi seluruh daerah pegunungan Telamaya.

Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya Mahesa Jenar berhasil memasuki kota. Ia berjalan hati-hati sekali. Beberapa kali ia melihat orang-orang berkuda berlari hilir-mudik. Beberapa orang sudah dikenalnya sebagai laskar Banyubiru. Tetapi beberapa yang lain sama sekali belum pernah dilihatnya.

Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diingini, Mahesa Jenar selalu berusaha menyembunyikan dirinya di balik bayang-bayang pepohonan atau di samping rumah-rumah. Sekali-sekali ia berlari dari satu tempat kelain tempat sambil mendekati tempat kebakaran.

Ketika Mahesa Jenar berhasil mendekati tempat itu, dilihatnya laskar Banyubiru terlibat dalam satu pertempuran dengan laskar yang sama sekali belum dikenalnya. Pertempuran itu berlangsung dengan serunya, sehingga kedua belah pihak telah kehilangan ikatan kesatuannya. Mereka seolah-olah bertempur tanpa pimpinan.

Dari jarak yang agak dekat akhirnya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa pasukan Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran, yang agaknya merasa terdesak. Bantaran sendiri bertempur seperti harimau luka, tetapi musuhnya terlampau banyak.

Sebentar kemudian terdengar derap pasukan yang berlari dari arah barat. Dan muncullah laskar bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana. Pasukan ini pun segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit itu.

Dengan datangnya bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana, tampak laskar Banyubiru dapat mencapai keseimbangan kembali. Bahkan agaknya sebentar kemudian mereka akan segera dapat menguasai keadaan.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Sehilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, apakah kira-kira yang masih mereka cari di Banyubiru?

Teringatlah Mahesa Jenar kepada kedudukan Arya Salaka. Ayahnya yang dibawa ke Demak untuk waktu yang tak ditentukan, bahkan karena serangan laskar Lembu Sora atas pasukan Demak, mempunyai kemungkinan yang lebih tak menyenangkan bagi Gajah Sora. Ia menyerahkan kekuasaan Banyubiru kepada Arya. Ini berarti suatu rintangan langsung bagi Lembu Sora untuk dapat menguasai Banyubiru.

Karena itu, Mahesa Jenar segera memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia memang agak heran bahwa daerah yang tak berarti di pinggiran kota ini menjadi tujuan serangan lawan. Rumah yang sama sekali tidak penting kedudukannya, kecuali banjar-banjar desa, juga bangunan-bangunan lain yang juga tidak begitu berarti.

Mengingat hal itu, maka segera Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa serangan ini hanyalah suatu usaha untuk menarik perhatian semata-mata. Sedang tujuan yang sebenarnya adalah tempat lain.

Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi bertambah gemetar. Ia menjadi cemas atas keselamatan Arya. Karena itu segera ia meloncat dan berlari dari satu tempat yang terlindung ke tempat yang lain menuju ke rumah Gajah Sora, sehingga beberapa saat kemudian ia telah dapat mendekati rumah itu. Sebenarnyalah bahwa apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar mendengar keributan di halaman rumah itu. Agaknya telah terjadi suatu pertempuran pula. Perlahan-lahan ia menyusur regol samping, dan dilihatnya Wanamerta dan Pandankuning serta beberapa orang sedang bertempur menghadapi lawan yang jumlahnya berlipat dua. Apalagi diantara para penyerang itu terdapat pula beberapa orang yang termasuk berilmu cukup tinggi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menjadi agak bimbang. Apakah ia harus melibatkan diri, ataukah masih harus ditunggunya perkembangan seterusnya.

Tetapi segera Mahesa Jenar dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melontar keluar lewat pintu belakang. Bayangan dari seorang anak yang masih belum dewasa. Cepat Mahesa Jenar mengenal, itulah Arya.

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, dilihatnya Arya merapatkan dirinya pada dinding di sebelah pintu. Sesaat kemudian muncullah bayangan lain meloncat keluar dari pintu itu pula. Tetapi demikian bayangan itu melangkahkan kakinya keluar ambang, demikian Arya dengan tangkasnya menusuk lambungnya, sehingga dengan tidak dapat berbuat sesuatu orang itu terlempar dan roboh mati. Sedang tangan Arya dengan eratnya menggenggam tombak Kyai Bancak.

Tetapi kemudian dari pintu itu muncullah beberapa orang bersama-sama. Agaknya mereka melihat seorang kawan mereka yang dapat dibunuh oleh Arya, sehingga mereka meloncat keluar dengan kesiagaan penuh. Karena itu, ketika Arya menusuk orang yang pertama, segera tampaklah orang itu menangkis serangan Arya dengan sebuah pedang pendek, sehingga Arya terputar setengah lingkaran.

Tetapi agaknya Arya bukan anak yang bodoh. Maka demikian serangannya gagal, segera ia meloncat untuk melarikan diri. Sayang bahwa orang yang mengejarnya cukup banyak segera mengepungnya.

Tampaklah Arya Salaka yang sama sekali belum cukup dewasa itu menjadi bingung.

Tetapi belum lagi orang-orang yang mengepungnya sempat bertindak, melayanglah sebuah bayangan lain, yang langsung menyerang orang-orang itu. Tubuhnya tampak ringan tetapi kuat dan tangkas. Orang itu adalah Panjawi, seorang yang masih muda, tetapi telah memiliki ketangkasan yang cukup. Dengan pedang di tangan, Panjawi bergerak menyambar-nyambar seperti burung layang. Dalam waktu yang singkat, beberapa orang telah menjadi korbannya.

ORANG-ORANG yang mengepung Arya itu segera mengalihkan perhatiannya. Mereka bersama-sama segera menyerang Panjawi. Tetapi Panjawi adalah orang yang cukup tangkas, sehingga beberapa orang itu sama sekali tak berhasil mendesaknya. Apalagi beberapa saat kemudian berdatanganlah beberapa orang laskar Banyubiru yang segera membantu Panjawi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menarik nafas lega. Ia juga merasa kagum kepada Panjawi. Meskipun anak itu masih harus banyak berlatih, namun ia memiliki dasar-dasar yang baik dan kuat.

Tetapi sejenak kemudian, Mahesa Jenar terkejut mendengar sebuah siulan nyaring. Ia pernah mendengar bunyi yang demikian itu. Bunyi siulan dari gerombolan Lawa Ijo.

Dan apa yang sedang dipikirkan itu adalah benar. Sebab sesaat kemudian ia melihat bayangan yang melayang dari sebuah pohon langsung menyerang Panjawi.

Untunglah bahwa Panjawi cukup tangkas untuk menghindari serangan itu, sehingga bayangan itu tidak berhasil mengenainya. Bahkan demikian Panjawi meloncat menghindar, demikian kembali ia meloncat menyerang bayangan itu dengan pedangnya. Serangan Panjawi ternyata cukup cepat, sehingga bayangan itu tidak sempat menghindar. Dengan sebuah pisau belati panjang, ia menangkis pedang yang mengarah ke dadanya. Terdengarlah suatu dentangan nyaring. Dan ternyata kekuatan mereka seimbang.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar segera mengenal bahwa bayangan yang meloncat dari atas pohon itu adalah Wadas Gunung.

Segera terjadilah pertempuran yang sengit antara Wadas Gunung dan Panjawi, sedang di lain pihak terjadi pula pertempuran yang hiruk-pikuk antara laskar Banyubiru melawan laskar-laskar penyerang.

Pada saat itu, pada saat mereka sedang sibuk mempertahankan hidup masing-masing, tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam dapat melihat bayangan lain yang datang mengendap-endap ke arah Arya Salaka yang masih saja mengawasi pertempuran itu dengan mata yang menyala-nyala. Ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri, sebab ia yakin bahwa Panjawi serta laskarnya akan dapat memenangkan pertempuran itu. Bahkan dengan girangnya ia melihat pertempuran itu seperti melihat tontonan yang sangat menarik.

Dengan berdebar-debar Mahesa Jenar mengikuti gerak gerik orang itu. Melihat caranya bergerak, Mahesa Jenar dapat meyakini bahwa ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena itu Mahesa Jenar tidak mau menonton saja. Ia pun kemudian dengan mengendap-endap pula mendekati Arya Salaka dari arah lain. Untunglah bahwa ia lebih dahulu dapat melihat bayangan itu sehingga dengan demikian ia dapat lebih berhati-hati. Ternyata sampai sedemikian jauh bayangan itu belum mengetahui bahwa dari arah lain pula seseorang yang sedang mendekati Arya Salaka.

Setelah jarak mereka tidak lagi begitu jauh, terasa di dalam dada Mahesa Jenar jantungnya berdesir keras. Ia mengenal dengan pasti siapakah orang itu. Dan ia tahu pasti pula apakah yang akan dilakukannya terhadap Arya. Pedang yang terlalu besar dan panjang di tangan orang itu telah menambah pula keyakinan Mahesa Jenar.

Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Lembu Sora.

Pada kesempatan yang pendek itu, berputarlah otak Mahesa Jenar. Sebenarnya, pada saat itu ia mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dengan Lembu Sora, dengan alasan yang tepat. Tetapi mengingat pesan Paniling, apakah pada saat itu, orang-orang lain, seperti Uling Rawa pening, Sima Rodra, Lawa Ijo dan sebagainya tidak berada pula di tempat itu? Karena itu seharusnya ia tidak melawan mereka bersama-sama.

Mengingat hadirnya Wadas Gunung, maka kemungkinan hadirnya Lawa Ijo adalah besar sekali. Karena itu terjadi suatu pertentangan di dalam diri Mahesa Jenar.

Perasaannya ingin membawanya ke dalam suatu perhitungan jasmaniah yang menentukan. Tetapi pikirannya yang telah dipengaruhi oleh pertimbangan dan nasehat Paniling mengajaknya untuk berbuat lain.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar dapat berpikir secara wajar, sehingga ditemukannya suatu pemecahan yang tidak terlalu berbahaya.

Pada saat itu, Lembu Sora telah dekat benar dengan Arya Salaka yang dengan tombak di tangan masih saja perhatiannya terikat pada pertempuran yang sengit antara Panjawi dan Wadas Gunung, serta laskar Banyubiru melawan laskar-laskar yang menyerangnya.

Ternyata Lembu Sora sudah tidak mau membuang waktu lagi. Meskipun mula-mula ia tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya dengan suatu gerakan yang dahsyat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Meskipun demikian, karena anak yang berdiri di hadapannya itu, bagaimanapun juga adalah kemenakannya, maka pada saat pedangnya terayun deras, Lembu Sora memejamkan matanya.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika pedangnya sama sekali tak menyentuh apapun. Bahkan ia sendiri telah tertarik oleh kekuatannya serta ayunan pedangnya sehingga hampir saja ia tertelungkup. Pada saat Lembu Sora berusaha untuk menguasai dirinya, dilihatnya sebuah bayangan yang melayang menyusup regol samping dan hilang di dalam gelap malam.

Cepat Lembu Sora meloncat menyusulnya, tetapi ia sama sekali tidak dapat lagi melihat bayangan yang telah hilang bersama-sama dengan hilangnya Arya Salaka, beserta tombak tanda kebesaran Banyubiru, Kyai Bancak.

Pada saat yang tepat, ternyata Mahesa Jenar telah berhasil menarik Arya dan langsung dibawanya lari. Ia masih mempunyai kelebihan waktu beberapa saat dari Lembu Sora yang sedang memperbaiki keseimbangannya pada saat ia terbawa oleh pedangnya yang terayun deras. Karena itu Lembu Sora sudah tidak berhasil untuk dapat mengejarnya.

Pada saat itu, dada Lembu Sora terguncang luar biasa. Kegagalannya pada saat yang menentukan itu sangat menyakitkan hatinya. Hampir saja ia menjadi mata gelap dan menghancurkan Banyubiru serta seluruh isinya. Tetapi otaknya yang licin telah menyelamatkannya.

CEPAT Lembu Sora menyelinap, dan dengan kudanya yang tangkas ia berlari kencang-kencang kembali ke Pamingit. Setelah dengan rahasia ia memberikan aba-aba kepada laskar gabungan itu untuk segera meninggalkan Banyubiru, diikuti pula oleh sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, untuk kemudian dengan laskar murni dari Pamingit.

Lembu Sora akan datang kembali, dengan dalih untuk memberi perlindungan kepada daerah perdikan, yang dikuasai oleh kakaknya, yang terpaksa tidak dapat menjalankan kewajibannya.

Arya Salaka yang merasa dirinya ditangkap oleh seseorang tanpa diketahui dari mana arahnya, menjadi terkejut sekali. Dengan gerak diluar kesadarannya ia menusuk orang yang menangkapnya dengan tombaknya, tetapi orang itu sangat tangkasnya, sehingga tombaknya malahan telah dirampasnya.

Dengan demikian Arya menjadi marah dan cemas. Segera ia meronta untuk melepaskan diri. Tetapi ketika ia hampir saja berteriak-teriak, didengarnya orang itu berkata, Jangan ribut Arya, kita bersembunyi untuk beberapa saat.

Arya terperanjat mendengar suara itu, suara yang telah dikenalnya. Paman Mahesa Jenar? desisnya.

Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.

Mendengar jawaban itu, hati Arya Salaka segera menjadi sejuk seperti disiram embun. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan yang menusuk-nusuk dadanya seketika itu lenyap seperti asap ditiup angin.

Beberapa saat kemudian, setelah Mahesa Jenar merasa aman dari kemungkinan dapat diketemukan oleh Lembu Sora dan laskarnya, segera memberhentikan langkahnya. Nafasnya berjalan cepat, serta jantungnya berdetakan karena perasaan-perasaan yang bercampur-baur di dalam kepalanya.

Setelah mereka berdua agak tenang, berkatalah Mahesa Jenar, Arya, tahukan kau siapakah yang telah menyerang Banyubiru?

Tidak Paman, jawab Arya.

Kapankah serangan itu mulai? tanya Mahesa Jenar pula.

Sejak matahari terbenam. Tiba-tiba saja terjadi kerusuhan-kerusuhan di dalam kota. Untunglah bahwa Kakek Wanamerta segera bertindak untuk mengatasi keributan.

Meskipun demikian ternyata para penyerang itu berkekuatan besar sekali, sehingga untuk keselamatan selanjutnya, Kakek Wanamerta merasa perlu atas persetujuan beberapa pemimpin yang lain serta atas persetujuan Ibu untuk mengirimkan permintaan bantuan ke Pamingit, kepada Paman Lembu Sora, sebab kalau kerusuhan itu berlarut-larut tidak dapat teratasi, maka Banyubiru akan semakin rusak.

Mendengar keterangan Arya Salaka itu, bergolaklah hati Mahesa Jenar. Ternyata para pemimpin Banyubiru sama sekali masih belum mengetahui bahwa sumber dari segala bencana itu justru Lembu Sora sendiri. Puncak dari kejahatannya adalah suatu usaha untuk membinasakan Arya Salaka. Padahal saat itu, para pemimpin Banyubiru datang minta perlindungan kepadanya.

Arya…, kata Mahesa Jenar kemudian, Ketahuilah bahwa jiwamu terancam. Karena itu sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara waktu.

Mahesa Jenar tidak meneruskan kata-katanya. Ia menjadi ragu, apakah sebaiknya ia harus mengatakan terus terang tentang apa yang terjadi sebenarnya, ataukah ia harus berkata lain.

Arya Salaka menjadi keheran-heranan mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Apakah kepentingan orang-orang kita itu membunuhnya? Tetapi baru saja, apa yang telah terjadi, agaknya memang benar. Beberapa orang telah mengejar-ngejar Arya Salaka, dengan senjata terhunus.

Arya menarik nafas panjang. Otaknya yang masih belum cukup masak itu belum dapat menangkap masalah-masalah yang terlalu sulit. Karena itu ia tidak berpikir lebih lanjut. Apalagi sekarang ia sudah merasa bahwa dirinya telah mendapat perlindungan.

Ketika melihat wajah Arya yang seolah-olah masih bersih dari segala macam prasangka, Mahesa Jenar tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya, oleh karena kekhianatan pamannya.

Dengan melihat kenyataan itu, ada kemungkinan timbul suatu luka yang berbahaya pada jiwa kanak-kanaknya. Mungkin ia akan kehilangan seluruh kepercayaan pada seseorang. Apalagi orang lain, sedang pamannya sendiri telah melakukan kejahatan terhadap dirinya.

Karena itu, Mahesa Jenar harus berkata lain kepada Arya Salaka, meskipun maksudnya adalah sama. Mengajak Arya Salaka untuk sementara bersembunyi. Arya…, mungkin orang-orang jahat sedang berusaha untuk menangkapmu. Sebab kau sekarang adalah penjabat kepala daerah perdikan Banyubiru. Dengan menangkap kau, orang-orang itu akan mengharapkan keuntungan. Mungkin kau akan dijadikan tanggungan atas suatu pemerasan terhadap Banyubiru. Tetapi juga ada kemungkinan yang lebih berbahaya lagi bagi dirimu, yaitu menghendaki jiwamu, kata Mahesa Jenar.

ARYA SALAKA mengangguk-angguk, tetapi jawabannya sangat memusingkan Mahesa Jenar. Aku tidak perlu takut, Paman, sebab sebentar lagi Paman Lembu Sora pasti akan datang. Dengan adanya Paman Lembu Sora beserta laskarnya serta hadirnya Paman Mahesa Jenar di Banyubiru, maka aku kira tak akan ada seorangpun lagi yang berani mengganggu tanah kami.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia mendapat kesulitan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Justru adanya Lembu Sora di Banyubiru itulah maka bahaya dapat datang setiap saat bagi Arya Salaka.

Setelah berpikir beberapa saat berkatalah Mahesa Jenar, Arya, kalau mereka menyerang dengan terang-terangan maka laskar Banyubiru dan Pamingit pasti akan dapat menghalaunya, tetapi untuk menangkap atau berbuat hal-hal jahat lainnya terhadapmu, adalah seribu satu cara yang dapat ditempuh. Karena itu menurut pertimbanganku, sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara. Selama itu, selama keadaan belum memungkinkan, kau tidak perlu menampakkan diri terhadap siapapun. Aku akan berusaha untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Banyubiru, selama kau di dalam persembunyian. Selama itu, kau sempat belajar beberapa hal yang perlu bagi keselamatanmu. Bukankah ayahmu minta kepadaku untuk melatihmu dalam olah kanuragan?

Mendengar kata-kata- Mahesa Jenar itu, serta kesempatan baginya untuk memperdalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu, Arya menjadi gembira. Maka jawabnya, Baiklah Paman…, kalau Paman mempertimbangkan demikian. Tetapi Ibu pasti akan selalu mencari aku dan mencemaskan keselamatanku.

Bagus Arya, pada suatu saat kau akan kembali ke tanah ini, dan kau akan memelihara tanah ini sebagai tanah pusaka. Kau harus menjadikan tanah ini tanah harapan bagi masa depan. Bukankah ayahmu selalu mengharap kau menjadi seorang pahlawan?

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menjadi cerah seperti bintang pagi yang berkilau-kilau, karena kebesaran hatinya.

Kepada ibumu, aku akan selalu berusaha menyampaikan setiap berita tentang dirimu, lanjut Mahesa Jenar.

Sekali lagi Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sesaat kemudian keadaan menjadi sepi. Dengan pancainderanya yang tajam, Mahesa Jenar sedang mengamati keadaan.

Maka setelah menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam, serta hiruk-pikuk pertempuran sudah tidak terdengar lagi, berkatalah ia kepada Arya, Arya…, agaknya keadaan telah bertambah baik. Meskipun demikian, kau harus berusaha untuk tidak menampakkan diri. Baik kepada para pemimpin Banyubiru maupun kepada ibu serta rakyatmu. Siapa tahu bahwa masih ada musuh-musuh yang bersembunyi, yang akan dapat menjebak atau menyerang kau dari jarak jauh. Karena itu marilah untuk sementara kita tinggalkan tanah ini dengan suatu keyakinan bahwa kau pasti akan kembali dalam keadaan aman dan sentosa.

Arya Salaka tidak menjawab kata-kata Mahesa Jenar. Wajahnya jadi tampak suram. Bagaimanapun juga, untuk meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, dimana setiap hari ia bermain-main, dimana setiap hari ia meneguk airnya, serta segala-galanya yang ia cintai, adalah berat sekali bagi seorang anak seumur Arya Salaka.

Agaknya Mahesa Jenar dapat menebak perasaan Arya, maka sambungnya, Lupakanlah semuanya, Arya. Kau hanya pergi untuk sementara, dengan suatu kepastian bahwa kau akan kembali.

Kembali Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya menjadi bertambah suram. Mudah-mudahan Ibu selamat. Serta mudah-mudahan Ibu segera mengetahui bahwa akupun selamat.

Aku akan segera berusaha untuk memberitahukan itu, Arya, potong Mahesa Jenar.
Tetapi pohon jeruk yang aku pelihara dan aku siram setiap hari itu kini sudah mulai berbunga, jawab Arya.

Mahesa Jenar menjadi terharu mendengar kata-kata Arya yang memancar dari hatinya yang tulus. Tetapi yang lebih merisaukan hati Mahesa Jenar adalah, bahwa besok Lembu Sora akan datang untuk melindungi Banyubiru serta berusaha menelan tanah serta segala isinya.

Tetapi bagaimanapun, menyelamatkan Arya adalah tugas yang pertama-tama harus dilakukan. Sebab Arya adalah satu-satunya pewaris tanah perdikan Banyubiru, yang justru karena itulah maka jiwanya selalu terancam. Karena itu, Mahesa Jenar menganggap perlu untuk segera meninggalkan daerah ini sebelum Lembu Sora datang dan memerintahkan untuk mengaduk seluruh sudut Banyubiru. Pasti Lembu Sora akan berbuat demikian, dengan alasan untuk keselamatan Arya Salaka. Tetapi tidak mustahil bahwa kepada laskar Pamingit ia memerintahkan untuk menemukan Arya dalam keadaan mati.

Bukankah dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora bebas dari segala prasangka? Sedang apabila yang menemukan laskar Banyubiru serta membawa Arya kembali, umurnya pasti tidak akan panjang pula.

Mendapat pertimbangan itu maka segera Mahesa Jenar mengajak Arya untuk berangkat. Arya, kita jangan menunggu terlampau lama. Marilah kita berangkat selagi kesempatan ada. Siapa tahu bahwa keadaan akan berkembang ke arah yang tidak kita harapkan.

Marilah Paman, jawab Arya dengan wajah sayu.

Mahesa Jenar menjadi tambah terharu ketika didengarnya Arya mengatupkan giginya rapat-rapat. Ternyata anak itu sedang berusaha untuk membendung perasaan harunya meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga tampaklah bahwa matanya menjadi basah oleh air mata. Mata seorang anak yang masih seharusnya mendapat kasih sayang ayah-ibunya. Tetapi karena keadaan, ia harus berpisah dengan ayah-ibu yang ia cintai.

PADA saat itu bulan yang tinggal seperempat bagian telah muncul di langit sebelah timur. Cahayanya yang merah tembaga tersebar meremangi seluruh pegunungan Telamaya yang sepi, namun mengerikan. Sebab setiap hati dari penduduk Banyubiru diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan. Hilangnya Gajah Sora dari daerah ini, ternyata sangat mempengaruhi semangat mereka.

Dalam keremangan bulan yang samar-samar itu, Mahesa Jenar menggandeng Arya berjalan dengan sangat hati-hati menyusup semak-semak untuk menjauhi kota.

Kita pergi ke mana Paman? tanya Arya tiba-tiba.

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Ia sendiri belum pernah berpikir ke mana Arya akan diajak pergi. Tiba-tiba ia teringat kepada suatu daerah terpencil yang dicikal-bakali oleh Ki Paniling dan Darba. Yaitu daerah di hutan Pudak Pungkuran. Ia mengharapkan Ki Paniling akan mengizinkan ia tinggal untuk sementara bersama Arya di sana. Maka kemudian jawabnya, Kita pergi ke Pudak Pungkuran, Arya.

Pudak Pungkuran? ulang Arya. Ia belum pernah mendengar sama sekali daerah itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya Mahesa Jenar ingin membawa Arya untuk pergi sejauh-jauhnya. Sebab menurut perhitungan Arya, semakin jauh dari Banyubiru, jiwa Arya pasti akan semakin aman. Tetapi untuk sementara ia tetap terikat kepada Banyubiru, kepada Rawa Pening. Sebab meskipun agaknya sudah semakin hambar, namun pertemuan akhir tahun dari golongan hitam akan tetap dilaksanakan.

Kemudian setelah itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sedang disibukkan oleh pikiran masing-masing. Pikiran tentang keadaan kini serta masa datang. Sedangkan pikiran Mahesa Jenar diganggu oleh Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi andaikata kedua keris itu untuk seterusnya tidak dapat diketemukan? Tidakkah ada seseorang yang kelak dapat melangsungkan kejayaan Demak? Sebab menurut kepercayaan, siapa yang kuat memiliki kedua keris itulah, yang kuat pula menerima wahyu kraton.

Pikiran-pikiran Mahesa Jenar dirisaukan pula oleh kenyataan adanya dua garis keturunan yang sama-sama berhak atas tahta. Yaitu putra-putra Sultan Demak sekarang, sedangkan yang lain adalah putra almarhum Sekar Seda Lepen yang dalam keadaan belum dewasa telah mewarisi Kadipaten Jipang, bernama Penangsang.
Penangsang sebenarnya memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki tahta, seandainya ayahnya tak terbunuh. Meskipun demikian tidak mustahil kalau pada suatu saat ia akan menuntut pula haknya serta mengadakan perhitungan dengan pembunuh ayahnya. Pada saat yang demikianlah akan terjadi suatu perjuangan yang hebat.

Kalau mereka sama-sama percaya bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten adalah sumber kekuatan untuk menerima wahyu kraton, maka perjuangan untuk mendapatkan kedua pusaka itu pun akan menjadi bertambah ramai.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar dari angan- angannya oleh suara derap kuda yang mendatanginya. Segera ia menghentikan langkahnya dan dengan saksama memperhatikan suara itu. Ternyata suara itu semakin lama semakin dekat tepat ke arahnya, sepanjang jalan hutan yang sempit. Karena itu, segera ia menarik Arya untuk segera bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah para penunggangnya.

Beberapa saat kemudian terdengar derap itu menjadi tidak secepat tadi. Agaknya jalan kuda itu diperlambat ketika menyusup jalan sempit serta banyak rintangan salur-salur pepohonan liar. Ternyata penunggang kuda itu lebih dari 3 atau 4 orang.
Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang bersembunyi di dalam semak, segera menahan nafas ketika kuda-kuda itu hampir lewat di depannya. Tiba-tiba terdengar salah seorang berkata, Kakang, ke mana kita akan mencari?

Entahlah, jawab yang lain. Mencari seseorang di daerah yang seluas ini adalah sulit sekali.

Tidak mungkinkah anak itu dilarikan ke Demak untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi kepada Sultan? kata yang lain pula.

Telah diperlihatkan untuk memotong jalan.

Dan itu tak mungkin dilakukan, sahut yang lain lagi. Kalau orang yang melarikan anak itu bukan orang yang bodoh, ia pasti tidak akan pergi ke Demak. Sebab tidak akan ada gunanya. Kecuali kalau dapat ditunjukkan bukti-buktinya, atau yang berkepentingan tertangkap pada saat itu. Apalagi Sultan sedang murka kepada Gajah Sora.

Setelah itu, tak terdengar lagi suara mereka. Sedang derap kuda itu semakin lama terdengar semakin jauh dan kemudian menghilang.

Ketika sudah tidak ada tanda-tanda yang membahayakan lagi, segera Mahesa Jenar bangkit dan menggandeng Arya untuk berjalan kembali. Mahesa Jenar agak terkejut ketika dirasanya tangan Arya gemetar. Segera ia dapat menduga perasaan anak itu. Meskipun ada juga perasaan takut, tetapi pasti Arya menjadi marah sekali mendengar percakapan orang-orang itu.

Ketika baru tiga-empat langkah mereka berjalan, mendadak Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Ia mendapat suatu pikiran bahwa jalan ini pasti merupakan jalan yang berbahaya. Orang-orang tadi dapat dengan segera kembali dan mungkin ada orang lain yang mencari lewat jalan ini pula. Karena itu segera ia mempertimbangkan untuk mengambil jalan lain. Ia tidak mau menanggung akibat tertangkapnya Arya, apabila ia tidak dapat melawan orang-orang yang mencarinya.

Arya… kata Mahesa Jenar kemudian, Ternyata jalan ini adalah jalan yang berbahaya. Karena itu marilah kita ambil jalan lain.

Arya tidak menjawab, tetapi ia hanya menganggukkan kepalanya.
Karena pertimbangan itu, segera Mahesa Jenar dan Arya Salaka membelok menyusup hutan untuk mengambil jalan lain.

MEREKA berjalan dengan agak tergesa-gesa. Mahesa Jenar mengharap untuk dapat segera sampai ke Pudak Pungkuran dan menitipkan Arya di sana. Setelah itu ia akan berusaha dengan bersembunyi menemui Wanamerta dan ibu Arya, untuk membeberkan peranan Lembu Sora yang sebenarnya.

Ternyata Arya pun adalah anak yang betah berjalan. Meskipun tampaknya ia agak lelah, ketika Mahesa Jenar mengajaknya beristirahat anak itu menolak. Maka mereka pun berjalan terus di dalam gelapnya malam.

Mahesa Jenar memang pernah pergi ke Pudak Pungkuran. Dan ia telah pula mengenal jalan dari tempat itu ke Banyubiru. Tetapi sekarang untuk menghindari bahaya, ia menempuh jalan lain. Jalan yang belum pernah dilewatinya. Karena itu ia menjadi agak bingung dan kesulitan untuk menemukan arah yang tepat di dalam gelap serta di dalam hutan yang belum pernah dijamahnya.

Maka kemudian ketika fajar menyingsing, serta melemparkan warna kemerahan ke segenap penjuru, insyaflah Mahesa Jenar bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang sama sekali tidak mengarah ke Pudak Pungkuran.

Karena itu dengan hati berdebar-debar ia berkata, Arya.., agaknya aku telah kehilangan jurusan untuk mencapai Pudak Pungkuran.

Arya memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang tidak mengerti. Lalu ke mana kita pergi, Paman?

Mahesa Jenar menarik nafas. Dengan hilangnya arah Pudak Pungkuran, ia tidak lagi mempunyai suatu tujuan tertentu lagi. Karena itu ia menjawab, Arya, tujuan bukanlah hal yang penting bagi kita. Kemanapun kita akan pergi, adalah sama saja. Sebab akhirnya kita akan kembali lagi ke Banyubiru. Karena itu, jangan dirisaukan tujuan kita.

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi badannya sudah bertambah letih. Meskipun demikian Arya masih belum mau untuk beristirahat. Karena itu kembali mereka berjalan menyusur hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun perlahan-lahan, namun mereka setapak demi setapak tetap maju.

Ketika matahari sudah mencapai ujung pepohonan, hutan yang ditempuh itu sudah semakin menipis. Sejenak kemudian tuntaslah hutan itu. Mahesa Jenar dan Arya Salaka segera menempuh padang rumput yang tidak begitu luas untuk segera sampai ke daerah yang didiami orang.

Di sinilah mereka beristirahat. Orang-orang yang membangun daerah itu menjadi pedesaan, ternyata adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Yang menerima Mahesa Jenar dan Arya Salaka sebagai seorang perantau beserta anaknya, dengan senang hati.

Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak dapat untuk seterusnya menetap di tempat itu, sebab menurut pertimbangannya, tempat itu masih terlalu dekat dengan Banyubiru.

Karena itu ketika ia beserta Arya telah beristirahat satu malam, mereka minta izin kepada penduduk desa itu untuk segera meneruskan perjalanan. Terpaksa Mahesa Jenar membohongi orang-orang desa itu, dengan mengatakan arah yang bertentangan dengan arah yang sebenarnya hendak ditempuh, untuk menghindari orang-orang yang mencari mereka, kalau-kalau menanyakan kepada penduduk, apabila mereka sampai di tempat itu.

Pada hari berikutnya Mahesa Jenar sampai pula pada sebuah desa yang lain.

Penduduk desa ini terdiri dari orang-orang yang baik hati dan ramah pula. Mereka menerima Mahesa Jenar dengan senang hati, serta dengan gembira mereka menerima Mahesa Jenar sebagai warga baru di desa itu.

Di daerah ini Mahesa Jenar merasa, bahwa keamanan Arya telah dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu ia pun menyatakan diri sebagai keluarga baru serta dengan bekerja keras ia pun segera membangun perumahan serta menebas hutan untuk tanah pertanian, sebagaimana dilakukan oleh setiap pendatang.

Di tempat kediamannya yang baru itu Mahesa Jenar dianggap tidak lebih dari seorang petani biasa. Seorang yang seperti kebanyakan penduduk di desa itu, yang datang untuk sekadar dapat memperbaiki nasibnya dengan mengolah tanah yang sedikit lebih subur dibanding daerah mereka semula.

Demikianlah Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah memulai dengan suatu penghidupan baru, sebagai seorang petani yang bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Setiap pagi mereka pergi ke ladang, menggarap tanah seperti yang dikerjakan oleh orang lain pula.

Tetapi disamping itu, yang tak seorang pun mengetahuinya adalah, di dalam setiap kesempatan, terutama apabila matahari telah terbenam, Mahesa Jenar dengan tekunnya menuntun Arya dalam berbagai ilmu. Tidak saja olah kanuragan, tetapi juga tata pergaulan, kesusasteraan dan sebagainya.

Lebih dari itu, Mahesa Jenar juga selalu memberi petunjuk-petunjuk tentang keluhuran budi dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, juga sedikit mengenai ilmu keprajuritan dan siasat.

Sedikit demi sedikit, namun pasti, Arya setiap saat tumbuh menjadi seorang pemuda yang perkasa serta memiliki berbagai macam pengetahuan.

Sementara itu terjadilah berbagai perubahan di Banyubiru. Pada malam Arya dilarikan oleh Mahesa Jenar, Wanamerta telah mengutus beberapa orang untuk minta perlindungan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Ketika utusan Wanamerta sampai di Pamingit, Lembu Sora justru baru berada di Banyubiru, sehingga utusan itu terpaksa menunggu untuk beberapa lama. Baru beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora dengan tergesa-gesa datang kembali. Tentu saja ia sama sekali tidak mengatakan bahwa ia baru datang dari Banyubiru.

Mendengar permintaan utusan Wanamerta itu, hati Lembu Sora menjadi gembira sekali. Tanpa berpikir lagi segera ia menyanggupinya. Pada saat itu pula Ki Ageng Lembu Sora segera mengumpulkan pasukannya, pasukan murni dari Pamingit, yang dianggapnya pilihan serta dapat dipercaya. Ia sendiri kemudian berangkat memimpin orang-orangnya untuk melindungi perdikan Banyubiru. Tetapi ketika pasukan itu sampai, keadaan telah reda. Para penyerang telah menarik diri.

DALAM pertemuan yang diadakan oleh Lembu Sora dengan para pemimpin Banyubiru, karena kelincahan Lembu Sora, maka dicapai suatu persetujuan bahwa selama Gajah Sora belum kembali, serta Arya Salaka belum diketemukan, Banyubiru langsung berada di bawah pemerintahan Lembu Sora di Pamingit. Tetapi untuk kelancaran tata pemerintahan, Lembu Sora diberi wewenang untuk menempatkan beberapa orangnya di Banyubiru.

Inilah titik permulaan dari kemunduran secara menyeluruh bagi Banyubiru. Sebenarnya perjanjian perlindungan itu tidak menyenangkan hati beberapa orang diantara para pemimpin Banyubiru. Wanamerta sendiri akhirnya menyesal pula. Apalagi pemuda-pemuda yang mempunyai cita-cita buat masa depannya, yaitu Bantaran dan Panjawi.

Untuk sementara mereka tidak berbuat apa-apa. Sebab mereka tahu bahwa bagaimanapun Lembu Sora adalah seorang yang perkasa. Yang memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh kakaknya, meskipun dalam tingkatan yang lebih rendah.

Dalam pada itu, diam-diam Lembu Sora selalu berusaha untuk menemukan Arya. Kepada orang-orang Banyubiru, ia memerintahkan mencari anak itu sebagai pewaris tanah perdikan, sedang kepada orang-orangnya yang dipercaya, diperintahkannya untuk menemukan Arya dan membunuhnya. Sebab selama anak itu masih hidup, rasa-rasanya masih saja ada duri di dalam dagingnya. Karena apabila tiba-tiba Arya muncul, maka akan terjadilah suatu perjuangan yang lebih berat lagi. Apalagi Arya membawa tanda kebesaran Banyubiru, yaitu tombak pendek yang bernama Kyai Bancak, sebuah pusaka yang menjadi kebanggaan Gajah Sora. Itulah sebabnya ia bekerja mati-matian untuk membinasakannya.

Disamping Arya Salaka, masih ada pula hal-hal yang sangat merisaukan Ki Ageng Lembu Sora, yaitu pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Ia sadar sepenuhnya, apabila pada suatu saat ada kemungkinan ia berhadapan dengan sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, sebagai lawan yang akan saling membinasakan. Pertolongan ayahnya, Ki Ageng Sora Dipayana, belum tentu dapat diharapkan. Apalagi kalau ayahnya itu mengetahui bagaimana ia telah menyingkirkan kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.

Karena itu, usahanya yang pertama adalah memperkuat diri. Ia selalu berusaha memperbesar pasukannya dengan biaya yang besar, tanpa mempedulikan tata penghidupan rakyat yang menjadi semakin sempit. Cita-citanya tidak hanya menguasai seluruh daerah perdikan yang dulu berada di bawah pemerintahan ayahnya, tetapi kelak bila ia berhasil mendapat Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka kekuatan itu sangat diperlukan. Dengan kedua pusaka itu ia akan mempunyai kemungkinan terbesar menerima wahyu kraton. Dengan demikian ia akan dengan mudahnya dapat menghancurkan kekuatan Demak.

Tetapi meskipun demikian ia masih selalu berusaha bahwa tokoh-tokoh golongan hitam akan dapat dijadikan landasan kekuatan pula, sesuai dengan kepercayaan mereka, bahwa barang siapa yang telah memiliki kedua keris pusaka itu akan dianggap sebagai pemimpin mereka. Itulah sebabnya maka Lembu Sora selalu banyak memberi keleluasaan bergerak kepada sekutu-sekutunya, di daerahnya sendiri serta daerah perlindungannya.

Disamping itu, Lembu Sora juga selalu berusaha mencari Arya Salaka, sekaligus memerintahkan untuk mendapatkan keterangan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Sementara itu waktu berjalan terus tanpa henti-hentinya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Maka semakin dekatlah waktu yang akan diselenggarakan tokoh-tokoh hitam untuk mendapatkan seseorang yang dapat menjadi pemimpin mereka. Tetapi rasanya nafsu mereka sudah jauh berkurang sejak mereka mengetahui dengan pasti bahwa keris-keris pusaka yang mereka harapkan telah lenyap serta jatuh ke tangan seseorang yang tak dikenal.

Demikianlah akhirnya bulan terakhir itu datang juga. Pada saat itu Mahesa Jenar kemudian bersedia pula untuk menyaksikan pertemuan itu, meskipun ia sadar bahwa untuk melihatnya pasti akan sangat sulit. Karena itu ia harus berangkat beberapa hari sebelum purnama naik, untuk mendapatkan keterangan di mana pertemuan itu berlangsung.

Menurut keterangan yang pernah didengar Mahesa Jenar, dalam pertemuan itu Uling Putih serta Uling Kuning akan bertindak sebagai tuan rumah. Karena itu menurut perkiraan Mahesa Jenar, pertemuan itu akan dilangsungkan di sekitar daerah Rawa Pening. Mahesa Jenar juga pernah mendapat petunjuk tentang sarang Uling itu, yaitu di dalam rimba di ujung rawa yang menjorok ke utara.

Mahesa Jenar semula mengharap bahwa menyaksikan pertemuan itu ia akan dapat mengukur kekuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Tetapi sebenarnya sekarang tanpa menyaksikan pun ia sudah mendapat gambaran jelas tentang kekuatan mereka, bahkan tentang orang-orang angkatan tua yang berdiri di belakang mereka.
Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar tetap berkeinginan menyaksikan pertemuan itu.

SETELAH mendekati waktu yang ditentukan, Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri. Sebenarnya yang agak memusingkan kepalanya, adalah Arya Salaka. Ia sebenarnya agak keberatan untuk meninggalkan anak itu. Tetapi sebaliknya, membawa Arya adalah sangat berbahaya pula. Tetapi akhirnya Mahesa Jenar menganggap bahwa lebih aman bagi Arya, serta lebih ringan pula tanggungjawabnya apabila Arya ditinggal saja di rumah, dengan pesan agar anak itu tidak membahayakan dirinya sendiri. Sebaiknya selama Mahesa Jenar pergi, ia tidak usah pergi keluar rumah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Demikianlah maka pada suatu hari, sepekan sebelum purnama naik, Mahesa Jenar berangkat untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya, setelah ia menitipkan Arya kepada penduduk, serta pamit kepada mereka itu, bahwa ia akan mengunjungi orang tuanya di daerahnya yang lama.

Dengan memakai pakaiannya yang kumal, Mahesa Jenar mengharap bahwa dirinya tidak segera dapat dikenali. Karena itu pula ia selalu menghindari setiap pertemuan dengan orang-orang Banyubiru. Apabila kehadirannya sampai diketahui orang, maka usahanya akan menjadi terhalang. Apalagi kalau hal itu sampai terdengar Ki Ageng Lembu Sora, yang pasti menduganya telah lenyap, ketika ia tergelincir ke dalam jurang.

Tetapi sebelum itu Mahesa Jenar masih harus berusaha untuk bertemu dengan seseorang yang telah berjanji kepadanya untuk bersama-sama ke Rawa Pening, yaitu Ki Dalang Mantingan.

Usahanya mula-mula adalah mencari tempat yang kira-kira akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu. Hampir setiap saat ia bersembunyi di semak-semak di sekitar daerah Rawa Pening yang menjorok ke utara.

Meskipun di daerah itu nampaknya tidak ada jalan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa ada sebuah lorong rahasia yang sengaja dikaburkan dengan semak-semak dan pepohonan kecil lainnya. Tetapi ia sama sekali belum berani untuk memasuki lorong itu, sebelum mendapat beberapa kenyataan yang tidak terlalu membahayakan.

Pada hari kedua, Mahesa Jenar melihat seseorang berkuda memasuki lorong itu. Orang itu bertubuh tegap kekar. Matanya bersinar-sinar. Hidungnya melengkung, serta dagunya jauh menggantung di bawah mulutnya. Menilik wajahnya, Mahesa Jenar menduga bahwa orang yang demikian itu, dapat berbuat sesuatu tanpa tanggung-tanggung. Ia dapat menjadi kejam seperti iblis.

Melihat orang itu lewat, Mahesa Jenar menahan nafas. Ia masih belum pernah mengenalnya. Di pinggang orang itu tergantung sebuah pedang. Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa orang itu pasti anggota gerombolan Uling Rawa Pening, karena orang itu mengenakan ikat pinggang kulit lebar, bergambar sepasang Uling yang saling membelit.

Hal itu bagi Mahesa Jenar adalah sangat menguntungkan. Ketika suara derap kudanya sudah tak terdengar lagi, dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar keluar dari persembunyiannya, untuk kemudian menyusuri lorong itu, mengikuti bekas telapak kaki kuda yang baru saja lewat.

Ia mengharap dengan demikian akan dapat mendekati, setidaknya mendekati sarang gerombolan Uling Rawa Pening.

Ternyata bahwa lorong itu sengaja dibuat berkelok-kelok. Beberapa kali Mahesa Jenar menganggap bahwa seterusnya daerah itu sangat sulit dilewati, namun dengan menerobos semak yang tipis saja, ia sampai pada tempat yang tidak lagi ada kesukaran-kesukaran untuk dilaluinya.

Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan selalu mengikuti jejak kuda yang dinaiki oleh orang yang belum dikenalnya.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar tidak jauh di hadapannya lamat-lamat suara orang tertawa. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan segera menyelinap ke semak-semak. Sesaat kemudian suara tertawa itu berhenti, tetapi kemudian terdengar orang bercakap-cakap perlahan-lahan. Karena itu Mahesa Jenar tidak dapat menangkap isi percakapan mereka.

Dengan sangat hati-hati, Mahesa Jenar berusaha untuk mendekati orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tetapi ketika ia telah menjadi bertambah dekat, suara percakapan itu telah berhenti. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih mendengar salah seorang berkata, Silahkan Kakang Sri Gunting…, kudamu telah lelah sekali.

Dengan demikian tahulah Mahesa Jenar, bahwa orang yang berkuda itu adalah Sri Gunting. Orang pertama di dalam gerombolan Uling Rawa Pening sesudah sepasang Uling itu sendiri.

Sejenak kemudian, terdengar kembali suara langkah kuda Sri Gunting disusul dengan langkah kuda lain ke arah yang berlawanan. Sesaat kemudian Mahesa Jenar melihat orang lain lewat di depannya. Orang itu pernah dikenalnya beberapa waktu yang lalu.

Ia adalah Yuyu Rumpung, yang bersama-sama dengan Gemak Paron berusaha untuk mencuri kedua pusaka kraton di Bukit Tidar.

Mahesa Jenar sama sekali tidak mempedulikan orang itu lewat. Tetapi dengan demikian ia harus semakin hati-hati. Ternyata lorong itu memang merupakan pintu masuk ke sarang Uling Rawa Pening. Pantaslah kalau jalan itu selalu dirondai dengan cermat.

Beberapa langkah kemudian, kembali Mahesa Jenar mendengar suara orang bercakap-cakap. Juga perlahan-lahan. Tetapi agaknya lebih dari dua orang. Ketika Mahesa Jenar berhasil mengintip dari jarak yang agak jauh, dilihatnya Sri Gunting sedang bercakap-cakap dengan dua-tiga orang yang bersenjatakan tombak. Tetapi juga kali ini ia tidak mendengar isi percakapan mereka, sampai akhirnya Sri Gunting meneruskan perjalanannya.

SAMPAI di situ, Mahesa Jenar tidak berani lagi menuruti jejak kuda itu secara langsung. Sebab kemungkinan untuk bertemu orang-orang gerombolan Uling akan bertambah besar. Meskipun andaikata ia dapat memenangkan perkelahian melawan tiga-empat orang, namun dengan demikian kedatangannya sudah diketahui lebih dahulu. Karena itu Mahesa Jenar berusaha untuk mengikuti kuda Sri Gunting dari semak-semak di sekitar lorong itu, meskipun kadang-kadang ia harus merangkak-rangkak menerobos pohon-pohon liar serta sulur-sulur dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya.

Dugaan Mahesa Jenar bahwa penjagaan semakin lama semakin rapat ternyata benar. Beberapa langkah kemudian kembali terdapat beberapa orang penjaga. Dengan demikian, Mahesa Jenar mengharap bahwa tidak lama lagi ia akan sampai ke sarang sepasang Uling Rawa Pening.

Ketika Mahesa Jenar maju lagi, tiba-tiba sampailah ia pada daerah tumbuh-tumbuhan yang rapat sekali. Pohon-pohon berduri tumbuh rapat diseling dengan tanaman-tanaman menjalar dan beberapa tanaman yang sangat gatal apabila menyinggung tubuh, misalnya pohon rawe, serta pohon-pohon yang mengandung lugut dari jenis bambu.

Melihat kerapatan pepohonan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Ketika ia memandang ke arah Sri Gunting, yang juga maju dengan perlahan-lahan di atas kudanya, dilihatnya ia membelok menyusur tanaman-tanaman berduri itu ke arah timur. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati Mahesa Jenar berusaha untuk mengikutinya.

Beberapa langkah kemudian tampaklah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, tetapi daunnya sangat lebat. Dibalik pohon itulah Mahesa Jenar melihat Sri Gunting menghilang. Tahulah kini Mahesa Jenar bahwa pohon-pohon yang tumbuh rapat sekali itu, memang sengaja diatur demikian, sehingga merupakan benteng hidup yang mengelilingi pusat sarang Uling Rawa Pening. Gerombolan yang mempunyai nama tidak kalah menggetarkan daripada nama Lawa Ijo, yang ditakuti di daerah pantai utara.

Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau malah sampai ke barak Uling sendiri. Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.

Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat, menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang sepasang Uling.

Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar, rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat tinggal serupa itu.
Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan. Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu.

Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu gerbang.
Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup tinggi, sehingga pancaindera mereka pun.

Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng. Mahesa Jenar jadi menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati. Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat dekat di bawahnya.

Adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap. Terdengar Uling Putih berkata, Jadi kau yakin bahwa tempat itu telah disiapkan dengan baik?

Terdengar Sri Gunting menjawab, Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang belum siap benar.

Bagus! Uling Putih meneruskan, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya akan hadir dalam pertemuan itu.
Tidakkah mereka akan berpihak? sela Uling Kuning.
Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing, jawab Uling Putih.

Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.

DENGAN mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang gerombolan Uling Rawa Pening.

Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur. Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda sepasang Uling itu.

Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.

Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas.

Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.

Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.

Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.

Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki Dalang Mantingan.

Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan.

Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari golongan hitam.

Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu. Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening, untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.

Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam memperbandingkan kemampuan mereka.

Tetapi yang belum pernah dilihatnya, bagaimana Mantingan menggerakkan trisulanya yang terkenal itu. Mudah-mudahan keahliannya menggunakan trisula akan dapat menandingi Lawa Ijo dengan pisau belatinya, atau Jaka Soka dengan tongkat hitamnya. Namun Mahesa Jenar yakin, bahwa waktu yang sedikit menjelang kepergiannya ke Rawa Pening, Mantingan pasti telah mendapatkan sesuatu dari gurunya, Kiai Ageng Supit.

Kiai Ageng Supit adalah tokoh sakti yang tidak begitu dikenal, karena orang itu tidak banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang menonjol di luar padepokannya. Tetapi muridnya, Mantingan, dalam setiap kesempatan selalu berusaha untuk menunjukkan jasanya kepada masyarakat di sekitarnya. Mungkin gurunya sengaja memerintahkannya berbuat demikian untuk mewakilinya.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berangan-angan, terkejut. Di tepi rawa itu ia melihat bayangan dua orang yang sedang berkelahi dengan dahsyatnya. Mahesa Jenar menjadi menduga-duga, siapakah mereka itu. Karena itu segera dengan hati-hati ia pun mendekatinya.

Semakin dekat Mahesa Jenar dengan orang yang sedang bertempur itu, debar hatinya menjadi semakin keras pula. Di dalam sinar bulan yang hampir purnama itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas, bahwa kedua-duanya adalah pasti orang-orang yang berilmu tinggi.

Tiba-tiba debar jantung Mahesa Jenar berubah menjadi degupan yang menghentak-hentak dadanya. Di dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu tampaklah berkilat-kilat sinar yang memantul dari senjata orang yang sedang bertempur itu. Senjata yang cukup dikenalnya, yaitu trisula.

Karena itu cepat Mahesa Jenar mengetahui bahwa salah seorang dari mereka adalah Mantingan. Maka, Mahesa Jenar segera berusaha untuk semakin mendekat lagi. Tetapi sekali lagi detak jantungnya menyentak dan berdegupan dengan riuhnya, ketika ia melihat lawan Mantingan itu bersenjata bola besi yang diikat di ujung rantai. Juga senjata itu pernah dikenalnya. Yaitu senjata andalan dari kawan seangkatannya, seorang perwira dalam pasukan pengawal raja, yang bertubuh gemuk pendek, yakni Gajah Alit.

MAHESA JENAR menjadi agak keheran-heranan. Apakah kerja Gajah Alit di sini? Melihat cara Mantingan berkelahi, Mahesa Jenar menjadi kagum. Alangkah cepatnya ia mendapat kemajuan. Langkahnya jauh lebih lincah dari beberapa saat yang lalu, ketika ia harus menghadapinya sebagai lawan, serta unsur-unsur geraknya menjadi banyak dan berbahaya. Tetapi yang lebih mengagumkan Mahesa Jenar adalah cara Mantingan mempergunakan trisulanya. Ketiga ujung trisula itu seolah-olah berubah menjadi tangan-tangan besi yang siap menangkap dan membunuh setiap tubuh apapun yang tersinggung olehnya.

Mahesa Jenar melihat bahwa sebenarnya Mantingan, pasti sudah menerima ilmu-ilmu baru dari gurunya. Tangannya yang satu lagi selalu bergerak, menjulur, dan trisulanya mendesing-desing menimbulkan sambaran-sambaran angin yang menakutkan. Karena itu, sekarang Mahesa Jenar tidak berwas-was lagi terhadap Mantingan. Dengan ilmunya itu Mantingan sudah dapat disejajarkan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka, Sima Rodra dan sepasang Uling dari Rawa Pening. Seandainya dirinya tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak, serta mendapat kesempatan untuk memiliki Aji Sasra Birawa, maka untuk dapat mengalahkan Mantingan dengan trisulanya adalah terlalu sulit.

Tetapi lawan Mantingan itu bukan orang kebanyakan pula. Ia adalah setingkat pula dengan Mahesa Jenar tanpa aji Sasra Birawa. Bahkan mungkin sepeninggal Mahesa Jenar, Gajah Alit yang dipercaya untuk mengisi kedudukannya.

Ketika trisula Mantingan dengan dahsyat mematuk-matuk hampir mencapai tingkat tertinggi, maka pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas ketika dilihatnya bahwa agaknya pertempuran itu telah mencapai puncaknya. Masing-masing telah mengeluarkan segala kemampuan yang ada untuk membinasakan lawannya.

Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi ragu. Kalau ia melerai mereka, maka Gajah Alit pasti akan mengenalnya. Tetapi bila dibiarkan, pertempuran itu pasti akan membawa korban.

Selagi Mahesa Jenar termangu-mangu, pertempuran itu menjadi semakin sengit. Trisula Mantingan bergerak dengan cepatnya seperti petir menyambar-nyambar, sedang senjata Gajah Alit berputar semakin cepat pula sehingga yang tampak hanyalah bayangan hitam yang bergulung-gulung mengerikan, seperti awan gelap yang hendak melanda dengan dahsyatnya.

Beberapa kali rantai berkepala bola besi Gajah Alit berhasil melilit senjata lawannya, tetapi ia sama sekali tak berhasil merampasnya. Bahkan kadang-kadang mereka sampai lama berputar-putar, tarik-menarik senjata masing-masing, sehingga akhirnya terpaksa mereka berusaha untuk mengurai lilitan rantai itu.

Demikian senjata mereka terurai, demikian senjata-senjata itu kembali berputar, menyambar dan menusuk-nusuk dengan dahsyatnya. Melihat semuanya itu akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk melerai mereka. Karena itu segera ia meloncat maju mendekati arena pertempuran itu sambil berteriak nyaring, Tahan dirimu masing-masing. Hentikan pertempuran ini.

Tetapi agaknya mereka yang bertempur itu sama sekali tak mendengarnya, sebab pendengaran mereka dikacaukan oleh bunyi senjata mereka yang berdesing-desing dan berdentangan saling beradu. Sedang perhatian mereka seluruhnya tertumpah pada upaya mempertahankan jiwa masing-masing. Karena itu sekali lagi Mahesa Jenar berteriak, lebih keras dari semula sambil meloncat lebih dekat lagi, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit, hentikan pertempuran.

Baru ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebut, mereka menjadi terkejut. Apalagi, ketika mereka lihat seseorang mendekat, Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng meloncat surut, dan dengan herannya memandang kepada Mahesa Jenar yang kemudian meloncat diantara mereka. Tetapi untuk sesaat mereka tidak segera mengenal siapakah yang telah melerai mereka itu, sampai Mahesa Jenar berkata, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit…. Adakah sesuatu yang tidak wajar, sehingga kalian terpaksa bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit, segera mengenal suara itu. Karena itu hampir berbareng mereka menyebut nama Mahesa Jenar.

Ya, inilah aku, jawab Mahesa Jenar.

Mendengar jawaban itu, segera mereka berloncatan maju sambil berebutan memberi salam.

Kemanakah kau selama ini, Kakang? tanya Gajah Alit, Kau begitu saja menghilang seperti hantu.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab pertanyaan ini, tetapi malahan ia bertanya, Kenapa kalian bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit kemudian saling berpandangan. Memang sebenarnya mereka tidak mempunyai suatu alasan yang kuat, kecuali mereka sebenarnya hanya saling curiga.

Aku tidak tahu sekarang, jawab Gajah Alit sambil tersenyum-senyum. Wajahnya yang bulat itu masih saja memancarkan kejenakaannya.

Kami sebenarnya tidak mempunyai urusan, jawab Mantingan.

Lalu apakah sebabnya? tanya Mahesa Jenar heran.
Sebenarnya kami belum saling mengenal, jelas Mantingan.

MENDENGAR kata-kata itu, barulah Mahesa Jenar sadar bahwa sebaiknya ia memperkenalkan kedua orang yang baru saja bertempur itu.

Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.

Dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa. Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat berbahaya.
Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan Gajah Alit, Apakah urusan kalian, sehingga kalian sampai mempertaruhkan nyawa kalian?

Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi penjelasan.

Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap.

Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.

Benarkah begitu, Adi Gajah Alit? Mahesa Jenar menegaskan.

Begitulah, Kakang, jawab Gajah Alit, Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak.

Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata, Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan.

Aku tidak dapat mengatakan, potong Mahesa Jenar, Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening.

Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan, Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?

Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya, Katakanlah. Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah.

Kakang…. Gajah Alit memulai, Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari.

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?

Ya, Jawab Gajah Alit, Bahkan aku tidak seorang diri.
Kau tidak seorang diri? ulang Mahesa Jenar.
Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron. Gajah Alit meneruskan.

Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.

Di manakah Adi Paningron sekarang? tanya Mahesa Jenar.

Sejak senja kami berpisah, jawab Gajah Alit. Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu.

Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras.

Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.

Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?

Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata, Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek. Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.
Percayakan itu padaku, tegas Gajah Alit.

Baiklah… kata Mahesa Jenar, Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri.

Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata, Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi.

He…? Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.

Dengan siapa Kakang pergi? tanya Mahesa Jenar.

Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku, jawab Mantingan.

MAHESA JENAR dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk. Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan.

Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang keberangkatan mereka.

Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya, tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak seperguruannya itu.

Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga menyertainya.

Di manakah kakak seperguruan Kakang itu? tanya Mahesa Jenar kemudian.
Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin. Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih belum dapat kami temukan.
Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak seperguruan Kakang Mantingan, sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.

Mudah-mudahan, jawab Mahesa Jenar.
Kalau demikian… lanjut Mahesa Jenar, Aku tunggu di sini. Kalian cari kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah kalian cari-cari lagi.
Kenapa? tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.

Carilah kawan-kawan kalian, desak Mahesa Jenar, dan cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku menunggu kalian di sini.

Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.

Tepat! sambung Mantingan, Aku juga menduga demikian.

Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. Mungkin kalian benar, karena itu kalian harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.

Baiklah, jawab mereka berbareng.

Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.

Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu. Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit, yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan dan Wiraraga.

Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar, demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil berkata, Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan kejahatan.

Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.

Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak tersenyum-senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban. Matanya memancar lembut, tetapi dalam.

Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu, sehingga suasana kemudian menjadi riuh.

Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka berbicara tentang tokoh-tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.

Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.

Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.

Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat yang sangat baik.

TEMPAT itu agak menjorok ke atas, tetapi ditumbuhi pepohonan yang agak lebat. Dari tempat itu, mereka akan dapat melihat apa saja yang terjadi di lapangan rumput yang terbentang di hadapannya. Meskipun pada siang hari, tempat itu akan tetap merupakan tempat yang tersembunyi. Mereka yang sedang bertugas mengadakan pengawasan harus memanjat sebuah pohon yang tak begitu tinggi, namun berdaun rimbun. Sedang yang lain dapat dengan aman beristirahat tidak lebih dari dua puluh langkah dari tempat itu, sambil menikmati ketupat sambal, bekal yang dibawa oleh Mantingan atau jadah jenang alot, bekal Gajah Alit.

Pada siang hari itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat betapa orang-orang Uling Rawa Pening berusaha keras menyelesaikan pekerjaan mereka, bahkan pada malam harinya pun pekerja-pekerja itu tetap melakukan tugas mereka sampai barak-barak itu siap dipergunakan.

Maka pada hari berikutnya, menjelang purnama penuh, tampaklah di tempat itu kesibukan-kesibukan yang padat. Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menjelang hari sepenggalah.

Ketika matahari telah mencapai puncaknya, maka mulailah penjagaan-penjagaan sekeliling tempat itu semakin ditertibkan. Sri Gunting sendiri yang memimpinnya. Beberapa orang telah diperintahkan untuk meronda keliling, serta beberapa orang lagi ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap perlu.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berani lagi berbuat seenaknya. Sebab setiap saat ada kemungkinan para peronda melintasi tempat mereka bersembunyi. Karena itu, daripada mereka harus selalu memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, maka mereka lebih menganggap aman apabila mereka semuanya memanjat pohon. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah menegangkan urat syaraf mereka.

Berdasarkan atas pikiran itu, maka segera mereka berlima memilih tempat mereka masing-masing. Tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi juga tidak terlalu jauh.
Beberapa saat, perasaan mereka dihinggapi oleh ketegangan yang semakin lama semakin memuncak, karena mereka harus menunggu suatu peristiwa yang cukup penting. Sedang di bawah mereka beberapa peronda sudah lebih dari dua kali lewat hilir-mudik. Namun untunglah bahwa tak seorang pun dari mereka merasa perlu untuk menyelidiki dahan-dahan kayu di atas mereka.

Ketika matahari telah condong ke barat, mulailah rombongan yang pertama datang ke tempat itu. Rombongan yang datang paling awal adalah rombongan dari Gunung Tidar. Beberapa waktu yang lampau Mahesa Jenar pernah menyaksikan orang-orang dari golongan hitam ini berkumpul, tetapi agaknya kali ini pertemuan mereka lebih bersifat resmi.

Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring, di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok, membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.

Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat, rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.

Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya.

Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar pula menyaksikan kedatangannya.

Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan dimulai.

Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di langit.
Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan dimulai.

Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul perlahan-lahan.
Sesaat kemudian muncullah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu. Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.

Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening. Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong.

Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara muncullah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.

DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.

Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.

Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.

Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.

Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.

Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.

Biarkanlah mereka, kata Uling Putih. Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa.

Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan, Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa.

Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.

Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.

Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.

TAK seorang pun dari orang-orang Lembu Sora atau Jaka Soka yang berani memulai sebelum mereka mendapat perintah dari pemimpin-pemimin mereka. Sedang Lembu Sora maupun Jaka Soka agaknya ingin menyelesaikan masalah itu seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Sebab dengan demikian akan puaslah hati mereka masing-masing yang berhasil membinasakan lawannya karena tangan sendiri.

Perkelahian antara Jaka Soka dan Lembu Sora semakin lama makin bertambah dahsyat. Masing-masing mengeluarkan segala kepandaiannya untuk membinasakan lawannya. Mereka sama sekali sudah tidak ragu-ragu lagi, seandainya lawan masing-masing terpenggal lehernya atau tersobek dadanya.

Lembu Sora yang kuat dan garang seperti singa itu menyerang semakin dahsyat dengan pedang yang terayun kian-kemari, sedang Jaka Soka berkelahi benar-benar seperti seekor ular yang membelit, menjalur dan mematuk-matuk berbahaya sekali.
Semua yang menyaksikan pertempuran itu terpaksa menahan nafas. Mau tidak mau mereka harus mengagumi keperkasaan kedua orang yang sedang bertanding. Lembu Sora percaya akan kekuatan tubuhnya melawan Jaka Soka yang mempunyai cara bertempur yang lemas sekali.

Sesaat kemudian pertempuran itu sampai ke taraf yang menentukan. Baik Jaka Soka maupun Lembu Sora telah mengerahkan segenap tenaganya secara berlebih-lebihan, sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah merasa bahwa tenaga mereka seakan-akan telah terperas habis. Karena itu sebelum mereka jatuh dan tidak bertenaga lagi, mereka telah sedemikian bernafsu untuk membinasakan lawannya.

Maka pada saat yang demikian, pada saat semua yang hadir lagi menahan nafas, tiba-tiba muncullah orang yang selama ini mereka nanti-nantikan, ialah Pasingsingan dan Sima Rodra. Melihat Lembu Sora dan Jaka Soka sedang dengan dahsyatnya mempertaruhkan nyawanya, Pasingsingan dan Sima Rodra mengernyitkan alisnya.

Tiba-tiba hampir tak diketahui apa yang sudah dilakukan oleh Pasingsingan, Jaka Soka dan Lembu Sora terpental bersama-sama beberapa langkah, dan kemudian mereka jatuh bergulingan. Ketika mereka bangun, mata mereka menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Tetapi ketika mereka melihat Pasingsingan telah berdiri diantara mereka, wajah mereka yang merah itu segera menjadi pucat dan ketakutan.

Apa yang telah kalian lakukan? bentak Pasingsingan.

Lembu Sora dan Jaka Soka sama sekali tidak menjawab. Dan karena mereka tidak menjawab, Pasingsingan segera memanggil Lawa Ijo, dan bertanya kepadanya,

Kenapa mereka berkelahi?

Dengan singkat Lawa Ijo menceriterakan apa yang telah terjadi, pertentangan antara Jaka Soka dan Lembu Sora pada saat mereka sedang mencegat pasukan-pasukan dari Demak beberapa waktu berselang.

Mendengar ceritera Lawa Ijo, sekali lagi Pasingsingan menyernyitkan alisnya, kemudian katanya, Kenapa kalian diam saja melihat perkelahian itu?

Lawa Ijo, Sepasang Uling Rawa Pening, dan Sima Rodra terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tak seorang pun yang dapat menjawabnya.

Kalian tak usah berbohong, sebab kalian akan bersyukur kalau salah seorang sekutu kalian atau kedua-duanya binasa, lanjut Pasingsingan.

Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu semakin diam, sebab Pasingsingan langsung dapat menebak isi hati mereka.

Kemudian Pasingsingan menoleh kepada Jaka Soka dan Lembu Sora.

Kalian telah merusak suasana malam purnama ini, katanya.

Lembu Sora dan Jaka Soka tidak berkata sepatah pun. Mereka menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Kembalilah ke tempat kalian masing-masing, perintah Pasingsingan.

Mendengar perintah itu segera Lembu Sora berjalan menuju ke tempatnya semula. Sedang para pengiringnya kemudian juga pergi ke tempat masing-masing.

Sementara itu Lawa Ijo, Sima Rodra muda telah mengambil tempatnya pula, sedang sepadang Uling Rawa Pening sibuk mempersilahkan Jaka Soka untuk menempatkan diri beserta para pengirinya di sisi utara. Adapun Pasingsingan kemudian dipersilahkan duduk bersama-sama dengan Sima Rodra tua di sisi sebelah barat, di samping tempat duduk Uling Rawa Pening.

Setelah suasana menjadi tenang kembali, serta para peserta pertemuan itu telah duduk di tikar pandan di sisi-sisi yang telah ditentukan, berkatalah Pasingsingan dengan nyaringnya, Kalian, orang yang disebut golongan hitam, tetapi yang sebenarnya bercita-cita luhur seperti lazimnya manusia yang selalu ingin mencapai tingkatan tertinggi dalam kehidupan, bersyukurlah di dalam hati kalian bahwa pada malam hari ini kalian dapat berkumpul bersama-sama. Tetapi kalian pasti tak akan dapat berbuat sesuatu, sebab tidak ada diantara kalian yang pantas menjadi pemimpin diantara kita. Terbukti bahwa tidak seorang pun diantara kalian yang berhasil membawa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu kemari.

Pasingsingan diam sebentar. Pandangannya beredar dari setiap wajah yang berada di sekitar lapangan kecil itu. Sejenak kemudian ia melanjutkan, Kalau kalian ingin mendapatkan tingkatan itu dengan mengadu kepandaian, maka cara itu pun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Sebab suatu pertarungan diantara kalian dalam saat ini pasti hanya akan memakan waktu berlarut-larut. Coba lihat apa yang dilakukan oleh Jaka Soka dengan Ki Ageng Lembu Sora. Andaikata mereka dibiarkan bertempur terus pasti mereka akan mati kelelahan kedua-duanya, bersama-sama, atau kalau mereka menghemat tenaga mereka, pertempuran semacam itu akan dapat berlangsung berhari-hari.

Kembali Pasingsingan diam sejenak, lalu ia melanjutkan, Yang penting sekarang kesatuan diantara kita masih kita perlukan. Marilah kita ubah persetujuan kita, dengan mengadakan persetujuan baru. Barang siapa yang terdahulu menemukan Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, dialah yang segera diumumkan dan kita angkat menjadi pemimpin kita, dan kita dukung perjuangannya melawan pemerintah Demak.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

2 Komentar

  1. tono langen kuila said,

    Jumat, 22 Januari 2010 at 01:47

    sprti mnemukan emas permat yg tak trniai harganya stlh brtahun-tahun mncari kelanjutan cerita NAGASASRA SABUK INTEN yg baru sdikit sy baca, kami temukan di taxdsns@yahoo.com

  2. dsns said,

    Jumat, 19 Februari 2010 at 00:29

    smp segitunya.. hehe
    Selamat membaca.. :-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: