Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 8

Lanjutan dari jilid 7

UNTUNGLAH bahwa orang itu tidak memiliki ilmu yang tinggi, sehingga meskipun Bagus Handaka pantas menjadi anaknya, tetapi dalam perkelahian itu, meskipun ia harus bekerja keras, ia sama sekali tidak perlu cemas akan kesudahan dari pertempuran itu.

Setelah mereka bertempur beberapa lama, akhirnya Bagus Handaka mendengar desah nafas lawannya semakin lama semakin cepat. Ia menjadi bergembira, karena dengan demikian ia tahu bahwa sebentar lagi lawannya akan kehabisan nafas. Karena itu, ia tidak perlu untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Ia cukup mengganggunya sehingga apabila nafas orang itu telah benar-benar tersekat, maka ia dengan mudah akan dapat menangkapnya. Mungkin gurunya tahu siapakah orang itu. Tetapi agaknya penyerang itu menyadari kelemahannya.

Karena itu, dengan tergesa-gesa orang itu meloncat mundur sebelum kehabisan nafas dan berusaha melarikan diri. Tetapi Bagus Handaka sama sekali tak melepaskannya. Cepat ia berusaha mengejarnya. Namun ia menjadi keheran-heranan. Orang yang nafasnya tinggal seujung kuku itu, masih dapat melarikan diri dari kejarannya.
Bagus Handaka berhenti mengejar ketika orang itu menyusup ke dalam semak-semak yang rimbun. Sulitlah baginya untuk mencari seseorang di dalam gelapnya malam diantara semak-semak itu.

Setelah puas merenungi semak-semak itu, kemudian dengan langkah yang berat Bagus Handaka berjalan pulang ke pondoknya. Di dalam otaknya terjadilah suatu keributan. Ia sibuk menebak-nebak, siapakah orang yang dengan tiba-tiba saja menyerangnya. Bukan karena suatu kekeliruan, tetapi benar-benar dirinyalah yang dicari.

Sampai di pondoknya segera ia mencari gurunya. Tetapi ternyata Manahan masih belum pulang. Bagus Handaka yang tahu akan kebiasaan gurunya segera pergi menyusul ke pojok desa.

Tetapi akhirnya ia menjadi ragu. Apakah hal yang demikian saja sudah merupakan suatu hal yang perlu dibicarakan dengan gurunya. Apakah dalam hal-hal yang kecil tidak cukup kalau diselesaikannya sendiri.

Karena pikiran itu maka Bagus Handaka kemudian membatalkan maksudnya untuk menyatakan peristiwa yang baru saja dialami itu kepada gurunya. Sehingga ketika ia sampai di pojok desa, dan ketika ia sudah duduk diantara para petani dan nelayan yang sedang tidak turun ke laut, ia sama sekali tak berkata apapun mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau mengganggu Manahan dengan soal-soal yang remeh-remeh.

Tetapi apa yang dialami kemudian adalah sangat memusingkan kepalanya. Pada malam berikutnya, ketika ia sedang berbuat seperti kebiasaannya, tiba-tiba datanglah seseorang yang juga tanpa sebab menyerangnya. Tetapi orang ini adalah orang yang lain dari yang menyerangnya kemarin. Orang ini agaknya sudah jauh lebih tua dari gurunya.

Seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka berusaha pula meyakinkan bahwa mungkin orang itu keliru. Tetapi juga seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka terkejut dan keheran-heranan ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang tinggi, Tak usah kau mengelakkan diri. Soalnya sudah cukup jelas. Dan kau harus menyerah kepadaku sebelum orang lain berhasil menangkapmu mati atau hidup.

Maka bersilang-silanglah teka-teki di dalam kepala Bagus Handaka. Apakah sebabnya maka hal ini bisa tejadi? Tiba-tiba ia teringat kepada orang-orang yang beberapa tahun yang lalu memburunya. Adakah orang-orang ini juga terdiri dari gerombolan yang sama? Karena itu dengan keras Bagus Handaka berkata, Hai orang tua yang tak tahu diri, adakah kau termasuk dalam gerombolan orang-orang yang akan membunuhku beberapa tahun yang lalu?

Terdengar orang itu tertawa dengan nada yang tinggi. Jawabnya, Aku tidak mengenal orang-orang lain yang memburumu. Tetapi aku memerlukan kau seperti orang-orang lain yang barangkali juga memerlukan.

Bagus Handaka menjadi semakin bingung. Adakah hubungan semua itu dengan tanah perdikan Banyubiru?

Banyubiru? tanya orang tua itu dengan heran. Aku belum pernah mendengar nama Tanah Perdikan Banyubiru.

Lalu apa perlumu menangkap aku? potong Handaka.

Sekali lagi orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang semakin tinggi. Tetapi bersamaan dengan itu serangan menjadi bertambah cepat dan berbahaya.
Bagus Handaka pun kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Ia menjadi jengkel sekali atas kejadian-kejadian itu. Karena itu ia bertekad untuk menangkap penyerangnya kali ini.

Tetapi ternyata orang tua ini mempunyai ilmu yang agak lebih tinggi dari orang yang menyerang kemarin. Meskipun umurnya sudah lanjut, namun geraknya masih sangat membahayakan. Serangannya datang tiba-tiba dan kadang-kadang tak terduga.

Mula-mula Bagus Handaka menjadi agak mengalami kesulitan. Ia belum pernah melihat beberapa dari unsur-unsur gerak lawannya. Tetapi karena orang tua itu agaknya belum memiliki unsur-unsur gerak yang banyak macamnya, maka serangannya selalu dilakukan berulang kali dengan unsur-unsur gerak yang hanya ada beberapa macam itu saja. Meskipun unsur-unsur gerak itu mula-mula agak membingungkannya, tetapi lambat laun dapat dikuasainya. Apalagi karena Bagus Handaka sendiri telah banyak menerima bahan-bahan serta ilmu yang cukup banyak dari gurunya.

Malahan ketika mereka telah bertempur beberapa lama, Bagus Handaka mulai dapat mengenal ilmu lawannya dengan baik. Karena itu seperti malam sebelumnya, ia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia pasti akan dapat mengatasi lawannya yang sudah tua itu.

Tetapi karena kali ini ia benar-benar ingin menangkap penyerang itu, maka Bagus Handaka selalu berusaha untuk dengan secepat-cepatnya menjatuhkan lawannya, meskipun hal itu tidak dapat dilakukannya dengan mudah.

AKHIRNYA, ketika orang tua itu merasa bahwa Bagus Handaka bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya dapat ditakut-takuti serta dengan mudahnya dapat ditangkap, bahkan malahan dalam beberapa hal Bagus Handaka dapat melebihinya, maka tak ada jalan lain daripada melarikan diri.

Apalagi ketika ternyata Bagus Handaka dapat melawannya dengan mempergunakan bagian-bagian dari unsur-unsur geraknya sendiri. Orang tua itu menjadi bertambah takut lagi.

Cepat-cepat ia meloncat mundur beberapa langkah, dan kemudian berusaha untuk berlari secepat-cepatnya. Bagus Handaka yang sudah mengira hal itu akan terjadi, segera meloncat menghadang. Tetapi orang tua itu seakan-akan telah dapat memperhitungkan pula tindakan Bagus Handaka, karena demikian Bagus Handaka melontarkan diri, demikian orang tua itu membalik ke arah yang berlawanan, dan seperti terbang orang itu berlari masuk ke dalam semak-semak yang gelap.

Bagus Handaka yang mengejarnya menjadi keheran-heranan. Meskipun ternyata ilmunya tidak kalah tinggi, bahkan beberapa unsur gerak orang tua itu malahan telah dapat dikuasai, namun dalam hal berlari ternyata ia masih kalah. Karena itu dengan hati yang semakin jengkel Bagus Handaka terpaksa melepaskan orang tua itu pergi.

Dengan kejadian-kejadian itu, teka teki yang melibat dirinya menjadi semakin kisruh. Ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah dialami, namun ia sama sekali tak dapat menghubungkannya dengan peristiwa dua malam terakhir itu.

Tetapi Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang berani, cerdas dan banyak hal yang ingin diketahui. Karena itulah maka, setelah mengalami peristiwa dua malam berturut-turut, malahan ia ingin untuk mengetahui apakah yang akan terjadi seterusnya. Ia ingin melihat apakah pada malam-malam berikutnya akan terjadi pula hal-hal semacam itu. Malahan ia mengharap kedatangan salah seorang diantaranya, sehingga apabila orang itu dapat ditangkapnya, maka pastilah latar belakang dari peristiwa-peristiwa itu dapat disingkapkan.

Namun sampai sedemikian jauh Bagus Handaka masih belum merasa perlu untuk menyampaikan masalah itu kepada gurunya. Nanti apabila salah seorang dari mereka dapat ditangkapnya, barulah Bagus Handaka bermaksud membawa orang itu kepada Manahan.

Pada malam berikutnya Bagus Handaka sengaja menghindarkan diri dari beberapa kawannya yang sering mengajaknya turun ke laut. Dengan demikian maka ia dapat leluasa pergi ke pantai untuk menanti peristiwa yang aneh, yang barangkali masih ada kelanjutannya.

Dan apa yang dinantinya benar-benar datang.

Ketika angin laut menghembus perlahan-lahan mempermainkan buih di pantai, Bagus Handaka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang seolah-olah muncul saja dari dalam laut, dan dengan langkah yang cepat langsung menuju ke arahnya.

Meskipun Bagus Handaka sengaja menanti kejadian itu, namun hatinya tergetar juga.

Dua malam berturut-turut ia mengalami serangan dari orang yang tak dikenalnya.

Tetapi orang-orang itu datang dari arah semak-semak, sedangkan kali ini orang itu muncul seakan-akan dari dalam air.

Ketika orang itu sudah semakin dekat, Bagus Handaka segera meloncat berdiri serta mempersiapkan diri. Sebab menilik gerak serta arah datangnya, maka orang ini pasti lebih berbahaya dari dua orang yang pernah dilawannya.

Melihat Bagus Handaka berdiri serta mempersiapkan diri, orang itu terhenti. Agaknya ia heran melihat sikap Handaka. Tetapi kemudian terdengar ia tertawa pendek, menyeramkan. Aku tidak akan keliru lagi. Bukankah kau yang bernama Bagus Handaka?

Di dalam gelap, Bagus Handaka mencoba mengawasi wajah orang itu. Tetapi yang dapat diketahuinya adalah, orang itu janggut serta kumisnya tumbuh lebat sekali, sehingga menutupi hampir seluruh lubang mulut serta hidungnya. Selain dari itu tak ada lagi kesan yang diperolehnya.

Dengan suara yang mantap, Bagus Handaka menjawab, Ya, aku Bagus Handaka. Kau mau apa?

Kembali terdengar suara tertawa pendek yang menyeramkan. Kau memang berani Handaka. Aku kira kau akan memungkiri dirimu. Kau tidak takut mendapat bahaya?
Kenapa aku mesti takut. Aku sudah mengira bahwa kau akan berkata seperti orang-orang yang pernah menyerangku dua malam berturut-turut meskipun orangnya tidak sama, potong Bagus Handaka.

Agaknya orang itu heran mendengar kata-kata Handaka, sehingga ia bertanya, Dua malam berturut-turut kau mendapat serangan?

Sekarang Bagus Handaka yang tertawa berderai. Aku bukan anak-anak yang masih pantas kau bohongi dengan cara demikian. Adakah suatu peristiwa kebetulan sampai tiga kali berturut-turut dengan cara yang sama?
Mendengar jawaban Bagus Handaka, orang itu berdesis, Agaknya mereka telah mendahului aku.
Lalu tiba-tiba ia berkata kepada Bagus Handaka, Tetapi kenapa kau masih sempat bermain-main di sini. Kalau apa yang kau katakan benar, aku kira kau sudah tergantung mati di tengah Alas Roban.

Mau tidak mau jantung Handaka tergetar hebat mendengar kata-kata itu. Apakah sebabnya orang-orang itu memburunya dan akan menggantungnya di Alas Roban…? Karena itu pula ia menjadi marah sekali. Ia tidak pernah merasa berbuat salah kepada orang lain, tetapi kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?
Kemudian dengan tidak menunggu lebih lama lagi, Bagus Handaka meloncat mendahului menyerang orang itu. Serangannya hebat sekali dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada.

ORANG yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut sekali. Ia tidak mengira bahwa Bagus Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia meloncat ke samping. Tetapi Bagus Handaka tidak membiarkannya. Disusullah serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Bagus Handaka dengan kedua tangan yang disilangkan di muka dadanya.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Bagus Handaka terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.

Karena itu segera Bagus Handaka mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.

Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun Bagus Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam-malam sebelumnya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya.

Hanya kadang-kadang saja Bagus Handaka dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Bagus Handaka yang lincah dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan yang demikian.
Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan kelincahannya.

Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.

Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai tubuh Bagus Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.

Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Bagus Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah agaknya Bagus Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Bagus Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.

Ketika orang itu lenyap, Bagus Handaka berdiri bertolak pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan, keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung berlarut-larut…?

Tetapi jiwa keingintahuan Bagus Handaka tiba-tiba menguasai perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para penyerang itu datang berturut-turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang terjadi sesudah itu…?
Demikianlah kembali pada malam keempat. Bagus Handaka mencari-cari alasan untuk tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga bahwa Bagus Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya penuh dengan bahaya.

Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.

Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Bagus Handaka berjuang dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.

Demikian pula pada malam kelima. Otak bagus Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

TIDAK seperti keempat orang sebelumnya, yang datang dari jurusan yang tidak sama, namun kedatangan mereka itu dapat diketahui sebelumnya, meskipun ada dua diantaranya yang datang dari jurusan yang aneh, dari laut. Tetapi orang kelima ini jauh lebih aneh lagi. Tahu-tahu orang itu sudah berdiri di belakang Bagus Handaka dengan suara garang dibarengi dengan suara tertawa yang menyeramkan.

Bagus Handaka, kau mau melarikan dirimu kemana lagi. Berbulan-bulan aku mencarimu, dan sekarang aku menemukan kau di sini.

Empat malam berturut-turut Bagus Handaka sudah bertempur dengan orang-orang yang tak dikenal, dan empat kali pula ia berhasil mengalahkan mereka. Namun kali ini bulu tengkuknya meremang juga. Wajah orang ini sama sekali bersih, hanya alisnya agak terlalu lebat dan hampir bertemu di atas hidungnya. Tetapi wajah yang bersih itu seakan-akan memancarkan udara maut dari setiap lubang-lubangnya.

Kemudian terdengar kembali orang itu berkata, Ha, agaknya kau sudah ketakutan. Aku kira kau anak yang berani. Bukankah kau murid Manahan sepengecut kau ini.

Bagus Handaka adalah seorang anak yang berani. Meskipun hatinya tergetar pula menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak akan menilai seseorang berlebih-lebihan. Apalagi orang itu telah menghinanya dengan menyebut-nyebut nama gurunya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Dengan mulut yang terkatub rapat serta gigi yang gemeretak, Bagus Handaka tidak menanti orang itu selesai berkata. Seperti seekor banteng luka ia dengan dahsyatnya menyerang orang itu.

Orang yang mendapat serangan itu agaknya terkejut. Tetapi dengan tangkasnya ia menggeser kakinya sehingga ia terbebas dari serangan Bagus Handaka. Tetapi Bagus Handaka yang hatinya sudah terbakar oleh kemarahan itu, dengan cepatnya menyerang pula. Sekali lagi orang itu terpaksa mengelakkan diri, tetapi agaknya ia tidak mau diserang terus-menerus.

Kemudian dengan garangnya ia pun menyerang kembali. Namun ternyata Bagus Handaka memiliki kelincahan yang cukup pula, sehingga serangan orang itu dapat dielakkannya. Kemudian terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Masing-masing melancarkan serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya. Tetapi masing-masing ternyata memiliki kegesitan dan ketahanan yang cukup.

Bagus Handaka yang telah bertempur empat malam berturut-turut dan memenangkan setiap pertempuran, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ia semakin percaya kepada kekuatan dirinya sendiri. Dan perasaan yang demikian sangat membantu keadaannya pada malam kelima itu. Meskipun ia merasa bahwa orang kelima ini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang-orang sebelumnya, namun hatinya yang telah dibesarkan oleh peristiwa-peristiwa empat malam sebelumnya menjadikannya tetap tatag dan tenang.

Tetapi suatu hal yang kurang menguntungkan bagi Bagus Handaka, adalah karena orang itu jauh lebih besar dan lebih tinggi, maka kesempatan orang itu untuk mengenainya agak lebih banyak. Tangan serta kakinya yang agak lebih panjang, ternyata mempengaruhi jalan pertempuran itu.

Rupa-rupanya orang itu mempergunakan keuntungan itu sebaik-baiknya. Ia selalu melawan serangan Bagus Handaka dengan serangan pula. Beberapa kali Bagus Handaka dapat dikenai dengan cara demikian sebelum tangannya sempat menyentuh tubuh orang itu. Sehingga Bagus Handaka menjadi semakin marah dan bertempur mati-matian.

Ternyata kali ini lawannya benar-benar tangguh. Orang itu licin seperti belut, serta lincah seperti singgat. Beberapa kali, apabila serangan-serangan Bagus Handaka agaknya sudah tidak dapat dihindari, tiba-tiba saja ia melenting beberapa langkah, dan kemudian dengan cara yang sama ia telah menyerang kembali.

Menghadapi serangan yang demikian Bagus Handaka merasa agak sulit. Dengan menjatuhkan diri ia mencoba membebaskan dirinya. Tetapi orang itu tidak membiarkan Bagus Handaka lolos. Dengan kakinya yang kokoh ia meloncat kearah dada anak itu. Sekali lagi Bagus Handaka berguling. Tetapi sekali lagi orang itu melakukan serangan yang sama pula sebelum Handaka sempat berdiri.

Bagus Handaka kemudian menjadi agak gugup. Berapa kali ia harus bergulung-gulung di pasir pantai itu. Tiba-tiba ia teringat kepada lawan-lawannya yang pernah dikalahkannya. Ada beberapa unsur gerak yang dapat dikuasainya. Karena itu ketika sekali lagi Bagus Handaka mendapat serangan dengan cara yang sama, setelah ia berhasil menggeser tubuhnya, cepat-cepat ia menangkap pergelangan kaki lawannya.

Dengan mempergunakan daya dorongnya sendiri, Bagus Handaka ternyata berhasil menjatuhkan orang itu, dengan menghantam betisnya. Ia sendiri pernah pula mengalami hal yang demikian. Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling, kesempatan itu cepat dipergunakan oleh Bagus Handaka untuk berdiri.

Tetapi demikian ia berdiri, orang itupun dengan suatu gerak seperti roda yang bergulung telah berdiri di hadapannya pula.

Bagus Handaka, melihat hal itu menjadi bertambah marah. Matanya menjadi merah menyala-nyala dan dadanya berdegupan. Dengan dahsyatnya ia melontar maju menyerang dada orang itu. Serangan itu demikian tak terduga-duga sehingga orang asing itu tak sempat mengelak. Karena itulah maka dadanya terpaksa terhantam hebat. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut.

Bagus Handaka tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi. Dengan garangnya ia memburu dan sekali lagi menghantamnya. Sayang bahwa kali ini orang itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Bagus Handaka tidak mengenai sasarannya, bahkan ia sendiri hampir-hampir kehilangan keseimbangan.

Dalam saat yang demikian, tampak lawannya mengayunkan tangannya dengan dahsyatnya. Melihat serangan itu, Bagus Handaka agak bingung.

TIBA-TIBA tanpa sadar Bagus Handaka telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Bagus Handaka menarik orang itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas pundaknya dan terbanting di pasir pantai.

Tetapi sekali lagi Bagus Handaka keheran-heranan. Demikian orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Bagus Handaka terlontar mengenai perutnya.

Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi seterusnya ketika Bagus Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka orang itu pun menghantamnya.

Kali ini Bagus Handaka mengalami kembali hal yang sangat merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang garang sekali.

Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya kecuali dengan kedua kakinya Bagus Handaka menghantam tubuh orang yang seperti melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara.

Kali ini Bagus Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri.

Pada saat itu Bagus Handaka pun telah berdiri. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh debu-debu pasir pantai.
Sebenarnya Bagus Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya ternyata benar-benar licin seperti belut.

Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Bagus Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya.

Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya dengan hebat.
Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Bagus Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh. Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Bagus Handaka. Orang yang hebat ini pasti akan dapat ditangkapnya.

Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman mengenai punggungnya.

Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap, sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja. Meskipun demikian, karena Bagus Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup.

Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.
Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar.

Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar telah lenyap.

Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir. Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu, pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu, namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.
Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.
Lalu bagaimana dengan malam besok?

Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di tengah-tengah Alas Roban.
Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya kepadanya.

Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya, terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk.

Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.

Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Bagus Handaka mendekatinya dan berkata, Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.
Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka. Apakah kau turun ke laut Handaka?

TIDAK, Bapak, jawab Handaka singkat.

Dari pantai…? tanya Manahan lebih lanjut. Bagus Handaka menganggukkan kepalanya. Dalam cahaya api barulah Bagus Handaka melihat tubuhnya merah-merah biru dan berdarah di beberapa tempat. Ketika Manahan melihat luka-luka itu, serta melihat wajah Handaka yang pucat dan nafasnya yang kurang teratur, ia menjadi keheran-heranan. Maka kemudian ia bertanya, Handaka, apakah yang terjadi? Apakah kau berselisih dengan kawan-kawanmu, sehingga kau berkelahi?
Tidak, Bapak, jawab Handaka.
Lalu kenapa kau? desak Manahan.

Bagus Handaka yang memang telah berkeputusan untuk menyampaikan keadaan yang dialaminya lima malam berturut-turut itu pun segera duduk disamping Manahan, dan segera mengalirlah ceritera dari mulutnya. Sejak malam pertama sampai malam terakhir, lengkap dengan bentuk-bentuk wajah dari orang-orang yang menyerangnya.
Mendengar ceritera Bagus Handaka itu, Manahan menarik alisnya. Memang ia pun menjadi keheranan-heranan, apakah pamrih orang-orang itu menyerang Bagus Handaka.

Handaka…, kenapa kau baru sekarang mengatakan semua kejadian itu kepadaku? tanya Manahan.

Dengan jujur Handaka mengatakan segala keinginannya untuk mengetahui kelanjutan peristiwa-peristiwa itu, serta keinginannya untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya berkobar pula kemarahan ketika ia mendengar bahwa orang kelima yang menyerang Bagus Handaka itu telah menyebut-nyebut namanya. Padahal pada saat orang itu ia hanya melawan seorang anak-anak.

Handaka… kata Manahan kemudian, Pergilah kau besok sekali lagi ke pantai. Aku akan melihat siapakah yang selalu datang itu.

Mendengar kesanggupan gurunya, Handaka menjadi bergembira. Besok apabila benar-benar ada seseorang yang datang menyerangnya, meskipun kepandaiannya berlipat tiga, namun pasti orang itu akan dapat ditangkap oleh gurunya. Karena itu ia tersenyum-senyum sendiri. Dipandanginya api yang berkobar-kobar di hadapannya, yang bergerak-gerak seolah-olah menari-nari riang. Dan sebentar kemudian mendidihlah air yang dipanasinya. Segera ia bangkit untuk mengambil daun serai serta gula kelapa. Itulah kegemaran gurunya, air serai bergula kelapa.

Hari itu rasa-rasanya panjang sekali bagi Bagus Handaka. Matahari seolah-olah menjalani garis edar dengan malasnya. Sehari itu ia merasa amat malas untuk bermain-main dengan kawan-kawannya. Dihabiskannya waktunya dengan berangan-angan. Namun akhirnya, perlahan-lahan datanglah senja. Langit yang cerah dengan gumpalan-gumpalan mega yang berarak-arak mulai dirayapi oleh warna-warna lembayung. Bagus Handaka yang hampir tidak sabar itu memaki-maki di dalam hati. Kenapa kedatangan malam tidak saja langsung tanpa melewati senja?
Setelah melampaui masa-masa yang menjengkelkan, kemudian malam turun dengan tabir hitamnya. Bagus Handaka segera berangkat ke pantai, dimana ia biasa duduk-duduk memandangi ombak lautan. Manahan sengaja tidak berangkat bersama-sama supaya kehadirannya tidak diketahui. Ketika Manahan telah sampai di pantai pula, segera ia bersembunyi dengan membaringkan dirinya di belakang sebuah puntuk pasir tak begitu jauh dari Bagus Handaka.

Bersamaan dengan semakin gelapnya malam, hati Bagus Handaka menjadi semakin tegang dan gelisah. Jangan-jangan orang-orang yang menyerangnya telah mengetahui bahwa gurunya berada di tempat itu, sehingga para penyerang itu tidak berani mendekatinya.

Dan dalam kesempatan itu, ia mencoba pula mengingat-ingat kelima orang yang datang berturut-turut setiap malam. Masing-masing menyatakan bahwa mereka satu sama lain tidak berhubungan. Sejak semula ia sudah tidak percaya.

Tetapi yang mengherankan, bahwa seolah-olah kedatangan mereka telah diatur sedemikian, sehingga setiap orang yang datang pasti memiliki kepandaian setingkat lebih tinggi dari orang sebelumnya.

Tiba-tiba ketika sedang berangan-angan, Bagus Handaka dikejutkan oleh suara tertawa dekat di sampingnya. Suara itu terdengar nyaring dan menggetarkan hatinya. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiap. Perasaannya telah mengatakan kepadanya bahwa orang ini pasti salah seorang yang datang untuk menyerangnya pula seperti malam-malam yang lewat.

Ketika ia memandang wajah orang itu, hatinya menjadi bertambah berdebar-debar. Wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan wajah manusia. Barangkali demikian itulah wajah hantu yang ditakuti oleh anak-anak. Beberapa bintil-bintil sebesar biji rambutan bertebaran hampir di seluruh wajah itu. Gigi-giginya tampak berleret pada saat orang itu tertawa.

Kemudian disela-sela tertawanya ia berkata, Siapakah nama anak muda yang bermain-main di pantai di malam hari…?

Meskipun sebenarnya Bagus Handaka ngeri juga melihat wajah itu, namun karena ia merasa bahwa gurunya berada di dekatnya, hatinya menjadi tabah pula. Maka jawabnya lantang, Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu pula siapa aku. Dan kau pasti akan menangkapku seperti yang pernah dilakukan oleh lima orang sebelum kau datang, pada malam-malam sebelum malam itu.

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu, tertawanya menjadi bertambah keras. Bagus… bagus, jadi sebelum ini telah datang lima orang mendahului aku? Agaknya monyet-monyet itu ingin menerima hadiah pula dengan menangkap anak ini. Dan kau dapat mengalahkan mereka berlima?

Mereka datang satu-persatu, jawab Handaka.

Alangkah bodohnya mereka, sambung orang berwajah iblis itu. Tentu kau dapat mengalahkannya.

Jangan banyak bicara, potong Bagus Handaka dengan beraninya, Jangan coba bohongi aku. Kau pasti telah bersekongkol dengan mereka. Dan barangkali kau malam ini akan mencoba menangkap aku bersama-sama. Ayo datanglah berenam.

KEMBALI orang yang menakutkan itu tertawa berderai-derai sampai seluruh tubuhnya bergetar. Hebat, kau memang hebat. Tetapi jangan terlalu sombong. Sebab malam ini nyawamu benar-benar akan lenyap. Aku harus menangkap kau, mati atau hidup. Meskipun kalau aku membawamu hidup-hidup hadiahnya akan berlipat banyaknya. Sebab pertunjukan membunuh Bagus Handaka akan dapat mendatangkan uang yang banyak sekali.

Tanpa sadar, bulu tengkuk Bagus Handaka serentak berdiri. Perkataan orang berwajah menakutkan itu sangat mempengaruhi perasaannya. Apakah sebenarnya latar belakang dari semua kejadian ini? Kenapa orang itu menyebut-nyebut pertunjukan membunuh Bagus Handaka?

Mau tidak mau Bagus Handaka menjadi ngeri juga. Ia sudah membayangkan dirinya diikat di tengah-tengah lapangan, kemudian setiap orang diperkenankan untuk melukainya, sampai mati. Tetapi apa salahnya?

Tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Ini hanyalah suatu gertakan saja. Karena itu ia menjawab sambil berteriak keras-keras, Jangan coba-coba takut-takuti aku. Namun demikian terasa suara Handaka bergetar pula.

Mendengar teriakan Bagus Handaka, orang itu sekali lagi tertawa keras-keras. Jangan berbohong pula. Kau sudah ketakutan bukan? Bagus…, semakin takut kau, semakin lucu pertunjukan itu jadinya.

Sekarang Bagus Handaka benar-benar menjadi marah sekali. Ternyata orang itu telah menghinanya. Karena itu segera ia meloncat dan langsung menyerang leher dengan jari-jarinya.

Orang itu, yang masih enak tertawa, ternyata terkejut melihat kecepatan bergerak Bagus Handaka, sehingga tertawanya segera terhenti. Memang kau anak berani. Tetapi hati-hatilah.

Sambil berkata demikian ia merendahkan dirinya, dan dengan kakinya ia menghantam lambung Bagus Handaka. Bagus Handaka yang menyerang dengan sekuat tenaga, tidak sempat menarik serangannya, maka yang dapat dilakukan adalah memukul kaki itu dengan tangannya ke samping. Ternyata usahanya berhasil pula. Orang itu terputar sedikit dan dengan demikian lambungnya dapat diselamatkan, meskipun tangannya yang berbenturan dengan kaki orang itu terasa sakit.

Dengan demikian Bagus Handaka segera dapat mengetahui, bahwa orang ini mempunyai ilmu diatas orang-orang yang pernah menyerangnya. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak gentar ketika diingatnya bahwa gurunya telah menungguinya.

Mengingat hal itu, segera Bagus Handaka menjadi bertambah tatag, karena itu serangannya menjadi bertambah sengit. Tetapi perlawanan orang itu bertambah sengit pula. Bahkan ia pun telah menyerangnya dengan gerak-gerak yang sangat membingungkan dan berbahaya sekali. Namun ternyata Bagus Handaka telah memberikan perlawanan dengan gigih.

Setiap serangan yang datang, bagaimanapun berbahayanya, Handaka selalu dapat menghindarkan dirinya. Malahan tidak jarang pula iapun berhasil membalas serangan-serangan itu dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya.

Namun serangan-serangan itu pun selalu tidak berhasil pula.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi bertambah hebat dan cepat. Masing-masing menyerang dan menghindar berganti-ganti, sehingga tampaknya kedua orang itu seperti bayangan yang sedang libat-melibat dengan cepatnya, semakin lama semakin cepat.

Tetapi kemudian ternyata bahwa Bagus Handaka tidak dapat menyamai kecepatan gerak lawannya, sehingga tiba-tiba terasa punggungnya terdorong oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Dengan derasnya ia terlempar ke udara.

Mengalami peristiwa itu hati Bagus Handaka berdesir. Untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Tetapi untunglah bahwa otaknya yang cerdas dapat bekerja dengan cepat. Ia pernah menyaksikan lawannya terlempar ke udara pula, namun ia dapat jatuh dengan enaknya, seolah-olah sama sekali tidak terasakan sesuatu. Maka tanpa dikehendakinya sendiri Bagus Handaka menirukan gerak-gerak yang pernah disaksikannya itu. Cepat-cepat ia berusaha melingkarkan diri dan menjatuhkan diri pada punggungnya, yang kemudian dilanjutkan dengan berguling sampai dua kali. Setelah itu ia melenting berdiri.

Untunglah bahwa Bagus Handaka telah dibekali dengan olah keprigelan yang cukup, serta kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga meskipun gerak-geraknya masih belum sempurna, namun ia tidak pula mengalami sesuatu.

Melihat cara Bagus Handaka membebaskan diri dengan cara yang demikian, terdengar lawannya tertawa keras-keras sambil berkata, Hai monyet kecil, dari mana kau belajar berjungkir balik demikian…? Untunglah bahwa kau mengenal cara yang baik untuk menyelamatkan dirimu.

Bagus Handaka tidak sempat menjawab kata-kata itu. Dengan darah yang mendidih ia meloncat maju kembali untuk menyerang lawannya sejadi-jadinya. Tangannya bergerak berganti-ganti mengarah ke segenap tubuh lawannya, sedang kakinya bergerak dengan lincahnya di atas pasir pantai. Tetapi ternyata lawannya tidak kalah lincah pula.

UNTUK beberapa lama serangan-serangannya tidak dapat menyentuh tubuh lawannya sama sekali. Bahkan ketika ia mencoba untuk menyerang mata lawannya dengan jarinya, maka tiba-tiba terasa kepalanya berguncang hebat. Guncangan yang pertama, disusul dengan yang kedua.

Untunglah dalam keadaan terakhir Bagus Handaka masih sempat melihat sebuah kepalan tangan sekali lagi mengarah kepelipisnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Tangan itu dengan derasnya menyambar tidak lebih dari tebal daun padi di muka hidungnya. Untunglah bahwa Bagus Handaka masih dapat bekerja cepat.

Tangan itu segera ditangkapnya, serta sambil merendahkan diri ia pergunakan tenaga dorong serta berat badan lawannya sendiri untuk membantingnya ke tanah lewat pundaknya.

Dengan kerasnya orang itu terpelanting. Tetapi meski ia jatuh terlentang namun ia berusaha jatuh di atas kedua kaki serta pundaknya saja yang menyentuh tanah. Bagus Handaka tidak mau membiarkannya dalam sikap yang demikian, cepat-cepat ia menyerang lagi lawannya sebelum sempat memperbaiki keadaannya. Dengan kakinya ia menghantam dada orang yang masih terlentang itu. Gerak Bagus Handaka sedemikian cepatnya sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya. Maka terdengarlah keluhan pendek. Tetapi sesaat kemudian kaki lawannya itu dengan cepatnya menyapu kakinya, sehingga Bagus Handaka jatuh terbanting pula.

Ketika ia kemudian tegak, lawannya telah berdiri di hadapannya pula. Bahkan dengan suatu lontaran dahsyat ia menyerang ke arah dadanya. Dengan cepatnya Bagus Handaka merendahkan dirinya, dan bersamaan dengan itu ia menjulurkan kakinya lurus-lurus, sehingga dengan demikian ia berhasil mengenai perut lawannya.

Agaknya lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa Bagus Handaka akan menyerang selagi ia melakukan serangan yang sedemikian cepat. Karena itu ia terdorong keras beberapa langkah surut disusul dengan serangan Bagus Handaka yang dahsyat pula.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin hebat dan cepat. Pada malam kelima, Bagus Handaka yang hampir merasa dapat dikalahkan, ternyata memiliki nafas yang lebih baik dari lawannya sehingga akhirnya lawannya menjadi lemas karena kehabisan nafas.

Tetapi orang keenam ini agaknya mempunyai nafas lebih baik dari kuda. Karena itu semakin lama terasa Bagus Handaka semakin terdesak, tenaganya semakin lama semakin berkurang pula setelah ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan dirinya.

Akhirnya pertempuran itu pun menjadi berat sebelah. Beberapa kali Bagus Handaka terpaksa terlempar, terbanting dan kadang-kadang perutnya terasa terguncang-guncang hebat. Dari mulut serta hidung melelehlah darah segar. Sampai sedemikian jauh Bagus Handaka tidak melihat gurunya datang membantunya. Bahkan ketika matanya sudah mulai berkunang-kunang pun Manahan masih belum menampakkan dirinya. Ia menjadi keheran-heranan. Apakah sebenarnya maksud Manahan dengan membiarkannya demikian? Seolah-olah segenap sisa-sisa tenaganya ia tetap melawan dengan beraninya.

Sampai beberapa saat kemudian ketika ia terbanting diatas pasir dan seolah-olah ia sudah sama sekali tidak dapat bergerak lagi, dilihatnya orang berwajah menakutkan itu tertawa berderai sambil selangkah demi selangkah mendekatinya. Bagus Handaka tidak tahu lagi bagaimana ia harus melawan. Tangannya serasa sudah membeku dan darahnya seolah-olah sudah tidak mengalir lagi.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba orang itu, yang sudah tinggal beberapa langkah dari padanya, terhenyak dan memandang ke suatu titik. Maka sekali lagi meledaklah tertawanya yang mengerikan, disusul dengan suaranya yang menggelegar, Hai, kaukah itu? Jadi kau datang pula untuk membantu muridmu…?

Mendengar suara orang itu, melonjaklah sebuah kegembiraan di hati Bagus Handaka. Agaknya gurunya telah datang. Dan apa yang diduganya adalah benar. Ketika ia mengangkat mukanya, dilihatnya Manahan berjalan dengan tenangnya ke arah orang yang berwajah mirip hantu itu. Melihat gurunya datang, tiba-tiba Bagus Handaka merasa bahwa akan datanglah saatnya ia mengetahui latar belakang dari semua peristiwa-peristiwa itu.

Ketika Manahan telah berdiri di muka orang berwajah jelek itu terdengarlah orang berwajah menakutkan itu berkata, Kaukah yang bernama Manahan?

Manahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah kau sudah pasti bahwa guru Bagus Handaka bernama Manahan?

Kembali terdengar orang itu tertawa berderai sehingga suaranya memenuhi pantai. Aku tidak mengira bahwa Manahan orangnya seperti kau ini.

Terdengarlah Manahan menjawab sambil tersenyum, Lalu dari mana kau tahu bahwa kau bernama Manahan?

Karena kau datang pada saat Bagus Handaka sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku kira tidak ada orang lain yang akan menolongnya, selain gurunya, sahut orang itu.
Lalu apa anehnya aku ini? tanya Manahan pula.
Aku jadi kecewa melihat tampangmu. Seharusnya kau berwajah seperti asahan batu, berkumis lebat dan bertubuh seperti orang hutan. Supaya ujudmu sesuai dengan namamu yang terkenal itu.
Tak ada orang yang mengenal aku sebagai seorang yang seharusnya bertubuh demikian. Aku adalah seorang petani yang tidak lebih dari menggarap sawah setiap hari, jawab Manahan.

Mendengar jawaban Manahan yang masih bernada dingin itu, Bagus Handaka bertambah heran pula. Kenapa gurunya tidak saja langsung menghantamnya sampai pingsan. Apalagi orang itu telah menghinanya pula.

DALAM gelap malam Handaka melihat orang berwajah menakutkan itu menyeringai, benar-benar seperti hantu. Namun Manahan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan masih saja ia tersenyum-senyum.

Bagus…. Kau adalah seorang petani yang baik, Manahan. Pekerjaan petani adalah pekerjaan yang mulia pula. Tanpa petani maka banyaklah orang yang kelaparan. Tetapi daerah pertanian bukankah daerah pelarian? Apabila seseorang telah berputus asa dalam melaksanakan tugasnya sendiri, maka kemudian orang itu menerjunkan diri dalam daerah pertanian. Bukankah demikian…?

Mendengar kata-kata orang itu tampaklah wajah Manahan berkerut. Segera senyumnya lenyap dari bibirnya. Namun tak sepatah katapun ia menjawab. Sehingga kemudian terdengar orang yang menakutkan itu meneruskan, Atau barangkali kau sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya, yang dapat menandingi kekayaan demang Gunung Kidul?

Hampir terlonjak Manahan mendengar kata-kata itu. Juga Bagus Handaka menjadi keheran-heranan. Kemana arah bicara orang yang berwajah hantu itu. Tetapi ia menjadi semakin tidak sabar ketika ia masih saja melihat Manahan tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia menjadi bertambah tidak mengerti ketika kemudian orang itu berkata, Bagus Handaka…, untunglah kau untuk satu pertunjukan yang menarik di daerahku. Tetapi hati-hatilah lain kali aku datang lagi.

Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam.
Bapak…! teriak Bagus Handaka.

Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.

Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya sambil berkata pula, Kenapa Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku ingin menangkap salah seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku mengharap bahwa aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi Bapak membiarkan orang itu pergi.

Bagus Handaka, kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. Bagaimana keadaan tubuhmu?

Sakit, Bapak, jawabnya agak jengkel. Tetapi bagaimana dengan orang tadi?
Kau sudah dapat bergerak kembali? sambung Manahan tanpa menghiraukan kata-kata Bagus Handaka.
Sudah, Bapak… jawab Handaka masih belum mengerti.
Bagus…. Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu, kata Manahan tiba-tiba.
Bapak… apakah artinya ini? tanya Handaka semakin bingung.
Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkap kau dan akan menyerahkan kau kepada orang yang menyuruh mereka datang berturut-turut selama enam malam. Aku sekarang sudah tahu, siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku juga ingin menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung Kidul. Jelas?

Handaka mendengar kata-kata gurunya seperti orang bermimpi. Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar bersiap untuk menyerangnya. Sehingga ia menjadi bertambah bingung.

Handaka… kata Manahan kemudian, Terserahlah padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau tidak menjadi bahan pertunjukan.

Agaknya Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang sama-sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah Handaka menghindarkan diri.

Dengan kekuatan yang ada padanya ia melenting tinggi dan kemudian jatuh berguling-guling menjauhi gurunya. Tetapi Manahan mengejar terus sambil melepaskan serangan-serangan yang sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh.

Ia memang pernah berlatih dengan gurunya seperti ia harus berkelahi sungguh sungguh, namun terasa bahwa selama itu gurunya selalu menyesuaikan diri dengan gerak-geraknya. Tetapi kali ini Manahan benar-benar telah menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang dapat membinasakan. Karena itu Bagus Handaka menjadi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali meloncat-loncat berlari, berguling dan cara-cara lain untuk menghindari serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus seperti orang kehilangan akal. Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran yang agak jernih dalam otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa saat ini adalah saat terakhir baginya untuk menunjukkan kepada gurunya, ketekunan serta kesungguhannya selama ini dalam menerima segala ilmu serta pelajarannya.

Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar gurunya akan membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan sebaik-baiknya. Ia harus dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil yang telah dicapainya dalam olah kanuragan.

Meskipun Handaka menjadi semakin tidak mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu berbuat keanehan lagi.

Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan melayang.

NAMUN demikian, apabila hal itu sudah dikehendaki oleh gurunya, maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan hati gurunya pada saat terakhir itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya hasil pelajaran yang diterimanya selama ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati gurunya itu yang telah berjerih payah mendidiknya.

Mendapat pikiran yang demikian, maka tiba-tiba Bagus Handaka merasa seolah-olah telah menerima segala kekuatannya kembali. Seolah-olah badannya merasa bertambah segar dan sehat.

Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang, Handaka kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau. Dengan demikian maka ia telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta dicintainya itu.

Pertempuran itu segera berjalan semakin cepat. Bagus Handaka telah berusaha untuk mengurangi tekanan Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali. Ia tiba-tiba saja merasa bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik daripada saat-saat yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting, kemudian melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.

Dalam keadaan yang demikian, setitik pun tak ada maksud Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah tidak mungkin sama sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan itu adalah benar-benar suatu pernyataan kebaktian seorang murid terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun, Manahan adalah gurunya.
Manahan adalah seorang yang perkasa, yang pernah menjabat sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja. Karena itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi sebenarnya tenaga Bagus Handaka telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena sebelumnya ia sudah harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah seperti hantu.

Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera tampak surut. Dengan demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin banyak mengenai tubuhnya.

Meskipun demikian, Bagus Handaka sama sekali tidak mengeluh. Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah itu ia tetap melawan sedapat-dapatnya.

Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah tidak seberapa lama. Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang mengarah ke lambungnya. Dengan tenaga yang masih ada padanya, Bagus Handaka mencoba menghindari serangan itu dengan memiringkan tubuhnya, tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan diri sebaik-baiknya. Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil.

Namun setelah itu, kembali seluruh tulang-tulangnya terasa telah terlepas. Tubuhnya menjadi lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir lagi. Bagaimanapun ia berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak mengeluh sama sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal terjadi.

Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi bintang-bintang seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara, dengan sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti yang melintang ke utara.

Kemudian dilihatnya gurunya, yang diakunya sebagai ayahnya setelah ayahnya yang sebenarnya pergi meninggalkannya, berjalan mendekatinya. Dan Bagus Handaka telah siap menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya itu, meskipun untuk sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya, serta wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya Sarayuda, serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut menyerangnya.

Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya, Manahan yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang menyatakan dirinya sebagai orang yang ketujuh.

Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus Handaka mencoba melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang mengganggu otaknya. Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi, dengan tabahnya.

Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya itu meraba-raba tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan suara yang rendah berkata, Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?

Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.

Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak karena kerut-kerut di keningnya. Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik di permukaan tubuh muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas dalam-dalam serta mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lalu terdengar ia bertanya kembali, Adakah dengan cara demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?

Bagus Handaka tidak segera mengerti maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab, terdengar kembali Manahan berkata, Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.

Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga, Bapak, selama itu akupun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan aku sudah mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku tidak berhasil.

Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Bagus Handaka menjadi bertambah bingung. Apalagi ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum sambil membangunkannya. Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu perlahan-lahan.

DENGAN otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya kembali…?

Ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih berkata, Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?

Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, Sudah, Bapak.
Baik… sahut Manahan, Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang yang menyerangmu itu.

Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.

Bagaimanakah dengan orang yang pertama? tanya Manahan.

Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Orang kedua? desak Manahan.

Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata, Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.

Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda? desak Manahan.

Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.

Sayang, aku tak dapat menangkapnya, gumam Bagus Handaka.

Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, Inginkah kau menangkapnya?

Ya, jawab Handaka. Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.

Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.

Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan, Handaka…. Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat menangkapnya.

Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang besar untuk dapat menangkapnya.

Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?

Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.

Jangankan kau Handaka, sambung Manahan, Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.

Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi hatinya.
Handaka… kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.

Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.

Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang berturut-turut itu.

Guru… potong Handaka dengan penuh haru, Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?

Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, Kenapa aku akan membunuhmu?
Bukankah Bapak sendiri berkata demikian? jawab Handaka.
Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu? tanya Manahan pula.

TIDAK, Bapak…. Aku sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk menunjukkan hasil pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada saat-saat terakhir.

Diam-diam Manahan memuji di dalam hati. Benar-benar anak ini berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan menjadi semakin terharu. Namun demikian ia berusaha agar wajahnya sama sekali tidak membayangkan perasaannya.

Handaka… kata Manahan kemudian, Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.

Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat dengan gurunya.

Handaka…. Manahan melanjutkan, Mengucapkan syukur atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut. Meskipun barangkali untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa sakit-sakit, namun setelah itu kau akan berbangga karenanya.

Apakah yang dapat aku banggakan Bapak? tanya Handaka.

Manahan tersenyum, lalu jawabnya, Aku telah mencoba untuk memancingmu dalam suatu perkelahian. Apapun alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya. Sedang apa yang kau lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku berikan.

Bapak… potong Handaka, Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.

Kembali Manahan tersenyum.

Meskipun andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki sekarang, kemudian aku pun akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau capai selama lima hari akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan yang biasa.

Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga kemudian Manahan berkata pula, Handaka…, menurut dugaanku orang yang datang enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.

Orang yang sama? tanya Handaka keheran-heranan.

Ya, jawab Manahan. Orang itu hanya mengubah mukanya sedikit dengan menggores-goreskan warna-warna hitam dan kadang-kadang memasang kumis dan janggut palsu.

Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak, potong Handaka.

Sekali lagi Manahan tersenyum.

Itulah sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar, meskipun waktunya dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian hanyalah orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.

Handaka menjadi termenung karenanya.

Jadi apakah maksudnya menyerangku…? Dan kenapa dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk sebuah pertunjukan pembunuhan…? tanya Handaka.

Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut-nakutimu dengan cara demikian, jawab Manahan.

Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam. Mengertilah ia sekarang bahwa orang yang datang setiap malam itu sama sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya itu pula.

Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu? tanya Handaka kemudian.

Manahan menggelengkan kepalanya.

Aku tidak tahu. Meskipun aku telah berusaha mengenal gerak-geraknya sebaik-baiknya namun aku tetap tidak dapat mengatakan siapakah dia. Apalagi apa yang diberikan kepadamu selama ini ternyata adalah urut-urutan pelajaran dari ilmuku sendiri yang akan aku berikan pula kepadamu.

Sekarang semuanya menjadi agak jelas bagi Handaka. Ternyata orang itu datang kepadanya dengan maksud baik. Menuntunnya untuk berlatih lebih keras. Dan tahulah ia sekarang kenapa pada malam-malam pertama, kedua dan ketiga orang itu seolah-olah hanya memiliki unsur-unsur gerak yang itu-itu saja, sehingga dengan demikian ia berhasil menguasai unsur-unsur itu, serta kemudian pada malam-malam berikutnya tanpa disengajanya unsur-unsur itu terselip pada gerak-gerak perlawanannya, sedang lawan-lawannya dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya dan diulang-ulangnya pula.

Karena itu, dadanya jadi bergelora. Apalagi ketika gurunya berkata, Handaka… orang yang datang berturut-turut itu pastilah seorang yang sakti, jauh lebih sakti dari gurumu ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak berusaha untuk menangkapnya, sebab hal itu pasti akan sia-sia. Hal itu juga ternyata pula, bahwa orang itu dapat mengetahui bahwa aku berada di sekitar ini meskipun aku telah bersembunyi sebaik-baiknya.

Handaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa seorang yang sakti, bahkan lebih sakti dari gurunya, datang kepadanya dengan cara-cara yang aneh.

Jadi Bapak diketahuinya sebelum Bapak menampakkan diri?

Tidak hanya itu saja Handaka… Manahan meneruskan, Sedang aku pun telah menerima nasihatnya pula.

Nasihat untuk Bapak? tanya Handaka terkejut.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bukankah orang itu berkata kepadaku bahwa pertanian bukanlah daerah pelarian. Bukan daerah tempat orang-orang yang berputus asa apabila kewajibannya sendiri sudah tak dapat ditunaikan…?

Handaka memandang Manahan dengan mata yang bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Sampai Manahan melanjutkan, Handaka…, barangkali kau sama sekali tak dapat menghubungkan perkataan-perkataan itu dengan keadaan kita.
Tetapi ketahuilah bahwa ada sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku katakan kepadamu, sebab kau masih aku anggap terlalu kanak-kanak. Sekarang, aku kira kau telah cukup dewasa untuk mengetahui lebih banyak hal tentang keadaan kita. Keadaan serta kewajiban-kewajibanku dan keadaan serta kewajiban-kewajibanmu.

BAGUS Handaka mendengarkan setiap kata gurunya dengan saksama. Sakit-sakitnya di seluruh tubuhnya sudah tidak dirasakannya lagi. Sementara itu angin malam bertiup lemah, dan bintang-bintang di langit telah mengubah susunannya. bintang Waluku telah jauh condong di barat, sedang bintang Bima Sakti telah mulai mengabur pada kedua ujungnya, jauh di selatan dan utara.

Bagus Handaka…. Manahan meneruskan perlahan-lahan.

Sebenarnya saat ini aku sedang mengemban suatu tugas yang berat. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekarang, karena kau telah cukup dewasa, ternyata seorang sakti yang tak dikenal telah berkenan langsung mengajarmu, maka baiklah aku berterus-terang pula. Saat ini aku sedang berusaha untuk mencari dua pusaka Istana yang hilang, berwujud keris yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Handaka mendengarkan ceritera gurunya sampai tidak sempat berkedip. Sedang Manahan kemudian berceritera tentang kedua keris yang pernah diketemukannya bersama ayahnya, Gajah Sora. Tetapi keris itu kemudian hilang kembali. Dan karena itu pula maka ayahnya terpaksa menghadap Sultan Demak untuk mempertanggungjawabkan hilangnya kedua pusaka itu.

Sepeninggal Gajah Sora, Banyubiru kemudian ditimpa oleh banyak malapetaka dan Bagus Handaka sendiri hidupnya selalu terancam bahaya.

Untunglah bahwa Paman Lembu Sora segera bertindak, desis Bagus Handaka, Dengan demikian pasti Ibu serta Banyubiru dapat diselamatkan.

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu Manahan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata dengan suara sayu, Kau keliru Bagus Handaka.

Keliru? sela Handaka terkejut.
Ya, kau keliru. Manahan menjelaskan, Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak berbuat demikian. Meskipun apa yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru, pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah perdikan itu, namun nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.

Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya telah membantu ayahnya menghalau gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta bantuan pamannya pula ketika kemudian timbul hura-hara.

Bagus Handaka… sambung Manahan, Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.

Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena kemarahan yang mencengkam perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.

Benarkah apa yang Bapak katakan…? Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.

Aku telah berkata sebenarnya, jawab Manahan.
Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?
Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka, jawab Manahan pula.

Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak, Dan kenapa pada saat itu Bapak tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan itu?

Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya.

Dengan sabar Manahan menjelaskan, Handaka….., waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru sebagian saja dari antara mereka.

Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya kemudian menjadi merah menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja lenyaplah segala perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri serta dengan suara lantang ia berkata, Bapak…, apapun yang terjadi atasku, aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari terbit aku minta ijin Bapak untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah menjadi soal. Tetapi aku harus menuntut balas.

Handaka… kata Manahan masih setenang tadi, Duduklah.

Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir pantai.

Tidakkah sekarang sudah saatnya Bapak…? Kita harus bertindak tegas.
Duduklah Handaka…. Meskipun Manahan berkata perlahan-lahan, namun nadanya penuh dengan tekanan, sehingga Handaka tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk kembali di sisi gurunya.

Handaka… sambung Manahan, Aku dapat mengerti sepenuhnya perasaan yang bergelora di dalam dadamu. Tetapi jangan membiasakan diri bertindak tergesa-gesa. Membunuh pamanmu Lembu Sora barangkali tidaklah terlalu sulit, meskipun bagaimana saktinya. Tetapi akibat dari perbuatan itu sudahkah menjadi perhatianmu? Setidak-tidaknya pasti akan timbul permusuhan antara Pamingit dan Banyubiru. Kalau benar demikian, maka diantara kedua daerah perdikan itu pasti akan ditelan oleh masa depan yang suram.

SETELAH diam sejenak, Manahan melanjutkan, “Dalam kekalutan itu akan hadirlah kekuatan-kekuatan dari pihak lain yang akan menelan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Sebab dalam hal ini golongan hitam pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian dapatlah dipastikan bahwa di atas mayat-mayat laskar Pamingit dan Banyubiru akan berkibar bendera-bendera mereka, bendera yang bergambarkan harimau hitam, sepasang uling yang berlilitan, kelelawar raksasa berkepala serigala, ular laut yang ganas. Setelah itu lenyaplah sudah nama daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Lenyap pulalah hasil jerih payah eyangmu Sora Dipayana yang dengan memeras keringat dan darah membangun kedua daerah perdikan itu. Lenyap pulalah nama kebesaran keluarga Sora yang selama ini disegani oleh daerah-daerah lain, bahkan sampai ke Istana Demak. Yang ada kemudian tinggalah nama-nama Sima Rodra, Uling Rawa Pening, Lawa Ijo, dan Jaka Soka.”

Bagus Handaka adalah seorang anak yang cerdik. Karena itu segera ia dapat menangkap maksud gurunya. Namun meskipun demikian amat sulitlah baginya untuk mengendalikan perasaannya.

Maka bertanyalah ia, “Bapak, kalau demikian apakah kita biarkan saja Paman Lembu Sora tidak terhukum atas kesalahannya itu?”

“Itu pasti Handaka,” jawab Manahan.

“Siapa yang bersalah harus dihukum. Tetapi kita harus menjaga agar kita dapat menarik garis antara pamanmu Lembu Sora dan orang-orangnya yang sama sekali tidak tahu-menahu, sehingga dengan demikian pertumpahan darah yang luas dapat terhindar. Itu adalah tugasmu Handaka, meyakinkan orang-orang Pamingit dan Banyubiru, bahwa pamanmu telah berbuat suatu dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”

Bagus Handaka menjadi tertegun diam. Perkataan Manahan itu seolah-olah satu demi satu menyusup ke dalam dadanya serta mendinginkan hatinya. Sadarlah bahwa pekerjaan yang dihadapinya bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi harus ditempuhnya dengan penuh kebijaksanaan.

“Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapak?” tanya Handaka kemudian.

Untuk beberapa saat Manahan tidak menjawab. Ia sendiri masih belum tahu dengan pasti, apa yang akan dilakukannya. Namun demikian ia kemudian menjawab, “Handaka, kita harus meninggalkan pedukuhan ini. Aku harus tetap berusaha mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Disamping itu ada baiknya kalau kita mencari berita tentang Banyubiru dan perkembangannya setelah kau tinggalkan. Kemudian baru kau menentukan cara untuk memecahkan masalahnya. Meskipun kau sebenarnya belum dewasa penuh, namun aku kira kau telah cukup untuk memulai pekerjaan yang besar itu, dengan kehati-hatian dan yang mungkin memerlukan waktu tidak sehari dua hari, tetapi setahun dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu.”

Bagus Handaka memperhatikan setiap kata gurunya yang menambah keyakinannya bahwa pekerjaan yang betapapun beratnya itu pasti akan dapat diselesaikan. Namun ia sadar bahwa jalan yang akan ditempuhnya bukanlah jalan yang lurus dan licin, tetapi pasti akan penuh dengan rintangan dan bahaya.

Namun ia sadar pula bahwa apa yang dilakukannya nanti seharusnya tidak menyingkir dari bahaya-bahaya itu, tetapi ia harus berani menghadapi serta mengatasinya.
Kemudian untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan serta gambaran-gambaran masa yang akan datang. Masa yang pasti akan penuh dengan perjuangan.

“Bagus Handaka….”

Kemudian terdengar Manahan memulai, “Marilah kita pulang. Sejak besok kita harus sudah berkemas-kemas. Kita tinggal menunggu padi yang sudah menguning. Setelah itu baiklah kita melanjutkan perantauan kita untuk menemukan kedua pusaka itu, beserta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kembali tanah pusaka yang kau tinggalkan. Sekarang bekalmu telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu.”

Bagaimanapun Bagus Handaka masih belum begitu yakin kepada kata-kata gurunya. Benarkah ilmunya sudah sedemikian menanjak sehingga gurunya merasa bahwa bekalnya telah cukup banyak? Karena itu bertanyalah ia meyakinkan, “Bapak, benarkah ilmuku telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu…?”

Mendengar pertanyaan muridnya, Manahan tersenyum. “Bagus Handaka…, aku telah mengujimu. Dalam keadaan payah dan luka-luka kau mampu melawan aku sampai beberapa lama. Hal itu tidak akan dapat kau lakukan lima atau enam hari yang lalu. Bahkan aku telah mencoba untuk menyerangmu dengan bersungguh-sungguh walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Tetapi kau nyata-nyata telah bertambah jauh. Karena itu maka yang akan aku berikan kepadamu seterusnya tinggallah tingkat yang tertinggi.”

Oleh keterangan-keterangan itu, diam-diam Bagus Handaka jadi berbangga.

Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak dikenalnya, namun tak sepatah kata pun yang meluncur keluar.

Kemudian berjalanlah mereka berdua perlahan-lahan sepanjang pantai menuju ke pondoknya. Di sepanjang jalan hampir tak ada kata-kata yang mereka ucapkan.

Apalagi Bagus Handaka, yang sedang merenungi dirinya sendiri. Dicobanya mengingat-ingat kembali segala peristiwa yang pernah dialaminya dengan lebih saksama. Dicobanya mengingat-ingat setiap gerak yang pernah dilakukan dan yang pernah disaksikan. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa memang banyak unsur-unsur yang tanpa sesadarnya telah dimiliki dan bahkan telah dikuasainya dengan baik.

Maka, sejak matahari terbit di pagi harinya, Bagus Handaka mulai berkemas-kemas. Sesuai dengan perintah gurunya, apabila padi telah dituai, maka mereka segera akan meninggalkan pedukuhan Tegal Arang, untuk meneruskan perjalanan ke tempat yang tak ditentukan.

Namun sesuai dengan harapan gurunya untuk mengetahui perkembangan Banyubiru, maka mereka pasti akan mendekati tempat itu, dengan harapan bahwa mereka sudah tidak akan dikenal lagi setelah hampir tiga tahun meninggalkan tempat itu. Bila perlu, mereka akan mempergunakan penyamaran.

DEMIKIANLAH, tidak sampai dua pekan, padi telah masak.

Tetapi demikian orang pergi menuai, demikian Manahan dan Bagus Handaka mulai minta diri kepada tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pedukuhan itu.

Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan mereka, yang mengira bahwa Manahan dan anaknya akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari tuanya.

He…, kau mau kemana lagi Manahan? tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek, kasar dan berambut tegak.

Kami telah menerima kau dengan baik, tetapi kau agaknya tidak betah tinggal di pantai.

Meskipun kata-kata itu diucapkan dalam nada yang kasar seperti tubuhnya, namun sebenarnya itu adalah suatu pernyataan yang jujur dari rasa persahabatannya.

Maafkan Kakang, jawab Manahan. Aku terpaksa meninggalkan kalian karena aku masih mempunyai pekerjaan yang lain

Apa yang harus kau kerjakan? tanya yang lain, seorang nelayan yang kurus dan berkumis tipis.

Aku masih harus mencari bapakku, jawab Manahan berbohong.

Orang yang kurus dan berkumis tipis itu mengerutkan keningnya, lalu sambungnya, Kemana bapakmu pergi…?

Manahan menggeleng-gelengkan kepala.

Itu yang aku tidak tahu. Karena itu aku harus mengelilingi seluruh pulau untuk menemukannya.

Hampir semua orang yang mendengar, mengerutkan dahinya. Mereka merasa aneh bahwa seseorang sampai kehilangan bapaknya. Tetapi meskipun demikian ternyata mereka tidak berhasil mencegah. Manahan serta Bagus Handaka pergi meninggalkan mereka. Banyak pula kawan-kawan Handaka yang menjadi kecewa karena kepergiannya.

Maka dengan rendah hati Manahan menyerahkan seluruh hasil panennya kepada para tetangganya, dan dengan hati yang agak berat pula, setelah bergaul hampir tiga tahun dengan para nelayan yang kasar namun berhati bersih, ia terpaksa meninggalkan mereka. Suatu hal yang terpaksa berulang kali dialaminya. Menetap di suatu tempat dan kemudian meninggalkannya, dan kembali ia harus berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan, hutan dan lereng-lereng gunung serta lembah-lembah yang hijau padat.

Tetapi kali ini Manahan tidak membawa muridnya menyembunyikan diri, tetapi bahkan sebaliknya. Mereka berusaha mendekati Banyubiru untuk mengambil ancang-ancang atas perjuangan yang bakal dilakukan. Mereka harus lebih dahulu mengetahui seluk-beluk daerah itu dan mengetahui tanggapan rakyatnya terhadap pimpinan daerah yang sebenarnya tidak berhak sama sekali itu.

Dengan Kyai Bancak, tanda kebesaran Banyubiru yang berwujud sebuah ujung tombak, di pinggangnya, setelah dilepas dari tangkainya, Bagus Handaka berjalan dengan tegapnya menuju ke arah selatan. Manahan yang berjalan di belakangnya memandangi anak itu dengan bangga. Ia mengharap agar Bagus Handaka benar-benar dapat menjadi seorang anak yang kuat dan berhati mulia seperti harapan ayahnya.

Tetapi dengan demikian Manahan jadi teringat kepada Gajah Sora. Apakah kira-kira yang terjadi atasnya? Namun ia percaya bahwa Gajah Alit dan Paningron dapat membantu kesulitannya. Setidak-tidaknya memperingan tuduhan yang ditimpakan atasnya.

Perjalanan Manahan dan Handaka kemudian sampai pada daerah hutan dan kemudian mereka harus menyusur kaki gunung Slamet, membelok kearah timur.

Demikianlah dari hari ke hari mereka selalu berjalan tanpa henti-hentinya. Ternyata kekuatan jasmaniah Bagus Handaka cukup memuaskan. Ia sama sekali tetap segar dan lincah. Disamping itu selama perjalanan mereka, masih sempat juga Manahan memberikan tambahan pengetahuan kepada muridnya. Dan bahkan karena kecerdasan Bagus Handaka, maka dapatlah ia menemukan unsur-unsur gerak yang bagus, yang ditirunya dari gerak-gerak binatang buas.

Dengan tuntunan gurunya, Bagus Handaka yang hampir menghabiskan waktunya selama perjalanan itu dengan memperhatikan gerak-gerik kera-kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, maka kemudian ia berhasil menirukan beberapa bagian, yang dapat dileburnya ke dalam unsur-unsur gerak yang telah dimilikinya.

Handaka juga senang sekali memperhatikan perkelahian antar binatang. Dari binatang yang paling buas sampai binatang yang paling lemah. Diperhatikannya pula, bagaimana seekor kancil berhasil melepaskan diri dari terkaman serigala-serigala yang buas, dan bagaimana seekor banteng dengan tangguhnya menanti serangan seekor harimau dan kemudian dengan tanduk-tanduknya yang tajam membinasakannya.

Dengan demikian Bagus Handaka mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari alam. Manahan sendiri sebenarnya kagum atas ketangkasan otak muridnya, maka ia menjadi semakin bangga bahwa tidak sia-sialah ia menuntun anak itu.

Karena itu, Manahan selalu memberinya petunjuk-petunjuk atas kemungkinan kemungkinan yang dapat dimanfaatkan dari setiap gerak yang dilihatnya. Kecuali gerak-gerak binatang, juga gerak-gerak dari benda-benda yang lain, seperti angin pusaran, air bah dan bahkan kelincahan gerak nyala api.

DI sepanjang perjalanan itu, tidak sedikitlah pengetahuan yang ditangkap oleh Handaka. Dan karena itu pula ia sama sekali tidak merasakan suatu kejemuan atau keletihan selama ia bersama-sama dengan gurunya menyusuri jalan-jalan hutan yang lebat dan sulit.

Setelah meninggalkan lembah kaki gunung Slamet, mereka mulai dengan perjalanan yang tidak kalah sulitnya. Mereka menyusur tebing pegunungan Prau, setelah melampaui beberapa pedukuhan yang tak berarti.

Tetapi meskipun mereka sama sekali tidak mengenal letih, namun kadang-kadang mereka terpaksa berhenti pula untuk beberapa lama di suatu tempat. Kadang-kadang sampai satu dua bulan, kadang-kadang malahan lebih. Setelah itu kembali mereka meneruskan perjalanan mereka sambil berbuat bermacam-macam kebajikan.

Di tempat-tempat yang pernah dilewati oleh mereka itu, banyaklah hal-hal yang ditinggalkannya. Pemberitahuan tentang banyak hal. Tentang pertanian dan sebagainya.

Karena itu mereka selalu meninggalkan kesan yang baik, sehingga nama Manahan dan Bagus Handaka menjadi banyak dikenal orang.

Pada suatu kali mereka memasuki sebuah pedukuhan yang sepi di ujung hutan. Penduduknya yang menamakan pedukuhannya itu Gedangan, terdiri dari petani-petani yang menggarap sawah dengan cara yang sederhana sekali. Mereka masih belum begitu menaruh perhatian kepada saluran-saluran air. Untunglah bahwa tanah mereka adalah tanah yang subur, sehingga meskipun dengan cara-cara yang sangat sederhana, hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan.

Berbeda dengan pengalaman-pengalaman mereka, Manahan dan Bagus Handaka ketika memasuki pedukuhan itu, mengalami penerimaan yang aneh. Hampir setiap mata memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Manahan dan Handaka merasakan keasingan penerimaan itu. Karena itu mereka bersikap hati-hati dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan mereka.

Kepada salah seorang dari para petani yang sedang berdiri di pematang, Manahan bertanya dengan hormatnya, Kakang, apakah aku diperkenankan untuk memasuki pedukuhan ini?

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi sekali dua kali ia melemparkan pandangannya kepada beberapa orang yang bertebaran menggarap sawah di sekitarnya.

Baru setelah beberapa saat ia menjawab, Siapakah kau berdua?

Aku bernama Manahan dan ia anakku, Handaka, jawab Manahan.

Mendengar nama itu, orang itu mengernyitkan alisnya. Agaknya nama itu asing baginya. Kemudian terdengar ia berkata, Entahlah aku tak tahu. Berkatalah kepada lurah kami.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bertanya pula, Di manakah Bapak Lurah itu?

Maksudku, di mana rumahnya? sambung Manahan.

Kembali orang itu ragu-ragu dan kembali ia menebarkan pandangannya kepada orang-orang yang sedang menggarap sawah di sekitarnya. Tiba-tiba ia menunjuk pada salah seorang daripadanya sambil berkata, Bertanyalah kepada orang itu.

Manahan menoleh menurut arah tangan orang itu. Dilihatnya di sudut desa berdiri seorang yang bertubuh pendek kokoh dengan urat-urat yang menonjol. Namun matanya membayangkan kejernihan hatinya.

Setelah mengucapkan terimakasih, segera Manahan dan Handaka berjalan ke arah orang bertubuh pendek itu. Dan kemudian dengan hormatnya Manahan bertanya, Adakah Bapak ini Lurah dari pedukuhan ini?

Orang itu menggelengkan kepalanya, sambil menjawab, Bukan Ki Sanak, aku bukan lurah di sini. Adakah kau punya keperluan dengan lurahku?
Manahan menganggukkan kepalanya. Demikianlah, aku mempunyai sedikit keperluan.

Apakah keperluan itu? tanya orang yang bertubuh pendek.

Tiba-tiba saja setelah mengalami peristiwa itu, timbullah keinginan Manahan untuk mengetahui lebih banyak hal lagi. Karena itu timbul pula keinginan untuk bermalam.
Maka kemudian kata Manahan, Sebenarnya keperluanku hanyalah akan mohon izin untuk bermalam barang semalam dua, setelah aku berjalan beberapa hari terus-menerus tanpa beristirahat.

Orang yang bertubuh pendek itu mengernyitkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, Siapakah kau berdua?

Aku adalah seorang perantau dan bernama Manahan. Sedang anak ini adalah anakku, bernama Handaka, jawab Manahan memperkenalkan diri.

Dengan seksama orang itu mengamat-amati mereka berdua. Baru sesaat kemudian ia berkata, Saat ini lurah kami sedang menerima beberapa orang tamu. Karena itu mungkin tak ada tempat lagi bagi kalian untuk bermalam di rumah lurah kami.

Kalaupun tempat itu ada, pastilah lurah kami dengan terpaksa tidak akan mengizinkan kalian bermalam di sana.

Manahan mengangguk perlahan-lahan. Ia menjadi semakin ingin untuk mengetahui lebih banyak lagi. Karena itu katanya, Bukan maksudku untuk bermalam di rumah Pak Lurah. Meskipun aku ditempatkan di kandang kuda sekalipun, asal aku diizinkan bermalam untuk melepaskan lelah barang semalam dua malam, aku akan mengucapkan terimakasih.

Orang yang bertubuh pendek serta bermata jernih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian setelah berpikir sejenak ia menjawab, Menilik wajah-wajah kalian yang merah hitam terbakar terik matahari, serta menilik pakaian kalian maka aku percaya bahwa kalian telah menempuh jarak yang sangat jauh. Maka adalah kewajiban kami untuk memberikan sekadar tempat melepaskan lelah bagi kalian berdua. Karena itu maka kalian akan aku bawa pulang ke rumahku, di sana kalian dapat bermalam. Sebab selain Lurah di pedukuhan ini, aku pun termasuk orang yang harus membantu pekerjaannya.

JAWABAN itu membuat hati Manahan menjadi gembira. Karena itu segera ia mengangguk hormat.

Alangkah besar hati kami berdua atas izin sekaligus tempat yang disediakan untuk kami berdua. Tetapi hendaknya kehadiran kami janganlah menambah kesibukan, katanya.

Orang itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Aku memang selalu sibuk, katanya. Jadi kehadiran Ki Sanak sama sekali tak mempengaruhi kesibukan itu.

Memang sejak semula Manahan sudah mengira bahwa orang itu pasti seorang yang baik hati serta ramah, ditilik dari sinar matanya yang jernih. Apalagi setelah Manahan bercakap-cakap sejenak, makin pastilah ia bahwa orang itu orang yang berbudi.

Marilah Ki Sanak, kata orang itu, Ikutlah ke pondokku. Dan kalian dapat beristirahat sepuas-puasnya.

Maka kemudian ikutlah Manahan serta Bagus Handaka ke rumah orang yang bertubuh pendek bermata jernih itu. Dan kemudian ketika mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan, tahulah Manahan bahwa orang itu adalah tangan kanan dari lurah mereka, namanya Wiradapa.

Sebagai seorang kepercayaan kepala pedukuhan, rumah Wiradapa tidaklah begitu jauh dengan rumah lurahnya. Halamannya cukup luas ditumbuhi berbagai macam pepohonan serta dipagari oleh deretan pohon nyiur yang berpuluh-puluh jumlahnya. Di pedukuhan yang kecil itu, rumah Wiradapa merupakan rumah yang cukup baik meskipun tidak begitu besar. Beratap ijuk dan bertulang-tulang kayu.

Di rumah itu pun Manahan mengalami pelayanan yang baik, meskipun bagi Manahan dan Handaka hanya disediakan ruangan di bagian belakang rumah. Sebab menurut tangkapan Wiradapa, Manahan tidaklah lebih dari dua ayah-beranak yang pergi merantau untuk mencari penghidupan yang baik.

Tetapi kemudian sejak Manahan serta Handaka dipersilakan di ruang yang diperuntukkan bagi mereka, maka mereka tidak lagi bertemu dan bercakap-cakap dengan Wiradapa sampai malam, karena Wiradapa harus pergi ke lurahnya.

Manahan dan Handaka yang setelah beberapa lama selalu tidur di tempat-tempat yang sama sekali tak menentu, dan sekarang mendapat tempat pembaringan yang selayaknya, segera membaringkan diri sejak gelap mulai turun. Tempat pembaringan yang tidak lebih dari sebuah bale-bale bambu serta tikar pandan yang dibentangkan di atas galar. Bagi Manahan serta Handaka, pada saat itu dirasakan sebagai suatu pembaringan yang sangat baik. Karena itu pula maka belum lagi malam sampai seperempat bagian, mereka telah tertidur nyenyak.

Tetapi meskipun bagaimana nyenyaknya mereka tidur, namun telinga Manahan adalah telinga yang terlatih baik. Itulah sebabnya meskipun suara itu sangat perlahan-lahan tetapi sudah cukup untuk membangunkannya.

Manahan menjadi terkejut ketika mendengar seseorang berkata perlahan, Di mana mereka tidur…?

Di ruang sebelah belakang, Tuan, jawab yang lain, yang oleh Manahan suara itu dikenalnya, yaitu suara Wiradapa.

Kemudian terdengarlah beberapa orang melangkah mendekat ke ruang tidurnya. Mendengar langkah-langkah itu, segera Manahan curiga. Karena itu ia pun segera bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi sampai sedemikian ia merasa masih belum perlu untuk membangunkan muridnya yang masih tidur dengan nyenyaknya.

Sampai di muka pintu, terdengarlah langkah-langkah itu berhenti, dan terdengarlah seseorang berbisik, Kau yakin bahwa orang itu tak berbahaya…?

Tidak, Kakang Lurah, aku yakin bahwa orang itu hanyalah bagian dari orang-orang yang hidup berpindah-pindah seperti burung yang selalu mencari tempat dimana ada makanan. Terdengar Wiradapa menjawab.

Aku akan melihatnya…. Terdengar suara lain lagi.

Silakan Tuan, jawab Wiradapa.

Aku akan dapat mengetahui apakah dia orang berbahaya atau benar-benar orang-orang malas yang kerjanya mondar-mandir dari desa yang satu ke desa yang lain. Terdengar lagi suara itu. Sebab aku tidak mau ada orang yang dapat mengganggu usahaku.

Kembali terdengar Wiradapa menjawab, Apa saja yang baik bagi Tuan.
Kemudian terdengarlah langkah-langkah mereka semakin dekat dan dengan sekali dorong pintu itu sudah terbuka.

Dengan tangkasnya salah seorang dari mereka meloncat masuk dan tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam sebilah pedang. Dalam sinar pelita yang remang-remang, berkilat-kilatlah cahayanya menyilaukan. Dengan suara yang keras orang itu membentak, He, perantau malang, aku bunuh kau.

Berbareng dengan itu melekatlah ujung pedangnya di dada Manahan yang masih saja berbaring di bale-bale bambu.

Mendengar orang itu berteriak, Bagus Handaka menjadi terkejut. Cepat ia dapat menguasai kesadarannya karena latihan-latihan berat yang pernah dijalani. Tetapi demikian ia akan bergerak, terasalah pergelangannya dipijat oleh gurunya, yang berbaring di sampingnya. Sehingga dengan demikian ia mengurungkan niatnya, meskipun ia sama sekali tidak tahu maksudnya. Bahkan kemudian ia melihat gurunya menggigil ketakutan dan dengan suara gemetar berkata, Tuan… jangan aku Tuan bunuh. Ampunilah aku yang tidak berdosa.

Untuk beberapa saat beberapa pasang mata memandanginya dengan seksama. Mereka terdiri seorang anak sebaya dengan Bagus Handaka, yang kira-kira baru berumur 16 tahun. Dialah yang dengan geraknya yang lincah mengancam Manahan dengan pedangnya. Kemudian di sampingnya sebelah-menyebelah berdiri dua orang yang lain lagi terdiri Wiradapa dan seorang lagi yang disebutnya Kakang Lurah.

Dialah kepala daerah Pedukuhan Gedangan.

Kemudian terdengarlah anak yang memegang pedang itu berkata dengan nyaring, Menyebutlah nama nenek moyangmu, sebab saat kematianmu telah datang.

HANDAKA tidak tahu siapakah yang telah mengancam gurunya, juga orang-orang yang berdiri di dalam ruangan itu. Ia tidak habis herannya melihat sikap gurunya.

Baginya lebih baik mati dengan tangan terentang daripada mati seperti seekor cacing yang sama sekali tak berdaya. Bukankah gurunya telah menuntunnya demikian dalam menghadapi lawan-lawannya …? Tetapi sekarang gurunya sendiri bersikap sebagai seorang pengecut. Karena perasaan-perasaan yang berdesakan itulah Handaka menjadi gemetar. Bukan karena ketakutan, tetapi karena pergolakan dadanya yang tak tertahan.

Hampir Handaka tak dapat menguasai dirinya ketka sekali lagi ia mendengar Manahan menjawab, Ampun Tuan, ampun…. Apakah dosaku maka Tuan akan membunuhku?

Melihat sikap Manahan itu Wiradapa memandangi wajah anak muda yang memegang pedang itu dengan sikap meminta untuk membebaskannya. Tetapi anak muda itu agaknya sama sekali tidak menaruh belas kasihan. Namun kemudian terdengarlah ia tertawa sambil berseru, Apakah kerjamu berdua di sini?

Manahan nampak gugup mendengar pertanyaan itu. Maka jawabnya gemetar, Aku tidak apa-apa, Tuan. Sungguh aku tidak apa-apa.

Sekali lagi anak muda itu tertawa menyeringai. Sedang ujung pedangnya masih saja melekat di dada Manahan. Sesaat kemudian terdengarlah ia berkata, Kau datang pada saat yang tidak menguntungkan bagimu.

Setelah itu ia merenung sejenak, dan kemudian melanjutkan. Kenapa kau pilih desa ini untuk bermalam…?

Aku tidak tahu, jawab Manahan gugup.

Anak muda itu menarik nafas panjang mendengar jawaban Manahan yang ketakutan itu. Kemudian tangannya yang memegang pedang itu mengendor. Dan dengan nada yang merendahkan ia berkata, Kalau di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang macam itu, maka manusia ini tak ada bedanya dengan binatang-binatang melata yang mengais makanan dari dalam tanah tanpa dapat berbuat apa-apa.
Kemudian ia membentak, He orang-orang malang. Kau harus menggerakkan tanganmu kalau kau ingin mengisi perutmu. Selama kau berada di sini kau harus bekerja keras. Aku menjadi muak melihat kau menjual belas kasihan untuk mendapat makan. Karena itu besok pada saat matahari terbit, kau sudah harus datang ke rumah bapak lurah untuk menerima pekerjaan yang harus kau lakukan besok.

Sesudah berkata demikian anak muda itu segera menyarungkan pedangnya kembali, dan sekali lagi dengan pandangan yang menghina ia menggerutu, Seharusnya orang-orang macam itu wajib dimusnahkan, supaya dunia kita tidak kekurangan makan.

Setelah itu segera ia pun melangkah pergi, diikuti oleh kedua orang yang bertubuh kokoh kuat berwajah seram, serta lurah pedukuhan itu. Tinggallah Wiradapa yang memandangi Manahan dengan perasaan welas. Tetapi ketika ia akan berkata sesuatu, terdengarlah suara di luar, He Wiradapa, apa yang kau kerjakan?

Wiradapa mengurungkan niatnya, lalu dengan cepatnya ia melangkah keluar. Sebentar kemudian hilanglah langlah-langkah mereka ditelan oleh bunyi binatang-binatang malam.

Demikian langkah mereka menghilang, melentinglah Bagus Handaka dari tempat tidurnya, dan dengan kecepatan yang luar biasa ia sudah tegak berdiri di hadapan gurunya, seolah-olah ia ingin memperlihatkan ketangkasannya. Dengan mata yang memancarkan kemarahan dan gigi yang gemeretak terdengar ia menggeram, Bapak…
Setelah itu bibirnya sajalah yang gemetar, tetapi tak ada kata-katanya yang meluncur keluar. Meskipun di dalam dadanya berdesak-desakkan berbagai macam perasaan yang akan dilahirkan, namun hanya satu kata itulah yang berhasil diucapkan.

Tetapi ia bertambah bingung dan tidak mengerti ketika dilihatnya gurunya masih saja berbaring dengan bibir yang tersenyum-senyum. Baru ketika ia melihat Handaka gemetar di hadapannya, ia berkata Duduklah Handaka.

Tetapi Handaka masih saja tegak seperti patung, suara gurunya itu tidak terdengar oleh telinganya yang seperti mendesing-desing, sehingga Manahan terpaksa mengulangi lagi, Duduklah Handaka.

Dengan perasaan yang dipenuhi oleh teka-teki, Handaka kemudian duduk di samping gurunya. Namun terasa bahwa dadanya masih bergetar keras.

Tenanglah Handaka. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, sambung Manahan kemudian.

Tetapi… sahut Handaka tergagap. Tetapi kenapa demikian?

Handaka menjadi semakin bingung ketika gurunya kemudian tertawa panjang, meskipun perlahan-lahan, supaya tidak menimbulkan suara riuh.

Apa yang demikian…? tanya Manahan sambil tertawa.

Handaka menjadi semakin bingung, meskipun demikian ia menjawab, Kenapa Bapak tadi menjadi sedemikian takut? Kalau Bapak tidak menahan aku, barangkali aku sanggup berbuat sesuatu untuk mengusir mereka. Ataupun kalau mereka adalah orang-orang sakti, bukankah lebih baik binasa daripada mereka hinakan sedemikian?

Bagus, memang sedemikianlah seharusnya, potong Manahan.

Tetapi kenapa aku tidak boleh berbuat demikian? sambung Handaka yang merasa mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya. Maka mengalirlah kata-katanya seperti hujan yang dicurahkan dari langit.

Dan kenapa Bapak sama sekali tidak melakukan perlawanan. Malahan bapak minta ampun kepada orang yang sama sekali tidak kenal. Bukankah kami tidak pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Sebab kami belum pernah bertemu sebelumnya, dan…

Sudahlah Handaka, potong Manahan. Tenanglah, dan dengarkanlah kata-kataku seterusnya.

HANDAKA menjadi terdiam. Ia mencoba untuk mendengarkan kata-kata gurunya dengan baik.

Handaka… kata Manahan kemudian.

Aku percaya bahwa apa yang kau katakan itu dapat kau lakukan. Memang harusnya kita berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Pertimbangan pikiran yang kadang-kadang bertentangan dengan perasaan. Sebagai seorang laki-laki yang berhati jantan, seharusnya kita lawan setiap serangan dengan dada tengadah. Apalagi penghinaan. Namun demikian ada kalanya keadaan menuntut tanggapan yang lain atas penghinaan yang kita terima itu. Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka aku tidak melawan sama sekali ketika anak muda itu mengancamku dengan pedangnya.

Tetapi ia tidak sekadar mengancam, sahut Bagus Handaka.

Bagaimana kalau pedang itu benar-benar ditusukkan kepada Bapak?

“Bukankah ia tidak berbuat demikian? jawab Manahan sambil tersenyum.

Dan hal itu aku ketahui dengan pasti. Ia hanya akan menggertak untuk mengetahui apakah aku memiliki kemampuan untuk melawan atau tidak. Ia hanya ingin mengetahui apakah kita memiliki ilmu tataperkelahian atau tidak. Sekarang ternyata bahwa ia telah mendapat kesan bahwa kita adalah orang-orang yang malas, yang merantau dari satu desa ke lain desa untuk sekadar mendapat makan. Bukankah dengan demikian kita mendapat keuntungan?

Setelah diam sejenak, Manahan kemudian meneruskan, Handaka… sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang mereka lakukan di sini, tanpa kecurigaan apapun.

Mendengar penjelasan itu Handaka menundukkan kepalanya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri atas ketergesa-gesaannya. Apalagi ia telah telanjur seolah-olah mengajari gurunya. Ternyata apa yang dilakukan gurunya adalah suatu cara untuk maksud-maksud tertentu.

Sudahkah kau jelas Handaka? tanya Manahan.

Handaka mengangguk perlahan. Sadarlah ia sekarang, betapa banyak persoalan yang sama sekali tidak dipikirkannya, yang ternyata perlu untuk diketahuinya. Ternyata bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan dan kekerasan, tetapi dapat diambil cara yang lain. Dengan demikian ternyata bahwa pandangan gurunya sangat jauh mendahuluinya.

Nah, Handaka… marilah kita tidur kembali. Hari masih malam. Tutuplah pintu itu, ajak Manahan sambil membaringkan dirinya kembali.

Perlahan-lahan Handaka pun bangkit menutup pintu, dan kemudian merebahkan dirinya di samping Manahan. Pikirannya sibuk menduga-duga siapakah orang-orang yang telah datang menjenguk nya tadi. Dalam remang-remang cahaya pelita ia tidak dapat memandang wajah mereka dengan jelas.

Handaka… kata Manahan pelan, Mulai besok kita akan mendapat pekerjaan baru. Aku tidak tahu apakah kira-kira yang harus kita kerjakan. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan mengetahui siapakah mereka dan apakah maksud kedatangan mereka kemari.

Tetapi alangkah sombongnya anak muda itu, Bapak, gerutu Handaka.

Manahan tertawa pendek, lalu jawabnya, Bukankah itu persoalan biasa? Anak-anak sebaya dengan kau memang sedang dalam taraf pergolakan. Mereka senang menunjukkan ketangkasan serta kelebihannya.

Handaka tidak menjawab lagi. Ia merasa bahwa sebagian jawaban gurunya ditujukan kepadanya pula. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan meneruskan, Karena itu, jiwa yang bergolak itu harus mendapat saluran yang sebaik-baiknya. Untuk itu perlu kesadaran. Kesadaran akan keadaan diri sendiri serta keadaan yang melingkupinya.
Seperti biasa, Handaka selalu mendengarkan nasihat gurunya baik-baik. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan berusaha untuk mentaatinya sejauh-jauh mungkin.

Setelah itu Manahan tidak berkata-kata lagi. Kantuknya telah mulai menyerangnya kembali. Dan sesaat kemudian ia pun telah tertidur pula. Demikian pula Bagus Handaka. Ketika ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, kesadarannya pun mulai tenggelam. Dan ia pun tertidur kembali dengan penuh angan-angan di kepala.

Pagi-pagi benar Manahan telah bangun. Segera Handaka dibangunkannya pula. Sebab pada saat matahari terbit mereka harus sudah sampai di halaman kalurahan untuk menerima tugas-tugas yang akan diberikan oleh anak muda yang datang semalam.

Ketika mereka keluar dari ruang itu mereka melihat Wiradapa sudah berdiri di pagar halaman. Agaknya ia pun baru bangun. Maka ketika ia melihat Manahan mendekati, ia pun berkata mengingatkan, Ki Sanak, bukankah kau diwajibkan datang ke kalurahan pagi ini?

Manahan mengangguk hormat sambil menjawab, Benar Tuan, dan aku akan segera pergi.

Baik Ki Sanak, bersiap-siaplah. Nanti kita pergi bersama. Sekarang mandilah, aku pun akan membersihkan diri pula, kata Wiradapa sambil melangkah pergi.

Manahan dan Handaka pun segera pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka menghangatkan diri dengan air panas dan gula kelapa yang sudah disediakan untuk mereka. Sementara itu Manahan selalu menasihati Handaka untuk tidak bertindak tergesa-gesa dalam segala hal. Ia harus menyesuaikan diri dengan kedudukannya sebagai seorang yang dianggap tak berdaya. Hanya apabila jiwanya benar-benar terancam, barulah boleh bertindak untuk melindungi dirinya.
Beberapa saat kemudian Wiradapa pun telah siap. Bertiga mereka berjalan bersama-sama ke kalurahan.

KETIKA mereka sampai ke halaman kalurahan, ternyata di pendapa telah banyak orang. Dari pakaian mereka segera dapat diketahui bahwa beberapa orang diantaranya bukanlah orang dari padukuhan itu. Orang-orang asing itu berpakaian lebih baik dan lengkap daripada orang pedukuhan itu sendiri, serta pada umumnya di pinggang mereka terselip sebilah keris atau senjata-senjata yang lain.

Melihat Wiradapa datang, segera mereka mempersilahkannya. Dan lurah mereka sendiri memanggilnya untuk duduk di sampingnya. Sedang Manahan dan Handaka, mereka suruh duduk di lantai di tangga pendapa itu. Tampaklah di wajah Handaka perasaan tidak senang, namun Manahan sendiri, wajahnya sama sekali tidak berkesan apa-apa.

Sebentar kemudian muncullah dari ruang dalam seorang pemuda sebaya dengan Bagus Handaka. Wajahnya memancar cerah dan pakaiannya pun lebih baik dari pakaian mereka semua yang hadir di pendapa itu. Di sampingnya sebelah menyebelah, berdirilah orang-orang yang bertubuh gagah tegap dengan wajah-wajahnya yang seram. Mereka itulah yang tadi malam datang melihat Manahan di tempatnya menginap.

Pada saat itu, sinar matahari yang baru saja naik, mulai menembus dedaunan dan jatuh di tanah-tanah lembab. Embun malam yang melekat di rerumputan perlahan-lahan mulai mengering menimbulkan asap putih yang melapisi cahaya pagi. Sedangkan tetesan-tetesan embun yang tersangkut di dedaunan, tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang masih kemerah-merahan, seperti butiran-butiran permata yang cemerlang.

Dengan semakin cerahnya cahaya matahari, semakin jelas pulalah wajah-wajah yang berada di dalam pendapa kalurahan. Mulai dari wajah yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu Wiradapa, sampai wajah lurah pedukuhan itu. Juga wajah orang-orang asing itu satu demi satu mulai dapat dikenal.

Manahan dan Bagus Handaka yang duduk agak jauh dari mereka, mulai memperhatikan wajah-wajah itu pula. Satu demi satu. Namun Manahan tak dapat mengenal seorang pun dari mereka. Mereka bagi Manahan benar-benar orang asing yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Karena itu Manahan sama sekali tidak lagi menaruh banyak perhatian, kecuali menanti pekerjaan apakah yang akan diberikan kepadanya, dan seterusnya menyelidiki apakah yang mereka kerjakan di situ. “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat keributan,” pikirnya.

Lalu setelah itu mulailah perhatiannya beredar ke sudut-sudut halaman rumah kepala pedukuhan itu. Sejak dari pagar batu yang mengelilingi setinggi orang, sampai pada pohon-pohon liar yang tumbuh tidak begitu teratur bertebaran di sana-sini.

Tetapi tiba-tiba Manahan terkejut karena gemeretak gigi Handaka. Ketika ia menoleh, dilihatnya wajah Handaka yang merah padam, sedang nafasnya mengalir cepat. Manahan menjadi agak terkejut. Sadarlah ia bahwa pasti ada sesuatu di hati anak itu. Untunglah bahwa Manahan cepat dapat menggamit Bagus Handaka yang hampir saja melompat berdiri.

“Handaka…” bisik Manahan, “Ada apa?”
Mata Bagus Handaka menjadi merah menyala. Tubuhnya gemetar karena menahan diri. “Bapak, biarkan aku kali ini membuat perhitungan,” desisnya.
Manahan menjadi keheran-heranan.
“Kau kenapa Handaka?” tanya Manahan.
“Aku tidak mau melepaskan anak itu pergi,” jawabnya.

Manahan menjadi semakin heran. Karena itu ia segera berusaha menenangkan hati Bagus Handaka.

Dengan perlahan-lahan ia berkata, “Tenanglah Handaka, jangan kau biarkan perasaanmu meluap-luap. Ada apakah sebenarnya dengan anak itu?”

“Bapak, belumkah Bapak kenal dia?” tanya Handaka.

Manahan menggelengkan kepalanya.

“Semalam aku agak kurang dapat melihat wajah anak muda itu. Juga barangkali setelah tiga tahun aku tidak bertemu, maka baru setelah aku mengingat-ingat agak lama, aku kenal ia kembali,” sambung Bagus Handaka.

“Siapakah dia?” desak Manahan ingin tahu.

“Sawung Sariti, putra Paman Lembu Sora,” jawab Handaka.

Berdesirlah dada Manahan mendengar jawaban itu. Memang sebelumnya ia belum pernah melihat anak itu. Tetapi bagaimanapun, Manahan tidak ingin maksudnya gagal.

Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak itu adalah anak Lembu Sora, keinginannya untuk mengetahui maksud kedatangannya di pedukuhan itu semakin mendesak. Maka itu segera ia berkata, “Bagus Handaka, cobalah kuasai perasaanmu. Dengan bertindak tergesa-gesa barangkali, tidak banyak keuntungannya.”

“Sudah aku katakan bahwa aku ingin mengetahui apakah kedatangannya kemari. Agaknya ia sudah tidak mengenal kau kembali setelah kau menjadi anak sawah dan anak laut. Barangkali kulitmu telah hitam terbakar matahari dan tersiram ombak lautan. Hal itu adalah suatu keuntungan bagimu sehingga usaha kita tidak lekas dapat diketahui. Dengan mengetahui lebih banyak tentang Sawung Sariti itu, bukankah jalanmu menjadi semakin licin…?”

BAGUS Handaka menekan giginya kuat-kuat. Ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Seperti biasa ia tidak pernah berani melanggar perintah dan nasehat gurunya, bagaimanapun nasehat atau perintah itu bertentangan dengan kehendaknya.

Handaka… sambung Manahan, Barangkali permintaanku ini mengecewakan engkau, tetapi dengan sangat aku harapkan bahwa kau dapat memenuhinya.

Handaka menundukkan kepalanya. Dengan penuh ketaatan ia menjawab, Baiklah Bapak, aku selalu berusaha untuk dapat memenuhi nasehat Bapak.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Sambil tersenyum ia berkata pula, Nah, sekarang nikmatilah permainan ini. Ingat, kita adalah perantau yang tak berharga. Dua orang ayah-beranak yang malas, yang pergi dari satu tempat, ke lain tempat untuk menuntut belas kasihan orang.

Handaka menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab. Terkilaslah di dalam otaknya permainan-permainan aneh yang pernah dilakukan oleh gurunya, yang kadang kadang sangat membingungkannya. Kemudian teringat pulalah keanehan orang yang tak dikenal, yang bahkan gurunya pun tak mengenalnya, yang mengajarkannya dengan cara yang sama sekali tak diduga-duganya. Enam malam berturut-turut menyerangnya dengan cara yang berbeda-beda menurut urutan yang teratur.

Apakah setiap orang sakti itu mempunyai cara-cara yang tidak menurut kebiasaan orang-orang lumrah…? pikirnya.

Tetapi ia tidak menanyakan hal itu kepada gurunya.

Sementara itu terjadi pulalah berbagai pembicaraan diantara orang-orang yang berada di pendapa. Pembicaraan mereka mula-mula berkisar pada persoalan-persoalan yang berarti. Tentang sawah, air dan tentang kebiasaan-kebiasaan penduduk pedukuhan itu. Diantara mereka terdengarlah seorang yang tampaknya berasal dari Pamingit, yang bersama-sama dengan Sawung Sariti memberikan beberapa petunjuk mengenai cara-cara mengolah sawah.

Tiba-tiba kemudian terdengarlah anak muda yang ternyata adalah Sawung Sariti itu berkata nyaring, He, Paman Lurah, siapakah dua orang yang duduk di sana itu?

Mendengar sapa itu, semua mata kemudian tertuju kepada Manahan dan Bagus Handaka, yang kemudian kepalanya menjadi semakin tunduk. Dadanya terasa bergelora hebat, namun ia sama sekali tidak berani melanggar pesan gurunya.
Sesaat kemudian terdengarlah Wiradapa menjawab, Mereka adalah Manahan dan Bagus Handaka, yang semalam bermalam di rumahku, Tuan.

O… sahut Sawung Sariti. Untuk apa mereka datang kemari?

Bukankah Tuan yang memerintahkannya? jawab Wiradapa pula.
Terdengarlah Sawung Sariti tertawa. Suaranya terdengar melengking tinggi.

Benar Paman, memang aku yang menyuruhnya kemari. Aku sama sekali tidak senang melihat orang bermalas-malas seperti kedua orang itu.

Mendengar percakapan itu dada Bagus Handaka serasa akan pecah terdesak oleh gelora perasaannya. Ia belum pernah mengalami tanggapan yang sangat menyakitkan hati seperti itu. Ia menjalani semua pahit getir penghidupan dengan senang hati, tetapi tidak untuk direndahkan sedemikian.

Namun dengan tabah ia menelan segala kepahitan itu, sebagai suatu kewajiban.

Karena itu mukanya menjadi merah pengab. Dadanya seolah-olah berdentang dentang oleh pukulan detak jantungnya. Manahan melihat keadaan Bagus Handaka itu dengan penuh pengertian. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada anak itu, namun ia harus mengajarinya menahan diri.

Maka dengan lembut ia berbisik, Di dalam perjalanan hidupmu kelak Handaka, banyaklah tekanan-tekanan batin yang lebih dahsyat daripada permainan ini. Karena itu anggaplah kali ini sebagai latihanmu yang masih terlalu ringan.

Kata-kata Manahan itu ternyata besar pengaruhnya. Memang latihan selamanya terasa hebat. Karena itu ia menjadi agak tenang dan menerapkan dirinya dalam suatu keadaan latihan.

Paman Lurah… kembali terdengar suara Sawung Sariti, Pekerjaan apakah yang dapat diberikan kepada orang-orang malas itu?

Lurah Gedangan yang sama sekali tidak mempunyai rencana apapun menjadi agak bingung, maka jawabnya, Terserahlah Tuan, sebab aku tidak memerlukan mereka berdua.

Kembali terdengar Sawung Sariti tertawa nyaring. Tetapi kemudian tampak wajahnya berkerut. Agaknya ia teringat sesuatu yang sangat penting. Tiba-tiba ia berdiri dan mendekati salah seorang pengiringnya. Untuk beberapa saat mereka saling berbisik-bisik. Setelah itu kemudian dengan tersenyum-senyum Sawung Sariti berkata, He orang-orang malas, siapakah namamu?

Manahan memutar duduknya, dan sambil membungkuk hormat ia menjawab, Namaku Manahan, Tuan… dan ini anakku bernama Handaka.

Nama-nama yang bagus, sahutnya, kemudian ia meneruskan, Apakah yang dapat kau kerjakan?

Manahan mengangkat mukanya. Apa saja yang Tuan perintahkan, aku akan mencoba melakukannya.

Sawung Sariti mengangguk-anggukkan kepalanya.

Besok aku mempunyai pekerjaan penting untukmu berdua. Sekarang belum. Tetapi ingat, jangan coba-coba meninggalkan pedukuhan ini. Sebab menurut pikiranku tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali kalian berdua. Kalau kalian mencoba dengan diam-diam pergi dari pedukuhan ini, maka pasti orang-orangku akan menemukan kalian dan memenggal leher kalian. Mengerti…?

Manahan memandangi wajah anak muda itu dengan penuh pertanyaan. Dengan nada bertanya-tanya ia menjawab, Pekerjaan apakah yang akan Tuan berikan itu. Dan adakah aku mampu melaksanakan?

Kau pasti dapat melakukan, jawabnya bersungguh-sungguh lalu ia meneruskan,

Karena kalian akan melakukan pekerjaan yang penting itu, maka sekarang kalian boleh beristirahat, tidur untuk sehari penuh. Dan jangan takut kelaparan untuk sehari ini. Paman Wiradapa akan memberimu makan sebanyak-banyaknya.

SEKALI lagi dada Handaka berguncang. Apalagi kalau diingatnya bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah anak pamannya yang telah berkhianat kepada ayahnya.

Tetapi kemudian Bagus Handaka telah dapat menempatkan perasaannya sebaik baiknya, sehingga karena itu hanya suatu tarikan nafas yang dalam yang terdengar.

Nah, orang-orang malas… sambung Sawung Sariti, Sekarang kau boleh pergi. Kau boleh berjalan kemana kau suka, tetapi ingat jangan tinggalkan pedukuhan ini.

Baiklah Tuan, jawab Manahan penuh hormat. Dan kemudian bersama-sama dengan Bagus Handaka mereka meninggalkan halaman kalurahan.

Mereka berjalan begitu saja sepanjang jalan desa tanpa tujuan. Manahan berjalan di depan dengan kepala tunduk, sedang di belakangnya Bagus Handaka mengikutinya dengan kepala yang dipenuhi teka-teki.

Kemana kita pergi Bapak? tanya Handaka kemudian.
Manahan menoleh, dan kemudian memperlambat jalannya sampai Handaka berjalan di sisinya. Kemudian ia menjawab, Asal kita berjalan Handaka. Melihat sawah-sawah, ladang serta lereng-lereng pegunungan.

Apakah kira-kira yang harus kita kerjakan besok pagi? tanya Handaka pula.

Entahlah, jawab Manahan. Agaknya bukan pekerjaan yang menyenangkan.

Setelah itu mereka berdua bersama-sama berdiam diri. Tetapi kaki mereka melangkah terus sepanjang jalan yang kemudian sampai ke daerah persawahan. Batang-batang jagung yang sudah setinggi lutut, tampak hijau segar di bawah sinar matahari pagi.

Burung liar terbang bertebaran mencari mangsanya. Dan di sana sini beberapa orang telah mulai mengerjakan sawahnya. Menyiangi tanamannya dan mengalirkan air dari parit-parit. Meskipun apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang sederhana sekali, namun karena tanah yang subur maka tanaman mereka tampak subur pula.

Manahan dan Handaka berjalan saja berkeliling tanpa tujuan. Ketika kemudian matahari semakin tinggi, mereka berdua beristirahat di bawah pohon rindang di simpang jalan. Selama itu tidak juga banyak yang mereka percakapan, karena pikiran mereka masing-masing dipenuhi oleh berbagai masalah yang melingkar-lingkar.

Matahari merayap-rayap semakin tinggi di kaki langit. Manahan dan Handaka melihat iring-iringan orang berkuda keluar dari pedukuhan. Mereka adalah Sawung Sariti dengan tiga atau empat pengawalnya, Pak Lurah dan beberapa orang lagi. Agaknya mereka akan menempuh suatu perjalanan yang agak jauh, meskipun pasti pada hari itu juga mereka akan kembali ke pedukuhan itu.

Wiradapa tidak ikut dengan mereka, bisik Manahan.

Handaka menganggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak menjawab. Manahan pun tidak melanjutkan kata-katanya pula. Kembali mereka tenggelam dalam angan-angan mereka masing-masing.

Tetapi sejenak kemudian mereka melihat Wiradapa berjalan keluar lewat sudut desanya. Sebentar ia berhenti sambil memperhatikan titik-titik yang semakin lama semakin jauh sambil meninggalkan hamburan debu putih.

Kemudian setelah titik-titik itu hilang di kelokan jalan, kembali Wiradapa memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya terhenti pada Manahan dan Handaka yang masih duduk di bawah pohon di simpang jalan. Tampaklah orang itu tersenyum dan kemudian ia melangkah mendekat.

Tuan tidak ikut serta dengan rombongan itu? tanya Manahan sambil menghormat.
Wiradapa menggelengkan kepala sambil menjawab, Tidak Ki Sanak, aku lebih senang tinggal di rumah.

Kemanakah mereka pergi? tanya Manahan pula.

Entahlah, jawab Wiradapa. Tetapi di balik kata-katanya itu Manahan menangkap sesuatu yang tidak wajar. Namun ia sama sekali tidak mendesaknya.

Siapakah mereka itu Tuan? tanya Manahan mengalihkan persoalan.

Adakah mereka bukan penduduk pedukuhan ini?

Bukan Ki Sanak, jawab Wiradapa sambil duduk di sisi Manahan.

Mereka bukan penduduk pedukuhan ini. Menurut keterangan mereka, mereka datang dari Banyubiru. Anak muda itu adalah putra kepala daerah perdikan Banyubiru dan Pamingit, yang menurut keterangan mereka, adalah bekas daerah Pangrantunan lama.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ekor matanya ia melihat wajah Bagus Handaka yang berubah menjadi merah. Untunglah bahwa anak itu menundukkan wajahnya sehingga perubahan itu tidaklah begitu nampak.

Anak muda itu bernama Sawung Sariti, lanjut Wiradapa, Dan orang-orang itu adalah pengawal-pengawal mereka dari Pamingit.

Apakah keperluan mereka datang kemari? tanya Manahan pula.

Wiradapa tersenyum. Ia memandang Manahan dengan wajah yang lucu.

Suatu keperluan yang penting bagi orang-orang yang punya cita-cita, jawabnya.
Manahan menarik nafas. Ia sadar akan permainannya. Memang bagi orang yang pekerjaaannya merantau dari satu desa ke desa yang lain, pertanyaannya agak terlampau maju. Meskipun demikian, terdorong oleh keinginan untuk mengetahui lebih lanjut, ia bertanya pula, Tuan, apakah cita-cita seseorang yang telah menjabat sebagai kepala daerah perdikan?

Kembali Wiradapa tersenyum.

Banyak juga yang ingin kau ketahui Ki Sanak. Memang barangkali bagimu apa yang telah kau capai hari ini telah cukup tanpa memikirkan masa depan. Tetapi justru bagi orang-orang yang semakin tinggi pangkatnya, semakin tinggi cita-citanya. Demikian juga Anakmas Sawung Sariti. Bukankah diatas kepala perdikan masih banyak jabatan penting? Jabatan-jabatan istana, misalnya. Sedang jabatan istana yang paling tinggi adalah raja.

RAJA…? ulang Manahan. Menurut pendengaranku, raja adalah jabatan turun- temurun.
He, kau tahu juga tentang raja? potong Wiradapa, kemudian ia melanjutkan, Tetapi tidak selamanya demikian.

Manahan mendengarkan kata-kata Wiradapa dengan sungguh sungguh. Ia mengharap agar dengan demikian Wiradapa sampai pada keterangan yang sejauh-jauhnya.

Tuan…, adakah orang yang lain kecuali keturunannya boleh menjadi raja? tanya Manahan pula.

Wiradapa tertawa geli. Memang dapat terjadi demikian.

Adakah Ki Sanak ingin menjadi raja?

Manahan tertawa pula.

Siapakah yang tidak mau menjadi raja? Apapun yang dikehendaki selalu ada. Makanan lezat serta minuman segar. Pakaian gemerlapan serta perhiasan yang cemerlang.

Wiradapa tidak dapat menahan tertawanya, sampai tubuhnya berguncang-guncang. Memang barangkali kepentinganmu, apabila kau menjadi raja, adalah makanan lezat serta minuman segar. Tetapi kau tidak pernah berpikir tentang pekerjaan serta kewajibannya.

Apakah pekerjaan raja? tanya Manahan.

Banyak sekali, jawab Wiradapa.

Banyak sekali dan tidak menyenangkan. Meskipun demikian banyak orang yang ingin menjabatnya. Termasuk Anakmas Sawung Sariti.

Tetapi kenapa Tuan muda yang ingin menjadi raja itu datang kemari. Adakah ia ingin menjadi raja di sini? sahut Manahan.

Sekali lagi Wiradapa tertawa.

Baiklah aku ceriterakan kepadamu, barangkali perlu kau ceriterakan kelak buat anak cucumu sebagai pengetahuan. Mungkin anak cucumu kelak tidak lagi menjadi perantau seperti Ki Sanak ini. Untuk menjadi raja kadang-kadang diperlukan benda-benda pusaka sebagai sipat kandel, atau sebagai wadah untuk menerima wahyu keraton. Dengan memiliki pusaka-pusaka tertentu, orang menjadi kuat menerima wahyu. Tanpa pusaka itu, mungkin seseorang yang tidak kuat menerima wahyu keraton, malahan dapat menjadi gila. Misalnya, setelah ia menjadi raja, mempergunakan kekuasaannya sewenang-wenang, atau menghambur-hamburkan uang perbendaharaan, sehingga akhirnya ia jatuh dari jabatannya itu dengan berbagai cara. Nah, sekarang Anakmas Sawung Sariti sedang bersiap-siap untuk mendapatkan pusaka istana yang akan menjadi sipat kandel. Pusaka itu berupa dua keris yang maha sakti, yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Mendengar keterangan itu sesuatu terasa berdesir di dada Manahan, dan kemudian jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Juga Bagus Handaka terkejut sampai ia mengangkat mukanya. Untunglah bahwa Manahan masih dapat mengendalikan diri, sehingga perasaannya tidak berkesan pada wajahnya. Demikian juga Bagus Handaka, cepat-cepat menundukkan mukanya kembali.

Jadi kedatangan mereka kemari, adalah dalam usaha mereka menemukan pusaka pusaka itu, sambung Wiradapa.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan sikap yang bodoh ia bertanya, Adakah kedua keris itu di sini?

Wiradapa menggelengkan kepala, lalu jawabnya

Tak seorangpun diantara kami di sini yang pernah melihat keris-keris itu, bahkan mendengar namanya pun baru kali ini.

Melihat cara mengatakannya, Manahan percaya bahwa Wiradapa telah berkata sebenarnya.

Karena itu ia menjadi kecewa, sebab ia mengharapkan setidak-tidaknya petunjuk di mana kira-kira kedua keris itu sekarang.

Tetapi… sambung Wiradapa, Di sebelah selatan, ada sebuah padepokan yang disebut orang Padepokan Karang Tumaritis atau disebut juga Karangdempel. Di sana tinggal seorang tua yang saleh. Yang suka menolong sesama. Bahkan ia terkenal dengan kepandaiannya mengobati segala macam penyakit. Ke sanalah Anakmas Sawung Sariti tadi pergi, menghadap orang tua yang menamakan dirinya Panembahan Ismoyo. Konon orang percaya bahwa orang tua itu titisan Dewa Ismoyo yang ditugaskan untuk menunggui pertapaannya. Kemudian seperti kepada diri sendiri ia meneruskan, Tetapi mudah-mudahan seandainya beliau tahu, janganlah beliau memberitahukan kepadanya.

Kata-kata yang terakhir itu justru menyentuh perasaan Manahan serta meninggalkan kesan yang aneh. Kalau sampai orang seperti Wiradapa yang baik hati itu mengucapkan kata-kata yang demikian, pastilah ada sebabnya yang cukup penting.

Dan tiba-tiba tanpa sadar ia bertanya, Kenapa demikian Tuan?

Wiradapa tersadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu. Segera ia mencoba memperbaiki kesalahannya, katanya sambil tersenyum hambar, Eh, mudah-mudahan kepadakulah Panembahan Ismoyo kelak memberitahukan.

Manahan sadar sesadar-sadarnya, bahwa Wiradapa ingin bergurau untuk menyembunyikan keterlanjurannya. Dan karena itu iapun segera menyesuaikan diri untuk menyenangkan hati Wiradapa.

Sambil tertawa-tawa Manahan menyahut, Kalau Tuan kelak mendapatkan pusaka-pusaka itu, serta kemudian menjadi raja, bukankah Tuan akan sudi mengambil kami berdua sebagai pekatik?

Mendengar kata-kata Manahan, Wiradapa tertawa, lalu jawabnya, Bukankah kau mau berdoa untukku?
Tentu, Tuan…, tentu! jawab Manahan.

Wiradapa menarik nafas panjang. Mendadak saja dahinya tampak berkerut, katanya perlahan-lahan, Aku tidak boleh mimpi demikian, asal desa ini dapat aku selamatkan dari noda, aku telah merasa senang.

SEKALI lagi perasaan Manahan tersentuh. Namun ia tidak bertanya apa-apa. Sehingga kemudian Wiradapa berdiri sambil berkata, Ah, lebih baik aku pergi dahulu Ki Sanak, untuk menengok sawah. Kalau Ki Sanak sudah lelah duduk-duduk di sini, pulanglah. Ki Sanak dapat beristirahat di rumah. Bukankah besok Ki Sanak akan mendapat pekerjaan penting?

Karena itu pula maka Manahan teringat untuk menanyakan pekerjaan apakah kira-kira yang akan dilakukannya besok. Tuan…, apakah yang harus aku kerjakan besok?

Wiradapa menggelengkan kepalanya, Entahlah. Dan setelah itu ia pun segera melangkah pergi.

Dari percakapan pendek itu Manahan dapat mengambil banyak kesimpulan. Pasti terjadi sesuatu yang kurang wajar di pedukuhan kecil dan sepi ini. Mungkin pula telah terjadi beberapa pertentangan pendapat diantara mereka.

Setelah Wiradapa agak jauh, berkatalah Manahan kepada Bagus Handaka, Handaka…, bukankah dengan permainan ini banyak yang dapat kita ketahui?
Handaka mengangguk, dan sambil tersenyum ia menjawab, Permainan yang sulit, Bapak.

Manahan tertawa mendengar jawaban Handaka, katanya melanjutkan, Semakin sulit permainan ini, semakin banyak hal yang kita dengar. Apalagi besok. Mungkin kita akan mendapat pekerjaan yang menyenangkan sekali.

Mudah-mudahan Bapak, mudah-mudahan bukan pekerjaan yang sulit, jawab Handaka.

Karena itu… sahut Manahan, Marilah kita beristirahat untuk menyiapkan diri menghadapi pekerjaan kita besok.

Handaka tidak menjawab, dan ketika kemudian Manahan berdiri dan melangkah, Handaka pun mengikutinya. Mereka dengan perlahan-lahan, tepat seperti dua orang pemalas, berjalan di sepanjang jalan yang membujur diantara persawahan, dimana tampak banyak orang laki-laki perempuan bekerja keras untuk makan mereka sehari-hari.

Beberapa pasang mata memandang Manahan dan Handaka dengan pandangan yang aneh. Tetapi Handaka dan Manahan sama sekali tidak menghiraukan lagi. Pikiran mereka sedang dicengkam oleh pertanyaan yang melingkar di seputar hari besok. Apakah kira-kira yang harus dikerjakan.

Siang hari itu, Manahan dan Handaka duduk-duduk saja di dalam ruangan mereka. Hanya ketika matahari condong tanpa ada yang menyuruhnya, Handaka mengambil air untuk mengisi jeding dan padasan.

Setelah sembahyang Isa, kembali mereka menyekap diri sambil bermain macanan.

Sesaat kemudian setelah malam semakin dalam, Manahan dan Handaka pun segera menutup pintu ruangnya. Mereka sama sekali tidak bernafsu untuk keluar.

Dalam kesempatan yang demikian Handaka lebih senang belajar berbagai-bagai ilmu dari gurunya, yang mengajarinya membaca dan menulis pula. Kadang-kadang Handaka minta gurunya berceritera mengenai berbagai ilmu pengetahuan yang mungkin akan sangat berguna kelak.

Demikian juga malam itu, Manahan menceriterakan berbagai hal dari lontar-lontar yang pernah dibacanya sehingga tidak terasa malam menjadi semakin jauh menukik ke pusatnya.

Tetapi tiba-tiba mereka terganggu oleh suara telapak-telapak kaki memasuki halaman. Kemudian terdengar suara memanggil dari halaman.

Adi Wiradapa…, sudahkah Adi tidur?

Kemudian terdengar jawaban dari dalam, Belum Kakang, marilah, silahkan.

Agaknya Lurah pedukuhan itu dengan pengiringnya datang berkunjung. Setelah rombongan itu masuk dan dipersilahkan duduk, terdengarlah mereka bercakap-cakap. Mula-mula perlahan-lahan tetapi lama kelamaan menjadi semakin keras. Manahan dan Bagus Handaka segera ikut memperhatikan percakapan itu pula.
Kakang Lurah…. Terdengar suara Wiradapa. Aku tidak akan turut mempertanggungjawabkan perbuatan terkutuk itu.

Adi Wiradapa… jawab lurah itu, Sudah berpuluh tahun kita bekerja bersama-sama. Sekarang kenapa Adi mau mengubah naluri itu?

Aku hanya mau bekerja sewajarnya, jawab Wiradapa.

Tetapi dengan pekerjaan itu, kita akan mendapat kesempatan sebaik-baiknya untuk menjadi kaya raya, sahut lurah pedukuhan itu.

Hem…. Wiradapa menggeram, Aku tidak mau pedukuhan ini ternoda. Pedukuhan yang sudah berpuluh-puluh tahun kita bina, sekarang akan kita korbankan untuk keperluan yang sesat.

Jangan berlagak seperti malaekat. Apakah kesalahan itu dapat ditimpakan kepada kita? Kalau aku mengajak Adi Wiradapa untuk turut serta dalam pekerjaan ini, adalah karena Adi Wiradapa akan banyak memperingan pekerjaan kami dan akan kami bagi hadiah yang kita terima bersama-sama. Sebab aku tidak ingin untuk mendapatkannya sendiri.

Aku tidak mimpi untuk menerima hadiah, Kakang, potong Wiradapa.

Hem, jangan menyesal kalau terjadi sesuatu. Aku telah menyiapkan orang-orangku sendiri. Tanpa Adi, pekerjaan ini akan selesai dengan baik. Tetapi jangan coba menghalangi aku.

Jangan menakut-nakuti aku dengan ancaman, sahut Widarapa.

Aku sudah mengenal Kakang Lurah, dan Kakang Lurah sudah lama pula mengenal aku.

Lurah pedukuhan itu tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram marah.

Kemudian terdengar langkahnya pergi disusul oleh langkah menjauhi.

Percakapan itu sangat menarik perhatian Manahan dan Bagus Handaka. Tetapi sayang bahwa dari percakapan itu, tak ada yang menunjukkan tindakan apa yang akan dilakukan oleh lurah itu.

Apakah yang akan mereka lakukan Bapak? tanya Bagus Handaka berbisik.
Manahan menggelengkan kepala.

Entahlah, jawabnya.

Adakah lurah itu akan menyerang Sawung Sariti? tanya Handaka seterusnya.
Pasti tidak, jawab Manahan. Kalau demikian dari siapa lurah itu mengharapkan hadiah?

HANDAKA mengangguk-angguk. Tetapi pikirannya menjadi bertambah kalut.

Mungkin pekerjaan kita besok ada hubungannya dengan peristiwa ini, kata Manahan kemudian.

Ya, mungkin demikian Bapak, sahut Handaka.

Setelah itu kembali mereka berdiam diri, mereka-reka dan menebak-nebak apakah yang kira-kira akan terjadi.

Dalam pada itu terdengarlah Wiradapa menutup pintu dan kemudian terdengar ia berkata kepada istrinya, Nyai, tidurlah di ruang belakang. Jangan pedulikan apa yang terjadi.

Ada apakah sebenarnya Kakang? Dan kenapa Kakang tidak mau bekerja sama dengan Kakang Lurah? tanya istrinya.

Tak ada apa-apa. Tetapi sekali lagi, jangan pedulikan apa yang terjadi, jawab Wiradapa.
Tetapi…? Terdengar istrinya masih akan bertanya.

Sudahlah Nyai, potong suaminya, Tak ada apa-apa yang terjadi.

Kemudian istri Wiradapa tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian terdengar ia pergi ke ruang belakang, dekat dengan ruang Manahan.

Setelah itu terdengar gemerincing senjata. Agaknya Wiradapa bersiap-siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Manahan dan Handaka menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Begitu penting agaknya persoalan yang dihadapi oleh Wiradapa, sehingga ia terpaksa menyiapkan senjata, untuk menghadapi orang yang telah berpuluh tahun bekerja bersama-sama.
Kemudian kembali malam ditelan sepi. Yang terdengar hanyalah suara jengkerik dan angkup nangka bercuit-cuit. Tetapi dalam setiap dada orang-orang di dalam rumah itu, berdeburan dengan riuhnya, kekhawatiran kecemasan dan keinginan tahu tentang apa yang bakal terjadi.

Sampai tengah malam, kesepian malam berjalan tanpa terganggu. Manahan dan Handaka sudah berbaring di pembaringan mereka. Namun mereka sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Meskipun mereka tidak berjanji, namun di dalam hati mereka masing-masing tersimpan suatu keinginan untuk membantu Wiradapa kalau kemudian terjadi sesuatu, apabila dianggap perlu. Dengan diam-diam Manahan meraba-raba dinding. Kalau terpaksa dinding kayu dan bambu itu harus dijebolnya untuk dapat dengan segera sampai di ruang dalam.

Baru ketika tengah malam itu telah lewat, terjadilah sesuatu. Beberapa orang terdengar hilir-mudik di halaman, bahkan beberapa diantaranya telah berada di halaman belakang.

Hati Manahan dan Handaka kemudian berdebar-debar pula. Karena itu, meskipun mereka masih tetap berbaring, tetapi siap untuk melakukan setiap gerakan yang perlu. Apalagi ketika dengan telinga yang tajam mereka mendengar ada nafas orang dekat di muka pintu ruang, malahan mereka melihat pula dinding ruang itu bergerak-gerak.

Pastilah bahwa ada orang yang sedang mengintip. Namun demikian mereka masih tetap berbaring, sehingga tidak menimbulkan suatu kecurigaan.

Tetapi sampai beberapa lama, mereka sama sekali tak mengalami sesuatu. Meskipun langkah-langkah di halaman masih saja terdengar, namun agaknya mereka, yang hilir-mudik itu tak berbuat lain kecuali berjalan kesana-kemari. Sehingga dengan demikian Manahan menduga bahwa orang-orang itu hanyalah ditugaskan untuk mengawasi Wiradapa. Sedang Wiradapa agaknya tidak mau membuat perkara. Ia masih tetap di dalam rumahnya, meskipun masih juga kadang-kadang terdengar suara senjatanya yang agaknya tak lepas dari tangannya.

Dengan demikian rumah itu diliputi oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Manahan dan Bagus Handaka sama sekali tidak mencemaskan keadaan mereka, karena mereka merasa cukup mampu untuk menjaga diri. Tetapi mereka menjadi tegang pula, karena teka-teki yang mengetuk-ngetuk perasaan mereka terus-menerus sejak siang tadi. Mereka ingin teka-teki itu segera terpecahkan.

Tetapi ketika malam sudah semakin dalam, terdengarlah hiruk-pikuk di kejauhan.

Segera Manahan dan Bagus Handaka bangkit untuk memperhatikan suara-suara itu, yang semakin lama terdengar semakin riuh. Dengan pengetahuannya yang tinggi, Manahan segera mengetahui bahwa keributan itu adalah keributan pertempuran. Tetapi ia tidak dapat menebak pihak-pihak manakah yang sedang bertempur itu. Mungkin pihak penduduk pedukuhan itu di bawah pimpinan lurah mereka sedang menyerang Sawung Sariti dengan para pengikutnya.

Kalau demikian, maka besar kemungkinannya laskar Gedangan akan dimusnahkan. Tetapi kalau demikian halnya, lalu siapakah yang berdiri di belakang lurah Gedangan itu, yang menjanjikan hadiah besar?

Sesaat kemudian tiba-tiba terdengar Wiradapa menggeram, lalu berteriak, Siapakah di luar…?

Terdengar suara tertawa pendek. Kemudian jawabnya, Kau tak perlu mengenal aku, Wiradapa.

Baik, aku tak perlu mengenal kau, sahut Wiradapa. Tapi hentikan pengkhianatan itu.

Manahan dan Bagus Handaka berdebar-debar dan cemas mendengar percakapan itu, tetapi juga terkejut.

TERNYATA yang berada di halaman bukanlah laskar Gedangan. Dan karena kekalutan itu Manahan dan Bagus Handaka menjadi ragu-ragu untuk berpihak.

Kalau kalian tak mau menghentikan pengkhianatan itu, aku yang akan berbuat, terdengar kembali Wiradapa berteriak.

Dan kembali terdengar tawa menyeramkan di halaman.

Kau jangan berlagak Wiradapa. Seandainya kau memiliki kesaktian sekalipun kau tak akan memenangkan kami berenam. Karena itu, tetaplah kau di rumahmu sampai ada keputusan hukuman apa yang harus kau jalani besok.

Gila…! potong Wiradapa. Kau kira aku sebangsa cacing yang tak mampu berbuat apa-apa. Cobalah kalian, meskipun berenam memasuki rumahku ini. Jangan harap dapat keluar lagi dengan selamat.

Luar biasa, teriak orang lain dari halaman. Sayang kami tak mendapat perintah untuk memasukinya.

Wiradapa tidak menjawab. Tetapi ia menggeram penuh kemarahan. Kemudian terdengar langkahnya hilir-mudik di dalam rumahnya.

Kegelisahan di rumah itu tidak saja mencengkam hati Wiradapa, tetapi juga merayap-rayap di kepala Manahan dan Bagus Handaka. Sehingga tanpa disengaja Manahanpun kemudian bangkit dan berjalan pula hilir mudik di dalam ruangan, sedang Bagus Handaka menjadi asik bermain-main dengan ujung tombaknya yang keramat, Kyai Bancak.

Ternyata pertempuran yang hiruk pikuk itu tak berlangsung lama. Sesaat kemudian suara itu telah lenyap. Tetapi justru karena itu Manahan jadi curiga. Ia mendapat firasat bahwa ada suatu permainan yang kotor di balik segala peristiwa ini.

Ia kemudian teringat akan kelicikan Lembu Sora. Tidaklah mustahil bahwa anaknya pun akan berbuat demikian.

Belum lagi Manahan mendapat suatu perkiraan apa-apa, terdengarlah beberapa ekor kuda berderap memasuki halaman, langsung mengepung rumah. Lamat-lamat terdengar suara Wiradapa marah.

Setan. Orang itu benar-benar cari perkara.

Kemudian disusul sebuah teriakan di halaman, Masih adakah tikus itu di dalam?
Masih, Tuan, jawab yang lain dari halaman pula.

Bagus, ia harus bertanggungjawab atas peristiwa itu, sahut yang tadi.
Lalu terdengarlah beberapa orang berloncatan turun, disusul oleh ketukan pada pintu rumah Wiradapa. He, Wiradapa. Bukalah pintu.
Siapakah kau? teriak Wiradapa dari dalam.

Apa pedulimu. Tak ada kesempatan untuk bermanis-manis dan sapa-menyapa. Buka pintu dan ikuti aku menghadap Anakmas Sawung Sariti, jawab yang di luar.

Aku bukan pegawainya. Buat apa aku menghadap? sahut Wiradapa dengan beraninya.

Mendengar jawaban itu Manahan dan Bagus Handaka saling berpandangan. Agaknya Wiradapa tidak berdiri di pihak Sawung Sariti. Tiba-tiba perasaan mereka jadi lega. Kalau sampai mereka terpaksa melibatkan diri, mereka tidak perlu segan-segan. Sebab mereka itu pasti tidak akan membantu anak Lembu Sora itu.

Sementara itu terdengarlah beberapa orang tertawa berderai. Dan kembali terdengar seseorang berkata, Kau terlalu sombong Wiradapa, apakah kau kira pintu rumahmu berlapis baja? Dan kau sendiri bertulang besi, sehingga berani membantah perintah ini?

Aku kira kau juga belum bertulang besi, jawab Wiradapa dengan beraninya. Karena itu buat apa aku takut? Cobalah pecahkan pintu. Aku ingin melihat kalau kau berani.

Agaknya yang di luar pun jadi ragu. Terdengarlah ia mengumpat dan kemudian berkata, Wiradapa, kalau kau jantan, keluarlah.

Sekarang terdengar suara Wiradapa menghina, Jangan bicara tentang kejantanan. Kalau kau datang sendiri sebagai jantan sejati, akan aku sambut di halaman dengan penuh kejantanan.

Kembali terdengar orang itu mengumpat-umpat. Kemudian berkatalah ia kepada anak buahnya, Biarlah ia hidup sampai esok pagi. Jagalah jangan sampai lolos. Juga orang-orang malas yang tidur di ruang belakang. Ada kerja buat mereka esok.
Baik Kakang, jawab yang lain.

Setelah itu terdengar derap kuda menjauh.

Tetapi tidak beberapa lama kemudian terdengar derap itu mendekat kembali. Bahkan lebih banyak lagi. Ketika kuda itu telah berhenti di halaman, terdengar suara yang sudah dikenal oleh Manahan dan Bagus Handaka. Yaitu suara Sawung Sariti.

Wiradapa, kau benar-benar tidak mau keluar? Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kau mengkhianati kami, sehingga beberapa orang kami jadi korban.
Jangan coba putar-balikkan keadaan, bantah Wiradapa dari dalam.

Bagus, kalau kau tak mau keluar, aku suruh bakar rumahmu ini, ancam Sawung Sariti, maka musnahlah Wiradapa sekeluarga.

Gila! teriak Wiradapa.

Begitukah cara putra kepala daerah perdikan yang besar memaksakan kehendaknya kepada orang lain?

Terdengar Sawung Sariti tertawa dengan nada yang tinggi. Kemudian katanya, Aku tidak perduli. Keluarlah. Rumah dan keluargamu akan selamat. Mungkin kau juga akan selamat kalau ternyata kau tak bersalah. Juga suruh orang-orang malas peliharaanmu itu pergi bersama kau. Ada pekerjaan untuknya.

Kemudian suasana dicengkam oleh kesepian. Bagus Handaka memandang Manahan dengan penuh pertanyaan. Hal itu diketahui oleh Manahan, sehingga terdengar ia berbisik, Kita ikuti mereka Handaka, Jaga dirimu baik-baik. Agaknya pada suatu saat kita harus bertindak.

Handaka mengangguk, ketika bersamaan dengan itu terdengar langkah menuju ke ruangan itu. Sesaat kemudian terdengar orang membentak-bentak, Ayo keluar! Keluar…!

SEKALI lagi Handaka memandang wajah Manahan yang tetap tenang, seperti air di telaga yang dilindungi oleh gunung-gunung dari gangguan angin. Ketika Manahan menganggukkan kepalanya, Handakapun berdiri, lalu bersama-sama melangkah ke arah pintu. Demikian pintu terbuka, menyerbulah beberapa orang masuk. Manahan dan Handaka segera didorong keluar dengan bentakan-bentakan yang kasar.

Di luar, gelap malam masih membalut seluruh pedukuhan kecil yang sepi itu. Namun saat itu digemparkan oleh kedatangan tamu-tamu dari Banyubiru yang agaknya membuat keributan.

Kemudian mereka digiring ke halaman depan, dan di sana ternyata Wiradapa pun terpaksa keluar rumah pula. Ia masih memperhitungkan keselamatan keluarganya, sehingga ketika rumahnya diancam akan dibakar, terpaksa ia mengambil keputusan lain.

Dengan dikawal kuat, mereka bertiga segera dibawa ke kalurahan. Sawung Sariti, dengan naik kuda, berlari mendahului.

Sampai di pendapa kelurahan, Manahan melihat beberapa orang bersenjata siap berjaga-jaga. Nampaknya mereka adalah gabungan dari laskar pedukuhan itu bersama-sama dengan Laskar Pamingit. Sedang diantara mereka tidak tampak seorang pun dari Banyubiru. Manahan yang tajam pandangannya, segera memperhitungkan keadaan itu.

Wiradapa kemudian sebagai seorang pesakitan dihadapkan kepada Sawung Sariti yang duduk di samping lurah pedukuhan itu.

Wiradapa… kata Sawung Sariti dengan lagak seorang hakim.

Sadarkah kau akan segala perbuatanmu?

Wiradapa memandang Sawung Sariti dengan penuh kebencian. Aku berbuat dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab untuk kebaikan nama pedukuhan yang telah aku bina berpuluh tahun.

Tutup mulutmu! bentak Sawung Sariti, Jangan coba berkata yang bukan-bukan. Aku bertanya dan minta pertanggungjawabanmu atas kematian orangku yang paling baik. Bukankah kau telah membuat gerombolan untuk merampok kami?
Wiradapa menggeram marah.

Setan pun tak akan percaya ocehanmu, jawabnya.

Sawung Sariti menjadi marah sekali. Dengan nada yang tinggi ia berkata hampir menjerit, Widarapa. Kau telah menghina rombongan kami. Apakah kau kira bahwa kami tak mampu bertindak? Dengarlah baik-baik. Rombongan kami dengan kekuatan cukup akan dapat memusnahkan seluruh pedukuhan ini. Tetapi kami tidak akan berbuat demikian. Kami tahu bahwa tidak seluruh penduduk ini bersalah, ternyata bahkan ada beberapa orang yang membantu kami. Dan aku akan berterima kasih kepada mereka itu. Sekarang katakan kepada kami siapakah yang turut dalam penyerbuan itu. Atau batangkali kau minta bantuan kepada salah satu gerombolan di sekitar daerah ini? Malahan mungkin dua orang yang kau sebut perantau malas itu adalah anggota gerombolan pula

Mata Wiradapa menjadi menyala-nyala. Dengan gigi gemeretak ia menyahut, Jangan banyak bicara. Apakah sebenarnya maksudmu? Membunuh aku atas permintaan lurah pengecut itu, supaya aku tidak selalu membayanginya? Aku menolak turut dalam permainan gila-gilaan itu, tetapi agaknya lurah yang tamak itu takut aku membuka rahasia.

Diam! bentak lurah yang sejak tadi berdiam diri.

Kau mau menyeret orang lain masuk ke jurang yang telah kau gali sendiri?

Wiradapa tertawa rendah, Pengecut!

Kau pengecut, sahut Sawung Sariti. Nah rakyat Gedangan…. Pedukuhanmu telah dinodai oleh Wiradapa. Untunglah bahwa aku tidak memusnahkan kalian. Tetapi aku menuntut kesetiaan kalian pada pedukuhanmu ini. Apakah yang dapat kau lakukan untuk membuktikan itu? Sedang sekarang di hadapanmu berdiri seorang pengkhianat.

Akibat kata-kata Sawung Sariti itu dalam sekali. Segera, semua mata orang yang hadir di pendapa tertuju kepada Wiradapa. Wajah-wajah itu kemudian menjadi semakin tegang, semakin tegang, disusul kata-kata lurah mereka, Atas nama pimpinanmu, bertindaklah.

Kata-kata itu merupakan aba-aba yang serentak menggerakkan orang-orang Gedangan yang berdiri di pendapa itu. Segera mereka melangkah maju dengan senjata di tangan siap untuk membunuh Wiradapa.

Manahan terkejut menyaksikan peristiwa itu. Segera ia teringat bagaimana ia sendiri pernah mengalami fitnah yang dituduhkan oleh Lembu Sora di Banyubiru. Untunglah pada saat itu Gajah Sora sempat mencegahnya. Tetapi kali ini, pimpinan mereka justru berdiri di pihak Sawung Sariti. Maka segera ia menggamit Bagus Handaka yang segera dapat menanggapi.

Maka berbisiklah Manahan, Handaka, kita bebaskan Wiradapa. Tetapi aku tetap ingin mengetahui siapakah yang terbunuh diantara rombongan Sawung Sariti. Karena itu marilah kita menarik perhatian mereka dengan melarikan diri. Tetapi ingat, kita harus tertangkap.

Lalu apakah mereka tidak akan membunuh kita? tanya Handaka.
Tidak, sebab ada sesuatu yang harus kita lakukan. Mungkin sesuatu yang sangat rahasia. Baru sesudah itu kita akan dibunuh, jawab Manahan.

Bagus Handaka menarik nafas. Tugas itu sebenarnya sangat berat dan berbahaya. Manahan dapat membaca perasaan Handaka itu, namun ia hanya tersenyum. Ketika orang-orang di pendapa sudah semakin ribut, tiba-tiba meloncatlah Manahan melarikan diri diikuti oleh Bagus Handaka. Tetapi mereka sama sekali tidak berusaha untuk bersembunyi. Dengan ketolol-tololan mereka berlari sepanjang jalan pedukuhan.

Melihat Manahan dan Bagus Handaka lari, beberapa orang berteriak-teriak memanggil, dan beberapa orang yang cepat berpikir segera mengejarnya. Perhatian seluruh isi pendapa kemudian terpusat kepada Manahan dan anaknya yang sedang berusaha melarikan diri.

Tangkap mereka… teriak Sawung Sariti. 

TETAPI agaknya ia tidak begitu percaya kepada anak buahnya, sehingga ia sendiri kemudian melompat dengan tangkasnya, dan seperti anak panah ia terbang mendahului orang-orang yang telah lebih dahulu mengejar Manahan dan Handaka.
Manahan dan Handaka yang memang tidak benar-benar akan melarikan diri, sengaja memperlambat langkah mereka, setelah cukup jarak yang mereka tempuh untuk memberi kesempatan kepada Wiradapa melenyapkan dirinya. Tetapi telinga Manahan segera menangkap langkah yang sangat cekatan menyusulnya. Dengan agak terkejut Manahan menoleh. Dan dengan kagum ia melihat Sawung Sariti menghambur ke arahnya.

Berhenti! teriak anak muda itu.

Manahan dan Bagus Handaka masih berpura-pura lari. Namun dalam hati Manahan dihinggapi oleh suatu pertanyaan baru. Alangkah hebatnya anak itu. Menilik gerak serta langkahnya, agaknya Sawung Sariti telah memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Sebentar kemudian anak muda itu telah dapat menyusul Manahan. Tangannya segera menyambar baju perantau yang malang itu, sedang tangannya yang lain terayun deras ke arah rahang Manahan. Manahan sama sekali tidak berusaha mengelak ketika sebuah pukulan yang keras mengenainya. Dengan keras ia terlontar ke belakang dan akhirnya ia jatuh berguling-guling sambil berteriak-teriak, Ampun Tuan Muda…, ampun.

Tetapi dalam pada itu ia dapat mengukur sampai dimana kekuatan Sawung Sariti, yang benar-benar membuatnya heran. Tenaga anak muda itu benar-benar mengagumkan. Untunglah bahwa yang dikenainya adalah Manahan. Kalau saja Manahan benar-benar seorang perantau, maka Sawung Sariti telah membuat suatu kesalahan, sebab kepala perantau itu pasti akan retak dibuatnya. 

Sesaat ia telah mencoba-coba membanding-bandingkan anak itu dengan Bagus Handaka. Apakah Bagus Handaka juga memiliki kekuatan sebesar itu? Namun agaknya ia tidak perlu mencemaskan muridnya, meskipun ia belum yakin benar bahwa Handaka dapat melebihi kekuatan Sawung Sariti.

Kau mencoba untuk melarikan diri he…? Kemudian terdengar Sawung Sariti membentak-bentak marah. Sementara itu orang-orang yang lain berdatangan pula.

Tidak Tuan Muda, tidak, rintih Manahan, sedang Bagus Handaka berdiri tidak jauh darinya dengan gigi yang terkatub rapat.

Apa kau bilang? teriak Sawung Sariti. Dengan berbuat begitu kau masih ingkar bahwa kau akan melarikan diri?

Tidak Tuan Muda, aku tidak akan melarikan diri. Tetapi aku takut, jawab Manahan.

Takut? Apa yang kau takutkan? potong anak muda itu.

Aku takut melihat pembunuhan, sambung Manahan dengan suara gemetar.

Tanya jawab itu kemudian terhenti ketika kemudian datang pula beberapa orang berlari-lari.

Ada apa kalian menyusul? tanya Sawung Sariti marah.
Wiradapa melarikan diri, Tuan, jawab orang itu.

He, apa kau bilang? Mata Sawung Sariti kemudian menyala-nyala, dengan suara yang gemetar ia meneruskan, Kau bilang Wiradapa melarikan diri?

Ya, Tuan, jawab orang itu ketakutan.

Tiba-tiba semuanya dikejutkan oleh gerakan Sawung Sariti yang hampir tak terlihat kecepatannya, disusul oleh teriakan ngeri. Orang yang berdiri di hadapannya itu terlempar beberapa langkah dan kemudian terjatuh sambil mengerang kesakitan.
Setan…! gerutunya. 

Apakah yang kalian kerjakan…? Dan buat apa aku mengupah kalian? Menjaga seekor tikus sakit-sakitan saja kalian tidak mampu. Ayo cari sampai ketemu. Kalau tidak, kalian jadi gantinya.

Beberapa orang berdiri bingung, sampai terdengar Sawung Sariti berteriak, Pergi, pergi monyet…!

Dan bubarlah orang-orang itu berlari bertebaran untuk mencari Wiradapa.
Setelah orang-orang itu pergi, Sawung Sariti memandang Manahan dan Handaka dengan geramnya. Dengan menahan kemarahan ia berdesis, Orang-orang gila inilah yang telah merusak rencanaku.

Kemudian katanya kepada salah seorang pengikutnya, Bawa mereka kembali ke kelurahan.

Beberapa orang segera bergerak menangkap tangan Manahan dan Handaka. Dengan kasarnya mereka didorong-dorong, bahkan kadang-kadang ditendang-tendang untuk pergi kembali ke pendapa kelurahan.

Sampai di pendapa kalurahan, Sawung Sariti membentak-bentak tak habis-habisnya. Beberapa buah tempat duduk dibanting-bantingnya hingga pecah berderak-derak. Semuanya memandang anak muda yang perkasa itu dengan ketakutan. Tetapi diantara segenap mata yang kecemasan itu, memancarlah keriangan di mata Bagus Handaka. Ia melihat kegesitan sikap Sawung Sariti. Dengan demikian ia menjadi gembira. Mudah-mudahan ia mendapat kesempatan yang baik.

Bapak… bisik Handaka perlahan-lahan, Anak muda itu hebat sekali. Mudah-mudahan aku mendapat kawan berlatih yang cukup baik.

Mendengar bisik muridnya, Manahan tersenyum, namun ditahannya. Hati-hatilah. Agaknya ia pun memiliki ilmu yang cukup.

Handaka masih akan berkata lagi, tetapi tidak jadi, karena terdengar Sawung Sariti berteriak, Paman Lurah Gedangan. Aku tidak mau rencanaku gagal sama sekali. Karena itu pekerjaan pemalas-pemalas itu tidak dapat ditunda sampai besok.

Lurah Gedangan yang ketakutan pula segera menjawab, Terserah Tuan.
Perintahkan pada orang-orang itu semua untuk berjaga-jaga di luar. Besok mereka harus mengubur orang-orangku yang gugur. Tak seorang pun boleh meninggalkan pendapa, perintah Sawung Sariti lantang. 

SEGERA Lurah Gedangan itu menirukan perintah Sawung Sariti, bahkan sampai pada kata-katanya pun ia tidak berani mengubahnya.

He Manahan dan Handaka… Terdengar Sawung Sariti memanggil. Aku mempunyai pekerjaan untukmu berdua. Aku tidak bisa menunggu sampai besok karena kau telah mencoba melarikan diri.

Manahan dan Handaka pun segera berdiri sambil mengangguk hormat. Jawab Manahan, Apapun yang diperintahkan kepada kami, selama kami mampu melakukannya, pasti akan kami junjung tinggi.

Diam! bentak Sawung Sariti. 

Mau atau tidak mau bukanlah urusanku. Tetapi pekerjaan itu harus kau selesaikan. Mari ikuti aku.

Manahan jadi ragu sebentar, tetapi kemudian segera ia naik ke pendapa diikuti oleh Handaka. Tetapi langkah mereka terhenti ketika terjadi ribut-ribut di luar. Ketika mereka menoleh, tampaklah Wiradapa digiring ke pendapa. Dari pelipisnya mengalir darah segar. Sedang dua tiga orang yang menangkapnya menderita luka-luka pula. Agaknya Wiradapa telah melawan dengan gagah berani.

Monyet itu tertangkap pula, teriak Sawung Sariti.
Ya, Tuan Muda, jawab salah seorang diantaranya dengan bangga.
Bagus…. Nah, kau akan aku ikutsertakan dengan para pemalas sahabat-sahabatmu ini. Ayo ikuti aku, perintahnya pula kepada Wiradapa.

Kemudian beberapa orang mendorong Wiradapa dengan kuatnya sehingga hampir saja ia tertelungkup.
Kalau kau tidak mencoba lari, hidupmu masih mungkin aku pertimbangkan, gerutu Sawung Sariti.
Kemudian Manahan, Handaka dan Wiradapa segera dibawa masuk oleh Sawung Sariti dengan hanya diikuti oleh lurah Gedangan dan pengawalnya. Sampai di ruang dalam, mereka melihat tiga sosok mayat terbujur di lantai. Sambil menyeringai Sawung Sariti berkata, Lihat tiga diantara para korbanmu.

Wiradapa tidak menjawab, hanya wajahnya yang menegang. Sekali pukul aku sanggup memecahkan kepala kalian bertiga, katanya.
Setelah berkata demikian, Sawung Sariti membawa ketiga orang tawanan itu ke ruang yang lain. Mereka jadi terkejut pula ketika samar-samar di bawah sinar lampu mereka melihat pula sesosok tubuh terbaring diam.

Itulah pekerjaan kalian, katanya. 

Kalian harus membawa mayat itu ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Pak Lurah.
Wiradapa memandang lurahnya dengan mata yang memancarkan perasaan dendam tiada taranya. Sehingga dari mulutnya meluncurlah umpatan yang kasar, Kakang Lurah, kelakuanmu lebih rendah dari anjing. Dan sekarang kau mau mencuci bekas-bekasnya dengan melenyapkan aku.

Wiradapa terpental menubruk dinding. Meskipun Sawung Sariti tidak mengerahkan segenap kekuatannya, namun telah cukup menjadikan mata Wiradapa berkunang-kunang. Tetapi Manahan kagum akan ketetapan hatinya. Meskipun dengan susah payah ia bangkit namun wajahnya masih memancarkan dendam dan kebencian. Ia sama sekali tidak takut menghadapi segala macam bencana yang akan dialami.

Melihat sikap Wiradapa yang demikian, Sawung Sariti menjadi semakin marah. Wiradapa, lebih baik kau mempergunakan saat terakhirmu sebaik-baiknya. Atas kemurahan hatiku, sesudah kau bertiga mengubur mayat itu, kalian boleh memilih cara yang kau anggap baik untuk membunuh kalian, dengan demikian kalian tidak akan membuka rahasia tempat pemakaman nanti.

Mendengar kata-kata itu, hati Manahan berdesir hebat. Inilah agaknya permainan yang dilakukan oleh Sawung Sariti. Sampai sekian, beberapa hal telah dapat diduga oleh Manahan. 

Agaknya Sawung Sariti telah bersekutu dengan lurah Gedangan. Lurah itu harus berhubungan dengan orang-orang yang harus menyerang mereka. Beberapa korban harus jatuh, dan diantaranya terdapat seorang yang penting. Orang itu pasti merupakan bayangan yang menakutkan bagi Sawung Sariti, sehingga harus disingkirkan dengan tidak meninggalkan kesan. Sampai kuburannya pun harus dirahasiakan pula.

Kalau kemudian ternyata diketahui, bahwa orang itu terbunuh, Sawung Sariti pun dapat cuci tangan. Pembunuhan itu dilakukan oleh gerombolan perampok yang akan merampok rombongan mereka, dan mayatnya tidak diketahui. Tetapi apabila mungkin orang itu hanya akan dinyatakan hilang, pergi tidak pamit dan sebagainya.

Dalam kesibukannya Manahan dikejutkan oleh bentakan Sawung Sariti, Ayo cepat, apa yang kalian tunggu lagi? Kalau kalian sampai berbuat aneh-aneh, maka akulah yang akan menentukan jalan kematian yang harus kau tempuh. Aku dapat berbuat apa saja yang mungkin tidak kalian duga-duga.

Agaknya Wiradapa berkeberatan dengan persetujuan itu. Ia lebih baik mati di tempat daripada harus menurut perintah gila-gilaan itu. Tetapi Manahan yang mula-mula melangkah maju disusul oleh Handaka. Wiradapa memandang Manahan dan Handaka dengan mata yang kecewa dan menghina.

Kalian mau melakukan perbuatan itu. Pengecut. Matilah sebagai seorang jantan… 

Sekali lagi kata Wiradapa terputus oleh sebuah pukulan yang keras. Tetapi kali ini ia mengelak. Bahkan ia membalas menyerang pula. Kembali Manahan kagum melihat kejantanan orang itu, meskipun ia yakin bahwa Sawung Sariti bukanlah lawannya. 

Dan itu ternyata dalam beberapa saat yang pendek saja. Dengan cepatnya Sawung Sariti berhasil menangkap tangan Wiradapa, dan sekali putar Wiradapa sudah tidak berdaya lagi.

Orang gila! geram Sawung Sariti, dan kemudian katanya kepada Manahan, Kau akan mendapat pekerjaan baru nanti. Mengubur orang ini hidup-hidup.

Hati Manahan dan Handaka terlonjak mendengar perintah itu. Namun hal itu lebih baik. Sebab dengan demikian ada kesempatan baginya untuk menolong orang itu. 

KEMUDIAN justru Manahan dan Handaka yang tidak sabar lagi. Segera ia ingin mengetahui siapakah yang terbaring di hadapannya itu. Maka ketika ia sudah berdiri di samping mayat itu, cepat tangannya bergerak menarik kerudungnya.

He… teriak Sawung Sariti terkejut. Apa yang kau lakukan itu…? Apakah kau juga ingin mendapat hukuman yang sama dengan orang ini?

Tetapi Manahan sama sekali tak mempedulikan teriakan Sawung Sariti itu, sehingga akhirnya terbukalah kerudung mayat itu. Dengan demikian, di bawah sinar lampu yang samar-samar, yang seolah ikut serta berduka atas kematian beberapa orang yang tak berdosa, Manahan dan Handaka dapat melihat siapakah yang terbaring tak bergerak di hadapannya dengan wajah putih pucat serta membayangkan ketulusan hatinya. Melihat wajah yang pucat itu Manahan dan Bagus Handaka terlonjak. Hatinya bergelora seperti akan memecahkan dadanya, sehingga kemudian tubuhnya menggigil hebat.

Sementara itu terdengarlah Sawung Sariti menghardik penuh kemarahan, He, pemalas-pemalas yang tak tahu diri. Apa urusanmu dengan mayat itu, sehingga kau berani membuka kerudungnya? Ingat, bahwa aku dapat membunuhmu dengan cara yang lebih hebat daripada dikubur hidup-hidup.

Tetapi Manahan dan Bagus Handaka tidak mendengar suara itu. Mereka sedang berjuang untuk menguasai perasaannya. Namun agaknya Bagus Handaka sudah tidak kuasa lagi menahan dirinya. Seperti kilat ia meloncat dan sekejap kemudian ia sudah berdiri di hadapan Sawung Sariti. 

Sawung Sariti, Lurah Gedangan, Wiradapa dan dua orang pengawal Sawung Sariti terkejut melihat gerakan itu. Apalagi ketika dengan gigi gemeretak Handaka berteriak nyaring, Sawung Sariti, kau benar-benar biadab. Apakah keuntunganmu dengan membunuh Paman Sawungrana? Mungkin kau takut bahwa pada suatu ketika orang mengetahui bahwa kau sama sekali tak berhak mengaku diri putra kepala tanah perdikan Banyubiru. Karena itu kau menganggap perlu untuk menyingkirkan orang yang paling mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Karena terkejut, untuk beberapa lama Sawung Sariti berdiri seperti patung. Tetapi kemudian tiba-tiba dengan tidak berkata apapun, ia langsung menyerang Handaka dengan hebatnya. Tangannya dengan keras mengarah ke rahang, sedang tangannya yang lain menyambar leher. Ia bermaksud melumpuhkan lawannya dengan sekali gerak. Tetapi ternyata anak perantau malas yang berdiri di hadapannya itu benar-benar telah membingungkan benaknya.

Dengan gerak yang tangkas Handaka menggeser tubuhnya sehingga serangan Sawung Sariti tidak mengenai sasarannya. Kembali Sawung Sariti terpaku. Tetapi hanya sesaat. Ia sadar bahwa ia harus menyelamatkan dirinya ketika Handaka membalas menyerangnya. 

Sehingga sekejap kemudian terjadilah pertempuran diantara kedua anak muda itu. Namun sampai sekian Sawung Sariti masih sangat merendahkan lawannya.
Ketika para pengawalnya akan bertindak, ia berteriak dengan sombongnya, Biarkan anak yang sombong itu mengenal aku dengan baik. Jangan diganggu. 

Maka berlangsunglah kemudian perkelahian yang sengit. Karena Sawung Sariti bertempur seorang diri, Manahan pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Malah tiba-tiba timbul keinginannya untuk mengetahui sampai di mana perbandingan ilmu yang dimiliki oleh kedua anak muda itu.

Beberapa saat kemudian, Sawung Sariti segera diganggu oleh kerisauan hatinya. Karena sama sekali ia tidak menduga bahwa anak perantau malas itu mampu melawannya sampai beberapa lama. Karena itu semakin mendidihlah darahnya. Timbullah berbagai dugaan mengenai anak itu. Sehingga sambil bertempur berteriaklah ia, Hei anak gila, apakah kau belum pernah mendengar nama Sawung Sariti dengan baik? Atau barangkali kau baru sekarat. Nah katakan kepadaku siapakah sebenarnya kau ini. Mungkin benar dugaanku bahwa kau adalah salah seorang dari gerombolan perampok, menilik ketangkasanmu. Tetapi jangan mimpi dapat meluputkan diri dari hukumanku atas kelancanganmu ini.

Bagus Handaka memberi kesempatan Sawung Sariti sampai habis berbicara, tetapi setelah itu seperti angin ribut ia menyerang dengan dahsyatnya. Sekali lagi Sawung Sariti terkejut. Dengan agak sibuk ia berusaha membebaskan dirinya. Untunglah bahwa ia pun memiliki kepandaian yang cukup sehingga dengan suatu gerakan melingkar dan meloncat ia dapat menghindari serangan Bagus Handaka.

Kemudian pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sedang Sawung Sariti menjadi semakin heran pula melihat tandang lawannya. Tetapi Manahan yang menyaksikan pertempuran itu tidak pula kalah herannya. Ia melihat Sawung Sariti dapat mengimbangi muridnya. Ia tahu pasti bahwa seandainya ilmu yang diterimanya khusus dari ayahnya, maka mustahil bahwa dalam waktu yang singkat itu Sawung Sariti telah memiliki ilmu yang sedemikian tinggi.

Akhirnya Manahan sampai pada suatu kesimpulan yang sangat menggelisahkan, bahkan menyedihkan hatinya. Ia menduga bahwa sepeninggalnya, Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Banyubiru, dengan atau tanpa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. 

TETAPI menilik Sawung Sariti masih mencarinya, maka kemungkinan besar kedua keris itu masih belum diketemukan. Tetapi agaknya orang tua itu telah menerima keterangan yang salah tentang daerah perdikan itu.

Dengan licinnya Lembu Sora pasti membujuknya, sehingga orang tua itu percaya pada kisah yang disusunnya. Maka karena tidak ada keturunan lain yang dapat diharap meneruskan dan mewarisi ilmunya, maka Sawung Sariti telah menerima langsung pelajaran dari orang tua itu.

Pertempuran itu berlangsung semakin lama semakin dahsyat. Sedang hati Manahan semakin gelisah pula. Sebab ia melihat pertarungan antara hidup dan mati dari cabang perguruan Ki Ageng Sora Dipayana. Dua orang sahabat yang pada masa-masa yang silam selalu bekerja bersama untuk kesejahteraan umat manusia. Tetapi pada saat itu, ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Manahan sama sekali tidak dapat melerainya, karena apa yang dilakukan oleh Sawung Sariti telah jauh menyimpang dari sifat keutamaan ilmu Ki Ageng Sora Dipayana. Sedang agaknya Kyai Ageng Sora Dipayana telah bekerja mati-matian menurunkan ilmu itu kepadanya. Ternyata dengan ketangkasan dan keperkasaan Sawung Sariti, yang dengan tangkasnya, bertempur melawan Bagus Handaka. 

Untunglah bahwa Bagus Handaka pernah mengalami kemajuan yang pesat sekali, selama enam malam di pantai Tegal Arang. Dimana seorang yang berilmu mumpuni berpura-pura menyerangnya setiap malam berturut-turut. Kalau seandainya Bagus Handaka hanya melulu menerima pelajaran darinya tanpa suatu loncatan, maka bagaimana bisa muridnya itu mampu melawan murid Ki Ageng Sora Dipayana. 

Tetapi ternyata bahwa kedua anak itu berimbang.

Mengalami perlawanan yang tidak kalah hebatnya dari ilmunya sendiri, Sawung Sariti menjadi gelisah. Ia menjadi curiga terhadap anak muda yang melawannya itu. Maka sekali lagi ia berteriak, He anak sombong, siapakah sebenarnya kau? Dan darimanakah kau mengenal bahwa yang gugur itu Paman Sawungrana?

Handaka menyeringai marah sambil menjawab, Buat apa kau tahu siapakah aku. Sebab sebentar lagi namamu akan terhapus dari muka bumi.

Sawung Sariti adalah seorang anak muda yang sombong. Selama hidupnya ia selalu dihormati dan dimanjakan. Karena itu ketika ia mendengar jawaban Bagus Handaka, hatinya bertambah menyala-nyala. Karena itu ia tidak lagi berpikir lain kecuali membinasakan lawannya. Ia tidak lagi mempedulikan apakah lawannya bersenjata atau tidak.

Cepat seperti kilat tangan Sawung Sariti menarik pedangnya dan diputarnya seperti baling-baling. Ternyata ketangkasannya mengolah senjata tidak mengecewakan pula.

Melihat lawannya bermain pedang, Handaka meloncat beberapa langkah mundur, dan dengan gerak yang tidak kalah cepatnya tangannya telah memegang sebuah ujung tombak bertangkai pendek. Itulah Kyai Bancak. Tanda kebesaran tanah perdikan Banyubiru.

Sawung Sariti sendiri belum pernah melihat tombak itu. Karena itu ia sama sekali tidak terkejut. Bahkan ia menyerang dengan garangnya. Perlawanan Bagus Handaka pun tidak kalah dahsyatnya. Agaknya salah seorang pengawalnya pernah mengenal tombak itu. Tombak yang mempunyai cahaya kebiru-biruan. Karena itu dengan gugup ia berteriak, Angger, itulah tombak Kyai Bancak.

Meskipun Sawung Sariti belum pernah melihat Kyai Bancak, ia pernah mendengarnya. Karena itu ketika ia mendengar nama itu disebutkan, ia pun menjadi terkejut dan meloncat mundur.

Bagus Handaka kini benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Maka ketika ia mendengar seseorang menyebut nama tombaknya, ia menjadi bangga, dan dengan sengaja ia ingin menunjukkan kepada Sawung Sariti bahwa tombak kebesaran Banyubiru itu ada padanya. Karena itu segera ia berteriak menjawab, He orang yang berwajah hantu, kau mengenal tombak ini…?

Karena pengaruh tombak di tangan Bagus Handaka, tiba-tiba orang itu menjadi takut dan menjawab, ya, ya… anak muda, aku kenal tombak itu.

Ayo katakan siapakah yang pernah memiliki tombak ini? desak Handaka.
Orang yang ketakutan itu menjawab gugup, Ki Ageng Gajah Sora.

Bagus… jawab Bagus Handaka, Siapakah Gajah Sora itu?

Seperti orang yang kehilangan akal orang itu menjawab, Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Bagus… ulang Bagus Handaka. 

Kalau kau tahu itu, katakan kepada anak muda sombong yang mengaku putra kepala daerah perdikan Banyubiru dan Pamingit sekaligus, bahwa Banyubiru bukanlah miliknya.

Mendengar percakapan itu Sawung Sariti menjadi berdebar-debar. Ia memang pernah mendengar ceritera tentang tombak itu. Dan ia mengetahui pula bahwa kakak sepupunya hilang tak tentu perginya, membawa Kyai Bancak.

Dalam saat yang pendek itu otaknya berputar keras. Tidak mustahil bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah kakak sepupunya. Ia pernah bergaul pada waktu kecil. Tetapi setelah beberapa tahun tidak bertemu, memang ada kemungkinan untuk tidak mengenalnya lagi. Apalagi anak muda yang berdiri di hadapannya itu wajahnya kehitaman-hitaman terbakar terik matahari serta berpakaian lusuh dan jelek. Kalau demikian, lalu siapakah yang mengaku menjadi bapaknya itu…?

Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan saja kepada anak muda yang memegang tombak itu, Anak muda yang perkasa, adakah kau sebenarnya memang berhak atas tombak itu?

Adakah kau tahu seseorang yang berhak memilikinya kecuali aku? jawab Handaka.

Menurut pendengaranku, satu-satunya orang yang berhak atas tombak itu, kecuali Paman Gajah Sora yang sekarang masih di Demak, adalah putranya yang bernama Arya Salaka, sahut Sawung Sariti.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja (1933 – 1999)
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: