Tanah Warisan | Jilid 1

- S. H. Mintardja -

TANAH WARISAN


§

AWAN yang kelabu mengalir dihanyutkan oleh angin yang kencang ke Utara. Segumpal bayangan yang kabur melintas di atas sebuah halaman rumah yang besar. Kemudian kembali sinar matahari memancar seolah-olah menghanguskan tanaman yang liar di atas halaman yang luas itu.

Seorang perempuan tua berjalan tertatih menuruni tangga pendapa rumahnya. Kemudian memungut beberapa batang kayu yang dijemurnya di halaman. Sekali-kali ia menggeliat sambil menekan punggungnya.

Dengan telapak tangannya yang kisut dihapusnya keringat yang menitik di keningnya.

“Hem,” perempuan itu berdesah.

“Kalau saja mereka masih ada di rumah ini.” perempuan itu kini berdiri tegak. Ditengadahkan wajahnya kelangit, dan dilihatnya matahari yang telah melampaui di atas kepalanya.

Tanpa sesadarnya diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Keningnya berkerut ketika dilihatnya halaman rumahnya yang menjadi liar karena tidak terpelihara. Rumah besar yang kotor dan rusak. Kandang yang kosong dan lumbung yang hampir roboh.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia membungkukkan punggungnya, memungut beberapa batang kayu bakar yang dijemurnya di halaman. Ketika perempuan itu melihat seseorang berjalan di lorong depan regol halamannya, maka ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Tetapi orang itu memalingkan wajahnya, dan berjalan semakin cepat.

“Hem,” sekali lagi perempuan tua itu berdesah. Di pandanginya orang itu sampai hilang dibalik dinding halaman rumah sebelah. Sejenak kemudian dengan langkah yang berat perempuan itu melangkah masuk ke rumahnya yang kotor dan rusak, langsung pergi ke dapur.

Perlahan-lahan ia berjongkok di depan perapian. Sebuah belanga berisi air terpanggang di atas api. Satu-satu dimasukannya batang-batang kayu bakar yang kering ke dalam lidah api yang menjilat-jilat. “Kalau anak-anak itu ada di rumah,” sekali lagi ia berdesah. Seleret kenangan meloncat ke masa lampaunya. Kepada anak-anaknya. Dua orang anak laki-laki. Tetapi keduanya tidak ada disampingnya. Tetapi perempuan tua itu mencoba menerima nasibnya dengan tabah. Kesulitan demi kesulitan, penderitaan demi penderitaan lahir dan batin telah dilampauinya. Namun seolah-olah seperti sumber air yang tidak kering-keringnya. Terus menerus datang silih berganti.

“Hukuman yang tidak ada habisnya,” desahnya. Namun kemudian ia mencoba menempatkan dirinya untuk menerima segalanya dengan ikhlas.

“Semua adalah akibat dari kesalahanku sendiri.”

Perempuan itu tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar langkah beberapa orang berlari-lari. Semakin lama semakin dekat. Perlahan-lahan ia berdesis. “Apakah mereka datang lagi?”

Ia bangkit berdiri ketika langkah-langkah itu semakin banyak berderap di jalan dimuka regol halaman bahkan ada di antaranya yang meloncat memotong melintasi halaman rumahnya.

“Tidak ada gunanya mereka berlari-lari,” gumam perempuan tua itu sambil melangkah ke pintu. Ketika kepalanya menjenguk keluar, dilihatnya beberapa orang yang terakhir melintas di bawah pohon-pohon liar dihalaman rumahnya. Sejenak kemudian perempuan tua itu mendengar derap beberapa ekor kuda mendatang. Semakin lama semakin dekat.

“Mereka benar-benar datang,” desisnya. Dan perempuan itu benar-benar melihat orang berkuda melintas cepat di jalan di muka rumahnya. Cepat-cepat perempuan tua itu menutup pintu rumahnya. Sambil menahan nafasnya ia bergumam.

“Apalagi yang akan mereka lakukan di kademangan ini?” Dan ia tidak berani membayangkan, apa saja yang telah dilakukan oleh orang-orang berkuda itu.

Sementara itu, orang-orang berkuda itupun telah memasuki beberapa buah rumah sambil berteriak-teriak kasar. Seorang yang berkumis lebat dengan sebuah parang di tangan berteriak-teriak.

“Ayo serahkan permintaanku sebulan yang lalu.”

Orang berkumis lebat itu turun di sebuah halaman yang bersih dari sebuah rumah yang bagus. Beberapa orang kawannya pun turun pula sambil mengacung-acungkan senjata masing-masing.

“Jangan sembunyi,” teriaknya.

Tetapi pintu rumah itu masih tertutup rapat.

“Buka pintunya,” ia berteriak lagi. “Kalau tidak, aku bakar rumah ini. Cepat.”

Perlahan-lahan pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki tua menjengukkan kepalanya dengan tangan gemetar. “Ha, kau ada di rumah. Jangan mencoba bersembunyi ya?”

“Tidak,” jawabnya dengan suara yang bergetar aku tidak bersembunyi.”

“Tetapi kau tidak mau membuka pintu rumah ini.”

“Aku berada dibelakang.”

“Jangan banyak bicara. Sekarang serahkan permintaanku sebulan yang lalu.”

Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Tetapi tubuhnya yang gemetar menjadi semakin gemetar.

“Ayo jangan banyak tingkah.”

“Tetapi, tetapi,” suaranya tergagap. “Aku sudah menyerahkan pajak itu kepada Ki Demang yang akan membawanya ke Pajang bersama upeti yang lain.”

“Aku tidak bertanya tentang upeti. Kau jangan mengigau lagi tentang Pajang, Demak atau kerajaan iblis sekalipun. Dengar. Sekarang sengketa antara Pajang dan Mataram menjadi semakin tajam. Kedua pasukan berhadapan di daerah Prambanan. Mereka tidak akan sempat mengurus pajak dan upeti. Karena itu, maka tugas mereka itu pun telah kami ambil alih. Kalian tidak usah menyerahkan apapun lagi kepada Ki Demang, sebab ia tidak akan menyerahkannya kepada Sultan Hadiwijaya yang sedang sibuk berkelahi melawan puteranya sendiri itu. Yang berperang biarlah berperang. Aku ingin melakukan tugas-tugas yang lain. Misalnya memungut pajak.”

Orang tua itu menjadi semakin gemetar. Kini orang berkumis itu telah berdiri didepannya. Ketika sekali tangannya disentakkan kemuka, orang tua itu terpelanting keluar.

“Berlakulah agak sopan sedikit menerima tamu,” berkata orang berkumis itu.

Tertatih-tatih orang tua itu mencoba berdiri. Kemudian katanya, “Tetapi, tetapi, semuanya telah terlanjur aku serahkan kepada Ki Demang.”

Namun belum selesai ia berkata, tangan orang berkumis itu telah menarik leher bajunya.

“Apa kau bilang? Bukankah sebulan yang lalu aku telah berkata kepadamu, bahwa kau harus menyerahkannya kepadaku, kepada kami? Kepada Panembahan Sekar Jagat?”

“Tetapi, tetapi……. suaranya terputus ketika sebuah pukulan menyentuh pipinya yang telah berkerut. “Ampun, ampun,” teriaknya sambil tertatih-tatih. Sejenak kemudian laki-laki tua itu terbanting jatuh terlentang.

“Berikan kepadaku seperti permintaanku. Kalau tidak, maka aku mengambilnya sendiri ke dalam rumahmu. Ingat, aku adalah Wanda Geni, utusan terpercaya Panembahan Sekar Jagat mengerti?”

Orang tua itu kini telah mengigil. Matanya dibayangi oleh perasaan takut tiada terhingga.

“Cepat,” teriak orang yang menamakan dirinya Wanda Geni.

“Tetapi……….,” sekali lagi suaranya terpotong. Kini bukan saja ujung parang orang berkumis itu telah menyentuh dadanya. “Apakah kau masih akan berkeberatan.”

Orang tua itu tidak dapat ingkar lagi. Kepalanya kemudian tertunduk lesu. Dengan suara gemetar ia menjawab. “Baiklah, aku akan menyerahkan apa yang masih ada padaku.”

“Bagus. Cepat. Aku masih banyak pekerjaan. Hari ini aku harus memasuki sepuluh pintu rumah.”

Orang tua yang malang itu kemudian menyeret kakinya yang lemah masuk kedalam rumahnya diikuti oleh Wanda Geni. Beberapa orang kawannya tersebar dihalaman dengan senjata masing-masing siap ditangan mereka. Betapa pun beratnya, orang tua itu terpaksa menyerahkan sebuah pendok emas yang selama ini disimpannya baik-baik. Tetapi ia masih lebih sayang kepada umurnya yang tinggal sedikit daripada kepada pendok emas itu.

“Ini adalah satu-satunya miliknya yang paling berharga,” berkata orang tua itu.

Wanda Geni tertawa. Suaranya berkepanjangan seolah-olah menelusur atas. Katanya, “Kau sangka aku dapat mempercayaimu? Kau sangka aku tidak tahu bahwa kau menyimpan pula pendok emas yang lain, yang justru kau tretes dengan intan dan berlian. Kemudian sebuah timang emas bermata berlian pula? Kau sangka aku tidak tahu, bahwa kau telah berhasil memeras orang-orang melarat disekitar ini dengan segala macam cara? Huh, jangan mencoba membohongi aku. Kau tahu, bahwa orang-orangku sebagian adalah orang-orang Kademangan ini. Orang-orang yang mengerti betul, apa yang tersimpan disetiap rumah disini.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia merasa, bahwa lebih baik diam daripada membuat Wanda Geni itu marah.

“Baiklah,” berkata Wanda Geni kemudian. “Aku akan minta diri. Kali ini aku sudah cukup dengan pendok emas ini.”

Laki-laki tua itu tidak menyahut. Kedipan matanya sajalah yang seolah-olah berteriak menyuruh orang-orang itu pergi segera dari rumahnya.

“Jangan terlampau kikir.” kata Wanda Geni kemudian.

“Semua harta bendamu itu tidak akan dapat kau bawa mati. Bukankah umurmu sudah menjelang enampuluh lima tahun.”

Laki-laki tua itu mengangguk.

“Nah, seharusnya kau sudah tidak memikirkan harta benda lagi. Kau buang sajalah semua kekayaanmu, supaya tidak membuat jalanmu menjadi gelap.”

Sekali lagi Wanda Geni tertawa. Kemudian direbutnya pendok yang masih dipegang oleh laki-laki tua itu. Dengan suara menggelegar Wanda Geni kemudian berkata. “Baik-baiklah di rumah. Aku minta diri.” Tanpa menunggu jawaban, orang berkumis itu segera melangkah keluar, turun kehalaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.

Sejenak kemudian terdengarlah ledakan cambuk disusul dengan derap kuda menjauh. Tetapi kuda-kuda itu akan segera berhenti lagi, memasuki halaman rumah yang lain dan memeras penghuni-penghuninya sambil menakut-nakutinya dengan ujung parangnya.

Sepeninggal orang-orang berkuda itu, barulah istri laki-laki tua yang kehilangan pendoknya bersama anak gadisnya berani keluar dari persembunyiannya. Dengan tubuh gemetar mereka bertanya, apa saja yang telah dibawa oleh orang- orang berkuda itu.

“Syukurlah,” berkata isterinya. “Kalau hanya sebuah pendok, kita akan merelakannya. Seribu kali rela.” “Huh,” potong laki-laki tua itu. “Aku menabung sejak aku masih muda.”

“Tetapi masih ada yang lain yang tinggal di rumah ini,” berkata isterinya.

“Lihat, kelak mereka akan kembali dan kembali lagi. Semua kekayaan kita akan dikurasnya sampai habis.”

“Tetapi itu lebih baik daripada nyawa kita yang diambilnya.”

Laki-laki tua itu menarik nafas dalam. “Tetapi ini tidak dapat berlangsung terus menerus,” geramnya. “Lalu, apakah yang dapat kita lakukan? Apakah kita akan mengungsi saja?”

“Tidak ada tempat lagi di kolong langit ini. Orang-orang besar saling berebut kekuasaan, maka kita kehilangan perlindungan. Orang-orang yang merasa dirinya kuat, berbuat sewenang-wenang untuk kepentingan diri mereka sendiri. Seperti apa yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.”

Laki-laki itu berhenti sejenak, lalu, “Sepanjang umurku baru sejak Pajang menjadi kisruh itulah aku mendengar nama Panembahan Sekar Jagat. Kalau keadaan tidak segera menjadi baik, maka akan timbul pula ditempat lain orang-orang serupa itu, yang dapat saja menyebut dirinya Ajang Sekar Langit, atau Kiai Ageng Sekar Langit atau apa saja.”

Istri dan anak gadisnya tidak menyahut. Namun ketakutan yang sangat telah membayang di wajah mereka. Dengan suara tertahan-tahan isterinya berkata sekali lagi, “Kita mengungsi dari tempat ini. Kita mencari tempat yang paling aman. Kita akan dapat hidup tentram meskipun tidak sebaik ditempat ini.”

“Sudah aku katakan, tidak ada tempat yang baik saat di Bumi Pajang telah menjadi panas. Sebentar lagi Pajang akan meledak, dan Mataram akan menjadi bara yang terlampau panas. Semua tempat akan mengalami gangguan serupa. Tidak ada seorang prajuritpun yang sempat melindungi rakyatnya dari gangguan orang-orang gila macam Panembahan Sekar Jagat itu.”

Isterinya tidak segera menyahut. Ia tidak dapat membayangkan, bagaimanakah bentuk harapan suaminya itu. Karena itu, maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya sambil memeluk anaknya.

“Sudahlah nyai,” berkata laki-laki tua itu.

“Sementara ini kita tidak akan diganggu lagi, sampai saatnya iblis itu datang dibulan depan. Aku kira mereka akan memerlukan sesuatu lagi dari padaku dan orang-orang lain yang dianggapnya cukup di Kademangan ini. Sekarang beristirahatlah. Berlakulah seperti biasa. Tidak ada apa-apa. Setidak-tidaknya untuk sebulan mendatang.”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bersama anaknya mereka pergi ke ruang belakang.

Di serambi belakang beberapa orang pembantu dan pelayan, menggigil ketakutan tanpa dapat berbuat sesuatu.

Demikianlah maka sepanjang hari itu, Wanda Geni memasuki beberapa rumah untuk mengambil apa saja yang dianggapnya berharga. Setelah kerja itu dianggapnya selesai, maka kuda-kuda mereka pun segera berderap pergi meninggalkan desa itu di dalam ketakutan dan kecemasan. Sepeninggal orang-orang berkuda itu, beberapa orang laki-laki yang bersembunyi bertebaran di gerumbul-gerumbul liar, saling bermunculan. Dengan tergesa-gesa mereka pulang ke rumah-rumah masing-masing. Mereka ingin segera tahu, apakah rumah-rumah mereka pun telah didatangi pula oleh Wanda Geni. Terutama yang merasa mempunyai simpanan sesuatu di dalam rumahnya.

Ketika orang-orang berkuda itu berpacu lewat dimuka regol rumah tua, tempat perempuan tua itu tinggal, terdengar salah seorang dari mereka sempat berteriak. “He Nyai Pruwita, kenapa kau tidak menyambut kedatangan kami?”

Perempuan tua, penghuni rumah yang kotor dan rusak, yang dipanggil Nyai Pruwita, menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berani keluar dari rumahnya, meskipun ia tahu bahwa orang-orang berkuda itu tidak akan memasuki rumahnya karena tidak ada sesuatu yang akan dapat mereka ambil. Meskipun demikian, berita yang didengarnya sedikit-sedikit tentang orang-orang berkuda itu telah membuatnya menjadi ngeri.

“Sebenarnya lebih baik bagiku untuk tidak melihat apa saja yang terjadi di Kademangan ini,” desisnya.

Tetapi perempuan tua itu tidak dapat pergi dari rumahnya. Apapun yang terjadi di desa itu, apapun yang dialaminya, baik yang ditimbulkan oleh ketakutannya tentang orang-orang berkuda, maupun sikap orang-orang Kademangan itu sendiri tidak terlampau baik kepadanya, juga betapapun rumahnya telah menjadi onggokan kayu bakar yang tidak berarti, ia akan tetap tinggal di rumah itu.

Di halaman yang luas itu. Karena rumah itu adalah rumah peninggalan.

Tanah yang didiaminya itu adalah Tanah Warisan.

“Aku ingin mati di dalam rumah ini,” desisnya setiap kali.

“Meskipun seandainya aku akan tertimbun oleh atapnya yang roboh karena hujan atau angin.”

Panggilan orang-orang berkuda itu ternyata telah menumbuhkan kebanggaannya kepada orang yang bernama Pruwita. Seorang laki-laki tampan, tegap dan berani. Tetapi laki-laki itu telah mati. Laki-laki itu di masa hidupnya adalah suaminya. Kemudian dikenangnya kedua anaknya laki-laki. Kedua anaknya telah pergi meninggalkannya ketika mereka masih terlampau muda. Bahkan masih kanak-kanak. Tanpa diketahuinya kemana mereka itu pergi.

Kini, ia hidup sendiri menunggui sebuah halaman yang luas di rumah yang besar. Namun keadannya tidak lagi seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Rumah itu sudah tidak lagi memancarkan sesuatu, selain wajah perempuan tua yang cekung dan dalam. Tetapi meskipun perempuan yang bernama Nyai Pruwita itu, seakan-akan hidup terpisah dari orang-orang disekitarnya, namun ia dapat merasakan kegelisahan yang sangat telah membakar Kademangannya.

Orang-orang yang paling penting, yang dianggapnya paling kuat diseluruh Kademangan, tidak berdaya untuk melindungi rakyatnya dari sentuhan jari-jari orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.

Demikianlah perempuan tua yang bernama Nyai Pruwita itu hidup terasing di dalam masyarakat yang sedang dibayangi oleh ketakutan, kengerian dan kecemasan. Sehingga dengan demikian, maka terasa hidupnya menjadi semakin sepi. Rumahnya yang besar dan halamannya yang luas menjadi semakin lama semakin suram. Tetapi tanah itu tidak akan ditinggalkannya, sampai maut merabanya.

Tanah warisan itu akan ditungguinya sampai akhir hayatnya.

“Kalau saja, anak-anak itu ingat kembali kepada Tanah ini,” katanya setiap kali di dalam hatinya.

“Mereka pasti akan datang. Mudah-mudahan umurku masih sempat melihat salah seorang atau bahkan kedua-duanya kembali ke rumah ini.”

Dan setiap kali perempuan itu berdoa sambil menyesali segala kesalahan yang pernah dilakukannya.

Dalam pada itu, orang-orang berkuda yang dipimpin oleh Wanda Geni telah menjadi semakin jauh dari Kademangan yang telah dijadikan korbannya. Kademangan Candi Sari.

Dengan gembira mereka kembali kepada pimpinan tertinggi mereka yang menyebut dirinya Panembahan Sekar langit, karena mereka merasa bahwa perjalanan mereka kali ini cukup memberi harapan untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi dari Panembahan Sekar Jagat.

Dengan demikian, maka mereka tidak menaruh perhatian sama sekali ketika mereka melihat seseorang berdiri tegak di atas pematang sawah di pinggir jalan yang mereka lalui.

Hanya sekali Wanda Geni melihat seorang anak muda dengan pakaian yang kusut, memandang orang-orang berkuda itu dengan penuh keheranan. Selebihnya, anak muda itu tidak menarik sama sekali. Namun sebaliknya, orang-orang berkuda itulah yang telah menarik perhatian anak muda itu. Berbagai macam pertanyaan telah menyentuh dinding hatinya. Tetapi ia sama sekali tidak berbuat sesuatu selain memandanginya sampai hilang di belakang debu putih yang mengepul dari bawah kaki-kaki kuda mereka.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya langit yang telah menjadi kemerah-merahan. Matahari telah menjadi semakin rendah di arah barat.

“Kademangan itu hampir tidak berubah,” desisnya.

TANPA sesadarnya anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam lagi. “Pohon preh itu adalah pohon kira-kira sepuluh tahun yang lampau.”

Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk.Kemudian kakinya yang kotor oleh debu, mulai bergerak-gerak terayun selangkah mendekati padukuhan induk Kademangan Candi Sari. Tetapi anak muda itu tidak segera masuk ke dalam pedukuhan itu. Sejenak ia masih dibayangi oleh keragu-raguan.

Karena itu, maka kemudian, sambil beristirahat ia ingin melihat, apakah ia masih berhak untuk memasuki desa itu kembali. Perlahan-lahan diletakkannya dirinya, duduk di bawah pohon preh disimpang tiga, beberapa patok dari desa yang terbentang dihadapannya. Diikutinya setiap gerak yang tertangkap oleh matanya. Anak-anak yang berlari sambil membawa binatang yang baru saja digembalakannya. Orang-orang tua yang pulang dari sawah, dan anak-anak muda yang kembali, setelah mereka bersembunyi digubug-gubug dipategalan mereka.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat seorang gadis lewat beberapa langkah didepannya sambil menjinjing sebuah wakul. Agaknya ia baru pulang dari sawahnya, memetik lembayung. Sekilas anak muda itu merasa bahwa ia pernah mengenal gadis itu. Tentu saja semasa kanak-kanak. Hampir sepuluh tahun yang lampau. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berdiri dan melangkah mengikutinya. Dan hampir tanpa sesadarnya pula ia memanggil. “Ratri.”

Gadis itu terkejut, sehingga langkahnya pun terhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang anak muda berdiri tegak dibelakangnya. Sejenak gadis yang bernama Ratri itu berdiri dengan tegangnya. Ia tidak segera dapat mengenal, siapakah yang telah memanggilnya itu. “Kau tentu saja tidak mengenal aku lagi bukan Ratri?,” bertanya anak muda itu.

Ratri mencoba mengingat-ingat. Namun akhirnya bibirnya yang tipis itu bergerak menyebut sebuah nama, “Panggiring.”

Tetapi sekali lagi Ratri terkejut ketika ia melihat wajah itu benar-benar berkerut-kerut. Bahkan tampaklah bahwa anak muda itu menjadi kecewa. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Bukan Ratri. Aku bukan Panggiring anak setan itu.”

“Oh,” Ratri menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, “Jadi kau, adiknya. Bramanti.”

Kepala anak muda itu terangguk lemah. Terdengar suaranya parau. “Ya, aku Bramanti.”

“Aku hampir tidak dapat mengenalmu lagi Bramanti,” berkata Ratri sambil melangkah mendekat.

“Kau sudah sedemikian besar dan gagah. Kemanakah kau selama ini? Kau dan kakakmu Panggiring telah hilang dari Pedukuhan kami lebih dari sepuluh tahun yang lampau. Wajahmu benar-benar mirip dengan wajah kakakmu. Dimana kita masih kanak-kanak, tidak terlampau sulit membedakan, yang manakah Panggiring dan yang manakah Bramanti, karena umurmu terpaut agak banyak dari kakakmu. Tetapi wajah itu sukar dibedakan kini.”

“Apakah kau pernah melihat Panggiring akhir-akhir ini?” bertanya Bramanti.

Ratri menggeleng, “Tidak. Tetapi menurut bayangan angan-anganku, wajahnya tidak terpaut banyak dengan wajahmu. Apalagi kau tampak jauh lebih tua dari umurmu”.

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Aku bekerja berat selama ini. Tetapi bukankah Panggiring pergi jauh lebih dahulu dari kepergianku.”

Ratri mengingat-ingat sebentar. Jawabannya kemudian. “Ya. Aku ingat sekarang. Panggiring memang pergi lebih dahulu dari padamu. Waktu itu aku masih terlampau kecil. Karena itulah maka aku tidak begitu ingat lagi akan wajah itu. Tetapi wajah itu benar-benar seperti wajahmu sekarang. Bahkan semasa kecil wajahmu itu tidak seperti wajahmu kini.”

Bramanti menjadi semakin tunduk. Terbayang sekilas di rongga matanya wajah kakaknya, Panggiring yang kini sama sekali tidak diharapkannya untuk bertemu lagi.

“Dan sekarang,” terdengar suara Ratri, “Apakah kau akan pulang ke rumah yang sudah kira-kira sepuluh tahun kau tinggalkan itu?”

Bramanti mengangguk lemah. Jawabnya, “Ya, aku akan pulang ke rumah itu. Ibuku masih ada di dalam rumah itu.”

Namun tiba-tiba Bramanti mengangkat wajahnya, “Bukankah ibuku masih ada di rumah itu?”

Ratri mengangguk. Jawabnya, “Ya, ibumu masih tinggal di rumah itu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ibu pasti sudah menjadi tua.”

“Seperti kau Bramanti. Ibumu tampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.”

“Aku dapat membayangkan. Betapa berat beban hidupnya. Sementara sumber penghasilannya sudah habis sama sekali.”

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kedatanganmu pasti akan menjadi obat keprihatinannya selama ini.”

“Ya, aku mengharap demikian.”

“Tentu, sudah tentu,” potong Ratri.

Tetapi yang Ratri masih akan berbicara terus itu tertegun. Didengarnya seorang memanggilnya, “Ratri, he apa yang sedang kau lakukan?”

Barulah gadis itu sadar, bahwa ia bukan Ratri yang dahulu. Yang masih pantas bermain berkejaran dengan Bramanti. Dan Bramanti itu pun bukan Bramanti yang dahulu pula. Ia kini seorang anak muda yang sudah dewasa. Karena itu, maka tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Sambil menundukkan kepalanya ia berkata, “Maaf Bramanti. Aku dipanggil ayah.”

“Ayahmu datang ke mari Ratri.”

“Oh,” Ratri mengangkat wajahnya memandang ke ayahnya yang dengan tergesa-gesa mendekatinya. “Dengan siapa kau berbicara he?,” bertanya ayahnya.

“Anak yang sudah lama hilang dari permainan dipadukuhan kami ayah. Kini ia kembali.”

“Siapa,” orang tua itu mencobanya mengamat-amati wajah Bramanti, tetapi ia tidak segera dapat mengenalnya. “Aku tidak mengenal anak ini.”

“Tentu ayah mengenalnya. Tetapi agaknya ayah tidak punya waktu untuk mengenal wajah anak-anak waktu itu. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu.”

“Oh, sepuluh tahan yang lalu.”

“Ya ayah. Inilah Bramanti putera paman Pruwita”.

“He?” orang tua itu mundur selangkah. “Jadi kau anak Pruwita?”

“Ya paman,” sahut anak muda yang bernama Bramanti itu.

“Oh, anak Pruwita sudah sebesar kau ini?”

“Ya paman,” anak muda itu mengangguk pula.

Bramanti menjadi heran ketika wajah orang tua itu semakin tegang. Tiba-tiba ia meraih tangan anak perempuannya dan menariknya sambil berkata. “Marilah. Jangan berhubungan lagi dengan anak muda itu,” Lalu kepada Bramanti ia berkata, “Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan Pruwita.”

“Ayah,” potong Ratri, “Kenapa dengan ayah?”

Tetapi orang tua itu menarik tangan Ratri, “Marilah. Marilah.”

Ratri tidak dapat membantah lagi. Sambil berlari-lari ia mengikuti langkah ayahnya, karena tangannya masih juga ditarik oleh ayahnya itu.

Bramanti berdiri kebingungan. Kenapa ayah Ratri itu bersikap demikian terhadapnya? Anak muda itu kemudian menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengerti akan sikap itu. Dicobanya untuk mengenang, apa saja yang pernah dilakukan oleh ayahnya di masa kecilnya. “Ayah memang bukan seorang yang terlampau baik,” katanya di dalam hati.

“Tetapi ia dahulu seorang yang kaya, seorang yang disegani, diluluti oleh tetangga. Namun ketika ayah menjadi miskin, serentak mereka menjauhkan dirinya. Dan bahkan ayah harus mati dalam keadaan yang paling menyedihkan.”

Bramanti menggeram. Diangkatnya wajahnya. Dengan sorot mata yang berapi-api ia memandang padukuhan yang terbentang dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin kabur, karena cahaya matahari menjadi semakin suram dan bahkan kemudian menjadi merah kehitam-hitaman. “Aku akan pulang. Apapun yang akan terjadi,” geramnya.

Tiba-tiba langkahnya justru menjadi tegap. Dadanya tengadah dan matanya memandang lurus ke depan. Dengan tidak menghiraukan apapun lagi ia berjalan kemulut lorong desanya. Satu dua ia masih bertemu dengan orang-orang yang terlambat pulang dari sawah. Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya. Orang-orang itu pada umumnya sudah tidak dapat mengenalnya lagi. Tetapi langkahnya kemudian tertegun pula ketika ia sudah berdiri diregol halaman rumahnya yang rusak.

Terasa sesuatu menyangkut dikerongkongannya. Rumah ini seolah-olah telah menjadi rumah hantu. Gelap dan mengerikan.

Halamannya pun sudah tidak ubahnya lagi dengan sebuah hutan kecil yang pekat dengan berbagai macam pepohonan liar.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

Kemudian dipaksanya kakinya melangkah memasuki halaman yang kotor ini.

Yang pertama-tama disentuhnya, adalah sarang labah-labah yang menyangut diwajahnya. Perlahan-lahan Bramanti melangkah menunju ke tangga pendapa. Pendapa itu masih juga berdiri, diatas tiang yang kokoh kuat. Saka guru yang hampir sepemeluk besarnya, kemudian tiang-tiang yang lain masih juga tampak kuat. Tetapi ketika ia menengadah, maka atap rumah itu sudah dipenuhi oleh lubang-lubang sebesar kelapa.

“Selama ini ibu tinggal seorang diri di rumah ini,” desisnya. Apabila ketika diingatnya sikap ayah Ratri terhadapnya. Maka desisnya, “Apakah demikian pula sikapnya terhadap ibu?”

Pertanyaan itu telah mendorongnya semakin cepat menaiki tangga pendapanya dan langsung menunju pintu pringgitan. Dari lubang-lubang dinding gebyog yang retak ia melihat seleret sinar yang kemerah-merahan menerangi ruangan dalam rumah itu.

Dengan tangan gemetar ia mengetuk pintu rumahnya. Perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin keras.

“Siapa di luar?” terdengar suara parau seorang perempuan.

Bramanti akan menyahut. Tetapi sesuatu terasa menyumbat kerongkongan, sehingga ia harus mendehem beberapa kali.

“Siapa di luar?” terdengar suara itu sekali lagi.

“Aku, aku,” suara Bramanti pun gemetar pula.

“Aku siapa?”

“Aku ibu, Bramanti.”

“He,” perempuan tua yang sudah berbaring dipembaringannya itu terloncat berdiri. Tetapi ia tidak segera percaya kepada pendengarannya. Sekali lagi ia bertanya, “Siapa di luar?”

“Bramanti ibu.”

“Bramanti, Bramanti,” perempuan itu kemudian berlari sehingga hampir saja ia jatuh terjerembab ketika kakinya menyentuh sudut pembaringannya. Dengan tergesa-gesa dibukanya selarak pintu rumahnya.

Ketika pintu rumah itu terbuka, sepercik cahaya lampu minyak meloncat keluar, mengusap wajah anak muda yang berdiri dengan kaki gemetar di muka pintu yang sudah sepuluh tahun ditinggalkannya. “Bramanti,” suara perempuan itu seolah-olah menyangkut dikerongkongannya pula.

Anak muda itu tidak sempat menjawab, ketika tiba-tiba saja perempuan tua itu memeluknya. Menciumnya seperti masa kanak-kanaknya dahulu. Terasa setitik air mata hingga dipundaknya yang bidang. “Kau akhirnya pulang ngger.”

“Ya ibu. Aku harus pulang. Tidak ada tempat lain yang paling baik buatku daripada tanah ini. Daripada rumah ini dan halaman ini.”

“Ya, ya ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau akan pulang. Karena itu, betapa hatiku pedih, aku tetap tinggal di rumah ini sambil menunggumu”.

“Sekarang aku sudah pulang. Ibu tidak akan sendiri lagi. Aku akan membantu ibu dalam kerja sehari-hari. Aku akan membersihkan halaman. Memperbaiki rumah kita yang rusak”.

“Tentu. Tentu Bramanti. Kau tidak boleh pergi lagi. Kau harus tinggal dirumah ini apapun yang terjadi. Karena rumah ini, halaman ini, adalah rumah kita. Tanah ini adalah Tanah Warisan yang tidak akan dapat dimiliki oleh orang lain. Meskipun aku hampir mati kelaparan, tetapi tanah ini tidak akan aku serahkan kepada siapapun dengan ganti apapun lagi.”

Bramanti tidak menjawab. Yang terdengar kemudian adalah isak tangis ibunya sambil menariknya masuk. Dengan suara yang patah-patah perempuan tua itu berkata. “Marilah Bramanti. Masuklah. Jangan kau tinggalkan lagi rumah kita ini”.

Bramanti pun kemudian masuk ke dalam ruang yang sudah lama ditinggalkannya itu. Setelah menutup pintu dan memasang selaraknya kembali, Bramanti mengamat-amati setiap sudut ruangan. Tiang-tiang itu masih juga berdiri dengan kokohnya. Kayu-kayu nangka yang kekuning-kuningan. Gebyog yang masih kuat meskipun kotor. Seperti pendapa rumah itu, yang paling parah adalah atapnya.

“Tetapi tidak sulit untuk memperbaikinya,” desisnya di dalam hati. Aku akan mencari ijuk, kemudian untuk sementara, sebelum sempat membuat atap kayu, biarlah aku sulami saja dengan ijuk.”

Bramanti terkejut ketika ia mendengar suara ibunya. “Duduklah ngger. Inilah rumahmu sekarang.” “Biarlah bu,” jawab Bramanti, “Besok aku akan memperbaikinya. Aku akan membuat rumah ini seperti rumah kita beberapa puluh tahun yang lampau.”

“Oh,” perempuan itu mengangkat wajahnya, namun kesan yang dengan tiba-tiba membayang, segera lenyap. Bahkan ia pun kemudian tersenyum, “Ya ngger. Kau harus memperbaiki rumah ini. Betapapun kesan orang-orang disekitar kita.”

Sekali lagi lewat sekilas ingatannya tentang sikap ayah Ratri kepadanya. Tetapi tidak bijaksana baginya apalagi ia segera bertanya. Ia tidak akan merusak suasana pertemuan yang membuat dadanya serasa menjadi retak.

Ketika ibunya kemudian pergi ke dapur menjerang air, maka Bramanti berjalan berputaran di dalam setiap ruang rumahnya. Tidak ada yang berubah, selain menjadi kotor dan rusak. Tetapi sesuatu telah mengembang di dalam hatinya. Aku akan menjadikan rumah ini seperti beberapa puluh tahun yang lampau. Semasa ayah masih seorang yang kaya raya.

Setelah minum beberapa teguk dan mandi di sumur di belakang rumah, maka Bramanti kemudian berceritera tentang dirinya. Pengalamannya selama ia meninggalkan rumah ini. “Orang tua itu sangat baik bu,” katanya.

“Aku tinggal di rumahnya seperti aku tinggal di rumah sendiri. Aku dianggapnya sebagai anaknya. Apalagi orang tua itu memang tidak mempunyai seorang anakpun”.

“Tuhan menuntun jalanmu sampai ke rumah yang baik itu ngger.”

“Ya ibu,” jawab Bramanti.

“Aku diketemukannya di pinggir sungai ketika aku beristirahat. Hampir-hampir aku mati kelaparan. Tetapi Tuhan masih melindungi aku.”

“Bersyukurlah ngger,” sahut ibunya.

“Lalu apakah katamu ketika kau bermaksud pulang ke rumah ini?”

“Aku berkata terus terang. Aku rindu kepada ibu, kepada rumah ini dan kepada tanah ini.”

“Apa ia tidak berkeberatan?”

“Tidak ibu. Sama sekali tidak. Ia tidak menganggapku hilang, sebab setiap saat aku dapat pergi kepadanya atau ia pergi kepadaku, ke rumah ini.”

“Oh, apakah kau masih akan pergi kepadanya?”

“Maksudku, aku dapat menengoknya untuk sehari dua hari. Lebih baik aku pergi bersama ibu pada suatu ketika.”

“Senang sekali Bramanti.”

“Tetapi lebih daripada itu ibu, aku telah dipercaya olehnya untuk mewarisi ilmunya.”

“Ya, ilmu kanuragan. Aku telah mendapat pelajaran tata bela diri sebaik-baiknya. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Kepada kepercayaan itu.”

“Oh,” tiba-tiba wajah perempuan tua itu menjadi cemas.

“Kenapa kau pelajari ilmu semacam itu ngger?”

“Apa salahnya?”

Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi suram, dilemparkannya pandangan matanya yang sayu ke sudut yang gelap. Kemudian terdengar suaranya parau. “Ayahmu juga mempelajari ilmu semacam itu dahulu.”

Bramanti tidak segera menjawab. Ia melihat ibunya justru menjadi kecewa.

Dengan demikian maka sejenak mereka dicekam dalam kesenyapan. Masing-masing membiarkan angan-angannya meloncat ke saat-saat yang lampau. Bramanti yang masih kecil saat itu tidak dapat mengerti lebih banyak lagi, kenapa ayahnya mati terbunuh dalam perkelahian yang tidak adil. Beberapa orang telah mengeroyoknya beramai-ramai. Betapapun tinggi ilmu ayahnya itu, namun untuk menghadapi beberapa orang yang berilmu pula, agaknya ia tidak mampu. Kekuatan lawan-lawannya berada di luar kemungkinan perlawanannya. Sehingga akhirnya ia harus terkapar mati berlumuran darah.

Dan Bramanti yang kecil itu sudah tidak tahu bahwa di antara mereka yang membunuh ayahnya adalah orang-orang padukuhan ini sendiri. Tetapi ibunya sudah dapat menangkap lebih banyak persoalan daripada Bramanti yang kecil. Perempuan itu tahu benar, bahwa perselisihan itu timbul di lingkaran judi. Dalam perselisihan yang demikian, maka tidak ada seorang pun yang mampu menahan hatinya lagi. Dan terjadilah akibat yang mengerikan itu. Suaminya terbunuh.

Masih terbayang di rongga matanya, apa yang terjadi saat itu, seperti baru kemarin malam. Darah yang merah mengalir dari kening dan pelipis suaminya. Tiga buah tusukan melubangi dada dan lambungnya. Yang paling pedih adalah, geremang orang-orang yang melihat peristiwa itu. “Tidak ada yang dapat disalahkan. Setelah Pruwita menjadi miskin, maka sifatnya tidak lebih baik dari seekor serigala”.

Dan ternyata kemudian, bahwa akibat yang timbul tidak hanya terhenti sampai sekian. Meskipun Nyai Pruwita itu telah merasakan, bahwa orang-orang di sekitarnya, para tetangganya, telah mulai menjauhi keluarganya, namun sejak meninggalnya suaminya sikap itu menjadi semakin nyata. Hanya dalam soal-soal yang sangat penting, orang-orang disekitarnya bersedia menghubunginya. Mereka berbicara kadang-kadang sekali, sekadar satu dua patah kata.

Dengan demikian maka hidupnya kemudian menjadi terasing. Justru setelah ia menjadi miskin. Setelah semua kekayaannya satu-satu mengalir kelingkaran judi.

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah anaknya yang masih tunduk. “Ilmu itu akan selalu membawa malapetaka ngger,” desisnya kemudian.

Bramanti menggeleng. “Tidak selalu ibu. Aku tahu, bahwa orang-orang yang memiliki ilmu tata bela diri, sering menyalahgunakan ilmunya. Orang-orang yang demikian itulah yang akan tersesat dalam kegelapan dan bahkan malapetaka.

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah mendekati anaknya yang duduk terpekur. “Bramanti, apakah kau menyimpan dendam dihatimu atas kematian ayahmu?”

Bramanti terperanjat. Diangkatnya wajahnya dan ditatapnya mata ibunya yang sayu. Kemudian dengan suara yang mantap ia berkata, “Tidak ibu. Aku tidak menyimpan dendam didalam hati. Apapun yang telah terjadi atas ayah, biarlah itu terjadi. Aku tidak akan mempersoalkannya lagi. Ini bukan berarti aku tidak berbakti kepada orang tuaku. Tetapi tidak dengan cara itu aku akan menjunjung nama ayah dan keluargaku.

Seleret cahaya memancar dari sepasang mata yang tua itu. Tiba-tiba perempuan tua itu sekali lagi memeluk anaknya dan mencium keningnya. “Kau anak baik ngger. Kau benar. Bukan begitu cara yang sebaik-baiknya untuk berbakti kepada orang tua. Dendam tidak akan menumbuhkan ketentraman didalam hati dan di dalam keseluruhan hidup ini.

“Ya ibu, begitu jugalah pesan orang yang memungutku menjadi anaknya dan sekaligus muridnya.”

“Apa pesannya?”

“Aku harus berbuat sebaik-baiknya. Aku harus mengembalikan kewibawaan ayah dengan cara yang baik. Aku harus bekerja keras, memberikan suasana yang demikian, akan terhapuslah nama yang kurang baik dari ayah dan keluargaku. Seandainya ayah memang pernah berbuat salah, maka aku harus menebus kesalahan itu.”

“Oh,” ibu yang tua itu membelai rambut anaknya yang panjang. “Kau akan memenuhi idamanku ngger. Kau adalah anak yang terlampau baik. Dengan demikian akan hilanglah coreng moreng dikening kita.

“Mudah-mudahan aku berhasil ibu.”

“Mudah-mudahan,” dan ibu yang tua itu kemudian melepaskan anaknya, sambil menghapus air matanya yang meleleh di pipinya yang sudah mulai berkeriput. Katanya sejenak kemudian, “Baristirahatlah nak. Kau tentu lelah setelah menempuh perjalanan sehari ini.”

“Ya, aku memang lelah. Tetapi aku belum ingin tidur.”

“O,” ibunya menyahut. “Kalau begitu, aku harus merebus air lagi. Kita duduk-duduk sambil berbicara apapun. Namun kita harus menyediakan minum.”

“Ibulah yang nanti menjadi lelah. Bukan aku. Karena itu, biarlah. Aku tidak terlalu haus.”

“Ah,” desis ibunya. “Biarlah aku merebuskannya untukmu. Untuk kedatanganmu.”

Tetapi ketika perempuan tua itu berdiri, maka langkahnya menjadi urung. Bahkan dadanya menjadi berdebar-debar karena ia mendengar langkah kaki memasuki halaman dan naik ke pendapa rumahnya. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa orang.

Bramanti pun telah mendengarnya pula. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Hanya sorot matanya sajalah yang seolah-olah bertanya kepada ibunya, “Siapa mereka?”

Tetapi ibunya masih berdiri diam mematung.

Sejenak kemudian terdengarlah pintu rumah itu diketuk orang. Sekali, dua kali, kemudian berkali-kali dan semakin lama semakin keras.

Nyai Pruwita, bukalah pintu rumahmu,” terdengar seseorang berteriak di luar pintu.

“Siapakah kalian?” bertanya Nyai Pruwita.

“Bukalah pintu, kau akan mengenal siapa kami.”

Nyai Pruwita menjadi ragu-ragu. Baru siang tadi orang-orang berkuda memasuki Kademangan ini.

“Cepat Nyai, supaya kami tidak usah merusak pintu rumahmu yang hampir roboh ini.”

Dalam keragu-raguan Nyai Pruwita memandangi wajah anaknya. Seolah-olah ia minta pertimbangannya, apakah yang sebaiknya dilakukannya.

Sejenak Bramanti menjadi ragu-ragu. Namun kemudian dianggukkannya kepalanya.

Tetapi ibunya tidak melangkah menuju ke pintu rumahnya, tetapi ia meraih kepala anaknya sekali lagi sambil berbisik, “Jangan Bramanti. Jangan berbuat apa-apa atas mereka. Aku kira mereka bukan orang-orang jahat yang siang tadi memasuki Kademangan ini. Tetapi mereka adalah tetangga-tetangga kita yang baik, apapun yang akan dilakukannya.”

“Aku tidak akan berbuat apa-apa ibu. Sudah aku katakan, aku tidak menyimpan dendam di dalam hatiku.

Nyai Pruwita melepaskan kepala anaknya. Kemudian melangkah perlahan-lahan menunju ke pintu pringgitan. Perlahan-lahan pula tangannya yang lemah meraih selarak pintu dan membukanya kembali.

Begitu pintu rumah itu terbuka, maka beberapa orang laki-laki yang tegap dan beberapa orang anak-anak muda berloncatan masuk. Bahkan beberapa orang di antara mereka membawa senjata ditangannya.

“Nyai,” berkata salah seorang dari mereka, “Aku dengar, anakmu pulang kembali ke rumah ini.”

Nyai Pruwita mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke arah Bramanti yang masih duduk ditempatnya.

“O,” orang itu menyambungnya. “Itukah anakmu yang bernama Bramanti? Ia sudah cukup dewasa. Tubuhnya kekar dan utuh. Ia sudah pantas mewakili ayahnya untuk melepaskan dendamnya kepada kami.”

Nyai Pruwita terperanjat mendengar kata-kata itu. Bramanti pun tidak kalah terperanjat pula. Tetapi segera ia menekan perasaan itu. Sehingga ia sama sekali tidak beringsut dari tempat duduknya.

“Kalian salah,” Nyai Pruwita hampir berteriak. “Anakku sama sekali tidak membawa dendam. Ia pulang oleh kerinduannya kepada ibunya, kepada rumah dan halamannya dan kepada tanah kelahiran. Ia pulang karena ia mencintai semuanya itu. Sama sekali bukan diseret oleh perasaan dendam.”. Seorang anak muda melangkah maju sambil tertawa. Dipandanginya wajah Bramanti yang kemerah-merahan oleh sinar lampu minyak yang redup. Kau banyak berubah Bramanti. Tetapi aku masih tetap mengenalimu. Tetapi bukan saja kau yang tumbuh menjadi besar, tetapi anak-anak yang sebaya dengan kau, kawan-kawanmu bermain di Kademangan ini pun telah tumbuh pula sebesar kau.”

Bramanti berpaling. Dilihatnya wajah anak muda itu sekilas. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri sambil menjawab, “Ya, kalian telah menjadi besar pula. Bahkan lebih besar dari aku.”

“Dan orang-orang tua kami disini sudah menjadi bertambah tua. Tetapi jangan kau sangka bahwa kau akan dapat membalas dendam kepada mereka. Sebab pada umumnya mereka pun mempunyai anak laki-laki seperti ayahmu mempunyai anak laki-laki.”

“Maksudmu, kalau aku ingin membalas dendam, maka aku akan berhadapan dengan anak-anak muda kawanku bermain dahulu?”

“Ya.”

“Kau keliru. Ibuku sudah mengatakan, bahwa aku sama sekali tidak pulang karena didorong oleh perasaan dendam. Apa yang dapat aku lakukan atas kalian disini. Aku hanya seorang diri. Bahkan seperti katamu, bahwa anak-anak muda disinipun telah tumbuh pula menjadi dewasa.

Apakah yang dapat aku lakukan? Pembalasan dendam bukan suatu penyelesaian bagiku. Aku tidak ingin hidup dalam kegelisahan seperti ayah. Aku ingin hidup tenteram bersama ibuku yang telah tua. Aku ingin berbuat sesuatu yang baik bagiku, bagi keluargaku dan apabila mungkin bagi Kademangan ini.

Tiba-tiba anak muda itu tertawa. Katanya, “Setiap anak yang menyadari dirinya, ingin berbakti kepada orang tuanya. Apakah kau tidak akan berbuat demikian? Apakah kau tidak ingin membuat ayahmu tenteram di alam baka dengan melepaskan sakit hatinya?”

“Aku tidak berpendirian demikian. Aku berpendapat bahwa arwah ayahku tidak akan dapat disucikan dengan darah. Tidak. Darah hanya akan menambah bebannya di alam baka. Karena itu, aku tidak akan berbuat bakti dengan cara demikian.

“Ada dua kemungkinan,” tiba-tiba seorang setengah umur berkata, “Bramanti seorang anak durhaka, yang tidak merasa perlu berbakti kepada orang tuanya, tahu ia mencoba menipu kami. Ia akan mencari kesempatan supaya kami menjadi lengah. Dalam kelengahan itulah ia akan dapat berbuat menurut kehendaknya.”

“Yang kedualah yang paling mungkin,” sahut suara yang lain. “Kalau ia benar-benar anak durhaka, yang tidak merasa perlu berbakti kepada ayahnya, ia tidak akan datang kembali ke Kademangan ini. Ia akan tetap tinggal di rantau, apapun yang akan terjadi atasnya.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mencoba menjelaskan, “Aku mencintai ibuku. Aku mencintai kampung halaman. Karena itu aku kembali.”

“Ah,” seorang yang tinggi berkumis melintang berkata, “Kita tidak perlu mendengarkan kicauannya. Kita mendapat tugas menangkapnya. Melawan atau tidak melawan. Kita bawa saja anak ini menghadap Ki Demang. Terserah, apa yang akan dilakukannya atas anak ini.”

“Ya, itulah yang baik,” kata yang lain.

“Marilah, kita tangkap anak ini.”

Orang yang berkumis itu maju mendekati Bramanti sambil berkata. “Kita harus menangkapmu nak. Apakah kau akan melawan?”

Bramanti memandang orang yang tinggi dan berkumis itu dengan sorot mata yang aneh. Bagi Bramanti orang yang tinggi dan berkumis ini memang aneh. Sikapnya agak lain dengan kawan-kawannya, meskipun pada dasarnya, ia akan menangkapnya pula.

Sejenak Bramanti tidak dapat menjawab. Namun kemudian terasa tangan ibunya meraba pundaknya, “Bukankah kau tidak mendendam?”

Bramanti mengangguk, “Ya, aku memang tidak mendendam,” Kemudian kepada orang yang tinggi berkumis itu ia berkata, “Aku tidak akan melawan. Aku sama sekali tidak akan mampu melawan kalian.”

Belum lagi Bramanti selesai bicara, seorang anak muda yang berkulit kekuning-kuningan, bermata tajam dan berwajah tampan menarik tangannya kemudian mendorongnya, “Ayo, kita pergi ke Ki Demang.”

Bramanti terdorong beberapa langkah ke depan. Ketika ia berpaling, maka terdengar ia berdesis. “Kau Temunggul.”

“Hem,” anak muda itu menggeram, “kau masih ingat kepadaku.”

“Tentu. Aku dapat ingat hampir setiap anak disini.”

“Kau ingat peristiwa yang telah terjadi?”

“Ya.”

“Nah, karena itulah, maka kami akan menangkapmu. Jangan mencoba melawan. Ayo, berjalanlah sendiri tanpa kami dorong-dorong. Bukankah kau masih ingat jalan ke Kademangan?”

Bramanti memandang sekeliling. Disambarnya setiap wajah dengan sorot matanya. Kemudian dipandanginya wajah ibunya yang kecemasan. “Tenanglah ibu,” berkata Bramanti. “Aku percaya bahwa orang-orang Kademangan Candi Sari adala orang yang baik, yang dapat membedakan antara yang jahat dan yang lurus. Karena itu, ibu jangan cemas tentang diriku. Aku akan segera kembali.”

Dengan wajah yang suram ibunya mengangguk. Namun tampaklah betapa ia menyandang kecemasan di dalam hatinya.

“Ayo pergi,” sentak anak muda yang bernama Temunggul.

Bramanti tidak menjawab. Dengan kepala tunduk ia pun kemudian berjalan diiringi oleh beberapa orang dan anak-anak muda yang di antaranya membawa senjata di tangan mereka.

Di Kademangan, ternyata beberapa orang telah bersedia menerimanya. Selain Ki Demang sendiri, beberapa orang perabot yang lain telah hadir pula.

Ketika mereka melihat Bramanti memasuki halaman, maka sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian, Ki Jagabaya yang bertubuh tinggi besar dan bermata tajam, berdiri dan melangkah perlahan-lahan menuruni tangga pendapa.

“Hem,” ia menggeram dalam nada yang berat, “Kau Bramanti.”

Bramanti menundukkan kepalanya, “Ya Ki Jagabaya”. “Naiklah. Ki Demang menunggumu.”

Bramanti pun kemudian naik ke pendapa dan duduk di atas sehelai tikar pandan yang kasar, menghadap Ki Demang yang duduk sambil memilin kumisnya.

“Aku tidak ingin Kademangan ini menjadi kisruh,” tiba-tiba terdengar suara Ki Demang berat.

Bramanti tidak segera menjawab. Kepalanya masih menunduk dalam.

“Aku tahu, ayahmu mati terbunuh di Kademangan ini,” berkata Ki Demang kemudian. “Setelah kau hilang beberapa tahun, maka tiba-tiba kau datang lagi. Seorang telah melihatmu dan melaporkannya kepadaku.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan serupa telah didengarnya lagi. Dendam. Orang-orang Kademangan ini pasti akan bertanya dan bahkan menuduhnya, bahwa ia menyimpan dendam di dalam hatinya. Bahwa kedatangannya itu telah didorong oleh perasaan dendamnya atas kematian ayahnya.

Untuk kesekian kalinya ia terpaksa menjawab. Jawaban serupa pula. Seperti yang dikatakannya kepada ibunya, kepada orang-orang yang datang ke rumahnya. Dan kini kepada mereka yang berada di Kademangan itu.

Ternyata di antara sekian banyak orang, hanya ibunyalah yang dapat mempercayainya dengan tulus. Hampir setiap orang memandangnya dengan penuh curiga, seolah-olah ia adalah orang yang paling jahat yang pernah ditangkap oleh orang-orang Kademangan itu.

Bahkan Ki Demang pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Kau bercerita tentang sesuatu yang tidak kau mengerti sendiri. Karena itu, maka ceriteramu seperti ceritera mimpi.

Bramanti pun tidak menjawab. Apalagi yang dapat dikatakan, apabila orang-orang itu bersikap mutlak.

“Atau,” tiba-tiba Ki Jagabaya menyambung. “Kau termasuk salah seorang dari murid-murid orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?”

Bramanti terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga kepalanya menengadah, memandang wajah Ki Jagabaya yang tegang.

“Jawablah,” desak Ki Jagabaya. “Sekar Jagat baru saja mengirimkan orang-orangnya kemari untuk memeras. Mereka seakan-akan tahu pasti, siapa-siapa yang memiliki benda-benda berharga disini. Apakah kau termasuk petugas sandinya yang harus menyelidiki Kademangan ini, dan kau mempergunakannya sebagai suatu cara untuk membalas sakit hatimu.”

Dahi Bramanti berkerut ketika diingatnya orang berkuda yang dijumpainya di pinggir Kademangan ini, pada saat ia datang. Namun ia tidak segera bertanya. Dan didengarnya Ki Jagabaya berkata terus, “Karena kau tidak mampu melakukan balas dendam itu sendiri, maka kau telah memperguakan cara yang kotor itu.”

Bramanti tidak segera menjawab. Kini kembali kepalanya menunduk. Di cobanya untuk mengingat-ingat, berapa orang dan siapa sajakah mereka yang telah menyebut dirinya murid-murid Panembahan Sekar Jagat itu.

Tetapi Bramanti terkejut ketika tiba-tiba sebuah tangan yang kasar telah merenggut bajunya, “Ayo, katakan tentang dirimu.”

Ketika sekali lagi Bramanti mengangkat wajahnya, maka dilihatnya wajah Ki Jagabaya yang menyeramkan.

“Bukankah kau angota dari perampok itu?”

Tergagap Bramanti menjadwab, “Tidak Ki Jagabaya. Sama sekali tidak.”

“Lebih baik kau mengaku,” Ki Jagabaya mengguncang baju Bramanti, sehingga anak muda itu ikut terguncang pula.

“Tidak Ki Jagabaya. Aku tidak mengenal Panembahan Sekar Jagat.”

“Jangan bohong,” ternyata Ki Demang pun membentaknya.

“Tidak Ki Demang. Aku berkata sebenarnya. Aku baru saja datang dari jauh. Kalau yang Ki Demang maksudkan orang-orang berkuda, maka aku memang menjumpai mereka itu di pinggir Kademangan ini.”

“Aku tidak bertanya tentang orang-orang berkuda itu. Kami di sini melihat sampai jemu. Bahkan di antara kami dipaksa untuk menyerahkan harta benda kami. Yang ingin kami ketahui, apakah kau termasuk dalam lingkungan mereka?”

“Tidak. Aku bersumpah,” jawab Bramanti. “Tetapi katanya kemudian, “Apakah Ki Demang tidak berhasil menangkap mereka.”

“Apa kau bilang? Menangkap?” Ki Jagabaya berteriak, “Apa kau kira kami terlampau bodoh untuk menyerahkan leher kami karena sepotong benda yang kami anggap berharga.”

“Tetapi mereka hanya beberapa orang saja. Sedang aku lihat beberapa kuatnya kemampuan setiap laki-laki di Kademangan ini.

“Apakah kau ingin menjebak kami he?”

“Sama sekali tidak Ki Jagabaya.”

“Apa kau kira, aku tidak ada kekuatan lain kecuali mereka yang datang kemari itu? Kau kira kami akan dapat melawan seandainya Panembahan Sekar Jagat itu marah dan turun ke Kademangan ini untuk menghukum kami?”

“Siapa Panembahan Sekar Jagat itu?”

“Pertanyaan yang bodoh. Tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.”

“Kenapa kita tidak berani melawannya? Kita belum pernah mengenalnya. Dari siapa kita tahu, bahwa kita tidak akan dapat melawan kekuatan mereka. Apalagi kita mempertahankan hak kita sendiri.”

Ki Jagabaya tidak segera menyahut. Tanpa sesadarnya dipandanginya wajah Ki Demang yang tegang. Namun sejenak kemudian Ki Demang itu berkata, “Kau mengigau. Yang ingin kami ketahui, apakah kau salah seorang dari mereka?”

“Tidak Ki Demang.”

“Dan kau datang benar-benar tidak akan membuat onar Kademangan yang sedang dicengkam ketakutan ini?”

“Tidak Ki Demang. Aku tidak akan berani melakukan.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Setelah memandangi setiap wajah yang ada di pendapa Kademangan itu, maka kemudian ia berkata, “Aku akan memberi kau kesempatan. Tetapi apabila kau membuat onar, maka kami tidak akan mengampuninya. Supaya kau tidak akan dapat mengganggu kami lagi untuk seterusnya, maka hukuman yang akan kami berikan adalah hukuman yang seberat-beratnya.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Nah kau boleh pulang. Tetapi ingat, jangan berbuat sesuatu yang dapat mengantarmu ke lubang kubur. Kami tidak segan-segan bertindak terhadap siapapun yang melanggar tata tertib kehidupan di Kademangan ini.

“Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk dalam-dalam ia berkata, “Terima kasih Ki Demang. Aku akan mencoba mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Aku akan membuktikan, bahwa aku tidak mempunyai maksud sama sekali untuk mempersoalkan lagi apa yang telah terjadi. Apalagi menuntut balas.

“Aku tidak perlu mendengar igauan itu. Aku hanya ingin melihat apa yang akan kau lakukan di sini. Sekarang pergilah.”

“Terima kasih Ki Demang. Aku minta diri.”

Ki Demang menganggukkan kepalanya dengan acuh tak acuh. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi ketika Bramanti melangkah surut, kemudian berdiri meninggalkan pertemuan yang mendebarkan itu. Setelah memandang berkeliling, menembus kesuraman malam, maka ia pun segera turun ke halaman.

Perlahan-lahan ia berjalan menyeberangi halaman yang luas. Sekali-kali ia berpaling. Dilihatnya, di pendapa para pemimpin kademangan masih duduk melingkari lampu minyak.

Tanpa sadar tiba-tiba dadanya berdesir ketika dilihatnya beberapa anak-anak muda berdiri di regol halaman Kademangan. Setiap mata mereka memandanginya dengan tajamnya. Seolah-olah ingin melihat langsung ke pusat jantungnya.

Di bawah cahaya lampu di regol yang kemerah-merahan Bramanti melihat Tumenggul berdiri bertolak pinggang.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu kenapa sikap Temunggul itu kini sangat menyinggung perasaannya. Temenggul adalah kawan bermain yang baik di masa kanak-kanak.

Langkah Bramanti pun menjadi semakin lambat. Tetapi ia tidak berhenti. Dengan dada berdebar-debar ia maju semakin dekat.

Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Mungkin aku terlampau berprasangka.”

Karena itu, maka Bramanti pun melangkah terus. Berjalan di antara anak-anak muda yang berdiri tanpa beranjak sejengkal dari tempatnya. Sedang Bramanti pun sama sekali tidak berpaling pula. Bahkan kepalanya semakin menunduk ketika ia melangkah di depan Temunggul yang bertolak pinggang itu.

Bramanti tidak sempat berbuat apapun juga, ketika hal itu terjadi dengan tiba-tiba. Ia merasa tangan Temunggul mendorong punggungnya. Sedang kakinya disilangkannya di hadapannya. Dengan demikian, maka Bramanti itu pun terdorong ke depan, namun karena kakinya terkait, maka ia pun terbanting jatuh tertelungkup.

Bramanti masih mendengar anak-anak muda di regol itu serentak tertawa berkepanjangan. Beberapa di antara mereka tidak dapat menahan air matanya yang membasahi pelupuk. Yang lain lagi terpaksa memegangi perutnya yang berguncang-guncang.

“Ayo cepat, cepat bangun anak manis,” terdengar Temunggul berdesis. “Ayo bangunlah, meskipun belum pagi.”

Bramanti mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sebagai seorang anak muda maka darahnya segera mendidih. Namun kemudian dikenangnya kata-kata gurunya dan bahkan ibunya. “Jangan mendendam ngger.”

“Tetapi ini bukan soal dendam,” katanya di dalam hati. “Aku telah dihinanya. Apakah aku akan tetap menundukkan kepala saja.”

Yang kemudian diingatnya adalah kata-kata Ki Demang. “Tetapi apabila kau berbuat sesuatu yang menyakitkan hati kami, apalagi membuat onar, maka kami tidak akan mengampunimu.”

Bramanti menggigit bibirnya untuk menahan hatinya yang bergolak. Suara tertawa anak-anak muda di sekitarnya masih terdengar. Dan Temunggul masih juga berkata, “Ayo bangun anak manis.”

Bramanti bangkit perlahan-lahan bertelekan pada kedua tangannya. Kemudian ia berdiri pula pada lututnya. Sekilas dipandanginya anak-anak muda yang berdiri di sekitarnya. Mereka bergembira karena mereka merasa mendapat permainan yang mengasyikkan.

Ketika terpandang wajah-wajah anak-anak muda itu, maka ia berkata di dalam hatinya. “Anak-anak itu juga. Anak-anak yang kini seolah-olah menjadi liar? Kalau ayahku terbunuh karena ayahku dianggap oleh orang-orang Kademangan ini sebagai seorang yang liar, seharusnya akulah yang menjadi liar melampaui ayah dan melampaui keliaran anak-anak muda itu.”

Tetapi sekali lagi ia seolah-olah mendengar kata-kata gurunya. “Ayahmu memang bersalah. Karena itu jangan kau selusuri jalan hidupnya. Kau harus mencari jalan sendiri. Jalan yang baik. Kau harus membuktikan, bahwa tidak selalu tabiat orang tua yang kurang baik itu dapat menurun kepada anaknya. Dengan jalan itulah kau berbakti kepada orang tuamu.”

Namun sekali lagi dadanya bergolak. “Tetapi ini adalah soal yang lain. Aku dihinanya tanpa sebab.”

Belum lagi ia menemukan jalan yang akan ditempuhnya, terasa punggungnya terdorong oleh telapak kaki sambil didengarnya lagi suara Temunggul, “He, apakah kau masih terlampau lelah.”

“Sekali lagi Bramanti terdorong jatuh tertelungkup. Wajahnya yang basah oleh keringat, menyentuh tanah berdebu, sehingga menjadi keputih-putihan.

Oleh cahaya pelita, wajahnya menjadi tampak terlampau acuh, sehingga anak-anak muda disekitarnya tertawa semakin keras lagi.

Bramanti tidak dapat lagi menahan hatinya. Betapa pun ia mengingat segala macam nasehat, tetapi darah mudanya telah mendidih sampai ke ubun-ubun.

Namun sebelum ia berbuat sesuatu, didengarnyalah suara keras di antara anak-anak muda itu. “He, siapa yang berbuat ini?”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Suara tertawa mereka telah lenyap ditelan kecemasannya melihat wajah yang berdiri di antara mereka dengan marahnya.

“Kalian selalu membuat kisruh saja.”

Bramanti kemudian mengangat wajahnya. Ditatapnya orang yang sedang marah-marah itu.

“Ki Jagabaya,” desisnya.

Perlahan-lahan ia pun segera bangkit. Sambil membenahi pakaiannya ia berdiri termangu-mangu melihat sikap Ki Jagabaya itu.

“Kenapa kalian lakukan hal itu? Ki Jagabaya membentak.

Anak-anak muda itu menundukkan kepalanya. Tidak seorang pun yang berani memandang wajah yang seram dan kemerah-merahan karena merah dan karena cahaya pelita yang jatuh di atas garis-garis yang keras di wajah itu.

Tetapi anak-anak muda itu mengangkat wajah-wajah mereka ketika mereka mendengar suara yang lain, “Biar sajalah Ki Jagabaya. Begitulah adat anak-anak muda. Bukankah kita berbuat seperti itu pula ketika masih seumur dengan mereka.”

Ternyata suara itu adalah suara Ki Demang Candi Sari. Dan Ki Demang berkata seterusnya, “Suatu cara perkenalan yang bai bagi Bramanti. Ia harus berusaha menyesuaikan dirinya di sini.”

“Aku mengenalnya sejak kanak-kanak,” sahut Temunggul.

“O. Kalau begitu kau bertemu dengan sahabat lama? Pantaslah kalau kau dapat bergurau begitu meriah.”

Anak-anak muda itu kini mulai tertawa.

“Tetapi perbuatan itu sudah keterlaluan,” geram Ki Jagabaya.

“Ki Demang tertawa. Katanya kemudian, “Pulanglah Bramanti. Jangan kamu pikirkan lagi apa yang terjadi. Setelah lama kalian tidak saling bertemu, maka anak-anak itu merasa kangen bergurau dengan kau lagi.”

Bramanti tidak segera beranjak dari tempatnya. Ditatapnya saja wajah Ki Demang dan Ki Jagabaya berganti-ganti.

Tetapi dadanya berdesir ketika ia mendengar Ki Demang berkata, “Tidak ada tempat bagi anak-anak cengeng di Kademangan Candi Sari. Jangan menangis. Pulanglah dan lainkali, bersikaplah seperti seorang laki-laki.”

Sekali lagi jantung Bramanti serasa tergores oleh sembilu. Tetapi dihadapan Ki Demang dan Ki Jagabaya ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab kalau ia menuruti perasaannya, maka akibatnya pasti akan berkepanjangan. Melawan Ki Demang dan Ki Jagabaya berarti melawan seluruh Kademangan Candi Sari.

“He, kenapa kau berdiri saja membatu,” terdengar Ki Jagabaya membentak, sehingga Bramanti terperanjat karenanya.

“Ayo pergi, cepat, pergi,” Ki Jagabaya berteriak.

Bramanti menganggukkan kepalanya sambil berkata. “Aku minta diri.”

Baik Ki Jagabaya maupun Ki demang tidak menjawab. Anak-anak muda yang berdiri di regol itu pun tidak mentertawakannya lagi meskipun ia terkejut mendengar bentakan Ki Jagabaya sehingga ia hampir terlonjak.

Bramanti itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan regol Kademangan. Sekali-kali ia berpaling. Dilihatnya di bawah cahaya pelita di regol halaman, anak-anak muda itu masih saja berada ditempatnya.

“Aneh,” Bramanti berdesis.

Sebenarnya bagi Bramanti sikap Ki Jagabaya dan Ki Demang merupakan sikap yang aneh. Ki Jagabaya meskipun bersikap kasar, namun terasa kelurusannya. Ia bersikap kasar dan keras terhadap siapapun. Terhadap dirinya, tetapi juga terhadap siapapun. Terhadap dirinya, tetapi juga terhadap anak-anak muda itu. Berbeda dengan Ki Demang. Meskipun Ki Demang tidak sekasar Ki Jagabaya, namun terasa dalam sikapnya, bahwa ia kurang jujur menghadapi persoalan.

“Sebuah bahan yang harus aku ingat-ingat,” gumamnya.

Sementara itu kaki Bramanti melangkah terus menyusuri jalan-jalan desa. Jalan-jalan yang pernah dikenalnya dengan baik beberapa waktu yang lampau semasa ia masih kanak-kanak. Di jalan-jalan inilah ia dahulu berlari-lari berkejaran. Bermain sembunyi-sembunyian. Bermain hantu-hantuan dan di halaman rumahnya yang luas itulah anak-anak bermain nini Towok. Terutama anak-anak perempuan, sementara anak-anak laki-laki bermain kejar-kejaran.

Tetapi semuanya telah berubah sama sekali. Tidak seperti jalan yang dilampauinya itu. Jalan ini seolah-olah masih jalan yang dahulu, tanpa perubahan sama sekali. Pohon nyamplung di pinggir sungai, pohon cangkring dan pohon gayam yang berdiri berjajar, pohon randu alas di samping kuburan dan pohon pucang berjajar empat.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia berkata, “Aku ternyata harus berusaha menyesuaikan diriku. Sikap anak-anak Candi Sari sekarang adalah sikap yang tidak menyenangkan.” Namun kemudian tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “Tetapi kenapa tidak seorang pun yang berani berbuat sesuatu atas orang-orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?”

Tetapi Bramanti tidak dapat menemukan jawabannya. Untuk sementara ia menganggap bahwa sikap orang-orang berkuda yang menjadi kepercayaan Panembahan Sekar Jagat itu terlampau menakutkan bagi orang-orang Candi Sari, sehingga kesannya terhadap Panembahan Sekar Jagat menjadi terlampau berlebih-lebihan.

Sambil merenung Bramanti melangkah terus. Dilaluinya regol demi regol. Semakin lama semakin jauh dari halaman Kademangan.

Tetapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang berdesir di balik dinding batu di tepi jalan. Telinganya yang tajam segera mengenal, agaknya seorang telah mengikutinya dengan diam-diam.

“Siapa orang itu,” ia bertanya di dalam hatinya.

Namun Bramanti tidak berhenti. Ia pura-pura tidak mengetahuinya. Bahkan langkahnya semakin dipercepatnya. Dengan demikian, maka ia akan segera memancing orang itu untuk segera melakukan maksudnya apabila memang itulah yang dimaksudkannya.

Ternyata usahanya itu berhasil. Ketika Bramanti lewat ditikungan, disebelah halaman yang kosong dan gelap, maka meloncatlah sesosok tubuh langsung berdiri dihadapannya.

Bramanti terkejut, bukan karena kehadiran itu dengan tiba-tiba, tetapi ia terkejut setelah ia mengenal orang itu. Temunggul.

“Hem,” ia berdesah di dalam hatinya. “Apakah anak itu masih saja akan membuat persoalan.”

Bramanti terpaksa menghentikan langkahnya karena Temunggul berdiri bertolak pinggang di tengah jalan.

“Hem, kau beruntung hari ini Bramanti,” terdengar Temunggul berdesis.

Bramanti tidak segera mengerti maksud kata-kata itu. Karena itu, maka untuk sejenak ia berdiam diri.

Karena Bramanti tidak menjawab, maka Temunggul berkata lebih lanjut, “Seandainya Ki Jagabaya tidak ikut campur, maka kau akan tahu, bahwa kedatanganmu sama sekali tidak kami sukai. Dan kau akan tahu, seandainya kau ingin melepaskan dendammu, maka kau tidak akan mendapat kesempatan sama sekali.”

Bramanti masih tetap membatu.

“Sayang,” berkata Temunggul selanjutnya, “Ki Jagabaya yang kasar itu telah menyelamatkanmu.”

Bramanti masih belum menyahut.

“Nah,” berkata Temunggul pula, “Seperti kau berjanji kepada Ki Demang, maka kau pun harus berjanji kepadaku.”

Kepercayaan Panembahan Sekar Jagat itu terlampau menakutkan bagi orang-orang Candi Sari, sehingga kesannya terhadap Panembahan Sekar Jagat menjadi terlampau berlebih-lebihan.

Sambil merenung Bramanti melangkah terus. Dilaluinya regol demi regol. Semakin lama semakin jauh dari halaman Kademangan.

Tetapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang berdesir di balik dinding batu di tepi jalan. Telinganya yang tajam segera mengenal, agaknya seorang telah mengikutinya dengan diam-diam.

Bramanti mengerutkan keningnya.

“Ayo, berjanjilah. Kalau tidak, maka kau kini tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga.”

“Apakah yang harus aku janjikan?” bertanya Bramanti.

“Berjanjilah, bahwa kau tidak akan berhubungan dengan Ratri.

Bramanti terperanjat mendengar permintaan itu. Sejenak ia terbungkam. Namun dalam pada itu, segera ia mengetahui, bahwa inilah sumber persoalannya, kenapa Temunggul bersikap demikian kasar terhadapnya.

“Berjanjilah,” geram Temunggul. Terasa bahwa di dalam nada kata-katanya itu tersimpan sebuah ancaman.

“Aku tidak mempunyai sangkut paut apapun dengan Ratri,” jawab Bramanti.

“Bohong,” potong Temunggul. “Pada saat kau menginjakkan kakimu kembali di Kademangan ini, yang pertama-tama kau temui adalah Ratri. Jangan bohong. Aku melihat sendiri apa yang telah terjadi itu.”

“Itu hanya suatu kebetulan saja. Aku melihat Ratri berjalan beberapa langkah daripadaku. Bahkan Ratri sendiri sudah tidak dapat mengenal aku lagi.”

“Memang. Mungkin Ratri sudah tidak mengenalmu dan sama sekali tidak mengharapkan pertemuan ini. Tetapi agaknya kaulah yang dengan sengaja menemuinya.”

Bramanti menggeleng. “Tidak, Aku sama sekali tidak sengaja.”

“Aku melihat sorot matamu, ketika kau menatap wajah Ratri.”

“Sudah kira-kira sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan anak itu. Perpisahan itu terjadi ketika kami masih kanak-kanak. Di dalam diri kami sama sekali tidak tersangkut perasaan apapun di dalam usia kami saat itu.”

“Tetapi sekarang kau adalah seorang anak muda yang gagah. Tanggapanmu terhadap anak-anak perempuan yang masih kanak-kanak pada saat kau tinggalkan pasti mengalami perubahan pula.”

“Tetapi aku belum siap untuk menilai seseorang karena aku baru saja melihatnya saat itu.”

“Mungkin kau benar. Tetapi aku minta kau berjanji, bahwa untuk seterusnya kau tidak akan mengganggu Ratri.”

Bramanti termenung sejenak. Sebenarnya ia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap anak perempuan itu. Namun justru karena permintaan Temunggul itu, ia mulai membayangkan, wajah gadis yang bernama Ratri itu.

“Ia memang cantik,” katanya di dalam hati. “Mungkin ia bakal istri Temunggul. Tetapi sikap Temunggul itu memang agak keterlaluan.”

“Barjanjilah,” Temunggul mendesaknya.

Bramanti kemudian menganggukkan kepalanya. Ia tidak melihat kemungkinan lain daripada memenuhi permintaan itu supaya tidak terjadi keributan.

“Baik,” katanya, “Aku tidak akan mengganggunya sama sekali.”

“Ingat-ingatlah janjimu itu,” suara Temunggul menjadi berat. “Jangan mencoba mengelabuhi aku. Sikapmu akan selalu ku awasi. Bukan saja soal Ratri, tetapi juga soal-soal lain yang menyangkut ketentraman Kademangan ini.”

“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” sahut Bramanti.

“Berkeberatan atau tidak, kau tidak wenang memilih. Kau harus menerima keadaan ini. Kau akan diawasi. Aku memberitahukan hal itu kepadamu. Aku sama sekali tidak minta pertimbanganmu, apalagi minta ijinmu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah,” katanya. “Bukan maksudku untuk menyatakan hal itu.”

“Nah, untuk sementara aku percaya kepadamu. Tatapi apabila kau ingkar akan janji itu, maka kau akan menyesal untuk sepanjang umurmu.”

Sekali lagi Bramanti mengangguk. “Baiklah.”

“Sekarang pergilah. Pulanglah ke rumahmu yang hampir roboh itu. Lebih baik bagimu untuk mengurusi rumah itu. Kau dapat menenggelamkan waktumu dengan memperbaikinya.”

“Ya aku akan berbuat demikian.”

“Baik. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Keadaan Kademangan ini dan keadaanmu sendiri. Sekarang pergilah.”

Bramanti itu mengangguk. Kemudian dilanjutkannya langkahnya, menyusuri jalan-jalan pedesaan pulang kerumahnya. Namun pertemuannya dengan Temunggul itu telah memberikan jawaban, meskipun baru sebagian kenapa Temunggul bersikap terlampau kasar kepadanya.

Bramanti itu mengangguk. Kemudian dilanjutkannya langkahnya, menyusuri jalan-jalan pedesaan pulang kerumahnya. Namun pertemuannya dengan Temunggul itu telah memberikan jawaban, meskipun baru sebagian kenapa Temunggul bersikap terlampau kasar kepadanya.

Kalau saja tidak terjadi sesuatu dengan ayahku,” katanya di dalam hati. “Maka aku tidak akan tersudut dalam kesulitan serupa ini. Segala langkahku pasti akan diseret kepada persoalan ayah.

Persoalan dendam dan segala macam. Meskipun soal yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan soal dendam dan kematian ayah, misalnya soal Ratri, namun bagiku, seolah-olah lubang itu telah disediakan. Dendam, menuntut balas, dengki, bikin onar dan bahkan akan ditarik garis lurus menuju ke gerombolan Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengeluh di dalam hati. Tetapi terngiang lagi kata-kata gurunya. “Kaulah yang akan dapat menebus segala cacat orang tuamu.”

“Itu adalah caraku untuk berbakti kepada orang tuaku,” desisnya. Dan Bramanti pun bersyukur, bahwa ia masih mampu mengendalikan dirinya meskipun ia mengalami perlakuan yang tidak sewajarnya.

Ketika ia kemudian mengetuk pintu rumahnya, terdengar suaranya ibunya, “Siapa?”

“Aku ibu.”

“Oh,” kemudian terdengar langkah kecil tersuruk-suruk menuju ke pintu. Sejenak kemudian terdengar gerik selarak terbuka dan pintu pun segera menganga.

“Kau baik-baik saja bukan?” pertanyaan itulah yang pertama-tama diucapkan oleh ibunya.

Bramanti melangkah masuk. Dengan nada yang dalam ia menjawab, “Baik bu. Tidak ada apa-apa yang terjadi.”

“Tetapi,” ibunya mengerutkan keningnya sambil mengamat-amati wajah Bramanti yang kotor.

“Oh,” Bramanti segera mengerti, bahwa ibunya melihat debu yang melekat diwajahnya ketika ia jatuh terjerembab, karena kakinya menyentuh kaki Temunggul. “Aku terperosok di tempat sampah itu. Aku tidak melihatnya.”

Tetapi ibunya menjadi heran, “Dimana ada tempat sampah itu?”

“Oh, maksudku pawuhan itu.”

“Ya, dimana pawuhan itu?”

“Di Kademangan,” jawab Bramanti sekenanya. “Tetapi sudahlah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya menjadi kotor sedikit.”

Ibunya menganggukkan kepalanya. Meskipun ia belum puas terhadap jawaban anaknya itu, tetapi ia tidak bertanya lagi.

“Aku merebus air lagi Bramanti. Minumlah.”

“Oh, terima kasih. Ibu menjadi lelah.”

“Tidak. Aku tidak menjadi lelah. Aku sudah terlampau biasa bekerja apapun. Bahkan membelah kayu dan mengambil air untuk mengisi genthong di dapur.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayanglah betapa berat hidup ibunya seorang diri. Seorang perempuan tua yang harus mengambil air sendiri, membelah kayu, mengisi lampu-lampu minyak dan kadang-kadang mengambil dedaunan dan buah-buahan.

“Hem,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

“Tidurlah bu,” berkata anak muda itu.

“Apakah kau belum akan tidur?”

Bramanti mengangguk, “Ya, aku pun akan tidur. Besok aku akan mulai memperbaiki rumah ini.”

Perempuan tua itu pun kemudian pergi ke pembaringannya dan memberikan sehelai tikar pandan yang sudah kekuning-kuningan kepada anaknya. “Disitulah kau nanti tidur.”

“Baik bu. Aku dapat tidur dimana saja. Aku dapat tidur di atas tikar, dilantai tanpa alas, bahkan aku dapat tidur di pepohonan.”

“Ah,” ibunya tidak menyahut selain berdesah perlahan-lahan, kemudian ditinggalkannya Bramanti yang sedang membentangkan tikar dan kemudian berbaring di atasnya.

Namun, karena pikirannya yang ngelambrang, maka Bramanti tidak dapat segera tidur. Berbagai angan-angan hilir mudik di kepalanya, diselingi oleh segala macam kenangan dalam warna yang berbeda-beda.

Anak muda itu mengerinyitkan alisnya ketika ia mendengar ayam jantan berkokok untuk yang ketiga kalinya. Tanpa sesadarnya ia berdesis. “Fajar.”

Tetapi Bramanti pura-pura memejamkan matanya ketika kemudian ibunya terbangun. Perempuan tua itu berjalan tertatih-tatih menuju ke dapur dengan lampu ditangannya. Sejenak kemudian perapian pun telah menyala.

“Hem, kasihan,” setiap kali Bramanti itu berdesis.

Bramanti bangkit dari pembaringannya ketika matahari mulai mewarnai langit dengan sinarnya yang kemerah-merahan. Perlahan-lahan ia pergi keluar, menuruni pendapa rumahnya.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat lebih jelas lagi, betapa halamannya telah menjadi seperti hutan yang liar. Rumpun-rumpun bambu yang lebat, pohon perdu yang tersebar di segala sudut. Pepohonan yang menjalar dan sejenis ubi-ubian yang rimbun.

Semua itu telah mendorong Bramanti untuk melepaskan bajunya. Dicarinya cangkul dan parang yang masih tersisa di rumahnya itu. Dengan langkah yang pasti, maka mulailah ia membersihkan halaman rumahnya. Mula-mula dibersihkannya rerumputan liar di muka tangga pendapanya. Kemudian sebelah menyebelah sebelum ia mulai menjamah perdu yang tersebar di mana-mana.

Ketika ibunya menjengukkan kepalanya dari pintu dapur, maka perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat anaknya bekerja dengan sepenuh hati.

“Minumlah dahulu Bramanti,” berkata ibunya dari ambang pintu.

Bramanti berhenti sejenak sambil berpaling memandangi ibunya, “Terima kasih,” jawabnya, “Sebentar lagi. Nanti aku akan masuk dan minum. Sekarang aku ingin membersihkan halaman ini dulu sebelum aku memanjat ke atas atap nanti setelah embun menjadi kering.”

“Jangan terlampau memeras tenagamu Bramanti. Waktu masih cukup panjang. Kau dapat mulai dengan bagian-bagian yang kecil selagi kau belum sembuh dari kelelahanmu setelah berjalan sekian lamanya.”

“Ya ibu. Tetapi aku tidak lelah.”

Ibunya tidak menyahut lagi. Diawasinya sejenak Bramanti yang sudah mulai bekerja lagi. Namun kemudian ditinggalkannya anak muda itu masuk ke dalam.

Demikianlah Bramanti telah mulai berbuat sesuatu untuk halaman dan rumahnya. Tidak hanya halamannya, tetapi kemudian dijamahnya juga rumahnya. Bagian demi bagian dilihatnya, apa saja yang harus digantinya.

Di hari berikutnya Bramanti telah menebang berpuluh batang bambu. Kemudian dibersihkannya ranting-rantingnya dan diikatnya menjadi beberapa ikat. Dipanggulnya bambu-bambu itu ke sungai disebelah desanya dan dibenamkannya ke dalam air. Bambu yang demikian akan menjadi bahan perumahan yang sangat baik. Sementara ia menunggu sampai setahun, maka diperbaikinya rumahnya untuk sementara dengan bambu-bambu yang baru saja ditebangnya.

Dengan rajinnya Bramanti bekerja dari pagi sampai petang dihari-hari berikutnya. Dicarinya ijuk dilereng-lereng pegunungan. Kamudian dibersihkannya tepasnya dan dijemurnya sebelum dipasang sebagai penyulam atas rumahnya yang berlubang-lubang.

Pada pekan ketiga setelah Bramanti ada di rumahnya, halaman rumah itu telah mulai tampak bersih. Pagar-pagar petamanan telah mulai dianyam, sedang pagar-pagar batu halamannya pun telah dibersihkannya dari lumut-lumut yang hijau.

Regol halamannya kini sudah tidak miring lagi, meskipun beberapa bagian hanya disulamnya dengan bambu.

“Kau membuat rumah ini hidup kembali Bramanti,” desis ibunya disuatu petang.

“Kuwajibanku ibu.”

Dan kuwajiban itu dilakukannya setiap hari. Sedikit demi sedikit bagian-bagian rumahnya telah menjadi baik kembali, meskipun belum pulih seperti ketika ayahnya masih seorang yang kaya raya.

Namun karena itu, karena ia tenggelam dalam kesibukannya, ia tidak banyak keluar dari halaman rumahnya kecuali membawa bambu ke sungai, mencari ijuk dan sekali-kali mencari ikan untuk melepaskan ketegangan kerjanya.

“Barangkali hal ini lebih baik bagiku untuk sementara,” katanya di dalam hatinya. “Dengan demikian aku akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dapat mendorong aku ke dalam kesulitan.”

Kadang-kadang, apabila kawan-kawannya bermain semasa kanak-kanak lewat di lorong di depan rumahnya, ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tetapi hanya satu dua saja dari mereka yang membalas anggukan kepala itu. Bahkan ada di antara mereka yang pura-pura tidak melihatnya meskipun ia berdiri di depan regol halamannya.

Meskipun demikian Bramanti tidak jemu-jemunya. Tidak saja menganggukkan kepala, pada saat berikutnya, diberanikannya dirinya menegor satu dua di antara mereka.

Ternyata ada juga yang menjawab tegoran itu meskipun hanya sepatah dua patah kata. Tetapi bagi Bramanti, semuanya itu merupakan harapan baik baginya dimasa mendatang. Ia merasa bahwa pada saatnya ia akan menemukan tempatnya kembali di dalam pergaulan anak-anak muda di Kademangan ini.

Namun ketika pada suatu pagi ia berdiri di regol halaman, dadanya tiba-tiba berdesir. ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk menghindar, ketika tanpa disadarinya, di antara beberapa orang gadis yang membawa cucian ke sungai, terdapat seorang yang harus dijauhinya, Ratri.

“Hem,” katanya di dalam hati. “Pertemuan ini kurang menguntungkan bagiku.”

Tetapi ia tidak dapat menghindar.

Ketika gadis-gadis itu lewat dimuka regol rumahnya, dan ia mencoba menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, agaknya tidak seorang pun yang memperhatikannya, kecuali Ratri. Agaknya gadis-gadis itu telah mendengar dari kawan-kawan mereka, bahwa anak-anak muda Candi Sari tidak menyenangi kehadiran Bramanti. Sehingga dengan demikian, mereka pun tidak mau berhubungan dengan anak muda yang telah sekian lamanya hilang dari pergaulan mereka.

Ratri yang berjalan di paling belakang menganggukkan kepalanya pula. Meskipun hanya itu, hanya mengangguk, namun dada Bramanti telah menjadi berdebar-debar karenanya. Anggukan kepala itu telah cukup menjadi alasan bagi Temunggul untuk membuat persoalan.

“Temunggul terlampau cemburu,” katanya di dalam hati.

Tanpa sesadarnya tiba-tiba Bramanti mengangkat wajahnya mengikuti langkah Ratri. Sekali ia berdesis. “Hem, gadis ittu memang cantik. Pantaslah kalau Temunggul takut kehilangan.”

Bramantipun kemudian melangkah masuk halaman, sambil berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan tidak seorang pun yang melihatnya. Dan dengan demikian tidak akan ada persoalan yang dapat mengungkat kebencian Temunggul kepadaku.”

Meskipun demikian pertemuan yang tidak disengajanya itu telah membuatnya gelisah. Bukan ia tidak dapat menjawab ketika ia bertanya kepada diri sendiri. “Kenapa gadis itu mengambil jalan ini? Bukan kebiasaan mereka melalui jalan ini menuju ke bendungan.”

Pertanyaan itu ternyata telah mengganggunya. Ia menganggap hal itu tidak wajar. Karena itu, maka Bramanti tidak dapat menahan hati lagi untuk mencari jawab atas pertanyaan itu.

Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pinggir desa menyusuri jalan yang memanjang di pinggir parit induk pedesaannya. Jalan itulah yang biasanya dilalui oleh gadis-gadis itu.

“Oh,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata beberapa bagian dari jalan itu menjadi longsor.” Inilah agaknya sebabnya. Sukurlah, kalau tidak ada sebab yang lain.”

Bramanti menjadi berlega hati. Tidak ada alasan untuk menjadi heran, kenapa gadis-gadis itu lewat jalan di depan rumahnya.

Tetapi, ternyata sesuatu masih juga menyangkut dihatinya. Pertemuannya yang tidak disengaja dengan Ratri itu telah menumbuhkan persoalan di dalam dirinya. Sebenarnya ia tidak akan banyak menaruh perhatian atas gadis itu seperti atas gadis-gadis yang lain. Namun karena ancaman Temunggul, justru ia selalu berusaha mengenang wajah itu.

“Ratri,” ia berdesis. “Mungkin Ratri itu akan menjadi isteri Temunggul kelak. Mungkin mereka berdua telah berjanji dan mungkin orang tua mereka telah sepakat pula.”

Dan tanpa sesadarnya itu bergumam, “Beruntunglah Temunggul itu. Ia akan mendapat seorang isteri yang cantik, ramah dan agaknya mempunyai kelainan dari kawan-kawannya yang angkuh.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia sudah berada di rumahnya kembali, maka tanpa disadarinya ia selalu mengharap agar gadis-gadis itu lewat jalan itu juga, apabila mereka nanti kembali setelah mencuci. Karena itu, ketika ibunya memanggilnya untuk makan, Bramanti menjawab, “Nanti sebentar ibu. Kerja ini hampir selesai.”

Tetapi Bramanti tidak melakukan apa-apa. Ia hanya sekadar meraut bambu yang telah dibelahnya untuk gapit dinding bambu di bagian dapur rumahnya. Tetapi bambu itu sebenarnya telah cukup halus.

Tiba-tiba Bramanti menjadi gelisah. Setiap kali ia mengangkat wajahnya, memandang ke jalan di depan rumah itu. Tetapi ia tidak seorang pun yang lewat. Kalau sekali-kali ia mendengar desir langkah seseorang, kemudian diamatinya lewar regolnya yang terbuka, maka yang lewat adalah satu dua orang yang dengan tergesa-gesa pergi ke sawah mengantar makan dan minum.

“Apakah mereka tidak pulang,” Bramanti itu bergumam sambil menengadahkan wajahnya memandang matahari yang semakin hampir sampai ke puncak langit.

Akhirnya Bramanti itu pun menggeliat sambil berdiri. Agaknya harapannya untuk melihat sekali lagi wajah Ratri hari ini, tidak akan terpenuhi.

Tetapi baru saja ia melangkah meninggalkan kerjanya, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa. Suara gadis-gadis yang sedang bergurau.

“Itukah mereka,” desis Bramanti. Tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Ia tidak dapat menghindarkan diri dari suatu keinginan untuk melihat gadis-gadis itu lewat. Tetapi ia tidak dapat dengan sengaja keluar regol untuk menunggu mereka.

“Karena itu, maka Bramanti itu pun menjadi gelisah. Ia berjalan saja hilir mudik tanpa tujuan. Sekali-kali ia berdiri di muka regol masih di dalam halaman, namun kemudian ia melangkah pergi.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba Bramanti meraih parangnya. Dengan cekatan ia memanjat sebatang pohon kelapa.

“Aku dapat pura-pura memetik buah kepala,” desisnya. Namun Bramanti itu kemudian terse-nyum sendiri. “Siapakah yang akan bertanya kepadaku, kenapa aku memanjat pohon kelapa?”

Untunglah, bahwa ketika ia mencapai pertengahan pohon kelapa itu, dan melihat gadis yang berjalan sambil bergurau, mereka sama sekali tidak memperhatikannya. Tidak seorang pun dari mereka yang melihat, bahwa ia tengah memanjat semakin tinggi.

Ketika Bramanti itu sudah sampai ke puncaknya, dan kemudian duduk di atas pelepah, hatinya menjadi agak tenang. Dari tempatnya ia dapat melihat gadis yang sedang berjalan semakin dekat.

Dari tempatnya Bramanti melihat dengan jelas gadis-gadis baru pulang dari bendungan sambil menjinjing bakul cucian. Mereka bergurau sambil berdesa-desakan, dorong-mendorong dan ganggu-mengganggu.

Agaknya yang menjadi pusat perhatian gadis-gadis itu adalah Ratri. Kawan-kawannya menggelinginginya. Ketika salah seorang berpaling tertawa, maka tanpa disengaja, mata Ratripun mengikuti arah pandangnya.

“Hem,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata beberapa langkah di belakangnya, Temunggul berjalan bersama tiga orang kawan-kawannya.

Sekali lagi dada Bramanti berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia menjadi tidak senang melihatnya. Melihat gadis-gadis dan kawan Ratri mengganggunya, dan sekali-kali mereka berpaling ke arah Temunggul.

“Ah,” Bramanti berdesah, “Mereka benar-benar telah mengikat diri. Kawannya pun telah mengetahuinya.

Bramanti menarik nafas. Tanpa disadarinya, ditatapnya wajah Ratri yang sedang tersipu-sipu. Semburat warna merah di wajah itu, membuat Ratri menjadi semakin cantik. Sekali-kali gadis itu terpekik apabila salah seorang kawannya mencubitnya. Kemudian ia berlari-lari kecil mendahului. Tetapi beberapa orang kawannya mengejarnya dan menarik kain panjangnya sambil berkata, “Tunggu aku Ratri. Tunggu.”

“Bukan kami yang ditungguinya,” salah seorang dari gadis-gadis itu menyahut. “Tetapi itulah. Burung bangau tonthong yang telah menolong mencuci periuk sampai mengkilat seperti emas.”

“Ah,” Ratri berdesah. Ia mencoba berjalan semakin cepat. Tetapi langkahnya selalu tertahan-tahan. Kawan-kawannya masih saja memegangi kainnya.

Ketika pada suatu ketika Ratri dapat melepaskan diri, maka segera ia berlari menghambur mendahului kawan-kawannya sambil berkata, “Jangan ganggu. Aku tidak mau.”

Yang terdengar adalah gelak tawa gadis-gadis itu, sehingga beberapa orang yang tinggal disebelah menyebelah jalan itu, menjengukkan kepala mereka dari pintu-pintu rumahnya, termasuk ibu Bramanti.

“Ada apa he?”, bertanya seorang perempuan setengah tua yang berpapasan dengan gadis-gadis itu.

“Bertanyalah kepada Ratri bibi,” jawab salah seorang dari mereka sambil tertawa.

“Ah kau,” perempuan itu pun tersenyum ketika ia melihat Temunggul bersama kawan-kawannya tersembul dari tikungan. “Itulah sebabnya.”

“He, darimana bibi tahu?”

Perempuan tua itu mengerutkan keningnya. “Bukankah anakku kawan bermain Ratri dan kawan bermain kalian? Baru kali ini ia tidak keluar rumah karena sakit perut.”

“O,” gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, pasti ia bercerita kepada bibi.”

“Ya. Kepadaku, kepada ayahnya, kepada adik-adiknya.”

“Dan mereka masing-masing pun bercerita pula bukan bibi?”

“Tentu, tentu.”

Gadis-gadis itu tertawa. Perempuan tua itu pun tertawa pula.

“Sst,” desis salah seorang gadis itu. “Itu dia. Nanti ia marah.”

“Mana mungkin ia marah. Ia mengharap kita mengganggunya terus. Semakin sering, semakin menyenangkan hatinya.”

“Tetapi Ratri telah lari mendahului kita.”

“Anak itu malu mengakuinya.”

Sekali lagi terdengar mereka tertawa bergelak-gelak. Sehingga perempuan setengah tua itu berdesis. “Sst, tidak pantas gadis-gadis tertawa sampai memperlihatkan giginya. Apalagi di jalan seperti kalian sekarang. Ayo. Cepat pulang. Tertawalah di dalam bilik masing-masing.

“Apakah bibi tidak pernah tertawa selagi masih gadis?”

“Tentu pernah, tetapi tanpa memperlihatkan gigi.”

“Sst, itu. Ia akan melampaui kita.”

Tiba-tiba gadis itu berhenti tertawa. Mereka tidak beranjak dari tempat mereka. Meskipun mereka berpura-pura tidak melihat Temunggul dan kawan-kawannya, tetapi mereka menahan tertawa mereka di dalam mulut. Sedang perempuan setengah tua itu telah meneruskan perjalanannya pergi ke sawah mengantar makan dan minum bagi suaminya.

“Kenapa kalian berhenti?” bertanya Temunggul.

“Jangan kau cari disini,” sahut salah seorang gadis-gadis itu.

“Siapa?”

“Uh, kau masih pura-pura bertanya?” sahut yang lain.

“Aku tidak tahu. Siapakah yang kalian maksud itu?”

“Keleting Kuning. Kenapa Ande-Ande Lumut masih juga bertanya?”

“Ah,” desis Temunggul.

Tetapi sebelum ia sempat berkata lebih lanjut, tiba-tiba mereka terkejut ketika beberapa butir kelapa berjatuhan hampir bersamaan. Dengan serta merta Temunggul, kawan-kawannya dan gadis-gadis itu menengadahkan kepalanya. Merekapun kemudian melihat Bramanti masih berada di puncak pohon kelapa di halaman rumahnya.

Agaknya Temunggul merasa terganggu. Wajahnya yang cerah tiba-tiba berkerut. Dengan nada datar ia bergumam, “Anak itu agaknya sudah gila.”

Tanpa berpaling lagi ia melangkah memasuki regol halaman Bramanti. Dengan wajah yang buram ia berteriak, “He, Bramanti. Apakah kau sudah menjadi gila?”

Bramanti tidak menyahut.

“Turun,” teriak Temunggul.

Gadis-gadis menjadi ketakutan melihat sikap Temunggul. Maka merekapun segera meninggalkan tempat itu, pulang ke rumah masing-masing.

“Turun,” sekali lagi Temunggul berteriak.

Bramanti kini menyadari. Ketika ia melihat gadis-gadis itu mengganggu Temunggul, tanpa diketahui sebab-sebabnya ia merasa terganggu pula. Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia memotong sejanjang buah kelapa yang masih belum tua benar.

Karena Bramanti belum juga turun, dan tidak menjawab sepatah katapun, maka sekali lagi Temunggul berteriak lebih keras, “Turun, kau dengar. Atau aku akan merobohkan pohon kelapa ini.”

Hampir saja Bramanti menjawab tantangan itu. Tetapi untunglah, bahwa ia segera berhasil menahan dirinya. Karena itu, maka perlahan-lahan ia merayap turun. (

Belum lagi Bramanti sampai di tanah, terdengar ibunya bertanya, “Angger Temunggul, kenapa dengan Bramanti?”

Temunggul berpaling. Dilihatnya seorang perempuan tua dalam kecemasan. Namun ia sama sekali tidak mengacuhkannya lagi. Perhatiannya telah tercurah kepada Bramanti, yang menjadi semakin marah.

“He, Bramanti. Apakah maksudmu dengan memanjat pohon kelapa itu he? Apakah kau sengaja mengejutkan aku?”

Bramanti menggeleng sareh. “Tidak Temunggul. Aku tidak mempunyai kesengajaan apapun untuk tujuan apapun.”

Kini Bramanti telah berdiri ditanah, berhadapan dengan Temunggul. Keduanya adalah anak-anak muda yang sedang mekar. Keduanya dahulu adalah kawan sepermainan yang akrab.

“Apakah kau berbuat demikian bukan sekadar untuk mengganggu gadis-gadis itu.”

“Aku tidak begitu memperhatikannya,” jawab Bramanti. “Dan aku tidak tahu, katakanlah tidak memperhatikan, bahwa ada beberapa orang gadis di jalan itu.”

“Gila kau,” Temunggul berteriak, “Sekarang hati-hatilah apabila kau ingin berbuat sesuatu. Mungkin kelapamu itu dapat jatuh di atas kepala seseorang, kalau caramu demikian. Dimanapun juga tidak lazim memetik buah kelapa sejanjang sekaligus seperti yang kau lakukan itu.”

“Tetapi aku tahu benar, bahwa pohon kelapa itu tidak berada di pinggir jalan Temunggul, sehingga dengan demikian buahnya tidak akan mungkin jatuh ke jalan itu.”

“Diam,” bentak Temunggul. “Sekarang memang demikian. Kebetulan pohon kelapa itu tidak ada di pinggir jalan. Tetapi lain kali, dalam kegilaanmu, kau akan berbuat lain.”

Bagaimana juga Bramanti adalah seorang anak muda. Karena itu, sebenarnya terlampau sulit baginya untuk menahan diri. Apalagi ketika ia melihat anak-anak muda kawan Temunggul berdiri berjajar di depan regol sambil bertolak pinggang.

Namun sebelum ia menjawab terdengar suara ibunya. “Bramanti, mintalah maaf. Kau telah membuat suatu kesalahan.”

Dada Bramanti berdebar. Tetapi ketika dilihatnya wajah ibunya yang kecemasan, maka kemudian wajahnyapun tunduk. Dengan nada yang berat ia berkata, “Aku minta maaf Temunggul.”

“Kali ini aku maafkan kau. Tetapi lain kali, aku akan berbuat sesuatu untuk menghajarmu.”

“Terima kasih ngger,” terdengar suara perempuan tua yang ketakutan itu.

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ditatapnya tubuh Bramanti dari ujung ubun-ubun sampai ke ujung dari kakinya. Sejenak kemudian terdengar Temunggul berdesis. “Tubuhmu sempurna Bramanti. Kalau kau tidak gila, kau dapat menjadi anggota anak-anak muda pengawal Kademangan ini.”

“Kalau saja diperkenankan, aku akan senang sekali,” jawab Bramanti.

“Tetapi anggota pengawal Kademangan seharusnya bukan laki-laki cengeng.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam, “Aku, akan mencoba.”

“Tetapi penerimaan itu harus melalui pendadaran. Tidak setiap orang dapat diterima.”

Bramanti tidak segera menyahut.

“Nah, di dalam pendadaran itulah kita akan melihat, apakah seorang pantas untuk diterima menjadi anggota pengawal kademangan.”

“Apakah aku juga diperkenankan Temunggul?” bertanya Bramanti kemudian.

“Kau masih dalam pengawasan. Kalau kau ternyata tidak melanggar segala janji yang pernah kau ucapkan di muka Ki Demang dan kepadaku, maka kau akan mendapat kesempatan. Tetapi sebelum kau ikut dalam pendadaran, kau dapat melihatnya. Berapa hari lagi akan ada pendadaran serupa itu. Dua orang telah menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota pengawal.

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya bertanya, “Siapakah pemimpin anak-anak muda anggota pengawal di Kademangan ini.”

“Aku,” jawab Temunggul sambil mengangkat dadanya.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, cobalah melihat pendadaran itu. Kalau kau merasa sanggup juga, dan ternyata bahwa kau tidak akan melenggar segala janjimu, maka kau akan diterima kembali dalam pergaulanmu di masa kanak-kanak.

“Aku berharap demikian Temunggul.”

“Siapkan dirimu sejak sekarang. Kau harus dapat mempergunakan salah satu jenis senjata. Kau harus mempunyai ketahanan tubuh dan tekad. Kemampuan membela diri dan mengatasi segala macam kesulitan.”

“Aku akan mencoba.”

“Mudah-mudahan kau mendapat kesempatan.” Temunggul tersenyum aneh. Melihat senyum itu, dada Bramanti menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak bertanya apapun.

“Hati-hatilah dengan segala macam kegilaannmu itu,” berkata Temunggul kemudian. Lalu, “Tetapi kau perlu tahu, ada kalanya seseorang gagal dalam pendadaran, dan bahkan mendapat cidera. Pernah seorang anak muda menjadi cacad ketika ia mendapat cara pendadaran yang menarik. Menangkap kuda binal dan menundukkannya. Ia terlempar dan jatuh di atas tanah berbatu-batu. Tangannya patah sebelah, dan wajahnya menjadi cacad pula.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin disaat mendatang aku akan mendapat cara yang lebih menarik. Kau pernah mendengar bahwa banyak ternak yang hilang akhir-akhir ini? Ternyata seekor harimau tua telah kehilangan kesempatan mencari makan di hutan sebelah. Nah, itu juga merupakan cara yang baik untuk melihat, siapakah di antara mereka yang menyatakan keinginannya menjadi anggota pengawal, yang paling baik.”

Bramanti masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia berkata tentang orang-orang berkuda yang menyebut dirinya utusan Panembahan Sekar Jagat. Kenapa bukan itu yang dipergunakan sebagai suatu cara pendadaran? Tetapi ia menyadari keadaannya. Orang-orang Kademangan ini masih diliputi oleh kecurigaan terhadapnya. Karena itu ia tidak berkata apapun tentang Panembahan Sekar Jagat.

Sepeninggalan Temunggul, Bramanti berjalan perlahan-lahan dengan kepala tunduk, masuk ke dapur. Ibunya telah menyediakan makan untuknya sejak lama, sehingga nasi telah menjadi dingin.

“Hati-hatilah dengan anak muda itu Bramanti,” berkata ibunya. “Dia mempunyai pengaruh yang kuat di Kademangan ini.”

“Ya bu. Ia adalah pemimpin anak-anak muda anggota pengawal Kademangan.”

“Temunggul adalah seorang anak muda yang sakti.”

Bramanti mengangkat wajahnya. Kemudian ia bertanya seolah-olah kepada dirinya sendiri. “Kenapa mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu untuk melindungi Kademangan ini dari tangan Panembahan Sekar Jagat. Kenapa? Itu adalah suatu sikap pengecut.”

Ibunya yang mendengar gumam itu menyahut, “Terlampau parah akibatnya Bramanti. Di Kademangan yang lain pun, mereka dapat berbuat sekehendak hati. Satu dua orang yang mencoba melawannya, dibinasakannya.”

“Ya bu,” jawab Bramanti. “Kalau satu dua orang saja yang melawan mereka, pasti akan dengan mudah dapat mereka binasakan. Tetapi apabila Kademangan bangkit bersama-sama, maka mereka tidak akan mungkin dapat melawan.”

Tetapi ibunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada yang berani mencoba berbuat demikian. Taruhannya terlampau mahal Bramanti. Kalau usaha ini gagal, maka seluruh Kademangan akan mereka binasakan.”

Bramanti tidak menyahut lagi. Ia tidak mau berbantah dengan ibunya, karena ia mengerti, betapa orang-orang Kademangan ini telah dicengkam oleh ketakutan yang tidak terkendali.

“Aku ingin melihat, siapakah yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat itu,” berkata Bramanti di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mengucapkannya di depan ibunya. Hal itu pasti akan membuatnya terlampau cemas.

“Aku harus menunda sampai suatu saat aku mendapat kesempatan,” katanya kepada dirinya sendiri.

“Sementara itu, Bramanti masih saja mengisi waktunya sehari-hari dengan kerja di halaman rumahnya. Ada-ada saja yang dilakukan. Namun ibunya pun berbangga melihat hasil kerja anaknya, sehingga kini rumahnya telah menjadi rapat kembali, bersih dan tidak berbahaya. Perempuan tua itu tidak perlu lagi selalu menengadahkan kepalanya, melihat kalau-kalau ada bagian atap rumahnya yang akan runtuh.

Selagi Bramanti sibuk dengan rumah dan halamannya, maka Kademangannyapun sibuk mempersiapkan sebuah pendadaran bagi dua anak-anak muda yang ingin menyatakan dirinya menjadi anggota pengawal Kademangan.

Beberapa hari lagi mereka harus menunjukkan kemampuan mereka di arena. Mereka harus dapat melakukan beberapa macam permainan yang meyakinkan. Kemudian mereka harus bersedia melawan siapa saja yang ingin mengetahui kemampuan mereka, selain yang telah diterima dengan resmi, sebagai anggota pengawal. Kalau dalam perlawanannya itu ia dapat dikalahkan oleh seseorang, maka apabila dikehendaki, orang yang dapat mengalahkannya itulah yang akan menjadi calon seterusnya, sedang yang dikalahkannya dengan sendirinya harus menarik diri.

Pendadaran itu sangat menarik perhatian Bramanti. Ia ingin melihat, sampai dimana jauh kemajuan yang dicapai oleh anak-anak muda sebayanya di Kademangan ini. Tetapi apabila ia menyadari dirinya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah kehadirannya di tempat pendadaran tidak akan menumbuhkan persoalan?

“Temunggul telah memberitahukan hal ini kepadaku, dan ia mengajak aku untuk melihatnya,” katanya di dalam hati. Namun kemudian timbul pertanyaan, “Apakah ia bersungguh-sungguh.”

Selagi Bramanti masih belum menemukan jawaban, tiba-tiba tangannya yang sedang meraut sepotong bambu terhenti. Ia mendengar seseorang memanggil namanya. Dan ketika ia berpaling, maka dilihatnya sebuah kepala menjenguk dari balik pintu regol halamannya, Temunggul.

Bramanti meletakkan parang dan sepotong bambu di tangannya. Kemudian iapun berdiri dan melangkah ke regol.

“Tidak sepantasnya seorang anak muda tidak berani melangkahi tlundak pintu regol halaman,” tegur Temunggul yang masih menjengukkan kepalanya.

Bramanti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya langkahnya sajalah yang masih tetap membawanya mendekati Temunggul. Bahkan matanya pun lurus-lurus memandang wajah anak muda yang kini telah berdiri tepat di pintu.

“Kenapa kau berubah menjadi terlampau jinak sekarang Bramanti,” berkata Temunggul kemudian, “O, pada masa kecilmu kau termasuk anak yang paling liar di desa kita.”

Bramanti masih belum menjawab. Ketika ia kemudian berhenti beberapa langkah di depan Temunggul, ia menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, Bramanti,” berkata Temunggul kemudian, “Apakah kau tidak tertarik untuk melihat pendadaran besok?”

Hati Bramanti terlonjak melihat kesempatan itu, sehingga dengan serta-merta ia menjawab, “Tentu, Temunggul, aku ingin melihat.”

“Pergilah ke halaman banjar. Kau akan melihat betapa kawan-kawanmu semasa kanak-kanak telah mendapat kesempatan untuk maju. Jauh lebih baik dari anak-anak muda di Kademangan ini semasa kita kecil. Kau akan dapat mengukur dirimu sendiri, apakah kau akan dapat menempatkan dirimu di antara kami. Seandainya kau mempunyai niat apapun, kau akan dapat melihat kemungkinan apakah yang dapat kau lakukan.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Baiklah Temunggul. Aku akan melihat besok. Mudah-mudahan aku dapat melihat betapa kecilnya aku berada di antara kalian.”

“Kau memang terlampau cengeng, tidak menyangka, bahwa hatimu, anak yang liar di masa kecil itu, kini menjadi sekecil biji kemangi.”

Bramanti menggigit bibirnya. Namun ia tidak menjawab. Dicobanya menekan gelora yang mengguncang dadanya. Di dalam hati ia berkata, “Terlampau berat. Terlampau berat untuk menahan hati di antara anak-anak gila ini.”

“Sudahlah,” berkata Temunggul. “Aku baru saja pergi ke bendungan. Aku sengaja singgah kemari untuk memberitahukan kepadamu, bahwa kami seluruh Kademangan selalu bergerak maju. Karena itu kau jangan tidur saja di dalam bilikmu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab supaya Temunggul tidak mendengar bahwa suaranya menjadi gemetar.

Sejenak kemudian maka Temunggul itupun meninggalkan regol halamannya. Sedangkan Bramanti masih saja berdiri membatu di tempatnya. Ia merasakan hubungan yang aneh antara dirinya dengan Temunggul, hanya karena kebetulan pada saat ia datang kembali di kampung halamannya, ia bertemu dengan Ratri.

“Tidak hanya sekadar itu,” katanya kemudian perlahan-lahan sekali. “Riwayat keluarganya ikut juga menentukan sikapnya dan sikap anak-anak muda di Kademangan ini,” sejenak ia terdiam, lalu “Tetapi besok aku akan datang. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Sebenarnyalah, di hari berikutnya Bramanti berkemas-kemas untuk pergi ke halaman Banjar Kademangan, meskipun ia menjadi ragu-ragu ketika ia minta diri kepada ibunya.

“Kau lebih baik tinggal di rumah hari ini Bramanti,” berkata ibunya.

“Temunggul mengundang aku untuk melihat ibu,” jawab Bramanti.

“Banyak kemungkinan dapat terjadi. Kau masih belum diterima sepenuhnya oleh keluarga Kademangan ini.”

“Karena itu aku harus banyak menerjunkan diri ke dalam pertemuan-pertemuan seperti dalam kesempatan ini. Aku akan mendapat kesempatan untuk memperlihatkan, bahwa aku benar-benar ingin terjun kembali dalam pergaulanku di masa lalu sepuluh tahun yang lampau. Sudah tentu dengan segala perkembangan yang telah terjadi.”

Ibunya tidak menjawab. Tetapi di wajahnya yang telah berkerut merut, membayangkan kecemasan.

“Ibu jangan cemas. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Hati-hatilah Bramanti. Kau akan bertemu dengan berbagai macam tabiat. Kau harus berusaha menempatkan dirimu.”

“Baik ibu.”

Dan Bramanti itu pun pergi ke halaman banjar Kademangan dengan keragu-raguan yang masih saja mengganggunya. Namun kemudian ia mencoba memutuskan, “Aku akan berbuat sebaik-baiknya. Aku tidak akan menjerumuskan diriku sendiri ke dalam kesulitan dan keharusan untuk berbuat sesuatu yang akan mendorong aku semakin jauh dari pergaulan di Kademangan ini.”

Ketika Bramanti kemudian sampai di lorong induk Kademangan, ia mulai bertemu dengan anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua yang akan pergi ke halaman banjar untuk melihat pendadaran tingkat anggota pengawal Kademangan. Mereka datang berbondong-bondong dalam kelompok-kelompok.

Bramanti menjadi berdebar-debar melihat anak-anak muda itu. Satu dua dari mereka memandangnya dengan penuh curiga. Tetapi satu dua yang lain berdesis, “Bramanti.”

Bramanti berjalan perlahan-lahan. Setiap kali ia mencoba menganggukkan kepalanya, meskipun anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk membalas anggukan kepalanya itu. Tetapi satu dua ada pula yang bertanya, “Apakah kau akan pergi ke banjar juga Bramanti?”

“Ya,” sahut Bramanti sambil menganggukkan kepalanya. Untuk memperkuat alasan kehadirannya itu, ia berkata, “Temunggullah yang memberitahukan kepadaku, bahwa hari ini ada pendadaran di halaman banjar itu.”

“Ya. Kami pun akan melihat, apa saja yang dapat dilakukan oleh kedua anak-anak itu.”

Sebelum Bramanti menyahut, anak-anak muda itu telah meninggalkannya. Namun meskipun demikian Bramanti merasa, bahwa tidak semua orang menganggap bahwa dirinya adalah hantu jadi-jadian yang bangkit dari kubur ayahnya, yang harus diasing-asingkan, dan dibenci.

Dengan langkah yang pasti, Bramanti kemudian menyelusur lorong itu di antara orang-orang lain yang pergi ke halaman banjar. Ketika ia memasuki halaman yang luas, ternyata di halaman itu telah banyak sekali orang-orang yang telah lebih dahulu datang, laki-laki, perempuan, tua, muda dan bahkan anak-anak.

“Dahulu pendadaran itu tidak pernah dengan cara terbuka seperti ini,” desis Bramanti didalam hatinya. “Pada masa kanak-kanak, belum pernah melihat satu kalipun pendadaran serupa ini.”

Tetapi Bramanti tidak bertanya kepada siapapun. Ia mengambil tempat yang tidak terlampau banyak pencampuran dengan anak-anak muda sebayanya, apalagi yang sudah dikenalnya dengan baik. Ia lebih senang memilih tempat di antara orang-orang tua yang kurang mengenalnya, sehingga dengan demikian, ia telah berusaha mengurangi persoalan yang dapat timbul atas dirinya.

Ketika matahari sudah naik setinggi bumbungan, maka pendadaran itupun akan segera dimulai. Yang mula-mula tampil ke arena adalah Ki Demang, Ki Jagabaya, seorang pengawal dari golongan orang-orang tua dan kemudian pemimpin anggota pengawal Kademangan dari anak-anak muda, Temunggul.

Beberapa saat Ki Demang berbicara di depan rakyatnya, kemudian mulailah Temunggul memanggil kedua pemuda yang akan mengalami pendadaran.

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu. Tanpa sesadarnya ia berdesis. “Suwela dan Panjang.” Tetapi Bramanti tidak mengucapkan apapun lagi. Apalagi ketika ia melihat satu dua orang berpaling ke arahnya setelah mereka mendengar ia menyebut kedua nama itu.

Namun di dalam hatinya ia berkata terus. “Agaknya kedua anak-anak itu terlambat. Temunggul telah lebih dahulu masuk menjadi anggota, bahkan kini ia memegang pimpinan.”

Perhatian Bramanti itupun kemudian terpusat kepada kedua anak-anak yang kini telah berada di tengah-tengah arena itu pula. Sedang Ki Demang dan Ki Jagabaya, serta para pemimpin Kademangan yang lain telah bergeser menepi.

“Kesempatan pertama akan diberikan kepada anak-anak muda,” berkata Temunggul sambil memandang berkeliling.

Bramanti bergeser setapak. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya di belakang seoorang laki-laki tua di depannya.

“Kalau seseorang mampu mengalahkannya, maka pencalonan ini akan gugur.” Temunggul berhenti sejenak, kemudian, “Untuk menilai kemampuannya sebelum ada di antara kalian yang ingin mencobanya, maka akan diberikan kesempatan kepada keduanya untuk menunjukkan sampai tingkat manakah kemampuan mereka.”

Suasana menjadi hening. Sementara itu Temunggul menganggukkan kepalanya kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya sambil bertanya, “Bukan begitu?”

Ki demang dan Ki Jagabaya menganggukkan kepala mereka.

“Ya, begitulah,” jawab Ki Jagabaya dengan suaranya yang bernada rendah.

“Nah, marilah kita mulai.”

Kesempatan pertama diberikan kepada Panjang. Dan agak ragu-ragu ia melangkah ke pusat arena sambil menjinjing sepucuk tombak pendek. Dengan tombak itulah ia akan memamerkan keprigelannya bermain senjata.

“Mulailah,” berkata Temunggul yang berdiri tidak begitu jauh dari padanya.

Panjang mengangguk. Kemudian mulailah ia mempersiapkan dirinya. Kakinya kini merenggang, kemudian kedua tangannya menggenggam tangkai tombaknya. Sejenak kemudian ia telah mulai berloncatan sambil memutar tombaknya.

Sekali-kali ia memantukkan ujung tombak itu, kemudian mengayunkannya mendatar. Kakinya meloncat dengan lincahnya. Sekali-kali ke depan. Kemudian mundur setengah langkah, namun tiba-tiba tubuhnya seakan-akan meluncur maju dengan cepatnya sambil menusukkan ujung tombak pendeknya.

Tepuk tangan dan berteriak-teriak tidak menentu sambil melontar-lontarkan baju mereka ke udara.

“Bagus,” berkata Temunggul. “Kalian dapat menilai, apakah ada di antaranya yang masih merasa perlu meyakinkan keprigelannya. Tetapi sebelumnya marilah kita memberikan kesempatan kepada Suwela.”

Suwela kemudian melangkah maju. Berbeda dengan Panjang yang masih dibayangi oleh keragu-raguan, maka Suwela melangkah ke tengah-tengah arena dengan kepala tengadah. Sambil tersenyum-senyum di gerak-gerakkannya sepasang pedang di tangannya.

“Kau mendapat kesempatan itu,” berkata Temunggul, “Nah, mulailah.”

Suwela segera mulai dengan permainannya. Mula-mula ia melenting tinggi sambil menyilangkan pedangnya. Kemudian demikian kakinya menyentuh tanah, maka sepasang pedangnya telah berputar seperti sepasang sayap yang menggelepar sebelah menyebelah. Dengan tangkasnya Suwela meloncat ke berbagai arah. Kemudian melenting beberapa kali. Pada saat terakhir dijatuhkannya dirinya, berguling beberapa kali, dan dengan gerak yang manis sekali ia meloncat berdiri di atas kedua kakinya.

Tepuk tangan dan sorak-sorai kecil bagaikan meruntuhkan langit. Sehingga untuk sejenak Suwela masih tetap berada di tengah-tengah arena sambil mengangguk-angguk ke segala arah.

“Kesempatan itu telah datang,” berkata Temunggul. “Ayo, siapa yang merasa bahwa kedua calon ini masih belum pada saatnya menjadi anggota pengawal.”

Untuk sesaat arena itu menjadi sepi. Beberapa anak-anak muda saling berpandangan. Tetapi belum seorangpun yang melangkah kakinya masuk ke dalam arena.

“Ayo,” berkata Temunggul pula. “Siapa? Setidak-tidaknya kita akan tahu, sampai di mana kemampuan kedua calon ini, sebelum mereka ditetapkan menjadi anggota pengawal.”

Sejenak anak-anak muda Kademangan Candi Sari saling berpandangan. Namun masih belum ada seorang pun yang maju ke arena.

“Tidak hanya anak-anak muda.” Temunggul berteriak lagi, “Siapapun boleh selain mereka yang telah menjadi anggota pengawal.”

Sejenak arena itu menjadi hening. Baru sejenak kemudian semua mata memandang seseorang yang dengan langkah ragu-ragu memasuki arena.

“Nah,” berkata Temunggul. “Kau agaknya yang ingin melihat, apakah kedua anak-anak muda ini cukup bernilai untuk menjadi anggota pengawal.”

Orang itu menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab. “Aku tidak akan berusaha mengalahkan mereka atau salah seorang daripadanya. Aku tidak akan mampu. Tetapi seperti yang kau katakan Temunggul, setidak-tidaknya kita akan dapat gambaran betapa kekuatan yang tersimpan di Kademangan ini.”

“Bagus,” sahut Temunggul. “Senjata apakah yang akan kau pilih? Rotan, cambuk atau jenis yang lain.”

“Aku akan memakai rotan.”

“Baik,” berkata Temunggul kemudian. “Siapakah yang akan kau pilih menjadi lawanmu? Suwela atau Panjang?”

“Salah seorang daripadanya. Yang manapun juga,” jawab orang itu.

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditatapnya Suwela yang masih berdiri ditengah-tengah arena. “Kaulah yang masih berdiri disini. Lawanmu akan mempergunakan rotan. Apakah yang akan kau pilih sebagai senjata?”

“Akupun akan mempergunakan rotan,” sahut Suwela.

“Bagus. Bersiaplah kalian.”

Suwela segera meletakkan pedangnya dan menerima dua potong rotan. Yang sepotong agak panjang, sedang yang lain lebih pendek. Demikian juga orang yang menyatakan dirinya menjajagi kemampuan Suwela itu.

Suwela yang segera telah bersiap, tersenyum sambil berkata, “Hem, agaknya kau menaruh minat juga pada permainan ini Jene. Aku memang sudah menyangka.”

Orang yang bernama Jene itupun tersenyum pula. “Aku hanya ingin bermain-main.”

Sementara itu Temunggul yang juga memegang sepotong rotan berkata, “Marilah, permainan segera akan dimulai.”

Suwela dan Jene pun segera bersiap. Mereka berdiri berhadapan dengan sepasang rotan di kedua tangan masing-masing.

Temunggul mengangkat rotan di tangannya. Kemudian berkata, “Kalau aku mengayunkan rotan ini, maka permainan akan segera dimulai. Aku percaya bahwa kalian telah memahami segala macam peraturan dan pantangan di permainan ini.”

Keduanya mengangguk sambil mempersiapkan diri. Kaki mereka merenggang sedang sepasang rotan masing-masing bersilang di muka dada.

Sejenak kemudian rotan di tangan Temunggul mulai bergerak. Dan dalam sekejap rotan itu telah terayun dengan derasnya.

Orang-orang yang mengelilingi arena itu mulai menjadi tegang. Mereka melihat Suwela dan Jene mulai berputar-putar sambil menggerakkan tongkat-tongkat rotan mereka. Sekali-kali rotan-rotan itu berputar, kemudian menyilang rendah. Sedang tongkat rotan yang pendek mereka pergunakan sebagai perisai apabila serangan benar-benar datang menyambar.

Bramanti yang berdiri di antara penonton menarik nafas dalam-dalam. Suwela menjadi kecewa ketika tidak seorang pun yang bersedia memasuki arena. Dengan demikian ia tidak akan mendapat gambaran sampai berapa jauh kemajuan yang telah dicapai oleh kawan-kawan yang hampir sebayanya. Namun agaknya harapannya itu dapat terpenuhi.

Dengan penuh perhatian ia melihat, betapa kaki Suwela meloncat-loncat dengan lincahnya, sedang Jene bergerak lamban, namun mantap. Seolah-olah kakinya melekat kuat-kuat di atas tanah tanpa tergoyahkan, apabila ia sedang berdiri tegak dengan kaki merenggang.

Rotan-rotan itu telah mulai bergerak-gerak. Kadang-kadang berputar di atas kepala, namun kadang-kadang terayun-ayun disisi tubuh.

Sejenak kemudian Jenelah yang mulai melancarkan serangan-serangannya yang mantap. Ayunan rotannya menyambar dengan dahsyatnya. Ternyata bahwa anak muda itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Namun lawannya cukup lincah untuk mengimbangi kekuatan itu. Dengan sigapnya Suwela menghindar sambil menyentuh rotan lawannya, sehingga rotan itu menjadi berubah arah.

Tetapi Jene segera memperbaiki kesalahannya. Ia bergerak setapak, dan sekali lagi memutar rotannya dan langsung terayun kelambung lawannya. Ia meloncat selangkah surut sambil membungkukkan badannya, sehingga ujung rotan lawannya meluncur beberapa nyari saja dari perutnya.

Bramanti yang menyaksikan permainan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia berkata, “Mereka mempunyai kemampuan yang cukup. Kalau Jene dan Suwela dapat bermain demikian baik, apalagi Temunggul, Ki Jagabaya dan Ki Demang. Tetapi kenapa tidak seorangpun yang berani berdiri di paling depan untuk melawan Panembahan Sekar Jagat? Apakah rata-rata kemampuan anak-anak Sekar Jagat itu nggegirisi?”

Bramanti terkejut ketika ia melihat Suwela terpaksa melontarkan dirinya beberapa langkah surut. Sedang Jene tidak membiarkan kesempatan itu lewat. Dengan loncatan panjang ia memburu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Bahkan ia terdorong surut selangkah ketika tiba-tiba saja, tanpa disadarinya ujung rotan Suwela telah mendorong ikat pinggang kulitnya.

“Uh,” ia mengeluh pendek. Namun segera ia memperbaiki keadaannya, sehingga ketika Suwela berganti menyerang, Jene berhasil menangkisnya.

“Cukup baik,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam di dalam hatinya. “Jene mempunyai kekuatan yang cukup, sedang Suwela adalah seorang anak muda yang lincah. Perkelahian ini pasti memerlukan waktu yang lama sebelum salah seorang dari mereka melemparkan sepasang rotannya.”

Tetapi sejenak kemudian Bramanti melihat, bahwa betapapun kuatnya Jene, namun kelincahan Suwela setiap kali berhasil mendahului gerak lamban Jene. Meskipun kadang-kadang dalam benturan senjata Suwela harus mempertahankan rotannya agar tidak terlepas, namun setiap kali rotannya menjadi silang menyilang di wajah kulitnya yang kekuning-kuningan itu.

Temunggul yang menunggui permainan itu, mengikutinya dengan tegang. Setiap kali ia menarik nafas, dan bahkan setiap kali ia menyeringai seolah-olah ialah yang dikenai oleh salah satu dari dua pasang rotan yang bergerak berputar-putar itu.

Akhirnya Bramanti melihat bahwa Jene pasti tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Saat-saat berikutnya rotan Suwela menjadi lebih sering mengenai tubuh lawannya, sehingga pada suatu saat Jene meloncat jauh-jauh ke belakang sambil melepaskan kedua rotan dari tangannya, “Aku menyerah,” katanya.

Kata-kata itu disambut oleh ledakan gemuruh dari penonton yang selama ini menahan ketegangan di dalam hatinya. Anak-anak telah melontarkan apa saja yang ada di tangan mereka. Caping, bahkan ikat pinggang.

“Suwela menang. Suwela menang,” terdengar teriakan gemuruh.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia kini telah melihat betapa sebenarnya anak-anak Candi Sari memiliki kemampuan untuk menyelamatkan Kademangan ini dari tangan pemeras yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat, justru keadaan sedang kisruh. Justru pada saat Pajang harus bertempur melawan Mataram.

Saat-saat berikutnya, orang-orang di sekitar arena itu melihat seorang anak muda yang lain masuk pula ke dalam arena. Kini anak muda itu harus berhadapan dengan Panjang.

Seperti Jene maka anak muda itu tidak dapat melampaui kelincahan Panjang, meskipun ilmu mereka sebenarnya tidak terpaut banyak.

Kemenangan Panjang pun disambut dengan gemuruhnya tepuk tangan dan sorak surai. Anak-anak kecil berloncat-loncatan sambil mengacung-acungkan tangan mereka. Dan dengan suara yang melengking-lengking, mereka berteriak-teriak. “Panjang menang, Panjang menang.”

Selanjutnya ternyata masih ada beberapa orang lain yang ingin melihat, apakah Suwela dan Panjang benar merupakan calon yang paling tepat, dan tidak ada yang menjadi anggota pengawal Kademangan.

Tetapi ternyata Suwela dan Panjang mampu mempertahankan pencalonan mereka, sehingga orang yang terakhirpun tidak dapat mengalahkannya.

“Kalau masih ada yang ingin mengajukan dirinya untuk melakukan pendadaran, pasti masih akan diterima, tetapi karena Suwela dan Panjang telah lelah, maka untuk adilnya, permainan akan ditunda sampai besok. Nah, apakah masih ada yang ingin mencoba lagi?”

Tidak seorangpun yang menyatakan dirinya. Beberapa kali Temenggul mengulanginya, namun agaknya memang sudah tidak ada seorang pun yang akan melakukannya.

Temunggul mengedarkan pandangan matanya berkeliling untuk melihat apabila ada satu dua orang yang ingin menyatakan dirinya. Tetapi ia tidak melihatnya.

Namun tiba-tiba tatapan matanya itu berhenti pada seseorang yang justru mencoba menyembunyikan dirinya di antara para penonton.

Sejenak Temunggul berdiam diri. Namun kemudian ia tersenyum. Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekat.

Semua mata mengikutinya dengan pertanyaan di dalam hati. Bahkan Ki Jagabaya yang duduk di antara para pemimpin Kademangan yang lain, bergeser sambil bergumam, “Apa yang akan dilakukan anak itu?”

Tidak seorang pun yang menyahut, karena memang tidak ada seorang pun yang mengerti, apa yang akan dilakukan oleh Temunggul.

“Kemarilah,” tiba-tiba Temunggul berkata lantang, “Ayo, kemarilah.”

Sejenak tidak ada jawaban. Karena itu, sekali lagi Temunggul berkata, “Bramanti, kemarilah.”

Dada Bramanti menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

“Suwela,” berkata Temunggul. “Kau masih mempunyai seorang lawan.” Kemudian kepada Bramanti ia berkata, “Nah, Bramanti. Untuk menjadi seorang laki-laki. Nah, cobalah turun ke arena. Apakah kau juga seorang laki-laki yang pantas berada di dalam lingkungan permainan kami seperti semasa kanak-kanak.”

Bramanti masih belum beranjak dari tempatnya.

“He, kenapa kau diam saja? Kemarilah.”

Bramanti masih diam.

Temunggul menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Kau harus jadi seorang laki-laki. Kalau kau tidak mau datang kemari, maka kau akan aku tarik.

Ternyata Temunggul tidak hanya menakut-nakuti. Selangkah demi selangkah ia mendekatinya.

Bramanti tidak mempunyai pilihan lain, kecuali memenuhi permintaan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia melangkah memasuki arena.

“Nah, begitulah anak laki-laki,” teriak Temunggul yang kemudian kepada segenap penonton ia berteriak. “He, tataplah anak muda yang perkasa ini. Inilah putera paman Pruwita. Ia pasti mempunyai kemampuan seperti ayahnya. Karena itu, marilah, kau harus melakukan penjajagan juga atas kedua calon ini.”

Bramanti menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak akan melakukannya Temunggul. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Aku sudah yakin bahwa Suwela dan Panjang mempunyai kemampuan yang cukup untuk menjadi anggota pengawal Kademangan.”

Temunggul tertawa. Katanya, “Ayolah. Bersikaplah sebagai seorang anak laki-laki. Apalagi putera paman Pruwita yang hampir-hampir tidak terkendali itu. Kau pun, harus menunjukkan bahwa kau adalah seorang laki-laki.

“Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

“Karena kau tidak ingin?” ulang Temunggul.

“Bukan, bukan. Maksudku, karena aku tidak berani.”

Sekali lagi Temunggul tertawa. Kemudian ditariknya tangan Bramanti, dan dibawanya anak itu ke tengah-tengah arena. Sambil mengangkat tangan Bramanti Temunggul berkata, “Untuk mendapatkan tempatmu kembali diantara kami, kau harus berani berkelahi dengan cara ini. Menang atau kalah bukan soal. Tetapi sebagai seorang laki-laki kau tidak boleh menjadi gemetar ketakutan.”

Bramanti tidak segera menjawab. Dadanya sedang diamuk oleh kebimbangan dan keragu-raguan.

Sementara itu, Temunggul terkejut ketika ia mendengar suara yang bernada berat. “He, siapakah anak itu?”

Temunggul berpaling. Dilihatnya Ki Jagabaya berdiri mendekatinya, “Apakah anak itu Bramanti yang pernah kau bawa ke Kademangan?”

“Ya Ki Jagabaya,” jawab Temunggul.

“Akan kau apakan anak itu?”

“Aku harap ia berkelahi melawan Suwela atau Panjang.”

“Apakah itu memang kau kehendaki Bramanti?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, sehingga Ki Jagabaya itupun kemudian membentak. “Kalau begitu, pergi kau. Mau apa kau berada di tengah arena?” Kemudian kepada Temunggul ia berkata, “Tidak ada peraturan yang dapat memaksa seseorang harus bertanding. Lepaskan anak itu.”

“Tetapi,” Temunggul tergagap. “Maksudku, biarlah ia menjadi seorang laki-laki.”

“Kenapa kau ribut-ribut tentang anak itu. Biar sajalah ia menjadi perempuan atau menjadi banci. Itu bukan persoalanmu.”

Namun kata-katanya terputus oleh kata-kata Ki Demang, “Biarlah Ki Jagabaya. Anak laki-laki Candi Sari tidak boleh cengeng. Karena itu, biarlah ia merasakan serba sedikit, bahwa anak-anak muda Candi Sari harus berwatak laki-laki.”

Ki Jagabaya menggeram, tetapi ia tida dapat berbuat apa-apa. Sambil mengumpat-umpat ia kembali duduk di tempatnya.

Kini kembali Temunggul menengadahkan wajahnya. Di panggilnya Suwela sambil berkata, “Nah, lihatlah, dan ajarilah Bramanti menjadi seorang laki-laki.”

Suwelapun menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Temunggul, kemudian wajah Ki Demang yang duduk di tepi arena disamping Ki Jagabaya.

Barulah ketika Ki Demang mengangguk kepadanya hatinya menjadi mantap.

“Nah Bramanti,” berkata Temunggul. “Senjata apakah yang akan kau pergunakan?”

Bramanti tidak segera dapat menjawab. Sejenak ditatapnya wajah Temunggul, Suwela, kemudian Ki Demang dan Ki Jagabaya.

Menanggapi sikap orang-orang Candi Sari, dada Bramanti serasa sudah tidak dapat menampung lagi. Tetapi setiap kali teringat akan ibunya, maka ia selalu berjuang untuk tetap menguasai perasaannya.

Ternyata nama ayahnya yang kurang menguntungkan baginya itu benar-benar telah membawanya ke dalam berbagai kesulitan. Namun ia masih bertahan pada pendiriannya. “Ini adalah salah satu ujud kebaktianku kepada orang tua. Aku harus mencuci nama keluargaku dengan tingkah laku dan perbuatan baik.” Kemudian terngiang kembali kata-kata ibunya, “Kenapa kau pelajari ilmu semacam itu?”

Ayahmu juga mempelajari ilmu semacam itu dahulu.

Bramanti itu terkejut ketika ia mendengar Temunggul membentaknya, “He, kenapa kau tidur? Ayo, sebut, senjata apakah yang kau kehendaki.”

Tetapi Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin berkelahi, karena aku memang tidak mampu melakukannya.

“Persetan,” Temunggul menjadi jengkel. “Melawan atau tidak melawan Suwela akan menyerang kau dengan caranya dan bersungguh-sungguh. Aku akan menghitung sampai bilangan kesepuluh. Ayo cepat sebut senjata yang kau kehendaki. Jangan membuat nama ayahmu tercemar. Ayahmu adalah seekor serigala yang disegani di Kademangan ini lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Aku masih ingat, betapa ia seorang yang gagah perkasa. Kenapa kau kini menjadi pengecut dan bahkan banci?”

Bramanti tidak dapat menjawab. Karena itu ia terdiam.

“Cepat,” teriak Temunggul.

Ki Jagabaya yang telah beringsut mengurungkan niatnya untuk berdiri, karena Ki Demang mengamiatnya, “Biarlah saja,” berkata Ki Demang.

Ki Jagabaya menggeram. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Bramanti akhirnya tidak dapat mengelak lagi. Ketika Temunggul membentaknya sekali lagi ia menjawab, “Kalau aku terpaksa melakukannya, terserahlah kepada Suwela, senjata apakah yang dikehendakinya.”

“Bagus,” sahut Temunggul yang kemudian bertanya kepada Suwela. “Senjata apa yang kau kehendaki?”

“Cambuk,” sahut Suwela sambil tersenyum.

Temunggul mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum pula. “Bagus. Kalian akan memakai cambuk.”

“Tidak,” tiba-tiba Ki Jagabaya berteriak. “Terlampau berbahaya bagi Bramanti.”

“Sudahlah Ki Jagabaya,” cegah Ki Demang, “Jangan campuri persoalan anak-anak.”

Ki Jagabaya terdiam. Namun ia masih berkumat-kamit.

Sementara itu, Temunggul telah memberikan sebuah cambuk kepada Suwela dan sebuah kepada Bramanti sambil berkata, “Nah, kalian akan segera bertanding sebagai anak laki-laki. Bukan anak-anak cengeng. Karena itu tidak boleh menangis dan berlindung kepada ibu masing-masing.”

Terdengar suara tertawa tertahan di antara para penonton. Namun karena mereka melihat Temunggul tertawa, akhirnya suara tertawa itu pun meledak.

Suara tertawa di seputar arena terasa seperti percikan bara api di telinga Bramanti. Tetapi sekali lagi mencoba menahan hatinya.

“Kalau aku membuat kesalahan, aku akan di usir dari Kademangan ini. Aku akan kehilangan tanah kelahiran yang tercinta ini, dan ibupun akan semakin menderita,” katanya di dalam hati. Karena itu maka ia telah berjuang untuk mengambil suatu keputusan, bahwa ia tidak akan melawan.

Sejenak kemudian maka Temunggul telah melangkah surut sambil berkata, “Aku akan menghitung sampai tiga. Kemudian kalian akan mulai dengan pertandingan itu.

Sejenak kemudian terdengar Temunggul mulai menyebut urutan bilangan itu. “Satu, dua, tiga.”

Berbareng dengan terkatubnya mulut Temunggul, terdengarlah cambuk Suwela meledak sehingga Bramanti terkejut karenanya dan meloncat selangkah surut.

Sikap Bramanti itu telah meledakkan tawa sekali lagi di seputar arena. Namun kali ini hati Bramanti tidak lagi menjadi panas, karena justru ia telah menemukan keputusan.

“He, jangan lari,” desis Suwela sambil melangkah maju, sedang Bramanti terus-menerus bergeser mundur, melingkar dan kemudian meloncat.

Suwela tertawa, dibarengi oleh suara tertawa orang-orang yang melihat pertunjukan itu.

““Aku akan mulai Bramanti,” berkata Suwela. “Terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan.”

Bramanti tidak menyahut. Tetapi tangannya menjadi gemetar dan ujung cambuknya diseretnya di atas tanah yang berdebu.

Tetapi agaknya Suwela benar-benar akan mulai. Di angkatnya tangkai cambuknya, kemudian sekali lagi menggelepar di udara sambil melontarkan bunyi yang memekakkan telinga. Meskipun ujung cambuk itu belum menyentuh tubuhnya, namun Bramanti telah mengerutkan keningnya.

Dan tiba-tiba saja cambuk itu menggelepar sekali lagi di susul oleh suara keluhan terdengar. Bramanti meloncat beberapa langkah mundur sambil menyeringai kesakitan. Seleret jalur merah telah membekas ditengkuknya.

“He anak Pruwita, kenapa kau menangis he?”

“Ayo, lawanlah Suwela,” teriak yang lain.

Bramanti menggigit bibirnya sambil meraba jalur merah ditubuhnya itu.

Tetapi Suwela seolah-olah tidak tahu, bahwa Bramanti sedang menyeringai kesakitan. Perlahan-lahan ia melangkah mendekat sambil menggerak-gerakkan tangkai cambuknya.

Bramanti menjadi semakin terdesak mundur. Tetapi pada suatu saat ia tidak dapat mundur lagi. Bahkan beberapa anak-anak muda yang berdiri di seputar arena itulah mendorongnya maju.

Pada saat Bramanti sedang terhuyung-huyung karena dorongan anak-anak muda di belakangnya sambil menyorakinya, sekali lagi cambuk Suwela meledak. Kini punggung Bramantilah yang merasa disengat oleh ribuan lebah.

Tetapi agaknya Suwela masih belum puas. Sesaat kemudian terdengar cambuk itu terdengar Bramanti berteriak kesakitan.

Sekali lagi Suwela tertawa terbahak-bahak dibarengi oleh orang-orang yang menonton diseputar arena.

“Ayo anak Pruwita. Kalau kau ingin membalas dendam, sekarang adalah saat yang paling baik. Ayah-ayah kami ingin melihat, apakah anak Pruwita mampu berbuat seperti ayahnya.”

Bramanti mengerutkan tubuhnya sambil merintih kesakitan. Tiba-tiba dilemparkannya cambuknya sambil berkata, “Aku minta ampun.”

Sekali lagi suara tertawa meledak seolah-olah memanggil bunyi puluhan guruh yang meledak bersama-sama. Anak-anak berteriak-teriak memanggil nama Bramanti, sedang orang-orang tua memalingkan wajahnya sambil meludah ditanah. Inilah anak Pruwita itu.

Tetapi agaknya Suwela masih belum puas. Ia meloncat sekali lagi mendekat. Tetapi ketika tangannya terangkat, maka terdengar Ki Jagabaya berteriak, “He, kau gila Suwela. Anak itu sudah melepas senjata.”

“Ia menjadi takut,” desis Temunggul.

Namun Ki Jagabaya berteriak lagi, “Menurut ketentuan, apabila salah satu pihak telah melepaskan senjata, itu berarti ia telah mengakui kekalahan. Pertandingan tidak perlu diteruskan.

“Tetapi ini bukan penjajakan dalam rangka pendadaran. Kali ini kami ingin mengajari Bramanti untuk menjadi seorang laki-laki. Anak laki-laki Candi Sari. Itu saja.”

“Tetapi itu sudah keterlaluan. Itu sama sekali bukan mengajari. Yang dilakukan oleh Suwela adala penyiksaan tanpa perikemanusiaan.”

“Bukan maksud kami Ki Jagabaya,” sahut Suwela.

“Apa, apa kau bilang? Kau berani membantah he anak manis?”

Suwela mengerutkan keningnya. Di pandanginya wajah Ki Demang yang justru tersenyum. Kemudian katanya, “Sudahlah Ki Jagabaya. Jangan marah. Tetapi kau benar, bahwa perkelahian harus dihentikan.” Lalu katanya kepada Tumenggung, “Sudahlah. Aku berharap bahwa Bramanti akan dapat menjadi seorang anak laki-laki dari Kademangan Candi Sari.”

“Nah,” berkata Temunggul kemudian, “Apakah kau masih bermaksud untuk menjadi anggota pengawal Kademangan ini?”

Bramanti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Renungkan apa yang kau lihat hari ini,” berkata Temunggul. “Mungkin suatu ketika kau ingin menjadi pengawal seperti Suwela dan Panjang.”

Kata-kata Temunggul itu disambut oleh suatu tertawa gemuruh. Beberapa anak-anak muda yang lain berteriak-teriak tidak menentu. Sedangkan Bramanti masih saja menundukkan kepalanya.

“Pergilah,” berkata Temunggul kemudian. Bramanti tidak menunggu Temunggul mengucapkannya untuk kedua kalinya. Dengan tergesa-gesa ia menyeret kakinya tertatih-tatih keluar arena.

Ketika ia telah berada di antara para penonton, ia menarik nafas dalam-dalam. Ia terkejut ketika seorang laki-laki agak kekurus-kurusan menggamitnya. Ketika ia memandanginya wajah laki-laki itu, ia mendengar orang itu bergumam, “Sakit.”

Bramanti mengangguk, jawabnya, “Ya paman.”

“Kau masih ingat aku?”

Sekali lagi Bramanti mengangguk, “Masih paman.”

“Aku dulu tidak sekurus sekarang ketika aku menjadi pembantu ayahmu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sebaiknya kau pulang saja. Anak-anak memang dapat berbuat aneh-aneh terhadapmu.”

Bramanti mengangguk, “Ya paman. Tetapi aku akan mendengarkan hasil pendadaran kedua anak-anak muda itu.”

Laki-laki yang tinggi kekurus-kurusan itu mengangguk. Katanya, “Mereka belum akan diterima hari ini. Biasanya masih ada yang harus mereka lakukan.”

Bramanti tidak menyahut. Kini dilihatnya Temunggul berdiri di tengah arena sambil menengadahkan dadanya. Sejenak kemudian ia berkata, “Pendadaran tingkat pertama telah selesai. Keduanya telah dapat mengatasinya. Untuk seterusnya kami selalu menunggu kawan-kawan yang sedang tumbuh.” Temunggul berhenti sejenak, “Dan kamipun akan selalu menunggu kawan kami yang telah lama sekali meninggalkan kampung halaman, Bramanti yang telah menyatakan keinginannya, bahwa pada suatu ketika ia akan dapat diterima menjadi pengawal Kademangan.”

Ketika Temunggul berhenti sejenak dan tersenyum aneh, maka anak-anak muda yang lain pun bersorak pula. Sedangkan Bramanti berdiri menyudut, dibelakang orang-orang lain. Namun orang-orang itupun berpaling kepadanya sambil tersenyum pahit.

“Kita akan sampai pada pendadaran tingkat kedua,” berkata Temunggul seterusnya, “Tetapi kita tidak akan mempergunakan kuda liar lagi. Kita akan mengambil cara yang bermanfaat bagi kita sekarang ini.”

Temunggul itu berhenti pula sesaat. Dipandanginya wajah-wajah Suwela dan Panjang yang menegang.

“Kalian berdua,” berkata Temunggul kemudian, “Diberi kesempatan sepekan lamanya untuk menangkap harimau yang sering mengganggu Kademangan ini. Harimau itu pasti harimau tua yang sudah tidak mampu lagi mencari makanan di hutan-hutan sebelah. Nah, apabila kalian berhasil, maka kalian dengan resmi akan diterima menjadi pengawal Kademangan ini. Kalian boleh membawa senjata apa saja yang kallian kehendaki untuk memburu harimau itu.” Temunggul berhenti pula sejenak, lalu, “Tetapi seandainya harimau itu tidak muncul lagi, maka kalian boleh menukarnya dengan harimau yang mana saja. Asal dalam waktu sepekan ini.”

Suwela dan Panjang saling berpandangan sejenak. Wajah mereka menjadi tegang. Namun kemudian mereka berdua mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Apa kalian sangup melakukannya?” bertanya Temunggul.

“Tentu,” jawab Suwela. “Aku akan menangkap harimau itu bersama Panjang. Harimau yang manapun juga.”

“Bagus,” berkata Temunggul. “Sekarang kita sudah selesai.”

Maka bubarlah mereka yang mengerumuni arena. Bramanti pun dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu,supaya tidak timbul persoalan-persoalan yang lain lagi, yang dapat membuatnya bertambah pening.

Bersambung…
________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)
About these ads

3 Komentar

  1. triyono said,

    Jumat, 24 April 2009 pada 12:52

    haturnuhun kuring tiyasa ngedownload cerita ieu

    xat289:
    mangga silakan kang.. slamat membaca :-)

  2. triyono said,

    Jumat, 24 April 2009 pada 12:53

    horas

    xat289
    horas jg

  3. Jonet Suratno said,

    Senin, 31 Mei 2010 pada 22:20

    Lumayan baik mendidik menjadi seorang yang bersabar diri walaupun perasaan hatinya di plenco didepan umum tidak diabaikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: