Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 19

Lanjutan dari jilid 18

JAKA Soka masih tersenyum sambil menggerakkan pedangnya. Jawabnya “Aku berkata sebenarnya Mahesa Jenar, alangkah indahnya wajah yang bulat ini. Apalagi kau Wilis sedang bersungut-sungut. Benar-benar gila aku dibuatnya.”
Kata-kata itu benar-benar mempengaruhi perasaan Rara Wilis. Kemarahan, kebencian dan muak menjalari otaknya. Namun karena itu ia menjadi bingung. Bingung karena campur baur perasaan yang tak dapat dikendalikan.

“Kalau kau berbuat curang, aku pun tidak akan memperdulikan perjanjian kita lagi – sahut Mahesa Jenar – aku akan terjun dalam pertempuran.”

“Bagus”, jawab Jaka Soka “sejak semula aku telah mempersilahkan. Ternyata dugaanku benar, bahwa ajaran Pandan Alas tidak lebih dari pelajaran tari menari yang hanya dapat menumbuhkan perasaan kagum pada penarinya. Apalagi penari secantik Rara Wilis.”

“Gila”, geram Mahesa Jenar. Dadanya bergelora karena marah. Tetapi ia tidak berani berbuat dengan tergesa-gesa. Rara Wilis ternyata adalah seorang gadis yang mempunyai harga diri. Tetapi Rara Wilis kini benar-benar dipengaruhi oleh sifat-sifat kegadisannya. Karena itu beberapa kali ia terpaksa meloncat surut, menghindar dan menjauhi lawannya. Ia merasa betapa tangannya menjadi gemetar dan tubuhnya menjadi lemah. Berkali-kali berusaha untuk menegakkan kembali tekadnya bertempur mati-matian, namun perasaannya yang aneh selalu kembali membelit hati.

Jaka Soka melihat lawannya menjadi gelisah. Karena itu ia mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia mencoba untuk mempermainkan gadis itu, menghinanya dengan sentuhan-sentuhan pada tubuhnya dan kemudian melumpuhkannya.

Mahesa Jenar adalah orang yang terkenal dengan sifat-sifat keperwiraan serta kejantanannya. Ia selalu berusaha untuk menepati perjanjian-perjanjian yang telah dibuatnya langsung atau tidak langsung.

Namun kali ini perasaannya benar-benar diuji. Ia tidak dapat melihat peristiwa yang terjadi di muka hidungnya. Ia tidak dapat menyaksikan Rara Wilis, gadis yang telah mengikat hatinya itu mengalami perlakuan yang tidak adil. Karena itu hampir saja ia lupa diri.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang dapat merubah keadaan itu. Lamat-lamat dibawah angin pegunungan terdengar suara tembang. Mengalun seirama dengan desir angin lembut membelai hati mereka yang sedang dicekam oleh ketegangan.

Tembang Dandang Gula, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Segera Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Mula-mula ia tidak tahu apakah maksud suara tembang itu. Suara tembang yang tiba-tiba saja ada diantara keributan api yang membakar lereng pegunungan Telamaya, dan diantara perkelahian antara hidup dan mati.

Tetapi kemudian ia tersenyum dalam hati. Ia kenal suara itu baik-baik. Suara yang telah banyak menolongnya dalam berbagai keadaan. Pada saat-saat ia hampir dibinasakan oleh Pasingsingan di alas Tambak Baja maupun di Banyubiru.

Tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata lantang, “Kakang Kebo Kanigara, siapakah yang berlagu tembang Dandang Gula itu?”

Terdengar Kebo Kanigara menjawab lantang pula, “Paman Pandan Alas. Ternyata ia hadir disini.”

“Bagus”, sahut Mahesa Jenar, “Orang tua itu tidak terikat pada perjanjian antara kita dengan Ular Laut yang gila itu. Bukankah perguruan Pandan Alas hanya merupakan perguruan yang tak berharga. Tidak lebih dari perguruan tari dari tari-tarian yang menggairahkan. Alangkah lebih menggairahkan kalau gurunya itu yang menari disini.”

“Gila. Setan. Iblis”, tiba-tiba Jaka Soka mengumpat habis-habisan. “Apa kerja kambing tua itu disini?”

“Melihat muridnya menari”, tiba-tiba terdengar suara kecil.

Suara Endang Widuri. Selama ini urat syarafnya menjadi tegang setegang tali busur. Namun tiba-tiba kini telah mengendor dan gadis nakal itu telah dapat tersenyum pula. Karena suara tembang itu pula, maka keseimbangan perkelahian itu terpengaruh.

Tiba-tiba Rara Wilis menjadi seperti seorang yang menerima kekuatan baru. Kehadiran guru serta sekaligus kakeknya itu telah membangkitkan kebulatan tekadnya kembali. Suara tembang itu telah membantunya, menyingkirkan perasaan kegadisannya yang selama ini mengganggunya. Sebaliknya Jaka Sokalah yang kini menjadi gelisah. Ia sadar, bukan tidak sengaja Mahesa Jenar berteriak-teriak, bahwa orang orang tua itu tidak terikat dengan suatu perjanjian apapun. Karena itu, Jaka Soka menjadi cemas. Cemas akan kehadiran Pandan Alas.

PERTEMPURAN pun menjadi berubah.

Rara Wilis telah berhasil menguasai pedangnya dengan baik. Sekali-kali pedang itu menyambar dengan dahsyatnya kearah-arah yang berbahaya. Sedang Jaka Soka yang gelisah itu semakin kehilangan pengamatan atas pedang serta tongkat hitamnya. Demikianlah pertempuran itu berlangsung terus. Setapak demi setapak Rara Wilis mulai mendesak lawannya. Jaka Soka sekali-kali masih mencoba mempengaruhi perasaan lawannya, namun karena hatinya sendiri menjadi gelisah, maka usahanya tidak berhasil.

Kata-katanya menjadi janggal dan justru menjadikan Rara Wilis semakin teguh pada pendiriannya. Bahwa Ular Laut itu harus dibinasakan. Akhirnya terdengar Jaka Soka berteriak, “He, kalau kalian orang-orang jantan, suruh kambing jenggotan itu berhenti mengembik.”

Yang menjawab adalah Mahesa Jenar, “Tak ada sangkut paut antara kita dengan orang tua itu. Kita telah berjanji menyelesaikan persoalan kita sendiri. Sedang Ki Ageng Pandan Alas berdendang untuk melepaskan kegemarannya sendiri. Di tempat lain dan dalam persoalan lain.”

“Bohong,” sahut Jaka Soka yang menjadi semakin gelisah, “Pandan Alas telah mencoba mempengaruhi perasaanku. Menakut-nakuti dan mencoba melemahkan perlawananku.”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi takut?” sela Endang Widuri, “Bukankah kau sedang menonton tari-tarian yang menggairahkan.?”

Jaka Soka menggeretakkan giginya. Dipusatkannya panca inderanya untuk melawan Rara Wilis. Namun suara tembang yang dilontarkan dengan getaran indera yang kuat itu masih saja mengetuk-ngetuk hatinya. Karena itulah akhirnya dengan kemarahan yang meluap-luap Jaka Soka mengamuk sejadi-jadinya. Namun dengan demikian ia telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri. Sedang lawannya perlahan-lahan telah berhasil menguasai keseimbangan perasaan sepenuhnya.

Maka akhirnya berlakulah segala kehendak Tuhan. Setiap kejahatan dan pengingkaran kepada firman-Nya pasti akan menerima hukumannya. Kali ini Rara Wilislah yang menjadi lantaran. Betapa dahsyat dan licinnya Ular Laut yang ganas itu, namun karena kegelisahan yang mengoncang-goncang dadanya maka ia telah kehilangan sebagian kegarangannya.

Demikianlah tiba-tiba saja ketika serangannya tak mengenai sasarannya, Rara Wilis meloncat maju. Dengan lincahnya pedang tipisnya terjulur lurus kearah lambung lawannya. Terasa ujung pedangnya menyentuh tubuh lawannya dan kemudian disusul dengan sebuah keluhan tertahan. Dan ketika pedang itu digerakkan mendatar, maka memancarlah darah dari perut Jaka Soka. Sebuah luka telah menganga.

Sesaat Jaka Soka tegak dengan wajah menyeringai menahan sakit. Tangannya menjadi gemetar dan kemudian kedua buah senjata dikedua tangannya itu terjatuh. Namun ia masih berdiri tegak dengan gagahnya. Bahkan akhirnya bibirnya yang tipis itu melukiskan sebuah senyum.

Senyum yang aneh, sedang dari matanya yang redup itu pun memancar sinar yang aneh. Dalam keadaan yang demikian itu ia masih mencoba melangkah maju mendekati Rara Wwilis. Bahkan terdengar dari sela-sela bibirnya yang gemetar kata-kata, “Wilis. Kau memang cantik.”

Rara Wilis menjadi ngeri melihat peristiwa itu, seakan-akan sesosok hantu berdiri di hadapannya, siap untuk menerkamnya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, “Pergi, pergi!”

Tetapi hantu itu tidak pergi. Dengan darah yang memancar dari lukanya, Jaka Soka masih berusaha melangkah maju. Senyumnya masih membayang di bibirnya yang tipis, sedang matanya yang redup masih juga memancarkan sinar yang menggelisahkan hati setiap gadis yang melihatnya. Bahkan ketika kengerian Jaka Soka maju setapak lagi, Rara Wilis tak dapat menahan kengerian hatinya.

Kembali terdengar ia berteriak, “Pergi, pergi. Jangan dekati aku.” Namun hantu itu masih tegak. Dan masih terdengar ia berkata diantara senyumnya, “Marilah Wilis. Jangan takut. Kau sangat cantik.”

Dan ketika setapak lagi Jaka Soka melangkah maju, tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya, dan dengan tak diduga oleh siapapun ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menjahui hantu yang mengerikan itu. Ia sudah tidak sempat melihat Jaka Soka itu terhuyung-huyung dan kemudian jatuh tertelungkup.

“Wilis, Wilis,” Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Dengan suara yang lantang ia berteriak memanggil. Namun Rara Wilis berlari terus dan terus. Karena itu segera Mahesa Jenar berlari mengejarnya, “Wilis!” terdengarlah suara Mahesa Jenar memanggil, namun suara itu seakan-akan hilang ditelan lembah-lembah pegunungan. Sedang Rara Wilis seakan-akan tak mendengarnya. Tetapi langkah Mahesa Jenar lebih panjang daripadanya, sehingga kemudian Rara Wilis itu pun dapat disusulnya. Dengan tangannya yang kokoh kuat, Mahesa Jenar memegang pundaknya. Namun tiba-tiba Rara Wilis itu meronta-ronta sambil berteriak, “Lepaskan, lepaskan aku. Pergi, pergi ke asalmu.”

“Wilis,” bisik Mahesa Jenar.

“Aku tidak mau. Aku tidak mau!” teriak Rara Wilis semakin keras.

MAHESA JENAR sadar, bahwa segala ketakutan, kengerian yang disimpan di dalam dada gadis itu terhadap Jaka Soka kini meledak dengan dahsatnya. Karena itu sekali lagi ia mencoba menenangkannya. “Wilis. Tenanglah. Aku Mahesa Jenar”.

Nama itu benar-benar berpengaruh dihati Rara Wilis. Kini ia tidak meronta-ronta lagi. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya laki-laki itu. Mahesa Jenar. Tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya dan dijatuhkannya kepalanya didada laki-laki itu. Tangisnya pecah seperti bendungan dihantam banjir. Dari sela-sela isak tangisnya terdengar suaranya gemetar. “Kakang aku takut”.

“Jangan takut.”

Kata-kata Itu bagi Rara Wilis seperti air sejuk yang menyiram tenggorokannya pada saat ia kehausan. Karena itulah maka tangisnya menjadi semakin keras. Dan kembali kata-katanya yang gemetar terdengar.

“Kakang, aku hampir gila dibuatnya”.

“Kini ia tidak akan menakut-nakuti lagi Wilis”, jawab Mahesa Jenar.

“Ia tidak mengejar aku ?” bertanya Rara Wilis.

“Ular Laut itu telah mati”. Jawab Mahesa Jenar.

“Mati ?” ulang Rara Wilis.”Siapakah yang membunuhnya ?”

“Kau. Pedangmu”, jawab Mahesa Jenar.

“Oh..” dan Rara Wilis menekankan kepalanya lebih rapat. Sesat mereka tenggelam ke dalam perasaan yang tidak menentu.

Tiba-tiba dada Rara Wilis menjadi lapang, selapang Rawa Pening yang terbentang jauh di bawah kaki mereka. Kini ia tidak akan dibayangi oleh senyum mengerikan dibibir Jaka Soka. Matanya yang redup tidak akan lagi menghentak-hentak dadanya. Memang sejak pertemuan yang pertama dengan Ular Laut itu dihutan Tambak Baya, ia tidak pernah dapat tenang apabila wajah yang selalu membayangkan senyum dibibir tipisnya serta sinar yang memancar dari matanya yang redup namun penuh nafsu itu membayang didalam angan-angannya. Dan kini orang yang mengerikan itu telah binasa.

Meskipun Lawa Ijo, sepasang Uling Rawa Pening dan segerombolannya nampaknya lebih garang dari Jaka Soka, namun bagi Rara Wilis, lebih baik ia harus berhadapan dengan wajah-wajah yang buas bengis itu, daripada wajah tampan yang memancarkan nafsu yang mengerikan. Lebih baik dadanya terbelah hancur dan mati daripada ia harus jatuh ke tangan Ular Laut dari Nusakambangan itu. Tetapi masa-masa yang mengerikan itu telah lampau. Kini ia berada ditangan laki-laki tempat ia menyangkutkan harapannya dimasa datang. Karena itu alangkah sejuk perasaannya. Tanpa ketakutan, tanpa kengerian dan tanpa dendam.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Ketika matanya terdampar ke arah api yang masih menyala-nyala itu, terdengar ia bergumam.”Wilis, meskipun Jaka Soka telah binasa, namun bekas tangannya itu masih membahayakan Banyubiru”.

Rara Wilis kemudian terdampar dibumi kenyataan setelah angan-angannya melambung tinggi setinggi bintang-bintang dilangit. Seperti Mahesa Jenar, iapun dengan tajamnya memandang api yang menyala-nyala itu, “Bagaimana dengan api itu kakang ?”

“Marilah kita kembali”, ajak Mahesa Jenar. Rara Wilis mengangguk. Dan melangkahlah ia mendahului Mahesa Jenar kembali ketempat kuda-kuda. Dari kejauhan dilihatnya Kebo Kanigara dan Endang Widuri berdiri dengan tegang kaku. Disamping mereka, telah berdiri pula seorang lagi, Ki Ageng Pandan Alas. Ketika mereka melihat Rara Wilis berjalan kembali diiringkan oleh Mahesa Jenar, mereka menarik nafas dalam-dalam.

“Tidakkah kau mengalami sesuatu”, terdengar Ki Ageng Pandan Alas bertanya kepada cucunya. Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang olehnya mayat Jaka Soka yang menelungkup di muka kaki kakeknya. Ia memalingkan wajahnya. “Aku melihat semua yang terjadi disini”, berkata Ki Ageng Pandan Alas.

“Ketika aku datang bersama-sama Nyai Ageng Gajah Sora aku melihat kalian berkuda. Aku sudah mengira apa yang akan kalian lakukan, namun aku tidak segera dapat menyusul. Aku terpaksa menyerahkan Nyai Ageng dahulu kepada suaminya, baru aku menyusul kalian”.

Tetapi ketika aku melihat dikejauhan lima orang berkuda, aku menjadi curiga. Karena itu aku mendekatinya dengan diam-diam. Agaknya persoalan kalian demikian tegangnya, sehingga kalian tidak mendengar kehadiranku. Aku melihat kelicikan Jaka Soka yang mempengaruhi perasaan lawannya.Karena itu aku terpaksa berdendang lagu Dandang Gula.

“Suara eyang merdu sekali”, tiba-tiba Widuri menyela. Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Kemudian katanya”, lalu bagaimana dengan api itu ?

SERENTAK mereka menoleh kearah api dilereng bukit. Api itu masih menyala. Namun agaknya api itu tidak jauh maju. Bahkan dibeberapa bagian tampak, bahwa lidahnya tidak lagi menjilat langit.

“Api itu susut”, gumam Mahesa Jenar. “Mudah-mudahan usaha paman Wanamerta dan rakyat Banyubiru berhasil”, sahut Kebo Kanigara.

“Api itu tidak akan dapat menjalar terus”, sambung Widuri. “Tetapi api itu belum sampai didaerah yang dipisahkan oleh Rakyat Banyubiru itu”, sahut Mahesa Jenar.

“Marilah kita lihat”, berkata Ki Ageng Pandan Alas.

“Aku akan mengambil kudaku.” Sesaat kemudian mereka telah mengambil kuda masing-masing. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian meloncati padas-padas dilereng bukit itu, menyusup beberapa gerumbul untuk mengambil kudanya. Dan sesaat kemudian mereka berlima telah berpencar ke Banyubiru. Tetapi Mahesa Jenar yang berkuda dipaling depan, tiba-tiba berhenti. Katanya, “Paman Pandan Alas, api itu berhenti disini.”

Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara mengerutkan keningnya, “Ya, api itu berhenti disini.”

“Aneh,” desis mereka hampir bersamaan. Untuk sesaat mereka berhenti termangu-mangu. Api itu tidak menjalar terus keatas. Dikejauhan masih terdengar campur baur dari suara ranting-ranting yang terbakar dengan suara teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih berusaha menarik garis batas antara daerah ilalang dan perdu yang dimakan api dengan pedukuhan mereka, dengan hutan-hutan getah dan hutan-hutan buah-buahan. Sekali-kali mereka masih melihat beberapa ekor kijang, babi hutan dan binatang-binatang lain berlari-lari meninggalkan daerah yang panas itu.

Tiba-tiba dada Mahesa Jenar terguncang dahsyat. Dalam bayangan cahaya api yang kemerah-merahan, ia melihat sesosok tubuh yang berdiri tegak diantara batang-batang ilalang. Demikian terkejutnya sehingga dengan serta merta ia berkata, “Kakang, kau lihat orang itu?”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia pun melihat bayangan itu. Ki Ageng Pandan Alas dan yang lain-lain pun akhirnya melihat pula.

“Siapakah dia?” Wilis bergumam. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. “Pasti bukan Jaka Soka”, sahut kakeknya. Untuk sesaat mereka terdiam. Aneh. Seseorang berdiri diantara batang-batang ilalang yang sedang dimakan api. Kalau api itu menjalar terus, maka orang itu pun pasti akan menjadi abu pula. Namun agaknya api itu berhenti.

“Angin tidak bertiup lagi”, desis Mahesa Jenar. “Batang-batang ilalang itu belum kering benar”, sahut Kebo Kanigara. Tetapi Mahesa Jenar tidak puas dengan sangkaan-sangkaannya saja. Segera ia meloncat turun dari kudanya sambil berkata, “Akan aku dekati orang itu.”

“Tetapi kalau api itu menjalar”, Wilis mencoba untuk mencegahnya. “Tidak. Api itu benar-benar berhenti disini. Kalau tiba-tiba api itu bergerak, aku dapat berlari menjauhinya”, jawab Mahesa Jenar.

“Aku pergi bersamamu”, sahut Kebo Kanigara. “Kita pergi bersama-sama”, sambung Endang Widuri. Mahesa Jenar tidak dapat mencegah mereka. Segera yang lain pun berloncatan pula dari atas kuda mereka. Tetapi demikian mereka menginjakkan kaki mereka, terasa air memercik membasahi pakaian mereka.

“Air”, teriak Widuri. Baru Mahesa Jenar merasa, bahwa kakinya pun terendam air. Maka katanya, “Air dari blumbang yang dijebol.”

MEREKA diam. Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati bayangan yang dilindungi oleh batang-batang ilalang. Cahaya yang kemerah-merahan bergerak-gerak dengan garangnya dan pancaran panasnya terasa meraba-raba tubuh mereka. Baru beberapa langkah mereka berjalan, peluh telah mengalir dari lubang-lubang di kulit mereka. Selain panas yang membelai wajah mereka, merekapun harus berhati-hati. Apakah orang itu salah seorang dari kawan Jaka Soka, atau orang lain yang belum mereka kenal. Mereka tidak tahu apakah maksud orang itu, berdiri menghadap api yang sedang marah. Semakin dekat, hati mereka semakin berdebar-debar. Ketika mereka kemudian dapat melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Orang itu adalah seorang tua yang berwajah tenang dan dalam dan mengenakan jubah putih.

“Panembahan Ismaya.” Hampir bersamaan kelima orang itu bergumam. “Ya, Panembahan Ismaya,” Kebo Kanigara menegaskan. Mereka menjadi yakin ketika orang tua itu menoleh ke arah mereka. Dan kemudian wajahnya yang dibayangi oleh cahaya api itu memancarkan sebuah senyum.

“Marilah, marilah mendekat,” katanya perlahan-lahan. Perlahan-lahan mereka berlima berjalan mendekati Panembahan Ismaya. Sambil membungkuk hormat Kebo Kanigara menyapanya,”Selamat malam, Panembahan.”

Panembahan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah Datanglah kemari.” Mereka berlima melangkah lebih dekat lagi.

Dan sekali lagi mereka menekan gelora di dalam dada mereka, ketika mereka melihat bahwa Panembahan Ismaya memegang di kedua tangannya sepasang keris yang bercahaya. Bahkan demikian terguncang hati Mahesa Jenar, sehingga tanpa sengaja ia berdesis,

“Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Rara Wilis dan Endang Widuri terkejut. Agaknya itulah keris-keris pusaka Kraton Demak yang menggemparkan itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah Widuri berkata, “Pantas, api itu berhenti disini.”

Panembahan Ismaya tertawa perlahan-lahan. Perlahan-lahan terdengar Panembahan itu berkata, “Aku sedang berusaha membantu rakyat Banyubiru.”

“Panembahan.” Terdengar Kebo Kanigara bertanya, “Apakah karena kedua keris itu maka api berhenti disini ?”

“Aku tidak tahu,” jawab Panembahan Ismaya, “Aku tidak tahu kenapa api itu berhenti. Apakah karena angin tidak bertiup lagi, apakah karena batang-batang ilalang disini masih jauh lebih basah daripada lereng-lereng di bagian bawah, ataukah karena air yang mengalir di bawah kaki kita ini. Atau karena kesaktian keris-keris ini. Atau karena semuanya. Tetapi yang jelas adalah Tuhan telah berkenan memenuhi permintaan rakyat Banyubiru. Api itu tidak membinasakan mereka, pedukuhan mereka dan sumber hidup mereka.”

Yang mendengar kata-kata itu menundukkan wajah mereka. Terasa betapa Maha Kuasanya Yang Maha Agung. Air, keris-keris itu dan segala usaha yang lain adalah pernyataan permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan mereka. Dan Yang Maha Kuasa telah memenuhinya. “Api itu telah surut.”

Kembali terdengar Panembahan Ismaya berkata, “Mudah-mudahan sebentar lagi api akan dapat dikuasai dan menjadi padam.”

“Mudah-mudahan.” Sahut Kebo Kanigara. Kata-kata itu seperti demikian saja meloncat dari bibirnya. 

KEMUDIAN kepada Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya berkata, “Sesudah ini Mahesa Jenar, pekerjaanmu akan segera selesai.”

Dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Dipandangnya api yang semakin lama semakin susut. Bahkan diujung lereng, api telah hampir padam sama sekali. Hanya merah-merah baranya yang masih tampak memecah kepekatan malam. Air di bawah kaki mereka masih mengalir terus, meskipun tidak sederas semula. Sejalan dengan itu api menjadi semakin suram. Sekali-kali terdengar suara rakyat Banyubiru berteriak-teriak, “Api telah susut, api telah susut!” Dan sahut yang lain meninggi, “Alirkan air dari segenap parit ke mari. Terus, jangan berhenti sebelum padam sama sekali.”

Panembahan Ismaya kemudian mengangkat kedua keris di tangannya, melampaui ubun-ubunnya dan kemudian menyarungkannya di warangkanya masing-masing. Wajahnya yang tenang, dalam, dan penuh ungkapan kedamaian itu masih memandangi sisa api yang memercik ke udara. Sekali masih tampak lidahnya menjilat tinggi, namun kemudian kembali surut. Kemudian Panembahan Ismaya memutar tubuhnya menghadap kepada kelima orang yang berdiri di sampingnya. Ketika ia melihat kehadiran Pandan Alas, Panembahan itu menyapanya, “Ah, agaknya Ki Ageng Pandan Alas juga melihat api itu.”

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Api itu benar-benar mengejutkan, Panembahan.”

“Tetapi sebentar lagi api itu akan padam,” jawab Panembahan Ismaya. 

“Dan dengan demikian akan selesai pula kisah perantauan Rangga Tohjaya.”

“Apakah pekerjaanku sudah selesai Panembahan?” tanya Mahesa Jenar. “Sudah, meskipun belum bulat,” jawab Panembahan Ismaya, “Tetapi sisanya tak dapat kau lakukan sekarang, nanti atau seminggu dua minggu, atau sebulan atau dua bulan lagi.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Apakah ia masih harus menunggu sampai waktu yang tak tertentu. Namun agaknya Panembahan tua itu mengerti gelora perasaannya, sehingga dengan senyum ia berkata, “Meskipun demikian Mahesa Jenar, pekerjaan yang tersisa itu adalah pekerjaan yang semudah-mudahnya, sehingga kau tak usaha prihatin karenanya. Selama ini kau dapat melaksanakan segala rencana pribadimu.”

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya, dan tiba-tiba wajah Rara Wilis pun menjadi kemerah-merahan. “Apakah sisa pekerjaan itu, Panembahan?” tanya Mahesa Jenar untuk mengalihkan perhatian mereka. “Menyerahkan keris-keris ini ke Demak,” jawab Panembahan Ismaya. “Kenapa tidak besok, lusa bahkan seminggu dua minggu?” tanya Mahesa Jenar pula.

“Sudah aku katakan sebabnya,” sahut Panembahan tua itu. “Dan sekarang aku menjadi semakin jelas menghadapi persoalan keris-keris ini. Aku telah bertemu dengan seorang Wali yang waskita, yang meramalkan bahwa seorang anak gembala akan merayap naik ke atas tahta. Kepada Wali yang bijaksana itu pun aku telah mengaku bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada padaku. Tetapi Wali itu berkata, “Simpanlah dan serahkanlah ke Demak bersama-sama anak gembala itu.”

“Dan beruntunglah kau Kebo Kanigara bahwa anak gembala itu adalah kemenakanmu yang nakal itu.”

“Karebet?” sahut Kebo Kanigara.

“Ya,” jawab Panembahan Ismaya. “Ia berada di sini sekarang, Penembahan,” kata Kebo Kanigara, “Justru sedang dalam pembuangan karena ia melakukan kesalahan di istana.”

“Anak itu sekarang berada di rumah Ki Buyut,” jawab Panembahan Ismaya, “Ia sedang membuat suatu rencana permainan yang mengasyikkan.”

“Apakah rencana itu?” desak Kebo Kanigara. Panembahan Ismaya menggeleng lemah, “Aku tak tahu,” jawabnya. Namun tampak di wajah orang tua itu ia sedang merahasiakan sesuatu. Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Yang terdengar adalah sisa-sisa api dan teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih memenuhi lereng. Mereka agaknya belum puas sebelum mereka melihat api itu padam sama sekali.

Kemudian terdengar Panembahan Ismaya berkata, “Kembalilah kepada mereka. Kalian akan dapat tidur nyenyak untuk seterusnya. Banyubiru akan pulih kembali. Gajah Sora telah berada di tempatnya, dan Lembu Sora telah meyakini kesalahannya. Bahkan anaknya satu-satunya telah menjadi korban.

Sedangkan kau Mahesa Jenar, keris yang kau cari telah kau ketemukan. Bahkan kau telah menemukan pula sebuah hati, hati yang setia dan teguh pada janji.” Sekali lagi wajah Mahesa Jenar terbanting ke tanah. Ketika ia mencuri pandang ke arah Rara Wilis, hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya setitik air mata menggantung di pelupuk gadis itu, berkilat-kilat karena cahaya api yang kemerah-merahan.

“KI AGENG,” tiba-tiba terdengar suara Panembahan Ismaya bersungguh- sungguh, “Sungguh aku tak mengenal kesopanan, namun kesopanan-kesopanan itu akan dipenuhi kelak. Ki, aku tak sabar lagi menunggu saat yang telah sekian lama terendam di dada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Baiklah aku mendahului segalanya, bahwa pada saatnya aku dan Kanigara akan bersedia mewakili keluarga Mahesa Jenar datang kepada Ki Ageng untuk melamar cucu Ki Ageng.”

“Oh!” Orangtua dari Gunungkidul itu mengangguk-angguk, “Telah lama aku menyediakan diri untuk menerima lamaran itu.”

Kembali suasana menjadi sepi hening. Sekali lagi wajah Panembahan Ismaya menyapu api yang sudah hampir padam. Kemudian setelah menarik nafas panjang, Panembahan itu berkata, “Marilah kita sowang-sowangan untuk sementara. Aku akan kembali ke Karang Tumirits. Kalian agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Banyubiru.”

Kemudian kepada Mahesa Jenar Penambahan berkata, “Setiap saat kau dapat datang kepadaku bersama-sama dengan Kebo Kanigara. Dan setiap saat kau dapat mengajak aku ke Gunungkidul. Jangan terlalu lama menunggu. Sesudah itu, baru kau pikirkan bagaimana kau akan menyerahkan Karebet bersama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang untuk sementara biarlah aku simpan dahulu.”

Mahesa Jenar mengangguk hormat. Jawabnya dengan penuh perasaan, “Terimakasih Panembahan.” Kepada Ki Ageng Pandan Alas, Panembahan Ismaya berkata, “Ki Ageng dapat menyediakan lembu, kambing dan ayam sejak sekarang. Kami akan segera datang.”

“Terimakasih. Terimakasih,” jawab Ki Ageng Pandan Alas sambil tertawa.

Panembahan tua itu akhirnya berjalan perlahan-lahan meninggalkan mereka. Sama sekali tidak menunjukkan kesaktiannya sebagaimana apabila ia sedang mengenakan jubah abu-abu dan rana di wajahnya. Ia tidak lebih dari seorang Panembahan tua yang berjalan tertatih-tatih di antara batang-batang ilalang dan batu-batu yang terendam air. Namun beberapa langkah kemudian Panembahan itu berhenti dan berkata kepada Mahesa Jenar, “Tak perlu orang-orang lain mengetahui bahwa masalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah hampir mendapat pemecahan. Tak perlu kau berceritera tentang anak nakal itu kepada siapapun. Keris-keris itu kini tak usah kalian persoalkan lagi. Pada saatnya ia akan muncul kembali bersama-sama dengan Kyai Sangkelat yang kini telah berada di tangan Karebet. Dan kaulah salah seorang yang paling berjasa dalam usaha penemuan keris-keris itu. Satu- satunya orang selain kalian yang berada di sini, hanyalah Ki Ageng Gajah Sora yang boleh mendengarnya.”

Mahesa Jenar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Baik Panembahan.” “Seluruh isi istana akan berterimakasih kepadamu.”

Panembahan itu bergumam perlahan-lahan, kemudian ia meneruskan perjalanannya kembali. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain masih saja berdiri mematung, mengawasi punggung Panembahan Ismaya. Ketika mereka melihat orang tua itu menyusup alang-alang yang lebat, maka hati mereka terguncang. Apalagi mereka yang belum mengenal siapakah sebenarnya Panembahan tua itu.

Bahkan terdengarlah Widuri berbisik, “Ayah, kasihan Panembahan. Tidakkah ayah mengantarkannya sampai ke Karang Tumaritis?”

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tersenyum di dalam hati. Gadis itu tidak akan berkata demikian seandainya ia tahu bahwa Panembahan Ismaya adalah Pasingsingan sepuh yang dahulu pernah bergelar Pangeran Buntara. Sebenarnya Ki Ageng Pandan Alas pun menjadi heran, bahwa Kebo Kanigara yang menjadi salah seorang putut-nya dan bernama Putut Karang Jati itu membiarkan orang setua Panembahan Ismaya menempuh perjalanan sendiri ke Karang Tumaritis. Jarak yang tidak terlalu dekat dari Banyubiru. Tetapi orang tua itu berpikir jauh. Kalau tak ada sesuatu sebab, pastilah Kebo Kanigara tak berbuat demikian. Dan bahkan Panembahan itu pasti akan minta kepada putut-nya untuk mengantarkannya.

“Ayah,” terdengar Endang Widuri mengulangi kata-katanya, “Apakah Ayah tidak mengantarkannya?” “Kasihan Panembahan,” desis Kebo Kanigara.

Kemudian kepada Widuri ia berkata, “Antarkanlah, Widuri. Aku masih mempunyai kepentingan di Banyubiru. Aku akan tinggal di sini.”

Widuri mengerutkan keningnya.

“Kenapa aku?” “Selain aku, kaulah orang yang terdekat,” jawab Kanigara.

“Emoh,” sahut Widuri sambil menggeleng.

“Kalau begitu, marilah kita pergi bersama mengantarkan Panembahan,” sambung ayahnya.

Widuri kemudian bersungut-sungut sambil menjawab, “Aku belum melihat Banyu Biru dalam suasana yang berbeda seperti kemarin.”

“Apa kepentinganmu disini?,” bertanya ayahnya.

Tiba-tiba Widuri terdiam. Apakah kepentingannya di Banyu Biru?. Terasa betapa beratnya meninggalkan tanah perdikan ini. Apakah karena bukit-bukitnya yang berjajar-jajar seperti benteng raksasa, apakah karena Rawa Pening yang berkilat memantulkan cahaya matahari disiang hari dan memantulkan cahaya bulan dan bintang-bintang dimalam hari?.

Tiba-tiba ia mendengar ayahnya tertawa. Widuri terkejut. Dan tahulah ia bahwa ayahnya tidak bersungguh sungguh menyuruhnya mengantarkan Panembahan Ismaya. Dan tahulah ia bahwa ayahnya sedang menggodanya.

Tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Serta merta dicubitnya lengan ayahnya keras-keras

“Jangan Widuri,” ayahnya berdesis. Cubitan Widuri memang sakit. Tetapi justru karena itu, orang-orang lainpun mengetahuinya.

Bahkan kemudian Wilis menggodanya pula, “apakah di BanyuBiru ada yang mengikatmu Widuri?”.

“Ada,” sahut Widuri sambil memiringkan bibirnya.

“Siapa?,” desak Wilis.

“Jaka Soka,” jawabnya. Dan yang lainpun tertawa.

Sesaat kemudian Kebo Kanigara berkata, “Biarkanlah Panembahan Ismaya pulang sendiri. Tak akan ada bahaya yang mengancamnya. Dan kita, marilah kita temui Ki Ageng Gajah Sora.”

Seperti orang tersadar dari mimpi, mereka sekali-kali memandang kearah api yang hampir padam. Sesaat kemudian merekapun segera mendapatkan kuda-kuda mereka lalu meloncat ke punggungnya. Mereka kini tidak perlu berpacu lagi. Meskipun demikian kuda-kuda itupun berlari cukup cepat.

Banyak persoalan yang berputar-putar dikepala Rara Wilis dan bahkan didalam hati Ki Ageng Pandan Alas. Bagaimana kedua keris itu tiba-tiba saja ada di tangan Panembahan Ismaya. Mereka telah pernah mendengar cerita Mahesa Jenar, apalagi Ki Ageng Pandan Alas, sesaat setelah keris itu hilang, Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mendapatkannya di alun-alun Banyu Biru, dan mengatakan bahwa sepasang keris itu diambil oleh seseorang yang mengenakan jubah abu-abu, bahkan pada saat itu, Mahesa Jenar dan GajahSora menyangka bahwa orang itu adalah Pasingsingan.

Meskipun demikian, dengan bijaksana mereka akan menyimpan pertanyaan itu, sampai nanti pada saatnya, Mahesa Jenar pasti akan mengatakannya.

Beberapa saat kemudian, ketika Mahesa Jenar menoleh ke lereng bukit Telamaya, dilihatnya api sudah tidak berdaya lagi untuk merambat ke barat. Asap putih kemerahan masih tampak mengepul tinggi, kemudian pecah berserakan ditiup angin malam yang lemah. Sehelai helai asap itu masih nampak mengalir ke selatan menghantam bukit.

“Api telah padam,” desisnya.

Yang lainpun memandang sesaat ke lereng. Sebuah lapangan hitam merah menganga di kaki bukit Telamaya. Bekas-bekas api itu tampak seperti sebuah luka parah, yang menempel di tebing bukit.

Ketika mereka sudah mendaki lebih tinggi lagi, sampailah mereka ke tempat orang-orang Banyu Biru berkumpul setelah berjuang menebas perdu dan alang-alang serta membuat parit kelereng bukit.

Ketika Mahesa Jenar melihat Wanamerta tua berdiri bersandar tangkai pacul maka segera disapanya, “pekerjaan paman ternyata berhasil.”

Wanamerta menoleh. Sambil mengatur nafasnya ia menjawab, “Ah, bukan pekerjaanku. Pekerjaan kita semua.”

“Ya,” sahut Mahesa Jenar, “pekerjaan kita semua.”

“Dari manakah anakmas tadi?,” Wanamerta bertanya.

“Mengejar kelinci.”

“He,” Wanamerta heran.

“Aku telah menemukan sebab dari kebakaran ini”

“He” “Nanti aku ceritakan, dimana kakang Gajah Sora dan Arya Salaka?”

“Disana, disebelah timur,” jawab Wanamerta.

“Aku ingin menemuinya,” kata Mahesa Jenar sambil melangkah.

“Nanti dulu,” tiba-tiba Wanamerta berteriak, “Siapa?”

“Kakang Gajah Sora,” jawab Mahesa Jenar.

“Gajah Sora. Gajah Sora?” orangtua yang gemuk itu bergumam, “O…” tiba-tiba Wanamerta seperti disengat kelabang. “Ya, tadi aku melihatnya. Tadi aku sudah bercakap-cakap dengan Ki Ageng.” Wanamerta mengingat-ingat, “Tetapi, bukankah Ki Ageng berada di Demak?”

“Sudah pulang,” jawab Mahesa Jenar pendek. “Ya, sudah pulang. Aku sudah melihatnya,” ulang Wanamerta. Dan tiba-tiba saja orang tua itu melemparkan paculnya. Dengan meloncat-loncat ia berlari kencang-kencang ke arah timur. Terdengarlah ia berteriak-teriak, “He, Ki Ageng Gajah Sora telah kembali.”

Laskar Banyubiru yang baru saja datang dari Pamingit tidak terkejut. Mereka telah menemui kepala daerah yang mereka suyudi. Namun bagi mereka yang tinggal di Banyubiru, teriakan itu seakan-akan mengetuk-ngetuk hati mereka keras sekali. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya pun segera mengikuti arah Ki Wanamerta. Menyusup di antara orang-orang Banyubiru yang masih berdiri di sana-sini dengan alat-alat di tangan mereka. Ketika Wanamerta melihat Ki Ageng Gajah Sora berdiri di samping Arya Salaka dan Nyai Ageng Gajah Sora, terdengarlah Wanamerta itu berteriak keras-keras, “Angger, kau telah datang di antara kami.”

Dan sebelum Gajah Sora menjawab, orang tua itu telah menubruknya. Dirangkulnya Gajah Sora seperti memeluk anaknya yang telah hilang, dan kini ditemuinya kembali.

Gajah Sora terkejut, bahkan ia menjadi heran. Wanamerta telah melihatnya tadi. Tetapi ia berdiam diri dan membiarkan orang tua itu menangis terisah-isak. Ya, orang tua yang setia itu menangis. Di sela-sela tangisnya terdengar Wanamerta berkata, “Aku telah melihat Angger tadi. Tetapi karena ketegangan urat syarafku, maka aku menyangka bahwa Angger sudah lama tidak berada di Banyubiru. Dan kini Angger telah kembali. Kembali seperti apa yang kami harapkan. Bahkan kami yakini, bahwa pada saatnya Angger akan kembali.”

“Terimakasih Paman,” jawab Gajah Sora. Perlahan-lahan Wanamerta melepaskan tangannya. Kemudian Gajah Sora itu pun diperkenalkan dengan Mantingan dan Wirasaba yang selama ini ikut serta membantu mereka, merasakan pahit getir bersama rakyat Banyubiru yang setia. Setia kepada cita-cita mereka, setia pada tanah mereka. Kini semua sudah lalu. Tak ada persoalan lagi antara Pamingit dan Banyubiru.

Tak ada persoalan lagi antara Banyubiru dan gerombolan-gerombolan liar yang dikemudikan oleh orang-orang sakti yang berilmu nasar. Sebab mereka telah dibinasakan oleh kekuatan-kekuatan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Malam bertambah dalam juga. Api di lereng telah padam. Kini mereka sudah dapat beristirahat. Laskar yang datang dari Pamingit pun segera pulang ke rumah masing-masing. Menemui keluarga mereka untuk menyatakan keselamatan diri. Beberapa orang terpaksa berkabung karena kehilangan sanak kadang mereka. Namun mereka yakin bahwa arwah-arwah mereka itu akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. Sebab mereka gugur dalam perjuangan untuk menegakkan rasa cinta kasih sesama, rasa cinta kasih kepada Tuhannya. Yang akan datang adalah hari esok yang penuh dengan kerja. Memperbaiki tanggul yang jebol, menanami kembali lereng-lereng bukit yang gundul untuk menahan arus air hujan. Namun kerja itu akan dilakukan dengan hati yang cerah di hari-hari yang cerah pula. Ketika matahari pada keesokan harinya memancarkan cahayanya yang lembut menyentuh permukaan Rawa Pening, sibuklah orang-orang Banyubiru dengan kerja masing-masing. Wajah-wajah mereka yang riang menggambarkan isi hati mereka yang terang. Mereka telah merencanakan untuk menyelenggarakan suatu wiwahan sebagai pernyataan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan cinta kasih-Nya kepada rakyat Banyubiru.

Di pendapa rumah Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, berdirilah seorang anak muda yang gagah, berdada bidang, berwajah jernih. Ia kini tidak lagi mengenakan pakaian yang lungset kumal. Namun kini ia telah pantas disebut sebagai putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Dengan wajah yang cerah ia melihat betapa rakyatnya sibuk mempersiapkan hari yang akan mereka rayakan bersama. Beberapa orang memasang janur-janur kuning dan yang lain membuat obor-obor yang besar. Tiba-tiba hatinya bergetar ketika ia melihat seorang gadis duduk di tangga gandhok kulon. Gadis itu pun berwajah cerah secerah matahari. Tanpa disadarinya, selangkah demi selangkah ia pergi menemui gadis itu.

“Bukankah kau ingin melihat Rawa Pening?” ajak Arya Salaka.

GADIS itu tersenyum. Segera ia berdiri. Namun kemudian wajahnya menjadi kemerah-merahan. Sambil duduk kembali ia menggeleng, “Nanti Kakang, Ayah sedang mandi.”

“Kita pergi berdua,” ajak Arya Salaka. Widuri menggeleng. Tiba-tiba, ya tiba-tiba saja timbullah perasaan malu di dalam dadanya. Perasaan yang selama ini tak pernah mengganggu dirinya. Karena itu ia menjawab, “Aku menunggu Ayah.”

Arya Salaka menjadi heran. Gadis itu telah mengalami suatu perubahan di dalam dirinya. Tetapi Arya Salaka tidak mengetahuinya. Ia menyangka bahwa ayah gadis itu pun telah mengajaknya pula. Maka katanya, “Baiklah Widuri. Nanti aku datang kembali.”

Arya Salaka pun perlahan-lahan melangkah pergi. Kembali ia menemani kerja rakyatnya. Tak mengenal lelah. Perlambang dari kemauan mereka di hari-hari yang akan datang. Kerja keras untuk menyongsong hari-hari yang bahagia bagi anak cucu mereka. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Sementara itu di gandhok wetan duduklah dalam satu lingkaran, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar dalam kesempatan itu telah menceriterakan beberapa persoalan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Sehingga akhirnya Ki Ageng Pandan Alas berkata sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, “Baru sekarang aku menjadi jelas. Karena itulah Panembahan Ismaya berkata, bahwa pekerjaanmu sudah hampir selesai.”

“Ya, Paman,” jawab Mahesa Jenar.

“Pada suatu saat, Anakmas…” kata Ki Ageng pula, “Aku ingin juga pergi ke balik Gunung Gajah Mungkur itu. Tunjukkan kepadaku rumah orang yang bernama Paniling dan Darba, seperti yang Anakmas ceriterakan. Alangkah lucunya kalau aku melihat wajahnya. Persahabatan kami yang bertahun-tahun di masa lampau seperti persahabatan di dalam mimpi saja. Dan baru sekarang aku tahu bahwa Pasingsingan telah melampaui tiga masa.”

“Baiklah Ki Ageng,” jawab Mahesa Jenar, “Besok aku antarkan Ki Ageng ke Pudak Pungkuran.” Pembicaraan itu akhirnya terputus ketika mereka mendengar hiruk-pikuk di halaman.

“Mereka ingin merayakan hari yang cerah ini,” desis Rara Wilis.

“Aku akan melihat mereka,” kata Ki Ageng Pandan Alas sambil melangkah keluar. Tinggallah di dalam gandok itu Rara Wilis dan Mahesa Jenar. Untuk beberapa saat mereka terbungkam. Tak sepatah kata pun terlontar dari sela-sela bibir masing-masing. Bahkan kemudian terdengar nafas Rara Wilis semakin cepat mengalir. Akhirnya, setelah suasana gandok wetan itu hening sejenak, terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Adakah kau ingin kembali ke Gunung Kidul?”

Rara Wilis mengangguk lemah. Katanya, “Aku mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan akulah yang akan menentukan.”

“Kita tentukan bersama-sama,” jawab Mahesa Jenar. Rara Wilis tersenyum, katanya, “Terserahlah kepada Kakang.”

“Wilis,” tiba-tiba Mahesa Jenar berkata bersungguh-sungguh. “Aku akan selalu mendekati keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kalau kami kemudian untuk sementara tinggal bersama-sama Panembahan Ismaya di Karang Tumaritis sebelum aku menyerahkannya kembali ke Demak bersama-sama Jaka Tingkir?”

“Terserahlah kepada Kakang. Tempat itu menyenangkan juga. Tenang dan tentram.”

Kembali mereka terdiam. Namun di angan-angan mereka terancamlah harapan bagi masa depan mereka. Bukan karena mereka akan mendapat hadiah dan kedudukan, namun karena hati mereka yang telah bertemu dan berpadu, setelah sekian lama berjuang untuk mengabdikan diri mereka kepada tugas-tugas mereka.

MAHESA JENAR sama sekali tak mengharapkan bahwa kelak namanya akan dicantumkan di dalam rontal-rontal atau dipahatkan di dinding-dinding istana dan gapura-gapura. 

Ia hanya mengharap, agar Demak kembali menemukan kekuatannya. Menemukan sipat kandel-nya. Sedang apa yang dilakukan adalah kewajiban yang seharusnya dilakukan. Sekali lagi menggemalah tekad di dalam dadanya, bahwa pengabdian tidaklah harus dilakukan di dekat dan sekitar istana. Di antara rakyat pun ia akan dapat melakukan pengabdian. Pengabdian bagi sesama dan pengabadian bagi Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Mahasa Besar yang telah menciptakan bumi, alam dan segenap isinya. 

Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat segera meninggalkan Banyubiru. Masih ada beberapa persoalan yang harus ditungguinya. Endang Widuri masih ingin tinggal lama lagi, dan 

Kebo Kanigara masih harus menemui Mas Karebet. Namun hari-hari yang akan datang adalah hari-hari yang cerah. Hari yang cerah bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Hari yang cerah bagi Banyubiru dan Pamingit. Hari-hari yang cerah pula bagi Arya Salaka dan Endang Widuri. Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak akan menunggu waktu terlalu lama. Sebab umur-umur mereka selalu merayap-rayap meninggalkan usia mereka. Tetapi di Banyubiru terasa menjadi semakin sepi. Mantingan dan Wirasaba harus kembali ke tempat masing-masing. Wirasaba harus kembali ke istrinya yang setia, sedang Mantingan harus kembali ke gurunya dan kepada pekerjaannya, Dalang.

“Kakang Mahesa Jenar,” kata Mantingan pada saat ia minta diri dari Banyubiru, “Aku akan datang kembali menemui Kakang nanti apabila datang saatnya Kakang memerlukan aku. Mantingan sebagai seorang dalang. Bukankah akan nikmat sekali, apabila aku mendapat kehormatan untuk meramaikan perhelatan perkawinan Kakang? Aku akan membawakan ceritera yang paling menarik, Parta Krama”

Mahesa Jenar hanya dapat tersenyum menanggapi kata-kata Mantingan itu, sedang Rara Wilis menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun Mahesa Jenar berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan menerima sumbangan itu kelak pada saatnya.

Dan Mantingan beserta Wirasaba itu pun kemudian meninggalkan Banyubiru, menuju ke timur, Prambanan. Banyubiru pun kemudian menjadi semakin sepi. Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh hiruk-pikuk rakyatnya yang rajin. Kerja. Masih banyak yang harus mereka kerjakan untuk tanah perdikan mereka. Hanya dengan kerja, maka tanah mereka akan mencapai nilai-nilai yang mereka cita-citakan. Nilai kehidupan orang-perorang. Nilai kehidupan tanah perdikan keseluruhan. Sehingga karenanya tak ada tempat lagi bagi mereka untuk berselisih, bersitegang dengan kebenaran menurut tafsiran masing-masing, bersikeras hati mempertahankan pendapat-pendapat yang saling bertentangan. Yang ada kemudian adalah kerja, membanting tulang.

Kini mereka bermandi keringat bersama-sama, namun kelak mereka akan menuai bersama-sama. Sementara Mahesa Jenar menunggu di Banyubiru, maka Kebo Kanigara telah mulai dengan persoalannya sendiri.

Persoalan kemenakannya sangat menarik perhatiannya. Ceritera yang didengarnya dari Paningron dan Gajah Alit. Kemudian menurut Panembahan Ismaya, bahwa seorang Wali telah meramalkan hari depan yang gemilang buat anak nakal itu.

Namun kini, anak itu ternyata sedang disingkirkan oleh Sultan, karena pelanggaran-pelanggaran yang telah dibuatnya. Demikianlah maka kemudian Kebo Kanigara itu memerlukan menemui Karebet. Tidak di rumah Ki Buyut, tetapi mereka bersepakat untuk bertemu di ujung hutan perdu di lereng Bukit Telamaya, supaya setiap pembicaraan dapat mereka lakukan dengan tidak bersegan hati terhadap orang-orang lain yang mendengarnya.

Malam itu langit yang cerah ditandai oleh sepotong bulan muda. Kebo Kanigara duduk di atas sebuah batu padas, sedang Karebet dengan wajah yang tunduk duduk di hadapannya, seakan-akan seorang tertuduh yang sedang menunggu keputusan tentang dirinya.

“Karebet,” kata Kebo Kanigara perlahan. Karebet mengangat wajahnya sesaat, namun kemudian ditundukannya lagi. 

Yang terdengar adalah suaranya parau, “Ya, Paman.”

“AKU telah mendengar beberapa ceritera tentang dirimu diistana. Sehingga akhirnya kau terpaksa disingkirkan karenanya. Menurut para perwira yang datang ke Pamingit, kau telah membunuh seorang yang bernama Dadung Ngawuk hanya dengan sadak kinang. Namun, dari pancaran senyumnya aku dapat membaca bahwa bukan itulah yang telah kau lakukan. Nah, sekarang aku ingin tahu, apakah sebabnya kau diusir dari istana?”

Wajah Mas Karebet menjadi semakin dalam. Dadanya berdebar-debar semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian mulutnya malahan menjadi serasa terbungkam.

“Katakanlah, Karebet,” desak Kebo Kanigara. Kembali Karebet terdiam. Dan kembali Kebo Kanigara mendesaknya, “Apa yang terjadi?”

“Sikap putri Sultan terlalu baik kepadaku,” jawab Karebet terbata-bata.

“Lalu?”

“Aku pun bersikap baik kepadanya,” jawab Karebet

“Hanya itu?”

Karebet mengangguk, “Ya.”

Karebet terkejut ketika pamannya membentaknya, “Hanya itu?”

“Oh. Tidak Paman,” sahut Karebet cepat-cepat.

“Lalu?”

“Pergaulan kami menjadi semakin baik,” jawab Karebet, “Mula-mula aku mengharapkan lebih dari itu. Tetapi ternyata perasaan kami masing-masing berkehendak lain. Tetapi ternyata Sultan tidak senang melihat pergaulan itu. Agaknya karena aku tidak lebih dari seorang lurah Tamtama pada waktu itu.”

“Kau tahu bahwa Sultan tidak berkenan di hatinya?”

Karebet mengangguk. “Tetapi kesalahan itu masih kau lakukan?”

Karebet menjadi bingung. Tetapi ketika Kebo Kanigara mengulangi pertanyaannya, maka jawabnya, “Ya. Tetapi bukan maksudku. Aku mencoba untuk menjauhinya. Tetapi setiap kali kami selalu bertemu. Aku dalam tugasku sebagai seorang tamtama, sedang putri Sultan itu, entahlah apa saja yang dilakukan di luar keputren.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai sebagai ceritera kemenakannya. Namun ia tahu pula sifat-sifat anak itu. Kemudian terdengar kemenakannya itu berkata pula, “Kemudian akulah yang menerima akibat dari pergaulan kami itu. Sultan marah kepadaku. Sehingga akhirnya aku dipindahkannya.”

“Kau tidak mengatakan sebenarnya apa yang terjadi kepada Sultan?”

“Aku telah mencoba,” jawab Karebet, “Tetapi ada orang ketiga yang berkepentingan dengan keputusan Sultan itu.”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya.

“Siapa?”

“Tumenggung Prabasemi.”

Kembali Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,”Apakah kepentingannya?” Pertanyaan itu telah menghanyutkan Mas Karebet itu ke dalam suatu kenangan yang pahit. Sesaat ia tidak dapat menjawab pertanyaan pamannya. Namun kemudian diceriterakannya apa saja yang pernah dialaminya. Satu-satu. Tak ada yang dilampauinya. Bahkan ceritera itu seakan-akan merupakan tuangan kekesalan hatinya, atas peristiwa yang tak diharap-harapkan.

“Aku tidak menyangka bahwa Tumenggung itu akan berbuat sampai sedemikian jauh,” kata Karebet. “Kau kenal orang itu baik-baik?”

“Ya, aku kenal Tumenggung Prabasemi dengan baik. Seorang Tumenggung yang masih muda. Namun karena kesaktiannya, ia cepat dapat menempati tempatnya yang sekarang. Seorang perwira Tamtama yang gagah perkasa.”

“Apa yang sudah dilakukannya?”

Karebet terdiam sesaat. Dicobanya untuk mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi itu. Dan peristiwa-peristiwa itu seakan-akan kini terulang kembali. Peristiwa demi peristiwa. Mulai dari permulaan sekali.

Pada saat itu, pergaulan Karebet dengan putri Sultan itu belum diketahui oleh siapapun. Mereka masih dapat merahasiakan getaran-getaran perasaan mereka. Namun pada suatu ketika, masuklah orang yang bernama Tumenggung Prabasemi itu kedalam lingkaran pergaulan mereka, sejak Tumenggung itu pada suatu saat bertemu dengan puteri Sultan yang cantik itu. Karebet adalah bawahan Tumenggung Prabasemi yang paling menarik perhatiannya. Sehingga lurah Tamtama yang masih sangat muda itu, seakan-akan tak pernah terpisah daripadanya.

“KAREBET,” kata Tumenggung Prabasemi, “Kau adalah anak muda yang mempunyai kesempatan yang sangat baik. Kau adalah seorang tamtama yang dipungut dari anak-anak muda yang berterbaran disana sini langsung oleh Sultan sendiri. Sehingga dengan demikian, kesempatan yang kau dapat, jauh lebih besar dari setiap kesempatan yang ada pada kami. Hampir tak pernah salah seorang di antara kami yang mendapat panggilan langsung dari Sultan selain dalam tugas-tugas kami. Tetapi kau pernah mendapat kesempatan itu. Kesempatan yang berada di luar tata peraturan para tamtama.”

Karebet masih belum tahu, apakah sebenarnya yang akan dikatakan oleh Tumenggung Prabasemi. Karena itu ia menunggu saja sampai Tumenggung itu berkata, “Karebet. Adalah aneh, kalau aku beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya melihat wajah putri bungsu Sultan. Sebelumnya aku memang pernah melihatnya. Namun sejak putri itu menginjak usia remajanya, dan kemudian mengalami pingitan, aku tidak pernah melihatnya lagi. Namun tiba-tiba aku mendapat kesempatan untuk memandang wajahnya. Wajah yang betapa cerahnya, sehingga aku menjadi silau karenanya.”

Dada mas Karebet berdesir mendengar kata-kata itu. Memang puteri Sultan itu demikian cantiknya. Namun apabila pujian itu keluar dari mulut seorang laki-laki, maka hati mas Karebet itu terasa seakan-akan meronta.

Ternyata kemudian Tumenggung Prabasemi berkata pula, “Barangkali aku telah menjadi gila, Karebet. Namun aku benar-benar ingin mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk dapat memandang wajah itu. Kesempatan yang kedua aku dapat memandang wajahnya, adalah dua hari yang lampau. Ketika putri Sultan itu bermain-main di gerbang keputren.”

Kerebet menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Yang berkata seterusnya adalah Tumenggung itu, “Karebet, apakah kau pernah melihat putri itu pula?”

Dengan kaku Karebet menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya Ki Tumenggung. Aku pernah melihatnya.”

Tumenggung Prabasemi mengangguk sambil tersenyum, “Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Tak ada kesan apapun padaku, Ki Tumenggung.”

Tumenggung itu tertawa. Katanya, “Alangkah bodohnya kau Karebet. Tetapi tak apalah. Mungkin tangkapanmu lebih baik daripada aku. Atau aku memang sudah betul-betul gila.”

Kemudian setelah diam sesaat ia berkata, “Apakah kau dapat menolong aku?”

Karebet mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang harus aku lakukan?”

“Karebet…”, kata Tumenggung itu dengan ragu-ragu, “Kalau sekali waktu kau dipanggil oleh Sultan, dan apabila kau lewat di muka gerbang Kaputren, serta kau lihat putri itu di sana, maka katakanlah, bahwa seorang Tumenggung menyampaikan sembah sujudnya untuk putri.”

Karebet menunggu Tumenggung itu berkata terus, namun kata-kata itu tak dilanjutkannya, sehingga Karebet itu bertanya, “Hanya itu saja?”

“Ya. Hanya itu. Katakan kepada puteri, bahwa Tumenggung Prabasemi sangat mengangumi kecantikan putri itu.”

Karebet mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Baik Ki Tumenggung. Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah keuntungan Tumenggung dengan pesan itu?”

Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya, kemudian ia tertawa, “Kau memang bodoh Karebet. Biarlah tak kau ketahui keuntunganku dengan pesan itu. Namun apabila pada suatu ketika kau mendapat pesan dari putri itu, sampaikan pesan itu kepadaku.”

Mas Karebet tersenyum. Katanya, “Aku memang bodoh. Tetapi aku tidak sebodoh seperti yang Ki Tumenggung sangka. Aku tahu maksud Ki Tumenggung. Tetapi, bukankah puteri itu putri Sultan.”

Prabasemi tersenyum, “Itulah. Mungkin aku benar-benar sudah menjadi gila. Tetapi apakah kau sangka bahwa seorang Tumenggung tidak boleh berkenalan dengan putri raja? Aku adalah Tumenggung yang mendapat kepercayaan Sultan dalam bidang keprajuritan. Apa salahnya, apabila pada suatu ketika aku mampu menaklukkan daerah pesisir wetanan, dan aku mendapat triman putri itu?”

“Mudah-mudahan,” jawab Karebet, “Dan Tumenggung akan mendapat gelar Pangeran. Pangeran Prabasemi.”

Prabasemi tertawa. Ia menjadi puas dengan angan-angannya. Ia mengharap Karebet akan memenuhi permintaannya. Dan ia mengharap putri itu pun telah pernah mendengar namanya dari Sultan sendiri, seorang Tumenggung, perwira Tamtama yang sakti. Bukankah dengan demikian, putri itu setidak-tidaknya ingin melihat wajah perwira yang sakti itu?.

TERNYATA yang dipesannya adalah seorang anak muda yang bernama Karebet. Seorang anak muda yang selalu menuruti perasaan sendiri, yang kadang-kadang terlalu aneh.

Demikianlah beberapa hari kemudian, Prabasemi itu berkata kepada Karebet, “Karebet, apakah kau sudah mendapat kesempatan itu?”

Mas Karebet tersenyum, jawabnya, “Sudah, Ki Tumenggung.”

“He…?” Ki Tumenggung sangat tertarik kepada jawaban itu. “Aku telah dipanggil oleh Baginda, kemarin,” kata Karebet. “Untuk apa?” “Memijit kaki Baginda. Bukankah aku pernah belajar memijit?” sahut Karebet. “Oh, pantas. Baginda sering memanggilmu,” kata Prabasemi. “Tetapi apakah kau sempat bertemu dengan putri?” Karebet mengangguk. “Ya, Ki Tumenggung,” jawab Karebet. “Tetapi aku tidak sempat menyampaikan pesan Ki Tumenggung.” “Gila,” gerutu Prabasemi dengan kecewa, “Kenapa?” “Aku tidak dapat mendekatinya,” sahut Karebet, “Putri itu hanya lewat di muka bilik pembaringan Baginda.” Prabasemi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Karebet, lain kali kau harus berhasil. Kau akan mendapat hadiah yang pasti akan sangat menyenangkan bagimu.” “Apakah hadiah itu?” tanya Karebet. “Lembu, kerbau, uang atau apa?”

“Baik. Baik Ki Tumenggung,” jawab Karebet.

Dan sebenarnyalah beberapa hari kemudian Karebet itu datang kepada Ki Tumenggung Prabasemi. Sambil tersenyum ia berkata, “Ki Tumenggung, aku telah menghadap Sultan pula.”

“Memijit?” tanya Prabasemi.

“Ya. Aku memijit Sultan sehingga Sultan tertidur,” kata Karebet.

“Ah. Biarlah Baginda tertidur. Tetapi bagaimana dengan pesan itu?”

“Itulah yang akan aku katakan. Ketika Sultan tertidur, maka putri itu lewat pula di muka bilik pembaringan Sultan. Ternyata putri baru saja menghadap Ibunda dan akan kembali ke keputren bersama dua orang embannya.”

“Kau sampaikan pesan itu?”

Karebet menggeleng. “Tidak, Ki Tumenggung.”

“Gila!” teriaknya, “Apakah kau juga gila seperti aku, Karebet? Namun kau gila sebenarnya gila, sedang aku gila karena gadis itu.”

Karebet hanya tersenyum saja. Katanya, “Apakah Ki Tumenggung tidak keberatan seandainya kedua embannya itu mendengar?”

“Jangan. Jangan,” potongnya.

“Nah, itulah sebabnya,” sahut Karebet, “Lain kali akan aku coba.”

Tetapi beberapa hari kemudian Karebet menemui Prabasemi dengan wajah yang sedih. Prabasemi terkejut karenanya. Maka dengan tergesa-gesa terdengar ia berkata, “Bagaimanakah dengan pesan itu Karebet?”

Karebet masih tetap tepekur dengan wajah muram. Perlahan-lahan ia berkata, “Ki Tumenggung. Kali ini aku telah benar-benar dapat bertemu dengan putri.”

“Ha?” sahut Prabasemi, “Kau sampaikan pesan itu?”

“Ya,” jawab Karebet.

“Nah, ternyata kau tidak sebodoh yang aku sangka. Tetapi kenapa kau sedih?”

“Aku ditamparnya,” sahut Karebet.

“Siapa yang menampar?”

“Putri.”

“Benar?”

“Ya.”

“Oh!” Tiba-tiba Prabasemi berdesah, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku hampir saja membalasnya.”

“He?” teriak Prabasemi, “Kau benar-benar gila. Apakah dengan demikian kau tidak menyadari, bahwa kau dapat dihukum, bahkan hukuman mati?”

“Hampir, Ki Tumenggung. Hampir. Tetapi tidak jadi.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku minta maaf atas kelancanganku, atas pesan yang aku sampaikan itu.”

“Lalu?” Prabasemi menjadi tidak sabar.

“Aku minta maaf atas kelancanganku, atas pesan yang aku sampaikan itu.”

“LALU?” Prabasemi menjadi tidak sabar.

“Putri memaafkan aku, dan putri juga minta maaf kepadaku.”

“He?” Prabasemi semakin terkejut, “Putri minta maaf kepadamu?”

“Ya,” sahut Karebet, “Dan putri memberikan pesan pula untuk Ki Tumenggung.”

“Jadi putri kenal aku?” tanya Prabasemi. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Karebet menggeleng.

“Oh,” katanya, “Apakah putri belum pernah mendengar nama Prabasemi, perwira Tamtama yang sakti?”

Sekali lagi Karebet menggeleng. Jawabnya, “Putri menyangka bahwa yang bernama Prabasemi adalah seorang perwira Nara Manggala yang gemuk bulat.”

“Setan!” desis Prabasemi, Katanya, “perwira itu bernama Gajah Alit.”

“Atau yang beberapa tahun yang lampau meninggalkan istana? Tanya putri itu.” Karebet berkata seterusnya. “Ah demit itu. Tohjaya yang dimaksud?”

“Mungkin,” sahut Karebet.

“Apakah kau tidak mengatakan, bahwa Prabasemi dari kesatuan Wira Tamtama, bukan Nara Manggala, atau Manggala Sraja atau yang lain-lain?”

“Sudah, Ki Tumenggung. Aku sudah mengatakannya. Dan putri berpesan, agar Ki Tumenggung melupakannya. Melupakan putri itu. Sebab sebentar lagi putri itu sudah akan menginjak masa perkawinannya.?”

“Bohong!” bentak Tumenggung itu, “Putri itu bohong, atau kau yang bohong?”

“Aku tidak bohong Ki Tumenggung. Aku benar-benar pernah menghadap putri. Dan kalau Ki Tumenggung tidak percaya, inilah, aku dapat membuktikannya.”

Ki Tumenggung Prabasemi menarik keningnya. Ia melihat Karebet mengambil sesuatu dari ikat pinggangnya. Kemudian ditunjukkannya kepada Prabasemi. Dan inilah kesalahan Karebet yang terbesar, yang telah menjerumuskannya pada keadaan yang pahit. Sehingga akhirnya ia terpaksa diusir dari istana. Bahkan hampir saja jiwanya menjadi korban pula karenanya. Prabasemi itu menggigil ketika ia melihat di tangan Karebet tergenggam sekuntum bunga yang telah layu.

Tumenggung itu segera mengetahui maksud mas Karebet. Ia tahu pasti bahwa Karebet berbohong. Ia tahu pasti bahwa Karebet mengatakan kepadanya, bahwa harapannya itu tidak lebih daripada setangkai layoning kembang. Karena itu, Prabasemi itu menjadi marah. Wajahnya segera menjadi merah menyala, dan giginya gemeretak.

Karebet terkejut melihat akibat permainannya. Ia memang ingin bermain-main dengan Tumenggung itu. Tetapi ia tidak menyangka bahwa akibatnya akan sedemikian parahnya. Tumenggung yang marah itu dengan serta merta menarik bajunya sehingga tubuh Karebet hampir terangkat karenanya.

Dengan gemetar Prabasemi berkata, “Kau menghina aku Karebet?”

“Tidak Kiai, tidak,” sahut Karebet.

Tetapi mata Tumenggung Prabasemi benar-benar telah merah, semerah darah. Katanya pula, “Aku sangka kau adalah bawahanku yang paling setia. Tetapi ternyata kaulah yang pertama-tama menghina aku.”

“Bukan maksudku Ki Tumenggung. Aku hanya ingin memperingatkan Ki Tumenggung, bahwa gegayuhan itu terlalu jauh jangkauannya,” jawab Karebet.

“Persetan dengan mulutmu. Kau adalah bawahanku. Pangkatmu lebih rendah dari pangkatku, umur lebih muda dari umurku. Jangan menggurui aku.”

Karebet tidak menjawab. Ia tidak mau membuat Tumenggung itu menjadi semakin marah. Seandainya ia menjawab satu patah kata saja lagi, maka sudah pasti mulutnya akan ditampar oleh Tumenggung yang sudah lupa diri. Dan sudah pasti ia akan membalasnya. Namun untunglah bahwa Karebet berhasil menguasai dirinya. 

SEJAK saat itu, maka Prabasemi tak memerlukan Karebet lagi. Seandainya Karebet bukan seorang yang langsung diambil oleh Sultan dari pinggir blumbang, dan diserahkan kekesatuannya, maka Karebet itu pasti sudah dipecat, diusir bahkan sudah dibunuhnya. Tetapi Prabasemi itu masih takut, seandainya Sultan memerlukan anak itu.

Namun sejak itu, Prabasemi menjadi semakin gila. Ia ingin membuktikan bahwa suatu ketika ia akan berhasil menemui puteri Sultan itu dan berhasil memikatnya. Tumenggung bukan pangkat yang terlalu rendah. Dalam peperangan ia telah berhak untuk memegang jabatan panglima dalam laskar segelar sepapan. Dan ia yakin kesaktiannya akan ikut menentukan pula keadaan dirinya. Juga akan dapat menentukan apakah puteri Sultan itu akan menaruh perhatian akan dirinya atau tidak.

Prabasemi pernah mendengar juga nama-nama perwira yang pernah menggemparkan Demak. Seorang kawannya dari angkatan yang lebih tua, dari kesatuan Nara Manggala, bernama Gajah Alit tak kurang saktinya. Seorang lain dari panglima pasukan Demak yang berada di Bergota. Arya Palindih, adalah orang yang sakti.

“Tetapi apakah kau tidak dapat menyamai kesaktian mereka?” katanya dalam hati

Tetapi sebagai seorang perwira yang masih muda, ia hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk pergi bersama-sama dengan mereka yang mempunyai nama dalam keprajuritan Demak. Sehingga dengan demikian, maka Prabasemi itu belum pernah mendapat kesempatan untuk melihat atau memperlihatkan kesaktiannya masing-masing angkatan sebelumnya dan dirinya sendiri. Itulah agaknya yang menyebabkan Prabasemi haus pada kesempatan kesempatan demikian.

Perang merupakan lapangan permainan yang digemarinya, sekedar untuk mengukur diri. Tak pernah diperhatikannya, apakah akibat dari peperangan itu. Tak pernah terpikirkan olehnya, berapa orang yang gugur. Ia ingin namanya akan semakin menanjak keatas, merayap kesamping nama-nama yang pernah didengar sebelumnya.

Dengan demikian Prabasemi merupakan Perwira yang namanya dikenal karena tindakannya yang kasar. Setia persoalan yang betapapun kecilnya atas daerah wilayah Demak, bahkan daerah perdikan akan diselesaikan oleh Prabasemi dengan kekerasan. Dengan dalih yang dibuat-buat, Prabasemi selalu mengakhiri tugasnya dengan pertumpahan darah.

Ada anak buah yang senang dengan kebiasaan itu, namun ada yang membencinya. Karebet termasuk orang yang muak dengan perbuatan itu. tetapi sebagai seorang yang patuh pada ketetapan yang berlaku dalam lingkungan Wira Tamtama, maka tak banyak yang dapat ia lakukan. Dan sebenarnya untuk sementara Prabasemi mendapat sambutan baik dari atasannya. Seakan-akan semua tugas yang diserahkannya pasti dapat diselesaikannya.

Dan kini Prabasemi telah sampai pada tangga yang cukup tinggi. Tumenggung. Namun nafsunya yang berlebihan masih belum juga surut.

Bahkan kini ia terdorong dalam satu persoalan yang lebih gila lagi. Wajah puteri bungsu itu tak pernah dilupakannya. Dan ia bertekad untuk suatu ketika bertemu dengan gadis itu. Apa yang dilakukan Karebet ternyata telah mendorongnya ke sudut yang semakin gelap.

Tetapi sementara itu Karebetpun menjadi semakin gila. Sejak ia tahu Prabasemi kasmaran kepada puteri Sultan, sejak itu ia bertambah jauh tenggelam dalam permainan yang berbahaya. Sebenarnya ia mengatakan apa yang diketahuinya tentang Prabasemi kepada puteri itu. Namun puteri berkata kepadanya “terserah kepadamu Karebet.”

“Apakah artinya aku ini puteri,” kata Karebet

“Aku tidak lebih dari seorang Tamtama, sedangkan Prabasemi adalah Tumenggung sakti.”

Karebet hampir menjadi lupa diri ketika melihat puteri itu tersenyum sambil berkata, “Kalau akau mau Karebet, aku tidak hanya sekedar mendapatkan Tumenggung, tetapi aku akan mendapatkan seorang Bupati Nayaka atau seorang Adipati.”

Dada Karebet menjadi semakin berdebar-debar, “Kenapa puteri tidak mau?”

“Apakah kau menghendaki demikian?” bertanya puteri itu.

“Ah,” desah Karebet.

“Aku sedang berfikir, bagaimana cara sebaik-baiknya untuk bunuh diri.”

“Kenapa bunuh diri?”

“Aku tak sanggup melihat Puteri dipersandingkan. Mungkin dengan seorang Adipati, Pangeran dan dengan Tumenggung Prabasemi.”

“Jangan mengigau Karebet,” potong puteri itu.

Karebet tersenyum. Kemudian katanya, “lalu bagaimana aku harus mengatakan kepada Tumenggung yang gagah itu ?”

“Terserah kepadamu. Mungkin kau akan mengatakan kepadanya bahwa aku akan menerima lamarannya.”

Demikianlah Karebet semakin yakin akan dirinya. Ia tidak akan dapat disisihkan oleh Tumenggung yang dipenuhi segala macam nafsu itu.

TETAPI Tumenggung Prabasemipun tidak putus asa. Dihubunginya beberapa emban, disuapnya dengan uang, pakaian dan benda berharga lainnya. Dimintanya mereka menyampaikan beberapa pesan untuk puteri itu.

Namun usaha Tumenggung itupun sia-sia. Puteri Sultan Trenggana tak pernah memperhatikan pesan itu. Dan bahkan puteri selalu berpura-pura belum pernah mendengar nama Prabasemi. Dengan demikian Prabasemi semakin prihatin. Kadang bila pikiran jernih datang, maka disadarinya bahwa yang dilakukannya adalah laku seorang gila. Namun apabila dikenangnya wajah itu, maka pikiran gilanya kembali menguasai kepalanya.

Dan terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa tak disangka-sangka oleh Prabasemi. Ketika pada suatu hari, seorang emban yang telah disuapnya berlari kepadanya.

“Ada apa ? Apakah puteri memanggil aku?”

Emban menggeleng, dan Tumenggung menjadi kecewa.

“Ki Tumenggung, aku tidak yakin usaha Ki Tumenggung akan berhasil”

Tumenggung Prabasemi membelalakkan matanya.

“Apa katamu?”

“Ki Tumenggung, seseorang telah mendahului menyentuh hati tuan puteri…”

“He, “ Prabasemi terkejut sekali sehingga terjingkat.

“Seseorang telah mendahului Ki Tumenggung”

“Bohong, aku juga pernah dibohongi demikian,” teriaknya

“Aku tidak bohong,” sahut emban.

“Apakah kau dapat mengatakannya, siapakah yang telah mendahului aku ?”

“Anak muda itu pernah datang ke keputren. Dan kali ini aku melihatnya sendiri.”

“Gila, apakah para prajurit Nara Menggala tidur semua ?”

“Anak muda itu selalu datang ke istana. Baginda sering memanggilnya, sehingga para Nara Manggala selalu melepaskannya untuk masuk ke mana saja yang disukainya.”

“Siapa dia ?”

“Aku tidak kenal namanya. Tetapi ia dari Wira Tamtama seperti Ki Tumenggung.”

“Gila, siapa dia ? He, siapa ?” wajah Tumenggung itu menjadi merah padam. Ia percaya kata-kata emban itu. Karena itu maka dadanya bergetar seperti seratus guntur meledak bersama-sama didalamnya. Emban tidak dapat menjawab. Memang ia tidak tahu siapakah nama anak muda itu. Namun ia dapat mengatakan, bahwa Baginda sering memanggilnya untuk memijat kakinya. Atau kadang-kadang anak muda itu diajak bermain panah, membidik sasaran-sasaran yang aneh-aneh. Dan bahkan bermain kecerdasan. Macanan atau mul-mulan dengan asyiknya. Mendengar keterangan emban itu, menggigilah tubuh Prabasemi. Dengan suara yang parau gemetar ia bertanya,”Apakah anak muda itu masih sangat muda ?”

“Ya,” jawab emban itu.

“Bertubuh tegap, berdada bidang ?”

“Ya.”

“Selalu tersenyum ?”

“ya.”

“Gila. Setan itu bernama Karebet ? Kau dengar ?” bentak Prabasemi.

Kini ia benar-benar kehilangan kesabarannya. Seandainya Karebet ada dihadapannya, maka sudah pasti ia akan berusaha membunuhnya. Tetapi yang ada kini adalah emban itu. Emban yang menggigil ketakutan.

“Kau lihat sekarang orang itu berada di keputren ?”

“Ya.” Emban itu mengangguk.

“Aku akan kesana. Aku bunuh anak itu,” teriak Prabasemi.

“Jangan Tuan,” pinta emban itu.

“Kenapa ?”

“Tuan, apakah Tuan mungkin melampaui penjagaan Nara Manggala seperti anak muda itu ?”

PRABASEMI menggeram. Ia tidak mempunyai wewenang apa pun untuk memasuki bagian dalam istana seperti Karebet. Kalau ia memaksa, maka ia akan berhadapan dengan Nara Manggala. Sedang kalau Nara Manggala itu dimintanya untuk menyergap kaputren beramai-ramai, maka Karebet pasti sempat melarikan diri. Dan apabila tidak ditemui bukti, maka Baginda pasti akan murka. Meskipun perasaan Prabasemi pada waktu itu seolah-olah sedang menyala, namun naluri keprajuritannya telah mencegahnya untuk bertindak. Karena itu, Tumenggung itu hanya bisa menggeram dan menghentak-hentakkan kakinya.

Dengan gemetar ia berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil mengumpat, “Setan, Karebet itu. Seharusnya ia dibunuh.” Namun akhirnya Tumenggung itu pun berhenti mondar-mandir. Ditatapnya wajah emban yang ketakutan itu. Dan tiba-tiba Tumenggung Prabasemi tersenyum.

Emban yang ketakutan itu pun terkejut melihat perubahan sikap Prabasemi yang tiba-tiba itu. Namun ia tidak berani bertanya sesuatu. Bahkan ia menjadi semakin gelisah ketika kemudian Prabasemi itu berhenti beberapa langkah dihadapan emban yang duduk sambil menundukkan wajahnya.

“Emban…” katanya, “Sudahlah, biarlah Gusti Putri itu menuruti kehendak sendiri.”

Emban itu menjadi semakin heran. Sekali ia mengangkat wajahnya dengan sorot matanya yang penuh mengandung pertanyaan. “Namun putri itu pun harus mendapat pelajaran. Aku tak akan dapat berbuat apa pun untuknya. Karena itu Emban, apakah tidak sebaiknya melaporkannya kepada ibunda permaisuri apabila kau melihat anak muda itu datang kembali?”

Emban menggeleng, “Aku tidak berani tuan. Dan dengan demikian maka akibatnya pun akan jauh sekali. Mungkin putri akan dihukum didalam istana, dan mungkin anak muda itu dapat dihukum mati.” Prabasemi tertawa. Katanya, “Bukankah itu hukuman yang wajar?”

“Putri akan berduka.”

Prabasemi tertawa. Katanya seterusnya, “Jadi apakah sebaiknya dibiarkan saja perbuatan gila itu? Apakah dengan demikian kau sendiri tidak akan digantung kelak apabila kedua anak-anak muda itu terdorong kedalam keadaan yang makin parah?”

Emban itu terdiam. Kata-kata Prabasemi itu memang benar. Seandainya Gusti Putri itu terperosok dalam perbuatan yang lebih sesat lagi, maka dirinyapun akan mendapat hukuman pula beserta seluruh emban yang lain. Selagi ia sibuk menimbang-nimbang, emban itu terkejut ketika dipangkuannya jatuh sebentuk cincin emas yang berkilat-kilat. Dengan mulut ternganga ia menengadahkan wajahnya menatap wajah Prabasemi. Prabasemi itu masih tersenyum. Katanya, “Pakailah, supaya kau tidak lupa kepadaku. Dan supaya kau tidak lupa nasehatku. Sebaiknya kau laporkan peristiwa-peristiwa semacam itu. Bukankah tugasmu momong Gusti Putri? Dan bagiku Gustri Putri itu sama sekali sudah tidak menarik lagi sejak aku melihat kau.”

“Ah”, desis emban itu. Namun ia pun menjadi berbangga akan kata-kata Prabasemi itu. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginan untuk benar-benar dikagumi oleh Tumenggung itu. Sehingga sambil mengerling emban itu berkata, “Tuan jangan berolok-olok.”

Prabasemi tertawa. Jawabnya, “Kenapa aku berolok-olok. Aku baru melihat putri itu dari kejauhan, sedang aku telah melihat kau dari dekat. Bukan baru sekali dua kali, tetapi karena kau sering datang kemari, aku telah melihat hampir seluruhnya yang ada padamu. Tingkah lakumu, sifat-sifatmu, senyummu.”

“Ah”, wajah emban itu menjadi kemerah-merahan. Namun ia menjadi semakin berbangga.

“Nah, lakukanlah pesanku itu”, berkata Prabasemi kemudian perlahan-lahan, “kau akan mendapat hadiah daripadaku. Lebih banyak dari yang sudah aku berikan. Biarlah seandainya putri itu mendapat pingitan yang lebih keras dari ibunda. Aku tidak peduli lagi, asalkan kautidak ikut dipingit pula.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia berjanji untuk melakukannya, “Ya Ki Tumenggung, akan aku beritahukan kepada Permaisuri apabila anak muda itu datang kembali.”

“Bagus, bagus”, sahut Prabasemi, “jangan tanggung-tanggung Rumah ini masih kosong.”

Dan emban itu pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia memandang berkeliling ruangan itu. Dilihatnya rumah Tumenggung yang masih muda itu dipenuhi dengan alat-alat rumah tangga yang bagus. Tempat duduk dari kayu berukir, geledek-geledek berukir dan tirai-tirai sutera dimuka sentong tengah dan kedua sentong samping. Bahkan tiang-tiangnya pun diukir pula dengan bagusnya dengan warna-warna sungging yang indah. Tanpa disadarinya pula emban itu tersenyum. 

PRABASEMI membiarkan emban itu berangan-angan. Namun hati Tumenggung itu mengumpat, “Gila pula agaknya emban ini seperti aku. Apa disangkanya ia cukup bernilai untuk bermimpi menjadi istri Tumenggung?” Bibir Tumenggung itu membayangkan sebuah senyum. Dan senyumnya itu telah mendebarkan hati emban yang mabuk kesenangan. Ketika emban itu pergi. Prabasemi masih tersenyum-senyum sendiri. Ia mengharap emban yang telah membawa cincinnya itu memenuhi janjinya. “Apabila benar yang dikatakan itu,” Prabasemi bergumam sendiri, “Maka umur Karebet itu menjadi amat pendeknya. Kasihan. Tetapi ternyata ia lebih gila daripadaku.”

Tetapi Tumenggung Prabasemi ternyata cerdik. Betapa darahnya mendidih apabila ia melihat Karebet, namun ia selalu dapat menahan dirinya. Bahkan sikapnya kepada Karebet seakan-akan menjadi bertambah baik. Dibawanya anak muda itu ke mana-mana. Dibawanya Karebet itu ketempat-tempat yang disukainya. Ke pasar dan ke warung-warung. Apabila Tumenggung itu membeli kain baru untuk dirinya, maka dibelikannya pula Mas Karebet.

Namun otak Mas Karebet bukan otak yang tumpul. Ia merasakan beberapa perubahan sikap Tumenggung. Mula-mula Tumenggung itu marah kepadanya, tetapi tiba-tiba sikap itu berubah. Meskipun demikian ia belum dapat mengetahuinya dengan pasti, apakah maksud Tumenggung itu sebenarnya. Dan ternyata Mas Karebet meraba ke arah yang tidak tepat. Ia menyangka, bahwa Tumenggung itu sedang menyuapnya supaya ia bersedia menyampaikan pesan-pesannya kepada Gusti Putri. Karena itulah maka Karebet tidak juga menyadarinya, bahwa seakan-akan dari celah-celah setiap pintu kaputren, sepasang mata selalu mengintipnya. Setiap langkah putri bungsu itu tak pernah terlepas dari pengawasan emban yang haus kemukten itu, apalagi Mas Karebet berada di sekitarnya, meskipun dengan bersembunyi-sembunyi.

Akhirnya datang pula saat itu. Ketika malam sedang merayap semakin dalam, dan bintang-bintang dilangit seakan-akan sedang tenggelam dalam pelukan awan yang kelabu. Sekali-kali lidah api yang panjang menyala di langit yang gelap, disusul dengan suara gemuruh diudara. Angin yang dingin bertiup semakin lama semakin kencang. Seorang anak muda berjalan bergegas-gegas masuk ke pintu gerbang dalam halaman istana. Seorang prajurit yang sedang bertugas menyapanya, “He, berhenti. Siapa?”

Anak muda itu mengangkat wajahnya. Dengan tergesa-gesa ia menjawab, “Kaki Baginda terkilir.”

“Oh, kau Karebet?” tanya prajurit itu. Karebet tidak menjawab. Ia berjalan terus memasuki pintu gerbang. Dan prajurit bertombak itu kembali ke gardunya.

“Karebet,” gerutunya. Kawannya tersenyum, jawabnya, “Jangan iri. Baginda amat sayang kepadanya. Bahkan seperti putera sendiri. Setiap kali anak itu dipanggilnya. Ada-ada saja.”

“Kenapa bukan aku?” kelakar orang bertombak itu. “Aku juga sedang belajar, meloncat mundur sambil berjongkok. Bukankah karena Sultan melihat anak itu berbuat demikian di halaman masjid, maka Karebet itu dipungutnya?”

“Ternyata ia pun merupakan Tamtama yang baik,” jawab yang lain, “Sebaik Tumenggung yang selalu mabuk tuak itu.”

Beberapa orang prajurit yang sedang berjaga-jaga di gardu itu pun tertawa. Seorang dari mereka yang sedang memegang dadu melemparkannya ke sudut, lalu menguap. Katanya, “Alangkah dinginnya.” “Tidurlah,” sahut yang lain, “Giliranmu adalah seperempat malam terakhir.”

Orang itu tidak menjawab, namun ia merangkak kesudut. Dan kemudian merebahkan dirinya di samping dua orang lain yang sudah mendengkur. Mereka adalah petugas-petugas yang akan mendapat giliran pada perempat malam terakhir. 

KAREBET pun kemudian memasuki halaman dalam istana. Seperti biasa ia berjalan menyusur teritis kebilik Baginda. Namun ia tersenyum sendiri. Baginda pasti sedang tidur nyenyak dimalam yang dingin ini. Tiba-tiba tubuh anak muda itu pun kemudian seakan-akan lenyap dibawah bayang-bayang pepohonan. Tak seorang pun yang melihatnya. Perlahan-lahan ia menyusur di antara tananam di pertamanan itu menuju kesisi halaman yang lain. Kaputren. Angin malam masih bertiup menggoyangkan daun-daunan dan menggugurkan kelopak-kelopak bunga kering. Lamat-lamat di antara desir angin terdengarlah suara burung bence. Perlahan-lahan dan jarang-jarang. Bukan suara burung yang sesungguhnya. Tetapi tak seorang pun yang mengetahuinya selain Gusti Putri. Dan perlahan-lahan pula, terbukalah pintu kaputren. Sesaat kemudian tertutup kembali. Seorang gadis yang berkerudung kain menyelinap keluar dan berjalan tersuruk-suruk ke samping dinding kaputren itu.

“Ah kau,” desis gadis itu.

Karebet tersenyum. Katanya, “Apakah Tuan Putri sudah tidur?”

“Belum,” jawab putri itu, “Aku menunggumu.”

Putri itu pun kemudian duduk di tanah di samping Karebet, di balik rimbunnya pertamanan. Sekali-kali kilat masih menyambar di langit dan guruh masih menggelegar satu-satu. Namun kedua anak-anak muda itu sama sekali telah tenggelam dalam keasyikan, sehingga tak dilihatnya cahaya tatit, dan tak didengarnya gemuruh guntur.

Di sudut lain, emban yang mengenakan cincin emas di jari-jarinya dan bersembunyi di balik sudut dinding, tampak tersenyum-senyum. Ia kemudian tidak hanya sekadar ingin menyelamatkan putrinya dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk.

Namun kemudian ia bahkan mengharap keadaan akan bertambah parah. Bahkan ia mengharap Sultan menjadi sangat murka kepada putrinya, dan kemudian mengenakan pingitan yang sangat berat. Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Prabasemi pasti akan melupakannya. Melupakan putri itu. Bukankah dengan demikian, kesempatan baginya menjadi lebih luas lagi? Istri Tumenggung adalah impian yang sangat menyenangkan. Selagi kawan-kawannya masih tetap menjadi emban, dan satu dua akan diambil oleh jajar atau setinggi-tingginya bekel juru taman, maka ia telah menjadi seorang istri Tumenggung. Tumenggung Wira Tamtama.

Kini kesempatan itu terbuka baginya. Karena itu, dengan tersenyum ia bergeser surut. Dan sesaat kemudian dengan tergesa-gesa ia berjalan menyusur dinding belakang, menuju bilik Permaisuri. Tetapi, ketika ia sampai di samping bilik itu, ia menjadi ragu-ragu. Apakah Permaisuri mempercayainya, dan apakah akibatnya tidak akan terlalu parah dan menyebabkan Putri berduka? Namun kemudian diingatnya kata-kata Tumenggung Prabasemi, “Apakah dengan demikian kau sendiri tidak akan digantung kelak apabila kedua anak-anak muda itu terdorong ke dalam keadaan yang semakin parah?”

Ketika emban itu sedang bimbang, ia menjadi terkejut bukan buatan ketika terasa seseorang menggapit pundaknya. Ketika ia menoleh, dilihatnya di belakangnya berdiri seorang emban Permaisuri. Dengan tersenyum, emban itu bertanya, “He, kenapa kau malam-malam, berada di sini?”

“Oh,” jawab emban Putri Bungsu yang bercincin emas tergagap.

“Tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa?” tanya emban Permaisuri dengan heran. Emban bercincin emas itu diam sesaat. Dicobanya untuk mengatasi getar di dalam dadanya. Getar yang ditumbuhkan oleh benturan-benturan perasaannya. Namun ketika emban Permaisuri itu mendesaknya, maka terluncurlah kata-katanya, “Ah. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat penting terjadi di kaputren.”

Emban Permaisuri itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa? Apakah Putri sakit?”

Emban bercincin emas itu menggeleng.

“Tidak,” katanya.

“Lalu kenapa?”

“Berikanlah aku kesempatan menghadap Permaisuri.”

Emban Permaisuri itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Apakah persoalan itu sedemikian pentingnya sehingga harus kau sampaikah hari ini?”

“Ya. Sedemikian pentingnya.”

“Tidak dapat ditunda sampai esok pagi-pagi?”

Emban bercincin emas itu menggeleng.

“Tidak,” jawabnya, “Persoalannya sangat penting dan harus diselesaikan malam ini.”

Emban Permaisuri itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berjalan ke pintu bilik Permaisuri, sedang emban bercincin emas itu mengikutinya.

“Belum lama Permaisuri tidur,” kata emban itu, “Baru saja Baginda meninggalkan bilik ini. Agaknya ada persoalan yang penting yang sedang dibicarakan dengan Permaisuri.”

“Soal inipun tak kalah pentingnya,” desak emban bercincin emas. Akhirnya emban Permaisuri itu pun mengetuk pintu perlahan-lahan. Tidak biasa hal itu dilakukannya. Namun apabila persoalannya penting sekali, maka Permaisuri pasti tidak akan murka.

SESAAT kemudian terdengar sapa halus dari dalam bilik itu, “Siapa?”

“Hamba, Gusti.”

“Emban?”

“Hamba, Gusti.”

“Kau mengetuk pintu?”

“Hamba, Gusti.”

“Ada sesuatu?”

“Ya Gusti, emban Gusti Putri ingin menghadap.”

“Oh.”

Dan sesaat kemudian terdengarlah gerit pintu bilik itu. Sebenarnya sinar lampu minyak memercik keluar. Dan Permaisuri itu telah berdiri di ambang pintu. “Siapakah yang ingin menghadap?”

Emban bercincin emas itu menyembah sambil berkata, “Hamba Gusti.” Namun terasa suaranya bergetar.

“Ada apakah? Apakah Putri sakit?”

“Tidak Gusti,” sahut emban itu. Suaranya menjadi semakin gemetar. Dan dengan terbata-bata ia berkata, “Gusti, Putri tidak sedang sakit, tetapi sedang….” Tiba-tiba suaranya seakan-akan tersumbat di kerongkongan.

“Sedang apa?” desak permaisuri.

Keringat dingin mengalir di seluruh wajah kulit emban yang bercincin emas itu. Ia menjadi bertambah gemetar ketika Permaisuri bertanya, “Apakah persoalan ini sangat penting sehingga kau harus menghadap malam ini?”

“Hamba, Gusti,” jawab emban itu.

“Membawa pesan Putri?”

Emban itu menggeleng, “Tidak Gusti.”

Permaisuri menjadi heran. Katanya, “Lalu apakah keperluanmu?”

“Gusti…” jawab emban itu tergagap. Sedang emban permeisuri itu pun tak kalah herannya. Kenapakah kawannya ini? Apakah agaknya ia diganggu oleh hantu-hantu pertamanan?

Dan terdengarlah emban bercincin emas itu meneruskan dengan kata-kata yang patah-patah. “Gusti. Ampunkanlah hamba. Tetapi sesungguhnyalah bahwa hamba mengatakannya yang sebenarnya. Hendaknya dijauhkannya hamba dari bebendhu.”

Emban itu berhenti sesaat, dan nafasnya menjadi semakin terengah-engah, sehingga permaisuri itu pun menjadi semakin heran.

“Tuanku,” kata emban itu pula, “Ampunkanlah hamba. Sebenarnya hamba ingin menghaturkan ketakutan hamba atas Tuan Putri di kaputeren.”

“Apa yang akan kau katakan, Emban” tanya Permaisuri.

“Gusti, betapa kami, para emban berusaha untuk mencegahnya, namun apakah kekuasaan kami?”

“Ya emban, tetapi kau belum mengatakan persoalannya.”

“Oh.” Emban itu menarik nafas. Dicobanya untuk mengatur perasaannya, baru kemudian ia berkata, “Sesungguhnya Gusti, di keputren Putri sedang menerima seorang tamu.”

Permaisuri itu terkejut sekali mendengar kata-kata emban itu. Maka katanya, “Menerima tamu, katamu? Siapakah tamunya?”

“Itulah yang menyedihkan kami, Gusti,” sahut emban itu, “Tamunya adalah seorang pria.”

Kali ini Permaisuri itu pun tersentak seperti disengat kala. Sesaat ia tak dapat berkata apapun. Bahkan tubuhnyalah yang menjadi gemetar, sehingga kemudian dipeganginya tiang-tiang pintu bilik itu.

Sesaat kemudian barulah Permaisuri dapat berkata, “Emban, apakah katamu benar?”

“Ya, Gusti.”

“Kau pernah melihat sendiri?”

“Ya, Gusti. Saat itu, tamu itu ada di petamanan. Karena itu hamba segera menghadap kemari.”

Putri itu kini mengigil seperti orang yang sedang sakit. Kemudian tanpa berkata apa pun lagi, segera ia masuk ke dalam biliknya. Membenahi pakaiannya dan sedikit menyisir rambutnya. Dengan tergesa-gesa pula ia berkata kepada embanya, “Emban, aku akan menghadap Baginda.”

Emban Permaisuri itu pun ikut mengigil pula. Kabar itu tak diduganya. Karena itu ia ragu-ragu sesaat, dan perlahan-lahan ia berbisik, “Apakah kau benar-benar melihatnya?”

Emban bercincin emas itu mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Emban Permaisuri itu mengusap dadanya sendiri. Tak pernah terpikirkan, bahwa seorang putri raja akan mengalami masa-masa yang demikian mengerikan. Apakah kata Baginda nanti? Emban Permaisuri itu menjadi semakin mengigil karenanya. Sekali lagi ia berbisik, “Apakah kau pernah memperingatkannya, atau setidak-tidaknya menanyakannya kepada Putri?”

EMBAN bercincin emas itu menggeleng. “Belum, aku tidak berani.”

“Kenapa?” desak emban Permaisuri, “Bukankah kau pemomongnya? Adalah menjadi kewajibanmu untuk memberi peringatan kepada Putri apabila pada suatu saat Putri mengalami kegoncangan keseimbangan. Sebab bagaimanapun juga Putri itu pun manusia yang sering khilaf seperti kita.”

Emban bercincin emas itu terdiam. Dan terdengar emban permaisuri itu berkata, “Sekarang persoalan itu akan menjadikan seisi istana gempar. Mudah-mudahan tak banyak orang yang mengetahuinya.”

Emban Putri itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian kepalanya ditundukkannya.

Sesaat kemudian Permaisuri telah selesai. Dengan tergesa-gesa ia berjalan keluar, menutup pintu dan kemudian berkata, “Kalian berdua ikut aku.”

Kedua emban itu pun menyembah. Mereka berjalan mengikuti Permaisuri ke bilik raja.

Di halaman, mereka berhenti, karena seorang peronda Nara Manggala menghentikan mereka. Dengan tombak di tangan, terdengar ia menyapa,

“Siapa?”

Emban Permaisuri menjawab, “Permaisuri.”

“Oh!” Peronda itu pun kemudian membungkukkan badannya dalam-dalam. Namun dari sorot matanya terpancar pula beberapa pertanyaan di dalam dadanya.

Kenapa Permaisuri memerlukan menghadap Baginda di malam yang dingin ini?

Tetapi ia tidak berani bertanya. Namun diikutinya dengan pandangan matanya, Permaisuri itu menuju ke pintu bilik peraduan Baginda.

Seperti Permaisuri, Baginda pun terkejut bukan buatan. Berita itu seakan-akan telah meledakkan seisi dadanya. Namun Baginda adalah seorang yang telah terlalu sering menghadapi bermacam-macam masalah yang sulit, mengejutkan dan bahkan mengkhawatirkan. Karena itu Baginda dapat lebih cepat menguasai perasaannya. Maka dengan tenang Baginda itu bertanya, “Kau melihatnya sendiri, Emban?”

“Hamba, Tuanku.”

Baginda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku ingin membuktikannya.”

Permaisuri mengerutkan keningnya, katanya, “Apakah Baginda akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk menangkap mereka?”

Baginda menggeleng lemah, katanya, “Tidak. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Semakin banyak orang yang ikut serta menyaksikan masalah ini, makin cepat berita ini tersebar di seluruh Demak. Lalu apakah aku masih akan dapat melindungi nama Putri itu?”

“Lalu, bagaimanakah maksud Baginda?” tanya Permaisuri.

“Aku sendiri akan melihatnya.”

“Sendiri?” Permaisuri itu terkejut.

Baginda menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Kalau aku dapat menangkapnya sendiri, maka persoalan ini akan menjadi sangat terbatas.”

“Apakah itu tidak berbahaya?” tanya Putri.

“Hanya terhadap para penjahat aku akan menyerahkan persoalan kepada para peronda. Namun persoalan ini sangat berbeda. Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya pula.”

“Tetapi apakah anak muda itu tidak berbahaya seperti para penjahat?”

Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin. Karena itu aku bersenjata.”

Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegahnya lagi. Baginda tidak bersedia memanggil, meskipun hanya seorang perwira Nara Manggala yang sedang bertugas malam itu. “Aku tidak dapat membayangkan apakah akibatnya seandainya seseorang dari mereka mengetahui peristiwa ini. Aku yakin bahwa peristiwa ini segera akan tersebar.”

“Tetapi Baginda dapat memberinya pesan untuk merahasiakannya.”

“Semakin banyak orang yang mengetahuinya, maka rahasia itu sudah bukan rahasia lagi. Dua orang emban ini sudah cukup banyak. Dan mereka harus menyimpan rahasia ini sekuat-kuatnya.”

Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegah lagi. Baginda itu kemudian membenahi pakaiannya. Sebuah pusaka berbentuk keris terselip di pinggangnya. Kemudian katanya sambil tersenyum untuk menenangkan hati Permaisuri, “Aku adalah seorang Senapati Perang. Apakah aku tidak dapat bertempur seandainya keadaan memaksa?”

Permaisuri tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi tegang.

“Aku melalui pintu butulan,” desis Baginda. “Kalian bertiga tetap di sini.”

Baginda itu pun kemudian keluar dari bilik peraduannya lewat pintu butulan dengan tidak mengenakan pakaian kerajaan. Dengan hati-hati Baginda menyelinap di antara batang-batang perdu di petanaman menuju ke keputren. Dari emban, Baginda telah mengetahui dimana mereka berdua, putrinya dan laki-laki itu berada.

SEBENARNYA Baginda bukan seorang raja yang hanya dapat duduk di atas Singgasana. Namun Baginda benar-benar seorang Panglima Perang. Baginda sendiri selalu berada di garis paling depan dalam peperangan-peperangan yang besar dan berbahaya. Karena itu, Baginda tidak saja dapat memberikan perintah-perintah untuk bertempur, namun Baginda sendiri selalu mengalaminya.

Demikianlah malam itu Baginda pun mampu melakukan pekerjaannya. Dengan hati-hati Baginda berhasil mendekati tempat putrinya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki. Ketika Baginda mendengar suara laki-laki itu meskipun perlahan-lahan, maka bergetarlah dada Baginda. “Gila, anak itu,” desahnya did alam hati. Langsung Baginda dapat mengetahuinya, siapakah yang sedang bercakap-cakap dengan putrinya itu.

Karena itu maka segera Baginda mendekati mereka. Setapak demi setapak semakin lama semakin dekat. Tetapi telinga Karebet adalah telinga yang baik. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, dan tiba-tiba pula ia berbisik, “Seseorang mendekati kami.”

Putri yang belum mendengar sesuatu itu menjadi heran. Dicobanya untuk mendengarkan setiap suara, namun tak ada yang dapat didengarnya.

Meskipun demikian putri itu pun menjadi gelisah. Desisnya, “Kau berkata sebenarnya?”

Karebet mengangguk. Namun telinga Sultan itu pun tidak kalah baiknya dari telinga Karebet. Karena itu Sultan pun mendengar dengan jelas, meskipun betapa lirihnya Karebet berbisik.

Karena itu segera Sultan menyadari bahwa Karebet telah mengetahui kehadirannya. Berkatalah Sultan didalam hatinya, “Luar biasa anak ini. Alangkah tajam pendengarannya.”

Dan sejalan dengan itu, Sultan pun menjadi semakin berhati-hati. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang sejak dilihatnya untuk pertama kali, telah sangat menarik perhatiannya.

Kemudian Sultan itu mendengar Karebet berbisik, “Masuklah ke keputren, Putri. Biarlah aku pergi dari tempat ini.”

Putri bungsu itu menjadi semakin gelisah. Kalau benar seseorang telah mengetahuinya, maka alangkah aibnya. Dan tiba-tiba Putri itu menjadi ketakutan. Dengan gemetar ia berkata, “Karebet, apakah benar kau mendengar seseorang mendekat kami?”

Karebet mengangguk.

“Apakah kau hanya ingin menakut-nakuti aku?”

“Tidak Putri,” sahut Karebet, “Masuklah. Aku akan pergi ke bilik Sultan.”

“Untuk apa?”

“Aku akan keluar dari arah itu.”

“Aku takut, Karebet,” desah Putri itu.

“Jangan takut,” hibur Karebet, “Biarlah aku sendiri berusaha menyelesaikannya.”

Tetapi putri itu menjadi semakin ketakutan. “Aku takut, Karebet.”

“Jangan Putri,” desak Karebet, “Sekarang masuklah. Biarlah aku melihat, siapakah yang datang itu. Apabila Tuan Putri masih di sini, maka aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

Jantung Putri itu kemudian serasa berhenti berdenyut. Tetapi Karebet itu mendesaknya, “Pergilah Putri.”

Putri itu pun kemudian beringsut dan perlahan-lahan berdiri. Setapak ia melangkah untuk masuk ke dalam biliknya. Tetapi alangkah terkejutnya putri itu ketika tiba-tiba sesosok tubuh telah meloncat dari dalam gerumbul langsung berdiri di hadapannya, sehingga terdengarlah Putri itu menjerit kecil.

Karebet pun tidak kalah terkejutnya. Dengan serta merta ia meloncat pula berdiri. Dengan tajamnya ia mencoba mengamat-amati siapakah yang telah berani mengintip pertemuannya dengan Putri Sultan itu.

Dan dilihatnya seseorang yang bertubuh tegap, bertolak pinggang di hadapannya. Secarik kain kepala melingkar menutupi sebagian wajahnya, sehingga dalam malam yang gelap itu Karebet tidak segera dapat mengatahuinya, siapakah yang telah mengganggunya itu.

Orang itu masih berdiri bertolak pinggang ketika Karebet melangkah selangkah maju. Dengan lemahnya orang itu tertawa sambil berkata parau, “Apakah yang telah kalian lakukan di sini?”

Putri Sultan itu menggigil ketakutan. Namun Karebet melangkah maju sambil berdesis, “Siapakah kau?”

Orang yang sebagian dari wajahnya tertutup itu menjawab, “Apakah perlumu mengenal namaku?” 

Alangkah marahnya Karebet mendengar jawaban itu. Setapak ia maju sambil berkata “jangan berbuat gila. Kutanya siapa engkau dan apa maksudmu?”

Sekali lagi Karebet mendengar orang itu tertawa lirih. Dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya itu Karebet mendengar jawabannya, “Katakanlah juga kepadaku, apakah keperluanmu datang kemari.”

Karebet benar-benar menjadi marah. Ia harus menangkap orang itu. Apa yang akan dilakukan kemudian Karebet sama sekali tidak tahu. Tetapi setidak-tidaknya Karebet harus menghapuskan kesaksian orang itu. Membawanya keluar dari halaman, kemudian apabila orang itu kelak mengigau tentang dirinya, maka ia dapat mengingkarinya. Tetapi dihalaman itu apabila ada orang lain lagi yang mengetahuinya, atau melihat perselisihan itu maka sudah tentu ia tidak akan dapat mengingkari lagi.

Karena itu Karebetpun menggeram, “ Jangan membuat persoalan disini. Ikuti aku supaya kau selamat.”

“Aneh,” desisi orang itu, “kalau aku selamat dengan menuruti perintahmu, alangkah senangnya. Malam ini tidur saja aku dirumah. Aku datang kemari, karena kau ada disini. Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau lakukan disini.”

Darah Karebet telah benar-benar mendidih. Selangkah lagi ia maju. Dengan geram ia berkata, “Ikuti aku.”

Namun jawab orang itu mengejutkan pula, “tundukkan kepalamu dan berjongkok dihadapanku. Aku akan menangkapmu.”

“Persetan,” desis Karebet. Kini ia menyadari bahwa orang yang datang itu benar-benar berbahaya baginya. Sudah tentu ia bukan orang kebanyakan. Bahkan tiba-tiba ia menyangka bahwa orang itu Tumenggung Prabasemi. Meskipun Karebet belum yakin benar, namun kemungkinan pertama adalah Tumenggung yang didadanya menyala segala macam nafsu. Karena itu Karebet tidak dapat berbuat lain kecuali melumpuhkannya. Apakah nanti yang dilakukan. Ia tidak sempat memikirkannya lagi. Dengan marahnya Kareber berkata, “Bagus kalau kau berkeras menangkap aku, cobalah.”

Sekali lagi orang itu berkata, “jangan melawan. Sia-sia.”

“Mulailah, “ potong Karebet. “Aku akan mempertahankan diriku. Dan cobalah kau menyelamatkan dirimu.”

“Tidak semua anggota Wira Tamtama dapat melindungi nyawanya sendiri. Menyerahlah.”

“Hem, aku harus menangkap, menyumbat mulutmu dan melemparmu keluar dinding halaman.”

“Cobalah, pecahkan dadaku dan tumpahkan darahku. Baru kau dapat keluar dari halaman istana.”

Kini Karebet tidak dapat menahan diri lagi. Sekali lagi ia menebarkan pandangannya berkeliling. Sepi. Yang dilihatnya hanyalah batang pohon, tiang-tiang teritisan, dan bintang-bintang di langit. Karena itu maka Karebetpun sekali lagi maju melangkah sambil menggeram, “Benar-benar kau menghendaki kekerasan.”

Orang itu mengangguk, katanya, “Ya dengan kekerasan aku ingin menangkapmu apabila kau tidak mau menyerah.”

Karebet tidak menunggu lagi. Secepat kilat ia meloncat menyerang orang itu. Ia ingin melumpuhkannya dengan serangannya yang pertama supaya ia segera dapat menyingkir. namun Karebet menjadi kecewa. Dengan tangkasnya orang itu menghindari serangan Karebet, dan bahkan dengan kecepatan tak terduga orang itu menggeliat dan kaki kirinya berputar setengah lingkaran menyambar lambungnya.

Karebet sama sekali tidak menyangka, bahwa orang itu mampu bergerak secepat itu. Karenanya, maka ia samasekali tak dapat menghindari. Dengan tangannya ia menangkis serangan kaki itu. Namun alangkah terkejutnya ketika sebuah benturan terjadi, maka Karebet terdorong beberapa langkah surut. Sedang orang itu masih saja tegak ditempatnya, bahkan sesaat kemudian meluncurlah serangannya susul menyusul seperti deru ombak dilautan, menyentuh pantai.

Karebet yang juga bernama Jaka Tingkir itu terkejut bukan kepalang. Ternyata orang yang datang kepadanya itu memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian, maka dugaannya bahwa orang itu adalah Tumenggung Prabasemi lenyap. Ia pernah melihat Tumenggung bertempur. Ia pernah menilai ilmu Tumenggungnya. Dan sudah pasti Tumenggungya itu tidak akan mampu berbuat demikian.

Karena itu Karebet terpaksa meloncat surut beberapa kali. Dengan cemas ia melihat serangan serangan mengalir melanda dirinya. Sehingga karena ingin secepatnya mengakhiri pertempuran, maka segera ia mengetrapkan ilemu tersembunyi didalam dirinya, ilmu yang jarang dimiliki oleh siapapun, apalagi oleh Tumenggung Prabasemi. Aji Lembu Sekilan.

KETIKA serangan berikutnya beruntun mengejarnya, maka Karebet sengaja tidak menghindarinya. Ia ingin menundukkan lawannya segera, setelah lawannya mengetahui, bahwa ia memiliki ilmu yang dahsyat itu.

Demikianlah maka berturut-turut beberapa serangan lawannya mengenai dirinya. Namun Karebet itu seakan-akan telah menjadi kebal, sehingga serangan-serangan lawannya itu tak berdaya melumpuhkannya.

Orang yang bertutup kain di wajahnya itu melontar mundur. Dengan heran ia memandang wajah Karebet dengan tajamnya. Terdengar ia berdesis, “Lembu Sekilan?” Karebet tersenyum. Dengan bangga ia berkata kepada Putri bungsu yang menggigil ketakutan, “Masuklah Putri, orang ini tidak akan mengganggu. Biarlah urusan kami, kami selesaikan tanpa sepengetahuan Putri.”

Putri itupun tidak segera beranjak dari tempatnya. Terasa seluruh tubuhnya bergetar. Dan karena itu maka seakan-akan kakinya tak sanggup lagi untuk melangkah. Sehingga kemudian terdengar Karebet itu mengulangi, “Masuklah Tuan Putri.”

Putri itu pun seolah-olah menjadi sadar dari kecemasannya yang telah memuncak. Dilihatnya lawan Karebet itu masih berdiri di tempatnya, sehingga karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk bergerak.

Ketika orang yang berkerudung itu memandang wajah Putri Sultan. Karebet membentaknya, “Jangan menakut-nakuti. Kaulah yang harus berjongkok dan menyerah.”

Tetapi Karebet terkejut ketika kemudian orang itu pun tertawa. Katanya, “Kenapa kau tiba-tiba menganggap aku sebagai tawananmu? Apakah karena Lembu Sekilan itu?”

“Aku bukan anak-anak yang takut melihat hantu,” jawabnya, “Karena itu jangan menakut-nakuti aku dengan ilmu yang dapat dicari di tepi-tepi parit.”

Bukan main marahnya Mas Karebet. Ilmu Lembu Sekilan adalah ilmu yang jarang- jarang dimiliki oleh siapa pun. Bahkan orang-orang dari Karang Tumaritis pernah mengagumi ilmu itu, pada saat ia berkelahi melawan Surayuda, Demang Gunungkidul. Tetapi tiba-tiba orang yang tak dikenalnya itu kini menghinanya. Karena itu, maka kini Mas Karebet itu telah kehilangan segenap pengekangan yang memuncak, maka disergapnya orang yang telah menghinanya.

Kini sekali lagi pertempuran seorang lawan seorang itu berkobar semakin sengit. Dengan Lembu Sekilan, maka Mas Karebet memiliki kesempatan yang lebih luas dari lawannya. Hampir setiap serangan lawannya tak dapat menyentuh tubuhnya, karena lambaran ilmu Lembu Sekilan itu. Namun lawannya itu pun lincah bukan buatan. Betapa pun Karebet mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu pun sangat sukar untuk dikenainya.

Semakin lama, Karebet pun menjadi semakin marah. Namun kecemasannya pun semakin tebal melingkar-lingkar di hatinya. Seandainya pada saat itu, peronda dari Nara Manggala melihat mereka, maka ia tidak akan dapat menghindarkan diri dari mala petaka. Karena itu selagi sempat ia berkata sambil bertempur, “Tuan Putri masuklah. Tinggalkan tempat ini.”

Namun suaranya itu disahut oleh lawannya, “Tuan Putri apakah Tuan Putri tidak ingin melihat tamu Tuan Puteri ini sampai pada saat terakhir. Mungkin ia masih akan memberikan beberapa pesan sebelum ia mengakhiri hidupnya.”

“Jangan mengigau,” potong Karebet dengan marahnya. Dan darahnya serasa mendidih ketika didengarnya orang itu tertawa berkepanjangan sambil menghindari setiap serangannya. Karena itu, maka Karebet menjadi semakin memperketat geraknya. Serangannya menjadi semakin lama semakin dahsyat. Bergulung-gulung seperti angin prahara dipadang-padang rumput. 

NAMUN lawannya benar-benar selincah sikatan, selicin belut. Betapapun ia berusaha untuk menyentuhnya, namun sentuhan sentuhan serangannya seolah-olah tidak dapat menyakiti tubuh lawannya, karena serangan itu seakan-akan tergelincir. Tubuh lawannya itu benar-benar licin. Meskipun sekali-kali Karebet berhasil menangkap tangan atau kaki lawannya, namun ia tidak dapat menggenggamnya. Tubuh lawannya itu dengan mudah, meluncur diantara jarinya, betapapun kuatnya ia menggenggam.

Akhirnya Karebet yang memiliki Aji Lembu Sekilan itu menyadari bahwa lawannya itu tidak bertempur dengan tenaganya melulu. Namun iapun semakin benyak berkeringat mengalir dari tubuhnya, tubuhnya itupun menjadi semakin licin. Karena itu dengan geramnya ia mendesis, “Aji Welut Putih.”

Lawannya itu tertawa pendek. Tetapi ia tidak berkata apa-apapun. Namun pertempuran itu semakin dahsyat. Keduanya seakan tidak dapat disentuh oelh serangan lawannya. Dengan demikian maka pertempuran itu tidak dapat dibayangkan kapan berakhir.

Itulah yang sangat mencemaskan Karebet. Betapa ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Kelincahan, kekuatan dan segenap tenaganya. Namun orang itupun selalu mengimbanginya.

Orang itu, yang tidak lain adalah Sultan Trenggana sendiri sebenarnya menjadi heran pula. Karebet, anak yang dipungutnya dari tepi jalan itu ternyata memiliki kemampuan yang dahsyat. Baginda itu menjadis angat terkejut ketika menyadari Karebet memiliki ilmu Lembu Sekilan meskipun belum sempurna. Ilmu yang sudah jarang diketemukan. Namun kini Baginda itu melihat, bahwa ilmu itu tersembunyi didalam tubuh anak itu. Karena itu Baginda menjadi sangat menyesal atas peristiwa itu. Seandainya, Karebet itu tidak mendahuluinya, masuk keputren sebelum diijinkannya, maka kesempatan anak itu didalam jabatan keprajuritan sangat besar. Dengan mengalami sendiri perkelahian dengan Karebet, Baginda segera menilai kemampuannya. Ternyata anak itu, dalam olah kanuragan telah melampau Tumenggung Prabasemi. Sehingga kemungkinan yang akan datang sangatlah luas bagi Karebet. Namun sayang bahwa anak muda itu kini ditemukan di keputren.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Masing-masing mampun melakukan perlawanan dan tekanan yang mengagumkan. Masing-masing telah menunjukkan kelebihan dari orang kebanyakan. Dan karena itulah Mas Karebetpun menjadi semakin cemas. Sehingga akhirnya terasa bahwa ia tidak mampu mengalahkannya, meskipun ia menyangka, bahwa dalam keadaan demikian, lawannyapun tidak dapat mengalahkannya pula.

Tetapi akhirnya terasa oleh mas Karebet, bahwa tekanan lawannya menjadi semakin berat. Gerak lawannya semakin lincah, dan keringatnya semakin banyak, sehingga tubuhnya menjadi semakin licin pula.

Sebenarnyalah Baginda[un sedang berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Baginda adalah seorang prajurit yang mumpuni. Beberapa macam ilmu tersimpan dalam dirinya, sebagaimanapun ia harus memiliki berbagai macam bekal dalam perjalanannya sebagai seorang raja dan sekaligus Senapati Perang.

Demikianlah akhirnya, maka Karebet merasakan tekanan lawannya semakin tajam. Sejalan dengan itu kecemasan didadanyapun semakin melonjak. Ia menajdi heran, bahwa tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang sakti yang mampu menghadapi ilmunya, Lembu Sekilan. Karena itupun Karebet mencoba mengingat nama semua yang pernah dikenalnya. Para Perwira Nara Manggala, para Perwira dari Wira Tamtama dan beberapa orang yang lain. Gajah Alit, Prabasemi, Paningron, Danapati, Palindih dan yang lain-lain.

Namun seandainya mereka, apakah dengan mudahnya melawanLembu Sekilan, tanpa melepaskan ilmu-ilmu mereka yang lain? Ternyata orang ini mampu.

Bukan saja dengan ilmu Welut Putih, namun serangan tanpa dilambari ilmupun berhasil mendesaknya pula. Dan Bahkan kemudian terasa bahwa serangan serangannya mampu mengetuk dinding Lembu Sekilannya. Meskipun tidak begitu tajam, namun Karebet merasa, ada kekuatan yang mapu menerobos pertahanan ilmunya.

Karena itupun Karebet menjadi bingung. Orang ini pasti orang luar biasa. Dan tiba-tiba saja Karebet mencoba mencari nama orang sakti diluar istana. Orang-orang golongan hitam hampir semua dikenali cirinya, sehingga orang ini pastilah bukan salah seorang dari mereka. Namun adakah orang sakti dari daerah lain?, atau mungkin justru pamannya yang sedang mencoba mengujinya? Paman Kebo Kanigara? Namun akhirnya Karebetpun pasti bahwa orang itu bukan Kebo Kanigara.

Akhirnya Karebet yang menjadi sedemikian bingungnya. Ia tidak mau tertangkap oleh siapapun. karena itu ia tidak punya pilihan lain daripada melumpuhkan orang itu. Kemudian menyembunyikan puteri di keputren dan membuat cerita yang masuk akal, tentang seseorang memasuki istana berkerudung ikat kepala. Meskipun seandainya orang itu adalah perwira Nara Manggala sekalipun namun ia tidak dalam kelengkapan pakaian Nara Manggala.

Karena itu Karebet yang sudah kehabisan akal itu dengan serta merta meloncat surut. Dengan cepatnya ia mempersiapkan diri dari puncak ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang dipelajari dalam suasanya aneh. Ilmu yang disusunya tanpa seorang gurupun. Dan dinamainya sendiri ilmu itu Aji Rog-Rog Asem. Nama yang ditemukan dalam daerah penggembalaan, apabila para gembala sedang berebut asem. Namun Karebet itu tidak pernah berebut dahulu mendahului, namun dengan ilmunya, Karebet mampu menggetarkan pohon asam yang betapapun besarnya, sehingga hampir segenap buahnya rontok karenanya. Meskipun demikian belum pernah seorang temanpun melihat perbuatannya. Mereka hanya menyangka bahwa angin pusaran telah merontokkan pohon asam itu.

Ilmu itupun pada dasarnya berpangkal pada pengungkapan kekuatan. Namun ilmu Karebet tidak saja mendasarkan pada kekuatan yang mampu meremukkan iga, namun juga mampu meremas tulang-tulang lawannya, memutar tubuh lawannya sehingga tulamg belakangnya patah. Itulah keajaiban ilmu Rog-Rog Asem. Ilmu dari seorang anak gembala yang aneh bernama Mas Karebet.

Kali ini, Karebet tidak melihat kemungkinan lain. betapapun licinnya Aji Welut Putih, namun ia yakin bahwa Rog-Rog Asem akan dapat menembusnya. Betapapun kuatnya orang itu apabila tersentuh Aji Rog-Rog Asem, maka sudah pasti bahwa ia akan lumpuh.

Sultan yang telah merasakan tekanan tekanannya berhasil, menjadi heran melihat Karebet meloncat mundur. Ia melihat anak itu menggosokkan kedua telapak tangannya, kemudian dengan garangnya anak muda itu meloncat dengan kaki renggang, menekuk kedua lututnya, siap melontarkan sebuah serangan.

Baginda yang telah kenyang makan garam perkelahian dan pertempuran itupun segera mengenal, bahwa anak muda itu telah siap dalam puncak ilmunya. Karena itu sultanpun menjadi cemas. Ia belum dapat menilai sampai berapa jauh ilmu yang dimiliki Karebet itu. Kalau kemudian baginda melawan ilmu itu dengan ilmunya yang didasari dengan kekuatan dan tenaga, apakah kira-kira yang akan terjadi ? seandainya ilmu itu tidak seimbang, dan ilmu Baginda itu jauh lebih dahsyat dari ilmu lawannya, maka terjadi suatu pembunuhan. Dan Baginda tidak ingin membunuhnya. Meski membunuh anak itu sangat menarik perhatiannya.

Karena itu Baginda tidak segera mengetrapkan ilmunya yang dahsyat yang dinamainya Bajra Geni. tetapi Baginda segera mateg ilmu yang lain. Ilmu Tameng Waja. Menurut perhitungan Baginda, betapapun dahsyatnya ilmu lawannya, namun menilik usianya, maka ilmu itupun belum pasti akan berhasil meruntuhkan oertahanan ilmu Tameng Waja.

Maka dengan demikian, ketika Baginda melihat Karebet meloncat sambil mengayunkan ilmunya, Rog-Rog-Asem, justru baginda berdiri tegak bertolak ilmunya Aji Tameng Waja dalam puncak kekuatannya.

Sesaat kemudian terjadilah benturan dahsyat. Benturan dari Rog-Rog-Asem menghantam benteng pertahanan Baginda dalam ilmu Aji Tameng Waja.

Baginda telah dipenuhi pelbagai pengalaman dan pengetahuan dari pelbagai macam ilmu itupun terkejut mengalami hantaman Aji Rog-Rog-Asem. Aji yang dilontarkan oleh seorang anak muda yang pantas menjadi anaknya. Terasa didada Baginda sebuah benturan yang seakan-akan merontokkan seluruh iganya. Karena itu dengan mata yang berkunang-kunang Baginda terdorong beberapa langkah surut. 

Terasa nafasnya menjadi sesak, dan hampir tidak dapat menguasai keseimbangan. Dengan terhuyung-huyung akhirnya Baginda berhasil tegak dalam keadaan keseimbangan yang mantap.

Maka kini Baginda itu berdiri dengan kokohnya di atas kedua kakinya yang merenggang. Meskipun debar di dadanya masih menggetarkan jantungnya, namun Baginda kini sudah mulai tenang kembali setelah mengalami goncangan-goncangan yang tajam. Tetapi goncangan-goncangan tubuh Baginda itu, masih belum menyamai goncangan perasaan Baginda. Hampir Baginda tak percaya, seandainya Baginda sendiri tidak merasakan bahwa isi dadanya seakan-akan menjadi rontok karenanya. Anak muda itu ternyata memiliki kedahsyatan ilmu yang mengagumkan. 

SEJAK semula Baginda memang telah mengira, bahwa anak yang mampu meloncat mundur melampaui blumbang sambil berjongkok, pasti bukan anak kebanyakan, namun Baginda sama sekali tidak menyangka bahwa anak itu menyimpan ilmu yang sedemikian dahsyatnya. Tetapi alangkah menyesalnya Baginda, bahwa anak itu berada di keputren di malam hari tanpa setahu Baginda.

Pada saat benturan itu terjadi, Karebet pun terkejut bukan kepalang. Aji Rog-rog Asem, yang mampu merontokkan buah-buah asem pada batangnya yang sebesar apapun itu, ternyata hanya mampu mendorong surut lawannya beberapa langkah. Bahkan tangannya itu seakan-akan telah membentur selapis dinding baja yang sama sekali tak tergoyahkan, sehingga kekuatan yang tersalur lewat tangannya itu sebagian telah melontar kembali melemparkan Karebet beberapa langkah mundur. Bahkan kemudian terasa, tangannya itu nyeri dan nafasnya menjadi sesak. Sesaat Karebet itu berdiri kaku. Kepalanya menjadi pening, dan seakan-akan bintang-bintang di langit itu beterbangan turun mengerumuni kepalanya.

Ketika perlahan-lahan kesadarannya telah pulih kembali, dilihatnya lawannya itu masih tegak beberapa langkah dihadapannya. Betapa Karebet menjadi semakin marah, sehingga matanya itu seakan-akan menjadi menyala. Baginda, seorang yang memiliki berbagai pengetahuan, kini sekali lagi terkejut ketika ditatapnya mata Karebet. Mata itu benar-benar seperti mata kucing di malam yang gelap. Seakan-akan cahaya yang biru hijau memancar dari dalamnya. Dan karena itulah maka Baginda menjadi semakin menyesali keadaan.

Anak itu benar-benar anak luar biasa. Dengan demikian Baginda menjadi semakin tertarik kepadanya. Tetapi bagi seorang raja dan sebagai seorang ayah, Baginda tidak dapat membiarkan peristiwa ini terjadi tanpa persoalan. Sebab dengan demikian, maka baik Baginda sebagai raja maupun sebagai ayah, akan kehilangan nilai-nilainya yang wajar, apabila persoalan yang tak pada tempatnya itu dibiarkannya. Seandainya, ya, seandainya pada saat itu Baginda menjumpai orang lain, bukan Karebet dan tidak memiliki ilmu sedahsyat Aji Rog-rog Asem serta Lembu Sekilan, serta dari matanya tidak membayang cahaya yang biru kehijauan, maka Baginda pasti sudah akan bersikap lain. Mungkin Baginda akan memaksa putrinya untuk masuk ke bilik bundanya, dan menangkap anak itu sebagai seorang pencuri atau apapun yang masuk ke dalam istana.

Dengan demikian, maka orang itu akan dapat dihukum berat.

Tetapi kini yang dihadapi adalah seorang anak muda yang jarang-jarang ditemuinya. Alangkah baiknya anak itu dalam kedudukannya dalam pasukan Wira Tamtama. Namun, betapapun ia harus mendapat hukuman dari perbuatannya itu. Baginda tidak sempat berangan-angan. Tiba-tiba ia melihat Karebet meloncat seperti serigala lapar menerkam mangsanya. Namun Baginda bukan sekadar anak kambing yang hanya mampu mengembik. Ketika Baginda menyadari betapa berbahayanya serangan yang masih dilambari dengan Aji Rog-rog Asem itu, maka Baginda segera mengelak. Namun Baginda kini berhasrat untuk segera menyelesaikan perkelahian itu sebelum orang lain melihatnya. Sebab apabila orang lain melihat perkelahian itu, melihat putri dan Karebet, maka Baginda tidak akan menyelamatkan nama putrinya dari aib yang mencoreng kening, dan wajah Baginda pun akan tercoreng karenanya.

Karena itu, segera Baginda mateg aji kebanggaannya, Bajra Geni. Aji yang ampuh bukan buatan. Namun Baginda benar-benar tidak mau membunuh atau melukai Karebet. Karena itu, Baginda mengambil cara yang tidak berbahaya bagi lawannya. Dengan kecepatan yang tak disangka-sangka oleh Karebet, Baginda melontar menyusul arah lawannya yang terbang beberapa jengkal di sampingnya, karena terkamannya dihindari.

Dengan Aji yang dahsyat itu, Baginda memukul Karebet, namun tidak pada tubuhnya. Baginda sengaja mengayunkan tangannya di wajah Karebet, tanpa menyentuhnya.

Tetapi alangkah terkejutnya Karebet. Baginda tidak melepaskan Aji Bajra Geni sepenuhnya, namun getarannya telah cukup kuat untuk menggetarkan tubuh Karebet. Karebet pun terkejut bukan kepalang. Terasa wajahnya seakan-akan disiram api. Karena itu, maka dengan serta merta ia meloncat beberapa langkah surut. Dengan tubuh gemetar ia memandang orang yang sebagian wajahnya terselubung oleh kain ikat kepala itu. Dan didengarnya orang itu tertawa.

“Alangkah dahsyatnya,” geram Karebet di dalam hatinya. “Tangannya sama sekali tidak menyentuh tubuhku. Namun getaran serta panas ilmunya telah mampu menembus Aji Lembu Sekilan.

ORANG itu masih tertawa berkepanjangan meskipun tidak terlalu keras. Kemudian terdengar ia berkata, “Bagaimana Aji Lembu Sekilan. Apakah kau masih akan membanggakan Aji Lembu Sekilan yang setengah matang itu. Aku belum menyentuh kulitmu, tetapi agaknya kau telah merasakan akibatnya. Bahwa kekuatan Ajiku mampu menembus pertahanan Lembu Sekilanmu.”

Karebet tidak menjawab. Dengan marahnya ia menggeram. Tetapi ia benar-benar telah dapat mengambil suatu kepastian, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan orang itu. Karena itu Karebet menjadi semakin cemas. Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya, bahkan sampai mati sekalipun. Namun bagaimana kemudian dengan putri itu? Belum lagi ia menemukan cara untuk menyelamatkan Putri itu, maka terdengar orang yang berdiri di hadapannya itu berkata, “Nah, apakah kau masih akan melawan.?”

“Jangan menyombongkan diri. Kau lihat aku masih tegak dihadapanmu,” sahut Karebet.

“Hem,” desah orang itu, “Kau memang keras kepala. Meskipun demikian aku beri kau kesempatan hidup. Tetapi serahkan putri itu kepadaku.”

“Apa?” Kata-kata Karebet tersangkut di kerongkongan karena kemarahannya yang meluap-luap.

Sedang Putri Sultan itu menjadi bertambah mengigil ketakutan. Perlahan-lahan wajahnya beredar di antara batang-batang perdu di petamanan. Namun hatinya menjadi bingung. Ia akan dapat berteriak memanggil beberapa peronda. Tetapi apa katanya tentang Karebet dan orang yang berselubung kain itu?

Dalam kebingungan Putri itu mendengar orang berselubung itu berkata, “Apakah Putri akan memanggil Nara Manggala?”

“Ya,” sahut putri itu tiba-tiba.

Kembali orang itu tertawa. Jawabnya, “Mereka akan menangkap Karebet dan orang yang berselubung kain itu?”

Telinga Karebet menjadi merah karenanya. Kemarahannya telah benar-benar sampai kepuncak kepalanya. Apalagi ketika ia mendengar orang itu mengulangi, ?Anak muda. Tak ada gunanya kau melawan. Ajimu kedua-duanya adalah ilmu yang sama sekali tak berarti bagiku. Dengan duduk bertopang dagu aku pasti akan dapat memunahkannya. Tetapi apakah kau mampu bertahan terhadap ilmuku meskipun kau membentengi dirimu dengan Lembu Sekilan?”

Sekali lagi Karebet mencoba melihat siapakah yang berdiri di hadapannya. Pamannya? Mahesa Jenar? Pasti bukan. Mungkin orang-orang sakti yang lain? Di istana tidak banyak dijumpai orang-orang yang pernah menggetarkan hatinya. Beberapa orang sakti dari para prajurit berbagai kesatuan telah dikenalnya. Dan orang ini bukanlah salah seorang dari mereka.

Sebelum Karebet mampu memecahkan teka-teki itu. Karebet mendengar orang yang berdiri dihadapannya itu berkata pula, “Jangan menunggu aku marah. Biarlah putri itu aku bawa.”

Sekali lagi Karebet menggeram. Sahutnya, “Lampaui dahulu mayatku. Baru kau bawa Tuan Putri.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau benar-benar keras kepala.”

“Adalah akibat dari perbuatanku. Tebusannya maut,” sahut Karebet, dan diteruskan, “Apakah kau sangka, sesudah aku, kau akan dapat melepaskan diri dari halaman ini? Kau mati dipenggal oleh Nara Manggala.”

“Tak seorang pun mampu menangkap aku,” jawab orang itu. “Karebet tidak. Gajah Alit tidak dan Panji Danapati pun tidak.”

Karebet menarik alisnya. Orang itu dapat menyebut beberapa nama perwira dari Nara Manggala. Karena itu tiba-tiba menjadi bercuriga. Apakah orang itu orang dalam? Gajah Alit pasti bukan. Panji Danapatipun bukan. Siapa? Dalam kebingungan itu kembali Karebet mendengar orang itu berkata, “Ayo Karebet. Katakan kepadaku, siapakah dari seluruh Demak mampu mengalahkan aku?”

Karebet benar-benar mengigil mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia menyebut beberapa nama yang pernah dikenalnya di Karang Tumaritis. Namun niatnya diurungkannya. Yang terdengar kemudian hanyalah gemeretak giginya beradu.

Tetapi seperti mendengar seribu guntur meledak bersama di atas kepalanya, kemudian Karebet mendengar orang itu berkata, “Karebet, katakan, siapa yang mampu melawan Aji Bajra Geni?”

“Bajra Geni. Bajra Geni.” Tanpa sadar Karebet mengulangi kata-kata itu.

“Ya,” sahut orang itu pendek.

Tubuh Karebetpun kemudian menjadi gemetar. Dengan ragu-ragu ia memandang orang yang berdiri dihadapannya. Bajra Geni adalah nama ilmu yang dahsyat, sedahsyat ilmu pamannya dan Mahesa Jenar. Setingkat pula dengan ilmu-ilmu luar biasa lainnya, Lebur Seketi,Cunda Manik dan lain lainnya. Tetapi lebih daripada itu. 

Aji Bajra Geni dikenal sebagai ilmu yang dimiliki oleh Sultan Trenggana. Karena itu betapa debar jantung Karebet seakan-akan terhenti. Bahkan darahnyapun seakan tidak mengalir lagi.

Sebelum Karebet menyadari apa yang terjadi, maka tangan orang yang berdiri dihadapannya itupun kemudian meraih kain yang menutupi wajahnya. Dengan sekali gerak, maka kain itupun telah direnggutkan.

Demikianlah orang yang tegak berdiri dengan gagahnya itu menarik tutup wajahnya, terdengar puteri Sultan itu menjerit kecil. Sesaat ia memandangi wajah itu dengan tajamnya, namun sesaat berikutnya dengan serta merta puteri menjatuhkan dirinya dikaki Baginda sambil menangis sejadi-jadinya. Sedang Karebetpun kemudian berlutut pula pada kedua lututnya sambil menyembah hampir mencium tanah.

“Jangan menangis!,” bentak baginda. “Diam atau kututup mulutmu!”

Dengan sekuat tenaga dan penuh ketakutan, Puteri mencoba meredakan tangisnya. Tetapi karena itu maka tangis itu seakan-akan malahan meledak-ledak.

Baginda masih juga berdiri diatas kakinya yang renggang. Dipandangnya wajah Karebet dengan tajam, setajam ujung pedang. Dan Karebetpun menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Ayahanda,” terdengar puteri berkata diantara sendunya.

“Apakah kau masih berhak menyebut aku sebagai ayahandamu ?,” sahut baginda.

“Ayahanda,” kembali terdengar kata-kata itu meloncat dari bibir Puteri yang sedang menangis itu.

Namun Sultan Trenggana itu tidak menjawab. Bahkan kemudian ia berkata kepada Karebet, “Karebet, apakah aku harus melampaui mayatmu?.”

“Ampun, Baginda,” sahut Karebet gemetar, “aku tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda.”

“He, jadi kalau tidak ada aku kau dapat berbuat sekehendakmu? Jadi kalau berhadapan dengan orang lain, kau mengagung-agungkan kekuatanmu ? Lembu Sekilan atau Aji apa lagi yang kau miliki itu?”

“Ampun Baginda,” Karebet semakin tertunduk.

Kini harapannya untuk keluar dari kaputren menjadi lenyap. Ia tinggal menunggu besok atau lusa, seorang algojo akan memenggal lehernya, atau menaikkan ke tiang gantungan.

Apalagi ketika didengarnya Baginda berkata, “Karebet itukah tanda terimakasihmu kepadaku. Bukankah kau telah aku pungut dari pinggir jalan, kemudian aku coba untuk menjadikan kau seorang anak muda yang memiliki kebanggaan dengan menyerahkanmu kepada Prabasemi dan kesatuannya. Kini ternyata kau telah menyentuh kehormatanku. Sebagai seorang ayah dan seorang raja.”

Mendengar kata-kata baginda itu tiba-tiba Karebet teringat kepada Tumenggung Prabasemi. Hampir saja ia mengatakan persoalan Tumenggung kepada untuk mengurangi kemarahan baginda kepadanya, tetapi kemudian niat itupun diurungkannya.

“Tak ada gunanya,” katanya dalam hati. Dan kini ia tinggal pasrah kepada nasib yang membawanya kearah maut. Tak ada hukuman lain yang pantas diberikan kepadanya selain hukuman mati. Apalagi telah berani bertempur melawan Baginda.

“Mungkin baginda sendiri yang akan membunuhku.” pikirnya.

Sebenarnya baginda marah sekali kepada Karebet dan Puterinya. Tetapi terasa sesuatu yang aneh menyelip dihati baginda. Justru setelah bertempur melawan Karebet, kesaktian anak itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga bagindapun berkata didalam hatinya, “Sayang, anak ini memiliki kemungkinan dihari depannya. Kemungkinan yang tidak terbatas. Kalau ia mampu mematangkan aji Lembu Sekilan dengan ilmu rangkapannya itu,maka ia menjadi seorang sakti yang pilih tanding.”

Baginda sendiri mempunyai dua orang putera disamping puterinya. Yang sulung, adalah seorang yang sakti pula. Namun sayang, karena sesuatu hal, maka Pangeran itu mempunyai penyakit berat didalam rongga dadanya. Sedang puteranya yang seorang lagi, masih terlalu muda, dan agaknya tidak akan menyamai kakak sulung.

Tetapi Baginda tidak mau terpengaruh oleh perasaannya itu. Tetapi kemudian Baginda berkata lantang kepada puterinya, “Cepat masuk kekeputren. Jangan keluar dari pintu kalau bukan ibunda yang menjemputmu.”

Puteri itupun menyembah sambil menangis. Tetapi ketika akan menjawab, Baginda membentaknya, “Masuk ke keputren!.”

Puteri Baginda itu tidak berani mengangkat wajahnya. Sekali lagi ia menyembah, dan dengan wajah tunduk serta airmata berhamburan, Puteri tertatih-tatih masuk kebiliknya. Langsung direbahkannya dirinya dipembaringan menelungkup. Dan kepada pembaringan serta dinding-dinding biliknya ia mengadukan nasibnya yang malang. Betapa kecewanya dan menyesal hati puteri itu. Tetapi semuanya telah terlanjur dilakukan. Dan ayahanda Baginda sendiri telah melihat langsung apa yang terjadi.

Diluar Keputren Karebet duduk bersila dengan wajah tepekur. Anak muda ini menyesal pula atas semuanya yang telah terjadi. Namun, semuanya telah berlalu. Dan yang dapat dilakukan kini tinggallah menunggu hukuman yang harus disandangnya.

Sesaat kemudian Bagindapun menjadi bimbanmg. Bagaimanapun anak muda itu mempunyai tempat tersendiri didalam hatinya sehingga dengan demikian, mau tidak mau segala keputusan yang akan diambil oleh baginda sangat terpengaruh oleh perasaannya itu.

“Karebet, ikut aku ke Ksatriaan,” berkata Baginda kemudian.

“Hamba tuanku,” sahut Karebet sambil menyembah.

Dan Baginda tidak menunggu apapun lagi ditempat itu. Segera Baginda berjalan diantara rimbunnya daun-daun perdu dihalaman, supaya tidak seorangpun melihatnya. Kepada Karebet, Baginda itu berkata, “ikuti aku. Jangana ada seorangpun yang melihatmu. Apabila demikian, maka nasibmu akan aku serahkan kepada penjaga itu.”

Karebet menyembah sambil menyahut, “Hamba, Baginda.”

Maka keduanyapun berjalan mengendap endap menghindari peronda dari pengawal baginda. Sehingga tak seorangpun yang mengetahuinya, maka berdua telah memasuki Ksatrian dari pintu samping.

“Karebet,” berkata Baginda setelah mereka didalam bilik ksatrian. “Tinggal disini. Jangan coba melarikan diri. Tak ada gunanya. Aku segera dapat menangkapmu kemana saja kau bersembunyi. Sebab setelah ini, akan aku perintahkan segenap peronda Nara Manggala untuk lebih berhati-hati. Tak seorangpun boleh meninggalakan halaman istana. Apapun alasannya.”

“Hamba tuanku,” jawab Karebet. “Hamba tidak akan berani melanggar perintah Baginda.”

Sesaat kemudian Bagindapun mengenakan baju keprajuritan yang berada di Ksatrian. Dengan pakaian itu kemudian baginda pergi meninggalkan bilik. Karebet yang berada didalam bilik itu menjadi bingung. Apakah yang akan dikatakan nanti dipagi hari, jika beberapa orang emban atau jajar masuk kedalam bilik untuk membersihkannya. Dan apapula jawabnya jika Pangeran Timur nanti datang pula kemari ?

Tetapi Karebet lebih takut lagi akan perintah baginda. Karena itu betapapun ia menjadi cemas, namun ia tidak berani beranjak dari biliknya. Dengan lesu dijatuhkannya badannya diatas lantai yang licin bersih dan mengkilap. Dengan berbagai macam perasaan bercampur baur, Karebet memandang kedinding yang kokoh kuat sekuat baja.

“Dengan rogrog Asem aku pasti mampu menjebol pintu ini, “ terdengar suara didalam hatinya.

“Gila,” jawab suara yang lain

Dan kembali Karebet dengan lemahnya duduk bersandar didinding. Namun hatinya meronta-ronta seperti api yang menyala-nyala. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Baginda setelah itu.

Dan kenapa Baginda tiba-tiba mengenakan pakaian keprajuritan. Apakah nanti malam ini juga Baginda akan melakukan hukuman atas dirinya? dan Sultan sendiri yang akan menanganinya ?

Tetapi ternyata Karebet adalah anak yang aneh. Betapun gelisahnya, namun ia tiba-tiba menguap. Dan setelah menggeliat, ia bergumam, “Persetan dengan segala macam hukuman. Lebih baik aku tidur. Dengan segala macam kegelisahan dan penyesalan, soalku tidak selesai.”

Sesaat kemudian, ia sudah tidur mendekur.

Betapa terkejutnya penjaga dari kesatuan Nara Manggala ketika melihat baginda sendiri lengkap dengan pakaian keprajuritan datang kepada mereka. Dengan tergesa-gesa mereka segera berloncatan menyambut kedatangan baginda.

Beberapa orang menjadi pucat, dan beberapa orang lagi menjadi cemas. Apakah yang akan terjadi sehingga Baginda datang sendiri kepada mereka.

“Atas namaku, panggil Prabasemi dari Wira Tamtama.”

“Hamba tuanku, apakah Tumenggung Prabasemi harus menghadap baginda malam ini?”

“Ya!,”

“Hamba Tuanku.”

Kemudian ketika Baginda melangkah kembali ke Ksatrian, dua dari Nara Manggala segera bersiap untuk mengantarkan. Namun mereka terkejut ketika Baginda berkata, “Aku datang sendiri. Aku kembali sendiri.”

Penjaga menjadi heran. Tidak menjadi kebiasaan Sultan berbuat demikian. Tetapi tak seorangpun berani bertanya. Dan mata mereka dipenuhi beribu-ribu pertanyaan mengiringi Baginda lenyap dalam bayang-bayang pohon Sawo Kecik.”

Sepeninggal Baginda, beberapa orang saling berbisik diantaranya.

“Aneh, kenapa baginda memanggil Prabasemi dimalam hari begini?”

Yang lain menggeleng, “memang aneh.”

“Tadi aku melihat Karebet masuk istana, katanya kaki baginda terkilir.”

“Lalu sekarang Prabasemi dipanggil, kenapa bukan Karebet yang harus memanggilnya? bukankah ia prajurit Wira Tamtama?”

Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya sambil berkata, “entahlah. Ada sesuatu yang kurang wajar terjadi.”

“Apaaa?”

Orang itu menggeleng, “kalau aku mengetahuinya kau pasti mengetahuinya juga.”

Mereka kemudian terdiam. Masing-masing berjalan kembali masuk ke gardu peronda. Baru saja mereka duduk, Nara Manggala tertua berteriak, “bodoh kalian, Kenapa kalian tidak berangkat memanggil Prabasemi?”

“Oh, hampir aku lupa kepada perintah.”

Kemudian dengan tergesa-gesa dua orang Nara Manggala segera bersiap untuk berangkat menjemput Prabasemi. Mereka segera memperbaiki pakaian mereka, melengkapi tanda keprajurutan. Dengan pedang dilambung masing-masing berdua segera pergi menjemput Tumenggung Prabasemi.

Meskipun tak seorangpun yang bercakap-cakap, namun sebenarnya mereka saling bertanya didalam hati, apakah yang sebenarnya terjadi ?

Sementara itu, dari Gardu Penjaga, Baginda langsung masuk kedalam biliknya dimana Permaisuri dan dua orang emban sedang menunggu. Ketika permaisuri melihat kedatangan Baginda, maka terdengar sebuah tarikan napas panjang.

“Nah, bukankah aku masih utuh?,” kata Baginda

Sekali lagi Permaisuri menarik napas. Katanya, “Hamba menjadi gelisah.”

Baginda kemudian memandangi kedua emban yang duduk bersimpuh sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sesaat kemudian berkatalah baginda “Kembalilah kebilikmu masing masing emban.”

Kedua emban itu terkejut. Dan bersamaan mereka menyembah sambil membungukkan badan mereka, “Hamba Baginda.”

“Tetapi, ingat, apabila seseorang mendengar tentang puteri itu, kau berdualah yang akan aku pancung di alun-alun.”

Kedua emban menjadi pucat. Dengan gemetar, sekali lagi mereka menyembah dengan takjimnya.

“Nah tinggalkan bilik ini.”

Keduanya tidak menjawab. Namun setelah sekali lagi mereka menyembah, maka segera mereka meninggalkan bilik itu.

“ALANGKAH malangnya nasibku,” kata emban Permaisuri, “Kalau aku tadi tidak berjumpa dengan kau, maka aku tidak akan mengalami bencana ini. Coba, apabila laki-laki itu atau Putri sendiri yang berceritera tentang peristiwa itu, maka apabila ada orang lain yang mendengarnya, kamilah yang akan dipancung. Hi, mengerikan.”

Emban yang lain tidak menjawab. Terbesit pula penyesalan didalam dirinya. Tetapi apabila dibayangkannya rumah yang megah dari Tumenggung Prabasemi serta segala macam penghormatan yang akan didapatnya, maka emban itu sersenyum didalam hati. Putri itu pasti akan mendapat hukumannya. Setidak-tidaknya akan mengalami pingitan yang lebih ketat. Sehingga dengan demikian, maka Prabasemi itu pasti akan melupakannya.

Demikian kedua emban itu meninggalkan bilik Baginda, maka segera Baginda mengatakan apa yang telah dialaminya serta apa yang telah terjadi.

Ketika Permaisuri mendengar, bahwa berita yang dibawa oleh emban itu benar-benar terjadi, maka dengan serta merta, pecahlah tangisnya. Alangkah hinanya. Apabila Putri itu adalah putri seorang raja yang namanya ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan. Tetapi putrinya sendiri, sama sekali telah mengabaikannya.

“Kenapa hal ini terjadi, Baginda?” tanya Permaisuri. “Padahal menurut hemat hamba, maka tidak kuranglah cara hamba untuk menjadikannya seorang putri yang berbudi. Justru dalam masa pingitan, serta masa-masa perkembangan jasmaniah dan rohaniah, bencana itu terjadi.”

Baginda tidak menjawab. Bahkan wajahnya ditundukkannya, seakan-akan sedang menghitung jari-jari kakinya. Sebagai seorang ayah, maka hampir-hampir Baginda tak dapat menahan kemarahannya terhadap Karebet. Tetapi, sebagai seorang Senapati Perang, maka Baginda dapat melihat kekuatan yang tersembunyi didalam tubuh Karebet yang telah berani melangkahi pagar kaputren itu. Bahkan sebagai seorang raja, Baginda melihat masa depan dari kerajaannya, Demak, yang sampai kini masih belum diketemukannya seorang sakti yang mempunyai kemungkinan yang tak terbatas dimasa depannya. Pernah juga Baginda mendengar nama-nama, diantaranya Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tahhjaya. Namun orang itu telah lama membuang diri dalam satu pengabdian yang luhur. Berusaha menemukan pusaka-pusaka Keraton yang lolos dari perbendaharaan Istana.

“Tetapi orang itu sama sekali bukan keluarga istana,” desis Baginda didalam hatinya.

“Ah!” Tiba-tiba Baginda terkejut sendiri oleh angan-angannya. Kemudian katanya di dalam hati, “Apakah Karebet itu juga keluarga istana?”

Baginda tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesuatu bergolak di dalam dadanya. Dicobanya berkali-kali untuk mengusir perasaan yang mengetuk-ngetuk jantungnya. Karebet itu adalah anak yang diketemukan di pinggir jalan. Tidak lebih. Bukan kadang, bukan sentana.

“Tetapi ia putra Ki Kebo Kenanga.” Kembali terdengar kata-kata jauh di dasar hatinya. “Kebo Kenanga adalah putra Pangeran Handayaningrat. Apakah dengan demikian tidak ada saluran darah Majapahit di dalam tubuhnya?”

“Hem.” Baginda menarik nafas dalam-dalam. Ketika Baginda itu berpaling, dilihatnya Permaisuri masih menyeka kedua belah matanya yang basah.

“Sudahlah,” hibur Baginda, “Aku akan mencoba mencari cara sebaik-baiknya untuk menolong keadaan.”

“Apakah cara itu?” tanya Permaisuri.

“Aku belum tahu,” sahut Baginda, “Tetapi mula-mula adalah menutup setiap kemungkinan, Putrimu itu dapat bertemu dengan Karebet.”

Permaisuri menganggukkan kepalanya. “Besok, Putriku akan aku bawa masuk ke dalam bilikku. Biarlah ia mengalami pingitan yang lebih seksama.”

“Aku sependapat,” sahut Baginda, “Dan biarlah anak muda yang bernama Karebet itu aku singkirkan pula dari Demak.”

“Akan diapakan?”

“Biarlah anak itu aku ambil dari Prabasemi, dan aku serahkan kepada Palindih di Bergota.”

“Hanya itu?”

Baginda terdiam. Disadarinya, bahwa Pemaisuri itu benar-benar merasa terhina. Namun Baginda tidak akan dapat mengatakan alasan-alasan yang dapat dimengerti oleh Permaisuri secara keseluruhan. Sebab Permaisuri tidak merasakan kedahsyatan ajian anak muda itu, tidak merasakan bahwa di dalam diri anak itu tersimpan Aji Lembu Sekilan dan dari matanya memancarkan cahaya biru kehijauan seperti mata seekor harimau yang garang di malam hari. Permaisuri tidak dapat mengerti bahwa Demak memerlukan orang yang demikian itu. Orang yang mempunyai kemungkinan yang tidak terbatas.

Meskipun di seluruh wilayah Demak, banyak terdapat orang-orang sakti, namun tidak seorang pun dari mereka yang pernah mempengaruhi perasaan Baginda sebegitu dalam seperti Karebet, putra Ki Kebo Kenanga.

Sebelum Sultan Trenggana menemukan jawaban atas pertanyaan Permaisuri itu, maka kembali Permaisuri bertanya, “hukuman apa yang akan baginda berikan terhadap Karebet. Apakah hukuman itu cukup seimbang dengan kesalahannya?.”

Baginda menarik nafas, kemudian jawabnya, “Hukuman itu adalah hukuman sementara. Mungkin aku akan membuat pertimbangan lain. Namun hukuman itu harus sesuai dengan keduanya. Sebab kesalahan itu tidak saja terletak pada Karebet, tetapi pada Puteri juga.”

Tiba-tiba Permaisuri mengangkat wajahnya. Sebagai seorang puteri, terasa kata-kata baginda agak janggal. Karena itu katanya, “Baginda, apakah yang akan dilakukan puteri kalau Karebet tidak memulainya? Aku yakin bahwa anak muda itu memanfaatkan kesempatan. Apabila Baginda memanggilnya, maka dimanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Puteri adalah anak pingitan. Jarang-jarang ia melihat anak muda didalam biliknya yang sempit. Maka ketika dilihatnya Karebet itu maka langsung mempengaruhi hatinya.”

Permaisuri itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah baginda yang tunduk. Kali ini mereka tidak berbicara sebagai Raja terhadap Permaisuri tetapi sebagai ayah dan seorang ibu. Seorang ibu yang merasa tersinggung karena perbuatan seorang anak muda atas puterinya dan seorang ayah yang melihatnya dari cakupan yang luas.

Maka dengan hati-hati Bgainda berkata, “Tetapi apabila puterimu tidak memanggapinya, maka tidak terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Setiap hubungan antara anak muda dan gadis-gadis, pasti dimulai dari kedua ujung hati masing-masing. Apabila tidak, maka hubungan itu tidak akan terjadi.”

“Oh,” sahut permaisuri.

“Baginda telah berbicara tentang hati laki-laki, yang melihat perempuan dari sudut seperti Karebet. Tetapi baginda tidak mau mendalami hati perempuan.”

“Mungkin puteri mula-mula sama sekali tidak menanggapi sikap Karebet. tetapi lambat laun, apabila Karebet mulai menyentuh hatinya, maka hati itu pasti cair. Mungkin sikap itu mula-mula tidak lebih dari sikap gadis yang merasa kasihan terhadap seorang anak muda yang terbakar hatinya.”

“Atau mungkin Karebet sengaja membuat dirinya seakan-akan tidak mampu hidup tanpa puteri. Atau apapun yang dilakukannya sebagai suatu cara meruntuhkan hati seorang gadis. Meratap, mengancam, membangkitkan cemburu, bermanja-manja atau merayu.” sahut Permaisuri.

Sekali lagi Baginda menarik nafas. “Kalau gadis itu teguh hati, maka ia akan tetap dalam pendiriannya.”

“Betapapun keras batu karang, namun titik-titik air akan dapat membuat lubang padanya.” Sahut permaisuri.

Kali ini Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Belum pernah Permaisuri bersikap keras kepadanya. Sebagai seorang permaisuri, setiap kali yang dilakukan adalah menghambakan perintah Baginda. Mendengarkan kata-kata baginda dengan wajah tunduk, kemudian tersenyum kalau baginda tersenyum, dan berduka kalau baginda berduka. Namun Baginda bukanlah seorang laki-laki berhati batu.

Baginda dapat mengetahui sepenuhnya perasaan Permaisurinya, dan bahkan berterimakasih pula kepada permaisurinya itu. Namun kali ini Baginda menjumpai sikap yang jauh berbeda. Permaisuri itu menjawab kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Karena itu, maka baginda dapat mengerti, betapa pedih luka dihari permaisurinya sehingga dilupakannya suba sita.

Meskipun demikian, Baginda masih ingin untuk dapat menerangkan apakah sebabnya, maka Karebet itu masih diberinya kesempatan, meskipun dijauhkan dari Demak. Tetapi tidak saat ini, sebab apabila perempuan itu telah dikuasai oleh perasaannya, maka setiap pertimbangan akan tersisihkan. Demikian juga Permaisuri kali ini.

Karena itulah maka dengan tersenyum Baginda berkata, “Baiklah. Biarlah aku pertimbangkan sekali lagi. Tetapi janganlah aku yang dipersalahkan.”

Kata-kata itu tiba-tiba menyadarkan Permaisuri akan dirinya. Ia sedang ebrhadapan dengan seorang raja yang memiliki segala kekuasaan ditangannya. Tiba-tiba Permaisuri menyembah sambil berkata, “ Ampun Baginda. Aku telah berpendapat terlalu jauh. Namun aku hanya sekedar menuangkan perasaan ibu atas bencana yang menimpa puterinya.”

Baginda mengangguk-anggukan kepalanya, “Aku mengerti. Sebab aku bukan saja seorang Raja, Senapati Perang dan segala macam jabatan pemerintahan, tetapi aku adalah seorang ayah pula.”

Permaisuri itupun kemudian berdiam diri. Namun dikedua belah matana masih tampak, betapa ia tidak rela mengalami peristiwa yang sama sekali tidak didangka-sangkanya. Bencana yang menimpa puterinya. Namun kini segala sesuatu telah diserahkannya kepada Baginda. Permaisuri itu dapat mengerti kata-kata Baginda, bahwa Baginda tidak saja seorang Raja tetapi juga seorang ayah, sekaligus seorang Raja yang harus memandang segala persoalan dari berbagai segi.

“Kenapa hal ini terjadi dengan Puteriku, puteri Baginda. Kalau saja itu terjadi atas orang-orang yang tinggal dipondokan kecil maka tidaklah banyak persoalan yang timbul karenanya. Tetapi puteri itu adalah anak seorang Raja yang akan disoroti oleh setiap mata dari seluruh negeri.” Betapapun Permaisuri masih saja meratap dalam hatinya. Namun tidak sepatah katapun diucapkannya.

Yang kemudian berkata adalah Baginda, “Marilah, aku antar kembali ke bilikmu. Aku harus segera ke Kesatrian. Ambilah puterimu besok pagi, dan biarkan ia tinggal dalam istana untuk smeentara.”

Permaisuri menyembah, kemudian meninggalkan Baginda dan kembali ke biliknya sendiri. Dimuka pintu Permaisuri melihat emban tadi duduk bersimpuh menungguinya.

“Kau masih disini?” bertanya Permaisuri.

Emban menjawab, “Ampun Gusti”

Permaisuri itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah emban itu, “kenapa kau menangis?.”

“Hamba Takut”

“Apa yang kau takutkan?”

Emban tidak menjawab. tetapi sesekali ia menyembah dan kepalanya semakin tunduk.

“Jangan takut, kau tidak bersalah. dan kau tidak berbuat apa-apa,” kata permaisuri.

Tetapi emban tidak berani mengangkat wajahnya. Hanya sekali-kali dipandangnya kaki Baginda dan Permaisuri berganti ganti. bagindapun kasihan juga melihatnya.

Setelah permaisuri kembali ke biliknya, baginda segera meninggalkan bilik itu. Kepada emban yang masih bersimpuh, “Kawani Gustimu itu.”

“Hamba Baginda,” sahut emban itu. Tetapi ia tidak berani masuk kedalam bilik karena permaisuri tidak memanggilnya. Karena itu ia masih duduk dimuka pintu. Baru ketika ia terbatuk karena sedannya, maka terdengar Permaisuri memanggilnya, “apakah kau masih dimuka pintu?”

“Ampun gusti, Baginda memerintahkan hamba untuk menemani Gusti.”

“Tidurlah, aku ingin tinggal seorang diri”

Barulah emban itu berdiri dan kembali ke biliknya. teapi begitu ia merebahkan dirinya, ia menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali dirabanya lehernya seolah olah sebuah goresan telah melukainya.

“Kenapa kau?,” tanya seorang temannya

Emban itu menggeleng.

“Apakah jajar yang berkumis kecil ingkar janji?”

“Ah,” desah emban yang sedang menangis itu. Namun lehernya menjadi semakin pedih dan napasnya sesak…..

Kawan-kawannya kemudian tidak bertanya apapun lagi. Dibiarkannya ia menangis dan menelungkup. Bahkan beberapa kawan-kawannya saling berbisik dan tertawa tertahan-tahan. Mereka menyangka bahwa emban itu sedang berselisih dengan calon suaminya yang jauh lebih muda daripadanya.

Dalam pada itu Baginda telah berjalan menunju ke Kasatrian. Namun sebelum Baginda sampai, maka Baginda melihat dua orang Nara Manggala membawa Prabasemi menunju ke Kasatrian itu pula. Karena itu segera Baginda berjalan mendahuluinya.

KETIKA Baginda sampai dipintu samping, dan perlahan-lahan membuka pintu itu, alangkah terkejutnya. Baginda melihat, betapa Karebet dengan tenangnya tidur mendengkur di atas lantai. Sekali lagi Baginda mengelus dada. Katanya di dalam hati, “Anak itu memang luar biasa. Apakah ia tidak menyadari bahaya yang dapat menimpa dirinya setiap saat, atau memang demikian ikhlasnya ia menjalani setiap persoalan betapapun rumitnya dan bahkan hidupnya terancam?”

Baginda menarik nafas. Kekagumannya kepada Karebet menjadi semakin bertambah-tambah. Tetapi meskipun demikian Baginda tidak mau menunjukkan betapa perasaan Baginda itu mencengkam segala pertimbangannya. Karena itu, dengan serta merta Baginda menutup dengan kerasnya daun pintu itu, sehingga berderak-derak keras sekali.

Alangkah terkejutnya Karebet yang sedang tidur nyenyak itu. Sekali ia meloncat dengan garangnya, dan dalam sekejap ia telah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ketika kesadarannya telah sepenuhnya menguasai otaknya, dan ketika dilihatnya Baginda berdiri di muka pintu bilik itu, dengan serta merta ia menjatuhkan dirinya sampai menyembah. “Ampun Baginda, hamba hanya terkejut. Hamba sama sekali tidak bermaksud berbuat apapun. Apalagi melawan.”

Hampir Baginda tertawa melihat sikap Karebet itu. Tetapi sekali lagi Baginda menahan dirinya. Bahkan dengan tajamnya Baginda memandangi wajah Karebet yang pucat.

“Apakah kau masih akan melawan?” bentak Baginda.

“Ampun Baginda. Hamba benar-benar hanya terkejut.”

“Kenapa kau tidur?” 

“Hamba tidak ingin tidur, Baginda, tetapi mata hamba tak dapat hamba kuasai lagi.”

“Apakah sangkamu kau akan terlepas dari hukuman yang paling berat?”

“Tidak Baginda. Hamba akan menerima setiap hukuman apapun yang akan Baginda jatuhkan.”

Sekali lagi Baginda menarik nafas. Tetapi Baginda tidak berkata-kata lagi. Di luar, terdengar langkah Prabasemi dan dua orang Nara Manggala. Perlahan-lahan terdengar ketukan di pintu bilik itu. Maka berkatalah Baginda, “Masuklah.”

Pintu itu bergerit perlahan-lahan. Ketika pintu itu terbuka, nampaklah Prabasemi berdiri di muka pintu. Ketika tiba-tiba dilihatnya Karebet duduk di lantai, tiba-tiba berdesirlah dada Tumenggung Wira Tamtama itu.

“Masuklah.” Kembali terdengar suara Baginda, berat bernada datar. Dada Prabasemi pun serasa meledak mendengar suara itu. Sekali lagi ia memandangi wajah Karebet. Dan ketika Karebet memandangnya pula, tiba-tiba anak itu tersenyum.

“Gila.” Prabasemi mengumpat di dalam hatinya. “Apakah Karebet mengatakan segala hasratku kepada Baginda, dan malam ini Baginda memanggil aku untuk menghukum mati?”

Kaki Prabasemi menjadi gemetar. Karebet masih saja memandangnya sambil tersenyum-senyum. Tetapi ketika Baginda tiba-tiba berpaling kepadanya, dengan cepatnya Karebet menundukkan wajahnya. 

Prabasemi kemudian dengan tubuh gemetar duduk bersila di hadapan Baginda. Sekali ia menyembah, kemudian menekurkan kepalanya terhujam ke lantai. Detak jantungnya yang berdentang-dentang serasa benar-benar akan memecahkan dadanya. Kemudian kepada kedua Nara Manggala yang masih berdiri di muka pintu, Baginda berkata, 

“Tinggalkan Tumenggung Prabasemi di sini.”

Kedua orang itu pun membungkukkan kepalanya dengan takzimnya, dan kemudian meningalkan Kesatrian. Sesaat Baginda masih berdiam diri. Ditatapnya Tumenggung Prabasemi yang ketakutan itu. Mula-mula Baginda menjadi heran, kenapa tiba-tiba Tumenggung itu menggigil ketakutan. Karena itu maka berkatalah Baginda, “Apakah kau terkejut, Prabasemi? Terkejut karena aku memanggilmu di malam hari?”

Suara Prabasemi gemetar, sehingga tidak begitu jelas terdengar, “Hamba Baginda. Hamba, hamba tidak menyangka.”

“Apa yang tidak kau sangka?” Prabasemi menjadi semakin bingung. Dan ketika sekali lagi ia memandang Karebet dengan sudut matanya, Karebet masih saja tersenyum. “Apakah kau menyangka bahwa aku tidak akan memanggil seseorang di malam hari begini?”

“Ya, ya, Baginda.” Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula, “Kalau aku memanggilmu tidak pada saat-saat yang wajar, itu pasti ada sesuatu yang sangat penting.”

“Hamba, Baginda.” Kata-kata Prabasemi itu menjadi semakin gemetar. “Aku tidak memanggil orang lain, karena persoalan ini mau tidak mau pasti akan menyangkut dirimu.”

Kata-kata Baginda itu terdengar ditelinga Prabasemi sebagai suara kentongan yang menyebarkan kabar kematian. Dengan mata merah namun dengan wajah pucat Prabasemi mencoba sekali lagi memandang wajah Karebet. Namun kini Karebet telah menundukkan kepalanya.

“Gila, Setan, Anak itu benar-benar penghianat. Kenapa tidak aku bunuh saja ia kemarin atau lusa,” umpatnya tak habis-habisnya.

Maka berkata Baginda seterusnya, “Nah, Prabasemi. Aku ingin mengatakan suatu rahasia kepadamu tetapi dengan janji, bahwa bila ada orang lain yang mendengar lewat mulutmu, maka umurmu tidak lebih panjang dari sepemakan sirih.”

Prabasemi telah benar-benar menjadi ketakutan. Dengan wajah tunduk ia menyembah sambil berkata, “ampun baginda.”

“Dengarlah, apakah kau mengenal anak yang duduk dibelakang ini?”

Prabasemi mengangguk. Tubuhnya menggigil seperti kedinginan, “Hamba, Tuanku.”

“Kau kenal namanya?”

“Hamba Baginda.”

“Siapakah dia dan dari kesatuan apa dia?”

Darah Prabasemi seolah berhenti karenanya. Namun ia berusaha menjawab, “Ampun Baginda. Namanya Karebet, dari kesatuan hamba pula. Wira Tamtama.”

Baginda mengangguk anggukkan kepalanya. Namun Baginda menjadi semakin heran melihat sikap Prabasemi. Bahkan Karebetpun menjadi geli pula, sehingga untuk sesaat ia dapat melupakan nasibnya sendiri.

“Prabasemi, dahulu aku menyerahkan anak itu kepadamu. Tetapi sekarang anak itu akan aku ambil darimu.”

“Sejak saat ini, Karebet bukan Wira Tamtama lagi.”

Kembali Prabasemi terkejut. Tetapi Karebet sudah tidak mampu lagi untuk tersenyum. Prabasemi yang kebingungan itu masih belum dapat menangkap maksud baginda, sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya, “kenapa?.”

Baginda mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba Prabasemi menyembah, “Ampun Baginda, maksud hamba, bagaimana perintah Baginda?”

Baginda menarik napas kemudian berkata, “Prabasemi, kau adalah seorang Tumenggung yang kini sedang mendapat beberapa kepercayaan. Aku tidak mempersoalkan peristiwa ini kecuali dengan kau. Karena kau adalah pemimpin langsung dari anak muda yang bernama Karebet. Sedang kepada kakang Patihpun sama sekali aku tidak memberitahukannya. Tetapi sekali lagi dengan janji, apabila seorang mendengar persoalan ini dari mulutmu, maka bagimu akan segera disediakan tiang gantungan.”

Hati Prabasemi yang tinggal semenir itu kini telah berkembang kembali. Sedikit demi sedikit ia dapat mengurai keadaan. Apalagi ketika Baginda berkata, “Prabasemi, Karebet telah berbuat kesalahan terhadap keluargaku.”

Tiba-toba Prabasemi seakan bersorak kegirangan. Inilah soalnya. Jadi bukan dirinyalah yang akan dihadapkan ketiang gantungan, tetapi agaknya anak yang bernama Karebet itu. Karena itu maka Prabasemi tidak menggigil lagi. Meskipun demikian ia masih mengumpat-umpat didalam hatinya, “Demit itu masih juga sempat menggangu orang pada saat nyawanya sudah diujung ubun-ubun.”

Dan karena itulah maka tiba-tiba Prabasemi menyahut kata-kata Baginda dengan jawaban yang tak disangka-sangka oleh baginda,”Ampun Baginda, Karebet memang mempunyai tabiat kurang baik. Karena itulah ia melakukan perbuatan gila. Ia tidak saja menghina keluarga Baginda, tetapi juga Adat Demak. Keberaniannya mencuri hati Tuan Puteri merupakan kesalahan yang tak terampuni.”

“Prabasemi darimana kau tau dengan pasti kesalahan Karebet ats keluargaku?”

Kini Prabasemilah yang terkejut bukan alang kepalang. Ternyata ia terdorong mengatakan sesuatu yang belum diketahuinya. Sekali ditatapnya Karebet yang tertunduk lesu. Namun akhirnya ia berkata, “Baginda, ampunkan hamba. Karebet pernah memuji-muji puteri baginda. Sesekali ia akan datang kekeputren untuk menemui puteri itu. Aku sangka Karebet hanya berkelakar dan menghilangkan kejemuannya apabila sedang bertugas dalam gardu penjagaan. Karena itulah ketika Baginda bersabda bahwa Karebet telah berbuat kesalahan atas keluarga Baginda, langsung hamba dapat menebak apa yang telah dilakukannya.”

Darah Baginda serasa mendidih mendengar kata-kata Prabasemi itu. Dengan wajah merah membara dipandanginya wajah Karebet yang tunduk. Namun Karebet tidak kurang terkejutnya mendengar pengaduan itu. Bahkan hampir saja akan menjawabnya, dan mengatakan apa yang terjadi dengan Tumenggung. Namun kemudian niat itu diurungkan, karena apabila ia tak dapat membuktikannya, maka pa yang dikatakannya itu dianggap tal lebih dari fitnah belaka. Karenanya Karebet menundukkan kepalanya. Dicobanya memutar otak mencari jawaban.

Dan ketika Baginda bertanya, “Karebet, kau dengar kata Tumenggung Prabasemi?.”

“Hamba Baginda”

“Apa katamu tentang itu?”

“Sebenarnya aku pernah berbuat demikian Baginda.”

Jawaban Karebet itu benar-benar tak disangka-sangka oleh Tumenggung Prabasemi. Ia berharap Karebet akan membantahnya sehingga akan membuat Baginda tambah marah, Karebet berbuat fitnah. Tetapi ternyata Karebet justru membenarkan kata-katanya.

Kemarahan baginda yang memuncak tiba-tiba mereda kembali mendengar jawaban itu. Meskipun demikian ia membentaknya, “Kanapa kau berbuat demikan Karebet?.”

“Baginda, ampunkan hamba. Sebenarnya setelah melihat puteri Baginda, hamba menjadi seorang yang tak dapat menilai diri sendiri. Sekali-sekali hamba pernah mempercakapkannya dengan Kiai Tumenggung karena hamba tidak mempunyai orang tua lagi, setelah ayah Kebo Kenanga meninggal. Oleh sebab itulah hamba hanya dapat mengadu kepada pimpinan hamba yang hamba anggap ayah bunda hamba. Kebiasaan Kiai Tumenggung mirip dengan kebiasaan eyang Pangeran Handayaningrat almarhum. Mengurai rambut dan menyangkutkan ikat kepala di lehernya. Itulah sebabnya hamba percaya kepada Kiai Tumenggung, dan hamba katakan apa yang tersimpan dihati hamba tanpa berprasangka.”

“Bohong!,” tiba-tiba Tumenggung Prabasemi memotong Karebet. NBamun sebelum ia berkata lebih lanjut, disadarinya bahwa Sultan Trenggana sedang duduk mendengarkan kata Karebet. Karena itulah dengan gugup Prabasemi menyembah sambil berkata, “Ampun Tuanku.”

Sultan Trenggana mengerutkan alisnya. tenyata anak yang diambil dari jalan ini bukanlah anak kebanyakan. Ketika Karebet menyebut nama Kebo Kenanga dan Handayaningrat, betapa mereka mempunyai perbedaan pandangan dalam pelbagai persoalan, namunruntuh juga belas kasihan Baginda kepada Karebet yang yatim piatu hampir sejak kanak-kanak. Namun meskipun demikian, anak itu mampu memiliki kekuatan lahir dan batin yang mengagumkan.

Kini Sultan Trenggana dihadapkan pada suatu masalah yang sangat pelik. Akan lebih mudah menghadapi daerah yang memberontak daripada persoalan puterinya. Maka akhirnya Baginda berkata, “Prabasemi, Karebet aku ambil kembali. Anak itu akan aku jauhkan dari pusat kerajaan. Aku jauhkan sejauhnya dari istana. Biarlah ia menjadi pembantu Arya Palindih dalam tugsanya mengawasi bandar Bergota.”

Prabasemi benar-benar terkejut mendengar keputusan itu, seperti juga Karebet yang terkejut bukan kepalang.

Karebet yang telah merasa bahwa umurnya akan tinggal seujung malam itu tiba-tiba merasa dirinya hidup kembali. Karena itu dengan serta merta ia bertiarap di kaki Baginda. Anak yang aneh itu, yang seakan-akan tidak pernah merasakan sedih dan duka dan kesulitan-kesulitan hidup yang lain, tiba-tiba menangis di bawah kaki Baginda. Bukan karena ia akan hidup lebih lama lagi, namun terasa olehnya, betapa kasih Baginda itu kepadanya.

Karena itu, justru ketika ia merasakan bahwa sebenarnya budi Baginda kepadanya, sejak ia dipungutnya dari tepi-tepi jalan, bukan main besarnya, penyesalannya bertambah-tambah. Ia menyesal bahwa ia telah menyebabkan Baginda gusar kepadanya, dan ia menyesal bahwa ia telah berbuat suatu kesalahan yang sangat besar bagi adat kehidupan Demak.

BERBEDA dengan Tumenggung Prabasemi. Tumenggung itupun terkejut bukan buatan mendengar keputusan Baginda. Ternyata Karebet itu sama sekali tidak dihukum mati. Anak itu hanya sekadar dijauhkan dari istana. Alangkah mudahnya. Karena itu, maka pada saat-saat yang akan datang, kemungkinan Karebet untuk kembali ke Demak masih terbuka. Tetapi kalau anak itu telah terpenggal lehernya, maka ia baru akan dapat tidur nyenyak. Karena itu betapapun ia takut kepada Baginda, dicobanya juga untuk berkata, “Baginda, apakah hukuman itu sudah cukup adil?” Baginda mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah pertimbanganmu Prabasemi?”

“Baginda, hukuman yang paling pantas bagi pengkhianatannya adalah hukuman mati.”

Karebet yang sudah duduk kembali itupun memandang Prabasemi dengan sudut matanya. Ia dapat memahami perasaan Tumenggung itu. Tetapi Karebet sama sekali tidak dapat mengatakan apakah yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Tumenggung itu. Karena itu, yang dapat dilakukan hanyalah mengumpat didalam hatinya.

Tetapi ternyata Baginda tidak begitu saja menerima pendapat Prabasemi. Dengan penuh pertimbangan Baginda berkata, “Prabasemi. Bukan kesalahan dalam tata hubungan antara seorang kawula dan seorang raja. Seorang prajurit dan seorang Panglima. Aku sependapat dengan kau, bahwa setiap pengkhianat harus dihukum mati.

Tetapi Karebet tidak berkhianat. Ia hanya sekedar melakukan hubungan yang wajar antara seorang pria dengan wanita. Tetapi caranyalah yang sama sekali tidak wajar. Karena itu maka menjauhkan Karebet dari istana, akan berarti menghapuskan setiap kemungkinan Karebet berbuat untuk kedua kalinya. Dan apabila ternyata dengan segala cara maka pengampunan kali ini diabaikan, maka aku tidak akan memberinya ampun untuk kedua kalinya.”

Prabasemi itu mengerutkan keningnya. Tampaklah betapa ia tidak senang mendengar keputusan Baginda. Karena itu sekali lagi diberanikan dirinya berkata, “Baginda. Janganlah menjadi contoh yang memalukan bagi seorang prajurit Wira Tamtama. Hamba akan menderita malu sekali apabila seseorang mendengarnya, bahwa seorang prajurit Wira Tamtama dalam pimpinan Prabasemi telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Biarlah ia menjadi contoh bagi para prajurit yang lain.”

“Peristiwa ini tak akan dapat dijadikan contoh dalam bentuk apapun, Prabasemi. Aku tidak mau, seorang pun mengetahui apa yang telah terjadi. Aku tidak akan dapat memberikan alasan yang kuat, kenapa Karebet harus dihukum mati. Kalau alasan yang sebenarnya aku beritahukan, maka rahasia ia akan terbuka.”

Prabasemi itu menggigit bibirnya. Ketika sekali terpandang mata Karebet itu menatapnya, maka kemarahan Prabasemi tak dapat dikendalikan lagi. Dengan garangnya ia menunjuk kepada anak muda itu sambil menggeram. “He, Karebet. Terkutuklah kau sampai anak cucumu.”

Karebet tidak menjawab. Dalam keadaan yang demikian itu, maka yang paling baik baginya adalah berdiam diri.

Bilik itu kemudian dicengkam oleh kesenyapan. Kesenyapan yang menggelisahkan. Baginda itu ternyata sekali lagi harus berpikir dan bertindak bijaksana. Kalau ia sama sekali tak mendengarkan permintaan Prabasemi, maka Baginda pun menjadi cemas, jangan-jangan Prabasemi mempunyai cara sendiri untuk melakukannya.

Ketika Baginda sedang berpikir, maka Prabasemi berpikir pula. Namun agaknya Baginda tidak akan dapat memenuhi permintaannya untuk melenyapkan Karebet. Karena itu Prabasemi sedang mencari cara lain yang sama sekali tak akan mudah diketahui. Tetapi betapapun, namun terasa oleh Tumenggung itu, bahwa sebenarnyalah Baginda sangat sayang kepada Karebet.

Tiba-tiba Tumenggung itu tersenyum di dalam hati. Karena itu, maka sekali ia menyembah kepada Baginda, lalu katanya, “Baginda. Sebenarnya hamba pun tidak akan sampai pada permohonan yang paling keras untuk menghukum mati Karebet. Namun terdorong karena luapan perasaan, setelah hamba mendengar bahwa Karebet telah berbuat khianat itulah yang telah mendorong hamba untuk tidak ingin melihatnya lagi dalam lingkungan keprajuritan. Sehingga meskipun Karebet itu tidak dihukum mati, namun sebaiknya anak muda itu tidak lagi mendapat kesempatan apapun yang memungkinkannya kembali ke istana. Dengan menempatkan anak itu pada kakang Palindih, maka kesempatan masih terbuka setiap kali baginya untuk mendapatkan kedudukan kembali dalam lingkungan keprajuritan, untuk kembali ke istana. Kecuali apabila Putri telah mendapat tempat yang selayaknya bagi seorang putri.”

BAGINDA tidak segera menjawab kata-kata Prabasemi. Namun Baginda melihat banyak persoalan yang dapat terjadi. Baginda melihat, bahwa Prabasemi benar-benar tersinggung atas perbuatan Karebet itu. Namun Baginda sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam dada Tumenggung yang garang itu tersimpan pikiran-pikiran yang gila pula. Baginda sama sekali tidak menyangka bahwa Prabasemi mempunyai maksud-maksud yang tidak kalah gilanya dengan apa yang telah dilakukan oleh Karebet. Namun agaknya Prabasemi akan menempuh jalan yang lain daripada yang pernah ditempuh oleh anak muda yang aneh itu.

Setelah Baginda menimbang beberapa saat, akhirnya Baginda membenarkan permohonan Prabasemi itu. Baginda mempertimbangkan permohonan Permaisuri pula. Baik Permaisuri sebagai ibu putrinya, maupun Prabasemi, pemimpin langsung Karebet, yang dapat dianggapnya orang tuanya, bersama-sama tidak menghendaki anak itu lagi. Tidak menghendaki Karebet tampak di antara kawula Demak. Namun untuk membunuhnya, Baginda benar-benar tidak sampai hati. Sebab, meskipun anak itu sekadar anak gembala yang dipungutnya dari tepi blumbang masjid, namun anak itu mempunyai beberapa tanda-tanda keanehan di dalam dirinya. Dan bagaimanapun juga, Baginda tidak dapat menutup kenyataan bahwa anak itu adalah cucu Pangeran Pengging Sepuh, Pangeran Handayaningrat.

Mudah-mudahan mereka kelak dapat melupakan kesalahan itu. Dan mudah-mudahan hukuman ini dapat menyadarkan anak itu. Apabila kelak datang suatu kemungkinan, anak itu dapat dicarinya, diambilnya kembali dalam lingkungan keprajuritan. Sebab sebenarnya Demak memerlukan orang-orang yang memiliki kelebihan daripada orang-orang kebanyakan. Dan benarlah kata-kata Prabasemi, bahwa kelak dapat diambil kebijaksanaan lain apabila putrinya telah mendapatkan tempat yang wajar bagi seorang putri raja.

Karena itulah maka akhirnya Baginda berkata, “Karebet, apakah kau setuju dengan pertimbangan-pertimbangan dari pemimpinmu?”

Karebet menyembah sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Namun bagaimanapun juga, betapa ia menjadi tidak senang kepada Prabasemi. Perasaan muaknya menjadi bertambah-tambah. Tetapi sekali lagi ia menahan hatinya, sebab tak ada bukti apapun yang dapat diajukannya apabila ia ingin menceriterakan tentang maksud-maksud Tumenggung yang licik itu. “Nah, Karebet. Segala keputusan adalah keputusanku. Bukan orang lain. Juga keputusan tentang dirimu kali ini, adalah tanggung jawabku. Kalau semula aku ingin menyerahkan kau kepada Kakang Palindih, maka hal itu masih mendapat pertimbangan-pertimbangan lain. Kini aku telah menentukan sikapku sebagai suatu keputusan. Kau sejak saat ini bukan anggota Wira Tamtama lagi. Dan kau sejak ini bukan keluarga dalam lingkungan keprajuritan apapun dan jabatan-jabatan apapun. Kau harus pergi meninggalkan Demak. Untuk tidak menampakkan dirimu lagi sampai keputusan ini aku cabut.”

Dada Karebet berdesir mendengar keputusan itu. Sekali lagi ia menyembah jauh di bawah kaki Baginda. Alangkah sakit perasaannya. Jauh lebih sakit daripada apabila sejak semula ia mendapatkan hukuman mati. Disingkirkan dari lingkungan keprajuritan dan disisihkan dari Demak adalah hukuman yang terlampau berat. Tetapi ketika disadarinya bahwa kesalahannya terlampau berat, maka Karebet pun kemudian mencoba menghibur diri sendiri. Mencoba menerima keadaan, dan dipaksanya untuk menjadi keadaan yang sewajarnya. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman.

Dan Karebet pun kemudian menerima setiap keputusan Baginda dengan kesadaran. Tetapi ia tidak dapat melupakan Tumenggung Prabasemi itu. Seandainya Tumenggung itu tidak mempunyai maksud-maksud gila, maka ia pasti tidak akan terlalu bernafsu untuk menyingkirkannya, sehingga Tumenggung itu pasti membiarkannya untuk pergi ke Bergota. Tetapi segala kemungkinan kini telah tertutup. Baginda telah menjatuhkan keputusan. Dan keputusan Baginda kali ini bukan sekadar pertimbangan. Namun benar-benar telah merupakan keputusan yang diucapkan. 

MENDENGAR keputusan Baginda, kembali Prabasemi tersenyum di dalam hati. Tetapi ia tetap menundukkan wajahnya, seakan-akan keputusan itu tidak berpengaruh apapun di dalam perasaannya.

“Karebet…” kata Baginda kemudian, “Keputusan itu berlaku sejak malam ini. Karena itu, kau harus segera meninggalkan istana ini dan langsung meninggalkan lingkungan kota Demak.”

“Ampun Baginda,” sela Prabasemi, “Keputusan Baginda itu berarti bahwa tidak ada kesempatan lagi bagi Karebet untuk berada di sekitar Demak? Dengan demikian, maka akan lebih baik jika kelak Baginda mengeluarkan perintah, bahwa setiap Prajurit yang melihat Karebet, harus mengusirnya.”

Baginda mengerutkan keningnya. “Alangkah dalam dendam Tumenggung Prabasemi itu kepada Karebet,” pikir Baginda. “Mungkin Prabasemi ingin membersihkan dirinya dari setiap kemungkinan, bahwa iapun akan ikut bertanggungjawab atas kesalahan anak buahnya. Karena itu justru ia bersikap sangat keras.”

Namun Baginda menjawab, “Apakah alasan yang dapat aku berikan untuk perintah itu?”

Prabasemi merenung sejenak. Kemudian katanya, “Ampun Baginda. Biarlah nama Karebet agak menjadi lebih baik. Biarlah aku membuat alasan. Karebet telah dengan lancang membunuh seorang yang menyatakan keinginannya masuk Wira Tamtama. Dan lurah Tamtama yang muda itu telah menjadi panas hatinya, ketika orang ingin menunjukkan kesaktiannya, sehingga karenanya orang baru itu terbunuh.”

“Setan,” desis Karebet di dalam hatinya. Kepalanya kini benar-benar menjadi pening. Kenapa persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya itu dibicarakan justru di hadapannya? Hal inipun telah merupakan hukuman tersendiri baginya. Ditambah dengan hasutan-hasutan Tumenggung yang licik itu.

Kembali bilik itu menjadi sepi sesaat. Terasa betapa Baginda menjadi bimbang atas keputusannya sendiri. Sekali-kali ditatapnya wajah Tumenggung Prabasemi, dan sekali-kali ditatapnya kepala Karebet yang tunduk. Baginda sendiri menjadi heran, kenapa ia seakan-akan merasakan sesuatu yang mengetuk-ngetuk hatinya, ketika terasa pada Baginda, bahwa sebentar lagi anak itu akan dijauhkan darinya. Meskipun anak itu telah menumbuhkan kemarahan padanya, pada Permaisuri dan Tumenggung Prabasemi, namun Baginda tidak dapat melepaskan harapan, bahwa anak itu pada suatu masa pasti akan menjadi seorang yang berharga bagi Demak.

Tetapi Baginda tidak akan dapat mencabut keputusan yang telah dijatuhkan. Karena itu sebelum perasaan Baginda menjadi semakin kalut, maka berkatalah Baginda, “Nah, Karebet. Saat ini pula kau harus mulai menjalani hukuman sebelum orang lain mengetahui keadaanmu. Kepadamu pun aku berpesan, apabila masih ada tanda kesetiaanmu kepadaku, jangan kau katakan apapun yang terjadi, kepada siapapun. Supaya aku tidak usah berusaha menanggkapmu dan memberi hukuman kepadamu yang jauh lebih berat dari hukuman mati.”

Karebet itu pun menyembah di kaki Baginda, dan bahkan kemudian diciuminya kaki itu. Dengan terbata-bata, anak muda itu berkata, “Ampun Baginda. Tiada titah Baginda yang tidak akan hamba lakukan. Apapun yang akan aku jalani, apabila itulah keputusan Baginda, maka pasti akan hamba junjung tinggi.”

Baginda terharu juga melihat anak muda itu. Tetapi kembali Baginda menindas perasaannya. Maka kata Baginda, “Baik. Aku harap kau tidak ingkar. Sekarang pergilah dari Kasatrian. Tidak saja dari Kasatrian, tetapi dari Demak. Jangan dekati lagi istana ini. Sebab besok setiap prajurit akan mendengar, bahwa Karebet diusir dari istana. Dan setiap prajurit akan mengusirmu pula.”

Alangkah pedihnya perintah itu. Tetapi Karebet harus melakukannya. Karena itu sekali lagi ia menyembah dan berkata, “Titah Baginda akan hamba lakukan. Sebab hukuman ini ternyata masih dilimpahi oleh kemurahan hati Baginda.”

Setelah Karebet itu menyembah sekali lagi, maka mulailah ia bergeser mundur. Namun tiba-tiba Prabasemi berkata, “Ampun Baginda. Biarlah aku mengantarkan anak itu sampai di perbatasan.”

Baginda mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Jangan seorangpun tahu apa yang telah terjadi.”

“Tidak Baginda,” sahut Prabasemi. “Hamba sendiri akan mengantarkannya sampai ke perbatasan, malam ini.”

BAGINDA tidak segera menjawab. Bahkan Baginda itu menjadi semakin heran. Kenapa kemarahan Prabasemi itu menjadi sedemikian jauhnya, melampaui kemarahan Baginda sendiri, yang langsung mendapat cela karena putrinya. Tetapi sekali lagi Baginda menyangka bahwa sikap itu hanyalah untuk menunjukkan bahwa ia tidak tersangkut kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh Karebet itu. Karena itu maka berkata Baginda. “Apakah hal itu kau anggap perlu Prabasemi?”

“Hamba Baginda,” jawab Prabasemi. “Sebab apabila tidak demikian, maka anak muda itu akan dapat bersembunyi di rumah kawan-kawannya di dalam kota.”

Baginda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kata Baginda, “Terserahlah kepadamu Prabasemi.”

Kembali Prabasemi tertawa di dalam hati. Dengan menyembah sekali lagi ia berkata, “Ampun Baginda, biarlah hamba berangkat sekarang sebelum fajar.”

“Pergilah,” sahut Baginda.

Kemudian kepada Karebet, Prabasemi berkata, “Ayolah Karebet. Jangan menyesali diri. Hukuman ini masih terlalu ringan bagimu.”

Karebet sama sekali tidak menjawab. Tetapi kemudian mereka bersama-sama meninggalkan bilik Kasatrian itu. Prabasemi berjalan dengan wajah tengadah, dan senyum yang mengulas bibirnya. Sedang Karebet berjalan dengan wajah yang tunduk. Bukan karena ia takut kepada Prabasemi, namun betapa ia menyesali dirinya. Sesaat teringatlah ia akan pamannya, Kebo Kanigara, Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar, dan sahabatnya Arya Salaka. Karena itu, tiba-tiba ia pun tersenyum. Di tempat itu ia akan menemukan ketentraman. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Apakah yang akan dikatakannya kepada pamannya kelak. Apakah pamannya tidak akan marah kepadanya? Dan senyum di bibir Karebet itu seperti tersapu angin malam. Kini kembali ia berjalan sambil menundukkan wajahnya.

Ketika mereka sampai di pintu gerbang, lewat di muka gardu penjaga, maka terdengarlah seorang Nara Manggala bertanya, “Apakah persoalannya sudah selesai Kiai Tumenggung?”

Prabasemi berhenti sejenak. Dengan bangga ia menjawab singkat, “Sudah.”

“Apakah yang terjadi?”

“Tidak apa-apa,” jawab Prabasemi. Namun di luar dugaan Tumenggung itu, Karebet berkata, “Kaki Baginda terkilir.”

Prabasemi mengerutkan keningnya. Dan didengarnya penjaga itu berkata, “Sudah kau katakan sore tadi. Tetapi Baginda itu tidak apa-apa. Baginda berjalan dengan tegap dan cepat.”

“Baginda sudah sembuh setelah aku pijit,” sahut Karebet, “Memanggil Kiai Tumenggung dan bertanya kepadanya apakah Baginda timpang.”

Tumenggung Prabasemi pun menjadi heran. Karebet baru saja mendengar keputusan tentang dirinya. Tetapi tiba-tiba ia sudah dapat berkelakar. Gila benar anak ini. Namun Prabasemi menjadi tidak senang karenanya. Ia ingin Karebet menjadi bersusah hati. Ia ingin Karebet minta ampun kepadanya dan merengek-rengek seperti orang banci.

Karena itu ketika Karebet masih ingin berbicara lagi, maka Tumenggung itu membentak, “Ikut aku!”

Karebet menganggukkan kepalanya. Tanpa berbicara lagi, maka keduanya segera pergi meninggalkan gerbang halaman dalam istana itu.

Sampai di luar gerbang, maka berkatalah Prabasemi dengan angkuhnya, “Karebet, arah manakah yang akan kau pilih?”

Karebet berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Kiai, apakah aku tidak akan singgah dahulu untuk mengambil pakaianku?”

Prabasemi berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Apa sajakah milikmu itu?”

“Pakaian, Kiai.”

“Itu saja?”

“Ya.”

“Biarlah aku tukar dengan uang.”

“Jangan Kiai. Pakaian itu adalah pakaian yang aku terima dari almarhum ayahku. Jangan ditukar dengan apapun.”

Prabasemi yang yakin rencananya akan terjadi itu berkata, “Baiklah, marilah aku antarkan ke pondokmu. Tetapi jangan berbuat gila, supaya lehermu tidak aku penggal malam ini.”

Karebet tidak menyahut. Tetapi mereka berdua segera berjalan ke pondok Karebet. Ketika Karebet masuk ke dalam pondoknya Prabasemi berkata, “Aku ikut. Dan jangan berkata kepada siapapun apa yang akan kau lakukan.”

Karebet tidak dapat menolak. Karena itu dibiarkannya Prabasemi ikut masuk ke dalam pondoknya, namun tidak ke dalam biliknya.

SEBENARNYA Karebet sama sekali tidak sayang pada beberapa lembar pakaiannya. Tetapi yang memaksanya untuk pulang lebih dahulu adalah sebilah pusaka yang dahsyat, Kyai Sangkelat.

Demikianlah setelah Karebet itu menyembunyikan Kyai Sangkelat di bawah bajunya, maka ia pun segera keluar dari biliknya, dengan sebuah bungkusan kecil berisi beberapa lembar pakaian.

“Kau bukan Wira Tamtama lagi. Jangan kau bawa pakaian keprajuritan.”

“Tidak, Kiai,” jawab Karebet. “Pakaianku aku tinggal di sangkutan pada dinding bilikku.”

Tetapi Prabasemi itu tidak percaya. Diperlukannya menengok bilik Karebet. Dan dilihatnya pakaian itu tersangkut di sana.

Namun ketika mereka meninggalkan pondok itu, Karebet berkata, “Aku telah diusir dari Demak. Karena itu aku tidak sempat menyelesaikan persoalan pondokku dengan pemiliknya. Karena itu aku serahkan semua itu kepada Kiai.”

Prabasemi tersenyum. “Itu bukan persoalan sulit. Biarlah itu aku selesaikan.”

Karebet tidak berkata apa-apa lagi. Dan mereka pun kemudian berjalan menelusuri jalan-jalan kota ke selatan. “Aku akan menuju ke arah selatan,” kata Karebet kemudian.

“Baik. Baik. Kemana kau inginkan, biarlah aku menuruti,” jawab Prabasemi sambil tertawa.

Tetapi karena sikap Prabasemi itu, maka Karebet justru menjadi curiga. Sikap itu terlalu ramah. Jauh berbeda dengan sikapnya, pada saat mereka masih berada di Kasatrian. Meskipun demikian Karebet masih tetap berdiam diri. Ia masih saja berjalan dengan kepala tunduk.

Malam semakin lama semakin dalam menjelang fajar. Embun telah mulai menetes dari dedaunan, menitik di rerumputan yang tumbuh liar di tepi jalan. Angin malam yang sejuk lembut bertiup perlahan-lahan mengusap wajah-wajah mereka dengan sejuknya. Namun hati Karebet tidak sesejuk angin malam.

Prabasemi dan Karebet masih saja berjalan dengan langkah yang semakin lama semakin cepat. Seakan-akan mereka takut kesiangan. Dan sebenarnya bahwa malam memang hampir sampai ke akhirnya. Bintang-bintang telah jauh berkisar ke arah barat. Namun di timur belum muncul bintang fajar yang cemerlang.

“Hem,” desis Prabasemi kemudian, “Hampir fajar.”

Karebet tidak menjawab. Tetapi diangkatnya wajahnya dan dipandangnya langit yang kelam. “Masih cukup lama,” katanya di dalam hati. Perjalanan mereka yang cepat itu tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai perbatasan. Segera mereka sampai ke tepi kota. Di hadapan mereka terbentang daerah-daerah persawahan yang tidak begitu luas. Dan di sebelah Barat, tampaklah seleret hutan yang memanjang ke selatan. Meskipun hutan itu tidak terlalu besar, namun di dalamnya bersembunyi juga beberapa jenis binatang liar. Serigala, anjing hutan dan beberapa jenis harimau kecil.

Prabasemi melihat hutan itu pula. Kemudian sekali lagi ia tersenyum. Kemudian katanya kepada Karebet, “Marilah aku antar kau sampai ke hutan itu.”

Mendengar kata-kata Prabasemi itu, Karebet benar-benar menjadi terkejut, sehingga dengan serta merta ia berkata, “Kenapa sampai ke hutan itu?”

“Sampai ke hutan itu, atau melampauinya,” jawab Prabasemi, “Supaya kau selamat dari terkaman binatang-binatang buas.”

“Ah,” desah Karebet. “Tak ada binatang buas yang berbahaya di hutan itu.”

“Biarlah aku mengantarmu untuk yang terakhir kali” sahut Prabasemi sambil tertawa.

Sekali lagi terasa sesuatu berdesir di dalam dada Karebet. Namun ia tidak menjawab. Dibiarkannya Tumenggung Prabasemi itu berjalan di sampingnya.

Sesaat kemudian mereka berdua saling berdiam diri. Prabasemi tenggelam dalam angan-angannya, sedang Karebet mencoba menebak, apakah sebabnya maka Tumenggung Prabasemi membuang-buang waktu untuk mengantarkannya sehingga sampai ke hutan itu.

Namun tiba-tiba Tumenggung itu menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Hem. Karebet. Sekarang akhirnya tahu, kenapa kau pernah menunjukkan layon kembang kepadaku dahulu.”

Karebet mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Sementara itu mereka masih berjalan terus menunju batang-batang padi muda yang tampaknya hijau segar, sesegar udara pagi yang tertiup angin basah dari pegunungan.

“Beberapa hari aku mencoba memecahkan teka-teki itu, Karebet,” kata Prabasemi.

Karebet masih berdiam diri.

“Ternyata kaulah yang telah berhasil lebih dahulu daripadaku.”

KINI Karebet berpaling. Ketika terpandang wajah Tumenggung itu, tiba-tiba bangkitlah kembali muaknya. Tetapi ia masih berdiam diri.

“Sebenarnya aku akan mengucapkan selamat kepadamu seandainya kau berhasil mempersunting bunga dari istana itu.”

“Sudahlah Kiai,” sahut Karebet dengan nada yang rendah.

Tumenggung Prabasemi tertawa. Jawabnya, “Pahit, memang pahit. Bukankah begitu? Seperti hatiku menjadi pahit juga ketika aku melihat layon kembang ditanganmu? Tetapi ketahuilah Karebet, bahwa sebenarnya tidak baru sekarang aku tahu apa yang telah terjadi di Kaputren.”

Kini Karebet mengangkat wajahnya. Ia terkejut mendengar kata-kata itu. Namun dicobanya untuk menyembunyikan perasaan itu.

Tumenggung Prabasemi yang menunggu jawaban Karebet itu menjadi heran. Kenapa Karebet diam saja mendengar pengakuannya itu. Karena itu maka diteruskannya, “Aku telah lama mendengar peristiwa yang memuakkan itu terjadi. Dan aku sedang menunggu kesempatan untuk berbuat seperti sekarang ini.”

Dada Karebet pun menjadi berdebar-debar karenanya. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk berdiam diri. Dibiarkannya Tumenggung itu berkata terus. “Dan sekarang kasempatan itu datang juga.”

“Kesempatan apa Tumenggung?” bertanya Karebet.

“Karebet” berkata Tumenggung itu, “Sejak aku mengetahui hubungan yang kau lakukan dengan Tuanku Putri itu, maka sejak itu aku mengalami kepahitan hidup. Seakan-akan aku menjadi putus asa dan kehilangan gairah untuk menjelang masa-masa depanku. Namun aku tidak kehilangan akal. Aku cari cara yang sebaik-baiknya untuk menyingkirkan kau dari daerah istana.”

Debar dijantung Karebet itu menjadi semakin cepat. Tetapi ia berusaha untuk menguasainya sekuat-kuat tenaganya. Dibiarkannya Tumenggung itu mengatakan apa saja yang tersimpan didalam dadanya. Dan Tumenggung itu berkata terus “Karebet, selama ini aku telah berjuang untuk mengalahkanmu. Aku telah berusaha dengan susah payah untuk menebus kepahitan yang pernah aku alami. Dan sekarang, datanglah giliranku untuk menikmati keindahan wajah putri itu setelah berbulan-bulan aku hampir menjadi gila karenanya”.

Karebet menggigit bibirnya. Ia menunggu Tumenggung itu mengatakan apakah yang telah dilakukannya selama ini. Tetapi Tumenggung itu hanya berkata, “Sekarang kau harus menerima kekalahan itu. Kekalahan mutlak. Karena itu jangan mencoba melawan kehendak Tumenggung Prabasemi.”

Tumenggung itu berhenti berbicara. Dengan tersenyum-senyum ia menengadahkan wajahnya. Sedang Karebet menjadi semakin muak kepadanya.

Sementara itu kaki-kaki mereka terayun terus menuju ke hutan yang semakin lama semakin dekat. Malam masih sedemikian gelapnya dan bintang-bintang masih berhamburan di langit yang pekat. Sekali-kali kelelawar tampak beterbangan merajai langit di malam hari.

Semakin dekat mereka dengan hutan itu, semakin tegang wajah Tumenggung yang masih muda itu. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat berdenyut. Sehingga demikian mereka sampai di tepi hutan itu berkatalah Tumenggung Prabasemi, “Karebet, apakah tidak kau ketahui bahwa di dalam hutan ini terdapat beberapa jenis binatang buas.”

Karebet tidak tahu arah pembicaraan Tumenggung Prabasemi, sehingga ia menjawab. “Ya Tumenggung, aku tahu”.

“Tetapi Karebet,” berkata Tumenggung itu. “Sebuas-buasnya binatang yang tinggal di dalam hutan ini, bagiku tidak ada yang berbahaya sama sekali”.

Karebet semakin tidak tahu maksud orang itu. Dan yang kemudian didengarnya adalah benar-benar menggelegar ditelinganya seakan-akan memecahkan selaput telinga itu. Berkata Tumenggung Prabasemi. “Sebuas-buasnya binatang di dalam hutan kecil ini Karebet, bagiku kau akan jauh lebih berbahaya lagi daripada mereka itu”.

Terasa jantung Karebet berdentang keras-keras. Kata-kata itu hampir tak dipercayanya. Namun Tumenggung itu berkata terus. “Bagiku Karebet, meskipun kau telah diusir dari istana dan bahkan dari Demak, namun selagi kau telah diusir dari istana kesempatanmu untuk kembali ke istana masih selalu terbuka. Nah, ketahuilah bahwa maksudku kali ini, adalah melenyapkan kesempatan itu sama sekali. Kau dengar?”

Jantung Karebet tiba-tiba terguncang keras sekali. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa itulah yang dikehendaki oleh Tumenggung Prabasemi itu. Karena itu maka tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar.

Dan masih didengarnya Tumenggung itu berkata, “Karebet, kau adalah orang satu-satunya yang telah mengetahui rahasia perasaanku di- samping seorang emban yang telah aku suap untuk memata-matai putri. Dari emban itu pula aku mengetahui segala-galanya, dan pasti emban itu pula yang telah melaporkan hubunganmu dengan putri itu kepada Baginda”. 

TUBUH Karebet benar-benar menggigil. Sedang Tumenggung Prabasemi masih berkata, “Selama kau masih hidup Karebet, maka perubahan keadaan akan memungkinkan kau untuk kembali ke istana, dan memungkinkan kau berceritera tentang aku. Karena itu, malang benar nasibmu, bahwa aku diperbolehkan mengantarmu sampai ke luar kota. Agaknya betapa besar dosamu, namun Baginda masih juga sayang kepada nyawamu. Sehingga kau masih akan diberi kesempatan untuk pergi ke Bergota. Tetapi dengan demikian Karebet, aku benar-benar tak akan mendapat kesempatan seperti ini. Tetapi sekarang kau bukan apa-apa lagi. Kalau kau mati di sini dan mayatmu dimakan oleh serigala, maka Baginda tidak akan bertanya tentang kau. Kau dengar?”

Wajah Karebet tiba-tiba menjadi merah menyala. Namun terdengar suaranya gemetar. “Tetapi apakah dengan demikian Kiai Tumenggung tidak melanggar perintah Baginda?”

“Melanggar atau tidak melanggar, tak seorangpun yang akan mengetahuinya.”

“Tetapi apakah Kiai Tumenggung berhak berbuat demikian? Baginda telah memutuskan, bahwa aku dibebaskan dari hukuman mati. Aku hanya diusir dari Demak. Kenapa Tumenggung akan berbuat melampaui putusan Baginda?”

Tumenggung Prabasemi tertawa. Ia menjadi sedemikian senangnya melihat Karebet gemetar. Karena itu katanya, “Karena itu. Karebet. Kau jangan terlalu berani menghina Tumenggung Prabasemi. Aku tidak peduli keputusan yang telah dijatuhkan oleh Baginda. Aku akan berbuat dalam tanggungjawabku. Dan Baginda tidak akan mengetahui, apa yang telah aku lakukan.”

“Tetapi lambat laun Baginda akan mendengarnya juga. Malam ini aku pergi bersama Kiai Tumenggung. Kalau kemudian aku mati, maka sudah pasti Kiai yang membunuhnya.”

“Tak seorang pun akan menemukan mayatmu. Mayatmu besok sebelum fajar sudah akan habis menjadi makanan serigala. Dan kalau kau tidak nampak lagi, maka semua orang pasti hanya menyangka bahwa kau benar-benar sedang menjalani hukuman itu.” Karebet kini tidak dapat berkaka apapun lagi. Tetapi tubuhnya benar-benar gemetar seperti kedinginan. Bahkan kadang-kadang terdengar giginya gemeretak.

Sedangkan Tumenggung Prabasemi masih juga tertawa dan berkata, “Jangan menyesal saat ini. Semuanya telah terlambat. Aku telah sampai pada suatu keputusan, melenyapkan kau. Tak ada suatu masalah pun yang mengubah rencanaku itu. Meskipun demikian aku bukan seorang yang kejam. Karena itu aku beri kesempatan kau memilih cara yang kau kehendaki menjelang kematianmu itu. Ketahuilah Karebet. Aku akan dapat membunuhmu dengan sekali pukul pada tengkukmu, dadamu atau punggungmu. Nah, sekarang katakanlah, manakah yang harus aku pukul supaya kau…”

“Diam!” Tiba-tiba Karebet yang gemetar itu membentak lantang.

Tumenggung Prabasemi terkejut sehingga kata-katanya terputus. Kini ia tidak tertawa lagi.

Ditatapnya tubuh Karebet yang gemetar. Namun ternyata Tumenggung itu salah sangka. Karebet sama sekali tidak gemetar karena ketakutan, tetapi anak muda itu gemetar karena kemarahannya yang telah menjalari seluruh urat darahnya. Sedemikian marahnya anak muda itu, sehingga justru mulutnya jadi terbungkam. Yang berkata kemudian adalah Tumenggung Prabasemi, “Karebet, apakah kau sudah menjadi gila, sehingga kau berani membentak aku? Jangan berbuat sesuatu yang akan mencelakakan dirimu. Cara untuk membunuh seseorang ada beberapa macam. Jangan memilih yang paling mengerikan yang dapat aku lakukan.”

Dada Karebet seakan-akan terguncang-guncang mendengar kata-kata Tumenggung Prabasemi itu. Hampir-hampir saja ia tidak dapat menahan kemarahannya. Namun tiba-tiba ia menyadari kebebasannya. Kebebasan seperti yang pernah dimilikinya sebelum ia menjadi seorang prajurit Wira Tamtama. Karena itu, tiba-tiba ia merasa bahwa tidak ada suatu apapun yang mengikatnya. Tak ada ikatan hubungan apapun lagi antara dirinya dengan Tumenggung itu, bahkan antara dirinya dengan tatacara Keprajuritan.

Karena itu ketika ia melihat kepuasan yang membayang di wajah Tumenggung Prabasemi, anak muda itu menjadi geli. Lenyaplah segala kemarahannya, dan bahkan kini seakan-akan anak muda itu diberi kesempatan untuk bermain. Karena itu tiba-tiba ia tersenyum, senyum yang aneh

“Tidak Prabasemi, aku tidak menyangka engkau sedang bermain-main,” jawab Karebet.

“He, apa katamu?, kau hanya njangkar saja menyebut namaku?”

Karebet itu kini tidak hanya sekedar tersenyum. Penyakitnya benar-benar telah kambuh. Karena itu ia tertawa tergelak-gelak, sehingga Tumenggung Prabasemi menjadi sedemikian herannya. 

“Apakah anak ini menjadi gila karena ketakutan?,” katanya didalam hati. Namun ternyata jawaban Karebet meyakinkannya bahwa anak itu tidak gila.

“Prabasemi. Aku kini telah menjalani hukumanku. Karena itu aku bukan Wira Tamtama lagi. Sekarang aku bukan lagi berada dibawah pimpinanmu, sehingga antara Karebet dan Prabasemi tidak ada lagi tataran yang mengharuskan aku menghormatimu. Kalau kau sebut namaku begitu saja, maka akupun berhak memanggilmu tanpa sebutan apapun. Prabasemi, begitu saja. Ya Prabasemi. Prabasemi, kau dengar ?”

“Setan,” geram Prabasemi. Kini ia tidak saja dipenuhi dendam didadanya, tetapi kemarahannyapun telah melonjak ke ubun-ubun. Dengan parau ia berkata, “He Karebet, apakah kau sudah gila. Sudah kukatakan kepadamu, bahwa aku memberi kesempatan kepadamu untuk memilih cara yang sebaik-baiknya untuk mati. Sekarang kau menumbuhkan kemarahanku, sehingga kesempatan itu aku cabut kembali. Sekarang dengarlah, aku akan membunuhmu seperti saat aku membunuh Bahu dari Tunggul. Kau ingat? jangan melawan, supaya aku tidak menjadi marah.”

Betapapun juga, bulu roma Karebet meremang. Prabasemi pernah membunuh Bahu dari Tunggul dengan cara mengerikan karena Bahu melawan perintahnya. Dianggapnya Bahu memberontak terhadap Demak. Karena itu, maka orang itu dipergunakannya sebagai contoh bagi mereka yang memberontak terhadap raja. Dibunuhnya Bahu dengan cara yang mengerikan. Digores-goreskannya kulit Bahu dengan duri setelah diikat pada sebatang pohon. Dan dibiarkannya mati sehari setelah itu.

Prabasemi melihat perubahan di wajah Karebet. karena itu timbul kegembiraannya. Katanya, “Aku dapat berbuat lebih daripada itu Karebet. Dan jangan sekali-kali mencoba mengandalkan kemudaanmu. Aku memang kagum melihat kau bertempur dalam setiap pertempuran, namun pertempuran yang kau alami adalah pertempuran kecil tak berarti. Karena itu jangan berbangga hati karenanya. Tapi kau sekarang berhadapan dengan Tumenggung Prabasemi. Ya Tumenggung Prabasemi. Ingatlah bahwa Prabsemi adalah seorang yang ditakuti.”

“Tutup mulutmu!,” bentak Prabasemi yang kembali kemarahannya memuncak. Kini ia benar-benar telah kehilangan kesabaran. Setapak ia melangkah maju sambil menggeram, “Kau benar-benar sedang sekarat. Kini sebutlah nama ibu dan bapakmu sebelum ajalmu tiba.”

“Bapak ibuku telah mendahului aku. Kalau aku sebut namanya, ia tidak akan dapat bangkit dari kuburnya.”

“Gila!,” teriak Prabasemi. “Mampus kau anak gila.”

Prabasemi itu menconcat dengan garangnya menyerang Karebet langsung mengarah kedadanya. Prabasemi benar-benar ingin melumpuhkan anak muda itu sebelum membunuhnya. Karebet benar-benar akan dibunuhnya dengan cara yang pernah dilakukannya itu.

Tetapi Karebet ternyata dapat bergerak dengan lincahnya. Dengan sekali menggeliat ia telah berhasil membebaskan dirinya dari serangan Prabasemi. Bahkan ia sempat berkata, “Kiai Tumenggung, bukankah pernah memberi aku nasehat, sebagai seorang Wira Tamtama seharusnya pantang menyerah. Sekali ia maju bertempur, maka ia akan maju terus. Hanya kematianlah yang dapat menghentikan gerak maju itu. Nah bukankah kini aku sedang memenuhi nasehat Ki Tumenggung itu untuk melawan Prabasemi.”

“Tutup mulutmu, atau aku harus menyobeknya.”

“Terserahlah, bukankah kita telah bertempur. Sobeklah kalau kau ingin.”

“Anak Setan,” geram Prabasemi.

Sebuah tendangan mendatar mengarah ke lambung kiri Karebet. Namun sekali ini Karebet cukup cekatan untuk menghindarinya. Sifat-sifatnya yang aneh kini telah menguasai otaknya, sehingga betapapun ia terkejut mengalami serangan yang sedemikian cepatnya, namun sempat juga ia berkata, “Prabasemi, kita bertempur untuk satu taruhan yang ternilai harganya. Kalau aku mati, kau akan menjadi menantu Sultan Trenggana. Sedangkan kalau kau yang mati, maka aku akan mendapatkan dua kesempatan. Menggantikan kau sebagai Tumenggung dan mendapatkan puteri yang cantik itu. Bukankah begitu? Tetapi bagaimanapun juga Prabasemi, ternyata kau gila juga seperti aku. Ingatlah apabila puteri itu kelak menjadi isterimu dan kau diangkat menjadi adipati, kesempatan yang pertama menerima hati puteri itu adalah aku, Karebet, anak gembala yang dipungut Sultan Trenggana dari tepi belumbang Mesjid Demak.”

“Tutup mulutmu,” Prabasemi berteriak keras keras. Dan suaranya bergemna bersahut-sahutan didalam rimba itu. Meskipun demikian, Tumenggung yang garang itu terkejut bukan kepalang. Ternyata Wira Tamtama yang masih muda ini benar-benar tangkas. Sehingga ia mampu mengelakserangannya sampai dua kali tanpa tersentuh sama sekali. Karena itu kemarahan Tumenggung semakin menyala-nyala seakan membakar dadanya. Dengan gigi gemeretak, sekali lagi dikerahkannya tenaganya untuk menyerang lawannya. Sedemikian dahsyatnya, seperti burung Rajawali yang menyambar mangsanya.

Karebet mengerutkan keningnya. Serangan ini benar-benar berbahaya sehingga dengan demikian maka ia tidak dapat lagi tertawa-tawa. Kini dipusatkannya perhatiannya kepada perkelahian itu. Sekali terbersit juga kekagumannya atas lawannya yang mampu bergerak sedemikian cepatnya. namun Karebet mampu mengimbanginya. Sambaran burung Rajawali dapat dielakkannya, bahkan kini serangannyapun datang seperti badai diudara.

Demikianlah pertempuran itu menjadi sangat serunya. karena itu daerah sekitar perkelahian seakan akan timbul angin pusaran. daun-daun bergerak berputaran dan daun-daun kering berguguran ditanah. Ranting ranting yang tersambar tangan mereka berderak-derak patah berserakan. Tanah sekitar mereka seakan telah dibajak, dan tumbuhan perdu dan batang-batang kecil telah roboh terinjak kaki mereka.

Perkelahianpun semakin lama menjadi semakin seru. Masing-masing menjadi kagum akan keprigelan lawannya. Lebih-lebih Prabasemi. Ia pernah mendengar kelebihan Karenet dari kawan-kawannya, namun tidak disangkanya anak itu mampu melawannya. Karena itu maka Tumenggung benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Yang ada diotaknya adalah membunuh.

Karebet harus dibunuh dengan cara apapun.

Sedang Karebetpun sebenarnya mengagumi ketangkasan Prabasemi. Tumenggung yang masih agak lebih tua daripadanya namun ketangkasannya telah sedemikian tinggi sehingga karena itulah maka sepantasnya bahwa Prabasemi cepat menanjak ketempatnya sekarang.

Namun sayang, Tumenggung sakti ini mempunyai sifat kejam. Terlalu bernafsukan harga diri dan kebanggaan atas prestasi yang pernah dicapainya. Apalagi kini ia semakin gila lagi dengan harapan yang tumbuh didalam dirinya tentang puteri Sultan Trenggana.

Tetapi kemudian Karebetpun berkata didalam hatinya, “Apakah aku juga tidak gila seperti Tumenggung itu?”

Karebet tersenyum.

Tetapi tiba-tiba senyumnya lenyap seperti awan disapu angin ketika serangan Prabasemi hampir mematahkan lengannya. Sebuah pukulan gebangan yang dahsyat mengarah kepergelangannya.

Untunglah cepat ia menyadari keadaannya sehingga ia masih sempat menarik tangannya itu bahkan ia masih mampu berputar diatas tumitnya dan dengan tumit yang lain menyambar perut Prabasemi.

Tetapi Prabasemi tidak membiarkan perutnya menjadi sakit. Cepat ia menggeliat, dan kaki Karebet lewat beberapa jari dari perutnya yang buncit.

Perkelahian itu berjalan semakin sengit. Prabasemi benar-benar sudah sampai puncak kemarahannya dan Karebetpun melayani dengan sepenuh tenaga.

Tetapi kemudian ternyata bahwa keadaan mereka agak berbeda.

Prabasemi adalah seorang Tumenggung yang menjadi sakti karena ketekunannya berlatih. Kedahsyatannya tumbuh didalam ruang latihan dalam keadaan yang cukup baik. Namun Karebet adalah seorang yang aneh. Ia tidak pernah berlatih secara teratur, namun ia tidak kalah tekunnya dari Prabasemi. Tubuhnya seakan ditempa sekitarnya. Panas dingin dan segala macam pekerjaan yang harus dilakukannya. Berkelahi dengan penjahat dan berjuang melindungi kawan gembala dari segala sergapan para pencuri ternak. Pengalaman yang diperolehnya di Karang Tumaritis bersama pamannya dan kemudian Arya Salaka, disamping Endang Widuri. Semuanya itu telah menempa tubuh Karebet menjadi sekeras tembaga, tulangnya sekeras besi dan ototnya seliat jalur baja.

Itulah sebabnya semakinlama pertempuran itu menjadi semakin nyata, bahwa tidak saja kelincahan dan kecepatan bergerak, namun ketahanan jasmaninyapun Prabasemi tidak dapat menyamai Karebet.

Prabasemipun akhirnya merasakan keadaan itu. Karebet, betapapun jantungnya bergejolak dengan dahsyat. Kemarahannya yang telah memuncak itu benar-benar telah membakar darahnya sehingga seakan-akan mendidih.

Telah dikerahkan segenap tenaga dan kecepatannya untuk mengalahkan lawannya, namun Karebet ternyata memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Prabasemi menggeram. Ia kini benar-benar menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Karena itu setelah ia yakin bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan lawannya, maka tidak ada jalan lain kecuali menyelesaikan perkelahian itu dengan ilmunya yang terakhir. Sebenarnya malu juga Tumenggung melawan anak-anak yang selama ini menjadi reh-rehannya, masih harus menggunakan ilmu simpanan yang jarang-jarang sekali dipergunakannya. Namun ia tidak mempunyai jalan lain kecuali mengeluarkan ilmu Aji Sapu Angin. Sebenarnyalah apabila ilmu itu dipergunakannya, maka gerak Prabasemi benar-benar seperti menghalau angin.

Demikianlah ketika tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan untuk menebus kepahitan yang telah ditimbulkan oleh Karebet, maka secepat kilat ditrapkannya ilmu gerak itu. Dijulurkannya kedua tangannya kedepan kemudian dengan gerakan menyentak, kedua lututnya ditarik serta ditekuknya. Kedua tangannya mengepal dan menelentang dilambungnya. Itulah pertanda gerakan pertama dari Aji Sapu Angin.

Karebet terkejut melihat sikap itu. Tetapi ia segera menyadari bahwa lawannya pasti mempergunakan ilmu tertingginya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama melawan Prabasemi, sedang tenaganya seakan tidak berkurang, tahulah Karebet sampai dimana tingkat ilmu Tumenggung itu. Betapapun ia kagum akan kecepatan bergerak serta tenaganya, namun ternyata masih belum dapat menyamainya. Karena itu, ketika ia melihat Tumenggung Prabasemi mempergunakan ajinya, maka Karebet tidak perlu tergesa-gesa mempergunakan aji Rog-Rog Asem. Yang kini dipergunakannya adalah ilmu pertahanannya yang sudah jarang dimiliki orang. Lembu Sekilan. Bahkan dalam pada itu, masih sempat juga Karebet berkata, “Ait apakah kira-kira yang akan kau lakukan Prabasemi? Agaknya kau telah terpaksa menggunakan aji pamungkasmu?.”

“Mampus kau,” bentak Prabasemi dengan marahnya. Tubuhnya melontar seperti tatit menyambar Karebet.

Karebet terkejut melihat gerak itu, karena terlalu cepat baginya. Itulah Aji Sapu Angin sehingga kali ini Karebet benar benar tak mampu menghindari. Karena itulah maka serangan Prabasemi kali ini tepat mengenai dada kiri Karebet. Sambaran tangan Prabasemi yang dilambari ilmu gerak itu benar-benar terasa menghentak tulang iga, sehingga karena itulah maka Karebet terdorong beberapa langkah.

Ketika Prabasemi merasakan bahwa serangannya mengenai korban, maka ia berteriak, “Tataplah langit, peluklah bumi, Karebet. Jangan rindukan lagi matahari esok pagi.”

Tetapi alangkah terkejutnya Tumenggung ketika ia melihat Karebet terlempar beberapa langkah surut, terbanting ditanah dan bergulingan beberapa kali. Namun kemudian dengan tangkas melenting berdiri diatas kedua kakinya yang meregang. Sesekali ia menyeringai kesakitan namun kemudian terdengar tertawa lirih. “Hem, alangkah dahsyatnya ilmumu Prabasemi, apa namanya?.”

Prabasemi menggigil karena marahnya. Betapa ia melihat Karebet masih tegak dengan mulut tertawa.

“Anak setan, gendruwo, tetekan,” Tumenggung itu mengumpat tak habis-habisnya.

Karebet masih berada ditempatnya. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata, “Alangkah dahsyatnya ilmumu itu. Kalau tidak, maka ia tidak akan mampu menembus Aji Lembu Sekilan.”

“Lembu Sekilan?,” tanpa sadar Prabasemi mengulangi kata-kata itu. Hampir-hampir ia tidak percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Sentuhan ajinya yang selama ini dibanggakan, ternyata tidak mampu menembus pertahanan Lembu Sekilan. Ajinya hanya mampu mendorong Karebet jatuh, namun anak itu tetap segar. Bahkan masih tertawa lirih memandanginya dengan tenangnya.

Karebet masih berdiri ditempatnya. Ketika ia melihat Tumenggung itu menjadi tegang, ia mengejek, “apakah kau sudah siap dengan cara yang sama seperti kau membunuh Bahu dari Tunggul?.”

Prabasemi memggeram, hatinya panas mendengar ejekan itu. Dengan suara gemetar ia menjawab, “aku akan melakukannya lebih daripada itu!.”

“Bagaimana kalau sebaliknya?,” balas Karebet.

Dada Prabasemi hampir meledak karenanya. Karena itu maka sekali lagi ia tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Dengan cepat ia meloncat melontarkan pukulan kewajah Karebet.

Kali inipun Karebet kalah cepat dari Sapu Angin, sekali lagi ia terdorong surut beberapa langkah meskipun tidak sampai terbanting jatuh. Meskipun demikian wajahnya terasa panas dan kepalanya sedikit pening. Karena itu ia mengumpat dalam hatinya, “Gila juga Aji orang ini.”

Namun Prabasemi ternyata tidak memberinya kesempatan. Sekali lagi ia meloncat, dan serangannya kini mengarah ke perut Karebet.

Karebet yang percaya benar kepada aji Lembu Sekilannya segera memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu. Kali ini Karebet benar benar telah dapat menguasai keseimbangan antara kekuatan lawannya dan kemampuan Ajinya. Akibatnya sekalipun serangan Prabasemi membenturnya namun Karebet tidak lagi terdorong karenanya. Bahkan kemudian anak muda aneh itu melawan sejadi-jadinya. Dikerahkannya segenap kemampuan yang setinggi-tingginya. Namun ia sama sekali belum mempergunakan Aji Rog-Rog Asemnya.

Meskipun demikian ternyata Karebet tidak segera dapat dikuasai lawannya. Meskipun serangan-serangan Karebet tidak begitu berbahaya dalam benturan dengan ajian lawannya, namun karena Lembu Sekilan, maka Karebet tidak merasakan bahwa lawan telah mencurahkan segenap kemampuan yang ada padanya, bahkan sudah sampai pada tahap ilmu yang terakhir.

Prabasemi semakin lama semakin cemas dan bingung. Benar-benar tak disangka-sangkanya bahwa Karebet memiliki kemampuan sedemikian tingginya. Semula disangkanya bahwa lurah Wira Tamtama muda ini tidak lebih jauh terpaut dari kawan-kawannya. Tetapi Karebet benar-benar seperti anak setan.

Karebetpun semakin lama semakin menyadari akan kemampuannya. Betapapun Prabasemi mengerahkan Aji Sapu Angin, namun Lembu Sekilan masih mampu mengatasinya sehingga dengan demikian maka seakan-akan Prabasemi sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melawan. Meskipun ajinya juga mampu mengurangi tekanan tangan Karebet yang menyentuh tubuhnya, namun sebenarnya terasa oleh Prabasemi, bahwa Karebet telah mampu melampauinya.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ia tidak dapat menarik lagi ucapannya. Ia sudah berkata bahwa ia akan membunuh Karebet itu. Maksud itu tak akan diurungkan. Dan anak muda itupun berkata bahwa mereka berkelahi untuk satu taruhan.

Karena itu, maka tidak ada satupun jalan untuk menghindarkan diri dari perkelahian itu. Dan terbayanglah diwajah Tumenggung, bahwa saat-saat terakhirnya telah tiba. Ia sama sekali tidak akan dapat membunuh Karebet, tetapi justru Karebet yang mampu membunuhnya.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

About these ads

7 Komentar

  1. pur said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 14:25

    panjang jg y cerita y

  2. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 14:32

    bisa tambah pengalaman

  3. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 15:34

    jd hobiy baca baca nih

  4. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 15:38

    ada hiburan jga

  5. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 15:45

    cerita kerajaan nih

  6. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 15:50

    sejarah itu membawa ilmu

  7. yayang said,

    Kamis, 10 Maret 2011 at 15:51

    sejarah itu membawa ilmu pengetahuan


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: