Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 21 Tamat

Lanjutan dari jilid 20

MESKIPUN demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat-saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.

Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 20

Lanjutan dari jilid 19

PRABASEMI bukanlah seorang penakut. Ia adalah seorang Tumenggung Wira Tamtama, yang sudah berpuluh kali berjuang melawan maut. Telah berpuluh kali ia membunuh lawannya, dan bahwa suatu ketika salah seorang lawannya akan membunuhnya, benar-benar sudah diramalkannya. Karena itu, apabila ia kali ini mati Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 19

Lanjutan dari jilid 18

JAKA Soka masih tersenyum sambil menggerakkan pedangnya. Jawabnya “Aku berkata sebenarnya Mahesa Jenar, alangkah indahnya wajah yang bulat ini. Apalagi kau Wilis sedang bersungut-sungut. Benar-benar gila aku dibuatnya.”
Kata-kata itu benar-benar mempengaruhi perasaan Rara Wilis. Kemarahan, Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 18

Lanjutan dari jilid 17

KAREBET pun kemudian mengambil jalan lain untuk langsung pergi ke Banyubiru. Daerah yang tidak terlalu dekat. Namun berjalan kaki bagi Karebet adalah pekerjaannya sehari-hari.

Kebo Kanigara berhenti sejenak melihat langkah kemenakannya itu.
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 17

Lanjutan dari jilid 16

MAHESA JENAR menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian berkatalah Paningron, “Ada dua masalah yang akan aku katakan. Sengaja aku simpan sampai aku berhadapan dengan Kakang Mahesa Jenar. Hal ini Kakang Gajah Sora sendiri pun belum mengetahuinya.”
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 16

Lanjutan dari jilid 15

KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.