Tanah Warisan | Jilid 4

Lanjutan dari jilid 3

Sementara itu Bramanti telah kembali duduk di bawah pohon sawo. Tangannya masih juga menggenggam rautan bambu. Tetapi matanya tidak menatap kepekerjaannya. Di pandanginya bayang-bayang dedaunan yang disiram oleh sinar matahari di atas tanah yang kering. Bergerak-gerak oleh angin yang lemah.
Baca entri selengkapnya »

Tanah Warisan | Jilid 3

Lanjutan dari jilid 2

Dengan demikian, maka sejak peristiwa itu Ratri jarang sekali keluar dari rumahnya, apalagi dari halaman. Ia selalu berada di dalam biliknya, atau berjalan-jalan di ruang dalam. Hanya kadang-kadang sekali ia turun ke halaman apabila ia telah menjadi rindu sekali menghirup cahaya matahari yang cerah.
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 21 Tamat

Lanjutan dari jilid 20

MESKIPUN demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat-saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.

Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 20

Lanjutan dari jilid 19

PRABASEMI bukanlah seorang penakut. Ia adalah seorang Tumenggung Wira Tamtama, yang sudah berpuluh kali berjuang melawan maut. Telah berpuluh kali ia membunuh lawannya, dan bahwa suatu ketika salah seorang lawannya akan membunuhnya, benar-benar sudah diramalkannya. Karena itu, apabila ia kali ini mati Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 19

Lanjutan dari jilid 18

JAKA Soka masih tersenyum sambil menggerakkan pedangnya. Jawabnya “Aku berkata sebenarnya Mahesa Jenar, alangkah indahnya wajah yang bulat ini. Apalagi kau Wilis sedang bersungut-sungut. Benar-benar gila aku dibuatnya.”
Kata-kata itu benar-benar mempengaruhi perasaan Rara Wilis. Kemarahan, Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 18

Lanjutan dari jilid 17

KAREBET pun kemudian mengambil jalan lain untuk langsung pergi ke Banyubiru. Daerah yang tidak terlalu dekat. Namun berjalan kaki bagi Karebet adalah pekerjaannya sehari-hari.

Kebo Kanigara berhenti sejenak melihat langkah kemenakannya itu.
Baca entri selengkapnya »

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.