Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 17

Lanjutan dari jilid 16

MAHESA JENAR menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian berkatalah Paningron, “Ada dua masalah yang akan aku katakan. Sengaja aku simpan sampai aku berhadapan dengan Kakang Mahesa Jenar. Hal ini Kakang Gajah Sora sendiri pun belum mengetahuinya.”
Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 16

Lanjutan dari jilid 15

KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 15

Lanjutan dari jilid 14

WANAMERTA kembali melanjutkan kata-katanya, “Kau agaknya telah terjerumus ke dalam kekuasaan nafsu duniawi. Tetapi kau tak akan pernah merasa bahagia karenanya. Bahagia yang abadi. Kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pengabdian kepada titah yang dikasihi-Nya, manusia. Dengan demikian hidupmu Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 14

Lanjutan dari jilid 13

SEBAGAI orang yang jauh lebih tua, Wulungan kadang-kadang merasa sangat terhina oleh pokal anak muda itu. Namun ia tidak dapat berbuat sesuatu, sebab Sawung Sariti adalah putra Ki Ageng Lembu Sora, putra seorang yang memberinya kedudukan dan pangkat. Demikian juga kali ini. Ia tidak dapat berkata apapun, Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 13

Lanjutan dari jilid 12

HANYA dalam waktu kira-kira lima tahun saja, sejak pertemuan mereka di Rawa Pening, kemampuan Mahesa Jenar telah sedemikian jauh menanjak. Pada saat itu, Mahesa Jenar berlima, melawan Pasingsingan dan Sima Rodra tua berdua, seolah-olah merupakan lima ekor tikus sakit-sakitan melawan dua ekor kuncing yang Baca entri selengkapnya »

Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 12

Lanjutan dari jilid 11

PEREMPUAN itu masih berdiam diri, berdiri seperti patung. Namun dengan demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat memandangnya lebih jelas. Dari sinar matanya, mereka dapat menduga bahwa karena sesuatu penderitaan, orang itu agaknya menjadi agak terganggu kesadarannya. Meskipun tidak begitu berat.
Baca entri selengkapnya »

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.