Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 5

Lanjutan dari jilid 4

ORANG itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena putus asa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Matanya berubah menjadi liar dan mencari tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos untuk melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah sengaja mengepungnya rapat-rapat.

Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan suara yang parau ia berteriak, Minggir, atau aku terpaksa membunuh kalian.

Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya surut ke belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang Banyubiru bukanlah sebangsa penakut. Kalau mereka mundur hanyalah supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat. Apalagi Mahesa Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.

Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya, kata Mahesa Jenar sambil tersenyum.

Diam…! teriak orang itu semakin putus asa. Pergi kau, atau biarkan aku pergi.

Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus. Melihat orang itu mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak pula. Mereka masih belum tahu sampai di mana kemampuan bertindak Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru merasa perlu untuk melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri di tempatnya.

Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman. Mereka ternyata Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Ketika mereka mendengar ribut-ribut di luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya Salaka telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya.

Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika mereka melihat kepala daerah mereka datang. Melihat orang-orang berdatangan, orang yang mencurigakan itu menjadi semakin pucat, dan semakin kebingungan.

Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat orang itu, matanya menjadi merah menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira bahwa Lembu Sora secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat menikam perut orang itu.

Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora? katanya.

Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat mencegahnya.
Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya memegang perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas jatuh. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, sedang wajahnya memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak terhingga. Ia memandangi Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari sela-sela jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang menjadi putih itu bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan tak bernafas lagi.

Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa orang yang menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu. Mereka semua sudah mengenal bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang yang belum jelas kesalahannya.

Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang senang atas tindakan Lembu Sora.

Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora.

Maafkan aku Kakang…. jawab Lembu Sora. Aku terlalu tidak dapat menahan hati terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk.

Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang untuk mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang lain supaya mencari keluarganya, apabila mungkin.

Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama.

Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu tertarik ke bawah bagian-bagian tepinya, menunjukkan bahwa ia benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan sekaligus seperti tak terjadi apa-apa.

Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan yang kasar sekali. Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu alasan untuk membunuh. Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada sebab-sebab lain…?

Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang biasanya. Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya, bisiknya kepada Mahesa Jenar.

Sudahlah, Arya… lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah aku melihat kau berkelahi. Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi sudah terbentur dinding, jawabnya.

Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan orang itu, Paman, katanya. Kelakuannya nampak aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan kepada siapapun.
Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya? tanya Mahesa Jenar.
Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal semua orang di kota ini, jawabnya.

MAHESA JENAR merenung sejenak. Lalu katanya, Sudahlah, lupakan itu. Marilah kita sekarang berjalan-jalan. Barangkali kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah aku lihat.

Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali ini ia pergi bersama Arya Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.
Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa, kata Arya Salaka.
Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya, jawab Mahesa Jenar.
Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di sana bantah Arya Salaka.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak mempunyai tujuan. Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar adalah sama saja.

Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat melihat hampir seluruh dataran. Tanah-tanah yang subur dengan padinya tampak seperti permadani kuning yang dibentangkan di bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerak-gerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.

Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu? tanya Mahesa Jenar kepada Arya Salaka.
Yang mana Paman? tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam pandangan matanya.
Di sebelah selatan rawa itu, jawab Mahesa Jenar.
Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula.

Ya…, aku melihatnya, Paman, katanya.
Kau tahu, apakah itu kira-kira? tanya Mahesa Jenar.
Arya mengerinyitkan alisnya. Entahlah, jawabnya.
Itu adalah orang-orang berkuda, kata Mahesa Jenar.
Orang-orang berkuda? tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik. Di sini memang sering ada orang-orang berkuda. Tetapi yang bergerombol demikian adalah jarang sekali. Berapa orang kira-kira mereka, Paman?

Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, Ya, antara sepuluh orang.
Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya. Maka berkatalah ia, Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka itu.

Mahesa Jenar tersenyum. Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?

Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana, Arya menjelaskan maksudnya.

Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja menghambur lari menuruni tebing.

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Memang sebenarnya ia pun tertarik pada rombongan orang-orang berkuda yang datang dari arah timur itu.

Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya, ia melihat Arya sudah menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya menyerahkan kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.

Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman, kata Arya sambil meloncat ke atas punggung kudanya. Kemudian tanpa menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu kudanya. Mahesa Jenar segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, Memang anak ini nakal sekali.

Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan perbukitan, dan segera mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening.

Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung di terik matahari. Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di belakang menghapus wajahnya, yang rasanya bertambah tebal oleh debu yang melekat.
Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan mereka debu yang berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat kudanya sampai Mahesa Jenar berjalan di sampingnya.
Itukah mereka Paman? tanya Arya Salaka.
Ya, itulah mereka, jawab Mahesa Jenar.
Lalu apa yang akan kami lakukan? tanya Arya lagi.

Terserahlah kepadamu, jawab Mahesa Jenar tersenyum. Bukankah aku hanya mengikutimu?

Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah yang mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya hanyalah suatu keinginan untuk mengetahui semata-mata. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi bingung mendengar jawaban Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, Arya, lain kali pikirkan dahulu sebelum kau bertindak, supaya kau tidak mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang aku kau bawa ke dalam suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam hati. Tetapi ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera ia berkata hampir berteriak Paman, jangan Paman mengganggu. Aku sudah kebingungan.

Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga kembali Arya bertanya, Aku akan tidak berbuat lagi Paman. Tetapi bagaimana sekarang?

Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka katanya, Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau kita berjalan berpapasan? Apa halangannya?

Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi geli sendiri. Katanya dalam hati, Ya kenapa aku bingung. Bukankah benar kata Paman Mahesa Jenar itu…?

AKHIRNYA Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya sendiri otaknya yang tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa Jenar. Dengan berpapasan saja sudah dapatlah kiranya didapat kesan mengenai orang-orang berkuda itu.
Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar masih selalu cemas atas tindakan-tindakan Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan itu.

Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal, jangan berbuat sebelum kau ketahui beberapa hal lebih dahulu. Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita berjalan biasa saja dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka, supaya mereka tidak bercuriga, kata Mahesa Jenar memperingatkan Arya.

Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab, Aku sudah berjanji Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.

Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar kemudian mereka telah bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka pada umumnya bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan.

Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama mengawasi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian sehingga mereka biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap bapaknya.

Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa Jenar. Orang-orang itu pastilah mempunyai maksud yang tidak baik. Kedatangan mereka di daerah Perdikan Banyubiru dengan senjata lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu rahasia, namun tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah yang dengan sengaja meniup-niupkan berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera diketahui oleh Ki Ageng Gajah Sora.

Paman…, kemana kita sekarang? Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar yang sedang sibuk berpikir.

Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda itu telah agak jauh di belakang mereka.

Ke manakah jalan ini Arya? tanya Mahesa Jenar.

Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman, jawab Arya. Tetapi kata ayah, jalan ini menuju ke Pajaten dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan silang ke Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.

Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi, Adakah simpangan yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru tanpa mengambil jalan yang kita lewati tadi?
Aku belum tahu, Paman, jawab Arya.
Kita berhenti sebentar Arya, kata Mahesa Jenar sambil menarik kekang kudanya. Arya juga segera menghentikan kudanya.
Arya…, kata Mahesa Jenar, Kita harus segera kembali. Kalau mungkin lewat jalan lain. Sebab kalau kita mengambil jalan yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang berkuda itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti keterangan Mahesa Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata, Paman… aku pernah pergi berburu bersama ayah. Kami mendaki lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan itu kembali. Tetapi yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.

Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan oleh Arya. Pohon itu terletak di tengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat di lereng bukit itu.
Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya…? tanya Mahesa Jenar.
Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali bukan perlengkapan orang berburu, jawab Arya.

Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya kemudian, Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke bawah pohon itu?

Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, Marilah kita coba, Paman. Bila kita dapat mencapai pohon itu jalannya akan lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong di bawah pohon itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai di sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman sampai ke rumah ayah.

Kau terlalu sombong Arya, potong Mahesa Jenar sambil tersenyum. Sebaiknya kita coba saja. Tetapi kalau kau tidak berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku tidak mau lagi bermain gundu.

Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang kudanya dan memutarnya untuk seterusnya meloncat menyusup hutan yang tidak begitu lebat di lereng timur pegunungan Telamaya.

MAHESA JENAR pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama sekali tidak sangsi lagi setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya sama sekali tidak akan menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu. Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi kesempatan kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.

Ternyata Arya sama sekali tidak mengecewakan. Dengan tangkasnya ia mengendalikan kudanya ke arah yang benar, meskipun sekali-sekali kuda itu harus berjalan sangat berhati-hati kalau sedang mendaki tebing yang terjal.

Akhirnya setelah beberapa lama mereka menyusup semak-semak dan belukar yang tidak begitu tebal, akhirnya dengan bangga Arya berkata, Inilah Paman, Arya telah dapat menemukan jalan.

Mahesa Jenar tersenyum melihat wajah Arya yang lucu. Maka katanya, Kau memang seorang pemburu yang hebat, Arya. Binatang-binatang buruanmu pasti tidak akan dapat melepaskan diri kalau kau sedang memburunya.

Di luar dugaan Mahesa Jenar, tampak wajah Arya tiba-tiba merengut. Hanya itukah, Paman…? Tidakkah aku dapat menjadi lebih baik daripada seorang pemburu? Ayah mengharap bahwa aku akan dapat menjadi seorang pahlawan.

Kata-kata Arya itu sangat mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak mengira bahwa di dalam dada anak itu telah tertanam suatu cita-cita yang sedemikian besarnya.

Kembali Mahesa Jenar kagum, tidak hanya kepada anak itu, tetapi sekaligus Ki Ageng Gajah Sora yang telah berhasil mencetak pola cita-cita hari depan anaknya.
Saat yang demikian, kembali mengetuk perasaan Mahesa Jenar tentang gambaran masa depannya sendiri. Tak seorang pun yang akan dapat melanjutkan cita-citanya.

Kalau pada suatu ketika ia sudah tidak dapat lagi menggerakkan tangannya serta tak dapat lagi melangkahkan kakinya, maka ia akan terpencil dari segenap percaturan. Dan tak seorang pun akan berkata, Aku adalah keturunan Mahesa Jenar, dan ayahku mengharap aku menjadi seorang pahlawan.

Apakah artinya perjuangan masa kini, apabila perjuangan itu tidak dapat tanggapan dari masa depan? Pastilah apa yang telah dihasilkan atas cucuran keringat dan darah itu satu persatu akan lenyap seperti lenyapnya batu dari permukaan air. Hilang. Tenggelam ditelan bergolaknya gelombang sejarah.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar oleh suara Arya yang masih belum puas ketika Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaannya.

Benarkah begitu Paman, bahwa suatu waktu aku akan dapat menjadi seorang pahlawan? tanya Arya.

Tentu, tentu… Arya. Kau akan menjadi seorang pahlawan, jawab Mahesa Jenar cepat-cepat.

Tampaklah Arya Salaka mengangguk puas.
Nah, sekarang kita tinggal menuruti lorong sempit ini untuk mencapai Sendang Muncul, sambung Arya Salaka.

Marilah Arya, kau berjalan di depan, jawab Mahesa Jenar.

Segera Arya dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya menuju ke Sendang Muncul. Tetapi di sepanjang perjalanan itu Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan diri dari gangguan gagasannya mengenai masa depannya.

Tiba-tiba belum beberapa lama mereka berjalan, Arya Salaka menghentikan kudanya. Matanya tertambat pada sesuatu di atas tanah, di jalan yang sedang dilaluinya. Tetapi belum lagi ia mengucapkan sesuatu, Mahesa Jenar telah melihat telapak-telapak kuda di lorong sempit itu. Telapak-telapak itu muncul dari dalam belukar di tepi lorong itu dan beberapa langkah setelah mengikuti lorong itu, kemudian lenyap pula ke seberang yang lain.

Telapak-telapak kuda Paman, desis Arya.

Mahesa Jenar menganggukkan kepala. Ia mencoba untuk mengetahui adakah telapak-telapak kuda itu ada hubungannya dengan orang-orang berkuda yang baru saja berpapasan jalan. Menilik arahnya, maka tidaklah mungkin bahwa telapak telapak ini adalah telapak kaki-kaki kuda yang dijumpainya tadi. Jumlahnya juga tidak sesuai. Telapak-telapak ini tidak lebih dari lima ekor kuda.

Maka segera ia mendapat firasat bahwa bahaya yang besar telah mendatangi kota ini. Karena itu katanya kepada Arya, Arya… mungkin ada bahaya di sekitar kita, karena itu marilah kita pulang. Mungkin ada gunanya kita membicarakan hal ini dengan ayahmu.

Rupanya Arya mengerti pula. Karena itu sambil mengangguk ia mempercepat jalan kudanya.

Ketika matahari telah melampaui titik tengah, mereka sampai di Sendang Muncul. Dari sana mereka dapat menaburkan pandangan ke dataran di muka lambung pegunungan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang dijumpainya tadi. Pasti mereka telah membelok masuk hutan. Hal ini juga merupakan suatu pertanda yang berbahaya.

Mungkin tapak-tapak kuda yang dijumpainya itu juga berasal dari orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi. Karena itu maka mereka berdua segera melanjutkan perjalanan pulang, untuk menyampaikan apa yang telah mereka lihat itu kepada Ki Ageng Gajah Sora.

Sampai di rumah, segera mereka menambatkan kuda-kuda mereka di belakang dapur, dan sesudah itu mereka langsung pergi ke pendapa.

Ki Ageng Gajah Sora ketika melihat kedatangan Mahesa Jenar segera mempersilahkannya. Pada saat itu Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya sedang duduk bercakap-cakap di pendapa.
Sikap Ki Ageng Lembu Sora masih saja tidak menyenangkan bagi Mahesa Jenar.
Meskipun demikian Mahesa Jenar sama sekali tak menunjukkan ketidaksenangannya.
Sudahkah Adi berkeliling sampai ke segala sudut? tanya Ki Ageng Gajah Sora.
Sudah Kakang, jawab Mahesa Jenar. Bahkan aku telah sampai agak jauh ke sebelah timur. Aku dibawa Arya sampai ke pohon randu alas raksasa, yang katanya, ia pernah mengikuti Kakang berburu ke sana.
Kau bawa Pamanmu sampai ke kediaman Kaki Klantung itu Arya? tanya Gajah Sora kepada anaknya.

YA…, Ayah…, jawab Arya yang rupanya akan berceritera lebih banyak lagi, tetapi segera disahut oleh Mahesa Jenar, Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman Kaki Klantung?
Begitulah kata orang, jawab Gajah Sora.
Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu. Yang pertama kami bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu alas itu kami temui telapak-telapak kaki kuda, kira-kira sebanyak lima ekor, sambung Mahesa Jenar.

Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan keningnya. Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar.
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa Jenar tahu betul bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan berkata demikian.

Suatu kehormatan bagiku, tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, Sekian banyak pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.

Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan wajah Ki Ageng Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan perubahan. Ia mendengarkan saja percakapan Mahesa Jenar dengan Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa.

Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok kulon, sedang Mahesa Jenar dipersilakan untuk makan siang bersama Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya.

Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk mengelilingi bagian kota yang lain.

Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di gandok wetan. Tetapi baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya seseorang mendatanginya. Ternyata orang itu adalah Ki Ageng Gajah Sora.

Adi… kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring Mahesa Jenar.

Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.

Mahesa Jenar pun segera bangkit. Memang, orang-orang yang aku jumpai itu menarik perhatian, Kakang, jawabnya.

Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi? tanya Gajah Sora.

Kesannya kurang baik, jawab Mahesa Jenar. Dan rupa-rupanya Kakang telah mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Mereka, orang-orang berkuda itu, aku kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat untuk bertindak. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.
Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi, kata Gajah Sora. Tetapi mungkin tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan oleh tangan yang baik, maka akibatnyapun besar pula.
Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga. Sekarang aku persilakan Adi beristirahat.

Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang itu. Ia mencoba membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi.

Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam angan-angannya beberapa puluh orang berkuda sedang merayap-rayap mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan membuat keributan. Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, ia dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang pengiring memasuki halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa untuk menemui Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia telah turun kembali. Dipanggilnya beberapa orang pengiringnya untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orang-orangnya meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka telah lenyap di balik regol halaman.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya apabila tidak diminta.

Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa, untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah Sora.

Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang cahaya kemerah-merahan. Dan sejalan dengan semakin rendahnya matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin tegang pula. Teringat jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum melepaskan keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang berkuda itu mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu.
Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah seseorang ke dalam ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik ke pendapa.

Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta, juga Ki Ageng Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga tampak beberapa orang pembantu Gajah Sora dalam melakukan tugasnya sebagai kepala daerah perdikan.

Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri. Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya pula.

TERNYATA Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan masalah orang-orang berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang berkuda itu tidak saja datang dari arah timur seperti yang ditemui oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang berkuda semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat.

Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki Ageng Lembu Sora untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak dikehendaki.

Adi Mahesa Jenar… sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda, maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami miliki, kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.

Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak menyebut-nyebut tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah minta kepada Mahesa Jenar untuk bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka itu.

Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari memasuki halaman. Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan kuda itu dan langsung meloncat turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah Sora.

Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting. Untuk beberapa lama ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi orang-orang yang hadir. Tampaknya ia ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.
Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya, Katakanlah apa yang telah kau lihat.

Ki Ageng… katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat, Pasukan Paman Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan kira-kira 30 orang berkuda yang datang dari arah barat.
Tigapuluh…? ulang Gajah Sora.
Ya, Ki Ageng, jawab pemuda itu.
Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu? tanya Ki Ageng.

25 Orang, Ki Ageng, jawabnya.

Seimbang, kata Ki Ageng. Tetapi kau boleh membawa orang-orang Sanjaya bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.

Baik, Ki Ageng. Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun dan dengan kecepatan luar biasa, ia naik ke punggung kudanya. Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh dan lenyap.

Kita sudah mulai, kata Gajah Sora yang tampaknya masih tenang saja.

Kakang Wanamerta, sambung Gajah Sora, Suruhlah membunyikan tanda bahaya, supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan diri dan mengerti bahwa di salah satu sudut kota ini telah terjadi bentrokan.

Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh kota Banyubiru, bunyi titir yang bersahut-sahutan.

Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah tegang. Mereka masih menanti perintah, apakah yang harus mereka kerjakan.

Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang pohon di halaman menjadi semakin kabur diselubungi oleh kehitaman malam yang bertambah pekat.
Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul oleh bunyi kentongan tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.

Kebakaran, kata Wanamerta.

Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap tenang.

Siapakah yang berada di sana? tanya Gajah Sora kepada Wanamerta.
Adi Pandan Kuning, jawab Wanamerta singkat.
Pandan Kuning…? ulang Gajah Sora.
Ya.

Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah, kata Gajah Sora hampir bergumam.

Paman…, kata Gajah Sora kemudian, Suruh seseorang sediakan kuda-kuda kami.
Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi artinya adalah besar sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut perhitungannya, orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari orang-orang yang tak dapat direndahkan.

Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula.

SAAT orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Arya dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu.

Inilah kuda Paman, teriaknya kepada Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar terkejut melihat Arya hadir dalam kesibukan itu. Kau mau kemana, Arya? tanya Mahesa Jenar.
Aku ikut Paman ke tempat kebakaran itu, jawabnya.
Arya…, potong Gajah Sora, Kau jangan menambah kesibukanku dan pamanmu. Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, seterusnya aku tak mau mengajari kau sama sekali.

Arya memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama sekali tidak berani membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian ayahnya memang dapat bertindak agak keras terhadapnya.

Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Orang-orang Banyubiru adalah orang-orang yang cukup terlatih di bawah pimpinan Gajah Sora.

Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran, Laskar Banyubiru segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian barat dan utara, ternyata kekuatan mereka tak dapat dianggap ringan.

Di pendapa, Ki Ageng Gajah Sora beberapa kali menerima penghubung-penghubung dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah dan petunjuk-petunjuk.

Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh bunyi kentongan dua-tiga-dua-tiga dari arah utara, sedangkan api tampak semakin menjalar ke beberapa arah.

Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Gajah Sora tak dapat dikendalikan lagi. Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai arti yang sama sekali tidak menyenangkan. Tanda itu mengatakan bahwa Laskar Banyubiru terdesak hebat.
Dengan gigi yang terkatub rapat, Gajah Sora terloncat dari duduknya. Setan manakah yang mencoba mengganggu ketenteraman Banyubiru? katanya geram.

Paman Wanamerta… kata Gajah Sora kepada Wanamerta, Aku akan pergi ke tempat itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di sana. Berilah tanda supaya sebagian dari pasukan cadangan dikerahkan ke utara.

Segera Wanamerta memerintahkan memukul kentongan dua-empat-dua-empat berturut-turut. Bersama dengan itu Gajah Sora meloncat ke atas kudanya. Adi Lembu Sora dan Mahesa Jenar, marilah kita lihat daerah itu, katanya.

Mahesa Jenar nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu, lalu bagaimanakah dengan keris yang disimpan oleh Gajah Sora?

Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Gajah Sora. Tak seorang pun yang akan dapat mengalahkan Paman Pandan Kuning kalau bukan seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku, pimpinan dari gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini aku serahkan kepada Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Aku percaya kepada Paman berdua dengan beberapa orang pasukannya. Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat Paman, tak seorangpun boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.

Baik Anakmas, aku akan menjaganya, jawab Wanamerta.
Siapa yang di halaman belakang? tanya Gajah Sora.
Panjawi dengan laskarnya, jawab Wanamerta.

Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti menjadi seorang prajurit pilihan. Nah, Paman… aku akan berangkat.

Sekejap kemudian Gajah Sora mendera kudanya dan lari dengan kencangnya.

Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan yang paling belakang adalah Mahesa Jenar dengan kuda abu-abu yang dibawa oleh Arya tadi.
Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah tempat kebakaran di sebelah utara Banyubiru di kaki bukit Telamaya. Dari tempat yang agak tinggi di luar halaman, mereka dapat melihat dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat.

Melihat nyala api itu, hati Gajah sora menjadi semakin panas. Ia memacu kudanya lebih laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat tenaga itu menurut perasaan Gajah Sora seperti ular yang merambat di dedaunan. Lambat sekali.

Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai juga di tempat pertempuran. Dari jarak yang cukup, Gajah Sora dengan rombongannya dapat melihat arena pertempuran yang terjadi di pinggir sebuah perkampungan.
Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di kedua belah pihak telah jatuh beberapa orang korban.

Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Banyubiru yang dipimpin oleh Ki Bantaran telah tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan yang sebentar itu Gajah Sora melihat betapa kuatnya pihak lawan.
Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran itu telah bergeser agak jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa orang dari mereka telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah.

Kemarahan hati Gajah Sora semakin menggelora. Karena itu setelah ia menemukan pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu, segera ia memberikan perintah. Lembu Sora… bawalah anak buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus dapat menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil mendesak mereka, usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.

Baik Kakang, jawab Lembu Sora. Setelah itu iapun segera pergi ke tempat yang telah ditentukan. Ia melingkar menyusup perkampungan untuk kemudian muncul kembali menuju ke jalan kecil di ujung sawah.

Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran itu seolah-olah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh ribuan obor di sekitarnya.

SEPENINGGAL Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berdiri mengawasi medan. Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja. Karena itu ia mempunyai pandangan yang cukup masak mengenai keadaan medan. Maka segera ia melihat kelemahan Laskar Banyubiru.

Kakang, menurut pengamatanku, letak kesalahan Laskar Banyubiru adalah, beberapa orang yang cukup masak berkumpul di dalam satu titik. Sehingga di bagian-bagian lain banyak terdapat kelemahan, kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Kau benar Adi Mahesa Jenar. Aku melihat pula kelemahan itu. Tetapi pastilah mereka menghadapi keadaan darurat. Bahkan Bantaran pun telah terlibat dalam perkelahian di titik itu, jawabnya.

Siapakah yang bersenjatakan pedang panjang serta melompat-lompat dengan lincahnya itu? tanya Mahesa Jenar.

Itulah Pandan Kuning, jawab Gajah Sora. Yang bersenjata tombak itu adalah Bantaran. Lainnya adalah orang-orang pilihan dari Laskar Banyubiru.

Kakang… tiba-tiba Mahesa Jenar berkata agak terkejut, Rupanya mereka hanya melawan satu orang saja.

Gajah Sora mempertajam pandangannya. Nyala api yang berkobar-kobar di sekitar daerah pertempuran itu membuat ratusan bayangan dari orang-orang yang bertempur itu, beraneka ragam. Ada yang panjang, ada yang besar seperti raksasa yang meloncat-loncat menerkam mangsanya. Karena itu keadaan medan menjadi agak kabur.

Aku kira tidak hanya seorang, Adi, tetapi dua orang, jawab Gajah Sora.

Ya, dua orang, sambung Mahesa Jenar hampir berteriak, Dan aku pernah mengenal kedua orang itu.

Hampir saja Mahesa Jenar meloncat menyerbu. Tetapi tiba-tiba dilihatnya Lembu Sora telah mendahuluinya dari arah belakang. Lembu Sora menyambar dari atas kudanya seperti seekor elang yang sedang marah. Geraknya tangkas dan tangguh. Rupanya ia adalah seorang yang ahli bertempur di atas kuda.

Pandan Kuning, Bantaran, dan lebih dari tujuh orang bertempur bersama-sama melawan dua orang. Tetapi dua orang itu ternyata tangguh sekali. Sehingga sampai sekian lama kedua orang itu masih tampak segar dan lincah.

Sekarang mereka mendapat bantuan Lembu Sora. Ternyata Lembu Sora juga tidak mengecewakan. Ia bersenjatakan sebuah pedang yang panjang dan besar. Pedang itu di tangannya yang kokoh kuat, hanya seperti setangkai lidi yang berputar-putar dan berkilauan kena cahaya api.

Dari jarak yang agak jauh itu, terdengar tidak jelas Lembu Sora memberikan aba-aba, dan sebentar kemudian keadaan segera berubah dengan cepatnya. Pandan Kuning dengan kawan-kawannya segera memotong batas kedua lawannya, sedang Lembu Sora dengan garangnya menyerang yang seorang dari mereka. Maka segera terjadi dua lingkaran pertempuran. Lembu Sora melawan seorang, sedang seorang lagi harus melayani Pandan Kuning dan kawan-kawannya.

Anak itu punya otak juga, gumam Gajah Sora. Ia pasti bermaksud membunuh seorang demi seorang.

Bukankah ia putra Ki Ageng Sora Dipayana pula? kata Mahesa Jenar.
Gajah Sora tersenyum.

Sayang ia agak bengal, jawabnya.

Mahesa Jenar tidak menjawab, perhatiannya terikat sekali pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Tetapi kemudian ia menjadi agak bingung melihat ketidak-wajaran dalam pertempuran itu.

Kakang Gajah Sora, tidakkah Kakang melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya?
Ya. jawab Gajah Sora. Rupa-rupanya ada pertempuran segitiga di daerah ini.
Tepat, Kakang, kata Mahesa Jenar.

Lalu apakah yang akan kita lakukan?

Biarlah Lembu Sora dan Paman Pandan Kuning melayani lawannya yang rupa-rupanya tidak terlalu membahayakan, jawab Gajah Sora.

Marilah kita bersihkan saja yang lain, baru kita membantu menangkap kedua orang itu, kata Gajah Sora selanjutnya. Sehabis berkata demikian, Gajah Sora mendera kudanya langsung terjun ke dalam kancah pertempuran.

Sepeninggal Gajah Sora, Mahesa Jenar masih beberapa saat berdiri mengawasi medan. Rupanya Gajah Sora ingin mempergunakan siasat lawan untuk memukul mereka kembali. Pemimpin-pemimpin gerombolan penyerbu itu agaknya telah mengatur siasat dengan cermatnya. Mereka berhasil memancing tokoh-tokoh Laskar Banyubiru untuk berkumpul di dalam satu lingkaran, sedang orang-orangnya akan menjadi agak leluasa untuk menjalankan pengacauan dan pembakaran.

Gajah Sora memaklumi siasat itu. Dan ia juga tidak dapat menyalahkan pemimpin pemimpin laskarnya untuk mengepung pimpinan gerombolan yang tangguh itu. Sebab apabila mereka tidak menghadapi bersama-sama, maka dengan mudahnya mereka akan dibinasakan satu demi satu.

Karena itu, Gajah Sora berhasrat memecahkan siasat itu dengan merusak barisan laskar gerombolan itu. Dengan demikian pemimpin-pemimpin mereka pasti akan mendatanginya tanpa diminta. Sebab pastilah mereka menyangka bahwa tak seorang pun akan mampu menahan laskar mereka yang mereka perkuat, meskipun ada laskar lain yang ada diluar perhitungan, sehingga terpaksa terjadi pertempuran segitiga.

Namun salah satu dari mereka ternyata telah berhasil dengan siasat mereka, dan membakar rumah penduduk yang tak berdaya. Sedang di dalam perhitungan mereka, Gajah Sora sendiri akan tetap berada di rumahnya untuk menjaga pusaka-pusaka yang disimpannya.

Tetapi yang masih belum dapat dipecahkan, baik oleh Mahesa Jenar maupun Gajah Sora, adalah adanya dua laskar yang dalam waktu bersamaan menyerang Banyubiru.

Sedang mereka bertempur pula satu sama lain, meskipun maksud mereka hampir jelas, yaitu menginginkan pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Kecuali itu Mahesa Jenar juga sangat tertarik ketangguhan dua orang tokoh gerombolan yang dengan tangkasnya dapat mempertahankan diri dari kepungan Pandan Kuning serta kawan-kawannya.

PERTEMPURAN berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Banyu Biru telah berjuang mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya.

Dengan munculnya Lembu Sora, keadaan sudah mulai berubah. Lembu Sora ternyata juga merupakan seorang laki-laki yang luar biasa. Pedangnya yang terlalu besar menurut ukuran biasa itu berputar seperti baling-baling yang dengan dahsyatnya selalu melingkari lawannya dengan serangan-serangan maut.

Tetapi lawan Lembu Sora pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Sayang bahwa jarak mereka agak jauh dari Mahesa Jenar. Apalagi prajurit-prajurit yang sedang bertempur itu selalu bergerak-gerak membayangi pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas.

Karena tertarik kepada kedua orang pemimpin gerombolan yang perkasa itu, Mahesa Jenar ingin lebih mendekat lagi. Maka segera ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda itu pada sebatang pohon. Dengan perlahan-lahan, ia menerobos medan yang sedang ribut, ia berjalan mendekati Lembu Sora.

Beberapa kali Mahesa Jenar mendapat serangan dari laskar-laskar gerombolan itu, tetapi dengan satu-dua gerakan saja Mahesa Jenar telah dapat merobohkan mereka.

Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh rendah. Rupanya Laskar Banyubiru ketika melihat kepala daerah mereka yang perkasa terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali.

Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak mereka menjadi lebih dahsyat.

Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Banyubiru yang berada di arena itu.

Dengan kehadiran Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera keadaan medan menjadi berubah. Laskar dari kedua gerombolan yang semula bertempur satu sama lain, memusatkan kekuatan mereka untuk menggempur Laskar Banyubiru.

Meskipun demikian, Laskar Banyubiru kini kekuatannya sudah jauh bertambah.

Sejalan dengan itu, lawan Pandan Kuning yang semula bertempur berpasangan, dan kemudian harus melawan seorang diri, merasakan juga tekanan yang semakin berat. Karena itu ia bertempur semakin seru serta mengerahkan seluruh tenaganya. Apalagi ketika didengarnya Laskar Banyubiru bersorak-sorak.

Tiba-tiba dari arah lain terdengarlah sebuah suitan nyaring. Disusul dengan bunyi suitan pula dari orang yang sedang bertempur melawan Pandan Kuning.

Rupanya suitan-suitan itu merupakan tanda-tanda dan perintah. Segera tampaklah beberapa laskar gerombolan berlontaran menyerbu Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Mereka mencoba untuk mengganti kedudukan pemimpinnya yang dengan satu gerakan dahsyat memecahkan kepungan Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Ia melepaskan diri dari pertempuran itu untuk dapat langsung menghadapi Gajah Sora.

Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar menggelegak hebat.

Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.

Lawa Ijo…. geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.

Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo.

Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.

Sebuah permainan gila-gilaan, desis Mahesa Jenar. Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.

Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar.

Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.

Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.

SEKARANG, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan menyakiti tubuh masyarakat.

Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora.

Kekuatan keduanya benar-benar seimbang.

Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu.

Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain, setelah ia membinasakan Lawa Ijo.

Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk membinasakan Lawa Ijo.

Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo, tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula.

Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang marah.

Kau gila Lawa Ijo…, teriaknya. Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului maksudku.

Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.

Kita sama-sama mengail di satu kolam, Harimau jelek, katanya kemudian. Apakah salahnya?

Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu, jawab orang yang tinggi besar itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.

Kembali Lawa Ijo tertawa pendek, Salahmulah bahwa keris-keris itu sampai terlepas dari tanganmu.

Sima Rodra muda itu tidak menjawab, tetapi segera ia melanjutkan serangannya dengan tombak pendeknya yang dinamainya Kyai Kalatadah, yang pernah hampir saja dicuri oleh anak buah sepasang Uling dari Rawa Pening.

Serangan itu datangnya cepat sekali sehingga Lawa Ijo tidak sempat mengelak. Segera ia menggerakkan kedua pisau belatinya untuk menangkis serangan Sima Rodra. Dua kekuatan yang dahsyat saling beradu. Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan bunga api berpencaran di udara.

Mahesa Jenar tertegun melihat kejadian itu. Segera ia mengurungkan niatnya. Dan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan dua tokoh golongan hitam itu mengadu tenaga.

Maka segera terjadilah pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya percaya pada kekuatan tubuhnya sehingga tampaknya mereka berdua segan untuk mengelakkan diri dari benturan-benturan. Kedua tangan Lawa Ijo yang memegang dua bilah pisau belati panjang itu menyambar-nyambar, seolah-olah berdatangan dari segala arah. Sedang Sima Rodra dengan dahsyatnya pula memutar tombak pendeknya mengarah ke segenap bagian tubuh Lawa Ijo.

Kedua orang tokoh hitam itu, apabila tidak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, pastilah mereka akan menghindari pertempuran. Sebab mereka telah merasa bahwa kekuatan mereka seimbang, sehingga perkelahian yang semacam itu hanya akan membuang-buang waktu saja.

Beberapa waktu yang lalu Lawa Ijo sudah pernah bertempur melawan Sima Rodra. Tetapi tak seorang pun yang dapat mengatasi yang lain. Kemudian setelah beberapa lama mereka berpisah merendam diri untuk mempersiapkan pertemuan terakhir tahun ini, tiba-tiba mereka bertemu dalam satu tujuan yang sama.

Meskipun masing-masing telah mendapat tambahan ilmu yang cukup banyak, namun ternyata kekuatan mereka masih tetap seimbang.

Melihat pertempuran itu, hati Mahesa Jenar tergetar juga. Seandainya ia tidak memiliki ilmu sakti Sasra Birawa, mungkin sulit baginya untuk dapat mengalahkan baik Lawa Ijo maupun Sima Rodra.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ingin dapat menjatuhkan lawannya dengan segera.

Tetapi yang agak mengherankan Mahesa Jenar, kenapa Sima Rodra baru saat itu muncul di arena. Apakah kerjanya sebelum itu…? Padahal sesaat sebelum ia menyerang Lawa Ijo, laskarnya sudah jauh terdesak oleh Laskar Banyubiru yang merasa mendapat tenaga baru dengan hadirnya Gajah Sora.

Di lain bagian dari pertempuran itu nampak Lembu Sora dan Jaka Soka bekerja keras untuk dapat menguasai lawannya. Tetapi ternyata keduanya pun memiliki kekuatan yang seimbang. Hanya keseimbangan pertempuran diantara laskar-laskar mereka kini telah berubah sama sekali. Laskar Banyubiru dalam waktu yang dekat pasti akan dapat menguasai keadaan, apalagi pada saat itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar ada didalam barisan Laskar Banyubiru tanpa ada yang dapat menghalangi gerakan-gerakan mereka.

Tetapi sementara itu, tiba-tiba agak jauh di ujung desa, Mahesa Jenar melihat bayangan yang bergerak-gerak dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan mereka jauh lebih cepat dan lincah daripada gerakan-gerakan Sima Rodra maupun Lawa Ijo.

SEGERA Mahesa Jenar tertarik pada bayangan itu. Dan untuk sementara ia lupa bahwa ia sedang menonton pertempuran antara dua orang tokoh hitam yang gagah itu.

Oleh karena itu ia segera meloncat memburu ke arah bayangan yang tampaknya hanya samar-samar, dan selalu bergerak-gerak itu. Ketika sudah dekat, barulah ia dapat melihat agak jelas bahwa dalam kepekatan malam yang hanya dapat dicapai samar-samar oleh sinar-sinar api yang masih berkobar-kobar itu, ada dua orang yang sedang bertempur pula.

Tetapi pertempuran ini sangat mengejutkan hati Mahesa Jenar. Kedua orang yang sedang bertempur itu ternyata memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Mereka bergerak-gerak, berputar-putar dan meloncat-loncat seperti tubuhnya tidak memiliki berat. Bahkan kadang-kadang kedua orang itu meloncat tinggi berputar di udara, dan kadang-kadang hampir seperti terapung-apung untuk beberapa saat. Tetapi kadang-kadang mereka berubah menjadi dua orang yang seolah-olah bertubuh besi yang saling membentur, menghantam dengan kuatnya, seakan-akan mereka bukan manusia-manusia yang tubuhnya terdiri dari daging dan tulang-tulang yang dapat patah.

Melihat bayangan yang bertempur dengan hebatnya itu Mahesa Jenar tertegun heran.

Pastilah kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi.

Sementara itu, rupanya Gajah Sora melihat pula dua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata seperti juga Mahesa Jenar, ia pun berusaha untuk mendekat.

Siapakah mereka? tanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar menggelengkan kepala. Entahlah, jawabnya.
Marilah dengan hati-hati kita dekati, mereka pasti tergolong dalam angkatan yang jauh di atas kita, sambung Gajah Sora.

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi apa yang dikatakan oleh Gajah Sora itu memang sudah terpikir olehnya. Karena itu segera ia pun menyusup ke sebuah halaman dan dengan mengendap-endap bersama Gajah Sora, berusaha untuk mendekati dua orang yang sedang bertempur dengan hebatnya itu.

Untuk mendekati tempat pertarungan itu tidaklah sulit bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora, sebab mereka bertempur di satu tempat yang sempit tanpa berkisar dari satu titik, yaitu di tengah jalan dusun di ujung desa.

Semakin dekat mereka dengan titik pertarungan itu, menjadi semakin jelas pula ketinggian ilmu kedua orang yang bertanding itu. Mereka saling menghantam, menangkap dan membanting lawannya. Tetapi demikian salah seorang terlempar ke atas tanah, demikian ia melenting dan tegak kembali untuk dalam sekejap telah dapat membalas menyerang pula.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tergolong orang-orang yang memiliki kesaktian yang tidak kecil artinya di kalangan orang-orang perkasa. Tetapi melihat cara kedua orang itu bertempur terasalah bahwa ilmu mereka itu baru merupakan ilmu yang permulaan saja.

Ketika mereka berdua, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, sedang terikat oleh pertempuran itu, tiba-tiba terdengarlah salah seorang diantara mereka berkata, Hei, apa kerjamu di sini?

Gajah Sora dan Mahesa Jenar terkejut bukan main. Mereka berdua berada di tempat yang terlindung dan gelap. Sedangkan mereka berdua saja masih belum sempat menyaksikan kedua orang yang berdiri di tengah jalan itu dengan baik, tetapi justru salah seorang diantaranya sudah dapat melihat mereka yang berlindung.

Untuk sementara Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih berdiam diri. Mungkin bukan mereka yang disapa.

Rupa-rupanya kau sengaja memanggilnya supaya membantumu, jawab yang lain masih sambil bertempur.

Tutup mulutmu, bentak yang lain pula. Jangan terlalu sombong. Kau kira bahwa aku tak mampu melawanmu.

Yang lain diam tak menjawab, tetapi rasanya mereka bertempur semakin seru.

Ketika sesaat kemudian Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih belum menjawab, kembali terdengar suara orang yang pertama.

Hai Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kau berdiri seperti patung di situ?

Mendengar nama mereka disebut, baru Gajah Sora dan Mahesa Jenar yakin bahwa benar-benar mereka berdualah yang disapa oleh orang itu. Tetapi belum lagi salah seorang menjawab, terdengar suara orang kedua, Hei, kenapa kalian tak membantu bapakmu yang sudah hampir kehabisan napas?

Mendengar kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tersentak. Mereka tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi. Karena itu mereka berdua meloncat mendekat.

Ketika mereka sudah demikian dekat, barulah mereka tahu bahwa benar-benar Ki Ageng Sora Dipayana yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu melawan seorang bertubuh raksasa yang mempunyai kesaktian sejajar pula. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum mengenal orang itu.

Gajah Sora… kata Ki Ageng Sora Dipayana tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari lawan-lawannya. Kenapa kau begitu bodoh meninggalkan rumahmu tak terjaga?

Paman Wanamerta, Sawungrana dan Panjawi dengan pasukannya berjaga-jaga di sana, Ayah, jawabnya.

Apa arti dari mereka bertiga. Pulanglah. Ajak Mahesa Jenar. Tinggalkan Lembu Sora bersamaku di sini, perintahnya. Bukankah laskarmu di sini tidak banyak menderita kekalahan?

Mereka memberikan tanda kekalahan itu, Ayah, jawab Gajah Sora.

Akh… kau memang terlalu muda digugah kemarahan Gajah Sora. Prajurit Banyubiru meskipun terpaksa menarik pasukannya beberapa kali tetapi masih belum memberi tanda kekalahan. Paling-paling mereka akan minta bantuan laskar cadangan.

Tetapi tanda itu telah dibunyikan, Ayah…. Gajah Sora mencoba menjelaskan.

KI AGENG Sora Dipayana masih melayani lawannya dengan gigih. Mereka bertempur dengan cara yang agak membingungkan bagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Tubuh mereka seolah-olah menjadi kebal dan tidak dapat disakiti oleh pukulan yang bagaimanapun kerasnya. Karena itu baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar tidak tahu bagaimana terbuka kemungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran itu.

“Gajah Sora… yang membunyikan tanda itu bukanlah Laskar Banyubiru. Tetapi itu hanyalah suatu cara buat menarikmu untuk datang ke daerah pertempuran ini,” kata Ki Ageng Sora Dipayana.

Mendengar keterangan ayahnya, hati Gajah Sora terguncang hebat. Karena itu segera ia meloncat meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke rumahnya.

“Gajah Sora…” panggil ayahnya sebelum Gajah Sora jauh. Gajah Sora berhenti sejenak.

“Suruhlah Pandan Kuning, Bantaran, Panunggal dan beberapa orang kemari. Suruhlah mereka membawa tali yang kuat untuk mengikat kucing sakit-sakitan ini.”

“Hemmm….!” geram lawannya. “Kau kira kau bisa menangkap aku?”

“Kalau dalam keadaan keseimbangan… setetes air akan mempunyai pengaruh untuk mengubah keseimbangan itu. Maka kedatangan beberapa orang yang tak berarti itu pasti mempunyai akibat yang tak kau harapkan,” jawab Sora Dipayana.

“Setan tua…, kau licik sekali!”, Kembali orang itu menggeram berusaha menangkap seorang penyerang.

“Apakah itu licik?”, jawab Sora Dipayana.

“Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar,” berangkatlah, katanya kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera berlari meninggalkan tempat itu, sambil memberi aba-aba kepada Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Apalagi pada waktu itu keadaan pertempuran seolah-olah sudah hampir seluruhnya dapat dikuasai oleh Laskar Banyubiru, kecuali pertarungan antara Sima Rodra muda dengan Lawa Ijo serta Jaka Soka melawan Lembu Sora.

Gajah Sora cepat-cepat melompat ke kuda putihnya, sedang Mahesa Jenar berlari kencang-kencang ke kudanya yang ditambatkannya tadi. Dan sejenak kemudian mereka telah berpacu ke arah rumah Ki Ageng Gajah Sora.

Seperti pada saat mereka berangkat, demikian pula pada saat itu, rasanya kuda-kuda itu berjalan demikian lambatnya. Beberapa kali mereka mendera kuda mereka untuk segera sampai di rumah. Sebab kalau sampai Ki Ageng Sora Dipayana merasa khawatir, maka pastilah ada sesuatu yang mengancam keselamatan pusaka-pusaka yang disimpannya.

Pada saat mereka meninggalkan arena pertempuran itu, mereka masih dapat mendengar suara lawan Ki Ageng Soradipayana itu mengaum seperti seekor harimau, dan sesaat kemudian disahut oleh auman yang menyeramkan pula dari Sima Rodra muda.

Ketika mereka menoleh, tampaklah sebagian dari laskar yang sedang bertempur itu berloncatan meninggalkan gelanggang, seperti air laut yang sedang surut. Maka dengan cepatnya jumlah laskar itu menjadi berkurang.

Tetapi mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan perubahan itu dengan seksama, sebab pikiran mereka telah lari mendahului ke arah pusaka-pusaka yang mereka simpan.

Namun demikian Gajah Sora sambil memacu kudanya masih sempat bertanya, “Adi Mahesa Jenar, siapakah kira-kira yang bertempur melawan ayah itu? ”

Mahesa Jenar menarik keningnya. Lalu jawabnya, “Aku tak dapat mengatakan dengan pasti Kakang. Tetapi aku kira ia adalah Sima Rodra tua dari Lodaya.”

“Tepat seperti dugaanku,” sahut Gajah Sora. “Bulu-bulu yang jarang-jarang yang tumbuh di wajahnya, tubuhnya yang besar seperti raksasa, dan akhirnya teriakannya yang seperti aum seekor harimau. Hanya saja ia tidak mengenakan kerudung kulit harimau hutan seperti pada saat kita jumpai pertama kali. Itu adalah usahanya untuk menyamar sebagai laskar biasa, Kakang.

“Untunglah bahwa Ki Ageng Sora Dipayana tidak membiarkan daerah ini,” kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora tidak menjawab lagi. Kudanya dipacu semakin kencang. Kudanya adalah kuda pilihan, yang memiliki kecepatan berlari seperti anak panah. Tetapi pada saat itu rasa-rasanya kuda itu berlari seperti keong yang merayap-rayap di batu-batu berlumut.

Semakin dekat mereka dengan halaman rumah Gajah Sora, hati mereka menjadi semakin tegang. Pikiran mereka dipenuhi oleh berbagai macam gambaran yang mungkin terjadi pada kedua keris pusaka yang disimpannya.

Akhirnya ketika mereka muncul dari sebuah kelokan jalan, terbentanglah di hadapan mereka Alun-alun Banyubiru, dan setelah menyeberangi jalan-jalan itu, mereka akan sampai di rumah Gajah Sora.

Dari kejauhan, rumah itu nampaknya sepi saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan, apalagi keributan-keributan. Tetapi meskipun demikian hati mereka malahan semakin bergelora.

Tiba-tiba tampaklah di hadapan mereka, di tengah-tengah alun-alun, di antara dua batang beringin tua yang tumbuh di alun-alun itu, meloncat-loncat dua bayangan dengan gerakan-gerakan aneh.

TERNYATA mereka adalah dua orang yang sedang bertempur pula.

Gerakan-gerakan mereka tampak aneh dan cepat seperti dua ekor burung yang sedang berlaga, sambar menyambar. Sebentar mereka berloncatan dan berkelahi diatas dinding pohon beringin yang hanya secengkal tebalnya. Tetapi seolah-olah kaki mereka memiliki alat perekat, sehingga mereka tidak dapat jatuh. Yang mengagumkan kadang-kadang mereka berloncatan dan berkejaran diantara ranting-ranting dan sulur beringin tua itu, dengan gerakan yang seolah-olah mereka berada diatas tanah saja.

Melihat mereka yang bertempur itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar menarik kekang kudanya, dan berhenti beberapa langkah dari pohon beringin itu. Didalam gelap malam serta gerak-gerak yang melontar kesana kemari, agak sulitlah bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora untuk segera mengenal orang yang sedang berkelahi itu. Tetapi menilik gerak serta cara mereka, pastilah mereka tergolong dalam tataran yang sama tinggi dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

Beberapa kali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melarikan kudanya melingkari pohon beringin itu. Tetapi setiap kali mereka hanya melihat bayangan yang berloncatan dan lenyap di balik pohon beringin itu.

Namun bagaimanapun, Gajah Sora dan Mahesa Jenar telah memiliki dasar-dasar ilmu kepandaian yang cukup, sehingga meskipun agak lama akhirnya dengan terperanjat sekali mereka melihat salah seorang diantaranya mengenakan jubah abu-abu dan bertopeng kayu yang kasar buatannya, sehingga mirip dengan wajah hantu.

Pasingsingan, desis Mahesa Jenar.
Ya, Pasingsingan, ulang Gajah Sora.

Belum lagi mereka dapat mengenal dengan baik yang satu lagi, terdengarlah lawan Pasingsingan itu berkata, Hai anak-anak bodoh, jangan menonton seperti menonton adu jago. Lebih baik kau pulang dan lihat barang-barangmu.

Mendengar suara orang itu, darah Mahesa Jenar tersirap. Ia pernah mendengar suara itu dan bahkan ia pernah menerima perintahnya untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Maka dengan tak disengaja ia berteriak, Bukankah tuan Ki Ageng Pandan Alas

Maka jawab orang itu, Ingatanmu baik sekali Mahesa Jenar, tetapi lekaslah pergi.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dua tokoh sakti telah memperingatkan mereka mengenai pusaka-pusaka itu. Maka segera mereka memutar kuda mereka dan dilarikan menuju ke halaman rumah Gajah Sora. Dalam waktu yang pendek itu Gajah Sora sempat bertanya, Beliaukah Ki Ageng Pandan Alas?

Ya, beliaulah. Apakah Kakang Gajah Sora belum pernah mengenalnya? kata Mahesa Jenar.

Pernah, tetapi sudah lama sekali, jawab Gajah Sora.

Sementara itu kuda mereka telah sampai di muka pintu gerbang halaman rumah Gajah Sora. Dua orang penjaga gerbang masih berdiri dengan tegapnya. Ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar datang, segera kedua penjaga itu membungkuk hormat.

Gajah Sora tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan tentang keamanan rumahnya, maka kepada dua orang penjaga itu ia bertanya, Apakah yang sudah terjadi?

Tidak ada apa-apa yang terjadi, Ki Ageng, jawabnya.

Mendengar jawaban itu perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar agak lega sedikit, tetapi dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tersembunyi suatu kebimbangan atas kebenaran keterangan penjaga itu.

Mereka berdua seolah-olah mendapat suatu firasat yang kurang menenteramkan hati mereka. Maka mereka berdua segera memasuki halaman dan langsung menuju ke pendapa.

Di pendapa itu tampak Wanamerta dan Sawungrana masih duduk dengan tenangnya. Ketika mereka melihat Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera mereka berdua pun berdiri menyambutnya.
Paman Wanamerta… tidak adakah sesuatu yang terjadi di sini? tanya Gajah Sora tidak sabar.

Pangestu Anakmas tak ada sesuatu yang terjadi, jawab Wanamerta.

Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tambah lega mendengar jawaban itu. Sebab Wanamerta dan Sawungrana bukanlah anak kecil yang dapat dipermainkan.

Di halaman rumah itu masih nampak beberapa orang laskar yang berjaga-jaga berjalan hilir mudik dengan senjata siap di tangan, sedangkan di gandok kulon, tempat pondokan Ki Ageng Lembu Sora pun masih nampak beberapa orangnya ikut berjaga-jaga.

Bagaimanakah dengan Panjawi? tanya Gajah Sora pula.
Agaknya juga tidak mengalami sesuatu, Anakmas. Baru saja Adi Sawungrana nganglang ke belakang rumah, dan di sana Panjawi tampak selalu bersiaga, jawab Wanamerta,
Syukurlah, desis Gajah Sora.

Mendengar semua keterangan itu, gelora perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar terasa agak mengendor sedikit, setelah mereka mengalami ketegangan perasaan beberapa saat lamanya. Memang sulit untuk dapat memasuki halaman itu tanpa dilihat oleh salah seorang pengawal. Sebab dinding halaman Gajah Sora cukup tinggi dan gerbangnya pun terjaga rapat.

Beberapa orang pengawal berjaga-jaga di sekeliling halaman, di setiap tujuh delapan langkah seorang dan melekat dinding halaman. Kalau demikian, maka agaknya peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana maupun Ki Ageng Pandan Alas hanyalah sikap hati-hati dari orang-orang tua saja.

Tetapi belum lagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar puas menarik nafas lega, tiba-tiba dikejutkan oleh jerit Arya Salaka dari dalam rumah. Serentak mereka berdiri dan dengan kecepatan yang luar biasa mereka meloncat ke arah suara Arya. Wanamerta dan dua tiga orang yang berdiri paling dekat dengan pintu segera mendorongnya dan meloncat masuk.

GAJAH SORA dan Mahesa Jenar rupa-rupanya tidak sabar lagi menunggu Wanamerta yang meskipun geraknya termasuk dalam tataran yang tinggi, untuk bergantian masuk lewat pintu yang hanya satu itu. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan kekuatan penuh menerobos dinding gebyok itu sehingga pecah berantakan.

Ketika mereka bersama-sama telah sampai di muka ruangan Gajah Sora, rasa-rasanya darah mereka berhenti mengalir.

Mereka masih sempat menyaksikan Arya Salaka terpelanting dan terbentur dinding.

Seketika itu juga ia terjatuh dan pingsan. Dari mulutnya meleleh darah merah segar.

Sedang di tangannya tergenggam erat sebuah tombak pendek yang juga berlumuran darah. Tombak itu adalah tombak pusaka Ki Ageng Gajah Sora yang bernama Kyai Bancak, hadiah dari Pangeran Sabrang Lor, yang juga bergelar Adipati Unus, pada waktu ia mengikuti pasukan Sabrang Lor itu ke Semenanjung Melayu untuk mengusir penjajahan Portugis. Kyai Bancak sebenarnya adalah pasangan dari pusaka lain yang berupa sebuah bende.

Sedang di muka pintu kamarnya ia melihat sesosok tubuh yang terhuyung-huyung. Di dadanya tampak luka yang menyemburkan darah. Dalam kejadian yang sekejap itu melayanglah sebuah bayangan yang hampir tak dapat ditangkap oleh penglihatan, menyambar orang yang hampir terjatuh karena luka di dadanya itu. Maka berpindahlah dua buah keris yang dipegang oleh orang yang terluka di dadanya itu ke tangan yang menyambarnya. Itulah Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta adalah orang-orang yang memiliki kecepatan bergerak dalam tingkatan yang cukup tinggi. Tetapi terhadap bayangan itu, mereka tak mampu berbuat sesuatu. Mereka hanya melihat bayangan itu lenyap lewat atap.

Meskpun demikian, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta bukanlah orang yang mudah putus asa. Sambil berteriak nyaring Gajah Sora meloncat memburu bayangan itu, disusul oleh Mahesa Jenar dan Wanamerta. Tetapi demikian Gajah Sora muncul di atas atap lewat lobang yang sama, bayangan itu telah lenyap sama sekali.

Karena itu bergetarlah dada mereka bertiga oleh kemarahan dan keheranan yang bercampur aduk. Bayangan itu seolah-olah adalah bayangan hantu yang tiba-tiba muncul untuk menambah keributan di Banyubiru dan kemudian lenyap seperti lenyapnya asap dihembus angin.

Tetapi bagaimanapun cepatnya bergerak bayangan itu, namun ada sesuatu yang dapat ditangkap oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

Bayangan itu agaknya memakai jubah abu-abu. Tetapi Gajah Sora dan Mahesa Jenar sama sekali tak dapat melihat wajahnya. Namun demikian segera perasaan mereka lari kepada Pasingsingan. Orang itu beberapa saat yang lalu bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas di alun-alun, tak begitu jauh dari rumah itu. Tetapi bagaimana ia dapat berhasil melepaskan diri dari pengawasan Pandan Alas? Maka bergulatlah di dalam otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar berbagai pertanyaan. Adakah Pasingsingan berhasil mengalahkan Pandan Alas…?

Pada saat itu, lebih-lebih Gajah Sora yang menyaksikan pusaka simpanannya dan yang telah direbutnya dengan taruhan nyawanya hilang tanpa dapat berbuat sesuatu di hadapannya. Juga anaknya dilukai oleh seseorang yang tak dikenal di rumahnya. Seolah-olah di dalam dadanya menyalalah api yang berkobar-kobar dan jauh lebih panas dari api yang menyala-nyala di ujung utara kotanya. Nyala di dalam dadanya ini memancar lewat matanya yang merah berapi-api, giginya gemeretak, dan bibirnya bergerak-gerak. Tetapi tak sepatah kata pun yang terucapkan.

Otak Gajah Sora yang cerdas segera dapat meraba apa yang telah terjadi di rumahnya. Rupa-rupanya seseorang telah berusaha untuk mengambil kedua pusakanya. Tetapi malang baginya, sebab Arya dapat mengetahui perbuatan itu sehingga anak yang otaknya cemerlang itu mengintipnya dengan tombak pusaka di tangan.

Rupa-rupanya pada saat ia keluar dari ruang tidurnya, Arya telah menusuk dada orang itu dengan Kyai Bancak. Tetapi meskipun demikian orang yang sudah pasti bukan orang sembarangan itu dengan sisa tenaganya yang sudah lemah, berhasil menghantam Arya sehingga Arya terlempar dan terbanting membentur dinding. Pada saat itulah datang orang ketiga yang dengan kecepatan seperti cahaya kilat, berhasil merampas kedua pusaka itu.

Api kemarahan yang membentur dinding perasaan Gajah Sora itu tidak lagi dapat dibendungnya. Karena itu dengan gerak yang seolah-olah tak dikuasainya sendiri, ia meloncat terjun dari atap rumahnya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil berlari, tangannya menggapai tombak pusakanya dan menariknya dari tangan Arya, langsung keluar halaman dan sekaligus meloncat ke punggung kudanya.

Mahesa Jenar dapat menangkap apa yang bergolak di dalam dada sahabatnya, sebab memang ia pun mempunyai rabaan yang sama pula atas kejadian yang baru saja berlalu. Karena itu ia dapat menduga kemana Gajah Sora akan pergi. Pastilah ia akan melihat apakah Pandan Alas masih ada di antara Ringin Kurung dan bertempur dengan Pasingsingan, ataukah Pandan Alas itu sudah tidak berdaya lagi. Maka tanpa berpikir lagi, ia pun meloncat ke atas punggung kudanya dan lari menyusul Gajah Sora.

Wanamerta yang meskipun dapat mengambil kesimpulan yang sama atas kejadian yang disaksikannya, namun ia sama sekali tidak mengetahui tentang orang yang berjubah abu-abu yang telah dilihat oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar di tengah alun-alun. Karena itu ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Untunglah sebelum berangkat Mahesa Jenar sempat berkata kepadanya, Paman Wanamerta. Paman tidak perlu ikut bersama kami, jagalah rumah ini baik-baik. Mungkin ada suatu perkembangan keadaan. Aduklah seluruh halaman rumah ini, meskipun kemungkinan untuk menemukan hantu itu tipis sekali.

Setelah itu Mahesa Jenar lenyap pula di atas punggung kuda abu-abu yang berlari dengan derap yang gemuruh seperti badai, mengejar Gajah Sora dengan kuda putihnya.

JARAK antara rumah Gajah Sora dan pohon beringin yang berdiri tegak di tengah alun-alun, yang seakan-akan tidak peduli atas apa yang sudah terjadi di sekitarnya itu tidaklah begitu jauh. Karena itu dalam waktu yang singkat mereka berdua telah berhasil mendekati ringin kurung itu.

Maka mereka menjadi terkejut dan heran tak habis-habisnya ketika dari jarak yang sudah agak dekat mereka masih melihat dua bayangan yang berloncat-loncat dan melontar kesana kemari diantara sepasang beringin itu. Di sana masih jelas dapat disaksikan Pasingsingan dan Ki Ageng Pandan Alas bertempur. Bahkan semakin sengit. Tetapi jubah yang dipakai oleh orang yang menyambar kedua keris pusaka itu tepat benar dengan jubah yang dipakai oleh Pasingsingan.

Sebenarnya dalam keadaan yang biasa, Gajah Sora akan dapat mempertimbangkan bahwa tidak mungkin dalam satu saat Pasingsingan dapat berada di dua tempat dan melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tetapi pada saat itu, karena kemarahannya yang meluap-luap, ia membutuhkan wadah untuk menumpahkannya.

Satu-satunya kemungkinan sebagai tempat penampungan kemarahan Gajah Sora adalah Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Pandan Alas.

Meskipun ia tahu bahwa Pasingsingan bukanlah lawannya, karena orang itu memiliki ilmu yang sejajar dengan Ki Ageng Sora Dipayana, namun sama sekali Gajah Sora sudah tidak mampu lagi membuat pertimbangan-pertimbangan.

Karena itu, dengan otak yang buntu, ia memacu kudanya habis-habisan, langsung mengarah kepada kedua orang yang sedang bertempur itu dengan Kyai Bancak siap di tangan.

Melihat sikap Gajah Sora, yang seolah-olah tidak dapat terkendali itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Sebenarnya ia sendiri merasa sangat marah atas hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi karena justru hal itu terjadi di rumah Gajah Sora maka Gajah Sora-lah yang merasa lebih bertanggungjawab. Ditambah lagi cedera yang dialami oleh anak satu-satunya. Karena itu bagaimanapun hebatnya kemarahan yang bergolak di dada, Mahesa Jenar masih dapat bersikap lebih tenang.

Maka segera Mahesa Jenar berusaha sekuat-kuatnya untuk memacu kudanya lebih cepat agar dapat menyusul Gajah Sora, untuk mencoba mencegahnya berbuat sesuatu yang berbahaya. Dibungkukkannya badannya dalam-dalam sampai melekat ke punggung kudanya. Namun kuda Gajah Sora bukanlah kuda sembarangan.

Larinya bahkan semakin cepat seperti angin.

Pada saat itu Gajah Sora sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali menyerang Pasingsingan habis-habisan. Ia sama sekali sudah tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena perbuatannya itu.

Maka ketika jarak mereka sudah semakin dekat, segera Gajah Sora mengangkat tombak pusakanya. Tombak yang jarang sekali keluar dari rangkanya. Tapi kali ini, tombak yang ujungnya sudah membekas darah itu seolah-olah menjadi semakin haus dan buas.

Untunglah bahwa Gajah Sora tidak bermaksud langsung menyerang Pasingsingan dengan tombak di tangan. Ternyata bagaimanapun gelap pikirannya, namun sebagai seorang yang cukup berpengalaman, nalurinya yang tajam masih dapat mempengaruhi tindakannya.

Dengan hati yang dibakar oleh kemarahan, Gajah Sora mengangkat tombaknya yang bermaksud membinasakan Pasingsingan. Maka dengan sekuat tenaga, bahkan dengan ilmunya Lebur Seketi yang disalurkan lewat tangannya yang memegang tombak pusaka itu, ditambah lagi dengan tenaga dorong dari kecepatan berlari kuda putihnya yang seperti angin, Gajah Sora melepaskan tombaknya ke arah Pasingsingan, yang sedang sibuk melayani Ki Ageng Pandan Alas.

Perbuatan Gajah Sora itu sama sekali tak diduganya. Meskipun Pasingsingan sudah tahu bahwa Gajah Sora bersenjata, tetapi ia tidak mengira bahwa senjata itu akan dilemparkan kepadanya. Karena itu ketika ia melihat Gajah Sora mengangkat tombaknya, Pasingsingan menjadi terkejut.

Kalau saja pada saat itu Pasingsingan berdiri seorang diri, maka serangan Gajah Sora itu tidak akan berarti sama sekali baginya. Tetapi pada saat itu ia sedang bertempur mati-matian melawan Ki Ageng Pandan Alas. Untuk melayani lawannya itu saja Pasingsingan sudah harus mengerahkan segenap tenaganya, apalagi tiba-tiba ia menerima serangan yang cukup berbahaya. Sebab bagaimanapun Gajah Sora bukanlah anak kemarin sore yang dengan begitu saja boleh diletakkan di luar garis. Karena itu ketika Pasingsingan melihat sebatang tombak yang berkilauan, seperti kilat datang menyambarnya, ia menjadi agak gugup.

Meskipun demikian ia adalah seorang tokoh yang namanya boleh disejajarkan dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten, dan sebagainya. Karena itu, bagaimanapun sulitnya keadaan, masih saja ia mampu menghindar.

Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, Pasingsingan melontarkan diri jauh ke belakang dan seolah-olah hinggap di atas dinding ringin kurung. Sedang pada saat yang bersamaan, Ki Ageng Pandan Alas meloncat beberapa langkah ke belakang untuk menghindarkan diri dari kaki kuda Gajah Sora yang seakan-akan tidak lagi dapat dikendalikan, seperti pikiran Gajah Sora.

Apalagi ketika Gajah Sora melihat bahwa serangannya gagal maka hatinya yang sudah terbakar itu rasa-rasanya menjadi semakin hangus. Dengan sekuat tenaga ia menarik kekang kudanya dan kemudian memutarnya menghadap ke arah Pasingsingan untuk segera menyerangnya kembali. Meskipun ia kini sudah tidak bersenjata namun di telapak tangannya masih tersimpan aji Lebur Seketi.

Tetapi tiba-tiba Gajah Sora terpaksa mengurungkan serangannya, sebab pada saat itu tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan tertawa menggelegar. Meskipun suara tertawanya tidak begitu keras, getarannya memukul-mukul seperti akan memecahkan dada.

Ternyata, meskipun tombak Gajah Sora tidak mengenai tubuh Pasingsingan, tetapi karena keadaan yang sulit, Pasingsingan agak terlambat menghindar sehingga tombak yang menyambarnya itu menyobek jubah abu-abunya. Karena itu, ia merasa terhina sekali oleh seorang anak-anak saja. Maka ia menjadi marah sekali. Dan terlontarlah kemarahannya itu lewat suara tertawanya yang mengerikan.

MAHESA JENAR yang pada saat itu telah sampai pula ke tempat itu segera menghentikan kudanya dan memusatkan segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara tertawa Pasingsingan yang mengerikan itu. Tetapi suara tertawa itu ternyata tidak segera berhenti, malahan semakin berkepanjangan dan merupakan serangan-serangan yang datang bertubi-tubi dengan dahsyatnya. Ia pernah mendengar Lawa Ijo menyalurkan kesaktiannya lewat suara tertawa yang menggeletar, sehingga memerlukan daya perlawanan yang kuat untuk tidak jatuh ke dalam pengaruhnya yang berbahaya.

Tetapi suara tertawa Pasingsingan yang tidak begitu keras itu mengandung tenaga kesaktian yang jauh lebih hebat dari suara Lawa Ijo.

Karena itu, baik Mahesa Jenar maupun Gajah Sora pada saat itu harus mengerahkan segenap daya kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara itu. Namun demikian kesaktian Pasingsingan yang tersalur lewat bunyi tertawa itu bagaikan jarum yang menusuk-nusuk ulu hati. Alangkah nyerinya, bahkan panas pula seperti dijilat lidah api.

Meskipun pada saat itu Mahesa Jenar dan Gajah Sora telah mengerahkan segala kekuatannya, namun terasa tubuhnya menggigil dan semakin lama semakin kehilangan kesadaran.

Baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar pernah mendengar kisah dari sahabat-sahabatnya yang sering mengarungi samodra-samodra besar, bahwa di Laut Cina terdapat sebuah pulau kecil yang sangat ditakuti, sehingga pulau itu dinamai pulau hantu. Apabila ada kapal yang terjerumus ke dekat pulau itu, maka akibatnya akan mengerikan sekali. Dari pulau itu terdengarlah berbagai macam nada orang tertawa-tawa dengan getaran yang dahsyat sehingga orang yang mendengarnya akan menjadi gila karenanya. Bahkan tidak jarang diantara pelaut-pelaut itu kemudian menemui ajalnya dengan cara yang mengerikan. Ada yang terjun ke laut, ada yang mati lemas, dan ada yang mati karena saling bertempur dan menggigit.

Sekarang, mereka meskipun tidak mendekati pulau hantu itu, mendengar pula suara tertawa yang mengerikan dan telah hampir berhasil merontokkan kesadaran mereka.

Tetapi ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar sudah hampir benar-benar jatuh ke dalam pengaruh suara itu, tiba-tiba terdengarlah suara tembang yang mengalun seolah-olah menyusur dedaunan dan sulur-sulur sepasang beringin itu. Kemudian dengan pengaruh yang sejuk, nada-nada itu menggetarkan udara dan menyusup ke dalam dada Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Suara tembang itupun mempunyai pengaruh yang luar biasa pula. Tetapi dayanya berlawanan dengan suara tertawa Pasingsingan. Suara tembang itu seolah-olah siraman air yang memadamkan api yang menyala-nyala membakar kesadaran mereka.

Maka bersama-sama dengan daya perlawanan masing-masing, suara tembang itu segera dapat menenangkan pikiran Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

Dan ketika mereka berdua bersama-sama menoleh ke arah suara itu, dilihatnya Ki Ageng Pandan Alas dengan enaknya duduk di atas tanah bersandar dinding ringin kurung itu dengan kaki bersilang. Sikapnya seperti seorang anak gembala yang dengan tenangnya berdendang di bawah pohon rindang. Ketika itu sinar matahari sedang dengan teriknya memanasi padang rumput. Lagunya adalah lagu kesayangan orang tua, yang sudah sering didengar oleh Mahesa Jenar, yaitu lagu Dandanggula.

Lewat lagunya itu, Pandan Alas pun telah memancarkan kesaktiannya pula untuk melawan kesaktian Pasingsingan.

Pasingsingan yang merasa bahwa serangannya dapat digagalkan oleh Pandan Alas, menjadi semakin marah. Maka dengan menggeram hebat ia berkata, Setan tua…. Tidak dapatkah kau menahan dirimu untuk tidak mencampuri urusanku. Aku telah mencoba melupakan kelakuanmu di Hutan Tambakbaya beberapa minggu lalu? Kini kembali kau berbuat gila, Pandan Alas, jangan menunggu sampai kesabaranku habis.

Ki Ageng Pandan Alas seolah-olah tidak mendengar kata-kata Pasingsingan itu. Ia masih saja berlagu terus sampai kalimat yang terakhir.

Melihat sikap Pandan Alas yang seolah-olah tidak mempedulikan ancamannya, Pasingsingan menjadi bertambah marah. Kini kesabarannya telah benar-benar habis. Menurut anggapannya, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Pandan Alas telah bersepakat untuk bersama-sama menghinanya. Karena itu ia telah bertekad untuk membuat perhitungan yang terakhir.

Pandan Alas…, biarlah aku berkata kepadamu demi persahabatan kita yang telah berpuluh-puluh tahun. Kalau kali ini kau tidak mau mendengarkan, biarlah untuk seterusnya kau tidak akan pernah mendengarnya lagi.
Pandan Alas…, coba kau tahan dirimu sedikit kali ini. Janganlah kau menghalangi aku untuk mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten. Kalau kau sendiri ingin memilikinya, sebaiknya kita berlomba siapakah yang mendapatkannya lebih dahulu. Juga terhadap kedua anak-anak yang tidak mempunyai sangkut paut apa-apa dengan kau itu. Biarlah aku bereskan dahulu. Yang seorang telah menghantam muridku dengan Sasra Birawa di hutan Tambakbaya, sedang seorang lagi telah menyerang aku sehingga jubahku tersobek, kata Pasingsingan.

TERDENGAR suara Pandan Alas tertawa pendek. Pasingsingan…, benarkah aku pernah bersahabat dengan kau? Kalau dahulu aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Pasingsingan pula, aku kira berbeda dengan Pasingsingan yang aku hadapi sekarang, tanya Pandan Alas.

Maksudmu? tanya Pasingsingan. Suaranya terdengar bergetar menahan kemarahan yang sudah memuncak. Tetapi karena ia memakai kedok maka kesan mukanya tak dapat diketahui.

Maksudku adalah… jawab Pandan Alas, Pasingsingan yang aku kenal sifatnya sama sekali berbeda dengan Pasingsingan yang sekarang berdiri di hadapanku. Pasingsingan yang aku kenal dahulu meskipun ujud dan bentuknya tepat seperti kau ini, tetapi wataknya adalah berlawanan sama sekali. Menurut perhitunganku, Pasingsingan sahabatku itu tidak mungkin mengambil seorang murid yang menamakan dirinya Lawa Ijo. Tidak mungkin pula kini bekerja mati-matian untuk merampas Nagasasra dan sabuk Inten dari tangan murid sahabatnya yang lain, yang bernama Ki Ageng Pengging Sepuh, serta putra sahabatnya yang bernama Sora Dipayana.

Tampaklah tubuh Pasingsingan menggigil menahan diri. Nafasnya berjalan semakin cepat. Kembali terdengar suaranya yang dalam, yang seolah-olah melingkar-lingkar di dalam perutnya. Pandan Alas…, lalu siapakah menurut dugaanmu aku ini?

Pandan Alas mengerinyitkan alisnya. Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kau menamakan dirimu Pasingsingan. Aku tidak membantah bahwa kau bernama Pasingsingan. Tetapi kau bukan Pasingsingan sahabatku itu, meskipun kau juga mempunyai tanda-tanda yang bersamaan dan ilmu Gelap Ngampar yang baru saja kau pertunjukkan untuk menjebol dada anak-anak itu.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tak sepatah kata pun berani mencampuri perbantahan mereka. Setelah mereka berdua mengalami serangan Pasingsingan dengan nada tertawanya yang bernama Gelap Ngampar itu, mereka merasa betapa kecil diri mereka untuk menghadapinya. Untunglah bahwa Pandan Alas berhasil menolong mereka menyelamatkan dari pengaruh ilmu Gelap Ngampar yang dahsyat itu.

Sekarang mereka berdua melihat kedua tokoh itu telah kehilangan kesabaran dan akan bertempur mati-matian. Maka sebaiknya bahwa mereka untuk sementara tidak usah mencampurinya.

Maka berdesirlah dada mereka ketika mereka melihat Pasingsingan yang sedang marah itu, tiba-tiba dari dalam jubahnya menarik sebilah pisau belati panjang. Pisau ini mirip benar bentuknya dengan pisau yang sering dipergunakan oleh gerombolan Lawa Ijo, tetapi pisau ini tidak berwarna putih mengkilap, melainkan kuning berkilau-kilauan.

Sambil memegang belati itu, Pasingsingan menggeram, Pandan Alas, aku tidak biasa bertempur dengan senjata kalau tidak sedang mempertimbangkan untuk memotong kepala seseorang. Sekarang kau di sini bertiga dengan tikus-tikus itu untuk bersama-sama mengeroyok aku. Biarlah aku tidak akan mundur. Bahkan aku ingin membawa kepalamu bertiga ke Mentaok sebagai suatu bukti bahwa Pasingsingan tak dapat dihinakan orang.

Melihat pisau belati panjang itu di tangan Pasingsingan serta mendengar kata-katanya, mau tidak mau hati Gajah Sora dan Mahesa Jenar bergetar hebat. Meskipun mereka bukan orang-orang kerdil yang takut mati, namun menghadapi seorang seperti Pasingsingan, mereka merasa gentar juga. Tetapi bagaimanapun apabila keadaan sudah memaksa maka apapun yang akan terjadi pasti harus dihadapi.

Diam-diam Gajah Sora dan Mahesa Jenar memusatkan segala kemampuannya yang ada lahir batin, dan disalurkannya menurut saluran masing-masing. Gajah Sora dengan Lebur Seketi dan Mahesa Jenar dengan Sasra Birawanya.

Pandan Alas yang sejak tadi tampaknya acuh tak acuh saja, setelah melihat Pasingsingan bersenjata, menjadi agak terkejut juga. Perlahan-lahan ia berdiri dan dengan mata yang berapi-api ia memandang Pasingsingan seperti memandang hantu. Rupa-rupanya orang tua itu pun telah menjadi marah.

Pasingsingan…, kau ingat bahwa dahulu kita pernah bertempur?

Pasingsingan tidak segera menjawab, agaknya ia sedang mengingat-ingat. Baru beberapa lama kemudian ia berkata, Aku ingat, Pandan Alas.
Barangkali waktu itu kita baru pertama kali bertempur. Bukankah begitu?, sambung Pandan Alas.

Kembali Pasingsingan mengingat-ingat. Apakah maksudmu dengan menceritakan kembali masa-masa yang telah lama silam itu. Banyak hal yang sudah tak dapat aku ingat kembali.

Aneh…, sahut Pandan Alas, pertemuan yang menarik itu, kau kira, baik kau maupun aku tak akan melupakannya.

Ya, aku ingat, jawab Pasingsingan kesal.

Waktu itu aku mengira kalau kau adalah seorang penjahat yang sedang menyembunyikan wajah aslimu di belakang kedokmu yang jelek itu. Tetapi setelah kita bertempur tiga hari tiga malam tanpa berkesudahan, barulah kita saling bertanya.

Pandan Alas… potong Pasingsingan, adakah kau sedang mengorek rasa persahabatanku supaya aku memaafkan kau sekarang ini? Ketahuilah, aku sudah terlanjur mencabut pisauku ini. Maka pisau ini harus menemukan korbannya. Kalau kau menyesal telah mencampuri urusanku, kau boleh pergi. Tetapi tikus-tikus ini tetap di tanganku.

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu bergeloralah dada Pandan Alas yang biasanya senang berkelakar. Meskipun demikian ia masih berkata tenang, Kenapa kau takut mendengar ceritera-ceritera masa silam Pasingsingan? Adakah sesuatu yang telah menyiksa perasaanmu sehingga kau tidak berani mengingatnya lagi?

Persetan dengan masa lampau, bentak Pasingsingan. Masa itu tak akan kembali lagi. Yang penting bagiku adalah masa kini dan masa depan perguruanku. Itu sebabnya aku berkeras untuk menemukan Nagasasra dan Sabuk Inten.

Kembali terdengar suara tertawa Pandan Alas yang dipaksakan. Katanya; “tetapi hari ini adalah kelangsungan dari hari kemarin dan seterusnya. Hidupmu sekarang adalah kelanjutan dari hidupmu 25 tahun yang lalu.”

“Omongan orang sekarat,” bantah Pasingsingan. “Aku pata menjalani kehidupanku kini tanpa masa lampau itu. Dan masa lampau itu sama sekali tak berarti bagiku.”

“Sebab masa lampau dari Pasingsingan itu bukan milikmu,” jawab Pandan Alas.

Jawaban yang diucapkan meskipun diucapkan alam nada yang rendah, tetapi mempunyai akibat yang hebat sekali. Pasingsingan yang telah sekian lama menahan kemarahannya, mendengar kata-kata Pandan Alas dengan darah yang menggelegak.

Maka dijawabnya hampir berteriak, “Apa perdulimu. Bahkan aku sendiri tidak perduli kepada masa lampau itu. Dan sekarang menghadapi saat terakhirmu kau tidak usah mengigau tentang Pasingsingan. Apakah aku Pasingsingan sahabatmu ataukah Pasingsingan yang lain tidaklah penting bagimu. Tetapi Pasingsingan yang sekarang berada dihadapanmu inilah yang akan menentukan saat terakhirmu bersama-sama dengan kedua orang yang terlalu sombong itu. Nah bersedialah untuk mati. Aku sudah hampir mulai.”

Ketegangan yang memuncak telah melibat otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar. namun mereka melihat Pandan Alas tersenyum pahit sambil berkata: ” Nah kalau demikian aku yang seharusnya menentukan sikap pula. Kau tidak usah menyebut lagi demi persahabatan kita, sebab persahabatan diantara kita tidak pernah kita alami. Kalau aku menyebut masa lampau itu hanyalah supaya aku yakin dengan siapa aku berhadapan. Sebab terhadap Pasingsingan sahabatku itu, tak mungkin aku bersikap keras. Sekarang silahkan mulai,” lalu tiba-tiba saja ditangan orang tua itu bercahayalah sinar yang kemilau. Itulah pusaka Pandan Alas yang dahsyat, yang bernama Kiai Sigar Penjalin.

Suasana segera menjadi hening sepi, tetapi diliputi oleh ketegangan yang memuncak. Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk diatas kuda masing-masing seperti patung. Meskipun didalam dada mereka bergolak berpuluh macam persoalan yang simpang siur sebab dihadapan mereka dua orang tokoh sakti akan bertanding mati-matian sehingga meeka berdua merasa perlu untuk mempergunakan pusak masing-masing.
Karena itu, maka pertempuran yang akan berlangsung pasti akan merupakan pertempuran antara hidup dan mati.

Tetapi sampai beberapa saat, mereka masih berpijak pada tempatnya masing-masing. Tak seorangpun dari kedua tokoh sakti yang bergerak. Sehingga terdengar kembali suara Ki Ageng Pandan Alas berkata: “Pasingsingan, silahkan mulai. Aku sudah siap.”

Tetapi Pasingsingan tidak juga bergerak dan tidak menyahut pula. Ketika kata-katanya tidak mendapat sambutan, kembali Pandan Alas berkata “Pasingsingan, kau jangan takut aku akan maju bersama kedua anak-anak itu. Sebenarnya aku merasa kurangperlu untuk mempergunakan pisau dapur yang tak berharga ini untuk melawanmu, tetapi aku tidak ingin merendahkanmu, sehingga terpaksa aku mempergunakannya juga. Meskipun demikian baiklah aku katakan kepadamu, bahwa mungkin karena kau sama sekali tak menghargai masa lampaumu itulah maka terasa ilmumu mengalami kemunduran.”

Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas itu tampaklah tubuh Pasingsingan bergetar serta tangannya yang memegang pusaka itu menggigil hebat. Ia sama sekali tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram hebat untuk menahan marahnya. Meskipun demikian Pasingsingan masih tidak bergerak dari tempatnya.

Sampai Ki Ageng Pandan Alas berkata; “Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kalian datang kemari ?. Tak usahlah kalian menonton orang tua bermain-main. Barangkali bagi kalian lebih baik apabila kalian kembali dan menjaga kedua keris itu.”

Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas tergetarlah dada Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka segera teringat kepada kedua pusaka yang hilang itu. Maka jawab Gajah Sora “Ki Ageng, ketika aku pulang tadi, aku masih sempat menyaksikan pusaka itu dicuri oleh Pasingsingan, tetapi aku sama sekali tak berdaya untuk menahannya.”

Kata-kata itu menggelegar seperti guruh yang meledak diatas kepala Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, sehingga Ki Ageng Pandan Alas terloncat maju mendekati Gajah Sora sambil berteriak; “apa katamu? kedua pusaka itu hilang diambil Pasingsingan ?.”

Belum lagi Gajah Sora menjawab terdengar Pasingsingan menyahut; “Gila, kau jangan mencoba memutar balikkan keadaan. Tipu muslihat yang tak berharga itu jangan kau pamerkan dihadapanku, supaya aku tidak lagi berusaha untuk mendapatkan pusaka dari tanganmu.”

Maka terdengarlah Gajah Sora berkata, “Ki Ageng Pandan Alas, aku berkata sebenarnya bahwa kedua keris itu telah hilang.”

“Tidak mungkin,” potong Ki Ageng Pandan Alas. “Pasingsingan sejak kau meninggalkan kami masih tetap bersama dengan aku.”

Gajah Sora menjadi ragu sebentar. Memang tidak mungkinlah bahwa Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Ki Ageng Pandan Alas dapat mengambil kedua keris itu. Karena itu katanya kemudian dengan jujur, “Ki Ageng, aku tidak dapat memastikan dengan jelas siapakah yang telah mengambil kedua keris itu. Tetapi aku dapat melihat bahwa orang itu memakai jubah abu-abu pula tepat seperti apa yang dipakai oleh Pasingsingan itu.”

“Apakah orang itu berkedok pula ?,” tanya Pandan Alas.
“Itulah yang tidak jelas,” jawab Gajah Sora.

Ki Ageng Pandan Alas tampak merenung. Rupa-rupanya ia seding berfikir keras apakah kira-kira yang telah terjadi.

Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan berkata, “Aku dapat mempercayai omonganmu Gajah Sora. Tampaknya kau memang tidak bermaksud membohongi kami. Dan rupa-rupanya karena itu pula kau menyerang aku dengan tombakmu. Nah kalau demikian aku tidak perlu terlalu lama lagi berada disini, sebab kedua keris yang aku kehendaki itu sudah tidak ada lagi. Tak ada gunanya lagi bagiku untuk melayani orang gila macam Pandan Alas. Tetapi meskipun demikian sekali waktu aku ingin bertemu dengan kau kembali.”

PASINGSINGAN tidak menunggu jawaban lagi. Dalam waktu sekejap ia telah hilang dari pandangan mereka.

Maka tinggallah kini Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang telah maju pula mendekati Gajah Sora, serta kemudian bersama-sama meloncat dari punggung kuda masing-masing.

Mahesa Jenar…, kata Ki Ageng Pandan Alas, aku berharap sekali bahwa aku atau kau berdua dapat menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu ke Istana Demak. Tetapi rupa-rupanya keadaan belum mengizinkan.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka berdua merasa bahwa mereka ternyata tak dapat memenuhi keinginan orang-orang tua.

Tampaklah bahwa Ki Ageng Pandan Alas terguncang pula hatinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam serta beberapa kali ia menghela nafas panjang. Sementara itu dari arah utara tampaklah sebuah bayangan yang seolah-olah melayang di udara mendekati mereka bertiga yang berdiri terpaku diantara kedua batang ringin kurung yang masih saja acuh tak acuh pada keadaan di sekitarnya.

Ternyata bahwa yang datang itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Ketika dilihatnya bahwa Ki Ageng Pandan Alas berada di situ pula, maka segera ia menyapanya, Selamat malam Adi Pandan Alas, apakah yang telah terjadi di sini?

Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. Namun dalam dada mereka terasa bahwa jantung mereka berdenyut semakin cepat.

Selamat malam, Kakang, jawab Pandan Alas. Aku baru saja bermain-main di sini bersama Pasingsingan.

Pasingsingan…? ulang Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. Rupa-rupanya ia datang bersama muridnya Lawa Ijo.
Rupa-rupanya orang itu benar-benar menginginkan kedua pusaka Demak yang disimpan oleh putramu, jawab Ki Ageng Pandan Alas.

Tidak hanya Pasingsingan, jawab Sora Dipayana. Untunglah bahwa Adi berada pula di sini, sebab aku tadi sedang sibuk melayani tamu dari Lodaya.

Sima Rodra? potong Pandan Alas.
Ya, ia datang bersama menantunya, dengan maksud yang sama.
Hebat…, hebat sekali, desis Pandan Alas. Setan dari Lodaya itu memerlukan datang pula.
Tetapi… sambung Pandan Alas setengah berbisik, tanyakanlah kepada putramu apa yang telah terjadi.

Tampaklah Ki Ageng Sora Dipayana menarik alisnya sehingga hampir bertemu.

Ada apa Gajah Sora…? Agaknya telah terjadi sesuatu? tanya Ki Ageng Sora Dipayana kepada Gajah Sora.

Maka segera Gajah Sora menceriterakan tentang apa yang telah dilihatnya pada saat lenyapnya Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya.

Mendengar keterangan Gajah Sora, hati Ki Ageng Sora Dipayana terguncang hebat, sampai tubuhnya menggigil. Wajahnya yang bening itu segera menjadi seolah-olah diaduk oleh kemarahannya.

Setan manakah yang telah mengganggu kami itu? geramnya.

Adi Pandan Alas… katanya kemudian, bukankah kau tidak melepaskan Pasingsingan itu barang sekejap?

Tidak, Kakang, jawab Pandan Alas. Ia tetap dalam pengawasanku.

Kembali keadaan menjadi sunyi. Kesunyian yang tegang. Masing-masing dikuasai oleh perasaan yang bercampur baur diantara marah, kesal dan kecewa.

Akhirnya berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, Gajah Sora dan Mahesa Jenar… memang apa yang terjadi adalah diluar kemampuanmu berdua. Apalagi kalian, kami yang tua-tua inipun menjadi pusing karenanya. Mungkin ada sesuatu yang tak beres pada Pasingsingan itu. Bukankah begitu Adi Pandan Alas?

Pandan Alas mengangguk mengiyakan. Lalu ia berkata, Aku menjadi sulit untuk mengatakan tentang Pasingsingan. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang tidak wajar. Meskipun demikian aku masih belum berani meyakinkan bahwa ada lebih dari satu Pasingsingan.

Kalau begitu marilah kita lihat rumah itu, ajak Sora Dipayana. Barangkali ada sesuatu yang dapat menunjukkan tanda-tanda siapakah yang telah mengambil kedua keris itu.

Maka segera berangkatlah mereka menuju ke rumah Gajah Sora, setelah Gajah Sora memungut kembali pusakanya. Mereka menjadi terkejut ketika mereka melihat kesibukan yang luar biasa. Segera mereka meloncat lebih cepat untuk segera dapat mengetahui apakah yang telah terjadi. Ternyata di Pringgitan, mereka melihat Wanamerta dan Sawungrana menggeletak tak sadarkan diri, sedang di sudut yang lain Panjawi yang luka parah menggeletak tak berdaya. Ketika mereka melangkah memasuki bagian dalam rumah Gajah Sora, mereka melihat Nyai Ageng Gajah Sora duduk bersimpuh, sedang di pangkuannya terletak kepala Arya yang masih pingsan.

Melihat kejadian itu semua, kembali Gajah Sora tergugah kemarahannya. Tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga karena itu giginya terdengar gemeretak dan nafasnya berjalan semakin cepat.

Sebenarnya ketika Sora Dipayana menyaksikan kejadian itu, hatinya tergetar pula.

Tetapi wajahnya nampak tenang-tenang saja. Perlahan-lahan Sora Dipayana membungkuk, meraba dada Arya dan meneliti bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dari ceritera Gajah Sora, ia sudah tahu apakah yang menyebabkan Arya luka-luka. Tetapi tentang Wanamerta, Sawungrana, Panjawi serta beberapa orang pengawal yang lain, belumlah diketahuinya.

Di depan ruang tidur Gajah Sora masih menggeletak sesosok tubuh yang masih belum dikenal. Apakah yang sudah terjadi dengan Paman Wanamerta dan yang lain-lain?
Tiba-tiba terdengar suara Gajah Sora gemetar.

ISTRI Gajah Sora menjawab, Ketika aku mendengar ribut-ribut… aku waktu itu sedang mengatur orang-orang yang mengungsi ke rumah ini di belakang, segera aku berlari masuk. Aku sudah tidak sempat menjumpai Kakang Gajah Sora dan Adi Mahesa Jenar yang katanya sedang mengejar seseorang berjubah abu-abu yang mencuri kedua pusaka simpanan Kakang. Tetapi tidak beberapa lama, muncullah begitu tiba-tiba saja di hadapan kami. Aku, Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Seorang yang pendek bongkok dan berwajah menakutkan, seolah-olah ia pernah mengalami suatu penyakit yang mengerikan. Orang itu datang kemari juga untuk mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Paman Wanamerta menyatakan bahwa ia tidak tahu-menahu kedua keris itu, serta menceriterakan dengan betul apa yang sudah terjadi. Tetapi rupa-rupanya orang itu tidak percaya, sehingga terjadilah pertempuran antara orang itu seorang melawan Paman Wanamerta berdua dengan Paman Sawungrana yang kemudian dibantu juga oleh Panjawi dan beberapa orang. Tetapi ternyata bahwa dengan mudahnya orang itu dapat mengalahkan mereka. Lalu langsung dibongkarnya segala barang-barang yang ada di rumah ini untuk mendapatkan kedua keris itu. Baru setelah ia yakin benar-benar bahwa kedua keris itu tak dapat diketemukan, maka seperti pada saat ia datang, segera ia pun lenyap.

Mendengar ceritera itu betapa terkejutnya Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Orang itu pasti seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi pula. Tetapi terlebih-lebih lagi adalah Sora Dipayana dan Pandan Alas, sehingga nampaklah wajah mereka berubah. Kedua orang itu hampir bersama-sama menyebutkan suatu nama yang cukup menggetarkan.

Itulah Bugel Kaliki dari Gunung Cerme

Mendengar nama itu disebut, barulah Gajah Sora dan Mahesa Jenar sadar betapa berbahayanya orang itu. Ia pernah mendengar nama Bugel Kaliki dari lembah Gunung Cerme itu dari mulut seorang sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten. Dalam sekejap itu tiba-tiba kesunyian mencengkam suasana. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang dengan tegang membayangkan apakah kira-kira yang telah terjadi.
Rupanya hantu itu telah mendengar pula tentang Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Akhirnya terdengar Ki Ageng Pandan Alas berkata perlahan.

Keadaan telah menjadi sedemikian rumit serta saling berkait, jawab Ki Ageng Sora Dipayana.

Mengenai Bugel itu, sudah jelas, sambung Ki Ageng Pandan Alas. Dan ia tidak mendapatkan apa yang dicari setelah dengan leluasa ia menggeledah setiap sudut di dalam rumah ini. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa ia tidak akan kembali lagi kemari. Tetapi ia akan mencari di tempat-tempat lain. Yang belum kita ketahui, justru yang berhasil membawa kedua pusaka itu, seorang yang berjubah abu-abu seperti jubah yang selalu dipakai oleh Pasingsingan.

Alis Ki Ageng Sora Dipayana yang sudah putih itu tampak bergerak-gerak. Rupa-rupanya ia pun sedang berpikir hebat. Akhirnya terdengarlah ia berkata, Gajah Sora dan Mahesa Jenar…, rupa-rupanya belum saatnya aku yang tua-tua ini menghabiskan sisa hidup kami untuk menikmati ketenteraman. Rupa-rupanya kini kami tidak dapat tinggal diam, menyendiri di puncak-puncak bukit. Aku tahu bahwa kau tentu bingung mengalami peristiwa-peristiwa ini. Jangan cemas, sebab kami pun telah pula menjadi bingung.

Ki Ageng Pandan Alas tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya. Jadi kalian mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak dalam kebingungan kalian, sambungnya.

Akh… kau badut tua, potong Sora Dipayana.

Maksudku, kami pun menjadi bingung, apalagi kalian, yang masih muda-muda. Nah, sekarang Gajah Sora… kau dapat mengundang Ki Lemah Telasih. Suruhlah orang itu mengobati anakmu dan orang-orangmu yang luka parah. Aku yakin bahwa luka-luka anakmu dan orang-orang itu tidak akan sampai membahayakan jiwanya di tangan Ki Lemah Telasih. Sekarang aku kira justru Banyubiru ini dapat aku tinggal dengan aman setelah kedua keris itu lenyap. Tetapi percayalah bahwa kepergianku itu merupakan suatu usaha untuk menemukannya pula, sambung Sora Dipayana.

Gajah Sora menundukkan kepalanya. Kemudian terdengarlah ia menjawab dengan suara yang dalam dan gemetar, Ayah…, maafkan aku yang sudah setua ini masih saja selalu mengganggu ketenteraman hidup ayah. Tetapi hal ini adalah benar-benar diluar kemampuanku.

Terdengarlah Ki Ageng Sora Dipayana tertawa pendek. Jangan salahkan dirimu. Akulah yang tidak mampu menjadikan kau orang yang luar biasa. Tak apalah. Sekarang biarlah aku pergi dengan Adi Pandan Alas. Mungkin arah kita berbeda, tetapi tujuan kita adalah sama. Menemukan kedua keris itu kembali, sebab permainan ini sudah mulai dicampuri pula oleh orang-orang tua.

Gajah Sora tidak dapat menjawab kata-kata ayahnya. Ia menjadi terharu sekali. Sebaliknya Mahesa Jenar merasakan betapa sepi hidupnya sepeninggal gurunya. Tak ada lagi orang yang akan menjadi tempat mengadu dan mohon pertolongan. Meskipun ia merasa bahwa sebagai seorang laki-laki dirinyalah tempat untuk mengadu. Serta pada dirinya itu pulalah kepercayaan yang terakhir harus dilandaskan.

MENGHADAPI kenyataan itu, dirasakan betapa pahitnya hidup Mahesa Jenar sebatang kara, diantara manusia-manusia perkasa yang dalam setiap saat memungkinkan adanya bentrokan-bentrokan yang hanya dapat diselesaikan dengan mengadu kesaktian.

Tetapi hati Mahesa Jenar agak terhibur juga melihat adanya orang-orang tua seperti Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten yang sudah pernah dirasakan betapa persahabatan mereka dengan gurunya melimpah pula kepada dirinya.

Sesaat kemudian terdengarlah Ki Ageng Pandan Alas berkata, Gajah Sora dan Mahesa Jenar…, aku sependapat dengan Kakang Sora Dipayana. Sebab berhadapan dengan orang-orang tua macam Sima Rodra, Pasingsingan, Bugel Kaliki, harus orang-orang tua pulalah yang melayaninya. Meskipun bagi kami sebenarnya lebih senang minum-minum sambil mengunyah jadah jenang alot. Bukan begitu, Kakang?

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, lalu jawabnya, Begitulah kira-kira. Dan sekarang, marilah kita mulai kehidupan kita seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Seperti seekor burung yang lepas di udara, hinggap dari satu dahan ke lain dahan, dari satu cabang ke lain cabang.

Tetapi aku tak akan sebebas dahulu, sahut Ki Ageng Pandan Alas. Sebab aku sekarang mempunyai seorang murid. Akan aku bawa muridku itu untuk menambah pengalamannya.

Murid…? potong Ki Ageng Sora Dipayana.

Ya, muridku seorang pemuda tampan yang masih seperti batu pecahan, jawab Pandan Alas, dan aku harus mengasahnya sejak gosokan yang pertama. Untunglah bahwa ia memiliki bakat yang baik.

Setelah mengadakan beberapa persiapan dan pesan-pesan, Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Pandan Alas segera minta diri untuk memulai penghidupan dalam pengembaraan yang kedua sejak mereka menghentikan pengembaraan mereka pada masa muda mereka.

Mereka tidak perlu lagi menunggu sampai esok atau lusa. Sebab bagi seorang pengembara, siang atau malam sama saja. Gajah Sora suami- istri dan Mahesa Jenar melepas mereka dengan perasaan yang berat dan terharu. Orang-orang tua yang seharusnya tinggal menikmati hasil lelah masa mudanya, masih harus bekerja keras untuk kesejahteraan umat manusia.

Tak ada yang membatasi umur kita untuk berjuang, kata Ki Ageng Sora Dipayana ketika ia melangkah keluar gerbang halaman. Yang disambung oleh Ki Ageng Pandan Alas, He, Mahesa Jenar, adakah kau dahulu memenuhi permintaanku? Menunggu sampai jagungku tua? Kalau begitu aku akan singgah dahulu ke sana untuk menikmati dua tiga buah jagung bakar.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, seperti terbang Ki Ageng Pandan Alas segera lenyap di gelap malam. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu. Memang Adi Pandan Alas dalam keadaan yang bagaimanapun juga, tetap saja dapat tertawa. Dengan begitu, rupa-rupanya ia akan panjang umur, kata Ki Ageng Sora Dipayana.

Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati-hatilah dengan pekerjaanmu masing-masing. Mudah-mudahan semuanya selamat dan baik. Biarlah aku pergi sekarang, sambung Ki Ageng kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama mengangguk hormat dan mengucapkan selamat jalan. Maka berangkatlah Ki Ageng Sora Dipayana ke arah yang bertentangan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Orang tua itu melangkah perlahan-lahan seperti orang yang sedang berjalan-jalan menghirup kesejukan udara malam.

Setelah Ki Ageng Sora Dipayana lenyap dari pandangan mereka, dan tenggelam dalam kehitaman malam, segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar masuk kembali ke dalam rumah. Dilihatnya di sana Ki Lemah Telasih telah datang dan telah mencoba mengobati Aria Salaka, Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan orang-orang yang terluka, dengan ramuan dedaunan, dan dengan memijat-mijat berusaha mengembalikan urat-urat yang salah letak.

Ki Lemah Telasih tampaknya masih agak lebih muda dari Ki Asem Gede, tetapi tubuhnya jauh lebih besar dan lebih tinggi. Hanya matanya sajalah yang mirip benar dengan Ki Asem Gede, sejuk dan damai.

Dengan cekatan ia merawat orang-orang yang terluka itu berganti-ganti, sehingga beberapa saat kemudian semua telah diobatinya dan dibaringkannya di tempat yang tenang.

Nyai Gajah Sora masih saja merenungi putranya yang terbaring di bale-bale tempat tidur ayahnya dengan tanpa bergerak. Sedang di mata Nyi Ageng Gajah Sora itu kadang-kadang masih tampak butiran-butiran air mata yang satu-satu menetes memercikkan kesedihan hatinya. Tetapi karena kepandaian Ki Lemah Telasih, nafas Arya Salaka telah mulai berjalan teratur dan detak jantungnya sudah mulai berjalan wajar.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk berdiam diri sebelah-menyebelah dari ruang tidur tempat Arya terbaring. Wajah-wajah mereka tampak suram serta pandangan mereka seakan-akan jauh menembus lantai kelam yang tak dikenal.

Suasana menjadi sepi. Di kejauhan terdengar semakin jelas gonggongan anjing-anjing liar bersahut-sahutan, seolah-olah mereka berkata bahwa malam adalah milik mereka.
Sepi malam yang mencengkam itu kemudian dipecahkan oleh suara Ki Lemah Telasih. Ki Ageng, luka-luka Ananda Arya tidaklah begitu berat. Mudah-mudahan atas kemurahan Tuhan, dalam waktu yang singkat luka itu akan segera sembuh kembali.

Gajah Sora menoleh perlahan-lahan ke arah Ki Lemah Telasih. Syukurlah, Kakang. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan. Lalu bagaimana dengan Paman Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan lain-lain?
Tampaknya luka-luka mereka pun akan dapat disembuhkan.

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimanapun, hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten telah merupakan suatu lecutan pedih yang tak akan pernah dilupakan.

TIBA-TIBA tanpa disengaja, pandangan mata Gajah Sora terlempar ke arah sesosok tubuh yang masih belum ada seorang pun yang berani mengubah letaknya, yang menggeletak di muka ruang tidur Gajah Sora. Seketika itu dadanya menggelora kembali, tetapi dicobanya untuk menenangkan dirinya. Perlahan-lahan ia berdiri dan memeriksa mayat yang masih belum berkisar sama sekali itu. Tetapi pada mayat itu sama sekali tak dijumpainya tanda-tanda apapun yang dapat memberi petunjuk tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Karena itu ia pun segera duduk kembali.
Suasana di dalam rumah itu kembali dikuasai oleh kesepian yang menekan, tetapi didalam setiap dada orang-orang yang berada di dalam rumah itu bergulatlah perasaan-perasaan yang simpang siur.

Dalam kesepian malam, di sela-sela gonggong anjing-anjing liar dan pekik burung-burung malam, lamat-lamat terdengarlah derap kaki kuda yang menderu-deru, semakin lama semakin dekat. Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mengangkat kepalanya untuk mengetahui dari manakah datangnya suara-suara itu.

Suara itu ternyata adalah suara derap dari berpuluh-puluh ekor kuda. Tetapi karena sampai beberapa lama masih tidak terdengar tanda apapun, maka tahulah mereka bahwa rombongan itu pasti bukanlah rombongan dari orang-orang yang menyerang Banyubiru.

Dan apa yang diduganya adalah benar. Rombongan itu adalah rombongan dari Laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir laskar-laskar yang menyerbu daerah mereka. Diantara mereka adalah Ki Ageng Lembu Sora, Pandan Kuning, dan tokoh-tokoh lainnya.

Sampai di halaman rumah Gajah Sora, segera mereka turun dari kuda masing-masing. Dengan wajah berseri-seri mereka segera masuk. Tetapi demikian mereka melangkah masuk, segera mereka menjadi terkejut dan bertanya-tanya. Di hadapan mereka terkapar sesosok mayat, sedang di bale-bale di sisi-sisi ruangan itu terbaring pula Wanamerta, Sawungrana, Panjawi dan beberapa orang lagi.

Apakah yang terjadi di rumah ini, Anakmas? tanya Pandan Kuning gugup.
Beberapa orang telah datang ke rumah ini dan mengaduk segala isinya, jawab Gajah Sora.

Lembu Sora ketika melihat orang yang terbaring di depan ruang tidur Gajah Sora itu, menjadi terkejut. Wajahnya segera berubah. Tetapi sebentar kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali. Meskipun demikian segera ia melangkah masuk, langsung menuju ke arah mayat yang masih terkapar itu. Dengan kakinya ia menggerak-gerakkan tubuh itu dan membalikkannya sehingga mayat itu terlentang.

Bagaimanapun Lembu Sora mencoba menahan hatinya, Mahesa Jenar dapat menangkap suatu kesan yang aneh pada wajah Lembu Sora itu.

Siapakah orang ini, Kakang? tanya Lembu Sora kepada Gajah Sora.

Gajah Sora sama sekali tidak memperhatikan wajah adiknya sehingga tak suatu pun dapat ditangkap dari kelakuan Lembu Sora, yang menurut tangkapan Mahesa Jenar agak kurang wajar.

Entahlah, Adik, jawab Gajah Sora. Ia termasuk salah seorang dari tiga orang yang telah memasuki rumah ini.

Tiga orang? ulang Lembu Sora terkejut.

Ya, tiga orang. Dan satu dapat dibinasakan. Dialah orangnya yang tak beruntung, dapat dibunuh oleh Arya dengan tombak pusaka Kiai Banyak, sambung Gajah Sora.

Arya dapat membunuh orang ini?

Agaknya, bagi Lembu Sora sangatlah mustahil bahwa Arya dapat berbuat demikian.

Gajah Sora mengangguk mengiyakan.

Siapakah yang dua lagi? tanya Lembu Sora lebih lanjut.

Yang kedua, aku tidak tahu, jawab Gajah Sora. Sedang yang ketiga adalah Bugel Kaliki.

Bugel Kaliki…? Siapakah orang itu? tanya Lembu Sora.

Akhirnya Gajah Sora dengan agak segan-segan terpaksa menceriterakan tentang kedatangan tokoh-tokoh sakti ke dalam rumah ini.

Adakah salah seorang dari mereka berhasil mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten? tanya Lembu Sora lebih lanjut.

Orang kedua yang tak kukenal itulah yang membawanya, jawab Gajah Sora.

Mendengar jawaban itu, wajah Lembu Sora berubah menjadi merah membara. Tubuhnya gemetar serta giginya gemeretak. Rupa-rupanya ia pun marah sekali akan hilangnya kedua pusaka simpanan kakaknya itu.

Tetapi dalam tanggapan Mahesa Jenar, sama sekali bukanlah demikian. Bagaimanapun ia sudah mempunyai prasangka yang tidak baik terhadap Lembu Sora.
Tidakkah Kakang dapat mencurigai seseorang? kata Lembu Sora tiba-tiba.

Mendengar kata-kata adiknya itu Gajah Sora terkejut. Ia tidak tahu maksud kata-kata itu. Melihat kesan itu, Lembu Sora menyambung, Kakang.., aku percaya akan kesetiaan rakyat Banyubiru terhadap Kakang, sehingga tidaklah mungkin mereka mau mengkhianati Kakang. Tetapi ternyata keris itu lenyap juga, meskipun menilik cara penjagaan halaman ini adalah tidak mungkin sama sekali, kecuali orang macam Bugel Kaliki. Tetapi barangkali Kakang lupa, bahwa diantara rakyat Banyubiru yang setia ini, di dalam rumah ini terdapat orang lain.

Kata-kata yang diucapkan dengan tegas itu terdengar di telinga Mahesa Jenar seperti petir yang meledak di tengkuknya.

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit yang berwatak ksatria serta benar-benar seorang laki-laki jantan. Ia sendiri sangat membenci sifat-sifat licik dan curang.

Sekarang didengarnya lewat telinganya sendiri, seseorang memfitnahnya, menuduhnya berbuat curang dan pengkhianatan terhadap Gajah Sora, yang meskipun belum begitu lama dikenalnya, tetapi karena sifat-sifatnya serta persamaan tujuan, maka orang itu sudah dianggapnya lebih dari seorang sahabat biasa.

DARAH Mahesa Jenar segera bergolak. Dadanya tiba-tiba merasa sesak oleh desakan kemarahan. Untunglah bahwa masih diingatnya bahwa di ruangan itu terbaring beberapa orang yang terluka serta di dalam ruang sebelah putera Gajah Sora masih juga belum sadarkan diri. Karena itu sekuat-kuatnya ia masih mencoba menguasai dirinya.

Adi Lembu Sora…, kata Gajah Sora, kau jangan terlalu cepat mengemukakan pendapat sebelum kau pikirkan masak-masak untung-ruginya. Sudah aku katakan bahwa aku sendiri dapat melihat orangnya yang mengambil pusaka-pusaka itu. Jadi kalau benar dugaanmu pasti akulah orangnya yang pertama-tama akan bertindak.

Rupa-rupanya Lembu Sora masih belum puas mendengar jawaban kakaknya, maka ia menyahut, Untuk melakukan pekerjaan itu, tidaklah perlu harus ditangani sendiri. Tetapi adanya seorang asing di dalam halaman ini, telah merupakan suatu kemungkinan untuk menuntun datangnya orang kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab segala sesuatu telah dapat dipersiapkannya dengan saksama.
Jantung Mahesa Jenar rasa-rasanya hampir meledak mendengar kata-kata itu. Tetapi ketika ia melihat Gajah Sora telah berdiri dari duduknya, ia masih mencoba sekuat-kuatnya menahan diri.

Sudahlah, Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora, pendapatmu baik aku perhatikan. Tetapi biarlah aku yang memutuskan.

Tidak, Kakang… bantah Lembu Sora, Mumpung sekarang kita sedang lengkap di hadapan Kakang, siap untuk menghukum siapapun yang mencoba untuk mengganggu ketenangan Banyubiru, meskipun ia adalah bekas sahabat Kakang sendiri. Adakah Kakang yakin bahwa orang itu sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang yang menyerang Banyubiru?

Kembali Lembu Sora melanjutkan hasutannya, Kakang Gajah Sora, paman Pandan Kuning, Bantaran Wirapati dan lain-lainnya telah bertempur dengan gagah perkasa mengusik laskar penyerbu itu. Dan sekarang di sini mereka harus menyaksikan seorang diantara penjahat-penjahat itu, yang mungkin lebih licik dan licin mendapat perlindungan dari Kakang. Apakah…..

Cukup! potong Gajah Sora. Kau jangan mengurus aku, Lembu Sora. Aku senang sekali bahwa kau mencoba ikut serta memecahkan kesulitan-kesulitan yang aku alami. Tetapi janganlah kau memaksakan suatu pendapat yang belum dapat diyakinkan kebenarannya. Menghukum seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja tanpa bukti-bukti akan kesalahannya. Karena itu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu itu, tetapi sebaiknya kau beristirahat di tempat yang sudah kami sediakan.

Paman Pandan Kuning…, kata Lembu Sora seolah-olah tidak mendengar kata-kata kakaknya, … dan paman-paman yang lain serta para perwira di Banyubiru…. Dapatkah kalian membiarkan orang yang berkedok persahabatan ini mengkhianati kepala daerah kalian? Hilangnya kedua pusaka itu adalah suatu pengkhianatan yang tiada taranya dalam sejarah Banyubiru, sejak ayah Sora Dipayana masih memegang pemerintahan di Pangrantunan. Tetapi ternyata Kakang Gajah Sora adalah seorang yang terlalu luhur budi dan pengasih, sehingga ia tidak sampai hati untuk bertindak terhadap seorang yang menamakan diri sahabatnya.
Nah, para pahlawan, sekarang adalah waktunya bagi kalian untuk menunjukkan bakti kalian terhadap kepala daerah kalian serta daerah kelahiran kalian, tambah Lembu Sora.

Akibat kata-kata Lembu Sora yang diucapkan dengan berapi-api itu, ternyata hebat sekali. Mereka yang disebutnya pahlawan yang mempunyai kesempatan untuk berbakti itu, tiba-tiba menjadi lupa diri. Beberapa orang telah bergerak untuk menangkap Mahesa Jenar. Sedangkan Lembu Sora sendiri segera menarik pedangnya yang besar sekali, dan siap diayunkan.

Kini Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Banyak hal yang akan dikatakan untuk menyatakan kebersihannya serta banyak hal lagi yang dapat dikatakan pula tentang ketidakwajaran Lembu Sora. Tetapi terdorong oleh kemarahan yang memuncak maka bibirnya hanyalah tampak bergetar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Apalagi ketika ia melihat Lembu Sora telah menarik pedangnya, maka tidak ada pilihan lain kecuali bertempur mati-matian.

Segera Mahesa Jenar memusatkan segala kekuatan lahir batin, mengatur jalan pernafasannya dan siap untuk mempergunakan Sasra Birawa dalam pukulan yang pertama. Sebab ia tidak mau menanggung akibatnya apabila Lembu Sora telah memiliki aji Lebur Seketi seperti kakaknya. Maka sebagai seekor banteng murka, ia cepat berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ketika Lembu Sora beserta beberapa orang yang berotak kosong serta hanya berpikir pendek untuk dapat disebut sebagai seorang pahlawan tanpa menilik masalahnya lebih dalam lagi, mulai bergerak. Tampaklah dengan kecepatan kilat Gajah Sora meloncat maju ke depan adiknya beserta orang-orang itu.

Dengan wajah merah membara, Gajah Sora berteriak dengan penuh kemarahan, Hai orang-orang Banyubiru, akulah kepala daerah perdikan di sini. Kalau kalian maju selangkah lagi, kalian akan berhadapan dengan aku.

Lontaran suara yang penuh dengan perasaan marah itu terdengar dahsyat sekali. Beberapa orang yang telah bergerak seperti orang mabuk itu, tiba-tiba seperti terlempar kembali ke alam kesadaran. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang dengan penuh kebaktian dan kesetiaan mengabdikan diri mereka kepada tanah kelahiran serta kepala daerah perdikan mereka.

Tetapi karena itu pulalah dengan mempergunakan kesadaran akan kesetiaan itulah maka mereka kadang-kadang dapat dengan mudah digelincirkan ke dalam suatu perbuatan yang salah, yang justru bertentangan dengan kesetiaan mereka sendiri tanpa sesadar mereka.

Sekarang tiba-tiba pemimpin yang ditakuti, disegani dan dicintai itu seolah-olah telah menantang mereka. Maka tidaklah mustahil bahwa beberapa orang kemudian menjadi gemetar ketakutan seperti seekor tikus di tangan seekor kucing yang ganas.

LEMBU SORA, bagaimanapun angkuhnya, ketika melihat kakaknya benar-benar telah marah, dan benar-benar tidak termakan oleh hasutan-hasutannya itu pun menjadi agak takut pula. Sebab ia tahu betul akan sifat-sifat Gajah Sora. Meskipun dalam banyak hal Gajah Sora selalu mencoba untuk mengalah terhadap adik kesayangan ibunya itu. Tetapi apabila ia telah menentukan suatu sikap, tak seorang pun mampu mengubahnya.

Karena itu dengan kecewa dan menyesal, Lembu Sora mundur beberapa langkah. Lalu katanya, Maafkan aku, Kakang. Maksudku adalah baik, untuk kepentingan masa datang Kakang dan kesan yang teguh atas kepemimpinan Kakang. Tetapi agaknya Kakang salah terima.

Sarungkan senjata itu, perintah Gajah Sora.

Sekali lagi Lembu Sora tak berani melawan perintah kakaknya. Dengan segera pedangnya itu disarungkannya pula.

Suasana tegang itu kemudian untuk beberapa saat menjadi semakin tegang. Tak seorangpun yang berani bergerak, meskipun hanya jari kakinya. Bernafaspun mereka menjadi berhati-hati sekali, seolah-olah takut kalau-kalau bunyi nafasnya dapat menambah kemarahan Gajah Sora.

Lembu Sora…, kembali terdengar suara Gajah Sora. Tetapi kali ini terasa bahwa kemarahannya telah menurun. Bagaimanapun ia adalah seorang kepala daerah yang bijaksana. Maka sekali ini pun ia menunjukkan kebijaksanaannya.

Baiklah… kau beritirahat, sambung Gajah Sora, mungkin kau terlalu lelah sehingga pikiranmu tak dapat berjalan dengan baik. Juga kalian laskar Banyubiru, aku persilahkan meninggalkan ruangan ini untuk mengaso. Setelah kalian bertempur untuk mempertahankan tanah ini, mungkin sekali otak kalian pun agak terganggu. Tetapi tak apalah…. Sekarang pergilah.

Tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Dengan kepala tunduk, mereka berjalan berebutan untuk lebih dahulu meninggalkan ruangan yang rasa-rasanya menjadi panas sekali. Demikian mereka sampai di halaman, segera mereka meloncat ke atas kuda masing-masing.

Dengan segera kuda-kuda itu dipacu pulang ke rumah masing-masing untuk menyatakan keselamatan mereka kepada keluarga mereka masing-masing yang menanti dengan hati cemas. Sedang beberapa orang lagi bertugas untuk merawat kawan-kawan mereka yang gugur, dan yang terluka pun segera dengan tekun melakukan tugas masing-masing.

Lembu Sora pun segera mengundurkan diri bersama-sama dengan para pengiringnya, ke tempat yang sudah disediakan, di gandok sebelah barat.

Sepeninggal mereka, di dalam ruangan itu tinggallah Gajah Sora, Mahesa Jenar, Ki Lemah Telasih, dan orang-orang yang terluka. Mereka duduk tepekur tanpa berkata-kata. Angan-angan mereka mengalir menuruti pikiran masing-masing.
Suasana segera menjadi hening. Kembali terdengar di kejauhan gonggong anjing-anjing liar berebut makanan. Sedang di ruang itu beberapa orang duduk seperti patung, kaku dan membisu. Tetapi perasaan mereka berputar seperti baling-baling.

Baru beberapa saat kemudian terdengar Gajah Sora berkata, Adi Mahesa Jenar… maafkan kelakuan Lembu Sora beserta beberapa orangku yang sama sekali tidak sopan.
Tetapi percayalah bahwa orang-orangku sama sekali tak mempunyai pandangan yang kurang baik terhadap Adi. Sayang bahwa Lembu Sora telah menyeret mereka ke dalam suatu tindakan yang memalukan.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak akan dapat melupakan tuduhan pengkhianatan yang dilancarkan oleh Lembu Sora. Terhadap laskar Banyubiru, memang ia tidak menaruh banyak perhatian, sebab mereka hanya terpengaruh oleh hasutan-hasutan Lembu Sora saja. Namun, meskipun demikian, kepada Gajah Sora ia menjawab, Sudahlah Kakang, mudah-mudahan aku dapat melupakannya. Aku harapkan bahwa Ki Ageng Lembu Sora tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan keadaan.

Gajah Sora mengangguk-angguk kecil. Ia dapat merasakan sepenuhnya kekecewaan Mahesa Jenar terhadap adiknya. Karena itu ia berkata menyambung, Aku akan mencoba selalu mengawasi anak itu selama ia berada di Banyubiru. Mudah-mudahan ia segan meninggalkan rumah ini untuk tidak menambah pekerjaannku

Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali keadaan ruangan itu menjadi sepi. Sepi dan kaku, seperti garis-garis lurus dari sambungan-sambungan papan gebyok rumah Gajah Sora yang pecah berserakan karena ditembus oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama.

Kesepian itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara rintih Arya Salaka dari dalam ruang tidur Gajah Sora. Mendengar suara itu, hampir bersamaan Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih meloncat, mendekati Arya. Wajah Gajah Sora yang suram itu segera berubah, karena tumbuhnya harapan yang semakin besar, bahwa Arya Salaka akan segera dapat sadar kembali.

Ketika mereka bersama-sama memasuki ruangan itu, mereka melihat Arya sudah mulai menggerakkan kepalanya, dan perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Terdengarlah dari mulutnya ia merintih dan akhirnya terdengar Arya perlahan-lahan sekali menangis, meskipun agaknya ia mencoba menahannya kuat-kuat.

IBU Arya Salaka yang melihat Arya mulai sadar, segera memeluknya dan menciuminya dengan penuh rasa kasih dari seorang ibu. Tetapi Ki Lemah Telasih sebagai seorang tabib segera mencoba mencegahnya. ”Nyai Ageng, biarlah Ananda Arya bebas bernafas dahulu, supaya tubuhnya menjadi segar.”

Wajah Gajah Sora pun segera menjadi cerah. Meskipun luka di hatinya dengan hilangnya kedua pusaka itu begitu dalam, namun Arya Salaka pun merupakan mutiara di hatinya yang tidak kalah nilainya.

Mahesa Jenar yang sejak melihat Arya untuk pertama kali telah mengagumi anak itu, kini ia bertambah kagum lagi. Anak-anak yang masih pantas bermain gundu itu, andaikata tidak ada orang kedua, telah berhasil menggagalkan suatu usaha dari seorang yang tentu berilmu tinggi, dalam usahanya mencuri Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Dalam asuhan Ki Ageng Gajah Sora, pastilah Arya kelak akan menjadi manusia yang mumpuni lahir dan batin. Apalagi andaikata kakeknya Ki Ageng Sora Dipayana juga mau mengasuhnya.

Sebentar kemudian Arya Salaka telah benar-benar sadar. Ia telah mulai mengenali orang-orang yang berdiri di sekitar tempat pembaringannya.

Pada saat itu malam telah semakin jauh, bahkan ayam jantan telah mulai berkokok untuk ketiga kalinya, suatu pertanda bahwa sebentar lagi fajar akan datang.
Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih pun segera meninggalkan Arya Salaka yang sudah mulai dapat tidur ditunggui oleh ibunya yang berbaring di sampingnya. Ki Lemah Telasih dan Mahesa Jenar kemudian meninggalkan ruangan itu pula untuk beristirahat.

Ketika Mahesa Jenar turun dari pendapa untuk mengantarkan Ki Lemah Telasih sampai di gerbang halaman, tampaklah di timur sudah mulai membayang warna kemerah-merahan yang melapisi langit. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah Mahesa Jenar yang masih tampak berminyak karena keringat yang berlapis debu.

Meskipun demikian perasaan segar terasa menusuk sampai ke tulang sungsum.
Perlahan-lahan ia berjalan ke gandok sebelah timur untuk beristirahat. Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia memasuki ruang yang disediakan untuknya.

Rupa-rupanya ruangan itu pun telah dibongkar dengan teliti.

Melihat hal itu, Mahesa Jenar tertegun. Ia tiada tahu siapakah yang telah melakukan perbuatan itu, tetapi kejadian itu telah menyalakan kembali kemarahannya. Sayanglah bahwa Lembu Sora kebetulan adalah adik Gajah Sora. Kalau saja tidak ada hubungan antara kedua orang itu, sudah pasti bahwa ia akan membuat perhitungan secepat-cepatnya dengan Lembu Sora. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, yang dapat dilakukannya hanyalah menyimpan kemarahannya itu di dalam dadanya yang menjadi sesak.

Akhirnya dengan susah payah ia dapat meredakan gelora hatinya sendiri. Dan karena kelelahan, Mahesa Jenar kemudian merebahkan dirinya di atas pembaringan dan sejenak kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.

Demikian nyenyaknya ia tidur, sehingga tidak terasa bahwa hari telah tinggi. Meskipun demikian masih saja ia belum bangun, apabila tidak didengarnya derap kuda di halaman. Ketika ia bangun dan membuka pintu depan, tampak sudah siap untuk berangkat Ki Ageng Lembu Sora beserta rombongannya.

Melihat Lembu Sora siap meninggalkan Banyubiru, tanpa sadar Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa syukur bahwa orang yang sama sekali tak menyenangkan, baik wataknya maupun bentuk tubuhnya yang kaku itu, segera akan meninggalkan Banyubiru sebelum terjadi sesuatu.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sorapun memandang ke arah pintu yang sudah terbuka sedikit itu, dimana Mahesa Jenar sedang berdiri mengawasinya.

Benturan pandangan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah menimbulkan ledakan yang hebat di hati masing-masing. Pandangan mereka segera berubah menjadi tajam dan seolah-olah meskipun tanpa diucapkan, mereka telah berjanji bahwa pada suatu ketika mereka akan berhadapan sebagai lawan yang harus membuat perhitungan dengan taruhan yang sangat mahal.

Sebentar kemudian, Ki Ageng Lembu Sora segera memberi aba-aba kepada para pengiringnya, dan segera mereka pun pergi meninggalkan halaman Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Sampai di regol halaman, sekali lagi Lembu Sora menoleh kepada kakaknya yang melepasnya dari atas pendapa beserta istrinya. Dan dengan sekali lagi menganggukkan kepalanya, Lembu Sora lenyap dari pandangan mereka.

Setelah Lembu Sora hilang di balik pagar halaman, serta Ki Ageng Gajah Sora telah masuk kembali ke dalam rumah, segera Mahesa Jenar keluar dari Gandok Wetan dan langsung pergi lewat pintu pagar samping, menuruti tangga batu, pergi ke mata air dimana ia biasa mandi.

Tetapi baru saja ia akan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba dilihatnya dua bayangan diantara pepohonan agak diatas mata air itu. Dan ketika ia memandangnya lebih tajam lagi, dilihatnya seorang tua dengan seorang pemuda tampan berdiri memandangnya. Alangkah terkejutnya ketika diketahuinya bahwa orang tua itu tidak lain adalah Ki Ageng Pandan Alas yang berdiri bertolak pinggang sambil tertawa nyaring. ”Kau agak kesiangan bangun, Mahesa Jenar,” katanya diantara derai tertawanya.

Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. ”Ya, Ki Ageng,” jawabnya.
”Mahesa Jenar…” sambung Ki Ageng Pandan Alas, ”Apakah Kakang Sora Dipayana telah meninggalkan Banyubiru?”
”Sudah, Ki Ageng.”
”Bagus,” sahut Pandan Alas. ”Aku juga akan segera pergi. Tetapi sengaja aku singgah sebentar untuk memperkenalkan muridku ini kepadamu.”

Barulah Mahesa Jenar sadar bahwa Pandan Alas itu berdiri di sana dengan seorang lagi. Maka ketika ia mendengar bahwa Pandan Alas bermaksud memperkenalkannya dengan muridnya, segera ia membetulkan pakaiannya dan melangkah mendekat.

Tetapi segera ia berhenti ketika Ki Ageng Pandan Alas menegornya, ”Tak usah kau naik kemari, Mahesa Jenar. Muridku agak malu berkenalan dengan kau yang telah memiliki nama besar sebagai seorang perwira prajurit Demak. Tidak saja itu, tetapi juga sebagai penolong yang luhur budi.”

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: