Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 10

Lanjutan dari jilid 9

DENGAN hati-hati Mahesa Jenar menyusur dinding goa mendekati arah suara itu. Dan karena ketajaman telinganya, akhirnya Mahesa Jenar menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya orang itupun bergerak pula semakin lama semakin dalam dan melewati berpuluh-puluh cabang yang membingungkan.

Namun Mahesa Jenar telah bertekad untuk mengikuti orang itu sampai ditangkapnya. Sebab ia yakin bahwa lukanya tidak akan mengijinkan orang itu bergerak leluasa.

Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba Mahesa Jenar tertegun. Ia sampai pada suatu ruangan yang agak lebar dan tidak terlalu gelap. Ketika ia melihat ke atas, tampaklah beberapa lobang-lobang yang tembus. Dari sanalah cahaya pagi jatuh menerangi ruangan itu seperti ruangan-ruangan yang sering dipergunakan bermain-main oleh para cantrik.

Untuk beberapa lama, sekali lagi Mahesa Jenar kebingungan. Sekarang ia sama sekali tidak lagi mendengar suara apapun. Juga suara batuk-batuk orang yang dikejarnya itupun telah lenyap.

Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi marah kembali. Dengan saksama ditelitinya dinding ruangan itu kalau-kalau ada yang mencurigakan. Tetapi selain pintu masuk yang dilewatinya tadi, sama sekali tak diketemukannya lubang yang lain.

Dengan demikian ia menduga bahwa orang yang dicarinya masih berada di dalam ruangan itu pula. Maka sekali lagi Mahesa Jenar meneliti setiap relung ruang itu dengan lebih saksama lagi, sambil tetap mengawasi satu-satunya lobang masuk ke dalam ruang itu.

Dan dugaannya ternyata benar. Ia terkejut sampai terlonjak ketika di belakangnya terdengar suara tertawa yang lunak perlahan.

Cepat-cepat ia memutar diri dan bersiaga. Benarlah bahwa yang berdiri di hadapannya, di samping sebuah batu yang besar, adalah orang yang dicari-carinya.

“Kau tak akan dapat melepaskan diri,” kata Mahesa Jenar.

Orang itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah mendekati Mahesa Jenar. Langkahnya tetap, tegap dan cekatan. Karena itu maka Mahesa Jenar terkejut karenanya. Kalau demikian, maka orang itu dapat melenyapkan luka-lukanya hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun demikian Mahesa Jenar masih belum yakin, bahwa orang itu telah terbebas sama sekali dari akibat pukulannya. Maka katanya sekali lagi, “Katakan sekarang, di mana Arya Salaka.”

Orang itu berhenti beberapa langkah di hadapannya dalam keremangan. Terdengarlah kembali ia tertawa perlahan. Kemudian jawabnya, 

“Kau telah mencoba menirukan aji Sasra Birawa. Tetapi sayang, jelek sekali.”

Mendengar ejekan itu darah Mahesa Jenar menggelegak sampai ke kepala. Ia tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya. Karena itu sekali lagi ia meloncat menyerang dengan sengitnya. Kembali terjadi sebuah pertarungan yang hebat. Dua kekuatan yang tangguh saling berjuang untuk mempertahankan nama masing-masing.

Tetapi beberapa saat kemudian Mahesa Jenar menjadi gelisah kembali. Orang itu sama sekali telah terbebas dari luka-luka akibat pukulan yang luar biasa. Disamping itu kemarahan Mahesa Jenar semakin membakar hatinya. Dan apa yang dilakukannya kemudian adalah mengulangi apa yang pernah dilakukan. Dipusatkannya segala kekuatan batinnya, disilangkannya satu tangannya, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sambil menekuk satu kaki ke depan, ia menggeram hebat siap mengayunkan ajinya Sasra Birawa.

Sesaat sebelum tangannya menghantam lawannya, dadanya terasa berdesir hebat ketika ia dalam sekejap melihat lawannya, yang mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh itu, ternyata juga mengangkat satu kaki, menyilangkan tangan kirinya di muka dada, serta mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Meskipun demikian Mahesa Jenar sudah tidak sempat lagi membuat bermacam-macam pertimbangan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah, dengan garangnya ia meloncat dan menghantam lawannya dengan sepenuh kekuatan dialasi dengan ajinya Sasra Birawa yang dahsyat.

Tiba-tiba pada saat itu pula ia melihat lawannya itupun berbuat demikian pula sehingga terjadilah benturan yang maha dahsyat. Mahesa Jenar merasakan seolah-olah berpuluh-puluh petir meledak bersama-sama di hadapan wajahnya. Udara yang panas yang jauh lebih panas dari api, terasa memercik membakar seluruh tubuhnya. Setelah itu, pemandangannya menjadi kuning berputar-putar, semakin lama semakin gelap. Akhirnya tanah tempatnya berpijak seolah-olah berguguran jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terhingga. Sesudah itu tak satupun yang diingatnya.

Ia tidak tahu, berapa lama ia pingsan.

Yang mula-mula terasa olehnya adalah tetesan-tetesan air yang membasahi wajahnya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar mencoba membuka matanya. Mula-mula pemandangan di sekitarnya masih tampak hitam melulu. Tetapi lambat laun, tampaklah samar-samar cahaya matahari yang menembus lubang-lubang diatas ruangan itu, semakin lama semakin terang. Sejalan dengan perkembangan kesadarannya.

Kemudian, ketika pikirannya sudah semakin terang, terasalah bahwa seluruh tubuhnya basah kuyup. Agaknya seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkannya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Ketika segala sesuatunya menjadi semakin jelas, maka segera ia berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya serasa dicopoti segala tulang-tulangnya. Karena itu ketika ia mencoba mengangkat kepalanya, kembali ia jatuh terbaring.

Darahnya serasa menguap ketika ia mendengar di sampingnya suara tertawa lunak perlahan. Segera ia mengenal, siapakah orang itu. Namun bagaimanapun juga ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.

“KI SANAK…” Terdengar orang itu berkata.

“Jangan mencoba-coba menjadi rangkapan Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Meskipun tiruan itu sudah kau lakukan dengan saksama, namun kalau kebetulan kau bertemu dengan orangnya, seperti sekarang ini, segera akan dapat dikenal kepalsuanmu. Meskipun demikian aku menjadi heran pula bahwa apa yang kau lakukan sudah hampir dapat menyamai apa yang aku lakukan. Dan agaknya kau telah mencoba pula mendalami ilmu Sasra Birawa. Aku tidak tahu dari mana kau pelajari ilmu itu, namun dalam beberapa hal, telah benar-benar mirip dengan Sasra Birawa yang sebenarnya.”

Mendengar ucapan-ucapan itu telinga Mahesa Jenar rasanya menjadi terbakar. Ia menggeram beberapa kali, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya dan melihat orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar itu duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas, disampingnya.

Beberapa saat kemudian orang itu kembali berkata, “Aku tidak sabar menunggui orang tidur terlalu lama, karena itu aku menyirammu dengan air. Ternyata kau terbangun karenanya.”

Mahesa Jenar ingin berteriak memaki-maki. Namun suaranya tersumbat di kerongkongan. Yang terdengar hanyalah sebuah desis kemarahan. “Bagaimanapun juga, aku hormati ketebalan tekadmu”, sambung orang itu, “Dalam keadaan yang demikian kau masih tetap pada pendirianmu. Karena itulah aku belum membunuhmu. Sebab aku ingin mengetahui siapakah orang yang telah berkeras hati mengaku bernama Mahesa Jenar.”

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Perlahan-lahan, ia mencoba menjawab, “Jangan kau takut-takuti aku dengan kematian, sebab kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti.”

“Bagus…!” Tiba-tiba orang itu meloncat berdiri. “Kau sendiri yang mengatakan. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu sekarang.”

Mahesa Jenar bukan seorang penakut. Apapun yang akan terjadi atasnya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian ia menjadi gelisah ketika teringat oleh Arya Salaka. Ia tidak tahu di mana anak itu sekarang berada. Apakah ia masih hidup ataukah sudah mati di dalam relung dan lekuk-lekuk goa yang membingungkan itu. Karena perasaan yang demikian itulah tiba-tiba tanpa disengajanya ia berkata, ” Kau bunuh aku atau tidak, itu bukanlah urusanku, tetapi itu adalah urusanmu. Namun demikian katakan kepadaku apakah Arya Salaka masih hidup atau sudah kau bunuh pula?”

Orang itu tertegun sejenak. Tetapi hanya sejenak. Kemudian terdengar ia tertawa. “Jangan kau persulit dirimu, dan jangan kau kotori jalan kematianmu dengan dongengan-dongengan yang kisruh itu. Ataukah barangkali kau mengharap aku mengampuni kau untuk membantuku mencari muridku itu?”

“Cukup!” tiba-tiba Mahesa Jenar berteriak nyaring. Seluruh sisa kekuatannya telah mendorongnya berbuat demikian karena kemarahan yang tak tertahankan. “Kau mau membunuh, bunuhlah. Jangan membual.”

Sekali lagi terdengar suara tertawa. Lunak dan hanya perlahan-lahan. Sesudah itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu melangkah justru menjauhi Mahesa Jenar. Katanya kemudian setelah ia sampai ke mulut ruang itu, “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang semacam kau. Biarlah alam membunuhmu. Kau tidak akan dapat keluar dari ruangan ini sampai ajalmu tiba.”

Setelah itu orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu segera meloncat keluar dan terdengarlah suara berguguran. Beberapa batu besar jatuh tertimbun menutupi lubang ruangan itu. Bersamaan dengan itu, berguguran pulalah rasanya isi dada Mahesa Jenar. Ia ditinggalkan dalam ruangan tertutup dalam keadaan yang demikian. Bukan main. Suatu penghinaan yang tiada taranya. Sebagai seorang laki-laki ia lebih senang hancur di dalam suatu pertempuran daripada dibiarkan mati kelaparan di dalam sebuah goa.

Karena itulah dirasanya seluruh tubuhnya mendidih. Seluruh isi rongga dadanya menggelegak seperti akan meledak. Terasa betapa darahnya mengalir cepat dua kali lipat. Tetapi karena itu pulalah terasa kekuatannya timbul kembali oleh dorongan perasaan yang meluap-luap.

Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar mulai dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian ia telah mampu untuk mengangkat tubuhnya dan duduk tegak.

Matahari yang telah mencapai titik tengah, sinarnya langsung tegak lurus menembus lubang-lubang di atas ruangan itu dan membuat lingkaran-lingkaran di lantai. Udara yang lembab di dalam goa itu rasa-rasanya jadi menguap oleh panas matahari.

Mahesa Jenar kemudian menjadi gelisah karenanya. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia tidak mau membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam goa itu tanpa perlawanan. Maka dengan segenap tenaga yang ada ia pun berdiri dan dengan terhuyung-huyung berjalan sekeliling ruangan itu berpegangan dinding. Dua tiga langkah ia masih terus beristirahat, sebab dadanya masih terasa nyeri, disamping pertanyaan yang selalu memukul-mukul kepalanya. Siapakah gerangan orang yang telah mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh, yang mampu mempergunakan ilmu Sasra Birawa, dan justru lebih hebat dari ilmunya.

Menurut ceritera almarhum gurunya, maka Ki Ageng Pengging Sepuh itu tidak mempunyai murid lain kecuali dirinya dan Ki Ageng Pengging yang bernama Kebo Kenanga, almarhum, putera gurunya sendiri. Tiba-tiba sekarang ia bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu gurunya itu dengan sempurna. Bahkan orang itu telah mengaku bernama Mahesa Jenar dan mempunyai seorang murid yang bernama Arya Salaka. Seolah-olah orang itu ingin menyindir akan ketidakmampuannya sebagai seorang murid dari perguruan Pengging.

KARENA pertanyaan-pertanyaan itu, maka kembali Mahesa Jenar merasa bahwa perkembangannya seolah-olah berhenti setelah ia terpisah dari gurunya. Sejak itu, ia hanya berusaha untuk mengamalkan ilmunya saja, tanpa berusaha untuk menambahnya. Dengan demikian maka ia tidak akan dapat mencapai tingkat seperti gurunya. Apabila hal yang demikian berlaku juga untuk murid-muridnya kelak, maka perguruan Pengging semakin lama akan menjadi semakin surut. Padahal seharusnya setiap murid akhirnya harus melampaui gurunya. Dengan demikian ilmu akan berkembang terus.

Hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi pedih. Pedih sekali. Justru kesadaran itu timbul ketika dirinya sudah terkurung di dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat. Mungkin ia dapat menghantam di dinding-dinding ruangan itu dengan Sasra Birawa dan membuat lubang untuk menemukan jalan keluar, tetapi agaknya sampai ia mati kehabisan tenaga, usahanya mustahil akan berhasil.

Dalam penelitiannya itu, Mahesa Jenar menemukan sebuah mata air kecil di belakang sebuah batu. Segera ia berjongkok, dan membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan panas. Setelah itu terasa tubuhnya menjadi bertambah sehat.

Tetapi perasaannyalah yang tidak berkembang seperti tubuhnya. Perasaannya yang pedih masih saja menyayat. Tetapi tiba-tiba memancarlah suatu tekad. Tekad yang membawanya pada suatu ketetapan hati, bahwa justru dalam keadaannya yang sekarang, ia akan mengisi sisa hidupnya dengan suatu ketekunan, mendalami ilmunya mati-matian. Dalam keadaannya itu tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan yang tegak berdiri pada sebuah relung dinding goa itu, sehingga ia terlonjak berdiri.

Tetapi ketika Mahesa Jenar semakin jelas melihat menembus keremangan relung itu, sadarlah ia bahwa yang berdiri di situ hanyalah sebuah patung batu yang belum sempurna. Meskipun demikian hatinya tertarik pula untuk melihatnya. Siapakah yang sudah membuat patung itu, justru di dalam sebuah ruangan jauh di dalam goa? Akh, mungkin orang aneh yang telah menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Ketika ia telah semakin dekat, makin jelaslah bahwa patung batu itu masih belum siap seluruhnya. Dan ketika ia meraba-rabanya, tampaklah perubahan pada beberapa bagian. Pada bagian tubuhnya ia melihat lumut-lumut liar merayapi hampir seluruh bagian, tetapi di bagian kepalanya tampaklah luka-luka baru dari sebuah pahatan.

Tiba-tiba, ketika ia memandang kepala patung itu, hatinya berdebar-debar. Ia melihat bunga melati terselip di atas kupingnya sebelah kanan. Rambutnya berjuntai sebatang-sebatang sangat jarang, sedang ikat kepalanya hanya dikalungkan di lehernya. Itu adalah ciri-ciri khusus dari gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh, yang semula bergelar Pangeran Handayaningrat.

Dan tiba-tiba, dari wajah patung itu seolah-olah memancar suatu tuntutan darinya kepada Mahesa Jenar, apakah yang dapat dicapainya sepeninggalnya.

Oleh pemandangan yang tak disangka-sangka itu, hati Mahesa Jenar seperti dicengkam oleh suatu keadaan gaib. Tanpa sesadarnya ia berjongkok dan menunduk hormat di hadapan patung itu. Seolah-olah ia merasa berhadapan dengan almarhum gurunya.

Beberapa lama kemudian barulah ia tersadar. Yang berdiri di hadapannya tidak lebih dari sebuah patung. Patung yang mempunyai ciri-ciri khusus seperti gurunya, meskipun pahatan wajahnya tidak sempurna. Namun demikian, Mahesa Jenar merasa, bahwa patung itu dapat menjadi daya pengantar untuk mencapai suatu pemusatan pikiran terhadap gurunya. Sekali lagi Mahesa Jenar merasa berada dalam suatu alam yang gaib.

Lewat patung itu ia mengenang seluruh jasa-jasa gurunya. Seluruh cinta kasih yang pernah dilimpahkan kepadanya. Dan seluruh pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan. Dari huruf pertama sampai huruf terakhir dalam ilmu tata berkelahi, jaya kawijayan dan kasantikan. Ia telah menerima pelajaran pula, bagaimana ia harus merangkai huruf itu menjadi kata-kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

Dengan demikian sebenarnya ia telah mendapat dasar-dasar pendidikan sepenuhnya. Bahkan sampai pada aji Sasra Birawa yang dahsyat itu pun telah dapat dikuasainya. Soalnya kemudian, bagaimana ia dapat mengendapkan ilmunya untuk mendapatkan inti sarinya.

Dalam keadaan yang demikian itulah, hati Mahesa Jenar menyala berkobar-kobar. Tiba-tiba sekali lagi ia dikuasai oleh keadaan yang khusus. Dengan menyebut kebesaran nama Allah, maka tanpa sesadarnya ia mulai menggerakkan tubuhnya. Dimulailah gerakan-gerakan yang pernah dipelajari, dari unsur gerak yang paling sederhana. Satu demi satu. Kemudian unsur-unsur yang semakin sukar. Seolah-olah ia sedang menempuh ujian di hadapan gurunya sendiri.

Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar bergerak semakin lama semakin cepat dan hebat. Orang yang bertempur dengan dirinya, yang menamakan diri Mahesa Jenar itu ternyata telah melengkapi unsur-unsur gerak yang telah hampir dilupakannya. Demikianlah maka Mahesa Jenar tenggelam dalam satu pemusatan pikiran untuk menyempurnakan seluruh ilmunya.

Dalam keadaannya itu Mahesa Jenar lupa pada segala-galanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada waktu, lupa pada orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, bahkan ia lupa pula tentang apa yang dilakukan itu. Demikianlah ia berjuang sebaik-baiknya, mengungkap segala ilmu yang pernah dimiliki.

Tetapi Mahesa Jenar sekarang, bukanlah Mahesa Jenar pada saat ia sedang mulai belajar dari gerakan pertama, kedua dan berturut-turut. Sekarang, kecuali segala macam unsur-unsur gerak yang pernah dipelajari, iapun pernah menempuh pengalaman yang luar biasa, sehingga dengan demikian, tak disengajanya pula, segala macam pengalaman itu menyusup masuk, melengkapi ilmunya sendiri.

Dalam pengembaraannya, ia pernah bertemu dengan tunas-tunas dari perguruan putih dan hitam yang bermacam-macam. Ia pernah bertempur dengan Sarayuda dari cabang Perguruan Pandan Alas yang terkenal dari Klurak, yang justru sebenarnya orang Gunung Kidul, Gajah Sora, anak dan sekaligus murid Ki Ageng Sora Dipayana, Banyubiru.

Ia pernah bertempur dengan murid-murid Pasingsingan seorang tokoh golongan hitam yang memiliki bermacam-macam ilmu dari golongan putih, Sima Rodra dari Gunung Tidar, Jaka Soka dari jenis perguruan golongan hitam di Nusakambangan, sepasang Uling dari Rawa Pening yang mempunyai cara bertempur yang aneh dan berpasangan.

Mau tidak mau. semua jenis ilmu gerak itu saling mempengaruhi. Juga bersama-sama dengan muridnya, Arya Salaka, Mahesa Jenar pernah menekuni gerak gerik binatang hutan yang paling lemah, sampai yang paling buas. Bagaimana yang lemah berusaha melepaskan diri dari kekuasaan binatang yang buas dan kuat. Juga pertarungan antara hidup dan mati antara binatang buas yang sama kuat, pertarungan maut antara burung rajawali dengan ular naga yang besar.

Demikianlah Mahesa Jenar yang menjadi seolah olah bergerak dengan sendirinya itu, tanpa setahunya telah mengungkapkan satu jenis ilmu tata berkelahi yang maha dahsyat. Pemusatan pikiran yang luar biasa dengan perantaraan patung disampingnya itu, seolah olah Mahesa Jenar sedang mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan gurunya sendiri.

Matahari yang mula-mula memancar dengan teriknya, semakin lama semakin jauh menjelajah kearah barat. Dan pada saat mega putih berarak arak ke arah selatan, Matahari itu dengan lelahnya menyusup kearah garis cakrawala, meninggalkan warna lembayung yang tersirat dibalik mega-mega mewarnai wajah langit.

Pada saat itulah ruangan yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar itu dicengram oleh kehitaman warna-warna yang lemah lembayung dilangit sama sekali tidak dapat menembus masuk kedalamnya. Apalagi sebentar kemudian malam telah menjadi semakin kelam. Pada saat itulah Mahesa Jenar baru merasa seluruh tubuhnya menjadi lelah. Kecuali keadaan tubuh yang memang belum pulih benar akibat benturan aji Sasra Birawa, juga ia telah mencurahkan tenaga melampaui batas.

Karena itulah, maka Mahesa Jenar menghentikan latihannya. Dengan meraba-raba dinding ia menyelusur kearah mata air didalam ruangan itu dibelakang sebuah batu. Karena kelelahan dan haus maka Mahesa Jenar segera minum sepuas-puasnya. Setelah itu iapun segera kembali kemuka patung yang mempunyai ciri gurunya. Dihadapan patung itulah Mahesa Jenar merebahkan dirinya untuk beristirahat.

Tetapi meskipun demikian, perasaannya yang sudah terikat pada patung itu, seolah-olah mempunyai kewajiban untuk menjaganya.

Maka ketika diluar goa itu binatang malam mulai meraja di padang ilalang dan lapangan rumput, mulailah Mahesa Jenar tenggelam kealam mimpi.

Ia tertidur karena kelelahan…

Di langit bintang menari-nari dengan riangnya diiringi dendang angin yang berhembus lemah. Lubang lubang diatas ruang yang banyakterdapat didalam goa itu karena hembusan angin, menimbulkan bunyi-bunyi yang beraneka warna. Dari nada rendah sampai nada tinggi.

Mahesa Jenar terbangun pada saat matahari melemparkan sinarnya yang pertama. Dari lubang-lubang diatas ruangan itu Mahesa Jenar dapat melihat betapa riangnya langit menerima senyuman Matahari pagi.

Bersamaan dengan itu, terasa seakan akan datanglah waktunya bagi Mahesa Jenar untuk memulai lagi kewajibannya terhadap gurunya. Dengan khidmat ia berjongkok dimuka patung batu itu, dengan perantaraannya mulailah ia memusatkan pikirannya atas semua ajaran almarhum gurunya. Apabila pikirannya telah benar-benar terpusat, serta dalam pendekatan diri setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulailah ia dengan pendalaman ilmu yang pernah diterimanya.

Demikianlah apa yang dilakukan Mahesa Jenar. Tekun melatih diri. Mengulangi dan menghubungkan satu sama lain untuk kemudian mencari intisarinya.

Hari demi hari telah dilampauinya. Bagaimanapun kuat tubuh Mahesa Jenar, namun dalam kerja yang sedemikian keras dan tekun, hanya dengan minum saja, tanpa sebutir makananpun, akhirnya tubuhnya menjadi semakin lemah. Tetapi tidak demikian dengan jiwanya. Perkembangan jiwanya bertentangan dengan perkembangan tubuhnya. Semakin lemah keadaan tubuhnya, jiwanya bertambah membaja. Akhirnya, ketika pada suatu saat tubuhnya telah menjadi lemah benar karena telah berulang kali memperdahsyat aji Sasra Birawanya. Mahesa Jenar tidak lagi dapat berbuat banyak.

Jasmaninya adalah wadag yang terbatas.

Maka yang dilakukan kemudian, adalah dengan tenangnya ia duduk bersila disamping batu itu. Ditutupnya kesembilan lubang tubuhnya, matanya yang redup tertanam pada ujung hidungnya. Seolah olah hilanglah dirinya, meloncat keluar dari tubuhnya yang lemah itu. Kemudian, seolah-olah dirinya yang hidup dialam lain itulah yang dengan dahsyatnya bergerak, dengan gerakan-gerakan yang luar biasa yang tak pernah mampu dilakukan wadagnya. Gerakan-gerakan yang mempunyai watak agak lain dengan gerakan-gerakan yang pernah dilakukan dialam wadag.

TIBA-TIBA diri Mahesa Jenar dalam alam yang lain itu, memancar dengan terangnya, menyinari tubuhnya. Pada saat itulah Mahesa Jenar merasa bahwa timbul sesuatu di dalam dirinya. Pada saat itulah ia merasa, menguasai benar setiap watak dari setiap gerak yang dilakukan, yang dilakukan oleh dirinya di luar wadagnya, yang sebenarnya adalah perwujudan dari kedahsyatan daya khayalnya dalam menekuni ilmunya, tanpa ikut sertanya wadag itu sendiri.

Pada saat itulah Mahesa Jenar menemukan suatu kekuatan yang jauh melampaui kekuatan wadagnya, dengan menguasai setiap watak dari setiap gerak. Sedang apa yang pernah dilakukan selama ini adalah penguasaan gerak itu sebagai suatu gerak jasmaniah melulu.

Pada saat yang terakhir, dirinya diluar wadagnya itu berdiri tegak di atas kedua kaki. Kemudian dengan gerak yang mengagumkan menyilangkan satu tangannya di muka dada, mengangkat tangannya yang lain tinggi-tinggi.

Ditekuknya satu kakinya ke depan, siap menghantamkan aji Sasra Birawa. Pada saat itu, terasa seolah-olah wadagnya terbang melayang mendekati dirinya diluar wadag itu. Sehingga jarak antara wadag dan kedahsyatan daya khayalnya dalam kebulatan tekat semakin lama semakin dekat.

Pada saat pertemuan diantara kedua dirinya dalam bentuknya yang berbeda itu, Mahesa Jenar mendapat suatu perasaan nikmat yang luar biasa. Perasaan yang tak dapat dilukiskan.

Persenyawaan diri dari unsur-unsur yang seolah-olah memiliki watak yang berbeda itu telah memecahkan masa hidupnya selama ini.

Kemudian seolah-olah lahirlah seorang Mahesa Jenar yang baru. Pada saat itulah, tiba-tiba bersenyawa pula gerakan-gerakan yang dilihatnya pada diri diluar wadagnya itu dengan wadagnya. Karena itulah maka yang ada kemudian hanya seorang Mahesa Jenar, dengan tubuh yang kurus pucat, tetapi berjiwa sekeras baja, berdiri diatas satu kakinya, satu tangannya menyilang dada dan satu tangannya terangkat tinggi-tinggi.

Kemudian dengan satu loncatan lemah, Mahesa Jenar mengayunkan tangannya menghantam batu yang bertimbun-timbun menutupi pintu satu-satunya dari ruangan itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali.

Meskipun dengan tubuh yang lemah, namun kekuatan Mahesa Jenar rasanya menjadi berlipat-lipat. Batu-batu itupun segera pecah berhamburan. Dan tampaklah kemudian sebuah lubang, yang semula tertutup oleh guguran-guguran batu yang bertimbun-timbun, meskipun tidak menganga seluruhnya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang mengagumi tenaganya sendiri, terdengarlah sebuah suara tertawa yang lemah perlahan-lahan di belakangnya. Mahesa Jenar terkejut bukan main, dan dengan segera ia memutar tubuhnya, menghadap arah suara itu. Tetapi pada saat itu, ruang di dalam goa itu sudah mulai gelap, sehingga Mahesa Jenar tidak segera melihat sesuatu.

“Suatu latihan yang hebat,” tiba-tiba terdengar suara dari arah patung batu.

Mendengar suara itu Mahesa Jenar seperti orang bermimpi. Kata-kata itulah yang sering diucapkan oleh gurunya. Adakah patung batu itu benar-benar telah berubah menjadi gurunya?

Sesaat kemudian kembali terdengar suara, “Beristirahatlah, hari masih panjang.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Gurunya selalu menasehatinya demikian kalau ia terlalu letih berlatih.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar melangkah maju mendekati patung itu. Ia menjadi ragu.

Bagaimanapun juga, patung itu baginya tidak lebih daripada batu-batu biasa. Yang kebetulan dapat dipergunakan sebagai pancatan untuk memusatkan pikirannya. Tidak lebih dari pada itu. Tetapi kalau tiba-tiba patung itu dapat berbicara adalah diluar nalar.

Tetapi tiba-tiba ia menjadi terkejut sekali lagi. Ia melihat bayangan yang bergerak-gerak di belakang patung itu. Dan di dalam relung itu dilihatnya pula bayangan yang lebih kelam dari sekitarnya. Cepat Mahesa Jenar dapat mengetahui, bahwa di belakang patung itu ternyata ada sebuah pintu yang dapat ditutup dan dibuka, yang dibuat dari batu-batu pula, sehingga tidak diketahuinya sebelum itu.

“Siapakah kau…?” desis Mahesa Jenar bertanya.

“Jangan bertanya demikian,” jawab suara itu.

“Seharusnya kau sudah tahu bahwa Mahesa Jenar datang menjengukmu.”

Mendengar jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Tetapi sekarang ia sudah mendapat suatu keyakinan tentang dirinya, sehingga dengan demikian ia menjadi bertambah tenang. Maka katanya kemudian, “Adakah yang menarik hati bagimu, sehingga kau perlukan menjenguk aku?”

“Ada,” jawab orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu.

“Lewat lubang itu aku dapat mengintip apa yang selama ini kau lakukan.”

“Kau keberatan?” sahut Mahesa Jenar.

“Tidak,” jawabnya, “Aku tidak pernah keberatan terhadap kelakuan orang lain yang tidak merugikan diriku, apalagi tidak merugikan orang banyak. Apa yang kau lakukan tidak lebih dari sebuah pertunjukan yang menyenangkan.”

Meskipun Mahesa Jenar tidak senang mendengar kata-kata itu, namun ia masih diam saja.

“Dengan pertunjukanmu itu aku pasti…” sambung orang itu, “Bahwa kau pernah membaca lontar kisah Mahabarata. Kisah seseorang yang tak berhasil berguru kepada seorang Pandeta yang bernama Kombayana.

Orang itu, yang bernama Bambang Ekalaya atau lebih terkenal dengan nama Palgunadi, kemudian membuat patung. Patung Pendeta itu. Pada patung itu ia berguru. Dan akhirnya benarlah ia dapat menyamai kesaktian murid Kombayana yang paling dahsyat dalam olah jemparing, yaitu Raden Arjuna.”

MAHESA JENAR merenung sebentar. Memang ia pernah mendengar ceritera itu. Dan apa yang dilakukan memang mirip sekali. Tetapi pada saat ia memulainya, ia sama sekali tidak pernah berpikir, apalagi sengaja menirukan apa yang pernah dilakukan oleh Bambang Palgunadi.

Mengingat peristiwa itu ia menjadi geli sendiri. Lalu jawabnya, “Kau benar. Mudah-mudahan akupun berhasil pula seperti Palgunadi.”

Tiba-tiba orang itu tertawa tinggi. Katanya, “Kau benar-benar pemimpi.

Yang bisa terjadi semacam itu, hanyalah didalam suatu dongeng saja.

Dan kau agaknya ingin menjadi salah seorang tokoh dongeng-dongeng semacam itu.”

Mahesa Jenar mengangkat pundaknya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba.”

“Bagus,” sahut orang itu melengking dengan nada yang berbeda. “Aku akan melihat apakah kau berhasil,” sambungnya.

Setelah itu tiba-tiba ia meloncat maju. Meskipun ruangan itu sudah menjadi semakin gelap, namun Mahesa Jenar masih melihat orang itu menyilangkan satu tangannya, tangannya yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sedang satu kakinya dingkatnya dan ditekuk ke depan.

Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dalam gerakan yang pertama orang itu telah menyiapkan suatu bentuk aji yang mirip dengan ajinya Sasra Birawa, bahkan orang itupun menamainya demikian.

Dalam pada itu Mahesa Jenar sadar bahwa kekuatan aji orang itu adalah sangat dahsyatnya. Beberapa hari yang lalu, ia menjadi pingsan karena benturan yang hebat. Sekarang tiba-tiba orang itu akan mengulanginya kembali. Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada berusaha menyelamatkan diri.

Karena itu, segera iapun berbuat hal yang sama dengan tubuhnya yang lemah. Ia mengharap setidak-tidaknya, dengan perlawanannya itu, akan dapat mengurangi tekanan yang dideritanya karena pukulan aji lawannya.

Sesaat kemudian ia melihat orang itu meloncat ke depan, dan dengan derasnya mengayunkan tangan kanannya. Pada saat yang bersamaan, Mahesa Jenar pun dengan segenap kekuatan lahir batin yang disalurkan dalam aji Sasra Birawa, menghantam tangan yang terayun ke arah kepalanya itu.

Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat. Dua macam kekuatan ilmu sakti yang oleh para pemiliknya dinamai Aji Sasra Birawa telah berbenturan. Dan benturan kali ini lebih dahsyat dari benturan kedua kekuatan sakti itu beberapa waktu yang lalu, karena Mahesa Jenar telah menemukan inti kekuatan ilmunya.

Meskipun demikian bagaimanapun juga, keadaan jasmaniah mereka mempengaruhi pula. Mahesa Jenar yang telah sekian lama tersekap di dalam goa itu tanpa sebutir makananpun, harus berbenturan melawan seorang yang segar bugar. Namun pancaran kekuatan yang tersembunyi di balik kekuatan jasmaniah, ternyata memiliki kemampuan yang nggegirisi.

Demikianlah ketika benturan itu terjadi, ternyata kedua orang itu bersama terlempar surut. Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, merasakan pula betapa hebat pukulan lawannya, sehingga ia terpaksa jatuh sekali berguling, barulah ia dapat tegak kembali. Tetapi dalam pada itu, Mahesa Jenar sendiri terdorong jauh ke belakang sehingga tubuhnya membentur dinding goa.

Setelah itu dengan lemahnya Mahesa Jenar terduduk di lantai. Tetapi dalam pada itu terbesitlah suatu perasaan yang aneh dalam dirinya. Meskipun ia terlempar sampai membentur dinding goa, dan kemudian dengan lemahnya terduduk di lantai seperti orang yang kehilangan seluruh tulang-tulangnya, namun dalam benturan itu ia tidak lagi merasakan percikan panas yang membakar seluruh tubuhnya seperti yang dialaminya dahulu. Juga kali inipun kepalanya tidak menjadi pening berkunang-kunang dan ia tidak pingsan. Dengan demikian, timbul pulalah suatu pikiran di dalam kepalanya, seandainya keadaan jasmaniahnya tidak terlalu jelek, mungkin akan dapat mengimbangi pukulan lawannya.

Tetapi disamping perasaan gembira yang membersit di dalam dadanya itu, iapun menjadi cemas kalau-kalau lawannya itu akan mengulangi serangannya untuk membinasakannya. Meskipun ia sama sekali tidak takut mati, namun ia masih menginginkan untuk menurunkan ilmu Perguruan Pengging itu kepada Arya Salaka.

Dan karena itulah, terdorong oleh kemauannya yang keras dan tekad yang mantap, terasalah bahwa perlahan-lahan kekuatannya timbul kembali. Sehingga meskipun ia masih harus berpegangan pada dinding goa, namun iapun berhasil untuk berdiri dan menanti apa yang akan terjadi.

Disamping itu ia bersyukur pula, bahwa kini di dalam ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Dengan demikian ia mengharap bahwa orang itu tidak lagi akan menyerang segera.

Kalau saja orang itu menundanya sampai esok, mungkin ia telah mendapatkan sebagian dari kekuatannya kembali. Dalam kegelapan itu, maka Mahesa Jenar yang tajam, masih mampu menangkap bayangan samar-samar di hadapannya. Tetapi sampai sekian lama ia menyaksikan bayangan itu tegak tak bergerak.

Dan kemudian ternyatalah, apa yang diharapkan Mahesa Jenar. Sebab ruangan yang semakin kelam, maka orang itu pun berkata, “Untunglah bagimu, ruangan ini menjadi amat gelap sehingga aku berhasrat untuk menunda umurmu sampai besok. Tetapi bagaimanapun juga aku jadi heran. Iblis mana yang telah merasuk dalam tanganmu, sehingga kau mampu melawan Sasra Birawa tanpa cidera.”

Mahesa Jenar menarik nafas. Ia menjadi lega oleh keputusan lawannya.

Tetapi ia menjawab sindiran itu, “Bukankah kau telah berceritera tentang Ekalaya dan Pendeta Kombayana?”

Tiba-tiba orang itu tertawa. Nyaring dan panjang. Katanya kemudian,

“Bagus, kau telah menghidupkan sebuah cerita petikan dari Mahabarata.

Dan aku ingin melihat akhir dari cerita ini. Apakah kau benar-benar mampu menandingi aku.”

“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar pendek.

SEKALI lagi orang itu tertawa. Kemudian sambungnya, “Tetapi aku ingin bertindak adil. Aku tidak mau memenangkan pertempuran ini melawan seseorang yang hampir mati kelaparan. Tunggulah kau di sini, aku akan membawa makanan untukmu.”

Kemudian terdengarlah orang itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar berdiri termangu-mangu. Ia semakin tidak mengerti kelakuan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Sesaat kemudian, apa yang dijanjikan orang itu terjadilah. Ia masuk kembali lewat mulut goa yang mula-mula ditutupinya dengan reruntuhan batu-batu, yang kemudian terbuka kembali karena tangan Mahesa Jenar.

Di tangan kanannya ia memegang sebuah obor dan di tangan kirinya sebuah bungkusan daun pisang.

Ia langsung duduk di tengah-tengah ruangan itu, sambil membuka bungkusannya ia berkata, “Kemarilah. Duduklah dan makanlah bersama aku.”

Mahesa Jenar tidak membantah. Tetapi mula-mula ia pergi dahulu ke mata air. Sesudah minum beberapa teguk baru ia duduk di depan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.

“Makanlah,” desak orang itu. “Atau kau takut aku meracunmu?”

Mahesa Jenar menggeleng. “Tidak,” jawabnya. “Orang semacam kau ini pasti tidak akan meracun orang. Sebab kau terlalu yakin akan kesaktianmu.”

Sejenak kemudian mereka berdiam diri sambil menikmati isi bungkusan yang dibawa oleh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, yang ternyata adalah seonggok nasi dengan lauk pauknya. Goreng ikan gurami.

Mula-mula Mahesa Jenar tidak menaruh perhatian sama sekali kepada jenis makanan ini. Tetapi beberapa saat kemudian ia mulai berpikir.

Dari manakah orang itu mendapat goreng ikan gurami. Ataukah di dalam goa ini terdapat alat untuk menggoreng dan kolam ikan gurami?

“Kau telah berbuat suatu kesalahan,” desisnya.

Orang itu terkejut. “Kesalahan…?” ia bertanya.

Mahesa Jenar mengangguk. Sambil menunjuk sisa ikan gurami itu ia berkata, “Mahesa Jenar yang kehilangan muridnya di dalam goa ini tidak akan menemukan goreng ikan gurami dengan demikian mudahnya.”

Kembali orang itu terkejut. Tetapi hanya sebentar, sebab sebentar kemudian ia tertawa tinggi.

Sambil masih menyuapi mulutnya ia menjawab, “Kau memang suka ngotak-atik. Apa salahnya kalau aku mendapat goreng ikan gurami? Aku tangkap ikan ini di kolam di sebelah selatan goa ini.”

“Dari mana kau dapat minyak?” potong Mahesa Jenar.

Orang itu terdiam sebentar, lalu katanya, “Sekarang ternyata kalau kau tak tahu sama sekali ujung pangkal tempat ini. Aku berada di dalam goa ini atas petunjuk seorang pendeta sakti yang bernama Panembahan Ismaya bersama muridku Arya Salaka. Tetapi sesaaat kemudian muridku itu hilang.”

“Adakah seorang Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh perlu bersembunyi di dalam goa?” bantah Mahesa Jenar.

Sekali lagi orang itu terdiam. Setelah berpikir sebentar barulah ia menjawab, “Kalau kau mengaku pula bernama Mahesa Jenar, apa pula kerjamu di sini?”

Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Ia merasa mendapat sesuatu dari percakapan itu. Jawabnya, “Aku masuk ke dalam goa ini karena aku mengejar kau, orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar.”

“Tetapi menurut katamu…” sahut orang itu, “Kau telah berada di dalam goa ini sebelumnya. Bukankah kau menuduh aku memancingmu, memisahkanmu dari seorang yang kau aku menjadi muridmu?”

“Kalau begitu, kita telah menghuni goa ini bersama-sama. Namun ada bedanya,” jawab Mahesa Jenar. “Kau agaknya telah mengenal segenap lekuk liku goa ini. Aku belum.”

“Aku berada dalam goa ini karena ijin yang memiliki,” potong orang itu. “Kau agaknya seorang penghuni gelap?”

Mahesa Jenar tertawa pendek. Ia merasa kehilangan jalan. Karena itu ia berdiam diri.

Suasana kemudian menjadi hening. Namun dalam keheningan itu, Mahesa Jenar tidak luput dari suatu keadaan yang sibuk. Sibuk berpikir dan menebak-nebak. Ia merasa bahwa pasti ada suatu maksud yang tersembunyi. Mungkin orang itu sudah tahu bahwa dialah sebenarnya yang
bernama Mahesa Jenar.

Tiba-tiba Mahesa Jenar bertanya menyentak, “Kau belum menjawab pertanyaanku, dari mana kau mendapat minyak goreng?”

Orang itu pun terkejut. Jawabnya, “Sudah aku katakan, dari cantrik padepokan Karang Tumaritis.”

“Kenapa kau bersembunyi dalam goa ini?” desak Mahesa Jenar cepat.

“Beberapa orang sakti mencari aku untuk membalas dendam,” jawabnya secepat pertanyaan Mahesa Jenar.

“Kau takut?” desak Mahesa Jenar pula.

“Tidak. Tetapi aku tidak akan mampu melawan mereka.”

“Bohong!” bentak Mahesa Jenar.

Orang itu terkejut. Pandangannya jadi semakin tajam.

“Kau sudah berada diantara mereka. Dan mereka tidak dapat menangkapmu.” potong Mahesa Jenar.

Tiba-tiba mata orang itu menjadi merah. Agaknya ia menjadi marah.

Tetapi Mahesa Jenar tidak peduli. Ia berkata terus, “Ada beberapa pertentangan dalam ocehanmu. Kau bersembunyi karena orang-orang sakti yang mengejarmu untuk membalas dendam, tetapi kau telah berada diantara mereka, dan mereka ternyata tak dapat berbuat sesuatu.

Kemudian kau katakan bahwa kau kehilangan muridmu di dalam goa ini, sedang agaknya kau mengenal segala lekuk-likunya, sehingga mustahillah bahwa kau tak dapat menemukannya. Ataupun kalau murid yang kau katakan itu hilang diluar goa ini, kau akan dapat minta tolong kepada Panembahan Ismaya dan cantrik-cantriknya untuk mencarinya. Nah, sekarang katakan kepadaku. Apakah maksudmu sebenarnya dengan mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh?”

ORANG itu menjadi semakin marah mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang menghambur seperti bendungan pecah. Tetapi Mahesa Jenar masih belum berhenti, sambungnya, “Apalagi kau dapat berceritera tentang semua pengalaman dan peristiwa yang aku alami. Bahkan sampai pada ke persoalan hubungan antara aku dan orang-orang sakti yang mengejarku?”

Orang itu sudah tidak sabar lagi. Dengan kerasnya ia membentak, “Cukup!”.

Lalu tubuhnya menjadi gemetar, dan tiba-tiba ia meloncat berdiri.

Katanya melanjutkan dengan suara gemetar, “Kau memancing kemarahanku.

Aku sudah ingin menunda umurmu sampai besok. Tetapi ternyata kau ingin menyerahkannya sekarang. Berdirilah, dan jangan mati berpangku tangan.

Apakah kau akan membanggakan Sasra Birawa tiruan yang hanya mampu memecah batu itu. Itu hanyalah suatu pameran jasmaniah yang sama sekali tak berharga.”

Setelah itu ia mencari sebuah batu untuk menyandarkan obornya.

Kemudian sambil mempersiapkan diri ia berkata, “Marilah kita mulai. Jangan lewatkan waktu dengan sia-sia.”

Sekali lagi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Kalimat itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh gurunya pula. Sudah beberapa kali ia mendengar orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Kalau tidak, tidak akan ia menyebut beberapa kata-kata yang bersamaan. Yang selalu ditujukan kepada dirinya dan saudara seperguruannya almarhum.

Sebelum ia menemukan suatu jawaban, terdengar orang itu berkata pula, “Berdirilah, dan pergunakan Sasra Birawa buatanmu yang tidak lebih dari sebuah pedang yang tumpul. Dengan pedang yang berat dan tumpul itu, kau dapat mematahkan besi gligen, dengan mengandalkan kekuatan jasmaniah. Tetapi kalau ada sehelai kapuk yang melayang-layang dibawa angin, pedangmu itu tidak akan berguna. Kau tidak akan mampu membelah helaian kapuk itu bagaimanapun kuatnya tenaga jasmanimu. Tetapi untuk memotongnya, kau perlukan sebuah pedang yang tidak perlu berat dan kuat, namun ia harus tajam setajam perasaanmu.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Kata-kata itu sama sekali bukan kata-kata seorang yang marah dan akan membunuhnya. Tetapi justru kata-kata yang sangat diperlukannya. Dengan mesu raga, ia sekarang mampu menangkap isi katakata itu. Bahkan justru sebagai penjelasan
atas perbedaan watak dari gerak-gerak wadagnya dan gerak-gerak dirinya yang dilihatnya di luar wadagnya. Tetapi sekali. Dua buah pedang yang berat, kuat namun tumpul, yang mampu memecah henda apapun, dan yang lain pedang yang ringan, tetapi bermata tajam. Hanya dengan pedang semacam itulah ia akan mampu memotong sehelai kapuk yang diterbangkan angin.

Apalagi di dalam kata-katanya, orang itu ternyata menganggapnya, betapa tajam perasaannya. Sehingga untuk memangkas kapuk yang diterbangkan angin diperlukan pedang setajam perasaannya. Sesaat kemudian kembali orang itu berkata, “Berdirilah, aku sudah hampir
mulai.”

Tetapi Mahesa Jenar tidak juga mau berdiri. Ditatapnya saja wajah orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, seolah-olah sampai menembus ke dalam otaknya. Didalam cahaya obor yang masih menyala-nyala disamping mereka. Mahesa Jenar dapat melihat wajah itu dengan agak jelas. Kalau orang itu dihilangkan rambut-rambut yang melingkari mukanya, ia akan dapat memastikan, bahwa tak seorangpun akan mengenalnya sebagai Mahesa Jenar. Tetapi yang mengherankan, segala gerak, tingkah-laku serta setiap unsur gerak yang dilakukan
adalah tepat seperti yang dikenal dan dilakukannya. Bahkan tidaklah mungkin, bahwa secara kebetulan orang itu mengulang kata-kata gurunya sampai beberapa kali.

Karena itulah maka ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Apapun sifatnya. Dengan demikian maka tidak sewajarnyalah kalau ia melawannya.

Bahkan ketika sekali lagi orang yang berdiri dihadapannya itu menyuruhnya berdiri, Mahesa Jenar menjawab, “Tidak. Aku lebih senang duduk menikmati makanan yang kau bawa.”

“Kau takut menghadapi kematian?” tanya orang itu.

“Sejak semula aku berkata, bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan,” jawab Mahesa Jenar.

“Kalau begitu kau menunggu apa lagi?” desak orang itu tidak sabar.

“Kau benar-benar mau berkelahi?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Sebagaimana kau lihat. Aku sudah siap,” jawabnya.

“Aku tidak,” potong Mahesa Jenar.

“Kau takut?” sahut orang itu.

Mahesa Jenar menggeleng. Katanya, “Aku tidak takut. Tetapi aku tidak akan dapat menyamai kesaktianmu. Tidak ada gunanya.”

Mendengar jawaban itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Nah, kalau begitu kau mengaku sekarang, bahwa kau bukanlah Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Sebab Mahesa Jenar bukanlah seorang pengecut.”

“Siapa bilang?,” bantah Mahesa Jenar. “Aku tidak mengatakan bahwa aku bukan Mahesa Jenar. Tetapi bukan berarti bahwa di dunia ini tak ada seorangpun yang melampaui kesaktianku. Diantaranya kau.”

Tiba-tiba orang itu jadi kesal sekali. Karena itu ia membentak, “aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Ki sanak,” jawab Mahesa Jenar dengan tenangnya. Agaknya ia sudah menemukan jalan untuk mendapatkan suatu ketegasan. “Aku mempunyai usul. Kenapa persoalan ini harus diselesaikan dengan sebuah perkelahian? Menurut katamu kau disembunyikan disini oleh seorang Panembahan sakti yang bernama Panembahan Ismaya. Akupun seharusnya berkata demikian pula kepadamu. Karena itu biarlah Panembahan itu yang memilih satu diantara kita, siapakah yang dianggapnya benar-benar Mahesa Jenar.”

“Tidak perlu pihak ketiga. Marilah kita selesaikan soal kita sendiri.”

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tersenyum. Jawabnya, “aku makin yakin sekarang bahwa aku tidak perlu berkelahi. Sebab kau sama sekali tidak bermaksud bertempur untuk mempertahankan suatu kebenaran dan keyakinan, tetapi kau ingin bertempur karena nafsu ketamakanmu. Nafsu ingin mempertunjukkan kemenanganmu dan kesaktianmu.”

“Omong kosong,” potong orang itu.

“Aku menantangmu karena kau telah menamakan dirimu Mahesa Jenar. Bukankah dengan demikian kau meniadakan adaku sebagai Mahesa Jenar yang sebenarnya?.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Ternyata karena keyakinan pada dirinya sudah bertambah sempurna sehingga ia tidak lagi bersikap menentang dan tidak lagi membiarkan perasaannya bergolak. Jawabnya, “kau menganggap dirimu Mahesa Jenar ?.”

“Aku tidak menganggap demikian,” bantah orang itu, “sebab aku memang demikian sebenarnya.”

“Kau dapat berkata demikian kepada orang lain, bahkan kepadaku. Kepada Mahesa Jenar murid Ki Ageng Pengging Sepuh, ” sahut Mahesa Jenar. “Tetapi dapatkan kau berkata demikian kepada dirimu sendiri. Kepada hatimu ?”

Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah. tetapi ia diam saja.

“Nah ki sanak. Sebenarnya kau tak usah mempersulit dirimu, ” sambung Mahesa Jenar. “Kau dapat berbuat sekehendakmu tanpa suatu kesaksianpun disini. Apakah kau menamakan dirimu Mahesa Jenar atau bukan dihadapanku, sesudah kau berhasil membunuhku, akibatnya akan sama saja.”

“Aku jadi yakin terhadap suatu kebenaran tentang dirimu,” tiba-tiba orang itu berkata. “bahwa otakmu memang tidak jelek.”

Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang. Orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu sekali lagi membuat heran dengan kalimat kalimat yang pernah diucapkan gurunya. Sehingga dengan demikian Mahesa Jenar menjadi semakin yakin pula bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Karena itu ia tidak mau memperpanjang keadaan dalam belitan pertanyaan-pertanyaan.

Karena itu segera Mahesa Jenar memperbaiki duduknya menghadap kearah orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar, yang berdiri tegak dihadapannya. Dengan hidmadnya ia membungkuk hormat sambil berkata,” tuan, sudah beberapa kali aku mendengar tuan mengucapkan kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh almarhum guruku, ki Ageng Pengging Sepuh. Karena itu aku mengharap agar tuan tidak terlalu lama mengaduk otakku dengan teka-teki yang tuan berikan mengenai diri tuan.”

Orang itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya. Tetapi mata itu makin lama semakin menjadi lunak. Dengan sebuah senyuman ia menjawab, “Jadi kau benar-benar percaya bahwa aku bernama Mahesa Jenar? Bukankah kau akui bahwa aku dapat menirukan beberapa kalimat yang pernah diucapkan oleh guruku ki Ageng Pengging Sepuh?.”

“Maafkanlah,” jawab Mahesa Jenar, “bagaimana aku dapat percaya bahwa diriku dapat dipecah menjadi dua orang. Aku dan tuan. Tetapi bahwa tuan dapat menirukan kalimat-kalimat ki Ageng Pengging Sepuh, aku tidak akan membantah, karena itu aku ingin tuan memecahkan jawaban itu.”

Sekali lagi orang itu tersenyum. Lalu perlahan-lahan berjalan mendekap Mahesa Jenar.

“Kalau kau tidak percaya bahwa aku Mahesa Jenar, lau siapakah aku menurut pendapatmu?,” katanya.

“Aku tidak tahu,” jawab Mahesa Jenar.

“Aku terlalu membiarkan perasaan marahmu menjalari otakmu, sehingga kau tidak dapat lagi melihat lebih saksama. Tetapi sekarang akgaknya kau telah berhasil mengendapkan diri, karena itu dengan gembira aku melihat, bahwa kau tidak lagi mudah dipaksa untuk berkelahi, tanpa tujuan.”

“Mahesa Jenar. Tidakkah kau dapat mengingat-ingat lagi, siapakah yang memiliki ilmu Sasra Birawa di dunia ini ?”

Mahesa Jenar seperti terbangun dari mimpi yang membingungkan. Seharusnya sejak semula ia harus sudah mengingat-ingat hal itu. Dengan teliti ia mulai mengenangkan masa lampau. Suatu lingkungan kecil didalam padepokan di Pengging dimana ia bersama kakak seperguruannya menuntut ilmu jaya kawijayan dan kesaktian, sebagai bekal hidupnya kelak. Tetapi bagaimanapun ia mengingat-ingat, namun yang diingatnya hanyalah, didalam padepokan itu, kecuali dirinya dan almarhum Kebo Kenanga tidak ada seorang muridpun lagi.

Akhirnya ia mulai mengingat siapakah yang sering datang ke padepokan itu. Orang-orang lain yang mempunyai hubungan erat dengan gurunya. Tetapi gurunya sangat teliti, sehingga tidak mungkin ada orang lain yang dapat mencuri ilmu sakti tiu tanpa setahunya.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersentak. Ya, orang itu ada orang yang selalu datang ke padepokan itu melihat-lihat gurunya menurunkan ilmu kepadanya.

Karena ingatan itulah maka mata Mahesa Jenar menjadi berkilat-kilat. Sekali lagi ia membungkuk hormat. Katanya, ” Tuan, baru sekarang agaknya otakku dapat bekerja dengan baik. Perkenankanlah aku menebak siapakah sebenarnya tuan?.”

ORANG itu mengangguk. Kemudian katanya, “Kau telah berhasil mengingat kembali orang-orang yang memiliki aji Sasra Birawa?”

“Sudah, Tuan,” jawab Mahesa Jenar,

“Pertama adalah guru. Kedua dan ketiga adalah murid-muridnya. Aku dan almarhum Ki Ageng Pengging, Ki Kebo Kenanga. Dan keempat adalah saudara muda seperguruan Guru, yang tidak lain adalah putra guru yang tua, kakak Ki Kebo Kenanga. Karena itu aku berani memastikan bahwa Tuan adalah orang yang keempat itu.”

Orang itu mengangguk-angguk. Sahutnya, “Ingatanmu masih baik kalau kau pergunakan. Ternyata kau menebak tepat.”

Sekali lagi Mahesa Jenar membungkuk hormat. Dengan hikmat ia berkata, “Maafkanlah kelancanganku. Sudah berapa puluh tahun Tuan meninggalkan kami sehingga aku tidak dapat mengenal Tuan kembali.”

“Tidak ada yang perlu aku maafkan. Semuanya memang aku kehendaki demikian,” jawab orang itu.

Mahesa Jenar tiba-tiba merasakan suatu yang bergelora didalam dadanya. Suatu campur baur dari bermacam-macam perasaan. Sedih, gembira, bangga, terharu. Lebih dari pada itu, ia beberapa kali mengucap syukur kepada Tuhan di dalam hatinya.

Dalam suatu saat yang tak disangka sangka, ia bertemu dengan putra gurunya yang tua, yang dalam perguruan menjadi adik seperguruan gurunya. Orang itu bernama Ki Kebo Kanigara, yang lenyap beberapa tahun sebelum gurunya meninggal. Dari gurunya ia pernah mendengar bahwa ilmu Ki Kebo Kanigara itu sama sekali tidak berada dibawah gurunya. Bahkan, karena kegemarannya mengembara, ia dapat menambah ilmu itu dengan bermacam-macam bentuk dan isi.

Sekarang ia bertemu dengan orang itu dalam suatu suasana yang seolah-olah mengandung pertentangan. Karena itu maka Mahesa Jenar bertanya seterusnya, “Kakang Kebo Kanigara, kalau sejak selama aku dapat berpikir dengan tenang, maka sejak semula aku tak akan berani melawan, meskipun aku tidak dapat mengerti maksud kakang dengan mempergunakan nama serta gelarku.”

Kebo Kanigara tersenyum. Lalu duduk disamping Mahesa Jenar. Dengan perlahan-lahan ia menjawab, “Mahesa Jenar, kalau kau mengenal aku sejak semula, maka keadaanmu akan berbeda pula. Apa yang kau capai selama beberapa hari ini, justru karena kau tidak mengenalku.”

Sadarlah Mahesa Jenar, bahwa Kebo Kanigara telah memaksa dengan caranya, supaya ia menekuni ilmunya lebih dalam lagi. Tetapi meskipun demikian ia masih bertanya, “Kakang, bukankah Kakang dapat menuntun aku tanpa teka-teki yang hampir memecahkan kepalaku itu.”

Sekali lagi Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, “Dengan demikian keprihatinanmu akan jauh berbeda. Kau akan mendalami ilmumu dengan tahap-tahap yang biasa. Tetapi, dengan keadaanmu seperti yang kau alami, kau benar-benar membanting tulang untuk memperdalam ilmu itu. Justru dengan demikian kau benar-benar telah menemukan sarinya dalam waktu yang singkat.”

“Tetapi Kakang…” bertanya pula Mahesa Jenar, “Dari mana Kakang dapat mengetahui semua keadaan yang pernah aku alami. Bagaimana Kakang tahu bahwa Panembahan Ismaya telah menyembunyikan aku di sini, dan bagaimana Kakang dapat mengenal hampir setiap orang yang pernah aku kenal pula?”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia tampak ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab pula, “Mahesa Jenar… ketahuilah bahwa aku memang merupakan salah seorang dari penghuni padepokan ini. Apa yang aku lakukan semuanya atas ijin Panembahan. Dan dari Panembahan pula aku mendapatkan beberapa petunjuk tentang kau.”

“Siapakah sebenarnya Panembahan Ismaya itu?” tanya Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Pertanyaanmu aneh Mahesa Jenar. Kau bertanya tentang seseorang yang telah kau sebut namanya. Bukankah ia Panembahan Ismaya. Panembahan sakti yang mengepalai padepokan Karang Tumaritis ini?”

Dari jawaban itu Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang tersembunyi, yang tak seorangpun boleh mengetahui. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi ia bertekad untuk pada suatu waktu dapat mengetahuinya pula, siapakah sebenarnya orang tua yang seolah-olah
telah menyisihkan diri dari dunia ramai itu.

“Kakang…” Mahesa Jenar memulai lagi, “Kalau demikian, di manakah muridku Kakang sembunyikan?”

Kebo Kanigara tertawa. Lunak dan perlahan-lahan. Jawabnya, “Benarkah kau bertanya tentang muridmu?”

Mahesa Jenar menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk ia menegaskan, “Ya Kakang. Aku bertanya tentang muridku?”

“Sesudah itu kau pasti akan menanyakan seorang lagi kepadaku,” sahut Kebo Kanigara sambil tersenyum. “Malahan barangkali yang lebih penting bagimu.”

“Ah,” desis Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Sekali lagi Kebo Kanigara tertawa lunak dan perlahan-lahan. Tetapi ia tidak melanjutkan pertanyaannya.

Kemudian Mahesa Jenar berkata untuk mengalihkan pembicaraan, “Kakang, apakah menurut pendapat kakang Kanigara, ilmuku telah meningkat selama ini?”

“Kau telah merasakannya sendiri,” jawab Kebo Kanigara.

“Tetapi menurut penilaianku, kau telah memenuhi harapanku. Sebab menurut pendapatku, supaya Perguruan Pengging tidak menjadi semakin pudar, maka murid-muridnya harus dapat selalu melampaui ilmu gurunya. Demikian berturut-turut. Dan sekarang kau telah mendapatkan itu.”

Kalau ada guntur menggelegar di telinganya, Mahesa Jenar tidak akan terkejut seperti saat itu. Memang ia telah merasakan sesuatu perkembangan yang menggembirakan dalam latihan-latihan yang dilakukan selama ini dengan tekunnya. Tetapi ketika ia mendengar pernyataan Kebo Kanigara, Saudara muda seperguruan gurunya, yang memiliki ilmu lebih sempurna dari gurunya sendiri, mengatakan, bahwa ia telah dapat menyamai kesaktian almarhum gurunya.

”KAKANG berkata sebenarnya?” tanya Mahesa Jenar dengan nada kurang percaya.

Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, ”Aku berkata sebenarnya. Dan aku telah mencobanya. Juga terhadap gurumu, ayah Pengging Sepuhpun aku pernah mencoba ilmunya, khusus Sasra Birawa, dan memperbandingkan dengan kekuatan ilmu yang aku miliki.”

Mahesa Jenar menjadi terdiam oleh perasaan yang bergulat di dalam dadanya. Ia tiba-tiba menjadi sangat bergembira. Tetapi hanya sesaat.

Sesaat kemudian, ia telah memanjatkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pencipta Alam yang telah menunjukkan jalan kepadanya lewat adik seperguruan gurunya. Dan karena itu pulalah hatinya menjadi tenang. Setenang air telaga yang tidak dapat dijajagi seberapa dalamnya.

Untuk beberapa lama ruangan itu dikuasai oleh keheningan Lampu obor yang menyala-nyala dengan lincahnya, melemparkan sinarnya yang seolah-olah menari di dinding goa itu. Mahesa Jenar yang masih hanyut dalam angan-angan duduk sambil menundukkan kepala. Di dalam hatinya, terucapkanlah sebuah janji, bahwa dengan kematangan yang dicapainya, ia harus lebih banyak menyerahkan darma baktinya untuk manusia dan kemanusiaan, untuk tanah dimana ia dilahirkan dan untuk bangsa yang hidup diatasnya. Dan sekaligus ia berjanji di dalam hatinya itu, bahwa dengan segenap kemampuan yang telah dimiliki itu, ia harus menumpas segala kejahatan dan pelanggaran atas keharusan dalam hidup bernegara dan bertata masyarakat. Sehingga terpancarlah api cinta sejati di atas bumi.

Kemudian angan-angannya itu dipecahkan oleh suara Kebo Kanigara, ”Mahesa Jenar… sekarang sudah sampai waktumu untuk meninggalkan ruang samadimu ini. Biarlah patung batu itu tinggal sendiri, menjadi saksi bisu atas apa yang pernah terjadi di sini.”

Mahesa Jenar mengangguk satu kali. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri dan memandang patung batu itu dengan tajamnya. Kebo Kanigara pun kemudian berdiri.

”Marilah…” katanya, ”Ikutilah aku. Sekarang kau tak usah marah lagi. Aku akan membawa obor ini, supaya kau tak kehilangan jalan.”

Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara itu dengan langkah yang berat.

Seolah-olah ia segan meninggalkan patung batu itu kesepian. Tetapi ia tidak berkata sepatah pun. Karena Mahesa Jenar tidak menjawab, Kebo Kanigara meneruskan, ”Mau kau apakan patung batu itu…? Ia tidak bersedih hati kau tinggalkan di ruangan ini.”

Mahesa Jenar tersenyum dan melangkah mengikuti Kebo Kanigara meninggalkan ruangan itu.

”Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian sambil berjalan menyusur goa yang memiliki beratus-ratus cabang yang membingungkan itu, ”Ada beberapa maksud, karena aku terpaksa mempergunakan nama serta gelarmu.

Pertama-tama seperti yang telah aku katakan kepadamu. Kedua, aku ingin seseorang tidak merasa berhutang budi kepada orang lain kecuali kepada Mahesa Jenar.”

Kali ini benar-benar Mahesa Jenar tidak dapat menjawab. Sampai Kebo Kanigara meneruskan,

”Untunglah bahwa aku dapat meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar bukan orang yang bernama Mahesa Jenar.”

”Nanti akan diketahuinya pula Kakang,” jawab Mahesa Jenar kemudian,
”Bahwa bukan Mahesa Jenar yang sebenarnyalah yang telah berbuat jasa itu.”

”Jangan Mahesa Jenar,” sela Kebo Kanigara, ”Aku telah bersusah payah berperan sebaik-baiknya sebagai Mahesa Jenar.”

”Tetapi bagaimanapun juga orang akan tahu juga, bahwa yang telah melakukan suatu perbuatan yang dahsyat itu pasti bukan aku,” jawab Mahesa Jenar pula. ”Sebab Kakang Kebu Kanigara telah menggunakan sekian banyak orang. Apakah aku dapat melakukan pekerjaan seperti
itu?”

”Kau masih belum dapat mengerti tentang dirimu sendiri,” sahut Kebu Kanigara.

”Dengan samadimu itu, kau akan mampu melakukan apa yang dilakukan olehku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar. Juga terhadap Bugel Kaliki dan Sima Rodra, kau sekarang tidak berada di bawahnya.”

Sekali lagi dada Mahesa Jenar bergetar. Dan sekali lagi hatinya berjanji untuk membinasakan orang-orang itu.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada muridnya. Apakah kira-kira yang telah dilakukannya selama ini. Maka bertanyalah ia, ”Kakang Kebo Kanigara. Lalu bagaimanakah keadaan muridku?”

”Agaknya kau benar-benar sayang kepada anak itu,” jawab Kebo Kanigara.

”Aku tidak tanggung-tanggung dalam perananku.” Ia meneruskan, ”Juga terhadap muridmu aku telah memaksanya untuk meningkatkan ilmunya dengan cara yang pernah aku tempuh.”

”Cara yang pernah Kakang tempuh?” ulang Mahesa Jenar dengan herannya.

”Adakah Kakang pernah bertemu dengan anak itu?”

Kebo Kanigara tertawa pendek. ”Pernah,” jawabnya. ”Aku selalu bertemu dengan anak itu di mana-mana. Karena itu aku banyak mengetahui tentang kau dan muridmu. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk dari Panembahan Ismaya.”

Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar teringat akan peristiwa-peristiwa yang pernah disaksikan atas muridnya. Maka dibayangkanlah bentuk orang yang pernah melakukan perbuatan perbuatan aneh di pantai Tegal Arang. Seorang yang mempergunakan 6 wajah, menyerang muridnya setiap malam berturut-turut. Orang itu bertubuh besar dan kekar. Dan sekarang orang yang berjalan di hadapannya itu pun bertubuh besar dan kekar.

”Kakang…” seru Mahesa Jenar sesaat kemudian. ”Aku sekarang berani memastikan bahwa Kakang telah menolong muridku untuk suatu loncatan yang tingkatan ilmunya di pantai Tegal Arang dengan cara kakang yang aneh.”

TERDENGAR Kebo Kanigara tertawa pendek. Jawabnya, “Aku tidak telaten melihat anak itu maju setapak demi setapak. Sejak aku dengar kabar bahwa ayah Handayaningrat meninggal dunia, aku jadi gelisah. Jangan-jangan tak seorang pun yang akan mewarisi dari perguruan Pengging. Karena adi Kebo Kenanga meninggal pula, maka satu-satunya yang ada adalah kau. Kemudian kaupun menghilang. Mati-matian aku mencarimu. Dan akhirnya aku ketemukan kau. Malahan kau telah mempunyai seorang murid yang berbakat baik. Tetapi kau pergunakan cara-cara ayah Pengging Sepuh untuk meningkatkan ilmu muridmu. Selangkah kecil demi selangkah kecil. Maka akupun berusaha membantumu dengan caraku.”

“Kakang…” sahut Mahesa Jenar. “Sudah sewajarnyalah kalau aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Jangan katakan itu,” potong Kebo Kanigara. “Kewajibanmu dan kewajibanku dalam hal ini tidak ada bedanya. Juga kali ini terhadap muridmu itu aku isikan ilmu dari perguruan Pengging. Berurutan seperti rencana yang akan kau berikan. Hanya caraku berbeda dengan caramu.”

Mendengar keterangan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar berdiam diri. Ia sekarang, barangkali setelah mempelajari ilmunya lebih tekun dengan suatu cara yang tidak direncanakannya lebih dahulu, tidak akan lagi mengajari muridnya dengan cara yang pernah dilakukan sebelumnya. Di mana muridnya harus menerima pelajaran setingkat demi setingkat tanpa mengikutsertakan kemampuan daya cipta muridnya itu sendiri.

“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian, “Marilah kita melihat muridmu itu berlatih. Aku telah minta kepada seseorang untuk meneternya dan memperbandingkan dengan ilmu perguruan lain.”

“Ilmu perguruan lain?” ulang Mahesa Jenar keheran-heranan. “Adakah seseorang di sini dan perguruan lain?”

“Akan kau lihat nanti,” jawab Kebo Kanigara. “Aku telah melakukan apa saja yang mungkin atas muridmu itu dalam masa pembajaan dirinya. Aku sendiri suatu waktu datang melawannya. Dan pada saat lain aku datang sebagai gurunya, Mahesa Jenar, untuk memberinya petunjuk petunjuk. Kadang kadang aku hadapkan Arya Salaka dengan ilmu dari perguruan lain.”

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi rindu sekali kepada satu-satunya murid yang telah dibawanya menjelajah daerah daerah serta mengalami kesukaran lahir dan batin. Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih tak habis-habisnya kepada Kebo Kanigara yang telah membantu mematangkan ilmu muridnya. Dengan demikian ia mengharap seorang yang tidak kalah saktinya, Ki Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.

Setelah Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara menempuh jalan yang berliku-liku, maka sampailah mereka kepada satu gang yang menuju ke dalam sebuah ruang yang agak luas seperti ruang yang dipergunakan untuk mengurung Mahesa Jenar. Dalam pada itu Kebo Kanigara berbisik, “Mahesa Jenar, ingat muridmu selama ini belum pernah terpisah dari gurunya.”

“Lalu apa yang pernah dilakukan oleh gurunya?” tanya Mahesa Jenar.

“Melatihnya dan menurunkan segala sifat-sifat keluhuran budi dan kepahlawanan. Gurunya telah mengatakan kepada anak itu bahwa dalam masa-masa yang dekat, harus sudah menurunkan api kejantanan dan kesetiaan pada janji seorang ksatria, supaya api yang menyala didalam dada angkatan tua itu tidak padam kehabisan minyak. Sebab apabila datang waktunya kita meninggalkan mereka, api itu harus sudah mereka miliki. Bahkan harus berkobar lebih hebat dari semula.”

Mahesa Jenar benar-benar tersentuh hatinya mendengar ucapan itu. Karena iapun tak akan berbuat lain daripada itu.

“Kakang…” tanya Mahesa Jenar pula, “Tidakkah anak itu mengenal Kakang bukan sebagai gurunya?”

“Tidak Mahesa Jenar,” jawab Kebo Kanigara, “Aku selalu datang padanya, apabila ruangan itu sudah mulai gelap. Aku tidak pernah membawa obor yang cukup menerangi ruangan itu.

Disamping itu aku jarang-jarang sekali bercakap-cakap dengan anak itu. Aku paksa ia bekerja keras untuk mendalami ilmunya. Nah sekarang kaupun telah memiliki rambut yang memenuhi mukamu. Aku mengharap bahwa Arya Salaka tidak sempat membeda-bedakan antara kita. Hanya mungkin aku agak lebih kasar daripadamu.”

“Mungkin ada juga terselip beberapa pertanyaan dalam hatinya,” kata Mahesa Jenar kemudian,

“Karena perbedaan sifat dan cara dari apa yang pernah aku berikan kepadanya.”

“Mahesa Jenar…” Kebo Kanigara meneruskan, “Sebelumnya baiklah kita tunggu sampai esok. Lihatlah bagaimana ia berlatih dengan seseorang dari perguruan lain didalam ruangan itu. Aku sudah menyuruhnya tinggal di situ terus menerus sampai aku, Mahesa Jenar, membawanya keluar.”

Bagaimanapun mendesaknya keinginan Mahesa Jenar untuk bertemu dengan muridnya, namun ia harus menyabarkannya sampai esok. Tetapi hari esok itu tidak akan terlalu lama datang.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah menunggu terlalu lama. Agaknya matahari menjadi bertambah malas, sehingga agak kesiangan terbit. Namun lambat laun, terasalah bahwa fajar telah pecah di timur. Selama itu ia mengisi waktunya dengan mendengarkan ceritera Kebo Kanigara tentang muridnya, dan tentang peranannya sebagai Mahesa Jenar.

“Ingat Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara, “Kau waktu itu marah kepada muridmu, karena ia kehilangan jalan. Seharusnya ia dapat berjalan lebih cepat di belakangmu. Karena itulah maka kau kurung muridmu dalam ruangan itu untuk dengan keras berusaha membajakan diri. Ternyata muridmu adalah seorang murid yang patuh. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun kadang-kadang ia berlatih sampai hampir pingsan. Kaulah yang membawa makan dan minumnya. Disamping itu, satu halyang penting dan seharusnya akuminta maaf kepadamu bahwa Arya Salaka telah menerima dasar – dasar ilmu khusus perguruan Pengging, Sasra Birawa”.

MAHESA JENAR terkejut mendengar ceritera itu. Karena itu ia bertanya, Adakah anak sebesar Arya Salaka telah cukup kuat untuk memiliki aji itu?

Muridmu luar biasa, jawab Kebo Kanigara. Memang aku kira akibatnya akan tidak baik kalau kau dalam tingkat sebelum samadimu, memberikan ilmu itu kepadanya. Tetapi sekarang tidak. Juga aku merasa tidak. Apalagi ketika aku tunjukkan bagaimana ia harus mengatur pernafasan, pemusatan pikiran dan tenaga, aku jadi yakin bahwa mungkin ia mempunyai bakat lebih baik daripada kita.
Nah, sekarang kau telah menyadari kematanganmu. Aku harap kau lanjutkan dasar-dasar ilmu Sasra Birawa. Meskipun dalam pelaksanaannya barulah dalam tingkat kekuatan lahiriah saja.

Itu sudah cukup Kakang, sela Mahesa Jenar, Sudah terlalu banyak bagi seorang anak-anak sebesar Arya Salaka yang baru berumur lebih kurang 16 sampai 17 tahun itu. Bukankah kecuali persiapan jasmaniah diperlukan pula persiapan rokhaniah, supaya tidak ada penyalahgunaan di kemudian hari.
Kebo Kanigara tersenyum mendengar pendapat Mahesa Jenar. Kau benar-benar seorang yang teliti terhadap segala akibat dari suatu perbuatan. Tetapi khusus muridmu itu, aku kira ia telah cukup mempunyai persiapan lahir batin.
Mungkin karena pengalaman-pengalamannya serta tekanan-tekanan yang dialami dalam usianya yang masih muda itu, ia menjadi agak terlampau cepat masak.

Mahesa Jenar mengangguk membenarkan. Memang pengaruh penghidupan yang dialami, sangat terasa pula kematangan jiwa muridnya. Ia dapat berpikir hampir seperti seorang dewasa dengan menanggapi suatu kejadian, karena itulah maka tiba-tiba timbul pulalah rasa ibanya terhadap Arya Salaka yang seakan-akan telah kehilangan sebagian dari tataran hidupnya, sebagian dari masa mudanya.

Ketika itu terasalah bahwa pagi telah datang. Obor yang dibawa oleh Kebo Kanigara telah lama padam. Kemudian mereka melanjutkan menyusur lubang-lubang gua itu mendekati ruang tempat Arya berlatih. Dari sebuah lubang mereka dapat mengintip ke dalam ruangan itu. Dari sanalah Mahesa Jenar itu melihat muridnya. Yang mula-mula memukul dadanya adalah suatu perasaan haru ketika ia melihat Arya Salaka menjadi kurus dan pucat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Juga senyum haru. Disamping Arya Salaka ia melihat seorang pemuda yang gagah, berwajah bening dan berdada bidang.

Ia adalah Putut Karang Tunggal yang agaknya menemani Arya Salaka. Kalau bukan aku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar, anak itulah yang membawa makanan untuk Arya, bisik Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar jadi bergembira ketika ia melihat muridnya bersahabat dengan Putut yang mengepalai para cantrik itu.

Mereka berdua mempunyai banyak persamaan, bisik Kebo Kanigara lebih lanjut, Keduanya tabah dan penuh semangat. Karena itu mereka tekun berlatih bersama.

Berlatih bersama…? ulang Mahesa Jenar terkejut, Jadi Putut Karang Tunggal juga memiliki ilmu yang cukup tinggi?

Kebo Kanigara mengangguk.

Aku tidak mengira. Ia terlalu halus dan sopan. Muridku adalah seorang anak yang biasa hidup dalam pergaulan yang kasar. Diantara para petani dan nelayan, sambung Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara tersenyum aneh. Tetapi karena itulah muridmu menjadi seorang anak yang jujur, yang tidak memandang setiap persoalan dengan berbelit-belit, sahut Kebo Kanigara.

Nah, tunggu sebentar… ia melanjutkan, Mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk berlatih bersama. Aku mengijinkan Arya Salaka melakukan tanpa pengawasanku. Dan kepada Putut Karang Tunggal itu pun aku pesankan agar tidak mengatakan kepada Arya Salaka siapakah aku sebenarnya.

Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Ia memang mengharap untuk menyaksikan muridnya berlatih. Ia ingin mengetahui sampai dimana sekarang tingkat kepandaiannya.

Hal itu perlu pula untuk menghilangkan kesan-kesan yang mungkin timbul, apabila ia telah kembali kepada anak itu sebagai seorang guru yang pernah diantarai oleh orang lain tanpa setahu anak itu sendiri.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Kebo Kanigara. Sesaat kemudian ia melihat Arya dan Putut Karang Tunggal mempersiapkan dirinya untuk memulai dengan latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan hampir setiap hari.

Melihat langkah Arya yang sedang pergi ke tengah ruangan itupun Mahesa Jenar telah merasakan betapa perubahan yang terjadi pada muridnya, sehingga ia semakin lekas ingin mengetahui, gerakan-gerakan yang akan dilakukan.

Kemudian setelah mereka masing-masing bersiap, maka latihan itupun dibuka dengan sebuah serangan yang mengejutkan dari Putut Karang Tunggal. Mahesa Jenar sendiri menjadi terkejut pula. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak yang halus, sopan dan sama sekali tidak menunjukkan kekasaran jasmaniah itu dapat berbuat sedemikian.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Arya Salaka. Ia dengan tangkasnya dapat mengelakkan serangan itu, bahkan dengan suatu gerak yang sangat lincah ia sudah memulai dengan serangannya.

Demikian latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Selangkah demi selangkah mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain memenuhi ruangan itu.

Dalam pada itu, terjadilah gelora di dalam dada Mahesa Jenar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak muridnya dapat mencapai tingkat yang sedemikian dalam waktu yang singkat. Perasaan bangga dan gembira berputar-putar di seluruh rongga dadanya. 

MURIDNYA itu kini benar-benar merupakan banteng muda yang tangkas dan kuat. Sepasang kakinya yang cepat itu, suatu waktu dapat tegak diatas tanah bagaikan tonggak besi yang tak tergerakkan. Tangannya yang hanya sepasang itu tampak bergerak dengan cepatnya, melingkar-lingkar dan mematuk-matuk dengan dahsyatnya. Tetapi lawannya berlatih bukan pula anak kemarin sore. Iapun telah menguasai ilmunya hampir sempurna. Karena itu maka latihan itu berlangsung dengan serunya. Mereka masing-masing mempunyai kekuatan dalam bentuknya masing-masing. Arya Salaka ternyata tangguh bukan main. Tubuhnya cukup kuat dan setiap gerakannya menimbulkan desir dalam dada Mahesa Jenar.

Sedangkan Putut Karang Tunggal sangat mencengangkannya. Gerakannya semakin lama menjadi semakin lincah dan cepat. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi seakan-akan sangat ringan dan sekali-sekali seperti terbang ia meloncat-loncat membingungkan. Namun Arya Salaka dapat menanggapinya dengan baik. Iapun menjadi seolah-olah memiliki beberapa pasang mata yang terserak-serak di tubuhnya, sehingga kemana bayangan itu melontar, ia selalu dapat melihatnya dan segera menghadapinya.

Dalam pada itu, semakin lama Mahesa Jenar dapat semakin melihat jelas kekuatan-kekuatan yang tersimpan pada setiap gerak kedua anak muda itu. Bagi Arya Salaka ia hanya dapat berbangga hati, sebab setiap geraknya adalah gerak-gerak dari perguruan Pengging ditambah dengan segala macam pengalaman Arya Salaka yang dipetiknya dari gerak-gerak alam yang pernah ditekuni bersama, yang dapat disusunnya sendiri dalam satu senyawa yang serasi. Tetapi yang semakin mengetuk-ngetuk hatinya adalah setiap gerakan Putut Karang Tunggal yang cepat lincah itu.

Tiba-tiba Mahesa Jenar seolah-olah melihat kedua anak muda yang sedang berlatih itu seperti pernah terjadi belasan tahun yang lalu. Meskipun tidak tepat benar, namun ia pernah menyaksikan ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal itu. Akhirnya ketika ia menjadi semakin jelas, tergetarlah tubuhnya. Hampir saja ia berteriak menyebutkan sebuah nama, kalau ia tidak segera teringat bahwa pada saat itu ia masih belum waktunya menampakkan diri.

Namun bagaimanapun juga ia merasa bahwa kedua anak muda itu berlatih mirip seperti dirinya sendiri berlatih bersama sahabatnya pada waktu mudanya, Mahesa Jenar dan Sela Enom. Dan pada saat itulah ia mendapat kepastian bahwa anak yang menamakan diri Putut Karang Tunggal itu pasti ada sangkut pautnya dengan Ki Ageng Sela Enom yang pada masa kanak-kanaknya bernama Anis. Tetapi menilik kedahsyatannya maka ia tidak yakin bahwa anak itu adalah murid Ki Ageng Sela. Sebab bagaimana tingginya ilmu Ki Ageng Sela itu, namun ia pasti tidak akan mampu membentuk Putut Karang Tunggal sampai menjadi anak yang sedemikian mencengangkan.

Karena itu Mahesa Jenar tidak mau berteka-teki lagi. Akhirnya iapun bertanya kepada Kebo Kanigara, Kakang, siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu?

Kebo Kanigara tersenyum, jawabnya perlahan-lahan, Adakah sesuatu yang kau lihat padanya?

Ya, sambung Mahesa Jenar. Aku melihat perguruan Sela ada padanya.

Tepat, jawab Kebo Kanigara. Ia adalah murid Ki Ageng Sela.

Mahesa Jenar menarik nafasnya. Namun ia masih bertanya lagi, Adakah Ki Ageng Sela mampu membentuk Karang Tunggal menjadi sedemikian mengagumkan?

Ki Ageng Sela yang mana yang kau tanyakan, sahut Kebo Kanigara. Kalau yang kau maksud Sela Enom, maka kau benar, meskipun Sela Enom itupun sekarang telah mampu melakukan hampir seperti apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya.

Menangkap petir, potong Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara tertawa perlahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, Bukankah ceritera tentang kecakapan menangkap petir itu sudah dimiliki oleh Sela Enom sejak mudanya? Agaknya bakat turun tumurun itu tidak perlu dipelajarinya terlalu lama.

Mahesa Jenarpun tersenyum pula mendengar jawaban itu.

Tidak hanya itu… Kebo Kanigara meneruskan, Tetapi berbagai ilmu yang lain. Ia memiliki kedahsyatan tangan seperti yang dipancarkan oleh Sasra Birawa. Ki Ageng Sela menamakannya aji Narantaka.

Agaknya ia mengagumi tokoh Gatutkaca, potong Mahesa Jenar.
Mungkin, jawab Kebo Kanigara.

Kemudian mereka berdiam diri. Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal masih sibuk berlatih. Agaknya latihan-latihan serupa itu telah sering dilakukan sehingga bagaimanapun hebatnya, namun tidaklah sangat berbahaya.

Ketika matahari telah tegak di langit, agaknya kedua anak muda itu merasa telah cukup lama berlatih. Karena itu, terdengar Putut Karang Tunggal bersiul nyaring, dan berloncatanlah mereka surut. Meskipun tubuh masing-masing dibasahi oleh peluh yang mengalir deras sekali, namun wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan.

Dalam pada itu, sekali lagi terdengar Mahesa Jenar bertanya, Kakang Kanigara. Siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu? Bagaimanapun juga aku masih melihat beberapa kelebihan yang dimilikinya daripada Arya Salaka.

Untuk beberapa lama Kebo Kanigara tidak menjawab. Ia agaknya menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian terdengar Mahesa Jenar mendesak, Aku merasa bahwa anak itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak muda pada umumnya. Cahaya wajahnya yang terang seperti memancarkan wibawa yang mengagumkan.

Ia juga murid Ki Ageng Sela Sepuh, jawab Kanigara.

Aku sudah mengira, sahut Mahesa Jenar, Tetapi siapakah dia?

Putut Karang Tunggal, jawab Kanigara pula sambil tersenyum.

Akh…! desis Mahesa Jenar. Kakang Kanigara memang mempunyai kegemaran berteka-teki. Tetapi teka-teki yang pertama telah aku tebak dengan tepat. Sekarang aku menyerah. Sebab pada saat aku meninggalkan Demak, aku tidak sempat menanyakan kepada Nis Sela, apakah ia mempunyai murid yang sekaligus menjadi adik seperguruan.

MAHESA JENAR… bisik Kebo Kanigara bersungguh-sungguh, Kau pasti pernah mengenal anak itu. Bukankah sepeninggal Adi Kebo Kenanga kau masih beberapa tahun lagi tinggal di Demak, sebelum keadaan memburuk?

Mahesa Jenar mengangguk.

Kalau demikian kau pasti mengenalnya, sambung Kebo Kanigara. Anak itu adalah anak yang aneh. Sebenarnya ia tidak betah untuk tinggal terlalu lama di sesuatu tempat. Ia datang berguru hanya apabila ia inginkan. Ia datang sewaktu-waktu tanpa aturan. Meskipun demikian kecerdasannya sangat mengagumkan. Ia dapat menguasai segala ilmu hanya dalam waktu yang sangat singkat. Sepersepuluh dari waktu yang diperlukan oleh anak-anak muda yang lain. Bahkan kurang dari itu.
Ia datang kemari mencari aku, untuk minta diri. Ia mendapat nasehat dari seorang Wali yang terkemuka untuk mengabdikan diri di Kraton Demak, ketika Wali itu melihatnya menunggui padi gaga di ladang.

Seorang Wali? tanya Mahesa Jenar. Siapakah dia?

Seorang yang bertubuh tinggi besar, berikat kepala Wulung dan berbaju Wulung pula, jawab Kebo Kanigara.

Sunan Kali Jaga…? gumam Mahesa Jenar.

Ya, Kebo Kanigara menegaskan. Ia baru saja datang dari Pamancingan di Pantai Selatan menuju ke Demak. Pada saat itulah ia berkata kepada Putut itu, Hai anak yang mendapat anugerah Allah. Pulanglah dan pergilah ke Demak. Jangan asyik menunggui pagagan, sebab kelak kau akan menduduki tahta. Demikian nasehat Sunan Kali. Dan agaknya anak itu akan mencoba memenuhinya. Ia datang untuk minta diri kepadaku, dan sekedar menambah bekal bagi masa depannya.

Dada Mahesa Jenar berdebar-debar mendengar ceritera itu. Seorang yang diramalkan untuk memegang tahta.

Adakah ia mempunyai hubungan dengan Kakang Kanigara? tanya Mahesa Jenar pula.

Ada, jawab Kanigara. Dan barangkali aku belum menyebutkan hubungan itu. Ia adalah putra Adi Kebo Kenanga.

He… Mahesa Jenar terkejut. Putra Kakang Kebo Kenanga. Adakah dia Si Karebet yang nakal itu.

Kebo Kanigara mengangguk.

Karebet yang kemudian dikenal bernama Jaka Tingkir setelah ia dipelihara oleh Nyai Ageng Tingkir, kakak perempuan Nyai Kebo Kenanga.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disangka-sangka sebelumnya ia akan dapat bertemu dengan anak kakak seperguruannya. Yang bahkan oleh seorang Wali yang terkenal diramalkan untuk menjadi raja.

Nah, Kakang… kata Mahesa Jenar kemudian, Marilah kita temui mereka.

Kebo Kanigara menggeleng.

Tidak mungkin… jawabnya. Muridmu akan menjadi heran melihat ada dua orang yang menamakan diri Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar tertegun.

Lalu bagaimana? ia bertanya.

Dan ingat, kau harus membersihkan janggut dan kumismu di hadapan anak itu, supaya ia mendapatkan wajah Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa curiga. Akupun akan berbuat demikian. Tentu saja di tempat lain. Sehingga apabila aku kemudian bertemu dengan anak itu, ia tidak akan mengenal aku lagi.

Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa tersenyum, meskipun ia sebenarnya ingin segera dapat menemui kedua anak muda itu. Namun bagaimanapun ia terpaksa menuruti nasehat Kebo Kanigara.

Sehari itu Mahesa Jenar menunggu saja. Matahari di langit rasanya berjalan sangat lambatnya. Seolah-olah dengan segannya mengarungi langit menurut garis edarnya. Lingkaran-lingkaran cahayanya yang menembus lubang-lubang di atas ruang itu dengan lesunya berjalan ke arah yang berlawanan.

Ketika matahari telah condong, Putut Karang Tunggal meninggalkan Arya Salaka seorang diri.
Anak itu oleh gurunya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, dilarang meninggalkan ruangan itu, sebagai suatu cara berprihatin. Dan apa yang dicapainya adalah sangat menggembirakan meskipun kadang-kadang terselip juga beberapa pertanyaan mengenai gurunya.

Ketika Putut Karang Tunggal itu hilang ke balik lorong pintu ruangan itu berbisiklah Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, kau dapat menemui Karebet. Itu saja dahulu.

Sekarang? tanya Mahesa Jenar.
Ya. Ikutlah aku, jawab Kebo Kanigara. Muridmu itu tak akan hilang di situ.

Kemudian Mahesa Jenar melangkah mengikuti Kebo Kanigara, melingkar sepanjang lubang goa yang gelap, dan yang sebentar kemudian muncul di sebuah ruangan lain yang agak lebar pula yang banyak terdapat di sepanjang saluran goa itu.

Di dalam ruangan itu pulalah mereka bertemu dengan Putut Karang Tunggal yang sedang berjalan keluar. Ketika ia melihat kedua orang itu, ia terkejut. Tetapi kemudian ia mengangguk hormat.

Selamat sore paman berdua.

Selamat sore Karang Tunggal. Permainanku sudah hampir selesai. Ini adalah pamanmu yang sebenarnya, sahut Kanigara.

Karang Tunggal sekali lagi membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar sambil berkata, Baktiku untuk Paman Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar tersenyum. Ia melangkah maju. Sambil menepuk bahu anak muda itu ia berkata, Permainanmu sudah sempurna Karebet. Ketika aku datang mula-mula di bukit ini, benar-benar aku tidak menduga bahwa kaulah yang menamakan diri Karang Tunggal.
Paman Kebo Kanigara yang mengatur semuanya bersama Eyang Ismaya, jawab Karang Tunggal. 

MAHESA JENAR menoleh kepada Kebo Kanigara sambil berkata, Untunglah bahwa kepalaku belum pecah memikirkan permainan kalian yang aneh itu.

Kemudian kepada Karang Tunggal ia meneruskan, Nah Karebet, kau sudah banyak mendengar tentang aku, tentang seorang Wali yang menasehatkan kepadamu untuk mengabdi ke Demak.

Karebet menundukkan kepalanya. Katanya lirih, Mudah-mudahan paman melimpahkan pangestu kepadaku. Meskipun semuanya itu hanyalah sebuah mimpi yang cemerlang, namun setidak-tidaknya aku akan dapat mengabdikan diri pada tanah kelahiran ini.

Bagus… sahut Mahesa Jenar, Kau harus mulai dengan semangat pengabdian. Jangan kau mulai dengan suatu tekad yang berlebih-lebihan supaya kau tidak mudah menjadi kecewa.
Akan aku junjung tinggi segala pesan paman Mahesa Jenar, jawab Putut Karang Tunggal sambil membungkukkan tubuhnya sebagai suatu pernyataan janji. Tidak saja kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, tetapi juga kepada diri sendiri.

Mahesa Jenar… sela Kebo Kanigara kemudian, Bawalah pisauku ini. Sebentar lagi apabila ruangan-ruangan ini telah gelap, masuklah ke dalam ruang muridmu. Kau dapat menyusur lubang itu, dan akan sampai ke dalamnya tanpa cabang yang lain. Aku akan menunggumu di ruang sebelah ini. Kemudian kita keluar bersama-sama supaya kau tidak usah mencari-cari jalan.

Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar.

Jangan banyak berkata tentang waktu lampau. Ajaklah ia keluar karena segala sesuatu telah kau anggap cukup. Kanigara menyambung. Dan seterusnya kau dapat menuntunnya dengan suatu cara yang lebih baik dari yang pernah kau pergunakan.

Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar sekali lagi.

Aku menunggu kau di sebelah. Dari ruangan ini kau akan dapat melihat sinar obor yang akan segera aku nyalakan kalau ruangan itu telah gelap benar. Berkata kanigara pula, Aku juga selalu datang pada saat-saat semacam itu, meskipun hanya karena aku harus menyembunyikan wajahku.

Setelah itu Kebo Kanigara segera melangkah pergi diikuti oleh Putut Karang Tunggal. Untuk sesaat Mahesa Jenar mengagumi anak kakang seperguruannya itu, sampai hilang ke dalam sebuah mulut lubang goa itu.

Kemudian Mahesa Jenar mempersiapkan dirinya untuk segera menemui muridnya, supaya perasaannya tidak menggelora.

Sesaat kemudian, udara menjadi semakin sejuk. Semburat merah telah memancar di langit, sebagai sisa-sisa cahaya matahari yang telah membenamkan dirinya. Ia tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi, karena itu segera iapun berjalan menyusur gang sempit menuju ke ruang dimana Arya Salaka sedang membajakan dirinya.

Ketika ia sampai di mulut gang itu, ia mendengar langkah-langkah di dalamnya. Agaknya Arya Salaka masih mempergunakan waktunya untuk berlatih. Sebab di dalam ruangan yang sepi itu ia benar-benar tidak mau menyia-nyiakan waktu. Karena itu ia mempergunakan setiap waktunya untuk melatih diri agar segera dapat dicapai suatu tingkatan yang dikehendaki oleh gurunya.

Mula-mula ia bermaksud demikian agar dapat segera meninggalkan ruangan yang menjemukan itu, tetapi lambat laun ia berpendapat lain. Ia semakin menjadi tertarik dan bersemangat mendalami ilmunya karena ilmu itu sendiri, bukan karena kejemuan dan kesunyian.

Dengan hati-hati Mahesa Jenar melangkah masuk, sehingga tidak menimbulkan sesuatu suara yang menarik perhatian muridnya yang sedang tekun. Apalagi sesaat kemudian, anak itu agaknya sedang memusatkan segenap perhatiannya, mengatur jalan pernafasannya, dan disilangkannya satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi, dan satu kakinya ditekuknya ke depan.

Sesaat kemudian tubuhnya sebagai anak panah melontar maju, tangannya yang diangkat tinggi-tinggi itu terayun deras mengarah kepada sebuah batu padas di dinding goa itu. Maka kemudian terjadilah suatu benturan yang dahsyat, dan disusul dengan lontaran pecahan batu padas itu berserak-serakan. Itulah pukulan Sasra Birawa yang telah dimiliki pula oleh seorang anak sebesar Arya Salaka.

Melihat hasil yang dicapai oleh muridnya itu, hampir Mahesa Jenar tidak dapat menahan diri. Apa yang dicapainya dengan cara penurunan ilmu Ki Ageng Pengging Sepuh, sampai bertahun-tahun itu, dapat dipelajari Arya Salaka kurang lebih hanya satu bulan saja, dengan cara penurunan ilmu adik seperguruan gurunya. Karena itu ia sekarang percaya, bahwa Kebo Kanigara benar-benar melampaui Ki Ageng Pengging Sepuh, yang kebetulan adalah gurunya, yang bergelar Pangeran Handayaningrat.

Meskipun demikian, apa yang terlahir dari mulutnya adalah berbeda sekali dengan perasaannya. Maka katanya lantang, Ulangi!

Arya Salaka terkejut. Segera ia menoleh dan membungkuk hormat kepada gurunya yang dirasanya pada saat-saat terakhir mempunyai kebiasaan yang jauh berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Ketika ia mendengar gurunya mengucapkan kata-kata itu wajahnya segera menjadi muram. Ia merasa bahwa apa yang baru saja dilakukan sama sekali tidak memuaskan gurunya.

“JELEK sekali,” gumam Mahesa Jenar, meskipun sebenarnya hatinya memuji. Sebab apa yang dilakukan Arya pada waktu itu, sama sekali tidak jauh berselisih dengan apa yang dapat dilakukannya sebelum ia melakukan samadi dan menemukan hakekat dari watak setiap unsur gerak dari ilmunya, sehingga menurut Kebo Kanigara, ia telah dapat menyamai gurunya sendiri.

Mendengar suara gurunya itu Arya Salaka menundukkan kepalanya. Ia sangat bersedih bahwa ia mengecewakan.

Melihat sikap Arya, Mahesa Jenar menjadi sangat terharu. Hampir saja ia meloncat dan membelai kepala muridnya. Untunglah bahwa ia dapat menahan diri. Sambil mengatur perasaannya ia berkata, “Arya, lihat batu hitam itu.”

Dengan mata yang suram, Arya memandang sebuah batu hitam sebesar kepalanya dalam keremangan petang, yang terselip diantara batu-batu padas yang menjorok pada dinding goa.

“Apa yang kau lihat itu? ” bentak Mahesa Jenar.”

“Sebuah batu hitam yang terjepit diantara batu-batu padas,” jawab Arya dengan suara yang dalam.

“Itulah sebabnya kau tidak dapat maju,” bentak Mahesa Jenar pula. “Perhatianmu terpecah-pecah pada semua masalah yang tak berarti. Aku bilang, lihat batu hitam itu. Aku sama sekali tidak menanyakan apakah batu itu terjepit batu padas, atau terletak di atas tanah. Seharusnya kaupun hanya melihat batu hitam itu. Batu hitam itu saja yang menjadi pusat perhatianmu. Tidak perduli apakah batu itu tergantung di langit atau apapun.”

Sekali lagi Arya menundukkan kepalanya. Tetapi ia mendapat suatu petunjuk yang sangat berarti dalam hidupnya. Bahwa ia tidak boleh memandang setiap masalah tanpa pemusatan persoalan, sehingga masalah pokoknya dapat menjadi kabur karena masalah tetek bengek yang dapat membelokkan perhatiannya.

“Arya…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Ulangi, dan pecahkan batu hitam itu.”

Sekali ini Arya Salaka tidak mau mengecewakan gurunya lagi. Dengan penuh tekad, ia membulatkan perhatiannya, mengatur pernafasannya. Satu kakinya diangkatnya dan ditekuknya ke depan, satu tangan menyilang dada, dan satu lagi diangkatnya tinggi-tinggi. Dengan satu loncatan yang dahsyat Arya Salaka mengayunkan tangannya diikuti sebuah teriakan nyaring. Dan, batu hitam yang terjepit diantara batu-batu padas itupun hancurlah berbongkah-bongkah.

Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang hatinya. Anak itu benar-benar telah menguasai Sasra Birawa dengan baik dalam bentuk lahirnya. Tetapi baginya adalah sudah terlalu cukup. Namun ia masih mencoba menahan perasaannya.

Seakan-akan ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas muridnya itu, tetapi ia bahkan duduk di tengah dengan enaknya sambil mengeluarkan pisaunya. Dengan tenangnya Mahesa Jenar mulai mencukur janggut dan kumisnya.

Arya mula-mula tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Tetapi sikap acuh tak acuh itu telah mengecilkan hatinya pula, dan disamping itu ia semakin tidak mengerti pada sifat gurunya yang menjadi aneh dan lain.

Dalam kebimbangan itu, kadang-kadang terselip di sudut hatinya suatu pertanyaan, apakah orang yang menuntunnya selama ini benar-benar gurunya yang membawanya mengembara dari satu tempat ke tempat lain, sejak melarikannya dari Banyubiru? Alangkah jauh bedanya. Sejak ia terpisah di dalam salah sebuah saluran di dalam goa ini, kemudian tersesat masuk ke dalam ruangan ini, ia merasakan bahwa gurunya menjadi berubah sifat.

Beberapa hari ia tinggal sendiri didalam ruangan ini, sampai kemudian gurunya menemukannya disini. Yang mula-mula di dengar dari mulut gurunya bukanlah pernyataan gembira, tetapi bentakan-bentakan kasar dan marah. Apakah Mahesa Jenar dapat berbuat demikian…? Dan apakah dalam beberapa hari itu, sudah cukup waktu untuk menjadikan gurunya berwajah gelap oleh kumis dan janggut yang tumbuh demikian lebatnya…?

Sekarang ia melihat orang yang meragukan itu mencukur janggut dan kumisnya. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa sekali. Sebab setelah orang yang diragukan itu berwajah bersih, benarlah, ia adalah Mahesa Jenar. Gurunya yang membawanya pergi dari Banyubiru. Yang menuntunnya dengan penuh kasih sayang. Tetapi yang akhir-akhir ini selalu kecewa kepadanya. Kecewa kepada kelambatannya.

Sampai beberapa saat ia masih saja kaku berdiri memandangi Mahesa Jenar membersihkan wajahnya. Sekarang Arya tidak ragu-ragu lagi. Memang orang itulah Mahesa Jenar. Meskipun ruang itu sudah semakin suram, namun garis-garis wajah itu sudah sangat dikenalnya.

“Arya… tiba-tiba ia mendengar gurunya berkata, Meskipun tingkat ilmunya masih agak mengecewakan, tetapi pada saat ini aku sudah menganggap cukup. Kau sudah dapat melayani Putut Karang Tunggal meskipun belum seimbang benar. Dan barangkali jarak yang ada di antara kau berdua tidak semakin pendek, bahkan akan menjadi semakin jauh, karena Putut itu bukanlah anak-anak sewajarnya. Apa yang kau pertunjukkan pada saat terakhir tadi telah menunjukkan kemajuan yang besar selama kau berada di dalam ruang ini. Karena itu, sebentar lagi kau boleh mengikuti aku keluar dari ruang ini.”

Mendengar kata-kata gurunya, Arya menjadi gembira sekali. Kegembiraan yang hampir tak dapat ditahankan, sehingga hampir-hampir saja ia menjerit kegirangan. Tetapi segera ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

 Ia tidak tahu apakah halyang demikian itu akan dibenarkan oleh gurunya. Karena itulah maka, yang terpancar kemudian hanyalah nyala di matanya. Bahkan mata itu kemudian menjadi basah. Dan hampir saja Arya Salaka yang telah mampu memecahkan batu sebesar kepalanya itu menangis.

Untunglah bahwa ruang itu telah menjadi semakin gelap sehingga Mahesa Jenar tidak lagi melihat mata itu. Tidak lagi melihat air yang membayang di mata muridnya. Sebab apabila mata yang sayu itu dilihatnya menjadi basah, mungkin Mahesa Jenar tidak lagi dapat menahan perasaannya. Perasaan seorang guru, ia bahkan hampir seperti perasaan seorang bapa terhadap anak tunggalnya yang selama ini dibawanya merantau untuk menyelamatkan dari usaha-usaha untuk membinasakannya.

SEKARANG Mahesa Jenar melihat kemungkinan menjadi lain. Anak itu sekarang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, serta mempunyai bekal yang cukup buat masa depannya.

Demikianlah Mahesa Jenar menjadi berbangga atas muridnya itu. Kalau nanti pada suatu ketika, ia bertemu dengan Gajah Sora, maka ia akan dapat menyerahkan Arya Salaka tanpa mengecewakan sahabatnya itu.

Sesaat kemudian Mahesa Jenarpun berdiri dan melangkah keluar ruangan sambil berkata acuh tak acuh, Arya, ikutilah.

Sekali lagi kegembiraan melonjak didalam dada Arya. Segera ia pun mengikuti gurunya dekat-dekat supaya ia tidak lagi kehilangan jalan.

Kemudian sampailah mereka ke dalam ruangan dimana Mahesa Jenar bertemu dengan Putut Karang Tunggal waktu ia berjalan bersama Kebo Kanigara. Benarlah dari ruangan itu ia melihat bayangan cahaya api. Segera Mahesa Jenar berjalan menyusur jalan-jalan goa yang sempit ke arah api itu.

Ketika mereka sampai, dilihatnya Putut Karang Tunggal seorang diri memegangi sebuah obor.
Selamat sore Paman Mahesa Jenar, sapanya sambil membungkuk hormat.

Selamat sore Karang Tunggal, jawab Mahesa Jenar. Mula-mula ia ingin menanyakan di mana Kebo Kanigara. Tetapi maksud itu diurungkan. Namun bagaimanapun juga ia menjadi sangat berterima kasih di dalam hatinya, bahwa untuk kepentingannya serta muridnya, Kebo Kanigara bekerja keras dan melakukan hal-hal yang aneh. Tetapi lebih dari pada itu adalah untuk kesuburan persemaian perguruan Pengging.

Sejenak kemudian Putut itu berkata pula, Paman, marilah kita tinggalkan goa ini. Ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh Eyang Ismaya.

Mahesa Jenar menjadi beragu. Ia tidak tahu apakah Putut itu berkata sebenarnya, ataukah hanya merupakan suatu alasan untuk membawanya keluar dari dalam goa itu. Karena itu ia berdiam diri sampai Putut itu melanjutkan, Seseorang yang baru saja datang kemari ingin bertemu dengan Paman.

Siapakah dia? tanya Mahesa Jenar sekenanya.
Paman Kebo Kanigara, jawab Putut Karang Tunggal.
Itukah yang penting? tanya Mahesa Jenar pula.
Bukan itu saja, jawab Putut Karang Tunggal. Ada dua tiga soal yang lain.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dipersilahkannya Putut yang membawa obor itu berjalan dahulu, kemudian ia pun mengikutinya bersama Arya Salaka yang masih berdiam diri saja.
Setelah mereka berjalan berliku-liku, akhirnya sampailah mereka ke ruang yang sering dipergunakannya bermain para cantrik. Dari sana mereka menerobos sebuah lubang yang diluarnya tertutup oleh dedaunan yang rimbun.

Demikian mereka tegak di luar goa itu, terasalah udara malam yang segar memercik ke wajah mereka. Sedang di atas kepala mereka, bertaburan bintang-bintang yang berpencaran memenuhi langit yang biru hitam. Seleret awan putih membujur dari kutub ke kutub seolah-olah membagi langit menjadi dua bagian. Sedang dari semak-semak di sekitar mereka, terdengarlah bunyi jangkrik bersautan di antara nyanyi belalang. Bersamaan dengan itu terlonjak pula hati Arya Salaka, yang merasa telah menyelesaikan suatu kewajiban yang berat. Kalau mula-mula ia menjadi bingung atas kelakuan gurunya, maka akhirnya ia mengira bahwa hal itu adalah merupakan suatu tahap yang memang harus dilalui. Tetapi sebenarnya bukan saja Arya Salaka yang mempunyai perasaan demikian. Mahesa Jenar pun seolah-olah merasa terlepas dari suatu daerah sepi yang penuh dengan pemerasan keringat dan pikiran.

Mengingat hal itu Mahesa Jenar menjadi tersenyum sendiri. Apalagi kalau ia dengan sepintas lalu memandang wajah Arya Salaka. Ia menjadi geli. Anak itu merasa seolah-olah telah mendapat gemblengan yang berat dari padanya, padahal ia sendiri sedang melakukan hal yang serupa. Menggembleng diri sendiri.

Beberapa lama kemudian sampailah mereka ke rumah dimana mereka selalu diterima oleh Panembahan Ismaya.

Di dalam rumah itu tampak memancar cahaya pelita yang berkedip-kedip karena permainan angin pegunungan. Cahayanya yang kuning kemerahan menembus lubang-lubang dinding membuat garis-garis lurus yang berpencaran.

Ketika mereka memasuki rumah itu, tampaklah Panembahan Ismaya duduk di atas batu hitamnya yang dialasi dengan kulit kayu. Demikian orang tua itu melihat kehadirannya segera ia bangkit dan menyambut dengan hormatnya, sambil mempersilahkannya duduk.

Agaknya Anakmas tidak begitu senang tinggal di dalam goa yang gelap itu, kata Ismaya kemudian. Ternyata Anakmas dan Cucu Arya Salaka menjadi kurus.

Mahesa Jenar tersenyum. Ia menjadi agak sulit untuk menjawab, karena itu katanya, Tidak Panembahan, kami senang tinggal di dalam goa itu.

Panembahan tua itu mengangguk-angguk. Lalu sambungnya, Tetapi aku girang bahwa Anakmas dan Cucu Arya Salaka tetap segar. Bukankah tiada sesuatu selama ini?

Tidak Panembahan, tidak, jawab Mahesa Jenar.

Demikianlah yang aku kehendaki, sahut Panembahan Ismaya pula. Tetapi ketahuilah Anakmas, apa yang anakmas takutkan ternyata benar-benar terjadi. Orang-orang yang mengepung bukit ini menyerbu naik.

Dada Mahesa Jenar tergetar mendengar keterangan itu. Maka iapun bertanya pula, Adakah mereka memperlakukan Panembahan dengan kasar?

Tidak begitu kasar, jawab Panembahan Ismaya. Tetapi mereka mengaduk hampir segala sudut bukit ini.

Dan Panembahan tidak memberitahukan itu kepadaku…? sahut Mahesa Jenar.

Aku hanya memberitahukan kepada Anakmas kalau mereka akan menyakiti kami, jawab Panembahan itu pula. Tetapi ternyata mereka hanya mencari-cari saja. 

MAHESA JENAR akan mendesak pula dengan berbagai pertanyaan, tetapi diurungkannya ketika ia ingat bahwa di sini ada Kebo Kanigara dan Putut Karang Tunggal. Sehingga seandainya Panembahan Ismaya ingin melawannya dengan kekerasan, maka tidak pula ada perlunya untuk memanggilnya.

Karena itu kemudian ia tidak berkata-kata lagi. Ia bahkan merasa malu bahwa seolah-olah di bukit kecil itu tak ada orang lain yang mampu menyelamatkannya selain daripada dirinya.

Maka untuk beberapa saat suasana menjadi hening sepi. Desir angin di dedaunan menimbulkan suara lirih seperti dendang seorang ibu yang menidurkan anaknya.

Maka kemudian kesepian itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya yang berkata, Anakmas, agaknya malam telah larut. Karena itu beristirahat di pondok lain.

Baiklah Panembahan, jawab Mahesa Jenar.

Kalau Anakmas keluar dari ruangan ini, Anakmas akan melihat rumah di sebelah barat. Di situlah Anakmas beristirahat, sambung Panembahan Ismaya pula. Di sana Anakmas akan beristirahat bersama dengan Kebo Kanigara.

Setelah sekali lagi Mahesa Jenar mengiyakan, maka melangkahlah ia keluar ruangan itu. Tidak beberapa jauh di sebelah barat tampak sebuah rumah yang lebih kecil dari rumah itu. Dari dalamnya memancar pula cahaya api yang redup.

Di dalam rumah itu ditemuinya Kebo Kanigara telah membaringkan dirinya. Ketika ia melihat Mahesa Jenar berkatalah ia, Mahesa Jenar, duduklah. Tutup pintu itu supaya tidak terlalu dingin. Dan dengarlah aku berceritera.

Mahesa Jenar memandang wajah Kanigara yang tersenyum-senyum dan sudah bersih pula seperti wajahnya. Ia menjadi curiga. Tetapi ia melangkah juga menutup pintu dan kemudian duduk di sampingnya.

Kau ingat pada waktu aku pertama-tama kaulihat? tanya Kebo Kanigara.
Ya,jawab Mahesa Jenar singkat sambil mengangguk.

Di mana muridmu sekarang? tanya Kanigara tiba-tiba.

Di rumah sebelah bersama-sama dengan Karang Tunggal, jawabnya singkat.

Bagus, suatu kebetulan. Karang Tunggal itu suka sekali berceritera. Pengetahuannya sangat luas, sebab ia sangat gemar menyepi dan merantau. Jarang-jarang sekali ia tinggal di rumah. Sehingga ibu angkatnya, Nyai Tingkir selalu marah kepadanya.

Kanigara berhenti sebentar lalu meneruskan, Arya akan senang bersama dia. Lalu seterusnya mengenai urusanmu. Dengarlah. Kau lihat bahwa aku pada saat itu atas nama Mahesa Jenar melarikan seorang gadis?

Mendengar pertanyaan itu hati Mahesa Jenar berdesir. Dengan kaku ia mengangguk mengiyakan.

Gadis itu aku sembunyikan. Sejak malam itu aku belum pernah menemuinya. Aku takut kalau ia mengenal aku yang ternyata bukan Mahesa Jenar. Dan aku juga takut kalau tiba-tiba aku merasa bahwa akulah sebenarnya Mahesa Jenar itu. Kanigara meneruskan sambil tersenyum. Mahesa Jenarpun tersenyum pula. Tersenyum kaku.

Kau harus menemuinya, sambung Kanigara pula.

Mahesa Jenar mengangguk saja tanpa sesadarnya.

Biarlah anakku mengantarkanmu nanti, kata Kanigara pula. Mahesa Jenar terperanjat. Sehingga ia pun bertanya, Siapakah Kakang Kanigara itu?

Seorang anak perempuan, jawab Kanigara, Namanya Widuri.

Widuri…? Endang Widuri? Jadi adakah anak itu putri Kakang Kanigara? tanya Mahesa Jenar pula.

Ya, jawab Kanigara singkat.

Aku belum pernah mendengar sebelumnya, kata Mahesa Jenar. Adakah anak itu dilahirkan di Demak?

Aku meninggalkan Demak sejauh umur anak itu, jawab Kanigara. Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan untuk meninggalkan kota itu. Tetapi keadaan memaksa aku berbuat demikian.

Mahesa Jenar mendengarkan dengan penuh perhatian. Agaknya karena itulah maka Kebo Kanigara belasan tahun yang lalu lenyap dari pecaturan masyarakat Demak.

Sesaat kemudian Kanigara meneruskan, Kemudian aku bawa istriku meninggalkan Demak. Anak itu lahir di perjalanan. Sedang beberapa tahun kemudian ibunya meninggal dunia. Untunglah bahwa aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menerima kami tinggal bersama, Panembahan Ismaya.

Terbayanglah di mata Kebo Kanigara, suatu masa yang pahit di dalam hidupnya. Kehilangan istri pada masa putrinya masih memerlukan kasih sayang seorang ibu.

Bahkan beberapa tahun kemudian… kata Kanigara pula, Aku sudah harus mewakili menunggu bukit kecil ini kalau Panembahan Ismaya harus bepergian jauh untuk mencari obat-obatan dan menambah kewaskitaannya di hampir seluruh sudut negeri ini. Dan sejak itu pula tak pernah menampakkan diriku lagi di antara tata masyarakat Demak.

Kanigara kemudian diam, Mahesa Jenar pun diam. Betapa hati mereka mengenyam kembali masa-masa yang silam itu. Masa-masa yang penuh dengan kesedihan bagi Kebo Kanigara.

Tetapi tiba-tiba Kebo Kanigara berkata nyaring, He, aku telah membelok dari arah pembicaraan semula. Aku akan berceritera tentang seorang gadis yang aku larikan, bukan tentang aku.

Mahesa Jenar terkejut juga mendengar arah percakapan yang tiba-tiba menikung tegak. Sehingga duduknya tergeser maju. Namun kemudian iapun tersenyum kecut. Tetapi bersamaan dengan itu denyut jantungnya bertambah cepat.

Nah Mahesa Jenar… sambung Kanigara tiba-tiba, Kau akan dapat menemuinya bersama Widuri.

Mahesa Jenar tidak menjawab, namun hatinya bergetar hebat.

Tidak banyak yang harus aku pesankan kepadamu. Sebab aku tidak pernah berkata satu patah katapun. Karena itu anggaplah bahwa memang sebelum ini kau belum pernah bertemu dengannya. Kanigara meneruskan, Kecuali pada saat kau melarikan malam itu.

MAHESA JENAR Jenar masih belum menjawab. Tetapi Kanigara pun tidak meneruskan kata-katanya. Dengan malasnya ia bangkit dan kemudian berjalan mondar-mandir. Akhirnya ia berhenti dan memasang telinganya baik-baik.

“Kau mendengar suara tembang?” tiba-tiba ia bertanya.

Mahesa Jenar kemudian mencoba menangkap setiap suara yang menyusup ke dalam pondok kecil itu. Jawabnya kemudian, “Ya aku dengar. Jauh sekali.”

“Kau tahu tembang apa itu?” tanya Kanigara pula.

Sekali lagi Mahesa Jenar memperhatikan suara lagu yang hanya lamat-lamat sampai. Ketika ia sudah mendapat suatu kepastian, hatinya menjadi berdebar-debar. “Dandanggula,” desisnya.

“Ya, Dandanggula,” ulang Kanigara. “Sudah beberapa malam berturut-turut aku mendengar lagu itu dari arah yang berbeda-beda.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar berdiri tegak. Mula-mula ia ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Tetapi karena sinar mata Kanigara yang seolah-olah mendesaknya, akhirnya ia berkata, “Kau kenal orang itu.”

“Ki Ageng Pandan Alas,” jawab Mahesa Jenar.

“Pandan Alas?” tanya Kanigara pula, tetapi ia tidak terkejut. “Aku kagumi suaranya. Meskipun ia sudah tua, namun suaranya masih mengingatkan aku kepadanya belasan tahun yang lalu. Ya sahabat ayahku.”

Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.

“Apakah yang dicarinya?” kata Kanigara kosong, meskipun ia sudah mengerti jawabnya. Sebab ia tahu betul bahwa Pudak Wangi, yang nama sebenarnya Rara Wilis, adalah cucu orang tua itu.

“Ia pasti mengira bahwa aku masih disini. Dengan demikian ia mengharap aku datang kepadanya mengembalikan cucunya yang dikiranya benar-benar aku larikan,” jawab Mahesa Jenar.

Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bertanya, “Nah terserah kepadamu. Apakah gadis itu akan kau kembalikan apa tidak.”

“Kenapa baru beberapa hari ini ia datang?” tanya Mahesa Jenar, seolah-olah kepada dirinya sendiri.

“Mungkin ia menunggu sampai rombongan Sima Rodra itu meninggalkan bukit ini, setelah mencarimu dengan sia-sia,” jawab Kanigara.

“Tidakkah Kakang menangkap mereka?” tanya Mahesa Jenar pula.

“Aku juga bersembunyi. Panembahan Ismaya tidak mau melihat pertumpahan darah di atas padepokan Karang Tumaritis,” jawabnya.

Mahesa Jenar tidak bertanya lebih lanjut tentang gerombolan Sima Rodra dan Jaka Soka.

Pikirannya sedang dikacaukan oleh suara tembang itu. Ia menjadi bimbang, apakah sebaiknya ia datang menemui atau tidak.

Di dalam kebimbangan itu, ia mendengar suara Dandang Gula itu semakin jelas.

Suara itu tiba-tiba menyusul ke dalam dada Mahesa Jenar, membawa suatu kenangan pada masa-masa yang silam. Yang mula-mula diingatnya adalah, Ki Ageng Pandan Alas pernah marah kepadanya ketika ia meninggalkan Rara Wilis tanpa pamit. Ia tahu betapa sakit hati orang tua itu, oleh tuduhannya yang barangkali sama sekali tak beralasan tentang cucunya. Tetapi bagaimanapun juga, ia merasa bahwa tidak enaklah rasanya menerima kemarahan itu.

Didalam kesepian malam itu, semakin mengumandanglah suara Ki Ageng Pandan Alas. Seorang tokoh sakti sahabat gurunya yang pernah kecewa terhadapnya. Namun tiba-tiba diingatnya pula, pertama kali ia mendengar suara itu. Pada saat jiwanya sudah berada di ujung tangan seorang tokoh hitam yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang sebenarnya bernama Umbaran, maka terdengarlah suara itu. Dan karena suara itu pula agaknya Umbaran mengurungkan niatnya untuk membunuhnya. Karena itu tiba-tiba terasalah bahwa bagaimanapun juga orang tua itu pernah menyelamatkannya.

“Aku akan datang kepadanya,” gumamnya seolah-olah belum merupakan suatu kepastian.

Kanigara tersenyum. “Datanglah. Jangan kau bawa dahulu cucunya. Barangkali ada beberapa hal yang akan kau bicarakan dengan orang tua itu. Sebab sepengetahuanku, ada orang ketiga yang berdiri diantara kau dan gadis itu,” katanya.

Mahesa Jenar memandang Kanigara dengan tajamnya. Ia agak heran mengapa orang itu mengetahui hampir segala seluk beluk hidupnya.

Tetapi ia tidak bertanya sesuatu ketika dilihatnya Kanigara tersenyum sambil berkata pula, “Jangan memandang aku begitu tajam. Aku jadi takut karenanya. Nah, pergilah. Kalau kau tak keberatan aku akan ikut serta.”

“Tidak, sama sekali tak keberatan,” jawab Mahesa Jenar.

“Akulah satu-satunya orang yang berhak jadi wakil orang tuamu,” sambung Kanigara sambil tertawa pendek.

“Ah…” Mahesa Jenar tidak meneruskan.

“Kenapa kau mengeluh?” tanya Kanigara seperti bersungguh-sungguh.

“Tidak,” sahut Mahesa Jenar. “Suara tertawa Kakang yang lunak itu amat memusingkan kepalaku.”

Sekali lagi Kanigara tertawa. “Ayolah,” katanya.

MEREKA berdua pergi menembus hitam malam ke arah suara Ki Ageng Pandan Alas yang seolah-olah melingkar-lingkar menyusur lereng-lereng bukit Karang Tumaritis. Tetapi karena telinga Kanigara dan Mahesa Jenar sedemikian tajamnya, maka segera mereka mengetahui darimana datangnya sumber suara itu.

Ketika jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, segera mereka berhenti. Mereka menunggu sampai Pandan Alas selesai dengan lagunya. Tetapi agaknya orang tua itu sudah mengetahui kehadirannya, sehingga belum lagi kalimat yang terakhir diucapkan ia sudah berhenti.

Perlahan-lahan ia bangkit dari tempat duduknya, seonggok batu padas. Sapanya, Agaknya kau datang juga Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama berdiri sambil membungkuk hormat.

Sebelum mereka menjawab Pandan Alas meneruskan, Sudah beberapa hari aku mencarimu dengan caraku ini. Sebab aku yakin bahwa kau sudah mengenal suaraku.

Baru sekarang aku dapat datang Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar. Maafkanlah, mudah-mudahan aku tidak mengecewakan.

Pandan Alas tertawa pendek. Kemudian iapun duduk pula diatas sebuah batu. Duduklah, katanya. Mungkin percakapan kita tidak segera selesai.

Mahesa Jenar dan Kanigara pun segera duduk pula di muka orang tua itu. Di dalam gelap malam, terasalah bahwa Ki Ageng Pandan Alas sedang mencoba mengetahui siapakah kawan Mahesa Jenar itu. Namun agaknya ia belum mengenalnya sehingga akhirnya ia bertanya, Mahesa Jenar, tidakkah aku kau perkenalkan dengan sahabatmu itu?

Mahesa Jenar tersadar dari kekeliruannya. Tetapi sebelum ia menjawab, Kanigara sudah mendahului. Baiklah aku memperkenalkan diriku Ki Ageng. Aku adalah salah seorang sahabat Panembahan Ismaya. Namaku Putut Karang Jati.

PANDAN ALAS menarik nafas dalam-dalam. Dirinyalah sekarang yang berada dalam puncak kesulitan. Ia tahu benar hubungan yang belit-membelit antara satu-satunya cucu yang sangat disayanginya, murid pertama yang dikasihaninya dan Mahesa Jenar seorang yang dikenal sebagai ksatria yang utama, bahkan yang telah menyelamatkan cucunya dari tangan Jaka Soka sampai dua kali dalam pengertiannya.

Meskipun ia pernah merasa kecewa terhadap sikap Mahesa Jenar yang perasaannya mudah patah dalam hubungan itu, namun ia tidak pernah benar-benar marah dan melepaskan perasaan kagumnya. Tetapi muridnya itupun merupakan harapan masa datang bagi perguruannya disamping Pudak Wangi sendiri.

Sekarang ia melihat suatu benturan perasaan telah terjadi. Apalagi ketika tiba-tiba ia mendengar Sarayuda berkata, Guru, apakah Guru sudah menyatakan kepada Mahesa Jenar, agar Pudak Wangi dikembalikan kepada perguruan Pandan Alas?

Pandan Alas menjadi bingung. Sedang Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi tidak begitu senang melihat sikap itu.

Dalam kecemasannya, kemudian Pandan Alas berkata, Sarayuda, biarlah kita bicarakan segala sesuatunya dengan baik. Bukankah kita sudah tidak mempunyai pekerjaan lain?

Tetapi agaknya Sarayuda tidak setuju, jawabnya, Ki Ageng, aku telah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku. Dalam waktu kira-kira satu tahun, aku sudah dua kali menemui Ki Ageng. Kali ini aku ingin semuanya selesai dengan segera. Supaya aku dapat segera pula kembali ke Gunung Kidul dengan suatu ketetapan hati.

Aku mengerti Sarayuda, jawab Pandan Alas. Tetapi tidak perlukah kiranya kalau pembicaran kita inipun menjadi tergesa-gesa. Sebab seandainya kau mundur satu haripun aku kira tidak begitu besar pengaruhnya.

Sarayuda tidak dapat membantah lagi. Karena itu ia diam, meskipun perasaannya bergetar terus.

Duduklah Sarayuda… Pandan Alas mempersilahkan.

Dengan gerak kosong Sarayuda duduk pula diantara mereka. Namun tampaklah bahwa ia gelisah.
Ki Ageng Pandan Alas… kata Mahesa Jenar kemudian, Maafkanlah bahwa aku tidak dapat mempersilahkan Ki Ageng pada tempat yang lebih baik, sebab akupun orang asing di sini.
Tidak apalah Mahesa Jenar, sahut Pandan Alas. Tetapi disamping itu terasa kaki Kanigara menginjak kaki Mahesa Jenar. Katanya, Akulah tuan rumah di sini. Karena itu kalau tuan-tuan sudi, marilah aku persilahkan singgah di pondokku.

Yang cepat-cepat menjawab adalah Sarayuda, katanya, Terimakasih Putut Karang Jati, bukankah namamu Putut Karang Jati?

Ya, ya Tuan, jawab Kanigara.

Tak ada bedanya. Di sini atau di pondokmu, sambung Sarayuda.

Pandan Alas yang sedianya akan memenuhi ajakan itu menjdi terdiam. Tetapi kecemasannya semakin membelit hati. Ia berpikir keras untuk dapat menyelesaikan masalah cucunya dengan baik, tanpa suatu singgungan perasaan di kedua belah pihak. Tetapi rasa-rasanya tidaklah mungkin. Meskipun demikian ia harus berusaha.

Ki Ageng… desak Sarayuda kemudian, Marilah kita bicarakan apa yang seharusnya kita bicarakan, meskipun bagiku tak ada lagi persoalan. Bagiku hanyalah ada satu permintaan yang aku tujukan kepada yang terhormat, Kakang Mahesa Jenar, untuk menyerahkan murid perguruan Pandan Alas kepada yang berhak.

Sekali lagi perasaan Ki Ageng Pandan Alas terguncang. Namun iapun menyambung, Mahesa Jenar, aku belum mendengar jawabmu. Apakah yang akan kau lakukan, setelah kau berhasil membebaskan cucuku dari tangan Sima Rodra dan Bugel Kaliki?

Tidak demikian Ki Ageng…. Sarayuda menyanggah. Ia merasa bahwa kata-kata gurunya itu terlalu menguntungkan Mahesa Jenar, sambungnya, Itu terlalu berlebih-lebihan. Kecuali kalau Ki Ageng bermaksud untuk terlalu berendah diri. Sebab ketika Mahesa Jenar membawa Pudak Wangi, tak seorangpun dapat menghalangi. Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki terikat dalam pertempuran dengan Ki Ageng, sedang janda Sima Rodra muda dan Jaka Soka bertempur melawan aku.

Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar adat muridnya. Sebagai seorang Demang di daerahnya, segala kemauannya hampir tak terbantah. Mendengar sanggahan muridnya itupun Pandan Alas hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi semakin tidak senang terhadap kata-kata Sarayuda, meskipun mereka berdua dapat mengerti sepenuhnya, bahwa semuanya itu terdorong oleh suatu perasaan ketakutan. Takut akan kehilangan adik seperguruannya, cucu gurunya. Tetapi bagaimanapun juga hati Mahesa Jenar menjadi kalut. Kalau Demang yang kaya raya itu tidak dapat dicegah tindakannya, sehingga ia berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya, maka ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Dengan keadaan yang sekarang, maka Sarayuda bukanlah lawannya. Tetapi kalau sampai Sarayuda dikalahkannya di hadapan gurunya sendiri, maka akibatnya akan lain. Ki Ageng Pandan Alas pasti tidak dapat menyaksikan kekalahan muridnya. Bagaimanapun juga perguruan Pandan Alas pasti mempunyai harga diri. Kalaupun terjadi demikian, perasaannyapun akan tersayat pula. Sebab terhadap dirinya sendiri ia tidak dapat mengingkari. Ia tidak ingin melepaskan Pudak Wangi kali ini.

ANGIN malam berhembus lemah. Di langit bintang gemintang gemerlapan tiada henti-hentinya. Sekali dua kali tampaklah seleret bintang berpindah tempat menggores langit. Sekejap saja, lalu lenyap terbenam dalam pelukan selembar awan. Suara jengkerik masih saja bersahutan di sela-sela kemersik daun kering yang diterbangkan angin pegunungan.

Keempat orang yang duduk saling berhadapan itu untuk beberapa saat saling berdiam diri. Mereka masing-masing tenggelam dalam angan-angannya sendiri.

Yang mula-mula memecahkan kesepian adalah Sarayuda, Masihkah ada yang kau nanti Kakang Mahesa Jenar?

Tidak ada, jawab Mahesa Jenar kosong.

Kalau demikian, marilah, serahkan Pudak Wangi kepada gurunya, sahut Sarayuda.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi akhirnya ia berkata kepada Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng, Pudak Wangi adalah cucu Ki Ageng, dan murid Ki Ageng. Karena itu yang paling berhak menentukan adalah Ki Ageng sendiri.
Bagus… sahut Sarayuda tiba-tiba, Sekarang kita nantikan putusan Ki Ageng Pandan Alas.
Pandan Alas menjadi bertambah bingung. Benar-benar ia dihadapkan pada satu keharusan memilih yang amat sulit, seperti ceritera tentang buah bersayap yang jatuh dipangkuan seorang gadis. Dimakan bapa mati, tidak dimakan ibu mati.

Tetapi kemudian Pandan Alas menemukan persoalan yang sewajarnya. Karena itu ia ingin berbicara wajar, tidak dengan aling-aling. Ia tahu benar bahwa masalah yang dikemukakan Sarayuda pun sebenarnya bukan masalah perguruan, tetapi terlalu bersifat pribadi.

Maka kemudian ia ingin menerapkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya. Katanya, Anakku berdua. Sarayuda dan Mahesa Jenar. Marilah kita berbicara antara hati, perasaan dan pikiran. Marilah kita berbicara dengan bahasa yang sewajarnya. Aku, sebagai seorang yang telah kenyang berjemur panas matahari, pernah juga merasakan betapa kisruhnya perasaan yang sedang bergulat melawan pikiran. Nah, kalian berdua, kenapa kalian tidak berterus terang saja, bahwa kalian berdua sama-sama menghendaki Pudak Wangi, bukan sebagai murid Pandan Alas tetapi sebagai seorang gadis yang bernama Rara Wilis…?

Kata-kata itu langsung menusuk perasaan Mahesa Jenar dan Sarayuda. Mereka menjadi terdiam karenanya. Sebab apa yang dikatakan oleh orangtua itu adalah hakekat dari perasaan mereka masing-masing.

Kanigara yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi tersenyum kecil. Ia memuji di dalam hati kebijaksanaan Ki Ageng Pandan Alas, yang dapat melepaskan diri dari persoalan yang sulit. Tetapi dengan demikian ada juga bahayanya. Sebab apabila persoalan mereka menjadi keras, sulitlah dihindarkan. Karena dengan demikian Ki Ageng Pandan Alas telah menghadapkan kedua orang itu langsung.

Tetapi kemudian Ki Ageng Pandan Alas melengkapi pendapatnya, Anakku berdua… kalau kalian setuju dengan pendapatku maka keputusan terakhir tidak ada padaku. Sebab masalahnya bukan masalah antara guru dan murid. Menurutku pendapatku, keputusan terakhir berada di tangan Wilis sendiri.

Hati Mahesa Jenar dan Sarayuda bergetar bersama-sama. Mereka merasakan kebenaran kata-kata Pandan Alas. Tetapi dengan demikian Sarayuda merasa aneh terhadap sikap gurunya. Bagi Pandan Alas, Mahesa Jenar adalah orang lain. Orang yang dijumpainya di perjalanan hidup tanpa sentuhan-sentuhan tertentu seperti beribu-ribu orang lainnya. Dirinya adalah murid orang tua itu.

Murid yang sudah bertahun-tahun menyerahkan diri serta masa depannya kepadanya. Sekarang, dalam persoalan ini, gurunya itu sama sekali tidak memberikan keuntungan apapun kepadanya. Sebab Ki Ageng Pandan Alas itu seolah-olah sudah tidak mau turut mencampuri masalah itu.

Karena itu, bagaimanapun juga timbullah suatu tuntutan batin, bahwa seharusnya gurunya itu berada di pihaknya. Sebab apabila demikian masalahnya akan mudah sekali. Mahesa Jenar harus mengembalikan Pudak Wangi. Seterusnya Pandan Alas menyerahkan Pudak Wangi kepadanya.

Tuntutan batin itu sedemikian kuatnya sehingga akhirnya ia tidak dapat merendamnya lagi. Maka kemudian meledaklah kata-katanya, Ki Ageng Pandan Alas, sebenarnya Ki Ageng dapat mempermudah persoalan ini. Meskipun apa yang dikatakan Ki Ageng Pandan Alas itu benar seluruhnya, bahwa hakekatnya, masalahnya adalah masalah pribadi. Namun keputusan Ki Ageng pun akan merupakan keputusan yang menentukan. Pudak Wangi tidak akan menanyakan banyak masalah bila Ki Ageng menjatuhkan keputusan. Sedang Mahesa Jenar pun tidak akan mengganggu gugat. Dalam segala bentuk.

Dada Kanigara berdesir. Apa yang diduganya agaknya akan menjadi kenyataan. Sarayuda rupanya sudah terlalu sulit untuk mengendalikan kata-katanya yang memancarkan kesulitan pula untuk mengendalikan perasaannya. Sedang Mahesa Jenar sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Meskipun ia tidak begitu senang mendengar segala-galanya, baik sikap maupun kata-kata Sarayuda. Namun karena ia mempunyai keyakinan yang semakin teguh tentang dirinya maka dipandangnya Sarayuda semakin lama semakin bertambah kecil.

Justru karena itulah maka akhirnya ia merasa bahwa ia sama sekali tidak perlu melayani. Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi semakin tenang.

Sebaliknya, Pandan Alas merasa bahwa Sarayuda telah mendesaknya untuk mengambil keputusan sesuai dengan kehendaknya sendiri, serta berusaha untuk memaksanya menyingkirkan Mahesa Jenar dengan kekerasan. Sehingga dengan demikian ia menjadi semakin cemas.
Apalagi ketika Sarayuda mendesaknya pula, Masih adakah yang meragukan Ki Ageng…? 

SARAYUDA…. jawab Ki Ageng Pandan Alas, Kalau demikian maka soalnya memang sangat sederhana. Tetapi masalahnya lain. Tidak sesederhana itu. Pudak Wangi adalah seorang seperti kita, mempunyai perasaan. Ia barangkali memang tidak akan menanyakan dengan hati terbuka. Mungkin ia akan menjalani keputusan itu hanya sekadar sebagai cucu atau murid yang patuh. Kalau demikian maka hidup anak itu seterusnya akan menjadi kering tanpa cita-cita dan harapan. Ia akan menjalani kehidupan ini tanpa hati. Ia akan melihat matahari terbit seperti memang seharusnya demikian setiap hari, setiap pagi tanpa gairah. Serta ia akan merasa bahwa purnama di setiap pertengahan bulan itu bukan miliknya tetapi milik mereka yang berbahagia.

Untuk beberapa saat kemudian mereka kembali terdiam. Kata-kata Pandan Alas adalah kata-kata yang penuh pengalaman hidup. Penuh pengertian akan harapan, cita-cita dan cinta.

Namun selanjutnya, cinta Sarayuda ternyata tidak dapat membedakan ujung serta pangkal.

Demikianlah arus cinta yang bergelora di dalam dada Demang kaya raya itu. Meskipun kata-kata gurunya itu mula-mula menggetarkan hatinya, namun kemudian tertindih perasaan itu dengan suatu gelora yang lebih dahsyat.

Kemudian katanya, Ki Ageng, ternyata bijaksana. Aku keberatan kalau seandainya Adi Pudak Wangi yang harus menentukan, siapakah diantara kita yang dikehendakinya. Namun demikian seterusnya ia harus mempertimbangkan pula ketenteraman diri. Karena itulah Pudak Wangi harus menilai, kecuali kenangan atas masa lalu serta harapan dan cita-cita bagi masa datang. Juga harus dipertimbangkan apakah kita masing-masing akan dapat melindungi dirinya.

Beberapa titik keringat dingin telah mengalir di punggung Ki Ageng Pandan Alas. Namun demikian ia merasakan kebenaran kata-kata Sarayuda sebagai laki-laki, meskipun ia tidak seluruhnya melihat keharusan penjelasan yang demikian.

Kalau saja Pudak Wangi dapat melihat manfaat dari keunggulan ilmu, maka soalnya akan dapat dipecahkan dengan cara demikian. Tetapi ia sudah tidak dapat melihat cara lain, yang harus diyakinkan adalah, bahwa dengan demikian soalnya harus selesai. Tanpa perasaan dendam dan benci. Karena bagaimanapun, Sarayuda adalah muridnya. Ia bergaul dengan muridnya itu sejak Sarayuda menjelang dewasa. Ia telah bekerja keras agar muridnya kelak dapat memanfaatkan ilmu yang diturunkan itu sebaik-baiknya. Kalau saja muridnya dan Mahesa Jenar dapat menepati cara penjelasan itu dengan jujur, serta Pudak Wangi menyetujuinya serta melihat manfaatnya. Tetapi apakah demikian …?

Dalam saat-saat ia mempertimbangkan segala segi yang mungkin terjadi, terdengarlah Sarayuda mendesaknya, Bukankah usulku adil?

Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas panjang. Ia memandang muridnya dengan tajam, seolah-olah melihat apakah ia sudah siap. Pada saat-saat terakhir memang ia selalu menambah beberapa pokok pengetahuan kepada Sarayuda untuk menambah kekuatannya lahir dan batin. Kalau sampai ditempuh jalan yang dikehendaki, adakah ia tidak akan memalukan?

Mula-mula ia merasa bahwa Mahesa Jenar yang dilihatnya pada saat ia membebaskan Pudak Wangi adalah luar biasa. Tetapi kemudian ia mempertimbangkan juga pendapat Sarayuda.

Meskipun ia tidak menutup mata bahwa sebenarnya Mahesa Jenar telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi, namun benar-benar pada saat itu orang-orang lain sedang terikat di tempat masing-masing.

Setelah Pandan Alas mempertimbangkan beberapa segi dan kemungkinan, kemudian ia ingin menawarkan usul Sarayuda kepada Mahesa Jenar dan Pudak Wangi. Mahesa Jenar sendiri pada saat itu dihinggapi pula oleh berbagai perasaan. Tetapi bagaimanapun ia harus mengambil suatu ketetapan. Tetapi belum lagi ia dapat suatu keputusan apapun, terdengarlah Pandan Alas bertanya kepadanya, Anakmas Mahesa Jenar, bagaimanakah pertimbanganmu atas usul Sarayuda?

Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Kemudian dijawabnya perlahan sekali, Ki Ageng, aku masih menyangsikan apakah seseorang dapat mempengaruhi perasaan yang paling dalam dengan berkelahi.

Mendengar jawaban itu, Sarayuda terkejut, sehingga ia terloncat berdiri.
Jangan berpura-pura Mahesa Jenar. Kau adalah murid utama almarhum Pangeran Handayaningrat yang bergelegar Ki Ageng Pengging Sepuh. Buat apa kau berguru kepadanya kalau kau tidak melihat manfaatnya orang berkelahi?

Sarayuda…. jawab Mahesa Jenar. Aku memang melihat manfaat orang berkelahi. Aku juga melihat bahwa orang dapat memaksakan kehendaknya dengan berkelahi. Dengan keunggulan ilmu tata pertempuran. Tetapi manfaat itu hanyalah manfaat lahiriah. Tetapi katakan kepadaku Sarayuda yang perkasa, dapatkah kau mengubah ketetapan hati seseorang atau suatu hubungan perasaan dengan perkelahian? Sarayuda… hubungan yang ada diantara kita adalah hubungan yang saling bertali. Seandainya, seandainya Sarayuda… Seandainya seseorang terpaksa memilih salah satu diantara kita karena keunggulannya, tetapi sebenarnya hatinya terikat kepada yang lain, apa katamu? Aku tidak mau, meskipun kemudian aku terpilih. Aku tidak mau menerima seseorang hanya ujud jasmaniahnya, tanpa hati dan perasaan pasrah yang tulus.

Omong kosong! potong Sarayuda. Sejak kapan hatimu menjadi sekecil hati perempuan? Agaknya kau seorang yang mendamba cinta sebagai mahkota bidadari di sorga yang mulus tanpa cela. Mahesa Jenar, aku bukan seorang yang cengeng, yang merajuk dalam bercinta. Sejak dewasa, di pinggangku telah tergantung pedang perguruan Pandan Alas. Dengan pedang aku mendapat kekuatan di Gunung Kidul. Sekarang, dengan pedang pula aku ingin melengkapi kamukten-ku. Dengan pedang aku ingin menemukan cinta.

Suara Sarayuda bergetar seperti guruh yang menggelegar di lereng pegunungan, berkumandang melingkar-lingkar di lembah-lembah sekitarnya. Kata-kata yang diucapkan itu adalah tekad yang sudah tak dapat ditawar lagi.

MENDENGAR kata-kata yang terucapkan oleh mulut Sarayuda itu semuanya jadi terdiam. Pandan Alas, Mahesa Jenar dan Kanigara seolah-olah terpesona oleh pancaran perasaan mereka atas peristiwa itu agak berlainan. Pandan Alas, gurunya, tiba-tiba menjadi berbangga hati melihat ketetapan hati muridnya yang penuh kejantanan. Wanita bagi seorang laki-laki adalah tidak ubahnya pusaka, yang kalau perlu rela bertaruh nyawa.

Kanigara dan Mahesa Jenar pun mula-mula mengaguminya. Tetapi kemudian sebagai laki-laki berhati jantan, tersentuhlah perasaan mereka. Karena itulah maka dada Mahesa Jenar bergelora hebat. Hampir ia melepaskan, perhitungan untuk memenuhi kepuasan hatinya. Sedangkan Kanigara menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Sarayuda sudah terlalu sukar untuk mendapat perubahan bentuk. Ia sudah bertekad bulat, apapun yang akan terjadi.

Demikianlah Sarayuda berdiri dengan gagahnya pada kedua kakinya yang kokoh kuat. Satu tangannya tergantung di sisi tubuhnya, sedang tangannya yang lain melekat di hulu pedangnya. Dengan suatu keyakinan yang pasti ia menanti akibat dari kata-katanya.

Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Pada saat Mahesa Jenar sedang berjuang untuk tidak tenggelam dalam arus perasaannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa lirih tertahan. Alangkah terkejut mereka yang mendengar suara itu. Hampir saja keempat orang bersama-sama bergerak dalam satu kejapan mata menghadap ke arah suara itu. Diantara mereka yang mula-mula berteriak adalah Kanigara. Suaranya lantang mengandung penjelasan, Kau Karang Tunggal…. Agaknya penyakitmu kambuh lagi. Datanglah kemari.

Mendengar nama itu disebutkan, Mahesa Jenar terkejut pula. Apalagi ketika ia melihat dua anak muda muncul dari balik gerumbul di sebelah. Anak muda itu adalah Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka. Dengan tunduk ketakutan mereka berjalan mendekati Kanigara. Sedang tangan Karang Tunggal masih melekat di mulutnya.

Dengan suara gemetar menahan marah, Kanigara berkata, Apa yang kau lakukan itu Karang Tunggal? Aku kira kau telah benar-benar sembuh dari penyakitmu. Melihat sikapmu beberapa bulan terakhir aku sudah senang. Tetapi agaknya kau belum dapat melupakan kelakuanmu yang keterlaluan itu.

Karang Tunggal dan Arya Salaka masih diam ketakutan. Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada muridnya, Kenapa kau datang kemari Arya…?

Arya Salaka menjadi gemetar. Ia belum melupakan kelakuan gurunya yang tiba-tiba berubah menjadi kasar setelah mereka berada di dalam goa, tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara Putut Karang Tunggal menyahut, Adi Arya Salaka tidak bersalah, Paman. Akulah yang membawanya kemari. Tetapi aku sama sekali tidak sengaja mengintip pertemuan ini.

Tutup mulutmu! bentak Sarayuda yang hatinya lebih parah dari semuanya. Tidak hanya Karang Tunggal yang terkejut mendengar bentakan itu, tetapi juga semua yang hadir. Kanigara yang semula akan marah kepada Karang Tunggal, tiba-tiba menjadi urung. Sebab bagaimanapun ia sama sekali tidak senang kalau ada orang yang membentak-bentak kemenakannya itu.

Karang Tunggal ternyata benar-benar mempunyai sifat yang aneh. Kalau mula-mula Mahesa Jenar melihat sikapnya yang halus sopan itu agaknya seperti apa yang dimaksud oleh Kanigara sebagai penyakit yang setiap saat dapat kambuh kembali. Sebab ternyata ketika Sarayuda membentaknya, justru ia mengangkat wajahnya. Karena itu segera ia tunduk kembali dan dengan sudut matanya ia memandang mata Kanigara.

Kanigara yang kecewa atas kelancangan Sarayuda, kemudian menjadi acuh tak acuh. Ia tidak jadi mencegah kemenakannya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Bahkan kemudian dengan tidak peduli ia duduk kembali.

Mahesa Jenar mengerti perasaan yang bergetar di dalam hati Kanigara. Karena itu ia menjadi bertambah gelisah. Jangan-jangan persoalannya menjadi lain. Meskipun ia juga menyesali tindakan Sarayuda yang berlebihan itu.

Ki Ageng Pandan Alas terkejut pula mendengar Sarayuda membentak Karang Tunggal justru pada saat orang yang menyebut dirinya Karang Jati, yang pasti mempunyai hubungan satu sama lain itu sedang marah pula kepada anak muda itu. Ia mengerti sepenuhnya seperti Mahesa Jenar juga, kenapa Kanigara kemudian menjadi acuh tak acuh. Karena itu segera ia mencoba mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Sudahlah Sarayuda. Serahkanlah anak itu kepada yang berwenang. Bukankah Karang Jati dapat mengajarnya untuk tidak mengganggu kita lagi?

Tetapi agaknya pikiran Sarayuda telah benar-benar kacau. Sebab kemudian ia menjawab, Putut Karang Jati itu hanya dapat membentak-bentak marah saja, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu terhadap orangnya yang sudah berbuat salah. Bukankah ia mengintip dan kemudian menertawakan aku? Menertawakan kata-kataku…?

Kemudian kepada Kanigara ia berkata, Karang Jati, dapatkah kau sedikit memberi pelajaran kepada orangmu itu? Atau barangkali kau perlu bantuanku?

Kata-kata itu semakin tidak menyenangkan perasaan Kanigara. Maka dijawabnya kata-kata Sarayuda dengan berterus terang, Tuan, mula-mula aku marah kepada anakku. Tetapi aku kecewa kepada sikap Tuan, bahwa Tuan ikut memarahinya.

Sarayuda menjadi tersinggung perasaannya. Ia telah biasa marah kepada setiap orang yang tidak memenuhi perintahnya, di daerahnya. Karena itu, ketika ia mendengar jawaban Kanigara yang berterus terang menyesalinya itu, ia sama sekali tidak mau mendengarkan. Bahkan dengan semakin marah ia berkata, Lalu apa maumu? Mestikah aku membiarkan anak yang katamu anakmu itu menghina aku? Menertawakan aku? Baiklah katakan kepadaku bahwa kau tidak mampu mengajarnya. Dan, katakan pula kepadaku bahwa kau perlu bantuanku untuk mengajarnya. Ayo… katakan supaya aku tidak kau anggap salah lagi kalau aku mengajarnya sedikit kesopanan.

KANIGARA menganggap bahwa kata-kata Sarayuda itu sudah berlebih-lebihan. Karena itu bagaimanapun ia menyabarkan diri namun ia menjadi jengkel pula karenanya. Maka kemudian dijawabnya. Terserahlah kepada Tuan, kalau Tuan mempunyai waktu untuk mengajarnya. Itu kalau Tuan merasa mampu.

Dada Mahesa Jenar berdesir mendengar jawaban Kanigara, sebab dengan demikian berarti bahwa ia mengijinkan Karang Tunggal melayani Sarayuda. Bagi Mahesa Jenar ada dua hal yang menggelisahkan. Pertama, apakah Karang Tunggal tidak akan mengalami cidera, sebab pada saat itu Sarayuda sedang dalam puncak kemarahannya, sehingga sulitlah baginya untuk mengendalikan dirinya, meskipun ia hanya berhadapan dengan anak-anak. Kedua, bagaimanakah pendapat Panembahan Ismaya yang sama sekali tak menghendaki adanya kekerasan. Apalagi dilakukan oleh seorang yang selalu berada di dekatnya, Putut Karang Tunggal.

Tetapi ia tidak dapat berpikir lebih jauh, sebab pada saat itu terdengarlah Sarayuda tertawa, meskipun sama sekali bukan karena perasaan gembira. Di sela-sela tertawanya ia berkata, Baiklah, sekarang kau yang menghina aku. Kau sangka aku tidak mampu mengajar anakmu. Meskipun andaikata anakmu kekasih dewa-dewa.

Tak seorang pun dapat mencegahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas pun tidak. Apalagi memang orang tua itu tidak berusaha mencegahnya, ketika ia mendengar Kanigara meragukan kemampuan muridnya. Hanya saja ia selalu waspada, kalau-kalau Sarayuda akan berbuat keterlaluan terhadap Putut Karang Tunggal.

Dalam pada itu, mula-mula Karang Tunggal menjadi ragu-ragu. Ia tidak mengerti apa maksud pamannya itu. Sehingga dengan wajah yang bertanya-tanya ia memandang Kebo Kanigara tanpa berkedip minta penjelasan. Untuk beberapa saat Kanigara menunggu perkembangan suasana. Ketika ia sudah tahu benar bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak mencegah muridnya, maka kemudian ia pun mengangguk kecil kepada Putut Karang Tunggal.

Putut Karang Tunggal tiba-tiba menjadi gembira sekali. Matanya yang bulat bercahaya itu menjadi berseri-seri. Sejak mengunjungi pamannya di bukit kecil itu, ia merasa sangat terkekang. Ia mulai dapat melemaskan tulang-tulangnya ketika ia mendapat kawan bermain, Arya Salaka. Tetapi apa yang dilakukan adalah sangat terbatas, sekarang ia mendapat kawan bermain. Barangkali dengan orang itu ia akan dapat bertindak lebih leluasa lagi.

Meskipun demikian dengan tersenyum-senyum ia mengangguk hormat kepada Sarayuda yang sudah mulai melangkah mendekatinya dengan gigi yang gemeretak dan mulut terkatup rapat. Tuan, yang dipinggangnya tergantung perguruan Pandan Alas… perkenankan aku minta maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud menertawakan Tuan. Hanya karena kelakuan Tuan-lah sebenarnya, maka aku tidak berhasil menahan geli.

Hati Sarayuda yang sedang marah, mendengar kata-kata itu seperti disiram api. Telinganya seketika menjadi panas, dan bibirnya bergetaran.

Mahesa Jenar tidak menduga sama sekali bahwa Putut Karang Tunggal akan berkata demikian, sehingga hampir saja ia melangkah maju untuk mencegahnya. Tetapi diurungkan ketika Kanigara menggamit tangannya sambil menggelengkan kepalanya.

Meskipun demikian hati Mahesa Jenar menjadi sangat berdebar-debar. Ia telah melihat persoalannya membelok dari arah semula. Sebab sebelum hal ini terjadi, ia masih dapat mengerti tuntutan perasaan Sarayuda. Tetapi kemudian agaknya ia sudah dikendalikan oleh nafsu yang terlepas dari pengamatan pikiran.

Sarayuda yang sudah berada dalam puncak kemarahannya itu, segera meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal dengan suatu gerakan yang cepat sekali. Melihat gerak tangan Sarayuda, hati Mahesa Jenar berdesir. Sebab gerakan itu sedemikian cepat sehingga tak mungkin untuk dihindari.

Tetapi apa yang disaksikan sangat mengguncangkan hatinya. Ia melihat pukulan itu menyambar pipi Karang Tunggal, bahkan ia melihat suatu benturan yang keras.
Namun demikian Karang Tunggal sama sekali tak tergetar. Bahkan dengan suatu gerak yang cepat pula ia meloncat mundur menjauhi. Juga gerak itu sangat mengagumkan. 

Putut Karang Tunggal dapat bergerak mundur dengan tangkas, seolah-olah tidak menggerakkan anggota badannya.

Demikian herannya sehingga Mahesa Jenar bergeser maju selangkah, seolah-olah ia ingin melihat bahwa suatu kenyataan yang aneh telah terjadi di hadapannya. Agaknya demikian juga Ki Ageng Pandan Alas, yang memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga.

Sarayuda yang sedang terbakar hatinya, tidak begitu memperhatikan kenyataan yang aneh itu. Bahkan ia menjadi semakin bernafsu ketika ia merasa serangannya yang pertama itu gagal. Sehingga kemudian ia pun menyerang lebih dahsyat lagi. Sekarang Putut Karang Tunggal telah siap untuk menerima serangan Sarayuda, sehingga ia tidak menjadi sasaran saja. Dengan cepat ia mengelak dan dengan cepat pula ia membalas serangan Sarayuda dengan serangan yang cepat pula.

Maka sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Suatu perkelahian antara dua orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Seperti apa yang pernah disaksikan oleh Mahesa Jenar, Putut Karang Tunggal dengan lincahnya menari-nari seperti melihat lawannya dari arah yang sama sekali tak terduga-duga.

Tetapi Sarayuda bukan anak kecil yang kagum melihat burung terbang di udara. Ia telah hampir masak dalam ilmunya. Ilmu yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Apalagi ia sendiri telah menempuh pengalaman luas, sehingga dengan demikian ilmunya menjadi bertambah sempurna. Karena itulah maka ia sama sekali tidak menjadi bingung. Kemana bayangan Karang Tunggal meluncur, Sarayuda telah siap untuk menghadapinya.

Bahkan semakin lama serangannya semakin mengerikan. Kalau semula ia masih belum mempergunakan segenap kecakapannya, maka setelah ia bertempur beberapa lama maka dengan sendirinya segenap ilmunya dikerahkannya pula.

MESKIPUN demikian apa yang dilakukan Sarayuda sama sekali bukanlah semacam seseorang yang mengajari sedikit kesopanan kepada Karang Tunggal. Tetapi benar-benar telah terlibat dalam satu perkelahian dengan seorang yang sama sekali tidak diduganya akan dapat mengimbanginya dengan sangat baik.

Karena itu Sarayuda menjadi semakin heran, marah dan benci bercampur aduk. Ia menjadi heran karena anak itu benar-benar tidak diduganya mempunyai kemampuan yang sedemikian tinggi. Dan karena itulah ia menjadi marah sekali. Ia merasa bahwa anak itu dengan sengaja telah menghinanya dan menariknya ke dalam suatu pertentangan.
Karena itulah maka ia tidak mau lagi mengekang dirinya. Seperti badai yang dahsyat, serangan Sarayuda kemudian datang bergulung-gulung, mengerikan sekali.

Pandan Alas yang menyaksikan pertempuran itu dengan mulut ternganga menjadi tersadar, bahwa masalahnya bukanlah masalah main-main lagi. Seperti Sarayuda, ia pun tidak mengira sama sekali bahwa anak yang nakal itu dapat bertempur sedemikian gigihnya. Sehingga timbullah suatu kecurigaan di dalam hatinya, bahwa ia benar-benar hanya seorang Putut yang mengabdikan hidupnya kepada seorang Panembahan di daerah terasing seperti Karang Tumaritis, dimana segala sesuatunya lebih diberatkan pada masalah-masalah rohaniah.

Pandan Alas semakin curiga pula pada orang yang mengaku bernama Karang Jati itu. Kalau saja anaknya dapat berbuat demikian, apakah kira-kira yang dapat dilakukan oleh ayahnya…? Karena itu mau tidak mau Pandan Alas harus mawas diri. Meskipun sebenarnya ia malu mencampuri perkara anak-anak, tetapi siapa tahu kalau masalahnya menjadi berlarut-larut. 

Dalam pada itu ia telah hampir melupakan Mahesa Jenar. Bahwa sebenarnya dengan orang itulah ia berkepentingan, sehingga ia datang ke padepokan di atas bukit kecil ini.

Sementara itu pertempuran antara Karang Tunggal yang tidak lain adalah Mas Karebet yang juga dikenal dengan nama Jaka Tingkir, yang telah diramalkan oleh seorang Wali yang waskita, Sunan Kalijaba, bahwa kelak akan menduduki tahta kerajaan, melawan murid tertua dan terpercaya dari Perguruan Pandan Alas, yang terkenal sebagai seorang sakti dari Klurak. 

Keduanya memiliki pegangan yang kuat serta pengalaman yang luas. Karena itu semakin lama pertempuran itu menjadi semakin dahsyat.

Putut Karang Tunggal tidak lagi nampak sebagai seorang anak muda yang sedang tumbuh, tetapi ia benar-benar telah siap menjadi seorang laki-laki yang lincah, tegap, kuat dan perkasa. Sedang lawannya adalah seorang yang telah lama menjadi seorang ternama, apalagi di daerahnya.

Mahesa Jenar lah yang pada saat itu menjadi paling gelisah dan bingung. Tidak saja ia kagum atas apa yang dilihatnya pada Karang Tunggal, tetapi ia bingung pula atas perkembangan masalah yang menjurus pada hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Namun ia masih sempat berdiri keheranan melihat gerak-gerak keturunan dari Perguruan sela seperti yang pernah dikenalnya dengan baik dan yang telah disaksikan pula sewaktu Karang Tunggal berlatih dengan Arya Salaka.

Tetapi ketika pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, segera tampaklah berbagai macam ilmu bercampur aduk menjadi satu dan bersenyawa demikian serasinya, terbayang dalam gerakan Karang Tunggal. Malahan kadang-kadang tampaklah hal-hal yang tidak mungkin dapat terjadi. Dengan demikian ia dapat mengetahui bahwa anak itu benar-benar memiliki ilmu yang jauh lebih lengkap daripada apa yang pernah disaksikan.

Sedangkan yang paling mengherankan adalah, hampir setiap serangan Sarayuda, bagaimanapun tepatnya mengenai sasaran, namun anak itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Ditambah lagi dengan gerak loncatnya yang aneh. 

Ketika Sarayuda menyerangnya dengan garang ke arah kepala, Karang Tunggal terpaksa merendahkan diri, sekaligus ia mendapat serangan kaki ke arah lambung, dan sekaligus gerak yang aneh, ia dapat melontar mundur sambil berjongkok. Gerakan ini adalah gerakan yang sulit. Namun anak itu dapat melakukannya dengan sederhana dan wajar.
Kanigara melihat keheranan yang terbayang di wajah Mahesa Jenar. Meskipun ia nampaknya masih acuh tak acuh saja, tetapi sebenarnya ia pun mengagumi kemenakannya itu. Kemenakannya yang nakal dan sulit dikendalikan sehingga ibu angkatnya Nyi Ageng Tingkir menjadi bersedih atas kelakuannya. 

Dengan kegemarannya pergi meninggalkan rumahnya sampai berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan menyusur hutan dan padang, bahkan menyepi ke daerah-daerah yang tak pernah dikunjungi manusia, menempuh daerah-daerah bahaya dan sengaja masuk ke dalam sarang-sarang penjahat, telah menjadikan Karebet seorang yang benar-benar tertempa lahir dan batin.

Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi untuk tetap menyaksikan saja keperkasaan Karang Tunggal, sehingga akhirnya ia perlahan-lahan pergi mendekati Kanigara, untuk menanyakan beberapa hal mengenai anak yang aneh itu.

Ketika Mahesa Jenar telah berdiri di sampingnya, dengan mata yang tak berkedip memandang perkelahian itu, Kanigara mengetahui maksudnya. Maka sebelum Mahesa Jenar bertanya, Kanigara telah berbisik lirih, Apakah kau menjadi heran?

Mahesa Jenar mengangguk.

Jangan heran… Kanigara melanjutkan, Meskipun aku sendiri tidak tahu dari mana ia mendapatkannya. Tetapi ia memiliki ilmu yang disebutnya Lembu Sekilan.
Lembu Sekilan…? ulang Mahesa Jenar. Ilmu yang pernah dimiliki oleh Empu Mada?

Demikian. Karena itu ia seolah-olah menjadi kebal. Meskipun ilmu itu belum sempurna. Ia masih dapat dikenai serangan yang cukup tajam dari ilmu yang kuat. Apalagi ia nanti dapat menyempurnakan ilmu itu. Setidak-tidaknya mendekati apa yang dimiliki oleh Gajah Mada. Maka ia pun akan menjadi orang yang tak terkalahkan seperti Gajah Mada.

MAHESA JENAR menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak yang masih semuda itu telah memiliki suatu jenis ilmu yang sudah jarang sekali terdapat diantara para sakti sekalipun. Karena itulah maka ia melihat serangan Sarayuda yang tepat dapat mengenainya, tetapi sama sekali tak menggetarkan kulitnya.

Tetapi dengan demikian ia semakin cemas. Untunglah bahwa Sarayuda pun memiliki ketangkasan yang luar biasa, sehingga Karang Tunggal terlalu sulit untuk menyentuh kulitnya. Meskipun demikian kemarahan Sarayuda setiap saat menjadi semakin menyala-nyala. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri, kepada gurunya dan kepada semua orang yang menyaksikan. Bahwa melawan seorang anak-anak itu saja ia tak berhasil mengalahkan. Karena itulah maka kemudian ia benar-benar bertempur dengan seluruh tenaga, kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Ia kini tidak merasa lagi berkelahi sekadar sebagai suatu pernyataan marah, tetapi ia telah bertempur benar-benar diantara hidup dan mati.

Itulah sebabnya maka mereka yang menyaksikannya tidak dapat tetap acuh tak acuh. Kanigara pun kemudian bangkit berdiri, dan mengikuti jalannya perkelahian dengan seksama.

Tetapi yang beranggapan lain dari semuanya adalah Arya Salaka. Ia pun menjadi gembira sekali dapat menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Meskipun dalam beberapa hal ia menjadi keheran-heranan melihat gerak-gerak yang belum pernah disaksikan, namun ia dapat mengikuti sebagian besar dengan baik. Setelah ilmunya sendiri meningkat dengan pesatnya, maka ia kemudian tidak lagi mengagumi Sarayuda sebagai seorang yang terlalu tangguh. Sebab apabila gurunya mengijinkan, dalam tingkatannya yang sekarang ia pun bersedia untuk melawannya, meskipun barangkali tidak sebaik Putut Karang Tunggal.

Karena itu Arya Salaka melihat pertempuran yang hebat itu dengan bergeser-geser mengikuti setiap geseran titik pertempuran. Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari mengelilingi untuk mengambil sudut pandangan yang jelas. Karena ia sendiri sering melakukan latihan dengan Karang Tunggal maka ia dapat melihat betapa berbahayanya gerak serangan yang dilakukannya. Apalagi ketika pertempuran itu telah berlangsung lama. Tidak hanya Arya Salaka, tetapi semua yang hadir di sekitar arena pertempuran itu menyaksikan suatu hal yang tak terduga sebelumnya.

Ketika Sarayuda tidak lagi mengekang dirinya, dan bertempur dengan segenap tenaganya dan kemampuannya, maka Putut Karang Tunggal pun menanggapinya. Maka dalam saat-saat terakhir, ternyata ia berhasil mendesak lawan dengan hebatnya. Gerakannya menjadi semakin cepat dan lincah. Sebaliknya Sarayuda tenaganya sudah mulai surut setelah diperas habis-habisan.

Kemudian terjadilah hal yang sangat mengejutkan. Putut Karang Tunggal yang akhirnya juga menjadi kehilangan kesabaran, tiba-tiba dari matanya yang bulat memancar seolah-olah cahaya merah kebiru-biruan. Cahaya yang mempunyai pengaruh luar biasa sebagai pancaran gaib yang melontar dari dalam dirinya. Bersamaan dengan itu geraknya pun menjadi semakin garang sebagai topan yang mengalir deras dibarengi petir yang menyebar maut.

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang tua yang penuh pengalaman dalam perjalanan hidupnya. Banyak hal yang pernah dilihat dan dirasainya. Hal-hal yang kasar, yang halus, yang kasat mata dan yang tidak. Itulah sebabnya maka ketika ia melihat sorot mata Putut Karang Tunggal yang seakan-akan memancarkan cahaya merah kebiru-biruan itu, hatinya tergetar cepat. Segera ia dapat merasakan suatu kegaiban dari cahaya itu. Apalagi yang dilihatnya benar-benar suatu hal yang tak mungkin terjadi dalam keadaan yang wajar.
 Seorang anak muda yang memiliki ketangkasan demikian mengagumkan. Tidak saja melampaui muridnya, namun apabila ia benar-benar marah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Sarayuda.

Meskipun Pandan Alas belum pernah berkenalan, apalagi mempelajari semacam ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal, namun sebagai seorang yang banyak mengetahui berbagai macam ilmu, ia pun dapat menerka bahwa ilmu yang dipergunakan Karang Tunggal adalah ilmu yang luar biasa.

Bahkan ia pun telah menduga bahwa Putut Karang Tunggal memiliki ilmu yang hampir merupakan dongengan, Lembu Sekilan. Sebab apapun yang dilakukan Sarayuda, dan tampak benar-benar mengena, namun anak itu seolah-olah sama sekali tak merasakannya. Meskipun dalam beberapa kali, apabila Sarayuda berhasil melontarkan serangan yang tajam dan sepenuh tenaga, tampak juga betapa Karang Tunggal bertegang wajah, menerapkan ilmunya dengan sepenuh usaha.

Dengan demikian Pandan Alas dapat menduga bahwa ilmu Putut Karang Tunggal itu masih belum sempurna. Tetapi yang pernah didengarnya, seperti yang pernah didengar oleh hampir semua tokoh-tokoh sakti, yang mersudi olah jaya kawijaya guna kasantikan, bahwa Lembu Sekilan adalah salah satu ilmu yang pernah dimiliki Maha Patih Gajah Mada.
Berdasarkan apa yang disaksikan itulah maka akhirnya Pandan Alas merasa bahwa bagaimanapun hebatnya Sarayuda, namun ia tak akan berhasil menandingi anak muda yang perkasa dan luar biasa itu. Karena itu ia memutuskan untuk mencegah Sarayuda bertempur lebih lama lagi. Maka kemudian terdengarlah ia berkata nyaring, Sarayuda… cukuplah.

MAHESA JENAR dan Kanigara terkejut mendengar seruan itu. Namun dalam hati mereka menaruh hormat kepada orang tua yang bijaksana itu. Kalau semula mereka menyangka bahwa apabila ada salah mengerti padanya, persoalan pasti akan berlarut-larut. Tetapi ternyata Pandan Alas telah berbuat suatu hal yang terpuji. Dengan demikian maka persoalannya akan dapat dibatasi.

Karena itu, Kebo Kanigara yang juga cukup bijaksana segera memanggil kemenakannya. “Karang Tunggal… sudahlah. Mintalah maaf kepadanya, supaya kau dibebaskan dari kemarahannya.”

Putut Karang Tunggal yang bagaimanapun nakalnya, apalagi pada saat itu, hatinya sedang dipenuhi oleh perasaan marah, namun benar-benar takut kepada pamannya. Karena itu dengan sangat kecewa ia terpaksa memenuhi perintahnya. Dengan satu lontaran mundur yang jauh ia melepaskan diri dari libatan lawannya.

Tetapi tidaklah demikian Sarayuda. Hatinya telah diamuk oleh suatu perasaan yang tak dapat diurai lagi. Bercampuraduknya segala macam perasaan yang dapat membakar dadanya. Marah, benci, dendam, dan segala macam. Sehingga dengan demikian meskipun ia mendengar suara gurunya, namun ia sama sekali tak menaruh perhatian.

Sebagai seorang yang mempunyai kekuasaan yang cukup besar, ia sama sekali tidak mau namanya menjadi cacat. Apalagi dalam perkelahian yang memerlukan segenap pemusatan pikiran dan kekuatan, ia seolah-olah tidak dapat melihat keajaiban-keajaiban yang dipancarkan lawannya, meskipun dalam beberapa hal ia merasa heran juga kalau serangan-serangannya seolah tak pernah dapat menyentuh kulit lawannya. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin bernafsu, berjuang mati-matian.

Demikianlah, ketika Sarayuda melihat Putut Karang Tunggal melontarkan diri surut, ia sama sekali tidak menjauhkan dirinya, bahkan ia pun memburunya dan sekaligus melontarkan suatu serangan yang dahsyat.

Putut Karang Tunggal tak mengira hal yang demikian itu terjadi. Ia tidak menduga sama sekali bahwa ia akan mendapat serangan justru pada saat ia mengundurkan dirinya. Karena itulah ia tidak bersiaga. Ilmunya yang bernama Lembu Sekilan yang belum sempurna benar itu sudah mulai dikendorkan. Karena itulah maka ketika ia menerima serangan yang tak diduganya, terasalah seolah-olah sebuah bukit karang berguguran menimpanya pada saat ia sedang lelap tidur.

Itulah sebabnya, bagaimanapun ia berusaha menerapkan ilmunya Lembu Sekilan, namun dalam waktu yang mendadak itu tidak banyak berarti. Meskipun berhasil menolongnya dari cidera, tetapi ia terlempar juga beberapa langkah dan terbanting jatuh. Ternyata ilmunya itu masih belum mampu bekerja sendiri apabila sebuah perangsang menyentuhnya.

Semua yang menyaksikan kelakuan Sarayuda itu terkejut. Dada mereka berdebaran, dan darah mereka seperti berhenti mengalir. Bahkan Kanigara dan Mahesa Jenar menjadi seolah-olah terpaku di tempatnya dan tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian sampai terloncat maju, dan dengan lantangnya berteriak, “Sarayuda… sadarkah kau bahwa kau telah berlaku kurang bijaksana?”

Sekali lagi Sarayuda tak mau mendengar suara gurunya. Bahkan masih saja ia meloncat dan menyerang Putut Karang Tunggal yang sedang berusaha untuk bangkit. Karena itulah maka keadaannya menjadi sangat berbahaya.

Untunglah otaknya cerdas dan cepat. Segera ia menghentikan geraknya. Ia lebih baik tetap berjongkok, namun dengan sekuat tenaga diterapkannya ilmunya Lembu Sekilan. Meskipun demikian serangan Sarayuda yang ganas itu menggoncangkan tubuhnya sehingga hampir saja ia terjatuh kembali.

Pada saat Sarayuda akan mengulangi serangannya kembali, tiba-tiba meloncatlah bayangan dengan cepat menyerangnya dari lambung. Meskipun kecepatannya tidak dapat disamakan dengan kecepatan karang Tunggal, namun terasa betapa kuat serangan itu. Karena itu Sarayuda segera memutar tubuhnya, dan mengurungkan serangannya atas Putut Karang Tunggal.

Bayangan itu adalah Arya Salaka yang telah memiliki ilmu yang maju dengan pesatnya. Karena itulah maka sekali lagi Sarayuda terkejut. Anak yang kedua ini tidak kurang berbahayanya, karena itu ia menghadapinya dengan sepenuh tenaga.

Pada saat itulah Kanigara dikecewakan oleh Sarayuda. Kalau mula-mula ia ingin mencegah kemenakannya supaya tidak menyelesaikan pertempuran itu, sekarang ia berpikir sebaliknya. Biarlah anak nakal itu menghajar orang yang sama sekali tak tahu diri.

Sebaliknya, Mahesa Jenar menjadi terkejut dan cemas melihat Arya Salaka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Namun demikian ia menjadi keheranan juga, bahwa muridnya itu dapat bertempur demikian baiknya sehingga sama sekali tak diduganya. Tetapi Arya Salaka tidak perlu berjuang terlalu lama. Sebab pada saat itu Putut Karang Tunggal telah bersiap kembali. Maka sesaat kemudian terdengarlah ia berteriak nyaring, “Adi Arya Salaka, minggirlah. Aku tidak mau diperlakukan demikian. Biarlah kami berhadapan sebagai seorang laki-laki dengan laki-laki.”

Suara Putut Karang Tunggal itu pun mengherankan pula. Getarannya bagaikan getaran guruh yang menggelegar menggoyangkan bukit-bukit kecil yang bertebaran di sana-sini. Bahkan suara itu seolah-olah telah mengejutkan matahari yang sedang tidur dengan nyenyaknya di balik cakrawala. Karena itu, di ujung timur fajar mulai menjenguk dan melemparkan cahayanya yang kemerahan.

Agak jauh di Padepokan Karang Tumaritis di puncak bukit itu, terdengarlah suara ayam jantan yang berkokok bersahutan. Seolah-olah mereka sedang membanggakan diri masing-masing dengan berteriak, Ini dadaku, mana dadamu…?

DEMIKIAN pula ayam jantan dari Pengging yang bernama Karebet itu, menjadi semakin marah atas kelakuan lawannya. Karena itu apapun yang terjadi, ia bertekad untuk bertempur mati-matian. Sehingga ketika Arya Salaka telah meloncat minggir, anak muda itu tegak berdiri dengan gagahnya, dengan kaki renggang dan dada menengadah. Wajahnya menjadi semakin cerah, melampaui cerahnya fajar. Sedangkan cahaya merah kebiru-biruan yang menyorot dari matanya yang bulat cemerlang itu menjadi semakin menyala-nyala.

Tiba-tiba Sarayuda yang telah bersiap pula, merasakan keanehan yang ada pada lawannya. Sekarang ia melihat sorot mata yang ajaib. Juga ia semakin merasakan bahwa serangan-serangannya menjadi seolah-olah lenyap tak berbekas. Tetapi akibat dari tanggapannya atas kenyataan yang dihadapinya itu menjadikannya semakin mata gelap. Ia sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali membinasakan lawannya. Karena itulah maka tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, baik oleh Mahesa Jenar, Kanigara maupun gurunya sendiri Ki Ageng Pandan Alas.

Sarayuda yang dibakar oleh api kemarahan yang menyala-nyala di dalam dadanya, tiba-tiba berdiri tegak. Wajahnya terangkat dan matanya menjadi redup setengah terpejam. Ia menyalurkan segala tenaganya dilambari dengan pemusatan pikiran untuk kemudian meletakkan satu tangannya di atas dada, sedangkan tangan lainnya menjulur ke depan lurus-lurus. Itulah suatu sikap untuk melepaskan ilmunya yang dahsyat, ilmu pamungkas Cundha Manik, dari Perguruan Pandan Alas.

Mahesa Jenar pernah menyaksikan kedahsyatan ilmu itu, bahkan ia pernah menempurnya dengan aji Sasra Birawa. Akibatnya adalah mengerikan sekali. Sekarang, beberapa tahun kemudian, pastilah Cunda Manik itu menjadi bertambah dahsyat. Karena itu, ia menjadi pucat, dan melintaslah seleret bayangan yang mengerikan. Sebab bagaimanapun teguhnya ilmu Lembu Sekilan yang belum sempurna itu namun karena nafsu kemarahan yang tidaklah mungkin anak itu dapat bertahan diri terhadap kedahsyatan aji Cunda Manik. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mau melihat pembunuhan yang tidak adil hanya karena nafsu kemarahan yang tak terkendalikan.

Dengan demikian ketika ilmu Cunda Manik itu telah terhimpun di dalam tangannya serta ketika dilihatnya Sarayuda telah siap meloncat dan mengayunkan tangannya, Mahesa Jenar pun segera meloncat dengan garangnya menghadang langkah Sarayuda tepat di depan Putut Karang Tunggal dengan satu tangan bersilang di hadapan dadanya, satu tangan terangkat tinggi-tinggi. Sedang sebelah kakinya ditekuknya ke depan, siap untuk melawan Cunda Manik itu dengan ajinya yang telah jauh meningkat, Sasra Birawa.

Dalam pada itu bayangan lain pun telah melontar pula, dekat di sampingnya, juga berusaha berdiri diantara Sarayuda dan Putut Karang Tunggal, bahkan agak lebih cepat sedikit darinya dengan sikap yang sama. Satu tangan bersilang, tangan yang lain terangkat tinggi-tinggi, sedang sebelah kakinya ditekuk ke depan. Itulah Kanigara yang juga berusaha melindungi kemenakannya dengan jenis ilmu yang sama, Sasra Birawa yang sempurna.

Dalam sekejap mata Sarayuda melihat pula kedua orang yang telah berdiri berjajar rapat di hadapan lawannya. Namun segalanya telah terlanjur. Ilmu itu telah terhimpun dan siap dilontarkan.

Karena itu ia menjadi tidak peduli lagi siapakah yang akan binasa karenanya, apakah dirinya sendiri, Putut yang telah dianggap menghinanya, ataukah Mahesa jenar, ataukah orang yang bernama Karang Jati itu. Maka dengan mata yang hampir terpejam ia meloncat dengan dahsyatnya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar dan Kanigara telah mulai menjulurkan kekuatannya lewat sisi telapak tangan untuk menerima aji yang dahsyat itu, kembali mereka dikejutkan oleh bayangan lain yang dengan dahsyatnya mendahului membentur Sarayuda dengan kekuatan yang luar biasa pula. Sehingga terjadilah bentrokan kekuatan yang mengerikan sekali. Akibatnya pun sangat mengejutkan. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dan Kanigara masih sempat mengendorkan diri sehingga mereka pun tidak perlu ikut serta dalam benturan yang terjadi, dan tidak terduga-duga itu.

Sarayuda, karena akibat benturan itu terlempar jauh ke belakang dan terbanting di atas batu karang. Suara tubuhnya ambruk hebat. Dan setelah itu ia sama sekali tidak bergerak lagi.

Sementara itu bayangan yang membenturnya, yang tidak lain adalah gurunya sendiri, Ki Ageng Pandan Alas, segera berlari-lari memburunya, dan langsung berjongkok di sampingnya.

Kanigara, Mahesa Jenar, Karang Tunggal dan Arya Salaka terguncang hatinya. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa akhir peristiwa itu demikian. Benturan langsung antara murid dan gurunya dengan akibat yang tak diduga pula.

Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati Ki Ageng Pandan Alas yang duduk tertunduk di samping muridnya. Wajahnya suram sesuram seorang ayah yang kehilangan anaknya tersayang. Bahkan dari mata orang tua itu membayangkan titik-titik air yang berkilat-kilat kena lemparan cahaya matahari pagi.

Dari bibirnya yang bergetaran terdengarlah suaranya yang terputus-putus, Sarayuda… kenapa kau sampai kehilangan akal, sehingga aku terpaksa mencegahmu…? Aku pernah mengharap kau menjadi sambungan yang kuat dari perguruanku. Sekarang….

Wajah orang tua itu menjadi semakin suram. Matanya yang kemudian terangkat dan memandang kepada Mahesa Jenar, Kanigara, Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka, yang telah berjongkok pula mengitari tubuh Sarayuda yang gilang-gilang bermandikan cahaya matahari.

Angin pagi yang bertiup lambat seolah-olah ikut serta terbenam dalam duka yang mendalam.

MEREKA yang berada di tempat itu, merasakan betapa hati orang tua itu terpecah-pecah. Murid utamanya, yang dengan penuh harapan diasuhnya sekuat tenaga, kini terbaring di hadapannya justru karena tangan sendiri.

Anak-anakku sekalian… kata orang tua itu kemudian dengan suara yang dalam, Maafkanlah muridku.

Yang mendengar perkataan itu menjadi semakin terharu. Betapa orang tua itu berhati jantan. Yang melihat masalah di hadapannya dengan jujur meskipun dadanya serasa hancur.

Perlahan-lahan orang itu dengan tangannya yang lemah karena guncangan yang hebat, meraba-raba dada Sarayuda. Tiba-tiba terbersitlah suatu cahaya di matanya. Dengan cepat Ki Ageng Pandan Alas menempelkan telinganya untuk mendengarkan detak jantung muridnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata, Anakmas aku masih mendengar jantungnya berdetak.

Tiba-tiba yang mendengar seruan itu, di dalam hatinya timbul pula semacam perasaan gembira, sehingga mereka bergeser setapak maju. Namun sesaat kemudian orang itu kembali menjadi muram. Gumamnya, Tetapi detak jantung itu sudah terlalu lemah. Dan aku bukanlah seorang ahli dalam hal ini.

Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan oleh Mahesa Jenar, Kanigara, apalagi Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka. Hanya di wajah Karang Tunggal terbayang pula penyesalan yang dalam.

Karena kelakuannyalah maka semua itu terjadi. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa hanya karena ia tidak dapat menahan tertawanya saja, maka ia terpaksa menyaksikan seorang guru dan murid saling berbenturan dan mengakibatkan malapetaka.

Dalam pada itu, Kanigara yang telah agak lama tinggal di bukit Karang Tumaritis, bersama-sama dengan seorang Panembahan yang ahli pula dalam hal pengobatan, sedikit banyak dapat pula melakukannya.

Maka dengan suara yang dalam ia mencoba meminta, Ki Ageng Pandan Alas, kalau memang masih ada detak di dalam dada Sarayuda, ijinkanlah aku mencoba untuk memperlancar jalan darahnya.

Dengan mata yang suram Ki Ageng Pandan Alas memandang Kanigara. Tetapi kemudian ia mengangguk lemah. Segera Kanigara bangkit dan berdiri dengan kaki terbuka di atas tubuh Sarayuda. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya untuk menolongnya menyalurkan pernafasan dan peredaran darahnya. Setelah itu, perlahan-lahan pula ia memijit-mijit dada.

Pada saat itulah Ki Ageng Pandan Alas dengan jelas dapat melihat siapakah yang berdiri di hadapannya, yang menamakan dirinya Putut Karang Jati itu. Ia adalah seorang yang bertubuh tegap besar, berwajah bening yang memancarkan kelembutan hati. Karena itulah ia menjadi semakin curiga, bahwa orang itu hanyalah seorang Putut yang sejak semula memang mengabdikan diri pada Panembahan di bukit ini. Dengan tidak sengaja, matanya segera merayapi Putut muda yang baru saja bertempur dengan muridnya. Seorang muda yang memiliki tanda-tanda keajaiban. Juga terhadap anak ini ia selalu bertanya-tanya di dalam hati. Siapakah gerangan mereka itu sebenarnya.

Ketika itu ia melihat Sarayuda mulai dapat menyalurkan nafas perlahan-lahan serta detak jantungnya menjadi semakin lancar pula. Namun demikian apabila ia tidak segera mendapat pertolongan yang semestinya, keadaannya sangat membahayakan.

Karena itulah maka Kanigara berkata, Ki Ageng Pandan Alas, apabila Ki Ageng tidak berkeberatan, perkenankanlah aku membawa murid Ki Ageng ini menghadap Panembahan, supaya ia dapat disembuhkan dari keadaan yang sekarang ini.

Ki Ageng Pandan Alas yang menaruh harapan masa depan perguruannya, sudah tentu menghendaki muridnya dapat disembuhkan. Karena itu dengan senang hati ia menjawab, Anak Putut Karang Jati, aku sangat berterima kasih apabila Panembahan Ismaya berkenan menyembuhkan Sarayuda.

Kemudian oleh persetujuan itu, segera Kanigara mengajak mereka semua untuk menghadap Panembahan. Tetapi tiba-tiba terdengarlah Putut Karang Tunggal berkata, Paman, apakah aku harus ikut menghadap pula? Aku telah menyanggupi Adi Arya untuk membawanya berkeliling bukit kecil ini.

Kanigara melihat ketakutan anak nakal itu terhadap Panembahan Ismaya. Karena itu ia menjawab, Ayolah. Kau jangan berbuat sekehendakmu saja. Arya akan sabar menunggu sampai besok, lusa bahkan seminggu dua minggu lagi. Malahan kaulah yang seharusnya mengangkat tubuh Sarayuda, dan memapahnya menghadap Panembahan.

Karang Tunggal sama sekali tak berani membantah kata-kata pamannya. Dengan dada berdebar-debar ia membungkuk dan mengangkat murid Pandan Alas itu pada kedua tangannya dan membawanya mengikuti pamannya yang berjalan di depan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Ki Ageng Pandan Alas. Sedang Arya Salaka berjalan dengan kepala tunduk di sampingnya. 

Beratkah tubuh itu Kakang? tanya Arya Salaka.

Dengan tersenyum kecut Karang Tunggal menjawab, Cukupanlah.

Dapatkah aku membantu? sambung Arya.

Sekali lagi Karang Tunggal tersenyum kecut. Tak usahlah.

Setelah itu kembali mereka berdiam diri. Tak seorangpun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun. Namun di dalam keheningan pagi itu, dada Ki Ageng Pandan Alas masih saja bergejolak. Disamping kecemasannya atas keselamatan muridnya, ia jadi benar-benar berpikir tentang orang yang nenamakan Putut Karang Jati dan Karang Tunggal. Yang paling mengherankan baginya adalah bahwa Karang Jati dalam keadaan yang terjepit, telah menyiapkan pula ilmu yang mirip dengan ilmu Mahesa Jenar yang dahsat peninggalan almarhum sahabatnya, Ki Ageng Pengging Sepuh.

Kedatangan rombongan itu, dengan seorang yang tak sadarkan diri di tangan Putut Karang Tunggal, sangat mengejutkan penghuni padepokan yang damai itu. Para cantrik segera bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang telah terjadi, dan siapakah yang pingsan di tangan kepala para cantrik itu. Demikian pula agaknya Panembahan Ismaya. Dengan tergopoh-gopoh ia menerima kedatangan mereka dengan penuh pertanyaan di wajahnya yang lembut.

SEGERA rombongan itu dipersilakan masuk dan dibaringkannya tubuh Sarayuda di atas sebuah pembaringan kayu.

Panembahan Ismaya melihat keadaan yang mengkhawatirkan. Karena itu ia tidak sempat untuk bertanya-tanya. Tetapi yang mula-mula dilakukan adalah merawat Sarayuda. Beberapa bagian tubuhnya dipijit-pijit serta kemudian dengan hati-hati sekali diminumkannya semangkuk kecil obat cair ke dalam mulut Sarayuda.

Suasana untuk sesaat jadi hening dan tegang. Masing-masing terikat pada keadaan Sarayuda yang masih terbaring diam. Namun nafasnya telah mulai nampak mengalir teratur.

Akhirnya beberapa saat kemudian tubuh itu mulai hangat kembali. Cahaya yang merah perlahan merambat ke wajahnya. Dengan demikian maka keselamatannya semakin dapat diharapkan.

Sejalan dengan itu menjalar pula perasaan syukur di dada Pandan Alas dan semuanya yang menyaksikan. Bahkan Putut Karang Tunggal yang semula menjadi marah kepada Sarayuda, kini dengan penuh harapan mengikuti perkembangan keadaan murid Pandan Alas itu.

Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkan jiwanya, guman Panembahan Ismaya. Namun menilik keadaannya ia telah berangsur baik. Nafasnya telah mengalir dengan teratur. Meskipun agaknya untuk beberapa bulan ia harus benar-benar beristirahat untuk segera dapat memulihkan kembali kesehatan serta kekuatan tubuhnya.

Betapa besar terimakasihku kepada Tuhan, yang telah mengampuni jiwa muridku dengan lantaran Panembahan, sahut Ki Ageng Pandan Alas.

Perlahan-lahan Panembahan Ismaya menoleh kepada Ki Ageng Pandan Alas. Untuk beberapa saat ia memperhatikannya lalu kemudian ia bertanya, Siapakah Anakmas yang terluka ini…?
Muridku, Panembahan, jawab Pandan Alas.

Panembahan Ismaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, Biarlah Anakmas ini beristirahat. Marilah kita duduk di ruang sebelah.

Kemudian ditinggalah Sarayuda seorang diri terbaring. Matanya masih terpejam, tetapi wajahnya sudah nampak merah.

Di ruang sebelah, mulai Panembahan Ismaya bertanya-tanya. Apakah yang sudah terjadi dan siapakah guru dan murid yang belum dikenalnya itu. Maka berceritalah Kebo Kanigara, segala sesuatu yang menyangkut peristiwa itu. Diceritakan pula hubungan antara Mahesa Jenar, Sarayuda dan Pudak Wangi yang dititipkan di padepokan itu oleh Mahesa Jenar setelah ia berhasil menyelamatkannya dari tangan Sima Rodra. Namun Mahesa Jenar sendiri geli mendengar keterangan itu.

Kemudian diceritakan pula bahwa beberapa malam kemudian didengarnya suara tembang yang sebenarnya adalah suara Ki Ageng Pandan Alas, kakek Pudak Wangi yang sedang mencari cucunya.

Dan kemudian tanpa meninggalkan peristiwa yang terkecil pun Kanigara menceritakan pula pertengkaran dan akhirnya perkelahian yang terjadi antara Sarayuda dan Karang Tunggal, sehingga akhirnya guru Sarayuda sendiri terpaksa mencegah muridnya yang akan mempergunakan senjata pamungkasnya yang sangat berbahaya.

Panembahan Ismaya mendengarkan uraian Kebo Kanigara dengan seksama. dan sambil mengerutkan keningnya ia memandang Putut Karang Tunggal dengan penuh penyesalan.

Katanya kemudian, Ki Sanak yang bijaksana, maafkanlah kelakuan orang-orangku yang sama sekali tidak bersikap baik. Untunglah bahwa Ki Ageng Pandan Alas telah mencegahnya. Kalau tidak, barangkali Putut Karang Tunggal akan mengalami cidera karena kenakalannya. Bahkan Ki Ageng telah mengorbankan murid sendiri.

Tak seorang pun yang berani mengangkat wajah. Kanigara, Karang Tunggal maupun Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Apalagi Mahesa Jenar merasa bahwa sumber dari persoalan itu adalah persoalannya dengan Sarayuda.

Apalagi ketika Panembahan Ismaya melanjutkan, Dengan demikian kehadiranmu di tempat itu sama sekali tak berarti Kanigara, bahwa kau tidak dapat mencegah semuanya itu terjadi.
Kanigara menjadi semakin menundukkan wajahnya.

Tetapi akibat kata-kata itu tajam sekali bagi Ki Ageng Pandan Alas yang telah sekian lama berteka-teki tentang orang yang menamakan dirinya Putut Karang Jati itu. Apalagi setelah ia menyaksikannya mempersiapkan aji Sasra Birawa. Dan sekarang ia mendengar Panembahan Ismaya menyebutnya Kanigara.

Segera Pandan Alas teringat seseorang beberapa tahun lampau, pada saat ia masih bergaul dengan sahabatnya Ki Ageng Pengging Sepuh, guru Mahesa Jenar. Ia teringat jelas putra sahabatnya itu yang kemudian menjadi saudara muda seperguruannya sendiri. Bahkan yang memiliki ilmu yang lebih masak daripadanya. Karena ia jarang menjumpainya maka ia tidak begitu mengenalnya. Dan sekarang orang itu ada di depannya. Kanigara. Ya… Kebo Kanigara.

Karena itu tiba-tiba ia menjadi gemetar. Dan dengan suara yang berat ia bertanya, Panembahan, apakah Anakmas Kebo Kanigara putra Pangeran Handayaningrat…?

Pangeran Ismaya mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, Inilah orangnya.

Tiba-tiba Ki Ageng Pandan Alas yang sudah tua itu mengangguk hormat kepada Kanigara sambil berkata, Maafkan Anakmas Kebo Kanigara. Aku agaknya terlalu pikun untuk mengenal sahabat-sahabatku kembali. Agaknya Anakmas terlalu lama meninggalkan ayahanda, sehingga sejak masa hidup ayahanda aku sudah tidak pernah menjumpai Anakmas lagi.

Kanigara membalas hormat pula kepada Pandan Alas. Lalu jawabnya, Kita sudah terlalu lama tidak bertemu, Ki Ageng.
Untunglah… sambung Pandan Alas, Bahwa aku telah mencegah muridku. Kalau saja aku terlambat, aku kira muridku itu telah menjadi lumat.

KANIGARA mengerutkan keningnya. Juga Panembahan Ismaya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun. Yang terdengar kemudian adalah pertanyaan Ki Ageng Pandan Alas, Aku memang sudah menduga bahwa yang bernama Karang Jati adalah mengandung suatu rahasia meskipun hanya sekadar sebagai suatu olok-olok saja. Namun terhadap Karang Tunggal pun aku curiga pula.

Sekali lagi Panembahan Ismaya dan Kanigara bersama-sama mengernyitkan keningnya. Sedang Karang Tunggal sendiri kemudian menjadi berdebar-debar meskipun baginya sama sekali tak bedanya apakah ia dipanggil Putut Karang Tunggal, Karebet atau Jaka Tingkir.

Ki Ageng… jawab Kebo Kanigara kemudian, Kalau aku menyebut diriku Putut Karang Jati adalah karena aku tinggal bersama-sama Panembahan di bukit ini. Adapun nama itu adalah nama yang aku pergunakan sebagai Putut. Sedang Karang Tunggal pun demikian. Sebagai seorang Putut ia bernama Karang Tunggal. Tetapi apabila Ki Ageng ingin mengetahuinya, aku kira ia tidak keberatan.

Lalu kepada Karang Tunggal ia berkata, Bukankah begitu Karang Tunggal?

Karang Tunggal mengangguk kaku.

Nah, Ki Ageng… Kanigara melanjutkan, Ia adalah seorang Putut yang baik, tetapi ia adalah seorang anak nakal. Senakal ayahnya, yang pasti Ki Ageng pernah mendengarnya.

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-angguk dengan penuh perhatian.

Anak itulah peninggalan adikku, Kebo Kenanga. Namanya Karebet, sambung Kanigara. Dan selama ia tinggal di bukit ini ia mendapat kehormatan untuk menjadi pimpinan para cantrik. Baginya oleh Panembahan Ismaya diberikan nama Putut Karang Tunggal.

Sekali lagi Pandan Alas mengangguk-angguk. Kemudian sahutnya, Pantaslah kalau ia cucu Ki Ageng Pengging Sepuh. Aku melihat keajaiban yang tersembunyi di dalam tubuhnya.

Aku hanya melihat kenakalannya, potong Panembahan Ismaya. Kenakalan yang aku kira sudah berkurang. Tetapi agaknya pada suatu saat akan dengan mudahnya timbul kembali.

Kembali kepala Karang Tunggal tertunduk. Sindiran yang langsung mengenainya.

Sementara itu tubuh Sarayuda yang terbaring di ruang sebelah ternyata sudah mulai tampak bergerak gerak.

Panembahan Ismaya kemudian bersama dengan mereka yang hadir di ruang itu segera mendekatinya. Dengan hati-hati Panembahan Ismaya meraba tubuh yang sudah semakin segar itu. Dan beberapa saat kemudian Sarayuda dengan lemah membuka matanya. Alangkah gembira hati gurunya. Tidak itu saja. Juga Kanigara, Mahesa Jenar dan lainnya pun bergembira.

Apalagi ketika kemudian dengan sangat perlahan terdengar dari sela-sela bibirnya yang gemetar Sarayuda berkata, Guru….

Segera Ki Ageng Pandan Alas mendekatinya dan mendekatkan kupingnya ke mulut Sarayuda. Aku di sini, Sarayuda… bisiknya.

Sarayuda melihat gurunya membungkukkan kepalanya di hadapan wajahnya. Dengan sayu ia mencoba tersenyum dan melanjutkan kata-katanya, Apakah aku masih hidup…?

Tentu Sarayuda, tentu… jawab Pandan Alas.

Air… desis Sarayuda.

Belum lagi Pandan Alas melanjutkan permintaan itu, Karang Tunggal telah meloncat untuk mengambil air yang kemudian setetes demi setetes air itu diteteskan ke mulut Sarayuda dan langsung ditelannya.
Dengan tetesan air itu Sarayuda merasa tubuhnya menjadi semakin segar. Karena itulah wajahnya menjadi semakin semringah pula.

Terimakasih, desisnya.

Istirahatlah Anakmas, bisik Panembahan Ismaya.

Mata Sarayuda yang masih redup memandang Panembahan Ismaya dengan herannya. Ia belum pernah mengenalnya. Panembahan tua itu segera mengetahui apa yang terkandung di dalam hatinya. Maka segera ia berkata, Mungkin Anakmas heran melihat kehadiranku di sini. Jangan pikirkan itu dahulu. Beristirahatlah supaya tubuh Anakmas menjadi baik.

Sarayuda kembali mencoba tersenyum. Kemudian matanya beredar kepada Mahesa Jenar, Kanigara, Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal. Tetapi wajahnya sama sekali tidak memancarkan perasaan marah dan dendam. Bahkan kemudian kembali ia tersenyum, senyum yang ikhlas. Lalu katanya, Guru, di manakah aku sekarang ini?

Kau berada di Padepokan Karang Tumaritis, Sarayuda. Kau berada di dalam perawatan Panembahan Ismaya ini, jawab Ki Ageng Pandan Alas.

Ki Ageng Pandan Alas, maafkanlah aku, katanya kemudian.

Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sarayuda, potong Pandan Alas. Ikutilah nasehat Panembahan supaya tubuhmu bertambah baik.

Terimakasih, jawabnya. Aku akan beristirahat sebaik-baiknya. Tetapi aku lebih dahulu akan minta maaf kepada kalian. Pada kesempatan ini. Kepada Ki Ageng, kepada Kakang Mahesa Jenar, kepada Putut Karang Jati, Karang Tunggal, dan Arya Salaka.

Tak ada kesalahan yang kau lakukan Sarayuda. Perbedaan pendapat dan persamaan kepentingan adalah lumrah, sehingga akibat yang timbul karena itu pun lumrah pula, jawab Ki Ageng Pandan Alas.

SARAYUDA menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian tubuhnya menjadi bertambah segar. Angin pagi yang perlahan-lahan mengalir, mengusap wajahnya dengan lembut. Aku merasa bahwa apa yang aku lakukan telah melanggar nasehat guru. Karena itulah aku merasa bersalah, kata Sarayuda meneruskan.

Baiklah, jawab gurunya, Aku maafkan kesalahan itu. Dan aku yakin, Sarayuda, bahwa yang lainpun akan memaafkanmu.

Sekali lagi pandangan Sarayuda beredar berkeliling, seolah-olah ia ingin mendapatkan kebenaran kata-kata gurunya.

Mahesa Jenar yang dapat meraba pertanyaan yang terpancar dari mata itu segera berkata, Sarayuda. Marilah kita saling memaafkan. Saling melupakan apa yang pernah kita lakukan. Leburlah semua kesalahan yang ada diantara kita.

Sekali lagi Sarayuda menarik nafas dalam-dalam. Leburlah kesalahan kita. Tetapi persoalan kita belum selesai, sahutnya.

Mereka yang mendengar kata-kata itu, jantungnya bertambah cepat berdenyut. Dalam keadaan yang sedemikian Sarayuda masih mempersoalkan masalah yang rumit itu. Mahesa Jenar dengan demikian menganggap bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun Sarayuda akan tetap pada pendiriannya. Maka tiba-tiba runtuhlah hatinya. Ia tidak sampai hati mengecewakan orang yang sedang bertahan terhadap maut.

Bagaimanapun ia mempunyai kepentingan buat diri sendiri, namun Mahesa Jenar adalah seorang yang berhati lembut. Karena itu, ia lebih baik berkorban kepentingan diri, daripada melihat Sarayuda berputus asa, dan seterusnya tidak menghendaki lagi dirinya dapat sembuh kembali dari luka-luka dalamnya itu. Kalau demikian halnya, maka tak ada obat di dunia ini yang mampu menolongnya.

Maka kemudian dengan hati berat dan kata-kata yang bergetar ia berkata, Sarayuda… jangan pikirkan aku lagi. Jagalah ketenteraman hatimu agar kau dapat segera sembuh kembali. Dan apa yang kau idamkan selama ini akan dapat kaucapai. Kelengkapan dari kamuktenmu. Lupakan aku. Aku tidak akan menghalangimu lagi.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, hampir semuanya tersentak. Kanigara, Pandan Alas, Karang Tunggal dan Arya Salaka. Bahkan Panembahan Ismaya pun mengerutkan keningnya pula. Perkataan yang demikian itu sama sekali tidak mereka duga sebelumnya. Meskipun demikian, terutama Pandan Alas merasakan pengaruh kata-kata itu dalam relung hatinya yang paling dalam. Ia menjadi semakin yakin, betapa jernih hati laki-laki itu. Sehingga tiba-tiba terasa di dadanya, sesuatu yang menyumbat pernafasannya.

Tetapi yang lebih terguncang lagi adalah perasaan Sarayuda. Wajahnya segera berubah hebat. Bahkan hampir saja ia mencoba bangun. Untunglah bahwa Panembahan Ismaya segera mencegahnya.

Namun demikian dari matanya memancarlah cahaya yang aneh. Sesaat kemudian setelah hatinya agak teratur iapun berkata, Kakang Mahesa Jenar. Aku bukan bermaksud demikian. Kemudian dengan mata sayu dan kata-kata yang dalam ia meneruskan, Adakah Wilis di sini?.

Tanpa disadari Mahesa Jenar menjawab, Ada Sarayuda. Ia berada di bukit ini.

Wajah Sarayuda menjadi bertambah jernih. Sambungnya, Mahesa Jenar, bolehkan aku bertemu?

Masih di luar sadarnya Mahesa Jenar menjawab, Tentu Sarayuda. Apakah kau ingin menemuinya?
Ya, kalau kau tidak keberatan, tolonglah bawalah ia kemari, sebab aku sama sekali tidak dapat bangun untuk datang kepadanya, jawabnya kemudian.

Barulah Mahesa Jenar sadar, bahwa ia sendiri tidak tahu di mana Rara Wilis berada. Karena itu ia menjadi kebingungan. Dalam kegelisahannya itu terdengarlah Kanigara menolongnya. Kau tak perlu pergi sendiri Mahesa Jenar, biarlah Widuri menjemputnya.

Terima kasih Kakang, jawab Mahesa Jenar.

Kemudian berjalanlah Kanigara keluar untuk mencari Widuri.

Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening. Masing-masing terpaku pada masalah yang sulit ini. Masalah yang selalu terulang pada setiap masa dan setiap jaman. Masalah yang tak akan habis-habisnya selama dunia masih terkembang. Selama manusia masih ingin membina hari kemudian sebagai miliknya serta milik anak cucunya.

Demikian Tuhan mengkaruniakan perasaan cinta dan kasih kepada manusia, sebagaimana perasaan cinta dan kasih-Nya yang menjelmakan dunia beserta isinya. Namun sayanglah bahwa manusia kadang-kadang tidak berhasil menanggapi kurnia yang indah itu dengan sewajarnya. Bahkan ada diantara anak manusia yang ingin mengembangkan rasa cinta kasih Tuhannya dengan landasan dendam dan nafsu. Sehingga dengan demikian kaburlah batas antara cinta dan nafsu, antara kasih dan dendam.
Demikianlah untuk sejenak mereka terbenam dalam kesepian. Barulah kemudian Panembahan Ismaya yang bijaksana berkata, Ki Sanak Pandan Alas, Arya Salaka dan Karang Tunggal, marilah kita tinggalkan ruangan ini, biarlah Anakmas Sarayuda beristirahat.

Pandan Alas yang tua itupun segera menangkap maksudnya, sehingga bersama-sama dengan Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal, merekapun meninggalkan ruangan itu.

Tinggallah Mahesa Jenar dengan kakunya berdiri disamping pembaringan Sarayuda, yang menenteramkan hatinya dengan memejamkan matanya. Agaknya ada sesuatu yang bergelora didalam dadanya, yang baru akan dikatakannya apabila Wilis telah datang.

Sesaat kemudian, apa yang dinantikan datanglah. Yang mula-mula terdengar adalah suara gadis kecil yang renyah dan bersih, sebersih air yang baru memancar dari sumbernya, Paman, inilah bibi.

Seperti disentakkan Mahesa Jenar memutar tubuhnya, menghadap pintu. Dan apa yang dilihatnya adalah Rara Wilis tidak dalam pakaian seorang laki-laki, tetapi ia telah mengenakan pakaian wanita. Bergetarlah seketika dada Mahesa Jenar oleh perasaan yang menyelip-nyelip tak dapat dikendalikan.

DEMIKIANLAH untuk beberapa saat tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan kemudian agaknya Rara Wilis yang mula-mula dapat menguasai perasaannya yang memang telah dipersiapkan sejak lama. Kakang Mahesa Jenar, yang selama ini tersimpan di dalam dadaku adalah perasaan terima kasih yang tak terhingga atas pertolongan Kakang, yang pada saat itu aku tidak sempat mengucapkannya.

Mahesa Jenar mengangguk sedikit, jawabnya, Lupakanlah itu Wilis. Sebagaimana kewajiban kita, manusia yang hidup diantara manusia adalah saling menolong. Meskipun hatinya sendiri berkata lain. Berkata tentang keindahan yang sempurna yang memancar dari tubuh gadis itu. Gadis yang pada saat terakhir telah membanting-banting perasaannya, setelah ia terpaksa membunuh ayah gadis itu.

Rara Wilis tidak menjawab sepatah katapun selain wajahnya terkulai jatuh di lantai. Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Sarayuda yang terbaring dengan lesunya, menunggu gadis itu. Untuk sesaat Mahesa Jenar jadi bimbang. Apakah ia akan tetap pada pendiriannya ? Menyerahkan kebahagiaan itu kepada Sarayuda…?

Dalam pada itu terbersitlah suatu ketetapan di hatinya, meskipun hati itu sendiri akan terpecah. Biarlah ia mengorbankan dirinya kalau dengan demikian sebuah jiwa akan tertolong. Jiwa yang sangat berharga bagi beribu-ribu jiwa lain di daerah kekuasaannya.

Katanya kemudian diantara desah jantungnya yang semakin cepat, Wilis… seseorang menanti kau. Masuklah.

Seseorang…? katanya bertanya.
Mahesa Jenar mengangguk, lalu jawabnya, Ya, seseorang.
Kau…? desaknya.
Mahesa Jenar menggeleng lemah. Lemah sekali.

Rara Wilis menjadi ragu. Seseorang mencarinya, dan orang itu bukan Mahesa Jenar.

Akhirnya terdengar suara Mahesa Jenar, Masuklah Wilis.

Untuk sesaat Wilis masih tetap tegak di muka pintu. Seolah-olah ia tidak kuasa menggerakkan kakinya untuk melangkah masuk. Wajahnya tampak membayangkan kebimbangan hatinya.

Maka kemudian Mahesa Jenar yang melangkah keluar, dengan langkah berat sambil membangunkan Wilis yang sedang tenggelam dalam keraguan. Masuklah Wilis. Seseorang memerlukan kau datang. Mudah-mudahan kau membawa udara segar baginya.

Meskipun Rara Wilis masih tetap ragu, namun ia pun perlahan-lahan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Perlahan-lahan seperti orang yang masuk ke daerah yang sama sekali asing baginya.
Ketika Rara Wilis bergerak, Mahesa Jenar melangkah pula menjauhi pintu itu. Ruangan yang semula dipergunakan Panembahan Ismaya untuk menerima rombongan itu, kini telah sepi. Tak seorang pun berada di sana. Panembahan Ismaya, Kanigara, Arya Salaka dan Karang Tunggal, bahkan Widuri pun telah tidak nampak lagi.

Bagaimanapun Mahesa Jenar mencoba untuk mengendapkan perasaannya namun terasa seolah-olah sesuatu melonjak-lonjak di dalam dadanya. Karena itulah ia dengan gelisah berjalan mondar-mandir seperti laki-laki yang gelisah menanti kelahiran anak pertamanya.

Beberapa kali ia mencoba melupakan kegelisahannya dengan mengamati berbagai benda yang menghiasi ruangan itu. Beberapa patung kecil, tergantung beberapa macam clupak lampu minyak kelapa. Di tiang-tiang ruangan itu tampak juga bergantungan beberapa macam topeng dari berbagai jenis.

Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat memperhatikan benda-benda itu satu demi satu. Meskipun ia melihat semuanya itu, namun seolah-olah tidak sadar pada penglihatannya. Bahkan kemudian dengan lesunya dibantingnya dirinya pada sebuah batu hitam tempat duduk di dalam ruangan yang sepi itu.

Di luar, matahari yang terik seakan-akan membakar padas-padas pegunungan yang memantulkan sinarnya kemerah-merahan. Daun-daunan yang menjadi tertunduk lesu seperti segan memandang sinar matahari yang agaknya tak bersikap bersahabat. Beberapa daun kering meluncur lepas dari pegangannya oleh ketuaannya, dan berguguran di tanah.

Mata Mahesa Jenar lepas lewat pintu langsung menusuk ke daerah matahari yang silau, terbanting di batu-batu padas yang kepanasan. Alangkah panasnya udara. Beberapa tetes peluh menetes dari dahinya. Kemudian dengan lesu pula Mahesa Jenar berdiri dan melangkah ke arah pintu keluar.

Di depan pintu ia tertegun heran. Pada mula-mula ia datang ke padepokan itu, di ruang ini pula ia mengagumi pertamanan yang asri, yang terbentang di hadapan rumah kecil itu. Bahkan ia mengagumi pula kesejukan udara yang dilemparkan oleh pepohonan yang pepat rimbun itu ke dalam rumah.

Tetapi kenapa tiba-tiba sekarang udara di sini menjadi panas sekali? Akhirnya ia sadar bahwa udara yang panas itu tidak dilontarkan oleh udara pegunungan kecil itu, tetapi agaknya ditimbulkan dari dalam dirinya sendiri yang gelisah.

Tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut, ketika ia menoleh dilihatnya Rara Wilis berlari keluar ruangan dan menjatuhkan dirinya di atas tempat duduk batu hitam. Seterusnya ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya.

Melihat keadaan itu, Mahesa Jenar menjadi bertambah gelisah. Cepat-cepat ia memasuki ruangan tempat Sarayuda berbaring. Tetapi ia menjadi agak tenang ketika melihat Sarayuda masih bernafas dengan teratur. Bahkan ketika ia melihat Mahesa Jenar datang kepadanya, dengan tersenyum ia berkata, Aku bertambah segar, Mahesa Jenar.

Syukurlah Sarayuda, jawab Mahesa Jenar singkat.
Bagiku, semuanya telah selesai, sambung Sarayuda.

MAHESA JENAR memandang wajah Sarayuda dengan tajamnya. Senyumnya masih saja membayang di wajahnya yang sudah menjadi kemerah-merahan.

Aku mengharap demikian, jawab Mahesa Jenar, tetapi hatinya terasa pedih.
Kemudian Sarayuda berkata, Mahesa Jenar, sekarang aku akan dapat tidur nyenyak. Mudah-mudahan aku lekas sembuh dan dapat kembali ke Gunung Kidul, meskipun kekuatanku belum pulih benar.

Aku ikut berdoa, Sarayuda, sahut Mahesa Jenar kosong, sekosong dadanya saat itu.

Sarayuda menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia berusaha untuk memejamkan matanya.

Dengan gerak-gerak yang kaku, Mahesa Jenar melangkah keluar dari ruangan itu. Sampai di depan pintu kembali ia melihat Rara Wilis masih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan tak sengaja Mahesa Jenar berjalan mendekatinya.

Kemudian hampir berbisik Mahesa Jenar bertanya, Kenapa kau menangis Wilis…?

Mendengar suara Mahesa Jenar, tangis Rara Wilis agak mereda. Dengan isak yang ditahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya yang basah memandang Mahesa Jenar dengan persoalan. Meskipun demikian hati Mahesa Jenar masih saja berdebar-debar memandang wajah yang basah itu, seperti memandang bulan disaput awan. Tetapi Rara Wilis tidak menjawab pertanyaan Mahesa Jenar. Sehingga beberapa saat mereka saling berdiam diri.

Kakang… akhirnya terdengar Rara Wilis berkata, Alangkah sulitnya hidup yang harus aku tempuh. Banyak masalah yang berkembang diluar kemauanku sendiri.

Memang demikianlah agaknya, jawab Mahesa Jenar. Banyak hal yang harus kita lakukan, meskipun kadang-kadang bertentangan dengan perasaan sendiri. Namun demikian setiap perbuatan hendaknya dilandasi dengan tujuan yang bersih. Demikianlah apa yang akan kita lakukan nanti. Dan demikian pulalah keputusanku.

Rara Wilis mengerutkan keningnya. Matanya yang mengaca itu tiba-tiba memancarkan pertanyaan-pertanyaan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mahesa Jenar. Sehingga kemudian Rara Wilis terpaksa bertanya, Apakah maksudmu Kakang?

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan Rara Wilis. Malah ia bertanya, Wilis, apakah kau menangis karena sedih atau karena kau terharu atas masa depanmu yang gemilang?

Rara Wilis menggelengkan kepala. Kemudian jawabnya, Aku tidak tahu Kakang.

Mata Mahesa Jenar kemudian menatapnya tajam-tajam, seperti akan menembus dada Wilis. Dada seorang gadis yang sedang bergelora. Yang sejenak kemudian meneruskan kata-katanya, Kakang… aku bergaul dengan Kakang Sarayuda sejak kecil. Aku mengenalnya sebagai seorang yang paling dekat diantara kawan-kawanku. Apalagi kemudian setelah meningkat lebih besar lagi, menjelang masa dewasa kami. Ia selalu dekat dengan Kakek.

Kemudian Sarayuda lenyap dari kampung halaman kami. Ternyata ia ikut dengan Kakek dan berguru kepadanya. Pada suatu saat ia muncul kembali di kampung kami. Sarayuda telah berubah menjadi seorang pemuda yang perkasa.
 Ia datang untuk mengusir perempuan yang mengganggu ketenteraman kami. Mengganggu ayah serta keluarga kami. Agaknya ia mendapat tugas dari Kakek. Tetapi sayang, ia datang terlambat. Ayah telah pergi meninggalkan kami bersama perempuan jahat itu, yang ternyata kemudian menetap di Gunung Tidar dan menamakan diri mereka suami-istri Sima Rodra muda di bawah perlindungan Sima Rodra tua dari Lodaya.
 Sejak saat itu Sarayuda sekali datang, sekali lenyap kembali. Namun agaknya ia dapat merebut hati seluruh penduduk daerah kami. Ternyata kemudian ia terpilih menjadi Demang.

Mendengar cerita itu tubuh Mahesa Jenar menjadi gemetar. Dadanya berdesir hebat. Setiap kata Rara Wilis tentang keperkasaan Sarayuda, bahkan setiap kata yang menyebut nama laki-laki itu terasa seperti ujung-ujung duri yang menusuk-nusuk jantungnya. Dan tiba-tiba saja ia seperti orang yang ingin melarikan diri dari cerita itu. Cepat-cepat ia melangkah ke pintu dan dengan kakunya berdiri berpegangan uger-uger-nya seolah-olah ia takut bila kakinya yang bergetar itu tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya.

Rara Wilis mengikutinya dengan sinar yang memancar dari matanya yang bulat. Tetapi ia tidak tahu apakah yang menggelegak di hati laki-laki itu. Karena itu ia masih melanjutkan ceritanya, Kemudian datanglah masa itu. Masa dewasa kami, masa dimana dada kami dipenuhi impian-impian masa depan. Tetapi sebagian dari masa itu sama sekali tak dapat aku nikmati.
Sebab masa-masa itu aku sedang dihadapkan pada suatu kenyataan pahit. Ibuku meninggal dunia. Dan aku terpaksa meninggalkan kampung halaman, mencari kakekku untuk menyangkutkan diri dalam limpahan kasih sayang. Seperti pada masa kanak-kanakku. Akhirnya aku bertemu kembali dengan Sarayuda. Dan seperti yang Kakang ketahui, Kakang Sarayuda mengharapkan sesuatu dariku, tidak sebagai adik seperguruannya, tetapi sebagai seorang laki-laki terhadap seorang wanita.

Kata-kata Rara Wilis itu bagi Mahesa Jenar terasa menusuk jantungnya semakin pedih. Sehingga kemudian dengan suara gemetar, tanpa menoleh ia menyahut, Perasaan yang lumrah, yang dapat timbul di dalam setiap dada.

Ya, potong Rara Wilis. Perasaan yang lumrah. Dan perasaan itu sedemikian dalamnya menggores di hati Kakang Sarayuda.

Sekarang Mahesa Jenar tidak kuasa lagi menahan perasaannya. Ia telah bertekad untuk meninggalkan impiannya terhadap gadis yang baginya memiliki keindahan yang tanpa cela itu. Tetapi untuk mendengarkan cerita itu terasa seolah-olah keindahan yang telah dilepaskannya itu diperagakan di hadapannya.

TIBA-TIBA Mahesa Jenar membalikkan tubuh, dan dengan mata yang tajam ia memandang Rara Wilis yang menjadi keheran-heranan melihat sikap Mahesa Jenar. Apalagi kemudian terdengarlah suaranya menggeram, Wilis, katakan… katakanlah kepadaku bahwa kau juga mencintainya. Dan kau menerima keadaan ini dengan dada terbuka, bahkan kau merasa bahwa kau menghadapi masa gemilang. Masa yang bahagia sebagai istri Demang yang kaya raya, yang disuyuti oleh beribu-ribu orang.

Kemudian terdengar suara Mahesa Jenar merendah, Wilis… aku akan ikut bahagia bila aku melihat kau menjadi bahagia. Bahkan aku siap untuk berbuat apapun untuk ikut serta mempertahankan kebahagiaanmu itu, kalau seandainya orang-orang semacam Jaka Soka mengganggu ketenteraman hidupmu.

Setelah itu Mahesa Jenar tidak kuasa lagi meneruskan kata-katanya. Namun kata-kata itu ternyata sangat mengejutkan hati Rara Wilis, sampai ia meloncat berdiri dengan wajah yang memancarkan seribu satu pertanyaan. Demikianlah untuk sesaat Rara Wilis tidak tahu apa yang akan dikatakan. Baru kemudian terdengarlah ia berkata dengan bibir yang gemetar, Kakang, apakah kata-kataku tidak pada tempatnya…?

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Dan dengan suara yang gemetar ia menjawab, Aku akan dapat menyaksikan kau berbahagia, Wilis. Tetapi aku tidak dapat mendengar itu dari kau sendiri. Aku minta janganlah kau menambah hatiku jadi terpecah-pecah.

Kening Rara Wilis jadi berkerut. Tiba-tiba ia mengerti apa yang tersimpan di dalam hati Mahesa Jenar. Namun demikian ia ingin meyakinkan, Kakang Mahesa Jenar… apakah yang telah terjadi padamu…? Adakah kau bermaksud melarikan diri…?

Mahesa Jenar tersentak. Melarikan diri…? desisnya.

Mata Rara Wilis jadi bercahaya. Namun cahayanya bukan cahaya yang bening, tetapi cahaya yang memancarkan kepedihan yang tumbuh di hatinya. Lalu katanya, Kau akan mengulangi kata-katamu beberapa tahun yang lalu? Akan kau katakan juga sekarang bahwa kau akan menjadi seorang pahlawan dalam bercinta. Kakang, kita sudah bertambah dewasa. Umur kita telah melampaui masa yang seindah-indahnya dalam hidup kita.
Dan sekarang kau masih terbenam dalam cahaya purnama yang baru mengembang. Kakang, haruskah aku mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak berakar di dalam dadaku, karena aku ingin menuruti kemauanmu. Tidak Kakang.
Ketahuilah bahwa sejak kepergianmu tanpa pamit beberapa tahun yang lalu, aku sudah mencobanya. Mencoba mengisi sebagian hatiku yang lenyap bersamamu dengan seorang yang bernama Sarayuda. Tetapi aku tidak berhasil Kakang. Kakang Sarayuda bagiku adalah saudara tua yang penuh kasih sayang kepada adiknya. Dan tahukah kau apa yang baru saja dikatakan kepadaku…?

Mahesa Jenar seperti terpaku berdiri di tempatnya. Kata-kata Rara Wilis itu dengan tajamnya menusuk menembus tulang sungsum. Tetapi bersamaan dengan itu, tumbuh pula di dalam dadanya suatu perasaan yang melonjak-lonjak, sehingga tubuhnya kemudian menjadi menggigil. Dari mulut Rara Wilis sendiri sekarang ia mendengar, bahwa gadis itu menaruh harapan sepenuhnya kepadanya. Tetapi justru karena itulah malahan ia terbungkam, sampai kembali terdengar suara Rara Wilis meneruskan, Kakang Mahesa Jenar, aku tidak peduli apakah yang akan kau katakan tentang diriku. Tetapi aku merasa bahwa beban yang menyumbat dadaku kini telah aku tuangkan. Seluruhnya. Dan dadaku kini telah terbuka bagimu. Terserahlah kepadamu akan nilai-nilai yang kau berikan kepadaku. Kepada seorang gadis yang membuka hatinya kepada seorang laki-laki, di hadapan wajahnya.

Wilis… desis Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat meneruskan sebab kembali Wilis memotong, Nah Kakang. Sekarang kalau kau akan pergi, pergilah. Tinggalkan aku sendiri. Katakan kepada bukit-bukit kecil itu, kepada karang-karang dan batu-batu, kepada angin dan pepohonan, kepada bulan dan bintang, bahwa seorang laki-laki telah pergi dengan hati terpecah belah untuk memberi kesempatan orang lain menikmati kebahagiaan, sedang orang lain itu sama sekali tidak menghendaki. Tetapi jangan katakan hal itu kepada seseorang yang akan kau jumpai dalam pelarianmu, sebab kau akan ditertawakan. Mungkin orang itu akan mengikutimu untuk melihat kapan kau akan membunuh dirimu.

Wilis… potong Mahesa Jenar hampir berteriak. Namun kali inipun suara Rara Wilis mengatasinya, Jangan takut melihat bayangan wajahmu yang pucat, serta jangan takut kau melihat hatimu yang sama sekali tidak memancarkan kejujuran.

Mahesa Jenar tertunduk lesu. Ia tidak ingin memotong kata-kata gadis itu lagi. Bahkan sekarang, ia melihat pada sorot mata Rara Wilis, bayangan tentang dirinya. Tentang seorang laki-laki yang berkelana di padang yang tandus, penuh batu-batu karang yang tajam dan pendakian yang terjal di bawah terik matahari yang membakar kulitnya yang berwarna tembaga. Yang dalam kehausan, melemparkan seteguk air yang segar dingin dari mangkuk ditangannya. Tetapi kemudian laki-laki itu sendiri menjadi hampir mati kehausan.

Tidak, katanya tiba-tiba. Aku tidak menuang air itu di atas batu-batu yang mati. Tetapi aku tuangkan air itu ke dalam mulut seseorang yang hampir mati kehausan pula.

Rara Wilis mencoba menangkap kata-kata yang tiba-tiba saja terlontar dari mulut Mahesa Jenar itu. Namun dalam sesaat ia telah dapat mengerti maksudnya. Karena itu ia menyahut. Lalu kau sendiri yang akan mati. Tetapi jangan harapkan seseorang datang padamu dan menaburkan bunga di atas tubuhmu.

Mahesa Jenar tidak dapat lagi menipu dirinya sendiri. Ia tidak lagi dapat memungkiri kata-kata Rara Wilis. Namun demikian ia berusaha untuk mematahkan pengakuannya itu. Dengan wajah yang tegang kaku ia memutar tubuhnya membelakangi Rara Wilis lalu cepat-cepat ia ingin meninggalkan ruangan itu. 

TIBA-TIBA Mahesa Jenar mendengar isak yang seolah-olah meledak begitu hebatnya. Ketika ia sekali lagi menoleh, ia melihat Rara Wilis sambil menangis terduduk di atas sebuah batu hitam yang beralaskan kulit kayu. Dan kembali kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang basah karena air mata.

Melihat keadaan itu Mahesa Jenar tertegun sejenak. Bahkan diluar sadarnya perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya. Namun ia menjadi bertambah bingung, dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Maka kemudian yang dapat dikatakannya hanyalah beberapa kata yang serak, Wilis, kenapa kau menangis lagi?

Sekali ini, seolah-olah Rara Wilis tidak mendengar kata-katanya, bahkan tangisnya menjadi semakin keras. Dan karena itu Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah.

Wilis, katanya kemudian sekenanya saja, Jangan menangis demikian. Apabila seseorang melihat keadaanmu itu, maka akan timbul berbagai prasangka yang mungkin kurang menyenangkan.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Rara Wilis mencoba mengangkat wajahnya. Meskipun tangisnya masih belum berhenti.

Diantara isaknya terdengar ia berkata, Kakang, aku tidak akan menahanmu lagi. Pergilah seandainya itu akan membawa kepuasan bagimu.

Hati Mahesa Jenar sekali lagi terlonjak. Namun ia melihat bahwa apa yang diucapkan oleh Rara Wilis itu sama sekali bukanlah yang dimaksud sebenarnya. Karena itu ia bertanya, Begitukah yang kau kehendaki Wilis…?

Bibir Rara Wilis bergerak melukiskan sebuah senyum yang pahit diantara tangisnya. Lalu jawabnya, Aku mencoba berbuat seperti apa yang kau lakukan. Menipu diri sendiri.

Kata-kata itu tepat menyusup ke dalam relung hati Mahesa Jenar yang paling dalam. Sekarang benar-benar ia tidak dapat melarikan diri lagi. Ia merasa seperti seseorang yang terjun ke dalam arena perkelahian, yang harus memilih salah satu diantara dua, membunuh atau dibunuh.

Tetapi tiba-tiba ia teringat kata-kata Rara Wilis tentang Sarayuda. Maka dengan serta merta ia bertanya Wilis, kau tadi bertanya kepadaku, apakah aku tahu apa yang dikatakan oleh Sarayuda?

Rara Wilis mengangguk.

Tentu aku tidak tahu Wilis, sambung Mahesa Jenar, Kau mau mengulang kata-kata itu…?

Tak ada gunanya, jawab Rara Wilis.

Mahesa Jenar tertegun sebentar, lalu katanya, Mungkin ada. Kalau kau tak berkeberatan katakanlah.
Rara Wilis memandang wajah Mahesa Jenar yang basah oleh keringat dingin itu dengan seksama, seolah-olah ia ingin melihat setiap garis yang tergores padanya. Kemudian dengan perlahan-lahan ia berkata, Kakang dengarlah apa yang dikatakan Kakang Sarayuda kepadaku. Memang semula aku ingin mengatakan kepadamu, dan aku sudah mengambil ancang-ancang. Sebab aku adalah seorang gadis. Tetapi agaknya hatimu terlalu mudah tersentuh sehingga aku terpaksa melampaui batas-batas keterbukaan hati seorang gadis.

Rara Wilis berhenti sejenak, lalu meneruskan, Kakang, tadi Kakang Sarayuda berkata kepadaku, bahwa aku harus memaafkannya atas segala perlakuannya yang telah melampaui perlakuan seorang kakak terhadap adiknya. Ia mengharap bahwa aku akan dapat melupakan itu semua, sebab katanya, … sepantasnya ia menjadi kakak yang baik.

Mahesa Jenar mendengar kata Rara Wilis itu seperti beratus guntur yang menggelegar di depan telinganya. Bahkan kemudian seolah-olah ia menjadi orang yang lelap terbenam dalam alam impian. Dan di dalam mimpi itu ia mendengar suara Rara Wilis meneruskan, Tetapi, Kakang, aku tahu bahwa hatinya remuk karena itu. Ia mencintaiku sejak lama.

Sejak kami meningkat dewasa. Namun agaknya suatu kenyataan harus dihadapinya. Yaitu, bahwa ia bersaing dengan orang yang tidak dapat dikalahkannya dengan jalan apapun juga. Karena itu, sebagai seorang laki-laki yang dapat mengukur dirinya, serta seorang laki-laki yang hidupnya berjejak di atas tanah, dengan ikhlas ia berkata kepadaku, … Wilis, pilihlah jalanmu sendiri. Jangan hiraukan aku.

Rara Wilis berhenti sejenak menelan ludahnya, baru ia meneruskan. Tetapi Kakang, aku melihat keikhlasan membayang di wajahnya. Setelah ia berceritera tentang kesalahan yang dilakukannya dengan tidak menghiraukan nasehat kakek dan sebagainya, ia akhiri kata-katanya, … Wilis, mudah-mudahan kau menemukan hari depan yang gemilang.

Sekali lagi Rara Wilis berhenti. Terasa di lehernya sesuatu yang menyumbat, sehingga dengan terputus-putus ia meneruskan, Aku menjadi kasihan kepadanya kakang, justru karena ia melepaskan aku dengan penuh keikhlasan. Namun aku tidak dapat memaksa diriku untuk menganggapnya lain daripada seorang kakang yang baik. Mahesa jenar masih berdiri seperti patung, namun suatu pergolakan yang dahsyat berputar di dalam dadanya. Suatu gejolak perasaan yang melanda dinding-dinding jantungnya sehingga seolah-olah akan pecah karenanya. 

KEMUDIAN terdengar Rara Wilis meneruskan, Kemudian Kakang di sini, di hadapanku, dimana aku menaruh suatu harapan atas masa depan. Di sini aku berada dalam keadaan yang sebaliknya. Kepadamu aku selalu mencoba untuk melenyapkan setiap kenangan. Apalagi setelah Kakang Mahesa Jenar membunuh ayahku yang selama ini aku cari. Tetapi kembali aku tidak dapat memaksa diriku menutup suatu kenyataan di dalam diriku atas kenangan yang muncul dalam setiap saat.

Kenangan yang menjadi semakin jelas apabila aku berusaha untuk melenyapkannya. Tetapi aku ternyata menjumpai suatu kenyataan yang lain. Aku melihat sekali lagi, atas apa yang pernah aku alami. Seseorang telah berusaha melepaskan aku lagi. Namun bedanya, keikhlasanmu lain dengan keikhlasan Kakang Sarayuda.

Dimana pada saat terakhir Kakang Sarayuda telah menemukan cahaya yang menyoroti hatinya, yang dengan demikian ia dapat membaca perasaan yang tergores di dalam dadaku. Tetapi kau, Kakang…, kau mencoba untuk menghapus goresan itu. Bahkan goresan di dalam dadamu sendiri, dan menggantinya dengan bunyi-bunyi yang lain.

Suara Rara Wilis kemudian tenggelam dalam tangisnya.

Mahesa Jenar tiba-tiba seperti terbangun dari kelelapannya. Dengan penuh gejolak di dalam dadanya, tiba-tiba ia meloncat dan berlari ke dalam ruangan dimana Sarayuda terbaring. Apa yang dikatakan Rara Wilis tentang laki-laki itu sangat berkesan di hatinya. Bahkan dengan demikian ia menjadi ingin mendengarnya dari mulut Sarayuda sendiri.

Mendengar langkah Mahesa Jenar, Sarayuda membuka matanya. Dan ketika dilihatnya Mahesa Jenar berdiri di sampingnya dengan nafas yang terengah-engah, tergoreslah sebuah senyuman di bibir Sarayuda. Senyum yang memancar dari lubuk hatinya.

Sarayuda… terloncatlah kata-kata yang terbata-bata dari mulut Mahesa Jenar. Kenapa kau lakukan itu…?

Senyum Sarayuda semakin jelas membayang wajahnya yang jernih. Kemudian jawabnya lirih, Kau keberatan…?

Mahesa Jenar tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan nafasnya menjadi semakin cepat mengalir.

Mahesa Jenar… bisik Sarayuda, Akhirnya aku merasa bahwa kata-katamu mengandung kebenaran. Yang kita persoalkan adalah seseorang yang memiliki perasaan seperti kita.
Karena itu, akhirnya aku insaf bahwa aku adalah seorang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Yang melihat segala masalah seolah-olah berkisar di sekitar dan berpusat pada diriku. Namun syukurlah bahwa Tuhan memberi petunjuk, sehingga aku menemukan jalan yang wajar.

Mahesa Jenar menundukkan kepala, dan dari bibirnya terdengarlah ia berkata, Sarayuda, aku telah salah sangka terhadapmu.

Sarayuda tertawa perlahan, lalu katanya, Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Wilis. Kakang Mahesa Jenar, jangan lukai hatinya. Ia mempunyai lagi sangkutan kasih sayang, selain kakeknya yang tua itu. Sedang darimu ia mengharapkan kesegaran cinta yang selama ini hanya pernah didengarnya dari cerita-cerita kesejukan cinta antara Kama dan Ratih, antara Arjuna dan Sumbadra, antara Panji dan Kirana.

Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian seolah-olah ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan mencoba memenuhi permintaan Sarayuda itu.

Nah, Mahesa Jenar… Sarayuda meneruskan, Datanglah kepadanya. Kalau kau mau melaksanakan pesanku, aku akan menjadi lekas sembuh. Dan aku akan dapat menyaksikan hari bahagiamu yang akan datang.

Terimakasih Sarayuda, jawab Mahesa Jenar kaku.

Lalu perlahan-lahan seperti orang yang kehilangan kesadaran ia berjalan keluar. Ketika ia melangkah pintu, ia melihat Rara Wilis masih duduk di atas batu hitam itu. Namun tiba-tiba gadis itu di matanya telah berubah menjadi permata yang gemilang, permata yang melekat pada sebuah cincin yang seakan-akan telah melingkar di jarinya.

Rara Wilis yang mendengar langkah Mahesa Jenar, menoleh pula ke arah pintu. Ia pun terkejut ketika melihat wajah Mahesa Jenar yang menjadi cerah, seperti cerahnya langit musim kemarau. Ia sudah berpuluh bahkan beratus kali melihat wajah itu. Wajah yang memancarkan sifat-sifat kejantanan yang lembut. Tetapi kali ini seolah-olah ia menemukan sesuatu yang lain pada wajah itu. Menemukan yang selama ini dicarinya.

Tiba-tiba Rara Wilis tersadar. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Malu kepada penemuannya.

Meskipun kemudian tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, namun ratusan bahkan ribuan kalimat yang menggetar di udara langsung menyentuh hati masing-masing. Sehingga dalam keheningan itu terjalinlah suatu ikatan yang semakin teguh antara dua buah hati yang sebenarnya sudah sejak lama bertemu.

Di luar terdengar burung-burung berkicau dengan riangnya. Nyanyiannya membubung tinggi, hanyut bersama angin pegunungan, menyapu wajah padepokan yang tenang sejuk itu.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang bening, disusul dengan langkah-langkah kecil berlari-larian. Lalu terdengarlah suara kerikil berjatuhan.

Bukan salahku, teriak suara yang nyaring.

Jangan nakal Widuri, jawab suara yang lain.

Widuri tidak menjawab, tetapi suara tertawanya yang renyah kembali menggetar, dan kembali terdengar langkahnya berlari-lari.

Sampai di depan pintu, Widuri tertegun. Dilihatnya Rara Wilis dan Mahesa Jenar masih di tempatnya masing-masing seperti patung. Bahkan gadis kecil itu melihat mata Rara Wilis masih kemerah-merahan.

WIDURI jadi bingung. Meskipun perasaannya masih belum begitu tajam, namun ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu sehingga Rara Wilis terpaksa menangis. Mungkin karena pertengkaran, mungkin sebab-sebab lain. Dalam kebingungan itu terdengarlah suara Rara Wilis perlahan-lahan memanggilnya,
“Widuri… kemarilah.”

Perlahan-lahan Widuri berjalan dengan penuh keraguan mendekati Rara Wilis. Ia menjadi bertambah bingung lagi, ketika tiba-tiba Rara Wilis meraihnya dan memeluknya erat-erat. Bahkan kemudian kembali terdengar Rara Wilis menangis tersedu-sedu.

Dengan matanya yang bulat, bening dan penuh pertanyaan, Widuri memandang dengan sudut matanya, ke arah Mahesa Jenar dan Rara Wilis berganti-ganti. Namun ia sama sekali tidak berani menanyakan sesuatu. Juga kemudian ketika Rara Wilis berdiri dan menggandengnya berjalan keluar dari ruangan itu.
Sampai di depan pintu, Rara Wilis berhenti sejenak. Lalu kepada Mahesa Jenar ia berkata dengan kepala tunduk, “Kakang, aku akan beristirahat dulu.”

“Beristirahatlah,” jawab Mahesa Jenar.

Lalu hilanglah Wilis di balik pintu. Berbagai perasaan menghentak-hentak dadanya. Ia merasa bahwa hidup yang terbentang di hadapannya adalah suatu kehidupan yang cerah.

Matahari yang bulat di langit masih memancarkan sinarnya yang terik bertebaran di tanah yang kemerahan. Namun sekarang Mahesa Jenar tidak lagi merasakan bahwa udara padepokan itu terlalu panas. Bahkan kembali ia dapat mengagumi keindahan taman-taman yang asri dan hijau, yang di sana-sini diseling dengan warna-warna yang beraneka dari berbagai macam bunga. Ketika dilihatnya diantara bermacam-macam bunga itu terselip bunga melati, teringatlah ia pada kebiasaannya dahulu, yang karena keadaan menjadi agak terlupakan. Dengan tanpa sengaja tiba-tiba bunga itu telah berada di tangannya, yang kemudian diselipkan pada ikat kepalanya, di atas telinga kanannya.

Kemudian dengan segarnya Mahesa Jenar menghirup udara pegunungan sepuas-puasnya.

Demikianlah, matahari yang beredar di garisnya yang telah condong ke barat. Beberapa orang cantrik tampak berjalan mendekati pondok itu. Ketika mereka sudah berdiri dekat di depan Mahesa Jenar, segera mereka membungkuk hormat.

“Tuan…” kata salah seorang diantaranya, “Panembahan minta Tuan untuk datang makan siang.
Sementara itu seorang cantrik yang lain diperintahkan untuk menyajikan makan buat Sarayuda yang sedang terluka.”

“Masuklah,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi agaknya ia masih belum dapat bangun. Rawatlah ia baik – baik.”

Sekali lagi cantrik itu mengangguk. Salah seorang diantaranya kemudian masuk dengan semangkuk bubur. Sedangkan yang lain kemudian mengajak Mahesa Jenar pergi makan siang.

Demikianlah, hari itu terasa begitu cepat berjalan. Dengan tak terasa, matahari telah jauh menurun mendekati cakrawala. Warna-warna merah yang tersirat dari matahari bertebaran memenuhi langit. Namun sejenak kemudian permukaan bumi tenggelam dalam kehitaman yang menyeluruh.

Di dalam pondok kecil, di bawah sinar lampu minyak kelapa yang berkedip-kedip digoyang angin, duduklah melingkar di atas bale-bale bambu, Panembahan Ismaya, Ki Ageng Pandan Alas, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karang Tunggal, dan Arya Salaka.

Mereka berbicara dengan riuhnya, melingkar dari satu masalah ke masalah lain. Dari satu cerita ke cerita lain. Sehingga akhirnya setelah mereka kelelahan bercerita dan mendengarkan, menyelalah Putut Karang Tunggal, “Panembahan Ismaya serta Paman Kanigara, aku rasa bahwa aku sudah terlalu lama tinggal di padepokan ini. Hal-hal yang dapat aku pelajari sudah cukup banyak. Karena itu, aku ingin mohon diri untuk meninggalkan padepokan ini. Memenuhi anjuran seorang wali yang bijaksana, untuk mengabdikan diri ke Demak. Mungkin aku akan mendapat panjatan, setidak – tidaknya untuk mengabdikan diriku.”

Panembahan Ismaya dan Kanigara bersama-sama mengangguk-angguk. Maka terdengarlah Panembahan itu menjawab sambil tersenyum, “Bekalmu telah cukup Karang Tunggal. Pengetahuan mengenai ketrapsilaan, mengenai keteguhan hati dan perasaan, juga engkau telah banyak menerima petunjuk mengenai adat dan tatacara dari pamanmu Kanigara. Karena itu sebenarnya aku tidak keberatan lagi kalau kau akan mengabdikan dirimu. Pergilah. Hanya sayang bahwa penyakitmu masih saja sering kambuh.”

Karang Tunggal menundukkan kepala. Namun terdengarlah ia berkata, “Mudah-mudahan aku dapat menjaganya.”

Dengan tertawa kecil Kanigara menyahut, “Kalau kau tidak dapat menyembuhkan penyakitmu itu, Karang Tunggal, penyakit menuruti hatimu sendiri, mungkin akan menemukan kesulitan.”

“Aku akan berusaha sekuat tenaga, Paman,” jawab Karang Tunggal. 

“Mudah-mudahan aku selalu mendapat tuntunan Allah Yang Maha Agung.”

Demikianlah pada malam itu. Seluruh isi Padepokan Karang Tumaritis berkumpul bersama-sama untuk melepaskan Karang Tunggal pada keesokan harinya, pergi meninggalkan pedukuhan itu, untuk kembali ke Pengging dan seterusnya ke pusat Kerajaan, Demak.

Tidak lupa pula Putut Karang Tunggal, yang nama sebenarnya adalah Karebet dan sering juga dipanggil Jaka Tingkir, maka Kanigara menuntun Arya Salaka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan Karang Tunggal. Meladeni keperluan-keperluan Panembahan Ismaya dalam pekerjaan sehari-hari, sebagai seorang Panembahan. Mengatur pekerjaan para cantrik, baik di dalam maupun di luar padepokan.

KI AGENG Pandan Alas masih tetap tinggal di padepokan untuk menunggui muridnya yang sedang sakit. Namun semakin hari tampaklah bahwa luka-luka Sarayuda menjadi semakin baik berkat perawatan yang seksama dari Panembahan Ismaya.

Sejalan dengan itu, dengan perkembangan kesehatan Sarayuda, Mahesa Jenar pun bertambah gelisah. Sikapnya menjadi bertambah kaku terhadap Ki Ageng Pandan Alas. Ada sesuatu yang tersimpan di dalam dadanya, namun agak sulit baginya untuk menyampaikannya kepada orang tua itu. Meskipun ia insaf bahwa apabila Sarayuda telah sembuh, meskipun belum pulih benar, pastilah Ki Ageng Pandan Alas akan meninggalkan padepokan itu.

Hal itu akhirnya terjadi juga. Pada suatu hari Ki Ageng Pandan Alas menyatakan bahwa kini Sarayuda telah sehat. Ia telah mampu untuk menempuh perjalanan pulang ke Gunung Kidul bersama Ki Ageng. Bahkan karena perawatan yang baik, maka Sarayuda telah benar-benar hampir pulih kembali.

Dalam keadaan yang demikian, Mahesa Jenar tidak dapat menunda-nunda lagi. Bagaimanapun sulitnya, ia terpaksa menuangkan segala masalah yang selama ini tersimpan di dalam dadanya, kepada orang tua itu. Masalah yang tidak dapat dipersoalkan dengan orang lain.

Maka kemudian Mahesa Jenar memerlukan untuk mendapatkan waktu, menemui orang tua itu seorang diri. Dan dengan kaku ia menyampaikan persoalan antara dirinya dengan cucu Ki Ageng Pandan Alas, yang bernama Rara Wilis.

“Mahesa Jenar…” jawab Pandan Alas sambil tersenyum, “Aku sudah mendengar semua itu dari Sarayuda. Sebenarnya bagiku tidak ada lagi masalah yang dapat mengganggu hubunganmu dengan Wilis. Kalau semula aku dibingungkan oleh kepentingan muridku, ternyata kini dengan ikhlas Sarayuda telah mengundurkan diri dari persoalan ini.”

Mendengar keterangan Ki Ageng Pandan Alas itu, Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepala. Ia pun telah menduga sebelumnya bahwa jalan yang akan ditempuhnya telah rata.

“Seterusnya, Mahesa Jenar…” lanjut Ki Ageng Pandan Alas, “Terserahlah kepadamu berdua. Jalan manakah yang akan kau tempuh. Sebab masa depanmu terletak di tanganmu.”

“Ki Ageng…” jawab Mahesa Jenar, “Aku telah bersepakat dengan Rara Wilis, bahwa kami akan menempuh hidup bersama. Namun demikian, di hadapanku masih terbentang suatu kewajiban yang berat. Kewajiban yang memebutuhkan segenap tenaga serta pengetahuanku. Karena itu kami telah sama-sama menyetujui untuk menunda tali perkawinan kami sampai kewajiban itu selesai, meskipun seandainya umur kami menjadi bertambah juga. Bahkan Wilis pun telah berjanji untuk ikut serta bekerja keras dalam penyelesaian kewajiban itu.”

Ki Ageng Pandan Alas mengerutkan kening. Tampaklah bahwa ia sedang berpikir. Kemudian jawabnya, “Terserahlah kepadamu Mahesa Jenar. Kau telah cukup dewasa, bahkan terlalu dewasa untuk mengatur dirimu. Tetapi apakah kewajiban yang kau maksud itu berhubungan dengan kedua keris yang sekarang ini kau cari…?”

Mahesa Jenar mengangguk, lalu jawabnya, “Benar, Ki Ageng. Selama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten belum aku ketemukan, selama itu aku harus membelakangi kepentingan diri. sebab akibat dari penemuan pusaka itu akan besar sekali. Keteguhan Kerajaan Demak, dan sekaligus pembebasan ayah Arya Salaka.”

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-anggukan kepala. Sekali lagi ia mengagumi ketetapan hati Mahesa Jenar atas beban yang telah diletakkan di pundaknya. Meskipun tak seorang pun dari Istana yang mungkin tahu akan perjuangannya, namun ia sama sekali tidak peduli.
Bagi Mahesa Jenar, yang penting bukanlah pujian atau perhatian orang lain atas kerja yang telah dilakukan. Tetapi benar-benar suatu pengabdian terhadap cita-cita. Ia sama sekali tidak mengharapkan bahwa kalangan Istana akan menyatakan terimakasih atas usahanya itu, apalagi mengharapkan hadiah dan penghormatan.

Karena itu Ki Ageng Pandan Alas menjawab, “Aku tahu pasti bahwa kau adalah seorang pejuang yang sepi ing pamrih. Karena itu tidak saja Wilis yang berjanji akan membantumu. Aku dan Sarayuda pasti akan ikut serta dalam perjuanganmu. Di sepanjang jalan pulang aku akan berusaha seperti apa yang kau usahakan.”

“Terimakasih Ki Ageng. Terimakasih atas segala kerelaan hati Ki Ageng,” sahut Mahesa Jenar.

“Nah, seterusnya terserah kepadamu. Tetapi aku ingin tahu, apakah Wilis akan pergi bersamaku ataukah ia akan bekerja bersamamu dalam usaha ini,” kata Ki Ageng Pandan Alas.
“Kalau Ki Ageng tidak keberatan,” lanjut Mahesa Jenar, “Biarlah ia dalam pilihannya. Tinggal di bukit ini untuk seterusnya bersama aku dan Arya Salaka, meneruskan pekerjaan kami.”

Pandan Alas mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya sambil tersenyum, “Kalau yang minta ijin kepadaku ini seorang pemuda yang sedang menginjak dewasa, serta bermata liar seperti mata burung hantu, aku pasti tak mengijinkan, cucuku seorang gadis untuk tinggal di sini. Tetapi kepadamu aku harus mempunyai keputusan lain. Sebab kau bukan anak-anak yang hanya pandai mematut diri.”

Mahesa Jenar tidak menjawab, namun wajahnya menjadi kemerah-merahan. Apalagi ketika Ki Ageng Pandan Alas kemudian meneruskan, “Meskipun demikian aku titip kepadamu, jaga anak itu baik-baik.”

Akhirnya Mahesa Jenar menjawab, “Akan aku jaga anak itu baik-baik seperti aku menjaga Arya Salaka, yang bahkan lebih dari diriku sendiri, meskipun aku mempunyai kepentingan berbeda atas kedua anak itu.”

Ki Pandan Alas tersenyum cerah. Sebagai seorang kakek yang sudah tua, ia merasa berbahagia ketika ia mengetahui bahwa cucunya telah mendapat sangkutan yang kuat, yang memiliki segala macam sifat manusia idaman. Lebih dari itu, Rara Wilis adalah satu-satunya orang di dunia ini yang akan melanjutkan aliran darah Ki Ageng Pandan Alas.

“Mahesa Jenar….”, lanjut Ki Ageng Pandan Alas, “Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Kau akan dapat menjaga Wilis lahir dan batin. Sebagaimana kau ketahui, Wilis adalah seorang anak yatim piatu. Dan aku adalah satu-satunya orang yang berkepentingan atas dirinya, sebelum kau.”

Pandan Alas berhenti sejenak. Lalu sambungnya, “Aku akan lebih berbahagia lagi dengan sebuah harapan bahwa aku akan mendapat seorang cicit yang akan menyambung saluran keluarga kami.”

Sekali lagi wajah Mahesa Jenar menjadi kemerah-merahan, namun sambil mengangguk ia menjawab, “Mudah-mudahan demikianlah apa yang akan terjadi Ki Ageng.”

Setelah Ki Ageng Pandan Alas memberikan berbagai pesan, kemudian sampailah waktunya masa perpisahan. Ki Ageng dan Sarayuda yang telah hampir sembuh benar dari penyakitnya, pergi meninggalkan bukit itu, untuk menempuh perjalanan kembali ke Gunung Kidul.

Sepeninggal mereka, padepokan di atas bukit kecil itu mengalami kehidupan seperti sediakala. Mahesa Jenar dan Arya Salaka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan suasana padepokan itu. Bahkan Arya Salaka beberapa waktu kemudian telah menjadi terampil dan cekatan mengganti pekerjaan Karang Tunggal. Juga Rara Wilis, meleburkan dirinya dalam kehidupan para endhang. Meskipun dalam saat-saat tertentu mereka memisahkan diri, untuk memperdalam ilmu kanuragan.

Dalam waktu-waktu luang, Arya Salaka masih selalu berlatih keras di bawah asuhan gurunya. Sekarang ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dalam sejarah perkembangan ilmunya ia pernah mengalami sisipan seorang guru lain, sebab Mahesa Jenar ternyata memiliki ilmu yang jauh lebih dahsyat daripada yang diduga semula. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di dalam goa itu juga gurunya menemukan inti dari segenap ilmu yang dipelajari sebelumnya.

Demikian pula agaknya Rara Wilis. Ketika ia melihat Mahesa Jenar dengan lincahnya menyambar dan membebaskan dirinya dari tangan Jaka Soka dan janda Sima Rodra, ia menjadi agak keheran-heranan. Bahkan waktu itu ia merasa agak aneh.

Kalau saja waktu itu dapat melihat dengan jelas dan orang yang membebaskannya itu tidak menyebut dirinya Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh, mungkin ia akan menyangkanya orang lain.
Tetapi sekarang ia justru menjadi yakin kalau orang itu benar-benar Mahesa Jenar, setelah ia melihat perkembangan ilmunya yang luar biasa.

Tetapi yang sama sekali tak mereka duga adalah keadaan seorang gadis kecil yang bernama Widuri. Gadis yang nampaknya hanya dapat berlari-lari, tertawa dan kalau mencubit sakitnya bukan main, namun ternyata bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang luar biasa pula, seperti saudara sepupunya, Karebet.

Hal ini ternyata pada suatu malam yang cerah, ketika Arya Salaka dengan tekunnya sedang melatih diri di bawah pengawasan gurunya, tiba-tiba datanglah Kanigara bersama anak gadisnya. Dan, dengan tidak terduga pula Kanigara berkata, “Arya, aku bawa kawan baik bagimu, daripada kau berlatih seorang diri atau terus-menerus dengan gurumu. Dengan demikian kau akan dapat melakukan berbagai macam percobaan dan penemuan-penemuan dari macam-macam pengalaman yang kau miliki, dengan kesegaran baru. Bukankah begitu, Mahesa Jenar…?”

Mahesa Jenar mengangguk kaku. Ia sama sekali tidak menduga bahwa gadis kecil itu memiliki ilmu yang cukup untuk berlatih bersama Arya Salaka. Namun demikian ia tidak bertanya apa-apa. Sebab ia yakin bahwa Kebo Kanigara pasti sudah dapat mengukurnya. Demikian pula Rara Wilis yang hadir menyaksikan, menjadi sibuk menduga-duga pula. Ketika ia melihat tingkat ilmu Arya Salaka, ia sudah menjadi keheranan. Anak itu sudah mencapai tingkat yang sedemikian jauhnya.
Ketika Rara Wilis melihat anak itu bertempur dengan Janda Sima Rodra, dengan cara tikus-tikusan, ia sudah mengagumi kelincahannya. Tetapi sekarang anak itu sudah mencapai tingkat yang mungkin sejajar dengan dirinya. Dan sekarang ia akan melihat gadis kecil itu memperlihatkan kecakapannya melawan Arya Salaka.

“Widuri…” kata Kebo Kanigara lebih lanjut, “Kau harus merasa beruntung juga, bahwa di bukit kecil ini kau akan mendapat lawan berlatih sepeninggal Karang Tunggal. Nah, bersiaplah. Darinya kau akan mendapat banyak pelajaran yang berguna.”

Mula-mula Widuri menjadi agak malu. Ia tidak biasa berlatih di hadapan orang banyak. Yang biasa dilakukan adalah dengan ayahnya bersembunyi di dalam sebuah ruangan di dalam goa. Di sanalah ia berlatih keras untuk mencapai tingkatan yang sekarang.

Agaknya darah yang mengalir dalam tubuh Widuri memang sudah disediakan untuk menjadi orang yang perkasa, seperti saudara-saudara dari aliran darah Handayaningrat.

Apalagi Kanigara sebagai orang yang memiliki kesaktian tinggi, tidak mempunyai orang lain yang dapat menerima warisan kesaktiannya, kecuali seorang gadis. Karena itu, meskipun anaknya seorang gadis, namun dilatihnya sejak kecil, agar kemudian mewarisi ilmunya.

Demikianlah pada saat itu. Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Arya Salaka untuk pertama kalinya melihat bahwa Endhang kecil itu pun ternyata memiliki ilmu yang sudah dalam tingkatan yang tinggi.

Setelah Widuri mempersiapkan dirinya, maka segeralah latihan itu dimulai. Tentu saja mula-mula Arya Salaka menjadi agak segan. Tetapi ketika latihan itu sudah berjalan beberapa saat, ia benar-benar menjadi heran. Meskipun tidak terlalu kuat namun Endang Widuri memiliki kelincahan yang luar biasa, seperti yang selalu diperlihatkan kalau gadis itu sedang bergurau atau berlari-larian.

Kali ini segala geraknya itu diatur dengan rapi sehingga dengan demikian Widuri telah dapat mengejutkan beberapa orang yang menyaksikan. Maka latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat.
Kalau Arya Salaka mula-mula hanya berusaha untuk melayani, akhirnya ia pun harus bekerja keras untuk sekali-sekali melakukan tekanan-tekanan pada kawan berlatihnya itu. Bahkan kemudian latihan itu menjadi semakin sengit, diluar dugaan.

KALAU saja Endang Widuri seorang laki-laki yang memiliki kekuatan secara kodrati lebih besar daripada seorang gadis, maka Widuri pada umurnya yang baru kira-kira 15 tahun itu pasti sudah semakin memiliki keperkasaan yang mengejutkan. Bahkan mungkin dalam saat yang tidak lama akan dapat menyamai Arya Salaka.

Demikianlah pada saat itu telah disaksikan suatu latihan yang mengherankan dari dua macam ilmu yang berasal dari satu keturunan. Meskipun dalam perkembangannya agak berbeda namun jelas bahwa unsur-unsur pokoknya tetap dalam garis yang sama. Gerak-gerak Arya dipengaruhi oleh gerak berbagai jenis binatang, sedangkan gerak Widuri dilandaskan pada kecepatan dan kelenturan seuai sifat-sifat alami seorang gadis.

Akhirnya tampak bahwa Endang Widuri masih belum dapat menyejajari Arya Salaka, namun hal itu dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Meskipun andaikata keduanya benar-benar bertempur, Arya Salaka pun akan dapat dengan mudah mengalahkan gadis kecil itu.

Demikianlah Endang Widuri telah menimbulkan keheranan diantara para penontonnya. Bahkan ayahnya pun lega menarik nafas panjang, karena jerih payahnya selama itu ternyata cukup memberinya kepuasan. Yang paling tertarik dari semuanya adalah Rara Wilis, yang merasa bahwa pada umur-umurnya sebesar Widuri itu ia baru dapat dengan manjanya menarik-narik ujung baju ibunya. Merengek dan berbagai polah yang kekanak-kanakan.

Karena itu Wilis menjadi terharu melihat gadis kecil itu, yang sejak bayi ternyata sudah tidak beribu lagi. Kemudian atas asuhan ayahnya telah dapat menunjukkan suatu yang membanggakan, meskipun karena pengaruh keadaan, dimana ia bergaul dengan rapatnya hanya dengan seorang laki-laki maka seolah-olah tingkah Widuri pun dalam beberapa hal terpengaruh oleh kelakukan laki-laki. Tetapi agaknya latihan yang memikat hati itu, tiba-tiba terhenti ketika mereka melihat seorang cantrik yang berlari-lari dengan nafas terengah-engah. Bahkan Kanigara menjadi agak terkejut, ketika cantrik itu dengan terputus-putus berkata diantara peredaran nafasnya yang semakin cepat.

“Tuan… ada seseorang mencari…”
Kanigara mengerutkan keningnya, lalu bertanya, “Siapakah yang dicari…?”
“Tuan Mahesa Jenar,” jawab cantrik itu.
“Aku…?” sela Mahesa Jenar.
“Ya… sejak tadi aku berkeliling bukit ini mencari Tuan,” sambung cantrik itu.
“Siapa…?” tanya Mahesa Jenar pula.
“Aku tidak tahu. Orang itu tidak menyebut namanya. Tetapi aku kenal dan pernah melihat pengantarnya,” jawab cantrik itu pula.
“Siapakah pengantarnya?” desak Mahesa Jenar tidak sabar.
“Mereka telah agak lama menunggu Tuan.”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, kemudian desaknya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia…? Katamu kau kenal kepadanya.”
“Ya, aku kenal, Tuan. Yang seorang adalah Ki Wiradapa, Lurah Gedangan, dan seorang pengawalnya.”
“Wiradapa dari Gedangan…?” ulang Mahesa Jenar terkejut.
Cantrik itu menganggukkan kepala.
Maka tanpa disadari, Mahesa Jenar memandang Kebo Kanigara yang agaknya tertarik juga dengan pembicaraan itu, untuk mendapat pertimbangan. Namun agaknya Kebo Kanigara tidak dapat menebak sesuatu. Maka katanya, “Marilah kita temui mereka.”
“Di manakah Panembahan…?” tanya Kanigara kepada cantrik itu.
“Tamu itu tak mencari Panembahan, Tuan,” jawabnya.
“Ya, tetapi aku ingin tahu di mana Panembahan sekarang?” ulang Kanigara.
“Beliau ada di Sanggar,” jawab cantrik itu.
Kanigara mengangguk-angguk, lalu katanya kepada cantrik itu, “Nah, dahululah. Katakan kepada tamu-tamu itu bahwa sebentar lagi kami akan datang.”

Cantrik itu membungkuk hormat, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul pula oleh Kebo Kanigara, Mahesa Jenar serta yang lain. Di salah satu rumah Padepokan itulah Wiradapa menunggu. Maka ketika dilihatnya kemudian Mahesa Jenar beserta beberapa orang mendatanginya, cepat-cepat ia bangkit dan dengan hormatnya menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Mahesa Jenar pun segera membungkuk hormat kepadanya. Tetapi ketika ia melihat seorang lagi, yang mungkin orang itulah yang diantarkan oleh Wiradapa, dada Mahesa Jenar menjadi bergetar.

Orang itu adalah seorang yang telah lanjut usia. Rambutnya telah memutih, namun wajahnya masih memancarkan kebesaran tekad serta keteguhan hati. Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, untuk beberapa lama ia berdiri mengawasinya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Bukankah Anakmas Mahesa Jenar…?”

Mahesa Jenar dengan agak gugup membungkuk sambil menyahut, “Ya, Paman… akulah Mahesa Jenar.”
“Syukurlah… syukur bahwa aku benar-benar dapat bertemu dengan Anakmas setelah aku menempuh perjalanan yang sulit. Di manakah cucu Arya Salaka…?” lanjut orang itu. 

MAHESA JENAR segera menjawab sambil menarik Arya Salaka, “Inilah… Paman.” Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya, “Lupakah kau dengan eyangmu…?”
Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi matanya memancarkan sinar yang ganjil. Ia merasa seolah-olah berada dalam mimpi yang sama sekali tak diduganya.
“Inikah dia…” tanya orang itu tak percaya.
“Ya,” jawab Mahesa Jenar. “Inilah anak itu.”

Tiba-tiba orang itu maju selangkah lagi. Diraihnya anak yang sudah hampir melampaui dirinya, dan dipeluknya seperti anak-anak. Dari mata orang tua itu membayanglah suatu perasaan haru yang sangat, yang bahkan kemudian menjadi basah oleh titik-titik air mata.

“Akhirnya doaku serta doa seluruh penduduk Banyubiru dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Adil,” gumam orang itu dengan suara yang sesak parau. “Sehingga aku masih berkesempatan bertemu dengan Cucu Arya Salaka sebelum umurku ini berakhir.”

Arya Salaka menundukkan wajahnya, seolah-olah ia pun sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang dalam. Bahkan terasalah seakan-akan sesuatu menyumbat tenggorokannya.
Sejenak kemudian orang tua itu menggoyang-goyangkan tubuh Arya Salaka, seolah-olah ingin melihat keperkasaaannya. Katanya kemudian, “Kau berkembang dengan suburnya. Tubuhmu menjadi demikian gagahnya, melampaui ayahmu.”

Arya Salaka masih belum dapat menjawab. Ia menjadi bingung karena pertemuan yang tiba-tiba itu.
Kemudian Mahesa Jenar yang mewakili menjawabnya, “Karena pangestu Paman, Arya Salaka dapat tumbuh seperti yang aku harapkan. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan ayahnya.”

Setelah itu maka dipersilakanlah tamu-tamu itu untuk duduk kembali. Diperkenalkanlah Kebo Kanigara dengan orang tua itu. Orang pertama di Banyubiru sesudah Ki Ageng Gajah Sora. Dia adalah Wanamerta. Juga diperkenalkan lurah desa Gedangan, Wiradapa.

“Dari siapakah Paman dapat mengetahui bahwa aku berada di bukit ini?” tanya Mahesa Jenar.
“Dari Adi Wiradapa,” jawab Wanamerta. Dan seterusnya berceritalah Wanamerta, bagaimana ia dapat mengikuti jejak Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

“Anakmas, aku berusaha secepatnya pergi ke Gedangan, suatu daerah yang belum pernah aku datangi. Sebab dari seseorang kepercayaanku, aku mendengar bahwa Anakmas beserta Arya Salaka pernah dijumpai oleh Cucunda Sawung Sariti di pedukuhan itu.

Menurut orang itu, Cucu Arya Salaka bahkan terlibat dalam suatu pertempuran yang katanya dibantu oleh seorang yang tak dikenalnya, dan mengaku ayahnya.

Aku menjadi pasti bahwa orang yang dimaksud adalah Anakmas Mahesa Jenar. Sebab sejak Cucunda Arya Salaka hilang dari Banyubiru, aku selalu mengharap agar Cucunda Arya Salaka meninggalkan Banyubiru bersama-sama dengan Mahesa Jenar, meskipun ada yang menduga bahwa Anakmas menjumpai kesulitan dengan diketemukannya Kuda Anakmas tanpa penumpang.”

Orang tua itu berhenti sejenak sambil membetulkan letak duduknya. Setelah menelan ludah, kemudian ia meneruskan ceritanya, “Beberapa saat setelah Sawung Sariti pulang, agaknya Pamingit mengadakan persiapan-persiapan baru dengan tidak mengikutsertakan Laskar Banyubiru.
Akhirnya yang aku dengar ialah, Sawung Sariti akan mengerahkan pasukan yang lebih kuat lagi untuk mencari Anakmas Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka ke desa Gedangan. Karena itu aku tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha untuk mendahuluinya, memberitahukan hal itu kepada Anakmas.
Tetapi sampai di Gedangan, atas ancar-ancar orang tadi, Anakmas sudah meninggalkan desa itu, pergi ke Padepokan Karang Tumaritis. Dan atas kebaikan hati Adi Wiradapa, ia berkenan mengantarkan aku kemari, sebab katanya Adi Wiradapa telah lama tidak bertemu dengan Anakmas Mahesa Jenar.
Meskipun mula-mula kami agak cemas, jangan-jangan Anakmas Mahesa Jenar telah meninggalkan padepokan ini.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya dicemaskan sejak lama, kini ternyata benar-benar akan terjadi. Karena itu ia menjadi berpikir keras, bagaimanakah sebaiknya cara yang akan ditempuh untuk menyelamatkan desa Gedangan yang pasti akan menjadi ajang pertempuran. Dan karena itu pula agaknya Wiradapa sengaja mengantarkan Wanamerta.

Dalam pada itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan ceritanya, “Yang lebih mencemaskan lagi, Anakmas… agaknya Sawung Sariti telah bersepakat dengan Janda Sima Rodra, yang menurut pendengaranku, suaminya terbunuh pula oleh Anakmas.”

Bagaimanapun dada Mahesa Jenar berdesir. Ini berarti akan datang kekuatan besar. Ia yakin bahwa dalam pasukan itu akan ikut serta Sima Rodra tua, bahkan mungkin Bugel Kaliki.

Tetapi agaknya Arya Salaka berpikir lain. Sebab tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Kemudian sahutnya, “Eyang Wanamerta… aku akan sangat bergembira apabila Adi Sawung Sariti sudi sekali lagi menemui aku. Sebab setelah sekian lama aku tidak bertemu, dan sesudah pertemuan kami yang hanya sekejap, aku menjadi rindu kepadanya.”

“Ah, kau…” potong Wanamerta.

“Aku memang mendengar bahwa atas asuhan Anakmas Mahesa Jenar, kau pada waktu itu dapat mengimbangi Sawung Sariti. tetapi karena itulah maka Sawung Sariti telah bekerja mati-matian mesu dhiri. Kakang Sora Dipayana agaknya percaya pada dongengan yang dibuatnya bersama ayahnya, Lembu Sora, sehingga dalam waktu yang pendek itu ia telah menggembleng Sawung Sariti bukan main. Bahkan ayah-beranak itu kini memiliki warisan kesaktian yang menakutkan dari Perguruan Banyubiru, yaitu Lebur Sakethi, meskipun dalam tingkatan yang belum sempurna.”

SEKALI lagi dada Mahesa Jenar berdesir. Lebur Sekethi adalah kesaktian yang luar biasa dahsyatnya. Aji itu dapat disejajarkan dengan aji Cundha Manik dari Perguruan Pandan Alas, Sasra Birawa dari Perguruan Pengging. Karena itu Ki Ageng Lembu Sora yang memiliki kekuatan melampaui manusia biasa dengan pedangnya yang tidak berukuran lumrah pasti akan menjadi seorang yang luar biasa pula.

Juga anaknya yang cerdik itu, pasti akan menjadi anak yang sangat berbahaya.

Mahesa Jenar kemudian menjadi menyesal pada keadaan, sehingga Ki Ageng Sora Dipayana dapat terseret dalam keadaan yang pasti tidak dikehendaki sendiri. Tetapi kemudian diingatnya bahwa orang tua itu sendiri berkata kepadanya, bahwa Lembu Sora adalah anak kesayangan istrinya. Tidak mustahil kalau karena keadaan itu Lembu Sora dapat memanfaatkannya dengan baik.

“Agaknya…” lanjut Wanamerta, “Kakang Sora Dipayana lebih percaya kepada cerita Lembu Sora bahwa Anakmas Gajah Sora telah tidak ada lagi. Dengan licinnya ia berpura-pura mengutus seseorang ke Demak untuk mendapat berita kematiannya. Sebab dalam perjalanan ke Demak, pada saat Anakmas Gajah Sora ditangkap, Laskar Banyubiru telah mengadakan suatu serangan secara tiba-tiba.”

“Suatu cerita atas kebohongan yang maha besar,” sahut Mahesa Jenar, “Sebab aku menyaksikan semuanya itu. Bahkan aku tahu pasti bahwa yang menyerang pasukan Demak adalah orang-orang Lembu Sora sendiri.”

Mendengar bantahan Mahesa Jenar itu, Wanamerta tersenyum. Lalu katanya, “Kami, Laskar Banyubiru, mengetahui kebohongan itu. Sebab andaikata apa yang dikatakan itu benar, kamilah orang-orangnya yang disebutnya Laskar Banyubiru, atau setidak-tidaknya aku mengetahui orang-orang itu.”

“Tidakkah Paman Wanamerta mengatakan hal itu kepada Paman Sora Dipayana?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku sudah mencobanya,” jawab Wanamerta. “Tetapi agaknya keteranganku itu diragukan. Bahkan beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora mulai bertindak memperkokoh kedudukannya di Banyubiru. Beberapa orang telah disingkirkan. Sawungrana sebagai kau ketahui telah dibinasakan. Sebelum itu Pandan Kuning telah dilenyapkan pula.”

“Paman Pandan Kuning…?” potong Arya Salaka hampir berteriak.

Wanamerta mengangguk kosong. Wajahnya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis umur menjadi semakin berkerut-kerut. “Ya, Pandan Kuning hilang beberapa saat sebelum Sawungrana. Kemudian datang giliran Bantara dan Panjawi,” tegasnya.

“Juga kedua paman itu…?” kembali Arya berteriak.

“Untunglah bahwa kedua orang itu sempat mempertahankan dirinya, meskipun kemudian harus meninggalkan Banyubiru,” lanjut Wanamerta.

Mendengar kata-kata terakhir itu, tiba-tiba Arya meloncat maju. Sambil berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kuat, anak itu menengadahkan wajahnya yang keras penuh gelora yang terlontar dari dadanya. Ia menjadi demikian marahnya sampai tubuhnya seperti orang kedinginan. Kemudian ia berkata dengan suara gemetar, “Tidakkah seorang pun dapat mencegah perbuatan itu…? Eyang Wanamerta, aku tidak akan menunggu sampai mereka datang mencari aku. Aku yang akan datang ke Banyubiru. Aku yakin bahwa sebagian besar dari penduduk Banyubiru masih setia kepada ayah Gajah Sora. Aku akan datang atas nama pimpinan tanah Perdikan Banyubiru yang sebenarnya.”

Semua yang menyaksikan tingkah laku Arya Salaka itu dadanya menjadi bergetar. Agaknya dalam dada anak itu benar-benar mengalir darah kepemimpinan yang kuat dengan penuh rasa tanggung jawab, meskipun masih dipengaruhi oleh masa remajanya yang melonjak-lonjak. Lebih – lebih Wanamerta. Sekali lagi hatinya dirangsang oleh perasaan haru yang mendalam, sehingga kembali matanya tampak mengaca. Tetapi ia adalah seorang yang telah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan. Juga dialah yang paling mengetahui keadaan Banyubiru yang sebenarnya.

Karena itu dengan sabarnya Wanamerta mencoba menenangkan hati Arya Salaka. “Duduklah cucuku Arya Salaka. Kau benar-benar seperti ayahmu pada saat-saat seumur kau ini. Tetapi dalam segala tindakan haruslah dipikirkan sampai titik-titik yang sekecil-kecilnya, untung dan ruginya.”

Arya kemudian menjadi tersadar dari gelora hatinya, sehingga ditundukannya wajahnya. Ia kemudian menjadi agak malu kepada dirinya sendiri, yang seolah-olah menjadi seorang perkasa yang tak terlawan. Sedang di dekatnya duduk orang-orang seperti gurunya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, dan yang lain.

Kemudian bahkan keadaan menjadi hening. Yang terdengar hanyalah angin pegunungan yang berdesir di dedaunan. Udara malam yang dingin terasa mengusap tubuh. Sesaat kemudian barulah Wanamerta mulai berbicara kembali, “Anakmas Mahesa Jenar… terserahlah atas segala pertimbangan Anakmas. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

Mahesa Jenar sekali lagi mengerutkan keningnya. Meskipun sebelum ia sampai ke Banyubiru beberapa tahun lalu tidak ada sangkut pautnya dengan tanah perdikan itu, namun sekarang tiba-tiba ia seakan-akan menjadi orang yang ikut bertanggungjawab. Tetapi ia tidak akan menyingkirkan diri dari kepercayaan Wanamerta kepadanya. Juga ia sendiri pernah menyatakan kesanggupannya untuk membantu segala kesulitan yang mungkin timbul atas tanah perdikan itu kepada Gajah Sora. Tentang Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar menduga pastilah ada sebab-sebab lain kenapa orang tua itu berbuat demikian.

Sementara itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan, “Kelakuan Anakmas Lembu Sora tidak berhenti sampai sekian. Yang terakhir adalah usahanya untuk menyingkirkan aku pula. Tetapi agaknya ia menemui kesulitan sehingga rencana itu tertunda-tunda. Sedang aku sendiri sempat pula berusaha untuk menjaga diriku. Sampai kemudian aku mendengar khabar akan usahanya untuk mencari kembali Anakmas Mahesa Jenar dan cucuku Arya Salaka. Demikianlah, Anakmas, keadaan Banyubiru. Sedemikian rumitnya sehingga aku tidak sabar menunggu sampai besok.”

MAHESA Jenar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. beberapa saat kemudian ia menjawab seperti orang bergumam kepada diri sendiri, “Tetapi agaknya mereka tidak akan ke Gedangan. Sebab Sima Rodra itu tahu pasti bahwa aku dan Arya Salaka telah meninggalkan pedukuhan itu. Bahkan merekapun telah pernah mengepung bukit kecil ini.”

“Tetapi mereka tidak menemukan Anakmas di sini,” sahut Wanamerta. “Aku telah mendengar hal itu pula. Namun agaknya Anakmas Sawung Sariti masih menduga bahwa Anakmas dan Cucu Arya berada di sekitar Gedangan dan Karang Tumaritis.”

Masalahnya ternyata akan menjadi luas. Menyangkut daerah Gedangan dan sekaligus padepokan yang damai ini. Beberapa saat yang lalu, daerah yang seolah-olah tidak pernah tersentuh tangan – tangan dari luar padepokan ini telah dikacaukan oleh kedatangan gerombolan orang-orang Sima Rodra untuk mencarinya, sekarang agaknya akan mengalami keributan sekali lagi.

Apalagi ketika kemudian terdengar Wiradapa berkata, “Adimas Mahesa Jenar, agaknya aku tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan hidup mati rakyatku kepada Adimas. Sebab aku tahu apa yang akan terjadi seandainya kami, orang-orang Gedangan sendiri yang harus mempertahankan diri atas dendam Sawung Sariti yang menemui kegagalan di desa kami, dan sekaligus dendam yang tersimpan di dada Janda Sima Rodra atas kematian suaminya.”

Mahesa Jenar dapat mengerti sepenuhnya keadaan itu. Karena itu ia harus menemukan suatu cara untuk mengatasi keadaan.

Tiba-tiba bertanyalah ia kepada Wanamerta, “Paman…, di manakah Bantaran dan Panjawi sekarang?”
“Aku sudah mencoba untuk menghubungi,” jawabnya. Mahesa Jenar menjadi semakin tertarik pada keterangan itu, katanya, “Apakah Paman berhasil…?”

Wanamerta menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Sayang…, tidak. Tetapi setidak-tidaknya aku pernah mendengar kabar tentang kedua orang itu. Agaknya mereka telah berhasil menyusun barisan meskipun masih terlalu lemah. Bahkan diantara mereka ada beberapa orang yang belum kami kenal, yang datang dari daerah Candi Jonggrang. Ia menggabungkan dirinya karena ia sudah mengenal beberapa hal mengenai keadaan Banyubiru.”

“Siapa orang itu…?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku belum tahu pasti,” jawab Wanamerta. “Menurut pendengaran diantaranya bernama Mantingan dan Wirasaba.”

“Mantingan dan Wirasaba…?” ulang Mahesa Jenar hampir berteriak.

Wanamerta mengangguk. Namun ia menjadi keheranan. Agaknya Mahesa Jenar pernah mendengar nama-nama itu. Karena itu ia bertanya, “Adakah Anakmas pernah mengenal mereka?”

Mahesa Jenar mengangguk lemah. Jawabnya, “Ya, aku pernah mengenal mereka. Mantingan memang pernah datang ke daerah Banyubiru. Ia tahu mengenai persoalan Arya. Aku pernah mengatakan kepadanya.”

“Syukurlah,” gumam Wanamerta, “Ada juga kawan-kawan yang akan membantu kami.”

Kembali suasana dicekam oleh kesepian. Masing-masing dengan angan-angannya sendiri. Kebo Kanigara yang sejak tadi berdiam diri, nampak juga berpikir. Sebab ia pun akhirnya akan langsung berkepentingan seandainya pasukan Sawung Sariti tiba.

Panembahan Ismaya sama sekali tidak menghendaki kekerasan. Namun apakah ia akan tinggal diam seandainya sekali lagi ada orang lain yang ingin merusakkan kedamaian bukit ini.

Sedang Mahesa Jenar ternyata kemudian tidak pula dapat meningggalkan Kebo Kanigara. Sebab dalam anggapannya, sepeninggal gurunya, maka Kebo Kanigara yang dijumpainya kemudian itu, dapat dianggap sebagai gantinya, meskipun umurnya jauh dibawah umur gurunya.

Karena itu maka kemudian terdengar Mahesa Jenar berkata, “Bagaimana sebaiknya Kakang Kanigara…?”

“Kapankah kira-kira Sawung Sariti akan membawa orang-orangnya…?” ia bertanya langsung kepada Wanamerta.
“Segera Anakmas,” jawab Wanamerta, “Pada saat aku berangkat, semua persiapan sudah selesai.”

Kanigara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Mereka datang dengan pasukan, Mahesa Jenar.

Kau tidak akan dapat melawannya seorang diri, atau bersama-sama dengan dua tiga orang saja.”
“Ya,” sahut Mahesa Jenar, “Aku juga harus melawannya dengan pasukan.”

Tiba-tiba menyelalah Lurah Gedangan, “Adimas Mahesa Jenar, meskipun sedikit ada juga laskar di Gedangan. Apabila mereka berada dalam pimpinan yang kuat, aku kira mereka tidak akan terlalu mengecewakan. Bagaimanapun juga mereka akan menyerahkan dirinya untuk mempertahankan kampung halamannya.”

Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka sependapat bahwa kemungkinan untuk mempergunakan laskar Gedangan tidak dapat dihindari lagi.
Tetapi diantara mereka tampaklah Arya Salaka menundukkan kepalanya. Didalam hatinya melilitlah suatu perasaan sesal yang dalam. Ia menyesal pada keadaannya yang kurang baik. Ia menyesal pada keadaan keluarganya. Satu-satunya pamannya yang seharusnya memberi pengayoman kepadanya, justru telah mengkhianatinya.

Dalam pada itu malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang di langit berkedipan dengan lelahnya. Embun malam satu-satu mulai menggantung di dedaunan.

Sesaat kemudian dipersilahkanlah tamu-tamu itu untuk beristirahat. Sedang di ruang itu kemudian tinggallah Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis. Namun pembicaraan mereka masih belum berkisar sama sekali dari masalah pasukan-pasukan Pamingit yang bakal datang.

“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara, “Kau adalah seorang bekas prajurit yang mumpuni. Aku kira dalam hal ini kau lebih berpengalaman daripadaku. Karena itu, aku minta kau mengusahakan agar apa yang akan terjadi nanti tidak mengganggu ketenteraman hidup di atas bukit kecil ini.”

MAHESA JENAR nampak berpikir keras. Akhirnya ia menjawab, “Kakang…, aku kira pasukan itu akan benar-benar merupakan pasukan yang kuat. Karena itu, menurut perhitunganku, sebaiknya kami tidak menunggu pasukan itu sampai datang di daerah bukit ini atau pedukuhan Gedangan. Tetapi sebaiknya kami harus menyongsong pasukan itu. Kami sergap mereka di perjalanan. Mudah-mudahan mereka tidak akan menduga bahwa hal itu akan terjadi.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya rencana itu baik. Karena itu jawabnya, “Bagus…. Aku sependapat dengan kau. Daerah yang berbukit-bukit ini akan banyak memberikan keuntungan pada kita.”

Demikianlah akhirnya mereka bersepakat, bahwa mereka tidak akan menanti pasukan Pamingit itu sampai ke daerah ini, tetapi mereka akan mempergunakan laskar dari Gedangan untuk menyongsongnya.

Malam itu hampir tak ada seorang pun yang dapat tidur. Apalagi Arya Salaka. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai masalah yang menghentak-hentak. Namun ia bersyukurlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, bahwa meskipun pamannya sendiri sampai hati untuk membinasakan, tetapi diletakkan-Nya orang lain, yang sebenarnya tidak ada sangkut paut apapun, untuk melindunginya.

Pagi itu, ketika di timur fajar merekah, Kanigara telah menghadap Panembahan Ismaya. Diuraikan semuanya yang didengar dari Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa Jenar tentang kemungkinan kemungkinan yang bakal terjadi. Tampaklah betapa pedih hati orang tua itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak mau melihat atau mendengar tentang pertempuran-pertempuran dan perkelahian-perkelahian.

“Panembahan…” Kanigara mencoba menjelaskan, “Apa yang akan kami lakukan adalah suatu usaha untuk menghindarkan pertumpahan darah yang dapat mengganggu ketenteraman bukit kecil ini. Karena itu dengan terpaksa kami harus menyambut kedatangan mereka sejauh mungkin dari tempat ini. Sebab kalau tidak, akibatnya akan tidak menyenangkan sekali. Jauh lebih tidak menyenangkan dari kedatangan rombongan yang kemarin mengepung bukit ini.”

Panembahan Ismaya tidak dapat mengatasi keterangan Kanigara lagi. Karena itu katanya, “Terserahlah kepadamu Kanigara. Tetapi janganlah menjadi kebiasaan, bahwa sesuatu masalah, harus diselesaikan dengan pertumpahan darah.”

Kanigara menundukkan kepala. Perkataan Panembahan Ismaya itu merupakan suatu peringatan langsung kepadanya, bahwa bagaimanapun juga, Panembahan itu lebih senang apabila setiap persoalan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Tetapi keadaan kali ini adalah sedemikian sukarnya untuk diatasi dengan jalan itu. Masalahnya adalah pertentangan kepentingan yang sama sekali berlawanan. Satu pihak ingin menelan suatu daerah yang sama sekali bukan haknya, sedang satu pihak yang lain ingin mempertahankan haknya atas daerah itu.

Apapun alasannya kemudian, tetapi hakekatnya adalah perkembangan dari masalah itu juga.

Demikianlah, maka mereka yang merasa berkepentingan segera mempersiapkan dirinya. Baik jasmaniah maupun rohaniah. Mereka masing-masing telah membulatkan tekad, untuk melawan kekuatan yang merupakan pengejawantahan dari keserakahan itu dengan mati-matian.

Pagi hari itu juga, Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa Jenar, dibawa menghadap Panembahan Ismaya. Kecuali untuk memperkenalkan diri, sekaligus mereka mohon pangestu untuk menjalani kewajiban luhurnya. Setelah mendapat beberapa petunjuk dan nasehat, segera mereka meninggalkan bukit kecil itu, menuju ke Gedangan. Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka tidak ketinggalan. Bahkan Widuri pun tidak mau berpisah dengan ayahnya. Karena itu, iapun ikut serta dalam rombongan kecil itu.

Ketika mereka sampai di padukuhan Gedangan, segera terjadilah kesibukan. Mahesa Jenar mulai mengatur segala persiapan yang diperlukan. Laskar Gedangan dibaginya dalam beberapa kelompok. Dalam waktu yang singkat ia harus sudah dapat membentuk laskar itu menjadi laskar yang siap untuk bertempur melawan laskar yang mempunyai pengalaman luas dalam peperangan.

Yang dapat membantunya dalam pembentukan dan persiapan itu hanyalah Kanigara dan Wanamerta. Sebab meskipun Wilis dan Arya mempunyai ilmu yang cukup, namun mereka belum berpengalaman dalam gelar perang. Mereka hanya memiliki kemampuan dalam hal berkelahi seorang lawan seorang.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat memanfaatkan pula Arya Salaka. Dilatihnya anak itu untuk menjadi salah seorang pimpinan kelompok. Sedang kelompok-kelompok yang lain diserahkannya kepada Wanamerta, Kanigara dan dirinya sendiri.

Pada hari kelima, sejak mereka mulai mengadakan persiapan-persiapan, datanglah seseorang berkuda ke pedukuhan itu. Ternyata orang itu adalah salah seorang yang ditugaskan oleh Wanamerta untuk mengamati gerak-gerik pasukan Pamingit. Menurut laporannya, pasukan Pamingit telah mulai bergerak.

Mereka mengambil jalan selatan, lewat Gunung Tidar dan kemudian menyusur hutan-hutan yang tak begitu lebat diantara gunung Sumbing dan Sindara, untuk kemudian sampai ke Wanasaba. Dari sana mereka menyusun panjatan langsung dan menyebarkan orang-orangnya mencari Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

Mendengar laporan itu Mahesa Jenar berpikir keras. Mereka harus mengusahakan agar pasukan dari Pamingit yang bergabung dengan gerombolan Gunung Tidar itu datang bersama-sama, supaya rencana penyergapan dapat berlangsung.

Demikianlah sambil mencari jalan sebaik-baiknya untuk menjebak pasukan dari Pamingit itu, mereka dengan semangat yang menyala-nyala melatih diri. Siang dan malam tak henti-hentinya.

Disamping itu, setiap orang berusaha untuk meningkatkan kemampuan perseorangan pula. Tidak saja laskar Gedangan, tetapi juga Arya Salaka, Rara Wilis, bahkan Mahesa Jenar sendiri. Mereka dalam waktu-waktu yang luang, betapapun sempitnya, selalu dipergunakan sebaik-baiknya.

PADA hari yang keduabelas, sekali lagi datang seorang berkuda. Orang itu juga salah seorang petugas Wanamerta. Ia datang dengan membawa laporan bahwa orang-orang Pamingit bersama-sama rombongan dari Gunung Tidar telah berada di sekitar Wanasaba. Bahkan mereka sudah bergeser lagi sedikit ke utara. Dari sana mereka berusaha untuk menyebar orang-orangnya di seluruh daerah pegunungan ini sampai ke daerah-daerah di sekitarnya. Sebab menurut mereka, usaha ini harus merupakan usaha yang terakhir. Arya Salaka haus dapat ditangkap hidup atau mati.

“Siapa yang ikut dalam rombongan itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Sawung Sariti, Janda Sima Rodra, Jaka Soka…” jelas orang itu.

“Juga Jaka Soka?” tanya Mahesa Jenar kembali.

“Ya, agaknya iapun merasa mempunyai kepentingan,” jawab orang itu.

Mendengar keterangan itu, meremanglah bulu-bulu kuduk Rara Wilis. Sekarang sebenarnya ia sudah tidak perlu takut lagi apabila ia harus berhadapan dengan orang itu sebagai lawan, meskipun ia masih kalah pengalaman. Namun setidak-tidaknya ia akan dapat menjaga dirinya. Meskipun demikian, apabila ia mendengar nama itu, tubuhnya terasa juga meremang. Sebab ia sudah terlanjur ngeri mendengar nama itu.

“Orang lain lagi…?” desak Mahesa Jenar.

“Yang mengerikan diantaranya mereka terdapat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki,” jawabnya.

“Sudah kami duga sebelumnya,” sahut Mahesa Jenar.

Oleh keterangan-keterangan itu, maka Mahesa Jenar harus menyesuaikan rencanya. Tetapi belum lagi ia dapat menemukan pemecahan yang baik, tiba-tiba pada hari kelimabelas datanglah seroang dengan keterangan yang mengejutkan. Katanya, “Sebuah rombongan kecil telah menyusur lambung Gunung Perahu, menuju ke daerah ini juga. Mereka dipimpin langsung oleh Sepasang Uling dari Rawa Pening.

Wanamerta mengerutkan keningnya. Dari wajahnya yang tua itu, memancarlah api kemarahan tiada terhingga. “Sungguh merupakan usaha gila-gilaan. Uling itu akan bersyukur juga kalau Banyubiru jatuh ke tangan Lembu Sora. Sebab dengan demikian ia akan semakin leluasa bergerak di daerah Rawa Pening,” katanya geram.

“Bukan itu saja Paman…” potong Mahesa Jenar, “Tetapi sebentar lagi daerah-daerah itu akan
ditelannya. Pamingit oleh Sima Rodra, dan Banyubiru oleh sepasang Uling itu.”

Kembali terdengar gigi orang tua itu menggeretak. Lembu Sora baginya tidak kurang dan tidak lebih dari seorang yang sama sekali mengabdi kepada kepentingan sendiri, yang bahkan tega mengorbankan saudara tuanya.

Tetapi mereka tidak cukup dengan mengumpat-umpat saja. Untuk mengatasi bahaya yang akan datang, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya harus bersiaga. Mereka menempatkan beberapa orang untuk dapat mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan.

Ketika Mahesa Jenar telah merasa bersiap, maka ia tidak perlu lagi menunggu lebih lama. Bahkan kalau mungkin ia melawan rombongan itu satu demi satu. Sebab apabila kekuatan kedua rombongan itu bergabung, akan merupakan kekuatan yang mungkin sulit untuk diimbangi. Namun meskipun demikian, pantang ia menyingkirkan diri. Sebab dengan demikian ia akan membebankan segala dendam kepada penduduk Gedangan.

Maka yang mula-mula dilakukan adalah memancing pertempuran dengan rombongan Sawung Sariti secepatnya. Tetapi cara yang mula-mula dipikirkan, untuk mencegat rombongan itu, terpaksa dipertimbangkan kembali. Sebab setiap saat rombongan Uling dapat datang dari jurusan lain.

Demikianlah ketika pada suatu hari beberapa orang pengawas dapat menangkap seorang yang dicurigai, Mahesa Jenar berhasrat untuk melakukan maksudnya.

Setelah Mahesa Jenar mempersiapkan pasukannya dalam kesiagaan penuh, dipanggilnya orang tangkapan itu menghadap. Maka bertanyalah ia kepadanya, “Siapakah kau?”

“Aku seorang perantau, Tuan…, yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menyambung hidup,” jawabnya.

Mahesa Jenar tersenyum, lalu katanya, “Dari manakah asalmu?” Orang itu ragu sebentar, kemudian jawabnya, “Banyubiru, Tuan.”

“Bagus…” desis Mahesa Jenar. “Katakan kepadaku siapakah kepala daerah perdikanmu?” Kembali orang itu ragu. Namun akhirnya ia menjawab pula, “Ki Ageng Lembu Sora.”

“Bagus, kau berkata sebenarnya,” sahut Mahesa Jenar. “Di mana sekarang Lembu Sora itu?”

“Di Banyubiru, Tuan” jawabnya.
“Di mana anaknya?” desak Mahesa Jenar.
Orang itu diam merenung. Tampaklah wajahnya mulai gelisah.
“Di mana?” bentak Mahesa Jenar.
“Di Pamingit, Tuan” jawabnya.
“Kau mulai tidak berkata sebenarya,” sahut Mahesa Jenar. “Aku akan mencoba memaksamu supaya kau tidak berkata demikian.”

ORANG itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika tiba-tiba Mahesa Jenar minta seseorang memanggil Wanamerta. Demikian Wanamerta muncul, mengalirlah keringat dingin di punggung orang itu. Sebagai seorang laskar Pamingit, ia pernah mengenal Wanamerta sebagai orang kedua di Banyubiru, yang harus selalu berhubungan dengan Ki Ageng Lembu Sora dalam hal pemerintahan, meskipun ada usaha-usaha untuk menyingkirkannya.

Melihat orang itu, Wanamerta tersenyum. Ia pun sekali dua kali pernah melihat orang itu. Karena itu bertanyalah Wanamerta, “Aku mengucapkan selamat atas kedatanganmu Ki Sanak.”

Keringat dingin di punggungnya menjadi semakin banyak mengalir. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wanamerta berada di tempat itu. Karena itu ia sama sekali tidak dapat menjawab sapanya. Sehingga kembali terdengar Wanamerta meneruskan, “Aku sudah lama menunggu salah seorang sanak keluarga dari Pamingit yang sudah menengokku di sini. Sekarang agaknya ada juga yang datang, malahan agaknya dalam jumlah yang cukup banyak.”

Orang itu masih berdiam diri. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan. Sebab agaknya Wanamerta telah mengetahui gerakan yang dilakukannya.

“Ki Sanak…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Kau tidak usah takut. Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari Arya Salaka…?”

“Tidak Tuan,” jawab orang itu bergetar mencoba menutupi kesalahannya.

“Jangan bohong. Aku tidak apa-apa. Bahkan aku akan membantumu. Katakan kepada pimpinanmu, bahwa apa yang dicarinya masih ada di Gedangan. Tidak usah ia mencari kemana-mana. Juga tidak usah ke Karang Tumaritis.”

Orang itu menjadi semakin bingung. Apalagi dalam pada itu tiba-tiba dilihatnya Wanamerta menarik belati dari pinggangnya.

“Ampun…, ampun tuan….” teriak orang itu.

Wanamerta tersenyum, katanya, “Ki Sanak. Telah sekian lama aku menahan diri. Sekarang aku ingin menumpahkan kemarahanku kepadamu. Bukankah kau salah seorang dari mereka yang telah mengeruhkan suasana Banyubiru…?”

“Tidak Tuan, aku hanya sekedar mendapat perintah,” jawab orang itu ketakutan.

Dalam pada itu Mahesa Jenar pun kemudian menjadi cemas. Ia tidak berhasrat untuk menciderai orang yang hanya merupakan seorang pesuruh saja. Apalagi dengan demikian, maksudnya untuk memancing pertempuran akan tertunda.

Agaknya Wanamerta mengetahui perasahaan Mahesa Jenar itu. Maka katanya, “Jangan takut Ki Sanak. Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi aku ingin membuat suatu kenang-kenangan padamu, bahkan suatu bukti bahwa kau telah melakukan kewajibanmu dengan baik.”

Sehabis berkata demikian, Wanamerta yang sudah tua itu meloncat dengan garangnya, dan hampir tak dapat diikuti gerakannya, tiba-tiba di dahi orang itu telah terdapat dua goresan bersilang. Baru kemudian disusul oleh sebuah jeritan kesakitan. Dari luka itu mengalirlah darah yang merah segar.

Mahesa Jenar sendiri terkejut melihat hal itu. Namun ia tidak dapat mencegahnya. Ia menyadari betapa geram orang tua itu terhadap Lembu Sora dan orang-orangnya.

“Nah…” kata Wanamerta kemudian, “Pergilah. Katakan kepada Sawung Sariti, bahwa Arya Salaka dan Mahesa jenar masih berada di Gedangan. Bahkan Wanamerta yang tua pun berada di sana. Dengan demikian kau akan mendapat tanda jasa atas hasil pekerjaan yang kau lakukan.”

Bagaimanapun juga orang itu adalah seorang laki-laki. Karena itu ia menjadi tersinggung sekali atas perlakuan itu. Dihina terasa pedih sekali, sedang darah yang mengucur dari luka itu telah membasahi baju serta kainnya, membuat gambaran-gambaran merah yang mengerikan.

Tetapi dalam pada itu ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melawan Wanamerta dan Mahesa Jenar. Maka yang dapat dilakukan kemudian hanyalah mengumpat habis-habisan, “Tuan-tuan telah menghina aku. Ini berarti bahwa Tuan-tuan telah menghina pimpinanku. Jangan Tuan mengira bahwa Tuan akan luput dari hukumannya. Tunggulah Tuan…. Aku akan kembali sekali lagi dan menggoreskan silang ke dahi Tuan.”

Sekali lagi Wanamerta tersenyum aneh, jawabnya, “Pergilah sebelum aku menambah kenang-kenangan pada tubuhmu. Katakan kepada pemimpinmu, bahwa seandainya mereka yang datang, pada dahi merekalah aku akan membuat tanda silang itu.”

Penghinaan itu sudah melampaui batas. karena itu, orang itu sudah tidak mau menunggu lagi. Cepat ia meloncat lari secepat-cepatnya kembali menghadap Sawung Sariti.

Sepeninggal orang itu, segera Mahesa Jenar mengatur pasukannya. Sebab orang yang dilukai oleh Wanamerta itu pasti akan menambah-nambah cerita. Dan kalau demikian maka keadaan akan menguntungkan sekali. Sehingga Mahesa Jenar tidak harus melawan dua rombongan dari jurusan yang berbeda sekaligus, dibawah pimpinan masing-masing, orang-orang buas yang sakti.
Demikianlah apa yang diharapkan itu datanglah.
Pada pagi berikutnya, seorang pengawas melaporkan bahwa dari arah selatan tampaklah barisan berobor, mendekati Gedangan. Itulah barisan Sawung Sariti.

Mahesa Jenar cepat menyiapkan orang-orangnya. Ia sendiri beserta Kanigara memimpin laskar yang langsung akan melawan pasukan yang datang, sedang Arya dan Wanamerta dibantu oleh Wiradapa diperintahkannya untuk kemudian menyerang dari sayap kiri dan kanan. Dengan demikian Mahesa Jenar dan Kanigara akan dapat lebih dahulu memilih lawan-lawannya. Apabila Bugel Kaliki dan Sima Rodra berada dalam pasukan itu juga, seharusnya kedua orang itu menjadi kewajiban Mahesa Jenar dan Kanigara.

Untunglah bahwa di Karang Tumaritis, Mahesa Jenar atas tuntunan tidak langsung dari Kebo Kanigara, telah menemukan inti dari ilmunya, setelah ia berhasil ngraga sukma. Dengan demikian ia tidak perlu lagi gentar menghadapi Si Bongkok dari Gunung Cerme atau Harimau Liar dari Lodaya itu. 

KEMAMPUAN Kebo Kanigara sendiri tak perlu diragukan lagi. Ia adalah saudara seperguruan ayahnya, Ki Ageng Pengging Sepuh, bahkan ia memiliki kesegaran yang lebih muda dalam olah kanuragan. Sehingga beberapa orang mengatakan bahwa Kebo Kanigara mempunyai beberapa kelebihan dibanding ayahnya.

Pasukan berobor itu kemudian berhenti tidak seberapa jauh dari Gedangan. Agaknya mereka menunggu sampai fajar menyingsing.

Demikianlah ketika matahari telah menjenguk dari balik cakrawala. Bersiaplah kedua pasukan yang sudah saling berhadapan itu. Meskipun demikian, agaknya Sawung Sariti ingin menunjukkan kebaikan hatinya. Dengan panji-panji putih yang tersangkut pada tunggul yang masih tersawung, ia dengan beberapa orang datang mendekati laskar Gedangan. Wajahnya yang cerah membayangkan suatu keyakinan atas kekuatan diri.

Melihat wajah itu Mahesa Jenar menjadi bersedih hati. Matanya membayangkan kecerdasan otaknya, sedang langkahnya tetap menunjukkan bahwa Sawung Sariti adalah seorang anak yang berani. Apalagi dibawah asuhan seorang sakti yang bernama Ki Ageng Sora Dipayana. Sayang bahwa di dalam dadanya tersembunyi beberapa titik-titik hitam yang mengotori kebesaran pribadinya.

Di belakangnya berjalan dua orang pengawalnya. Seorang yang bertubuh tinggi agak kurus. Mukanya runcing bermata sipit. Dengan alis yang tebal hampir bertemu pangkalnya. Sedang yang seorang lagi bertubuh besar kekar.

Meskipun ia tidak setinggi orang yang pertama, namun ia termasuk seorang yang tinggi pula. Matanya tajam memandang ke depan, seperti mata burung hantu. Di pinggang kedua orang itu tergantung masing-masing sebuah pedang panjang, sedang di lambung yang sebelah terselip pisau-pisau belati pendek.

Mahesa Jenar-lah yang kemudian melangkah ke depan, menerima kedatangan Sawung Sariti, yang ketika itu telah berdiri berhadapan, dengan hormatnya anak muda itu membungkukkan badannya. Mahesa Jenarpun kemudian membalas membungkukkan badan pula.

“Paman Mahesa Jenar…” Sawung Sariti memulai, “Maafkanlah kalau beberapa bulan yang lewat aku tidak mengenal Paman.”

“Ah, tak apalah,” jawab Mahesa Jenar.

Kemudian Sawung Sariti meneruskan, “Kedatanganku sebenarnya tidaklah bermaksud jahat. Meskipun Paman beserta Eyang Wanamerta telah melukai salah seorang pesuruhku, namun aku dapat memaafkan kesalahan kalian berdua.”

Mendengar perkataan itu Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Sejak pertemuannya yang pertama, ia telah menyesali kesombongan anak itu.

“Maksud kedatangan kami…” Sawung Sariti meneruskan, “Sekadar untuk memenuhi permintaan Eyang Sora Dipayana. Demikian rindunya Eyang Sora Dipayana kepada Kakang Arya Salaka, sehingga aku terpaksa mencarinya untuk membawanya menghadap.”

Mahesa Jenar tersenyum pahit, sepahit hatinya melihat kenyataan yang tidak menyenangkan itu. Kemudian jawabnya dengan tenang, “Baiklah Sawung Sariti, biarlah besok atau lusa Arya Salaka segera menghadap. Ia pun telah merasa sangat rindu kepada pepundennya.”

Sawung Sariti mengangguk-angguk kecil. Agaknya Mahesa Jenar bukan orang yang dapat diperolok-olok. Meskipun demikian ia berkata meneruskan, “Kenapa besok? Bukankah sekarang ini Kakang Arya Salaka tidak sedang berhalangan, Paman…? Mumpung hari masih pagi, biarlah Kakang Arya kita bawa menghadap. Syukurlah kalau Paman sudi ikut serta dengan kami.”

“Sayang…” jawab Mahesa Jenar, “Barangkali Arya keberatan. Ia lebih senang melihat barisan segelar sepapan yang sedang mengadakan latihan pendakian dan penyusupan di daerah bukit-bukit sekitar Gedangan ini, daripada tergesa-gesa membuat perjalanan ke Banyubiru.”

Dada Sawung Sariti berdebar karenannya. Ternyata bahwa Mahesa Jenar bukan sejenis orang-orang bodoh yang menjadi kebingungan berhadapan dengan putra Kepala Daerah Perdikan Pamingit itu.
Karena itu Sawung Sariti kemudian berkata, namun sudah tidak setenang semula, “Sayang…. Tetapi Eyang berkehendak demikian.”

Kembali Mahesa Jenar tersenyum pahit. Sebenarnya ia merasa tersinggung atas sikap Sawung Sariti yang menganggapnya sebagai seorang yang sedemikian bodohnya. Sebaliknya, Sawung Sariti pun menjadi kisruh.

Semula ia ingin memutarbalikkan perkataan-perkataannya untuk mempermainkan Mahesa Jenar. Namun akhirnya ternyata ia sendiri yang menjadi gelisah oleh jawaban-jawaban Mahesa Jenar yang sama sekali tak diduga-duga itu.

Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, “Anakmas Sawung Sariti tidak perlu tergesa-gesa. Aku ingin mempersilakan Anakmas untuk beristirahat barang sehari dua hari di pedukuhan ini untuk menikmati cerahnya matahari di lembah terpencil ini.”

Ternyata kemudian Sawung Sariti sudah tidak dapat lagi mengendalikan perkataannya. “Aku tidak punya waktu. Aku ingin membawa Kakang Arya Salaka sekarang juga.”

Mahesa Jenar tertawa pendek. Ia menjadi agak geli melihat anak yang sombong itu nampak jengkel.

Maka jawabnya, “Tidak baik kau memaksanya, Sawung Sariti.”

“Baik atau tidak baik aku tidak peduli,” bentak Sawung Sariti.

“Demikiankah yang diperintahkan eyangmu…?” tanya Mahesa Jenar.

Sawung Sariti yang tidak menduga mendapat pertanyaan yang demikian, menjadi kebingungan. Beberapa saat kemudian barulah ia menjawab sekenanya, “Aku tidak peduli apakah Eyang setuju dengan caraku ini atau tidak. Hal itu terserah kepadaku.”

“Karena itu kau bawa pasukanmu bersama-sama dengan laskar dari Gunung Tidar…?” sahut Mahesa Jenar.

SEKALI lagi Sawung Sariti kebingungan. Karena itu maka terasalah keringat dingin mengalir di punggungnya. Dengan tak disengajanya dilayangkanlah pandangan matanya kepada pasukannya yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat pasukannya, ia jadi berbesar hati. Diantaranya terdapat orang-orang pilihan seperti Galunggung, orang yang dipercaya penuh oleh ayahnya untuk memimpin pasukan Pamingit yang berjumlah besar itu. Janda Sima Rodra, dan Jaka Soka.

Dan yang lebih hebat lagi, di dalam pasukannya itu pula terdapat dua orang tokoh sakti yang jarang ada bandingnya, yang dendamnya setinggi gunung tersimpan di dalam dadanya, Sima Rodra dari Lodaya yang baru saja kehilangan menantunya dan Bugel Kaliki, Si Bongkok dari Lembah Gunung Cerme. Oleh kebanggaannya itu timbul pulalah kesombongan Sawung Sariti. Katanya, “Paman, ketahuilah bahwa orang-orang semacam Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki itu tunduk pada perintahku. Apakah kira-kira Paman Mahesa Jenar akan bersikap lain.”

“Ah…” desah Mahesa Jenar, “Cerdik juga kau menggertak aku.”

Mendengar perkataan itu wajah Sawung Sariti menjadi merah. Orang-orang kebanggaannya itu agaknya dipandang rendah oleh Mahesa Jenar. Maka sambungnya ingin memberi penjelasan lebih banyak,
“Paman… belumkah Paman mendengar nama-nama Sima Rodra dari Lodaya dan Bugel Kaliki dari Gunung Cerme?”

Mahesa Jenar kemudian tertawa. Sengaja ia tertawa panjang. Katanya, “Sawung Sariti, sudah siapkah pasukanmu…? Jangan berbicara seperti berbicara dengan orang-orang Pamingit yang bodoh. Aku bukan anak-anak lagi. Kau sekarang berbicara dengan seorang tua, setua ayahmu Lembu Sora.”

Sekali lagi warna merah menyirat di wajah Sawung Sariti. Kalau saja ia belum pernah mendengar tentang Mahesa Jenar, yang pernah mendapat gelar Rangga Tohjaya itu, ingin ia menghancurkan kepalanya saat itu juga.

Tetapi terhadap Mahesa Jenar ia tidak berani berbuat demikian. Namun di dalam hatinya ia berjanji bahwa ia ingin membunuh orang ini dengan tangannya. Ia telah minta Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki untuk menangkapnya hidup-hidup disamping saudara sepupunya Arya Salaka.

Namun demikian, otaknya ternyata masih dapat bekerja baik. Ketika sekali lagi ia memandang ke arah pasukannya, maka mulailah ia membanding-bandingkan dengan pasukan Gedangan. Menurut perhitungannya, Laskar Gedangan mempunyai jumlah orang lebih banyak. Tetapi ia tidak melihat diantaranya ada orang-orang yang mempunyai nama. Ia tidak melihat orang tua yang disebut Ki Ageng Pandan Alas menurut ciri-ciri yang pernah didengarnya.

Meskipun demikian maka berkatalah putra Ki Ageng Lembu Sora itu, “Paman Mahesa Jenar… karena aku bukan termasuk orang-orang yang tidak dapat berpikir longgar, maka aku bermaksud memberi waktu kepada Paman dan Kakang Arya Salaka untuk sekali lagi berpikir. Biarlah orang-orang tetap di tempatnya sampai esok atau lusa.”

Mahesa Jenar yang menyimpan pengalaman yang luas di dalam perbendaharaan hidupnya, dengan cepat dapat menangkap maksud itu. Maka jawabnya, “Sawung Sariti. Jangan kau menganggap bahwa hanya pasukan dari Pamingit yang wenang mengambil prakarsa dalam arena yang sudah membayang di hadapan kita. Pasukan yang sudah berhadapan akan kehilangan kesabaran untuk menunggu sampai besok atau lusa. Bersiaplah, aku akan mulai.”

Dada Sawung Sariti tergoncang mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Meskipun demikian ia tidak menjadi takut. Sebab ia yakin kepada orang-orang yang dibawanya. Karena itu segera ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah oleh api kemarahan yang menyala-nyala di dalam dadanya. Tetapi saat itu ia pun sadar bahwa Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pengawal raja. Karena itu apa yang dikatakan pasti benar-benar akan dilakukan. Maka segera Sawung Sariti mengangkat tangannya memberi aba-aba untuk segera bersiap.

Tetapi dalam pada itu terjadilah hal-hal diluar perhitungan. Baik Sawung Sariti maupun Mahesa Jenar. Ketika segenap orang dalam barisan Pamingit itu mulai bergerak untuk menyusun diri, tampaklah seorang dengan enaknya berjalan keluar dari rombongan itu, menuju langsung ke arah Mahesa Jenar. Bahkan kemudian disusul oleh seorang lagi.

Mereka berjalan seperti orang yang sudah kehilangan kesabaran. Dengan langkah-langkah panjang dan cepat mereka tergesa-gesa mendekati Mahesa Jenar. Yang kemudian dengan suara panjang melengking terdengarlah tertawa seorang wanita, sambil berkata, “Apakah yang sedang kalian bicarakan?”

Sawung Sariti memandangnya dengan wajah penuh pertanyaan. Pada saat ia akan memulai dengan suatu tata gelar, tiba-tiba dua orang dari dalam pasukannya menyusulnya.

“Kenapa kau keluar dari barisan…?” tanya Sawung Sariti. Orang itu, yang tidak lain adalah janda Sima Rodra, tertawa semakin nyaring. Jawabnya, “Aku tidak sabar dengan segala macam aturan. Aku biasa bertempur kapan saja aku kehendaki, dan dalam tata gelar apapun yang aku senangi.”

Telinga Sawung Sariti menjadi merah. Memang ia sadar sejak semula akan sulitlah mengatur orang-orang dari gerombolan liar itu dalam tata pertempuran yang teratur. Sebab menurut kebiasaan mereka, mereka bertempur dengan mengandalkan kekuatan pribadi, sehingga hampir tidak pernah mereka memikirkan tentang tata gelar yang dianggap dapat menguntungkan pasukannya.

Tetapi Sawung Sariti tidak berani menyendunya. Sebab orang-orang itu sangat diperlukan untuk melawan Mahesa Jenar. Karena itu bagaimanapun kecewanya terhadap orang-orang itu, namun perasaan itu disimpannya saja di dalam dadanya.

Sawung Sariti menjadi semakin berdebar-debar ketika Janda dari Gunung Tidar itu langsung datang kepada Mahesa Jenar dan berkata, “Mahesa Jenar, aku datang untuk memenuhi kata-kataku pada saat kau membunuh suamiku di pedukuhan ini. Aku tidak peduli apakah urusanmu dengan Sawung Sariti. Tetapi aku merasa bahwa akulah yang paling berhak untuk membalas dendam.”

MAHESA JENAR yang sangat muak melihat perempuan itu menjawab dengan keras, “Sekehendakmulah. Kalau kau merasa perlu membalas dendam, cobalah untuk memenuhi tuntutan dendam itu. Aku tidak akan menyingkir.”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar itu, Janda Sima Rodra sama sekali tidak menjadi marah. Malah dengan tertawa pendek ia menjawab, “Bagus. Aku akan segera melakukannya. Tetapi aku kira bahwa aku dapat berbuat sebaliknya. Memaafkan kesalahanmu itu.”

Mahesa Jenar ketika mendengar kata-kata Sawung Sariti, dengan nada yang demikian pula, ia menjadi tidak senang. Apalagi ketika perkataan-perkataan itu keluar dari mulut Janda Sima Rodra. Terasa seolah-olah darahnya menjadi mendidih. Katanya semakin keras, “Kalau hidupku kemudian hanya karena kebaikan hatimu, Sima Rodra betina, aku lebih baik membunuh diriku.”

Suara tertawa Harimau Betina itu malah menjadi semakin berkepanjangan. Katanya, “Dengan terbunuhnya suamiku, aku merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Karena itu akupun harus mendapatkan ganti sesuatu dengan yang hilang itu. Kalau kau mampu menggantinya, aku akan melupakan peristiwa yang paling menyedihkan dalam hidupku itu.”

Sekarang Mahesa Jenar benar-benar tidak dapat mendengar kata-kata itu lagi. Telinganya menjadi seolah-olah terbakar. Karena itu tidak ada alasan untuk mendengarkannya lebih lama ocehan Janda Sima Rodra itu.

Dengan tenangnya Mahesa Jenar melangkah ke samping. Kedua tangannya diangkatnya tinggi.
Kemudian dengan gerakan lurus tangan itu direntangkannya kesamping, seterusnya kembali ke atas. Ternyata ia sudah mulai menyiapkan pasukannya dalam gelar yang diperlukan, Sapit Urang.

Melihat aba-aba itu, Sawung Sariti segera merasa perlu untuk menyiapkan pasukannya pula. Sesuai dengan sifatnya yang sombong, ia sama sekali tidak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan gelar Supit Urang yang sudah dipersiapkan oleh Mahesa Jenar, tetapi karena kepercayaan pada kekuatan yang dibawanya, serta kepercayaan pada diri sendiri, segera Sawung Sariti menyobek panji-panji putihnya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi tunggul yang kemudian sudah dilepas sarungnya.

Tunggul itu digerakkan beberapa kali melingkar dan kemudian untuk beberapa lama ditegakkan di udara. Ia telah memerintahkan kepada pasukannya untuk bersiap dalam gelar Dirada Meta.

Tetapi agaknya Janda Sima Rodra tidak peduli pada persiapan-persiapan itu. Sekali lagi ia berkata, “Mahesa Jenar, aku dapat mencegah pertempuran ini. Bahkan kalau perlu aku dapat menghancurkan pasukan Pamingit itu apabila kau dapat mencarikan ganti suamiku yang telah hilang.”

Akhirnya Mahesa Jenar menjadi benar-benar muak. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum rombongan Uling datang. Karena itu dijawabnya, “Baiklah Sima Rodra, aku akan berusaha mencari ganti buatmu. Apabila pekerjaanku ini sudah selesai, aku ingin menangkap seekor beruk yang buas untuk mengganti Harimau Liar yang telah mati.”

Bagaimanapun juga Janda Sima Rodra adalah seorang manusia. Karena ia menjadi tersinggung sekali atas jawaban itu. Apalagi ketika orang yang berdiri di belakangnya, yang tidak lain adalah Jaka Soka menyambung sambil tersenyum, senyuman seekor ular yang berbisa tajam. “Bagus Mahesa Jenar. Usulmu tepat sekali.”

Kebo Kanigara, yang berdiri tidak jauh dari Mahesa Jenar, dan yang selama itu acuh tak acuh saja, terpaksa tertawa pula. Bahkan kemudian ia menyahut, “Aku kira seekor beruk masih terlalu besar buat perempuan yang mengerikan itu. Bukankah lebih baik seekor lutung saja untuk menggantikan suaminya yang terbunuh itu…?”

Hati Janda Gunung Tidar itu ternyata terbakar oleh api yang dinyalakannya sendiri. Terbawa oleh sifat-sifatnya yang liar itu, maka ia sama sekali tidak pedulikan, apakah ia termasuk dalam pasukan Sawung Sariti atau tidak. Langsung ia meloncat maju dan dengan garangnya menyerang Mahesa Jenar dengan kuku-kukunya yang tajam beracun. Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang selalu waspada, sehingga dengan mudahnya ia meloncat ke samping menghindari serangan itu.

Tetapi Janda Sima Rodra itupun bukan seorang yang dapat diremehkan. Bertahun-tahun ia hidup dalam dunia kejahatan dan perkelahian. Karena itu ia tidak bermaksud memberi ruang untuk bergerak bagi lawannya.

Dalam pada itu salah seorang yang berdiri di belakang Mahesa Jenar, di dalam barisan orang-orang Gedangan, terdapatlah seorang yang memiliki dendam sedalam lautan kepada perempuan liar itu.

Ketika ia melihat perempuan liar dari Gunung Tidar itu bercakap-cakap dengan Mahesa jenar, darahnya sudah menggelegak. Namun demikian ia selalu berusaha untuk menahan diri, supaya tidak merusakkan rencana Mahesa Jenar serta barisannya.

Tetapi kemudian ketika ia melihat, Harimau Betina itu menyerang Mahesa Jenar, agaknya darahnya benar-benar menjadi mendidih. Sehingga seolah-olah diluar kemauannya, tiba-tiba ia pun meloncat berdiri disamping Mahesa Jenar sambil berkata nyaring, “Janda Sima Rodra yang cantik.
Sudah lama aku berusaha untuk memperkenalkan diriku. Tetapi sayang bahwa pertemuan kita di pedukuhan ini beberapa waktu yang lalu ternyata terlalu singkat.”

Janda Sima Rodra itu terhenti. Dengan pandangan penuh kemarahan, ia mengamati orang yang menyapanya itu. Seorang gadis dengan pakaian laki-laki. Kemudian teringatlah ia, ketika ia bersama almarhum suaminya bertempur melawan Mahesa Jenar dan muridnya, tiba-tiba ia telah diserang oleh seorang yang tak dikenalnya.

Agaknya orang inilah yang telah menyerangnya itu, bahkan yang kemudian oleh ayahnya, gadis itu berhasil ditangkapnya. Dan orang itu sekarang muncul lagi di hadapannya.

KEMARAHAN Janda Sima Rodra semakin menyala. Dengan suara yang tajam melengking ia berteriak, “Hai, gadis manis… siapakah sebenarnya kau? Sebenarnya lebih baik bagimu untuk tinggal di rumah menghias diri, daripada mengganggu aku di arena ini. Meskipun menilik pakaianmu agaknya kau lebih senang disebut sebagai seorang laki-laki daripada seorang perempuan.”

Orang itu, yang tak lain adalah anak tiri Janda Sima Rodra sendiri, menjawab, “Tak apalah kalau kau tak mengenal aku. Namaku adalah Rara Wilis dari Gunung Kidul. Anak perempuan dari Ki Panutan, yang kemudian pergi meninggalkan kampung halamannya karena perempuan cantik yang perkasa.”

“Wilis…!” teriak Janda Sima Rodra. Ia memang pernah mendengar nama Rara wilis. Bahkan gadis itu pernah ditangkap oleh ayahnya. Namun baru sekarang ia teringat bahwa orang yang bernama Rara Wilis itu pernah dikenalnya pada masa kanak-kanaknya. Pada saat ia sedang memikat almarhum suaminya, ia memang sering melihat seorang gadis kecil yang bernama Rara Wilis.

Karena itu kemudian janda Sima Rodra berkata sambil tertawa, “Wilis, ya Wilis. Alangkah pelupanya aku ini. Ketika aku mendengar namamu beberapa saat yang lalu, aku sama sekali lupa bahwa kau adalah anakku sendiri. Nah, sekarang aku telah tahu benar bahwa kau adalah anakku. Apakah maksudmu sekarang…?”

Dengan nada yang tak kalah lantangnya Wilis menjawab, “Ah… agaknya kau ingat juga apa yang pernah kau lakukan atas ayah beberapa tahun yang lewat. Ketahuilah bahwa karena itu, keluarga menjadi terpecah-pecah.”

“Hem…” geram perempuan itu. “Itu bukan hanya salahku. Kau kira kalau ayahmu bukan seorang laki-laki rakus, aku dapat memaksanya pergi?”

Wilis mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Kau benar. Namun kejadian itu bukanlah suatu kebetulan. Kaulah sebabnya, dan keluargakulah yang harus menanggung akibatnya.”

“Tiba-tiba perempuan itu tertawa lebih keras. Katanya, Sebenarnya kalau kau menuntut ayahmu itu, tuntutlah kepada laki-laki di sampingmu itu. Dialah yang telah membunuhnya.”

Mendengar seruan itu, dada Mahesa jenar berdesir. Memang, pada saat Sima Rodra terbunuh, Rara Wilis menjadi sangat marah kepadanya. Bahkan masih terasa betapa ujung pedang gadis itu melukai dadanya. Sekarang, peristiwa itu diingatkan lagi.

Tetapi ternyata jawaban Rara Wilis melegakan Mahesa Jenar. “Aku sudah tahu, Janda Sima Rodra, bahwa laki-laki di sampingku inilah yang telah membunuh ayahku. Tetapi hal itu bagiku adalah jalan yang sebaik-baiknya, daripada setiap hari ayahku selalu menimbun dosa.”

Terdengar Harimau Betina itu menggeram marah. Usahanya untuk mengadu kedua orang itu tak berhasil. Karena itu ia berteriak, “Baik… lalu apa maumu?”

“Menurut pikiranku…” jawab Rara Wilis, “Aku pun akan membuat jasa kepadamu, seperti apa yang telah terjadi pada ayahku. Kau… ibuku, harus juga aku cegah untuk tidak membuat dosa setiap hari. Agar kau tidak usah berhenti terlalu lama di dalam api pencucian kelak.”

Perempuan liar itu sudah menjadi pening mendengar kata-kata Rara Wilis. Karena itu ia tidak menjawab lagi. Dengan garangnya ia berteriak sambil meloncat menyerbu. Untunglah bahwa Rara Wilis pun telah bersiaga. Dengan lincahnya ia meloncat menghindar. Bahkan dengan kakinya ia menyerang lambung Harimau Betina itu. Namun Janda Sima Rodra pun memiliki pengalaman yang luas, sehingga dengan siku tangannya ia menutup lambungnya. Melihat lawannya melindungi diri, Rara Wilis menarik kakinya, namun kemudian tangannya yang dengan cepat menyambar tengkuk. Sekali lagi Harimau Betina itu meloncat mundur. Namun kemudian ia tidak mau diserang lagi.

Dengan garangnya kemudian mengembanglah jari-jari janda Sima Rodra yang berkuku panjang, dengan logam beracun di ujung-ujungnya. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran sengit. Pertempuran yang dilambari oleh tuntutan dendam yang telah lama tersimpan di dalam dada dan sekaligus merupakan suatu usaha untuk melenyapkan benih-benih kejahatan yang dapat tumbuh di kemudian hari.

Rara Wilis maupun Janda Sima Rodra memiliki kelincahan yang mengagumkan. Janda Sima Rodra bertempur dengan ilmu yang diwarisi dari ayahnya, yang memiliki unsur-unsur kegarangan yang mengerikan, dengan gerak-gerak harimau lapar. Sedangkan Rara Wilis adalah cucu sekaligus murid Ki Ageng Pandan Alas. Seorang sakti yang bertahun-tahun menekuni ilmunya sehingga sukar untuk mendapat bandingan. Karena itu pertempuran yang terjadi adalah merupakan pertempuran antara ilmu jahat melawan ilmu yang dengan gigih berusaha menumpasnya.

Dalam keadaan yang demikian, untuk beberapa saat semua mata terpaku pada pertempuran itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang mempunyai wawasan yang dalam, segera melihat keadaan Rara Wilis sama sekali tidak mengkhawatirkan.

Karena itu mereka tidak perlu tergesa-gesa mengambil tindakan terhadap perempuan liar itu. Apalagi di hadapan mereka, masih terdapat orang-orang yang cukup berbahaya.

Jaka Soka yang berdiri dekat titik perkelahian, agaknya sangat tertarik melihatnya. Dengan tersenyum aneh, ia bahkan dengan enaknya duduk menonton.

Jaka Soka menjadi keheran-heranan juga melihat gadis cantik yang pernah ditemuinya di hutan Tambakbaya itu mampu bertempur dengan gigihnya melawan Janda Sima Rodra.

Sedangkan Sawung Sariti menjadi berdebar-debar melihat seseorang muncul dari dalam barisan.
Seorang gadis lagi. Dan orang itu dapat mengimbangi Janda Sima Rodra dari Gunung Tidar. Namun meskipun demikian ia tidak bercemas hati. Sebab masih ada orang yang jauh lebih sakti dari janda itu dalam barisannya.

Yang kemudian dilakukan Sawung Sariti adalah memberi tanda kepada pasukannya untuk mengadakan persiapan terakhir. Ia sudah tidak melihat kemungkinan lain kecuali bertempur saat itu juga, sekaligus untuk mencurahkan dendam kepada orang-orang Gedangan, karena kegagalannya menjadikan Gedangan sebagai kuburan untuk orang-orang yang telah dan akan disingkirkannya.

Demikian ketika Sawung Sariti sekali lagi melambaikan tangannya, bergeraklah seluruh pasukan Pamingit dalam gelarnya yang dahsyat, Dirada Meta. Pasukan itu seolah-olah merupakan suatu bentuk seekor gajah yang maha besar, yang sedang berjalan dengan tangguhnya menyerang lawan.

Di ujung gading pasukan Pamingit berdirilah dua orang yang sangat ditakuti. Yaitu Sima Rodra tua dari Lodaya yang merasa perlu membalas dendam atas kematian menantunya, sekaligus untuk melenyapkan salah seorang saingan utama dalam perebutan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sedang di ujung yang lain, sahabat Harimau Lodaya, yaitu Bugel Kaliki. Ia ikut serta dalam pertempuran itu atas permintaan sahabatnya. Namun sebenarnya ia pun sedang mengadakan penyelidikan kemana keris-keris sakti dari Istana Demak itu berada.

Bugel Kaliki sadar bahwa pertempuran-pertempuran yang berjalan ini hanyalah merupakan permulaan dari pertempuran-pertempuran dan perkelahian-perkelahian yang akan terjadi kelak apabila sudah ada gambaran di mana kedua keris itu tersimpan. Bahkan ia pun sadar seperti Sima Rodra juga, bahwa mereka masing-masing harus berusaha melenyapkan saingannya satu demi satu. Kalau sekarang mereka sedang berusaha untuk menyingkirkan Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, yang mungkin terdapat pula Pandan Alas, maka esok mereka harus menyingkirkan kawan-kawan mereka yang sekarang sedang bertempur bersama-sama dan saling membantu.

Ketika Mahesa Jenar melihat pasukan gabungan dari Pamingit dan Gunung Tidar mulai bergerak, segera ia mengangkat tangannya pula. Dan, segera bergerak pula seluruh laskar Gedangan dalam gelarnya Supit Urang.

Untuk menghadapi gelar gajah yang datang menyerangnya, barisan dalam bentuk udang raksasa dengan sapit-sapitnya yang garang itupun telah bergerak maju.

Dalam pada itu sekali lagi Sawung Sariti melihat keliling untuk mengetahui keadaan medan keseluruhan. Dari lambung sebelah kiri dilihatnya pasukan itu dipimpin oleh Wanamerta, sedang dari lambung kanan dilihatnya bahwa pasukan itu dipimpin oleh seorang anak muda sebaya dengan dirinya.

Melihat anak muda itu, hati Sawung Sariti berdesir. Itulah Arya Salaka.

Karena itu cepat Sawung Sariti meloncat mundur, dan berbisik kepada Galunggung, ” Galunggung…
peganglah pimpinan. Berikan aba-aba atas namaku. Bawalah tunggul ini. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Kakang Arya Salaka.”

Galunggung segera tahu maksud Sawung Sariti. Segera ia menerima tunggul itu. Meskipun demikian ia berpesan kepada Sawung Sariti, ” Anakmas, hati-hatilah. Anak itu bukan anak yang dapat diabaikan.”

Sawung Sariti tersenyum, lalu jawabnya, “Jangan takut. Beberapa bulan yang lalu aku memang belum dapat mengalahkannya. Tetapi sekarang keadaan telah jauh berubah. Percayalah bahwa aku akan dapat membawa kepalanya pulang sebagai oleh-oleh buat ayah Lembu Sora.”

Galunggung pun tersenyum. Ia percaya kepada anak muda itu. Sesaat kemudian kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar yang masih berada disamping Kebo Kanigara segera menyiapkan diri masing-masing. Mereka telah melihat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki. Karena
itu mereka menempatkan diri untuk melawan mereka.

Dalam pada itu Janda Sima Rodra dan Rara Wilis masih saja bertempur dengan sengitnya. Mereka seolah-olah tidak peduli bahwa pasukan-pasukan itu sebentar lagi akan berbenturan dan akan segera terjadi pertempuran yang dahsyat. Saat itu mereka sedang tenggelam dalam perkelahian yang seolah terpisah dari pertempuran yang bakal datang.

Kedua pasukan menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Setiap wajah yang berbeda dalam barisan menjadi semakin tegang pula. Tangan-tangan mereka yang memegang senjata masing-masing telah menjadi bergetar dan basah oleh keringat. Janda Sima Rodra yang mempunyai pengalaman lebih banyak, ternyata tidak mau bertempur didaerah lawan. Perlahan-lahan ia menggeser titik bertempur sejalan dengan langkah laskar Gedangan, mendekati pasukan-pasukan dari Pamingit.

Jaka Soka yang sangat tertarik pada pertempuran itu terpaksa ikut bergeser. Meskipun tampaknya acuh tak acuh saja namun sebenarnya otaknya yang licin itu sedang bekerja keras mencari jalan yang semudah-mudahnya, bagaimanakah sebaiknya untuk menangkap Rara Wilis tanpa kesulitan. Meskipun untuk memiliki gadis itu sekarang ia terpaksa mempertimbangkan bahwa ia mungkin akan mendapat perlawanan yang berat, tidak sebagaimana pernah terjadi pada saat gadis itu sama sekali belum memiliki ilmu bela diri.

Pada saat itu matahari telah menanjak di atas bukit-bukit yang hijau di arah timur. Sinarnya yang hangat menghambur di atas batu-batu karang yang kemerah-merahan serta dedaunan yang hijau segar oleh titik-titik embun yang belum lenyap seluruhnya. Angin pegunungan yang sejuk terasa mengusap wajah-wajah yang tegang. Namun hampir tak seorang pun yang dapat menikmatinya. Sebab hati mereka telah terampas oleh ujung-ujung senjata yang berkilat-kilat karena sinar matahari.

TIDAK jauh di belakang pasukan Gedangan, pedukuhan gedangan menjadi amat sepi, seolah-olah pada saat matahari sudah demikian tingginya masih saja lelap dalam tidurnya. Rumah-rumah bambu yang tegak seakan menjadi tak berpenghuni. Sedang anak-anak kecil erat berpegang ujung-ujung baju ibunya, yang menahan debar jantung melepas suami pergi berperang.

Tetapi ketika terasa mata mereka hangat oleh titik-titik air yang tak tertahankan lagi, diulanginya kata-kata yang pernah didengar dari lurah mereka, bahwa tugas yang paling mulia bagi seorang laki-laki adalah berjuang untuk tanah kelahiran. Dan sekarang suami mereka sedang menjalani tugas mulia. Sebab ada orang lain yang akan mengganggu ketenteraman kampung halaman mereka, seperti yang pernah terjadi beberapa saat sebelumnya.

Jarak antara kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, sehingga akhirnya seperti dua jalur air bah yang berbenturan. Meledaklah pertempuran yang dahsyat. Pasukan Pamingit yang dibantu laskar dari Gunung Tidar mempunyai pengalaman yang lebih banyak dibandingkan laskar Gedangan. Namun pada saat itu laskar Gedangan dibekali oleh suatu tekad untuk menyelamatkan pedukuhan mereka dari penindasan dalam segala bentuk. Apalagi dalam waktu terakhir mereka telah menerima gemblengan yang berat dari seorang yang dapat dibanggakan, yaitu Mahesa Jenar dibantu Kebo Kanigara, Wanamerta dan Arya Salaka.

Demikianlah dering senjata di sela-sela gemerincing pedang beradu perisai terdengar diantara pekik sorak dari kedua belah pihak seperti membelah langit. Kilatan-kilatan ujung-ujung pedang memantulkan cahaya matahari seperti sinar-sinar yang menyembur-nyembur.

Dalam pertempuran itu Kebo Kanigara menempatkan dirinya untuk melawan Bugel Kaliki, sedangkan Mahesa Jenar bertempur mati-matian melawan Sima Rodra yang bernafsu untuk menuntut balas atas kematian menantunya. Sedangkan diantara pasukan yang bertempur itu, Janda Sima Rodra dan Rara Wilis masih saja berkelahi, seolah-olah tidak terpengaruh oleh pertempuran yang menyala-nyala di sekitarnya.

Pada saat hiruk-pikuk itulah Jaka Soka ingin mendapatkan keuntungan. Ia sudah tidak berpikir lagi untuk ikut serta memusnahkan orang-orang Gedangan yang pernah mengecewakan hati Sawung Sariti atau Mahesa Jenar. Ia berharap Bugel Kaliki dan Sima Rodra dapat menyelesaikan pekerjaan itu. Dengan demikian ia pun akan kehilangan seorang saingan dalam memperebutkan Nagasasra dan Sabuk Inten.

Lebih daripada itu, ia pun akan kehilangan seorang saingan pula dalam perebutan gadis yang bagaimanapun tak dapat dilupakan. Sebab ia tahu bahwa agaknya Mahesa Jenar pun bukan tanpa pamrih untuk selalu melindunginya.

Sekarang, Mahesa Jenar sedang sibuk bertempur melawan Sima Rodra tua. Ia mengharap bahwa Mahesa Jenar tidak akan dapat keluar dari pertempuran itu, lengkap dengan nyawanya.
Maka ketika semua orang yang berada dalam lingkaran pertempuran itu sedang sibuk menyabung nyawa, tiba-tiba Jaka Soka meloncat menerjang ke arah Rara Wilis yang sedang sibuk melayani Janda Sima Rodra. Dengan demikian ia menjadi tidak memperhatikan kedatangan bahaya yang baginya lebih dahsyat daripada mati.

Tetapi kemudian Jaka Soka dikejutkan oleh suatu serangan yang tak diduganya pada saat ia menyergap Rara Wilis. Apalagi ketika ia sudah sempat mengamati orang yang menyerangnya itu. Ia tidak lebih dari seorang gadis tanggung, yang dengan lincahnya menyambar-nyambar seperti seekor sikatan menangkap belalang. Gadis itu tidak lain adalah Widuri, yang dengan diam-diam ikut serta dalam barisan orang-orang gedangan.

Melihat gadis tanggung itu mengganggunya, Jaka Soka menjadi marah bukan buatan. Sekali ini ia tidak mau gagal lagi. karena itu segera ia mengerahkan tenaganya untuk dengan cepat membinasakan anak yang telah berbuat lancang itu.

Tetapi sekali lagi ia menjadi heran. Kalau semula ia kagum akan kegesitan Rara Wilis, sekarang ia terpaksa mengagumi gadis tanggung yang dapat bertempur dengan tangkasnya. Bahkan serangan-serangannya kadang-kadang terasa sangat berbahaya. Kekaguman itulah kemudian yang menambah kemarahan Jaka Soka. terhadap anak kecil yang baru dapat berjalan beberapa langkah, Ular Laut dari Nusakambangan itu tidak dapat segera dapat mengatasinya…? Dengan demikian Jaka Soka bertempur mati-matian mendesak lawannya.

Dalam pada itu, bagaimanapun cakapnya Widuri membawa dirinya, namun ia telah melawan seorang yang mempunyai nama menakutkan dalam kelangan bajak laut. Jaka Soka yang tampan itu adalah ular yang berbisa sangat tajam. Karena itu segera terasa bahwa ia masih belum sampai pada tingkatan yang cukup untuk melawannya. Meskipun demikian Endang Widuri adalah seorang gadis yang berjiwa besar, sebagaimana tersimpan dalam saluran dara Handayaningrat. Karena itu ia sama sekali tidak mengeluh atau menyesal. Bahkan segera ia pun mengerahkan segala ilmu yang pernah dipelajarinya untuk mempertahankan diri.

Untunglah bahwa dari sela-sela gemerlapnya pedang, Kebo Kanigara dapat melihat bayangan gadisnya yang meloncat-loncat dengan lincahnya. Namun bayangan itu telah membuat debar jantung Kanigara lebih cepat. Pada saat itu ia sedang bertempur melawan Hantu Bongkok dari Lembah Gunung Tidar, yang terkenal bertangan panas. Telapak tangannya seolah-olah menyimpan tenaga api yang tidak terkira, sehingga dalam setiap pertempuran, bila seseorang kena rabanya, segera akan menjadi hangus kulitnya pada tempat sentuhan itu.

Tetapi Kanigara bukan pula manusia biasa. Ia adalah seorang sakti yang memendam diri. Meskipun namanya tidak dikenal, namun sebenarnya ia telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan, bahkan melampaui orang-orang yang ditakuti seperti Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, dan sebagainya. Karena itulah maka untuk melawan Si Bongkok itu, Kebo Kanigara tidak usah berkecil hati.

KANIGARA tiba-tiba mempunyai pekerjaan lain, selain melawan Si Bongkok. Bagaimanapun ia melihat bahwa Widuri tidak dapat mengimbangi keganasan Jaka Soka. Sehingga dengan demikian terpaksa ia menggiring lawannya mendekati pertempuran anaknya. Bahkan untuk membesarkan hati gadis itu, ia berteriak, “Widuri, kenapa kau ikut serta?”

Widuri mendengar suara ayahnya. Tiba-tiba hatinya menjadi bertambah besar. Sehingga dengan demikian tenaganya pun terpengaruh. Apalagi ketika ayahnya berteriak lagi, “Bertahanlah. Aku datang.”

Widuri tertawa pendek. Lalu jawabnya, “Orang ini hebat juga, ayah.”

Kebo Kanigara tidak menjawab. Ia terpaksa bertempur dengan sebagian perhatian terikat kepada anaknya. Bahkan sesekali ia terpaksa melontarkan diri untuk memberinya pertolongan.
Kalau saja ia tidak berbuat demikian, maka ia perlahan-lahan namun pasti akan segera dapat mendesak lawannya. Tetapi karena ia terpaksa membagi tenaganya, maka Bugel Kaliki masih dengan segarnya dapat bertempur melawan orang yang sama sekali belum dikenalnya itu, tetapi ternyata sangat mengejutkannya. Ia merasa bahwa di dunia ini hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengimbangi kesaktiannya. Namun tiba-tiba muncullah orang ini.

Apalagi orang ini dapat melawannya dengan membagi tenaga. Karena itu ia menjadi marah. Bugel Kaliki yang terkenal bertenaga api itu segera berusaha sekuat tenaga untuk dapat memenangkan pertempuran. Namun bagaimanapun, kemudian ia terpaksa mengakui kedahsyatan tenaga Kebo kanigara. Sehingga dengan demikian Bugel Kaliki harus lebih berhati-hati lagi.

Di titik yang lain, tampaklah Mahesa Jenar bertempur melawan Harimau Liar dari Lodaya yang menyerangnya dengan garang.

Orang tua yang berkerudung kulit harimau hitam itu mula-mula merasa bahwa dalam waktu yang pendek dapat menyelesaikan pekerjaannya. Sebab ia merasa bahwa Mahesa Jenar berdua dengan Gajah Sora, bahkan dengan sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tak dapat mengalahkannya. Malahan seandainya pada saat itu tidak datang Titis Anganten, Mahesa Jenar pasti sudah binasa.

Tetapi ternyata Harimau Liar itu menghadapi suatu kenyataan lain. Mahesa Jenar yang bertempur pada saat itu ternyata bukanlah Mahesa Jenar beberapa tahun yang lampau. Ilmunya kini telah meningkat jauh dibanding masa-masa itu. Karena itu, ia pun menjadi marah bukan kepalang. Dengan menggeram dahsyat ia menerkam Mahesa Jenar dengan garangnya.

Namun Mahesa Jenar kini telah benar-benar merupakan seorang yang luar biasa. Bahkan orang yang pernah melihat cara almarhum gurunya bertempur, pasti akan berkata di dalam hati, Mahesa Jenar benar-benar telah merupakan bayangan yang tepat dari Ki Ageng Pengging Sepuh.

Karena itulah Sima Rodra menjadi keheran-heranan. Apalagi ketika ternyata bahwa Mahesa Jenar dapat mendesaknya dengan tajamnya.

Demikianlah, pertempuran itu berkobar-kobar dengan dahsyatnya. Debu putih mengepul naik ke udara seperti tirai kabut yang tebal. Sedangkan matahari semakin lama menjadi semakin tinggi, membawa wajahnya yang lesu menempuh garis edarnya. Garis yang telah dilaluinya setiap hari. Sekali bergeser ke utara, sekali bergeser ke selatan.

Demikianlah telah berlangsung dari tahun ke tahun, puluhan bahkan ratusan dan ribuan tahun telah berjalan tanpa suatu perubahan. Dan dalam waktu yang demikian panjangnya itu telah disaksikan segala macam kejadian di permukaan bumi ini. Telah disaksikan segala macam musim. Musim bunga, musim buah, musim hujan dan musim kering.

Telah disaksikan pula berbagai tabiat manusia. Sedih-gembiranya, senyum tangisnya. Bahkan tabiat-tabiat mereka yang aneh-aneh. Bertempur sesama manusia, membunuh dan memfitnah. Bahkan kadang-kadang mereka berkelahi tanpa sebab dan tanpa pengetahuan untuk apa sebenarnya mereka harus berkelahi, selain pemanjaan nafsu kebinatangan yang kadang-kadang menguasai mereka yang seharusnya memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada binatang.

Bahkan ada diantara manusia yang menjadi lupa pada asal mula dan hari akhirnya. Lupa kepada Tuhan penciptanya yang menyediakan segala kebutuhannya, tetapi yang kelak menuntut suatu pertanggungjawaban pada masa-masa hidupnya bila masa peradilan telah tiba. Lupa pada panasnya api neraka yang abadi yang akan menelannya, serta lupa kepada janji kesejahteraan abadi bagi mereka yang berjalan sepanjang garis kebenaran.

Demikianlah pertempuran yang terjadi di lembah antara bukit-bukit kecil itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Gemerincing senjata diantara sorak sorai laskar dari kedua pihak, kini dislingi pekik kesakitan dan rintihan pedih. Dari tubuh-tubuh yang sedang bergulat diantara maut itu, tampak menetes keringat dan darah.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi prihatin melihat pertempuran itu. Karena itu mereka berjuang semakin gigih. Kadang-kadang terdengar suara Mahesa Jenar berteriak memberi aba-aba yang agaknya sangat menguntungkan laskar Gedangan.

Sebagaimana yang dinasihatkan Mahesa Jenar bahwa seharusnya mereka lebih mementingkan kerja sama yang erat daripada bertempur seorang demi seorang. Dengan demikian mereka tidak perlu harus terikat kepada satu lawan, kecuali orang-orang tertentu seperti Mahesa Jenar sendiri.

Laskar Gedangan juga telah dilatih untuk mempergunakan otak dalam saat-saat tertentu, sehingga dengan demikian mereka tidak akan kehilangan akal. Karena itulah, disamping jumlah yang memang lebih banyak, ketika matahari telah menanjak tinggi, tampaklah bahwa laskar Gedangan berhasil mendesak lawan mereka.

Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki yang merasa sakti tanpa tanding, terpaksa harus mengakui bahwa dunia ini terbentang sedemikian luas, sehingga tidak seluruhnya dapat dijajaginya.

OLEH kenyataan itu, berbesar hatilah seluruh laskar dari Gedangan. Semakin lama mereka bertempur, semakin segarlah tubuh mereka oleh kemenangan demi kemenangan yang mereka peroleh. Sehingga ketika mahatari telah condong ke barat, titik pertempuran itu telah jauh bergeser.

Namun orang-orang Pamingit dan Gunung Tidar bukan pula orang yang mudah berputus asa. Karena gelar mereka ternyata tidak menguntungkan, kemudian terdengarlah jerit Galunggung diantara derak gempuran senjata memberi aba-aba. Demikian dahsyatnya teriakan itu sehingga dapat didengar oleh semua telinga di medan pertempuran itu. Demikian suara Galunggung berhenti, berubahlah tata barisan orang-orang Pamingit dan Gunung Tidar. Mereka mengubah gelar Dirada Meta yang hampir rusak, dengan gelar Gelatik Neba. Dengan demikian pertempuran itu seolah-olah menjadi kacau balau.
Orang-orang Pamingit dan Gunung Tidar secara perseorangan menyusup kedalam barisan Gedangan.

Namun hal yang demikian telah mereka duga sebelumnya. Sebab Mahesa Jenar pun pernah memberikan beberapa petunjuk bagaimana seharusnya melawan gelar itu. Beberapa barisan laskar terdepan dari Gedangan, sengaja membiarkan beberapa laskar lawan mereka menyusup masuk. Namun demikian mereka terbenam di dalam laskar Gedangan, demikian mereka dibinasakan.

Meskipun demikian, karena secara perseorangan laskar Gunung Tidar memiliki ketangguhan yang lebih besar, maka untuk sementara medan itu menjadi terpengaruh pula.

Tetapi yang sangat tidak diduga-duga oleh laskar Gedangan yang sudah mulai mendesak lawannya kembali, adalah kedatangan rombongan baru dari utara. Meskipun rombongan itu tidak besar, namun agaknya memiliki kekuatan yang cukup pula. Oleh kedatangan itulah kemudian terdengar suatu teriakan nyaring dari salah seorang pengawas di ekor barisan Gedangan yang mengabarkan bahwa pasukan Uling telah datang.

Mendengar teriakan di ekor barisannya, dada Mahesa Jenar berdesir. Yang dicemaskan selama ini ternyata benar-benar terjadi. Mau tidak mau rombongan yang masih segar yang baru datang itu akan banyak sekali berpengaruh pada pertempuran itu.

Meskipun demikian, hal yang serupa itu memang sudah disiapkan oleh Mahesa Jenar. Karena itulah ia mempergunakan gelar Supit Urang. Sehingga beberapa bagian, yang merupakan ekor dan kaki belakang gelarnya dapat dipergunakan untuk melawan pasukan yang datang dari samping, maupun dari belakang.

Kebo Kanigara pun melihat kesulitan yang bakal datang. Maka baginya tidak ada jalan lain daripada menyelesaikan pertempuran itu secepatnya. Namun bagaimanapun juga, karena ia terikat pula pada anaknya, sehingga geraknya tidak penuh leluasa.

Rombongan Uling dari Rawa Pening itu langsung dibawa oleh para pemimpinnya mendekati medan. Untuk beberapa saat Sepasang Uling itu berdiri mengawasi pertempuran yang masih menyala-nyala dengan hebatnya. Uling Putih dan Uling Kuning itupun adalah orang-orang yang telah lama berada dalam dunia yang penuh dengan pertumpahan darah. Sehingga dengan demikian wawasannya mengenai pertempuran itupun mengandung beberapa ketepatan hitungan.

Ia memang melihat bahwa laskar Gedangan pada saat itu dapat mendesak lawannya. Tetapi kemenangan itu adalah kemenangan yang tipis dan sangat perlahan-lahan. Dengan demikian maka sepasang Uling itu tidak mau membiarkan keadaan yang demikian itu berlangsung lebih lama lagi.

Karena itulah maka mereka memutuskan untuk segera menerjunkan laskarnya ke dalam arena, sebelum laskar dari Pamingit dan Gunung Tidar menjadi semakin tipis.

Demikianlah kedua bersaudara Uling yang ganas itu membagi laskarnya menjadi dua bagian, yang masing-masing dipimpin sendiri oleh dua bersaudara. Seorang membawa pasukannya ke kanan dan seorang lagi ke kiri, untuk seterusnya menyerang pasukan Gedangan dari belakang.
Dada Mahesa Jenar menjadi bertambah berdebar-debar melihat cara laskar Uling itu menyerang. Karena itu segera ia pun memberikan beberapa aba-aba untuk pasukannya, supaya dapat setidak-tidaknya membendung arus yang melanda dari belakang itu. Sedang Mahesa Jenar sendiri segera mengerahkan segala kekuatannya untuk dapat mengalahkan lawannya.

Demikianlah ketika Mahesa Jenar dan Sima Rodra telah bertempur semakin dahsyat, mereka masing-masing telah dapat mengukur bahwa kali ini tenaga mereka berimbang sehingga untuk seterusnya mereka harus mempergunakan kelincahan dan kecakapan mereka membawa diri masing-masing untuk memenangkan pertempuran itu.

Di bagian lain, di bagian belakang gelar Supit Urang itu, telah terjadi pertempuran yang dahsyat pula. Sepasang Uling itu ternyata tidak menemukan lawan yang seimbang. Sehingga dengan demikian ia seolah-olah dapat leluasa berbuat sekehendak mereka sendiri. Namun demikian beberapa orang Gedangan yang gagah berani telah berusaha untuk mencegah sekuat-sekuatnya.

Mereka bertempur bersama-sama menghadapi kekuatan Uling yang seakan-akan melampaui batas kekuatan manusia biasa. Meskipun demikian terasalah bahwa kekuatan laskar Gedangan sekarang benar-benar berada di bawah kekuatan lawannya.

Pasukan Uling dari Rawa Pening yang datang tepat pada saatnya itu telah menolong pasukan Pamingit dan Gunung Tidar yang telah terdesak menuju ke jurang kehancuran. Bahkan sekarang agaknya pasukan Gedanganlah yang terdesak dari dua arah. Agaknya mereka benar-benar berusaha menjepit dan menghimpit hancur laskar itu.

Meskipun demikian, laskar Gedangan telah berjuang mati-matian. Sapit-sapit yang dipimpin oleh Wanamerta dan Arya Salaka ternyata lincah pula. Mereka yang berada di luar himpitan pasukan lawan, agaknya banyak dapat memberikan pertolongan. Dengan bergeser-geser cepat mereka dapat mengganggu pasukan-pasukan Pamingit serta rombongan-rombongan yang lain.

NAMUN bagaimanapun juga, kemampuan mereka terbatas. Sebagai manusia mereka tidak dapat berbuat lain, diluar batas-batas yang mungkin. Bagaimanapun tebalnya tekad mereka, namun ternyata lawan mereka benar-benar memiliki kelebihan yang tak dapat mereka atasi.

Karena kenyataan itu maka Mahesa Jenar dan Kanigara beserta para pemimpin Gedangan menjadi semakin prihatin. Mereka memutar otak untuk menemukan cara, setidak-tidaknya untuk mempertahankan diri mereka supaya tidak tergilas hancur. Sedangkan mereka sendiri telah berjuang mati-matian untuk dapat menyelamatkan laskar mereka.

Tetapi keadaan berjalan tidak seperti yang mereka kehendaki. Laskar-laskar liar beserta laskar Pamingit agaknya telah mencapai suatu kepastian, bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran itu. Hal ini terutama disebabkan karena jumlah pimpinan mereka yang lebih banyak. Uling Putih dan Uling Kuning benar-benar seperti merajai daerah pertempurannya. Meskipun beberapa orang datang bersama-sama melawannya, namun sepasang Uling itu dengan mudahnya dapat menyingkirkan mereka seorang demi seorang.

Meskipun demikian laskar Gedangan bukan laskar yang berhati kecil. Mereka melihat pemimpin-pemimpin mereka bertempur dengan gigihnya. Bahkan mereka melihat seorang gadis tanggung bertempur dipihaknya tanpa mengenal takut melawan seorang yang perkasa, Jaka Soka. Dengan demikian mereka merasa bahwa yang dapat mereka lakukan adalah bertempur sampai titik darah penghabisan.

Gemerincing senjata masih saja menggema di lembah diantara bukit-bukit kecil itu. Bahkan semakin lama menjadi semakin riuh dibarengi dengan suara-suara yang dahsyat mengerikan. Teriakan-teriakan dan geram yang penuh kemarahan disela-sela jerit kesakitan yang mengerikan.

Ketika pertempuran itu masih berlangsung dengan riuhnya, matahari telah semakin berkisar ke barat menuju garis peristirahatannya. Wajah-wajah pegunungan yang semula berkilat-kilat kini telah berubah menjadi muram, semuram wajah Mahesa Jenar yang sedang bertempur sambil berpikir keras untuk menyelamatkan orang-orangnya. Yang sedikit membesarkan hatinya pada saat itu adalah semangat yang luar biasa dari laskarnya, sehingga menurut perhitungannya ia masih akan dapat bertahan sampai matahari terbenam. Setelah itu pertempuran pasti akan berhenti.

Dengan demikian ia akan dapat mencari jalan dengan lebih tenang, bagaimanakah sebaiknya untuk melawan kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan sendiri itu. Sedangkan apabila perlu demi tegaknya sendi-sendi kemanusiaan, maka tidak berdosalah kiranya apabila terpaksa dilepaskannya aji andalannya, Sasra Birawa.

Sesaat kemudian langit telah dibayangi dengan warna merah. Tanah-tanah pegunungan menjadi semakin suram dan kehitam-hitaman. Kedua belah pihak agaknya telah mulai nampak lelah, kecuali laskar yang dibawa oleh sepasang Uling dari Rawa Pening. Meskipun demikian laskar Rawa Pening itupun tidak dapat bertempur dengan sepenuh tenaga, sebab cahaya suram dari matahari yang telah jemu berjalan sepanjang hari, telah tidak membantu lagi. Mereka telah menjadi ragu-ragu karena mereka sudah mulai agak sulit membedakan lawan dan kawan. Meskipun demikian, terdorong oleh kemarahan yang memuncak dikedua belah pihak, mereka masih saja bernafsu untuk bertempur.

Pada saat yang demikian, pada saat pertempuran itu sudah mulai menurun karena senja yang mengganggu, muncullah diantara mereka suatu bayangan yang mendebarkan hati. Bayangan yang tidak diketahui asal arahnya, serta apa-siapanya.

Namun apa yang terjadi…? Bayangan itu telah berada di tengah-tengah arena pertempuran. Yang lebih mengejutkan lagi, bayangan itu memperdengarkan suaranya yang gemuruh, “Ayo, berjuanglah terus laskar Gedangan yang gagah berani. Karena kalian berada di pihak yang benar, aku berada di pihakmu. Setelah itu, tampaklah bayangan itu melontar dengan cepatnya kesana-kemari seperti anak kijang di padang rumput yang hijau segar.”

Laskar Gedangan yang kelelahan, karena tekanan yang berat dari lawannya, mendengar suara itu dengan debaran jantung yang deras. Meskipun tenaga mereka sudah mulai mengendor, namun tiba-tiba mereka seolah-olah mendapat tenaga cadangan. Karena itu jiwa mereka bangkit kembali, dan senjata-senjata mereka menjadi bertambah cepat berputar menyambar-nyambar.

Sesaat kemudian kembali terdengar suara bayangan itu, “Mahesa Jenar… lepaskan lawanmu. Layanilah sepasang Uling yang masih segar di ekor barisanmu.”

Mula-mula Mahesa Jenar ragu-ragu. Apakah orang itu dapat dipercaya…? Apakah orang itu juga mempunyai kemampuan yang cukup untuk melawan Sima Rodra tua dari Lodaya ini…?
Tetapi ketika ia sedang mempertimbangkan bolak-balik, bayangan itu telah berdiri di sampingnya.
Dengan tangan kirinya ia mendorong Mahesa Jenar ke samping. Alangkah besar tenaganya, sehingga Mahesa Jenar terkejut bukan main. Apalagi ketika ia sempat meneliti orang itu, darahnya serasa berhenti mengalir.

ORANG itu adalah seorang yang pernah dilihatnya beberapa tahun yang lalu. Ya tubuhnya, ya pakaiannya. Jubah abu-abu. Namun juga seperti beberapa tahun yang lalu, kali inipun ia tidak dapat memandang wajahnya dengan seksama. Kecuali orang itu selalu bergerak, juga karena arena pertempuran yang hiruk pikuk. Apalagi matahari telah hilang dibalik mega-mega yang berwarna merah di ufuk barat.

Namun pada saat itu terlintaslah didalam pandangannya bahwa wajah orang itu pasti bukan wajah aslinya, sebab tampak betapa kerut-merutnya sama sekali tidak menurut garis-garis wajah yang biasa. Orang itulah yang telah mengambil sepasang keris yang selama ini dicarinya dari Banyubiru, Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi kali ini ia tidak sempat bertanya-tanya.

Sebab ia harus melayani laskar lawannya yang mulai menyerangnya bersama-sama. Namun demikian ia sempat juga menyaksikan cara bertempur orang yang berjubah abu-abu itu sehingga hatinya tergetar. Bahkan ia telah dapat memastikan, akan datang saatnya sekarang, tokoh-tokoh gerombolan yang merasa dirinya demikian saktinya, akan tergilas hancur.

Demikianlah Mahesa Jenar segera mencoba memenuhi anjuran orang yang aneh itu. Dengan cepatnya ia meloncat diantara laskar yang sedang bertempur, menuju ke tempat Uling Kuning.
Uling Kuning yang bertempur melawan lebih dari sepuluh orang ternyata dapat melawan dengan enaknya. Cambuknya berputar-putar mengerikan, menimbulkan suara berdesingan. Bahkan karena cambuk itu pula, beberapa senjata di tangan laskar Gedangan telah terlontar jatuh.

Pada saat yang demikian itu muncullah Mahesa Jenar. Dengan geram terdengar ia berkata, Sudah cukup apa yang kau lakukan selama ini Uling Kuning? Nah sekarang aku akan mencoba menghadapimu.

Uling Kuning terkejut mendengar suara itu. Apalagi kemudian muncullah diantara laksar Gedangan, seseorang yang telah dikenalnya dengan baik, Mahesa Jenar. Seorang yang pernah memanaskan hatinya karena ia telah menggagalkan pertemuan golongannya beberapa tahun yang lampau di daerah Rawa Pening. Sebagai tuan rumah pada waktu itu ia merasa tersinggung sekali. Apalagi kemudian usaha untuk membinasakannya dapat digagalkan oleh orang-orang yang tak dikenal.

Karena itu, timbullah gairahnya untuk menjadi seorang pahlawan dari golongannya. Maka dengan menggeretakkan gigi, ia meloncat meninggalkan lawan-lawannya untuk menyongsong kedatangan Mahesa Jenar, sambil berteriak nyaring, Nah, akhirnya aku ketemukan kau di sini Rangga Tohjaya. Mudah-mudahan akulah orang yang dapat memenggal lehermu dan membawanya dalam suatu pertemuan yang akan kita selenggarakan kemudian sebagai ganti dari pertemuan yang pernah kau gagalkan dahulu.

Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi langsung ia menyerang lawannya. Serangan yang sama sekali tak terduga-duga oleh Uling Kuning. Karena itulah ia menjadi terkejut.

Untunglah bahwa Uling Kuning itupun telah banyak menelan pahit-manisnya pertempuran, sehingga meskipun dengan dada yang berdebar-debar ia berhasil menghindarkan diri. Bahkan karena itu ia menjadi marah bukan kepalang. Diputarnya cambuknya semakin cepat, melampaui kecepatan baling-baling. Yang tampak kemudian hanyalah segulung sinar yang menyambar-nyambar Mahesa Jenar dengan dahsyatnya.

Namun Mahesa Jenar sekarang bukanlah Mahesa Jenar yang dapat dijerumuskan oleh orang-orang hitam itu ke dalam jurang beberapa tahun yang lalu. Ia kini telah menguasai ilmunya hampir sempurna. Karena itu sesaat kemudian terasalah bahwa serangan Mahesa Jenar menjadi semakin dahsyat bagaikan badai yang datang bergulung-gulung menghantam daun-daun pepohonan, yang selembar demi selembar akan runtuh berserakan di tanah.

Demikianlah akhirnya Uling Kuning menjadi basah kuyup oleh keringat yang mengalir dari lubang-lubang kulit di seluruh tubuhnya. Ia menjadi gugup dan gelisah. Apalagi langit telah menjadi semakin suram. Sehingga akhirnya ia merasa perlu untuk mendapat bantuan dari saudaranya.
Sesaat kemudian terdengarlah cambuknya meledak tiga kali berturut-turut, yang segera mendapat jawaban dari arah lain dengan suara yang sama. Segera Mahesa Jenar mengerti, bahwa tanda itu adalah sebuah undangan bagi Uling Putih untuk datang membantunya.

Dan apa yang diduga adalah benar. Sejenak kemudian dari hiruk-pikuk yang semakin samar-samar muncullah seseorang yang bertubuh tinggi dan berwajah runcing. Sedang di tangan kanannya, digenggamnya sebuah cambuk yang sama dengan cambuk Uling Kuning. Dialah orangnya yang bernama Uling Putih.

Dengan serta merta Uling yang satu itu pun langsung menyerang Mahesa Jenar, yang telah bersiaga untuk melawan keduanya. Dengan demikian pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Mahesa Jenar terpaksa mengerahkan segenap kekuatannya untuk melawan kedua bersaudara yang ganas itu. Namun karena bekalnya telah cukup, maka Mahesa Jenar tidak pula banyak mengalami kesulitan.
Sejenak kemudian matahari telah benar-benar tenggelam di bawah garis cakrawala. Sinarnya yang semburat merah telah terbenam dalam warna yang kelam, berbareng dengan munculnya bintang-bintang satu demi satu menghiasi wajah langit.

Bulan yang masih muda menggantung dibalik lembaran awan yang tipis, seolah-olah menyembunyikan wajahnya agar tidak menyaksikan betapa anak manusia di bumi sedang mengadu tenaga. Sedangkan angin pegunungan yang mengalir lirih menggoyang dedaunan, menimbulkan suara berdesir. Sebuah lagu untuk memanjatkan doa demi keselamatan mereka yang sedang bertempur dalam lingkaran kebenaran.

Pada saat yang demikian, kembali terasa betapa laskar Gedangan mulai mendesak lawannya kembali. Kekuatan baru dari sepasang Uling itu telah dapat diimbangi oleh Mahesa Jenar beserta beberapa bagian laskar Gedangan, sedang orang baru yang berjubah abu-abu itu ternyata disamping bertempur melawan Sima Rodra, ia pun dengan serunya dapat mendesak pasukan Pamingit dan Gunung Tidar yang mencoba membantu Harimau Liar itu.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

4 Komentar

  1. ananto kusumo said,

    Senin, 6 September 2010 pada 15:07

    dulu di tahun 70an saya belum tuntas membacanya.

    saat ada pameran buku di bandung saya beli 2 jilid 1 dan 2 dari 3 jilid.

    sayapun pernah download dokumen ‘doc’ dari salah satu alamat, tapi setelah saya periksa ada yang berbeda tulisannya dengan yang di buku, maka saya simpan html ini untuk dibandingkan juga mana yang salah./berbeda.

    terimakasih bung daniel

  2. ananto kusumo said,

    Senin, 6 September 2010 pada 15:26

    disini nyaman untuk membacanya, bandingkan dengan di buku asli, baris demi baris dicetak rapat dan kalimat-kalimat ucapan tidak dipisah dengan teks cerita kadang saya mulai malas membaca karena kurang nyaman, tapi kalau sedang semangat, 1 jilid bisa selesai dalam 1 hari lebih.

    trims

  3. SUBIHANDONO SUBIHANDONO said,

    Kamis, 9 Maret 2017 pada 13:17

    cerita ini sungguh luarbiasa isinya ,buku ini wajib di baca oleh bangsa Indonesia .

  4. SUBIHANDONO SUBIHANDONO said,

    Kamis, 9 Maret 2017 pada 13:19

    aku membecanya ketika aku masih di SMP tahun 1974,mengesankan sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: