Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 11

Lanjutan dari jilid 10

KETIKA mengetahui bahwa ternyata pimpinan pasukan gabungan dari Pamingit dan gerombolan golongan hitam, Mahesa Jenar melihat bahwa pasukannya tidak mungkin lagi dapat tertolong apabila pertempuran diteruskan. Karena itu, diputuskannya untuk perlahan-lahan menarik diri, dan apabila mungkin besok dapat disusun kembali dengan gelar yang menguntungkan. Tetapi belum lagi ia memberikan aba-aba, tampaklah sayap-sayap pasukannya menjadi kacau balau.

Ternyata Sima Rodra Tua sudah tidak dapat lebih lama lagi bertahan melawan orang yang berjubah abu-abu itu. Malahan tidak itu saja. Orang yang berjubah abu-abu itu masih dapat melakukan tekanan-tekanan berat pada Jaka Soka dan bahkan Bugel Kaliki, disamping lawannya sendiri.

Hal inilah yang kemudian memaksa Sima Rodra untuk menghindar sebelum binasa. Sebab menurut perhitungannya, ia tidak mungkin lagi dapat melawan orang itu. Dengan demikian, untuk keselamatannya dan keselamatan namanya sebagai seorang tokoh sakti, lebih baik ia melarikan diri dengan tidak memperdulikan barisannya. Yang diusahakan pada saat itu adalah untuk mencoba menyelamatkan anak perempuannya, Janda Sima Rodra Muda. Tetapi agaknya ia sama sekali tidak diberi kesempatan bergerak oleh lawannya. Dengan demikian usaha satu-satunya itupun tidak dapat dilakukan.

Demikianlah maka Sima Rodra itu secepat ia dapat, meloncat meninggalkan arena. Bahkan kemudian ternyata tidak saja Sima Rodra, tetapi juga Bugel Kaliki. Ia bertempur semata-mata atas permintaan sahabatnya itu, disamping kepentingannya sendiri yang tidak terlalu penting. Sebab ia dapat melakukannya di saat lain. Ketika diketahuinya bahwa sahabat yang membawanya itu menghilang dari pertempuran, iapun tidak merasa perlu untuk bertempur lebih lama lagi. Apalagi, ia dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi apabila ia berkelahi terus.
Karena itu segera iapun membenamkan dirinya dalam gelombang pertempuran itu dan seterusnya menghilang. Dengan demikian, maka kacaulah laskar yang berada di dalam pasukan-pasukan kedua orang itu, yang semula merupakan gading-gading dari gelar Dirata Meta, yang kemudian berubah menjadi gelar Gelatik Neba. Karena kekacauan itulah maka satuan pasukan Pamingit dan Gunung Tidar menjadi rusak sama sekali. Beberapa orang kemudian berbuat seperti pimpinan mereka. Berusaha melarikan diri mereka masing-masing.

Melihat kekacauan yang timbul di dalam barisannya, Galunggung masih berusaha untuk memberikan aba-aba. Maksudnya, supaya pasukannya mundur dengan teratur. Tetapi usahanya sia-sia. Jaka Soka yang merasa ditinggalkan oleh orang-orang sakti diatasnya, merasa menjadi terlalu kecil pula, sehingga dengan demikian iapun sedapat mungkin menyelamatkan diri.

Dalam kekacauan pertempuran itu, Kebo Kanigara kehilangan jejak lawannya. Apalagi cahaya bulan muda itu sama sekali tidak mampu menembus tebalnya kabut yang masih mengepul tebal. Sedangkan orang yang berjubah abu-abu itu agaknya sama sekali tidak bernafsu untuk mengejar lawannya.

Di bagian lain, sepasang Uling yang bertempur dengan Mahesa Jenar masih sempat mempertahankan kerampakan orang-orangnya. Meskipun mereka kemudian juga melarikan diri, namun mereka tetap masih merupakan sebuah kesatuan. Bahkan beberapa orangnya yang berani, selalu berusaha untuk melindungi pimpinan mereka dari kejaran Mahesa Jenar, sehingga akhirnya mereka berhasil menghilang dibalik kepulan debu yang tebal.

Mahesa Jenar terpaksa menghentikan pengejarannya dan kembali kepada induk pasukannya. Namun sampai di bekas tempat pertempuran itu, ia terkejut ketika ia masih melihat dua orang yang bertempur mati-matian. Mereka, kedua orang itu, yang sejak semula tidak menghiraukan peperangan yang baru saja terjadi, sampai kini masih saja bergulat diantara hidup dan mati. Mereka itu adalah Janda Sima Rodra Muda melawan Rara Wilis dengan pakaian laki-lakinya, yang dalam bentuknya itu ia lebih senang disebut Pudak Wangi.

Janda Sima Rodra sebenarnya menyadari pula bahwa pasukan Pamingit dan Gunung Tidar tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Bahkan sebenarnya iapun ingin ikut serta lenyap bersama mereka. Namun agaknya usahanya dapat digagalkan oleh Rara Wilis yang menahannya dengan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan perempuan yang ganas itu. Kata Rara Wilis ketika ia melihat Harimau Betina itu sedang mencari jalan keluar, “Ibu yang baik…. Jangan hentikan permainan itu. Bukankah sewajarnya kalau seorang ibu mengajari anaknya bermain. Jangan takut orang lain akan turut campur. Persoalan kita adalah persoalan pribadi, sehingga aku tidak mau ada orang lain yang ikut dalam persoalan ini.”

“Bohong!” jawab janda itu, “Kau akan menjebak aku.”

Rara Wilis tertawa menyakitkan hati. Katanya, “Aku bukan jenismu, yang suka berdusta. Kau akan dapat melihat padaku, satunya kata dan perbuatan. Kalau kau memang tidak berani berhadapan dengan cara ini, lebih baik kau berjongkok dibawah telapak kakiku, untuk mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dengan senang hati aku akan memaafkanmu.”

Sebagai seorang yang telah lama terbenam dalam lumpur, Janda Sima Rodra merasa dihinakan oleh seorang gadis yang kebetulan adalah anak tirinya. Karena itu, ia menjadi mata gelap. Ia menjadi sama sekali tidak menaruh perhatian kepada keadaan sekelilingnya. Biarlah seandainya kemudian orang-orang lain akan mengeroyoknya. Asal ia lebih dahulu dapat menyobek mulut perempuan yang menghinanya itu.
Setelah itu, hidup matinya tidak berharga lagi baginya, seandainya ia harus mati ditengah-tengah musuh-musuhnya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Rara Wilis berteriak nyaring kepada orang-orang yang mengerumuninya setelah pasukan dari Pamingit dan Gunung Tidar meninggalkan arena, “Jangan ada seorangpun yang mencampuri urusan ini, sebab persoalan kami bukanlah persoalan kalian. Juga jangan sesalkan siapapun yang akan binasa diantara kami. Sebab kami telah memilih cara seorang ksatria dalam penyelesaian masalah kami, masalah yang terjadi antara anak dan ibu tirinya yang durhaka.”

SETIAP dada mereka yang mendengar suara itu berdesir. Bahkan Janda Sima Rodra yang ganas itu menjadi semakin kagum juga pada keberanian lawannya yang jauh lebih muda darinya. Tetapi karena itulah ia menjadi lebih bernafsu untuk membinasakan gadis yang sombong itu. Sehingga dengan demikian Harimau Liar Berbisa itu bertempur semakin garang. Kuku-kukunya yang dibalut logam berbisa, mengembang dan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Kesepuluh ujung jari itu kemudian seolah-olah mengurung setiap kesempatan menghindar bagi Rara Wilis.

Sebaliknya, Rara Wilis telah menyimpan dendam di dalam dada hampir sepanjang umurnya. Tiba-tiba pada saat itu, terbayanglah dengan jelas betapa perempuan itu datang kepada ayahnya. Sekali-kali ia menggertak dengan kasarnya, sekali-kali merayu dengan manisnya. Dan karena itulah ayahnya dapat dijebak dalam perangkapnya.

Terbayang pula betapa ibunya, seorang perempuan lugu, menangis memeluknya pada umurnya yang masih sangat muda. Jelas menerawang di dalam otak Rara Wilis, pada saat-saat perempuan itu memarahinya kalau ia menyusul ayahnya. Bahkan memukul dan mencambuknya. Namun ayahnya sama sekali tidak membantunya. Sehingga akhirnya sampailah keluarga Rara Wilis berada pada puncak kesengsaraan. Ayahnya terusir oleh tetangga-tetangganya. Kemudian karena sedih dan malu, ibunya, satu-satunya orang didunia ini yang dapat dijadikan tempat untuk menyangkutkan cinta, meninggal dunia. Lebih dari itu, perempuan itu kemudian ternyata telah menyeret ayah Rara Wilis dan membenamkannya ke dalam lumpur bersama-sama dengan diri perempuan itu sendiri, yang memang berasal dari dalam lumpur paling kotor.

Karena angan-angan itulah maka Rara Wilis telah membulatkan tekadnya. Perempuan itu atau dirinya sendiri yang binasa dalam pengabdian kepada kesetiaan terhadap ibunya, terhadap keluarganya, serta kesetiaan kepada tekadnya untuk melenyapkan sumber kejahatan. Baginya, perempuan yang demikian jauh lebih berbahaya daripada laki-laki yang bagaimanapun garangnya. Perempuan yang dapat berlaku manis dan merayu, bermodalkan parasnya yang cantik, namun kemudian menyeret korbannya ke jurang yang paling dalam sampai tidak dapat timbul kembali.

Terdorong oleh perasaan itulah maka kemudian Rara Wilis bertempur dengan gagah berani. Bahkan tenaganya seolah-olah menjadi berlipat-lipat. Meskipun demikian, mereka yang menyaksikan, Kebo Kanigara, Wanamerta, kemudian menyusul Mahesa Jenar dan orang yang berjubah abu-abu yang berdiri agak jauh beserta seluruh laskar Gedangan, terpaksa beberapa kali menahan nafas. Sebab ternyata Harimau Betina itu benar-benar mempunyai cara bertempur yang berbahaya. Sesekali ia meloncat menerkam dengan garangnya. Tetapi kemudian dengan teguhnya berdiri menanti serangan-serangan lawannya.

Demikianlah dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa Harimau Betina itu memang lebih berbahaya daripada lawannya yang sama sekali tak bersenjata. Apalagi Janda Sima Rodra selain memiliki senjata-senjata yang melekat di ujung-ujung jarinya yang berjumlah sepuluh, ia memang memiliki pengalaman yang lebih luas. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi kurang adil. Meskipun tampaknya Janda itu tidak bersenjata, namun hakekatnya, kuku-kunya itulah senjata andalannya.

Tetapi tak seorangpun berani mencampuri pertempuran itu. Setiap usaha untuk mencampurinya, akan dapat menimbulkan akibat yang kurang baik. Sebab, Rara Wilis akan dapat tersinggung perasaannya, dan merasa direndahkan. Karena itu yang dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan pertempuran yang berlangsung di bawah cahaya bulan yang remang-remang sambil sekali-sekali menahan nafas.

Apalagi, ketika mereka telah bertempur lebih lama lagi. Janda Sima Rodra sudah terlalu biasa melakukan pertempuran-pertempuran kasar dan lama, sedangkan Rara Wilis hampir belum pernah mengalami pertempuran yang sedemikian lamanya. Sehari penuh.

Dengan demikian tampaklah bahwa tenaga Rara Wilis menjadi bertambah lemah. Hanya karena kemauannya yang sangat kuatlah yang menjadikannya kuat bertahan. Meskipun demikian terasa pula olehnya, bahwa perempuan liar itu memiliki beberapa kelebihan daripada Wilis. Sehingga sambil bertempur terpaksa Rara Wilis mencari titik-titik kekuatan lawannya. Akhirnya ditemukannya apa yang dicarinya itu. Kelebihan itu terletak pada kuku-kukunya yang sangat berbahaya seperti yang pernah dikatakan oleh Mahesa Jenar. Pada beberapa saat yang lalu ia pernah pula bertempur dengan janda itu, namun kemudian Janda Sima Rodra agaknya telah tekun menambah kekuatannya, sehingga sambaran kuku-kukunya itu menjadi jauh lebih berbahaya.

Oleh penemuannya itu, maka terasalah olehnya, bahwa wajarlah kalau ia selalu terdesak oleh lawannya. Sebab dengan mengenakan salut logam di ujung kuku-kukunya itu berarti bahwa ia telah melawan seseorang yang bersenjata dengan tangan hampa. Karena itu, Rara Wilis menjadi tidak ragu-ragu lagi. Dengan gerak yang cepat, sekejap kemudian di tangannya telah tergenggam sehelai pedang yang tipis. Seterusnya dengan lincahnya ia menggerakkan pedang itu melingkar-lingkar membingungkan, dengan ilmu pedang khusus ajaran perguruan Pandan Alas.

Janda Sima Rodra terkejut melihat kilatan pedang itu. Apalagi kemudian disaksikannya ilmu pedang yang sangat berbahaya. Ujung pedang itu nampaknya selalu bergetar membingungkan. Tetapi ia adalah seorang yang berpengalaman melawan hampir segala jenis senjata. Karena itu sesaat kemudian ia telah dapat mengendalikan diri dalam keseimbangan gerak-gerak lawannya. Meskipun demikian, kekuatan Rara Wilis kini bertambah karena tajam pedangnya itu. Dengan demikian ia menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi bertambah sengit dan cepat. Karena kilatan sinar bulan, pedang yang diputarnya cepat-cepat itu seolah-olah telah berubah menjadi ribuan mata pedang gemerlapan menusuk dari segenap arah.

DALAM keadaan yang demikian, Janda Sima Rodra menjadi semakin gelap mata. Serangan-serangannya menjadi bertambah cepat, namun menjadi semakin kehilangan pengamatan. Apalagi ketika gerakan-gerakan Rara Wilis menjadi semakin mapan, makin terdesaklah Janda Sima Rodra.

Akhirnya Harimau Betina itu menjadi putus asa. Sambil mengaum nyaring ia menyerang dengan tenaga yang ada padanya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan yang lain-lain menjadi terkejut melihat serangan yang ganas itu. Sebab bila Rara Wilis lengah sedikit saja, dadanya pasti dapat dirobek oleh lawannya. Tetapi untunglah bahwa dengan pedang di tangan, Rara Wilis menjadi agak tenang, sehingga pengamatannya atas lawannya menjadi semakin jelas pula.

Maka ketika Janda Rodra menerkamnya, segera Rara Wilis meloncat ke samping, dan sambil merendahkan diri, tangannya bergerak dengan cepat, sehingga pedang tipis itu terjulur lurus ke depan. Demikianlah ujung pedang tipis itu terasa menyentuh sesuatu dan tanpa sadar pedang itu telah tenggelam ke dada lawannya dibarengi teriakan yang mengerikan.

Rara Wilis adalah seorang yang telah menerima ilmu yang cukup banyak. Namun dalam perjalanan hidupnya ia sama sekali tidak bermimpi bahwa pada suatu saat, dengan pedang di tangannya, akan ditembusnya dada seseorang. Memang, ia bercita-cita untuk dapat membalas sakit hatinya dengan melenyapkan perempuan yang telah menyeret ayahnya ke dalam lembah kehinaan. Namun, ketika angan-angannya itu kini dapat diwujudkan, dengan membenamkan pedang ke dada perempuan itu, hatinya berguncang keras. Bagaimanapun kehalusan perasaannya sangat terpengaruh karena itu. Apalagi kemudian ketika dilihatnya darah segar menyembur dari luka di dada ibu tirinya. Maka tiba-tiba Rara Wilis pun menjerit sambil melompat mundur. Ia tidak sempat menarik pedangnya, karena kedua belah tangannya kemudian menutupi wajahnya. Bahkan sesaat kemudian ia terhuyung-huyung jatuh. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cekatan meloncat menangkapnya. Dan ternyata kemudian Rara Wilis pingsan.

Beberapa orang segera menjadi ribut. Dipijit-pijitnya kening gadis itu oleh Kebo Kanigara. Dan kemudian digerak-gerakkannya tangannya setelah pakaiannya dikendirkan. Ternyata tubuh gadis itu telah basah kuyup oleh keringat.

Maka atas anjuran beberapa orang, dipapahnya Rara wilis kembali mendahului ke pedukuhan, diantar oleh beberapa orang, dengan pesan apabila ada sesuatu yang penting agar diberi tanda-tanda dengan kentongan.

Tinggalah kemudian diantara mereka, mayat Janda Sima Rodra. Seorang perempuan yang telah menggemparkan masyarakat karena kelakuan-kelakuannya yang kotor. Kecuali ia seorang penjahat, ternyata Janda Sima Rodra juga seorang yang mempunyai kebiasaan yang mengerikan. Sebagaimana bekas-bekasnya pernah ditemukan oleh Mahesa Jenar di Prambanan. Kebiasaan berpesta dengan upacara-upacara yang memuakkan diantara mereka, gerombolan hitam, terutama gerombolan Sima Rodra. Upacara yang hampir tak dapat dipercaya berlaku diantara mahluk yang bernama manusia.

Pada saat yang demikian, bekas arena pertempuran itu menjadi sepi. Sesepi daerah kuburan. Beberapa orang laskar Gedangan berdiri dengan kaku memandang tubuh-tubuh yang bergelimpangan dari keduabelah pihak. Suasana menjadi bertambah ngeri ketika terdengar di sana-sini suara rintihan yang menyayat hati. Maka kemudian keluarlah perintah dari Mahesa Jenar untuk memelihara orang-orang yang terluka dari pihak manapun.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar menjadi gelisah, bahwa sejak tadi ia sama sekali belum melihat Arya Salaka diantara mereka. Karena itu Mahesa Jenar menjadi gelisah. Sejak semula perhatiannya terikat penuh pada pertempuran antara Janda Sima Rodra dan Rara Wilis. Sedang pada saat itu tak seorang pun yang masih tampak di daerah bekas pertempuran, selain mereka yang masih bergerombol itu.

“Ada yang kau cari…?” terdengar Kebo Kanigara bertanya, ketika dilihatnya Mahesa Jenar melayangkan pandangan berkeliling.

“Arya…” jawab Mahesa Jenar pendek.

Serentak mereka yang mendengar jawaban Mahesa Jenar itu tersadar, bahwa anak itu memang sejak tadi tidak mereka lihat. Dengan demikian mereka pun menjadi gelisah. Lebih-lebih Wanamerta, selain Mahesa Jenar sendiri.

“Siapakah yang berada di sayap kanan bersama anak itu?” teriak Mahesa Jenar.

Seorang yang bertubuh pendek kegemuk-gemukan, dengan sebuah parang di tangan, menjawab, “Aku… Tuan.”

“Kau melihat anak muda itu…?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Ya, aku melihat anak muda itu memimpin barisan kami,” jawabnya pula.

“Di mana ia sekarang…?” desak Mahesa Jenar.

Orang yang bertubuh pendek itu berpikir sejenak untuk mengingat apa yang dilihatnya. Kemudian katanya, “sejak matahari terbenam aku tidak menyaksikannya lagi.”

“Lalu siapa yang memegang pimpinan?” tanya Mahesa Jenar seterusnya.

“Ya, sejak saat itulah anak muda itu hilang dari antara kami, sejak ia memberikan perintah untuk menjadikan sapit kanan, khusus dalam gelar Jaring Gumelar,” jawab orang itu.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Anak itu ternyata benar-benar cerdas, dengan memilih gelar khusus bagi pasukannya. Karena dengan gelar itu sapit kanan akan menjadi lincah. Namun aneh bahwa untuk seterusnya anak buahnya tidak melihatnya lagi.

“Adakah anak itu terikat dengan lawan?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Ya, Tuan…” jawab orang bertubuh pendek kegemuk-gemukan itu, “Aku lihat hal itu. Anak muda itu bertempur melawan anak muda yang sebaya, bertubuh kuat gagah seperti anak muda yang memimpin kami, Arya Salaka.”

“Sawung Sariti…” desis Mahesa Jenar. Meskipun demikian dadanya menjadi berdebar-debar. Anak itu adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana. Apakah dalam pertempuran itu Arya dapat dikalahkan…? Karena itu debar di dada Mahesa Jenar makin bertambah.

“MARILAH kita cari,” kata Mahesa Jenar kemudian, sambil melangkah dengan cepatnya ke arah bekas arena sayap kanan, diikuti beberapa orang termasuk Kebo Kanigara, Wanamerta, dan tidak ketinggalan Widuri pun mengikutinya dengan berlari-lari kecil.

Dalam hal yang demikian, Mahesa Jenar telah melupakan sama sekali orang yang berjubah abu-abu, yang sebenarnya banyak menarik perhatiannya. Namun masalah Arya Salaka baginya merupakan masalah yang tidak kalah pentingnya.

Tetapi ketika baru saja ia melangkah beberapa langkah, dilihatnya orang berjubah abu-abu itu berlari mendahuluinya, seakan-akan ada sesuatu yang penting dalam usahanya untuk mencari Arya Salaka.

Demikianlah, beberapa orang yang lain pun segera berlari-lari pula. Sementara itu Widuri pun telah berada di dalam bimbingan tangan ayahnya, sambil menggerutu, “Kenapa kau ikut juga, Widuri…? Lebih baik kau kembali ke Gedangan bersama-sama bibi Wilis.”

Widuri tertawa kecil, lalu jawabnya, “Sebenarnya akupun sudah terlalu lapar.”

“Nah, kembalilah biar seseorang mengantarmu,” sahut ayahnya.

“Akulah yang akan mengantarnya kalau seseorang ingin pulang kembali,” jawab anak itu sambil tertawa.

“Jangan sombong,” potong ayahnya, “Pulanglah.”

“Tidak mau,” jawab gadis tanggung yang nakal itu.

Kalau sudah demikian Kebo Kanigara tidak akan dapat memaksanya lagi. Terpaksa ia menggandeng anaknya sambil berlari mengikuti Mahesa Jenar.

Orang yang berjubah abu-abu itu masih saja berlari ke suatu arah. Seolah-olah ada yang menunggunya di sana. Sedangkan Mahesa Jenar masih selalu berada di belakangnya.

Tiba-tiba dalam pada itu, dalam garis arah yang dituju oleh orang berjubah abu-abu itu, tampaklah dalam keremangan cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dua bayangan yang selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Oleh ketajaman matanya, segera Mahesa Jenar dapat menangkap bayangan itu. Bayangan dari dua orang yang sedang bertempur diantara hidup dan mati.

Melihat kedua orang yang bertempur itu dada Mahesa Jenar bergetar. Karena itu seakan-akan mempercepat langkahnya, sehingga semakin lama bayangan itu seakan-akan menjadi semakin besar dan jelas. Akhirnya Mahesa Jenar dapat meyakinkan dirinya, bahwa yang bertempur mati-matian itu adalah Arya Salaka melawan Sawung Sariti.

Dalam pada itu, ketika Mahesa jenar telah melihat muridnya bertempur, kembali perhatiannya terampas habis, sehingga ia melupakan pula orang yang berjubah abu-abu itu. Dengan demikian ketika ia dengan penuh perhatian berlari-lari mendekati titik pertempuran itu, ia tidak lagi dapat mengetahui ke mana orang yang berjubah abu-abu itu pergi.

Ketika Mahesa Jenar beserta beberapa orang lain tiba, untuk sesaat terhentilah pertempuran itu. Sawung Sariti meloncat beberapa langkah surut sambil berkata mengejek, “Kakang Arya Salaka, lihatlah orang-orangmu datang. Tidakkah lebih baik kalau mereka kau suruh bertempur pula melawan aku bersama-sama dengan Kakang…?”

Sekali lagi Mahesa Jenar merasa tidak senang sama sekali atas kesombongan itu. Meskipun demikian dibiarkannya muridnya menjawab. Katanya, “Adakah kau bermaksud demikian?”

“Tentu,” jawab Sawung Sariti. “Dengan demikian aku akan dapat menyelesaikan pekerjaanku sekaligus.”

“Sayang,” sahut Arya salaka, “Aku berkehendak lain. Aku ingin kau lebih lama bekerja di sini. Mengalahkan kami satu demi satu, kalau kau mampu.”

“Apakah sulitnya?” potong anak yang sombong itu.

Arya Salaka tersenyum, katanya, “Kalau kau harus menyelesaikan pertempuran melawan aku seorang sampai satu hari satu malam, misalnya, berapa hari kau perlukan untuk melawan sekian banyak orang satu demi satu?”

Aku tidak peduli, jawab Sawung Sariti. Meskipun demikian, mungkin aku dapat memaafkan yang lain-lain, sebab mereka tidak bersalah kepadaku.

Kau belum mengatakan kepadaku, apakah salahku, sahut Arya Salaka. Sebab kau begitu saja menyerang aku.

Sawung Sariti tertawa pendek, jawabnya, Kenapa beberapa waktu lalu kita bertempur di Gedangan ini pula? Nah, ketahuilah bahwa apa yang aku lakukan sekarang adalah kelanjutan dari persoalan itu.

Terdengar Arya Salaka tertawa pula. Katanya, Supaya aku tidak dapat mengatakan kemana Paman Sawungrana kau singkirkan…?

Wajah Sawung Sariti berubah menjadi semburat merah. Apalagi diantara orang-orang yang datang kemudian terdapat Wanamerta. Meskipun demikian ia menjawab, Kau benar. Dan setiap orang yang tidak mau berjanji untuk merahasiakan hal itu kepada orang-orang Banyubiru akan aku binasakan juga.

Bagus… jawab Arya Salaka, Mulailah.

Sekali lagi Sawung Sariti memandang orang-orang yang berjajar mengelilinginya satu demi satu. Seolah-olah ia sedang menghitung waktu yang akan diperlukan untuk membinasakan mereka itu seorang demi seorang. Namun ketika terpandang olehnya wajah Mahesa Jenar yang tenang teguh, serta seorang laki-laki di sampingnya dengan seorang gadis tanggung yang cantik di tangannya, hati Sawung Sariti tergetar.

SAWUNG Sariti merasa perlu untuk meyakinkan bahwa Mahesa Jenar tidak akan melibatkan diri dalam pertempuran. Katanya. Paman Mahesa Jenar, apakah Paman juga tertarik pada permainan ini? Kalau benar demikian aku persilakan Paman membantu kakang Arya Salaka.

Mahesa Jenar tahu arah bicara anak itu. Jawabnya, Kau tak perlu berkecil hati Sawung Sariti. Meskipun kami bukan orang-orang yang memiliki gelar ksatria, namun kami mengenal sifat-sifat kejantanan. Apalagi terhadap anak-anak seperti kau ini.

Sawung Sariti merasa tersinggung karenanya. Meskipun demikian ia menjadi berbesar hati bahwa ia telah mendapat jaminan, bahwa ia dibiarkan bertempur seorang melawan seorang dengan Arya Salaka. Karena itu ia meneruskan, Nah kalau demikian relakan murid Paman ini binasa karena ketamakannya.

Mahesa Jenar tidak menjawab. Namun terpaksa ia menahan hatinya yang sama sekali tidak senang atas kata-kata itu. Juga Arya Salaka merasa tidak perlu berkata-kata lagi. Karena itu, segera ia mempersiapkan diri untuk meneruskan pertempuran yang telah berjalan demikian panjangnya.
Sawung Sariti pun bersiap pula. Mulutnya terkatup rapat, tangannya bersilang di depan dadanya. Kemudian dengan sebuah loncatan yang cepat ia mulai menyerang. Geraknya lincah dan tangkas sesuai dengan ajaran-ajaran yang pernah diterimanya dari seorang guru yang mumpuni. Dimodali dengan tubuhnya yang kokoh kuat serta otak yang cerdas licin. Namun lawannya bukan pula anak larahan. Tetapi ia adalah murid seorang yang berhati jantan dan bertekad baja, serta telah mengalami tempaan yang luar biasa beratnya untuk mewarisi ilmu keturunan Ki Ageng Pengging Sepuh, tidak saja dari Mahesa Jenar, tetapi juga dari Kebo Kanigara langsung.

Karena itulah maka perkelahian yang terjadi merupakan perkelahian yang sengit dan seimbang. Kedua-duanya dapat bergerak dengan lincahnya sambar-menyambar, dan keduanya dapat bertahan dengan tangguh melawan setiap serangan. Mereka saling desak-mendesak berganti-gantian silih ungkih singa lena.

Pukulan tangan Sawung Sariti menyambar-nyambar berdesingan, namun Arya Salaka dengan tangkasnya selalu dapat menghindari. Namun sekali-sekali tangan itu berhasil pula mengenai tubuhnya. Demikianlah pada suatu saat sebuah sambaran tangan Sawung Sariti hinggap di dada Arya Salaka sedemikian kerasnya sehingga Arya terdorong surut. Tetapi Sawung Sariti tidak mau membiarkan kesempatan itu. Cepat ia meloncat maju dan sekali lagi menyerang dengan kakinya ke arah lambung ketika Arya masih belum dapat menjaga keseimbangannya dengan baik.

Ketika Arya melihat serangan itu, ia tidak dapat berbuat lain daripada melindungi lambungnya dengan tangan, namun karena desakan yang keras, serta keseimbangannya yang belum pulih benar. Sekali lagi Arya terdorong, bahkan lebih keras sehingga ia jatuh berguling. Sekali lagi Sawung Sariti mendesak maju. Dengan sebuah loncatan ia berusaha untuk menerkam dan menindih Arya. Kedua tangannya terjulur ke depan ke arah leher lawannya.

Pada saat yang demikian Arya melihat bahaya yang bakal datang apabila lawannya benar-benar dapat mencekik serta menindih tubuhnya. Maka ketika ia melihat tubuh itu melayang ke arahnya, segera ia menelentang dan dengan sekuat tenaganya ia mendorong tubuh itu dengan kedua kakinya tepat pada bagian bawah perutnya. Demikianlah Sawung Sariti terdorong keras ke depan, melampaui tubuh Arya Salaka.

Namun Sawung Sariti mempunyai ketangkasan yang cukup pula. Dengan berguling ia dapat menyelamatkan tubuhnya dari benturan yang keras. Bahkan ia segera dapat loncat berdiri. Tetapi pada saat itu Arya telah siap pula. Bahkan ia berhasil mendahului menyerang. Dengan sebuah loncatan yang panjang Arya memukul rahang lawannya. Kali ini Sawung Sariti tidak berhasil menghindar.

Dengan sebuah sentakan yang keras, kepala terangkat sambil tergetar mundur. Dengan penuh nafsu Arya sekali lagi melangkah serta mengayunkan tangannya ke arah perut lawannya. Terdengarlah suara yang tersekat di kerongkongan, dan tubuh Sawung Sariti terbungkuk ke depan. Namun ketika Arya mengulangi serangannya, dengan cepatnya Sawung Sariti demikian saja menjatuhkan dirinya. Kali ini tangan Arya terayun diatas kepala lawannya tanpa menyinggungnya. Sehingga malahan tubuhnya terseret oleh kekuatannya sendiri.

Pada saat itulah Sawung Sariti menghantam dadanya dengan kakinya yang kokoh. Suaranya gumebruk seperti terhantam batu. Sekali lagi Arya terlontar mundur. Dan sekali lagi Sawung Sariti mendesaknya dengan pukulan-pukulan. Sehingga akhirnya punggung Arya membentur dinding karang yang tegak di belakangnya.

Pada saat yang demikian Arya tidak lagi dapat melangkah surut. Karena itu ketika Sawung Sariti menghantamnya, Arya melawannya dengan sebuah tendangan mendatar.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Arya Salaka dapat menekankan punggungnya pada karang di belakangnya, sehingga ia seolah-olah mendapat tambahan kekuatan. Dengan demikian Sawung Sariti terdorong mundur beberapa langkah. Meskipun demikian terasa betapa pedihnya punggung Arya, yang ternyata menjadi luka karena tajamnya karang-karang itu. Bahkan kemudian terasa cairan hangat meleleh perlahan-lahan di bawah bajunya yang tersobek.

Darah.

Mengalami peristiwa itu Arya menjadi semakin marah. Karena itu ia menjadi bertambah garang. Serangannya yang datang kemudian menjadi bertambah berbahaya. Dengan melontarkan diri ia maju menyerang dada. Tetapi Sawung Sariti telah siap. Sehingga dengan cepat ia meloncat ke samping, dan membalas menyerang dengan sebuah pukulan ke arah muka lawannya.

Melihat lawannya lepas, Arya menarik serangannya, dan ketika ia melihat tangan Sawung Sariti melayang ke wajahnya, secepat kilat tangan itu ditangkapnya. Dengan membalikkan diri serta menekuk lututnya sedikit, Arya menarik tangan itu keras-keras diatas pundaknya, dan dengan dorongan pundak itu Arya melemparkan tubuh lawannya ke depan

DENGAN kerasnya Sawung Sariti terlempar. Meskipun ia memiliki ketangkasan bergerak, namun kemudian ia terbanting juga di tanah. Hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa, tulang punggungnya tidak patah. Bahkan dengan suatu hentakan ia berhasil melepaskan tangannya dan berguling menjauhi Arya. Kemudian dengan tangkasnya ia melenting berdiri. Namun terasa pula betapa rasa sakit telah mengganggu pinggangnya.

Demikianlah, perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Masing-masing telah mengerahkan segenap tenaganya untuk mengalahkan lawannya. Namun sampai sedemikian jauh mereka masih tetap dalam keadaan seimbang. Sedang mereka yang menyaksikan perkelahian itu, kadang-kadang harus menahan nafas dengan hati yang berdebar-debar.

Arya Salaka dan Sawung Sariti berkelahi dengan penuh nafsu. Dengan segala ilmu yang mereka miliki, mereka ingin segera menyelesaikan pertempuran itu, namun agaknya pertempuran itu masih akan berlangsung lama.

Untuk itu, ternyata mereka mempunyai beberapa perbedaan pengalaman. Sawung Sariti adalah seorang yang manja. Yang hidup dalam lingkungan yang tidak banyak memerlukan tenaganya. Sedang Arya salaka menjalani hampir seluruh hidupnya dengan bekerja keras, berjalan dari matahari terbit sampai terbenam, membenamkan dirinya dalam kancah lumpur sawah bersama para petani. Mengarungi lautan sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang.

Karena itulah Arya Salaka mempunyai ketahanan jasmaniah yang lebih daripada Sawung Sariti. Dengan demikian maka ketika bulan yang masih muda itu menenggelamkan dirinya, tampaklah bahwa tenaga Sawung sariti yang bagaimanapun kuatnya setelah demikian lama dengan nafsu penuh berjuang, menjadi surut. Meskipun tenaga Arya Salaka surut pula, namun hal yang demikian nampak lebih jelas pada lawannya.

Agaknya Sawung Sariti merasakan hal itu pula. Karena itu ia menjadi gelisah. Ia tidak mau mengalami kekalahan dari kakaknya, meskipun bagaimanapun juga. Bahkan ia menjadi heran kalau kakaknya dapat mengimbangi kekuatannya setelah ia digala mati-matian oleh kakeknya, Ki Ageng Sora Dipayana. karena kegelisahannya itulah akhirnya ia mengambil suatu keputusan yang menentukan.

Maka ketika Sawung Sariti telah merasa semakin lelah, segera ia ingin mengakhiri pertempuran. Dipusatkannya segenap pancainderanya dalam suatu perhatian, disalurkannya nafasnya dengan teratur untuk menemukan kebulatan kekuatan dalam pancaran ilmu yang pernah diterimanya, Lebur Sakethi. Direntangkannya tangannya ke samping dengan kaki setengah langkah yang ditekuk pada lututnya.

Semua yang melihat sikap itu menjadi terkejut. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang telah mengenal kedahsyatan ilmu Ki Ageng Sora Dipayana itu. Hampir saja mereka bergerak untuk mencegahnya.

Namun dengan berdebar-debar mereka terpaksa membatalkan niatnya. Sebab mereka telah berjanji untuk menyerahkan penyelesaian itu kepada Arya Salaka. Disamping itu mereka menjadi bertambah kecewa terhadap Sawung Sariti yang telah mempergunakan ilmu dahsyat itu sebagai alat penyelesaian dengan keluarga sendiri, untuk mempertahankan keserakahan dan ketamakan.

Arya Salaka sendiri terkejut pula melihat sikap Sawung Sariti. Untunglah bahwa gurunya pernah memperkenalkan bentuk-bentuk ilmu yang dahsyat itu, sehingga segera ia mengenal bahwa Sawung Sariti telah mempersiapkan ilmu Lebur Sakethi. Dengan demikian Arya pun dengan cepatnya berpikir. Ia telah mendapat pesan wanti-wanti dari gurunya untuk tidak mempergunakan ilmu Sasra Birawa dalam sembarang keadaan.

Tetapi keadaan ini gawat sekali. Kalau ia sampai tersentuh Lebur sakethi tanpa matek aji Sasra Birawa, ia yakin bahwa dadanya akan rontok. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah segera bersiaga lahir batin. Diangkatnya satu tangannya tinggi-tinggi, tangan yang lain menyilang di dada, sedang satu kakinya diangkat serta ditekuk ke depan. Tepat pada saat ia selesai dengan pemusatan tenaganya, dilihatnya Sawung Sariti telah meloncat maju dengan melingkarkan kedua tangannya yang kemudian bersama-sama mengarah ke kepalanya.

Arya tidak mau binasa dalam keadaan yang mengerikan. Karena itu ia pun segera dengan mengerahkan segenap kekuatan ilmunya, Sasra Birawa.

Maka segera terjadilah benturan dari dua macam ilmu yang dahsyat itu. Sasra Birawa berbenturan dengan Lebur Sakethi. Dua macam ilmu keturunan dari dua orang sahabat yang pernah berjuang bersama-sama melawan kejahatan. Namun sampai pada keturunannya, ilmu itu terpaksa berbenturan dalam perjuangan yang benar-benar diantara hidup dan mati.

Beberapa tahun lampau kedua ilmu itu pernah pula berbenturan diatas Gunung Tidar. Namun pada saat itu benturan terjadi karena salah paham. Apalagi waktu itu mereka yang berkepentingan merasa mempertaruhkan barang yang paling berharga, yaitu keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Mahesa Jenar pada saat iti sama sekali belum pernah mengenal Gajah Sora, dan sebaliknya, kecuali setelah mereka siap menghantamkan ilmu-ilmu itu.

Sekarang, hal serupa terjadi. tetapi latar belakang persoalannya jauh berbeda. Sekarang, benturan itu terjadi karena persoalan hak. Banyubiru bagi Arya Salaka adalah tanah pusaka, tanah tercinta.

Demikianlah, akibat benturan itupun dahsyat sekali. Arya Salaka dan Sawung Sariti sama-sama terlempar jauh ke belakang, dan seterusnya mereka jatuh terguling-guling. Untunglah bahwa kedua anak muda itu belum memiliki kedua macam ilmu itu dengan sempurna. Sehingga karena itulah maka ketahanan tubuh mereka dalam pemusatan ajian masing-masing masih dapat bertahan sehingga mereka tidak hancur karenanya.

Meskipun demikian untuk beberapa saat mereka terpaksa membiarkan diri mereka terbaring tak bergerak. Seolah-olah tenaga mereka terlepas dari sendi-sendinya.

DALAM hal yang demikian, kembali ketahanan tubuh Arya Salaka tampak lebih besar dari Sawung Sariti. Ialah yang mulai dapat menggerakkan tubuhnya dan perlahan-lahan bangun. Dengan susah payah ia berhasil duduk dan bersandar pada kedua belah tangannya.

Baru sesaat kemudian tampak Sawung Sariti mulai bergerak-gerak pula. Namun karena nafsunya yang meluap-luap itulah agaknya ia memaksa tubuhnya untuk segera dapat bangkit berdiri. Mahesa Jenar menjadi tidak tahan lagi melihat perkelahian itu, sehingga dicobanya untuk melerainya. Katanya, “Anakku berdua… sudahilah pertempuran itu. Tidakkah ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah kalian dengan tidak usah menumpahkan darah?”

Tetapi Sawung Sariti adalah seorang anak yang sombong. Yang dalam hidupnya sehari – hari seolah – olah tak seorangpun yang berani membantah kemauannya.

Karena itu meskipun keadaan tubuhnya sangat tidak menguntungkan, namun ia menjawab,”Paman sudah menyerahkan masalah kami kepada kami berdua. Kalau Paman tidak rela murid Paman binasa, suruhlah orang lain membantunya.”

Sekali lagi perasaan Mahesa Jenar tersentuh. Namun betapapun pedihnya ia masih menyabarkan diri. Katanya lebih lanjut, “Apakah yang dapat kalian peroleh dengan perkelahian itu? Kunci persoalannya tidak terletak pada kalian. Tetapi pada ayah-ayah kalian. Sedang ayah kalian adalah dua bersaudara seayah-seibu. Adakah pantas kalau kalian terpaksa bertempur mati – matian? Kalau ada persoalan biarlah kita bicarakan, sedang kalau ada masalah marilah kita pecahkan.”

“Kami sedang memecahkan masalah kami dengan cara seorang laki-laki,” jawab Sawung Sariti dengan angkuhnya.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya sambil mengusap dadanya, seolah-olah ia sedang menekan hatinya supaya tidak hanyut terseret oleh arus perasaannya. Bahkan ia berkata pula, “Sawung Sariti… kejantanan seorang laki-laki tidak saja diukur dengan keprigelannya bertempur, tetapi juga harus dinilai dengan keluhuran budi. Dengan demikian barulah penilaian kita sempurna. Keluhuran budi itu dapat dicerminkan oleh tujuan serta pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu.”

“Kau jangan menggurui aku Paman,” potong Sawung Sariti, “Sebab aku sudah tahu semuanya itu. Ketahuilah, bahwa tujuanku bukan sekadar membinasakan Arya Salaka, tetapi tujuan yang lebih jauh lagi adalah ketenteraman hidup rakyat Banyubiru dan Pamingit.”

“Bagus, Sawung Sariti…” sahut Mahesa Jenar. “Demikian hendaknya seorang pemuka dan pemimpin. Namun ketahuilah bahwa aku yakin, AryaSalaka pun berhasrat demikian pula. Apakah salahnya kalau kalian dapat bekerja bersama dalam batas – batas yang ditentukan oleh kemampuan kalian masing-masing?”

Sawung Sariti terdiam sesaat. Kata-kata Mahesa Jenar memang mengandung kebenaran. Kalau apa yang dilakukan selama ini adalah untuk ketenteraman hidup rakyatnya, maka sebaiknya tidak perlu ia mengejar-ngejar Arya Salaka, apalagi membunuhnya.

Tetapi tiba-tiba kembali nafsunya melonjak-lonjak. Nafsu untuk berkuasa atas tanah perdikan Banyubiru yang sebenarnya adalah hak Arya Salaka. Karena itu segera ia menjawab, “Paman, aku hanya dapat bekerja bersama dengan orang-orang yang tahu diri serta tahu menempatkan dirinya.”
“Tidakkah Arya dapat berbuat demikian?” tanya Mahesa Jenar.

Pada saat itu dada Arya rasa-rasanya sudah akan pecah. Ia tidak tahan lagi mendengar pembicaraan itu, yang seolah-olah baginya hanya tersedia di dalam sudut belas kasihan Sawung Sariti.

Terdorong oleh darah remajanya yang sedang bergelora, berteriaklah Arya Salaka mengatasi suara Mahesa Jenar yang hampir melanjutkan perkataannya, “Paman, biarlah Adi Sawung Sariti memilih cara yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah ini.”

Mahesa Jenar dapat mengerti sepenuhnya, bahwa Arya Salaka merasa harga dirinya tersinggung. Namun demikian ia masih mencoba berkata, “Tak ada masalah yang tak dapat terpecahkan diantara kalian, sebagai keturunan bersama dari Ki Ageng Sora Dipayana.”

Nama itu memang untuk sementara dapat mempengaruhi perasaan mereka. Namun agaknya masalah haus kekuasaan telah menjamah seluruh relung-relung hati Sawung Sariti. Karena itu ia sudah tidak mau berbicara lagi. Meskipun tubuhnya masih belum segar benar namun ia telah bertekad untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Tetapi karena aji Lebur Sakethi-nya mendapat perlawanan yang seimbang, ia memilih cara lain untuk membinasakan Arya Salaka dengan kecepatannya memainkan pedang. Maka dalam sekejap mata, tampaklah sinar mata pedang berkilat-kilat didalam gelap malam, dibawah gemerlipnya bintang gemintang di langit yang kelam.

Sekali lagi hati Mahesa Jenar tergetar. Ia merasa tidak dapat berbuat lain, daripada menyaksikan kembali perkelahian yang sengit antara Arya Salaka dan Sawung Sariti. Perkelahian diantara keluarga sendiri yang pada hakekatnya tidak banyakb erarti dalam percaturan tata pemerintahan di Banyubiru kelak. Sebab beberapa orang Banyubiru telah mendengar bahwa Arya Salaka masih hidup dan akan kembali ke tanah pusakanya. Sehingga apabila ternyata kemudian Arya Salaka tidak kembali, maka para pemimpin Banyubiru pasti akan mengurai persoalan itu. Dan dengan demikian, ketenteraman yang diharapkan tidak akan dapat diwujudkan. Yang akan terjadi kemudian adalah penindasan terhadap orang-orang yang ingin membela pemimpin mereka. Bahkan kebenaran Gajah Sora pun pasti akan tersingkap pula, setelah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dapat diketemukan.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah benar-benar suatu pertempuran yang sengit.

Ketika Arya Salaka melihat gemerlapnya sinar pedang di tangan Sawung Sariti, maka segera iapun mencabut tombaknya yang diberinya sebuah tangkai pendek.

Tombak yang merupakan pertanda kebesaran pemerintahan Banyubiru pada masa lampau, bernama Kyai Bancak.

DEMIKIANLAH sekali lagi, Arya Salaka dan Sawung Sariti menyabung nyawanya.

Dua bayangan yang bergerak-gerak dengan cepatnya, timbul-tenggelam diantara gemerlapnya sinar pedang, dan cahaya kebiru-biruan dari ujung tombak yang bernama Kyai Bancak.

Kembali perkelahian itu berkobar dengan serunya. Bahkan kali ini di tangan masing-masing tergenggam senjata yang dapat menyobek kulit daging. Sawung Sariti benar-benar dapat mewarisi keahlian bermain pedang dari ayahnya, sedang Arya Salaka dengan cepatnya dapat mengimbangi.

Tombaknya yang bertangkai pendek itu mematuk-matuk berbahaya sekali ke segenap bagian tubuh Sawung Sariti.

Tetapi ketika pertempuran itu telah berlangsung beberapa lama, kembali terasa, tenaga Sawung Sariti telah jauh susut. Karena itu ketangkasannyapun menjadi berkurang. Demikianlah, maka ketika Sawung Sariti mempergunakan segenap sisa tenaganya untuk menyerang lawannya, Arya Salaka berhasil menghindar kesamping. Arya sama sekali tidak membalas menyerang tubuh Sawung Sariti, tetapi dipukulnya pedang yang hanya berjarak beberapa kilan dari tubuhnya itu dengan sekuat tenaganya. Sawung Sariti sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya akan berbuat demikian. Karena itu pedangnya bergetar sehingga tangannya terasa pedih.

Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, sekali lagi Arya menghantam pedang itu. Kali ini Arya Salaka berhasil. Pedang itu dengan kerasnya terlontar lepas dari tangan Sawung Sariti.
Mengalami peristiwa itu, dada Sawung Sariti bergoncang. Segera ia meloncat mundur untuk mempersiapkan diri melawan tanpa senjata. Tetapi Arya dengan tangkasnya meloncat pula, bahkan lebih cepat dari Sawung Sariti yang hampir kehabisan tenaga. Apa yang terjadi kemudian adalah ujung Tombak Kyai Banyak telah melekat di dada anak muda yang sombong itu.

Semua yang menyaksikan peristiwa itu, menahan nafasnya. Suasana menjadi tegang. Semuanya menunggu apa yang akan dilakukan Arya Salaka dengan tombak pusaka dari Banyubiru itu.

Tetapi bagaimanapun juga, terpaksa mereka mengagumi pula ketabahan hati Sawung Sariti. Meskipun di dadanya telah melekat ujung tombak lawannya, yang dalam sekejap mata dapat membunuhnya, namun anak itu sama sekali tidak menjadi takut. Bahkan terdengar giginya gemeretak sebagai ungkapan kemarahan hatinya, dan sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Ayo, Kakang Arya Salaka. Bunuhlah aku dengan tombak kebesaran Banyubiru itu.”

Sebenarnya darah Arya Salakapun telah cukup panas. Dan dalam keadaan yang demikian dapat saja ia menggerakkan tangannya beberapa jengkal. Dengan demikian Sawung Sariti pun akan binasa. Namun tiba-tiba, ketika ia telah memilki kunci kemenangan, tampaklah pada wajah Sawung Sariti sebuah bayangan atas masa lampaunya. Masa kanak-kanaknya.

Dimana mereka berdua dengan anak itu bermain bersama di Rawa Pening kalau kebetulan Sawung Sariti berada di Banyubiru. Sebaliknya mereka kadang-kadang berkuda bersama mendaki bukit-bukit kecil di Pamingit untuk mencari buah-buahan, yang kemudian dimakan bersama.

Diingatnya dengan jelas, alangkah rukunnya pergaulan kanak-kanak yang masih jauh dari pamrih dan nafsu keangkaramurkaan. Pada saat itu seolah-olah tidak ada batas antara milik mereka berdua, permainan mereka berdua, bahkan sampai suka-duka mereka berdua.

Kalau kebetulan Arya Salaka sedang dimarahi oleh ayah bundanya, dengan penuh kesayangan seorang adik Sawung Sariti selalu menghiburnya. Sebaliknya apabila Sawung Sariti sedang bersedih hati, Arya Salaka selalu berusaha untuk meredakannya. Pada saat yang demikian, mereka merasa seolah-olah dunia ini milik mereka berdua, dan tak ada tangan yang akan mampu memisahkan kerukunan mereka sebagai seorang kakak dan adik sepupu.

Tetapi tiba-tiba sekarang mereka harus berhadapan sebagai lawan. Lawan yang harus bertempur berebut nyawa. Alangkah jauh bedanya. Masa kini dan masa kanak-kanak yang tinggal dapat dikenangnya. Masa dimana hati mereka belum dikotori oleh nafsu dan dendam.

Dalam pada itu Sawung Sariti menjadi heran ketika ujung tombak yang sudah melekat di dadanya itu masih belum menghujam masuk. Apalagi ketika lamat-lamat dalam kegelapan malam ia melihat Arya memejamkan matanya serta menggelengkan kepalanya. Seolah-olah ia sedang berusaha mengusir kenangan yang mengganggunya pada saat itu.

Memang pada saat itu Arya Salaka sedang berusaha untuk mengenyahkan bayangan-bayangan masa kanak-kanaknya. Namun ia tidak berhasil. Ketika ia memejamkan matanya, justru bayangan itu semakin jelas. Bayangan dua orang anak-anak yang berlari-lari sambil berteriak-teriak nyaring dan berbimbingan tangan.

Tiba-tiba kenangan itu dipecahkan oleh Suara Sawung Sariti dengan tataknya, “Kenapa tidak kau lakukan itu sekarang Kakang? Adakah kau takut melihat darah yang akan menyembur dari luka di dadaku?”
Arya tidak menjawab. Tetapi tangannya menjadi gemetar. “Jangan berlaku seperti perempuan cengeng,” sambung Sawung Sariti.

Namun Arya masih diam saja. Memang dalam perkembangan mereka banyak mengalami pengaruh yang berbeda, sehingga watak merekapun menjadi jauh berbeda pula. Dengan demikian suasana menjadi bertambah tegang. Wajah-wajah yang berada di sekitar kedua anak muda yang berdiri berhadapan itu menjadi tegang pula. Dengan dada yang berdenyut keras mereka menunggu apakah yang akan terjadi.

Namun agaknya Mahesa Jenar yang telah lama bergaul dengan Arya dapat meraba perasaan yang menjalari kepala anak itu. Bahkan kemudian ia berdoa, mudah-mudahan Arya mengambil keputusan lain. Sehingga ia tidak membunuh saudara sepupunya itu dengan tangannya sendiri.

Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Tiba-tiba dengan suara gemetar Arya berkata, “Adi Sawung Sariti, jangan berkata demikian. Mungkin benar aku tidak akan berani melihat darah yang menyembur dari luka di dadamu, karena kau adalah adikku, yang pernah mengalami keindahan masa kanak-kanak bersama-sama. Nah, Adi Sawung Sariti, pulanglah. Dan berpikirlah baik-baik agar masalah diantara kita dapat kita selesaikan tanpa pertumpahan darah. Baik darah kita sendiri maupun darah rakyat kita.”

SAWUNG Sariti mencibirkan bibirnya. Jawabnya, “Kalau kau tidak membunuh aku sekarang, Kakang… kau akan menyesal. Sebab akulah kelak yang akan membunuhmu.”

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Namun tangannya yang memegang tombak itu masih saja gemetar. Katanya kemudian hampir berdesis, “Aku harap kau akan mengubah pendirianmu. Akan kau temukan kelak kebenaran kata-kataku. Tak ada persoalan diantara kita, apabila kita berdiri di tempat kita masing-masing. Sehingga dengan demikian kita dapat memberikan tenaga dan pikiran kita untuk kepentingan tanah kelahiran serta kedamaian dan ketenteraman hidup rakyat kita. Dimana kita dilahirkan, dan untuk siapa kita berbakti.”

Mendengar kata-kata Arya Salaka, Sawung Sariti menarik keningnya. Sekali terlintas di dalam otaknya, kebenaran kata-kata itu, seperti apa yang didengarnya dari Mahesa Jenar. Tetapi dalam keadaan yang demikian, muncullah kembali kebengalannya. Sebagai seorang yang mempunyai harga diri terlalu tinggi, ia tidak mau menyerah dan minta maaf. Malahan terdengar jawabnya, “Kakang Arya Salaka. Pertimbangkan sekali lagi. Apakah untungmu membebaskan aku. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku tetap akan membunuhmu dalam keadaan yang bagaimanapun.”

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi pening mendengar kata-kata Sawung Sariti. Bahkan beberapa orang menjadi tidak sabar lagi. Kenapa anak yang sedemikian sombongnya tidak dibunuh saja.

Namun Arya berpikir lain. Kelakuannya banyak dipengaruhi oleh tingkah laku Mahesa Jenar. Apalagi yang berdiri di hadapannya itu adalah adik sepupunya. Maka dengan tidak berkata-kata lagi, ditariknya ujung tombaknya dan langsung disarungkannya. Kemudian ia melangkah mundur.

Gigi Sawung Sariti masih terdengar gemeretak. Marahnya sama sekali tidak mereda. Apalagi ia merasa mendapat penghinaan dari kakak sepupunya. Karena itu darahnya justru menjadi meluap-luap.

Dendamnya menjadi semakin bersusun-susun didalam hatinya yang kelam. Pada saat itu ia masih tetap berdiri dengan gagahnya. Matanya memandang tetap kepada Arya Salaka. Hanya kadang-kadang saja mata itu menyambar wajah-wajah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Bahkan sempat pula ia menangkap pancaran mata yang bulat segar dari seorang gadis tanggung yang bernama Endang Widuri.

Demikianlah Sawung Sariti telah membakar perasaan mereka yang menyaksikan peristiwa itu. Beberapa orang berpendirian bahwa orang yang demikian sombongnya itu lebih baik dibinasakan saja sebelum menjadi lebih berbahaya lagi. Namun Arya Salaka sendiri mengharap, mudah – mudahan adiknya itu dapat menemukan kembali jalan kebenaran. Menyadari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Dengan demikian ia akan menemukan penyelesaian tanpa menanam dendam yang lebih dalam dari cabang keturunan Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga kelak tidak akan mengganggu kedamaian hidup berdampingan sebagai dua orang bersaudara yang memerintah atas tanah masing-masing. Pamingit dan Banyubiru.

Arya Salaka sendiri telah berusaha keras untuk menyimpan dendam atas hilangnya ayahnya Gajah Sora, serta berusaha untuk melupakannya. Sebab apabila dendam dituntut dengan dendam, maka dendam itu sendiri akan menjalar turun-temurun. Dan habislah manusia di dunia ini terbenam dalam arus pembalasan demi pembalasan.

Beberapa orang menjadi keheran-heranan ketika malahan Arya Salaka memutar tubuhnya dan kemudian melangkah pergi menjauhi adiknya yang masih berdiri tegap tanpa bergerak. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak menyesal. Bahkan mereka merasa berbangga hati atas keluhuran budi yang memancar dari rongga dada muridnya, meskipun kemudian mereka masih mendengar Sawung Sariti berkata, “Kakang jangan mengharap hatiku menjadi cair oleh sikapmu kali ini. Bagaimanapun juga kau tidak akan dapat kembali menjamah daerah perdikan Banyubiru.”

Arya mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mendengarkan lagi lagu yang menyakitkan hati itu, supaya ia tidak mengubah keputusannya. Karena itu ketika ia mendengar Sawung Sariti meneruskan kata-katanya, ia berteriak, “Pergilah, dan ambil pedangmu. Bunuhlah aku kelak kalau kau sudah merasa mampu. Aku akan merasa bahagia kelak, kalau aku binasa ndhepani tanah pusaka serta rakyat tercinta. Demi mereka, aku bersedia untuk mati.”

Setelah itu ia tidak menoleh lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan ia tidak menghiraukan lagi orang-orang yang berdiri berjajar mengelilinginya. Ia tidak peduli apakah orang lain akan membenarkan pendiriannya atau tidak.

Demikianlah Arya Salaka dengan langkah tetap langsung menuju ke Gedangan. Beberapa orang berjalan mengiringinya dengan berbagai perasaan menggayut hati. Meskipun ada diantara mereka yang menjadi kecewa, namun disela-sela perasaan itu, kagumlah mereka atas kebesaran jiwa anak muda itu.

Mereka yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu hanya menganggap, betapa tinggi jiwa kejantanannya. Sebagai seorang laki-laki jantan ia tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya lagi.

SAWUNG Sariti memandang iring-iringan itu sampai lenyap dibalik tabir kegelapan malam. Beberapa kali ia menarik nafas. Kemudian ia melangkah maju, dan kemudian membungkuk memungut pedangnya. Dengan tajam diamat-amatinya pedang kebanggaannya itu. Seolah-olah ia sedang bertanya pada benda itu, kenapa kali ini ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Bahkan dibeberapa bagian dilihatnya pedangnya mengalami kerusakan. Karena itu ia menjadi kagum atas ketajaman dan kekerasan baja bahan tombak yang bernama Kyai Bancak.

Setelah ia menyarungkan pedangnya, dilayangkan pandangannya berkeliling. Baru kemudian terasa betapa sepinya. Perlahan-lahan ia melangkah dan berjalan menjauhi tempat dimana ia hampir saja binasa.

Sesaat kemudian arena itu menjadi sunyi. Sunyi sekali. Namun didalam kegelapan malam, masih ada seorang yang berdiri diantara mayat-mayat yang masih bergelimpangan di sana-sini. Orang itu adalah Mahesa Jenar. Ia tidak turut serta dengan orang-orang lain kembali ke Gedangan.

Tetapi ia berhenti beberapa tonggak dari desa itu. Ia tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Arya lebih senang duduk sendiri. Merenung dan menimbang-nimbang apa yang sudah dan akan dilakukan. Karena itu lebih baik ia tidak mengganggu. Kebo Kanigara telah lebih dahulu kembali ke Gedangan mengantar anaknya yang kelaparan bersama dengan Wanamerta dan orang-orang lain.

Namun pada saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak merasa lapar. Beberapa kali ia membungkuk mengamat-amati mayat-mayat yang terbujur lintang diarena. Ada diantaranya yang sudah tua, tetapi ada diantara yang masih sangat muda. Sekali dua kali terpaksa ia mengusap dadanya. Sekian banyak orang melepaskan nyawanya, hanya karena ketamakan beberapa orang yang ingin memegang kekuasaan. Berbahagialah mereka yang mati dalam tugas suci mereka. Tetapi sayanglah jiwa yang melayang sebagai korban nafsu yang tak terkendali.

Demikianlah malam bertambah kelam. Di langit masih tampak berterbangan kelelawar mencari mangsa. Sedang di kejauhan terdengar gonggongan anjing liar mengerikan.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak di dalam gelapnya malam diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Matanya memandang jauh, ke arah bintang-bintang di langit. Namun hatinya dipenuhi oleh pertanyaan-ternyataan tentang esok. Apakah kira-kira yang akan terjadi? Adakah pasukan dari Pamingit dan rombongan orang-orang golongan hitam itu akan kembali lagi menyerang? Ataukah mereka sudah merasa bahwa mereka tak berhasil?

Meskipun demikian adalah menjadi kewajiban Mahesa Jenar untuk tetap waspada dan bersiaga sepenuhnya. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya ke arah pedukuhan Gedangan yang lamat-lamat meremang, seperti bayangan yang kelam menggores di wajah langit. Mahesa Jenar menarik nafas. Pedukuhan itu tampak betapa damainya dalam kelelapan tidurnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Tetapi disini. Bukti-bukti itu dihadapinya. Mayat dan bau darah.

Menghadapi kenyataan itu, darah Mahesa Jenar berdesir. Namun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa kehadirannya di dunia ini bukanlah sekadar untuk menjadi umpan nafsu dan ketamakan. Tetapi sebagai manusia, ia wajib menegakkan kebenaran dengan usaha-usaha menurut jalan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Mahesa Jenar sedang tenggelam dalam angan-angannya, tiba-tiba di kejauhan tampaklah sebuah bayangan yang melintas dengan cepatnya. Mahesa Jenar menjadi terkejut karenanya.
Tetapi dalam tangkapannya yang hanya sekilas itu, tahulah ia bahwa bayangan itu adalah orang yang berjubah abu-abu, yang dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat sebelum itu, merupakan penyelamat yang menentukan. Timbullah keinginannya untuk mengenal orang itu dari dekat. Karena itu segera ia meloncat dan berlari secepat-cepatnya ke arah bayangan yang melintas itu.

Namun ternyata Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasil. Yang terbentang di hadapannya hanyalah wajah malam yang hitam kelam. Sedangkan bayangan itu sama sekali sudah tidak ada lagi.
Meskipun demikian perhatiannya kini telah berpindah dari pertempuran yang baru saja terjadi kepada orang yang berjubah abu-abu itu. Siapakah gerangan orang yang telah menjadi teka-teki sampai bertahun-tahun itu? Kalau saja saat itu Ki Ageng Gajah Sora ada disampingnya, maka ia akan dapat mencari pertimbangan, bahwa pasti orang itulah yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru.

Tetapi apakah gerangan maksud yang sebenarnya? Dan kenapakah orang itu tiba-tiba saja muncul pada saat dirinya terancam bahaya? Bahaya yang hampir saja tak dapat dihindarkan. Apalagi dalam pertanggungjawabannya terhadap seluruh anak buahnya. Tetapi bayangan itu kini sudah lenyap. Yang tinggal hanyalah beberapa masalah, pertanyaan-pertanyaan dan teka-teki yang bercampur baur berputar-putar di dalam otak Mahesa Jenar. Campurbaur antara gambaran – gambaran hari esok serta kenangan hari kemarin yang kadang-kadang tak dapat ditemukan sendi-sendi penyambungnya.

Dalam pada itu sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. Kali ini lamat-lamat ia mendengar suara tembang. Jauh sekali, meskipun setiap kata yang terlontar dapat didengarnya dengan jelas. Mahesa Jenar menjadi termangu-mangu. Siapakah yang berdendang di tengah malam, diantara bau mayat dan darah ini…? Mula-mula pikirannya terbang kepada Ki Ageng Pandan Alas. Namun ternyata suara itu lain. Bukan suara yang sudah sering didengarnya.

Ketika dendang itu telah genap satu bait, ternyata terdengar diulangnya kembali. Kata demi kata didengarnya dengan seksama.

“Memanising manungsa sejati, sesantine mring laku utama, lukita mesu budine, meruhi hawa lan napsu, mrih sampurna lair lan batin, kanti atapa brata, gegulang mrih hayu, hayuningrat sak isinya, rumantine rinakit budi pakarti, tata gatining jalma.”

DADA Mahesa Jenar berdesir mendengar tembang itu. Suatu gambaran tentang manusia idaman. Manusia sejati, yang bersemboyan, berusaha sebaik-baiknya untuk mengenal bentuk-bentuk hawa nafsu, untuk mencapai kesempurnaan lahir dan batin. Dengan penuh prihatin dan memeras diri. Berjuang untuk kesejahteraan dunia dengan segala isinya. Menuju ke arah masyarakat yang tata tentram kerta raharja.

Dengan tanpa sadarnya Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan isi tembang itu. Demikianlah hendaknya manusia. Namun agaknya manusia yang demikian itu masih harus dilahirkan. Manusia yang dapat mengenal dengan seksama segala bentuk-bentuk nafsu, serta menghindarinya, untuk mencapai kesempurnaan lahir dan batin. Tetapi jelas dikatakan oleh tembang itu, bahwa manusia itu tidak menunggu datangnya tata masyarakat yang diidamkan, tetapi manusia yang demikian harus berjuang untuk mencapainya. Mahesa Jenar meraba dadanya.

Di sinilah kadang-kadang letak persimpangan jalan yang berbahaya. Harus ditarik garis yang jelas antara berjuang untuk masyarakat yang dicitakan, dengan unsur-unsur nafsu yang menyusup kedalamnya tanpa disadari. Dalam pada itu, tiba-tiba Mahesa Jenar memandang jauh kepada dirinya sendiri. Ia telah sekian lama berjuang untuk satu cita-cita yang menurut keyakinannya akan dapat mendatangkan keteguhan pemerintahan yang seterusnya akan dapat menciptakan masyarakat yang dicita-citakan.

Dan bersyukurlah ia bahwa sampai saat ini sama sekali tidak timbul nafsu di dalam dirinya, seperti golongan hitam yang juga sedang berjuang dengan tujuan yang sama. Menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Tetapi bagi mereka, penemuan itu sama sekali bukan suatu perjuangan untuk menegakkan pemerintahan, tetapi bahkan mereka menganggap bahwa siapa yang menemukan sepasang keris itu, akan mampu menguasai golongannya dan dengan kekuatan mereka, mereka dapat merebut tahta Demak.

Untunglah bahwa keris itu sudah dapat direnggutnya dari tangan mereka, meskipun kini keris itu masih harus dicarinya kembali. Mahesa Jenar menegakkan kepalanya, untuk mencoba mengetahui dari manakah suara tembang itu dilontarkan. Tetapi untuk beberapa lama ia tidak berhasil. Suara itu seolah-olah bergulung-gulung dari segala arah membentur dan melontar kembali dari tebing-tebing bukit di sekitarnya. Bahkan akhirnya ia merasa, bahwa ia tak akan berhasil menemukannya. Dengan demikian Mahesa Jenar dapat kesimpulan bahwa suara tembang itu telah dilontarkan oleh seorang sakti yang sengaja membingungkannya. Bahkan dalam penilaiannya orang itu pasti lebih sakti dari Ki Ageng Pandan Alas.

Dalam tingkatannya sekarang, ia sama sekali tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk dapat berdiri sejajar dengan orang tua itu. Tetapi orang ini, yang berdendang dengan asiknya, bukanlah orang sejajarnya.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu yang baru saja menampakkan diri di hadapannya. Dengan demikian ia menduga bahwa orang itulah yang telah melagukan tembang dimalam yang sunyi itu. Maka, kemudian Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk tidak mencarinya lebih lanjut. Sebab usahanya pasti akan sia-sia saja, sebelum orang itu atas kehendak sendiri menunjukkan tempatnya berada.

Tetapi yang tumbuh kemudian didalam dada Mahesa Jenar adalah dugaan-dugaan yang bersimpang siur tentang orang itu. Orang yang aneh dalam pandangan matanya. Meskipun dalam sepintas lalu, orang itu benar-benar mirip dengan bentuk Pasingsingan, namun ia pasti bahwa orang itu sama sekali bukan Pasingsingan. Kalau orang itu juga berjubah abu-abu dan juga memakai wajah yang bukan wajah aslinya, mungkin hanyalah suatu kebetulan saja, meskipun kebetulan yang masih meragukan.
Dengan teka-teki yang masih berkecamuk di kepalanya itulah Mahesa Jenar melangkah kembali ke padukuhan Gedangan. Di sepanjang perjalanannya, ia sama sekali tak dapat melepaskan diri dari persoalan orang berjubah abu-abu itu.

Ketika ia sampai di padukuhan, dilihatnya di rumah Wiradapa masih lengkap duduk mengelilingi pelita minyak, Kebo Kanigara beserta anaknya di belakangnya, Wanamerta yang tampak sangat kelelahan, serta beberapa orang lainnya, yang kemudian mempersilahkan Mahesa Jenar untuk duduk diantara mereka.

Kepada mereka itu Mahesa Jenar minta untuk tetap bersiaga dan memberikan beberapa petunjuk apabila besok pertempuran masih harus dilakukan. Setelah itu maka segera ia minta diri untuk beristirahat, malahan ia menasehatkan kepada orang-orang lain untuk beristirahat pula. Setelah Mahesa Jenar membersihkan dirinya, terasalah bahwa tubuhnya menjadi segar kembali. Apalagi setelah ia mengisi perut sekadarnya. Tubuhnya yang telah diperas sehari penuh itu merasa sehat dan kekuatannya telah utuh seperti semula.

Sebelum ia memasuki ruangannya di bagian depan rumah Wiradapa, mula-mula ia perlu menengok keadaan Rara Wilis. Ketika ia masuk dilihatnya Rara Wilis duduk bercakap-cakap dengan Widuri.
Melihat kedatangan Mahesa Jenar, segera Widuri berdiri untuk meninggalkan ruangan itu, tetapi cepat Wilis menangkap lengannya. “Mau kemana kau Widuri?”

“Tidur, Bibi,” jawab gadis itu.
“Bukankah kau akan menemani aku malam ini?” sahut Rara Wilis.
Widuri berhenti. Tetapi ia termangu-mangu.
“Bukankah kau sudah berjanji…?” Wilis meneruskan, Widuri mengangguk.
“Nah, kalau begitu, kau tidak boleh pergi,” sambung Mahesa Jenar.

Widuri tidak jadi meninggalkan ruangan itu, tetapi ia duduk kembali disamping Rara Wilis.
“Silahkan masuk Kakang….” Wilis mempersilahkan. Tetapi Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan terlalu lama tinggal di ruang itu, sebab ia perlu beristirahat.

“Aku hanya ingin melihat apakah kau telah baik kembali Wilis,” kata Mahesa Jenar.
“Pangestumu Kakang,” jawab Wilis.
“Syukurlah dan tidurlah. Siapa tahu tenaga kita masih diperlukan besok atau lusa,” sambung Mahesa Jenar. Setelah itu segera ia minta diri untuk pergi ke ruang tidurnya

DI dalam ruangan itu dilihatnya lampu minyak yang terayun-ayun dipermainkan angin yang menyusup lubang-lubang dinding bambu. Cahaya yang dilontarkan membuat bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak pula. Sebuah bayangan hitam yang terlukis di dinding tampak seperti sebuah lukisan hitam yang berguncang-guncang. Itulah bayang-bayang Arya Salaka yang masih saja duduk dipembaringannya memeluk lutut.

Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar masuk, segera ia membetulkan letak duduknya. Wajahnya masih nampak suram setelah mengalami peristiwa yang membentur langsung lubuk hatinya yang paling dalam, bahkan agaknya mandi pun Arya Salaka masih belum sempat.

Melihat keadaan Arya Salaka, hati Mahesa Jenar terketuk kembali. Ia tahu apakah yang dirasakan oleh anak murid satu-satunya itu. Karena itu maka ia mencoba untuk meredakannya. “Katanya Jangan banyak kau pikirkan apa yang sudah kau lakukan Arya. Menurut pendapatku kau telah melakukan hal yang sebaik-baiknya.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Meskipun tampak perubahan di wajahnya, tetapi tidaklah begitu jelas. Namun ketika ia menyahut, terasalah bahwa ia belum yakin akan kata-kata gurunya. “Paman, tidakkah aku mengecewakan Paman?”

“Kenapa aku harus kecewa Arya?” tanya Mahesa Jenar.
“Aku tidak dapat membunuhnya. Tidak dapat,” jawab Arya sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya.
“Justru karena itu aku mengagumimu,” potong Mahesa Jenar.
Arya memandang gurunya dengan mata yang memancarkan keraguan. Namun ia kenal betul watak gurunya. Kalau ia berkata demikian, maka hatinyapun akan berkata demikian pula. Karena itu ia menjadi terharu. Bahkan mata itu kemudian menjadi berkilat-kilat memantulkan sinar pelita karena air yang membayang didalamnya.

“Sudahlah Arya. Jangan kau terbenam dalam angan-angan. Bagiku kau telah bertindak benar dan terpuji. Sekarang beristirahatlah. Mandilah supaya kau menjadi segar. Dan adakah kau telah makan?”
Arya Salaka menggeleng.

“Nah, pergilah ke belakang. Mandi dan mintalah kepada Bibi Wiradapa makan secukupnya. Siapa tahu besok kita masih harus bekerja keras.”

Arya tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dan dengan gontai melangkah keluar ruangan.
Dengan segar Arya pergi ke perigi. Sesaat kemudian terdengarlah gerit timba yang digerakkan oleh Arya, disusul dengan suara guyuran air yang dingin segar.

Dalam pada itu, ketika Arya sedang menikmati sejuknya air, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah bayangan orang berjubah yang berdiri di belakangnya. Arya menjadi terkejut dan agak bingung. Dalam keadaannya sekarang, selagi ia tidak berpakaian, sulitlah agaknya untuk melawan seandainya orang itu tiba-tiba menyerang. Meskipun demikian ia harus bersiaga. Tetapi sampai beberapa lama orang itu berdiri diam mematung.

Dalam pada itu Arya ingin mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Cepat ia meloncat untuk menyambar, setidak-tidaknya kainnya. Namun ia menjadi terkejut pula ketika orang itu sudah menghadangnya dengan sama sekali tak diketahuinya, kapan ia melontarkan diri. Karena hal itu, segera Arya Salaka mengetahui bahwa orang yang berjubah itu pasti seorang tokoh sakti. Tiba-tiba ia teringat gurunya pernah berceritera tentang seorang yang berjubah abu-abu dan bertopeng jelek. Yaitu Pasingsingan. Apakah orang ini Pasingsingan, guru Lawa Ijo?

Tetapi orang ini sama sekali tidak mempergunakan topeng yang jelek, meskipun wajahnya tampaknya juga tidak wajar. Dengan demikian Arya Salaka menjadi berdebar-debar.

 Tiba-tiba orang itu melangkah maju, setapak demi setapak, seperti seekor kucing yang sedang merunduk seekor tikus. Dalam keadaan itu, Arya Salaka tidak dapat berbuat lain daripada bersiaga untuk melawan. Bahkan kemudian ia lupa akan keadaan dirinya yang sama sekali tidak berpakaian itu. Ia tidak mau mati di tangan seorang yang bagaimanapun juga saktinya tanpa perlawanan.

Maka ketika orang yang berjubah itu sudah sedemikian dekat, Arya pun telah siap melakukan hal-hal yang perlu untuk melindungi dirinya. Dalam keremangan malam Arya melihat orang itu perlahan-lahan menjulurkan tangannya. Demikian perlahan-lahan sehingga agaknya itu bukanlah suatu serangan.
Namun Arya tidak mau tertipu. Iapun perlahan-lahan surut beberapa langkah.

Tetapi kemudian orang itu meloncat dengan cepatnya untuk menangkap pinggangnya. Arya yang telah siap itupun segera meloncat menghindar dan bahkan dengan sekuat tenaga ia membalas menyerang dengan kakinya ke arah lambung orang yang belum dikenalnya itu. Kalau saja pada saat ia bertempur melawan orang-orang Paningit, tidak berada di sayap kanan, maka setidak-tidaknya ia dapat melihat orang yang berjubah abu-abu yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Namun seandainya demikian iapun pasti tidak mau diserang tanpa sebab dan pasti akan melawannya.

Tetapi anehnya, meskipun ia telah merasa menghindarkan diri dan bahkan menyerang orang itu dengan sekuat tenaga, namun agaknya bagi orang berjubah abu-abu itu, gerakannya sama sekali tidak berarti. Sehingga apa yang diketahuinya, pinggangnya benar-benar telah dapat ditangkap. Tangan orang itu terasa demikian kerasnya seperti sebuah himpitan besi yang tak dapat direnggangkan.
Demikianlah Arya Salaka dalam sekejap telah hampir tak berdaya. Meskipun kedua tangannya bebas, namun karena himpitan itu terasa seolah-olah tenaganya lenyap, seperti tulang belulangnya terlepas dari tubuhnya. Tetapi Arya bukan orang yang lekas berputus asa. Dengan sisa tenaganya ia melawan sejadi-jadinya. Kaki dan tangannya bergerak sedapat-dapat untuk menyerang. Bahkan ia berusaha dengan kedua jari-jari tangannya menyerang mata orang itu. Namun usahanya sama sekali tak berarti.

Tangan yang menjepit pinggangnya itu semakin lama terasa semakin keras dan sejalan dengan itu tenaganya menjadi semakin surut semakin surut. Bahkan akhirnya tubuhnya menjadi tidak lebih dari selembar kain yang sama sekali tidak dapat digerakkan atas kemauan sendiri.

DEMIKIANLAH Arya Salaka kini tidak dapat berbuat lain daripada menunggu apa yang bakal terjadi. Hanya matanyalah yang dapat memancarkan cahaya kemarahan yang meluap-luap. Sedangkan mulutnya sama sekali tidak berhasil mengeluarkan suara. Meskipun dalam keadaan yang demikian kesadarannya sama sekali tidak terganggu. Ia dapat merasa dan mengetahui apa yang terjadi atas dirinya.

Setelah Arya tidak mampu untuk berbuat apapun, maka kemudian orang itu melepaskan jepitannya perlahan-lahan. Kemudian dengan kedua tangannya Arya dipapahnya kedalam kelam, dibawah daun-daun yang lebat rimbun di halaman belakang rumah Wiradapa.

Ditempat itu perlahan-lahan Arya diletakkan berbaring. Seperti seorang bayi, bahkan lebih dari itu, sebab ia sama sekali tidak mampu menggerakkan jarinya sekalipun.

Kemudian ia melihat orang itu berdiri tegap di sampingnya. Diangkatnya kepala sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Namun yang terdengar hanyalah kemerisik daun yang digoyangkan angin, serta bunyi-bunyi jangkrik bersahutan dengan suara bilalang. Sedang malam semakin bertambah malam jua.

Padukuhan Gedangan telah terbenam dalam kesunyian yang lelap. Hampir setiap orang telah nyenyak tertidur, kecuali beberapa orang yang bertugas ronda. Mahesa Jenar yang telah membaringkan dirinya sama sekali tidak curiga tentang keadaan Arya Salaka. Ketika ia sudah tidak mendengar guyuran air, ia hanya mengira bahwa Arya sedang pergi ke dapur untuk minta makan kepada Nyai Wiradapa. Karena itulah maka ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.

Dalam pada itu, malahan kenangan Mahesa Jenar kembali melontar kepada orang yang berjubah abu-abu yang telah menyelamatkan laskarnya dari kehancuran. Ia mencoba untuk menghubung – hubungkan orang itu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya. Orang-orang yang aneh-aneh dan orang-orang yang telah menyisihkan diri dari pergaulan.

Diingatnya nama-nama Radite dan Anggara. Kedua-duanya adalah murid Pasingsingan, yang bahkan Radite adalah orang yang sebenarnya berhak mempergunakan gelar Pasingsingan beserta tanda kebesarannya. Namun sebagai manusia ia mengalami kekhilafan, sehingga akhirnya ia merasa bahwa hidupnya seolah-olah tak berarti lagi. Ia merasa bahwa setiap dosa yang dibuat oleh Umbaran, orang yang kemudian memiliki tanda-tanda serta pusaka-pusaka Pasingsingan adalah akibat dari dosanya.

Tetapi dalam penilaian Mahesa Jenar, Radite dan Umbaran tidaklah jauh terpaut, bahkan mungkin masih berada dalam deretan yang sejajar dengan gurunya, dengan Ki Ageng Sora Dipayana, dengan Ki Ageng Pandan Alas. Sehingga dengan demikian ia tidak akan dapat melampaui Kebo Kanigara. Tetapi orang yang datang itu adalah orang yang terpaut banyak daripadanya, yang telah menemukan inti dari ilmu perguruan Pengging. Sehingga dengan demikian orang itu pasti bukan salah seorang diantara Radite maupun Anggara.

Dalam pada itu, tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Arya Salaka. Anak itu sudah terlalu lama pergi. Terlalu lama bagi seorang yang hanya mandi dan makan saja.

Setelah ia menyabarkan diri beberapa saat lagi, akhirnya perasaan Mahesa Jenar menjadi semakin tidak enak. Karena itu, iapun bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam ruang tidurnya. Sekali dua kali ia masih mencoba untuk menanti saja kedatangan anak itu, tetapi kemudian ia menjadi tidak sabar. Bahkan kemudian ia menduga bahwa pasti terjadi sesuatu yang tidak wajar. Untung kalau saja anak itu pergi berjalan-jalan untuk menenangkan dirinya.

Maka dengan perlahan-lahan agar tidak mengejutkan orang-orang lain yang tertidur nyenyak, Mahesa Jenar berjalan ke halaman belakang. Dadanya berdesir ketika ia melihat lampu dapur telah padam. Sehingga jelas bahwa anak itu tidak ada di sana. Kemudian Mahesa Jenar pergi ke perigi, meskipun ia menduga bahwa anak itu sudah tidak ada di sana. Tetapi tiba-tiba dadanya bergelora cepat sekali. Ia menemukan pakaian Arya lengkap diatas sebuah batu di tepi sumur itu. Pakaiannya saja. Lalu kemanakah anak itu pergi? Pasti tidak mungkin kalau Arya sengaja meninggalkan pakaian di sana, meskipun seandainya ia berganti dengan pakaian lain.

Karena itu Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa Arya telah mengalami suatu hal yang tidak wajar, yang bahkan mungkin berbahaya. Menilik keadaannya, serta tidak adanya sesuatu yang didengarnya, maka Mahesa Jenar menjadi berteka-teki. Ia menjadi heran kepada dirinya sendiri ketika tanpa sadarnya ia menjengukkan kepalanya ke dalam perigi, ke dalam lingkaran yang hitam kelam. Seolah-olah ia sedang mencari Arya Salaka di sana.

Suatu pikiran gila, gerutu Mahesa Jenar. Tak mungkin Arya berbuat demikian, apapun yang dihadapinya.

Dengan demikian maka kesimpulan yang terakhir, yang mengganggu otaknya adalah, bahwa Arya telah mendapat bahaya dari seseorang yang jauh melampaui ketangguhan anak muda itu.

Dengan kesimpulannya itu Mahesa Jenar menjadi marah sekali. Siapakah yang telah berani mengganggu murid satu-satunya itu? Murid yang diharapkan untuk dapat mewarisi ilmu serta mengembangkannya. Bahkan murid yang keselamatannya menjadi tanggung jawabnya atas permintaan ayah anak itu sendiri.

Mahesa Jenar mencoba untuk menemukan jawabnya. Namun ia menjadi bingung. Tidak mungkin kalau hal itu dapat dilakukan oleh sepasang Uling dari Rawa Pening. Meskipun kedua Uling itu menyerangnya bersama, namun pasti akan terjadi perkelahian yang cukup lama untuk memberinya kesempatan mendengar dan membantu. Tetapi apa yang terjadi adalah sangat mengagumkan. Anak itu agaknya begitu saja hilang sebelum ia sempat berbuat sesuatu.

Darah Mahesa Jenar menjadi semakin bergelora. Untuk beberapa saat ia berdiri diatas kedua kakinya yang renggang. Wajahnya sedikit terangkat. Dicobanya untuk menangkap setiap suara yang berdesir di sekitarnya.

Namun ia tidak mendengar sesuatu. Juga matanya yang tajam, setajam mata burung hantu itupun tidak dapat menangkap sesuatu yang mencurigakan. Karena itu ia menjadi gelisah. Kemana agaknya Arya Salaka harus dicari…?

SAMBIL berpikir keras, Mahesa Jenar demikian saja melangkah meninggalkan tempat itu. Yang mula-mula dilakukan adalah berjalan berkeliling halaman. Kalau-kalau ada hal-hal yang mencurigakan yang dapat dipakainya untuk bahan pencariannya. Dalam hal ini, ia sama sekali tidak ingin mengganggu orang lain. Ia ingin mencarinya seorang diri. Baru apabila ia tidak berhasil, ia akan minta pertolongan Kebo Kanigara.

Tetapi tiba-tiba, ketika ia baru mendapat separo dari perjalanan kelilingnya itu ia terhenti. Perlahan-lahan didengarnya nafas seseorang yang mengalir dengan teratur. Mahesa Jenar mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Perlahan-lahan ia melangkah setapak maju. Dan benarlah. Ia telah mendengar nafas seseorang.

Menilik tarikannya yang teratur itu, Mahesa Jenar dapat menduga bahwa di halaman itu terdapat seseorang yang tertidur. Karena itu ia menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Adakah Arya Salaka yang tertidur di situ…? Anehlah kalau demikian. Bagaimanapun letih serta kantuknya, tetapi tidak mungkin bahwa ia tidak sempat berpakaian, lalu begitu saja menjatuhkan diri dan tertidur di situ.
Karena itu, ia tidak membiarkan dirinya mendapatkan sesuatu hal yang tak dikehendaki. Jangan-jangan hal yang serupa telah menyeret Arya kedalam bencana, karena ia kurang hati-hati atas suara desah nafas yang dikiranya orang yang sedang tertidur nyenyak.

Dengan demikian malahan Mahesa Jenar menjadi bersiaga penuh. Setiap saat ia dapat bertindak. Bahkan setiap saat, apabila ia benar-benar berhadapan dengan bahaya yang besar, ilmunya Sasrabirawa siap untuk dilontarkan. Setelah beberapa saat ia menunggu dengan tidak ada perubahan apapun, kembali ia maju setapak. Sekali lagi setapak demi setapak dengan penuh kewaspadaan.
Akhirnya suara desah nafas itu sudah sedemikian dekatnya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar bergerak beberapa jengkal maju. Matanya tajam dipergunakannya sebaik-baiknya menembus daerah yang gelap pekat karena daun-daun yang rimbun. Perlahan-lahan seolah-olah muncul dari daerah yang hitam sesosok tubuh yang terbujur diam. Melihat tubuh itu Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Sejengkal lagi ia bergeser maju. Dengan demikian tubuh yang nampak lamat-lamat itu menjadi semakin jelas. Dan apakah yang nampak kemudian sangat mengejutkannya. Ketika tubuh itu menjadi jelas segera Mahesa Jear dapat mengenalnya. Tubuh itu adalah tubuh Arya Salaka. Dan dari tubuh itu pulalah Mahesa Jenar dapat mendengar desah nafasnya yang teratur. Nafas orang yang sedang tidur nyenyak.

Meskipun tubuh yang terbaring tanpa pakaian itu adalah Arya Salaka namun Mahesa Jenar tidak tergesa-gesa mendekatinya. Ia masih belum tahu pasti, apakah tidak ada hal-hal yang berbahaya. Baru setelah beberapa saat tidak terdengar sesuatu selain nafas Arya, Mahesa Jenar melangkah perlahan-lahan mendekati. Ketika ia meraba tubuh anak itu, terasa bahwa tubuh itu tetap hangat seperti biasa.

Demikian tubuh Arya tersentuh tangan Mahesa Jenar, tampaklah anak itu terkejut. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ketika yang dilihat berdiri dihadapannya adalah Mahesa Jenar, iapun segera mengendorkan perasaannya.

Dalam keadaan yang penuh dengan tanda tanya. Mahesa Jenar berkata, “Kau tertidur Arya?”
Arya menganggukkan kepalanya.
“Tetapi kenapa pakaianmu kau tinggalkan…?” Mahesa Jenar meneruskan.
Arya terkejut mendengar teguran itu. Ia baru merasa bahwa ia masih belum mengenakan pakaiannya. Karena itu segera ia meloncat berlari ke perigi. Mahesa Jenar menjadi semakin heran. Namun kemudian ia pasti, bahwa sesuatu telah terjadi.

Setelah Mahesa Jenar sekali lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya, serta tidak ada sesuatu yang mencurigakan, iapun segera berjalan mengikuti arah langkah Arya Salaka. Sampai di tepi sumur, Arya segera menyambar pakaiannya. Ia tidak sempat membersihkan debu serta tanah lembab yang melekat pada tubuhnya.

Setelah Arya lengkap berpakaian, Mahesa Jenar tidak segera bertanya tentang apa yang telah terjadi atasnya, tetapi diajaknya Arya untuk masuk kembali ke dalam ruang tidurnya, setelah Arya menolak membangunkan Nyai Wiradapa untuk minta disediakan makan buatnya.
Baru setelah mereka duduk di pembaringan, Mahesa Jenar segera bertanya kepada anak muridnya, apakah sebabnya anak itu telah melakukan suatu pekerjaan yang aneh. Tidur di halaman belakang, di bawah daun-daun yang lebat rimbun serta sama sekali tidak berpakaian.

Arya sendiri mula-mula heran, bahwa ia telah tertidur di halaman belakang tanpa pakaian sama sekali. Diingatnya kembali apa yang telah terjadi atasnya. Perlahan-lahan sekali, semakin lama menjadi semakin jelas tampak kembali apa yang pernah dialaminya. Maka diceriterakannya apa saja yang terjadi atas dirinya. Pada saat ia sedang mandi, dan tiba-tiba muncullah seorang berjubah menangkapnya.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Lalu sambil mengangguk-angguk iabertanya, “Apa yang dilakukan atasmu ketika kau telah terbaring di bawah daun-daun yang lebat itu, dan adakah ia berkata sesuatu kepadamu?”. Setelah mengingat-ingat sebentar Arya menjawab, “Ya, Paman…. Memang ada yang dikatakan kepadaku. Ketika itu pendengaranku sudah menjadi lamat-lamat. Sebab pada saat itu terasa bahwa kantukku tiba-tiba menjadi tidak tertahan lagi.” Arya berhenti sebentar, lalu ia meneruskan. “Mula-mula dipijitnya seluruh tubuhku. Dari ubun-ubun sampai ke ujung ibu jari kakiku. Mula-mula terasa betapa sakitnya. Setiap jari-jari orang itu menyentuh kulitku terasa seolah – olah seluruh tubuhku menjadi nyeri tak terhingga. Namun aku sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, bahkan berdesispun tidak. Tetapi semakin lama perasaan sakit itu menjadi semakin berkurang. Bahkan akhirnya pijitan itu terasa nyaman sekali. Sehingga aku menjadi ngantuk bukan buatan. Sesaat sebelum aku tertidur aku masih mendengar orang itu berkata, “Arya Salaka, kau telah terlalu lama menyiksa tubuhmu dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Namun kau sama sekali tidak memelihara urat-urat darah serta otot-ototmu. Dengan demikian kau telah menyia-nyiakan sebagian dari tenaga dahsyat yang sebenarnya dapat kau ikut setakan dalam setiap lontaran tenaga.”

Sekali lagi Arya berhenti, kemudian, “Sesudah itu aku tidak ingat apa-apa lagi sampai Paman membangunkan aku.”

Dada Mahesa Jenar berdebar-debar mendengar ceritera Arya. Ia memang pernah mendengar suatu ilmu yang dapat dipergunakan memperkokoh tubuh seseorang serta memperbesar tenaganya denga membuka segenap saluran yang ada di dalam tubuh. Memperlancar jalan darah serta memperbaiki letak otot – ototnya sehingga pada orang itu tidak lagi diperlukan tenaga untuk mengatasi kesulitan – kesulitan di dalam tubuh sendiri. Dengan demikian segenap cadangan tenaga apabila diperlukan dapat dipergunakan seluruhnya dan disalurkan lewat bagian-bagian tubuh yang dikehendaki.

Tetapi masih belum jelas, apakah orang itu telah memperlakukan Arya demikian atau sebaliknya, membuat beberapa rintangan di dalam tubuhnya sehingga dalam pelontaran tenaga akan dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan. Karena itu segera ia bertanya, “Arya, bagaimanakah rasanya tubuhmu sekarang?” Tanpa sadar Arya mengamat-mati tubuhnya sendiri. Kakinya, tangannya, lengannya dan jari-jarinya. Semula ia sama sekali tidak memperhatikan, apakah ada perubahan – perubahan di dalam dirinya.

Tetapi ketika Mahesa Jenar bertanya kepadanya, terpaksa ia memperhatikan setiap perasaan yang lain di dalam dirinya.

Tentang peredaran darahnya, detak jantungnya serta sendi – sendi anggota badannya. Tiba-tiba saja ia merasa betapa segar darah yang mengalir di dalam tubuhnya, merambat sampai kesegenap ujung rambut di seluruh badannya. Setiap anggota badannya terasa menjadi betapa ringannya. Dan dengan demikian ia dapat bergerak bertambah cepat dan lincah. Detak jantungnya yang lunak teratur serta sendi-sendi anggota badannya yang licin, namun seakan-akan bertambah kokoh. Demikianlah akhirnya ia berkesimpulan bahwa kini ia telah mendapat suatu perasaan yang luar biasa. Yang bahkan ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan. Sehingga yang dapat diucapkan hanyalah beberapa kata saja.

“Tubuhku menjadi bertambah baik Paman.”

Jawaban itu sendiri tidak begitu meyakinkan bagi Mahesa Jenar. Tetapi wajah Arya yang berseri, caranya menggerakkan tangan dan kakinya, serta betapa tampak anak itu keheran-heranan sendiri, adalah jawaban yang cukup jelas. Jawaban yang telah mengandung suatu ceritera bahwa tubuh Arya kini telah berbeda dengan tubuh Arya beberapa saat yang lalu.

Anak itu agaknya kini telah memiliki kesempurnaan tata nadi dalam tubuhnya. Mahesa Jenar sendiri meras bahwa selama ini ia telah memaksa anak itu bekerja keras, berlatih, berkelahi, berjalan dan berlari setiap hari. Namun ia tidak dapat melakukan hal yang lain bagi tata nadi anak itu.

Meskipun ia sendiri dahulu pernah juga mempelajari beberapa pengetahuan mengenai urat dan jalan darah, namun apa yang dapat dilakukan tidak lebih dari daripada saling memijit sesama prajurit apabila mereka sedang kelelahan. Baik didalam latihan-latihan maupun didalam pertempuran-pertempuran yang sebenarnya.

Tetapi tidaklah demikian yang terjadi atas Arya. Orang yang berjubah itu tidak sekadar memijit Arya supaya Arya tidak lagi merasa lelah. Lebih daripada itu. Orang itu telah menolong Arya untuk dapat mengerahkan segenap tenaga yang tersimpan didalam tubuhnya yang tegap kekar itu. Meskipun mula-mula Mahesa Jenar merasa cemas bahwa yang terjadi adalah sebaliknya, namun terhadap orang yang berjubah abu-abu yang belum dikenalnya itu, ia telah menumpahkan kepercayaan bahwa tidaklah mungkin ia akan berbuat jahat terhadap Arya.

Bersamaan dengan itu, makin kuatlah dugaan yang telah tumbuh di dalam dadanya, bahwa orang itupun sama sekali tidak bermaksud jahat atas perbuatannya mengambil kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru, meskipun akibat hilangnya kedua keris itu sangat dahsyat atas tanah perdikan dilereng bukit Telamaya itu.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Namun tak habis-habisnya ia mengagumi tubuh muridnya yang sedang menginjak dewasa itu. Selama ini meskipun hampir setiap saat, siang dan malam, ia tidak pernah terpisah darinya, tetapi seolah-olah baru sekarang ia melihat alangkah gagahnya anak ini. Anak Ki Ageng Gajah Sora, yang dalam usianya yang masih sangat muda itu telah dapat mencerminkan kebesaran jiwa yang diwarisinya dari orang tuanya, serta pendidikan yang diberikannya.

Arya yang merasa selalu dipandangi oleh gurunya, menjadi tertunduk. Namun ia merasa bahwa gurunya sama sekali tidak menyesal atas kejadian yang baru saja dialami. Karena itu iapun tidak perlu mencemaskannya lagi. Bahkan perasaan yang segar yang memancar didalam tubuhnya, telah menumbuhkan suatu harapan dalam dirinya. Harapan atas masa depan yang lebih baik.

YANG tersangkut di dalam otak Arya Salaka kemudian adalah pertanyaan-pertanyaan tentang orang yang berjubah itu. Orang yang dengan serta merta menangkapnya, dan menjadikannya tertidur di dalam semak-semak. Karena itu kemudian ia bertanya kepada gurunya, “Paman, adakah Paman mengenal orang yang berjubah itu?”

Mahesa Jenar menggeleng. “Tidak,” jawabnya. “Tetapi aku pernah melihatnya beberapa tahun yang lalu di Banyubiru.”

“Di Banyubiru…?” Arya bertambah heran.

“Ya,” jawab Mahesa Jenar pendek.

Kemudian kembali mereka berdiam diri. Dingin malam semakin tajam menusuk sampai ke tulang sungsum.

“Tidurlah Arya,” desis Mahesa Jenar kemudian sambil membaringkan dirinya. Dan sejenak kemudian mereka berdua telah lelap ditelan oleh sunyi malam. Arya Salaka tertidur dengan sebuah senyum yang tersungging di bibirnya. Ia tidak merasa lagi punggungnya menjadi gatal-gatal oleh serangga yang menggigitnya. Serangga yang terbawa oleh tanah lembab ketika ia terbaring di semak-semak halaman belakang. Sedang Mahesa Jenar pun kemudian tertidur karena kelelahan.

Pedukuhan Gedangan kini benar-benar telah terbenam dalam suasana yang hening. Beberapa orang peronda yang berjalan hilir-mudik di sudut-sudut desa kadang-kadang harus berdesis menahan angin malam yang mengalir lembut, membawa udara pegunungan yang dingin.

Ketika di timur tampak fajar mulai membayangkan cahaya kemerahan, datanglah beberapa orang yang dikirim untuk menyelidiki keadaan pasukan lawan. Dari mereka, pimpinan ronda mendapat laporan bahwa pasukan dari Pamingit dan Gunung Tidur sudah tidak lagi berada di perkemahan mereka.

Agaknya mereka telah merasa, bahwa meskipun mereka meneruskan pertempuran, namun mereka pasti tidak akan berhasil. Karena itu, lebih baik mereka menarik diri.

Karena laporan itulah, pasukan Gedangan tidak perlu lagi mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan yang akan datang.

Meskipun tidak terdengar tanda-tanda bahaya, namun Mahesa Jenar dan Arya Salaka, bangun pada saatnya. Pada saat terang-terang tanah. Ketika mereka keluar dari ruang tidur, mereka melihat beberapa orang telah berada di halaman depan.

Tetapi demikian Mahesa Jenar melihat sikap mereka, segera Mahesa Jenar mengetahui bahwa tidak ada lagi bahaya yang mengancam pedukuhan itu. Setidak-tidaknya untuk waktu-waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita oleh laskar Gedangan dalam pertempuran kemarin.
Meskipun demikian, Mahesa Jenar memerintahkan juga laskar Gedangan bersiap untuk melakukan pembersihan daerah yang kemarin dipergunakan sebagai ajang pertempuran.

Demikianlah sehari itu, yang dilakukan oleh orang-orang Gedangan adalah bekerja keras, mengubur mayat-mayat yang berserak-serakan, baik dari kawan sendiri maupun dari lawan.

Ketika matahari condong ke barat, selesailah pekerjaan mereka. Mereka kini boleh kembali kepada keluarga masing-masing, meskipun tetap untuk tidak meninggalkan kewaspadaan. Beberapa orang secara bergilir masih harus tetap berada di gardu-gardu penjagaan. Siang maupun malam.

Dalam keadaan yang demikian terasalah, betapa akibat pertempuran telah merampas kegembiraan seluruh penduduk Gedangan. Apalagi yang terpaksa melepaskan salah seorang anggota keluarga mereka.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan beberapa orang terbaik dari pedukuhan mereka sebagai tawur dalam perjuangan mempertahankan hak dan ketenteraman hidup mereka untuk seterusnya.

Ketika pekerjaan mereka telah selesai seluruhnya, barulah mereka dapat menarik nafas lega. Demikian juga Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri dan Arya Salaka. Mereka kini telah dapat berkumpul bercakap-cakap dengan tenang.

Namun agaknya Arya tidak begitu tertarik duduk bercakap-cakap diantara mereka. Agaknya beberapa masalah masih selalu mengganggunya. Karena itu ia minta diri untuk berjalan-jalan menikmati cahaya matahari sore. Selain Arya Salaka, ternyata Widuri pun lebih senang berjalan-jalan dan berlari-lari diluar. Sehingga dengan demikian, ia minta diri pula untuk ikut serta bersama Arya Salaka bermain-main.

Demikianlah mereka berdua berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan sambil bercakap-cakap. Kadang-kadang Widuri minta Arya Salaka berceritera tentang dirinya, tentang pengalamannya dan tentang cita-citanya.

Sebaliknya kadang-kadang ia bercerita tentang segala sesuatu yang disenanginya. Tentang burung – burung yang terbang bebas di udara. Tentang bunga-bunga yang mekar di halaman. Dan kadang-kadang dengan penuh keingintahuan, Widuri menanyakan tentang daerah-daerah yang jauh di seberang punggung-punggung bukit, daerah dimana langit dan bumi seolah-olah berpadu dalam satu garis yang membujur panjang sekali. Dalam percakapan yang asik itu Arya selalu berusaha untuk menjawab sedapat-dapatnya. Diceriterakan apa yang pernah dilihatnya dibalik pegunungan yang berjajar seperti wayang di pakeliran. Diceriterakannya betapa di sana tergelar pantai yang luas serta laut tanpa tepi. Betapa nelayan di lautan bekerja keras untuk mencari kekayaan yang tersimpan di dalam lautan.
Diam-diam Widuri menjadi kagum kepada anak muda itu. Kagum akan pengalamannya yang luas, serta kagum akan ketetapan hatinya memandang hari kemudian. Hari yang bakal datang.
Sebaliknya, Arya pun menjadi tertarik perhatiannya kepada gadis itu. Dengan pertanyaan-pertanyaan ia dapat mengetahui betapa banyak kemauan dan cita-cita yang tersimpan didalam dadanya.

DEMIKIANLAH dengan tidak merasakan lelah, mereka berjalan terus. Meskipun sejak pagi Arya Salaka telah memeras keringat membantu orang-orang Gedangan membuat lubang-lubang kubur.
Namun dalam kesejukan angin senja, ia lebih senang berjalan-jalan bersama Widuri daripada beristirahat dan bercakap-cakap dengan orang-orang yang tidak sebayanya.

Karena itulah maka dengan tidak terasa, mereka telah melewati ladang persawahan beberapa tonggak dari pedukuhan. Bahkan mereka telah menyusur jalan-jalan sempit yang membujur ke dalam daerah-daerah hutan-hutan kecil. Jalan setapak yang selalu dilewati oleh orang-orang yang pergi mencari kayu ke dalam hutan itu, tanpa prasangka dan raga-ragu.

Bahkan dengan wajah yang berseri-seri mereka memandang ujung-ujung daun-daun muda yang bergoyang-goyang ditiup angin. Cahaya matahari yang tersangkut di pucuk-pucuk dahan kayu tampak berkilau-kilau dengan riangnya, seriang suara burung yang berkicau mengantar datangnya senja. Selembar awan yang menggantung di langit bergerak perlahan-lahan dihanyutkan angin dari selatan.

Ketika kemudian dari arah barat membayang warna merah kekuning-kuningan, Widuri memejamkan matanya sambil bergumam, “Layung…, layung senja, jangan kau pancarkan penyakit ke mataku, pancarkan kepada anak nakal di sampingku.”

Arya Salaka tertawa mendengarnya, sahutnya, “Layung-layung senja selalu baik kepadaku. Karena itu aku tidak pernah sakit mata.”

Kemudian Arya Salaka berdiri menatap langit-langit yang berwarna merah itu, sambil seolah-olah berkata kepadanya, “Layung…, layung senja yang baik. Simpanlah segala macam penyakit. Berikanlah kepada kami sejahtera dan sentosa.”

“Tidak bisa,” potong Widuri sambil tertawa. “Candhik ala tidak bisa memberi sejahtera dan sentosa. Ia hanya punya benih penyakit mata.”

“Penyakit matapun tidak,” sahut Arya Salaka.

Kemudian terdengarlah mereka tertawa bersama-sama.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Dari balik semak-semak hutan yang tidak begitu lebat, mereka mendengar suara berdesir. Telinga mereka yang sudah terlatih baik segera dapat mengetahui bahwa suara itu suara langkah orang. Karena itu mereka tidak bergurau lagi. Perhatian mereka tertuju kepada telapak kaki yang terdengar semakin lama semakin dekat. Bahkan suara langkah itu sama sekali tidak tertahan-tahan, sehingga mereka menduga bahwa orang yang datang itu sengaja akan menjumpainya tanpa bersembunyi-sembunyi.

Ketika mereka menoleh ke dalam semak-semak di belakang mereka masih belum ada seseorangpun yang tampak. Suara langkah itu masih berada di dalam semak-semak yang sudah mulai suram.

Tiba-tiba dari balik daun-daun yang lebat itu terdengar suara orang tertawa. Mirip dengan ringkik kuda liar yang kehausan. Widuri bukanlah seorang gadis penakut, namun mendengar suara tertawa yang mengerikan itu ia bergeser setapak mendekati Arya Salaka. Kecuali itu, sekaligus Arya Salaka dan Widuri dapat mengetahui bahwa orang yang berada di dalam semak-semak itu tidaklah hanya seorang, tetapi sedikitnya dua orang, yang tertawa bersama-sama.

Dalam pada itu perasaan Arya Salaka menjadi tidak enak. Seolah-olah ia mendapat suatu firasat yang kurang baik. Karena itu iapun segera bersiap-siap untuk menanti, apakah yang bakal terjadi.

Sesaat kemudian tampaklah daun-daun semak-semak itu tersibak. Yang mula-mula tampak adalah tangan-tangan kasar yang menyisihkan daun-daun yang lebat itu. Kemudian muncullah di hadapan kedua anak muda itu dua orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, berwajah runcing, dengan tepi mata yang terangkat tinggi.

Demikian mereka berdiri tegak di luar semak-semak, kembali terdengar suara tertawa mereka yang mengerikan, seperti ringkik kuda-kuda liar.

Melihat kedua orang itu hati Arya Salaka berdebar-debar. Ia sudah mengenal keduanya. Beberapa kali ia pernah melihat. Bahkan sejak ia masih tinggal di Banyubiru. Dua orang itu tidak lain sepasang Uling dari Rawa Pening, dengan ikat pinggang yang lebar, bergambar dua ekor Uling yang saling berlilitan.

Kedua orang itu masih beberapa langkah lagi maju mendekati Arya Salaka dan Endang Widuri.
Endang Widuri masih belum mengenal keduanya. Tetapi dalam pertempuran yang terjadi kemarin, sepintas lalu ia melihat kedua orang yang menyerang dari belakang itu, dan kemudian dapat diusir oleh Mahesa Jenar. Dengan demikian iapun segera merasa bahwa ia kini berhadapan dengan dua orang lawan yang tangguh.

Karena itu bagaimanapun juga, Widuri harus memperhitungkan kemampuan diri. Dirinya sendiri dan Arya Salaka, satu-satunya kawan yang ada di tempat itu.

Tetapi karena di dalam tubuh Widuri mengalir darah keturunan Pengging, maka ia tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Yang justru menggoncangkan dadanya, bukanlah kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapinya, apabila ia benar-benar harus bertempur melawan sepasang Uling itu.

Dalam hal yang demikian, sedikit banyak ia telah menerima latihan-latihan yang berat dari ayahnya. Setidak-tidaknya ia akan dapat bertempur sambil menarik diri mendekati pedukuhan Gedangan. Apalagi di dekatnya ada Arya Salaka, meskipun ia masih belum dapat mengukur kekuatan tenaga anak muda itu dibandingkan dengan orang-orang yang tak dikenalnya itu.

Tetapi yang lebih mengerikan baginya adalah cara kedua orang itu mengamat-amati dirinya. Seolah-olah tubuhnya itu bulat-bulat akan ditelan mereka. Lebih-lebih lagi ketika tampak di bibir kedua orang itu membayang senyum. Senyum yang aneh. Tiba-tiba bulu kuduk Endang Widuri berdiri serentak, meskipun ia tidak tahu maksud yang terkandung dalam senyuman yang aneh itu.

Apalagi ketika kemudian terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Selamat bertemu putera Ki Ageng Gajah Sora.”

Suara yang terdengar adalah suara yang serak parau.

ARYA SALAKA memandang kedua orang itu dengan seksama. Ia sudah pasti bahwa hal yang tak diinginkan akan terjadi. Maka dengan tidak melepaskan pandangannya kepada sepasang Uling itu ia menjawab, “Selamat bertemu sahabat. Adakah kau akan menyampaikan kabar tentang daerahku…?”

Terdengar Uling Putih tertawa berderai. “Ya… ya… Tuan muda. Aku membawa kabar untuk Tuan. Ketahuilah bahwa di daerah Tuan kini terjadi malapetaka yang hebat. Adik Tuan, Sawung Sariti dengan leluasa dapat membunuh setiap orang yang dikehendaki. Bahkan akhirnya Tuan sendiri. Sesudah itu, tahukah Tuan apa yang akan terjadi…? Banyubiru akan sepenuhnya jatuh ke tangan Sawung Sariti. Tetapi itu bukanlah peristiwa yang terakhir yang terjadi atas daerah Tuan itu. Sebab akhirnya Sawung Sariti, maupun ayahnya Ki Ageng Lembu Sora itu akan mati juga. Kau ingin tahu siapakah yang akan membunuhnya…?”

Uling Putih berhenti sejenak, seolah-olah ia menunggu kata-katanya itu meresap ke dalam dada Arya Salaka. Kemudian ia meneruskan, “Yang membunuh mereka beserta para pengikutnya adalah aku dan adikku. Uling Kuning.”

Seterusnya kembali terdengar suara tertawa sepasang Uling yang mengerikan itu.
Dada Arya Salaka terguncang oleh kata-kata itu. Namun ia tidak ingin segera bertindak, sebab ia tahu betapa perkasanya kedua Uling itu.
Sesaat kemudian terdengar Uling itu berkata lagi, “Tetapi Tuan muda, aku sudah terlalu lama menunggu. Sawung Sariti tidak juga berhasil membunuh Tuan. Nah sekarang aku akan menolong mempercepat rencana itu, supaya aku lebih cepat menguasai daerah Banyubiru itu sebagai kepala daerah perdikan yang dihormati, tidak sebagai sepasang perampok seperti sekarang itu.”

Jantung Arya Salaka terasa seperti diguncang-guncang mendengar kata-kata Uling Putih itu. Karena itu dengan suara gemetar karena marah ia menjawab, “Sepasang Uling yang perkasa… aku adalah ahli waris yang sah atas daerah itu. Dengan demikian aku tidak harus menuntut atas hak saja, tetapi aku harus bertanggungjawab pula atas daerah itu dengan menunaikan kewajiban-kewajibanku sebaik-baiknya. Salah satu dari kewajibanku adalah menyelamatkan daerah Banyubiru.”

Mendengar jawaban Arya Salaka, Uling Kuning tertawa keras-keras. Katanya, “Tuan adalah seorang yang mengagumkan. Seorang yang sudah terusir dari kedudukannya, namun masih merasa bertanggungjawab. Tetapi Tuan tidak usah menunggu lama. Sebab sebentar lagi Tuan harus sudah benar-benar melupakan impian Tuan untuk kembali ke Banyubiru. Sesudah itu, jalan yang akan kami lalui menjadi bertambah lapang. Apalagi sepeninggal Kakang Sima Rodra suami istri, maka jalan ke Pamingit telah terbuka pula.”

Kemudian terdengar Uling Putih menyambung, “Apalagi dengan kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Jangankan Banyubiru dan Pamingit. Bahkan Demak pun akan dapat kami gulung.”

“Impian yang indah,” sahut Arya Salaka, “Tetapi kau lupa bahwa di Banyubiru ada Eyang Sora Dipayana. Seandainya kau dapat membunuh aku dan kemudian Adi Sawung Sariti, bahkan Paman Lembu Sora sekalipun, apa yang akan dapat kau lakukan atas Eyang Sora Dipayana itu?”

Kembali terdengar Uling Putih tertawa. Jawabnya, “Adakah kau mengira bahwa umur kakekmu itu akan dapat mencapai puluhan tahun lagi? Kalau semuanya sudah dapat aku bereskan, maka orang tua itu pasti akan mati kesedihan dan putus asa. Kalau tidak, seandainya orang tua itu tidak takut melihat kenyataan hari depannya yang patah, maka akupun dapat mempertemukannya dengan orang sebayanya, yang datang ke Rawa Pening, khusus untuk keperluan itu.”

“Gurumu…?” tanya Arya Salaka.

Kedua Uling itu mengangguk bersama-sama. Jawab Uling Putih, “Ya, guruku Sura Sarunggi.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Agaknya Uling Rawa Pening itu telah benar-benar menyusun kekuatan untuk dapat sampai kekedudukan yang diinginkan.

Dalam pada itu ia sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada menghadapi sepasang Uling itu dengan kekerasan. Seperti juga Widuri yang selama ini berdiam diri mendengarkan percakapannya dengan sepasang Uling itu, maka iapun harus memperhitungkan kekuatan diri. Untunglah bahwa Widuri telah memiliki bekal untuk membela dirinya sendiri.

Namun sekarang bagaimanakah imbangan kekuatan dari mereka berdua dengan kekuatan Uling itu sepasang…?

“Tuan muda…” tiba-tiba Uling Kuning masih meneruskan, “Sepeninggal Tuan jangan Tuan cemaskan gadis Tuan itu. Meskipun kami sudah tidak semuda Tuan, namun kami akan berusaha untuk memeliharanya baik-baik.”

Widuri menjadi muak mendengar perkataan itu. Apalagi ketika kemudian disusul dengan suara tertawa mereka yang mirip ringkik kuda yang sudah hampir gila. Namun Widuri masih dapat menahan dirinya ia menyerahkan segenap persoalan kepada Arya Salaka.

Namun Arya Salaka pun menjadi marah mendengar perkataan-perkataan yang menyakitkan hati itu. Maka dengan lantang iapun menjawab, “Sepasang Uling yang baik. Terima kasih atas berita yang telah kau sampaikan kepadaku. Dan terima kasih pula atas perhatianmu terhadap diriku sehingga untuk seorang anak-anak, kau berdua telah memberikan waktu yang cukup banyak serta tenaga yang besar sekali. Dengan demikian aku merasa mendapat kehormatan dari sepasang orang perkasa. Meskipun demikian sebaiknya kau mempertimbangkan sekali lagi, apakah kau ingin meneruskan rencanamu itu, ataukah lebih baik kau tetap menjadi perampok kecil-kecilan yang bersarang di Rawa Pening.”

Sepasang Uling itu terkejut mendengar jawaban Arya Salaka. Sindiran itu sudah jelas bagi mereka, bahwa Arya Salaka sama sekali tidak gentar menghadapinya. Meskipun mereka telah memperhitungkan bahwa anak itu pasti tidak akan menyerahkan lehernya begitu saja, namun mereka sama sekali tidak menduga bahwa anak itu berani merendahkannya. Karena itu dengan suara yang keras parau Uling Putih menjawab, “Hati-hatilah kau berbicara anak muda. Supaya aku tidak membiarkan kau menderita pada saat ajalmu datang.”

ARYA SALAKA sama sekali tidak mempedulikan ancaman itu, jawabnya, “Sebaiknya kau kembali saja ke Rawa Pening. Lebih baik kau menghadap Paman Lembu Sora dan minta menjadi pekatiknya. Kau akan mendapat jaminan seumur hidupmu. Kau tidak akan kelaparan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Uling Kuning sambil melangkah maju. Ternyata darahnya agak lebih panas dari kakaknya. “Berlututlah dan minta ampun, supaya kau tidak mengalami siksaanku.”

Arya menatap mata Uling Kuning itu dengan penuh kebencian. Dengan dada menengadah ia menjawab, “Maaf Uling Kuning, aku tidak bisa berjongkok dan minta ampun. Kalau kau telah biasa melakukan itu kau sajalah yang berjongkok dan minta ampun.”

Darah Uling Kuning maupun Uling Putih menjadi mendidih karenanya. Tetapi pada saat Uling Kuning hampir saja lupa diri dan meloncat menyerang, tiba-tiba terpandanglah olehnya Endang Widuri. Karena itu tiba-tiba ia mengurungkan serangannya. Bahkan kemudian ia menoleh kepada Uling Putih sambil berkata, “Apakah yang harus kita lakukan terhadap anak yang telah menghina kebesaran nama Sepasang Uling dari Rawa Pening ini Kakang?”

Uling Putih yang telah marah itu menjawab, “Menyingkirlah, biar aku sayat kulit mukanya, dan akan aku biarkan ia hidup sampai matahari terbit esok.”

Ancaman itu sungguh mengerikan. Suatu siksaan yang tiada taranya. Namun Arya Salaka sama sekali tidak gentar. Ia masih berdiri dengan dada menengadah menghadapi setiap kemungkinan. Juga kemungkinan untuk disayat kulit wajahnya, dan dibiarkan hidup sampai besok. Dalam pada itu Uling Kuning tersenyum di dalam hati. Memang sebenarnya ia ingin menyerahkan Arya Salaka kepada kakaknya. Sebab ia lebih tertarik untuk menangkap gadis yang menjelang dewasa yang datang kepadanya seolah-olah hadiah dari langit. Meskipun demikian ia masih berpura-pura berkata, “Adakah Kakang perlu menanganinya sendiri?”

Uling Putih menjawab, “Biar puas hatiku, jangan kau ikut campur.”

Uling Kuning mundur selangkah. Matanya dengan liar merambat ke segenap bagian tubuh Endang Widuri. Tubuh yang tepat pada usia kemekaran menjelang masa remaja. Sementara itu Uling Putih telah siap. Dengan wajah yang mengerikan ia melangkah maju. Selangkah demi selangkah. Tangannya yang panjang telah siap sepenuhnya untuk merobek-robek kulit Arya Salaka.

Arya Salaka pun segera mempersiapkan dirinya. Ia harus melawan Uling itu mati-matian. Sebab ia tahu betul, bahwa sepasang Uling Rawa Pening adalah orang-orang yang hampir seluruh hidupnya diwarnai oleh noda-noda yang hitam kelam. Karena itu, Arya Salaka berpendapat bahwa ia harus mencoba untuk dapat memusnahkannya. Tetapi ia masih belum dapat mengukur, apakah ilmu yang selama ini dipelajarinya akan cukup mampu untuk melawan Uling Putih itu.

Namun dalam pada itu, yang tergores didalam hatinya, adalah perbuatan yang sebaik-baiknya sebagai suatu pernyataan kebaktian yang tulus kepada sesama. Tetapi yang masih sedikit mengganggu pikirannya adalah Endang Widuri. Ia melihat suatu tanda-tanda yang mencemaskan pada Uling Kuning. Ia melihat bagaimana cara Uling Kuning itu memandang Endang Widuri. Karena itu maka mau tidak mau ia merasa bertanggungjawab pula atas keselamatan gadis itu.

Uling Putih kini sudah dekat berdiri di depannya. Giginya gemeretak didalam mulutnya yang terkatub rapat. Tetapi sesaat kemudian terdengar ia menggeram, “Tidak sia-sia aku berdua tinggal untuk beberapa hari di sini. Sekarang aku akan puas menghisap darahmu.”

Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi ia menarik kaki kirinya setengah langkah surut. Bersamaan dengan itu, Uling Putih meloncat dengan garangnya menyerang dada Arya Salaka. Cepat Arya Salaka menekuk lutut sambil membungkukkan tubuhnya. Sementara itu tangannya menyambar lambung lawannya dengan gerak yang mendatar.

Dalam pada itu Arya Salaka menjadi terkejut sendiri dengan gerakannya. Sebab tiba-tiba ia merasa seolah-olah ada tenaga kuat yang mendorong dari dalam. Tenaga yang selama ini seolah-olah tersembunyi. Bahkan dalam gerakannya itu, terasa benar bahwa segala sesuatu didalam tubuhnya telah berubah. Mungkin itulah yang dimaksud dengan penyempurnaan tata nadi yang dilakukan oleh orang berjubah abu-abu. Dan dengan demikian geraknya menjadi cepat dan kuat.

Uling Putih terkejut melihat kecepatan gerak anak itu. Bahkan ia terkejut pula ketika melihat tangan lawannya menyambar lambung. Karena ia sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka iapun kurang mempersiapkan dirinya. Ia mengira bahwa anak itu hanya dapat berloncat-loncatan sedikit.

Ia tidak tahu bahwa Arya Salaka dalam perkelahian seorang lawan seorang telah dapat mengalahkan Sawung Sariti. Sebab Sawung Sariti sendiri selalu mengatakan bahwa ia harus bertempur menghadapi beberapa orang yang datang membantu Arya Salaka. Dengan demikian Uling Putih itu tidak sempat berbuat lain daripada membentur tangan Arya Salaka.

ULING PUTIH menarik kaki kanannya, kemudian memutar tubuhnya dan menghantam lengan lawannya itu dengan kedua belah tangannya. Arya Salaka masih belum dapat menguasai geraknya sendiri sebaik-baiknya. Sebab sejak ia bertemu dengan laki-laki aneh yang berjubah abu-abu serta menidurkannya di dalam semak-semak, ia belum pernah mencoba tenaganya. Ini adalah yang pertama kalinya ia dapat melihat akibat dari kejadian malam yang mendebarkan itu. Karena itu ia tidak dapat menghindarkan diri dari benturan yang terjadi. Benturan antara lengannya dengan kedua tangan Uling Putih.

Akibatnya diluar dugaan Uling Putih dan Arya Salaka sendiri. Uling Putih yang pada dasarnya memandang rendah kepada lawannya, sengaja tidak mengerahkan segenap kekuatannya. Sebab ia mengira bahwa sebagian tenaganya saja ia akan mampu mematahkan lengan anak yang dianggapnya terlalu sombong itu.

Tetapi yang terjadi sama sekali tidaklah demikian. Tenaga tangan Arya ternyata besar sekali, sehingga Uling Putih terdorong surut beberapa langkah, sedang Arya sendiri tetap tidak bergeser dari tempatnya.

Mengalami peristiwa itu, dada Uling Putih seolah-olah menyala karena hatinya yang panas. Disamping perasaan heran yang tak habis-habisnya terhadap kekuatan tenaga anak yang dianggapnya tidak lebih dari seekor kelinci yang lemah itu, juga menggelora di dalam dadanya suatu perasaan malu, marah, dendam dan nafsu bercampur baur. Karena itu, maka segera ia mengerahkan segenap perhatiannya untuk satu tujuan, membunuh dan menyayat-nyayat putera kepala daerah Perdikan Banyubiru itu.

Demikianlah dengan garangnya ia menyerang kembali. Serangan yang datang menggelombang dengan dahsyatnya. Arya Salaka pun kemudian melayaninya dengan tangguhnya. Ia telah mewarisi hampir segenap jenis unsur-unsur gerak dari perguruan Pengging, ditambah dengan tata nadinya yang telah disempurnakan. Dengan demikian anak muda itu seolah-olah dapat bertempur seperti burung elang di udara, menyambar-nyambar dengan garangnya. Tetapi kemudian ia mampu pula bertempur laksana banteng yang tangguh kukuh, tenang dan meyakinkan.

Uling Kuning dan Endang Widuri berdiri terpaku menyaksikan pertempuran itu. Pertempuran yang berjalan dengan sengitnya. Yang sekali waktu berjalan cepat, tetapi kemudian menjadi lambat, namun penuh dengan ketegangan yang mendebarkan.

Uling Kuning, yang mula-mula menjadi sangat gembira ketika kakaknya bermaksud untuk membunuh Arya Salaka dengan tangannya sendiri, karena dengan demikian ia dapat berbuat leluasa atas gadis cantik itu, kemudian terpaksa mengikuti pertempuran itu dengan seksama. Bahkan kadang-kadang timbullah kecemasan di hatinya. Sebab kadang-kadang ia melihat serangan Arya Salaka seperti air yang mengalir dengan derasnya, melanda setiap usaha yang akan merintanginya.

Untunglah bahwa Uling Putih adalah seorang yang penuh dengan pengalaman bertempur. Dalam keadaan-keadaan yang sulit, ia masih mampu untuk membebaskan dirinya. Namun dengan demikian anggapannya terhadap Arya Salaka telah berubah. Ia kemudian menganggap anak muda itu seorang lawan yang berbahaya tak henti-hentinya, yang rasa-rasanya datang dari segenap penjuru.

Dalam keadaan yang demikian Uling Putih harus memeras keringatnya untuk dapat mencapai titik keseimbangan. Namun agaknya anak muda itu benar-benar luar biasa. Meskipun Uling Putih telah berusaha membentengi tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang cepat dan berubah-ubah, tetapi ia tidak bisa menutup mata, atas suatu kenyataan bahwa dadanya menjadi semakin sesak oleh pukulan-pukulan Arya Salaka, yang meluncur seperti tatit menyambar tanpa dapat dihindari. Bahkan beberapa kali, ia tidak dapat berhasil membebaskan diri seluruhnya atas serangan-serangan kaki lawannya yang masih sangat muda itu.

Meskipun Uling Kuning melihat kenyataan itu, namun ia terlalu mengagumi kakaknya, seperti ia mengagumi dirinya sendiri yang seolah-olah tak seorangpun dari angkatan sebayanya, apalagi anak-anak seperti Arya Salaka, akan mampu mengalahkannya. Karena itu, ia tidak mengalami sendiri tekanan-tekanan maut yang mendesing-desing di telinga, ia tidak sedemikian mencemaskan keadaan Uling Putih. Bahkan tiba-tiba ia teringat kepada kepentingannya sendiri. Kepada gadis yang berdiri tak seberapa jauh darinya.

Dengan sudut matanya sekali lagi ia memandang Endang Widuri yang masih asik melihat pertempuran antara Arya Salaka dan Uling Putih. Dan sekali lagi dada Uling Kuning itu bergetar. Kalau saja ia nanti berhasil membawa anak itu ke Rawa Pening, pasti akan merupakan barang yang sangat berharga di daerah yang tersekat dari pergaulan. Berbeda dengan daerah Nusakambangan, pusat kerajaan Ular Laut yang tampan, dimana terdapat berpuluh-puluh gadis korbannya yang disimpan di sana. Berbeda pula dengan cara hidup Sima Rodra muda dari Gunung Tidar. Yang seolah-olah telah kehilangan tingkat tata pergaulan hidup manusia yang wajar, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan mengalami suatu penghidupan yang buas dalam segala segi-seginya.

Karena itu maka kemudian perlahan-lahan perhatiannya berkisar dari titik pertempuran kepada Endang Widuri. Bahkan kemudian iapun menggeser kakinya setapak demi setapak ke arah gadis itu. Ia ingin menangkapnya di tempat itu pula. Dengan demikian, kecuali ia akan mendapat sesuatu yang dianggapnya permainan yang menyenangkan, sekaligus ia dapat mempengaruhi perhatian Arya Salaka.

Dengan demikian secara tidak langsung ia sudah membantu kakaknya. Sebab sedikit saja Arya Salaka lengah, maka kakaknya pasti akan dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik – baiknya.

Ketika ia sudah mendapat keputusan bulat atas rencananya itu. Uling Kuning tersenyum-senyum sendiri. Ia memastikan bahwa rencana itu akan berhasil. Menangkap Endang Widuri dan sekaligus menyebabkan Arya Salaka binasa.

Sementara itu, pertempuran berjalan semakin sengit. Arya Salaka terpaksa mengakui ketangguhan lawannya. Tahulah ia sekarang, mengapa ayahnya dahulu tidak tergesa-gesa bertindak terhadap kedua orang yang berbahaya itu. Pada waktu itu pasti ayahnya sedang mempersiapkan segala kemungkinan serta perhitungan-perhitungan yang masak.

TERNYATA kedua orang itu benar-benar luar biasa. Untunglah bahwa pada saat itu, ia telah banyak menerima tuntunan langsung atau tidak langsung, sehingga dengan demikian ia dapat melawan Uling Putih dengan sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ternyata bahwa ia berhasil mendesaknya. Apalagi setelah ia mengalami pijatan-pijatan di seluruh permukaan tubuhnya, terasa sekali betapa ia bertambah segar, kuat dan lincah. Tenaganya dapat melontar bebas tanpa sesuatu rintangan.

Uling Putih kemudian mengumpat-umpat di dalam hati. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Arya Salaka memiliki keteguhan serta ketangguhan yang sedemikian besarnya. Karena itu ia menjadi bertambah marah. Dikerahkannya segenap ilmunya. Tetapi ia harus menghadapi suatu kenyataan, bahwa setelah ia memeras diri, ia tetap tidak mampu untuk menundukkan lawannya.

Akhirnya ia menjadi gelisah. Bahkan ia mengharap agar adiknya melihat kesulitannya. Ia tidak dapat berteriak memintanya ikut bertempur sebab ia masih memperhatikan harga dirinya. Namun apabila keadaan memaksa, ia tidak akan pedulikan lagi, apalagi dengan demikian ia dianggap licik atau apapun.

Tetapi sebelum ia benar-benar minta adiknya menolongnya, dalam sekilas ia melihat Uling Kuning perlahan-lahan mendekati gadis kecil yang sedang asik melihat perkelahian itu. Dalam pada itu timbulah suatu harapan padanya. Mudah-mudahan gadis itu ditangkap oleh adiknya. Kalau gadis itu kemudian menjerit, saatnya tiba, Arya Salaka pasti akan lengah. Dan pada saat itu saat yang sebaik-baiknya untuk menghancurkannya.

Pada saat itu, malam telah turun perlahan-lahan. Warna-warna merah di langit telah lenyap disapu oleh warna-warna kelam. Bulan telah mulai menampakkan dirinya kembali diantara taburan bintang-bintang. Awan yang tipis bertebaran disana-sini menghias langit.

Perhatian Endang Widuri sebenarnya memang sedang tertumpah pada perkelahian yang sengit antara Arya Salaka melawan Uling Putih. Dengan keheran-heranan ia melihat Arya Salaka melontarkan diri, membelit dan kemudian meloncat dengan garangnya menghantam lawannya.

Tetapi ia mengerti pula bahwa Uling Putih pun mempunyai kekuatan yang cukup untuk dapat mempertahankan dirinya. Ia bergerak setapak-setapak, bergeser, meloncat dan berputar untuk menjaga agar ia tetap dapat menghadapi Arya Salaka yang seperti bayangan saja. Sekali muncul di sana, kemudian muncul di tempat lain. Kalau saja lawannya bukan orang yang cukup kuat, maka ia pasti akan menjadi pening dan kebingungan.

Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin seru. Arya Salaka semakin mendesak lawannya pula. Melihat peristiwa itu Endang Widuri menjadi gembira, sehingga gadis itu tersenyum-senyum sendiri. Bahkan ia kadang-kadang bergerak pula seperti anak-anak mendengar gamelan. Sekali ia bergeser maju, sekali ke samping. Bahkan kadang-kadang ia meremas-remas tangannya sendiri dengan kuatnya.

Tetapi ketika Uling Putih telah benar-benar terdesak, tiba-tiba tangannya menarik tali yang membelit pinggangnya. Demikian tali yang besar itu terurai, tampaklah bahwa sebenarnya yang membelit pinggangnya itu adalah sebuah cemeti. Arya Salaka tertegun melihat cambuk yang lemas di tangan Uling Putih. Ia tahu benar bahwa cambuk itulah senjata andalannya. Dengan demikian ia harus berhati-hati menghadapinya.

Ketika itulah Uling Putih itu menyerang dengan garangnya. Cambuknya berdesing-desing dengan dahsyatnya. Sebuah sambaran mendatar mengarah ke dada Arya Salaka.

Dengan tangkasnya Arya membungkuk dalam-dalam, serta dengan sekali berputar, kakinya menyambar perut Uling Putih. Namun Uling Putih sempat menarik dirinya setapak mundur. Bersamaan dengan itu, ia telah sempat menarik cambuknya mendatar pula. Kali ini Arya tidak dapat membungkuk lebih rendah lagi.

Tetapi ia harus meloncat mundur. Uling Putih tidak mau memberinya kesempatan. Dengan loncatan yang panjang ia memburu Arya sambil mengayunkan cambuknya sendhal pancing. Arya yang mengetahui betapa bahaya yang mengancam apabila ia sampai terkena pukulan itu, segera meloncat kesamping.

Ketika ujung cemeti itu berdesing disamping telinganya, ia melontar dengan cepatnya maju dekat sekali dengan lawannya. Dengan sekuat tenaganya ia menghantam dada lawannya. Uling Putih terkejut melihat gerakan yang cepat dan tak terduga-duga itu.

Dengan tangan kirinya ia mencoba menahan tangan Arya, sedang tangan kanan memutar cambuknya cepat-cepat untuk menyerang dalam jarak yang pendek itu.

Demikianlah dengan kerasnya tangan Arya menghantam tangan kiri Uling Putih yang mencoba melindungi dadanya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga terdengarlah Uling Putih mengaduh tertahan. Tangan kirinya ternyata tidak mampu menahan tekanan tangan lawannya, sehingga bagaimanapun juga, terasa sesuatu mendesak dadanya. Desakan itu demikian kuatnya, sehingga ia terlontar mundur dan kemudian jatuh terguling.

Tetapi dalam pada itu, Uling Putih agaknya memang ahli memainkan senjatanya. Meskipun pada saat itu Arya berdiri hampir melekat tubuhnya, ujung cambuknya berhasil juga menyentuh pundaknya, sehingga terasalah betapa nyerinya, dan bahkan terasa bahwa kulitnya terkelupas.

Arya menyeringai menahan pedih. Tanpa disengaja tangannya meraba tempat yang terluka itu. Terasa betapa darahnya yang hangat mengalir. Dalam pada itu Uling Putih segera melenting berdiri. Namun terasa betapa dadanya semakin sesak.

Baik Uling Putih maupun Arya Salaka telah mencapai puncak kemarahannya. Mereka masing-masing telah merasakan betapa tubuh mereka telah berhasil disakiti oleh lawannya. Maka terdengarlah Uling Putih menggeram penuh dendam. Matanya yang menyala merah menjadi semakin liar. Arya Salaka pun kemudian menggigil karena kemarahan. Jantungnya berdebar keras, sedang tangannya bergetaran, siap untuk menghancurkan lawannya.

Uling Putih yang telah dapat menguasai dirinya kembali, segera melangkah maju. Ia telah melihat hasil serangannya pada lengan lawannya. Dengan demikian ia menjadi sedikit berbesar hati. Mudah-mudahan luka ditangan Arya itu dapat mempengaruhi keteguhan hatinya. Tetapi ia salah harap.Karena luka itu Arya malah menjadi semakin garang. Bahkan tiba-tiba tangannya yang gemetar telah menggenggam pusaka kebesaran tanah perdikan Banyubiru, Kyai Bancak.

Demikianlah pertempuran itu berkobar kembali. Cambuk Uling Putih berputar seperti baling-baling.

Bergulung-gulung seolah-olah ingin melibas lawannya dan membenamkan kedalamnya. Demikian dahsyatnya Uling Putih memainkan senjatanya sehingga terdengarlah angin mendesing-desing
menggoyang daun-daun pepohonan di sekitarnya serta merontokkan daun-daun kering yang sudah tidak mampu lagi berpegangan di batang-batangnya lebih erat lagi. Tetapi ia berhadapan dengan murid keturunan dari perguruan Pengging yang telah mengalami pembajaan diri yang luar biasa beratnya.

Bahkan telah mendapat pertolongan dari seorang ahli tata nadi memperbaiki letak otot-otot serta syaraf-syarafnya. Sehingga Arya Salaka dapat mempergunakan segenap tenaganya dalam lontaran-lontaran kekuatan tanpa dipengaruhi oleh penggunaan tenaga cadangan di dalam tubuhsendiri. Apalagi kini di tangannya telah tergenggam tombak sipat kandel yang dapat melipatgandakan kemampuannya melawan Uling Putih itu.

Dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah gulungan sinar keputih-putihan melingkar-lingkar mengerikan yang seolah-olah sedang berusaha untuk melanda sinar yang menyala kebiru-biruan. Itulah cahaya tombak Kyai Bancak. Namun sinar yang kebiru-biruan itu selalu berhasil menghindarkan dirinya, dan bahkan sekali-sekali dengan dahsyatnya menyusup langsung ke pusat gulungan sinar putih itu. Dengan demikian maka tampaklah betapa Arya Salaka dapat mengimbangi lawannya dengan baik.

Bahkan kemudian Uling Putih terpaksa memeras keringat habis-habisan untuk dapat mengimbangi permainan tombak bertangkai pendek, sependek tangkai pedang, yang digerakkan oleh tangan yang kokoh kuat dan terlatih baik.

Dengan demikian pertempuran itu menjadi semakin sengit. Dan sejalan dengan itu perhatian Endang Widuri pun menjadi semakin terikat. Ia menjadi semakin kagum atas ketangkasan Arya Salaka. Kalau beberapa saat yang lalu, ia pernah berlatih bersama-sama dengan anak muda itu, maka sekarang dengan penuh keheranan ia melihat Arya Salaka telah melangkah jauh kedepan. Pada waktu Arya bertempur melawan Sawung Sariti pun, tenaganya masih belum sedahsyat sekarang ini. Tetapi ia tidak tahu bahwa di dalam tubuh Arya, baru saja terdapat beberapa perubahan tata nadi yang sangat menguntungkannya.

Tetapi karena keasyikannya melihat pertempuran itulah maka ia sama sekali tidak menduga bahwa Uling Kuning telah menjadi semakin dekat, semakin dekat di belakangnya.

Maka, tiba-tiba saja dirasanya sepasang tangan yang kuat telah memegang kedua belah lengannya. Dengan demikian Endang Widuri menjadi terkejut sekali, sehingga tanpa disengaja ia memekik kecil.

Saat itulah yang memang ditunggu-tunggu oleh kedua Uling bersaudara itu. Sebab dengan demikian mereka mengharap Arya akan menjadi lengah. Dan apa yang mereka harapkan itu benar-benar terjadi. Arya terkejut mendengar suara Widuri. Tetapi ia tidak menjadi lengah karenanya. Untuk dapat mengetahui keadaan gadis itu. Arya Salak meloncat jauh-jauh ke belakang.

Meskipun demikian, karena perhatiannya sebagian terampas oleh peristiwa lain, maka terasalah sebuah sengatan pedih di pinggangnya. Ternyata sekali lagi Uling Putih berhasil mengenainya dengan cambuknya yang sangat berbahaya. Terdengarlah Arya berdesis menahan sakit. Meskipun demikian ketika jaraknya telah menjadi agak jauh dari lawannya, ia sempat juga memandang kearah Widuri yang berdiri tidak begitu jauh dari titik perkelahian itu.

Tetapi yang terjadi kemudian, sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh sepasang Uling dari Rawa Pening itu. Luka di pinggang Arya itu ternyata telah membakar semangat Arya lebih dahsyat lagi. Dengan menyeringai menahan pedih, ia menggeram penuh kemarahan.

Meskipun demikian otaknya masih dapat bekerja dengan baik. Ia tidak mau terlibat dalam pertempuran yang liar.

Uling Kuning, yang berhasil menangkap Widuri tanpa diketahui sebelumnya, agaknya menjadi menyesal sekali. Ketika ia memegang lengan gadis itu, ia terlalu berhati-hati, seperti seorang yang memegang sebuah permainan ringkih, sehingga ia takut kalau merusakkannya.

Tetapi ia sama sekali tidak menduga, bahwa gadis kecil itu tidak ubahnya sebagai seekor lebah kuning yang manis namun sengatnya sangat berbahaya.

Demikian Endang Widuri merasa tangkapan pada lengannya, ia menjadi sadar bahwa Uling Kuning telah menyerangnya. Tetapi otaknya yang cerdas merasakan betapa tangan Uling Kuning itu terlalu hati-hati meraba kulitnya. Itulah sebabnya, maka dengan satu gerakan merendah, sambil memutar tubuhnya setengah lingkaran, kakinya dengan cepatnya telah berhasil mengenai perut Uling Kuning bagian bawah.

Uling Kuning sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian dapat terjadi, sehingga ia sama sekali tidak bersiaga. Karena itu terdengarlah ia mengaduh kesakitan. Bahkan kekuatan Endang Widuri cukup melemparkannya beberapa langkah dan kemudian membantingnya jatuh ke tanah.

Untunglah Uling Kuning telah mempunyai cukup pengalaman. Dengan cepatnya ia meloncat berdiri dan mencoba menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Namun demikian, kaki gadis kecil, puteri Ki Kebo Kanigara, yang telah dibekali dengan pengetahuan yang cukup, terasa telah menggoncangkan isi perutnya. Perasaan mual berputar-putar mengganggu sekali, seolah-olah isi perutnya diaduk dengan hebatnya.

BELUM lagi Uling Kuning benar-benar sadar atas apa yang terjadi, dilihatnya gadis kecil itu melayang dengan lincahnya, menyerang seperti semburan air hujan yang datang ke segenap bagian tubuhnya. Uling Kuning terpaksa surut beberapa langkah. Namun demikian ia mempunyai cukup kesempatan untuk membetengi dirinya dengan tangkisan-tangkisan yang rapat. Tetapi Endang Widuri cukup lincah dan cekatan untuk membingungkannya.

Ketika Arya Salaka melihat bahwa Endang Widuri ternyata telah berhasil menolong dirinya sendiri, ia menjadi berbesar hati. Ia percaya bahwa gadis itu akan mampu untuk menahan serangan Uling Kuning dalam waktu yang cukup lama. Ia mengharap bahwa keadaan akan memungkinkannya untuk membantu.

Apalagi ketika dilihatnya Uling Kuning menjadi gelisah karena serangan pertama kaki Widuri yang tepat mengenai bagian bawah perutnya. Ternyata bahwa akibat dari serangan itu sangat menguntungkan. Sebab untuk seterusnya tenaga Uling Kuning sangat terpengaruh oleh perasaan muak dan sakit yang melilit-lilit di dalam rongga perutnya.

Tetapi Arya tidak mempunyai kesempatan lebih lama lagi untuk menilai pertempuran antara Widuri dan Uling Kuning. Sebab pada saat itu Uling Putih telah menyerangnya pula, bagaikan badai yang datang bergulung-gulung. Tetapi agaknya badai itu menghantam gunung yang tegak dengan perkasanya, serta tak setapakpun bergeser dari tempatnya.

Demikianlah di tempat yang sepi itu telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Uling Putih yang menyesal, bahwa ia tak berhasil mempergunakan saat yang ditunggu-tunggu menjadi semakin marah. Cambuknya berputar-putar semakin cepat. Tetapi lawannya menjadi semakin garang pula. Luka di lengan dan lambung Arya telah menambahnya semakin teguh.

Ujung tombaknya yang bercahaya kebiru-biruan, mematuk-matuk ke segenap bagian tubuh lawan seolah-olah menjadi beribu-ribu mata tombak yang datang dari segala arah. Sejalan dengan itu, dada Uling Putih terasa menjadi semakin sesak. Beberapa kali ia meloncat menjauhi lawannya untuk mendapat kesempatan menarik nafas dalam-dalam. Namun lawannya bukan pula seorang yang tidak mengetahui keadaannya. Karena setiap ia berusaha untuk mendapat kesempatan itu, Arya Salaka selalu dengan garangnya mendesak maju.

Kepada lawannya yang sangat berbahaya itu, Arya sama sekali tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Bahkan kemudian, tiba-tiba ia teringat pada suatu pagi yang cerah di Banyubiru. Pada saat ia berhasil menangkap seekor Uling dari Rawa Pening.

Pada saat itu Mahesa Jenar berkata kepadanya, bahwa bukan Uling seperti yang ditangkapnya itulah yang berbahaya di daerah sekitar Rawa Pening, tetapi sepasang Uling yang sekarang berhadapan melawannya itulah yang dicemaskan. Diingatnya pada saat itu, ia seolah-olah berjanji kepada Mahesa Jenar, bahwa sepasang Uling itupun kelak akan dibunuhnya.

Sepasang Uling yang selalu membayangi kekuasaan ayahnya di Banyubiru.

Bahkan telah berterus terang kepadanya, bahwa sepasang Uling itupun sekarang sedang dalam perjuangan untuk dapat merebut kedudukan ayahnya itu lewat segala macam lekuk-liku dan cara-cara yang licik. Karena itu, dada Arya Salaka menjadi semakin menggelegak. Baginya tidak ada pilihan lain daripada berusaha untuk memenuhi harapannya, membinasakan sepasang Uling yang berhati hitam itu.

Dengan demikian, kebulatan tekadnya itu seolah-olah telah mempengaruhi tenaganya. Ia seolah-olah telah mendapat tenaga yang maha besar mengalir lewat pembuluh-pembuluh darahnya ke segenap bagian tubuhnya.

Karena itu, maka apa yang terjadi kemudian sangat mengejutkan lawannya. Dengan penuh keyakinan di dalam dadanya, Arya melanda lawannya seperti ombak lautan yang digoncangkan badai. Dengan garangnya, segulung demi segulung, berturut-turut menghantam tebing, yang akhirnya akan runtuh berguguran.

Demikianlah Uling Putih akhirnya merasakan, bahwa tekanan serangan Arya Salaka menjadi semakin dahsyat. Bahkan tiba-tiba ketika ia sedang mati-matian mempertahankan dirinya, terasa tangannya yang memegang cambuk itu bergetar. Dan apa yang dilihatnya sangat mengejutkannya.
Ternyata ujung cambuknya telah terpotong oleh ketajaman tombak Arya Salaka. Dengan demikian, Uling Putih menjadi cemas. Satu-satunya senjata yang selama ini dibangga-banggakannya telah terpotong. Ia menjadi bertambah cemas lagi ketika ia melirik ke arah adiknya.

Dalam sekilas Arya menyaksikan gadis itu dapat melawan Uling Kuning dengan baiknya setelah UlingKuning dikenainya lebih dahulu. Dengan demikian ia tidak dapat mengharap Uling Kuning akan dapat membantunya. Tetapi Uling Putih adalah seorang yang berhati batu. Meskipun pertempuan yang telah berlangsung itu mengatakan kepadanya bahwa Arya Salaka bukanlah anak-anak yang hanya dapat bermain loncat-loncatan, namun ia telah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dan membunuhnya. Karena itu ia menjadi semakin buas. Geraknya semakin lama menjadi semakin liar.

Dalam keadan yang demikian itulah Arya benar-benar berusaha menguasai keadaan. Ia bertempur dengan hati-hati. Ia tidak saja mempergunakan tenaganya, tetapi ia memperhitungkan pula setiap keadaan dan kemungkinan.

Demikianlah, ketika bulan muda telah membenamkan dirinya di balik punggung pegunungan, terdengarlah suatu jeritan ngeri mengumandang membentur dinding-dinding bukit. Jerit ngeri yang patah. Dan kemudian disusul dengan suara tubuh yang jatuh terbanting.

Sesaat kemudian kembali malam terlempar ke dalam suasana yang sepi, Arya Salaka tampak tegak berdiri dengan tangan yang gemetar memegang Kiai Bancak yang berlumuran darah. Darah Uling Putih yang kini terbaring tak bernafas di hadapannya. Yang terdengar pada saat itu hanya dengus nafas Arya Salaka yang melonjak-lonjak.

TETAPI Arya Salaka tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan tubuh lawannya itu lebih lama lagi. Sebab tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan yang meloncat lari. Itulah Uling Kuning yang setelah tertegun sejenak bersama lawannya, Endang Widuri, yang seperti terpesona, menjadi sadar bahwa bahaya maut telah mengancamnya. Karena itu ia akan berusaha untuk menghindarkan dirinya. Tetapi Arya telah melihat bayangannya.

Dengan secepat kilat dikejarnya Uling Kuning itu. Terhadap orang-orang yang demikian itu Arya tidak dapat berbuat lain kecuali membinasakan. Itulah sebabnya maka Arya sama sekali tidak mau lagi memberi kesempatan kepada Uling Kuning untuk meloloskan diri.

Demikian pula Endang Widuri. Ia tidak mau pula ketinggalan. Maka segera iapun berlari mengejar kedua bayangan yang berlari berkejar-kejaran. Namun kedua bayangan itu kemudian lenyap menyusup ke dalam semak-semak. Untuk seterusnya Endang Widuri kehilangan jejak. Karena itu ia menjadi bingung. Ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Sedang jalan kembalipun tak diketahuinya pula. Untuk beberapa saat Endang Widuri berdiri termangu-mangu.

Tiba-tiba, ketika ia sedang mencari-cari jalan terdengarlah gemersik daun di belakangnya. Cepat ia meloncat memutar tubuhnya, dan berdiri dengan teguhnya diatas kedua kakinya yang renggang setengah langkah serta tangannya yang disilangkan di muka dadanya, siap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Dalam sepi malam, terdengar langkah itu semakin jelas. Bahkan kemudian dilihatnya dalam gelap malam dua bayangan yang berjalan dengan tetap ke arahnya.

Endang Widuri yang baru saja bertempur melawan Uling Kuning, masih saja merasa dipengaruhi oleh suasana perkelahian. Karena itu ia menyambut kedatangan dua bayangan itu dengan sikap yang garang, siap untuk bertempur. Tetapi kemudian ia terkejut ketika didengarnya sebuah tawa yang lunak, yang sudah terlalu sering didengarnya.

“Ayah…!” teriaknya sambil berlari menyambut kedatangan bayangan yang sudah semakin dekat.

“Apa yang kau kerjakan di sini?” tanya Kebo Kanigara.

“Berkelahi,” jawab gadis itu.

“Hem… desis ayahnya. Aku memang sudah mengira. Apalagi ketika aku jumpai sesosok mayat dibalik semak-semak di sebelah.”

“Kakang Arya telah membunuhnya,” jawab Widuri.

Kebo Kanigara memandang wajah Mahesa Jenar, kawannya berjalan dengan wajah yang berkerut. Ia ingin mengetahui bagaimanakah pendapatnya mengenai muridnya.

“Aku sudah menduga pula, bahwa anak itu akan membunuhnya pada suatu saat. Dan sekarang hal itu sudah dilakukannya,” gumam Mahesa Jenar seperti kepada dirinya sendiri.

“Darimana ayah dan Paman Mahesa Jenar tahu bahwa kami berada di sini?” tanya Widuri.

“Ketika hari sudah gelap, dan kau berdua tidak juga datang, aku menjadi cemas. Seseorang telah melihat kau berjalan ke arah ini sore tadi. Dan yang terakhir teriakan seseorang, yang mungkin adalah teriakan Uling Putih pada saat dadanya disobek oleh tombak Arya, telah menuntun aku kemari. Tepat pada saat kami datang, kami melihat kau berlari-lari. Karena itulah maka aku dapat menemukan kau di sini,” jawab ayahnya.

“Tetapi aku kehilangan jejak Kakang Arya Salaka,” sahut Widuri.

“Marilah kita cari. Agaknya ia akan terlibat pula dalam pertempuran melawan Uling Kuning. Padahal tenaganya sudah jauh susut karena kelelahan,” potong Mahesa Jenar.

Mereka tidak berkata-kata lagi. Tetapi segera mereka melangkah menyibak daun-daun yang pekat, yang menghadang di hadapan mereka. Dengan matanya yang tajam, Mahesa Jenar dapat melihat bekas-bekas ranting yang tersibak patah-patah oleh injakan dan sentuhan tubuh Uling Kuning dan Arya Salaka, yang berkejar-kejaran. Dengan demikian meskipun agak sulit dan perlahan-lahan, Mahesa Jenar dapat mencari jejak mereka berdua.

Ternyata perjalanan itu cukup panjang. Ketika mereka telah hampir tidak sabar lagi, tiba-tiba kaki mereka menginjak tanah yang gembur basah. Semakin lama semakin dalam. Dan sejalan dengan itu, semak-semaknya pun menjadi bertambah tipis.

“Tanahnya mengandung air,” desis Mahesa Jenar.

“Aku kira kita sampai ke rawa atau telaga,” sahut Kebo Kanigara.

Apa yang mereka perkirakan adalah benar. Sesaat kemudian mereka sampai ke daerah yang ditumbuhi batang-batang ilalang, dan kemudian di hadapan mereka terbentang telaga yang tidak terlampau luas. Agaknya Uling Kuning berusaha melarikan diri dengan bersembunyi di telaga itu.

Ketika mereka sudah berdiri di tepi telaga, serta melayangkan pandangan berkeliling, tiba-tiba terlihatlah sesuatu yang bergerak-gerak di dalam telaga itu.

DEMIKIAN Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat bayangan itu, segera mereka mengerti bahwa yang bergerak-gerak itu pastilah Arya Salaka dan Uling Kuning yang sedang bertempur di dalam air. Untuk sesaat Mahesa Jenar tertegun. Ia menjadi cemas melihat pertempuran di dalam air itu. Apalagi Kebo Kanigara. Sebab mereka tahu bahwa hampir sepanjang hidupnya Uling Kuning berada di sekitar tanah yang berawa-rawa, sehingga baginya, air merupakan tempat berlindung yang terbaik.

Kemudian Widuri pun melihat perkelahian itu, namun baginya tidaklah demikian jelas, apakah yang terjadi.

Sementara itu, Arya Salaka yang tidak mau melepaskan Uling Kuning, terpaksa mengejarnya pula terjun ke dalam telaga. Ia sadar bahwa Uling Kuning berharap, lewat telaga itu ia akan mampu melepaskan dirinya. Atau kalau terpaksa ia terlibat di dalam perkelahian, maka perkelahian di dalam air akan banyak memberinya keuntungan. Dan apa yang diharapkan itu terjadilah. Arya tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, meskipun ia terpaksa berkelahi di dalam air.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Disamping mereka harus berjuang untuk tidak terbinasakan oleh lawan, mereka juga harus menjaga diri mereka supaya tidak tenggelam.
Uling Kuning adalah seorang yang seolah-olah dapat hidup di dalam air. Tangan dan kakinya benar-benar dapat dipergunakan dengan baik seperti itik mempergunakan sayap serta kakinya, atau binatang air mempergunakan sirip-siripnya. Karena itu, ia dapat dengan lincahnya bertempur.

Namun sayang bahwa perasaan muak dan nyeri di dalam perutnya tidak juga mau hilang. Apalagi yang dihadapi adalah Arya Salaka. Uling Kuning tidak pernah mimpi bahwa anak itu pernah hidup sebagai anak nelayan di pantai Tegal Arang. Bahkan meskipun tidak begitu lama, namun Arya telah memiliki pengalaman yang cukup untuk menaklukan air. Tidak hanya air setenang air telaga itu, tetapi air yang sedang murka sekalipun.

Arya Salaka pernah terjun ke dalam gelombang yang ganas untuk menyelamatkan alat-alat penangkap ikannya bersama-sama kawan-kawannya. Bahkan darah pelaut yang mengalir di dalam tubuh ayahnya, ternyata mengalir pula di dalam tubuhnya. Pada masa kanak-kanaknya ia telah berani berkelahi dengan seekor uling yang cukup besar di dalam rawa. Sedang pada saat ia menginjak dewasa, ia menerjunkan diri dalam dunia kehidupan nelayan.

Karena itu, dengan tidak diduga oleh Uling Kuning, Arya Salaka pun dengan dahsyatnya berhasil menyerang lawannya dari arah yang membingungkan. Sekali-kali ia melenyapkan diri dari permukaan air, kemudian muncullah ia di tempat yang tak terduga-duga. Seandainya musuhnya bukan seorang yang memang sejak kecil hidup bergulat dengan air, maka Arya pasti akan dengan mudahnya dapat membinasakan. Tetapi sekarang ia menemukan lawan yang seimbang.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Air di sekitar tempat itu menjadi seolah-olah mendidih. Buih-buih yang putih bergolak dengan hebatnya diantara bayangan hitam yang timbul-tenggelam bersama-sama. Bahkan kedua bayangan itu akhirnya seolah-olah berpadu menjadi satu dan bergolak bukan main hebatnya.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara beserta Endang Widuri yang berdiri di tepi telaga menjadi cemas. Apalagi ketika tiba-tiba bayangan yang hitam itu lenyap seperti ditelan putaran air yang melingkar-lingkar.

Mahesa Jenar kemudian menjadi tidak sabar lagi menunggui saja di tepi telaga. Karena itu segera ia melepas baju serta kainnya. Hanya dengan celana saja Mahesa Jenar meloncat pula ke dalam air, dan berenang cepat-cepat ke arah kedua bayangan itu tenggelam.

Sementara itu Arya berjuang mati-matian melawan maut. Uling Kuning benar-benar tangguh bertempur di dalam air. Tangannya benar-benar dapat melilit seperti seekor Uling yang melilit korbannya.

Untunglah bahwa Arya memiliki tenaga raksasa, sehingga dengan pukulan-pukulan yang keras, ia selalu dapat membebaskan diri dari belitan Uling Kuning. Namun akhirnya usaha Uling Kuning itu berhasil.

Seperti gila ia tidak menghiraukan sama sekali pukulan-pukulan terakhir yang dilontarkan oleh Arya Salaka yang tenaganya semakin lama semakin kendor. Bahkan tiba-tiba terasa sesuatu menjerat di lehernya.

Ternyata Uling Kuning telah berhasil mengurai cambuk lemasnya, dan berhasil membelit leher Arya dengan senjatanya itu. Dengan demikian seolah-olah nafas Arya menjadi tersumbat. Ia meronta sekuat tenaga, namun tenaga Uling Kuning itu semakin erat menarik belitan cambuknya pada leher Arya. Dalam keadaan demikian Arya menjadi marah bukan buatan dan mengamuk sejadi-jadinya.

Dengan kakinya ia menangkap tubuh Uling Kuning dan tidak mau melepaskannya lagi. Sedang kedua tangannya berusaha untuk mencekik leher lawannya. Namun sayang ia tidak berhasil. Meskipun demikian kakinya menjadi seperti terkunci dan dengan kerasnya membelit perut lawannya.

Perasaan muak dan nyeri pada perut Uling Kuning menjadi semakin hebat. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan perasaan itu. Sebab pada hematnya, sebentar lagi Arya pasti sudah tidak akan dapat bernafas dan dengan demikian ia akan bebas.

Dalam keadaan yang demikian itulah mereka bersama-sama berputar-putar dan akhirnya bersama-sama tenggelam. Bagi Arya tidak ada jalan lain kecuali mati bersama-sama daripada mati seorang diri. Itulah sebabnya, ketika terasa senjata Uling Kuning membelit lehernya semakin keras, kakinya pun menjadi semakin keras menekan perut lawannya itu, supaya Uling Kuning ikut serta terseret ke dalam air. Sedang tangannya berusaha untuk mengurangi tekanan lilitan cambuk di lehernya.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba ia teringat bahwa pada saat ia menerjunkan diri ke dalam air. Kiai Bancak telah disarungkannya.

TEPAT pada saat-saat terakhir, dengan sisa tenaga yang ada Arya menarik tombak pusaka kebesaran Banyubiru, dan dengan sepenuh nafsu kemarahannya ditekankan ujung tombak itu ke dalam perut lawannya. Terdengarlah suara menggelegak sesaat. Setelah itu terasa tarikan cambuk yang membelit lehernya menjadi semakin kendor. Sadarlah Arya bahwa ia berhasil membunuh Uling Kuning dengan tombaknya. Karena itu dilepaskannya belitan kakinya, dan setelah air di sekitarnya dipenuhi dengan merahnya darah, ia berusaha untuk berenang ke permukaan air. Namun tenaganya sudah sedemikian lemahnya. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pada saat ia berhasil menegakkan kepalanya ke permukaan air terasa bahwa matanya menjadi berkunang-kunang.

Ketika Arya mencoba memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit, maka yang tampak seolah-olah mendung yang tebal menggantung di udara. Hitam dan kelam. Yang diingatnya pada saat terakhir adalah menyarungkan tombaknya yang baginya sama harganya dengan kepalanya, kembali ke dalam sarungnya. Sesudah itu semuanya seperti lenyap dari ingatannya.

Ketika ia tersadar, terasa seolah-olah sebuah mimpi yang indah membayang di hadapannya. Meskipun tubuhnya masih terasa dingin oleh pakaiannya yang basah, namun dilihatnya beberapa orang duduk di sekitarnya, pada sebuah balai-balai besar. Sebuah lampu minyak yang terang, menyala-nyala dengan riangnya, seolah-olah ikut serta bergembira untuk keselamatan Arya Salaka.

Ketika ia sempat mengamat-amati wajah-wajah di sekitarnya, tampaklah gurunya yang sedang merenunginya dengan seksama. Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, Wiradapa dan beberapa orang lagi yang dikenalnya sebagai orang-orang Gedangan.

Demikian ia mulai menggerakkan matanya, tampaklah keriangan membersit di wajah-wajah mereka yang dengan kecemasan menungguinya. Apalagi Mahesa Jenar. Dengan tergopoh-gopoh ia bergerak maju dan dengan hati-hati ditempelkannya kupingnya pada dada Arya untuk mendengarkan detak jantung anak itu. “Arya…” bisiknya.

Arya mencoba tersenyum, namun kulit wajahnya serasa membeku.
“Kakang Wiradapa…” kata Mahesa Jenar perlahan-lahan. Pinjamilah anak ini pakaian kering.

Dengan tergesa-gesa Wiradapa bangkit, dan sesaat kemudian ia telah kembali dengan pakaian-pakaian kering. Dengan kain panjang, tubuh Arya diselimuti rapat-rapat, dan kemudian dilepaskannya pakaian-pakaiannya yang basah. Sesaat kemudian terasa tubuhnya menjadi agak hangat. Tetapi dalam pada itu, ingatannya masih belum pulih benar. Ia masih belum mengerti dimana ia berada. Dinding-dinding ruangan itu nampaknya masih kabur serta dilapisi selaput yang buram.

Dengan susah payah akhirnya terdengar ia berdesis, “Di manakah aku sekarang…?”

“Kau berada di Kelurahan Gedangan, Arya. Tenangkan pikiranmu. Semuanya sudah selesai,” sahut Mahesa Jenar.

“Uling Kuning…?” bisiknya perlahan.

“Ia tidak akan mengganggumu lagi,” jawab Mahesa Jenar.

“Jadi, aku berhasil…?” sambungnya.

“Ya, kau berhasil,” jawab Mahesa Jenar pula.

Arya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengarlah ia bergumam, “Tuhan Maha Besar.”

Yang mendengar gumaman Arya itu menjadi terharu. Mereka semakin yakin bahwa anak itu tidak saja akan menjadi seorang yang berjiwa besar, tetapi ia juga akan menjadi seorang pemimpin yang saleh. Seorang pemimpin yang akan membawa rakyatnya berjalan sepanjang jalan Allah.

Dalam usianya yang semuda itu, sudah tampaklah sifat-sifat Arya Salaka yang cemerlang. Jauh dari kesombongan dan nafsu membalas dendam. Cinta kepada manusia dan kemanusiaan, serta memandang alam ini dengan penuh cinta kasih pula.

Demikianlah setelah mengucapkan kata-kata itu hati Arya menjadi tenteram. Tetapi bersamaan dengan perasaan itu, tubuhnya mulai berasa betapa penat dan sakitnya. Tulang-tulangnya serasa berderak-derak patah, serta sendi-sendinya seperti terlepas. Luka di lengan serta lambungnya menjadi pedih sekali. Cambuk Uling itu telah menyobek kulitnya. Disamping itu, lehernyapun terasa nyeri. bekas-bekas cambuk Uling Kuning masih meninggalkan bekas-bekas goresan merah. Meskipun demikian Arya Salaka berusaha untuk melupakan semua sakit-sakit yang dideritanya.

Tetapi suatu pekerjaan yang berat, bahkan sangat berat telah diselesaikan. Melenyapkan Uling Putih dan Uling Kuning sekaligus. Kemudian tahulah ia, bahwa Mahesa Jenarlah yang telah menolongnya, ketika ia pingsan di tengah-tengah telaga, setelah ia berkelahi melawan Uling Kuning. Gurunya itu datang tepat pada saatnya, yang kemudian menyambarnya dan menariknya ke tepi. Kalau saja Mahesa Jenar terlambat beberapa saat saja, mungkin iapun telah binasa seperti Uling Kuning.

Ketika orang-orang yang mengerumuninya mengetahui bahwa keadaannya telah berangsur baik, maka satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu. Yang tinggal kemudian hanya beberapa orang saja. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta dan Wiradapa.

Dengan pertolongan beberapa orang, Kebo Kanigara mendapatkan beberapa macam daun-daunan serta akar-akar yang diperlukan untuk mengobati luka Arya. Untunglah bahwa dalam beberapa hal Kebo Kanigara telah belajar pada Panembahan Ismaya, sehingga dengan cekatan ia dapat mengobati luka-luka itu.

Beberapa saat kemudian tampaklah keadaan Arya Salaka berangsur baik. Bahkan kemudian ia sudah dapat tidur. Dengan demikian ia dapat beristirahat lahir dan batin.

DEMIKIANLAH, untuk beberapa hari Arya perlu beristirahat benar-benar untuk menyembuhkan luka-lukanya serta memulihkan tenaganya. Sebab setelah ia bertempur mati-matian, terasa seolah – olah tenaganya telah terhisap habis.

Dalam saat-saat itu, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berusaha menjadikan orang-orang Gedangan lebih masak lagi. Sebab untuk seterusnya tidaklah selalu Mahesa Jenar, Arya Salaka dan Kebo Kanigara akan dapat berada di tempat itu. Meskipun menurut perhitungan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, musuh tidak akan datang kembali. Orang-orang yang berkepentingan langsung dengan daerah Gedangan telah binasa. Sedangkan laskar Pamingitpun menurut dugaan Mahesa Jenar tidak akan segera kembali. Mereka pasti harus mempertimbangkan kekuatan yang ada di daerah kecil ini.

Mereka pada saat-saat yang lalu pasti tidak akan menduga bahwa di daerah ini ada orang-orang seperti Kebo Kanigara dan bahkan orang yang berjubah abu-abu, yang tanpa diduga-duga datang menolong.

Setelah Arya sudah pulih kembali kesehatan serta tenaganya, maka mulailah mereka mempertimbangkan apa yang akan dilakukan seterusnya. Menurut pertimbangan Kebo Kanigara, maka yang sebaik baiknya adalah menghadap Panembahan Ismaya dan melaporkan apa yang telah terjadi serta menyatakan keselamatan diri.

Demikianlah kemudian mereka terpaksa minta diri kepada orang-orang Gedangan, setelah mereka mengalami suka duka bersama, berjuang bersama. Tentu saja orang-orang Gedangan menjadi kecewa atas perpisahan itu. Tetapi perpisahan itu harus terjadi, sebagaimana matahari akan tenggelam pada senja hari setelah sehari penuh sinarnya memancari permukaan bumi. Demikianlah pula setiap pertemuan pasti akan diikuti dengan perpisahan. Cepat atau lambat. Karena tak ada sesuatu yang kekal di muka bumi ini. Setiap kali selalu ada perubahan-perubahan dan putaran-putaran peristiwa. Seperti berputarnya bola bumi itu sendiri. Sekali sebagian wajahnya menjadi terang benderang karena cahaya matahari tetapi sekali menjadi gelap oleh bayangannya sendiri.

Kepada orang-orang Gedangan Mahesa Jenar mencoba untuk menjelaskan hal itu. Kemudian katanya mengakhiri karena itu selagi kita berada ditempat yang terang. janganlah kita bersombong diri. Janganlah kita menganggap bahwa di sana ada dunia yang gelap, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak berhak menikmati terangnya sinar matari. Tetapi dalam keadaan demikian, kita justru harus mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa kita masih berkesempatan untuk memandang udara yang cerah. Sebab pada saat yang lain, kitapun akan sampai pada daerah yang kelam. Pada saat yang demikian kita harus berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menerangi hati kita menjelang masa depan yang cerah.

Akhirnya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka, Endang Widuri dan Wanamerta terpaksa dilepas pergi, meskipun dengan berat hati. Meskipun demikian, mereka berkesempatan untuk mengadakan sekedar selamatan perpisahan, meskipun sederhana.

Demikianlah ketika cerahnya matahari pagi sedang memercik di atas dedaunan, berjalanlah sebuah rombongan yang kecil meninggalkan desa Gedangan menuju ke pebukitan Karang Tumaritis. Di sepanjang jalan tidaklah banyak yang mereka percakapkan, sebab kepala mereka masing-masing dipenuhi oleh kenangan-kenangan atas peristiwa yang baru saja terjadi.

Tetapi tidaklah demikian dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Selain kenangan-kenangan yang sekali-sekali membayang di dalam ingatannya, mereka juga berangan-angan tentang masa depan. Tentang Sawung Sariti beserta ayahnya Ki Ageng Lembu Sora. Tentang daerah perdikan Banyubiru. Dan yang tidak kalah pentingnya, tentang pusaka-pusaka Demak, Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan diketemukannya kedua keris itu, maka banyak hal yang sekaligus dapat diurai. Sebab keadaan Ki Ageng Gajah Sora pun sebagian tergantung pada keris-keris itu.

Yang juga terlintas di dalam otak Mahesa Jenar adalah cara penyelesaian yang secepat-cepatnya mengenai Banyubiru. Tidaklah sepantasnya kalau Arya Salaka masih harus menyembunyikan diri terus-menerus. Karena itu bagi Mahesa Jenar, sebaiknya Arya Salaka yang datang ke Banyubiru, dan dengan berterus terang menyatakan diri sebagai pengganti ayahnya, kepala daerah perdikan Banyubiru.

Tetapi pelaksanaan rencana itu haruslah diolah semasak-masaknya. Sebab setiap kesalahan akan dapat menimbulkan akibat yang sama sekali tidak diharapkan.

Demikianlah rombongan kecil itu berjalan menyusur jalan-jalan pegunungan dengan tenangnya. Sekali-kali mereka harus meloncat-loncat di atas batu-batu padas. Dan dengan demikian mereka telah mengejutkan burung-burung liar yang sedang bertengger di atas karang-karang terjal yang menjorok di tebing-tebing pegunungan.

Pada saat rombongan kecil, yang terdiri dari Kebo Kanigara beserta putrinya Endang Widuri. Mahesa Jenar, Rara Wilis, Arya Salaka dan Wanamerta sampai di Padepokan Karang Tumaritis, mereka melihat Panembahan Ismaya sedang duduk dikerumuni beberapa orang cantrik. Agaknya Panembahan itu sedang bercakap-cakap atau berceritera tentang suatu hal yang sangat menarik. Sebab tidaklah lazim Panembahan Ismaya memberi wejangan dan pelajaran dengan cara yang demikian.

Ketika salah seorang cantrik melihat kedatangan rombongan itu, serta memberitahukan kepada Panembahan Ismaya, maka dengan tergopoh-gopoh Panembahan tua itu berdiri dan menyambut. Dipersilahkannya rombongan itu duduk pula bersama-sama dengan para cantrik.

Yang pertama-tama ditanyakan adalah keselamatan mereka yang baru saja datang menghadap.
Kebo Kanigaralah yang mewakili menjawab setiap pertanyaan Panembahan Ismaya, serta menyampaikan bakti mereka bersama-sama.

PANEMBAHAN Ismaya mendengarkan semua ceritera Kebo Kanigara dengan penuh perhatian. Kata demi kata seolah-olah dicernakan kembali didalam otaknya untuk dapat menangkap saripatinya.
“Syukurlah kalau kalian selamat,” katanya kemudian, namun wajahnya tampak muram.
“Karena pangestu Panembahan,” jawab Kebo Kanigara.
“Sebenarnya aku telah mendengar apa yang terjadi di Gedangan, dari tembang-rawat-rawat bakul sinambi wara. Juga seorang cantrik yang sedang turun untuk menukarkan hasil pertanian kami, mendengar pula ceritera tentang pertempuran yang terjadi di Gedangan.”

Panembahan Ismaya berhenti sejenak. Wajahnya yang muram itu menatap dengan tajam ke arah mata Kebo Kanigara yang kemudian menundukkan kepalanya.

“Dan aku mendengar pula…” sambung Panembahan Ismaya, “Bahwa pada kedua belah pihak jatuh korban.”

“Ya.” jawab Kanigara pendek sambil masih menekurkan kepalanya.

“Dalam setiap perselisihan dan kekerasan akan jatuh korban,” sambung Panembahan Ismaya bergumam seperti kepada dirinya sendiri. “Besar atau kecil, seperti apa yang baru saja terjadi.”

Sekali lagi Panembahan tua itu berhenti, menelan ludahnya. Lalu kemudian ia berkata kepada salah seorang cantrik, “Kenapa belum kalian sajikan minuman untuk para tamu ini?”

Seorang cantrik segera berdiri dan pergi ke belakang untuk menyiapkan minuman bagi rombongan yang memang kehausan itu. Setelah mengucapkan kata-kata itu. Panembahan Ismaya tidak meneruskan kata-katanya. Bahkan kemudian tampaklah ia menundukkan wajahnya. Agaknya ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.

Yang melihat hal itu, tak seorangpun yang berani mengucapkan sepatah katapun. Meskipun hati mereka diliputi oleh berbagai pertanyaan namun mulut mereka terkatub rapat.

Baru beberapa saat kemudian Panembahan tua itu berkata, “Anak-anakku semua. Baru saja aku memperkatakan angger Arya Salaka. Aku dengar bahwa angger mengalami peristiwa yang hampir menyeretnya kedalam kesulitan.”

Arya Salaka membungkukkan badannya, dan dengan hormatnya ia menjawab, “Benar Panembahan. Tetapi Tuhan yang Maha Murah telah membebaskan aku dari cengkeraman maut.”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lirih, “Angger, baru saja memperkatakan angger dengan para cantrik. Peristiwa seperti apa yang terjadi atas daerah Perdikan Banyubiru itu telah berulang kali terjadi. Dalam lingkungan yang besar dan dalam lingkungan yang lebih kecil. Pertentangan yang terjadi diantara keluarga sendiri.”

Panembahan Ismaya berhenti sesaat, seolah-olah hendak menunggu sampai kata-katanya meresap kedalam otak bocah itu. Kemudian ia meneruskan, “Baru saja aku berceritera kepada para cantrik. Ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah aku dengar dari mulut ke mulut, atau yang pernah aku baca dari lontar-lontar. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali menusuk jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan penuh keprihatinan, akhirnya dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.”

“Kisah tentang kebesaran Baginda Erlangga di Jawa Timur adalah satu diantaranya. Dengan susah payah baginda Erlangga berusaha untuk membina persatuan dari seluruh kerajaannya.”

Dibekali dengan sakit dan lapar. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Baginda dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha. Tetapi yang kemudian terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan didalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada sendiri. Terutama Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kediri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama.”

“Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan kadang sendiri, yaitu Jayasaba. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan-perselisihan itu? Kediri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kediri pada jaman Baginda Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak dapat diketahui.”

“Ken Arok, yang kemudian bergelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah belah. Pertengkaran-pertengkaran timbul. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Pengikut-pengikut Anusapati dari darah Tunggul Ametung melawan golongan Tohjaya dari darah Sang Amurwabhumi dengan isterinya yang kedua Ken Umang. Juga mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini kecuali kelemahan dan mendorong diri sendiri ke tepi jurang keruntuhan. Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling berdesak-desakan, datanglah Kertanegara. Tetapi tanpa disangka-sangka, di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapatlah Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari. Juga Singasari kemudian runtuh. Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya.”

“Kesatuan dan persatuan dapat dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada. Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar dari negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan masih banyak lagi.”

Sekali lagi Panembahan Ismaya berhenti untuk sesaat. Arya mendengar ceritera Panembahan Ismaya itu dengan penuh perhatian. Beberapa dari ceritera itu pernah didengarnya dari gurunya. Namun kali ini rasa-rasanya ceritera itu lebih meresap daripada yang pernah didengarnya.

PANEMBAHAN Ismaya meneruskan, “Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Gajah Mada dan Baginda Hayam Wuruk, Majapahit seolah-olah kehilangan alas. Perang yang timbul diantara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi. Sebab Adipati Blambangan merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri. Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama 5 tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu mengembangkan sayapnya kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Adipati-adipati dan Bupati-bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang terpecah belah.”

“Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Nah, dalam hal ini anakmas Mahesa Jenar akan lebih banyak tahu daripada aku. Namun satu hal yang sekarangs angat mencemaskan. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan yang aku dengar sekarang ini sedang dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.”

Panembahan Ismaya mengakhiri ceriteranya. Pandangan matanya yang lunak beredar dari wajah yang satu ke wajah yang lain. Sedangkan mereka yang mendegarkan ceritera itu, dengan cermatnya mengikuti setiap persoalan. Apalagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Mereka tidak mendengar kisah itu sebagai kisah melulu. Kisah yang harus disesali bahwa hal-hal yang menyedihkan itu telah terjadi.

Tetapi lebih daripada itu, masa yang lampau itu hendaknya menjadi cermin atas masa datang perpecahan demi perpecahan, perselisihan demi perselisihan antara keluarga sendiri. Dan itu terjadi sekarang. Ya, sekarang ini. Dan ini mengancam keselamatan kerajaan Demak.

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula.

Arya Salaka yang tidak mengerti terlalu jauh tentang ceritera itu berusaha untuk menghubungkan dengan peristiwa di daerahnya, Banyubiru. Setiap kali ia merasa, bahwa memang hal yang serupa telah terjadi. Dalam lingkungan yang kecil, Tanah Perdikan Banyubiru. Namun demikian ia tidak tahu, bagaimana seharusnya ia memecahkan masalah yang dihadapinya. Tetapi ia tidak perlu bingung. Sebab nanti akan dapat menanyakan itu kepada gurunya.

Dalam keheningan itu tiba-tiba terdengar Panembahan Ismaya berkata dengan nada yang berbeda, “Nah anak-anak sekalian. Aku terlalu tergesa-gesa untuk berceritera, sampai aku lupa bahwa kalian sedang lelah dan perlu beristirahat. Karena itu, silahkan kalian membersihkan diri, dan kemudian biarlah para cantrik melayani kalian makan bersama. Akupun perlu beristirahat setelah terlalu lama bermain-main dengan para cantrik.”

Kemudian ditinggalkannya Kebo Kanigara beserta rombongannya oleh Panembahan Ismaya untuk mengaso di dalam sanggarnya.

Demikianlah kemudian merekapun segera menempati tempat mereka masing-masing seperti pada saat mereka berada di tempat itu. Dan untuk waktu-waktu seterusnya, kembalilah mereka menjadi bagian dari masyarakat kecil di atas bukit Karang Tumaritis.

Kebo Kanigara kembali dalam kedudukannya sebagai seorang Putut bersama Mahesa Jenar dan Arya Salaka, Wilis dan Widuri pun kembali pula hidup diantara para Endang di padukuhan itu.
Tetapi dalam pada itu, ada yang selalu menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar. Ceritera Panembahan Ismaya tentang keadaan Demak sekarang sangat menarik perhatiannya. Ia selalu menghubung-hubungkan ceritera itu dengan pusaka-pusaka Demak yang hilang. Yaitu Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Apakah kalau pusaka itu diketemukan, dan kemudian dimiliki oleh salah seorang dari garis keturunan itu, keadaan lalu jadi tenang?

Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu, yang pernah datang ke Banyubiru dan mengambil kedua keris itu. Lebih daripada itu. Mahesa Jenar teringat dengan gamblangnya seorang yang berjubah abu-abu pula, yang dijumpainya di perjalanannya pada saat ia sedang kehilangan akal. Pada saat hatinya seolah-olah pecah karena hubungannya dengan Rara Wilis yang pada saat itu diantarkan oleh Sarayuda. Pada saat ia meninggalkan Arya Salaka di perjalanan dan berusaha untuk melupakan anak itu. Pada saat itu dijumpainya orang yang berjubah abu-abu itu. Teringat dengan jelasnya orang itu berkata kepadanya, ketika ia bertanya di mana kedua keris itu berada. Katanya, Mahesa Jenar, kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu. Lalu orang berjubah itu meneruskan, Hati-hatilah kelak kau memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan Keturunan Sekar Seda Lepen.

Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negara. Kepadanya keris itu kau serahkan.

SUARA itu seolah-olah kini terngiang kembali dalam telinganya. Suara orang yang berjubah abu-abu. Tiba-tiba ia menghubungkan pesan orang berjubah abu-abu itu dengan ceritera Panembahan Ismaya.

Dua garis keturunan yang diam-diam mengandung pertentangan, garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

Hati Mahesa Jenar kemudian menjadi berdebar-debar. Apakah hubungannya antara ceritera Panembahan Ismaya dan orang yang berjubah abu-abu itu. Dan apakah sebabnya maka orang yang berjubah abu-abu itu tiba-tiba saja muncul di dalam pertempuran yang terjadi beberapa saat yang lalu, ketika pasukannya sedang dalam keadaan yang sangat berbahaya? Persoalan-persoalan itu selalu melingkar-lingkar di dalam relung dada Mahesa Jenar, bahkan kemudian telah mendorongnya untuk menilai setiap keadaan paling kecilpun dalam usahanya untuk menemukan jawaban teka-teki yang selalu mengganggu otaknya itu. Malahan lebih daripada itu, ia sudah bertekad untuk menemukan suatu kepastian, bahwa orang yang berjubah abu-abu dan orang yang menamakan dirinya Panembahan Ismaya pastilah ada tali yang menghubungkan mereka itu. Dalam usahanya itu mula-mula Mahesa Jenar tidak ingin berkata kepada seorangpun. Untuk sementara ia ingin bekerja sendiri.

Dihubung-hubungkannya semua yang pernah dilihat dan didengarnya, yang pernah dialami dan pernah dihayati selama ini. Meskipun dalam beberapa hari kemudian tak ada sesuatu yang menjelaskan dugaannya, namun dengan sabarnya ia bekerja terus. Sebab apabila hal itu bisa dipecahkan, akan terbukalah beberapa masalah sekaligus. Tetapi akhirnya kepada Kebo Kanigara, seorang yang telah banyak memberi bantuan kepadanya dalam pencapaiannya atas taraf peresapan ilmunya lebih sempurna lagi, Mahesa Jenar ternyata tidak dapat berahasia.

Kepada Kebo Kanigara diceriterakannya semua yang pernah dialami dan semua dugaan yang tersimpan di dalam dadanya. Mendengar semuanya itu, Kanigara mengerutkan keningnya tinggi-tinggi. Wajahnya berubah menjadi tegang. Dan dengan hati-hati ia menjawab, “Mahesa Jenar, meskipun aku telah agak lama tinggal di padepokan ini, namun banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Panembahan Ismaya. Yang aku ketahui adalah, Panembahan Ismaya memang sering meninggalkan padepokan ini. Seterusnya aku tidak tahu.”

Mahesa Jenar dapat mempercayai kata-kata Kebo Kanigara itu. Sebab orang yang berjubah abu-abu itu pasti tidak menginginkan seorangpun mengetahui keadaan sebenarnya. Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar mendapatkan suatu pikiran yang barangkali akan dapat memperjelas persoalan. Dan ketika pikirannya itu disampaikan kepada Kanigara, ia menjadi tersenyum dan menjawab, “Mahesa Jenar, otakmu benar-benar terang. Dan beruntunglah semua pengalaman yang pernah kau alami dapat kau pergunakan sebaik-baiknya. Aku sependapat dengan rencanamu, dan aku akan membantumu.”

Kemudian bersepakatlah mereka untuk mencoba memecahkan teka-teki yang rumit itu. Kali ini mereka akan menempuh jalan yang sedikit berbahaya. Namun apabila jalan yang dilewatinya benar, akan terpecahkanlah persoalan itu.

Demikianlah pada suatu malam, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara meninggalkan Padepokan Karang Tumaritis. Kepada Rara Wilis dan Endang Widuri, mereka berpesan bahwa mereka akan menempuh suatu perjalanan yang agak panjang, untuk menyelesaikan banyak persoalan, sehingga mereka tidak perlu ikut. Sedang kepada Arya Salaka, dipesankan untuk menyampaikan kepergian mereka besok pagi, langsung kepada Panembahan Ismaya, tidak kepada orang lain. Juga tidak kepada Rara Wilis dan Endang Widuri.

Ketika pada pagi harinya Arya Salaka menyampaikan pesan itu kepada Panembahan Ismaya, panembahan tua itu tiba-tiba mengerutkan keningnya.

Wajahnya berubah membayangkan kecemasan. Kepada Arya, ia bertanya, “Arya… kapankah mereka berangkat?”

“Semalam Panembahan,” jawab Arya.

“Kenapa mereka tidak mengatakan keperluannya itu kepadaku?”

“Kedua paman itu takut kalau Panembahan tidak mengijinkan. Sebab Panembahan selalu tidak memperkenankan paman-paman itu untuk melakukan kekerasan untuk mencapai maksudnya, apabila tidak terpaksa sekali.”

Kembali Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Namun karena kebijaksanaannya, Arya tidak dapat mengerti tanggapan apa yang menjalar dalam dada orang tua itu.

“Arya…” kata Panembahan pula, “Adakah paman-pamanmu itu yakin bahwa mereka akan menemukan apa yang dicarinya?”

“Ya Eyang… kedua paman itu yakin bahwa yang dicarinya itu ada di sana,” jawab Arya.

“Seharusnya mereka minta ijin dulu kepadaku,” gumamnya, lalu katanya meneruskan, “Tetapi semuanya sudah terlanjur. Kaulah sekarang yang harus menggantikan kedua pamanmu menuntun para cantrik dan semua penghuni padepokan ini.”

Demikianlah Panembahan tua itu menyesali perbuatan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dalam hal ini, Arya Salaka pun menjadi heran. Apakah salahnya kalau kedua pamannya minta ijin lebih dulu? Kalau masalahnya benar-benar penting, apalagi menyangkut kedua keris pusaka Demak itu, pasti Panembahan Ismaya akan mengijinkan. Tetapi Arya Salaka tidak mau berpikir terlalu panjang. Kalau kedua pamannya itu berbuat demikian, pastilah ada hal yang memaksa mereka melakukan itu.

SEMENTARA itu Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar telah jauh meninggalkan Padepokan Karang Tumaritis. Mereka pergi ke arah timur dan kadang-kadang mereka mengarah ke utara, dengan tujuan Banyubiru.

Perjalanan itu memang agak jauh. Lewat tanah-tanah yang berbatu-batu tajam dan kadang-kadang mereka harus mendaki lereng-lereng terjal. Untunglah bahwa sebelum mereka menempuh perjalanan itu mereka sempat singgah di Gedangan untuk mendapatkan dua ekor kuda yang baik.

Dengan kuda itulah mereka menempuh perjalanan. Diiringi oleh derap kaki-kaki kuda mereka yang berirama menyentuh batu-batu padas di bawah sinar matahari pagi, setelah mereka beristirahat beberapa lama. Burung-burung yang hinggap di batang-batang pohon liar memandang kedua penunggang kuda itu dengan kagumnya. Seolah-olah mereka sudah mengenalnya dengan baik, bahwa kedua orang itu adalah dua orang perkasa yang sedang dalam perjalanan yang berbahaya.

Namun demikian, wajah-wajah mereka itu tampak betapa cerahnya secerah matahari pagi, yang memandang jalan yang terbentang di hadapannya dengan penuh keyakinan. Meskipun batu-batu padas menjorok menghadang perjalanan mereka, mereka sama sekali tidak mempedulikannya.

Demikianlah kuda-kuda itu berlari dengan kecepatan sedang. Beberapa saat kemudian mereka menyusup hutan-hutan yang tidak begitu lebat. Tetapi semakin mereka menyusup ke jantung hutan itu, terasa bahwa hutan itu menjadi semakin padat. Meskipun demikian perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Kuda-kuda mereka pun seolah-olah terpengaruh oleh kebesaran tekad para penunggangnya.
Ketika matahari menjadi terik, seakan-akan ingin membakar hutan itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menghentikan perjalanan mereka, pada saat mereka menjumpai air. Mereka segera membiarkan kuda-kuda mereka minum, sedang mereka berduapun beristirahat pula. Setelah puas, barulah mereka meneruskan perjalanan kembali.

Tujuan mereka yang sebenarnya bukanlah kota Banyubiru. Banyubiru bagi Mahesa Jenar hanyalah merupakan ancar-ancar ke arah tujuannya. Karena beberapa orang Banyubiru telah mengenalnya, maka ia sengaja memasuki kota itu, setelah malam menjadi gelap.

Dari Banyubiru, Mahesa Jenar menyusup ke utara. Melewati hutan-hutan yang tidak begitu lebat untuk kemudian membelok ke arah Timur. Mendaki lambung Bukit Gajahmungkur dan seterusnya menyusur sepanjang lerengnya ke utara.

Pada sebuah puncak kecil dari bukit-bukit yang merentang membujur ke utara itu Mahesa Jenar berhenti.

”Kakang Kanigara, di sini aku pernah berkelahi melawan orang-orang dari golongan hitam hampir seluruhnya,” kata Mahesa Jenar.

”Siapa saja?” tanya Kebo Kanigara.

”Sima Rodra muda suami istri, sepasang Uling, Lawa Idjo dan Lembu Sora,” jawab Mahesa Jenar.

”Jaka Soka…?” tanya Kanigara pula.

”Tidak. Ia sedang bertengkar dengan Lembu Sora saat itu,” jawab Mahesa Jenar pula.

”Dapatkah kau mengatasi keadaan?”

”Tidak. Aku hampir saja mati. Untunglah aku terperosok ke dalam jurang karena pertolongan seseorang.”

”Bagaimana ia menolongmu?”

”Ia adalah orang yang cukup sakti untuk meruntuhkan tebing dimana pada saat itu aku sedang terdesak.”

Kanigara tersenyum. Hebat juga orang yang telah menolongnya itu.

”Siapakah dia?”

”Dialah yang aku sebut-sebut bernama Radite.”

Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, ”Jadi… orang yang sebenarnya berhak menamakan diri Pasingsingan itukah?”

”Ya.”

Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat. Angin malam berhembus perlahan mengusap wajah-wajah yang segar itu. Kanigara memandang berkeliling. Di sebelah Barat tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan, permukaan air Rawa Pening yang tenang seperti kaca. Sedikit ke arah barat tampaklah seperti gelombang hitam, batang-batang padi yang bergerak-gerak tersentuh angin.

”Inikah daerah yang harus dipimpin oleh Arya Salaka kelak?” tanya Kebo Kanigara.

”Ya. Membujur ke barat dan menjorok ke utara sepanjang tepi Rawa Pening,” jawab Mahesa Jenar.
Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya sekali lagi. Memang Banyubiru adalah tanah yang patut diperebutkan. Daerah yang subur dan memiliki sungai-sungai yang cukup, sehingga sawah ladangnya tidak saja selalu tergantung pada jatuhnya hujan.

Sesaat kemudian kembali mereka meneruskan perjalanan. Ketika mereka sampai di sebuah hutan kecil, mereka berhenti untuk melepaskan lelah.

Ketika matahari pagi mulai menerangi punggung-punggung bukit, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mulai dengan perjalanannya kembali. Kuda-kuda mereka nampaknya menjadi segar dan berlari-lari dengan riangnya. Hutan-hutan di daerah ini bukanlah merupakan hutan-hutan yang lebat. Sebab hampir setiap hari daerah ini dirambah oleh orang-orang yang mencari kayu.

Kaki-kaki kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terdengar berderap-derap dalam irama angin pagi. Debu yang putih tipis mengepul-ngepul dilemparkan oleh kaki-kaki kuda itu. Tetapi sesaat kemudian telah lenyap terhambur oleh hembusan angin.

Demikianlah mereka menempuh perjalanan pada hari terakhir. Mereka mengharap bahwa malam nanti mereka telah sampai pada arah yang harus mereka tuju.

DI daerah ini perjalanan mereka tidaklah dapat begitu lancar. Karena Mahesa Jenar masih harus mengingat-ingat jalan manakah yang pernah ditempuhnya dahulu. Sebab baru sekali ia pernah ke tempat yang ditujunya sekarang. Itu saja pada arah yang berlawanan. Untunglah bahwa ketajaman ingatannya cukup terlatih untuk mengenal daerah-daerah baru. Sebagai seorang prajurit, hal yang sedemikian adalah sangat berguna.

Mereka sampai ke tempat tujuan ketika matahari masih tampak tergantung di langit sebelah barat. Meskipun sinarnya sudah tidak begitu kuat, namun pantulan cahaya ujung-ujung dedaunan nampak berkilat-kilat. Alangkah segarnya alam.

Karena itu mereka masih harus beristirahat kembali sambil menunggu matahari itu membenamkan diri, sebelum mereka memasuki daerah yang disebut oleh penghuninya Pudak Pungkuran.

Demikianlah, sambil beristirahat mereka memperbincangkan apakah yang kira-kira akan terjadi. Mereka mengharap bahwa mereka menempuh jalan yang benar. Dalam pada itu merekapun masih harus menilai-nilai diri. Terutama Mahesa Jenar. Apakah dalam tingkatannya yang sekarang ia sudah dapat menempatkan dirinya sejajar dengan angkatan gurunya.

”Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara, ”Menurut pendapatku, kau benar-benar sudah mencapai tingkatan ayah Pengging Sepuh. Bahkan andaikata ayah Pengging Sepuh itu masih ada sekarang, belum tentu ayah dapat menang bertempur melawanmu. Sebab tenagamu masih penuh, disamping pengalamanmu yang aneh-aneh yang barangkali tidak terlalu banyak orang lain mengalami. Kesenanganmu bersama muridmu mengamat-amati gerak-gerik binatang adalah sangat berguna bagi ilmumu. Dan bukankah kau telah pernah membuktikannya pula untuk melawan Sima Rodra tua.
Kekalahan Sima Rodra adalah karena ia hanya mengagumi ketangkasan dan kekuatan seekor harimau. Sedang kau tidak. Kau mengagumi ketangkasan harimau tetapi kau mengagumi pula kelincahan seekor kijang, bahkan seekor kelinci sekalipun.”

Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu. Jawabnya, ”Terima kasih Kakang. Dan bukankah itu berkat hadirnya seorang Mahesa Jenar palsu di kaki bukit Karang Tumaritis?”

Kanigara tersenyum pula. ”Aku hanya merupakan lantaran supaya kau sudi sedikit membuang waktu untuk mendalami ilmumu. Tidak saja berjalan dari satu daerah ke daerah yang lain, meskipun kehadiranmu di daerah-daerah itu ternyata sangat berguna pula.”

Sementara itu langit telah bertambah buram. Dan sesaat kemudian lenyaplah cahaya matahari yang terakhir. Meskipun kemudian bulan muncul pula di langit, namun sinarnya tidaklah terlalu cerah.
Pada saat yang demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara meneruskan perjalanan mereka, memasuki sebuah pedukuhan kecil yang masih belum banyak mengalami perubahan seperti empat atau lima tahun yang lalu.

Ketika mereka sampai di depan sebuah rumah di ujung pedukuhan kecil itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat turun dan kemudian menambatkan tali kudanya pada sebatang pohon.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan wajah-wajah yang terheran-heran mengintip dari sela-sela daun pintu hampir dari setiap rumah, ketika penduduk di pedukuhan terpencil itu mendengar derap dua ekor kuda di jalan-jalan mereka. Hal yang demikian adalah jarang sekali, bahkan hampir belum pernah terjadi.

Ketika penghuni rumah di ujung jalan itu mendengar langkah kuda di halaman, maka segera tampaklah ia membuka pintu rumahnya. Sebuah wajah yang telah meninggalkan usia pertengahan menjelang saat-saat senja dalam edaran hidupnya, menjenguk keluar. Mula-mula tampak keningnya berkerut. Lalu kemudian membayanginya sebuah senyuman yang jernih.

Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya. Wajah yang ditandai oleh dahi yang lebar, bibir yang tebal, dan hidung yang besar, serta rambut yang mulai memutih, namun dari bawah dahinya memancarkan sinar matanya yang bersih lembut.

Ketika orang itu dengan tergopoh-gopoh datang menyongsongnya, Mahesa Jenar membungkuk hormat serta berkata, ”Selamat malam Kiai. Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengejutkan Kiai.”

”Tidak, tidak Angger. Aku senang kau sudi menjenguk aku kembali,” jawabnya.

Kemudian Mahesa Jenar memperkenalkan Kebo Kanigara sebagai seorang Putut dari Padepokan Karang Tumaritis dan bernama Putut Karang Jati.

”Marilah Angger berdua, marilah masuk,” ajaknya.

Kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengikuti orang tua itu memasuki rumahnya. Belum lagi mereka mulai dengan sebuah percakapan, tiba-tiba sebuah tubuh yang tinggi kekurus-kurusan berkulit merah tembaga terbakar oleh teriknya matahari, namun bermata terang seterang bintang-bintang di langit, telah berdiri di muka pintu. Dengan sebuah tawa yang memancar langsung dari dadanya ia menyambut kedatangan Mahesa jenar. Katanya, ”Aku tidak mimpi apapun malam tadi, serta siang tadi burung-burung prenjak tidak berkicau. Tetapi tiba-tiba membayanglah teja di langit.”

Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula kepada orang itu. Demikian pula Kebo kanigara. Melihat kedua orang itu, segera Kebo Kanigara mengetahui, bahwa meskipun mereka berpakaian petani seperti kebanyakan petani, namun kedua orang itu pasti bukanlah sembarang petani. Karena itu segera ia dapat menebak, bahwa kedua orang itulah yang oleh Mahesa Jenar dimaksud bernama Paniling dan Darba, atau yang bernama sebenarnya Radite dan Anggara.

DARBA selanjutnya meneruskan, ”Ketika aku mendengar derap kuda, aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang yang terperosok ke pedukuhan kecil ini? Tetapi beberapa orang yang sempat mengintip dari celah-celah pintu berkata kepadaku, bahwa orang berkuda itu menuju ke rumah Kakang Paniling. Karena itulah aku segera datang kemari. Dan dugaanku benar. Bahwa pasti orang yang datang dari jauhlah yang telah mengunjungi rumah ini.”

”Demikianlah Paman…” jawab Mahesa Jenar. Dan kepada Darba pun Mahesa Jenar memperkenalkan Putut Karang Jati.

Demikianlah mereka setelah masing-masing mengucapkan salam selamat, mulailah Paniling dan Darba bertanya-tanya mengenai keadaan Mahesa Jenar selama ini tanpa prasangka apapun. Namun Mahesa Jenar hanya berusaha menjawab beberapa hal saja.

Akhirnya Paniling dan Darba merasa bahwa sikap Mahesa Jenar agaknya kurang wajar. Karena itu kemudian Paniling bertanya ”Angger, aku sangka kedatangan Angger mengandung suatu keperluan yang penting, yang barangkali agak tergesa-gesa. Nah, angger. Katakanlah. Kalau saja kami berdua dapat menolong kesulitan angger, biarlah kami berusaha untuk menolongnya.”

Sesaat Mahesa Jenar menjadi ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang kepada Kebo Kanigara. Tetapi karena Kebo Kanigara sedang menundukkan mukanya, merenungi lantai, maka ia tidak melihatnya.

Akhirnya Mahesa Jenar memutuskan untuk melaksanakan rencananya. Meskipun dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi ia berdoa agar segala sesuatu dapat berlangsung dengan baik.

Maka kemudian berkatalah ia, ”Paman berdua… benarlah dugaan Paman. Aku datang dengan suatu keperluan yang penting. Meskipun dengan berat hati, namun terpaksalah aku akan melakukan kewajibanku, kewajiban kepada negara dan rakyat.”

Paniling dan Darba bersama-sama mengerutkan keningnya. Mereka menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh Mahesa Jenar berdasarkan atas kewajibannya kepada negara dan rakyat?

”Paman…” Mahesa Jenar meneruskan, ”Setelah beberapa tahun aku berkeliling hampir seluruh sudut negeri ini untuk mencari kedua keris Demak yang lenyap seperti yang pernah aku katakan dahulu, dan sama sekali aku tidak menemukan jejaknya, maka berdasarkan pengamatanku, atas seseorang yang mengambil keris itu langsung dari Banyubiru, akhirnya aku berkesimpulan, bahwa tidak ada orang lain yang demikian saktinya, melampaui kesaktian Pasingsingan, serta berjubah abu-abu seperti Pasingsingan pula, selain salah seorang dari kedua paman ini. Paman Radite atau Paman Anggara.”

Perkataan Mahesa Jenar yang diucapkan kata demi kata dengan jelasnya itu, bagi Paniling dan Darba, seolah-olah menggelegarnya berpuluh-puluh guntur bersama-sama diatas kepala mereka. Sehingga dengan demikian, malahan seolah-olah tidak sepatah katapun yang dapat mereka tangkap dengan jelas. Karena itu dengan agak ragu-ragu pada pendengarannya, Paniling bertanya, ”Angger, apakah yang Angger katakan itu?”

”Maafkanlah aku Paman,” Mahesa Jenar menjelaskan, ”Bahwa aku akhirnya berkesimpulan. Keris -keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten agaknya berada di tangan paman salah seorang atau kedua-duanya.”

Paniling dan Darba bersama-sama menarik nafas panjang. Untunglah bahwa umur mereka yang telah lanjut, menyebabkan mereka dapat mengendapkan setiap perasaan yang paling pedih sekalipun.

Dengan sareh terdengar Paniling menjawab, ”Angger, beberapa tahun yang lampau telah aku katakan, bahwa akupun ikut merasa sedih atas lenyapnya kedua keris itu. Tetapi orang yang berjubah abu-abu itu bukanlah salah seorang diantara kami. Apakah pamrih kami dengan menyimpan kedua keris itu…? Kami telah merasa berbahagia hidup di padepokan ini bersama-sama dengan para petani. Sebab mereka adalah orang-orang yang berhati terbuka. Demikian yang dikatakan, demikian pulalah yang dipikirkan. Di sini aku merasa bahwa hidup kami telah penuh dengan arti.”

”Paman…” jawab Mahesa Jenar, ”Sekali lagi aku mohon maaf. Tetapi sayang Paman, bahwa aku tidak dapat berkesimpulan lain daripada itu.”

Darba menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan mata yang suram ia berkata, ”Bagaimana aku dapat menduga yang demikian Angger. Kami sama sekali tidak melihat adanya suatu keuntungan apapun dengan menyimpan kedua keris itu. Sedang kami tahu, bahwa orang lain sangat memerlukannya. Seandainya kedua keris itu ada pada kami, maka dengan senang hati akan kami serahkan kepada Angger Mahesa Jenar.”

”Paman, aku tidak tahu siapakah yang berdiri di belakang Paman. Aku juga tidak tahu, apakah Paman mempunyai seorang calon untuk merebut tahta.”

Kembali Paniling dan Darba terkejut bukan buatan. Perlahan-lahan tanpa disadarinya mereka mengelus dada. Katanya, ”O… Ngger…. Jangan berpikiran demikian. Aku berdua sama sekali tidak mempunyai seorang muridpun. Juga kami berdua tidak mempunyai anak keturunan. Apalagi membayangkan seseorang untuk menduduki tahta kerajaan. Sungguh Ngger, mimpi pun aku tidak berani.”

Mahesa Jenar tertawa dingin. Sahutnya, ”Aku sudah bertanya kepada lebih dari seratus orang. Semuanya menjawab seperti jawaban Paman berdua itu. Apalagi Paman berdua adalah dua orang sakti yang hampir tak ada bandingnya di dunia ini.”

Sekali lagi Paniling dan Darba menarik nafas dalam-dalam. Terdengarlah Darba menjawab dengan nada sedih, ”Angger Rangga Tohjaya… Angger seharusnya bijaksana. Seandainya kami berdua benar-benar sakti seperti apa yang Angger sebutkan. Namun mustahillah bahwa kami berdua akan dapat menguasai seluruh prajurit dan pengawal kerajaan, meskipun kami menyimpan sipat kandel Demak. Yaitu Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

MAHESA JENAR tertawa semakin keras. ”Hampir setiap anak kecilpun mengetahui, bahwa dengan berpegangan pada kedua sipat kandel itu Paman berdua mengharapkan seluruh istana akan tunduk dengan sendirinya tanpa kekerasan.”

”Angger…” potong Paniling, ”Pandanglah wajah-wajah kami yang telah mulai berkeriput ini. Apakah terbayang nafsu duniawi yang berlebih-lebihan? Kalau demikian maka kami adalah orang-orang tua yang paling berdosa di dunia ini. Kami yang telah bertekad untuk meninggalkan segala nafsu duniawi dan berusaha untuk menenteramkan diri serta mendekatkan diri pada sesembahan kami yang langgeng. Tuhan Yang Maha Besar.”

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya. Dengan tajam ia memandang Paniling dan Darba berganti -ganti. Lalu katanya dengan lantang, ”Aku tidak percaya, bahwa kalian sudah tidak mempunyai pamrih duniawi lagi. Dan ketahuilah, bahwa pada wajah kalian memang terbayang nafsu yang berlebih-lebihan.”

Paniling dan Darba tersentak mendengar jawaban itu. Beberapa saat wajah mereka menjadi tegang. Tetapi sesaat kemudian wajah-wajah itu menjadi semakin sayu. Dengan nada yang sedih terdengar Paniling menjawab, ”Jadi, adakah Angger Mahesa Jenar tetap pada pendirian Angger, menyangka bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada pada kami…?”

”Ya,” jawab Mahesa Jenar tegas.

”Kalau demikian, lalu apakah yang akan Angger lakukan?” lanjut Paniling.

”Serahkanlah keris-keris itu kepadaku.” Suara Mahesa Jenar menjadi semakin tegas.

”Sayang, kami tidak dapat melakukan karena tidak ada yang dapat kami serahkan,” jawab Paniling pula.

”Aku akan membuktikan bahwa keris itu berada di tempat ini,” potong Mahesa Jenar.

Paniling dan Darba menggeleng-gelengkan kepala. Untuk beberapa lama mereka saling berpandangan. Sampai akhirnya terdengarlah Paniling menjawab dengan suara yang agak dalam, ”Kalau Angger ingin membuktikan, kami persilakan dengan senang hati.”

Mahesa Jenar menjadi tidak sabar lagi. Ia ingin Paniniling dan Darba menjadi marah. Karena itu ia membentak seperti membentak pesakitan, ”Hai paman berdua, jangan coba berputar-putar lagi. Aku dapat bertindak lunak. Tetapi aku juga dapat berbuat kasar. Jangan membantah lagi. Berdirilah dan tunjukkan kedua keris itu, di mana kau sembunyikan.”

Dahi Paniling dan Darba menjadi bertambah berkerut. Akhirnya dengan lemah terdengar Paniling menjawab, ”Angger… barangkali Angger benar. Bahwa aku telah berbuat diluar tahuku sendiri. Kalau demikian terserahlah kepada Angger. Kalau Angger ingin menghukum kami berdua, hukumlah. Lakukanlah yang Angger anggap paling benar dan adil. Kami tidak akan ingkar. Kalau Angger menganggap bahwa kami sepantasnya dihukum mati, dipancung atau digantung, lakukanlah itu. Kami akan menjalani penuh keiklasan dan kami akan tersenyum pada saat akhir kami.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Demikian agaknya Kebo Kanigara. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa kedua orang itu sudah demikian iklasnya menghadapi maut sekalipun, untuk membuktikan betapa bersih mereka.

Karena itu Mahesa Jenar menjadi bingung. Ternyata ia tidak berhasil membuat kedua orang itu marah dan menantangnya berkelahi. Bahkan kemudian Mahesa Jenar menjadi terharu sehingga terpaksa menundukkan kepala.

Apalagi ketika terdengar Darba melanjutkan kata-kata Paniling, ”Anakmas agaknya mempunyai wewenang untuk bertindak. Baik sebagai seorang yang setia pada keyakinannya atau bahkan barangkali Anakmas sekarang benar-benar sedang mengemban tugas sebagai seorang prajurit. Kalau dengan menjalani tindak kekerasan, kami dapat melapangkan tugas Angger maka kami akan merasa bahagia karenanya.”

Mahesa Jenar kemudian tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan. Ia sudah berusaha untuk memancing kemarahan kedua orang itu, namun ternyata sia-sia.

Dalam pada itu Kebo Kanigara yang sebenarnya terharu pula atas keiklasan kedua orang itu untuk pasrah diri, tiba-tiba tertawa nyaring. ”Hai orang-orang yang berjiwa kerdil… buat apa kami membunuh kalian? Ketahuilah bahwa sebenarnya aku adalah seorang petugas dari Istana. Akulah yang bernama Tumenggung Surajaya. Kalau kalian tidak mau menyerahkan kedua keris itu sekarang, maka kalian akan kami bawa menghadap ke Istana Demak. Aku berwenang untuk menghukum kalian, dan hukuman yang aku rencanakan adalah mengikat leher kalian, serta menggiring kalian keliling kota. Setiap orang yang berpapasan harus mengucapkan kata-kata penghinaan terhadap kalian. Perempuan dan anak-anak harus melempari kalian dengan batu. Sedang laki-laki dapat berbuat sekehendaknya atas kalian.”

Mahesa Jenar sendiri terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga tanpa disengaja ia mengawasi Kebo Kanigara dengan tajamnya. Namun Kanigara masih saja tertawa, malahan semakin keras.

BAGAIMANAPUN jernihnya hati yang tersimpan di dalam dada Paniling dan Darba, namun mereka adalah manusia juga. Manusia yang memiliki kesadaran diri atas derajadnya sebagai manusia. Karena itu, ketika mereka mendengar kata-kata hinaan tamunya, dada mereka terasa bergetar juga.

Dalam pada itu agaknya Darba yang lebih muda daripada Paniling, yang mula-mula merasa bahwa kelakuan tamu mereka sudah berlebihan. Dengan nafas yang semakin cepat beredar, beberapa kali ia menelan ludahnya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan diri supaya ia tidak melakukan hal-hal yang dapat mengotori diri mereka.

Baru beberapa saat kemudian, sambil membungkuk hormat Darba berkata, ”Tuan… maafkanlah kami. Kalau kami tidak mengetahui sebelumnya bahwa yang sudi datang ke pondok kami adalah seorang tumenggung. Karena itu terimalah sembah bekti kami berdua.”

Kebo Kanigara tertawa masam. Jawabnya, ”Aku sama sekali tidak membutuhkan segala macam upacara yang tak berarti itu. Kedatanganku adalah untuk kepentingan yang jauh lebih besar daripada salam yang akan menyenangkan hatiku.”

”Bukan itulah maksud kami,” potong Darba yang nafasnya semakin berdesakan di dalam rongga dadanya. ”Tetapi memang seharusnyalah kami menghormati Tuan. Hanya sayanglah bahwa Tuan telah menjalankan pekerjaan agak kurang bijaksana.”

”Apa…?” bentak Kebo Kanigara sambil membelalakkan mata. ”Kau bilang aku kurang bijaksana…? Hai orang-orang yang tak berarti, berjongkoklah dan cium telapak kakiku sambil mengucapkan permohonan maaf atas kelancangan mulutmu.”

Paniling yang berdada luas lautan pun kemudian menjadi tidak senang. Bahkan Mahesa Jenar sendiri menganggap bahwa Kebo Kanigara sudah agak terlalu jauh. Namun Mahesa Jenar sadar, kalau tidak demikian maka kedua orang itu pasti tidak akan dapat marah.

”Baiklah, aku mohon maaf,” sahut Darba, ”Namun biarlah aku tidak usah berjongkok dan mencium telapak kaki Tuan. Sebab barangkali aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu.”

Mata Kebo Kanigara menjadi semakin terbelalak. ”Patuhi perintah, hai orang tua yang tak malu,” teriaknya. ”Sekarang aku menjadi tidak percaya bahwa kalianlah yang bernama Radite dan Anggara. Sebab kalian tidak lebih daripada sisa-sisa orang paria yang berkeliaran sejak zaman pemerintahan Majapahit. Kalian tidak pantas mendapat pelayanan sebagaimana aku menjadi manusia yang paling hina sekalipun dari sisa-sisa golongan sudra.”

Sekarang Darba sudah tidak dapat membiarkan dirinya dihina lebih jauh. Apalagi ketika disebut sebutnya nama Radite dan Anggara. Namun yang selama ini disembunyikan untuk tidak dilekati oleh noda. Karena itu tiba-tiba matanya menjadi bercahaya kembali. Cahaya yang memancar kemerah-merahan karena marah yang terpendam di dalam dada. Kemudian katanya, ”Terserahlah kepada Tuan. Namun sayang bahwa aku tidak ingin berbuat seperti yang Tuan maksudkan.”

Wajah Kebo Kanigara tampak benar-benar menjadi merah. Dengan garangnya ia melangkah ke arah Paniling yang duduk di hadapannya. Sambil menunjuk kepada Darba yang berada di depan pintu, ia berteriak, ”Hai kau tua bangka, suruh adikmu melakukan perintahku.”

Perlahan-lahan Paniling menggelengkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih namun terasa betapa getaran kemarahan melontar hampir tak terkendali. ”Tidak, Tuan. Aku tidak dapat menyuruhnya berbuat demikian.”

”Lakukan perintahku,” ulang Kebo Kanigara. ”Atau aku harus datang kepadamu dengan membawa seorang perempuan seperti yang dilakukan Umbaran untuk memaksamu?”

Kata-kata Kanigara itu langsung menyentuh luka yang paling dalam. Karena tajamnya lebih daripada segala macam kata hinaan. Tiba-tiba tanpa disengaja Paniling telah tegak berdiri. Matanya memancar merah serta nafasnya berkejar-kejaran melalui lubang hidungnya yang besar. Kemudian terdengarlah kata-katanya bergetar. Kata-kata seorang jantan yang pernah bergelar Pasingsingan. Yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain untuk mengamalkan kebajikan. Karena itulah maka kata kata-kata itupun mempunyai pengaruh yang luar biasa atas Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar. ”Angger berdua… aku sudah mengatakan apa yang aku ketahui dan apa yang iklaskan. Tetapi Angger berdua minta terlalu banyak dariku. Karena itu biarlah aku berikan yang paling berharga yang ada padaku, yaitu namaku Radite. Tetapi nama itu agak berbeda dengan nama Paniling, seorang petani yang tidak berharga. Tuan boleh berbuat sekehendak Tuan atas seorang petani yang bernama Paniling dan Darba. Tetapi tidak demikian atas nama Radite dan Anggara. Nah, Tuan… apakah yang tuan-tuan kehendaki sekarang, ambillah. Tetapi jangan mengharap Tuan dapat mengambilnya begitu saja. Nama itu adalah sama berharganya dengan nyawa kami.”

Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar kata-kata itu. Apalagi ketika mereka melihat sikap Paniling dan Darba yang tiba-tiba telah berubah. Sikapnya kemudian benar-benar meyakinkan bahwa kedua orang itu adalah orang-orang sakti yang jarang dicari bandingannya.

Namun Kebo Kanigara adalah seorang sakti pula. Seorang yang masih cukup muda untuk berkembang terus, namun yang telah melampaui kesaktian ayahnya sendiri, Ki Ageng Pengging Sepuh. Sedangkan Mahesa Jenar telah menemukan inti ilmu Perguruan Pengging. Apalagi mereka telah melakukan semuanya itu dengan sengaja. Sengaja memancing pertengkaran dan pertempuran dengan orang yang bernama Radite dan Darba, murid terpercaya dari Pasingsingan Sepuh.

Demikianlah kemudian Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar telah tegak pula. Dengan bentakan-bentakan marah, Kebo Kanigara berkata, ”Bagus… bagus…. Begitulah seharusnya orang yang bernama Radite berkata. Aku, Tumenggung Surajaya, kepercayaan Sultan Demak, serta Adi Rangga Tohjaya pasti akan melakukan tugasnya dengan baik. Nah, keluarlah. Biar aku renggut nama kebanggaanmu dengan usaha seorang laki-laki.”

KEBO Kanigara tidak menunggu Paniling menjawab kata-katanya. Cepat ia mendahului melangkah keluar pintu, diikuti oleh Mahesa Jenar. Sementara itu Paniling menjadi ragu pula ketika dilihatnya kedua tamunya lenyap dibalik pintu, terjun ke dalam gelapnya malam. Sekali lagi tangannya menekan dadanya untuk mencoba mencari kembali pikirannya yang bening. Namun akhirnya ketika dilihatnya Darba telah meloncat pula keluar pintu, dengan ragu iapun keluar.

Di luar ia melihat Kanigara telah bersiap. Bahkan demikian ia melangkah keluar, terdengarlah Kebo Kanigara berteriak, ”Hati-hatilah, hai orang yang bernama Radite. Aku datang untuk membunuhmu.”

Demikian suara itu lenyap ditelan angin malam, tampaklah tubuh Kanigara dengan garangnya melayang menyerang Ki Paniling.

Paniling yang sebenarnya bernama Radite terkejut sekali mendapat serangan yang demikian tiba-tiba, cepat dan luar biasa kuatnya. Dengan demikian dapat mengukur betapa sakti lawannya. Dalam pada itu timbul pula pertanyaan dalam dirinya, tentang orang yang mengaku bernama Tumenggung Surajaya.

Tetapi ia sempat banyak berpikir. Lawannya bergerak demikian cepat dan berbahaya. Karena itu iapun segera harus melayaninya.

Maka segera terjadilah perkelahian yang dahsyat. Perkelahian antara dua orang sakti yang sukar dicari bandingnya. Dalam pada itu segera terasa oleh Kebo Kanigara bahwa Radite benar-benar seorang yang benar-benar sakti. Seorang yang telah mencapai tingkatan yang sangat tinggi dalam meresapi ilmunya.

Meskipun orangtua itu tidak tampak terlalu banyak bergerak, namun setiap gerakannya mengandung unsur-unsur yang sangat berbahaya.

Sebaliknya setelah mereka bertempur beberapa saat, Radite pun menjadi heran atas lawannya yang masih muda itu. Dalam usia yang baru menjelang pertengahan abad telah memiliki ilmu yang sedemikian sempurna. Bahkan kadang-kadang sangat membingungkan. Apalagi ketika Radite melihat beberapa unsur gerak yang dikenalnya dengan baik. Unsur-unsur gerak dari sahabatnya almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh. Meskipun dalam beberapa hal telah banyak mengalami perubahan, namun unsur-unsur pokok masih jelas sebagaimana pernah dilihatnya dahulu.

Demikianlah kemudian pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Dua orang yang sakti, yang dengan ilmu-ilmunya sedang berjuang untuk menguasai lawannya. Karena Kanigara masih belum berkenalan sebelumnya maka ia dapat bertempur dengan baik tanpa segan-segan. Dan karena itu pula, pertempuran itu pun menjadi seru sekali.

Darba dan Mahesa Jenar melihat pertempuran itu dengan kagumnya. Bahkan Darba pun akhirnya melihat pula persamaan antara orang yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya itu dengan Ki Ageng Pengging Sepuh. Karena itu ia bertanya dalam otaknya, siapakah orang itu dan apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pengging Sepuh serta Mahesa Jenar. Tetapi disamping itu ia menjadi sangat heran, bahwa Mahesa Jenar berkeras hati menyangka bahwa keris-keris pusaka Demak berada di tempat mereka. Bahkan akhirnya Darba menyangka bahwa orang itu pasti mempunyai garis keturunan ilmu dengan Mahesa Jenar, dan orang itu sengaja diajaknya untuk mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Dalam pada itu Mahesa Jenar tidak mau untuk menjadi penonton saja. Ia pun harus ikut dalam persoalan yang diharapkan akan memecahkan beberapa persoalan yang penting dalam hidupnya dan masa depannya. Karena itu ketika Darba sedang asik memperhatikan pertempuran antara Radite dan Kebo Kanigara, berteriaklah Mahesa Jenar, ”Paman Anggara… karena Paman Anggara ikut pula dalam usaha menyembunyikan pusaka-pusaka Istana itu, maka Paman pun harus menerima hukumannya.”

Anggara yang sehari-hari menamakan dirinya Darba, terkejut. Apakah yang dikehendaki Mahesa Jenar…? Dan ketika ia melihat Mahesa Jenar bersiap untuk menyerangnya, ia menjadi bertambah heran. Beberapa tahun yang lalu ia pernah bertemu dengan orang itu. Ilmunya tak lebih dari tingkatan seorang murid dibandingkan dengan ilmunya. Meskipun Anggara tak pernah merendahkan orang lain, namun terhadap Mahesa Jenar tidaklah sewajarnya kalau ia terpaksa bertempur.

Karena itu Darba pun menjawab, ”Angger Mahesa Jenar… biarlah pamanmu Radite mempertahankan nama baiknya sekaligus namaku. Sebaiknya kita tidak usah ikut serta dalam perselisihan ini. Meskipun barangkali kau juga mengemban tugas sebagai seorang prajurit seperti Tumenggung Surajaya itu pula, Mahesa Jenar… namun biarlah pertempuran mereka itu yang menentukan nasibmu. Kalau Kakang Radite binasa karena benar-benar berdosa terhadap negara, biarlah nanti aku kau binasakan pula. Tetapi kalau ternyata Kakang Radite tidak bersalah, aku harap kau menerima pula kenyataan itu. Dan untuk seterusnya kau tidak lagi menganggap kami menyembunyikan pusaka-pusaka itu.”

Mendengar jawaban Anggara, Mahesa Jenar menjadi ragu. tetapi ketika ia melihat pertempuran antara kebo Kanigara dan Radite menjadi bertambah seru dan berbahaya, ia tidak mau tinggal diam. Dengan ikut sertanya dalam pertempuran itu ia mengharap segala sesuatunya akan menjadi jelas pula. Apakah ia telah menempuh jalan yang benar atau tidak. Karena itu sekali lagi ia berteriak, ”Paman Anggara terserahlah kepadamu. tetapi Rangga Tohjaya wajib melakukan kewajibannya.”

Selesai dengan kata-katanya, segera Mahesa Jenar meloncat dan langsung menyerang dada Anggara dengan kecepatan luar biasa. Melihat serangan Mahesa Jenar, Anggara mau tidak mau secara naluriah terpaksa meloncat mengelak.

Sebenarnya Anggara masih ingin memperingatkan Mahesa Jenar. Tetapi demikian Mahesa Jenar gagal dengan serangan pertamanya, langsung ia berputar dan meluncurkan kakinya ke arah lambung Anggara dengan dahsyatnya. Serangan kedua ini benar-benar tidak disangka-sangka. Sedang Mahesa pun bergerak dengan kecepatan penuh. Sebenarnya maksudnya hanya untuk meyakinkan Anggara bahwa dalam tingkatannya yang sekarang, ia telah cukup dewasa untuk bertempur melawannya. Tetapi tanpa disengaja, serangannya itu benar-benar telah membahayakan lawannya, sehingga ia menjadi terkejut sendiri ketika melihat Anggara benar-benar tidak sempat menghindar.

ANGGARA yang tidak menduga sebelumnya, bahwa Mahesa Jenar mampu bergerak secepat itu, benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk menghindar. Karena itu, segera ia menekuk kakinya, sedikit merendahkan tubuhnya, sambil melindungi lambungnya dengan sikunya untuk menangkis serangan Mahesa Jenar. Dengan demikian maka terjadilah benturan yang sengit antara kaki Mahesa Jenar dengan siku Anggara. Akibatnya mengejutkan. Bahkan tidak diduga-duga oleh Mahesa Jenar dan juga oleh Anggara. Dalam benturan yang terjadi, Anggara dan Mahesa Jenar masing-masing terdorong surut.

Bagi Mahesa Jenar yang sejak semula mengagumi kesaktian kedua tokoh murid Pasingsingan itu, menjadi heran bahwa kekuatan yang ada pada dirinya, setelah ia bekerja keras untuk menemukan inti sari dari ilmunya, dapat mengimbangi kekuatan Anggara. Sedangkan Anggara menjadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati, siapakah yang telah mengubah Mahesa Jenar dalam waktu-waktu terakhir ini menjadi seorang yang demikian kuatnya. Tetapi karena itulah maka akhirnya Anggara menjadi sadar, bahwa Mahesa Jenar benar-benar telah memiliki bekal untuk melakukan tugasnya. Dengan demikian. Anggara kemudian benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Sesaat kemudian kembali Mahesa Jenar menyerang dengan cepatnya. Tetapi kali ini Anggara telah dapat mengetahui, bahwa Mahesa Jenar sekarang bukanlah Mahesa Jenar beberapa tahun lalu, ketika bersama-sama dengan Mantingan, Wiraraga, Gajah Alit dan Paningron bertempur melawan Sima Rodra tua dari Lodaya dan Pasingsingan. Ketika itu Mahesa Jenar berlima tidak lebih daripada lima ekor tikus melawan dua ekor kucing yang ganas. Tetapi tikus itu kini telah berubah tidak saja sebagai seekor kucing yang ganas, namun benar-benar telah berubah menjadi seekor harimau yang garang.

Karena itulah maka Anggara pun menyambut serangan Mahesa Jenar dengan penuh kewaspadaan. Kewaspadaan seorang sakti yang mempunyai perbendaharaan pengalaman seluas lautan.

Demikianlah di ujung padukuhan kecil yang sepi itu terjadilah dua lingkaran pertempuran yang sengit. Dua pasang orang-orang sakti. Namun karena kepercayaan mereka pada diri sendiri, serta sifat-sifat kejantanan yang mereka miliki, maka pertempuran itu tidak banyak menimbulkan keributan. Masing-masing bertempur dengan berdiam diri. Hidup atau mati mereka sepenuhnya mereka percayakan kepada sumber hidup mereka.

Tetapi pertempuran itu sendiri merupakan pertempuran yang dahsyat tiada taranya. Kebo Kanigara memiliki ketangguhan seperti seekor banteng yang kuat tiada taranya. Sepasang kakinya yang kokoh telah membawakan tubuhnya pada keadaan-keadaan yang menguntungkan. Kadang-kadang kedua kaki itu tampak seolah-olah tertancap dalam-dalam membenam di tanah tempatnya berpijak, seperti batu karang yang kokoh kuat berdiri dengan tegaknya. Namun kemudian kakinya itu pula dapat berloncatan dengan lincah dan kecepatan yang mengagumkan.

Sebaliknya, Radite pun mempunyai keistimewaan yang sukar ada bandingnya. Meskipun kadang-kadang seakan-akan ia hanya bergeser setapak demi setapak, namun kadang-kadang seakan-akan kakinya seakan-akan tidak berpijak di atas tanah. Dengan tangan yang mengembang ia berloncatan kesana kemari, seperti seekor Garuda yang dengan garangnya bertempur mati-matian, mempertahankan serangannya.

Di tempat lain, tampak Mahesa Jenar dengan gigihnya bertempur melawan Anggara, murid Pasingsingan yang termuda. Namun murid termuda inipun memiliki ilmu yang luar biasa tingginya. Sebagai seekor naga yang bersayap, ia menyerang Mahesa Jenar dari segala jurusan. Menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Tangan dan kakinya seolah-olah telah berubah menjadi sayap menyebar angin maut.

Namun Mahesa Jenar adalah seorang yang luar biasa pula. Dengan mesu dhiri serta meraga-sukma tanpa seorang penuntun langsung ia berhasil menemukan intisari dari ilmu perguruan Pengging. Ditambah dengan kecerdasan otaknya yang cemerlang seperti bintang di langit, serta usahanya untuk menyesuaikan diri dengan alam, telah menjadikan ilmu dari perguruan Pengging itu suatu ilmu yang tiada bandingnya. Dengan demikian, maka iapun telah berusaha secermat-cermatnya, menyesuaikan diri untuk melawan Anggara yang bertempur sebagai seekor naga bersayap.

Demikianlah Mahesa Jenar berusaha pula untuk dapat mengimbangi lawannya. Sebagai seekor burung rajawali ia berjuang dengan dahsyatnya. Tangannya yang hanya sepasang itu seolah-olah berubah menjadi puluhan bahkan ratusan pasang sayap yang mengibas bersama-sama, menimbulkan desing angin yang menderu-deru, disamping kaki-kakinya yang menyambar-nyambar ke segenap bagian tubuh lawannya.

Ternyata, ketika pertempuran itu telah berlangsung beberapa lama, kekuatan mereka tampak berimbang. Kebo Kanigara benar-benar dapat mengimbangi kesaktian murid Pasingsingan yang pernah mendapat kepercayaan untuk mempergunakan topeng yang terkenal sebagai wajah Pasingsingan, pernah memiliki pula jubah abu-abu serta akik kelabang sayuta beserta sebuah pisau belati panjang kuning gemerlapan, yang bernama Kyai Suluh.

Radite bukan seorang yang sombong, yang menganggap kesaktiannya tanpa tanding. Namun terhadap orang ini, yang menamakan diri Tumenggung Surajaya, ia menjadi heran. Ilmu orang itu pasti bersumber pada ilmu seketurunan dengan sahabatnya Pengging Sepuh. Namun ia menjadi heran, bahwa orang ini benar-benar dapat menguasainya dengan baik, bahkan memiliki perkembangan-perkembangan yang mengagumkan.

Menurut pengertiannya, Ki Ageng Pengging Sepuh hanya mempunyai seorang murid, yang bernama Mahesa Jenar, dan bergelar Rangga Tohjaya. Dalam pada itu, keheranannya, dalam pengamatannya yang hanya sepintas, tidak segera dapat menguasai Mahesa Jenar yang menyerangnya. Bahkan dalam beberapa lama, pertempuran mereka masih tetap dalam keadaan seimbang.

TAPI justru karena itulah, maka akhirnya mereka benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga serta kemampuan mereka. Pertempuran itu benar-benar telah menjadi semakin seru dan dahsyat. Bahkan yang tampak kemudian hanyalah bayangan-bayangan hitam di dalam gelapnya malam, yang berloncat-loncatan, berputar-putar semakin lama semakin cepat. Yang akhirnya menjadi seolah-olah dua pasang Wisnu dalam bentuknya yang hitam cemani, menari-nari dengan lincahnya, mengungkapkan sebuah tarian maut yang mengerikan.

Sementara itu, malam menjadi semakin dalam. Orang-orang di pedukuhan kecil yang sepi itu, yang mula-mula mengintip dari balik pintu-pintu mereka, ketika mereka tidak mendengar apapun lagi, maka mereka sama sekali tidak merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang dua orang berkuda yang menyusur jalan-jalan sempit di padepokan mereka. Mereka hanya mengira, bahwa kedua orang itu adalah perantau-perantau yang memasuki mulut lorong dari satu arah dan keluar dari mulut lorong di arah lain. Mereka berhenti di ujung padepokan mereka, dan kemudian bertempur mati-matian dengan orang cikal bakal pedukuhan itu.

Kalau saja mereka mengetahui hal itu, apapun yang terjadi, pastilah mereka akan membantunya. Namun kalau mereka sempat menyaksikan pertempuran itu, mereka akan menjadi keheran-heranan, bahwa orang-orang yang setiap hari mereka panggil Ki Paniling dan Ki Darba, yang hanya mereka kenal sebagai seorang petani yang rajin, mampu bertempur sedemikian dahsyatnya, bahkan pasti diluar kemampuan pengamatan mereka, atau malahan mereka akan jatuh pingsan karenanya.

Demikianlah pertempuran itu masih belum tampak akan berakhir. Masing-masing sudah berjuang dengan sepenuh tenaga, namun seolah-olah mereka bertempur melawan hantu yang tak dapat disentuhnya.

Dalam saat-saat yang demikian itulah, terlintas di dalam otak masing-masing, suatu cara penyelesaian yang lebih cepat. Sudah pasti mereka mengerti bahwa setiap orang sakti memiliki ilmu-ilmu simpanan yang tak akan dipergunakan dalam sembarang waktu. Bagi Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar, dalam hal yang demikian tidaklah sewajarnya mempergunakan ilmu-ilmu pamungkas mereka. Sebaliknya, Radite dan Anggara pun tak terlintas di dalam otak mereka untuk mengakhiri pertempuran dengan ilmu terakhir.

Karena itu, mereka telah mempersiapkan diri mereka untuk mengadakan pertempuran yang lama. Sebab mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan maupun kecepatan bergerak serta unsur-unsur gerak yang dapat membingungkan lawan-lawan mereka, sebab ternyata apa yang mereka lakukan selalu dapat diimbangi oleh setiap pihak. Meskipun demikian pertempuran itu masih tetap berlangsung dengan sengitnya. Sebab bagaimanapun juga mereka tetap berusaha untuk setidak-tidaknya tidak dikalahkan oleh lawan masing-masing. Tetapi justru dalam hal yang demikian itulah kadang-kadang orang terpaksa untuk berpikir lebih banyak. Dan dalam keadaan yang terpaksa demikian itulah kadang-kadang muncul kesanggupan-kesanggupan yang tidak pernah dirasakan ada di dalam dirinya. Kesanggupan yang malahan dapat mengejutkan diri sendiri.

Demikian pula apa yang terjadi dalam kancah pertarungan itu. Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar yang masih memiliki masa depan yang lebih panjang dari lawan-lawan mereka, dapat memanfaatkan pertempuran itu dengan baiknya. Dalam masa-masa yang masih memungkinkan perkembangan yang menanjak terus, mereka selalu berusaha untuk melengkapi ilmunya dengan apapun yang mereka ketemukan dalam perjalanan hidup mereka. Namun dengan satu bekal yang tak akan tanggal dari hati mereka, bahwa ilmu-ilmu mereka harus mereka amalkan untuk kebajikan. Kebajikan bagi tanah tumpah darah, kebajikan bagi rakyat yang hidup di atasnya, serta kebajikan bagi umat manusia.

Ketika kemudian terdengar kokok ayam jantan bersahut-sahutan menjelang lingsir malam pertempuran itu masih berlangsung terus. Namun demikian tak seorangpun penduduk padukuhan itu yang mendengar keributan itu. Pertempuran yang sengit itu berlangsung dengan tertibnya. Sama sekali tidak nampak kekasaran-kekasaran seperti yang pernah terjadi, ketika Mahesa Jenar dalam tingkatannya pada waktu itu bertempur melawan Jaka Soka, Lawa Ijo atau Sima Rodra. Tetapi dalam keadaan yang terasa tertib itu melontarlah pukulan-pukulan yang dahsyat dan penuh mengandung bahaya.

Dalam keadaan yang demikian, ketika keempat orang sakti itu sedang terbenam dalam arus pertempuran yang merampas segenap perhatian mereka, tiba-tiba terasalah udara yang aneh mengalir mengusap tubuh mereka. Udara yang seakan-akan mengandung pengaruh yang tajam, yang langsung menyusup ke dalam tulang sungsum, sehingga dengan demikian tenaga mereka seolah-olah ikut serta terhembus oleh aliran udara aneh itu.

Demikianlah perlahan-lahan tenaga mereka menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian seperti lenyap sama sekali. Dengan penuh keheranan, mereka masih tetap berusaha untuk mempertahankan diri mereka sekuat tenaga. Sebab mula-mula mereka mengira bahwa kesaktian lawan-lawan mereka telah mempengaruh tenaga mereka. Tetapi ketika serangan-sernagan lawanpun menjadi jauh susut, akhirnya mereka mengetahui, bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu diluar lingkaran pertempuran itu.

Mereka berempat adalah orang-orang yang cukup sakti. Yang tanggap akan kejadian-kejadian di dalam maupun di luar diri mereka sendiri. Karena itu, ketika mereka merasa bahwa suatu kekuatan diluar kemampuan mereka, telah mempengaruhi diri mereka, segera mereka menghentikan pertempuran itu. Dengan sekuat tenaga jasmaniah dan batiniah, mereka berusaha untuk menyelamatkan sisa-sisa tenaga mereka.

Tetapi pengaruh dari udara yang aneh itu demikian besarnya, sehingga tiba-tiba saja, mereka tidak saja merasa tenaga mereka susut, namun mereka juga merasa, bahwa mereka telah dipengaruhi oleh kantuk yang luar biasa.

RADITE adalah yang tertua diantara mereka berempat. Ialah orang yang memiliki pengalaman yang terbanyak. Pengalaman yang kadang-kadang hampir tak masuk akal sekalipun pernah dijumpainya. Karena itulah maka segera ia mengenal bentuk aliran udara yang aneh itu. Karena itu terdengar ia berdesis perlahan, ”Alangkah kuatnya sirep ini.”

Anggara dan Kebo Kanigara pun mengenal pula, bahwa seseorang dapat mempergunakan pengaruh kekuatan batin atas orang lain. Bahkan apabila ditekuni, dapatlah orang itu melahirkan suatu ilmu sirep semacam ini.

Sedang Mahesa Jenar sendiri pernah mengalami betapa pengaruh sirep itu dapat melenyapkan kesadaran seseorang, sehingga orang yang berada di dalam lingkungan itu dapat seolah-olah tidur nyenyak sekali. Ketika itu ia sedang bertugas di Istana, beberapa tahun yang lampau. Ia pernah mengalami pengaruh sirep yang dilontarkan oleh Lawa Ijo. Kecuali itu diatas Gunung Tidar, ketika ia berusaha untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, ia pernah terkena arus sirep itu pula. Sirep yang disebarkan oleh Gajah Sora, namun yang sebenarnya telah dapat dilenyapkan oleh Sima Rodra tua, kalau saja pada saat itu seorang yang bernama Titis Anganten dari ujung timur tidak membantunya.

Sekarang, kembali ia mengalami pengaruh sirep. Seandainya kekuatan sirep ini sama dengan kekuatan sirep yang pernah mempengaruhinya, maka dalam tingkatannya yang sekarang ini, kekuatan sirep itu tidak akan banyak pengaruhnya. Tetapi ternyata kekuatan sirep yang sekarang jauh lebih besar dari yang pernah mempengaruhinya dahulu. Bahkan dalam tingkatannya yang sekarang hampir-hampir ia tidak mampu untuk mempertahankan kesadarannya. Apalagi tenaganya.

Dalam keadaan yang demikian, akhirnya mereka berempat hanya dapat duduk bersila sambil mengheningkan diri, berusaha untuk tetap dalam keadaan sadar.

Malam yang kelam masih saja terserak di permukaan bumi. Di daun-daun pepohonan bergayutan titik-titik yang setetes demi setetes berjatuhan mengusik rumput-rumput kering yang bertebaran disana-sini dengan liarnya. Suasana kemudian menjadi hening sepi. Lamat-lamat di kejauhan terdengar suara-suara jangkrik seperti teriakan bayi yang kehausan susu ibunya.

Dalam pada itu, ketika mereka sedang tekun berjuang untuk tidak kehilangan kesadaran, tiba-tiba melayanglah sebuah bayangan yang hitam, yang kemudian dengan cepat sekali, seolah-olah tidak menyentuh tanah, telah berdiri di hadapan mereka. Dan bersamaan dengan itu, terasa bahwa pengaruh sirep itupun menjadi semakin kendor, bahkan kemudian dengan cepatnya lenyap dari diri mereka berempat.

Meskipun mereka terkejut pula atas kehadiran seseorang tanpa diduganya lebih dahulu, namun mereka sempat pula menarik nafas lega atas kebebasan mereka dari ikatan udara yang aneh itu.

Ketika mereka telah sempat memperhatikan bayangan yang berdiri di hadapan mereka, tahulah mereka bahwa orang itu adalah orang yang mengenakan jubah yang hanya tampak kehitam-hitaman di dalam gelap malam, namun dalam pada itu Mahesa Jenar segera mengenal, bahwa orang itu adalah orang yang selalu dikenalnya mengenakan jubah abu-abu.

Karena itu segera terpancarlah cahaya yang cerah dari wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara, sehingga tanpa disengajanya ia bergeser sejengkal maju.

Adapun Radite dan Anggara, ketika melihat orang yang berjubah itu tegak di hadapan mereka seperti patung, terlonjaklah dada mereka. Tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi bergetar dan nafas mereka menjadi semakin cepat beredar. Karena pada tubuh yang tegak mematung di hadapannya itu, seolah-olah terpancarlah suatu kenangan atas masa silam. Suatu kenangan dari masa yang gemilang dari seorang yang menamakan dirinya Pasingsingan.

Ya, pada saat Radite berhak mengenakan jubah yang berwarna abu-abu, seorang yang berhak mengenakan topeng yang meskipun kasar dan jelek namun dari padanya terpancar suatu harapan bagi setiap orang yang menyaksikannya. Karena dibalik wajah yang kasar dan jelek itu tersembunyi suatu pengabdian yang luhur tanpa pamrih. Tetapi keluhuran serta kemurnian pengabdian itu kemudian menjadi lebur. Dan setelah itu nama Pasingsingan menjadi hancur. Nama Pasingsingan dengan cepatnya meluncur hanyut ke dalam lumpur, karena pokal seorang saudara seperguruannya yang bernama Umbaran.

Tiba-tiba kembali Radite terlempar pada suatu anggapan, bahwa dirinyalah sumber dari segala bencana dan noda yang kemudian melekat dan mengotori jubah abu-abu, topeng yang kasar dan jelek namun mamancarkan harapan damai serta nama yang menggetarkan, ”Pasingsingan.”

Dan sekarang di hadapannya berdiri seseorang yang mengingatkannya kepada dirinya beberapa tahun yang silam. Tetapi yang pasti baginya orang yang berjubah itu bukanlah Umbaran. Sebab bagaimanapun saktinya Pasingsingan, yang berasal dari orang yang bernama Umbaran itu, namun tidaklah mungkin ia mampu menciptakan suasana sedemikian seramnya.

TIBA-TIBA Radite teringat akan sumber dari nama Umbaran. Sumber dari mahluk-mahluk yang kemudian menyebut dirinya Pasingsingan. Teringatlah ia pada saat ia menerima warisan jubah abu-abu serta segala kelengkapannya yang demikian saja berada di dalam ruang tidurnya. Teringatlah ia ketika orang yang mewariskan benda-benda itu kemudian lenyap tak berbekas. Yang kemudian datang kembali ketika nama Pasingsingan itu telah ternoda dan berkata kepadanya ”Bahwa tak ada gunanya untuk mencoba memperbaiki nama yang telah terbenam didalam arus ketamakan, kedengkian dan kejahatan.”

Radite adalah seorang tua yang mempunyai mata hati yang tajam. Demikian pula adiknya, Anggara. Karena itu tiba-tiba tergoreslah suatu tanggapan batin yang tak dapat diketahui dari mana datangnya yang mengatakan padanya, bahwa kemungkinan satu-satunya orang yang berdiri di hadapannya itu adalah gurunya Pasingsingan Sepuh. Karena itu, seperti orang berjanji, Radite dan Anggara tiba-tiba bersama-sama berjongkok dan membungkukkan kepala mereka dengan takzimnya.

Orang yang berjubah abu-abu itu mundur beberapa langkah ke belakang. Wajahnya yang kosong dan pucat, sama sekali tak menampakkan sesuatu kesan. Apalagi didalam gelap malam, wajah itu seolah-olah sama sekali tidak bergerak.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengarlah suara Radite serak, ”Guru… ampunkanlah kami, atas segala ketikdaksopanan kami. Sebab kami sama sekali tidak menduga bahwa kami masih berhak untuk memandang wajah guru karena dosa-dosa kami.”

Orang yang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Lalu terdengarlah suaranya seolah-olah bergulung-gulung di dalam perutnya, ”Radite dan Anggara, demikianlah, sejak aku kau kecewakan, aku memang sudah berhasrat untuk tidak menjumpaimu lagi. Sebab setiap aku memandang wajahmu, tergoreslah kembali luka di hati ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk bersikap sebagai seorang yang berjiwa besar, namun ternyata aku bukanlah orang yang berjiwa demikian. Meskipun aku tidak membebankan semua kesalahan kepadamu, namun dengan menghindari pertemuan itu, aku berhasrat untuk melupakan segala-galanya yang pernah terjadi. Melupakan gelar Pasingsingan yang sudah sejak berpuluh tahun sebelumnya dipupuk dan disiangi, untuk kemudian dapat berkembang dengan harumnya. Tetapi, kemudian karena sifat-sifat yang sebenarnya alami dari setiap manusia, maka semuanya itu menjadi hancur. Sifat-sifat alami yang tanpa kesadaran serta pengarahan yang benar, maka kaburlah batas antara manusia yang berakal budi dengan mahluk-mahluk lainnya, yang hanya mengenal sifat-sifat alami melulu sebagai naluri.”

Radite dan Anggara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mereka sama sekali tidak berani menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya. Mereka merasakan benar-benar betapa kata-kata orang itu langsung menembus jantung mereka. Dan karena kata-kata itu pula kemudian Radite dan Anggara menjadi yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak mungkin ada orang lain yang dapat berbuat, bersikap dan berkata kepadanya sedemikian itu selain Pasingsingan Sepuh. Karena itu maka sekali lagi Radite menundukkan kepalanya sambil berkata parau, ”Guru, telah sekian lama aku menanti, bahwa pada suatu saat aku akan dapat membersihkan dosa-dosaku dengan menjalani hukuman yang dapat guru jatuhkan kepadaku. Dan sekarang aku mendapat kesempatan untuk bertemu. Karena itulah aku mohon, guru sudi berbuat sesuatu atas diriku sebagai suatu pernyataan penyesalanku yang tiada terhingga.”

”Radite…” jawab orang yang berjubah itu, ”Pengakuan atas kesalahan yang tiada dibuat-buat, yang diucapkan dengan jujur dan ikhlas adalah suatu hukuman yang seberat-beratnya. Sebab, hukuman bukanlah sekadar menyakiti, menyiksa atau penderitaan-penderitaan lain. Tetapi tujuan dari pada hukuman yang sebenarnya adalah mencegah terulangnya kesalahan itu. Kalau seseorang, dengan ikhlas dan jujur telah mengakui kesalahannya dan berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak berbuat kesalahan-kesalahan lagi, maka menurut pendapatku tidak adalah hukuman lain yang wajib ditimpakan atasnya.”

Sekali lagi kata-kata orang berjubah itu meresap ke dalam setiap relung dada Radite maupun Anggara, seperti meresapnya rasa sejuk dari percikan air yang telah wayu sewindu. Meskipun demikian, karena beban perasaan yang terasa sangat berat menghimpit hati, Radite mencoba sekali lagi mendesak, ”Guru, bukankah hal yang demikian setidak-tidaknya akan dapat menjadi suri tauladan, bahwa Radite mengalami hukuman atas kesalahannya? Sebab apabila ada kesalahan yang lepas dari hukuman, maka ada kemungkinan orang lain akan melakukan hal yang sama dengan harapan untuk membebaskan diri pula dari setiap hukuman.”

Terdengarlah orang yang berjubah itu tertawa lirih. Jawabnya, ”Radite, aku tahu bahwa kau ingin mengurangi tanggungan perasaanmu. Tetapi ketahuilah, bahwa dengan penyesalan serta keikhlasanmu mengakui kesalahanmu itu adalah hukuman yang sudah cukup berat. Sedang apabila ada orang lain yang dengan sengaja berbuat kesalahan, kepadanyalah hukuman harus dibebankan, bahkan dua kali lipat dari yang seharusnya.”

Radite menjadi terdiam. Untuk beberapa saat suasana kembali dicekam oleh kesepian. Dalam pada itu timbul pulalah berbagai pertanyaan di dalam dada Radite dan Anggara. Kalau gurunya pada saat yang tiba-tiba tanpa diduga-duganya itu hadir di hadapannya, apakah maksudnya? Ia tidak ingin memberi hukuman kepadanya, sebaliknya gurunya itu telah bertekad untuk tidak menjumpainya lagi. Tetapi sekarang orang itu ada disini. Baru kemudian teringatlah oleh Radite bahwa disampingnya ada orang lain dari perguruan lain. Yaitu Mahesa Jenar dan orang yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya. Apakah kedatangan gurunya itu ada sangkut-pautnya dengan mereka itu?. Karena itu kemudian bertanyalah ia, ”Guru, kalau demikian apakah aku berhak mempersilahkan guru untuk singgah ke dalam pondokku?”

TERDENGAR orang berjubah itu tertawa pendek. Lalu sahutnya, ”Radite, kau agaknya terlalu cemas melihat bayanganmu sendiri. Bagiku, dosamu tidak sebesar yang kau duga sendiri. Sudah aku katakan bahwa kalau aku tidak ingin menjumpaimu lagi itu karena kekerdilan jiwaku sendiri. Jiwa orang tua yang merindukan masa lampau itu tetap menjadi kebanggaannya. Bahkan kalau mungkin, menjadi kebanggaan setiap orang Radite dan Anggara, ternyata apa yang cemerlang di masa lampau tidaklah selalu yang cemerlang masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan ini akhirnya harus aku yakini meskipun tidak semua yang berasal dari masa lampau itu harus dilupakan dan disisihkan.
Namun satu hal yang bagiku tetap harus tak berubah dari masa ke masa. Dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Bahwa apa yang kita lakukan seharusnya kita abdikan dengan penuh kasih dan cinta kepada manusia dan kemanusiaan. Bukan sebaliknya manusia dan kemanusiaan kita abdikan pada diri kita, pada kepentingan kita pribadi. Demikianlah manusia akan mencerminkan kasih dan cinta Tuhan.”

Tidak hanya Radite dan Anggara yang meresapi kata-kata orang berjubah itu. Juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendengarkan kata demi kata dengan seksama. Sehingga untuk sesaat mereka lupa pada kepentingan mereka sendiri.

Sementara itu terdengar orang berjubah itu meneruskan, “Dan karena itulah agaknya aku datang kemari. Kalau pada saat-saat lampau tak sepantasnya orang-orang muda menyeret orang-orang tua ke dalam satu persoalan, namun sekarang ternyata aku terseret kemari karena pokal anak-anak muda.”

Radite dan Anggara terkejut mendengar kata-kata itu. tanpa disengaja mereka menoleh kepada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang masih duduk disamping mereka. Namun ketika didengarnya kata-kata orang berjubah itu, mereka pun mengangkat wajah mereka.

Dan orang berjubah itu pun meneruskan, ”Aku terpaksa datang kemari karena aku tidak mau melihat permainan yang berbahaya.”

Radite dan Anggara menjadi semakin tercengang. Sedangkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menundukkan wajah. Dalam pada itu terdengar kelanjutan kata-kata orang berjubah itu, ”Nah Radite… katakanlah kepadaku sekarang, apakah kau menyimpan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten…?”

Bukan main terkejutnya. Tidak hanya Radite dan Anggara. Tetapi juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dengan tergagap terdengar Radite menjawab, ”Guru, aku sama sekali tidak menyimpan kedua pusaka itu. seandainya demikian, buat apakah kiranya kedua pusaka itu bagiku?”

Orang berjubah itu menoleh kepada Mahesa Jenar dan bertanya kepadanya, ”Aku dengar, kau berkeras menuduh bahwa kedua pusaka itu berada di tempat ini.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu. Karena itu dengan ragu-ragu ia menjawab, ”Ya Tuan… memang aku menyangka bahwa kedua keris itu berada di sini.”

”Nah…” jawab orang berjubah itu, ”Radite dan Anggara telah menjawab bahwa kedua pusaka itu tidak berada di tempat ini. Kau harus percaya, sebab sepengetahuanku, Radite dan Anggara tidak pernah berbohong.”

Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Sesekali ia menoleh kepada Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara agaknya sedang berpikir. Karena itu akhirnya Mahesa Jenar terpaksa menjawab, ”Tuan… memang sebenarnya aku tidak ingin menemukan keris itu di sini.”
”Lalu apakah maksudmu sebenarnya…?” desak orang berjubah itu.

Sekali lagi Mahesa Jenar ragu. Sedangkan Radite dan Anggara pun menjadi bingung. Ia tidak mengerti arah jawaban Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar sendiri, yang mula-mula sudah merencanakan segala sesuatu dengan lengkap dan urut, namun di hadapan orang berjubah abu-abu itu semuanya menjadi terpecah-pecah kembali. Seolah-olah ia kehilangan ingatan atas segala rencana yang telah disusunnya bersama Kebo Kanigara. Meskipun demikian satu hal yang dapat dijadikan pegangan. Orang berjubah abu-abu itu kini sudah datang.

Karena itu ia tidak perlu berbelit-belit lagi. Dan ketika ia melihat Kebo Kanigara mengangguk kecil, berkatalah Mahesa Jenar, “Tuan yang berjubah abu-abu, kalau aku datang kemari dan memaksakan suatu perselisihan kepada Paman Radite dan Paman Anggara, sebenarnya adalah karena Tuan. Sebab sejak semula aku pun sudah percaya bahwa kedua keris itu sama sekali tidak berada di tempat ini, tetapi berada pada seseorang yang sakti, yang mengenakan jubah abu-abu mirip dengan jubah yang pernah dan selalu dipakai oleh Pasingsingan.”

Radite dan Anggara tersentak bersama-sama mendengar kata-kata itu. Mula-mula jantungnya berdebar-debar, tetapi kemudian jantung itu menjadi seolah-oleh berhenti bekerja. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bagaimanapun mereka menyadari bahwa sementara ini mereka telah dipergunakan oleh Mahesa Jenar untuk memancing kehadiran gurunya.

Tetapi sebelum ia sempat berkata sesuatu, terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada mereka, ”Paman berdua… ampunkan kami. Kami sama sekali tidak bermaksud menyakiti hati Paman berdua. Apalagi sampai ada oertempuran yang sebenarnya antara hidup dan mati. Apa yang kami lakukan benar-benar suatu permainan yang berbahaya. Namun penuh dengan tanggungjawab atas kedua pusaka yang hilang itu.”

Perasaan aneh menjalar dalam dada Radite dan Anggara. Bahkan kemudian mereka tidak tahu, bagaimana seharusnya mereka menanggapi kejadian itu. Dalam keadaan yang demikian terdengarlah orang berjubah itu tertawa lirih. Katanya, ”Aku kagum pada kecerdasanmu Mahesa Jenar. Rupanya kau pernah mendengar bahwa Radite dan Anggara adalah murid Pasingsingan. Kau pernah melihat bahwa orang yang membawa kedua keris itu pun berjubah abu-abu seperti Pasingsingan. Nah, kau yakin bahwa apabila kau bertempur melawan Radite dan Anggara, pastilah orang berjubah abu-abu itu datang meleraimu. tetapi bagaimana kalau aku berpendirian, biarlah kau berdua dibinasakan oleh Radite dan Anggara?”

HAMPIR saja Mahesa Jenar menjawab bahwa ia berusaha untuk tidak terbinasakan, karena keseimbangan yang telah dicapainya setelah ia mesu raga. Sedangkan Kanigara adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbangi Radite. Tetapi niat itu diurungkan, karena dengan demikian, meskipun ia tidak bermaksud apa-apa, agaknya akan nampak bahwa ia menyombongkan dirinya.

Dan karena beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, orang berjubah abu-abu itu meneruskan, seolah-olah mengerti perasaan Mahesa Jenar. “Atau kalau kalian merasa bahwa kesaktian kalian berimbang, bagaimanakah kalau seandainya aku tidak mengetahui apa yang terjadi di sini?”

Karena perkataan itu, seolah-olah Mahesa Jenar mendapat tuntunan untuk menjawabnya, “Tuan… aku yakin bahwa Tuan akan mengetahui apa yang akan terjadi di sini. Sebab kehadiran Tuan pada pertempuran di Gedangan, serta usaha Tuan untuk menyempurnakan tata nadi Arya Salaka menunjukkkan kepadaku bahwa Tuan selalu hadir di dalam saat-saat yang gawat. Sedangkan aku yakin pula bahwa Tuan tidak akan membiarkan salah satu pihak dari kita yang sedang bertempur menjadi binasa. Sebab Paman Radite dan Paman Anggara adalah murid-murid Tuan yang terpercaya. Meskipun akhirnya Tuan merasa perlu untuk menjauhinya, namun Tuan tidak akan tega sampai sejauh-jauhnya. Sebaliknya, apakah Tuan dapat melihat kami, aku dan Kakang Kebo Kanigara, binasa…?”

“Kenapa tidak…?” terdengar orang berjubah itu menyahut.

“Kalau demikian…” tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, “Tuan pasti tidak akan melerai kami. Membiarkan kami bertempur terus. Dan apabila kami binasa, selesailah persoalan Tuan, tetapi kalau kami menguasai keadaan, Tuan akan datang membantu Paman Radite dan Paman Anggara, tetapi ternyata yang terjadi tidaklah demikian.”

“Kau yakin bahwa aku tidak akan berbuat demikian?” jawab orang berjubah abu-abu itu.

“Bukankah kau masih berada di tempat ini, dan aku masih belum berbuat sesuatu? Nah, agaknya kau telah mempercepat tindakan-tindakan yang akan aku lakukan. Ketahuilah bahwa kau benar. Aku datang untuk membantu Radite dan Anggara mebinasakan kalian berdua.”

Radite dan Anggara menjadi semakin bingung. Persoalan yang agaknya menjadi semakin berbelit-belit. Ia menjadi bertambah terkejut lagi ketika tiba-tiba Kebo Kanigara tertawa. Tiba-tiba saja ia menemukan sifat-sifat yang sudah sangat dikenalnya pada orang berjubah abu-abu itu.

Karena itu tiba-tiba pula ia berkata hampir berteriak, “Nah, Tuan yang berjubah abu-abu… lakukanlah apa yang Tuan kehendaki. Namun aku ingin meninggalkan pesan buat anakku Arya Salaka di Padepokan Karang Tumaritis.”

Orang berjubah itu terdiam. Bahkan tampak beberapa jengkal ia surut ke belakang. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak kenal Arya Salaka dari Karang Tumaritis. Kalau yang kau maksud itu adalah anak yang pernah aku tolong, memperbaiki tata nadinya, maka aku tidak ada hubungan sama sekali dengan anak itu.”

Sekarang Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Karena itu maka ia ikut berteriak,
“Nah, Tuan… aku yakin bahwa Tuan tidak berani mengganggu kami. Sebab di belakang kami berdiri seorang yang maha sakti pula seperti Tuan, yang bermukim di gunung Karang Tumaritis, bernama Panembahan Ismaya. Seorang Panembahan yang sangat gemar mengumpulkan dan menyimpan hampir segala jenis topeng-topeng serta pahatan kayu.”

Sekali lagi Radite dan Anggara terkejut. Bahkan darahnya seolah-olah mengalir semakin cepat, ketika ia mendengar Mahesa Jenar berkata, bahwa seolah-olah menantang gurunya. Di samping itu ia menjadi heran pula bahwa ada orang lain yang disebut maha sakti, apalagi sampai gurunya tidak berani bertindak karena orang itu.

Setelah perasaan mereka terguncang-guncang untuk kesekian kalinya, kembali Radite dan Anggara menjadi tercengang ketika tiba-tiba gurunya tertawa. Tertawa hampir terkekeh-kekeh. Dalam keadaan yang demikian semakin jelaslah, betapa tua usia orang yang berjubah abu-abu itu.

Katanya kemudian, “Mahesa Jenar, adakah orang yang kau sebutkan maha sakti itu gurumu?”

“Bukan,” jawab Mahesa Jenar, “Tetapi Panembahan Ismaya adalah seorang Panembahan yang tak ada duanya di kolong langit ini. Aku sangat tertarik pada topeng-topengnya yang beraneka ragam. Ada yang kasar dan jelek, namun penuh menyimpan watak yang sejuk damai. Tetapi ada pula yang tampak cerdik, namun jauh dari sifat-sifat kesombongan. Dan salah satu yang sangat menarik bagiku adalah yang Tuan pakai sekarang ini.”

Orang berjubah abu-abu itu terdengar menggeram. Namun sama sekali tidak menakutkan. Bahkan kemudian katanya kepada Radite dan Anggara, “Anak-anakku, agaknya kalian menjadi pening mendengar kata-kata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tetapi biarkanlah mereka berkicau sesukanya.”

Radite dan Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka sebenarnya ingin penjelasan. Disamping itu tiba-tiba mereka mendengar nama Kebo Kanigara disebut-sebut. Baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh gurunya. Karena itu terdengarlah Radite berkata, “Benar Bapa, aku benar-benar menjadi pening. Namun sudilah kiranya Bapa memberi penjelasan.”

Orang berjubah abu-abu itu tertawa. Katanya, “Radite, sebaiknya aku kau persilahkan masuk ke dalam pondokmu dahulu bersama kedua tamu-tamumu yang aneh ini.”

Radite kemudian merasa diingatkan atas kewajibannya sebagai tuan rumah. Karena itu dipersilahkannya gurunya beserta kedua tamu yang membingungkan itu masuk ke dalam rumahnya.

SETELAH mereka duduk melingkari lampu minyak jarak, diatas sebuah bale-bale yang besar, mulailah orang berjubah itu berkata, ”Radite dan Anggara… kau kenal aku karena kau adalah murid-muridku yang seolah-olah telah merupakan bagian dari hidupnya sendiri. Tetapi kau melihat wajahku selalu tertutup oleh sebuah topeng yang kasar dan jelek, yang kemudian dipakai oleh Umbaran. Dan karena itulah agaknya kau belum pernah melihat wajahku yang sebenarnya. Meskipun demikian, dengan wajah yang lainpun kau segera dapat mengenal aku pula. Demikian pula agaknya Kebo Kanigara yang meskipun aku mengenakan pakaian yang belum pernah dilihatnya, namun karena pergaulan kami yang sudah lama, maka iapun segera dapat mengenal aku pula. Sedangkan Mahesa Jenar, akan segera mengenal aku karena perhitungan-perhitungan otaknya yang cemerlang. Sehingga karena pokalnya kau benar dapat dipancingnya malam ini. Dan kalian adalah umpan-umpannya.”

Radite dan Anggara memang sudah merasakan hal itu. Namun peristiwa seterusnya adalah terlalu aneh baginya. Apalagi orang yang disebut Kebo Kanigara, yang mula-mula menamakan dirinya Tumenggung Surajaya itupun telah banyak bergaul dengan gurunya. Apakah iapun berguru pada orang yang dahulu bernama Pasingsingan itu? Tetapi kalau demikian, maka unsur-unsur pokok ilmu mereka pasti bersamaan. Sedangkan orang itu justru bersumber pada cabang perguruan Pengging.

Dalam pada itu, orang yang berjubah abu-abu itu agaknya mengerti akan isi hati Radite dan Anggara, karena itu ia meneruskan, ”Satu-satunya cara bagi Mahesa Jenar untuk dapat bercakap-cakap dengan orang yang berjubah abu-abu ini, yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri telah mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyubiru, adalah dengan cara ini. Bertempur dengan murid-muridnya. Dengan demikian orang yang berjubah abu-abu ini pasti tidak hanya sekadar memperlihatkan diri untuk melerai atau memihak kepadanya saja, sebab lawan-lawannya adalah murid orang berjubah abu-abu itu sendiri.”

Tiba-tiba Radite menggeser duduknya ke dekat Mahesa Jenar dan menepuk bahunya keras-keras sambil berkata, ”O, ngger, ngger. Pandai benar kau buat hati orang tua kalang kabut. Hampir saja aku kehilangan pengamatan diri. Sebab persoalan yang Angger berdua paksakan kepada kami adalah langsung menyinggung luka hati yang paling parah. Itulah sebabnya aku tak dapat menahan diri lagi.”

”Maafkan kami Paman,” sela Kebo Kanigara, ”Sebab kami tahu betapa sabar dan alimnya Paman berdua, sehingga mula-mula kami menemui kesulitan untuk membuat paman berdua marah. Maka terpaksalah kami agak melampaui batas-batas kesopanan. Tetapi kami harap Paman percaya, bahwa bukanlah demikian maksud kami yang sebenarnya.”

Radite mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bertanyalah ia, ”Tetapi kenapa Angger menyinggung-nyinggung Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

”Sebab memang kedua keris itulah yang kami cari,” jawab Kebo Kanigara. ”Dan terhadap orang yang kami harapkan hadir kemudian, kami menaruhkan harapan sepenuhnya atas kedua pusaka itu. Karena orang yang berjubah abu-abu itupun tahu pasti bahwa kedua keris itu tidak berada di sini.”

Radite menarik nafas dalam-dalam, sedang Anggara pun kemudian tertawa lirih, katanya,
”Alangkah bingungnya aku kemudian. Baru sekarang aku menjadi jelas. Alangkah bodohnya orang-orang tua ini, yang hanya pantas untuk menjadi penunggu burung di sawah-sawah.”

”Tetapi…” tiba-tiba Radite menyela, ”Siapakah sebenarnya Angger ini, yang menamakan dirinya Tumenggung Surajaya, namun yang kemudian disebut oleh Bapa Guru dengan nama Kebo Kanigara…?”

Orang berjubah abu-abu itu tersenyum. Katanya, ”Itulah kesenangannya. Membingungkan orang lain dengan nama-nama yang dibuatnya. Ia pernah menamakan diri Putu Karang Jati waktu ia menemui Pandan Alas.”

”Pandan Alas…?” ulang Radite dan Anggara hampir berbareng. ”Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak…?”

”Ya,” jawab orang yang berjubah abu-abu itu. ”Dan sekarang ia menamakan dirinya Tumenggung Surajaya. Dan orang yang suka berganti nama itu tidak lain adalah seorang yang menganut ilmu perguruan Pengging. Sebagaimana kau lihat, Mahesa Jenar pun memiliki nama yang aneh pula. Di Gedangan mula-mula ia dikenal bernama Manahan. Barangkali memang demikianlah kebiasaan anak-anak Ki Ageng Pengging Sepuh.”

”Aku sudah menduga,” sela Radite, ”Bahwa Angger ini pasti seorang murid yang sempurna dari perguruan Pengging.”

”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.”

Radite dan Anggara bersama-sama mengerutkan keningnya. Tahulah ia sekarang kenapa ia memiliki kesaktian yang mengagumkan. Yang dapat mengimbangi ilmu yang dimiliki oleh Radite sendiri.

Tetapi dalam pada itu terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Tuan benar. Memang anak-anak perguruan Pengging suka berganti nama. Tetapi agaknya Tuan lupa bahwa seorang yang bernama Radite pernah bernama Pasingsingan dan pernah bernama Paniling. Seorang yang bernama Anggara pun memiliki nama lain, yaitu Darba. Tetapi lebih daripada itu, seorang lain yang pernah bernama pula Pasingsingan, ternyata memiliki nama yang lain, Panembahan Ismaya.”

Bagaimanapun juga, orang berjubah abu-abu itu tergeser beberapa jengkal. Namun wajahnya yang pucat sama sekali tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sinar pelita yang menggapai-gapai dengan gelisahnya, membuat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak di dinding.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Paniling dan Darba masih juga terkejut. Apakah sangkut-paut antara Pasingsingan dengan Panembahan Ismaya…?

TIBA-TIBA tampaklah orang berjubah abu-abu itu melepas ikat kepalanya. Dan karena itu tampaklah di bawah rambutnya yang telah memutih, suatu garis yang memisahkan antara kulit kepalanya dengan kulit wajahnya.

“Sekarang aku tidak perlu bersembunyi-sembunyi lagi,” bisiknya. “Sebab Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengetahui semuanya dengan jelas. Dan bagiku, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi memiliki bermacam-macam nama dan kedudukan.”

Bersamaan dengan itu, terkelupaslah kulit yang tipis dari wajah orang berjubah abu-abu itu. Kulit kayu yang dipahatnya halus-halus menyerupai benar wajah seseorang. Terhadap topeng itu tak seorangpun yang terkejut. Apalagi Mahesa Jenar, yang jauh sebelumnya telah mengenal bahwa orang berjubah abu-abu itu tidak memiliki wajah sewajarnya, melainkan mengenakan topeng. Dan topeng itu jauh berbeda dengan topeng yang pernah dipakainya pada saat ia bernama Pasingsingan.
Dari balik topeng itu muncullah wajah orang berjubah abu-abu itu. Wajah seorang tua yang lunak damai. Meskipun berkerut-kerut namun kesegaran masih memancar dari wajahanya. Wajah yang sudah dikenal oleh Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Memang orang itulah Panembahan Ismaya.

Radite dan Anggara tiba-tiba merasa terharu. Terharu karena mereka berkesempatan mengenal wajah gurunya. Wajah yang selama ini menjadi teka-teki. Bahkan mereka menduga bahwa seumur hidup mereka tak akan sempat memandang wajah itu. Namun suatu hal yang mengejutkan mereka berdua, bahwa orang berjubah abu-abu itu tidaklah setua yang mereka duga. Umurnya tidak banyak terpaut banyak dengan umur mereka sendiri.

Meskipun demikian Radite dan Anggara membungkukkan kepalanya sambil berkata dengan hormatnya, “Bapa Guru… aku merasa mendapatkan suatu kurnia juga tiada taranya, bahwa Bapa Guru telah berkenan memberi kesempatan kepada kami untuk lebih mengenal Bapa.”

Orang yang berjubah abu-abu, yang pernah bernama Pasingsingan dan kemudian menjauhkan diri dari kesibukan dunia ramai di Bukit Karang Tumaritis dan bernama Panembahan Ismaya itu tersenyum. “Semua permulaan akan ada akhirnya. Hanya yang tidak bermula sajalah yang tidak akan berakhir. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Di hadapan kalian berempat aku merasa seolah-olah aku telah mencapai segala cita-cita serta idamanku, sejak aku menamakan diriku Pasingsingan.”

Ketika orang yang berjubah abu-abu dan menamakan dirinya Panembahan Ismaya dalam bentuknya yang lain itu berhenti sejenak, suasana menjadi hening. Tak seorang pun yang berkata-kata. Mereka sedang terbenam dalam arus perasaan masing-masing. Mereka mencoba menghubung-hubungkan apa yang pernah terjadi atas orang berjubah abu-abu itu sehingga ia terpaksa mempergunakan topeng hampir seumur hidupnya. Sedangkan sebagai Panembahan Ismaya, ia menyepi di sebuah bukit kecil dan menjauhkan diri dari pergaulan.

Tetapi tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka takut kalau ada hal-hal yang dapat menyinggung perasaannya. Namun tanpa mereka duga, orang itu berkata dengan sendirinya, “Mungkin apa yang terjadi atas diriku agak mengherankan. Bertopeng seumur hidup dan menyepi hampir seumur hidup pula.”

Keterangan itu akan menarik bagi Radite dan Anggara. Bahkan juga bagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Tetapi tiba-tiba orang berjubah abu-abu itu membelokkan percakapan kepada Mahesa Jenar.

“Mahesa Jenar… sekarang kau sudah bertemu dengan orang yang berjubah abu-abu, yang mengambil kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari Banyubiru. Dan karena pengotak-atikmu bersama Kebo Kanigara, menghubung-hubungkan semua yang pernah kalian alami, akhirnya kalian mengambil kesimpulan bahwa orang berjubah abu-abu itulah Panembahan Ismaya. Lalu apakah keperluanmu dengan aku?”

Mahesa Jenar menelan ludahnya beberapa kali. Mula-mula ia agak bimbang untuk langsung menyampaikan keperluannya. Tetapi ia yakin bahwa sebenarnya orang tua itu pun sudah mengerti pula. Karena itu ia mencoba mengelak, “Tuan… apakah aku masih perlu mengatakan keperluanku? Aku kira Tuan telah mengetahui selengkapnya.”

“Mahesa Jenar…” jawab orang berjubah itu, “Lebih baik kau tidak mengira-ira. Katakanlah, dan aku akan menjadi jelas, tanpa kira-kira lagi.”

Sekali lagi Mahesa Jenar menelan ludahnya. Lalu dengan suara yang parau ia menjawab, “Tuan… sebenarnya aku hanya ingin mengetahui di manakah keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu berada.”

“Hanya itu…?” sahut orang berjubah itu.

“Dan apabila Tuan berkenan, aku ingin menerima kedua pusaka itu, kembali untuk menyelesaikan beberapa masalah antara aku dan kakang Gajah Sora di satu pihak, dan Pemerintahan demak di lain pihak.

“Hanya itu…? Hanya supaya kau dapat kembali ke Istana dan Gajah Sora dapat dibebaskan?”

“Tidak,” jawab Mahesa Jenar tergesa-gesa. “Bukan hanya itu. Tetapi aku tidak mau menyembunyikan pamrih itu supaya aku tidak menjadi penipu atas diri sendiri. Sebab apabila aku hanya mengatakan bahwa aku ingin mengembalikan kedua pusaka itu demi kelangsungan pemerintahan, maka aku telah menyembunyikan beberapa bagian darinya, yaitu pamrih pribadi.”

ORANG berjubah abu-abu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu jawabnya, ”Kau memang jujur dan berterus terang. Tetapi kau terlalu tergesa-gesa. Sudah beberapa kali aku isyaratkan kepadamu, bahwa sekarang ini sedang ada pertentangan yang tajam terjadi di Demak. Antara keturunan Sultan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Karena itu kau masih harus menilai siapakah diantara mereka yang patut mendapat sipat kandel itu. Kalau kau muncul sekarang dengan pusaka-pusaka itu, maka akibatnya akan menjadi lebih parah lagi. Mereka menjadi semakin bernafsu dalam pertentangan-pertentangan yang akan timbul. Kedua pusaka itu akan merupakan penyebab pula, karena mereka merasa perlu untuk memilikinya. Dengan demikian kau membantu menimbulkan persoalan-persoalan baru yang akan menambah ketegangan. Bahkan akan dapat menimbulkan pertumpahan darah diantara para perwira, bintara dan tamtama. Kalau demikian yang terjadi, maka tinggal menunggu besok atau lusa, Demak pasti akan binasa. Sebab yang akan berhadapan sebagai lawan dalam pertentangan itu adalah kekuatan-kekuatan Demak sendiri. Baik yang berpihak kepada keturunan Sekar Seda Lepen maupun yang berpihak kepada Sultan Trenggana. Setiap jiwa yang melayang karenanya adalah kerugian yang harus ditanggung oleh Demak sendiri. Karena itu janganlah suasana menjadi bertambah tegang. Mudah-mudahan mereka dapat memecahkan persoalan itu dengan baik. Dengan musyawarah diantara kekuatan-kekuatan saka guru Demak sendiri.”

Mendengar keterangan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepala dalam-dalam. Demikian pula Kebo Kanigara. Sedangkan Radite dan Anggara mendengarkan dengan penuh perhatian.

”Dengan demikian…” orang berjubah abu-abu itu meneruskan, ”Setiap orang Demak akan dapat mencurahkan tenaganya untuk kesejahteraan negeri. Membangun tempat-tempat ibadah dan pendidikan, surau-surau dan langgar. Disamping itu setiap prajurit Demak akan berkesempatan untuk menumpas habis golongan-golongan yang tidak senang melihat Demak menjadi bulat. Maka setelah itu akan terjalinlah kesatuan hati rakyat. Ketenteraman hidup dengan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa mendapat gangguan dalam pangkuan tanah tumpah darah yang gemah ripah lohjinawi, tata titi tentrem kertaraharja, tanpa bibit-bibit pertentangan yang ditaburkan di hari ini, yang akan tumbuh dan menjadi lebat di hari kemudian.”

Ketika orang berjubah abu-abu itu berhenti, terdengarlah kokok ayam bersahutan menyambut datangnya fajar. Fajar yang tidak akan dapat ditunda oleh siapapun. Ia akan datang apabila saatnya datang. Biarpun ayam jantan tidak berkokok. Demikianlah kekuasaan Tuhan yang melampaui segenap kekuasaan yang ada.

Mahesa Jenar sadar akan ketergesaannya. Ia agaknya kurang dapat menanggapi setiap ajaran isyarat yang diberikan, baik oleh seorang yang berjubah abu-abu yang dijumpainya dahulu di jalannya yang hampir sesat dan kehilangan akal maupun oleh orang itu juga dalam pakaiannya sebagai seorang Panembahan.

Namun demikian masih saja ada beberapa hal yang belum dapat dipahami, apakah dengan diketemukannya keris itu justru tidak dapat menghentikan persengketaan antara dua golongan besar itu. Tetapi disamping itu timbul pula pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut di dalam dadanya. Juga di dada Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Demikian besar minat orang yang berjubah abu-abu itu terhadap persatuan dan kesatuan Demak, sehingga mustahil kalau ia tidak memiliki sangkut-paut yang sangat rapat dengan kedua golongan itu.

Meskipun demikian, meski berbagai pertanyaan bergelut di dalam dada setiap orang yang duduk di dalam lingkaran kecil itu, namun tak seorang pun yang menyatakannya. Agaknya orang berjubah abu-abu itu sudah merasa perlu untuk menyatakan dirinya tanpa satu pertanyaan pun.

Dalam sesaat orang tua berjubah itu berdiam diri, memandangi setiap wajah dari keempat orang yang dengan penuh minat mendengarkan ceritanya. Dan ketikasambaran matanya hinggap pada wajah Mahesa Jenar, tertangkaplah banyak sekali persoalan yang ingin dikatakannya. Namun tak sepatah katapun yang terloncat dari mulutnya. Orang tua yang berjubah abu-abu itu agaknya dapat merasakan persoalan-persoalan itu.

Karena itu ia meneruskan, ”Mahesa Jenar… seandainya salah seorang dari mereka memiliki kedua keris itu sekalipun, tidaklah dapat dianggap sebagai suatu jaminan bahwa persengketaan mereka akan mereda. Sebab dengan memiliki kedua keris itu tidaklah berarti bahwa ia mutlak dapat memegang pemerintahan di Demak, selama jiwa orang itu masih belum menjadi luluh dengan jiwa kedua keris itu. Apabila seseorang telah benar-benar dapat menguasai, serta jiwa kedua keris itu luluh dalam dirinya, barulah ia mendapat sipat kandel yang sebenarnya. Selama masih ada jarak antara seseorang dengan keris itu, maka selama itu keris-keris yang keramat itu sama sekali tak akan berguna. Karena itulah maka meskipun orang yang berjubah abu-abu sebagaimana kau lihat, berhasil menyimpan kedua keris itu, seandainya, ia ingin memegang tampuk pemerintahan Demak, hal itu tidak akan dapat dicapainya. Sebab jiwa keris itu tidak dapat luluh ke dalam dirinya. Juga orang-orang dari golongan hitam itupun akan tidak mempunyai sesuatu arti, apabila mereka memiliki kedua pusaka Demak itu.”

Kembali orang tua itu berhenti. Di luar, cahaya matahari pagi telah memercik hinggap di dedaunan. Burung-burung dengan riangnya berkicau bersahutan.

Demikianlah Padepokan yang sepi itu seolah-olah telah terbangun dari tidurnya. Namun halaman-halaman rumah penduduk padepokan itu masih tampak sepi. Satu-dua orang yang telah muncul dari ambang pintunya, dengan tergesa-gesa pergi ke sungai, sedang yang lain dengan sibuknya menyalakan api untuk merebus air. Di sana-sini terdengar jeritan anak-anak kecil yang memanggil ibunya, ketika mereka terbangun dari tidurnya yang nyenyak, seolah-olah mereka kecewa kehilangan mimpi yang segar.

DALAM kecerahan pagi itu tampaklah orang-orang yang duduk di atas sebuah bale-bale besar di rumah Paniling masih belum berkisar dari tempatnya. Mereka masih dengan asiknya mendengarkan kisah dari orang tua yang berjubah abu-abu itu.

Sementara itu, tiba-tiba orang yang berjubah abu-abu itu berkata. ”Radite, biarlah aku melepaskan jubah abu-abuku, supaya orang-orang yang lewat di muka rumahmu ini tidak menjadi keheran-heranan melihat pakaianku yang tidak biasa di pedukuhanmu ini.”

Dengan tergoboh-gopoh Radite mempersilahkan orang tua itu masuk ke dalam sebuah ruangan untuk berganti pakaian. Untunglah bahwa hal itu segera dilakukan, sebab ketika matahari telah semakin naik di atas punggung-punggung perbukitan, tampaklah jalan-jalan pedukuhan itu mulai sibuk. Beberapa orang telah mulai turun ke sawah dengan binatang-binatang kesayangan mereka, menjelang saat tanam padi.
Demikianlah, ketika beberapa orang lewat di muka pondok di ujung pedukuhan itu, mereka melihat dua ekor kuda tertambat di halaman. Karena itu teringatlah mereka, bahwa kemarin mereka melihat dari celah-celah pintu mereka, dua orang berkuda lewat di jalan pedukuhan itu. Karena itu sesuai dengan watak-watak mereka yang sederhana dan penuh rasa kekeluargaan, mereka pun merasa berkepentingan pula dengan penunggang-penunggang kuda itu. Meskipun demikian mereka terheran-heran pula ketika mereka melihat bekas-bekas tanaman yang terinjak-injak di halaman.

Ketika beberapa orang menjenguk ke dalam rumah itu, dilihatnya beberapa orang duduk-duduk di atas bale-bale besar bersama-sama dengan Ki Paniling dan Ki Darba. Karena itu dengan ramahnya mereka menyambut kehadiran mereka. Dengan tergopoh-gopoh pula Paniling dan Darba mempersilakan mereka masuk dan memperkenalkan mereka yang masih dapat mengenal Mahesa Jenar. Karena itu terdengar suara orang itu. ”He, kakang Paniling bukankah ini kemanakanmu yang beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari?”

Ki Paniling tersenyum lebar, jawabnya, ”Otakmu agaknya baik sekali. Ya, ialah kemenakan yang beberapa tahun yang lalu pernah datang kemari.”

Kemudian sambil tertawa-tertawa bangga atas pujian itu, orang itu bertanya seterusnya, ”Dan siapakah yang dua lagi?”

”Ia juga kemanakanku,” sahut Paniling, ”Dan yang satu lagi…” Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Bagaimana ia mesti menyebut gurunya. Untunglah bahwa gurunya segera menyahut, ”Aku adalah kakaknya. Ayah anak-anak ini.”

”O…” terdengar beberapa orang bergumam. Lalu berkata salah seorang diantaranya, ”Selamatlah Kakang berkunjung ke pedukunan ini. Mudah-mudahan Kakang krasan pula, dan sudi singgah ke rumah tetangga-tetangga di sebelah.”

”Pasti, pasti,” jawab guru Radite itu. ”Aku akan tinggal beberapa hari di sini. Dan aku akan singgah di rumah kalian apabila waktuku memungkinkan.”

Demikianlah terjadi percakapan yang akrab dan semanak di antara mereka. percakapan yang sama sekali tidak dibumbui oleh maksud-maksud lain daripada apa yang mereka percakapkan. Penduduk pedukuhan itu sama sekali tidak mengenal cara-cara yang dilapisi oleh sifat berpura-pura. Dada mereka tak ubahnya seperti sebuah kitab lontar yang terbuka. Setiap orang yang berkepentingan akan langsung dapat membacanya kata demi kata. Demikianlah huruf itu membentuk kata-kata serta kalimat-kalimat.

Demikianlah maksud serta isi dari kitab itu sebenarnya.

Tetapi mereka tidak lama berada di tempat itu. Karena sawah serta ladang mereka selalu menunggu. Menunggu uluran tangan para petani yang dengan setia dan tekun menggarapnya. Tanpa banyak persoalan. Mereka bekerja untuk memetik hasilnya. Karena itu mereka sadar bahwa apabila mereka tidak bekerja, maka mereka pun akan kelaparan. Dengan demikian mereka tidak pernah berpikir lain daripada kesejahteraan pedukuhan mereka, tergantung atas kesanggupan serta kemauan mereka bekerja.

Dan seandainya ada orang lain, yang berbelas kasihan memberi kepada pedukuhan itu kesejahteraan yang melimpang-limpah, maka pastilah itu bukan hal yang sewajarnya. Pastilah dengan demikian mereka mempunyai pamrih. Setidak-tidaknya orang-orang dari pedukuhan itu akan terikat oleh suatu perasaan berhutang budi. Dan dengan demikian hilanglah sebagian, meskipun hanya sebagian kecil, kemerdekaan serta kedaulatan mereka atas diri sendiri.

Karena itulah maka mereka bekerja keras dengan penuh kegembiraan dan terima kasih. Terima kasih kepada Tuhan yang telah melimpahkan tenaga dan tanah garapan bagi mereka.

Namun ketika mereka meninggalkan halaman rumah itu, ada juga yang sempat bertanya, ”Bapak Paniling, kenapakah tanaman-tanaman Bapak rusak bekas terinjak-injak?”

Paniling agak binggung untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi akhirnya diketemukan juga jawabnya. ”Akh, semalam kuda tamu-tamuku itu lepas dari ikatannya. Terpaksalah kami beramai-ramai menangkapnya.”

Mereka percaya saja pada keterangan itu. Bahkan beberapa orang menjadi geli karenanya. Tetapi apabila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, pastilah mereka mempunyai tanggapan yang akan sangat jauh berbeda.

Demikianlah ketika para petani meninggalkan rumah Ki Paniling, kembali perhatian mereka tertuju kepada orang tua yang sekarang sudah tidak lagi mengenakan jubah abu-abu. Tetapi orang tua itu kini mengenakan baju lurik merah coklat serta ikat kepala yang kehijau-hijauan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah mengenal wajah orang itu dengan baiknya sebagai seorang Panembahan. Tetapi kali ini, dalam pakaian yang lain, tidak seperti yang biasa dipakainya, yaitu jubah putih, tampaklah bahwa wajah itu menjadi semakin segar. Cahaya matanya tidak saja tampak dalam dan damai, seperti biasa, yang seolah-olah menjangkau jauh ke alam yang tidak kasat mata. Tetapi mata itu kini memancar dengan terangnya menyorot ke depan, ke masa yang akan datang. Ke masa yang tidak terlalu jauh. Maka seolah-olah terjadilah suatu paduan antara masa depan yang dekat dengan masa yang tak teraba oleh pancaindera.

KETIKA suara sendau dan tawa para petani sudah hilang di kejauhan, orang tua itu agaknya merasa perlu untuk melanjutkan keterangannya. Karena itu ia mulai berkata, ”Anak-anakku sekalian. Demikianlah tuah dari kedua keris yang sedang kau cari itu. Ia baru bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris itu sudah luluh dalam dirinya. Pertandanya bahwa keris itu kehilangan kecemerlangannya. Ia kuningan. Tetapi kedua keris itu menjadi tak ubahnya seperti besi biasa saja. Sama warnanya dengan sebuah pisau dapur saja. Sedang apabila jiwa kedua keris itu luluh pada diri seseorang, maka orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap ke dalam dirinya. Kyai Nagasasra mempunyai watak disuyuti oleh kawula. Dicintai dan disegani oleh rakyat. Dengan demikian ia akan mencinta kasih Tuhan, perikemanusiaan, memberi perlindungan kepada orang yang kehujanan dan kepanasan, memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tuntunan bagi yang kehilangan jalan. Sedang Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti watak lautan. Luas tanpa tepi. Menampung segala arus sungai dari manapun datangnya. Menerima dengan tadah banjir yang bagaimanapun besarnya. Namun gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatan dan kesediaan bergerak dan bahkan selalu bergerak. Watak yang demikianlah yang memungkinkan seseorang dapat menemukan yang belum pernah diketemukan. Dan karenanyalah kesejahteraan rakyatnya dapat dijamin. Kesejahteraan lahir dan batin. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalirkan airnya yang ditampung dapat beriak dengan manisnya, namun dapat bergulung-gulung dengan dahsyatnya, seolah-olah lautan itu sedang mendidih.”

Orang tua itu berhenti sejenak. Ia memandang berkeliling lalu melemparkan sorot matanya yang damai itu lewat lubang pintu dan jatuh di atas tanah berdebu di halaman. Sekali-kali ia menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah-olah ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, ”Sayang, bahwa kedua keris itu masih harus dilengkapi dengan yang satu lagi. Kyai Sengkelat. Keris itupun sekarang sudah lenyap dari perbendaharaan istana.”

”Kyai Sengkelat?” sela Mahesa Jenar hampir berteriak.

Orang tua itu mengangguk, jawabnya, ”Ya, Kyai Sengkelat. Tidak saja keris-keris itu tidak mau luluh pada diri seseorang, tetapi keris-keris itu ternyata lolos dari tempat penyimpanannya. Padahal Sengkelat pun tidak kalah pentingnya. Ia memiliki watak yang lengkap dari watak seorang prajurit. Prajurit yang setia dan patuh akan kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri. Tetapi seorang prajurit akan berjuang untuk tanah tumpah darah serta rakyatnya, dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dalam lingkaran kebaktian dan cinta kasih Yang Maha Agung.”

Suasana kemudian menjadi hening sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan sendiri. Mahesa Jenar yang dengan bekerja keras dan mati-matian berusaha untuk menemukan Kyai Sabuk Inten, bahkan usahanya itu belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya, tiba-tiba ia mendengar bahwa Kyai Sengkelat pun sedang lolos dari simpanannya.

Sedang Kebo Kanigara, sebagai seorang keturunan Brawijaya, menjadi sedih pula. Bagaimanapun juga, ia masih selalu merindukan kebesaran yang pernah dicapai oleh Majapahit dahulu.

Tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara bertanya, ”Tuan, tidak adakah hulubalang Istana yang dapat berusaha untuk menemukan keris-keris itu?”

Orang tua itu kemundian tersenyum. Jawabnya, ”Tidak kurang banyaknya para prajurit Demak yang disebar ke segenap penjuru. Bukankah Mahesa Jenar pernah juga bertemu dengan Gajah Alit dan Panigron? Juga bukankah Arya Palindih pernah diutus ke Banyubiru untuk menemukan keris-keris itu? Bahkan sampai sekarangpun masih banyak dari para perwira Demak yang berkeliaran mencari pusaka-pusaka itu.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun jelas terbayang di dalam kepalanya, bahwa para prajurit Demak itu akan menjadi selalu kecewa, karena mereka tidak akan dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Agaknya Kyai Sengkelat pun masih terlalu sulit untuk diketahui tempatnya.

Sebenarnya tidaklah terlalu banyak orang yang mengetahui hilangnya pusaka-pusaka itu. Sebab memang hal itu dirahasiakan. Yang boleh mengetahui hanyalah orang-orang terbatas saja. Tetapi ada di antara mereka yang bertugas, terutama dari pejabat-pejabat rahasia Demak sendiri, mempunyai pamrih atas pusaka-pusaka itu. Sebab mereka mempunyai pengertian yang salah, seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka itu, dengan sendirinya akan dapat menduduki tahta.

Orang tua itu kembali membetulkan letak duduknya. Dan sekali-kali menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan, ”Padahal, segala sesuatu sangat tergantung kepada orang itu sendiri. Dan tergantung padanya pulalah pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam dirinya. Itulah yang biasa disebut orang -wahyu-. Dan wahyu itu bukanlah semacam permainan dadu dengan mempertaruhkan keberuntungan, tetapi untuk dapat menerima wahyu maka seseorang harus mempersiapkan dirinya sebagai wadah dari watak dan sifat-sifat wahyu itu. Karena itulah maka untuk menerima wahyu seseorang harus bekerja keras, mesu raga dengan penuh keprihatinan.”

Segala sesuatunya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Tetapi justru karena itu Mahesa Jenar tidak lagi menjadi gelisah atas pusaka-pusaka keraton yang hilang itu. Sebab meskipun ia berada di tangan seseorang, seseorang yang mempunyai pamrih sekalipun, tidaklah ia akan selalu berhasil setelah memiliki kedua pusaka itu.

Meskipun demikian untuk meyakinkan diri sendiri, bertanyalah Mahesa Jenar, ”Tuan, aku sudah dapat memahami semua keterangan itu. Namun meskipun demikian, untuk menenteramkan perasaanku sendiri, aku ingin mendapat penjelasan yang pasti, apakah kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada pada Tuan.”

SEKALI lagi orang itu tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, ”Benar… Mahesa Jenar. Kedua keris itu ada padaku. Jangan takut. Bagiku kau adalah lantaran yang sebaik-baiknya untuk menyerahkan kembali kedua pusaka itu ke Demak kelak apabila kita sudah mendapat gambaran, siapakah yang paling sesuai untuk menjadi wadah dari wahyu itu. Meskipun demikian segala sesuatu masih tergantung atas kebenaran yang terringgi. Adakah Tuhan memperkenankan atau tidak. Sebab Tuhan-lah Maha Penentu dari segala kejadian.”

Yang tiba-tiba menjadi persoalan di dalam otak Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara kemudian adalah Ki Ageng Gajah Sora. Ia akan dapat dibebaskan apabila kedua keris itu sudah dapat diketemukan. Sebab dengan demikian akan dapat dibuktikan apakah ia bersalah atau tidak. Sedang menurut orang tua itu, penyerahan kembai keris-keris itu masih memerlukan waktu. Lalu bagaimanakah yang akan terjadi dengan Gajah Sora itu…? Karena persoalan itu bertubi-tubi menghantam dinding kepalanya, akhirnya Mahesa Jenar memberanikan diri bertanya, ”Tuan… Masih ada sesuatu yang sangat mengganggu perasaanku, yaitu masalah Kakang Gajah Sora. Dengan demikian maka ia tidak akan segera mendapatkan penyelesaian.”

Orang tua itu, yang pernah mengenakan gelar Pasingsingan itu, mengerutkan keningnya. Persoalan itu bagi Banyubiru bukan persoalan yang kecil. Sebab persoalan itu bagi Banyubiru akan menentukan garis sejarah masa depan Banyubiru, meskipun tidak seluruhnya. Untunglah Gajah Sora meninggalkan seorang anak laki-laki yang dapat dibanggakan, Arya Salaka. Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar… sebaiknya kalian tidak usah menunggu Gajah Sora. Bawalah Arya Salaka ke dalam tugas sucinya. Aku kira ia cukup mampu untuk melakukan, meskipun kau harus selalu berada di sampingnya. Sedangkan Ki Ageng Gajah Sora… serahkan saja kepadaku.”

Sekali lagi suatu pertanyaan membersit di dalam hati Mahesa Jenar, bahkan juga di dalam hati Kebo Kanigara dan kedua murid Pasingsingan itu. Mereka mendapatkan suatu firasat yang mengatakan bahwa orang tua itu bagaimanapun pasti mempunyai hubungan sambut rapat dengan Sultan Trenggana atau pemerintah Demak.

Akhirnya Kebo Kanigara tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk mengetahui keadaan orang tua itu lebih banyak lagi, sehingga kemudian ia berkata, ”Tuan, telah bertahun-tahun aku tinggal di Bukit Karang Tumaritis, bersama-sama dengan Tuan dalam kedudukan Tuan sebagai seorang Panembahan bergelar Panembahan Ismaya. Namun kemudian ternyata aku sama sekali masih belum mengenal Tuan. Sebab ternyata aku masih belum mengetahui apa yang Tuan lakukan apabila Tuan sampai berbulan-bulan meninggalkan padepokan kami. Juga ternyata karena keterangan-keterangan Tuan, aku malahan menjadi semakin banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuan. Karena itu seandainya Tuan tidak keberatan sejalan dengan pernyataan Tuan untuk tidak berahasia lagi, khususnya terhadap kami, apakah Tuan tidak keberatan apabila Tuan menyatakan kepada kami siapakah Tuan serta dari manakah Tuan sebenarnya.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, berkatalah ia dengan suara yang dalam dan perlahan, ”Kebo Kanigara dan kalian yang lain… apakah ada perlunya aku menyatakan diri serta asal-usulku? Sebab apa yang sudah terjadi itu tidak akan banyak pengaruhnya bagi masa yang akan datang.”

Karena Mahesa Jenar pun ingin sekali mendengar keterangan itu, ia pun mendesaknya, ”Bahwa masa lampau selalu penting bagi masa kini maupun masa depan. Apa yang terjadi sekarang karena telah terjadi sesuatu pada masa-masa lampau. Karena itu kami tidak akan dapat meninggalkan angkatan dari masa lampau. Alangkah kerdilnya jiwa kami apabila kami memperkecil arti angkatan-angkatan sebelum kami. Meskipun bukan berarti bahwa kami akan selalu menggantungkan diri padanya. Namun pengalaman-pengalaman adalah mahaguru yang sangat baik. Hasil-hasil yang pernah dicapai serta cara-cara untuk mencapainya. Juga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan adalah suatu cermin untuk mengenal cacat wajah sendiri.”

Kembali orang itu mengangguk-angguk. Matanya yang sejuk itu sekali lagi terlempar ke atas tanah berdebu di halaman. Matahari kini telah semakin tinggi menggantung di langit yang biru bersih. Daun-daun yang hijau segar tampak berkilat-kilat memantulkan cahayanya yang cerah.

Orang tua yang menamakan diri Panembahan ismaya itu masih berdiam diri. Tampaknya ia agak ragu-ragu. Namun akhirnya diceritakanlah kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua muridnya itu tentang dirinya. ”Anak-anakku sekalian…. Baiklah aku menuruti permintaanmu. Tetapi jangan kau ceritakan kepada orang lain dari apa yang akan kau dengar.”

Ia berhenti sejenak untuk mendapat kesan bahwa mereka yang akan mendengarkan ceritanya benar-benar tidak akan mengatakan kepada orang lain. Sejenak kemudian ia meneruskan, ”Yang mula-mula boleh kau ketahui, namaku yang sebenarnya yang diberikan oleh ayah dan ibuku, adalah Buntara, lengkapnya Raden Buntara.”

Mendengar nama itu, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan kedua muridnya bersama-sama tergerak hatinya. Bahkan tiba-tiba Kebo Kanigara mengangkat wajahnya serta memandang orang tua itu tajam-tajam. Memandang segenap bagian tubuhnya seolah-olah di dalamnya tersimpan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Agaknya orang tua itu merasa betapa Kebo Kanigara tertarik pada namanya. Karena itu ia bertanya, ”Adakah sesuatu yang menarik dari nama itu, Kanigara…?”

Kanigara mengerutkan keningnya. Otaknya bekerja keras untuk mengingat-ingat nama-nama yang pernah didengarnya. Akhirnya seperti orang terperanjat ia menjawab, ”Ya… nama itu sangat menarik bagiku.”
Orang tua itu tersenyum, lalu katanya, ”Apakah yang menarik?”

KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”

Sekali lagi orang tua itu tersenyum. Katanya, ”Kau pernah mendengar nama itu?”

”Ya,” jawab Kanigara, ”Aku pasti pernah mendengarnya. Ayahku pernah menyebut-nyebut nama itu.”

”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”

”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali.

Raden Buntara mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, ”Kanigara, kau benar. Aku adalah orang yang kau maksud itu. Tetapi jangan panggil aku Eyang Buntara. Panggilah aku Panembahan Ismaya.”

Sekali lagi Kebo Kanigara membungkukkan kepala dengan takzimnya. Bahkan kemudian Mahesa Jenar, Radite dan Anggara pun membungkuk hormat. Hormat kepada seorang yang mereka segani. Tetapi lebih dari itu, orang tua itu ternyata adalah adik Baginda Brawijaya pamungkas.

Untuk sesaat suasana ditelan oleh kesepian. Berbagai perasaan muncul di dalam kepala masing-masing. Sehingga kemudian kesunyian itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya. ”Tetapi kemudian aku terlibat dalam berbagai persoalan, sehingga aku merasa perlu untuk mengasingkan diriku dari dunia ramai.”

Sekali lagi orang tua itu berhenti untuk menarik nafas dan membetulkan duduknya. Kemudian disambungnya lagi, ”Ketika itu terjadi perbedaan paham yang bersumber pada perbedaan kepercayaan. Pada waktu itu aku sudah mencoba untuk meyakinkan bahwa kepercayaan bukanlah sumber yang tak dapat dibendung. Namun agaknya Sultan merasa bahwa ia lebih baik mengundurkan diri dari tahta serta meninggalkan istana. Tetapi Raden Patah pun sama sekali tidak mau memperkosa kekuasaan Majapahit. Karena itu sebelum Prabu Brawijaya itu menyerahkan kekuasaan. Dan ternyata Prabu Brawijaya memberikan izin itu, meskipun ia sudah berada di perjalanan. Ketika Raden Patah kemudian memegang pimpinan kerajaan, dipindahkannya pusat kerajaan dari Majapahit ke Demak, sehingga dengan demikian berakhirlah suatu rangkaian pemerintahan yang berpusat di Majapahit.

Pada saat itu Prabu Brawijaya, diiringi oleh beberapa orang pergi berkelana dari satu tempat ke lain tempat. Beliau berjalan menyusur pantai selatan menuju arah matahari terbenam. Akhirnya sampailah beliau ke daerah Bukit Seribu, yang juga terkenal dengan nama Gunungkidul.”

Setelah berhenti sejenak, orang tua itu meneruskan, ”Meskipun aku adalah adik Brawijaya, namun umurku agak terpaut banyak daripadanya. Bahkan dengan Raden Patah pun agaknya aku tidak lebih tua. Karena itu, pada suatu saat Raden Patah memerintahkan kepadaku, bahwa ia mengharap dapat menerima kunjungan ayahanda Baginda. Bahkan mengharapkan Prabu Brawijaya menghentikan perantauannya dan menetap di suatu tempat yang dikehendakinya. Dengan susah payah aku menyusur bekas perjalanan Baginda. Bertanya dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan demikian dapatlah banyak yang dilihat dan banyaklah yang dapat didengar, tentang hidup dan penghidupan. Tentang alam dan seluk-beluknya, untuk melengkapi pengetahuannya menjelang masa langgeng.”

Kembali orang tua itu meneruskan ceritanya, ”Tetapi terjadilah hal yang sama sekali tak terduga-duga. Seorang tumenggung yang ikut serta dalam rombongan Baginda merasa curiga atas kehadiranku. Tumenggung itu menyangka bahwa aku datang dengan pamrih. Kalau aku dianggap lawan yang harus dibunuh, maka aku tidak akan sakit hati. Tetapi yang tidak dapat aku terima adalah sangkaan yang bukan-bukan atas diriku dalam persoalan-persoalan yang memalukan. Ia menganggap bahwa aku sengaja mendekatkan diriku kepada Baginda untuk dapat mengetahui di mana kekayaan Baginda yang dibawa sebagai bekal perjalanan, disimpan. Ia menuduh bahwa aku ingin memiliki harta kekayaan itu. Dan yang lebih parah lagi, ia mempergunakan istrinya yang ikut serta dalam perjalanan itu untuk memancing persoalan. Dengan susah payah aku selalu mencoba untuk menghindarkan diri dari setiap bentrokan yang mungkin timbul. Namun ketika akhirnya aku ketahui bahwa sebenarnya ialah yang bermaksud jahat atas Baginda dan harta bendanya, aku tidak dapat membiarkannya.”

Panembahan Ismaya berhenti sejenak. Pandangannya yang jauh menatap cahaya matahari yang menari-nari di daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di luar, seolah-olah mencari lembah peristiwa-peristiwa masa lalu pada bayang-bayang yang selalu bergerak di batang-batang kayu.

Setelah menarik nafas panjang, ia kembali meneruskan, ”Kemudian akulah yang sengaja membuat persoalan. Atau tegasnya aku sengaja menanggapi persoalan-persoalan yang dibuatnya. Agaknya darah mudaku pada saat itu sangat mempengaruhi jalan pikiranku, sehingga karena itu aku telah membuat suatu kesalahan. Seperti yang sekali dua kali pernah dilakukan, istri Tumenggung itu sengaja datang ke pondokku di belakang rumah yang dipergunakan sebagai pesanggrahan sederhana. Pada saat-saat sebelumnya, apabila perempuan itu datang, aku selalu pergi menghindar jauh-jauh. Sebab aku sudah dapat mengetahui maksud kedatangannya. Tetapi kali ini aku sengaja menemuinya.

AKU ingin mendengar apa yang akan dikatakannya kepadaku, meskipun aku sudah dapat menduganya lebih dahulu. Ternyata dugaanku tidak jauh menyimpang. Perempuan itu mula-mula mencela suaminya, kemudian memuji-muji aku sebagai seorang pemuda yang gagah, tampan dan berani. Kemudian dengan solah yang dibuat-buat, ia mulai mengatakan tentang ketidakpuasannya terhadap suaminya, dan yang terakhir, yang tidak aku duga-duga bahwa sedemikian jauh pertentangan yang ingin dibuatnya, adalah perempuan itu minta tolong kepadaku, supaya aku membunuh suaminya. Tentu saja dengan pura-pura mengharap, supaya aku akan menggantikan suami itu.

”Sayang” jawabku kepada perempuan itu berterus terang ”Aku sudah tahu permainan yang harus kau lakukan. Bukankah dengan demikian setiap orang akan menuduh aku merebut isteri orang. Suamimu mengharap aku akan menyerangnya. Siang atau malam, apabila laki-laki itu tampaknya sedang lengah. Namun sebenarnya ia telah siap membunuhku, sebab kau sudah memberitahukan kepadanya. Kalau laki-laki itu sudah berhasil melawan aku dalam suatu perkelahian, maka setiap orang akan meludah dihadapanku. Hidup atau mati. Nah, kalau demikian katakanlah kepadanya. Kalau ia menghendaki suatu perkehalian, suruhlah ia menantang aku sebagai seorang laki-laki. Ada atau tidak ada persoalan.”

Wajah perempuan itu menjadi merah. Tetapi agaknya ia memang perempuan yang cerdik. Aku mengharap ia akan marah, dan berlari menyampaikan kata-kataku kepada suaminya. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Wajahnya yang merah itu sesaat kemudian telah cerah kembali. Sambil tersenyum-senyum ia mendekati aku. Katanya ”Kau laki-laki jujur. Sayang kau masih terlalu muda untuk menanggapi persoalan. Agaknya Raden belum mengenal aku sungguh-sungguh.”

Mula-mula aku menjadi gemetar ketika tiba-tiba perempuan itu meraba tubuhku. Bahkan kemudian aku menjadi muak. Dan karena itulah aku berbuat kesalahan. Sebenarnya lebih baik sekali aku berlari jauh-jauh meninggalkan tempat itu. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Ketika aku tidak dapat menahan perasaan muak yang bergolak di dalam dadaku, perempuan itu aku dorong keras-keras dan jatuh terbanting dilantai. Karena itulah maka tiba-tiba terdengar ia berteriak-teriak. Mula-mula aku menyangka bahwa ia berteriak karena kesakitan. Tetapi dugaanku itu ternyata keliru. Perempuan itu sama sekali tidak berteriak karena kesakitan. Ternyata beberapa saat kemudian terdengarlah langkah beberapa orang berlari-lari. Beberapa diantaranyalangsung masuk ke dalam pondok. Hampir pecah kepalaku pada saat itu ketika aku mendengar perempuan itu berteriak ”Lelaki gila. Aku diseretnya kemari dengan kasarnya.” Semua mata terarah kepadaku. Diantaranya adalah sepasang mata laki-laki tamak, suami dari perempuan gila itu. Sambil menggeram mengerikan ia bertanyakepada isterinya dengan suara mengguntur.

”Hai perempuan rendah. Apa kerjamu disini?”

Dengan suara tergagap perempuan itu menjawab ”aku tidak sengaja datang kemari. Aku berjalan dihadalaman untuk memetik sirih. Tetapi tiba-tiba aku diseret oleh laki-laki itu dengan laku seekor binatang kelaparan.”

Kembali laki-laki itu mengeram. Kemudian dengan pandang mata yang mengerikan pula ia bertanya kepadaku. ”Kau hinakan nama isteriku Raden. Sayang bahwa suaminya adalah seorang laki-laki yang mempunyai harga diri. Kalau kau inginkan dia, marilah kita selesaikan dengan cara seorang laki-laki.”

Aku menjadi ragu. Untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya agaknya sama sekali tidak ada gunanya. Karena itu aku mengambil keputusan untuk menerima tantangannya. Bukankah aku memang ingin membuat perhitungan dengan Tumenggung itu? Namun sayang, sangatlah sayang. Bahwa tak seorangpun yang mengerti keadaan sebenarnya. Tak seorangpun yang mengerti isi hatiku yang sesungguhnya, kecuali seorang jajar tua yang sangat setia kepada baginda. Dan jajar itu pulalah yang mengetahui segala seluk beluk pokal Tumenggung itu. Ia pulalah yang mendengar dengan telinganya sendiri, bagaimana Tumenggung itu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para Menteri yang sependapat dengan pikirannya. Tetapi ia hanyalah seorang jajar yang tidak berarti. Karena itu, apa yang didengar dan diketahuinya itu tak dapat dipercaya oleh siapapun meskipun ia sudah pernah mengajukannya kepada baginda lewat seorang bupati dalam yang boleh dipercaya. Bahkan akhirnya Bupati itu yang semula tertarik kepada ceriteranya berkata kepadanya ”Jajar, agaknya kau terlalu letih. Karena kau bermimpi buruk.”

Akulah orang yang pertama-tama menaruh perhatian sepenuhnya atas keterangannya. Ia langsung berkata kepadaku, kepada adik baginda. Ia mengharapkan keselamatan baginda dapat terjamin.

Akhirnya terjadilah perkelahian itu. Perkelahian yang ditunggui oleh beberapa orang saksi.

Tumenggung itu agaknya yakin bahwa ia akan dapat membunuhku. Dengan demikian rencananya tidak akan terhalang. Ia memang pernah mengenal aku sebelumnya, dan aku pernah mengenalnya pula, sebagai seorang Tumenggung dalam susunan keprajuritan Majapahit. Justru dalam kesatuan pengawal raja.
Namun perkelahian itu berakhir sebaliknya. Akupun kemudian kehilangan pengamatan diri, sehingga tanpa aku sadari, laki-laki itu terbunuh oleh tanganku. Mula-mula aku merasa bhawa akibatnya tidak akan terlalu jauh. Aku akan berusaha meyakinkan, bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang diduga oleh banyak orang. Tetapi aku tidak mempunyai kesempatan.”

Untuk beberapa saat Panembahan Ismaya berhenti berceritera. Matanya yang memancar damai itu kemudian tampak sayu dan redup. Agaknya kenangan masa silam itu tidak begitu menyenangkan. Kemudian ia meneruskan. ”Ketika pertempuran itu berakhir beberapa orang sahabat Tumenggung itu mengangkat mayatnya pergi, sedang beberapa orang lain dengan pandangan yang aneh berkata kepadaku. ”Nah, Raden. Tuan sekarang berhak memiliki perempuan itu.”

Tentu saja aku terkejut. Karena itu aku jawab ”Aku tidak perlukan perempuan itu.”

Beberapa orang itu mencibirkan bibirnya. Kata salah seorang diantaranya . “Hm, agaknya tuan mau bermain-main saja dengan isteri orang. Tetapi kemudian tuan mengingkari kewajiban tuan.”

HAMPIR saja aku meloncat dan membunuh orang itu pula, kalau tidak tiba-tiba saja semua orang tegak memandang ke suatu arah dan hampir bersamaan membungkuk dengan hormatnya. Agaknya Baginda datang pula ke tempat itu. Pada saat itu keringat dingin telah mengaliri segenap tubuhku. Aku tidak tahu apakah sebenarnya maksud kedatangan baginda. Tetapi aku sudah menduga bahwa pasti ada hubungannya dengan perkelahian yang baru saja terjadi. Dan apa yang aku duga adalah benar. Baginda yang telah tampak sedemikian tuanya itu memandangku dengan sinar mata yang marah. Meskipun terdengar Baginda berkata-kata dengan sabar dan perlahan-lahan, namun bagiku setiap kata Baginda terdengar sebagai meledaknya guruh diatas kepalaku. Kata Baginda, ”Adikku… apakah yang terjadi adalah sama sekali diluar dugaanku. Aku bergembira bahwa salah seorang keluarga terdekatku sudi datang berkunjung kepadaku. Kepada orang yang sudah hampir dilupakan. Namun tiba-tiba kau membuat hatiku semakin parah karena kelakuanmu.”

Hampir menangis aku berjongkok di kaki Baginda. Dengan terputus-putus aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya tersimpan di dalam kepalaku.
Tetapi keteranganku itu agaknya terdengar aneh sekali. Meskipun Baginda tidak membantahnya, namun aku yakin bahwa Baginda sama sekali tidak percaya. Bahkan kemudian Baginda dengan berdiam diri meninggalkan tempat itu. Karena itulah aku menjadi semakin tersiksa. Tersiksa oleh berbagai perasaan yang menghujam hati.
Dengan terbunuhnya Tumenggung yang curang itu, menyebabkan gerombolannya semakin marah. Mereka kemudian tidak mau menunggu lebih lama lagi. Mereka menjadi takut kalau gerakan mereka akan segera diketahui. Disamping itu mereka agaknya takut pula kalau aku juga akan mengadakan gerakan untuk melawannya. Akhirnya terjadilah dimalam yang mengerikan itu. Beberapa orang prajurit kepercayaan raja mati terbunuh. Mereka disergap dengan tiba-tiba oleh gerombolan orang-orang tamak yang sudah hampir gila itu. Dalam keadaan yang demikian, sekali lagi aku kehilangan pengamatan diri. Kembali aku berbuat kesalahan. Bahwa aku tidak lebih dahulu menunggu perintah Baginda. Ketika aku mendengar keributan langsung aku menyerbu, melibatkan diri dalam perkelahian itu. Akibatnya, beberapa orang terbunuh. Orang-orang yang dengan sengaja ingin merebut harta kekayaan Baginda.
Namun agaknya apa yang aku lakukan itu tidak berkenan pula di hati Baginda. Bahkan beberapa orang dari pihak lain pun menyalahkan aku. Mereka takut kalau kepercayaan Baginda akan berkisar kepadaku. Sekali lagi Baginda berkata kepadaku dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Adikku Raden Buntara… aku tidak akan menyalahkan kau. Jiwa muda yang tersimpan didalam dadamu memang memerlukan penyaluran. Aku hanya ingin menunjukkan beberapa kenyataan kepadamu. Sebelum kau datang ke tempat ini pesanggrahanku yang terpencil ini, selalu diliputi oleh suasana damai. Tetapi dengan kehadiranmu di sini, keadaan menjadi lain. Terserahlah atas penilaianmu terhadap kenyataan itu.”

Aku menjadi semakin berduka atas pernyataan Baginda itu. Beberapa orang segera memencilkan aku seolah-olah akulah orangnya yang selalu membuat ribut. Satu-satunya sahabatku di tempat itu adalah jajar tua yang dapat mengetahui keadaan yang senyatanya. Ia melihat kenyataan yang sebenarnya. Dan hanya jajar tua itulah yang melihat, bahwa aku telah berjuang untuk keselamatan Baginda beserta rombongannya. Tetapi sekali lagi hatiku terluka.

Lebih parah dari luka-luka yang terdahulu. Pada suatu pagi aku ketemukan jajar tua, sahabatku itu terguling di tanah di depan pondoknya tanpa nyawa. Sebuah luka menggores di lehernya.

Pada saat itu darahku tiba-tiba mendidih. Hampir saja otakku tak dapat aku kendalikan lagi. Untunglah bahwa pengalaman pahit selama ini agaknya dapat mengekang segala tingkah lakuku. Dengan sedih aku mencoba untuk memberitahukan kematian itu kepada beberapa orang. Namun tak seorangpun menaruh perhatian kepada jajar tua yang dianggap sama sekali tak berarti itu. Bahkan karena ia benci kepadaku. Karena itu aku tak dapat berbuat lain daripada menguburkan mayat itu sendiri. Sendiri.

Dengan segala peristiwa yang sangat menyakitkan hati itulah kemudian aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu kembali ke Demak. Melaporkan apa yang sudah terjadi. Aku mengharap agar Sultan dapat menjernihkan suasana. Menjernihkan hubungan yang gelap antara aku dengan Baginda Brawijaya beserta orang-orang di sekitarnya.

Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak, beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

Dadaku hampir pecah mendengar tuduhan itu. Tetapi aku tidak dapat menyangkalnya. Satu-satunya orang yang mengetahui keadaan yang sebenarnya telah meninggal. Yaitu jajar tua yang bermuka jelek, namun berhati bersih sebersih air yang baru memancar dari sumbernya. Adapun nama dari jajar tua itu adalah Pasingsingan.”

Yang mendengarkan ceritera Panembahan Ismaya itu tersentak dalam duduknya. Mereka hampir bersamaan mengulangi nama itu. ”Pasingsingan.”

”Ya,” sahut Panembahan Ismaya. ”Jajar tua itulah yang sebenarnya bernama Pasingsingan. Aku pahatkan nama itu pada dinding-dinding hatiku.”

Mahesa Jenar, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

MAHESA JENAR, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Ketika aku sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk membersihkan namaku, maka aku menjadi sangat malu. Aku merasa bahwa wajahku tak patut lagi berada ditengah-tengah para satria Demak. Karena itulah maka akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari padanya. Mengasingkan diri di tempat yang jauh.”

Akhirnya aku menemukan suatu lembah yang pantas bagi tempat pengasinganku. Di lembah itulah akhirnya aku bertapa. Mencoba untuk mendapat imbangan dari segala perasaan yang menekan dadaku. Kalau kadang-kadang aku ingin melihat kesibukan manusia, aku datang ke desa-desa di sekitar lembah itu. Namun rasa-rasanya setiap orang muak memandang wajahku, sehingga akhirnya aku terpaksa mengenakan sebuah kedok. Demikianlah aku dengan prihatin hidup tidak sebagai manusia yang sewajarnya. Aku hidup benar-benar seperti seekor kelelawar. Yang muncul dalam saat-saat menusia tenggelam dalam mimpi. Bahkan akhirnya ada orang yang menyangka aku hantu. Hantu bertopeng dan berjubah abu-abu.

Namun demikian aku tetap percaya pada keadilan. Keadilan yang maha tinggi, yang terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku yakin, bahwa meskipun pada saat-saat itu aku seolah-olah hilang dari percaturan manusia, namun aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan kembali. Kembali ditengah-tengah pergaulan hidup. Meskipun bukan Buntara, tetapi setidak-tidaknya cita-citaku, berlanjut dari hidupku akan berada di tengah-tengah manusia dalam keadaan yang baik.

Akhirnya saat itu tiba. Ketika aku melihat seorang pemuda dalam perjalananku yang memang sering aku lakukan, beserta seorang anak laki-laki yang memiliki wajah yang cerah, tiba-tiba aku merasa bahwa padanya aku dapat menumpangkan harapan. Padanya aku ingin ikut serta dengan menyerahkan tekad untuk kembali berada di tengah manusia. Karena itulah aku selalu membayanginya. Kalau bukan aku sendiri, aku menyuruh Kanigara untuk mengikutinya. Apalagi ketika aku melihat, bahwa orang muda itu memiliki keturunan ilmu yang sama dengan Kanigara.

Demikianlah akhirnya aku berhasil membawa Mahesa Jenar ke bukit kecil yang aku namakan Karang Tumaritis beserta muridnya Arya Salaka. Aku ingin memberinya bekal-bekal dalam usahanya menjelang hari-harinya yang akan datang. Tidak saja Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi juga berbagai macam ilmu sekadarnya.

Tetapi agaknya otaknya terlalu jernih. Sehingga bersama-sama dengan Kanigara ia justru memaksa aku untuk mempercepat membuka diri. Untunglah bahwa segala sesuatunya bagiku sudah terasa matang. Sehingga meskipun aku dipaksa untuk membuka diri, tidak banyaklah pengaruhnya bagi semua rencana-rencana yang sudah aku siapkan.

Yang mendengar ceritera itu seolah-olah terpaksa menahan napasnya. Ternyata bahwa Panembahan Ismaya telah lama membayangi Mahesa Jenar. Teringatlah Mahesa Jenar, pada saat ia hampir kehilangan akal, ia telah dicegat oleh laki-laki berjubah abu-abu itu untuk meluruskan kembali jalannya.

Juga di pantai Tegal Arang, seseorang telah mengingatkan tekadnya untuk menemukan Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Dan orang itu agaknya bukan Panembahan Ismaya, tetapi Kebo Kanigara, dimana ia sempat menuntun Arya Salaka dalam beberapa hari untuk menjadikan anak itu bertambah masak. Tetapi ternyata Kebo Kanigara sendiri tidak mengerti keseluruhan dari tugasnya.

Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Dalam jarak yang cukup panjang, diantara masa-masa aku melenyapkan diri dari istana, sampai saat terakhir ini, banyaklah pengalaman yang aku jumpai. Bahkan terlalu banyak. Di dalam hidupku muncullah orang-orang seperti Umbaran, yang mula-mula aku sangka orang yang berhati baik, namun akhirnya, ternyata bahwa ia telah menambah hidupku menjadi semakin buruk.

Kemudian datanglah Radite dan Anggara. Kepadanya aku mula-mula menaruh harapan. Tetapi kembali Umbaran merusak jalan hidup mereka. Sehingga Radite akhirnya tergelincir dan mengalami masa-masa seperti yang pernah aku alami. Mengasingkan diri di Pudak Pungkuran ini. Untunglah bahwa ia menemukan ruang gerak yang dapat menolong kepahitan masa lampaunya. Juga kemudian aku jumpai Kanigara dengan gadis kecilnya. Aku bawa ia ke Karang Tumaritis. Tetapi agaknya ia lebih cinta pada anak gadisnya daripada masa depannya sendiri. Sehingga seolah-olah, seluruh hidupnya telah diserahkan buat hari kemudian anaknya.

Dan karena sifat kebapaan yang sedemikian dalamnya itulah, aku tidak sampai hati untuk memisahkannya dari anaknya, meskipun aku dapat menjamin masa depan anak itu. Karena itu, tugas yang aku bebankan padanyapun bukanlah tugas yang panjang-panjang. Sehingga ia akan selalu berada disamping gadis kecil yang sudah tak beribu lagi itu. Sehingga akhirnya aku dijumpai Mahesa Jenar beserta Arya Salaka. Meskipun dalam garis hubungan keluarga, ia tidak dekat Kanigara, namun karena ia berasal dari istana pula, maka aku mengharap agak banyak dari padanya. Mudah-mudahan Mahesa Jenar tidak akan menyia-nyiakan harapanku itu.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar merasa, suatu beban yang sangat berat terpikul di atas pundaknya. Beban yang masih samar-samar. Apakah yang harus ia lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan tua itu. Karena itu ia sambil membungkukkan kepalanya, bertanya kepadanya, ”Panembahan, apakah agaknya yang harus aku lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan itu?”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, ”Hampir setiap orang telah melupakan nama Buntara. Mereka yang sekali dua kali teringat nama itu, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia, akan mencibirkan bibir mereka. Tetapi itu tidak penting. Sebagaimana tekadku sejak masa mudaku, bagiku yang penting adalah keselamatan negeri diatas segala-galanya. Demikianlah hendaknya kau Mahesa Jenar. Adalah suatu kebetulan bahwa aku dapat menyimpan pusaka-pusaka yang hilang itu, yang justru akan dapat membantu membina kesejahteraan negara, dengan menyerahkannya kepada orang yang tepat. Nah, Mahesa Jenar, pekerjaan yang aku harap dapat kau lakukan, adalah mengadakan penilaian atas kedua keturunan yang sudah aku katakan kepadamu, kelak. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau hanya menjadi penonton saja, namun dalam saat-saat yang perlu, kau harus ikut pula.”

Dengan demikian segala sesuatu kini menjadi jelas, kenapa Panembahan Ismaya bernama Pasingsingan dan kenapa ia sangat menaruh perhatian atas tata pemerintahan Demak.

SETELAH orang tua itu menarik nafas panjang, ia mulai lagi berkata, ”Mahesa Jenar, ternyata kau telah melakukan pekerjaan itu. Bahkan apabila kelak ada seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, disuyudi oleh para kawula serta berjiwa seperti jiwa lautan, karena memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang akibatnya akan membawa kesejahteraan bagi tanah tumpah darah ini, sebagian adalah karena perjuanganmu. Perjuangan yang telah kau lakukan sejak lama. Perjuangan yang tak dikenal oleh siapapun. Sebab perjuangan yang kau lakukan adalah perjuangan yang khusus. Tetapi aku percaya akan kebesaran jiwamu. Meskipun namamu kelak tidak akan dipahatkan di batu-batu ataupun tertulis di lontar-lontar kitab babad, namun kaulah hakekat dari kemenangan itu.”

Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba bulu-bulu kuduk Mahesa Jenar meremang. Memang sejak semula ia sama sekali tidak bermimpi untuk mendapat tanda jasa di dadanya. Atau namanya digoreskan di pintu-pintu gerbang kota, serta di jalan-jalan raya. Yang diimpikan adalah kesejahteraan rakyat di bumi tercinta ini. Kesejahteraan lahir dan batin. Jasmaniah dan rohaniah.

Dalam pada itu, terdengar Panembahan Ismaya meneruskan, ”Karena itu Mahesa Jenar, sebagian besar dari pekerjaanmu itu sudah selesai. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sebab kedua pusaka itu sudah di tanganku. Sementara itu, kau dapat menyelesaikan pekerjaanmu yang lain. Kau telah berjanji kepada sahabatmu Ki Ageng Gajah Sora untuk menuntun anaknya. Nah, lakukanlah itu baik-baik. Bawalah anak itu pada suatu tugas yang besar. Memperoleh kembali tanah pusaka baginya. Sementara itu biarlah aku berusaha mendapatkan kembali kebebasan Gajah Sora itu.”

Kemudian ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang duduk di dalamnya sambil mengurai gagasan masing-masing. Sehingga kemudian suasana itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya dalam nada yang jauh berbeda dari semula. Katanya, ”Nah, Paniling, Darba dan kedua kemanakannya. Aku sudah selesai berceritera. Sekarang berilah aku kesempatan untuk mengenal desamu yang sepi ini.”

Mendengar kata-kata itu Paniling seperti orang yang terbangun dari mimpi yang mengasyikkan. Dengan tergagap ia menjawab, ”Baik, baiklah Guru.”

”Jangan panggil aku Guru. Di sini aku adalah kakakmu,” potong Panembahan Ismaya. ”Namaku….” ia berhenti mengingat-ingat, lalu lanjutnya, ”Siapakah kau akan menyebut diriku kalau tetangga-tetanggamu bertanya namaku?”

Paniling tidak segera menjawab. Ia tidak tahu, nama apakah yang baik diterapkan pada orang yang menyebut dirinya kakaknya itu.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, ”Among Raga.”

Panembahan Ismaya tertawa, jawabnya, ”Ah, seolah-olah aku hanya mementingkan masalah-mnasalah jasmaniah belaka. Tetapi nama itu baik. Memang kau pandai mencari nama. Baiklah aku pakai nama itu di sini, meskipun isi kata itu sendiri tidak begitu mapan bagiku.”

Kanigara sadar, bahwa memang nama itu tidak begitu menyenangkan, namun ia masih juga membela diri. ”Tetapi Panembahan, bukankah nama itu akan menjadi aling-aling dari keadaan Paman yang sesungguhnya. Bukankah di sini Panembahan ingin menampakkan diri dalam ujud jasmaniahnya saja, tetapi bukan dalam ujud keseluruhan.”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, ”Baiklah, aku tidak keberatan.”

Demikianlah, untuk sehari-dua Panembahan Ismaya tinggal di rumah muridnya. Ia mencoba memenuhi harapan tetangga-tetangga Paniling, untuk sekali dua kali berkunjung ke rumah mereka berganti-ganti. Dengan penuh kesederhanaan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bergaul dengan mereka.

Meskipun demikian, apabila malam datang, serta pondok di ujung padukuhan itu telah menutup pintunya, selalu terjadilah pembicaraan-pembicaraan yang jauh berbeda dengan setiap pembicaraan yang sederhana dengan para tetangga mereka. Tetapi di belakang pintu tertutup itu, Panembahan Ismaya selalu memberi kepada keempat orang yang terdekat dari padanya itu berbagai ilmu dan pengetahuan. Lahir dan batin. Bahkan diceriterakan pula bagaimana ia memiliki segala macam kesaktian. Memang sejak masa mudanya, ia selalu berusaha untuk mendapatkan berbagai macam ilmu.
Sebab dalam kekisruhan yang terjadi, pada akhir kejayaan Majapahit, ia selalu mengira bahwa dengan kekuatan jasmaniah kejayaan itu dapat dibina kembali.

Karena itulah ia mencoba untuk mendapatkan kekuatan-kekuatan itu. Setelah ia terpaksa meninggalkan lingkungan kesatriaan, usaha itu semakin diperdalam. Namun jiwanya telah berbeda. Ia ingin menemukan segala bentuk kekuatan untuk mencapai tujuan. Panembahan tua itu mengakui, bahwa mula-mula memang dikandung maksud untuk menunjukkan kebersihan dirinya dengan kekuatan. Ia ingin membuat hal yang aneh-aneh dengan memaksa orang untuk berlutut di hadapannya. Dan kepada orang-orang itu ia akan memaksakan kehendaknya.

Meskipun dasar kehendak itu selalu baik dan bermanfaat bagi beberapa orang, namun cara-cara dan sifat kepahlawanan cengeng itu akhirnya tidak memberinya kepuasan. Dan akhirnya maksud-maksud itu sama sekali diurungkan. Bahkan semakin banyak ilmu yang dihirupnya, semakin jauhlah ia dari sifat-sifat itu.

Dan akhirnya malahan ia membawa dirinya dengan luka-luka di hati untuk mengasingkan diri di lembah yang jauh dari lingkungan manusia. Di situlah ia menerima Umbaran sebagai muridnya, tetapi orang itu kemudian dimintanya meninggalkan tempat itu.

BEBERAPA tahun kemudian datanglah Radite dan Anggara. Sehingga suatu saat, ia merasa bahwa ilmu-ilmu yang pernah dicapainya itu tak akan berarti apa-apa bagi manusia apabila tidak diamalkan. Dengan demikian ia mengharap Radite untuk mewakilinya dengan topeng dan jubah abu-abu. Dengan mempergunakan nama Pasingsingan, mulailah Radite mengamalkan ilmunya. Sedang Anggara untuk sementara dimintainya memelihara pertapaannya selama ia melenyapkan diri dari kedua muridnya untuk menyaksikan hasil pengamalannya dari jarak yang cukup jauh. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Radite kemudian tergelincir.

”Bagimu Mahesa Jenar…” akhirnya Panembahan Ismaya minta, ”Jadikanlah semua itu bekal bagimu.”

Demikianlah yang mereka lakukan dari hari ke hari. Bergaul dengan para petani disiang hari, dan menambah bekal hidup mereka di malam hari. Sehingga akhirnya, ketika Panembahan Ismaya memandang segala sesuatunya telah cukup, maka setelah ia bermohon diri kepada para tetangga, pergilah ia meninggalkan padukuhan Pudak Pungkuran mendahului Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, setelah ia berpesan kepada Radite. ”Radite, seseorang yang membiarkan kejahatan berlangsung tanpa berusaha untuk menghalang-halangi maka orang yang demikian itu dapat dianggap telah ikut membantu berlangsungnya kejahatan.”

Mula-mula Radite tidak mengerti maksud pesan itu. Tetapi beberapa waktu kemudian barulah ia sadar, bahwa ia sama sekali tidak berbuat sesuatu terhadap saudara seperguruannya yang terang-terangan telah melakukan berbagai kejahatan. Yaitu Umbaran. Karena itu, tiba-tiba ia merasa bahwa gurunya telah memaafkan segala kesalahannya, bahkan mempercayakan kepadanya, untuk menghentikan segala kejahatan yang selalu dilakukan oleh Umbaran dengan nama Pasingsingan. Hidup atau mati. Dengan demikian tiba-tiba beban yang selama ini menghimpit hatinya, seolah-olah berguguran, rontok tanpa bekas. Terasalah kemudian betapa ringan perasaannya kini. Dan dengan penuh tekad ia berjanji, bahwa ia akan melakukan pesan itu sebaik-baiknya.

Beberapa hari kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera mohon diri pula, kembali ke Karang Tumaritis. Kebo Kanigara telah merasa sedemikian rindunya kepada putrinya yang ditinggalkannya beberapa hari, sedang Mahesa Jenar pun ingin segera menemui muridnya untuk mengajaknya memulai dengan suatu tugas yang berat, kembali ke Banyubiru.

Dalam perjalanan pulang, Mahesa Jenar dan kebo Kanigara memerlukan singgah sebentar di kota Banyubiru. Ketika malam turun perlahan-lahan di lereng-lereng bukit Telamaya, mereka berdua menambatkan kuda mereka agak jauh di luar kota. Dengan berjalan kaki mereka menyusuri jalan-jalan kota. Satu-dua masih tampak pintu rumah yang terbuka. Lampu minyak yang suram melemparkan cahanyanya berpencaran menusuk gelap malam. Bahkan di belakang regol halaman yang masih ternganga, masih tampak beberapa orang laki-laki duduk-duduk sambil bercakap-cakap.

Banyubiru dalam penglihatan Mahesa Jenar tidak banyak mengalami perubahan. Jalan-jalan yang itu-itu juga menjalar dari satu ujung ke ujung yang lain. Bangunan-bangunan tidak banyak bertambah, bahkan beberapa banjar tampak tak terpelihara. Tempat-tempat ibadah pun agaknya menjadi bertambah suram. Tetapi ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di ujung jalan kota, mereka terkejut ketika mereka melihat obor terpancang di tengah-tengah lapangan. seperangkat gamelan telah siap pula di tempat itu. Beberapa orang telah mulai ramai mengerumuninya.

Dengan penuh keinginan untuk mengetahui, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendekati lapangan itu. Kepada seorang anak yang lewat di sampingnya, Mahesa Jenar bertanya, ”Apakah Banyubiru sedang ada perayaan?”

Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan heran. Kemudian anak itu malah ganti bertanya, ”Apakah Bapak bukan penduduk Banyubiru…?”

Mahesa Jenar ragu sebentar. Tetapi ia harus menjawab agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena itu katanya, Bukan, Nak. Aku bukan penduduk Banyubiru. Aku datang dari Pangrantunan.”

”Pangrantunan…?” Anak itu tiba-tiba terkejut.

Kembali Mahesa Jenar ragu. Namun ia mengangguk. ”Ya, kenapa…?”

”Tidak apa-apa,” jawab anak itu. ”Beberapa hari yang lalu beberapa orang Pangrantunan juga datang kemari. Mereka adalah saudara-saudara ibuku. Menurut paman-paman itu, Pangrantunan sekarang kembali kacau. Mereka ketakutan karena Simarodra tua sering mengunjungi pedukuhan itu. Apakah betul demikian…? Dan apakah betul Simarodra tua itu menuntut lebih banyak dari Simarodra dahulu?”

”Betul, Nak…” jawab Mahesa Jenar sekenanya, namun karena itu ia ingin lebih banyak tahu. Karena itu ia bertanya, ”Siapakah pamanmu itu? Dan apakah yang dilakukan di sini…?”

”Pamanku bernama Reksadipa. Ia datang untuk melaporkannya kepada Ki Ageng Lembu Sora,” jawab anak itu.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sahutnya, ”Hem… jadi kau kemenakan Kakang Reksadipa.” Kemudian Mahesa Jenar berhenti sebentar. ”Lalu apa katanya ketika ia kembali ke Pangrantunan?”

ANAK itu menjawab, ”Tidak apa-apa. Tetapi Paman mengeluh. Katanya Ki Ageng Lembu Sora sedang akan mempertimbangkan. Tetapi itu tidak bijaksana. Sebab menurut Paman, keadaan sudah sangat gawat. Dan rakyat pangrantunan sendiri tidak mampu untuk melawan mereka, meskipun rakyat Pangrantunan tidak takut.”

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Memang letak Pangrantunan yang seolah-olah berhadapan dengan Gunung Tidar itu sangat tidak menguntungkan. Tetapi menghadapi hal sedemikian tidakkah Ki Ageng Lembu Sora Dipayana dapat berbuat sesuatu…? Namun kepada anak itu sudah pasti Mahesa Jenar tidak bertanya demikian. Karena itu ia bertanya tentang obor dan gamelan yang sudah siap di lapangan itu. Katanya, ”Nak, ada apakah dengan keramaian itu?”

”Itu bukan keramaian,” jawabnya. ”Dahulu Paman Reksadipa juga bertanya demikian. Gamelan itu memang setiap hari berada di sana. Orang-orang sekarang sedang bersenang senang karena panenan kemarin meskipun tidak memuaskan. Mereka setiap malam mengadakan tayub di lapangan itu.”

”Di lapangan terbuka…? Tiba-tiba Mahesa Jenar menyela.

”Ya,” jawab anak itu. ”Setiap orang boleh ikut. Kalau siang mereka mengadu ayam. Juga di tempat itu.”

”O….” Tiba-tiba Mahesa Jenar mengeluh. Alangkah jauh kemunduran yang dialami oleh tanah perdikan ini.

Meskipun Kanigara tidak mengerti seluruh persoalan yang berputar di dalam kepala Mahesa Jenar, namun sedikit banyak ia pun mengerti. Tayub setiap malam dan mengadu ayam setiap hari adalah gejala-gejala kehancuran suatu daerah.

Ketika beberapa lama Mahesa Jenar berdiam diri, berkatalah anak itu, ”Sudahlah Paman, aku akan pulang. Hari telah malam.”

Anak itu tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar. Demikian ia selesai berbicara segera ia menghambur ke dalam gelap. Di kelokan jalan, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih melihat anak itu singgah di sebuah warung untuk membeli sesuatu.

”Itulah Kakang… gambaran Banyubiru saat ini. Suram dan mengerikan. Menyabung ayam di siang hari dan tuak di malam hari,” kata Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara.

”Kesalahan yang tak boleh dibiarkan lebih lama lagi,” jawab Kebo Kanigara.

Kemudian kedua orang itu bersepakat untuk menyaksikan tari tayub yang sebentar lagi akan diselenggarakan di lapangan itu.

Demikianlah, ketika hari menjadi semakin gelap, di tanah lapang itu menjadi semakin banyak orang. Beberapa orang niyaga pun telah bersiap di belakang seperangkat gamelan. Sehingga sesaat kemudian suara gamelan telah mulai mengalun, menggoncang kesepian malam, yang kemudian disusul dengan suara waranggana memanjat tinggi. Namun terasalah bahwa suasananya bukanlah suasana yang sopan.

Sebentar kemudian ternyata bahwa memang demikianlah yang terjadi. Beberapa orang lelaki segera muncul di gelanggang. Menari dan berdendang. Sedang dari mulut mereka menyebar bau tuak. Disusul dengan munculnya beberapa orang ledek di tengah-tengah arena itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara duduk tidak seberapa jauh dari tempat itu. Namun mereka mencari tempat yang gelap, dimana cahaya obor tidak menyentuhnya, karena bayang-bayang beberapa orang yang berdiri menonton.

Ketika malam menjadi semakin dalam, suasana di tengah tanah lapang itu pun menjadi semakin riuh. Beberapa orang telah menjadi pening karena mabok. Bahkan beberapa orang telah kehilangan kesadaran dan berbuat hal-hal yang aneh-aneh di arena itu. Beberapa penari wanita yang telah terlatih melayani mereka dengan baiknya, sehingga suasana di arena itu betul-betul menjadi suasana gila-gilaan.

Dalam keadaan yang demikian tidak mustahil kalau sampai terjadi bentrokan-bentrokan dan perkelahian-perkelahian diantara mereka, karena mereka telah kehilangan pengamatan diri.

Di tepi arena, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat beberapa orang yang sibuk berjualan. Apa saja yang dapat mereka jual. Makanan, minuman dan tembakau. Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada suasana yang berlangsung di sekitarnya. Yang penting bagi mereka adalah bahwa dagangan mereka laku, dan mereka mendapat uang sebanyak-banyaknya. Para penjual yang terdiri laki-laki dan perempuan, menghanyutkan diri saja dengan keadaan. Bersenda-gurau, berteriak-teriak melayani orang-orang mabok atau kelelahan. Namun orang itu tak sempat menghitung lagi berapa uang yang harus mereka bayarkan. Asal mereka menggenggam uang logam, mereka lemparkan begitu saja kepada penjualnya, perempuan-perempuan muda yang merajuk dengan manjanya.

Tetapi tiba-tiba mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sempat melihat seorang perempuan yang berdiri tegak agak di kejauhan. Nampaknya ia ragu-ragu untuk mendekati tempat itu. Tetapi kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju. Ketika ia menjadi semakin dekat, dan seleret sinar lampu para penjual menyambar wajahnya, tampaklah bahwa perempuan itu memiliki ciri-ciri yang lain dari setiap perempuan yang berada di tanah lapang itu. Wajahnya yang sayu pucat dan tubuhnya yang kekurus-kurusan, seolah-olah mencerminkan perasaannya yang sedih.

Ketika beberapa orang melihatnya, segera mereka melemparkan pandangan mata mereka. Tetapi ada juga orang yang dengan nada mengejek berteriak, ”Marilah Nyai. Apakah yang kau cari…?”

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi segera matanya memandang berkeliling, kepada hampir semua orang yang berdiri di sekitar arena itu. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang diantara wajah-wajah itu.

”Anakmu tidak berada di sini, Nyai,” teriak salah seorang, yang kemudian disusul dengan gelak tawa.
”Carilah anak itu di tengah rimba,” sambung suara yang lain. ”Mungkin ia berada bersama bapaknya.” Kembali terdengar suara bergelak-gelak.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: