Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 13

Lanjutan dari jilid 12

HANYA dalam waktu kira-kira lima tahun saja, sejak pertemuan mereka di Rawa Pening, kemampuan Mahesa Jenar telah sedemikian jauh menanjak. Pada saat itu, Mahesa Jenar berlima, melawan Pasingsingan dan Sima Rodra tua berdua, seolah-olah merupakan lima ekor tikus sakit-sakitan melawan dua ekor kuncing yang garang. Sekarang tiba-tiba salah seekor tikus itu telah berubah menjadi serigala, yang sedang menerkam salah seekor kucing yang garang itu.

Tetapi Pasingsingan adalah seorang yang telah kenyang makan garam sehingga segera dapat mengendalikan dirinya. Kini ia benar-benar menghadapi keadaan yang cukup berbahaya. Dengan benturan yang terjadi, Pasingsingan segera dapat mengetahui, bahwa Mahesa Jenar benar-benar memiliki bekal yang cukup untuk merasa dapat melawannya. Tetapi yang masih perlu diuji, apakah Mahesa Jenar dapat mempergunakan kekuatannya itu untuk melawan ketangkasan, ketangguhan dan kelincahan hantu bertopeng itu.

Karena itu, setelah beberapa lama Pasingsingan berdiri tegak mengawasi Mahesa Jenar, terdengarlah suaranya menggeram, “Mahesa Jenar, agaknya kau telah mendapat tenaga dari hantu penjaga Rawa Pening itu. Dan karena itulah kau merasa mampu untuk bertempur seorang lawan seorang dengan Pasingsingan. Setelah kau membual dengan ceritera tentang Pasingsingan yang berbelit-belit itu, sekarang kau benar-benar ingin mengadu tenaga. Mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Tetapi kau jangan merasa gembira, karena kau berhasil mendorong aku mundur beberapa langkah. Tetapi kini aku akan maju lagi, dan tak seorangpun dapat mencegahnya.”

Mahesa Jenar kini melihat, bahwa Pasingsingan telah memutuskan untuk bertempur dengan sepenuh tenaganya. Karena itu iapun segera bersiap. Dengan penuh kewaspadaan Mahesa Jenar mengikuti setiap gerakan Pasingsingan, meskipun sepintas lalu ia masih sempat untuk mengerling kepada kawan-kawannya. Ternyata, ketika serangan Gelap Ngampar itu terputus sebelum sampai ke puncaknya, pengaruhnyapun terputus pula. Dengan demikian, meskipun perlahan-lahan, namun mereka yang dikenai oleh aji itupun terbebas pula. Mantingan, Wilis, Arya, Widuri, Wirasaba dan bahkan Jaladri, perlahan-lahan dapat menemukan kesadaran serta kekuatan mereka kembali. Mereka kini sudah tidak menggigil lagi, meskipun terasa dada mereka masih bergetar dan jantung mereka masih berdegupan.

Mantingan, Wilis Arya, Widuri dan Wirasaba telah mulai dapat melihat apa yang telah terjadi di hadapan mereka. Mereka mulai bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi seterusnya. Yang paling cemas diantara mereka adalah Mantingan. Meskipun tangannya masih gemetar, namun ia telah mencoba menggenggam trisulanya erat-erat.

Sementara itu Pasingsinganpun telah bersiap sepenuhnya. Dengan menggeram ia melompat menyerang Mahesa Jenar. Tidak dengan sikap acuh tak acuh, tetapi kini ia benar-benar bertempur untuk segera dapat membinasakan lawannya. Namun Mahesa Jenar pun telah bersiap. Ia telah mengalami, meskipun mulanya tidak bersungguh-sungguh, namun akhirnya ia harus berjuang sekuat-kuatnya, pada saat ia harus bertempur melawan Anggara. Meskipun perkembangan ilmunya kemudian berbeda, namun Anggara dan Umbaran telah menghisap ilmunya dari sumber yang sama. Sehingga dengan demikian, masih nampak juga persamaannya, apabila salah seorang dari mereka itu tidak sengaja untuk menyembunyikan diri dalam gerak-gerak lain yang diciptakannya kemudian.

Demikianlah maka sesaat kemudian berkobarlah perang tanding yang maha dahsyat. Pasingsingan yang telah menggemparkan tlatah Demak dengan perbuatan-perbuatannya yang mengerikan, baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilakukan oleh muridnya, melawan seorang yang telah berhasil menekuni ilmunya sampai ke intinya. Meskipun Pasingsingan jauh lebih dahulu dari Mahesa Jenar, namun ternyata dengan satu loncatan, Mahesa Jenar telah berhasil menjusulnya. Serangan-serangan Mahesa Jenar ternyata sama sekali tidak kalah berbahayanya dari serangan-serangan hantu berjubah itu. Sekali-kali terjadilah benturan-benturan yang keras. Dan dalam keadaan yang demikian itulah, Mahesa Jenar menjadi semakin yakin pada dirinya, bahwa Pasingsingan bukanlah hantu yang menakutkan dan tak dapat dikalahkan. Pasingsingan semakin lama menjadi semakin terbakar hatinya.

Kalau semula ia baru dapat mengukur kekuatan Mahesa Jenar, namun kemudian ia terpaksa melihat kenyataan, bahwa Mahesa Jenar tidak saja bertambah kuat lahir dan batin, namun iapun mampu pula mempergunakan kekuatannya itu sebaik-baiknya.

Sebagai seorang murid Pasingsingan tua, Pasingsingan itu telah mendengar dan mendapat petunjuk-petunjuk tentang bermacam-macam perguruan. Juga perguruan Pengging yang terkenal. Kini ia harus mengalami betapa salah seorang murid dari Pengging itu telah mampu melawannya. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Pasingsingan menjadi semakin heran melihat keterampilan lawannya. Tetapi karena itu pula ia merasa seakan-akan dirinya dihadapkan pada suatu ujian, apakah ia masih berhak memakai gelar Pasingsingan untuk seterusnya. Disamping kenyataan itu, di dalam dadanya bergolak pula berbagai pertanyaan tentang Mahesa Jenar. Dari manakah ia pernah mendengar cerita tentang Pasingsingan tua, tentang Radite, Anggara dan Umbaran…? Darimana pula ia mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya kini adalah Pasingsingan yang sebenarnya tidak berhak memakai tanda-tanda kekhususannya…?

Pasingsingan itupun kemudian menjadi cemas bahwa sebenarnya rahasia tentang dirinya telah terbuka. Bahkan kemudian ia menduga bahwa Radite atau Anggara-lah yang sengaja mengabarkan tentang rahasia itu. Tetapi apakah Mahesa Jenar pernah bertemu dengan mereka berdua?

Tiba-tiba kemarahan Pasingsingan menjadi semakin berkobar-kobar di dalam dadanya. Orang yang dapat berceritera tentang Pasingsingan ini harus dimusnahkan, supaya rahasia itu dibawanya mati.

PASINGSINGAN bertempur semakin dahsyat. Jubahnya berkibar-kibar di belakang punggungnya seperti sayap. Di dalam kelam, tampaklah Pasingsingan seperti kelelawar raksasa yang terbang menyambar-nyambar dengan jarinya yang berkembang mengerikan.

Tetapi lawannya adalah seekor banteng yang tangguh. Semakin banyak peluh mengalir dari tubuh Mahesa Jenar, semakin segarlah tubuhnya. Bahkan kemudian ia pun bertempur semakin tangguh.

Ketika Pasingsingan menyerangnya semakin dahsyat, Mahesa Jenar pun bertempur benar-benar seperti banteng ketaton. Dalam keadaan yang berbahaya sedemikian itu, Pasingsingan tidak sempat untuk meneliti gerakannya sendiri satu demi satu, seperti pada saat Anggara bertempur melawannya. Karena itu semakin lama, gerak-gerak mereka berdua, Umbaran yang berjubah Pasingsingan dan Anggara, menjadi semakin rapat persamaannya. Dengan demikian Mahesa Jenar dapat mengenal gerak-gerak itu kembali, yang khusus dapat dilihatnya dalam gerakan-gerakan pertahanan yang rapat, meskipun apa yang dilakukan oleh Pasingsingan ini tampak lebih kasar. Bahkan sekali-kali Mahesa Jenar ingin mempengaruhi pikiran lawannya. Meskipun tidak sempurna, namun dalam saat-saat yang sedemikian bersahaja, Mahesa Jenar mencoba-coba menirukan gerak-gerak itu. Bahkan gerak-gerak yang belum dilakukan oleh Pasingsingan.

Melihat gerak-gerak khusus Pasingsingan itu dapat pula dilakukan oleh Mahesa Jenar, meskipun tidak sempurna, Pasingsingan menjadi semakin heran dan gelisah. Karena itu Pasingsingan memastikan bahwa Mahesa Jenar pernah bertemu dengan Radite atau Anggara. Dengan demikian ia yakin pula bahwa rahasianya benar-benar telah diketahui oleh lawannya itu. Dalam pada itu, Pasingsingan mengumpat pula di dalam hati. Bahwa dengan demikian Radite tidak memegang janjinya. Orang itu telah berjanji pada saat tukar-menukar antara tanda kekhususan serta pusaka-pusaka Pasingsingan dengan gadis yang memintanya, terjadi beberapa puluh tahun yang lalu.

Tetapi apapun yang dilakukan, Pasingsingan tidak berhasil untuk menguasai lawannya. Jangankan membunuhnya, menyentuhnya pun semakin lama menjadi semakin sulit. Dalam tingkatan ilmu yang seimbang, Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan. Umurnya yang jauh lebih muda, sehingga pembawaan kodrat alamiah telah menolongnya. Kalau semula Mahesa Jenar sama sekali tidak berdaya melawan orang-orang tua adalah karena tingkat ilmu jaya kawijayan guna kasantikan orang-orang tua itu jauh lebih melampaui ilmunya. Tetapi sekarang apa yang telah dicapainya tidak kurang dari apa yang dimiliki oleh Umbaran. Dengan demikian, pada umurnya itu, ia memiliki kemenangan-kemenangan. Hal ini pun dirasakan oleh Pasingsingan. Nafas Mahesa Jenar yang dapat diaturnya dengan baik itu semakin lama tampak semakin mapan dan teratur. Ketenangannya mengamati setiap persoalan dan kesulitan, kecerahan otaknya dalam mengurai setiap masalah, telah menuntunnya sedikit demi sedikit pada keadaan yang lebih baik dari lawannya.

Sekali lagi Pasingsingan mengumpat di dalam hati. Ia pun merasakan betapa Mahesa Jenar berhasil mendesaknya perlahan-lahan. Sebagai seorang yang merasa dirinya tak terlawan, hatinya menjadi panas bukan main. Apalagi mengingat gelar yang harus dipertahankan mati-matian. Pusaka-pusaka serta ciri-ciri kekhususan Pasingsingan. Kalau oleh Mahesa Jenar ia sudah dapat dikalahkan, lalu apakah haknya untuk tetap menjadi orang yang ditakuti…? Lebih-lebih lagi apabila orang-orang seperti Pandan Alas, Sora Dipajana, Titis Anganten sampai mengenalnya, bahwa bukan dirinyalah Pasingsingan yang pernah bersahabat dengan mereka itu. Maka ia akan semakin banyak menemui kesulitan dalam usahanya untuk menguasai Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab dengan nama Pasingsingan, orang tua itu merasa segan-segan pula bertindak terhadapnya, yang disangkanya Pasingsingan sahabat mereka puluhan tahun yang lampau. Seperti apa yang dilakukan oleh Pandan Alas di alun-alun Banyubiru, yang masih memperlakukannya sebagai sahabatnya. Tetapi tiba-tiba ia teringat, apa yang pernah dialaminya di Rawa Pening.

Ketika ia sudah siap membunuh Mahesa Jenar dengan keempat kawannya, muncullah dua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar dan memberinya pertolongan. Beberapa bulan ia mencoba memecahkan teka teki itu. Namun akhirnya, ketika orang-orang itu sudah tidak pernah dijumpainya lagi, ia menjadi lupa kepada mereka. Tetapi sekarang tiba-tiba bayangan kedua orang itu muncul kembali.

Kalau demikian, kedua orang itu pasti telah menemui Mahesa Jenar dan berceritera tentang dirinya. Ya. Ia pasti sekarang. Orang yang dapat mengalahkannya dengan begitu mudah, orang dapat membebaskan diri dari pengaruh ilmunya Alas Kobar. Orang itu tidak dapat lain daripada Radite dan Anggara.

“Gila!” teriak Pasingsingan tiba-tiba. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Tetapi ia bertempur terus. Serangan-serangannya semakin lama semakin deras seperti hujan yang tercurah dari langit disertai prahara yang bergulung-gulung mengerikan. Pasingsingan akhirnya tidak mau lagi membiarkan dirinya digilas oleh anak-anak yang baru tumbuh. Tiba-tiba ia tidak ragu lagi mengendalikan kemarahannya sehingga ia tidak segan-segan untuk membakar lawannya dengan ilmunya yang dahsyat, Alas Kobar. Sementara itu, Mantingan, Rara Wilis, Arya Salaka, Endang Widuri, Wirasaba dan Jaladri telah hampir sembuh kembali dari akibat serangan Gelap Ngampar, meskipun dada mereka seakan-akan masih terasa berderak-derak. Namun mereka telah dapat berdiri tegak dan dengan penuh kesadaran telah dapat mengikuti pertempuran yang terjadi antara Pasingsingan melawan Mahesa Jenar.

MANTINGAN yang sama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar telah dapat mencapai tingkatan yang sedemikian tinggi dalam waktu singkat, mula-mula tidak percaya pada penglihatannya, tetapi ketika kemudian ia melihat betapa orang berjubah abu-abu itu telah berjuang sedemikian lama dan sungguh-sungguh, tahulah ia bahwa Mahesa Jenar benar-benar tidak sedang bunuh diri. Karena itulah ia menjadi berbangga hati.

Kalau semula pada saat Mantingan melihat Rara Wilis, Arya Salaka dan Endang Widuri turut serta melawan anak buah Lawa Ijo, ia telah berbangga hati, lebih-lebih ketika ia terpaku pada suatu kenyataan bahwa Arya Salaka mampu melawan Lawa Ijo dan membebaskan dirinya dari pengaruh serangan panas yang luar biasa dari kelelawar Alas Mentaok itu, kini ia tidak tahu lagi perasaan apa yang berkobar didalam dadanya. Sebagai seorang sahabat yang sejak semula telah mengagumi Mahesa Jenar, ia kini benar-benar bersyukur bahwa sahabatnya itu telah berhasil menempa dirinya menjadi orang yang luar biasa.

Mantingan bersyukur bahwa Mahesa Jenar telah berhasil dalam pembajaan diri itu. Sebab ia tahu pasti, bahwa hasil dari pembajaan diri itu ia akan dilimpahkan di dalam suatu pengalaman kemanusiaan, pengalaman pada tumpah darah. Ia tahu pasti bahwa Yang Maha Kuasa telah merestui sahabatnya itu dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan.

Sedang Wirasaba seperti orang yang terpesona. Ia berdiri dengan mulut ternganga. Beberapa tahun yang lalu, hatinya telah digemparkan oleh suatu kenyataan, bahwa Mahesa Jenar mempu menghancurkan sebuah batu hitam dengan tangannya, sedang kapak raksasanya hanya mampu melukai batu itu tidak lebih dari sejengkal. Sekarang ia melihat Mahesa Jenar itu bertempur, yang menurut penglihatannya sangat ruwet.

Wirasaba tidak tahu bagaimana orang dapat bertempur sampai sedemikian. Gerak mereka kadang-kadang seperti singgat. Melenting berloncatan. Kadang-kadang seperti dua ekor burung yang menggelepar dengan kerasnya untuk kemudian seperti seekor harimau menerkam. Tetapi kemudian Pasingsingan itu terlontar kembali karena yang diterkamnya benar-benar mirip seekor banteng jarig melemparkan lawannya dengan tanduk-tanduknya yang kokoh kuat.

Arya Salaka pun terpaku di tempatnya. Sekarang ia benar-benar yakin bahwa gurunya benar-benar orang luar biasa. Namun dalam pada itu menjalar pula hatinya hasrat yang semakin kuat untuk menghisap ilmu sekuat-kuat tenaganya. Ia tahu benar bahwa gurunya itu telah bekerja keras untuknya, melampaui yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Gurunya itu telah mengasihinya seperti anak sendiri. Bahkan bersedia mati pula untuknya.

Karena itu Arya Salaka berjanji di dalam dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan mengecewakan orang itu, dan sekaligus ia akan dapat berbangga diri kepada ayahnya kelak. Berbangga tentang dirinya sendiri, dan berbangga tentang gurunya. Sebab ia tahu bahwa ayahnya telah menyerahkan kedalam asuhan Mahesa Jenar.

Dalam pada itu Endang Widuri sudah mulai tertawa-tawa pula setelah pengaruh Gelap Ngampar lenyap dari dadanya, meskipun ia masih agak pucat. Ia melihat Mahesa Jenar itu seperti melihat ayahnya. Ia menjadi heran, kenapa Mahesa Jenar itu dalam hampir setiap geraknya mirip benar seperti ayahnya. Kalau ayahnya dapat bertempur seperti batu karang yang tak bergerak oleh badai yang bagaimanapun dahsyat, Mahesa Jenar pun kadang-kadang berlaku demikian.

Tetapi kadang-kadang melihat lawannya seperti banjir bandang tanpa dapat dihalangi oleh kekuatan apapun. Pada saat yang lain seperti juga ayahnya Mahesa Jenar mengurung lawannya seperti angin prahara. Meskipun ia hanya melihat ayahnya bertempur dalam latihan-latihan dengan dirinya, dengan Putut Karang Tunggal yang sebenarnya bernama Karebet, namun ia melihat betapa Mahesa Jenar itu memiliki kemampuan yang mirip benar dalam setiap gerak-geriknya.

Tetapi gadis kecil ini tidak tahu bahwa Mahesa Jenar dan ayahnya, Kebo Kanigara, meneguk air dari sumber yang sama. Dan bahwa kedua-duanya telah menguasai ilmunya dengan sempurna, meskipun Kebo Kanigara sedikit lebih mengendap daripada Mahesa Jenar.

Orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana menilai pertempuran itu adalah Jaladri. Bahkan ia menjadi pening, dan karena itu ia lebih senang menenangkan dirinya daripada bersusah payah mengikuti perang tanding yang tak kenal ujung pangkalnya itu.

Berbeda dengan perasaan mereka adalah Rara Wilis. Ia mempunyai kesan tersendiri dari pertempuran itu. Ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, iapun menjadi semakin cemas. Meskipun kemudian ia merasa, bahwa Mahesa Jenar memiliki kemampuan yang cukup untuk mengimbangi kekuatan iblis berjubah abu-abu itu, namun setiap serangan Pasingsingan dirasanya seperti serangan pada dirinya sendiri. Setiap sentuhan yang mengenai tubuh Mahesa Jenar, seolah-olah kulitnyalah yang terluka.

RARA WILIS tiba-tiba menjadi cemas, jauh lebih cemas daripada ia sendiri yang bertempur. Ia sama sekali tidak rela kalau laki-laki itu sampai dapat disinggung oleh lawannya. Ia tidak rela kalau laki-laki itu sampai terluka.

Ketika Wilis sadar akan perasaannya itu, tiba-tiba warna merah membersit ke pipinya. Ia merasa malu sendiri, meskipun ia yakin bahwa tak seorangpun yang memperhatikannya. Tetapi seolah-olah setiap ujung daun-daun pepohonan di sekitarnya itu tersenyum melihat warna hatinya. Seolah-olah desir angin yang lewat di belakangnya berbisik di telinganya, “Jangan cemas Rara Wilis, kau tidak akan kehilangan laki-laki itu.”

Tiba-tiba Rara Wilis menundukkan wajahnya dengan tersipu-sipu. Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba arena itu dikejutkan oleh sebuah teriakan nyaring yang terlontar dari belakang topeng kasar Pasingsingan.

Bersamaan dengan itu memancarlah udara panas ke segenap penjuru. Ke arah mereka yang sedang terpesona menyaksikan pertempuran itu, sehingga tanpa mereka sengaja, segera mereka berloncatan mundur beberapa langkah. Bahkan Jaladri segera berlindung ke balik sebuah pohon untuk menghindarkan diri dari serangan panas yang luar biasa.

Itulah pengaruh dari ilmu Alas Kobar yang dahsyat, yang tidak saja dilontarkan oleh Lawa Ijo, tetapi kini oleh gurunya, Pasingsingan. Alangkah dahsyatnya ilmu itu. Tetapi yang paling dahsyat mengalami serangan itu adalah orang yang dituju. Dalam penerapan ilmu itu tubuh Pasingsingan sendiri seolah-olah telah berubah menjadi bara baja yang panasnya tak terhingga. Mahesa Jenar terkejut mengalami serangan panas itu. Setiap sentuhan dengan tubuh Pasingsingan, terasa panas yang luar biasa menyengat kulitnya, disamping libatan udara panas di seluruh tubuhnya.

Dalam keadaan yang demikian, sadarlah Mahesa Jenar bahwa lawannya telah matek aji yang pernah didengarnya bernama Alas Kobar. Untuk sementara Mahesa Jenar terpaksa terdesak mundur. Ia mencoba menghindari setiap sentuhan tubuh Pasingsingan. Tetapi dalam keadaan yang demikian, Mahesa Jenar sama sekali tak berniat melarikan diri. Sebagai seorang laki-laki, ia akan menghadapi setiap kemungkinan. Ia merasa menjadi pelindung dari seluruh perkemahan itu. Kalau ia terpaksa melarikan diri, maka ia tak ada artinya sama sekali. Apa saja yang pernah dilakukan dan apa saja yang pernah dipercayakan orang kepadanya. Dalam perjuangan melawan kejahatan tak ada niatnya untuk sekadar menyelamatkan dirinya sendiri, dan membiarkan orang lain binasa karenanya. Karena itulah maka Mahesa Jenar membulatkan tekadnya. Mengumpulkan segenap kekuatan lahir batinnya, dengan tekad bulat untuk melawan Pasingsingan, betapapun pengaruh panas itu menyengatnya di segenap bagian tubuhnya.

Anehnya, bahwa yang terjadi kemudian adalah di luar dugaan. Di luar dugaan Mahesa Jenar sendiri. Ketika ia telah membulatkan tekad, memusatkan segenap kekuatan yang ada padanya, lahir batin, serta pasrah diri setulus-tulusnya kepada Yang Maha Kuasa, maka tiba-tiba terasa, bersama-sama dengan nafasnya yang semakin teratur, sejalan dengan peredaran darahnya, mengalirlah udara segar di dalam tubuhnya. Mahesa Jenar telah mengenal perasaan itu. Ia merasakan seperti aliran kekuatan yang luar biasa, yang dalam keadaan khusus, seperti yang pernah dilakukan apabila ia sedang menerapkan ilmunya Sastra Birawa, merambat dari pusat jantungnya mengalir ke sisi telapak tangannya. Tetapi kini, dalam pemusatan tekad, untuk melawan libatan udara panas yang mematuk-matuk seluruh permukaan tubuhnya itu, terasa kekuatan dari pusat jantungnya itu mengalir menurut peredaran darah ke segenap bagian, menurut jalur-jalur darah yang paling kecil sekalipun.

Terasalah untuk beberapa saat darahnya seperti mendidih. Terjadilah seolah-olah benturan yang sengit di seluruh permukaan kulitnya. Dalam keadaan yang demikian, terganggulah gerak tempur Mahesa Jenar, karena perasaannya dipengaruhi oleh pemusatan kehendak untuk melawan udara panas itu.

Maka tanpa setahunya, tiba-tiba serangan Pasingsingan yang dahsyat telah berhasil menyusup diantara jaring-jaring pertahanan Mahesa Jenar, langsung mengenai pundaknya. Serangan itu bukanlah sekadar serangan Alas Kobar, tetapi benar-benar tangan Pasingsingan mengenai pundak itu. Mahesa Jenar yang sedang berjuang melawan Aji Alas Kobar itu terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ia adalah seorang yang masak dalam pemusatan kehendak. Meskipun ia terdorong dan bahkan kemudian ia terjatuh, namun ia sama sekali tidak melepaskan diri dari usahanya, membulatkan diri, dalam perlawanannya. Dalam saat yang demikian itulah, sebenarnya Mahesa Jenar telah menerapkan ilmunya Sasra Birawa pula. Namun dalam bentuk yang berbeda. Tanpa setahunya sendiri sebelumnya, bahwa sebenarnya ilmunya Sasra Birawa dalam bentuk perlawanan dan pertahanan dapat disalurkan ke segenap bagian tubuhnya. Ke segenap bagian-bagian yang terkecil sekalipun untuk kemudian melawan rangsangan yang betapapun dahsyatnya, yang mencoba mempengaruhi tubuh itu.

Tetapi meskipun demikian, ilmu itu tidak dapat menahan dorongan kekuatan yang luar biasa, yang dilontarkan Pasingsingan dengan penuh kemarahan, sehingga Mahesa Jenar jatuh terbanting di tanah setelah terdorong beberapa langkah surut. Mereka yang menyaksikan peristiwa itu, dadanya serasa akan pecah, Mahesa Jenar bagi mereka adalah satu-satunya orang yang dapat diharapkan untuk menyelamatkan perkemahan ini. Ketika mereka melihat betapa Pasingsingan semakin lama semakin terdesak yakinlah mereka bahwa Mahesa Jenar akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Namun tiba-tiba, dalam kabut ilmu Alas Kobar, Mahesa Jenar ternyata dapat dikuasai oleh lawannya, bahkan kemudian dengan suatu serangan jasmaniah, Mahesa Jenar dapat didorongnya jatuh.

PASINGSINGAN tertawa sambil bertolak pinggang, dan dari sela-sela lubang topengnya terdengarlah ia bergumam, “Hem… aku terpaksa melakukan apa yang telah aku katakan. Mematahkan tulangmu satu demi satu. Aku ingin melihat kau kesakitan dan ingin mendengar kau berteriak minta ampun.”

Mendengar ancaman itu, teganglah semua orang yang berdiri agak jauh dari lingkaran pertempuran itu. Tetapi pastilah bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Karena mereka sama sekali tidak mampu untuk mendekati iblis itu, maka mereka menjadi agak bingung, bagaimana cara mereka untuk berjuang bersama-sama, dan kalau perlu mati bersama-sama dengan Mahesa Jenar.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Pasingsingan dikejutkan oleh seleret sinar yang tebal menyambarnya. Karena itu mendadak suara tertawanya terhenti. Dengan lincahnya ia merendahkan dirinya sambil berputar setapak ke samping. Namun belum lagi ia berhenti bergerak, disusullah sinar tebal itu dengan sambaran sinar yang lain.

Sekali lagi Pasingsingan terpaksa menghindar. Ketika itu ia kemudian melihat bahwa kedua sambaran sinar itu tidak lain tombak pendek yang melontar dari tangan Arya Salaka, disusul oleh sebatang trisula dari tangan Mantingan, terdengarlah hantu itu menggeram marah. Sekali lagi terdengar ia bergumam, “Tikus-tikus yang malang. Jangan banyak tingkah. Supaya kau nanti dapat mati dengan tenang.”

Dalam pada itu dada Rara Wilis pun terasa menjadi pepat. Sesaat ia memejamkan matanya. Ia tidak sampai hati melihat Mahesa Jenar terbanting. Tetapi ia tidak mau membiarkan laki-laki itu mengalami cidera. Tetapi tidak sesadarnya, ia berusaha untuk meloncat mendekati.

Namun langkah Wilis pun terhenti ketika tubuhnya serasa hangus terbakar. Tetapi hatinyalah yang lebih dahulu hangus daripada tubuhnya, sebab bagaimanapun juga Mahesa Jenar adalah tempat ia meyangkutkan harapan bagi masa depan.

Terdorong oleh perasaan yang tak disadarinya sendiri, yang jauh lebih tebal dari perasaan setiakawan, telah memaksa Rara Wilis untuk tidak mempedulikan diri sendiri. Meskipun tubuhnya serasa terbakar oleh panas yang melampaui panasnya api, ia mencoba juga berjalan setapak demi setapak ke arah Mahesa Jenar, sedang matanya sama sekali tidak mau melepaskan setiap gerak gerik hantu berjubah abu-abu itu. Kalau-kalau tiba-tiba ia meloncat dan menyerangnya.

Tetapi sebalum ia berhasil mencapai laki-laki yang dicemaskan itu, terasa seluruh kulit dagingnya menjadi luluh. Ketika ia maju setapak lagi, ia menjadi kehilangan segenap daya tahannya. Bagaimanapun ia berusaha, akhirnya ia terhuyung-huyung jatuh. Tetapi betapa terkejutnya ketika terasa sepasang tangan menyambarnya. Dan dengan suatu loncatan panjang ia telah dibebaskan dari daerah pengaruh yang berbahaya dari aji Alas Kobar itu.

Dengan cemas ia mencoba mengamat-amati, siapakah yang telah menolongnya itu. Sekali lagi ia terkejut kepadanya. Ternyata yang menyelamatkannya dari lingkaran yang berbahaya itu adalah Mahesa Jenar sendiri. Semula ia hampir tidak percaya pada dirinya. Bahkan ia mengira, apakah ia tidak bermimpi atau pingsan atau mati, dan bertemu dengan laki-laki itu di alam lain.

Tetapi perasaan itu segera lenyap ketika terdengar suara Pasingsingan menggeram, “Setan. Ternyata nyawamu rangkap, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar kemudian meletakkan Rara Wilis dari tangannya. Ternyata daya tahan gadis itu luar biasa pula, sehingga demikian ia menyentuh tanah, demikian ia telah dapat berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya segenap mata yang memandangnya memancarkan keheranan dan kekaguman. Bahkan seperti sorot mata yang bimbang akan kebenaran penglihatan mereka.

Tiba-tiba dari antara mereka Arya Salaka meloncat berlari ke arah gurunya, kemudian meraba-raba tubuh itu sambil berkata lirih, “Adakah guru selamat…?”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana mereka tidak heran, kalau dirinya sendiripun hampir-hampir tidak mengerti atas peristiwa-peristiwa yang dialami. Namun pengenalannya pada getaran-getaran yang memancar dan pepat jantungnya telah memberinya sedikit keterangan, bahwa kekuatan Sasra Birawa-nya telah mengalir dan membendung segenap rangsangan yang menyentuh tubuhnya.

Memang mula-mula Mahesa Jenar merasakan betapa udara panas melibat seluruh tubuhnya. Bagaimana kulitnya serasa terkelupas karena sentuhan-sentuhan tubuh Pasingsingan. Namun sejak ia mulai mengatur diri, memusatkan tekad pada perlawanan atas serangan panas di segenap permukaan tubuhnya, pernafasan yang diaturnya baik-baik seperti apabila ia siap untuk melontarkan ilmunya Sasra Birawa, terasa betapa di dalam tubuhnya terjadi pergolakan-pergolakan yang cepat.

Terasa betapa getaran-getaran dari pusat jantungnya mulai bergerak. Tidak ke sisi telapak tangannya, namun menjalar ke segenap bagian tubuhnya. Dengan demikian, kekuatan di dalam dirinya telah langsung mengadakan perlawanan. Pada saat yang demikian itulah ia merasa sebuah dorongan yang kuat pada pundaknya, disertai suatu gigitan nyeri yang bukan main, sehingga ia terdorong dan terbanting jatuh.

Untuk sesaat memang seolah-olah ia kehilangan daya perlawanannya. Tetapi dalam pada itu, getaran-getaran di dalam tubuhnya itu menjadi semakin deras mengalir. Apalagi Mahesa Jenar membiarkan dirinya seperti sebuah batu yang menggelinding karena sebuah dorongan yang kuat tanpa daya perlawanan. Dengan demikian ia dapat tetap pada pemusatan pikiran, mempercepat aliran getaran-getaran dari pusat jantungnya itu, sehingga batu itu sendiri sama sekali tidak mengalami cidera sama sekali.

AKHIRNYA segenap perasaan sakit, nyeri, panas dan segala macam perasaan yang merangsang dari luar tubuhnya, perlahan-lahan menjadi berkurang, bahkan akhirnya menjadi punah sama sekali.

Meskipun ia masih berada dalam jarak capai aji Alas Kobar, namun ia tidak lagi merasakan betapa panasnya aji itu, yang semula dirasanya melampaui panasnya bara.

Mahesa Jenar tidak segera bangkit. Ia masih mencoba meyakin keadaannya. Karena itulah maka seolah-olah Mahesa Jenar setelah terbanting jatuh tidak mampu lagi untuk tegak kembali. Mahesa Jenar masih tetap berdiam diri, ketika ia melihat tombak muridnya menyambar Pasingsingan, disusul oleh sebuah trisula yang terbang secepat kilat. Namun kedua senjata itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Tetapi ia tidak dapat tetap berbaring di situ, ketika ia melihat Rara Wilis dengan tanpa menghiraukan keadaan diri sendiri, mencoba menerobos lingkaran aji Alas Kobar. Apalagi ketika ia melihat gadis itu menjadi sangat payah dan hampir-hampir saja terjatuh. Dengan sigapnya ia melenting berdiri dan meloncat ke arah Rara Wilis. Untunglah Mahesa Jenar berbuat cepat pada saatnya, sehingga dengan lemahnya Rara Wilis terkulai di tangannya. Meskipun dalam keadaan yang bagaimanapun juga, namun Rara Wilis yang dengan lemahnya, menyandarkan kepalanya pada dadanya itu, telah menggetarkan perasaannya.

Perasaan seorang laki-laki yang sedang mengenyam angan-angan tentang seorang gadis. Mau rasa-rasanya, untuk tidak melepaskan gadis itu dari tangannya untuk seumur hidupnya. Tetapi keadaan itu kemudian hancur terurai oleh geram Pasingsingan. Dan karena itulah maka Mahesa Jenar sadar, bahwa bahaya masih tetap melekat di hidungnya.

Maka perlahan-lahan Rara Wilis itu kemudian diletakkan di atas tanah. Mahesa Jenar menjadi terharu juga, ketika muridnya berlari-lari untuk meraba-raba tubuhnya, seolah-olah mencari-cari apakah ada yang hilang darinya. Dengan penuh perasaan sayang seorang ayah, Mahesa Jenar menepuk kepala anak muda itu sambil menjawab pertanyaan, “Aku tidak apa-apa, Arya. Bukankah anggota badanku masih utuh?”

Tetapi mereka tidak bercakap-cakap lebih banyak. Pasingsingan yang melihat Mahesa Jenar itu bangkit kembali dan seolah-olah tidak pernah mengalami sesuatu, menjadi tidak kalah herannya. Tetapi justru dengan demikian hatinya menjadi semakin panas. Ia cemas pada kenyataan, bahwa Mahesa Jenar kini adalah seorang yang memiliki kesaktian yang tinggi.

Cemas pada kegagalannya untuk mendapatkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang akan dipergunakan sebagai pancatan, nggayuh kemukten, mencapai impiannya yang indah. Kekuasaan atas gerombolannya, untuk kemudian meningkat pada kekuasaan atas tanah ini. Atas kerajaan Demak.

Namun demikian, terdorong oleh nafsu yang bergelora di dalam dadanya, maka ia merasa, bahwa Mahesa Jenar harus dibinasakan. Ia tidak perlu berfikir lagi, apakah ia harus bersikap jantan atau tidak.

Namun tujuannya sudah pasti. Membunuh laki-laki yang menghalang-halangi niatnya. Selama orang yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya itu masih hidup, selama itu pula niatnya akan selalu dirintanginya.

Karena itu, maka dengan menggeram penuh kemarahan, berkilat-kilatlah sebuah pisau belati panjang di tangan hantu berjubah abu-abu itu. Ia sudah bertekad untuk membunuh Mahesa Jenar dengan Alas Kobar bersama-sama dengan pusaka Pasingsingan, Kiai Suluh, yang bercahaya kekuning-kuningan.

Melihat Pusaka itu, Mahesa Jenar terkejut. Ia tahu benar betapa berbahayanya pisau belati itu. Pisau belati ciri khusus dari orang yang bernama Pasingsingan, yang diterima turun-temurun dari Pasingsingan tua, Raden Buntara, lewat Radite, yang kemudian karena keteguhan jiwa Radite dapat digoncangkan oleh paras yang cantik, akhirnya pusaka itu jatuh ke tangan iblis yang berbahaya ini. Demikianlah, maka kini Mahesa Jenar harus berjuang mati-matian.

Untunglah bahwa aji Alas Kobar itu sudah tidak berpengaruh atas tubuhnya, sehingga ia dapat memusatkan daya perlawanan terhadap pisau belati Pasingsingan itu. Ketika Pasingsingan sudah siap,

Mahesa Jenar segera melangkah maju. Dengan dada tengadah ia berjalan perlahan-lahan, namun dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri, penuh kepercayaan pada kekuasaan Tuhan, bahwa pengabdiannya akan mendapat limpahan perlindungan-Nya. Sebab iapun yakin bahwa setiap pengingkaran pada kebenaran, bagaimanapun juga dipertahankan dan diperjuangkan oleh kekuatan apapun, namun tak ada kekuatan yang mampu melawan hukum kebenaran dan keadilan yang digoreskan oleh tangan Yang Maha Adil.

Sekali lagi dada Pasingsingan bergetar melihat sikap Mahesa Jenar. Tenang, namun meyakinkan. Dalam saat yang sekejap itu melingkar-lingkarlah di dalam benak Pasingsingan, bayangan-bayangan dari masa lampaunya dan gambaran dari masa idamannya, yang bergumul pula dengan bayangan-bayangan Pasingsingan-Pasingsingan yang terdahulu, silih berganti.

Kemudian sampailah ia pada suatu umpatan yang kotor terhadap Radite dan Anggara. Kepadanyalah ia melimpahkan kesalahan, sebab Umbaran itu menyangka bahwa Mahesa Jenar menjadi masak karena tangan mereka, untuk dijadikan alat membalas sakit hatinya, sebab Radite sendiri terikat dengan suatu perjanjian yang tak akan dilanggarnya.

Apalagi ketika ia melihat Mahesa Jenar sama sekali tidak terpengaruh oleh aji andalannya, Alas Kobar.

Ketika ia sedang menimbang-nimbang, tiba-tiba bersama dengan desir angin malam yang mengusap daun-daun pepohonan, terdengarlah kembali telapak kaki kuda yang semakin lama semakin dekat.

Mahesa Jenar tersenyum mendengar telapak kaki kuda itu. Ia percaya bahwa tak seorangpun dapat menghalangi perjalanan Kebo Kanigara. Kalau orang itu cepat sebelum hantu itu pergi, maka ia mengharap akan dapat menangkap Umbaran itu hidup-hidup. Ia ingin menyerahkannya kepada Pasingsingan tua, untuk mendapat pengadilan.

PASINGSINGAN melihat perubahan wajah Mahesa Jenar itu. Karena itu ia curiga. Ia tidak tahu siapakah yang datang berkuda itu.

Dengan penuh perhatian ia mencoba mengetahui, kira-kira berapa orang yang akan datang pula ke tempat itu. Telinganya yang tajam segera dapat mengetahui bahwa derap kuda itu tidak akan lebih dari lima atau enam. Dengan demikian ia dapat mengira-ira kekuatan rombongan itu. Tetapi karena otak Pasingsingan sedang terganggu oleh bayangan-bayangan yang mencemaskan hatinya, bayangan bayangan Pasingsingan tua, Radite, dan Anggara, maka tiba-tiba menjalarlah dugaannya kepada salah seorang dari mereka.

Apakah didalam rombongan itu akan datang pula Radite atau Anggara? Atau malah kedua-duanya…? Seandainya bukan mereka sekalipun, semakin banyak orang yang harus dilawannya, semakin kecil pula kemungkinan yang dapat diperoleh untuk memenangkan pertempuran ini. Sebab ia yakin bahwa seandainya ia pun pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu disamping Mahesa Jenar sendiri, kehadiran orang lain di perkemahan itu akan dapat menambah kesulitan bagi Pasingsingan. Apalagi kalau ia mengetahui, bahwa yang datang itu adalah seekor burung rajawali yang perkasa, yang bahkan melampaui keperkasaan Mahesa Jenar, lawannya yang mencemaskan hatinya itu. Karena itulah maka akhirnya dengan kecewa Pasingsingan terpaksa melihat kenyataan-kenyataan itu.

Sebagai seekor serigala yang ganas, ia tidak mau mati di dalam kandang kelinci. Maka ketika didengarnya bahwa telapak kuda itu dengan lajunya mendekati perkemahan itu, tiba-tiba Pasingsingan menggeram keras sekali. Mahesa Jenar pun segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Matanya tidak bergeser dari ujung pisau belati Pasingsingan yang berwarna kuning kemilau. Tetapi adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba hantu berjubah abu-abu itu seperti terbang melontar mundur, dan dengan kecepatan luar biasa ia memutar tubuhnya dan meluncur seperti dihembus badai.

Mahesa Jenar untuk beberapa saat tertegun heran. Karena itulah ia kehilangan waktu untuk mengejarnya. Meskipun kemudian Mahesa Jenar dengan kecepatan yang tak kalah dari kecepatan Pasingsingan meloncat mengejarnya, namun hantu itu telah lenyap di dalam semak-semak, berselimut kehitaman malam. Sementara itu, derap kaki-kaki itu sudah semakin dekat. Dan tiba-tiba dari dalam gelap tersembullah beberapa orang penunggang kuda.

Yang paling depan adalah Kebo Kanigara yang masih melekatkan hampir seluruh tubuhnya pada punggung kudanya. Demikian kuda itu masuk ke halaman perkemahan itu, dengan sigap para penunggangnya segera menarik kekangnya, sehingga kuda-kuda itu meringkik dan berdiri pada kedua kaki belakang. Demikian kuda itu meletakkan kedua kaki mereka, sedemikian para penunggangnya berloncatan turun.

Ketika Endang Widuri melihat ayahnya datang, segera ia meloncat berlari ke arahnya sambil berteriak, “Ayah, sayang ayah terlambat.”

Melihat putrinya berlari-lari menyongsong, dada Kebo Kanigara serasa tersiram embun. Namun ia menjadi sedikit ragu mendengar kata-kata itu, sehingga terlontarlah pertanyaannya, “Apa yang terlambat?”

Widuri kemudian dengan manjanya memeluk lambung ayahnya sambil menjawab, “Baru saja kami menonton pertunjukan yang luar biasa.”

“Pertunjukkan apa?” desak ayahnya tidak sabar.

“Paman Mahesa Jenar bermain sulap melawan tukang sihir berjubah abu-abu,” jawab gadis itu.

Mendengar keterangan Endang Widuri, Kebo Kanigara menarik nafas. Terdengarlah ia berdesis perlahan, “Pasingsingan…?”

Tetapi ia sudah tidak terkejut lagi, sebab ia memang sudah menduga sebelumnya, bahwa guru Lawa Ijo itu berada di perkemahan.

“Di mana pamanmu sekarang?” tanya Kebo Kanigara.

“Paman mengejar tukang sihir itu,” jawab Endang Widuri.

Sementara itu yang lainpun telah berdiri mengitarinya.

Dengan penuh hormat mereka membungkukkan kepala. “Adakah kalian selamat?” tanya Kebo Kanigara kepada mereka.

“Atas pangestu Kakang, kami semua selamat. Karena Adi Mahesa Jenar tidak terlambat datang,” jawab Mantingan.

Kebo Kanigara masih melihat kesan-kesan yang mencemaskan pada wajah-wajah mereka. Apalagi pada wajah Rara Wilis yang hampir-hampir saja hangus oleh aji Alas Kobar, sedang Widuri itupun masih kelihatan pucat.

“Apa yang sudah dilakukan?” Kebo Kanigara bertanya pula. Tetapi sebelum Mantingan sempat menjawabnya, terdengarlah Endang Widuri berceritera dengan riuhnya, “Setan itu bisa menjadikan dirinya panas seperti bara, dan dengan suara tertawa ia dapat merontokkan isi rongga dada. Ah sayang, ayah tidak melihat kami pada waktu itu. Lucu sekali. Pasingsingan itu sama sekali tidak berbuat apa-apa kecuali tertawa. Dan kami semuanya menggigil, bahkan seperti ayam disembelih. Bukankah itu aneh sekali? Untunglah bahwa Paman Mahesa Jenar dapat menghentikannya sebelum jantung kami patah karenanya.”

Mendengar ceritera anaknya, Kebo Kanigara mau tidak mau harus tersenyum. Tetapi kemudian senyumnya terpaksa ditahannya ketika anaknya itu meneruskan, “Kenapa ayah tersenyum, sedang kami hampir mati karenanya?”

“Bukankah kau sendiri berkata bahwa hal itu adalah lucu sekali?” bantah ayahnya.

“Tetapi ayah jangan tersenyum. Sebaiknya ayah mengucapkan ikut berduka cita. Apalagi Bibi Wilis. Ketika bibi mencoba menolong Paman Mahesa Jenar yang tiba-tiba terbanting karena serangan Pasingsingan itu, agaknya Bibi Wilis nekad melawan udara panas yang memancar dari tubuh tukang sihir jahat itu,” sahut Widuri.

SEKALI lagi Kebo Kanigara tak dapat menahan senyumnya.

Tanpa disengaja ia memandang ke arah Rara Wilis yang menundukkan wajahnya. Ia menjadi malu mendengar ceritera gadis kecil itu. “Aku berkata benar, Ayah…”

Widuri meneruskan sambil merengut.

“Paman Mahesa Jenar itupun dapat dijatuhkannya, meskipun kemudian terpaksa bangun kembali.”

“Kenapa terpaksa?” tanya Kebo Kanigara.

“Sebab Rara Wilis hampir terjatuh pula. Kalau tidak, barangkali Paman Mahesa Jenar masih enak-enak berbaring, menikmati hangatnya udara yang memancar dari tubuh Pasingsingan dimalam yang begini dingin,” jawab Widuri.

“Sudahlah… jangan membual,” potong ayahnya.

“Siapa bilang aku membual…?” sahut gadis itu.

“Aku berkata sebenarnya.”

Kebo Kanigara masih saja tersenyum. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Melontarlah di dalam benaknya perkataan anaknya itu, “Paman Mahesa Jenar itupun dapat dijatuhkannya.”

Kemudian kepada Mantingan ia bertanya, “Apakah Mahesa Jenar selamat?”

“Bagi kami agak sulit untuk dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Sebab pertempuran itu berada jauh dalam tingkatan yang tidak dapat kami capai. Meskipun ia masih tetap segar dan bahkan sekarang iblis itu sedang dikejarnya,” jawab Mantingan.

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia terkejut ketika tiba-tiba didengarnya kemersik daun didalam semak-semak. Kemudian muncullah dari dalam semak itu, seorang laki-laki yang berjalan perlahan-lahan ke arahnya.

“Mahesa Jenar…” sapa Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya, Kakang.”

“Bagaimana dengan Pasingsingan?” tanya Kebo Kanigara.

Sambil menggeleng Mahesa Jenar menjawab, “Aku tak berhasil menangkapnya.”

Kembali Kebo Kanigara mengangguk-angguk.

Kemudian katanya, “Tak apalah, bukankah ia tidak berhasil menimbulkan bencana?”

“Pangestu Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

“Baiklah…” kata Kebo Kanigara seterusnya, “Sekarang cobalah, bangunkan orang-orang yang terkena sirep itu. Mungkin pengaruhnya sudah jauh berkurang. Apalagi sumbernya telah pergi pula.”

Jaladri, Bantaran dan Penjawi tidak menunggu perintah itu diulangi. Segera mereka pergi berpencaran untuk membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak karena syarafnya dipengaruhi sirep yang disebarkan oleh Lawa Ijo. Sementara itu malam telah sampai di ujungnya. Di kejauhan sudah terdengar ayam hutan berkokok bersahutan. Sedang langit telah diwarnai oleh cahaya perak pagi. Cahaya lintang-lintang telah mulai pudar. Satu-satu mulailah mereka menghilang dari wajah langit yang biru bersih. Angin pagi yang berhembus lemah, menggoncang-goncang daun-daun pepohonan rimba.

“Marilah kita beristirahat,” kata Kebo Kanigara, “Bukankah kaliah lelah?”

“Semalam aku tidak tidur,” sahut Widuri, “Karena itu aku akan tidur sehari penuh.”

“Aku tidak percaya,” jawab ayahnya.

“Kenapa?” tanya Widuri.

“Belum lagi matahari sepenggalah, kau pasti sudah bangun dan bertanya apakah sudah ada makan pagi,” jawab ayahnya.

Widuri tidak menjawab. Ia hanya mencibirkan bibirnya. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan ke pondok yang disediakan baginya. Yang lainpun kemudian berlalu pula ke tempat masing-masing.

Mantingan berjalan dengan langkah gontai, sedang Wirasaba seolah-olah tinggal mampu menjerat tubuhnya dengan lemah. Meskipun sebenarnya ia tidak sedemikian parah tenaganya, namun peristiwa yang baru saja dilihatnya merupakan suatu peristiwa yang membekas dalam sekali di dalam hatinya.

Rara Wilis yang masih sangat pucat pun berjalan menyusul Endang Widuri untuk beristirahat. Ternyata para anggota laskar Banyu Biru yang tertidur, sudah tidak lagi dipengaruhi oleh sirep Lawa Ijo.

Meskipun masih ada diantara mereka yang merasa betapa nikmat mimpi yang diperoleh, namun merekapun kemudian berloncatan bangun ketika tubuh mereka digoncang-goncang oleh pemimpin-pemimpin mereka. Beberapa orang malahan menjadi bingung, sedang beberapa orang lain menjadi cemas dan malu. Lebih-lebih para petugas yang pada malam itu sedang mendapat giliran jaga.

Ketika mereka meninggalkan gardu pimpinan, mereka mendapat pesan untuk berhati-hati. Sebab mereka mendapat tanda-tanda buruk pada siang harinya. Apalagi firasat para pemimpin laskar Banyubiru itupun telah memberi mereka peringatan. Tetapi tiba-tiba pemimpin mereka itu terpaksa membangunkan mereka di saat fajar hampir pecah. Meskipun demikian, tersangkut pula di dalam dada mereka sebuah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab sendiri, “Kenapa mereka telah melakukan suatu perbuatan yang belum pernah mereka lakukan, dan bahkan belum pernah terjadi didalam perkemahan itu, dimana seorang yang diserahi tanggungjawab melalaikan tanggungjawab…? Apalagi tidur di saat-saat penjagaan.”

MEREKA menjadi agak terhibur ketika mereka mendengar penjelasan dari pemimpin-pemimpin mereka, bahwa meskipun mereka tertidur dalam tugas mereka, namun itu bukanlah kesalahan mereka seluruhnya. Sebab memang pengaruh sirep Lawa Ijo itu sedemikian tajamnya, sehingga sulitlah untuk melepaskan darinya.

Ketika para pemimpin Banyu Biru itu kemudian menempatkan petugas-petugas baru pada titik-titik yang dianggap perlu untuk mendapat pengawasan, merekapun berpesan wanti-wanti kepada para petugas itu, bahwa mereka harus benar-benar waspada. Mereka diwajibkan segera memberikan tanda-tanda apabila ditemuinya sesuatu yang mencurigakan, apalagi membahayakan. Sesaat setelah mereka berangkat, di dalam gardu pimpinan itu duduklah beberapa orang yang bercakap-cakap dengan asyiknya. Diantara mereka adalah Jaladri, Bantaran, Penjawi dan Wanamerta. Dengan penuh semangat Jaladri berceritera tentang apa yang baru saja dilihatnya. Sesuatu yang belum pernah dibayangkan, meskipun hanya di dalam mimpi. Meskipun Jaladri sendiri pada saat itu harus bertempur, tetapi setiap kali ia sempat melirik ke arah lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain. Ia melihat Rara Wilis itu bertempur seperti sikatan menyambar belalang. Sigap, cepat dan lincah. Endang Widuri benar-benar seperti burung camar yang bermain-main di atas gelombang. Meskipun lawannya adalah seorang yang gemuk dan bersenjata di keduabelah tangannya, namun gadis itu sama sekali tidak dapat digetarkan.

Yang menggemparkan dada Jaladri kemudian adalah Arya Salaka. Ketika ia telah kehilangan lawannya, melarikan diri, ia sempat untuk menyaksikan sepenuhnya pertempuran antara Arya Salaka melawan Lawa Ijo. Tak pernah ia membayangkan bahwa Arya Salaka mampu mengimbangi kekuatan Lawa Ijo dari Mentaok itu. Apalagi Lawa Ijo telah berhasil menyerang anak muda itu dengan udara panas, meskipun tidak sedahsyat Pasingsingan, namun seakan-akan tak terasa sama sekali oleh Arya Salaka. Bantaran dan Penjawi mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Ia kecewa tidak dapat menyaksikan sendiri tingkat ilmu Arya Salaka. Sebab ia ingin membandingkan dengan tingkat ilmu Sawung Sariti, yang menurut pendengarannya telah meningkat sedemikian, bahkan ia telah memiliki ilmu sakti Lebur Seketi.

Di sebuah pondok yang lain, tampaklah Mahesa Jenar duduk, bersama Kebo Kanigara. Di sudut yang lain dari ruangan itu pula, Arya Salaka berbaring di atas sebuah bale-bale bambu. Ia pun ternyata lelah.

Meskipun demikian ia tidak tertidur. Lamat-lamat ia masih mendengar gurunya itu bercakap-cakap dengan Kebo Kanigara.

“Aku dengar dari Widuri, Pasingsingan itu berhasil mendorongmu jatuh…?” tanya Kebo Kanigara.

“Ya, Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

“Semula aku tidak tahu bagaimana aku melawan udara panas yang dilontarkan berdasarkan ajinya Alas Kobar.”

“Tetapi bukankah kau akhirnya dapat mengatasi aji Alas Kobar itu?” tanya Kanigara pula.

“Ya, tanpa aku ketahui, bagaimana terjadinya. Tetapi pada saat aku membulatkan tekad untuk melawan panas yang melibat seluruh tubuhku itu, tiba-tiba terasalah dari dalam dadaku getaran-getaran yang aku kenal sebagai sumber kekuatan Sasra Birawa mengalir ke segenap tubuhku. Dan dengan demikian aku kemudian terbebas dari pengaruh udara panas itu. Pada saat aku mengerahkan getaran-getaran itulah aku dapat dikenai oleh Pasingsingan, di pundakku, sehingga aku terdorong jatuh. Karena aku memang tidak mengadakan perlawanan pada daya dorong itu, sebab aku tidak mau kehilangan kesempatan, sehingga getaran-getaran itu terganggu.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia merasa bangga pula, bahwa Mahesa Jenar, meskipun tanpa disadarinya sendiri telah meningkat pula pada penguasaan ilmunya lebih sempurna lagi dengan mengalirkan ilmu Sasra Birawa ke segenap tubuhnya dalam bentuk perlawanan dan pertahanan.

Kemudian ia bertanya pula, “Tidakkah iblis itu kau lumpuhkan dengan Sasra Birawa itu pula? Aku kira ia mempunyai cukup daya tahan sehingga ia tidak akan mati karenanya. Dengan demikian kau akan dapat menangkapnya hidup-hidup.”

Mahesa Jenar ragu sebentar.

Kemudian ia menjawab, “Kakang, semula akupun bermaksud demikian. Tetapi ketika aku sadar bahwa getaran-getaran ilmuku sedang mengalir ke segenap tubuhku, aku takut kalau-kalau dengan demikian getaran-getaran itu harus terhisap kembali untuk kemudian aku salurkan ke sisi telapak tanganku. Dengan demikian aku akan hangus oleh aji Alas Kobar itu.”

Kebo Kanigara kini tidak hanya tersenyum.Tetapi ia tertawa. Katanya, “Itulah keistimewaanmu Mahesa Jenar. Kau berhasil menekuni ilmu perguruan Pengging sehingga hampir sempurna, tanpa tuntunan dari siapapun. Karena itu di dalam perkembangan yang terjadi pada dirimu, ada beberapa unsur yang tak kau kenal sendiri. Kau berhasil meragakan sukmamu pada saat kau capai kesempurnaan ilmu Sasra Birawa. Tetapi dalam penerapan yang pernah kau kenal sebelumnya. Sedangkan sebenarnya engkau dapat menerapkan dalam keperluan lain, karena kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhmu itu adalah kelengkapan darimu sendiri yang tunduk pada kehendakmu. Dengan demikian, Mahesa Jenar, aku yakin sekarang, bahwa kau benar-benar akan dapat mengalahkan iblis itu apabila pertempuran diteruskan. Sebab ilmu Sasra Birawa adalah seperti mata air yang agung yang tak akan kering meskipun airnya mengalir siang dan malam ke segenap penjuru.”

Mendengar uraian Kebo Kanigara itu, alangkah besarnya hati Mahesa Jenar. Ia merasa bahwa dadanya bergetar karena bangga. Ah, seandainya saja ia tahu sebelumnya, bahwa ilmu Sasra Birawa yang bersumber di pusat dadanya itu seperti mata air yang tak akan kering disegala musim.

Seandainya ia tahu bahwa ia dapat mempergunakan ilmu itu sekaligus untuk berbagai kemungkinan.

SEBAGAI manusia, Mahesa Jenar merasa bahwa ia kini memiliki senjata yang dahsyat tiada taranya. Bukankah dengan demikian ia menjadi seorang yang dapat membebaskan diri dari perasaan sakit yang disebabkan oleh rangsang dari luar tubuhnya apabila ia menghendaki dengan matek aji Sasra Birawa?

Meskipun ia tidak menjadi kebal karenanya, namun ia memiliki ketahanan yang mirip dengan ilmu kekebalan.

Tetapi sebenarnya pada saat-saat yang demikian itulah saat-saat yang paling berbahaya bagi manusia. Pada saat ia menyadari kelebihan diri dari orang lain. Pada saat ia dengan penuh kesadaran merasa tak akan mudah orang mengalahkannya.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki bekal yang cukup untuk menerima kurnia dari Tuhan Yang Maha Esa atas usahanya yang tak kenal lelah dalam pembajaan diri. Itulah sebabnya, pada saat ia sadar akan dirinya, meskipun mengembang pula perasaan bangga sebagaimana perasaan manusia biasa, namun di dalam relung hatinya, Mahesa Jenar dengan penuh kerendahan diri, mengucapkan syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Pengasih atas karunia itu. Bahkan diam-diam ia berjanji untuk mempergunakan ilmunya dalam kebaktian dan pengabdian pada titahnya, sesama manusia, dengan penuh rasa cinta kasih.

Kebo Kanigara menyaksikan wajah Mahesa Jenar dengan seksama, seolah-olah ia sedang membaca apakah yang tersirat dari wajah itu.

Sebagai seorang yang penuh dengan bermacam-macam pengalaman, tahulah Kebo Kanigara bahwa pada saat-saat yang paling berbahaya itu, Mahesa Jenar tidak tergelincir ke dalam sikap yang tercela. Ia tahu bahwa Mahesa Jenar tidak menjadi sombong karenanya sehingga kehilangan pengamatan atas tingkah laku dan perbuatan-perbuatannya pada masa-masa yang akan datang. Sebagai seorang yang berpandangan luas, Kebo Kanigara mengerti bahwa Mahesa Jenar itu sampai tergelincir karena kesombongannya atas keperkasaan diri, atas ilmu yang dimilikinya, maka akibatnya akan sangat berbahaya.

Ia akan mampu menggoncangkan kerajaan Demak. Tidak menggoncangkan keamanan dan ketertiban, namun seandainya ia mau, ia akan dapat menghimpun kekuatannya untuk menghancurkan Demak.

Tetapi ia yakini kemudian, bahwa Mahesa Jenar akan tetap dapat memelihara kemurnian dari tujuannya. Mengabdikan diri setulus-tulusnya pada keyakinannya, pada kebenaran dan keadilan.

Beberapa saat setelah pondok itu dicekam oleh keheningan, terdengarlah Mahesa Jenar berkata perlahan-lahan, “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, serta berterima kasih kepada Kakang Kebo Kanigara yang telah memberi aku kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dalam pengabdian diri. Mudah-mudahan aku dapat mrantasi, dapat memanfaatkan ilmuku ini sebaik-baiknya.”

Kebo Kanigara mengangguk-angguk puas. Ia tidak menjawab, tetapi hatinya berkata, “Berbahagialah kau Mahesa Jenar. Berbahagialah atas kurnia yang kau terima, dan berbahagia atas keluhuran hatimu.”

Namun yang terucapkan adalah, “Meskipun demikian Mahesa Jenar, aku atas nama gurumu, ayah Penging Sepuh almarhum ingin memperingatkan bahwa ilmu perguruan Pengging janganlah kau pergunakan pada setiap saat, pada setiap kesempatan sebagai pameran kekuatan yang tak berarti. Ilmu itu hanya akan kau pergunakan pada saat-saat dimana kau harus dapat mempertanggungjawabkan akibatnya. Tidak kepada sesama manusia, tidak kepada para pemimpin di Demak, bahkan tidak kepada Sultan Demak saja. Tetapi lebih daripada itu, kau akan mempertanggungjawabkan kepada Yang Maha Ada di atas segala pertanggunjawaban yang lain. Sebab kau menjadi lantaran, tidak dari para pemimpin dan tidak siapapun. Tetapi ilmumu kau terima dari Yang Maha Tinggi.”

Meskipun apa yang didengarnya dari Kebo Kanigara itu seperti apa yang didengarnya dari suara hati nuraninya, namun Mahesa Jenar dengan penuh minat mendengarkan nasihat dari orang yang dianggapnya pengganti gurunya. Sebab ia tahu benar bahwa Kebo Kanigara tidak hanya mampu berkata, tetapi apa yang dilakukannyapun sesuai benar dengan kata-katanya itu. Mempergunakan-ilmunya pada kesempatan yang tepat, untuk keperluan yang tepat pula.

Kecuali Mahesa Jenar, di salah satu sudut ruangan itu berbaring Arya Salaka. Ia mendengar semua pembicaraan gurunya dengan Kebo Kanigara itu. Ia mengetahui pula, betapa gurunya kini benar-benar menjadi manusia yang luar biasa, yang tidak akan dapat dikalahkan oleh Pasingsingan. Dengan demikian gurunya sudah tidak akan lagi silau seandainya ia duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, kakeknya, dan orang-orang lainyang setingkat dengan mereka itu. Namun disamping itu, ia mendengar pula nasihat-nasihat Kebo Kanigara kepada gurunya.

Dengan demikian, di dalam hati Arya Salaka timbul pula harapan, bahwa apabila ia bekerja dengan tekun, iapun akan mampu pula menerima kekuatan seperti gurunya itu. Meskipun demikian, di dalam hatinya tumbuh pula janji kepada dirinya sendiri bahwa iapun akan berbuat seperti gurunya, seperti apa yang dinasihatkan oleh Kebo Kanigara.

Karena angan-angannya itu, maka tiba-tiba merasa badan Arya Salaka bergetar. Bergetar karena harapan pada masa yang akan datang, pada kesulitan-kesulitan yang masih harus diatasi.

Ketika kemudian Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar itu bangkit dari tempat duduknya masing-masing untuk beristirahat, dan membaringkan diri mereka masing-masing, Arya Salaka masih tetap berangan-angan.

Tiba-tiba meloncatlah perasaan rindunya kepada masa depan itu. Kepada masa dimana ia dapat menikmati cerahnya sinar matahari, tanpa perasaan was-was dan gelisah, tanpa perasaan cemas pada hari kemudian. Dan tiba-tiba saja ia merasa rindu pula kepada keluarganya, kepada ibunya yang mengasuhnya pada masa kanak-kanaknya dengan penuh kasih sayang, kepada ayahnya, yang meskipun terkadang-kadang marah kepadanya, namun dengan penuh keikhlasan seorang ayah telah mendidiknya menghadapi masa kemudian.

ARYA SALAKA ingat benar betapa ayahnya berkata kepadanya, bahwa kelak ia akan menjadi seorang pahlawan. Semula ia mengira bahwa seorang pahlawan adalah seorang yang hebat berkelahi, yang tak terkalahkan oleh siapapun juga. Tetapi sekarang ia berpendapat lain. Karena pergaulannya dengan gurunya, dan karena umurnya yang semakin dewasa tahulah ia apa yang dimaksud dengan kata pahlawan.

Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, malah hilir-mudiklah bayangan-bayangan masa lampaunya, masa kini dan harapan-harapan bagi masa mendatang. Meskipun ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba melenyapkan bayang bayang itu, namun semakin ia berusaha, semakin jelaslah bayangan-bayangan itu mengganggu. Ketika ia membuka matanya kembali, dilihatnya sinar matahari yang masih sangat condong menembus dinding-dinding pondoknya, membuat lingkaran-lingkaran cahaya di lantai. Di kejauhan terdengar riuh burung-burung liar berkicau bersahutan. Suaranya terdengar betapa merdunya, semerdu lagu puji-pujian terhadap Tuhan, yang memperkenankan mereka masih menikmati indahnya pagi ini.

Sekali-kali di tengah-tengah rimba, melengkinglah kokok ayam hutan bersambutan, di sela-sela angin pagi yang berdesir lemah. Di luar pondok itu, Arya Salaka mendengar orang berjalan hilir-mudik dalam kewajiban masing-masing, diantar oleh suara gerit timba serta debur air orang mandi. Tetapi bayangan di dalam rongga matanya masih saja mengganggu otak Arya Salaka. Bahkan kemudian ia ikut pula dalam barisan-barisan angan-angan itu seorang gadis yang nakal, namun cukup memiliki daya hidup yang menyala-nyala di dalam dadanya. Mula-mula ia mencoba mengenal gadis itu baik-baik di dalam angan-angannya. Bentuk tubuhnya, senyum serta tawanya yang renyah, seolah tingkahnya yang penuh kejujuran.

“Ah…” desah Arya Salaka. Sekali lagi ia mencoba melenyapkan bayang-bayang yang aneh-aneh itu sambil menarik nafas panjang. Tetapi bayang-bayang itu tetap tegak di dalam angan-angannya. Arya Salaka kemudian bangkit dari tempat pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah ke arah pintu. Ketika ia berdiri di atas tlundhak pintu itu, ia melihat kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat lewat di mukanya. Kedua kakak-beradik itu dengan hormat membukuk kepadanya. Arya Salaka pun membungkuk sambil tersenyum bangga. Ia bangga kepada anak-anak Banyubiru yang gigih itu. Mereka ternyata tidak sekadar berbuat untuk mendapat pujian atau gelar-gelar yang menyenangkan, atau hadiah yang berharga. Tetapi mereka melakukan semua itu dengan penuh kesadaran. Sadar akan kewajibannya terhadap kampung halaman, sadar akan kesetiaannya kepada tumpah darah.

Dari ruang di sebelah, Arya mendengar nafas gurunya mengalir dengan irama teratur. Agaknya Mahesa Jenar itu telah tertidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba Arya Salaka pun menguap. Perlahan-lahan ia menutup pintu pondok itu dan perlahan-lahan ia berjalan ke tempat pembaringannya, untuk kemudian merebahkan diri. Karena lelah dan kantuk, akhirnya iapun tertidur pula. Apa yang terjadi di perkemahan itu, ternyata telah memberikan keyakinan yang lebih tebal lagi bagi Mahesa Jenar maupun Arya Salaka, bahwa golongan hitam benar-benar telah meningkatkan kegiatannya. Mereka untuk sementara memang dapat bekerja bersama, diantara mereka menghanyutkan Banyubiru dengan harapan untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, dan mempergunakan Banyubiru sebagai sasaran pertama dalam usaha mereka membentuk pemerintahan yang akan dapat menjadi tandingan dari pemerintah di Demak. Bahkan dengan tujuan terakhirnya, melenyapkan kekuasaan Demak.

Dengan demikian, jelaslah kemudian, siapakah yang mula-mula membuat rencana itu. Dengan desas desus serta berbagai macam dalih dan alasan, akhirnya tergeraklah golongan hitam seluruhnya untuk berusaha mendapatkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, mereka mengadakan semacam perjanjian, siapa yang memiliki keris sipat kandel Kraton Demak itu akan diangkat menjadi pemimpin dari segenap gerombolan hitam yang terserak-serak hampir di segenap sudut Demak. Dalam himpunan itu, mereka mengharap dapat menguasai sebagian wilayah Demak dan mempergunakan wilayah itu sebagai daerah pancatan untuk menandingi kekuasaan Demak.

Dalam penelahan Mahesa Jenar, rencana itu pasti timbul dari Pasingsingan. Apalagi ia telah menyuruh Lawa Ijo untuk mengambil pusaka-pusaka dari perbendaharaan Istana, yang sebenarnya perbuatan itu hanya sekedar usaha darinya untuk membuktikan apakah kedua pusaka yang diperebutkan itu bukan sekadar turunannya saja. Meskipun dalam ilmu mereka, Pasingsingan merasa tidak lebih tinggi dari Sima Rodra, Bugel Kaliki, dan sebagainya, namun ia merasa bahwa ia memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir lebih daripada mereka itu. Sehingga bagi Pasingsingan, apabila keris-keris itu sudah berada di dalam salah seorang anggota gerombolan hitam, baginya akan lebih mudah untuk mendapatkannya daripada apabila pusaka-pusaka itu berada di istana atau di tangan golongan lain. Karena itu, demikian Pasingsingan mendengar Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jengkar dari Istana, demikian ia menyusun rencananya.

Tetapi rencana yang disusunnya itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik. Sebab tiba-tiba muncullah Lembu Sora yang meskipun tidak termasuk di dalam golongan hitam, bahkan yang sebenarnya mempunyai pertentangan kepentingan, namun dalam beberapa hal mereka menunjukkan adanya persamaan perbuatan dan tingkah laku. Mereka sama-sama menaruh minat yang besar terhadap Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak untuk diserahkan kembali kepada yang berhak, tetapi mereka ingin kedua pusaka itu untuk diri mereka sendiri.

DENGAN demikian jelaslah bagi Mahesa Jenar, bahwa meskipun dalam gerak mereka dapat mewujudkan irama yang senada, namun di dalam tubuh mereka itu, seperti api di dalam sekam, setiap kali berkobarlah api pertentangan yang maha dahsyat untuk memuaskan nafsu kekuasaan mereka masing-masing. Meskipun demikian Mahesa Jenar yakin, bahwa mereka tak akan mampu untuk menyusun pemerintahan tandingan, namun apabila mereka mulai melaksanakan rencana mereka, berarti akan terjadi kekacauan dan keributan. Pembunuhan, perkosaan terhadap sendi perikemanusiaan dan banyak lagi hal-hal yang akan terjadi.

Rencana Pasingsingan menjadi semakin terpecah belah, ketika kemudian Gajah Sora telah bertindak jauh mendahului perhitungannya disusul dengan munculnya orang yang bernama Mahesa Jenar. Yang ternyata adalah orang itulah yang menentukan kegagalannya. Karena itu, tak ada jalan lain bagi Pasingsingan, kecuali membunuh Mahesa Jenar. Dalam keadaan yang terakhir, muncullah rencana Pasingsingan yang mahahebat menurut perasaannya. Mengarahkan segenap kekuatan golongan hitam untuk menghancurkan Banyubiru, memusnahkan orang-orang seperti Mahesa Jenar, Lembu Sora, Sora Dipayana, laskar Banyubiru kedua belah pihak, serta tunas-tunas masa depan, yaitu Arya Salaka dan Sawung Sariti sekaligus.

Mahesa Jenar dapat merasakan betapa dendam yang tersimpan di dalam tubuh golongan hitam itu kepadanya. Tetapi adalah menjadi tanggungjawabnya untuk menanggulanginya.

Rombongan dari Nusakambangan yang datang ke Banyubiru, serta rombongan Alas Mentaok yang datang di perkemahan ini, memperjelas keadaan. Ternyata ketajaman otak Mahesa Jenar cukup mampu untuk mengurai segala sesuatu yang mungkin bakal terjadi, serta yang telah direncanakan oleh golongan hitam itu.

Demikian lelahnya Arya Salaka pada saat itu sehingga ia tertidur demikian nyenyaknya. Ketika matahari telah lewat puncak langit, ia terkejut karena gurunya membangunkannya. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya Kebo Kanigara duduk menghadap hidangan makan siang. Nasi jagung dengan lauk daging binatang buruan dan sayur-sayuran.

“Tidakkah kau lapar?” tanya Mahesa Jenar.

Arya Salaka menggeliat. Kemudian iapun segera bangkit dan pergi mencuci mukanya, untuk kemudian bersama-sama dengan Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar, menikmati makan siang dengan lahapnya.

Ketika mereka telah selesai makan, serta sisa-sisa makannya telah disingkirkan oleh Endang Widuri, tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata seperti kepada diri sendiri, “Itulah yang aku cemaskan, Kakang.”

Arya Salaka tidak tahu maksud kata-kata itu. Agaknya gurunya telah lama membicarakan sesuatu masalah dengan Kebo Kanigara. Kebo Kanigara mengangguk kecil. Tampaknya iapun sedang berpikir. Sesaat kemudian iapun menjawab, “Kita dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan.”

Arya memandang kedua laki-laki itu tanpa berkedip. Sebenarnya ingin juga ia mengetahui persoalannya, namun ia tidak berani bertanya. Ia menjadi semakin tertarik pada persoalan itu, ketika dilihatnya wajah gurunya menjadi bersungguh-sungguh. Beberapa saat mereka kemudian berdiam diri. Seakan-akan masing-masing terbenam dalam persoalan yang kurang menyenangkan. Di luar terik matahari seperti membakar daun-daun rerumputan yang menjadi kering karenanya. Tidak seberapa jauh dari pondok itu terdengar orang menumbuk padi dan jagung. Suaranya beruntun seperti suara orang berlagu dengan irama yang tetap. Di arah lain terdengar suara tempaan besi gemerinting bersahut-sahutan. Beberapa orang pandai besi sudah bekerja keras untuk membuat atau memperbaiki alat-alat pertanian dan bahkan ada diantara mereka yang membuat senjata.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Kakang, aku kira, aku perlu memberikan keterangan keterangan mengenai tugas kita kepada Arya Salaka.”

Kebo Kanigara mengangguk mengiyakan, jawabnya, “Berilah ia gambaran apa yang sudah terjadi dan apa yang kira-kira akan terjadi.”

Arya Salaka mengingsar duduknya. Ia menjadi bergembira. Dengan demikian ia mengharap akan dapat mengetahui kesulitan-kesulitan apakah yang sedang membebani perasaan gurunya serta Kebo Kanigara.

“Arya…” kata Mahesa Jenar, “Aku akan menceritakan perjalanan kami sebagai utusanmu ke Banyubiru. Aku akan mengatakan apa adanya, supaya kau mendapat gambaran yang benar terhadap daerahmu, serta orang-orang yang sedang berada di sana.”

Arya Salaka mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar dengan penuh minat. Ketika kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang telah dialami selama ini, maka kata demi kata diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan seolah-olah ia sendiri ikut serta mengalami perjalanan yang kurang menyenangkan itu.

MAHESA JENAR menceriterakan apa yang telah terjadi, namun ia mencoba untuk tidak menimbulkan kecemasan, apalagi ketakutan pada Arya Salaka. Ia mencoba untuk menyingkirkan sentuhan-sentuhan pada perasaan anak itu. Sebab ia tahu benar, betapa halusnya perasaan Arya Salaka sebagai seorang anak yang sejak belasan tahun harus sudah berpisah dari ikatan kasih sayang ayah bundanya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut mendengar pertanyaan Arya Salaka yang pertama. Ia tidak bertanya tentang kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya sendiri. Ia tidak bertanya, apakah dirinya masih mempunyai kemungkinan untuk kembali ke tanah pusakanya yang telah lama terlepas dari tangannya. Ia tidak bertanya apakah masih ada kemungkinan baginya untuk kembali ke Banyu Biru sebagaimana ayahnya. Tetapi pertanyaan yang pertama-tama diucapkan oleh anak muda itu adalah, “Paman, tidakkah Paman bertemu dengan Bunda?”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat ia berpandangan saja dengan Kebo Kanigara. Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu. Memang dalam saat yang gawat, seperti yang dihadapinya pada saat itu, terlupakanlah kepentingan-kepentingan lain, sehingga pada saat itu ia tidak bertanya dan berusaha menemui Nyai Ageng Gajah Sora.

Karena itulah maka ia tidak berceritera tentang orang itu. Arya Salaka yang mendengarkan setiap kata demi kata, menjadi kecewa ketika ceritera Mahesa Jenar itu berakhir tanpa menyebut ibunya, justru ibunya itu bagi Arya Salaka adalah suatu kepentingan yang tak kalah artinya dari segenap kepentingan-kepentingan yang lain.

Akhirnya Mahesa Jenar menjawab, “Arya, aku minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat lebih banyak dari yang sudah aku lakukan. Sehingga dengan demikian aku tidak dapat menemui Nyai Ageng Gajah Sora. Tetapi karena kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana tidak mengatakan sesuatu, aku kira ibumu itupun tidak mengalami sesuatu.”

Mendengar jawaban itu Arya Salaka menundukkan wajahnya. Ia benar-benar kecewa. Demikian rindunya ia kepada ibunya, sehingga rasa-rasanya ia meloncat langsung ke Banyu Biru saat itu juga.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menyelami perasaan anak itu sedalam-dalamnya. Mereka merasa juga bahwa Arya telah menyalahkan mereka, kenapa mereka sama sekali tidak ingat kepada orang yang telah melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Maka berkatalah Mahesa Jenar perlahan-lahan dan hati-hati untuk menentramkan hati anak itu, “Arya, tenangkanlah hatimu. Berbanggalah kau, karena kau telah menjauhkan kepentingan pribadimu, terpisah dari ayah bunda, tetapi dengan menjunjung tinggi pengabdian diri terhadap sesama, terhadap rakyatmu dan terhadap Tuhanmu, sebagai sumber dari pengabdianmu menegakkan kebenaran dan keadilan.”

Arya Salaka masih saja menundukkan wajahnya. Namun kata gurunya itu meresap pula di dalam kalbunya. Akhirnya ia mencoba untuk menghadapi kenyataan itu sebagai seorang laki-laki. Bagaimanapun kerinduan itu bergolak di dalam dadanya, namun ia mencoba untuk menekannya kuat-kuat. Bukankah kepentingan rakyatnya jauh lebih berharga dari kepentingan diri? Seandainya ia kemudian tenggelam dalam duka karena perasaan rindunya kepada bunda, apakah yang akan dapat disumbangkan kepada tanah perdikan Banyu Biru, tanah pusakanya? Karena itu maka kemudian ia mengangkat wajahnya.

Dengan penuh tekad ia berkata, “Paman, biarlah aku lupakan perasaan rinduku kepada bunda. Lalu apakah yang harus aku kerjakan?”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bangga.

Katanya, “Demikianlah putra Ki Ageng Gajah Sora….Tengadahkanlah dadamu, besarkanlah hatimu. Sebab di depanmu ternganga jurang kewajiban yang maha besar. Nah anakku, bersiaplah untuk dapat beberapa hari ini bersama-sama dengan segenap laskarmu, datang ke Banyu Biru.”

Tiba-tiba wajah Arya Salaka jadi berseri. Dengan demikian ia akan bertemu kembali dengan tanah tercinta, dengan sawah ladang kampung halaman, meskipun mungkin harus ditebusnya dengan darah.

Beberapa saat kemudian, berjalanlah Arya Salaka meninggalkan pertemuan itu. Ia tidak tahu, kenapa yang mula-mula dilakukan adalah pergi kepada Endang Widuri dan mengabarkan rencana pamannya itu kepadanya.

“Kita akan bersama-sama ke Banyu Biru?” tanya Endang Widuri yang tiba-tiba menjadi bergembira pula.

“Ya,” jawab Arya Salaka.

“Aku akan dapat melihat rumahmu yang pernah kau ceriterakan kepadaku dahulu di lereng pegunungan Telamaya,” sahut Widuri dengan mata yang berkiliat-kiliat.

“Bukankah begitu?”

“Ya,” jawab Arya Salaka singkat.

“Dari halaman rumahmu dapat kita lihat wajah Rawa Pening yang berkilau…?” Widuri meluruskan.

“Bukan dari halaman rumahku, tetapi dari alun-alun di muka rumahku.”

Arya Salaka membetulkan. “Ya. Dari alun-alun di muka rumahmu. Jadi rumahmu itu mempunyai alun-alun?” tanya Endang Widuri.

“Hem…” Widuri meneruskan, “Kalau begitu kau adalah anak seorang yang kaya dan terhormat. Menurut ayahku, di muka istana Demak pun ada alun-alun.”

“Tidak selalu,” potong Arya, “Ayahku bukanlah orang yang kaya. Tetapi adalah lazim bahwa di muka rumah kepala daerah perdikan terdapat alun-alun. Di Pamingit juga ada alun-alun. Di Pangrantunan, bekas rumah kakek dahulu juga terdapat alun-alun. Bahkan di muka rumah kademangan Paman Sarayuda di Gunungkidul, katanya ada alun-alun juga.”

“Kapan kita berangkat?” Tiba-tiba Endang Widuri bertanya seolah-olah tidak sabar lagi menunggu sampai esok.

ARYA SALAKA menggelengkan kepalanya.

“Entahlah,” jawabnya.
“Sebulan… dua bulan… atau setahun lagi…?” tanya Endang pula.
“Seharusnya Arya Salaka-lah yang paling tidak bersabar.” Tiba-tiba terdengar suara Rara Wilis dari belakang mereka.

Segera mereka itu pun menoleh. Dan tiba-tiba terbersitlah perasaan malu di dalam dada Endang Widuri. Perasan yang selama ini belum pernah dirasakannya. Karena itu pipinya pun kemudian menjadi merah. Tetapi perasaan itu hanya sebentar menjalar di dalam dirinya, kemudian kembali terdengar suaranya renyah, “Kakang Arya Salaka pun sebenarnya tidak bersabar pula. Tetapi ia tidak mau mengatakannya. Sedang aku menjadi sangat ingin melihat kehidupan bukit Telamaya dan kecerahan wajah Rawa Pening di pagi yang bening.”

Rara Wilis tersenyum. Sebenarnya di dalam hatinya sendiripun tersimpan pula harapan, agar segala sesuatunya menjadi lekas terselesaikan. Sebagai seorang gadis ia lebih mudah tersentuh oleh perasaan rindu kepada keluarga. Kepada hidup kekeluargaan yang lumrah. Meskipun di dalam tubuhnya mengalir juga darah pengembara dari kakeknya, Pandan Alas, namun baginya lebih baik hidup tentram damai dalam pelukan keluarga yang bahagia. Bermain-main dengan anak dan suami serta bergurau dengan tetangga.

Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun ikut duduk bersama dengan Arya dan Endang Widuri. Ikut bercakap-cakap dengan mereka itu, untuk melupakan kerinduannya pada masa yang diimpikan. Namun ia pun sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia harus mengutamakan membantu orang yang dicintainya dalam mengemban kewajiban. Ia harus dapat menekan diri, dalam pergolakan masa kini.

Tetapi agaknya Mahesa Jenar tidak menunda-nunda waktu lebih lama. Ketika matahari pada sore hari itu terbenam, mulailah ia mengumpulkan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru, di gardu pimpinan. Kebo Kanigara, Rara Wilis bahkan Endang Widuri pun hadir pula. Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sedang Papat, Sendang Parapat, dan beberapa orang lagi.

Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar membeberkan segala sesuatu mengenai persoalan yang rumit yang menyangkut diri Arya Salaka. Karena itu ia ingin membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Tetapi tidak dalam rombongan kecil, tetapi mereka bersama-sama akan berangkat, sebagai suatu pernyataan bahwa apabila terpaksa, laskar Banyubiru yang setia itupun memiliki kekuatan yang tak dapat diabaikan.

Dalam keriuhan sambutan yang bergelora, disertai dengan keikhlasan berkorban dari para pemimpin laskar, terdengar Mahesa Jenar berkata, “Laskar Banyubiru yang setia, kalian harus ingat akan tujuan kalian. Sekali lagi aku katakan, kita kembali ke Banyubiru tidak akan membalas dendam. Kita datang ke Banyubiru untuk kepentingan kebenaran dan keadilan, untuk kepentingan kemanusiaan. Karena itu jangan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Bertentangan dengan perasaan keadilan dan bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan.”

Pertemuan itu menjadi hening. Suatu pertanda bahwa kata-kata Mahesa Jenar itu benar-benar meresap ke dalam dada setiap orang yang mendengarkan.

Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, “Ingatlah bahwa kalian berada dalam satu pimpinan. Jangan berbuat sendiri-sendiri yang dapat merugikan nama baik kalian sebagai pejuang. Nah, sejak besok pagi, bersiagalah untuk setiap saat berangkat ke Banyubiru.”

Laskar Banyubiru yang setia itu menyambut pernyataan Mahesa Jenar dengan penuh tekad. Mereka menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga karena mereka sama sekali tidak mau menerima keadaan yang menyedihkan di tanah mereka. Karena itu ketika mereka mendapat kesempatan untuk kembali ke Banyubiru, mongkoklah hati mereka. Mereka tidak mengharap hal yang berlebih-lebihan. Mereka tidak mengharap untuk kemudian menjadi Demang, Lurah atau Bahu. Tetapi mereka sekedar mengharap pemerintahan yang adil dan jujur, berlandaskan pada sendi-sendi yang telah diletakkan sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipajana.

Sebagai seorang yang patuh kepada agamanya, Ki Ageng Sora Dipajana mendasarkan pemerintahannya kepada ketaatannya, pengagungan dan kebaktiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tindak tanduk dan tingkah lakunya di dalam menjalankan pemerintahan, cinta kasih kepada sesama, kepada manusia sebagaimana Tuhan menjadikan manusia dengan penuh Cinta kasih, kepada tumpah darah, kampung halaman serta lingkungan yang dikurniakan Tuhan kepada manusia. Mendasarkan pemerintahan pada kepentingan rakyatnya serta mendengarkan dan melaksanakan pendapat mereka untuk kesejahteraan mereka lahir dan batin. Tidak hanya dalam ucapan penghias bibir, tetapi benar-benar dalam pengamalan dan perbuatan.

Sendi-sendi itu pulalah yang kemudian diterapkan dalam pemerintahan Ki Ageng Gajah Sora di Banyubiru. Tetapi sejak masih berada di Pamingit, adiknya Ki Ageng Lembu Sora agaknya sedikit demi sedikit tersesat dari jalan itu. Sedikit demi sedikit ia tenggelam dalam kepentingan diri sendiri, nafsu lahiriah yang kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan sendi-sendi dasar yang menurut pengakuannya juga dianutya.

Tetapi apakah artinya pernyataan, pengakuan dan kesediaan yang diteriakkan sampai menyentuh langit, namun dalam tindak tanduk dan tingkah lakunya bertentangan dengan kata-katanya…? Apakah artinya janji yang tidak pernah ditepati…? Apakah artinya pengabdian diri yang hanya berupa pameran lahiriah tanpa satunya kata dan perbuatan…?

Beberapa orang yang pernah mengalami penderitaan lahir batin dapat menjadi saksi. Lapangan-lapangan yang pernah dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan tayub, mabuk-mabukan dan adu jago merupakan saksi-saksi bisu pula. Sedang tempat ibadah yang semakin hari semakin susut dikunjungi orang dapat merupakan saksi-saksi yang tak dapat dibantah. Penganiayaan dan tindak sewenang-wenang betapapun alasannya. Sebab sebenarnya bahwa pelanggaran atas azas-azas kemanusiaan adalah pelanggaran pula dari azas-azas ke-Tuhan-an.

ITULAH yang tidak dikehendaki oleh orang-orang Banyubiru yang setia. Setia kepada sendi-sendi dasar pemerintahan itu. Dengan demikian, ketika matahari mulai menjengukkan wajahnya di keesokan harinya, sibuklah laskar Banyubiru mempersiapkan diri. Mereka mempertinggi irama latihan mereka, mempertajam pedang serta tombak mereka. Meskipun senjata-senjata itu bukan mutlak harus dipergunakan, namun terhadap orang yang bernama Lembu Sora dan Sawung Sariti, hal yang demikian itu tak dapat dikesampingkan.

Hari itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sendiri memerlukan menyaksikan latihan-latihan yang diselenggarakan tanpa mengenal lelah. Beberapa kali kedua orang sakti itu langsung memberikan nasehat-nasehat serta petunjuk-petunjuk. Bahkan beberapa orang yang cukup kuat, langsung mendapat latihan-latihan khusus dari Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara disamping usaha-usaha yang terus-menerus yang dilakukan oleh Mantingan, Wirasaba dan pimpinan laskar mereka sendiri.

Pada hari ketiga, ketika Mahesa Jenar menganggap bahwa waktunya telah masak, dipersiapkannya laskar Banyubiru itu. Dan pada suatu pagi yang cerah, didahului oleh pengantar kata dari setiap pimpinan kelompok, untuk memperteguh jiwa anak-anakBanyubiru itu, menjalarlah sebuah iringan yang seperti ular menelusuri jalan-jalan perbukitan.

Di ujung barisan itu berjalanlah Mahesa Jenar di samping Arya Salaka. Kemudian di belakangnya berjalan seenaknya Endang Widuri di samping ayahnya. Perhatiannya sama sekali tidak tersangkut pada perjalanan yang penting ini, tetapi ia lebih senang memberhatikan lembah yang berwarna hijau kekuning-kuningan, diantara batu-batu padas yang merah tembaga menjorok seakan-akan menghadang perjalanan itu.

Sinar matahari pagi yang dilemparkan ke lembah-lembah itu menari dengan lincahnya mempermainkan titik-titik embun yang masih tersangkut di ujung-ujung daun. Ketika Arya Salaka muncul dari balik sebuah bukit kecil, tiba-tiba dadanya berdesir. Tanpa sesadarnya ia berhenti. Mahesa Jenar cepat dapat mengetahui perasaan apakah yang bergolak di dalam dada anak itu. Cepat Mahesa Jenar menariknya ke tepi dan memberi isyarat kepada pasukannya untuk berjalan terus.

Ketika Endang Widuri lewat beberapa langkah di depan Arya Salaka, ia menoleh kepadanya dengan heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sebab kemudian kembali ia tertarik pada dataran yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang sudah cukup tinggi.

“Ai…” teriak gadis kecil itu, “Apakah itu?”

Ayahnya tertawa, dijawabnya, “Seharusnya aku mengajak kau merantau supaya kau tidak menjadi anak yang heran melihat matahari terbit.”

Endang Widuri sama sekali tidak memperhatikan kata-kata ayahnya, bahkan kemudian ia berteriak gembira sekali, “Rawa Pening? Bukankah itu Rawa Pening?”

“Ada apa dengan Rawa Pening?” tanya ayahnya.

“Sejak lama aku ingin melihatnya. Kalau demikian, bukankah kita sudah tidak jauh lagi dari rumah Kakang Arya Salaka?” tanya Widuri pula.

Pertanyaan itu terdengar aneh bagi Kebo Kanigara. Tetapi sebagai seorang ayah dari seorang gadis yang sedang menjelang mekar, ia hanya menarik nafas. Tetapi kemudian terdengar jawabannya, “Widuri, Banyubiru masih jauh. Jalan lembah itu akan berkelok-kelok seperti ular yang sedang berenang. Meskipun demikian kau sudah dapat melihat arahnya dari tempat ini. Itulah Bukit Telamaya.”

Telamaya dalam pendengaran Endang Widuri, merupakan daerah yang sejuk, tenteram dan damai.

Tiba-tiba angan-angannya memanjat tinggi ke alam cita. Meskipun ia belum pernah melihat daerah Bukit Telamaya, namun ia tiba-tiba menjadi sedemikian besar keinginan untuk pergi ke daerah itu, sebagai daerah yang menyenangkan. Tanpa sesadarnya pula kemudian ia menoleh ke arah Arya Salaka. Anak muda itu ternyata masih berdiri tegak di samping Mahesa Jenar, memandang jauh ke arah lambung Bukit Telamaya yang membujur di hadapannya seperti raksasa yang tidur dengan nyenyaknya.

Di balik bukit itu membayanglah warna biru kehijauan disaput oleh awan yang tipis, Gunung Merbabu. Kemudian Endang Widuri meneruskan perjalanannya dengan penuh angan-angan di kepalanya. Sebagai seorang gadis ia senang pada keindahan. Juga keindahan alam yang terbentang di hadapannya. Lembah, ngarai, jurang-jurang terjal dan dinding-dinding padas yang menjulang tinggi, ditelusuri oleh jalur-jalur putih, jalan setapak yang selalu dipergunakan oleh orang-orang yang mencari kayu di hutan-hutan. Di sana-sini jalur-jalur itu hilang terputus ditelah oleh hutan-hutan yang berserakan di lembah itu. Agak jauh di sebelah Rawa Pening, terbentanglah sawah yang luas. Setingkat demi setingkat pematang-pematang sawah itu seperti memanjat tebing pada sisinya. Tetapi daerah itu masih jauh.

Arya Salaka yang berdiri di samping Mahesa Jenar merasa betapa hatinya berdebar-debar menyaksikan semuanya itu. Seperti seorang akan menjelang kekasih yang telah bertahun-tahun tak bertemu. Sawah, ladang, kampung halaman rumahnya dengan pohon jambu yang lebat berbuah.

Semuanya itu seperti hilir mudik di depan matanya. Dan dibalik kehijauan lambung Bukit Telamaya itulah tinggal seorang yang paling dicintai, serta dirindukannya, yaitu ibunya. Mahesa Jenar ikut merasakan betapa perasaan rindu itu mengusik hati muridnya. Tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebab ia tahu pula bahwa kata-katanya akan dapat menambah gelora perasaan rindu itu. Untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri. Di samping mereka berjalanlah iringan laskar Banyubiru. Di pundak merekalah terletak masa depan Bukit Telamaya itu, dan kepada merekalah bukit itu menggantungkan nasibnya.

TIBA-TIBA Arya Salaka menjadi semakin terharu ketika ia melihat keserasian yang mengetuk dadanya. Di hadapannya terbentang lembah yang hijau dibatasi oleh lereng bukit Telamaya, sedang di sampingnya menjalarlah laskar yang setia. Betapa kemudian tergambar di dalam otaknya itu seolah-olah merupakan seekor naga raksasa yang sedang berjuang untuk merebut kembali sebutir telur raksasanya yang teronggok di hadapannya. Arya menarik nafas. Bukit Telamaya itu seolah-olah sebuah permata yang berkilauan ditimpa cahaya matahari. Sinarnya memancarkan ke segenap penjuru, memerangi seluruh langit dan bumi.

Kemudian teringatlah anak muda itu akan sebuah kisah terjadinya Rawa Pening. Seekor naga yang rindu kepada ayahnya. Sedang ayah itu bersedia untuk menerimanya apabila ular itu sanggup melingkari gunung Merbabu. Tetapi sayang, bahwa panjang tubuhnya tidak memungkinkan, meskipun hanya kurang sejengkal. Karena itu ular raksasa itu tidak menyenangkan ayahnya. Dengan serta merta, lidah ular raksasa itu segera dipotongnya. Maka matilah ular itu. Tetapi jiwa ular itu kemudian berubah menjadi seorang kerdil yang menancapkan lidi di lembah bukit sebelah utara Gunung Merbabu. Tak seorang pun dapat menarik lidi itu. Karena itu kemudian orang kerdil itu sendirilah yang menariknya.

Dari lubang bekas lidi itu memancarlah mata air yang semakin lama semakin besar dan besar. Akhirnya terjadilah di lembah itu sebuah Rawa. Rawa Pening.- Sekarang, Arya Salaka pun sedang melakukan tugas yang seolah-olah dibebankan oleh ayahnya. Melingkari bukit Telamaya. Pasukannya itulah ibarat tubuh ular yang harus mampu melilit bukit itu. Tetapi kalau kemudian panjang tubuh itu tidak memungkinkan, ia tidak akan menyambung hanya dengan lidahnya. Tidak dengan janji dan prasetya. Tetapi ia akan menyambung kekurangan itu dengan darahnya. Dengan nyawanya.

Arya Salaka terkejut ketika terasa setetes air menyentuh tangannya. Cepat ia mengusap matanya yang sedang mengaca. Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar pun agak terpaku juga pada kebesaran alam yang tergelar di hadapannya. Memang demikianlah tabiatnya. Setiap kali ia berhadapan dengan kebesaran alam, setiap kali ia menyebut nama Yang Maha Besar. Kalau ciptaan-Nya saja sedemikian agungnya, betapa Agung Yang Menciptakannya. Ketika Mahesa Jenar menoleh kepadanya, Arya Salaka mencoba untuk tersenyum. Senyum yang diwarnai oleh gelora hatinya. Meskipun demikian, Mahesa Jenar melihat juga warna merah yang menyaput mata muridnya. Tetapi ia pura-pura tidak melihatnya dan malah ia bertanya kepada anak muda itu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan Banyubiru, sambil menengadahkan mukanya. “Arya, udara cerah. Sebentar lagi matahari akan sampai di atas kepala kita. Mudah-mudahan kita dapat beristirahat sebentar di hutan di depan kita.”

Arya Salaka mengangguk. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, Paman. Hutan itu sudah tidak begitu jauh.”

“Kita perlu istirahat sebentar, Arya. Kemudian kita meneruskan perjalanan. Kita akan bermalam satu malam sebelum esok paginya kita sampai ke hadapan Bukit Telamaya itu.”

“Tidakkah hari ini kita lanjutkan perjalanan, Paman?” tanya Arya Salaka sekenanya.

“Tidak perlu,” jawab Mahesa Jenar, “Sebab menurut pertimbanganku, sebelum kita memasuki daerah itu, biarlah dua tiga orang mendahului menyaksikan keadaan. Sebab apabila terpaksa terjadi perselisihan, maka kita dapat mengetahui siapakah yang berada di pihak kita, dan siapakah yang berbeda pendapat dengan kita. Dengan demikian kita akan mendapat gambaran yang tegas, apakah yang perlu kita lakukan.”

Arya Salaka yang telah dapat menguasai perasaanya, sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata pertimbangan gurunya itu adalah benar-benar merupakan suatu tindakan yang berhati-hati dan penuh kewaspadaan. Karena itu ia menjawab, “Agaknya demikianlah yang seharusnya, Paman.”

Sekali lagi Mahesa Jenar melemparkan pandangannya ke Bukit Telamaya yang melintang di hadapannya, lembah, ngarai serta jurang-jurang yang terjal. Sekali lagi ia memandang cahaya matahari yang terpantul dari wajah Rawa Pening. Maka kemudian katanya, “Marilah Arya, ujung pasukanmu telah berjalan agak jauh mendahului kita.”

Arya tersadar dari perasaan rindu, haru serta gambaran-gambaran masa datang. Ketika ia menoleh ke belakang, dilihatnya laskarnya yang berjalan berjajar dua di jalan sempit itu telah hampir sampai ke pangkalnya. Di belakang pasukan itu dilihatnya Mantingan dan Wirasaba berjalan beriringan dengan Bantaran dan Penjawi.

Melihat Arya Salaka dan Mahesa Jenar yang seolah-olah sengaja menyaksikan seluruh isi laskarnya, Mantingan tersenyum. Kemudian setelah sampai di hadapan anak muda itu ia berkata, “Adakah yang kurang dalam barisan ini?”

Sambil berjalan di samping mereka itu Arya menjawab, “Tidak, Paman. Namun demikian aku mengharap bahwa barisan kita menjadi semakin lengkap. Apabila kita besok mulai memasuki Banyubiru, aku harap bahwa di samping Sang Saka Gula Kelapa, berkibar pula Panji-panji Dirada Sakti, sebagai lambang kebesaran tanah Perdikan Banyubiru, di dalam pelukan persatuan dan kesatuan Demak.”

Mantingan dan Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya, apalagi Bantaran dan Penjawi. Sehingga terdengarlah Penjawi menjawab, “Hebat. Kita pasang pula umbul-umbul dan tanda-tanda kebesaran lainnya. Bukankah dengan demikian pasukan kita akan bertambah megah?”

“Demikianlah hendaknya,” jawab Arya Salaka, “Asal hati kita bertambah megah dan besar.”

MAHESA JENAR kagum akan kecepatan berpikir Arya. Dengan demikian ia benar-benar seperti menanti laskarnya berjalan dahulu untuk berbicara dengan Mantingan. Hilanglah kesan keharuan dari wajahnya. Hilanglah sikap kekanak-kanakannya yang rindu pada orang tua. Yang kemudian menjadi sikap seorang putra kepala daerah perdikan yang rindu pada kebesaran tanah perdikannya. Kemudian untuk beberapa lama pasukan itu berjalan dalam keheningan. Tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata, namun di dalam dada masing-masing bergeloralah berbagai macam persoalan yang hilir-mudik, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi silih berganti. Wajah-wajah mereka kadang-kadang tampak cerah seperti cerahnya matahari, kadang-kadang menjadi suram oleh kenyataan yang mereka hadapi. Bahwa mereka harus melampaui banyak persoalan, untuk kembali kekampung halaman sendiri. Bahwa mereka merasa, seolah-olah mereka adalah orang buruan yang dikejar-kejar dan terasing karena mereka adalah perampok-perampok dan penjahat-penjahat. Bahwa mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang tak tahu diri dan membuat kadang-kadang diluar perikemanusiaan, hanya karena ia berkata, “Aku tetap setia kepada Banyubiru.” Apakah salah mereka dengan kesetiaannya itu? Kesetiaan yang dilandasi oleh kesadaran, bahwa dalam keadaan yang sedemikian ini, hanya pemerintahan yang berlandaskan kebenaran dan keadilanlah yang akan dapat menjamin ketentraman Banyubiru. Bahkan pulihnya hubungan yang wajar antara Banyubiru dan Pamingit, diantara segala sesuatu dapat dikembalikan kepada tempatnya yang sebenarnya. Sebab menurut keyakinan mereka, hanya dengan cara-cara yang demikian, Banyubiru akan dapat berkembang atas perkenaan Yang Maha Kuasa, serta sejahtera lahir dan batin. Akan bergemalah kembali kesibukan serta keriuhan para penjual dan pembali di pasar-pasar. Serta akan berkembanglah kembali usaha-usaha pendidikan, sebagai taburan benih buat masa depan. Hanya dari benih-benih yang baik serta pemeliharaan yang baiklah akan dapat tumbuh bibit-bibit serta pohon-pohon yang baik pula. Tetapi apabila pada bibit-bibit yang baik itu tidak pernah mendapat rabuk yang baik, bahkan kemudian disiram dengan racun, akan kerdillah pohon-pohon yang akan menjadi tempat bernaung di masa depan, serta akan muncul pulalah buah yang dihasilkan.

Demikianlah tanpa dirasa, oleh karena tekad yang memang sudah membaja, matahari telah berada di atas kepala. Sesaat kemudian pasukan itu memasuki sebuah hutan perdu yang tak begitu lebat. Ketika seluruh barisan itu telah ditelan oleh kesejukan rimba, terdengarlah suara sangkalala. Suatu pertanda bahwa pasukan itu harus berhenti beristirahat.

Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar, Arya Salaka, Kebo Kanigara, Mantingan serta beberapa orang penting lainnya mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mereka memilih beberapa orang untuk mendahului laskar Banyubiru, melihat-lihat suasana. Di pundak merekalah diletakkan kepercayaan untuk mengabarkan kedatangan laskar mereka kepada rakyat Banyubiru. Laskar yang akan menempatkan mereka ke dalam wadah yang sewajarnya. Serta kepada mereka diletakkan tanggungjawab untuk memberikan warna kepada rakyat Banyubiru dalam menghadapi kehadiran laskar mereka. Mereka harus sadar, bahwa kedatangan laskar itu bukan berarti bencana seperti yang mereka sangka, yang ditimbulkan oleh berita-berita yang sengaja ditiup-tiupkan oleh berbagai pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Golongan hitam yang takut berhadapan dengan rakyat Banyubiru dan Pamingit yang bersatu bulat selalu berusaha untuk memperbesar perselisihan antara rakyat Banyubiru dan Pamingit, antara rakyat Banyubiru dan rakyat Banyubiru sendiri. Bahkan kadang-kadang mereka dapat menjadikan diri mereka seolah-olah laskar Banyubiru yang menyingkir ke Gedong Sanga untuk mengadakan pengacauan dan bahkan kadang-kadang perampokan atas rakyat Banyubiru sendiri.

Namun kadang-kadang mereka dapat merubah dirinya untuk menjadi orang-orang Pamingit atau laskar Banyubiru yang menerima pemerintahan Lembu Sora untuk mengadakan penganiayaan atas orang Banyubiru yang dianggapnya setia kepada kampung halaman. Dengan demikian mereka telah menggali jugang yang semakin dalam antara dua keluarga sedarah itu. Disamping itu, mereka yang telah disilaukan oleh kedudukan serta harta benda pun menjadi mata gelap. Mereka pun melakukan perbuatan yang serupa, yang tidak mereka sengaja telah membantu memperdalam jurang antara keluarga sendiri. Dari mulut mereka selalu timbul berbagai celaan dan hinaan terhadap laskar Banyubiru. Seolah-olah mereka tidak lebih dari gerombolan penjahat yang sama sekali tidak berbeda dengan penjahat-penjahat yang lain.

Tugas itu bukanlah tugas yang ringan. Karena itu dipilihlah diantara laskar Banyubiru itu beberapa orang yang dianggap akan dapat menunaikan tugas dengan baik. Pilihan itu jatuh kepada kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat dibantu oleh beberapa orang.

MESKIPUN demikian Mahesa Jenar masih agak kurang tenang dengan anak-anak muda itu. Karena itu akhirnya ia minta kepada tetua tanah perdikan Banyubiru, Wanamerta, untuk mengawasi pelaksanaan tugas itu.

Dengan senang hati mereka menerima kehormatan itu. Dengan penuh tekad mereka berjanji akan melaksanakan sebaik-baiknya, apapun yang akan terjadi dengan mereka.

“Sendang Papat dan Sendang Parapat…” pesan Mahesa Jenar, “Kalian datang ke Banyubiru bukan untuk menambah keributan, bukan untuk menakut-nakuti dan bukan untuk mengancam. Kalian datang ke Banyubiru untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang sewajarnya. Karena itu jangan menuruti darah muda kalian. Kita memilih kalian, karena kalian dalam wawasan kami dapat mempergunakan otak kalian dengan baik. Nah, seterusnya Paman Wanamerta ada diantara kalian. Jagalah keselamatannya. Turutilah nasehatnya. Kemudian datanglah kembali kepada kami dengan kawan yang lebih banyak, bukan lawan.”

Maka setelah beristirahat beberapa saat, rombongan kecil itu pun berangkat mendahului. Mereka mengharap bahwa menjelang malam, mereka sudah akan memasuki kota. Sepeninggal rombongan itu, Mahesa Jenar menyusun rombongan yang kedua, untuk memenuhi anjuran Ki Ageng Sora Dipayana, membawa Arya Salaka menghadap. Tugas ini tak dapat dibebankan kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri bersama Kebo Kanigara. Bantaran, Penjawi dan bahkan hampir segenap pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengerti, kenapa Mahesa Jenar masih saja melakukan hal-hal yang menurut pertimbangan mereka tidak akan berguna. Mereka menjadi tidak bersabar, bahwa mereka masih harus menunggu dan menunggu.

Perjalanan dari Candi Gedong Sang ke Banyubiru itu terasa betapa panjangnya. Mereka menjadi gelisah karena dengan rombongan-rombongan itu mereka masih harus bersabar. Mereka harus menanti rombongan pertama itu kembali, seterusnya merekapun harus menunggu Mahesa Jenar membawa Arya Salaka kepada kakeknya. Bukankah hal itu tidak akan banyak berarti? Mahesa Jenar melihat kegelisahan itu. Karena itu ia berkata dengan sareh, “Para pemimpin laskar Banyubiru… aku masih mengharap kalian bersabar. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang penting bagi kita bukanlah menghantam Banyubiru dengan kekerasan, tetapi yang penting adalah penempatan kembali segala sesuatunya pada tempat yang seharusnya. Kita ingin melihat Ki Ageng Lembu Sora sudi meninggalkan Banyubiru. Nah, dengan mempergunakan pengaruh yang masih ada, dari hubungan darah yang rapat antara Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Arya Salaka, mudah-mudahan usaha kita tercapai tanpa setetes darahpun yang mengalir dari tubuh kita. Kita mengharap bahwa apabila Arya Salaka telah benar-benar berada di hadapan Lembu Sora, akan berubahlah pendirian pamannya itu. Sebab bagaimanapun juga anak ini adalah kemanakannya.”

Tiba-tiba dari antara para pimpinan laskar Banyubiru itu terdengar sebuah pertanyaan yang menggambarkan betapa kesal hati mereka “Tuan, kalau begitu apakah artinya kita berarak-arak kemari, kalau kita tidak menggilas Lembu Sora sampai ke anak cucunya? Sebab selama orang itu masih hidup beserta segenap pengikutnya, maka keadaan Banyubiru masih akan selalu ribut dibuatnya.”

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Ia dapat mengerti sepenuhnya perasaan itu. Sejak semula mereka sudah bersiap untuk bertempur, seperti mereka siap pula bertempur melawan golongan hitam. Karena itu Mahesa Jenar menjawab dengan sareh, “Kedatangan kalian kemari adalah bukti dari kesetiaan kalian terhadap Banyubiru. Sebagai suatu kenyataan yang harus diperhitungkan oleh Ki Ageng Lembu Sora dalam keputusannya. Nah, para pimpinan laskar Banyubiru, aku berjanji untuk yang terakhir kalinya mengecewakan kalian. Kalau usahaku kali ini gagal, maka akulah yang akan memerintahkan kalian untuk menggempur Banyubiru, dan akulah yang akan berdiri di barisan yang paling depan bersama-sama dengan Arya Salaka. Sebab Arya Salaka-lah yang berwewenang atas tanah Perdikan Banyubiru, mengemban kewajiban memegang pimpinan. Kecuali ia adalah putra Ki Ageng Gajah Sora, suatu kenyataan yang tak dapat disangkal, bahwa Arya Salaka-lah yang menerima Tombak Kyai Banyak sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.”

Meskipun keterangan Mahesa Jenar itu belum memuaskan mereka, namun para pimpinan laskar Banyubiru itu mencoba untuk mengertinya. Tetapi mereka sadar bahwa untuk beberapa saat mereka akan melampaui masa-masa yang menjemukan. Menunggu dan menunggu. Sedangkan menunggu bagi seorang prajurit yang sudah bersiap untuk bertempur, adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Namun mereka adalah laskar yang mempunyai ikatan yang kuat, sehingga setiap perintah akan dilaksanakan dengan baik. Demikian juga perintah untuk menunggu itupun akan mereka laksanakan pula.

Ketika mereka sudah cukup beristirahat, kembali laskar Banyubiru itu melanjutkan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai ke perbatasan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai perbatasan menjelang senja. Di sanalah mereka akan berkemah, dan menghabiskan waktu-waktu mereka dengan sebal dan gelisah.

Di langit, matahari yang menyala-nyala berputar demikian cepatnya. Maka ketika sorotnya yang kemerahan di langit sebelah barat tenggelam di balik bukit-bukit, laskar Banyubiru itu telah sampai ke tujuannya. Mereka segera menempatkan diri sebaik-baiknya. Meskipun mereka tidak dalam gelar perang, namun mereka harus selalu bersiaga, kalau-kalau laskar Lembu Sora mendahului menyerang mereka. Sebagian dari para laskar itupun segera beristirahat, sebab besok mereka harus membangun perkemahan untuk beberapa hari lamanya.

Dalam pada itu Wanamerta, Sendang Papat dan Sendang Parapat telah pula memasuki kota Banyubiru. Untuk menjaga keamanan diri, mereka sengaja memilih jalan-jalan yang sepi. Satu-dua mereka bertemu juga dengan penduduk yang memandang mereka dengan curiga. Namun karena malam telah gelap, tak seorangpun yang dapat mengenalinya. Karena itu, Wanamerta bersama kawan-kawannya dapat mencapai pusat kota dengan selamat.

DI sepanjang jalan mereka sempat membicarakan apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka pasti tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menemui orang-seorang, memasuki rumah yang satu ke rumah yang lain. Karena itu mereka mencoba untuk bertemu dengan penduduk Banyubiru dalam jumlah yang besar sekaligus. Dari Bantaran mereka pernah mendengar bahwa orang-orang Banyubiru sekarang mempunyai kebiasaan yang menyedihkan. Menyabung ayam, judi dan tayub di lapangan di ujung kota. Maka ketika Wanamerta teringat pada ceritera Bantaran itu, ia berkata, “Sendang berdua, bukankah sebaiknya kita pergi ke tanah lapang itu?”

Kakak-beradik itu ragu sejenak. Jawab Sendang Papat, “Paman, tidakkah perbuatan itu terlalu berbahaya?”

Wanamerta tersenyum.

Jawabnya, “Aku kira tidak, Sendang Papat, aku kira lebih mudah berbicara dengan orang banyak daripada berbicara dengan mereka satu demi satu, apabila kita dapat menempatkan diri kita. Tetapi kalau kita gagal, bahayanya menjadi lebih besar. Nah, biarlah kita mencoba mengail ikan yang besar sekaligus, meskipun umpannya pun harus besar.”

“Baiklah Paman,” jawab Sendang Papat. Meskipun dengan demikian mereka harus bersiap menghadapi bahaya. Tiga orang yang pergi bersama mereka, berjalan agak jauh di belakang. Ketika Wanamerta sudah mengambil keputusan, maka segera Sendang Parapat menemui mereka, dan memberi mereka pesan-pesan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka ketika mereka mendengar suara gamelan tidak demikian jauh di hadapan mereka mulai dibunyikan, berkatalah Wanamerta, “Nah, itulah, mereka segera akan mulai dengan acara gila-gilaan itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Marilah kita mulai dengan permainan kita,” sambung Wanamerta, “Kita ambil jalan yang berbeda-beda, supaya kedatangan kita tidak menarik perhatian.”

Maka Wanamerta pun kemudian berjalan sendiri, Sendang Papat dan Sendang Parapat beserta ketiga orang yang lainpun kemudian berpisah-pisah untuk seterusnya pergi ke tanah lapang yang memancarkan kemaksiatan yang memuakkan itu. Ketika mereka sampai ke tempat itu lewat jalan-jalan berbeda dan berdiri ditempat yang berserak-serak dan gelap, segera mereka melihat kebenaran ceritera Bantaran itu.

Mereka melihat beberapa orang tledek menari-nari di tengah arena dengan gerak-gerak yang menggairahkan. Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah penari yang baik pula. Tetapi mereka belum pernah mempelajari bentuk-bentuk tarian seperti yang ditarikan oleh tledek-tledek itu. Apalagi ketika mereka kemudian mengenal siapakah yang kemudian bersedia merendahkan diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan itu, tanpa sengaja. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta, tanpa berjanji, di tempat masing-masing menggeleng-gelengkan kepala mereka.

Gadis-gadis itu ternyata beberapa tahun yang lalu adalah gadis-gadis yang baik, bahkan mereka adalah penari-penari yang baik pula. Tetapi tiba-tiba mereka sekarang menari dengan gaya yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Bahkan menurut penilaian mereka, gadis-gadis itu sama sekali tidak menari, tetapi mereka benar-benar mencoba untuk memancing-mancing nafsu jasmaniah yang rendah, dalam irama gelap yang gila-gilaan pula. Diantara nada-nada yang berirama panas itu terdengar suara pesinden yang tidak kalah gilanya dari tari-tarian itu sendiri. Pesinden yang telah kehilangan patokan-patokan seni.

Maka di lapangan itu terdapatlah suatu perpaduan antara tari-tarian, lagu dan irama yang benar-benar dapat membakar hangus dada yang berisi hati yang lemah. Namun sayang, terlalu sayang, bahwa justru tari-tarian, lagu dan irama yang demikian itulah yang kini mendapat penggemar-penggemar yang cukup banyak. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta melihat, betapa pemuda-pemuda sebaya dengan kakak-beradik Sendang itu, bahkan diantaranya masih sangat muda. Mereka telah benar-benar tenggelam dalam lagu-lagu yang sama sekali telah kehilangan bentuknya sebagai lagu, tari-tarian yang hanya memantulkan gairah tanpa keindahan dan watak. Apalagi harus dipanaskan dengan suasana yang benar-benar telah berubah seperti panasnya api neraka, telah menelan seluruh tanah lapang itu ke dalam suasana yang mengerikan.

Ketika Wanamerta dengan beberapa orangnya masih saja berdiri di dalam bayang-bayang yang gelap, mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama telah menyaksikan dua kali perkelahian diantara para penonton. Perkelahian orang-orang yang mabuk tuak, dibelai oleh suara tertawa beberapa orang perempuan dengan gembira sekali menyaksikan perkelahian itu. Namun di samping itu, Wanamerta dan kawan-kawannya, masih juga melhat beberapa orang laki-laki yang hanya berjongkok-jongkok saja menonton suasana itu dari kejauhan. Dari wajah-wajah mereka, Wanamerta menangkap beberapa kesan yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang kecewa karena kehabisan uang. Ada yang kecewa karena mereka menyaksikan tingkah laku yang seolah-olah kehilangan kesadaran. Ada yang kecewa karena sejak akhir-akhir ini mereka tidak dapat menyaksikan lagi bentuk-bentuk kesenian seperti yang pernah mereka nikmati dahulu. Wanamerta tidak menunggu suasana menjadi bertambah ribut dan gila. Ia ingin menjumpai sesuatu pada orang-orang Banyubiru itu. Karena itu, ia tidak berlindung di bawah bayang-bayang yang gelap lagi. Dengan sengaja ia berjalan maju diantara orang-orang yang berserak-serak di tanah lapang itu. Di dalam hatinya bergolaklah berbagai macam perasaan sehingga terasa jantungnya berdebar-debar.

TIBA-TIBA Wanamerta merasa seperti seorang bekel Bayangkari pada masa pemerintahan Baginda Jayanegara yang bernama Gajah Mada. Setelah ia berhasil menyingkirkan Baginda Jayanegara dari pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti, kemudian ia kembali ke Majapahit mengabarkan kepada rakyatnya bahwa Baginda telah wafat. Ketika ia mengetahui bahwa rakyat Majapahit dan para pembesar berduka cita atas berita itu, tahulah ia bahwa rakyat masih cinta kepada Baginda Jayanegara.

Demikianlah kali ini, ia harus berhadapan dengan rakyat Banyubiru, membawa kabar tentang laskar mereka. Mula-mula tak seorangpun memperhatikan kehadirannya. Tetapi beberapa saat kemudian seorang demi seorang memandangnya dengan penuh perhatian. Mula-mula mereka ragu, apakah benar yang berdiri di antara mereka dengan sikap acuh tak acuh itu Kiai Wanamerta.

Ki Wanamerta pura-pura sama sekali tak merasakan perhatian orang kepadanya. Dengan berdiam diri, ia semakin maju, melihat pertunjukan di arena. Pertunjukan yang telah menjadi semakin gila dan panas.

Dalam pada itu terdengarlah bisik-bisik di antara para penonton. Seorang perlahan-lahan berkata kepada kawan yang berdiri di sebelahnya, “He Kakang, bukankah itu Kiai Wanamerta?”

Dengan mengedipkan matanya, kawannya itu menjawab, “Kalau aku tidak salah lihat, beliaulah Kiai Wanamerta”. – Mereka jadi berdiam diri. Tetapi karena keinginan mereka untuk mendapatkan kebenaran atas sangkaan itu, mereka berjalan perlahan-lahan mengikutinya. Ternyata bukan hanya kedua orang itu sajalah yang ingin melihat, apakah orang itu benar-benar Kiai Wanamerta. Dengan demikian para penonton di tanah lapang itupun berdesakan maju. Kali ini bukan karena tledeknya yang semakin membuat tingkah yang aneh-aneh, tetapi karena mereka ingin memandang wajah orang yang mereka sangka Kiai Wanamerta itu dengan lebih seksama lagi.

Diam-diam Kiai Wanamerta merasa, bahwa sedikit demi sedikit ia telah dapat menarik perhatian.

Tinggal kemudian apakah ia dapat melakukannya dengan baik. Sekali dua kali ia menarik nafas untuk mengatur perasaannya, dan menenangkan debar jantungnya. Ketika ia telah merasa yakin, bahwa hatinya tidak akan bergetar lagi, maka perlahan-lahan ia berjalan ke samping pertunjukan itu, untuk kemudian menjauhinya. Orang-orang yang mengikutinya, masih saja berjalan beriring-iring di belakangnya. Bahkan semakin lama semakin banyak. Orang-orang yang semula tenggelam dalam lagu dan tarian yang sudah semakin bubrah itu, kemudian satu demi satu meninggalkan gelanggang. Sebab dalam pandangan mereka, kehadiran Kiai Wanamerta adalah sesuatu yang aneh dalam suasana yang demikian itu.

Para tledek, merasakan suatu keadaan yang berbeda dengan hari-hari yang telah mereka lewati. Mereka kali ini merasa seolah-oleh tidak mendapat perhatian dari para pengunjungnya. Malahan satu demi satu mereka meninggalkan arena. Karena itu, para tledek itu berusaha habis-habisan untuk mengikat penggemarnya. Mula-mula mereka memperpanas suasana dengan gerak-gerak yang semakin gairah. Tetapi ketika para penonton masih saja satu demi satu melangkah pergi, tledek-tledek itu benar-benar kehilangan akal. Mereka bernyanyi dan menari semakin liar, dan bahkan kemudian mereka lupa diri, bahwa mereka adalah manusia yang memiliki ikatan-ikatan susila, meskipun telah sejak lama dilanggarnya, namun tidaklah sehebat kali ini, dimana mereka menjerit-jerit dengan lagunya yang merangsang. Tertawa-tawa tak menentu, meskipun hatinya menangis, sebab apabila para penggemarnya sudah meninggalkannya, berarti tak ada makan di esok hari.

Kiai Wanamerta pun kemudian berhenti di tengah-tengah lapangan itu. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya menghadap kepada orang-orang yang mengikutinya. Ketika mata orang tua yang sejuk itu memandang mereka yang berderet-deret di hadapannya, maka tiba-tiba terasalah suatu tusukan yang tajam ke dalam setiap dada orang-orang Banyubiru itu. Meskipun Wanamerta belum mengucapkan sepatah katapun, namun cahaya matanya telah berkata banyak sekali. Bahkan setiap hati di dalam dada penduduk Banyubiru itupun ikut serta berkata-kata. Ikut serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, “Kenapa hal-hal semacam ini bisa terjadi…?” Teringatlah mereka peristiwa beberapa bulan berselang. Ketika di tanah lapang ini pula, mereka menyaksikan perkelahian yang sengit antara Suraban dan Bantaran. Pada saat itu, mereka seolah-oleh telah berjanji untuk tidak akan mengulangi kelakuan-kelakuan mereka yang gila ini. Namun karena pengaruh keadaan, sedikit demi sedikit, tanah lapang yang penuh dengan kemaksiatan ini menariknya kembali.

Dan sekarang yang berdiri di hadapannya bukan sekedar Bantaran, tetapi orang yang pernah menjadi kepercayaan Ki Ageng Sora Dipayana sejak Pangrantunan lama. Tetua tanah perdikan Banyubiru, Kiai Wanamerta. Karena itulah maka beberapa orang diantara mereka menundukkan wajahnya, bahkan ada yang berusaha bersembunyi di punggung kawan-kawannya, supaya mukanya tidak terlihat oleh Kiai Wanamerta yang mereka hormati itu. Tetapi disamping perasaan yang demikian, disamping perasaan sesal dan malu, ada pula yang merasa betapa akibat yang akan ditimbulkan oleh kehadiran Wanamerta itu. Seperti pada saat Bantaran mengacau di tanah lapang itu, maka Wanamerta pun akan melakukan hal yang sama. Karena itu wajah orang-orang yang berpendirian demikian segera menjadi gelap dan tegang.

Mereka memandang Wanamerta dengan perasaan benci. Meskipun tanggapan mereka atas kehadiran Wanamerta itu berbeda-beda, namun tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata. Sementara itu para niyaga dan penarinyapun akhirnya mengetahui pula, apa sebabnya para penontonnya meninggalkan arena. Bahkan beberapa orang diantaranya segera meninggalkan pekerjaan mereka, dan ikut pula berderet-deret melihat tetua tanah perdikan mereka, yang dengan tiba-tiba ada diantara mereka.

BEBERAPA lama tanah lapang itu tenggelam dalam kesepian. Suara riuh gamelan dengan irama yang gila, suara perempuan tertawa, seperti iblis betina, segera lenyap dalam keheningan yang tegang.

Sesaat kemudian terdengarlah suara Wanamerta perlahan-lahan, namun merata ke segenap telinga, “Kenapa kalian berhenti bersuka ria?”

Bergetarlah setiap jantung mereka yang mendengarnya. Namun tak seorangpun dapat menjawab. “Kalian benar-benar telah menjadikan tanah kalian makmur. Ternyata dengan perbuatan kalian, siang-malam bersuka ria, bergembira atas kemakmuran kalian, seperti apa yang sering kalian lakukan dahulu hanya setahun sekali, sesudah kalian menuai padi musin basah. Itu saja kalian lakukan dalam batas-batas yang jauh lebih sempit daripada batas-batas yang kalian buat sekarang ini. Dalam batas-batas yang dibenarkan oleh kepribadian kita, dan lebih dari itu dalam batas-batas yang diperkenankan oleh agama kita.”

Tanah lapang itu menjadi bertambah hening. Dengan demikian gemersik daun yang disibakkan oleh angin, terdengarlah betapa kerasnya. Ketika tak ada akibat apapun dari kata-katanya, Wanamerta meneruskan, “Aku datang untuk melihat kalian bersuka ria. Nah, teruskanlah.”

Tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Tetapi bagi mereka yang sejak semula merasa terganggu oleh kehadiran Wanamerta, menjadi semakin tersinggung oleh kata-kata ejekan itu. Ketika untuk beberapa lama masih saja orang-orang Banyubiru itu berdiri seperti patung, Wanamerta meneruskan, “Kenapa kalian memandang aku seperti memandang hantu? Adakah kalian tidak mengenal aku lagi?”

Masih belum terdengar suara dari antara mereka. “He Berdapa, Uda, Saripan, berbicaralah,” sambung Wanamerta. Yang disebut namanya menjadi semakin bingung. Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Tiba-tiba dalam ketegangan terdengarlah sebuah suara yang berat dan parau, “Kiai, apakah yang sebenarnya akan Kiai lakukan di sini?”

Pandang Wanamerta segera beredar ke arah suara itu. Suara yang keluar dari mulut seorang yang bertubuh jangkung, berkumis pendek seperti lalat yang hinggap di bawah hidungnya, dengan bibir yang tebal dan hidung yang melengkung seperti paruh burung.

“Ha, kau itu agaknya Sontani?” tanya Wanamerta.

“Ya, akulah,” sahut orang jangkung itu. Matanya memancarkan perasaan yang kurang senang atas kehadiran Wanamerta. Sebagai seorang yang pernah mendapat hadiah pangkat dari Lembu Sora, ia merasa berkewajiban untuk mengamankan daerahnya.

“Ah, hampir aku tak mengenalmu lagi,” sambung Wanamerta, “Kau sekarang nampak begitu gagah.”

Sontani adalah seorang yang sombong. Yang merasa dirinya mempunyai banyak kelebihan daripada orang-orang lain. Karena itulah maka sudah sewajarnya kalau ia diangkat menjadi bahu dan mengepalai pedukuhan Lemah Abang. Juga terhadap Wanamerta, ia ingin menunjukkan jabatannya, sebagai suatu kewajiban.

“Kiai, aku berbicara sebagai kepala pedukuhan Lemah Abang. Karena itu jangan Kiai merajuk seperti anak-anak.”

Wanamerta terkejut. Lemah Abang, daerah pinggiran kota Banyubiru, semula berada di bawah pimpinan sorang tua yang saleh, Kiai Bakung. Tetapi ia sama sekali tidak mengesankan keheranannya, bahkan dengan tersenyum Kiai Wanamerta menjawab, “Aku mengucapkan selamat kepadamu Sontani. Tetapi lalu bagaimana dengan Kiai Bakung?”

“Huh,” jawab Sontani sambil mencibirkan bibirnya, “Orang tua yang tak tahu diri. Seharusnya ia lebih baik mengeram saja di rumahnya. Tak ada yang dapat dilakukan.”

Wanamerta mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Maka terdengarlah kembali suara Sontani, “Nah Kiai… aku ulangi pertanyaanku. Apakah yang akan kau lakukan di sini?”

Sekali lagi Wanamerta tertawa, jawabnya, “Sudah aku katakan, aku ingin melihat kalian bersuka ria.”

“Bohong!” bentak Sontani. Selangkah ia maju. Katanya kemudian, “Telah sekian lamanya kau menghilang. Sekarang tiba-tiba muncul seperti hantu bangkit dari kuburnya.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ia kurang senang mendengar kata-kata itu. Tetapi ia ingin bahwa suasana tidak rusak karenanya. Maka iapun menjawab, “Sontani, pertama, memang kedatanganku ini tertarik oleh suara gamelan yang demikian hangatnya. Kedua, aku memang sudah rindu kepada kampung halaman. Aku telah memutuskan untuk pulang dan hidup diantara kalian seperti sediakala.”

“Kiai, kau sudah tidak punya hak untuk kembali ke Banyubiru,” bantah Sontani.

“Kenapa?” sahut Wanamerta.

“Kau telah meninggalkan kampung halamanmu terlalu lama. Kau telah meninggalkan nama yang kotor. Bahkan sepantasnya kau sekarang ditangkap dan diserahkan kepada Ki Ageng Lembu Sora,” ancam Sontani.

“O….” jawab Wanamerta sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ketahuilah Sontani, dan ketahuilah anak-anakku rakyat Banyubiru. Bukan saja aku yang berhasrat untuk kembali pulang kampung halaman, tetapi juga orang-orang lain seperti Bantaran, Penjawi, Sendang Papat dan Sendang Parapat, Wiraga dan yang lain-lain. Bahkan, dengarlah sebaik-baiknya, Cucunda Arya Salaka pun akan kembali ke Banyubiru.”

TIBA-TIBA terdengarlah gumam yang merata di seluruh tanah lapang itu seperti beribu-ribu lebah sedang terbang berputaran. Mereka menjadi terkejut untuk sesaat, namun yang kemudian menjadikan mereka bertanya-tanya, kepada diri sendiri, kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, “Apakah berita itu benar…?”

Gumam itu terhenti ketika Wanamerta melanjutkan kata-katanya, “Nah, apakah salahnya kalau kami pulang ke tanah kelahiran, setelah beberapa lama kami merantau menambah pengalaman?”

Sebagian besar dari mereka yang berdiri di tanah lapang itu, tiba-tiba dengan penuh kegembiraan mengharap kebenaran dari berita itu. Maka kembali terdengar mereka bergumam, “Mudah-mudahan berita itu benar.”

Tetapi tiba-tiba disela-sela gumam yang bergetar dilapangan itu, terdengarlah suara Sontani lantang, “Bohong…!”

Kembali suara yang merata itu mendadak berhenti. Disusul dengan suara Sontani melanjutkan, “Apakah keuntungan kita dengan kedatangan anak itu?”

“Bukankah ia putra Ki Ageng Gajah Sora?” jawab Wanamerta.

“Tidak peduli anak siapa dia. Anak setan, hantu, thethekan. Anak itu melarikan diri pada saat Banyubiru mengalami bencana. Pada saat golongan hitam menyerang daerah ini. Untunglah bahwa pada saat itu seluruh rakyat Banyubiru bangkit melawannya bersama-sama dengan rakyat Pamingit. Kalau tidak, musnahlah tanah perdikan ini. Sekarang anak itu akan kembali dan masih menyebut-nyebut sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ketika ia akan menjawab, Sontani sudah berteriak pula, “Ia masih merasa berhak pula atas kedudukan ayahnya. Omong kosong. Aku yakin bahwa kedatangannya hanya akan menambah bencana saja. Setiap masa peralihan sama sekali tidak akan menguntungkan. Kiai, katakan kepada anak itu, supaya ia mengurungkan niatnya sebelum ia menyesal!”

Kata-kata Sontani itu agaknya mempengaruhi beberapa orang, lebih-lebih yang sejak semula memandang kehadiran Wanamerta itu sebagai bencana. Maka terdengarlah seseorang berteriak, “Jangan tambah kesulitan kami dan hal-hal yang tetek bengek. Biarlah kami hidup seperti apa yang kami alami sekarang ini.”

Mendengar teriakan-teriakan itu, Wanamerta tidak jadi menjawab kata-kata Sontani, bahkan ia berdiam diri untuk memberi kesempatan kepada mereka berteriak-teriak sepuas-puasnya. Sebab apabila keinginan mereka berteriak itu terhalang, maka semakin bernafsulah mereka. Sehingga suaranya sendiri tidak akan dapat didengar orang. Agaknya kesempatan itupun dipergunakan sebaik-baiknya oleh orang-orang yang tidak menghendaki kehadirannya.

Maka terdengarlah, “He, Wanamerta. Jangan bikin ribut di tanah yang kau anggap tanah kelahiranmu ini.”

Kata-kata itu disusul oleh yang lain, “Kami tidak perlukan anak itu. Juga tidak kami perlukan kau, Wanamerta.”

Orang-orang yang semula mengharap kebenaran berita tentang kehadiran Arya Salaka, lambat laun menjadi ragu pula. Apakah untungnya? Pergeseran-pergeseran kekuasaan hanya akan menambah keributan.

Satu demi satu merekapun terpengaruh oleh teriakan-teriakan yang semakin ribut. Bahkan akhirnya seorang berteriak, “Pergilah kau Wanamerta, keledai tua yang tak tahu diri. Pergi…. Pergi….”

Disaut oleh suara gemuruh, “Pergi…. Pergi…. Biarlah kami menikmati malam-malam yang indah ini tanpa gangguan. He, Nyi Gadung Sari, menarilah, biar Kiai Wanamerta tergila-gila kepadamu.”

Terdengarlah kemudian suara tertawa seperti meledak di tengah-tengah tanah lapang itu. Sendang Papat dan Sendang Parapat yang berdiri di bawah bayang-bayang yang gelap, hampir-hampir tak dapat menguasai diri mereka. Peluh dingin mengalir di segenap bagian tubuhnya. Tangan mereka sudah bergetar di hulu keris mereka. Namun ketika mereka masih melihat Kiai Wanamerta berdiri dengan tenangnya, merekapun menahan diri mereka sekuat-kuatnya. Memang pada saat itu Wanamerta masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak. Ia memandang setiap wajah orang-orang Banyubiru yang seakan-akan telah kehilangan akal itu. Dibiarkannya mereka berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan.

Teriakan-teriakan itupun semakin lama menjadi semakin keras dan ribut. Tetapi mereka tak berbuat lain daripada berteriak-teriak. Ketika mereka masih melihat Wanamerta berdiri saja seperti patung, mereka menjadi heran. Dengan demikian teriakan-teriakan itupun menjadi semakin berkurang. Apalagi ketika mereka melihat ketenangan yang membayang di wajah orang tua itu, seolah-oleh teriakan-teriakan mereka itu seperti suara angin yang berdesir, menyegarkan tubuhnya. Wanamerta mengamati keadaan secermat-cermatnya. Ia berusaha untuk memperhitungkan waktu sebaik-baiknya. Ketika suara teriakan-teriakan itu sudah susut, berkatalah ia dengan lantangnya, “He, Nyi Gadung Sari kenapa kau belum juga menari? Marilah kita menari bersama-sama. Bukankah Wanamerta juga seorang penari yang baik? Lebih baik dari kalian yang berada di tanah lapang ini?”

Suara Wanamerta itu benar-benar mengejutkan. Apalagi Nyi Gadung Sari sendiri. Tetapi yang lebih terkejut adalah mereka yang mengharapkan Wanamerta menjadi marah. Dengan demikian mereka punya alasan untuk mengusirnya. Tetapi ternyata orang tua itu sama sekali tidak marah.

“Saudara-saudaraku serta anak-anakku, bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan kembali ke kampung halaman? Bukankah dengan demikian aku harus menyesuaikan diri dengan cara hidup kalian?”

Teriakan-teriakan dari orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu telah benar-benar berhenti. Ada diantaranya yang sudah puas, ada yang karena suaranya telah menjadi serak parau. Tetapi ada juga yang karena terkejut mendengar kata-kata Wanamerta yang sama sekali tak mereka duga sebelumnya. “Bukankah kalian menghendaki agar aku tidak mengganggu kalian?” tanya Wanamerta.

SUASANA menjadi hening.

Namun sesaat kemudian terdengar beberapa orang menjawab, “Ia benar, jangan ganggu kami.”

“Aku berjanji untuk tidak mengganggu kalian.”

Wanamerta meneruskan, “Bahkan aku ingin menyesuaikan diri dengan kalian. Bukankah apa yang kalian lakukan itu sangat menarik? Menari-nari menyanyi dan bergembira sepanjang hari. Bukankah dengan demikian kalian akan awet muda?”

Wanamerta diam sesaat.

Maka kembali tanah lapang itu ditelan kesepian. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas yang saling memburu. Ketika tak seorangpun yang memotong kata-kata itu, Wanamerta meneruskan, “Inilah kelebihan kalian dari masa-masa lampau. Dari jaman nenek moyang nenek moyang kita. Apa yang kalian lakukan sekarang belum pernah terjadi di tanah perdikan ini sejak masa tanah ini masih bernama Pangrantunan. Kita sekarang tidak perlu bekerja keras, tidak perlu membanting tulang untuk tanah kita yang sudah melimpah ruah ini. Sawah ladang, parit-parit dan jalan-jalan. Begitu?”

Tanah lapang itu menjadi semakin sunyi. Namun dada orang-orang Banyubiru menjadi semakin riuh. Benarkah mereka sekarang tidak perlu lagi bekerja keras? Benarkah sawah ladang mereka telah melimpah ruah? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelora disetiap dada.

Dan perlahan-lahan mereka menggelengkan kepala mereka.

“Nah…” sambung Wanamerta, “Sekarang kita tidak usah bersusah payah, berpikir tentang tetek bengek. Kita sekarang tidak usah bersusah payah berpikir tentang kesejahteraan kampung halaman lahir maupun batin. Begitu?”

Tak satu suara pun yang terdengar, sehingga Wanamerta berkata terus, “Jadi bagaimana? Atau kita memang menghendaki hal-hal seperti ini berlangsung terus? Kita biarkan masjid-masjid, banjar-banjar desa dan balai-balai kita menjadi sarang labah-labah dan runtuh sedikit demi sedikit seperti keruntuhan akal kita…? Bagus-bagus. Demikian agaknya yang kalian kehendaki. Mari, mari anak-anakku. Marilah kita berpikir tentang diri kita sendiri. Tidak perlu tentang tanah pusaka kita yang tercinta. Karena itulah maka aku sependapat dengan kalian. Menyabung ayam di siang hari, judi, tuak dan tayub di malam hari seperti sekarang ini. Hem….”

Wanamerta berhenti untuk menelan ludahnya. Wajahnya telah basah oleh peluh yang mengalir dari keningnya. Kata-katanya seakan-akan menghujam ke dalam dada orang-orang Banyu Biru yang berdiri tegak berhimpit-himpitan di sekitarnya. Ketika tak seorangpun menjawab ia meneruskan lagi, “Dan sekarang semua itu ada pada kita. Menyabung ayam, judi, perempuan, dan apalagi…?”

Kata-kata itu tajamnya seperti sembilu. Mereka yang semula terseret oleh arus kebencian kepada orang tua itu, sekali lagi menundukkan wajah mereka. Mereka menjadi sangat malu kepada diri sendiri. Seterusnya Wanamerta berkata, “Nah, sekarang kalian boleh memilih. Tenggelam dalam lumpur kemaksiatan atau tegak kembali lewat jalan kebenaran. Atau kita menunggu masanya kita menjadi hancur dengan sendirinya, kemudian orang-orang dari kalangan hitam akan menari-nari di atas bangkai kita bersama. Sadar atau tidak sadar apa yang kalian lakukan adalah sangat menguntungkan dan mempercepat keruntuhan kita. Lahir dan batin. Sekarang kita dapat tertawa, menari dan menyanyi. Tetapi besok kita akan mati dengan bau tuak menghambur dari mulut kita. Dan kita telah kehilangan jalan untuk menghadap kembali kepada Tuhan kita.”

Tanah lapang itu benar-benar seperti padang luas yang kosong. Sepi hening. Yang terdengar kemudian adalah Wanamerta kembali, “Sekarang kalian tinggal memilih. Aku berada di pihak kalian. Dan apakah kalian pernah melihat wayang? Apakah kalian pernah mendengar ceritera Baratayuda? Pada saat Pendawa menuntut haknya kembali dari para Kurawa…?”

Juga tidak seorangpun yang memotong kata-kata Wanamerta, sehingga ia dapat meneruskan, “Dalam ceritera pewayangan, wayang beber atau wayang kulit, diceriterakan bahwa akhir dari Baratayuda itu, yang sayang tidak memuaskan kita semua. Kenapa akhir dari Baratayuda itu menunjukkan kemenangan pihak Pendawa? Tidak Kurawa?”

Wanamerta melihat kegelisahan rakyat Banyubiru yang berdiri mengelilinginya. Pada wajah-wajah mereka tampak ketegangan yang mencekam. Tetapi masih belum seorang yang berkata sepatah katapun. Yang terdengar kemudian adalah suara Wanamerta kembali, “Nah, baiklah lain kali kita mengadakan pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam. Sejak Kresna Duta sampai Karna Tanding, lalu seterusnya kita ubah, Arjuna lah yang mati oleh Adipati Karna dari Awangga. Dan seterusnya berturut-turut habislah Pandawa setelah para putra gugur lebih dahulu. Juga Parikesit kita bunuh.”

Meskipun Wanamerta bercakap terus, namun perhatiannya tidak terlepas dari setiap wajah yang dengan tenang dan gelisah mendengar kata-katanya. Ceritera wayang, apalagi Baratayuda dianggap keramat oleh penduduk Banyubiru. Tiba-tiba secara tepat Wanamerta mengungkapkan sindirannya dengan mempergunakan ceritera itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah seseorang berkata, meskipun perlahan-lahan, “Tidak bisa Kiai, Baratayuda tidak bisa diubah demikian.”

WANAMERTA pura-pura terkejut mendengar perkataan itu.

Dengan mengerutkan keningnya ia menjawab, “Kenapa tidak bisa? Bukankah Prabu Astina, Prabu Kurapati dapat memberi kepada rakyatnya keleluasaan seperti yang kita kehendaki. Sabung ayam, judi, tayub, tuak dan sebagainya, sedang orang-orang Pendawa sepanjang hidupnya hanya prihatin saja?”

“Tidak, Kiai,” terdengar suara yang lain, “Kita tidak menghendaki demikian. Kita tidak menghendaki seperti orang-orang Astina di Banyubiru.”

“He…?” kembali Wanamerta pura-pura terkejut.

“Apakah yang kau katakan?”

“Kami tidak menghendaki hal itu terjadi di Banyubiru,” ulang suara itu.

“Yang mana tidak kau kehendaki? Bukankah raja Astina Ratu Gung Binatara, Raja yang kaya? Bukankah adinda baginda yang berjumlah 99 orang itu semuanya pandai berjudi, tayub dan tuak? Bukankah di Astina ada seorang pendeta yang putus saliring ilmu, agal alus, yang kasat mata, yang tidak kasatmata? Yang bernama Dorna?”

“Tidak… tidak…” terdengar beberapa orang memotong kata-kata Wanamerta, “Kami tidak menghendaki itu.”

“Itu yang mana…?” Wanamerta memancing ketegasan mereka.

“Judi. Kami tidak mau judi,” jawab yang lain.

“O, hanya itu saja?” desak Wanamerta.

“Tidak. Tidak hanya itu. Kami tidak mau tuak,” jawab beberapa suara berbareng.

“Judi dan tuak itu saja?” Wanamerta merasa bahwa ia hampir mencapai maksudnya.

Dan ada yang didengarnya kemudian sangat menyenangkannya. Orang-orang Banyubiru itu kemudian berteriak, “Tidak. Kami tidak mau judi, tuak, tayub dan sabung ayam. Kami bukan orang-orang Astina. Kami adalah orang-orang Banyubiru.”

“Tunggu dulu,” potong Wanamerta, “Bukankah putra-putra Astina berada dalam asuhan Maha Pendeta Dorna yang bijaksana, yang dapat memberikan kepada mereka kenikmatan jasmaniah, rohaniah dalam kekuasaan mereka atas Astina?”

“Kami tidak mau pendeta itu. Kami tidak mau orang semacam Dorna.” Terdengar mereka berteriak-teriak, “Pendeta degleng, pendeta bermulut ular.”

“Jadi bagaimana seterusnya? Bagaimana dengan akhir dari Baratayuda itu?” tanya Wanamerta. “Prabu Kurupati terbunuh. Semua adik-adik terbunuh. Pendeta Dorna mati di tangan Drestajumena yang berhasil memancung lehernya,” sahut mereka bersama.

“Tetapi dengan demikian masyarakat yang kita cita-citakan. Jadi, kemenangan Pendawa berarti kemenangan keprihatinan dari kemenangan lahiriah, tetapi juga berarti kemenangan dari jiwa rohaniah yang tawakal, percaya kepada keadilan Yang Maha Pencipta. Dengan demikian kita tidak akan dapat membayangkan masyarakat seperti masarakat kita malam ini. Tetapi masyarakat yang bekerja keras menuju tata kehidupan yang tenteram damai tata tentrem karta raharja, gemah ripah lohjinawi”.

Semua terdiam. Hening. Sepi. Seandainya sepotong lidi jatuh di tengah lapang itu, suaranya pasti akan sangat mengejutkan. Angin malam yang lembut mengusap wajah-wajah yang terbanting-banting. Dalam keheningan itu tiba-tiba terdengar suara Wanamerta gemuruh seperti guruh yang membelah langit-langit lapis, “Hei rakyat Banyubiru, katakan kepadaku sekarang, adakah kalian masih tetap pada pendirian kalian? Supaya aku membiarkan kalian hanyut dalam arus kesenangan lahiriah, yang berpangkal melulu pada nafsu yang tak terkendali seperti sekarang ini?”

Tak ada suara yang terdengar.

Karena itu Wanamerta meneruskan, “Jawablah pertanyaanku. Adakah kalian masih akan meneruskan cara hidup kalian sekarang ini? Judi, tuak, tayub dan berkelahi sesama kita karena kita sudah mabuk…?”

Mula-mula yang terdengar hanyalah suara-suara bergumam. Namun kemudian terdengarlah suara mereka saur manuk, “Tidak…tidak… tidak….”

Wanamerta kemudian meneruskan, “Nah, dengarlah baik-baik. Aku ingin bertanya sekali lagi, apakah cara hirup kita ini akan kita akhiri?”

“Ya, Kiai, ya, ya, kita akhiri sampai di sini,” sahut mereka berebut keras.

“Bagus. Itulah yang aku harapkan. Rakyat Banyubiru yang sejati. Kalian harus melupakan racun yang dengan perlahan-lahan membunuh kalian, membunuh semangat kalian, sehingga kalian lupa pada masyarakat yang kalian cita-citakan, lupa kepada kampung halaman, lupa kepada pribadi kalian. Nah, dengarlah baik-baik. Arya Salaka itu akan datang. Benar-benar akan datang.”

Tiba-tiba meledaklah suara mereka gemuruh. “Kita sambut anak muda itu diantara kita. Kita sudah sampai pada ceritera Lahirnya Parikesit. Dan Parikesit itu akan datang membebaskan kita.”

Teriakan-teriakan yang gemuruh itu mengumandang sampai beberapa saat. Tiba-tiba diantara suara gemuruh itu terdengar sebuah teriakan, “Belum. Kita belum sampai ke sana. Kita masih harus menyelesaikan Baratayuda dahulu.”

“Marilah kita tuntut hak kita, hak atas tanah dan kampung halaman sendiri,” teriak yang lain.

Dalam keriuhan itu terdengarlah suara Sontani menggelegak menggetarkan tanah lapang itu, “Omong kosong! Omong kosong semuanya. Apakah yang akan kalian tuntut? Tak seorangpun merasa kehilangan hak atas tanah ini sekarang.”

Tiba-tiba suara riuh itu mereda.

Karena itu Sontani meneruskan, “Apakah yang hilang dari milik kalian. Tanah, sawah, halaman dan rumah kalian. Bukankah barang-barang itu masih tetap di tanganmu. Dan bukankah tak ada seorangpun yang merampasnya?”

Suara riuh itu kini menjadi diam. Memang mereka yang berdiri di tanah lapang itu masih memiliki tanah mereka, sawah mereka dan rumah mereka. Tetapi kemudian terdengarlah suara Wanamerta tenang, “Kau benar Sontani, tetapi aku dan kalian harus membayar upeti lebih dari dua kali lipat dari upeti yang harus kalian bayar dulu.”

“Benar, benar….” Kembali mereka berteriak-teriak.

MUKA Sontani menjadi merah padam. Ia merasa terdesak. Tetapi ia tidak akan membiarkan keributan itu terjadi. Kalau rakyat Banyubiru itu menerima Arya Salaka, belum pasti ia akan tetap menjabat pangkatnya yang sekarang. Ia tidak peduli apakah dengan demikian ia berkhianat atau tidak. Yang penting ia menjadi kepala pedukuhan Lemah Abang.

Karena itu Sontani harus berusaha keras untuk melawan Wanamerta. “Upeti adalah kewajiban setiap tanah perdikan untuk membiayai tanahnya. Kalau upeti tanah ini terpaksa berlipat dua, itu adalah karena kebutuhan-kebutuhan kamipun meningkat pula,” katanya.

Wanamerta tersenyum, jawabnya, “Apakah yang pernah dihasilkan oleh upeti itu? Adakah kau dapat membangun rumah-rumah pendidikan? Banjar-banjar desa…? Bukankah selama ini tak satu pun rumah baru berdiri di Banyubiru? Yang sudah adapun tak terpelihara lagi. Bahkan tempat-tempat ibadahpun tidak ada. Dan bukankah upeti itu mengalir ke Pamingit?”

“Benar, benar….!” Teriakan itu semakin mengumandang.

Sontani tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ia melompat menembus lingkaran manusia yang berdiri di sekeliling Wanamerta, sambil berteriak, “Persetan dengan sesorahmu. Kau hanya akan mengacau saja di sini. Pergi atau aku tangkap kau.”

Wanamerta masih tegak di tempatnya seperti tugu. Dengan masih setenang tadi ia menjawab, “Jangan marah Sontani. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa? Bukankah semula akupun telah mengatakan semuanya itu? Bahkan semula akupun telah mengatakan bahwa aku berada di pihak kalian, apapun yang kalian kehendaki. Dan sekarang kalian menghendaki meletakkan segala sesuatunya pada tempat-tempat yang sewajarnya, yang seharusnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan judi, tuak, nafsu dan kekuasaan. Inilah suatu usaha untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya.”

“Jangan berkicau, menco tua. Aku perintahkan kau meninggalkan tempat ini sebelum aku sumbat mulutmu dengan tanganku.”

Sontani sudah tidak dapat menyabarkan diri lagi.

“Jangan Sontani,” jawab Wanamerta masih setenang tadi, “Akibatnya tidak akan menjadi lebih baik.”

Tetapi Sontani telah kehilangan akalnya. Ia melangkah semakin dekat. Wajahnya yang keras dan matanya yang hitam kelam, menunjukkan betapa kerasnya hatinya. Sementara itu Sendang Papat dan Sendang Parapat telah meninggalkan tempat mereka. Dengan tanpa menarik perhatian, mereka telah berada diantara rakyat Banyubiru yang berdesak-desakan itu. Mereka melihat betapa Sontani dengan marah menghampiri Wanamerta. Tetapi karena Sontani agaknya seorang diri, maka Sendang Papat dan Sendang Parapat pun menyabarkan diri mereka dan melihat saja apa yang akan terjadi.

“Wanamerta…” kata Sontani dengan suara yang bergetar oleh kemarahannya.

“Jangan menjawab pertanyaanku. Tetapi kau hanya bisa melaksanakan. Tinggalkan tempat ini.”

Wanamerta masih belum bergerak. Tetapi orang-orang yang berdiri melingkar itu menjadi cemas. Sontani adalah seorang yang benar-benar keras hati. Ia benar-benar dapat melakukan apa saja yang ia katakan. Tetapi Wanamerta belum juga beranjak dari tempatnya. Maka ketika ia melihat Sontani semakin dekat di hadapannya, ia mencoba untuk sekali lagi menjawab.

Tetapi demikian Wanamerta menggerakkan mulutnya, Sontani sudah membentaknya, “Jangan menjawab dengan kata-kata, pergi!” Wanamerta memandanginya dengan seksama. Dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya.

Maka ketika ia sudah mendapat ketetapan hati, sengaja ia berkata, “Kenapa tidak boleh?” Sontani telah benar-benar marah. Ketika ia mendengar Wanamerta masih berkata lagi, ia tidak dapat mengendalikan dirinya.

Dengan satu loncatan ia telah berhasil menangkap baju Wanamerta dan mengguncangnya sambil membentak, “Jangan menjawab. Kau hanya bisa pergi dari sini.”

Gerakan Sontani itu tiba-tiba telah menggerakkan semua orang yang berdiri di sekeliling mereka berdua. Tiba-tiba mereka menjadi sedemikian benci terhadapnya. Terhadap orang yang gila pangkat dan gila hormat itu. Ketika Sontani sekali lagi mengguncang baju Wanamerta, terdengarlah sebuah teriakan, “Lepaskan dia Sontani, lepaskan.”

Sontani melirik ke arah suara itu. Namun ia tidak mau mendengarkan. Sehingga tiba-tiba dari arah lain terdengar pula suara, “Sontani, jangan main kekerasan.”

“Diam kalian!” bentak Sontani, “Aku dapat berbuat apa yang aku kehandaki. Jangan turut campur.”

“Jangan keras kepala Sontani.” Terdengar suara yang lain, “Supaya kami tidak berkeras kepala pula.” Sontani menjadi gemetar.

Tetapi suara-suara itu terus saling menyusul. “Lepaskan dia….. Lepaskan dia…. Atau kami harus melepaskannya?”

Disusul pula dengan suara-suara yang mulai bernada kemarahan. “Pergi kau Sontani. Pergi kau. Atau kami harus memaksa?”

Tetapi diantara teriakan-teriakan itu terdengar pula jerit pengikut-pengikut Sontani, “Hantam dia. Hantam kambing tua itu.”

Sontani melihat pengikut-pengikutnya. Dengan demikian ia menjadi semakin sombong. Sekali lagi ia menggoncang-goncangkan baju Wanamerta itu sambil menggeram, “Babi tua, jangan banyak tingkah.”

Pada saat itulah maka keadaan hampir tak dapat dikuasai lagi. Kedua belah pihak hampir saja bertindak, dan apabila demikian, di tanah lapang itu akan terjadi medan pertempuran kecil-kecilan.

TIBA-TIBA Wanamerta berteriak tanpa memperdulikan Sontani, “He, orang-orang Banyubiru. Sadarlah pada diri kalian masing-masing. Jangan dibiarkan perasaan kalian menjerat kalian ke dalam suatu perbuatan yang tolol.”

Teriakan Wanamerta itu ternyata berpengaruh juga. Beberapa orang mengurungkan niatnya dan memandangnya dengan heran. Sementara itu, orang tua yang telah dipenuhi oleh pengalaman dalam pemerintahan dan pengendalian terhadap orang-orang Banyubiru itu memandang Sontani langsung ke dalam matanya. Mata yang memancarkan kemarahan, ketamakan dan nafsu yang tak habis-habisnya.

Ketika Sontani melihat mata orang tua itu, ia terkejut. Seolah-olah dari dalam mata itu memancarkan pengaruh yang aneh. Sehingga tiba-tiba Sontani membuang matanya ke arah orang-orang Banyubiru yang berdiri, dengan tenang, namun masing-masing telah bersiap untuk memukul dan berkelahi. “Lepaskan Sontani,” kata Wanamerta lirih. Lirih saja. Tetapi bagi Sontani terdengar seperti guruh yang meledak di atas kepalanya. Ia mencoba untuk melawan pengaruh kata-kata itu dengan menggenggam baju itu lebih erat dan mencoba menarik Wanamerta ke dadanya, namun Wanamerta itu menjadi seperti tugu yang tegak dan tak tergerakkan.

Bahkan sekali lagi ia berkata lirih, “Lepaskan Sontani, lepaskan.”

Tangan Sontani bergetar. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia melepaskan tangannya perlahan-lahan. Ia tidak dapat melawan pengaruh perbawa orang tua yang dahulu sangat dihormatinya itu. Tetapi demikian tangannya terlepas, demikian ia sadar, bahwa Bahu Lemah Abang akan lepas dari tangannya apabila Arya Salaka benar-benar akan datang. Karena itu, didorong pula oleh kesombongannya, serta untuk menutupi kelemahannya, ia berteriak, “Aku lepaskan kau kelinci tua, tetapi pergilah dari sini.”

Wanamerta tidak mendengarkan lagi kata-kata itu, tetapi ia berkata kepada orang-orang Banyubiru, “Apa yang kalian lakukan? Aku lihat kalian akan berkelahi satu sama lain”.

Mereka yang membenarkan kata-kata sebagian besar dari kalian, melawan mereka yang berpihak kepada Sontani. Kenapa kalian…? Bukankah kalian sama-sama orang Banyubiru? Aku berterima kasih kepada kalian yang berusaha untuk menyelamatkan aku. Aku tahu itu. Dan aku berbangga pula melihat pengikut-pengikut Sontani yang berani, meskipun jumlah mereka tidak sebanyak yang lain. Tetapi aku sedih melihat pertentangan kalian. Aku sedih melihat kalian akan bertempur satu sama lain, sesama orang Banyubiru.”

Keadaan menjadi hening. Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata itu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Bagaimanakah seharusnya mereka berbuat? Bukankah mereka harus merebut hak atas tanah ini? Tetapi mereka tidak boleh berbuat apa-apa.

Wanamerta melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan, “Anak-anakku, jangan berbuat sendiri-sendiri. Hal itu sama sekali tidak akan menguntungkan. Tidak bagiku dan tidak bagi Sontani. Yang harus kalian lakukan hanyalah menempa tekad untuk melebarluaskan berita itu. Kalian hanya akan menyambut kedatangannya dua tiga hari lagi di tanah ini dengan tombak Kyai Bancak di tangannya. Pembicaraan seterusnya biarlah dilakukan oleh yang berhak membicarakannya. Yaitu Arya Salaka dan yang mengembaninya, yaitu Mahesa Jenar. Selebihnya tunggu perintahnya.”

Wanamerta masih melihat keheranan terbayang di wajah mereka. Keheranan seperti yang terbayang di wajah-wajah laskar Banyubiru di Gedong Sanga ketika mendengar keputusan Mahesa Jenar bahwa mereka masih harus menunggu. Tetapi disamping itu Wanamerta merasa berbangga bahwa ia dapat langsung berbicara dengan mereka dan memberikan kepada mereka jalan lurus yang harus mereka tempuh. Meskipun ia yakin bahwa apa yang sudah dicapainya itu tidak boleh terlepas lagi.

Tetapi sementara itu Sontani menjadi bermata gelap. Ia tidak dapat mendengar, otaknya tak dapat menahannya. Karena itu dengan suara yang mengguruh ia berkata, “Wanamerta, baiklah kalau kau tidak mau pergi. Dan baiklah kalau kau masih akan berteriak-teriak terus. Karena aku sudah cukup memberi kau kesempatan, aku sekarang terpaksa bertindak terhadapmu. Menyumbat mulutmu.”

Wanamerta melihat mata Sontani telah menyala-nyala. Ia tidak mungkin lagi menghindari bentrokan dengannya. Tetapi ia tidak mau orang-orang Banyubiru terlibat ke dalam bentrokan itu. Orang-orang yang sebenarnya tidak banyak menentukan penyelesaian masalah hanya karena berkelahi sesamanya.

Karena itu ia menjawab, “Baiklah Sontani. Kau ingin aku diam, tetapi aku ingin berbicara terus. Kita berlawanan kehendak. Karena itu terserah apa yang akan kau lakukan dan biarlah aku mencoba untuk berbuat atas kehendakku pula. Tetapi satu hal yang akan aku katakan kepada orang-orang Banyubiru dan termasuk pengikut-pengikutmu. Tenaga mereka masih sangat diperlukan buat masa depan. Buat ketentraman terakhir. Karena itu kalau ada perbedaan pendapat diantara kau dan aku, janganlah menyangkut mereka.”

Sontani mendengar kata-kata itu. Ia sadar bahwa kata-kata itu berarti suatu tantangan tanding seorang lawan seorang. Ia menjadi bergembira, sebab iapun tahu bahwa pengikutnya tidak sedemikian banyak berada di tanah lapang itu.

Maka ia menjawab lantang, “Suatu kehormatan bagiku orang tua yang sombong. Dahulu aku mengagumimu. Tetapi waktu itu aku adalah seekor anak ayam yang kagum melihat ayam jantan berkokok di atas pagar. Tetapi sekarang tidak. Akulah ayam jantan itu.”

Wanamerta menarik nafas. Ia adalah seorang yang mempunyai cukup pengalaman. Ia adalah emban kepala daerah perdikan ini. Sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana, ia telah menjabatnya.

Karena itu iapun cukup tajam untuk menilai seseorang. Terhadap Sontani, iapun dapat menilai pula dengan tepat. Ia tidak lebih dari seorang yang besar kepala, sombong dan keras hati.

“Kau benar,” jawab Wanamerta, “Kau adalah ayam jantan itu. Hanya saja kau adalah ayam jantan yang berkokok setelah matahari hampir terbenam.”

SONTANI menggeram. Sekali dua kali ia melihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat Sendang Papat dan Sendang Parapat yang tersenyum melihat kesombongannya. Sontani dengan sombongnya seolah-olah berkata kepada rakyat Banyubiru, “Inilah aku, Sontani Bahu dari Pedukuhan Tanah Abang.”

Kemudian kepada Wanamerta ia berkata, “Wanamerta, bukan salahku kalau kemudian tanganmu patah, atau lehermu terpuntir. Sebab kau adalah orang tua yang tak tahu diri.”

Wanamerta tersenyum. Senyum yang sangat menjemukan bagi Sontani. Karena itu ia menggeram sekali lagi dan berkata, “Bersedialah. Lihatlah bintang-bintang di langit dengan seksama, barangkali ini untuk yang terakhir.”

“Yang terakhir?” tanya Wanamerta heran. “Ya, sebab ada suatu kemungkinan, bahwa dengan tersentuh tanganku kau akan mati,” jawab Sontani dengan sombongnya. Wanamerta mengangguk-angguk. Sontani benar-benar sombong. Dan kesombongan itu menjengkelkan sekali.

Maka jawab Wanamerta, “Gemintang yang bercahaya-cahaya itu. Jadi aku tidak akan memandangnya untuk yang terakhir kalinya. Tetapi kalau kau yang mati, mungkin karena pokalmu sendiri, kau akan berdiam menjadi ampas Rawa Pening.”

Hati Sontani menjadi semakin menyala. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, “Jagalah mulutmu baik-baik Wanamerta, sebab aku ingin sekali meremasmu.” Wanamerta segera bersiaga, dan dengan suatu loncatan yang cepat, Sontani mulai menerjang. Beberapa orang yang berdiri disekitarnya berdesakan mundur.

Dada mereka tergoncang. Sontani adalah seorang yang kasar dan keras hati. Karena itu serangannya pun kasar pula. Beberapa orang menjadi cemas apakah Wanamerta dapat menjaga dirinya menghadapi Bahu Pedukuhan Lemah Abang yang sedang gila untuk mempertahankan kedudukannya itu. Wanamerta heran melihat serangan Sontani yang dapat demikian cepat. Ia mengenal Sontani lima tahun yang lalu, sebagai seorang yang selalu merasa tidak puas. Dan sekarang orang itu berjuang untuk mempertahankan kepuasan-kepuasan yang pernah dicapainya. Kepuasan-kepuasan lahiriah yang tak berharga sama sekali.

Wanamerta segera menghindarkan diri dengan satu gerakan yang sederhana. Dan itu menambah kemarahan Sontani. Meskipun beberapa tahun yang lampau ia benar-benar mengagumi orang tua itu, tetapi sementara ini ia merasa bahwa ia telah bertambah dewasa dalam ilmu tata perkelahian. Dengan gerakan-gerakan yang keras, ia bertempur dengan penuh nafsu. Tangannya bergerak berputar-putar, seolah-olah roda yang berputar-putar hendak menggilas lumat orang tua yang memuakkan itu.

Mengalami serangan yang datang bertubi-tubi itu, Wanamerta menarik dirinya beberapa langkah surut. Ia baru dalam taraf mempelajari gerakan-gerakan lawannya yang cukup cepat dan berbahaya itu.

Tetapi Sontani yang sedang marah itu tidak memberinya kesempatan. Sebagai seekor harimau yang gila, ia meloncat menerkam, menghantam, bertubi-tubi.

Tetapi Wanamerta cukup berpengalaman. Karena ia merasa lebih tua, maka ia menjaga agar ia tidak kehabisan nafas di tengah jalan. Karena itu ia bertempur dengan sangat menghemat tenaga. Meskipun demikian, setiap gerakan Wanamerta cukup memberi perlawanan yang gigih. Sehingga setelah beberapa saat mereka bertempur, Sontani sama sekali tak berhasil menyentuhnya. Karena itulah maka hatinya menjadi semakin membara. Dengan demikian ia menjadi semakin buas dan liar. Sontani mengerahkan segenap tenaganya untuk secepatnya menghancurkan orang tua yang akan menjadikan sebab hilangnya kekuasaan yang sudah berada di tangannya atas pedukuhan Lemah Abang yang subur di pinggiran kota Banyubiru itu.

Menghadapi serigala yang marah itu, Wanamerta harus berhati-hati pula. Sebab segala gerakan Sontani selalu dilambari oleh segenap kekuatannya. Dan ia adalah orang yang cukup mempunyai tenaga. Hanya sayang bahwa tenaganya tidak disalurkannya dengan tepat. Bahkan seperti terhambat tak berarti. Tetapi meskipun demikian, apabila serangannya itu dapat mengenai sasarannya, agaknya akan berbahaya juga. Karena Wanamerta masih selalu menghindari serangan-serangan Sontani, maka seolah-olah Wanamerta menjadi terdesak. Rakyat yang berdiri di sekitar perkelahian itu menjadi cemas, sebab mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Sontani pun berpendapat demikian pula, meskipun ia hampir tidak sabar karena serangan-serangannya tak pernah mengenai sasarannya. Diantara para penonton itu tampak Sendang Papat dan Sendang Parapat tersenyum-senyum.

Lima tahun yang lampau, memang agaknya Sendang Papat dan Sendang Parapat itu tidak lebih dari Sontani. Tetapi setelah mereka menggembleng diri di bawah asuhan Ki Dalang Mantingan, Wirasaba, bahkan kemudian mereka itupun mendapat petunjuk-petunjuk dari Mahesa Jenar sendiri. Maka ia melihat betapa lemahnya serangan-serangan Sontani. Mereka dengan tersenyum melihat betapa Wanamerta dengan sabarnya melayani permainan Sontani yang menjemukan dan sama sekali tidak bermutu.

WANAMERTA tidak ingin melihat keadaan semakin keruh. Agaknya Wanamerta berusaha untuk mengalahkan Sontani tanpa melukainya. Tetapi Sontani agaknya benar-benar orang yang tidak berotak. Ia sama sekali tidak menyadari keadaan. Karena itu ia malahan menjadi semakin berbesar hati dan sombong. Bahkan kemudian ia berteriak-teriak, “Jangan berlari-lari seperti kelinci menghadapi serigala, Wanamerta yang malang. Agaknya kau telah terjerumus karena kesombonganmu ke dalam sudut yang celaka. Tetapi janganlah kau ingkar pada kejantananmu. Kepada sesumbarmu yang seolah-olah membelah langit.”

Wanamerta menggeleng lemah. Sambil menghindari serangan Wanamerta, Sontani berkata, “Ha, kau sudah semakin ketakutan. Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Berjongkoklah dan minta maaf kepada Bahu Pedukuhan Lemah Abang agar kau kuampuni karena kesalahanmu. Setelah itu kau harus meninggalkan lapangan ini dengan merangkak sampai ke batas tanah lapang.”

“Sejak umur setahun aku sudah tidak biasa lagi merangkak, Sontani. Maafkan kalau aku tidak dapat memenuhi permintaanmu,” jawab Wanamerta. Sontani membelalakkan matanya. Ia mengharap Wanamerta benar-benar minta maaf kepadanya, meskipun seandainya ia tidak dapat memenuhi perintahnya itu seluruhnya. Tetapi tiba-tiba Wanamerta menjawab sedemikian menyakitkan hati. Karena itu sekali lagi Sontani berkata untuk menghina orang tua itu, “Aku beri kesempatan dalam hitungan lima kali. Setelah itu tak ada kesempatan lagi bagimu. Kalau akan aku tangkap, aku cukur gundul dan aku arak berkeliling kota besok pagi.”

Wanamerta tidak menjawab. Ia membiarkan saja Sontani menghitung untuk memuaskan hatinya. Tetapi ketika Sontani sampai ke hitungan yang ketiga, tiba-tiba Wanamerta mulai dengan melontarkan beberapa serangan balasan. Sontani terkejut. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wanamerta yang tua itu masih mampu bergerak sedemikian cepat dan berturut-turut. Karena itu ia sama sekali kurang bersiaga, sehingga beberapa serangan Wanamerta itu berturut-turut mengenai tubuhnya. Tidak hanya sekali, tetapi dua-tiga kali, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut.

Mengalami perisitwa itu tiba-tiba mata Sontani yang hitam kelam itu menjadi memerah darah, seolah-olah dari sana menyembur api yang menyala-nyala. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit oleh serangan lawannya, tetapi karena perasaan yang bercampur baur. Marah, malu, muak dan segala macam. Tetapi dalam pada itu, ia menjadi semakin bernafsu untuk menghancurkan musuhnya itu. Dalam tanggapannya, serangan Wanamerta itu adalah karena kelengahannya. Meskipun demikian ia sama sekali tidak menjadi jera, sebab pukulan Wanamerta, meskipun mengenainya tetapi tidak menyakitkan.

Namun dengan perasaan itu ia telah membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya. Ia tidak menyadari bahwa Wanamerta sebenarnya tidak menggunakan seluruh tenaganya. Ia hanya mempergunakan kecepatan dan mendorong dada Sontani, menyentuh pundaknya dan dengan kaki ia menyinggung lambungnya.

Tetapi kemarahan Sontani telah benar-benar menggelapkan pikirannya. Ia benar-benar sudah tidak dapat menimbang untuk rugi dari perbuatannya itu. Dengan demikian ia menjadi semakin membabi buta. Menerjang, menghantam, memukul dengan penuh nafsu. Ia berkelahi seperti serigala gila sedang kelaparan. Dari mulutnya terdengarlah nafasnya memburu dan geramnya yang seram.

Wanamerta membiarkan Sontani bertempur dengan cara yang demikian. Ia mengharap Sontani akan kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Dengan demikian ia tidak mengalahkannya dengan menyinggung kehormatannya beserta pengikut-pengikutnya. Tetapi Sontani berpendirian lain. Karena pikirannya yang gelap itulah ia tidak dapat menimbang apa yang akan dilakukan. Apakah akibat yang bakal timbul, dan apakah itu akan menimbulkan korban ataukah tidak. Ketika ia merasa bahwa tenaganya sudah mulai berkurang karena peluh yang sudah membasahi tubuhnya seperti orang mandi, ia menjadi tidak bersabar lagi. Ia ingin dengan segera menangkap dan menghinakan lawannya di hadapan umum.

Sedangkan Wanamerta benar-benar licin seperti belut. Sebenarnya heranlah Sontani, bahwa orang setua itu masih mampu menghindarkan diri dari serangan-serangannya yang mengalir seperti banjir.

Tetapi bagi Wanamerta, Sendang Papat dan Parapat, gerakan-gerakan itu sama sekali tidak seperti banjir sungai yang paling kecil sekalipun. Gerakan-gerakan itu tidak lebih dari gerakan-gerakan yang hanya dikendalikan oleh nafsu dan kesombongan. Kepercayaan yang berlebih-lebihan terhadap diri sendiri, sehingga tidak mampu lagi untuk melihat kenyataan. Perasaan yang demikian itulah yang mendorong seseorang ke dalam sudut kekalahan. Sebab kesombongan dan sikap menghina lawan adalah unsur utama dari kekalahan itu sendiri. Demikian juga Sontani. Ia merasa dirinya berlebihan.

Tetapi sekali waktu ia mengalami peristiwa yang ia takut mengakuinya. Ia takut berpikir bahwa sebenarnya Wanamerta adalah lawan yang tak dapat dikalahkan. Oleh karena itu, oleh perasaan yang bercampur baur itulah kemudian ia menjadi bermata gelap. Dengan penuh kemarahan ia berteriak nyaring, “He Wanamerta, bertempurlah dengan laku seorang jantan. Jangan hanya mampu berlari dan menghindar. Bertahanlah, dan marilah kita sama-sama mengangkat dada.”

“Hem…” gumam Wanamerta. Di dalam hati ia mulai menyesali sikap Sontani yang keras kepala itu. Tetapi ia menyabarkan diri. Ketika beberapa saat kemudian Wanamerta masih belum menjawab, sekali lagi Sontani berteriak, “Hai, kelinci betina. Bertempurlah dengan dada tengadah. Jangan lari berputar-putar seperti ayam disembelih. Kalau kau takut mati dalam pertempuran ini, bertobatlah dan mintalah ampun.”

WANAMERTA menggeleng lemah. Tetapi ia tetap menunggu sampai Sontani kehabisan tenaga. Karena itu perlahan-lahan ia menjawab, “Kau belum sampai ke hitungan yang kelima, Sontani.”

Alangkah sakitnya hati Sontani. Ia sendiri sudah lupa pada hitungan itu karena serangan Wanamerta yang tiba-tiba. Sekarang dari lawannya itu ia mendapat peringatan akan kelalaiannya. Karena itu ia menjadi bertambah marah dan tiba-tiba terjadilah apa yang dicemaskan oleh Wanamerta. Apa yang sejak semula dihindari, sehigga ia lebih senang menghindari serangan Sontani itu terus menerus tanpa menjatuhkannya.

Dengan penuh kemarahan, Sontani berteriak, “Hei orang-orang Lemah Abang yang setia. Tangkap kelinci tua ini.”

Perintah itu benar-benar menggetarkan hati Wanamerta. Bukan karena ia takut seandainya ia terpaksa melawan seluruh pengikut Sontani, bahkan seandainya ia terpaksa mati karenanya. Tetapi dengan menggerakkan pengikutnya, Sontani harus menghadapi akibat yang barangkali tak pernah dipikirkan.

Karena itu Wanamerta mencoba mencegahnya. Dengan nyaring ia berteriak, “Tunggulah Sontani.”

Sontani benar-benar telah kesurupan setan. Ia tidak mendengar seruan itu, bahkan beberapa orang pengikutnya yang mendengarnya menganggap bahwa Wanamerta telah menjadi ketakutan. Dengan demikian mereka semakin bernafsu dan berloncatan maju, mendesak orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Bahkan beberapa orang mereka dorong jatuh tanpa peringatan apapun. Gelang raksasa yang terdiri dari manusia yang berjejal-jejal itu tampak bergerak-gerak. Beberapa orang masih belum sadar apa yang akan terjadi. Baru ketika beberapa orang berloncatan memasuki arena, tahulah mereka bahwa Sontani bersama-sama dengan pengikutnya akan menangkap Wanamerta itu beramai-ramai.

Itulah permulaan dari bencana yang menimpa diri Sontani. Sebab orang-orang yang telah terbuka hatinya, melihat kebenaran keadilan, tidak rela Wanamerta menjadi makanan pesta dari orang-orang yang hanya dapat menghitung kebenaran dari kepentingan mereka sendiri. Karena itulah maka merekapun serentak, tanpa perintah dari siapapun, bergerak melawan orang-orang Sontani. Sehingga di lapangan terbuka itu terjadilah semacam perang kecil-kecilan antara para pengikut Sontani melawan orang-orang Banyubiru yang lain. Sendang Papat, Sendang Parapat dan beberapa orang kawannya telah berdiri di sekitar Wanamerta. Mereka harus menjaga keselamatan orang tua itu. Orang tua yang telah menjadi emban kepala daerah perdikan Banyubiru sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.

“Apa yang akan kita lakukan, Kiai?” tanya Sendang Papat. Wanamerta tegak seperti patung, mulutnya komat-kumit, namun belum terdengar ia berkata. Tetapi dari matanya telah terlontar betapa ia menyesal melihat hal ini terjadi. Tawuran antara rakyat dan rakyat yang sebenarnya sama-sama menanti masa depan yang lebih menyenangkan. Sontani sendiri tiba-tiba didorong oleh hiruk-pikuk menjauhi Wanamerta.

Dengan penuh kemarahan ia berkelahi. Namun lawannya terlalu banyak. Karena itu ia terpaksa mundur dan mundur. Demikian pula agaknya para pengikutnya. Mereka ternyata korban lawan. Lawan yang dengan penuh kemarahan melawan mereka. Bagaimanapun kuatnya Sontani, dan bagaimanapun para pengikutnya berkelahi membabi buta, namun akhirnya mereka terpaksa mengalami perlakuan yang sama sekali tak mereka harapkan. Demikian pula Sontani. Meski ia telah berkelahi mati-matian namun akhirnya ia tidak berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang yang semula dianggapnya tak akan menghalangi tindakannya. Beberapa orang menangkapnya dan memegangi tangan serta kakinya.

Beberapa orang mencoba memukulnya pada bagian-bagian tubuhnya sekenanya. Sontani meronta-ronta sejadi-jadinya. Tetapi tangan orang-orang itu terlalu keras, dan ia tak mampu melepaskan diri dari mereka yang tak terkendali lagi itu.

Wanamerta melihat bahaya itu. Bagaimanapun juga ia tak menghendaki adanya korban. Karena itu hampir tak terdengar dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata, “Sendang, selamatkanlah Sontani itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah orang muda yang selama ini ikut merasakan betapa tekanan-tekanan yang telah dialami oleh orang-orang Banyubiru dari orang-orang semacam Sontani itu.

Di hadapan hidungnya ia melihat Sontani telah berusaha untuk menghina Wanamerta, sesepuh tanah perdikan ini. Karena itu, ketika ia mendengar perintah Wanamerta, mereka menjadi heran dan ragu, sehingga Wanamerta terpaksa mengulangi, “Sendang…” suaranya perlahan-lahan, “Selamatkan Sontani.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat sadar dari keragu-raguannya. Bagaimanapun perasaannya bergolak di dalam dadanya, namun mereka adalah orang-orang yang patuh. Karena itu mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka meloncat diantara orang yang bergolak seperti gabah diinteri itu, menyusup langsung ke arah Sontani. Dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman serta kelebihan-kelebihan mereka, merekapun segera berhasil berdiri di samping Sontani yang sedang meronta-ronta itu.

Dengan penuh tenaga, Sendang Papat berteriak mengatasi keriuhan suara orang-orang Banyubiru yang marah itu, “Hai, kawan-kawan yang baik. Aku harap kerelaan kalian. Serahkanlah orang ini kepadaku.”

Beberapa orang yang dekat berdiri dengan Sendang Papat itu terkejut, ketika mereka memandanginya, dalam samar-samar sinar obor yang jauh. Bukankah yang berteriak itu Sendang Papat…?

Tiba-tiba seorang diantara mereka berkata, “He, adakah kau Adi Sendang Papat?”

“Ya,” jawabnya singkat.

DARI arah lain terdengar suara, “Dan inilah adiknya, Sendang Parapat.”

“Bagus, bagus,” teriak yang lain, “Bukankah kau datang untuk membunuhnya?”

“Lepaskan dia,” kata Sendang Papat keras-keras.

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Tetapi Sendang Papat mendesakkan kata-katanya pula, “Lepaskan dia. Berhentilah berkelahi. He, yang di sana, berhentilah berkelahi.”

Suara itu disahut oleh Sendang Parapat dan oleh beberapa kawan-kawan yang datang bersamanya. Karena suara-suara itulah maka perkelahian itu terpengaruh pula.

Peperangan itu semakin lama menjadi mereda, dan akhirnya berhenti, meskipun masing-masing wajah masih diliputi oleh ketegangan dan kemarahan.

“Serahkan orang itu kepadaku,” kata Sendang Papat dengan kewibawaan yang mengagumkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Namun meskipun demikian tampak mereka ragu, seperti Sendang Papat mula-mula juga ragu. Di sebelah lain berdiri dengan kaki renggang, adiknya Sendang Parapat.

“Apakah kalian keberatan?” desak Sendang Papat. Matanya beredar berkeliling. Memandang wajah-wajah yang penuh mengandung pertanyaan. Sedang Sontani sendiri, yang berdiri di hadapan Sendang Papat, tidak pula kalah herannya. Ia tahu benar bahwa Sendang Papat adalah salah seorang yang dikejar-kejarnya selama ini seperti juga Bantaran, Penjawi, Jaladri dan yang lain-lainnya lagi.

Tiba-tiba dari antara mereka, yang berdiri berkeliling itu terdengar sebuah pertanyaan, “Akan kau apakan dia, Sendang Papat?”

Sendang Papat sendiri untuk sesaat bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menjawab, “Serahkanlah kepada kebijaksanaan Kiai Wanamerta.”

“Apa yang akan dilakukan?” bertanya yang lain.

“Ia tahu apa yang akan dilakukan,” jawab Sendang Papat.

Keadaan menjadi sepi. Sepi namun penuh keraguan. Masing-masing mencoba mengangan-angankan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wanamerta.

Tetapi sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh suatu peristiwa yang tak terduga-duga, yang merusak suasana yang hampir baik kembali itu.

Tiba-tiba dari sela-sela orang yang mengerumuni yang pucat lesu itu meloncatlah seseorang yang dengan serta merta menyerang Sendang Parapat. Sebuah tusukan yang kuat mengenai lambung kirinya, sehingga terdengar ia mengaduh.

Tetapi Sendang Parapat adalah seorang yang terlatih. Karena itu sedemikian ia merasakan sebuah tusukan mengenai dirinya, selain tanpa sesadarnya ia mengaduh perlahan, namun dengan cepatnya ia bergerak dengan tenaganya yang terakhir, menangkap tubuh orang yang menusuknya itu, sehingga ketika orang itu akan melarikan diri, tubuh Sendang Parapat yang lemah terseret beberapa langkah.

Tetapi dengan demikian orang itu tidak dapat segera melenyapkan dirinya ke dalam gerombolan orang-orang yang masih berdiri di sana sini. Ia terpaksa berhenti mendorong Sendang Parapat untuk melepaskan pegangannya yang seolah-oleh terkunci.

Dalam saat itulah Sendang Papat, memandangi kejadian itu dengan mata terbelalak. Tusukan yang mengenai adiknya, pada saat ia sedang melindungi Sontani, yang dibencinya, adalah serasa tusukan pada dadanya, yang ditutupinya rapat-rapat, kini seolah-olah tersiram minyak. Seperti kawah gunung berapi yang tak menemukan jalan, tiba-tiba meledaklah kemarahan Sendang Papat.

Ia sempat melihat adiknya berputar cepat sekali, dan menangkap pergelangan tangan orang yang menusuknya. Ia melihat tubuh adiknya yang telah lemah itu terseret beberapa langkah. Maka ia sendiri kemudian seperti thathit meloncat beberapa langkah ke arah orang yang mendorong adiknya, untuk melepaskan pegangannya. Demikian Sendang Parapat terlepas, dan tubuhnya terbanting di tanah, demikian Sendang Papat sampai kepada orang itu.

Wajah Sendang Papat tiba-tiba berubah. Seolah-olah di dalamnya tersembunyi malaikat pencabut nyawa. Dengan tidak berkata sepatah katapun, ia menyerang orang yang menusuk adiknya itu. Orang itupun agaknya sadar pula. Karena itu iapun segera melawan serangan itu.

Sendang Papat benar-benar marah. Tenaganya menjadi seakan-akan belipat-lipat. Seperti badai yang tak tertahan lagi ia menerkam orang yang menusuk lambung adiknya. Betapa orang itu mencoba melawannya, tetapi ternyata Sendang Papat bukanlah lawannya. Karena itu ia terdorong surut beberapa langkah, yang kemudian disusul sebuah pukulan dengan tenaga tergenggam pada dagunya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga orang itu seolah-olah terangkat beberapa jengkal dan terlempar ke belakang, untuk kemudian dengan kerasnya pula terbanting ke tanah.

Sendang Papat sendiri mata gelap. Ia tidak ingat lagi kata Wanamerta, ia tidak ingat lagi pesan Mahesa Jenar dan pemimpin-pemimpin yang lain. Yang teringat hanyalah, seorang dengan licik dan curang telah menusuk adiknya. Seperti seekor harimau ia meloncat ke atas tubuh orang itu, dan dengan sekuat tenaga seperti hujan yang tercurah dari langit, ia menghantam bertubi-tubi wajah orang itu. Terdengarlah orang itu berteriak ngeri. Tetapi juga teriakan itu seolah-olah tak terdengar oleh Sendang Papat yang sedang marah.

Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, justru menjadi terdiam seperti patung. Dengan mata terbelalak pula mereka menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang berlangsung sedemikian cepatnya. Sehingga apa yang mereka ketahui kemudian adalah Sendang Papat yang marah itu duduk di atas tubuh lawannya yang terlentang di tanah sambil memukulnya habis-habisan untuk mencurahkan kemarahannya yang meluap-luap.

Tetapi kawan-kawan orang itu ternyata tidak tinggal diam. Ketika mereka melihat kawannya tak mampu lagi untuk bergerak, mereka pun kemudian mencoba untuk melepaskannya. Ternyata mereka adalah pengikut-pengikut Sontani.

BEBERAPA orang bersama-sama dengan mempergunakan senjata-senjata tajam yang kecil, semacam pisau-pisau runcing, menyerang Sendang Papat. Sendang Papat betapapun marahnya, namun naluri keprajuritannya segera memperingatkannya akan bahaya yang mengancam itu. Namun justru karena itulah dengan tangkasnya ia berdiri, menarik bagian dada baju orang yang menusuk adiknya itu sehingga berdiri dan dengan segenap tenaga yang ada, Sendang Papat memukul orang itu dengan tangan kanannya ke arah perutnya.

Terdengarlah suaranya seperti tersumbat di kerongkongan. Tubuhnya terbungkuk dan terhuyung-huyung akan jatuh menelungkup. Pada saat itu Sendang Papat melepaskan pegangannya, dengan tangan kirinya, ia mengangkat muka orang itu menengadah, dan sekali lagi dengan tangan kanannya ia menghantam wajah itu. Ternyata orang itu sudah tidak mampu untuk mengaduh lagi. Tubuhnya demikian saja terlempar ke belakang, dan sekali lagi ia terbanting di tanah.

Pada saat itu beberapa orang telah berada di sekeliling Sendang Papat dengan pisau-pisau di tangan.

Tetapi Sendang Papat adalah seorang yang terlatih menghadapi bahaya. Meskipun ia sendiri tidak mempergunakan senjata, namun ia sama sekali tidak takut melawan orang-orang itu. Karena itulah maka segera berkobar kembali perkelahian. Sendang Papat melawan lebih dari empat lima orang yang menyerangnya dari segenap penjuru. Meskipun demikian belum terlintas di dalam otak Sendang Papat itu untuk mempergunakan keris yang terselip di lambung kirinya. Demikian ia melompat kesana-kemari, seperti seekor kijang yang keriangan di padang rumput yang hijau. Tangannya menyambar-nyambar seperti berpuluh-puluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan yang ditekuninya selama ini, ternyata menempatkannya pada kedudukan yang menguntungkan.

Apalagi kali ini orang yang bernama Sendang Papat itu benar-benar mengamuk tanpa terkendali.

Perkelahian itu ternyata telah memancing berkobarnya kembali pertempuran kecil di tanah lapangan itu.

Ketika para pengikut Sontani mulai menyerang Sendang Papat, orang-orang yang memihak Wanamerta pun mulai bergerak pula. Tetapi orang-orang Sontani itu telah merasa bahwa mereka tidak akan mempu melawan kemarahan orang-orang yang jauh lebih banyak dari jumlah mereka. Karena itu sebagian besar dari mereka segera melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Yang tinggal kemudian hanyalah kelima orang yang bersama-sama bertempur melawan Sendang Papat itulah.

Karena mereka bersenjata, mereka merasa bahwa mereka akan mampu mempertahankan diri mereka. Wanamerta, yang tak jauh dari mereka, melihat keributan timbul kembali. Cepat ia berlari untuk mengetahui apakah yang terjadi.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring di tanah dengan darah yang mengalir dari lukanya. Ia melihat dua orang yang datang bersama dari Gedong Sanga berusaha untuk menahan darah yang mengalir itu. Sedang seorang lagi agaknya ikut serta berkelahi melawan orang Sontani.

Wanamerta kemudian menekan dadanya, ketika ia melihat Sendang Papat mengamuk tanpa dapat mengendalikan dirinya sama sekali. Beberapa saat Wanamerta berdiam diri dengan cemas.

Perkembangan keadaan itu agaknya sama sekali tidak seperti yang dikehendaki Wanamerta, meskipun darinya ia dapat mengambil keuntungan-keuntungan. Dengan demikian ia telah dapat menempatkan beberapa bagian orang-orang Banyubiru itu kepada kesadarannya kembali. Tetapi peristiwa yang terjadi ini dapat membawa akibat yang buruk. Meskipun hanya sementara. Pada saat itu Wanamerta sudah tidak melihat Sontani lagi. Orang itu lari terbirit-birit ketika terbuka kesempatan, tanpa mempedulikan lagi apakah orang-orangnya masih berkelahi terus, dan apakah ada diantara mereka yang menjadi korban. Yang penting baginya adalah menyelamatkan diri sendiri.

Yang mula-mula dilakukan oleh Wanamerta adalah menyuruh kedua orang yang berusaha untuk membendung darah yang keluar dari lambung kiri Sendang Parapat itu untuk membawanya ke tepi.

Kemudian kepada kedua orang itu, Wanamerta bertanya, “Bagaimana luka itu?”

“Berat Kiai,” jawab salah seorang diantaranya.

“Adakah kau kenal seorang yang dapat kau percaya di sekitar tempat ini?” tanya Wanamerta pula. Kedua orang itu berpikir.

Kemudian salah seorang menjawab, “Bagaimana dengan Kakang Prana?”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian ia mengangguk-angguk.

“Aku kira ia baik. Bawalah Sendang Parapat kepadanya. Kami akan menyelesaikan beberapa persoalan di sini. Kami akan menyusul kau nanti ke sana. Aku sendiri masih harus mengawasi Sendang Papat yang kehilangan keseimbangan.”

Tak dapat disalahkan,” gumam orang itu seperti kepada diri sendiri.

“Ya,” jawab Wanamerta singkat. Kemudian ia berkata, “Nah pergilah kepada Prana. Usahakan obat-obatan apapun buat luka itu. Barangkali daun metir, atau sarang labah-labah.”

“Baik Kiai,” sahut orang itu sambil berdiri dan mengangkat tubuh Sendang Parapat ke rumah Ki Prana yang tak jauh dari lapangan itu.

Mereka mengharap akan dapat beristirahat dan menyembunyikan Sendang Parapat yang terluka itu.

Sepeninggal kedua orang itu, kembali Wanamerta mendekati Sendang Papat yang sedang ngamuk.

Beberapa orang telah berdiri di sekitar tempat itu dan beberapa orang lagi berbondong-bondong berlari-lari ke titik perkelahian itu pula. Mereka itu datang kembali setelah mengejar-ngejar orang-orang Sontani.

Tiba-tiba salah seorang yang baru datang itu dengan nafas tersengal-sengal berteriak, “Bunuh saja mereka semua, bunuh saja.”

“Bunuh… bunuh….” sahut yang lain.

WANAMERTA menjadi semakin cemas. Dengan demikian permusuhan antara orang-orang Banyubiru itu akan bertambah menjadi-jadi. Karena itu Wanamerta segera bertindak. Ia mengharapkan pertanggunganjawab sepenuhnya terletak di bahunya, setidak-tidaknya pada Sendang Papat. Maka segera ia meloncat maju sambil berteriak, “Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bertempur dengan jujur.”

Beberapa orang menjadi heran mendengar kata-kata Wanamerta itu. Mereka benar-benar tidak tahu maksudnya. Mereka mengira bahwa Wanamerta pun akan sependapat dengan mereka. Bahkan seorang yang berdiri di deretan paling depan bertanya, “Bagaimanakah perkelahian itu dapat disebut jujur? Adi Sendang Papat hanya seorang diri tanpa senjata, harus melawan lima orang bersenjata.”

Wanamerta melangkah maju semakin dekat. Ia tidak melihat kesulitan pada Sendang Papat, karena itu ia menjawab, “Jangan takut. Malah kalian harus bangga bahwa Sendang Papat bertempur melawan lima orang sekaligus. Lihatlah apa yang akan terjadi.”

Tetapi Sendang Papat sendiri sama sekali tidak mendengar mereka merasa cemas, bahwa Sendang Papat akan mengalami bencana seperti adiknya. Kemudian tak seorangpun berbicara lagi. Mereka dengan seksama memperhatikan perkelahian itu. Tetapi bagaimanapun juga pembicaraan itu. Ia sama sekali tidak melihat Wanamerta dan tidak tahu bahwa sekian banyak orang, perhatiannya tercurah kepadanya. Yang ia ketahui adalah gelora dadanya sendiri. Gelora kemarahan yang meluap-luap. Sendang Parapat adalah satu-satunya saudaranya. Sejak kecil keduanya tidak pernah berpisah. Seolah-olah mereka mampunyai ikatan batin yang sedemikian eratnya. Sakit bagi yang seorang adalah sakit pula bagi yang lain.

Tiba-tiba sekarang di hadapan hidungnya ia melihat adiknya jatuh berlumurah darah. Karena itu otaknya menjadi terguncang dan karena itu ia kehilangan kesadaran. Sedang lima lawannya tiba-tiba menjadi cemas. Mereka melihat rakyat yang marah itu mengitarinya. Tetapi mereka merasa bahwa seolah-olah mereka telah terjebak di dalam kepungan. Karena itu mereka tidak mungkin lagi untuk melarikan diri.

Dengan demikian maka merekapun mengamuk pula. Mereka harus bertempur mati-matian, sambil menunggu perkembangan keadaan. Mereka mengharap Sontani datang membantu, atau Sontani akan datang dengan kawan-kawan yang lebih banyak lagi, sukar kalau Sontani dapat menghubungi pasukan Pamingit. Apalagi ketika mereka mendengar kata-kata Wanamerta, mereka merasa bahwa orang-orang Banyubiru tidak akan berani bertindak terhadap mereka. Sebab dengan demikian pasti akan terjadi bencana bagi mereka itu.

Tetapi meskipun orang-orang Banyubiru itu tidak bertindak apa-apa terhadap mereka, namun akan sama sajalah akibatnya. Sebab Sendang Papat yang mata gelap itu, tendangannya jauh lebih menakutkan daripada seandainya orang-orang Banyubiru itu menyerang mereka beramai-ramai.

Sekali-sekali mereka mencoba juga untuk mencari jalan melarikan diri, tetapi orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu sudah sedemikian tepatnya. Karena itu tidak ada pilihan lain, bertempur mati-matian.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung beberapa lama. Sendang Papat yang mata gelap terpengaruh oleh kemarahannya, melawan lima orang yang mata gelap karena putus asa. Sebab setelah sedemikian lama belum juga Sontani datang membantu, mereka tidak dapat menghadapinya lagi. Orang-orang yang ada di sekitar perkelahian itu, semakin lama menjadi semakin terpaku oleh perasaan kagum atas tandang Sendang Papat yang hanya seorang diri melawan lima orang yang bersenjata. Bahkan Wanamerta sendiri pun heran melihat Sendang Papat bertempur. Seolah-olah kekuatan serta kelincahannya bertambah-tambah.

Bahkan seolah-olah ia bergerak tidak atas kehendak dirinya. Demikianlah seorang yang sedang meluap-luap. Tanpa sesadarnya sendiri segala ilmu yang tersimpan tercurah seperti hujan yang melimpah. Apa yang terjadi kemudian adalah sangat mengejutkan. Tiba-tiba Sendang Papat berhasil merampas sebuah belati dari salah seorang lawannya, dan sebelum seorang sempat melihatnya, terdengarlah sebuah teriakan nyaring, dan salah seorang dari lawan-lawannya itu rubuh di tanah. Darah yang merah menyembur dari dadanya.

“Sendang Papat…!” teriak Wanamerta cemas. Tetapi Sendang Papat sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan sesaat kemudian seorang lagi mengaduh keras dan menggelepar tak berdaya. Tiga orang yang lain, betapapun mereka tak mengenal takut pada mulanya, namun setelah mereka melihat kenyataan itu, hati mereka pun berdesir. Sekali lagi mereka mencoba melihat keadaan sekeliling mereka, dan tiba-tiba mereka berteriak sambil meloncat ke arah orang-orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu.

Beberapa orang terkejut dan bergerak mundur. Dengan serta-merta, mereka mendesak menyusup ke dalam kepepatan orang-orang yang merubungnya. Tetapi agaknya salah seorang dari mereka mengalami nasib yang malang. Sendang Papat sempat menangkap lehernya dan tanpa ampun lagi, belati kecilnya menyusup diantara tulang-tulang iganya. Terdengar sekali ia memekik tinggi, kemudian terdiam untuk selama-lamanya. Tiga orang telah menggeletak berlumuran darah yang mengalir dari mulutnya. Namun agaknya Sendang Papat sama sekali belum puas.

Dengan marahnya ia berteriak nyaring, “Tangkap iblis-iblis itu.”

Orang-orang yang mengaguminya, tiba-tiba menjadi cemas pula melihat wajah anak muda yang menjadi liar itu. Mereka hanya dapat menyibak ketika Sendang Papat meloncat mengejar dua orang lagi yang mencoba menyelamatkan diri. Mereka, yang berdiri memagar lingkaran pertempuran itu, malahan terpaku diam, dan membiarkan kedua orang lawan Sendang Papat itu menyusup diantara mereka, dan membuat keributan bagian belakang lingkaran itu. Untunglah bahwa malam itu cukup gelap.

SINAR obor yang menyala agak jauh dari tempat itu, sama sekali tertutup oleh bayangan-bayangan orang-orang yang bergerak-gerak di sekitar tempat itu. Dengan demikian maka Sendang Papat mendapat banyak kesulitan untuk menemukan kedua orang yang melarikan diri menyusup diantara sekian banyak orang yang kemudian dari ujung lapangan mereka meloncat ke dalam gerumbul-gerumbul di tepi tanah lapang itu.

Ketika Sendang Papat tidak berhasil menemukan kedua orang lawannya, menjadi semakin marah. Seperti orang yang hilang ingatan ia berteriak, “Hai, orang-orang Banyubiru… di mana kedua orang gila itu? Kenapa kalian hanya diam menonton seperti menonton tayub. He, di mana…? di mana…?”

Tak seorangpun menjawab. Sendang Papat dengan liar memandang ke segenap arah. Namun kedua orang itu tak dapat diketemukan.

Tiba-tiba mata Sendang Papat menyangkut pada seperangkat gamelan, obor-obor yang menyala-nyala, beberapa dingklik dasaran tuak dan minum-minuman semacamnya, air tape yang dikentalkan, badhek dan sebagainya.

Hatinya yang marah itupun menjadi semakin menyala seperti obor-obor itu dibongkok bersama-sama. Gamelan yang seperangkat itupun merupakan salah satu sumber kemunduran akhlak di Banyubiru, merupakan salah satu sebab rakyat Banyubiru kehilangan gairah pada perjuangannya.

Sendang Papat adalah seorang penari yang mencintai gamelan seperti ia menyayangi pakaian-pakaiannya.

Tetapi gamelan yang seperangkat ini, yang berada di tanah lapang untuk mengiring tayub dan mabuk-mabukan, adalah gamelan yang mengkhianati kemurnian seni, serta menerapkan seni dalam perjuangan yang tak terkendali.

Tiba-tiba Sendang Papat meloncat sambil berteriak, “He, orang-orang Banyubiru, adakah kalian masih akan menyelenggarakan tari-tarian gila seperti malam-malam yang pernah kau lalui dengan gila-gilaan?”

Tak seorangpun yang menjawab.

“Dengar…!” teriak Sendang Papat, “Aku akan membakar gamelan yang telah menghantarkan kalian pada keadaan yang cemar ini. Kalau kalian keberatan, lawanlah aku. Tetapi kalau kalian sependapat, ikutlah aku.”

Juga tak seorangpun menjawabnya. Karena itu tiba-tiba dengan sigapnya Sendang Papat berlari ke arah gamelan yang dibencinya itu. Dengan tangkasnya pula tangannya menyambar sebuah obor di tangan kiri dan satu obor lagi di tangan kanan. Dilemparkannya kedua obor itu ke tengah-tengah jajaran gamelan itu. Tidak hanya dua obor, tetapi tiga, empat dan lampu-lampu minyak di dingklik-dingklik itu disepak-sepaknya.

Bahkan kemudian orang-orang yang melihat perbuatannya itu menjadi terpengaruh pula. Dengan serta merekapun tiba-tiba sambil berteriak-teriak mencabut segala obor yang berada di tanah lapang itu dan dilemparkan bersama-sama ke arah seperangkat gamelan itu.

“Bakar saja, bakar saja…!” teriak mereka bersama-sama.

Obor-obor itupun kemudian menyala berkobar-kobar. Minyak yang berada di dalam bumbung pun kemudian tumpah ruah dan membasahi gamelan-gamelan itu. Karena itulah maka sesaat kemudian, apipun menyala-nyala dengan garangnya, seolah-olah hendak menyentuh langit. Lidah api yang dihembus angin perlahan-lahan, bergoyang-goyang seperti penari-penari yang menari-nari dengan riangnya di atas gamelan yang sedikit demi sedikit hangus dimakannya. Tanah lapang itu kemudian menjadi terang benderang. Beberapa orang berusaha menyelamatkan dagangan-dagangan mereka. Tuak, minuman-minuman biasa, makanan dan apa saja diatas dasaran mereka. Tetapi api mengamuk demikian hebatnya. Dingklik-dingklik, warung-warung kacang itupun dalam sekejap telah lenyap dalam pelukan penari maut yang menari-nari dengan iringan lagu derak-berderaknya gamelan dan bambu-bambu yang terbakar.

Orang-orang Banyubiru itu seperti kelompok orang-orang yang kehilangan akal dan kesadaran. Mereka menghancurkan apa saja yang dapat mereka pegang di tanah lapang itu.

Kembali Wanamerta menekan dadanya. Keadaan berkembang sedemikian cepatnya. Tetapi ia tidak menyalahkan Sendang Papat. Sebab telah jatuh korban di pihaknya, karena kelicikan lawannya. Yang dipikirkan kemudian, bagaimanakah tanggapan Mahesa Jenar atas kejadian ini. Kejadian yang terang tidak dikehendakinya.

Tetapi kalau Mahesa Jenar mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ini, maka iapun akan dapat mengerti.

Api semakin lama semakin tinggi menggapai-gapai di udara. Asap yang hitam membubung tinggi ke langit. Melihat api serta asap itu, Wanamerta dapat memperhitungkan keadaan. Mau tidak mau, cahaya merah yang mewarnai kehitaman malam itu pasti akan dapat dilihat oleh orang-orang Lembu Sora.

Karena itulah maka mereka pasti akan datang. Dan dengan demikian keadaan akan bertambah buruk.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan Wanamerta ingin mencoba menghindarkan orang-orang Banyubiru dari bentrokan bentrokan yang lebih besar. Dengan demikian ia menyusup diantara orang banyak yang seperti anak anak bermain api mendekati Sendang Papat.

Ketika ia sudah berada dibelakang anak muda itu ia menggapitnya Sendang Papat menoleh kearahnya. Matanya masih merah diwarnai kemarahan yang meluap luap. Wanamerta beragu sejenak, tetapi akhirnya ia berkata;” Sendang, hentikan permainan ini.” Sendang Papat memandang wajah Wanamerta dengan kecewa, bantahnya :” Aku harus membunuh semua orang yang telah bersetuju untuk membunuh adikku.”

“Baiklah Sendang, aku akan membantumu. Tetapi tidak sekarang dan tidak dalam kesempatan ini.” jawab Wanamerta lunak. “Kenapa aku dapat melakukannya? mereka sudah mulai sekarang.” bantah Sendang Papat. “Bukan sekarang Sendang, bahkan telah lama. Dan selama ini kami masih mencari cari jalan untuk menyelesaikan masalah kita dengan orang orang yang telah keblinger itu,”Wanamerta mencoba memberikan penjelasan.

“Aku tidak sabar lagi. Adikku telah terbunuh, dan masih adakah orang yang akan berusaha menyalahkan aku?” sahut Sendang Papat.

“Tidak Sendang, tidak. Kau tidak bersalah. Kau berusaha membela adikmu, yang hanya merupakan salah seorang dari mereka yang menjadi korban peristiwa peristiwa semacam ini. Tetapi ketahuilah bagaimana sekiranya Lembu Sora datang ke tanah lapang ini?,” bertanya Wanamerta.

“Bagaimanakah kalau terjadi bentrokan antara orang banyu Biru dengan pasukan Lembu Sora?.”

“Aku akan berdiri paling depan. Akan aku bunuh mereka semua, atau aku yang terbunuh,” jawab Sendang Papat lantang.

Wanamerta menjadi kebingungan. Meskipun apabila Lembu Sora itu benar benar datang, ia tidak akan mengingkari tanggung jawab. Sebab ialah orang tertua dari rombongannya. Sebelum Wanamerta dapat menguasai perasaan Sendang Papat yang meluap luap itu. Tiba-tiba terdengar dari kejauhan derap kaki kuda. Dada Wanamertapun berdesir. Itulah pertanda bencana akan datang. “Sendang jangan biarkan korban menjadi semakin banyak,” berbisik Wanamerta. Tetapi wajah Sendang menjadi terang. Tampaknya ia menjadi gembira sekali, seperti kanak kanak yang mendapat mainan. Sesekali ia meloncat dengan lincahnya. Untuk kemudian menghambur menyongsong derap kuda yang semakin lama semakin dekat.

Beberapa orang yang yang melihatnya ikut berlari-lari dibelakangnya. Merekapun tiba tiba menjadi gembira pula. Dari dalam gelap, dibalik tikungan jalan, muncullah beberapa orang berkuda. Mereka adalah orang Lembu Sora dari Pamingit. Wajah wajah mereka tampak betapa garangnya. Cahaya api yang kemerahan itu membuat kesan yang seram pada rombongan berkuda itu. Pemimpin rombongan itu segera melihat api yang menyala-nyala. Merekapun kemudian melihat orang orang yang seolah olah mengamuk. Segera kemarahan menjalar didada mereka. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong kedatangan mereka dengan senjata pemukul, bambu dan kayu dan apasaja yang mereka ketemukan.

Pemimpin laskar itu segera memberikan perintah, dan bertebaranlah orang orang berkuda itu ke segenap penjuru. Mereka memacu kuda mereka tanpa memperhitungkan banyak orang dilapangan itu.

Beberapa orang terdorong jatuh dan bahkan ada diantaranya yang terlanggar dan terbanting di tanah.

Beberapa orang berteriak teriak mengancam dan mengumpat umpat. Sendang Papat menjadi kecewa ketika rombongan itu terpencar pencar seperti orang kesurupan dan menginjak injak yang ada di jalannya.

Melihat sikap itu Sendang Papat menjadi semakin marah. Bahkan Wanamertapun menjadi marah pula.

Ia tidak pernah membayangkan, demikian orang Pamingit memperlakukan orang Banyubiru itu dianggapnya sapi gembalaan, yang dapat digiringnya dengan pecut dan tongkat pemukul. Tetapi bagaimanapun kepalanya msdih tetap dingin. Berbeda dengan Sendang Papat yang diikuti segenap orang yang berada di tanah lapang itu. Merekapun segera memberikan perlawanan. Orang banyak itupun mengamuk sejadi-jadinya. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan tidak banyak. Mereka adalah orang yang tidak begitu banyak mendapat didikan keprajuritan. Dengan demikian perlawanan merekapun tidak banyak berarti.

Hanya Sendang Papatlah yang mampu menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Ketika seekor kuda dengan kencangnya berlari menerjangnya, dengan segala kekuatan ia mendesak orang disekitarnya untuk menghindar. Namun demikian kuda itu lewat disampingnya demikian ia meloncat keatas punggungnya. Sekali gerak, tangannya telah membenamkan kerisnya kepunggung orang itu yang kemudian terbanting jatuh. Dengan kuda itulah Sendang Papat melawan orang Pamingit. Tetapi Sendang Papat seorang diri itupun tak banyak yang dapat dilakukan.

Wanamerta kemudian tidak mengingkari tanggung jawabnya. ia berusaha untuk mengurangi tekanan orang Pamingit itu. Namun akhirnya satu demi satu jatuhlah korban. Sedang keributan di tanah lapang itupun semakin menjadi jadi pula. Akhirnya Wanamerta menganggap bahwa bentrokan itu harus segera diakhiri.

Ia tidak mau melihat orang kecil menjadi korban. Karena itu segera Wanamerta berteriak, “Hindarkan diri, hei orang Banyubiru. Hindarkan diri kalian.” Sekali dua kali suara Wanamerta itu tenggelam saja dalam gemuruhnya teriakan rakyat yang marah serta teriakan orang Pamingit yang memaki maki. Tetapi ia tidak putus asa. Diulanginya lagi kata katanya sekali dua kali. Kemudian terdengar ia berteriak keras; “Hei orang Banyu Biru yang setia. Jangan terlalu bodoh melawan orang berkuda itu. Tinggalkan mereka. Hindarkan diri kalian dari injakan kuda-kuda itu.”

Beberapa orang mendengar teriakan Wanamerta, mereka mulai berfikir. Apakah mereka akan dapat melawan orang berkuda itu. Sedangkan dihadapan mereka korban jatuh bertambah lagi. Apalgi orang Pamingit yang juga menjadi gila itu menghunus pedang mereka. Meskipun demikian Sendang Papat bertempur seperti burung Sikatan. Ia menyambar dengan lincahnya diatas kudanya. Ketika Wanamerta berteriak sekali lagi, suaranya mulai dapat perhatian. meskipun beberapa orang yang meluap luap perasaannya, seolah olah tidak akan meninggalkan tanah lapang itu meskipun seandainya mereka harus terbunuh, tetapi terdengar Wanamerta berkata: “He, hindarkan diri kalian. Jangan mati tanpa arti. Tenaga kalian masih sangat diperlukan oleh tanah kelahiran ini. Tetapi nanti dalam kesempatan yang lebih baik, dimana kalian membawa senjata di tangan kalian.”

Demikianlah, kemudian orang Banyubiru itu sadar akan keadaan yang tidak berimbang. Karena itulah mereka mengikuti nasehat Wanamerta yang selalu diulang ulang. Beberapa orang meloncat dan berlari meninggalkan lapangan itu. Kuda orang Pamingit itupun mejadi liar pula. Mereka berlari lari mengelilingi lapangan seperti serigala lapar. Diatas punggung mereka itupun duduk orang gila yang liar seperti beruang alasan.

Orang berada dilapangan semakin berkurang jua. Satu satu mereka mencoba menghindarekan diri mereka dengan janji didalam dada apabila datang saatnya maka akan mereka serahkan jiwa raga mereka sebagai tebusan atas kekhilafan mereka selama ini. Tetapi kali ini, mereka tidak akan mati tanpa arti.

Beberapa orang berkuda mencoba mengejar mereka namun mereka itupun segera meloncati pagar batu dan menyusup pagar bambu, tenggelam dalam gerumbul yang gelap. Sendang Papat masih saja bertempur terus. Ia sama sekali tidak memperhitungkan lagi keadaan yang dihadapinya. ia tidak mau melihat kenyataan bahwa akhirnya ia harus bertempur seorang diri. Demikianlah kemudian tiga orang berkuda bersama-sama menyerangnya. Sendang Papat memang tangkas. Tetapi ia tidak dapat melawan ketiga-tiganya sekaligus. Ia mencoba untuk memutar kudanya, menghindar kesamping. tetapi kuda lawannya itu akan melanggarnya. Disusul dengan yang seekor lagi dari arah lain. Sendang Papat segera menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu terhenti. Seekor kuda lawannya, berlari terus kedepan, tetapi seekor lagi benar benar membenturnya.

Tekanan itu ternyata terlalu berat bagi Sendang Papat sehingga iapun kemudian terlempar dari punggung kudanya bersama sama dengan penunggang kuda yang membenturnya. Keduanya jatuh bergulingan dan berusaha bangkit kembali. Demikian mereka berdiri, demikian mereka bertempur kembali. Tetapi dalam pada itu, kawan kawannyapun telah siap pula untuk membantu. Wanamerta yang masih berdiri di tanah lapang melihat kesulitan yang bakal terjadi atas Sendang Papat. Ia tidak mau mengorbankannya. Adiknya telah terluka berat sehingga ia harus berusaha supaya kakaknya dapat diselamatkan. tetapi lawan terlalu banyak.

Untuk sesaat Wanamerta berbimbang hati. Ia menyesal bahwa Sendang Papat telah kehilangan kejernihan pikirnya sehingga seolah olah ia akan membunuh diri. Tetapi ia tidak mempunyai banyak waktu. Bagaimanapun yang terjadi ia harus membantu anak itu. Karena itulah dengan secepat ia dapat, meloncatlah orang tua itu kearah Sendang Papat, untuk membantunya. Ketika seekor kuda menyambarnya, Sendang Papat masih sempat mengelakkan dirinya bahkan ia masih dapat menyerang lawannya, yang berdiri diatas tanah. Dengan demikian, Wanamerta masih dapat menyapanya sebelum ia digilas oleh kaki kuda orang Pamingit. Yang mula mula diucapkan Wanamerta adalah “Sendang,” suaranya perlahan sekali.

“Adikmu mencarimu”

“He,” Sendang Papat terkejut “Prapat?”

“Ya,” jawab Wanamerta. Sementara itu ia harus turut melawan lawan Sendang Papat. Sementara itu seekor kuda sekali lagi menyambar mereka. Dengan ikat kepala yang diuraikan, Wanamerta berhasil menakuti kuda itu, sehingga kuda itu meronta dan melonjak tinggi. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh sendang Papat. Dengan sigapnya ia meloncat, dan sekali lagi kerisnya membenam di tubuh orang itu.

“Naiklah kiyai,” teriaknya. Tetapi Wanamerta tidak sempat naik. Orang yang semula berkelahi melawan Sendang papat menyerangnya. Ketika sebuah pedang menyambar lehernya, Wanamerta berjongkok merendahkan dirinya. Kemudian dengan kakinyha ia menghantam lambung orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu terlempar. Malanglah baginya, ketika saat itu dua ekor kuda bersama sama berlari mendekati titik perkelahian. Kedua orang itu sudah siap untuk menusuk tubuh Wanamerta dari dua arah.

TIBA-TIBA seseorang terlempar ke depan mereka. Terdengarlah jerit ngeri. Tubuh itupun dengan dahsyatnya terinjak oleh kaki-kaki kuda yang sedang berlari kencang. Wanamerta hanya melihat peristiwa itu sebentar saja. Iapun segera berlari, meloncat ke atas punggung kuda, yang semula dipakai oleh Sendang Papat. Kuda itu, yang masih berdiri di tengah lapangan, menjadi terkejut dan berlari melingkar-lingkar. Untunglah Wanamerta segera dapat menguasainya.

Dalam pada itu Sendang Papat sudah bimbang. Kalau semula ia sudah berketetapan hati untuk mati dengan membawa bela sebanyak-banyaknya, kini ia terpaksa berpikir kembali. “Adakah Parapat masih hidup?” pikirnya.

Tiba-tiba Sendang Papat ingin mendapat penjelasan tentang adiknya. Karena itu Sendang Papat segera mendekatkan diri kepada Wanamerta sambil bertanya, “Adakah Kiai tadi berkata tentang Parapat?”

Mata Wanamerta tidak terpelas dari para penunggang kuda yang telah siap menerjang mereka.

Meskipun demikian ia menjawab, “Ya.”

“Bagaimana dengan anak itu?” Sendang Papat minta penjelasan.

“Ia mengharap kedatanganmu. Mudah-mudahan ia masih tertolong,” Wanamerta mencoba untuk memancing anak itu meninggalkan tanah lapang yang terkutuk ini.

Sementara itu, ia melihat beberapa orang lain, yang semula mengejar-ngejar orang Banyubiru telah memasuki tanah lapang kembali. Bahkan merekapun segera bersiap pula untuk menyerang. Wanamerta melihat bahaya yang bertambah-tambah, sementara itu harapannya mulai timbul kembali. Mudah-mudahan Sendang Papat bersedia meninggalkan tanah lapang ini untuk melihat adiknya.

“Tak cukup banyak waktu Sendang,” kata Wanamerta pula, “Adikmu cepat-cepat harus mendapat bantuan.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Sendang Papat.
“Ia disembunyikan di rumah Ki Prana,” jawab Wanamerta.

Sendang Papat merenung sejenak. Di hadapannya orang-orang Pamingit memacu kudanya ke arah mereka berdua.

“Mereka datang, Kiai,” kata Sendang Papat.

Wanamerta telah melihat mereka pula. Segera ia menarik kekang kudanya memutar sekali, lalu berlari ke samping.

“Pikirkan adikmu itu,” katanya sebelum kudanya berlari. Sendang Papat tidak sempat menjawab. Seekor kuda lawan menyerangnya dengan cepatnya. Ketika sebuah pedang menyambarnya, dengan cepatnya ia melekatkan tubuhnya pada punggung kudanya. Hatinya berdesir ketika Sendang Papat merasakan angin sambaran pedang menghembus tengkuknya.

“Hampir saja,” desisnya. Karena itu Sendang Papat merasa bahwa lebih baik melawan orang-orang Pamingit itu, dengan pedang pula. Karena itu cepat-cepat ia meloncat turun memungut pedang dari seseorang yang telah tak berdaya untuk bangkit kembali. Dengan pedang itulah kemudian ia melawan setiap penyerangnya dengan kekuatan yang berimbang. Tetapi orang-orang Pamingit itu pun bertambah-tambah pula.

Sendang Papat melihat Wanamerta yang tua itu pun dapat bergerak mengagumkan. Di tangannya tiba-tiba saja telah tergenggam sebuah telempak, tombak bertangkai pendek. Agaknya ia pun merasa perlu untuk memegang sebuah senjata yang tidak terlalu pendek dalam pertempuran berkuda. Namun, meskipun demikian di dalam hati Sendang Papat mulailah timbul keraguan. Ia terpengaruh benar oleh kata-kata Wanamerta tentang adiknya. Karena itu selagi ia sempat, ia mendorong kudanya ke arah Wanamerta, dan dengan suara yang parau dan perlahan-lahan ia berkata, “Apakah kita lebih baik meninggalkan lapangan ini, Kiai?”

“Demikianlah, untuk keselamatan adikmu. Ia membutuhkan perawatan,” jawab Wanamerta. “Baiklah,” jawab Sendang Papat.

Tetapi sementara itu, Wanamerta memandang sekelilingnya dengan alis yang berkerut-kerut. Ia melihat perubahan pada tata perkelahian lawannya. Wanamerta tidak lagi melihat mereka bersiap untuk menyerang satu demi satu atau berdua atau bertiga sekalipun.

Yang dilihatnya adalah orang-orang Pamingit itu mulai membuat sebuah gelang, mengelilingi mereka berdua.

“Setan,” desis Sendang Papat.

“Mereka mengepung kita,” sahut Wanamerta.

Sendang Papat memutar kudanya untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ia melihat sepuluh, bahkan lebih dari itu, orang-orang berkuda di sekelilingnya. Sedang di tengah lapang itu, ia melihat beberapa ekor kuda tak berpenumpang. Dua tiga orang Pamingit terbaring diantara beberapa orang Banyubiru yang terluka dan bahkan ada yang terbunuh di tanah lapang itu.

Suatu kekacauan yang mengerikan.

Tetapi sementara itu, Wanamerta dan Sendang Papat harus berpikir tentang diri mereka. Ketika mereka melayangkan kembali pandangan mereka, mereka melihat perlahan-lahan kuda-kuda yang mengepung itupun mulai bergerak maju. Wanamerta adalah seorang tua yang berpengalaman cukup. Karena itu segera ia mengetahui maksud orang-orang Pamingit itu. Maka desisnya, “Sendang, jangan beri kesempatan mereka bersama-sama menyerang. Kau lihat kelemahan mereka?”

Sendang menggeleng lemah. “Kita menyerang dari arah api. Aku harap mereka terganggu oleh cahaya yang silau itu. Kita tembus dinding yang bertentangan dengan arah cahaya. Secepat-cepatnya, sebelum datang yang lain, mereka sempat membantu,” kata Wanamerta setengah perintah.

SENDANG PAPAT telah menangkap maksud orang tua itu. Ia memuji didalam hatinya. Tetapi ia tidak sempat untuk berkata apapun, sebab demikian Wanamerta selesai berkata, demikian ia menarik kekang kudanya dan memacu ke arah barat. Sendang Papat pun segera menyusul. Pedangnya berkilau-kilau kemerah-merahan oleh cahaya api yang sudah mulai berkurang. Namun cahayanya masih cukup besar untuk menerangi seluruh tanah lapang itu. Orang-orang Pamingit itu terkejut melihat kesigapan Wanamerta dan Sendang Papat. Meskipun mereka sudah mengira, bahwa kedua orang itu tidak akan mau menyerah begitu saja, namun serangan mereka berdua yang tiba-tiba, telah menyebabkan mereka kehilangan waktu beberapa saat untuk menilai gerakan itu.

Demikianlah, Wanamerta telah mencapai dinding kepungan itu, dengan membelakangi api yang menyala-nyala. Setiap garis-garis yang tergores pada tubuh orang Pamingit itu. Setiap gerakannyapun dapat diketahuinya. Sebaliknya orang-orang itu hanya melihat bayangan hitam seperti terbang menerkamnya. Mereka tidak dapat melihat dengan jelas, gerakan-gerakan apakah yang sudah dilakukan oleh dua hantu yang seakan-akan meloncat dari tengah-tengah itu. Karena itu mereka menjadi gugup. Tetapi sesaat kemudian, kawan-kawan merekapun menjadi sadar. Mereka akhirnya mengetahui juga, bahwa Wanamerta telah mengambil keuntungan dari cahaya api yang silau itu. Dengan demikian segera merekapun bergerak maju mengejarnya.

Ternyata perhitungan Wanamerta adalah tepat. Ia dapat mencapai dinding kepungan sebelum lawan-lawan mereka yang lain sempat membantu. Dengan telapaknya Wanamerta menyerang orang yang menghadang di hadapannya. Meskipun kemudian orang dikanan kirinya merapat, namun cahaya yang silau telah membuat untung Wanamerta dan Sendang Papat. Perkelahian yang terjadi kemudian tidak berlangsung lama. Mereka tidak dapat menahan kedua orang itu untuk menerobos kepungan mereka.

Dengan demikian akhirnya Wanamerta berhasil keluar dari lingkaran maut itu bersama-sama dengan Sendang Papat. Tetapi Wanamerta kemudian tidak mau disilaukan oleh api yang memberinya keuntungan, apabila ia harus melawan pengejarnya. Karena itu segera ia membelokkan arah kudanya ke kanan.

Tetapi orang-orang Pamingit itu telah mendapatkan kesadaran mereka. Sebagian dari mereka segera menyusul, dan sebagian lagi memotong jalan. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat telah melepaskan diri dari kepungan. Mereka dapat menghadapi lawan mereka dari satu arah. Meskipun demikian lawan mereka terlalu banyak. Sehingga kemudian ternyata bahwa Wanamerta dan Sendang Papat pun terdesak.

Menghadapi keadaan yang demikian, kedua orang Banyubiru yang gemblengan itu malahan telah membulatkan tekad untuk melawan sampai kesempatan terakhir. Dalam pada itu, ketika mereka sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba terdengarlah suara-suara anak muda tertawa.

Disusul oleh sebuah aba dari antara mereka, “Ayolah, kita mulai.” Yang berada di tanah lapang itu kemudian dikejutkan oleh munculnya empat ekor kuda dari sudut tanah lapang itu. Kemudian seekor lagi ditunggangi oleh seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap dan berdada bidang.

Agaknya anak muda yang terakhir itulah yang telah mengucapkan aba-aba. Sedang keempat anak muda yang lain itupun langsung menerjunkan diri ke kancah pertempuran.

“Ayolah Kiai,” teriak salah seeorang diantaranya, “Aku berada di pihak Kiai dan Paman Sendang Papat.”

Wanamerta heran melihat kedatangan mereka. Demikian juga Sendang Papat. Wanamerta adalah orang Banyubiru sejak Pangrantunan. Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia belum begitu mengenal. Sedang mula-mula Sendang Papat pun agak ragu, siapakah yang telah datang tepat pada saatnya membantu mereka berdua. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat belum sempat bertanya tentang mereka.

Pertempuran itu menjadi kian sengit. Keempat anak muda itupun berkelahi dengan tekad yang menyala-nyala. Dengan demikian pekerjaan Sendang Papat dan Wanamerta menjadi berkurang.

Lawan-lawan mereka setidak-tidaknya telah berkurang dengan empat orang, yang harus melayani keempat anak muda yang bertempur dengan tenaga yang penuh. Namun agaknya keempat anak muda itu masih kurang pengalaman, sehingga meskipun mereka bertempur mati-matian, tetapi ternyata bahwa mereka tidak lebih dari setiap orang dari laskar Pamingit itu. Sehingga dengan demikian, pertempuran itupun hampir tak terpengaruh oleh kehadiran keempat orang itu. Meskipun demikian, kesempatan untuk menjaga diri bagi Wanamerta dan Sendang Papat adalah jauh lebih besar dari semula. Maka semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin keras. Orang-orang Pamingit yang tidak segera dapat menyelesaikan pekerjaan mereka itupun menjadi marah dan bertempur semakin liar. Karena jumlah mereka lebih banyak maka kemudian mereka pun berhasil sedikit demi sedikit menguasai keadaan, sehingga pertempuran itupun menjadi berat sebelah.

Ternyata yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Wanamerta dan Sendang Papat. Sedang terhadap keempat anak muda itu mereka hanya sekedar memberikan perlawanan untuk menjaga mereka supaya mereka tidak dapat langsung membantu Wanamerta dan Sendang Papat.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka tiba-tiba pemuda yang seorang lagi yang masih duduk diam di ats punggung kudanya di tepi lapangan itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya itu sangatlah menarik perhatian.

Baik orang Pamingit maupun Wanamerta dan Sendang Papat. Bahkan kawan kawannyapun menoleh kepadanya.

“Permainan yang jelek,” katanya. “Tidakkah kalian dapat berkelahi lebih baik?”

“Apakah yang jelek?,” jawab salah seorang temannya.

“Kalian hanya mampu berputar putar seorang penari jathilan diatas kuda kepang,” jawab anak muda itu….

KAWAN-KAWAN anak muda itu tak ada yang menjawab.

Tetapi pertempuran masih berlangsung terus. Sehingga kemudian terdengar ia berkata pula, “Kiai Wanamerta dan Paman Sendang Papat pun agaknya sudah terlalu payah. Tetapi cara-cara yang dipergunakan, serta gerak-gerak yang bersumber pada Paman Mahesa Jenar agaknya cukup menarik.”

Wanamerta dan Sendang Papat sekali lagi terkejut bukan main. Kenapa anak muda itu mengetahui beberapa unsur gerak yang dipelajarinya dari Mahesa Jenar? Kemudian terdengarlah anak muda yang gagah tampan itu meneruskan, “Tetapi sayang, bahwa Paman Sendang Papat kurang berhasil mengambil keuntungan dari gabungan ilmu Ki Ageng Supit Wanakerta dengan ilmu dari perguruan Pengging.”

Sendang Papat menjadi semakin heran. Ia belum pernah mengenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta. Sedang yang dikenalnya hanya Wanamerta. Tiba-tiba ia tidak dapat menunda keinginannya untuk mengetahui serba sedikit tentang anak muda itu, sehingga sambil bertempur ia berteriak, “Aku belum kenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta.”

“Kalau begitu…” jawab anak muda itu, “Kakang Sendang pasti kenal salah seorang muridnya.” “Siapakah dia?” tanya Sendang Papat.

“Wiraraga atau Dalang Mantingan,” jawab anak muda itu. Kembali Sendang Papat keheranan. Ternyata anak muda itu kenal pula kepada Ki Dalang Mantingan. Sementara itu orang-orang Pamingit menjadi semakin mendesak pula. Sehingga akhirnya Wanamerta dan Sendang Papat benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam keadaan yang demikian itulah tiba-tiba anak muda yang masih berdiam diri di pinggir tanah lapang itu berkata lantang, “Maafkan aku Kiai Wanamerta dan Kakang Paman Papat kalau aku ikut campur pula dalam pertempuran ini.”

Setelah selesai dengan kata-katanya, segera ia mendorong kudanya untuk terjun ke dalam pertempuran. Mula-mula orang Pamingit itu tidak banyak memperhatikannya. Mereka mengira bahwa anak muda itu tidak terlalu jauh terpaut dari keempat kawannya. Tetapi ketika anak muda itu telah benar-benar bertempur, ternyata ia benar-benar mengejutkan. Dalam saat yang sangat pendek, ternyata ia telah berhasil melemparkan dua orang Pamingit dari kudanya.

“Gila…!” teriak salah seorang yang terlempar itu dengan penuh kemarahan. Punggungnya terasa betapa sakit, sedang bajunya tersobek lebih sekilan. Dengan mengumpat-umpat ia berusaha untuk mengejar kudanya kembali dan dengan susah payah ia meloncat ke punggungnya. Demikian pula kawannya yang seorang lagi.

Sambil memungut pedangnya ia berteriak, “Anak gila, agaknya kaupun ingin menjadi bangkai seperti Wanamerta dan Sendang Papat.”

Anak muda itu tertawa. Sedang tandangnya menjadi semakin mengherankan. Ia menyerang seperti elang untuk kemudian melingkar dan menyerang kembali. Ia tidak pernah menghindari setiap serangan, dan bahkan dengan tertawa nyaring ia melawan dua tiga orang sekaligus.

“Aneh,” pikir Wanamerta dan Sendang Papat seperti berjanji. Perhatian orang-orang Pamingit kemudian lebih banyak tertuju kepadanya daripada Wanamerta dan Sendang Papat. Apalagi mereka berduapun menjadi seolah-olah penonton yang keheranan. Demikian juga keempat kawan-kawannya. Anak muda itu, yang bertubuh tegap dan kekar dan tampan, bertempur seperti anak bermain kejar-kejaran.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesungguhan. Sayang bahwa cahaya api yang semakin pudar, tidak memberi kesempatan kepada Wanamerta dan Sendang Papat untuk mengenalnya dengan baik.

Dengan nada yang segar, anak muda itu berkata, “He, kawan-kawan dari Pamingit. Kenapa kalian bersusah payah mengejar-ngejar Kiai Wanamerta dan Kakang Sendang Papat, sedang orang-orang yang bersalah tidak kau tangkapi?”

“Siapa yang bersalah itu?” teriak orang-orang Pamingit dengan marah.

“Sontani dan orang-orangnya,” jawab anak muda itu. “Omong kosong,” bentak orang Pamingit yang lain sambil memutar pedangnya menyambar punggung anak itu. Dengan enaknya anak muda itu mengelak tanpa berkisar. Tetapi kemudian dengan satu gerakan yang sederhana ia telah berhasil memukul dengan tangannya.

Ya, dengan tangannya, pergelangan tangan orang yang menyerangnya, sehingga terdengar ia mengaduh perlahan, dan pedangnya terpelanting jatuh di tanah.

Orang itu menggeram marah, tetapi ia memacu kudanya menjauhi anak muda itu, sebelum ia berhasil mendapatkan sebilah pedang yang lain yang dipungutnya dari seorang kawannya yang telah terbaring di tanah. Anak muda itu masih bertempur dengan lincahnya.

Wanamerta dan Sendang Papat, seolah-olah terbebas sama sekali dari perkelahian itu. Mereka kini tinggal menghadapi seorang-seorang. Sedang yang lain lebih banyak mencari perhatian untuk menjatuhkan pemuda itu lebih dahulu.

Dengan tertawa anak muda itu kemudian terdengar berkata, “He, kawan-kawan Pamingit. Demikianlah kira-kira yang akan kalian alami, kalau kalian pada suatu saat terpaksa bertempur melawan Arya Salaka.”

SEORANG dari anak muda itu mengulangi kata-katanya, “Arya Salaka…?” Sedangkan dalam hati Wanamerta dan Sendang Papat tertarik pula pada kata-kata itu. “Ya, Arya Salaka dapat bertempur jauh lebih baik lagi. Aku hanya menirukan beberapa bagian dari ilmunya,” lanjut anak muda itu. Tak ada yang terdengar menjawab perkataannya. Tetapi orang-orang Pamingit itu agaknya menjadi semakin marah. Namun mereka harus melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan mampu melawan anak muda itu bersama-sama dengan Wanamerta, Sendang Papat dan keempat anak-anak muda yang lain, yang menganggap perkelahian itu seperti permainan saja. “Arya Salaka dapat memukul hancur kepala kuda yang kalian naiki hanya dengan tangannya.” Anak muda itu meneruskan.

Dan tiba-tiba ia menyambar salah seorang lawannya, dan dengan gerak yang mengejutkan ia menghantam kepala kuda itu. Terdengarlah suara ledakan disusul dengan teriakan-teriakan anak-anak muda yang lain, seperti mereka melihat kawannya menang bertaruh. Kuda itu menggeliat dan memekik tinggi. Sesaat kemudiah jatuh berguling untuk selama-lamanya. Dari kepalanya mengalir darah bercampur otak yang menghambur-hambur.

Orang yang semula melekat di punggung kuda itu, juga terbanting. Seperti orang lumpuh ia menyaksikan kepala kudanya pecah. Tubuhnya terasa gemetar dan seolah-olah segala persendian tubuhnya terlepas satu sama lain.

“Hebat…, hebat….” teriak kawan-kawannya.

Tetapi orang-orang Pamingit menjadi pucat karenanya. “Hebat….” desis Wanamerta dan Sendang Papat perlahan-lahan.

Anak muda itu memutar kudanya sekali. Dan orang-orang Pamingit mulai menjauhinya. “Lihatlah kepala kuda itu,” katanya. Wajahnya yang cerah itu beredar berkeliling. “Nah, siapa yang ingin kepalanya sendiri aku pecahkan seperti kepala kuda itu?” katanya pula.

Tak seorangpun terdengar menjawab. Orang-orang Pamingit itupun telah berhenti menyerang dengan kuda-kuda mereka, tegak beberapa langkah berkeliling, seperti hendak mengepung anak muda itu.

Namun tak seorangpun berani mendekati. “Nah, ketahuilah bahwa Arya Salaka pun mampu berbuat demikian,” katanya.

“Tetapi itu tidak mengherankan.” Tiba-tiba salah seorang dari orang-orang Pamingit itu berkata. Mata anak muda itupun menjadi redup. Dengan sudut matanya ia memandang orang Pamingit itu. “Kau tidak heran…?” Ia tanya.

Ternyata orang Pamingit itu menjadi gemetar. Tetapi ia malu untuk menunjukkan perasaan takutnya. Meskipun terbata-bata ia menjawab, “Sawung Sariti pun mampu melakukan. Ia memiliki aji Lebur Sekethi.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Lalu berkata, “Hebat. Memang, Lebur Sekethi pun hebat pula. Sehebat Sasra Birawa dan Cundha Manik dari Gunungkidul. Tetapi ilmu semacam itupun mengenal tingkatan pula. Sawung Sariti menekuni ilmunya sambil makan dan minum seenak-enaknya. Kalau ia lelah, ia dapat berbaring di tempat pembarian yang empuk dan baik. Tetapi tidak dengan Arya Salaka.”

Anak muda itu berhenti sambil menarik nafas. Ia menunggu kalau-kalau ada yang mencoba menjawabnya. Namun orang-orang Pamingit itu menjadi seperti orang-orang terinjak. Diam.

“Dengarlah…” katanya kemudian, “Sawung Sariti berlatih di dalam pendapa yang terlindung dari terik matahari. Beberapa orang mengipasinya kalau keringatnya mulai mengalir. Dengan tergesa-gesa gadis-gadis menyediakan air hangat bila ia haus.”

Anak muda itu kemudian meneruskan, “Tetapi apa yang terjadi dengan Arya Salaka? Ia mesu diri sejadi-jadinya dalam masa pembajaan. Apabila siang, ia berlatih di terik panas matahari. Apabila malam ia berlatih dalam buaian angin malam. Kalau ia lelah, ia membaringkan dirinya, beralas rumput,berselimut langit. Kalau ia haus, minumlah ia air hangat yang baru memancar dari sumbernya. Sedangkan kalau ia lapar, dengan sabarnya ia menunggui perapian dimana ia merebus jagung atau ketela pohon.”

“Disamping itu, ia memperkuat tubuhnya dengan bekerja keras. Ia mencangkul diantara para petani. Berjuang melawan ombak dan taupan diantara para nelayan. Nah, katakan sekarang hai orang-orang Pamingit. Siapakah yang kira-kira akan lebih kuat dan masak menguasai ilmunya. Arya Salaka atau Sawung Sariti?” lanjut anak muda itu.

Tak ada jawaban.

Orang-orang Pamingit itu masih diam. Beberapa orang menjadi semakin pucat. “Tidakkah ada yang dapat menjawab?” tanya anak muda itu pula. Lalu tiba-tiba sambil menunjuk kepada orang yang semula memperbandingkan Arya Salaka dan Sawung Sariti, anak muda itu bertanya, “Hai, kau yang membanggakan anak Lembu Sora itu, jawablah, manakah yang lebih masak. Lebur Sekethi yang dibumbui dengan pemanjaan diri ataukah Sasra Birawa yang dialasi oleh penderitaan lahir dan batin, namun dijiwai oleh ketawakalan dan pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa…?”

Orang yang ditunjuk itupun menjadi semakin ketakutan. Terasa lututnya bergetar. Dan mulutnya tiba-tiba seperti terkunci.

“Tidakkah kau bisa menjawab?” tanya anak muda itu pula. Namun orang itupun benar-benar tak mampu menjawab. Karena itu terdengarlah anak muda itu tertawa. “Jangan takut,” katanya. “Aku tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian, apabila tidak berbuat hal-hal yang tak aku kehendaki.”

ANAK MUDA itu diam sesaat, lalu meneruskan, “Ketahuilah dan rasakanlah kebenaran kata-kataku. Ilmu yang bagaimanapun dahsyatnya, tetapi ia tidak diterapkan dalam pengabdian yang benar, ia sama sekali tak berarti. Bahkan ia akan menjadi jauh lebih berbahaya dari segala macam ilmu. Sebaliknya Arya Salaka telah menempatkan dirinya dalam kancah penderitaan lahir batin. Dengan suatu keyakinan, bahwa berbahagialah mereka yang menderita. Sebab dengan demikian ia akan dapat menempatkan dirinya dalam pengabdian untuk mereka yang menderita. Dalam tempat itulah Arya Salaka akan mempergunakan ilmunya. Dan tidak mustahil bahwa pada suatu ketika Arya Salaka akan berdiri berentang muka dengan Sawung Sariti. Masing-masing dengan Sasra Birawa dan Lebur Seketi. Tetapi Lebur Saketi yang telah dinodai.”

Ketika anak muda itu diam untuk sesaat, lapangan itu dicengkam oleh kesepian. Suara api telah lama terhenti. Dan nyalanyapun telah menjadi semakin pudar pula. “Kalau begitu…” akhirnya anak muda itu berkata pula, “Tinggalkan tempat ini. Katakan kepada laskar Pamingit yang lain bahwa Arya Salaka akan datang. Katakan bahwa seorang anak muda telah mempertunjukkan ilmu Arya itu. Sebagian kecil saja. Sebab Arya Salaka tidak saja dapat memecahkan kepala kuda, tetapi batu sebesar kepala kuda itu, dan bahkan kepala kalian semua.”

Mendengar kata-kata itu, mulailah laskar Pamingit itu gelisah. Mereka, yang bagaimanapun juga adalah laskar-laskar yang dipercaya, agak malu untuk begitu saja meninggalkan tugasnya. Karena itulah maka anak muda itu membentak, “Kenapa kalian belum juga pergi? Apakah kalian masih ingin melihat pertunjukan yang lain…? Pergilah. Kenangkanlah di dalam dadamu. Kalau Arya Salaka mampu berbuat demikian, apakah yang akan dapat dilakukan oleh gurunya, Mahesa Jenar?”

Sekarang orang-orang Pamingit itu tidak menunggu perintah itu untuk ketiga kalinya. Ketika salah seorang dari mereka, menarik kekang kudanya, dan kemudian memutarnya, yang lain-lainpun segera berloncatan meninggalkan tanah lapang yang mengerikan itu. Sesaat kemudian tinggallah Wanamerta, Sendang Papat, anak muda yang perkasa itu dan keempat kawannya.

Dalam cengkaman keheranan Wanamerta dan Sendang Papat tertegun seperti tonggak batu. Mereka tersadar ketika anak muda itu mendekati mereka sambil berkata, “Paman Wanamerta, sebaiknya Paman meninggalkan tempat ini. Siapa tahu bahwa laskar Pamingit akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Meskipun barangkali aku masih dapat melindungi Paman dan Kakang Sendang Papat, meskipun seandainya Lembu Sora sendiri yang datang, namun perbuatan itu sama sekali kurang bijaksana. Bukankah Paman mendapat kesempatan untuk pergi sekarang?”

“Ya, ya, Ngger,” jawab Wanamerta terputus-putus, “Aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga.”

“Paman dapat mempergunakan kuda-kuda kami untuk kawan-kawan Paman dan Kakang Sendang Parapat. Tinggalkan kota ini sebelum matahari terbit. Supaya Paman tidak banyak mengalami gangguan, serta kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya dapat dikurangi.”

Anak muda itu meneruskan. “Baik, baik Ngger,” jawab Wanamerta, yang seolah-olah merasa dirinya betapa bodohnya. Tiba-tiba ia teringat pada keinginannya untuk mengetahui siapakah pemuda yang aneh, yang memiliki keperkasaan yang luar biasa itu. Katanya kemudian, “Tetapi perkenankanlah aku mengetahui siapakah Angger-angger ini semuanya?” A

nak muda itu tersenyum. Jawabnya, “Paman tidak perlu mengenal aku. Aku adalah anak kabur kanginan. Tanpa tempat tinggal, tanpa sanak kadang.”

Wanamerta menarik nafas panjang. Desaknya, “Ah, apakah keberatan Angger?. Aku hanya sekadar ingin menceritakannya kepada Angger Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka, bahwa Angger telah menyelamatkan kami berdua.”

Anak muda itu tertawa. Kemudian ia meloncat dari kudanya. Ia tidak menjawab pertanyaan Wanamerta, tetapi katanya, “Bawalah kudaku. Kawan-kawanku akan mengantarkan. Seterusnya, pakailah kuda-kuda mereka untuk kembali ke perkemahan.”

“Terimakasih Ngger,” jawab Wanamerta, “Kami mengucapkan terimakasih yang tak ada taranya. Tetapi Angger belum menjawab pertanyaanku.” Sekali lagi anak itu menghindari pertanyaan Wanamerta, katanya, “Waktuku tidak terlalu banyak Paman. Kami persilahkan Paman berangkat.”

Lalu kepada kawan-kawannya ia berkata, “Antar Paman sampai tempat Kakang Sendang Parapat disembunyikan. Pinjamkan dua ekor kuda kalian. Aku akan pulang dahulu dengan berjalan kaki.” Pemuda itu tidak menunggu lama, kepada Wanamerta ia minta diri, katanya, “Sudahlah Paman, aku tidak akan membuat permusuhan-permusuhan di Banyubiru. Lebih baik aku menyembunyikan diri. Salamku buat Paman Mahesa Jenar dan Arya Salaka, Bibi Wilis dan Widuri, kalau ia turut serta. Juga untuk Paman Kebo Kanigara.”

Setelah itu, maka dengan tidak menunggu jawaban, ia melangkah meninggalkan Wanamerta dan Sendang Papat yang memandanginya dengan kagum. Anak itu berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Seakan-akan dari tubuhnya memancarkan kewibawaan yang agung.

Tiba-tiba Wanamerta ingat kepada kata-katanya. Kata-kata anak muda yang tak mau dikenal itu, bahwa Arya Salaka pun mampu melakukan apa yang baru saja dilihatnya dengan Sasra Birawa. Karena itulah ia menjadi bangga dan berbesar hati. Meskipun Arya agak lebih muda dari anak yang aneh itu, namun ia yakin bahwa Arya Salaka pun akan mampu menggemparkan orang-orang Pamingit kelak.

“Marilah Paman….” Tiba-tiba seorang dari anak muda yang empat itu mengajak.

WANAMERTA terkejut. Seperti orang tersadar dari mimpinya, ia menjawab tergagap, “Marilah Angger.” Sesaat kemudian berjalanlah iring-iringan kuda itu ke rumah Prana, tempat Sendang Parapat disembunyikan. Sendang Papat menggandeng kuda anak muda yang tak mau dikenalnya, sedang Wanamerta duduk dengan muka tunduk.

Tiba-tiba seperti orang yang teringat sesuatu Wanamerta bertanya, “Anak-anak muda, siapakah sebenarnya kalian ini?” Mereka berempat tersenyum bersama-sama. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami adalah anak-anak Banyubiru saja Kiai.” Wanamerta menarik nafas kecewa. Anak-anak itupun agaknya tidak mau menyatakan diri mereka. Ia menjadi heran, kenapa hal itu disembunyikan. Apakah mereka takut pembalasan dendam dari orang-orang Pamingit? Dan bukankah ia bukan orang Pamingit? Dan bukankah anak muda yang pertama tadi tidak takut kepada Lembu Sora sekalipun? Alangkah hebatnya. Seorang yang masih semuda itu, telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan Ilmu Lembu Sora. Tetapi Wanamerta tidak bertanya lagi. Ia merasa bahwa hal itu tak akan berguna. Kenangannya kemudian bergeser kepada Sendang Parapat. Mudah-mudahan ia mendapat pertolongan.

Perjalanan mereka tidak memerlukan waktu lama. Rumah Prana tidak begitu jauh dari tanah lapang itu. Begitu mereka sampai, Sendang Papat tidak menunggu lagi. Segera ia meloncat menambatkan kudanya serta kuda yang dituntunnya, untuk kemudian dengan tergesa-gesa mengetuk pintu rumah itu. Sekali dua kali, ketukannya tidak mendapat jawaban.

Baru setelah Sendang Papat mengulang-ulang, terdengarlah seseorang bertanya, “Siapa…?”

“Aku Sendang Papat,” jawabnya. Perlahan-lahan pintu rumah itupun terbuka. Seorang yang telah setengah umur, berdiri dibalik pintu itu. “Paman Prana,” sapa Sendang Papat. “O, kau Sendang, masuklah,” jawab Prana.

“Aku bersama dengan Kiai Wanamerta,” jelas Sendang Papat. “Marilah Kiai,” ajak Prana, “Marilah masuk.” Wanamerta mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Prana.” Lalu kepada keempat pemuda yang mengantarnya ia berkata, “Kami persilahkan angger singgah di rumah sahabat ini.”

“Terimakasih Kiai, kami akan segera pulang,” jawab mereka. Dan setelah mereka meninggalkan dua kuda mereka, segera merekapun minta diri. Keempat anak muda itu dengan mempergunakan dua ekor kuda segera meninggalkan halaman itu.

“Anak-anak yang aneh,” gumam Wanamerta. Sendang Papat sudah tidak sabar lagi. Segera ia bertanya tentang adiknya. Setelah pintu rumah itu ditutup kembali, segera mereka dibawa ke ruang belakang, dimana Sendang Parapat dibaringkan.

Ketika Wanamerta dan Sendang Papat memasuki ruangan itu, mereka melihat tubuh Sendang Parapat diam terbaring. Di sebelahnya duduk tiga orang kawannya.

Ketika Sendang Papat meraba tubuh adiknya itu, Sendang Parapat membuka matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, “Maafkan aku Kakang, aku tidak dapat memenuhi harapanmu. Menjadi prajurit yang baik.”

Sendang Papat merapatkan diri duduk di samping adiknya. Bisiknya, “Kau telah berusaha Parapat. Kejadian ini sama sekali bukan salahmu. Orang-orang Sontani telah mulai dengan curang, menyerang kau dari belakang.”

“Tidak sepantasnya aku mengemban tugas ini Kakang.” Sendang Parapat meneruskan seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata kakaknya.

“Jangan berpikir terlalu jauh, Parapat…” sahut Wanamerta. “Kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Bukankah tak seorangpun mampu berbuat sesuatu, apabila ia mendapat serangan seperti serangan atas dirimu? Sekarang, tenangkan hatimu. Mudah-mudahan lukamu lekas sembuh.”

“Ya,” jawab Sendang Parapat, “Aku ingin lukaku lekas sembuh. Sekarang, aku tunggu. Besok aku akan kembali dengan keris ditangan.” Wanamerta, Sendang Papat dan mereka yang mendengar kata-kata itu menjadi terharu.

“Bagus…” bisik Wanamerta. “Kau akan segera kembali ke Banyubiru.” Sendang Parapat diam. Tetapi wajahnya sudah tidak terlalu pucat. Nafasnya telah mulai teratur. Darah sudah tidak mengalir lagi dari lukanya. Agaknya Ki Prana berhasil mendapatkan jenis daun-daunan yang baik. Dalam keadaan yang demikian itulah Wanamerta dan Sendang Papat teringat kepada pesan anak muda yang aneh itu, “Tinggalkan tempat ini sebelum matahari terbit.”

“Sendang…” berbisik Wanamerta, “bagaimana dengan pesan anak muda itu?”

“Baiklah kita usahakan Kiai. Kita tinggalkan kota ini sebelum matahari terbit,” jawab Sendang Papat. Mereka berdua bersama-sama memandang Sendang Parapat. Dapatkah anak itu diajak berjalan atau berkuda? Agaknya Sendang Parapat merasa, bahwa dirinya menjadi persoalan. Karena itu perlahan-lahan ia berkata, “Aku dapat berbuat apa saja yang kalian kehendaki. Berjalan pulang atau bertempur sekarang juga.”

Wanamerta menarik nafas. Anak muda ini memang berhati baja seperti juga kakaknya yang hampir saja bunuh diri. “Parapat…” jawab Wanamerta, “Baiklah kami berkuda pulang ke perkemahan. Di sana dapat kita kaji untung rugi dari setiap langkah kita dengan tenang.”

“Apalagi berkuda,” jawab Parapat. Kemudian merekapun segera bersiap. Prana tidak dapat menahan mereka, sebab ia tahu bahwa mereka sedang melakukan tugas mereka. Setelah luka Sendang Parapat dibalut, maka segera ia dipapah dan diangkat ke atas punggung kuda untuk dinaiki bersama dengan kakaknya.

PRANA berdesis, “Kuda yang bagus. Dari mana Kiai mendapatkan kuda ini?”

“Dari seorang anak muda yang tak mau kami kenal,” jawab Wanamerta. “Yang berempat tadi?” tanya Prana.

“Seorang lagi,” jawab Wanamerta pula.

“Kawan dari yang empat ini.”

“O…” sahut Prana, “Kalau yang empat itu, aku kenal mereka.”

“He…?” Sendang Papat memotong, “Siapakah mereka?” “Belum lama mereka muncul. Sebelumnya mereka selalu tekun ke padepokan Lemah Telasih,” jawab Prana.

“Putra Ki Lemah Telasih?” tanya Wanamerta.

“Ya. Putra dan kemenakan Ki Lemah Telasih,” jawab Ki Prana. “Ya ampun,” sahut Wanamerta, “Jadi mereka anak-anak dan kemenakan Ki Lemah Telasih yang juga disebut Buyut Banyubiru itu?”

“Ya.” “Yang seorang lagi?” Sendang Papat menyela.

“Siapa?” sahut Prana, “Mereka hanya selalu berempat. Tak ada orang lain di padepokan itu.”

“Ada. Seorang yang gagah tampan dan berwibawa anggun. Sungguh anak yang luar biasa,” sambung Sendang Papat.

Ki Prana menggelengkan kepalanya.

“Entahlah,” jawabnya. Wanamerta dan Sendang Papat jadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksa untuk mendapat jawaban. Karena itu segera mereka minta diri untuk segera kembali ke perkemahan.

Sesaat kemudian mereka segera berangkat beriringan. Sekarang ketiga orang kawan Sendang-lah yang berkuda di muka. Kemudian Sendang kakak-beradik.

Malam masih gelap bukan main. Di langit bintang-bintang berkedip-kedip gemerlapan. Angin pegunungan yang segar perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang sedang menempuh perjalanan.

Alangkah dinginnya. Tetapi udara yang segar itu telah menyegarkan tubuh Sendang Parapat. Di sana-sini terdengar ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya.

“Hampir pagi,” desis Wanamerta.

“Fajar telah membayang di timur,” sahut Sendang Papat. Kemudian mereka diam.

Masing-masing terbenam ke alam yang lampau. Semasa Banyubiru mengalami masa yang aman damai. Semasa mereka menikmati hidup yang tenteram. Sebelum orang-orang dari golongan hitam mulai mengganggu daerah ini, disusul oleh nafsu berkuasa dari adik Ki Ageng Gajah Sora sendiri.

Dua bencana yang sama-sama menjadikan Banyubiru porak poranda. Dikenangnya masa-masa yang lampau. Sekali dua kali, dalam perayaan-perayaan bersih desa, ia selalu muncul dalam malam-malam yang mengesankan. Sebagai seorang penari yang baik bersama dengan adiknya, ia selalu mendapat perhatian dari kawan-kawannya. Apabila ia menari topeng dalam lakon Panji, yang kadang-kadang pertunjukan itu sampai menjelang pagi. Ia kemudian menjadi bangga kalau pertunjukan selesai, tanpa melepaskan pakaian penernya, ia berjalan menyusur jalan-jalan kota, pulang ke rumahnya. Ia menjadi semakin bangga kalau gadis-gadis yang berdiri di tepi jalan saling berbisik, “Itulah Sendang Papat, penari terbaik dari anak-anak muda di Banyubiru.”

Fajar kali inipun ia menyusuri jalan kota. Tetapi untuk menjauhinya. Tak seorangpun kali ini yang berbisik-bisik, “Itulah Sendang Papat, penari terbaik dari anak-anak muda di Banyubiru.” Namun meskipun demikian, kali ini pun ia bangga. Hatinya sendirilah yang berbisik-bisik, “Inilah Sendang Papat, salah seorang anak muda di Banyubiru yang berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran.”

Tetapi yang terdengar di fajar yang dingin itu hanyalah angin yang berdesir. Warna semburat merah mulai tersirat dari balik punggung-punggung pegunungan. Dan rombongan itupun menjadi semakin jauh dari pusat kota menuju ke perkemahan yang sudah dekat berada di hadapan mereka. Sebab sebelum mereka berangkat, mereka sudah mengetahui bahwa laskar Banyubiru itupun akan merangkak maju mendekati kota. Ketika mereka telah melampui batas, legalah hati mereka. Sebab kemungkinan untuk menemui bahaya menjadi semakin berkurang. Mereka pasti, bahwa laskar Lembu Sora tak akan mengejar mereka. Sebab merekapun pasti ragu pula, apakah orang-orang Banyubiru itu tidak membawa banyak kawan.

Ketika matahari kemudian menjenguk dari atas perbukitan dan melemparkan sinarnya yang pertama, Wanamerta dan kawan-kawannya telah jauh dari setiap bahaya yang mengancam. Mereka dapat berjalan dengan tenang menuju ke perkemahan, di sana menunggu Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

Tetapi semakin dekat mereka dengan perkemahan, semakin gelisahlah mereka. Apakah yang akan dikatakan oleh Mahesa Jenar tentang mereka, tentang rombongan kecil yang ditugaskan untuk meyakinkan rakyat Banyubiru tentang kebenaran perjuangan Arya Salaka…?

Rombongan kecil itu mendapat tugas untuk memperbanyak kawan, bukan lawan. Sedang yang terjadi adalah sebuah keributan dan bencana, meskipun itu adalah di luar kehendak mereka. Namun disamping perasaan gelisah mereka tidak lupa, mengucap syukur di dalam hati mereka, bahwa mereka telah terlepas dari bahaya maut yang hampir saja menjebak mereka. Mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, yang masih memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati kecerahan sinar matahari. Ketika matahari sepenggalah, tampaklah di hadapan mereka, di dalam sebuah lembah yang berdinding curam, rumah-rumah kacang daun ilalang.

Itulah perkemahan anak-anak Banyubiru. Mereka memilih tempat itu untuk menghindari penyerbuan yang tiba-tiba. Sebab di lembah itu, mereka hanya dapat dicapai lewat mulut yang menghadap ke dua arah. Sehingga dengan demikian, mereka seolah-olah berada di dalam sebuah benteng yang kuat.

DEMIKIANLAH kedatangan Wanamerta mengejutkan anak-anak Banyubiru. Mereka menyangka bahwa Wanamerta akan tinggal di dalam kota beberapa hari lamanya. Tiba-tiba baru semalam mereka meninggalkan induk pasukan, kini mereka telah datang kembali. Apalagi ketika mereka melihat salah seorang dari rombongan itu terluka.

“Sendang Parapat terluka,” teriak salah seorang.

“He..?” sahut yang lain terkejut, “Apa katamu?”

“Sendang Parapat terluka,” teriak orang pertama. Teriakan itu kemudian berkumandang, dan mengalir dari mulut ke mulut yang lain. Maka gemparlah perkemahan itu. Seorang kemudian berlari menemui Mahesa Jenar dan dengan nafas yang memburu berkata tergesa-gesa, “Wanamerta telah kembali. Sendang Parapat terluka. Agaknya lukanya cukup berat.”

Mahesa Jenar, Arya Salaka dan Kebo Kanigara yang berada di perkemahan itu terkejut. Dengan gemetar Arya Salaka terloncat berdiri sambil bertanya, “Apa katamu? Sendang Parapat terluka?”
Orang itu mengangguk.

Arya Salaka benar-benar terpengaruh oleh berita itu. Sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat menghambur menyongsong rombongan kecil itu, disusul oleh Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketegangan yang gelisah.

Dari kejauhan Arya melihat rombongan kecil itu dikerumuni oleh laskarnya. Wanamerta telah turun dari kudanya. Demikian juga kawan-kawannya yang lain, kecuali Sendang Papat yang masih menjaga adiknya di atas punggung kuda.

Ketika orang-orang yang mengerumuni Wanamerta itu melihat kedatangan Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, segera menyibaklah mereka. Sesaat kemudian disusul kedatangan Mantingan, Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri.

Arya Salaka memandang Sendang Parapat yang pucat di atas punggung kudanya. Ketika matanya tersangkut pada darah yang memerah di pakaian anak muda itu, hatinya berdesir cepat.

Tiba-tiba terdengarlah pertanyaannya dengan suara yang bergetar, “Kau terluka Kakang Parapat?”
Sendang Parapat mengangguk. Namun mulutnya mencoba untuk tersenyum. Dengan suara perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak seberapa. Hanya luka kecil.”

Arya menarik nafas, kemudian terdengarlah giginya berdetak. Dari matanya memencar kemarahan yang tak terkira. “Siapakah yang melukaimu?”

Sendang Parapat tidak menjawab. Ia menoleh kepada Wanamerta. Agaknya ia minta supaya orang tua itulah yang menjelaskannya. Tetapi sebelum Wanamerta berceritera, berkatalah Mahesa Jenar, “Paman, bawalah Sendang Parapat ke kemahku. Biarlah lukanya mendapatkan perawatan. Sementara itu Paman dapat berceritera dengan tenang tentang apa yang telah terjadi atas Paman dan Sendang berdua.”

Wanamerta mengangguk. Kemudian dibawanya Sendang Parapat ke kemah Mahesa Jenar. Kebo Kanigara yang telah cukup lama tinggal di padepokan Karang Tumaritis, agaknya telah prigel pula mengobati luka. Demikianlah ia mencoba membuka luka Sendang Parapat dan membersihkannya dengan air hangat.

“Bagaimana Kakang?” tanya Mahesa Jenar. Sedangkan Arya Salaka menjadi gelisah mondar-mandir di dalam ruangan itu.

“Mudah-mudahan luka-luka ini segera sembuh,” jawab Kebo Kanigara, yang kemudian mengobati luka-luka dengan ramuan dedaunan dan akar-akaran yang memang sudah disediakan.

Ketika Sendang Parapat telah dibaringkan, maka mulailah Mahesa Jenar bertanya kepada Wanamerta, “Apakah yang telah terjadi dengan rombongan kecil itu.”

Dengan hati-hati Wanamerta menceritakan semua yang telah dialaminya. Sejak ia menginjakkan kakinya di kota, sampai ia meninggalkan kota itu, tanpa menyembunyikan atau menambahnya sama sekali. Diceriterakan pula bagaimana Sendang Papat seolah-olah menjadi gila ketika ia mengira adiknya telah mati. Sehingga bagaimana mungkin seorang penari sampai hati membakar seperangkat gamelan.

Mahesa Jenar mendengarkan setiap kata-kata Wanamerta dengan seksama. Demikian juga Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Bahkan pada wajah Arya Salaka kemudian tergores luka di hatinya, sehingga keringat dingin membasahi dahi serta punggungnya. Ia merasa bahwa Wanamerta telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menghindari bentrokan yang mungkin terjadi, namun agaknya orang-orang yang menentangnya itu benar-benar telah kehilangan jantungnya.
Sedangkan Wanamerta kemudian menjadi gelisah kembali. Bagaimanakah penilaian Mahesa Jenar kepada hasil pekerjaannya.

Ketika Wanamerta telah berhenti berceritera, terdengarlah Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ruangan itu kemudian menjadi sepi senyap. Semuanya menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Mahesa Jenar.

“Paman….” Terdengarlah Mahesa Jenar berkata perlahan-lahan. “Kalau demikian, maka peristiwa itu dapat berakibat buruk. Hari ini orang-orang Pamingit pasti akan mengadakan tindakan-tindakan yang dapat melukai hati rakyat Banyubiru sebagai pembalasan dendam.

SEMUA terdiam. Wanamerta sendiri menyadari hal itu. Karena itu ia berusaha sedapat-dapat menghindarkan diri dari setiap bentrokan yang terjadi. Tetapi ia tidak berhasil. Kemudian terdengar Mahesa Jenar meneruskan, “Tetapi bukanlah salah Paman.”

Wanamerta menarik nafas. Syukurlah kalau Mahesa Jenar mengetahui kesulitan yang dihadapinya pada waktu itu. Dalam pada itu Mahesa Jenar menyambung kata-katanya pula, “Tetapi siapakah yang telah berusaha untuk menyelamatkan Paman dari tangan orang-orang Pamingit itu?”

Wanamerta menggeleng lemah. “Aku tidak dapat mengetahuinya Ngger. “Aneh…” Mahesa Jenar bergumam. “Tetapi keempat kawan-kawannya dapat dikenal oleh Ki Prana,” sahut Sendang Papat, “Mereka adalah putra-putra dan kemenakan Ki Lemah Telasih yang juga disebut Ki Banyubiru.

Tetapi yang seorang itu tak diketahuinya.” “Bagaimana dengan tanda-tanda yang dimilikinya?” tanya Mahesa Jenar pula. Kemudian Wanamerta mencoba untuk menggambarkan tokoh anak muda yang aneh itu.

Tiba-tiba Widuri tertawa. Dan suara tertawanya telah mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Ketika ia sadar bahwa seluruh perhatian tertumpah kepadanya, ia menunduk malu.

“Kenapa kau tertawa?” tanya ayahnya. “Anak muda yang aneh itu,” jawabnya. “Kenapa dia?” desak ayahnya.

“Bukankah anak muda itu Kakang Karang Tunggal?” sahut Widuri. “He…?” Kanigara mengerutkan keningnya. Akhirnya ia berkata, “Kau benar. Anak itu pasti Karang Tunggal.” Mahesa Jenar akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Iapun agaknya sependapat bahwa anak muda itu tidak lain adalah Putut Karang Tunggal, yang nama sebenarnya adalah Mas Karebet, atau mendapat sebutan lain Jaka Tingkir.

“Siapakah dia…?” Wanamerta ingin tahu. “Kemanakanku,” jawab Kebo Kanigara, “Nakalnya memang bukan main.” Wanamerta menarik alisnya yang sudah keputih-putihan. Sejak semula ia telah mengagumi Kebo Kanigara seperti ia mengagumi Mahesa Jenar. Jadi kalau kemenakannya dapat melakukan hal yang sedemikian dahsyatnya, agaknya sudah pada tempatnya. Karena itu ia berkata, “Itulah sebabnya, maka anak muda itu telah mengenal Arya Salaka, Mahesa Jenar, Ki Ageng Supit, Wiraraga dan Mantingan.” “Anak muda itu telah mengenal Ki Ageng Supit, Kakang Wiraraga dan aku?” tanya Ki Dalang Mantingan. “Ya, Ngger,” jawab Wanamerta. “Disebut-sebutnya nama-nama itu.”

“Tidak aneh,” potong Kebo Kanigara, “Ia berjalan dari satu ujung keujung negeri ini yang lain. Ia singgah hampir setiap perguruan yang ada.”

“Luar biasa….” Terdengar hampir setiap mulut bergumam. Namun mereka tidak lama terpaku pada anak muda yang aneh itu. Sebab merekapun pada saat itu menghadapi keadaan yang cukup gawat.

Meskipun di dalam hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terselip pula pertanyaan, kenapa Jaka Tingkir itu tiba-tiba saja berada di Banyubiru? Bukankah ia berangkat dari Karang Tumaritis, untuk mohon diri kepada ibu serta ibu angkatnya untuk mengabdi ke Demak? Apakah ia telah menyia-nyiakan waktu sekian lamanya untuk berjalan kesana-kemari tanpa ujung pangkal, sedangkan seorang yang waskita, telah mengatakan kepadanya, bahwa ia akan sanggup untuk menerima jabatan Agung? Tetapi pertanyaan itu tak terucapkan. Sebab tak seorangpun yang akan dapat menjawab.

Yang kemudian terdengar adalah suara Mahesa Jenar, “Paman, bagaimana menurut tanggapan Paman. Apakah orang-orang Pamingit itu akan membuat onar?”

Kembali perhatian Wanamerta terlempar kepada peristiwa malam tadi. Setelah berpikir sejenak iapun menjawab, “Mungkin Anakmas. Hal itu adalah mungkin sekali.”

“Kalau begitu kita harus mencegahnya.” Mahesa Jenar bergumam seperti untuk diri sendiri. Namun tanggapan Arya Salaka ternyata hebat sekali. Tiba-tiba ia berdiri tegak, dan dengan dada tengadah ia berkata, “Marilah Paman. Betapa rinduku pada tanah kelahiran. Dan betapa rinduku kepada pangabdian.”

Akibat dari kata-kata Arya Salaka itu ternyata bukan main. Tiba-tiba ruangan itupun menjadi riuh. Wanamerta, Sendang Papat, Bantaran, Panjawi, dan para pemimpin laskar Banyubiru yang lain tiba-tiba serentak berkata, “Kita serahkan jiwa raga kita untuk kampung halaman, untuk masa depan tanah kelahiran.”

Mahesa Jenar terharu melihat kesetiaan itu. Pernyataan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru itu merupakan cermin dari setiap hati yang lain. Mereka agaknya telah bersedia sepenuh-penuhnya, apapun yang terjadi atas mereka. Bahkan Sendang Parapat yang terbaring itupun berkata perlahan-lahan namun penuh dengan gelora kesetiaannya, “Kiai Wanamerta, bawalah aku serta. Aku sudah akan sembuh sore nanti.”

“Baiklah,” jawab Mahesa Jenar kepada para pemimpin itu.

“Memang masa depan Banyubiru terletak di tangan kalian. Karena keyakinan itu pulalah maka kalian bersedia berkorban. Laralapa. Menderita selama ini dan untuk masa-masa yang belum kalian ketahui ujungnya. Meskipun seandainya kalian tidak akan mengecap kenikmatan hasil perjuangan kalian, namun anak cucu kalian akan menulis di atas lontar, bahwa pada suatu masa, rakyat Banyubiru bangkit berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Berjuang untuk anak cucu mereka tanpa pamrih bagi diri sendiri, dengan membiarkan dirinya menderita sakit dan lapar. Namun dengan cita-cita luhur dan murni.”

DADA para pemimpin itupun menjadi semakin bergelora. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu. Ke Banyubiru sekarang juga. Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, “Karena itu, bersiaplah kalian. Aku akan pergi ke Banyubiru sekarang juga dengan Arya Salaka.”

Ketika Mahesa Jenar berhenti berbicara, tampaklah para pemimpin Banyubiru itu saling berpandangan.

Mereka tidak begitu mengerti maksud kata-kata Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Penjawi bertanya, “Apakah Tuan dan Adi Arya Salaka saja yang akan pergi ke Banyubiru?” Mahesa Jenar menarik alisnya. Hati-hati ia menjawab, “Tidak. Kalian semua juga akan pergi. Tetapi baiklah aku mendahului.”

Penjawi segera mengetahui maksud Mahesa Jenar. Mahesa Jenar agaknya masih akan mempergunakan cara damainya, yang menurut dugaannya sama sekali tak akan berhasil. Karena itu terdengarlah ia menyahut, “Tuan dan Adi Salaka, di belakang Tuan berdua adalah kami sekalian. Seluruh laskar Banyubiru ini.”

Mahesa Jenar sekali lagi menarik alisnya. Dengan ragu-ragu ia memandang Kebo Kanigara, seolah-olah minta pertimbangan. Kebo Kanigara pun mengetahui betapa sulitnya mengendalikan perasaan sekian banyak orang yang sedang marah. Tetapi sama sekali kurang bijaksana kalau ia turut campur dalam pembicaraan itu. Sebab laskar Banyubiru itu lebih banyak mengenal Mahesa Jenar daripada dirinya. Dengan demikian Penjawi hanya dapat menganguk-anggukkan kepalanya dan mencoba mengetahui perasaan Arya Salaka. Kalau saja Arya Salaka dapat ditenangkan, maka ada harapan untuk menenangkan seluruh laskar Banyubiru itu. Tetapi ketika terpandang wajah anak muda itu, baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara hanya dapat menekan dada mereka. Sebab dari mata anak itu memancarkan api kemarahannya yang menyala-nyala sehingga dalam mata itu seolah-olah membayangkan cahaya api yang bergelora. Apalagi ketika kemudian terdengar anak muda itu berkata, “Paman, matahari masih belum tinggi di puncak langit. Kalau Paman memerintahkan, sekarang juga kita akan berangkat.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Namun di dalam hatinya berkecamuk kecemasan yang gemuruh. Kalau ia menuruti perasaan marah yang meluap-luap dari pemimpin laskar Banyubiru itu, maka akibatnya adalah di luar kemauannya. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang mengerikan antara sesama keluarga. Antara orang-orang Banyubiru melawan orang-orang Pamingit yang pasti akan dibantu oleh sebagian kecil orang-orang Banyubiru juga. Banyubiru dan Pamingit adalah ibarat daun sirih. Wajah dan punggungnya. Meskipun berbeda ujudnya, namun apabila digigit, akan sama rasanya. Sebab keduanya adalah belahan dari tanah perdikan yang tunggal, tanah perdikan Pangrantunan.

Karena itulah maka Mahesa Jenar mencoba untuk mencegahnya. Dengan sangat hati-hati pula ia berkata, “Tentu. Aku tentu akan segera minta kalian untuk berangkat. Tetapi kau adalah kunci persoalan itu, Arya. Mestikah kita memilih jalan yang pahit lebih dahulu sebelum kita coba jalan yang licin?”

“Masih adakah jalan yang licin itu, Paman?” tanya Arya Salaka. “Kemungkinan masih selalu ada, Arya. Apalagi kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana telah meminta agar kau datang kepadanya,” jawab Mahesa Jenar.

Arya Salaka diam sesaat. Tetapi ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring, menyala kembalilah hatinya. Karena itu ia menjawab, “Kalau Eyang Sora Dipayana mampu mencegahnya, maka peristiwa ini tak akan berlarut-larut.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Agaknya Arya telah hampir tidak sabar lagi. Meskipun ia dapat mengetahui perasaan apakah yang telah mendorong anak muda itu, namun apa yang diucapkan itu adalah pertanda betapa sakit luka hati yang dideritanya. Didorong pula oleh sifat kepemimpinan yang dimilikinya, maka ia merasa bertanggungjawab atas keselamatan rakyat Banyubiru.

Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar merasa bahwa usahanya bertambah sulit. Namun demikian ia menjawab, “Arya, persoalan yang dihadapi oleh eyangmu adalah terlalu sulit. Bukan sekadar mencegah tindakan-tindakan pamanmu saja. Tetapi ada persoalan-persoalan lain yang memaksanya untuk berbuat bijaksana.”

Arya Salaka kurang dapat memahami cara berpikir gurunya. Namun sebagai seorang murid yang selama ini merasakan betapa gurunya itu mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab, maka Arya Salaka tidak berani lagi untuk membantahnya.

Di sudut hatinya, Arya Salaka pun menaruh kepercayan yang kuat terhadap gurunya itu. Kepercayaan yang sedikit terdesak oleh kemarahan yang meluap-luap. Ia tahu pasti, bahwa seperti bisanya gurunya akan membawanya lewat jalan yang paling bersih dari kemungkinan noda-noda yang dapat memercik pada dirinya. Tetapi disamping itu, ketidaksabarannya telah memukul-mukul dadanya, seolah-olah akan pecah. Mahesa Jenar pun tahu, bahwa kalau kemudian Arya Salaka itu diam, bukanlah karena ia dapat meyakini kata-katanya. Kediaman anak itu baginya, seperti api yang tertutup sekam. Namun api itu tetap menyala di dalam. Karena itulah Mahesa Jenar harus dapat mengambil sikap yang sebijaksana mungkin. Ia harus tidak mematahkan anak-anak Banyubiru, namun ia pun tidak dapat membiarkan anak-anak Banyubiru itu menjadi korban ketergesa-gesaan mereka. Setelah berpikir sesaat terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Arya Salaka, siapkanlah laskarmu. Kita berangkat bersama-sama.”

Sambutan atas ucapan itu, terdengar seperti gunung meledak. Laskar Banyubiru itupun bersorak dengan riuhnya. Tiba-tiba di dalam ruangan itu menari-narilah ujung-ujung senjata, seperti anak-anak yang riang berloncat-loncatan. Berkilat-kilat ujung-ujung pedang, tombak, keris dan sebagainya. Diiringi oleh janji setia yang diucapkan tak teratur berebut keras.

PARA pemimpin laskar Banyubiru itupun kemudian berpencaran ke pasukan masing-masing. Sesaat kemudian riuhlah perkemahan itu. Arya Salaka mempunyai daya tarik yang tak ternilai besarnya, disamping perasaan keadilannya yang terinjak-injak. Karena itu, tanpa dikehendakinya, iapun melompat ke luar dari ruangan itu. Dengan wajah berseri ia melihat laskarnya mempersiapkan diri. Ia berjalan dari satu kemah ke kemah yang lain. Ia melihat kelompok demi kelompok, seolah-olah ia ingin mengetahui segenap kekuatan yang ada dalam laskarnya.

Namun dalam pada itu, di dalam kemahnya, Mahesa Jenar duduk termenung. Ia tidak dapat pergi meninggalkan laskar Banyubiru dalam keadaan yang demikian. Sebab di luar pengawasannya, dapat saja mereka melakukan hal-hal yang justru merugikan nama baik mereka dan bertentangan dengan tujuan mereka. Tetapi untuk membawa mereka serta agaknya juga akan menjadi persoalan. Bagaimana sebaik-baiknya menghentikan mereka, dan memberi kesempatan kepadanya untuk menemui Ki Ageng Sora Dipayana bersama-sama dengan Arya Salaka. Ia masih mengharap kewibawaan orangtua itu atas putra serta cucunya.

Kebo Kanigara pun agaknya menemui kesulitan dalam persoalan ini. Perlahan-lahan ia berkata, “Mahesa Jenar, tipislah harapan kita, untuk menempuh jalan lain, kecuali bertempur. Sebab laskar Banyubiru sudah sedemikian lama menahan diri. Dan Arya Salaka sendiri tampaknya tidak sabar lagi.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Ia masih mempunyai harapan untuk menghentikan pasukan itu di tengah jalan, dan membiarkan mereka menunggu sesaat. Tetapi bagaimanakah caranya, sehingga tidak menimbulkan kejengkelan pada laskar yang setia itu?

“Kalau Arya dapat kau tenangkan, Mahesa Jenar, mungkin seluruh laskar inipun akan tunduk pada perintahnya. Sebab api didalam dada mereka itupun semakin berkobar ketika Arya Salaka berada di antara mereka,” lanjut Kebo Kanigara.

“Tak ada jalan untuk berbuat demikian Kakang. Arya telah waringuten. Agaknya ia tak dapat diajak berunding lagi. Meskipun seandainya ia diam, namun kediamannya itu justru berbahaya bagi dirinya,” jawab Mahesa Jenar.

Tiba-tiba dalam kesenyapan itu terdengar Rara Wilis berkata kepada Endang Widuri, “Endang, bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kau bergembira pula seperti Arya Salaka?” Widuri tidak tahu arah persoalannya. Meskipun ia mendengar pembicaraan ayahnya dan Mahesa Jenar, namun sebenarnya ia lebih setuju dengan pendapat Arya Salaka. Kenapa Banyubiru itu tidak digempur saja.

Karena itu iapun menjawab, “Aku bergembira seperti Kakang Arya Salaka. Aku kagum pada sikap jantan yang dimilikinya.”

Rara Wilis mengangguk-angguk. “Kaupun bersikap jantan,” katanya. “Kenapa aku…?” sahutnya.

“Aku hanya sekadar bergembira melihat sikapnya.” Rara Wilis tersenyum. Seperti bergumam ia berkata kepada diri sendiri, “Aku teringat pada cerita Purwa, pada saat menjelang Baratayuda. Orang-orang Pandawa pun menjadi ragu-ragu. Apakah mereka harus berjuang melawan sanak kadang mereka sendiri. Tetapi akhirnya pertempuran itupun tak dapat dihindari. Tak dapat dihindari, meskipun segala usaha damai telah dicoba. Prabu Duryudana lebih senang mendengar nasihat Durna daripada pamannya sendiri. Diantaranya Resi Bima, seorang Resi yang bijaksana, dan Prabu Salya, mertua Prabu Duryudana sendiri.

Yang mendengar ceritera itupun berdiam diri. Masing-masing dengan tanggapannya sendiri. Namun tak seorangpun yang memotong cerita itu.

“Ketika Bisma gugur…” lanjut Wilis, “Para kadang Pandawa masih sempat menghadap Resi yang dipundhi-pundhi itu. Mereka masih sempat minta maaf dan minta pangestu kepadanya. Demikian juga sebelum Prabu Salya gugur. Nakula dan Sadewa sempat mengharap orang tua yang sakti itu. Dengan air mata mereka berdua minta agar mereka dijauhkan dari dosa mereka, karena mereka harus bertempur melawan saudara-saudara mereka yang lebih tua.”

Sekali lagi Rara Wilis diam sesaat. Widuri mendengarkan dengan penuh minat. Tetapi wajahnya telah berubah dari semula. “Ketika kedua junjungan para darah Barata itu gugur, menyesallah kedua belah pihak. Tetapi lebih menyesal lagi mereka, seandainya mereka tidak sempat menghadap sebelumnya. Mohon maaf segala kekhilafan lahir batin. Dan akan lebih menyesal pulalah mereka, seandainya sebelum Baratayuda itu mulai, mereka belum bersimpuh di hadapan para junjungan itu.”

Wilis meneruskan. Widuri menarik nafas. Otaknya memang benar-benar cemerlang seperti bintang pagi. Sebelum Rara Wilis meneruskan, Widuri berkata perlahan-lahan, “Bukankah Arya Salaka mampunyai junjungan pula di Banyubiru? Bukankah eyang Arya Salaka itu berada di sana, dan mungkin akan gugur pula dalam bentrokan ini?”

Rara Wilis mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan perlahan-lahan pula ia menjawab, “Tak seorangpun yang mampu menyampaikan kekhilafan ini kepada Arya Salaka. Bukankah kau mau menolongnya, supaya ia tidak akan menyesal sepanjang hidupnya kelak?”

Widuri memandang ayahnya, Mahesa Jenar, Wilis dan orang-orang lain di dalam ruangan itu dengan senyum yang kecil. Tiba-tiba ia merasa berbahagia menerima tugas itu. “Tidak adakah orang lain yang dapat berbuat demikian…?” bisik hatinya.

“Akan aku coba,” katanya, “Supaya Kakang Arya Salaka tidak berbuat kesalahan. Bukankah maksud bibi sebaiknya Arya Salaka sowan eyang Ki Ageng Sora Dipayana? Bukankah dengan demikian Paman Mahesa Jenar dapat melaksanakan rencananya? Namun apabila rencana itu gagal, Arya Salaka tidak akan menyesal seandainya eyangnya itu gugur seperti Resi Bisma. Sebab ia telah bersujud di bawah kakinya.

SEMUA yang mendengar percakapan itu menarik nafas dalam-dalam. Mahesa Jenar mengucap syukur dalam hati atas kelincahan perasaan Rara Wilis. Sebagai seorang gadis, ia mempunyai tanggapan yang lebih halus terhadap pergaulan Arya Salaka dan Endang Widuri.

Tanpa disengaja, ia mengamat-amati gadis itu seperti belum pernah melihat sebelumnya. Dalam keadaan yang sedemikian, Mahesa Jenar sempat juga sekali lagi mengagumi gadis itu. Namun di dalam hatinya, Rara Wilis bukanlah gadis belasan tahun lagi. Bahkan ia sudah melampaui dunia remaja, yang tak pernah dinikmatinya seperti gadis-gadis yang lain. Hidupnya penuh dengan persoalan-persoalan yang rumit, yang menuntut ketabahan hati dan malahan akhirnya menjadikan gadis itu tidak saja berhati tabah, tetapi juga bertubuh kuat dan berilmu cukup tinggi. Meskipun demikian ia tidak dapat menerima uluran tangan saudara tua seperguruannya, untuk menikmati kelimpahan raja brana, sebagai seorang isteri Demang yang kaya raya. Ia lebih senang menunggunya, seorang kleyang kabur kanginan. Bahkan ikut serta dengan dirinya, menempuh penghidupan yang penuh dengan bahaya dalam pengabdiannya kepada Tuhan, manusia serta kemanusiaan. Memancarkan cinta kasih abadi dari sumbernya yang tertinggi.

Disamping itu, iapun mengagumi ketangkasan berpikir Endang Widuri. Gadis itu agaknya mempunyai keistimewaan yang tak dapat diduga-duga. Dalam pada itu, Mahesa Jenar pun tidak heran, bahwa Endang Widuri adalah tetesan darah Pengging. Anak Kebo Kanigara. Widuri kemudian tidak menunggu terlalu lama. Iapun segera berlari ke luar. Ia sudah bertekad untuk melakukan tugasnya sebaik-baiknya.

Dengan berlari-lari kecil ia mencari Arya Salaka diantara keributan para anggota laskar Banyubiru itu. Widuri menemukan Arya Salaka di ujung perkemahan itu. Anak muda itu sedang berdiri tegak di atas sebuah batu yang besar. Seperti sebuah tonggak ia tak bergerak, memandang ke arah pegunungan yang terbujur di hadapannya. Telamaya. Ketika Arya Salaka mendengar langkah-langkah kecil berjalan ke arahnya, iapun menoleh.

Sambil tersenyum ia menyapa halus, “Siapakah yang kau cari Widuri?”

“Tidak ada,” jawab gadis itu singkat. Namun kemudian gadis itupun dengan lincahnya meloncat ke atas batu itu. Ia ingin menyampaikan pesan bibi Wilis itu perlahan-lahan, supaya Arya Salaka dapat menangkap urutan maksudnya.

Tetapi sebelum ia mulai berceritera terdengarlah Arya Salaka berkata, “Sebentar lagi aku akan pergi ke bukit itu.”

“Ya,” jawab Widuri singkat.

“Tak seorangpun akan dapat menghalangi. Malang-malang putung, rawe-rawe rantas.” Arya melanjutkan.

“Ya,” jawab Widuri.

“Di sana akan kita jumpai reruntuhan dari gedung yang dibangun sejak Eyang Sora Dipayana, sampai ayah Gajah Sora. Tugas kita adalah membangun reruntuhan itu, menjadikan gedung yang megah dan kuat. Kalau mungkin melampaui masa-masa yang lewat.”

“Ya.”

“Banyubiru harus dapat memancarkan kecemerlangannya kembali. Api yang menyala di jantungnya, yang telah hampir padam karena pokal Paman Lembu Sora, harus aku nyalakan kembali sebesar-besarnya.”

“Ya.”

Widuri mulai gelisah. Agaknya ia tidak akan dapat kesempatan untuk menyampaikan ceriteranya. Apalagi ketika ia sudah nekad untuk memotong angan-angan Arya Salaka itu, tiba-tiba terdengarlah sangkalala berbunyi.

Wajah Arya bertambah gembira.

“Kau dengar itu…?”

“Ya,” sahut Widuri, yang benar-benar menjadi gelisah dan cemas.

“Marilah kita bersiap,” ajak Arya. Arya tidak menunggu jawaban Endang Widuri. Dengan serta merta ditangkapnya gadis itu dan ditariknya menghambur ke arah bunyi sangkalala yang menjadi semakin nyaring. Suaranya menyusup lembah-lembah, menghantam bukit-bukit, meraung-raung seperti suara Naga Raja yang marah menuntut balas.

Ketika mereka sampai di perkemahan, mereka melihat laskar Banyubiru itu telah hampir siap. Mantingan, Wirasaba, Bantaran dan Penjawi telah mengenakan pakaian tempur, sambil menjinjing perisai yang belum diterapkan.

Melihat pelengkapan itu, dada Arya Salaka berdesir. Ia jarang melihat orang bertempur dengan perisai. Sekarang ia melihat perlengkapan yang luar biasa. Perisai, tombak larakan yang panjangnya lebih dari dua depa. Panah dan bandil. Tanpa diketahuinya, merayaplah suatu perasaan yang aneh di dalam dadanya.

Ia sudah pernah berkelahi diantara hidup dan mati. Ia pernah membunuh dua bersaudara, Uling Putih dan Uling Kuning. Tetapi ketika ia melihat persiapan terakhir dari prajurit yang berangkat berperang ia menjadi berdebar-debar.

Ketika laskarnya ini meninggalkan Candi Gedong Sanga, Arya Salaka tidak melihat perlengkapan yang demikian mengerikan. Saat itu ia melihat laskar Banyubiru itu memanggul senjata mereka, disamping perlengkapan-perlengkapan perkemahan, dan bahan makanan. Tetapi sekarang ia hanya melihat ujung-ujung senjata. Ia tidak melihat peralatan dan perlengkapan lain kecuali alat-alat penyebar maut itu.

Pada saat yang demikian itu teringatlah Salaka kepada ayahnya. Pada saat ayahnya siap untuk bertempur melawan Prajurit Demak. Pada saat itu ia melihat perlengkapan seperti itu. Dari tempat yang agak tinggi ia melihat barisan Banyubiru seperti padang ilalang yang berdaun baja. Runcing dan tajam.

Sekarang pemandangan yang mengerikan itu dilihatnya pula. Satu-satu ia memandang wajah yang riang di dalam barisan itu. Seolah-olah mereka tidak mengerti bahwa dalam perjalanan mereka, maut dapat saja menghampirinya.

MAHESA JENAR kemudian keluar dari kemahnya. Di belakangnya berjalan Kebo Kanigara dan Rara Wilis. Mereka tetap saja seperti biasa. Mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian tempur. Tidak membawa perisai dan bahkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak bersenjata. Sedang di pinggang Rara Wilis tergantung pedang tipisnya.

Ketika Mahesa Jenar melihat Arya Salaka dan Endang Widuri masih berdiri diam, iapun berkata, “Arya bersiaplah. Bawalah tombakmu Kyai Bancak.”

Arya tersadar dari lamunannya. Segera ia meloncat berlari ke kemahnya untuk mengambil tombak Kyai Bancak. Tombak itu baginya bukan saja senjata yang telah dikenalnya baik-baik. Senjata yang seolah-olah telah merupakan satu jiwa dengan dirinya, namun senjata itu juga merupakan tanda kebesaran kepala daerah perdikan Banyubiru. Ketika Arya Salaka meninggalkan Endang Widuri sendirian, Widuri pun segera berjalan ke tempat Rara Wilis berdiri.

Perlahan-lahan terdengarlah Rara Wilis berbisik, “Bagaimana? Sudahkah berceritera kepada Arya Salaka?”

Sambil bersungut-sungut Endang Widuri menjawab, “Belum. Aku belum sempat berkata sepatahpun. Ketika aku menemuinya, aku hanya boleh mendengarkan ia berceritera. Tak ada putus-putusnya.”

Meskipun Rara Wilis agak kecewa seperti Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, namun mereka tersenyum.

“Belum terlambat benar,” kata Rara Wilis.

“Di perjalanan kau masih mempunyai kesempatan.”

“Aku akan coba,” sahut gadis itu.

“Kau akan ikut serta dalam barisan ini?” tanya Kebo Kanigara, meskipun ia tahu bahwa gadisnya itu tak mungkin mau ditinggalkan. Kembali Widuri bersungguh-sungguh, jawabnya, “Apakah aku harus tinggal di sini?”

“Ya,” sahut ayahnya.

“Tidak mau,” jawab Widuri. Yang mendengar jawaban itu, terpaksa tersenyum pula.

“Perjalanan ini adalah bukan perjalanan tamasya,” ayah Widuri menerangkan. “Aku tahu. Tetapi bukankah aku mempunyai tugas yang penting dalam perjalanan ini?” bantah Widuri.

“Menurut bibi Wilis tak ada orang yang dapat melakukannya kecuali aku.”

Kebo Kanigara tidak mau menggodanya lagi. Sebab kalau gadisnya itu jengkel, ia akan berteriak sesukanya. Meskipun demikian ia perlu memperingatkan putrinya itu.

“Kalau kau akan ikut serta, berhiaslah dahulu.” Widuri pun sadar, bahwa ia belum siap untuk mengikuti perjalanan yang berbahaya. Karena itu ia segera berlari ke kemahnya, untuk melepas kain panjangnya, mengenakan celana latihannya. Kain pendek di luar, dan yang tak dilupakannya adalah rantai peraknya.

Di kalungkan rantai itu melingkari lehernya, sedang ujungnya berjuntai dan dikaitkan pada ikat pinggangnya.

Ketika ia telah siap, segera iapun meloncat dengan lincahnya, dan menempatkan dirinya di belakang ayahnya. Arya Salaka pun telah berdiri di sana, di samping Mahesa Jenar, dengan tombak Kyai Bancak di tangannya. Di hadapan mereka, berbarislah dalam kelompok-kelompok, laskar Banyubiru. Hampir seluruhnya ikut serta, selain yang bertugas menyiapkan makan, dan yang harus menyampaikan setiap hari ke garis terdepan. Sebab mereka tidak tahu, berapa lama mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka.

Ketika mereka, laskar Banyubiru itu, telah bersiap, terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada mereka, “Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang menentukan. Kalau kita terpaksa bertempur, maka setiap orang diantara kalian, mempunyai kemungkinan untuk gugur. Karena itu, siapa yang belum bersiap untuk berkorban dengan milik kalian yang paling berharga, yaitu jiwa kalian, aku persilahkan meninggalkan berisan.”

Terdengarlah suara bergumam di dalam barisan. Namun tak seorangpun yang meninggalkan barisan.

Dengan semangat yang menyala-nyala mereka tetap tegak di tempat mereka berdiri.

“Terima kasih.” Mahesa jenar meneruskan, “Ternyata kalian telah merelakan jiwa raga kalian dalam pengabdian yang luhur ini. Namun, meskipun demikian, dengarkanlah keterangan ini. Bahwa tujuan kalian yang terutama bukanlah bertempur.”

Kembali terdengar suara bergumam di dalam barisan itu. Bahkan Arya Salaka pun sampai menoleh kepadanya. Mahesa Jenar melihat tanggapan itu, segera meneruskan, “Tujuan kalian yang terutama adalah menempatkan kebenaran dan keadilan di atas pemerintahan Banyubiru. Bukankah demikian? Bertempur adalah cara yang terakhir. Tetapi bukanlah tujuan. Jangan dilupakan ini. Sehingga seandainya pemerintahan Banyubiru dapat dikembalikan pada keadaan yang seharusnya tanpa bertempur, tanpa setetes darahpun yang harus mengalir dari tubuh kalian, janganlah kalian mencari perkara.”

MAHESA JENAR diam sejenak. Ia melihat kebimbangan di sebagian wajah-wajah di hadapannya. Kemudian ia menyambungnya, “Tetapi, perhitungan kita adalah perhitungan yang paling mahal. Menembus benteng pertahanan orang-orang Pamingit dengan ujung senjata. Sudahkah kalian siap?”

Terdengarlah jawaban serentak mengguruh. Bahkan ada diantara mereka yang mencabut senjata, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti akan menusuk langit, sambil berteriak-teriak. “Kami telah bersedia. Hidup mati kami, kami serahkan untuk tanah tercinta.” Mahesa Jenar membiarkan mereka berteriak sepuas-puas mereka. Kemudian ia mengangkat tangannya. Suara yang mengguruh itu pun semakin menurun dan akhirnya diam. Terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Tanahmu adalah tanah pusaka. Tanah yang dikurniakan Tuhan kepadamu. Karena itu cintailah tanah itu. Sedangkan hidup matimu adalah di tangan Tuhanmu. Mudah-mudahan Tuhan bersama kita.”

Darah orang-orang Banyubiru itu serasa mendidih. Namun demikian di dalam dada mereka, sekali-kali terngiang pula kata-kata Mahesa Jenar, “Bertempur adalah cara yang terakhir. Tetapi bukan tujuan.”

Juga di dalam dada Arya Salaka, kata-kata itu berulang kali mengumandang. Sesaat kemudian Mahesa Jenar berkata kepada Arya Salaka, “Arya, semuanya sudah siap. Berilah tanda supaya laskarmu berangkat.”

Dari Mahesa Jenar, Arya telah banyak mendapat petunjuk dan tuntunan tentang tata keprajuritan. Karena itu, ketika Mahesa Jenar memberinya kesempatan untuk memimpin laskarnya, iapun tahu apa yang harus dikerjakannya. Maka Arya Salaka pun melangkah maju. Dengan isyarat, ia minta Wanamerta berdiri di sampingnya. Wanamerta adalah tetua tanah perdikan Banyubiru. Ia menjadi emban kepala daerah perdikan sejak eyangnya Ki Ageng Sora Dipayana masih memegang jabatan itu. Ayahnya diembaninya. Sekarang Arya Salaka tidak mau meninggalkannya. Ketika Wanamerta telah berdiri di sampingnya, Arya Salaka segera mengangkat tombak pusakanya. Terdengarlah kemudian sebuah tengara, suara bende yang pertama. Suatu pertanda, bahwa barisan itu harus berkemas. Setiap orang segera memeriksa diri mereka sendiri. Apakah yang kurang dan apakah yang ketinggalan. Senjata mereka, pakaian mereka. Sebentar kemudian Arya Salaka mengangkat tombaknya untuk yang kedua kali. Suara bende itupun berkumandang untuk kedua kalinya. Suatu pertanda bahwa barisan itu harus segera bersiaga penuh. Mereka tinggal menunggu bunyi bende untuk yang ketiga kalinya, yang memberi perintah kepada seluruh barisan itu untuk segera berangkat.

Sebelum Arya mengangkat tombaknya untuk yang ketiga, sekali lagi ia melayangkan pandangannya kepada seluruh barisan itu. Ia melihat beberapa orang kepercayaan laskar Banyubiru itu berdiri di baris pertama dengan umbul-umbul kecil di tangan. Jauh lebih kecil dari umbul-umbul yang pernah dilihatnya di Banyubiru dahulu, ketika ayahnya hampir saja terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Demak.

Namun meskipun demikian, umbul-umbul inipun memberinya kesan yang menggetarkan. Di tengah-tengah deretan umbul-umbul itu dilihatnya panji-panji kebanggaan tanah perdikannya, Dirata Sakti. Apalagi ketika matanya tertumbuk pada panji-panji pepunden seluruh rakyat Demak, hatinya bergetar deras. Panji-panji itu pulalah yang memaksa ayahnya dahulu untuk mengurungkan niatnya, melawan kekuasaan tertinggi. Warna Gula Kelapa itu pulalah yang menyebabkan ayahnya tak berdaya untuk menolak pertanggungjawaban atas hilangnya keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya. Dan kali ini Gula Kelapa itu menyertai laskar Banyubiru menuntut haknya, yang selama ini dilanggar dan dihinakan oleh orang-orang Pamingit.

Melihat kesiapan laskarnya, Arya menarik nafas dalam-dalam. Sesekali ia menengadahkan wajahnya ke langit. Tampaklah bibirnya bergerak-gerak, dan terdengarlah suara perlahan sekali, yang hanya dapat didengarnya sendiri. “Ya Allah, yang memerintah langit dan bumi. Aku serahkan diriku dan laskarku ke dalam tangan-Mu, ke dalam bimbingan-Mu. Jauhkanlah kami dari kesalahan-kesalahan, serta berilah cahaya di dalam hati kami. Berlakulah segala kehendak-Mu atas diri kami, sebab segala kehendak-Mu pasti berlaku. Kami adalah domba-domba yang menggantungkan nasib kami kepada penggembalanya yang Maha Pengasih dan Pengampun.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba Arya Salaka merasa mendapat kekuatan yang luar biasa. Sebagai seorang pemuda yang perkasa, ia cukup mempunyai bekal lahir dan batin dalam pekerjaan yang dilakukannya kali ini. Namun karena jiwanya yang pasrah kepada Sumber Hidup-nya, ia menjadi semakin yakin kepada tindakannya. Kemudian dengan tidak usah menunggu lebih lama lagi, diangkatnya tombaknya tinggi-tinggi.

Dan sesaat kemudian menggemalah suara bende yang ketiga kalinya, mengaum seperti jerit harimau lapar. Belum lagi gema bunyi bende itu berhenti, menyautlah suara sangkalala dan seruling, melagukan lagu yang gemuruh, seirama dengan gemuruhnya darah laskar Banyubiru itu. Berbareng dengan itu, bergeraklah Arya Salaka dan Wanamerta di ujung berisannya, diikuti oleh Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri. Sedang Mantingan dan Wirasaba mendapat tugas untuk mengamat-amati barisan itu.

Ketika barisan itu sudah mulai bergerak, berbisiklah Endang Widuri kepada Rara Wilis, “Akan aku coba, Bibi, sebelum barisan itu sampai di kaki bukit Telamaya itu.”

RARA WILIS mengangguk sambil tersenyum, jawabnya, “Kalau kau berhasil Widuri, dan kemudaian Ki Ageng Sora Dipayana berhasil pula mencegah terjadinya pertumpahan darah, maka berpuluh-puluh jiwa yang akan menjadi benteng dalam perjuangan ini dapat diselamatkan, serta berpuluh-puluh wanita akan mengukir di dalam hatinya, bahwa seseorang telah membendung air mata mereka yang akan tertumpah, karena mereka kehilangan suami, serta beribu-ribu anak-anak yang akan meneriakkan kembali nama bapaknya, ketika bapak mereka kembali dengan selamat dari pertumpahan yang urung nanti.” Terasa sesuatu bergerak-gerak di tenggorokannya.

Dengan tidak sengaja gadis itu memandang ayahnya. Bagaimanakah perasaannya kalau pada suatu kali ayahnya itu pergi dan tidak akan kembali. Tetapi pada saat itu tiba-tiba ayahnya memandangnya pula. Agaknya Kebo Kanigara pun ragu, apakah pertempuran dapat dihindari. Karena itu ia merasa perlu untuk melindungi anaknya lebih rapat lagi.

Dengan berbisik ia menyerahkan sesuatu kepada Endang Widuri, katanya, “Inilah bandul kalungmu. Pasanglah.”

Widuri menerima pemberian itu. Ia terpekik kecil ketika ia melihat sebuah benda yang berkilat-kilat di tangannya. Sebuah gelang putih gemerlapan dan dari dalamnya memancar cahaya kebiru-biruan. Pada dinding luar gelang itu, terdapatlah ukiran api yang menyala, sehingga gelang itu menjadi seolah-olah bergerigi tajam.

“Apakah ini ayah?” tanya Widuri sambil tersenyum keriangan. Ia belum pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Itulah kelengkapan kalungmu itu. Pasanglah di ujungnya,” jawab ayahnya.

“Apakah namanya?” desak gadis itu.

“Cakra,” jawab ayahnya singkat.

“Cakra? Adakah cakra ini yang dahulu dipunyai oleh Prabu Kresna?” tanya Widuri pula.

“Hus, jangan mimpi. Kalau aku memiliki cakra peninggalan Prabu Kresna, bukankah aku dapat menggugurkan bukit Merbabu itu?”

Endang Widuri masih saja mengagumi cakra pemberian ayahnya itu. Ia menjadi geli mendengar jawaban ayahnya. Katanya, “Ah, aku kira dengan cakra ini aku akan mampu menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan.”

“Pakailah,” potong ayahnya, “Lalu kerjakan tugasmu.”

Widuri seperti tersadar dari mimpi yang menyenangkan tentang cakra itu. Ia teringat pada pekerjaannya yang diserahkan kepadanya oleh Rara Wilis. Karena itu ia melangkah lebih cepat menyusul Arya Salaka yang berjalan beberapa langkah di depannya.

“Kakang…” bisik Endang Widuri setelah ia berjalan di samping anak muda itu. Arya Salaka menoleh. Kali ini Endang Widuri tidak mau kedahuluan lagi, sehingga ia tidak sempat untuk berbicara. Karena itu segera ia berkata, “Kakang lihat ini.”

Arya melihat benda yang berkilat-kilat di tangan gadis itu.

“Apakah itu?” ia bertanya.

“Cakra,” jawabnya singkat.

“Bagus,” gumam Arya Salaka, “Lihat.”- Widuri menyerahkan cakra itu kepada Arya Salaka yang mengaguminya.

Arya Salaka segera tahu, bahwa benda itu adalah kelengkapan kalung Endang Widuri. Dengan senjata itu Widuri akan menjadi gadis yang benar-benar berbahaya di dalam pertempuran. Pada saat ia menyaksikan Endang Widuri berkelahi melawan Bagolan, rantai gadis itu sama sekali tidak berbandul.

Dengan rantai itu saja Bagolan sama sekali tak berdaya melawannya, apalagi kalau di ujung rantainya tersangkut senjata itu.

Ketika Arya Salaka masih mengagumi senjata itu, berkatalah Endang Widuri kepadanya, “Kakang, apakah barisan ini sekarang juga akan mulai dengan gelar perang?”

Arya mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia mengangguk, jawabnya, “Ya, begitu barisan ini keluar dari mulut lembah, aku pasang gelar.”

“Apakah kakang akan mulai dengan pertempuran langsung siang ini juga?” tanya Widuri pula.

Arya menengadahkan wajahnya. Ia melihat matahari telah melampaui kepalanya. Pertanyaan Widuri itu tepat benar. Kalau ia mulai hari ini dengan menyerang langsung jantung kota, maka ia akan terganggu oleh gelap malam. Ia tidak dapat memperhitungkan, apakah ia akan dapat menyelesaikan pertempuran sehari, dua hari, seminggu atau lebih.

Tetapi ia sudah punya rencana lengkap. Hampir setiap hari ia mendapat petunjuk-petunjuk dari Mahesa Jenar. Dari petunjuk-petunjuk itu ia sudah dapat mengetahui dengan pasti, apakah yang harus dilakukan kalau ia harus merebut Banyubiru dengan kekerasan. Soalnya hanyalah soal waktu saja. Ia harus membagi pasukannya dalam tiga bagian. Sayap kiri, kanan dan induk pasukan. Sayap kiri itu harus membawa dirinya melewati jurusan Timur. Mendaki bukit di sebelah timur untuk kemudian menguasai daerah Banyubiru bagian timur. Sedang sayap kanan harus berbuat yang sama dari arah barat. Namun di samping itu, sayap ini mempunyai tugas untuk melakukan pencegatan, apabila datang bantuan dari Pamingit.

“Pertempuran tidak harus berlangsung hari ini.”

Akhirnya terdengar Arya bergumam. “Hari ini aku akan menghadapkan laskarku ke perbatasan. Malam nanti sayap-sayapku akan mulai berkembang. Besok pagi aku mulai dengan gerakan memasuki kota.”

WIDURI mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian ia tinggal mempunyai waktu sedikit. Kalau laskar ini telah terpecah, maka akan sulitlah untuk mengubah setiap rencana yang sudah dipersiapkan itu.

“Kau menghadapi pekerjaan yang berat, Kakang,” kata Widuri.

“Ya, aku sadari itu sepenuhnya. Paman Lembu Sora bukan orang yang bodoh. Ia mempunyai pandangan yang luas dan dalam. Ia memiliki keahlian bersiasat. Aku kira Sawung Saritipun akan memiliki sifat-sifat itu juga.”

“Sadar atau tidak sadar, apa yang kau lakukan ini mirip benar dengan ceritera Baratayuda.” Endang Widuri mulai dengan usahanya menyampaikan pesan Rara Wilis.

Arya mengangguk sambil tersenyum.

“Mungkin,” gumamnya.

Kemudian mulailah Widuri berceritera dari ceritera yang didengarnya dari Rara Wilis. Ternyata Widuri benar-benar memiliki kecerdasan yang mengagumkan. Dengan hati-hati ia mengemukakan persoalan demi persoalan. Apa yang diduga oleh Rara Wilis ternyata sebagian besar benar. Kalau yang menyampaikan ceritera itu kepada Arya Salaka orang lain, bukan Widuri, maka akibatnyapun akan lain.

Tetapi kali ini Arya mendengar ceritera tentang Bisma dan Prabu Salya dari Endang Widuri. Dari seorang gadis yang aneh baginya. Arya Salaka sendiri tidak tahu, pengaruh apakah yang sudah memukau dirinya, sehingga setiap kata dari gadis itu sedemikian meresap ke dalam dadanya. Iapun kemudian merasa, betapa menyesalnya nanti, apabila eyangnya melibatkan diri di dalam pertempuran ini.

Eyangnya yang menurut Mahesa Jenar mengharap kedatangannya. Mengharap untuk dapat menemui cucunya yang telah lama hilang. Ia tidak tahu, apakah ada di antara orang di dalam pasukannya yang mampu menandingi eyangnya itu.

Tetapi Mahesa Jenar kini ternyata memiliki ilmu yang dahsyat. Disamping itu ada Kebo Kanigara.

Tiba-tiba ia menyesal atas dugaannya itu. Kenapa ia seolah-olah yakin bahwa eyangnya akan berpihak kepada pamannya. Apakah tidak mungkin kakeknya itu datang kepadanya dan berkata, “Kau benar Arya. Karena itu aku berada di pihakmu.”

Bahkan lebih daripada itu. Akhirnya Arya Salaka sampai pada pikiran yang sejalan dengan pikiran Mahesa Jenar. Apakah tidak mungkin apabila kakeknya itu berkata kepada pamannya, “Lembu Sora, tinggalkan Banyubiru. Serahkanlah daerah ini kepada anak yang bernama Arya Salaka, putra kakakmu Gajah Sora.”

Lalu pamannya itu menjawab, “Baiklah ayah.” Bukankah dengan demikian pertempuran dapat dihindari?

Tetapi Lembu Sora bukanlah orang yang dapat berlaku demikian. Untuk beberapa lama Arya Salaka berdiam diri. Ia berjalan saja tanpa menoleh. Matanya seolah-olah terpaku pada bukit yang terbujur jauh di hadapannya, yang sekali hilang ditelan oleh bukit kecil di sekitar jalan yang dilaluinya, tetapi yang kemudian muncul kembali, seakan-akan tersembul dari dalam tanah.

Di langit matahari berjalan pula dengan tenangnya. Sinarnya yang semakin condong terasa seperti membakar kulit. Endang Widuri tidak tahu pasti, apakah yang sedang bergolak di dalam dada anak muda itu sebagai akibat dari kata-katanya. Tetapi iapun berdiam diri pula. Ia berjalan dengan langkah yang tetap mengikuti irama langkah barisan anak-anak Banyubiru itu. Ketika laskar itu akhirnya muncul dari daerah-daerah pegunungan, Widuri melihat suatu dataran yang luas terbentang dihadapannya. Ia mengira bahwa Arya akan segera menebarkan barisannya dalam gelar perang. Tetapi sampai beberapa lama aba-aba itu sama sekali tidak diberikannya. Laskar Banyubiru itu masih saja berjalan seperti ular yang panjang berkelok-kelok menuruti jalan sempit menuju ke Banyubiru. Di kiri kanan jalan itu terbentang padang rumput yang luas, yang di sana sini terdapat beberapa gerumbul-gerumbul kecil dan pohon-pohon perdu yang berserak-serakan. Sedang di lereng-lereng bukit kecil tampak batang-batang ilalang yang memanjat sampai ke lambung. Ketika matahari telah mulai merendah, barulah mereka sampai ke daerah yang berhadapan dengan tanah-tanah persawahan. Diseberang sawah itulah mereka baru akan menjumpai desa yang pertama.

Di kejauhan, di seberang padang-padang rumput itu, tiba-tiba tampaklah debu putih yang mengepul. Mata Arya yang tajam segera dapat melihatnya. Demikian juga Endang Widuri dan Wanamerta. Maka terdengarlah Arya Salaka berbisik, “Kau lihat debu itu, Widuri?”

Endang Widuri mengangguk. “Kuda,” desisnya. “Ya, orang berkuda.” Arya Salaka melengkapi.

Debu itu semakin lama menjadi semakin tipis, dan akhirnya semakin jauh dan jauh, untuk kemudian seperti hilang ditelan cakrawala. Untuk beberapa saat, orang berkuda itu mempengaruhi pikiran Arya Salaka. Namun akhirnya hatinya memutuskan, “Biarlah seandainya orang itu akan memberitahukan kepada Paman Lembu Sora. Kami sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Kasar dan halus.”

Tetapi bagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, orang berkuda itu benar-benar menimbulkan persoalan. Kuda itu ternyata menghilang ke arah barat. Seandainya orang berkuda itu, salah seorang pengawas dari Pamingit, ia tidak akan menghilang ke barat. Tetapi ia akan memacu kudanya ke selatan, dan menghilang ke balik desa yang pertama tampak di muka barisan itu. Dengan demikian, maka Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mempunyai tanggapan yang lain.

Orang itu bukanlah orang Pamingit atau Banyubiru.

“Jadi siapakah dia?” tanya Kebo Kanigara perlahan-lahan. “Tak ada lain, orang itu pasti dari golongan hitam,” jawab Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara mengangguk-anggukan kepalanya. “Satu-satunya kemungkinan,” gumamnya. “Mereka akan mengambil keuntungan dari perselisihan ini,” sahut Mahesa Jenar.

“Keadaan yang sulit.” Kembali Kebo Kanigara bergumam.

MAHESA JENAR kemudian berdiam diri. Ia melihat bahwa Arya Salakapun telah mengetahui adanya orang berkuda yang mencurigakan itu. Tetapi ia tidak mau mempengaruhi rencana anak muda itu. Ia ingin mengetahui, sampai dimana kemampuan Arya Salaka. Ia akan memberi petunjuk-petunjuk apabila sangat diperlukan, atau laskar ini menuju kedalam bahaya.

Tiba-tiba ia melihat Arya Salaka mengangkat tangan kirinya. Kemudian terdengarlah bunyi bende dua kali berturut-turut. Sesaat kemudian berhentilah seluruh pasukan itu.

Dengan isyarat Arya Salaka memanggil para pemimpin kelompok untuk datang kepadanya. “Kita berhenti di sini,” katanya kepada para pemimpin laskarnya. Kemudian kepada Bantaran dan Penjawi, ia berkata, “Siapkan laskar ini menjadi tiga bagian. Sayap kiri, yang akan masuk ke Banyubiru lewat timur. Sayap kanan lewat barat dan menjaga kemungkinan datangnya bantuan dari Pamingit. Sedang yang lain, induk pasukan akan langsung menuju ke jantung kota, serta menyiapkan bagian-bagian yang harus melakukan pengejaran-pengejaran terhadap lawan yang menarik diri serta membuat pertahanan-pertahanan baru.

“ Para pemimpin itupun telah tahu benar apa yang harus dilakukan, sebab perintah itu adalah perintah ulangan seperti yang mereka dengar sebelumnya.

“Tetapi…” kemudian Arya Salaka meneruskan, “Kalian jangan bergerak lebih dahulu sebelum aku memberi perintah. Aku harus mendapat keyakinan bahwa dengan sekali tusuk, rencana kita berhasil. Karena itu aku harus menguasai keadaan medan sebaik-baiknya.”

Para pemimpin itupun mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak menanyakan apa-apa. Tugas mereka, menunggu sampai Arya memberikan perintah. Sekarang, nanti atau nanti malam. Namun mereka sudah tidak terlalu gelisah, seperti ketika mereka masih harus menunggu di perkemahan tanpa batas waktu. Sekarang mereka telah berada di garis perbatasan. Bahkan mungkin mereka tidak usah menunggu sampai besok, sebab orang-orang Pamingit itupun dapat melakukan penyerangan dengan tiba-tiba. Karena itu mereka selalu bersiap.

Tempat itu mendapat pengawalan yang kuat dari pasukan-pasukan panah yang akan menjadi ujung-ujung sayap. Kelompok yang akan menjadi sayap kiri telah memisahkan diri di bawah pimpinan Bantaran. Dalam kelompok itu ikut serta Mantingan. Sedang sayap kanan dipimpin oleh Penjawi dan Wirasaba.

Kelompok inipun telah memisahkan diri. Induk pasukan langsung berada di tangan Arya Salaka. Melihat keadaan itu, Endang Widuri menarik nafas. Ia menjadi berlega hati. Arya Salaka belum memberikan perintah bergerak kepada kedua sayap pasukan itu. Mudah-mudahan nanti malampun belum.

Ketika sebagian dari laskar itu telah beristirahat, kembali Arya Salaka teringat kepada orang-orang berkuda yang hilang ditelan cakrawala di ujung barat. Tiba-tiba ia ingin mendapat pertimbangan pendapat tentang orang berkuda itu dari Mahesa Jenar. Ia mendekati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang duduk di atas batang-batang ilalang kering bersama-sama dengan Rara Wilis.

“Paman…” katanya setelah ia pun duduk, “Apakah tanggapan Paman Mahesa Jenar dan Paman Kebo Kanigara serta bibi Wilis tentang orang berkuda tadi?” Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, katanya, “Apa katamu tentang itu…?” Mahesa Jenar bertanya pula.

Arya Salaka diam berpikir. Dilemparkan pandangan matanya ke arah orang berkuda tadi lenyap. Tetapi di sana sudah tidak dilihatnya apa-apa lagi. Debu yang mengepul itupun telah lenyap. Tiba-tiba iapun sadar, bahwa orang itu sama sekali bukan pengawas dari Pamingit. Sebab jurusan itu, jurusan yang ditempuh oleh orang berkuda itu, menjauhi Banyubiru.

“Ada dua kemungkinan menurut pikiran saya, Paman.” Arya menjawab. “Orang itu mungkin pengawas paman Lembu Sora, tetapi mungkin juga bukan.”

“Kalau bukan…?” Mahesa Jenar ingin menjelaskan. “Kalau bukan, ia adalah orang dari gerombolan hitam,” sahut Arya, “Mungkin dari Nusakambangan, mungkin dari Gunung Tidar atau dari daerah sebelah timur Rawa Pening.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukan kepalanya, katanya perlahan-lahan, “Mungkin ketiga-tiganya, ditambah orang-orang dari Alas Mentaok yang sudah dilengkapkan kembali.”

Arya Salaka mengangguk-angguk. “Masukkan mereka dalam perhitunganmu, Arya,” Mahesa Jenar menasehati. Arya Salaka tidak menjawab, tetapi tampaklah ia berpikir keras. Sejak semula memang ia merasa betapa sulit pekerjaannya. Ditambah dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang kalangan hitam. Ia yakin bahwa gerombolan hitam dari Rawa Pening pasti mendendamnya. Apalagi kalau mereka akhirnya mengetahui bahwa dialah yang membunuh sepasang pemimpinnya, Uling Putih dan Uling Kuning. Disamping itu dendam yang tak ada taranya dari orang-orang Gunung Tidar terhadap Mahesa Jenar. Sima Rodra yang kehilangan anak dan menantunya yang dibunuh oleh Mahesa Jenar dan Rara Wilis, pasti akan mencoba menuntut balas. Demikian juga Pasingsingan yang mengalami kekalahan baru beberapa hari yang lalu. Persamaan kepentingan itu akan mereka padukan sebaik-baiknya. Mereka bersama-sama ingin membalas dendam. Juga mereka bersama-sama ingin memiliki keris-keris Kyai Nagasasradan Kyai Sabuk Inten. Mereka pulalah yang telah menyusun kekuatan untuk merebut Banyubiru dan Pamingit sebagai rintisan jalan menuju ke Demak.

MENURUT anggapan mereka, dengan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, berlandaskan kekuatan laskar yang akan dihimpunnya kelak dari Banyubiru dan Pamingit, maka terbukalah pintu gerbang kekuasaan tertinggi. Demak. Meskipun di dalam dada mereka itu masih selalu terngiang pertanyaan-pertanyaan, “Lalu siapakah orangnya yang akan memegang kekuasaan tertinggi diantara golongan hitam itu? Pasingsingan? Sima Rodra? Atau dari angkatan yang lebih muda? Lawa Ijo atau Jaka Soka atau yang lain lagi…?”

“Aku kira orang-orang dari golongan hitam itu akan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.” Terdengar Arya kemudian berkata. “Mereka akan menggempur kita, apabila tenaga kita sudah jauh berkurang dalam pertempuran kita melawan orang-orang Pamingit.”

Mahesa Jenar mengangguk. Kembali Arya merenungkan kata-katanya sendiri. Alangkah jelasnya persoalan yang dihadapi. Tetapi ia telah melangkahkan kakinya karena itu ia pantang mundur. “Akan aku bentuk pasukan-pasukan cadangan dari ketiga bagian laskarku,” katanya kemudian.

“Aku kira aku harus membuka di garis pertempuran. Pasukan-pasukan cadangan itu harus tetap segar untuk menghadapi laskar hitam yang akan datang kemudian.”

Kembali Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia bangga atas keterampilan Arya Salaka. Namun keterampilan itu adalah keterampilan pikiran anak muda yang masih berdarah panas dan berdada panas. Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak membantahnya. Ia mengharap, dalam ketenangan istirahatnya nanti Arya akan menemukan sendiri pemecahan masalah itu. Ia mengharap Arya akan mencoba menemui kakeknya. Memberitahukan persoalannya dan persoalan-persoalan lain. Diantaranya orang berkuda yang terang orang dari gerombolan hitam.

Kemudian mereka berdiam diri. Endang Widuri berjalan dengan langkah gontai ke arah mereka.

Dengan seenaknya ia menjatuhkan dirinya duduk, bersandar pada Rara Wilis.

“Dari mana kau Widuri?” tanya Rara Wilis.

“Aku melihat-lihat laskar ini. Baru saja aku bersama-sama dengan Paman Mantingan menangkap kelinci-kelinci liar,” jawabnya.

“Kau pergi ke sayap kiri?” potong Arya Salaka.

“Ya,” jawab Rara Wilis, “Mereka sedang merebus air.” “Jangan mondar-mandir Widuri.” Ayahnya mencoba memberi nasehat.

“Di gerumbul-gerumbul itu mungkin bersembunyi bahaya yang mengancam keselamatanmu.”

Widuri tersenyum. “Bukankah aku sudah mempunyai cakra?”

“Jangan takabur dengan benda itu,” sahut ayahnya, “Dengan demikian benda itu akan menyeretmu masuk ke dalam bahaya.”

“Jangan marah ayah,” jawab Widuri, “Aku hanya bergurau.”

“Kau memang terlalu nakal.” Ayahnya melanjutkan. “Sekali-kali aku masih ingin menarik kupingmu.” “Jangan ayah,” potong Widuri, “Bahkan mungkin Kakang Arya menganggap bahwa sekali-kali perlu juga aku mondar-mandir, sebab ada yang dapat aku lihat di ujung desa sebelah.”

“Apa…?” Arya tertarik pada keterangan itu.

“Cermin,” jawab Widuri.

“Cermin…?” Arya semakin tertarik, juga Mahesa Jenar.

Segera teringatlah ia pada saat Lembu Sora mencegat laskar Demak yang membawa Gajah Sora. Orang-orangnya memberikan tanda-tanda dengan benda yang berkilat-kilat.

“Aku lihat cahaya yang bersahut-sahutan. Dari desa itu dan dari desa yang jauh itu,” jawab Widuri.

Mendengar keterangan Widuri itu Arya mengangkat wajahnya, memandang jauh ke arah desa yang ditunjuk oleh Endang Widuri. Kabar yang dibawa gadis itu sangat menarik perhatian. Bahkan Mahesa Jenar kemudian berdiri tegak dan dengan cermatnya memandangi desa di hadapan laskar Banyubiru itu. Terbayanglah di dalam otaknya, pasukan yang pepat padat bersembunyi di sana. Sehingga seolah-olah pada setiap batang didalam desa itu, berdiri seorang laskar Lembu Sora, yang siap menanti kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.

Arya Salaka pun kemudian berdiri. Memanggil dua orang pembantunya, memberitahukan kepada kedua sayap laskarnya. Mereka harus di hadapan hidung mereka. Disamping itu mereka harus membentuk laskar cadangan, sebab ada kemungkinan, golongan hitam akan mengail di air yang sedang keruh.

Kedua orang itupun segera menyampaikan pesan Arya Salaka. Namun kedua orang itu masih belum membawa perintah kepada sayap-sayap pasukan itu untuk bergerak. Disamping kepada kedua orang itu, kepada Sendang Papat yang berada di dalam pasukan induk itu, Arya Salaka pun telah memerintahkan untuk memisahkan sebagian laskarnya yang harus tetap segera untuk menghadapi lawan baru yang setiap saat dapat mengancamnya. Tetapi keterangan yang diberikan kepada sayap-sayap laskarnya, sangat mempengaruhi dirinya sendiri. Golongan hitam akan mengail di air yang keruh. Kenapa ia mesti mengeruhkan airnya? Tidak, bukan dirinya, tetapi pamannya.

APA yang dilakukan Arya Salaka kini adalah akibat dari perbuatan pamannya. Kalau pamannya tidak melakukan pelanggaran atas ketetapan adat yang berlaku, maka iapun tidak akan melakukan perjuangan dengan kekerasan. Tegasnya, tanggungjawab dari keributan yang bakal terjadi adalah terletak di pundak pamannya.

Sekali lagi Arya menengokkan wajahnya ke langit. Matahari telah semakin rendah, dan sebentar lagi akan hilang dibalik bukit-bukit di sebelah barat. Burung-burung seriti dan manyar telah berterbangan berputar-putar untuk mencari tempat bermalam di atas pohon-pohon siwalan yang bertebaran di sana-sini.

“Baik, kami atau mereka, tidak akan mulai hari ini, Paman,” kata Arya Salaka kemudian. “Sebentar lagi malam tiba.”

“Ya,” jawab Mahesa Jenar, “Tetapi mungkin besok pagi-pagi benar sebelum pecah fajar, kau harus sudah bertempur.”

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba tangannya membelai tombaknya seperti membelai kepala adik kesayangannya. Adakah di dalam laskar pamannya nanti ikut pula orang-orang Banyubiru yang berdiri di pihak Pamingit. Dan adakah diantara mereka itu kawan-kawan sepermainan dahulu? Arya Salaka menjadi bersedih hati mengenang kemungkinan-kemungkinan itu. Tombaknya itu mungkin besok akan menusuk jantung kawan-kawannya sepermainan. Dan bukankah Sawung Sariti tidak hanya kawan sepermainannya, tetapi justru saudara sepupunya? Tetapi meskipun demikian pedang anak muda itu hampir saja menembus dadanya.

Mahesa Jenar melihat keragu-raguan yang membayang di wajah Arya Salaka, seperti ceritera tentang Arjuna yang ragu-ragu pula, pada saat Baratayuda mulai pecah. Tetapi apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan Kresna pada waktu itu. Mahesa Jenar untuk sementara membiarkan saja Arya Salaka diganggu oleh kegelisahannya.

“Sampai malam nanti…” pikir Mahesa Jenar. Yang dihadapi oleh Arya Salaka kini bukanlah pamannya itu sendiri. Inilah salah satu perbedaan dengan ceritera Baratayuda itu. Tetapi ada pihak ketiga yang tidak kalah berbahaya. Bahkan laskar hitam itu sama sekali tidak terikat pada suatu tata kesopanan ataupun kepercayaan yang dapat mengendalikan kebiadaban serta kekejaman mereka.

Ketika matahari kemudian terbenam, mereka masing-masing mencari tempat mereka sendiri-sendiri untuk beristirahat. Disana-sini bertebaran para petugas yang harus mengawasi keadaan, dengan senjata siap di tangan.

Sekali dua kali Arya Salaka mengadakan peninjauan atas kesiapan anak buahnya. Sedang di sana-sini tampak perapian menyala-nyala. Mereka kemudian seperti berpesta, ketika serombongan orang-orang yang bertugas membawa kiriman makan datang ke tempat itu.

Kepada pembawa kiriman itu Arya Salaka berpesan, “Bawalah untuk besok pagi, sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya. Kedudukan-kedudukan baru akan segera kami beritahukan, apabila pertempuran sudah mulai.”

Kemudian keadaan menjadi sepi kembali. Masing-masing mencoba untuk mempergunakan waktu istirahat sebaik-baiknya. Namun di dalam dada Arya bergolaklah persoalan-persoalan yang rasa-rasanya semakin rumit. Sebenarnya ia sudah sampai pada waktunya untuk memerintahkan laskar di kedua sayapnya untuk bergerak. Dalam pada itu, Mahesa Jenar menjadi semakin cemas pula atas setiap keputusan yang diambil oleh Arya Salaka. Karena itu ia sama sekali tidak berani meninggalkan anak itu. Meskipun seolah-olah ia sama sekali tidak ikut campur pada setiap keputusan Arya Sakala, namun kehadirannya di samping anak muda itu ternyata sangat berpengaruh.

“Paman…” akhirnya Arya Salaka minta pertimbangan, “Bagaimanakah kalau aku mulai melepaskan sayap-sayap laskarku?”

Mahesa Jenar pun telah merasa bahwa pada suatu ketika ia akan menghadapi pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Tetapi meskipun demikian ia masih belum melepaskan usahanya. Katanya, “Adakah kau sudah menganggap cukup waktu?” Arya Salaka ragu. Karena itu ia bertanya, “Kalau aku kehilangan waktu, apakah itu tidak membahayakan kedudukan kita ini Paman?”

Arya Salaka benar. Sedang orang-orang Pamingit itu telah siap di hadapannya. Mungkin mereka akan membuka gelar lebih dahulu, Supit Urang, atau Garuda Nglayang. Tetapi mereka tak akan dapat mengepung laskar ini, sebab Arya telah memisahkan kedua sayapnya agak jauh. Meskipun demikian orang-orang Pamingit dapat memotong sayap-sayap pasukan ini, untuk kemudian menyerang induk pasukan dengan gelar yang sempit. Cakra Byuha atau Dirada Meta atau Gedong Minep. Namun menilik watak Senapati yang akan memimpin laskar Pamingit itu, baik Sawung Sariti maupun Lembu Sora sendiri, pasti tidak akan mempergunakan gelar terakhir. Mereka pasti lebih senang memilih gelar Cakra Byuha atau Dirada Meta. Bahkan mungkin seperti apa yang pernah mereka lakukan terhadap pasukan Demak dengan jumlah yang sangat besar, Glatik Neba atau Samodra Rob.

Dalam menilai keadaan, Mahesa Jenar tidak dapat menutup kenyataan bahwa bukan salah Arya atau kalau Arya kini tertekad bulat untuk bertempur. Sebab kalau ia tidak melakukan itu, ia akan digilas oleh pasukan lawannya, yang barangkali saat ini sedang merayap-rayap untuk membentuk gelar perang yang berbahaya. Maka kemungkinan satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Arya, apabila ia akan menghadap eyangnya, adalah sekarang. Dan ia harus kembali sebelum tengah malam. Apabila keadaan tidak menguntungkan, sayap-sayapnya masih akan dapat mencapai tempat yang ditentukan sebelum fajar, dan memukul Banyubiru dari tiga jurusan. Tetapi adakah Arya bermaksud demikian?

UNTUK menjajagi perasaan anak itu, Mahesa Jenar berkata, “Siapakah menurut dugaanmu, yang akan madeg Senapati dari Pamingit pagi besok? Lembu Sora, Sawung Sariti atau eyangnya Sora Dipayana?”

Mendengar nama kakeknya tersebut, dada Arya berdesir. Bagaimanakah kalau benar eyangnya itu yang memimpin pasukan Pamingit dan Banyubiru yang berpihak kepada Lembu Sora? Melihat keragu-raguan Arya Salaka, Mahesa Jenar mengharap untuk dapat membawa anak itu malam ini menghadap kakeknya. Karena itu ia mendesak, “Kalau eyangmu yang memimpin pasukan itu, jangan cemas. Ada aku dan Kakang Kebo Kanigara yang akan membinasakan.”

Kembali dada Arya Salaka berdesir. Justru karena ia percaya kepada gurunya. Ia percaya bahwa Mahesa Jenar sekarang akan dapat melawan eyangnya, dan ia percaya kata-kata gurunya, bahwa Kebo Kanigara dapat membinasakan kakeknya itu.

Tetapi bagaimanakah kalau kakeknya itu benar-benar binasa? Teringatlah Arya Salaka pada ceritera Endang Widuri siang tadi. Meskipun Bisma tidak sependapat dengan Kurawa, demikian juga dengan Prabu Salya, namun karena kedudukan mereka, mereka terpaksa bertempur melawan orang-orang Pandawa. Karena desakan hati mereka yang putih dan tanpa pamrih, akhirnya mereka membiarkan diri mereka binasa, meskipun mereka mengetahui sebelumnya. Bisma telah menyadari bahwa prajurit wanita yang bernama Srikandi-lah yang akan mengantarkan jiwanya menghadap Hyang Maha Agung. Demikian juga Salya, bahkan memberitahukan bagaimana orang Pandawa harus membunuhnya. Tetapi orang-orang Pandawa sempat menghadap mereka. Mohon maaf atas segala kesalahan mereka, dan mereka mendapat restu dari kedua pepunden itu.

Tiba-tiba terdengar Arya berdesis, “Bagaimanakah kalau Eyang Sora Dipayana yang memimpin laskar Pamingit?”

“Sudah aku katakan,” jawab Mahesa Jenar, “Aku sanggup melawannya.”

Runtuhlah wajah Arya Salaka membentur tanah, seperti hatinya yang hancur. Tiba-tiba mengambanglah airmatanya yang bening membasahi matanya. Kenapa ia harus menghadapi keadaan yang sedemikian pahit.

Terbayanglah masa kanak-kanaknya, dimana ia sering dengan nakalnya didukung di punggung eyangnya. Berlari-lari. Dan kadang-kadang eyangnya itu berdendang pula untuknya, dalam lagu tembang yang menawan.

Melihat keadaan itu, Mahesa Jenar segera mengambil kesempatan. “Kenapa kau berduka? Adakah kau takut kehilangan aku? Percayalah aku tak akan dapat dikalahkan oleh eyangmu itu.”

Wajah Arya menjadi semakin tunduk. Ia tidak menjawab.

Yang terdengar kemudian adalah suara Mahesa Jenar, “Atau kau cemaskan nasib eyangmu?”

Mendengar perkataan itu, tanpa disadarinya, Arya Salaka menganggukkan kepalanya.

Cepat Mahesa Jenar berkata sambil mengangguk-anggukan kepalanya, “Arya, sebenarnya di dalam dadamu telah lebih dahulu bergolak suatu pertempuran yang dahsyat. Sebagai seorang anak muda, kau terlalu sulit untuk mengendalikan dirimu. Tetapi karena tempaan watakmu yang baik, yang menetes dari keluhuran budi ayahmu, telah memaksa perasaanmu untuk mencemaskan nasib, tidak saja eyangmu, tetapi seluruh rakyatmu. Karena itu Arya Salaka, bagaimanakah dengan usulku, tidakkah kau ingin bertemu dengan eyangmu sebelum api pertempuran ini berkobar?”

Kembali dada Arya tersentuh. Siang tadi ia merasa, bahwa yang demikian itu sama sekali tidak ada gunanya. Karena itu, ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat Mahesa Jenar untuk sekali lagi menghadap ke Banyubiru.

Tiba-tiba terasa sekarang, bahwa alangkah baiknya hal itu dilakukan. Tetapi sekarang pasukannya telah berhadap-hadapan. Kalau ia tidak segera mulai, orang-orang Pamingit yang akan mengambil prakarsa, memulai pertempuran itu.

Mahesa Jenar menangkap perasaan yang bergolak didalam dada anak muda itu, maka katanya, “Kalau kau ingin menghadap eyangmu Arya, biarlah aku dan Kakang Kebo Kanigara menyertaimu bersama-sama dengan Paman Wanamerta.

Kalau orang-orang Pamingit itu curang, kami dapat melakukan perlawanan sekadarnya, sambil memberi tanda kepada pasukanmu untuk bergerak. Karena itu biarlah Paman Wanamerta membawa anak panah sendaren, yang dapat mengaung di udara, atau anak panah api.”

Sekali lagi Arya mengangguk kosong. Seolah-olah pikirannya terampas habis oleh kesulitan perasaan yang dihadapinya.

“Kita berangkat sekarang,” sambung Mahesa Jenar, “berkuda, dan membawa obor di tangan, supaya mereka tahu, bahwa kita bermaksud baik. Bukan mata-mata yang menyusup ke daerah mereka. Sebelum tengah malam, kita harus sudah berada di tengah-tengah laskar ini.”

Ketika Mahesa Jenar meloncat berdiri, Arya pun berdiri. Segera Mahesa Jenar memberitahukan maksudnya kepada Kebo Kanigara dan Wanamerta, yang segera bersiap-siap pula.

Kepada Rara Wilis, Kebo Kanigara menitipkan putrinya. Kepada Sendang Papat, Arya Salaka berpesan, bahwa apabila panah sendaren-nya mengaum atau panah apinya menyala di udara, laskar Banyubiru harus segera bertindak.

“Karena itu, siapkan sebagian dari mereka,” katanya.

Sendang Papat menjadi heran. Apa yang akan dilakukan oleh Arya Salaka? Maka bertanyalah ia, “Apakah yang akan kau lakukan Adi Arya Salaka?”

“Melihat medan dan melihat keadaan kota,” jawabnya.

“Pekerjaan yang berbahaya. Orang-orang Pamingit dapat menangkap tuan-tuan,” katanya kepada Mahesa Jenar.

“Aku punya alasan,” potong Arya, “Aku akan berpura-pura menghadap Eyang Sora Dipayana untuk bersujud di bawah kakinya sebelum aku mulai dengan pertempuran.”

“Adakah alasan itu dapat dimengerti oleh orang-orang Pamingit?” tanya Sendang Papat. “Mudah-mudahan mereka cukup jantan,” jawab Arya.

SENDANG PAPAT tidak bertanya lagi. Alasan Arya Salaka dan cara yang akan dilakukan memang masuk akal, meskipun Arya Salaka terpaksa memutar balik, agar laskarnya tidak dikecewakan.

“Baik….” Akhirnya Sendang Papat menjawab, “Akan aku siapkan beberapa orang pelopor yang apabila keadaan memaksa akan menembus pasukan Pamingit langsung ke arah tanda-tanda yang akan kau berikan, untuk membantu. Sedang yang lain akan aku kerahkan untuk memberi tekanan kepada mereka, sampai kau dan Tuan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Kiai Wanamerta dapat membebaskan diri.”

“Bagus,” jawab Arya, “Kami akan berangkat. Beritahu kepada sayap-sayap laskar ini, supaya mereka tidak terkejut melihat tanda-tanda apabila terpaksa aku berikan, siapkan sayap-sayap itu.”

Setelah memberikan beberapa pesan-pesan, serta menempatkan Rara Wilis sebagai penasehat Sendang Papat, maka berangkatlah rombongan kecil itu. Di muka sekali seorang pembawa obor besar merupakan penerang jalan, kemudian berkuda di belakangnya Wanamerta dan Arya Salaka. Dekat di belakangnya berjajar Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Kemudian yang terakhir juga seorang pembawa obor. Rombongan itu sangat menarik perhatian laskar Banyubiru. Mereka saling bertanya-tanya apakah yang akan dilakukan oleh rombongan kecil itu, sehingga sesaat kemudian para pemimpin laskar itu mendengar penjelasan dari Sendang Papat. Dengan demikian mereka tidak gelisah oleh usaha-usaha yang mereka anggap tak akan berarti.

Demikianlah dalam waktu yang singkat, rombongan Arya Salaka telah terpisah jauh dari laskarnya. Mereka berjalan dijalan-jalan persawahan yang membujur diantara tanah-tanah yang diterangi oleh batang-batang padi yang sedang berbunga. Sedang dekat di hadapan mereka tampaklah seperti bukit-bukit kecil, desa-desa yang pertama. Dari desa-desa itulah sore tadi Endang Widuri melihat cahaya yang berkilat-kilat bersahut-sahutan.

Dalam keheningan malam itu terdengarlah suara Mahesa Jenar perlahan-lahan, “Arya, batang-batang padi sedang berbunga.”

“Ya,” jawab Arya singkat.

“Kalau kau berjalan beriring dengan laskarmu dalam gelar perang, atau orang-orang Pamingit yang maju dalam gelar pula, batang-batang padi yang sedang berbunga itu akan binasa oleh kaki-kaki laskar yang akan bergulat diantara hidup dan mati. Tetapi disamping laskar itupun masih ada lagi orang-orang yang akan bergulat melawan lapar, sebab tanah harapannya telah hancur dilanda arus peperangan. Perempuan-perempuan akan menangis karena kehilangan suami, sedang anak-anak mereka akan menangis karena lapar.”

Terasa sesuatu menggores di dalam dada Arya.

Peperangan adalah peristiwa yang terkutuk. Yang dapat mematahkan cinta antara manusia, cinta antara keluarga, cinta antara suami istri dan anak-anak mereka.

Tetapi gurunya itupun pernah berkata kepadanya, “Arya, ada beberapa tingkat dalam bercinta. Cinta kita kepada sesama, cinta antara pria dan wanita, cinta antara orang tua dan anak-anak, cinta antara manusia. Kemudian meningkatlah cinta kita kepada tanah kelahiran, kepada kampung halaman, kepada tanah air dan bangsa. Tanah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita serta lingkungan hidup di atasnya. Dan tingkat yang tertinggi dari cinta kita adalah cinta kita kepada sumber cinta itu sendiri. Kepada yang memberi kita gairah atas sesama manusia, yang memberikan tanah tumpah darah dan lingkungan hidup di atasnya. Yaitu cinta kita kepada Tuhan itu sendiri. Cinta kita kepada Yang Maha Pencipta. Tak ada yang dapat dipertentangkan dengan cinta kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cinta itu adalah cinta yang paling luhur. Tetapi kadang-kadang kita dihadapkan kepada persoalan yang seolah-olah merupakan pertentangan antara kedua pancarannya. Cinta kita kepada tanah tumpah darah, cinta kita kepada bangsa yang seolah-olah bertentangan kepentingan dengan cinta kita pada kemanusiaan dan manusia.”

“Tidak,” kata gurunya itu, “Kita bisa menempatkan kedua-duanya. Kita harus menempatkan cinta kita kepada tanah tumpah darah berdasarkan cinta kita kepada manusia. Kepada manusia yang akan kita lahirkan. Kepada manusia yang akan mewarisi hidup kita kelak, supaya mereka dapat menikmati hidup mereka. Supaya mereka dapat menikmati cinta yang kudus. Cinta kepada Tuhannya tanpa merasa takut dan cemas. Tanpa terganggu oleh persoalan-persoalan duniawi.”

Arya menarik nafas dalam-dalam. Memang peperangan harus dicegah. Tetapi kalau ia harus pecah, maka hendaknya perang itu dilandaskan kepada kepentingan kemanusiaan. Bukan kepentingan diri dan keinginan-keinginan untuk diri sendiri. Demikianlah kalau peperangan antara laskarnya melawan laskar Pamingit. Perang ini memang dapat menimbulkan perlawanan atas rasa cinta, tetapi ia harus dilandaskan pada kecintaan dan pengabdian yang lebih luhur. Karena itulah maka Arya sadar, bahwa gurunya bukan bermaksud menganjurkan kepadanya untuk menerima nasibnya, nasib rakyatnya. Tetapi gurunya hanya mencoba mencegah timbulnya pertentangan apabila kemungkinan itu masih bisa dicapai.

Tiba-tiba tersentak dari lamunannya, ketika dengan tiba-tiba orang berkuda yang berjalan di mukanya itu mendadak berhenti.

“Ada apa?” ia bertanya. Orang itu menujuk ke depan. Di pojok desa tampaklah beberapa orang berdiri.

Kemudian terdengarlah salah seorang dari mereka berteriak, “Berhentilah di situ.”

Arya kemudian mendorong kudanya, mengambil tempat terdepan. Ia masih maju beberapa langkah. Tetapi kemudian iapun terpaksa berhenti ketika sebuah tombak melayang dan menancap di tanah, hanya dua langkah dari kaki kudanya.

DEMIKIAN asyiknya Arya menganyam angan-angannya, sehingga ia tidak melihat sebelumnya, orang-orang yang menghadang perjalanannya itu.

Ia tahu betul isyarat yang diberikan oleh orang-orang itu. Kalau ia tidak berhenti, maka tombak yang kedua akan diarahkan kepadanya. Karena Arya tidak menghendaki bentrokan terjadi, maka iapun mematuhi isyarat itu.

Ketika rombongan kecil itu telah berhenti, majulah beberapa orang bersenjata mendekati mereka. Sementara itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berada dekat di belakang Arya Salaka. Sedang Wanamerta pun kemudian menempatkan dirinya di samping anak muda yang membawa tombak Kyai Bancak itu. Beberapa orang itu kemudian berdiri mengitari Arya Salaka dan rombongannya, seolah-olah mereka hendak mengepung rapat-rapat.

Salah seorang yang agaknya menjadi pemimpinnya maju selangkah, lalu dengan bertolak pinggang ia berkata, “Siapakah kalian? Kemana kalian akan pergi? Dan apakah maksud kalian?”

Sesaat kemudian Arya Salaka menjawab, “Ki Sanak, kami adalah orang-orang Banyubiru. Adakah Ki Sanak juga orang Banyubiru?”

“Ya,” jawabnya singkat.

“Kalau begitu kalian seharusnya mengenal kami,” sambung Arya.

Orang itu mengangkat alisnya. Tetapi tiba-tiba dari dalam rombongan itu meloncat seseorang sambil berteriak, “Kalian merasa diri kalian orang-orang Banyubiru?”

“Ya,” jawab Arya.

“Aku orang Banyubiru sejak lahir,” katanya lantang penuh kebanggaan.

“Aku percaya, Ira. Kau memang lahir di Banyubiru, dibesarkan di Banyubiru, dan dewasa di Banyubiru,” sahut Wanamerta, “Dan agaknya kau sekarang sedang mencoba untuk membalas budi kepada tanah yang telah memberikan kepadanya makan, di saat lapar dan memberimu air di saat kau haus.”

Orang itu terkejut. Memang matanya agak kurang jelas di dalam gelap, sehingga ia terlambat mengenal Wanamerta. Ketika ia mendengar suara itu, serta suara itu menyebut namanya dengan tepat, barulah ia berusaha mengenalnya baik-baik.

Tiba-tiba terpekik dan berlari memeluk kaki orang tua itu.

“Bukankah Tuan… Kiai Wanamerta?”

“Akulah,” jawab Wanamerta.

“Maafkan aku Kiai. Aku kurang mengenal Kiai di malam yang gelap ini,” kata orang itu.

“He, Ira…” bentak pemimpin rombongan itu, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Orang ini adalah Kiai Wanamerta,” jawab Ira, “Ia adalah tetua tanah perdikan ini.”

“Tidak!” bentak pemimpin itu.

“Tak ada yang pantas disujudi di tanah ini selain Ki Ageng Lembu Sora.”

“Tetapi Kiai Wanamerta adalah emban kepala perdikan ini sejak aku lahir, sejak pemerintahan tanah perdikan ini dipegang oleh Ki Ageng Sora Dipayana.”

“Jangan menggurui aku,” bentak pemimpin itu, yang ternyata orang Pamingit.

“Akupun kenal Kiai Wanamerta. Agaknya benar itulah orangnya. Semula memang aku agak kurang mengenalnya kembali setelah ia menjadi bertambah tua. Tetapi Wanamerta adalah orang yang tak berarti bagi Banyubiru.”

Orang Banyubiru yang bernama Ira itu agaknya kurang senang mendengar kata-kata pemimpinnya itu. Maka iapun berkata, “Jangan berkata begitu. Supaya aku tetap menghormatmu.”

“Apa…?” jawab orang Pamingit itu sambil membelalakkan matanya.

“Kau akan melawan pemimpinmu?”

Oleh bentakan itu, sadarlah Ira, bahwa bagaimanapun juga ia berada di bawah perintah orang Pamingit itu. Karena itu iapun terpaksa berdiam diri menahan hati. Tetapi dengan demikian, sadarlah ia bahwa apa yang dilakukannya selama ini ternyata bertentangan dengan suara hatinya.

Ia hanya sekadar hanyut dalam arus yang tak dimengertinya sendiri. Ia mendengar segala macam ceritera dan caci maki terhadap orang-orang Banyubiru yang tidak mau menerima Lembu Sora memegang pemerintahan atas Pamingit dan Banyubiru.

Pada saat itu ia mengira bahwa orang-orang itu memang benar-benar orang-orang yang akan membuat kacau saja. Apalagi kemudian berita tentang kehadiran Bantaran di tanah lapang di ujung kota, dan membuat onar tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Sebab yang tersiar hanyalah berita tentang Bantaran ngamuk.

Tetapi tak ada yang mengatakan bahwa sebenarnya seorang Pamingit yang buas sedang berusaha untuk merendahkan kehormatan seorang wanita Banyubiru, yang kebetulan wanita itu adalah istri Panjawi.

Disusul kemudian berita tentang Wanamerta, Sendang Papat dan Sendang Parapat, yang seolah-olah merupakan suatu kelompok yang akan merampok keramaian gila-gilaan ditanah lapang yang sama, bahkan kemudian Sendang Papat telah membakar seperangkat gamelan. Juga dalam kabar-kabar yang tersiar itu tak terdapat kata-kata, seorang telah menusuk lambung Sendang Parapat ketika Sendang bersuadara itu sedang melindungi seorang dari kemarahan orang-orang Banyubiru.

Tetapi sekarang ketika Ira berhadapan dengan Wanamerta, tiba-tiba terasa bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Orang seperti Wanamerta ini, tidak akan mungkin melakukan kebiadaban atas rakyat yang dicintainya, atas rakyat yang dibelanya sejak ia menempatkan dirinya di atas segala kepentingan pribadi.

Di dalam gelap malam itu terasa betapa sejuk wajah yang tua itu, dan betapa manis mata itu memandangnya, seolah olah terasa udara sejuk menusuk sampai ke tulang sungsumnya. Berbeda benar dengan pemimpinnya orang Pamingit, yang keras dan kasar itu.

Keadaan yang hening itu tiba-tiba pecah oleh suara bentakan pemimpin rombongan pengawal itu, “Sekali lagi aku bertanya, siapakah kalian selain Kiai Wanamerta?”

Arya mengangguk perlahan, jawabnya lambat, “Aku Arya Salaka.”

“Arya Salaka….” kembali Ira terpekik.

TIBA-TIBA rontoklah hati orang Banyubiru itu setelah berhadapan dengan Arya Salaka, yang selama ini telah dianggap hilang.

Memang ada diantara orang-orang Banyubiru yang dengan sadar menempatkan dirinya diantara orang-orang Pamingit, tetapi orang-orang seperti Ira inipun banyak sekali jumlahnya. Orang yang tak tahu arti perbuatannya sendiri. Tetapi Ira takut pula kepada pemimpinnya. Sebab dengan demikian, ia dapat kehilangan pekerjaan yang dapat dipakainya sebagai alat untuk berbangga diri terhadap kawan-kawannya.

Berbeda dengan orang-orang Pamingit yang lain. Ketika mereka mendengar nama Arya Salaka, merekapun segera mendesak maju.

Pemimpin pengawal itupun kemudian mendengus, “Jadi kaulah orang yang mengaku bernama Arya Salaka?”

“Kenapa mengaku?” tanya Arya.

Orang Pamingit itu tertawa.

Kemudian kepada anak buahnya ia berkata, “Bersiaplah. Ada pekerjaan yang harus kalian lakukan. Inilah dia orangnya yang mengaku bernama Arya Salaka. Tidakkah kalian ingin menangkapnya?”

Para pengawal itupun semakin maju. Beberapa orang yang semula masih berdiri di pojok desa segera mendekat pula dengan senjata terhunus.

“Satu, dua tiga, empat, lima enam.”

Salah seorang diantara mereka menghitung jumlah rombongan kecil itu.

“Hanya enam orang. Aneh, apakah memang mereka ini sedang bunuh diri karena putus asa?”

“Ki Sanak…” kata Arya Salaka tenang, “Jangan mengganggu kami. Sebab kamipun tidak mengganggu kalian malam ini. Kami hanya ingin minta kesempatan menghadap Eyang Sora Dipayana. Sesudah itu kami akan kembali.”

“Apa perlunya kalian menghadap Ki Ageng Sora Dipayana?” tanya pemimpin pengawal itu.

“Sebagai seorang cucu, aku harus berbakti kepadanya,” sahut Arya Salaka.

Orang itu tertawa kembali. Masih dengan bertolak pinggang ia menjawab, “Jangan membuat alasan yang aneh-aneh. Dengarlah anak muda yang menamakan diri Arya Salaka, kalau kau lolos dari penjagaanku ini, kaupun akan binasa di gardu pengawal yang kedua, yang lebih rapat dan keras. Lihat itu, di bawah rumpun wregu di sana. Itulah gardu penjagaan kedua, dan disamping gardu itu pulalah laskar Pamingit bersiap untuk menerima kedatangan laskarmu besok pagi.”

“Tidakkah kita dapat menunda persoalan besok pagi, sampai pada waktunya?” tanya Arya.

“Sekarang aku akan menghadap eyangku sebagai seorang cucu.”

Orang itu menggeleng.

Perintahnya, “Turun dari kuda kalian. Aku harus menangkap kalian, hidup atau mati.”

Diam-diam Wanamerta memanggil kedua orang yang membawa obor untuk mendekat. Setiap saat ia perlukan api obor itu untuk menjalankan panah apinya apabila diperlukan.

Sesaat kemudian terdengarlah orang itu berkata pula, “Duapuluh lima bahu tanah yang akan kami terima apabila kami berhasil menangkap orang yang menamakan diri Arya Salaka.”

Dada Arya Salaka berdesir mendengar kata-kata itu. Namun demikian dengan tersenyum ia berkata, “Ah, betapa mahalnya kepalaku yang tak berarti ini. Duapuluh lima bahu tanah adalah cukup luas. Tetapi kalau yang duapuluh lima bahu itu tanah di sekitar Rawa Pening, maka aku kira kau akan keberatan.”

Tetapi hatinya berkata, “Suatu usaha yang tak kenal kesopanan. Janji itu agaknya telah menutup kemungkinan untuk mengadakan pembicaraan wajar. Mereka pasti akan mencari-cari alasan untuk menimbulkan pertengkaran, dan kemudian menangkapnya hidup atau mati.”

Diam-diam Arya Salakapun menghitung jumlah mereka. Tidak kurang dari limabelas orang. Tetapi sebenarnya limabelas orang itu tak banyak berarti bagi rombongan kecil yang hanya berjumlah enam orang itu.

Terdengar kemudian orang Pamingit yang sudah mulai kehilangan kesabaran itu membentak, “Aku punya wewenang untuk menangkap kau. Kalau mungkin hidup, kalau tidak, matipun tak akan mengurangi hadiah yang sudah dijanjikan.”

“Bagaimana kalau kau yang mati? Adakah kau akan menerima hadiah pula?” Tiba-tiba Wanamerta bertanya.

“Diam!” bentak orang Pamingit itu marah.

“Meskipun tak ada hadiah yang dijanjikan buat kau, namun aku ingin juga menyobek mulutmu itu.”

Wanamerta mengangkat alisnya yang sudah mulai keputih-putihan. Tetapi kesan wajahnya masih tetap saja, sejuk. Bahkan wajah Ira lah yang menjadi tegang mendengar kata-kata kasar dari pemimpinnya itu.

Tetapi sekali lagi ia tidak mau berbuat apa-apa yang dapat merugikan kedudukannya.

Dalam ketegangan itu terdengarlah Wanamerta berkata, “Adakah kau mendengar ceritera tentang tanah lapang beberapa hari lampau? Pada saat itu aku dan Sendang Papat pun telah hampir mati dikeroyok oleh orang-orang Pamingit. Tetapi tiba-tiba datang beberapa orang pemuda. Salah seorang daripadanya dapat memecahkan kepala kuda dengan tangannya. Waktu orang-orang Pamingit keheranan dan ketakutan, ia berkata, “Arya Salaka pun mampu berbuat demikian. Nah, adakah kau dengar. Sekarang biarlah Arya Salaka mencoba. Karena kau bersikap permusuhan biarlah kepalamu saja yang dipecahkan.”

ARYA SALAKA sendiri geli mendengar kata-kata itu, namun ternyata ada juga akibatnya. Memang orang Pamingit itu pernah mendengar peristiwa dari kawan-kawannya. Tanpa sadar Arya Salaka mengamat-amati tangan anak muda itu. Di dalam gelap ia melihat tangan itu tidak lebih dari tangan-tangan yang lain. Tidak sebesar tangan raksasa, dan tidak terbuat dari baja.

“Omong kosong!” Tiba-tiba pemuda itu bergumam, namun hatinya sendiri ragu. Tetapi bukankah ia mempunyai banyak kawan? Dan bukankah dengan memukul kentongan, gardu penjagaan kedua akan memberinya bantuan? Bahkan dengan isyarat ia dapat menyiapkan laskar Pamingit yang nanti tengah malam akan membuat gelar perang, untuk melawan laskar Arya Salaka.

Karena pikiran itu, pemuda itu menjadi tenang kembali.
Dengan beraninya ia berteriak, “Sekali lagi aku peringatkan, turun dari kuda kalian.”

Kali ini agaknya orang Pamingit itu sudah tidak mau berbicara lagi. Mungkin ia akan langsung menyerang atau akan memukul tanda bahaya. Kemungkinan yang kedua itulah yang pasti akan dilakukan segera apabila ia tahu bahwa di dalam rombongan kecil itu ada Mahesa Jenar dan ada orang yang pernah bertempur melawan beberapa orang berkuda sekaligus ditanah lapang, Kebo Kanigara.

Arya Salaka pun tidak mau membuang-buang waktu, sebab tengah malam ia harus sudah berada diantara laskarnya kembali. Karena itu ketika ia sudah tidak mempunyai pilihan lain, kecuali dengan kekerasan atau tindakan-tindakan semacam itu, maka segera iapun meloncat turun. Tetapi demikian ia menjejak tanah, demikian ia melangkah dengan lincahnya menangkap pergelangan orang Pamingit itu.

Orang itu terkejut bukan main. Sama sekali tak diduganya bahwa anak muda itu dapat bergerak sedemikian tangkasnya seperti burung lawet yang menari-nari di udara. Tetapi segala sesuatu telah terlambat. Tangan orang Pamingit itu terasa seperti terhimpit besi. Perasaan nyeri dari pergelangan tangan itu menjalari tubuhnya sampai ke ujung ubun-ubun. Terdengar orang itu mendesah menahan sakit.

Tetapi ia adalah pemimpin rombongan pengawal. Tentu saja ia tidak mau menunjukkan kelemahannya di hadapan anak buahnya. Dengan tangan kirinya ia mencoba menghantam dada Arya Salaka. Arya melihat tangan yang terayun ke arah dadanya. Namun kekuatan orang Pamingit itu sebagian besar telah lenyap karena perasaan sakitnya. Dengan demikian, ayunan tangannya itu sama sekali sudah tak berarti.

Arya Salaka pun sama sekali tidak menghindar ketika dadanya dibentur oleh pukulan itu. Bahkan dengan tertawa pendek ia berkata, “Jangan meronta-ronta anak nakal. Sekali-kali kau perlu mendapat pelajaran.”

Bukan main panasnya hati orang Pamingit itu mendengar kata-kata Arya Salaka. Dengan mengerahkan tenaganya ia berusaha melepaskan tangannya. Tetapi semakin ia berusaha, semakin sakit tangan Arya Salaka menghimpitnya.

Meskipun demikian ia tidak putus asa, dengan kakinya ia mencoba menyerang. Namun dengan satu putaran, ia menjadi tidak berdaya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu seperti terpaku di tempatnya. Mereka seperti melihat pertunjukan yang aneh. Tiba-tiba saja mereka melihat pemimpinnya terpilin tangannya dan kemudian mengaduh tanpa dapat melawan. Ketika mereka sadar, segera merekapun bergerak maju. Mereka sudah siap menyerang bersama-sama.

Tetapi dalam pada itu terdengar Arya berkata, “Tidakkah kau dapat mengajari anak buahmu untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat membawa bencana bagimu?”

Orang Pamingit itu tahu benar maksud Arya Salaka itu. Namun ia masih mencoba menggertaknya, katanya, “Biarlah kau merasakan betapa tajamnya tombak orang-orang Pamingit. Kalau kau tak segera melepaskan tanganku, umurmu akan menjadi semakin pendek.”

Arya Salaka tertawa. “Kau dengar?” katanya kepada para pengawal, “Pemimpinmu akan memberi perintah kepadamu.”

“Bohong,” bantah pemimpin pengawal itu, ia masih akan berkata lagi ketika tiba-tiba Arya menekan lambungnya dengan tangkai tombaknya. Orang Pamingit itu menyeringai kesakitan. Tangkai tombak itu benar-benar menyesakkan nafasnya.

Apalagi ketika terdengar Arya berkata, “Tombak orang Banyubiru agaknya memang tidak begitu tajam seperti tombak orang-orang Pamingit, namun tombak inipun akan dapat merontokkan tulang igamu.”

Ternyata orang Pamingit itu masih sayang kepada tulang iganya. Dengan segan-segan ia terpaksa berkata agak keras, “Jangan berbuat sesuatu demi keselamatanku.”

Para pengawal itupun tertegun. Mereka jadi bingung, apa yang akan mereka lakukan. Kalau mereka menyerang bersama-sama, mungkin pemimpinnya itu akan mati. Tetapi kalau mereka tidak berbuat apa-apa, bukankah mereka telah berbuat kesalahan, dan sekaligus mimpi mereka tentang tanah yang duapuluh bahu itu akan lenyap?

Dalam keraguan itu terdengarlah Arya berkata, “Dengarlah para pengawal yang belum mengenal kawan-kawan seperjalananku. Kecuali aku dan Eyang Wanamerta terdapat juga seorang yang pernah kau dengar namanya, yaitu Paman Mahesa Jenar. Di sampingnya adalah orang yang pernah menggemparkan tanah lapang itu pula. Ketika itu orang-orang Pamingit mencoba menangkap Bantaran.”

Pemimpin pengawal itu menggeliat.

“Setan!” Ia mengumpat di dalam hati. Pada saat itu iapun ikut serta mengeroyok orang itu. Tetapi tidak kurang dari sepuluh orang berkuda sama sekali tak berhasil menangkapnya. Bahkan beberapa orang kawannya telah jatuh menjadi korban. Sedang para pengawal yang lainpun pernah juga mendengar ceritera itu dari kawan-kawan mereka atau dari pemimpinnya itu.

“Masihkah kalian akan melawan kami?” tanya Arya Salaka.

MEREKA diam seperti patung. Ternyata di dalam rombongan itu terdapat orang-orang yang bagi mereka hanya pernah mereka kenal sebagai tokoh-tokoh dalam ceritera-ceritera kepahlawanan yang sakti tiada taranya.

Hanya pemimpin rombongan pengawal itu sajalah yang benar-benar menyaksikan betapa Kebo Kanigara bertempur melawan mereka. Karena itu nafsu perlawanan merekapun menjadi lenyap.

Mereka memang dapat memukul tanda bahaya, dan mengundang kawan-kawan mereka dengan tanda-tanda itu. Namun melawan tokoh-tokoh sakti yang seolah-olah sudah bukan manusia biasa lagi, mereka agaknya menjadi segan, sebab sebelum kawan-kawan mereka datang, nyawa mereka pasti sudah beterbangan.

Arya Salaka merasakan betapa dalam pengaruh kata-katanya itu. Karena itu segera ia mempergunakan kesempatan. Katanya, “Ki Sanak. Marilah antarkan aku sampai ke rumah Paman Lembu Sora. Bukankah sudah tidak begitu jauh lagi? Setidak-tidaknya untuk melampaui gardu penjagaan dan tempat-tempat pemusatan laskar Pamingit itu.”

Pemimpin rombongan itu menggeram. Ia menjadi marah sekali. Tetapi tak satupun yang dapat dilakukan. Sebab ia tahu benar, bahwa tombak anak muda itu setiap saat dapat menembus jantungnya. “Marilah…” kata Arya, “Berkuda bersama-sama dengan aku.”

Sungguh suatu pekerjaan yang tak menyenangkan. Tetapi ia masih ingin dapat melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit biru. Karena itu ia tidak membantah. Selagi ia masih hidup, ia masih mempunyai harapan untuk melepaskan diri. Dengan langkah yang kosong pemimpin pengawal itu didorong oleh Arya Salaka ke kudanya untuk kemudian meloncat ke punggung kuda itu dan menaikinya bersama-sama. Kemudian kuda-kuda itupun bergerak.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan jiwamu?” bisik Arya kepada orang Pamingit itu. Orang itu tidak menjawab. Tetapi kupingnya serasa tersentuh api.

Meskipun demikian ia berkata, “Jangan berbuat sesuatu, supaya aku tidak memecatmu.”

“Padamkan obor,” perintah Arya seterusnya. Ketika obor-obor mereka telah padam, mereka meneruskan perjalanan mereka yang penuh dengan bahaya. Sebab mereka sama sekali tidak menduga bahwa telah diundangkan suatu hadiah yang menarik untuk menangkap Arya Salaka. Hal itu akan sangat mempengaruhi cara berpikir orang-orang Pamingit dan orang-orang Banyubiru yang berhati goyah.

Sementara itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memuji di dalam hati mereka. Ternyata Arya memiliki ketangkasan berpikir yang cukup. Dalam keadaan yang demikian, ia dapat mengatasinya tanpa banyak keributan. “Pandai juga anak itu menghemat tenaga,” bisik Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar tersenyum sambil mengangguk, jawabnya, “Agaknya ia tidak mau merepotkan orang-orang tua ini.”

Kemudian mereka berdiam diri, Wanamerta berada rapat di belakang Arya Salaka. Dua orang yang membawa obor itupun kemudian dipanggilnya mendekat.

“Sediakan titikanmu,” perintah Wanamerta. “Setiap saat kita perlukan api. Kalau keadaan memburuk harus kita kirimkan tanda-tanda dengan panah sendaren dan panah api.”

Orang itupun segera menyediakan titikan, emput dan dimik belerang. Supaya dalam keadaan yang tergesa-gesa mereka dapat segera menyalakan tanda-tanda apabila diperlukan.

“Kalau terjadi perkelahian jangan hiraukan lawan-lawan kita, tugasmu menyalakan api.” Wanamerta meneruskan.

“Baik Kiai,” jawab orang itu. Perjalanan menyusur tepi desa itu semakin lama semakin dalam masuk kota Banyubiru. Meski demikian alangkah sepinya. Tak ada nyala api sama sekali dalam rumah-rumah di tepi jalan. Agaknya mereka dalam ketakutan yang sangat. Atau barangkali rumah-rumah di tepi jalan itu sudah tidak berpenghuni. Barangkali mereka telah mengungsi jauh-jauh untuk menghindarkan diri dari rumah-rumah mereka yang mungkin akan menjadi ajang perang yang mengerikan.

Orang-orang Pamingit ternyata tidak mempunyai kebesaran tekad seperti orang-orang Banyubiru. Mereka sedikit banyak menggantungkan pekerjaan yang dilakukan pada upah yang mereka terima. Mereka bekerja pada Lembu Sora bukanlah karena jiwa pengabdian mereka kepada tanah kelahiran mereka, atau kepada suatu keyakinan mereka terhadap kebenaran yang dapat diperjuangkan oleh para pemimpinnya.

Mereka bekerja bukan semata-mata karena para pemimpinnya, tetapi mereka bekerja semata-mata karena mereka menerima upah. Itulah sebabnya orang Pamingit yang berkuda bersama-sama dengan Arya itupun lebih senang memelihara hidupnya daripada melakukan tugasnya dengan jantan. Ia masih mengharap untuk dapat hidup dan melepaskan diri. Pekerjaannya kemudian hanyalah mereka-reka alasan untuk membebaskan dirinya dari kemarahan atasannya.

Ketika kuda-kuda itu menjadi semakin dekat dengan gardu penjagaan, hati orang itupun menjadi semakin gelisah. Apakah yang akan dikatakan kepada mereka kalau orang-orang di gardu penjagaan itu menghentikan rombongan ini. Sedang kalau mereka akhirnya tahu, bahwa rombongan ini terdiri dari Arya Salaka dan kawan-kawannya, maka mereka pasti akan mengambil tindakan. Dengan demikian, maka jiwanyapun terancam pula oleh ujung tombak Arya Salaka.

Karena itu,demi keselamatan diri, ia berkata perlahan-lahan, “Kita ambil jalan simpang.”

“Jangan menjebak kami,” sahut Arya Salaka.

“Aku belum gila,” bantah orang itu.

“Apakah yang akan kau katakan di hadapan gardu itu nanti kalau kita melewatinya?” 

“Itu bukan urusanku tetapi urusanmu kalau kau masih ingin hidup seterusnya,” jawab Arya

“Karena itu, kita lewat jalan simpang yang sempit disamping pohon Wregu itu,” sahut orang itu.

“Apakah tidak mencurigakan?”, tanya Arya.

“Lebih aman bagimu,” jawab orang Pamingit itu.

“Dan bagimu juga,” Arya meneruskan sambil tertawa.

Tiba tiba terdengar dari gardu penjagaan yang sudah tidak jauh lagi sebuah teriakan,”He, kemana arah angin?”.

Arya tahu bahwa kata-kata itu adalah pertanyaan sandi. Ketika orang Pamingit itu belum menjawab, Arya meneruskan ujung tombaknya sambil berbisik,” terserah kepadamu.”

Orang itu semakin marah, tetapi mulutnya berteriak juga untuk keselamatannya, “Kelaut!”.

“Dimana letak bintang Waluku?” terdengar suara dari Gardu.

“Tenggara”, jawab orang Pamingit itu.

“He!,” kembali orang di gardu berteriak, “Siapa kau?”

Dari gardu pertama mengantar orang Banyubiru yang meninjau medan,” jawab orang yang berkuda bersama Arya itu berteriak.

“Kenapa lewat jalan sempit itu?,” bertanya suara itu pula.

“Ia akan singgah kerumahnya sebentar. Makan dan mengambil kambingnya yang tertinggal ketika keluarganya mengungsi,” jawabnya.

Orang di gardu itu diam. Mereka membiarkan rombongan itu lewat meskipun didalam hati bertanya tanya, “kenapa demikian banyak?,” Tetapi karena mereka dapat menjawab kata kata sandi itu, maka merekapun menjadi tidak bercuriga. Bahkan kemudian terdengar salah seorang berteriak,” Bawa kambing kemari, kita panggang disini.”

“Baik,” jawab orang Pamingit itu.

Dengan demikian, mereka selamat melampau penjagaan itu. Mereka menyususup jalan sempit kemudian lewat beberapa halaman, mereka sampai ke jalan kecil yang lain.

“Terimakasih,” bisik Arya, “Kau adalah penunjuk jalan yang baik. Tetapi dimanakah pemusatan laskar Pamingit?”

“Sudah lampau. Diseberang gardu penjagaan tadi,” jawabnya.

Arya percaya. Ita tertawa dalam hatinya. Beginilah nilai kesetiaan orang Pamingit. Mereka tidak lebih daripada laskar bayaran yang tak kenal pengabdian.

Ketika mereka sudah mencapai jalan kecil itu, segera Arya mengenalnya, kemana ia harus pergi.

Tetapi meskipun demikian ia masih belum melepaskan orang pamingit itu.

Suara telapak kuda terdengar gemeretak diatas tanah yang berbatu padas. Didalam malam yang sepi terdengar seperti suara prajurit yang berpuluh jumlahnya maju ke medan perang.

Tiba tiba ketika mereka masih asik berangan angan tentang diri masing masing, terdengarlah dari arahgardu pertama, suara kentongan yang berbunyi dua kali tiga ganda, sehingga orang dalam rombongan berkuda itu menjadi terkejut karenanya.

Orang Pamingit itu menjadi gelisah. Siapakah yang telah memberikan tanda. Bahkan kemudian tanda itu disaut oleh gardu kedua.

“Tanda bahaya?” desis orang Pamingit itu.

“Bahaya apa?,” desak Arya.

“Mereka bersiap siap,” jawabnya.

“Bohong,” potong Arya Salaka, “mereka memberi tanda bahwa ada musuh masuk kedalam pertahanan mereka.”

Orang Pamingit itu diam. Keringat dinginnya mengalir membasahi punggungnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak buahnya akan membunyikan tanda itu, yang baginya adalah tanda bahwa maut telah menerkamnya. Tiba tiba terasa tengkuknya meremang seperti dirayapi oleh berjuta-juta semut. Apalagi ketika ujung tombak Arya semakin lekat di lambungnya.

“Kau masih menduga bahwa tombak orang Banyubiru tidak setajam tombak orang Pamingit?, tanya Arya.

Orang Pamingit yang semula marah itu kemudian kehilangan kemarahannya, bahkan dengan menggigil ia menjawab: “Tidak, tidak. itu samasekali bukan salahku. Aku melarang mereka untuk berbuat hal yang tidak kalian kehendaki.”

“Bohong!,” bentak Arya, “kau pasti memberikan tanda tanda rahasia kepada mereka.”

“Tidak, tidak,” orang itu benar benar menggtigil. Ia masih senang untuk tetap hidup. Apalagi upahnya bulan ini masih belum diterimanya sama sekali. Alangkah mengerikannya kalau malam ini ia terpaksa mati. Lalu bagaimana dengan anak isterinya?.

“Bukan, bukan salahku. Aku masih ingin hidup. Bukankah aku telah membawa kalian melampaui gardu kedua?”

Arya harus cepat mengambil keputusan. Suara kentongan itu menjadi semakin merata. Untunglah bahwa ia sudah mengenal jalan jalan di Banyubiru itu dengan baik. Karena itu, segera ia mengambil keputusan untuk secepat cepatnya sampai kerumah pamannya. Mudah mudahan pamannya dapat mengerti alasan kedatangannya dan dapat menerimanya untuk beberapa saat saja, untuk berbakti kepada kakeknya dan apabila mungkin membawa ibunya keluar dari sarang sarang orang orang licik itu. Sebab tidak mustahil kalau ibunya akan dijadikan kambing hitam kemarahan pamannya, atau malahan dijadikan tanggungannya.

“Kita harus sampai secepatnya,” katanya kepada Wanamerta.

Orang Pamingit itu menjadi semakin gemetar……

ORANG Pamingit itu menjadi semakin gemetar. Seolah-olah ujung tombak Arya itu telah masuk sejari ke dalam perutnya.

“Bagaimana dengan kau?” bentak Arya kepada orang Pamingit itu.

“Bukan salahku. Aku masih ingin hidup,” pintanya dengan suara menggigil ketakutan.

Arya menjadi kasihan juga melihat orang itu.

“Anakku lima orang,” sambungnya, “Yang terkecil baru berumur 3 bulan. Hidupilah aku. Aku akan tunduk segala perintahmu.”

Kata-kata itu meluncur saja tanpa terkendali. Meskipun hatinya sendiri merasa ragu. Sebab kalau ia menghadapi keadaan seperti itu, pasti orang itu akan dibunuhnya. Karena itu ia mencoba meyakinkan, “Anak-anakku akan kelaparan kalau aku mati. Aku tidak punya sawah dan istriku bukan juragan. Karena itu aku harus bekerja menjadi laskar Ki Ageng Lembu Sora, meskipun itu bertentangan dengan jiwaku sendiri. Sebenarnya aku….”

Orang itu tidak sempat menyelesaikan kata-kata ketika tiba-tiba ia merasa tangan Arya mendorongnya. Ia merasa terlempar dari punggung kuda itu dan sekali terguling. Kemudian ia hanya dapat menyaksikan kuda-kuda itu berlari semakin kencang dan meninggalkan kepulan debu yang putih. Untuk beberapa saat ia masih duduk di tanah. Nafasnya bergelora tak teratur. Namun ketika ia meraba lambungnya, dan tidak terdapat luka sama sekali, ia menarik nafas dalam-dalam. Rupa-rupanya ia masih tetap hidup.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata kepada diri sendiri, “Agaknya anak itu benar-benar tidak mau membunuh aku. Aneh.”

Suara derap kuda itupun menjadi semakin lambat dan akhirnya menghilang di kejauhan. Orang Pamingit itu berdiri perlahan-lahan. Punggungnya terasa sakit. Agaknya ia benar-benar jatuh terbanting. Namun ia masih tetap hidup. Tiba-tiba ia menjadi sangat terharu. Ia masih mempunyai harapan untuk bertemu dengan anak istrinya. Mudah-mudahan kalau besok benar-benar terjadi pertempuran, ia dapat hidup pula. “Tuhan Maha Pengasih,” desisnya.

Ia terkejut sendiri mendengar kata-katanya. Sudah berapa tahun ia tidak pernah menyebut nama Tuhan. Dan tiba-tiba ia berjanji pada diri sendiri, kalau ia masih dikaruniai umur panjang, ia akan rajin mengunjungi masjid. Bahkan ia berjanji untuk memperbaiki masjid di desanya yang selama ini tak terpelihara.

Ketika ia sedang mengusap air matanya yang tiba-tiba saja membasahi pipinya, tiba-tiba terdengarlah hiruk pikuk. Ia mendengar langkah orang berlari-lari. Dari tikungan muncullah beberapa orang bersenjata dan langsung datang kepadanya.

“Siapa kau?” bentak salah seorang.

“Srengga,” jawab orang Pamingit itu.

“Apa kerjamu di sini?” tanya orang itu pula. Orang Pamingit itu menjadi bingung. Lalu ia menjawab saja sekenanya, “Aku terjatuh di sini, lihat ini luka di kakiku.”

“Terjatuh dari mana?” tanya orang itu. Srengga semakin bingung ketika tiba-tiba seseorang bertanya, “Kau yang melampaui gardu kedua bersama-sama dengan orang-orang Banyubiru?”

“Ya,” jawabnya kosong.

Akhirnya ia sadar bahwa ia harus menyelamatkan diri pula. “Aku ditipunya.”

“Bohong,” bentak orang itu.

“Anak buahmu datang kepada kami dan menceriterakan apa yang sudah terjadi.”

Dada orang itu berdesir. Namun ia masih mencoba untuk mengurangi kesalahannya.

Katanya, “Nah, kalau kau sudah tahu kenapa kalian bertanya. Coba katakan kepadaku kalau salah seorang dari kalian mengalami keadaan seperti yang aku alami. Apa yang akan kalian lakukan? Membunuh diri dan membiarkan orang itu lari sesudah mengetahui keadaan medan? Apakah kalian dengan kaki-kaki kalian dapat mengejar derap lari kuda mereka?”

“Pengecut,” bentak salah seorang.

“Berapakah jumlah mereka? Dan berapakah jumlah kalian di gardu pertama?”

“Jumlah kami ada 15 orang,” jawab Srengga.

“Limabelas orang dengan orang-orang seperti Ira, Prana, Wreditama yang hanya bisa jual tampang, Sungsang yang bermata merah tetapi takut melihat darah.”

“Dipimpin oleh Srengga, yang lebih senang memeluk daging panggang daripada senjatanya,” potong seseorang.

“Jangan banyak bicara,” Srengga mulai marah.

“Kau belum tahu siapa mereka. Coba katakan berapa orang di gardu kedua? Berapa?”

“Juga 15 orang. Tetapi 15 orang di gardu kedua tidak takut melawan limabelas orang berkuda. Jangankan empat,” jawab yang ditanya.

“Omong kosong,” bentak Srengga.

“Dengar. Dengan apa yang telah aku lakukan, aku telah menyelamatkan kalian. Kau tahu siapa yang berkuda tadi?”

Orang-orang dari gardu kedua itu tertawa terbahak-bahak. Salah seorang berkata mengejek, “Menyelamatkan kami? Apakah yang empat orang itu terdiri dari jin? Atau setan, hantu… atau tetekan?” “Lebih dari itu,” potong Srengga.

“Mereka adalah Arya Salaka.”

“He…?” semuanya terkejut mendengar nama itu. “Kalau benar kau benar-benar gila. Duapuluh lima bahu dijanjikan untuk menangkapnya, hidup atau mati. Dan duapuluh lima bahu itu kau sia-siakan?” “Aku belum selesai,” sahut Srengga, “Yang lain adalah Kiai Wanamerta, yang mempunyai takaran tiga empat orang darimu.”

“Masih cukup banyak?” sela seseorang.

“Yang lain lagi…,” Srengga meneruskan, “Orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar.” “Mahesa Jenar…?” Mereka berbareng mengulang.

“Ya,” jawab Srengga.

“Dan yang seorang lagi adalah orang yang melindungi Bantaran di tanah lapang beberapa minggu yang lalu.”

ORANG dari gardu kedua itu tiba-tiba terdiam.

“Nah…” Srengga meneruskan, “Hitunglah berapa orang harus disiapkan untuk melawan mereka. Paling-paling kalian hanya berani melawan orang-orang yang membawa obor itu. Mahesa Jenar dan yang seorang lagi, ditambah dengan Arya Salaka agaknya akan dapat membunuh kami tigapuluh orang tanpa kesukaran sebelum kami sempat memukul tanda bahaya.”

Mereka masih tetap diam. Srengga merasa bahwa orang-orang itu membenarkan sikapnya.
Katanya meneruskan, “Nah, aku bekerja dengan otakku. Aku tidak melawan mereka. Aku antarkan mereka masuk lebih dalam ke daerah Banyubiru. Maksudku aku akan membawanya ke alun-alun. Di sana laskar kita akan berpesta. Bukankah Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti, dan kalau perlu Ki Ageng Sora Dipayana ada?”

Orang dari gardu itu mengangguk-angguk.

Salah seorang dari mereka berkata, “Agaknya kau pandai bersiasat, Srengga.”

“Itulah,” jawab Srengga, “Karena ketololan kalian dengan membunyikan tanda-tanda itu, mereka melarikan diri. Aku dilemparkan dari punggung kuda tanpa dapat berbuat sesuatu.”

“Ke mana mereka?” tanya orang-orang dari gardu kedua.

“Kau akan mengejar mereka?” tanya Srengga pula.

Orang-orang di gardu kedua itu diam.

“Kembalilah ke gardu kalian.” Tiba-tiba Srengga memerintah. “Aku akan kembali ke garduku. Lupakan mimpi burukmu. Tanah duapuluhlima bahu itu. Sebab kalau kepalamu telah terpisah dari lehermu, kau tidak akan dapat menikmatinya.”

Srengga tidak menunggu jawaban. Ia langsung kembali ke gardunya. Di sepanjang jalan sempit itu tiba-tiba ia teringat pada kata-katanya sendiri. Kalau Arya Salaka pergi ke alun-alun, ia benar-benar dapat dikeroyok oleh laskar Pamingit, bahkan mungkin dengan Lembu Sora dan Sawung Sariti.

Tanpa sadar, merayaplah suatu perasaan yang belum pernah dirasakan Srengga sebelumnya. Ia tiba-tiba merasa cemas terhadap keselamatan lawannya. Baru kali ini hal itu terjadi. Namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali tanpa sadar pula ia berdoa di dalam hatinya, semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi Arya Salaka dan kawan-kawannya.

Dalam pada itu, laskar Banyubiru yang sedang beristirathat tidak jauh dari perbatasan kota, mendengar pula tanda-tanda yang dibunyikan oleh orang-orang Pamingit di Banyubiru. Demikian mereka mendengar bunyi itu, demikian mereka menjadi gelisah. Sebelum pemimpin-pemimpin mereka memberikan perintah apapun, mereka telah menyiapkan diri. Semua orang di dalam pasukan itu, apalagi orang-orang yang telah dipilih oleh Sendang Papat untuk menjadi pelopor laskarnya, telah bersiap diri. Mereka berdiri tegak dengan tekad yang teguh memandangi lambung bukit di hadapannya. Di leher mereka melingkar kain putih memplak bergambar gajah berwarna kuning emas sebagai pertanda kesediaan mereka untuk mati bagi tanah mereka.

Yang paling depan dari mereka itu adalah Sendang Papat sendiri. Tangannya yang gemetar telah melekat di tangkai pedangnya. Tetapi ia belum melihat tanda apapun. Ia belum mendengar bunyi sendaren atau melihat panah api naik ke udara. Namun karena itulah ia menjadi semakin gelisah, jangan-jangan Arya Salaka tidak sempat memberikan tanda-tanda itu.

“Mustahil,” gumamnya. Di sayap kiri, Bantaran pun menjadi gelisah. Meskipun Ki Dalang Mantingan tampaknya tenang-tenang saja, namun di dalam dadanya pun bergolak perasaan cemasnya, dan di tangannya tergenggam erat-erat trisulanya.

Di sayap kanan, Penjawi berjalan hilir mudik di hadapan anak buahnya yang telah memegang senjata masing-masing. Wirasaba duduk di atas sebuah batu, dan meletakkan dagunya pada tangkai kapaknya. Sesekali dua kali ia menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menekan hatinya yang gelisah. Namun merekapun belum melihat tanda apapun yang melontar ke udara.

Sedang pada saat itu kuda Arya Salaka beserta rombongan meluncur lewat jalan-jalan sempit di dalam kota. Mereka menjadi semakin dekat dengan alun-alun Banyubiru, tempat Arya bermain pada masa kanak-kanaknya. Suara kaki-kaki kuda itu berderak-derak memukul jalan-jalan berbatu memecah sepinya malam.

Beberapa orang yang masih tinggal di rumah masing-masing menjadi semakin ngeri. Seolah-olah mereka mendegar gemuruhnya gunung yang meledak di hadapan mereka. “Adakah laskar Arya Salaka telah datang…” bisik mereka.

Seorang ibu sambil memeluk anaknya di pembaringan bergumam, “Apakah kira-kira yang akan terjadi…?”

Suaminya, lelaki tua yang duduk di sisinya menjawab lirih, “Pertempuran akan berkobar di perbatasan. Mudah-mudahan mereka tidak akan menginjak halaman rumah kita.”

LELAKI tua itu berdiri dan berjalan ke amben di sebelah. Ia melihat selosin anak-anaknya yang lain sedang tidur nyenyak. Ia menarik nafas panjang. Kalau rumahnya itu terpaksa dibakar orang, entah orang Pamingit entah orang Banyubiru, dan dirinya sendiri terpaksa diseret di sepanjang jalan, entah oleh orang Pamingit entah oleh oleh orang Banyubiru, lalu apakah yang akan terjadi dengan anak-anak itu.

Peperangan adalah sesuatu yang terkutuk. lebih-lebih bagi anak-anak. Anak-anak yang ingin menikmati kebesaran alam, yang diperuntukkan bagi mereka oleh Maha Penciptanya. Dalam bentrokan-bentrokan yang demikian itu segala sesuatu dapat terjadi. Orang yang tangannya telah dibasahi darah, kadang-kadang menjadi kehilangan kesadaran. Orang-orang yang dalam hidupnya sehari-hari tidak sampai hati membunuh seekor tikus pun, dalam peperangan kadang-kadang akan dapat melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Membunuh, menyiksa dan bahkan terhadap anak-anak.

Di rumah sebelah, lelaki tua itu mendengar tangis bayi melengking-lengking. Tanpa sesadarnya ia menoleh kepada anak kecilnya yang tidur di pelukan ibunya.

“Jangan menangis,” desisnya kepada anak yang tidur itu. Anak itu memang tidak menangis. Tetapi hati lelaki itulah yang menangis.

Istrinya tahu bahwa suaminya sedang berpikir tentang bayi yang menangis itu, katanya, “Mengungsi di rumah sebelah.”

Suaminya tidak menjawab. Perlahan-lahan ia duduk di amben beserta empat anak-anaknya tidur berjajar. Wajah anak-anak itu tampak bersih bening; sebening udara pagi hari. Tetapi mereka besok akan menggigil ketakutan; seandainya perang benar-benar berkobar di perbatasan.

Suara kaki-kaki kuda Arya masih menggemuruh, seperti suara guruh yang menjalar sepanjang jalan, menuju ke alun-alun. Dalam kegelapan malam, Arya tidak sempat melihat apakah di alun-alun itu banyak berjaga-jaga laskar Lembu Sora. Yang dilakukan adalah menerobos alun-alun itu tepat di tengah-tengah. Di antaranya sepasang beringin, yang tumbuh di tengah-tengah alun-alun itu. Agaknya alun-alun itu memang sepi. Laskar Lembu Sora hampir seluruhnya telah dikerahkan di pemusatan-pemusatan laskar di garis pertempuran.

Namun di muka rumahnya, Arya masih melihat segerombolan orang yang agaknya bertugas menjaga rumah itu. Mereka telah berada dalam kesiagaan penuh, ketika mereka mendengar tanda kentongan yang mengumandang di garis perbatasan. Ketika mereka mendengar derap kuda mendekati, merekapun segera memencar. Dari ujung alun-alun itupun muncul pula segerombolan laskar cadangan.

Tetapi demikian mereka siap, demikian Arya telah berada di hadapan hidung mereka. Ketika ujung-ujung senjata mengarah kepadanya, Arya menghentikan kudanya. Demikian juga orang-orang lain dalam rombongan itu.

Dengan tangan kirinya, Arya memegang tombak kebesarannya, sedang tangan kanannya diangkatnya tinggi-tinggi, sebagai suatu pertanda bahwa ia datang untuk tujuan tanpa kekerasan. Sebelum mendengar sebuah pertanyaan pun, para penjaga agaknya telah mengenal beberapa orang diantara rombongan itu.

Wanamerta dan Mahesa Jenar. Karena itu mereka menjadi sangat berhati-hati. Salah seorang dari mereka kemudian melangkah maju. Ia berhenti beberapa langkah di hadapan kuda Arya. Dengan seksama ia mencoba memperhatikan anak muda itu. Tetapi malam cukup gelap dan cahaya obor di kejauhan hanya samar-samar sampai.

Sedang Arya Salaka telah lenyap beberapa tahun semasa ia masih terlalu kecil untuk datang dengan tombak di tangan. Sekarang, di punggung kuda itu duduk seorang anak muda yang perkasa. Karena itu orang itu tidak segera dapat mengenal, bahwa anak muda yang memegang tombak itu adalah Arya Salaka.

Kemudian terdengarlah suara orang itu dengan garangnya, “Siapakah kau yang datang bersama-sama dengan Kiai Wanamerta dan Mahesa Jenar?”

Arya Salaka tersenyum. Ia kenal orang itu. Ketika masa kecilnya ia sering datang ke Pamingit, dan pernah dikenalnya pengawal pribadi pamannya itu.

Jawab Arya, “Selamat malam Paman Wulungan. Apakah Paman lupa kepadaku?”

Wulungan mengerutkan keningnya.

Sekali lagi ia mengamat-amati anak muda itu.

Namun sampai beberapa lama ia masih belum dapat mengenalnya kembali.

Tetapi akhirnya ia tidak perlu mengingat-ingatnya. Ia dapat bertanya kepadanya. Tidakkah mustahil bahwa di Banyubiru dan Pamingit ini semua orang mengenalnya sebagai seorang yang dipercaya untuk menjadi pemimpin pengawal pribadi Lembu Sora beserta keluarganya? Karena itu sekali lagi ia berkata garang, “Jawab pertanyaanku. Siapakah kau?”

Arya masih tersenyum.

Namun ia menjawab, “Arya Salaka.”

“He…?” Orang itu terkejut, “Jadi kaukah Angger Arya Salaka?”

“Ya,” jawab Arya.

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya.

Untuk beberapa saat ia terbenam dalam ingatannya beberapa tahun yang lalu. Ia selalu baik dan hormat terhadap anak ini, sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora.

Tiba-tiba kali inipun ia bersikap hormat pula.

Sambil mengangguk ia berkata, “Aku benar-benar pelupa. Tetapi Angger telah tumbuh demikian cepatnya.”

Tiba-tiba ia ingat akan tugasnya. Ia ingat tentang apa yang dikatakan Lembu Sora kepadanya, bagaimanakah ia harus bersikap terhadap keturunan Gajah Sora atau pengikut-pengikutnya.

Karena itu dengan tiba-tiba pula ia mengubah sikapnya. Ia mencoba untuk berkata dengan garang seperti semula, meskipun kewibawaan

Arya mempengaruhinya.

“Jadi kau yang menamakan diri Arya Salaka?”

Arya sudah tidak tersenyum lagi.

Ia melihat perubahan sikap itu.

Dengan tenang ia menjawab, “Ya. Akulah Arya Salaka.”

“Apa perlumu datang kemari?” Wulungan bertanya.

“Aku ingin mengunjungi Kakek Sora Dipayana,” jawab Arya.

“Kau datang dengan laskarmu?” tanya orang itu pula.

Kembali Arya tersenyum, jawabnya, “Sebagaimana Paman Wulungan lihat. Aku datang hanya berenam.”

WULUNGAN mengerutkan keningnya. Arya Salaka memang hanya berenam. Tetapi ia menegaskan, “Siapakah yang berbaris rapat di perbatasan?”

“Laskarku,” jawab Arya Salaka pendek.

“Apakah dengan demikian kau hanya berenam saja?” tanya Wulungan mendesak.

“Kalau aku datang dengan seluruh laskarku, maka pertempuran pasti sudah berkobar,” jawab Arya.

“Bukankah maksudmu memang demikian?” sahut Wulungan.

Arya memandang Wulungan dengan seksama. Perubahan sikapnya yang tiba-tiba, serta pertanyaannya yang mendesak, mengingatkannya kepada kata-kata Srengga di gardu pertama. “Duapuluhlima bahu buat menangkap Arya Salaka. Hidup atau mati.”

“Janji yang terkutuk,” desis hatinya.

Kemudian kepada Wulungan ia berkata, “Memang. Maksudku adalah kembali ke Banyubiru. Disetujui atau tidak oleh Paman Lembu Sora. Karena itu pertempuran bisa saja berkobar setiap saat. Nah, sebelum aku dibunuh atau membunuh, aku ingin menghadap Eyang Sora Dipayana untuk menyampaikan baktiku sebagai seorang cucu, serta mohon restu sebelum aku mulai dengan tugas beratku ini.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menahan napasnya mendengar jawaban Arya Salaka. Agak terlalu keras. Namun mereka cukup mengerti, bahwa Arya berbicara dengan Wulungan, pimpinan laskar pengawal pribadi Lembu Sora, tidak lagi kepada Srengga. Dengan demikian Arya tidak perlu terlalu banyak merendahkan dirinya.

Terhadap orang seperti Wulungan, Arya memang harus mempertegas maksudnya. Tetapi berbeda dengan dugaan Arya Salaka, Wulungan tidak mendesaknya lagi seperti semula. Di dalam dada orang itu, timbullah kembali rasa hormatnya.

Memang Arya Salaka sejak kecil menunjukkan sifat jantannya. Dengan demikian maka Wulungan menjadi percaya, bahwa Arya Salaka itu benar-benar Arya Salaka yang dikenalnya pada masa kecilnya.

Karena itulah, maka ia menjadi lunak.

Permintaan Arya untuk bertemu dengan eyangnya bukanlah permintaan yang berlebih-lebihan. Apakah yang akan dilakukan, kalau ia hanya datang berenam? Di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana yang sakti, Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, mereka pasti tidak akan dapat berbuat sesuatu kecuali benar-benar seperti apa yang dikatakan, mohon restu dan menyampaikan bakti seorang cucu.

“Angger Arya Salaka…” jawab Wulungan, “Permintaan Angger akan kami sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Terserah keputusan yang akan diambilnya. Menerima atau tidak menerima kehadiran Angger.”

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, dan Wanamerta menarik nafas panjang mendengar keputusan Wulungan.

Terdengar Arya Salaka perlahan-lahan berkata, “Terimakasih Paman Wulungan.”

Tetapi ketika Wulungan memanggil seseorang untuk menyampaikan pesan itu kepada Ki Ageng Sora Dipayana, terdengarlah suara tertawa nyaring, meskipun tidak terlalu keras.

Kemudian dari dalam regol halaman terdengar suara, “Agaknya kau mempunyai pimpinan baru Paman Wulungan.”

Wulungan terkejut seperti juga Arya Salaka, Wanamerta, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Karena itu tiba-tiba Wulungan terhenti di tempatnya seperti patung. Perlahan-lahan ia menoleh dan mencoba melihat, siapakah yang berkata itu, meskipun dengan mendengar suaranya ia sudah dapat menebaknya.

Sesaat kemudian muncullah seorang anak muda dengan pedang yang besar di pinggangnya. Sawung Sariti.

Wulungan mengangguk hormat kepadanya, dan bertanya, “Apakah maksud Angger?”

“Akulah yang berhak memberikan perintah, mengubah dan mencabut perintah, selain ayah Lembu Sora,” katanya.

“Apa perintahku yang aku ulangi sore tadi?” Wulungan menarik nafas panjang, sebab tiba-tiba nafasnya terasa berhenti di kerongkongan.

Terhadap Sawung Sariti sebenarnya Wulungan agak kurang senang. Sikapnya yang sombong, keras dan menghina orang lain. Meskipun anak muda ini berhati baja pula. Namun ia merasakan perbedaan sifat antara kedua anak muda yang kebetulan dua bersaudara sepupu. Tetapi ia adalah pimpinan laskar pengawal pribadi Lembu Sora. Karena itu ia harus menjalankan pekerjaannya baik-baik.

Maka jawabnya, “Angger memerintahkan, tak seorangpun boleh memasuki kota, apalagi halaman rumah ini.”

“Bagus,” sahut Sawung Sariti sambil menarik bibirnya. “Apa yang akan Paman kerjakan?” “Mencoba menyampaikan pesan angger Arya Salaka untuk Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Wulungan.

“Bagaimanakah seharusnya Paman menjawab?” desak Sawung Sariti.

“Menolak permintaan itu,” jawab Wulungan.

Namun ia meneruskan, “Tetapi ia adalah Angger Arya Salaka, yang sekadar ingin bertemu dengan kakeknya.”

“Justru ia menamakan diri Arya Salaka!” bentak Sawung Sariti. Wulungan terdiam. Ia tahu sifat anak muda itu. Ia biasa membentak-bentaknya di hadapan laskarnya dengan kata-kata yang menyakitkan hati.

Bahkan kemudian Sawung Sariti berkata, “Malahan ayah Lembu Sora menyanggupkan hadiah duapuluhlima bahu bagi mereka yang dapat menangkap anak muda yang menamakan diri Arya Salaka. Nah sekarang anak itu telah datang menyerahkan dirinya.”

Wulungan masih terdiam. Duapuluhlima bahu baginya sama sekali tidak berarti. Di Pamingit ia memiliki tanah yang berlebihan. Bahkan tenaganya tak mampu lagi untuk menggarap seluruhnya. Namun yang penting baginya, sikap yang demikian bukanlah sikap yang jantan. Bukankah Arya Salaka dengan jantan datang tanpa pasukan untuk menyampaikan sujudnya kepada kekeknya? Meskipun kakeknya berada di pusat kekuasaan lawannya.

Tetapi kemudian ia mencoba untuk melupakan tanggapannya itu. Bukankah sudah sekian lama ia sendiri hanyut dalam arus ketidakjantanan sikap Lembu Sora? Akhirnya ia sadar bahwa sikap Sawung Sariti lah yang telah mendesaknya untuk menilai kembali setiap perbuatan yang pernah dilakukan.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

1 Komentar

  1. sandi said,

    Kamis, 10 Maret 2011 pada 14:06

    karya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: