Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 15

Lanjutan dari jilid 14

WANAMERTA kembali melanjutkan kata-katanya, “Kau agaknya telah terjerumus ke dalam kekuasaan nafsu duniawi. Tetapi kau tak akan pernah merasa bahagia karenanya. Bahagia yang abadi. Kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pengabdian kepada titah yang dikasihi-Nya, manusia. Dengan demikian hidupmu akan menjadi terasing. Terasing dari rasa kasih. Kasih antara manusia dan kasih yang dilimpahkan Tuhan kepadamu. Karena itulah maka kau semakin dalam membenamkan dirimu ke dalam timbunan benda-benda serupa itu.”

Sontani merasa seolah-olah terlempar ke dalam suatu keadaan yang tak dikenalnya. Hitam dan kelam. Tetapi di titik yang sangat jauh tampaklah cahaya yang terang menyorot langsung ke dalam jiwanya. Cahaya itu semakin lama menjadi semakin tenang, bahkan kemudian ia menjadi silau karenanya.

Akhirnya sekali lagi ia bertiarap di hadapan kaki Wanamerta. Kali ini ia benar-benar tak dapat menahan keharuannya. Sontani, yang pernah menjabat Bahu pedukuhan Lemah Abang, yang pernah dengan kekerasan mendesak kedudukan Kiai Bakung itu, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dengan keduabelah tangannya ia menutup wajahnya. Ia menjadi sangat malu karena usahanya untuk menyuap Wanamerta. Wanamerta sadar bahwa kata-katanya tepat menyentuh perasaan Sontani, maka ia meneruskan, “Sontani. Pulanglah. Bawalah benda-benda yang sama sekali tidak berarti bagiku itu. Kembalikan mereka kepada yang berhak dengan bijaksana. Cepatlah sebelum Arya Salaka datang dan melihat caramu yang sama sekali tidak disukainya itu. Ia masih terlalu muda untuk dapat berbuat seperti aku.”

Sontani perlahan-lahan bangkit dan duduk bersila di hadapan orang tua itu. Anak-istrinya yang gelisah, memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam kepalanya. Ketika detak jantung Sontani telah menjadi tenang kembali, maka hatinya menjadi tenang. Tiba-tiba ia menjadi tidak takut lagi kepada Wanamerta, juga kepada Arya Salaka. Tidak takut untuk menerima dendamnya. Di dalam dadanya, kini tersimpanlah suatu tekad untuk menebus nodanya. Meskipun seandainya ia harus digantung di tengah-tengah beringin kurung. “Kiai…” katanya kemudian, “Aku akan pulang ke Lemah Abang. Aku akan coba untuk memenuhi pesan Kiai Wanamerta. Menyerahkan kembali barang-barang ini kepada yang berhak. Seterusnya, seandainya Anakmas Arya Salaka datang, dan menghendaki hukuman atas pengkhianatanku, aku tidak akan membela diri. Apapun yang akan ditimpakan atasku, akan aku jalani dengan ikhlas, meskipun seandainya aku akan dihukum mati.”

Wanamerta menggeleng. Jawabnya, “Percayalah Sontani. Darah Banyubiru bukanlah darah yang haus akan pembalasan dendam dan pembunuh. Mungkin kau akan terbunuh oleh pedang yang bersarang di dalam dadamu, seandainya kau tetap pada pendirianmu. Tetapi kau telah menemukan jalan kembali. Kembalilah. Tuhan Maha Pengampun.”

Sekali lagi Sontani bersujud di hadapan Wanamerta. Tetapi Wanamerta menahannya, dan dengan ramah ia berkata, “Jangan bersujud kepadaku. Duduklah bersama anak dan istrimu, aku akan duduk bersama-sama dengan kalian.”

Tetapi Sontani menolaknya. Ia akan meninggalkan pendapa itu sebelum Arya Salaka datang seperti yang dinasihatkan oleh Wanamerta. Sehingga dengan demikian iapun segera minta diri beserta anak-istrinya yang sama sekali tidak mengerti persoalan yang bergolak di dada suaminya.

Sepeninggal Sontani, kembali Wanamerta membaringkan dirinya untuk beristirahat. Terbayanglah betapa kemunduran lahir dan batin dari tanah perdikan ini. Sontani adalah salah satu dari sekitar banyak orang yang kehilangan kepribadiannya. Mungkin masih banyak orang lain yang justru lebih parah daripadanya.

Ketika kemudian ia tertidur karena lelahnya, mendadak ia terbangun oleh derap kaki kuda. Cepat ia bangkit dan meloncat ke pintu. Ia masih sempat melihat seekor kuda lari dengan kencangnya memasuki halaman. Kemudian seorang pengawal meloncat turun dan langsung datang kepadanya. Dengan tergesa-gesa pengawal itu berkata, “Kiai, laskar di perbatasan bergerak mendekati kota.”

Wanamerta tidak terkejut karenanya. Ia tahu persis, laskar Arya Salaka yang akan membantu mengamankan kota. Karena itu ia bertanya, “Semua…?”

“Tidak Kiai,” jawab orang itu. “Hanya sebagian.”

“Kau tahu, siapa pemimpinnya?” tanya Wanamerta pula.

“Entahlah,” jawab orang itu sambil menggeleng.

“Jemputlah mereka, dan bawalah mereka kemari,” kata Wanamerta kemudian.

Orang itu ragu sebentar, tetapi kemudian iapun segera berangkat melakukan perintah itu. Di sepanjang jalan, hatinya diliputi oleh kecemasan, seperti pada saat ia melihat laskar Pamingit meninggalkan kota.

Apakah yang akan dilakukan oleh laskar di perbatasan itu atasnya, dan atas orang-orang Banyubiru yang lain, yang ikut serta dalam kelaskaran Lembu Sora…? Ketika ia melewati gardu penjagaan kedua, tiga orang yang bertugas di gardu itu telah menghilang. Pengawal berkuda itu tahu bahwa mereka akan berusaha menyembunyikan diri mereka, karena mereka takut akan pembalasan. Dengan demikian pengawal itu menjadi semakin ragu. Dalam keraguan itu kudanya berlari terus. Maka sebelum ia mengambil keputusan, pengawal itu telah sampai di gardu pertama. Ia menjadi berlega hati ketika di gardu itu, masih dilihatnya empat orang berjaga-jaga.

Untuk meyakinkan pendiriannya, pengawal itu berhenti sejenak.

Kepada orang-orang di gardu itu ia berkata, “Gardu kedua telah kosong.”

“Kosong?” tanya orang-orang di gardu pertama itu.

“Kenapa?”

“Aku kira mereka takut,” jawab pengawal berkuda itu.

“Takut apa?” tanya orang-orang di gardu.

“Kalau laskar Arya Salaka itu datang, ada kemungkinan mereka akan ditangkap dan dihukum. Juga kita semua,” jawabnya.  

TIBA-TIBA salah seorang dari mereka berempat itu tertawa. Dengan lantang ia berkata, “Jangan takut. Mereka tidak akan berbuat apa-apa selama mereka masih berada di bawah pimpinan Arya Salaka.”

“Kau yakin?” tanya pengawal berkuda itu.

“Jangankan kita, orang-orang Banyubiru. Terhadap orang Pamingit pun Arya Salaka tidak berbuat sesuatu.

Pimpinan gardu ini semalam telah mengalami perlakuan yang tak disangka-sangka dari Arya Salaka. Meskipun orang itu dibawa serta, namun ia akhirnya kembali dengan selamat, justru pada saat kita telah memukul tanda bahaya untuk menangkap anak muda itu.” Pengawal yang masih duduk di atas kudanya itu masih ragu-ragu juga. Ia mendatangi orang yang berceritera itu, yang tidak lain adalah Ira, dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Sehingga terdengar Ira menjelaskan, “Aku menjadi jaminan bagi kalian. Kalau orang-orang yang ikut serta dalam laskar Arya Salaka itu mendendam kalian, akulah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan.”

Orang yang bertugas untuk menjemput laskar yang semakin lama semakin dekat itupun menjadi percaya, meskipun hatinya masih gelisah.

“Baiklah…” katanya, “Mudah-mudahan katamu benar.”

Kemudian ia memacu kudanya kembali, ke arah kepulan debu putih di depan mereka. Kuda itupun melemparkan debu yang putih pula, yang kemudian lenyap dihembus angin pegunungan. Semakin dekat orang berkuda itu dengan barisan yang mendatang, hatinya menjadi semakin gelisah. Ketika kudanya telah berada beberapa ratus langkah lagi, ia menghentikannya. Kembali ia menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan orang-orang yang berada di dalam barisan itu akan bersama-sama menyerangnya dan beramai-ramai mencincangnya sebagai seorang pengkhianat.

Tetapi kalau diingatnya kata-kata Ira, ia menjadi agak tenang. Demikianlah ketika barisan yang mendatang itu sudah semakin dekat, orang itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia tidak sedang menggenggam senjata. Di ujung barisan itu, seorang anak muda yang duduk di atas punggung kuda mengangkat tangannya pula. Melihat anak muda itu, dada pengawal itu berdesir.

Ia tidak salah lagi. Pasti anak muda itulah Arya Salaka. Dengan demikian ia menjadi berdebar-debar. Di samping anak muda itu, dilihatnya seorang gadis yang juga duduk di punggung kuda. Tetapi ketika ia melihat seorang yang berjalan dibelakangnya, kembali ia menjadi gelisah. Orang itu adalah Bantaran. Ketika barisan itu sudah semakin dekat lagi, meloncatlah ia turun dari kuda, dan dengan hormatnya ia membungkukkan dirinya. Arya memandang orang itu dengan seksama. Ia pun mengangguk.

“Tuan…” kata pengawal itu dengan hormatnya, “Aku menjalankan perintah Kiai Wanamerta untuk menjemput Tuan, dan membawa Tuan ke halaman rumah Ki Ageng Lembu Sora.”

Arya menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Haruskah aku pergi ke Pamingit?” Pengawal itu menjadi heran, jawabnya, “Tidak Tuan. Rumah Ki Ageng Lembu Sora di Banyubiru.”

“Adakah Ki Ageng Lembu Sora mempunyai rumah di Banyubiru?” tanya Arya.

“Ada Tuan, di sebelah alun-alun,” jawab pengawal itu. Ia menjadi bingung oleh pertanyaan Arya. “Rumah itu adalah rumahku. Bukan rumah Ki Ageng Lembu Sora,” jawab Arya.

Berdentanglah jawaban Arya Salaka itu ditelinganya. Benar, rumah itu memang milik rumah Ki Ageng Gajah Sora. Maka dengan cepatnya ia membetulkan kata-katanya, “Tuan benar. Kiai Wanamerta menunggu Tuan di rumah Tuan sendiri.”

“Apakah kau dari laskar Paman Lembu Sora?” tanya Arya. Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah karena kesalahannya. Sebab selama ini ia memang menganggap bahwa rumah itu adalah rumah Ki Ageng Lembu Sora. Pengawal itu menjadi gelisah. Badannya mulai dialiri oleh keringat dingin dari punggungnya. Ternyata dalam keadaan yang sulit itu ia kurang berhati-hati. Ia merasa bahwa ia telah menggali lubang untuk dirinya sendiri. Akhirnya ketika ia tak dapat berbuat lain maka iapun menjawab, “Ya, Tuan.” Suaranya gemetar.

Kini ia tinggal menunggu apakah yang akan dilakukan oleh anak muda itu, atau oleh orang yang berdiri di belakangnya, atau oleh seluruh barisan itu. Mungkin mereka akan melemparinya dengan batu sampai mati, atau mungkin mengikatnya di belakang kuda itu dan menariknya sepanjang jalan. Tetapi kalau demikian, ia tidak berteriak di gardu pertama, bahwa Ira-lah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan. Ketika untuk beberapa saat Arya Salaka masih berdiam diri, ia menjadi semakin tegang dan gelisah. Sekali-kali ia mencuri pendang ke arah wajah anak muda itu, namun ia tidak dapat mengetahuinya, apakah yang tersirat di wajahnya itu.

Tiba-tiba di dalam kegelisahannya ia mendengar jawaban yang mengejutkan, bahkan hampir tak dipercayainya.

“Marilah. Naiklah ke punggung kudamu. Berjalanlah di depan.” Untuk sesaat ia terpaku. Dengan termangu-manggu ia memandang Arya Salaka yang masih duduk di atas kudanya dengan tenang. Ketika tampak wajah anak muda itu tanpa berkesan kemarahan, barulah ia percaya pada telinganya.

Perlahan-lahan ia mendekati kudanya, dan meloncat ke atasnya. Karena getar kakinya, maka barulah loncatan kedua ia berhasil duduk di punggung kudanya. Kemudian perlahan-lahan pula ia memutar kuda itu dan berjalan mendahuluinya. Kembali barisan itu berjalan maju mendekati kota. Akhirnya mereka sampai juga di gardu pertama. Keempat penjaganya berdiri berjajar dengan tegak. Ira lah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka, sehingga meskipun dengan gemetar mereka tidak melarikan diri.

Arya melihat keempat orang itu. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia segera dapat mengenal Ira. Dengan tersenyum ia berkata, “Ira, tidakkah kau ikut Paman Lembu Sora ke Pamingit?”

IRA membungkuk hormat.

Lalu jawabnya, “Tidak Tuan. Aku lebih senang menunggu kedatangan Tuan di sini.”

“Terima kasih,” jawab Arya, “Agaknya Paman Lembu Sora memang tak memerlukan kau.”

“Aku bersenang hati kalau demikian,” jawab Ira.

“Tetapi kau tidak akan bersenang hati kalau itu terjadi kemarin atau lusa,” sahut Arya Salaka.

Ira diam. Memang ia tidak akan bersenang hati. Sebab dengan demikian berarti ia kehilangan mata pencahariannya. Sungguh lucu. Tetapi ia diam saja. Ia tidak berkata apa-apa ketika Arya menjadi bertambah jauh. Ia melihat di belakang Arya Salaka itu seorang yang baginya sangat menakutkan. Bantaran. Mudah-mudahan Bantaran pun tidak mendendamnya. Akhirnya barisan itu sampai juga di halaman rumah kepala perdikan Banyubiru.

Wanamerta menerima mereka dengan perasaan lega. Kalau ada apa-apa kini, ia tidak cemas lagi.

Segera dipersilakannya Arya Salaka naik ke pendapa. Di samping Arya Salaka, duduk dengan wajah yang cerah, putri Kebo Kanigara, Endang Widuri. Ia mendapat izin dari ayahnya untuk mengikuti anak muda itu mengantarkan laskarnya ke Banyubiru.

Kemudian Bantaran duduk bersama mereka. Sesudah mereka mengadakan pembicaraan singkat, segera Bantaran membagi pekerjaan kepada laskarnya yang berjumlah 100 orang itu. Mereka disebar di seluruh kota dengan pesan, pekerjaan mereka adalah mengamankan dan melindungi rakyat Banyubiru. Bukan menakut-nakuti.

Terhadap laskar Banyubiru yang ditinggalkan oleh Lembu Sora, mereka harus bersikap baik. Dengan demikian mereka harus memberi kesan, bahwa kehadiran mereka benar-benar memberikan suasana baru. Suasana yang tenang, tentram dan damai.

“Kalian kali ini adalah tenaga-tenaga suka rela untuk membantu Ki Ageng Lembu Sora menjaga ketentraman tanah ini. Namun kalian harus menunjukkan bahwa kalian mempunyai tanggungjawab atas pekerjaan kalian. Kalian harus membuktikan bahwa jiwa kalian berbeda dengan jiwa laskar Ki Ageng Lembu Sora sendiri. Junjung tinggi namamu dan nama pemimpinmu.”

Arya Salaka menekankan setiap kata kepada laskarnya. Ketika laskar itu mulai berpencaran, terdengarlah suara riuh hampir di seluruh jalan-jalan di dalam kota. Rakyat Banyubiru menyambut kedatangan laskar itu dengan keriangan yang bergelora. Mereka melihat laskar yang berjalan dalam kelompok-kelompok kecil itu sebagai pelindung mereka. Kecuali laskar yang diserahkan kepada Wanamerta, yang dipimpin langsung oleh Bantaran, Arya Salaka telah menugaskan Penjawi dan Jaladri untuk pergi ke Pamingit. Mereka mendapat tugas untuk mengetahui, sampai di mana kekuatan golongan hitam. Mereka harus menyaksikan pertempuran yang terjadi antara laskar Lembu Sora dan laskar hitam, dan kemudian kembali kepada Arya Salaka untuk melaporkan hasilnya.

Malam itu Arya dan Endang Widuri bermalam di rumah Arya yang telah ditinggalkan hampir enam tahun. Banyaklah yang dapat diceriterakan kepada gadis itu tentang rumah ini. Ia dapat menunjukkan di mana ia pada saat itu berhasil membunuh seorang yang akan mengambil pusaka-pusaka simpanan ayahnya, namun ia sendiri terpukul dan pingsan karenanya. Ia dapat menunjukkan pula, ke mana ia melarikan diri ketika tiba-tiba rumah ini diserang oleh laskar yang tak dikenalnya. Ketika ia telah berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tiba-tiba ia dikeroyoknya. Untunglah Penjawi datang tepat pada saatnya.

Widuri mendengarkan ceritera itu, dengan penuh minat. Ia menjadi terharu mendengarkan ceritera pengalaman yang pernah dijalani oleh Arya Salaka pada umurnya yang masih sangat muda.

“Kalau malam ini mereka datang kembali…” kata Arya Salaka, “Aku tak perlu berlari-lari lagi.”

“Kau telah merasa dirimu tak terkalahkan? sahut Widuri.

“Tidak,” jawab Arya. “Sebab sekarang ada kau. Bukankah kalungmu itu menakutkan orang?” Widuri mencibirkan bibirnya, katanya kepada Wanamerta yang duduk bersama mereka, “Apakah Eyang takut juga kepada kalungku ini?”

Wanamerta tertawa. Jawabnya, “Aku tidak. Sebab aku tak bermaksud jelek. Entahlah cucu Arya Salaka.”

“Ah…” Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah. Ia tidak tahu apa sebabnya. Sedang Arya pun tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ketika keadaan menjadi sepi, terdengarlah di kejauhan gonggong anjing liar yang berkeliaran di lereng-lereng pegunungan. Dari selatan mengalirlah angin pegunungan membawa udara yang sejuk.

“Cucu Widuri…” kata Wanamerta kepada gadis lincah itu, “Aku persilakan Cucu beristirahat di ruang sebelah. Biarlah aku dan Cucu Arya Salaka berjaga-jaga di sini.”  

WIDURI memang sudah ngantuk. Karena itu segera iapun berdiri dan masuk ke ruang di dalam rumah itu. Ia sama sekali tidak takut, karena di luar berjaga-jaga Arya Salaka, Wanamerta dan Bantaran. Sedang di halaman belakang pun ada beberapa orang yang mengawal. Sementara itu di perbatasan, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba dan para pemimpin laskar Banyubiru yang lain sedang sibuk menyalakan api untuk mematangkan kijang hasil buruan mereka.

Tidak jauh dari perapian itu, Rara Wilis bertiduran di atas rumput-rumput kering sambil menganyam angan-angan. Sekali-kali angan-angannya itu membumbung tinggi, membelit di antara bintang-bintang di langit, namun sekali-kali ia terlempar kembali ke dunianya kini. Berbaring di antara batang-batang ilalang. Di antara laskar yang bersiaga penuh untuk bertempur. Entah besok, entah lusa. Kemudian apakah sesudah pertempuran itu berakhir ia masih dapat menikmati gemerlapnya bintang di langit…?

Atau kalau Tuhan masih mengurniakan umur panjang kepadanya, apakah ia masih dapat bertemu dengan Mahesa Jenar…? Rara Wilis tiba-tiba tersentak karena angan-angannya sendiri. Tidak sengaja ia memandang ke perapian. Dilihatnya di antara mereka, seorang yang selama ini mengikat hatinya. Tetapi laki-laki itu tidak menoleh kepadanya. Bahkan ia masih asyik menikmati daging kijang yang kadang-kadang diselingi oleh tertawanya yang riang.

Agaknya Ki Dalang Mantingan adalah orang yang cukup jenaka, sehingga mereka tertawa-tawa karena kelucuannya. Rara Wilis menarik nafas panjang. Sebagai seorang gadis ia kadang-kadang ditakut-takuti oleh umurnya yang bertambah-tambah dari hari ke hari. Apakah ia harus berjalan dari satu padang rumput ke padang rumput yang lain? Dari satu perkelahian ke perkelahian yang lain sepanjang hidupnya…? Tidakkah pada suatu saat ia akan dihadapkan kepada suatu kuwajiban yang seharusnya dijalani oleh setiap wanita…?

Rara Wilis pada suatu saat pasti ingin melepaskan pedang dari pinggangnya dan menggantinya dengan pisau dapur yang sederhana. Ia pada suatu saat pasti ingin melepaskan ikat pinggang kulitnya, yang kasar, dimana pedangnya selalu menggantung, dan menggantinya dengan selendang yang halus untuk mengemban bayinya.

Ya. Ia rindukan masa yang berbahagia. Masa ia tidak bermain-main dengan nyawanya, tetapi bermain-main dengan anaknya. Akhirnya, sebagai seorang manusia yang lemah, ia hanya dapat memanjatkan doa kepada Kekuasaan Yang Tertinggi, mudah-mudahan sampailah ia pada saatnya, diperkenankan menikmati hidup ini sebagai manusia biasa, sebagai wanita biasa.

Ketika sekali lagi ia memandang ke perapian, ia masih melihat mereka yang duduk melingkari perapian itu bersenda-gurau. Karena itu iapun terbawa pula oleh suasana yang gembira itu. Sehingga kemudian ketika ia mendengar Ki Dalang Mantingan berjenaka, ia pun tersenyum sendiri.

Di langit, bintang gemintang satu-satu berjalan di dalam garis edarnya. Sedang mega putih yang membayang di selatan, sebagai selimut yang putih, menaburi punggung bukit Telamaya. Malam itu berjalan setapak demi setapak menjelang pagi. Baik yang berada di Banyubiru maupun yang berserak-serak di perbatasan. Meskipun tidak meninggalkan kewaspadaan, namun mereka dapat menikmati istirahat malam itu dengan baiknya. Mereka sadar bahwa bahaya pasti tidak akan datang. Baik dari laskar Lembu Sora maupun dari laskar golongan hitam. Sebab mereka selambat-lambatnya petang tadi, pasti sudah saling berhadapan. Bahkan mungkin bagian-bagian dari laskar mereka sudah terlibat dalam bentrokan-bentrokan.

Perhitungan mereka itupun benar. Tak ada apapun yang terjadi sampai matahari muncul di timur, diantar oleh kicauan burung-burung liar yang hinggap di cabang-cabang pohon perdu.

Ketika Mahesa Jenar membuka matanya, setelah beberapa saat ia tertidur dalam kehangatan perapiannya, ia terkejut melihat sesosok tubuh yang berdiri tidak jauh darinya. Dalam keremangan cahaya pagi, dilihatnya bayangan itu menggeliat dengan nyamannya, kemudian tampaklah dadanya yang segar menggelombang dalam tarikan nafas pagi.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar bangkit. Seperti terpaku ia melihat bayang-bayang yang mengesampingkannya. Ia menjadi heran sendiri. Seperti kisah dalam mimpi, bahwa di tengah-tengah padang ilalang itu, dapat ditemuinya keindahan yang sempurna menurut selera hatinya. Ketika bayangan itu perlahan-lahan melangkahkan kakinya, Mahesa Jenar bangkit berdiri. Agaknya bayangan itu mendengar desis kakinya sehingga terputarlah wajahnya, memandang Mahesa Jenar yang berjalan perlahan-lahan mengikutinya.

“Bintang pagi masih bersinar di tenggara,” tegur Mahesa Jenar dalam nada yang rendah. Rara Wilis tersenyum.

“Tetapi matahari telah meninggalkan peraduannya.” Mahesa Jenar menengadahkan wajahnya, memandang matahari pagi yang masih kemerah-merahan. Sambil tersenyum pula ia berkata, “Ia akan datang pada saat ia harus datang.”

“Dan ia akan pergi pada saat ia harus pergi,” sahut Wilis.

“Peredaran jinantra alam yang tak terkendalikan oleh kekuatan apapun, selain oleh Maha Penciptanya,” kata Mahesa Jenar.

“Karena itu, milikilah yang harus kau miliki,” potong Wilis.

“Matahari…?” tanya Mahesa Jenar sambil tersenyum. “Ya,” jawab Wilis “Matahariku adalah mataharimu,” kata Mahesa Jenar pula. Keduanya tersenyum. Hanya mereka berdualah yang dapat merasakan betapa indahnya senyum mereka masing-masing. Seindah bintang pagi di tenggara, seindah matahari pagi di puncak bukit.

“Aku akan mencuci muka di mata air sebelah,” kata Rara Wilis kemudian. “Pergilah. Aku akan menyiapkan api,” jawab Mahesa Jenar.

RARA WILIS berjalan semakin cepat. Di pinggangnya masih tergantung pedang tipisnya. Mahesa Jenar memandangi bayangan itu sampai hilang di balik sebuah batu padas. Disanalah Rara Wilis mendapatkan mata air yang kecil.

Hari itupun tak mereka jumpai persoalan-persoalan yang penting. Bahkan mereka dapat hilir-mudik dari perbatasan masuk ke dalam kota. Kebo Kanigara telah menjemput puterinya, sedang Mahesa Jenar dan Arya Salaka malam berikutnya bermalam di Banyubiru. Seperti malam kemarin. Malam inipun berlalu begitu saja. Namun mereka mengharap bahwa hari berikutnya Penjawi dan Jaladri telah dapat datang kembali dengan keterangan-keterangan yang mereka perlukan.

Sebelum fajar menyingsing di pagi yang dingin, datanglah orang yang mereka harap-harapkan itu. Derap dua ekor kuda yang lari dengan kencangnya, memukul-mukul jalan yang berbatu-batu menuju ke rumah kepala daerah perdikan Banyubiru. Para pengawal perbatasan segera berloncatan dari gardu mereka yang bersiaga. Tetapi ketika mereka melihat Penjawi dan Jaladri yang duduk di punggung-punggung kuda itu, maka mereka biarkan berlalu. Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki kuda itu seperti tumbuh dari dalam tanah, sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh di dalam dada para pengawal itu.

Kabar apakah yang dibawa oleh Penjawi dan Jaladri…?

Arya Salaka dan Mahesa Jenar pun kemudian mendengar derap kuda yang semakin dekat. Segera mereka bangkit dari pembaringan mereka sambil menebak-nebak, siapakah orang-orang yang berkuda di pagi-pagi buta ini. Demikian juga Wanamerta dan Bantaran yang berada di pendapa pun segera bersiaga. Kalau-kalau ada sesuatu yang tak mereka harapkan terjadi. Tetapi hati mereka menjadi kendor kembali setelah mereka melihat Penjawi dan Jaladri masuk ke halaman. Demikian ketika kuda-kuda itu berhenti, berloncatanlah mereka turun dan langsung naik ke pendapa. Tampaklah wajah-wajah mereka yang kotor karena debu yang tak sempat mereka usap. Sedang di punggung membekaslah keringat mereka yang mengalir deras. Namun demikian tampaklah senyum mereka membayang di bibir mereka.

Wanamerta menerima mereka dengan tergopoh-gopoh. Dipersilahkanlah mereka duduk, dan kepada seorang pelayan, Wanamerta minta untuk segera disediakan bagi mereka, minum yang hangat.

“Terima kasih Kiai,” kata Penjawi di antara desah nafasnya yang mengalir cepat.

“Selamatkah kalian?” tanya Wanamerta kemudian. “Baik Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan. “Syukurlah,” sambung Wanamerta. Bersamaan dengan itu muncullah Mahesa Jenar dan Arya Salaka lewat pintu pringgitan. Mereka langsung duduk di hadapan Penjawi dan Jaladri. Dari wajah-wajah kedua orang itu, Mahesa Jenar dan Arya Salaka mendapat kesan, bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang berat. Merekapun kemudian menanyakan keselamatan kedua orang itu.

“Perjalanan yang menyenangkan.”

Namun terdengarlah suara itu amat perlahan-lahan. Dengan senyum lucu Jaladri memandang Penjawi, sambil menyebut, “Cemasnya yang tak terduga-duga.” Yang mendengar ikut tersenyum pula. “Kalian tentu punya ceritera yang panjang,” kata Arya Salaka. “Tetapi aku lihat kalian tak sempat mandi di perjalanan. Karena itu, apabila keadaan tidak mendesak, mandilah kalian dahulu. Kemudian setelah makan pagi, biarlah kalian berceritera panjang lebar. Akan aku panggil semua pimpinan laskar Banyubiru, Paman Kebo Kanigara, Bibi Wilis dan Endang Widuri. Aku kira mereka akan senang pula mendengar ceriteramu.”

“Baiklah,” jawab Penjawi.

“Kami akan mandi dahulu, makan pagi, lalu kami akan berceritera, supaya ceritera kami tidak terlalu banyak tertinggal.” Jaladri tertawa, sambungnya, “Urutan yang bijaksana,” Kemudian setelah minum teh hangat dengan gula aren, Penjawi dan Jaladri segera turun ke mata air di sebelah rumah itu. Mereka mendapat pinjaman beberapa potong pakaian untuk mengganti pakaian yang telah basah oleh keringat, dan kotor oleh debu tebal.

Dalam kesempatan itu, Arya Salaka telah memerintahkan untuk menjemput para pemimpin laskar Banyubiru yang berada di perbatasan, termasuk Mantingan dan Wirasaba. Ketika matahari telah naik di ujung cemara, pendapa Banyubiru itupun telah dipenuhi oleh para pemimpin laskar Banyubiru. Mereka semua mengharap dapat mendengarkan langsung ceritera Penjawi dan Jaladri. Meskipun masih agak payah, di pendapa itu hadir juga Sendang Parapat. Penjawi dan Jaladri duduk berjajar di samping Arya Salaka. Kemudian duduk pula Wanamerta, Bantaran, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri.

“Nah…” kata Arya Salaka kemudian, “Mulailah dengan kisah cemasmu.”

Penjawi membetulkan letak duduknya, sambil menarik nafas ia berkata, “Baiklah. Setelah perutku kenyang, ingatanku menjadi baik, sehingga banyaklah yang akan aku ceriterakan kepada kalian.” Yang hadir di pendapa itu telah siap untuk mendengar apakah yang telah terjadi di Pamingit.  

PENJAWI segera mulai ceritanya, “Lusa aku dan Adi Jaladri berangkat ke Pamingit, beberapa saat setelah Ki Ageng Sora Dipayana meninggalkan Banyubiru. Namun demikian, kami masih dapat mendahului laskar Pamingit itu. Kami titipkan kuda kami dirumah paman Derpa, dan mulailah kami dengan pekerjaan kami. Ki Ageng Lembu Sora ternyata benar-benar seorang yang memiliki ketangkasan berpikir. Kami terkejut ketika kami diketahui, bahwa beberapa bagian laskarnya langsung menerobos lewat Randu Putih, dan menduduki Kepandak. Sedang induk pasukannya masih tetap menuju pusat pemerintahan Pamingit, dan setelah terlibat dalam bentrokan tak berarti, induk pasukan itu bermalam di Sumber Panas. Ini adalah suatu keadaan yang sama sekali tak diduga oleh golongan hitam. Karena itu, dengan mudahnya mereka dapat didesak dari tempat-tempat itu. Tetapi karena itu pulalah maka mereka agaknya menjadi marah. Menjelang pagi, aku dan adi Jaladri melihat-lihat pertempuran yang akan berkobar di Kepandak. Kami berjanji bahwa malam hari kami bertemu di rumah Paman Darpa, setelah kami mendapat gambaran dari kedua garis pertempuran itu. Pekerjaan kamipun menjadi agak sulit, sebab kami tidak mau diketahui oleh kedua belah pihak. Untunglah bahwa aku dapat menghubungi beberapa orang Banyubiru yang berada di dalam Laskar Lembu Sora, ketika mereka sedang mengambil air untuk keperluan laskar itu. Tetapi pekerjaan Adi Jaladri agak lebih sulit.”

Penjawi berhenti sejenak. Ia memandang kepada Jaladri, katanya, “Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripada Adi sendiri. Nah ceriterakanlah.”

Jaladri mengangguk. Sambil tertawa kecil ia berkata, “Bukan lebih sulit. Tetapi aku justru lebih beruntung.”

Jaladri berhenti sebentar lalu meneruskan, “Pagi-pagi buta aku mencoba untuk mencari tempat yang baik. Aku ingin tahu, siapakah yang berada di dalam kedua pasukan yang akan bertempur itu. Tetapi baru saja aku mendapat tempat yang baik menurut pikiranku, tiba-tiba terdengar suara berdesir di belakangku. Aku terkejut, dan aku menjadi berdesir ketika tiba-tiba aku ketahui, menurut ciri-ciri yang pernah aku dengar, seorang tua, bertubuh bongkok dengan wajah yang mengerikan.”

“Bugel Kaliki?” potong Wanamerta.

“Ya, Bugel Kaliki,” sahut Jaladri. “Dengan mata yang mengandung kebencian ia memandang kepalaku. Akhirnya ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, – “Hai kelinci yang malang. Siapakah namamu, dan apakah kerjamu di sini?” – Aku menjadi gemetar. Aku tahu siapakah orang itu. Karena itu tiba-tiba terbayanglah di dalam otakku, gambaran Yamadipati datang untuk menagih janji. Mengambil kembali nyawa yang dititipkan di dalam raga ini.”

“Apa yang dikerjakan oleh hantu itu? – bertanya Sendang Papat tidak sabar.

“Menakut-nakuti aku,” jawab Jaladri. “Dan aku benar-benar takut kepadanya. Apalagi kemudian ia bertanya kepadaku pula – Kenalkah kau kepadaku?” “Aku tahu bahwa aku bukan musuhnya. Karena itu aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera aku menarik kerisku, dan langsung aku menusuk ke arah telungkup. Nah, kau lihat jalur-jalur di mukaku ini?”

“Tetapi kau tetap hidup,” sela Bantaran ingin tahu.

“Ya. Aku tetap hidup,” sambung Jaladri, “Bukan karena aku sekarang telah mampu melawan Bogel Kaliki, atau aku dapat melepaskan diri dari tangannya.”

“Ya. Lalu kenapa?” Sendang Parapat menjadi tidak sabar, “Apakah kau dibiarkan pergi?”

Jaladri tertawa. “Jangan terlalu tergesa-gesa. Dengar urutan ceriteraku. Aku kemudian bangkit, dan dengan tekad yang bulat aku akan mati sebagai laki-laki. Berjuang dengan tenaga yang ada padaku. Tetapi tiba-tiba Tuhan menyelamatkan aku. Ketika Bugel Kaliki itu dengan marahnya menggeram, dan hampir menerkam kepalaku, terdengar suara di belakangku. -Jangan Kaliki. Jangan mengganggu anak-anak. Bugel Kaliki terkejut. Aku juga terkejut. Kalau seseorang dapat hadir di tempat itu tanpa diketahui oleh Bugel Kaliki, maka aku mengharap bahwa setidak-tidaknya orang itu akan dapat menyelamatkan aku.”

“Siapakah orang itu?” tanya Sendang Parapat.

“Aku tidak tahu,” jawab Jaladri.

“Hus!” sahut orang yang berada di pendapa itu hampir berbareng. “Jangan teka-teki.”

“He…” jawab Jaladri, “Siapa yang berteka-teki? Aku benar-benar tidak tahu, Kakang Penjawi juga tidak tahu. Siapakah dia.”

Arya tertarik pada ceritera itu. Tampak alisnya berkerut. Demikian juga Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain.

“Apa yang dilakukan?” tanya Arya Salaka kemudian. Jaladri mengingsar duduknya, ia meneruskan, “Bugel Kaliki terkejut atas kehadirannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memecahkan kepalaku. Tetapi segera ia bersiaga untuk menghadapi musuh barunya. -Jangan ganggu aku- ia berdesis. Tetapi orang yang datang itu tertawa. Suaranya nyaring. -Aku mengembara dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan. Karena itu akupun kadang-kadang melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa tujuan. Antara lain mengganggumu.- Bugel Kaliki benar-benar marah. Terdengar suaranya menggeram seperti serigala. Namun orang asing itu masih tertawa-tawa saja. Demikianlah akhirnya keduanya terlibat dalam satu perkelahian tanpa kata-kata lain. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menilai pertempuran itu. Mereka bergerak-gerak dengan cepatnya. Kadang-kadang mereka melontarkan diri mereka seperti bintang beralih. Sambar-menyambar. Aku pernah menyaksikan dua ekor elang berkelahi. Gagah benar. Namun itu lebih cepat seperti Sikatan. Si Bongkok itupun sungguh luar biasa. Aku heran kenapa bongkoknya itu sama sekali tidak mengganggu.”  

JALADRI diam sejenak. Kemudian meneruskan ceriteranya, “Melihat perkelahian itu aku menjadi malu pada diri sendiri. Apakah yang terjadi seandainya aku yang harus bertempur melawan Bugel Kaliki itu. Namun demikian aku tidak mau lari. Aku akan menunggu sampai pertempuran itu berakhir.Kalau penolongku itu kalah dan binasa, biarlah aku binasa pula. Tetapi kalau ia menang, biarlah aku sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi pertempuran itu kemudian terganggu. Aku melihat bayangan lain yang datang di tempat itu pula. Bersamaan dengan kehadiran orang kedua itu, aku lihat Bugel Keliki berteriak nyaring, untuk kemudian melontar mundur dan lenyap di dalam keremangan pagi. Orang yang bertempur melawannya sama sekali tidak mengejarnya. Ia, sekarang berhadapan dengan orang yang datang terakhir. Namun agaknya mereka tidak akan bertempur. Bahkan mereka berdua tampaknya seperti dua orang sahabat yang baru bertemu. Mereka saling mengguncang tangan masing-masing.”

“Siapakah yang datang kemudian? Juga tidak tahu?” tanya Wanamerta.

Jaladri tertawa. Penjawi pun tertawa.

“Kiai…” jawab Jaladri, “Kepada orang yang terakhir itu, aku sudah mengenalnya. Bahkan kalian juga mengenalnya.”

“Ya, siapa? Kalau kau sudah mengenal, kami mengenal pula.” Sendang Parapat semakin tidak sabar. “Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Jaladri.

“Oh….” Terdengar orang-orang yang mendengar bergumam. Mereka menarik nafas lega, seolah-olah merekalah yang terlepas dari ancaman maut. Jaladri berhenti pula untuk sesaat. Kemudian ia meneruskan, “Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak kukenal itu. Tetapi aku tidak sempat bertanya tentang dirinya sebab kemudian Ki Ageng Sora Dipayana bertanya kepadaku, -Apa kerjamu di sini Jaladri?”

Aku menjadi ragu sebentar. Tetapi kepada Ki Ageng Sora Dipayana aku tak dapat berkata lain, kecuali mengatakan yang sebenarnya. Mula-mula aku menjadi cemas, jangan-jangan hal itu tak dikehendaki oleh Ki Ageng, namun tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berkata, -Marilah. Hari hampir pagi. Sebentar lagi pertempuran akan dimulai.- Aku tak dapat membantah. Aku ikuti Ki Ageng kembali ke pasukan Pamingit. Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana berada di dalam laskar yang menduduki Kepandak. Laskar ini dipimpin oleh Wulungan. Sedang menurut Ki Ageng Sora Dipayana, induk pasukan yang berada di Sumber Panas dipimpin langsung oleh Ki Ageng Lembu Sora sendiri. Ketika kami hampir sampai, aku hanya mendengar orang asing itu berkata, -Kau biarkan anakmu sendiri? – -Tak ada pilihan lain- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. -Kalau aku tak ada di sini, dan ada salah seorang dari setan-setan itu datang kemari, seperti apa yang dilakukan oleh Bugel Kaliki itu, maka laskar ini akan habis ludas.- -Kalau mereka beberapa orang menempatkan diri mereka untuk melawan anakmu?- jawab orang asing itu. -Ia membawa laskar lebih banyak. Aku sudah menasehatkan untuk bertempur dalam kelompok-kelompok, untuk menghadapi mereka. Dengan senjata jarak jauh atau senjata bertangkai panjang. Dan Lembu Sora telah menyiapkan laskar panah sebaik-baiknya.-

-Belum cukup- jawab orang asing itu. – Untuk sementara, tak ada cara yang lebih baik. Tetapi aku percaya, kalau Lembu Sora berotak cair, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat mengatasi keadaan- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Ternyata ia kemudian meneruskan, -Soalnya terserah kepada nasibnya. Mudah-mudahan Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahannya.-

-Kalau begitu…- orang asing itu menjawab, -biarlah aku ikut serta dalam permainan ini. Aku akan bekerja bersama-sama dengan anakmu.-

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut, sampai langkahnya terhenti. – Kau…- terdengar suaranya dalam. Orang itu mengangguk, lalu terdengarlah ia tertawa. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menjawab orang itu telah melontarkan dirinya sambil berkata, -Sebelum pagi, mudah-mudahan aku tidak terlambat.-

Ki Ageng Sora Dipayana hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Perlahan-lahan terdengar gumamnya, -Terimakasih, terima kasih.-

Tiba-tiba saja Ki Ageng Sora Dipayana terkejut oleh suara kentongan jauh di Pamingit. Agaknya laskar orang-orang hitam itu telah mempersiapkan diri mereka. -Ayolah, sebelum kita digilas oleh hantu-hantu yang tak kenal perikemanusiaan itu.- Aku mengikuti di belakang Ki Ageng. Di Kepandak, laskar Pamingitpun telah siap. Di hadapan mereka berdiri dengan gagahnya, Wulungan. Di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang, sedang dilambungnya tampaklah sebilah keris. Ketika ia melihat Ki Ageng Sora Dipayana datang, segera ia membungkukkan dirinya, tetapi ketika ia melihat aku, tampaklah perubahan di wajahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tahu perasaannya, katanya, -Jangan hiraukan kehadiran Jaladri. Aku yang membawanya. Ia tidak akan mengganggu kalian. – Wulungan tidak membantah, ia hanya mengangguk hormat. Ketika cahaya merah di atas bukit-bukit sebelah timur telah semakin merata, mulailah laskar Pamingit bergerak. Laskar inipun seperti laskar yang dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, bergerak dalam kelompok-kelompok, dan bersenjata jarak jauh. Agaknya mereka benar dipersiapkan untuk menghadapi setiap tokoh dari golongan hitam itu, kelompok demi kelompok. Aku sendiri, yang tidak tergabung dalam laskar itu, hanya selalu mengikuti kemana Ki Sora Dipayana pergi. Dan Ki Agengpun sama sekali tidak keberatan.  

JALADRI meneruskan ceriteranya, “Akhirnya Ki Ageng itu memberi aku sebatang tombak sambil berkata, “Kalau kau terpaksa mempertahankan dirimu Jaladri, pergunakan tombak ini. Kerismu terlalu pendek untuk melawan Lawa Ijo atau Jaka Soka, atau kalau kau bertemu sekali lagi dengan Bugel Kaliki.- Hatiku jadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Laskar Pamingit dapat melawan mereka dengan kelompok-kelompok mereka. Aku bagaimana?”

Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana memaklumi perasaanku, karena itu terdengar kata- katanya – Kaupun harus membentuk kelompok tersendiri Jaladri. Nah, akulah orang yang termasuk dalam kelompok kecilmu.- Aku menundukkan kepalaku, karena malu. Ki Wulungan membawa laskarnya, melingkar ke Selatan dengan gelar Jinantra Sawur. Lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak bersama-sama dalam satu garis yang menebar. Sungguh suatu yang bagus untuk melawan toko-tokoh yang biasa bertempur perseorangan dan mempunyai kesaktian yang luar biasa seperti tokoh- tokoh golongan hitam. Ketika terdengar sebuah tengara dari Wulungan, maka dengan kecepatan yang sedang, laskar itu langsung menyerbu kedalam pemusatan laskar-laskar hitam. Dalam sepintas dari laskar hitam yang disediakan untuk melawan mereka. Namun diujung laskar golongan hitam itu aku melihat dua orang yang mengerikan. Seorang yang sudah aku kenal Bugel Kaliki, dan yang seorang lagi, aku dengar namanya dari Ki Ageng Sora Dipayana, bernama Nagapasa.

“Nagapasa…?” Mahesa Jenar mengulang nama itu.

“Ya,” sahut Jaladri.

“Melihat mereka berdua Ki Ageng Sora Dipayana memanggil Wulungan, katanya, -Wulungan, lawanlah Bugel Kaliki. Bawalah sedikitnya dua kelompok laskar panahmu. Jaga, jangan sampai salah seorang dari kamu mendekat, dan jagalah supaya kau dan kelompokmu tidak kehabisan tenaga. Orang itu mampu bertempur sehari penuh dengan kesegaran yang sama, bahkan berhari-hari.- Wulungan mengangguk sambil menjawab, -Baik Ki Ageng, akan aku bawa tiga kelompok terkuat dari anak buahku. Yang lain akan dipimpin oleh adi Gupita, melawan laskar hitam itu.- -Bagus- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Kemudian kepadaku Ki Ageng itu berkata, – Jaladri. Aku harus melayani musuh yang tak dapat diduga-duga tabiatnya. Ia dapat berlaku lunak, tetapi ia dapat bengis seperti setan. Karena itu lebih baik bagimu untuk memperkuat kelompok-kelompok yang akan dibawa oleh Wulungan melawan musuhmu pagi tadi.- Aku tak dapat membantah, meskipun aku tahu bahwa Wulungan agak bimbang menerima titipan itu. Ketika aku berjalan di samping Wulungan menuju kekelompok pertama, aku berkata kepadanya, -Jangan curigai aku. Aku tak akan mengganggumu. Sebab hidup matiku sekarang berada di dalam kerjasama antara kita dan laskarmu. – Wulungan tersenyum. Jawabnya, -Aku mempercayaimu. Aku kira setiap orang didalam laskar Arya Salaka berlaku jantan seperti pimpinan mereka. – Aku tidak tahu maksudnya. Apakah ia benar-benar memuji, ataukah ia sedang menyindir aku. Tetapi kemudian kami tak sempat berkata-kata lagi. Wulungan memerintahkan beberapa orang untuk memberitahukan tugas-tugas mereka. Tiga kelompok kemudian saling mendekat dan menuju satu sasaran, sedang yang lain masih di tempatnya masing-masing, di bawah pimpinan seorang yang cukup mempunyai wibawa, Gupita. Laskar hitam itupun kemudian maju menyongsong lawan mereka. Mereka sama sekali tidak mempergunakan gelar perang, atau gelar mereka mirip dengan gelar Gelatik Neba. Namun tampaklah betapa mereka percaya pada diri mereka masing-masing. Terbayanglah diwajah mereka, kebiadaban dan keganasan yang pernah mereka lakukan dan akan mereka lakukan. Didalam mata mereka seolah-olah tampaklah goresan-goresan nama-nama dari korban-korban mereka yang berpuluh-puluh jumlahnya. Aku pernah mengalami beberapa kali pertempuran. Namun kali ini aku benar-benar berdebar-debar. Disekitarku berjalan orang-orang yang kurang aku kenal, baik tabiatnya maupun cara-cara mereka mempergunakan senjata. Akupun tidak mengetahui apakah mereka menganggap aku lawan mereka atau musuh mereka. Namun demikian akhirnya aku harus melekatkan kepercayaan kepada diri sendiri. Betapapun ringkihnya aku ini, namun aku hanya dapat mengeluh dan menyadarkan diri kepada kepercayaan itu, dilambari oleh pasrah diri kepada pepestan, kepada kuasa tangan Yang Maha Kuasa. Demikianlah akhirnya kedua laskar ini bertemu. Sesaat sebelum pertempuran berkobar, Wulungan berbisik kepadaku, -Jaladri, kami saat ini akan bertempur di atas tanah persawahan. Batang-batang padi ini sebentar lagi akan hancur terinjak-injak oleh kaki-kaki kami. Namun tanah persawahan ini akan memberikan kesegaran dalam jiwa kami. Karena untuk tanah inilah kami sekarang sedang menyabung nyawa. Meskipun batang-batang padi ini akan hancur, namun besok di atasnya akan dapat kami tanami kembali, dengan batang-batang padi yang lebih segar. Sebab kami tebarkan pupuk di tanah ini dengan darah putra-putra terbaik dari tanah ini.- Aku terharu mendengar kata-katanya. Sedang dari matanya terpancar ketulusan hatinya serta kesediaannya berkorban untuk tanahnya. Sesaat kemudian kami dikejutkan oleh teriakan-teriakan ngeri. Orang-orang hitam itu berloncatan sambil memekik-mekik. Senjata-senjata mereka gemerlapan dalam cahaya pagi. Pada saat yang hampir bersamaan, melontarlah senjata-senjata anak- anak Pamingit. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus anak panah bertebaran diudara. Tetapi orang-orang golongan hitam itu memutar senjata mereka menjadi gulungan perisai yang sangat rapat.  

DEMIKIANLAH akhirnya pertempuran tak dapat dihindari. Orang-orang Pamingit terpaksa meletakkan busur-busur mereka dan menarik pedang-pedang mereka. Sehingga sesaat kemudian, riuhlah pertempuran itu dengan dentang senjata beradu, pekik yang mengejutkan dari orang-orang golongan hitam itu.

Wulungan dengan kelompoknya langsung menyiapkan diri mereka dan memancing Bugel Kaliki untuk melibatkan dirinya. Anak-anak dalam kelompok ini agaknya benar-benar terpilih. Mereka tidak melemparkan panah mereka berlebih-lebihan. Satu-satu saja, mengarah kepada si Bongkok yang mengerikan itu. Akhirnya marahlah Bugel Kaliki. Seperti serigala yang menggeram, kemudian langsung melompat dan menyerbu kedalam laskar Wulungan. Cepat anak buah Wulungan memencar diri. Mereka menyerang dengan panah mereka. Tak berhambur-hamburan, namun cukup memberi perlawanan yang kuat terhadap hantu dari Gunung Cerme itu.

Bugel Kaliki kemudian menjadi benar-benar marah. Agaknya ia benar-benar tidak biasa mempergunakan senjata. Sehingga ketika anak panah menyambar-nyambar semakin banyak, ia menjadi agak bingung. Dengan demikian, aku menduga bahwa orang itu sama sekali tidak kebal dari senjata.

Tiba-tiba terjadilah suatu yang tidak kami duga-duga. Bugel Kaliki melepas kain panjangnya. Sesaat kemudian kain itupun telah berputar dan menyambar setiap anak panah yang diarahkan kepadanya.

“Gila,” gerutu Wulungan, namun anak buahnya menyerang terus. Bugel Kaliki berloncat seperti kijang, dan sekali-kali ia menyambar orang-orang terdekat. Namun demikian ia menyerang, sehingga ia terpaksa untuk menangkisnya. Demikianlah pertempuran yang aneh itu berlangsung. Meskipun demikian, hantu yang bongkok itu berhasil pula mendapatkan beberapa orang korban. Sungguh suatu kejadian di luar kemampuan untuk mengatakan, apakah yang sudah dilakukannya. Namun Wulungan dengan anak buahnya berjuang dengan gigihnya. Hanya karena jumlah mereka yang sangat banyaklah maka Bugel Kaliki tidak dapat membunuh mereka.

Apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana ternyata benar. Bugel Kaliki itu benar-benar tidak berkurang tenaganya. Ketika matahari telah mencapai puncaknya, orang itu masih saja segar seperti semula. Untunglah bahwa Wulungan telah mengatur anak buahnya, sehingga mereka tidak menumpahkan seluruh tenaga mereka. Berganti-ganti mereka menempatkan diri mereka di garis pertama, sehingga dengan demikian mereka telah menghemat tenaga mereka. Gupita pun ternyata adalah seorang pemimpin yang baik. Ia dapat menguasai laskarnya sebaik-baiknya. Meskipun orang-orang dari golongan hitam itu menyerbu dengan tak teratur, namun mereka tetap melawan dalam gelar yang baik. Pada dasarnya setiap orang dari golongan hitam itu mempunyai kelebihan dari setiap orang di dalam laskar Gupita, namun karena kerja sama mereka lebih rapi serta jumlah mereka lebih banyak, maka merekapun dapat memberikan perlawanan yang cukup.

Sedang di tempat lain, aku lihat Ki Ageng Sora Dipayana terikat dalam pertempuran melawan Nagapasa. Mereka berdua ternyata memiliki banyak kelebihan daripada manusia biasa seperti aku ini.

Melihat cara Ki Ageng bertempur, aku menjadi bangga hati. Seolah-olah terbayang kembali masa kanak-kanakku. Masa Daerah Perdikan Pangrantunan mengalami masa-masa yang cemerlang. Tak seorangpun yang mengganggu perkelahian kedua orang itu. Baik laskar dari golongan hitam maupun laskar Pamingit. Seolah-olah mereka dibiarkan berbuat sesuka hati mereka. Tetapi aku tak sempat menyaksikan lebih lama. Sebab di hadapanku menyambar-nyambar dengan dahsyatnya Si Bongkok dari Gunung Cerme. Aku tidak mau menjadi korban begitu saja. Karena itu, akupun berusaha untuk melindungi diriku sebaik-baiknya. Bahkan ternyata orang-orang Pamingit itupun tidak membiarkan aku terbunuh tanpa pembelaan.

Setiap Bugel Kaliki mencoba menyambar aku, orang-orang Pamingit itupun selalu melindungi aku dengan panah-panahnya, atau dengan pedang-pedangnya. Demikian pertempuran itu berlangsung sehari penuh. Tak dapat dikatakan siapa yang memperoleh kemenangan, selain korban jatuh satu demi satu dari keduabelah pihak. Pertempuran itupun masih belum berkisar dari medan yang sama. Meskipun keduabelah pihak berusaha keras untuk mendesak lawan-lawan mereka. Orang-orang hitam yang marah itu mencoba mengusir orang-orang Pamingit dari Kepandak, sedang orang-orang Pamingit berusaha untuk mendesak orang-orang hitam itu masuk ke dalam kota, atau meninggalkan Pamingit sama sekali. Namun mereka masing-masing terpaksa mengakui kegigihan lawan. Sehingga ketika matahari telah tenggelam di balik ujung-ujung perbukitan di sebelah barat, terasa betapa letih menyusup ke dalam tubuh. Karena itu, ketika terdengar tanda-tanda untuk menghentikan pertempuran, kedua belah pihak yang telah tenggelam dalam kepayahan yang sangat, segera menarik diri mereka masing-masing.

Orang dari golongan hitam, yang biasanya tidak mengenal waktu untuk bertempur, saat itupun agaknya benar-benar telah kehabisan tenaganya. Merekapun segera menarik pasukan mereka, dan mengundurkan diri dari garis pertempuran.

Hanya Wulungan lah yang agak sulit melepaskan diri dari serangan-serangan Bugel Kaliki. Meskipun malam menjadi semakin gelap. Untunglah bahwa orang tua itupun akhirnya merasa perlu untuk menghentikan pertempuran, sebab di dalam gelap malam, panah-panah orang Pamingit itu menjadi semakin tidak jelas, dan dengan demikian Bugel Kaliki merasa bahwa bahayanya menjadi semakin besar. Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan pertempuran pula. Aku tidak tahu, bagaimana mereka berjanji, sehingga mereka masing-masing meninggalkan medan itu pula.  

DEMIKIANLAH pertempuran di hari pertama itu berakhir. Dan berakhir pula ceriteraku. Malam itu aku mohon ijin untuk meninggalkan Pamingit. Sebab aku telah berjanji dengan Kakang Penjawi. Ki Ageng Sora Dipayanapun tidak menahan. Namun demikian Ki Ageng berpesan, – Jaladri. Sampaikan apa yang kau lihat kepada cucuku. Katakan bahwa hari ini, berapa puluh orang dari Pamingit telah jatuh menjadi korban di Kepandak dan mungkin juga di Sumber Panas. Aku mengharap, sebentar lagi Lembu Sora akan mengirimkan orangnya kemari, mengabarkan apa yang telah terjadi. Tetapi yang pasti, bahwa besok akan jatuh pula korban-korban baru. Aku tidak tahu berapa hari pertempuran akan berlangsung. Dan aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit. Salamku buat cucuku, buat Angger Mahesa Jenar serta sahabat-sahabatnya, serta buat Wanamerta yang setia.

Kalau laskar Pamingit tidak mampu lagi bertahan di Kepandak, kami akan mundur ke Pangrantunan, sedang laskar Lembu Sora harus bergabung pula ke sana. – Suara Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menurun – Entahlah. Apakah aku masih akan dapat bertemu dengan cucuku itu. –

Jaladri mengakhiri ceriteranya. Dari wajahnya terbayang perasaannya yang muram. Agaknya pesan Ki Ageng Sora Dipayana itu sangat berkesan di hatinya. Suasana di pendapa itu menjadi sepi hening. Masing-masing duduk dengan tenangnya. Ada sesuatu yang tersangkut di dalam dada mereka. Sehingga akhirnya suasana sepi itu dipecahkan oleh suara Arya Salaka mengejutkan, “Apa yang kau lihat di Sumber Panas, Kakang Penjawi?”

Penjawi terkejut. Ia mengangkat wajahnya memandang Arya Salaka. Kemudian diperhatikannya satu demi satu setiap wajah dari mereka yang duduk di pendapa itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam iapun menjawab, “Aku tidak mengalami pertempuran seperti Adi Jaladri. Namun aku dapat menyaksikan sebagian darinya, sedang sebagian aku dengar dari orang Banyubiru yang telah aku hubungi sebelumnya. Di Sumber Panas, Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti pun mempunyai pekerjaan yang berat. Sebab di antara orang-orang hitam yang harus dilawannya terdapat Sima Rodra, Pasingsingan dan Sura Sarunggi.”

“Ketiga-tiganya berkumpul?” potong Arya.

“Ya, ditambah dengan Lawa Ijo dan Jaka Soka,” sambung Penjawi. “Gila….” desis Wanamerta.

“Ya…” Penjawi meneruskan, “Karena itulah maka mereka mengalami tekanan yang luar biasa. Untunglah bahwa orang asing yang diceriterakan oleh Adi Jaladri, benar-benar datang ke Sumber Panas. Dari jauh aku tidak dapat melihat bagaimanakah bentuk tubuh serta wajahnya. Namun dari sekian banyak orang, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa orang itu memiliki kesaktian yang tak ada bandingnya. Ia dapat melawan salah seorang dari tokoh hitam itu seorang diri, sedang Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, masing-masing memerlukan beberapa puluh orang untuk membantunya. Apalagi kelompok-kelompok lain. Mereka harus berjuang mati-matian melawan Lawa Ijo dan Jaka Sora.”

Ketika Penjawi berhenti berceritera, kembali pendapa itu menjadi sepi. Sehingga tarikan nafas mereka yang lebih cepat dari biasa, menjadi semakin terang. Sesaat kemudian Penjawi meneruskan, “Korban berjatuhan. Namun laskar Pamingit jauh lebih banyak dari laskar golongan hitam itu, sehingga pekerjaan orang dari golongan hitam itupun tidak ringan. Meskipun demikian, tampaklah setapak demi setapak mereka mendesak maju. Ki Ageng Lembu Sora terpaksa menarik diri, dan mempergunakan segenap tenaga cadangan yang ada. Sehingga dengan demikian korbannyapun menjadi semakin banyak.

Meskipun beberapa puluh orang dari golongan hitam itu jatuh pula, namun keadaan laskar Ki Ageng Lembu Sora tak menyenangkan. Kekuatan Ki Ageng Lembu Sora telah dikerahkan ketika matahari telah berada sejengkal di atas punggung bumi. Namun karena tekanan yang dahsyat, maka laskar itupun terpaksa menarik diri. Untunglah bahwa senja turun. Sehingga ketika laskar Pamingit telah mempergunakan kekuatan terakhirnya, jatuhlah malam dengan cepatnya. Sungguh suatu pertolongan yang tiada taranya. Ketika itu, laskar Pamingit telah terpaksa meninggalkan Sumber Panas dan mundur beberapa tonggak ke pedukuhan di belakangnya. Aku sekali lagi mencoba mencari orang-orang Banyubiru yang berjanji akan memberi aku beberapa keterangan. Dari orang itulah aku mendengar bahwa orang asing yang tak kukenal itu mencoba memberi beberapa petunjuk kepada Lembu Sora. Ia mengharap setidak-tidaknya besok pagi, laskar Lembu Sora dapat bertahan di tempatnya. Tetapi aku tidak sempat melihat pertempuran hari ini. Mudah-mudahan orang asing itu dapat memberi sekedar nafas kepada laskar Pamingit.”

Penjawi berhenti berceritera. Sekali lagi ia memandang wajah Arya Salaka. Dilihatnya keringat mengalir dari keningnya. Matanya tajam menatap lantai di hadapannya. Pendapa itu kembali digenggam oleh kesepian. Ceritera Penjawi dan Jaladri menumbuhkan perasaan yang aneh. Tidak saja pada Arya Salaka, tetapi juga setiap hati para pemimpin laskar Banyubiru.

Berkali-kali terngiang di telinga mereka, “Korban berjatuhan. Korban berjatuhan. Dan korban pada laskar Pamingit itu masih akan bertambah-tambah.”  

DALAM kediaman itu terdengar Mahesa Jenar bertanya, “Penjawi atau Jaladri, tahukah engkau bagaimana bentuk tubuh orang yang tak kau kenal itu?”

Penjawi menggeleng, tetapi Jaladri menjawab, “Sungguh tak tersangka bahwa orang itu mempunyai kesaktian yang mengaggumkan. Tubuhnya tidak lebih gagah dari seorang perempuan. Suaranyapun kecil, nyaring seperti suara perempuan.”

“Titis Anganten…” potong Mahesa Jenar cepat-cepat.

“Orang sakti dari Banyuwangi.”

“Titis Anganten…?” ulang Kebo Kanigara dan Arya Salaka hampir berbareng. “Ya,” jawab Mahesa Jenar.

“Aku pernah ditolongnya pula dari terkaman Sima Rodra tua.”

“Aku pernah mendengar namanya,” gumam Kebo Kanigara, “Ayah pernah menyebut-nyebutnya.”

“Ia datang tepat pada waktunya,” sahut Mahesa Jenar.

Lalu suasana menjadi sepi kembali. Masing-masing hanyut dalam angan-angan mereka sendiri. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka, “Nah, kalian telah mendengar apa yang telah terjadi di Pamingit.”

Tak seorangpun yang menyahut. Mereka masih tetap dalam kediaman yang beku. Ketika tak seorangpun yang bersuara, bertanyalah Mahesa Jenar, “Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya tidak segera menjawab. Ia memandang berkeliling, seolah-olah ia minta pertimbangan dari mereka. Meskipun demikian, otaknya yang cerdas segera menangkap maksud pertanyaan gurunya. Di dalam dadanya selalu berdentang pesan eyangnya kepada Jaladri: Aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit, dan seterusnya. Entahlah, apakah aku masih dapat bertemu dengan cucuku itu.-

Maka kemudian iapun berkata lantang, “Nah, apa kata kalian? Bukankah dalam keadaan yang sulit itu, kita dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya? Hari ini kita akan dapat menghancurkan laskar Pamingit itu. Dengan demikian Banyubiru akan menjadi milik kita. Bahkan Pamingit pun kemudian akan kita duduki setelah kita berhasil menumpas laskar dari golongan hitam.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba terkejut mendengar kata-kata Arya Salaka. Meskipun mereka datang ke perbatasan untuk maksud itu, namun tiba-tiba terasa sesuatu keganjilan di dalam dada mereka.

“Kenapa kalian diam?” tanya Arya Salaka. “Kesempatan ini tak akan berulang.”

Para pemimpin Banyubiru itu masih diam. Mereka tidak tahu perasaan apa yang bergolak di dalam dada mereka sendiri. Hanya Mahesa Jenar yang kemudian menjadi gelisah. Namun ia masih berdiam diri pula. Ia sedang meraba-raba maksud pertanyaan muridnya itu, dengan suatu kepercayaan yang penuh, bahwa muridnya adalah seorang yang berhati jantan, namun berotak cemerlang. Karena itu ia masih menanti maksud Arya Salaka.

Memang Arya Salaka benar-benar seorang pemuda yang cakap. Ia dapat melihat keadaan dengan cermat. Dalam saat yang pendek, ia dapat merasa bahwa hatinya bergolak ketika ia mendengar ceritera Panjawi dan Jaladri.

Demikian pula agaknya perasaan yang bergetar di dalam dada setiap pemimpin laskar Banyubiru itu. Bagaimanapun mereka membenci dan bahkan mereka telah berjanji untuk berjuang mati-matian mengusir orang-orang Pamingit dari Banyubiru, serta kalau perlu mereka akan saling membunuh untuk mempertahankan kesetiaan mereka, namun demikian, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang Pamingit mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam, timbullah perasaan yang lain di dalam diri mereka.

Sebab apapun yang terjadi di antara mereka, permusuhan yang bagaimanapun tajamnya, namun orang Banyubiru dan Pamingit adalah orang-orang dari cabang aliran darah yang sama. Mereka semula adalah orang-orang dari daerah perdikan Pangrantunan. Ayah-ayah mereka, kakek-kakek mereka telah bersama-sama bekerja untuk tanah ini. Banyubiru dan Pamingit.

Bagi orang Banyubiru, orang-orang Pamingit adalah orang-orang yang masih bersangkut paut dengan darah keturunan mereka. Di Pamingit tinggallah kemenakan-kemenakan mereka, atau sepupu mereka atau paman mereka. Demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian, apakah mereka akan merelakan darah mereka yang mengalir didalam tubuh saudara-saudara mereka itu memercik dari luka-luka mereka, karena pokal orang-orang golongan hitam? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, maka mereka masih tetap berdiam diri.

Agaknya Arya Salaka telah mengamati keadaan dengan tepatnya. Sekali lagi ia memandang gurunya. Demikian Mahesa Jenar memandang langsung mata muridnya, tahulah ia apa yang tersirat di hatinya. Karena itu iapun menjadi terharu.

Tetapi ia tidak berkata apapun, selain beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang terdengar kemudian adalah suara Arya Salaka. “Paman-paman sekalian, pemimpin laskar Banyubiru yang setia. Agaknya aku tahu apa yang tersimpan di dalam dada kalian. Ketika aku ajukan beberapa pertanyaan kepada kalian, tetap berdiam diri, sebab kalian tidak menyakini apa yang bergolak didalam dada kalian. Karena itu, cobalah, biar aku menebaknya. Bukankah kalian merasa bahwa kalian tidak rela mendengar ceritera bahwa saudara-saudara kalian terpaksa mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam? Bukankah kalian tidak rela bahwa orang-orang hitam itu akan menguasai Pamingit? Gumpalan dari tanah perdikan Pangrantunan yang perkasa? Tanah Perdikan yang dengan susah payah dibangun oleh Eyang Sora Dipayana beserta kakek-kakek serta ayah-bunda kalian?”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu masih agak bingung. Mereka belum tahu benar arah pembicaraan Arya Salaka.

AKHIRNYA Arya Salaka berkata dengan terangnya, seperti terangnya matahari di siang yang panas itu. “Nah, paman-paman sekalian. Yakinlah bahwa aku sependapat dengan kalian. Dengan pertanyaan-pertanyaanku yang pertama, sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan keyakinan akan hati nurani kalian. Apakah kalian masih marah dan mendendam kepada saudara-saudara kita dari Pamingit itu. Tetapi ternyata kalian telah menempuh pergolakan perasaan, yang membendung perasaan dendam itu. Memang kita seharusnya tidak mendendamnya, meskipun seandainya saudara-saudara kita dari Pamingit itu masih tetap berada di pendapa ini. Kita datang untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk melepaskan dendam kita.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba menegakkan kepala mereka. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan.

“Kalau demikian…” Arya meneruskan, “Paman-paman yang perkasa, tinggalkan pendapa ini segera. Kembalilah ke dalam pasukan kalian, dan siapkanlah mereka. Kita bawa separo dari seluruh laskar Banyubiru ke Pamingit. Kita tempatkan diri di bawah pimpinan Eyang Sora Dipayana untuk menumpas golongan hitam itu. Apakah kalian sependapat?”

“Pasti…!” teriak mereka serentak. “Kami sependapat. Dan kami segera akan melaksanakannya.”

“Bagus,” potong Arya Salaka. “Kita akan berangkat segera setelah separo dari laskar kita berkumpul di alun-alun.” Arya tidak perlu mengulangi perintahnya kembali.

Para pemimpin itu segera berdiri, dan berloncatan ke halaman. Segera mereka berada di atas punggung kuda masing-masing, untuk kemudian melesat seperti angin. Mereka ternyata masih menyala rasa kesetiakawanan yang mendalam. Mereka ternyata lebih mendendam kepada golongan hitam, daripada kepada orang-orang Pamingit. Dan sekarang perasaan itu diungkatnya kembali. Sepeninggal mereka, di pendapa itu masih duduk selain Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Endang Widuri, Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Parapat.

Kemudian kepada Mahesa Jenar, Arya Salaka berkata, “Adakah kita yang berada di pendapa ini akan berangkat semuanya?”

“Jangan Arya,” jawab Mahesa Jenar. “Kita harus berhati-hati. Bukankah tersebar berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten masih berada di Banyubiru? Kita dapat menduga bahwa kabar itu sengaja disiarkan untuk menimbulkan keributan, namun kita dapat menduga lain. Mungkin mereka benar-benar masih berpendapat bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru. Karena itu biarlah Kiai Wanamerta dan Sendang Parapat yang belum sembuh benar, tinggal di sini, didampingi oleh Kakang Mantingan dan Wirasaba. Selain itu biarlah Wilis tinggal di sini pula.”

“Dan bagaimanakah sebaiknya dengan Endang Widuri?” tanya Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara. “Aku ikut dengan Paman Mahesa Jenar.” Endang Widuri menyahut sebelum ayahnya menjawab.

“Jangan Widuri,” potong ayahnya, “Kali ini jangan. Kita menghadapi lawan yang tak terduga kekuatannya.”
“Aku telah dapat menduganya,” jawab Widuri. “Laskar Eyang Sora Dipayana hanya terpaut sedikit dari kekuatan Bugel Kaliki di hari pertama. Di hari kedua, kekuatan itu akan lebih banyak mengalami kegoncangan. Katakan bahwa laskar Pamingit mengalami kekalahan dua kali lipat dari hari pertama. Tetapi kekuatan Eyang Sora Dipayana masih lebih dari tigaperempat dari kekuatan lawan. Nah kalau demikian, mereka malam nanti pasti sudah mundur ke Pangrantunan. Dengan tambahan laskar Kakang Arya Salaka yang segar, kekuatan akan berimbang kembali. Lebih-lebih tokoh-tokohnya akan mampu lagi berbuat seenaknya. Dan apakah gunanya ayah ikut serta kalau ayah tidak mampu mengalahkan orang yang bernama Nagapasa, atau Sima Rodra atau Sura Sarunggi?”

“Jangan sesorah panjang-panjang, Widuri,” potong ayahnya. Sedang orang-orang yang mendengarkan terpaksa tersenyum-senyum. Namun di dalam hati mereka, terasa betapa mereka mengagumi gadis itu. Agaknya ia benar-benar dapat membuat gambaran dari medan di Pamingit dengan perhitungan yang baik. Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara meneruskan, “Meskipun agaknya kau benar, namun kita harus berhati-hati. Mereka akan berbuat jauh lebih dahsyat daripada yang kau duga, sebab orang-orang dari golongan hitam itu membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bahkan cara-cara yang kadang-kadang melanggar hukum-hukum perikemanusiaan. Meski akan menakut-nakuti kau dengan cara-cara yang tak wajar.”

“Aku tidak takut,” jawab Widuri.  

KEBO Kanigara menggelengkan kepalanya, katanya; ” hanya prajurit yang baik yang dapat bertempur melawan golongan hitam.”

“Aku prajurit yang baik,” jawab Widuri

“Prajurit yang baik akan selalu patuh kepada perintah. Nah dengarlah perintah pemimpin pasukan, Arya Salaka,” sahut ayahnya. Endang Widuri mengerutkan keningnya.

Beberapa orang terpaksa tertawa mendengarkan perdebatan itu. Dengan wajah cemberut gadis itu memandang Arya Salaka. Arya Salaka sendiri menjadi bingung. Ia tahu maksud Kebo Kanigara akan tetapi didalam hati kecilnya ingin mengajak gadis itu serta. Entahlah, apa sebabnya. Tetapi diingatnya bahwa bahaya akan datang setiap waktu, maka iapun berpendapat, bahwa sebaiknya Endang Widuri tidak ikut serta. Apalagi Rara Wilispun tidak.

Tetapi sebelum ia sempat menjawab, terdengar Endang Widuri berkata: ” baiklah, baiklah. Aku sudah tahu jawaban kakang Arya Salaka, ia pasti akan berpihak kepada ayah.” Arya Salaka tersenyum. Kemudian terdengar Widuri meneruskan: ” Biarlah aku tinggal bersama bibi Wilis dan eyang Wanamerta. Bukankah begitu bibi?”

“Tentu, kau menemani aku disini,” jawab Wilis. “Dan biarlah paman Mantingan nanti bercerita tentang Bharata Yudha, dan paman Wirasaba akan meniup seruling hingga beringin kurung itu nanti menari-nari bukan begitu paman?,” Wilis meneruskan.

“Mudah-mudahan,” sahut Wirasaba sambil tertawa.

“Tetapi itu tidak penting, sebenarnya paman Mahesa Jenar yang paling berkeberatan aku ikut serta,” Widuri meneruskan.

“Kenapa aku?” sahut Mahesa Jenar.

“Bukankah paman menghendaki aku tinggal, menunggu bibi Wilis, supaya bibi Wilis tidak hilang? Paman Mahesa Jenar takut kalau orang yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan datang menjemput bibi, dan…..”
Kata-kata Widuri terputus, ia memekik kecil ketika Rara Wilis mencubitnya. “Tobat bibi aduuuuh” Rara Wilis tiba-tiba menundukkan mukanya. Terasa rona merah yang panas menjalar ke pipinya.

“Jangan nakal Widuri,” ayahnya menasehatinya.

“Tidak aku tidak nakal lagi, jangan jangan cubit dagingku akan terkupas. Bibi kalau mencubit sakitnya bukan main.” Mau tidak mau Wilis terpaksa tersenyum.

Memang Widuri benar-benar nakal. Ia tidak perduli berhadapan dengan siapapun, kalau teringat sesuatu yang menarik hatinya untuk menggoda, iapun berbuatlah.

Sementara itu para pemimpin Banyu Biru telah sampai kepasukan masing-masing. Segera mereka mempersiapkan laskar mereka. Separo akan dibawa ke Pamingit. Mula-mula setiap orang didalam laskar Banyu Biru menjadi heran, mengapa tiba-tiba mereka harus membantu Pamingit. Namun setelah mendapat penjelasan dari para pemimpinnya, merekapun sadar akan tugas itu. Tugas yang harus dikedepankan. Menumpas setiap gerombolan yang menghianati kemanusiaan. Menghianati ketentraman hidup rakyat yang tinggal jauh disekitar daerah mereka. Bahkan tujuan jangka jauh yang telah mereka rintis. Mencari pusaka yang dapat membawa mereka kepada jabatan tertinggi di Demak. Yang tinggal di Banyubirupun segera mempersiapkan diri mereka pula.

Mereka mengamati senjata-senjata mereka, apakah senjata mereka telah siap untuk melawan musuh yang berbahaya. Beberapa orang yang harus tinggal di Banyubiru menjadi kecewa. Sebenarnya mereka ingin turut didalam laskar yang kan pergi ke Pamingit tetapi merekapun sadar bahwa mereka mempunyai tugas yang penting pula di Banyubiru.

Demikianlah ketika matahari telah memanjat lebih tinggi lagi diatas pucuk pohon sawo kecik di halaman Banyubiru itu, mulailah ujung laskar Banyubiru memasuki alun-alun. Kelompok demi kelompok. Dari wajah mereka tampaklah betapa besar hati mereka setelah berkesempatan untuk menginjakkan kaki mereka diatas tanah pusaka. Betapa mereka merasakan kenikmatan yang mengetuk ngetuk dada mereka, meskipun terasa bahwa tanah tercinta ini telah mengalami beberapa kemunduran. Tetapi telah beberapa tahun mereka mengasingkan diri, didalam masa-masa yang prihatin, akhirnya mereka dapat menginjakkan kaki mereka dibumi tercinta ini kembali.

Disekitar alun-alun itupun kemudian berduyun duyun rakyat Banyubiru menyaksikan putera putera daerah mereka yang setia, yang selama ini menghilang dari kampung halaman karena tekanan tekanan orang Pamingit. Namun ternyata mereka sekarang datang kembali dengan senjata di tangan. Setelah pasukan itu semuanya memasuki alun-alun, maka berkumpulah setiap pimpinan kelompok laskar itu, dihadapan Arya Salaka. Dengan hati-hati Arya Salaka memberikan beberapa penjelasan kepada mereka apakah sebabnya mereka kini harus menempatkan diri dibawah pimpinan Ki Ageng Sora Dipayana.

“Dalam keadaan seperti sekarang ini, ki Ageng Sora memang harus memegang seluruh pimpinan atas Banyubiru dan Pamingit. Tak ada orang lain yang lebih berhak daripadanya. Sedang Ki Ageng Sora Dipayana sekarang sedang berjuang melawan golongan hitam. Namun lawannya terlalu besar. Lawannya memiliki keunggulan yang tak dapat diatasinya. Nah apakah kalian, pewaris tanah perdikan Pangratunan yang kemudian bernama Banyubiru ini akan tinggal diam menyaksikan orang yang cikal bakal tanah ini mengalami bencana ?”.  

Terdengar jawaban mbata-rubuh. “Kami bela Ki Ageng Dipayana dengan segenap tenaga yang ada pada kita.”

“Terimakasih, tentunya separo dari kalian akan kubawa ke Pamingit, separo tetap tinggal disini untuk menjaga kemungkinan yang tak kami harapkan di tanah ini. Kemudian, siang hari kalian kami perkenankan untuk beberapa saat meninggalkan pasukan, barangkali kalian inginmelihat sanak keluarga dan orang yang kalian rindukan. Nanti kalau matahari telah membuat bayanganmu sepanjang badan, kalian harus berkumpul kembali di alun alun ini. Aku mengharap, sedikit lewat tengah malam kalian harus sudah berada di Pangrantunan,” kata Arya Salaka.

Ketika penjelasan Arya Salaka itu diberikankepada setiap kelompok oleh para pemimpin kelompok, bersoraklah mereka. Mereka menerima kebijaksanaan Artya dengan sepenuh hati, tidak saja sebagai lajimnya seorang prajurit yang baik. Namun karena ternyata Arya Salaka telah berfikir seperti apa yang mereka pikirkan. Arya tidak menutup mata atas kemungkinan yang ada didalam dada laskarnya. Sebab ia sendiri merasakan, betapa rindunya kepada halamannya, kepada setiap bunga yang berkembang, lebih lagi kepada bundanya. Tetapi sampai saat ini orang yang dirindukannya masih belum diketemukannya. Bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi atas ibunya di Pamingit. Apakah orang-orang dari golongan hitam itu tidak mengganggunya?. Tiba-tiba Arya menjadi tidak sabar lagi, namun ia sadar tidak bisa membawa laskarnya ke jurang ke kebinasaan, hanya karena dirinya merindukan ibunya. Karena itu, ia telah mencoba menekan perasaannya untuk mempertahankan keseimbangannya sebagai seorang pemimpin.

Sesaat kemudian bubarlah barisan yang berada di alun-alun itu. Masing masing berjalan dengan tergesa-gesa, bertebaran ke segenap penjuru Banyubiru. Beberapa orang yang tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang lain, karena hampir seluruh keluarganya telah menyertainya ke Gedongsanga, ingin juga berjalan jalan berkeliling kota melihat-lihat perubahan yang timbul selama kota ini ditinggalkan.

Kadang mereka singgah juga ke rumah kenalan mereka. Namun kenalan mereka telah menerima mereka dengan ketakutan. Jangan jangan laskar Banyubiru ini akan mengganggunya seperti cerita yang selama ini selalu didengar tentang mereka, bahwa laskar Banyubiru tidak lebih dari gerombolan penyamun dan perampok yang hanya mampu membuat kacau dan bencana. Namun setelah mereka mengetahui apa yang telah dilakukan laskar Banyubiru itu yang dengan ramah menyapa mereka, mereka memberi salam gairah seperti dahulu. Sadarlah mereka bahwa laskar Banyubiru adalah laskar yang selama ini berjuang untuk kepentingan mereka. Sisa waktu mereka pergunakan untuk beristirahat. Di bawah pohon-pohon yang rindang, di gardu-gardu dan di tempat yang sejuk. Mereka tidak tahu apakah nanti mereka masih mempunyai waktu untuk beristirahat.  

DI PERJALANAN, tak banyaklah yang dipersoalkan oleh Arya Salaka dengan gurunya serta Kebo Kanigara. Angan-angannya lebih banyak dicengkam oleh kegelisahan tentang nasib ibunya. Namun demikian ia tetap dalam keseimbangan yang baik. Dua orang telah diperintahkannya untuk berjalan berkuda mendahuluinya. Mereka harus mengetahui, apakah laskar Pamingit yang dipimpin oleh Wulungan dan Ki Ageng Sora Dipayana berada di Pangrantunan atau di Kepandak.

Untuk menghindari salah paham dengan laskar yang langsung dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, Arya Salaka menempuh jalan melingkar agak jauh di sebelah timur Pamingit, langsung menuju ke Pangrantunan. Apabila kemudian laskar itu akan menembus Pamingit, mereka akan datang dari arah tenggara. Ketika malam turun, laskar Arya Salaka telah menembus hutan-hutan yang tipis di sebelah timur Pamingit. Untuk beberapa saat laskar itu beristirahat. Mereka sekadar melepaskan lelah mereka dengan mempersegar tubuh mereka di sumber air yang mereka temui diperjalanan itu. Kemudian mereka masih sempat menikmati bekal yang mereka bawa. Ketupat sambal. Setelah beristirahat sejenak, kembali pasukan itu meneruskan perjalanan.

Bulan di langit separoh bulat telah naik tinggi di atas bukit-bukit yang membujur seperti raksasa yang lelap. Angin malam yang lemah bertiup dari utara mengusap pohon-pohon perdu yang dengan lembutnya. Sedang di kejauhan sayup-sayup terdengar anjing-anjing liar menggonggong berebut makanan. Di tempat yang telah ditentukan, dua orang berkuda, yang ditugaskan oleh Arya Salaka untuk mengamati keadaan, telah menunggu. “Bagaimana?” tanya Arya kepada mereka.

“Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik pasukan ke Pangrantunan,” jawab orang itu. “Sejak kapan?” tanya Arya Salaka. “Baru malam ini. Semua tenaga telah dikerahkan. Setiap laki-laki di Pangrantunan telah memanggul senjata,” jawab orang itu. “Adakah golongan hitam telah menyusul ke Pangrantunan pula?” tanya Arya Salaka lebih lanjut. “Aku kurang jelas. Namun hal itu mungkin sekali,” jawab mereka. “Bagaimana dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora?” “Tak aku ketahui. Namun mereka belum sampai di Pangrantunan sore tadi. Tetapi seorang pengungsi mengatakan bahwa Sumber Panaspun telah dikosongkan.

Laskar Ki Ageng Lembu Sora terdesak hebat sampai mereka terpaksa meninggalkan garis perang dalam keadaan tak teratur.”

Arya menarik nafas panjang. Agaknya kekuatan golongan hitam betul-betul tak dapat dianggap ringan. Suatu gabungan dari sarang-sarang gerombolan yang mengerikan. Alas Mentaok, Nusakambangan, Gunung Tidar, Rawa Pening dan seorang hantu dari Lembah Gunung Cerme. Terbayanglah di dalam angan-angannya, bahwa Pamingit benar-benar sedang dilanda oleh taufan yang maha dahsyat.

Ki Ageng Lembu Sora, yang beberapa saat yang lampau dapat bekerja sama dengan mereka, akhirnya sampailah saatnya ia digilas oleh arus hitam yang mengerikan itu, karena orang-orang dari golongan hitam itu sadar, bahwa Lembu Sora adalah suatu usaha saling memperalat semata-mata. Bukan suatu kerja sama yang tulus. Tetapi kini golongan hitam itu benar-benar salah hitung. Mereka mengharap Ki Ageng Lembu Sora terpaksa membagi laskarnya. Sebagian menghadapi laskar hitam itu, dan sebagian menghadapi laskar Arya Salaka. Mereka mengharap bahwa dengan demikian, menggilas Pamingit akan sama mudahnya seperti menggilas ranti, untuk kemudian menghantam hancur sisa-sisa laskar Arya Salaka dan Lembu Sora yang parah di Banyubiru.

Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kejernihan dan ketulusan hati Arya Salaka merupakan badai yang berhembus dengan dahsyatnya, memporakporandakan rencana mereka. Arya Salaka kemudian memerintahkan laskarnya untuk mempercepat perjalanan. Hatinyapun menjadi semakin risau, apakah kira-kira yang telah terjadi di Pamingit dan apakah yang telah terjadi dengan ibunya? Ia menjadi cemas. Terbayanglah di dalam rongga matanya orang-orang seperti Pasingsingan, Sima Rodra dan sebagainya, dengan kasarnya memasuki setiap ruang rumah pamannya di Pamingit.

Apakah ibunya diketemukan di rumah itu pula oleh mereka? Mudah-mudahan Tuhan memberikan perlindungan kepadanya. Hampir tengah malam, laskar Arya Salaka telah mendekati Pangrantunan dari arah utara. Dari jauh mereka telah melihat beberapa kelompok perapian yang menyala di sekitar desa itu. Karena itu segera Arya Salaka menghentikan laskarnya untuk menghindari kesalah-pahaman. Kepada gurunya ia berkata, “Paman, bukankah sebaiknya aku menghadap Eyang Sora Dipayana lebih dahulu?”

Mahesa Jenar mengangguk, jawabnya, “Baik Arya, sebab di malam yang samar-samar demikian ini, akan mudah sekali timbul salah mengerti. Laskar eyangmu itu mungkin sama sekali tak akan menduga bahwa kau akan datang membantu mereka.”

Kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Arya Salaka berjalan mendahului, untuk melaporkan kehadirannya bersama laskarnya kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Beberapa tonggak dari Pangrantunan, segerombol pengawal menghentikan mereka. Dengan penuh kewaspadaan para pengawal itu menyapa mereka dengan pertanyaan sandi. “Ke manakah mulut gua menghadap?”

Arya tidak tahu bagaimana harus menjawab, karena itu ia berkata terus terang, “Aku bukan dari laskar Pamingit.” “Dari golongan hitam?” bentak para pengawal itu, dan bersamaan dengan itu tombak-tombak mereka segera mengarah ke dada Arya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Arya menggeleng, jawabnya, “Bukan Ki Sanak. Kalau aku dari golongan hitam, apakah agaknya aku akan bunuh diri?”

“SIAPAKAH kalian?” tanya salah seorang daripada para pengawal itu.

“Dari Banyubiru,” jawab Arya.

“Banyubiru…? Siapa…?” desak mereka. Arya Salaka termenung sejenak, apakah ia harus mengatakan dirinya…? Dengan demikian, laskar Pamingit yang tak dapat berpikir panjang akan menuduhnya memata-matai mereka untuk selanjutnya memukul mereka dari belakang. Dalam keragu-raguan itu terdengar orang Pamingit mendesaknya kembali, “Siapa?”

Mahesa Jenar lah yang kemudian menyahut, “Kami adalah utusan dari Angger Arya Salaka. Ada pesan yang harus kami sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana.”

Orang itu masih ragu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Apakah pesan itu? Dan adakah kau membawa pembuktian diri bahwa kau orang Banyubiru? Kalau kau dapat menyatakan dirimu sekalipun, apakah jaminanmu bahwa kau tak bermaksud jahat?”

Setelah berpikir sejenak, Mahesa Jenar menjawab, “Kau dapat bertanya apa saja tentang Banyubiru. Kami akan menjawab sebagaimana anak daerah yang mengetahui segala sesuatu mengenai daerahnya.” “Kemudian apakah jaminan bahwa kau tidak akan berbuat hal yang merugikan laskar kami?” tanya pengawal itu.

“Kami hanya bertiga. Apakah yang dapat kami lakukan? Bawalah kami menghadap Ki Ageng Sora Dipayana. Di hadapan orang tua itu, kami tak akan mungkin berbuat sesuatu,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi kau bersenjata,” kata pengawal itu sambil menunjuk Kyai Bancak yang digengam Arya erat-erat.

“Tombak ini justru bukti kebenaran kami. Ki Ageng Sora Dipayana segera akan mengenal tombak ini, dan mempertanyai kami bahwa kami benar-benar utusan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.

Para pengawal itu berpikir sejenak. Mereka memang pernah mendengar, bahwa Arya Salaka memiliki tombak yang sakti, berrnama Kyai Bancak. Ketika mereka melihat mata tombak yang seolah-olah bercahaya kebiru-biruan di dalam siraman cahaya bulan, maka percayalah mereka bahwa tombak itulah yang bernama Kyai Bancak sebagai pertanda kebesaran Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar melihat para pengawal itu ragu, ia mendesak, “Bawalah kami kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Kalau kami bermaksud jahat, kami pasti tidak akan menempuh jalan ini. Apalagi di antara kami bertiga hanya seorang yang bersenjata. Itu saja karena kami ingin membuktikan bahwa kami benar-benar utusan Angger Arya Salaka.”

Para pengawal itu akhirnya percaya, bahwa tiga orang itu pasti tak akan bermaksud jahat. Karena itu maka segera salah seorang di antara mereka berkata, “Bawalah orang-orang ini menghadap Ki Ageng.” Kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat menyelakakan dirimu sendiri. Di sekitar daerah ini bertebaran ratusan pengawal dari Pamingit yang akan dapat memenggal lehermu di setiap tempat dan di setiap saat.”

“Baiklah Ki Sanak,” jawab Mahesa Jenar, “Aku akan taat kepada pesanmu itu, sebab aku masih ingin dapat kembali dengan selamat ke Banyubiru.”

Kemudian dengan diantar oleh lima orang bersenjata tombak, Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dibawa langsung ke Pangrantunan. Di ujung desa itu, di dalam sebuah pondok yang sedang, tampaklah penjagaan yang lebih rapi daripada tempat-tempat yang lain. Dengan demikian segera dapat dikenal, bahwa di rumah itulah Ki Ageng Sora Dipayana serta pimpinan laskar Pamingit itu berada. Setelah melalui beberapa penjagaan, maka akhirnya seseorang langsung menyampaikan berita tentang kehadiran tiga orang Banyubiru itu kepada Ki Ageng Sora Dipayana.

“Siapakah mereka?” tanya Ki Ageng. “Belum kami ketahui namanya, Ki Ageng,” jawab orang itu. “Apakah mereka bersenjata?” tanya Wulungan yang mendengar laporan itu. “Hanya seorang, yang dua orang sama sekali tidak,” jawab pengawal itu. Wulungan mengangkat keningnya, kemudian kepada Ki Ageng Sora Dipayana ia bertanya, “Apakah aku yang menerimanya?”

“Biarlah, bawalah kemari,” jawab orang tua itu. Akhirnya pengawal itu membawa Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masuk ke dalam pondok itu. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan melihat Arya, merekapun menjadi terkejut. Dengan serta merta Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya, “Kau Arya.” Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengangguk hormat.

“Ya, Eyang,” jawab Arya. Dengan pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam rongga dada, orang tua itu mempersilahkan tamunya bertiga untuk duduk di atas tikar, di bawah cahaya obor yang samar-samar. Namun meskipun demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menangkap, betapa perasaan orang tua itu bergolak. “Kedatangan kamu mengejutkan kami di sini, Arya,” kata kakeknya perlahan-lahan. “Apakah kau mempunyai keperluan yang tak dapat ditunda lagi sampai persoalanku dengan orang-orang dari golongan hitam itu selesai?”

ARYA Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo kanigara segera menangkap kecemasan hati Ki Ageng Sora Dipayana. Agaknya orang tua itu menjadi gelisah, kalau Arya Salaka kemudian mengubah pendiriannya tentang tuntutannya atas Banyubiru.

“Kapankah kira-kira persoalan Eyang akan selesai?” tanya Arya.

Ki Ageng Sora Dipayana menggelengkan-gelengkan kepalanya, jawabnya, “aku tidak tahu Arya. Besok, lusa atau seminggu, dua minggu lagi. Seandainya persoalan ini selesai, akupun tidak dapat membayangkan bentuk penyelesaiannya. Apakah orang-orang dari golongan hitam itu akan dapat aku usir dari Pamingit atau kamilah yang harus binasa dalam pelukan kewajiban kami.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Perasaan ibanya kembali melonjak-lonjak. Karena itu kemudian ia berkata, “Dapatkah aku ikut mempercepat penyelesaian ini Eyang?”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. Diangkatnya wajahnya yang telah dipenuhi oleh jalur-jalur umurnya, namun kesegaran dan kewibawaan yang terpancar dari wajah itu mengesankan bahwa Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang berjiwa besar dan penuh dengan pengalaman hidup. Tetapi kali ini orang tua itu tidak segera dapat mengerti maksud Arya Salaka. Dengan pandangan yang dipenuhi oleh persoalan-persoalan ia bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya Salaka menggeser tempat duduknya, ia tidak segera menjawab, tetapi ia memandang saja kepada gurunya. Agaknya ia minta kepada Mahesa Jenar untuk menyampaikan maksudnya kepada kakeknya, supaya segala sesuatu dapat menjadi jelas, karena ia merasa bahwa ia tidak pandai untuk menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Mahesa Jenar menangkap maksud Arya Salaka, dan karenanya ia menganggukkan kepalanya.

Tetapi sebelum Mahesa Jenar berkata, terdengarlah suara riuh diluar pondok itu.

“Ada apa diluar?” tanya Ki Ageng sora Dipayana. Kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Setelah duduk bersila dengan hormatnya, ia berkata, “Ki Ageng, laskar Ki Ageng Lembu Sora yang terpaksa ditarik mundur telah datang.”

Orang tua itu menarik napas dalam-dalam, Sambil mengangguk- angguk ia berkata, “Di manakah Lembu Sora dan Sawung Sariti?”

“Sedang menuju kemari,” jawab orang itu.

“Baiklah,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana pendek. Sebelum orang itu keluar, masuklah orang yang dikatakannya. Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Pakaian mereka yang bagus telah menjadi kotor dan kumal. Sedang wajah mereka yang dilapisi oleh debu berminyak tampak membayangkan betapa perasaan mereka bercampur baur bergolak dalam dada mereka. Kedua orang itu terkejut sekali ketika mereka melihat Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di dalam ruangan itu. Tetapi sebelum mereka menyapanya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, “Bagaimana dengan laskarmu?”

Lembu Sora menggeram.

“Terpaksa aku tarik kemari,” jawabnya.

“Seluruhnya?” tanya ayahnya pula.

“Ya.” Ia masih ingin berkata lagi, namun agaknya ia menjadi ragu. Karena itu sekali lagi ia memandang Arya Salaka dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia bertanya kasar, “Ada apa anak itu kesini?”

“Duduklah.” Ki Ageng Sora Dipayana menyilahkan. “Biarlah kita berbicara. Aku belum sampai pada pertanyaan itu.”

Dengan segan Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

Namun mereka masih memandang Arya dengan sorot mata yang asing. “Aku sedang bertanya kepadanya. “ Ki Ageng Sora Dipayana berkata setelah Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

“Kau akan memaksakan kehendakmu ketika kami sedang dalam kesulitan, kakang Arya.” Sawung Sariti mendahuluinya. Arya Salaka memandang adik sepupunya dengan sudut matanya, namun ia tidak menjawab.

“Nah, Arya. Berkatalah, apakah maksud kedatanganmu kemari.” Ki Ageng Sora Dipayana menengahi.

Kembali Arya memandang gurunya. Dan kembali Mahesa Jenar sadar bahwa muridnya memerlukan bantuannya. Tetapi sebelum Mahesa Jenar menjawab, terdengarlah Ki Lembu Sora berkata, “Jangan ragu-ragu. Katakan apa yang tersirat di dalam hatimu. Sebenarnya kami tidak perlu bertanya lagi. Terlihat dari wajahmu. Sebab apa yang tersirat didalam hati, pasti akan terbayang pada tata lahir. Lihatlah betapa kelam warna wajah-wajah kalian, pakaian kalian dan laskar kalian. Apakah kalian memungkiri bahwa kalian termasuk di dalam deretan golongan hitam?”

Betapa tersinggungnya hati Arya Salaka dan Mahesa Jenar mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya Mahesa Jenar mengamati warna pakaiannya. Hijau gadung. Memang betapa kelam warna itu. Dan ketika tiba-tiba matanya terlempar kepada baju Arya, ia menarik nafas dalam-dalam. Arya Salaka mengenakan baju pendek sangat sederhana.

“Hmm….” Terdengar ia menggeram. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara berkata dengan sarehnya.

“Ki Ageng Lembu Sora. Janganlah Ki Ageng mempersoalkan pakaian-pakaian kami. Kesederhanaan bentuk lahiriah bukanlah karena kekelaman hati. Betapa tenang warna hijau gadung yang gelap dan betapa sederhananya pakaian Arya Salaka dan laskarnya. Ki Ageng, jangan biasakan membaca batin seseorang pada tata lahirnya yang nampak. Seseorang yang yang berpakaian indah, dengan tretes intan berlian, apakah pasti bahwa ia berhati indah ? Sedangkan mereka dalam tata lahirnya nampak kelam dan jelek, apakah Ki Ageng pasti bahwa hatinya hitam?”

Tiba-tiba terdengar Ki Ageng Lembu Sora tertawa nyaring. Sedangkan Sawung sariti mencibirkan bibirnya dengan penuh hinaan. Katanya, “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Benar Ki Ageng,” sahut Kebo Kanigara. “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Sekarang katakan keperluanmu,” potong Lembu Sora dengan tidak sabarnya. “Menuntut balas ? Menuntut supaya Lembu Sora dipenggal lehernya atau apa ? Kalian benar-benar dapat kembali gunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian kau dapat memiliki Banyubiru, dan Pamingit akan kau jadikan sebagai hadiah buat golongan hitam itu.”

Tubuh Arya Salaka tiba-tiba menjadi bergetar. Ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-kata pamannya. Namun demikian terdengan Kebo Kanigara merkata-kata dengan tenangnya, “Ki Ageng. Memang kadang-kadang terjadilah hal-hal diluar dugaan wajar. Tetapi sebenarnya tidak perlu Ki Ageng menjadi heran maupun curiga. Aku juga pernah mendengar sebuah cerita yang menarik. Cerita anak-anak bersumber pada cerita Panji. Meskipun Candrakirana selalu mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang ditemuinya, baik dalam cerita Klenting Kuning maupun dalam cerita Limaran dan lain-lain, namun ia tidak pernah mendendamnya. Bahkan akhirnya ketika ia mendapatkan kamukten-nya kembali, orang-orang yang pernah mendurhakainya itupun dimuliakannya pula.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Cepat-cepat ia mendahului Lembu Sora, “Mudah-mudahan aku dapat menduga maksud cerita itu. Nah, cucuku Arya Salaka, katakan apa maksud kedatanganmu.”

Dada Arya Salaka masih tergetar oleh perasaan kecewa. Karena itu Mahesa Jenar mewakilinya, “Ki Ageng, Arya Salaka datang dengan laskarnya. Sebagai bakti seorang cucu kepada pepundhen-nya. Ia bersedia menempatkan dirinya di bawah pimpinan Ki Ageng untuk ikut serta mengusir golongan hitam itu.”

Pondok kecil itu seolah-olah menjadi tergetar oleh kata-kata itu. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa demikianlah maksud kedatangan anak itu. Ki Ageng Lembu sora seketika itu terdiam seperti patung. Ada sesuatu yang tiba-tiba bergelora didalam rongga dadanya. Sesaat ia kehilangan kesadaran diri. Seperti ia sedang terbang didunia mimpi. Dengan susah payah ia berusaha untuk meyakinkan pendengarannya.

Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menundukan wajahnya. Keluhuran hati anak itu telah memukul jantungnya sedemikian hebatnya sehingga tiba-tiba tanpa sesadarnya, dari matanya mengembanglah air mata, yang menetes satu-satu diatas pangkuannya. Sebagai seorang laki-laki, Ki Ageng Sora Dipayana telah mengalami kesulitan, penderitaan dan kepahitan. Namun ia tak pernah membiarkan perasaannya hanyut dan tenggelam dalam kesulitan itu. Sekarang, tiba-tiba ia tak mampu menguasai diri, sehingga satu-satu jatuhlah air matanya. Untuk sesaat ruangan itu terlempar ke dalam kesepian. Hanya nafas mereka yang saling memburu, terdengar sedemikian jelasnya.

Diluar, terdengarlah derap para pengawal hilir mudik melakukan kewajibannya dengan tertib. Kemudian dengan gemetar terdengar suara Ki Ageng Sora Dipayana, “Arya, coba ulangilah kata-kata Angger Mahesa Jenar, supaya aku menjadi yakin karenanya.”

“Benar Eyang’” jawab Arya, “Aku datang dengan laskarku. Aku ingin menunjukkan, apakah yang dapat aku serahkan sebagai tanda baktiku kepada orang tuaku. Sebagai pernyataan terima kasih serta sebagai suatu kenyataan atas adaku.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi semakin terharu karenanya. Sambil mengangguk-angguk kepalanya ia memandangi anaknya, Lembu Sora yang masih duduk kaku di tempatnya. “Kau dengar Lembu Sora ?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

Lembu Sora seperti orang yang tersadar dari mimpinya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang mula-mula memancarkan kemarahan tiba-tiba menjadi pudar. Ia ingin menyatakan perasaannya yang bergelora di dalam dadanya, namun yang keluar dari mulutnya dengan suara yang bergetar hanyalah,

“Ya, aku dengar ayah.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya, “Dimanakan laskarmu sekarang, Arya ?”

“Beberapa tonggak di sebelah utara desa ini, Eyang.” Jawabnya.

“Bawalah mereka mendekat, supaya segala perintah dapat tersalur dengan cepat sebaik-baiknya,” perintah Ki Ageng Sora Dipayana.

“Baik, Eyang’” jawab Arya. Kemudian iapun berdiri dan mohon diri untuk membawa laskarnya masuk ke Pangrantunan. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tinggal bersama-sama dengan eyangnya di pondok itu.

Di halaman, Arya Salaka terkejut ketika seseorang menggamitnya sambil berkata, “Aku turut dengan tuan, supaya tidak terjadi salah pengertian dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora.”

Baru Arya Salaka sadar bahwa ia berada di daerah peperangan antara laskar-laskar yang pernah berhadapan sebagai lawan yang hampir saja menumpahkan darah. Ketika ia menoleh, Wulungan berjalan di belakangnya.

“Terima kasih Paman Wulungan.” Jawabnya.

Kemudian mereka berdiam diri dan berjalan dalam keremangan cahaya bulan muda yang telah hampir tenggelam. Beberapa orang penjaga mengangguk hormat ketika mereka melihat Wulungan lewat di depan mereka. Di pinggir desa Pangrantunan, Arya Salaka melihat laskar yang berserak-serak.

Nampak betapa parah keadaan mereka. Beberapa orang yang luka masih belum terawat dengan baik.

“Kakang Wulungan ?” sapa salah seorang dari mereka.

“Ya, “ jawab Wulungan.

“Bagaimana keadaan laskarmu ?”

“Parah, “ jawab orang itu. “Keadaan kalian disini agaknya masih lebih baik.”

“Demikianlah,” sahut Wulungan, “Tetapi besok atau lusa kita akan mengalami keadaan yang sama.”

ORANG itu tertawa. Seram sekali. Tawa yang sama sekali tidak sedap, sebagai pelepas kejengkelan dan kemarahan. Hati Arya berdesir ketika ia mengenal orang itu kembali. Ia pernah melihatnya beberapa tahun yang lampau di Gedangan. Namun ia berdiam diri. Ketika mereka sudah meninggalkan laskar itu, bertanyalah Arya, “Paman Wulungan, benarkah orang tadi bernama Galunggung?”

“Ya. Dari siapa Angger mengenalnya?” sahut Wulungan.

“Ia termasuk orang baru di dalam laskar kami. Baru beberapa tahun. Namun karena sifatnya yang disukai oleh Angger Sawung Sariti, ia cepat sekali menanjak ke tempatnya yang sekarang. Pengawal pribadi Angger Sawung Sariti.”

Kemudian kembali mereka berjalan sambil berdiam diri. Angin malam masih mengalir perlahan-lahan membawa udara yang sejuk. Di langit, bintang-bintang berkedip-kedip dengan cerahnya. Tiba-tiba terdengar kembali suara Wulungan, “Angger….”

Arya Salaka menoleh, namun tidak menjawab. “Beruntunglah laskar Banyubiru mendapat seorang pemimpin seperti Angger ini.” sambung Wulungan. Arya mengerutkan keningnya, “Kenapa Paman?” “Sudah lama aku mengagumi kejantanan Angger. Agaknya sifat-sifat ayahanda Gajah Sora tercermin di dalam hati Angger. Apalagi Angger mendapat asuhan dari seorang yang mengagumkan dalam perjalanan hidup Angger selama ini, sehingga dengan demikian sempurnalah sifat-sifat kepahlawanan di dalam tubuh Angger. Orang setua aku inipun tak akan membayangkan bahwa pada suatu ketika Angger datang dengan laskar yang segar untuk kemudian membantu pamanda dalam kesulitan ini. Alangkah jauh bedanya sifat-sifat itu dengan sifat-sifat Angger Sawung Sariti.”

“Jangan memuji, Paman,” sahut Arya Salaka.

“Aku berkata atas keyakinan,” jawab Wulungan, “Aku adalah salah seorang dari laskar Angger Sawung Sariti itu.”

Arya tersenyum mendengar pujian itu. Ia sama sekali tidak membanggakan diri karena sifat-sifat yang baik dan dikagumi orang, tetapi ia berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa, bahwa karena kuasa-Nya, maka ia selalu mendapat petunjuk-petunjuk dan mendapat sinar terang di hatinya. Selalu diingatnya sebuah ceritera yang pernah diceriterakan oleh gurunya, tentang dua orang hamba seorang raja dan yang seorang adalah pemungut pajak yang kejam. Ketika mereka berdua bersama-sama menghadap raja, maka berkatalah penghulu istana, -Maha Raja yang bijaksana. Aku adalah orang yang sebaik-baiknya di kerajaanmu. Aku selalu berbaik hati kepada rakyatmu dan memberikan kepada mereka hadiah-hadiah yang berharga, sehingga dengan demikian segenap rakyatmu akan mencintai aku. Karena itu, kalau Maha Raja akan memberi hadiah kepada hambanya, maka akulah orangnya yang paling pantas untuk menerimanya.- Sedang pemungut pajak itu kemudian bersujud di bawah kaki Maha Raja yang bijaksana itu, katanya, -Duh Maha Raja yang bermurah hati. Aku adalah orang yang sejahat-jahatnya di kerajaanmu. Aku telah menjalankan pekerjaanku dengan lalimnya karena aku inginkan pujian dari atasku. Karena itulah maka rakyat di kerajaanmu sangat membenci aku. Namun Maha Raja yang bijaksana, karena itulah aku akan bertobat. Dan aku akan menerima hukuman yang akan ditimpakan kepadaku atas kelalaianku itu.- Ketika kemudian Raja yang bijaksana itu memberikan hadiahnya, maka pemungut pajak itulah yang berhak menerimanya. Bukan penghulu istana. Kemudian ternyatalah bahwa pemungut pajak itu benar-benar bertobat dan membagi-bagikan hadiahnya kepada mereka yang pernah dicederainya, sedang penghulu istana kemudian berontak terhadap raja, hanya karena ia tidak menerima hadiah. Sebab kebaikan yang dilakukan selama itu hanyalah terdorong oleh keinginannya untuk menerima hadiah. Demikianlah Arya Salaka menerapkan ceritera itu dalam hidupnya sehari-hari. Kebaikan dan keikhlasannya berkorban bukanlah semata-mata karena jiwa pengabdiannya serta kesetiaannya pada kewajibannya.

Beberapa langkah kemudian sampailah mereka di pusat pengawalan. Ketika mereka melihat Wulungan dan seorang lain lewat, segera pemimpin pengawal itu membungkuk hormat kepadanya sambil menyapa, “Kakang Wulungan…?”

“Ya,” jawab Wulungan, “Bagaimana keadaannya?”

“Selama ini baik, Kakang,” jawab orang itu.

“Tak ada yang mencurigakan?” tanya Wulungan pula. “Tidak Kakang,” jawab orang itu. “Bagus. Aku akan pergi sebentar. Menjemput laskar Banyubiru,” sahut Wulungan.

“Laskar Banyubiru…?” Orang itu menjadi heran. Bahkan beberapa orang lainpun menjadi keheranan pula sehingga mereka mendesak maju.

“Ya,” jawab Wulungan sambil memperhatikan wajah-wajah yang kecemasan itu. Beberapa orang menjadi saling berpandangan. Berita kedatangan laskar Banyubiru itu bagi mereka seakan-akan bunyi kentong pelayatan atas jenazah mereka. Melihat kegelisahan yang membayang itu Wulungan menyambung kata-katanya, “Mereka akan datang membantu kita.”

“He…?” terdengar mereka berteriak terkejut.

“Membantu kita atau membinasakan kita?” Para pengawal itu masih ingat dengan jelas beberapa hari yang lalu mereka sudah berhadapan dengan laskar Banyubiru itu dengan kesiapan-kesiapan tempur. “Percayalah kepadaku. Mereka datang untuk membantu kita menumpas golongan hitam itu.” Wulungan menjelaskan.

“Suatu harapan yang akan mengecewakan,” sahut pemimpin pengawal itu.

“Dengarlah sendiri apa yang dikatakan oleh pemimpin laskar Banyubiru itu,” berkata Wulungan. “Pemimpin laskar Banyubiru? Siapakan dia dan di manakah dia?” tanya beberapa orang bersama-sama. “Arya Salaka. Inilah orangnya,” jawab Wulungan.  

KEMBALI mereka terkejut. Orang itulah yang tadi datang bersama-sama dengan dua orang lainnya, yang mengatakan bahwa mereka adalah utusan Arya Salaka. Ternyata anak muda yang membawa tombak itu sendirilah yang bernama Arya Salaka. Ketika mereka masih keheranan, terdengarlah Arya Salaka berkata, “Jangan berprasangka. Aku datang untuk membantu kalian. Bukankah kalian seperti kami juga dari Banyubiru, adalah pewaris Tanah Perdikan Pangrantunan?”

Wajah-wajah yang sudah pucat karena putus asa itu tiba-tiba menjadi berangsur merah. Saat-saat terakhir mereka hanya dapat menunggu sampai tangan-tangan hitam itu membinasakan mereka satu demi satu. Tetapi tiba-tiba terulurlah tangan Arya Salaka untuk menyelamatkan mereka. Karena itu tiba-tiba melonjaklah keharuan di dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya pemimpin pengawal itu segera berjongkok di hadapan Arya sambil berkata, “Tuan, Tuan datang sebagai datangnya malaikat yang akan menyelamatkan kami, tanah kami serta kebesaran nama Pangrantunan.”

“Aku datang sekadar menetapi kewajiban,” sahut Arya sambil menarik lengan orang itu. “Berdirilah,” katanya. Orang itu kemudian berdiri. Tetapi kepalanya tertancap jauh ke tanah dekat di ujung ibu jari kakinya. Terlintas di dalam kepalanya, kepahitan hidup yang dialaminya bersama-sama laskar Lembu Sora yang lain. Kecurangan, kenaifan dan sifat-sifat yang lain. Sekarang terasa betapa jujur kata-kata anak muda itu. Arya Salaka yang selama ini dikejar-kejar oleh laskar Pamingit untuk dibunuhnya. Oleh kenangan itu terasa bahwa mulutnya tiba-tiba seperti tersumbat. Banyak sekali terima kasih yang akan diucapkan, namun tak sepatah katapun yang terlahir. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Wulungan, “Kami akan berjalan. Perintahkan kepada para pengawal untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat menimbulkan salah mengerti antara laskar Pamingit dan laskar Banyubiru. Kami seterusnya akan bersama-sama berjuang untuk tanah kami.”

“Baik Kakang,” jawab pemimpin pengawal itu. Arya Salaka bersama-sama Wulungan kemudian meneruskan perjalanannya, menjemput laskar Banyubiru yang ditinggalkan beberapa tonggak dari Pangrantunan. Berita tentang akan datangnya laskar Banyubiru itupun segera tersebar. Dalam waktu yang sangat singkat. Setiap pengawal yang bertugas telah mendengarnya. Berbagai tanggapan bergelut di dalam dada mereka. Setengahnya mereka tidak percaya, sedang setengahnya menjadi gembira. Kalau pada umumnya mereka telah berputus asa, tiba-tiba timbullah harapan dan gairah mereka kembali atas tanah mereka. Meskipun mereka belum yakin bahwa di dalam laskar Banyubiru itu ada orang-orang yang tangguh seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, apalagi seperti Ki Ageng Sora Dipayana dan pendatang yang aneh, yang mirip dengan perempuan dan bernama Titis Anganten. Namun setidak-tidaknya nasib mereka berbagi. Di dalam pondok kecil masih berkumpul Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tiba-tiba timbullah keinginan Ageng Sora Dipayana untuk melihat laskar Banyubiru itu. Apakah mereka akan dapat memberikan bantuan yang berarti. “Marilah kita lihat laskar Arya itu,” katanya. “Marilah Ki Ageng,” jawab Mahesa Jenar.

Tiba-tiba Sawung Sariti tersenyum. Senyum yang kecut, sambil berkata, “Ayah, dapatkah anak itu kami percaya?” Mata Lembu Sora masih saja membayangkan kekeruhan hatinya. Sebenarnya ia melihat betapa wajah kemanakannya benar-benar meyakinkan, bahwa anak itu telah berkata dengan jujur. Karena itu ia tidak dapat menjawab pertanyaan anaknya. Yang terdengar adalah jawaban Ki Ageng Sora Dipayana, “Kau terlalu dihantui oleh perasaanmu sendiri cucuku. Percayalah kepada kakangmu. Aku yang menjadi jaminannya.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora berkata pula, “Aku mempercayainya Sawung Sariti.”

Mata Sawung Sariti menjadi redup. Senyum yang aneh membayang di bibirnya. Tiba-tiba Mahesa Jenar menjadi muak melihat senyum itu, mirip benar seperti senyuman Jaka Soka dari Nusakambangan.

Namun demikian ia tidak berkata apa-apa. Mereka semuanya kemudian melangkah keluar pondok itu dan berjalan untuk melihat laskar Arya Salaka yang akan datang masuk ke Pangrantunan. Mereka untuk sementara akan ditempatkan di halaman Banjar Desa untuk menunggu tempat yang lebih baik bagi laskar itu, seperti juga laskar Lembu Sora yang masih belum mendapat penampungan yang baik. Ketika Arya Salaka tampak mendatangi laskarnya, segera Bantaran dan Penjawi menyongsongnya, sambil berkata, “Bagaimana Angger?” “Kami dapat diperkenankan memasuki desa Pangrantunan, Paman. Dan inilah Paman Wulungan,” jawab Arya Salaka.  

BANTARAN menganggukkan kepalanya, demikian juga Penjawi yang segera dibalas oleh Wulungan. “Aku mengucapkan selamat atas kedatangan kalian,” sambut Wulungan dengan ramahnya.

“Terima kasih,” jawab Bantaran. Ketika kemudian muncul Jaladri diantara mereka, berkatalah ia kepada Wulungan dengan akrabnya, seperti kepada sahabatnya yang karib.

“Selamat malam Wulungan. Sudahkah kau sediakan makan malam buat kami?” Nasib mereka dalam sehari, pada saat-saat mereka bertempur melawan Bugel Kaliki, telah membentuk persahabatan yang akrab di antara mereka. Dengan tertawa Wulungan menjawab, “Tentu Jaladri. Tetapi sayang bahwa kau tak akan mendapat bagian.” 

Jaladri kemudian tertawa. Ketika kemudian segala sesuatu telah dipersiapkan, maka segera laskar itupun berangkat memasuki desa Pangrantunan. Bagaimanapun juga, di dalam dada laskar Banyubiru itu, masih juga tersangkut rasa persaingan dengan laskar Pamingit. Meskipun kemudian mereka tidak akan bertempur, namun di hati Bantaran, Penjawi, Jaladri dan lain-lain pemimpin laskar itu, masih ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa mereka sama sekali tidak berada di bawah tingkatan laskar Pamingit. Karena itulah, maka mereka memasuki Pangrantunan dengan upacara yang menggemparkan.

Meskipun menjelang tengah malam, namun laskar Banyubiru berjalan dalam derap irama sangkalala dan genderang yang menggema melingkar-lingkar di lereng bukit Merbabu itu. Suara sangkalala dan genderang itu telah mengejutkan segenap laskar Pamingit. Baik yang sedang bertugas, maupun yang sedang beristirahat. Karena itu segera mereka bangkit. Mereka yang kurang mengerti persoalannya, segera memegang senjata masing-masing. Tetapi kemudian para pemimpin mereka memberi mereka penjelasan-penjelasan yang didengarnya dari pemimpin pengawal yang sedang bertugas. Seperti juga yang lain-lain, mereka ragu. Karena itu mereka ingin menyaksikan kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.

Laskar Banyubiru memasuki Pangrantunan dengan derap yang mengagumkan. Di ujung barisan itu berjalan dengan tegapnya Bantaran, kemudian Penjawi. Diikuti oleh pasukan yang segar, yang memancarkan keteguhan hati mereka. Meksipun laskar ini tidak mempergunakan kesegaran yang khusus, namun di dalam dada mereka berakar tekad yang seragam. Mengabdi kepada tanah pusaka, tanah tercinta, yang diperuntukkan oleh Maha Pencipta bagi mereka.

Laskar Pamingit yang pecah, ketika melihat kedatangan laskar Banyubiru itu, merasa seolah-olah mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya. Karena itu, tanpa disengaja, secara serta merta, mengumandanglah teriakan-teriakan mereka.

“Hidup laskar Banyubiru…. Hidup laskar Banyubiru….”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat laskar Banyubiru lewat di hadapannya dalam keremangan cahaya bulan. Sungguh tak diduganya, betapa anak-anak Banyubiru, yang selama ini terpaksa menyingkir karena pokal Lembu Sora itu, dapat merupakan kesatuan yang sedemikian mengagumkan.

Dengan dada tengadah, dan percaya kepada keadilan Yang Maha Kuasa, yang telah menempa mereka menjadi laskar yang pilih tanding. Lembu Sora sendiri melihat pasukan itu dengan hati yang pecah-pecah. Setiap derap langkah mereka, merupakan pukulan yang dahsyat, yang seakan-akan memecahkan rongga dadanya. Satu-satu berterbanganlah kenangan-kenangan masa lampaunya yang memalukan.

Teringatlah, betapa ia berusaha mati-matian untuk meniadakan Arya Salaka. Dan tiba-tiba anak itu sekarang datang menyelamatkannya, menyelamatkan tanahnya. Apalagi ketika Lembu Sora menyaksikan laskar Banyubiru dengan mata kepala sendiri. Ia menjadi bertambah malu. Disangkanya bahwa laskar Arya Salaka tidak lebih dari gerombolan berandal yang hanya mampu mencegat orang pergi berbelanja ke pasar. Namun ketika sudah disaksikannya sendiri laskar itu, bergetarlah jantungnya, seperti udara yang digetarkan oleh suara genderang laskar Banyubiru itu. Dan terngianglah kembali kata-kata Kebo Kanigara, “Golongan hitam bukanlah mereka yang hitam pada wadag dan tata kelahirannya, tapi golongan hitam adalah mereka yang berhati hitam.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Ia tidak kuasa lagi menyaksikan laskar yang perkasa itu. Tetapi lebih daripada itu, ia menjadi terharu atas kenyataan yang dialaminya. Terbayanglah di dalam rongga matanya, seolah-olah semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan atas perbuatannya.

Lembu Sora terkejut ketika sekali lagi terdengar sorak, “Hidup laskar Banyubiru.” Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Tampaklah di luar barisan berjalan Arya Salaka dengan tobak Kyai Bancak di tangannya bersama-sama Wulungan. Dada Lembu Sora menjadi berdentang karenanya. Tiba-tiba ia seolah-olah melihat kakak Gajah Sora berjalan di mukanya, memandangnya dengan marah dan berkata kepadanya, “Lembu Sora, coba bunuhlah anakku itu kalau kau berani.”

Sekali lagi wajah Lembu Sora terbanting di tanah.

Yang mempunyai tanggapan lain adalah Sawung Sariti. Ketika pasukan Banyubiru itu lewat, terasa dadanya berdesir pula, karena iapun sama sekali tak menyangka, bahwa laskar itu dapat berbaris dengan tertib serta penuh kepercayaan pada dirinya. Betapa mereka menggenggam senjata mereka dengan cermatnya, sebagai tanda bahwa mereka menguasai setiap senjata yang berada di tangan mereka dengan baiknya. Di dalam hati kecilnya, Lembu Sora bersukur pula bahwa laskarnya tak terlibat dalam pertempuran dengan laskar Banyubiru itu. Sebab dengan demikian, ia akan terpaksa meninggalkan Banyubiru dengan nama yang ternoda, kalau terpaksa laskarnya tak mampu melawan laskar Arya Salaka itu.

TETAPI yang kemudian menguasai perasaan Sawung Sariti adalah sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia menjadi iri hati. Iri hati terhadap kemampuan Arya Salaka memimpin laskarnya, iri hati terhadap kegagahan laskar itu. Apalagi ketika ia melihat eyangnya tampak bangga, dan ayahnya bersedih. Sebelum laskar itu habis sampai ke ujungnya, ia sudah memalingkan mukanya. “Bagaimana Anakmas?” terdengar suara di belakangnya.

“Hem…” geramnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Galunggung?” “Tak berarti,” sahut orang itu.

“Besok atau lusa laskar yang sombong itu pasti sudah akan dihancurkan oleh arus laskar gabungan dari golongan hitam itu.”

Sawung Sariti mencibirkan bibirnya. “Laskarnya tak begitu banyak. Apa yang dibanggakan?”

“Yang datang hanya separo, Tuan.”

Tiba-tiba terdengar suara lain di sampingnya. Ketika keduanya menoleh, dilihatnya Srengga berdiri di situ.

“Dari mana kau tahu?” tanya Sawung Sariti

“Dari pengawal,” jawab Srengga.

“Omong kosong,” sahut Galunggung dengan wajah yang dilapisi oleh kedengkian. Srengga kemudian berdiam diri. Yang lain pun diam. Sekali lagi mereka melayangkan pandangan mereka kepada pasukan yang lewat. Namun sesaat lagi habislah barisan itu. Mereka yang menyaksikan, segera kembali pula ke tempat masing-masing. Sebagian besar dari mereka merasa bahwa pekerjaan mereka akan diperingan karena kedatangan laskar itu. Bahkan mungkin, nyawa merekapun akan selamat pula. Laskar Pamingit akan bebas dari kemusnahan mutlak. Meskipun demikian, kemampuan tempur laskar Banyubiru masih perlu diuji.

Malam itu laskar Banyubiru beristirahat di tempat yang sudah ditentukan. Di halaman Banjar Desa yang tak begitu luas, sehingga sebagian besar dari mereka, harus duduk bersandar pagar di sepanjang jalan desa di muka banjar itu. Namun mereka dapat merasakan kenikmatan dari waktu istirahat itu.

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara kembali duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti dan Wulungan. Ki Ageng Sora Dipayana kemudian mengambil seluruh pimpinan di tangannya.

“Tak ada pilihan lain ayah,” jawab Lembu Sora. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukan kepalanya.

“Terima kasih atas keikhlasanmu Lembu Sora.” Selanjutnya, orang tua itu membuat perintah-perintah yang harus dilakukan oleh Arya Salaka beserta laskarnya, dan Lembu Sora dengan laskar Pamingit. “Menurut perhitunganku, serta pengintai-pengintai yang datang sampai saat terakhir, mereka tidak akan menyerang kedudukan kita sekarang ini,” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Sebab mereka merasa, bahwa jumlah laskar mereka tidak terlalu banyak, sehingga mereka lebih senang menanti kita datang menyerang.”

Tak seorangpun yang mengajukan pendapatnya.

“Karena itu…” orang tua itu meneruskan, “Kita masih mempunyai satu hari untuk beristirahat. Lusa kitalah yang mengambil peran, menyerang kedudukan mereka. Kita mengambil daerah pertempuran yang luas dengan gelar Jinatra Sawur atau gelar-gelar yang lain, yang menebar. Garudha Nglayang atau Sapit Urang.”

Tiba-tiba orang tua itu teringat bahwa di antara mereka duduk seorang bekas perwira prajurit pengawal raja, yang pasti mempunyai perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dalam peperangan antara dua pasukan yang berjumlah besar.

Karena itu segera ia berkata, “Bukankah begitu Angger Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar sadar pada kedudukannya. Maka iapun menjawab, “Demikianlah Ki Ageng, namun aku ingin mengusulkan, untuk melawan mereka yang biasa bertempur tanpa aturan, dan terlalu percaya pada kesaktian pemimpin-pemimpin mereka. Biarlah di antara kita pun ada beberapa orang yang terlepas dari ikatan gelar, untuk melayani pemimpin-pemimpin mereka yang tak mau mengikat diri itu.”

“Bagus,” sambut orang tua itu. “Kita pun mempunyai orang-orang semacam itu di sini. Titis Anganten, misalnya.”

Baru saat itulah Mahesa Jenar teringat bahwa di dalam laskar Pamingit itu terdapat seorang sakti yang bernama Titis Anganten. Karena itu kemudian ia bertanya, “Di manakah Paman Titis Anganten itu?”

“Ia berkeliaran sepanjang hari,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana.

“Tapi ia hadir dalam setiap pertempuran.”

“Kalau demikian, biarlah Paman Titis Anganten kita perhitungkan pula. Siapakah para pemimpin golongan hitam dari angkatan tua itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Bugel Kaliki, Sima Rodra, Pasingsingan, Nagapasa dan Sura Sarunggi,” jawab Sora Dipayana.

“Nah, kalau demikian kitapun harus melepaskan lima orang dari ikatan gelar itu. Bahkan barangkali lebih dari itu, untuk melawan tokoh-tokoh muda mereka, seperti Lawa Ijo dan Soka,” sahut Mahesa Jenar. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi siapakah lima orang itu? Mungkin dirinya sendiri dapat melayani setiap tokoh sakti lawan mereka itu, orang kedua adalah Titis Anganten, tetapi lalu siapa? Mahesa Jenar sendiri merasa, bahwa iapun sanggup untuk menyerahkan dirinya dalam pengabdian itu, namun agaknya sulitlah baginya untuk menyatakan diri. Tetapi dengan tak diduga-duga, terdengarlah suara Sawung Sariti dengan nada yang tinggi, “Siapakah lima orang dari kamu itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas. Ia melihat wajah cucunya dengan kecewa, juga nada suaranya tak menyenangkan. Namun orang tua itu menjawab, “Sudah menjadi kewajibanku untuk menjadi orang yang pertama cucu, sedang yang kedua eyangmu Titis Anganten.”

Kata-kata orang tua itu terputus. Ia ragu-ragu untuk meneruskan, dan memang tak diketahuinya siapa yang akan disebut namanya. “Lalu siapakah yang ketiga, keempat dan kelima…?” Sawung Sariti mendesak. Ki Ageng Sora Dipayana menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu, Sariti.”  

SAWUNG SARITI tersenyum. Senyum yang mengundang seribu satu macam kemungkinan.

Katanya, “Kenapa bukan Paman Mahesa Jenar yang perkasa serta sahabatnya dari Karang Tumaritis itu?” Sawung Sariti mengharap bahwa Mahesa Jenar tidak akan menolak di hadapan sekian banyak orang. Kalau Mahesa Jenar menerima tawaran itu, apakah ia mampu berbuat demikian? Di Gedangan, Sima Rodra dan Bugel Kaliki pernah mengalami kekalahan, namun ia tidak yakin, bahwa kekalahan itu disebabkan karena Mahesa Jenar dan sahabatnya itu. Beberapa laskarnya melihat seorang berjubah abu-abu ikut serta membantu mereka. Dan ia tidak tahu, siapakah orang berjubah abu-abu itu. Apakah ia Pasingsingan. Tetapi Pasingsingan tidak akan gila. Malahan mungkin eyangnya itu sendiri atau Titis Anganten, atau Ki Ageng Pandan Alas. Sekarang, tanpa bantuan seorangpun Mahesa Jenar pasti akan binasa. Bukankah Arya Salaka tak banyak berarti tanpa Mahesa Jenar?

Oleh perhitungan itu Sawung Sariti menjadi tegang menunggu jawaban dari orang yang dijerumuskannya ke dalam kesulitan itu. Mahesa Jenar tidak dapat tepat menebak maksud anak itu, namun ia merasa bahwa ada sesuatu maksud terkandung dibalik kata-katanya. Meskipun demikian perlahan- lahan ia menjawab, “Baiklah Angger, kalau Angger Sawung Sariti berpendapat demikian, serta Ki Ageng Sora Dipayana menyetujuinya, aku dan sahabatku dari Karang Tumaritis ini akan bersedia untuk membantu.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut mendengar kesanggupan Mahesa Jenar itu. Karena itu ia segera memotong, “Angger Mahesa Jenar, sebenarnya tidak perlu diartikan bahwa setiap orang harus melawan satu di antara mereka. Aku pernah memakai cara yang lain. Kelompok demi kelompok.”

Sebelum Ki Ageng meneruskan kata-katanya, Sawung Sariti telah menyela, “Usaha itu ternyata gagal. Setiap kali, lima atau enam di dalam kelompok itu terbunuh.”

“Kalau demikian…” Mahesa Jenar menengahi, “Biarlah aku berada dalam kelompok- kelompok itu. Demikian juga Kakang Putut Karang Jati ini. Biarlah ia berada pada kelompok yang lain.”

Ki Ageng Sora Dipayana tak dapat berbuat lebih baik lagi selain menyetujui terakhir Mahesa Jenar itu. Sawung Sariti menjadi agak kecewa karenanya, namun bagaimanapun juga ia mengharap Mahesa Jenar akan masuk kedalam perangkapnya.

Demikianlah akhirnya, mereka masing-masing meninggalkan pertemuan itu kembali ke dalam lingkungannya. Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara ke halaman Banjar Desa, sedang Lembu Sora dan Sawung Sariti kembali ke dalam pasukannya yang payah. Di dalam kelompok yang kecil itu tinggallah Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan. Yang akhirnya mereka mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat.

Pagi-pagi benar, Ki Ageng Sora Dipayana telah bangun. Ia menunggu kalau ada tanda-tanda atau laporan bahwa orang-orang dari golongan hitam mulai bergerak. Tetapi ternyata bahwa perhitungannya benar. Hari itu mereka masih dapat beristirahat sehari penuh, sebelum pada keesokan harinya mereka harus bekerja mati-matian. Kesempatan hari itu dipergunakan untuk menyusun kembali pasukan Pamingit, serta menempatkan mereka ke dalam pondok-pondok di desa itu. Demikian juga laskar Banyubiru pun telah disediakan tempat-tempat untuk bernaung dari dinginnya embun malam. Pada malam harinya, keadaan menjadi bertambah tegang. Mereka harus beristirahat sebaik-baiknya, sebab mereka tahu bahwa besok mereka harus bertempur kembali.

Yang paling tegang di antara mereka adalah Arya Salaka. Ia selalu teringat kepada ibunya. Kalau besok ia menerobos pertahanan golongan hitam, dan dapat mendesaknya, apakah yang akan dilakukan oleh golongan hitam itu terhadap ibunya? Tetapi ketika ia sedang berangan-angan di muka pondoknya, tiba-tiba muncullah dari kegelapan malam, seorang yang bertubuh kecil, berjalan seperti seorang perempuan mendekatinya.

Beberapa langkah dimukanya orang berhenti dan bertanya, “Arya Salakakah ini?”

Arya Salaka tahu siapa yang datang. Karena itu ia berdiri dan enyambutnya, “Ya, Eyang.”

Orang itu tertawa perlahan-lahan. “Kau sedang bersedih?”

“Tidak Eyang,” sahut Arya tergagap.

“Jangan berdusta. Kau rindu pada ibumu?” tanya Titis Anganten pula. Arya Salaka tertegun. Orang tua itu dapat menebak perasaannya dengan tepat. Namun demikian ia agak malu juga untuk mengiyakan. Ketika Arya diam, bertanyalah Titis Anganten itu, “Pamanmu ada…?”

“Ada, eyang. Apakah Eyang mau bertemu dengan Paman Mahesa Jenar?” tanya Arya pula. “Tidak,” jawab orang tua itu sambil duduk di samping Arya. “Aku hanya perlu kau. Ada sebuah berita untukmu.” Arya menjadi tertarik pada berita yang dibawa oleh Titis Anganten itu. “Berita pentingkah itu Eyang?” tanya Arya.

“Sangat penting bagimu, bagi ketentraman hatimu,” jawab Titis Anganten.

“Berita tentang ibumu.” Arya terlonjak.

“Ibu…?” Ia menegaskan.

“Ya.”

“Bagaimanakah dengan ibu?” Ia tidak sabar lagi.

“Duduklah Arya. Dengarlah baik-baik. Aku akan berceritera tentang ibumu,” kata Titis Anganten perlahan-lahan.

Arya duduk kembali. Ia menjadi sedemikian ingin segera mengetahui, berita apakah yang akan disampaikan kepadanya.  

TITIS ANGANTEN memulai, “Ketika golongan hitam itu menyerbu Pamingit, Pamingit sedang kosong. Pamanmu Lembu Sora dan adikmu Sawung Sariti berada di Banyubiru. Mereka sedang bersiap-siap untuk menghadapi laskarmu. Nah, dengan mudahnya golongan hitam itu dapat masuk ke dalam kota. Hampir tanpa perlawanan. Semua laskar Pamingit yang ada lari cerai berai. Tak ada seorang pun yang ingat untuk menyelamatkan Nyai Lembu Sora dan ibumu. Untunglah bahwa aku sejak semula selalu melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Aku melihat persiapan- persiapan yang dilakukan oleh golongan hitam. Sehingga dengan demikian aku sempat menyingkirkan bibi serta ibumu itu.”

“Jadi ibuku selamat?” tanya Arya.

“Ya. Ibumu selamat,” jawab Titis Anganten.

Tiba-tiba rongga dada Arya serasa tersumbat. Nafasnya menjadi sesak. Dan tidak setahunya ia berbisik, “Tuhan Maha Besar.”

Kemudian Arya memutar duduknya dan bersujud kepada orang tua yang menyelamatkan ibunya itu sambil berkata, “Tak dapat aku menyatakan betapa besar terima kasihku kepada Eyang Titis Anganten.”

Orang tua itu tertawa nyaring. Kemudian tanpa berkata sepatah katapun ia berdiri dan berjalan pergi. “Eyang….” Arya mencoba memanggil.

Tetapi Titis Anganten tidak berhenti. Yang terdengar hanyalah derai tawanya. Lamat-lamat kemudian terdengar ia berkata, “Aku sudah mengantuk. Besok aku akan turut bertempur dengan eyangmu.”

Kembali Arya tertegun diam. Ia tidak sempat bertanya di mana ibunya sekarang. Namun ia percaya bahwa Titis Anganten telah menempatkan ibunya itu di tempat yang aman. Dengan demikian hati Arya Salaka menjadi agak tenteram. Tidak perlu lagi ia mencemaskan nasib ibunya, meskipun seandainya orang-orang golongan hitam nanti menghancurlumatkan Pamingit.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, Arya pun segera masuk ke dalam pondok yang disediakan untuknya. Dilihatnya gurunya sedang tidur dengan nyenyaknya di samping Kebo Kanigara.

Di luar, beberapa orang masih duduk berjaga-jaga. Tetapi malam itu Arya dapat tidur dengan nyenyaknya. Ia tidak peduli lagi apa yang terjadi atas dirinya besok pagi. Namun ia malam itu bermimpi indah. Ia melihat ibunya segar bugar, tersenyum kepadanya sambil berkata, “Arya, sambutlah dengan kedua tanganmu. Hari akan cerah.”

Arya tersenyum di dalam tidurnya. Pagi-pagi ia terbangun oleh kesibukan di halaman. Beberapa orang telah siap dengan senjata di tangan, meskipun beberapa orang masih enak-enak menikmati minum air sere yang hangat, dengan segumpal gula kelapa. Dilihatnya gurunya, Mahesa Jenar dengan Kebo Kanigara pun sedang minum dengan segarnya.

Cepat-cepat Arya mengambil air wudlu.

Sesudah sembahyang Subuh, kemudian ia pun turut serta duduk di sekitar perapian sambil menghangatkan tubuhnya. Sebentar kemudian datanglah beberapa orang mengantar nasi hangat, dengan srundeng kelapa dan segumpal sambal wijen. Betapa nikmatnya mereka makan bersama sebelum mengadu nasib, berjuang di antara hidup dan mati. Nasi itu adalah mungkin sekali nasi yang terakhir yang dapat dinikmatinya.

“Kita berada di sayap kiri.”

Terdengar gurunya bergumam. Arya mengangguk sambil menelan segumpal nasi lewat lehernya.

Setelah mereka mengaso sejenak, terdengarlah tengara dibunyikan. Laskar Banyubiru itupun segera bersiap, dan berbaris menuju ke sawah di depan desa Pangrantunan. Mereka, dengan tidak menghiraukan lagi tanaman-tanaman yang sedang tumbuh, segera merapatkan diri dalam barisan.

Beberapa orang pemimpin dari laskar masing-masing segera menghadap Ki Ageng Sora Dipayana untuk mendapat beberapa cara menghadapinya. Apabila mungkin, mereka harus memilih lawan. Jangan sampai ada korban sia-sia. Ketika sangkalala berbunyi, barisan itu mulai bergerak. Dalam keremangan pagi, tampaklah barisan itu seperti seekor naga raksasa yang berenang di dalam air yang keruh.

Di depan, berjalan laskar Pamingit, di bawah pimpinan Lembu Sora sendiri, dibantu oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Sedangkan di belakang, berjalan laskar Banyubiru, di bawah pimpinan Arya Salaka, dibantu oleh Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat. Di tangan Arya Salaka tergenggam erat-erat pusaka Banyubiru, Kyai Bancak.  

BEBERAPA orang pengintai telah dikirim lebih dahulu, untuk mengetahui di mana kira-kira orang-orang dari golongan hitam itu mempersiapkan diri. Biasanya mereka sama sekali tidak membuat garis-garis pertahanan yang tegas. Mereka bertempur di mana saja mereka ingin dan kapan saja mereka sempat. Tetapi jelas, bahwa kali ini mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan Pamingit. Bahkan mereka merasa bahwa lawan mereka telah separo hancur, sehingga untuk menumpasnya tidaklah terlalu sulit.

Tetapi agaknya pengawas merekapun telah mengetahui kedatangan laskar Banyubiru, sehingga dengan demikian mereka menjadi heran, apakah agaknya Arya Salaka telah menjadi gila. Apalagi kemudian, kedua laskar itu berada di Pangrantunan bersama-sama. Tidak seperti yang mereka harapkan, bertempur satu sama lain.

Dengan bangga atas kekuatan sendiri, Sima Rodra berkata, “Kalau di dalam laskar Banyubiru itu ada Mahesa Jenar, akulah lawannya. Sebab ia telah membunuh menantuku.”

Beberapa lama kemudian pengintai dari Pamingit itupun melaporkan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa orang-orang golongan hitam itu tidak bergerak dari Kepandak.

Namun orang-orang mereka yang di Sumber Panas pun telah ditariknya. Mereka memusatkan kekuatan di satu tempat, untuk menghadapi laskar Pamingit dan Banyubiru. Demikianlah ketika mereka telah berhadap-hadapan dengan desa Kepandak, Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan laskarnya.

Kemudian diperintahkannya laskar Pamingit dan Banyubiru membentuk gelar perang Sapit Urang. Laskar Pamingit dan Laskar Banyubiru itu pun segera bergerak dalam garis yang menebar, laskar Pamingit di sayap kanan, laskar Banyubiru di sayap kiri, yang masing-masing merupakan sapit dari seekor udang raksasa yang siap menerkam lawannya.

Di pusat gelar yang justru tidak terlalu banyak, tampaklah beberapa bagian laskar Pamingit dan dua orang yang berdiri lepas dari gelar, masing-masing Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di muka laskar Banyubiru, sapit sebelah kiri, di bawah pimpinan Arya Salaka. Di hadapan mereka, berjajar rapat di tepi desa Kepandak, orang-orang dari golongan hitam. Merekapun agaknya telah mengerahkan segenap laskar mereka. Mereka sama sekali tidak membentuk gelar apapun, karena itu, mereka dapat menyerang ke mana saja mereka inginkan.

Tetapi ketika orang-orang dari golongan hitam itu melihat gelar lawannya, mau tidak mau merekapun harus menyesuaikan diri mereka. Melawan bagian-bagian yang terberat dengan orang-orang yang terkuat.

Ketika di timur cahaya matahari sudah semakin terang, sebelum bola api itu muncul di wajah-wajah langit, kedua laskar itupun telah berhadap-hadapan dalam kesiagaan tempur. Jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di pihak masing-masing.

Di muka barisan laskar golongan hitam itu berdiri beberapa orang pemimpin mereka, yang dengan tertawa-tawa menanti kedatangan lawan. Mereka itu adalah Pasingsingan dengan jubah abu-abunya,

Sima Rodra yang kali ini lengkap dengan kulit harimau hitamnya, namun ia tidak mengenakan topengnya. Nagapasa, Naga dari Nusakambangan, Sura Sarunggi dari Rawa Pening yang menyimpan dendam tiada taranya atas kematian muridnya, sepasang Uling dari Rawa Pening. Dan hantu dari Gunung Cerme, Bugel Kaliki.

“Ada laskar Banyubiru serta?” tanya Bugel Kaliki kepada Pasingsingan.

“Ya, tetapi tak seberapa. Mereka tak akan berarti apa-apa menghadapi laskar kita,” jawab Pasingsingan.

“Namun yang harus mendapat perhatian adalah Mahesa Jenar.”

Sima Rodra tertawa.

“Biarlah aku selesaikan,” katanya.

Pasingsingan mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia ragu. Sima Rodra belum tahu, sampai di mana tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh Mahesa Jenar. Namun demikian ia berdiam diri. Mudah-mudahan Sima Rodra benar-benar dapat menandingi.

“Sekarang mereka mendapat bantuan anak gila dari Banyubiru itu. Sungguh suatu perbuatan yang tak dapat aku mengerti. Kenapa Arya Salaka tidak saja merebut tempatnya kembali. Kenapa justru ia membantu Pamingit?” tanya Sura Sarunggi.

“Ia benar-benar gila,” jawab Pasingsingan.

“Sedang perhitungan kita memang terlalu cepat satu hari saja. Kalau kita tunda serangan kita dengan satu hari, keadaannya akan lain. Laskar Banyubiru dan Pamingit pasti sudah bertempur. Tetapi bagaimanapun juga, tak ada bedanya. Kita pasti akan melawan kedua-duanya. Sekarang atau besok. Bahkan kehadiran laskar Banyubiru itu akan mempercepat penyelesaian.”

Nagapasa mengangguk-angguk sambil berdesis. tepat seperti desis seekor naga. “Siapakah yang harus dilawan dari mereka?”

“Seperti kemarin dulu,” jawab Pasingsingan.

“Sora Dipayana, Titis Anganten. Dan sekarang tambah satu lagi, Mahesa Jenar. Tetapi agaknya Sima Rodra ingin menyelesaikan.”

Tiba-tiba kening mereka berkerut ketika mereka melihat seseorang yang dengan serta merta, menerobos masuk dalam laskar Pamingit.

“He…!” seru Bugel Kaliki, “Orang gila itu datang pula.”

Mereka menjadi terdiam. Namun kehadiran satu orang di dalam barisan Pamingit itu benar-benar diperhitungkan.  

DEMIKIANLAH, Ki Ageng Sora Dipayana sendiri terkejut atas kehadiran seorang sahabat lamanya. Namun terbersitlah kegembiraan di hatinya. Dengan kehadiran orang ini, sedikit banyak akan dapat mengubah keseimbangan laskar di kedua belah pihak. Karena itu dengan tersenyum ia menyambut kedatangan orang itu dengan penuh gairah.

“Selamat datang Danyang Gunung Kidul.”

“Eh, aku hampir terlambat,” jawabnya.

“Agaknya orang Banyuwangi itu telah ada pula di sini.”

Titis Anganten tertawa. “Kau terlalu malas,” jawabnya. “Aku, yang berjarak ribuan tonggak telah datang lebih dahulu.”

Danyang Gunungkidul itu, Ki Ageng Pandan Alas, tertawa. Sahutnya, “Kerjamu tidak ada lain kecuali berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Sedang aku masih harus menunggu jagung tua.”

“Ah, orang yang hidupnya terikat pada tanaman jagung. Kalau dunia ini akan meledak, kau masih saja menunggui jagungmu?” sela Ki Ageng Sora Dipayana. Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Namun ia sudah berjalan pula di samping Sora Dipayana.

“Nah, pilihlah aku lawan,” katanya.

“Terserah kepadamu,” jawab Sora Dipayana.

“Yang bongkok, yang berkulit macan, yang berkepala besar atau yang mana?”

“Mana saja yang terdekat,” jawab Pandan Alas seenaknya. Tetapi meskipun demikian, dalam waktu yang cepat ia telah berhasil menilai lawan-lawannya. Ia benar-benar terkejut ketika ia melihat Mahesa Jenar berdiri di sapit sebelah kiri.

Namun ia agak tenteram setelah dilihatnya Putut Karang Jati yang bernama pula Kebo Kanigara. Ia telah mengenalnya sebagai putra Ki Ageng Pengging Sepuh di bukit Karang Tumaritis. Ia berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan kedua orang itu dapat menempatkan diri sebaik-baiknya, sehingga kedua-duanya tak menemukan cidera. Juga ia berdoa mudah-mudahan Arya Salaka dapat membawa dirinya di antara laskarnya. Sesaat kemudian, kedua laskar itu telah mencapai jarak yang menentukan. Sebelum laskar Pamingit mulai, terdengarlah orang-orang laskar itu berteriak nyaring, sambil berloncatan menyerbu. Sementara itu Ki Ageng Lembu Sora segera menggerakkan tangannya yang telah menggenggam pedangnya yang besar sekali, memberi aba-aba kepada laskarnya untuk bertempur.

Tanda itu segera diteruskan oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Merekapun memutar pedang masing-masing di udara, sebagai perintah untuk bertempur. Di sayap kiri, tampaklah berkilauan tombak pusaka di tangan Arya Salaka. Dengan tekad yang bulat, ia telah menyerahkan dirinya untuk melakukan pengabdian. Dengan doa di dalam hati, “Tuhan akan menyertai kami dan memberkahi pengabdian kami.”

Ketika ia mengangkat tombaknya, berkilat-kilat pulalah pedang Bantaran, Penjawi dan tombak bermata dua ditangan Jaladri. Merekapun meneruskan aba-aba Arya Salaka kepada laskar mereka, yang bergerak sebagai sapit kiri dari gelar Sapit Urang. Sesaat Arya Salaka melihat Bantaran beserta laskarnya mendesak maju. Mereka melingkar untuk kemudian menyerang dari lambung. Tetapi orang-orang dari golongan hitam itu tidak mempergunakan gelar tertentu, sehingga merekapun menghambur menyerang laskar Bantaran dari arah yang mereka sukai. Meskipun demikian, Bantaran tidak menjadi bingung. Ia tetap bertempur dalam gelar kiri. Laskarnya yang bersenjata pedang dengan perisai di tangan kiri, bertempur seperti banteng-banteng yang tangguh. Demikian juga laskar Jaladri di bagian tengah sapit kiri. Laskar yang sebagian besar bersenjata tombak inipun bertempur dengan semangat yang menyala-nyala. Mereka sadar, betapa orang-orang dari golongan hitam itu harus dimusnahkan. Sebab satu saja mereka tinggal, akan dapat merupakan benih buat masa datang. Sedang laskar Penjawi berada dekat dengan induk pimpinan. Seperti juga Penjawi sendiri, laskarnya bertempur tanpa mengenal takut, meskipun mereka sadar bahwa orang-orang dari golongan hitam itu dapat berbuat hal-hal di luar batas-batas perikemanusiaan. Namun justru karena itulah maka mereka harus dimusnahkan.

Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, masih berdiri, di antara kedua pihak yang sudah terlibat dalam pertempuran itu. Ia melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian pandangannya menebar ke segenap penjuru pertempuran. Di sebelah kirinya, tidak terlalu jauh, ia melihat Ki Ageng Pandan Alas menyusup ke dalam daerah pertempuran untuk mendekati Pasingsingan.

Agaknya ia benar-benar ingin tahu, apakah Pasingsingan ini benar-benar Pasingsingan sahabatnya dahulu. Ia masih ingat, di alun-alun Banyubiru, ia pernah bertempur dengan Pasingsingan itu. Meskipun Pasingsingan itu mempunyai pusaka-pusaka dengan ciri-ciri khususnya, namun ia tetap meragukannya. Demikianlah, supaya kedatangannya di Pangrantunan ini ada juga hasilnya, apabila ia benar-benar dapat mengetahui, siapakah yang bersembunyi di balik topeng yang jelek itu.

Pandan Alas menyesal, bahwa ketika ia dengan tergesa-gesa berangkat dari Gunungkidul, ketika didengarnya kabar, tentang kerusuhan di Banyubiru, yang ternyata seterusnya berkembang menjadi kerusuhan-kerusuhan di Pamingit dan Pangrantunan, tidak diajak serta muridnya, Sarayuda, yang setidak-tidaknya akan dapat membantu memperingan pekerjaan laskar Pamingit dan Banyubiru. Tetapi yang didengarnya semula adalah persoalan yang lain. Persoalan antara Banyubiru dan Pamingit.

Di arah yang lain, ia melihat Titis Anganten, berdiam diri sambil tersenyum-senyum. Orang itupun agaknya sedang menikmati kesibukan pertempuran itu. Ia menunggu saja, siapakah yang akan datang kepadanya. Hanya sekali-kali ia harus bergerak menghindari serangan dari laskar golongan hitam, yang menyangka bahwa Titis Anganten itu dapat dikenalinya dengan mudah.

PARA penyerang itu menjadi kecewa setelah mereka sadar, bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Titis Anganten. Karena itu segera mereka mencari sasaran lain, dan menyerahkan Titis Anganten itu kepada para pemimpin mereka. Namun sesaat kemudian, ia melihat Titis Anganten itu tertawa, sambil meloncat maju menyongsong seorang yang bertubuh tegap tinggi dan berkepala besar. Sura Sarunggi dari Rawa Pening.

Sesaat kemudian Ki Ageng Sora Dipayana melihat Bugel Kaliki, Si Bongkok dari Gunung Cerme, datang ke arahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Agaknya ia harus bertempur melawan hantu bongkok itu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar bahwa Si Bongkok itu seperti bertangan bara. Sentuhan-sentuhan atas tubuh lawannya oleh tangan Bugel Kaliki itu, kulitnya pasti akan terkelupas. Namun Bugel Kaliki itupun sadar. Sentuhan tangan Ki Ageng Sora Dipayana dapat merontokkan isi dada, dan dapat menghentikan peredaran darah. Bagian dari aji Lebur Sakethi sungguh tak dapat diabaikan. Apalagi Lebur Saketi dalam ujud kasarnya. Akan luluhlah setiap sasaran yang dapat dikenainya. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menyambut lawannya, ia mencoba untuk melihat sapit sebelah kiri. Dadanya berdesir ketika ia melihat Sima Rodra mengaum dengan dahsyatnya menerkam Mahesa Jenar. Apalagi ketika melihat Mahesa Jenar menyambutnya seorang diri, tidak dengan perlindungan laskarnya sama sekali.

Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu, selain berdoa, mudah-mudahan Mahesa Jenar segera menempatkan dirinya dalam lingkaran laskarnya. Ia juga cemas akan nasib sahabat Mahesa Jenar yang bernama Putut Karang Jati. Bahkan ia dengan sengaja menempatkan diri di garis lintas Naga dari Nusakambangan. Nagapasa itu benar-benar orang yang dapat berbuat seperti ular naga. Hampir seluruh tubuhnya dapat dipergunakannya untuk bertempur.

Tetapi sesaat kemudian, Bugel Kaliki telah berdiri di hadapannya. Sambil tertawa kecut hantu itu berkata, “Selamat pagi Ki Ageng Sora Dipayana yang sakti. Jangan kau perhatikan nasib orangmu yang bernama Mahesa Jenar itu. Biarlah ia lumat ditangan Harimau Tua dari Lodaya.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Ternyata Bugel Kaliki memperhatikannya, dan mencoba mempengaruhi perhatiannya, agar ia tidak dapat memusatkan pikirannya untuk melawan Bugel Kaliki itu.

Karena itu ia tertawa sambil menjawab, “Ia bukan sanak, bukan kadang. Biarlah ia berusaha untuk menjaga dirinya sendiri.”

Mata Si Bongkok itu tiba-tiba menjadi sipit. Meskipun demikian ia berkata, “Bagus. Agaknya kau tidak peduli pula atas anakmu yang bernama Lembu Sora. Dapatkah ia melawan Jaka Soka? Dan cucumu Sawung Sariti yang harus bertahan melawan Wadas Gunung, murid Pasingsingan? Sedang cucumu yang satu lagi sedang dilibat oleh aji Alas kobar Lawa Ijo dari Mentaok?”

Ki Ageng Sora Dipayana sekali lagi memandang berkeliling. Daerah pertempuran itu sudah semakin ribut. Masing-masing berjuang dengan segenap tenaga yang ada. Terhadap Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana tak perlu cemas. Ia tidak perlu khawatir bahwa Jaka Sora akan dapat mengalahkan anaknya dengan mudah. Apalagi Lembu Sora berada di dalam barisan Pamingit yang penuh, setelah laskar Banyubiru datang membantu. Juga Sawung Sariti tak perlu dirisaukan. Wadas Gunung adalah murid Pasingsingan yang tidak banyak mendapat perhatian dari gurunya. Sebab segenap harapan ditumpahkan kepada Lawa Ijo. Terhadap Arya Salaka, ia perlu menimbang-nimbang. Ia tahu bahwa Arya Salaka setidak-tidaknya memiliki ketangkasan dan ketangguhan sama dengan Sawung Sariti.

Namun kali ini ia harus berhadapan dengan Lawa Ijo, yang memiliki kesaktian lebih dahsyat dari Wadas Gunung. Tanpa dikehendakinya sendiri, Ki Ageng Sora Dipayana memperhatikan sapit sebelah kiri dari gelar Sapit Urang-nya. Ia bangga atas kesempurnaan gelar itu. Ia melihat di ujung laskar Banyubiru, suatu lingkaran yang menganga dan menyerang orang-orang Pamingit dengan dahsyatnya.

Namun sayap kiri itu baginya sangat mencemaskan. Di sayap itu berkumpul tokoh-tokoh Nagapasa dan Sima Rodra bersama-sama dengan Lawa Ijo. Namun kali ini ia tidak banyak mempunyai waktu, sebab sekali lagi ia mendengar Bugel Kaliki mendengus. “Ha, kau ingin pergi ke sayap kirimu yang mulai rusak…?”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, “Aku sedang menilai pertempuran. Agaknya keseimbangan dari kedua laskar itu telah berubah sama sekali. Apa katamu tentang laskar Banyubiru yang seperti taufan melanda laskarmu?”

Tiba-tiba Bugel Kaliki itu tertawa terbahak-bahak, jawabnya, “Buat apa aku ributkan laskar yang sedang bertempur itu? Aku datang kemari seorang diri. Tak peduli apakah laskarmu atau laskar kawan-kawanku yang akan binasa.”

“Dan kau sendiri…?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

“Aku sendiri akan dapat menjaga diriku. Aku dapat berbuat sekehendakku,” sahut Bugel Kaliki.

“Lalu sekarang apa yang kau kehendaki?” tanya Sora Dipayana.

“Nagasasra dan Sabuk Inten. Berikan itu kepadaku. Nanti aku akan membantu laskarmu,” jawab hantu bongkok itu.

“Buat apa?” tanya Ki Ageng.

Bugel Kaliki tertawa. Jawabnya, “Buat apa kau sembunyikan keris itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana sama sekali tidak perlu memberikan keterangan, sebab ia yakin bahwa kata-katanya akan dipercaya. Karena itu ia menjawab seenaknya, “Mungkin suatu waktu perlu untuk melawan serangan seperti yang terjadi kali ini.”

Bugel Kaliki tiba-tiba menjadi tegang. “Kalau begitu kedua keris itu benar-benar masih kau simpan?” “Apa kepentinganmu?” sahut Sora Dipayana.

“Aku akan mencoba mempertahankan diri. Meskipun aku sudah tua, namun mati karena tanganmu, sungguh tak menyenangkan,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana. Bugel Kaliki tak mau berbicara lagi.

Setelah memandangi pertempuran itu sekali lagi, tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak tinggi. Ki Ageng Sora Dipayana pun telah bersedia pula. Karena itu segera ia menghindar untuk segera meloncat dengan tangkasnya menyerang kembali. Demikianlah, kedua orang itu kemudian bertempur dengan dahsyatnya di antara hiruk pikuk pertempuran.

Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar harus memusatkan segenap perhatiannya untuk melawan hantu bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, ia tidak mempunyai kesempatan mengamati pasukannya. Meskipun demikian, ia merasa bahkan laskar Pamingit dan Banyubiru bersama-sama, dapat mengimbangi laskar lawan, bahkan sedikit demi sedikit terasa, garis pertempuran itu bergeser maju. Bugel Kaliki itu, meskipun punggungnya melengkung karena bongkoknya, namun gerakannya sangat berbahaya. Ia dapat meloncat-loncat dengan lincahnya, menerkam dan menghantam. Bahkan kakinya pun tak kalah tangkasnya.

Ia dapat berloncatan seperti kijang, namun sekali-kali menerkam seperti serigala.

Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang telah cukup makan pahit-getirnya penghidupan. Dengan tak kalah lincahnya, ia meloncat menghindari setiap serangan yang kemudian dengan lincahnya pula ia menyerang lawannya kembali. Kedua tangannya bergerak dengan cepatnya, seperti sayap seekor burung branjangan. Dengan dahsyatnya kedua tangan orang tua itu mematuk-matuk, ke pusat-pusat simpul syaraf.

Inilah yang mengerikan. Sekali tubuh lawannya tersentuh jarinya, akan bekulah seluruh daging-daging syarafnya. Dan ini pun dimaklumi oleh lawannya.

Sehingga Bugel Kaliki pun berjuang keras untuk melindungi setiap kemungkinan itu. Ia percaya kepada ketangkasannya dan kekuatannya. Kepada kesaktiannya, yang dapat menjadikan tangannya sepanas bara. Ia menamai kesaktian itu Candra Mawa, di samping ilmunya yang tak kalah dahsyatnya, yang dengan bangga disebutnya Dasa Prahara. Dengan demikian maka pertempuran itu merupakan pertempuran yang dahsyat antara dua orang perkasa. Sehingga setiap orang di sekitarnya terpaksa bergesa-gesa menjauhkan diri.

Untuk sesaat pertempuran antara laskar Pamingit dan laskar golongan hitam, di sekitar kedua tokoh tua itu terhenti. Dengan keheran-heranan mereka memandang perkelahian yang berubah seperti lesus yang berputar-putar mengerikan. Tetapi ketika mereka tersadar, segera mereka terlibat kembali dalam pertempuran yang sengit. Matahari semakin lama menjadi semakin tinggi beredar di langit yang bersih.

Begitu cepat, seakan-akan begitu tergesa-gesa untuk dapat melihat medan pertempuran itu dengan jelas. Untuk kesekian kalinya bola api yang terapung itu melihat betapa manusia bertengkar dan bertempur di antara mereka. Sudah berapa banyak darah yang mengalir dari luka-luka di tubuh mereka, telah berapa banyak air mata yang mengalir karenanya. Namun manusia itu tidak jemu-jemunya, saling membunuh karena mereka bertentangan kepentingan. Terdoronglah kepentingan mereka, golongan mereka, diri mereka, maka kadang-kadang mereka lupa, betapa, manusia tercipta karena cinta. Larutlah cinta itu seperti kabut yang dilanda angin, apabila mereka dihadapkan pada pemanjaan diri. Pemanjaan nafsu jasmaniah. Dan lupalah mereka akan hari-hari yang dijanjikan. Hari pengadilan di ujung zaman. Namun Tuhan Maha Tahu. Didengar-Nya apa yang terlontar dari bibir kita, apa yang terucapkan oleh mulut kita. Bahkan tahulah Tuhan apa yang terukir di dalam hati kita. Sehingga dengan demikian kebaktian bukanlah janji, namun sebenarnya kebaktian adalah tingkah laku dan pengamalan. Semakin tinggi matahari memanjat langit, pertempuran di lereng Gunung Merbabu itu menjadi semakin riuh.

Berdentanglah bunyi senjata beradu, dibarengi teriakan seram dan pekik ngeri kesakitan.  

DI pangkal sayap kanan, Titis Anganten sedang sibuk melayani Sura Sarunggi yang bertubuh tegap kekar dan bekepala besar. Dengan gerak yang kasar penuh kebencian, Sura Sarunggi menyerang lawannya tanpa pengendalian diri. Ia ingin segera melihat Titis Anganten menjadi lumat.

Titis Anganten yang bertubuh kecil dan sama sekali tak segagah lawannya itu dapat bertempur dengan sempurna. Gerak-geraknya yang tampak lemah dan tak bertenaga, namun seakan-akan memiliki pengaruh yang tak dapat diduga akibatnya. Titis Anganten benar-benar berkelahi seperti perempuan.

Kalau saja tangannya menyentuh lawannya, maka ia segera mencubitnya. Namun cubitan itu benar-benar luar biasa, sehebat sengatan seribu lebah bersama-sama. Sedang lawannya adalah seorang yang bertenaga raksasa. Sambaran tangannya menimbulkan desir angin dingin yang mengerikan. Kalau suatu kali ia terpaksa membuat benturan kekuatan, maka mereka bersama-sama akan tergetar surut.

Di bagian lain, dengan penuh kemarahan dalam hati, Pasingsingan berhadapan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Ketika Pasingsingan memandangnya seperti memandang hantu, berkatalah Ki Ageng Pandan Alas, “Apakah aku aneh?”

Pasingsingan menggeram, jawabnya, “Kenapa kau hadir juga di sini?”

“Apa salahnya? Sahabat-sahabatku semua berada di sini. Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten dan kau Pasingsingan. Bukankah sudah sebaiknya kalau aku datang pula?” sahut Pandan Alas.

Sekali lagi Pasingsingan menggeram. “Jangan banyak ribut. Jangan bicara lagi tentang sahabat, tentang masa lampau dan segala macam kenangan tak berarti. Yang sebaiknya segera kau lakukan adalah meninggalkan daerah ini.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Kenapa aku harus pergi. Atas hak yang sama, maka seperti kau aku hadir dalam pertemuan ini.”

“Aku sebenarnya menyayangkan nyawamu. Jangan kau mati tanpa arti. Sebab persoalan kami bukanlah persoalan yang dapat kau campuri,” sahut Pasingsingan.

“Kenapa tidak? Daerah ini daerah Pangrantunan. Ki Ageng Sora Dipayana gembira melihat kehadiranku. Kenapa kau tidak?” kata Pandan Alas.

Pasingsingan menggeram kembali. Suaranya melingkar-lingkar di dalam perutnya. Sekali-kali melayangkan pandangannya ke seluruh daerah pertempuran. Ia melihat Bugel Kaliki berhadapan dengan Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, sedang Sura Sarunggi bertempur melawan Titis Anganten.

Di ujung lain ia melihat Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra yang menyimpan dendam di dadanya. Pasingsingan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu, bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat melawan aji Alas Kobar beberapa waktu yang lampau didekat Candi Gedong Sanga.

Malaekat manakah yang telah memberinya kesaktian sedemikian tiba-tiba? Sedang di bagian lain, Pasingsingan melihat kawan Mahesa Jenar bertempur melawan Nagapasa. Ia mengharap Nagapasa segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian, kelebihan yang seorang itu, akan mempunyai banyak akibatnya.

Nagapasa dapat membantu salah seorang dari tokoh-tokoh hitam itu, memusnahkan lawan-lawan mereka satu demi satu dengan cepat.

“Apa yang kau renungkan?” tanya Ki Ageng Pandan Alas.

“Bukan apa-apa,” sahut Pasingsingan.

“Aku sedang berbangga.”

“Apa yang kau banggakan?” desak Pandan Alas.

“Laskarku dari Mentaok. Sekarang mereka akan menghancurkan laskar Banyubiru dan Pamingit. Lusa mereka akan menghancurkan laskar Demak,” jawab Pasingsingan.

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Jangan mimpi. Kau kira Demak itu seperti apa? Itulah contohnya, satu di antara prajuritnya yang bernama Rangga Tohjaya. Bahkan seandainya kau dapat mengalahkan laskar Banyubiru dan Pamingit sekalipun, maka Banyubiru dan Pamingit berhak mendapat perlindungan dari Demak, seandainya mereka benar-benar tak mampu mengatasi kesulitan mereka.

Nah apa katamu? Apakah arti laskar alasan itu?” Pasingsingan menjadi marah. “Lihat, sebagian dari laskar gabungan kami. Kami masih menyimpan tenaga cadangan di Pamingit dan di daerah kami sendiri-sendiri.”

“Bagus. Agaknya kau benar-benar menghemat. Sedikit-sedikit saja orangmu yang bunuh diri di medan ini, supaya kau sempat berbuat aneh-aneh didalam pertempuran. Kau agaknya dapat melepaskan nafsu-nafsu yang aneh di sini. Bau darah dan teriakan-teriakan yang mengerikan dapat menyegarkan tubuhmu,” sahut Pandan Alas.

“Gila. Jangan banyak bicara lagi. Tinggal pilih, kembali ke asalmu atau mati berkubur debu di sini,” gertak Pasingsingan.

Pandan Alas tidak menjawab. dengan tersenyum ia bersiaga. Dan apa yang diduga benar-benar segera terjadi. Dengan garangnya Pasingsingan mengembangkan tangannya, dan dalam satu loncatan ia menerkam lawannya.

Cepat Pandan Alas mengelak dengan satu langkah ke samping sambil merendahkan dirinya. Tangan kanan Pasingsingan menyambar di atas kepalanya dengan cepatnya seperti desis angin yang keras.

Tetapi dalam sekejap Pandan Alas telah memutar tubuhnya dan kaki kanannya melontar ke arah lambung Pasingsingan. Pasingsingan menggeliat dengan lincahnya, dengan sikunya ia melindungi dirinya.

Demikianlah kedua orang itu segera terlibat dalam perkelahian pula seperti yang lain-lain. Mereka masing-masing mempunyai kekhususan yang sulit diketahui. Sekali-kali mereka melontar kian-kemari, namun di saat lain mereka berbenturan dengan hebatnya. Serangan Pasingsingan benar-benar seperti topan yang dahsyat, namun Ki Ageng Pandan Alas tidak kurang dari angin ribut yang mengerikan.

KEDUA orang itu berjuang dengan segenap kekuatan dan tenaga, dengan segenap kepandaian dan kemampuan. Ketika keringat mereka mulai mengalir membasahi pakaian-pakaian mereka maka pertempuran itu menjadi kian sengit. Bahkan kemudian yang tampak seakan-akan seperti gulungan asap yang berputar-putar dengan cepatnya, seperti gulungan awan mendung dilangit. Sekali-kali terdengar benturan-benturan seperti ledakan guntur menjelang datangnya prahara. Daerah pertempuran itupun menjadi kabur oleh hamburan debu yang melingkar-lingkar menaburi kedua orang yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Sedang gerak kedua bayangan di dalam lingkaran debu itu tak dapat diamati lagi.

Di sayap kiri gelar Sapit Urang dari laskar gabungan antara Pamingit dan Banyubiru itu pun terjadi pertempuran yang dahsyat. Laskar golongan hitam bertempur membabi buta. Siapapun dan apapun yang ada di hadapannya pasti akan dihancurkannya. Namun mereka terpaksa menelan ludah mereka, ketika mereka membentur laskar Banyubiru. Bantaran di ujung sapit, Jaladri di tengah-tengah, dan Panjawi di pangkalnya, merupakan benteng-benteng yang kokoh kuat, yang tak tergoyahkan oleh arus banjir dari orang-orang golongan hitam itu.

Di antara mereka itu terdapatlah Sima Rodra yang sedang mengaum-ngaum dengan kerasnya. Betapa ia mencurahkan dendam di dadanya kepada orang yang bernama Mahesa Jenar itu. Orang yang telah membunuh menantunya serta membebaskan tawanan anaknya di bukit Karang Tumaritis. Selain itu, ternyata bahwa Rara Wilis, yang dalam pengertian Sima Rodra diselamatkan oleh Mahesa Jenar di Karang Tumaritis itulah yang membunuh anak perempuannya. Karena itu ia ingin melepaskan beban yang selama ini menghimpit jantungnya kepada Mahesa Jenar.

Tetapi sekali dadanya berguncang ketika ia mendengar Mahesa Jenar tertawa. Tidak terlalu keras, namun nadanya hampir memecahkan dadanya.

“Gila…!” teriaknya.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Bukan apa-apa,” jawab Mahesa Jenar.

“Aku hanya menyatakan kegembiraan hatiku setelah lama kita tak bertemu.”

“Bukan saatnya bergurau. Lebih baik kau menyebut nama nenek moyangmu selagi kau sempat,” geram harimau dari Lodaya itu.

“Kau ingin melunakkan hatiku? Jangan kau sangka bahwa hatiku sekecil hati kelinci dan selunak hati kucing yang dihadapi daging. Aku adalah Sima Rodra dari Alas Lodaya,” teriak harimau itu dengan garangnya.

“Aku sudah tahu dan aku sudah mengenalmu sejak lama. Sejak kau mencegat aku di jalan silang ke Bergota dari Gunung Tidar bersama Kakang Gajah Sora. Kemudian di Gedangan kita bertemu lagi,” jawab Mahesa Jenar, tetapi ia lupa bahwa Kebo Kanigara berperankan diri di Karang Tumaritis membebaskan Wilis. Karena itu Sima Rodra berteriak, “Kau ingin mengurangi kesalahanmu. Di Karang Tumiritis kau telah menghinakan kami. Kau berhasil membebaskan perempuan tawanan anakku, cucu Pandan Alas. Bahkan karenanya akhirnya perempuan itu membunuh anakku.”

Ketika Mahesa Jenar teringat peristiwa itu, kembali ia tertawa. Ia mencoba tertawa seperti Kebo Kanigara tertawa. Katanya, “Inilah murid perguruan Pengging. Mahesa Jenar.”

Kembali dada Sima Rodra terguncang. Tertawa yang demikian itu pulalah yang didengarnya pada saat itu di bukit Karang Tumaritis, ketika seorang yang menamakan diri Mahesa Jenar tiba-tiba seperti terbang dan hinggap di atas batu karang sambil berkata, “Inilah Mahesa Jenar, murid perguruan Pengging.”

“Gila. Jangan kau berbangga atas kemenanganmu saat itu. Kau memang mempunyai kelebihan dari kami dalam hal melarikan diri dan bersembunyi,” bentak Sima Rodra. “Tetapi marilah kita sekarang berhadapan. Tidak melarikan diri dan tidak bersembunyi.”

“Kali ini aku tidak akan bersembunyi dan melarikan diri. Aku kini berdiri di antara laskar yang sedang bertempur. Karena itu akupun harus bertempur seperti mereka. Menang atau kalah, marilah kita serahkan kepada keputusan tertinggi. Sebab aku yakin, kebenaran tak akan dapat ditindas oleh kejahatan,” jawab Mahesa Jenar.

“Huh, pandangan hidup yang didasarkan pada keputusasaan. Bagiku menang atau kalah tergantung kepada kita sendiri. Dan bahwa suatu ketika kebenaran akan lenyap oleh kejahatan dan di atasnya akan aku bangun kebenaran yang baru menurut seleraku,” bantah Sima Rodra.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Sima Rodra akan membangun kebenaran di atas bangkai-bangkai dan kejahatan. Benar-benar seorang yang tidak tanggung-tanggung. Kebenaran baginya tidak lebih dari pemuasan nafsu sendiri.

Akhirnya ia menjawab, “Semakin banyak orang seperti kau di dunia ini, semakin parahlah tata kehidupan manusia. Peradaban yang kau bina, seperti yang dilakukan oleh anak menantumu di Gunung Baka, di kaki bukit Karang Tumaritis, dan barangkali di seribu tempat lain, menunjukkan betapa kau telah menghilangkan batas antara manusia dan binatang, antara manusia dan setan. Pemanjaan nafsu, pemutarbalikan tata kesopanan, pemujaan pada kekejaman dengan mengorbankan gadis-gadis di atas batu-batu pemujaan yang kau buat, dengan mengalirkan darahnya.”

“Jangan berlagak seperti malaikat yang bersih suci,” potong Sima Rodra. “Hidupku dan hidupmu tidak akan lebih dari kisaran satu abad. Kenapa tidak kau nikmati hidupmu yang pendek itu?”  

TIBA-TIBA tubuh Mahesa Jenar bergetar karena tekanan perasaannya. Ia melihat orang yang berdiri di hadapannya dengan baju kulit harimau hitam, seperti ia melihat campur baur dari segala kejahatan dan nafsu. Karena itu ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Aku harus menghentikannya sebelum ia menjadi berkembang.”

Sima Rodra tertawa. Keras sekali.

“Apa yang akan kau hentikan?”

“Untuk membunuh harimau, jangan ditunggu harimau itu menjadi besar,” sahut Mahesa Jenar.

“Kau akan membunuh aku? Ha, kaupun telah mimpi untuk menjadi seorang pembunuh,” kata Sima Rodra.

“Apa bedanya? Membunuh kau sama artinya dengan menegakkan kemanusiaan, karena kau ingin memperkosa kemanusiaan itu. Dan karena sifat-sifatmulah maka aku menolak adamu,” jawab Mahesa Jenar.

“Terlalu berbelit-belit,” jawab Sima Rodra. “Yang aku ketahui, kalau kita berkelahi, aku atau kau yang menjadi pembunuh.”

“Otakmu terlalu beku. Atau sama sekali diselimuti oleh noda-noda hitam dalam hidupmu…?” Mahesa Jenar menyela.

“Persetan. Jangan gurui aku. Menyerahlah, aku akan membunuhmu dengan cepat,” jawab Sima Rodra. “Bagaimana kalau sebaliknya?” bantah Mahesa Jenar. “Hem, kalau begitu aku akan melukai wajahmu yang tampan, dan membiarkan kau mati perlahan-lahan,” geram Sima Rodra dengan marahnya.

“Tak ada pilihan lain,” sahut Mahesa Jenar.

Sima Roda kemudian mengaum keras sekali. Beberapa orang di sekitarnya terkejut, meskipun laskar dari golongan hitam sendiri. Hanya orang-orang dari Gunung Tidar sajalah yang bertambah semangat di dalam dada mereka mendengar auman yang mengerikan itu. 

Dengan suatu loncatan yang buas, sebuas harimau lapar, Sima Rodra menyerang langsung kepada Mahesa Jenar. Demikian cepatnya serangan itu, sehingga Mahesa Jenar agak terkejut. Namun hanya sesaat. Sesaat kemudian ia seakan-akan menancapkan kedua kaki dalam-dalam, menyiapkan diri menyambut serangan itu. Ia sengaja tidak menghindar, tetapi ia ingin membentur tangan lawannya untuk menjajagi sampai di mana kekuatan Sima Rodra yang pernah menggemparkan itu. Kalau hal itu terjadi beberapa tahun lalu, maka Mahesa Jenar pasti akan terlempar dan terbanting mati, karena Sima Rodra dengan marahnya telah mengerahkan kekuatannya.

Tetapi yang terjadi adalah berbeda, Mahesa Jenar telah menemukan kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya, setelah ia mesu diri di Bukit Karang Tumaritis. Dengan demikian maka yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Demikian dahsyat sehingga seakan-akan terjadi benturan guntur di langit. Tubuh masing-masing tergetar dan kemudian terdorong selangkah surut.

Sekali lagi Sima Rodra mengaum dahsyat. Meskipun ia tidak mengalami cidera, namun betapa herannya melihat Mahesa Jenar masih tegak berdiri dihadapannya. Karena itu sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya.

Namun kali ini Mahesa Jenar telah menemukan nilai-nilai kekuatan lawannya, sehingga ia dengan sempurna dapat menempatkan diri pada keadaan yang seharusnya.

Dengan tangkas Mahesa Jenar menghindarkan diri, dengan meloncat ke samping. Namun harimau yang hampir gila itu benar-benar tangkas. Demikian kakinya menyentuh tanah, kakinya yang lain diputar ke arah lambung lawannya. Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa menarik tubuhnya condong kebelakang.

Tetapi sekali lagi harimau tua itu menyerangnya dengan tendangan ganda. Kali ini Mahesa Jenar tidak dapat hanya menyondongkan dirinya. Ia pun terpaksa melompat mundur. Tetapi dengan demikian ia menemukan kelemahan lawannya. Sekali lagi kaki Sima Rodra mesih terjulur, Mahesa Jenar menangkapnya pada bagian bawah lututnya. Namun Harimau Lodaya itupun tangkas pula. Ia tidak mau membiarkan hal itu terjadi.

Ketika tangan Mahesa Jenar menyentuh kakinya, segera ia melipatnya, sehingga dengan demikian tangan Mahesa Jenar menjadi terjepit. Mahesa Jenar menggeram perlahan-lahan, tetapi segera ia mendorong tubuh lawannya yang tegap besar itu dengan siku tangannya yang lain di arah lambung.

Demikian kerasnya sehingga Sima Rodra dan Mahesa Jenar bersama-sama jatuh terguling. Tetapi dengan demikian, Mahesa Jenar telah melepaskan jepitan lawannya, bahkan ketika ia melihat Sima Rodra meloncat bangkit, Mahesa Jenar pun telah berdiri pula. Maka segera mereka terlibat kembali dalam perkelahian. Masing-masing adalah orang-orang perkasa, yang mempunyai kelebihan dari orang lain.

Sima Rodra dengan penuh nafsu kebuasan bertempur mati-matian. Sebab ia sadar bahwa orang-orang seperti Mahesa Jenar adalah penghalang utamanya. Di pihak lain, Mahesa Jenar pun bertempur dengan penuh kesadaran akan kewajibannya sebagai manusia yang mengabdikan diri pada kemanusiaan.

Kegagalannya kali ini, lebih-lebih kegagalan laskar Pamingit dan Banyubiru berarti runtuhnya martabat manusia, setidak-tidaknya di Pamingit dan Banyubiru. Dengan demikian, ia bertekad untuk bertempur yang terakhir kalinya dengan Harimau Gila itu. Biarlah ia terbunuh kalau ia tidak berhasil, namun kalau ia berhasil, maka telah diletakkannya satu di antara berjuta-juta batu yang akan membentuk bangunan kemanusiaan.

Pertempuran itu semakin lama semakin dahsyat. Sima Rodra dengan mengaum-aum mengerikan, menyerang dengan buasnya. Tangannya kadang-kadang mengembang seperti sayap, tetapi kemudian terjulur untuk menerkam lawannya seperti harimau. Jari-jarinya yang kokoh dan kuat merupakan bahaya yang setiap saat dapat menembus daging lawannya.  

DALAM pertempuran yang hiruk pikuk itu, Sima Rodra tampak sebagai seekor harimau hitam di antara beratus-ratus kelinci yang sedang berjejal-jejalan. Namun lawan yang dihadapinya kini bukan kelinci-kelinci itu. Tetapi lawannya adalah seekor banteng yang tangguh. Seekor Banteng yang dengan tenang dan yakin pada dirinya atas lambaran kebenaran, berjuang menegakkan sendi-sendi kemanusiaan. Sehingga dengan demikian maka pertempuran di antara mereka, adalah pertempuran yang akan diakhiri dengan lenyapnya salah satu dari keduanya. Pertempuran yang melambangkan pertempuran yang akan terjadi di sepanjang jaman. Kebenaran melawan kemungkaran dan kejahatan. Pertempuran di antara mereka yang berjalan dijalan Allah, melawan mereka yang melawan cinta Tuhan. Tetapi Tuhan Maha Pengampun. Karena itu, bagi siapa saja yang bertobat serta menyebut nama-Nya dengan ikhlas serta penyerahan yang tulus, maka pintu Rumah-Nya selalu terbuka.

Sejalan dengan matahari yang semakin tinggi, semakin seru pulalah pertempuran itu. Setiap senjata telah menjadi merah oleh darah. Darah sesama manusia. Dan tanah telah menjadi merah pula oleh siraman darah yang merah segar. Tetapi karena bau darah itulah maka mereka menjadi semakin buas. Mereka tinggal memilih dua kemungkinan di dalam peperangan itu. Mati terbunuh atau terpaksa membunuh. Tetapi mereka telah bertindak atas suatu keyakinan. Bagi golongan hitam, membunuh adalah pekerjaan mereka untuk mendapatkan kepuasan nafsu dan kemungkinan yang menimbulkan harapan. Kali ini mereka mengharap untuk mendapat bagian dari tanah yang mereka perebutkan. Pamingit, dan lusa Banyubiru, serta segala kekayaan di atasnya. Bahkan atas setiap laki-laki untuk diperintahnya dan berkuasa atas setiap perempuan untuk diperlakukan dengan sekehendak hati mereka. Sedang masa mendatang, mereka mendapat harapan yang lebih baik lagi apabila benar-benar mereka dapat memecahkan kerajaan Demak. Siapa tahu mereka akan dapat pangkat Tumenggung, dengan rumah yang besar-besar dan selusin isteri yang cantik-cantik. Sebaliknya, laskar Banyubiru dan Pamingit berjuang atas keyakinan mereka pula. Mereka terpaksa membunuh untuk menghentikan kebuasan manusia atas manusia. Mempertahankan tanah mereka dan milik mereka. Mempertahankan karunia Tuhan untuk mereka. Karena itulah maka, kedua belah pihak bertempur mati-matian. Siapa yang lengah, dadanya akan tertembus senjata. Dan mataharipun seakan-akan menjadi suram karena sinarnya yang ditakbiri oleh debu yang mengepul di udara seperti kabut.

Di antara deru senjata dan teriakan penuh nafsu, terdapatlah beberapa titik-titik perkelahian yang paling dahsyat. Ki Ageng Sora Dipayana melawan Bugel Kaliki yang berputar seperti angin pusaran.

Ki Ageng Pandan Alas melawan Pasingsingan seperti beradunya angin prahara yang bertentangan arah.

Titis Anganten melawan Sura Sarunggi yang seolah-olah menjadi tenggelam dalam kabut yang gelap.

Di bagian lain, Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra demikian dahsyatnya seperti guntur dilangit yang saling sambar menyambar. Tetapi ada di antara mereka, tokoh yang dahsyat dari golongan hitam itu yang masih berdiri saja di antara kedua laskar yang bertempur. Hanya sekali-kali saja ia menggerakkan tangannya untuk melawan serangan-serangan laskar Banyubiru, dan sekali-kali ia terpaksa menghindar kalau dua tiga orang yang gagah berani menyerangnya bersama-sama. Namun tangannya benar-benar seperti tangan hantu. Sekali ia berhasil merampas sebuah pedang, dan menancapkan pedang itu dengan mudahnya di dada pemiliknya. Dengan tertawa menyeringai ia berpaling sambil bergumam, “Tikus yang sombong.” Kemudian ia melangkah pergi di antara kacau-balaunya pertempuran, seperti berjalan di dalam kesibukan pasar saja. Ia melihat betapa sahabat-sahabatnya bertempur mati-matian. Ia melihat betapa Sima Rodra berjuang sekuat tenaga melawan Mahesa Jenar.

Orang itupun menjadi heran pula. Bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat mengimbangi Sima Rodra yang ganas itu. Terhadap Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten ia tidak perlu heran. Pertempuran diantara mereka dapat berlangsung lama. Sehari, dua hari, bahkan tanpa batas, seperti kalau ia sendiri tanpa lawan. Karena itu ia sedang berpikir apakah yang harus dilakukan. Membunuh sebanyak-banyaknya, atau membantu salah seorang dari keempat sahabatnya. Ia harus yakin bahwa kawan-kawannya itupun dapat membawa diri. Karena itu biarlah ia bekerja sendiri. Tetapi membunuh laskar-laskar kecil yang berserak-serakan seperti tikus itupun tak akan berarti.

Sebagai seorang tokoh yang ditakuti tidak saja di Nusa Kambangan, ia merasa terlalu berharga untuk berperang melawan laskar-laskar Banyubiru yang tak berarti itu. Sekali-kali ia memandang jauh ke sapit sebelah kanan. Terhadap muridnya Jaka Soka pun ia tidak terlalu cemas. Seandainya Jaka Soka itu harus berhadapan dengan Lembu Sora sekalipun. Karena itu tidak ada kerja lain baginya daripada membunuh. Bukankah di dalam peperangan yang berjumlah besar, membunuh siapapun yang ada didekatnya bukan berarti merendahkan diri. Pertempuran yang demikian adalah pertempuran yang kacau. Setiap senjata dapat mengarah setiap dada lawan.

Maka akhirnya Nagapasa itupun menjadi puas terhadap pendiriannya. Daripada berdiri saja di situ, memang lebih baik berbuat sesuatu yang dapat memperingan pekerjaan laskar dari golongan hitam. Kemudian setelah ia mendapat ketetapan hati, mulailah ia bergerak sekali sambar, kembali ia merampas sebuah tombak. Ia memutar tombak itu sekali diudara kemudian dengan satu gerakan kemungkinan untuk menghindar. Demikian cepat dan keras. Tetapi tiba-tiba Nagapasa menarik kembali tombak itu ketika tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya, “Alangkah dahsyatnya Tuan.”  

NAGAPASA menoleh. Ia melihat seorang bertubuh tegap kekar berdiri di sampingnya. Orang itu belum pernah dikenalnya. Karena itu ia mengacuhkannya. Maka kembali ia mencari orang yang hampir terbelah dadanya oleh tombaknya sendiri. Tetapi orang itu sudah lari menghilang di antara hiruk pikuk pertempuran, mencari lawan yang tak bertangan hantu.

Nagapasa kecewa. Ia menggeram dan sekali lagi menoleh kepada orang yang menyapanya. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat wajahnya yang tenang. Orang itu pasti salah seorang dari laskar Banyubiru. Tetapi tiba-tiba Nagapasa kehilangan nafsu untuk membunuh orang itu. “Mungkin ia belum mengenal aku. Biarlah aku bermain-main dahulu. Biarlah ia menjadi ngeri dan baru kemudian aku akan membunuhnya setelah ia melihat bagaimanakah caranya aku membunuh,” pikirnya. 

Mendapat pikiran itu, segera Nagapasa mendesak maju ke dalam laskar Banyubiru. Ia akan berbuat hal-hal yang aneh untuk menakut-nakuti orang yang menyapanya dengan tenang. Tetapi orang itu mengikutinya dalam jarak yang dekat sekali. Seakan-akan ia melekat pada jarak yang ditetapkan. Namun Nagapasa tidak memperdulikannya, bahkan lebih baiklah bila orang itu dapat melihat dengan seksama bagaimana ia dapat mematahkan leher seorang dengan tangannya, mencukil matanya dengan jari-jarinya, dan memecahkan kepala itu dengan pukulan tangannya. Ketika seseorang bertempur di dekatnya, iapun segera meloncat menangkap orang Banyubiru. Tangannya mencekik leher, sedang tangannya yang lain terayun ke dahi orang itu. Benar-benar suatu pemandangan yang mengerikan. Tetapi kembali Nagapasa mengurungkan niatnya, ketika ia mendengar orang yang mengikutinya itu tertawa. Meskipun suaranya lunak sekali namun nadanya benar-benar tak menyenangkan.

Kemudian terdengar ia berkata, “Tidak tanggung-tanggung. Suatu pameran kekuatan yang luar biasa.” 

Nagapasa memandang orang itu dengan seksama, sementara tangannya masih mencekik leher. Ia mengamat-amati orang itu dengan tanpa berkedip. Benar-benar orang itu belum pernah dikenalnya. Tetapi menilik sikapnya, orang itu pasti bukan orang kebanyakan atau salah seorang dari laskar biasa dari Banyubiru.

“He, kau siapa?” tanya Nagapasa acuh tak acuh.

Orang itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Laskar Banyubiru.”

“Aku sudah tahu,” bentak Nagapasa marah.

“Namamu dan jabatanmu?”

“Kebo Kanigara,” jawabnya. “Laskar biasa.” Nagapasa menggeram.

Nama itu benar-benar belum pernah dikenalnya. Tetapi sikap orang itu sangat menyakitkan hatinya. “Sudahkah kau mengenal aku?” tanya Nagapasa.

“Ya, aku kenal,” jawab Kanigara. “Bukankah Tuan yang menamakan diri Nagapasa?”

Nagapasa menjadi semakin jengkel. Ternyata orang itu telah mengenalnya, tetapi kenapa ia sedemikian berani menghadapinya.

“Bagus,” kata Nagapasa lebih lanjut. “Kalau demikian kau kenal juga dari mana Nagapasa datang?” “Ya,” jawab Kanigara pula. “Nagapasa berasal dari Nusakambangan dengan muridnya yang bernama Jaka Soka. Nagapasa adalah seorang yang sakti, sejajar kesaktiannya dengan Pasingsingan, Sima Rodra, Sura Sarunggi dan Bugel Kaliki.”

Nagapasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin heran. Orang yang bernama Kebo Kanigara itu mengenalnya dengan lengkap, namun ia masih berani menyapa seenaknya saja. Apakah orang ini benar-benar ingin bunuh diri?

“Kalau demikian…” Nagapasa berkata pula, “Apa maksudmu mengikuti aku?”

“He…” Kanigara berpura-pura terkejut, meskipun ia tahu apa yang tersirat di dalam pikiran Nagapasa itu, “Bukankah kita berada di dalam peperangan. Dan bukankah setiap kita dari Banyubiru dan dari golongan hitam dapat menjadi lawan?”

Nagapasa menjadi semakin marah mendengar jawaban itu, katanya, “Kau akan melawan aku?”

“Apa aku harus memilih lawan” sahut Kanigara. “Siapa yang ada di hadapanku adalah lawanku.”

“Kau sudah menjadi gila,” teriak Nagapasa. “Lihat betapa orang ini hampir mati karena tanganku. Aku dapat memperlakukan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus orang seperti ini.”

“Ya, aku percaya,” jawab Kanigara.

“Kau ingin aku berbuat demikian terhadapmu?” bentak Nagapasa semakin keras.

“Tidak,” jawab Kanigara. Kejengkelan Nagapasa menjadi semakin memuncak.

“Lalu apa maumu?” Ia berteriak lebih keras lagi.

“Kita berperang. Mauku bertempur melawan Tuan,” sahut Kanigara. “Orang ini agaknya orang gila,” pikir Nagapasa. Dengan demikian ia kehilangan nafsu untuk berbuat sesuatu. Melawan orang gila baginya hanya akan membuang-buang waktu saja.  

KEMBALI Nagapasa berpaling kepada orang yang dicekiknya. Kepada orang itu ia akan menumpahkan kejengkelannya. Dengan menggeram ia berkata, “Nasibmu tak begitu baik, tikus yang malang. Berdoalah sebelum kepalamu aku pecahkan.” Kemudian terayunlah kembali tangan Hantu Laut dari Nusakambangan itu. Sedang orang yang dicekiknya telah kehilangan harapan untuk dapat hidup. Ia kenal siapakah Nagapasa itu. Dan menyesallah bahwa ia kurang berhati-hati, bertempur di dekat orang bertangan maut itu. Namun akhirnya ia memejamkan matanya pasrah diri. Dalam perjuangan maut adalah tantangan. Kalau maut itu datang, biarlah ia menelannya. Namun ia yakin bahwa ia telah berjuang menegakkan kebenaran. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tak terduga-duga. Ketika tangan Nagapasa hampir saja memecahkan kepala orang yang telah pasrah diri itu, terjadilah suatu benturan yang keras. Tangan Nagapasa terasa bergetar hebat. Ia merasa bahwa tangannya telah mengenai sesuatu, tetapi sama sekali bukan kepala orang yang dicekiknya. Dan kepala itu sama sekali tidak dipecahkannya, malahan tangannya sendiri merasa tergetar. 

Belum lagi ia sadar akan peristiwa itu, kembali terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai tangannya yang lain, yang sedang mencekik orang yang telah berputus asa itu, demikian kerasnya sehingga tanpa disengaja tangannya terlepas, dan orang yang dicekiknya itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling-guling. 

Nagapasa melompat selangkah mundur. Ia telah berpuluh tahun hidup dalam kancah perkelahian, pertempuran dan pembunuhan. Karena itu ia telah memiliki pengalaman yang tak terkira banyaknya. Sehingga dengan demikian segera ia sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang berada di luar perhitungan. Ketika ia sadar memandang berkeliling, yang dilihatnya hanyalah orang yang bernama Kebo Kanigara itu, selain beberapa orang yang sedang bertempur melawan lawan masing-masing. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Kanigara lah orangnya, yang telah mencoba membentur tangannya. Nagapasa menjadi marah sekali.

Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, semerah darah. Meskipun bibirnya terkatup rapat, namun terdengar betapa giginya gemeretak. Dengan tangan yang bergetar ia menunjuk wajah Kebo Kanigara sambil berkata dengan gemetar, “Kau…?”

Kebo Kanigara masih setenang tadi. Sambil mengangguk ia menjawab singkat, sesingkat pertanyaannya, “Ya.”

Nagapasa sadar bahwa orang yang bernama Kebo Kanigara itu bukan orang gila seperti yang disangkanya. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar orang perkasa, yang telah menempatkan diri sebagai lawannya dalam pertempuran itu dengan penuh kesadaran. Dengan demikian darahnya kini telah benar-benar mendidih. Karena itu ia sudah tidak mampu lagi untuk bertanya-tanya.

Dengan memekik tinggi ia meluncur seperti ular yang mematuk lawannya, dengan tangan terjulur ke arah wajah Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara bukan anak-anak yang terkejut melihat ular sawah yang melingkar di pematang. Ia cukup dewasa untuk menghadapi setiap kemungkinan. Karena itu, ketika ia mendapat serangan dari Nagapasa, sama sekali tidak menjadi gugup. Dengan tenangnya Kebo Kanigara membuat perhitungan yang tepat. Ketika serangan Nagapasa itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya menelentang. Kedua kakinya segera menyambar perut lawannya, dan dengan lemparan yang keras, Nagapasa terpelanting keudara. Tetapi Nagapasa pun cukup mempunyai bekal untuk bertempur melawan Kebo Kanigara. Ia mula-mula terkejut mengalami peristiwa itu, namun segera ia menguasai dirinya kembali. Dengan sebuah putaran ke udara, ia telah mencapai keseimbangannya. Karena itu Nagapasa dapat dengan baiknya menjatuhkan diri di atas kedua kakinya.

Tetapi ketika ia berhasrat untuk meloncat menyerang lawannya, Kebo Kanigara pun telah siap pula tegak seperti bukit karang yang tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Sesaat kemudian, kembali Nagapasa menyerang dengan kerasnya dibarengi dengan sebuah teriakan tinggi. Dan kembali Kebo Kanigara melawannya dengan tenang, namun penuh gairah. Sebab Kebo Kanigara pun yakin, bahwa orang-orang seperti Nagapasa adalah sumber dari segala macam bencana bagi umat manusia. Maka karena itulah pertempuran antara kedua orang perkasa itu segara menjadi semakin dahsyat.

Nagapasa bertempur seperti seekor naga. Tubuhnya seolah-olah menjadi lemas dan dapat bergerak ke segenap arah. Tulang-tulangnya seakan-akan menjadi selemas daun. Begitu baiknya Nagapasa menguasai tubuhnya, sehingga setiap bagiannya dapat berubah menjadi senjata yang berbahaya. Jari-jarinya, sikunya, kepalanya, lutut dan jari kakinya, tumitnya dan segala bagian yang lain. Ia dapat meluncur dengan cepatnya, melingkar-lingkar seperti pusaran air yang menghisap segenap benda yang tersentuh jari-jari lingkarannya, menelannya dan menghancur-lumatkannya. Demikian dahsyatnya Nagapasa bertempur sehingga benar-benar mirip seekor naga raksasa yang bertempur didalam lautan yang digelorakan oleh ombak yang dahsyat.

Tetapi lawannya adalah Kebo Kanigara. Seorang yang telah memiliki ilmu yang sempurna. Benarlah kata orang, yang bahkan almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri mengakui, bahwa sebenarnya Kebo Kanigara telah melampaui kemampuannya.

Kebo Kanigara telah menemukan cara untuk menempa diri dengan dahsyatnya. Ia hanya memerlukan waktu tidak lebih dari semperempat waktu yang diperlukan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh dengan caranya. Karena itulah maka Kebo Kanigara benar-benar memiliki sifat yang luar biasa. Ia dapat bertempur selincah anak kijang di padang rumput, namun ia dapat garang seperti singa. Di saat-saat yang lain Kebo Kanigara bertempur seperti seekor garuda dengan sayap-sayapnya yang kokoh seperti baja namun trengginas seperti sikatan.  

SEPERTI Mahesa Jenar, Kebo Kanigara juga memiliki kekhususan. Ia benar-benar tangguh sebagaimana ciri-ciri khusus Perguruan Pengging. Seakan-akan berkulit tembaga, bertulang besi. Serta apabila keringatnya telah membasahi punggungnya, tandangnya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton. Demikianlah, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kebo Kanigara dan Nagapasa telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun disamping kemarahan yang semakin memuncak, Nagapasa pun menjadi heran. Apakah ia sebenarnya sedang bertempur melawan seorang manusia, ataukah tiba-tiba saja ada malaikat yang menjelma dan melawannya?

“Persetan dengan malaikat. Aku tidak takut melawan malaikat seandainya ia benar-benar ada.”

Nagapasa mengumpat di dalam hati, namun di dalam relung hatinya yang terdalam ia mengeluh, “Gila benar orang ini. Siapakah sebenarnya dia?”

Kebo Kanigara pun berjuang terus. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa. Hantu Laut yang memiliki kesaktian dan pengalaman yang mengerikan. Karena itu, Kebo Kanigara pun cukup berhati-hati. Namun sedikit demi sedikit, akhirnya ia berhasil mengetahui segi-segi kedahsyatan ilmu lawannya, tetapi juga segi kelemahan-kelemahannya. Suatu hal yang tak dapat dilihat oleh orang biasa. Kebo Kanigara memiliki daya pengamatan yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Dengan demikian, apa yang selama ini tak diketahui orang, dapatlah diketahuinya, dan apa yang tak dapat dikerjakan orang lain, ia dapat melakukannya.

Pertempuran di lereng Gunung Merbabu itupun menjadi semakin riuh. Percikan darah berhambur-hamburan membasahi tanah pegunungan dan rumput-rumput liar. Kedua belah pihak berjuang semakin gigih. Sebab tak ada pilihan lain, apabila seseorang telah berada di tengah-tengah api peperangan. Debu mengepul semakin tinggi di udara. Putih gelap, seperti kabut ampak-ampak di lereng-lereng bukit.

Ki Ageng Sora Dipayana masih bertempur melawan Bugel Kaliki. Silih ungkih, singa lena. Desak-mendesak, serang-menyerang silih berganti. Tetapi keduanya sadar, bahwa kesaktian mereka benar-benar berimbang. Sekali-kali, baik Ki Ageng Sora Dipayana maupun Bugel Kaliki, berusaha untuk menebarkan pandangannya ke bagian-bagian pertempuran yang lain, seperti juga apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, Titis Anganten dan Sura Sarunggi. Sekali-kali merekapun ingin mengetahui apa yang telah terjadi di bagian-bagian yang lain. Dari celah-celah deru senjata, Ki Ageng Sora Dipayana, yang bertempur seorang diri di antara laskar Banyubiru dan Pamingit yang saling bertempur pula. Semula Ki Ageng Sora Dipayana mencemaskan nasib Mahesa Jenar, tetapi kemudian ia menjadi heran. Mereka telah cukup lama bertempur, namun agaknya Mahesa Jenar masih tetap bertahan dengan gigihnya.

“Apakah yang telah terjadi dengan Angger Mahesa Jenar selama ini?” pikirnya.
Dan tiba-tiba sesaat kemudian orang tua itupun terkejut pula. “Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Kanigara itu? Timbul pertanyaan pula di dalam hatinya. Bahkan ia menjadi semakin heran ketika melihat, bahwa Kebo Kanigara dapat bertempur melawan Nagapasa sebaik dirinya sendiri atau orang-orang seangkatannya. Bahkan karena darah yang jauh lebih muda daripada darahnya dan orang-orang seangkatannya, Kebo Kanigara tampak betapa tangkas dan perkasanya.

“Hem…” desisnya, “Siapakah sebenarnya orang itu?”

Ternyata di bagian lainpun terdengar Ki Ageng Pandan Alas berdesis, “Benar-benar Angger Kebo Kanigara sakti tiada taranya.”

Di bagian lain lagi Titis Anganten bergumam, “Aneh. Belum pernah aku mengenalnya. Namun tiba-tiba ia telah mengejutkan kami.”

Bukan saja orang-orang Banyubiru dan Pamingit yang keheran-heranan melihat keperkasaan Kebo Kanigara, namun orang-orang dari golongan hitampun menjadi cemas melihat tandangnya. Ketika orang-orang lain sedang sibuk menilai dirinya, Kebo Kanigara sempat menyaksikan betapa Mahesa Jenar berjuang di antara hidup dan mati. Tanpa sesadarnya merayaplah perasaan bangga di dalam dirinya. Ia melihat benih subur tumbuh di dalam tubuh Mahesa Jenar yang kemudian bahkan telah berkembang dengan rimbunnya. Ia melihat Mahesa Jenar itu telah dapat menguasai ilmunya. Tidak saja Mahesa Jenar itu telah dapat mensejajarkan diri dengan almarhum gurunya, namun dalam penglihatan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar bahkan telah melampauinya. Masa-masa pembajaan diri yang dahsyat telah menempa Mahesa Jenar dan muridnya sedemikian dahsyat pula. Dan sekarang Mahesa Jenar mencoba menerapkan ilmunya dalam suatu perjuangan yang menentukan.

Dalam suatu kesempatan yang lain, Kebo Kanigara melihat bagaimana Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Anak muda itupun menunjukkan betapa gigihnya ia berjuang melawan kejahatan. Tombaknya yang bernama Kyai Bancak itu menyambar-nyambar seperti seribu mata tombak bersama-sama, melawan sepasang pisau belati panjang yang berkilat-kilat ditangan Hantu Alas Mentaok. Namun Arya Salaka telah tumbuh menjadi anak muda yang perkasa. Apapun yang dilakukan lawannya, dengan baiknya Arya dapat melayaninya. Kegarangan dan kekasaran Lawa Ijo sama sekali tak mempengaruhi langkahnya. Apalagi Arya telah membumbui ilmunya dengan segala macam tingkah laku binatang-binatang liar yang pernah menarik perhatiannya. Bagaimana seekor tikus berhasil menyelamatkan dirinya dari gigi-gigi ular berbisa, dan bagaimana seekor kijang yang lemah berhasil membebaskan dirinya dari terkaman serigala-serigala lapar. Namun Arya Salaka pun tahu, bagaimana seekor banteng dengan tanduknya, dalam ketenangan yang luar biasa, berhasil merobek perut seekor harimau yang justru menyerangnya dengan garang. -z  

MELIHAT pertempuran itu Kebo Kanigara menarik nafas. Ia menjadi bertambah tenang, sebab dengan demikian ia hampir pasti, bahwa setidak-tidaknya Lawa Ijo tidak akan berhasil membunuh anak muda itu. 

Mahesa Jenar pun sempat melihat bagaimana muridnya itu bertempur. Dengan semangat yang menyala-nyala serta kepercayaan pada Keadilan yang Maha Tinggi. Arya Salaka bertempur mati-matian berlandaskan pada suatu keyakinan bahwa bagaimanapun juga kebenaran akan memenangkan kemungkaran.

Ki Ageng Lembu Sora pun bertempur dengan gigihnya di bagian lain. Dibebani oleh rasa tanggungjawab atas tanah serta kampung halamannya, serta perasaan-perasaan lain yang memburunya selama ini, kekhilafan-kekhilafan yang pernah dilakukannya serta nafsu-nafsu yang memalukan telah mengetuk-ngetuk dinding hatinya. Seakan-akan terdengar suara yang berputar di udara, “Lembu Sora, kau harus mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan. Lihatlah betapa anak yang akan kau singkirkan itu kini berjuang tanpa pamrih untukmu. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Akan aku bunuh kawan-kawanku kini.” Lembu Sora menggeram. “Mereka adalah orang-orang yang menyeretku ke dalam tindakan-tindakan yang hina.”

Lawannya, Ular Laut dari Nusakambangan, terkejut mendengar Lembu Sora tiba-tiba menggeram. Tetapi kemudia iapun tersenyum. Katanya, “Hati-hatilah Ki Ageng Lembu Sora, jangan melamun. Pedang tipisku ini dapat merobek dadamu.”

Kembali Lembu Sora menggeram. Betapa bencinya ia kepada Jaka Soka. Apalagi sejak nyawanya berada di ujung kerisnya sendiri, yang ditekankan ke lambungnya oleh Mahesa Jenar, pada saat laskarnya mencegat laskar Demak yang sedang membawa Gajah Sora. Pada saat itu, seolah-olah ia telah bersumpah, bahwa pada suatu saat ia harus dapat membunuh Jaka Soka dengan tangannya. Tetapi Jaka Soka itupun bukanlah anak-anak yang baru mampu berdiri. Ia adalah seorang bajak laut yang buas. Meskipun wajahnya selalu membayangkan senyuman yang menarik, namun di balik senyumnya itu tersembunyi kejahatan dan kebengisan yang bertimbun-timbun. Hanya karena seorang gadis yang cantik dalam penilaiannya, dan bernama Rara Wilis di hutan Tambakbaya, ia berhasrat untuk membunuh semua orang yang berada di tempat itu, tanpa sebab. Hanya karena mereka mengetahui bahwa ia menginginkan gadis itu.

Dengan demikian, maka pertempuran di antara merekapun menjadi semakin sengit. Dendam yang membara di dalam dada Lembu Sora telah mendorongnya untuk berjuang sekuat tenaga, sedang Jaka Soka menjadi semakin berani, karena saat itu gurunya yang dibangga-banggakan berada pula di dalam pertempuran itu, Nagapasa.

Akhirnya mataharipun perlahan-lahan melampau puncak langit. Semakin lama menjadi semakin condong ke barat. Angin pegunungan berdesir lembut mengusap daun-daun pepohonan di ujung-ujung senjata. Setiap orang dalam pertempuran itu berusaha untuk memusnahkan lawan-lanan mereka secepat-cepatnya. Masing-masing berjuang dengan gigih dan tanpa pengendalian diri. Namun tak seorangpun dari mereka yang dengan senang hati menyerahkan nyawanya. Karena itulah maka pertempuran itu bertambah-tambah riuh dan ribut. Keringat dan debu yang melekat pada tubuh mereka, bercampur darah yang meleleh dari luka, sama sekali tak mereka hiraukan. Perasaan sakit dan pedih yang ditimbulkan oleh goresan-goresan ujung senjata sama sekali tak terasa, selagi merka masih dapat berdiri dan mengayunkan senjata-senjata mereka, maka tak ada kesempatan untuk bermanja-manja.

Bagi mereka yang telah menjadi lemas karena darah yang terperas hilanglah harapan mereka untuk dapat melihat matahari terbit esok hari. Mereka akan terjatuh dan diinjak-injak. Mungkin oleh lawan dan mungkin oleh kawan. Meskipun demikian, apabila maut belum saatnya datang, ada saja di antara mereka yang berhasil merangkak-rangkak membebaskan diri dari kancah pertempuran, atau seorang kawan yang sempat memapahnya dan menyingkirkannya.

Sawung Sariti tak pula kalah garangnya. Wadas Gunung, murid Pasingsingan yang muda itu agaknya bertempur pula penuh nafsu dan kemarahan. Tetapi Wadas Gunung tidak segarang Lawa Ijo. Karena itu ia sendiri segera terdesak oleh cucu dan sekaligus murid Ki Ageng Sora Dipayana yang masih sangat muda itu. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh pendek gemuk dengan otot-otot yang menonjol seperti orang hutan, datang membantunya dengan senjata-senjata yang mengerikan.

Bola-bola besi yang bertangkai. Orang yang bertubuh bulat itu adalah Bagolan. Bola besinya bergerak dengan garangnya, menyambar-nyambar di antara kilauan dua pisau belati panjang di tangan Wadas Gunung.

PEDANG Sawung Sariti seolah-olah mempunyai mata. Ke mana keempat senjata lawannya itu mengarah, terdengarlah dentang senjata mereka beradu. Seperti ayahnya, Sawung Sariti dapat berbangga diri karena kekuatan tubuhnya. Meskipun Wadas Gunung bertubuh tegap kuat dan Bagolan memiliki lengan yang berbongkah-bongkah seperti orang hutan, namun Sawung Sariti dapat membentur kekuatan mereka dengan keseimbangan yang cukup. Pedang Sawung Sariti seperti juga pedang ayahnya, berukuran tidak wajar. Pedangnya lebih besar dan lebih panjang daripada pedang biasa. Meskipun pedang itu tidak setajam pedang Jaka Soka, namun dengan pedang itu Sawung Sariti mampu mematahkan besi gligen.

Dengan hadirnya Bagolan, maka pertempuran itu menjadi seimbang. Meskipun semula Wadas Gunung agak malu-malu juga bertempur melawan anak semuda itu berdua. Namun dalam saat-saat hidup dan mati menjadi taruhannya, maka perasaan itupun lenyap tanpa bekas. Dengan baiknya mereka berdua bertempur berpasangan. Maju bersama-sama dari arah yang berbeda. Tetapi pedang Sawung Sariti berputar seperti lingkaran angin yang melindungi tubuhnya, sedemikian rapatnya sehingga tak seujung jarumpun dapat ditembus oleh senjata lawannya.

Wulungan ternyata seorang jantan. Ia bertempur seperti seekor elang. Dengan garangnya ia menggerakkan pedangnya menyambar-nyambar. Sedang di bagian lain, Galunggung pun tidak mengecewakan. Orang itu bersenjata pedang pula seperti Wulungan. Dengan tangkasnya ia meloncat kesana kemari, menggerakkan pedangnya dengan lincahnya, mematuk-matuk seperti lidah api yang dihembus angin. Beberapa orang dari golongan hitam telah mengenalnya. Mereka telah pernah bekerja bersama-sama dalam usaha mereka memusnahkan Arya Salaka. Namun sekarang mereka harus berhadapan sebagai lawan.

Seorang yang bertubuh pendek, kasar dan menjemukan, menempatkan diri sebagai lawan Galunggung. Orang itu adalah Sakajon. Tokoh kepercayaan Sima Rodra dari Gunung Tidar. Mereka berdua bertempur dengan penuh nafsu. Sakajon dengan pedang pendek namun besar, bertempur seperti seekor babi hutan yang garang, sedang Galunggung melayanipun seperti seekor serigala lapar. Laskar golongan hitam yang bertempur berhadapan dengan sayap kiri laskar Banyubiru menjadi terkejut ketika mereka merasa terbentur pada kekuatan yang tak mereka duga.

Sri Gunting dari Rawa Pening, yang semula dengan bangga dapat mendesak laskar Pamingit dari Sumber Panas, kini benar-benar membentur dinding baja. Dengan marahnya Sri Gunting mencoba untuk memusnahkan pimpinan kelompok lawannya. Tetapi orang yang bersenjata tombak bermata dua itu benar-benar tangkas.

Jaladri, yang mempimpin kelompok di bagian tengah sapit kiri itu, dengan gigihnya bertempur melawan tokoh pertama sesudah Uling Rawa Pening. Bahkan tiba-tiba Jaladri menjadi bergirang hati. Setelah sekian lama ia menempa diri di bawah penilikan Ki Dalang Mantingan dan Ki Wirasaba, yang kemudian ditambah dengan beberapa pengetahuan yang berharga dari Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, kini ia mendapat kesempatan untuk mengamalkannya. Menumpas golongan hitam.

Demikian juga Bantaran yang berada di ujung Sapit kiri. Ia berusaha dengan gigih untuk memotong gerakan lawannya yang mencoba melingkari ujung sayap itu, dan menyerang dari samping dan belakang. Karena keprigelannya maka ia berhasil dalam usahanya itu. Meskipun ia sendiri harus bertempur mati-matian melawan Welang Jrabang, salah seorang kepercayaan Jaka Soka. Namun Bantaran telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat menyelamatkan dirinya.

Di bagian yang lebih padat, tampaklah Penjawi bertempur dengan penuh tekad. Tak ada persoalan hidup atau mati di dalam kepalanya. Ia hanya menyerahkan diri dalam satu pengabdian. Seterusnya ia pasrah diri setelah berjuang sekuat kemampuannya. Namun karena itu, ia menjadi tenang. Dan ketenangannya itulah yang menyebabkan Penjawi menjadi seperti burung alap-alap, yang menyambar-nyambar dengan kuku-kukunya yang runcing tajam.

Laskar Banyubiru benar-benar menakjubkan. Tidak saja lawan-lawan mereka menjadi cemas, tetapi agaknya orang-orang Pamingit yang sempat melihat betapa anak-anak Banyubiru itu bertempur, menjadi bersyukur di dalam hati. Bagaimanakah kiranya seandainya mereka, orang-orang dari Pamingit terpaksa bertempur melawan laskar Banyubiru itu? Laskar yang semula mereka anggap tidak lebih dari sekelompok pemuda yang hanya pandai mencegat pedagang-pedagang yang pergi ke pasar, atau merampok warung-warung penjual makanan untuk menyambung hidup mereka. Kini ternyata bahwa laskar Banyubiru yang berada di sekitar Candi Gedong Sanga itu adalah benar-benar pejuang yang mengabdikan diri pada cita-citanya.

Matahari kian lama menjadi semakin rendah. Awan yang putih tampak berarak-arak di wajah langit yang biru. Burung gagak berterbangan berputar-putar di atas daerah pertempuran yang menghamburkan bau darah. Burung-burung itu berteriak-teriak di udara. Mereka menjadi tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Betapa segarnya darah yang mengalir dari luka. Mereka harus mendapatkannya lebih dahulu sebelum anjing-anjing liar dan serigala-serigala lapar mendahuluinya. Tetapi pertempuran itu masih ribut. Dan burung-burung itupun menjadi semakin tidak sabar dan berteriak-teriak tinggi.

Meskipun laskar Banyubiru dan Pamingit berhasil mendesak laskar golongan hitam, namun pergeseran garis pertempuran itu tidak seberapa jauh. Bahkan dapatlah dikatakan bahwa kekuatan mereka seimbang. Korban satu-satu jatuh. Dan masih banyak yang akan menyusul. Setiap orang di dalam pertempuran itu mempunyai kemungkinan yang sama. Mati di ujung senjata. Melihat semuanya itu Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Betapa perasaan ngeri mengorek-orek jantungnya. Setiap ia melihat tubuh yang terbanting di tanah dan setiap telinganya mendengar jerit kesakitan, terasa hatinya seperti tertusuk sembilu.  

TIBA-TIBA Kebo Kanigara berhasrat untuk menghentikan pertempuran itu segera. Meskipun sebenarnya tidak saja Kebo Kanigara yang dijalari oleh perasaan yang demikian itu, namun mereka sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu, atau mereka belum berhasil untuk berbuat sesuatu. Ki Ageng Sora Dipayana melihat dengan sedih, korban-korban yang berjatuhan. Setiap kali ia melihat darah yang memancar dari luka, setiap kali ia memperkuat serangan-serangannya, namun lawannya berbuat demikian pula. Bugel Kaliki telah mengerahkan segenap kesaktiannya untuk melawan Ki Ageng Sora Dipayana. Tak jauh berbeda pula perasaan Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten. Merekapun telah berjuang sekuat-kuat tenaga mereka. Semakin cepat pertempuran itu selesai, menjadi semakin baik bagi mereka dan laskar mereka. Jumlah korban mereka, namun lawan mereka tak pula kalah saktinya. Apalagi kemudian, ketika Pasingsingan benar-benar telah dilumuri oleh keringat yang mengalir dari setiap lubang kulitnya, hatinya menjadi bertambah gelap.

Tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam pusaka saktinya, Ki Ageng Suluh, sebuah pisau belati panjang kuning gemerlapan. Ki Ageng Pandan Alas terkejut melihat senjata itu. Ia menyangka bahwa Pasingsingan akan melepaskan ilmu andalannya, Gelap Ngampar atau Alas Kobar, atau kedua-duanya.

Tetapi agaknya Pasingsingan sadar bahwa lawannya mempunyai cukup daya tahan untuk melawannya. Karena itu, ia mengambil ketetapan hati, pusakanya itu akan dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat. Setiap goresan yang dapat melukai kulit Pandan Alas, adalah suatu alamat, bahwa Pandan Alas akan tinggal disebut namanya. Tetapi Pandan Alas tidak mau melawan Kyai Suluh itu dengan tangannya.

Ketika pisau yang gemerlapan itu melingkar-lingkar di sekitar tubuhnya, dengan tangkasnya ia menarik pusakanya pula, Kyai Sigar Penjalin. Sebilah keris yang tidak kalah saktinya. Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Tanpa mereka kehendaki, menyingkirlah laskar Banyubiru, Pamingit dan laskar golongan hitam dari daerah sekitar mereka berdua. Sehingga dengan demikian, seolah-olah bagi mereka sengaja disediakan tempat yang cukup luas untuk mengadu kesaktian.

Daerah pertempuran, yang berupa padang rumput dan sawah-sawah yang terletak di lereng bukit itu, merupakan daerah yang sama sekali tidak rata. Ada bagian yang cekung, namun ada bagian-bagian yang menjorok naik, sehingga dengan demikian memungkinkan bagi mereka untuk dapat melihat arena pertempuran itu seluas-luasnya. Demikianlah agaknya maka hampir setiap orang di dalam pertempuran itu mempunyai gambaran atas peristiwa yang terjadi di arena itu. Kalau mereka berkesempatan, dapatlah mereka melihat betapa debu mengepul tinggi ke udara dari daerah sayap kiri, atau kilatan ujung senjata di sayap kanan. Mereka dapat juga melihat daerah-daerah yang lengang di tengah-tengah arena, yang merupakan pertanda bahwa di daerah itulah tokoh-tokoh sakti sedang mengadu tenaga sehingga tak seorangpun yang berani mendekati.

Ketika matahari telah surut ke ufuk barat, Ki Ageng Sora Dipayana menjadi semakin gelisah. Apabila malam tiba, dan pertempuran ini harus dihentikan, maka akan terulang kembali perisitiwa ini besok pagi. Bertempur, bunuh-membunuh dan korban akan berjatuhan. Demikian seterusnya. Mungkin berhari-hari, seperti ia sendiri akan mengalaminya melawan Bugel Kaliki. Mungkin seminggu, dua minggu. Ia sendiri atau Bugel Kaliki akan betahan terus, tetapi laskarnya akan semakin surut. Namun demikian, apa yang dilakukan adalah batas tertinggi dari kemampuannya. Sebab Bugel Kaliki pun berusaha untuk membunuhnya seperti apa yang diusahakannya atas orang itu. Demikian juga Pandan Alas dan Titis Anganten. Tetapi di sapit sebelah kiri terjadilah hal yang agak berbeda. Ketika Kebo Kanigara melihat warna lembayung membayang dilangit, ia menarik keningnya. Ketika ia sekilas melihat Mahesa Jenar yang bertempur tidak demikian jauh darinya, ia tersenyum kecil.

Memang pada saat itupun Mahesa Jenar dihinggapi oleh perasaan yang sama seperti perasaan yang menjalar di dalam dada Ki Ageng Sora Dipayana, di dalam dada Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten dan Kebo Kanigara. Karena itulah maka, seperti mereka pula, mencemaskan betapa korban akan berjatuhan besok pagi, lusa atau seterusnya, apabila keseimbangan pertempuran tidak segera berubah.

Karena itu, ketika senja mewarnai langit, terdengar ia menggeram perlahan-lahan. Sekali lagi dengan tajamnya ia memandang wajah Sima Rodra yang bertempur dengan dahsyatnya sambil mengaum mengerikan. Tiba-tiba di wajah itu terbayanglah betapa keji perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan. Kalau anak perempuannya telah melakukan perbuatan yang terkutuk, apakah kira-kira yang pernah dilakukan oleh Harimau tua itu? Berapa puluh gadis yang pernah dikorbankan untuk upacara-upacaranya yang aneh-aneh?

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Agaknya Sima Rodra pun sadar bahwa menjelang malam, ia harus mengambil suatu kepastian, supaya besok pertempuran dapat dimulai dengan permulaan yang berbeda. Karena itu Sima Rodra pun menjadi bertambah liar. Akhirnya terjadilah suatu hal yang mengerikan.

Sima Rodra itu mengaum dengan dahsyatnya, serta menggerakkan seluruh tubuhnya seperti orang yang menggigil kedinginan.

Mehesa Jenar pernah melihat gerakan-gerakan yang demikian. Pada saat itu ia mengambil pusaka-pusaka keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Gunung Tidar. Untunglah bahwa pada saat itu Titis Anganten datang menolongnya, sehingga kekuatan aji Sima Rodra yang dinamainya Macan Liwung itu dapat dipunahkan. Dan keadannya kini pun sudah tidak memerlukan pertolongan orang lain. Karena itu, selagi ia berkesempatan, segera ia mengatur jalan pernafasannya baik-baik, memusatkan segenap pancaindra dan pikirannya.

Diangkatnya satu kakinya, satu tangannya bersilang dada dan tangannya yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti akan menggapai langit.  

DEMIKIANLAH, pada saat yang tegang itu terdengarlah bibir Mahesa Jenar bergumam, “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tiada kekuasaan dan tiada kekuatan kecuali dari Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Besar.”

Pada saat itulah ia melihat Sima Rodra itu meloncat dengan kecepatan dan kekuatan yang tak dapat dikira-kirakan. Mahesa Jenar berusaha untuk tidak membenturkan diri dengan kekuatan aji Macan Luwung itu. Dengan lincahnya ia meloncat selangkah ke kanan, kemudian dengan satu putaran ia menghindari serangan Sima Rodra. Sima Rodra yang telah melancarkan kekuatan yang tiada taranya, dengan kecepatan yang luar biasa pula, menjadi kehilangan daya tahannya untuk menarik serangannya.

Ia terdorong selangkah ke depan, ketika pada saat yang bersamaan Mahesa Jenar berputar lagi untuk kemudian dengan garangnya meloncat ke arah Harimau yang telah menjadi gila itu. Semuanya itu terjadi hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Nagapasa meluncur seperti seekor naga yang mematuk mangsanya secepat tatit, sedang tak ada sekejap mata kemudian, Sima Rodra menerkam pula seperti seekor Harimau gila, secepat petir menyambar. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten dan Lembu Sora beserta Sawung Sariti, demikian juga Arya Salaka, hanya sempat melihat betapa dua orang, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bersikap serupa. Kedua-duanya sedang menyalurkan aji yang sama dengan cara yang sama, Sasra Birawa. Meskipun persamaan itu telah menimbulkan suatu teka-teki pada mereka, dan bahkan tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam, namun mereka tidak sempat menebak-nebak lagi, ketika mereka melihat apa yang terjadi kemudian.

Ternyata Kebo Kanigara sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Dengan tatag dan penuh kepercayaan kepada diri, ia membenturkan aji Sasra Birawa melawan aji Nagapasa, sedang di lain pihak Mahesa Jenar telah menghemat tenaganya dan melakukan suatu tindakan yang pasti, menghindari benturan dengan aji Macan Liwung, namun dengan pasti ia berputar satu kali dan mengayunkan ajiannya Sasra Birawa.

Dalam keadaan yang demikian Sima Rodra hanya mampu untuk bertahan. Tetapi apa yang terjadi benar-benar telah menggoncangkan setiap dada mereka yang menyaksikan. Dua benturan yang hampir bersamaan disusul dengan bunyi yang gemuruh dua kali berturut-turut. Kemudian apa yang mereka saksikan hampir-hampir tak dapat dipercaya.

Nagapasa, seorang yang sakti tanpa banding di sekitar pulau Nusakambangan, bahkan yang tak terkalahkan oleh setiap tokoh sakti yang manapun dari golongan hitam maupun lawan-lawan mereka, kini terbanting diam. Meskipun tak sempat semenitpun tampak luka pada kulitnya, namun isi dadanya serasa hangus terbakar. Karena itu, Nagapasa tidak usah mengaduh untuk kedua kalinya. Naga Laut yang mengerikan itu mati di tangan Kebo Kanigara, orang yang sama sekali tak dikenal, baik oleh golongan hitam, maupun oleh para pemimpin Banyubiru dan Pamingit.

Sedang tidak jauh darinya, Sima Rodra mengaum dahsyat, sekali ia menggeliat, kemudian diam untuk selama-lamanya. Mati. Untuk beberapa saat, semua orang yang menyaksikan peristiwa itu terpaku di tempatnya.

Lembu Sora dan Sawung Sariti tak begitu jelas melihat apa yang terjadi. Yang diketahuinya kemudian adalah sorak-sorai yang membahana seperti benteng runtuh. Sayup-sayup terdengar di antara gemersik angin senja, laskar Banyubiru berteriak-teriak, “Nagapasa mati, Nagapasa mati…!” Kemudian disusul, “Sima Rodra mati, Sima Rodra mati…”

Teriakan-teriakan itu benar-benar hampir tak dipercaya. Bagaimana mungkin Nagapasa dapat mati, dan Sima Rodra tua dari Lodaya itu pula. Apakah Mahesa Jenar dan sahabatnya itu mampu membunuh mereka? Tetapi sorak itu masih mengumandang terus. Bahkan kemudian menjalar hampir ke segenap daerah pertempuran. Namun bagaimanapun juga berita itu sangat meragukan. Bahkan, Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten, yang beruntung dapat melihat peristiwa itupun, meragukan penglihatannya. Mereka saling memandang satu sama lain. Kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka dengan penuh kekaguman dan keheranan.

“Suatu keajaiban,” desis Sora Dipayana. Tokoh-tokoh sakti itu terpaksa menahan gelora perasaan mereka yang melonjak-lonjak. Meskipun ia telah menempa diri, serta sejak ia melihat untuk pertama kali atas orang yang bernama Kebo Kanigara itu, sudah terasa padanya betapa besar pengaruhnya terhadap Mahesa Jenar, namun sama sekali tak diduganya bahwa Kebo Kanigara itupun memiliki ilmu keturunan Pengging yang gemilang.

Bahkan sedemikian sempurnanya sehingga timbullah keraguan di dalam hatinya, bahwa orang itu adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh, sebaya dengan mereka. Sedang orang yang bernama Kebo Kanigara itu ternyata, sebagaimana terbukti, telah berhasil membunuh Nagapasa dalam suatu benturan ilmu.

Dengan demikian dapatlah ditarik suatu kesimpulan, bahwa orang itu pasti memiliki kesempurnaan Sasra Birawa lebih dahsyat daripada Ki Ageng Pengging Sepuh yang perkasa. Sebab seandainya Ki Ageng Pengging Sepuh masih ada di antara mereka dalam tatarannya, dan membenturkan diri melawan Nagapasa, belum dapat diambil suatu kepastian bahwa ilmu Sasra Birawa itu akan dapat mengatasi, apalagi sampai membunuh Nagapasa. Tetapi disamping itu, Mahesa Jenar pun ternyata dapat membunuh Sima Rodra, pada saat Sima Rodra telah siap melawan Sasra Birawa yang diayunkannya.

Seandainya Mahesa Jenar telah berhasil menyusul kesempurnaan gurunya sekalipun, Sima Rodra itu pasti tidak akan mati. Namun adalah suatu kenyataan. Nagapasa dan Sima Rodra mati hampir pada saat yang bersamaan karena aji yang sama, Sasra Birawa. “Dari manakah anak-anak muda itu mendapat kedahsyatan dan kesempurnaan ilmunya?” gumam Titis Anganten.  

LEMBU SORA, setelah mendapat suatu kepastian tentang kematian Nagapasa dan Sima Rodra, menjadi gemetar. Bulu-bulu tengkuknya serentak berdiri. Terasa betapa punggungnya meremang.

Hampir saja ia terlibat dalam perkelahian melawan Mahesa Jenar, bahkan sampai terulang beberapa kali. Dahulu ia tidak dapat mengalahkannya. Meskipun kemudian ilmunya berkembang dengan pesat, namun apakah ia dapat berhadapan melawan Sima Rodra…? Sedang Mahesa Jenar itu telah berhasil membunuh Harimau Lodaya itu. Dan seandainya Sasra Birawa itu dikenakan pada tengkuknya, apakah kira-kira yang akan terjadi? Mungkin lehernya akan patah, bahkan mungkin kepalanya akan terlontar dan pecah berserak-serakan.

Diam-diam Lembu Sora mengucap syukur, dan sekaligus ia benar-benar tenggelam dalam perasaan kagum dan hormat. Meskipun Mahesa Jenar telah memiliki kedahsyatan ilmu Sasra Birawa, namun ia selalu menghindari bentrokan dengan dirinya. Benar-benar suatu sikap yang jarang ditemuinya. Sesaat kemudian, di antara derai sorak-sorai laskar Banyubiru, kembali terdengar dentang senjata beradu. Laskar Banyubiru menjadi bertambah berani dan berbesar hati, sedang sebaliknya di laskar golongan hitam menjadi ngeri. Dua tokoh sakti dari antara mereka telah mati. Dan kematian dua orang itu benar-benar mempengaruhi keseimbangan pertempuran. Pasingsingan, Bugel Kaliki dan Sura Sarunggi harus berpikir untuk kesekian kalinya. Meskipun lawan-lawan mereka tak akan dapat membunuhnya dengan mudah, tetapi bagaimanakah kalau tiba-tiba Kebo Kanigara atau Mahesa Jenar datang mendekat? Tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam menjadi gelisah.

Apalagi Jaka Soka. Sama sekali tak dimengertinya apa yang sebenarnya terjadi. Gurunya yang diagung-agungkan selama ini, mati di tangan orang yang tak bernama. Alangkah anehnya dunia ini. Ia menyesal bahwa gurunya melibatkan diri dalam persoalan ini. Atas permintaannya. Gurunya, yang jarang-jarang menampakkan diri, terpaksa menyeberangi selat Nusakambangan. Tetapi itupun bukan salahnya, sebab ternyata Lawa Ijo, Sima Rodra Gunung Tidar, Uling Rawa Pening pun telah membawa guru mereka masing-masing. Sehingga apabila kemudian mereka memperoleh kemenangan akan terdesaklah dirinya, apalagi gurunya tidak ada di sampingnya. Tetapi kini gurunya itu sudah tidak ada lagi. Karena itu hatinya menjadi kecut. Apapun yang terjadi, maka ia akan mengalami kekalahan. Kemenangan golongan hitampun sama sekali tak berarti baginya. Sebab kemenangan itu pasti akan dimiliki oleh Lawa Ijo dan Pasingsingan atau Sura Sarunggi, bahkan mungkin Bugel Kaliki. Ia hanya dapat mengharap embun yang menetes dari langit, apabila tokoh-tokoh sakti itu dalam pertentangan kemudian menjadi sampyuh.

Tetapi itu mustahil terjadi. Yang mungkin terjadi, mereka akan membagi kemenangan. Dan Nusakambangan akan dipencilkan. Karena itu, Jaka Soka telah kehilangan nafsunya untuk bertempur terus. Ia kini tinggal mempertahankan dirinya supaya tidak mati. Ketika ia memandang langit yang telah hampir kehilangan cahayanya, ia menjadi gembira. Ia tidak mau meninggalkan medan hanya karena keseganannya kepada kawan-kawannya. Atau tuduhan-tuduhan lain yang semakin menyulitkan kedudukannya. Dalam pada itu, matahari beredar terus. Ketika tokoh-tokoh sakti dari keduabelah pihak terlibat kembali dalam pertempuran, warna-warna yang kelam mewarnai lembah-lembah yang cekung. Perlahan-lahan warna itu merayapi tebing semakin tinggi. Angin pegunungan yang sejuk terasa silirnya mengusap tubuh.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang telah kehilangan lawannya tidak segera berbuat sesuatu. Mereka masih diam dan tegak di tempat masing-masing. Namun di daerah sekitar mereka benar-benar telah menjadi sepi. Orang-orang dari Laskar golongan hitam, jauh-jauh telah menyingkir dari kedua orang yang luar biasa itu. Akhirnya malampun datang merebut waktu. Medan itu menjadi semakin gelap.

Dan mereka yang bertempur telah kehilangan pengamatan atas kawan dan lawan. Karena itu, terdengarlah sebuah tengara atas perintah sasmita dari Ki Ageng Sora Dipayana. Ketika sangkalala itu berbunyi, laskar Banyubiru dan Pamingit segera mempersiapkan diri mereka untuk menghentikan peperangan. Mereka tidak lagi mengambil kesempatan-kesempatan untuk menyerang, namun mereka tidak mau diserang dalam keadaan yang demikian. Tetapi agaknya golongan hitam itupun benar-benar telah kehilangan semangat mereka. Demikian mereka mendengar bunyi sangkalala, yang meskipun mereka tahu, bahwa tanda itu diberikan oleh pimpinan laskar lawannya, namun dengan serta merta mereka berloncatan mundur dan dengan serta merta pula pertempuran itu berhenti. Laskar golongan hitam itu segera menarik diri. Seperti juga mereka datang, mereka pergi demikian saja tanpa ikatan satu sama lain. Seolah-olah mereka tidak terdiri dari satu pasukan yang baru saja bertempur. Tetapi seolah-olah mereka adalah rombongan orang yang pulang nonton tayub dan menjadi mabuk tuak. Berbondong-bondong dengan langkah gontai, mereka meninggalkan medan.  

SATU-DUA orang mencoba menolong kawan-kawan mereka yang luka dan memapahnya. Tetapi kebanyakan dari mereka sama sekali tidak ambil pusing kepada mereka yang terpaksa berjalan sambil merintih-rintih, bahkan hampir merangkak-rangkak sekalipun. Apalagi mereka yang terluka dan parah terbaring di bekas daerah pertempuran itupun sama sekali tidak mendapat perhatian. Telah menjadi kebiasaan mereka, laskar golongan hitam, untuk menjaga diri masing-masing. Bahkan untuk kepentingan rahasia mereka, sama sekali mereka tidak segan membunuh kawan sendiri. Berbeda dengan laskar Pamingit dan Banyubiru. Segera mereka berkumpul dalam kelompok masing-masing.

Pemimpin-pemimpin kelompok yang tetap hidup segera menghitung laskar mereka, sedang yang terpaksa gugur atau terluka, segera ditunjuk gantinya. Mereka segera membentuk kelompok-kelompok yang mendapat tugas khusus, merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan gugur dimedan perjuangan menegakkan hak atas tanah mereka. Bahkan tugas mereka melimpah pula kepada kawan-kawan mereka yang parah. Merekapun berhak mendapat pertolongan dan pengobatan atas luka-luka mereka.

Demikianlah medan pertempuran itu segera menjadi sepi. Beberapa orang dengan obor di tangan menjalankan tugas mereka. Sedang orang-orang lain, dalam satu barisan yang tertib kembali ke perkemahan di Pangrantunan. Mereka harus mempergunakan waktu istirahat mereka sebaik-baiknya.

Besok mereka masih harus bertempur lagi. Mungkin mereka akan mendesak maju. Mereka merasa bahwa keseimbangan pertempuran telah berubah. Bahkan mungkin besok mereka telah dapat memasuki Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten, demikian pertempuran selesai, segera pergi bergegas-gegas menemui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Ketika mereka telah berdiri di hadapan kedua orang itu, tiba-tiba tanpa sengaja mereka mengangguk hormat. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi kaku karenanya. Merekapun segera menghormat tokoh-tokoh sakti yang sebaya dengan Ki Ageng Pengging Sepuh itu.

Namun segera terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata, “Sungguh luar biasa. Angger Mahesa Jenar dan Angger Putut Karang Jati. Kami orang-orang tua ini, agaknya telah kehilangan daya pengamatan atas cahaya teja yang memancar dari tubuh Angger berdua. Sebagaimana terbukti, bahwa Angger telah melakukan sesuatu yang tak dapat kami duga sebelumnya karena rasa sombong di hati kami. Seolah-olah tak ada orang lain yang dapat menyamai kesaktian-kesaktian kami. Ternyata bahwa Angger berdua memiliki kesaktian jauh di atas kesaktian kami orang-orang tua yang tak tahu diri.”

Mahesa Jenar menjadi semakin kaku. Ia tidak pernah melihat sikap yang sedemikian merendahkan diri dari tokoh-tokoh tua itu. Karena itu ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Yang kemudian terdengar adalah jawab Kebo Kanigara, “Ada kekuasaan di atas, kekuasaan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya pula. Kami tidak lebih hanyalah lantaran-lantaran yang ditunjuknya.”

Tokoh-tokoh sakti yang mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu langsung tersentuh hatinya. Sebagai orang-orang yang taat beribadah, mereka langsung dapat merasakan betapa Tuhan mengulurkan Tangan-Nya untuk menolong umatnya.

Sementara itu, mereka yang mendapat tugas di bekas medan pertempuran itu menjalankan pekerjaan mereka dengan tertib. Mereka berusaha meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka. Ki Ageng Sora Dipayana dan kawan-kawannyapun mendahului kembali ke perkemahan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang perjalanan itu. Namun di dalam dada tokoh-tokoh sakti itu masih tetap tersimpan berbagai pertanyaan mengenai Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Pagi tadi mereka masih menyangka bahwa kedua orang itu masih harus bertempur dalam perlindungan mereka dan laskar-laskar mereka. Tetapi tiba-tiba suatu kenyataan, kedua orang itu memiliki kesaktian melampaui kesaktian mereka sendiri.

Sampai perkemahan, segera Ki Ageng Sora Dipayana mengatur penjagaan dan pengawasan atas daerah perkemahan mereka dan pengawasan atas daerah lawan. Beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amati perkemahan dan setiap gerak-gerik dari laskar golongan hitam. Apapun yang mereka lakukan, para pengawas itu harus memberikan laporan setiap saat dengan tertib. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar pergi membersihkan diri, sambil mengambil air wudlu, dari celah-celah pintu rumah tempat peristirahatannya mereka melihat Lembu Sora sedang sembahyang.

Mahesa Jenar berhenti pula ketika tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berhenti. Orang tua itu melihat anaknya bersembahyang, seperti orang yang sedang mengagumi sesuatu. Mahesa Jenar menjadi heran. Bukankah sembahyang itu harus dilakukan setiap hari, bahkan lima kali dalam keadaan wajar? Bahkan orang tua itu kemudian bergumam, “Tuhan telah menerangi hatinya.”

Mahesa Jenar menjadi semakin heran, maka bertanyalah ia, “Bukankah sudah seharusnya dilakukan, Ki Ageng?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku hampir saja putus asa. Lembu Sora lebih senang mengadu ayam dan berjudi daripada mendekatkan diri kepada Tuhan. Beberapa tahun terakhir, ia seolah-olah sudah lupa sama sekali akan kewajiban itu. Syukurlah, kini ia telah menemukan jalannya. Tetapi…” kata-kata orang tua itu terputus oleh tarikan nafasnya. “Tetapi…”

KI AGENG Sora Dipayana memandangi wajah Mahesa Jenar dengan mata yang suram. Terasa ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana melangkah kembali untuk membersihkan dirinya. Mahesa Jenar pun tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengikuti saja langkah orang tua itu sambil berdiam diri.

Ketika mereka bertemu dengan Arya Salaka, Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, “Dari mana kau Arya?”

Arya berhenti, kemudian ia menjawab, “Sesuci Eyang.” Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, “Bagus. Di mana adikmu Sawung Sariti?” Arya Salaka menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku tidak melihatnya, Eyang. Barangkali ia bersama-sama Paman Lembu Sora.”

“Kalau kau bertemu dengan anak itu nanti, berilah ia beberapa petunjuk. Ajaklah ia kembali kepada Yang Maha Kuasa,” pinta orang tua itu.

“Baiklah Eyang,” jawab Arya. Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana dan Mahesa Jenar pergi pula ke pancuran dari sumber air di bawah pohon beringin tua.

“Angger Mahesa Jenar agaknya beruntung dapat membawa Arya Salaka ke jalan yang gemilang, lahir dan batin. Tanpa keseimbangan itu, maka yang terjadi adalah kekecewaan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itulah segera Mahesa Jenar mengerti, bahwa Ki Ageng Sora Dipayana sedang mencemaskan nasib cucunya, Sawung Sariti. Malam itu, ketika semuanya telah selesai, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka dengan nikmatnya menyuapi mulut masing-masing dengan nasi hangat dan serundeng kelapa seperti pagi tadi.

Namun meskipun demikian, karena letih dan lapar, maka terasa seolah-olah hidangan yang dimakannya itu adalah hidangan yang seenak-enaknya. Mereka duduk-duduk di antara laskar mereka, di sekeliling perapian untuk menghangatkan diri. Beberapa kali terdengar suara Bantaran, Penjawi, Jaladri dan beberapa orang lain tertawa ketika ia mendengar Sendang Papat berceritera.

Anak itu memang pandai berkelekar. Namun lambat laun suara tertawa merekapun semakin jarang dan lambat. Kemudian mereka tidak dapat menahan kantuk mereka. Diatas anyaman daun kelapa mereka merebahkan diri. Tidur sambil memeluk senjata masing-masing. Arya Salaka kemudian tertidur pula. Begitu nyenyaknya dibuai oleh mimpi yang segar. Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara akan merebahkan dirinya pula, mereka dikejutkan oleh langkah seseorang mendekati mereka.

Ketika mereka menoleh dilihatnya Lembu Sora datang kepada mereka. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bangkit, sambil mempersilahkan, “Marilah Ki Ageng.”

Lembu Sora mengangguk hormat dengan tulusnya. Berbeda dengan saat-saat yang lampau. Kemudian merekapun duduk pula didekat perapian yang masih menyala-nyala itu. “Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati…” Ki Ageng Lembu Sora mulai, “Aku memerlukan datang kepada kalian berdua untuk memohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan, lebih-lebih kepada Adi Mahesa Jenar dan apabila aku masih sempat untuk bertemu karena kepalaku tidak terpenggal pedang Jaka Soka besok pagi, aku akan bersujud pula di bawah kaki Kakang Gajah Sora. Betapa besar dosa yang telah aku lakukan. Atas ayah Sora Dipayana, Kakang Gajah Sora dan lebih-lebih lagi atas Pamingit dan Banyubiru.”

Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar pengakuan itu, dan terasa betapa ikhlasnya Lembu Sora memandang kepada diri sendiri. Udara malam terasa dingin, namun kehangatan yang dilemparkan oleh perapian di samping mereka terasa betapa nyamannya. Sebelum Mahesa Jenar menjawab, Lembu Sora meneruskan, “Dalam keadaan-keadaan yang sulit seperti apa yang aku alami sekarang, baru dapat aku lihat, betapa noda-noda telah melekat pada masa lampau itu. Mudah-mudahan aku belum terlambat.”

Lembu Sora diam sesaat menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. “Tetapi Kakang, apabila besok aku terbunuh dalam mempertahankan tanah ini, biarlah Kakang menyampaikan rasa penyesalanku kepada Kakang Gajah Sora kelak.”

“Tak ada kelambatan untuk menyatakan kesalahan diri,” sahut Mahesa Jenar. “Meskipun aku belum lama berkenalan, namun aku tahu bahwa dada Kakang Gajah Sora adalah seluas samodra. Karena itu, kalau Ki Ageng menyatakan penyesalan diri dengan ikhlas, maka Kakang Gajah Sora pun pasti akan memaafkannya.”

“Ya…” Lembu Sora menjawab, “Aku tahu itu. Aku sadar betapa Kakang Gajah Sora memanjakan aku sejak masa kanak-kanak kami. Tetapi apa yang aku lakukan telah melampaui batas. Aku telah sampai pada usaha untuk membunuhnya atau meniadakannya. Bahkan membunuh anaknya yang tak mengetahui sama sekali persoalan di antara kami. Syukurlah bahwa Tuhan membebaskan aku dari pembunuhan-pembunuhan itu.”

“Hal itu tidak akan mengurangi kelapangan dada Kakang Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar seperti kepada anak-anak yang betapa miskin jiwanya dalam menanggapi hidup dan kehidupan.”

“Tetapi kalau aku tidak sempat karena aku terbunuh…?” Lembu Sora bertanya benar-benar seperti orang yang sedemikian bodohnya.

“Tidak,” jawab Mahesa Jenar, “Meskipun hidup dan mati berada di tangan Tuhan, namun berdoalah agar Tuhan menyelamatkan Ki Ageng Lembu Sora. Saat ini Kakang berada di pihak yang benar. Karena itulah maka kami dan Arya Salaka bersedia berdiri di pihak Ki Ageng. Dan karena itu pula Tuhan akan melimpahkan rahmat-Nya.”  

LEMBU SORA terdiam. Matanya yang muram, merenungi api yang sedang menjilat- jilat ke udara dengan lincahnya. Tetapi di dalam nyala yang seolah-olah menari- nari itu dilihatnya betapa kelam masa-masa lampau yang pernah dijalaninya. Ketamakan, kebencian, pemanjaan nafsu lahiriah, dan segala macam sifat-sifat yang tercela. Dilihatnya betapa dirinya duduk di atas singgasana Demak, dengan Kyai Nagasasra di tangan kanan dan Kyai Sabuk Inten di tangan kiri. Sedang kakinya beralaskan bangkai Ki Ageng Gajah Sora dan Arya Salaka, dan sekitarnya berserak-serakanlah bangkai-bangkai orang Banyubiru. Pandan Kuning, Sawungrana dan lain-lain.

Tiba-tiba ia menjadi ngeri pada gambaran cita-citanya waktu itu. Dengan tanpa disengaja maka kedua tangannya diangkatnya menutupi wajahnya. Akhirnya wajah itu tertunduk lesu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengetahui betapa rasa penyesalan bergolak di dalam dada Ki Ageng Lembu Sora. Betapa ia mengutuki dirinya sendiri yang telah tersesat terlalu jauh. Untunglah bahwa akhirnya ditemukannya jalan kembali.

Untuk sesaat suasana dicekam oleh kesepian. Malam menjadi semakin dalam dan sepi. Namun terasa di sana sini para pengawas dan para penjaga bekerja dengan tekunnya. Di tangan mereka terletak tanggungjawab atas keselamatan perkemahan Pangrantunan. Sebab tidaklah mustahil laskar golongan hitam itu menyerang mereka pada malam hari ketika mereka sedang nyenyak tertidur.

Tiba-tiba Arya Salaka menggeliat. Ketika ia membuka matanya, ia melihat pamannya Lembu Sora duduk bersama-sama dengan gurunya dan Kebo Kanigara. Karena itu iapun segera bangkit dan duduk pula. Lembu Sora melihat Arya bangun dekat di sampingnya. Tiba-tiba terasa betapa hatinya bergelora. Dan tiba-tiba pula dengan serta merta diraihnya kepala anak muda itu seperti masa anak-anak dahulu.

“Arya…” desisnya, “Maafkan pamanmu.” Arya pun merasa betapa hatinya bergetar mendengar kata-kata pamannya. Karena itulah maka mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Namun hatinya berkata, “Aku akan berusaha melupakannya, Paman.” Kemudian ketika kepala itu dilepaskan, mata Arya menjadi panas. Seolah-olah ada yang berdesakan hendak meloncat keluar. Karena itulah maka ditengadahkan kepalanya ke langit. Sedang Ki Ageng Lembu Sora pun menarik nafas dalam-dalam.

Kembali suasana terlempar ke dalam heningnya malam. Dan kembali Lembu Sora berangan-angan. Kini yang bergolak di dalam hatinya adalah anaknya, Sawung Sariti. Ia menyesal telah membawa anak itu lewat jalan yang penuh dengan noda dan dosa. Apalagi ketika ia sadar bahwa sampai saat ini anak itu masih tetap dalam pendiriannya. Karena itu kemudian ia berkata, “Arya, di manakah adikmu?”

Arya memalingkan kepalanya. Ia mendengar pertanyaan yang serupa dari eyangnya tadi. Maka iapun menjawab, “Aku tidak tahu, Paman. Tadi eyangpun menanyakan Adi Sawung Sariti. Aku kira Adi bersama-sama dengan Paman.”

Kembali penyesalan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Pasti anak itu pergi dengan Galunggung. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai harga diri dan kesopanan dalam tata pergaulan manusia. Tetapi kembali Lembu Sora menimpakan kesalahan pada diri sendiri. “Mudah-mudahan ia terbentur pada kenyataan ini seperti aku sendiri,” gumam Lembu Sora, lebih-lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Kemudian kepada Arya Salaka ia berkata, “Arya, adikmu telah terlampau jauh tersesat seperti aku. Namun aku masih dapat melihat kenyataan ini. Mudah-mudahan Sawung Sariti pun demikian. Dapatkah kau membantu aku membawanya kembali ke jalan yang benar?”

“Mudah-mudahan, Paman,” jawab Arya, meskipun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa adik sepupunya itu sedemikian membencinya, jauh lebih dalam daripada pamannya itu sendiri. Namun demikian ia berjanji untuk berusaha. Dalam pada itu, tiba-tiba datanglah Wulungan. Dengan heran ia melihat Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka masih enak-enak duduk di situ. Apakah ia belum mendengar laporan yang disampaikan oleh beberapa orang pengawas? Tetapi karena persoalannya sedemikian penting, maka Wulunganpun tidak segan- segan menanyakannya.

Maka iapun kemudian duduk pula di samping perapian itu sambil bertanya kepada Mahesa Jenar, “Tuan, apakah Tuan telah mendengar laporan para pengawas?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. “Belum Wulungan,” jawabnya. “Laporan tentang apa?” “Ataukah laporan ini disampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana? Namun meskipun demikian, Ki Ageng Sora Dipayana pasti segera memberitahukan kepada Tuan dan Angger Arya Salaka,” sambung Wulungan.

“Penting sekalikah laporan itu?” tanya Arya.

“Ya, sangat penting bagi Angger,” jawab Wulungan. “Kalau demikian…” ia melanjutkan, “Biarlah aku panggil orang itu.”

Wulungan segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa. Yang ditinggalkan di tepi perapian itupun bertanya-tanya di dalam hati. Sesaat kemudian Wulungan kembali bersama seorang pengawas dari Pamingit.

Diajaknya orang itu duduk pula, dan berkatalah ia, “Inilah orang yang menyampaikan laporan itu, Tuan.”

Lembu Sora memandangi orang itu dengan seksama. Kemudian berkatalah ia, “Katakanlah apa yang kau lihat?”

Orang itupun mengingsar duduknya. Kepada Ki Ageng Lembu Sora ia berkata, “Aku adalah salah seorang yang mendapat tugas untuk mengawasi perkemahan laskar golongan hitam. Aku telah melaporkan segala sesuatu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

Wulungan tiba-tiba mengangkat dadanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Laporan itu tidak diteruskan kepada Arya Salaka, Mahesa Jenar atau Ki Ageng Sora Dipayana.

LEMBU SORA mengerutkan keningnya. Seperti Wulungan, ia dapat menduga kelicikan anaknya. Namun sekali lagi dadanya dihantam oleh kegelisahan, penyesalan yang tiada taranya. Seolah-olah terdengar suara berdesing ditelinganya. “Kau jangan salah, Lembu Sora. Anak itu memang kau didik demikian.”

“Di mana Sawung Sariti dan Galunggung itu?” tanya Lembu Sora menggeram. “Aku temui mereka di pojok teras. Mereka baru saja keluar dari rumah Kakang Badra Klenteng Pangrantunan,” sahut orang itu.

“Apa kerjanya di sana?” Tiba-tiba mata Lembu Sora terbelalak. Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Karena orang itu tidak menjawab, Lembu Sora mendesaknya, “He, apa kerjanya di sana?”

Wulungan memalingkan wajahnya ke arah api yang memercik dengan riangnya. Kebenciannya kepada anak kepala daerah perdikannya itu tiba-tiba semakin menyala seperti nyala api yang dipandangnya itu. Badra Klenteng adalah orang yang sekotor-kotornya di Pangrantunan.

Di rumahnya ada dua tiga orang gadis. Bukan gadis, tetapi yang disebutnya gadis penari. Penari tayub yang terkenal. Bukan terkenal karena keindahannya menari, tetapi terkenal karena keberaniannya menari. Menari dalam tataran yang melanggar tata kesopanan dan kepribadian.

Kepala pengawas itupun menjadi semakin tunduk. Ia tahu apa yang harus dikatakan. Tetapi mulutnya terkunci. Sehingga dengan demikian ia tetap berdiam diri. Akhirnya terdengar Lembu Sora menggeram, “Bagus, jangan kau katakan kepadaku sekarang apa yang dikerjakan oleh anak itu. Terkutuklah mereka. Aku tidak tahu kemana mukaku aku sembunyikan kalau Adi Mahesa Jenar, Kakang Putut Karang Jati dan Arya Salaka tahu apa yang dikerjakan di sana. Tetapi apakah laporan itu?”

“Belumkah Angger Sawung Sariti menyampaikannya?” tanya pengawas itu. Lembu Sora menggelengkan kepalanya.

“Belum.” “Agak terlambat,” katanya. “Aku telah melihat beberapa waktu yang lalu.”

“Ya, apakah itu?” desak Arya Salaka tidak sabar. “Aku lihat serombongan kecil orang-orang berkuda meninggalkan perkemahan mereka. Mereka menuju ke utara,” jawabnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersentak. Mereka mendesak maju sambil bertanya, “Siapakah mereka?”

“Tidak jelas. Tetapi mereka menuju ke jalan ke Banyubiru,” jawabnya.

“He…!” Arya hampir berteriak. “Kau tahu benar?” “Aku mengikuti beberapa langkah,” jawabnya. “Karena itu aku yakin mereka pergi ke Banyubiru. Di simpang tiga Banjar Gede, mereka membelok ke timur.”

“Pasti ke Banyubiru,” desis Arya.

“Akupun pasti,” sahut pengawas itu, “Tetapi aku tidak dapat mengikutinya terus. Ketika salah seekor kuda mereka berhenti, akupun berhenti pula. Agaknya salah seorang telah melihat aku. Sehingga ketika kudanya berputar, akupun memacu kudaku pula meninggalkan mereka. Untunglah kudaku agak lebih baik sehingga aku tak ditangkapnya. Sehingga akhirnya aku sampai pada gardu penjagaan. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan oleh pengejarku itu. Namun aku kemudian langsung melaporkan peristiwa itu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

“Gila,” desah Lembu Sora. “Sawung Sariti dan Galunggung tidak menyampaikan itu kepadaku, kepada ayah Sora Dipayana atau kepada Kakang Mahesa Jenar.”

“Wulungan…” tiba-tiba Lembu Sora berteriak, “panggil mereka!”

Wulungan yang menjadi marah pula di dalam hati, segera bangkit. “Baik Ki Ageng,” jawabnya. Dan iapun kemudian hilang di dalam gelap.

“Siapakah mereka itu?” tanya Arya Salaka.

“Aku tidak tahu,” jawab orang itu. “Tetapi aku kira salah seorang di antaranya adalah orang yang berjubah abu-abu.”

“Pasingsingan…?” desis mereka bersamaan Tiba-tiba meloncatlah Arya Salaka dari tempat duduknya. Tanpa berkata apapun juga ia berlari kencang-kencang.

“Arya…” panggil Mahesa Jenar, “Apa yang akan kau lakukan?”

“Kuda!” Hanya kata-kata itulah yang meloncat dari bibirnya. Mahesa Jenar yang tahu betapa watak muridnya itupun kemudian berdiri pula sambil berkata kepada Ki Ageng Lembu Sora, “Adi, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, kami mendahului perintah supaya tidak terlalu lambat.”

Kebo Kanigara kemudian berdiri pula. Ia tidak sampai hati melepaskan Arya Salaka berdua dengan Mahesa Jenar saja. Kalau di dalam rombongan Pasingsingan itu ada Bugel Kaliki dan Sura Sarunggi, maka celakalah Arya Salaka.

Mahesa Jenar sendiri mungkin dapat mempertahankan dirinya beberapa lama meskipun ia harus berhadapan dengan dua tokoh hitam itu sekaligus, namun bagaimana dengan Arya? Karena itu ia berkata, “Mahesa Jenar, aku pergi bersamamu.”

“Baiklah Kakang,” jawab Mahesa Jenar singkat. Iapun sadar akan bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan muridnya. Justru pada taraf terakhir dari perjuangannya.

BANTARAN, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat telah terbangun pula. Dengan gelisah ia bertanya, “Ada apa Tuan-tuan?”

“Aku akan pergi sebentar, Bantaran. Jagalah laskar baik-baik. Tempatkan dirimu langsung di bawah perintah Ki Ageng Sora Dipayana apabila besok pagi-pagi aku belum kembali,” kata Mahesa Jenar dengan tergesa-gesa. Ia tidak sempat memberi banyak penjelasan. “Aku titipkan laskar Banyubiru kepadamu Ki Ageng,” katanya kepada Lembu Sora.

“Baik Adi,” jawab Lembu Sora. “Tetapi tidakkah Adi perlu membawa pasukan?”

“Tidak,” sahut Mahesa Jenar, “Di Banyubiru masih ada separo laskar Arya Salaka.” Lembu Sora mengangguk sambil berdiri. Ia tidak sempat berkata-kata lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dengan tergesa-gesa berjalan mengikuti jalan yang dilewati Arya tadi. Mereka tahu benar ke mana muridnya itu pergi. Arya pasti pergi ke tempat kuda-kuda dipersiapkan. Mereka masih dapat melihat Arya melarikan kudanya seperti angin. Dengan demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat ke punggung kuda-kuda yang mereka anggap cukup baik. Para penjaga kuda itu memandang mereka dengan heran.

Yang mereka dengar hanyalah kata-kata Arya tadi, “Aku ambil seekor.” Lalu anak itu pergi dengan cepatnya. Sekarang mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun mengambil masing-masing kuda dengan tergesa-gesa. “Apa yang terjadi Tuan?” tanya seorang penjaga. “Tidak apa-apa,” jawab Mahesa Jenar, “Kami sedang berlatih berpacu kuda.”

Penjaga itu tersenyum. Tetapi ia tidak percaya. Meskipun demikian ia tidak bertanya-tanya lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera memacu kudanya. Suara derap kakinya berdetak-detak memecah kesepian malam. Beberapa orang yang mendengar suara derap kaki kuda itupun terkejut.

Namun mereka tidak sempat bertanya, apakah dan kemanakah mereka pergi. Meskipun demikian, mereka terpaksa meraba-raba senjata-senjata mereka, kalau-kalau ada hal-hal yang penting akan terjadi di perkemahan itu.

Sementara itu dengan geram Lembu Sora berjalan ke tempat peristirahatan ayahnya. Ia benar-benar marah kepada Sawung Sariti dan Galunggung. Karena perbuatan mereka itu, telah membuka kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Sedangkan Bantaran, Jaladri, Penjawi dan Sendang Papat beserta beberapa orang Banyubiru yang lain bertanya-tanya dalam hati pula.

Mereka mendengar dari Ki Ageng Lembu Sora apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak diperkenankan meninggalkan laskar mereka. Karena itu merekapun menjadi gelisah. Apakah yang akan terjadi di Banyubiru. Namun mereka menjadi agak tenang ketika mereka sadar bahwa di Banyubiru masih ada Wanamerta, Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan separo dari laskar Banyubiru. Mudah-mudahan mereka dapat mengatasi kesulitan yang akan timbul.

Ketika Ki Ageng Lembu Sora sampai ke tempat Ki Ageng Sora Dipayana dilihatnya Sawung Sariti dan Galunggung telah berada di sana. Dengan wajah yang merah, ia masuk ke ruangan itu sambil menggeram, “Apa kerjamu Sawung Sariti?”

Sawung Sariti menoleh kepada ayahnya. Ia terkejut. Belum pernah ia melihat mata ayahnya memancarkan sinar yang demikian kepadanya. “Mungkin ayah sedang marah kepada seseorang,” pikirnya.

Tetapi ternyata Lembu Sora itu memandangnya terus seperti hendak menelannya hidup-hidup.

“Duduklah Lembu Sora,” ayahnya mempersilahkan. “Sawung Sariti sedang menyampaikan kabar yang aku kira penting.”

Lembu Sora duduk di samping ayahnya, namun pandangan matanya masih saja melekat kepada anaknya.

“Terlambat,” geram Lembu Sora. “Apa yang terlambat Lembu Sora?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. “Kabar itu,” jawab Lembu Sora. “Mungkin sesuatu telah terjadi sekarang di Banyubiru. Pembunuhan dan pembalasan dendam.”

“Sabarlah,” potong ayahnya, Apakah yang sebenarnya terjadi?”

“Apa yang disampaikan oleh Sawung Sariti?” Lembu Sora ganti bertanya. “Tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam telah meninggalkan perkemahan mereka,” jawab ayahnya.

“Ke mana?” desak Lembu Sora.

“Ke mana…?” ulang Ki Ageng Sora Dipayana. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bingung.

Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah mengetahui apa yang terjadi. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka terkejut ketika Lembu Sora membentaknya sambil berdiri, “Kemana? Tidakkah kau sampaikan laporan itu selengkapnya setelah kau ulur waktu hampir seperempat malam supaya segala sesuatu menjadi semakin jelek?”

Sawung Sariti menjadi bertambah bingung. Adakah ayahnya bersungguh-sungguh, ataukah ayahnya hanya ingin menghilangkan kesan bahwa ayahnya akan berterima kasih kepadanya. Tetapi tiba-tiba ayahnya bersikap lain.

Namun Sawung Sariti adalah anak yang cerdik. Ia tidak kehilangan akal. Karena itu ia menjawab, “Aku belum selesai ayah. Aku baru menyampaikan sebagian.” “Berapa lama kau perlukan waktu untuk menyampaikan laporan yang dapat kau ucapkan dengan beberapa kalimat saja?” bentak ayahnya.

“Sudahlah Lembu Sora.” Ki Ageng Sora menengahi, “Biarlah anakmu meneruskan laporannya. Memang ia belum lama datang kepadaku.”

Tetapi kemarahan Lembu Sora telah memenuhi dadanya. Kemarahan yang bercampur-baur dengan penyesalan dan perasaan yang menekan hatinya. Karena itu ia berkata lagi, “Jadi kau belum lama menghadap eyangmu?”

Sawung Sariti tidak tahu maksud ayahnya, karena itu ia menjawab, “Ya ayah.” 

“Ke mana kau selama ini?” desak Lembu Sora.  

SAWUNG SARITI menjadi ragu. Ia tidak berani berkata kepada ayahnya, dari mana ia pergi, karena ada eyangnya. Biasanya ia tidak perlu berahasia kepada ayahnya, tetapi terhadap eyangnya, Sawung Sariti tidak berani berterus terang. Karena itu tanpa disengaja ia berpaling kepada Galunggung, seakan-akan minta supaya Galunggung menjawab pertanyaan ayahnya itu. Ternyata Galunggungpun mengerti pula, karena itu ia menjawab, “Kami dari nganglang daerah medan, Ki Ageng.”

“Medan mana?” Lembu Sora mendesak terus.

Galunggung pun menjadi ragu. Kenapa Ki Ageng Lembu Sora tidak seperti biasa. Pada saat-saat lampau ia tidak pernah mengurus ke mana ia pergi, dan apa saja yang dilakukan.

Tiba-tiba seperti disambar petir Sawung Sariti mendengar ayahnya berteriak, “Kau pergi ke rumah Badra Klenteng kan…?”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya, seperti mimpi ia mendengar kata-kata Lembu Sora tentang cucunya itu. Mulut Sawung Sariti tiba-tiba seperti terkunci. Ayahnya benar-benar marah kepadanya. Tidak kepada orang lain. Kemarahan yang belum pernah dialaminya.

Namun Galunggung tiba-tiba berkata membela diri, “Tidak, Ki Ageng. Siapakah yang mengatakan?” Mata Lembu Sora bertambah menyala, “Kau mau bohong Galunggung. Kau kira aku tidak tahu?” “Demi Allah,” sahut Galunggung, tetapi ia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora meloncat dengan garangnya, dan menampar mulut Galunggung sambil berteriak, “Jangan sebut kata-kata itu. Mulutmu terlalu kotor untuk mengucapkannya.”

Galunggung terdorong ke samping. Hampir saja ia jatuh kalau tubuhnya tidak membentur dinding. Ketika ia berusaha tegak kembali, terasa cairan yang hangat meleleh dari mulutnya. Darah merah menyala, seperti kemarahan yang menyala di dalam dadanya. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu. “Lembu Sora…” Ki Ageng Sora Dipayana memanggil anaknya, “Duduklah. Biarlah aku bertanya kepada mereka.”

Nafas Lembu Sora menjadi semakin memburu. Tetapi ia duduk pula di samping ayahnya. Sawung Sariti sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya, apalagi eyangnya yang telah mendengar bahwa ia baru saja pergi ke rumah Badra Klenteng. Tiba-tiba merayaplah dendam dadanya kepada orang yang menjumpainya waktu itu. Pengawas yang melaporkan peristiwa orang-orang golongan hitam itu. Demikian juga Galunggung. Berkatalah di dalam hatinya, “Kalau aku temui orang itu, aku sobek mulutnya dan akan aku kubur ia hidup-hidup.”

Ketika Galunggung pun telah duduk kembali dan mengusap darah yang meleleh dari mulutnya dengan lengan bajunya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata sareh, “Sudahlah Lembu Sora, segala sesuatu bukanlah terjadi dengan tiba-tiba. Apalagi watak dan kelakuan. Sekarang tenangkan hatimu. Hari masih panjang. Mudah-mudahan aku mengalami masa-masa yang cerah. Masa-masa yang cerah bukan bagiku sendiri, tetapi bagimu, bagi cucuku Sawung Sariti, dan bagi cucuku Arya Salaka. Kesempatan untuk membersihkan diri masih terbuka, apalagi bagi anak semuda cucuku Sawung Sariti.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Sekali lagi ia terlempar pada kenyataan akan kesalahan diri. Penyesalan yang memukul-mukul dinding hatinya menjadi semakin deras. “Nah, Sawung Sariti…” Ki Ageng Sora Dipayana melanjutkan, “Apakah yang kau katakan tentang orang-orang dari golongan hitam itu?”

Sawung Sariti mengangkat wajahnya, namun segera tertunduk kembali. Perlahan-lahan terdengar ia berkata dengan suara yang gemetar penuh dendam kepada pengawas yang telah melaporkan keadaan, “Orang-orang dari golongan hitam itu pergi ke Banyubiru, Eyang.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. “Ke Banyubiru?” ulangnya.

“Ya,” jawab Sawung Sariti yang kemudian mengulangi laporan yang didengarnya dari pengawas itu. “Kapan kau dengar laporan itu?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. “Beberapa saat yang lalu,” jawab Sawung Sariti.

“Kenapa baru sekarang kau sampaikan kepada eyangmu?” bentak Lembu Sora. Sawung Sariti tidak menjawab. Galunggung pun tidak. Tetapi seperti berjanji mereka berteriak di dalam hati, “Mati kau pengawas gila.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi gelisah. Kemudian kepada Sawung Sariti ia berkata, “Panggillah kakakmu Arya Salaka.”

Sawung Sariti ragu sebentar, kemudian ia menjawab, “Baiklah Eyang.” Sesaat kemudian iapun berdiri, dan bersama-sama dengan Galunggung ia meninggalkan rumah itu. Ketika mereka keluar dari pintu, mereka melihat Wulungan berdiri tegak dengan tangan bersilang dada. Sawung Sariti berhenti sejenak, kemudian ia bertanya, “Kau lihat Kakang Arya?” Wulungan menggelengkan kepala. “Tidak Angger.” Kemudian Sawung Sariti melangkah pula dengan tergesa-gesa. Galunggung sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ketika mereka telah menjauh, Wulungan pun pergi di belakang mereka. Di dalam perkemahan itu Lembu Sora berkata, “Tak akan dijumpai Arya di sini.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Sambil menoleh kepada anaknya ia bertanya, “Kenapa?” “Arya telah pergi ke Banyubiru belum lama,” jawab Lembu Sora.

“He…?” Ki Ageng Sora Dipayana terkejut.

“Sendiri?”

“Tidak. Dengan Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati,” sahut Lembu Sora. “Mengapa?” tanya ayahnya pula.

“Ia sudah tahu apa yang terjadi,” jawab Lembu Sora.

KI AGENG Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Kemudian ia bertanya pula, “Dari mana anak itu mendengar?”

“Langsung dari pengawas itu,” jawab Lembu Sora. Diceriterakannya apa yang diketahuinya mengenai pengawas itu, serta kelambatan Sawung Sariti. Diceriterakannya pula bagaimana Arya Salaka langsung meloncat ke kandang kuda dengan tombaknya dalam genggaman. “Anak itu sadar akan tanggungjawabnya,” desis kakeknya.

“Namun sayang ia terlalu tergesa-gesa. Bukankah yang pergi ke Banyubiru itu Pasingsingan? Untunglah Anakmas Mahesa Jenar dan anak Putut Karangjati mengetahuinya, sehingga mereka segera menyusul.”

Kepada ayahnya, Lembu Sora menyampaikan pesan Mahesa Jenar, bahwa mereka terpaksa mendahului perintah.

“Mereka tahu benar apa yang harus mereka lakukan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. “Mereka orang-orang yang memiliki firasat dan daya pengamatan melampaui kami semuanya di sini. Bahkan mereka adalah orang-orang sakti yang tak ada bandingnya di antara kita.”

“Sayang, laporan yang sampai kepada mereka agak terlambat,” desah Lembu Sora.

“Mudah-mudahan segala sesuatu tidak menjadi lebih buruk karena pokal anakku.

Arya dan Banyubiru telah banyak mengalami kesusahan dan kerusakan karena pamrih yang berlebih-lebihan, dan apakah sekarang harus mengalami bencana yang lebih dahsyat lagi?”

“Tenanglah Lembu Sora,” ayahnya menenangkan. “Mahesa Jenar dan Putut Karangjati akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Sekarang beristirahatlah. Kita belum tahu apa yang harus kita lakukan besok pagi. Suruhlah Sawung Sariti beristirahat pula. Demikian juga seluruh laskarmu. Malam tinggal setengahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas dan Titis agaknya telah tidur nyenyak pula.”

“Baiklah ayah,” jawab Lembu Sora sambil berdiri. Kemudian iapun melangkah pergi ke pondoknya untuk beristirahat, meskipun kepalanya masih dipenuhi oleh penyesalan yang melonjak-lonjak. Setiap ia berusaha melupakan, setiap kali dadanya bergetar, kenapa bayang-bayang masa lampaunya datang berturut-turut. Namun demikian ia berusaha untuk beristirahat dengan merebahkan dirinya di atas bale-bale bambu yang direntangi tikar mendong.

Pada saat yang bersamaan, Sawung Sariti sedang mondar-mandir mencari Arya Salaka. Namun sebenarnya yang ingin dijumpainya pertama-tama adalah pengawal yang dianggapnya tumbak-cucukan itu, yang suka melaporkan kesalahan orang lain. Sawung Sariti dan Galunggung sama sekali tidak menyesalkan perbuatan mereka, tetapi mereka menyesalkan pengawas itu. Ketika tiba-tiba mereka melihat pengawas itu duduk bersandar batang nyiur di antara kawan-kawannya yang berbaring tidur, Sawung Sariti menggeram, “Jahanam.” Ia mengumpat. Kemudian dengan satu loncatan ia telah berdiri di hadapan pengawas itu sambil membentak, “He bangsat kau masih di sini?”

Pengawas itu terkejut, sehingga ia meloncat berdiri. “Kenapa kau tidak kembali ke tugasmu?” bentak Sawung Sariti. “Seseorang telah menggantikan tugasku,” jawab orang itu kecemasan. “Bohong!” sanggah Sawung Sariti.

Orang itu menjadi bingung. “Benar angger,” jawabnya. “Aku telah bebas dari tugasku itu.”

“Ha, agaknya kau lebih senang di sini. Mengadu domba antara aku dengan Kakang Arya Salaka,” bentak Sawung Sariti. Orang itu mula-mula tidak mengerti maksud Sawung Sariti itu. Tetapi kemudian disadarinya apa yang terjadi. Sawung Sariti agaknya menjadi marah kepadanya, karena ia telah berkata sebenarnya kepada Ki Ageng Lembu Sora. Mungkin Ki Ageng Lembu Sora itu telah memarahinya. Karena itu ia berkata, “Angger, jangan menyalahkan aku kalau aku terpaksa mengatakan apa yang aku lihat demi kewajibanku.”

“Pandainya tikus ini,” potong Sawung Sariti. “Kau bisa berkata hijau atas warna merah, dan kau bisa berkata merah atas warna hijau.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakan? Ia menjadi semakin cemas ketika tiba-tiba Galunggung melangkah maju dengan mata yang menyala-nyala. Katanya, “Lihatlah, karena mulutmu yang lancang itu, aku ditampar oleh Ki Ageng Lembu Sora.”

Pengawas itu masih tetap berdiam diri. Beberapa orang kawan-kawannya menjadi terbangun karenanya. Tetapi tak seorangpun yang berani mencampurinya. Tiba-tiba Galunggung itu berkata, “Ikuti aku.”

“Ke mana?” orang itu menjadi ketakutan. “Ikuti aku!” bentak Galunggung.

Orang itu tidak berani membantah lagi. Ia berjalan saja di belakang Galunggung dan di belakangnya berjalan Sawung Sariti. Dengan gelisah ia mencoba menebak, apakah yang akan dilakukan atas dirinya. Ia menjadi ragu-ragu, apakah kebenaran yang diucapkannya itu dapat diputar balik sedemikian rupa sehingga ia perlu mendapat hukuman. Galunggung berjalan semakin lama semakin cepat. Mereka menerobos pagar-pagar halaman dan meloncati dinding desa. Akhirnya mereka sampai di gerumbul-gerumbul kecil di samping desa Pangrantunan itu. Orang itu menjadi semakin cemas. Ketika ia melihat Gunung Merbabu dalam keremangan malam, tampaknya seperti raksasa yang akan menerkamnya.

Orang itu menjadi gemetar ketika tiba-tiba Galunggung mencabut pedangnya sambil tertawa menakutkan, katanya, “Mulutmulah yang pertama-tama harus disobek, lalu kau akan aku kubur hidup-hidup.”

“Apa salahku?” tanya orang itu gemetar.

“Seandainya aku berbuat salah karena laporanku, adalah pantas aku dihukum mati dengan cara demikian. Apalagi aku telah berusaha melakukan pekerjaanku sebaik-baiknya.”  

SAWUNG SARITI menjawab, “Baik bagimu tidak selalu baik bagi orang lain. Dengan perbuatanmu itu, nanti kalau terjadi sesuatu di Banyubiru, akulah yang dipersalahkan. Karena itu, kau harus dilenyapkan. Dengan demikian, di hadapan Eyang Sora Dipayana, tak ada seorangpun yang dapat membuktikan kesalahanku.”

Pengawas yang malang itu menjadi semakin ketakutan. Ia tidak mengerti kenapa kebenaran sama sekali tidak menjadi pertimbangan Sawung Sariti, yang hanya mengenal kebenaran dari seginya sendiri. Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk membela diri. “Angger Sawung Sariti. Kalau angger mengambil keputusan untuk menghukum aku dengan kesaksianku, maka kesaksianku itu telah diketahui pula oleh Ki Ageng Lembu Sora, Angger Arya Salaka beserta gurunya serta sahabat gurunya yang telah berhasil membunuh mati orang sakti dari Nusakambangan.”

Sawung Sariti mengerutkan keningnya. Ia mengumpat di dalam hati. Kenapa Arya Salaka mendapat sahabat-sahabat yang sedemikian saktinya, sehingga sedikit banyak dapat mempengaruhi keadaannya?

Namun ia menjawab, “Aku dapat menyangkal kesaksian-kesaksian itu. Kau sangka ayahku itu akan membenarkan kesaksianmu? Setidak-tidaknya aku dapat memperpendek waktu yang hilang sejak kau memberikan laporan itu kepadaku sampai waktu yang aku pergunakan untuk menyampaikan kepada Eyang Sora Dipayana.”

“Kau tak usah terlalu banyak bicara,” potong Galunggung. “Nikmatilah udara terakhir ini sebaik-baiknya. Sesudah itu, kau tak akan mengenalnya lagi.”

Pengawas itu menjadi semakin gemetar. Namun ia berkata, “Kalau ada akibat yang kurang baik bagi kalian berdua, bukankah itu bukan salahku. Kalau kalian tidak sengaja memperlambat berita itu, maka segala sesuatu akan menjadi baik.”

“Tutup mulutmu!” bentak Galunggung.

“Kau tak perlu mengigau pada saat-saat terakhir.” Tiba-tiba menjalarlah suatu perasaan lain didalam dada pengawas itu. Ia adalah seorang prajurit. Beberapa kali telah pernah dilihatnya ujung pedang yang berkilat-kilat. Sekarang kenapa ia takut menghadapi pedang. Ia merasa berpijak di atas kebenaran. Kalau ia terpaksa, apa boleh buat ia telah dipepetkan ke suatu sudut dimana ia harus mempertahankan diri.

Dirasanya sesuatu terselip di ikat pinggangnya.

Keris.

Meskipun yang berdiri di hadapan dua orang yang sama sekali di atas kemampuannya untuk melawan, namun ia tidak mau mati seperti tikus di tangan seekor kucing. Biarlah ia berusaha untuk membebaskan diri. Kalau perlu ia akan berteriak-teriak sekeras-kerasnya, sambil melawan sedapat-dapatnya.

Galunggung yang telah terbakar oleh kemarahannya, menjadi kehilangan kesabarannya.

Dengan garangnya ia melangkah maju sambil menggeram, “Jangan melawan, sebab kalau kau melawan berarti akan memperlambat saat-saat kematianmu. Derita yang terakhir adalah selalu tidak menyenangkan.”

Tetapi pengawas itu tidak peduli. Dengan tangkasnya ia meloncat mundur sambil menarik kerisnya. Melihat orang itu menarik senjatanya. Galunggung tertawa. “Benar-benar kau sedang sekarat.”

Kemudian sambil tertawa ia melangkah maju.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara yang sama sekali tak diduga oleh mereka. Tenang, namun penuh pengaruh. Katanya, “Aku adalah satu-satunya saksi yang melihat kebenaran diinjak-injak.”

Seperti disambar petir, Galunggung dan Sawung Sariti mendengar kata-kata itu. Ketika mereka menoleh, dilihatnya Wulungan berdiri tenang sambil bersilang dada. Pedangnya tergantung di lambung kirinya.

Sawung Sariti menjadi gemetar karena marahnya. Sambil melangkah maju ia berkata, “Paman Wulungan, kau berani mengganggu pekerjaanku?”

“Tidak Angger,” jawab Wulungan tanpa bergerak.

“Tidak…?” sahut Sawung Sariti, “Lalu apa yang Paman kerjakan sekarang. Apakah kau kira bahwa pedangmu itu bermanfaat untuk melawan aku? Kau tahu, bukankah aku murid Sora Dipayana?”

“Ya. Aku tahu bahwa angger adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Wulungan.

“Kau tahu bahwa aku mampu melawan Wadas Gunung berdua dengan anak buahnya?” desak Sawung Sariti.

“Ya.”

“Kau tahu bahwa aku adalah putra kepala daerah Perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus?”

“Ya.”

“Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Sawung Sariti sambil mengangkat dadanya.  

WULUNGAN menjawab, “Tidak apa-apa. Aku tidak akan melawan Angger. Sebab aku tahu, betapa aku mampu tak melakukannya. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan Angger lakukan di sini?”

“Apa kepentingamu? Dan apa pedulimu?” bentak Sawung Sariti.

“Setiap orang berkepentingan atas tegaknya kebenaran. Aku yang membawa pengawas itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Angger Arya Salaka. Dan akulah yang minta kepadanya untuk mengulangi laporannya.”

“Hem…” geram Sawung Sariti. “Kau adalah saksi yang kedua sesudah orang ini. Kalau begitu bagaimana kalau kau aku bunuh sekalian?”

“Itu adalah urusan Angger Sawung Sariti,” jawab Wulungan masih setenang tadi. “Kau akan melawan seperti tikus ini?” desak Sawung Sariti.

“Tidak,” jawab Wulungan.

“Tak ada gunanya. Tetapi pernahkan Angger mendengar aku berlomba lari? Aku adalah pelari tercepat dari setiap kawan-kawanku, baik pada masa kanak-kanakku, maupun kini.”

“Gila!” umpat Sawung Sariti.

“Kau bukan seorang jantan.”

“Aku memang bukan seorang jantan,” jawab Wulungan.

“Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain. Aku wajib menyelamatkan kebenaran ini. Kalau aku mati, maka kebenaran ini akan tertanam bersama mayatku. Tetapi kalau aku lari selamat, bukankah aku dapat memberitahukannya kepada Ki Ageng Sora Dipayana…?”

“Gila, Gila….” Sawung Sariti mengumpat tak habis-habisnya. Ketika itu Galunggung mencoba mengingsar dirinya, untuk menutup kemungkinan Wulungan kepada pengawas itu.

“Ki Sanak, baiklah kita berlomba lari. Jangan melawan. Kalau Adi Galunggung melangkah satu langkah lagi, perlombaan akan dimulai tanpa pembicaraan lain.”

Langkah Galunggung terhenti karenanya. Kalau Wulungan benar-benar melarikan dirinya saat itu, dan orang yang pertama itu melarikan diri pula, akan sulitlah untuk menangkap kedua-duanya. Salah satu atau keduanya mungkin akan dapat melenyapkan dirinya di dalam gerumbul-gerumbul yang berserak-serak itu, atau berteriak-teriak minta tolong sehingga apabila terdengar oleh laskar Banyubiru, persoalannya akan menjadi sulit.

“Setan,” gumam Galunggung menahan marah yang memukul-mukul dadanya. Sawung Sariti menjadi semakin marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Lalu apa yang kau kehendaki Wulungan?” Wulungan menarik nafas. Tangannya masih terlipat di dadanya. Ia melihat kegelisahan Sawung Sariti. Meskipun demikian ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Dengan perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, Wulungan menjawab, “Tidak banyak Angger. Aku menghendaki orang itu Angger bebaskan dari segala tuntutan pribadi. Sebab Angger memandang persoalannya dari kepentingan diri sendiri.”

“Gila, kau licik seperti demit.” Sawung Sariti mengumpat. “Kita semua adalah orang-orang yang licik. Penuh nafsu tanpa pengendalian,” jawab Wulungan. Sekali lagi Sawung Sariti menggeram. Katanya, “Kepalamu memang harus dipenggal.”

Tetapi Wulungan tidak mendengarkan. Ia meneruskan kata-katanya, “Kau dengar Angger melepaskan orang itu, maka aku berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun juga, apa yang terjadi sekarang di sini. Orang itupun tidak akan membuka mulutnya pula.” Kemudian kepada pengawas itu Wulungan berkata, “Begitu kan…?”

Pengawas itu mengangguk kosong, meskipun hatinya bergolak. Tetapi ia harus selamat dahulu. Sekali lagi Galunggung menggeram. “Apa jaminanmu?”

“Tidak ada,” jawab Wulungan cepat.

“Bagaimana aku bisa percaya?” desak Galunggung.

“Terserah padamu. Percaya atau tidak,” sahut Wulungan. “Tetapi aku bukan orang yang suka melihat benturan-benturan diantara keluarga sendiri.”

Kemudian dengan penuh kejengkelan Sawung Sariti berkata, “Baiklah aku percaya kepadamu Wulungan. Tetapi kalau kau memungkiri kesanggupanmu, aku banyak mempunyai alasan dan cara untuk membunuhmu.”

“Terserah kepada Angger,” jawab Wulungan.

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi. Galunggungpun kemudian mengikutinya dibelakang.

“Ikuti aku,” perintah Wulungan kepada pengawas itu. Pengawas itu tidak membantah, namun di dalam dadanya bergelutlah ucapan terima kasih kepada Wulungan. Mereka berdua berjalan tidak begitu jauh di belakang Galunggung. Dengan demikian Wulungan dapat mengetahui langsung apa yang akan dilakukan seandainya orang itu akan mencoba menyergapnya.

Tetapi Sawung Sariti dan Galunggung berjalan terus ke perkemahan. Karena itu Wulungan dan pengawas itu telah merasa dirinya tentram. Ia tahu betul bahwa Sawung Sariti atau Galunggung tidak akan mengganggunya, sebab dengan demikian Wulungan akan segera mengetahui apa yang terjadi atasnya. Sampai di perkemahan, Sawung Sariti masih tetap mengumpat-umpat. Ia sudah kehilangan nafsu untuk mencari Arya Salaka. “Persetan dengan anak itu,” geramnya. “Dan persetan dengan Banyubiru.”

“Bagaimana kalau Ki Ageng Sora Dipayana bertanya tentang Arya?” tanya Galunggung.

“Pergilah kepada Eyang Sora Dipayana, katakan kalau Arya tak dapat kami ketemukan,” perintah Sawung Sariti. Dan Galunggung pun segera pergi.

MALAM berjalan terus. Semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Sementara itu, di jalan yang berbatu-batu menuju ke Banyubiru berderak-deraklah suara kaki tiga ekor kuda yang dipacu seperti angin. Yang terdepan adalah Arya Salaka. Beberapa langkah di belakangnya adalah Mahesa Jenar, sedang rapat di belakangnya adalah Kebo Kanigara. Betapa hati Arya Salaka menjadi gelisah dan marah mendengar laporan pengawas dari Pamingit itu. Ia tidak tahu kepada siapa ia harus marah. Mungkin kesalahannya terletak pada Sawung Sariti. Atau pada waktu.

Mungkin Sawung Sariti sudah mencarinya untuk menyampaikan khabar itu, tetapi tidak segera ditemuinya. Semakin dalam ia berpikir tentang gerombolan berkuda yang di antaranya terdapat Pasingsingan, semakin gelisahlah hatinya. Karena itu kudanya dipacu semakin cepat. Ia ingin segara sampai. Ketika ia menoleh, dilihatnya dua orang berkuda menyusulnya. Ia berbesar hati. Keduanya pasti gurunya beserta Kebo Kanigara. Ia yakin bahwa kedua orang itu akan mengikutinya, apalagi keduanya mendengar sendiri, bahwa yang pergi ke Banyubiru di antara orang-orang golongan hitam itu terdapat Pasingsingan. Sedangkan di Banyubiru ada Rara Wilis dan Endang Widuri. Arya Salaka tahu benar, bahwa Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berkepentingan atas keduanya. Mahesa Jenar pasti tidak mau kehilangan Rara Wilis, sedang Kebo Kanigara akan mencemaskan nasib putrinya. Tetapi kenapa ia sendiri menjadi sangat cemas? Siapakah yang ditinggalkan di Banyubiru? Paman Mantingan atau Paman Wirasaba, atau Eyang Wanamerta? Bukan itulah yang pertama-tama kali diingatnya. Tetapi Banyubiru. Mungkin orang-orang dari golongan hitam itu akan membakar rumahnya dan rumah-rumah rakyat yang tak bersalah. Melepaskan dendamnya kepada orang- orang yang dijumpainya. Kepada Eyang Wanamerta, Paman Mantingan, Wirasaba atau Endang Widuri.

Dada Arya tiba-tiba berdesir keras. Dalam keadaan yang demikian ia tidak sempat menyadari bahwa sebenarnya yang mendorongnya untuk memacu kudanya lebih cepat adalah kecemasan atas nasib gadis nakal yang aneh itu. Demikianlah di malam yang gelap itu Arya Salaka memacu kudanya habis-habisan.

Tidak diingatnya bahaya yang menghadang di hadapannya. Lereng-lereng pegunungan dan tebing-tebing yang curam. Dan sebenarnyalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, disamping kesadarannya akan kewajibannya, melindungi Arya Salaka dalam perjuangannya melawan kejahatan dan ketamakan, mereka mempunyai kepentingan masing-masing. Rara Wilis dan Endang Widuri telah memaksa mereka untuk cemas dan gelisah.

Suara raung anjing-anjing liar mengumandang dari tebing-tebing pegunungan. Dan malam menjadi semakin garang karenanya. Desah angin pegunungan yang mengalir lewat jurang-jurang yang dalam, terdengar seperti bunyi siul raksasa yang sedang bermalas-malas. Suara-suara malam itu telah membuat Arya menjadi semakin gelisah. Ia menjadi jengkel kepada kudanya, yang seolah-olah berlari dengan segannya, meskipun tumbuh-tumbuhan dan batu-batu besar yang menjorok di tepi- tepi jalan tampak seperti hanyut ke belakang secepat banjir.

Namun hatinya ternyata jauh lebih cepat dari kaki-kaki kudanya itu. Dan Banyubiru terbayang di serambi matanya seperti menggapai-gapaikan tangan-tangannya, memanggilnya, “Arya, tolonglah aku….” Tetapi suara itu seperti seorang gadis. Gadis yang dikenalnya baik-baik, bersenjata rantai perak dengan bandul Cakra yang bercahaya-cahaya. Tetapi senjata yang sakti itu tak berarti di mata orang yang berjubah abu-abu, bertopeng kasar dan menamakan dirinya Pasingsingan.

Tiba-tiba iapun tak akan berarti pula. Ia pernah mendengar Mahesa Jenar berceritera, bahwa ayahnya Ki Ageng Gajah Sora yang sedang marahpun tak dapat berbuat sesuatu melawan hantu berjubah abu-abu itu.

Ayahnya itu hanya mampu menyobek ujung jubahnya dengan tombak Kyai Bancak itu di Alun-alun Banyubiru. Tanpa disengaja, sekali lagi ia menoleh. Dan dengan serta merta ia bergumam, “Guruku telah mampu membunuh Sima Rodra dari Lodaya, sedang Paman Kebo Kanigara berhasil membinasakan Nagapasa. Apa artinya Pasingsingan bagi mereka?”

“Tetapi….” Hatinya membantah sendiri, “Kalau segala sesuatu telah terjadi?” Kembali mengiang di telinganya sebuah jerit nyaring. Arya Salaka terkejut. Namun segera ia sadar, bahwa suara itu hanyalah pekik burung hantu yang sedang berkelahi. Terdengar gigi Arya gemeretak. Dan kembali malam menjadi bertambah sepi. Dan malam yang sepi itu benar-benar sedang merajai permukaan bumi. Pangrantunan, Banjar Gede, Pamingit, Gemawang dan seluruh wajah bumi menjadi kelam. Juga Banyubiru. Lereng bukit Telamaya itupun, ditelan oleh hitamnya malam. Sebagian besar dari penduduknya sedang lelap dipeluk mimpi. Mereka telah merasa, betapa mereka terhindar dari bencana. Meskipun ada di antara mereka yang sedang mengenangkan nasib suaminya, anak-anaknya atau kekasihnya yang sedang berjuang di Pamingit. Sedang para penjagapun merasa betapa tenangnya malam.

Pendapa Banyubiru pun tampak sepi. Sepasang obor masih tampak menyala. Api yang menjalar berlenggang dengan malasnya dibelai angin malam.  

DUA orang penjaga berdiri menahan kantuknya di regol halaman. Sedang beberapa orang lain duduk di gardu dengan mata yang redup. Sekali-kali Wanamerta yang masih duduk di pendapa bersama Ki Dalang Mantingan tampak menguap.

“Beristirahatlah Paman.”

Terdengar suara Mantingan lemah. “Malam terlalu dingin,” gumam orang tua itu.

“Ya,” sahut Mantingan. “Tetapi hatiku gelisah.” Orang tua itu meneruskan.

Mantingan tidak menjawab. Tetapi pandangan matanya terlempar ke halaman, menembus kelam. Perlahan-lahan Mantingan menarik nafas dalam. “Apakah Angger Wilis dan cucuku Widuri telah tidur?” tanya Wanamerta.

“Mungkin,” jawab Mantingan. “Baru saja aku selesai berceritera. Anak itu minta aku berceritera tentang Gatotkaca, Pergiwa dan Pergiwati.” Wanamerta tersenyum. Tetapi ia berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah suara seruling. Sayup-sayup dibawa angin. Namun suaranya demikian merdu. Seirama dengan heningnya malam. “Seruling Kakang Wirasaba,” desis Mantingan. “Pantaslah ia bergelar Seruling Gading,” sahut Wanamerta.

Sebagai biasa Wirasaba berlagu melampaui batas gending-gending yang ada. Lagunya seperti lagu angin malam. Hening sepi, namun penuh kemesraan hati manusia. “Di manakah Angger Wirasaba?” tanya Wanamerta. “Di gardu belakang. Bersama-sama Sendang Parapat,” jawab Mantingan. Wanamerta mengangguk-angguk. Namun kegelisahan di hatinya semakin terasa. Sebagai orang tua, firasatnya bertambah hari bertambah tajam. Ia terkejut ketika tiba-tiba daun-daun sawo di halaman bergoyang ditiup angin yang bertambah kencang. Mantingan mengikuti arah pandangan Wanamerta. Tetapi yang dilihatnya pun hanyalah daun sawo yang bergerak-gerak.

“Aneh,” gumam Wanamerta. “Apakah yang aneh?” tanya Mantingan. “Aku tidak tahu. Tetapi aku menjadi gelisah seperti daun-daun sawo di halaman itu,” jawab Wanamerta. Mantingan mengerutkan keningnya. Terasa pula hatinya berdesir halus.

“Sepi yang menggelisahkan,” sahutnya. Suara seruling Wirasaba pun tiba-tiba berubah. Nadanya menjadi bertambah tinggi. Terasa betapa hatinya menjadi gelisah. Namun betapa merdunya suara seruling itu. Tetapi sesaat kemudian suara seruling itu berhenti. Mantingan mengangkat wajahnya. “Berhenti,” desisnya.

“Ya,” sahut Wanamerta, “Agaknya Angger Wirasaba kedinginan.”

Mantingan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya matanya yang kembali beredar mondar-mandir di halaman. Karena hatinya yang gelisah, pandangannya pun menjadi gelisah. Mantingan mencoba mengamati setiap benda yang ada di halaman. Pohon sawo, pohon jambu, dinding-dinding halaman, pohon-pohon kelapa. Semuanya diam beku. Yang bergerak-gerak hanyalah para penjaga yang berjalan hilir mudik di luar regol.

Tiba-tiba keduanya terkejut ketika terdengar langkah naik ke pendapa. Ketika menoleh, dilihatnya Ki Wirasaba berjalan dengan malasnya menjinjing kapaknya. Di belakangnya berjalan Sedang Parapat yang telah hampir sembuh. Mantingan dan Wanamerta menarik nafas panjang.

“Ah….” gumam Wanamerta. “Kenapa aku berubah menjadi penakut?” “Kenapa…?” tanya Wirasaba sambil duduk di samping mereka. “Aku terkejut mendengar langkah Angger seperti mendengar langkah hantu,” jawab Wanamerta.

Wirasaba mengangguk-angguk lemah. Hatinya pun dirayapi perasaan-perasaan aneh. Serulingnya terselip di ikat pinggangnya, sedang tangannya menggenggam kapaknya. Tiba-tiba mata Mantingan sekali lagi menatap daun-daun sawo yang bergerak-gerak ditiup angin malam. Kemudian matanya menatap daun-daun jambu di sebelahnya. Aneh. Daun jambu itu tidak bergoyang terlalu keras seperti daun- daun sawo itu. Karena itu ia menjadi curiga.

Ketika sekali lagi ia melihat daun itu bergerak-gerak, dengan serta merta ia berdiri dengan trisulanya di tangan, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat sambil berkata lantang, “Siapakah yang mencoba membuat permainan itu?” Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat pun terkejut ketika mereka melihat Mantingan meloncat. Mereka masih belum tahu apa yang dimaksudnya. Tetapi ketika pandangan mereka mengikuti arah pandangan mata Mantingan, merekapun melihat bahwa daun-daun sawo itu bergoyang-goyang.

Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan dari pohon sawo itu. Suara yang sudah mereka kenal baik-baik. Para penjaga dan para pengawalpun terkejut pula. Bahkan Mantingan terpaksa menghentikan langkahnya. “Lawa Ijo,” gumamnya.

Sesaat kemudian dilihatnya bayangan yang melontar turun dari pohon sawo di halaman itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada tegak. Sekali lagi Mantingan terkejut melihat orang itu. Bukan Lawa Ijo, tetapi agaknya ia pernah melihatnya. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. Bukankah Watu Gunung telah dibinasakan oleh Mahesa Jenar? Apakah ia dapat hidup kembali…? Namun sebelum ia sempat bertanya terdengar Wirasaba menggeram, “Hem, kau Wadas Gunung.”

MANTINGAN menoleh ke arah Wirasaba. Ia mengulang perlahan, “Wadas Gunung. Siapakah dia?” “Adik seperguruan Lawa Ijo,” jawab Wirasaba.

“Watu Gunung yang kau maksud…?” Ia bertanya pula. Wirasaba menggeleng. “Bukan. Saudara kembarnya. Orang ini pernah bertempur melawan Adi Mahesa Jenar di Pliridan bersama-sama dengan 20 orang kawannya.”

Sementara itu Wadas Gunung telah berjalan beberapa langkah maju. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Nah, kau orang berkapak yang membantu Mahesa Jenar di Pliridan dahulu? Kau masih mengenal aku dengan baik.”

Wirasaba juga maju. “Kau datang pula ke Gedong Songo beberapa hari yang lalu,” pikirnya.

Dan kapaknya tiba-tiba bergetar di tangannya. Ketika ia hampir meloncat menyerbu, terdengar Wanamerta yang tua itu berbisik, “Hati-hatilah Angger. Ia pasti tidak datang sendiri.”

Belum lagi Wanamerta selesai berkata, terdengarlah suara kentongan bertalu-talu tiga kali berturut-turut. “Kebakaran,” desis Wanamerta. Sekali lagi Wadas Gunung tertawa. Katanya, “Kebakaran. Jangan terkejut. Banyubiru telah dikepung.”

Wajah Sendang Parapat menjadi merah. Ia harus segera menggerakkan segenap laskar cadangan yang ada. Tetapi ketika ia melangkah ke gardu penjagaan, sebelum turun dari pendapa, muncullah seorang lagi di hadapannya.

Sendang tertegun. Ia belum pernah melihat orang itu. Seorang yang berwajah tampan, berkulit kuning dan berpakaian rapi. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat warna hitam. “Siapakah kau…?” Tiba-tiba Sendang Parapat bertanya.

Orang itu tersenyum. Senyumnya tampak aneh. Katanya, “Jangan risaukan siapa aku.” Sendang Parapat menjadi marah. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan. Karena itu ia berteriak saja dari pendapa, “Bunyikan tanda, gerakkan segenap laskar cadangan.”

Sesaat kemudian, orang-orang di gardu penjagaan menjadi sadar akan bahaya yang datang. Seseorang kemudian meloncat memukul kentongan titir. Tetapi suara titir itu terputus ketika tiba-tiba pemukul kentongan itu terpelanting jatuh. Sendang Parapat terkejut. Karena itu ia menjadi semakin marah. Untunglah bahwa suara titir yang pendek itu telah terdengar dari gardu di luar halaman yang terdekat, sehingga suara titir itupun segera bersambut. Apalagi ketika seorang yang lain segera merebut pemukul kentongan dari tangan orang pertama. Kemudian dengan tanpa takut-takut iapun mengulang memukul kentongan itu dengan irama yang sama, titir. Namun orang kedua inipun kemudian terjatuh pula dengan luka di kepalanya.

Sebuah batu telah membenturnya. Tetapi suara titir telah menjalar ke segenap penjuru Banyubiru. Banyubiru yang sedang tidur lelap itu menjadi terbangun dengan tiba-tiba. Suara kentongan tiga kali berturut-turut telah mengejutkan hati mereka. Apalagi kemudian terdengar bunyi titir yang merayap-rayap di seluruh lereng bukit itu. Laskar Banyubiru pun menjadi terkejut. Untunglah bahwa mereka telah terlatih dengan baik. Sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ketika terdengar suara titir bersahutan, sadarlah mereka bahwa bahaya yang besar telah datang.

Para pemimpin kelompok itupun segera tahu apa yang harus dilakukan. Sebagian dari laskar itu segera berangkat dengan tergesa-gesa ke tempat kebakaran. Orang yang berwajah tampan itupun mengangkat wajahnya ketika suara titir telah menjalar ke segenap arah.

Ia mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Sendang Parapat, “Jangan berdiri saja di situ, pergilah supaya umurmu panjang.” Betapa marahnya Sendang Parapat. Segera ia menarik pedangnya.

Dengan penuh nafsu ia berhasrat menyerang orang itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika terdengar suara halus di belakangnya, “Sendang, jangan tergesa-gesa. Ia bukan lawanmu.”

Sendang Parapat menghentikan langkahnya. Iapun segera menoleh. Bahkan semua orang memandang ke arah suara itu.

Ternyata Rara Wilis telah berdiri di ambang pintu. Mula-mula ia menjadi ngeri melihat kehadiran Jaka Soka. Bukan karena ia takut seandainya ia harus bertempur. Tetapi sebagai seorang gadis, ia merasa bahwa Jaka Soka adalah orang yang pernah menjadi gila karena dirinya. Ketika Jaka Soka melihat gadis itu, hatinya bergetar cepat. Ia masih belum dapat melupakan, betapa wajah gadis itu selalu terbayang.

Karena itu tiba-tiba kembali ia tersenyum. Senyum yang aneh. Tiba-tiba saja Jaka Soka merasakan adanya suatu kurnia bagi dirinya. Kalau ia turut ke Banyubiru bersama beberapa orang dan laskar golongan hitam, adalah karena dendamnya yang meluap-luap. Ia ingin membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya, sebagai ganti kematian gurunya.

Tetapi tiba-tiba ia bertemu dengan gadis ini. Matanya yang redup itupun menjadi bersinar-sinar. Dan pandangan mata yang demikian itulah yang menyebabkan seluruh bulu tengkuk Wilis berdiri. Namun, kemudian gadis itu merasa, bahwa menjadi kewajibannya untuk turut serta mengamankan rumah ini, sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.

Karena itu iapun melangkah maju sambil berkata, “Jaka Soka, apakah kerjamu di sini? Apakah pekerjaanmu di Pamingit sudah selesai…?”

Wadas Gunung pun menjadi keheran-heranan. Apakah yang dilakukan oleh Jaka Soka itu? Dimanakah ia berkenalan dengan gadis manis yang menyapanya – Hem, agaknya kau mendapat pekerjaan baru di sini Jaka Soka. –

JAKA SOKA tersenyum, jawabnya, “Bukan Wadas Gunung. Bukan pekerjaan baru. Aku sudah berjanji akan datang kepadanya beberapa tahun yang lampau. Dan agaknya iapun tetap menanti.”

Wajah Rara Wilis menjadi merah. Sekali dilayangkan pandangannya sekeliling pendapa itu. Di situ masih berdiri Mantingan, Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat. Sedang di bawah tangga berdiri Wadas Gunung dan di sebelah lain Jaka Soka. Ketika ia melihat para penjaga yang berdiri tidak lebih dari lima orang itupun telah bersiap pula. Ia menarik nafas panjang. Kalau hanya kedua orang itu saja, mungkin masih akan dapat diatasi.

Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara yang seram dari dalam gelap. Lebih seram dari suara Wadas Gunung. Kemudian disusul dengan bayangan yang remang-remang semakin lama semakin jelas. Lawa Ijo. Mantingan menarik nafas. Agaknya bahaya yang mendatang benar-benar menggetarkan dadanya. Lawa IJo itu kemudian berdiri saja disamping Jaka Soka. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Jaka Soka. Apa kau masih mengharapkan gadis itu?”

“Ia tetap menanti aku dengan setia,” jawab Jaka Soka. Lawa Ijo menjadi marah.

Namun gadis itu tidak menjawab. Yang menjawab adalah suara gadis lain, Endang Widuri. Katanya, “Benar Paman Soka. Bibi Wilis menantimu. Sebab sepeninggalmu, kuda-kuda kami menjadi kekurangan rumput.”

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Ia memandang gadis yang berdiri di pintu itu dengan sinar mata yang seram.

Tetapi Lawa Ijo tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Ha, dengar. Apa yang dikatakan gadis nakal itu. Dan barangkali memang sepantasnya kau menjadi pekatiknya, mencari rumput bagi kuda-kudanya.”

Jaka Soka pernah bertempur dengan Widuri di Gedangan. Pada saat itu ia benar-benar keheranan, bahwa gadis sebesar itu telah mampu bertempur sedemikian hebatnya. Dan kini tiba-tiba gadis itu muncul kembali. Karena itu Jaka Soka menjadi tak senang sama sekali, katanya, “He monyet kecil. Jangan ganggu aku lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu.”

Ketika mendengar kata-kata itu, Widuri menjadi tertawa, sedang Lawa Ijopun tertawa pula.

Terdengar Lawa Ijo menyahut, “Jangan marah kepada gadis kecil itu Soka. Ia berkata sebenarnya.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin seram. Dengan tajamnya ia memandang gadis kecil yang nakal itu.

Namun ia tidak bisa meloncat saja kepadanya. Di hadapannya berdiri Rara Wilis. Kalau saja Rara Wilis lima enam tahun yang lampau, mungkin ia tidak perlu memperhitungkan dalam tindakan-tindakannya.

Tetapi Rara Wilis yang berdiri di hadapannya dengan pedang yang tergantung di lambungnya, adalah Rara Wilis yang telah berhasil membunuh istri Sima Rodra. Karena itu Jaka Soka masih berdiri saja di tempatnya.

Sedangkan Endang Widuri, betapapun nakalnya, namun ia tahu juga bahwa keadaan pendapa Banyubiru itu benar-benar dalam bahaya. Karena itu rantainya sudah tidak tergantung lagi di lehernya, tetapi dengan jari-jarinya yang kecil, ia bermain-main dengan senjata itu. Bahkan cakranya pun telah melekat di ujungnya. Benda yang berkiliat-kilat, berbentuk bulat bergerigi itu tidak lepas dari perhatian Jaka Soka.

Senjata yang demikian benar-benar berbahaya. Tetapi ia percaya kepada tongkat hitamnya serta pedang yang terselip di dalamnya. Namun sesaat kemudian kembali pendapa itu digetarkan oleh dua bayangan yang datang memasuki regol halaman. Ketika penjaga-penjaga di regol halaman itu berusaha mencegahnya, mereka terpelanting jatuh, dan tidak bangun kembali. Para penjaga yang lain pun terkejut.

Tetapi mereka terpaku di tempatnya ketika mereka melihat orang yang datang itu.

Yang seorang berjubah abu-abu bertopeng jelek, dan seorang bertubuh tinggi besar dan berkepala besar pula. Mereka adalah Pasingsingan dan Sura Sarunggi. Kedua orang itu berjalan seenaknya ke pendapa. Tetapi kemudian terdengar suaranya menggeram. “Lawa Ijo. Permainan apa yang sedang kau lakukan? Kau masih berdiri saja mengagumi kecantikan gadis-gadis itu? Waktu kita tidak banyak. Aku telah memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana laskarmu menghindari orang-orang Banyubiru yang sudah menjadi gila di tempat kebakaran. Waktu kita tidak banyak.”

Lawa Ijo sadar, bahwa seseorang telah melihat mereka di Pamingit. Sehingga dengan demikian ada kemungkinan mereka menyusul ke Banyubiru. Karena itu ia berkata, “Baiklah Guru. Dan apakah yang akan Guru lakukan sekarang?”

“Bunuhlah orang-orang ini semuanya. Kecuali kalau Jaka Soka masih menghendaki gadis itu. Tetapi buatlah ia tidak berdaya. Aku akan melihat isi rumah, apakah Nagasasra dan Sabuk Inten benar-benar masih ada di sini.”

Terdengar Mantingan dan Wirasaba menggeram. Namun ia sadar betapa dahsyatnya kekuatan yang datang itu. Ia sadar pula, bahwa kebakaran di ujung kota adalah suatu cara untuk memancing laskar Banyubiru. Pasingsingan dan Sura Sarunggi itu tidak memperhatikan apa-apa lagi. Mereka langsung berjalan naik pendapa dengan seenaknya.  

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

2 Komentar

  1. cinta said,

    Kamis, 10 Maret 2011 pada 14:11

    harga y berapa

  2. cinta said,

    Kamis, 10 Maret 2011 pada 14:12

    beredar d mana aja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: