Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 16

Lanjutan dari jilid 15

KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis sudah melekat di hulu pedangnya, ia pun tidak berbuat apa-apa. Kali ini Widuri pun tidak berani bermain-main. Ia telah pernah melihat hantu berjubah dan bertopeng kasar itu bertempur melawan Mahesa Jenar di Gedong Songo. Karena itu ketika kedua orang itu berjalan ke pintu, Widuri menggeser diri.

Sesaat Pasingsingan berhenti pula dan memandangi wajah gadis yang jernih itu. Tanpa disengaja ia kemudian menoleh kepada Lawa Ijo. Tetapi kembali ia tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya. Dengan Sura Sarunggi, Pasingsingan segera memasuki rumah untuk mencari pusaka-pusaka yang menggemparkan itu. Ketika kedua orang sakti itu telah lenyap ditelan pintu, mulailah Lawa Ijo menggeram. Kemudian terdengar ia berkata, “Jaka Soka, jangan terlalu lama bermain-main. Waktu kita tidak terlalu banyak.”

Jaka Soka tersenyum. Dengan mata redup ia melangkah maju, dan dengan satu loncatan ia naik ke pendapa. Pada saat yang bersamaan Rara Wilis telah menyambut pedangnya. Ia sadar bahwa Ular Laut itu pasti akan menyerangnya. Sekali lagi hatinya meremang, ketika teringat peristiwa-peristiwa di hutan Tambakbaya. Tetapi sekarang ia harus menghadapi bajak laut itu dengan senjata di tangan, tidak untuk bunuh diri, tetapi untuk membunuh lawannya itu. Yang terjadi di sebelah lain, Wirasaba dengan garangnya meloncat ke arah Wadas Gunung. Kapaknya yang besar itu berputar dengan dahsyatnya. Sedang Wadas Gunung pun menerima serangan Wirasaba dengan penuh gairah.

Di kedua belah tangannya telah tergenggam dua buah pisau belati panjang. Sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Kedua-duanya bertubuh tinggi, besar dan berkekuatan luar biasa. Keduanya memiliki kelincahan dan kecepatan bergerak. Wirasaba kini telah memiliki seluruh ketangkasannya. Kakinya sudah benar-benar pulih kembali, tidak seperti pada saat ia menyusul Mahesa Jenar ke Pliridan beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Banturan-benturan senjata mereka berdentang-dentang menyobek sepi malam. Demikian kerasnya sehingga berloncatlah bunga api keudara, memercik berhamburan.

Mantingan melihat Wirasaba telah mulai, dan Rara Wilis telah berhadapan dengan orang yang berwajah tampan itu. Yang masih berdiri tanpa lawan adalah Lawa Ijo. Lawa Ijo itu tidak dapat dikalahkan, namun apapun yang terjadi adalah menjadi kewajiban Mantingan. Karena itu segera Mantingan meloncat menyerang Lawa Ijo.

Terdengarlah Lawa Ijo tertawa. Sesaat kemudian di tangannya telah berkilat-kilat pisau belati panjang. Dengan tangkasnya ia menyongsong serangan trisula Mantingan. Maka sesaat kemudian mereka telah terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit. Keduanya bertempur mati-matian. Untuk segera dapat mengakhiri pertempuran, Lawa Ijo yang garang itu meloncat dengan dahsyatnya, sedangkan Mantingan pun tidak kalah lincahnya. Karena ia sudah mengenal Lawa Ijo, maka dalam pertempuran itu, segera ia mempergunakan ilmu gerak yang dinamainya Pacar Wutah. Dalam saat-saat berikutnya, trisulanya bergerak-gerak dengan cepatnya menyerang tubuh lawannya dari segala arah.

Tetapi Lawa Ijo pun telah mengenal ilmu itu. Di Gedong Sanga, ia gagal membunuh dalang Mantingan itu. Sekarang ia akan menebus kegagalannya. Dahulu Dalang Mantingan berhasil diselamatkan oleh Arya Salaka. Dan sekarang tak ada orang yang akan menyelamatkannya. Karena itu, maka Lawa Ijo yakin bahwa kali ini ia akan berhasil.

Wirasaba yang bertempur dengan Wadas Gunung pun telah mengerahkan segenap kekuatannya. Ia ingat apa yang pernah terjadi di Gedong Sanga, waktu itu pun Wadas Gunung ikut serta. Sehingga dengan demikian, sejak perkelahiannya di Pliridan, ia pernah melihat tandang Wadas Gunung di Gedong Sanga, meskipun tidak sedemikian jelas, karena kesempatan yang sempit. Sebab pada saat itu ia harus bertempur melawan dua orang dari kawanan Alas Mentaok. Tetapi kini ia harus bertempur melawan orang kedua sesudah Lawa Ijo. Karena itu ia harus berjuang mati-matian.

Namun Wirasaba, yang terkenal dengan nama Seruling Gading itupun mempunyai sifat-sifat yang khusus. Sebagai seorang pengembala yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain dengan bekal seruling dan kapaknya itu, maka ia telah memiliki pengalaman yang tak kalah luasnya dari lawannya, penjahat ulung yang bernama Wadas Gunung itu. Dengan demikian maka kekuatan keduanya tak dapat diselisihkan. Masing-masing memiliki kekhususannya yang cukup berbahaya. Wadas Gunung dengan kedua pisau belati panjangnya menyerang dengan ganasnya. Bertubi-tubi seperti beribu-ribu pisau belati yang melontar-lontar ke tubuh Wirasaba. Namun kapak Wirasaba itu seakan-akan dapat berubah menjadi dinding baja yang membatasinya. Sehingga dengan demikian ujung pisau lawannya sama sekali tak berhasil menyentuh pakaiannya.

Endang Widuri sementara itu masih berdiri tegak di samping pintu. Ia melihat bagaimana Wirasaba bertempur dengan dahsyatnya. Dilihatnya pula Ki Dalang Mantingan bertempur mati-matian. Ia melihat betapa lincahnya Dalang Mantingan itu, dan bagaimana dahsyatnya trisulanya menyambar-nyambar.

Namun dilihatnya pula betapa dahsyatnya Lawa Ijo itu bertempur. Karena itu hatinyapun menjadi tegang. Yang belum mulai, di antara mereka adalah Jaka Soka. Ia masih saja berdiri dengan senyumnya yang aneh. Sekali-kali ia memandang berkeliling, melihat bagaimana Wadas Gunung menghadapi lawannya, dan di saat lain dipandangnya dengan seksama pertempuran antara Lawa Ijo dan Dalang Mantingan.

SEBAGAI seorang yang cukup berilmu, segera Jaka Soka melihat bahwa Mantingan telah sampai pada puncak perjuangannya, sedang Lawa Ijo masih mungkin untuk melepaskan ilmu-ilmu pamungkasnya. Karena itu ia tersenyum. Sebentar lagi ia akan melihat lawan Lawa Ijo itu terbelah dadanya. Karena itu untuk menakut-nakuti lawannya ia berkata, “Wilis, lihatlah. Sebentar lagi kawanmu yang bernama Mantingan itu akan terpenggal lehernya, atau terbelah dadanya.”

Rara Wilis mengerutkan keningnya. Ia melihat pula apa yang terjadi. Di Gedong Sanga, Rara Wilis telah mengetahui pula, bahwa ilmu Mantingan masih belum dapat menyamai Lawa Ijo. Meskipun demikian ia mencoba untuk tidak terpengaruh karenanya.

Sebab apabila demikian, Ular Laut itu akan dengan mudahnya menangkapnya. Seandainya ia terbunuh dalam pertempuran itu, ia tidak akan menyesal. Sebab dengan demikian ia telah mengorbankan dirinya untuk ikut serta mempertahankan hak atas Banyubiru dan atas Keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten yang tak begitu dimengertinya, sebab Mahesa Jenar tidak begitu banyak menceritakan pusaka-pusaka itu kepadanya. Namun hal yang sedemikian telah diduganya sejak semula.

Sejak ia menjatuhkan pilihannya atas Mahesa Jenar daripada Sarayuda. Pada saat itu ia sadar, bahwa Mahesa Jenar mempunyai masalah yang jauh lebih banyak daripada Demang Gunungkidul yang kaya raya itu.

Kalau Sarayuda seolah-olah telah menyelesaikan perjuangannya untuk merebut keadaannya kini, sehingga dengan demikian Sarayuda tinggal menikmati hasil jerih payahnya, maka Mahesa Jenar masih harus berjuang terus. Tetapi Rara Wilis melihat hakekat dari perjuangan kedua orang itu. Sarayuda berjuang untuk menempatkan dirinya pada tempat yang sebaik-baiknya, meskipun ia sama sekali tidak merugikan orang lain, tetapi Mahesa Jenar berjuang untuk kepentingan yang lebih luas, yang justru mengorbankan dirinya sendiri, kepentingannya sendiri. Seperti halnya usahanya menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamukten yang akan diharapkan.

Mahesa Jenar benar-benar berjuang tanpa pamrih, selain pengabdian diri pada tanah kelahiran, pada kemanusiaan. Sebab apabila keris-keris itu benar-benar jatuh di tangan golongan hitam, akan musnahlah tata kehidupan manusia, akan musnahlah sendi-sendi pergaulan manusia. Dan akan lenyap pulalah kesempatan untuk menjalankan ibadah mereka, memanjatkan bakti kepada Tuhan. Dan jadilah Demak suatu negara yang bertata pergaulan rimba. Siapakah yang kuat, merekalah yang berkuasa, tanpa menghiraukan hukum-hukum yang ada.

Juga usaha Mahesa Jenar untuk meletakkan kembali Arya Salaka pada tempatnya, sama sekali adalah perjuangan tanpa pamrih. Ia sekadar melakukan kewajibannya sebagai manusia yang melihat kebenaran terinjak-injak. Dengan demikian, sebagai seorang yang telah menyatakan dirinya bersedia berjuang di samping Mahesa Jenar, Rara Wilis sama sekali tidak gentar melihat ujung senjata. Jiwanya, raganya, bulat-bulat diserahkan dalam pengabdian seperti apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, orang yang dikaguminya sejak pertemuannya yang pertama. Tetapi ia menjadi ngeri, kalau Ular Laut akan berhasil menangkapnya, dan membawanya ke Nusakambangan, seperti yang diidam-idamkannya sejak lama. Ia menjadi ngeri atas kehadiran tokoh-tokoh Pasingsingan di tempat itu, jangan-jangan ia akan membantu Ular Laut itu, membuatnya tidak berdaya. Namun karena itu, ia berkeputusan untuk melawan mati-matian. Kalau ia gagal, lebih baik ia mati di pendapa Banyubiru itu.

Dengan demikian, Rara Wilis segera mengangkat pedangnya mengarah ke dada Jaka Soka sambil berkata, “Jaka Soka, jangan menakut-nakuti aku. Aku sekarang bukan lagi gadis yang ketakutan melihat senyum yang aneh serta matamu yang redup. Nah, marilah kita bermain-main dengan pedang. Kau atau aku yang mati karenanya.”

Jaka Soka menggigit bibirnya. Tetapi Rara Wilis itu berkata sungguh-sungguh. “Cabutlah pedangmu,” desis Rara Wilis, “Supaya aku tidak membunuh orang yang tidak bersenjata.” Pedang Rara Wilis terjulur beberapa jengkal ke arah leher Jaka Soka, sehingga Jaka Soka terpaksa bergeser mundur. “Wilis…” katanya, “Aku tidak akan melukai kulitmu. Apakah yang kau tunggu di sini? Mahesa Jenar tidak akan kembali kepadamu, karena ia telah terbunuh di Pamingit.”

Dada Rara Wilis berdesir, tetapi kemudian ia menjadi tenang kembali. Katanya, “Siapakah yang telah membunuhnya?”

“Paman Pasingsingan,” jawab Jaka Soka. Rara Wilis tertawa. Tetapi Endang Widuri tertawa lebih keras.

Katanya, “Pasingsingan tak akan mampu melawan Paman Mahesa Jenar. Kau salah hitung, Jaka Soka. Lain kali kau perlu mempelajari keadaan sebelum kau mencoba berbohong.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin redup. Tetapi ia sudah tidak tersenyum lagi. Sekali lagi ia melihat Wadas Gunung yang menggeram keras sekali untuk melepaskan marahnya, karena Wirasaba dapat melawannya dengan baik. Saat yang lain, Jaka Soka memandang ke arah Lawa Ijo yang nampak makin baik keadaannya. Meskipun demikian Ki Dalang Mantingan berjuang dengan gigihnya.

Kemudian Jaka Soka sendiri meloncat selangkah ke belakang dan dalam sekejap tongkatnya telah terurai. Di tangan kanan, digenggamnya sebuah pedang yang lentur, sedang di tangan kirinya adalah warangkanya, berupa sebuah tongkat yang berwarna hitam. Rara Wilis tidak menunggu lebih lama lagi. Ia meloncat ke depan dengan tangan terjulur lurus. Pedangnya mengarah kedada lawannya.

JAKA SOKA terkejut melihat gerak yang sedemikian cepatnya. Untunglah bahwa Ular Laut itu memiliki pengalaman yang luas. Setapak ia menggeser diri sambil berputar, dengan kerasnya ia memukul pedang Rara Wilis yang menjulur beberapa jari dari dadanya. Namun Rara Wilis lincah pula. Ia berhasil membebaskan senjatanya, untuk kemudian diputarnya cepat dan serangannya telah datang pula.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam pertempuran yang cepat. Rara Wilis ternyata cukup mampu mengimbangi kedahsyatan Ular Laut yang bertempur membingungkan itu. Jaka Soka mencoba untuk mengaburkan perlawanan Rara Wilis, dengan menyerangnya berputar-putar dari segala arah.

Namun Rara Wilis menyadarinya, sehingga sekali-kali ia melontarkan diri memotong langkah lawannya dengan pedang yang terayun cepat sekali. Dalam keadaan yang demikian terpaksa Jaka Soka mengumpat di dalam hati. Ia telah jauh lebih dahulu mendalami ilmu-ilmu perkelahian daripada gadis itu, namun ternyata gadis itu dapat menyusulnya. Ia menyesal bahwa selama ini ia lebih senang merantau mencari mangsanya, daripada menekuni ilmunya.

Sendang Parapat berdiri seperti patung melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Ia melihat betapa Dalang Mantingan berjuang mati-matian untuk melawan Lawa Ijo. Wirasaba dengan garangnya mengayunkan kapak raksasanya, sedang Rara Wilis dengan lincahnya bergulat di antara hidup dan mati. Dengan demikian, ia merasa bahwa tenaganya tak akan berguna sama sekali seandainya ia mencoba untuk membantu salah seorang di antaranya. Malahan mungkin ia akan mengganggu kelincahan mereka. Para penjaga halaman itu juga menjadi pening. Mereka tidak bersiap untuk bertempur menghadapi tokoh-tokoh itu. Apalagi lingkaran-lingkaran pertempuran itu seolah-olah telah menjadi sedemikian sulitnya untuk dipisah-pisahkan lagi di antara lawan dan kawan. Yang tampak di mata mereka adalah bayangan yang melontar berputar-putar dengan cepatnya. Karena itu, perhatian mereka segera tertuju kepada kawan-kawan mereka yang luka. Empat orang.

Hanya Endang Widuri-lah yang dapat mengerti betapa suasana maut telah melingkar-lingkar di halaman itu. Kali ini gadis yang nakal itu benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat lagi bergurau dalam keadaan yang demikian, sehingga senyumnya sama sekali telah lenyap dari bibirnya. Matanya yang bening itupun menjadi tajam, setajam gerigi yang melingkari cakranya. Ia melihat betapa Wirasaba dapat menyesuaikan diri melawan kekasaran Wadas Gunung. Bahkan pengembala itupun dapat bertempur dengan kasar pula. Kapaknya mendesing-desing mengerikan. Sekali terayun ke dada Wadas Gunung, namun kemudian tangkainya mengarah ke tengkuk lawannya. Namun dua pisau belati panjang di tangan Wadas Gunung itupun bergerak dengan cepatnya pula. Mematuk-matuk ke segenap tubuh Wirasaba, sehingga kemudian yang tampak hanyalah seleret-leret sinar-sinar yang silau.

Rara Wilis pun dengan lincahnya menggerakkan pedangnya dengan ilmu yang khusus. Ujung pedang yang tipis itu selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Kalau Jaka Soka dapat bertempur seperti Ular yang membelit, melingkar untuk kemudian meloncat, mematuk dengan ujung pedangnya, maka Rara Wilis berhasil melawannya seperti seekor sikatan yang dengan lincahnya menari-nari dengan sayap-sayapnya yang cepat cekatan. Demikian ia meloncat-loncat seperti anak-anak yang menari-nari riang namun ketika tiba-tiba seekor ular mematuknya, cepat-cepat ia meloncat melenting, untuk kemudian dengan lincahnya, ujung pedangnya menyambar lambung lawannya. Dengan demikian, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi pakaian Jaka Soka yang gemebyar karena tretes intan pada timang dan anak kancing bajunya. Tiba-tiba ia merasa malu. Seandainya gadis itu benar-benar dapat dibawanya ke Nusakambangan, bahkan seandainya gadis itu bersedia untuk menjadi isterinya, maka apabila pada suatu saat timbul perselisihan antara mereka, meskipun tidak terlalu tajam, maka apakah ia mampu untuk mengatasinya. Karena itu kemudian yang menjalar dalam hati Jaka Soka bukan lagi perasaan seorang laki-laki terhadap seorang gadis seperti beberapa saat yang lampau. Ketika jiwa Jaka Soka telah benar-benar terancam, maka yang ada di dada Jaka Soka kemudian adalah kemarahan yang menyala-nyala. Dengan setinggi gunung atas kematian gurunya, Nagapasa. Karena itu, ia harus membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya. Juga gadis yang garang ini harus dibinasakan.

Demikianlah, kemudian Jaka Soka telah kehilangan kegairahannya. Ia sudah tidak lagi melihat seorang gadis cantik yang mempesona, tetapi yang tampak adalah seorang yang berbahaya bagi jiwanya. Namun ternyata seimbang dengan itu, Rara Wilis bertambah marah pula. Baginya pertempuran kali ini adalah pertempuran yang menentukan. Kalau ia terbunuh, biarlah ia mengorbankan dirinya, namun kalau ia berhasil membinasakan laki-laki itu, maka ia akan terbebas dari kecemasan dan kengerian yang mengejar-ngejarnya sepanjang umurnya. Tetapi berbeda dengan mereka berdua. Mantingan benar-benar dalam keadaan yang sulit. Meskipun ia telah melawan Lawa Ijo dalam puncak ilmu Pacar Wutah, namun Lawa Ijo benar-benar memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Lawa Ijo itu dapat ilmu yang paling licik disamping ilmunya yang memang dahsyat dan bertempur dengan segala macam cara. Yang paling kasar, sampai yang menakutkan. Setapak demi setapak Mantingan terdesak terus. Hanya karena ketabahan dan kepercayaannya pada Kekuasaan Yang Tertinggi, ia masih mampu bertahan dalam ketenangan. Melihat keadaan itu, Widuri menjadi cemas. Ia telah kehilangan sifat kenak-kanakannya dalam keadaan bahaya yang benar-benar mengerikan seperti saat itu. Karena itu, dengan penuh tekad dan keberanian, mendidihlah darah Pengging Sepuh di dalam tubuhnya.

KETIKA Widuri melihat Mantingan terdesak, maka ia tidak mau membiarkannya. Dengan lincahnya ia meloncat sambil berkata nyaring di antara desing rantainya yang berputar seperti baling-baling, “Paman Mantingan, biarlah aku ikut serta.” 

Mantingan memadang dalam sekejap, gadis itu melontarkan diri seperti terbang ke arah Lawa Ijo. Dan dilihatnya Lawa Ijo menjadi terkejut karenanya. Sehingga iblis dari Mentaok itu meloncat beberapa langkah surut. Dengan liarnya matanya memandang kepada Dalang Mantingan yang sudah hampir sampai pada saat terakhir itu, namun kemudian mata Lawa Ijo itu menjadi suram ketika memandang Widuri yang sudah berdiri dihadapannya dengan senjatanya yang berbahaya itu.

Tiba-tiba terdengar suara Lawa Ijo itu perlahan-lahan, “Ngger, jangan ikut campur dengan persoalan kami. Biarlah kami orang tua-tua menyelesaikan masalah kami dengan cara yang kami senangi.”

Widuri melihat mata yang suram itu. Namun ia tidak mau terpengaruh oleh keadaan yang tak diketahui sebabnya itu. Maka jawabnya, “Biarlah Lawa Ijo. Kau datang dengan membawa senjata dan hasrat yang hitam di dalam hatimu. Bukankah kau telah dibekali oleh nafsu untuk membunuh…? Marilah, kami telah bersedia untuk melawannya. Kami bukan sebangsa cacing yang membiarkan diri kami terbunuh tanpa perlawanan. Karena kami sadar bahwa saat ini adalah saat-saat kami terakhir. Sebab seandainya kami berdua dengan Paman Mantingan berhasil membebaskan diri dari tanganmu, hantu-hantu hitam yang berada didalam rumah inipun segera akan menangkap kami dan membunuh kami bersama. Terhadap mereka, kami tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, biarlah kami melawan selagi kami masih sempat. Nah, lihatlah dada kami yang tengadah di hadapan ujung-ujung belatimu itu.”

Lawa Ijo menarik nafas panjang. Tetapi matanya yang suram itu menjadi menyala. 

Katanya, “Aku sudah berusaha untuk mencegahmu, gadis yang nakal. Agaknya kau benar-benar keras kepala.”

Widuri tidak peduli lagi, ia melangkah semakin dekat sambil menjawab, “Kenapa kau mencegah aku? Bukankah kau datang untuk melepaskan nafsumu? Membunuh dan kemudian kau sangka akan kau temukan keris-keris itu di sini…?”

Lawa Ijo bukanlah seorang yang berdada longgar. Karena itu ia menjadi semakin marah. Namun sekali lagi ia mencoba memperingatkan, “Kalau kau mau menyingkir, aku akan membebaskan kau. Guruku pun tak akan mengusikmu. Biarlah aku membunuh Ki Dalang yang masyhur ini.”

Tetapi Widuri tidak takut. Dengan nyaring ia menjawab, “Kami mempunyai pendirian yang berbeda dengan golonganmu. Kami memiliki kesetiakawanan yang dalam untuk menegakkan kemanusiaan. Bunuhlah Paman Mantingan bersama kami semua.”

Lawa Ijo menggeram, “Sekehendakmulah,” desisnya. Lalu ia mulai bergerak. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang Mantingan. Untunglah Mantingan selalu berhati-hati, sehingga ia masih sempat untuk menghindarkan dirinya. Ketika Lawa Ijo telah mulai kembali dengan serangannya yang dahsyat, Widuri pun mulai. Senjatanya berputar cepat seperti baling-baling dengan putaran-putaran yang berbahaya. Sekali cakranya mengarah ke leher. Mendapat lawan baru yang lincah disamping lawan lamanya, Lawa Ijo merasakan, bahwa keadaan pertempuran itu menjadi jauh berubah. Kembali ia mengagumi gadis itu. Betapa berbahayanya permainan rantai yang berputar-putar, disamping ujung trisula Mantingan yang mematuk-matuk dalam ilmu gerak Pacar Wutah.  

Dengan kerasnya Lawa Ijo menggeram. Sambil memusatkan segenap tenaganya ia mencoba untuk mengatasi desakan lawan. Betapa ganasnya kelelawar yang buas itu bertempur. Kedua pisau belatinya seakan-akan merupakan kuku yang panjang diujung sayap-sayapnya yang mengembang dan bergerak gerak dengan cepatnya. Namun untuk menghadapi dua orang sekaligus terasa betapa beratnya.

Mantingan dan Widuri, meskipun keduanya memiliki bekal yang berbeda, namun meeka berusaha untuk menyesuaikan dirinya. Ternyata gadis itu tidak kalah tangkasnya dengan Mantingan. Dengan gerak-gerak yang tangguh Endang Widuri berjuang dengan berani. Darah Ki Ageng Pengging Sepuh yang mengalir didalam tubuhnya telah membekalinya dengan api yang menyala nyala didalam dada gadis itu. Api yang mengobarkan semangat berjuang dan keteguhan hati.

Diam-diam Lawa Ijo berteka teki didalam hatinya. Ia pernah bertempur melawan Mahesa Jenar, kemudian melawan muridnya yang bernama Arya Salaka. Sekarang berhadapan dengan gadis yang bernama Endnag Widuri. Namun gadis ini memiliki tatanan berkelahi sama hebatnya dengan Arya dan Mahesa. Apakah Widuri ini juga muridnya Mahesa?. Namun Lawa Ijo tidak sempat menemukan jawabannya, sebab lawannya semakin lama semakin mendesaknya kedalam bahaya. Mantingan melihat keadaan itu. Juga Widura dapat merasakan bahwa akhirnya mereka akan dapat menguasai keadaan. karena itu Endang Widuri dan Mantingan berjuang semakin hebat untuk menghancurkan orang lain yang mencoba mengacau Banyubiru.

Tetapi Lawa Ijo adalah seorang yang luar biasa. Ketika lawan-lawannya semakin mendesaknya, akhirnya ia melompat mundur beberapa langkah. Kemudian terdengarlah ia menggeram dengan keras.

Dengan gerak yang dahsyat ia memutar tubuhnya, kemudian sekali lagi ia menggeram keras.

YANG kemudian terasa, betapa udara yang hangat mengalir perlahan-lahan, bergelombang menyentuh tubuh-tubuh Mantingan dan Endang Widuri. Semakin lama semakin hangat, dan akhirnya jadi panas.

Sejalan dengan itu, Lawa Ijo telah meloncat menerkam Mantingan dengan garangnya. Mantingan sadar, bahwa bahaya yang mengerikan telah mengancam dirinya. Lawa Ijo telah mempergunakan ilmunya Alas Kobar. Demikian pula Endang Widuri, merasa betapa ia terlalu tergesa-gesa merasakan kemenangan-kemenangan kecil atas lawannya itu. Kini ternyata betapa maut telah mengancam jiwanya.

Mantingan masih berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan diri. Widuri pun tidak membiarkan Lawa Ijo dapat berbuat sekehendak hatinya. Meskipun Lawa Ijo itu telah berhasil memancarkan ilmunya, namun Widuri masih sempat menyerangnya, sehingga dengan demikian Lawa Ijo terpaksa berusaha menghindarkan diri dari sambaran gigi-gigi cakra yang sangat berbahaya.

Tetapi sesaat kemudian Mantingan dan Widuri telah tidak dapat bertahan lagi dari serangan Aji Alas Kobar. Udara disekeliling Lawa Ijo itu tiba-tiba telah menjadi panas.

Udara yang panas itu bahkan seolah-olah menyusup ke dalam tulang sungsum mereka. Demikianlah akhirnya Mantingan dan Endang Widuri terpaksa menghindarkan diri dengan meloncat menjauhi lawannya.

Namun Lawa Ijo tidak mau melepaskan mereka lagi. Apalagi Ki Dalang Mantingan. Karena itu ketika Mantingan meloncat mundur, Lawa Ijo segera memburunya. Karena pancaran aji Alas Kobar yang melibatnya, akhirnya Mantingan merasa bahwa seakan-akan kakinya menjadi kejang. Ia sudah tidak sempat meloncat lagi.

Yang dapat dilakukan kemudian hanyalah menanti Lawa Ijo menerkamnya, sementara itu betapa udara yang panas telah menyengat-nyengat kulitnya. Dalam keadaan yang terakhir itu, Mantingan masih mencoba untuk mengangkat trisulanya menanti saat-saat terakhir yang mengerikan.

Widuri yang meloncat ke arah yang berlawanan, melihat, betapa maut menerkam Ki Dalang Mantingan. Karena itu wajahnya menjadi tegang dan dadanya bergolak hebat. Apakah ia akan berdiam diri melihat kawan sepenanggungan itu binasa? Tetapi ia tidak dapat bergerak maju. Ia tidak mampu untuk menerobos kekuatan Aji Alas Kobar yang dahsyat itu. Sebab demikian ia melangkah mendekat, tubuhnya menjadi seolah-olah terbakar hangus.

Namun meskipun demikian, Widuri bukanlah seorang yang mudah berputus asa. Dari ayahnya ia mendapat beberapa petunjuk bagaimana seharusnya apabila seseorang berada dalam kesulitan. Ayahnya itu pernah berkata kepadanya, bahwa manusia tidak boleh berputus asa.

Meskipun keputusan terakhir berada dalam kekuasaan Yang Maha Tinggi, namun manusia diwajibkan berusaha. Berusaha sampai kemungkinan terakhir. Demikianlah akhirnya Widuri mengambil suatu keputusan yang dapat dilakukan dalam keadaan yang demikian itu.

Ketika ia melihat Lawa Ijo dengan wajahnya yang menyeringai seperti serigala meloncat memburu Dalang Mantingan, berputarlah cakranya beberapa kali di udara. Kemudian dengan sekuat tenaga, sebagai usahanya terakhir untuk melawan Kelelawar Serigala dari Mentaok itu, cakra itu dilepaskannya beserta rantainya sekaligus. Suatu hal yang tak terduga. Apalagi pada saat itu Lawa Ijo sedang memusatkan perhatiannya kepada Dalang Mantingan.

Kepada Mantingan itulah dendam Lawa Ijo tersimpan. Tetapi, demikian ia meloncat, demikian senjata Widuri melayang ke arahnya, sedemikian cepatnya seperti kilat menyambar kepalanya.

Lawa Ijo terkejut bukan alang kepalang. Tetapi ia terlambat. Ketika ia berusaha menghindar, cakra itu dengan derasnya mengenai kepalanya dengan tepat. Terasa betapa kulit kepalanya terkelupas oleh gerigi-gerigi yang tajam. Lawa Ijo terhuyung ke samping. Perasaan nyeri telah menelan dirinya sedemikian kerasnya. Cakra pemberian Kebo Kanigara itu benar-benar senjata yang luar biasa.

Yang terdengar kemudian adalah suatu pekik yang tertahan. Dengan kedua belah tangannya, Lawa Ijo memegang kepalanya yang terluka itu erat-erat, seperti takut bahwa kepalanya itu akan terlepas. Namun demikian, luka itu menjadi semakin nyeri, dan darah yang mengalir dari luka itu menjadi semakin keras.

Dalang Mantingan untuk sesaat tertegun. Ia melihat hantu itu kesakitan. Namun karena tekanan yang tajam pada saat yang mengerikan, yang hampir saja merampas nyawanya, Mantingan menjadi seperti orang yang kebingungan. Tetapi cepat ia menguasai kesadarannya kembali. Ia merasa bahwa Kekuasaan Tertinggi dengan Tangan-tangannya yang Adil telah membebaskannya.

Karena itu, ketika ia melihat kesempatan terbuka di hadapannya, dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia mengangkat trisulanya. Trisula Mantingan itupun bukan senjata yang dibelinya dari pandai besi.

Trisulanya itu adalah pemberian gurunya, Ki Ageng Supit. Karena itu trisulanya pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan berdoa di dalam hati, yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Adil, Mantingan melontarkan trisulanya. Lawa Ijo yang telah kehilangan keseimbangan diri, tidak melihat trisula itu meluncur menyambar dadanya. Karena itu, tiba-tiba terasa dadanya terbelah. Kini benar-benar serigala dari Mentaok itu berteriak tinggi. Dan kemudian iapun terhuyung sekali lagi, dan akhirnya jatuh terkulai di tanah yang telah dibasahi oleh darahnya.

Halaman Banyubiru itu benar-benar dicengkam oleh kengerian. Teriakan Lawa Ijo itu benar-nenar telah menggetarkan udara Banyubiru. Daun-daun kuning pun berguguran di tanah, sedang ranting-ranting yang kering berpatahan. Mendengar teriakan Lawa Ijo itu, Widuri menjadi gemetar. Ia tahu perasaan apa yang menjalar di dalam dirinya. Namun tiba-tiba ia merasa segenap bulu-bulunya tegak berdiri. Karena itu ketika Lawa Ijo itu sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, tanpa disengaja Endang Widuri menghindar pandang. Wajah Widuri pun jatuh tertunduk di tanah yang hitam-hitam gelap di dalam cahaya obor yang remang-remang.  

WADAS GUNUNG juga tak kalah terkejutnya mendengar pekik yang memekakkan telinga itu. Ketika ia pertama-tama mendengar Lawa Ijo menggeram keras-keras, ia merasa bahwa pekerjaan kakak seperguruannya itu hampir selesai. Sebab pada saat itu Lawa Ijo telah mempergunakan Aji Alas Kobar. Namun kemudian yang terdengar adalah jerit kesakitan. Karena itu hatinya pun berdesir dengan kerasnya. Bahkan seolah-olah dirinya sendirilah yang kehilangan kekuatannya. Demikianlah Wadas Gunung yang gagah dan mempunyai kekuatan raksasa itu, kehilangan pemusatan pikiran. Ketika ia mencoba melihat apa yang terjadi pada kakak seperguruannya itu, ternyata ia dihadapkan pada saat yang menentukan.

Wirasaba tidak mau terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Ia menghadapi lawannya dengan segenap perhatian dan kemampuan. Karena itu, ketika sebagian dari perhatian Wadas Gunung direnggut oleh jerit ngeri kakak seperguruannya, Wirasaba melihat kelemahan itu. Setelah ia bertempur beberapa lama, dalam keadaan yang seimbang, maka saat yang pendek itu banyak mempunyai arti baginya.

Wadas Gunung melihat seleret sinar yang menyambar tubuhnya pada saat ia melihat Lawa Ijo terdorong beberapa langkah untuk kemudian jatuh tak berdaya. Cepat ia berusaha untuk melawan sambaran senjata lawannya, namun ia tak berhasil mempergunakan segenap kekuatannya. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap arah sambaran kapak lawannya, dan menyilangkan kedua pisaunya untuk menahan serangan itu, Wirasaba sempat menarik senjatanya, dan dengan tangkai kapaknya itu ia menyerang tengkuk Wadas Gunung. Serangan ini tidak begitu keras, namun benar-benar telah menghilangkah keseimbangan perlawanan Wadas Gunung. Ketika Wadas Gunung berusaha menghindar, kapak Wirasaba telah berubah arah. Dengan kerasnya senjata raksasa itu menyampar punggung Wadas Gunung.

Kini sekali lagi halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan ngeri. Wadas Gunung terbanting di tanah untuk tidak akan bangun kembali. Sesaat kemudian, halaman itu menjadi sepi.

Jaka Soka telah melontar mundur beberapa langkah. Ternyata, karena pengalamannya, ia lebih hati-hati dari Wadas Gunung. Dihindarinya lawannya jauh-jauh, supaya ia dapat melihat apa yang terjadi. Sesaat darahnya berdesir cepat, jantungnya seperti berdetang-detang akan pecah. Dua kakak-beradik seperguruan telah jatuh dalam pertempuran itu. Sebenarnya Jaka Soka tidak akan terpengaruh kedudukannya sebagai kepala gerombolan di Nusakambangan. Kematian Lawa Ijo dan Wadas Gunung adalah akibat yang wajar dari usahanya. Mukti atau mati. Jaka Soka sendiripun sadar, bahwa akibat yang demikian dapat juga terjadi atas dirinya. Namun kekalahan yang berturut-turut, baik di Pamingit maupun di Banyubiru ini sangat memanaskan hatinya. Bahkan di Pamingit, gurunya yang dibangga-banggakan telah jatuh. Sekarang kawan-kawan segolongannya terbunuh pula. Karena itu darah di dalam tubuhnya serasa menggelegak seperti banjir yang melanda dinding jantungnya.

Diawasinya orang-orang yang berdiri di sekitar pendapa itu. Wirasaba, yang masih gemetar berdiri bersandar tangkai kapaknya yang diwarnai oleh darah Wadas Gunung. Mantingan dan Widuri pun masih saja berdiri seperti patung. Sedang Rara Wilis, sebagai seorang gadis, hatinyapun berdebar-debar pula.

Untunglah bahwa ia tidak kehilangan kewaspadaannya. Dihadapannya masih berdiri Ular Laut yang menggelisahkan. Sesaat kemudian dari pintu rumah itu muncullah orang berjubah abu-abu, bersama-sama dengan orang yang berkepala besar. Dengan kesan yang mengerikan, ia memandang berkeliling. Ia menggeram ketika dilihatnya kedua muridnya terkulai di tanah. Kemudian seperti bayang-bayang, ia melayang ke arah Lawa Ijo, yang masih bergerak-gerak dalam pergulatannya melawan maut.

“Lawa Ijo…” desis Pasingsingan itu. Lawa Ijo hanya mampu berdesis perlahan-lahan. Dan kembali Pasingsingan memanggilnya, “Lawa Ijo….”

“Hem…” Lawa Ijo berusaha untuk menjawab. Ternyata orang itu memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun darahnya telah mengalir dari luka-luka di kepala dan dadanya, namun ia masih dapat membuka matanya.

Pasingsingan kemudian tegak berdiri di samping tubuh murid kesayangan itu. Pandangannya dengan tajam bergerak dari Mantingan, Endang Widuri, Wirasaba kemudian Rara Wilis. Sendang Parapat dan para penjaga yang kaku di tempat masing-masing itu sama sekali tak diperhitungkan.

“Aku tidak menyangka…” Hantu bertopeng itu menggeram. “Bahwa kalian mampu membunuh muridku. Ketika aku mendengar ia memekik, aku menyangka lain. Tetapi aku menjadi ragu-ragu. Akhirnya aku sadar bahwa kedua muridku pasti terluka. Ternyata mereka tidak saja terluka, tetapi jiwanya telah terancam.”

KEMUDIAN tangan hantu itu perlahan-lahan terangkat dan menunjuk kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mula-mula Mantingan, kemudian berturut-turut Endang Widuri, Wirasaba dan Rara Wilis.

“Kau, kau, kau dan kau. Hem. Alangkah sombongnya kalian. Kalian berani membunuh murid Pasingsingan di hadapan gurunya. Benar-benar suatu perbuatan yang gila. Karena itu kalian harus mati dengan cara yang paling menyedihkan. Tidak oleh tangan Pasingsingan. Aku tidak mau dikotori dengan darah kalian. Tetapi kalian akan kami ikat di belakang kuda kami. Akan kami arahkan kuda-kuda kami ke Pamingit. Besok sahabat-sahabat di sana akan menemukan mayat kalian yang sudah terkelupas seperti pisang.”

Semua yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar. Meskipun mereka tidak takut mati, namun mati dengan cara yang demikian benar-benar tidak menyenangkan. Meskipun ada senjata di tangan mereka, namun kalau Pasingsingan itu benar-benar bermaksud demikian maka pastilah mereka tidak akan mampu mengelakkan diri. Dengan satu pukulan di tengkuk mereka, atau satu tekanan di dada mereka, maka hantu itu benar-benar akan dapat membuat mereka lumpuh. Rara Wilis menjadi semakin ngeri, kalau-kalau tiba-tiba Jaka Soka berbuat lain. Sebab Jaka Soka akan dapat mengajukan permintaan kepada Pasingsingan mengenai dirinya.

Tetapi dalam ketegangan itu tiba-tiba suara Lawa Ijo gemetar, “Guru, dapatkah guru mendengar permintaanku terakhir?”

Pasingsingan menoleh kepada muridnya. Dengan isyarat-isyarat ia minta Sura Sarunggi mengawasi orang-orang yang berdiri dihalaman itu. Kemudian iapun berjongkok di samping muridnya. Ketika ia melihat luka Lawa Ijo, Pasingsingan itupun mengerti, bahwa nyawa Lawa Ijo tak akan dapat diselamatkan.

“Apakah permintaamu?” jawab Pasingsingan.

“Pertama…” Suara Lawa Ijo menjadi semakin gemetar. Terasa betapa dendamnya masih menguasai dirinya.

“Nyawa Dalang Mantingan.”

“Hem…” Pasingsingan menggeram sambil memandang Dalang Mantingan yang berdiri seperti tonggak. Lamat-lamat ia mendengar juga apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo itu. Namun ia sudah tidak terkejut. “Kedua…” Lawa Ijo meneruskan, “Jangan bunuh gadis nakal itu.”

Pasingsingan menarik nafas. “Kenapa…?” Ia bertanya. Tiba-tiba Lawa Ijo berusaha mengangkat kepalanya dan dipandanginya Endang Widuri yang tegak kaku seperti tiang pendapa.

“Guru…” desis Lawa Ijo, “Dapatkah aku melihat senjata itu?” Pasingsingan menjulurkan tangannya. Rantai dan cakra yang mengenai kepala Lawa Ijo masih menggeletak di sampingnya. Kemudian senjata itupun diserahkan kepada muridnya.

Lawa IJo dengan tangan yang lemah mengamat-amati senjata itu. “Luar biasa,” desisnya. “Lumrah kalau Lawa Ijo terbunuh karena senjata yang ampuh ini,” katanya pula.

Pasingsingan tidak tahu apa yang dimaksud muridnya itu, namun ia masih berdiam diri. Langit di sebelah barat masih ditandai oleh warna merah, karena api yang masih berkobar-kobar menelan beberapa rumah yang sama sekali tak bersalah.

“Widuri, kemarilah….” Terdengar Lawa Ijo memanggil. Panggilan itu terasa aneh. Widuri mula-mula tidak percaya pada pendengarannya. Apakah benar-benar Lawa Ijo itu memanggilnya dengan nada yang lunak tanpa rasa dendam? Ketika Endang Widuri sedang menebak-nebak di dalam hati, terdengar kembali Lawa Ijo memanggil, lebih keras, “Widuri, kemarilah.”

Widuri menjadi semakin bingung. Bahkan Pasingsingan tidak tahu apa maksud muridnya itu. Namun dalam nada suaranya, Lawa Ijo sama sekali tak bermaksud jahat. Widuri masih belum beranjak dari tempatnya. Sehingga sekali lagi Lawa Ijo berkata kepada gurunya, “Guru, panggilkan gadis itu. Aku tak akan berbuat jahat. Dan sekali lagi aku minta jangan ganggu dia.”

Pasingsinganpun menjadi bingung. Namun ia berusaha untuk memenuhi permintaan muridnya itu. Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis kecil, Lawa Ijo memanggilmu.” Widuri masih belum bergerak. Sedang Rara Wilis menjadi cemas. Katanya, “Jangan, Widuri.”

“Hem…” Lawa Ijo menarik nafas. Berat sekali, seakan-akan nafasnya sudah terputus di dadanya, “Sebelum aku mati..”, mintanya.

Widuri masih tegak sepergi tonggak. Mantingan sudah kehilangan ingatannya untuk mencegah atau menyetujuinya. Demikian juga Wirasaba. Nafasnya masih memburu berebut dahulu setelah ia berjuang mati-matian, serta dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya pada saat terakhir.

Kini ia tidak tahu apa yang akan dikatakan dan apa yang akan diperbuat tentang Widuri.

“Guru…” tiba-tiba Lawa Ijo berkata, “Silahkan guru meninggalkan aku. Agaknya gadis itu takut kepada Guru.”

“Apakah sebenarnya yang sedang kau lakukan, Lawa Ijo…? tanya Pasingsingan.

“Gadis itu. Aku sedang mengenangkan almarhum anakku. Pada wajah gadis itu, sejak aku melihat untuk pertama kalinya, seakan-akan terbayang wajah anakku. Kini aku melihat wajah itu pula, tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya, mengajak aku pergi mengantarkannya. Anakku itu seandainya ia masih hidup, ia pasti sebesar gadis itu dan tangkas pula. Setangkas anak itu,” jawab Lawa Ijo.

Pasingsingan menggeram. Ia mengutuk di dalam hati. Kenapa Lawa Ijo berbuat hal yang aneh-aneh seperti perempuan cengeng. Namun pada saat-saat muridnya yang disayangnya itu hampir berpelukan dengan maut, ia terpaksa memenuhinya. Perlahan-lahan ia berdiri untuk kemudian mundur beberapa langkah sambil berkata kasar, “Mendekatlah. Aku tidak akan mengganggumu.”  

LAWA IJO yang lemah itu kemudian berusaha untuk melemparkan senjata-senjatanya. Pisau belati yang selama ini menjadi ciri-ciri kekejamannya, yang kadang-kadang diikatnya dengan kain bergambar kelelawar hijau berkepala serigala.

Endang Widuri melihat semuanya dengan jantung yang berdentangan. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ada sesuatu yang mendesak-desaknya untuk memenuhi panggilan Lawa Ijo itu. Tiba-tiba ia bergerak-gerak maju. Bersamaan dengan itu, Rara Wilis pun meloncat ke arahnya, sambil berkata, “Widuri.”

Kembali langkah Widuri terhenti. Ia menoleh kepada Rara Wilis. Nafas Rara Wilis pun kemudian menjadi sesak oleh ketegangan yang memuncak. Lawa Ijo yang sudah hampir sampai pada akhir hayatnya melihat Rara Wilis berusaha mencegah gadis kecil itu. Maka perlahan-lahan ia berkata, “Aku adalah manusia seperti kalian, meskipun apa yang aku lakukan selama ini tidak ubahnya seperti binatang. Aku tidak tahu apa yang akan aku alami, sesudah aku menginjak alam lain, namun di perbatasan ini aku tidak akan menambah dosa.”

Tiba-tiba hati Rara Wilis tersentuh pula. Sebagai seorang gadis, perasaannya tidaklah sekeras baja. Ketika Widuri memandangnya, tanpa sesadarnya ia mengangguk. Sehingga Widuri kemudian perlahan-lahan melangkah maju mendekati hantu dari Alas Mentaok yang hampir sampai ajalnya itu. “Senjatamu benar-benar ampuh, melampaui senjata yang pernah aku kenal,” desis Lawa Ijo.

“Namun ia akan bertambah ampuh kalau kau lekatkan akik ini di lingkaran bergerigi itu.” Widuri tidak menjawab. Ia berdiri tegak di samping Lawa Ijo yang masih memegang rantai beserta cakranya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan Lawa Ijo itu. Lawa Ijo kemudian menarik sesuatu di jari-jarinya. Cincin dengan mata akik yang berwarna merah menyala.

“Lawa Ijo…!” Pasingsingan berkata lantang. “Apakah yang kau berikan itu?”

“Kelabang Sayuta,” jawab Lawa Ijo lemah.

“Gila, jangan kau lakukan,” sahut Pasingsingan. “Akik Kelabang Sayuta adalah ciri Pasingsingan yang hanya aku pinjamkan kepadamu.”

“Biarlah Guru. Aku berikan akik itu kepada anakku,” bantah Lawa Ijo dengan suara gemetar. Pasingsingan menahan dirinya untuk tidak melukai hati muridnya yang hampir mati itu. Namun dengan demikian, tanpa dikehendaki, Lawa Ijo justru menanamkan bahaya dalam tubuh Endang Widuri. Sebab tiba-tiba Pasingsingan mendapat pemecahan yang mengerikan.

“Biarlah akik itu diberikan, namun gadis itu tidak akan mampu melepaskan diri dari tangannya.” Kemudian Pasingsingan tidak mencegahnya ketika Lawa Ijo menyerahkan cincin beserta rantai Widuri sendiri kepada gadis itu. Widuri pun seperti orang yang kehilangan dirinya. Ia bergerak saja tanpa sesadarnya menerima pemberian Lawa Ijo itu. Hanya Rara Wilis yang bagaimanapun juga, tidak dapat melepaskan Widuri seorang diri berhadapan dengan hantu itu. Karena itu iapun mendekatinya dengan pedang terhunus di tangannya.

“Kutuk anakku itu telah sampai pada suatu kenyataan.” Terdengar suara Lawa Ijo gemetar. “Mudah-mudahan aku dapat mengurangi beban pada saat kematianku. Setelah kau menerima cincin itu, terasa betapa lapang jalan yang akan aku tempuh. Hati-hatilah dengan cincin itu. Setiap goresannya, pasti berakibat maut, kecuali Mahesa Jenar. Aku tidak tahu kenapa ia berhasil membebaskan dirinya. Pergunakan akik itu menurut jalan hidupmu. Kalau kau benci kepada kejahatan, mudah-mudahan ia dapat menolongmu.” Lawa Ijo berhenti.

Nafasnya menjadi semakin sesak. Tiba-tiba ia menggeliat dan terdengar ia mengeluh. Widuri yang masih berdiri di samping Lawa Ijo itupun tiba-tiba berjongkok. Kalau mula-mula ia ngeri melihat wajah yang keras dan kejam itu, maka kini perasaan itu telah hilang.

“Widuri…” bisiknya. “Bukankah namamu Widuri?” Widuri mengangguk. “Aku telah membunuh anakku tanpa aku sengaja. Ketika aku menyangka ibunya berbuat sedheng dengan laki-laki lain, aku bunuh laki-laki itu. Kemudian aku bunuh pula istriku. Namun tanpa aku ketahui anak gadisku satu-satunya yang masih kecil, memeluk kaki ibunya, sehingga ketika aku dengan membabi buta menusuk tubuh perempuan itu, sebuah goresan melukai anakku itu. Goresan yang dalam di lehernya, sehingga gadis itu kemudian mati pula dua hari setelah mayat ibunya aku lempar ke sungai.”

Lawa Ijo berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin tak teratur. Sekali-kali ia menggeliat lemah. Kemudian berbisik kembali perlahan-lahan. “Tetapi ternyata aku salah sangka.” Kembali Lawa Ijo berhenti. Ia masih berusaha untuk membuka matanya, lalu meneruskan, “Istriku tidak berbuat sedheng. Tetapi lelaki itu yang berbuat bengis. Berbuat di luar batas perikemanusiaan, sedang istriku adalah korban nafsu kebinatangannya. Namun istriku itu telah mati tersia-sia. Aku jadi menyesal. Apalagi ketika satu-satunya anakku itu mati pula. Akhirnya aku kehilangan keseimbangan. Dan jadilah aku seekor binatang pula. Tetapi aku tidak mau mendekatkan diri kepada perempuan. Perempuan yang bagaimanapun juga. Aku hanya ingin membunuh, berkelahi dan membuat orang lain menjadi putus asa dan menderita. Kadang-kadang aku rampas harta bendanya, pusaka-pusakanya dan kadang-kadang aku bunuh keluarganya, anak-anaknya yang tak berdosa. Akhirnya aku namakan diriku Lawa Ijo setelah aku berguru kepada Bapa Pasingsingan.”

Pasingsingan menggeram. Ia tidak senang mendengar penyesalan itu, sebagai suatu perbuatan cengeng. Seharusnya Lawa Ijo mati dengan janji seorang pemimpin dari golongan hitam. Tetapi ia berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolak nafsunya yang mendidih. “Matilah segera Lawa Ijo,” kata hatinya.

PASINGSINGAN sudah tidak mempunyai harapan untuk menyembuhkan luka-luka muridnya. “Sesudah itu aku akan membunuh setiap orang di sini. Mantingan,Wirasaba, Rara Wilis dan gadis yang telah meruntuhkan kejantanan Lawa Ijo di matanya untuk mendapatkan akiknya kembali. Mengikat mereka di belakang kuda dan dipacunya ke Pamingit untuk meruntuhkan keberanian dan ketahanan perlawanan orang-orang Banyubiru,” kata hatinya kemudian.

Sesaat kemudian Lawa Ijo memejamkan matanya. Nafasnya satu-satu masih mengalir lewat hidungnya. Tetapi sesaat kemudian ia berusaha untuk tersenyum. Bersamaan dengan itu, dadanya terangkat dan melontarlah nafasnya yang terakhir.

Rara Wilis menjadi terkulai karenanya. Hatinya terketuk oleh kata-kata terakhir Lawa Ijo. Agaknya orang ini telah kehilangan masa depannya, karena ia salah duga terhadap istrinya. Sifat-sifat kekerasan dan kekerasan yang memang telah dimiliki, menjadi berkembang dengan pesatnya, sehingga menemukan bentuk puncaknya.

Endang Widuri masih berjongkok di samping Lawa Ijo. Terasa matanya menjadi panas. Kematian lawannya itu ternyata mempengaruhi jiwanya pula. Tanpa sesadarnya ia mengamat-amati benda pemberian Lawa Ijo itu. Cincin bermata batu akik yang merah menyala. Kelabang Sayuta. 

Tetapi ia menjadi terkejut ketika terdengar Pasingsingan berkata dengan suara yang seperti bergulung-gulung di dalam perutnya. “Widuri, agaknya kau telah berhasil merebut hati muridku pada saat-saat terakhirnya. Karena kenangannya yang melambung pada masa lampaunya, pada almarhum istri dan anaknya itulah, maka sejak di Gedong Sanga ia selalu berpesan untuk membebaskan kau dari tanganku. Sebelum mati ia pun berpesan demikian pula untuk tidak mengganggumu. Tetapi Lawa Ijo sekarang sudah tidak ada lagi. Pesannya akan hilang bersama hilangnya nyawamu. Sekarang aku akan melakukan rencanaku. Mengikat kalian di belakang kuda, dan mengantarkan kuda-kuda itu ke Pamingit.”

Setiap hati yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi bergetar cepat. Mereka menjadi seperti tersadar dari mimpinya. Ketika mereka mendengar kata-kata terakhir Lawa Ijo, mereka seolah-olah terlempar ke dalam satu dunia yang asing. Namun sekarang kembali mereka berdiri di atas tanah. Mereka berhadapan dengan iblis bertopeng dari Alas Mentaok. Mantingan tiba-tiba meloncat dengan cepatnya, meraih trisulanya yang masih menggeletak di samping Lawa Ijo setelah berhasil menyobek dada pemimpin gerombolan yang kehilangan masa depannya itu. Pedang Rara Wilis juga diangkatnya kembali. Widuri yang masih berjongkok disamping Lawa Ijo pun berdiri. Dengan hati-hati ia mengenakan cincin pemberian Lawa Ijo di jarinya, meskipun agak terlalu longgar, namun karena tangannya kemudian menggenggam ujung rantainya, maka cincin itu tidak akan lari karenanya. 

Wirasaba yang berdiri tegak agak jauh dari mereka, juga segera membelai kapaknya, seolah-olah ia ingin menanyakan kepada senjata itu, apakah yang dapat dilakukan untuk melawan orang yang bernama Pasingsingan itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sura Sarunggi, disamping gelaknya yang riuh. “Aku menjadi geli melihat kelinci-kelinci ini mempersiapkan senjata-senjata mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka sedang menduga-duga kekuatanmu, Pasingsingan?”

Pasingsingan tidak menjawab. Malahan ia berkata kepada Jaka Soka, “Soka, masihkah kau perlukan perempuan itu?”

Jaka Soka terkejut. Selama itu ia pun seperti orang yang kehilangan kesadaran. Namun akhirnya ia menjawab, “Perempuan itu sangat berbahaya, Paman.” 

Pasingsingan tertawa. “Lalu…?” ia bertanya pula. Jaka Soka menggeleng, jawabnya, “Selama ia masih seperti sekarang, aku tidak memerlukan lagi.”

“Bagus,” sahut Pasingsingan, “Perempuan itulah yang pertama-tama akan aku ikat di belakang kuda bersama-sama dengan gadis yang bernama Widuri itu. Seorang laskar akan memacu kuda itu dan melepaskannya di Pamingit.”

Tiba-tiba terdengar Jaka Soka bergumam, “Sayang.” Tetapi Pasingsingan sudah tidak mendengarnya lagi.

Topengnya tiba-tiba tampak menjadi liar. Dipandangnya satu demi satu, Mantingan, Wilis, Widuri kemudian Wirasaba. Yang terakhir adalah mayat muridnya. “Ia mati di luar lingkungan kami,” desisnya. 

“Ya,” sahut Sura Sarunggi. “Ia mati setelah menanggalkan kejantanan golongan kami. Aku tidak tahu bagaimana kedua muridku mati. Mudah-mudahan mereka mati sebagai Uling Rawa Pening.”

“Persetan semuanya!” Tiba-tiba Pasingsingan berteriak. “Aku tidak punya banyak waktu.”

Kata-kata Pasingsingan itu merupakan aba-aba bagi Mantingan dan kawan-kawannya. Tanpa berjanji, mereka segera berloncatan merapatkan diri dengan senjata masing-masing yang siap di tangan. Trisula, pedang tipis ditangan Rara Wilis, kapak raksasa dan rantai bercakra pemberian Kebo Kanigara. Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lain, betapa dapat dikalahkan. Keempat senjata itu dalam satu gabungan, merupakan kekuatan yang dahsyat.

Namun bagi Pasingsingan, senjata-senjata itu tak akan banyak berarti. Meskipun demikian, ia pun berhati-hati. “Mulailah Pasingsingan,” kata Sura Sarunggi, “Mungkin orang-orang Pamingit akan segera menyusul kita. Bukankah pekerjaan utama kita belum selesai?”

“Ya,” jawab Pasingsingan. “Aku menduga kalau keris-keris itu disembunyikan oleh Gajah Sora. Tetapi jangan takut mengenai orang-orang Pamingit atau Banyubiru yang akan menyusul kita. Aku telah meletakan beberapa penjaga untuk memberikan tanda-tanda dengan kentongan apabila mereka terpancing oleh api di sana.”  

SURA SARUNGGI menyahut, “Tetapi jangan membuang-buang waktu.”

“Aku senang melihat mereka ketakutan,” jawab Pasingsingan.

Sura Sarunggi pun kemudian tertawa sambil berkata, “Kau benar-benar iblis. Tetapi memang benar-benar menyenangkan. Meskipun demikian jangan terlalu lama. Apakah aku harus membantu? Kau akan kecewa kalau mereka mati ketakutan sebelum terseret oleh kuda-kuda kita.”

“Bagus,” kata Pasingsingan pula.

“Aku akan dengan mudah membunuh mereka bersama-sama. Tetapi aku akan menemui kesulitan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Bantulah supaya pekerjaanku segera selesai.”

Sura Sarunggi tertawa. Ia melangkah maju mendekati empat orang yang berdiri dalam satu lingkaran beradu punggung.

Pasingsingan pun melangkah dari arah lain. Udara di halaman Pendapa Banyubiru itu kemudian diliputi oleh ketegangan. Masing-masing seakan-akan tidak berani menarik nafas dengan leluasa. Mantingan, Rara Wilis, Endang Widuri dan Wirasaba telah bertekad untuk bertempur mati-matian.

Mereka lebih baik mati dalam perkelahian itu, daripada harus terserat di belakang kaki kuda di sepanjang jalan ke Pamingit. “Mahesa Jenar dan sahabatnya di Pamingit akan berterima kasih atas hadiah-hadiah kita ini, Sarunggi,” desis Pasingsingan.

“Hadiah yang tak ternilai,” jawab Sura Sarunggi. 

Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sura Sarunggi yang tinggal beberapa langkah dari korbannya, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Demikian pula Pasingsingan.

“Hem….” geram Pasingsingan, “Apakah ini?” Mata Sura Sarunggi menjadi liar. Mantingan dan kawan-kawannya yang telah hampir kehilangan harapan untuk dapat menyaksikan matahari terbit di balik bukit-bukit besok pagi, menjadi heran. Apakah yang mengganggu mereka. Ketika mereka melihat berkeliling, mereka tidak melihat apapun juga. Yang mereka lihat di langit yang kelam, mendung mulai mengalir dari arah utara. Satu-satu bintang-bintang yang gemerlapan itu tertelan dan hilang di belakang tabir yang kelabu. 

Angin yang basah bertiup semakin lama semakin keras. Dan udara di atas Banyubiru menjadi semakin dingin.

Tetapi Pasingsingan dan Sura Sarunggi masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian Jaka Soka pun menjadi heran. Apakah yang ditunggu lagi? Tak seorangpun yang akan dapat menghalang-halangi mereka. Apa yang akan mereka perlakukan…?

Sendang Parapat, Wanamerta yang kaku seperti tonggak, para penjaga di gardu, tak ada yang mampu berbuat apapun. Meskipun Sendang Parapat dan Wanamerta tak akan tinggal diam. Ternyata dengan senjata-senjata di tangan mereka. Namun mereka sadar, bahwa terhadap Jaka Soka itupun mereka tak akan mampu melawan.

Tiba-tiba Sura Sarunggi dan Pasingsingan menjadi tegang. Sesaat kemudian terdengar Sura Sarunggi berkata, “Jangan bersembunyi. Siapakah kau? Mahesa Jenar, Pandan Alas, Titis Anganten atau Sura Dipayana?”

Mendengar nama-nama itu, tergetarlah dada orang Banyubiru. Mantingan dan kawan-kawannya. Bahkan Widuri terpekik kecil, “Ayah barangkali?”

Tetapi tak ada jawaban. Karena itu kembali Mantingan dan kawan-kawannya menjadi tegang. Seperti Sura Sarunggi dan Pasingsingan pun bertambah tegang. Mahesa Jenar, sahabatnya yang berhasil membunuh Nagapasa, Pandan Alas atau orang-orang lain pasti tidak akan membiarkan anak-anak mereka, atau sahabat-sahabat mereka itu menjadi ketakutan. Mereka pasti akan segera menampakkan diri. Bahkan mereka pasti datang dengan tergesa-gesa di atas kuda yang derap kakinya akan memberitahukan kehadiran mereka.

“Tetapi siapakah selain mereka?” bisik Sura Sarunggi di dalam hatinya. Namun Pasingsingan menjadi gelisah. Ia pernah bertemu dengan orang-orang aneh itu beberapa saat lampau di Rawa Pening. Ketika ia hampir saja membunuh Mahesa Jenar beserta empat kawannya. Yang seorang adalah Dalang Mantingan itu. Dua orang aneh itu berhasil membebaskan mereka. Sekarang, ketika Mantingan berada di ujung maut, terasa sesuatu yang aneh di halaman itu. 

Tiba-tiba halaman itu seolah-olah bergetar dengan dahsyatnya.

Dari dalam gelap terdengar suara perlahan-lahan.

“Akulah yang datang.” 

“Siapa?” teriak Pasingsingan.

“Pasingsingan,” jawab suara itu. Berdesirlah setiap dada yang mendengar jawaban itu. Pasingsingan…? 

“Ah, orang itu pasti berolok-olok saja,” pikir mereka. Namun suara itu bergulung-gulung di dalam perut, seperti suara Pasingsingan. Ketika kemudian kilat memancar di langit, maka kembali di halaman itu seakan-akan menjadi runtuh karena setiap orang terkejut karenanya. Dari arah suara itu, di dalam cahaya kilat yang hanya sesaat tampaklah seorang yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan bertopeng yang kasar di wajahnya.

Melihat orang itu, Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. Terdengar ia berteriak nyaring, “Siapakah kau? Apakah kau sudah bernyawa rangkap, berani mengenakan pakaian khusus Pasingsingan?”

“Aku Pasingsingan,” jawab suara itu.

“Tak ada dua Pasingsingan di dunia ini,” teriak Pasingsingan. “Aku satu-satunya.”

“Kau salah!” Tiba-tiba terdengar suara itu di arah lain. “Aku juga Pasingsingan.”  

KETIKA semua orang menoleh ke arah suara itu, dalam keremangan cahaya obor, tampaklah seseorang lagi yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajahnya, sehingga serasa akan meledaklah dada mereka.

Dua orang yang sama-sama mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajah mereka. Pasingsingan menjadi marah sekali karenanya, sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan pandangan liar ia mengawasi kedua orang yang mirip dengan dirinya itu berganti-ganti. Kemudian sambil menggeram ia berkata, “Apakah kalian tidak sadar, bahwa permainan kalian itu akan berakibat maut?”

Kedua orang yang menamakan diri mereka Pasingsingan itu tidak menjawab, tetapi perlahan-lahan mereka melangkah mendekat. Seorang di antaranya berdiri di samping Mantingan dan kawan-kawannya, sedang seorang yang lain berdiri bertentang pandang dengan Sura Sarunggi.

Namun kemudian terdengar suara Sura Sarunggi tertawa. Katanya, “Suatu permainan yang bagus, Pasingsingan. Tetapi dengan mengenakan jubah abu-abu dan topeng yang jelek itu, bukankah permainan terakhir bagi kalian? Sebab kalian pasti akan mengambil keputusan untuk membuktikan bahwa Pasingsingan memang hanya satu. Kalau sekarang tiba-tiba ada tiga, atau barangkali nanti muncul yang lain, empat, lima, enam, sepuluh, maka nanti akhirnya Pasingsingan benar-benar akan tinggal satu.”

“Kau benar,” sahut Pasingsingan. 

“Aku muak melihat mereka dengan ciri-ciri khusus Pasingsingan itu. Karena itu mereka harus mati.”

“Kematian seseorang tidak terletak di tangan orang lain.”

Terdengar salah seorang dari kedua orang itu menjawab.

“Tetapi terletak di tangan Yang Maha Agung. Tak seorangpun dapat meramalkan, apakah satu dari sekian banyak Pasingsingan itu adalah kau. Tak seorangpun yang tahu, apakah kau dibenarkan untuk tetap hidup. Apakah aku atau orang itu yang juga menamakan dirinya Pasingsingan.”

Pasingsingan tertawa. Suaranya nyaring mengerikan seperti rintihan hantu. Yang mendengar suara itu menjadi bergetar, seolah-olah dadanya terhimpit batu sebesar anak gajah. Sehingga mereka terpaksa memusatkan kekuatan batin mereka untuk menahan kesadaran mereka tidak runtuh. Namun beberapa orang penjaga telah terduduk karenanya. Sendang Parapat yang belum sembuh benar itupun tidak kuat menahan getaran yang memukul dadanya, sehingga dengan demikian, iapun terpaksa menyandarkan diri pada tiang pendapa. Meskipun demikian akhirnya iapun terduduk pula. Sedang Wanamerta terpaksa berpegangan tiang erat-erat. Namun kesadarannya telah melayap-layap seperti orang yang sedang hanyut menjelang tidur. 

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri masih dapat bertahan diri, berdiri tegak dalam lingkaran beradu punggung. Meskipun demikian mereka harus berjuang mati-matian agar mereka tetap dalam kesadaran. Sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tiga orang yang masing-masing menamakan diri mereka Pasingsingan. Apakah Pasingsingan yang lain itu tidak kalah jahatnya dengan Pasingsingan yang pertama. Apakah justru kedua orang yang lain itu lebih berbahaya bagi mereka. Pasingsingan masih terus tertawa dengan nyaringnya. Beberapa orang penjaga, bahkan Sendang Parapat, telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka menjadi seperti orang yang terlepas dari keadaan sekitarnya. Dan karena itu mereka menjadi terbaring lemah tanpa daya. Hatinya menjadi nyeri dan pedih. Mantingan dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

Sadarlah mereka bahwa Pasingsingan telah melepaskan ajiannya Gelap Ngampar. Bahkan Jaka Soka sendiripun menjadi gelisah. Semakin lama ia semakin pucat dan gemetar. Sura Sarunggi berdiri tegak sambil mengangkat dadanya. Sebagai orang sakti ia tidak banyak terpengaruh oleh aji sahabatnya itu.

Bahkan akhirnya ia tersenyum dan berkata, “Gelap Ngampar adalah ilmu ajaib. Pasingsingan yang lain pun mampu berbuat demikian?”

Namun kedua Pasingsingan yang lain itu tidak menjawab. Mereka tegak seperti patung saja di tempatnya. Tetapi tiba-tiba terasa udara yang aneh bertiup di halaman itu. Perlahan-lahan hanyut di sela-sela arus angin basah dari lembah. Pasingsingan yang berdiri dekat Mantingan itu tampak melipat tangan di dadanya. Sejalan dengan arus udara yang aneh itu, terasa sesuatu merayap-rayap di dada Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri. Seakan-akan mereka menemukan kesegaran baru di dalam dirinya.

Perasaan nyeri dan pedih yang ditusukkan oleh aji Gelap Ngampar di dalam tubuh mereka perlahan-lahan menjadi berkurang. Dan angin masih mengalir mengusap tubuh mereka membawakan ketenangan dalam diri. Bagaimanapun juga Mantingan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup. Ia adalah seorang dalang yang banyak mempelajari keajaiban dan kekuatan- kekuatan yang tersembunyi di balik alam yang kasatmata. Karena itu tergetarlah hatinya. 

Sehingga tak sesadarnya ia berbisik, “Alangkah dahsyatnya. Pertempuran ilmu dari orang-orang sakti.”  

WIDURI, Wilis dan Wirasaba mendengar bisikan itu. Karena itu mereka menjadi gelisah. Dua raksasa dapat bertempur tanpa luka pada kulit mereka, namun kelinci-kelinci dapat terinjak mati di tengahnya.

“Dahsyat…!” Tiba-tiba terdengar Sura Suranggi berteriak. “Aku merasa Pasingsingan yang lain mampu melawan Aji Gelap Ngampar. Setidak-tidaknya ia mampu membebaskan dirinya. Bahkan perlawanannya telah berhasil mempengaruhi orang lain seperti aji Gelap Ngampar itu sendiri, merata ke segenap arah. Tetapi kekuatan perlawanan ini bukan ciri Pasingsingan. Pasingsingan-lah yang memiliki aji Gelap Ngampar.”

Pasingsingan menggeram. Tertawanya kini sudah berhenti ketika ia merasa perlawanan yang kuat. Bahkan telah membebaskan orang-orang di sekitarnya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Sambil menunjuk ke arah topeng kasar dari orang yang berdiri di samping Mantingan yang melipat tangan di dada itu, ia berkata, “Setan. Agaknya kau mampu mengimbangi aji Gelap Ngampar. Tetapi itu bukan suatu bukti bahwa kau berhak menamakan dirimu Pasingsingan. Sebab Pasingsingan tidak saja mampu melawan, namun mampu melepaskan. Kalau kau menamakan dirimu Pasingsingan, dapatkah kau melepaskan aji Gelap Ngampar?”

“Hem…” geram orang berjubah yang menyilangkan tangannya. “Kau masih tidak percaya bahwa aku bernama Pasingsingan.”

“Setiap orang dapat menyebut dirinya Pasingsingan. Mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar. Namun aji Gelap Ngampar tak dimiliki oleh setiap orang,” sahut Pasingsingan hampir berteriak. Orang yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang berdiri di samping Mantingan sambil melipat tangannya itu, mengangkat wajahnya. Terdengar ia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Pasingsingan yang seorang lagi.

“Kau juga bernama Pasingsingan? Orang itu bertanya dengan suara yang dalam. “Akulah Pasingsingan itu,” jawab orang itu.

Pasingsingan menjadi semakin marah. Katanya lantang, “Aku tidak peduli apakah kau menyebut dirimu Pasingsingan atau Setan Belang. Tetapi selama kau tak mampu menunjukkan ciri-ciri Pasingsingan, maka kau hanya akan ditertawakan orang sebelum kau terbunuh olehku.”

Namun Sura Sarunggi terpaksa berpikir. Orang-orang itu berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh Gelap Ngampar, sehingga dengan demikian orang-orang itu bukanlah kelinci-kelinci seperti Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri. Apalagi Wanamerta dan Sendang Parapat yang kini benar-benar seperti orang yang tak tahu keadaan diri.

“Aji Gelap Ngampar adalah aji yang dahsyat,” kata orang yang berjubah abu-abu yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi itu. “Tetapi aji Gelap Ngampar adalah aji yang kurang sempurna. Aji yang tak akan dapat dipergunakan dalam pertempuran besar, dimana dalam pertempuran itu terdapat kawan dan lawan. Sebab demikian aji itu dilontarkan, maka tidak saja lawan-lawan kita yang terbunuh, namun kawan sendiripun akan menderita karenanya.”

“Jangan mencoba mengajari aku,” bentak Pasingsingan.

“Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, apa yang dapat kau lakukan dengan Gelap Ngampar sekarang ini? Kalau kau akan membunuh aku, misalnya, dapatkah kau pergunakan Gelap Ngampar? Dengan aji itu, kau hanya mampu membunuh orang-orang ini, yang berkerumun ketakutan melihat topeng-topeng kita yang kasar.”

Kembali Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. “Jangan banyak bicara. Aku berkata tentang kebenaran dan kenyataan tentang Pasingsingan.” Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi itu bertawa terkekeh-kekeh dibalik topengnya yang jelek, jawabnya, “Kau mengigau tentang kebenaran dan kenyataan Pasingsingan? Aku tidak tahu kebenaran dan kenyataan yang kau maksudkan. Bahkan cara berpikir yang demikian itulah yang menyebabkan dunia ini selalu bergoncang. Kebenaran yang terpancar dari kedengkian diri serta kenyataan yang ditabiri oleh pamrih dan nafsu. Kalau setiap orang berpikir demikian, tak ada ukuran tata pergaulan manusia. Kebenaran akan bertentangan dengan kebenaran yang lain, menurut kepentingan diri sendiri.”

“Huh…” potong Pasingsingan, “Tak ada orang yang berbuat sesuatu tanpa pamrih. Dunia ini terbentang di hadapan kita untuk kita nikmati. Kalau kita tidak berbuat sesuatu adalah salah kita sendiri. Karena itu sudah sewajarnya kalau kita teguk airnya sepuas-puasnya, dan kita makan pala gumantung dan pala kependhem sekenyang-kenyangnya. Nah, aku sekarang sedang menikmati pala keduanya kini. Jangan melintang di jalan yang akan aku lewati. Aku sedang mendaki puncak kebesaran. Apakah kau kira kenikmatan dan kebesaran hanya dapat dimiliki oleh seseorang? Huh. Akupun berhak. Dan agaknya kaupun sedang berusaha.”

“Apa yang sedang kau usahakan?” tanya Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. “Jangan berpura-pura,” jawab Pasingsingan.

“Hem…” desah orang yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi. “Apakah kau sedang mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

“Bukankah kau juga sedang mencarinya?” potong Pasingsingan. “Apakah yang kalian perdebatkan?” sahut Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. “Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten? Kalau itu yang kaucari, tak akan kau ketemukan di sini. Kalau itu yang dimaksud dengan kebesaran yang setiap orang berhak menikmatinya, bukankah dengan demikian kau bermaksud merajai Demak?”  

APA PEDULIMU?” bentak Pasingsingan yang berjubah abu-abu, guru Lawa Ijo.

Orang bertopeng di samping Sura Sarunggi itu berkata pula, “Kalau keris-keris yang kau kehendaki, mengapa kau berbuat hal yang aneh-aneh? Mengapa kau akan membunuh orang-orang ini?”
“Mereka menghalangi maksudku, seperti kau,” jawab Pasingsingan.
“Kalau seseorang berusaha menemukan keris Nagasasra dan Sabuk Inten untuk diserahkan kepada yang berhak, kau berusaha untuk dirimu sendiri. Adakah kita akan berpihak padamu?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan.
“Jangan merintangi aku!” Guru Lawa Ijo hampir berteriak, “Atau kau akan tergilas roda perjuanganku. Mati tanpa arti?”
“Kebesaran yang akan kau dapatkan itu tak akan berarti bagiku, bagi orang-orang ini dan bagi kawula Demak. Kebesaran itu hanya akan berarti bagimu sendiri, bagi kawan-kawanmu. Nah, urungkan niatmu,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan itu.
“Persetan dengan kalian,” sahut Pasingsingan. “Kita berhadapan sebagai lawan. Tetapi tunjukkan dahulu bahwa kau berhak bernama Pasingsingan.”

Tiba-tiba terdengar Sura Sarunggi tertawa. “Kalian berbicara tanpa ujung dan pangkal. Tetapi aku sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa kalian sedang bersaing. Meskipun demikian aku harus mempunyai pilihan. Nah, aku berpihak pada Pasingsingan yang datang bersama aku di sini. Sebab bagiku kedua Pasingsingan yang lain tak akan berarti. Meskipun seandainya mereka mampu melepaskan aji Gelap Ngampar, aji Alas Kobar dan segala macam ciri-ciri Pasingsingan yang lain.”

“Tetapi aku akan memberimu kepuasan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. “Kau ingin melihat aku melepaskan aji Gelap Ngampar?”

Kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi ia berkata, “Kau juga ingin melihat kebenaran itu?”
Tak ada jawaban. Pasingsingan guru Lawa Ijo itu berdebar-debar. “Apakah orang-orang itu benar-benar memiliki Gelap Ngampar seperti dirinya?

Dalam kegelisahannya, ia menebak-nebak, siapakah sebenarnya kedua orang itu. Kalau mereka itu salah seorang dari Mahesa Jenar, Pandan Alas dan lain-lainnya, pasti mereka tak akan mampu melepaskan aji Gelap Ngampar.

Tetapi yang lebih gelisah lagi adalah Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri.
Kecuali mereka, Jaka Soka pun menjadi berdebar-debar. Agaknya benar-benar akan terjadi pertempuran ilmu yang dapat merontokkan isi dada mereka.

Jaka Soka akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu sebelum ia mati terhimpit dua kekuatan yang tak dapat dihindarinya. Meskipun demikian, ia harus menunggu sampai saat yang tepat baginya.

Pasingsingan di samping Mantingan itu kemudian mengangkat wajahnya. Kemudian ia memandang berkeliling. Kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mulai dari Mantingan dan kawan-kawannya, Wanamerta, Sendang Parapat dan para penjaga yang sudah kehilangan kesadaran mereka. “Hem…” desahnya, “Kalau aku melepaskan aji Gelap Ngampar, mereka akan menjadi semakin parah.”

Tiba-tiba terdengar Pasingsingan guru Lawa Ijo itu tertawa. “Nah, kau mencari alasan untuk mengelak?”

“Tidak… tidak,” sahut Pasingsingan itu. “Tetapi kalau aku ingin memetik buahnya, jangan digugurkan daun-daunnya tanpa maksud.”

“Omong kosong. Apa padulimu dengan daun-daun yang tak berarti?” jawab guru Lawa Ijo.

Sekali lagi Pasingsingan di samping Mantingan itu memandang berkeliling. Agaknya ia benar-benar menjadi ragu. Tiba-tiba ia menggeram, dan kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi, ia berkata, “Kalau kau ingin mencoba menjajarkan diri dengan kami, cobalah melawan aji Alas Kobar seperti yang aku lakukan.”

“Tidakkah kau bertanya kepadaku, apakah aku mampu melepaskan aji itu?” kata Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu.

“Akan datang saatnya nanti,” sahut guru Lawa Ijo. Meskipun hatinya menjadi gelisah. Apakah benar kedua-duanya mampu berbuat demikian?

“Menjemukan,” sela Sura Sarunggi. 

“Marilah kita bertempur, Pasingsingan,” katanya kepada Pasingsingan guru Lawa Ijo. “Yang mana kau pilih? Menilik ketahanan mereka, kita harus melawan satu demi satu. Kecuali kalau mereka mau menyingkir.”

Pasingsingan belum sempat menjawab, ketika tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu tertawa. Perlahan-lahan, namun terasa betapa dahsyatnya. Gelombang demi gelombang menggeletar menggetarkan udara halaman Banyubiru itu, seolah-olah geteran yang memancar dari pusar bumi, menyebar ke seluruh penjuru. Terasa disetiap dada goncangan yang tak terkira dahsyatnya. Sehingga runtuhlah daun-daun yang tak mampu berpegangan lebih erat lagi pada dahan-dahannya.

Sura Sarunggi itu tidaklah seperti suara guru Lawa Ijo yang mengerikan. Suara itu adalah suara yang sederhana saja, seperti lazimnya orang tertawa. Lunak dan tidak mengandung kebengisan. Namun yang terasa di dada orang yang mendengarnya adalah goncangan-goncangan yang dahsyat.

Pada saat goncangan-goncangan itu menyerang dada Mantingan, berdesislah ia, “Aji Gelap Ngampar.”

Dan berusahalah ia menjaga dirinya. Demikian juga Rara Wilis, Wirasaba, Widuri dan Jaka Soka. Sedang orang-orang lain menjadi tak berdaya untuk berbuat sesuatu, mengatasi goncangan-goncangan di dada mereka, sehingga tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka pun mulai jatuh terkulai tak sadarkan diri.

MANTINGAN dan kawan-kawannya, bahkan Jaka Soka pun tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka mulai bergetar, dan tulang-tulang mereka seakan-akan terasa lolos dari persendian. Mereka mengeluh dalam hati. Mereka berada di medan pertempuran yang dahsyat, namun mereka tak mampu mengayunkan senjata-senjata mereka untuk turut serta di dalamnya. Mereka hanya dapat bertahan atas serangan yang dahsyat, yang jauh berada di atas kemampuan mereka. Sehingga dengan demikian mereka tidak lebih dari daun-daun kering yang berguguran di halaman itu. Meskipun demikian, terasa perbedaan pada kedua aji Gelap Ngampar yang sama-sama menggoncangkan dada mereka.

Meskipun keduanya dapat membunuhnya, namun tenaga ini tidak sekasar tenaga yang pertama. Namun, ketika dada mereka akan runtuh, dari sela-sela angin basah yang mengalir semakin kencang, menyusuplah di dalam tubuh mereka, getaran-getaran udara yang segar. Perlahan-lahan namun pasti, membebaskan mereka dari kengerian aji Gelap Ngampar itu. Dan sejalan dengan itu, suara tertawa Pasingsingan itupun terhenti pula. “Hem…” geramnya, “Kau mampu melawan aji Gelap Ngampar,” katanya kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi. Orang itu masih tegak di tempatnya sambil menyilangkan kedua tangannya terlipat di dada. Sebelum orang itu menjawab, terdengar Sura Sarunggi tertawa, “Permainan yang mengasyikkan,” katanya.

“Jangan bermain-main terlalu lama. Aku tahu bahwa kalian memiliki ilmu yang bersamaan. Pasingsingan yang datang kemudian berdua adalah seperti seperguruan. Entahlah hubungan kalian dengan Guru Lawa Ijo itu, sehingga kalian memiliki ilmu Gelap Ngampar. Meskipun terasa beberapa perbedaan, namun kalian bersumber dari mata air yang sama.”

Pasingsingan guru Lawa Ijo itupun berdiri tegak sambil menahan marahnya. Karena itu tubuhnya tiba-tiba bergetar. Dengan suara yang berat ia berkata pula, “Gila. Kalian memiliki aji gelap Ngampar. Jangan berpura-pura, dan yang satu itu jangan mencoba melepaskan pula. Tetapi itu belum berarti bahwa kau bisa menamakan diri Pasingsingan.”

“Adakah aku harus melepaskan aji Alas Kobar?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan. “Mungkin kau mampu pula, menirukan setelah kau atau gurumu berhasil mencuri ilmu itu. Tetapi yang tak dapat kau curi adalah pusaka Pasingsingan. Apakah kau memiliki pisau yang bernama Kyai Suluh?” tanya Pasingsingan dengan pasti.

Tiba-tiba kembali halaman itu bergetar ketika Pasingsingan Guru Lawa Ijo itu berteriak nyaring. Seperti hantu kelaparan yang kehilangan mangsanya. “Gila, darimana kau dapatkan benda itu?”

Semua mata tertuju kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. Di tangannya tergenggam sebuah pisau belati panjang yang bercahaya kuning menyilaukan. “Inikah yang kau maksud?” katanya.

“Hem…” desis Pasingsingan di samping Mantingan. “Kalian mau bermain-main dengan senjata.” Ia tidak berkata lebih lanjut, namun iapun kemudian mencabut sebuah pisau belati yang mirip benar dengan pisau belati Pasingsingan yang lain itu.

Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi semakin marah. Darahnya serasa mendidih di dalam rongga dadanya. Karena itu tanpa disengaja, tiba-tiba tangannyapun telah menarik pusakanya. Sebuah belati panjang yang berkilau. Kni ketiga orang yang menamakan diri Pasingsingan itu masing-masing telah menggenggam senjata yang serupa. Senjata yang selama ini menjadi ciri Pasingsingan. Pusaka yang ampuh luar biasa.

Namun tiba-tiba Pasingsingan yang selama ini merasa tiada duanya, menjadi heran, marah dan bingung, ketika ada dua orang yang menamakan diri Pasingsingan, serta memiliki beberapa ciri kekhususannya Aji Gelap Ngampar serta pisau belati panjang yang kuning berkilauan. Dengan suara yang bergetar guru Lawa Ijo itu berkata, “Setan. Kalian dapat membuat senjata yang serupa dengan senjata ini. Tetapi ada lagi satu senjata Pasingsingan yang tak dapat dibuat oleh empu yang bagaimanapun saktinya. Senjata yang diberikan oleh alam kepadaku. Adakah kalian mempunyai akik yang berwarna merah menyala dan bernama Kelabang Sajuta?”

Untuk sesaat halaman itu menjadi hening sepi. Angin lembah semakin lama semakin kencang. Dan awan yang kelabu menjadi bertambah tebal tergantung di langit. Sekali-kali guntur bergelegar di kejauhan, memukul-mukul tebing dan pecah menggema diseluruh relung-relung pegunungan. Sinar-sinar api memancar di udara seperti Ular Gundala raksasa yang meloncat-loncat dilangit. 

Menurut ceritera yang menjalar dari mulut ke mulut, di langit pada saat itu sedang terjadi pertempuran antara Ular Gundala Seta, senjata Wisnu yang sedang menyelamatkan bumi dari keangkaramurkaan, melawan Ular Gundala Wereng, senjata Kala yang sedang berusaha menghancurkan bumi karena ketamakannya.

Tetapi pada saat itu, di halaman Banyubiru itu pun sedang berhadapan dua kekuatan raksasa. Pasingsingan guru Lawa Ijo dan Sura Sarunggi di satu pihak, dan dua orang Pasingsingan di pihak lain. Mereka sedang tegak dengan tegangnya dalam pendirian masing-masing. Ketika kedua orang Pasingsingan itu belum juga berkata sepatah katapun, guru Lawa Ijo itu tertawa pendek, katanya, “Ha apa katamu tentang akik Kelabang Sayuta hadiah alam kepada Pasingsingan?”

Tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu menjawab, “Kalau kau dapat menunjukkan bahwa kau memiliki akik Kelabang Sayuta, akupun akan membuktikan pula bahwa sebagai Pasingsingan, aku memiliki ciri-ciri yang lengkap seperti katamu.”

MENDENGAR jawaban itu, hati Pasingsingan berdesir. Ketika ia meraba jari-jarinya, ia menjadi berdebar-debar. Namun katanya kemudian, “Akik itu sudah aku berikan kepada muridku Lawa Ijo. Sesaat sebelum ia mati, diberikannya akik itu kepada Endang Widuri.”

“Hem…” desis Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. “Kau sedang mengarang sebuah ceritera.” 

“Bertanyalah kepada Endang Widuri.” Pasingsingan itu menegaskan. Pasingsingan di samping Mantingan itu menoleh kepada Endang Widuri. Kemudian ia berkata, “Ciri Pasingsingan hanya melekat pada tubuh Pasingsingan. Tak ada ciri-ciri yang lain, apalagi yang dimiliki oleh orang lain. Aku dapat menyebut lebih dari seribu macam pusaka-pusaka ciri yang lain yang tak ada padaku.”

Darah Pasingsingan bertambah bergelora di jantungnya. Sambil berteriak ia memaki-maki, “Setan, iblis, thethekan. Tetapi akik Kelabang Sayuta itu milikku.” 

“Aku tidak bertanya siapakah yang mula-mula memiliki,” bantah Pasingsingan di samping Mantingan. “Tetapi akik itu sekarang tidak ada padamu, tidak ada padaku, dan tidak ada pada Pasingsingan yang seorang itu lagi.” 

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi tertawa pendek, katanya, “Sudahlah Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, yang madeg guru di Mentaok. Jangan terlalu banyak persoalkan di antara kita kini.”

“Diam!” bentak Pasingsingan guru Lawa Ijo. “Aku beri kau waktu sepemakan sirih. Tinggalkan halaman ini. Jangan campuri urusanku.”

“Bukan demikian adat yang pernah kau lakukan,” sahut Pasingsingan di samping Mantingan, “Kalau kau yakin dapat membunuh kami, kau tak akan melepaskan lagi. Dengan demikian, maka sekarang kau tak yakin akan kemenanganmu. Karena itu, bukankah lebih baik kita berbicara sebagai manusia terhadap manusia. Bukan sebagai hantu-hantu yang berkeliaran dari satu kuburan kelain kuburan, mencari mayat.”

“Hem. Benar-benar suatu penghinaan,” geram Sura Sarunggi. Kepalanya yang besar itu terangkat dan dengan lantang ia melanjutkan, “Jangan merasa dirimu kadang dewa. Tak ada waktu untuk berbicara sekarang. Pergilah atau kau akan terkubur di sini.”

“Jangan begitu Ki Sanak,” jawab Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. “Penyelesaian dengan pengertian, jauh lebih baik daripada penyelesaian dengan tetesan darah dari tubuh kita. Sebab dengan demikian, kita akan dikejar oleh rasa dendam yang tiada akan habis-habisnya. Dendam yang akan dibalas dengan dendam. Dengan demikian maka sepanjang umur kita, kita tidak akan dapat menikmati ketenangan.”

“Pengecut!” potong Pasingsingan dari Mentaok. “Aku adalah laki-laki. Di tanganku telah tergenggam pusakaku Kyai Suluh. Karena itu kau tak ada kesempatan lagi untuk kedua kalinya, setelah kau menolak kesempatan yang pertama.”

“Jangan,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan, “Kita masing-masing mempunyai kesempatan yang sama. Jangan mengancam dan menakut-nakuti. Aku ulangi, marilah kita berbicara sebagai manusia dengan manusia. Kita berbicara tanpa takbir di wajah kita. Kita bicara antara hati kita yang dilambari dengan kejujuran pada diri kita masing-masing, betapa hitamnya noda-noda yang melekat pada tubuh kita masing-masing.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Pasingsingan dari Mentaok itu menggigil. Ia menjadi curiga. Sejak orang yang menamakan diri Pasingsingan itu mampu melepaskan Gelap Ngampar, hatinya telah bergetar. Kini kata-kata itu menambah keyakinannya bahwa ia telah mengenal kedua orang itu. Meskipun demikian, ia masih mencoba untuk menyakinkan, apakah dugaannya itu benar. Maka katanya, “Apakah alasanmu? Apakah untungnya kita berbicara dari hati ke hati?”

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas, katanya, “Bagaimanapun kotornya hati kita, namun kita adalah manusia. Kita memiliki hari-hari lampau dan hari-hari mendatang. Kita memiliki hari-hari yang cemerlang, namun kita memiliki juga hari-hari yang suram. Karena itu, janganlah kita tenggelam dalam kegelapan. Putus asa dan bunuh diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk terus-menerus.”

Sura Sarunggi kini benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Dengan suara yang geram ia berkata, “Persetan dengan mimpi yang jahat itu. Jangan mencoba meracuni jiwa kami dengan hiasan kata-kata.” Kemudian kepada Guru Lawa Ijo ia berkata, “Sudahkah senjatamu itu siap?” 

Tetapi dada Pasingsingan menjadi bergetar semakin cepat. Ada perasaan yang lain di dalam dirinya. Sekarang ia hampir pasti dengan siapa ia berhadapan. Namun di hadapan Sura Sarunggi, ia masih mencoba untuk bersembunyi. Ia tidak mau orang lain mengetahui tentang dirinya, apalagi Jaka Soka, Mantingan beserta kawan-kawannya. Meskipun ia berdiam diri, namun hati di dalam dadanya berteriak nyaring, “Hai Umbaran, yang berdiri di hadapanmu dengan ciri-ciri Pasingsingan adalah Radite dan Anggara.”

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah letusan yang dahsyat. Ketika ia memandang kepada Sura Sarunggi, dilihatnya sahabatnya itu telah mengurai ikat pinggangnya, yang kemudian dengan marahnya, ikat pinggang yang mirip dengan sebuah cemeti itu dilecutkannya. Itulah senjata Sura Sarunggi, sebagaimana senjata-senjata yang dipergunakan oleh murid-muridnya, Uling Putih dan Uling Kuning dari Rawa Pening.

PASINGSINGAN, Guru Lawa Ijo kini tidak mempunyai pilihan lain. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mereka, apakah yang telah terjadi selama ini. Ia merasa bahwa pada saat-saat terakhir telah diketemukannya berbagai bentuk yang keras dari ajinya, Gelap Ngampar, maupun Alas Kobar. Kemajuan-kemajuan yang dicapainya dalam petualangannya. Lalu apakah yang telah didapatkan oleh kedua saudara seperguruan itu. Meskipun pada masa-masa lampau, Radite dan Anggara tak dapat diatasinya, namun kini Pasingsingan yang bernama Umbaran itu bukanlah Umbaran beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian akhirnya ia memutuskan, bahwa ia harus berjuang dengan senjatanya itu.

Kemudian terdengarlah suara meledak untuk mengatasi getaran-getaran di jantungnya, “Hai orang-orang yang tak tahu diri, yang telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir karena kebaikan hatimu. Angkatlah wajahmu. Pandanglah angkasa yang suram sebagai aba-aba dari isi bumi ini, dan tundukanlah kemudian wajahmu itu sebagai penghormatan terakhir pada ibu pertiwi. Kemudian hadapilah aku sebagai lawanmu, yang akan mengantarkan nyawamu menyeberang ke dunia yang tak dikenal.” 

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Senjata bukanlah alat terakhir untuk menemukan kesempatan.”

“Tak ada yang akan disepakatkan,” sahut Sura Sarunggi, “Kita berdiri berseberangan. Kita tidak dapat hidup bersama-sama dalam satu naungan langit yang luas ini.” 

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu agaknya lebih mudah tersinggung daripada Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. Ternyata ia menjawab lantang, “Tidak adakah jalan lain? Kalau demikian, kalau kau berpihak pada orang yang menamakan diri Pasingsingan pemarah itu, maka aku akan berdiri di pihak Pasingsingan yang seorang lagi. Sesudah itu, biarlah kami menentukan keadaan kami tanpa campur tanganmu.”

“Tunggu…” Pasingsingan di samping Mantingan mencoba untuk mencegahnya. Tetapi suaranya tenggelam dalam pekik lantang Sura Sarunggi. “Bagus. Itulah kata-kata jantan. Sudah siapkah kau?” 

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu menjawab tidak kalah lantangnya, “Aku lebih senang menempuh jalan lain. Tetapi kalau kau hadapkan aku pada satu pilihan yang tak dapat aku elakkan, silahkanlah.”

Sura Sarunggi tertawa seperti orang mabuk. Katanya, “Meskipun kau kekasih dewa-dewa, meskipun kau berperisai guntur dan petir, tetapi kau belum mampu menjaring angin, maka kau akan kehilangan hidupmu karena tanganku.”

“Aku bukan kekasih dewa-dewa, namun aku menyerahkan diriku pada Yang Maha Kuasa,” jawab Pasingsingan itu. “Kepada-Nya aku mohon kekuatan untuk melenyapkan keingkaran atas hukum-hukum-Nya.”

Kembali terdengar iblis dari Rawa Pening itu tertawa. Sesaat kemudian bergema kembali suara cemetinya menyusur lereng-lereng bukit. “Hai, langit yang muram, angin yang kencang. Saksikanlah kutuk yang akan menimpa orang ini.” 

Sura Sarunggi menutup kata-katanya dengan derai tertawa yang mengerikan. Kemudian ia pun bersiap untuk segera mulai dengan pertempuran melawan orang berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan itu. Sesaat kemudian ia pun meloncat dengan garangnya. 

Cemetinya berputar cepat sekali, melampaui kecepatan baling-baling yang ditiup angin ribut. Namun Pasingsingan itu pun telah bersiap pula. Tangan di balik jubah abu-abunya berkembang seperti hendak terbang. Pisau belati panjangnya berkilauan memantulkan cahaya api yang remang-remang.

Demikianlah, mereka tenggelam dalam satu perkelahian yang dahsyat. 

Sura Sarunggi, iblis dari Rawa Pening itu bertempur seperti angin topan. Ia meloncat-loncat dengan dahsyatnya mengelilingi lawannya, dan menyerangnya dari segenap penjuru. Namun Pasingsingan itupun tidak membiarkan dirinya tersekat dalam lingkaran cemeti lawannya. Dengan tangkasnya ia melontarkan dirinya, sekali-kali memotong serangan lawannya. Dan bahkan kadang-kadang ia tegak menghadapi topan seperti bukit Telamaya yang tak tergoyahkan oleh angin dan badai.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga. Kedahsyatan ilmu mereka telah menggemparkan dada masing-masing. Demikian sengitnya perkelahian itu, sehingga akhirnya yang tampak di mata mereka hanyalah bayang-bayang hitam yang berputar-putar seperti angin pusaran. 

Jaka Soka tak luput pula dari perasaan itu. Heran dan berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih ingat akan keselamatan diri. Sehingga dengan diam-diam ia mencari kemungkinan, ke mana ia harus melarikan diri. Sebab apabila Pasingsingan yang sepasang itu terlibat pula dalam pertempuran, serta apabila kemudian Mantingan dan kawan-kawannya telah berhasil menguasai diri mereka, bersama-sama menyerangnya, maka sulitlah baginya untuk bertahan. Padahal ia masih ingin menikmati kebesaran sebagai pimpinan bajak laut yang disegani.

JAKA SOKA tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan golongan hitam yang lain. Dengan laskar Mentaok, Rawa Pening, Gunung Tidar dan lain-lainnya di Pamingit. Karena itu selama ia masih mendapat kemungkinan, ia harus menyingkir dari halaman itu. 

Sementara itu Pasingsingan Guru Lawa Ijo telah mempersiapkan dirinya pula. Ia melihat betapa sahabatnya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang menentukan. Karena itu ia menggeram dengan marahnya, “Lihatlah betapa orang yang berani menyebut dirinya Pasingsingan itu akan hancur lumat oleh cemeti Sura Sarunggi.”

Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih berdiam diri, meskipun ia mengikuti pertempuran itu dengan seksama. Namun tak ada tanda-tanda padanya, bahwa ia pun akan segera mulai bertempur.

Tetapi justru karena itulah maka guru Lawa Ijo itu menjadi semakin gelisah. Untuk merapati kegelisahannya, ia berkata, “Hai orang yang sombong, yang berani mengaku bernama Pasingsingan, bersiaplah menghadapi saat-saat terakhirmu.”

“Jangan berkata demikian,” jawabnya perlahan-lahan, “Apakah kau juga sekasar Sura Sarunggi itu?” 

“Jangan mencoba melunakkan hatiku,” sahut guru Lawa Ijo. “Aku tahu bahwa hatimu tak selunak yang aku harapkan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. “Tetapi jangan terlalu lama mengelabuhi dirimu. Aku yakin bahwa kau telah mengenal aku.”

Dada guru Lawa Ijo berdesir keras. Tetapi ia takut melihat kepada dirinya sendiri. Ia menjadi takut, bahwa akhirnya ia benar-benar menyadari keadaannya. Karena itu ia berteriak, “Jangan mencoba meringankan kesalahanmu. Bersiaplah aku akan mulai.”

“Umbaran…” tiba-tiba terdengar suara yang lunak, selunak suara seorang kakak terhadap adiknya. Mendengar nama itu, darah guru Lawa Ijo serasa berhenti mengalir. Telah bertahun-tahun ia tidak mendengarnya orang memanggil nama yang diberikan oleh ayah bundanya. Ia lebih senang dan bangga apabila orang menyebutnya dengan ketakutan, “Pasingsingan.” Karena itu tiba-tiba ia menjadi bingung.

Dalam kebingungan itulah ia berteriak, “Jangan mengigau. Umbaran telah mati. Aku, Pasingsingan, yang telah membunuhnya.”

“Ya, Umbaran telah tak ada lagi,” jawab orang berjubah itu, “Yang ada kemudian adalah Pasingsingan. Tetapi, baginya masih ada jalan kembali.”

“Diam!” bentak guru Lawa Ijo. Darahnya yang beku itu tiba-tiba mendidih kembali. Radite dan Anggara yang lenyap dari percaturan orang-orang sakti itu tak akan mampu menambah ilmunya. Karena itu, ia pasti akan dapat mengatasinya. Tetapi ia menjadi gelisah kembali ketika orang yang dibentak-bentaknya itu masih tetap tenang dan berkata, “Jangan marah Umbaran. Aku datang kepadamu dengan maksud baik. Kau masih mempunyai kesempatan kembali ke perguruan kita. Guru kita yang bergelar Pasingsingan dengan cita-cita yang putih.”

“Diam!” Pasingsingan berteriak semakin keras. “Sayang, bahwa kau tak dapat mengikuti jejaknya. Kau tak mampu menangkap ajaran- ajarannya, sehingga kau salah duga terhadapnya. Kau menganggap bahwa guru kita telah kehilangan kegairahannya terhadap hidup dan kehidupan. Karena itu kau memilih jalanmu sendiri.”

“Omong kosong,” bantah guru Lawa Ijo, “Apakah kau selama ini juga mentaati ajaran-ajarannya? Apakah kau selama ini bersih dari noda-noda yang dilemparkan oleh kehidupan disekitar kita kepadamu?”

“Tidak, Umbaran,” jawab orang itu. “Aku merasa, betapa kotornya hati dan ragaku. Namun aku telah berusaha untuk mengurangi kesalahanku, setidak-tidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan baru yang akan menambah beban kehidupan sukmaku.”

“Aku bukan orang yang puas dengan keadaanku sekarang. Tetapi aku berhak menuntut masa depanku sebaik-baiknya,” kata guru Lawa Ijo. “Aku bangga terhadap mereka yang berjuang buat masa depannya. Namun mereka jangan mengorbankan masa depan orang lain sebagai pupuk bagi masa depannya itu.” Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, namun cukup jelas bagi guru Lawa Ijo. Kata demi kata, yang seolah-olah menyusup ke tulang sungsumnya. Tetapi hatinya yang selama ini telah dibalut oleh nafsu yang bergelora berlebih- lebihan, kini benar-benar telah menjadi sekeras batu, meskipun dengan sekuat tenaga ia berusaha membendungnya. Bahkan akhirnya ia berkata lantang,

“Jangan menggurui aku. Guruilah dirimu sendiri. Bukankah kau menjelang kebahagiaan masa depanmu dengan mengorbankan orang lain pula? Manakah perempuan yang aku hadiahkan kepadamu itu? Bukankah ia mati karena ketamakanmu?”

“Umbaran!” potong orang berjubah yang berdiri disamping Mantingan. “Aku minta jangan kau sebut-sebut itu lagi.”

“Ha, kau menjadi ketakutan? Kau lihat noda-noda yang melekat di tubuhku, namun tak kau lihat kotoran-kotoran yang bergumpal-gumpal di wajahmu? Di pelupuk matamu? Mana perempuan itu? Mana…?”

“Jangan kau sebut itu, Umbaran,” kata orang itu. “Biar, biar aku ulang seribu kali,” sahut guru Lawa Ijo. “Perempuan itu kau tukar dengan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan kita. Dan kau berjanji tidak akan mengganggu gugat lagi. Sekarang perempuan itu mati. Mati. Mati….”

“Cukup!” potong orang itu keras-keras. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya. Tangan kirinya perlahan-lahan diangkatnya mengusap dadanya yang bergelora.  

PASINGSINGAN guru Lawa Ijo itu tertawa panjang sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia tertawa dan tertawa untuk memuaskan hatinya. Sambil menunjuk kepada Sura Sarunggi dan lawannya ia berkata, “Lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Anggara, penjagamu itu. Lihatlah, sebentar lagi ia akan binasa.”

Orang yang berdiri di samping Mantingan itu tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya, dan memandang kepada adik seperguruannya yang sedang bertempur.

Mereka berputar-putar dengan lincahnya, lontar-melontar seperti sepasang garuda yang sedang berlaga. Tangan mereka berkembang seperti sayap dengan senjata masing-masing.

Cemeti Sura Sarunggi meledak-ledak mengerikan, sedangkan sinar kuning pisau belati lawannya menyambar-nyambar seperti petir di langit yang kelam. Ujung cemeti Sura Sarunggi itu seolah-olah memiliki penglihatan, ke mana ia harus mematuk. Namun ujung belati lawannya seperti mempunyai mata, yang dapat melihat setiap serangan dari arah manapun juga.

Maka pertempuran itu menjadi semakin dahsyat dan dahsyat. Sura Sarunggi bertempur dengan kasar dan bengis, sedang Anggara melayaninya dengan tangkas dan tangguh.
Ketika mereka sudah berkelahi beberapa saat, Sura Sarunggi menjadi semakin heran. Lawannya dapat bertempur dengan gigihnya. Bahkan beberapa macam geraknya telah dikenalnya. Mirip dengan Pasingsingan sahabatnya itu. Karena itu timbullah beberapa pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang ini benar-benar Pasingsingan…?

“Tidak mungkin!” Pertanyaan itu dibantahnya sendiri.

Anggara pada saat itu memang sengaja bertempur dengan ciri-ciri perguruan Pasingsingan. Ia sengaja menunjukkan, bahwa dirinyapun memiliki ilmu seperti ilmu-ilmu ajaib dari orang yang bernama Pasingsingan itu. Bahkan beberapa gerak diulangnya supaya menjadi jelas bagi lawannya.

Guru Lawa Ijo masih tertawa keras-keras. Dan Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih memandangi Sura Sarunggi dan Anggara.

“Jangan membeku seperti batu,” tegur Umbaran, “Sekarang apa katamu?”

Orang yang bernama Radite itu perlahan-lahan menoleh ke arah Umbaran, jawabnya, 

“Marilah kita lupakan masa lampau. Marilah kita bina bersama masa depan perguruan kita.”
“Masa depanku jauh berbeda dengan masa depanmu. Jangan mengigau lagi. Pergi dan 

bawa adikmu itu, atau kau berdua binasa.” Umbaran meneruskan, “Jangan mimpi aku berlutut di bawah kakimu dan menyerahkan perempuan untuk kedua kalinya.”

“Jangan bicara tentang perempuan!” Radite membentak. Kesabarannya telah menjadi semakin tipis. Hatinya yang luka karena perempuan, kini terungkap kembali.

“Aku bicara tentang perempuan, supaya kau teringat kembali akan perjanjian kita. Kita tidak akan saling mengganggu,” sahut Umbaran.

“Aku tidak akan mengganggu gugat pusaka-pusaka yang telah kau miliki, ciri-ciri khusus Pasingsingan yang kau pakai, sedang kau tak akan mengganggu gugat perempuan itu,” jawab Radite. “Tetapi aku berhak mengganggu gugat segala perbuatanmu yang terkutuk.”

“Kau iri hati,” kata Umbaran.

“Tidak,” jawab Radite, “Aku mempunyai kepentingan sendiri. Aku tidak mau menanggung beban dosamu lebih banyak lagi karena kesalahanku, menyerahkan kesaktian Pasingsingan kepadamu. Sebab dengan demikian kau telah menarik diri dari persahabatanku dengan Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Angganten dan lain-lain. Bahkan kau telah menempatkan dirimu sebagai lawan. Nah, aku akan menghentikan semuanya itu.”

“Ha, itulah akibat nafsu gilamu kepada perempuan?” jawab Umbaran. Sengaja ia ingin memanaskan hati Radite. Mempengaruhinya dengan kelemahan-kelemahannya.

Tetapi dengan demikian Radite menjadi marah. Peristiwa itu adalah peristiwa yang paling pedih dalam hidupnya, karena itu setiap kali ia dihadapkan pada kenangan itu, setiap kali ia kehilangan kesabaran.

“Umbaran…” kata Radite dengan lantang, “Kesabaran seseorang ada batasnya. Jangan menunggu demikian.”

Umbaran menjadi berdebar-debar. Apakah Radite benar-benar akan marah dan menyerangnya? Tetapi tak ada pilihan lain. Sura Sarunggi telah bertempur dengan gigihnya.

Keduanya berdiri tegak dengan tenangnya. Radite masih berusaha menguasai perasaannya, sedang Umbaran menjadi berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang berat.

Ia tidak segarang biasanya, yang langsung menikam lambung lawannya. Kali ini ia benar-benar memperhitungkan keadaan. Karena keragu-raguannya itulah ia masih berdiri tegak.

Ketika keduanya sedang berusaha menekan perasaan masing-masing, tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi kentongan, yang dipukul bergelombang-gelombang. Rog-rog asem.

“Setan,” desis Pasingsingan, “Mereka datang.”

Radite mengangkat wajahnya. Lamat-lamat terdengar kentongan itu menjalar. Ia tidak tahu tanda apakah itu. Karena itu, ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan.

Namun karena itulah maka Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi bertambah bingung. Akhirnya ia kehilangan kejernihan dan kelicinan otaknya. Ia tahu benar, bahwa tanda itu mengabarkan kedatangan orang Banyubiru atau Pamingit. Mahesa Jenar atau Sora Dipayana dan kawan-kawannya. Akhirnya ia menjadi mata gelap. Sebab menyingkirpun tak ada kesempatan.

Karena itu, tanpa diduga-duga, ia meloncat dengan garangnya sambil berteriak nyaring. Pedangnya berkilauan menyambar leher Radite.

RADITE terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba itu. Sebenarnya ia masih mengharap agar mereka tidak perlu mempergunakan kekerasan, apalagi dengan tetesan darah. Tetapi Umbaran telah menyerangnya. Dengan demikian ia tak dapat berbuat lain daripada melawannya. Maka sesaat kemudian kedua Pasingsingan itupun telah bertempur pula. Masing-masing memegang pisau belati panjang di tangannya.

Umbaran dan Radie adalah dua orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari guru yang sama. Karena itu merekapun bertempur dengan ilmu yang sama pula. Tetapi ilmu mereka masing-masing telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan pengaruh keadaan dan waktu.

Ilmu Pasingsingan Umbaran telah berubah menjadi semakin kasar, keras dan kejam. Sedang ilmu Radite masih tetap dalam tataran yang bersih. Meksipun demikian tidak berarti bahwa Umbaran telah melampaui Radite dalam ketahanan tempurnya.

Dalam beberapa saat mereka telah lenyap dari bentuk mereka. Yang tampak hanyalah pusaran yang kelam dari jubah mereka yang abu-abu, di sela oleh cahaya kuning yang menyambar-nyambar mengerikan.

Umbaran yang mata gelap, bertempur dengan darah yang bergelora. Hatinya benar-benar telah dikuasai oleh nafsu yang ganas. Dan dari hidungnya seolah-olah terhirup udara maut. Dengan berteriak-teriak nyaring ia meloncat-loncat, menyerang dengan sengitnya. Pisaunya berputar-putar mengarah ke segenap bagian-bagian tubuh Radite.

Dalam kesibukan pertempuran antara hidup dan mati itu, terdengar Umbaran berteriak, “Kalau kau masih belum mampu melenyapkan diri dari tangkapan mataku, jangan mengharap keluar dari halaman ini dengan ragamu.”

Radite diam saja. Namun ia bertempur terus. Sebenarnya dalam lekuk-lekuk hatinya yang terdalam, masih juga bermunculan perasaan sesal dan ngeri atas apa yang pernah terjadi pada dirinya. Tukar-menukar kehormatan. Tetapi ia sadar pula, bahwa apabila ia tidak cawe-cawe, maka Pasingsingan yang bernama Umbaran itu akan banyak menimbulkan bencana.

Kalau benar-benar ia berhasil memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka keadaan akan sangat berbahaya. Ia dapat menghadap Sultan Demak dengan laskar segelar sepapan, dan memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan, setelah ia menyatakan diri sebagai pemilik pusaka-pusaka sipat kandel itu.

Dengan landasan kekuatan golongan hitam dan daerah-daerah yang didudukinya, beserta kesesatan pandangan beberapa orang kawula Demak atas kepercayaan mereka, bahwa siapa yang memiliki Nagasasra Sabuk Inten akan mampu merajai Nusantara, maka Umbaran akan mendapatkan pengikut-pengikutnya.

Atau orang yang berotak licin itu dapat menempuh jalan lain. Ia dapat menggerakkan laskar hitam untuk menimbulkan bencana. Sebagai Pasingsingan, ia dapat menggulung daerah demi daerah. Namun kemudian sebagai Umbaran yang berwajah manis, ia menghadap Sultan dengan menyerahkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan demikian ia akan mendapatkan banyak kepercayaan dari Sultan. Akhirnya ia dapat melawan kekuasaan Demak dari luar dan dari dalam. Sementara itu ia harus mencuri keris-keris itu kembali.

Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin sengit. Masing-masing bertekad untuk memenangkan pertempuran. Meskipun Umbaran bertempur dengan kasar dan bengis, namun Radite bukan anak-anak yang baru dapat berdiri. Radite memiliki kematangan ilmu melampaui Umbaran, meskipun pada dasarnya Umbaran berguru lebih dahulu kepada Pasingsingan Sepuh.

Tetapi karena Umbaran kurang dapat menepati ajaran-ajaran gurunya, maka akhirnya ia terpaksa menghentikan usahanya mengisap ilmu yang luar biasa itu. Dan kini, dua orang murid dari perguruan yang sama itu berhadapan dan bertempur mati-matian.
Selain mereka yang bertempur, tak seorangpun yang menggerakkan tubuhnya oleh ketegangan yang semakin memuncak. Perhatian mereka seolah-olah terikat erat-erat pada pertempuran itu.

Kesempatan yang demikian itulah yang ditunggu Jaka Soka. Kalau ia terlambat mempergunakan waktu, sehingga Mantingan dan kawan-kawannya berhasil menguasai diri mereka, maka akan celakalah nasibnya. Dengan diam-diam dan sangat hati-hati ia berkisar, setapak demi setapak. Ia telah menemukan arah yang baik untuk menyembunyikan diri dan kemudian meninggalkan tanah perdikan yang seolah-olah menjadi panas, sepanas bara api baginya. Maka, dengan tidak menarik perhatian, akhirnya Jaka Soka berhasil menyelinap ke dalam gelap dan kemudian menghilang dari halaman itu.

Bagi Jaka Soka, lebih baik hidup di antara anak buahnya dan perempuan-perempuan yang dikumpulkan selama ini, daripada mati di Banyubiru. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang atasnya. Apakah orang akan mengatakannya pengecut, apakah penakut, ia tidak keberatan. Sebab pada dasarnya, meskipun golongan hitam itu nampaknya bekerja bersama-sama, namun mereka sama sekali tak memiliki kesetiakawanan yang jujur. Apabila mereka terbentur pada kepentingan diri, maka kepentingan bersama dapat dianggapnya tidak berlaku.

Sementara itu, Arya Salaka memacu kudanya seperti angin topan. Meskipun demikian, tarasa betapa lambatnya perjalanan itu. Kuda yang dinaikinya betapa malasnya, sehingga berkali-kali ia terpaksa mencambuknya.

Ketika dari kejauhan tampak api yang menyala, terdengar giginya gemertak. Tangannya yang memegang tombak pusaka Banyubiru terasa gemetar. Ia menjadi marah sekali. Ia menyesal, bahwa ia terlambat.

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara berpacu di belakangnya. Kedua orang itu pun tak kalah gelisahnya. Juga kedua orang itu menyesal kenapa Sawung Sariti tidak segera mengabarkan kepada mereka, bahwa ada serombongan orang-orang dari golongan hitam yang pergi ke Banyubiru. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memacu kuda mereka dengan darah yang bergolak. Suara kaki-kaki kuda mereka berderap memecah sepi malam di atas tanah-tanah berbatu padas. Orang-orang yang menutup pintu serapat-rapatnya di tepi-tepi jalan, menjadi semakin gelisah mendengar derap kuda itu. Mereka memeluk anak-anak mereka semakin erat di dada mereka sambil berdoa, semoga Yang Maha Kuasa melindungi mereka dari bencana. Arya Salaka melihat dua tiga orang menyelinap ke halaman ketika kudanya menghambur terbang, tetapi ia tidak memperdulikannya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak begitu tertarik kepada orang-orang itu. Tetapi ketika kemudian terdengar bunyi kentongan, mereka menyesal. Agaknya orang-orang itu adalah para pengawas, yang harus mengamat-amati kedatangan orang-orang Banyubiru. Namun mereka tak dapat memutar kuda mereka kembali. Dengan demikian waktu mereka akan semakin habis. Ketika Arya Salaka akan membelok ke arah api yang menyala-nyala, terdengar Mahesa Jenar berteriak, “Terus ke rumahmu, Arya.”

Arya menarik kekang kudanya sekuat-kuatnya, sehingga kuda itu meringkik dan berdiri tegak di atas kedua kaki belakangnya. “Api,” jawab Arya. Pada saat itu kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berlari disampingnya, tidak ke arah api itu. Dan terdengarlah suara Mahesa Jenar tanpa menghentikan kudanya, “Itu adalah suatu cara untuk memancing kita. Aku telah mengenal akal itu”.

Kembali Arya Salaka menggeretakkan giginya. Dengan cepatnya ia mencambuk kudanya dan berlari mengikuti gurunya. Mereka langsung pergi ke rumah kepala daerah perdikan yang sedang diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Ketika mereka semakin lama menjadi semakin dekat, maka dada merekapun semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, Arya masih belum sadar benar akan keadaannya, sehingga dengan berteriak ia bertanya, “Bagaimana dengan api itu paman?”.

Mahesa Jenar menoleh. Dilihatnya Arya telah menyusul dekat dibelakangnya, “Jangan perdulikan”, jawabnya “mereka hanya ingin menarik perhatian kita. Tempat yang menyala itu adalah tempat-tempat yang tak berarti. Mudah-mudahan laskarmu telah berusaha untuk menyelesaikannya. Bukankah api itu telah surut?”. “Ya”, sahut Arya. Ia mengerti sekarang, bahwa bahaya yang sebenarnya tidak terletak di daerah api itu. Demikianlah mereka bertiga memacu kuda-kuda mereka semakin cepat dan cepat. Mereka berpacu bersama angin basah yang bertiup menghanyutkan awan yang kelabu. Kilat memancar-mancar di udara seperti sedang bersabung, diantar oleh bunyi guruh yang menggelegar memukul tebing-tebing perbukitan. Arya Salaka menjadi tidak sabar lagi. Ketika ia melihat sepasang beringin di alun-alun, hatinya seperti meronta-ronta. Tetapi dimuka regol rumahnya tak dilihatnya apapun yang mencurigakan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Arya Salaka. Karena itu mereka menghentikan kuda-kuda mereka dimuka halaman. Mereka harus memasuki halaman itu dalam kesiagaan penuh. Namun Arya Salaka tidak sempat berpikir demikian. Ia langsung melampaui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara di atas kudanya yang masih berlari seperti di kejar hantu. 

“Arya!”, teriak Mahesa Jenar. 

Tetapi Mahesa Jenar tak mampu menghentikannya. Seperti anak panah Arya langsung menyerbu masuk ke halaman. Di halaman itu masih bertempur dengan sengitnya, Sura Sarunggi melawan Anggara, dan Umbaran melawan Radite. Mereka bertempur dalam tingkat tertinggi dari ilmu-ilmu mereka. Yang paling gelisah dari mereka adalah Umbaran. Ia sadar sesadar-sadarnya, apabila datang orang-orang Banyubiru, maka akan berakhirlah kisah petualangannya. Karena itu, dalam kegelisahannya ia sempat memperhitungkan keadaan. Ia harus bertindak cepat dan menguntungkan. Karena itu ia memutuskan untuk membunuh salah seorang lawannya atau orang-orang Banyubiru yang datang untuk mengurangi lawannya. Sesudah itu, kalau perlu ia akan melarikan diri saja, meskipun kemungkinannyapun tipis pula. Tetapi kalau ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, ia akan dapat mempengaruhi keadaan, meskipun hanya sekejap. Dan kelebihan waktu yang sekejap itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.

Demikianlah ketika ia mendengar derap kuda langsung memasuki halaman, ia melontar mundur beberapa langkah, kemudian dengan tak terduga Umbaran berteriak keras-keras, dan pisau belati panjangnya meluncur seperti tatit ke dada Arya Salaka. Arya terkejut melihat sinar kuning menyilaukan terbang kearahnya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk mengelak. Kudanya sendiri berlari cepat menyongsong sinar yang berkilat-kilat itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut bukan kepalang. Maut yang menyambar itu demikian cepatnya sehingga mereka tak mampu berbuat apa-apa, selain berteriak keras, “Arya, bungkukkan badanmu”.

ARYA SALAKA telah kehilangan keseimbangan perhitungannya. Karena itu tak ada yang dapat dikerjakan. Ia mencoba membungkuk merapat ke punggung kuda, namun pisau itu telah dekat sekali. Tetapi tak sempat dilihatnya adalah sambaran pisau yang kedua. Pisau belati panjang yang seakan-akan mengejar pisau yang pertama. 

Pisau inipun tak kalah cepatnya, meluncur dari arah yang lebih rendah dari pisau yang pertama, sehingga kedua pisau itupun seperti kilat di langit yang sambar menyambar. Tuhan adalah penentu dari semua kejadian. Demikianlah pisau itupun tak terlepas dari pengaruh tanganNya. Pisau belati yang kedua, yang dilemparkan oleh Pasingsingan yang seorang lagi, meluncur dari arah yang berbeda serta lebih rendah dari arah pisau yang pertama, berhasil mengenai pisau yang pertama.

Sentuhan itu dapat mempengaruhi arah pisau-pisau itu. Sehingga dengan demikian, selisih arah yang hanya setebal jari mengukit arah yang pertama, telah menyelamatkan Arya Salaka. Meskipun ia belum berhasil merapatkan tubuhnya sepenuhnya, namun pisau-pisau itu tak menyentuh kulitnya. Hanya ikat kepalanya sajalah yang tersambar dan terbawa oleh pisau-pisau itu. Namun meskipun demikian, dada Arya Salaka berdesir keras. Ia menggeram sambil menggigit bibirnya. Maut serasa telah hinggap diujung rambutnya.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpekik kecil. Mereka meloncat bersama-sama maju, namun kemudian mereka melihat Arya Salaka masih duduk di atas punggung kudanya yang meluncur cepat di halaman itu, yang kemudian melingkar memutar di samping gandok. 

“Bagaimana kau Arya ?”, teriak Mahesa Jenar. Nafas Arya masih meloncat-loncat tak teratur. Dadanya berdebar cepat dan jantungnya seperti berdentang-dentang. Namun ia sempat menjawab terbata-bata, “Baik paman”.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas panjang. Tetapi kelegaannya itu tidak terlalu lama. Mereka ditegangkan kembali oleh kenyataan yang dilihatnya dihalaman. Dalam remang-remang cahaya obor di pendapa, mereka melihat Mantingan, Wilis, Widuri dan Wirasaba berdiri dalam satu kelompok hampir berhimpitan dengan kaku, di pendapa mereka melihat Wanamerta duduk lemas seperti orang yang kehilangan akal, sedang Sendang Parapatpun duduk bersandar tiang. Tangannya memegang senjatanya, namun senjata itu terkulai di lantai. Sedang beberapa penjaga diregol jatuh tersungkur di tanah, dan mereka yang berada di gardu telah kehilangan kemampuan bergerak. 

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka menjadi semakin terkejut ketika mereka melihat dua lingkaran pertempuran.

Dan hampir-hampir dada mereka meledak ketika mereka melihat tiga orang yang memakai jubah abu-abu dan bertopeng kasar.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi”, gumam Mahesa Jenar. Kebo Kanigara berdiam diri. Keningnya berkerut-kerut. Umbaran ternyata telah menyerang Radite dengan membabi buta, ketika ia tidak berhasil membunuh Arya Salaka. Pada saat itu, ia telah mencoba untuk melarikan diri, namun Radite bukan anak-anak yang dapat dikelabuhinya, sehingga dengan beberapa loncatan ia telah berhasil menahan Pasingsingan yang menghantui Demak pada saat itu. Tiba-tiba halaman itu digetarkan oleh pekik kecil. Widuri tiba-tiba berhasil menguasai kesadarannya, ketika dilihatnya ayahnya memasuki halaman. Kemudian ia meloncat maju. Mula-mula ia seperti melihat malaikat hadir di halaman itu. Maka ketika ayahnya berdiri tegak mengamati keadaan, ia menghambur lari kepadanya, “Ayah”, panggilnya. Seperti anak ayam yang terancam elang, Widuri bersembunyi di balik sayap-sayap induknya. Kebo Kanigarapun menjadi terharu karenanya. Meskipun ia tidak melepaskan perhatiannya kepada keadaan sekelilingnya, namun dipeluknya anak itu erat-erat. Pada saat itu Rara Wilis pun menjadi bertambah tenang, sebab mereka masih dapat mengharap perlindungan dari orang-orang yang dibanggakannya. Demikianlah ketegangan yang mencekik leher orang-orang di halaman itu menjadi semakin terurai. Kedatangan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka benar-benar telah membebaskan mereka dari kecemasan. Bukan karena mereka cemas dan takut bahwa mereka akan terbunuh, namun mereka cemas dan takut bahwa mereka tidak dapat mempertahankan pusat pemerintahan Banyubiru, dan karena itulah kini mereka yakin bahwa Banyubiru akan dapat diselamatkan. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih berdiri tegak tak bergerak. Hanya pandangan mata mereka sajalah yang beredar dari satu titik ke titik yang lain. Ketika kemudian mata Mahesa Jenar bertemu pandang dengan Rara Wilis berdesirlah hatinya. 

Rara Wilis kemudian menundukkan wajahnya, namun hatinya melonjak. Pada wajah gadis itu, Mahesa Jenar dapat melihat ketegangan yang selama itu mencekam hatinya.

Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara bergumam perlahan-lahan, “Widuri, apakah yang terjadi? Bukankah kalian selamat?”.-b  

WIDURI tidak senakal dan semanja biasanya. Kini benar-benar ia berusaha menempatkan diri. Karena itu ia menjawab perlahan-lahan, “Tiga hantu bertemu di sini, Ayah. Ditambah seorang lagi, yang datang bersama salah seorang dari hantu-hantu itu.”

Kebo Kanigara menarik nafas. Ia menjadi ragu, apakah yang harus dilakukan. Tetapi disamping itu, ia pun bersyukur kepada Yang Maha Agung bahwa anak serta sahabat-sahabatnya telah diselamatkan. Berbeda dengan Mahesa Jenar. Ia telah memiliki beberapa pengetahuan yang lebih banyak daripada Kebo Kanigara. Ia telah mengenal lebih dalam mengenai Pasingsingan.

Karena itu cepat otaknya bekerja dan menemukan pemecahan dari teka-teki yang dihadapinya. Teringatlah ia kepada ketiga murid Pasingsingan yang bernama Radite, Anggara dan Umbaran.

Teringatlah ia kepada dua orang petani yang bernama Paniling dan Darba di Pudak Pungkuran. Karena itu Mahesa Jenar segera mengetahui bahwa kedua orang berjubah abu-abu di antara mereka adalah Radite dan Anggara, sedang yang lain adalah Umbaran. 

Mahesa Jenar juga memastikan bahwa yang bertempur melawan Sura Sarunggi itu adalah salah seorang dari kedua petani dari Pundak Pungkur itu, sedang yang bertempur di antara dua orang yang berpakaian mirip itu adalah Umbaran melawan salah seorang saudara seperguruannya. Tetapi yang manakah di antara keduanya yang bernama Radite dan yang manakah yang Umbaran? Karena itulah kemudian Maheswa Jenar berbisik kepada Kebo Kanigara, “Kakang, ingatkah Kakang kepada dua orang petani di Pudak Pungkuran?”

“Ya,” sahut Kebo Kanigara. Sebenarnya ingatannya pun mulai merayap kepada kedua orang petani itu. Karena itu, pertanyaan Mahesa Jenar telah mendorongnya kepada suatu kepastian tentang tiga orang hantu berjubah abu-abu itu.

“Tuhan Maha Besar,” Mahesa Jenar meneruskan, “Mereka datang kemari pada saat yang tepat. Karena salah seorang dari mereka itu pulalah maka Arya Salaka dapat diselamatkan.”

“Ya,” jawab Kebo Kanigara. Pada saat itu dua buah pisau belati panjang yang berwarna kuning terbang ke arah Arya Salaka. Baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara melihat salah seorang dari mereka berjongkok. Orang itulah yang telah menolong Arya dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh yang lain. Dan orang itulah pasti salah seorang dari Radite atau Anggara. Tetapi ketika kemudian keduanya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang riuh, maka mereka tidak dapat mengenal lagi yang manakah di antara keduanya yang telah menolong Arya. Karena itu mereka tidak dapat segera berbuat sesuatu, sebelum memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan sebaik-baiknya. 

Namun Mahesa Jenar tidak mencemaskan keadaan. Ia yakin bahwa Radite dan Anggara akan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Di Rawa Pening dahulu, Sima Rodra dan Pasingsingan tak mampu melawan kedua orang itu pula, sedangkan pada saat itu Radite dan Anggara harus menyembunyikan gerak-gerak khusus dari perguruan Pasingsingan. 

Apalagi kini mereka dapat bergerak dengan leluasa tanpa pengendalian diri. Mereka tidak perlu takut-takut bahwa mereka akan dikenal, sebab agaknya kehadiran mereka pada saat itu dengan ciri-ciri kekhususan mereka, adalah karena Radite dan Anggara telah menemukan suatu cara pemecahan.

Karena itulah akhirnya Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara malahan berkisar menepi. Arya pun telah turun dari kudanya. Kini jantungnya telah tidak berdentang-dentang lagi. Ia berdiri tidak jauh dari gurunya, sambil memperhatikan setiap keadaan. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ada tiga orang yang berjubah dan bertopeng. Sedang sepasang di antaranya saling bertempur.

Pertempuran di halaman itu semakin sengit, Sura Sarunggi mengumpat di dalam hati. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara benar-benar mempengaruhi perasaannya. Ia telah melihat sendiri apa yang telah dialami oleh Sima Rodra dan Nagapasa. Kedua orang itu pulalah yang telah membinasakan mereka. Sedang kini tiba-tiba ada setan, gendruwo, thethekan yang mengganggu. Orang berjubah itu benar-benar mengacaukan rencana. Kalau tak ada mereka, ia pasti akan berhasil menghindari pertempuran ketika didengarnya kentongan rog-rog asem. Tetapi sekarang tak ada kesempatan untuk meninggalkan halaman itu.

Tetapi justru karena itulah maka Sura Sarunggi, seorang yang mempunyai nama yang besar di antara mereka, yang tahu akibat-akibat dari perbuatannya, menjadi semakin marah. Senjatanya meledak-ledak seperti guruh di langit. Menyambar, melingkar, mematuk mengerikan. Senjata itu dapat menyerang lawannya tidak saja dari muka atau dari samping, tetapi ujungnya tiba-tiba dapat mematuk pula dari arah punggung lawannya.

Untunglah yang melawannya adalah Anggara yang memiliki kelincahan melampaui ujung cemeti itu. Setiap kali ia meloncat-loncat menghindari dari ujung senjata lawannya itu, selincah sikatan menyambar belalang di rerumputan. Bahkan ujung pisaunya pun mematuk-matuk mengerikan, seolah-olah telah berubah menjadi puluhan, bahkan ratusan pisau yang bergerak bersama-sama.

Kemudian Sura Sarunggi itu tidak lagi memperhitungkan apa yang akan terjadi atas dirinya. Tetapi yang ada dibenaknya adalah bertempur mati-matian untuk membinasakan orang yang telah berani merusak rencananya itu. Sesudah itu, apakah ia harus mengalami nasib seperti Sima Rodra, apakah ia masih akan bernasib baik, tidaklah menjadi soal baginya. Demikianlah pertempuran antara Sura Sarunggi dengan Anggara segera mencapai saat-saat yang menentukan.  

KETIKA Anggara melihat lawannya berjuang pada tataran terakhir, ia pun segera memusatkan segela kemampuannya. Sehingga lambat laun, tampaklah bahwa petani miskin dari Pudak Pungkuran itu dapat mendesak lawannya. Sambil menggeram marah, Sura Sarunggi berusaha untuk melepaskan segala kesaktiannya. Namun ternyata Anggara memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Sehingga akhirnya Sura Sarunggi tak dapat berbuat lain daripada melepaskan ilmu terakhir, yang dinamainya Uler Kilan.

Ilmu yang luar biasa dahsyatnya. Meskipun pada dasarnya ilmu ini adalah ilmu gerak, namun Uler Kilan memiliki daya keampuhan yang nggegirisi. Sentuhan-sentuhan ilmu ini dapat menyebabkan lawannya menjadi nyeri dan panas, seperti tersentuh oleh ulat yang paling berbahaya berlipat seperti tersentuh oleh bisa ulat yang paling berbahaya berlipat seribu. 

Dengan berteriak nyaring, Sura Sarunggi melenting tinggi. Kemudian menyambar lawannya dengan tangannya yang mengembang. Sedang tangannya yang lain masih juga mempermainkan cambuknya yang meledak-ledak mengerikan. Anggara yang melihat perubahan gerak lawannya, segara mengetahui, bahwa orang yang berkepala besar itu telah melepaskan ilmu terakhirnya.

Karena itu, iapun melontar mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Sebab, sudah pasti, untuk melawan ilmu sakti itu, ia pun harus mempergunakan rangkapan pula. Sura Sarunggi kemudian bertempur benar-benar seperti Ular Kilan. Jauh berbeda dengan gerak-gerak sebelumnya. Ia melenting-lenting dari satu tempat ke tempat lain dengan loncatan-loncatan panjang. Kemudian kembali ia menyerang dengan telapak tangannya. 

Disusul dengan ledakan cambuknya memecah desir angin malam. Akhirnya Anggara pun tak mempunyai pilihan lain. Dalam sesaat ia telah berhasil membangun diri dalam kekuatan rangkapannya. Ilmu yang disusunnya bersama-sama dengan kakak seperguruannya, Radite, berdasarkan ilmu yang diterimanya dari gurunya. Ilmu yang tak kalah ampuhnya, yang dinamai Naga Angkasa.

Tiba-tiba Anggara dalam pakaian Pasingsingan itu mengembangkan tangannya, seperti seekor burung garuda. Jubahnya seolah-olah menjadi sayap-sayap yang selalu bergerak-gerak ditiup angin. Dalam kesiagapan tertinggi ia menanti lawannya menyerangnya kembali. Demikianlah kedua orang itu bertempur dalam tingkatan terakhir. Sura Sarunggi menjadi heran, kenapa Pasingsingan ini tak melepaskan aji Gelap Ngampar atau Alas Kobar, tetapi ia lebih senang melawan ilmunya dengan ilmu gerak pula.

Namun Naga Angkasa pun membawa udara yang aneh, yang seolah-olah mempengaruhi kesadaran lawannya. Naga Angkasa tidak sepanas Alas Kobar, namun pengaruhnya jauh melampauinya, sehingga dengan demikian, terasa bahwa ilmunya sendiri, Uler Kilan menjadi susut daya kemampuannya.

Meskipun demikian, Sura Sarunggi bukan tokoh yang baru lahir kemarin sore. Berpuluh-puluh tahun ia menekuni ilmunya. Karena itu, didesaklah ilmu itu sampai tapis. Dengan demikian, maka perlawannyapun menjadi bertambah sengit. Namun kembali kepada sumber kekuatan, yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Bagaimanapun setan dan iblis berusaha membangun kerajaan dengan dalih apapun juga, namun akhirnya kekuasaan Tuhanlah yang akan menang. Dan akan mulailah kerajaan Sorga yang abadi.

Semakin lama, semakin jelas, bahwa Naga Angkasa yang dahsyat itu, benar-benar dapat mendesak ilmu yang dinamainya Uler Kilan. Meskipun demikian, Uler Kilan yang kasar dan bengis itu benar-benar merupakan ilmu terkutuk dan luar biasa. Apalagi kemungkinan Sura Sarunggi itupun mempergunakan ilmunya yang lain, yang disebutnya Welut Putih, yang dapat meluluri kulitnya dengan keringatnya, sehingga ia menjadi selicin belut.

Kemudian Anggara terpaksa untuk kedua kalinya melepaskan ilmunya yang lain, ilmu yang benar-benar diterima dari gurunya secara murni, Alas Kobar, setelah ia berusaha menjauhkan lawannya dari pendapa. Sebab ia sadar, bahwa Alas Kobar akan memancar ke segala arah, sehingga dengan demikian ia memerlukan jarak untuk membebaskan orang-orang lain dari pengaruhnya. Terasa kini oleh Sura Sarunggi, bahwa lawannya itupun benar-benar bernama Pasingsingan. Tetapi ia tetap tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Meskipun demikian ia tidak mau berpikir lebih banyak lagi. Ketika terasa udara panas menyerangnya, iapun segera membentengi diri, untuk membebaskan panas yang melibatnya.

Namun dengan demikian, terasa bahwa ilmunya menjadi semakin susut. Kemampuannya tidak sedahsyat mula-mula. Naga Angkasa yang dirangkapi Alas Kobar benar-benar menjadikannya cemas. Tetapi kini benar-benar ia tak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Karena itu, bagaimanapun juga, ia harus mengurai segenap kemampuannya. Bahkan akhirnya ia menjadi seolah-olah putus asa, dan bertempurlah ia membabi buta. Dalam keadaan yang demikian itulah, akhirnya Sura Sarunggi benar-benar kehilangan perhitungan.

Ketika Anggara menyerangnya dengan dahsyat, ia mencoba untuk mengelakkan diri dengan melenting tinggi. Uler Kilan itu benar-benar telah membebaskannya, namun ketika ia berusaha untuk menyerang lawannya dengan cambuknya di tangan kiri dan kekuatan-kekuatan ilmu gerak Naga Angkasa, ia berhasil menangkap ujung cambuk Sura Sarunggi. Direnggutkannya cambuk itu kuat-kuat, namun Sura Sarunggi tak akan melepaskan senjatanya. Memang hal itu telah diperhitungkan oleh Anggara. Dengan demikian, karena Anggara merasa bahwa Naga Angkasa dapat melampaui, setidak-tidaknya menyamai kekuatan lawannya, ia mempunyai kemenangan waktu. Sura Sarunggi tersentak selangkah maju, namun selangkah itu telah menentukan saat terakhirnya. Ketika ia meluncur maju, pada saat yang bersamaan, Anggara meloncat maju. Pisau belati panjangnya bergerak dengan cepatnya menyambar leher lawannya.  

TETAPI Sura Sarunggi tak mau mati. Dengan gerak naluriah, ia terpaksa melepaskan cambuknya dan membungkukkan diri. Kali ini ia terbebas dari sambaran pisau itu, tetapi untuk kedua kalinya Anggara menyerang dengan tangannya mengenai tengkuk lawannya. Kekuatan Anggara benar-benar mengagumkan. Meskipun saat itu Sura Sarunggi dalam lambaran ilmunya, namun dengan kekuatan Naga Angkasa, pukulan tangan Anggara benar-benar seperti sambaran petir yang menghantam dari langit.

Demikianlah maka pertempuran itu sampai pada akhirnya. Sura Sarunggi, seorang yang selama ini menjadi tempat berlindung beberapa orang dari golongan hitam di Rawa Pening, dan yang telah melahirkan dua orang kakak-beradik Uling Putih dan Uling Kuning ke dalam lingkungan golongan hitam, kini tak dapat menghindarkan diri dari terkaman maut. Karena pukulan tengan Anggara yang berlambaran ilmu dahsyat itulah, maka terdengar gemeretak tulang lehernya. Sekali ia menggeliat dan melenting tinggi, kemudian ia terjatuh beberapa langkah dari lawannya. Meskipun demikian ia masih berusaha berdiri dan dengan mata yang merah menyala-nyala ia mengumpat dalam bahasa kasar, “Setan belang, iblis laknat. Terkutuklah kau oleh jin dan peri….”

Kemudian Sura Sarunggi kehilangan segenap kekuatannya. Ia tak dapat mengumpat-umpat lagi, bahkan akhirnya ia terhuyung-huyung dan kemudian jatuh diam. Maut telah merenggutnya dari kehidupannya yang penuh dengan noda-noda hitam. Suaranya yang kasar dan keras itu telah mempengaruhi suasana di halaman itu. Semua orang menoleh kepadanya. Agak jauh di depan gelap mereka melihat orang berjubah itu berdiri tegak. Beberapa langkah di hadapannya terkapar lawannya.

Mantingan dan Wirasaba melihat peristiwa itu seperti peristiwa-peristiwa rentetan-rentetan kejadian-kejadian yang mengambang dalam hatinya. Ia menyaksikannya dengan perasaan yang kosong, setelah hatinya terampas oleh ketegangan yang terus-menerus. Meskipun demikian, sesuatu memancar di dalam dada mereka. Ketika melihat Sura Sarunggi jatuh tersungkur, menyalalah kelegaan di dada mereka. Sedang Rara Wilis dan Endang Widuri kini telah benar-benar menjadi tenang. Mereka telah dapat menilai, keadaan dengan baik. Mereka telah dapat meyakinkan diri mereka, bahwa Sura Sarunggi dan Pasingsingan yang datang bersama hantu Rawa Pening itu pasti akan dapat dikalahkan.

Kehadiran Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menjadi kunci penyelesaian apabila kedua orang berjubah yang lain tak mampu memenangkan pertempuran. Juga apabila kedua orang bertopeng yang tak mereka kenal itu, akhirnya akan mengambil alih perbuatan-perbuatan kedua orang yang lain itu.

Apalagi kemudian mereka melihat bahwa salah seorang dari dua orang yang menggoncangkan hati mereka telah dapat dikalahkan. Pasingsingan, guru Lawa Ijo itupun tak kalah terkejutnya mendengar sahabatnya mengumpat-umpat. Dengan satu loncatan panjang, guru Lawa Ijo melontar ke samping untuk mendapat waktu melihat apa yang terjadi atas Sura Sarunggi. Lawannya pun tidak melihat, bagaimana sahabatnya itu jatuh tersungkur di tanah, untuk kemudian tidak bangun kembali.

Terdengarlah Umbaran menggeram. Suaranya bergulung-gulung di belakang topengnya yang kasar. Kemudian terdengarlah ia berteriak putus asa, “Ayo, majulah bersama-sama. Radite, Anggara, Mahesa Jenar dan kawanmu itu. Bersama-sama mati pulalah Mantingan, dan perempuan-perempuan yang tak tahu diri. Inilah Umbaran, tak akan mundur setapak.”

Suaranya menggelegar seperti suara guruh yang mengumandang di lembah yang berawa itu. Namun di balik suara yang garang itu, terasa betapa kecemasan dan keputusasaan menguasainya. Anggara masih berdiri di tempatnya, namun ia telah memutar tubuhnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih tegak seperti patung, dan Radite yang langsung berhadapan dengan Umbaran itupun belum juga bergerak.

Bahkan kemudian terdengar Radite itu berkata, “Umbaran, Anggara terpaksa membunuhnya.”

“Persetan dengan Sura Sarunggi,” jawab Umbaran. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Mereka kini tahu dengan tepat, bahwa yang bertempur dengan Umbaran adalah Radite.

Dan kini mereka telah dapat membedakan, yang manakah Radite dan yang manakah Umbaran. Meskipun demikian, mereka tak akan mengganggu dua orang yang kakak-beradik seperguruan itu menyelesaikan masalah mereka.

“Umbaran…” kata Radite, “Pergunakanlah saat-saat terakhir ini sebaik-baiknya. Pandanglah langit yang luas dan menjadi lapang pulalah hatimu. Menyebutlah nama Tuhan, dan kemudian bertobatlah.”

“Kenapa aku harus bertobat?” teriak Pasingsingan, “Aku telah menempuh suatu perjuangan yang mengasyikkan, yang telah membentuk diriku menjadi seorang yang bercita-cita.”

“Kau, aku, Anggara, Anakmas Mahesa Jenar dan Anakmas Kebo Kanigara itupun memiliki dosa masing-masing. Karena itu terhadap orang yang telah bertobat, tak seharusnya dilakukan sesuatu. Sebab kami sendiri pun bernoda. Kami akan memaafkan kau. Demikian juga guru kita. Hanya orang-orang yang terlepas dari dosalah yang berhak menghukum setiap orang yang telah bulat-bulat pasrah diri ke dalam lingkungan kebenaran. Dan orang yang demikian itu tidak ada di dunia ini. Karena itu apabila kau benar-benar bertobat, pasrah diri dengan tulus dan jujur, tak akan ada orang yang mendendammu.”

“Bah!” jawab Umbaran, “Akan kau pikat aku dengan mulutmu. Bertempurlah dengan sikap jantan. Jangan membujuk dan menikam aku dari belakang.”

“Kejantanan seseorang tidaklah ditentukan dengan atau oleh senjata,” sahut Radite, “Tetapi ditentukan oleh caranya menyelesaikan persoalan. Bagaimana ia menghargai cinta atas sesama, cinta yang dilimpahkan Tuhan kepadanya.”  

“MARILAH kita selesaikan persoalan ini dengan cara yang sudah kita mulai,” kata Umbaran dengan lantang. “Aku telah bertekad untuk membunuh dan mengikat kalian di belakang kaki-kaki kuda. Kalau kau akan berbuat demikian atasku, ayolah, majulah bersama-sama.”

“Kalau kami berbuat demikian atasmu, Umbaran…” kata Radite, “Maka dosa kami akan berlipat ganda. Sebab kami tahu bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dosa dan bertentangan dengan perikemanusiaan. Dan dengan demikian, tak akan ada bedanya, siapakah yang dapat menikmati cinta abadi, dan manakah yang masih hidup dalam kegelapan.”

Tiba-tiba Pasingsingan yang juga bernama Umbaran itu tertawa dan tertawa. Suaranya menggelegar mengumandang. Namun ia tidak melepaskan aji Gelap Ngampar, sebab ia tahu, bahwa tidak akan ada gunanya. Tetapi ia tertawa karena berbagai perasaan bergulat di dalam dadanya. Marah, kecewa, cemas dan putus asa.

Pada saat yang demikian, seakan-akan berdatangan kenangan masa lampaunya. Sejak masa kanak-kanaknya yang kelam. Ayahnya bukanlah seorang yang dapat dibanggakan. Ia adalah seorang penjudi besar, yang hampir setiap malam tak pernah menjenguk rumahnya. Seorang yang sanggup membunuh kawan bermainnya hanya karena uang seduwit, apalagi dalam persoalan-persoalan yang lebih besar. Sebagai lazimnya penjudi, ayahnya adalah seorang yang mabuk pada nafsu-nafsu keduniawian yang lain, makan, minum tuak dan perempuan. Meskipun ayahnya tidak termasuk dalam lingkungan penjahat, namun apa yang dilakukan tidaklah kalah kejam dan bengis daripada para penjahat.

Ibunya mula-mula hanya menahan hati. Dengan sedih ia berusaha hidup dan menghidupi anaknya, Umbaran. Tetapi lambat laun, perempuan itupun hanyut dalam arus kemiskinan jiwa. Ketika seorang laki-laki datang dan menyatakan belas kasihannya ketidakpuasannya selama ini kepada suaminya dan kesulitan yang disandangnya. Laki-laki datang dengan berbagai kesenangan. Uang, perhiasan dan nafsu. Maka berulang kalilah hal yang demikian itu terjadi. Laki-laki itu datang untuk kedua, ketiga, keempat dan ketigapuluh kalinya.

Sejak itu Umbaran menjadi liar. Tak ada perhatian atasnya sebagai anak-anak yang memerlukan cinta kasih orang tuanya. Ayahnya sibuk dengan dadu dan warna-warna di meja judi, sedang ibunya sibuk melayani laki-laki yang datang mengisi kekosongan hatinya.

Umbaran yang kecil, melihat kehidupan dari segi yang kelam. Mula-mula ia merasa sedih. Kemudian ia membenci laki-laki yang datang hampir setiap hari apabila ayahnya pergi. Ia benci kepada ayahnya yang hampir menguras habis segala kekayaan dan harta benda yang pernah dimiliki. Ia benci kepada segala-galanya. Akhirnya ia menerima keadaan itu sebagai hal yang sewajarnya. Sebagai hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Ia menganggap bahwa saat yang pendek dalam dunia ini harus diteguknya senikmat-nikmatnya. Tanpa menghiraukan masa-masa mendatang, tanpa menghiraukan jaman yang abadi yang akan ditandai oleh pengadilan bagi segenap umat manusia. Pada saat manusia harus menjawab tanpa dapat menyembunyikan peristiwa yang bagaimanapun kecil dan gelapnya. Sebab pengadilan Tuhan mengenal setiap manusia. Tuhan akan melihat, meskipun hanya setetes darah yang pernah ditumpahkan, selembar rambut yang pernah digugurkan, tanpa dapat dipungkiri.

Tetapi Umbaran tidak mengenal itu. Tak seorangpun yang pernah memperkenalkannya dengan kerajaan sorga. Tak seorangpun yang pernah berceritera kepadanya tentang kehadiran nabi-nabi di dunia.

Umbaran tak pernah mendengar semuanya itu. Ketika akhirnya ia mendengar juga, hatinya telah menjadi sekeras batu. Meskipun kadang-kadang hatinya terketuk juga, namun nafsunya yang melonjak-lonjak, yang dipupuknya sejak kanak-kanaknya, telah mendesak cahaya-cahaya yang menyorot ke dalam hatinya. Sehingga kemudian ia telah bertekad untuk menutup pintu serapat-rapatnya dari segenap pekabaran tentang kerajaan Allah yang Abadi.

Kalau terasa padanya, adanya kekuatan-kekuatan di luar kekuatan dirinya, di luar kekuatan manusia, maka ia mencoba untuk mencarinya pada alam, pada batu-batu besar, pada pohon-pohon beringin tua, pada relung-relung goa. Kepada kerajaan setan, ia mengabadikan dirinya untuk mendapat kekuatan-kekuatan ajaib. Namun kekuatan-kekuatan yang dilambari oleh kekuatan hitam, yang arahnyapun untuk membuat malapetaka dan bencana bagi umat manusia. Karena itulah ketika hatinya menjadi gelap, maka gelaplah seluruh isi bumi. Tak ada sedikitpun cahaya yang dapat memberinya arah.

Ketika ia harus berhadapan dengan Radite itupun, baginya seakan-akan dihadapkan ke tepi suatu jurang yang dalam dan kelam. Tetapi ia sudah bertekad untuk melompat ke dalamnya. Ia tidak tahu apakah di dalamnya akan dijumpainya istana gading yang indah, atau di sana akan dijumpainya kandang serigala lapar yang siap untuk menyobek-nyobek kulit dagingnya. Namun ia tidak peduli itu. Ia sudah basah kuyup di tengah-tengah arus sungai yang deras. Tak ada jalan kembali.  

TANPA berkata sepatah katapun, akhirnya Umbaran membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya. Ketika kemudian semua kenangan masa lampaunya telah menghindar dari benaknya, suara tertawanyapun menjadi surut, dan akhirnya terdiam. Demikian mulutnya terkatup, dengan serta merta direnggutnya topeng yang selama ini menutupi wajah aslinya. Dan tampaklah wajah tampan seorang yang telah melampaui setengah abad. Matanya yang bulat besinar-sinar penuh nafsu, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Dengan geram topeng itu dibantingnya, dan terdengarlah ia berkata, “Radite, tak ada artinya lagi bagiku topeng dan jubah ini. Sekarang Umbaran berhadapan dengan Radite dalam penentuan saat terakhir.”

Terdengarlah Radite menarik nafas. Ia mengeluh dalam hati melihat kekerasan hati Umbaran.

Namun perlahan-lahan tangannya bergerak membuka topengnya pula. Jawabnya, “Marilah kita tidak berpura-pura lagi, tidak menjadikan diri kita orang-orang aneh yang hanya mengalutkan orang lain yang melihat kita. Marilah kita kembali kepada diri kita, manusia yang kercil, dan tak berarti. Marilah kita yang kecil ini mempersiapkan diri kita untuk mengharap Yang Maha Agung. Umbaran, berjanjilah. Persoalanmu akan selesai, dan akibatnya persoalan-persoalan lainpun akan selesai pula. Pengikut-pengikutmu pun akan sadar dari kekeliruannya, bahwa apa yang akan dicapainya selama ini tak akan bermanfaat bagi bebrayan manusia.”

Umbaran menggeram. Sekali lagi suara tertawanya terlontar mengerikan, katanya, “Jangan mengigau lagi, Radite. Bersiaplah.”

Sebelum Radite menjawab, Umbaran telah menyerangnya kembali. Dengan gerak yang dahsyat penuh nafsu kemarahan ia mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan mirip dengan orang yang kehilangan akal. Meskipun demikian, gerak-gerak yang dilontarkan menjadi semakin berbahaya. Dalam keputusasaan, ia hanya mampu berpikir, “Marilah kita mati bersama-sama.”

Radite kemudian telah kehilangan kesempatan untuk mengajak saudara seperguruannya itu menemukan jalan kembali. Kesalahan yang telah dilakukannya beberapa puluh tahun lampau seharusnya tak terulang lagi. Pada saat seakan-akan ia membuka pintu seluas-luasnya kepada Umbaran untuk melakukan kejahatan. Pada saat ia menyerahkan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan karena nafsunya yang tak terkendalikan. Meskipun pada saat itu, ia sama sekali tidak menduga, bahwa saudara seperguruannya itu tidak meneruskan naluri gurunya yang bijaksana dan penuh pengabdian kepada manusia, yang di dasarnya dengan sinar cinta yang abadi.

Demikianlah pertempuran itu kembali berlangsung dengan sengitnya. Umbaran yang putus asa bertempur seperti gelombang laut yang ganas, bergulung-gulung menghantam apapun yang ada di hadapannya, sedang Radite melayaninya seperti seekor burung rajawali, yang setiap saat mampu melontarkan diri ke udara, menghindari ancaman gelombang yang bagaimanapun dahsyatnya, untuk kemudian menukik dengan kuku-kukunya yang tajam dan paruhnya yang runcing, menghantam lawannya. Tak seorangpun yang berani mencampuri pertempuran itu. Apalagi Mantingan, Wirasaba, atau Wilis.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak beranjak dari tempatnya. Sedang Widuri masih berpegangan ujung baju ayahnya, seperti anak-anak yang takut hilang di tengah-tengah pasar yang ribut. Arya Salaka masih juga berdiri seperti patung. Namun hatinya berdebar menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan pertempuran itu dengan tegang pula. Mereka sadar bahwa yang dihadapinya adalah persoalan yang sama sekali berbeda dengan persoalan yang sedang berlangsung di Pamingit. Radite dan Umbaran tidak bertempur karena tanah perdikan Banyubiru, tidak karena mereka berebut Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak karena mereka berdua ingin memiliki kesempatan untuk menuju ke singgasana Demak. Kalau Umbaran bertempur dengan nafsu yang meluap-luap untuk mempertahankan cita-citanya tanpa mengenal surut, maka Radite bertempur dengan harapan untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, menghentikan kejahatan yang akan selalu dilakukan oleh Umbaran.

Radite sendiri sama sekali tidak ada nafsu untuk memiliki pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, tak ada nafsu untuk menjadi tetua para sakti dan tak ada nafsu untuk menempuh jalan ke singgasana Demak. Sebab ia tahu bahwa itu bukanlah haknya. Setiap orang yang mencoba untuk merebut hak itu tanpa wahyu keraton padanya, tanpa wahyu yang dilimpahkan oleh Yang Maha Esa, maka mereka pasti akan mengalami kegagalan, bahkan kehancuran, apabila mereka tidak segera menyadari kesalahannya.

Demikianlah pertempuran yang sengit itu berlangsung tanpa gangguan. Seakan-akan mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam gelap malam yang semakin pekat itu, bayangan mereka melontar-lontar melingkar-lingkar dengan cepatnya. Kini mereka telah tak bersenjata lagi. Mereka hanya percaya kepada kekuatan mereka, kepada kesaktian mereka. Meskipun demikian mereka sama sekali tak mempergunakan aji mereka, baik Gelap Ngampar maupun Alas Kobar, sebab mereka sadar bahwa ilmu-ilmu itu hanya akan berbenturan tanpa arti.

Mereka kini lebih mementingkan kepada kesempatan-kesempatan yang akan ditemuinya apabila lawannya berbuat kesalahan yang meskipun sekejap.

Mendung di langit menjadi semakin tebal dan tebal. Angin dari lembah kini sudah tidak bertiup lagi. Sambaran-sambaran tatit di langit yang kadang-kadang menyobek gelap malam menjadi semakin sering, dan guruhpun menggelegar tak henti-hentinya.  

SESAAT kemudian, meledaklah petir di udara, yang kemudian disusul dengan hujan yang seperti dicurahkan dari langit. Butiran-butiran air yang besar berjatuhan di tanah, di genteng-genteng, di cabang-cabang pepohonan, dan di tubuh mereka yang dengan kaku berdiri di halaman Banyubiru. Hujan yang seperti tertuang dari langit yang yang pecah itu sama sekali tak mereka hiraukan. Bunyinya yang kemersak seperti banjir bandang tak mereka dengar, sebab perhatian mereka sedang terpaku pada pertempuran antara hidup dan mati dari dua orang yang bersaudara seperguruan.

Hanya Anggara lah yang kemudian bergerak dari tempatnya, tetapi tidak mencari tempat untuk berteduh. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati titik pertempuran, dimana kedua saudara seperguruannya sedang mengadu kesaktian, yang bersumber dari mata air yang sama. Namun dalam arus yang berikutnya, sungai yang satu tetap mengalirkan air yang bening, meskipun ada juga kotoran-kotoran yang hanyut di dalamnya. Sedang sungai yang lain benar-benar telah mengalirkan air yang keruh.

Anggara pun kemudian telah melepaskan topengnya. Ketika kedua saudaranya tak mengenakan topeng lagi. Ia sama sekali tak merasa perlu mempergunakannya. Di sela-sela bunyi gemersik dedaunan yang digerakkan oleh air hujan, kadang-kadang terdengarlah jerit yang memekakkan telinga, yang melontar dari mulut Umbaran dengan penuh kemarahan. Dan bersamaan dengan itu gerakannya pun menjadi semakin liar dan ganas.

Namun Radite telah bertekad untuk melayaninya habis-habisan. Meskipun sekali-kali timbul juga penyesalan di hatinya. Seandainya, ya seandainya dirinya pada saat itu tak terlibat dalam nafsu yang telah menjadikannya seolah-olah lupa pada keadaan diri, maka apa yang diprihatinkannya atas Umbaran itu tidak akan terjadi. Tetapi semua sudah terjadi. Yang harus dilakukan adalah menghentikan persoalan yang telah berlarut-larut dan yang menurut Anggara telah hampir terlambat. Terngiang kembali kata adik seperguruannya, “Kakang, agaknya Kakang telah menunggu anak macan itu menjadi seekor macan yang ganas dan trengginas. Nah akhirnya pekerjaan Kakang akan menjadi sangat berat.”

Ternyata kata-kata itu benar. Pekerjaan Radite benar-benar berat. Umbaran telah menambah ilmunya dengan segala macam ilmu yang didapatnya dari daerah-daerah kelam, dari pohon-pohon beringin tua, dan relung-relung goa dan dari batu-batu besar dari bukit-bukit yang suram. Namun Radite pun telah matang pula dengan ilmunya. Selama ia bersembunyi di antara para petani miskin di Pudak Pungkuran bersama Anggara, sempat juga mereka menempa diri mendalami ajaran-ajaran gurunya lahir dan batin.

Meskipun mereka menganggap diri mereka telah hilang dari pergaulan para sakti, namun firasat mereka tetap menuntut untuk menjagai kemungkinan-kemungkinan, bahwa pada suatu saat mereka masih harus menampakkan diri. Karena itulah maka kali inipun Radite tidak dapat didesak oleh Umbaran. Bagaimanapun ganasnya Umbaran, namun dengan tangguhnya Radite melawan hantu yang terkenal dari alas Mentaok itu. Bahkan akhirnya ternyata bahwa Umbaran lambat laun harus merasakan betapa dahsyat ilmu yang dimiliki oleh Radite.

Tetapi Umbaran tidak lagi mendapat kesempatan untuk lari. Kalau tatit memancar di udara, jelas dilihatnya. Anggara, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdiri tegak di halaman itu. Mereka adalah orang-orang yang mengerikan bagi Umbaran. Mereka adalah orang-orang yang telah terbukti dalam melampaui kesaktian golongannya. Mahesa Jenar yang telah berhasil membunuh Sima Rodra itu terang tak dapat dikalahkan sejak di Gedong Sanga, Kebo Kanigara telah berhasil membunuh Naga Laut yang menamakan diri Nagapasa, sedang Anggara baru saja membinasakan sahabatnya Sura Sarunggi.

Kini ia sendiri harus bertempur melawan Radite. Dan ia merasakan betapa tangan lawannya menjadi sekeras baja dan seberat timah. Setiap sentuhan serasa meremukkan tulang sungsumnya. Namun demikian, hati Umbaran telah benar-benar dikuasai oleh iblis. Ia tidak mau melihat kenyataan. Ia tidak mau mendengarkan panggilan terakhir dari saudara seperguruannya itu. Pada saat-saat terakhir, ternyata bahwa ia semakin terdesak.

Di dalam hujan yang semakin lebat, tampaklah ia setapak demi setapak terdesak mundur. Meskipun Umbaran berusaha untuk menguasai keadaan, menyerang dengan dahsyatnya, sedahsyat hujan yang tercurah dari langit, namun Radite tak ubahnya seperti batu karang yang tegak perkasa, tak goyah oleh arus air dan angin yang bagaimanapun kencangnya. Meskipun hujan masih belum surut, namun berangsur-angsur gelap malam menjadi berkurang.

Api di ujung kota telah lama padam. Dari kejauhan, di sela-sela desir hujan di dedaunan dan di atap-atap rumah terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Lamat-lamat namun meyakinkan bahwa hari menjelang pagi. Sesaat kemudian terdengarlah suara riuh di luar halaman. Agaknya laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir orang-orang dari golongan hitam yang telah membakar rumah dan banjar-banjar desa, kini berdatangan di rumah kepala daerahnya. Mendengar suara riuh itu, dan mendengar ayam jantan yang berkokok di kejauhan, Umbaran menjadi bertambah gelisah. Seperti ia datang dari kerajaan setan, maka kedatangan fajar sangat menggelisahkan. Apalagi suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Karena itulah maka akhirnya ia menuntut saat terakhir dari pertempuran itu. Seperti orang gila ia menyerang sejadi-jadinya. Kini ia tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain, kecuali nafsu kemarahan dan keputusasaan. Karena itulah maka Umbaran mencoba untuk mempergunakan ajiannya Alas Kobar. Ia mengharap apabila ajinya tak dapat mempengaruhi lawannya atau Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Anggara setidak-tidaknya ia akan dapat membunuh Mantingan, Wilis dan Widuri.  

UDARA panas kembali menyala di halaman itu. Umbaran sengaja mengisar diri mendekati tempat-tempat mereka berdiri. Mantingan, Wirasaba, Wilis dan Arya Salaka. Mahesa Jenar terkejut merasakan udara yang panas itu. Demikian juga Kebo Kanigara. Apalagi Mantingan, Wirasaba dan yang lain-lain. Udara yang panas itu serasa membakar tubuh mereka di antara air hujan yang dingin.

Namun Anggara tidak membiarkan hal itu terjadi. Segera ia melipat tangan di dadanya, memusatkan kekuatan batinnya untuk melawan aji Alas Kobar itu dengan kekuatan batin pula, seperti apa yang telah dilakukan. Bagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Alas Kobar itu segera mendapat perlawanan dari dalam tubuh mereka, kekuatan-kekuatan di luar kekuatan jasmaniah yang telah disalurkan oleh kekuatan aji Sasra Birawa yang mengendap di dalam dada mereka, yang getaran demi getaran merayap sepanjang urat-urat mereka ke seluruh permukaan tubuh. Namun mereka belum pernah mempelajari ilmu yang sedemikian, sehingga daya perlawanannya tidak saja mengalir ke segenap tubuh mereka, namun dapat memancar mempengaruhi keadaan sekitarnya.

Dalam hal ini agaknya Anggara dan Radite memiliki kelebihan daripada mereka itu. Mereka dapat memancarkan kekuatan ilmunya, mempengaruhi keadaan di sekitarnya seperti pancaran aji Alas Kobar itu sendiri. Radite yang pada saat itu sedang bertempur, menjadi cemas. Ia tidak akan dapat memusatkan kekuatan batin dalam perlawanan aji Alas Kobar dengan melipat tangan di dadanya. Ia menjadi cemas kalau aji Alas Kobar ini akan membakar orang-orang yang berdiri di halaman itu.

Karena itu, dalam saat yang pendek ia harus dapat melawan aji Alas Kobar itu dengan cara lain. Ia harus mempengaruhi sumber dari udara panas yang membakar halaman itu. Karena itu ia bertekad untuk melumpuhkan Umbaran pada saat yang pendek.

Pada saat itu pulalah maka terpencarlah ajinya Naga Angkasa. Ilmu gerak yang sukar dicari bandingnya. Dengan kecepatan seperti petir yang meloncat di langit, Radite menyerang Umbaran sesaat setelah Umbaran berhasil memancarkan ajinya Alas Kobar. Serangan yang demikian dahsyatnya, demikian cepat dalam taraf tertinggi dari ilmunya Naga Angkasa. Yang terjadi kemudian adalah mengejutkan sekali. Umbaran kehilangan waktu hanya sekejap. Namun yang sekejap itu telah menentukan segala-galanya. Sebuah sambaran yang dahsyat telah menghantam dadanya. Sambaran aji Naga Angkasa.

Umbaran yang memiliki kesaktian di atas manusia biasa itu terdorong beberapa langkah surut. Kemudian ia terguling jatuh sambil berteriak ngeri. Namun sesaat kemudian ia berhasil tegak kembali. Tetapi tiba-tiba ia menjadi terhuyung-huyung. Bagaimanapun ia berusaha, akhirnya kekuatan jasmaniahnya tak mengijinkannya lagi. Sehingga kemudian Umbaran itu roboh kembali di atas tanah yang basah oleh air hujan yang melimpah dari langit. 

Namun Umbaran tidak mau mengerti akan keadaannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk berdiri. Tetapi karena kemampuannya terbatas, maka ia hanya dapat berguling-guling dan meronta-ronta di atas tanah yang becek penuh lumpur.

Tergetarlah setiap hati yang melihat peristiwa itu. Melihat Umbaran yang sama sekali tidak ikhlas menerima kenyataan pada dirinya. Radite yang berdiri beberapa langkah darinya, berdiri tegak dengan nafas yang tegang. Tiba-tiba ia meloncat maju, namun segala permusuhannya telah lenyap seperti dihanyutkan oleh air hujan yang seperti dituang dari langit. Dengan hati-hati Radite berusaha untuk menangkap Umbaran, dan kemudian dengan hati-hati pula ditenangkannya orang yang telah dibakar oleh nafsunya itu.

Katanya, “Umbaran, tenanglah.” 

Umbaran menggeram. Ia masih berusaha melepaskan diri. Tetapi ia tidak mampu lagi. Nafasnya telah memburu dan dadanya menggelombang tak menentu. Ia tidak lagi dapat berbuat sesuatu ketika Radite meletakkan kepala Umbaran di atas tangannya. Hanya kakinya sajalah yang menyepak-nyepak dan kepalanya menyentak-nyentak.

Sekali lagi terdengar Radite berkata, “Umbaran, tenanglah. Tak ada yang perlu kau gelisahkan.”

“Setan!” terdengar Umbaran menggeram marah. Matanya memancar merah seperti mata harimau. “Kau kira bahwa kau dapat mengalahkan aku?”

“Tidak, Umbaran,” jawab Radite, “Aku tidak dapat mengalahkan kau.”

“Kalau begitu…” kata Umbaran tersengkal-sengkal, “Kalau begitu, kau harus berlutut di bawah kakiku dan minta maaf kepadaku sebelum kau kubunuh mati, kuikat di belakang kaki kuda.”

“Baiklah, Umbaran, aku minta maaf kepadamu,” sahut Radite. Tiba-tiba Umbaran menjadi agak tenang. Tetapi kemarahannya masih memancar di matanya. Ketika ia menggerakkan tangannya, ternyata ia sudah terlalu lemah, namun orang yang telah hanyut dalam nafsu kebiadaban itu tiba-tiba meludahi muka Radite.

Radite terkejut. Itu adalah suatu penghinaan bagi laki-laki. Namun ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Sambil kemudian mengusap mukanya dengan lengan bajunya.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Anggara pun kemudian melangkah mendekati Radite yang berjongkok di samping Umbaran yang gelisah menghadapi saat-saat yang mengerikan. Anggara, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun berjongkok pula. Beberapa langkah darinya tampak Rara Wilis menunduk, sedang Endang Widuri memalingkan wajahnya. Mereka tidak sampai hati untuk menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu.

KEMUDIAN terdengarlah suara parau Umbaran yang terputus-putus, “Kalian mau mengeroyok aku?” 

“Tidak, tidak… Umbaran,” jawab Anggara. “Ayo majulah bersama-sama Radite, Anggara, Mahesa Jenar dan kawanmu itu. Mantingan dan perempuan-perempuan itu semua bersama-sama. Meskipun kulit kalian berlapis baja dan nyawa kalian berangkap lima, namun Umbaran tak akan mundur selangkah.”

“Tidak, Umbaran…” sahut Radite, “Aku dan Anggara adalah saudaramu seperguruan.”

“Hem…” Umbaran mengeram. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidung serta mulutnya.

Arya Salaka berdiri tegak seperti tugu. Apa yang disaksikan benar-benar mengaggumkannya. Suatu pameran keluruhan budi yang tak ada taranya. Radite dan Anggara tampaknya sama sekali tak mendendam Umbaran, meskipun selama ini Umbaran telah menyulitkannya. Karena Umbaran lah maka Radite menjadi seorang yang merasa rendah diri dan tak berarti, yang lebih baik bersembunyi di antara para petani, daripada bergaul dengan orang-orang sebayanya, para sakti yang sedang mengemban tugas-tugas kemanusiaan.

Hujan yang lebat masih saja seperti tercurah dari langit. Dedaunan bergoyang-goyang karenanya, dengan disertai oleh suara yang gemersik semakin keras. Di regol halaman berdirilah laskar Banyubiru berjejal-jejal. Mereka berdesakan memasuki halaman. Namun kemudian mereka tertegun diam ketika mereka melihat halaman Banyubiru itu dicengkam oleh suasana ngeri yang mendirikan bulu roma.

Mereka masih sempat melihat dua orang berjubah abu-abu bertempur, kemudian salah seorang darinya terbanting jatuh dan meronta-ronta di tanah. Ketika beberapa orang laskar yang berdiri di bagian belakang mendesak maju, pemimpin laskar itu berteriak, “Berdiri di tempatmu!” Arya Salaka dan orang-orang yang berada di halaman itu hanya menoleh sebentar kepada laskar yang berjejalan itu. Sesaat kemudian kembali perhatiannya beralih kepada Umbaran.

“Paman…” bisik Kebo Kanigara kepada Radite, “Bukankah lebih baik Umbaran ini dibawa naik ke pendapa?”

Radite mengangguk-angguk, namun tiba-tiba terdengar Umbaran berteriak, “Apa? Apa yang akan kalian lakuan. Menipu aku lalu menusuk dari belakang?”

“Tidak, tidak Umbaran,” sahut Radite cepat-cepat.

“Marilah kita naik ke pendapa.” 

“Jangan coba mengelabuhi mataku. Aku adalah calon pemimpin dari seluruh golongan hitam, dan akulah orang yang pertama-tama harus memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Kemudian akulah orangnya yang mampu menguasai seluruh tanah perdikan Banyubiru dan Pamingit. Sebab aku memiliki sipat kandel dari kraton.”

Umbaran itu tiba-tiba berteriak-teriak. Kini ia benar-benar telah mengigau. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah namun nafasnya masih belum dapat diendapkan, meskipun agaknya ia telah berada di ambang pintu maut.

“Umbaran…” bisik Radite, “Berdoalah, supaya maksudmu tercapai.”

“Ha…?” jawab Umbaran, “Kelinci yang bodoh. Hanya orang yang tak percaya kepada diri sendiri sajalah yang berdoa.”

“Tuhan menentukan segala-galanya,” bisik Radite pula, “Kalau kau menyebut nama-Nya Yang Agung, kau akan mendapatkan apa yang kau kehendaki.”

Umbaran tidak menjawab. Tubuhnya menjadi semakin lemah, dan nafasnya menjadi semakin berdesakan dan terengah-engah. Beberapa kali ia berusaha untuk menelan ludah dan air hujan yang jatuh di mulutnya.

Umbaran masih terbujur di tangan Radite. Kadang-kadang ia masih meronta untuk mencoba merenggutkan diri dari kekuasaan maut yang sudah merabanya.

“Di mana Lawa Ijo…? Tiba-tiba Umbaran berteriak.

“Lawa Ijo telah meninggalkan kau,” jawab Radite.

“Mati…?” teriak Umbaran. 

“Sura Sarunggi…?”

“Orang itu mati pula,” jawab Radite seterusnya.

“Mati. Mati. Semua orang telah mati. Gila. Tetapi aku tidak akan mati. Aku akan merajai Nusantara.” Umbaran masih mengigau.

“Berdoalah,” bisik Radite.

“Apakah kalau aku berdoa aku akan menjadi raja?” tanya Umbaran yang semakin payah.

“Lebih dari itu. Kau akan mengenal kerajaan Surga, kerajaan Allah yang jauh lebih indah dan bahagia daripada kerajaan yang kau impikan itu. Di kerajaan Sorga, kau tak mengenal dendam dan benci, tak mengenal keserakahan dan ketamakan,” jawab Radite.

“Aku akan menjadi raja di sana?” tanya Umbaran dalam desahan nafas yang semakin lambat.

“Semua orang menjadi raja. Merajai diri sendiri, menguasai nafsu dan dosa. Pekerjaan yang paling sulit dilakukan di dunia ini. Merajai diri sendiri, menguasai nafsu dan dosa. Jauh lebih sulit daripada merajai orang lain, meskipun beribu-ribu bahkan berjuta-juta. Di kerajaan Sorga, kau akan dapat melakukannya,” bisik Radite.

“Sebutlah nama Tuhan, mohonlah ampunan supaya kau ikut di dalam daerah kerajaan-Nya,” desak Radite.

Umbaran mencoba menarik nafas. Lambat-lambat ia berkata, “Aku akan berdoa.”

“ Sebutlah nama Tuhan, mohonlah ampun supaya kau ikut di dalam daerah kerajaan-Nya,” desak Radite lagi.

Umbaran menjadi semakin payah. Mulutnya tampak bergerak-gerak, namun tak terdengar suaranya. Kini ia menjadi tenang. Ia tidak lagi berusaha melawan maut. Perlawanan yang tak akan berarti. Sebab maut adalah di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya apabila ia datang. Radite menjadi berdebar-debar, demikian juga orang-orang lain yang menyaksikan. Mereka tidak tahu apa yang diucapkan oleh Umbaran itu, namun mereka mengharap agar Umbaran dapat mengurangi dosa-dosanya.

Terdengarlah Radite berbisik, “Mudah-mudahan ia berdoa.”

Pada saat itulah nafas terakhir meluncur dari hidung Umbaran. Namun ia tidak meronta-ronta lagi. Kepalanya di tangan Radite itu kemudian terkulai lemah. Kepala dan wajah tampannya yang selama ini selalu dilapisi dengan topengnya yang kasar dan jelek. Umbaran telah tidak ada lagi, setelah lebih dari setengah abad ia tenggelam dalam arus nafsunya yang melonjak-lonjak. Kebencian yang berakar di dalam relung-relung hatinya, telah memancar dengan ungkapan yang mengerikan.

Radite menundukkan wajahnya. Ia merasa bahwa ia ikut serta membebani Umbaran dengan dosa-dosa. Ia merasa bahwa ia telah ikut serta menodai nama Pasingsingan yang telah disemarakkan oleh gurunya dan sebagian dari jerih payahnya. Tetapi ia tidak tahu, bahwa di dalam dada Umbaran tersimpan hati yang hitam, sehitam malam yang paling gelap. Ia tidak tahu. Tak seorangpun yang tahu, bahkan gurunyapun tidak. Seandainya gurunya mengetahuinya, pasti ia tidak akan menerimanya sebagai muridnya.

Sesaat suasana menjadi hening. Hanya titik-titik air hujan sajalah yang terdengar mengusik sepi. Cahaya fajar di timur telah merayap semakin tinggi, dan gelap malam pun mulai disingkirkan.

Tak hanya Arya Salaka yang menjadi kagum, namun juga Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menundukkan kepalanya. Mereka menyatakan hormat setinggi-tingginya di dalam hati. Radite tidak membiarkan musuhnya mati dalam kegelapan. Tetapi ia telah berusaha untuk menunjukkan jalan kembali, ke daerah pelukan tangan Yang Maha Pengasih.

Sesaat kemudian, diangkatlah mayat yang beku dingin itu ke pendapa. Kemudian diletakkan membujur ke utara di atas tikar pandan di tengah-tengah pendapa itu. Pada saat itulah Mantingan, Wirasaba, Wanamerta dan yang lain-lain seakan-akan terlepas dari suatu ikatan yang erat membelit tubuhnya.

Mereka kemudian bergegas-gegas melangkah naik ke pendapa dan duduk di belakang mereka yang telah mengangkat mayat itu, yaitu Radite, Anggara, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Hanya Arya Salaka yang melangkah ke regol halaman, menerima pemimpin laskarnya yang akan memberikan laporan kepadanya.

“Terima kasih,” jawab Arya Salaka setelah laporan itu selesai.

“Beristirahatlah kalian. Tetapi jangan hilang kewaspadaan. Tempatkan penjagaan-penjagaan di setiap jalan masuk. Rawat kawanmu baik-bak. Nanti aku akan datang ke perkemahanmu.”

Laskar itupun kemudian meninggalkan halaman itu, kembali ke perkemahan mereka untuk beristirahat. Meskipun demikian senjata-senjata mereka tidak terlepas dari genggaman, sebab setiap saat keadaan akan dapat berubah-ubah.

Ketika laskar Banyubiru itu telah hilang di balik dinding halaman, Arya Salaka pun kemudian menyusul naik ke pendapa, dan duduk di belakang gurunya. Hujan pun semakin lama semakin tipis, sejalan dengan cahaya terang yang memancar di ufuk timur. Banyubiru yang terletak di lereng Bukit Telamaya itu seakan-akan mulai memancarkan cahaya yang cerah, secerah cahaya matahari pagi. Awan di langit perlahan-lahan hanyut dibawa angin yang bertiup dari pegunungan. Dalam keheningan itu terdengar Arya berbisik kepada gurunya, “Paman, apakah kita tidak perlu melihat garis pertempuran di Pangrantunan?”

Mahesa Jenar berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Menurut pertimbanganku, keadaan kini tidak lagi terlalu berbahaya, Arya. Kita tidak tergesa-gesa lagi, meskipun lebih baik kalau hari ini kita pergi. Tetapi menurut perhitunganku, tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam itu telah sebagian besar lenyap, Sima Rodra, Nagapasa, Sura Sarunggi dan Umbaran telah tak ada lagi.

Yang tinggal adalah Bugel Kaliki dan Jaka Soka.” Arya Salaka mengangguk-angguk. Demikin juga Kebo Kanigara. Namun dengan demikian mereka teringat akan kehadiran Jaka Soka di halaman ini malam tadi.

Sehingga terloncat dari mulut Endang Widuri, “Paman, Jaka Soka tadi malam telah datang menjemput Bibi.”

Agaknya gadis itu telah mulai dengan kenakalannya kembali setelah segala sesuatu menjadi lebih tenang dan tidak menegangkan hati. “Ah…” desah Rara Wilis. Tetapi ia tidak melanjutkan lagi, sedang Mahesa Jenar pun hanya tersenyum saja.  

RADITE dan Anggara masih dalam keadaan seperti semula. Mereka menekuni mayat Umbaran seperti menekuni mayat saudara sendiri. Terkenanglah di dalam hati mereka, masa-masa lampau di perguruan Pasingsingan. Meskipun mereka tidak pernah mengalami suatu masa bergurau bersama-sama, namun terasa bahwa mereka bersama-sama telah meneguk air dari sumber yang sama. Namun demikian, terasa pula oleh mereka, bahwa tak seorang manusiapun yang sempurna.

Pasingsingan sepuh adalah orang yang mumpuni putus segala macam ilmu lahir dan batin. Namun ia adalah manusia biasa. Manusia yang kerdil daan kecil. Manusia yang kesinungan sifat khilaf dan alpa. Manusia yang pengetahuannya sangat terbatas. Karena itu maka Pasingsingan berbuat salah. Ia telah menerima Umbaran itu berkhianat. Menodai nama baik perguruannya. Mau tidak mau, noda itu akan terpercik kepada saudara-saudara seperguruannya, Radite dan Anggara. Bahkan noda itu akan terpercik ke gurunya pula.

Tetapi tangan Radite telah bergerak dalam usahanya menghentikan pengkhianatan itu. Umbaran telah dibunuhnya dengan ilmu yang pada dasarnya diterima dari gurunya, seperti ilmu Umbaran itu sendiri.

Sebab belumlah pasti bahwa orang lain akan mampu membunuhnya. Melihat mereka, Radite dan Anggara masih tenggelam dalam kemuraman. Widuri menyela. Iapun kemudian berdiam diri sambil menundukkan wajahnya. Sehingga untuk beberapa saat pendapa itu kembali menjadi sepi. Baru beberapa saat kemudian terdengar Mahesa Jenar berkata, “Arya, suruhlah beberapa orang merawat mayat Sura Sarunggi dan orang-orang yang lain. Kuburlah di tempat yang seharusnya, supaya bersihlah tangan kita dari noda-nodanya.”

Arya Salaka pun segera berdiri, menemui beberapa orang di gardu penjagaan yang nampaknya masih sangat payah meskipun mereka tidak berbuat sesuatu. Beberapa kawan-kawan mereka yang terlukapun telah mereka rawat sebaik-baiknya. Kepada mereka, Arya memerintahkan untuk memanggil beberapa orang lain, untuk bersama-sama menyelenggarakan penguburan mayat Sura Sarunggi dan kawan-kawannya. Kemudian ketika Arya kembali ke pendapa, didengarnya Radite berkata, “Anakmas Mahesa Jenar. Kalau Anakmas tidak keberatan, biarlah mayat Umbaran ini aku bawa ke Pudak Pungkuran.”

Mahesa Jenar mengangkat dahinya. Sambil mengangguk-angguk kecil ia bertanya, “Kenapa mesti di bawa ke Pudak Pungkuran? Kami di sini pun akan bersedia melaksanakan penguburannya seperti yang Paman kehendaki.”

“Anakmas…” sahut Radite, “Umbaran adalah saudara seperguruanku. Akulah yang mempunyai kewajiban atas segala-galanya. Meskipun ia terbunuh oleh tanganku, namun biarlah aku dapat menunjukkan kuburnya seandainya pada suatu saat guru datang bertanya kepadaku, di mana Umbaran.

Sebab sesaat nanti, guru pasti sudah mendengar berita tentang kematian Pasingsingan. Dan guru pasti akan mencari aku untuk menanyakannya. Sebab Pasingsingan itu terbunuh oleh Pasingsingan pula.” “Kalau demikian…” jawab Mahesa Jenar, “Terserahlah kepada Paman.”

“Terimakasih Anakmas,” jawab Radite, “Mudah-mudahan dengan lenyapnya Umbaran, noda-noda yang melekat pada perguruan Pasingsingan akan tidak bertambah lagi.”

“Paman…” jawab Mahesa Jenar, “Setiap orang akan mengetahui, bahwa bukan Pasingsingan Sepuh lah yang bersalah, juga bukan Pasingsingan yang lain yang bersalah, tetapi Umbaran, manusia yang bernama Umbaran itulah yang berdosa. Dan ia telah menerima hukumannya.”

Kembali mereka berdiam diri. Sesaat kemudian kembali Mahesa Jenar minta agar Arya Salaka menyediakan beberapa orang dan engkrak yang akan mengatar Radite dan Anggara kembali ke Pudak Pungkuran dengan membawa mayat Umbaran.

Ketika matahari memanjat kaki langit sepenggalah, maka Radite dan Anggara itu segera minta diri, katanya, “Anakmas, barangkali masih ada pekerjaan lain yang harus Anakmas kerjakan. Pekerjaan yang lebih penting daripada menemui aku di sini. Karena itu, aku minta diri, kembali ke Pudak Pungkuran dengan mayat Umbaran.”

Radite dan Anggara tak dapat dicegah lagi. Karena itu segera merekapun berangkat beserta beberapa orang yang menyertainya mengusung Umbaran.

“Lain kali aku datang lagi,” kata Radite, “Dalam kesempatan yang lebih baik. Syukurlah kalau aku nanti berkesempatan bertemu dengan eyangnya Arya Salaka, Ki Ageng Sora Dipayana. Tetapi orang tua itu pasti tak akan mengenal aku, sebab yang dikenalnya adalah topeng kasar yang jelek itu.”

“Baiklah Eyang,” sahut Arya Salaka, “Aku akan sampaikan kepada Eyang Sora Dipayana bahwa seseorang yang tak dikenal akan menemuinya.”

Kemudian berjalanlah iring-iringan itu meninggalkan Banyubiru, berjalan menyusur jalan-jalan kota, ke arah timur.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Arya Salaka dan orang-orang lain mengantar mereka sampai beberapa langkah ke luar alun-alun Banyubiru. Ketika iring-iringan itu telah hilang di kelokkan jalan, maka mereka kembali ke pendapa duduk melingkar di atas tikar pandan. Mantingan menceriterakan apa yang dilihatnya, sejak awal sampai akhir. Sejak ia melihat daun yang bergoyang-goyang, muncullah Wadas Gunung, Lawa Ijo dan Jaka Soka. Kemudian Pasingsingan dan Sura Sarunggi. Disusul dengan hadirnya dua orang yang menyerupai Pasingsingan pula. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka mendengarkan ceritera itu dengan hati yang berdebar-debar. Akhirnya mereka mengucap syukur bahwa Tuhan telah berkenan menyelamatkan orang-orang yang berada di pendapa itu.  

SEHARI itu mereka beristirahat di Banyubiru. Mereka tidak perlu mencemaskan nasib Pangrantunan. Di sana masih ada Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten dan laskar yang masih cukup kuat. Nanti apabila matahari telah condong dan panas sudah tidak terasa membakar tubuh mereka di perjalanan, mereka baru akan berangkat ke Pangrantunan. Sehari itu, baik Arya Salaka, Rara Wilis maupun Endang Widuri seakan-akan masih dibayangi oleh bahaya-bahaya yang selalu mengancam mereka. Sebaliknya Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar pun merasa bahwa mereka tidak sampai hati untuk melepaskan mereka yang masih dibayangi oleh kecemasan itu duduk sendiri dengan gelisah.

Widuri, seperti anak-anak yang takut ditinggal pergi oleh ayahnya, selalu mengikutinya ke mana ayahnya pergi. Kebo Kanigara menjadi geli karenanya, meskipun ia dapat merasakan betapa pengaruh keadaan semalam telah sedemikian dalam membekas di dalam dada anaknya itu. Karena itu sambil tertawa ia berkata, “Widuri, kenapa kau membayangi aku terus-menerus? Apakah aku menjanjikan sesuatu kepadamu?”

“Ah….” Widuri mengeluh. Ia sadar bahwa ia masih terpengaruh oleh kecemasan yang mencengkam seluruh jiwanya semalam.

“Apakah kau kira aku menyembunyikan kain sutera berwarna hijau seperti yang kau impi-impikan?” tanya ayahnya pula.

“Ah….” Kembali Widuri berdesis. Tetapi sebagai anak yang manja justru ia berkata, “Tentu. Tentu ayah menyembunyikan kain sutera berwarna hijau. Bukankah ayah sanggup membelikan buat aku? Janji ayah telah lebih setahun yang lalu.”

Kebo Kanigara tertawa. Mereka hanya bergurau, sebab Widuri pun sadar bahwa ayahnya tidak akan mampu membeli kain sutera berwarna hijau yang mahal. Namun di ruang itu, Arya Salaka mendengar kelakar itu. Tiba-tiba saja merayap di dalam hatinya suatu janji, apabila nanti ia dapat menggarap sawah dan tegalannya di Banyubiru seperti masa-masa lampau, maka hasilnya pasti cukup untuk membeli kain sutera berwarna hijau. Meskipun ia tidak tahu, apakah Widuri akan menerimanya, seandainya ia nanti memberikannya.

“Gila!” hatinya membantah sendiri, “Kenapa aku ribut-ribut tentang kain sutera berwarna hijau? Bukankah sekarang kita sedang menghadapi saat-saat terakhir yang menentukan?”

“Apa salahnya…? Jauh di dalam hatinya terdengar suara lain. Arya menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir perasaan yang berdebat di dalam hatinya. Kemudian untuk melenyapkan perasaan itu ia berkata kepada gurunya yang duduk di hadapannya, “Paman, siapakah sebenarnya dua orang yang berpakaian mirip dengan Pasingsingan itu? Agaknya Paman telah mengenal mereka dengan baik.”

Mahesa Jenar mengangguk-angguk. “Ya, aku telah mengenal mereka,” jawab Mahesa Jenar.

“Mereka adalah saudara-saudara seperguruan Pasingsingan, guru Lawa Ijo, yang sebenarnya bernama Umbaran.”

Seterusnya Mahesa Jenar menceriterakan beberapa hal mengenai Radite dan Anggara. Widuri yang mendengar segera berlari-lari ikut serta mendengarkan ceritera itu. Disamping Mantingan, Wirasaba, Wanamerta dan Sendang Parapat. Kanigara pun kemudian duduk bersama mereka.

“Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, yang selama ini tekun mendalami ilmunya. Namun mereka menyembunyikan diri mereka di antara para petani miskin di Pudak Pungkuran, ketika mereka mereka merasa bahwa mereka telah berbuat suatu kesalahan.

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dalam hatinya ia sedang sibuk menjajagi kedua orang yang bernama Radite dan Anggara itu dengan gurunya. Gurunya pun dahulu tak dapat dikalahkan oleh Pasingsingan di Gedong Sanga, dan kemudian ternyata gurunya berhasil membunuh Sima Rodra.

Juga Kebo Kanigara berhasil membunuh Nagapasa. Dengan demikian Arya Salaka mendapat kesimpulan bahwa setidak-tidaknya gurunya memiliki ilmu setingkat dengan Radite dan Anggara.

Memang sebenarnyalah demikian. Namun Arya belum mendengar bahwa Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar benar-benar pernah mencoba menjajagi ilmu kedua orang itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pernah bertempur melawan Radite dan Anggara pada saat mereka mencoba untuk menemukan jawaban tentang Pasingsingan sepuh di Pudak Pungkuran.

Pada saat itu ternyata bahwa mereka terpaksa memuji ketangguhan masing-masing.

Demikianlah mereka sehari-hari itu beristirahat di Banyubiru. Ketika matahari sudah semakin rendah, maka Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka pun mempersiapkan diri untuk kembali ke Pangrantunan. Namun mereka kini sudah tidak gelisah lagi, sebab mereka sudah yakin bahwa golongan hitam akan dapat mereka hancurkan. Tetapi kali ini Widuri tidak mau ditinggalkan oleh ayahnya. Bukan karena ia takut, tetapi anak itu benar-benar ingin melihat apa yang terjadi di Pangrantunan.

Kali ini Kebo Kanigara tak dapat menolaknya. Widuri terpaksa ikut serta dalam rombongan itu. Karena kemudian Rara Wilis tak mempunyai kawan lagi apabila ia tinggal di Banyubiru, iapun memutuskan untuk ikut serta di dalam rombongan, apalagi ketika ia tahu bahwa Ki Ageng Pandan Alas berada di Pangrantunan. Dengan demikian ia akan dapat melepaskan rindunya kepada satu-satunya keluarga yang masih ada. Hanya Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta beserta Sendang Parapat yang terpaksa tinggal di Banyubiru. Mereka mendapat pesan, apabila ada kekalutan supaya langsung memberitahukan ke Pangrantunan atau Pamingit.

Mahesa Jenar menduga bahwa Jaka Soka tak akan datang kembali ke Banyubiru sebab ia sudah tak memiliki kekuatan lagi. Gurunya sudah meninggal dan laskarnya pun tak akan mencukupi. Sedang Bugel Kaliki adalah seorang yang berdiri sendiri. Seorang diri, tanpa laskar dan tanpa pengikut. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, orang itupun tak akan datang..  

AGAKNYA orang bongkok dari lembah gunung Cerme itu telah kehilangan nafsunya untuk mencari Nagasasra dan Sabuk Inten. Atau barangkali justru mempunyai perhitungan lain. Dibiarkannya kawan-kawannya atau lawan-lawannya binasa. Kemudian ia akan dengan leluasa berbuat sendiri, menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Sementara itu golongan hitam telah kehilangan pemimpin-pemimpin mereka. “Kalau Bugel Kaliki itu datang kemari…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Jangan layani. Biarlah ia berbuat sesuatu. Ia hanya memerlukan Nagasasra dan Sabuk Inten. Dahulu ia pun pernah mengaduk rumah ini, namun ia tidak menemukan apa-apa.”

Mantingan mendengarkan pesan Mahesa Jenar dengan baik. Demikian juga Wirasaba, Wanamerta dan Sendang Parapat. Namun dengan demikian terbayang juga di dalam hati mereka bahwa cahaya yang cerah telah mulai memancar di atas tanah perdikan Banyubiru. 

Awan yang kelam perlahan-lahan hanyut dibawa oleh angin yang berhembus tak henti-hentinya. Mantingan jadi teringat pada ceritera-ceritera pewayangan yang sering dibawakannya apabila ia sedang duduk bersila di belakang layar putih. Bahwa betapapun kejahatan itu berkuasa, namun akhirnya kebenaranlah yang akan menang. Sebab kebenaran adalah pancaran dari kehendak Yang Maha Kuasa.

Ketika semua sudah siap, maka segera mereka naik ke punggung kuda. Wilis pun kini telah biasa naik kuda, sedang Widuri karena kenakalannya, ia tidak kalah tangkasnya dengan setiap laki-laki. Ia berani berbuat hal-hal yang aneh-aneh di atas punggung kuda. Bahkan kadang-kadang sampai gerak-gerak yang berbahaya. Tetapi ia tertawa saja apabila ayahnya memperingatkannya.

Demikianlah maka setelah sekali lagi mereka mohon diri kepada tetua tanah perdikan Banyubiru, Ki Wanamerta beserta Mantingan, Wirasaba dan Sendang Parapat, bergeraklah kuda-kuda itu meninggalkan halaman.

Tetapi ketika Arya Salaka hampir sampai di muka regol, tiba-tiba ia menarik kekang kudannya, sehingga kuda itupun berhenti.

“Ada apa Arya?” tanya gurunya, dan semua matapun memandang ke arahnya.

“Pisau,” jawab Arya sambil menunjuk ke pohon sawo yang tumbuh di samping regol. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas. Dua bilah pisau menancap di pohon itu. Kedua-duanya berwarna kuning kemilau.

“Kyai Suluh,” desis Mahesa Jenar, “Ambillah Arya.”

Arya segera meloncat turun dari kudanya. Dengan cekatan, ia memanjat pohon sawo itu beberapa depa. Kemudian diambilnya kedua-duanya. Kedua pisau itu benar-benar mirip satu sama lain, sehingga Arya tak mampu membedakannya.

“Adakah Kyai Suluh itu lebih dari satu?” tanya Arya.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“Entahlah,” jawabnya. 

“Cobalah Arya,” pinta Kebo Kanigara. 

Arya segera menyerahkan kedua pisau belati itu. Mantingan pun kemudian berdiri pula di samping Kebo Kanigara. Sebagai seorang dalang banyaklah diketahuinya mengenai batu-batuan dan biji-biji besi. Ia senang mempelajarinya. Juga perasaannya yang lembut, dengan mudahnya dapat menangkap setiap getaran yang memancar dari besi-besi aji.

Kanigara pun agaknya memiliki pengetahuan yang serupa, sehingga akhirnya ia berkata, “Inilah yang asli.”

Mantingan mengangguk. “Kakang benar. Aku juga menyangka demikian. Sedang yang lain adalah keturunannya, meskipun keturunannya itupun memiliki kekuatan-kekuatan yang mirip dengan aslinya.”

“Kyai Suluh adalah pusaka yang mempunyai daya kekuatan yang luar biasa.” 

Kanigara meneruskan, “Pengaruhnya atas ketabahan hati serta keberanian dapat diandalkan. Sayang, pengaruh itu pada Umbaran mendapat arah yang salah. Aku kagum akan ketabahan hati serta keberanian Umbaran, namun aku menyesalkan atas tujuan yang akan dicapainya.”

Tak seorangpun yang menyahut. Semua membenarkan kata-kata itu, Umbaran telah menyalahgunakan kekuatan yang tersimpan di dalam pusaka Pasingsingan itu.

“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara, “Siapakah yang berhak menerima pisau-pisau ini?”

“Paman Radite dan Anggara,” jawab Mahesa Jenar. 

“Mereka tak memerlukan lagi,” sahut Kebo Kanigara, “Ternyata mereka membiarkan kedua pusaka ini berada di halaman Banyubiru. Bukankan maksudnya untuk menyerahkan pusaka-pusaka ini kepada penguasa Banyubiru?”

“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar. “Setidak-tidaknya pusaka-pusaka itu dapat dipinjam. Apabila nanti diperlukan, biarlah keduanya dikembalikan.”

“Baiklah,” kata Kebo Kanigara, “Agaknya Arya Salaka yang wajib menyimpannya.”

Mahesa Jenar menatap wajah Arya Salaka yang berdiri dua langkah di muka Kebo Kanigara. Wajah yang merah kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari di tengah-tengah perjalanan, di tengah-tengah sawah dan tegalan, di hutan dan di lautan. Namun dari wajah yang kasar itu memancar ketulusan serta kejujuran dan penderitaan murni. Anak yang hidup di tengah-tengah badai kesulitan dan penderitaan itu benar-benar memiliki kesederhanaan berpikir, meskipun otaknya cukup cerdas. Mendengar perkataan Kebo Kanigara itu Mahesa Jenar ikut bergembira, segembira Arya Salaka sendiri. Pusaka semacam itu adalah pusaka yang sulit dicari. Kini Arya akan menerimanya, meskipun belum pasti bahwa pusaka itu akan dimiliki untuk seterusnya.

“Arya…” terdengar Kebo Kanigara meneruskan, “Simpanlah pusaka ini. Mudah-mudahan akan bermanfaat bagimu. Ketabahan serta keberanian akan memancar ke dalam hatimu. Namun apa yang telah terjadi dapatlah menjadi peringatan bagimu. Umbaran telah berusaha untuk mempergunakan pusaka itu dalam perjalanannya yang sesat.”

DADA Arya menjadi berdebar-debar. Ia maju selangkah, dan dengan tangan yang gemetar diterimanya Kiai Suluh dari tangan Kebo Kanigara, yang berkata pula, “Kau telah memiliki salah satu dari kebesaran-kebesaran yang pernah dimiliki oleh Pasingsingan.”

“Aku akan selalu mengingatnya, Paman,” jawab Arya Salaka.

“Apa yang telah terjadi dengan Umbaran.” Tiba-tiba terdengar Widuri menyela, “Ayah, aku juga punya cincin yang bermata merah menyala.”

“Kelabang Sayuta…” desis Mahesa Jenar.

“Ya,” jawab Widuri, “Lawa Ijo menamakannya demikian.” “Dari manakah kau mendapat cincin itu?” tanya ayahnya.

“Lawa Ijo,” sahut Widuri. Kemudian ia pun menceriterakan tentang Lawa Ijo. Tentang anak perempuannya yang mati dan tentang prangsangkanya yang salah terhadap istrinya.

Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Arya Salaka pun mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Agaknya Lawa Ijo telah menjadi korban keadaan seperti Umbaran. Menjadi korban keadaan di sekitarnya. Keluarganya, ruang pergaulan dan sahabat-sahabatnya. Bahkan mungkin, selain mereka masih ada lagi berpuluh-puluh, malahan beratus-ratus orang yang menjadi korban seperti itu. Mungkin dalam pergaulan dengan sahabat-sahabatnya, mungkin dalam keadaan yang tak serasi di dalam rumah tangga dan orang tuanya atau mungkin keadaan yang sumbang di perguruannya. Sehingga untuk menjadi manusia yang baik diperlukan panilikan atas tiga daerah hidup manusia sejak masa kanak-kanaknya, yaitu keluarga, lingkungan pergaulan dan tempat mereka menempa diri, yaitu perguruan-perguruan.

Namun tiba-tiba di antara mereka terdengar suara Mantingan bergumam, “Takdir telah menentukan atas kedua pusaka itu.”

Semua orang menoleh kepadanya. Di antara mereka ada yang bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi Mantingan tidak meneruskan kata-katanya. Hanya Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Wanamerta lah yang menangkap maksud kata-kata itu. Kata-kata yang terlanjur melontar demikian saja dari mulut Mantingan, sehingga dengan demikian Mantingan sendiri agak menyesal karenanya. Namun ketika dilihatnya Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tersenyum, Mantingan ikut tersenyum pula. Malahan Kiai Wanamerta berkata perlahan-lahan, “Kami orang-orang tua hanya berdoa, semoga anak-anak muda mendapat jalan terang.”

Yang lain tak dapat mengerti apa yang mereka maksudkan. Arya Salaka Widuri, bahkan Rara Wilis menyangka bahwa Wanamerta sedang berdoa untuk kemenangan mereka melawan orang-orang dari golongan hitam. Namun sebagai seorang ayah, Kebo Kanigara berpikir, “Apakah kedua pusaka, yang masing-masing berada di tangan Arya dan Endang Widuri itu akan menjadi perlambang dan menentukan jalan hidup mereka?”

Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Mahesa Jenar tidak berkata apa-apa. Malahan kemudian kembali mereka teringat kepada perjalanan yang akan mereka tempuh, sehingga dengan demikian kembali Mahesa Jenar mohon diri untuk meneruskan perjalanan itu. Maka merekapun segera berkemas. Kyai Suluh kini berada di pinggang Arya Salaka, sedang tangannya masih menggenggam tombak Banyubiru.

Sedang pusaka keturunan Kyai Suluh masih di bawa oleh Kebo Kanigara. Meskipun ia sendiri tidak memerlukannya, namun belum ada orang yang akan diserahinya untuk menyimpan pusaka itu. Di sepanjang perjalanan, Kebo Kanigara berusaha untuk dapat menasehati putrinya mengenai Kelabang Sayuta itu.

Seperti juga Kyai Suluh, Kelabang Sayuta adalah batu akik yang mempunyai pengaruh yang jelas kepada pemiliknya. Akik itu akan dapat mempengaruhi keuletan dan keterampilan berpikir. Demikianlah rombongan itu berjalan dengan kecepatan sedang. Paling depan tampak Arya Salaka di atas kuda hitam, kemudian Rara Wilis dan Endang Widuri yang menjajarinya. Di belakang mereka, berkuda berdua Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Mereka kini merasa bahwa sebagian dari pekerjaan mereka yang terberat sudah selesai.

Golongan hitam telah 8 dari 10 bagian hancur. Lebih dari itu, bagi Mahesa Jenar yang paling membesarkan hatinya, adalah sikap Lembu Sora. Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Agaknya orang itu telah menemukan jalan untuk kembali. Kembali kepada Tuhan, dan kembali kepada kesadaran diri atas segala ketamakan dan keserakahannya.

Matahari semakin lama menjadi semakin rendah, seakan-akan kini bola langit itu bertengger di atas pegunungan di sebelah barat. Sinarnya yang kemerah-merahan memancar ke segenap arah, ke wajah langit dan ke wajah bumi. Daun-daun yang hijau menjadi semburat merah. Namun cahaya merah itupun semakin lama semakin pudar. Akhirnya tinggal menyangkut di ujung-ujung daun hijau di lereng-lereng bukit, untuk seterusnya tenggelam di balik pegunungan. Di langit kini bermunculan bintang-bintang. Satu demi satu. Namun akhirnya jumlahnya tak terhitung lagi. Bintang-bintang berpencaran dari ujung langit ke ujung yang lain. Awan yang kelabu sehelai-helai mengalir ke utara.

Yang kemudian seakan-akan berkumpul menjadi satu. Awan-awan yang basah itu kemudian menjadi semakin tebal dan menjadilah lapisan mendung di langit yang luas.

Rombongan kecil itu mempercepat perjalanan mereka. Mereka takut kehujanan. Semalam, hampir seperempat malam mereka membiarkan diri mereka terbenam dalam hujan yang lebat. Kini mereka tidak ingin kedinginan lagi. Lebih baik berbaring di samping perapian sambil merebus ketela pohon daripada harus menempuh perjalanan di hujan yang dingin.  

BEBERAPA saat kemudian tampaklah di kejauhan api yang menyala. Agaknya itu adalah perapian dari anak-anak Pamingit atau Banyubiru di Pangrantunan. Karena itu kuda mereka berlari semakin cepat. Perapian itu tampaknya hanya satu dua saja. Tidak seperti kemarin. Berpuluh-puluh di sekitar desa Pangrantunan. Ketika kuda Arya memasuki daerah itu, ia benar-benar terkejut. Yang dilihatnya hanyalah beberapa kelompok orang-orang yang sedang menghangatkan diri. Ke manakah laskar Pamingit dan Banyubiru yang banyak itu? Arya menarik kekang kudanya. Ia berhenti agak jauh dari desa. Wilis dan Widuri pun berhenti pula. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendahuluinya sampai ke tempat Arya Salaka berhenti.

“Kenapa sesepi ini, Paman…?” bisik Arya. Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar mengamati keadaan dengan seksama. Kata Mahesa Jenar, “Apakah orang-orang itu orang-orang Pamingit atau Banyubiru…?”

“Entahlah,” jawab Arya. Kembali mereka berdiam diri. Dengan tajamnya Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mencoba untuk mengetahui apa yang sedang dihadapinya. Juga orang-orang yang kemudian berdiri di samping perapian itu. Apakah mereka kawan apakah lawan. Sedang orang-orang yang berada di perapian itu pun bersiaga ketika mereka mengetahui ada rombongan orang-orang berkuda datang ke dekat mereka.

Mahesa Jenar mendorong kudanya beberapa langkah maju. Dan orang-orang di tepi perapian itupun menyongsongnya dengan tombak yang tunduk.

“Siapakah kalian?” tanya salah seorang dari mereka. Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia membiarkan orang-orang itu menjadi semakin dekat. “Siapakah kalian…?” terdengar kembali pertanyaan salah seorang dari mereka.

Kini Mahesa Jenar tidak ragu-ragu lagi. Menilik bayangan pakaian yang melekat di tubuh mereka, pastilah mereka bukan dari golongan hitam. Karena itu ia menyahut, “Mahesa Jenar bersama Arya Salaka dan rombongan.”

“O….” sahut orang itu, dan tombak mereka menjadi semakin tunduk.

“Laskar manakah kau?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Pamingit,” jawab orang itu, “Kami mendapat tugas untuk menanti kedatangan Tuan.”

Mahesa Jenar menjadi berlega hati. Dengan isyarat tangan ia memanggil Arya, Wilis dan Widuri. Segera mereka pun mendekat.

“Kenapa sepi?” tanya Arya Salaka.

“Silahkanlah Tuan singgah sebentar. Kami mendapat tugas untuk menanti Tuan-tuan dan membawa Tuan-tuan ke induk pasukan,” jawab orang itu.

Namun nampaknya orang itu sedemikian tenang sehingga Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendapat kesan yang baik. Mahesa Jenar beserta rombongannya kemudian mengikuti orang yang mempersilahkan itu. Mereka dibawa ke pondok yang semula dipergunakan untuk Ki Ageng Sora Dipayana selagi memegang pimpinan pertempuran.

Ketika mereka memasuki halaman, muncullah seseorang di muka pintu pondok itu. Dengan bergegas dan hormat ia berkata, “Silahkan Tuan-tuan.” Arya Salaka dan rombongan, telah mengenal orang itu, Wulungan.

Karena itu Arya Salaka menjadi semakin tenang dan tidak berprasangka. Maka segera mereka meloncat turun dari kuda-kuda mereka dan langsung masuk ke dalam pondok itu, duduk di atas bale-bale yang besar, hampir memenuhi ruangan.

“Sehari penuh kami menunggu Tuan-tuan,” kata Wulungan. “Kami mengira bahwa Tuan akan datang pagi tadi. Karena itu, ketika Tuan-tuan tidak segera datang, kami menjadi cemas. Ki Ageng Sora Dipayana berpesan, apabila malam nanti Tuan-tuan tidak datang, kami harus menyusul bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana sendiri.”

“Atas pangestumu, kami selamat, Wulungan,” sahut Mahesa Jenar, kemudian ia bertanya, “Kami terkejut ketika kami melihat daerah ini sedemikian sepi.

“Semuanya sudah selesai,” jawab Wulungan.

“Selesai…?” ulang Arya Salaka.

“Ya. Pekerjaan kami sudah selesai. Orang-orang dari golongan hitam telah meninggalkan seluruh daerah Pamingit. Mereka menghindarkan diri dari pertempuran kemarin. Ketika kami maju ke garis perang, pertahanan mereka telah kosong. Seorang pengawas melihat, sekelompok demi sekelompok, mereka meninggalkan daerah ini, namun pengawas itu belum yakin bahwa mereka seluruhnya telah pergi,” jawab Wulungan.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka menarik nafas. Namun Widuri nampak mengernyitkan alisnya, katanya, “Jadi aku sudah terlambat?”

“Apa yang terlambat?” tanya ayahnya.

“Aku tidak dapat melihat pertempuran itu,” sahut Widuri. “Beruntunglah kau,” kata ayahnya pula. “Salah ayah. Kenapa aku tidak boleh berangkat dahulu bersama-sama dengan laskar Banyubiru beberapa hari yang lalu,” jawab Widuri.

“Beruntunglah kau,” ulang ayahnya, “Kau akan ngeri melihat pertempuran itu. Kau akan melihat darah mengalir, melihat orang mengerang kesakitan karena terluka.”

“Beruntunglah aku, karena aku hampir mati ditelan Pasingsingan,” Widuri meneruskan. Kebo Kanigara tersenyum, Mahesa Jenar pun tersenyum.

“Tetapi bukankah kau masih utuh?” sambung ayahnya. Widuri tidak berkata-kata lagi. Yang lain pun untuk sesaat berdiam diri sehingga ruangan itu menjadi sepi.

“Nah, Tuan-tuan…” Wulungan memecah kesepian, “Beristirahatlah. Besok pagi-pagi Tuan-tuan kami antar ke Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora dan tamu-tamu mereka menunggu Tuan-tuan.

“SIAPAKAH tamu-tamu itu?” tanya Arya.

“Bukan tamu baru. Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten – jawab Wulungan. Kemudian Wulungan meninggalkan mereka untuk beristirahat. Awan yang basah di langit telah bersih disapu oleh angin. Tetapi udara terasa betapa panasnya.

Arya Salaka, yang tidak begitu tahan akan udara yang panas itu, bangkit berdiri. Maksudnya hanya untuk menyejukkan diri di luar pintu. Namun kemudian ia tertarik untuk berjalan-jalan di halaman. Di kejauhan, api masih tampak menyala-nyala. Agaknya laskar Pamingit itu masih merasa perlu untuk menghangatkan tubuh. Memang di udara yang terbuka, udara terasa lebih sejuk dan dingin daripada di dalam rumah. Selain itu, agaknya mereka sedang merebus jagung.

Arya berjalan saja tanpa tujuan. Ketika ia sampai di jalur-jalur jalan desa, ia pun mengikutinya. Kedua senjatanya ditinggalkan di pondoknya. Sebab ia mengira bahwa keadaan di Pangrantunan itu telah benar-benar aman. Dengan demikian ia berjalan saja seenaknya tanpa kecurigaan apa-apa. Namun yang tak diketahuinya, beberapa pasang mata sedang mengikutinya. Kemana ia berjalan, berpasang-pasang mata itupun lalu menyertainya. Mereka berlindung di balik pepohonan dan bayang-bayang gerumbul-gerumbul kecil di kiri-kanan jalan desa itu. Menilik gerak-gerik mereka, mereka bukanlah orang-orang yang dapat diabaikan. Ternyata telah sekian lama mereka mengikuti langkah Arya Salaka. Arya masih belum menyadarinya.

Sehingga dengan demikian, orang-orang itupun semakin lama menjadi semakin berani. Mereka kini lebih merapat lagi di belakang Arya Salaka yang sedang kehilangan kewaspadaan. Tetapi pancaindera Arya Salaka ternyata telah benar-benar terlatih. Meskipun ia tidak berprasangka apa-apa, namun didengarnya gemersik daun-daun kering di kiri-kanan jalan sempit itu. Dan gemersik itu selalu mengikutinya kemana ia pergi. Arya Salaka tidak segera menoleh atau mengamat-amati suara itu. Ia masih akan meyakinkan tanpa diketahui orang lain, bahkan seandainya ada orang yang mengikuti, orang itu pun tidak akan mengetahuinya bahwa Arya Salaka telah menyadari kehadiran mereka.

Kalau Arya Salaka mempercepat langkahnya, gemersik itupun menjadi semakin cepat, dan apabila Arya memperlambatnya dengan pura-pura memperhatikan sesuatu pada tubuhnya, gemersik itupun lambat pula. Akhirnya Arya berhenti, perlahan-lahan ia memutuar tubuhnya yang berjalan kembali lewat jalan itu pula.

Suara gemersik itupun berhenti dan berputar pula mengikutinya. Namun Arya telah berbuat sesuatu dengan perhitungan. Ia mengharap teka-teki itu segera dapat ditebaknya. Kalau orang itu akan menyerang atau berkepentingan dengan dirinya, maka orang itu pasti akan segera melakukannya, sebelum ia menjadi semakin dekat dengan pondoknya. Tetapi seandainya orang-orang itu hanya akan mengintainya, suara itu pasti akan lenyap dan berhenti. Dengan demikian menjadi kewajibannya untuk mengejar dan menangkap mereka atau salah satu dari mereka. Apa yang diharapkan Arya itupun terjadi. Agaknya orang yang mengikuti Arya Salaka itu tak membuang waktu, dan tak mau menunggu sampai Arya menjadi semakin dekat dengan pondoknya, di mana telah menunggu Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan beberapa orang lagi. Tiba-tiba Arya mendengar langkah yang menjadi semakin jelas, dan tiba-tiba seseorang telah meloncat tepat di belakangnya. Arya adalah seorang yang cukup memiliki bekal pengetahuan beladiri. Apalagi ia telah sengaja memancing orang itu keluar dari persembunyiannya. Karena itu, segera ia memutar diri menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang. Tetapi ketika ia melihat orang yang berdiri di hadapannya, ia menjadi terkejut bukan buatan. Bagaimanapun beraninya, namun dada Arya Salaka berdesir pula.

Di hadapannya kini berdiri seseorang berkerudung kain yang kehitam-hitaman dan bertopeng kulit kayu kasar. 

“Pasingsingan,” desis Arya. Orang itu tertawa. Suaranya berat dan kasar. Katanya, “Apakah hanya Pasingsingan yang memiliki topeng di dunia ini?”

Arya menyadari kesalahannya. Pasingsingan memiliki tanda-tanda khusus. Jubah abu-abu dan topeng kayu yang jelek dan kasar. Sedangkan orang yang berdiri di hadapannya itu berciri lain. Ia tidak mengenakan jubah, dan topengnya dibuat dari klika kayu yang sangat sederhana.

“Siapa kau?” tanya Arya Salaka. “Aku kleyang kabur kanginan. Berkandang langit, berselimut mega,” jawabnya.

“Jangan banyak berputar-putar. Kalau kau sengaja menyembunyikan dirimu, apa maksudmu?” tanya Arya pula.

“Bukankah kau Arya Salaka…?” tanya orang bertopeng itu.

Ia pun menjawab dengan jujur, “Ya, aku Arya Salaka.”  

ORANG itu tertawa. “Jadi kaulah yang mengaku anak kepala daerah perdikan Banyubiru?”

“Karena kau sangka aku mengaku-aku..?” sahut Arya Salaka. “Aku tidak akan mengaku demikian seandainya ayahku bukan kepala daerah perdikan Banyubiru.”

Kembali orang itu tertawa. Suaranya sangat menyakitkan hati. Katanya “Di mana ayahmu sekarang?” Pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati Arya Salaka. Karena itu ia menjawab, “Jangan banyak bicara. Apa maksudmu?”

“Ikut aku,” kata orang itu.

“Lalu…?” sela Arya.

“Jangan bertanya,” jawab orang itu.

“Adalah hakku untuk mengerti apa yang akan aku kerjakan,” kata Arya.

“Hanya ada dua pilihan bagimu. Mau atau tidak?” desak orang itu pula.

“Tidak,” jawab Arya tegas.

“Kalau begitu aku harus memaksamu. Dengan kekerasan. Kalau perlu akan aku bawa meskipun kau telah menjadi mayat,” kata orang itu. Arya masih sibuk berpikir. Siapakah orang ini. Apakah ia dari golongan hitam atau dari golongan lain yang tak menyukainya. Apakah hal ini ada hubungannya dengan kedudukannya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas tanah perdikan Banyubiru? Tetapi Arya tak berkesempatan untuk berpikir lebih lama. Sebab orang itu membentaknya, “Bersiaplah!”

Arya tak sempat menjawab. Ia melihat orang itu meluncur dengan cepat menyerangnya. Namun Arya Salaka pun telah bersiap pula. Karena itu dengan tangkasnya ia mengelak, dan bahkan dengan lincahnya ia pun membalas menyerang lawannya.

Demikianlah maka segera terjadi perkelahian di antara mereka. Arya Salaka mula-mula masih meragukan lawannya. Namun ketika lawannya itu bertempur dengan kerasnya, maka ia pun tak mempunyai pilihan lain daripada melayaninya dengan sekuat tenaganya.

Orang bertopeng itu bertempur dengan gigih. Ia tidak banyak bergerak, namun serangan-serangannya yang datang tak ubahnya seperti gunung yang runtuh. Segumpal-segumpal beruntun berguguran. Namun Arya telah bertempur selincah kijang. Dengan cepat dan tangkas ia selalu berhasil menghindarkan diri dari setiap serangan yang datang. Bahkan serangan-serangannya pun datang seperti badai yang dahsyat. Mengalir tanpa berhenti. Gelombang demi gelombang. Karena itupun maka pertempuran itu menjadi semakin seru. Masing-masing telah bekerja sekuat tenaga untuk mengalahkan lawannya. Arya bertempur seperti banteng ketaton. Tetap, tangguh dan tanggon. Namun lawannya pun bertempur seperti seekor gajah yang demikian percaya pada kekuatan tubuhnya.

Demikianlah pertempuran itu berjalan semakin sengit. Arya Salaka ternyata memiliki ketangkasan yang cukup dapat mengimbangi lawannya. Namun meskipun demikian, ia selalu waspada. Tadi ia mendengar gemersik itu di kiri dan kanan jalan. Sehingga kesimpulannya, orang yang mengintainya tidak hanya seorang. Ia pasti mempunyai kawan. Dengan demikian ia harus selalu waspada, sebab setiap saat kawannya itu akan dapat muncul dan menyerangnya bersama-sama.

Tetapi meskipun sudah sekian lama Arya bertempur, orang yang lain belum muncul juga. Sehingga Arya menjadi curiga. Apakah mereka akan menyerangnya apabila ia telah benar-benar kelelahan. Karena itu, Arya menjadi marah, dengan lantang berkata, “Hai, orang yang licik. Ayo keluarlah dari persembunyianmu. Kalau kalian akan bertempur bersama-sama, majulah bersama-sama. Jangan main sembunyi-sembunyian.”

Namun tak ada jawaban. Hanya seorang itu sajalah yang bertempur melawannya. Ketika ia mendengar Arya berkata dengan marah, ia pun menyahut, “Jangan sombong, kau kira bahwa di dunia ini hanya ada seorang laki-laki yang bernama Arya Salaka…?”

“Aku tak berkata demikian,” jawab Arya sambil bertempur. “Aku ingin kalian bertempur dengan jujur. Jangan mengambil kesempatan yang licik.”

“Aku bukan betina,” kata orang bertopeng sederhana itu. Namun dengan itu gerakannya menjadi semakin keras. Seperti angin pusakanya bergerak berputar-putar. Kini ia menjadi bertambah lincah dan bertambah garang. Tetapi Arya Salaka pun telah kehilangan kesabarannya, karena kemarahannya telah memuncak.

Arya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan, namun agaknya lawannya benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Karena itu ia pun bertempur mati-matian. Ia tidak mau menjadi korban dalam persoalan yang gelap. Pertempuran itu sudah berlangsung beberapa lama. Namun tak seorangpun yang tampak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua-duanya telah mengerahkan segenap tenaga yang mereka miliki, namun perlawanan merekapun menjadi semakin bertambah sengit. Tetapi lambat laun, Arya merasakan sesuatu yang aneh pada lawannya.

Seolah-olah ia pernah mengenal gerak-gerak yang demikian itu. Mula-mula lawannya mempergunakan tata berkelahi yang asing baginya. Aneh dan bercampur baur. Tetapi ketika Arya mendesak terus, lawannya itu tak mampu lagi mempergunakan tata gerak yang aneh-aneh dan bercampur baur. Sehingga akhirnya lawan Arya yang bertopeng itu terpaksa mempertahankan dirinya dengan ilmu yang sesungguhnya dimilikinya.  

ARYA SALAKA mencoba mengamati setiap gerak dan perlawanan lawannya itu. Bagaimana ia menyilangkan tangannya di bawah dadanya, bagaimana ia meloncat miring dan bagaima ia memutar sikunya apabila ia mencoba melindungi lambungnya. Serangan-serangannya pun seakan-akan pernah dikenalnya. Dengan tangan yang mengepal berkali-kali menyambar dagu, dengan ujung-ujung jari dari keempat jarinya yang lurus mengarah ke bagian bawah leher dan perut. Dengan sisi-sisi telapak tangan, dan dengan siku dalam jarak-jarak yang pendek.

Kaki Arya pun dengan lincahnya bergerak dan meloncat. Kadang-kadang seakan-akan tertancap di tanah seperti tonggak besi yang tak tergoyahkan. Namun kadang-kadang tumitnya tiba-tiba menyambar lambung. Arya sempat mengingat-ingat sambil berkelahi. Meskipun kadang-kadang serangan lawannya itu datang dengan dahsyat. Sekali-kali ia terdesak mudur, sebuah demi sebuah serangan lawannya itu mengejarnya. Ketika kaki lawannya itu menyambar dadanya, ia menarik tubuhnya dan berputar, namun lawannya meloncat maju. Dengan kaki yang lain, orang bertopeng itu menyapu kakinya yang baru saja menginjak tanah. Demikian cepat sehingga Arya tak sempat mengelak. Karena sapuan itu, Aya kehilangan keseimbangan, namun ia adalah seorang yang cukup terlatih. Dengan demikian, ia dapat menjatuhkan dirinya dengan baik dan berguling satu kali, untuk kemudian melenting berdiri.

Tetapi ia terkejut ketika demikian ia tegak, sebuah pukulan menyambar dagunya. Terdengar giginya gemertak. Ia hanya sempat menarik wajahnya untuk mengurangi tekanan pukulan lawannya, namun wajahnya itupun terangkat pula. Perasaan sakit seperti menyengat dagunya itu. Ia terdorong selangkah surut.

Lawannya tidak mau kehilangan kesempatan, dengan tangkasnya ia meloncat maju. Namun kali ini Arya tidak mau menjadi sasaran terus-menerus. Dengan tak diduga oleh lawannya, sekali lagi Arya meloncat ke samping, kemudian dengan lincahnya ia memutar tubuhnya, dan kakinya menyambar perut lawannya.

Terdengar lawannya mengaduh perlahan. Disusul dengan serangan kedua ke arah dada. Sekali lagi orang itu terdorong ke belakang. Dan Arya mengejarnya terus. Dengan demikian pertempuran itu kian seru dan berbahaya. Apalagi bagi Arya, sebab ia terpaksa menyimpan sebagian perhatiannya untuk menghadapi setiap serangan yang tiba-tiba dari orang-orang yang masih bersembunyi di balik-balik pagar. Meskipun demikian Arya tak dapat dikalahkan dengan segera. Bahkan tampaklah bahwa Arya dapat melawan dengan baiknya dalam keseimbangan yang setingkat. Tiba-tiba dada Arya berdesir. Tiba-tiba pula ia mengingatnya. Serangan-serangan yang demikian dahsyat itu pernah dirasakan di Gedangan. Sawung Sariti.

Gerakan-gerakan ini demikian mirip dengan ilmu saudara sepepuhnya itu. Tetapi apakah lawannya itu Sawung Sariti?

Ia mencoba mengamat-amati tubuh lawannya itu, dari kaki hingga ujung kepalanya. Ia bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Orang itu agaknya terlalu besar bagi Sawung Sariti. Namun karena orang itu berkerudung kain yang kehitam-hitaman, sehingga dengan demikian ia tak dapat menilainya dengan jelas. Meskipun dapat masuk di akal, apabila tiba-tiba Sawung Sariti menyeranganya, namun ia tidak berani berprasangka demikian. Apalagi ia meragukan bentuk tubuh lawannya itu. Ketika ia teringat pengalamannya di pantai Tegal Arang, apakah kali ini eyangnya yang mencoba menjajagi kekuatannya. Bahkan ilmu Sawung Sariti itu diterima dari eyangnya. Tetapi tubuh eyangnya pun tak sebesar itu. Eyangnya bertubuh kecil dan tidak terlalu tinggi. Jadi siapa? Apakah pamannya? Paman Lembu Sora? Tak mungkin.

“Tidak,” hatinya melonjak, “Mudah-mudahan bukan Paman.”

Sambil berteka-teki Arya melayani lawannya. Meskipun pamannya bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, namun ia tidak menyangka bahwa orang itu pamannya. Pundak pamannya tidak setinggi itu dan leher pamannya agak lebih panjang. Tetapi sepengetahuannya, orang yang memiliki ilmu keturunan eyangnya hanyalah pamannya dan Sawung Sariti. Ia tidak memperhitungkan pengawal Sawung Sariti yang berwajah bengis dan bernama Galunggung. Sebab ia tidak yakin bahwa Galunggung memiliki ilmu sedemikian tinggi. Arya juga tidak dapat menyangka bahwa orang itu Wulungan. Sebab Wulungan pun tak akan mampu mempergunakan ilmu Pangrantunan sampai tingkat itu. Apakah Wulungan dalam penilaiannya adalah orang yang baik dan jujur. Jujur dalam menilai diri sendiri, jujur dalam menilai kesalahan-kesalahan sendiri.

“Siapa…? Siapa….?” Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Arya Salaka. Siapakah orang ini dan siapakah yang bersembunyi di balik pagar. Tiba-tiba ia melihat bayangan obor di kejauhan. Obor orang-orang Pamingit yang bertugas menunggunya di Pangarantunan sekaligus mengawal daerah kecil itu. Orang-orang Pamingit itu mungkin akan nganglang atau mempunyai keperluan lain di pondok penginapannya, atau barangkali mereka kebetulan adalah orang Pangrantunan yang akan mempunyai kepentingan dimalam yang gelap itu.

Dalam kesibukan pertempuran itu, Arya Salaka sempat melihat daun-daun yang bergoyang di pagar dekat tempat mereka bertempur. Matanya yang tajam melihat sebuah bayangan yang merapat di pagar bambu yang telah rusak. Pikirannya yang cepat segera mengetahui, bahwa orang itu pasti akan menghadang orang yang membawa obor dan yang semakin lama semakin dekat.

ARYA SALAKA menjadi cemas. Orang yang membawa obor itu tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan orang yang membawa obor itu mungkin seorang atau dua orang laskar biasa, sehingga apabila ia mendapat serangan yang tiba-tiba, maka akan terancamlah jiwanya. Karena itu Arya tidak mau membiarkan hal itu terjadi, sehingga ia harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya. Tetapi sampai saat ini ia masih sibuk melayani lawannya yang menyerangnya seperti air sungai yang mengalir tak henti-hentinya.

Karena itu tiba-tiba dalam kecemasannya mengenai nasib orang yang membawa obor itu, Arya Salaka berteriak, “Hai, siapa yang membawa obor itu?”

“Kenapa kau berteriak-teriak?” tanya orang yang bertopeng.

“Hai, orang yang membawa obor itu. Jangan mendekat. Bahaya sedang menanti di sini,” sambung Arya tanpa memperdulikan kata-kata orang bertopeng.

“Kau mencari kawan?” sindir orang bertopeng itu.

Arya tidak menjawab. Yang terdengar di kejauhan suara orang yang membawa obor, “Ada apa di situ?”

“Jangan mendekat,” teriak Arya sambil bertempur terus. Obor itu berhenti. Arya menjadi agak berlega hati. Namun terdengar orang di balik pagar berdesis, “Curang. Kau tidak memberi kesempatan aku bertempur.”

“Siapa kau?” tanya Arya.

“Jangan ribut!” bentak orang di balik pagar itu. Arya melihat obor di kejauhan itu menjadi semakin jauh. Malahan kemudian tampak obor itu terbang cepat sekali. Agaknya orang yang membawa obor itu telah berlari sekencang-kencangnya.

Ketika obor itu telah hilang di balik bayangan pohon-pohonan, Arya berkata, “Nah, jangan menunggu laskar-laskar yang tak tahu-menahu itu terjebak. Sekali lagi aku bertanya, siapakah kalian?”

Orang bertopeng itu tertawa. Ia tidak menjawab, tetapi serangannya menjadi semakin sengit. Namun perlawanan Arya menjadi semakin rapat dan serangan-serangan balasan Arya pun datang seperti ombak di lautan, beruntun menghantam tebing. Semakin lama tampaklah tenaga Arya Salaka semakin mantap. Serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya, setelah ia mengetahui kekuatan dan kekurangan tata gerak lawannya. Hal inipun dirasakan pula oleh lawannya, berkali-kali ia terpaksa melontarkan diri surut, berputar dan menghindar. Meskipun ia berusaha sekuat tenaganya, namun ia tak dapat menekan Arya Salaka yang muda itu. Meskipun demikian, orang di balik pagar itu tidak muncul untuk membantu kawannya. Sehingga Arya menjadi bertambah pusing. Kalau orang itu ingin membinasakan, kenapa orang di balik pagar yang barangkali lebih dari seorang itu tidak menyerangnya bersama-sama.

Namun ia tidak boleh lengah. Ia harus tetap waspada, apabila orang-orang di balik pagar itu menunggu saat yang setepat-tepatnya bagi mereka. Ataukah ia berhadapan dengan laki-laki yang tinggi hati?

Demikianlah pertempuran itu berlangsung terus. Bertempur sambil berteka-teki. Orang yang membawa obor itu adalah orang Pangrantunan. Ia bukanlah laskar Pamingit. Karena itu ketika ia mendengar teriakan Arya, ia menjadi ketakutan. Sebenarnya ia hanya ingin ke sungai, ketika perutnya tak dapat diajak menunggu sampai besok. Ketika ia berlari-lari, dijumpainya dua orang laskar yang sedang nganglang. Sambil terengah-engah ia berkata, “Ki Sanak, ada bahaya di jalan ini.”

Laskar itu pun bertanya, “Dari mana kau tahu?”

“Aku akan lewat di jalan ini. Tetapi dikejauhan aku mendengar seseorang berteriak, Jangan mendekat…!” jawab orang itu.

Kedua orang itu mengangguk-angguk.

“Marilah kita bawa Kakang Wulungan.”

“Ayolah,” jawab yang pertama. Kedua orang itupun cepat-cepat berputar lewat jalan lain menuju ke pondok Wulungan. Di sana ditemuinya Wulungan berdiri dihalaman bersama Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Ketika Wulungan melihat orang itu bergegas, bertanyalah ia, “Apa yang terjadi?”

Laskar itu melaporkan apa yang didengarnya.

“Nah, itulah…” sahut Mahesa Jenar, “Kami juga mendengar seseorang berteriak. Tetapi tidak jelas apa yang diteriakkan.”

“Marilah kita lihat,” desis Kebo Kanigara. Mahesa Jenar mengangguk, katanya kepada Wulungan, “Kau tetap di sini. Jaga setiap kemungkinan. Bunyikan tanda kalau kau perlukan kami.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera melangkah pergi. Sedang Wulungan tetap berdiri di halaman untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Diperintahkannya memanggil beberapa orang yang masih enak-enak duduk di samping perapian sambil merebus jagung muda. Kepada mereka Wulungan minta, agar mereka meningkatkan kewaspadaan. Setiap saat dapat terjadi hal-hal yang tak mereka kehendaki.  

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara tidak mau mendekati tempat yang ditunjukkan oleh kedua orang laskar Pamingit itu lewat jalan desa. Sebagai seorang yang banyak makan garam, mereka sadar bahwa jalan itu berbahaya. Karena itu mereka justru memilih kebun dan gerumbul-gerumbul kecil sebagai jalan yang sebaik-baiknya.

Arya Salaka masih saja sibuk melayani lawannya. Namun lambat laun, terasa bahwa nafasnya agak mulai lebih baik daripada nafas lawannya. Perlahan-lahan namun pasti, ia mulai mendesak orang bertopeng itu, meskipun untuk berbuat demikian Arya harus berjuang ngetog kekuatan dan ilmunya.

Disamping kemenangannya yang datang lambat sekali itu, Arya masih harus memperhitungkan apa yang kira-kira dapat dilakukan apabila orang-orang di balik pagar itu datang membantu. Tetapi apa yang ditunggunya itu akhirnya datang. Orang-orang di balik pagar itu benar-benar meloncat dari dalam kelam.

Seorang, lalu disusul seorang lagi. Melihat mereka, Arya segera menyiapkan diri. Arya belum pernah melihat mereka berdua. Yang seorang agak pendek bulat, yang seorang bertubuh gagah, tinggi. Menilik gerak mereka, Arya mencoba untuk menjajagi keprigelan mereka.

“Setidak-tidaknya mereka bertiga ini setingkat,” pikir Arya, “Kalau demikian aku akan mengalami kesulitan untuk melawannya.”

Di dalam gelap malam, Arya tidak memperhatikan wajah-wajah mereka dengan seksama. Apalagi Arya masih harus bertempur pula. Karena itu ia sama sekali tidak mendapat kesan apa-apa mengenai wajah kedua orang itu. Karena itu maka sekali lagi Arya ingin mendapat kepastian dari lawan-lawan mereka, sebelum ia mengambil sikap terakhir.

“Ki Sanak, apapun yang akan kalian lakukan, berkatalah siapakah kalian dan apakah maksud kalian?”

Orang bertopeng itu berdesis, jawabnya, “Tutup mulutmu.”

“Adakah kalian benar-benar bermaksud jahat?” Arya meneruskan seperti tak mendengar jawaban orang bertopeng itu. “Apa salahku, dan apakah hubungan antara kita?” sahut Arya.

“Kau mengaku anak kepala daerah perdikan Banyubiru. Tanah itu akan aku miliki,” jawab orang bertopeng itu.

“Jangan mengigau. Marilah kita berbicara, tidak bertempur. Kalau kau benar-benar ingin tanah ini, mengakulah siapa kau.”

Arya bertambah curiga. Ia ingat kemauan yang tak terkendalikan dari adik sepupunya. Apakah orang ini benar-benar adiknya yang membawa orang-orang asing untuk membunuhnya?

“Tutup mulutmu. Kami bertiga sudah siap membunuhmu,” bentak orang bertopeng itu.

Sedang dalam pada itu kedua kawan-kawannya pun telah bergerak pula mendekati titik perkelahian itu. Arya kini benar-benar harus menentukan sikap terakhir. Siapapun yang berdiri di hadapannya, kalau orang-orang itu benar-benar akan membinasakannya apapun alasannya ia harus membela dirinya mati-matian.

Sebagai seorang laki-laki yang diasuh oleh Mahesa Jenar, sebenarnya Arya cukup berlapang dada. Namun iapun tak mau mati. Meskipun dalam keraguan, ia berusaha untuk tidak berprasangka terhadap Sawung Sariti. Tubuhnya, suaranya dan kata-katanya bukan tubuh suara dan kata-kata adiknya. Adiknya tidak berkata sekasar itu, namun lebih licin, licik dan menyakitkan hati. Tatageraknya pun agak berbeda.

Adiknya licin dan cekatan, orang itu tangguh meskipun cepat bergerak pula. Tetapi akhirnya ia tidak peduli lagi, siapapun yang dihadapi. Ketika dua orang kawannya mulai bergerak, Arya tidak mempunyai pilihan lain daripada mempertaruhkan segenap ilmunya. Kedua orang yang membantu orang bertopeng itu ternyata bertatagerak lain. Lain sekali dengan orang bertopeng itu. Mereka agaknya sama sekali tak ada hubungan perguruan.

Dalam saat-saat terakhir terasa bahwa Arya tak dapat mampu mempertahankan dirinya. Maka daripada mati sebelum segenap tugasnya selesai, Arya telah memilih keputusan yang terakhir. Ia melontar mundur agak jauh dari lawannya, dipusatkannya segala daya kekuatannya, pikirannya dan diaturnya nafasnya menurut saluran ilmu terakhirnya, Sasra Birawa.

Tetapi kembali ia dikejutkan oleh peristiwa yang tak dapat dimengertinya. Ketiga orang itu sama sekali tak mengejarnya. Bahkan orang bertopeng itu tiba-tiba berteriak, “Arya, jangan. Jangan.”

Pemusatan pikiran Arya agak terganggu. Namun kembali ia mengatur tata pernafasannya. Ia tidak mau gagal karena pengaruh perasaannya. Namun kali ini ia benar-benar terpaksa mengurungkan niatnya, sebelum getaran di dadanya menjalar ke sisi telapak tangan kanannya.

Tiba-tiba dari dalam kelam di balik pepohonan terdengar suara, “Jangan Arya. Salurkan ilmumu kembali, redakan getaran di dalam dirimu sebelum kau terbenam di dalamnya.”

Dalam hal yang demikian, Arya tak dapat berbuat lain daripada menurut perintah itu. Kakinya yang hampir diangkatnya, diletakkannya kembali di atas tanah. Kemudian tangan kanannya yaag sudah mulai bergerak, disilangkannya di muka dadanya untuk meredakan getaran-getaran yang telah mulai bergerak di dalam dirinya. Perlahan-lahan ilmu yang dahsyat itu mengendor kembali sebelum menguasai tubuh Arya sepenuhnya.  

ARYA SALAKA melihat dua orang perlahan-lahan menyusup di bawah pagar bambu di tepi jalan, dekat di sampingnya. Mereka adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Keduanya sama sekali tidak mengesankan ketegangan yang dialaminya selama ia bertempur melawan orang bertopeng itu. Bahkan dengan perlahan-lahan Mahesa Jenar menepuk pundaknya sambil berkata, “Bersyukurlah. Kau mendapat lawan yang luar biasa.”

Dua orang kawan orang bertopeng itu melangkah surut. Mereka mencoba bersembunyi di dalam kelam di bawah pepohonan yang rimbun, sedang orang bertopeng itu berdiri tegak seperti patung. Arya menjadi keheran-heranan melihat sikap gurunya, yang seakan-akan tak terjadi suatu apapun di sini.

Dirasanya dalam malam yang gelap dingin itu tubuhnya dibasahi oleh keringatnya yang mengalir dari segenap wajah kulitnya. Namun Mahesa Jenar menganggap apa yang terjadi agaknya seperti suatu permainan yang menyenangkan. Arya kemudian mencoba untuk menilai sikap gurunya. Barangkali gurunya yakin bahwa orang yang bertempur melawannya itu tidak lebih daripada dirinya. Mungkin gurunya tahu pula bahwa kedua kawan orang bertopeng itu adalah orang-orang yang tak berarti apa-apa bagi gurunya dan Kebo Kanigara.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata, “Arya, siapakah lawanmu itu?”

“Aku tidak tahu, Paman,” jawab Arya. Mahesa Jenar menoleh kepada orang bertopeng kulit kayu yang sederhana itu, yang seakan-akan dibuat dengan tergesa-gesa. Sebuah klika kayu yang dilubangi di kedua lubang mata, kemudian diikat pada kepalanya dengan tali dan ikat kepalanya.

“Tidakkah kau mengenal tata gerak yang dipergunakan untuk melawanmu?” tanya Mahesa Jenar pula. “Ya, aku mengenal Paman,” jawab Arya.

“Nah, ilmu siapakah itu?” desak gurunya.

“Ilmu keturunan dari perguruan Pangrantunan,” jawab Arya.

“Sekarang cobalah kau ingat-ingat, siapakah yang memiliki ilmu itu.”

Arya diam sejenak. Tak ada tiga empat. Lembu Sora dan Sawung Sariti. Mula-mula ia ragu-ragu untuk menjawab, namum kemudian meloncatlah kata-kata dari bibirnya, “Ada dua, Paman. Paman Lembu Sora dan Adi Sawung Sariti.”

“Siapakah di antara mereka?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut. Arya menjadi semakin beragu. Sekali lagi ia melihat orang bertopeng itu dengan seksama. Dari ujung jari-jari kaki sampai kepalanya. Tetapi dalam gelap malam itu tak dapat ditebaknya dengan pasti siapakah orang yang bertopeng itu. Orang bertopeng itu berdiri seperti patung. Dua orang kawannya tampak merapatkan diri masing-masing dengan pagar di tepi jalan.

Akhirnya Arya menebak saja sekenanya. “Paman, orang itu bukan adi Sawung Sariti.”

“Jadi…?” desak Mahesa Jenar. Arya Salaka menjadi tergagap menjawab, “Jadi, jadi agaknya Paman Lembu Sora.”

“Apakah kau pasti?” tanya Mahesa Jenar.

Arya kini benar-benar bingung. Bingung sekali. Ia tahu bahwa bentuk pamannya tak seperti orang itu, meskipun juga bertubuh tinggi dan besar. Namun lehernya dan pundaknya agak berbeda. Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahesa Jenar berkata, “Agaknya kau tidak pasti Arya.”

Arya mengangguk. “Nah, kalau demikian, siapakah orang lain yang memiliki ilmu keturunan dari Pangrantunan?”

Terdengar orang bertopeng itu menggeram.

“Tak ada,” jawab Arya. Mahesa Jenar tertawa. Sekali-kali pandangannya menyambar dua orang yang merapat di tepi jalan. Katanya kepada kedua orang itu, “Jangan terlalu merapat pagar Ki Sanak. Barangkali seekor ulat akan melekat di leher kalian.”

“Hem….” kedua orang itupun menggeram.

“Arya…” kata Mahesa Jenar, Adakah kau pernah menerima dasar-dasar dari perguruan Pangrantunan?”

Dada Arya tiba-tiba berdesir. Teringatlah pada masa kanak-kanaknya, ia pernah mempelajari ilmu-ilmu dasar tata gerak dari perguruan Pangrantunan. Karena itu tiba-tiba ia menjawab, “Pernah, Paman.”

“Siapakah yang memberimu pelajaran?” Arya kini teringat, bahwa memang ada orang lain yang memiliki ilmu itu, jawabnya, “Ada orang yang memiliki ilmu itu, Paman, tetapi…” kata-kata Arya terputus. 

Orang itu adalah ayahnya. Dan ayahnya kini sedang berada di Demak. Diingatnya kata-kata ayahnya pada saat ia meninggalkannya di hadapan laskar Banyubiru yang siap dalam gelar Dirada. Katanya pada saat itu, “Arya, aku akan pergi. Jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali.”

TIBA-TIBA tubuh orang bertopeng itu bergetar. Terdengarlah sekali ia menggeram. Kemudian tiba-tiba saja tangannya bergerak merenggut topeng yang dikenakannya. Agaknya ia tidak dapat lagi menahan hatinya. Demikian topengnya terlepas dari wajahnya, berkatalah orang itu, “Arya, aku adalah orang ketiga yang memiliki ilmu perguruan Pangrantunan.”

Suara itu di telinga Arya Salaka terdengar seperti suara runtuhnya gunung Merbabu. Dadanya bergetar keras sekali, dan jantungnya bergelora seperti akan meledak. Dan tiba-tiba pula meloncatlah kata-katanya, hampir berteriak, “Ayah!”

“Ya,” jawab orang bertopeng itu, “Aku adalah ayahmu.”

Sesaat Arya mengamat-amati wajah itu. Meskipun di dalam gelapnya malam, namun wajah ayahnya telah tercetak di dalam hatinya. Sehingga, dengan segera ia dapat mengenal kembali, meskipun hanya garis lekuk-lekuk wajah itu. Hampir tak ada perubahan sejak kira-kira lima enam-tahun yang lampau. Karena itu tiba-tiba darahnya seperti melonjak-lonjak.

Dan tanpa sesadarnya Arya melompat maju, menjatuhkan diri di kaki ayahnya sambil berkata gemetar. “Ayah, betulkah ayahku, ayah Gajah Sora.”

Terdengarlah suara orang itu perlahan-lahan, tidak kasar dan tidak mengandung nada permusuhan, “Kau masih mengenal aku dengan baik bukan, Arya?”

Arya ingin menjawab. Di dadanya tiba-tiba penuh dengan kata-kata yang akan melontar keluar, namun mulutnya segera tersumbat oleh sesuatu yang menyekat. Karena itu yang terlontar keluar hanyalah sepatah kata, “Ya.”

Gajah Sora menepuk bahu anaknya dengan bangga. Kemudian anak itupun ditariknya berdiri. Sambil berkata ia memandang kepada Mahesa Jenar, “Hampir aku tak percaya, bahwa anak inilah yang pernah aku tinggalkan lima tahun yang lampau.”

Mahesa Jenar tidak menyahut, tetapi ia melangkah maju. Diulurkannya kedua tangannya, yang segera disambut oleh Gajah Sora dengan penuh gairah. Disambutnya salam Mahesa Jenar itu dengan sepenuh hati. Dan terasalah oleh Mahesa Jenar bahwa tangan itu gemetar.

Mahesa Jenar pun haru. Ketika ia melihat Arya hampir bertiarap di kaki ayahnya, matanya terasa panas. Perpisahan yang sekian lama dan tanpa harapan untuk dapat bertemu pada saat-saat yang demikian ini. Tiba-tiba orang itu berdiri di hadapannya.

Kemudian Mahesa Jenar menoleh kepada dua orang yang berdiri merapat pagar.

“Apakah kalian akan tetap berdiri di situ?”

Terdengar kedua orang itu tertawa. Salah seorang daripadanya menjawab, “Permainanmu ternyata lebih baik daripada permainan Kakang Gajah Sora, Kakang.”

Mahesa Jenar pun tertawa, jawabnya, “Hampir aku tidak tahan bersembunyi di balik gerumbul itu. Nyamuknya bukan main. Sedang kalian berdua masih saja ingin melihat, bagaimana Arya menjadi semakin bingung.”

Kedua orang itupun kemudian melangkah maju. Seorang bertubuh gemuk bulat, sedang yang lain agak lencir. Keduanya ternyata berpakaian lengkap, sebagaimana dua orang prajurit yang datang dari Demak.

Kedua orang itu mengulurkan tangannya pula, yang disambut oleh Mahesa Jenar bergantian. Kemudian mereka itu diperkenalkan pula kepada Kebo Kanigara. Ternyata mereka itupun pernah mendengar nama itu, namun baru kali inilah mereka berhadapan dengan putra Ki Ageng Pengging Sepuh.

“Marilah kita mencari tempat yang lebih baik Kakang Gajah Sora,” ajak Mahesa Jenar, “Barangkali Kakang Gajah Sora dapat menceriterakan sesuatu kepada kami, suatu ceritera yang menarik.” Meskipun demikian hati Mahesa Jenar masih belum terang, apakah kedua prajurit Demak itu mempunyai tugas khusus mengawal Gajah Sora.

Namun ia berkata, “Mari Adi Gajah Alit dan Adi Paningron. Aku mempersilahkan kalian.”

Gajah Sora menoleh kepada dua orang prajurit yang ternyata Gajah Alit dan Paningron. Kedua orang prajurit itupun mengangguk, sedang Gajah Alit berkata, “Marilah, akupun tidak tahan lagi. Nyamuk Pangrantunan benar-benar buas dan besar-besar.”

“Tidak Adi,” sahut Mahesa Jenar, “Tetapi barangkali Adi tidak biasa digigit nyamuk.”

“Ah…” desis Gajah Alit, “Bukankah Kakang Mahesa Jenar tadi juga hampir tidak tahan oleh nyamuk?” Mahesa Jenar tertawa. Gajah Alit memang senang berkelakar sejak masa persahabatan mereka dahulu di Demak. Kemudian berjalanlah mereka beriringan ke pondok. Ketika mereka memasuki halaman, mereka melihat Wulungan masih berdiri di muka pintu. Dua orang yang lain tampak berjaga-jaga di dalam gelap. Ketika Wulungan melihat Mahesa Jenar, segera iapun melangkah menyambutnya, “Apakah yang terjadi?”

“Seseorang telah mencoba menyerang Arya Salaka,” Mahesa Jenar menjawab, namun sambil tersenyum. Katanya meneruskan, “Inilah orangnya. Pernahkah kau mengenalnya?”

WULUNGAN mengerutkan keningnya.

Nyala obor di muka rumah itu lamat-lamat mencapainya. Sehingga wajah Gajah Sora itupun dapat dilihatnya. Orang itu bertubuh gagah tegap, berdada bidang, meskipun agak kurus namun jelas betapa baik bentuk tubuhnya. Kumisnya lebat meskipun tidak sepanjang kumis Ki Ageng Lembu Sora.

Tiba-tiba Wulungan itupun menundukkan kepalanya. Demikian hormat sambil berkata, “Selamat datang Ki Ageng Gajah Sora. Kedatangan Ki Ageng adalah sedemikian tiba-tiba. Salam baktiku untuk Ki Ageng.”

“Masih kau ingat bentuk tubuh yang kurus kering ini, Wulungan?” tanya Gajah Sora.

“Tidak. Ki Ageng tidak kurus kering. Ki Ageng cukup segar meskipun agak susut sedikit. Tetapi hampir tak ada perubahan sejak aku melihat untuk yang terakhir kali,” jawab Wulungan.

Ki Ageng Gajah Sora tersenyum. Kemudian merekapun melangkah masuk ke dalam pondok itu, dan duduk di bale-bale besar diruang depan. Sesaat kemudian beberapa orang telah siap merebus air dan jagung muda. Sambil menikmati hindangan itu maka berkatalah Mahesa Jenar, “Kedatangan Kakang Gajah Sora sangat mengejutkan kami. Apalagi bersama-sama dengan Kakang, ikut serta adi Gajah Alit dan Adi Paningron. Apakah artinya ini?”

Gajah Sora menarik nafas panjang. Sekali wajahnya beredar di sekitar ruangan itu. Kemudian berhenti di wajah Arya Salaka. Sekali lagi ia menarik nafas. Katanya, “Adi Mahesa Jenar. Anakku ini benar-benar mengejutkan hatiku. Sebelum aku berceritera, seharusnya aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Adi. Agaknya Adi Mahesa Jenar telah memenuhi permintaanku, mengasuh anak nakal ini, bahkan melampaui harapan yang aku khayalkan tentang dirinya.”

Mahesa Jenar tersenyum, jawabnya, “Bukanlah aku yang telah menjadikannya anak yang cukup bekal untuk menjaga dirinya, tetapi darah yang mengalir di dalam tubuhnya, agaknya merupakan modal yang tak ternilai harganya.”

Arya menundukkan wajahnya. Ia malu ketika ia mendengarkan ayah serta gurunya sedang menilai dirinya. “Modal yang tak ditangani oleh tangan yang baik, ia tidak akan berkembang, bahkan akan kehilangan nilai-nilainya,” jawab Gajah Sora pula.

Kemudian ia meneruskan, “Aku pernah bertempur dengan Adi Mahesa Jenar di Gunung Tidar. Aku mengagumi betapa dahsyatnya ilmu dari perguruan Pengging. Ketika aku kemudian terpisah dari Adi lima-enam tahun yang lalu, dan kemudian aku mencoba untuk bertempur melawan anak asuhan Adi yang berilmu keturunan dari Pengging, aku merasa bahwa seakan-akan aku mengulangi pertempuran di Gunung Tidar itu. Arya Salaka benar-benar telah memiliki ilmu seperti yang Adi miliki pada saat itu. Dan ternyata bahwa Arya telah benar-benar mencerminkan Adi Mahesa Jenar sewaktu adi bertempur di Gunung Tidar itu.”

Mahesa Jenar tersenyum. Ia pun berbesar hati ketika ia mendengar sendiri bahwa Gajah Sora tidak kecewa melihat anaknya. Terbayang pula di dalam rongga mata Mahesa Jenar, bagaimana ia bertempur di mulut gua Sima Rodra di Gunung Tidar melawan Gajah Sora, sehingga akhirnya ia terpaksa melepaskan aji pemungkasnya, Sasra Birawa. Pada saat itu Gajah Sora tidak dapat berbuat lain daripada menyelamatkan dirinya dengan aji andalan perguruan Pangrantunan, Lebur Saketi.

Mahesa Jenar menjadi geli sendiri mengenangkan peristiwa itu, sehingga ia tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Tetapi sesaat kemudian senyum itu lenyap seperti awan disapu angin. Sasra Birawa dan Lebu Saketi tidak saja pernah berbenturan di atas Gunung Tidar dalam suatu peristiwa kesalahpahaman, namun kedua aji itupun pernah berbenturan di Gedangan, masing-masing dilontarkan oleh Arya Salaka yang mewarisi ilmu dari Pengging, melawan saudara sepupunya, Sawung Sariti, yang memiliki ilmu keturunan dari Pangrantunan. Tetapi benturan itu sama sekali bukan karena salahpaham, namun benar-benar karena kemarahan yang tak tertahankan. Kesengajaan karena nafsu kedengkian, ketamakan dan keserakahan.

Tetapi Mahesa Jenar kemudian tersadar dari lamunannya oleh suara Gajah Sora. “Adi, mungkin Arya Salaka tidak akan menjadi anak seperti sekarang ini, seandainya aku sendiri yang mengasuhnya.”

Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tetapi ia tidak menjawab. Kemudian Gajah Sora meneruskan, “Selain kekagumanku atas kemajuan yang pesat dari anakku, aku kira kalianpun menjadi heran, kenapa tiba-tiba aku berada di Pangrantunan.”

Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab, “Ya. Tentu saja kami menjadi gembira atas pertemuan ini.”

“Tetapi kenapa aku dan Kakang Paningron hadir pula di sini? sela Gajah Alit sambil tersenyum. Mahesa Jenarpun tertawa.

“Ya,” jawabnya, “Kenapa kalian datang pula?”

“Kakang Mahesa Jenar mempunyai prasangka kepada kami, Kakang,” kata Gajah Alit kepada Panigron. Paningron tersenyum. Memang ia tidak begitu banyak berbicara.

PANINGRON lebih senang mendengarkan Gajah Alit berkelakar daripada berbicara sendiri. Mahesa Jenar sudah mengenal watak sahabatnya yang gemuk ini. Karena itu ia pun menjawab, “Agaknya kau bertugas mengawal Kakang Gajah Sora, Adi. Kau sangka Kakang Gajah Sora akan melarikan diri seandainya Kakang mendapat kesempatan sehari dua hari menengok tanah perdikannya?”

Gajah Alit tertawa. Jawabnya, “Tidak, aku tidak bertugas mengawal Kakang Gajah Sora, tetapi aku bertugas menangkap Kakang Mahesa Jenar.”

“Kalau begitu,” sahut Mahesa Jenar, “Aku akan membantumu.”

Semuanya tertawa mendengar kelakar yang segar. Arya Salaka pun tertawa pula. “Nah, bagaimanakah yang sebenarnya?” tanya Mahesa Jenar kemudian. Gajah Alit tidak segera menjawab pertanyaan Mahesa Jenar. Ditebarkannya pandangan matanya melingkari ruangan itu. Baru kemudian ia berkata, “Biarlah Kakang Gajah Sora berceritera. Kakang pasti tidak akan percaya seandainya aku yang mengatakannya.”

“Kau terlalu sering berdusta,” sahut Mahesa Jenar. Sekali lagi semuanya tertawa. Tetapi tidak berkepanjangan, sebab kemudian Gajah Sora berkata, “Apa yang dapat aku ceriterakan? Yang aku ketahui, Baginda memerintahkan lewat Adi Gajah Alit, bahwa aku diperkenankan kembali ke Banyubiru.”

“Tidak hanya itu,” sela Gajah Alit. “Agaknya Adi Paningron lah yang paling tahu,” jawab Gajah Sora. Semua mata berkisar ke wajah Paningron. Wajah yang tenang dan padam. Namun sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

“Baiklah,” katanya, “Kalau aku yang harus berceritera. Tetapi aku tidak dapat berceritera seperti Adi Gajah Alit.”

“Ah…” desis Gajah Alit.

“Demikianlah yang sebenarnya,” Paningron meneruskan, “Kebetulan aku mengetahui beberapa persoalan. Setelah Baginda menganggap bahwa Kakang Gajah Sora benar-benar tidak bersalah, maka sebenarnya pada saat itu Kakang Gajah Sora sudah dapat dibebaskan. Sejak pertemuan kami di Rawa Pening, Baginda menjadi pasti bahwa Gajah Sora benar-benar tidak bersalah.

Aku dan Adi Gajah Alit telah meyakinkan Baginda. Namun Baginda menghendaki, agar usaha mencari kedua pusaka itu menjadi semakin gigih. Terutama Baginda mengharap ayah Kakang Gajah Sora dan sahabat-sahabatnya berjuang mati-matian, dengan harapan untuk dapat segera membebaskan Kakang Gajah Sora.

Tetapi keadaan berkembang ke arah yang tak dikehendaki. Beberapa saat, kami, di Demak kehilangan jejak atas perkembangan daerah perdikan Banyubiru. Baru beberapa saat kemudian kami ketahui bahwa Banyubiru berada dalam kesulitan. Mula-mula kami tidak pasti, apa yang menyebabkan. Tetapi terasa adanya ketegangan dalam pemerintahan rakyat Banyubiru seakan-akan kehilangan pegangan. Kehilangan kiblat.

Pada saat yang demikian itulah Baginda menganggap Gajah Sora harus kembali ketanahnya. Harus kembali kepada ayahnya yang sedang berjuang mati-matian untuk menegakkan kembali apa yang dimilikinya. Sora Dipayana telah berjuang hampir sepanjang umurnya untuk persatuan dan kemerdekaan tanah perdikan ini. Pada saat-saat yang demikian, kami ketahui pula, bahwa orang-orang dari golongan hitam telah memancing di air keruh. Dan inilah bahaya yang sebenarnya, yang akan mengancam Banyubiru, Pamingit dan bahkan Demak. Karena itu, akhirnya Gajah Sora akan diserahkan kembali, kembali kepada Ki Ageng Sora Dipayana.

Yang mempercepat tindakan Baginda adalah berita terakhir yang sampai di Demak, bahwa Banyubiru terancam perang saudara. Antara Arya Salaka dan Sawung Sariti. Perang yang telah lama dinanti-nantikan oleh golongan hitam. Perang yang akan menumpas seluruh kehidupan rakyat Banyubiru dan Pamingit. Perang yang akan memadamkan sama sekali nyala api yang pernah dikobarkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana di atas tanah perdikan Pangrantunan.”

Paningron diam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian tangannya meraih mangkuk, dan meneguk seteguk air jahe yang hangat.

“Agaknya kalangan istana sudah mengetahui semua yang terjadi di Banyubiru,” sela Mahesa Jenar. “Tidak seluruhnya,” sahut Paningron, “Utusan dan bahkan pejabat-pejabat rahasia dari Demak berkeliaran di Banyubiru dan Pamingit.”

Mahesa Jenar tersenyum. Seharusnya ia sudah memaklumi sebelumnya. Seharusnya ia kenal, bagaimana orang-orang seperti Paningron dan kawan-kawannya bekerja. Kadang-kadang mereka dijumpainya seperti penjual daun, penjual kayu dan sayur-sayuran. Kadang-kadang mereka ditemuinya sebagai seorang saudagar yang kaya raya, yang menjelajah kampung untuk mencari dagangan. Sejenak kemudian Paningron meneruskan, “Tetapi hubungan antara Demak dan Banyubiru tidaklah semudah yang kita kehendaki. Itulah sebabnya, kadang-kadang kita terlambat berbuat sesuatu. Itu pulalah sebabnya kali ini kami terlambat juga. Untunglah bahwa pertempuran antara laskar Arya Salaka dan laskar Pamingit itu di Banyubiru dapat dihindarkan.”

“AKU yakin akan hal itu,” potong Ki Ageng Gajah Sora, “Selama Arya masih berada di dekat adi Mahesa Jenar.”

“Aku hampir tak berdaya,” jawab Mahesa Jenar, “Pertempuran itu sudah berada di ujung hidung Arya Salaka. Untunglah Ki Ageng Sora Dipayana berusaha sekuat tenaga. Lebih dari itu agaknya Tuhan telah mengambil keputusan, bahwa Banyubiru dan Pamingit akan diselamatkan dari bencana kemusnahan.”

“Kakang benar,” sahut Gajah Alit, “Kalau pertempuran itu tak dapat dicegah, di atas bangkai rakyat Banyubiru dan Pamingit akan menari-nari rianglah tokoh-tokoh golongan hitam dari daerah yang berserak-serak itu. Dari Gunung Tidar, Nusakambangan, Rawa Pening, Mentaok dan Lembah Gunung Cermai.”

Demikianlah kemudian pembicaraan mereka berkisar dari satu soal ke soal lain. Bahkan kemudian Paningron dan Gajah Alit tidak dapat menyembunyikan kekaguman mereka atas Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, katanya, “Tak seorang pun yang mampu membunuh Nagapasa dan Sima Rodra seorang diri. Namun Kakang Kebo Kanigara dan Kakang Mahesa Jenar telah melakukan hal itu.”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya.

“Adakah Adi melihat peristiwa itu?”

“Kami tidak,” jawab Gajah Alit, “Tetapi orang-orang kami menyaksikan, setidak-tidaknya mendengar kabar tentang perisitwa itu. Juga kami telah mendengar, bahwa Arya Salaka telah mampu bertempur seorang melawan seorang dengan Lawa Ijo. Sungguh suatu kemajuan di luar dugaan ayahnya. Itulah agaknya yang mendorong Kakang Gajah Sora untuk menilai sendiri kemampuan Arya Salaka itu.”

Mahesa Jenar tersenyum. Gajah Sora pun kemudian berceritera, bagaimana mereka bertiga bergegas untuk sampai ke Banyubiru, ketika mereka mendengar bahwa keadaan Banyubiru sudah sedemikian gawat. Namun mereka terlambat. Meskipun demikian mereka berlega hati. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran justru antara laskar Banyubiru bersama-sama dengan laskar Pamingit melawan laskar golongan hitam di Pamingit.

Mereka jumpai Banyubiru telah kosong. Karena itu merekapun segera pergi ke Pamingit. Namun pertempuran di Pamingit itupun telah selesai. Seorang petugas yang ditanam oleh Paningron melaporkan, bahwa Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka justru pergi ke Banyubiru, karena Pasingsingan mendahului mereka.

“Nah, Adi Mahesa Jenar…” tanya Gajah Sora kemudian, “Bagaimana dengan Pasingsingan?”

Kemudian Mahesa Jenar lah yang berceritera. Pasingsingan terbunuh oleh Pasingsingan.

“Ceritera tentang Pasingsingan itu panjang, Kakang,” kata Mahesa Jenar kemudian, “Lain kali akan aku ceriterakan selengkapnya. Kepada Kakang, kepada Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten, dan yang lain-lain.”

“Mereka juga belum mengetahui?” tanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya.

“Belum. Belum seorangpun yang tahu.”

Sejenak merekapun berdiam diri. Dalam saat-saat yang demikian, Mahesa Jenar mengamat-amati pakaian yang dikenakan oleh Gajah Alit dan Paningron. Ia menarik nafas panjang. Pakaiannya seperti yang dipakai Gajah Alit itupun pernah dipakainya. Pakaian perwira pengawal raja. Beskap hitam, sabuk kuning keemasan dan ikat kepala biru. Kain panjang, sapit urang, celana hitam berpelisir kuning. Sebilah keris berwarangka emas terselip di pinggangnya. Sedang Paningron pun memakai pakaian kebesarannya. Mirip dengan pakaian Gajah Alit, tetapi ia tidak berikat pinggang kuning, stagennya agak berwarna emas dengan permata yang berkilat-kilat. Juga di pinggang Paningron terselip sebilah keris dengan warangka gayaman.

Tetapi ketika Mahesa Jenar sedang berangan-angan, berkatalah Gajah Sora, “Adi Mahesa Jenar, banyak yang ingin aku ketahui, dan banyak yang ingin aku dengarkan, tetapi baiklah lain kali kami lanjutkan. Aku sudah rindu menyampaikan sujud kepada Ayah, Sora Dipayana.”

Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Jawabnya, “Aku kira demikian sebaiknya. Wulungan akan bersama-sama dengan kita.”

“Meskipun demikian…” Gajah Sora meneruskan, “Adi Paningron mempunyai satu kepentingan lain, yang barangkali Adi Mahesa Jenar mengetahuinya.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, ia bertanya, “Apakah itu?”

“Tidak begitu penting,” sahut Paningron. Mahesa Jenar mengangguk-angguk kecil. Ia menunggu persoalan apa pula yang dibawa oleh Paningron ini. Apakah tentang dirinya, atau yang lain? Paningron memandang kepada Gajah Alit. Belum lagi mendengar sepatah kata pun, ia telah mengangguk-angguk. Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Tidak penting, Kakang.”

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: