Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 17

Lanjutan dari jilid 16

MAHESA JENAR menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian berkatalah Paningron, “Ada dua masalah yang akan aku katakan. Sengaja aku simpan sampai aku berhadapan dengan Kakang Mahesa Jenar. Hal ini Kakang Gajah Sora sendiri pun belum mengetahuinya.”

“Apakah soalnya?” sela Mahesa Jenar.

“Yang pertama,” sahut Paningron, “Adalah Kakang Mahesa Jenar dapat mengatakan kepada kami, bagaimanakah bentuknya orang yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

Mahesa Jenar menjadi ragu. Ia sekarang tahu pasti siapakah orang yang mengambil pusaka-pusaka itu. Tetapi sebelum menjawab, terdengar Gajah Sora berkata, “Telah aku katakan. Orang itu berjubah abu-abu.”

“Adakah orang itu berhubungan dengan ceritera Pasingsingan yang terbunuh oleh Pasingsingan?” tanya Paningron pula. Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Akhirnya ia menjawab, “Tidak. Pasingsingan yang membunuh Pasingsingan bukanlah orang itu.”

Paningron mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia memandang kawannya yang gemuk bulat. Katanya, “Soal itu perlu juga aku sampaikan.”

“Silahkan Kakang,” jawab Gajah Alit sambil tersenyum.

“Adakah orang lain di rumah ini?” tanya Paningron. Mahesa Jenar memandang berkeliling. Rara Wilis dan Endang Widuri tidak nampak sejak tadi. Wulungan yang mengerti maksud Mahesa Jenar, berkata, “Mereka sudah tidur sejak tadi.”

“Siapa?” sahut Paningron. “Anakku,” jawab Kebo Kanigara.

“O, tak apalah.” Paningron meneruskan, “Aku akan berkata tentang Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Tetapi ia berhenti. Dengan sudut matanya ia memandang ke arah Wulungan.

“Berkatalah,” desak Mahesa Jenar, “Orang itu bisa kita percaya.”

“Sebelum ceriteraku sampai pada masalah yang kedua,” kata Paningron, “Kami mengetahui sesuatu tentang pusaka-pusaka itu.”

Gajah Sora dan Mahesa Jenar mengerutkan alisnya, sedang Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. “Ini juga salah satu sebab yang menentukan, bahwa Baginda benar-benar yakin, bahwa Kakang Gajah Sora tidak menyimpan pusaka-pusaka itu.”

Paningron meneruskan, “Pada suatu saat, Kakang Arya Palindih melihat seseorang membawa kedua pusaka itu.”

Gajah Sora terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar.

“Siapakah orang itu?” tanya Gajah Sora.

“Seperti yang kau katakan,” jawab Paningron, “Berjubah abu-abu. Orang itu datang kepada Arya Palindih, berkata kepadanya, apakah Kakang Palindih pernah melihat benda-benda yang dibawanya. Ternyata benda-benda itu adalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

“Hem…” Gajah Sora berdesis. “Tentu saja Kakang Arya Palindih bertanya kepadanya, darimana pusaka-pusaka itu didapatnya. Dan orang itu berkata terus terang bahwa keduanya diambil dari Banyubiru,” Paningron meneruskan.

“Tetapi ketika kedua pusaka itu diminta oleh Kakang Palindih, orang itu berkeberatan. Sehingga akhirnya terpaksa Kakang Palindih mencoba memaksanya. Tetapi orang itu luar biasa. Kakang Palindih tak mampu melawannya. Dan kedua pusaka itu lenyap kembali.”

Gajah Sora menggeram. Namun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berpikir, “Pasti, tak seorangpun mampu menangkapnya.”

“Tetapi…” kata Paningron, “Bahwa Kakang Gajah Sora terbukti tidak bersalah, Kakang Palindih menjadi yakin karenanya. Dan ini adalah salah satu sebab pula yang meyakinkan Baginda.”

PANINGRON berhenti sejenak. Diteguknya wedang jahe di mangkuknya.

Kemudian ia meneruskan, “Tetapi kemudian orang itu muncul kembali.”

“Kapan?”

“Dan inilah ceritera yang kedua,” sahut Paningron, “Ketika seorang prajurit diusir dari istana, maka beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amatinya sampai beberapa saat. Kalau-kalau orang baru itu berbuat sesuatu.”

“Kenapa diusir?” tanya Mahesa Jenar.

“Seorang anak muda yang perkasa,” jawab Paningron. “Tak seorangpun seangkatannya yang dapat menyamai keperwiraannya. Ia diketemukan oleh Baginda di halaman masjid, ketika Baginda hendak bersembahyang. Anak muda itu sedemikian tergesa-gesa, sehingga ia dapat meloncat mundur sambil berjongkok melampaui sendang di halaman masjid itu.”

Berdebarlah dada Kebo Kanigara mendengar ceritera itu. Ia tahu bahwa kecakapan yang demikian itu jarang-jarang dimiliki oleh seseorang. Namun ia tidak bertanya.

“Karena kecakapannya…” Paningron melanjutkan, “Dalam waktu yang singkat, ia telah diangkat menjadi pimpinan kelompok Wira Tamtama dengan anugrah pangkat Lurah. Tetapi sayang, bahwa ia kemudian berbuat suatu kesalahan.”

“Apakah kesalahannya?” tanya Mahesa Jenar.

“Ia telah membunuh seseorang yang bernama Dadung Ngawuk,” jawab Paningron.

“Membunuh orang?” tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, “Apa soalnya?”

“Orang baru, yang mencoba memasuki Wira Tamtama. Namun orang itu terlalu sombong. Maka anak muda itupun marah dan dibunuhnya Dadung Ngawuk dengan sadak kinang,” jawab Paningron.

Mendengar jawaban itu Gajah Alit tertawa. Bahkan ia hampir tak dapat menahan suara tertawanya itu. Mula-mula yang melihat Gajah Alit itu tertawa, menjadi heran, namun akhirnya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Gajah Sora mengetahuinya, “Membunuh dengan sadak kinang.”

Paningron tersenyum, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersenyum pula.

Namun Arya Salaka menjadi tegang. Ia tak tahu kenapa mereka tertawa karenanya. Tetapi tiba-tiba Gajah Alit berhenti tertawa. Alisnya berkerut dan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Tanpa disengajanya ia memandang Kebo Kanigara tanpa berkedip. Paningron dan Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi tegang.

Tetapi sesaat kemudian, juga Paningron seperti orang yang tersentak dari mimpinya. Bahkan terlontar dari mulutnya, “Oh!”

Kebo Kanigara menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tak apa-apa Adi. Aku sudah menduga, bahwa anak itu akan kambuh kembali.”

Mahesa Jenar masih belum tahu apa yang terjadi, apalagi Arya Salaka dan Wulungan. Sehingga akhirnya Kebo Kanigara bertanya, “Bukankah anak muda itu bernama Mas Karebet?”

Mahesa Jenar dan Arya Salaka terkejut. Namun tanggapan mereka berbeda-beda.

Arya Salaka terkejut, karena sahabatnya itu terpaksa membunuh seseorang tanpa dipikirkan akibatnya. Sehingga ia terpaksa diusir dari istana. Sedang Mahesa Jenar terkejut karena Mas Karebet telah membunuh Dadung Ngawuk dengan sadak kinang.

Ia mengurai lebih jauh keterangan itu. Sehingga Baginda mengusirnya dari istana. Akhirnya Paningron berkata, “Maafkan kakang Kebo Kanigara, aku tadi lupa bahwa Mas Karebet, yang disebut juga Jaka Tingkir adalah putra Ki Kebo Kenanga, dan bukankah kakang Kebo Kanigara itu kakak Kebo Kenanga?”

“Tak apalah. Justru aku berterima kasih kepada adi berdua. Dengan demikian aku tahu apa yang dilakukan oleh anak itu,” kata Kebo Kanigara.

“Siapakah Dadung Ngawuk itu?” ia bertanya.

Paningron memandang Arya sesaat, kemudian ia menjawab perlahan-lahan, “Simpanan Baginda.”

“Hem…” Kebo Kanigara menggeram. Namun Arya Salaka menjadi semakin bingung. “Bukankah Dadung Ngawuk itu seorang yang sombong, yang melamar menjadi seorang Wira Tamtama?”

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Ia tidak berkata sepatah katapun. Dengan sudut matanya, ia melihat Kebo Kanigara menjadi pucat dan pada dahinya mengalirlah keringat dingin.

“Tetapi,” Paningron meneruskan, “Bukan seluruhnya kesalahan Jaka Tingkir. Dadung Ngawuk lah yang memancing-mancing keonaran. Memang Jaka Tingkir terlalu tampan. Dan Baginda terlalu kasih dan percaya kepada Lurah Wira Tamtama yang baru itu. Bahkan lebih daripada Nara Manggala seperti Adi Gajah Alit itu.”

Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Kemudian apakah yang ingin adi berdua ketahui dari kami?”

“Kami mendengar berita terakhir, Mas Karebet berada di Banyubiru,” jawab Paningron.  

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara menjadi ragu. Demikian pula Arya Salaka. Memang Karebet pernah muncul di Banyubiru. Namun mereka berdiam diri.

“Mungkin kakang berdua tak mengetahuinya,” kata Gajah Alit. Sesaat suasana menjadi sepi.

Masing-masing tenggelam dalam angan-angan sendiri.

Kemudian terdengar Paningron meneruskan, “Keluarga terdekat Dadung Ngawuk marah kepada Mas Karebet. Mereka berusaha untuk membunuhnya. Sebab dengan demikian mereka telah kehilangan harapan. Keluarga mereka yang ingin menompang mukti. Tetapi Mas Karebet bukan anak-anak yang dapat dibunuh seperti membunuh cacing. Ketika pada suatu saat, beberapa orang keluarga Dadung Ngawuk berhasil menemukan anak muda itu, maka mereka beramai-ramai mengeroyoknya. Pada saat itulah orang berjubah abu-abu itu muncul. Tak seorangpun mampu melawannya. Bahkan orang berjubah itu berkata, Jangan bunuh anak muda ini. Seorang Wali yang Waskita berkata, bahwa ia akan merajai pula Jawa.”

Kembali mereka berdia diri. Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menundukkan wajahnya. Sedang Arya Salaka sibuk menebak. Namun ia gembira, kalau benar apa yang diucapkan Wali yang Waskita itu, maka sahabatnya akan menjadi raja.

Sedang Wulungan sama sekali tak mengetahui ujung dan pangkal pembicaraan itu. Angin malam bertiup semakin kencang. Kini udara sudah tidak terlalu panas. Awan di langit perlahan-lahan telah hanyut disapa angin pegunungan.

Akhirnya, merekapun merasakan kelelahan yang merayapi tubuh-tubuh mereka. Maka mereka berkeputusan untuk menunda ceritera mereka sampai besok. Kini mereka perlu beristirahat. Namun meskipun mereka berbaring, tetapi angan-angan mereka masing-masing masih membumbung tinggi.

Kebo Kanigara membayangkan betapa kemenakannya itu melakukan pelanggaran di halaman istana. “Ah, benar-benar anak nakal. Penyakitnya itu setiap saat dapat muncul dengan tiba-tiba. Seharusnya ia menghindari kesalahan ini, meskipun ia tidak bersalah seluruhnya,” pikirnya.

Sedang Arya Salaka sibuk membayangkan masa depannya disamping masa depan sahabatnya yang gemilang. Namun ia tidak iri hati. Kalau ia dapat kembali ke tanah pusakanya, maka ia telah mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi kini ayahnya telah kembali kepadanya. Namun terdengar ia berdesah. Ia belum berhasil menemukan ibunya. Ia masih belum berani menyinggung-nyinggung keselamatan ibunya kepada ayahnya. Sebab ia masih belum menemuinya. Meskipun ia melihat pertanyaan tentang ibunya itu memancar dari rongga mata ayahnya, namun agaknya ayahnyapun berusaha menahan diri, di hadapan orang-orang lain ini. Memang demikianlah pertanyaan tentang isterinya itu melingkar-lingkar di hati Gajah Sora. Namun ia agak malu untuk melahirkannya.

Yang melayang-layang di dalam angan-angan Mahesa Jenar adalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Kalau orang berjubah abu-abu itu berkata bahwa Jaka Tingkir kelak akan merajai pulau Jawa, bagaimanakah dengan kedua pusaka itu? Apakah oleh Panembahan Ismaya, kedua pusaka itu akan diserahkan kepada Mas Karebet sebagai sipat kandel, dan apakah kedua pusaka itu akan luluh dalam dirinya. “Aku akan menanyakannya ke Karang Tumaritis kelak,” pikirnya. “Sekarang biarlah aku mengantar Arya sampai ke tempatnya. Tanah perdikan Banyubiru.”

Meskipun angan-angan mereka bertentangan kian kemari, namun mereka tetap berbaring diam.

Wulungan tidak ikut berbaring dengan mereka, tetapi ia berdiri dan melangkah keluar. Ia berjalan ke arah api di pojok desa, dan ia berbaring di antara anak buahnya. Kepada anak buahnya diceriterakannya apa yang dilihatnya, bahwa Ki Ageng Gajah Sora telah kembali diantar oleh dua orang prajurit istana. Sisa malam berjalan dengan tenangnya, dibungai oleh bintang pagi di tenggara, bertengger di atas punggung bukit. Mereka yang berbaring di bale-bale besar itupun telah lelap dibuai mimpi. Tetapi mereka tidak tidur terlalu lama.

Pagi-pagi benar, sebelum cahaya matahari memancar dari balik cakrawala, mereka telah bangun. Setelah bersembahyang Subuh, segera mereka bersiap-siap untuk pergi ke Pamingit. Wulunganpun segera mempersiapkan diri beserta beberapa orang laskarnya, untuk mengantar Mahesa Jenar dan kawan-kawannya ke Pamingit dan kini bahkan bertambah dengan Ki Ageng Gajah Sora, Paningron dan Gajah Alit. Rara Wilis dan Widuri pun terkejut bercampur gembira ketika mereka mengetahui bahwa ayah Arya Salaka telah kembali dengan selamat. Perjalanan di pagi yang segar itu terasa sangat menggembirakan bagi Widuri. Kudanya kadang-kadang berpacu mendahului, kadang-kadang berlari berputar di lapangan rumput terbuka mengejar kelinci yang berkeliaran. Arya Salaka pun sebenarnya tidak kalah gembiranya. Sebenarnya ia ingin berpacu pula, mengejar kuda Endang Widuri, tetapi ia tidak tahu, perasaan apa yang telah mencegahnya.

GAJAH SORA yang melihat gadis itu dengan lincahnya seolah-olah menari-nari di atas punggung kuda menjadi heran. Alangkah lincah dan tangkasnya. “Ah, tidaklah aneh,” bisik hatinya, “Ayahnya, Kakang Kebo Kanigara telah mampu membunuh Nagapasa.”

Dan tiba-tiba saja hatinya menjadi sangat tertarik pada gadis itu. “Sayang,” hatinya berbisik terus, “Aku tak punya anak gadis seperti itu.”

Tetapi ia tidak kalah bangga melihat Arya Salaka yang duduk tenang di atas kuda di sampingnya. Anak itu tampak kokoh, kuat seperti Mahesa Jenar. Kalau dahulu, di gunung Tidar, kematangannya dalam menerapkan ilmu Lebur Saketi, satu lapis lebih tinggi dari Mahesa Jenar, maka kini ia yakin, bahwa anaknya sudah tak dapat dikalahkannya. Ilmunya sendiri, hampir tak berubah selama ia berada di Demak. Tetapi ia tidak menyesal. Bagi tanah perdikannya, Arya Salaka sudah akan mampu dibujurlintangkan apabila ada marabahaya datang.

Terhadap Mahesa Jenar pun, ia tak habis heran, dari mana ia dapat mematangkan ilmunya sehingga ia mampu membunuh Sima Rodra? Tak banyak yang mereka percakapkan dalam perjalanan itu. Sebenarnya mereka masing-masing ingin segera sampai, tapi tak seorangpun yang berkesan tergesa-gesa. Mereka berusaha menahan perasaan masing-masing.

Ketika mereka sampai di Jatisari, mereka melihat desa ini masih sepi. Beberapa rumah tampak rusak. Ketika mereka sampai disebuah rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang lain, Wulungan berkata kepada Mahesa Jenar, “Baiklah aku melihat rumah Bahu Jatisari ini.”

“Lihatlah,” jawab Mahesa Jenar, “Rumah itu masih tampak sepi.”

Ketika Wulungan membelokkan kudanya masuk ke halaman rumah Bahu Jatisari, rombongan itupun berhenti menunggu. Beberapa orang laskar anak buah Wulungan ikut masuk ke halaman rumah itu. Mereka berloncatan turun dari kuda mereka, dan bersama-sama dengan Wulungan memasuki rumah itu.

Tidak lama kemudian mereka telah keluar kembali. Tampak wajah mereka membayangkan kekecewaan dan kemarahan.

“Apa yang terjadi?” tanya Mahesa Jenar, ketika Wulungan telah berada di dalam rombongan itu kembali.

“Perampokan yang biadab,” jawab Wulungan, “Rumah itu telah hampir kosong. Orang-orang golongan hitam telah merampoknya.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Yang berkata kemudian Ki Ageng Gajah Sora, “Kasihan rakyat Pamingit.”

Sesaat kemudian rombongan itu melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan mereka melihat bekas-bekas keganasan gerombolan hitam yang telah menunggu daerah perdikan Pamingit. Juga di sepanjang jalan mereka ketemukan bekas-bekas rakyat Pamingit yang mengungsi.

Widuri yang berkuda paling depan, meloncat turun dari kudanya, ketika dilihatnya sebuah golek terkapar di tanah.

“Apa yang kau ambil itu?” tanya ayahnya, Kebo Kanigara.

“Golek,” jawab Widuri.

“Anak yang mempunyai golek ini mesti mencarinya. Mungkin pada waktu itu ia didukung oleh ibunya berlari-lari, menghindarkan diri dari api peperangan. Semalam suntuk anak itu pasti menangis mencari goleknya ini.”

“Kepada siapa golek itu akan kau kembalikan?” tanya ayahnya.

“Di pengungsian akan aku ketemukan,” jawab Widuri, “Gadis kecil yang manis.” Ayahnya tersenyum. Sebagai seorang gadis Widuripun perasa, ia bersedih hati kalau ia melihat orang lain meneteskan air mata. Dan ia akan tertawa kalau ia melihat orang lain bergembira. Golek kecil itupun diselipkan di ikat pinggangnya. Kemudian dengan lincahnya ia meloncat ke atas punggung kuda. Dan Widuri pun berpacu kembali.

Setiap orang di dalam rombongan itu menyaksikan dengan sedih akibat keganasan gerombolan orang-orang dari golongan hitam, yang datang dari berbagai daerah untuk merusak sendi-sendi kehidupan di Pamingit. Tetapi Tuhan Maha Adil. Hampir seluruh tokoh-tokoh mereka itu dapat dihancurkan. Dengan demikian mereka tak akan mampu lagi untuk kembali mengadakan keributan, apalagi mimpi mereka tentang Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sebenarnya jarak dari Pangrantunan ke Pamingit tidaklah begitu jauh. Dalam kecepatan sedang, jarak itu dapat ditempuh dalam setengah hari. Tapi rombongan ini tidak berjalan ajeg. Berkali-kali mereka harus berhenti, kalau mereka melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. Bahkan sekali dua kali ditemuinya mayat yang masih belum terurus.

Dengan demikian mereka harus berhenti dan melaksanakan pemakaman sebagaimana seharusnya.

Karena itu maka perjalanan rombongan itu menjadi lambat. Ketika matahari telah jauh condong di sisi barat dan cahaya merah berpancaran di wajah langit yang kelabu, berdebar-debarlah setiap jantung semua orang dari rombongan itu. Di hadapan mereka, terbujur sebuah desa Banjar Panjang. Itulah Pamingit. Tanpa sengaja perjalanan rombongan itu menjadi kian cepat.

Dan dari mulut ke mulut, Ki Ageng Gajah Sora terdengar bergumam, “Pamingit!”

KEBO KANIGARA yang mendengar gumam itu menoleh kepada Ki Ageng Gajah Sora, tetapi sesaat kemudian pandangan matanya berkisar pada anaknya. “Widuri….” Ia memanggil.

Widuri menarik tali kekang kudanya. Dan ketika ia sudah sampai berada di samping ayahnya, terdengarlah ayahnya berkata, “Widuri, itulah Pamingit.” Tetapi kata-kata itu agaknya tak berkesan di hati Widuri. Berbeda dengan pada saat ia pertama kali melihat pedukuhan di lereng bukit Telamaya. Terhadap Pamingit itu, ia merasa tidak berkepentingan sama sekali. Ia datang kemari karena ayahnya datang kemari pula. Berbeda dengan perasaan-perasaan orang lain, apalagi Mahesa Jenar. Di Pamingit nanti akan ditemuinya semua orang yang diperlukan untuk menempatkan kembali batas antara Banyubiru dan Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, dan Ki Ageng Gajah Sora.

Adalah suatu kebetulan bagi Arya Salaka, bahwa Demak merasa perlu untuk mengirimkan orang-orangnya yang akan dapat menjadi saksi pertemuan itu.

Selain Mahesa Jenar, Rara Wilis pun diganggu oleh angan-angannya sendiri. Ia tidak tahu benar persoalan-persoalan apa yang akan dapat dipecahkan di Pamingit, tapi firasatnya mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Mahesa Jenar hampir selesai. Ia tidak tahu bagaimana dengan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Namun ia berdoa di dalam hati, mudah-mudahan segera ia dapat menikmati cerahnya matahari.

Tiba-tiba tanpa disadarinya, Rara Wilis menghitung-hitung umurnya sendiri. Gadis-gadis desanya yang sebaya dengan dirinya pada umumnya telah mempunyai dua tiga orang anak. Mengingat hal itu hatinya menjadi berdebar-debar. Digeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba mengusir angan-angannya yang mengganggunya itu.

Mereka kini telah hampir memasuki pusat pemerintahan. Tanah Perdikan Pamingit.

Ternyata daerah inilah yang paling banyak mengalami bencana. Mereka menyaksikan rumah-rumah penduduk dan banjar-banjar desa menjadi reruntuhan dan abu. Namun meskipun demikian daerah ini telah banyak penghuninya. Rumah-rumah yang masih tegak telah dipenuhi oleh para pengungsi. Sekarang Wulungan yang berkuda paling depan. Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Terasa jantungnya hendak meledak ketika melihat daerahnya menjadi hancur. Tapi tak satu pun yang dapat dilakukan. Apalagi ketika di hadapannya terbentang halaman bekas rumah kepala daerah perdikan Pamingit, di samping alun-alun. Halaman itu kini telah rata. Tak sebatang tiangpun yang masih tegak, yang dapat mengangkat kemewahan rumah ini pada masa lampau.

Rombongan itu berhenti di regol halaman. Mereka diam membisu. Hanya pandangan mata merekalah yang menyapu pemandangan yang mengerikan itu. Ketika tiba-tiba Wulungan melihat dua orang laskar Pamingit muncul menyongsong rombongan itu, Wulungan bergegas-gegas menemui mereka.

“Di manakah Ki Ageng?” tanya Wulungan.

“Di banjar desa sebelah,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Marilah ikut kami.” Kemudian, kedua orang itupun berjalan bergegas-gegas ke arah yang ditunjukkan, sedang Wulungan dan seluruh rombongan mengikutinya. Mereka menyusup lewat jalan sempit dan langsung memotong arah. Matahari telah tenggelam di balik bukit. Dari kejauhan tampak nyala api pelita, memancar dari lubang pintu.

“Itulah banjar desa yang masih separo tegak,” kata orang yang menjemput rombongan itu. Sekali lagi terdengar Wulungan menggeram. Ia sendirilah yang memimpin pembangunan banjar desa itu, dahulu.

Demikianlah akhirnya rombongan itu memasuki halaman banjar desa. Ketika mereka yang ada di dalam banjar desa itu mengetahui kedatangan rombongan itu, segera merekapun menyambutnya. Yang pertama-tama melampaui telundak pintu, adalah seorang tua yang bertubuh kecil. Ki Ageng Sora Dipayana. Ia terkejut, ketika di dalam gelap dilihatnya sebuah rombongan yang agak besar.

Kepada Wulungan, yang berada di paling depan, orang tua itu berkata, “Rombonganmu menjadi besar, Wulungan? “

“Oleh-oleh yang tak terduga-duga, Ki Ageng,” jawab Wulungan.

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak perlu bertanya untuk kedua kalinya, sebab segera Ki Ageng Gajah Sora meloncat turun dari kudanya, dan langsung meloncat sujud di kaki ayahnya.

“Kau…” desis orang tua itu. Betapa ia terkejut, dan betapa darahnya serasa mengalir semakin cepat.

“Gajah Sora, Ayah,” jawab Gajah Sora.

“Hem…” orang tua itu menggeram. Diangkatnya wajahnya menengadah ke langit. Terasa sesuatu di pelupuk matanya.

“Kau telah diperkenankan pulang kembali?” tanya ayah yang bahagia itu.

“Ya, Ayah,” jawab Gajah Sora.

ORANG TUA itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keremangan ujung malam. Dilihatnya dua orang gadis dan dua orang asing dalam rombongan itu. Menilik pakaiannya, kedua orang asing itu agaknya dua orang yang datang dari Demak.

Karena itu Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya dengan hormat, “Adakah Anakmas berdua datang bersama-sama dengan anakku, Gajah Sora?”

Paningron dan Gajah Alit yang juga sudah turun dari kudanya seperti yang lain juga, membalas hormat bersama-sama. Kemudian terdengar Gajah Alit menjawab, “Benar Ki Ageng. Kami datang bersama-sama dengan Kakang Gajah Sora.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerenyitkan alisnya. Timbullah seleret kebimbangan di dalam hatinya. Apakah anaknya Gajah Sora masih perlu diawasi? Namun tak sepatah kata pun pertanyaan yang melontar dari mulutnya. Yang kemudian dilakukan oleh orang tua itu adalah mempersilahkan tamu-tamunya masuk ke dalam banjar desa yang telah tidak utuh lagi itu.

Maka duduklah mereka berdesak-desakan di dalam ruangan yang sempit. Ki Ageng Sora Dipayana dengan beberapa orang Pamingit bersama-sama dengan tamu-tamu mereka. Rara Wilis sejak kedatangannya, sebenarnya ingin melihat, apakah kakeknya benar-benar berada di Pamingit, namun orang tua itu belum dilihatnya berada di antara mereka.

Setelah mengucapkan selamat datang, maka berkata Ki Ageng Sora Dipayana, “Ruangan ini kami pergunakan untuk sementara. Rumah-rumah yang lain telah musnah dimakan api. Karena itulah maka kami terpaksa berpencaran. Kami menempati pondok-pondok yang tersebar. Kami baru memberitahukan kepada sahabat-sahabat kami, bahwa Anakmas Mahesa Jenar, Anakmas Kebo Kanigara, bahkan Gajah Sora dan tamu-tamu kami yang lain telah datang. Kalau mereka bersama-sama kemari akan sesaklah ruangan sesempit ini. Juga Lembu Sora dan pimpinan-pimpinan laskar Banyubiru telah kami panggil.”

Dan apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata terbukti kemudian. Terdengarlah dari beberapa jurusan suara langkah tergesa-gesa. Beberapa orang datang berturut-turut dan berdesak-desakkan di muka pintu. Mereka adalah orang-orang Banyubiru. Di antaranya tampak Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sendang Papat dan yang lain-lain. Mereka hampir tidak percaya ketika seseorang mengatakan kepada mereka, bahwa bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah datang pula Ki Ageng Gajah Sora.

Agaknya Ki Ageng Gajah Sora tanggap pada keadaan. Ia tidak bisa mempersilahkan mereka masuk karena ruangan yang sempit. Karena itu segera ia berdiri dan melangkah ke pintu. Orang-orang Banyubiru itu rasa-rasanya seperti sedang bermimpi, ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora benar-benar berdiri di hadapannya. Ketika kemudian mereka tersadar, berebutlah mereka mengulurkan kedua tangan mereka, untuk menyambut salam kepala daerah perdikan mereka yang mereka kasihi.

Mereka menyambut tangan Ki Ageng Gajah Sora dengan penuh gairah, seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi. Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi terharu melihat kesetiaan anak buahnya. Sesaat kemudian terdengarlah suara para pemimpin laskar Banyubiru itu seperti seribu burung bersama-sama berkicau, berebut dahulu bertanya tentang seribu satu macam persoalan dan pengalaman Ki Ageng Gajah Sora. Sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora menjawab, “Ceriteraku akan panjang sekali. Besok sajalah aku ceriterakan kepada kalian. Yang pasti bagi kalian sekarang, bahwa aku telah tiba kembali dengan selamat di hadapan kalian, tanpa cacat dan tanpa cidera. Aku datang seperti saat aku pergi.”

Beberapa orang Banyubiru itu belum puas mendengar jawaban yang hanya terlalu pendek. Mereka masih ingin mendengar uraian Ki Ageng Gajah Sora tentang dirinya lebih panjang lagi. Tetapi sekali lagi sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora berkata, “Kalau kalian sedang haus sekali, janganlah minum terlalu banyak, kalau kalian lagi lapar sekali, janganlah makan terlalu banyak.”

“AH,” terdengar mereka bergumam. Tetapi akhirnya mereka pun sadar, bahwa Ki Ageng Gajah Sora tak akan dapat berceritera dalam keadaan yang sedemikian.

“Duduklah dahulu,” Ki Ageng Gajah Sora meneruskan. “Di halaman atau di emper banjar ini, nanti malam kita bisa menghabiskan waktu kita sambil berbicara tentang apa saja.”

Kemudian orang-orang Banyubiru itupun meninggalkan pintu itu. Mereka bertebaran di halaman, duduk di bawah pepohonan, di akar-akar kayu dan di batu-batu. Sibuklah mereka dengan ceritera mereka masing-masing tentang Ki Ageng Gajah Sora. Mereka mencoba menebak-nebak dan mereka-reka, apakah yang sekiranya telah terjadi dengan kepala daerah Perdikan mereka. Masih sesaat Ki Ageng Gajah Sora berdiri di muka pintu. Ia melihat anak buahnya duduk bertebaran di halaman.

Di dalam ruangan banjar terdengar percakapan yang riuh. Sekali Ki Ageng Gajah Sora melemparkan pandangannya ke langit, awan yang tipis mengalir dihembus angin yang lembut. Bintang-bintang menjadi suram disaput oleh selapis mendung.

“Mudah-mudahan tidak turun hujan,” gumam Gajah Sora. “Kalau terjadi demikian, alangkah susahnya. Apalagi di pondok-pondok yang kecil yang ditempati bersama lima enam keluarga beserta anaknya.”

Tiba-tiba gumam Ki Ageng Gajah Sora terhenti, ketika dilihatnya sesosok tubuh perlahan-lahan mendatangi banjar itu. Sesosok tubuh yang tinggi besar, berdada bidang, hampir seperti dirinya. Ia melihat bahwa orang yang mendatanginya itu agak ragu. Sekali-kali langkahnya terhenti, tetapi kemudian dilanjutkannya.

Gajah Sora mengangkat dahinya. Terbayanglah apa yang selama ini dialami. Meskipun ia mendapat perlakuan yang baik, namun sangat terbatas. Ia sudah tahu seluruhnya, peran apakah yang dilakukan oleh adiknya, Ki Ageng Lembu Sora. Dan yang datang dengan ragu-ragu itu adalah adiknya. Adiknya, yang dengan sengaja pernah menjerumuskannya ke dalam suatu keadaan yang sulit.

Ia tahu betul bahwa adiknya itu bernafsu untuk memiliki kekuasaan yang lengkap, seperti apa yang pernah dimiliki oleh ayahnya, Ki Ageng Sora Dipayana. Wajah Ki Ageng Gajah Sora menjadi tegang sekali ketika langkah Ki Ageng Lembu Sora terhenti. Hanya beberapa langkah di hadapannya.

Keduanya tegak seperti dua patung yang hampir serupa, gagah, tegap dan kokoh. Orang-orang Pamingit dan Banyubiru yang melihat peristiwa itu menjadi tegang pula. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang seharusnya mereka lakukan. Suara di dalam banjar desa yang tinggal separo itu masih riuh. Terdengar suara Gajah Alit seperti air yang mengalir, diselingi oleh gelak tertawanya yang menonjol daripada suara orang-orang lain. Nadanya tinggi agak sumbang. Adalah pembawaannya sejak anak-anak, apabila ia menjadi seorang periang dan senang berkelakar dalam keadaan apapun.

Paningron, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara hanya kadang-kadang saja terdengar tertawanya menyentak, sedang Arya Salaka dan Rara Wilis tampak hanya tersenyum-senyujum tertawa terkekeh-kekeh. Apalagi ketika sekali lagi Gajah Alit menyinggung tentang Gajah Sora selama di Demak. Widuri yang duduk bertentangan dengan lubang pintu, tidak begitu tertarik pada ceritera Gajah Alit. Hanya kadang-kadang saja tertawa nyaring. Tetapi bukan karena ia mendengar ceritera Gajah Alit yang lucu, tetapi justru ia menertawakan bagaimana Senapati Demak yang bulat pendek itu tertawa.

Tetapi, tiba-tiba Widuri pun menjadi bersungguh-sungguh ketika ia melihat Ki Ageng Gajah Sora merenggangkan kakinya. Sebagai seorang gadis yang terlatih dalam tata gerak bela diri, ia melihat bahwa ada sesuatu di antara renggang kaki Gajah Sora, juga sepasang kaki yang renggang.

Cepat-cepat Widuri mengamit tangan ayahnya sambil berbisik, “Ayah, kenapa dengan Paman Gajah Sora?”

Kebo Kanigara segera memaklumi. Ia dapat melihat lewat samping kaki Gajah Sora. Di dalam gelap, dilihatnya seseorang yang sudah dikenalnya, Ki Ageng Lembu Sora. Pertemuan itu menjadi terganggu. Semua melihat perubahan wajah Widuri dan Kebo Kanigara.

Dengan cemas Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, “Ada apa Anakmas?” “Putra Ki Ageng yang muda telah datang,” jawab Kebo Kanigara. Segera orang tua itu menangkap sasmita tamunya. Cepat ia meloncat berdiri dan langsung melangkah ke luar pintu. Hampir saja ia melanggar Ki Ageng Gajah Sora yang masih berdiri membelakangi pintu.

“Lembu Sora…” kata orang tua itu, “Inilah kakakmu yang sudah lama kau tunggu.”

Kata-kata orang tua itu benar-benar berpengaruh di dada Lembu Sora. Sebenarnya iapun sama sekali tak bermaksud apa-apa. Ketika ia sedang berbaring di bale-bale dalam pondoknya, berlepas baju karena udara yang panas, datanglah utusan ayahnya, memberitahukan kedatangan kakaknya. Mendadak terasa tubuhnya gemetar, dan dengan serta merta timbullah keinginannya untuk memeluk kaki saudara tua yang pernah disengsarakannya itu untuk minta maaf.

LEMBU SORA segera meloncat, menyambar bajunya dan sambil berjalan tergesa-gesa, ia mengenakan baju itu di sepanjang jalan, sambil berteriak, “Cari Sawung Sariti. Beritahukan kepadanya, bahwa aku menghadap Kakang Gajah Sora untuk menyerahkan segala kesalahan.”

Tetapi ketika ia sampai di halaman banjar desa itu, dan melihat bayangan kakaknya berdiri di muka pintu seperti sikap seekor gajah yang sedang marah, ia menjadi ragu-ragu. Apakah kakaknya nanti tidak tiba-tiba saja memukul kepalanya selagi ia sedang memeluk kakinya? Apakah ia masih berhak memanggil orang yang berada di muka pintu itu dengan sebutan Kakang? Karena keragu-raguannya itu, dan karena kesadaran diri akan kesalahannya yang bertimbun-timbun, ia beberapa kali terhenti. Bahkan yang terakhir, kurang beberapa langkah lagi, ia sudah tidak dapat lagi memaksa dirinya untuk maju. Bahkan tiba-tiba ia melihat ketegangan sikap kakaknya, dan tanpa sadar, ia pun menarik kakinya merenggang.

Tiba-tiba muncullah ayahnya. Dan bersamaan dengan itu, kembali pulalah pikirannya yang jernih. Ia datang untuk minta maaf kepada kakaknya itu. Apakah kakaknya akan memaafkannya atau tidak, bukanlah soalnya. Apakah kakaknya akan memukul hancur kepalanya dengan Lebur Seketi, juga bukan soalnya. Karena itu sekali lagi ia memaksa diri, mengusir ketakutannya untuk melihat kesalahan dirinya sendiri.

Dengan langkah yang gemetar, Lembu Sora mendekat Gajah Sora. Tetapi ia tidak berjongkok dan memeluk kaki kakaknya. Yang dilakukan hanyalah mengulurkan kedua tangannya sambil membungkukkan punggungnya dalam-dalam. Dari mulutnya keluarlah suaranya berdesir lambat, “Kakang Gajah Sora….” 

Gajah Sora masih berdiri tegang. Di belakangnya, di mulut pintu telah berdiri beberapa orang berdesak-desakan. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Paningron dan Gajah Alit.

Terasa sesuatu bergolak di dadanya. Sebagai manusia biasa, sulitlah baginya untuk melenyapkan segala kenangan pahit yang harus ditelannya. Semuanya itu adalah akibat dari perbuatan adiknya itu.

Ki Ageng Sora Dipayana melihat pergolakan di hati anaknya yang tua. Ia pun bisa mengerti, betapa pedih hatinya selama ini. Namun bagaimanapun juga keduanya adalah anaknya. Apalagi pada saat terakhir, Lembu Sora telah menemukan kembali jalan kebenaran. Karena itu ia berkata, “Adikmu telah lama menunggumu. Dalam limpahan kasih keluarga Pangrantunan, ia telah menemukan titik-titik terang dalam hidupnya.”

Gajah Sora menahan nafasnya. Perlahan-lahan tangan kanannya bergerak. Akhirnya dengan hati kosong, disambutnya tangan adiknya. Tetapi ia terkejut ketika Lembu Sora tidak saja menggenggam tangannya itu erat-erat, tetapi diciumnya, dan dibasahinya tangan itu dengan air mata. Dada Gajah Sora pun bergetar. Darahnya yang serasa menggelegak sampai ke lehernya oleh perasaan marah, dendam dan muak yang meluap-luap ketika melihat adiknya itu, kini perlahan-lahan mengendap kembali ke dalam hatinya.

Ki Ageng Lembu Sora seorang laki-laki yang tak mengenal takut, seorang laki-laki yang bergegayuhan setinggi awan, yang berkelana di langit biru, yang karenanya telah melupakan tata subasita, bahkan telah melupakan kulit daging sendiri, kini seperti kanak-kanak yang kehilangan barang mainannya, menitikkan air mata sambil menggenggam tangan kakaknya.

Ki Ageng Gajah Sora pun runtuhlah hatinya. Dikenangkannya pada masa kanak-kanak mereka. Pada masa-masa mereka sering bertengkar dan berkelahi berebut barang mainan. Kalau Gajah Sora sedang asyik membuat mainan dari kayu atau dari bambu, kemudian datang Lembu Sora yang kecil merebutnya. Kadang-kadang Gajah Sora yang belum puas menikmati permainannya pun menjadi marah dan berusaha merebut permainan itu kembali. Tetapi Lembu Sora mempertahankan dengan tangisnya.

Kalau demikian, akhirnya runtuhlah pertahanan hati Gajah Sora. Ia tidak akan meminta permainan itu kembali. Seandainya, seandainya saat inipun tiba-tiba Lembu Sora berkata, “Kakang, aku iri hati melihat kamukten Banyubiru. Aku ingin untuk ikut menikmatinya. Betapa rinduku kepada suatu masa yang gemilang dari perjalanan hidupku, dengan memiliki daerah bekas tanah perdikan Pangrantunan seutuhnya,” Berserahlah Lembu Sora.

Tetapi, tetapi seandainya Lembu Sora datang kepadanya dengan tangan bertolak pinggang. Menuding di depan hidungnya sambil berteriak, “Minggat kau Gajah Sora. Banyubiru adalah milikku.”

Seandainya demikian, maka pasti akan ditengadahkan wajahnya, dan akan dijawabnya dengan lantang, “Marilah Lembu Sora, lampaui mayatku dahulu.” Tetapi, tetapi yang terjadi bukanlah demikian. Lembu Sora tidak menangis untuk meminta kemukten Banyubiru, dan Lembu Sora tidak bertolak pinggang untuk menantang kakak kandungnya sendiri. Baru saja, dalam saat yang pendek dialami, betapa pahitnya daerah Pamingit yang dilanda oleh arus peperangan.

BETAPA pedih hati Lembu Sora melihat api yang menelan rumah-rumah dan banjar-banjar desa, mendengar pekik tangis perempuan dan anak-anak yang berusaha untuk memperpanjang hidupnya.

Betapa ngeri perasaan anak-anak melihat darah yang bercucuran dan betapa tertekan jiwanya melihat ayahnya diseret ke jalan-jalan. Tetapi peperangan itu sendiri serasa menjadi sahabat yang paling karib dari manusia. Setiap kali akan datang kembali, mengunjungi sahabatnya. Kalau tidak, maka sahabatnya itulah yang bertingkah mengundangnya.

Ternyata dalam sejarah hidup manusia yang ditulis di lontar-lontar, kitab-kitab kidung dan di lontar-lontar yang lain, selalu akan berulang kembali kata-kata: perang, perang, perang! Meskipun setiap mulut akan mengutuknya sebagai hantu yang paling menakutkan, tetapi seperti juga kekasih yang selalu dirindukan. Tidak saja negara-negara besar di Nusantara sendiri yang timbul dan tenggelam setelah pacah perang-perang besar, seperti Mataram Lama, Jenggala, Kediri, Pajajaran, Majapahit, dan bahkan ceritera-ceritera yang dibawa oleh para perantau, para pelaut dan pedagang asing di pantai Nusantara.

Negara-negara Parangakik, Ngerum, negara-negara Cina dan Jepang yang berebut pengaruh, selalu diakhiri oleh tangis para janda dan anak-anak karena suami dan ayah mereka lenyap dengan mengerikan sekali dalam kebiadaban api peperangan. Peperangan yang paling terkutuk, yang selalu terjadi di bumi Nusantara sejak masa-masa pemerintahan Senduk di Mataram Lama, Jayabaya dan Jayasaba, sampai pada masa-masa pemerintahan Tumapel Kediri dan seterusnya, pecahnya Majapahit, adalah karena perang saudara. Pemberontakan Peregreg, dan sebagainya, adalah permulaan dari kemunduran Majapahit. Karena itulah, didasari pada kesadaran yang demikian, setelah kepalanya sendiri hampir terbentur hancur, Lembu Sora sempat melihat dalam dirinya. Ia tidak mau mengalami nasib yang demikian. Kehancuran mutlak atas Pamingit dan Banyubiru. Yang membelit dirinya kini adalah penyesalan. Penyesalan yang menghujam ke dalam jantung kalbunya.

Dan ia belum terlambat.

Gajah Sora pun kemudian telah bersiap sebagai seorang kakak yang baik. Sambil menepuk bahu adiknya, ia berkata perlahan-lahan. “Masuklah Lembu Sora.” Lembu Sora tidak bisa menjawab. Mulutnya tersumbat. Tetapi ia mengangguk dan melangkah ke pintu. Yang berada di pintu pun telah duduk kembali ke tempatnya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Gajah Alit dan Paningron, kemudian Arya Salaka, Wilis dan Widuri. Disusul kemudian Gajah Sora dan Lembu Sora, sedang yang terakhir kali menempati tempatnya adalah Ki Ageng Sora Dipayana.

Mula-mula terasa betapa hatinya bergelora ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat siapa saja yang hadir di dalam ruangan itu. Apalagi ketika ia melihat dua orang yang berpakaian lengkap sebagai prajurit-prajurit Demak. Jelas terbayang di kepalanya, bagaimana ia dengan orang-orang golongan hitam, mencegat laskar Demak, lima enam tahun yang lampau. Bagaimana pada saat itu Mahesa Jenar telah menyergapnya.

Tetapi kemudian hati Lembu Sora menjadi sumeleh. Ia pasrah pada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Ia akan menerima kebenaran tertinggi. Sebab kemudian ia yakin, bahwa kebenaran tidak dapat dipaksakan oleh manusia, meskipun manusia seluruh dunia mengakuinya. Namun oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kebenaran yang berjalan di atas firman-Nya.

Tetapi sesuatu telah terjadi di luar halaman banjar desa itu. Dua pasang mata telah menyaksikan betapa Ki Ageng Lembu Sora menangis. Dan wajah kedua orang itupun menjadi merah karena marah. Seorang berperawakan kokoh dengan jalur-jalur ototnya yang menjorok di seluruh permukaan kulitnya. Orang itu adalah Galunggung, sedang yang lain, seorang anak muda sebaya dengan Arya Salaka, putra Ki Ageng Lembu Sora sendiri.

“Perempuan,” bisik Sawung Sariti.

“Ayah Angger Arya Salaka terlalu perasa,” sahut Galunggung.

“Apa yang kira-kira dilakukan Ayah? Menyerah kepada nasib? Atau malahan menyerahkan Pamingit sebagai tebusan dirinya?” Sawung Sariti meneruskan sambil mencibirkan bibirnya.

“Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh dua orang prajurit dari Demak itu di sini?” tanya Galunggung tiba-tiba.

Sawung Sariti mengerutkan keningnya. “Entahlah,” jawabnya, “Mungkin ia akan menangkap Ayah, karena Ayah pernah mencegat laskar Demak, dahulu.”

Mata Galunggung yang seperti burung hantu itu tiba-tiba menjadi suram. Ia menarik nafas sambil mengeram, katanya, “Kalau benar, aku kira lebih baik hancur daripada menyerah.”

“Apakah kau sangka yang dua orang itu mampu menghancurkan kita?” kata Sawung Sariti dengan nada yang tinggi.

GALUNGGUNG menyahut, “Laskarnya, apakah kira-kira hanya dua orang itu saja?”

“Jangan pikirkan itu,” potong Sawung Sariti, “Barangkali ia mengawal Paman Gajah Sora yang hanya sekadar boleh menengok keluarga. Tetapi yang penting bagiku adalah Arya Salaka. Apakah Paman Gajah Sora kembali memerintah di Banyubiru atau tidak, kalau Arya Salaka dapat aku lenyapkan, maka akhirnya Pamingit dan Banyubiru akan jatuh di tanganku dengan sendirinya.”

“Angger benar. Tak ada orang lain yang dapat mewarisi kedua daerah ini secara sah selain Angger Sawung Sariti,” jawab Galunggung.

Sawung Sariti tersenyum. Seolah-olah ia telah memastikan dirinya untuk menerima warisan dari ayahnya atas Pamingit dan dari pamannya Gajah Sora atas Banyubiru. Meskipun dengan demikian ia harus duduk di atas bangkai kakak sepupunya.

“Marilah kita pergi,” ajak Sawung Sariti.

“Tidaklah Angger akan menghadap Pamanda Gajah Sora?” tanya Galunggung.

Sawung Sariti mencibirkan bibirnya, jawabnya, “Buat apa?”

Keduanya pun melangkah pergi. Tak seorangpun yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Sawung Sariti. Dan keduanya pergi tanpa menarik perhatian seorang pun. Sebagaimana mereka datang dari dalam gelap, berhenti dan berdiri menyaksikan apa yang terjadi di halaman banjar desa dari dalam gelap, mereka pun lenyap ditelan oleh kegelapan.

Di Banjar Desa, pembicaraan-pembicaraan telah mulai berlangsung lancar sekali. Paningron, meskipun tidak dengan tegas, namun disindirnya, bahwa ia tidak akan mengambil suatu tindakan apapun terhadap Banyubiru dan Pamingit, karena peristiwa pencegatan lima tahun lampau, sebab menurut laporan yang masuk ke Demak, pencegatan itu dilakukan oleh golongan hitam.

Sesaat kemudian di halaman itupun dikejutkan oleh suara tawa yang tinggi nyaring. Kemudian masuklah ke halaman itu seorang tua yang bertubuh tinggi, kekurus-kurusan. Dengan suara yang berderai, ia bertanya kepada anak-anak yang duduk di halaman, “Siapakah yang berada di dalam?”

“Penuh, Ki Ageng,” jawab salah seorang.

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Katanya, “Seseorang memberitahu kepadaku, katanya Anakmas Mahesa Jenar telah datang, bersama-sama dengan beberapa orang lain, di antaranya dua orang gadis. Adakah Rara Wilis bersamanya?”

Yang ditanya oleh Ki Ageng Pandan Alas, kebetulan adalah anak-anak Banyubiru, yang memang mengenal Rara Wilis.

Dari lubang pintu mereka memang melihat gadis itu berada di dalam. Maka salah seorang menjawab, “Ya, Ki Ageng, salah seorang di antaranya adalah Rara Wilis.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Aku sudah rindu kepadanya,” katanya. Dan suaranya itu terdengar dari dalam ruangan Banjar Desa. Maka berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, “Angger Rara Wilis agaknya eyangmu telah datang.”

“Ya, Eyang,” jawabnya, “Aku sudah mendengar suaranya.”

Pada saat itulah Ki Ageng Pandan Alas muncul. Bagitu saja ia langsung masuk ke dalam Banjar. Tetapi ia tertegun, ketika dilihatnya banyak orang lain. Di antaranya, bahkan dua orang prajurit dalam pakaiannya.

“Silahkan Ki Ageng,” Ki Ageng Sora Dipayana mempersilahkan.

“Uh!” sahut Ki Ageng Pandan Alas, “Aku kira hanya orang-orang kita sendiri, tetapi agaknya ….” suaranya terputus, lalu sambil berjalan berjongkok ia maju ke depan Gajah Sora sambil berkata, “Bukankah ini Angger Gajah Sora seperti yang kau katakan, Ki Ageng?”

Ia berkata Ki Ageng Sora Dipayana, namun tangannya terancung kepada Gajah Sora. Dengan serta merta Gajah Sora menyambut salam itu, sambil membungkuk hormat ia menjawab, “Terimakasih, Paman.”

Baru kemudian Ki Ageng Pandan Alas sempat menyapa cucunya Rara Wilis.

“Kau bertambah kurus Wilis,” katanya. Rara Wilis menundukkan wajahnya. “Tetapi jangan terlalu kau biarkan dirimu menjadi semakin kurus. Itu tidak baik. Apalagi bagi gadis-gadis,” kata eyangnya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Endang Widuri, “Tidak Eyang, Bibi Wilis hampir setiap pagi dan sore minum jamu singset. Karena itu Bibi Wilis kian hari kian bertambah cantik.”

“Ah,” potong Wilis sambil mencubit lengan anak itu.

“Aduh!” Widuri mengaduh, namun ia tertawa-tawa saja.

Dengan hadirnya Ki Ageng Pandan Alas, ruangan itu bertambah ramai dan ribut. Namun juga bertambah panas. Apalagi sesaat kemudian Titis Anganten telah datang pula meramaikan pertemuan itu. Pertemuan dari sekelompok sahabat yang lama terpisah-pisah, namun kemudian berkumpul kembali dalam suasana yang menyenangkan.

Pembicaraan mereka berkisar kesana kemari tak menentu. Terasa seakan-akan waktu begitu sempit dan cepat. Karena itu mereka terpaksa menunda pembicaraan mereka sampai esok. Belum ada hal yang puas mereka dengar, baik dari Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara tentang Pasingsingan yang rangkap tiga. Juga dari Gajah Sora tentang pengalamannya di Demak, serta dari Ki Ageng Sora Dipayana, Pandan Alas dan Titis Anganten tentang lenyapnya laskar hitam dari Pamingit.

AGAKNYA malam telah jauh. Dan pertemuan itu pun bubarlah. Masing-masing dibawa ke pondok yang sudah disediakan, meskipun berpencar-pencar. Malam menjadi sepi.

Namun Ki Ageng Gajah Sora tidak segera dapat beristirahat. Di halaman, anak-anak Banyubiru benar-benar menantinya, sehingga ia masih memerlukan waktu untuk menemui mereka. Berbicara dengan mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, yang kadang-kadang aneh-aneh. Tetapi dari mereka Gajah Sora juga mendengar bahwa anaknya, Arya Salaka, benar-benar luar biasa.

Jaladri pernah melihat Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Tidak saja dalam pertempuran besar beberapa hari yang lalu, tetapi di Gedong Sanga pun pernah dilihatnya. Ia sama sekali tidak menyangkal ceritera itu. Bukan sekadar ceritera yang berlebih-lebihan, namun ceritera itu benar-benar terjadi.

Dirinya sendiri pernah membuktikan betapa anak muda yang bernama Arya Salaka itu mampu melawannya.

Selagi Ki Ageng Gajah Sora duduk bersama dengan anak-anak Banyubiru, sebelum ia diantar ke pondoknya, Arya Salaka telah mendahuluinya bersama gurunya dan Kebo Kanigara. Tetapi ia pun tidak segera dapat tidur. Ketika gurunya dan Kebo Kanigara telah berbaring di ruang dalam, Arya Salaka masih duduk di muka pintu menunggu kedatangan ayahnya, yang juga harus beristirahat di tempat itu bersama-sama mereka. Sedang di pondok sebelah adalah tempat untuk beristirahat kedua prajurit dari Demak, Paningron dan Gajah Alit.

Ketika Arya Salaka sedang merenungi titik-titik yang jauh di dalam gelap malam, tiba-tiba dilihatnya seseorang lewat di muka pondoknya. Seorang tua yang berjalan seperti perempuan. Orang itu berhenti sejenak, lalu melambaikan tangannya kepada Arya Salaka. Arya Salaka yang sudah mengenalnya segera berdiri mendekatinya. Sambil membungkuk hormat, ia bertanya, “Adakah sesuatu, Eyang Titis Anganten?”

“Aku ingin mengatakan kepadamu dalam pertemuan tadi, namun aku tidak sampai hati merusak suasana yang gembira itu. Sebenarnya masih ada sesuatu yang ketinggalan dari keluarga Banyubiru dan Pamingit,” jawab Titis Anganten.

Cepat hati Arya bergeser ke ibunya. Dahulu orang tua itulah yang memberitahukan kepadanya, bahwa ibunya selamat. Dan sekarang ia berkata tentang keluarga Banyubiru dan Pamingit yang tercecer.

“Ya,” sahut Arya, “Agaknya Eyang Sora Dipayana tidak ingat lagi kepada ibu.

“Ah. Jangan berkata begitu Arya,” potong Titis Anganten, “Eyangmu sudah tahu, kalau ibumu aku selamatkan. Agaknya ia segan untuk dengan tergesa-gesa menyuruhku mengambilnya. Karena itu dibiarkannya saja sampai aku datang membawanya kembali.”

Arya menundukkkan wajahnya. Terasa bahwa ia agak terlanjur menyangka eyangnya melupakan ibunya.

“Sekarang…” Titis Anganten meneruskan, “Aku ingin mengembalikan ibumu. Justru ayahmu sudah lebih dahulu datang tanpa disangka-sangka.”

“Terimakasih, Eyang,” jawab Arya, “Di manakah Ibu sekarang?”

“Masih di pengungsiannya,” sahut Titis Anganten, “Aku kira keadaan telah benar-benar baik. Kalau kau tak keberatan, jemputlah. Tak usah orang-orang tua seperti aku.”

“Baik Eyang,” sahut Arya, “Tunjukkan aku tempatnya.”

“Tidak terlalu jauh. Ibu serta bibimu aku sembunyikan di Sarapandan,” jawab Titis Anganten. 

“Sarapandan,” ulang Arya.

“Ya, desa kecil yang tak berarti. Aku memang menyangka desa itu tak akan menarik perhatian. Dan ternyata memang demikian. Orang-orang dari golongan hitam itu sama sekali tak tertarik untuk singgah. Dan hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang dapat aku lakukan waktu itu. Untunglah, segera laskar Pamingit datang dari Banyubiru bersama-sama dengan eyangmu. Apalagi akhirnya laskarmu datang pula bersama gurumu dan Kebo Kanigara yang mengaggumkan itu,” kata Titis Anganten.

“Di mana letak dusun itu?” tanya Arya.

TITIS ANGANTEN memberinya sekadar petunjuk, namun kemudian katanya tanpa berprasangka, “Ah, aku kira lebih baik pergi bersama-sama dengan Sawung Sariti.”

Arya mengerutkan keningnya. Sesuatu berdesir di dalam hatinya. Ia tidak tahu, perasaan apa yang menganggunya apabila ia mendengar nama saudara sepupunya. Namun ia tidak dapat berkata sesuatu kepada Titis Anganten.

“Arya…” Orang tua itu meneruskan, “Aku kira Sawung Sariti telah mengenal semua sudut daerah Pamingit ini. Aku kira ia pun mengenal Sarapadan.Apalagi ibunya pun di sana.”

Arya masih berdiam diri, dan agaknya Titis Anganten tidak memperhatikan anak muda itu. Sebab ia segera berkata pula, “Berkatalah kepada gurumu. Kalau kau temui Sawung Sariti ajaklah dia, kalau kau perlukan aku, aku pun bersedia.”

“Baiklah Eyang,” jawab Arya. Namun tidaklah baik baginya untuk mengajak orang tua itu. Dengan demikian ia akan menjadi anak manja yang tak dapat melakukan sesuatu tanpa pertolongan orang lain, namun pergi bersama Sawung Sariti pun ia agak segan-segan.

“Tetapi anak itu sudah baik,” pikirnya. Sementara itu kakinya melangkah tlundak pintu langsung ke pembaringan gurunya.

“Paman,” katanya perlahan-lahan ketika ia melihat gurunya masih belum tidur.

Mahesa Jenar mengangkat kepalanya, “Ada apa Arya?” Maka dikatakannya apa yang didengar dari Titis Anganten.

“Kau akan pergi?” tanya Mahesa Jenar.

Arya Salaka menganguk sambil menjawab, “Ya, Paman.”

“Kau tidak menunggu Ayah?” tanya Kebo Kanigara yang berbaring di bale-bale, di samping Mahesa Jenar. Tiba-tiba Arya ingin mengejutkan ayahnya. Kalau ayah datang nanti mudah-mudahan ia telah kembali bersama ibunya. Bukankah Sarapadan tidak begitu jauh? Meskipun seandainya ayahnya dahulu datang, kemudia baru ibunya pun, akan dapat menggembirakan hati ayahnya itu.

Karena itu ia menjawab, “Tidak Paman. Aku ingin mengejutkan Ayah.”

“Dengan siapa kau akan pergi?” tanya Mahesa Jenar.

“Eyang Titis Anganten bersedia mengantarkan aku kalau aku memerlukannya. Kalau tidak, maka Eyang menyuruhku mengajak Sawung Sariti,” jawab Arya Salaka.

Mahesa Jenar bangkit dan duduk di bale-bale itu. Tampak ia sedang berpikir. Di dalam dadanya berdesir pula perasaan seperti perasaan di dada Arya Salaka. Namun ia pun berdiam diri.

“Aku segan untuk meminta Eyang Titis Angenten mengantarku,” kata Arya Salaka.

“Apakah Sarapadan tidak jauh?” tanya Kebo Kanigara.

“Tidak,” sahut Arya, “Menurut eyang Titis Anganten, Sarapadan hanya berantara empat bulak besar kecil.

“Pergilah,” kata Mahesa Jenar kemudian, “Tetapi berhati-hatilah. Jarak itu tidak terlalu jauh. Kau dapat membawa siapapun. Tidak perlu eyangmu Titis Anganten. Biarlah ia beristirahat. Juga tidak perlu Sawung Sariti. Setiap orang Pamingit akan dapat menunjukkan letak desa itu.”

“Baiklah Paman,” sahut Arya. Kemudian ia pun minta diri kepada gurunya dan kepada Kebo Kanigara. Ia bermaksud untuk pergi saja seorang diri. Sarapadan tidak terlalu jauh. Jalur jalannya pun telah ditunjukkan oleh Titis Anganten. Sehingga ia akan dengan mudah menemukannya, atau tidak akan dapat bertanya kepada siapa saja yang akan ditemuinya di perjalanannya. Peronda atau penjaga gardu.

Maka segera Arya pun berangkat. Malam menjadi semakin dalam. Namun bintang di langit bertebaran di segala penjuru. Angin malam yang dingin bertiup menghancurkan suara-suara anjing liar yang berebut makanan. Sekali-kali di kejauhan terdengar suara buruang hantu menggetarkan udara.

Tiba-tiba di sudut desa, Arya terhenti. Dilihatnya dua orang berdiri sebelah-menyebelah di kedua sisi jalan. Namun segera Arya mengenal mereka berdua, Sawung Sariti dan pengawalnya yang setia, Galunggung.

“Bukankah kau ini Kakang Arya Salaka?” sapa Sawung Sariti.

“Ya, Adi,” jawab Arya.

“Ke manakah Kakang akan pergi di malam begini?” tanya Sawung Sariti pula.

Arya Salaka menjadi ragu-ragu. Kalau ia berkata sebenarnya maka ada kemungkinan Sawung Sariti akan ikut serta. Padahal, meskipun ia telah berusaha untuk melupakan, namun berjalan bersama-sama dengan adiknya, ia masih terasa segan. Tetapi ia tidak menemukan jawaban lain, karena itu ia terpaksa menjawab dengan berterus terang.

“Aku akan menjemput Ibu ke Sarapadan.”

“Adakah Bibi Gajah Sora di Sarapadan?” bertanya Sawung Sariti.

“Ya,” jawab Arya singkat.

“Kalau demikian, ibuku juga di sana?” tanya Sawung Sariti pula.

“Ya,” jawab Arya pula.

“Dari mana Kakang tahu?” desak Sawung Sariti.

“Eyang Titis Anganten,” sahut Arya Salaka.

SAWUNG SARITI mencibirkan alisnya. Ia berpikir sejenak. Kemudia ia berkata, “Aku pergi bersama-sama dengan Kakang.”

Arya menarik nafas. Ia pasti tidak akan dapat menolak. Karena itu ia menjawab, “Suatu kebetulan bagiku, Adi. Aku belum pernah melihat tempat itu. Sekarang kalau kau akan menemani aku, aku akan berterima kasih.”

Sawung Sariti mengangkat wajahnya. Dengan sudut matanya ia memandang wajah kasar orang kepercayaannya. Kemudian terdengar ia berkata, “Kita ikut.”

“Marilah Angger.” Terdengar suara Galunggung berat.

Maka kemudian pergilah mereka bertiga berjalan beriring-iringan. Galunggung sambil menyeret pedangnya yang tersangkut di lambungnya. Sekali-kali Arya mengerling kepada adiknya itu. Pedangnya berjuntai-juntai hampir menggores tanah. Pedang itu hampir setiap keadaan tak pernah terlepas dari pinggangnya.

Sebenarnya kalau Arya bercuriga, itupun cukup beralasan. Ia menyesal bahwa ia tidak membawa tombak pusaka Banyubiru. Namun hatinya kemudian menjadi besar, ketika terasa didalam bajunya terselip sebuah pisau belati panjang terbalut dengan klika kayu. Pisau belati pusaka Pasingsingan yang bernama Kiai Suluh.

– Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu – pikirnya.

Dan kadang-kadang ia terpaksa tersenyum sendiri atas kecurigaannya itu.

Sedang Sawung Sariti berjalan saja dengan enaknya, melenggang dalam dingin malam.

Tetapi tiba-tiba Arya mengangkat alisnya.

Dan berkatalah ia dengan serta merta – Adi apakah benar jalan ini jalan ke Sarapadan? –

Sawung Sariti menoleh. Ia berhenti melangkah, kemudian menjawab pertanyaan Arya dengan heran – Ya inilah jalan itu. Kenapa? –

Arya mengamat-amati keadaan sekelilingnya. Dikejauhan di wajah taburan bintang dilangit ia melihat sepasang pohon siwalan.

Katanya – bukankah kita harus melewati jalan kecil diantara pohon siwalan itu? –

Siapa bilang ? – bertanya Sawung Sariti.

Eyang Titis Anganten – jawab Arya Salaka.

Eyang Titis Anganten keliru – sahut Sawung Sariti.

Tetapi Arya adalah seorang muda yang hampir seluruh hidupnya berada dalam perjalanan. Iapun tahu benar, bahwa Titis Anganten adalah seorang perantau, sehingga ia yakin bahwa tak mungkin orang tua itu salah.

Karena keyakinannya itu maka Arya menjawab – Adi, eyang Titis Anganten adalah seorang perantau, yang kerjanya berjalan dari satu ujung, kelain ujung dari pula ini. Karena itu apakah eyang Titis Anganten akan salah jalan dalam jarak empat lima bulak saja? –

Aku adalah anak Pamingit – jawab Sawung Sariti – sejak bayi aku bermain-main ditempat ini. Adakah aku tidak mengenal Sarapadan?

Memang, sebenarnyalah demikian.

Seharusnya Arya percaya bahwa Sawung Sariti mengenal daerah ini dengan baik. Tetapi ada sesuatu dipojok hatinya yang berbisik – Pilihlah jalan sendiri. –

Karena itu Arya berkata – Adi, barangkali ada jalan lain ke Sarapadan. Jalan yang barangkali ditempuh oleh Eyang Titis Anganten pada saat itu.-

Agaknya kakang Arya Salaka lebih percaya kepada orang tua itu daripada kepadaku? – bertanya Sawung Sariti. Arya menjadi beragu. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Agak sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu.

Meskipun demikian akhirnya ditemukannya juga jawabannya – Adi, baiklah aku mencoba membuktikan, apakah Eyang Titis Anganten benar-benar seorang perantau yang baik. Sedangkan apabila nanti jalan itu tak aku ketemukan, aku akan kembali ke Pamingit. Mengajak orang tua itu pergi bersama-sama dan mengatakan kepadanya, bahwa perantau itu kini telah menjadi pelupa dan tak dapat mengenal jalan antara Pamingit dan Sarapadan meskipun ia dapat menemukan jalan kembali ke Banyuwangi yang menurut eyang Titis Anganten jaraknya beribu-ribu kali lipat. –

Wajah Sawung Sariti menjadi panas. Terasa sindiran halus pada kata-kata Arya. memang sebenarnya bahwa jalan terdekat ke Sarapadan adalah jalan kecil diantara sepasang pohon Siwalan itu. Karena agaknya Arya Salaka telah berkeras hati untuk menempuh jalan itu, maka akhirnya ia berkata – Baiklah kakang Arya, kau lewat jalanmu, aku lewat jalan yang sudah aku kenal baik-baik. Meskipun barangkali kakang akan sampai ke Sarapadan, namun jalan yang akan kau tempuh itu agak terlalu jauh. –

Tidak apalah adi – jawab Arya – lalu bagaimana dengan adi Sawung Sariti? –

Aku akan mengambil jalan ini – sahut Sawung Sariti.

Baik. Kalau demikian biarlah kita berjanji untuk saling menunggu di tempat pengungsian ibu kami, supaya kita bisa pulang bersama-sama – berkata Arya Salaka.

Tidak perlu – jawab Sawung Sariti – kita sudah berselisih jalan disini. Biarlah kita jemput ibu kita masing-masing. Aku jemput ibuku, kau jemput ibumu. –

ARYA menarik nafas panjang. Adiknya memang terlalu kaku. Namun Arya masih mencoba berkata, “Apakah kata ibu-ibu kita itu nanti. Mereka mengungsi bersama-sama, biarlah mereka pulang bersama-sama.”

“Ibuku bukan perempuan cengeng,” jawab Sawung Sariti, “Kalau ibuku tak mau, biarlah ia pulang sendiri tanpa Sawung Sariti.”

“Hem!” terdengar Arya mengeluh. Tetapi ia tidak sempat berbicara lagi. Sawung Sariti telah pergi meninggalkannya. Galunggung berjalan di belakangnya hampir meloncat-loncat. Sekali dua kali dilihatnya kedua orang itu menoleh, tetapi lalu berjalan semakin cepat.

Perlahan-lahan Arya memutar tubuhnya. Ia melangkah kembali ke jalan kecil di antara pohon Siwalan itu. Ia harus berjalan terus ke selatan, kemudian di simpang tiga ia harus membelok ke kiri. Setelah beberapa langka akan ditemuinya parit. Ia dapat menempuh dua jalan. Terus lewat jalan kecil itu, atau menyusur tepi parit. Namun kedua jalan itu akan bertemu kembali di bawah pohon nyamplung yang besar di tepi sebuah sungai kecil. Setelah itu, ia hanya akan menyusur satu jalan terus sampai dimasukinya desa Sarapadan.

“Mungkin Adi Sawung Sariti benar,” pikirnya, “Jalan itupun akan sampai ke Sarapadan.” Dengan demikian Arya agak menyesal. Mungkin ia terlalu berprasangka.

Namun sebenarnya Arya telah berbuat hati-hati. Firasatnya telah dapat memberinya beberapa pertimbangan dalam mengambil keputusan. Kalau ia berjalan bersama-sama dengan Sawung Sariti, akibatnya akan berbahaya sekali. Sawung Sariti telah membawanya lewat jalan yang sepi, menyusur lewat pereng yang terjal. Di sana segala sesuatu akan dapat terjadi. Satu sentuhan di kakinya, akan dapat mengantarkannya ke dasar jurang yang dalam dan berdinding runcing seperti gerigi. Dan hal yang demikian itu, akan dapat terjadi. Untunglah, Tuhan telah membawanya lewat jalan lain.

Di jalan itu, Sawung Sariti berjalan sambil mengumpat-umpat. Sedang Galunggung pun menggeram tak habis-habisnya. Ketika Sawung Sariti membelok, dan memilih jalan itu, hatinya yang kelam segera dapat menebak maksud momongannya. Bahkan ia telah bersiap di belakang Arya, menyentuhnya sedikit dan kemudian bergegas-gegas berlari-lari ke Pamingit, memberitahukan kecelakaan yang terjadi, bahwa Arya Salaka terpeleset ke dalam jurang, atau dibiarkannya, tak seorangpun mengetahuinya.

Namun rencananya ternyata urung. Arya memilih jalan lain. Karena itupun mereka harus mempunyai rencana lain. Namun telah terpateri di dalam kepala anak muda dari Pamingit itu, bahwa Arya Salaka harus dilenyapkan. Sudah tentu dengan diam-diam. Dengan demikian kedatangan Gajah Sora tak akan berpengaruh. Kelak, sudah pasti bahwa Pamingit dan Banyubiru akan dikuasainya. Apalagi kini golongan hitam yang menghantui mereka telah lenyap pula.

“Kakang Arya akan membelok di simpang tiga,” bisik Sawung Sariti.

“Ya,” jawab Galunggung singkat.

“Lalu, mungkin akan dipilihnya jalan di tepi parit,” Sawung Sariti meneruskan.

Sawung Sariti berpikir sejenak. Hatinya benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu yang menyala-nyala. Yang berada di dalam kepalanya hanyalah usaha terakhir untuk menyingkirkan kakak sepupunya.

Galunggung dapat mengetahui apa yang bergolak di dalam hati anak muda itu. Karena itu iapun turut berpikir. Ia mengharap bahwa Sawung Sariti kelak benar-benar dapat menguasai Pamingit dan Banyubiru. Dengan demikian, ia pun akan mendapat tempat yang baik. Jauh lebih baik daripada yang sekarang dimiliki. Mungkin akan didapatnya tanah dua kali lipat dari tanah yang diterimanya sekarang. Juga kekuasaan yang diperoleh akan berlipat-lipat pula.

Setelah mereka berdiam diri sejenak, maka berkatalah Galunggung, “Angger Sawung Sariti. Kita masih mempunyai kesempatan. Kita dapat menempuh jalan memisah, lewat pematang dan menyusup di bawah uwot parit sebelah.

“Aku juga berpikir demikian,” sahut Sawung Sariti, “Kita cegat Kakang Arya di simpang tiga, sebelum kita harus memilih jalan mana yang dilewati.”

“Terlalu tergesa-gesa,” jawab Galunggung, “Kita cegat Angger Arya di sebelah pohon nyamplung.”

Kembali Sawung Sariti berpikir. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Mungkin baik juga.”

“Kalau demikian,” Sawung Sariti meneruskan, “Kita harus segera menyusul Kakang Arya Salaka. Kita ambil jalan pematang.”

Sawung Sariti tidak menunggu jawaban Galunggung. Cepat ia meloncati parit kecil di tepi jalan. Kemudian menyusur pematang, menyusup di antara batang-batang jagung muda. Namun meskipun demikian, Sawung Sariti harus berhati-hati, supaya Arya tak dapat melihatnya.

DEMIKIANLAH, dengan bergegas-gegas kedua orang itu berjalan memotong arah. Mereka berjalan di atas pematang-pematang, tanggul-tanggul parit untuk dapat mendahului Arya Salaka. Karena Sawung Sariti telah terlalu biasa dengan daerah ini, maka ia dapat memperhitungkan jarak yang dilewatinya itu cukup jauh dari jalan yang dilalui Arya, sehingga ia tidak usah khawatir dapat diketahuinya. Ketika mereka harus memotong jalan, barulah mereka berjalan dengan sangat hati- hati, menyusur batang-batang jagung sambil membungkuk-bungkuk. Akhirnya mereka terjun ke anak sungai, dan lewat di bawah uwot dari kayu yang bersilang di atas anak sungai itu, mereka memotong jalan. Mereka mengharap, bahwa dengan demikian mereka akan dapat mendahului Arya Salaka sampai di bawah pohon nyamplung.

Arya Salaka yang tidak tahu, apa yang sedang direncanakan oleh adik sepupunya, berjalan seenaknya sambil menikmati angin malam. Langit tidak terlalu bersih, namun di beberapa sudut bintang masih tampak berkeredipan menghias malam. Dengan cermatnya ia memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh Titis Anganten. Jalan manakah yang seharusnya dilewatinya. Namun jalan itu tidak terlalu sulit baginya. Sehingga ia pun tidak usah cemas, bahwa ia akan tersesat.

Kemudian Arya sampai di simpang tiga. Di simpang tiga, ia membelok ke kiri. Beberapa langkah kemudian ditemuinya parit. Dan ia harus memilih, apakah akan berjalan di sepanjang jalan kecil itu, ataukah akan memilih jalan tanggul di sepanjang parit. Arya kemudian berhenti sejenak. Dilihatnya air yang memercik di dalam parit itu. Mengalir dengan tenangnya. Maka timbullah keinginannya untuk berjalan menyusur parit itu sambil memperhatikan airnya.

Dalam pada itu, Sawung Sariti telah sampai di bawah pohon Nyamplung. Dengan hati-hati ia menempatkan dirinya di tepi jalan. Telah diperhitungkannya, bahwa dengan satu loncatan, ia harus sudah dapat mencapai Arya Salaka dengan pedangnya. Demikian juga Galunggung, harus sudah siap.

Meskipun kemampuan bertempur Galunggung jauh berada di bawah kemampuan Arya Salaka, namun dengan menyerangnya secara tiba-tiba bersama-sama dengan Sawung Sariti maka mereka mengharap, bahwa mereka tidak usah mengulangi dengan serangan kedua. Dengan demikian, Sawung Sariti dan Galunggung dengan tenangnya mengendap di tepi jalan, di bawah pohon Nyamplung yang rimbun.

Gemersik angin malam yang mengusik daun-daun di atasnya, terdengar seperti keluh kesah yang sedih. Bahkan kemudian terdengar seperti orang yang berbisik-bisik, menyampaikan kabar yang mengerikan.

Beberapa saat Sawung Sariti dan Galunggung mengendap di sisi jalan itu, terasa betapa waktu berjalan lambat sekali. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang menjemukan. Apalagi mereka berdua dicekam oleh ketegangan yang setiap saat menjadi semakin memuncak. Mata mereka seperti tersangkut di tikungan jalan di samping parit yang menyilang jalan kecil. Dari sanalah Arya Salaka akan muncul. Kalau tidak dari jalan kecil itu, pasti akan muncul dari tanggul di tepi parit.

Tetapi Arya Salaka agaknya berjalan terlalu lambat. Seharusnya ia kini telah muncul dan berjalan lurus di hadapan mereka yang menunggunya dengan gelisah. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Arya ingin mencuci kakinya di dalam parit yang bersih itu dan untuk beberapa saat ia bermain-main dengan percikan airnya.

Tetapi, kemudian dari balik tikungan itupun muncul sebuah bayangan. Seorang yang berjalan melenggang dalam keremangan malam. Bayangan itu berjalan dengan tergesa-gesa, lewat jalan kecil di muka pohon nyamplung itu. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bertambah gelisah. Segera mereka menarik pedang masing-masing, dengan sangat berhati-hati. Sesaat yang akan datang, pedang mereka harus melakukan tugas-tugas mereka yang berat. Tetapi mata Sawung Sariti yang tajam itu menjadi liar. Ia melihat perbedaan yang kecil pada bayangan itu. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah orang itu Arya Salaka. Beberapa kali Sawung Sariti mengedipkan matanya, namun ia menjadi bertambah bimbang. Semakin dekat bayangan itu, semakin gelisah hati Sawung Sariti, sebab ia menjadi semakin yakin, bahwa bayangan itu sama sekali bukan Arya Salaka. Meskipun orang yang datang itu juga bertubuh tegap, namun Sawung Sariti dapat membedakan, bahwa Arya Salaka berjalan dengan gaya yang berbeda.

Ketika beberapa langkah orang itu menjadi semakin dekat, makin jelas, bahwa orang itu memakai pakaian yang lain. Galunggung pun akhirnya mengetahui juga, bahwa yang datang itu bukanlah yang mereka tunggu.

Dengan nafas yang memburu ia berbisik perlahan, “Bukan itu orangnya, Angger.”  

“SETAN!” Sawung Sariti mengumpat, “Ada juga malam-malam orang berkeliaran di daerah yang masih belum tenang sama sekali ini.”

“Agaknya ia akan mengairi sawah,” bisik Galunggung.

“Tidak. Tidak ada orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk keperluan yang dapat dilakukan siang hari,” sahut Galunggung.

“Lalu siapakah dia?” tanya Galunggung pula.

“Apa pedulimu terhadap orang itu. Yang penting kita tunggu Arya Salaka,” jawab Sawung Sariti.

Galunggung pun kemudian berdiam diri.

Orang itu sudah semakin dekat. Sawung Sariti menahan nafasnya. Biarlah orang itu berlalu. Kemudian orang yang lewat di belakangnya, pastilah Arya Salaka.

Tetapi Sawung Sariti menjadi marah, ketika tiba-tiba orang itu berhenti. Ia menoleh ke belakang, seakan-akan ada yang ditunggu-tunggunya. Bahkan kemudian dengan enaknya orang itu duduk di bawah pohon nyamplung itu, di sisi jalan yang lain, sambil memeluk lututnya.

Sawung Sariti menggeram perlahan-lahan. “Gila!” pikirnya, “Apa kerjaannya orang itu?”

Namun disabarkannya hatinya untuk sesaat. Barangkali orang itu akan segera pergi. Sebab, pada saat orang itu muncul di tikungan, nampaknya ia akan tergesa-gesa. Namun kenapa tiba-tiba orang itu duduk saja dengan enaknya di hadapannya? Sesaat sudah berlalu. Sawung Sariti masih mencoba menunggu. Tetapi akhirnya ia menjadi gelisah dan semakin marah. Arya Salaka pasti hampir tiba. Kalau orang itu masih duduk di situ, maka ia dapat mengganggu pekerjaannya, atau kalau terpaksa orang itu pun harus ditiadakan, untuk menghilangkan jejak. Maka akhirnya Sawung Sariti tidak sabar lagi. Ia takut kalau Arya Salaka segera akan datang. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat dengan garangnya, sambil mengacungkan pedangnya kedada orang itu.

“Apa pekerjaanmu di sini?” bentaknya.

Orang itu terkejut bukan main. Tiba-tiba ia menjadi gemetar, jawabnya, “Aku, aku tidak apa-apa.” “Kalau begitu. Tinggalkan tempat ini segera,” perintah Sawung Sariti.

“Kenapa?” tanya orang itu.

“Tidak ada-apa,” jawab Sawung Sariti “Tetapi pergi sekarang.”

Orang itu pun berdiri dan akan melangkah pergi ke arah darimana ia datang.

“Jangan ke sana,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau orang itu akan berpapasan dengan Arya Salaka dan akan memberitahukan apa yang terjadi dengan dirinya.

“Ke mana?” tanya orang itu.

“Ke sana,” kata Sawung Sariti menunjuk ke arah yang berlawanan.

“Aku tidak punya keperluan di sana,” jawab orang itu.

“Aku tidak peduli. Pergi ke sana, cepat,” Sawung Sariti menjadi semakin marah

“Kau datang dari arah sana, kemudian apa perlumu kalau kau tidak mempunyai keperluan ke arah yang lain.”

“Aku hanya akan datang ke bawah pohon nyamplung ini,” jawab orang itu, “Aku telah bermimpi, bahwa aku pada saat ini harus berada di sini.”

“Jangan banyak cakap. Pergi sekarang,” bentak Sawung Sariti.

Orang itu menjadi bingung. Karena itu malahan ia berdiri saja seperti patung. Galunggung akhirnya tidak sabar sama sekali melihat orang itu masih berdiri di sana dengan mulut ternganga.

Ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Binasakan saja orang itu, sebelum anak itu datang.”

“Jangan, jangan!” teriak orang itu.

“Jangan berteriak,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau Arya mendengarnya. Namun dengan demikian waktu mereka menjadi semakin sempit. Dan sejalan dengan itu, pikiran Sawung Sariti pun menjadi semakin kisruh. Ia tidak mau gagal kali ini. Karena itu, akhirnya ia sependapat dengan Galunggung. Orang itu harus disingkirkan.

Meskipun demikian ia masih mencoba sekali lagi membentaknya, “Pergi, cepat!”

Tetapi orang itu tidak segera pergi. Ia masih berdiri saja seperti orang yang kehilangan kesadaran.

Karena itu maka Sawung Sariti tidak bisa berbuat lain daripada menyingkirkannya dengan paksa.

Karena itu katanya, “Singkirkan dia, Galunggung.”

Galunggung yang sejak tadi sudah kehilangan kesabaran segera menggeram sambil meloncat. Pedangnya tepat mengarah ke hulu hati orang yang masih berdiri kebingungan itu. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang tak pernah dibayangkan. Dalam mimpi pun tidak. Orang itu, dengan tangkasnya memiringkan tubuhnya. Dengan demikian, maka pedang Galunggung menyentuhpun tidak. Sehingga Galunggung terseret oleh kekuatan sendiri dan terhuyung-huyung beberapa langkah ke depan.

Pada saat ia berusaha memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba terasa sebuah genggaman mencengkam rambutnya. Dan oleh sebuah tarikan yang kuat, ia terseret kedepan. Ia kemudian tidak mampu menolong dirinya, ketika tiba-tiba terbanting tertelungkup, masuk persawahan yang basah.

SAWUNG SARITI melihat peristiwa itu dengan mata yang terbelalak, yang dilihatnya adalah Galunggung itu terjerembab. Karena itulah, hatinya menjadi menyala-nyala. Pedangnya pun cepat bergerak ke dada orang yang menyakitkan hati itu.

Tetapi sekali lagi Sawung Sariti terkejut, pedangnya pun sama sekali tak menyentuh orang itu. Dengan demikian Sawung Sariti akhirnya mengetahui, bahwa orang itu bukanlah sekadar seorang yang berkeliaran di malam hari dalam keadaan yang belum tenang benar.

Dengan gerakan-gerakannya dan caranya membebaskan diri, baik dari tikaman pedang Galunggung maupun dari tusukan pedangnya sendiri, tahulah Sawung Sariti, bahwa orang itu sebenarnya orang yang berilmu. Dengan demikian, Sawung Sariti menjadi bertambah gelisah dan marah. Usahanya untuk membinasakan Arya Salaka belum berhasil, dan kini dijumpainya lawan yang tak dapat diperingan.

Ternyatalah kemudian, ketika Sawung Sariti mengulangi serangannya, maka dengan tangkasnya orang itu berkisar dan meloncat, namun terdengar mulutnya berkata, “Ki Sanak, aku tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Kenapa kalian berusaha untuk membunuh aku.”

Sawung Sariti sudah benar-benar dibakar oleh nyala kemarahannya, maka terdengar ia menjawab, “Kau telah mengganggu pekerjaanku. Karena itu kau harus binasa.”

“Aku tidak mengganggu Ki Sanak. Aku hanya sekadar memenuhi mimpiku sore tadi, bahwa aku harus datang di bawah pohon nyamplung ini,” sahut orang itu.

“Omong kosong!” bentak Sawung Sariti, sementara itu pedangnya berputar semakin cepat dalam ilmu keturunan Pangrantunan. Suatu ilmu yang sukar dicari bandingnya. Apalagi Sawung Sariti memiliki kelincahan yang cukup, sehingga pedangnya seakan-akan berubah seperti asap yang bergulung-gulung melanda lawannya.

Lawannya itu pun berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. Seperti bayangan saja, ia meloncat-loncat dengan cepatnya, seakan-akan tubuhnya sama sekali tak memiliki berat. Ia meloncat dari sana kemari, berputar dan melingkar, kemudian mirip dengan seorang yang sedang bermain-main berputar di udara. Ia selalu menghindari saja setiap serangan yang datang.

Dalam pada itu Galunggung pun telah bangun kembali. Wajahnya dikotori oleh lumpur liat yang basah. Beberapa kali ia mengibas-kibaskan rambutnya. Ikat kepalanya telah hilang terlempar jauh. “Setan!” geramnya. Tetapi ia pun terbelalak ketika ia melihat orang yang akan dibunuhnya itu bertempur melawan Sawung Sariti.

Ia tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin orang itu dapat menyelamatkan diri sampai beberapa lama. Sedangkan agaknya Sawung Sariti telah benar-benar berusaha membunuhnya. Karena itu, timbullah maksud Galunggung untuk membantu momongannya. Dengan hati-hati mendekati pertempuran itu. Ia melihat pedang Sawung Sariti bergulung-gulung seperti asap putih yang melibat lawannya, namun ia melihat lawannya itu seperti anak kijang yang menari-nari keriangan di padang rumput yang hijau. Berloncatan kian-kemari, bahkan sekali-kali orang itu berkata nyaring, “Katakanlah Ki Sanak. Apa salahku?”

“Persetan!” teriak Sawung Sariti.

Ia sudah lupa bahwa Arya Salaka akan dapat mendengar teriakannya itu. Bahkan pedangnya menjadi semakin cepat berputar. Galunggung kemudian tak mau membiarkan pertempuran itu berlangsung lama lagi. Ia masih ingat bahwa kedatangan mereka di tempat itu adalah menunggu Arya Salaka. Karena itu, sekuat-kuatnya, ia ingin membantu Sawung Sariti. Sebab sebenarnya Galunggung pun memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan. Dengan garangnya Galunggung meloncat sambil menggeram. Pedangnya lurus memotong gerakan bayangan yang sedang menghindari serangan Sawung Sariti.

Namun malanglah nasibnya. Tiba-tiba terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai pelipisnya.

Demikian dahsyatnya, sehingga terasa seakan-akan bintang-bintang yang melekat di langit rontok bersama-sama menimpa dirinya. Sekali lagi Galunggung terlempar ke sawah. Kini ia jatuh terlentang. Namun, tiba-tiba dadanya berdesir ketika terasa bahwa pedangnya sudah tak berada di tangannya lagi.

Dengan susah payah ia mencoba menguasai dirinya. Perlahan-lahan Galunggung mengangkat wajahnya.

Dan sekali lagi jantungnya berdentang keras ketika dilihatnya, pedangnya sudah berada di tangan lawan Sawung Sariti itu. Dengan demikian, kini ia menyaksikan sebuah pertarungan pedang yang nggegirisi.

Masing-masing bergerak dengan tangkas dan tangguhnya. Namun akhirnya terasa bahwa lawan Sarung Sariti itu memiliki kekuatan dan kecepatan melampaui Sawung Sariti sendiri. Dengan demikian, beberapa saat kemudian, Sawung Sariti sudah harus mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ternyata ia telah salah langkah. Sebelum melawan Arya Salaka, sudah harus ditemuinya lawan yang tangguh dan bahkan memiliki tata gerak yang melampauinya.

DALAM KESIBUKAN angan-angannya, tiba-tiba bagai seleret pedang Sawung Sariti melihat bayangan yang muncul dari tanggul parit yang menyilang jalan kecil itu. Dalam sekejap, segera Sawung Sariti dapat mengetahuinya, bahwa orang itu adalah Arya Salaka. Karena itu dadanya menjadi berdebar-debar karena kegelisahan dan kecemasan bercampur baur dengan kemarahan yang meluap-luap.

Namun Sawung Sariti adalah anak muda yang licik. Tiba-tiba ia tersenyum di dalam hatinya, ketika terpikir olehnya, “Baiklah Kakang Arya kujadikan kawan kali ini. Urusan kita dapat kita selesaikan besok atau lusa.”

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Arya Salaka. Mula-mula ia berjalan saja seenaknya sambil menikmati sejuknya angin malam. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika dilihatnya di bawah pohon nyamplung, dua orang yang sedang bertempur mati-matian. 

Apalagi keduanya telah memegang pedang ditangan. Karena itu Arya menjadi tertegun sejenak. Siapakah mereka yang bertempur itu? Dengan hati-hati ia melangkah mendekati. Tanpa disengaja tangannya meraba-raba lambungnya. Dan terasa sebuah benda tersentuh tangannya, Arya menjadi tenang. Sebab ia tidak tahu, siapakah yang bertempur dengan senjata itu. Kalau perlu ia harus melibatkan diri, di lambungnya terselip Kyai Suluh. Pusaka Pasingsingan yang ngedab-edabi.

Dengan demikian Arya melangkah semakin dekat. Dan alangkah terkejutnya ketika ia mengenal kedua orang yang bertempur itu. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, “Adi Sawung Sariti, apakah yang terjadi? Kakang Karang Tunggal, berhentilah.”

Sawung Sariti tidak mendengar teriakan Arya Salaka. Ia bertempur terus, bahkan ia mengharap Arya membantunya. Tetapi ketika sekali lagi ia mendengar Arya memanggil namanya dan nama Karang Tunggal, Sawung Sariti menjadi bimbang. Apakah Arya Salaka telah mengenal lawannya itu.

Karang Tunggal pun segera meloncat mundur beberapa langkah untuk membebaskan dirinya dari libatan serangan Sawung Sariti yang mengalir seperti banjir, sambil berkata nyaring, “Selamat datang Adi Arya Salaka.”

Akhirnya Sawung Sariti pun terpaksa berhenti bertempur. Dadanya berdegup ketika ternyata Arya benar-benar telah mengenal lawannya itu. Maka ia pun bertanya, “Apakah Kakang Arya telah mengenal orang ini?”

“Ya,” jawab Arya Salaka, “Ia adalah Kakang Karang Tunggal.”

“Hem!” geram Sawung Sariti. Pikirannya menjadi berputar-putar dilibat oleh berbagai pertanyaan. Kalau orang ini telah mengenal Arya Salaka, maka adakah hubungannya dengan kehadirannya di bawah pohon nyamplung ini?

“Kakang Karang Tunggal, apakah yang terjadi sehingga Kakang bertempur melawan adi Sawung Sariti?”

“Bertanyalah kepada adikmu,” jawab Karang Tunggal. 

Arya mengalihkan pandangannya kepada Sawung Sariti. Matanya menyorotkan pertanyaan yang bergolak di hatinya. Untuk beberapa saat Sawung Sariti berdiam diri. Ia agak bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Sehingga terpaksa terluncurlah pertanyaan dari mulut Arya, “Kenapa Adi Sawung Sariti bertempur dengan kakang Karang Tunggal?”

“Aku belum mengenalnya,” desis Sawung Sariti.

“Apalagi Adi belum mengenalnya,” desak Arya Salaka.

“Aku tidak tahu apa sebabnya,” jawab Sawung Sariti, “Tiba-tiba saja aku telah bertempur dengan orang itu.”

Arya mengerutkan keningnya. Sedang Karang Tunggal tertawa perlahan-lahan.

“Aneh,” desisnya.

“Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja aku sudah bertempur melawan Adi yang kau sebut Sawung Sariti itu.”

Wajah Sawung Sariti menjadi merah mendengar sindiran itu. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, terdengar Karang Tunggal meneruskan, “Aku merasa bahwa aku telah diserangnya.”

“Kau mengganggu aku,” bantah Sawung Sariti.

“Menyentuhpun aku tidak,” sangkal Karang Tunggal.

Arya menjadi bingung. Tetapi ia merasa, bahwa keduanya belum berkata sebenarnya. “Suatu kesalahpahaman,” desis Arya.

“Memang hal itu mungkin sekali terjadi. Namun sekarang aku perkenalkan kalian masing-masing.” “Bukan kesalahpahaman,” jawab Karang Tunggal, “Tetapi adi Sawung Sariti sengaja menyerang aku tanpa sebab.”

“Bukan tanpa sebab,” sahut Sawung Sariti yang mulai merah kembali, “Kau mengganggu aku.” “Apamu yang aku ganggu?” tanya Karang Tunggal.

Sawung Sariti terdiam. Sudah tentu ia tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya sedang dilakukan. Namun keringat dinginnya mengalir semakin deras ketika Karang Tunggal berkata, “Aku hanya datang kemari dan duduk di bawah pohon nyamplung ini. Apa salahku?”

SAWUNG SARITI masih belum dapat menjawab. Namun terdengar giginya gemeretak. Yang terdengar adalah kata-kata Karang Tunggal, “Dan kenapa aku kau usir dari sini tanpa sebab? Dan aku harus berjalan ke jurusan yang kau tentukan?”

Sawung Sariti menggeram. Namun ia belum menemukan jawaban yang tepat. Sedang Karang Tunggal berkata terus, “Apakah dengan demikian aku mengganggumu? Apakah kau sedang menunggu seseorang di sini dengan pedang terhunus?”

Dada Sawung Sariti semakin berdebar-debar. Sedang Arya mengangkat alisnya. Apakah benar yang dikatakan oleh Karang Tunggal itu? Sawung Sariti menunggu seseorang dengan pedang terhunus? Kalau demikian siapakah yang ditunggunya? Pertanyaan itu tiba-tiba datang mengganggunya.

Tiba-tiba terdengarlah Sawung Sariti membentak keras-keras, “Jangan mengigau!”

“Aku berkata sebenarnya,” sahut Karang Tunggal. Tiba-tiba kembali Arya diganggu oleh angan-angan yang tak menyenangkan hatinya. Apakah maksud Sawung Sariti sebenarnya? Dan kenapa tiba-tiba saja anak itu telah mendahuluinya? Karena itu tiba-tiba terloncat dari mulut Arya, “Apakah yang sebenarnya terjadi?”

“Sudah aku katakan,” sahut Karang Tunggal, “Anak muda itu menunggu seseorang dengan pedang terhunus.”

“Apa pedulimu?” tukas Sawung Sariti, “Daerah ini adalah daerah yang belum tenang. Orang-orang dari gerombolan hitam setiap saat berkeliaran di daerah ini. Apa salahnya aku duduk di bawah pohon ini dengan pedang terhunus?”

Tiba-tiba Karang Tunggal tertawa. Tertawa seorang pemuda yang berdarah jantan, namun darah itu masih belum mengendap di dasar jantungnya. Ia sebenarnya telah mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh Sawung Sariti. Mula-mula ketika ia melihat Arya Salaka, ia ingin menyusul sahabatnya itu, yang berjalan bersama-sama dengan adik sepupunya, namun maksudnya diurungkan, ketika dilihatnya Arya berpisah dengan Sawung Sariti. Bahkan timbullah kecurigaannya kepada adik sepupu Arya. Dengan demikian ia mengikutinya dan mendengarkan semua percakapannya dengan Galunggung. Karena itulah sengaja ia mendahului Arya dan duduk di bawah pohon nyamplung itu. Ia tahu benar bahwa dengan demikian Sawung Sariti akan marah kepadanya. Tetapi tidak mengapa. Sebab dengan demikian ia sudah berusaha mencegah kemungkinan itu terjadi. Meskipun ia sendiri tidak yakin, apakah dengan serangan diam-diam itu Arya akan dapat dikalahkan, namun hal yang demikian itu benar-benar berbahaya. Terbawa oleh sifat-sifatnya yang aneh, yang dipenuhi oleh api yang menyala-nyala di dalam dadanya, Karang Tunggal yang juga bernama Mas Karebet dan mempunyai sebutan Jaka Tingkir itu memandang kehidupan sebagai suatu kancah perjuangan.

Namun kejantanannya menuntut setiap perjuangan harus dilakukan dengan adil dan jujur. Karena itulah maka ia menjadi muak melihat cara Sawung Sariti untuk mencapai maksudnya. Ia pernah mendengar dari Ki Lemah Telasih, apa yang sebenarnya terjadi di Banyubiru. Pergolakan antarkeluarga. Pergeseran kamukten dan perjuangan untuk mempertahankan pusaka. Tafsirannya yang tepat mengatakan, bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah rentetan dari peristiwa-peristiwa itu.

Dengan demikian, akhirnya ia berkata di antara suara tertawanya yang berderai, “Hai anak-anak muda. Kenapa kalian menyembunyikan tangan kalian di balik punggung. Kenapa kalian tidak berani mengangkat dada, berkata dengan lantang? Ayo kita pertaruhkan tanah ini. Banyubiru dan Pamingit. Sadumuk bathuk, sanyari bumi. Mukti atau mati.”

Darah Sawung Sariti menjadi mendidih di dalam dadanya. Ia kini hampir tak dapat mengelak lagi. Agaknya Karang Tunggal telah mengetahui seluruhnya. Karena itu ia menggigit bibirnya, sedang tangannya memegang pedangnya semakin erat. Di dalam hati ia berkata, “Apa boleh buat. Kalau aku harus berhadapan dengan Arya Salaka. Aku laki-laki juga seperti dia.”

Arya Salaka masih berdiri tegak di tempatnya. Ia dapat menangkap apa yang dikatakan oleh Karang Tunggal. Dan kini ia tahu benar apa yang sedang dilakukan oleh Sawung Sariti. Karena itu dadanya pun berdesir cepat. Di tempat itu, di bawah pohon nyamplung yang rimbun, berdirilah tiga orang anak muda yang masih berdarah panas. Anak-anak muda yang mudah terbakar oleh perasaan sendiri.

Mereka masih mengukur harga diri dengan sifat-sifat kepahlawanan yang sempit. Dalam kesempitan perasaan, mereka menilai diri masing-masing dengan keberanian mereka melihat darah. Demikianlah maka terjadilah ketegangan yang memuncak. Masing-masing menyiapkan diri untuk mempertaruhkan diri demi kehormatan nama mereka dengan gegayuhan mereka. Mereka tidak sadar, bahwa di dunia ini ada cara lain yang jauh lebih baik daripada cara yang mereka tempuh.

DALAM KEADAAN yang demikian, mereka melupakan bahwa ayah-ayah mereka akan dapat menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik, dengan laki-laki sejati, tanpa setetes darah pun yang tertumpah. Seandainya, pada saat itu hadir seorang dari ayah-ayah mereka, atau Mahesa Jenar, atau Kebo Kanigara, maka keadaannya pasti akan berbeda.

Namun yang terjadi adalah, tak seorang pun dari mereka yang hadir. Tak seorang pun yang dapat memberi peringatan kepada anak-anak itu. Yang tertua diantara mereka adalah Karang Tunggal. Namun Karang Tunggal adalah seorang anak muda yang sifat-sifatnya yang aneh.

Akhirnya Sawung Sariti tidak tahan lagi membiarkan hatinya bergolak tanpa ujung pangkal. Karena itu dengan lantangnya ia berkata kepada Karang Tunggal, “Hai anak perkasa, apa maksudmu sekarang?”

“Tidak apa-apa,” jawab Karang Tunggal, “Aku hanya ingin melihat seseorang berlaku jantan. Tidak dengan sembunyi-sembunyi dan curang.”

“Persetan dengan ocehanmu!” bentak Sawung Sariti, “Kau kira aku tidak berani berhadapan seperti laki-laki?”

“Nah, itulah kata-kata jantan,” sahut Karang Tunggal, “Apa katamu Adi Arya Salaka?”

Mulut Arya Salaka tiba-tiba seperti terkunci. Ia sama sekali tidak mengharapkan hal yang demikian itu terjadi. Tetapi ia pun tidak mau, apabila kelak ia benar-benar menjadi korban tusukan dari belakang. Dalam saat yang pendek itu pun segera ia dapat menangkap maksud yang tersirat dari perbuatan adik sepupunya itu. Menyingkirkan dirinya, untuk kelak memiliki Pamingit dan Banyubiru sekaligus.

Karena Arya masih berdiam diri, maka berkatalah Sawung Sariti, “Kakang Arya Salaka, apa boleh buat. Biarlah aku tidak tedheng aling-aling. Aku ingin kemukten atas tanah Banyubiru sekaligus selain tanah Pamingit.”

“Hem!” Hanya itulah yang terdengar dari mulut Arya Salaka. Apabila selama ini, ia sudah berusaha melupakan segenap peristiwa yang terjadi atas dirinya karena pokal adik sepupunya itu, maka kini tiba-tiba terungkit kembali. Peristiwa demi peristiwa. Pada saat dirinya hampir saja dicincang di halaman rumah sendiri, kemudian setelah ia menyingkir, ia pun selalu dikejar-kejar. Apabila seorang yang bernama Sarayuda tidak menolongnya, maka ia pun kini tidak akan dapat melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Juga dikenangnya apa yang terjadi di Gedangan. Kenangannya itulah yang perlahan-lahan membakar dirinya. Dan kini, adiknya itu berdiri di hadapannya dengan pedang terhunus.

“Jawab permintaanku,” sambung Sawung Sariti, “Banyubiru, Pamingit dan nyawamu.”

“Adi Sawung Sariti,” jawab Arya dengan gemetar, “Jangan memaksa aku membela diri.”

“Aku sebagai saksi!” Tiba-tiba Karebet berteriak, “Siapa pun yang kalah dan menang, harus menghindarkan diri dari dendam yang menimpa dari kalian terbunuh, adalah nasib malang yang menimpa diri. Aku tidak akan membuka mulutku kepada siapa pun. Tetapi kematian adalah bukan tujuan kalian terbunuh. Karena itu hindarkanlah. Namun kalian harus berjanji, bahwa kalian akan menerima keputusan yang kalian buat bersama.”

Suasana di bawah pohon nyamplung itu menjadi bertambah tegang. Dada ketiga anak muda itu bergetar cepat karena darah mereka yang bergolak. Pada saat itu Galunggung masih terkapar di tanah liat yang becek, di antara tanaman-tanaman jagung muda. Kepalanya masih terasa pening. Dengan susah payah ia berusaha untuk dapat duduk dengan tegak. Dalam keadaan itu, hatinyapun bertambah tegang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu terdengar Karang Tunggal berkata, “Pertemuan yang demikian adalah jauh lebih baik daripada dendam yang membara di hati kalian. Tetapi sekali lagi aku peringatkan bahwa aku adalah saksi. Dan kalian tidak akan mendendam di hati. Dengan demikian, setelah pertemuan ini selesai, selesailah urusan kalian. Laki-laki sejati tidak akan menelan ludahnya kembali.”

Darah Sawung Sariti kini benar-benar telah mendidih. Sedang Arya Salaka dapat memaklumi maksud Karang Tunggal. Anak muda itu tidak mau melihat pertentangan dan dendam yang berlarut-larut. Namun cara penyelesaian ini pun sangat tidak menyenangkan hatinya.

Yang sudah bulat hatinya adalah Sawung Sariti. Hidup atau matinya telah dipertaruhkan untuk mencapai maksudnya. Demikianlah maka ketika darahnya telah bergelora membakar kepalanya, terdengarlah ia berteriak, “Kakang Arya Salaka. Melawan atau tidak melawan, aku akan menyerangmu dan berusaha membunuhmu. Itu adalah ketetapan hatiku. Dan aku telah menantimu di sini.”

ARYA tidak sempat menjawab ketika ia melihat Sawung Sariti meloncat maju ke hadapannya. Beberapa langkah saja dimukanya dengan pedang yang terjulur lurus ke depan. Dengan gerak naluriah Arya mundur selangkah. Tangannya sudah siap mencabut pusaka Kyai Suluh.

Namun sebelum itu dilakukan terdengarlah Karang Tunggal berkata, “Biarlah perkelahian ini menjadi adil. Kalian berdua tidak bersenjata, atau kalian berdua memegang pedang.”

Sawung Sariti dan Arya Salaka tidak segera menjawab. Mereka masih berdiri di atas kaki masing-masing yang renggang. Namun sepintas lalu, berkisarlah di otak Karang Tunggal. Ia telah mendengar ilmu Sasra Birawa yang dimiliki oleh Arya Salaka dan ilmu Lebur Saketi di dalam diri Sawung Sariti. Agaknya kedua ilmu itu lebih berbahaya daripada pedang. Dengan demikian mereka tidak akan mempergunakan ilmu-ilmu yang dahsyat itu. Apabila mereka akan mempergunakan, mereka harus melepaskan senjatanya, sehingga dengan demikian ada kesempatan padanya untuk mencegah terbenturnya kedua ilmu itu.

Sedang pertempuran dengan pedang antara dua orang yang selincah Sawung Sariti dan Arya Salaka, biasanya tidak akan sampai pada bahaya yang sebenarnya terhadap jiwa mereka. Ia akan dapat mencegahnya apabila perlu, juga apabila salah seorang darinya telah terluka dan meneteskan darah.

Karena itu, segera ia berkata, “Adi Arya, pakailah pedang ini.”

Karang Tunggal tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat dan menyerahkan pedang Galunggung kepada Arya Salaka. Seperti orang yang terbius oleh keadaan yang dihadapinya, Arya menerima pedang itu dengan hati yang kosong.

“Nah, di tangan kalian telah tergenggam pedang,” kata Karang Tunggal, “Terserah kapan kalian akan mulai. Tetapi setetes darah yang mengalir dari tubuh kalian, akan merupakan keputusan jantan. Dan kalian harus menerima keputusan itu tanpa syarat.”

Arya Salaka dapat mengerti arti kata-kata Karang Tunggal. Namun Sawung Sariti sudah tidak mau mendengarnya. Ketika ditangan Arya telah tergenggam pedang, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan kecepatan kilat ia meloncat dan menusuk dada kakak sepupunya.

Namun Arya Salaka telah membayangkan bahwa hal yang demikian itu akan terjadi. Karena itu segera ia menghindar. Pedang Galunggung di tangannya itupun segara bergerak menyambar seperti elang di udara. Sawung Sariti segara meloncat ke samping. Matanya telah menjadi merah oleh api kemarahan dan nafsu. Karena itu kemudian kembali ia melontarkan dirinya menyerang Arya Salaka seperti datangnya angin ribut.

Demikianlah maka keduanya tenggelam dalam perkelahian yang dahsyat. Arya Salaka dan Sawung Sariti adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh. Tenaga jasmaniah mereka sedang berkembang dengan suburnya. Perkembangan tubuh yang selalu dipupuk dan dipelihara dalam cara masing-masing.

Arya Salaka telah berkembang dalam lingkaran ilmu keturunan Pengging, sedang Sawung Sariti menjadi perkasa karena ilmu keturunan Pangrantunan. Dua ilmu yang dahsyat, yang pada masa-masa lampau menjadi pasangan yang mengerikan untuk menghadapi kekuatan golongan hitam.

Karang Tunggal menyaksikan pertempuran itu dengan seksama. Ia melihat betapa keduanya sambar-menyambar dengan tangkasnya seperti sepasang burung rajawali yang bertempur di udara. Namun sesaat kemudian keduanya telah berubah menjadi seekor harimau yang garang dengan kuku-kukunya yang tajam melawan seekor banteng yang kokoh kuat dengan tanduk-tanduknya yang runcing mengerikan.

Tetapi Karang Tunggal sama sekali tidak mencemaskan mereka. Ia melihat kekuatan dan ketangkasan pada kedua belah pihak. Karena itu ia bersyukur bahwa keduanya telah bertempur dengan senjata. Kalau saja mereka bertempur dengan tangan mereka, maka ia pasti akan melihat bahwa tiba-tiba saja akan berbenturanlah ilmu Sasra Birawa dan Lebur Saketi. Kalau ilmu itu tidak seimbang maka salah seorang di antaranya pasti akan hancur lumat bagian dalam tubuhnya.

PEDANG di tangan Sawung Sariti berputar dengan cepatnya. Semakin lama menjadi semakin cepat dan membingungkan. Bahkan kemudian seakan-akan berubah menjadi ribuan mata pedang yang menusuk dari ribuan arah.

Namun Arya Salaka adalah murid dari perguruan Pengging lewat seorang yang bernama Mahesa Jenar. Karena itu pedangnya pun mampu membentengi dirinya seperti sebuah bola baja yang melingkari tubuhnya. Tak seujung jarum pun dapat ditembus oleh tajam pedang lawannya. Bahkan Arya Salaka tidak saja mampu mengurung dirinya dengan bola baja yang kokoh dan kuat, namun sekali-kali serangannya pun menyambar dengan dahsyatnya. Tidak terlalu sering, namun setiap sambaran pedangnya cukup mendebarkan hati lawannya. Demikianlah mereka tenggelam semakin dalam, dalam pertempuran yang menyeramkan itu. Masing-masing telah mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya. Mereka melingkar-lingkar dan berputar-putar dalam satu daerah yang dilindungi oleh rimbunnya pohon nyamplung. Sekali-kali mereka berloncatan sambar-menyambar, mengelilingi pokok pohon nyamplung yang besar itu. 

Pedang mereka berkilat-kilat seperti tatit yang beterbangan di langit. Benturan-benturan kedua senjata itu sedemikian dahsyatnya sehingga bunga api memercik di udara.

Karang Tunggal akhirnya mengagumi juga ketangkasan mereka. Kelincahan dan keprigelan Sawung Sariti dan ketangguhan serta ketangkasan Arya Salaka merupakan tanding yang dapat menghentikan denyut jatung. Namun kekuatan jasmaniah Arya Salaka ternyata melampaui kemampuan Sawung Sariti. Tempaan yang bertahun-tahun disepanjang perantauan, menuruni lembah dan tebing-tebing, perburuan di hutan-hutan dan pergulatan melawan ombak lautan, telah menjadikan tubuh Arya Salaka sekokoh belit karang. Otot-ototnya seakan-akan telah mengeras, sekeras besi. Kulitnya yang merah kehitam-hitaman terbakar matahari setiap hari itu seolah-olah menjadi lapisan tembaga yang melindungi tubuhnya dari setiap bahaya yang menyentuhnya. Karena itulah maka akhirnya kesegaran tubuh Arya Salaka telah ikut serta menentukan pertempuran itu. Benturan-benturan yang terjadi di antara kedua pedang itu tampak, bahwa keadaan Arya Salaka masih lebih baik daripada Sawung Sariti.

Demikianlah pada suatu ketika, Sawung Sariti kehilangan keseimbangan sesaat setelah pedangnya beradu dengan pedang Arya Salaka. Karena dorongan yang keras, Sawung Sariti terdesak selangkah surut, serta tubuhnya terputar setengah lingkaran. Pada saat yang demikian, dengan kecepatan yang luar biasa pedang Arya Salaka terjulur ke dadanya. Sawung Sariti cepat berusaha menghindarkan diri. Ia memutar tubuhnya setengah lingkaran pula dalam arah yang sama, sedang ia mengangkat pedangnya, berusaha untuk menangkis serangan lawannya. Sebagian Sawung Sariti berhasil.

Pedangnya memukul pedang Arya Salaka ke samping.

Namun kekuatan Sawung Sariti pada saat ia melingkar tidaklah sepenuh kekuatan Arya Salaka. Sehingga dengan demikian, pedang Arya masih menyentuh pundak kanannya. Sebuah goresan telah menyobek kulit Sawung Sariti. Dan dari luka itu melelehlah cairan yang berwarna merah segar. Darah. Sawung Sariti terkejut, ketika terasa sebuah goresan menyengat pundaknya. Ia segera meloncat mundur. Tanpa disengaja tangan kirinya meraba pundaknya. Dan cairan yang hangat terasa di telapak tangannya. Terdengarlah ia menggeram dan giginya gemeretak.

Pada saat itu Karang Tunggal meloncat ke depan dan berdiri di antara mereka. Dengan lantang ia berkata, “Keputusan telah jatuh. Darah telah menetes dari luka.”

Sawung Sariti memandang Karang Tunggal dengan mata yang berapi-api. Darahnya serasa mendidih di dalam dadanya. Katanya tidak kalah lantangnya, “Apa maksudmu?”

“Perjanjian kita mengatakan, keputusan diambil secara jantan. Kalau darah telah menetes, pertempuran berakhir, dan selesailah persoalan kalian,” sahut Karang Tunggal.

“Apa keputusan itu?” tanya Sawung Sariti.

“Seperti yang kita janjikan. Bukankah kalian sedang bertaruh di atas tanah Pamingit dan Banyubiru?” jawab Karang Tunggal.

Mata Sawung Sariti menjadi semakin menyala. Kemarahannya kini telah benar-benar memuncak. “Tidak ada pertaruhan apa-apa!”

Tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka yang sudah berhasil menenangkan diri.

“Marilah kita lupakan persoalan kita.”

Karang Tunggal mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Betapa besar jiwa sahabatnya itu.

“Bagus,” katanya, “Kalian tetap pada kedudukan kalian masing-masing sebagai putra kepala daerah perdikan yang terpisah.”

BAGI Sawung Sariti semuanya itu seakan-akan merupakan ejekan atas kekalahannya.

Didorong oleh harga diri dan dilambari oleh nafsu yang melonjak lonjak, maka Sawung Sariti telah lupa pada segalanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada darahnya yang bersumber dari saluran yang sama dengan Arya Salaka. Lupa akan sifat kepribadian yang sejak lama mencekam tata kehidupan daerah ini. Ia sudah tidak memperdulikan lagi segala galanya.

Dengan suara nyaring ia berkata “Laki laki tidak mengenal darah yang menetes dari luka. Ayo kakang Arya Salaka, bersiaplah. Kita bertempur antara hidup dan mati.”

Dada Arya bergetar mendengar tantangan ini, ia tidak menghendaki hal demikian terjadi. Namun terasa pula bahwa dendam yang membara didada adiknya itu tak akan padam. Karena itu ia menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan? Ia menyesal mengapa tidak mengajak gurunya atau ayahnya menjemput ibunya. Kalau demikian keadaannya mungkin berbeda. Tetapi didalam hatinya melontarlah kata-kata “kalau Sawung Sariti tidak melakukannya sekarang, maka akan akan datanglah saatnya pertentangan yang memuncak. bara api yang tersimpan didalam dada anak itu bagai bara api yang tersembunyi didalam sekam. Setiap saat akan berkobar membakar dirinya.”

Dalam pada itu Karang Tunggalpun menjadi kecewa. Sawung Sariti ternyata tidak berjiwa besar. Karena itu akhirnya ia berkata “kenapa kau mengingkari janji ?”.

“Aku tidak pernah berjanji. Dan aku sudah berkata, melawan atau tidak, aku akan bunuh kakang Arya Salaka,” jawab anak muda yang mata gelap itu.

Suasana dibawah pohon nyamplung kini benar benar dicekam oleh ketegangan yang memuncak. Gemersik daun daunnya yang rimbun terdengar seperti lagu maut yang membelai hati ketiga anak-anak muda yang sedang berdiri mematung dibawahnya. Arya Salaka masih berdiri dalam kebimbangan hati. Apa yang harus dilakukan?

Tiba-tiba terdengar Sawung Sariti berkata seperti guruh dimulai hujan.” Jangan tegak seperti patung. Aku ulangi, melawan atau tidak, aku akan membunuhmu. Bersiaplah. Aku akan mulai.”

“Tunggu dulu,” sahut Arya Salaka.

Tetapi Sawung Sariti sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia telah meloncat seperti seekor serigala lapar menerkam mangsanya. Demikian cepat dan tiba-tiba sehingga Arya dan Karang Tunggal menjadi terkejut karenanya. Arya sama sekali tidak menduga Sawung benar-benar akan mengancam jiwanya pada saat ia sedang mencoba mencegah perkelahian. Karena itu ia agak gugup. Ia melihat pedang adik sepupunya yang besar dan panjang tiba-tiba saja terjulur kedadanya.

Dengan segala kemampuan yang ada padanya ia mencoba memukul pedang tersebut.

Namun terlambat. pedang Sawung berhasil mematuk dadanya.

Kemudian sebuah goresan yang panjang membekas menyilang. Perasaan pedih menjalar menyusur segenap sarafnya. Arya berdesis perlahan. Untunglah ia tangkas, sehingga goresannya tidak dalam. Namun demikian darah yang mengalir dari luka itu, seakan akan minyak yang akan menyiram api kemarahan anak muda dari Banyubiru.

Arya Salaka bukan anak dewa ataupun malaikat dari langit. Demikian akhirnya Arya telah kehilangan semua kesabaran serta kelunakan hati. Yang didalam dadanya kini adalah kemarahan yang menyala nyala seperti api membakar hutan kering di lereng bukit dalam arus angin yang kencang.

Karena itulah maka sambil menggeram keras Arya meloncat dengan tangkasnya, kemudian seperti badai ia menyerang Sawung Sariti.

Namun Sawung telah bertekad bulat untuk bertempur mati-matian. Kakak sepupunya atau ia yang harus mati. Maka terulang kembali pertempuran sengit dibawah pohon nyamplung. Pertempuran antara dua anak muda yang darahnya sedang mendidih sampai kekepala.

Karang Tunggal kini berdiri seperti tonggak. Ia benar-benar menjadi kecewa. Ia kini tidak bisa berharap bahwa dendam diantara keduanya akan terhapus karena ucapan jantan. Karena itulah ia melangkah perlahan-lahan menepi dan duduk ditepi jalan bersandar pokok pohon nyamplung.  

UNTUK menghilangkan kejengkelan hatinya, tiba-tiba Karang Tunggal berteriak keras-keras, “Aku tidak peduli lagi dengan kalian. Apa yang terjadi kemudian, aku tidak turut campur. Juga seandainya kalian mati bersama-sama, aku akan berdendang lagu Kinanti, sama sekali bukan Megatruh!”

Meskipun kata-kata Karang Tunggal itu bergetar memenuhi udara, namun Sawung Sariti dan Arya Salaka tak mendengarnya. Perhatian mereka sepenuhnya telah tertumpah pada perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup masing-masing.

Pertempuran kali inipun semakin lama menjadi semakin memuncak. Masing-masing telah melepaskan segenap ilmu pedang mereka. Ilmu pedang dari perguruan Pengging melawan ilmu pedang dari perguruan Pangrantunan. Dua ilmu yang seimbang dan dimiliki oleh dua orang anak muda dalam tataran yang seimbang pula. Sekali lagi nampak, betapa kekuatan jasmaniah Arya Salaka berada selapis lebih dari Sawung Sariti. Itulah sebabnya maka Sawung Sariti berusaha mempergunakan kelincahannya untuk memukul lawannya. Namun agaknya Sawung Sariti tidak akan berhasil. Sebab Arya Salaka pun mampu bertempur dalam kelincahan yang mengagumkan. Bahkan kemudian keduanya seakan-akan berubah menjadi bayangan yang melayang-layang secepat sikatan menyambar belalang.

Pedang Sawung Sariti bergerak dalam bidang-bidang yang mendatar, mematuk dan kemudian berputar seperti baling-baling. Sedangkan pedang Arya Salaka mengambil garis-garis silang untuk mematahkan serangan Sawung Sariti dan kemudian bergerak melingkari dirinya, untuk kemudian dengan dahsyatnya, sedahsyat angin pusaran, pedang itu melibat lawannya. Dalam benturan-benturan yang terjadi, semakin jelas, betapa kekuatan tubuh Arya Salaka melampaui kekuatan lawannya. Maka ketika Arya Salaka tidak lagi dapat mengendalikan diri, pedangnya menyambar dengan cepat dan kerasnya ke arah lehar lawannya. Namun kelincahan Sawung Sariti pun tidak kalah daripada lawannya. Cepat ia merendahkan diri dan pedangnya menyilang, melindungi tubuhnya. Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Seperti bunga api menghambur di udara. Dalam benturan itu, Arya telah mengerahkan segenap kekuatannya, bahkan ia telah mempergunakan ayunan pedangnya serta berat badannya untuk memperkuat serangannya. Dengan demikian, kekuatan yang menghantam pedang Sawung Sariti jauh melampaui kekuatan Sawung Sariti. Dengan demikian, ia terlontar mundur, sedang pedangnya bergetar cepat.

Terasa jari-jarinya menjadi panas dan nyeri. Cepat ia berusaha untuk memperbaiki keadaannya, namun secepat itu pula sekali lagi pedang Arya Salaka memukul pedang Sawung Sariti. Kali ini Sawung Sariti tak dapat lagi menyelamatkan pedangnya. Dengan kerasnya pedangnya terpukul jatuh ditanah. Sawung Sariti menggeram keras karena terkejut dan nyeri-nyeri ditangannya. Dengan cepatnya ia melontar mundur sejauh-jauhnya. Namun Arya pun mampu bergerak secepat itu, sehingga ketika Sawung Sariti berjejak di atas tanah, ujung pedang Arya seakan-akan telah melekat di dadanya. Sekali lagi ia mencoba menjauhkan diri dari ujung pedang itu, namun Arya Salaka pun melontar maju dengan kecepatan yang sama.

Akhirnya Sawung Sariti berhenti. Tangannya bergetar, namun tak sesuatu dapat dilakukan. Sedang ujung pedang Arya masih saja menekan dadanya. Melihat keadaan kedua anak muda yang bertempur itu, Karang Tunggal menjadi tegang. Tanpa sesadarnya, ia meloncat berdiri dengan wajah tegang menanti apa yang akan terjadi. Pada saat itu, Arya benar-benar telah menguasai lawannya. Dengan satu gerakan yang sederhana, ujung pedangnya akan menembus dada adik sepupunya itu.

Namun tiba-tiba tatit dari ujung langit memancar di udara. Seleret sinar jatuh di wajah adiknya yang tegang kaku. Bergetarlah dada anak muda dari Banyubiru itu. Ia pernah melihat wajah yang sedemikian itu di Gedangan, beberapa tahun lampau. Kalau ia mau, pada saat itu Sawung Sariti telah terbunuh dengan ujung tombak pusakanya. Tetapi pada saat itu ia tidak dapat membunuhnya. Perasaannya dirisaukan oleh kenangan masa-masa silam. Masa kanak-kanak dan masa-masa mereka bergaul sebagai saudara. Seperti juga pada saat yang serupa, kini tangan Arya Salaka yang memegang pedang itu bergetar, bergetar karena getaran di dalam jiwanya. Getaran perasaan seorang kakak. Betapa pun kemarahan telah membakar dadanya, namun Arya masih sadar, bahwa Sawung Sariti adalah adik sepupunya.

Dalam kerisauan itu tiba-tiba terdengar suara Sawung Sariti lantang, seperti apa yang dikatakan beberapa tahun yang lampau, “Kakang Arya Salaka. Bunuhlah aku.”

Arya Salaka memandang wajah adiknya. Tangannya masih bergetar. Namun mulutnya tiba-tiba seperti terkunci. Bahkan kemudian kembali terdengar Sawung Sariti berkata, “Kali ini bunuhlah aku, supaya aku tidak membunuhmu kelak.”

NAFAS Arya Salaka berjalan semakin cepat. Bukan karena kelelahan, tetapi karena perasaannya yang bergolak demikian dahsyatnya. Bergolakan perasaan yang telah menggoncangkan nalarnya. Dengan mata yang suram ia mengamat-amati wajah adiknya dengan seksama. Wajah yang masih memancarkan perasaan dendam dan benci.

Namun karena itulah maka Arya Salaka menjadi kasihan melihatnya. Ia menangkap getaran perasaan adiknya. Betapa ia tidak rela menerima keadaan itu.

Karena itu tiba-tiba terdengarlah suaranya gemetar, “Adi Sawung Sariti. Berjanjilah demi Tuhan Yang Maha Tahu, bahwa kau akan melupakan gegayuhan yang sesat itu. Kemudian biarlah kita menikmati hidup tenang. Lepas dari rasa dendam dan prasangka.”

“Kakang,” jawab Sawung Sariti, “Aku sudah berkata, kau atau aku yang harus lenyap. Kita tak akan dapat hidup bersama di bawah cahaya matahari yang sama.”

Arya Salaka mengangkat alisnya. Dadanya berdentang keras mendengar jawaban Sawung Sariti.

Karebet pun menjadi heran melihat peristiwa itu. Alangkah bersih jiwa Arya Salaka. Sebaliknya, betapa keras kepala adik sepupunya itu. Dengan demikian, Karang Tunggal pun terpaksa menahan nafasnya, menanti apa yang kira-kira akan terjadi. Di dalam lumpur yang becek, Galunggung masih duduk dengan mulut ternganga. Pertempuran yang terjadi benar-benar telah merampas segenap kesadarannya. Dan kini ia melihat Sawung Sariti dalam bahaya.

Arya Salaka masih tegak di tempatnya. Pedangnya masih melekat di dada adiknya dengan gemetar. Secepat getaran di dadanya sendiri. Bahkan tiba-tiba tangannya menjadi lemas, dan karena itu pedangnyapun semakin tunduk ke tanah.

Sawung Sariti melihat keadaan kakaknya. Ia melihat pedang itu semakin renggang dan tunduk. Mula-mula ia merasa aneh, kenapa kakaknya itu tidak membunuhnya, seperti beberapa tahun yang lalu, meskipun ia telah mengancamnya. Kemudian ia merasakan sesuatu yang tak dapat dimengerti sendiri menjalar di hatinya. Perasaan segan dan lebih dari itu.

Meskipun demikian Sawung Sariti tidak mau dipengaruhi oleh perasaannya. Ia tidak mau disebut sebagai seorang pengecut, yang takut menentang maut. Karena itu ia masih mencoba berkata, “Jangan menjadi laki-laki cengeng. Aku telah mengangkat dadaku. Bunuhlah aku.”

Namun suara Sawung Sariti sudah tidak selantang tadi. Bahkan suara itu terasa bergetar dan ragu.

“Hem!” Arya Salaka menggeram. Kini pedangnya sudah benar-benar terkulai. Dengan mata yang sayu ia berkata, “Adi Sawung Sariti, masihkah hatimu segelap itu?”

Kembali terasa sesuatu berdesir di dada Sawung Sariti. Kakaknya itu benar-benar tak mau membunuhnya. Tetapi ia berkata tidak seperti getaran-getaran di hatinya, “Apa pedulimu tentang hatiku? Kalau kau sobek dadaku, akan kau lihat warna hati itu.”

Arya menjadi kecewa. Seperti Karang Tunggal juga menjadi sangat kecewa. Karena itu Arya berkata putus asa, “Baiklah Adi. Ambillah pedangmu. Kita tentukan sekali lagi. Siapakah yang akan mati di antara kita.”

Sekali lagi dada Sawung Sariti bergoncang. Kesempatan itu masih didapatnya. Aneh. Apakah Arya Salaka tidak melihat kemungkinan dadanya sendiri, akan tembus oleh pedangnya, atau barangkali kakaknya itu yakin bahwa ia tak akan dapat mengalahkannya? Namun bagaimanapun juga, kesempatan itu benar-benar mengacaukan perasaannya. Dan karena itulah ia tidak segera bergerak memungut pedangnya. Malahan matanya dengan penuh pertanyaan memandang Arya dan Karebet berganti-ganti.

Getaran di dalam dadanya semakin lama menjadi semakin keras. Akhirnya terdengarlah suara lamat-lamat jauh dari dalam relung hatinya berbisik, “Sawung Sariti, alangkah luasnya hati Arya Salaka, seluas lautan yang sanggup menampung air dari mana pun datangnya.”

Dan karena itulah maka ia masih berdiri mematung.

Dalam kesepian yang mencekam itu, tiba-tiba terdengarlah dari balik gerumbul-gerumbul di tepi parit, seseorang berkata, “Persetan kalian, perempuan-perempuan cengeng.”

Semua yang mendengar suara itu terkejut. Serentak mereka menoleh ke arahnya. Dan tampaklah sebuah bayangan yang bergerak-gerak di balik gerumbul-gerumbul di tepi parit. Dan suara itu berkata lagi, “Aku telah mencoba menyabarkan diri, menunggu kalian saling membunuh. Tetapi aku tidak telaten. Kalian berperasaan seperti perempuan cengeng. Kenapa kalian tidak bertempur dan membunuh secara jantan?”

Dada ketiga anak muda yang berdiri di bawah pohon nyamplung itu menjadi semakin berdebar-debar, dan bayangan itu masih saja berada di sana sambil meneruskan kata-katanya, “Aku telah menunggu untuk mengurangi darah yang melumuri tanganku. Setidak-tidaknya aku hanya tinggal membunuh dua di antara kalian bertiga atau satu, apabila kalian laki-laki dan bertempur seperti laki-laki. Tetapi tidaklah demikian. Karena itu maka kalian telah memberatkan pekerjaanku. Membunuh kalian bertiga dengan tanganku.”

TIDAK seorang pun dari ketiga orang dibawah pohon nyamplung itu yang bergerak.

Semua berdiri mematung dengan hati yang tegang. Mereka menunggu untuk mengetahui siapakah yang berbicara itu. Berdesirlah dada mereka, dan darah mereka seakan-akan membeku ketika mereka melihat bayangan di belakang gerumbul itu meloncat dengan tangkasnya, melangkahi pohon-pohon perdu seperti seekor burung gagak yang berwarna kelam di malam yang gelap. Mereka menjadi semakin terkejut lagi ketika bayangan itu telah berdiri di antara mereka, di bawah pohon nyamplung itu.

Ternyata bayangan itu adalah seorang yang bertubuh bongkok dan berwajah mengerikan, seperti wajah hantu.

“Bugel Kaliki,” desis Sawung Sariti.

Orang bongkok dari lembah Gunung Cerme itu tertawa berderai.

Katanya, “Kau pasti mengenal aku dengan baik.”

Dada Arya Salaka berdesir mendengar kata-kata itu. Kemudian hantu bongkok itu berkata pula, “Nah, aku juga ingin melihat bahwa kau dan anak murid Mahesa Jenar ini laki-laki. Tetapi aku kecewa. Karena itu biarlah aku yang membunuhmu. Dan yang seorang ini aku tidak tahu, apakah hubunganmu dengan kedua anak ini. Namun karena kau hadir juga di sini, maka kau pun akan aku binasakan.”

Karang Tunggal pun pernah mendengar tentang Bugel Kaliki. Ia tahu benar bahwa Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari golongan hitam seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Sura Sarunggi dan sebagainya. Namun terdorong oleh jiwa kejantanannya yang meluap-luap dalam dadanya, seperti sifat-sifatnya yang melonjak-lonjak dipenuhi oleh daya hidupnya, maka ia pun marah bukan buatan. Dengan berdiri tegak dan bertolak pinggang, ia berkata lantang, “Hai Bugel Kaliki, kalau kau belum mengenal aku, akulah yang bernama Karang Tunggal, yang disebut juga Mas Karebet dalam panggilan Jaka Tingkir.”

Bugel Kaliki mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran melihat sikap anak muda yang seakan-akan tak mengenal takut kepadanya itu. Maka katanya, “Sudahkah kau kenal nama Bugel Kaliki dengan baik?” 

“Aku sudah cukup mengenal,” jawab Karebet, “Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari lembah Gunung Cerme.”

Bugel Kaliki tertawa. Katanya di antara derai tertawanya, “Bagus, kau telah mengenal namaku. Tetapi kenapa kau berani bertolak pinggang di hadapanku?”

Kemarahan Karebet menjadi semakin memuncak. Jawabnya, “Aku tidak mau kau hinakan dengan kata-katamu. Apakah kau kira membunuh kami bertiga ini semudah membunuh cacing?”

Sekali lagi Bugel Kaliki tertawa, lebih keras dari semula, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. 

“Diam!” bentak Karebet, “Aku muak melihat tampangmu. Apalagi kalau kau sedang tertawa.”

Bugel Kaliki terkejut, sehingga tertawanya berhenti. Bukan main. Anak itu berani membentak-bentaknya. Karena itu matanya mejadi buram dan redup. Dipandangnya Karang Tunggal dengan seksama. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah anak muda itu.

Arya Salaka dan Sawung Sariti tiba-tiba menjadi tegang. Apakah ia harus berdiri membiarkan Karang Tunggal mengalami bencana. Tiba-tiba terasa pula perasaan dendam di antara mereka. Mereka merasa bahwa kini nasib mereka serupa. Mereka bersama-sama akan mengalami bencana, apabila Bugel Kaliki benar-benar bertindak atas mereka. Apalagi di dalam relung hati Sawung Sariti telah memancar sepercik api yang menerangi kegelapan hatinya itu.

Maka ketika mereka melihat Bugel Kaliki melangkah perlahan-lahan mendekati Karang Tunggal, tanpa mereka sengaja, Arya dan Sawung Sariti pun melangkah maju.

MELIHAT kedua anak muda yang lain bergerak, Bugel Kaliki berhenti.

Pandangan matanya yang buas berganti-ganti hinggap diwajah Arya dan Sawung Sariti. Kedua anak muda inipun ternyata tidak gentar menghadapinya. Sehingga dengan demikian Bugel Kaliki menjadi semakin marah.

Dan terdengarlah ia berteriak, “Apakah kalian bertiga tidak takut menghadapi aku, Bugel Kaliki dari Gunung Cerme?”

“Selama kami berpijak pada kebenaran, tak ada yang kami takuti,” jawab Arya Salaka.

“Gila!” geram Bugel Kaliki, “Kau berdua telah terluka. Membunuh kalian akan sama mudahnya dengan membunuh semut.”

“Aku sudah siap untuk mati sejak tadi,” sahut Sawung Sariti, “Namun jangan mimpi, kami akan menyerahkan leher kami tanpa perlawanan. Dan kalau aku mati karena tanganmu, maka aku akan mendapat penghormatan sebagai seorang laki-laki dari Pamingit. Bukan karena pertentangan antara keluarga sendiri. Aku sekarang menyesal bahwa aku telah melawan kakang Arya Salaka.”

Arya Salaka dan Karang Tunggal bergetar hatinya mendengar pengakuan yang tiba-tiba itu. Ketika mereka memandangi wajah Sawung Sariti, tampaklah betapa ia berkata dari dasar hatinya. Karena itu didalam dada Arya Salaka terdengar suara berbisik, “Terimakasih adikku. Mudah-mudahan kau mendapat sinar terang dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Dalam pada itu Bugel Kaliki menjadi bertambah-tambah marah juga. Ia mengharap bahwa seharusnya ketiga anak muda itu menjadi ketakutan, menggigil dan berjongkok minta ampun. Tetapi ternyata mereka telah menengadahkan dada mereka. Bahkan anak yang bernama Karang Tunggal itu masih saja berdiri bertolak pinggang.

Karena kemarahannya itu tiba-tiba Bugel Kaliki berkata nyaring – Hai tikus-tikus yang tak tahu diri. Kalian telah berbuat kesalahan pada akhir hayat kalian.Hem. Alangkah menyenangkan apabila aku melihat kalian meronta-ronta dan menderita sakit pada saat ajal tiba.

Kata-kata itu diucapkan oleh seorang iblis yang mengerikan. Karena itu, maka dada ketiga anak muda itu pun berdesir pula. Namun mereka bukanlah tikus-tikus seperti yang dikatakan oleh orang bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, meskipun desiran didada mereka terasa seperti menggores jantung, namun mereka tidak menjadi gentar.

Terdengarlah Karang Tunggal menjawab, “Omong kosong. Kau ingin menakut-nakuti kami, supaya kami menjadi menggigil dan kehilangan nafsu perlawanan kami.”

Jawaban itu benar-benar membakar hati Bugel Kaliki. Seperti tatit ia meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal.

Gerakan Bugel Kaliki benar-benar demikian cepatnya dan tidak terduga-duga sehingga tak seorang pun mampu mencegahnya, bahkan Karang Tunggal pun tak mampu mengelakkan. Namun gerakan Bugel Kaliki bukanlah serangan yang sebenarnya. Ia menampar saja karena marah, meskipun demikian tangan Bugel Kaliki adalah tangan hantu yang seakan-akan gumpalan timah yang keras. Karena itulah maka tamparan itu pun seolah-olah seperti ayunan bandul timah yang berat, menghantam pipi Karang Tunggal.

Meskipun Karang Tunggal mencoba mengelak, namun kecepatannya bergerak tidak dapat memadai kecepatan Bugel Kaliki, sehingga karena itu maka tangan Bugel Kaliki itu pun tak dapat dihindari.

Namun demikian, Jaka Tingkir itu tak terpelanting dan terbanting jatuh. Kepalanya hanya tergeser sedikit dan ia terdorong mundur beberapa langkah. Bugel Kaliki melihat kenyataan itu. Ia sudah mengatur kekuatan geraknya. Menurut dugaannya anak yang sombong itu akan terpelanting dan jatuh berguling ditanah. Tetapi Karebet ternyata tidak demikian. Bahkan terasa seolah-olah ada lambaran yang membatasi tangannya dan tubuh anak itu. Karena itu, maka Bugel Kaliki menjadi berdebar-debar.

Dengan pandangan mata yang buas ia memandang Karebet seperti hendak ditelannya hidup-hidup. Dari mulutnya tiba-tiba terlontar kata-katanya, “Setan, dari mana kau miliki aji Lembu Sekilan itu?”

Karebet kini telah tegak kembali. Ia telah mengetrapkan ilmunya sejak ia melihat kedatangan hantu yang dapat bergerak secepat tatit itu. Memang ia sudah menyangka, bahwa Bugel Kaliki pada suatu saat akan bergerak secepat itu. Karena itu, ia pun selalu bersiaga.

Namun ia tidak menjawab pertanyaan hantu bongkok itu.

Arya Salaka pun tergetar melihat peristiwa itu. Sejak pertemuannya yang pertama dengan Karang Tunggal, ia telah mengagumi ketangguhan dan ketangkasannya. Kini ia menyaksikan betapa Karebet berhasil mempertahankan keseimbangannya dari dorongan tangan Bugel Kaliki.

Apalagi Sawung Sariti. Dadanya bergoncang ketika ia mendengar Bugel Kaliki berkata, bahwa anak muda yang bernama Karang Tunggal itu memiliki aji Lembu Sekilan.

“Kalau demikian ia tidak bersungguh-sungguh ketika melawan aku. Alangkah bodohnya aku ini. Kalau ia terapkan Lembu Sekilan, maka aku pasti sudah binasa karena pedangnya. Sebab aku tak dapat mengenalinya, dan ia dapat sekehendak hatinya menusuk dadaku dari arah yang disukainya,” pikirnya.

DALAM pada itu terdengar Bugel Kaliki berkata, “Kalau demikian, kaulah yang harus dibinasakan lebih dahulu. Sebab ajimu itu, apabila kelak benar-benar dapat kau matangkan, maka kau akan menggulung jagad. Tetapi sekarang, belum. Ternyata kau masih bergetar karena dorongan tanganku. Kalau aku hantam sekuat tenagaku, meskipun kau melambari dirimu dengan Lembu Sekilan, namun iga-igamu rontok seluruhnya.”

Karang Tunggal masih tetap berdiam diri, namun ia benar-benar telah bersiaga. Kalau datang serangan yang tiba-tiba dan dengan sepenuh tenaga, ia pun telah bersiap mengelak. “Nah, bersiaplah untuk mati. Kalian bertiga akan aku binasakan secepat-cepatnya sebagai pembalasan dendam atas kematian sahabat-sahabatku,” kata Bugel Kaliki seterusnya.

Karang Tunggal, Arya Salaka dan Sawung Sariti sadar bahwa Bugel Kaliki pasti berusaha untuk melaksanakan kata-katanya. Karena itu segera mereka pun bersiap. Tanpa berjanji Arya Salaka dan Sawung Sariti bergerak mengambil tempat masing-masing. Mereka berdiri sebelah menyebelah dari hantu Bongkok itu, sehingga mereka dapat mengambil garis perkelahian yang berbeda-beda.

Sekali lagi terdengar Bugel Kaliki mendengus dan kemudian tertawa pendek. Setelah itu, ia pun mulai bergerak menyerang Karang Tunggal. Namun Karang Tunggal telah benar-benar siap. Ia kali ini berusaha membebaskan dirinya dari tangan Bugel Kaliki. Dan ketika Bugel Kaliki mencoba mengulangi serangannya, datanglah serangan Arya Salaka dan Sawung Sariti bersama-sama. Bugel Kaliki menggeram marah. Terpaksa ia menghindari kedua ujung pedang itu. Namun gerakannya sedemikian tangkasnya, sehingga sesaat kemudian ia pun telah berhasil meloncat menyerang Arya Salaka. Ia menyilangkan pedangnya di muka dadanya.

Tetapi Bugel Kaliki menggeliat di udara, dan serangannya telah berubah mengarah lambung. Arya terkejut melihat perubahan itu. Untunglah Sawung Sariti dengan pedangnya yang panjang menyerang langsung dengan garis mendatar, memotong gerakan Bugel Kaliki. Sekali lagi Bugel Kaliki menggeram.

Ternyata anak-anak itu benar-benar bukan anak-anak kecil. Ketika ia melihat perkelahian antara Arya Salaka dan Sawung Sariti, memang ia telah mendapat gambaran tentang ilmu kesaktian anak itu, namun kini ia telah membuktikannya. Namun Bugel Kaliki adalah seorang iblis yang mengerti. Ketika pedang Sawung Sariti itu terjulur, Bugel Kaliki melantingkan kesamping. Dengan demikian Sawung Sariti terseret kekuatannya yang dikerahkan seluruhnya.

Bugel Kaliki terkejut. Ia melihat Sawung Sariti sedang mencoba mempertahankan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian ia menyerang , melihat serangan itu, tetapi ia terhalang oleh adiknya.

Yang kemudian dilakukan adalah menjulurkan pedangnya, diatas punggung Sawung Sariti menanti kedatangan Bugel Kaliki. Tetapi perlawanan itu tak banyak berarti bagi Bugel Kaliki. Dengan cepatnya ia melontar diri ke arah anak muda dari Pamingit itu. Tetapi sekali lagi Bugel Kaliki menggeram, bahkan mengumpat-umpat tak habis-habisnya ketika tiba-tiba tubuhnya tertumbuk dengan Karang Tunggal yang sengaja menghalang-halangi geraknya. Dengan demikian Bugel Kaliki terhenti ditempatnya, namun Karang Tunggal terpelanting beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.

Untunglah bahwa ia berhasil menempatkan dirinya sehingga tidak menimpa Sawung Sariti dan Arya Salaka.

“Gila!” teriak Bugel Kaliki, “Kau tidak mati karena benturan ini?”

“Sebagaimana kau lihat,” sahut Karang Tunggal yang sudah berhasil berdiri.

Ternyata aji Lembu Sekilan telah menyelamatkannya, meskipun ia terpaksa terpelanting jatuh. Namun ia tidak mengalami luka pada tubuhnya. Kesempatan itu dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh Sawung Sariti dan Arya Salaka. Secepat-cepatnya mereka mempersiapkan diri mereka untuk menanti serangan-serangan yang baru.

Tetapi pertempuran yang baru sebentar itu telah memberi mereka gambaran bahwa umur mereka tidak akan terlalu panjang lagi. Bugel Kaliki segera bersiap maju. Matanya menjadi bertambah merah karena kemarahan yang menyala di dadanya semakin menjadi-jadi pula. Ketika anak muda itu ternyata mampu bertahan beberapa saat menghadapinya. Karena itu ia menggeram tak henti-hantinya dan mengumpat tak habis-habisnya.

Ketika Bugel Kaliki telah siap dengan serangannya, tiba-tiba ia terkejut sehingga ia tegak mematung. Ia melihat anak yang bernama Karang Tunggal itu meraih sesuatu dari dalam bajunya dan ketika tangannya itu ditariknya, ia telah menggengam sebilah keris yang memancarkan cahaya yang buram, seperti bara.

Dan tiba-tiba pula dari mulutnya terdengarlah ia berdesis, “Sangkelat.”

“Ya,” sahut Karang Tunggal, “Inilah Kyai Sangkelat.”

“SETAN!” Hantu itu bergumam.

Namun hatinya berdebar-debar cepat sekali. Apalagi ketika ia melihat keris itu tidak bercahaya berkilat-kilat seperti pernah didengarnya. Dan pernah juga ia mendengar ceritera, bahwa Sangkelat yang demikian itu menyatakan bahwa jiwa keris itu telah luluh dalam jiwa pemegangnya. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Karang Tunggal membenarkan dugaannya bahwa yang dipegang itu adalah Kyai Sangkelat.

Arya dan Sawung Sariti pun berdebar-debar pula melihat keris itu. Meskipun mereka belum pernah mengenalnya, namun terasa bahwa wesi aji yang bercahaya buram itu mempunyai pembawaan yang luar biasa.

Apalagi ketika mereka mendengar Bugel Kaliki menyebut nama keris itu, “Sangkelat.”

Dan nama keris itu pernah didengarnya. Bagi Arya Salaka, keris yang bernama Kyai Sangkelat itu telah memperingatkan kepadanya bahwa ia pun membawa pusaka yang dapat diandalkan pula, meskipun belum setingkat Kyai Sangkelat. Karena itu, dengan gerak diluar sadarnya, pedang di tangannya berpindah ke tangan kirinya, dan tiba-tiba tangan kanannya telah memegang sebuah pisau belati panjang yang bercahaya kekuning-kuningan.

Melihat pisau itu, Bugel Kaliki terkejut untuk kedua kalinya. Sekali lagi mulutnya berdesis, “Kyai Suluh.”

“Ya,” sahut Arya pendek.

“Hem!” geram Bugel Kaliki, “Dari mana kalian mendapat benda-benda aneh itu? Sangkelat dan Suluh. Bukankah Kyai Suluh itu pusaka Pasingsingan?”

“Ya,” sahut Arya.

“Persetan dengan pusaka-pusaka itu!”

Tiba-tiba ia berteriak. Suara menggema berulang-ulang. Namun terasa dalam nada suaranya bahwa kedua pusaka itu benar-benar mempengaruhi perasaannya. Melihat kedua kawan senasibnya memegang pusaka-pusaka yang dapat mempengaruhi lawannya, Sawung Sariti berbesar hati pula. Dengan demikian perlawanan mereka pasti akan bertambah panjang. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat merubah keseimbangan pertempuran itu.

Maka karena itulah ia berkata dengan suara nyaring, “Kakang, berikan pedang itu kepadaku apabila tak kau pergunakan lagi.”

Arya memandangi adiknya. Ia telah memegang pusaka yang cukup menggetarkan. Karena itu, dengan tidak berkeberatan diserahkannya pedang di tangan kirinya kepada adiknya. Sambil menerima pedang itu Sawung Sariti bergumam, “Akan aku coba ilmu pedang rangkap yang pernah diturunkan Eyang Sora Dipayana kepadaku.”

“Pusaka-pusaka itu tak ada artinya bagi kalian. Bahkan aku akan berterima kasih kepada kalian, karena setelah kalian mati, maka pusaka-pusaka itu akan menjadi milikku,” kata Bugel Kaliki pula.

Karang Tunggal yang mempunyai sifat-sifat aneh itu tertawa.

Jawabnya, “Jangan berpura-pura. Suaramu gemetar.”

Bukan main marahnya hantu dari Gunung Cerme itu mendengar hinaan yang keluar dari mulut anak-anak. Karena itu ia pun segera meloncat, membuka serangan yang dahsyat. Namun anak-anak muda pun telah bersiaga. Segera anak-anak itu bergerak pula memberikan perlawanan yang gigih. Kyai Sangkelat, Kyai Suluh, dan permainan pedang rangkap Sawung Sariti, yang mengagumkan. Kedua pedang itu tampaknya seperti saling membelit dan mematuk-matuk berganti-ganti.

Tetapi di antara mereka bertiga Bugel Kaliki seakan-akan dapat bergerak-gerak seperti asap yang tak dapat mereka sentuh dengan senjata-senjata mereka. Namun meskipun demikian, Bugel Kaliki pun tak dapat berbuat sekehendak hatinya atas ketiga lawan-lawannya yang masih sangat muda itu. Meskipun ketiga-tiganya bukan berasal dari satu perguruan, namun mereka dapat bekerja bersama dalam susunan yang rapi. Mereka mencoba sekuat-kuat mungkin saling mengisi dan saling memperkuat serangan diantara mereka. Apalagi dengan kedua pusaka yang menggetarkan hati di tangan Karebet dan Arya Salaka, maka Bugel Kaliki benar-benar harus berhati-hati.

Meskipun demikian ia adalah tokoh tua yang sudah kenyang makan pahit getir perkelahian, pertempuran dan segala macam kekerasan. Bugel Kaliki dapat membunuh lawannya dan kemudian duduk di atas bangkai itu sambil makan seenaknya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Dalam keadaan demikian, seakan-akan kedua belah pihak berada dalam keseimbangan. Karang Tunggal ternyata berada dua tiga lapis diatas kemampuan Arya Salaka. Aji Lembu Sekilannya, meskipun tidak dapat melawan kekuatan tenaga Bugel Kaliki sepenuhnya, namun ia dapat menghindarkan dirinya dari sentuhan-sentuhan kecil hantu dari Gunung Cerme itu. Dengan demikian, maka seakan-akan Karebetlah yang memimpin kedua kawannya yang lain. Ialah yang mengambil sikap dan menentukan permainan yang mengagumkan, namun telah membuat Bugel Kaliki bertambah marah.

SETELAH mereka bertempur beberapa saat, tampaklah tenaga Sawung Sariti mulai susut. Selain kelelahan yang telah menjalari seluruh tubuhnya, darah juga mengalir dari lukanya. Meskipun tidak terlalu deras, namun apabila ia menggerakkan tangannya sepenuh tenaga, darah itu meleleh semakin banyak.

Demikian juga darah dari dada Arya yang telah tergores oleh pedang Sawung Sariti. Namun ketahanan jasmaniahnya ternyata lebih besar daripada adik sepupunya itu. Melihat keadaan itu, Karebet menjadi berdebar-debar. Dengan demikian ia harus bekerja sekuat tenaganya. Tenaga yang seakan-akan mempunyai persediaan yang tak kering-keringnya didalam tubuhnya. Memang selain sifat-sifatnya yang aneh, tubuh Karebet pun aneh pula. Meskipun ia memeras segenap kekuatan dan tenaganya sejak pertempuran itu dimulai, namun semakin lama, seakan-akan ia menjadi semakin segar dan kuat.

Bugel Kaliki yang bermata tajam, setajam burung hantu, melihat kelemahan itu.

Karebet adalah anak yang sangat berbahaya dengan Kiai Sangkelat di tangannya. Karena itu maka yang pertama-tama harus disingkirkan supaya tidak mengganggu adalah Arya Salaka atau Sawung Sariti. Dalam pada itu, terasalah tekanan-tekanan yang erat pada Arya Salaka dan Sawung Sariti.

Bugel Kaliki telah mangerahkan serangan-serangannya kepada kedua anak itu berganti-ganti sambil menghindarkan diri dari serangan-serangan Kiai Sangkelat yang menyambar-nyambarnya dengan dahsyatnya. Ketika mereka sedang sibuk dengan pertempuran itu, dimana perhatian mereka seluruhnya terampas oleh usaha mereka mempertahankan diri, terjadilah suatu peristiwa yang tak mereka duga-duga.

Galunggung, yang duduk lemas ditanah yang becek, ketika melihat kehadiran hantu dari Gunung Cerme itu, menjadi seakan-akan membeku.

Ia tahu benar siapakah Bugel Kaliki. Dengan demikian ia menjadi putus asa. Semua impiannya kini telah benar-benar menjadi lenyap seperti awan disapu angin. Impiannya tentang tanah yang berpuluh-puluh bahu. Kekuasaan atas Pamingit dan Banyubiru. Kekayaan dan kemewahan. Sebab dengan kehadiran hantu bongkok itu harapan untuk hidup bagi Sawung Sariti menjadi semakin tipis.

Tetapi ketika ia melihat pertempuran di antara mereka, di antara Bugel Kaliki melawan ketiga anak-anak muda itu hatinya menjadi hidup kembali. Darahnya serasa mulai mengalir. Ia melihat bagaimana ketiga anak muda itu dengan gigih mempertahankan diri mereka. Bahkan anak muda yang bernama Karebet itu dapat bergerak menyambar-nyambar seperti burung alap-alap di langit. Dengan demikian pikirannya perlahan-lahan dapat berjalan kembali. Mula-mula ia ingin mencoba membantu melawan Bugel Kaliki namun hal itu tidak akan berarti. Apalagi senjatanya kini tidak ada di tangannya lagi.

Tiba-tiba timbullah pikirannya yang bersih. Dengan sagat hati-hati ia merangkak masuk ke dalam tanaman jagung muda itu semakin dalam. Kemudian tiba-tiba kekuatannya seperti kembali menjalari tubuh. Dengan serta merta, ketika ia sudah cukup dalam di balik pohon-pohon jatung itu Galunggung meloncat dan berlari sekencang-kencangnya seperti dikejar hantu, kembali ke Pamingit. Siapa pun yang akan dijumpainya pertama-tama, akan diberitahukan kepadanya bahwa Arya Salaka dan Sawung Sariti sedang bertempur melawan Bugel Kaliki.

Pada saat itu keadaan Sawung Sariti telah bertambah payah. Perlawanannya telah menjadi semakin kendor. Kedua pedangnya yang semula bergerak seperti gumpalan asap yang bergulung-gulung melindungi dirinya, kian lama menjadi kian kendor. Sedangkan serangan Bugel Kaliki menjadi semakin garang. Demikianlah, pada suatu saat Bugel Kaliki berhasil menerobos lawan-lawannya langsung menyerang Sawung Sariti. Dengan kecepatan yang masih dapat dilakukan, Sawung Sariti menyilangkan kedua pedangnya dengan kekuatan raksasanya, sehingga tiba-tiba kedua pedangnya itu pun bergetar dan jatuh di tanah.

Sawung Sariti menjadi gugup. Pada saat itu Bugel Kaliki mengulangi serangannya langsung ke dada Sawung Sariti. Serangan itu datang sedemikian cepatnya, sehingga Sawung Sariti telah benar-benar kehilangan kesempatan untuk menghindar.

Karang Tunggal dan Arya menjadi terkejut pula melihat Bugel Kaliki dapat bergerak secepat itu, menerobos serangan-serangan mereka. Dengan secepat yang dapat dilakukan, Karang Tunggal meloncat menyerang sejadi-jadinya. Kyai Sangkelat langsung terjulur lurus ke lambung Bugel Kaliki. Sedang Arya, yang berada dalam jarak yang lebih jauh, tak mampu meloncat mencapai lawannya. Maka ia hanya berusaha untuk menyelamatkan Sawung Sariti yang sedang kehilangan keseimbangannya. Dengan cepat ia mendorong adiknya ke samping.

Kedua gerakan Karebet dan Arya ada juga pengaruhnya, Bugel Kaliki terpaksa menggeliat menghindari Kyai Sangkelat. Namun sentuhan itu mengenai dada kiri Sawung Sariti. Tetapi sentuhan itu adalah sentuhan tangan iblis ganas dari Gunung Cerme. Karena itu akibatnya pun mengerikan.

Dada Sawung Sariti sebelah kiri yang tersentuh tangan Bugel Kaliki itu serasa seperti terhantam reruntuhan bukit Merbabu. Karena itu Sawung Sariti terlempar dan terbanting di tanah. Sebuah keluhan yang pendek terdengar. Sekali ia menggeliat kemudian terdengar ia mengerang kesakitan.

Bugel Kaliki yang telah berhasil menjatuhkan satu lawannya tertawa berderai, membelah sepi malam.

Ia yakin, bahwa anak kepala daerah perdikan Pamingit itu tak akan mampu bertahan diri meskipun hanya ujung jarinya saja yang menyentuhnya.

Pertempuran itu untuk sesaat terhenti dengan sendirinya. Sawung Sariti masih bergerak-gerak menahan sakit. Namun dari mulutnya telah mengalir darah yang merah. Sesaat kemudian, ketika Arya Salaka menyadari apa yang terjadi, menggelegaklah dadanya seperti akan meledak. Betapa prasangka yang tersimpan di dalam hatinya terhadap adik sepupunya itu, namun gumpalan darah dagingnya itu telah menuntut pembelaan padanya.

Anak itu adalah sisiran kulit dagingnya. Sehingga bencana yang menimpanya berarti bencana pula baginya. Apalagi tangan yang telah melukai adiknya itu adalah tangan orang dari gerombolan hitam.

Karena itu, maka tiba-tiba terdengar giginya gemeretak. Ia telah melupakan hidup matinya sendiri. Yang terukir di hatinya adalah, menuntut balas.

Demikianlah Arya Salaka berteriak nyaring sambil meloncat dengan garangnya. Pisau belatinya yang berwarna kuning berkilau itu menyambar dengan cepatnya, seperti tatit di udara. Tetapi yang diserangnya adalah Bugel Kaliki. Dengan cekatan seperti burung sikatan yang menghindar. Suara tertawanya masih menggetar memenuhi udara.

Namun suara itu kemudian berhenti ketika datang serangan

Karang Tunggal yang tidak pula dapat menahan kemarahannya. Kyai Sangkelat yang terkenal itu berputar-putar cepatnya mematuk tubuh Bugel Kaliki. Melawan kelincahan Karang Tunggal, Bugel Kaliki terpaksa memusatkan perhatiannya.

Seandainya anak itu tidak memegang Kiai Sangkelat, Karang Tunggal pun bukan lawan yang perlu mendapat banyak perlawanan darinya. Tetapi kini ia terpaksa berhati-hati menghadapinya. Sentuhan keris itu di ujung rambutnya, akan berarti maut baginya.

Maka terulang kembalilah pertempuran yang sengit di bawah pohon nyamplung itu. Meskipun lawan Bugel Kaliki telah berkurang seorang, namun kini Karang Tunggal dan Arya Salaka mengamuk sejadi-jadinya. Mereka telah tenggelam dalam kemarahan yang tak terkendali. Cedera yang menimpa Sawung Sariti adalah kesalahan mereka bersama, sehingga dengan demikian, mereka yang masih sempat mengadakan perlawanan, harus memperbaiki kesalahan mereka. Membalas kekalahan itu, atau hancur lumat bersama-sama. Dengan demikian, pekerjaan Bugel Kaliki itu pun tidak berkurang, namun ia telah melihat titik kemenangan di pihaknya.

Yang segera harus dilakukan adalah membinasakan Arya Salaka. Setelah itu maka ia akan berhadapan dengan anak yang keras hati yang bernama Karebet itu. Ia ingin menangkapnya hidup-hidup, memeras keterangan darinya, di mana ia mendapatkan Kyai Sangkelat dan di manakah ia mendapat ilmu Lembu Sekilan.

Baru apabila keterangan-keterangan itu telah didapatnya, akan dibunuhnya anak itu dengan caranya. Tetapi membinasakan Arya Salaka pun tidak semudah yang diduga. Anak itu benar-benar menyimpan angin di dalam dadanya. Meskipun Arya telah bertempur mati-matian, namun nafasnya masih mengalir wajar. Apalagi Mas Karebet.

SAWUNG SARITI agaknya benar-benar terluka parah. Ia sudah tidak mampu lagi menggeser dirinya dari tempatnya, meskipun ia berusaha. Beberapa kali ia mencoba bangun namun sekian kali pula dengan lemahnya ia terkulai ditanah.

Pada saat yang demikian itulah Galunggung melihat Pamingit terbentang jauh di kaki langit. Ia sudah tidak mampu lagi berlari sekencang-kencangnya. Nafasnya telah memburu secepat kakinya bergerak. Bahkan sekali-kali langkahnya telah gontai, dan malahan beberapa kali ia jatuh terjerembab. Dengan susah payah ia bangkit, dan mencoba untuk berlari kembali.

Ketika matanya menjadi semakin kabur, hatinya menjadi cemas. Namun tiba-tiba saja tidak jauh lagi di hadapannya dilihatnya orang berjalan. Hatinya melonjak kegirangan. Setidak-tidaknya orang itu dapat dimintanya untuk menyambung kabar yang dibawanya, menyampaikan secepat-cepatnya ke Pamingit. Tetapi tiba-tiba hatinya berdebar cepat, pikirnya, “Bagaimanakah kalau orang itu kawan Bugel Kaliki yang mencegat perjalananku?”

Galunggung memperlambat langkahnya. Nafasnya saling berkejaran dari lubang hidungnya. Meskipun demikian, ia mencoba untuk menentramkan diri, mengatur aliran nafasnya itu. Kalau orang hitam, maka sudah pasti ia tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja, meskipun tenaganya benar-benar sudah hampir habis dan nafasnya sudah hampir putus.

“Tiga orang,” desisnya di antara deru nafasnya. Tetapi tiba-tiba ia berteriak sekeras-kerasnya karena kegembiraan yang meledak. Orang itu, ketika menjadi semakin dekat padanya, menjadi semakin jelas pula, “Tuan…” suaranya terputus oleh nafasnya yang berdesak-desak.

Orang yang ditemuinya itu tertegun sejenak. Semula mereka pun bersiaga, siapakah orang yang berlari-lari ke arah mereka itu. Tetapi kemudian mereka pun mengenalnya. Galunggung.

“Kenapa kau Galunggung?” tanya salah seorang.

Galunggung menghentikan langkahnya. Namun tenaganya benar-benar telah habis. Karena itu dengan lemahnya ia terjatuh di tanah. “Tuan…” desisnya. Nafasnya masih saja berkejaran. “Bugel Kaliki.”

“Bugel Kaliki?” sahut mereka bertiga hampir bersamaan.

“Di mana dan mengapa?” Pada saat itu Galunggung sudah menjadi semakin lemah. Jawabannya pun sangat lemah pula, hampir tidak terdengar.

“Di bawah pohon nyamplung.”

“Pohon nyamplung?” ulang salah seorang dari mereka bertiga.

Galunggung sudah tidak dapat menjawab lagi. Dengan lemahnya ia jatuh terbaring. Pingsan.

Ketiga orang itu tertegun sejenak. Namun kemudian terdengarlah salah seorang berkata, “Di manakah pohon nyamplung itu?”

“Di tepi jalan ke Sarapadan Kulon,” jawab yang lain.

“Bawalah Galunggung ke Pamingit, kami akan menyusul Arya,” kata yang lain lagi. “Berilah aku ancar-ancar.”

Diberinya orang itu ancar-ancar. Kemana ia harus pergi untuk sampai dibawah pohon nyamplung. Begitu ia selesai berbicara, meloncatlah yang dua orang berlari sekencang-kencangnya seperti angin. Bahkan di dalam kegelapan malam, keduanya tampak seperti sebuah bayangan yang melayang dan hilang di balik tabir kegelapan sebelum orang yang melihatnya sempat berkedip.

Kedua orang itu adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Ketika Mahesa Jenar kepanasan oleh udara malam, dan matanya masih belum mau dipejamkan, bangkitlah ia dan berjalan keluar. Sesaat kemudian Kebo Kanigara menyusulnya pula. Dalam kejemuan mereka, mereka berjalan saja menyusur jalan-jalan desa. Akhirnya Mahesa Jenar ingat kepada muridnya. Dan tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenang. Kalau Arya pergi bersama Sawung Sariti, tersimpan prasangka yang kurang menyenangkan. Karena itu tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk berjalan-jalan ke Sarapadan. Kebo Kanigara pun sependapat. Ketika ditemuinya seorang Pamingit yang sedang duduk-duduk di regol pagar halaman, diajaknya serta sebagai penunjuk jalan. Tetapi orang itu terpaksa kembali, membawa Galunggung di pundaknya.

Di bawah pohon nyamplung itu, perkelahian antara Bugel Kaliki melawan Mas Karebet dan Arya Salaka masih berjalan dengan serunya. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan lawannya. Namun bagaimanapun juga, akhirnya kedua anak muda yang perkasa itu harus mengakui di dalam hatinya, bahwa hantu bongkok itu benar-benar berbahaya. Meskipun umurnya sudah berlipat-lipat dari umur mereka, namun tenaganya masih juga luar biasa. Bahkan semakin lama terasa, bahwa tenaga Bugel Kaliki seperti bertambah-tambah. Karena beberapa lama kemudian Bugel Kaliki yang sudah matang itu melihat dengan jelas, di manakah kelemahan-kelemahan dan kekuatan kedua lawannya yang pantas menjadi cucunya itu.  

Ket.
POHON NYAMPLUNG, biasanya ditemui ditepi sungai, dahannya menjorok kesungai seperti mau nyemplung. Buahnya mirip seperti kemiri. Di Yogya masih banyak di temui.

Dan tiba-tiba saja terdengar hantu itu tertawa berderai mengerikan, seolah-olah daun pohon nyamplung yang lebat itu ikut bergetar karenanya. Meskipun suara tertawa itu jauh berbeda dari suara tertawa Pasingsingan maupun Lawaijo, yang didalamnya dilontarkan pula aji GelapNgampar, namun suara tertawa Bugel Kaliki itu benar-benar menyakitkan hati.

Karena itulah maka Jaka Tingkir menjadi bertambah marah. “Tutup mulutmu hantu bongkok. Jangan terlalu sombong. Kalau kau tertawa sekali lagi, aku sobek mulutmu dengan Kiyai Sangkelat ini.”

Suara tertawa itu terhenti. Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali suara itu menggetarkan udara malam. Bahkan kemudian Bugel Kaliki berkata, ” kalau kau mampu berbuat begitu anak yang perkasa, pastilah sudah kau lakukan.”

Karang Tunggal menjadi bertambah marah. Namun Bugel Kaliki benar-benar tak dapat disentuhnya. Orang yang bongkok itu masih mampu meloncat-loncat dengan lincahnya menghindari setiap serangan yang datang ke tubuhnya. Bahkan sekali-kali iapun mampu menyerang dengan garangnya. Untunglah bahwa hantu itu benar-benar tak mampu melawan. Karena ia masih menunggu setiap kesempatan yang terbuka. Dan kesempatan itu semakin lama semakin terbuka lebar baginya. Kedua anak muda itu berada diambang bahaya.

Tetapi dengan tak mereka sangka, dari tanggul parit yang menyilang jalan kecil itu muncullah dua sosok bayangan yang terbang ke arah mereka, sehingga mereka yang bertempur itu menjadi terkejut. Bugel Kaliki segera melontarkan diri ke samping, mencari kesempatan untuk melihat siapakah yang datang itu. Karang Tunggal dan Arya Salakapun tidak mengejarnya. Mereka juga ingin mengetahui siapakah yang datang langsung kepada mereka.

Melihat gerakan mereka berdua, Bugel Kaliki terkejut bukan main. Mereka pasti orang-orang sakti apalagi ketika keduanya telah semakin dekat. Maka Bugel Kaliki menjadi pasti siapakah yang datang itu. Namun kesempatan untuk menghindarkan diri sudah terlalu sempit sebab orang yang datang itu pasti akan mengejarnya, sampai diujung langitpun.

Karena itu maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali menghadapi mereka, bertakar jiwa. Tetapi untuk melawan orang-orang itu Bugel Kaliki tidak akan dapat sambil tertawa. Apalagi kalau kedua orang itu bergabung dengan kedua anak muda yang sedang dihadapinya. Meskipun demikian ia pasti akan berusaha menyelamatkan diri, apapun caranya. Sesaat kemudian kedua orang itu telah berada tidak lebih lima depa didepan mereka.

Mahesa Jenar berdiri tegak dengan wajah tegang, sedang Kebo Kanigara tiba-tiba melihat seseorang berbaring ditanah.

“Siapakah dia,” gumamnya

“Adi Sawung Sariti,” sahut Arya Salaka. namun matanya masih tertanam dimata Bugel Kaliki.

“Sawung Sariti,” ulang Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar bersamaan. Kebo Kanigarapun segera melangkah mendekati tubuh yang lemah itu. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau melepaskan diri dari pandangan mata hantu bongkok itu.

Kebo Kanigara kemudian berjongkok disamping Sawung Sariti sambil berbisik, “Sawung Sariti” 

Sawung Sariti membuka matanya. Ketika dilihatnya Kebo Kanigara, bertanyalah ia dengan suara lemah, “siapakah kau?.”

“Kebo Kanigara,” jawabnya.

“Oh, bukankah paman sahabat paman Mahesa Jenar?,” desis Sawung Sariti lirih.

“Ya,” jawab Kebo Kanigara pendek. Tiba-tiba wajah Sawung Sariti menjadi cerah. Meskipun demikian perasaan sakit didalam dadanya terasa menyengat-nyengat. Ia mencoba untuk bergerak, tetapi betapa sakitnya sehingga ia mengerang perlahan-lahan.

“Jangan bergerak, tubuhmu masih lemah sekali,” kata Kebo Kanigara.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Bugel Kaliki tertawa. Katanya, “Nah kalian sudah datang. Marilah kita selesaikan persoalan kita. terserah kepada kalian, apakah mau bertempur secara jantan atau mengeroyokku sebagai betina pengecut, berempat sekaligus.”

Mendengar suara Bugel Kaliki itu Sawung Sariti menggeliat, “setan,” desisnya marah, “ia telah melukai dadaku.” Sedemikain marahnya Sawung Sariti sehingga karena dorongan perasaanya itu ia telah mengangkat kepalanya. Tetapi sekali lagi ia mengeluh. dadanya benar-benar terasa pecah. Karena itu iapun kembali terkulai di tanah.

“Jangan bergerak,” kembali Kebo Kanigara menasihati. Perlahan-lahan tubuh yang lemah itu dibawanya menepi.

“Iblis itu,” desis Sawung Sariti

“Biarkan dia, pamanmu Mahesa Jenar akan mengurusinya.”

“Apakah paman Mahesa Jenar disini ?,” bertanya Sawung Sariti.

“Ya,” jawab Kebo Kanigara “Sokurlah,” gumam Sawung Sariti, “mudah-mudahan nasibnya akan sama dengan nasib Sima Rodra Tua.” (Dikutip oleh Mahesa Mimbar)

TERDENGAR Bugel Kaliki berkata pula, “Ayolah. Aku sudah siap. Bukankah kalian marah karena anak tikus itu aku lukai?”

“Diamlah!” potong Mahesa Jenar, “Jangan mencoba mengungkit harga diri kami untuk menyelamatkan diri. Kau ingin bertempur seorang dengan seorang. Berkatalah demikian.Kau tak usah mempergunakan kata-kata sindiran yang menjemukan itu.”

Bugel Kaliki mengerutkan keningnya. “Gila!” geramnya.

“Kau terlalu sombong. Jangan mengukur dirimu dengan terbunuhnya Sima Rodra yang garang itu.”

“Tak pernah aku berbuat demikian. Tetapi kau pun jangan berbangga karena kau berhasil melukai anak-anak,” bantah Mahesa Jenar.

“Mereka yang mulai. Bukan aku,” jawab Bugel Kaliki. Hampir saja mulut Karang Tunggal terbuka membantah kata-kata Bugel Kaliki itu. Tetapi niatnya cepat-cepat diurungkan. Pamannya, Kebo Kanigara, yang juga bernama Putut Karang Jati, ada di tempat itu. Karena itu segera ia memperbaiki sikapnya. Ia kini tidak pula bertolak pinggang dengan muka menengadah. Meskipun demikian, ia tetap bersiaga, kalau-kalau Bugel Kaliki tiba-tiba melompatinya. Kyai Sangkelat masih ditangannya, dan aji Lembu Sekilan pun masih diterapkannya.

Meskipun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut pula melihat keris di tangan Karang Tunggal, juga kehadirannya yang tiba-tiba di tempat itu, namun mereka belum sempat menanyakannya, sebab Bugel Kaliki pun telah bersiap pula. Bahkan terdengar hantu itu berkata, “Mahesa Jenar, kau benar-benar lantip. Kau tidak mau aku berkata melingkar-lingkar. Baiklah, ayo siapa dahulu yang akan aku binasakan. Kau atau sahabatmu itu. Atau anak-anak tikus yang tak tahu diri itu.”

Mahesa Jenar melangkah setapak maju. Jawabnya, “Akulah yang sudah berdiri paling dekat.”

“Bagus!” teriak Bugel Kaliki.

Berbareng dengan itu ia pun segera meloncat dengan kecepatan yang mengagumkan. Namun Mahesa Jenar pun telah bersiaga. Karena itu, dengan kecepatan yang sama, ia berhasil menghindarkan dirinya.

Sesaat kemudian, berkobarlah perkelahian yang sengit dibawah pohon nyamplung itu. Kini yang bertempur adalah Mahesa Jenar melawan Bugel Kaliki. Dua tokoh sakti dari golongan yang berlawanan. Masing-masing bertekad untuk saling membinasakan.

Singa lena, silih ungkih.

Kebo Kanigara masih berjongkok di samping Sawung Sariti. Tetapi matanya tidak terlepas dari setiap gerak dari mereka yang sedang bertempur mati-matian itu.

Arya Salaka dan Karang Tunggal pun bergeser menjauh pula. Dengan penuh kekaguman mereka mengikuti setiap pergeseran yang terjadi. Desak-mendesak. Sesekali mereka melihat Mahesa Jenar terdorong surut, namun sesaat kemudian mereka melihat Bugel Kaliki meluncur beberapa langkah mundur.

Demikianlah pertempuran di bawah pohon nyamplung itu berlangsung dengan dahsyatnya. Si Bongkok itu bergerak meloncat-loncat seperti tupai, sedang Mahesa Jenar mampu menyerangnya seperti burung Rajawali di udara. Menyambar-nyambar dengan garangnya. Kemudian mematuk dengan paruhnya yang tajam runcing.

Dan apabila Bugel Kaliki itu seakan-akan merubah dirinya segarang harimau belang, Mahesa Jenar pun melawannya setangguh seekor banteng ketaton. Sehingga dengan demikian, akhirnya terasa oleh Bugel Kaliki bahwa Mahesa Jenar benar-benar mempunyai kesaktian yang luar biasa. Tahulah sekarang hantu bongkok itu, karena Sima Rodra tak mampu melawannya.

Karena itu, maka untuk keselamatan diri, akhirnya diurainya senjata andalannya, yang seakan-akan tak pernah disentuhnya. Sehelai kain empat persegi yang berwarna merah, dan disalah satu sudutnya diikatkan sepotong timah baja kuning.

Pusaka peninggalan nenek moyangnya.

Dengan memegang sudut silangnya, timah baja kuning itu diputarnya seperti baling-baling. Mahesa Jenar melihat senjata itu dengan hati yang tegang. Ia tahu benar apa yang sedang dihadapi. Karena itu, maka ia tidak sempat untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Sawung Sariti, Karebet, Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Meskipun lamat-lamat ia masih mendengar suara Sawung Sariti yang kadang-kadang mengeluh pendek menahan sakitnya. Namun bagi Mahesa Jenar keluhan itu justru merupakan minyak yang menyiram nyala kemarahannya terhadap sisa-sisa golongan hitam.

Malam berjalan dengan lancarnya. Bintang-bintang semakin lama semakin condong kegaris cakrawala di ujung barat. Namun pertempuran di bawah pohon nyamplung itu masih berlangsung terus. Bahkan kini perkelahian itu bertambah-tambah dahsyatnya.

Bugel Kaliki dengan senjatanya yang aneh itu menyambar-nyambar seperti burung alap-alap. Namun Mahesa Jenar bukanlah sekedar burung merpati yang ketakutan. Bugel Kaliki ternyata bukan saja wajahnya yang mengerikan, namun tandangnya sesuai benar dengan namanya dan wajahnya yang menakutkan itu. Timah baja kuning diujung kain perseginya menyambar-nyambar seperti lebah. Suaranya berdesing-desing dan melibat lawannya dari segenap arah.

MAHESA JENAR merasakan kedahsyatan dan kecakapan Bugel Kaliki mempermainkan senjata aneh itu. Beberapa kali ia terpaksa meloncat surut dan beberapa kali timah lawannya itu mengiang dekat benar dengan kepalanya. Bahkan karena perhatian Mahesa Jenar terpaku pada senjata itu, maka sekali-kali terasa kaki hantu bongkok itu menyambar lambungnya, sehingga Mahesa Jenar yang kokoh itu terpaksa terdorong surut. Bahkan sekali-kali tangan Bugel Kaliki itu sempat menyentuh tubuh Mahesa Jenar dan sekali-kali mendorongnya mundur. Dengan demikian Mahesa Jenar terpaksa melawannya dengan sepenuh tenaga.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar bertubuh kuat sekuat banteng jantan. Betapa pun lawannya berusaha untuk melumpuhkannya, namun dengan gigihnya ia bertahan. Meskipun demikian, senjata Bugel Kaliki itu benar-benar mengganggunya. Sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk menembus lingkaran timah baja kuning yang berterbangan mengitari tubuhnya. Namun Mahesa Jenar tidak pernah kehilangan akal. Ia memperhitungkan setiap kemungkinan. Betapapun sulitnya, sekali-kali ia berhasil juga mengenai tubuh lawannya. Dengan kaki atau dengan tangannya. Tetapi sentuhan-sentuhan itu agaknya tidak banyak berarti, karena setiap senjata Bugel Kaliki itu selalu menghalang-halanginya.

Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Mas Karebet memandangi perkelahian itu dengan penuh perhatian sehingga nampaknya seperti patung dalam ketegangan. Mereka mengikuti setiap gerak, baik Mahesa Jenar maupun Bugel Kaliki. Namun setiap saat mereka menjadi bertambah tegang. Apalagi ketika mereka melihat setiap kali Bugel Kaliki berhasil melibas Mahesa Jenar dan sekali-kali kemudian berhasil melontarkannya surut. Namun meskipun demikian, mereka tetap terpaku di tempat masing-masing dengan ketegangan yang semakin meningkat.

Maka setelah mereka bertempur semakin lama, serta usaha Mahesa Jenar untuk menjatuhkan lawannya masih belum berhasil, karena senjatanya yang aneh itu, bahkan terasa betapa tekanan Bugel Kaliki semakin lama menjadi semakin ketat, karena timah baja kuningnya yang seolah-olah dapat mengurung Mahesa Jenar, sehingga ia tidak sempat untuk menyerang.

Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada mempertahankan hidupnya dengan ilmu tertinggi yang dimilikinya. Dengan demikian, Mahesa Jenar dengan lincahnya meloncat ke samping beberapa langkah untuk membebaskan diri dari libatan timah baja kuning yang menyambar-nyambar itu. Kemudian dengan garangnya ia mengangkat satu kakinya, ditekuknya ke depan, satu tangannya diluruskan ke atas seperti akan menyentuh bintang-bintang di langit, tangannya yang lain menyilang dada.

Dan dalam pada itu, tersalurlah kekuatan Aji Sasra Birawa.

Bugel Kaliki melihat tata gerak Mahesa Jenar itu. Ia pun telah mengetahui pula, bahwa dengan demikian Mahesa Jenar sedang mateg aji yang terkenal. Dengan dahsyatnya ia meloncat sambil memutar senjatanya demikian kerasnya sehingga terdengar angin berdesing.

Namun apa yang dilakukan Mahesa Jenar adalah terlalu cepat. Sehingga ketika serangan itu tiba, Mahesa Jenar sempat meloncat mundur sambil merendahkan dirinya. Timah baja kuning itu nyaris menyambar pelipisnya. Tetapi sesaat kemudian ia telah tegak kembali dan dengan kecepatan kilat ia meloncat maju.

Tangan kanannya menyambar, dengan dahsyat menghantam tengkuk Bugel Kaliki. Bugel Kaliki masih mencoba untuk menghindar, namun ia terlambat. Sebuah hantaman yang dahsyat telah mengenainya.

Terdengarlah ia berteriak nyaring kemudian melenting dan jatuh terguling di tanah. Tetapi hantu itu tidak mau menyerah pada keadaannya. Dengan tertatih-tatih ia bangkit kembali. Sekali terdengar umpatan kotor dari mulutnya serta matanya menyorot sinar kemarahan yang liar.

Kemudian dengan sekuat tenaga ia melempar Mahesa Jenar dengan senjatanya. Untunglah Mahesa Jenar tetap waspada, sehingga secepat itu pula ia berhasil menghindari senjata Bugel Kaliki. Sekali lagi terdengar Bugel Kaliki mengumpat, kemudian jatuh kembali, terjerembab.

Arya Salaka memalingkan wajahnya melihat saat-saat terakhir yang mengerikan dari hantu yang hampir membunuhnya itu. Mahesa Jenar masih berdiri tegak seperti patung. Dipandangnya tubuh Bugel Kaliki terbaring di tanah.

Mati.

Kemudian ditariknya nafas dalam-dalam, sedang di hatinya terpanjatlah ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menyelamatkannya dari senjata Bugel Kaliki yang mengerikan, serta telah memberinya kekuatan, bahkan membinasakan hantu yang menakutkan itu. Bersyukurlah bahwa ia telah berhasil melakukan pengabdian sekali lagi atas kemanusiaan dalam pancaran cinta kasih yang abadi. Tidak saja Mahesa Jenar, namun Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Karang Tunggal pun menarik nafas pula. Seakan-akan sesuatu yang menekan dadanya telah dapat dipunahkan. Bahkan tiba-tiba terdengar Sawung Sariti berkata perlahan-lahan ketika ia mendengar teriakan ngeri, “Paman, apakah yang terjadi?”

KEBO KANIGARA memandang wajah anak itu. Tampaklah kadang-kadang mulutnya menyeringai menahan sakit. Maka jawabnya, “Sawung Sariti, bersyukurlah kau, karena pamanmu Mahesa Jenar telah mengakhiri pertempuran.”

“Bagaimana dengan hantu bongkok itu?” tanya Sawung Sariti lemah.

“Ia sudah binasa,” sahut Kebo Kanigara.

“Tuhan Maha Besar,” desisnya. Tetapi hatinya sendiri tergetar mendengar suaranya. Selama ini tak pernah ia menyebut nama Tuhan. Apalagi kebesarannya. Tiba-tiba saja kata-kata itu terluncur begitu saja dari mulutnya. Namun setelah itu terasa betapa dekatnya ia dengan Tuhan. Maka timbullah keinginannya untuk sekali lagi menyebut nama itu, nama yang selama ini terlupakan olehnya. Maka katanya, “Tuhan Maha Besar. Ya, Tuhan Maha Besar.”

Mahesa Jenar menoleh mendengar suara Sawung Sariti itu. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berjongkok di sampingnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Tenangkan hatimu, Sawung Sariti.” 

“Terimakasih, Paman,” jawabnya lirih.

“Hatiku telah puas. Hantu itu telah binasa.”

Tampaklah senyum mengambang di bibir Sawung Sariti. Meskipun demikian nafasnya terdengar semakin cepat mengalir dari lubang hidung dan mulutnya, sedang dari mulut itu masih menetes darah yang merah.

“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian, “Apakah tidak sebaiknya Sawung Sariti segera mendapat pengobatan?”

Sawung Sariti menggeleng lemah, katanya, “Obat yang paling baik, telah aku dapatkan, Paman.” 

“Apakah itu?” tanya Kebo Kanigara.

Sawung Sariti tersenyum. Senyum yang sayu. Jawabnya, “Di manakah Kakang Arya Salaka?” 

Arya Salaka ternyata sudah berjongkok di belakang Mahesa Jenar, berdua dengan Karang Tunggal. 

“Mendekatlah Arya,” kata Mahesa Jenar.

“Kakang…” Sawung Sariti tidak meneruskan kata-kata, namun matanya telah memancarkan segenap perasaan yang tersimpan di dadanya.

“Tenangkan hatimu Adi,” pinta Arya Salaka mengulangi kata-kata Kebo Kanigara. Dan sekali lagi Sawung Sariti tersenyum.

“Biarlah anak ini aku bawa kembali ke Pamingit,” kata Kebo Kanigara. “Mungkin Paman Sora Dipayana dapat mengobatinya.”

“Sebaiknyalah demikian, Kakang,” jawab Mahesa Jenar, “Dan biarlah Arya Salaka menjemput ibunya dan ibu Sawung Sariti.”

Mendengar Mahesa Jenar menyebut-nyebut ibunya, berdesislah Sawung Sariti. Katanya lemah, “Tolonglah Kakang Arya, jemputlah ibuku sekali.”

“Baiklah Adi,” jawab Arya, “Akan aku bawa Bibi Lembu Sora bersama ibuku ke Pamingit.”

Sawung Sariti masih mencoba tersenyum walau wajahnya semakin sayu. Katanya, “Terimakasih Kakang.”

Kebo Kanigara pun kemudian bangkit sambil mengangkat tubuh Sawung Sariti perlahan-lahan.

Dalam pada itu terdengar Sawung Sariti berkata perlahan-lahan, “Paman, aku telah menyulitkan Paman.”

“Jangan berpikir demikian Sawung Sariti,” jawab Kebo Kanigara. “Adalah kewajiban manusia untuk saling membantu. Mungkin pada suatu saat aku akan memerlukan bantuanmu pula.”

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi terharu. Apakah Kebo Kanigara akan berbuat demikian manisnya pula seandainya dirinya berhasil membunuh Arya Salaka?

“Hem…” Ia menggeram. Perasaan sesal meronta-ronta di dalam dadanya. Sesal atas segala macam pekertinya yang jauh tersesat ke daerah nafsu.

Mereka pun kemudian berjalan ke arah yang berbeda-beda. Arya Salaka dan Mahesa Jenar ke Sarapadan, sedang Kebo Kanigara mendukung Sawung Sariti ke Pamingit.

Yang berdiri kebingungan adalah Karebet. Ia memandang Arya Salaka dengan permintaan, apakah boleh pergi bersamanya.

“Tidakkah Kakang Karang Tunggal pergi bersama Paman Kebo Kanigara?” tanya Arya Salaka, “Barangkali Paman Kebo Kanigara perlu bantuan Kakang, mendukung Adi Sawung Sariti. Di Pamingit nanti kita bertemu. Barangkali Kakang Karang Tunggal banyak mampunyai ceritera yang menarik.”

“Oh!” Karebet seperti tersadar dari mimpi. Bukankah ia dapat membantu pamannya itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah Adi, aku membantu Paman Karang Jati.”

Dan berlari-larilah Karebet menyusul pamannya. Ketika ia telah berjalan di belakang pamannya, berkatalah ia perlahan-lahan, “Paman, biarlah Adi Sawung Sariti aku dukung.”

Kebo Kanigara menoleh. Tapi ia tidak segera menjawab. Karena itu hati Karang Tunggal menjadi berdebar-debar. Akhirnya ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hatinya berdesir ketika pamannya itu bertanya, “Kenapa kau berada di sini, Karebet?”

Kepala Karebet menjadi semakin tunduk. Ia benar-benar takut kepada pamannya itu.

“Kenapa?” ulang Kebo Kanigara.  

Karebet masih belum dapat menjawab. Karena itu hatinya menjadi semakin kecut.

Tiba-tiba berkatalah Karang Jati, “He, Karebet. Kau akan ikut aku ke Pamingit?”

“Ya, Paman,” jawab Karebet singkat.

“Bagus, kau akan dapat menemui kawan-kawanmu dari pasukan Nara Manggala,” sambung Kebo Kanigara. Karebet terkejut.

“Nara Manggala?” ulangnya.

“Ya,” jawab Kebo Kanigara acuh tak acuh.

“Ki Gajah Alit, dan para pejabat rahasia Demak, Ki Paningron.”

“Benarkah keduanya di sini?” desak Karebet semakin terkejut.

“Kenapa?” tanya Kebo Kanigara. Karebet terdiam. Sekali lagi pandangan matanya terbanting di tanah. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Karebet…” kata Kebo Kanigara kemudian, “Seharusnya kau menjadi gembira. Bukankah kau akan bertemu dengan perwira-perwira dari pasukan Demak? Aku dengar, kau pun telah menjadi lurah Wira Tamtama.”

“Ya, Paman, tetapi…” Karebet tak dapat meneruskan kata-katanya.

“Tetapi kenapa?” desak Kebo Kanigara. Sekali lagi Karebet terbungkam. Akhirnya terdengar Kebo Kanigara berkata dengan suara yang berat, “Karebet, apakah yang sebenarnya terjadi?”

Karebet masih berjalan dengan muka tunduk di belakang pamannya. Ia tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi sehingga ia diusir dari Kraton Demak. Bahwa ia masih hidup dan lepas dari kemarahan Sultan yang lebih besar lagi, adalah karena Sultan sejak semula telah tertarik kepada keperwiraan dan kecekatannya, sehingga kasih yang dilimpahkan kepadanya agak berlebihan dibanding dengan para prajurit lainnya.

Kemudian terdengar Kebo Kanigara berkata, “Aku sudah tahu apa yang kau lakukan di Demak, Adol bagus. Kau sangka di seluruh kolong langit ini hanya kau sendiri seorang laki-laki?”

Hati Karebet menjadi semakin berdebar-debar. Dan karena itu wajahnya menjadi semakin tumungkul memandang pundaknya. Ia menyangka bahwa pamannya akan memarahinya. Namun sebenarnya Kebo Kanigara pun sayang benar kepada kemenakannya yang nakal itu.

Maka katanya, “Karebet, bagaimanakah pertimbanganmu? Apakah kau akan menemui para perwira dari prajurit Demak itu?”

Beberapa saat Karebet diam. Ia menjadi berlega hati ketika pamannya tidak memaki-makinya. Setelah debar jantungnya mereda, ia berkata, “Aku kira lebih baik tidak, Paman.”

“Nah, kalau demikian, jangan ikuti aku. Pergilah ke Banyubiru. Setelah semuanya selesai, aku akan ke sana mengantarkan Arya Salaka. Aku akan menemuimu. Dan kau harus berkata sebenarnya apa yang telah terjadi dan apa yang pernah kau lakukan.”

“Baik Paman,” jawab Karebet. “Aku sekarang berada di rumah Ki Buyut atau yang dikenal Ki Lemah Telasih.”

“Nah, pergilah. Apakah kau sudah tahu jalan yang harus kau tempuh?” tanya Kebo Kanigara. Sebenarnya ia tahu bahwa hampir seluruh jalan di sekitar pegunungan Merapi, Merbabu, Slamet, Ungaran, Murya, Sindara, Sumbing, Lawu, Kelut, Kawi sampai di daerah barat dan timur telah dilintasinya.  

Ket.
SADAK KINANG (selembar atau dua lembar sirih dengan kinang siap dinikmati) masih bergulir. Seorang pembaca menulis. Ternyata ada yang menerjemahkan kematian Arya Palindih akibat sadak kinang oleh Karebet adalah perlambang bahwa Arya Palindih diperdaya melalui bujuk rayu wanita. Siapa lagi yang makan sirih, apalagi kalau sirihnya sudah siap dilahap oleh siapa saja.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

3 Komentar

  1. respati said,

    Jumat, 30 April 2010 pada 16:16

    mantap … mengingatkan kenangan masa lalu … ikut copy yaaa maaaas … matur nuwun ….

  2. syank said,

    Kamis, 10 Maret 2011 pada 14:21

    asyik tu ceritanya

  3. egon said,

    Kamis, 31 Maret 2016 pada 03:43

    trlalu bertelele tele saat menceritakan pertarungan bikin jenuh bosen.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: