Naga Sasra dan Sabuk Inten | Jilid 18

Lanjutan dari jilid 17

KAREBET pun kemudian mengambil jalan lain untuk langsung pergi ke Banyubiru. Daerah yang tidak terlalu dekat. Namun berjalan kaki bagi Karebet adalah pekerjaannya sehari-hari.

Kebo Kanigara berhenti sejenak melihat langkah kemenakannya itu.
Karebet benar-benar memiliki tubuh idaman bagi setiap laki-laki. Apalagi bagi mereka yang mesu raga, olah keprawiraan. Badannya tegap, berdada bidang. Tangan-tangan serta kaki-kakinya kokoh kuat seperti baja.

Sedang geraknya lincah cekatan seperti burung sikatan. Dan Karebet mempunyai modal yang cukup lengkap. Selain tubuhnya yang serasi, ia pun memiliki wajah yang tampan. Tetapi wajahnya yang tampan itulah yang menyebabkan ia diusir dari Demak.

Kebo Kanigara tidak yakin bahwa kemenakannya itu benar-benar membunuh orang Demak. Cara Paningron menceriterakannya telah menimbulkan kecurigaan. Senyum-senyum yang aneh. Dan ia telah memaklumi maksudnya.

Pada saat itu bintang-bintang di langit telah bergeser jauh dari tempat semula. Lamat-lamat terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Dalam keheningan malam itu terdengar Sawung Sariti berbisik, “Kenapa Kakang Karebet paman perintahkan ke Banyubiru? Aku ingin berkenalan dengan pemuda yang perkasa itu.”

Kebo Kanigara kini telah berjalan lagi. Langkahnya tegap dan agak cepat. Perlahan-lahan terdengar ia menjawab “Barangkali lebih baik demikian, Sawung Sariti. Sedang kau, pada masa-masa yang akan datang akan dapat mengenalnya lebih dekat.”

Sawung Sariti menarik nafas dalam-dalam. Terasa seolah-olah beribu-ribu jarum menusuk-nusuk dadanya dari dalam. Dengan lirih ia berdesis, “Mudah-mudahan aku mempunyai waktu.”

“Jangan berangan-angan demikian.” Kebo Kanigara menasihati, “Berdoalah supaya lukamu sembuh kembali.”

Namun sebenarnya Kebo Kanigara pun dihinggapi perasaan cemas melihat anak muda dalam dukungan tangannya itu. Karena itu ia berjalan semakin cepat, supaya segera sampai ke Pamingit.

Dalam pada itu Arya Salaka dan Mahesa Jenar berjalan ke arah yang berlawanan. Sekali-kali Arya memandang ke langit yang bersih. Perlahan-lahan ia berkata, “Hujan sudah jauh berkurang, Paman.”

“Sudah kita lampaui mangsa kesanga,” sahut pamannya. “Mudah-mudahan hari-hari yang akan datang tidak selalu diliputi oleh awan yang kelam.

“Hari-hari yang cerah,” desis Arya Salaka kemudian untuk sesaat mereka berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar Arya berkata, “Paman, ternyata Bugel Kaliki tidak sekuat yang aku sangka. Bukankah ia termasuk tokoh yang sejajar dengan Sima Rodra dan sebagainya?”

“Tentu,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi pengaruh keadaan telah menyebabkan ia kehilangan pengamatan. Ia benar-benar telah putus asa. Hilangnya beberapa orang sahabatnya menjadikan Bugel Kaliki berhati kecil. Apalagi kali ini ia melihat kehadiranku dan Kakang Kebo Kanigara bersama-sama.

Sedang sebelum itu pun ia sudah harus bekerja berat. Bukankah kau dan Karebet telah melawannya dengan gigih? Karebet benar-benar anak luar biasa. Apalagi dengan Sangkelat di tangannya. Yang lebih mempercepat kekalahannya adalah bongkah di punggungnya.

Sejak semula aku melihat, betapa ia melindungi punggungnya itu, sehingga aku berpikir bahwa orang itu pasti memiliki kelemahan di punggungnya itu. Demikianlah ketika tanganku mengenai tengkuknya, ternyata Bugel Kaliki tak mampu melawannya. Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia yakin, bahwa apabila ia bertempur, tidak saja ia harus mempergunakan tenaganya, tetapi juga otaknya, sehingga dapat diketahuinya, kekuatan dan kelemahan lawan.

Kembali mereka berdiam diri. Ujung malam itu ditandai oleh suara kokok ayam jantan dari desa di hadapan mereka, Surapadan.

Tiba-tiba Arya Salaka menjadi berdebar-debar. Kakinya serasa gemetar, dan ingin meloncat berlari mencari pondok yang dikatakan oleh Titis Anganten. Tiga halaman dari gardu di mulut jalan desa. Tetapi ia menahan dirinya, sebab gurunya berjalan di sampingnya.

Dalam keriuhan suara ayam jantan itu, terdengar Mahesa Jenar berkata, “Ibumu dan bibimu berada di desa itu Arya?”

“Ya paman,” jawab Arya.

“Adakah kau tadi pergi bersama Sawung Sariti?” bertanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya menjadi ragu-ragu. Namun ia menjawab pula, “Ya paman”.

“Apakah yang terjadi?” berkata Mahesa Jenar pula.

“Kami bertemu dengan Bugel Kaliki. Untunglah kakang Karebet tiba-tiba saja berada di tempat itu pula,” jawab Arya bimbang.

“Sebelum itu apakah yang terjadi?” desak Mahesa Jenar.

Kembali Arya menjadi ragu-ragu. Ia tidak segera menjawab. Apakah pamannya tahu bahwa ia lebih dahulu bertempur melawan Sawung Sariti? Dalam kebimbangan itu terdengar Mahesa Jenar berkata, “Arya aku tidak yakin luka di dadamu itu karena tangan Bugel Kaliki sebab ia tidak bersenjata tajam, bahkan kalau kau tersentuh tangannya maka akibatnya akan sama seperti yang diderita oleh Sawung Sariti. Karena itu aku ingin tahu, siapakah yang melukaimu?.”

Mulut Arya menjadi berat seberat perasaannya untuk menyebut nama adiknya. Ia mencoba untuk berusaha melindunginya, namun pertanyaan gurunya itu benar-benar mendesaknya. Karena itu, betapapun beratnya ia terpaksa berkata, “Sawung Sariti, paman.”

“Aku sudah menduga,” desis Mahesa Jenar. “Dan kaupun telah melukai pundaknya.”

“Ya, paman,” Arya tidak dapat mengelak lagi.

“Lukamu tidak berbahaya, tetapi apakah kau melukai Sawung Sariti dengan Kiyai Suluh?.”

“Tidak paman, aku melukainya dengan pedang yang diberikan oleh Karang Tunggal.”

“Karang Tunggal sudah ada pada waktu itu?,” tanya Mahesa Jenar.

“Sudah paman,” Sahut Arya, kemudian diceritakannya apa yang diketahuinya. Sejak ia pergi bersama Sawung Sariti sehingga melihat Karebet bertempur melawan Sawung Sariti dibawah pohon nyamplung Dari Karebet ia mendengar, bahwa agaknya Sawung Sariti telah menunggunya disitu.

Mahesa Jenar mengangguk-angguk namun yang meloncat dari mulutnya adalah, “itulah gandu dimulut lorong.”

Kembali dada Arya berdebar cepat sekali. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke tempat ibunya menyembunyikan diri. Namun ia masih mendengar gurunya bergumam, “untunglah kau tidak menyentuh adikmu dengan Kiyai Suluh. Sebab dengan demikian setiap orang, juga pamanmu Lembu Sora, eyangmu Sora Dipayana akan melihat kesaktian pusaka itu. Dan kaulah pembunuh yang sebenarnya dari adik sepupunya.”

Arya menundukkan wajahnya.

“Ya untunglah yang demikian tidak terjadi.”

Sesaat kemudian Arya berhenti disamping gardu dimulut lorong desa Sarapadan itu. Dan terdengarlah ia bergumam. “Kita membelok kekiri paman, tiga halaman dari gardu ini.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia mengikuti saja Arya yang melangkah perlahan menyusuri lorong itu sambil menghitung halaman di kanan jalan. Namun halaman di desa kecil itu ternyata cukup luas.

Ketika Arya Salaka dan Mahesa Jenar telah melampaui halaman yang ketiga, didadanya serasa telah menggetarkan seluruh tubuhnya. Sesaat ia menjadi ragu-ragu.

Halaman ketiga ini dipagari oleh dinding batu yang sebagian telah rusak. Regolnya runtuh dan rumah yang berdiri dihalaman itupun sudah tidak tegak lagi. Sebuah gubuk bambu beratap ilalang.

“Disinikah ibu beserta bibi itu?,” desis Arya Salaka ragu ragu.

“Ya,” sahut Mahesa Jenar pasti.

“Tetapi….,” kata-kata Arya tertutup.

“Eyangmu Titis Anganten telah mencoba mempergunakan perhitungan sebaik-baiknya. Kau pasti menduga bahwa Ibu dan Bibimu berada dirumah yang paling baik di desa ini?.”

Arya mengangguk.

“Orang lainpun akan menduga demikian. Karena itulah maka ibu dan bibimu berhasil bersembunyi.” sahut Mahesa Jenar.

“Oh”, Arya menarik napas. ia menyadari kebodohannya.

Kemudian dengan dada berdebar-debar ia melangkahi bongkah kayu yang berserak serak disamping regol halaman itu.

Ia terhenti ketika ia sudah dimuka pintu. “Ketuklah,” desis Mahesa Jenar. Perlahan lahan Arya mengetuk pintu rumah itu. Dan dari dalam rumah itu terdengar sapa perlahan, suara laki-laki tua.

“Siapa?.”

“Aku kakek,” sahut Arya Salaka.

“Aku siapa?,” orang itu menegaskan.

Arya telah menerima pesan dari Titis Anganten bagaimana ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya, supaya orang dirumah itu percaya bahwa kedatangannya sudah persetujuan Titis Anganten.

Orang yang menitipkan dua orang pengungsi kepadanya.

“Aku kek, burung elang dari lereng bukit,” sahut Arya.

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar menggamit tangannya tetapi ketika Arya Salaka menganggukkan kepalanya, tahulah Mahesa Jenar maksud jawaban itu.

Kemudian terdengarlah langkah perlahan menuju ke pintu. Dan sesaat kemudian terdengarlah derak pintu lereg itu terbuka. Seorang lelaki tua berdiri terbongkok bongkok dimuka pintu sambil berusaha mengamati tamunya.  

“Masuklah,” orang tua itu mempersilahkan.

“Terimakasih kek, tetapi adakah sepasang pohon Wregu itu masih disini?,” bertanya Arya Salaka seperti pesan Titis Anganten.

Orang tua itu yakin sudah bahwa kedua orang itu adalah orang suruhan yang menitipkan kedua pengungsi kepadanya. Karena itu ia menjawab, “Ya, ya, aku telah menjaganya dengan baik.”

Arya Salaka dan Mahesa Jenar melangkah masuk . Dipersilahkannya mereka duduk di bale-bale bambu. Berderak-deraklah suaranya ketika dua sosok tubuh yang gagah itu memberati bale-bale.

Orang tua itupun kemudian berjalan ke senthong kanan, dan terdengarlah ia berkata, “Nyai telah datang utusan dari orang yang membawa nyai berdua kemari.”

“Sudahkah kau yakin kakek?” terdengar suara seorang wanita.

“Aku yakin, nyai,” jawab orang itu.

Dan sesaat kemudian dari sentong kanan keluarlah dua orang wanita. Jauh lebih tua dari lima enam tahun yang lampau . Wajahnya pucat dan kekurus kurusan. Karena itu tanpa sadar Arya menoleh dan cepat berdiri. Mahesa Jenarpun berdiri pula. Ia melihat betapa muridnya menjadi gemetar.

“Siapakah kau?,” bertanya salah seorang daripadanya.

Mulut Arya terbungkam. Ibunya itu ternyata sudah tidak mengenalinya. Yang menjawab kemudian adalah Mahesa Jenar.

“Adakah Nyai lupa kepadaku?,”

Orang itu mengerutkan keningnya. Akhirnya wajahnya cerah dan dengan ragu-ragu ia berkata, “Adi Mahesa Jenar.”

“Ya, aku Mahesa Jenar,” jawab Mahesa Jenar.

“Oh,” terdengar ia berdesis dan wajahnya menjadi semakin cerah.

“Lalu siapa anak muda ini?.”

Mahesa Jenar dapat memaklumi, bahwa dirinya sendiri tidak mengalami banyak perubahan. Tetapi Arya Salaka yang sedang tumbuh itu akan mengejutkannya. Pada saat meninggalkan Banyu Biru, ia tidak lebih dari seorang anak-anak berumur antara tigabelas tahunan. Dan sekarang ia adalah seorang pemuda perkasa. Bertubuh kekar dan berdada bidang.

Karena itulah maka Mahesa Jenar berkata, “Nyai, bertanyalah kepadanya siapakah namanya?.”

Nyai GajahSora menjadi ragu-ragu. Tetapi hatinya berdesir ketika melihat anak itu gemetar. Dan kemudian tiba-tiba saja anak muda itu meloncat maju berjongkok sambil memeluk kaki ibunya.

“Ibu….”

Nyai GajahSora terkejut. Dan terloncatlah dari mulutnya, “Kau kah itu.”

Arya Salaka tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Kerongkongannya serasa tersumbat batu. Sedangkan matanya menjadi panas.

Wanita itu kini yakin. Anak itu adalah anak yang pernah dibelainya enam tahun lalu, anak yang tidur dipangkuannya, dicium keningnya. Namun sering pula dimarahinya karena kenakalannya.

Tiba-tiba tangannya yang lemah memeluk kepala Arya Salaka dan menekankan ke dadanya. Dan terasa tiba-tiba dada yang tipis itu menggelombang.

Meledaklah sebuah tangis kegembiraan.

“Arya, bukankah kau Arya Salaka ?”

Juga Arya tidak mampu berkata sepatahpun. Seabagai laki laki yang tabah menghadapi setiap bahaya maut yang mengancamnya, Arya adalah seorang berhati baja. Namun kali ini ia tidak kuasa menahan diri.

Meneteslah sebutir air mata .

Nyai Gajahsora benar-benar menangis. Ia tidak tahu apakah yang bergejolak didalam dadanya.. Anak ini pada saat terakhir sebelum berpisah dengannya juga pernah dipeluknya seperti ini. Menekankan kepala anak ini ke dadanya.Kini anak itu tidak berdiri pada telapak kakinya tetapi pada kedua lututnya. Namun Nyai Gajahsora tak sempat memperhatikannya. Dipeluknya anak itu seperti enam tahun lampau, diciumnya keningnya dan dibasahi dahi anak itu dengan air mata.

Nyai Lembusorapun terharu melihat pertemuan itu. Tanpa sesadarnya dari matanya juga mengalir air mata. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara anaknya dengan anak itu, antara suaminya dengan kakaknya Gajahsora. Karena kasihnya kepada Arya Salaka sebagai kemenakan satu-satunya tidak berkurang. Dengan demikian iapun terharu melihat pertemuan itu, setelah anak itu hilang selama enam tahun didsisi ibunya.

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia gembira, segembira Arya Salaka sendiri. Ia akan dapat menyerahkan anak itu nanti kepada ayah bundanya tanpa mengecewakan mereka. Mahesa Jenar telah tidak menyianyiakan kepercayaan Gajahsora kepadanya meskipun ia harus mengucapkan beribu-ribu terimakasih pula kepada Kebo Kanigara.

Tiba-tiba terdengarlah suara Nyai Gajahsora terputus-putus karena isaknya, “Kemana kau selama ini Arya?, ayahmu tak kunjung kembali.dan kau meninggalkan aku seorang diri dalam sepi dan duka”

Arya ingin menjawab. Ingin bercerita bahwa ia sama sekali tidak bermaksud meninggalkan ibunya. Ia ingin mengatakan bahwa selama ini wajah ibunya tak sekejappun terhapus dari angan-angannya. Tetapi yang menyumbat kerongkongannya serasa menjadi semakin besar pula. Karena itu ia hanya dapat menelan ludahnya beberapa kali.

Dan kemudian ibunya menarik anak itu berdiri. Ketika Arya berdiri, terkejutlah Nyai Gajahsora. Katanya, “Oh, kau sudah besar, kau benar-benar menjadi bayangan ayahmu, seperti belahannya dalam cermin.”

Mahesa Jenar berdesir mendengar kata-kata itu. Meskipun suaminya telah pergi selama enam tahun, namun setiap ungkapan kantanya menyatakan bahwa kesetiaannya tidak berkurang. Dan dalam suasasna yang demikian itulah Mahesa Jenar teringat akan dirinya. Apabila kelak ada sesuatu dengan dirinya, adakah seseorang yang akan menantinya? atau mencemaskannya ?.

Dan tiba-tiba pula teringatlah ia kepada Rara Wilis, seorang gadis yang setia menanti, meskipun umurnya selalu menghantuinya.

Hari demi hari…..

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersenyum. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Dengan sudut matanya disambarnya setiap wajah yang ada diruangan itu. Kalau kalau ada diantara mereka yang melihat perubahan wajahnya.

“Hem,” ia menarik napas dalam-dalam. Sedang hantinya berkata, “jangan berangan-angan seperti pemuda meningkat dewasa.”

Nyai Gajahsora dan Nyai Lembusorapun segera berkemas-kemas pula. Mereka ingin segera kembali ke Pamingit. Meskipun Arya belum mengatakan tentang kehadiran ayahnya dan tentang keadaan adik sepupunya.

Ketika mereka sudah selesai berkemas, maka kedua perempuan itu segera minta diri kepada penghuni rumah yang sudah lanjut usia sambil mengucapkan diperbanyak terimakasih atas perlindungan yang diberikan.

“Eh,” sahut kakek tua itu.

“Sudah menjadi kewajiban setiap warga untuk melindungi Nyai Ageng berdua. Sedang yang aku lakukan sekedar menerima Nyai berdua dan memberikan sekedar tempat untuk beristirahat.”

“Aku tidak akan melupakan kau, kek,” sahut Arya Salaka.

“Suatu saat aku pasti akan menengok rumah ini.”

“Terimakasih ngger, terimakasih.” Jawab orang itu.

Maka sesaat kemudian, berjalanlah mereka berempat menuju Pamingit. Didalam dada mereka masing-masing bergetarlah angan angan menyongsong hari yang akan datang.

Nyai Ageng Gajahsora menjadi gembira karena kini ia berjalan dengan anaknya yang hilang dan kembali kepadanya sebagai pemuda yang perkasa. Arya Salaka memandang langit yang cerah secerah hatinya. Sedang Mahesa Jenar menundukkan kepalanya menghitung masa lampaunya. Tetapi kini sebagian besar pekerjaannya telah selesai. Ia tinggal menghadapkan Arya Salaka kepada ayah bundanya., kemudian ia sendiri akan ke Karang Tumaritis menanyakan panembahan Ismaya, apa yang harus dilakukan atas Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten

Sesudah itu datanglah saatnya mengurus dirinya sendiri.

Perlahan lahan langit yang ditaburi bintang itu menjadi semakin terang. Cahaya fajar yang meloncat dari balik bukit telah menjalari seluruh langit. Dan bintang bintangpun semakin redup karenanya. Angin pagi yang lembut mengalir perlahan lahan seakan ikut berdendang bersama mereka yang sedang berjalan berempat itu menyanyikan lagu riang gembira menyongsong hari yang cerah.

Demikianlah mereka berjalan dalam limpahan cahaya pagi. Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang berbahaya.

Langir biru, batang batang jagung yang hijau. Air yang jernih sejuk mengalir di parit-parit ditepi jalan. Desa-desa yang menjorok seperti pulau-pulau di lautan hijau. Daun-daun bergoyang ditiup angin pagi yang lembut, gemersik diantara kicau burung-burung liar yang riang berloncatan dari dahan ke dahan.  

Tetapi ketika mereka hampir sampai di bawah pohon nyamplung hati Mahesa Jenar dan Arya Salaka menjadi berdebar-debar. Semalam mereka tidak sempat mengurus mayat Bugel Kaliki. Kalau mayat itu masih disana, pasti akan mengejutkan Nyai Ageng berdua. Tetapi mereka tidak dapat menempuh jalan lain. Mereka harus melampaui jalan di bawah pohon nyamplung itu. 

“Paman,” tiba-tiba Arya berkata pelan sekali kepada Mahesa Jenar. “Bagaimana dengan mayat Bugel Kaliki?.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “lihatlah dan kalau masih ada singkirkan sementara. Nanti kita selesaikan mayat itu sebaik-baiknya.”

Arya mengangguk, kemudian kepada ibunya ia berkata, “Ibu dan Bibi, perkenankanlah aku mendahului. Ada sesuatu yang akan aku lihat lebih dahulu.”

Nyai Ageng berdua itu menjadi berdebar-debar. Maka bertanyalah Nyai Ageng Gajahsora, “Apakah keadaan di Pamingit masih belum baik Arya?.”

“Tidak ibu,” jawab Arya, “kedadaan sudah terlalu baik. Tetapi parit yang menyilangi jalan disebelah pohon nyamplung yang tampak kemarin itu kemarin terlalu cepat mengalir dan terlalu dalam airnya. Barangkali aku dapat memilih jalan yang lain.”

“Oh,” Nyai Ageng Gajahsora dan nyai Lembu Sora menarik nafas lega, maka berkatalah ibu Arya, “pergilah.”

Aryapun pergi bergegas mendahului. Ia tidak mau ibu serta bibinya menjadi terkejut dan ngeri.

Tetapi ketika ia sampai di bawah pohon itu, ia terkejut. Mayat itu sudah tak ditemuinya di sana.

“Hilang,” pikirnya. Yang dilihatnya hanyalah beberapa bekas darah yang mengalir dari lukanya, luka Sawung Sariti. Dengan dada yang berdebar-debar, ia melihat pakaiannya. Beberapa noda darah masih melekat dan mewarnai bajunya dengan noda-noda merah kehitam-hitaman. Tetapi luka didadanya tak mengalirkan darah lagi. Ia yakin bahwa ibu dan bibinya telah melihat luka itu. Tetapi mereka berdua tak mengucapkan sepatah pertanyaan pun.

“Ah!” desisnya. “Adalah hal yang lumrah bahwa dalam daerah pertempuran seseorang mengalami luka di tubuhnya.”

Ketika ia menengok ke belakang, dilihatnya ibunya, bibinya serta Mahesa Jenar sudah berjalan semakin dekat. Cepat-cepat ia berusaha menghapus bekas-bekas darah yang mewarnai tanah di bawah pohon nyamplung itu. Namun sebuah pertanyaan melingkar-lingkar di kepalanya, di manakah mayat Bugel Kaliki? Apakah ia masih belum benar-benar mati dan kemudian bangkit kembali?

Tetapi Arya Salaka tidak sempat berpikir terlalu panjang. Ia terpaksa berpura-pura berjalan ke parit yang menyilang jalan di sebelah pohon nyamplung. Ia tersenyum sendiri ketika ia melihat aliran airnya yang bening kemercik di antara batu-batu kecil yang berserak-serakan di atas pasir. Aliran air di parit itu masih seperti kemarin. Tidak lebih dari setinggi betis.

“Hem,” gumam Arya, “Tidak mungkin parit sebesar ini menjadi berarus deras dan dalam.”

Ibu serta bibinya itu pun menjadi semakin dekat. Dari jauh mereka melihat Arya Salaka membungkuk-bungkuk kemudian duduk di tanggul parit di bawah pohon nyamplung. Tetapi mereka tidak tahu apakah yang sudah dikerjakan oleh anak itu.

Ketika itu Arya sedang memungut sebatang pedang yang dipergunakan melawan Sawung Sariti, serta sebatang pedang Sawung Sariti sendiri, yang kemudian keduanya dipergunakan oleh Sawung Sariti untuk melawan Bugel Kaliki.

Nyai Ageng Gajah Sora beberapa kali memandang langit yang biru bersih. Di Sarapadan, kemarin setetes pun tak turun hujan. Kalau demikian maka di bagian timur pasti hujan lebat kalau parit itu benar-benar banjir.

Ketika mereka sampai di tepi parit itu, maka Nyai Ageng Gajah Sora pun menjadi heran. Parit itu tidak lebih dari sebetis dalamnya.

“Sudah tidak banjir lagi, Arya?” ia bertanya.

“Tidak Ibu,” jawab Arya.

Tampaklah beberapa pertanyaan masih tersimpan di dalam wajah ibunya, namun tak satupun yang terkatakan.

Ketika mereka sudah melampaui parit itu dan berjalan menyusur jalan kecil, maka berbisiklah Mahesa Jenar, “Bagaimana dengan mayat itu?”

“Hilang,” bisik Arya singkat.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. “Hilang?” ia mengulang.

“Ya, hilang!” jawab Arya.

“ANEH,” desis Mahesa Jenar sambil menarik nafas. Pada saat ia melihat Bugel Kaliki terbaring di tanah, ia sudah yakin bahwa orang itu telah terbunuh. Tetapi Mahesa Jenar pun tidak berkata-kata lagi, meskipun tampak juga ia sedang berpikir.

Di perjalanan itu, tidak banyak yang sempat mereka pertanyakan. Mereka sibuk dengan angan-angan di kepala masing-masing. Sedang matahari merayapi bola langit dengan tekunnya, semakin lama semakin tinggi. Cahaya yang cerah memancar dan terbanting di atas batu-batu padas yang kemerah-merahan.

Arya mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba ia mendengar bunyi garengpung. Teringatlah ia pada masa kanak-kanaknya. Sehari-harian ia mengejar binatang-binatang semacam itu. Apabila didapatnya, disimpannya didalam ketupat janur yang masih kosong.

“Kita sudah memasuki ujung musim kemarau,” desisnya.

“Suara garengpung itu?” tanya gurunya.

“Ya,” jawab Arya. Kembali mereka berdiam diri. Dan mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat dikejauhan, disela-sela batang-batang jagung yang telah rusak, desa yang mereka tuju, jantung Daerah Perdikan Pamingit. Tiba-tiba langkah mereka menjadi semakin cepat tanpa mereka sengaja. Mereka ingin segera sampai untuk melihat apa yang telah terjadi dan ingin segera bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi. Sanak keluarga dan tetangga-tetangga yang baik hati.

Ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pusat pemerintahan Pamingit itu, Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menjadi terkejut. Beberapa buah rumah hancur terbakar dan beberapa lagi menjadi porak poranda.

“Beginikah Pamingit sekarang?” keluh Nyai Ageng Lembu Sora.

“Tetapi itu hanya bekas-bekas keganasan mereka, orang-orang dari segerombolan hitam, Bibi,” sahut Arya, “Sedang orang-orang itu sendiri kini sudah dibinasakan.”

“Tidakkah mereka akan datang mengganggu lagi?” tanya Nyai Ageng Lembu Sora.

“Tidak Bibi. Mudah-mudahan tidak. Tuhan akan melindungi kita selama kita berada di atas kebenaran,” jawab Arya, namun di dalam hatinya ia meneruskan, “Kebenaran dalam firman-firman Tuhan, bukan kebenaran dalam tafsiran kita masing-masing, sebab akan berlipat-lipatlah dosa kita kalau kita mengaburkan batas antara kebenaran sejati dengan kebenaran yang sekadar menguntungkan kita sendiri.”

Beberapa orang Pamingit yang melihat kedatangan mereka menjadi saling berbisik, “Itulah, Nyai Ageng Lembu Sora telah kembali.”

Dan jawab yang lain, “Syukurlah kalau Nyai Ageng selamat. Tak ada kabar beritanya selama ini, kemana Nyai Ageng pergi.”

Dan beberapa orang kemudian menemuinya di perjalanan itu sambil membungkuk-bungkuk mengucapkan selamat. Nyai Ageng Lembu Sora menyambut salam itu dengan senyum yang tulus. Senyum yang memancarkan kegembiraan hatinya serta pertanyaan syukur bahwa ia masih sempat bertemu dengan mereka.

Ketika mereka menginjak halaman rumah Nyai Ageng Lembu Sora, di hadapan alun-alun yang tak begitu luas sekali lagi hati mereka melonjak. Nyai Ageng Lembu Sora bahkan menjadi terpaku di regol halaman.

Rumah itu telah hancur menjadi abu. Tinggal beberapa bagiannya yang masih tersisa dan roboh berserak-serakan. Dengan menekankan tangan di dadanya, terdengarlah ia bergumam, “Ya ampun. Malapetaka telah menimpa Pamingit.”

Dan di dalam hatinya Nyai Ageng Lembu Sora itu berkata, “Aku telah mencoba mencegah Ki Ageng supaya tidak terlalu memanjakan nafsu, namun agaknya tak dihiraukannya. Sekarang hukuman Tuhan telah menimpa keluarga Pamingit.”

Ia menjadi terkejut ketika Arya berkata, “Bibi, Eyang dan beberapa orang lain berada di banjar desa sebelah. Marilah kita pergi ke sana.”

Bibinya tidak menyahut. Namun tampak dari matanya sebutir airmata yang menetes. Maka pergilah mereka bersama-sama ke Banjar Desa, yang ditempati untuk sementara waktu oleh para pemimpin Pamingit. Ketika mereka sampai di Banjar itu, ternyata beberapa orang telah berada pula di sana. Di antara mereka, Arya melihat pula ayahnya, Gajah Sora. Kedatangan mereka itu ternyata telah menarik perhatian. Semua orang mengangkat wajahnya dan bergumam di dalam hati mereka. “Itulah mereka datang.”

Yang paling terkejut di antara mereka justru Nyai Ageng Gajah Sora. Seperti orang bermimpi ia melihat suaminya, Ki Ageng Gajah Sora duduk di antara beberapa orang itu. Beberapa kali ia mengedipkan matanya, namun yang ditatapnya itu masih tetap berada di tempatnya. Bahkan tiba-tiba Gajah Sora pun berdiri. Telah sekian lama ia menahan keinginannya untuk mengetahui keselamatan isterinya. Dan sekarang isterinya itu datang. Karena itu maka ia pun segera melangkah ke pintu menyongsong kedatangan isterinya itu.

DADA Nyai Ageng Gajah Sora benar-benar bergoncang. Yang berdiri di muka pintu itu adalah suaminya. Bukan dalam mimpi. Baru saja hatinya melonjak-lonjak karena anaknya yang hilang telah kembali kepadanya. Sekarang tiba-tiba suaminya yang pergi lebih dahulu dari anaknya, berdiri pula di hadapannya. Meskipun demikian antara percaya dan tidak, Nyai Ageng berdesis, “Arya, apakah itu benar ayahmu?”

“Ya, Ibu. Itulah Ayah Gajah Sora,” jawab Arya perlahan-lahan.

Nyai Ageng Gajah Sora tak kuasa lagi menahan perasaannya. Ia pun segera berlari dan bersimpuh di kaki suaminya sambil menangis sejadi-jadinya. Sekali lagi dada Mahesa Jenar seperti diguncang.

Seorang isteri yang setia telah menemukan suaminya kembali. Di Banyubiru, ketika Gajah Sora itu datang bersamanya dari Gunung Tidar, Mahesa Jenar melihat Nyai Ageng Gajah Sora menerima kedatangan suaminya dengan membersihkan kakinya dengan air dingin yang jernih. Pada saat itu ia telah berangan-angan, alangkah sejuknya penerimaan yang demikian itu di hati suaminya.

Sekarang Nyai Ageng Gajah Sora tidak saja membasuh kaki suaminya dengan air yang bening, tetapi ia telah membasuhnya dengan air mata. Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi terharu atas pertemuan itu. Untuk beberapa kali ia berdiam diri seperti patung dan membiarkan isterinya bersimpuh sambil menangis.’Namun kemudian setelah ia tersadar dari pesona itu, diangkatnya isterinya supaya berdiri dan diajaknya ia masuk ke dalam banjar desa itu. Maka kemudian suasana Banjar Desa itu menjadi gembira dan mengharukan. Meskipun kadang-kadang Nyai Ageng Gajah Sora masih meneteskan air mata, namun air mata yang memancarkan rasa terima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukannya dengan anak dan sekaligus suaminya.

Nyai Ageng Lembu Sora pun menjadi bergembira pula. Ia ikut bersyukur bersama kakak iparnya itu. Keluarga yang seakan-akan telah terpecah belah, kini mereka telah berkumpul kembali dalam suatu lingkungan yang bahagia. Namun meskipun demikian, hatinya menjadi kurang tentram. Suaminya tidak ada diantara mereka. Bahkan setelah mereka duduk beberapa saat pun, Ki Ageng Lembu Sora tidak juga menampakkan diri. Meskipun demikian, ia tidak sampai hati untuk menanyakannya.

Tetapi Nyai Ageng Lembu Sora tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan gelisah. Di dalam peperangan, dapat saja segalanya terjadi. Karena itu maka ia menjadi bercemas hati. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang Pamingit ke banjar desa itu. Kepada Wulungan yang duduk di dekat pintu, ia berkata, “Kakang Wulungan, adakah angger Arya Salaka telah datang?”

“Ya,” jawab Wulungan, “Belum terlalu lama.”

“Beserta Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora?” Orang itu berjalan pula.

“Ya, beserta keduanya,” jawab Wulungan pula. Orang itu berhenti sejenak, kemudian ia berkata pula perlahan-lahan, “Ki Ageng Lembu Sora minta mereka datang ke pondoknya. Ki Ageng tak dapat hadir di banjar, pagi ini.”

Wulungan mengerutkan keningnya. Ia sudah tahu kalau Sawung Sariti terluka. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Sebab ia sudah menduga bahwa Nyai Ageng Lembu Sora belum diberitahukan akan hal ini. Karena itu ia berkata, “Baiklah, aku diberitahu akan hal ini.” Karena itu ia berkata, “Baiklah, aku persilahkan Nyai Ageng Lembu Sora nanti segera datang.”

Setelah orang itu pergi, kecemasan benar-benar mencekam dada Nyai Ageng Lembu Sora. Dengan tergagap ia bertanya, “Kenapa dengan Ki Ageng Lembu Sora?”

“Tidak apa-apa, Nyai,” jawab Wulungan. “Ki Ageng Lembu Sora dalam keadaan sehat walafiat. Mungkin ada yang harus diselesaikan di pondok Ki Ageng. Maka sebaiknya Nyai Ageng pergi ke sana. Marilah aku antarkan.”

Kemudian pandangan mata Wulungan pun beredar berkeliling, kepada Arya Salaka, Mahesa Jenar, Gajah Sora dan yang lain-lain, dengan melontarkan pertanyaan, “Bagaimanakah dengan Angger Arya Salaka dan yang lain?”

Arya Salaka dan Mahesa Jenar yang telah mengetahui keadaan Sawung Sariti pun segera menjawab hampir bersamaan, “Aku ikut serta.”

“Marilah,? sahut Wulungan. Dan sesaat kemudian hampir semua orang di banjar desa itupun pergi ke pondok Ki Ageng Lembu Sora yang tidak begitu jauh dari banjar desa itu.

Nyai Ageng Lembu Sora, Nyai Ageng Gajah Sora, Gajah Sora sendiri, Mahesa Jenar dan Arya Salaka, diantar oleh Wulungan. Jarak yang hanya beberapa ratus tombak itu, bagi Nyai Ageng Lembu Sora terasa begitu panjangnya. Berbelit-belit lewat jalan-jalan sempit, di antara dinding-dindingbatu halaman-halaman rumah yang sudah sangat dikenalnya. Rumah Si Santa, rumah Si Gersik, Dandang, pekatik suaminya, dan rumah-rumah lain yang sering dilewatinya. Dan halaman-halaman rumah-rumah itu seakan-akan menjadi bertambah panjang. Jauh berlipat-lipat dari yang pernah dilihatnya sebelum terjadi peperangan.

DEMIKIAN Nyai Ageng Lembu Sora sampai di muka pintu, segera ia berlari masuk. Beberapa orang telah berada di ruangan itu. Dan ketika tiba-tiba matanya bertemu pandang dengan suaminya, terlontarlah dari bibirnya ungkapan kelegaan hatinya.

“Oh!” Tetapi sesaat kemudian kembali dadanya berguncang ketika pandangan matanya terbanting di atas bale-bale bambu, dimana sesosok tubuh sedang berbaring, dikerumuni oleh beberapa orang. Mertuanya, Ki Ageng Sora Dipayana, seorang yang belum dikenalnya dan dua orang gadis yang belum pernah dilihatnya pula.

Ketika orang-orang itu melihat kehadirannya, segera mereka menduga bahwa itulah Nyai Ageng Lembu Sora, dan karena itu segera mereka menyibak. Barulah kemudian Nyai Ageng Lembu Sora melihat dengan jelas siapakah yang terbaring di atas bale-bale bambu itu. Anak laki-lakinya, Sawung Sariti. Sesaat ia menjadi terbungkam melihat tubuh yang pucat dan memejamkan mata itu. Tubuhnya menjadi gemetar, dan tiba-tiba ia memekik sambil berlari memeluk tubuh Sawung Sariti, “Sariti!”

Terdengar suaranya meninggi dan kemudian kata-katanya hilang tenggelam dalam tangisnya yang meledak.

Sawung Sariti mendengar jerit itu. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia masih merasa betapa mesra ibunya memeluk tubuhnya sambil membasahinya dengan air mata.

“Ibu,” desisnya perlahan-lahan.

“Ngger, kenapa kau?” tanya ibunya sambil menangis. Diciumnya kening anaknya beberapa kali. Tak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari cengkereman keadaan itu. Semua orang menundukkan kepalanya. Sawung Sariti adalah satu-satunya anak Nyai Ageng Lembu Sora. Dan sekarang jiwa anak itu berada di ujung bahaya. Tetapi Sawung Sariti sendiri tersenyum dengan penuh keikhlasan. Sekali lagi ia mencoba memandang semua orang yang hadir di ruangan itu. Ibunya, uwanya, suami istri Ki Ageng dan Nyai Ageng Gajah Sora, ayahnya, eyangnya yang telah mendidiknya dengan tekun dan mengharapnya dapat menyelamatkan daerah ini dari terkaman orang-orang dari golongan hitam, Kebo Kanigara yang perkasa, yang telah mendukungnya sampai ke tempat ini, Mahesa Jenar yang mengagumkan, baik kekuatan jasmaniahnya maupun rohaniahnya, serta sifat-sifatnya yang sebagian menurun kepada muridnya Arya Salaka, Rara Wilis dan gadis lincah yang bernama Endang Widuri. Akhirnya ia melihat wajah kakek sepupunya itu, betapa sejuk dan lunak, selunak hati gurunya.

Tiba-tiba terdengar bibirnya berdesis, “Kakang Arya, kemarilah.”

Suara itu perlahan sekali, tetapi karena bilik itu dicengkam oleh kesepian, Arya Salaka pun mendengar suara itu dengan jelas, bahkan ia menjadi terkejut karenanya. Seperti kehilangan kesadaran, ia melangkah maju dan berjongkok di samping bibinya. Ketika Arya Salaka sudah berjongkok di samping bale-bale pembaringannya, maka sekali lagi Sawung Sariti tersenyum. Hampir tidak kedengaran ia berkata, “Bagaimana dengan luka di dadamu, Kakang?”

Arya Salaka menjadi tergagap. Kenapa yang ditanyakan justru luka di dadanya itu.

Maka jawabnya, “Baik Adi. Sudah baik.”

“Suatu kenangan yang tak dapat terhapuskan,” bisik Sawung Sariti kemudian, “Di dadamu, Kakang, akan tergores sebuah garis bekas luka itu. Dan garis itu tak akan hilang. Apabila Kakang nanti bercermin di air Rawa Pening, maka Kakang akan melihat goresan luka itu. Dan teringatlah Kakang kepadaku.”

Hati Arya Salaka berdesir. Dengan sepenuh perasaan ia berkata, “Aku akan selalu mengenangnya. Dan peristiwa itu tak akan berulang.”

“Ya, tak akan berulang kembali,” desis Sawung Sariti. Suaranya menjadi bertambah lemah. Meskipun Ki Ageng Sora Dipayana telah mencoba mengobatinya dengan ramuan daun-daunan yang diketahuinya, namun keadaan Sawung Sariti menjadi bertambah berbahaya.

“Kakang,” kembali Sawung Sariti berdesis, “Kau maafkan aku?”

“Tak ada yang dapat dimaafkan Adi, sebab kau tak bersalah,” jawab Arya.

Sawung Sariti tersenyum, katanya, “Jangan berkata begitu. Aku tahu aku bersalah. Kau maafkan kesalahan itu, Kakang?”

“Ya, ya tentu, tentu,” jawab Arya cepat-cepat.

“Uwa Gajah Sora akan memaafkan aku juga?” bisik Sariti kemudian.

“Tentu, tentu,” jawab Arya pula. “Kakang telah memaafkan aku, Uwa Gajah Sora berdua juga akan memaafkan aku, Eyang Wanamerta, Paman Pandan Kuning, dan Sawungrana….”

“Jangan sebut-sebut itu, Adi,” potong Arya Salaka. “Lupakanlah. Mereka semua sudah memaafkanmu.”

“Tetapi adakah Tuhan memaafkan aku pula?” kata Sariti tiba-tiba.  

Dada Arya Salaka berguncang. Mahesa Jenar dan Ki Ageng Gajah Sora Dipayanapun segera berjongkok di sampingnya. Mereka sudah tidak dapat mempertahankan nyawa itu. Tuhan telah memanggilnya. Karena itu Ki Ageng Sora Dipayana berbisik ditelinga anak muda itu. “Sebutlah nama Tuhan. Tuhan Maha Pengampun.”

“….Tuhan Maha Pengampun…..”

Kata kata itu hampir tak terdengar, namun Sawung Sariti telah mengucapkannya. Dengan tenangnya ia menutup matanya.

Sebuah jerit yang tinggi membelah keheningan suasana. Nyai Ageng Lembu Sora memekik dan memanggil nama anaknya. Namun Sawung Sariti telah pergi.

Dengan air mata yang berlinang Nyai Ageng Gajah Sora mencoba menenangkan hati adik iparnya. Namun usahanya sia sia. Sawung Sariti adalah satu satunya anak yang akan menyambung hidupnya. Yang akan dapat menjadi tempat menumpahkan harapan serta cita-citanya. Namun anak itu kini telah pergi dan tak akan kembali. Karena itu seakan-akan nyawanya sendirilah yang telah lepas dari tubuhnya. Kalau demikian maka akan lebih baik baginya seandainya nyawa anaknya dapat ditukar dengan nyawanya. Seandainya ia sendiri boleh menggantikan anaknya menghadap Tuhannya.

Lembu Sora masih berdiri seperti patung. Bibirnya bergetar dan tubuhnya menggigil. Matanya yang tajam menjadi suram dan berlapis air. Beberapa kali ia menggigit bibirnya, tetapi kemudian bibir itu bergetar kembali. Dipandanginya wajah anaknya yang pucat pasi. Namun bibir yang pucat itu membayangkan senyum keihlasan.

Dan tiba tiba diwajah yang pucat itu seakan akan memancar gambaran peristiwa yang pernah terjadi.

Anak itu terlampau jauh tersesat. Tetapi bukan salah anak itu. Dialah yang telah mendorongnya tampil kedepan. Dengan penuh harapan dan khayalan masa mendatang. Dimana dikayalkan kepada anak itu, kekuasaan dan kamukten yang sempurna. Tanah Perdikan Pangratunan.

Ki Ageng Lembu Sora menggeram. Penyesalan yang tak terkira telah menghentak dadanya seperti akan pecah.

Demikian dahsyatnya perasaan itu mencekam jiwanya, sehingga tiba-tiba tubuhnya mejadi lemah. Perlahan lahan ia melangkah ke sudut ruangan itu. Kedua tangannya menutupi wajahnya, seolah hendak menyembunyikan segenap kenangan yang datang silih berganti. Hanya sesaat saat ia mendengar jerit tangis isterinya yang memenuhi ruangan itu.

Arya Salakapun tak dapat menahan rasa harunya. Meskipun nyawanya sendiri hampir direnggut tangan adiknya namun ia tak sampai hati melihat mayatnya terbujur diam dihadapannya.

Karena itu, maka tanpa disadarinya ia berdiri dan perlahan lahan melangkah keluar meninggalkan ruangan itu. Di bawah pohon sawo ia terhenti. Suara tangis bibinya masih terdengar jelas.

Akhirnya ia berdiri saja disitu, bersandar pada pokok sawo yang jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri.

Seluruh Pamingit menjadi berkabung. Putera satu-satunya kepala daerah perdikan mereka gugur pada saat anak muda yang berani itu bertempur melawan Bugel Kaliki. Tidak saja orang Pamingit, namun orang Banyubirupun ikut berkabung. Mereka ikut merasakan betapa daerah perdikan belahan tanah BanyuBiru itu kehilangan pemimpinnya.

Hari itu suasana Pamingit menjadi suram. Mereka disibukkan oleh persiapan pemakaman jenasah pahlawan yang masih muda itu, yang gugur dalam pengabdian dalam melawan Hantu Bongkok yang sakti.

Ketika fajar pagi berikutnya pecah di Timur, semua persiapan telah selesai. Hari itu akan diselenggarakan pemakaman Sawung Sariti dengan upacara kebesaran.

Seluruh penduduk Pamingit tumplak blak berjejal disepanjang jalan yang akan dilewati iringan jenazah.

Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir terhadap pahlawannya, yang telah menjadi tawur bagi kesejahteraan dan kebesaran rakyat Pamingit. Upacara itu menjadi bertambah hidmad dengan hadirnya dua perwira pasukan Demak, Paningron dan Gajah Alit.

Keranda jenazah Sawung Sariti diletakkan ditengah tengah reruntuhan pendapa rumahnya. Dengan sengaja reruntuhan itu tidak dibersihkan lebih dahulu. Para pemimpin Pamingit dan Banyu Biru, bahkan kedua tamu dari Demak itu duduk saja diatas balok kayu yang berserak-serakan disekitar keranda itu.

Di keempat penjuru tampaklah beberapa orang laskar Pamingit berjaga-jaga dengan tombak di tangan. Sedang di alun-alun telah siap laskar kehormatan yang akan mengantarkan jenasah sampai ke peristirahatannya terakhir.

Keranda pahlawan dengan latar belakang reruntuhan dan abu merupakan perpaduan pandangan yang menggetarkan. Laskar yang berdiri tegak dengan senjata di tangan serta para pemimpin yang duduk bertebaran, panji-panji dan tunggul, rontek dan rangkaian bunga telah mencekam hati seluruh rakyat Pamingit dan Banyu Biru yang sedang berada di Pamingit.

Ketika matahari telah memanjat sampai ke ujung cemara disisi alun-alun, maka sampailah waktunya jenasah itu diberangkatkan. Sesaat kemudian menggemalah bunyi kentongan di banjar desa disahut oleh setiap kentongan yang berada di Pamingit, yang berada di gardu-gardu, di langgar, dan disetiap rumah yang memilikinya. Dan dari sisi keranda itu menggemalah bunyi sangkakala.

Maka bersiaplah laskar Pamingit dan Banyu Biru untuk mengawal jenasah pahlawan yang berani itu. Ketika jenasah diangkat oleh beberapa orang, diantaranya Wulungan, Bantaran, Penjawi dan kehormatan yang diberikan untuk pahlawan itu oleh Titis Anganten, Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, maka berbicaralah Gajah Alit atas nama pemerintahan Demak.

Gajah Alit yang memakai pakaian kebesaran pasukan Nara Manggala itu menyatakan betapa besar terimakasih dan penghargaan Demak terhadap kesediaan pengabdian yang diberikan oleh Sawung Sariti. Dengan darahnya ia telah mempertahankan tanahnya, rakyatnya dan kebesarannya.

Lembu Sora mendengarkan sesorah Gajah Alit dengan dada yang bergejolak. Ia mendengar sesorah itu dirangkapi suara hatinya sendiri. Ia melihat luka yang tergores di lengan anaknya. Ia melihat pula luka yang tergores didada Arya Salaka. Karena itu ia menjadi bimbang karenanya. Apakah yang telah terjadi.

Namun adakah karunia Tuhan telah berkenan membersihkan nama anaknya pada saat-saat terakhir. Kini anaknya gugur sebagai pahlawan. Karena tangan Bugel Kalikilah yang telah membunuhnya. Dan sudah pastilah bahwa anaknya telah bertempur melawan demit itu.

Maka ketika datang saatnya jenazah itu diberangkatkan, sekali lagi Nyai Ageng Lembu Sora memekik tinggi. Ia kemudian meronta-ronta di tangan Nyai Ageng Gajah Sora dan Rara Wilis. Lembu Sora yang melihat keadaan isterinya menjadi sangat beriba hati. Didekatinya isterinya itu, dipegangnya pundaknya dan dibisikkan di telinganya kata-kata pemupus, “Sudahlah Nyai anakmu pergi menghadap Tuhannya dengan bekal yang cukup. Ia gugur sebagai pahlawan. Ikhlaskan dia supaya ia menghadap Tuhan dengan tenang”.

Nyai Ageng Lembu Sora mendengarkan kata-kata suaminya. Namun amatlah sulit baginya untuk memadukan perasaannya dengan nalar. Karena itu, justru oleh sentuhan tangan suaminya, hatinya makin bergelora. Cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya menjatuhkan dirinya di tangan suaminya. Setelah itu Nyai Ageng Lembu Sora tak tahu lagi apa yang terjadi. Pingsan.

Beberapa orang menjadi sibuk mengurusnya. Diangkatnya tubuh itu masuk ke Banjar Desa.

Dalam pada itu keranda jenazah mulai bergerak. Di ujung barisan berjalanlah seorang anak muda yang tegap perkasa, dengan tombak tak berwrangka di tangannya. Itulah Arya Salaka yang mandi tombak pusaka Banyu Biru Kiyai Bancak. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya. Dan sekali sekali ia menunduk. Beribu-ribu masalah berputar-putar di otaknya. Sesekali ia bersyukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya, dan sesekali ia berdoa semoga Tuhan menerima adiknya disisinya. Kalau kemudian matanya terasa panas, Arya segera mengangkat mukanya seolah-olah ada yang dicarinya diantara belaian mega yang putih dihembus angin lembut dari pegunungan.

Hampir setiap wanita yang berdiri berhimpitan ditepi jalan meneteskan air matanya. Mereka melepas pahlawan dengan hati yang sedih. Mereka tahu bahwa Sawung Sariti adalah satu-satunya putera kepala daerah perdikan mereka, bahkan putera yang agak terlalu dimanjakan. “Betapa sedih ibunya. Betapa sedih ayahnya,” desis mereka.

Namun Sawung Sariti itu berjalan terus. Tubuhnya berjalan ketempat pemakaman, sedang arwahnya berjalan menghadap Tuhannya. Di belakang keranda itu berjalanlah kedua perwira dari Pasukan Demak, disisinya Ki Ageng Sora Dipayana dengan kepala tertunduk, sedang Ki Ageng Gajah Sora berjalan pula dibelakangnya dan disampingnya adalah Ki Ageng Lembu Sora.

Barisan pengiring semakin lama semakin panjang. Setiap orang yang dilaluinya dengan serta merta mengikuti dibelakangnya mengantar sampai ke makam. Pamingit benar-benar berkabung. Demikianlah Sawung Sariti telah mendapatkan penghormatan terakhir sebagai seorang pahlawan. Apapun yang pernah dilakukan, namun ia adalah anak yang berani. Sehingga setelah ia gugur, adalah menegakkan pemerintahan ditanah kelahirannya.

Di belakang mereka yang sedang mengantarkan jenazah itu, didalam pondok yang kecil, terbaringlah Galunggung dengan lemahnya. Beberapa orang duduk disampingnya dan mencoba membangunkan ia dari pingsannya. Beberapa kali ia membukakan matanya, namun kemudian ia pingsan kembali.  

Tetapi ketika nafasnya telah berangsur baik, maka Galunggungpun menjadi sadar. Sadar akan dirinya. Perlahan ia bangkit dan duduk ditepi pembaringannya. Ketika ia mencoba untuk minum, didengarnya bunyi kentongan. “Tanda apakah itu?,” terdengar ia bertanya lemah.

“Jenazah Sawung Sariti akan diberangkatkan,” jawab salah seorang bawahannya yang sedang merawatnya.

“Apa katamu?,” kata Galunggung membelalakkan matanya. Bawahan Galunggung itu terkejut melihat sikapnya. Namun ia menjawab juga, “Ya jenazah angger Sawung Sariti dimakamkan.”

“Jadi kau maksud Sawung Sariti telah meninggal?”

“Ya”

“Omong Kosong!,” bentaknya.

Bawahannya menjadi semakin tidak mengerti. Dan ia mencoba menjelaskan, “Angger Sawung Sariti terbunuh ketika ia sedang bertempur melawan Bugel Kaliki.”

“Gila, gila!,” Galunggung tiba-tiba mencoba untuk berdiri sambil memaki habis habisan. Tetapi tenaganya lemah sekali sehingga ia terbanting ditempat pembaringan.

Pingsan.

Tetapi tidak lama kemudian Galunggung membuka matanya kembali. Ia segera bangkit dan merenggut kain penyejuk dikepalanya. Matanya memandang berkeliling ruangan yang sempit itu. Tetapi mata itu kini menjadi merah. Seperti orang kehilangan ingatan ia berdiri tegak dan berteriak. “He, kau tahu kenapa Sawung Sariti mati?”

Bawahannya menjadi cemas. Sambil menggeleng ia menjawab sekenanya, “tidak.”

“Sawung Sariti mati karena penghianatan. Ternyata Bugel Kaliki bekerja sama dengan Arya Salaka. Mereka bersama-sama membunuh Sawung Sariti!,” teriak Galunggung dengan mata bertambah liar.

“Tetapi mereka bersama-sama bertempur melawan Bugel Kaliki,” sahut bawahannya.

“Bodoh, Bodoh kalian,” teriak Galunggung. “Kalian tahu apa. Akulah yang paling tahu keadaannya, karena itu aku harus membalas dendam.”

Bawahannya semakin tidak mengerti. Mereka menjadi bingung. Dan mereka menjadi terkejut ketika tiba-tiba Galunggung menyambar pedang salah satu dari mereka dan tiba-tiba ia meloncati pintu dan berlari sekencang-kencangnya menyeberangi halaman. Sesaat kemudian ia sudah hilang dibalik regol halaman itu.

Beberapa orang bawahannya menjadi bingung. Untuk sesaat mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi sesaat kemudian mereka sadar Galunggung menjadi orang berbahaya. Karena itu mereka harus berusaha mencegahnya. Setidak-tidaknya melaporkan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Karena itu maka merekapun bergegas meninggalkan halaman itu.

“Kemana?,” tanya salah seorang dari mereka.

“Menyusul ke makam,” jawab yang lain.

Dengan berlari-lari kecil merekapun segera pergi ke makam, dimana jenazah pahlawan yang masih sangat muda itu di makamkan.

Pada saat itu, keranda jenazah berhenti disamping liang kubur yang sudah dipersiapkan. Ketika jenazah sudah dibaringkan, doapun dipanjatkan. Pemakaman itu berlangsung dengan selamat. Segala sesuatu seperti yang direncanakan. Ketika mereka akan meninggalkan onggokan tanah yang masih merah serta sepasang maejan yang masih baru pula, mereka melihat Arya Salaka berjongkok disamping gundukan tanah itu. Bibirnya bergerak mengucapkan beberapa patah kata, namun tak seorangpun yang mendengarnya.

Lembu Sora sendiri agaknya telah berhasil menguasai perasaannya. Ia tidak dapat berbuat lain daripada menerima segala peristiwa ini sebagai suatu peringatan baginya. Meskipun peringatan itu terasa terlalu berat. Satu-satunya anak telah dilepaskan, sedangkan daerah perdikan menjadi hancur berantakan.  

SESAAT kemudian makam itu telah sunyi kembali. Seonggok tanah dan sepasang maejan baru berada di tengah-tengahnya. Di atasnya bergerak-gerak dalam belaian angin pegunungan, daun-daun dan bunga-bunga kamboja yang putih bersih. Sepi, sesepi hati Lembu Sora. Hanya kadang-kadang terdengar ciap burung pipit yang beterbangan mencari makanan buat anak-anaknya yang ditinggalkan di atas sarang. Di perjalanan pulang itulah mereka melihat tiga orang berjalan bergegas-gegas ke arah mereka. Ki Ageng Sora Dipayana yang berjalan di paling depan bersama-sama dengan Paningron dan Gajah Alit segera bertanya kepada mereka.

“Apa yang terjadi?”.

Orang itu pun berceramah tentang Galunggung. Mereka menyangka bahwa Galunggung telah pergi ke makam dan mengamuk di sana. Tetapi ternyata Galunggung tidak ada diantara mereka, karena itu mereka menjadi sangat cemas karenanya. Galunggung adalah gambaran diri seorang yang mabuk pada kekuasaan, pangkat dan penghargaan. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya. Dan sekarang orang itu agaknya kehilangan keseimbangan pikirannya. Sebab dengan hilangnya Sawung Sariti, segala cita-citanya ikut lenyap pula.

“Wulungan….”, Ki Ageng Lembu Sora memanggil. Wulungan pun segera berjalan di sampingnya. “Lihatlah, apa yang dilakukan oleh anak gila itu,” desisnya.

“Baik Ki Ageng,” jawab Wulungan. Dan Wulungan pun segera berjalan mendahului orang-orang yang pulang dari makam itu.

Ketika Galunggung meninggalkan regol halaman, ia memang tidak bermaksud pergi ke makam. Otaknya yang dipengaruhi oleh bermacam-macam persoalan itu ternyata tidak dapat lagi bekerja dengan baik. Dengan pedang telanjang ia berlari-lari ke banjar desa.

Di dalam banjar desa itu, beberapa orang perempuan sedang mencoba menenangkan hati Nyai Ageng Lembu Sora yang beberapa kali jatuh pingsang kembali. Sekali-kali ia menangis melolong-lolong, seperti anak-anak yang kehilangan golek kesayangannya. Namun semakin lama ia menjadi semakin tenang.

Tetapi sesaat kemudian, mereka digaduhkan oleh kedatangan Galunggung. Pedangnya yang telanjang itu diayun-ayunkan sambil berteriak memaki-maki. Dan karena itu bubarlah perempuan-perempuan desa itu bercerai berai. Perempuan-perempuan itu berteriak-teriak dan berlari-larian. Mereka pada umumnya telah mengenal siapakah Galunggung itu. Seorang yang menakutkan bagi perempuan-perempuan, apalagi perempuan-perempuan muda. Sekarang orang yang menakutkan itu membawa pedang sambil berteriak memaki-maki.

Nyai Ageng Lembu Sora terkejut juga melihat kedatangan Galunggung. Sesaat ia lupa pada keadaan dirinya sendiri. Ketika sebagian dari perempuan-perempuan itu telah berlarian keluar, maka Galunggung pun masuklah ke banjar desa sambil berkata, “He, di mana Arya Salaka?”.

“Galunggung!”, panggil Nyai Ageng Lembu Sora.

“Aku mencari Arya Salaka”, jawab Galunggung.

“Kenapa dengan Arya Salaka?”, tanya Nyai Ageng.

“Pengkhianat. Dibunuhnya Sawung Sariti bersama-sama dengan Bugel Kaliki,” jawab Galunggung.

Nyai Ageng Lembu Sora mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau keliru Galunggung. Mereka berdua telah berjuang bersama-sama melawan Bugel Kaliki itu.”

“Omong kosong!”, bentak Galunggung.

“Galunggung!”, potong Nyai Ageng Lembu Sora, “Kau kenal aku bukan?”

“Ya, ya. Nyai Ageng Lembu Sora,” jawab Galunggung.

“Nah, kalau demikian dengar kata-kataku,” sahut Nyai Ageng Lembu Sora, “Kau terlalu letih barangkali. Beristirahatlah.”

“Tidak!” jawab Galunggung, matanya semakin bertambah liar.

“Aku harus membunuh Arya Salaka.”

“Jangan sembunyikan monyet itu,” bentaknya.

“Jangan membentak-bentak aku Galunggung,” jawab Nyai Ageng Lembu Sora, “Aku adalah ibu Sawung Sariti itu, dan aku adalah Nyai Ageng Lembu Sora, istri kepala daerah perdikanmu.”

SEJENAK Galunggung terdiam. Ia berhadapan dengan istri kepala daerah perdikannya. Tetapi sesaat kemudian otaknya yang sudah tidak wajar lagi itu menyentak-nyentak kembali. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar seperti suara hantu yang kegirangan.

“Diam!” bentak Nyai Ageng Lembu Sora. Tetapi Galunggung tidak mau diam. Tertawanya bertambah keras.

“Nah, katanya kau juga sudah berkhianat seperti Arya Salaka. Kalau demikian, akulah tinggal satu-satunya orang yang setia. Setia kepada Sawung Sariti dan setia kepada cita-citanya. Mempersatukan tanah perdikan Banyubiru dan Pamingit. Ki Ageng Lembu Sora sendiri pun sudah tidak setia lagi. Kalau begitu semua harus aku lenyapkan. Arya Salaka, Lembu Sora dan monyet bangkok yang sudah dibebaskan dari Demak itu.”

“Galunggung!” teriak Nyai Ageng Lembu Sora, “Kau sudah gila!”

Tetapi Galunggung tertawa terus. Di antara derai tertawanya ia berkata, “Kalian, perempuan-perempuan ini pun akan aku bunuh pula, sebab kalian tidak mau menunjukkan di mana Arya Salaka berada.” “Jangan mengigau,” potong Nyai Ageng Lembu Sora, tetapi hatinya pun menjadi bergetar. Juga Nyai Ageng Gajah Sora, menjadi gemetar. Galunggung agaknya telah benar-benar kehilangan pikiran wajarnya. Dan ketika pedangnya itu diayun-ayunkan, bergetarlah setiap dada orang yang melihatnya. Beberapa orang menjadi menggigil dan yang lain menjadi lemas tak berdaya.

“Kalian tak akan dapat lari. Kalau kalian mencoba meloncat keluar, aku akan dapat mengejar kalian. Dan kalian akan aku bunuh satu persatu. Satu demi satu!”

Kembali suara tertawanya membelah ruangan banjar desa yang tidak terlalu lebar itu.

“Galunggung…” kata Nyai Ageng Lembu Sora. Namun suaranya sudah agak gemetar, “Kau telah mengkhianati Ki Ageng Lembu Sora. Kepala daerah perdikanmu.”

“Akan aku bunuh dia. Sebab orang itu tidak setia kepada cita-citanya. Kenapa tidak dibunuhnya Arya Salaka. Dan kenapa dibiarkannya Gajah Sora itu kembali? Pengkhianat!” teriaknya.

Nyai Ageng Lembu Sora tak dapat berbuat apa-apa lagi. Galunggung telah menjadi gila dan tidak dapat mendengarkan kata-katanya. Karena itu, ia pun menjadi semakin ngeri. Apalagi ketika kemudian setapak demi setapak sambil tertawa berkepanjangan, Galunggung melangkah maju. “Tak ada gunanya kalian lari.”

Tetapi perempuan-perempuan itu memekik-mekik dan mereka menghambur keluar dari ruangan itu. Beberapa orang yang masih sadar mencoba menarik tangan Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora sambil berbisik, “Selamatkan diri Nyai Ageng berdua.”

“O!” teriak Galunggung. “Kemana kalian akan menyelamatkan diri?”

Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora benar-benar tak melihat jalan untuk menyelamatkan diri. Agaknya mereka berdualah yang pertama-tama harus dibinasakan. Karena itu mereka pun menjadi ketakutan dan gemetar sehingga keduanya menjadi saling berpegangan dengan eratnya.

Namun di antara perempuan-perempuan itu, tidaklah semua menjadi ketakutan dan kehilangan akal. Tidak semua berlari-lari sambil berteriak-teriak. Ketika Galunggung benar-benar tak dapat mendengarkan kata-kata Nyai Ageng Lembu Sora, dan ketika ia melangkah maju setapak demi setapak, maka tanpa berjanji tampillah dua orang gadis, berdiri tegak dengan tenangnya di hadapan dan membelakangi Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Gajah Sora itu.

Keduanya adalah Rara Wilis dan Endang Widuri. Maka terdengarlah bisik Rara Wilis perlahan, “Tenangkan hati Nyai. Akan aku coba mencegah perbuatan orang itu.”

Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora terkejut, bahkan Galunggung yang gila itu pun terkejut melihat ketenangan dua orang gadis itu. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora masih belum mengenal terlalu banyak, siapakah mereka itu. Yang mereka ketahui hanyalah nama kedua gadis itu, dan bahwa kedua gadis itu bukanlah gadis Pamingit dan bukan pula gadis Banyubiru.

“Nini…” panggil Nyai Gajah Sora, “Kemarilah.”

Tetapi Rara Wilis dan Endang Widuri tidak bergerak lagi dari tempatnya. Bahkan menoleh pun tidak. Pandangan mereka tertuju ke mata pedang Galunggung yang berkilat-kilat tajam. Meskipun demikian Rara Wilis menjawab, “Biarlah aku coba, Nyai.”

“Jangan Nini,” Nyai Ageng Lembu Sora pun mencoba mencegahnya. Ia tahu benar betapa berbahayanya Galunggung bagi perempuan. Apalagi gadis-gadis cantik itu.

SEJENAK Galungung memandangi keduanya. Mula-mula matanya menjadi bersinar-sinar. Sambil tertawa dalam gilanya, “Hai gadis-gadis cantik, jangan berdiri di situ. Biarlah aku selesaikan urusanku. Nanti kau boleh ngunggah-unggahi. Kau akan menjadi istri kepala daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru. Kau dan aku.”

Ujung pedangnya bergerak-gerak menunjuk ke wajah Rara Wilis dan Endang Widuri. Namun kedua gadis itu tidak beranjak dari tempatnya.

“Nini,” panggil Nyai Ageng Lembu Sora cemas, “Menyingkirlah.”

Wilis menarik nafas. Ia sudah beberapa kali menghadapi lawan. Bahkan ia pernah behadapan dengan orang yang sedang terganggu syarafnya. Gila. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menenangkan hati Galunggung,katanya, “Galunggung, kalau ada persoalan biarlah persoalan itu diselesaikan. Persoalan antara kau dan Arya Salaka atau antara kau dan Paman Lembu Sora. Tetapi kami perempuan-perempuan di sini, tidaklah tahu persoalan itu. Dan kalau kau bunuh kami pun persoalanmu tidak akan selesai.”

Sekali lagi Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menjadi keheran-heranan. Kata-kata Rara Wilis diucapkan las-lasan, kata demi kata. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kecemasan apalagi ketakutan.

Galunggung mengerutkan keningnya. Matanya tiba-tiba menjadi suram. Meskipun otaknya tak wajar lagi, namun lamat-lamat ia menjadi teringat bahwa ia pernah melihat gadis-gadis itu. Satu atau dua kali tetapi dimana dan kapan. Akhirnya wajahnya menjadi tegang ketika kemudian teringat olehnya, dimana ia bertemu dengan kedua gadis itu. Sehingga terlontarlah dari mulutnya, “He bukankah kau gadis-gadis gila dari Gedangan?”

“Kau masih mengenal kami?” jawab Widuri.

“Bukankah kau pernah mengunjungi kami di Gedangan? Bersama Harimau betina dari Gunung Tidar dan kemudian Sepasang Uling dari Rawa Pening?”

“Gila!” teriak Galunggung. Matanya menjadi liar kembali. Kedua gadis itu ternyata pernah menghadapi laskarnya sebagai lawan yang tangguh. Bahkan bukankah mereka pernah bertempur melawan Jaka Soka dan istri Sima Rodra? Tetapi otak Galunggung itu benar-benar telah tidak dapat berputar. Pikirannya hanyalah sesaat terpencar di kepalanya. Kemudian kembali gilanya mempengaruhinya. Karena itu maka sekali lagi ia tertawa, “Bagus, bagus. Kalian akan menjadi istri yang baik. Menepilah, jangan biarkah perempuan itu melarikan diri.”

“Jangan maju lagi,” potong Rara Wilis. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora sekali lagi terkejut. Mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh Rara Wilis. Tetapi sekali lagi mereka mendengar gadis itu memerintah, “Galunggung, tetap di tempatmu.”

Galunggung yang hampir saja melangkah maju, terhenti juga. Dipandangnya Rara Wilis dengan tajamnya. Matanya telah memerah, semerah darah. Kemudian ia berteriak nyaring, “Pergilah atau kau akan lebih dahulu mati?”

Nyai Ageng berdua di belakang kedua gadis itu benar-benar menjadi cemas, mereka tidak mau mengorbankan orang lain untuk keselamatan mereka. Karena itu Nyai Ageng Gajah Sora berkata, “Biarlah kami selesaikan urusan kami nini. Menyingkirlah.”

“Tenangkan hati Nyai Ageng berdua,” sahut Wilis, dan kedua perempuan yang ketakutan itu menjadi semakin tidak mengerti. Dalam pada itu Rara Wilis dan Widuri sudah tidak melihat kesempatan lain, kecuali mengusir orang gila itu dengan kekerasan. Karena itu tiba-tiba Widuri berbisik, “Serahkanlah kepadaku,Bibi.”

Rara Wilis meredupkan matanya. Ia menjadi ragu-ragu. Gadis kecil ini masih terlalu sukar untuk mengendalikan dirinya. Kalau kemudian Galunggung itu terbunuh oleh Widuri, masih belum diketahui apakah Ki Ageng Lembu Sora membenarkannya. Karena itu maka ia menjawab, “Aku sajalah yang menyelesaikannya, Widuri.”

“Ia bersenjata,” jawab Widuri, “sedangkan bibi tidak. Apalagi bibi tidak siap dengan pakaian wajar untuk bertempur.”

“Kau juga tidak Widuri,” sahut Wilis.

Ketika Galunggung kemudian tertawa kembali sambil melangkah maju. Wilis berkata, “Berikan kalungmu itu kepadaku. Aku pernah menggunakan segala macam senjata, selain kekhususan dalam bermain pedang. Rantaimu itu akan lebih baik daripada sulur-sulur kayu yang pernah aku pakai berlatih dengan eyang Pandan Alas.”

Widuri ragu-ragu sejenak. namun Wilis berkata tegas, “serahkanlah. Orang gila itu sudah hampir mulai.” Widuri tidak dapat berbuat lain daripada melepaskan kalung peraknya. Kemudian ia melangkah surut berdiri disamping Nyai Ageng Gajah Sora yang menjadi bertambah cemas. “Pergilah, pergilah,” teriaknya.

“Biarlah nyai,” sahut Widuri, “bibi Wilis akan dapat menjaga diri.”

Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora tak dapat berbuat apa-apa lagi. Galunggung sudah berdiri selangkah dimuka Wilis. Pada saat itu, Rara Wilisterpaksa menyangkut ujung kain panjangnya pada sabuknya. Pada saat itulah pedang Galunggung teracung didadanya. Sambil tertawa ia berkata, “sayang dada ini akan tembus oleh senjataku.”

Rara Wilis mengerutkan keningnya, mata orang itu benar-benar mengerikan. Namun Rara Wilis adalah gadis yang tabah. Karena itu ia bergeser dari tempatnya. Bahkan ia telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Ia tidak memegang rantai Widuri di pangkalnya dan menggunakan Cakra yang tersangkut dirantai itu untuk melawan Galunggung. Tetapi Rara Wilis memegang pada ujungnya dimana cakra itu tersangkut. Bahkan Cakra itu dilepaskannya, dan diserahkan kepada Widuri. Widuri melihat bagaimana Rara Wilis mempergunakan senjatanya. Karena itu ia segera memakluminya, bahwa Rara Wilis agaknya hanya ingin mengusir Galunggung dari banjar desa.

Ketika sekali lagi suara Galunggung menggelegar, Rara Wilis membentaknya dengan nada yang tinggi, “Diam, dan tinggalkan tempat ini!.”

Tiba-tiba tawa Galunggung berhenti. Ia memandang Rara Wilis dengan mata merah, katanya, “Apa maumu?.”

“Tinggalkan tempat ini,” ulang Rara Wilis.

Galunggung memandang semakin tajam. Gadis ini memang cantik. tapi baginya lebih baik menjadi Kepala Perdikan yang kaya raya daripada menuruti perintah itu. Jarak jangkau pada kedudukan kepala daerah perdikan disangkanya terlampau pendek. Bukankah tinggal membunuh Arya Salaka, Gajah Sora dan Lembu Sora saja. Mudah sekali, mudah sekali. Karena itu ia menggeram, “jangan gila. Jangan menghalangi aku!”

“Kau yang gila,” bantah Rara Wilis. Galunggung menjadi benar-benar marah. Dan tiba-tiba ia menakut-nakuti Wilis dengan pedangnya. Pedang yang telanjang itu diacung-acungkannya dengan gerakan menghentak-hentak.

Berdesirlah dada Nyai Ageng GajahSora dan Nyai Ageng Lembu Sora. Namun Rara Wilis bergeserpun tidak.

“Jangan berlaku seperti Buta Terong,” teriak Widuri yang tidak dapat menahan gelinya melihat solah Galunggung. Mendengar kata-kata itu Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menjadi heran. Galunggung yang marah dalam kegilaannya itu dianggap sebagai suatu pertunjukan yang mengasyikkan oleh gadis ini.

Meskipun Galunggung telah hampir gila, namun kata-kata Widuri itu telah memanaskan kupingnya. Karena itu ia berteriak,”tutup mulutmu atau aku akan menyobeknya.”

Widuri benar-benar nakal. Ia malahan tertawa kecil. Dan karena Galunggung tak dapat menahan diri lagi. Langsung ia meloncat dengan pedang terulur, tidak menyerang Rara Wilis tetapi menyerang Endang Widuri.  

Bagaimanapun Galunggung mencoba mempergunakan setiap kemampuan yang ada dalam dirinya, namun dengan lincahnya Widuri berhasil menghindarkan dirinya. Seperti seekor kijang ia melompat kesamping. Tetapi ia tidak berani menentang maksud Rara Wilis, karena itu ia tidak membalasnya. Malahan ia lari seperti seekor kelinci dan bersembunyi dibelakang Rara Wilis. Namun tawanya masih saja terdengar, meskipun gadis nakal itu berusaha untuk menahannya.

Wilis melihat sikap Widuri itu dengan menahan nafas. Ketika Widuri sudah berdiri dibelakangnya ia berbisik, ” Jangan terlampau nakal Widuri.”

“Aku tidak dapat menahan geli bibi,” jawabnya.

Galunggung telah benar-benar menjadi marah. Pedangnya kemudian diputar-putarnya diatas kepala. Sambil berteriak-teriak ia meloncat menyerang Rara Wilis. Namun Rara Wilis sudah bersedia. Dengan cepatnya ia meloncat kesamping, kemudian rantai ditangannyapun diurainya.

NYAI AGENG Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora meskipun tidak memiliki kemampuan bertempur dan tata bela diri namun mereka adalah istri-istri kepala daerah perdikan, yang dalam kedudukannya sekali dua kali pernah dilihatnya perkelahian, meskipun hanya dalam latihan-latihan laskar-laskar mereka. Karena itu, ketika mereka melihat bagaimana Endang Widuri menghindar dan bagaimana Rara Wilis dengan gerak sederhana membebaskan dirinya dari serangan Galunggung, mereka pun menyadari, bahwa wajarlah kalau kedua gadis itu sama sekali tidak takut menghadapi Galunggung.

Ternyata dalam perkelahian berikutnya, Galunggung tidak lebih daripada seorang raksasa rucah (tak berguna, Mimbar) yang bertempur melawan kesatria-kesatria Pandawa. Meskipun ia berjuang mati-matian, namun yang dapat dilakukan hanyalah meloncat-loncat tak karuan. Bahkan sekali dua kali rantai Rara Wilis telah menyentuh tubuhnya, dan membuat bekas luka yang nyeri. Kulitnya seperti terkelupas dan darah menetes dari luka-luka itu. Namun Wilis tidak benar-benar hendak melukainya, karena itu, sengatan rantai itu pun tidak terlampau berbahaya.

Tetapi ketika Galunggung menjadi semakin menggila, Rara Wilis pun menjadi muak. Karena itu serangannya dipertajam, dan Galunggung menjadi semakin terdesak. Meskipun demikian masih saja ia berteriak dan memaki-maki.

Akhirnya serangan Rara Wilis semakin terasa berat. Pangkal rantai perak itu mematuk-matuk seluruh permukaan kulitnya. Bahkan pipinya, hidungnya dan dahinya. Kulit Galunggung itu telah dipenuhi oleh jalur-jalur merah dan lecet-lecet berdarah.

Dalam kesibukannya mempertahankan diri itulah Galunggung mendengar suara Rara Wilis, “Tinggalkan tempat ini. Menghadaplah Ki Ageng Lembu Sora, dan mintalah maaf kepadanya.”

“Persetan dengan orang itu,” jawab Galunggung, tetapi belum lagi mulutnya terkatub, pangkal rantai itu benar-benar mengenai bibirnya. “Gila!” teriaknya, dan darah mengalir dari bibir yang tebal itu.

“Jagalah mulutmu,” bentak Rara Wilis, “Pergi dan turuti perintahku.”

Galunggung tidak menjawab. Tetapi terasa bahwa ia tak akan dapat melawan gadis itu. Karena itu tiba-tiba matanya yang liar melingkar-lingkar mencari pintu keluar dari ruangan yang celaka itu.

Sesaat kemudian ketika beberapa kali lagi tubuhnya disakiti oleh rantai Rara Wilis, Galunggung meloncati pintu dan berlari ke halaman. Rara Wilis tidak segera mengejarnya ketika ia melihat Galunggung berhenti. Orang gila itu berdiri dengan mengacung-acungkan pedangnya kepada Rara Wilis yang berdiri di pintu sambil memaki habis-habisan. Akhirnya Galunggung berkata, “Aku tidak dapat membunuhmu. Sayang, kau terlalu cantik. Tetapi kalau lain kali kau berani melawan aku lagi, aku tidak mau memaafkan.”

Sekali lagi Widuri tidak dapat menahan geli hatinya. Ia tertawa tertahan-tahan, sedang kedua tangannya menutup mulutnya.

“Jangan banyak tingkah,” teriak Galunggung dari halaman. “Gadis kecil itu akan aku lumatkan kalau ia berani menghina aku lagi, kepala daerah perdikan Pangrantunan lama.”

Rara Wilis tidak menjawab. Ia melangkah setapak maju sambil memutar rantainya. Melihat sikap Rara Wilis, Galunggung mundur beberapa langkah. Kemudian tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menghambur lari menyusup regol. Namun di kejauhan suaranya masih terdengar, “Awas kalau kau sekali lagi berani melawan aku. Aku cerai kau.”

Wilis tertegun di tempatnya. Apakah ia harus menangkap orang gila itu. Ia akan menjadi sangat berbahaya bagi penduduk dan orang-orang yang akan dijumpainya. Beruntunglah kalau ia bertemu Arya Salaka atau Lembu Sora. Tetapi kalau para prajurit mengeroyoknya beramai-ramai, maka nasibnya akan sangat menyedihkan.

Pada saat ia termangu-mangu itulah terasa dua pasang tangan memeluknya sambil terisak-isak. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora mengucapkan terima kasihnya dengan uraian air mata.

“Duduklah Nyai Ageng,” kata Wilis, lalu kepada Widuri ia berkata, “Widuri, lihatlah di luar regol, kalau-kalau Galunggung berbuat sesuatu terhadap orang-orang yang ditemuinya, tetapi jangan berbuat terlampau jauh.”

“Baik, Bibi,” jawab Widuri. Dan ia pun segera melangkah keluar setelah ia menerima rantainya kembali.

Dengan langkah yang cepat, Widuri berjalan di jalan kecil di muka halaman banjar desa itu. Kemudian ia membelok ke kanan, menyusur jalan satu-satunya itu. Tiba-tiba ia berhenti. Di kejauhan ia melihat Galunggung berdiri berhadap-hadapan dengan seorang yang bertubuh tinggi dan besar. Dengan tangkasnya Widuri menyelinap, dan kemudian menyusup halaman, ia pergi mendekati orang gila itu.

SEKALI-KALI Widuri harus meloncati pagar-pagar batu, dan sekali-kali ia harus menyusup gerumbul-gerumbul liar yang masih berserakan di sana-sini, di halaman-halaman yang kosong dan terbentang di antara rumah-rumah kecil.

Ketika ia sudah mendekati tempat Galunggung berdiri, maka ia pun mendengar apa yang dipercakapkan mereka.

“Galunggung…” terdengar orang yang tinggi besar itu berkata, “Marilah kita pergi ke banjar desa. Sebentar lagi Ki Ageng Lembu Sora akan datang. Darinya kau akan mendengar beberapa keterangan yang perlu.”

Yang terdengar adalah derai tertawa Galunggung. Kemudian jawabnya, “Aku temui di sini seorang pengkhianat lagi.”

“Jangan berkata begitu,” sahut lawan bicaranya, orang tinggi itu.

Ketika Widuri sempat mengintip mereka, maka tahulah Widuri, bahwa orang yang tinggi itu adalah salah seorang pemimpin laskar Pamingit, yang pernah didengarnya dipanggil dengan nama Wulungan, meskipun ia belum mengenal langsung.

“Kau tinggal memilih Kakang Wulungan, Lembu Sora, Gajah Sora, Arya Salaka atau Galunggung,” kata Galunggung kemudian.

“Apanya yang harus aku pilih?” tanya Wulungan.

“Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat. Sepeninggal Sawung Sariti, akulah yang paling berhak atas kedudukan yang sudah dicapainya. Sebab akulah kawan yang paling setia. Dan akulah yang telah memberinya berbagai jalan untuk mencapai cita-citanya itu,” jawab Wulungan.

Wulungan pun kemudian melihat mata Galunggung yang liar itu. Maka katanya, “Katakanlah itu kepada Ki Ageng.”

“Akulah kepala daerah perdikan sekarang,” kata Galunggung.

“Atas nama kepala daerah perdikan Pamingit, ikutlah aku.” Wulungan menjadi tidak sabar lagi.

“Apa kau bilang?” bantah Galunggung, “Atas nama kepala daerah perdikan Pamingit? Omong kosong. Akulah kepala daerah perdikan itu.” Mata Galunggung menjadi semakin merah dan liar, bahkan ujung pedangnya sudah mulai bergerak-gerak. Kemudian orang gila itu berteriak, “Pengkhianat ini harus aku selesaikan.”

Sebelum Wulungan sempat berkata sesuatu, Galunggung sudah menyerangnya. Untunglah Wulungan cekatan. Ia berhasil menghindar dan sekali lagi ia mencoba mencegah Galunggung. “Jangan berbuat sesuatu yang akan mencelakakan dirimu sendiri. Ki Ageng Lembu Sora akan menghukummu.”

Sekali lagi Galunggung menyerang sambil berteriak, “Akulah yang akan menghukumnya.”

Sekali lagi Wulungan telah melawannya dengan pedang pula, maka Widuri tidak menampakkan diri. Ia masih saja berada di balik pagar sambil mengintip apa yang terjadi. Tetapi akhirnya ia tidak puas dengan lubang retak pagar batu itu, sehingga kemudian ia meloncat dan duduk dengan enaknya di atas pagar.

Wulungan dan Galunggung melihat kehadirannya. Mata Galunggung yang liar itu menyambarnya beberapa kali. Kemudian ia berteriak, “He gadis gila. Kubunuh kau.”

Widuri tertawa sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang berjuntai. Tetapi ketika ia akan menjawab, terdengar Wulungan berkata, “He Ngger, kembalilah ke banjar desa. Orang ini dapat berbahaya bagimu.”

Tetapi Widuri tidak beranjak dari tempatnya. Kakinya masih berjuntai. Sambil tersenyum ia menjawab, “Tidak, Paman Wulungan. Aku tidak takut kepadanya, karena di sini ada Paman Wulungan.”

“Ah,” desis Wulungan. Sekali lagi matanya menyambar gadis itu. Tampaknya Widuri memang tidak takut sama sakali. Namun Wulungan tidak begitu senang melihat sikapnya, semata-mata karena Wulungan mencemaskan keselamatan gadis itu. Sebab Wulungan masih belum tahu, siapa sebenarnya Endang Widuri.

Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk memikirkan nasib Widuri. Serangan Galunggung semakin lama menjadi semakin garang, bahkan kemudian membabi buta. Mula-mula Wulungan selalu mencoba untuk mempertahankan diri saja, sambil menunggu kedatangan rombongan dari makam, dengan demikian ia mengharap dapat menangkap Galunggung hidup-hidup. Tetapi agaknya tidak dapat berlaku demikian. Serangan Galunggung benar-benar berbahaya baginya. Karena itu, Wulungan kemudian terpaksa membalas setiap serangan Galunggung. Sehingga akhirnya pertempuran itu pun menjadi bertambah sengit.

Meskipun demikian, Wulungan yang otaknya tidak terganggu, masih selalu berusaha untuk berhati-hati. Serangan-serangannya tidak mengarah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia ingin melumpuhkan lawannya tanpa membahayakan jiwanya.

Tetapi Wulungan bukanlah Rara Wilis atau Endang Widuri. Wulungan dalam ilmu tata bela diri berada dalam tataran yang sama dengan Galunggung. Karena Wulungan tidak bertempur dalam puncak ilmu yang dimilikinya, maka dengan tidak disangka-sangka, sebuah goresan menyobek pundaknya.

Wulungan terkejut dan dengan satu lontaran panjang ia melangkah surut. Terasa betapa pedihnya pundak kiri yang terluka itu. Ketika ia sempat melihat luka itu, betapa ia menjadi marah. Darahnya mengalir melumuri baju dan menetes membasahi tanah kelahirannya oleh tangan kawan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia menggeram pendek, dengan suara gemetar.

“Galunggung, apakah kau sudah benar-benar gila?.”

Galunggung tertawa keras, sambil menunjuk luka di pundak itu ia berkata: “Kakang Wulungan, luka itu hanyalah sebuah luka yang kecil. Meski demikian kau telah menjadi pucat dan ketakutan. Karena itu berjongkoklah. Inilah kepala daerah perdikan yang baru.”

Wulungan tidak dapat menahan hatinya yang bergelora meskipun ia telah lama bergaul dan paham sifat Galunggung, “atas nama Ki Ageng Lembu SOra, aku memperingatkan kau sekali lagi untuk yang terakhir.”

“Persetan dengan Lembu Sora. Sebentar lagi aku bunuh dia sesudah aku membunuhmu,” jawab Galunggung dengan sombongnya.

Mendengar jawaban itu, hati Wulungan benar-benar terbakar. Ternyata Wulungan benar-benar gila. Gila dengan pedang di tangan adalah sangat berbahaya. Karena itu, maka Wulungan tidak menunggu Galunggung menyerangnya. Wulungan menyerang. Pedangnya terjulur. Meskipun demikian pedang itu tidak mengarah lambung, dada atau leher lawan. Betapapun marahnya Wulungan, namun ia tidak bermaksud membunuh lawannya itu.

Tetapi karena keragu-raguan itulah maka Galunggung sempat menghindarkan diri. Pedang Wulungan yang mengarah kepala itu dapat dihindarinya. Dengan tertawa nyaring Galunggung memutar pedangnya, dan dengan dahsyatnya ia membalas serangan Wulungan. Tetapi Galunggung tidak berpikir wajar. Ia tidak ragu-ragu dalam setiap ayunan pedangnya. Karena itu serangannya sangat berbahaya. Wulungan terkejut melihat sambaran pedang Galunggung. Untunglah ia sempat membungkukkan kepalanya. Dan berdesing pedang itu tidak lebih senyari diatas kepalanya. Dengan demikian akhirnya Wulungan mengambil keputusan untuk melawan Galunggung dengan segenap kemampuan yang ada padanya. 

Ia harus menyelamatkan dirinya, meskipun seandainya ia terpaksa membunuh lawannya. Maka, kemudian adalah perkelahian yang seru. Galunggung menyerang seperti angin ribut, sedang Wulungan bertahan dan menyerang kembali seperti Srigala yang marah.

Widuri yang melihat pertempuran itu kini tidak tertawa-tawa lagi. Ia melihat bahaya yang mengancam keduanya. Justru karena ilmu yang mereka miliki berada pada tingkatan yang sama, maka mereka berdua mempunyai kesempatan yang sama. Membunuh atau di bunuh. Dalam kebimbangan itu Widuri menyaksikan perkelahian itu berlangsung. Apakah ia harus mencegah perkelahian itu, membantu Wulungan atau membiarkannya. Dalam kebimbangan itu Widuri menyaksikan perkelahian itu berlangsung terus. Desak-mendesak silih berganti. Keduanya mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing, sebab mereka masing-masing tidak mau dadanya ditembus oleh pedang lawan. Dalam keadaan itu, Wulungan sudah tidak teringat lagi, apakah Galunggung itu akan ditangkapnya hidup atau mati. Yang ada dikepalanya adalah pilihan hidup atau mati. Gemercing pedang beradu telah mengejutkan daun-daun dan bunga-bunga luar disekitarnya. Burung-burung dan belalang beterbangan menjauhi bunyi yang mengerikan itu yang sesekali diselingi oleh teriakan Galunggung memaki.

Dalam keadaan yang demikian, Widuri menjadi semakin berbimbang hati. Tetapi lambat laun dilihatnya bahwa keseimbangan itu meskipun perlahan-lahan sekali. Wulungan ternyata memiliki suatu keuntungan, bahwa Galunggung tidak menggunakan otaknya dengan baik. Dalam nafsu gilanya, Galunggung telah kehilangan sebagian pengamatan diri, sehingga ia bertempur tanpa mempergunakan otaknya dengan baik. Sedang Wulungan, meskipun kemarahan telah memuncak dan membakar dadanya, namun dalam olah pedang ia masih dapat melihat segala kemungkinan dengan baik. Widuri yang melihat perkelahian itu menarik nafas lega. Ia benar-benar gadis aneh, namun kadang berbuat seperti orang dewasa. Memang umurnya sedang menginjak masa peralihan. Sebelah kakinya memasuki masa kedewasaan, sebelah kakinya masih berada didunia anak-anak. Dalam masa pancaroba itu Widuri sering berbuat yang aneh-aneh. Sekali nafsunya untuk berkelahi melonjak lonjak didalam dadanya, tetapi ia kadang menunjukkan sifat keibuan yang sejuk. Pada saat itu Widuri dapat melihat keadaan dengan baik.

Ketika ia melihat kelebihan Wulungan, maka dibiarkannya pertempuran berlangsung. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka tanpa campur tangan orang lain. Dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora pasti akan menerima keadaan yang terjadi dengan tanpa campur tangan orang lain. Tanpa perasaan sesal dan kecewa. Tanpa menyalahkan siapapun di luar lingkungan kekuasaannya. Tetapi tiba-tiba terjadilah hal diluar dugaannya. selagi Widuri menonton dengan enaknya, dilihatnya Galunggung dengan tiba-tiba mencakup segenggam pasir. Sebelum Wulungan sempat berbuat, ditebarkannya pasir ke matanya.  

Wulungan terkejut, dengan gerak naluriah ia memejamkan matanya, namun beberapa butir pasir telah menyakitkan matanya, sehingga karenanya gerakannyapun terpengaruh pula. Pada saat yang demikian itu terdengar Galunggung tertawa nyaring. Berbareng dengan suara itu terdengar Wulungan mengumpat, “Gila kau Galunggung.”

Dan Wulungan mencoba membuka matanya, namun mata itu telah menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat lawannya dengan jelas selain bayangannya yang hitam seperti bayangan hantu. Yang dilakukan oleh Wulungan hanyalah meloncat mundur sejauh-jauhnya untuk mendapatkan waktu membersihkan matanya itu, namun Galunggung pun meloncat menyusulnya.  

Widuri melihat kecurangan itu. Perasaan muaknya tiba-tiba bangkit kembali. Dengan serta merta ia melompat turun, dan berkatalah gadis itu dengan nada nyaring, “He Galunggung, kau telah berbuat curang.”

Galunggung tidak mau mendengarkan kata-kata itu. Lawannya telah hampir lumpuh. Alangkah mudahnya untuk membunuhnya pada saat yang demikian itu. Pada saat berbahaya itu Wulungan mendengar suara Widuri. Ia masih sempat memikirkan nasib gadis yang kehadirannya adalah sebagai seorang tamu Pamingit. Karena itulah ia berteriak, “pergilah ngger, pergilah.”

Pedang Galunggung sudah terjulur kearah perut……

Betapapun sakit mata Wulungan, namun ia mencoba untuk melihat gerak Galunggung. Namun sekali lagi ia hanya melihat bayangan hantu hitam menerkamnya. Dalam keadaan putus asa, Wulungan menggerakkan pedangnya seperti baling-baling. Ia mencoba untuk melindungi dirinya. Namun ia sadar bahwa usahanya itu adalah usaha yang sia-sia. Tetapi ternyata bayangan yang hitam tidak segera menyentuh tubuhnya dengan ujung pedangnya. Bahkan kemudian ia mendengar Galunggung memaki-maki habis-habisan.

Wulungan segera mengusap matanya, dan membersihkannya dengan ujung kainnya. Ketika ia membuka matanya, meskipun masih agak kabur, ia melihat Galunggung bertempur. Hampir ia tidak percaya pada matanya yang kabur itu. Galunggung bertempur dengan gadis yang duduk berjuntai di atas pagar batu tadi. Dengan mulut ternganga ia melihat perkelahian itu. Benar-benar mengagumkan. Gadis kecil itu bertempur dengan rantai putih berkilat-kilat di tangannya. Dan yang tak dapat dimengerti, pertempuran itu seperti perkelahian antara kucing dan tikus.

Galunggung benar-benar mirip seekor tikus raksasa yang sama sekali tak berdaya menghadapi kucing kecil itu.

KETIKA mata Wulungan itu telah sembuh kembali, dan kembali ia dapat melihat setiap garis di wajah Galunggung, maka timbullah rasa malunya. Malu kepada gadis itu. Karena itu, kemudian ia pun berkata, “Angger yang perkasa. Lepaskanlah tikus itu. Biarlah aku yang menangkapnya.”

“Kau sudah baik, Paman?”, tanya Widuri.

“Mudah-mudahan aku dapat melawannya,” sahut Wulungan. Suaranya datar dan rata, namun di dalamnya mengandung tekanan kemarahan yang meluap-luap. Marah kepada Galunggung atas segala perbuatan gilanya dan kelicikannya.

Widuri kemudian melepaskan lawannya. Kembali ia menonton sebuah perkelahian yang sengit. Galunggung masih saja berteriak-teriak memaki-maki, namun akhirnya semakin terasa, bahwa Wulungan akan menguasai keadaan. Dalam kesulitan, orang gila itu mencoba untuk berbuat sekali lagi. Menutup mata lawannya dengan pasir. Tetapi Wulungan bukan orang gila, yang dapat berbuat kesalahan serupa untuk kedua kalinya. Karena itu, ketika ia melihat Galunggung membukuk, dan dengan tangan kirinya mencakup segenggam pasir, Wulungan meloncat dengan cepatnya. Secepat kilat. Gerakan yang belum pernah dilakukan selama hidupnya. Tetapi didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, maka ia telah melakukan suatu perbuatan yang seakan-akan berada di luar kemampuannya.

Terdengarlah kemudian suatu pekik ngeri. Darah yang merah memancar dari lambung Galunggung. Kemudian tubuh itu terdorong surut beberapa langkah. Ketika Wulungan mencabut pedangnya, ia melihat Galunggung itu masih tegak berdiri dengan pedang ditangannya. Matanya yang merah menjadi bertambah liar. Kemudian dari mulutnya yang berbusa terdengarlah ia menggeram, “Wulungan, kau tinggal memilih, Lembu Sora atau Galunggung.”

Galunggung yang luka parah itu mencoba maju setapak. Tetapi keseimbangan sudah hilang, dan jatuhlah ia terguling di tanah. Meskipun demikian, matanya yang liar masih saja memandangi Wulungan dengan kemarahan yang meluap-luap. Tetapi tiba-tiba ia menyeringai kesakitan. Kemudian terdengarlah ia berteriak, “He Wulungan, kau berani menyakiti aku?”

Wulungan tegak seperti patung. Ia melihat mulut Galunggung yang berbusa-busa itu masih memaki-maki, dan kemudian Galunggung itu menggeliat menahan sakit. Widuri bukan seorang gadis berhati kecil. Tetapi ia belum pernah menyaksikan peristiwa semacam itu. Ia belum pernah melihat seorang berjuang melawan maut dengan cara demikian. Karena itu, ia menutup kedua matanya dengan tangan-tangannya yang kecil sambil berkata nyaring, “Kasihan orang itu, Paman.” Galunggung masih mencoba berdiri, tetapi ia tidak mampu lagi berbuat demikian. Kemudian nafasnya menjadi semakin cepat mengalir.

Meskipun demikian masih terdengar ia berkata, “Hai, Wulungan. Berjongkoklah. Aku adalah kepala daerah perdikanmu.” Wulungan akhirnya menjadi beriba hati. Bagaimana pun juga ia pernah mengalami suka duka bersama-sama bertahun-tahun. Menyerahkan diri masing-masing dalam lingkungan yang sama. Berbuat bersama-sama untuk perbuatan yang terkutuk. Untunglah Wulungan sempat menyadari kesalahan-kesalahannya, sedang Galunggung telah benar-benar terbenam dalam cita-cita gilanya.

Karena itu, kemudian Wulungan melangkah maju dan berjongkok di samping kawannya yang gila itu. Dengan suara yang berat ia berkata, “Maafkan aku, Adi Galunggung.” Mata Galunggung yang marah itu terbelalak, sambil memaki, “Setan, panggil aku Ki Ageng.”

“Maafkan aku Ki Ageng,” sahut Wulungan. Wajah Galunggung yang tegang itu menjadi mengendor. Kemudian tampak ia tersenyum. Tersenyum gila. Wulungan adalah orang pertama sesudah Ki Ageng Lembu Sora. Sekarang ia telah memihaknya. Karena itu pekerjaannya untuk merebut tanah perdikan Pamingit menjadi semakin mudah. Katanya, “Bagus, kau memihak aku?”

Dengan wajah kosong, Wulungan mengangguk, “Ya, Ki Ageng.” Sekali lagi Galunggung tersenyum. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang kembali. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata lemah dan gemetar, “Akhirnya tercapai juga cita-citaku.” Oleh kata-katanya sendiri Galunggung menjadi tenang. Matanya tidak seliar semula. Tetapi nafasnya telah satu-satu meluncur dari hidung, sedang darahnya telah membasahi tanah kelahirannya. Akhirnya Galunggung menutup matanya sambil tersenyum bangga. Kata-kata yang terakhir keluar dari mulutnya, “Panggil aku Ki Ageng. Ki Ageng Galunggung.”

Dan kata-kata itu hampir tak sampai pada akhirnya. Dan Galunggung mati dengan penuh kebanggan dalam kegilaan.

Wulungan menundukkan kepalanya. Dadanya bergolak seperti darah dijantungnya itu mendidih. Perlahan lahan ia mengangkat mukanya dan menoleh ke arah Endang Widuri yang masih berdiri tegak ditepi jalan. Tetapi Wulungan kini tidak memandangnya sebagai seorang gadis yang nakal, yang tidak tahu akan bahaya, tetapi kini ia memandangnya sebagai penyelamat jiwanya. Karena itu sambil berjongkok ia menunduk hormat, “Angger, betapa besar terimakasihku kepada angger yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku sama sekali tak menduga angger mampu berbuat sedemikian rupa mengagumkan.”

Wajah Widuri menjadi kemerahan mendengarkan pujian itu, ia hanya berdesis, “ah.”

Tetapi Wulungan masih berdiri diatas lututnya. “Aku tak akan dapat membalas budi angger. Mudah mudahan Tuhan mengaruniakan Kasihnya yang berlimbah.”

Widuri menjadi semakin malu, karena itu tiba-tiba ia memutar tubuhnya berlari ke banjar desa sambil berteriak, “aku akan ke banjar desa paman.”

Wulungan menarik nafas. Perlahan ia berdiri sambil bergumam, “Hem, alangkah bangga orang tuanya.”

Ketika Widuri telah hilang di balik tikungan, kembali Wulungan merenungi mayat Galunggung. Sekali-kali ia menebarkan pandangan berkeliling, tetapi Pamingit benar-benar seperti dicekam kesepian yang mengerikan.

Sebenarnya beberapa perempuan yang tinggal di rumah ditepi jalan itu menjadi ketakutan, dan menutup pintu mereka rapat-rapat. Seorang dua orang yang sempat mendengar teriakan Galunggung menjadi berbimbang hati, “Apakah yang sebenarnya terjadi?” tetapi mereka menunggu sampai suami mereka kembali dari perlayatan.

Ketika sekali lagi Wulungan memandang keujung jalan di kejauhan, dilihatnya orang pertama yang datang dari makam. Kemudian kedua dan seterusnya. Iringan itu berjalan perlahan lahan menuju kearahnya.

Melihat kedatangan mereka, Wulungan menjadi berdebar-debar. Apakah ia tidak berbuat kesalahan? tetapi ia telah berbuat demikian untuk membela dirinya, mempertahankan hidupnya.

Tubuh Galunggung yang terkapar di jalan itu benar-benar telah mengejutkan mereka. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora dan yang lain-lain.

“Apa yang terjadi Wulungan?” suara Lembu Sora datar.

“kami bertengkar dan inilah akhirnya.”

Lembu Sora melihat luka dipundak Wulungan, karena itulah ia tahu bahwa Wulungan telah bertempur sengit melawan Galunggung. Ia melihat pedang Galunggung masih ditangannya, sedang pedang Wulungan ada belum disarungkan.

“Sarungkan pedangmu Wulungan”

Wulungan menjadi gugup. Cepat-cepat ia menyarungkan pedangnya.

“kami tidak menyalahkan engkau,” terdengan Lembu Sora berkata.

Orang Pamingit menjadi saling berpandangan. Pengikut Galunggung bergumam, “kenapa Galunggung terbunuh?.”

Ki Lembu Sora dapat melihat gelora hati mereka. Mereka memandang Wulungan dengan marah, bahkan ada yang benci dan dendam. Seperti Galunggung yang menggantungkan harapannya kepada Sawung Sariti, maka demikianlah beberapa orang yang telah menerima janji mereka. karena itu kematiannya benar-benar disesalkan.

Tetapi karena itu alangkah sedih Lembu Sora. Kematian anaknya telah memukul jantungnya sedemikian parah. Sekarang ia melihat sinar mata bermusuhan diantara rakyatnya. Karena itu dengan sedih ia berkata, “telah banyak korban jatuh. Daerah perdikan ini telah basah kuyup oleh darah putra terbaik. Sergapan gerombolan liar telah menghancurkan sendi kehidupan kita. Marilah kita jadikan Sawung Sariti korban yang terakhir., dan Galunggung yang lenyap karena kehilangan keseimbangan jiwa, adalah contoh mereka yang kehilangan akal.

Kemudian Lembu Sora mengangkat wajahnya memandang kepada orang Pamingit yang berada disekitarnya, “siapa akan menyusul?”

SUASANA dicengkam oleh kesepian. Tak ada yang terdengar selain desah nafas tegang di antara kemerisik daun-daun yang digerakkan angin. Orang-orang Pamingit yang memandang Wulungan dengan marah, serta orang-orang yang berdiri tegak di belakang Wulungan, menundukkan wajah mereka.

Sesaat kemudian terdengar Ki Ageng Lembu Sora berkata, “Para pemimpin laskar Pamingit harus menghadap aku sebelum matahari terbenam. Tak seorang pun berhak memberikan tafsiran atas peristiwa ini selain aku sendiri.”

Kemudian kepada Wulungan ia berkata, “Wulungan, ikut aku.”

Wulungan menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Baik Ki Ageng.”

Kepada orang-orang Pamingit yang lain, Lembu Sora berkata, “Selenggarakan pemakamannya baik-baik.”

Kemudian orang-orang yang berdiri berjejal-jejal itu mulai mengalir seperti air di dalam parit. Sebagian menuju ke banjar desa, sedang sebagian lagi ke rumah masing-masing. Perlahan-lahan jalan desa itu menjadi sepi kembali, selain beberapa orang yang sedang merawat tubuh Galunggung dan dibawanya ke pondoknya. Besok, sekali lagi mereka akan menyelenggarakan pemakaman. Galunggung tidak dimakamkan dengan upacara kebesaran seperti Sawung Sariti. Namun pemakaman itu pun akan diselenggarakan sebaik-baiknya.

Dalam perjalanan ke banjar desa, Mahesa Jenar berbisik kepada Kebo Kanigara yang berjalan di sampingnya, “Kakang, mayat Bugel Kaliki lenyap.”

Kebo Kanigara menoleh, matanya menjadi redup, tetapi kemudian ia tersenyum, “Aku belum memberitahukan kepadamu.”

“Kenapa?” tanya Mahesa Jenar.

“Ketika aku membawa kembali Sawung Sariti yang terluka aku telah meminta beberapa orang Pamingit untuk mengubur mayat itu,” jawab Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Sambil menggeleng- gelengkan kepalanya ia bergumam, “Sederhana sekali.”

Sekali lagi Kebo Kanigara tersenyum, “Ya, sederhana sekali. Apa kau sangka mayat itu hidup kembali? Kalau ia dapat hidup kembali maka mayat-mayat yang lain pun akan hidup pula. Dengan demikian sekali lagi kita harus berjuang melawan mereka.”

Mahesa Jenar tertawa. Menggelikan sekali. Arya Salaka pun kemudian diberitahunya pula.

“Ah,” sahut anak muda itu. “Aku menjadi gelisah karenanya.”

Ketika mereka sampai di banjar desa, mereka melihat perempuan-perempuan sedang sibuk mengerumuni Rara Wilis dan Endang Widuri yang duduk di samping Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora. Mereka tak habis-habisnya bertanya kenapa mereka dapat menyelamatkan diri mereka dan dengan penuh kekaguman mereka bertanya-tanya, bagaimana mereka dapat memiliki ilmu tata bela diri. Pertanyaan- pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Meskipun demikian Rara Wilis mencoba pula untuk menjawab satu demi satu.

“O,” sahut salah seorang, “Jadi orang tua berjanggut putih itukah yang bernama Ki Ageng Pandan Alas?”

“Ya, itu kakekku,” sahut Rara Wilis.

“Pantas, pantas Nini menjadi gadis perkasa,” kata yang lain. Ketika orang-orang yang datang dari pemakaman, setelah membasuh kaki mereka, memasuki banjar desa itu, maka perempuan itupun mengundurkan diri mereka untuk mempersiapkan minum serta makanan yang akan mereka hidangkan.

Demikianlah Pamingit dan Banyubiru telah melampaui suatu masa yang menyedihkan. Suatu masa yang tak dapat mereka lupakan. Ketika kemudian malam tiba, dan masing-masing telah terbaring di pembaringan, terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi. Meskipun gambaran-gambaran yang datang di dalam kenangan masing-masing tidak sama, tergantung dari apa yang pernah mereka lihat, dengar dan alami, namun mereka mempunyai persamaan kesimpulan. Bahkan Lembu Sora sendiri merasakan betapa kelakuannya hampir saja menenggelamkan kedua tanah perdikan itu. Tetapi dengan demikian, akhirnya ia menjadi ikhlas. Ikhlas atas segala kesedihan yang menimpanya. Ikhlas atas kematian anak satu-satunya.

Demikianlah agaknya Tuhan menghendaki, memberinya peringatan dan membawanya kembali ke jalan yang telah digariskan.

Di pondok itu, Mahesa Jenar duduk bersama-sama dengan Paningron, Gajah Alit, Gajah Sora dan Kebo Kanigara. Di bawah cahaya lampu minyak, tampaklah wajah mereka memancarkan kesungguhan pembicaraan yang sedang mereka lakukan.

“Pekerjaanku sudah selesai Kakang Tohjaya,” terdengar Gajah Alit berkata, “Sultan menghendaki penyelesaian yang sebaik-baiknya antara Banyubiru dan Pamingit. Kini agaknya penyelesaian itu telah ditemukan tanpa pertumpahan darah antara keduanya. Kalau kemudian jatuh korban, itu adalah karena perjuangan mereka mempertahankan tanah mereka dari sergapan setan-setan liar yang ingin memiliki keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang seterusnya mereka ingin merampas jalan ke tahta Demak.

GAJAH ALIT berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan, “Tetapi selain dari itu, aku mempunyai pekerjaan yang lain pula. Aku mendapat perintah untuk membawa Kakang Tohjaya kembali ke Demak.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, ia bertanya, “Sebagai tawanan?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” sahut Paningron cepat-cepat. “Persoalan yang ada beberapa tahun yang lalu di Demak kini telah dilupakan. Tidak saja kini. Sebenarnya sejak semula Sultan tidak pernah mengalami kegoncangan kepercayaan kepada Kakang Tohjaya. Tetapi meskipun demikian, tak apalah kalau Kakang ketahui, bahwa memang Sultan menjadi murka karena Kakang meninggalkan istana. Namun hanya sementara. Akhirnya Sultan mengambil keputusan untuk tidak mencari dan memanggil Kakang kembali, sebab akhirnya Sultan tahu apa yang Kakang lakukan. Disamping pengabdian Kakang kepada sesama, Kakang gigih mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

“Hem!” Sekali lagi Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tak pernah kesetiaannya kepada tanah dan pemerintahannya menjadi goncang, seperti Sultan tak pernah mengalami kegoncangan kepercayaan kepadanya. Tak pernah ia berpikir untuk menolak seandainya Sultan memanggilnya, meskipun sebagai tawanan. Mahesa Jenar menyesal pula, bahwa ia begitu saja pergi meninggalkan istana pada saat itu. Tetapi masa itu telah lampau. Yang penting baginya, bagaimanakah selanjutnya. Dan kini ia harus memberi jawaban, Kanjeng Sultan Trenggana memangilnya.

“Adi…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Aku tidak dapat menolak apa pun yang diperintahkannya kepadaku. Namun aku ingin semaya. Aku ingin mendapat waktu untuk melengkapi saranku menghadap Sultan. Aku telah berjanji untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena aku telah berjanji pula pada diri sendiri, bahwa aku tak akan mengakhiri usahaku itu sampai kapanpun, sebelum keris-keris itu dapat diketemukan.”

Gajah Alit tersenyum. Jawabnya, “Tepat. Kanjeng Sultan pun telah menebak apa yang akan kakang katakan. Dan karena itu Sultan memberi Kakang waktu. Tanpa batas. Kapan pun Kakang kehendaki membawa atau tidak membawa kedua keris itu, kakang akan diterima kembali. Sebab seandainya Kakang tidak dapat menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, itu tidak berarti bahwa apa yang telah Kakang lakukan dapat dilupakan. Sebab berhasil atau tidak, namun Kakang telah berjuang dengan mempertaruhkan jiwa dan raga Kakang.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Sampaikan sembah sujudku kepada Baginda. Aku tetap setia kepada sumpahku. Mudah-mudahan Tuhan berkenan memberi aku jalan untuk menghadapkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu.”

Kemudian ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing menundukkan kepalanya sambil merenungkan pembicaraan itu.

Di luar, malam menjadi semakin pekat. Bintang-bintang berhamburan di langit yang biru. Selembar-selembar mega yang putih mengalir dihembus angin.

Malam itu adalah malam terakhir Paningron dan Gajah Alit berada di Pamingit. Mereka pada pagi harinya, terpaksa kembali ke Demak, untuk melaporkan apa yang telah dilakukannya. Mengantarkan kembali Gajah Sora. Penyelesaian yang baik antara Pamingit dan Banyubiru. Tertumpasnya gerombolan-gerombolan liar yang mencoba menyusun kekuatan untuk menghadapi Demak, sehingga karenanya Demak tidak perlu mengirimkan pasukan bantuan kepada Banyubiru dan Pamingit. Rangga Tohjaya yang tidak mau melepaskan kewajiban yang dibebankannya sendiri di atas pundaknya, mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Tetapi tidak saja Paningron dan Gajah Alit yang pergi meninggalkan Pamingit. Gajah Sora dan Arya Salaka pun akhirnya beberapa hari kemudian, merasa bahwa mereka harus kembali ke tanah perdikannya. Mereka harus segera mengatur kembali pemerintahan tanah yang selama ini mengalami kegoncangan. Rakyat Banyubiru harus segera mengetahui bahwa akhirnya Ki Ageng Gajah Sora akan berada kembali di antara mereka. Karena itu, akhirnya mereka pun minta diri. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri tidak pula ketinggalan. Mereka ingin menyaksikan, betapa tanah yang seakan-akan telah kehilangan pamornya itu, kini menemukan kembali dirinya.

Perpisahan itu benar-benar mengharukan. Betapa semedhot-nya orang-orang Pamingit ketika mereka melihat laskar Banyubiru, rampak dalam barisan yang tertib, siap berjalan menempuh jalan yang menghubungkan kedua tanah perdikan yang dikepalai oleh dua orang bersaudara. Kakak-beradik yang hampir saja saling membinasakan. Untunglah bahwa Tuhan berkehendak lain.

Laskar itu akhirnya berjalan mendahului di bawah pimpinan Bantaran, Panjawi dan Jaladri. Laskar yang gagah berani itu berjalan menuruti jalan yang berliku-liku di lereng pegunungan, seperti seekor ular raksasa yang menjalar menuruni tebing, mendaki lereng-lereng bukit kecil menuju ke Rawa Pening.

DALAM perjalanan itu Widuri menjadi gembira. Dilarikannya kudanya di paling depan. Di mukanya terbentang lembah dan dipagari oleh bukit-bukit kecil. Sekali-kali perjalanan itu menurun, namun kadang-kadang harus mendaki lereng-lereng bukit yang berbaris seperti sebuah benteng yang kokoh kuat. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari telah condong. Widuri mengerutkan keningnya. Mereka berangkat terlalu siang. Mereka tidak akan dapat mencapai Banyubiru sebelum matahari terbenam. Sedang perjalanan itu tidak akan dapat cepat, karena Nyai Ageng Gajah Sora belum dapat menunggang kuda dengan baik. Meski demikian Widuri kadang-kadang memacu kudanya jauh ke depan. Kemudian sambil menanti kawan-kawannya ia berhenti diatas sebuah punhtuk yang menjorok. Dari sana ia dapat melihat, betapa luasnya tanah yang terbentang di hadapannya. Betapa besar alam. Dan betapa Maha Besar Sang Pencipta, yang telah mencipta langit dan bumi. Beribu, berjuta kali lipat dari apa yang dilihatnya itu, dari apa yang gumelar di hadapannya. Rombongan itu berjalan terus.

Meskipun perlahan-lahan namun mereka tetap maju, semakin lama semakin dekat dengan Banyubiru. Matahari yang mengapung di langit telah membayanglah punggung-punggung bukit. Sesaat kemudian membayanglah warna kuning tajam di atas pegunungan Candik Ala. Widuri tersenyum memandang warna itu. Tiba-tiba teringatlah olehnya warna-warna Candik Ala beberapa tahun yang lalu di Gedangan. Pada saat tiba-tiba saja mereka disergap oleh sepasang Uling dari Rawa Pening. Tetapi Uling itu telah tak ada lagi. Mereka telah dibinasakan oleh Arya Salaka.

“Hem!” gumamnya, “Alangkah gagahnya anak itu.”

Tiba-tiba wajah Widuri menjadi kemerah-merahan. Segera ia menoleh ke arah rombongannya. “Mudah-mudahan mereka tidak mendengar,” pikirnya. Gadis itu menjadi malu sendiri. Malu kepada pengakuannya, bahwa ia telah mengagumi Arya Salaka. Karena itu sekali lagi ia melarikan kudanya ke punthuk yang lain, sambil berusaha mengusir angan-angannya tentang anak muda dari lereng bukit Telamaya itu. Namun setiap kali ia berusaha melupakan, setiap kali angan-angan itu muncul kembali. Agaknya jauh di belakangnya, berjalanlah dengan kecepatan sedang seluruh rombongan.

Gajah Sora mendampingi istrinya bersama Arya Salaka. Di belakangnya, Ki Ageng Pandan Alas berjajar dengan Kebo Kanigara yang kadang-kadang menjadi cemas melihat kenakalan anaknya yang jauh di depan. Di belakang mereka, berkuda Mahesa Jenar, dan di sampingnya Rara Wilis. Tidak banyak yang mereka percakapkan di perjalanan. Hanya kadang-kadang saja Rara Wilis bertanya-tanya tentang daerah yang mereka lewati. Ketika Candik Ala membayang di langit, bertanyalah Rara Wilis, “Sudahkah kita sampai ke daerah tanah perdikan Banyubiru?”

Mahesa Jenar menggeleng, jawabnya, “Aku tidak tahu pasti, manakah batas antara kedua tanah perdikan itu.”

Rara Wilis mengangguk-anggukan kepalanya. Pandangannya kemudian beredar memandangi hutan-hutan yang masih bertebaran di lembah.

“Tanah itu belum digarap,” katanya.

“Masih cukup dengan sawah-sawah yang sudah ada,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi perkembangan penduduk Banyubiru demikian pesatnya. Dan hutan-hutan itu menanti tangan-tangan yang akan menggarapnya.”

Rara Wilis terdiam. Di perjalanan antara Pamingit dan Banyubiru, hampir tak dijumpainya pedesaan. Agaknya rakyat Banyubiru dan Pamingit lebih senang dedukuh pada pedukuhan yang tidak terlalu jauh jaraknya satu sama lain. Meskipun demikian sekali-kali mereka melewati pedukuhan pula. Pedukuhan-pedukuhan kecil, yang seakan-akan terpisah dari induk tanah perdikan mereka. Namun mereka pun merupakan sendi-sendi kehidupan yang tak dapat dilupakan.

“Adakah Kakang akan menetap di Banyubiru?” 

Mahesa Jenar tersentak mendengar pertanyaan Rara Wilis yang tiba-tiba itu. Untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana ia harus menjawabnya. Dipandanginya saja wajah gadis yang duduk di atas punggung kuda di sampingnya itu. Ketika Rara Wilis merasa betapa sepasang mata yang tajam memandanginya, ditundukkannya wajahnya dalam-dalam. Tanpa disengaja, Mahesa Jenar mengamat-amati wajah itu dengan seksama. Sejak semula ia memang mengagumi kecantikan Rara Wilis. Tetapi sejak perjuangannya mencari Nagasasra dan Sabuk Inten meningkat, serta usahanya untuk mengembalikan Arya Salaka hampir sampai pada titik puncaknya, ia tidak mempunyai waktu lagi untuk selalu memperhatikan wajah itu. Sekarang tiba-tiba ia mempunyai waktu itu. Namun hatinya menjadi tergoncang karenanya. Di wajah yang cantik itu, tampaklah beberapa bintik air mata.

MAHESA JENAR menarik nafas dalam-dalam. Baru sekarang dilihatnya kesayuan yang membayang di wajah yang cantik itu. Betapa gadis itu mengorbankan remajanya untuk memberinya kesempatan melakukan pengabdian mutlak kepada sesama dan kepada Tuhannya. Dua pengabdian yang tak mungkin dipisah-pisahkan. Mungkin pada saat-saat mendatang bukan berarti bahwa ia akan dapat mengabdikan pengabdian itu, namun ia sudah mempunyai waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Mahesa Jenar menjadi iba kepada gadis itu. Ia merasa bahwa sudah terlalu lama ia membiarkan gadis itu menahan hatinya, tanpa mendapat perhatiannya sama sekali. Telah terlalu lama ia membiarkan gadis itu merasa betapa sepi hidupnya. Tiba-tiba ia ingin menjelaskan kepada gadis itu, mengapa ia bersikap demikian. Perlahan-lahan terdengar Mahesa Jenar berkata, “Wilis, kalau sampai sedemikian lama aku berdiam diri, itu karena aku ingin hidup kelak tidak terganggu oleh kesanggupan dan janji diri. Aku ingin hidup tentram setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku harap kau dapat mengerti, bahwa apa yang aku lakukan adalah demi kebahagiaan kita kelak, bukan semata-mata aku membiarkan diriku melakukan pekerjaan yang aku senangi tanpa mempertimbangkan pendapatmu. Sebab …”

“Kakang!” potong Rara Wilis. Gadis itu mengangkat wajahnya dan memandang Mahesa Jenar tidak kalah tajamnya. Katanya meneruskan, “Kenapa Kakang berkata demikian? Apakah aku pernah menyatakan penyesalan atas semua yang pernah terjadi selama ini berjuang untuk suatu pengabdian, untuk memenuhi kewajiban yang Kakang letakkan di pundak Kakang? Sampai sekarang pun aku telah berusaha untuk membantu Kakang, setidak-tidaknya membesarkan hati Kakang agar Kakang dapat melakukan kuwajiban itu dengan tenang. Tentang diriku sendiri? Aku telah lama melupakan kepentingan itu. Aku telah biasa hidup dalam kesepian. Sejak ibuku meninggal dunia.”

Rara Wilis tak dapat meneruskan kata-katanya. Air matanya menjadi semakin deras mengair dan tangannya menjadi sibuk untuk mengusapnya.

“Maafkan aku Wilis,” desis Mahesa Jenar. Ia menyesal telah mengatakan apa yang tersimpan didalam hatinya. Ia menyesal bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak dikehendaki oleh Rara Wilis.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berkata, “Wilis, sekarang semua kewajiban itu sudah selesai.”

Rara Wilis terkejut. Ia mengangkat wajahnya yang basah. Seakan-akan ia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.

“Pekerjaanku telah selesai,” ulang Mahesa Jenar meyakinkan.

“Bagaimana dengan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?” tanya Rara Wilis.

“Keris itu sudah aku ketemukan,” jawab Mahesa Jenar.

“Sudah Kakang ketemukan?” Wajah Rara Wilis tiba-tiba menjadi cerah. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi suram kembali. Katanya, “Kakang hanya ingin menyenangkan hatiku. Atau hati Kakang menjadi patah dan tidak mau mencari kedua keris itu lagi?”

Cepat-cepat Mahesa Jenar menyahut, “Tidak, tidak Wilis. Aku sama sekali tidak akan menghentikan usahaku seandainya kedua pusaka itu belum dapat diketemukan. Tetapi kini kedua keris itu benar-benar telah dapat diketemukan.”

Perlahan-lahan wajah Rara Wilis menjadi cerah kembali. Namun dari kedua biji matanya yang hitam bulat masih memancar berbagai pertanyaan. Meskipun pertanyaan-pertanyaan itu tak terucapkan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengartikan. Karena itu ia berkata, “Wilis, kau tak perlu bercemas hati tentang kedua keris itu. Sudah sejak lama aku mengetahui, di mana kedua keris itu berada. Namun sampai saat ini belum tiba masanya kedua pusaka itu kembali ke istana.”

“Di manakah kedua keris itu?” tiba-tiba Rara Wilis bertanya. Mahesa Jenar ragu sejenak. Karena itu maka Rara Wilis segera berkata, “Maafkan, barangkali aku tidak perlu mengetahuinya.”

“Tidak apa Wilis,” sahut Mahesa Jenar cepat-cepat. “Kau boleh mengetahui beberapa bagian. Keris itu kini ada dalam simpanan Panembahan Ismaya.”

“Panembahan Ismaya?” Rara Wilis terkejut.

“Ya. Panembahan itulah yang telah mengambil kedua keris itu dari Banyubiru,” sahut Mahesa Jenar, “Namun apa yang dilakukan itu benar-benar tanpa pamrih. Panembahan hanya ingin menyelamatkannya dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk lagi. Kemungkinan kedua pusaka itu jatuh di tangan orang-orang seperti Sima Rodra, Bugel Kaliki dan sebagainya.”

“Darimana Kakang tahu?” tanya Rara Wilis.

“Dari Panembahan Ismaya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Tiba tiba saja persoalan yang seakan menghimpit dadanya seberat gunung Anakan terasa berguguran. Sebab selama ini kedua keris itu masih menjadi teka teki, iapun ikut serta merasakan betapa berat penanggungan hati Mahesa Jenar. Meskipun ia tidak tahu menhapa Mahesa Jenar tidak segera menyerahkan keris itu ke Demak namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Sebab persoalannya telah menjadi jelas dan Mahesa Jenar tidak perlu lagi merantau dan berjuang mati-matian untuk mencarinya.

Rara Wilis kemudian berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolaklah angan- angan seorang gadis. Seorang gadis yang telah berdiri di ambang pintu idaman. Yang berbicara kemudian adalah Mahesa Jenar, “Karena itu Wilis. Kita telah mempunyai waktu untuk berbicara tentang diri kita.”

Wajah Rara Wilis menjadi merah. Dadanya serasa berdesir. Waktu yang ditunggu- tunggu akhirnya akan datang. Namun ia tidak menjawab. “Segala kesulitan telah kita lampaui,” Mahesa Jenar meneruskan, “Mudah-mudahan kita tidak terlalu tua untuk mulai dengan suatu kehidupan baru.”

Betapa menyenangkan kata-kata itu. Namun Rara Wilis telah melampaui masa pergolakan jiwa. Karena itu ia dapat menanggapinya dengan wajar, dengan hati yang mengendap. Katanya, “Tidak Kakang. Tidak semua kesulitan telah selesai. Dalam hidup yang baru itu, kesulitan-kesulitan lain justru baru akan mulai. Kesulitan-kesulitan yang sekarang belum dapat kita bayangkan.”

Mahesa Jenar tersenyum. Senyum yang memancar dari hatinya yang cerah. “Kau benar Wilis.”

Kemudian keduanya berdiam diri. Angan-angan mereka terbang mengawang bersama mega-mega putih di langit. Tanpa dirasa, hari telah menjadi gelap. Bintang- bintang telah berhamburan menggantung di sisi bulan yang masih muda. Jarak mereka berdua pun telah menjadi semakin jauh dari Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara.

Maka berkatalah Mahesa Jenar kemudian, “Marilah kita susul mereka.”

Mereka mempercepat langkah kuda-kuda mereka. Ketika mereka telah berada tepat di belakang Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara, mereka melihat Endang Widuri pun telah memperlambat kudanya dan kemudian berhenti di tepi jalan menunggu kawan-kawan seperjuangannya. Angin malam berdesir menggerakkan daun-daun dan ujung batang-batang ilalang. Suara angup dan belalang saling bersahutan, menggores sepi malam. Rombongan itu berjalan dengan tenangnya. Sekali-sekali mendaki dan sekali-kali menurun.

“Kita belum melampaui laskar yang mendahului kita?” tanya Endang Widuri.

“Mereka telah sampai atau setidak-tidaknya hampir memasuki Banyubiru,” jawab Arya Salaka. “Bukankah kita juga hampir sampai?” tanya gadis itu pula.

“Ya!” jawab Arya, “Dari balik bukit di hadapan kita itu kita akan dapat melihat dataran di hadapan bukit Telamaya dan Rawa Pening.”

Widuri tidak berkata-kata lagi. Ia mengharap agar perjalanan itu lekas berakhir. Malam nanti ia dapat beristirahat dengan tenang. Dan besok pagi, mulailah masa istirahatnya. Ia akan dapat menikmati lembah di sekitar Rawa Pening dengan tenang tanpa suatu kegelisahan apapun. Ia tidak perlu berpikir tentang Uling Putih dan Uling Kuning, Nagapasa, Lawa Ijo dan sebagainya. Dengan getek ia dapat bermain-main di Rawa itu, sambil mengail. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika rombongan itu sampai di punggung bukit. Sebentar lagi akan tampaklah nyala-nyala lampu yang memancar dari lubang-lubang pintu. Atau obor-obor di simpang-simpang jalan yang gelap.

Karena itu tiba-tiba ia mempercepat jalan kudanya, kembali mendahului rombongan itu. Namun tiba-tiba ketika ia mencapai punggung bukit itu, ia terkejut. Di hadapannya, di lereng bukit Telamaya, dilihatnya api menjilat ke udara. Bukan obor, tetapi seperti beribu-ribu obor. Melihat nyala api itu, Endang Widuri tertegun. Tiba-tiba ia berteriak nyaring, “Kebakaran!”

Mendengar teriakan Widuri, Arya Salaka terkejut. Tanpa sesadarnya kakinya menyentuh perut kudanya, sehingga kuda itu berlari mendahului kawan-kawannya, menyusul Endang Widuri. Kemudian Arya Salaka pun melihat api itu pula. Sambil mengerutkan keningnya ia berpikir, Aneh. Api itu terlalu besar. Akhirnya yang lain-lain pun sampai ke dekat mereka pula. Mereka pun kemudian melihat api yang menjilat-jilat ke udara seperti akan menggapai bintang-bintang di langit.

Sesaat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara saling berpandangan. Kemudian terdengar Mahesa Jenar berdesis, “Kebakaran.”

Belum lagi ngiang suara hilang, terdengarlah lamat-lamat suara kentongan dilereng bukit Telamaya. Tiga-tiga ganda.

“Kebakaran?,” Ki Ageng Gajah Sora mengulang.

Tampaklah wajahnya menjadi merah dan giginya gemeretak. Katanya melanjutkan “Inilah sambutan tanah kelahiranku atas kedatanganku? Atau tanah ini sudah tidak mau menerima aku kembali?”

“Jangan berfikir terlalu jauh ngger,” potong Ki Ageng Pandan Alas, “ada bermacam-maca sebab yang menimbulkan kebakaran. Sebaiknya angger melihatnya.”

Ki Ageng GajahSora menoleh kepada isterinya. Ia ingin memacu kudanya, namun bagaimana dengan Nyai Ageng itu.

Ki Ageng Pandan Alas yang sudah tua memaklumi. Katanya “pergilah angger sekalian mendahului . Lihatlah apa yang  terjadi. Mungkin ada bahaya yang datang, tetapi mungkin juga karena kelengahan sendiri. Biarlah aku mengawani Nyai Ageng Gajah Sora dalam perjalanan yang tinggal beberapa langkah ini.”

Sekali lagi Gajah Sora memandang isterinya. Ketika isterinya mengangguk, maka berkatalah Gajah Sora, “aku mendahului paman.”

Gajah Sora tidak berkata-kata lagi. Disendalnya kendali kudanya dan sesaat kemudian kudanya menghambur seperti angin, disusul oleh Arya Salaka yang tak terpaut dua langkah dibelakang kuda ayahnya. Kemudian dibelakang mereka Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Wilis dan Widuri. Bahkan kemudian dengan gembiranya Widuri berpacu meskipun malam menjadi semakin gelap.

“Hati-hatilah Widuri,” ayahnya berteriak memperingatkan Widuri menoleh sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Derap kuda itu seperti akan memecahkan selaput telinga. Berdetak-detak diatas tanah liat yang berbatu-batu. Meskipun jalan itu tidak terlalu lebar dan naik turun menggelombang dilereng bukit, namun kuda-kuda itu berlari seperti dikejar hantu. Untunglah di langit ada bulan sehingga malam tidak terlalu pekat. Hanya kadang pohon-pohonan liar dipinggir jalan melindungi cahayanya yang kuning lemah.

Ketika mereka semakin dekat dengan Banyu Biru, tampaklah dihadapan mereka debu yang mengepul tinggi seperti awan tipis menyaput langit.

“Itulah mereka,” desis Arya Salaka ketika dilihatnya barisan dimuka perjalanannya.

Kuda Gajah Sora berlari kencang sekali. Dibelakang barisan BanyuBiru yang ternyata juga telah hampir sampai itu ia berteriak, “beri aku jalan.”

Barisan itu menepi. Beberapa ekor kuda berlari dengan kencangnya melampaui mereka. Terdengarlah kemudian Gajah Sora berkata, “api. kalian dengar kentongan tiga-tiga ganda?.”

“Ya,” sahut Bantaran berteriak, “kami mempercepat perjalanan kami.”

Ki Ageng Gajah Sora telah lampau. Yang menjawab adalah Arya Salaka, “Bagus. Mungkin orang yang sedang berputus asa mencari bela.”

Aryapun tidak sempat menungu jawaban mereka. Barisan BanyuBiru hanya melihat bayangan yang terbang disamping mereka. Kemudian bersama dengan lenyapnya gema suara telapak kaki kuda mereka, bayangan itupun telah lenyap pula ditelan oleh lindungan batang batang pohon dan ilalang.

Suara kentongan semakin nyaring. Dan penuhlah lembah Telamaya dengan bunyi Tiga-Tiga Ganda. Dan karena itu pula kuda GajahSora berlari semakin kencang menuju ke arah alun-alun Banyu Biru.

BanyuBiru menjadi ribut karena api yang tiba-tiba saja membakar hutan-hutan perdu dan alang-alang. Kalau api tidak segera dikuasai, maka api akan menjalar terus mendaki tebing. Apalagi sekali api menjilat hutan-hutan getah maka hutan itupun akan terbakar, dan lereng Bukit Telamaya akan menjadi lautan api.

Bukit itu sendiri akan segera menyala, dan hancurlah kehidupan diatasnya. Tegal-tegal, sawah sawah dan pohon buah-buahan dihutan-hutan peliharaan akan musnah.

Di alun-alun tampaklah beberapa orang sedang sibuk. Beratus-ratus orang telah keluar dari rumah mereka. Tidak saja orang lelaki, tetapi perempuan dan anak-anak. Mereka telah siap membawa lodong-lodong bambu untuk mencari air serta canting-canting besar dari pelepah batang upih. Namun dengan alat itu, mereka tidak akan dapat menguasai api yang membakar batang ilalang. Angin yang bertiup dari lembah seperti membantu mendorong api itu naik dilereng bukit yang damai itu.

Mantingan dan Wirasaba berusaha membantu Wanamerta yang tua. Mereka telah siap diatas punggung-punggung kuda. Yang terdengar adalah suara Wanamerta yang lantang, “Putuskan daerah ilalang. Tebang semua pohon-pohon perdu. Pisahkan daerah api dengan daerah yang masih selamat. Sekarang !”

Orang-orang itupun berlari-larian. Mereka melemparkan lodong-lodong bambu di tangan mereka. Sedang mereka berlari-lari pulang mengambil sabit, pedang, pacul dan senjata-senjata tajam mereka untuk menebang hutan-hutan perdu dan batang-batang ilalang. Rakyat Banyubiru menjadi kacau seperti gabah dalam tampian. Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta berusaha untuk menenangkan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka memberi petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan.

“Jangan bingung !” terdengar suara Mantingan gemuruh, “Semua pergi ke lereng. Tebang batang-batang ilalang yang belum termakan api supaya api tidak terus menjalar ke atas.”

Di sebelah lain Wirasaba berteriak tinggi, “Nah, yang sudah bersenjata di tangan masing-masing pergi sekarang juga. Jangan menunggu api api mendatangi kalian. Kalian harus menyerbu ke daerah api itu.” Wirasaba sendiri mendahului pergi ke lereng bukit Telamaya. Dengan kapak raksasanya ia menebas pohon-pohon perdu seperti menebas rumput-rumput saja. Tenaga raksasanya benar-benar dimanfaatkan untuk menyelamatkan hutan ilalang yang masih mungkin di selamatkan demi keselamatan Banyubiru.

Rakyat Banyubiru pun segera menggulung lengan baju mereka atau melepas baju mereka sama sekali. Dengan pedang, cangkul dan apa saja di tangan mereka, mereka berusaha untuk membuat antara yang dapat membatasi menjalarnya api.

Tetapi lereng itu sangat panjang. Api yang menyala-nyala itu tidak saja merambat ke atas, tetapi juga merambat ke samping membuat garis yang panjang, untuk kemudian perlahan-lahan mendaki tebing.

Gajah Sora sampai di alun-alun ketika rakyat Banyubiru sudah mulai berlari-larian meninggalkan alun-alun itu. Dilihatnya Wanamerta tua sedang sibuk memberi aba-aba kepada mereka. Dengan lantang Ki Ageng Gajah Sora berteriak, “Apa yang sudah Paman kerjakan ?”

Wanamerta terkejut. Suara itu telah agak lama tak didengarnya. Kini dalam keributan itu suara didengarnya kembali. Dengan lantang pula ia menjawab “Aku mencoba memisahkan daerah yang terbakar itu dengan yang lain, supaya api dapat di batasi.”

“Bagus,” sahut Gajah Sora. “Aku akan pergi ke lereng.”

Wanamerta tidak sempat berbuat lain. Dan dalam kesibukan itu, seakan-akan kehadiran Gajah Sora adalah kehadiran yang wajar. Seperti waktu lima enam tahun yang lampau itu, hanya sekejap mata saja. Seperti Gajah Sora tak pernah meninggalkan Banyubiru. Seolah-olah Kepala Tanah Perdikan itu baru saja keluar dari rumahnya di samping alun-alun itu. Gajah Sora memacu kudanya ke lereng. Ia melihat rakyat Banyubiru sedang berjuang untuk menyelamatkan tanah dan pedukuhan mereka dari kemusnahan.

Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun api itu menjalar terus.

Sejenak kemudian datanglah laskar Banyubiru yang lain. Mereka tidak sempat menjenguk keluarga mereka. Mereka tidak sempat menyatakan keselamatan diri mereka kepada keluarga mereka. Karena mereka pun segera ikut serta berjuang menebang pohon-pohon dan ilalang. Alangkah lambatnya pekerjaan itu. Beratus-ratus orang telah bekerja dengan dengan segenap tenaga, namun seakan-akan pekerjaan mereka tidak maju-maju.

Gajah Sora menjadi cemas. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Pecahkan tangki yang mengatur air dari Sendang Muncul. Airnya akan tumpah dan mengalir kemari. Bantulah membuat jalur-jalur, supaya airnya segera sampai ke daerah api. Mudah-mudahan ada pengaruhnya.”

Beberapa orang segera berlari-larian ketempat penyimpanan air. Air itu tampak menggenang tenang. Dalam dan cukup luas. Rakyat Banyubiru mempergunakan untuk mengairi sawah-sawah mereka di musim kering yang panjang. Tetapi kini mereka terpaksa memecahkan tangkis blumbang itu, untuk menyelamatkan bukit Telamaya dari kehancuran yang lebih besar, meskipun kemudian mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya, dan dengan demikian akan berarti pula bahwa mereka kehilangan kesempatan satu panen padi, dan harus menenaminya dengan palawija saja. Namun apa yang harus dilakukan sekarang ternyata tak dapat lain daripada mengalirkan air itu ke daerah yang terbakar.

Dengan cangkul, mereka berusaha memecahkan tangksi batu itu. Satu-satu mereka mendongkelnya dengan linggis dan kapak. Alangkah lambatnya.

Arya menjadi tidak telaten. Segera iapun berlari ke tempat itu, sambil berteriak nyaring ia meloncat di antara mereka yang sedang sibuk menyobek tangkis batu itu. “Semua minggir. Cepat.”

Orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi heran. Kenapa harus minggir. Bukankah mereka harus memecahkan tangkis batu itu ?

Tetapi segera mereka berloncatan ketika mereka melihat Arya Salaka berdiri tegak di atas satu kakinya, kakinya yang lain diangkatnya ke depan, satu tangannya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti api yang menjilat-jilat ke udara itu. Dengan penuh tenaga dan kemampuannya, Arya berteriak nyaring sambil meloncat maju. Tangannya itu diayunkankan keras sekali. Dan, terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat.

Aji Sasra Birawa menghantam tangkis itu. Maka pecahlah beberapa batu dan terlontar berserakan. Air dalam waduk itu bergolak, kemudian terlontar keluar lewat lubang yang dibuat oleh Arya Salaka. Suaranya bergemuruh seperti pasukan yang berbaris menyerbu musuh. Arya segera meloncat menghindari air itu. Demikian juga beberapa orang yang berdiri keheran-heranan melihat tandang anak muda itu.

Diantara mereka yang menjadi keheran-heranan adalah Ki Ageng Gajah Sora sendiri. Disamping harapannya yang tumbuh karena air yang melimpah itu, sehingga akan dapat mempengaruhi api yang sedang menyala-nyala itu, ia pun menjadi heran melihat tandang anaknya itu. Benar-benar diluar dugaannya. Sasra Birawa itu benar-benar mencengangkan.

Agaknya Arya dapat menerapkan ilmunya tidak saja untuk melawan musuh dan membinasakannya, namun kini mempergunakannya untuk keselamatan daerah Banyubiru dari bahaya api.

Air itu mengalir seperti seekor naga. Dengan cepatnya meluncur ke lerang. Beberapa orang sibuk membuat jalur-jalur untuk mengatur arahnya, sehingga dapat mencapai api yang sedang berkobar itu.

Lereng bukit Telamaya itu menjadi semakin ribut. Orang-orang berlarian kian kemari. Anak-anak yang ikut menebas batang-batang ilalang sudah menjadi ketakutan, karena api seakan siap untuk menerkam mereka. Namun air yang mengalir dari blumbang akan sekedar membantu mereka.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun ikut sibuk pula membantu mereka. Mereka berloncatan dengan pedang ditangan mereka, menebangi pohon-pohon perdu. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar tertarik pada asap yang mengepul di udara. Dilihatnya asap yang bergulung-gulung kehitam-hitaman. Sesaat ia berdiri tegak mengamat-amati asap itu. Ketika ia menoleh ke arah Kebo Kanigara, maka Kebo Kanigara pun mengangguk. Dengan berlari-lari Mahesa Jenar pergi mendekatinya sambil berbisik, “Kakang, aku melihat asap minyak. Entahlah, apakah minyak kelapa, jarak atau minyak kelenteng. Tetapi aku melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

“Aku berpikir demikian sejak tadi,” jawab Kebo Kanigara.

“Marilah kita lihat.” Jawab Mahesa Jenar.

“Aku ikut !” tiba-tiba suara kecil menyahut dibelakang mereka. Ketika mereka menoleh, mereka melihat Endang Widuri tersenyum. Sedang disampingnya berdiri Rara Wilis.

Sekali lagi Mahesa Jenar memandang berkeliling. Beratus-ratus orang sibuk bekerja dengan penuh tenaga.

“Tenaga kami tak sebrapa membantu disini, kakang.” Kata Mahesa Jenar, “Bagi kami, lebih penting melihat sumber kebakaran ini.”

Kebo Kanigara tidak menjawab. Denga tergesa-gesa ia melangkah ke arah kuda-kuda mereka tertambat. Mahesa Jenar, Endang Widuri dan Rara Wilis segera mengikutinya rapat dibelakangnya.

Sesaat kemudian empat ekor kuda menderu dengan lajunya. Tak seorangpun yang menaruh perhatian atas kuda-kuda itu, karena mereka sedang tenggelam dalam usaha menarik garis pemisah antara api dan tanah mereka. 

KEBO Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Endang Widuri segera mencari jalan, melingkari api yang sedang menyala-nyala itu, menuju ke tempat asap hitam yang bergulung di udara.

“Dari tempat itulah aku kira api menyala,” kata Mahesa Jenar.

“Ya,” jawab Kebo Kanigara singkat. Kuda mereka berpacu terus. Semakin lama semakin cepat. Lidah api yang menjilat langit mengatasi sinar bulan muda yang makin condong di arah barat. Sekali-kali mereka harus meloncati jurang-jurang sempit dan dangkal, namun sekali-sekali kuda harus menyusur jalan setapak di lereng bukit. Api yang menyala-nyala itupun menjadi semakin luas.

Di ujung nyala, asap yang hitam masih berputar-putar di langit, meskipun sudah semakin tipis. Seorang yang bertubuh tegap dan berwajah tampan, berdiri bertolak pinggang. Cahaya api yang menyala-nyala di hadapannya agaknya sangat menarik perhatiannya. Bibirnya yang tipis, selalu membayangkan sebuah senyum yang menarik. Dari matanya yang redup memancarlah cahaya yang aneh. Meskipun bibirnya selalu tersenyum, namun betapa matanya membayangkan kebencian dan dendam sebesar bukit. Ketika orang itu melihat api yang semakin besar, maka sambil bertolak pinggang ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya gemuruh memukul tebing-tebing pegunungan. Dari suara tertawanya itu terdengarlah ia berkata, “Musnahlah Banyubiru sekarang. Ternyata api itu menjalar terlampau cepat. Melampaui dugaanku semula. Apabila Banyubiru itu sudah menjadi abu, barulah puas hatiku. Dan barulah aku akan kembali ke Nusa Kambangan.”

Kembali suara tertawanya mengguntur. Namun tiba-tiba suara itu terputus, ia mendengar derap beberapa ekor kuda mendekatinya. Telinganya yang tajam segera dapat menduga, bahwa yang datang itu sedikitnya empat ekor kuda.

“Siapakah mereka ?” gumamnya, “Kalau yang datang itu cecurut-cecurut Banyubiru, maka mereka akan aku binasakan di dalam api. Tetapi bagaimana kalau Mahesa Jenar ?”

“Ah !” kata-katanya itu dibantahnya sendiri.

“Mahesa Jenar masih berada di Pimingit.” Meskipun demikian hatinya menjadi tidak enak.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati kudanya. Kemudian orang itupun meloncat ke punggung kudanya. “Lebih baik aku menyingkirkan siapa pun yang datang.” Dan segera kudanya itu pun dilarikannya. Tetapi mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang tajam itu bergerak menjauhi api.

“Itulah dia.” desis Mahesa Jenar dan dengan serta merta dengan pangkal kendali, kudanya dilecutnya habis-habisan, sehingga kuda itu berlari seperti gila. Disampingnya Kebo Kanigara pun mempercepat lari kudanya, sedang Endang Widuri menjadi gembira. Ia memang senang berpacu kuda. Tetapi Rara Wilis terpaksa semakin berhati-hati, sebab kudanya pun ikut berlari pula kencang-kencang. Tetapi kuda mereka tidak menjadi semakin dekat.

Tiba-tiba terdengar Widuri, yang berpacu dibelakang Kebo Kanigara berteriak nyaring, “Ayah, aku memotong jalan.”

Kebo Kanigara terkejut.

“Jangan !” jawabnya. Namun Widuri telah membelok, melalui padang ilalang. Ternyata Widuri memang mempunyai kecakapan naik kuda. Dengan lincahnya ia mengendalikan kudanya, memilih jalan yang memotong, meskipun sekali-sekali harus diloncatinya parit, ledokan batu padas dan gerumbul-gerumbul kecil.

Kebo Kanigara tidak tega membiarkan anaknya menempuh lapangan, perdu dan padas yang miring itu. Karena itu pun ia berpacu di belakang anaknya. Sedang Mahesa Jenar dan Rara Wilis tetap menempuh jalan semula, sebab mereka tidak mau buruannya kali ini lepas. Ternyata Widuri cakap memperhitungkan waktu. Ia berhasil memotong kejarannya beberapa langkah. Dengan satu loncatan panjang kudanya menjejakkan kakinya, lima langkah saja dihadapan kuda buruannya. Kuda Widuri itu masih maju lagi beberapa depa sebelum ia berhasil menghentikannya. Namun kehadirannya yang tiba-tiba itu telah mengejutkan kuda buruannya, sehingga kuda itu meloncat berdiri di atas kaki belakangnya dan meringkik-ringkik. Penunggangnya berusaha untuk menguasainya. Ternyata penunggangnya itu benar-benar cakap, sehingga sejenak kemudian kembali ke arah yang dapat dikuasainya dan dipacunya untuk berlari ke arah yang berlawanan.

Namun sekali lagi ia terpaksa menarik kekang kudanya, sebab dilihatnya dekat dibelakangnya dua orang lain yang sudah memperlambat kuda-kuda mereka. Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Akhirnya orang berkuda itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Di sekelilingnya duduk tegak di atas punggung kuda, Kebo Kanigara, Endang Widuri, Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Namun meskipun demikian, orang itu masih tersenyum, senyum iblis.  

Berdirilah segera bulu kuduk Rara Wilis melihat senyum itu. Ia sebenarnya tidak takut menghadapinya, tetapi perasaan aneh selalu menyentuh-nyentuh hatinya apabila melihat wajah itu. Jangankan melihat dan berhadapan muka, sedang mengenang senyum itu saja pun hatinya berdebar-debar. Sesaat suasana menjadi sepi. Nyala api dikejauhan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka mewarnai wajah mereka dengan warna-warna merah yang bergerak-gerak. Dan dalam kesepian itu terdengar Mahesa Jenar menggeram,”Kau agaknya Jaka Soka?”

Orang berkuda itu, yang tidak lain adalah Jaka Soka menarik senyumnya lebih lebar lagi. Jawabnya “Ya,kenapa?”

“Kau tahu akibatnya dari perbuatanmu itu?” tanya Mahesa Jenar. Jaka Soka tertawa, katanya, “Aku tahu pasti. Banybiru akan musnah.”

“Orang-orang yang tak tahu apa-apa pun akan menderita karenanya. Perempuan dan anak-anak.” Desak Mahesa Jenar.

“Aku tahu pasti,” sahut Jaka Soka, “Dan itulah tujuanku”.

“Juga perempuan dan anak-anak?” potong Endang Widuri. “Ya. Semua yang hidup diatasnya,” jawab Jaka Soka.

“Setan,” desis Widuri. Sekali lagi Jaka Soka tertawa, katanya, “Apa pedulimu terhadap perempuan dan anak-anak Banyubiru? Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan mereka. Dan kini aku telah menyaksikan pertunjukan yang mengasikkkan. Perempuan dan anak-anak Banyubiru menangis melolong-lolong ketakutan”.

Sekali lagi suara tertawa Ular Laut itu menggetarkan udara lembah yang lembab namun panas itu. Panas karena nyala api di lereng bukit Telamaya, panas karena hati yang terbakar oleh kemarahan.

“Kau salah sangka,” terdengar suara Kebo Kanigara datar. “Perempuan dan anak-anak di Banyubiru tidak menangis dan melolong-lolong dan berlari kian kemari. Tetapi mereka sedang bekerja keras menebang batang-batang ilalang untuk menghentikan apimu yang menyala-nyala itu.”

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Seleret pandang, tampaklah wajahnya menjadi kecewa. Tetapi kemudian sekali lagi tertawa, “Kau bermimpi agaknya, perempuan dan anak-anak sekarang sedang menangis dan putus asa.”

“Kau sedang berusaha memuaskan hatimu sendiri dengan angan-anganmu,” sahut Kebo Kanigara. Sekali wajah itu menjadi tegang. “Nah, sekarang ikut kami. Mintalah ma’af kepada rakyat Banyubiru,” kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata itu tiba-tiba Jaka Soka tertawa nyaring, jawabnya, “Sejak kapan kau menjadi pengecut Mahesa Jenar? Kau tidak berani menangkap sendiri, bahkan berempat. Kau coba membujuk aku nanti beramai-ramai menangkap bersama-sama laskar Banyubiru.”

Mahesa Jenar menarik napas. Kata-kata itu benar-benar menusuk perasaannya. Namun ia sadar, bahwa kata-kata itu terlontar, karena kekerdilan Jaka Soka yang pasti sudah mengakui, ia akan dapat melawan. Jaka Soka sendiri mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil membunuh Sima Rodra.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, berkatalah Jaka Soka, “Atau kalian ingin menangkap aku hidup-hidup atas permintaan gadis ini?”

Hati Rara Wilis berdesir. Kata-kata itu benar-benar memuakkan. Apalagi ketika Jaka Soka meneruskan sambil tersenyum dengan mata yang redup, “Akhirnya kaulah yang mencari aku, Wilis.” “Jangan membual,” potong Rara Wilis. Suaranya bergetar karena marah.

Namun tiba-tiba terdengar Endang Widuri tertawa pula. Katanya, “Nah, kau benar paman Soka. Hampir tiap hari Bibi Wilis bermimpi tentang kau. Tentang seekor Ular Laut yang berwajah tampan.”

Semua orang menoleh ke arahnya. Dam semua mata memandangnya dengan tajam. Namun Widuri masih tertawa-tawa saja sambil berkata terus, “Adakah kau juga bermimpi tentang bibi Wilis, paman yang baik?”

Jaka Soka kini tidak lagi tersenyum. Ia memandang gadis itu dengan tajamnya, seakan-akan biji matanya hendak melontar keluar. Tetapi kata-kata Widuri meluncur terus, “Alangkah indahnya bulan di awan. Alangkah tampannya Ular Laut dari Nusakambangan. He, paman. Tidak saja bibi Wilis tergila-gila padamu. Akupun juga tidak pernah melupakanmu. Sayang, rakyat Banyubiru sedang mencari tumbal untuk memperbaiki tangkis yang pecah, karena airnya dialirkan untuk memadamkan apimu. Dan tumbal itu adalah Ular Laut yang berwajah tampan. Sehingga mimpi kami berdua tentang Paman Soka tak akan pernah kami alami lagi.”

“Tutup mulutmu !” bentak Jaka Soka marah.

Namun sekarang Widuri lah yang tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah, Paman. Paman lebih tampan kalau Paman sedang tersenyum dan memandang Bibi dengan mata yang redup.”

“GILA KAU!” bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan. Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, “Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?”

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, “Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?”

“Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka,” jawab Mahesa Jenar.

“Ya!” sahut Jaka Soka, “Menangkap aku hidup atau mati.”

“Kurang tepat!” potong Mahesa Jenar, “Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas.”

“Uh, kalian akan menghukum aku?” kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali.

“Bukan kami,” sahut Mahesa Jenar, “Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik.”

“Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya,” kata Jaka Soka.

“Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup.”

“Hem!” Mahesa Jenar bergumam, “Jangan keras kepala.”

Kembali Ular Laut itu tertawa, “Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?” “Sudah kami jawab,” jawab Mahesa Jenar.

“O,” desis Jaka Soka, “Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku.”

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar, “Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu.”

“Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu,” potong Jaka Soka, “Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu.”

“Ai!” teriak Widuri, “Bagaimana kami hidup tanpa kepala?”

“Kau yang pertama-tama!” teriak Jaka Soka marah.

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. “Adakah itu keputusanmu?”

“Ya,” jawab Jaka Soka, “Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, “Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama.”

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. “Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, “Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami.”

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta. –

“GILA KAU!” bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan.

Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, “Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?”

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, “Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?”

“Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka,” jawab Mahesa Jenar.

“Ya!” sahut Jaka Soka, “Menangkap aku hidup atau mati.”

“Kurang tepat!” potong Mahesa Jenar, “Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas.”

“Uh, kalian akan menghukum aku?” kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali.

“Bukan kami,” sahut Mahesa Jenar, “Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik.”

“Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya,” kata Jaka Soka. “Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup.”

“Hem!” Mahesa Jenar bergumam, “Jangan keras kepala.”

Kembali Ular Laut itu tertawa, “Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?”

“Sudah kami jawab,” jawab Mahesa Jenar.

“O,” desis Jaka Soka, “Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku.”

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar, “Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu.”

“Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu,” potong Jaka Soka, “Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu.”

“Ai!” teriak Widuri, “Bagaimana kami hidup tanpa kepala?”

“Kau yang pertama-tama!” teriak Jaka Soka marah.

“Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. “Adakah itu keputusanmu?”

“Ya,” jawab Jaka Soka, “Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, “Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama.”

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. “Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, “Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami.”

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta.

TIBA-TIBA wajah gadis itu menjadi terkejut ketika Jaka Soka menyahut dengan gembira, “Keputusan telah jatuh. Baiklah aku memilih lawanku.”

Dengan lincahnya ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian berdiri tegak menghadap Rara Wilis sambil mengangguk dalam-dalam, “Kau akan mendapat kehormatan.”

“Gila!” teriak Widuri lantang.

“Aku telah memilih,” potong Jaka Soka. “Tetapi kau berkata bahwa akulah yang pertama-tama akan kau penggal lehernya,” bantah Widuri.

“Aku ubah keputusanku,” jawab Jaka Soka.

“Kami ubah keputusan kami,” sahut Widuri sambil meloncat turun dari kudanya pula, “Akulah lawanmu.” “Widuri!” Terdengar kemudian suara Rara Wilis perlahan-lahan, “Biarlah aku menerima pilihannya.” Widuri terhenti. Dipandangnya Rara Wilis dengan tajam. Sekali-kali matanya berkisar kepada Kebo Kanigara, ayahnya, dan kepada Mahesa Jenar. Terasalah betapa ia telah berbuat sesuatu kesalahan. Kalau terjadi sesuatu dengan Rara Wilis, maka dirinyalah sumber dari malapetaka itu. Apalagi ketika dilihatnya wajah-wajah Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar yang menjadi tegang.

“Ayah!” Tiba-tiba ia berteriak dan berlari memeluk kaki ayahnya.

“Bukankah Ayah dapat mencegahnya? Bunuh sajalah Ular Laut yang gila itu.”

Wajah Kebo Kanigara menjadi semakin tegang. Timbul juga di dalam benaknya maksud untuk mengakhiri ketegangan itu dengan membunuh saja Jaka Soka. Namun bagaimanakah tanggapan Rara Wilis? Adakah gadis itu tidak merasa direndahkan? Dalam pada itu terdengar Jaka Soka berkata, “Bagaimana? Apakah kalian akan bertempur bersama?”

“Tidak!” potong Rara Wilis tegas. “Aku akan mewakili.”

“Wilis,” terdengar suara Mahesa Jenar bergetar. Namun ia melihat gadis itu perlahan-lahan turun dari kudanya. Sekali-kali hatinya berdesir melihat senyum iblis di bibir Jaka Soka, namun kemudian bergolaklah darah Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah laki-laki jantan dari Gunung Kidul yang telah menyerahkan hidup matinya bagi ketentraman hidup sesama.

“Ha?” kata Jaka Soka, “Agaknya kau benar-benar gadis berhati jantan. Tetapi benarkah kau mau melawan aku?”

“Jangan banyak bicara,” sahut Rara Wilis, “Aku sudah siap.”

“Ha?” Jaka Soka berkata lagi, “Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian telah ikhlas melepaskan gadis yang cantik ini?” Mahesa Jenar menggeram. Tetapi ia masih duduk di atas punggung kudanya. Kemudian kepada Rara Wilis, Jaka Soka berkata, “Wilis, aku akan menurut perintahmu meskipun aku akan dihukum seumur hidupku atau dibunuh sekali pun asal kau bersedia menjadi istriku.”

“Gila!” teriak Widuri marah, “Kalau kau dihukum mati, apakah Bibi Wilis harus menjadi istri mayatmu?” “Tentu saja aku minta waktu,” sahut Jaka Soka, “Sebulan atau dua bulan sebelum aku naik ke tiang gantungan.”

“Aku sudah bersedia,” potong Wilis, “Jangan mengigau.”

“Sayang,” jawab Jaka Soka, “Setangkai bunga yang betapapun indahnya, apabila aku mendapat kesempatan untuk memiliki, lebih baik aku runtuhkan daun mahkotanya.”

“Mulailah,” potong Rara Wilis tidak sabar. Ia menjadi semakin muak melihat wajah itu. Widuri menjadi semakin berdebar-debar. Digoncang-goncangnya kaki ayahnya yang masih duduk di atas punggung kuda. “Ayah, bunuh sajalah iblis itu.”

Kebo Kanigara tidak bergerak. Ia tidak dapat berbuat sesuatu sedang Mahesa Jenar senditi tak berbuat sesuatu pula. Hanya hatinya sajalah yang seakan-akan meloncat mencekik Ular Laut yang licik itu.

TIBA-TIBA terdengar suara Mahesa Jenar berdesir, “Wilis. Kau dapat menolak pilihan itu.”

“Tidak Kakang,” jawab Rara Wilis, “Aku harus menjunjung tinggi nama perguruan Pandan Alas.”

“Itu semata-mata karena harga diri,” sahut Mahesa Jenar, “Tetapi persoalan Jaka Soka yang telah membakar lereng bukit Telamaya adalah jauh lebih luas dari harga diri seseorang.”

“Terserahlah, kalau ternyata kemudian aku telah dibinasakan olehnya,” jawab Wilis.

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Hatinya mengumpat-umpat atas kelicikan Jaka Soka. Yang dapat dilakukan hanyalah berdoa semoga Tuhan melindungi gadis yang telah menjadikan dirinya wakil untuk melawan Jaka Soka itu. Kini Jaka Soka telah berdiri berhadapan dengan Rara Wilis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tidak dapat tetap duduk di atas punggung kuda, karena itu segera mereka berloncatan turun. Sesaat kemudian, Jaka Soka dan Rara Wilis telah mencabut senjata masing-masing.

Pedang Jaka Soka yang lentur di tangan kanan, sedang wrangkanya, tongkat hitam di tangan kiri. Adapun di tangan Rara Wilis telah tergenggam sebilah pedang yang tipis.

“Nah, marilah,” desis Jaka Soka sambil tersenyum, “Selamanya aku menghormati perempuan.”

Rara Wilis tidak menjawab. Namun segera ia mulai menggerakkan pedangnya dengan ilmu pedang ajaran Ki Ageng Pandan Alas. Pedang itu seakan-akan selalu bergerak dan bergetar, sehingga untuk sesaat Jaka Soka menjadi bingung. Ia tidak dapat memperhitungkan kemana kira-kira ujung pedang itu akan mengarah.

Namun kemudian Ular Laut yang telah kenyang pahit getir pertempuran dan perkelahian di darat maupun di lautan itu menjadi gembira. Dengan lincahnya ia bergerak menyerang dengan sengitnya. Dan perkelahian itupun berkobar dengan dahsyatnya.

Pedang Jaka Soka bergerak dengan cepatnya, mematuk-matuk seperti beribu-ribu mulut ular yang menyerang dari segala arah, namun Wilis benar-benar seperti bunga Pudak. Bunga pandan yang dikelilingi oleh duri-duri yang tajam, sehingga beribu-ribu ular itu tak dapat mendekatinya. Jaka Soka murid Nagapasa itu kemudian menjadi heran akan keterampilan Rara Wilis. Seperti di Banyubiru beberapa waktu lampau, meksipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya namun murid Ki Ageng Pandan Alas itu dapat mengimbanginya. Sekali-kali bahkan serangan-serangan yang berbahaya hampir saja menyentuh tubuhnya. Tetapi Jaka Soka benar-benar licik. Ia dapat berbuat seperti iblis yang selicik-liciknya. Ketika usahanya tidak juga segera berhasil mendesak lawannya, maka dengan liciknya ia mempengaruhi perasaan lawannya. Ketika mereka terlibat dalam satu pergulatan yang sengit tiba-tiba berbisiklah Jaka Soka dengan tersenyum, “Wilis kau benar-benar gadis yang cantik.”

Hati Rara Wilis berdesir. Cepat ia meloncat surut. Nafasnya mengalir semakin cepat. Pengaruh kata-kata itu lebih dahsyat daripada tusukan pedang lawannya. Karena itu tubuhnya menjadi gemetar.

Meskipun kemarahannya menjadi semakin memuncak, namun ia tidak dapat melenyapkan jiwa kegadisannya. Ia menjadi ngeri mendengar kata-kata itu. Pada saat-saat yang demikian itulah Jaka Soka mengambil kesempatan. Dengan lincahnya ia meloncat menyerang. Untunglah Rara Wilis masih dapat menguasai dirinya sehingga ia masih sempat melihat serangan Ular Laut yang ganas itu. Maka sekali lagi pertempuran berkobar dengan sengitnya.

Tetapi kini Jaka Soka telah memiliki kunci kelemahan perasaan hati seorang gadis. Karena itu Ular Laut yang ganas itu menjadi semakin gembira. Ia ingin melihat betapa hancur hati Mahesa Jenar melihat gadis cantik yang telah merebut hatinya itu menjadi permainannya. Kelicikan hatinya, meyakinkan, bahwa Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis segera berpegang teguh pada sifat-sifat kejantanan mereka. Justru karena itulah, maka sifat-sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan oleh iblis yang licin itu. 

Tetapi bagaimanakah dengan gadis kecil yang nakal itu? Kalau tiba-tiba ia menyerbunya, maka entahlah apakah ia masih dapat bertahan melawan keduanya. Namun ia mengharap bahwa Rara Wilis lah yang akan mencegahnya. Jaka Soka bertempur terus sambil tersenyum. Kadang-kadang meluncurlah dari bibirnya yang tipis itu, kata-kata lembut untuk meruntuhkan hati lawannya.

Kadang-kadang ia merayu dengan manisnya kadang-kadang memuji dengan mesranya.

Mahesa Jenar akhirnya melihat kelicikan itu. Dengan marahnya ia menggeram, “Soka, kau telah berbuat curang.”

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

1 Komentar

  1. Dewi said,

    Kamis, 10 Maret 2011 pada 14:23

    karya y bagus jg y


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: