Tanah Warisan | Jilid 3

Lanjutan dari jilid 2

Dengan demikian, maka sejak peristiwa itu Ratri jarang sekali keluar dari rumahnya, apalagi dari halaman. Ia selalu berada di dalam biliknya, atau berjalan-jalan di ruang dalam. Hanya kadang-kadang sekali ia turun ke halaman apabila ia telah menjadi rindu sekali menghirup cahaya matahari yang cerah.

Sementara itu, berita tentang hal itu telah tersebar di seluruh Kademangan. Hampir setiap mulut mempercakapkannya. Tidak terkecuali Panjang, anggota pengawal Kademangan yang baru.

Ketika ia pulang dari Kademangan di saat matahari terbenam, ia melihat Bramanti sedang menyalakan lampu regolnya, sehingga karena itu ia pun berhenti.

“He,” sapanya. “Lampumu terlampau kecil.”

Bramanti berpaling. Kemudian ia tersenyum. “Aku harus menghemat minyak.”

Panjang kemudian singgah ke halaman itu. Mereka duduk berdua bersandar dinding regol.

“Darimana kau Panjang?” bertanya Bramanti.

“Dari Kademangan,” jawab Panjang pendek.

“Apakah akan ada keramaian lagi di Kademangan?” bertanya Bramanti.

Panjang menggelengkan kepalanya, “Ekor dari keramaian yang dahulu itupun masih belum terlupakan.”

“Kenapa?”

“Ratri.”

“Kenapa dengan Ratri?”

“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Aku telah mendengar bahwa telah terjadi keributan. Tetapi aku tidak jelas apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Dimanakah kau malam itu, ketika di Kademangan ada keramaian?”

“Di rumah.”

“Apakah kau tidak melihat ke Kademangan?”

“Ya, aku melihat. Tetapi aku pulang sebelum keramaian itu selesai.”

“Kenapa?”

“Aku terlampau lelah.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Bramanti seakan-akan ia sedang mencari sesuatu di antara hitam matanya.

“Sekali lagi Kademangan kita dijamah oleh seseorang yang diliputi oleh rahasia yang sangat gelap,” berkata Panjang kemudian.

Bramanti tidak menyahut, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Hampir saja Ratri menjadi korban.”

“Korban apa?”

“Panembahan Sekar Jagat.” jawab Panjang, lalu “Maksudku orang-orang Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa kau tidak terkejut, atau menjadi heran atau dengan serta merta memberikan tanggapan?”

Bramanti tergagap. Namun ia kemudian menjawab, “Aku menunggu kau selesai berbicara.”

Panjang menarik nafas. Katanya, “Baiklah. Aku teruskan. Saat itu Ratri berjalan bersama dua kawannya diantar oleh Temunggul dan seorang kawan. Tetapi mereka tidak dapat melawan Wanda Geni dan tiga orang kawannya.

“Bukan mengalahkannya yang penting bagi Temunggul,” sahut Bramanti. “Tetapi keberaniannya untuk melawan. Itulah yang seharusnya dilakukan sejak semula. Kalau Temunggul dan para pengawal Kademangan ini berani berbuat demikian, aku kira Panembahan Sekar Jagat harus berpikir untuk kesekian kalinya, apabila ia masih akan meneruskan perampokan yang selalu dilakukan itu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Temunggul memang sudah melakukannya. Agaknya ia merasa, bahwa waktunya memang sudah tiba untuk melakukan perlawanan.”

“Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang. Seharusnya Temunggul bersikap demikian sepanjang waktu, justru untuk kepentingan seluruh Kademangan.”

“Dari siapa kau meniru anggapan itu atasnya?”

Sekali lagi Bramanti tergagap. Dan ia mendengar Panjang berkata seterusnya. “Aku mendengar dari pengawal yang mengawani Temunggul saat itu, bahwa kemudian hadir seseorang yang diliputi oleh rahasia itu, dan mengatakan tentang Temunggul seperti yang kau katakan.”

Sejenak Bramanti tidak menjawab. Tetapi sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah kau tidak beranggapan begitu?”

“Ya, aku pun beranggapan begitu. Kita memang harus bersikap demikian dalam segala kepentingan.”

“Dan bukankah kau, aku dan orang itu dapat berpendirian serupa sebelum kita berbicara dan memperbincangkannya.”

Sekali lagi Panjang menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi,” katanya kemudian, “Orang aneh itu pun sangat menarik perhatian. Orang itu menyebut dirinya bernama Putut Sabuk Tampar. Utusan Resi Panji Sekar.”

“Apakah Temunggul tidak dapat mengenal orang itu apabila suatu kali ia bertemu lagi?”

Panjang menggelengkan kepalanya. “Orang itu sengaja menyembunyikan pribadinya. Suaranya pun dibuat-buatnya sehingga melengking-lengking tidak karuan. Sikapnya dan tata gerak disaat-saat ia bertempur, sama sekali tidak dapat dikenal. Semuanya serba berlebih-lebihan dan bahkan mirip dengan seseorang yang sedang bermain-main.”

“Aneh,” gumam Bramanti. “Apakah pamrihnya, sehingga orang itu tidak mau menyatakan dirinya?”

“Kami tidak tahu. Temunggul tidak tahu, dan Ratri juga tidak tahu.” Panjang berhenti sebentar, lalu, “Tetapi menurut dugaanku orang itu agaknya orang yang telah menolong aku itu pula.”

“Ketika kau melakukan pendadaran dengan berkelahi melawan harimau itu?”

“Ya,”

“Apakah hubungannya?”

“Keduanya datang dengan tiba-tiba pada saat yang diperlukan, dan keduanya menghilang dengan tiba-tiba pula. Keduanya tidak mau memperkenalkan dirinya dan keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang tidak akan kita temui di Kademangan kita ini.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin, memang mungkin,” desisnya, “Mungkin orang itu benar-benar orang Resi Panji Sekar.”

“Mungkin,” gumam Panjang. “Memang mungkin.”

Keduanya pun kemudian saling berdiam diri, seolah-olah sedang mendengarkan desir angin di dedaunan di malam yang menjadi semakin kelam.

Tiba-tiba Panjang berdesah sambil berdiri, “Sudah gelap. Aku akan pulang.”

“O,” Bramanti tersadar, “Begitu tergesa-gesa? Aku sebenarnya ingin mempersilakan kau naik ke pandapa.”

“Terima kasih. Lain kali aku akan selalu datang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di halaman rumah ini.”

“Apakah yang aneh itu?”

“Aku tidak tahu, tetapi seolah-olah dilingkungan dinding halaman ini pun tersembunyi suatu rahasia. Rahasia yang tidak mudah ditebak.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Kau bergurau.”

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Mungkin kau terlampau terpengaruh oleh kehidupan kita di masa kanak-kanak. Rumah ini kini sudah berubah sama sekali, sehingga seolah-olah di dalamnya tersimpan suatu rahasia yang gelap. Tetapi sebenarnya itu sama sekali bukan rahasia. Justru kenyataan yang terhampar siang dan malam.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Tidak Panjang. Aku lebih senang tidur di rumah.”

“Bukankah katamu kau tidur di kandang?”

Ya. Aku memang tidur di kandang. Tidak terlampau panas, tetapi juga tidak terlampau dingin.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Satu-satu ia melangkahkan kakinya melangkahi tlundak regol halaman. Di luar regol ia berhenti sejenak sambil berpaling. “Tetapi tawanan yang di dapat malam itu, kini sudah dilepaskan.”

“He,” Bramanti mengerutkan keningnya. Sejenak wajahnya menjadi tegang, namun kemudian kesan itu pun segera lenyap. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya, “Tetapi, kenapa dilepas? Aku memang sudah menyangka, bahwa dengan demikian kita akan merasa lebih aman.”

“Ya.” Dan orang itu telah memberikan jaminan, bahwa Panembahan Sekar Jagat pasti akan mencegah apabila ada orang-orangnya yang masih akan mengganggu gadis-gadis.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kita dapat mempercayainya?”

“Mudah-mudahan ia dapat dipercaya. Dan agaknya ia pun bersungguh-sungguh.”

“Apakah kau melihat sendiri?”

“Aku melihat sendiri. Semua pengawal berkumpul di Kademangan ketika kami melepaskannya.”

Bramanti tidak segera menjawab. Tampaklah ia termenung, namun kemudian ia berdesis. “Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.”

Panjang tidak menjawab lagi, tetapi ia berkata, “Selamat malam. Aku akan pulang.”

Sepeninggalan Panjang, Bramanti kemudian duduk termenung ditangga pendapa. Dipandanginya kehitaman malam yang menjadi semakin pekat. Lampu minyak diregol halaman tergetar karena angin yang bertiup dari Selatan.

Bramanti berpaling ketika ia mendengar ibunya memanggilnya.

“Makanlah,” berkata ibunya.

Bramanti pun kemudian berdiri dan berjalan ke dapur.

Meskipun kemudian tangan Bramanti memegang mangkuk tanah yang berisi nasi, namun hatinya menjalar ke dunia angan-angannya yang tidak bertepi. Dunia yang dapat menampung segala macam kejadian dan peristiwa.

Tanpa disadarinya, Bramanti telah membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi, apabila Ratri tidak tertolong saat itu. Ia dapat menduga, apa saja yang akan dilakukan oleh Wanda Geni. Dan tiba-tiba saja ia berdesah di dalam hatinya. “Kasihan Ratri. Ternyata Temunggul tidak mampu melindunginya.”

Bramanti yang mula-mula sama sekali tidak menaruh perhatian atas Ratri, justru lambat laun ia mulai membayangkannya. Ia mulai mereka-reka wajah gadis itu di dalam angan-angannya. Namun setiap kali ia menghentakkannya sambil bergumam kepada diri sendiri. “Aku agaknya akan mencari persoalan.”

Tetapi wajah Ratri semakin membayang di rongga matanya.

Setelah makan, Bramanti pun minta diri kepada ibunya, untuk tidur di kandang yang kosong, seperti hampir setiap malam dilakukannya.

Namun agaknya malam terasa terlampau panas, sehingga hampir di tengah malam Bramanti keluar dari dalam kandang. Setelah mengamati keadaan sekitarnya, maka ia pun kemudian melangkah perlahan-lahan mengitari rumahnya. Namun agaknya Ia menjadi jemu, sehingga dengan demikian, maka ia pun berjalan keluar regol halaman.

Bramanti tidak tahu, kemana ia akan pergi. Tetapi ditelusurinya saja lorong yang membujur lewat di depan regol halamannya. Selangkah demi selangkah, semakin lama semakin jauh. Ketika ayam jantan mulai berkokok di tengah malam, Bramanti tersadar, bahwa ia telah berada di depan rumah Ratri.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti akan menjadi persoalan yang berlarut-larut.

Namun sejenak kemudian tiba-tiba Bramanti itu melenting dan bersembunyi di balik dinding halaman rumah Ratri itu. Ia mendengar langkah yang semakin lama menjadi semakin dekat.

Bramanti menarik keningnya. Di dalam keremangan cahaya lampu regol halaman ia melihat dua orang berhenti di regol itu. Ternyata mereka adalah Temunggul dan ayah Ratri.

Dada Bramanti menjadi berdebar-debar karenanya. Dan sejenak kemudian ia mendengar ayah Ratri berkata, “Terima kasih ngger. Kau sudah mau bersusah payah mengantarkan aku sampai ke rumah.”

“Ah,” jawab Temunggul. “Itu termasuk tugasku paman.”

“Ya, tugasmu adalah tugas yang sangat berat,” ayah Ratri berhenti sejenak, kemudian, “Eh, tetapi, tetapi, meskipun tugasmu sudah berat, aku masih minta kau membantu mengawasi Ratri. Aku percaya kepadamu ngger. Meskipun kau gagal mengalahkan Wanda Geni, tetapi aku kira kau adalah orang yang paling kuat di Kademangan ini selain Ki Jagabaya dan Ki Demang. Kalau aku tidak mempercayakan Ratri kepadamu, maka orang-orang lain pasti akan lebih tidak dapat dipercaya lagi.”

Wajah Temunggul tertunduk karenanya, “Terima kasih atas kepercayaan itu paman.”

“Kalau bukan kau yang harus menjaganya, siapa lagi,” berkata ayah Ratri seterusnya.

“Terima kasih paman.”

“Nah, selamat malam. Mudah-mudahan dalam menunaikan tugasmu, kau jangan lengah. Kau akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”

Temunggul tersenyum, katanya, “Betapapun besarnya, tetapi aku tidak akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”

“Sudah tentu ngger. Tetapi, apabila wahyu memang ingin berpindah dari satu keturunan ke keturunan yang lain, apakah sulitnya. Lihatlah, suami pertama Nyi Pruwita. Bukankah ia seorang Demang yang disegani? Tetapi ia mati selagi anaknya masih kecil.”

“Bramanti?”

“Bukan. Anak suaminya yang pertama bernama Panggiring.”

“O, ya Panggiring.”

“Ayah Panggiring adalah seorang Demang. Demang dari Kademangan ini. Tetapi nasibnya tidak terlampau baik. Ia mati, dan sepeninggalannya istrinya kawin lagi. Dan lahirlah Bramanti. Tetapi agaknya semakin besar semakin terasa oleh Panggiring bahwa ayahnya terlampau keras dan kasar kepadanya, sehingga akhirnya ia pergi. Maka kemudian ibunya pun harus mengalami kematian suaminya untuk kedua kalinya. Bukankah kau pernah mendengarnya juga?”

Temunggul tidak segera menjawab. Sesaat ia mengangguk-angguk. Namun sementara itu dada Bramanti terasa menjadi sesak. Ternyata ayah Panggiring dahulu adalah seorang Demang.

“Persetan,” ia menggeram. “Namun sekarang, aku adalah anak ibu satu-satunya. Panggiring telah pergi tanpa bekas.” Namun meskipun demikian, pembicaraan itu menjadi perhatiannya juga. Dan ia mendengar ayah Ratri itu berkata, “Nah, setelah Demang itu meninggal, anak laki-lakinya masih terlampau kecil dan bahkan kemudian hilang tidak ada beritanya, maka di angkat lagilah Demang yang sekarang ini.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Kepalanya terangguk-angguk. Namun ia masih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

“Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini. Bahkan hampir saja ia terpilih untuk menggantikan Demang yang meninggal itu. Tetapi semakin lama kelakuannya menjadi semakin buruk, sehingga pada suatu ketika ia terpaksa mengalami nasib yang mengerikan itu. Bukankah kau ingat?”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku hanya ingat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak banyak mengerti.”

“Aku hanya ingin mengatakan, bahwa pada suatu saat, kedudukan Demang dapat bergeser dari garis keturunan.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam.

“Ah,” ayah Ratri berdesah. “Aku berbicara terlampau banyak. Selamat malam. Apakah kau akan singgah ke rumahku?”

“Terima kasih paman. Besok aku akan datang.”

“Kami, seisi rumah menunggu kedatanganmu dengan senang hati.”

“Terima kasih. Aku kini minta diri.”

Temunggul pun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan regol halaman rumah Ratri. Ketika ia berpaling, regol itu telah tertutup kembali dan ayah Ratri pun telah hilang ditelan pintu yang telah merapat itu.

Kini, tinggallah Bramanti merenung di balik sebatang gerumbul perdu yang rimbun. Tanpa disadarinya, ia telah dicengkam oleh ceritera ayah Ratri.

“Ayah Panggiring itu dahulu seorang Demang,” desisnya. “Tetapi ayahku pun seorang yang berpengaruh pada mulanya, meskipun akhirnya ia seakan-akan sama sekali tidak berharga.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia terpukul oleh akibat kelakuan ayahnya. Namun sekali lagi ia memantapkan tekadnya, “Aku harus membersihkan nama ayah dan keluargaku. Aku harus berbuat baik, sebaik-baiknya untuk Kademangan ini. Dengan demikian orang akan melupakan apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan ayah.”

Dan tiba-tiba Bramanti itu pun sadar, bahwa kini ia berada di halaman rumah Ratri. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri dan dengan lincahnya meloncat dinding halaman. Dengan tergesa-gesa ia melangkahkan kakinya, pulang ke rumahnya. Tetapi ia tidak masuk ke dalam biliknya. Ia langsung pergi ke kandang dan membaringkan dirinya di atas jerami kering.

Sementara itu Temunggul pun sedang melangkahkan kakinya pulang ke rumahnya. Sekilas-kilas teringatlah olehnya ceritera ayah Ratri tentang Demang Candi Sari sebelum Demang yang sekarang. Tetapi ternyata ia sudah tidak begitu ingat apa yang telah terjadi saat itu.

Meskipun umurnya lebih tua sedikit dari Bramanti, tetapi ia tidak dapat mengingat dengan jelas, siapakah ayah Panggiring itu, dan apakah yang pernah terjadi atasnya. Ia hanya ingat, bahwa Panggiring dan Bramanti adalah dua orang bersaudara seibu, tetapi tidak seayah. Ia hanya ingat, bahwa ayah Ratri tidak begitu senang kepada Panggiring, sehingga anak itu kemudian pergi tanpa diketahui kemana.

“Ah, apa urusanku dengan mereka-mereka,” akhirnya Temunggul menggeram, “Aku sama sekali tidak berkepentingan, kecuali kalau Bramanti akan mengganggu Ratri, atau membuat kisruh di Kademangan ini karena dendamnya atas kematian ayahnya.”

Dan Temunggul pun kemudian berusaha untuk melupakannya. Ia berjalan semakin cepat, menembus gelapnya malam lewat lorong-lorong di padukuhannya.

“Aku harus ketemu dengan Ratri sendiri pada suatu ketika,” ia berdesis. “Agaknya aku tidak akan mengalami kesulitan dengan orang tuanya, asal Ratri sendiri tidak berkeberatan.”

Dengan demikian maka Temunggul pun kemudian mencoba mereka-reka, apakah yang sepantasnya dikatakan kepada Ratri apabila ia mendapat kesempatan. Kesempatan yang ditunggu-tunggunya, ketika Kademangan ini mengadakan keramaian telah dirusakkan oleh Wanda Geni dengan orang-orangnya.

Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat meyakinkan sikap Ratri kepadanya. Apalagi setelah ia gagal mempertahankannya, dan hadirnya seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.

Tetapi, betapa dadanya bergelora, maka ketika di ujung Timur membayang warna-warna merah, Temunggul itu pun justru terlena dipembaringannya.

Pada saat yang bersamaan, Bramanti yang terbaring di atas jerami kering, membukakan matanya. Perlahan-lahan ia bangkit sambil menggeliat. Ia pun hanya dapat tidur sekejap, karena pikirannya pun menjadi kalut oleh berbagai macam persoalan.

Kemudian ia bangkit dan melangkah keluar. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat api di dapur sudah menyala. Agaknya ibunya bangun lebih pagi daripadanya.

Bramanti itu pun segera pergi ke sumur untuk mengambil air. Kemudian membersihkan diri dan melakukan kewajibannya mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Seperti biasanya, maka Bramanti pun kemudian mengambil sapu lidi untuk membersihkan halaman rumahnya. Halaman yang cukup luas itu, sehingga setiap pagi ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukannya. Sejak matahari belum terbit, sampai terasa ujung panasnya menyentuh kulit.

Namun hari itu Bramanti tampak agak lain dari kebiasaannya sehari-hari. Wajahnya nampak murung, dan kerjanya pun agak lebih lambat. Setiap kali ia berhenti dan merenung, memandang kekejauhan. Apalagi kemudian disadarinya bahwa ia sedang menggenggam tangkai sapu lidi, maka segera ia melakukan tugasnya pula.

Ternyata Bramanti masih merasa terganggu oleh ceritera ayah Ratri tentang ayahnya, tentang ibunya dan tentang Demang Candi Sari yang lama, ayah Panggiring. Pengertiannya yang pendek tentang keluarganya itu telah membuatnya mereka-reka. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi sudah tentu ia tidak akan sampai hati bertanya kepada ibunya. Sebab dengan demikian ia pasti akan melukai hatinya.

Karena itu maka disimpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu di dalam dadanya, sampai pada suatu saat ia mendengar dari siapapun juga, karena keadaannya kini masih belum memungkinkan untuk mencari kelanjutan dan permulaan dari ceritera ayah Ratri tentang keluarganya itu.

Demikian besar pengaruh ceritera itu dihatinya, sehingga ia kehilangan segala macam gairah. Ia sama sekali tidak mempunyai selera untuk makan. Meskipun demikian ia tidak mau membuat ibunya menjadi bertanya-tanya. Dipaksanya juga untuk menyuapi mulutnya pada waktu makan.

Namun sebagai seorang ibu, ternyata perempuan tua itu merasakan sesuatu yang tidak wajar di dalam hati anaknya. Mula-mula ia menyangka, bahwa Bramanti terlampau banyak bangun di malam hari, sehingga tubuhnya menjadi lemah. Tetapi ternyata ia keliru. Wajah yang muram dan sikap yang murung, bukanlah sekadar akibat dari kurang tidur saja.

Karena itu, maka ibunya pun mencoba bertanya kepada anak muda itu sehabis makan, “Apakah kau sakit Bramanti?”

Bramanti menggelengkan kepalanya sambil menyahut, “Sama sekali tidak ibu. Kenapa? Apakah wajahku pucat seperti orang sakit?”

“Kau tampak murung dan muram seharian ini.”

Bramanti tersenyum. Jawabnya, “Aku kurang tidur semalam ibu. Aku menganyam keranjang. Tanpa aku sadari ternyata hari hampir pagi.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak mempercayainya sepenuhnya, namun orang tua itu tidak bertanya lagi kepada anaknya.

Sejenak kemudian Bramantilah yang berbicara, “Karena itu, aku akan beristirahat. Kalau mungkin aku akan tidur di kandang, supaya aku dapat menjadi segar lagi.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tidurlah.”

Bramanti pun kemudian pergi ke kandang di halaman rumahnya. Segera ia membaringkan dirinya di atas setumpuk jerami. Namun ternyata ia sama sekali tidak tidur. Sambil mengejap-ngejapkan matanya ia merenungi dirinya sendiri dan seluruh keluarganya. Tetapi ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun. Namun kadang-kadang terbersit pula pertanyaan di dalam dirinya, “Dimanakah sekarang kakang Panggiring itu?”

Bramanti sendiri tidak mengerti, kenapa ia mengharap bahwa kakak seibunya itu untuk seterusnya tidak akan pulang kembali ke Kademangan. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia bergumam, “Aku kurang mengenalnya dari dekat, sebab sejak aku mulai menyadari keadaanku, kakang Panggiring telah pergi.”

Untuk selanjutnya, Bramanti berusaha meletakkan persoalan itu dari pikirannya. Ia ingin melupakan semuanya, “Sekarang,” katanya di dalam hati. “Bagaimana aku mengatasi persoalan sendiri.”

Bramanti terkejut ketika ia melihat sebuah kepala tersembul dari bilik dinding kandangnya yang kosong. Sambil bangkit Bramanti itu bergumam, “Huh, kau membuat aku terkejut Panjang.”

Panjang tersenyum, jawabnya, “Benar juga kata Temunggul. Kau benar-benar anak cengeng yang mudah terkejut dan mudah merengek.”

Bramanti tersenyum. Katanya, “Masuklah.”

“Gatal,” sahut Panjang.

“Tidak. Kandang ini sudah lama sekali tidak dipergunakan. Apalagi sejak aku perbaiki. Aku timbun jerami yang bersih di dalamnya, dan aku selalu tidur di kandang ini. Siang dan malam. Hanya dalam keadaan khusus saja aku tidur di dalam rumah.”

Panjang pun kemudian melangkah masuk dan duduk di samping Bramanti.

“Kau semalam tidak pergi ke Kademangan Bramanti?”

“Ada apa di Kademangan?” ia bertanya.

“Banyak orang yang datang ke Kademangan semalam, termasuk aku dan kawan-kawan anggota pengawal.

“Temunggul?”

“Temunggul juga pergi ke Kademangan.”

“Kapan ia pulang?”

“Hampir tengah malam.”

“Sendiri?”

Panjang menggelengkan kepalanya, “Tidak. Ia mengantar ayah Ratri lebih dahulu, karena ayah Ratri juga berada di Kademangan.”

“Kenapa kalian berkumpul? Apa akan ada penerimaan anggota baru lagi?”

“Apakah kau berhasrat untuk menjadi anggota pengawal?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Bagaimana aku dapat melampaui pendadaran yang begitu berat. Apalagi untuk berkelahi melawan harimau.”

Panjang tidak segera menjawab. Dipandangnya saja wajah Bramanti, hingga sesaat lamanya. Setiap ia teringat kepada sepasang harimau itu, maka ia selalu disentuh oleh perasaan aneh terhadap Bramanti. Namun ia tidak dapat memaksanya untuk menyebut dirinya sebagai seorang penyelamat dan penolong.

Panjang itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Bramanti bertanya, “Kenapa kalian berkumpul di Kademangan semalam?”

“Ada seseorang yang kami temui.”

“Siapa?”

“Seorang yang termasuk tetua Kademangan ini. Sudah beberapa tahun ia merantau. Kini ia kembali. Karena itulah, maka kami telah menerimanya di Pendapa Kademangan. Kami ingin mendengar ceritera atau setidak-tidaknya yang sudah ditempuhnya.”

Ceritera itu pasti menarik. Tetapi siapakah orang itu? Mungkin aku telah mengenalnya atau setidak-tidaknya mengenal namanya.

“Tentu, kau tentu sudah mengenalnya. Namanya Tambi. Ki Tambi.”

“Oh” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya. Ia termasuk orang dekat dengan keluarga kamu.”

“Ya. Ia pun mengatakannya.”

“Kemana Ki Tambi selama ini merantau?”

“Ia telah menjelajahi pulau ini dari ujung sampai ke ujung. Ia telah sampai ke ujung Timur, Banyuwangi. Dan ia pun telah sampai ke ujung sebelah Barat, Banten.”

“Bukan main,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah yang menarik menurut ceriteranya.”

“Biasa. Perjalanan, lapar, haus, perkelahian dan segala macam peristiwa. “Panjang terdiam sejenak, lalu.”

“Apa?”

“Ki Tambi ternyata telah bertemu dengan Panggiring.”

“He,” berita itu benar-benar telah mengejutkan Bramanti. Sehingga kemudian dengan serta merta ia bertanya, “Dimana Ki Tambi bertemu dengan Panggiring?”

Panjang menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ki Tambi tidak mau mengatakannya semalam. Ia ingin bertemu dengan ibumu lebih dahulu. Baru kemudian ia tidak akan merahasiakan lagi pertemuannya dengan Panggiring apabila tidak akan terjadi sesuatu atas keluargamu.”

Dada Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Karena ceritera tentang Panggiring itulah agaknya, maka semalam ayah Ratri telah menyinggung-nyinggungnya pula.

“Tetapi apakah Ki Tambi sama sekali tidak mengatakan apapun tentang kakang Panggiring?”

“Sama sekali tidak. Bahkan atas pertanyaan Ki Demang pun Ki Tambi menggeleng. Ia harus bertemu dengan ibumu lebih dahulu.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja telah bergolak.

Selama ini ia berusaha untuk menyingkirkan masalah Panggiring dari lingkungan keluarganya untuk diketemukan kembali.

Bramanti menggelengkan kepalanya tanpa sesadarnya. Tiba-tiba ia berdesah di dalam hatinya. “O, ternyata aku pun adalah seorang yang tamak. Kenapa aku tidak menyukai kakang Panggiring? Ia adalah saudara seibu, meskipun berbeda ayah. Agaknya aku sudah dipengaruhi oleh kebencian ayahku kepadanya. Sudah tentu, bahwa kebencian ayah kepada kakang Panggiring sedikit banyak dipengaruhi oleh hubungan keluarga di antara mereka. Kakang Panggiring adalah anak tirinya.”

“Hari ini Ki Tambi pasti akan menemui ibumu. Dan kau akan mendengar berita tentang kakakmu. Mudah-mudahan berita itu menggembirakan keluargamu yang kini tinggal tiga orang itu. Bukankah begitu?” tiba-tiba Panjang berbicara memutus angan-angannya.

“Mudah-mudahan,” jawab Bramanti. Namun nada suaranya ternyata terlampau dalam.

“He, kenapa kau?” tiba-tiba Panjang bertanya. “Apakah kau menjadi bersedih? Seharusnya kau menjadi gembira dan apalagi ibumu. Ibumu telah kehilangan kedua anak laki-lakinya. Kau ternyata kembali lebih dahulu dan agaknya Panggiring pun akan menyusul.”

“Ya, aku akan gembira sekali.”

“Tetapi nada suaramu tidak mengatakan demikian.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Sudah tentu kami, maksudku aku dan ibuku akan bergembira menerima kedatangannya. Tetapi secara jujur aku harus mengatakan, bahwa hubungan yang mengikat antara kami berdua, aku dan kakang Panggiring, sama sekali tidak terasa.”

“Ya, Panggiring pergi terlampau lama. Jauh lebih dahulu dari kau bukan?”

“Itulah agaknya yang menyebabkan, bahwa aku merasa seolah-olah itu tidak mempunyai seorang saudara.”

Panjang mengerutkan keningnya. Dari beberapa orang dan dari sekadar ingatan ia mengerti, bahwa ayah Panggiring telah meninggal. Kemudian ibunya kawin lagi dengan ayah Bramanti. Ia mendengar rerasan beberapa orang tua-tua semalam, bahwa ayah Bramanti itu seolah-olah telah mengusir anak tirinya. Tetapi apakah sebabnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengatakannya dengan tepat. Ada yang mengatakan bahwa Panggiring memang anak bengal, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa ayah Bramanti terlampau keras terhadap anak tirinya.

“Yang paling mengetahui adalah keluarganya sendiri,” berkata Panjang di dalam hatinya. “Terutama ibunya.”

“Tetapi,” berkata Panjang kemudian kepada Bramanti. “Kau akan segera mendengar kabar itu,” Panjang terdiam sejenak, lalu “Ah, agaknya aku akan terlampau lama singgah di kandangmu. Aku harus pergi ke Kademangan. Aku tadi hanya singgah sebentar untuk memberitahukan kedatangan Ki Tambi kepadamu. Mungkin ibumu perlu kau beritahu sebelumnya, supaya ia dapat bersiap-siap menerima berita tentang anak sulungnya itu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih Panjang. Aku akan menyampaikannya kepada ibu, bahwa Ki Tambi akan menemuinya dan berbicara tentang Panggiring.”

“Baiklah, sekarang aku minta diri. Aku akan pergi ke Kademangan. Para anggota pengawal harus berkumpul. Mungkin akan mendapat beberapa penjelasan dari Ki Demang. Atau mungkin ada keperluan lain.”

“Terima kasih atas pemberitahuan itu Panjang.”

“Ah, jangan terlampau banyak berterima kasih. Sudah beberapa kali kau mengucapkannya.”

Mau tidak mau Bramanti pun tersenyum sambil berdiri. Di antarkannya tamunya sampai ke regol halaman. Tetapi ketika ia ingin mengatakan sesuatu. Panjang mendahuluinya, “Jangan berterima kasih lagi.”

Sekali lagi Bramanti tersenyum, “Tidak. Aku akan berpesan agar kau hati-hati di jalan.”

Kini Panjanglah yang tersenyum sambil melangkah pergi.

Sepeninggalan Panjang, Bramanti kembali merenung. Ia masih berdiri dipintu regol. Berbagai masalah hilir mudik di dalam kepalanya. Dan setiap kali ia mencoba untuk mengerti tentang dirinya sendiri.

“Kenapa aku tidak menyukainya?” pertanyaan itu selalu datang mengetuk jantungnya.

“Aku telah membuat kesalahan. Aku tidak boleh membenci siapapun. Apalagi kakang Panggiring. Ia adalah saudaraku seibu.”

Bramanti itu terkejut ketika ia tiba-tiba saja mendengar seseorang menyapanya, “Siapakah yang kau tunggu Bramanti?”

Bramanti tergagap. Ketika ia mengangkat wajahnya hatinya menjadi berdebar-debar. Yang berdiri dihadapannya adalah Ratri. Begitu asyik ia tenggelam di dalam angan-angannya tentang Panggiring sehingga ia tidak mengerti bahwa yang berhenti di depan regol itu adalah Ratri. Disangkanya orang-orang lewat seperti yang lain. Tanpa memperhatikannya, dan bahkan tanpa menegurnya. Apabila ia mendahului menegur, orang-orang itu akan menjawab sekenanya. Tetapi kali ini yang lewat justru berhenti didepan regol itu adalah Ratri.

Bramanti mencoba mengendalikan perasaannya. Semula ia tidak merasakan getaran yang aneh itu, apabila ia bertemu dengan gadis itu. Tetapi semakin lama, justru wajah itu semakin terukir di dinding hatinya.

Dengan terbata-bata Bramanti bertanya, “Darimana kau Ratri?”

“Pertanyaanku belum kau jawab,” sahut Ratri. “Siapakah yang kau tunggu?”

Bramanti menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menunggu seseorang. Tidak ada seorang pun yang mengharapkanku menunggunya.”

“Ah,” Ratri berdesah. “Kau terlampau perasa Bramanti. Mungkin karena kau sudah terlampau lama meninggalkan Kademangan ini sehingga kau masih perlu menyesuaikan diri.”

“Mungkin, mungkin,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, “Tetapi kemana kau akan pergi sekarang?”

“Aku hanya berjalan-jalan saja.”

“Apakah kau tidak takut berjalan-jalan sendiri?”

“Apa yang aku takutkan?”

“Bukankah kau hampir saja dibawa oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat?”

“Ah,” sekali lagi ia berdesah. “Menurut ayah,” katanya selanjutnya. “Hal itu tidak akan terulang lagi. Salah seorang dari mereka telah memberikan jaminan. Dan Panembahan Sekar Jagat sendiri pasti tidak akan membenarkan sikap orang-orang itu.”

“Apakah kau yakin?”

“Tentu tidak, tetapi aku merasa cukup aman disiang hari. Sebab, kalau mereka akan datang dimanapun saja aku berada tidak seorang pun yang akan dapat menghalangi maksud mereka selain membunuh diri.”

“Ah, itu tidak perlu Ratri. Bukankah seorang telah menolongmu.”

“Ya, Putut Sabuk Tampar, darimana kau tahu?”

“Setiap orang menceriterakan,” namun kemudian dengan tergesa-gesa Bramanti memindahkan persoalan, “Tetapi apakah kau mempunyai suatu keperluan.”

“Tidak. Sebenarnya aku ingin pergi ke bendengan. Sudah lama aku tidak pergi ke sana. Tetapi seperti katamu, aku masih takut keluar dari pedukuhan ini meskipun disiang hari. Akhirnya aku berjalan saja menyusuri jalan ini.”

Bramanti menarik nafas.

“Tetapi,” tiba-tiba Ratri melangkah maju. “Aku dengar dari ayah apakah Panggiring juga akan kembali?”

Dada Bramanti berdesir. Sejenak ia tidak segera dapat menyahut, sehingga Ratri mengulangi pertanyaannya.

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu Ratri. Yang aku ketahui, Ki Tambilah yang baru pulang. Itu pun aku hanya sekadar mendengar dari Panjang. Aku belum bertemu dengan Ki Tambi itu sendiri.”

“Ayah sudah bertemu semalam di Kademangan. Tetapi Ki Tambi tidak mau mengatakan apapun tentang Panggiring sebelum ia bertemu dengan ibumu. Apakah ia sudah datang kemari?”

“Belum. Aku juga mengharapkannya.”

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Ah, aku akan pulang.”

“Begitu tergesa-gesa. Apakah kau tidak singgah dahulu?”

Ratri menggelengkan kepalanya.

“Tetapi,” berkata Bramanti kemudian, “Kenapa kau menaruh begitu besar perhatian kepada kakang Panggiring?”

Ratri mengerutkan keningnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab. “Ah, aku sama sekali tidak menaruh perhatian. Tetapi aku melihat kau berdiri di regol ini, aku teringat ceritera ayah semalam, bahwa seseorang telah berceritera tentang Panggiring. Karena itu aku bertanya kepadamu sekarang.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sayang. Aku belum mengetahui ceritera tentang kakang Panggiring. Aku mendengar dari Panjang yang baru saja datang kemari.”

“Apakah Panjang lewat di jalan ini?” bertanya Ratri.

“Baru saja. Apakah kau tidak melihat seseorang keluar dari halaman ini? Kalau yang baru saja keluar itu Temunggul, maka aku pasti menyangka bahwa kalian memang telah berjanji untuk datang kemari, karena begitu berurutan.”

“Ah,” Ratri mengerutkan keningnya. “Jangan kau sebut-sebut lagi hal itu Bramanti.”

Bramanti tersenyum. Katanya, “Kenapa? Bukankah semuanya sudah beres?”

“Apa?” potong Ratri. “Sekali lagi aku minta, jangan kau sebut-sebut lagi hal itu. Bertanyalah tentang hal-hal yang lain. Tetapi jangan tentang hal itu. Kau membuat aku menjadi berdebar-debar demikian?”

“Maafkan Ratri. Bukan maksudku. Aku hanya ingin bergurau saja.”

“Aku tahu. Tetapi aku minta, jangan kau ulang lagi.”

“Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak menyebutkannya lagi.”

“Terima kasih,” sahut Ratri, yang kemudian katanya, “Aku akan meneruskan langkahku. Aku ingin mengunjungi kawan-kawan.”

“Apakah kau tidak singgah dahulu?”

Ratri termenung sejenak. Namun kemudian, “Terima kasih Bramanti. Lain kali.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia mempersilakan Ratri singgah selain adat kebiasaan. Tetapi ia mengharap Ratri itu menolaknya, karena apabila Temunggul melihatnya, atau siapapun yang akan menyampaikannya kepada Temunggul, maka ia akan menemui kesulitan.

Ratri pun kemudian melangkah meninggalkannya. Ia berjalan searah dengan Panjang. Tetapi kemudian Ratri berbelok ke jalan sempit menuju ke rumah kawannya.

Bramanti pun kemudian masuk ke halaman rumahnya. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menunju ke kandang. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia duduk bersandar dinding. Sekilas terbayang seseorang yang telah begitu lama tidak dijumpainya. Kakaknya seibu tetapi tidak seayah. Dicobanya untuk mengingat-ingat kembali wajah itu. Wajah yang keras seperti batu-batu padas di pegunungan. Meskipun saat itu Panggiring masih kanak-kanak, tetapi sudah nampak pada sifat dan kebiasaannya, bahwa ia adalah seorang yang keras hati.

“Kakang Panggiring terlampau keras kepala,” desis Bramanti. “Dan itulah agaknya yang membuat ayah tidak begitu senang kepadanya. Sama sekali bukan karena kakang Panggiring itu anak tirinya. Ayah bukan orang yang sejahat itu, mengusirnya dan memukulinya. Tidak. Semua itu karena kesalahan kakang Panggiring sendiri. Ayah tidak pernah mengusirnya, tetapi kakang Panggiring sendirilah yang bergi meninggalkan keluarga kami.

Tetapi ingatan itu terlampau kabur di kepala Bramanti, bagaimanapun juga, Bramanti tidak akan berpihak kepada Panggiring. Sebagai seorang anak laki-laki betapapun ia mengetahui kekurangan ayahnya, namun dalam persoalan ini ia tidak dapat memandanginya tanpa menyangkutkan diri sendiri.

“Apakah yang akan diberitakan oleh Ki Tambi itu tentang kakang Panggiring?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, sehingga karena itu, tiba-tiba ia bangkit dan melangkah keluar lagi dari dalam kandang. “Aku harus memberitahukannya kepada ibu, supaya ibu tidak terkejut.”

Maka Bramanti itupun kemudian mencari ibunya. Dan dikatakannya apa yang didengarnya tentang Ki Tambi itu.

Wajah ibunya yang sudah berkerut-kerut karena umurnya itupun menjadi semakin berkerut-kerut. Di mata orang tua itu, tiba-tiba mengambang setitik air.

“Apakah yang akan dikatakannya tentang kakakmu?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengerti ibu.”

“Apakah ia akan pulang juga?”

“Entahlah bu,” jawab Bramanti.

Ibunya pun kemudian terdiam. Tetapi tatapan matanya kemudian menembus daun pintu yang tidak tertutup rapat, menyentuh bayangan matahari di kejauhan, seolah-olah perempuan tua itu sedang mencari sesuatu di alam kembara angan-angannya.

Tetapi perempuan tua itu tahu jauh lebih banyak dari Bramanti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kini yang dapat dilakukannya hanyalah menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah Ki Tambi akan singgah ke rumah kami?” bertanya perempuan tua itu.

“Begitulah yang aku dengar.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan aku akan mendengar kabar yang baik, yang membuat umurku tidak segera berakhir.”

Bramanti mengerutkan keningnya mendengar gumam ibunya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun.

Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka masing-masing membiarkan angan-angannya membumbung segala waktu. Yang sudah lampau dan yang masih akan mereka jalani.

Namun sejenak kemudian Bramanti berdiri sambil berkata, “Bu, aku akan turun ke halaman.”

“Tetapi bukankah kau tidak akan pergi keluar? Kita tunggu Ki Tambi, supaya kita cepat mendengar ceriteranya bersama-sama.”

“Aku hanya akan keluar dan turun ke halaman ibu. Udara terlampau panas. Mungkin aku berada di kandang, tetapi mungkin juga aku menganyam wuwu di bawah pohon sawo.”

“Baiklah,” jawab ibunya. “Kalau Ki Tambi datang, aku akan memanggilmu.”

Bramanti pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi ke halaman. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya beberapa potong bambu bersandar pada batang sawo yang rimbun. Timbul niatnya membuat wuwu untuk menangkap ikan di sungai. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa malas. Karena itu, maka ia pun melangkah kembali ke kandang dan kini bahkan ia berbaring di atas jerami kering.

Bramanti sekali lagi tenggelam di dunia angan-angannya. Sekali-kali ia mendengar lenguh lembu di kejauhan. Burung perenjak berkicau di dahan batang melanding disamping kandang seakan-akan mengabarkan, bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu berkunjung kerumah itu.

Bramanti terkejut ketika ia mendengar suara ibunya memanggil. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah keluar kandang, dan kemudian dengan dada berdebar-debar ia pergi ke pendapa.

Jantungnya serasa berguncang ketika ia melihat, seseorang berdiri di tangga pendapa bersama ibunya. Dan segera ia mengenal orang itu. Meskipun tampak orang itu menjadi semakin tua, namun ia masih dapat mengenalnya dengan pasti, bahwa orang itulah yang bernama Ki Tambi.

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika ia melihat Bramanti mendatanginya. Dengan ramahnya ia berkata, “Kalau aku tidak mendengar dari ibumu, bahwa kaulah Bramanti itu, aku sudah tidak dapat mengenalmu lagi.”

Bramanti pun menganggukkan kepalanya. Dengan hormatnya ia menyahut, “Terima kasih. Tetapi aku masih dapat mengenal dengan jelas dan bahkan hampir tidak berubah, bahwa aku berhadapan dengan Ki Tambi. Kira-kira sepuluh tahun yang lampau, Ki tambi juga sudah seperti ini, dan sekarang Ki Tambi masih juga seperti ini.”

Orang yang bernama Ki Tambi itu tertawa. Katanya, “Aku setiap hari minum jamu Bramanti sehingga aku menjadi awet muda.”

Bramantipun tertawa. Ibunya yang jarang sekali mendapat kesempatan untuk tertawa itu pun tertawa pula.

“Marilah, masuklah Ki Tambi,” ibu Bramanti itu pun mempersilahkan.

Meskipun kemudian bersama-sama masuk ke pringgitan, sejenak kemudian mereka telah terlibat dalam pembicaraan yang lancar. Mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing dan sejenak kemudian mulailah mereka berceritera tentang diri mereka.

“Jadi Ki Tambi telah merantau lebih dari lima tahun,” bertanya ibu Bramanti.

“Tujuh tahun,” sahut Ki Tambi.

“Sudah cukup lama Ki Tambi meninggalkan Kademangan ini,” berkata ibu Bramanti. “Mungkin sekarang Ki Tambi merasa bahwa Kademangan ini sudah jauh berubah dari Kademangan yang dahulu kau tinggalkan.”

“Tidak. Aku masih cukup mengenalnya. Hampir tak ada perubahan sama sekali.”

“Kecuali isi dan wataknya,” potong Bramanti.

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, bentuk lahiriahnya hampir tidak berubah. Tetapi betul katamu Bramanti. Isi dan watak dari Kademangan ini agaknya memang telah berubah. Baru dua hari aku berada di Kademangan ini namun aku sudah melihat dan mendengar banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menurut dugaanku, tidak akan dapat terjadi beberapa tahun yang lampau.”

“Kademangan ini seolah-olah diliputi oleh keputusasaan,” sahut Bramanti.

Ki Tambi tidak segera menjawab. Namun yang terdengar adalah suara ibunya, “Kita sudah tidak berhak lagi untuk mencampurinya Bramanti. Kita lebih baik berbuat untuk diri kita sendiri.”

Ki Tambi yang mendengar kata-kata ibu Bramanti itu mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah perempuan tua itu, kemudian wajah Bramanti. Tetapi Bramanti sedang menundukkan kepalanya.

“Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah mendengar tentang orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat. Aku sudah mendengar tentang kau Bramanti bahwa kau pun ternyata belum lama kembali ke Kademangan ini sejak kepergianmu lebih dari sepuluh tahun yang lampau, kira-kira tiga tahun sebelum aku meninggalkan Kademangan ini bahkan aku sudah mendengar pula ceritera terakhir, tentang Ratri yang hampir saja menjadi korban salah seorang pengikut Panembahan Sekar Jagat itu. Untunglah saat itu datang seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Bukankah begitu?”

“Begitulah menurut pendengaranku Ki Tambi,” jawab Bramanti.

“Bahkan aku mendengar pula seseorang yang tidak dikenal telah menolong dua orang calon anggota pengawal yang sedang menjalani pendadaran. Benar begitu?”

“Mungkin Ki Tambi. Akupun hanya mendengar kata orang.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tiba-tiba maksudnya itu di urungkannya. Bahkan kemudian ia hanya menarik nafas dalam-dalam.

Namun sejenak kemudian ia bergumam, “Memang dalam waktu tujuh tahun, banyak persoalan yang dapat terjadi. Seperti persoalanku sendiri. Hampir tidak seorang pun yang memperhatikan kepergianku saat itu. Bahkan mungkin ada satu dua orang yang sama sekali tidak mengerti, bahwa aku pernah meninggalkan Kademangan ini selama sekian tahun. Waktu itu, aku tidak lebih dari seorang tukang blandong yang tidak berarti apa-apa. “Ki Tambi berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Tetapi dalam waktu tujuh tahun terakhir, ternyata aku telah berubah sama sekali meskipun bentuk lahiriah, aku masih juga Tambi yang dahulu.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pengalamanku sangat berarti bagiku. Dan aku sekarang akan dapat berusaha dengan cara yang lebih baik daripada seorang blandong yang setiap hari selalu memeras tenaga. Aku sudah dapat menabung sedikit modal apabila suatu ketika aku tertarik untuk berdagang.”

Bramanti masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia ingin segera mendengar berita tentang Panggiring.

Agaknya ibu Bramanti pun demikian pula. Bahkan perempuan tua itu sudah tidak menahan perasaannya lagi. Sehingga sesaat kemudian terloncat pertanyaannya, “Tetapi Ki Tambi, apakah kau benar-benar bertemu dengan Panggiring?”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Bramanti, dan sejenak kemudian ibunya.

“Benarkah?” desak ibu Bramanti itu.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Terdengar jawabannya perlahan-lahan. “Ya. Aku memang bertemu dengan Panggiring.

“Bagaimana dengan anak itu Ki Tambi?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Meskipun kepalanya terangguk-angguk dan bibirnya bergerak-gerak, namun tidak sepatah katapun yang dapat didengar berdesis dari mulutnya.

“Bagaimana Ki Tambi,” perempuan tua itu semakin mendesak.

Tetapi Ki Tambi masih belum menjawab. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Bramanti, “Bramanti, bukankah kau sudah tidak berhasrat untuk meninggalkan rumah ini lagi?”

Bramanti menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dihadapan ibunya ia tidak menjawab lain kecuali mengiakannya. Meskipun demikian ia berkata lebih lanjut, “Tetapi, entah salahku entah kawan-kawanku bermain di masa kanak-kanak, masih kurang dapat saling menyesuaikan diri. Aku masih merasa terasing, dan bahkan di asingkan.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lambat laun Bramanti, aku yakin bahwa kau akan tetap menjadi keluarga Kademangan ini. Karena itu, usahakanlah. Dan jangan pernah berfikir lagi untuk meninggalkan ibumu yang sudah tua. Kampung halaman dan tanah warisanmu ini. Kau harus menjadi anak yang baik, yang akan menjadi kebanggaan seluruh keluargamu, dan bahkan lingkunganmu.”

Bramanti menjadi bingung. Dengan demikian ia justru terdiam. Kemudian sekali lagi Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi,” ibunya menjadi semakin tidak sabar. “Bagaimana dengan Panggiring? Apakah ia masih hidup atau sudah mati?”

“Sampai aku meninggalkan tempatnya, ia masih tetap hidup. Entahlah apabila terjadi sesuatu dengan anak itu di perjalanannya. Karena Panggiring pun merantau seperti aku pula. Tetapi ia lebih telaten tinggal di suatu tempat dari padaku.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berdesis. “Hanya itukah berita tentang Panggiring yang kau bawa Ki Tambi?”

Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi masih belum menjawab pertanyaan itu. Bahkan sekali lagi bertanya kepada Bramanti, “Bramanti, aku mengharap, bahwa kau akan menjadi pegangan hidup ibumu di hari tuanya ini. Aku dengar bahwa kau bersikap baik. Maksudku, kau sama sekali tidak ingin melepaskan dendam atas kematian ayahmu. Bahkan kau bermaksud untuk membersihkan nama ayahmu dengan perbuatan. Betulkah kau pernah berkata begitu kepada kawan-kawanmu?”

“Ya Ki Tambi. Aku memang pernah berkata demikian. Ketika itu aku dituduh, bahwa kedatanganku semata-mata didorong oleh perasaan dendam.

“Bagus. Aku berdoa Bramanti, supaya kau menjadi penebus nama keluargamu. Nama yang buram akan menjadi cerah, karena kau telah berbuat banyak kebaikan, meskipun sampai saat ini kau masih tetap dicurigai.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Ki Tambi. Kedatangannya diharapkan untuk dapat mengatakan beberapa masalah mengenai Panggiring. Tetapi sedemikian jauh yang dipercakapkannya adalah dirinya.

“Tetapi,” sekali lagi ibunya memotong. “Bukankah kau ingin mengatakan tentang Panggiring, Ki Tambi?” Selain berita bahwa kau pernah berjumpa, dan berita tentang ketidaktahuanmu akan keadaannya sepeninggalanmu, apakah kau tidak pernah mengetahui, atau mendengar, apakah kerjanya kini?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah perempuan tua itu. Kemudian katanya dalam nada berat, “Nyi Pruwita. Kau harus merasa berbahagia bahwa Bramanti telah kembali. Ia akan menjadi sandaran hidup Nyai di hari mendatang. Nyai tidak usah memikirkan apa-apa lagi harus di pegang erat-erat.”

Ibu Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Ia merasa bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi atas Panggiring. Tetapi Panggiring belum mati sepengetahuan Ki Tambi. Justru dengan demikian, maka perempuan tua itu menjadi semakin terdorong untuk mengetahui apakah yang sebenarnya telah terjadi. Bagaimanapun juga, Panggiring adalah anaknya seperti Bramanti. Sebagai seorang ibu, maka sudah tentu ia tidak akan dapat melepaskan ikatan yang terjalin antara dirinya dan anak yang telah dilahirkannya.

Karena itu, maka dengan gelisah ia menuggu Ki Tambi mengatakannya selanjutnya tentang anaknya yang sulung, yang lahir dari ayah yang lain dari ayah Bramanti.

“Nyai,” berkata Ki Tambi kemudian. “Aku berkeras untuk tidak mengatakan apa-apa tentang Panggiring semalam di Kademangan sebelum aku bertemu dengan Nyai. Beberapa orang telah bertanya tentang anak itu.”

“Kenapa tiba-tiba saja mereka bertanya tentang Panggiring.”

“Aku terdorong mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan anak itu di Kudus.”

“Ya, tetapi kenapa dengan anak itu?” desak ibunya yang menjadi semakin tidak sabar lagi.

“Nayi, berita tentang Panggiring memang kurang baik. Tetapi jangan terlampau disesalkan. Nyai harus berterima kasih banyak kini Bramanti ada di rumah ini, memelihara tanah ini sebagai tanah warisan dengan baik-baik. Memperbaiki rumah yang menurut pendengaranku sudah hampir tidak dapat ditempati lagi karena lubang-lubang pada atapnya menjadi kian hari kian luas. Dan sekarang rumah dan halaman ini sudah kelihatan bersih dan rapi meskipun tidak dapat diperbandingkan dengan saat-saat Ki Pruwita masih kayaraya.”

Debar di dada perempuan tua menjadi kian tajam menggores jantungnya.

“Katakan Ki Tambi, katakan.”

“Endapkanlah perasaanmu Nyai,” Ki Tambi berhenti sejenak.

“Apakah anak itu telah mati?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Ia berpaling memandangi wajah Bramanti yang tegang untuk sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Panggiring tidak mati. Tetapi hidupnya kini sama sekali sudah tidak berarti lagi.”

“Maksudmu?” desak ibunya.

Sekali lagi Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Nyai, anak itu terperosok ke dalam dunia yang paling kelam.”

Nyai Pruwita terhenyak ditempatnya. Mulutnya serasa terbungkam, dan dadanya menghentak-hentak seperti akan retak. Sementara Bramanti mendengarkannya dengan tegang.

“Apakah maksud Ki Tambi sebenarnya dengan dunia yang hitam itu?” bertanya Bramanti.

Ki Tambi menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Hampir tidak dapat dikatakan. Setiap orang tidak berani lagi menyebut namanya. Karena Panggiring seolah-olah telah menjadi hantu yang paling menakutkan. Setiap orang yang berhati kecil, akan menjadi pingsan apabila mereka mendengar nama itu Panggiring.”

“Apakah yang telah dilakukan,” ibunya memotong dengan suara yang gemetar, “Apa? Apakah anakku….” suara perempuan itu terputus. Dari matanya meleleh air yang bening membasahi pipinya yang kisut.

“Entahlah, bagaimana asal mulanya Nyai. Panggiring di daerah pesisir Utara benar-benar menjadi hantu yang menakutkan. Namanya dikenal oleh setiap orang. Namun sayang, bahwa nama Panggiring di pesisir Utara adalah nama seorang perampok dan perampok besar, hampir tiada bandingnya. Di darat dan di laut.”

“Oh,” terdengar sebuah desah yang dalam. Dan tiba-tiba ibu Bramanti itu menjadi lemas. Hampir saja ia jatuh terjerembab dari amben apabila anaknya tidka dengan sigapnya menahannya.

“Ibu,” panggil Bramanti.

Nafas perempuan tua itu menjadi terengah-enGah. Lamat-lamat terdengar suaranya dalam dan parau, “Panggiring, Panggiring.”

Ki Tambi pun kemudian menjadi cemas dan gelisah. Ia sudah berusaha untuk mengatakannya dengan hati-hati. Tetapi bagaimana pun juga, kejutan perasaan itu benar-benar telah mengguncang seisi dadanya.

Kemudian Bramanti membaringkan ibunya itu di pembaringannya. Perempuan tua itu kemudian sama sekali tidak berhasil menahan tangisnya. Panggiring adalah anaknya. Betapapun juga.

Ki Tambi pun kemudian duduk di sampingnya. Dengan hati-hati ia mencoba menghiburnya. Mengucapkan beberapa kata pemupus, agar perempuan tua itu ikhlas menerima keadaan yang tidak mungkin lagi dapat dihindari.

“Ki Tambi,” berkata perempuan tua itu di sela-sela isaknya. “Aku sudah terlampau biasa menahan hati dalam kesulitan perasaan yang paling parah. Hampir sepuluh tahun aku hidup dalam keadaan yang asing. Hampir tidak seorang pun yang mau menerima aku di dalam pergaulan hidup di Kademangan ini. Meskipun masih juga ada satu dua orang menganggapku sebagai manusia yang berperasaan, tetapi aku benar-benar telah terasing. Dan aku dapat menahankannya. Sepuluh tahun sejak suamiku itu meninggal dunia. Tetapi selama itu aku masih berpengharapan.”

“Apakah yang Nyai harapkan?”

“Anak-anakku.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja di luar sadarnya ia berkata, “Apakah kepulanganku tidak berarti bagi ibu?”

“Tentu. Tentu Bramanti. Kau begitu sama artinya dengan kakakmu Panggiring. Kau adalah anak yang aku lahirkan seperti aku melahirkan kakakmu meskipun kalian tidak seayah. Tetapi ayah-ayah kalian itu semuanya sudah tidak ada lagi. Dan yang tinggal padaku adalah kalian berdua. Kau dan Panggiring. Harapanku aku letakkan kepadamu dan kakakmu. Kehadiranmu sangat berarti bagiku. Apalagi apabila kakakmu Panggiring itu tidak akan kembali lagi. Maka satu-satunya sandaran hidupku adalah kau.”

Bramanti menundukkan kepalanya. Ia menyesal sekali, bahwa ia telah membuat ibunya menjadi semakin pedih. Tetapi ia tidak dapat mengingkari perasaannya sendiri. Aneh, bahwa ia sama sekali tidak mengharapkan kakaknya itu pulang. Seperti ayahnya, Panggiring kurang mendapat tempat dihatinya. Apalagi kini, setelah ia mendengar, bahwa Panggiring telah menjadi seorang perampok dan perampok yang menakutkan. Tetapi sebagai seorang yang matang, Bramanti sebenarnya tidak pernah disentuh oleh perasaan takut itu. Terhadap siapapun.

Sejenak Bramanti dicengkam oleh perasaannya. Kadang-kadang ia memang sempat mencela dirinya sendiri. Apapun yang dilakukan Panggiring, dan betapa ia akan sanggup mengingkarinya, namun kenyataan bahwa Panggiring itu dilahirkan oleh ibunya itu tidak akan dapat dihapuskan. Bagaimana pun juga Panggiring adalah kakaknya.

Ki Tambi memandangi ibu Bramanti dengan tatapan belas kasihan. Perempuan itu telah terdorong-dorong kejalan yang terlampau terjal dan curam. Sebagai seorang yang dekat dengan keluarga Pruwita, Ki Tambi mengetahui banyak, tentang apa yang pernah terjadi atas perempuan tua itu.

“Nyai,” berkata Ki Tambi. “Setelah aku berada di Kademangan ini kembali, maka kau tidak akan terasing lagi. Setidak-tidaknya aku akan selalu berkunjung ke rumah ini seperti yang selalu aku lakukan dahulu. Perlakuan yang tidak wajar atas kalian tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan minta kepada para tetangga.”

Tetapi perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ki Tambi. Aku tidak pernah mengharapkan belas kasihan yang demikian. Kalau mereka berbaik kepada kami hanya karena memenuhi permintaanmu, maka sebenarnya mereka tidak berbaik kepada kami, tetapi semata-mata kepadamu.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sikap itu masih saja melekat pada Nyai Pruwita, yang pernah disebut Nyai Demang Candi Sari. Tetapi Ki Tambi tidak menyahut lagi. Ia tidak mau membuat perempuan itu semakin sakit.

Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Sehingga dengan demikian ruangan itu menjadi sepi.

Angin yang silir berhembus menyusup di antara daun pintu yang masih menganga. Satu-satu terdengar ciap burung emprit di pepohonan dan kicau burung podang dipelapah pisang.

Sejenak kemudian Ki Tambi berdesak. Perlahan-lahan pula ia berkata, “Nyai. Sudah tentu pada suatu ketika berita ini akan terpencar. Mungkin sehari dua hari aku masih dapat mengelakkan segalam macam pertanyaan, tetapi sudah tentu pada suatu ketika aku akan lengah dan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena itu sebelumnya aku minta maaf kepadamu.”

Perempuan tua itu menganggukkan kepalanya. Betapa beratnya ia menjawab “Bukan salahmu Ki Tambi. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah arang yang tercoreng di wajah kami menjadi semakin hitam. Namun sekali lagi aku masih berpengharapan. Kalau saja Bramanti berhasil, maka ia akan membersihkan segala cacad dan cela itu.”

“Mudah-mudahan,” desis Ki Tambi. Kemudian, “Namun Nyai, bagaimana pun juga, aku harus mengucapkan terima kasih kepada Panggiring itu. Meskipun ia menjadi seorang yang paling ditakuti, tetapi ia tidak melupakan orang-orang yang pernah dikenalnya di masa kanak-kanaknya”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Bramanti.

“Dalam perjalananku, suatu ketika aku bertemu dengan segerombolan penyamun. Betapapun aku mencoba melawan, namun aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku tertangkap. Tidak ada di dalam ingatan mereka untuk membiarkan orang-orang yang ditangkapnya untuk tetap hidup. Karena itu, maka akupun sudah disiapkannya untuk menjadi tontonan pada saat matiku,” Ki Tambi berhenti sejenak, kemudian “Tetapi ternyata Tuhan masih ingin memelihara aku sebagai hamba-Nya dimuka bumi ini. Ternyata pemimpin tertinggi dari penyamun itu sedang menerima tamu yang dihormatinya. Tamu itu adalah Panggiring. Raja dari segala raja perampok dan perampok.”

Bramanti mendengarkannya dengan sepenuh minat. Sedang ibunya pun mencoba untuk mengerti persoalan itu.

“Ternyata Panggiring masih mengenal aku,” sambung Ki Tambi. “Karena itu, maka ia minta aku dibebaskan. Mula-mula para penyamun itu berkeberatan. Mereka takut kalau aku berceritera tentang mereka dan kedudukan mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat melawan kehendak Panggiring. Sehingga akhirnya aku dilepas kannya. Sebelum aku meninggalkan neraka itu, Panggiring mendatangi aku sambil berkata, “Ki Tambi, kau masih mengenal aku.”

“Ya,” jawabku.

“Nah, seterusnya berhati-hatilah. Jangan sampai terperosok kesarang manusia-manusia serigala macam ini. Untunglah bahwa aku sempat melihat. Kalau tidak, maka kau pasti sudah dibantai seperti seekor kelinci. Nah, untuk keselamatanmu, bawalah tanda ini. “Dan Panggiring tidak memberi aku sebuah lencana.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Apakah lencana itu masih ada pada Ki Tambi?”

“Tentu,” jawab Ki Tambi. “Aku masih menyimpannya.”

Kemudian Ki Tambi mengambil sesuatu dari dalam kantung ikat pinggang kulitnya. Sebuah kepingan perak yang terukir. Dan ukiran itu telah membuat dada Bramanti dan ibunya menjadi berdebar-debar. Ukiran itu berupa sebuah candi kecil. Candi Sari.

“Oh,” desis ibunya. “Ia masih selalu ingat tanah kelahirannya.”

“Tetapi ia telah menodainya pula,” sahut Bramanti dengan serta merta.

Wajah ibunya yang suram itu menegang sesaat, namun kemudian titik air di matanya menjadi semakin deras. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Maaf ibu,” bisik Bramanti. “Aku tidak ingin menyakitkan hati ibu.”

“Tidak Bramanti. Kau tidak bersalah. Kau benar. Kakakmu tidak saja menodai Kademangan ini, tetapi ia telah semakin menodai nama keluarga kami yang memang sudah tidak dikehendaki oleh siapapun juga ini.”

“Tetapi lencana itu telah menyelamatkan aku beberapa kali. Agaknya setiap gerombolan yang berkeliaran di pesisir Utara telah mengenal bentuk candi semacam itu. Dan merekapun agaknya telah mengerti arti daripadanya. Setiap orang yang mempergunakan tanda itu berada di dalam perlindungan seseorang yang mereka segani, Panggiring. Demikian juga aku. Setiap kali aku jatuh ke tangan seseorang yang bermaksud jahat terhadapku, maka setiap kali mereka minta maaf apabila mereka melihat lencana perak dengan ukiran sebuah candi kecil itu.”

Titik air mata perempuan tua itu menjadi semakin deras, sedang dada Bramanti pun menjadi semakin keras berdentang. Ceritera tentang kakaknya itu telah benar-benar membuatnya gelisah oleh perasaan yang tidak menentu.

“Sudahlah,” berkata Ki Tambi kemudian, “Jangan terlampau dipikirkan. Aku sengaja memberitahukan kepada Nyai Pruwita, supaya Nyai mendengarnya lebih dahulu, langsung dari mulutku. Apabila kelak Nyai mendengar dari orang lain, yang mungkin sudah ditambah atau dikurangi, maka luka dihati Nyai akan menjadi lebih parah lagi.”

“Terima kasih Ki Tambi,” gumam Nyai Pruwita. “Aku sudah mendengar berita tentang anakku. Apapun yang telah terjadi atasnya, namun aku telah mengetahuinya.”

“Tetaplah tenang Nyai. Aku percaya bahwa Bramanti akan berhasil mencuci nama keluarga ini. Beberapa orang seumurku akan dapat menjadi saksi, bahwa keluarga ini pada mulanya adalah keluarga yang baik. Tidak bedanya dengan keluarga-keluarga yang lain. Adalah wajar, apabila satu di antara yang baik itu mempunyai cacad atau celanya.”

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi air di matanya masih belum kering.

“Berdoalah,” desis Ki Tambi. Dan sekali lagi perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sudahlah. Aku minta diri. Dadaku telah menjadi lapang, bahwa aku telah menyampaikannya kepada keluarga ini tentang salah seorang anggotanya yang hilang.”

“Apakah mungkin yang hilang itu akan kembali Ki Tambi?” tiba-tiba perempuan tua itu bertanya.

Ki Tambi termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangkat pundaknya berkata, “Hanya Tuhanlah yang tahu.”

Perempuan tua itu mengangkat kepalanya. Namun terasa kepalanya sangat pening.

“Sudahlah. Berbaringlah,” berkata Ki Tambi.

“Terima kasih Ki Tambi,” sahut perempuan itu, “Seringlah datang kemari, supaya kami tidak merasa seolah-olah kami adalah orang-orang yang diasingkan di tanah kelahiran sendiri.”

“Tentu, tentu. Aku akan datang kemari setiap kali.”

Ki Tambi pun kemudian meninggalkan rumah itu, di antar oleh Bramanti sampai ke regol. Kemudian sepeninggalan orang tua itu, Bramanti berjalan dengan kepala tunduk naik ke rumahnya kembali. Ditemuinya ibunya masih berbaring dipembaringannya.

“Bramanti,” berkata ibunya perlahan-lahan, “Kau sudah mendengar semuanya.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia duduk disamping ibunya sambil menundukkan kepalanya.

“Harapanku satu-satunya adalah kau. Aku harap kau menyadarinya. Tak ada sandaran apapun lagi dalam sisa hidupku ini.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku mengerti ibu. Dan aku akan berusaha. Berusaha sedapat-dapat aku lakukan.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sekarang aku ingin tidur Bramanti. Kepalaku terlampau pening.”

“Ibu jangan terlampau terpukau oleh peristiwa yang diceriterakan oleh Ki Tambi. Ibu harus menenangkan diri dan mencoba melupakannya.”

Perempuan itu mengangguk.

“Memang sebaiknya ibu mencoba untuk tidur.”

Sekali lagi perempuan itu menganggukkan kepalanya.

Bramanti pun kemudian pergi ke luar rumah. Tanpa sesadarnya kakinya telah membawanya masuk ke dalam kandang yang kosong. Perlahan-lahan ia duduk di atas jerami yang kering bersandar dinding.

Ceritera Ki Tambi tentang kakaknya telah membuatnya menjadi semakin jauh daripadanya. Bahkan ia merasa, bahwa kakaknya itu telah mempersulit usahanya untuk memperbaiki nama keluarganya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, maka setiap orang akan memalingkan wajahnya, apalagi mereka berlalu di depan rumah itu, terlebih-lebih lagi dari saat-saat sebelumnya.

“Aku tidak boleh menunggu terlampau lama,” desisnya. “Semuanya harus segera berakhir. Permainan yang menjemukan itu pun harus segera berakhir,” namun kemudian ia bergumam. “Tetapi aku tidak dapat tergesa-gesa. Aku harus mematangkan suasana lebih dahulu, apabila aku tidak ingin gagal.”

Dalam kekalutan pikiran itulah, ia kemudian membaringkan dirinya. Meskipun ia tidak tertidur, tetapi ia menjadi terkejut ketika disadarinya, bahwa matahari telah menjadi terlampau rendah.

Dengan tergesa-gesa Bramanti keluar dari dalam kandangnya yang kosong itu. Diambilnya sapu lidinya dan mulailah ia membersihkan halaman. Kali ini sekadar didepan dan di sekeliling pendapa saja, karena sebentar kemudian matahari menjadi semakin merah di punggung bukit.

Ketika hari mulai menjadi gelap, maka mulailah ia menyalakan lampu-lampu di dalam rumahnya dan yang terakhir dinyalakanlah lampu di regol halaman. Sejenak ia berdiri saja di depan regol, kalau-kalau Panjang lewat dari Kademangan seperti kebiasaannya. Tetapi setelah beberapa lama anak muda itu tidak lewat, maka Bramanti pun kemudian masuk ke dalam halaman, dan langsung naik ke rumahnya.

Ia masih sempat menyiapkan air dan kayu bakar, sebelum ia minta diri kepada ibunya untuk tidur di kandang seperti kebiasaannya.

Tetapi seperti siang tadi, maka matanya hampir-hampir tidak bisa dipejamkannya. Angan-angannya selalu saja diliputi oleh ceritera Ki Tambi dan usahanya untuk memperbaiki nama seluruh keluarganya.

“Secepat datang kesempatan, aku harus menyatakan diri. Semata-mata untuk mencuci nama yang justru menjadi semakin kotor oleh pokal kakang Panggiring.”

Dan malam itu juga Bramanti telah membulatkan tekadnya, bahwa ia harus segera berbuat sesuatu.

Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan di pagi hari, Bramanti sudah sibuk membersihkan halaman rumahnya. Sekali-kali ia melihat seseorang lewat di muka regol halamannya. Namun seolah-olah mereka sama sekali segan untuk berpaling. Bahkan rasa-rasanya mereka berjalan dengan tergesa-gesa sambil berjingkat, apabila mereka lewat didepan regolnya.

“Aku terlampau terpengaruh oleh perasaanku sendiri,” ia berkata di dalam hatinya. “Aku kira memang demikian yang mereka lakukan sehari-hari. Mereka belum tentu telah mendengar ceritera tentang kakang Panggiring. Sehingga sikap mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan sikap kakang Panggiring itu.”

Namun hal itu telah memperkuat keyakinan Bramanti, bahwa ia harus segera berbuat sesuatu. Supaya nama keluarganya tidak menjadi semakin lama semakin cemar dijauhi.

Seperti biasanya, setelah membersihkan halaman, Bramanti segera mengambil air di perigi. Diisinya jambangan di pakiwan dengan gentong di dapur. Barulah kemudian ia membersihkan dirinya sendiri.

Ketika ia berdiri di depan regol, seperti biasanya ia melihat Pajang lewat di muka regol rumahnya. Matanya tampak sayu dengan langkah malas ia mendekatinya.

“Hampir semalam aku tidak tidur,” desisnya ketika ia sampai di muka Bramanti.

“Kenapa?” bertanya Bramanti.

“Aku berada di Kademangan.”

“Kenapa di Kademangan?”

“Berbicara saja tanpa ujung pangkal,” Pajang terdiam sejenak, kemudian katanya bersungguh-sungguh, “Bramanti, aku telah mendengar cerita tentang Panggiring. Semalam Ki Tambi kami paksa untuk mengatakannya. Tetapi ia hanya berbicara beberapa patah kata. Menurut orang tua itu, Panggiring sekarang ternyata telah sesat jalan.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Demikianlah menurut Ki Tambi.”

“Terserahlah kepada Panggiring sendiri Bramanti. Kalau memang jalan itu yang dianggap baik,” Panjang berhenti sejenak, kemudian “Tetapi yang penting bagiku adalah sikap Ki Tambi itu sendiri. Ia menyinggung kesulitan yang kini dialami oleh penduduk Kademangan ini. Terutama karena sikap orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Bagaimana sikapnya?”

Ia merasa terhina oleh keharusan menyerahkan apa saja yang diminta oleh Panembahan Sekar Jagat itu.

Bramanti menggangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Tambi masih juga Ki Tambi yang dahulu.”

“Bagaimana sikap Ki Demang dan Ki Jagabaya?” bertanya Bramanti.

“Sudah tentu Ki Jagabaya sependapat dengan Ki Tambi. Tetapi seperti biasanya, Ki Demang ternyata terlampau berhati-hati.”

“Ki Demang ingin membiarkan kita selalu berada dalam ketakutan dan kegelisahan.?”

“Justru sebaliknya. Menurut Ki Demang, apabila kita melakukan perlawanan, maka kita pasti akan dihancurkan.”

“Ah, berapa jumlah orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Dan berapa jumlah laki-laki di Kademangan ini.”

“Tetapi hampir setiap orang menjadi ngeri melihat orang yang bernama Wanda Geni mengacu-acukan senjatanya.”

“Kenapa kita menjadi ngeri? Kalau Wanda Geni seorang atau katakan berempat dengan kawan-kawannya mengacu-acukan senjata mereka, kita berempat puluh orang bersama-sama mengacu-acukan pula.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kawan Wanda Geni itu hanya empat orang?”

Tetapi Bramanti menyahut, “Dan apakah laki-laki di Kademangan ini hanya empat puluh orang?”

“Kau benar Bramanti, seperti yang dikatakan Ki Tambi dan Ki Jagabaya.”

“Lalu apalagi yang kita tunggu?”

“Ki Demang.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana dengan Temunggul?”

Panjang mengerutkan keningnya. Meskipun nampaknya ragu-ragu tetapi ia berkata, “Ia mempunyai pertimbangan lain. Sebaiknya kita tidak membuat mereka marah. Jika mereka marah, maka mereka akan dapat berbuat apa saja. Bahkan mungkin mereka akan menculik gadis-gadis. Tawanan yang pernah kami lepaskan itu ternyata menepati janjinya. Sampai sekarang Wanda Geni tidak pernah berusaha mengganggu gadis-gadis kita. Nah, kalau kita mulai dengan tindakan-tindakan yang menyakitkan hati mereka, maka mungkin sekali hal itu akan terulang kembali.”

“Ah,” Bramanti berdesah. “Ia selalu dibayangi oleh gadis-gadis. Ia tidak pernah berpikir tentang Kademangan ini dalam keseluruhan.

Panjang tidak menyahut, tetapi justru ia bertanya, “Bramanti. Seandainya kita benar-benar melakukan perlawanan atas orang-orang yang menjadi utusan Panembahan Sekar Jagat itu, apakah yang kira-kira akan kau lakukan?”

Bramanti tergagap sesaat.Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan menerima pertanyaan demikian itu. Namun sejenak kemudian dijawabnya sekenanya, “Aku akan berbuat apa saja menurut kemampuanku.”

“Apakah kau berani berkelahi melawan mereka juga?”

Sekali lagi Bramanti menjadi tergagap. Dan sekali lagi sekenanya ia menjawab, “Aku berani berkelahi melawan orang-orang itu. Kalah atau menang bukan soal bagiku.” (Berasambung)-m

Panjang tersenyum. Ditepuknya pundak Bramanti sambil bergumam, “Kau memang seorang yang luar biasa. Sudahlah, aku akan pergi ke Kademangan.”

Tetapi sebelum Panjang melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia terkejut. Ia melihat beberapa orang berlari-lari. Sambil terengah-engah salah seorang dari mereka berkata, “Utusan Panembahan Sekar Jagat telah datang lagi.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Bramanti, dilihatnya anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat.

“Setelah itu telah datang lagi, “ gumam Bramanti. Kemudian ditariknya Panjang masuk ke dalam regol rumahnya. Sambil menutup regol ia berkata, “Mereka tidak akan singgah ke rumahku ini.”

Panjang tidak membantah. Ia berdiri melekat dinding regol di sebelah dalam.

“Apakah yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan mengambil harta benda lagi, atau sekadar mengambil Ratri,” desis Panjang.

Bramanti tidak menjawab. Namun wajahnya menegang.

Mereka berdua masih mendengar beberapa orang berlari-lari. Sejenak kemudian jalan itu telah menjadi sepi.

“Sebentar lagi mereka akan lewat,” desis Panjang.

Bramanti menganggukkkan kepalanya sambil berdesis, “Ya. Aku telah mendengar derap kaki kuda.”

Panjang mengerutkan keningnya. Baru ketika ia masang telinganya tajam-tajam dan kuda-kuda itu menjadi semakin dekat, ia pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu pula.

Panjang kemudian menahan nafasnya ketika kuda-kuda itu lewat di depan regol rumah Bramanti. Tetapi seperti kata-kata Bramanti, mereka tidak akan singgah ke rumah yang meskipun besar itu, tetapi yang sejak beberapa tahun terakhir telah menjadi kosong. Kosong sama sekali. Karena itu, maka mereka sama sekali tidak pernah menaruh minat atas rumah itu, karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan menemukan apapun juga di dalamnya, selain labah-labah yang berwarna hitam.

Ketika kuda-kuda itu kemudian menjauh, maka Panjang dan Bramanti pun menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka masih berdiri saja ditempatnya. Namun sejenak kemudian Bramanti berkata, “Panjang apakah kita akan tetap berada di halaman ini saja?”

“Apa salahnya,” berkata Panjang. “Bukankah mereka tidak akan singgah di rumah ini?”

“Ya. Menurut perhitunganku pasti tidak. Tetapi entahlah apabila ternyata ada persoalan lain.”

“Persoalan apakah yang kau maksud?”

“Apakah kira-kira mereka telah mendengar ceritera tentang kakang Panggiring?”

Panjang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Aku kira mereka masih belum mendengar.”

“Tetapi siapa tahu, bahwa ada di antara kita yang memang menjadi alat Panembahan Sekar Jagat.”

Lalu apakah dengan demikian, seandainya mereka mengetahui persoalan Panggiring, akan dapat menimbulkan masalah baru bagi keluargamu?”

“Hal itu akan mungkin sekali. Kakang Panggiring adalah seorang perampok seperti Panembahan Sekar Jagat. Sedang kakang Panggiring adalah anak Kademangan ini sejak bayinya.”

“Lalu apakah hubungannya dengan kedatangannya kemari?”

“Mungkin Panembahan Sekar Jagat ingin membuktikan kebenaran berita itu, dan ingin bertanya kepada ibu. Mungkin juga karena Panembahan Sekar Jagat mencemaskan, kalau-kalau kakang Panggiring akan pulang, dan akan menjadi saingan mereka untuk selanjutnya selain seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kemungkinan itu memang ada meskipun kecil sekali.”

“Tetapi, tetapi aku menjadi sangat gelisah, Panjang.”

“Kenapa?”

“Bagaimana kalau mereka nanti akan datang kemari?”

“Kenapa. Jawab saja pertanyaannya.”

“Tetapi mereka terlampau buas. Kadang-kadang mereka memukul seseorang tanpa sebab.”

Panjang mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Bukankah kau akan berbuat apa saja menurut kemampuanmu?”

“Tetapi bukan seorang diri. Kalau kita bersama-sama telah mulai, apaboleh buat. Tetapi bukan aku sendiri.”

Panjang menjadi heran melihat sikap itu. Ia merasakan ketidakwajaran pada Bramanti. Tidak mungkin bahwa tiba-tiba menjadi menggigil ketakutan, sedang ketika derap kuda itu mendekat, ia tampak begitu tenang dan bahkan seolah-olah begitu yakin akan dirinya.

Tetapi Panjang pun yakin, bahwa apabila ia bertanya tentang hal itu, Bramanti pasti tidak akan menjawabnya. Karena itu, maka bahkan ia bertanya, “Lalu seandainya demikian, apa yang kau sangka itu benar-benar terjadi, apakah yang akan kau lakukan?”

Bramanti berdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan bersembunyi saja Panjang.”

“Dimana kau akan bersembunyi?”

“Aku akan ke bendungan.”

“Bodoh kau,” hampir saja Panjang berteriak, “Kalau kau pergi ke tempat terbuka, maka kau akan segera dilihatnya. Ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi atasmu.”

“Tetapi, apakah mereka akan sampai ke bendungan itu juga?”

“Mungkin sekali. Meskipun mereka tidak sengaja pergi ke bendungan, namun mereka mungkin sekali lewat menyusur jalan sempit di dekat bendungan, yang kemudian menyilang parit induk dari air yang naik ke bendungan itu.”

“Kau agaknya sedang bermimpi. Mereka adalah orang-orang yang aneh. Mereka sama sekali tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan sama sekali.”

“Tetapi, bagaimanapun juga aku takut Panjang.”

“Kalau begitu, marilah, aku antar kau bersembunyi.”

“Kemana?”

“Terserah kepadamu. Tetapi sebaiknya tidak ke tempat yang terbuka.”

“Jangan Panjang. Aku tidak mau membuatmu bersusah payah. Kita sudah sama-sama dewasa. Marilah kita berusaha menyelamatkan diri kita sendiri.”

“Aku tidak akan sampai hati melepaskan kau seorang diri dalam keadaan serupa ini Bramanti. Kau akan mati ketakutan apabila suatu saat kau bertemu dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu.”

“Tapi sebaiknya kau tetap berada di sini Panjang. Tolong, kawanilah ibuku.”

“Kalau mereka benar-benar datang kemari, apakah kataku kemudian?”

 ”Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang dituduhkan oleh Temunggul,” gumamnya kepada diri sendiri. “Agaknya Temunggu tidak mengenal Bramanti dari dekat. Pada suatu ketika ia akan menyesali semua sikap-sikapnya. Juga Suwela yang telah melecut Bramanti di arena. Untunglah, saat itu bukan akulah yang harus berhadapan dengan Bramanti. Namun seandainya demikian aku akan minta maaf kepadanya.”

Panjang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa ia akan segera menemukan kesimpulan dari semua dugaannya itu.

Namunsudah sekian lama ia menunggu, Bramanti masih juga belum keluar dari dalam rumahnya sehingga Panjang mulai menjadi gelisah. Sambil berdesah ia berjalan hilir mudik di regol halaman itu. Setiap kali ia harus berhenti, dan memperhatikan setiap gemerisik di luar regol. Ia pun semakin lama menjadi semakin dirambat oleh kecemasan, kalau-kalau orang-orang Sekar Jagat itu akan lewat lagi di jalan di depan regol itu.

“Ah, apa saja yang dilakukan Bramanti?” desisnya.

Akhirnya Panjang tidak sabar lagi. Ia pun kemudian berlari melintas halaman dan masuk lewat pintu pringgitan.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil. Tetapi tidak ada terdengar jawaban.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil lebih keras.

Panjang terkejut ketika ia mendengar suara perempuan menyapanya, “Siapa itu?”

“O, aku bibi, jawabnya ketika ia melihat ibu Bramanti mendatanginya.

“Kau Panjang?”

“Ya bibi. Aku mencari Bramanti.”

“Bramanti? Bukankah ia berada di halaman? Mungkin ia sedang bersembunyi, bukankah orang-orang Panembahan Sekar Jagat datang ke Kademangan ini.”

“Tetapi Bramanti baru saja masuk.”

“Ya, ia baru saja masuk. Dan ia minta diri untuk bersembunyi di halam atau dimana saja. Aku kira ia pergi atau bersembunyi bersamamu.”

“Demikianlah seharusnya. Kami akan bersembunyi di bendungan selagi mereka belum pergi. Dan Bramanti mengatakan, bahwa ia akan minta ijin lebih dahulu kepada bibi. Tetapi aku menunggunya terlampau lama di regol halaman, sedang Bramanti tidak juga muncul-muncul.”

Wajah perempuan tua itu menjadi berkerut-kerut, “Aneh,” katanya. “Apakah ia masih berada di dalam rumah ini. Tetapi tidak mungkin. Ia pasti akan mendengar kehadiranmu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia sadari, bahwa sebenarnyalah Bramanti telah pergi seorang diri. Bramanti benar-benar tidak mau perig bersamanya. Sehingga dengan demikian, maka Panjang pun telah hampir dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa Bramanti bukanlah sekadar seorang anak muda seperti yang dilihatnya sehari-hari. Namun dengan demikian ia menyadarinya juga, bahwa Bramanti telah dengan sengaja memulas dirinya sendiri.

Panjang tidak mengerti, apakah maksud Bramanti sebenarnya. Kadang-kadang ia dihinggapi pula oleh berbagai macam pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaannya itu menjadi semakin kabur untuk dapat dicari jawabannya.

Perempuan tua yang masih berdiri termanggu-manggu dihadapannya itu kemudian bertanya, “Mungkin kalian berselisih jalan. Bramanti pergi keluar lewat pintu samping, kau masuk lewat pintu depan Panjang?”

“Ya, mungkin bibi. Memang mungkin.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

“Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang dituduhkan oleh Temunggull,” gumamnya kepada diri sendiri. “Agaknya Temunggu tidak mengenal Bramanti dari dekat. Pada suatu ketika ia akan menyesali semua sikap-sikapnya. Juga Suwela yang telah melecut Bramanti di arena. Untunglah, saat itu bukan akulah yang harus berhadapan dengan Bramanti. Namun seandainya demikian aku akan minta maaf kepadanya.”

Panjang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa ia akan segera menemukan kesimpulan dari semua dugaannya itu.

Namun sudah sekian lama ia menunggu, Bramanti masih juga belum keluar dari dalam rumahnya sehingga Panjang mulai menjadi gelisah. Sambil berdesah ia berjalan hilir mudik di regol halaman itu. Setiap kali ia harus berhenti, dan memperhatikan setiap gemerisik di luar regol. Ia pun semakin lama menjadi semakin dirambat oleh kecemasan, kalau-kalau orang-orang Sekar Jagat itu akan lewat lagi di jalan di depan regol itu.

“Ah, apa saja yang dilakukan Bramanti?” desisnya.

Akhirnya Panjang tidak sabar lagi. Ia pun kemudian berlari melintas halaman dan masuk lewat pintu pringgitan.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil. Tetapi tidak ada terdengar jawaban.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil lebih keras.

Panjang terkejut ketika ia mendengar suara perempuan menyapanya, “Siapa itu?”

“O, aku bibi, jawabnya ketika ia melihat ibu Bramanti mendatanginya.

“Kau Panjang?”

“Ya bibi. Aku mencari Bramanti.”

“Bramanti? Bukankah ia berada di halaman? Mungkin ia sedang bersembunyi, bukankah orang-orang Panembahan Sekar Jagat datang ke Kademangan ini.”

“Tetapi Bramanti baru saja masuk.”

“Ya, ia baru saja masuk. Dan ia minta diri untuk bersembunyi di halam atau dimana saja. Aku kira ia pergi atau bersembunyi bersamamu.”

“Demikianlah seharusnya. Kami akan bersembunyi di bendungan selagi mereka belum pergi. Dan Bramanti mengatakan, bahwa ia akan minta ijin lebih dahulu kepada bibi. Tetapi aku menunggunya terlampau lama di regol halaman, sedang Bramanti tidak juga muncul-muncul.”

Wajah perempuan tua itu menjadi berkerut-kerut, “Aneh,” katanya. “Apakah ia masih berada di dalam rumah ini. Tetapi tidak mungkin. Ia pasti akan mendengar kehadiranmu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia sadari, bahwa sebenarnyalah Bramanti telah pergi seorang diri. Bramanti benar-benar tidak mau pergi bersamanya. Sehingga dengan demikian, maka Panjang pun telah hampir dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa Bramanti bukanlah sekadar seorang anak muda seperti yang dilihatnya sehari-hari. Namun dengan demikian ia menyadarinya juga, bahwa Bramanti telah dengan sengaja memulas dirinya sendiri.

Panjang tidak mengerti, apakah maksud Bramanti sebenarnya. Kadang-kadang ia dihinggapi pula oleh berbagai macam pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaannya itu menjadi semakin kabur untuk dapat dicari jawabannya.

Perempuan tua yang masih berdiri termangu-mangu dihadapannya itu kemudian bertanya, “Mungkin kalian berselisih jalan. Bramanti pergi keluar lewat pintu samping, kau masuk lewat pintu depan Panjang?”

“Ya, mungkin bibi. Memang mungkin.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

Panjang menjadi termenung sejenak. Kalau ia pergi menyusul, apakah Bramanti benar-benar pergi ke Bendungan? Tetapi yang sebenarnya paling baik justru berada di rumah Nyai Pruwita itu. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat pasti tidak akan singgah ke dalamnya.

“Kalau Bramanti memang telah pergi, biarlah aku tinggal disini saja bibi. Aku kira orang-orang itu tidak akan masuk kemari.”

“Ya, ya Panjang. Sebenarnya Bramanti pun tahu, bahwa orang-orang itu tidak akan masuk kemari. Tetapi hatinya terlampau kecil, sehingga ia minta diri untuk pergi. Memang mungkin ia bergi ke bendungan.”

“Baiklah bibi. Aku minta ijin untuk berada di dalam rumah ini sampai orang-orang itu pergi meninggalkan Kademangan.”

“Silakan ngger. Silakan. Aku senang sekali menerima mu. Karena aku mendapat seorang teman,” perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Duduklah seenaknya. Kau adalah satu-satunya teman Bramanti yang terdekat. Tunggulah ia dipringgitan ini. Kalau ia nanti datang kembali dan melihat kau disini, ia akan menjadi malu.”

“Terima kasih bibi.”

“Aku akan melanjutkan kerjaku di dapur. Merebus air.”

“Silakan bibi.”

Perempuan tua itu pun kemudian meninggalkan Panjang seorang diri. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia memandangi setiap sudut rumah Bramanti. Masih tampak bekas-bekas kemegahan dari rumah itu. Ompak batu dari tiang-tiang yang besar berukir dibagian bawah dan atasnya. Adon-adon yang bagus akan mapan.

Beberapa saat yang lalu rumah ini telah mirip seperti rumah hantu. Tetapi kini telah terjadi bersih kembali, meskipun masih tetap suram.

“Hem,” Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Rumah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kademangan Candi Sari. Tetapi kini rumah ini telah dijauhi oleh hampir setiap penghuni Kademangan ini karena kesalahan paman Pruwita. Kekayaannya telah habis dilingkaran judi. Bahkan kemudian namanya dan nyawanya telah dipertaruhkannya pula. Yang tinggal kini adalah sisa-sisa yang buram.

Namun tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan yang aneh didada Panjang, “Apakah maksud Bramanti sebenarnya dengan segala macam tingkah laku dan segala macam rahasia yang diselubungikan pada dirinya itu? Sikapnya yang pura-pura dan tidak dapat diikutinya itu?”

Dan tiba-tiba Panjang menjadi terperanjat sendiri ketika ia mendengar suara hatinya. “Apakah semuanya ini hanya merupakan suatu persiapan saja baginya? Persiapan dari tindakan balasan yang dahsyat atas kematian ayahnya? Bagaimana pun juga ia pasti tidak dapat melupakan peristiwa itu meskipun ia baru seumur kanak-kanak. Dapatkah ia begitu saja melewatkan peristiwa yang telah menghancurkan seluruh kehidupan keluarganya itu? Apabila ternyata Bramanti mempunyai kemampuan seperti yang aku duga, yaitu menyelematkanku di saat-saat aku hampir diterkam maut, maka pada saatnya ia pasti akan dapat banyak berbuat untuk melepaskan sakit hatinya.”

Dan ternyata Panjang telah digelisahkan oleh suara-suara di dalam dirinya itu, sehingga peluh dingin telah membasahi badannya.

“Tetapi,” ia mencoba mencari keseimbangan pikiran, “Apabila demikian, apakah untungnya ia menolong aku dan Suwela yang sudah jelas menghinakannya dimuka banyak orang pada saat pendadaran?”

Namun Panjang sama sekali tidak dapat mengambil kesimpulan apapun selain menganggap Bramanti sebagai seorang yang menyembunyikan dirinya dibalik rahasia yang tebal.

Tetapi Panjang itu pun menyadarinya, bahwa hanya dirinya sendirilah yang selama ini selalu diganggu oleh berbagai macam pertanyaan tentang Bramanti. Kawan-kawannya yang lain, bahkan Temunggul, Suwela dan para pemimpin Kademangan, sama sekali tidak pernah dirisaukan oleh sikap Bramanti itu, justru mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang rahasia yang selama ini ia meliputinya.

Panjang terkejut ketika ia mendengar langkah memasuki ruangan itu. Ketika ia berpaling dilihatnya ibu Bramanti menjinjing semangkuk air panas.

“Ah,” desis Panjang. “Aku agaknya membuat bibi menjadi sibuk.”

“Tidak, tidak Panjang. Adalah kebetulan sekali aku sedang merebus air. Minumlah, sambil menunggu Bramanti.”

“Terima kasih bibi,” jawab Panjang.

“Memang bagi Bramanti, bendungan adalah tempat yang paling aman. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat, pasti tidak akan pergi atau lewat dekat bendungan itu.”

“Ya bibi. Aku pun sebenarnya ingin pergi ke bendungan itu pula bersama Bramanti. Tetapi agaknya Bramanti tidak sempat menunggu aku.”

“Tinggallah disini. Aku yakin, bahwa mereka tidak akan memasuki halaman ini.”

“Terima kasih bibi.”

“Minumlah. Aku masih akan menyelesaikan pekerjaan di dapur.”

Kembali Panjang duduk seorang diri. Dan kembali angan-angannya ke dunia yang tidak dapat dirabanya dengan pasti.

Sementara itu, Wanda Geni dan ketiga kawannya sedang sibuk mengumpulkan barang-barang berharga yang masih tersisa di Kademangan itu. Seperti biasanya, ia selalu membentak dan berteriak. Bahkan kadang-kadang ia terpaksa memukul dan mengancam.

Namun akhirnya Wanda Geni itu pun menjadi puas. Setelah cukup banyak menurut perkiraannya, dan tidak akan mengecewakan Panembahan Sekar Jagat, maka Wanda Geni pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan Kademangan itu.

Tetapi sambil termangu-mangu ia berdesis, “Aku masih mempunyai satu simpanan lagi di Kademangan ini.”

“Apa?” bertanya salah seorang kawannya.

“Seorang gadis.”

“Ah,” desah kawannya yang lain, “Sebaiknya untuk sementara gadis itu kau lupakan. Kalau tidak terjadi sesuatu atas kita, maka Panembahan Sekar Jagat tidak akan mempersoalkannya. Tetapi apabila dengan demikian timbul kesulitan, maka Panembahan pasti akan marah kepadaku.”

Wanda Geni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menggeram, “Tetapi aku adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki nafsu kemanusiaan yang lengkap. Mungkin Panembahan Sekar Jagat adalah seorang yang memiliki kekurangan, sehingga ia sama sekali tidak memerlukannya lagi?”

“Ah,” Wanda Genilah yang kemudian berdesah. “Baiklah. Aku menuruti nasihat kalian kali ini. Tetapi aku ingin melihat, apakah ia masih ada di rumahnya.”

“Itu sama sekali tidak perlu,” sahut kawannya yang seorang. “Dengan demikian Ratri akan menjadi semakin ketakutan. Sehingga apabila pada suatu ketika kau mendapat kesempatan, Ratri telah jauh mengungsi ke tempat yang tidak kau ketahui.”

Wanda Geni mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Baiklah. Aku akan kembali tanpa menemui gadis itu. Tetapi aku akan lewat saja di depan rumahnya. Mungkin aku akan dapat melihat sekilas.”

Tidak seorang pun ang akan menunggu kita lewat di regol halamannya. Semua orang menutup pintunya, dan semua orang berusaha untuk menghindar. Apalagi seorang gadis. Apakah kau kira Ratri akan menunggu kita lewat didepan rumahnya, kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum?”

“Baiklah, baiklah,” Wanda Geni berteriak. “Aku akan kembali. Aku tidak akan memikirkan gadis itu lagi,” ia berhenti sejenak, namun kemudian dilanjutkannya, “Meskipun hanya untuk sementara.”

Ketiga kawannya saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka pun tersenyum.

“He, kenapa kalian tersenyum,” bentak Wanda Geni.

“Tidak apa-apa,” sahut salah seorang dari mereka.

Wanda Geni mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian dilecutkan kudanya. Kuda yang terkejut itu pun segera meloncat dan berlari seperti dikejar hantu. Sedang kawan-kawannya pun kemudian segera menyusulnya pula.

Sejenak kemudian, maka kuda-kuda itu pun berderap di atas jalan-jalan Kademangan Candi Sari. Setiap orang yang mendengar derap itupun menghindari, bahwa hari ini kekayaan Kademangan Candi Sari telah berkurang lagi. Tetapi seperti biasanya, mereka pun hanya sekadar mengelus dada tanpa berbuat sesuatu. Bahkan para pengawal pun sama sekali tidak berbuat apapun.

Betapa Ki Jagabaya menahan deru perasaannya, tetapi suatu kenyataan, ia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat melanggar perintah Demangnya. Untuk kepentingan ketentraman hidup rakyatnya, maka Kademangan Candi Sari jangan mencoba menghalang-halangi tindakan Panembahan Sekar Jagat itu.

Tetapi di antara sekian banyak orang-orang Candi Sari, ada seorang yang berpendirian lain. Orang itu adalah Tambi. Meskipun baru beberapa hari ia berada di Kademangan itu, setelah merantau sekian lamanya, namun ia menjadi sangat berprihatin melihat keadaan yang sama sekali tidak dikehendaki.

Namun ia hanya seorang diri. Sudah tentu ia tidak akan dapat melawan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu. Apalagi Sekar Jagat sendiri. Tetapi apabila seluruh Kademangan ini bangkit bersama-sama, maka menurut perhitungan Tambi, semuanya akan dapat diatasi, setidak-tidaknya dibatasi.

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba teringat kepada sebuah lencana yang diterimanya dari Panggiring. Sebuah ukiran Candi kecil dari perak yang berwarna kehitam-hitaman.

“Apakah Panembahan Sekar Jagat mengenal lencana ini pula seperti gerombolan-gerombolan lain di pesisir Utara?” pertanyaan itu tumbuh dihatinya.

Tetapi Tambi tetap ragu-ragu.

Namun tiba-tiba ia mengambil suatu keputusan, “Aku harus mengetahui ke mana orang-orang itu pergi. Mungkin aku akan menghadap langsung orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat untuk menunjukkan lencana ini. Mungkin mempunyai pengaruh, setidak-tidaknya mendapat perhatiannya. Tetapi apabila keduanya merupakan saingan dan musuh bebuyutan, taruhannya adalah leher dan kepalaku. Tetapi setiap usaha pasti mempunyai beberapa kemungkinan. Yang pahit dan yang manis.”

Dan tiba-tiba saja Tambi itu pun berlari ke kandang kudanya. Kuda yang dipeliharanya baik-baik sejak ia masih di dalam perjalanan perantauannya.

Panjang yang masih berada di rumah Bramanti menahan nafas ketika ia mendengar derap kaki-kaki kuda semakin lama semakin mendekat. Jantungnya pun serasa berhenti berdenyut ketika kuda-kuda itu berlari dengan kencangnya lewat di jalan sebelah rumah Bramanti itu, seperti ketika mereka baru datang.

Namun sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh. Dan sejenak kemudian derap itu seolah-olah lenyap ditelan gemerisiknya dedaunan yang ditiup angin.

“Mereka telah pergi” terdengar ia bergumam.

Dan Panjang pun terperanjat pula ketika ia mendengar seseorang menyahut, “Ya, mereka telah pergi. Sebentar lagi Bramanti akan datang kembali.”

“Tetapi darimana ia tahu kalau orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu telah pergi?”

Perempuan tua, ibu Bramanti itu mengerutkan keningnya. “Ya. Ia tidak akan segera tahu. Tetapi ia akan melihat, jalan-jalan tidak lagi menjadi terlampau sepi. Apabila satu dua orang telah tampak di jalan-jalan atau di pematang sawah, maka Bramanti akan dapat menduga, bahwa orang-orang itu telah meninggalkan Kademangan ini.”

Panjang mengerutkan keningnya. Setelah merenung sejenak, maka ia pun berkata, “Aku akan menyusulnya dan mengajaknya pulang. Itu barangkali lebih baik baginya daripada ia menunggu.”

Ibu Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu itu lebih baik apabila kau tidak berkeberatan ngger.”

Panjang pun kemudian berdiri sambil berkata, “Aku minta diri bibi. Aku akan pergi ke bendungan.”

“Silakan ngger.”

Panjang pun kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Banyak persoalan yang mendorongnya untuk pergi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menuruni tangga pendapa dan langsung menuju ke regol halaman. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia pun segera melangkahkan kakinya menyusur jalan ke bendungan.

Tetapi dadanya bergetar ketika ia mendengar pula derap kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat.

Tanpa sesadarnya, Panjang segera berbelok masuk ke regol halaman yang terdekat. Sambil melekatkan tubuhnya ke pintu regol ia mencoba mengintip, siapakah yang tertinggal di antara orang-orang Panembahan Sekar Jagat.

Namun hatinya berdesir ketika ia melihat Ki Tambi sedang memacu kudanya. Sesuatu yang sama sekali tidak disangka-sangkanya, sehingga ia tidak sempat berbuat apa-apa selain memandanginya dengan mulut ternganga.

Panjang menarik nafas dalam-dalam ketika kuda yang membawa Ki Tambi itu hilang ditikungan. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke luar regol. Namun ia sudah tidak melihat apapun lagi.

“Aneh,” desisnya, “Apakah Ki Tambi seorang diri akan mengejar orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu?”

Panjang menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia berdesis. “Semakin lama semakin banyak masalah yang tidak aku ketahui. Kepalaku menjadi pening memikirkannya.”

Panjang pun kemudian meneruskan langkahnya sambil bergumam. “Lebih baik aku pergi ke bendungan saja menemui Bramanti. Mungkin ia dapat menjawab pertanyaanku, kemana kira-kira Ki Tambi akan pergi.”

Namun, meskipun demikian di sepanjang jalan Panjang masih saja berteka-teki, meskipun ia yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan jawabnya.

Beberapa ratus langkah lagi ia sudah akan sampai ke bendungan. Kini ia meniti jalan sempit yang agak licin karena sebuah parit yang meluap. Kemudian ia menuruni tebing sungai yang tidak begitu curam. Sebentar kemudian ia sudah berada di atas bendungan.

Dada Panjang menjadi berdebar-debar. Ternyata di bendungan itu terdapat beberapa orang kawan-kawannya. Bahkan Temunggul dan Suwela pun berada di tempat itu juga.

“He, apa kerja kalian disitu?” bertanya Panjang.

Temunggul mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Apakah kau tidak tahu, bahwa Wanda Geni baru saja mendatangi pedukuhan kami? Dimana kau selama ini bersembunyi?”

 
“Kenapa harus bersembunyi?” bertanya Panjang.

“Jangan sombong,” sahut Suwela, “Kalau kau bertemu dengan Wanda Geni, setidak-tidaknya punggungmu akan babak belur. Ia sangat benci kepada anggota-anggota pengawal. Apalagi sejak Temunggul mulai melakukan perlawanan.

“Tetapi perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada benda-benda berharga yang mereka cari. Mereka tidak memperhatikan kita, apabila kita tidak berbuat apa-apa.”

“Ya, begitulah. Tetapi dimana kau selama ini?”

“Aku berada di ujung desa,” sahut Panjang seolah-olah bersungguh-sungguh. “Aku melihat Wanda Geni berbelok masuk ke halaman rumah Ratri.”

“He,” tiba-tiba wajah Temunggul menjadi tegang.

“Ya, Wanda Geni masuk ke dalam rumah Ratri,”

“Apa yang dilakukannya?”

“Aku tidak tahu.”

Wajah Temunggul menjadi seakan-akan membara. Tetapi ia masih diliputi oleh keragu-raguan untuk berbuat sesuatu. Namun ia menjadi heran ketika ia melihat Panjang tertawa. Katanya, “Jangan menjadi bingung, Wanda Geni tidak singgah ke rumah Ratri.”

Tetapi wajah Temunggul yang tegang masih juga tegang. Sejenak kemudian terdengar ia menggeram, “Manakah yang benar, Panjang?”

“Aku hanya bergurau. Wanda Geni telah pergi tanpa singgah ke rumah itu.”

Tetapi Panjang menjadi heran karena wajah Temunggul masih saja tegang.

“Kau jangan bermain-main Panjang,” suara Temunggul bergetar, “Kalau kau bermaksud bergurau, maka kau telah berbuat kesalahan. Kau sudah terlampau jauh bergurau tanpa memikirkan akibatnya.

Panjang mengerutkan keningnya.Ia tidak menyangka bahwa dengan demikian Temunggul akan menjadi marah. Karena itu, untuk menghindari kesalah-pahaman selanjutnya ia berkata, “Baiklah, aku minta maaf Temunggul. Aku sebenarnya hanya ingin bergurau. Kalau sendau gurauku itu ternyata terlampau jauh menurut penilaianmu, baiklah aku tarik kembali kata-kataku.”

“Begitu mudahnya kau minta maaf,” geram Temunggul. “Hal ini adalah suatu hal yang besar bagi Kademangan kami. Kami adalah pengawal-pengawal yang harus melindungi ketentraman hati setiap orang di wilayah Kademangan ini. Sedang hal itu masih saja kau anggap permainan yang tidak berarti.

Panjang tidak menjawab lagi. Ia menyadari keadaannya. Kalau ia masih mengucapkan sepatah kata saja, maka Temunggul akan menjadi semakin marah.

“Jadi bagaimana dengan orang-orang itu sebenarnya?” bertanya Temunggul kemudian dalam nada yang datar.

“Mereka telah pergi,” jawab Panjang hati-hati.

“Apa saja yang mereka bawa?”

“Aku tidak tahu.”

Temunggul pun kemudian termenung sejanak. Lalu, “Marilah kita lihat. Apakah yang telah mereka rampas dari penduduk. Kita tidak akan dapat membiarkan hal serupa ini terjadi untuk seterusnya. Pada suatu ketika kita harus bertindak.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

“Marilah,” desis Temunggul kemudian sambil melangkah naik tebing.

Kawan-kawannyapun kemudian mengikutinya. Ketika Suwela berjalan beberapa langkah di depan Panjang, maka Panjang pun mendekatinya sambil berbisik. “Apakah Bramanti pergi ke bendungan ini juga?”

Suwela mengerutkan keningnya, “Kenapa kau tanyakan Bramanti?”

“Tidak apa-apa. Tetapi apakah ia kemari juga?”

Suwela menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya. Apakah ada perkembangan keadaan yang aneh padanya? Dan apakah kau mencurigainya, bahwa ia telah berhubungan dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.”

“O, tidak. Tentu tidak.”

“Lalu apakah kepentinganmu?”

“Aku bertemu dengan anak itu. Ketika aku bertanya kepadanya ia menjawab, bahwa ia ingin bersembunyi saja di bendungan sambil mencuci kain panjangnya.”

Suwela menggelengkan kepalanya, “Tidak. Seandainya pergi juga ke bendungan, maka ia tidak akan berani turun dan berkumpul bersama kami. Anak itu pasti menjadi bahan yang segar untuk melupakan lelah.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak bertanya apa-apa lagi. Ia mengikuti saja mereka yang berjalan berurutan seorang demi seorang.

“Bramanti pasti tidak akan berada bersama-sama dengan mereka,” gumam Panjang di dalam hatinya. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat diajaknya untuk berbincang-bincang. Bahkan kawan-kawannya itu pun pasti akan mentertawakannya apabila ia menyatakan sesuatu tentang teka-teki yang mengamuk di dalam kepalanya.

“Tetapi kemanakah anak itu?” bertanya Panjang kepada diri sendiri.

Sekali lagi sepercik kecurigaan melanda dadanya. Namun ia masih juga selalu berusaha untuk membuat keseimbangan. Ia tidak boleh berprasangka, tetapi ia pun tidak dapat mempercayainya sebulat-bulatnya.

Temunggul pun berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan bersungguh-sungguh ia berkata, “Kita akan melihat, siapa saja yang kali ini menjadi korban. Sudah tentu kita tidak akan berpeluk tangan untuk selanjutnya. Sebab dengan demikian, maka Kademangan ini pada suatu ketika, tidak akan lebih dari sebuah tanah pekuburan yang besar, dimana orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah orang-orang yang mati didalam hidupnya. Orang-orang yang selalu diselubungi oleh ketakutan untuk berbuat, berbicara dan menyatakan sesuatu.”

Kawan-kawan Temunggul pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita langsung ke Kademangan. Mungkin anggota pengawal dari golongan orang tua pun telah berbuat demikian.”

“Kita akan langsung bertindak,” jawab Temunggul sambil melangkah terus.

Ia tertegun ketika salah seorang dari mereka berkata, “He, Temunggul. Kenapa kita akan berbelok ke jalan itu? Memang sebaiknya kita pergi ke Kademangan. Kita akan menunggu perintah dari Ki Jagabaya, supaya kita tidak keliru.”

Tetapi Temunggul tidak menjawab. Bahkan ia menggeram, “Ikuti aku. Siapa yang menganggap harus segera sampai ke Kademangan aku persilakan memilih jalan lain.”

Temunggul pun berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan bersungguh-sungguh ia berkata, “Kita akan melihat, siapa saja yang kali ini menjadi korban. Sudah tentu kita tidak akan berpeluk tangan untuk selanjutnya. Sebab dengan demikian, maka Kademangan ini pada suatu ketika, tidak akan lebih dari sebuah tanah pekuburan yang besar, dimana orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah orang-orang yang mati didalam hidupnya. Orang-orang yang selalu diselubungi oleh ketakutan untuk berbuat, berbicara dan menyatakan sesuatu.”

Kawan-kawan Temunggul pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita langsung ke Kademangan. Mungkin anggota pengawal dari golongan orang tua pun telah berbuat demikian.”

“Kita akan langsung bertindak,” jawab Temunggul sambil melangkah terus.

Ia tertegun ketika salah seorang dari mereka berkata, “He, Temunggul. Kenapa kita akan berbelok ke jalan itu? memang sebaiknya kita pergi ke Kademangan. Kita akan menunggu perintah dari Ki Jagabaya, supaya kita tidak keliru.”

Tetapi Temunggul tidak menjawab. Bahkan ia menggeram, “Ikuti aku. Siapa yang menganggap harus segera sampai ke Kademangan aku persilakan memilih jalan lain.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi ketika Temunggul berbelok ke kiri maka kawannya pun saling berpandangan. Mereka segera mengetahui maksud Temunggul. Ia akan berjalan melalui jalan di depan rumah Ratri.

“Hem,” gumam Panjang, “Ternyata gadis itulah yang sebenarnya mendapat perhatiannya yang terbesar. Baru kemudian orang-orang yang kehilangan harta miliknya. Meskipun wajar, bahwa yang pertama-tama harus mendapat perhatian adalah setiap orang di Kademangan ini, bukan barang-barangnya. Tetapi cara yang dipakai oleh Temunggul agaknya terlampau kasar dan kaku.”

Namun demikian, justru karena kawan-kawan Temunggul itu mengetahui maksudnya, tidak seorang pun lagi yang mempersoalkan jalan yang mereka lalui. Bagaimanapun juga Temunggul pasti tidak akan mau memilih jalan yang lain.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah Ratri, maka kawan-kawan Temunggul itu pun saling berpandangan sesaat. Tetapi tidak seorang pun yang mengucapkan kata-kata. Meskipun demikian, mereka telah menduga-duga di dalam hati mereka, bahwa yang pertama-tama akan didatangi oleh Temunggul adalah rumah Ratri.

Hampir setiap orang menarik nafas dalam-dalam ketika Temunggul berhenti di muka regol halaman rumah itu. Sejenak mereka berdiri diam menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Temunggul.

Temunggul pun agaknya menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah kawan-kawannya satu persatu. Seolah-olah ia ingin mengetahui, tanggapan apakah yang ada di dalam setiap dada. Namun yang dilihat oleh Temunggul adalah wajah-wajah yang kosong. Dan bahkan ada di antaranya yang menjadi acuh tak acuh. Panjang. Panjang menganggap Temunggul terlampau banyak dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya. Dan menurut pendengaran, hal itu pernah diucapkan oleh seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar dan yang pernah diucapkan oleh Bramanti.

“Kalau Bramanti itu seorang anak yang cengeng seperti yang tampak dalam kehidupannya sehari-hari, ia tidak akan dapat mengatakan hal itu. Apalagi kepadaku, sedang ia tahu bahwa aku adalah salah seorang anggota pengawal Kademangan dibawah pimpinan Temunggul,” katanya dalam hati.

Panjang masih tetap tegak di tempatnya seperti kawan-kawannya yang lain ketika Temunggul kemudian melangkah mendekati pintu regol. Sekali lagi ia berhenti dan berkata kepada kawan-kawannya, “Tunggulah. Aku akan melihat, apakah Wanda Geni singgah ke rumah ini.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka hanya memandang saja Temunggul membuka pintu regol itu perlahan-lahan, kemudian melangkah masuk ke halaman yang masih sepi. Agaknya orang-orang di dalam rumah itu masih belum mengetahui, bahwa Wanda Geni telah meninggalkan padukuhannya.

Ketika Temunggul telah hilang dibalik pintu regol beberapa orang dari kawan-kawannya itu berdesah sambil saling memandang. Sedang Panjang berdesis, “Aku tidak menyangka Temunggul sekarang mudah sekali tersinggung dan menjadi marah.”

“Tidak,” jawab Suwela, “Kalau kau tidak bergurau tentang Ratri.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan lesunya ia melangkah menepi. Lalu duduk di atas sebuah batu, bersandar dinding batu. Tetapi ketika punggung dirayapi oleh puluhan semut hitam, ia pun segera berdiri sambil mengumpat-umpat.

Namun tiba-tiba saja Panjang teringat kepada ibu Bramanti. Ia pasti menunggunya dan bersama anak muda itu. Tetapi ternyata ia tidak menemukannya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya di dalam hatinya. “Kemanakah anak muda itu pergi. Apakah tiba-tiba saja ia bertemu tanpa dikehendaki oleh Wanda Geni, kemudian mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya, karena ia dikira hendak melawan atau melarikan dirinya?”

Namun sekilas kemudian terbayang Ki Tambi yang berpacu beberapa saat setelah Wanda Geni meninggalkan Kademangan ini.

“O,” katanya di dalam hati “Aku menjadi semakin pening. Justru kami para pengawal hanya sekadar berdiri dan duduk-duduk di pinggir jalan tanpa berbuat sesuatu.

Tanpa sesadarnya, perlahan-lahan Panjang membuat perbandingan-perbandingan antara Temunggul dan Bramanti. Meskipun dalam bentuk dan sikap sehari-hari keduanya sama sekali tidak dapat diperbandingkan, namun Panjang tidak mengerti, kenapa semakin lama ia semakin merasa dekat dengan Bramanti. Meskipun kadang-kadang ia masih juga dihinggapi oleh kecurigaan dan prasangka, namun di sudut hatinya Panjang mengharap, bahwa dugaannya selama ini akan ternyata benar. Bramanti bukanlah sekadar seorang anak muda yang cengeng. Tetapi sudah tentu ia sama sekali tidak mengharap, bahwa rahasia itu sekadar menjadi pelindung dari maksud yang sesungguhnya. Dendam.

“Tetapi aku sama sekali tidak melihat bayangan dendam itu di matanya,” setiap kali Panjang berusaha menentramkan dirinya sendiri.

Beberapa orang yang lain, berjalan mondar-mandir tidak menentu. Suwela berdiri bersandar dinding regol. Sedang seorang kawannya yang lain mulai menghitung-hitung buah jambu pada sebatang pohonnya diseberang jalan.

Sejenak kemudian mereka serentak berpaling. Ternyata Temunggul telah muncul dari balik pintu regol. Yang pertama-tama ditatapnya adalah wajah Panjang. Sekali lagi ia berkata, “Panjang. Lain kali aku minta kau agak berhati-hati. Aku adalah seorang yang tidak berkeberatan untuk dibawa bergurau. Tetapi kau harus dapat menempatkan diri. Dalam keadaan yang bagaimana dan tentang apa.”

Panjang yang tidak ingin menjadikan soal itu berkepanjangan, sekali lagi ia berkata, “Baiklah. Dan sekarang aku minta maaf untuk yang kedua kalinya.”

“Yang penting bukanlah apakah aku akan memberi maaf itu atau tidak,” berkata Temunggul kemudian, “Tetapi apakah kau tidak akan mengulanginya lagi.”

Panjang tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tidak senang apabila Temunggul masih akan mempersoalkannya terus. Ia sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya.

“Ternyata halaman rumah ini disentuhpun tidak,” geram Temunggul kemudian.

Panjang masih tetap berdiam diri.

“Sekarang marilah kita ke Kademangan. Kita lebih baik melakukan hubungan dahulu dengan Ki Jagabaya sebelum kita berbuat sesuatu.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Ternyata mereka pun harus pergi ke Kademangan. Dengan demikian menjadi semakin jelas bagi kawan-kawannya, bahwa Temunggul hanya sekadar ingin melihat rumah Ratri.

“Tetapi itu adalah hal yang lumrah,” salah seorang kawannya berbisik kepada Panjang.

Panjang pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Temunggul baru tergila-gila kepada gadis itu. Kakakku pun dahulu seperti itu juga ketika ia tergila-gila kepada isterinya itu sebelum kawin. Apapun dilakukannya hanya untuk sekadar melihat istrinya itu, pada waktu itu, sedang menyapu halaman.”

Panjang tersenyum. Kawannya itu pun tersenyum pula.

Temunggul bersama-sama dengan beberapa orang kawannya pun kemudian pergi ke Kademangan. Disepanjang jalan itu Panjang masih juga berdebar-debar. Ibu Bramanti pasti menunggunya dengan cemas. Karena itu, maka ia bermaksud singgah meskipun hanya sebentar ke rumah Bramanti. Sehingga kemudian, Panjang itu berkata kepada Temunggul yang berjalan di paling depan, “Temunggul, aku akan mengambil jalan simpang ini. Aku ingin singgah ke rumah kawanku sebentar. Kemudian aku akan menyusul ke Kademangan.”

Temunggul berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Panjang. Sejenak kemudian ia bertanya, “Kau akan singgah ke rumah siapa?”

Panjang menjadi ragu-ragu untuk mengucapkan nama Bramanti. Temunggul dan sebagian kawan-kawannya sama sekali tidak senang mendengar nama itu. Karena itu, maka sekenanya ia berkata, “Aku akan pergi ke rumah paman Tambi. Aku mendapat pesan dari ayah untuk menemuinya sejenak.

“Apakah perlu sekali kau sampaikan pesan itu sekarang?”

“Bukankah aku hanya sekadar singgah sebentar? Kemudian aku akan segera menyusulmu.”

“Apakah kau menjadi sakit hati, Panjang?” tiba-tiba Temunggul bertanya.

Dada Panjang berdesir. Namun ia menjawab, “Kenapa aku menjadi sakit hati?”

“Mungkin kau tidak senang mendengar peringatan-peringatan yang aku berikan itu.”

Panjang menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sama sekali tidak.”

“Kalau kau tidak mau tersinggung Panjang, kau jangan memulai menyinggung perasaan orang lain.”

“Sudah aku katakan, aku tidak menjadi sakit hati.”

“Aku akan melihat, apakah kau berkata sebenarnya.”

Panjang tidak menyahut. Tetapi terasa dadanya sudah mulai bergetar. Bahkan ia bergumam di dalam hatinya, “Aku laki-laki juga seperti kau Temunggul. Adalah kebetulan sekali kau sekarang menjadi pimpinan anggota pengawal. Tetapi aku belum pernah melihat sejak aku kanak-kanak, kau memasuki gelanggang pendadaran. Apalagi harus berkelahi memasuki gelanggang pendadaran. Apalagi harus berkelahi dengan harimau seperti aku dan Suwela, atau menjinakkan kuda liar, sehingga salah seorang dari mereka cacad untuk seumur hidupnya.”

Karena Panjang tetap berdiam diri, maka Temunggul pun kemudian melanjutkan perjalanannya diikuti oleh beberapa kawannya. Suwela yang terakhir meninggalkan Panjang berbisik, “Peringatan bagimu Panjang, agar seterusnya kau berhati-hati bergurau dengan anak itu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Sejenak ia masih berdiri memandangi punggung-punggung yang semakin lama semakin jauh. Seperti Temunggul yang menjadi semakin jauh pula dari hatinya.

Ketika kawan-kawannya telah berbelok dikelok jalan, maka Panjang pun melangkahkan kakinya pula, berbelok masuk ke dalam sebuah jalan simpang. Langkahnya pun menjadi semakin lama semakin cepat. Ia ingin segera memberitahukan kepada ibu Bramanti, bahwa ternyata Bramanti tidak ada di bendungan.

Sebenarnya Panjang sendiri memang sudah menduga, bahwa Bramanti tidak akan pergi ke bendungan. Kalau ia hanya akan sekadar bersembunyi, ia pasti tidak akan meninggalkannya. Tentu Bramanti telah berbuat sesuatu. Tetapi sesuatu yang tidak dimengertinya.

Ibu Bramanti terkejut mendengar keterangan Panjang, bahwa anaknya tidak ada di bendungan. Karena itu dengan cemas ia bertanya, “Apakah kau tahu, dimanakah kiranya Bramanti itu bersembunyi?”

Panjang menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian ia menjawab, “Tetapi ibu tidak usah mencemaskannya. Mungkin Bramanti telah mengambil tempat yang lain, karena di bendungan itu telah lebih dahulu bersembunyi Temunggul dan beberapa orang kawannya. Agaknya Bramanti telah menghindari mereka, dan mencari tempat yang tersendiri.

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kenapa sampai saat ini ia masih belum kembali,” perempuan tua itu bertanya.

“Mungkin Bramanti belum mengetahui, bahwa Wanda Geni itu telah pergi meninggalkan Kademangan ini.”

Sekali lagi ibu Bramanti itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan mencoba mencarinya bibi, mudah-mudahan aku segera menemukannya.”

“Terima kasih ngger.”

Panjang pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman itu. Tetapi ia tidak mencari Bramanti. Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat menemukannya. Karena itu, maka ia langsung pergi ke Kademangan menyusul kawan-kawannya yang telah berjalan lebih dahulu bersama Temunggul.

Sementara itu Wanda Geni dengan ketiga kawannya sedang berpacu di atas punggung kudanya. Sedikit kekecewaan singgah di hati Wanda Geni, karena ia tidak dapat singgah ke rumah Ratri. Namun ia cukup berbangga karena ia berhasil mendapat benda-benda berharga yang akan membuat Panembahan Sekar Jagat berterima kasih kepadanya dan menjadi semakin percaya pula bahwa kemampuannya memang dapat dibanggakan.

Tetapi ketika mereka melintasi sebuah bulak panjang yang membatasi Kademangan Candi Sari, Wanda Geni itu mengerutkan keningnya. Dikejauhan ia melihat seseorang berdiri tegak di atas tanggul parit yang membujur disisi jalan yang dilaluinya.

“He, apakah kalian melihat orang yang berdiri itu?” bertanya Wanda Geni.

“Diujung pategalan, di atas tanggul?” bertanya salah seorang kawannya.

“Ya.”

“Kenapa?”

“Apakah ia tidak lari dan bersembunyi atau menghindar jauh-jauh dari jalan ini?”

“Orang itu agaknya sedang menunggu air yang mengaliri sawah disebelah pategalan itu. Kalau ia tahu, bahwa kita yang lewat ini adalah hamba-hamba terpercaya dari Panembahan Sekar Jagat, maka orang itu pasti akan lari terbirit-birit.”

Wanda Geni mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia tertawa. “Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku adalah Wanda Geni, utusan Panembahan Sekar Jagat. Nah, mari kita bertaruh, apa yang akan dilakukan?”

“Ia akan menjadi pucat, menggigil dan ketakutan. Nah, kau akan bertaruh berapa?”

“Kau harus menebak lain,” sahut Wanda Geni. “Aku sudah berpikir demikian. Bahkan ia akan menjadi pingsan.”

“Ah, jangan mau menang sendiri. Aku mengucapkannya lebih dahulu.”

Wanda Geni tidak menyahut. Tetapi ia tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan menebak lain. Orang itu akan menyumpah-nyumpah dan menantang kita berkelahi.”

“Apa taruhannya.”

“Kepala”

“Kepala siapa?” kawannya terkejut.

“Kepala orang itu. Habis, kepala siapa? Kalau aku kalah, akulah yang memenggalnya dan memberikan kepadamu. Tetapi kalau kau yang salah tebak, kau yang akan memenggal dan memberikannya kepadaku.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. “Baik,” katanya sambil memilin kumis. Tetapi agaknya kawan-kawannya yang lain hampir tidak menaruh perhatian kepada taruhan yang gila itu.

“Kau tidak ikut bertaruh?” bertanya Wanda Geni.

“Selain kepalanya, tidak ada lagi yang berharga pada orang itu,” jawab salah seorang daripadanya.

Sekali lagi Wanda Geni tertawa. Sambi melecut kudanya ia berdesis,

“Aku ingin segera tahu, siapakah orang yang gila itu.”

Semakin dekat mereka dengan orang yang berdiri di atas tanggul itu, semakin jelas pada mereka, bahwa orang itu sedang memperhatikan aliran air pada parit disisi jalan. Sehingga orang itu sama sekali tidak memperhatikan kedatangan Wanda Geni dengan kawan-kawannya.

Orang itu berpaling ketika Wanda Geni dengan kawan-kawannya itu berhenti di belakangnya.

“He Ki Sanak,” bertanya Wanda Geni. “Apakah yang kau perhatikan?”

“Air,” jawab orang itu singkat.

“Kenapa dengan air?” bertanya kawan Wanda Geni.

“Air ini tidak mengalir seperti biasanya. Aku menungguinya. Apabila air cukup deras, aku akan mengambil sebagian untuk mengaliri sawahku yang sudah mulai memberi harapan. Tanamanku sudah akan menunjukkan hasilnya. Batang-batang padi itu sudah mulai bunting. Kalau pada suatu saat, tanahnya menjadi kering, maka padi itu kelak akan menjadi gabug. Kosong tidak berisi.”

Wanda Geni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “He, lihatlah aku. Apakah kau belum mengenal aku? Berpalinglah.”

Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Wanda Geni dengan heran. Bahkan sambil bertanya, “Kenapa dengan kau?”

Wanda Geni mengerutkan keningnya. “Apakah kau belum mengenal aku?” sekali lagi ia bertanya.

Orang itu tidak menyahut. Ditatapnya saja wajah itu tajam-tajam.

“Dengar,” teriak Wanda Geni. Namun kemudian suaranya merendah. Ia berpaling kepada kawannya. Katanya, “Aku akan mengatakan tentang diri kita. Perhatikan siapa yang menang dalam bertaruh kali ini.”

Kawannya yang bertaruh kepala dengan Wanda Geni itu menganggukkan kepalanya. “Baik. Katakanlah.”

“He, dengar Ki Sanak,” berkata Wanda Geni kemudian. Meskipun ia tersenyum, tetapi wajahnya justru semakin menakutkan. “Kalau kau belum mengenal namaku, pandangilah baik-baik wajahku ini. Kemudian dengarlah baik-baik pula. Namaku Wanda Geni. Utusan yang paling dipercaya oleh Panembahan Sekar Jagat.

Orang yang mendengar pengakuan Wanda Geni itu mengerutkan keningnya. Namun sama sekali tidak terduga-duga, bahwa orang itu justru tersenyum. Katanya kemudian, “Senang sekali bertemu dengan kalian.”

Wanda Geni hampir tidak percaya atas matanya sendiri. Seakan-akan ia tiba-tiba saja terlempar ke dalam suatu mimpi. Orang itu sama sekali tidak terkejut, bahkan tersenyum dengan tenangnya.

“He, apakah kau tahu arti dari mana Wanda Geni dan Panembahan Sekar Jagat?” bentak Wanda Geni.

“Ya, aku tahu sepenuhnya. Kau adalah utusan Panembahan Sekar Jagat yang setiap kali datang ke desa-desa untuk merampok harta miliknya. Benar?”

Wanda Geni menggeram. Dan tiba-tiba saja tanpa sesadarnya ia bertanya, “Siapakah kau, he? Siapa?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Dan sekali lagi Wanda Geni dikejutkan oleh jawaban orang itu. “Akulah yang bertanya kepadamu sekarang, apakah kau belum mengenal aku?”

Dada Wanda Geni bergetar dahsyat sekali. Tangannya menjadi gemetar oleh kemarahan yang meluap sampai ke ubun-ubunnya.

“Sebut namamu atau gelarmu atau ciri-ciri pengenalmu yang lain supaya segera aku tahu dengan siapa aku berhadapan.”

“Bahkan kita pernah bertemu? Itulah sebabnya aku tidak menjawab pertanyaanmu, apakah aku mengenalmu? Semula aku memang agak ragu-ragu, karena kita bertemu di malam hari. Tetapi kau sendiri sudah mengaku, bahwa kau bernama Wanda Geni utusan Panembahan Sekar Jagat.”

“Cukup,” potong Wanda Geni sambil berteriak. “Sebut namamu. Aku tidak mau mendengar kau sesorah.”

“Baiklah. Namaku Putut Sabuk Tampar, utusan Resi Panji Sekar dari Pliridan. Kau ingat?”

Tiba-tiba wajah Wanda Geni menjadi merah padam. Ketiga kawan-kawannya pun terkejut bukan kepalang, sehingga darah mereka serasa akan berhenti. Dengan demikian, maka sejenak justru mereka membeku ditempatnya, di atas punggung kudanya.

“He, kenapa kalian mematung,” bertanya Sabuk Tampar sambil tersenyum. “Sudah aku katakan, kita bertemu di malam hari. Mungkin saat itu kau tidak dapat mengenal aku dengan baik. Demikian pula aku. Sekarang, marilah kita saling mencamkan wajah kita masing-masing.”

“Persetan,” Wanda Geni ternyata sudah tidak dapat menahan diri lagi. Ia tahu benar bahwa Putut Sabuk Tampar bukanlah sejajar dengan para pengawal Kademangan Candi Sari. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat mengabaikannya.

Dan tiba-tiba saja Wanda Geni itu berteriak. “Ternyata aku kalah bertaruh kali ini. Akulah yang akan membayar taruhan itu. Sepotong kepala orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

Wanda Geni tidak menunggu kata-katanya lenyap dari udara. Secepat kilat ia menghentikan kendali kudanya, menerjang Putut Sabuk Tampar yang masih berdiri dengan tenangnya di atas tanggul.

Tetapi ternyata Putut itu benar-benar lincah. Ketika Wanda Geni menyambarnya, bahkan dengan ujung senjatanya yang telah tergenggam di tangan, orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu dengan lincahnya meloncat menghindar. Namun seakan-akan tidak diketahui, bagaimana hal itu dapat terjadi, Putut Sabuk Tampar telah menyerang salah seorang kawan Wanda Geni yang masih duduk terheran-heran.

Serangan yang tidak terduga-duga itu tidak dapat dielakkannya. Kudanya pun sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Namun tiba-tiba saja ia menyadari dirinya yang telah terpelanting jatuh. Demikian kerasnya ia terbanting, sehingga terasa sakit yang amat sangat telah menyengat punggungnya. Ternyata tulang belakangnya telah menjadi cidera karenanya. Sehingga dengan demikian, ia sama sekali tidak dapat bangun lagi kecuali berguling sekali dua kali menepi, sambil menyeringai menahan sakit.

Namun yang lebih sakit lagi adalah hatinya ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu telah berada di punggung kudanya sambil menggenggam senjatanya.

Sejenak kemudian, maka orang yang terbaring sambil menyeringai ditepi jalan itu melihat, orang yang menyebut dirinya bernama Putut Sabuk Tampar itu telah siap untuk berkelahi. Bahkan tanpa menunggu lagi, ia telah mulai menyerang dengan garangnya di atas punggung kuda.

Wanda Geni menggeram sejanak kemudian terdengar ia berteriak nyaring sambil mengacung-acungkan senjatanya. Serangannyapun segera datang seperti badai.

Dengan demikian, maka segara timbul pertempuran yang dahsyat di antara mereka. Putut Sabuk Tampar harus mengulangi lagi, bertempur melawan tiga orang termasuk Wanda Geni. Namun kini mereka berada di atas punggung kuda, sehingga pertempuran di antara mereka itu berlangsung lebih cepat dan mendebarkan jantung.

Ternyata Putut Sabuk Tampar benar-benar memiliki ilmu yang tangguh. Meskipun ia harus bertempur melawan tiga orang kepercayaan Panembahan Sekar Jagat, namun ia sama sekali tidak terdesak. Bahkan setiap kali ia berhasil mengejutkan lawan-lawannya dengan gerakan-gerakan yang tidak terduga-duga. Dengan tangkasnya ia menguasai kudanya sekaligus menguasai senjata di tangan kanannya. Setiap kali senjata itu menyambar-nyambar hampir tidak dapat terhindarkan lagi.

Setelah mereeka bertempur hilir mudik di sepanjang jalan, sawah dan pategalan itu, maka tiba-tiba terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata senjata Sabuk Tampar telah menyambar lengan salah seorang kawan Wanda Geni. Hampir saja ia terpelanting dari kudanya. Namun dengan susah payah ia berhasil memperbaiki keseimbangannya. Namun tangan kanannya seakan-akan telah menjadi lumpuh dan senjatanya pun telah terpelanting jatuh.

Wanda Geni kini masih harus bertahan bersama seorang kawannya. Namun ia sudah merasa, bahwa ia tidak akan mampu melawan orang yang bernama Putut Sabuk Tampar itu. Karena itu, seperti yang pernah dilakukannya, maka jalan yang paling baik adalah melarikan dirinya.

Tetapi ia harus mendapat kesempatan. Semenara kawannya yang terluka itu menjadi semakin lama semakin lemah.

Akhirnya datang juga giliran bagi kawannya yang seorang lagi. Putut Sabuk Tampar sendiri tidak akan dapat menguasai senjatanya seperti yang dikehendakinya karena pengaruh gerak kuda dan gerak lawannya sendiri. Karena itu, ketika ia menjulurkan senjatanya, tiba-tiba saja, senjata itu telah terhunjam ke dalam dada lawannya itu. Ia hanya mendengar pekik yang tinggi, namun kemudian suaranya hilang untuk selama-lamanya.

Saat yang demikian itu, ternyata dapat dimanfaatkan oleh Wanda Geni sebaik-baiknya. Selagi Putut Sabuk Tampar merenungi lawannya yang terbunuh itu, Wanda Geni melarikan kudanya seperti angin meninggalkan gelanggang, di susul oleh seorang kawannya yang terluka pada lengannya dan yang telah menjadi semakin lemah. Tetapi ia masih mampu melarikan diri di atas punggung kuda.

Namun yang dua di antara mereka masih tinggal di tempatnya. Yang seorang sudah tidak bernyawa. Sedang yang seorang menyeringai menahan sakit yang hampir tidak tertanggungkan lagi.

Sejenak orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu termenung. Ia memang tidak ingin mengejar Wanda Geni dan kawannya. Dibiarkannya mereka hidup supaya Panembahan Sekar Jagat mendengar apa yang telah terjadi. Ia mengharap bahwa pada suatu saat ia akan hanya sekadar melayani Wanda Geni. Tetapi ia ingin bertemu langsung dengan Panembahan Sekar Jagat. Meskipun demikian ia masih meragukan kemampuan Kademangan Candi Sari. Kalau pada saat yang ditunggu itu datang, sedang orang-orang Candi Sari masih saja tidur nyenyak, maka Kademangan itu memang benar-benar akan tertimpa bencana. Itulah sebabnya ia telah mengambil kebijaksanaan. Melawan Wanda Geni ditengah-tengah bulak di ujung Kademangan itu. Dengan demikian, maka kesalahan yang terbesar tidak akan ditimpakan kepada Kademangan Candi Sari.

Namun dalam pada itu, selagi ia masih termangu-mangu di atas punggung kudanya, orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu mendengar derap seekor kuda. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya seekor kuda berpacu ke arahnya.

Sejenak orang yang bernama Sabuk Tampar itu termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya bibirnya bergerak dan menyebut suatu nama, “Apakah benar itu Ki Tambi? Apakah maksudnya, dan apakah kepentingannya?”

Tetapi Putut Sabuk Tampar ternyata tidak ingin bertemu dengan Ki Tambi yang memacu kudanya. Karena itu maka orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu pun kemudian melarikan kudanya pula. Dengan tergesa-gesa ia memutar kudanya dan membawanya masuk ke pategalan dan hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Diselusurinya jalan setapak di tengah-tengah pategalan itu sekadar untuk menghindarkan diri dari orang yang bernama Ki Tambi. Bukan karena tidak berani melawannya dalam perkelahian namun ia merasa bahwa belum saatnya ia berhadapan wajah dengan orang-orang Kademangan Candi Sari, termasuk Ki Tambi.

Ki Tambi sendiri terkejut ketika ia melihat beberapa ekor kuda tersebar di tengah jalan. Segera ia mengetahui, bahwa telah terjadi perkelahian di antara mereka. Ketika ia melihat apa yang terjadi di kejauhan, perkelahian agaknya sudah selesai, dan dua orang di antara mereka melarikan diri.

Tetapi yang paling mengejutkan, bahwa salah seorang dari mereka agaknya telah dikenalnya. Dengan dahi yang berkerut marut, sambil memacu kudanya ia menebak-nebak. Dan bahkan kadang-kadang ia berteka-teki dengan diri sendiri. “Benarkah?”

Tetapi orang itu seakan-akan telah melarikan diri melihat kehadirannya. Namun justru dengan demikian dugaannya menjadi semakin kuat. Orang itu memang pernah dikenalnya.

Ketika Ki Tambi sampai ke tempat perkelahian itu, ia tinggal melihat seorang yang telah mati terbunuh dan yang seorang lagi masih merintih kesakitan. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya dan mendekati orang yang sedang terluka itu.

“Apakah yang terjadi?” ia bertanya, “Dan siapakah kau?”

Orang yang terluka itu menahan perasaan sakit dipunggungnya sambil memejamkan matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Punggungku. Mungkin tulang punggungku patah ketika aku terjatuh dari kuda tanpa dapat menempatkan diri. Dorongan tangannya ternyata terlampau kuat, dan aku terpelanting.”

“Dorongan tangan siapa yang kau maksud?” bertanya Tambi.

“Putut Sabuk Tampar.”

“Siapakah Putut Sabuk Tampar itu.”

“Ia baru saja pergi membawa kudaku.”

Tambi mengerutkan keningnya. Kini ia berjongkok dekat-dekat dari orang yang terluka itu. “Siapa kau?”

Orang itu berpikir sejenak. Tiba-tiba tumbuh niat untuk mendapat pertolongan karena pengaruh nama Panembahan Sekar Jagat. Maka jawabnya, “Aku adalah utusan Panembahan Sekar Jagat.”

“O,” Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi kau bertemu dengan lawan lamamu. Bukankah kau pernah bertemu dengan Putut Sabuk Tampar pada suatu malam ketika seorang yang bernama Wanda Geni ingin merampas seorang gadis dari Kademangan Candi Sari? Nah apakah pada malam itu kau ikut serta pula bersamanya.”

“Ya, ya. Aku ikut serta bersama mereka. Kawanku yang terbunuh itu pun ikut pula. Sedang kawanku yang lain, yang terluka, tetapi masih sempat melarikan dirinya adalah salah seorang dari kami yang terluka pada waktu itu.”

“O,” Tambi masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia diam merenung, apakah yang sebaiknya dilakukannya.”

Perlahan-lahan ia berdiri. Dilihatnya pula orang yang terbunuh. Ia menjadi ragu-ragu sejenak.

Sekali-kali ia mendengar orang yang terluka itu mengeluh. Kadang-kadang ia mengatupkan giginya rapat-rapat. Agaknya punggungnya benar-benar telah patah.

“Marilah,” berkata Tambi. “Ikut aku ke Kademangan Candi Sari.”

“Apakah yang akan kalian lakukan atasku?” bertanya orang itu.

“Jangan bertanya tentang hal-hal yang dapat membuat kau ragu-ragu. Sebaiknya lukamu diobati. Apa yang akan terjadi kemudian, jangan kau pikirkan sekarang.”

Orang itu tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menilai keadaan betapapun lukanya menyengat-nyengat. Dan tiba-tiba ia berdesis, “He, bukankah kau orang Kademangan Candir Sari?”

“Ya,” jawab Ki Tambi.

“Jangan main-main. Ingat, aku adalah seorang utusan Panembahan Sekar Jagat.”

“Kenapa?”

“Kalau kau tidak berbuat bijaksana, maka Kademangan itu akan hancur menjadi abu. Kau mengerti? Bukankah setiap orang di Kademangan itu takut terhadap kami, utusan Panembahan Sekar Jagat?”

“Ah,” desah Tambi. “Kau tidak usah menakuti aku. Kau sekarang sedang terluka parah oleh seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Bukankah orang yang menamakan dirinya Putut Sabuk Tampar itu datang dari Pliridan dan mengaku sebagai utusan Panji Sekar? Resi Panji Sekar?”

“Ya, tetapi kau tidak dapat berbuat lain daripada berbuat sebaik-baiknya terhadap aku supaya Kademanganmu diselamatkan dari kemarahan Panembahan Sekar Jagat.” orang itu berhenti sejenak. Wajahnya kian menjadi pucat oleh penderitaan yang amat sangat karena luka pada tulang punggungnya itu.

“Ah, kau telah salah sangka. Aku adalah orang baru di Kademangan Candi Sari, meskipun aku dahulu tinggal di Kademangan itu pula. Dengarlah, aku tidak senang kalian berbuat serupa itu atas Kademangan kami, meskipun aku menyadari arti dari nama Panembahan Sekar Jagat. Sekarang aku dapat saja berbuat apa saja atas nama Putut Sabuk Tampar, karena kawan-kawanmu yang melarikan diri itu hanya mengetahui, bahwa kalian telah berkelahi dengan Putut itu. Kalau sekarang misalnya aku mencekikmu sampai mati pun, Panembahan Sekar Jagat akan menyangka, bahwa kau dibunuh oleh orang yang menyebut diri Putut Sabuk Tampar itu. Kau mengerti?”

Wajah orang itu menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba suaranya menjadi kian gemetar pula, “Jangan. Jangan kau bunuh aku.”

“Kenapa?”

“Aku masih ingin hidup. Aku masih terlampau muda untuk mati. Aku belum pernah menghayati hidup yang sebenarnya.”

Tambi tertawa. Katanya, “Kau sudah terlampau lemah. Betapapun tinggi ilmumu, dan betapapun kerdilnya orang-orang Kademangan Candi Sari, namun membunuh orang yang tidak berdaya seperti kau ini, adalah pekerjaan yang paling mudah.”

“Tetapi jangan bunuh aku.”

Tetapi Tambi seolah-olah tidak mendengar permintaan itu. Bahkan ia melihat sebuah golok, maka golok itu segera dipungutnya.

“Sebenarnya aku ingin membawa kau ke Candi Sari. Mengobati kau kemudian melepaskannya, karena kau adalah salah seorang utusan Panembahan Sekar Jagat yang sering mengambil upeti ke Kademangan kami. Tetapi karena kau telah mengancam kami, maka sebaiknya kau dimusnahkan. Habislah jejak yang akan dapat kau buat-buat untuk mencelakai Kademangan kami.”

“Jangan. Jangan. Aku tidak akan mengancam kau lagi.”

“Sekarang kau berkata begitu, tetapi lain kali kau akan berkata lain pula apabila kau sudah sehat dan berkesempatan untuk kembali ke indukmu.”

“O,” Tambi tertawa. “Apakah artinya sumpah bagi kau? Bagi orang yang telah berani merampok dan melanggar hak orang lain? Akhir yang paling baik bagimu memang tidak ada lain daripada mati.”

Wajah orang itu menjadi semakin putih seperti kapas. Mulutnya menjadi gemetar, tetapi tidak sepatah kata pun yang masih dapat diucapkannya.

Perlahan-lahan Tambi mendekatinya. Ujung golok ditangannya itu pun kemudian diacungkan tepat ke leher orang yang sudah tidak berdaya itu.

“Nah, apakah kau ingin meninggalkan pesan.”

“Ampun, ampun,” rintihnya, “Kau tidak akan membunuh orang yang tidak berdaya.”

“Kau tidak pernah memikirkan, apakah orang yang kau rampok harta miliknya itu memiliki kemampuan untuk melawan atau justru mereka adalah orang-orang yang tidak berdaya sama sekali. Bahkan sekali dua kali Wanda Geni dan mungkin juga kau, telah memukul orang-orang yang tidak berdaya dan tidak melawan itu. Kini kau pun tidak akan bersandar kepada sifat-sifat kesatria seperti yang kau katakan. Aku memang bukan kesatria. Aku adalah orang yang paling licik dimuka bumi. Nah, apa katamu.”

“Ampun, aku minta ampun.”

Ki Tambi tertawa. Wajah itu sudah benar-benar seputih kapas. Bibirnya menjadi biru, dan sakit di punggungnya bahkan sudah tidak terasa lagi.

“Hem,” Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Begitulah kira-kira apabila perasaan takut sedang mencengkam jantung. Aku ingin sekali-sekali kau pernah merasakannya. Aku senang melihat kau ketakutan. Apakah kau tahu maksudku?”

Orang itu tidak menyahut.

“Begitulah perasaan orang-orang Candi Sari setiap kali kau dan Wanda Geni itu datang. Hatinya dicengkam oleh rasa takut hampir tidak tertanggungkan. Dan kau melihat ketakutan itu sambil tertawa. Dan sebaiknya kau pun pernah merasakannya juga.”

Orang itu masih tetap berdiam diri. Dadanya masih juga berdebar-debar dan jantungnya bergelora. Namun kemudian ia sempat menarik nafas panjang-panjang.

“Aku tidak bersungguh-sungguh akan membunuhmu. Aku hanya ingin kau merasakan perasaan takut itu. Sekarang marilah, kau aku bawa ke Kademangan Candi Sari,” Ki Tambi berhenti sejenak, “Sebenarnya aku ingin mengikuti kalian dan langsung bertemu dengan Panembahan Sekar Jagat. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Mungkin ia pernah mengenalnya.”

“Apakah yang akan kau tunjukkan itu?”

“Niat itu untuk sementara aku urungkan. Apalagi sekarang. Aku kira Panembahan Sekar Jagat sedang marah setelah mendengar laporan Wanda Geni. Kedatanganku tidak akan menguntungkan.”

“Ya, tetapi apa yang kau tunjukkan”

“Marilah, ikut aku ke Candi Sari. Kalau orang-orang Candi Sari terpaksa membunuhmu, bukan salahku. Tetapi mereka adalah pengecut seperti kau. Mereka tidak akan berani melakukannya, apabila mereka ketahui bahwa kau adalah orang Panembahan Sekar Jagat.”

Orang itu tidak menjawab. Dan Ki Tambi berkata selanjutnya. “Mungkin kau menganggap bahwa aku termasuk salah satu benih yang dapat menaburkan rintangan. Mungkin apabila kau sembuh kelak, kau akan membawa Panembahan Sekar Jagat untuk membunuhku. Tetapi itu adalah akibat yang wajar. Dan aku masih tetap ingin menunjukkan sesuatu kepada Panembahan Sekar Jagat.”

“Aku ingin tahu, apakah yang akan kau tunjukkan?”

Ki Tambi berpikir sejenak. Kemudian diambilnya lencana yang selalu disimpannya di dalam kantong ikat pinggang kulitnya.

Orang yang terbaring ditanah itu terbelalak melihat lencana yang diperlihatkan oleh Ki Tambi. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah kau termasuk salah seorang dari Panggiring itu?”

“He,” Ki Tambi pun terkejut. “Kau sudah mengetahui arti lencana semacam ini?”

“Aku pernah melihatnya. Seseorang telah menyerahkan lencana itu kepada Panembahan Sekar Jagat,” orang itu berhenti sejenak. Tiba-tiba sakit di punggungnya menggigitnya lagi. Sejenak ia menyeringai sambil mengeluh, “Aduh punggungku.”

Tambi mengerutkan keningnya. Katanya, “Marilah naik ke kuda itu. Aku bawa kau ke Candi Sari.”

“Aku tidak dapat bangkit, apalagi naik kuda.”

Tambi berpikir sejenak, kemudian katanya, “Marilah naik bersama aku. Kau ceriterakan seterusnya tentang lencana yang sudah kau ketahui itu.”

Orang itu tidak menjawab. Namun ketika Ki Tambi mencoba menolongnya ia mengeluh pendek, “Sakit sekali.”

“Tetapi itu lebih dari pada kau mati di pinggir jalan ini seperti kawanmu itu,” sahut Ki Tambi. “Aku terpaksa minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak dapat mengurus mayat kawanmu. Aku tidak mempunyai waktu. Kalau kau sudah sampai ke Kademangan, mungkin aku akan kembali kemari bersama satu dua orang untuk menguburnya.”

Orang itu tidak menyahut. Ditahannya perasaan yang biasa ketika Tambi mengangkatnya, dan meletakkannya di atas punggung kudanya, sehingga kemudian kuda itu dinaikinya bersama.

“Untunglah, kudaku adalah kuda yang luar biasa. Tetapi kasihan juga. Agaknya kita berdua terlampau berat baginya.”

Meskipun demikian kuda itu berlari juga menunju Kademangan Candi Sari.

Namun setiap kali orang yang terluka itu selalu menyeringai menahan sakit. Setiap goncangan karena langkah kudanya, orang itu mengeluh pendek. Tetapi di tahannya, untuk tidak berteriak lebih keras.

“Aku masih tetap ingin mendengar keteranganmu, tentang lencana itu,” Ki Tambi bertanya, “Apakah kau mengetahui artinya?”

Orang itu berdesis. Terputus-putus ia menjawab. “Ya. Seseorang telah datang kepada Panembahan Sekar Jagat dengan membawa lencana itu.”

“Apa maksudnya?”

“Untuk memperkenalkan lencana itu kepada Panembahan Sekar Jagat, bahwa lencana itu adalah pertanda dari segerombolan orang-orang yang berada di bawah pengaruh atau perlindungan seseorang yang bernama Panggiring.”

“Kau tahu siapa Panggiring itu?”

Orang itu menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi menurut pendengaranku, Panggiring adalah seorang yang berasal dari Candi Sari.”

“Apakah maksud orang itu hanya sekadar memperkenalkan diri? Dan apakah orang yang datang itu sendiri yang bernama Panggiring?”

“Bukan, bukan Panggiring. Dan orang itu membawa pesan, bahwa sebaiknya Panembahan Sekar Jagat melepaskan kebiasaannya untuk memeras orang-orang Candi Sari.”

Dada Ki Tambi menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga, ternyata Panggiring masih tetap dipengaruhi oleh kecintaannya kepada kampung halaman. Namun sesaat Ki Tambi termenung. Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya. Panggiring sendirilah yang akan memeras Kademangan ini sampai kering

Tiba-tiba Ki Tambi teringat kepada orang yang menyingkir pada saat ia datang ke tempat orang-orang Sekar Jagat itu terbaring. Orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar, utusan Resi Panji Sekar dari Pliridan untuk mengambil alih daerah Candi Sari dari tangan Panembahan Sekar Jagat.

“Apakah ada hubungan antara Putut Sabuk Tampar dengan pesan Panggiring untuk Sekar Jagat,” pertanyaan itu tumbuh di dalam dadanya. “Hubungan yang terjalin antara kakak dan adik untuk tujuan itu, meskipun mereka tampaknya berbeda bentuk?”

Tetapi Ki Tambi itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak berani mengambil kesimpulan. Semuanya seperti tersaput kabut yang hitam baginya. Gelap. Apalagi kesan yang didapatnya tentang adik Panggiring yang agaknya tidak begitu suka kepada kakaknya itu.

Dan tanpa sesadarnya Ki Tambi itu bertanya, “Bagaimanakah tanggapan Panembahan Sekar Jagat atas pesan Panggiring itu?”

“Panembahan Sekar Jagat menjadi sangat marah. Utusan Panggiring itu diusirnya. Pesan yang harus disampaikan kepada Panggiring adalah, bahwa Panembahan Sekar Jagat tidak akan meninggalkan daerah kuasanya, seperti Panembahan Sekar Jagat marah ketika ia mendengar Wanda Geni tentang seorang yang menyebut dirinya Putut Sambuk Tampar yang mengaku dirinya utusan Resi Panji Sekar.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara kuda mereka berlari terus meskipun tidak begitu cepat, menunju ke Kademangan Candi Sari.

“Kapan hal itu terjadi?” bertanya Ki Tambi kemudian.

“Kira-kira lebih dari dua bulan yang lampau. Ternyata Panggiring juga tidak berbuat apa-apa untuk seterusnya. Bahkan tidak berani memenuhi tantangan Panembahan Panji Sekar untuk saling bertemu.

Ki Tambi mengerutkan keningnya, “Mustahil,” ia berkata di dalam hatinya. “Mustahil kalau Panggiring tidak berani memenuhi tantangan Panembahan Sekar Jagat.” Tetapi Ki Tambi tidak bertanya lagi. Selanjutnya yang terdengar selain derap kaki kuda adalah desah orang yang terluka di punggung kuda Ki Tambi itu.

Ketika mereka telah semakin dekat dengan Kademangan, Ki Tambi terkejut, karena mereka berpapasan dengan seekor kuda tanpa penunggang. Apalagi ketika dengan serta merta orang yang terluka itu berkata, “Itu kudaku, kudaku yang direbut oleh Putut Sabuk Tampar.”

Ki Tambi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak memberikan kesan getar di dalam dadanya. Bahkan ia bertanya, “Kenapa kuda itu dapat sampai ditempat ini?”

“Entahlah. Mungkin Putut Sabuk Tampar melepaskannya.”

Tambi tidak menjawab lagi. Tetapi ia ingin melihat, apakah dugaannya tentang Putut Sabuk Tampar itu benar. Sepintas ia telah melihat orangnya. Dan orang itu dari kejauhan memberikan kesan, bahwa ia memang pernah melihatnya.

Demikianlah ketika kuda itu lewat disebelah rumah Bramanti, Ki Tambi menarik kekangnya sehingga kuda itu berhenti.

“Jangan mencoba lari kalau kau tidak ingin mati di jalan,” desis Ki Tambi. “Kudaku adalah kuda yang baik. Ia akan tetap diam ditempatnya kalau kau tidak mengejutkannya.”

Ki Tambi pun kemudian meloncat turun. Tergesa-gesa ia masuk ke halaman rumah Bramanti. Tetapi alangkah terkejutnya orang itu ketika ia melihat Bramanti duduk dengan asyiknya sambil menganyam keranjang dibawah pohon sawo.

Bramanti segera berdiri ketika ia melihat Ki Tambi datang. Dan dengan tergesa-gesa menyongsongnya sambil bertanya, “Darimana paman? Agaknya paman baru saja menempuh perjalanan berkuda.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera menjawab pertanyaan Bramanti, namun ia justru bertanya, “Darimana kau Bramanti?”

“Aku tidak pergi kemana pun paman. Aku sedang menganyam keranjang.”

“Sejak Wanda Geni masuk ke Kademangan ini.”

“O, ketika itu aku bersembunyi dibalik perigi dibelakang rumah.”

“Hanya di belakang rumah?”

“Tidak paman. Aku kemudian merasa tidak aman. Aku pun kemudian pergi ke sungai.”

“Ya, sendiri. Sebenarnya aku akan pergi bersama Panjang, tetapi aku terlalu tergesa-gesa, sehingga aku meninggalkan Panjang justru di dalam halaman ini. Setelah orang-orang Wanda Geni pergi, Panjang yang kemudian pergi ke bendungan singgah pula kemari. Tetapi sayang, aku tidak bertemu, karena aku masih ada di sungai. Kini ia pergi ke Kademangan. Ia tidak mempunyai waktu untuk menunggu aku di rumah ini.”

Ki Tambi memandang Bramanti dengan tatapan mata yang aneh. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Ibumu dimana?”

“Di dalam paman. Ibu sedang ada di dapur.”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak.

“Kenapa paman memandang aku demikian?” bertanya Bramanti kemudian, “Apakah ada sesuatu yang aneh?”

Tiba-tiba dada Ki Tambi berdesir. Seperti hendak menerkam lawannya ia meloncat menyambar tangan Bramanti. Tetapi Bramanti sama sekali tidak berbuat apapun juga. Dibiarkannya tangannya dicengkam oleh Ki Tambi dan diangkatnya tinggi.

“Kenapa dengan tanganku paman?”

Ki Tambi itu pun kemudian tersenyum. Seolah-olah ia telah menemukan apa yang selama ini dicarinya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku Bramanti. Ternyata kau kurang teliti membersihkan dirimu. Lihat, noda ini masih melekat dibadanmu. Tetapi itu tidak seberapa jelas. Meskipun kau telah berganti baju, tetapi ikat pinggangmu masih juga dinodai percikan darah. Bukankah kau baru saja berkelahi.”

“Berkelahi,” wajab Bramanti menjadi berkerut-kerut.

“Aku bukan anak-anak lagi. Katakan, noda apakah yang mengotori ikat pinggangmu ini?”

“Pagi tadi aku menyembelih ayam paman. Ayam kami cukup banyak. Sekali-kali ibu ingin juga lauk yang agak lain dari biasanya. Daun so, keluwih, jamur barat dan telur ayam.”

Tetapi Ki Tambi seolah-olah tidak mendengar kata-kata itu. Di angguk-anggukannya kepalanya sambil berkata, “Aku memang sudah menduga Bramanti. Anak Pruwita tidak akan menjadi seorang anak yang cengeng. Anak seekor garuda akan menjadi garuda pula.”

“Aku tidak mengerti paman. Kalau paman tidak percaya bertanyalah kepada ibu.”

“Aku percaya Bramanti. Tetapi aku juga percaya bahwa kau telah tumbuh menjadi seekor garuda yang lurus. Dan bukankah kau telah bertekad untuk mencuci nama keluargamu dengan perbuatan baik? Dan agaknya kau telah mulai melakukannya.”

“Aku tidak mengerti paman.”

“Baiklah, kalau kau tidak mengerti, marilah. Aku mempunyai oleh-oleh buatmu.”

Sorot mata Bramanti dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Tetapi ia mengikut Ki Tambi melangkah keluar regol.

Namun tiba-tiba langkah Bramanti terhenti. Ia berdiri tegak sesaat ketika ia melihat seseorang di atas punggung kuda. Seorang yang sudah menjadi sedemikian lemahnya.

Ketika melihat Bramanti orang itu terkejut sejenak. Diangkatnya tangannya, menunjuk ke arah anak muda itu. Namun kemudian tangan itu terkulai, dan bibirnya terkatup sebelum ia sempat mengatakan sesuatu. Pingsan.

Hampir saja orang itu terjatuh dari punggung kuda seandainya Ki Tambi tidak cepat meloncat dan menahannya.

“Ia pingsan. Ia telah menderita kesakitan yang luar biasa pada punggungnya yang barangkali patah, ketika ia terpelanting dari atas kudanya. Kuda yang kemudian dipakai oleh orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Anehnya kuda itu aku temui disebelah padukuhan ini.

Bramanti tidak menyahut. Tetapi ia berdiri tegak di tempatnya.

“Sebelum pingsan orang itu telah menunjukkan kepadaku, siapakah lawannya yang telah menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar”

Bramanti masih tetap berdiam diri.

“Aku minta diri Bramanti. Aku akan membawa orang ini ke Kademangan. Biarlah ia mendapat perawatan. Sebaiknya orang ini tetap hidup. Aku ingin banyak mendengar tentang Panembahan Sekar Jagat.”

“Tetapi ia akan dilepaskan juga seperti yang pernah terjadi,” jawab Bramanti dengan nada yang berat.

“Aku akan berusaha mencegahnya,” Ki Tambi pun kemudian meloncat ke punggung kuda. Katanya pula sebelum kudanya meninggalkan regol, Sebentar lagi aku akan datang ke mari. Aku akan mengajakmu mengubur mayat yang masih terbaring di tempat perkelahian itu terjadi.?”

Ki Tambi tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum saja. Sambil mendorong kudanya maju dan melambaikan tangannya.

Sejenak kemudian kuda itu telah berlari meninggalkan Bramanti yang masih berdiri termangu-mangu di depan regol halamannya. Sesaat ia merenungi debu yang tipis yang terlontar dari bawah kaki kuda Ki tambi. Kemudian ditariknya nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesah, namun tidak sepatah kata pun yang diucapkannya. Namun demikian, betapa jantungnya serasa berdentangan. Ia merasa bahwa permainannya sudah benar-benar hampir berakhir.

“Apa boleh buat,” desisnya kemudian sambil melangkah masuk ke dalam halaman rumahnya.

Bramanti berpaling ketika ia mendengar ibunya memanggilnya dan bertanya, “Siapakah yang baru saja singgah kemari Bramanti?”

“Paman Tambi, bu,” jawab Bramanti.

“Kenapa tidak kau persilakan naik?”

“Paman Tambi hanya singgah saja sebentar. Aku sudah mempersilakan, tetapi paman Tambi tidak bersedia.”

Ibunya tidak bertanya lagi. Perempuan tua itu pun kemudian hilang di balik pintu.

Dengan langkah satu-satu Bramanti pergi ke pekerjaannya kembali. Perlahan-lahan diletakkan dirinya duduk di bawah pohon sawo. Dipaksanya tangannya untuk meraih anyaman keranjangnya yang masih belum selesai. Tetapi ternyata Bramanti tidak dapat memusatkan perhatiannya kepada pekerjaannya. Beberapa kali ia terpaksa melepas anyaman itu kembali karena ia sudah menyusupkan rautan bambu, sehingga menjadi ganda.

Sementara itu Ki Tambi langsung menunju ke Kademangan sambil membawa orang yang sedang pingsan itu. Agaknya kedatangannya telah mengejutkan beberapa orang yang sedang berada di halaman Kademangan. Beberapa orang tua-tua dan beberapa lagi para anggota pengawal dari golongan anak-anak muda.

“Siapakah orang itu?” bertanya Temunggul ketika Ki Tambi menyusup regol Kademangan.

“Salah seorang dari utusan Panembahan Sekar Jagat.”

“Kenapa?” hampir berbarengan setiap orang yang mendengar jawaban Ki Tambi itu bertanya.

Tetapi Tambi tidak segera menjawab. Dibawanya orang itu ke pendapa. Dan diangkatnya ia naik.

Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu Kademangan yang lain segera mengerumuninya. Juga para anggota pengawal dari segala golongan.

“Orang ini pingsan. Mungkin punggungnya patah.”

“Ia perlu mendapat pengobatan,” desis Ki Demang dengan serta merta.

“Ya. Aku mengharap ia tetap hidup.”

“Bawa ia masuk,” perintah Ki Demang. “Panggil dukun tua agar ia sempat menolongnya.”

Tubuh yang diam itu pun kemudian diangkat masuk ke pringgitan, sementara orang lain memanggil seseorang yang harus mengobatinya.

Ki Tambi pun kemudian duduk di antara orang-orang Candi Sari yang gelisah, termasuk Ki Demang, Ki Jagabaya, Temunggul dan yang lain-lainnya.

“Kenapa dengan orang itu?” bertanya Ki Demang, “Apakah kau telah melakukannya?”

Ki Tambi menggelengkan kepalanya, “Tidak Ki Demang. Bukan aku, meskipun aku ingin melakukannya. Tetapi agaknya aku tidak akan mampu melawan Wanda Geni bersama tiga orang kawan-kawannya itu.”

“Tetapi peristiwa ini dapat menjadi ancaman bagi ketentraman Kademangan kita. Aku sudah berjanji, bahwa tidak akan ada perlawanan apapun di Kademangan ini, seperti juga mereka berjanji tidak akan mengganggu gadis-gadis kita lagi.”

“Tetapi orang itu akan dapat berbicara dan mengatakan apa yang telah terjadi atasnya,” jawab Tambi.

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dipandanginya Tambi sejenak. Kemudian ia bertanya pula. “Apa yang telah terjadi atasnya?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Putut Sabuk Tampar.”

“He?” wajah Ki Demang menjadi tegang. “Orang itu telah muncul lagi. Ia akan dapat mengeruhkan hubungan antara Kademangan Candi Sari dan Panembahan Sekar Jagat. Selama ini tingkah laku Panembahan Sekar Jagat masih dapat dibatasi. Tetapi kalau kemudian karena kemarahannya, perbuatannya tidak dapat dikendalikan lagi, maka Kademangan ini akan menjadi abu.”

“Tetapi…..” Ki Tambi menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Ki Jagabaya. Dilihatnya wajah itu menjadi tegang pula.

“Ki Demang,” berkata Ki Tambi kemudian, “Apakah kita untuk seterusnya akan tetap dalam keadaan seperti ini? Apakah pada suatu ketika Kademangan ini akan kita biarkan menjadi kering sama sekali diperas oleh Panembahan Sekar Jagat.”

“Tentu tidak Ki Tambi,” jawab Ki Demang. Tetapi apa yang dapat kita lakukan?”

“Kita belum pernah berbuat apa-apa,” tiba-tiba Ki Jagabaya menyahut. “Memang barangkali lebih baik sekali-kali kita mencoba.”

“Itu terlampau bodoh,” berkata Ki Demang kemudian. “Kita jangan mencoba-coba terhadap Panembahan Sekar Jagat. Taruhannya pasti akan terlampau mahal. Mungkin kita dapat mengikhlaskan semua harta benda yang ada di Kademangan ini. Tetapi tentu tidak dengan gadis-gadis kita, seperti yang baru saja terjadi. Untunglah bahwa persoalan itu telah dapat kita selesaikan dengan persetujuan itu. Karena itu, kita jangan mencoba mendahului melanggar pembicaraan yang telah saling kita setujui.”

“Bukan kita yang melakukannya Ki Demang. Juga yang membebaskan Ratri saat itu bukan salah seorang dari antara kita. Tetapi yang melakukannya adalah orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Itu kali ini juga.”

“Apa yang telah dilakukannya?”

“Berkelahi,” jawab Tambi. Kemudian diceriterakannya apa yang dilihatnya. Perkelahian yang sudah hampir selesai dan yang ditemuinya tinggallah sebuah mayat dan orang yang terluka itu.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau sempat bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

“Tidak,” Ki Tambi menggeleng, dan sejenak kemudian dengan ragu-ragu berkata, “Tetapi, bagaimana kalau orang yang menamakan diri Putut Sabuk Tampar, utusan Resi Panji Sekar itu bersedia bekerja sama dengan kita?”

“Apakah yang akan dilakukannya?” wajah Ki Demang tiba-tiba menjadi tegang.

“Seandainya,” jawab Tambi. “Seandainya, Putut Sabuk Tampar bersedia bekerja bersama kita dan para pengawal Kademangan ini untuk melawan Panembahan Sekar Jagat.”

“O, itu terlalu bodoh lagi,” sahut Ki Demang. “Kita berusaha melepaskan diri dari mulut buaya, tetapi kita akan jatuh ke dalam mulut harimau. Dan siapakah yang dapat menjamin bahwa Putut Sabuk Tampar itu akan berlaku jujur.”

Ki Tambi tidak menyahut. Diangguk-anggukkannya kepalanya. Namun kemudian ia berpaling kepada Temunggul dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Temunggul mengerutkan dahinya. Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian ia menjawab, “Bagiku sendiri Ki Tambi, mati bukannya sesuatu yang harus ditakuti. Seandainya kita harus berkelahi mati-matian melawan Panembahan Sekar Jagat sekalipun aku tidak akan gentar. Tetapi bagaimana nasib Kademangan ini setelah kita semua mati? Bagaimanakah nasib gadis-gadis kita?”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia sadar, bahwa Kademangan ini memang belum masak untuk bangkit melawan Panembahan Sekar Jagat saat ini. Apabila demikian, memang satu-satunya yang paling baik adalah diam. Diam lebih dahulu daripada berbuat tanpa pertimbangan yang cukup masak. Dengan demikian, maka Kademangan ini akan benar-benar menjadi binasa karenanya.

Karena itu maka Ki Tambi pun kemudian terdiam. Ia duduk saja sambil merenungi dedaunan yang digoyang-goyangkan angin ke arah manapun tanpa dapat memberikan pilihan.

Panjang yang ada juga di pendapa itu mendengarkan semua pembicaraan dengan dada berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu dengan kepergian Bramanti.

“Sikap Bramanti selalu menggangguku. Kenapa tiba-tiba saja ia pergi meninggalkan aku di rumahnya?” pertanyaan itu telah menyentuh hati Panjang. Tetapi ia menyimpannya saja di dalam hatinya. Pada suatu ketika ia ingin dapat membuktikan hubungan antara orang yang menamakan dirinya Putut Sabuk Tampar itu dengan Bramanti.

Pendapa itu pun sesaat disambar oleh kesenyapan. Masing-masing membiarkan angan-angannya membubung setinggi awan yang berarak dilangit yang biru.

Ki Tambilah yang mula-mula sekali bergeser sambil berkata, “Baiklah aku akan pulang dahulu. Terserahlah orang yang terluka itu. Sebenarnya aku ingin memanfaatkannya untuk menemukan tempat orang yang menamakan dirinya Panembahan Sekar Jagat. Tetapi apabila Kademangan ini masih saja lelap di dalam mimpinya, maka aku kira usaha itu tidak akan banyak manfaatnya. Maka aku kira, memang lebih baik biarkan keadaan seperti ini untuk sementara.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga Ki Tambi pun kemudian berdiri perlahan-lahan sambil berkata pula, “Aku akan pulang. Tetapi aku masih harus menyelesaikan satu pekerjaan lagi. Mengubur mayat yang aku temui bersama orang yang luka itu.”

Sejenak Ki Demang termenung. Kemudian katanya, “Baiklah kau membawa beberapa orang teman Ki Tambi.”

Ki Tambi menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ki Demang. Aku akan pergi sendiri.”

Sebelum Ki Demang menjawab, Ki Tambi talah melangkah meninggalkan pertemuan itu. Tetapi ia tertegun ketika seseorang berdiri pula dari antara para pengawal dan berkata, “Aku ikut paman.”

Ki Tambi termenung sejenak. Ditatapnya wajah anak muda itu. Dilihatnya sorot matanya memancarkan berbagai macam persoalan di dalam dirinya, sehingga Tambi pun kemudian mengaanggukkan kepalanya, sambil berkata, “Baiklah Panjang. Tetapi tidak lebih dari kau seorang diri.

Panjang tersenyum. Katanya, “Terima kasih paman.” Lalu kepada Temunggul ia minta ijin untuk pergi, “Setelah semuanya selesai, aku akan kembali kemari Temunggul. Sekarang aku minta ijin untuk mengikuti paman Tambi.”

Temunggul tidak segera menyahut. Dan karena ia masih tetap diam, maka Ki Tambilah yang berkata, “Aku pinjam anak buahmu yang seorang ini Temunggul.”

Temunggul terpaksa menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Silakan paman.”

Panjang pun kemudian mengikuti Ki Tambi melintasi halaman. Tetapi kemudian Ki Tambi bertanya, “Apakah kau mempunyai seekor kuda?”

“Ada paman. Tetapi di rumah.”

“Marilah kita ambil bersama-sama.”

“Tetapi aku berjalan kaki sampai ke rumah.”

Ki Tambi tidak menjawab. Dituntunnya kudanya sampai ke luar regol halaman. Kemudian katanya, “Kita naiki berdua sampai ke rumahmu.”

Panjang ragu-ragu sejenak. Dipandanginya kuda Ki Tambi yang tidak terlampau besar itu.

Ki Tambi yang melihat Panjang menjadi ragu-ragu berkata, “Naiklah. Kudaku adalah kuda yang luar biasa, meskipun bentuknya agak kecil.”

Panjang pun kemudian meloncat naik betapa ia tetap ragu-ragu disusul oleh Tambi sendiri. Keduanya kemudian berkuda bersama-sama ke rumah Panjang.

Sejenak kemudian Panjang menyiapkan kudanya. Ketika kuda itu telah siap, Ki tambi berbisik, “Aku memerlukan seekor kuda lagi Panjang.”

“Untuk apa paman?” bertanya Panjang.

“Aku ingin membawa seseorang bersama dengan kita pergi ke batas Kademangan itu.”

“Siapa?”

Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun bukankah Panjang akhirnya akan mengetahuinya juga? Karena itu, maka akhirnya Ki Tambi pun berkata, berterus terang, “Bramanti. Aku akan mengajaknya.”

Mendengar jawaban itu dada Panjang berdesir. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa Bramanti?”

“Tidak apa-apa. Kebetulan orang yang pertama aku menemui ketika aku membawa orang yang terluka itu adalah Bramanti. Karena itu maka aku telah mengajaknya untuk pergi, menguburkan mayat itu.”

Panjang tidak menyahut. Tetapi ia mencoba mencari dan menghubung-hubungkan semua persoalan yang ditemuinya.

Sejenak kemudian ia menjawab, “Akan aku coba, meminjam kuda tetangga sebelah paman. Kuda itu pun cukup baik.”

“Cobalah, asal tidak menyusahkannya.”

Panjang pun kemudian pergi ke rumah tetangganya. Sejenak kemudian ia pun telah kembali sambil menuntun seekor kuda.

“Bagus, kau mendapat seekor kuda yang baik.”

Keduanya kemudian pergi bersama-sama ke rumah Bramanti sambil menuntun seekor kuda.

“Bagaimana kalau Bramanti tidak dapat naik atau setidak-tidaknya belum pernah naik seekor kuda?” bertanya Panjang.

Ki Tambi tersenyum, “Marilah kita coba.”

Panjang pun tersenyum pula. Namun sejenak kemudian dahinya pun menjadi berkerut-kerut. Sebenarnya yang mendorong untuk ikut serta Ki Tambi adalah keinginannya untuk menanyakan, apakah Ki Tambi sempat bertemu muka dengan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar atau setidak-tidaknya mengenal wajahnya. Tetapi ia masih belum dapat menyatakannya.

“Panjang,” berkata Ki Tambi. “Apakah kau berada di halaman rumah Bramanti ketika Wanda Geni memasuki Kademangan ini?”

“Ya paman,” dan tiba-tiba saja Panjang mencoba untuk menemukan jalan. “Darimana paman tahu?”

“Dari Bramanti sendiri.”

“Tetapi dimanakah Bramanti selama itu, apakah paman mengetahuinya?”

“Tidak. Aku hanya mendengar pengakuannya saja, bahwa ia telah pergi ke sungai.”

“Apakah benar Bramanti pergi ke sungai.”

“Aku tidak mengerti.”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan-pertanyaan mengenai Bramanti dan Putut Sabuk Tampar telah tertimbun di dalam dadanya sehingga akhirnya terloncat juga pertanyaan itu, “Paman, apakah paman dapat mengenal Putut Sabuk Tampar?”

Pertanyaan itu telah mengejutkan Tambi, sehingga ia pun bertanya. “Kenapa?”

“Aku hanya ingin membayangkan, kira-kira bentuk dan tubuh Putut Sabuk Tampar.”

Tambi terdiam sejenak. Ditatapnya saja wajah Panjang yang menjadi dalam.

Karena Ki Tambi tidak segera menjawab, maka Panjang pun meneruskannya. “Pertanyaan itulah agaknya yang telah membawa aku mengikuti paman.”

“Kenapa kau bertanya tentang Putut Sabuk Tampar itu Panjang? Apakah kau mengenalnya”

“Tidak.Tidak paman. Aku hanya sekadar ingin tahu saja.”

Tetapi Ki Tambi menggelengkan kepalanya, “Sayang. Aku tidak dapat mengenalinya.”

“Mengira-irakannya?” desak Panjang.

“Juga tidak. Aku sama sekali tidak dapat melihat wajahnya. Jarak kami masih terlampau jauh saat itu.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Sedang Ki Tambi pun untuk sesaat berdiam diri. Namun berbagai pertanyaan telah bergelut di dalam dadanya.

“Pertanyaan Panjang sangat menarik perhatian,” gumam Ki Tambi di dalam hatinya.”Apakah Panjang berusaha untuk menghubungkan seseorang dengan Putut Sabuk Tampar?” Ki Tambi mengangguk-angguk kecil diluar sadarnya. “Aku bersedia membawa Panjang karena Bramanti menyebut-nyebut namanya ketika Wanda Geni berada di Kademangan ini. Tetapi dimanakah Bramanti saat itu? Agaknya ia telah meninggalkan Panjang dengan diam-diam.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia telah menemukan hubungan antara Putut Sabuk Tampar dan pertanyaan Panjang. Panjang yang ditinggalkan oleh Bramanti di halaman rumahnya, agaknya sedang mencoba mencari hubungan itu.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di muka regol rumah Bramanti. Ternyata Bramanti masih duduk di bawah pohon sawo, meskipun kini ia sudah tidak menganyam keranjang. Tetapi ia duduk bersandar sambil memandangi awan yang lewat selembar-selembar di atas kepalanya.

Bramanti terkejut ketika ada beberapa ekor kuda berhenti di depan regol halaman. Segera ia meloncat berdiri dan menyongsongnya.

“Ah,” desisnya. “Kalian membuat aku terkejut dan ketakutan.”

Tetapi Bramanti menjadi heran, melihat Ki Tambi tersenyum aneh kepadanya, “Kenapa kau tidak bersembunyi lagi Bramanti?” bertanya Ki Tambi.

“Aku menunggumu sampai tulang punggungku hampir patah,” berkata Panjang.

“Maaf. Aku terlampau tergesa-gesa. Aku menyangka bahwa Wanda Geni tiba-tiba saja datang memasuki halaman rumah ini, sehingga aku segera lari dan bersembunyi di sungai.”

“Sungai mana?” desak Panjang.

“Ada beberapa jalur sungai di Kademangan kita ini?”

Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Dibiarkannya Ki Tambi menyampaikan maksud kedatangan mereka, “Aku memerlukan kawan, Bramanti.”

Bramanti memandang Ki Tambi dengan sorot mata keheranan. Terbata-bata ia bertanya, “Apakah maksud paman?”

“Aku memerlukan kau untuk mengawani aku Bramanti.”

“Tetapi, apa yang akan paman lakukan?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengubur mayat yang ditinggalkan oleh Putut Sabuk Tampar ditengah jalan. Aku memerlukan kau untuk membantu menguburkannya.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Oh,” desahnya. “Aku sangka paman akan melakukan sesuatu yang mengerikan.”

“Nah, berkemaslah.”

“Dimanakah mayat itu sekarang paman?”

“Di ujung Kademangan.”

“Oh, di ujung bulak itu maksud paman.”

“Ya.”

“Aku takut paman, kalau tiba-tiba saja orang-orang Wanda Geni datang lagi untuk mengambil orangnya yang terbunuh dan bahkan dengan yang terluka itu sama sekali.”

“Ah, tentu tidak. Panembahan Sekar Jagat tidak akan punya waktu untuk mengurusinya. Karena itu, biarlah kita saja yang melakukannya.”

“Tetapi kenapa mesti dengan aku? Bukankah masih banyak kawan-kawan Panjang yang lain, yang lebih berkepentingan daripada aku.”

“Berkemaslah. Jangan terlampau banyak bertanya.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian melangkah surut. “Baiklah kalau paman menghendaki. Tetapi apakah paman tidak singgah lebih dahulu.”

“Terima kasih. Aku ingin segera melakukannya.”

Bramanti pun kemudian melangkah surut sambil berkata, “Maaf paman. Aku akan berpakaian.”

Bramanti pun kemudian berlari melintasi halamannya untuk mengambil pakaiannya yang masih agak lebih baik untuk pergi bersama-sama dengan Ki Tambi dan Panjang.

Sambil mengenakan pakaiannya Bramanti selalu diganggu oleh berbagai macam masalah tentang dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja Panjang dan Ki Tambi bersama-sama mengajaknya pergi untuk mengubur orang Panembahan Sekar Jagat yang terbunuh itu? Keduanya adalah orang-orang yang agaknya menaruh kecurigaan atasnya.

Tetapi akhirnya Bramanti tidak dapat berbuat lain daripada pergi mengikuti kedua orang itu. “Apa boleh buat,” desisnya.

Sebelum ia turun ke halaman, maka ia pun minta diri lebih dahulu kepada ibunya, bahwa ia akan pergi bersama Ki Tambi dan Panjang.

“Kalian akan pergi kemana?” bertanya ibunya.

“Sekadar melihat-lihat ibu. Mungkin paman Tambi ingin mengenali tanah yang telah terlampau lama ditinggalkan. Karena aku pun baru kembali pula ke tanah ini, maka aku dibawanya serta. Panjanglah yang akan memperkenalkan kami dengan hal-hal yang baru, yang belum pernah kami lihat sebelumnya, atau yang barang kali telah kita lupakan.

Ibunya sama sekali tidak berprasangka apapun juga. Karena itu maka dibiarkannya anaknya pergi bersama Ki Tambi dan Panjang.

“Nah, naiklah,” desis Tambi sambil menyerahkan kendali seekor kuda.”

“Apakah aku juga harus berkuda?”

“Apakah kau dapat berlari secepat kuda-kuda ini.”

Bramanti tersenyum. Ia tidak dapat memilih. Karena itu, maka diterimanya kendali kuda itu sambil berkata, “Tetapi aku belum terlampau biasa berkuda paman. Mungkin aku tidak akan dapat setangkas paman dan Panjang.”

Tetapi Ki Tambi dan Panjang tidak menjawab. Mereka pun segera meloncat ke punggung kuda masing-masing sambil saling berpandangan sejenak. Dan Panjang pun kemudian berkata, “Belajarlah naik kuda Bramanti. Apabila pada suatu saat kau nanti menjadi pengawal Kademangan, dan kau harus menjalani pendadaran dengan cara seperti yang pernah dilakukan oleh Temunggul, yaitu mempersilakan calon pengawal itu menundukkan seekor kuda yang masih liar.”

Bramanti tersenyum sambil membelai kepala kudanya. “Tetapi bukankah kuda itu tidak nakal?”

“Sepengetahuanku tidak,” jawab Panjang.

“Agaknya masih lebih beruntung bagi mereka yang hanya sekadar menundukkan kuda yang liar, daripada harus bermain-main dengan seekor dan bahkan sepasang harimau.”

Panjang pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Ayo, cepatlah sedikit.”

Bramanti memandangi mata kudanya sejenak. Kemudian ia pun segera meloncat pula ke punggungnya.

“Kau tidak dapat mengelabuhi aku Bramanti,” desak Ki Tambi. “Orang yang tidak biasa berkuda, tidak akan meloncat setangkas kau.”

Kini Bramanti tertawa. Katanya, “Aku adalah seorang pesuruh selama aku merantau. Pesuruh seorang pedagang sapi di Wanakrama. Selama itulah aku belajar naik kuda, untuk kepentingan pekerjaan itu.”

“Apakah kau belajar menjinakkan harimau pula?” bertanya Panjang tiba-tiba.

Bramanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng. “Tentu tidak. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Marilah.”

“Kita jangan terlambat,” berkata Ki Tambi. “Supaya kita tidak bertemu dengan orang-orang dari Kademangan lain yang mungkin akan melihat orang-orang yang terbunuh itu pula.

Mereka bertiga pun segera meninggalkan regol halaman rumah Bramanti. Semakin lama derap kuda mereka pun menjadi semakin cepat. Ki Tambilah yang berada di paling depan, kemudian Panjang dan yang paling belakang dari mereka adalah Bramanti.

Namun demikian, setiap kali, baik Ki Tambi maupun Panjang selalu berpaling. Mereka melihat betapa Bramanti tidak kalah tangkasnya dari mereka berdua. Ketika Ki Tambi mempercepat laju kudanya diikuti oleh Panjang, maka kuda Bramanti pun berpacu semakin cepat.

“Anak itu cukup tangkas di punggung kuda,” desis Ki Tambi di dalam hatinya. “Tetapi masih saja ia menemukan jalan untuk mengelak dengan mengaku dirinya sebagai seorang pesuruh.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Sedang laju kuda mereka pun semakin lama semakin cepat. Debu mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berderap menyusur jalan di tengah-tengah sawah, menuju keperbatasan Kademangan Candi Sari.

Dalam pada itu, orang-orang yang masih ada di Kademangan, duduk sambil merenungi apa yang telah terjadi. Di dalam rumah Ki Demang itu masih terbaring seorang, pengikut Panembahan Sekar Jagat yang sedang mendapat pengobatan.

Ki Jagabaya yang masih ada di Kademangan itu juga, sekali-kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi heran, kenapa sampai saat ini, orang-orang Kademangan Candi Sari masih juga berdiam diri menghadapi segala macam tindakan dari orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Bahkan semakin lama semakin menjalar desas-desus bahwa orang-orang Panembahan Sekar Jagat adalah orang-orang yang ajaib. Ceritera terakhir mengatakan bahwa Panembahan Sekar Jagat adalah seorang yang mampu melenyapkan diri, mempunyai ilmu siluman sehingga tiba-tiba saja ia dapat lenyap dari pandangan mata. Dengan demikian ia dapat berada di segala tempat dan disegala waktu tanpa diketahui oleh orang lain.

Tetapi baik Ki Jagabaya, maupun para pengawal Kademangan itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa empat orang kepercayaan Panembahan Sekar Jagat, yang langsung dipimpin oleh Wanda Geni sendiri, dapat dikalahkan oleh hanya seorang yang mengaku dirinya utusan Resi Panji Sekar.

Namun pembicaraan antara Ki Tambi dan Ki Demang ternyata telah menumbuhkan persoalan di hati anak-anak muda Kademangan Candi Sari. Meskipun dengan ragu-ragu, namun satu dua di antara mereka sudah mulai bertanya-tanya satu dengan yang lain. “Apakah kita akan membiarkan keadaan serupa ini untuk seterusnya?”

Dan setiap kali mereka selalu mendengar Ki Demang berkata kepada orang-orang Kademangan Candi Sari, bahwa untuk kepentingan Kademangan ini sendiri mereka sebaiknya tidak berbuat apa-apa terhadap setiap utusan Panembahan Sekar Jagat.

“Pada suatu saat mereka akan berhenti dengan sendirinya,” berkata Ki Demang setiap kali.

“Tetapi kapan?” pertanyaan itu menyentuh setiap hati.

“Kita harus menunggu sampai kita siap melakukan sesuatu,” berkata Ki Demang itu pula setiap kali. “Atau, kalau kita memang tidak mampu, maka apabila perselisihan antara Pajang dan Mataram telah selesai, maka kita akan dapat meminta perlindungan lagi dari para prajurit. Dan Panembahan Sekar Jagat pun pasti akan segera mereka selesaikan.”

Namun setiap kali terngiang pertanyaan di setiap hati, “Tetapi kapan?” Tetapi kapan?”

“Kita harus mulai,” hati para pengawal itu pun telah tergerak, “Kita harus mempertahankan apa yang ada sekarang, sebelum semuanya habis terperas.”

Namun para pengawal, beberapa orang laki-laki dan bahkan Ki Jagabaya sendiri masih saja menyimpan persoalan itu di dalam hati mereka. Hanya Ki Tambilah yang berani mengatakan berterus terang. Bahkan di hadapan banyak orang.

Setiap kali seorang ingin mengutarakan isi hatinya, maka setiap kali mereka selalu dibayangi oleh kecemasan, kalau-kalau yang diajaknya berbicara itu justru salah seorang dari pengikut Panembahan Sekar Jagat yang secara rahasia memang dibiarkan berada di tengah-tengah lingkungannya.

Temunggul, pemimpin para pengawal Kademangan itu pun sama sekali masih belum mengatakan sesuatu, meskipun sebenarnya hatinya sendiri bergolak. Tetapi sampai saat itu ia masih mempunyai perhitungan sendiri. Ia masih mencemaskan nasib Ratri. Apabila orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu marah, maka nasib Ratri akan menjadi tidak terlampau baik. 

“TETAPI apabila kita biarkan saja mereka berbuat sewenang-wenang, maka Kademangan ini benar-benar akan kering. Dan apakah dapat dijamin bahwa setelah mereka memeras habis kekayaan di Kademangan ini, tidak akan mengganggu gadis-gadis? Apabila mereka sudah tidak memerlukan Kademangan ini lagi, maka apapun dapat mereka lakukan. Memusnahkan Kademangan ini dan merampas gadis-gadis.” Apabila angan-angan Temunggul telah sampai sedemikian jauh, maka tiba-tiba ia menggeretakkan giginya, sambil menggeram di dalam hati. “Kita harus bangkit melawan. Kita harus menyelamatkan seluruh isi kademangan ini, terutama Ratri.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang sekali lagi perkelahiannya melawan orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Desisnya di dalam hatinya, “Mereka ternyata adalah orang-orang biasa. Mereka dapat juga dilawan. Sentuhan tanganku dapat juga mengenai tubuhnya. Mereka sama sekali bukan iblis.”

Tetapi Temunggul pun belum pernah menyatakan perasaannya itu. Ia masih menyimpannya seperti kawan-kawannya yang lain. Hanya sekali-sekali terloncat juga satu dua patah kata. Namun di dalam lingkungan yang sangat terbatas. Meskipun demikian, yang satu dua kata itu agaknya telah merambat pada setiap hati para pengawal. Seperti percikan api yang terbalut didalam sekam. Setiap saat, apabila datang suatu kesempatan, maka setiap dada itu pasti akan meledak. Mereka hanya menunggu. Tetapi mereka tidak tahu, apakah yang sebenarnya mereka tunggu, karena pimpinan tertinggi dari Kademangan mereka sama sekali tidak memberikan arah apapun juga untuk mengatasi persoalan itu.

Meskipun demikian ketika para pengawal, terutama anak-anak mudanya, meninggalkan Kademangan, mereka telah membawa persoalan di dalam hati mereka. Persoalan Kademangan mereka yang semakin lama menjadi semakin miskin. Hari depan Kademangan mereka yang suram dan hari depan mereka sendiri.

Sejak peristiwa di ujung batas Kademangan Candi Sari dan sejak salah seorang dari pengikut Panembahan Sekar Jagat berada di Kademangan, Candi Sari seakan-akan disaput oleh nafas yang lain dari kebiasaannya. Para pengawal tampak menjadi semakin tegang, meskipun di dalam hati. Diam-diam mereka selalu mengasah senjata-senjata mereka dan menyimpannya baik-baik. Mereka merasa suatu ketika senjata-senjata itu akan mereka pergunakan. Apabila mereka keluar rumah, kesawah, dan apalagi mereka yang sedang meronda, maka senjata-senjata itu tidak pernah terlepas dari lambung mereka.

Agaknya Ki Tambi tidak henti-hentinya, berbisik kepada setiap telinga, bahwa waktunya sudah hampir tiba untuk bangkit dan melawan kekuatan Panembahan Sekar Jagat.

“Mereka adalah manusia-manusia biasa,” Ki Tambi selalu membesarkan hati anak-anak muda itu.

“Tetapi bagaimana dengan Panembahan Sekar Jagat sendiri?” 

“Ia pun manusia biasa. Bukankah orang-orangnya sama sekali tidak mampu melawan Putut Sabuk Tampar? Seandainya Panembahan Sekar Jagat sendiri akan turun ke Kademangan ini, itu akan berarti, Resi Panji Sekar pun akan muncul pula.”

“Siapa mereka?”

“Mereka pun orang-orang biasa. Kalau kita tidak dapat melawan seorang lawan seorang, maka kita akan melawan bersama-sama.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, “Ya, kami menunggu saat yang demikian.”

Sementara itu Bramanti sama sekali tidak pernah keluar dari halaman rumahnya. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di bawah pohon sawo menganyam keranjang, wuwu dan kadang-kadang macam-macam barang yang lain. Adalah kesenangannya sejak kecil, bermain-main dengan rautan bambu. Sejak umur delapan tahun, ia sudah dapat membuat kipas api dan serok dapur.

Tetapi kadang-kadang Panjanglah yang tiba-tiba saja telah berada di regol halaman. Setiap kali ia selalu singgah ke rumah itu. Kadang-kadang pada saat ia berangkat ke Kademangan, kadang-kadang setelah ia pulang. Bahkan kadang-kadang Panjang sengaja datang ke rumahnya meskipun ia tidak pergi ke Kademangan.

Kecuali Panjang, Ki Tambilah yang sering singgah ke rumah itu pula. Ki Tambi senang sekali melihat hasil anyaman tangan Bramanti. Sehingga kadang-kadang ia membawa sepotong dua potong barang anyaman dari Bramanti.

“Kau dapat membuatnya lagi. Ceting ini aku bawa pulang.”

Bramanti hanya tersenyum saja.

“Tetapi, akhir-akhir ini aku lihat kau tidak pernah keluar, Bramanti?” bertanya Ki Tambi kemudian.

“Aku tidak mempunyai kepentingan apapun di luar rumah ini paman.”

“Apakah kau sekali-kali tidak ingin pergi ke Kademangan, berkumpul dengan anak-anak muda yang lain?”

“Itu hanya akan menimbulkan persoalan saja paman. Aku tidak begitu disukai.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aneh Bramanti. Orang yang terluka itu, yang kini masih berada di Kademangan, pernah berkata bahwa ia melihat Putut Sabuk Tampar di Kademangan ini.”

Dahi Bramanti tiba-tiba berkerut, “Betulkah begitu?”

“Ya. Kau ingat orang yang aku bawa lewat halaman rumahmu ini beberapa hari yang lalu?”

“Ya paman”

“Ia menunjuk kau ketika kemudian ia jatuh pingsan.”

“Ah.”

Ki Tambi tertawa. “Mungkin ia salah lihat. Tetapi begitulah katanya. Ia melihat Putut Sabuk Tampar di Kademangan ini. Apakah kau tidak percaya?”

“Bukan tidak percaya paman. Tetapi aku sama sekali tidak tahu menahu. Selama ini aku selalu di rumah saja.”

“Karena itu, marilah kita pergi ke Kademangan. Nanti kau akan mendengar sendiri, bahwa ia pernah melihatnya.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kepada siapa saja orang itu berceritera tentang orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar?”

“Kepada semua orang. Kepada Ki Demang, kepada Ki Jagabaya dan kepada para pengawal.”

“Bagaimanakah tanggapan mereka?”

“Pada umumnya mereka berpendapat bahwa orang itu telah salah lihat.”

“Tentu, tentu ia salah lihat,” Bramanti berhenti sejenak, lalu. “Bagaimana tanggapan Panjang?”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Bramanti. Dan ia melihat sesuatu bergetar pada sorot matanya.

“Bertanyalah kepada Panjang,” jawab Ki Tambi.

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ia akan singgah kemari. Hampir setiap kali ia lewat ia singgah kerumah ini.”

“Bagaimana dengan hari ini?”

Bramanti menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku belum melihat ia berangkat ke Kademangan.”

“Ia sudah pergi. Aku bertemu dengan anak itu.”

“O, kalau begitu, nanti dari Kademangan biasanya ia singgah.”

“Aku akan menunggunya disini.”

Bramanti terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa paman akan menunggunya disini?”

Sekali lagi Ki Tambi memandang pusat mata Bramanti. Dan sekali lagi ia melihat getar itu lagi. Maka jawabnya kemudian, “Apakah salahnya?”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

“Aku akan mendapatkan ibumu. Sudah agak lama aku tidak menemuinya. Setiap kali aku hanya memerlukanmu.”

Bramanti mengangguk kaku. Ia tahu bahwa itu adalah sekadar alasan Ki Tambi untuk tetap tinggal di rumahnya. Namun ia pun menjawab. “Silakan paman.”

Ki Tambi pun kemudian naik ke rumah Bramanti. Ditemuinya perempuan tua, ibu Bramanti sedang duduk-duduk di dapur sambil menunggu api. Perempuan itu sedang memanasi santan kelapa untuk dibuatnya menjadi minyak.

“Ha,” desis Ki Tambi. “Aku akan menunggu sampai santan itu menjadi minyak Nyai. Aku senang sekali apabila aku dijamu dengan blondo minyak itu.”

Nyai Pruwita tersenyum. Hanya sebentar. Katanya, “Silakan Ki Tambi. Tetapi sebaiknya Ki Tambi duduk saja di dalam, tidak di dapur yang kotor.”

“O, tidak mengapa Nyai. Aku lebih senang duduk di sini. Aku menunggu minyak itu.”

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah. Tetapi pakaianmu akan menjadi kotor oleh abu dan asap.”

Ki Tambi tertawa. Tetapi ia tidak beranjak pergi.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: