Tanah Warisan | Jilid 6

Lanjutan dari jilid 5

DEMIKIANLAH, maka setiap lorong masuk di Kademangan itu telah dijaga oleh tiga atau empat orang. Mereka harus selalu waspada.
Kalau tidak maka hidup mereka sendiri terancam dan Kademangan mereka pun terancam pula.

Demikianlah, maka Kademangan Candi Sari serasa telah terbangun dari tidurnya. Anak-anak mudanya, terlebih-lebih lagi para pengawal kini mempunyai tanggung jawab baru. Sebenarnya tanggung jawab seorang pengawal.

Di bantu oleh Bramanti, Temunggul mengatur anak buahnya. Semakin lama menjadi semakin tertib. Bukan saja para pengawal, tetapi setiap anak muda dan laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata harus melakukan tugas bersama-sama.

Namun dalam pada itu, kegiatan Kademangan Candi Sari kini seakan-akan telah bergeser. Ki Demang sendiri seakan-akan sama sekali sudah tidak mau tahu, apa yang terjadi di Kademangannya. Ia hanya mengumpat-umpat, marah-marah dan kadang-kadang mengancam. Sedang rumahnya pun kini hampir tidak diacuhkan lagi. Dibiarkannya saja orang-orang yang selalu datang ke Kademangan seperti biasanya. Ki Demang sendiri hampir-hampir tidak pernah menampakkan diri. Demikian juga keluarganya.

“Keluargaku perlu mengungsi,” katanya pada suatu saat kepada Ki Jagabaya.

“Kenapa?”

“Kalau pada saatnya Kademangan ini menjadi abu, biarlah keluargaku selamat, meskipun aku akan ikut menjadi abu juga.”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Sikap itu akan sangat berpengaruh Ki Demang. Orang-orang lain akan menjadi semakin gelisah. Mungkin mereka pun akan segera mengungsi pula dari Kademangan ini.”

“Apa peduliku. Orang-orang Kademangan ini sudah tidak mau mendengar kata-kataku lagi.”

“Tetapi kau masih tetap seorang Demang disini.”

“Apakah seorang Demang tidak boleh berusaha menyelamatkan keluarganya? Sudah aku katakan, aku sendiri akan ikut menjadi abu disini bersama seluruh Kademangan karena kebodohan kalian. Tetapi tidak dengan keluargaku.”

Ki Jagabaya tidak membantah lagi. Memang itu adalah haknya. Tetapi bagi Ki Jagabaya, hal itu terasa aneh. Bukankah setiap orang sudah bertekad untuk mempertahankan Kademangan ini dengan pengorbanan apa saja.

Tetapi ternyata Ki Demang pun tidak segera melakukan maksudnya. Meskipun dari hari ke hari ia menjadi semakin jarang tampak.

Dengan demikian maka pimpinan Kademangan itu seolah-olah telah berpindah. Orang yang dalam kedudukannya masih selalu bertindak adalah Ki Jagabaya.

Namun Ki Jagabaya tidak pernah meninggalkan Ki Tambi dan Bramanti, karena Ki Jagabaya sendiri adalah seorang yang malas berpikir. Ia terlampau biasa menjalankan tugas-tugas yang telah diatur terlebih dahulu.

Sedang di lingkungan anak-anak muda dan para pengawal pengaruh Temunggul pun menjadi semakin susut. Kini mereka telah meyakini, bahwa Bramanti adalah seorang yang mengagumkan lahir dan batin. Setiap orang Kademangan Candi Sari kemudian menjadi yakin, bahwa Bramanti memang bermaksud baik. Dendam dan kebencian yang mereka cemaskan, semakin lama semakin hilang dari ingatan mereka.

“Kalau ia ingin berbuat demikian, maka Kademangan ini telah dihancurkannya,” desis orang di dalam hatinya.

Demikianlah, maka kedudukan Bramanti semakin lama menjadi semakin mantap. Tidak ada seorang pun lagi yang dapat mengasingkannya lagi.

Namun Bramanti sama sekali tidak merubah cara hidupnya. Ia masih tetap sering duduk di bawah pohon sawo, menganyam berbagai macam barang dari bambu. Keranjang, caping kuwung, dan bermacam-macam lagi. Tetapi kini yang sering singgah ke rumahnya menjadi semakin banyak. Bukan sekadar Ki Tambi dan Panjang. Bahkan Ki Jagabaya pun sering datang ke rumah itu pula.

Dengan demikian, maka semakin banyak pula orang-orang yang sering membawa barang-barang anyaman Bramanti. Namun Bramanti memberikannya dengan senang hati, karena Bramanti sadar, bahwa bukan barang-barang itulah yang sebenarnya dikehendaki. Tetapi mereka hanya sekadar menunjukkan sikap semanak, sikap yang baik kepadanya.

Dalam pada itu, ibu Bramanti tidak henti-hentinya mengamati perubahan yang terjadi pada anak laki-lakinya. Diam-diam mengembanglah suatu kebanggaan di dalam dirinya. Kebanggaan yang selama ini terendam dalam-dalam di dalam dadanya.

Ketika ia melihat kemenangan Bramanti, kemudian disusul dengan sikap yang berubah dari seluruh rakyat Candi Sari, maka kenangan masa lampaunya seolah-olah telah terungkat kembali. Tanpa sesadarnya perempuan itu sering membayangkan, selagi ia masih dihormati oleh seisi Kademangan.

Setelah kebanggaan itu tertekan di dalam dadanya untuk waktu yang sekian panjangnya, sepanjang umur Bramanti, maka tiba-tiba ia melihat anak laki-lakinya telah melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangkanya. Tidak disangka-sangka olehnya dan oleh seluruh Kademangan.

“Mudah-mudahan ia mampu mengembalikan masa kebanggan itu. Masa kebesaran ayahnya,” namun angan-angannya itu tiba-tiba terputus. Kerut merut yang dalam membayang dikeningnya. “Bukan ayahnya. Tetapi ayah Panggiring,” desisnya. “Laki-laki itulah yang pernah menjadi Demang kebanggan Candi Sari. Bukan Pruwita ayah Bramanti.”

Namun dicobanya untuk menghibur dirinya, “Tetapi apakah bedanya? Bramanti adalah anaku pula, seperti Panggiring.”

Meskipun demikian, disela-sela kebanggaan yang mulai mengembang itu, terbersitlah kekecewaan yang semakin lama semakin terasa menggigit jantung.

“Bagaimanakah seandainya pada suatu saat Panggiring itu pulang? Tanah ini dan Kademangan ini akan menjadi persoalan yang dapat meretakkan dada.”

Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sekarang Bramantilah yang ada. Bramantilah yang mendapat kepercayaan dari rakyat Candi Sari. Dan kepercayaan itu sama sekali bukan sekadar kepercayaan yang dibuat-buat. Tetapi karena Bramanti pada suatu saat telah benar-benar melakukan sesuatu.”

Meskipun demikian, Nyai Pruwita tidak dapat menghindarkan diri dari kerisauan itu. Kebanggaan yang bercampur baur dengan kecemasan. Harapan dan kebingungan. Kadang-kadang ia merasakan betapa ia merindukan anaknya yang seorang lagi. Tetapi kadang justru ia mencemaskannya kalau anaknya yang seorang itu akan datang kembali ke Kademangan ini.

Namun bagaimanapun juga ia adalah seorang ibu. Ia adalah orang yang melahirkan, betapapun bentuk dan jadinya. Panggiring adalah anaknya seperti juga Bramanti.

Tetapi yang dapat dilihatnya sehari-hari sikap yang semakin baik dari setiap orang di Candi Sari kepadanya. Kepada anaknya dan kepada keluarga yang seakan-akan telah hampir dilupakan itu.

Bramanti sendiri, kini tidak pernah lagi ragu-ragu untuk pergi kemanapun. Semua orang bersikap baik kepadanya. Anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua. Hampir setiap hari, apabila ia telah duduk di bawah pohon sawo, dan jemu berbaring di dalam kandangnya maka ia pun kadang-adang pergi juga ke bendungan. kadang-kadang bersama-sama dengan satu dua orang anak-anak muda, tetapi kadang-kadang ia pergi sendiri.

Meskipun demikian, meskipun ia tidak mencemaskan dirinya lagi, namun apabila ia bertemu dengan Ratri hatinya selalu menjadi berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang ia mengumpat sambil berdesis. “Semua ini adalah salah Temunggul. Kalau ia tidak mempersoalkan hubunganku dengan Ratri, aku kira akupun tidak akan terlampau banyak menaruh perhatian kepadanya. Tetapi kini agaknya telah terlanjur.”

Setiap kali ia berpapasan, maka keringatnya menjadi semakin deras mengalir. Apalagi kalau mereka berpapasan di pematang yang sempit.

“Kemana kau Bramanti?” Ratri selalu menyapanya lebih dahulu.

Seperti kanak-kanak yang berpapasan dengan bibi yang kurang dikenalnya. Bramanti selalu menundukkan kepalanya. Dengan jantungnya yang berdebar ia menjawab, “Aku akan ke bendungan Ratri.”

“Sendiri?”

“Ya. Dan kau?”

“Aku sudah selesai mencuci di bendungan. Kau kesiangan agaknya.”

Bramanti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja.

“Bramanti,” tiba-tiba suara Ratri merendah.

Bramanti mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah gadis itu, tampaklah ia bersungguh-sungguh.

“Apakah kau sudah mendengar berita terakhir dari Panggiring?”

Terasa dada Bramanti berdesir. Setiap kali ia bertemu dengan Ratri, maka setiap kali gadis itu bertanya tentang Panggiring. Ia sama sekali tidak senang mendengar pertanyaan itu. Bukan saja ia kurang senang mendengar nama Panggiring, tetapi lebih daripada itu, Ratrilah yang menyebut nama itu.

Tetapi sejauh-jauh mungkin Bramanti menyembunyikan perasaannya itu, meskipun kadang-kadang terloncat juga lewat kata-katanya.

“Belum Ratri,” jawab Bramanti. “Aku belum mendengar berita tentang kakang Panggiring.”

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ia bertanya lagi, “Bramanti, apakah umurmu terpaut banyak dari kakakmu?”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Kenapa?” ia bertanya.

“Tidak apa-apa,” jawab Ratri. “Ketika ia pergi, kita masih sama-sama kecil. Tetapi aku masih ingat benar, bahwa Panggiring adalah seorang anak muda yang tegap, meskipun saat ini agak kekurus-kurusan,” Ratri berhenti sejenak lalu. “Ketika aku pertama kali melihatmu Bramanti, aku sangka kau adalah Panggiring.”

Bramanti menarik nafas.

“Hampir seperti kau inilah kira-kira, ketika ia pergi.”

“Tidak,” tiba-tiba Bramanti menjawab. “Masih jauh lebih muda dari aku sekarang.”

“Ya, ya, begitulah,” jawab Ratri. “Tetapi ia memberikan kesan yang lain dari anak-anak muda sebayanya.”

Debar di dada Bramanti menjadi semakin keras.

“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah Panggiring sekarang,” desis Ratri.

Bramanti menahan nafasnya. Ketika ia memandang wajah Ratri, tampaklah betapa angan-angan gadis itu membubung menerawang ke alam angannya.

“Bramanti,” tiba-tiba Ratri bertanya lagi. “Apakah kira-kira Panggiring juga setinggi kau? Atau bahkan lebih tinggi lagi?”

Bramanti menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu Ratri. Yang aku ketahui, Panggiring sekarang adalah seorang penjahat. Seorang yang sudah terasing dari pergaulan.”

Wajah Ratri tiba-tiba menjadi suram. Dan terdengar ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Ya. Panggiring memang seorang penjahat menurut Ki Tambi,” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah menurut dugaanmu seorang penjahat tidak akan dapat menjadi baik Bramanti?”

Tanpa sesadarnya Bramanti menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak. Apalagi seorang penjahat sebesar Panggiring.”

“Jadi apakah dengan demikian kau menganggap bahwa kakakmu itu sudah hilang dan tidak akan kembali lagi?”

Bramanti menjadi ragu-ragu menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka ia menggeleng sekali lagi. “Aku tidak tahu Ratri. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sudah tidak mengharapkannya kembali.”

Kenapa? Bukankah ia kakakmu satu-satunya?”

“Aku masih terlampau kecil untuk mengerti kenapa Panggiring saat itu tidak mau tinggal bersama kami. Tetapi suatu kenyataan bahwa ia telah pergi meninggalkan aku, ibu dan ayah.” Bramanti berhenti sejenak. Ia masih tetap ragu-ragu untuk mengatakan lebih banyak lagi tentang Panggiring.

Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebuah kenangan telah membayang dikepalanya. Kenangan semasa kanak-kanaknya. Sejak ia masih seorang gadis kecil ia telah mengagumi seorang yang bernama Panggiring, yang ketika itu sedang meningkat remaja. Anak muda pendiam yang selalu berwajah muram. Namun pendiam itu sangat baik kepadanya.

Ia tidak menyangka, bahwa anak yang baik dan pendiam itu pada suatu saat akan dapat menjadi seorang perampok yang ganas di pesisir Utara.

Meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia telah dibelit oleh suatu keinginan untuk bertemu kembali dengan Panggiring setelah sekian lama berpisah.

Ratri tersadar ketika terasa panas matahari pagi menggatalkan kulitnya. Ketika dilihatnya Bramanti berdiri kaku di hadapannya, maka ia pun tersenyum sambil berkata. “Ah, kau akan semakin kesiangan. Pergilah ke bendungan. Beberapa kawan masih di sana. Aku pulang lebih dahulu karena ibu tidak dapat masak hari ini, sehingga aku harus melakukannya.”

“Kenapa?”

“Pening. Ibu terlampau banyak kepanasan kemarin menunggui jemuran padi.”

“O,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan lewat,” tiba-tiba Ratri berdesis.

“Oh,” Bramanti tergagap. Namun ketika terpandang olehnya senyum Ratri yang cerah, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Tanpa menunggu Ratri mengulangi kata-katanya, Bramanti pun kemudian turun ke sawah yang berlumpur, sementara Ratri berjalan di sepanjang pematang.

“Terima kasih Bramanti,” katanya kemudian, “Kau sekarang tidak perlu cemas lagi, bahwa Temunggul akan membentak-bentakmu. Bukankah begitu?”

“Ah.”

Ratri tertawa kecil. Katanya kemudian, “Jangan gusar. Aku hanya bergurau saja,” kemudian agak bersungguh-sungguh Ratri berkata, “Bukankah kau akan memberitahukan kepadaku, apabila kau mendapat kabar tentang kakakmu?”

Terbata-bata Bramanti menjawab, “Ya. Ya.”

“Terima kasih,” desis Ratri sambil melanjutkan langkahnya. Sekali lagi ia berpaling sambil melambaikan tangannya. Namun wajahnya kemudian menjadi kemerah-merahan ketika tiba-tiba seorang perempuan yang sedang mengambil daun lembayung di sawahnya mendeham beberapa kali.

Ketika Ratri berpaling perempuan itu tersenyum.

“Ah bibi,” desah Ratri.

“Kenapa?” bertanya perempuan itu sambil tertawa.

“Bibi mengejutkan aku.”

“Kau terlampau asyik saja.”

“Ah,” sekali lagi Ratri berdesah. “Bibi menggangguku.”

Perempuan itu tidak menjawab. Tangannya telah bermain kembali di atas daun-daun lembayung muda.

“Apakah kau perlu dedaunan untuk masak,” bertanya perempuan itu.

“Terima kasih bibi. Aku sudah menyuruh mengambil pula.”

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Ratri pun kemudian berjalan menyusur pematang, menuju ke jalan pedesaan.

Dalam pada itu di kejauhan seorang anak muda duduk di balik rimbunnya daun jarak di pinggir sawah. Sekali-kali wajahnya menjadi merah, namun kemudian menjadi pucat dan tertunduk lesu. Kadang-kadang ia ingin melihat Ratri yang sedang bercakap-cakap dengan Bramanti di pematang, namun kadang-kadang ia membuang wajahnya, membenturkan pandangan matanya kepada batang-batang padi yang hijau dihadapannya.

Berbagai perasaan sedang bergolak di dalam dadanya. Ia tidak dapat melupakan Ratri begitu saja, betapapun ia sadar, bahwa jurang yang terbentang di antara mereka kini menjadi kian lebar.

Tiba-tiba anak muda itu terkejut ketika ia mendengar suara memanggilnya. “Temunggul.”

Temunggul berpaling. Dan ia terperanjat ketika ia melihat Ki Demang telah berdiri di belakangnya.

“Oh, Ki Demang agaknya,” sapanya sambil berdiri.

Ki Demang tidak segera menyahut. Dipandanginya Ratri yang berjalan di kejauhan. Semakin lama menjadi semakin jauh. Kemudian ketika ia berpaling ke arah yang lain dilihatnya Bramanti seakan-akan hilang ditelah oleh hijaunya dedaunan di sawah, ketika ia turun ke bendungan.

“Anak-anak muda itu telah mengecewakan kau bukan Temunggul?” bertanya Ki Demang.

Temunggul menggigit bibirnya.

“Apakah sekarang Ratri menjauhimu?”

Temunggul masih belum menjawab.

“Kau harus berbuat sebagai seorang laki-laki,” berkata Ki Demang kemudian.

Temunggul terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta ia bertanya, “Maksud Ki Demang?”

Ki Demang tersenyum hambar. Desisnya, “Bukankah kau mencintai Ratri?”

Temunggul tidak segera menyahut. Tetapi dadanya dijalari oleh keragu-raguan. Dipandanginya saja wajah Ki Demang dengan sorot mata keheranan.

“Benar?” desak Ki Demang.

Temunggul masih belum menjawab. Seolah-olah ia ingin meyakinkan apakah Ki Demang sebenarnya memang bertanya demikian.

“Benar begitu, Temunggul?” desak Ki Demang pula.

Perlahan-lahan Temunggul menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau kau benar-benar mencintainya, kau harus berbuat sesuatu. Kau tidak akan dapat bertopang dagu seperti yang kau lakukan itu. Meratap dan mengeluh. Kemudian bersembunyi dan menelungkup di pembaringan sambil menangis. Tidak Temunggul. Itu adalah laku seorang perempuan. Perempuanpun perempuan cengeng. Sedang kau adalah seorang laki-laki . Seorang pemimpin pengawal Kademangan ini. Apakah kau akan tinggal diam?”

Terasa sesuatu bergolak di dada Temunggul.

“Kau tahu maksudku Temunggul?”

Temunggul tidak menyahut.

“Ada seribu jalan yang dapat kau tempuh. Tetapi tidak menyita diri sendiri seperti yang kau lakukan. Kau harus merebutnya dengan segala macam cara.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera mengerti, jalan manakah yang dimaksud oleh Ki Demang. Suatu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya bahwa ia tidak akan dapat melawan Bramanti. Bahkan lima orang setingkatnya sekaligus.

Temunggul menjadi semakin bingung ketika ia melihat Ki Demang tersenyum.

“Temunggul,” desis Ki Demang. “Ada persamaan persoalan antara aku dan kau, meskipun sasarannya berbeda. Kalau kau kehilangan seorang gadis, maka aku akan kehilangan Kademangan ini.”

“Kenapa?” tiba-tiba Temunggul bertanya.

“Beberapa orang telah berbuat terlampau bodoh. Bahkan kau sendiri telah ikut terseret ke dalamnya. Coba katakan, apakah perlawanan kalian terhadap orang-orang Panembahan Sekar Jagat, dan yang kalian anggap suatu kemenangan itu telah memberikan ketentraman kepada kalian kini?”

Temunggul mengerutkan keningnya.

“Semua itu akan membawa bencana bagi tanah ini. Sebentar lagi Kademangan ini akan menjadi karang abang.”

“Tetapi hal itu telah terjadi beberapa hari sampai sekarang Ki Demang. Dan belum ada tanda-tanda bahwa Penambahan Sekar Jagat akan menuntut balas atas kematian orang-orangnya disini.”

“Itulah kelebihan Panembahan Sekar Jagat. Ia membiarkan korbannya dalam kecemasan untuk waktu yang lama sebelum sampai saatnya ia datang untuk menghancurkannya.”

Tanpa disadarinya Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Adalah kebetulan sekali Temunggul, bahwa orang yang telah merampas gadis itu dari tanganmu, adalah sumber dari bencana yang bakal melanda Kademangan ini. Bramanti, kemudian Tambi dan beberapa orang yang lain yang sama sekali tidak berpengaruh apapun juga.”

Temunggul masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau orang itu tidak ada, maka baik kau maupun aku akan menjadi tentram karenanya. Kau tidak akan kehilangan Ratri, dan aku tidak akan kehilangan Kademangan ini. Bukan aku seorang diri. Bukan aku pribadi, tetapi seluruh Kademangan inilah yang aku maksud. Sehingga apabila kau dapat melakukannya, maka kau adalah sebenarnya pahlawan bagi Candi Sari.”

Temunggul tidak segera dapat menjawab. Sejenak ia merenung. Dibayangkannya apakah yang kira-kira terjadi apabila ia melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Ki Demang itu. Tetapi bagaimana mungkin hal itu terjadi?

Ki Demang agaknya melihat keragu-raguan di wajah Temunggul. Karena itu ia menyambung, “Temunggul. Aku tahu, bahwa tingkat ilmumu masih jauh berada di bawah Bramanti. Ternyata Bramanti selama ini telah memalsu dirinya dan berpura-pura. Aku tidak tahu dengan pasti, apakah maksudnya. Namun sebenarnya ia adalah seorang yang luar biasa. Karena itu, kau pasti tidak akan dapat melawannya. Kau harus menemukan kesempatan untuk melakukannya.”

Temunggul mengerutkan keningnya. Kini ia tahu pasti maksud Ki Demang. Ia harus membunuh Bramanti dengan cara yang licik.

“Nah, pertimbangkan Temunggul,” berkata Ki Demang kemudian. “Kau tidak hanya akan mendapat Ratri. Tetapi seluruh Kademangan akan berterima kasih kepadamu. Serahkan Tambi kepadaku, sedang Panjang dan beberapa orang yang lain sama sekali tak akan banyak berarti bagimu.”

Jantung Temunggul serasa berdenyut semakin cepat. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa ia akan mendapat tawaran serupa itu. Tawaran yang sama sekali bertentangan dengan sifat-sifatnya. Bagaimanapun juga ia adalah seorang laki-laki. Kalau ia harus bertempur, maka akan lebih baik baginya bertempur berhadapan, meskipun ia harus mati. Tetapi tidak dengan cara yang licik itu.

Namun segera terbayang, betapa Bramanti mampu membunuh seorang yang bernama Sapu Angin. Kalau ia menantang anak muda itu sebagai seorang laki-laki maka itu akan berarti bahwa ia akan membunuh dirinya.

Karena itu, maka Temunggul kini justru berada di dalam kebingungan. Semula ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan untuk merebut Ratri dengan cara apapun. Ia lebih baik duduk bertopang dagu sambil menyesali nasibnya. Karena ia tidak akan dapat ingkar dari kenyataan yang dihadapinya.

Namun hal itu kini menjadi persoalan baginya, justru suatu persoalan baru.

Ki Demang yang masih berdiri di tempatnya tersenyum. Katanya, “Pikirkanlah Temunggul. Kau masih mempunyai cukup waktu. Kau dapat datang ke rumahku setiap saat. Tetapi sudah tentu, jangan terlampau lama. Aku sebaiknya berterus terang kepadamu, bahwa Panembahan Sekar Jagat akan melepaskan tuntutannya atas kematian Sapu Angin, asal kita dapat menyerahkan pembunuhnya hidup atau mati. Nah, bukankah dengan demikian kita akan terlepas dari bencana yang maha dahsyat yang dapat menimpa Kademangan ini, termasuk Ratri.” Ki Demang kemudian berhenti sejenak, kemudian, “Selain semuanya itu Temunggul, kau akan mendapat imbalan yang lain. Apa yang kau ingini sebagai bekal kawinmu? Sawah atau pendok emas?”

Keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Temunggul. Namun dengan demikian, maka justru hatinya menjadi pepat. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Dan bahkan ia tidak dapat mengerti, bagaimanakah sebenarnya tanggapannya atas usul Ki Demang itu. Temunggul merasa dirinya sendiri seolah-olah menjadi asing setelah ia mendengar tawaran Ki Demang itu.

“Jangan kau paksa dirimu memutuskan sekarang Temunggul. Kalau kau tergesa-gesa mungkin kau akan keliru. Renungkanlah seperti yang aku katakan. Aku menunggu keputusanmu.”

Sebelum Temunggul menjawab, Ki Demang telah melangkah pergi meninggalkan Temunggul seorang diri.

Sepeninggalan Ki Demang, Temunggul menjadi bingung. Ia tidak pernah dicengkam oleh kebimbangan seperti itu. Kebimbangan yang membuat kepalanya seakan-akan terlepas dari lehernya.

“Tawaran itu cukup baik,” desisnya. “Aku dapat mencari kesempatan yang sebaik-baiknya. Aku dapat berbuat licik sekalipun. Namun aku akan mendapatkan segala-galanya. Ratri dan bekal yang cukup untuk mengawininya. Bahkan aku tidak akan pernah kehilangan kedudukan dan pengaruhku di antara anak-anak muda Kademangan Candi Sari ini.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Dilontarkannya pandangan matanya yang memancarkan kerisauan hatinya, menyapu hijaunya tanah persawahan.

“Aku akan mempunyai segala-galanya,” desisnya.

TIba-tiba Temunggul itu tersenyum, “Persetan dengan kejantanan. Aku akan membunuhnya dengan cara apapun. Mungkin aku akan meracunnya atau menikamnya dari belakang di bendungan, atau dimana saja. Mudah sekali. kemudian aku mendapat sebidang sawah yang subur untuk memperluas sawahku sendiri, atau sebuah perhiasan emas teretes berlian, atau apapun yang aku minta.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bahkan mungkin aku akan menjadi semakin berpengaruh di Kademangan ini. Kini nama Ki Demang telah menjadi semakin susut. Apakah tidak mustahil bahwa suatu ketika aku akan sampai pada kedudukan itu? Seperti menyingkirkan Bramanti, akupun harus dapat menyingkirkan Ki Demang.”

Tanpa sesadarnya Temunggul tertawa.

Untunglah bahwa segera ia menyadari keadaannya. Dengan demikian suara tertawanya itu pun terputus. Dengan nanar ia memandang kesegala arah.

“Apakah ada seseorang yang melihat aku tertawa sendiri?” ia bertanya kepada dirinya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Agaknya tidak ada seorang pun yang melihatnya.

“Aku harus segera pulang dan mempersiapkan diriku lahir dan batin,” desisnya, kemudian, “Aku harus melepaskan segala macam perasaan harga diri dan kehormatanku. Apabila masih ada sepercik keragu-raguan di dalam dada ini, maka semuanya pasti akan gagal. Kegagalan itu hanya akan menambah kepahitan hidupku saja,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apa boleh buat. Apa boleh buat.”

Langkah Temunggul pun semakin lama menjadi semakin cepat tanpa disadarinya.

Dengan tangan gemetar Temunggul membuka pintu rumahnya, kemudian langsung menuju ke dalam biliknya. Dibantingnya tubuhnya di pembaringannya. Sejenak kemudian, angan-angannya telah terbang menerawang sampai ke lapis tingkat ketujuh.

Bayangan-bayangan tentang masa depannya yang mengawang itu pun seolah-olah senjadi semakin jelas.

Pada saat itu Bramanti masih duduk merenung di atas sebuah batu di bendungan. Ia menunggu beberapa orang gadis yang masih belum selesai dengan cuciannya.

Sekali-kali Bramanti melihat gadis-gadis itu serentak berpaling kepadanya, kemudian tertawa tertahan-tahan. Namun Bramanti tidak mempedulikannya lagi. Ia ingin gadis-gadis itu segera selesai. Kemudian ia sendiri akan mencuci bajunya pula.

Namun sambil menunggu, Bramanti selalu teringat akan pertanyaan-pertanyaan Ratri tentang kakaknya, Panggiring. Setiap kali dadanya terasa seakan-akan tergores seujung duri. Kenapa setiap kali Ratri selalu bertanya tentang Panggiring. Panggiring dan tidak yang lain?

Bramanti mengerutkan dahinya. Bahkan ketika ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Ratri, gadis itu menyangkanya panggiring juga.

“Hem,” Bramanti menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat memaksa Ratri untuk melupakan Panggiring. Apalagi berterus terang kepada gadis itu.

“Beginilah kira-kira perasaan Temunggul pada waktu itu, dan bahkan mungkin sampai saat ini,” desis Bramanti. “Tetapi apaboleh buat. Sedang akupun telah disiksanya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.”

Dan tanpa sesadarnya Bramanti telah mulai menilai kakaknya yang bernama Panggiring itu. Meskipun saat itu ia tidak mengerti dengan jelas, apakah sebenarnya yang telah terjadi, tetapi kebencian ayahnya kepada Panggiring telah membuatnya membenci kakaknya itu pula.

“Kebencian ayah pasti bukan tidak beralasan,” desisnya. “Dan agaknya kakang Panggiring memang mempunyai pembawaan buruk.”

Dengan demikian maka Bramanti pun menjadi semakin jauh dari kakaknya itu. Meskipun mereka saudara seibu, tetapi Bramanti sama sekali tidak merasakan sentuhan apapun dari pada perasaannya.

Namun Bramanti terkejut ketika ia merasakan punggungnya disentuh oleh sebuah batu kerikil. Ketika ia berpaling maka dilihatnya gadis-gadis yang sedang ditunggunya itu berada di atas tebing. Salah seorang dari mereka telah melemparinya dengan kerikil.

“He, apakah kau tertidur?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Alangkah asyiknya mimpimu Bramanti,” berkata yang lain.

Bramanti menarik nafas. Namun kemudian ia tersenyum.

“Siapakah bunga di dalam mimpimu Bramanti?” bertanya yang lain.

Sekenanya saja Bramanti menjawab, “Kau.”

Terdengar gadis-gadis itu pun tertawa sambil saling mendorong, sehingga salah seorang dari mereka menjerit, “He, jangan. Hampir saja aku terjerumus tebing.”

“Jangan takut,” sahut yang lain. “Masih ada yang akan menolongmu di bawah.”

Suara tertawa gadis-gadis itu pun menjadi semakin riuh.

Namun mereka pun kemudian berlari-larian meninggalkan tebing dan hilang di balik rerumputan di atas tanggul.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Gadis-gadis itu kini bersikap baik kepadanya. Tidak seperti beberapa saat sebelumnya. Namun dengan demikian, Bramanti merasa semakin sepi, karena setiap kali Ratri selalu menanyakan Panggiring.

“Ah, apa peduliku,” ia menggeram. Kemudian ia pun meloncat ke bendungan dan melemparkan bajunya ke dalam air. Sejenak kemudian ia pun telah sibuk mencuci bajunya dengan air lerak.

Untuk meniadakan angan-angannya maka dihentakkannya bajunya itu beberapa kali. Kemudian ditariknya sebuah tembang dengan suara yang sumbang. Adalah kebetulan sekali bahwa ia menembang lagu Asmarandana.

Di malam hari, seperti biasanya, Bramanti selalu pergi ke Kademangan. Meskipun Ki Demang sendiri sudah jarang-jarang sekali keluar dari rumahnya, namun pendapa rumah itu, dan gardu di halaman, masih selalu penuh dengan anak-anak muda dan para pengawal. Apalagi setelah Sapu Angin terbunuh di Kademangan Candi Sari, maka halaman Kademangan itu tampak menjadi semakin sibuk.

Ketika Bramanti memasuki halaman, dilihatnya Temunggul mendekatinya. Sambil tertawa ia berkata, “Bramanti, kau tampak semakin lama semakin segar.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Sapa itu terdengar aneh ditelinganya. Namun ia menjawab juga, “Candi Sari kini telah memberikan tempat yang lapang bagiku Temunggul.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana menurut penilaianmu keadaan akhir-akhir ini?” bertanya Temunggul pula.

“Baik. Baik sekali. Seandainya terjadi sesuatu, kita tidak akan terkejut karena kita memang sudah siap.”

Sekali lagi Temunggul tertawa. Sambil membimbing tangan Bramanti ia berkata, “Minumlah, mumpung masih hangat.”

Bramanti menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak menolak. Setelah ia duduk di antara beberapa orang pengawal, maka tangannyapun telah memegang sebuah mangkuk minuman.

Sikap Temunggul malam itu terasa terlampau baik bagi Bramanti. Namun Bramanti sama sekali tidak menaruh kecurigaan apapun. Bramanti sama sekali tidak tahu, bahwa di bawah baju Temunggul tersimpan sebuah pisau belati, di samping pedangnya yang tergantung dilambungnya.

“Sekali-kali kita memang harus nganglang,” berkata Temunggul.

Bramanti mengerutkan keningnya, “Kenapa sekali-kali. Bukankah setiap kali kita selalu nganglang di seputar Kademangan ini.”

“Oh,” Temunggul menelan ludahnya. “Ya. Kau benar Bramanti. Kita masing-masing memang sudah terlampau sering memutari Kademangan ini.”

“Lalu, apalagi yang kau maksudkan?”

“Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa.”

Bramanti menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi. Diteguknya minuman hangat di mangkuknya, kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya.

Sejenak kemudian ia sudah terlibat dalam pembicaraan yang ramai dengan kawan-kawan sebayanya. Kawan-kawan yang selama ini terasa menjadi semakin dekat, setelah terpisah beberapa saat lamanya. Namun Temunggullah yang agak lain dari kebiasannya. Sekali-kali ia menjadi pendiam, namun kemudian seakan-akan dibuatnya, ia berceritera dan tertawa berlebih-lebihan.

Yang belum tampak di antara mereka adalah Ki Tambi. Meskipun ia telah agak lanjut umurnya, namun ia masih juga selalu berada di antara anak-anak muda dan para pengawal bersama Ki Jagabaya. Namun kali ini Ki Jagabaya duduk sendirian terkantuk-kantuk di sudut pendapa. Karena Ki Demang kini tidak tampak di pendapa, maka Ki Jagabaya masih belum mempunyai kawan untuk bercakap-cakap. Ia agak kurang mapan bercakap-cakap dengan anak-anak muda yang kadang-kadang berbicara saja hilir mudik tanpa arti.

Memang kadang-kadang ada juga satu dua orang-orang tua yang datang ke pendapa. Tetapi terlampau jarang. Mereka lebih senang tidur melingkar di rumahnya, berselimut kain panjang, daripada berjalan menyusuri gelap di malam hari.

Meskipun demikian, di hari-hari terakhir, setiap laki-laki di Kademangan Candi Sari selalu meletakkan senjata mereka di pembaringannya.

Pada saat itu Ki Tambi sedang berjalan-jalan menyusuri parit, yang mengalirkan air ke sawahnya. Ia ingin melihat apakah tanamannya tidak kering. Sepeninggalannya, sawah itu kurang mendapat pemeliharaan sehingga tanahnya seakan-akan mengeras seperti padas. Setelah ia kembali, maka mulailah ia berusaha memperbaiki tanah itu dengan memberikan berbagai macam pupuk dan menjaga agar tanah itu tidak kering.

Tetapi ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sesosok tubuh mengikutinya, berjalan menyusur parit itu juga. Kalau ia mempercepat langkahnya, maka bayangan yang kehitam-hitaman digelapnya malam itu melangkah semakin cepat pula. Kalau ia memperlambat langkah, maka bayangan itu pun menjadi semakin lambat. Bahkan apabila ia berhenti, bayangan itu pun berhenti juga.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bercuriga karenanya. Karena itu, tanpa sesadarnya ia meraba senjatanya yang terselip di lambung.

“Siapakah orang itu?” desisnya.

Dan ternyata bayangan itu masih selalu mengikutinya.

“Persetan,” Ki Tambi menggeram. “Apa saja yang akan dilakukan aku sudah siap.”

Dan Ki Tambi itu pun seolah-olah tidak menghiraukannya lagi. Dengan langkah yang tetap ia berjalan langsung menuju ke sawahnya.

Meskipun demikian Ki Tambi tidak menjadi lengah. Ia berada dalam kesiagaan yang tertinggi. Seandainya orang itu tiba-tiba saja meloncat menerkamnya, ia sudah siap untuk melawannya.

Namun betapapun ketegangan mencekam dadanya. Ia masih sempat memperhatikan air di sawahnya. Ternyata air itu cukup lancar, sehingga tanahnya sama sekali tidak kering.

“Tetapi bagaimana dengan orang itu?” ia bertanya kepada diri sendiri. Namun ia tidak tahu, bagaimana ia harus menjawabnya.

Dalam ketegangan itulah, maka Ki Tambi kemudian berjongkok di samping belahan pematang yang disobeknya untuk mengalirkan air dari dalam parit. Namun demikian tangannya masih saja melekat dihulu senjatanya.

Bayangan yang hitam itu berhenti beberapa langkah daripadanya. Seperti sebuah patung bayangan itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali.

Tiba-tiba Ki Tambi tidak sabar lagi. Segera ia meloncat sendiri sambil bertanya lantang, “Siapa kau?”

Ketika Ki Tambi maju selangkah bayangan itu pun surut selangkah.

“Siapa kau he?” bentak Ki Tambi. “Dan apakah maksudmu?”

Bayangan itu masih belum menjawab.

Dalam pada itu Ki Tambi menjadi semakin kehabisan kesabarannya. Tiba-tiba saja pedangnya telah berada di tangannya, “Ayo, jawab. Siapa kau?”

Bayangan itu tampak bergerak-gerak. Kemudian surut selangkah pula. Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah orang ini yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat atau yang menamakan dirinya Resi Panji Sekar? Ataukah siapa lagi?

“Kalau orang ini Panembahan Sekar Jagat,” ia berkata di dalam hatinya. “Maka kedatangannya ini pasti di dalam rangka pembalasan dendamnya atas kematian Sapu Angin dan orang-orangnya. Mungkin ia telah menerima laporan dari salah seorang anak buahnya, atau bahkan oleh Wanda Geni yang berhasil melarikan dirinya, bahwa aku termasuk salah seorang yang paling gigih menganjurkan perlawanan atas Panembahan Sekar Jagat itu.”

Ki Tambi itu pun mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun melanjutkannya di dalam hatinya. “Tetapi apa boleh buat. Aku harus menghadapinya. Alangkah dahsyatnya Panembahan Sekar Jagat ini. Ia mempergunakan cara yang khusus untuk membalas dendam. Ia agaknya telah bertekad menemui seorang demi seorang. Setelah aku mungkin segera Bramanti ditemuinya pula. Tetapi agaknya Bramanti akan berhasil menyelesaikannya. Sayang, aku sudah tidak akan dapat melihatnya, karena malam ini Panembahan Sekar Jagat itu sudah akan mencekikku.”

Tetapi Ki Tambi tidak menjadi gemetar dan ketakutan karenanya. Meskipun ia sadar, apabila orang itu Panembahan Sekar Jagat, maka umurnya sudah akan sampai ke ujung.

Namun tanpa disadarinya, tangannya telah meraba kantong ikat pinggangnya. Di dalam kantong ikat pinggang kulitnya itulah tersimpan sebuah lencana yang diterimanya dari Panggiring.

“Apakah lencana ini akan berpengaruh seperti didaerah pesisir Utara?” bertanya Ki Tambi di dalam hatinya, kemudian, “Tetapi menurut salah seorang anak buahnya, Panembahan Sekar Jagat justru pernah mengeluarkan tantangan kepada Panggiring. Jika demikian, maka lencana ini akan mempunyai dua kemungkinan. Sekar Jagat menghormatinya atau justru akan dipakainya sebagai alasan untuk memancing Panggiring.”

Karena bayangan itu masih tetap berdiam diri, maka Ki Tambi pun melangkah maju lagi sambil bertanya pula. “He siapa kau? Hantu, tetekan atau manusia seperti aku?”

Tetapi bayangan yang kehitam-hitaman itu kini tidak melangkah surut lagi. Bahkan setapak ia maju.

Pedang Ki Tambi telah teracung lurus ke depan. Perlahan-lahan ia menjadi semakin dekat. “Sebut namamu,” ia menggeram. Kini ujung pedang Ki Tambi menjadi semakin dekat mengarah langsung kepada bayangan itu. Tetapi bayangan itu masih belum bergerak.

Tetapi semakin dekat Ki Tambi dengan bayangan itu terasa dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Dikedip-kedipkan matanya dan dicobanya untuk mengamati bayangan itu lebih seksama.

“Siapa kau he, siapa?” tetapi nada suara Ki Tambi itu telah berubah.

“Aku paman.”

“Kau, kaukah itu he?”

“Ya, sebenarnya aku telah datang paman.”

“Oh,” sejenak Ki Tambi berdiri tegak seperti patung. Matanya tidak berkedip memandangi orang yang masih j uga berdiri membeku. Namun tiba-tiba Ki Tambi menyarungkan pedangnya dan meloncat maju, menggenggam kedua belah tangan orang itu sambil berdesis, “Kau, kau. Kau benar-benar datang Panggiring.”

Panggiring menundukkan kepalanya. Suaranya menjadi berat. “Ya, aku datang paman.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran melihat Panggiring menundukkan kepalanya. Ketika ia bertemu dengan anak muda itu di pesisir Utara, Panggiring selalu menengadahkan wajahnya, meskipun pada wajah itu tergores beberapa bekas luka senjata. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi malu karenanya. Goresan-goresan itu justru menjadi kebanggaannya. Kebanggaan seorang pemimpin perampok yang paling ganas.

Dan kini ia melihat Panggiring itu menundukkan kepalanya.

“Panggiring,” berkata Ki Tambi kemudian. “Aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar akan datang. Aku kira kau hanya sekadar berbicara begitu saja tanpa kau pikirkan masak-masak. Tetapi ternyata bahwa kau kini telah berada disini.”

“Sebenarnya paman, waktu itu aku memang hanya berbicara begitu saja. Aku pun pada saat itu sama sekali tidak bermaksud bersungguh-sungguh. Namun agaknya aku memang harus kembali ke kampung halaman setelah sekian tahun meninggalkannya.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia teringat kepada kata-kata salah seorang anak buah Panembahan Sekar Jagat, sehingga dengan serta merta ia bertanya, “Panggiring, apakah kedatanganmu ini sehubungan dengan tantangan Panembahan Sekar Jagat?”

Panggiring tersentak. Di angkatnya wajahnya yang ditandai dengan bekas luka.

“Darimana paman mendengarnya?”

“Salah seorang anak buah Panembahan Sekar Jagat yang terluka.”

“Apakah ia berkata begitu?”

“Ya, bukankah kau pernah menyampaikan lencana kepada Panembahan Sekar Jagat?”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya aku ingin memenuhi tantangan itu. Tetapi semuanya itu telah berlalu.”

Ki Tambi menjadi heran mendengar kata-kata yang bernada rendah itu. Ia merasakan, bahwa sesuatu telah terjadi pada diri pimpinan perampok yang paling ditakuti itu.

Karena itu tanpa sesadarnya Ki Tambi memandang wajah Panggiring tajam-tajam, seolah-olah ingin diketahuinya langsung, apakah yang tersimpan di dalam kepalanya. Tetapi dalam keremangan malam kesan di wajah Panggiring itu tidak terlampau banyak dapat ditangkap.

Dan perlahan-lahan Ki Tambi bertanya, “Kenapa kau tidak dapat memenuhi tantangan itu Panggiring?”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ketika aku menerima pesan itu, aku sudah merencanakan untuk datang tepat pada waktunya. datang tepat pada waktunya. Sebulan setelah tantangan itu aku terima. Tetapi ternyata sebulan kemudian aku telah memutuskan untuk meletakkan segala macam senjata dari tanganku yang penuh dengan noda ini.”

“Panggiring,” Ki tambi hampir berteriak. “Apakah artinya?”

Panggiring menganggukkan kepalanya, “Begitulah. Aku sudah meletakkan senjata.”

“Jadi kau sekarang sudah berubah?”

Panggiring menganggukkan kepalanya pula, “Aku sedang berusaha paman.”

Ki Tambi menepuk-nepuk bahu Panggiring yang bidang itu. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkumat-kamit. Tetapi terasa tenggorokan orang tua itu seakan-akan tersumbat.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Betapa silirnya angin malam, tetapi tubuh Ki Tambi telah dibasahi oleh keringat yang mengembun dari lubang-lubang kulitnya.

Suara kentongan di kejauhan telah membangunkan keduanya dari dunia angan-angannya. Perlahan-lahan Ki Tambi berdesis, “Sudah tengah malam.”

Panggiring mengangguk, “Ya paman. Sudah tengah malam.”

“Lalu bagaimana dengan kau Panggiring? Apakah kau akan segera pulang ke rumah.”

Panggiring tidak segera menjawab. Tetapi terasa bahwa hatinya sedang menerawang jauh. Jauh sekali.

“Panggiring,” suara Ki Tambi tiba-tiba merendah. “Aku harus minta maaf kepadamu.”

“Kenapa paman?”

“Karena aku tidak menyangka bahwa kau akan datang secepat ini, maka aku telah menceriterakan tentang dirimu kepada orang-orang di Kademangan Candi Sari.”

Panggiring mengerutkan keningnya.

“Semula aku hanya ingin mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan kau, dan kau telah menyelamatkan nyawaku. Bahkan aku telah memamerkan lencana yang kau berikan itu pula. Tetapi aku sampaikan juga kepada kenyataanmu di pesisir Utara Panggiring.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah merenung sejanak ia berkata, “Aku tidak berkeberatan paman. Aku memang telah menjalani hidup serupa itu. Dan aku sekarang akan menempatkan diriku ke dalam dunia yang lain.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih belum tahu apakah akan jadinya. Terbayang sekilas diwajahnya sikap Bramanti yang selalu mengelakkan diri dari setiap hubungan dengan Panggiring.

Debar di dada Ki Tambi menjadi semakin tajam. Kini ia seakan-akan melihat dua orang bersaudara, seibu tetapi berlainan ayah, sebagai dua orang laki-laki yang tidak sejalan. Apalagi keduanya adalah orang-orang perkasa yang tidak ada bandingnya.

Sekilas terbayang pula apa yang pernah terjadi beberapa waktu yang lampau . Sebagai seorang yang disegani, Ki Tambi melihat apa yang telah menimpa keluarga itu, meskipun tidak terlampau jelas.

“Paman,” terdengar suara Panggiring berat, “Sesuatu telah memaksa aku untuk menempuh jalan ini. Mudah-mudahan aku tidak mendapat kesulitan atau bahkan membuat kesulitan pada orang lain.”

“Oh, tidak, tidak ngger,” Ki Tambi tergagap. Namun kemudian, “Tetapi apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan kau?”

“Ceritera itu mungkin tidak menarik. Tetapi aku sangat berterima kasih bahwa hal itu telah terjadi atas diriku.”

“Apakah kau tidak bekeberatan untuk mengatakannya?”

Panggiring ragu-ragu sejenak, kemudian diangkatkannya kepalanya sambil berkata, “Mungkin ada baiknya juga paman mengetahui.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Marilah kita duduk. Aku ingin mendengar ceriteramu itu.”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika Ki Tambi duduk di atas rerumputan yang basah oleh embun, maka Panggiring pun duduk pula di sampingnya.

“Nah, sekarang kau mulai berceritera tentang dirimu sendiri,” berkata Ki Tambi kemudian.

Panggiring masih berdiam untuk sesaat. Mulutnya serasa menjadi terlampau berat untuk berceritera tentang dirinya sendiri.

“Apakah kau berkeberatan?” bertanya Ki Tambi.

“Tidak paman, tidak,” Panggiring tergagap.

Ki Tambi menjadi semakin heran. Panggiring seolah-olah telah berubah sama sekali. Ia menjadi gugup dan bingung. Beberapa saat yang lalu, Panggiring adalah seorang yang garang, berkepala dingin dan bersikap terlampau tenang, apapun yang dihadapinya.

“Paman,” suara Panggiring merendah dan bergetar, “Pada suatu saat aku merasa bahwa aku adalah seorang yang tidak terkalahkan.”

“Ya. Aku percaya bahwa kau memang tidak terkalahkan di pesisir Utara.”

“Karena itulah aku menjadi kehilangan sifat-sifat kemanusiaanku. Orang yang berani menentang aku dalam segala bentuknya, pasti aku singkirkan.”

“Kau bunuh?”

Panggiring menarik nafas dalam sekali. Katanya, “Ya, aku telah membunuh puluhan orang dengan tanganku. Sehingga akhirnya aku bertemu dengan seorang lawan yang tangguh. Namun dalam perkelahian yang terjadi, aku berhasil membunuhnya, juga dengan senjata yang tergenggam di tangan ini,” Panggiring berhenti sebentar. Tangannya yang gemetar diamati-amatinya. Dan Ki Tambi pun berdesir melihat jari-jari tangan Panggiring yang mengembang, seakan-akan hendak menerkam wajahnya sendiri.

Ki Tambi yang menahan nafas itu berdesah ketika ia melihat tangan itu kemudian terkulai lemah.

“Tetapi paman. Dalam perkelahian itu aku pun telah terluka parah. Aku tidak dapat lagi beranjak dari tempatku. Dan aku hanya dapat menunggu kematian yang ganas akan menerkam aku. Justru kematian yang paling mengerikan. Perlahan-lahan sambil menunggu anjing-anjing liar yang lewat. Karena arena perkelahian yang kami pilih adalah sebuah padang rumput di pinggir sebuah hutan kecil tanpa seorang pun yang menyaksikannya,” Panggiring berhenti sejenak, lalu, “Tetapi yang tidak aku sangka-sangka itu datang. Seorang perempuan tua pencari kayu. Ketika ia melihat aku, maka timbullah ibanya. Diberikannya setitik air bekalnya ke bibirku. Ternyata titik air itu telah menambah kesegaran ditubuhku. Sejak perkelahian itu selesai, menjelang fajar sampai matahari sepenggalah, aku terbaring dalam kesakitan dan kehausan. Karena itu, maka ketika setitik air telah membasahi bibirku, serasa aku mendapat suatu kekuatan. Tiba-tiba saja aku kehilangan sifat-sifat kemanusiaanku itu pula. Dengan serta merta bumbung air itu aku sentakkan dari tangannya. Hampir di luar sadarku, maka air dalam bumbung itu aku tuangkan begitu saja ke mulutku.”

“Jangan,” teriak perempuan tua itu, “Jangan kau habiskan air itu. Aku akan kehausan di hutan itu nanti.”

Tetapi aku tidak mempedulikannya. Air itu aku teguk sampai habis. Ketika perempuan tua itu mencoba merebutnya dari tanganku, maka sebuah hentakan telah membuatnya terpelanting. Sehingga akhirnya air itu terkuras habis, meskipun sebagian tumpah di wajah dan dadaku.

“Kau habiskan air itu?” desis perempuan tua itu.

Aku tidak menjawab. Tubuhku masih terasa sakit dan luka-lukaku menjadi pedih. Apalagi karena percikan air yang tumpah dari bumbung itu.

Aku yang masih terlampau lemah itu melihat perempuan tua itu merenungi bumbungnya yang telah kosong. Kemudian merenungi wajahku.

Di luar dugaan perempuan itu mendekati aku sambil berkata, “Sudahlah. Aku tidak akan menyesali air itu. Apakah kau masih sakit?”

Aku tidak menjawab.

“Apa kau berkelahi?”

Aku pun tidak menjawab. Tetapi aku melihat perempuan tua itu mengamat-amati mayat lawanku.

“Sayang ia sudah mati, sehingga tidak ada gunanya lagi menolongnya,” desisnya, “Tetapi yang masih hidup sajalah yang wajib ditolong sebaik-baiknya.” Kemudian ia mendekati aku lagi sambil bertanya, “Apakah kau dapat bangkit?”

Aku tidak tahu kenapa aku menggelengkan kepalaku, seperti anak-anak dihadapan neneknya.

“Aku tidak kuat mendukungmu. Tetapi aku dapat menunggu sampai kau mampu berjalan ke pondokku.”

Perempuan tua itu memang mengherankan sekali. Ia pun kemudian duduk bersimpuh di sampingku terbaring. Dengan sesobek kain ia mencoba menyeka luka-lukaku yang masih berdarah.

Sentuhan tangannya telah membuat perasaanku menjadi aneh. Selama ini aku tidak pernah disentuh oleh tangan yang menyalurkan iba dan kasihan, apalagi kasih yang tulus. Yang biasa aku rasakan adalah sentuhan senjata dan sentuhan tangan-tangan yang kasar bernada maut. Tetapi tangan orang tua itu lain. Lain sama sekali.

Karena itu, aku pun berusaha untuk menemukan sisa-sisa kekuatanku. Perlahan-lahan aku bangkit dan duduk bersandar kedua tanganku.

“He, kau sudah dapat bangkit? Apakah kau dapat memaksa dirimu untuk berjalan setapak demi setapak?”

Orang tua itu merenung sejenak. Kemudian ia berdiri dan melangkah pergi. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Namun sejenak kemudian ia kembali dengan sebatang kayu ditangannya.

“Kau memerlukan tongkat. Ayo, bangun dan berjalan.

Aku benar-benar seperti seorang anak kecil. Dengan susah payah aku bangkit berdiri bersandar pada sebatang kayu itu. Karena aku memaksa diri dengan mengerahkan segenap sisa-sisa kekuatanku, maka akupun berhasil berdiri dan berjalan mengikuti nenek itu, pulang ke rumahnya.

Ternyata rumahnya tidak begitu jauh. Tetapi sampai ke gubug kecil itu, tenagaku telah terperas habis. Karena itu, begitu aku meletakkan diriku di pembaringan, aku langsung menjadi pingsan.

Namun rumah yang kecil dan sederhana itu telah memberikan kekayaan rohani yang tiada taranya bagiku. Orang tua itu terlampau baik hati. Dengan setulus hatinya ia menumpahkan belas kasihannya kepadaku.

Adalah aneh sekali, bahwa aku tidak merasa tersinggung sama sekali, meskipun aku adalah orang yang paling tidak memerlukan belas kasihan orang lain.

Setiap pagi-pagi buta aku melihat perempuan itu menghadap Tuhannya dengan tekun. Di siang, sore dan malam hari. Setiap hari aku mendengar, menyebut kasih Tuhan atas umurnya. Meskipun ia hidup dalam kesulitan, namun ia merasa tentram dan damai.

Saat yang demikian itulah yang selama hidupku tidak pernah aku jumpai. Sejak aku mempunyai seorang ayah tiri, maka aku adalah orang yang tersisih. Tersisih dari semuanya, dan aku telah kehilangan cinta sesama. Aku menjadi semakin jauh dari Tuhanku.

Dalam kedamaian yang terpercik dari kasih orang tua itulah aku mulai berpikir, “Apakah yang hendak aku capai dengan keperkasaan, kemenangan dan tanpa tanding ini? Kalau aku telah menjadi orang yang tidak terkalahkan, lalu bagaimana?

Aku adalah orang yang tidak ada duanya. Tetapi setiap kali aku datang, maka menjauhlah semua orang daripadaku. Setiap aku ada, maka tidak seorang pun yang datang berkunjung ke tempat itu. Setiap kali kemarahanku memang dapat aku tumpahkan dengan membunuh siapa saja yang membuat aku menjadi mata gelap. Tetapi itu sama sekali tidak menolongku. Aku justru menjadi semakin tersisih dan tersisih.

Demikian paman, dalam perawatan perempuan tua itu aku teringat ibu. Ibu yang pasti sudah setua perempuan yang memelihara aku itu pula,” Panggiring berhenti sejenak.

Setelah menelan ludahnya ia melanjutkan, “Akhirnya aku mendengar dari mulutnya sendiri, bahwa ia telah kehilangan anak satu-satunya. Anak itu telah dibunuh oleh seorang perampok yang paling kejam di pesisir Utara. Namanya Panggiring.”

Untuk pertama kali aku merasa ketakutan. Aku takut bahwa orang lain dapat mengenaliku bernama Panggiring. Biasanya aku dengan bangga menengadahkan dada sambil berkata, “Akulah Panggiring.”

Tetapi terhadap perempuan tua itu aku tidak berani berbuat demikian.

Demikian takutnya aku kepadanya, sehingga ketika luka-lukaku telah berangsur sembuh, dan aku sudah dapat bangkit dari pembaringanku, aku merayap mendekati pembaringan perempuan tua itu. Perempuan yang selalu menyayangi aku dengan ketakutan itu harus aku bunuh selagi ia tidur.

Tetapi aku tidak dapat melakukannya paman. Tanganku yang telah sekian puluh kali aku pergunakan untuk membunuh, tiba-tiba menjadi seakan-akan membeku.

Bahkan aku menjadi seperti orang gila. Aku guncang-guncang tubuhnya yang telah berkerut-kerut itu sambil berteriak-teriak. “Ini aku Panggiring Nyai. Aku Panggiring yang telah membunuh anakmu. Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja? Kenapa?”

Perempuan tua itu terperanjat. Namun kemudian dengan tenang ia bangkit dan duduk di pembaringannya.

“Kenapa kau?”

“Bukankah anakmu laki-laki yang tunggal itu telah dibunuh oleh Panggiring, sehingga hidup Nyai menjadi begini pahit? Nah akulah orang yang bernama Panggiring itu. Aku Nyai. Aku. Sekarang Nyai dapat membunuh aku dengan cara yang kau pilih. Meracunku, atau menyobek lukaku ini kembali.”

Perempuan itu termenung sejenak, dan aku teriak lagi, “Akulah Panggiring, apakah kau dengar?”

Aku menjadi semakin terperanjat ketika perempuan itu menjawab, Ya, aku sudah tahu bahwa kau Panggiring. Kenapa?”

Aku tidak dapat mengerti, kenapa ia tidak membunuhku atau membiarkan aku mati. Dan aku masih mendengar ia berkata, “Aku mengerti kalau kaulah yang bernama Panggiring itu sebenarnya. Dan aku sadar, bahwa kau jugalah yang telah membunuh anakku itu sejak kau berbaring di padang itu.”

“Darimana kau tahu?” aku bertanya.

“Ikat pinggangmu. Semua orang tahu, bahwa tanda itu adalah tanda seorang yang bernama Panggiring. Sebuah Candi.”

Tubuh Panggiring menjadi gemetar karenanya. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kalau Nyai tahu bahwa aku Panggiring yang telah membunuh anakmu, kenapa kau menolongku.”

Perempuan itu tersenyum betapapun pahitnya, “Yah,” ia berdesah, “Apakah maksudmu, aku harus mendendam dan membalas setiap pembunuhan dengan pembunuhan betapapun caranya?”

Aku tidak dapat menyahut.

“Tuhan tidak mengajarkan demikian. Dan aku adalah hamba Tuhan yang harus berusaha sejauh mungkin dapat melakukan petunjuk-Nya.”

Jawaban itu serasa ujung duri yang menyentuh-nyentuh dinding jantung. Tajam sekali. Dan perempuan itu berkata, “Dan setiap pembunuhan tidak akan dibenarkan oleh Tuhan, apapun alasannya.”

Ternyata luka di dalam hati ini jauh lebih pedih dari luka-luka ditubuhku. Karena itu untuk melepaskannya aku berteriak, “Omong kosong. Omong kosong. Aku sudah membunuh puluhan orang. Dan aku tidak pernah mendapat kutukan apapun. Aku berkuasa karena aku membunuh.”

Tetapi perempuan tua itu tersenyum. Katanya, Pandanganmu memang terlampau sempit Panggiring. Kau hanya memandang dunia yang kasat mata ini saja. Kau tidak pernah melihat jauh ke seberang hidupmu yang sekarang.”

“Buat apa aku memandang ke daerah yang tidak aku hayati. Dunia yang hanya terbayang di dalam teka-teki dan sekadar untuk menakut-nakuti anak yang nakal?”

Perempuan itu malah tertawa. Katanya, “Kau memang masih sakit. Luka-lukamu masih basah dan setiap saat dapat berdarah kembali. Berbaringlah dan beristirahatlah. Kau akan menjadi lekas sembuh.”

“Tidak. Aku tidak mau mendengar omong kosongmu itu.”

“Tidurlah.”

Dan aku sama sekali tidak dapat melawannya. Melawan tenaga tuanya itu, ketika aku didorongnya kembali ke pembaringanku, sebuah amben bambu yang berderit-derit.

“Kau tidak hanya sekadar luka-luka ditubuhmu, tetapi kau mendapat luka yang cukup parah. Dihatimu,” desis perempuan tua itu dekat ditelingaku, “Kenapa?”

Aku tidak menjawab.

“Hatiku juga luka karena aku kematian anakku satu-satunya. Tetapi aku dekat dengan tabib Yang Maha Pandai. Lukaku berhasil disembuhkannya.”

“Siapa tabib itu?”

“Tuhan. Tuhan mampu mengobati luka di hati. Aku telah diobati-Nya sehingga sembuh sama sekali. Karena aku tidak mendendammu. Kalau kau mau mendekat dan memohon, kau pun akan diobati-Nya. Cobalah,” perempuan tua itu berhenti sejenak, lalu di bertanya, “Kenapa kau luka di hati?”

Sekali lagi aku tidak dapat melawan, dan aku berceritera tentang diriku. Tentang ibuku dan ayahku. Tentang kematian ayah dan kemudian tentang seorang ayah tiri. Bagaimana aku hidup di neraka dan kemudian aku harus pergi meninggalkan semuanya yang aku cintai. Ibuku, adikku dan kampung halaman ini.

“Kau memang sakit anakku,” desah perempuan tua itu. “Karena itu kau harus mohon untuk disembuhkan-Nya. Lahir dan batinmu. Tubuh dan nyawamu yang memang sedang sakit.”

Aku tidak dapat menolak kata-katanya. Meskipun aku tidak berbuat apa-apa, tetapi setiap kali aku melihat orang tua itu mendekatkan diri kepada Tuhan dengan doa. Setiap kali. Dan yang setiap kali itu seperti titik air di atas batu yang betapapun kerasnya,” Panggiring berhenti pula sejenak. Kepalanya menjadi semakin tertunduk. Di sampingnya Ki Tambi duduk terpekur. Terbayang dipelupuk matanya apa yang telah terjadi atas Panggiring. Berurutan, sejak kanak-kanaknya. Sebagai seorang tetangga yang dekat dari keluarga Panggiring, ia tahu benar apa yang telah terjadi. Persoalan-persoalan yang telah mendorong Panggiring sehingga ia telah membenci keadaan disekitarnya.

“Paman,” suara Panggiring merendah. “Ketika aku sembuh sama sekali dari luka-luka di tubuh, ternyata aku telah mengambil suatu keputusan, bahwa luka-luka di hati inipun harus sembuh pula. Karena itulah maka aku telah meletakkan semua senjataku. Dan aku memutuskan untuk pulang.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadikanlah semua lelakon itu sebuah pengalaman yang dahsyat. Namun pada akhirnya kau berhasil meloncat keluar dari dalam belenggu itu.”

Panggiring masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Paman, apakah aku belum terlambat?”

“O, tidak ada keterlambatan selagi kau masih dapat mengucapkan di dalam hati dan dari mulutmu, bahwa kau memang telah bertaubat dan mengakui segala kesalahan. Pintu rumah Tuhan selalu dibuka bagi mereka yang datang kepada-Nya.”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Perempuan tua itu pun berkata begitu. Tetapi apakah aku masih akan dapat tidur nyenyak di malam hari, apabila aku selalu ingat bahwa tangan ini pernah membunuh puluhan orang.”

“Itu termasuk luka-luka yang akan dapat disembuhkan-Nya apabila kau benar-benar mendekat kepada-Nya.”

“Paman,” suara Panggiring menjadi lambat, “Aku ingin kembali ke kampung ini. Tetapi aku tidak berani langsung datang menemui ibu. Aku memang sudah menyangka, bahwa seluruh Kademangan telah mendengar apa yang telah kau lakukan. Karena itu, aku minta tolong kepadamu paman.”

“Tentu, tentu aku akan menolongnya. Maksudmu agar aku menyampaikannya kepada ibumu bahwa kau akan pulang?”

“Ya,” sahut Panggiring. “Bukankah Bramanti sekarang sudah ada di rumah pula?”

“Darimana kau tahu?”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Sudah beberapa hari aku berkeliaran di Kademangan ini seperti sesosok hantu di malam hari. Aku takut bertemu dengan siapapun karena aku merasa betapa kotornya tanganku. Satu-satunya orang yang dapat mengerti tentang aku adalah paman Tambi. Dan baru sekarang aku mendapat kesempatan untuk bertemu.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya, “Tetapi apakah kau tahu bahwa Bramanti pernah meninggalkan Kademangan ini?”

“Ya. Aku mendengar banyak tentang Kademangan ini. Orang-orangku kadang-kadang ke Kademangan ini, sehingga aku pun tahu bahwa Kademangan ini sering diperas oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat. Karena itulah maka aku telah mengirimkan seseorang untuk mencoba mencegah perbuatan Panembahan Sekar Jagat. Tetapi agaknya ia menolak dan bahkan memberikan tantangan itu.”

“Jadi orang-orangmu sering juga berkeliaran di sini?”

“Tidak paman. Hanya kadang-kadang apabila aku menyuruh mereka. Kadang-kadang aku merasa rindu kepada kampung halaman. Karena itu, aku mengirimkan orang untuk mengetahui, apakah yang telah terjadi di kampung halaman. Apakah yang telah terjadi dengan ibu, adikku dan orang-orang yang aku kenal di Kademangan ini.”

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya di dalam hati, “Pada dasarnya Panggiring bukan seorang yang jahat. Tetapi ia telah dibentuk oleh keadaan dan mendorongnya ke dunianya yang hitam kelam.”

“Paman,” berkata Panggiring kemudian, “Aku minta tolong kepadamu. Katakanlah kepada ibu dan Bramanti bahwa aku akan pulang kembali. Aku minta ibu dan Bramanti merelakan sebidang tanah yang sempit saja aku untuk membangun sebuah gubug. Aku akan tinggal di dalam gubug itu sebagai manusia biasa. Sebagai seorang warga Kademangan ini. Aku masih kuat untuk bekerja apapun. Mungkin seseorang mau mengupah aku untuk bekerja di sawah, atau bekerja apapun. Menebang kayu dan mungkin juga mengangkut barang-barang yang akan diperdagangan.”

Terasa dada Ki Tambi menjadi sesak. Seorang yang bernama Panggiring, yang pernah menjelajahi pantai Utara, kini bersedia untuk menjadi seorang upahan.

Namun dengan demikian, Panggiring sudah mendekati kesembuhannya. Meskipun demikian sikap itu telah membangunkan perasaan hari di dalam dada Ki Tambi.

“Ya, ya Panggiring,” jawab Ki Tambi. “Aku akan menemui ibumu dan Bramanti. Aku akan menyampaikan maksudmu, bahwa kau memerlukan beberapa jengkal tanah untuk sebuah gubug kecil.”

“Ya paman. Aku minta kemurahan hati mereka.”

Ki Tambi menepuk bahu Panggiring. Sentuhan pada tubuh itu masih terasa betapa asingnya, seakan-akan tangannya telah menyentuh sekeping besi. Tetapi di dalam tubuh yang masih mengeras itu, tersimpan hati yang sudah menjadi cair.

“Apakah kau akan menemui mereka sekarang?”

“Aku tidak berani paman. Kalau paman tidak berkeberatan, biarlah paman sajalah yang menyampaikan pada mereka. Aku akan menunggu keterangan dari paman.”

“Lalu dimanakah kau tinggal selama ini.”

“Aku berada di hutan disebelah kali Kuning.”

Tambi mengerutkan keningnya, “Di hutan?”

“Sudah terlampau biasa bagiku, tinggal dimanapun juga.”

“Bagaimana kau makan?”

“Di hutan itu ada buah-buahan. Dan aku mempunyai bekal beberapa kepeng, yang dapat aku tukarkan dengan kebutuhan sehari-hari.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak akan heran apabila Panggiring mempunyai bekal yang cukup, karena selama ini Panggiring telah berhasil mengumpulkan apa saja yang tidak dapat dibayangkan dan dihitung dengan bilangan.

Agaknya Panggiring merasakan geteran di dalam hati Ki Tambi itu, sehingga ia berkata seterusnya, “Tetapi aku tidak membawa bekal terlalu banyak. Cukup untuk hidup beberapa hari sambil mencari makanan di sela-sela pepohonan hutan.”

“Lalu, lalu……,” Ki Tambi ragu-ragu.

“Maksud paman, segala macam harta benda itu?”

Ki Tambi menganggukkan kepalanya.

“Aku tidak ingin memiliki lagi. Semuanya telah aku timbun di dalam goa. Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Bahkan orang-orangkupun tidak mengetahuinya pula.”

Ki Tambi mengangguk-angguk pula.

“Harta itu ternyata bukan hakku. Karena itu, seandainya aku ingin memilikinya, aku tidak akan dapat menikmatinya. Semuanya pasti akan membuat aku selalu gelisah dan berdebar-debar. Pada akhirnya aku merasa, alangkah tentram hidup seseorang yang mendapat makan dan minumnya sehari-hari atas hasil jerih payahnya. Tidak berarti kita menjadi seorang yang kaya raya, hendaknya kekayaan itu kita temukan lewat jalan yang seharusnya. Tidak seperti cara yang pernah aku tempuh itu.”

Ki Tambi mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk.

“Nah, paman. Aku kira aku sudah cukup lama berbicara dan berceritera. Aku mengharap bahwa paman akan dapat menolongku. Aku mengharap ibu dan Bramanti sudi menerima aku dan memberiku secercah tanah untuk tempat tinggal.”

“Aku akan berusaha Panggiring. Tetapi apakah tidak sebaiknya kau tinggal di rumahku?”

“Jangan paman. Aku rasa belum saatnya aku berjumpa dengan siapapun. Aku memang mengelakkan semua pertemuan selain dengan paman.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kalau begitu sudah menjadi pendirianmu, terserahlah Panggiring. Tetapi pintu rumahku selalu terbuka. Setiap saat kau dapat memasukinya.”

“Terima kasih paman. Sekarang perkenankan aku pergi. Aku akan menemui paman disini lain kali untuk mendengar, apakah permintaanku dapat diterima oleh ibu dan Bramanti.”

“Baik Panggiring. Aku sering menyusur air di parit ini.”

Panggiring pun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia melangkah menyusur parit menembus gelapnya malam. Semakin lama semakin kabur di dalam wajah malam yang hitam.

Ki Tambi yang sudah bangkit berdiri pula menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menyangka, bahwa malam ini ia akan bertemu dengan Panggiring. Bahkan ia hampir memastikan bahwa sepanjang umurnya Panggiring tidak akan menginjak kampung halamannya kembali. Tetapi ternyata dugaannya itu salah. Pada suatu saat Panggiring telah terguncang dari dunianya, dan terlempar ke dalam kesadaran yang bening.

Perlahan-lahan Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun meninggalkan sawahnya yang telah penuh dengan air setelah ia menutup kembali pematang yang disobeknya.

Tengah malam menjadi semakin jauh di belakang. Bintang-bintang telah bergeser ke Barat. Ketika tanpa sesadarnya Ki tambi memandang ke langit di sebelah Timur, ia melihat bintang Panjer Rina yang cemerlang.

“Hem,” Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Persoalan Panggiring bukanlah persoalan yang mudah diselesaikan. Sikap Bramanti terhadapnya tidak menguntungkan. Tetapi aku harus menjelaskan, bahwa Panggiring telah berubah. Panggiring telah menjadi Panggiring yang lain.”

Sambil melangkahkan kakinya Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku harus berusaha,” desisnya, meskipun ia menyadari bahwa ia pasti akan menemui kesulitan.

Ki Tambi melanggkah terus sambil merenung. Terasa dingin malam menembus kulitnya, sedang pedut yang tipis mengambang semakin merendah.

Sementara itu, anak-anak muda di Kademangan semakin lama menjadi semakin diam. Hanya tinggal satu dua saja di antara mereka yang masih bercakap-cakap. Sebagian besar, telah terbaring di atas tikar pandan di pendapa. Bahkan banyak di antara mereka yang telah tertidur nyenyak.

Tetapi Bramanti masih duduk di gardu sambil mengusap-usap dagunya. Di sampingnya Temunggul duduk bersandar tiang. Dua pengawal yang lain masih juga duduk berjuntai di bibir gardu.

“Agaknya Ki Tambi malam ini tidak datang,” desis Temunggul.

“Ya. Mungkin ia terlalu lelah,” jawab Bramanti.

“Atau mungkin pergi ke sawah.”

“Tetapi setiap kali ia pergi ke sawah, ia selalu singgah kemari.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya sambil berkata, “Aku akan menengok ke sawahnya.”

“Kalau ia pergi ke sawah ia akan datang kemari.”

“Kalau begitu ke rumahnya. Mudah-mudahan ia tidak menemui bahaya apapun.”

“Aku kira tidak perlu Temunggul,” berkata Bramanti. “Ki Tambi sudah cukup dewasa, sehingga ia akan mampu menjaga dirinya sendiri.”

“Aku percaya. Tetapi seandainya ia tengah berada di sawah, kemudian disergap oleh beberapa orang Panembahan Sekar Jagat yang mendendam para pengawal Kademangan ini?”

Bramanti mengerutkan keningnya, “Memang mungkin,” desisnya, “Kalau begitu biarlah aku saja yang menengoknya. Aku sudah terlampau lelah duduk disini.”

“Kenapa harus kau? Biarlah kau disini. Kau harus berada di tempat ini setiap saat, sehingga apabila diperlukan, anak-anak tidak usah mencari-cari kau dimana-mana. Biarlah aku saja yang menengoknya.”

“Tetapi bagaimana dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu?”

“Aku akan membawa kentongan kecil ini.”

Bramanti mengerutkan keningnya.

“Tetapi,” Temunggul berkata kemudian, “Kalau aku tidak segera kembali, sebaiknya kau pun mencari aku ke sudut desa atau ke simpang tiga.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mempunyai prasangka apapun, sehingga karena itu, maka ia tidak berpikir lebih dari sewajarnya.

“Kalau begitu terserahlah.”

“Jangan lupa. Kalau aku tidak segera kembali.”

Temunggul pun kemudian meninggalkan halaman Kademangan. Perlahan-lahan tangannya meraba belati yang disimpannya dibawah bajunya. Dengan belati itu ia akan dapat bergerak cepat tanpa dicurigainya lebih dahulu. Ia harus menusukkan pisau itu sekaligus tepat menyentuh jantung.

Temunggul pernah mempelajari, bagaimana ia harus menusuk seseorang langsung mengenai jantung. Dan ia sampai saat ini masih memahaminya benar-benar.

“Aku dapat memancingnya,” desisnya. “Kemudian mencari kesempatan untuk menikamnya. Ia tidak akan menyangka, bahwa aku menunggunya ditikungan di tenah pedesaan itu. Karena itu Bramanti tidak boleh berteriak atau mengeluh.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Langkahnya pun dipercepat supaya ia segera sampai ke tingkungan, di bawah sebatang pohon ketapang yang besar disudut tikungan itu.

“Ia akan lewat disini. Aku harus meloncat langsung menikamnya. Kalau tidak aku pasti akan gagal. Gagal sama sekali, karena Bramanti memang bukan lawanku.”

Temunggul pun kemudian berjalan semakin cepat lagi. Ketika ia sampai ditikungan segera ia mencari tempat yang baik. Yang terlindung, tetapi tidak terhalang apabila ia ingin meloncat. Loncatannya harus mencapai segala tempat ditikungan itu, dimana pun Bramanti akan lewat.

Dengan dada yang berdebar-debar Temunggul duduk meringkuk dipersembunyiannya. Ia sama sekali tidak memperdulikannya nyamuk dan semut menggigit kaki dan tengkuknya. Kalau ia tidak segera kembali ke Kademangan, maka Bramanti pun akan segera menyusulnya.

“Adalah suatu kebetulan, bahwa malam ini Ki Tambi tidak datang ke Kademangan, sehingga aku mempunyai alasan untuk menjebaknya,” berkata Temunggul di dalam hatinya. “Tentu tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa akulah yang membunuhnya. Aku akan kembali ke Kademangan dan bertanya kepada para peronda, apakah Bramanti tidak pergi menyusul aku? Aku mengharap bahwa arah tuduhan setiap orang Kademangan ini tertuju kepada Panembahan Sekar Jagat.”

Temunggul tersenyum sendiri.

“Aku harus bersabar menunggu disini. Mudah-mudahan tidak segera pergi. “Namun bintang Panjer Rina di Timur telah membuat jantungnya menjadi berdebar-debar.

Sepeninggalan Temunggul Bramanti turun dari gardu peronda di regol halaman Kademangan. Untuk menghilangkan kantuknya ia berjalan-jalan di halaman. Kemudian ia pergi ke regol butulan di belakang. Tiga di antara lima orang yang berada di gardu itu telah tertidur.

“Apakah kalian berganti-gantian bangun?” bertanya Bramanti.

“Ya. Itu akan lebih baik daripada kita bangun bersama-sama, tetapi kemudian juga tidur bersama-sama.”

Bramanti tersenyum. Ditinggalkannya gardu itu. Langkahnya satu-satu berdesir di atas dedaunan kering yang berguguran di tangkainya.

Ketika ia sampai di gardu depan, Temunggul masih belum tampak kembali. Karena itu maka ia pun segera bertanya kepada para pengawal yang masih duduk di gardu itu. “Apakah Temunggul belum datang?”

“Belum,” jawab mereka sambil menggeleng.

Bramanti mengerutkan keningnya. Desisnya, “Ia pasti baru sampai ke sawah paman Tambi.”

Bramanti pun kemudian naik ke gardu itu pula bersandar dinding. Pandangan matanya jauh menerawang kedalam gelapnya malam. Tetapi ia tidak melihat sesuatu selain pelita dikejauhan, obor dan lampu di pendapa.

Tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenang. Mungkin dugaan Temunggul itu benar. Karena dugaan itu memang bukan tidak berdasar. Karena itu maka ia pun menyesal, bahwa ia tidak pergi bersama Temunggul.

“Aku akan menyusul,” berkata Bramanti kemudian kepada para pengawal.

“Kemana?”

“Ke sawah. Kalau ia lama tidak segera kembali, aku harus mencarinya ke sudut desa atau ke simpang tiga. Tetapi kalau di tempat itu pun Temunggul tidak ada, aku harus mencarinya ke sawah paman Tambi. Mungkin ia pergi ke sana, tetapi mungkin pula bahwa ia tidak dapat meninggalkan tempat itu, seperti juga Ki Tambi, sebelum ia sempat menyembunyikan tanda-tanda itu,” Bramanti berhenti sejenak kemudian, “Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi hal serupa itu. Itu hanya sekadar bentuk yang paling tajam dari kecemasanku saja.”

Para pengawal yang ada di dalam gardu itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kau tidak membawa satu dua orang kawan?”

Bramanti menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak. Biarlah aku pergi sendiri. Kalau misalnya aku harus lari, maka aku hanya akan melarikan diriku sendiri tanpa mendukung orang lain.”

Pengawal itu pun tertawa pula. Katanya, “He, jadi kau sangka bahwa kami hanya akan mampu berlari-lari? Kalau demikian aku adalah orang yang paling cepat berlomba lari di Kademangan ini”.

“Ada bedanya,” jawab Bramanti. “Lari dalam adu kecepatan di halaman Kademangan atau di halaman Ki Tanu, dikejar oleh Panembahan Sekar Jagat.”

Pengawal itu bersungut-sungut.

“Tinggallah disini. Kalau Temunggul kembali, katakan aku sedang menyusulnya. Tetapi ia tidak perlu mencari aku. Sebaiknya ia tetap berada di halaman ini. Sebentar lagi fajar akan datang.

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bramanti pun kemudian melangkah keluar regol halaman. Sejenak ia berdiri di dalam gelapnya malam menghirup udara yang sejuk. Kemudian langkahnya pun terayun di sepanjang jalan keluar induk desa Kademangan Candi Sari untuk menyusul Temunggul.

Bramanti sama sekali tidak menyangka bahwa Temunggul sedang bersembunyi di balik sebatang pohon ketapang yang besar di tikungan. Justru di dalam desa itu. Karena itu, maka ia pun sama sekali tidak memperhatikan kemungkinan yang demikian.

Temunggul yang bersembunyi dibalik pohon ketapang itu pun menjadi hampir kehilangan kesabaran. Dengan gelisah ia berjongkok, kemudian berdiri sambil menarik nafas, menunggu Bramanti lewat menyusulnya.

“Mudah-mudahan ia seorang diri. Kalau ia membawa seorang kawan pun maka renana ini akan gagal, kecuali aku yakin bahwa aku mampu membunuh kawannya itu sama sekali, sehingga tidak akan ada seorang saksipun yang hidup.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Gigitan nyamuk di tubuhnya menjadi semakin banyak, dan bahkan semut hitam telah mulai merubung kakinya.

“Persetan,” desisnya.

Bramanti berjalan di jalan desa itu sambil menengadahkan wajahnya. Dari sela-sela dedaunan disebelah-menyebelah jalan ia menatap langit yang bersih. Bintang-bintang masih bergayutan di langit yang biru kehitam-hitaman.

Sekali-kali Bramanti mendengar bunyi burung malam memekik dikejauhan. Kemudian salak anjing liar berebut makan.

Tiba-tiba Bramanti merasakan desau angin yang kencang menyapu wajahnya, sehingga langkahnya tertegun sejenak. Sekilas sinar menyambar di langit. Hanya sekejap.

Bramanti heran. Langit yang tampak bersih itu telah melontarkan kilat yang diikuti oleh suara gemuruh dikejauhan. Jauh sekali.

Bramanti kemudian mempercepat langkahnya. Awan yang kelabu yang menebar di langit akan dapat datang dengan cepat ke atas Kademangan ini pula. Mudah-mudahan tidak segera turun hujan.

Dan dugaan Bramanti pun ternyata tepat. Sebentar kemudian mendung yang didorong angin dari Selatan, bergerak-gerak di wajah langit menyaput bintang gemintang yang tersebar.

Langkah Bramanti pun menjadi semakin cepat pula. Namun dengan demikian, maka ia semakin kehilangan perhatian terhadap keadaan disekitarnya. Juga terhadap sebatang pohon ketapang ditikungan.

Temunggul hampir menjadi jemu menunggu. Di dalam hatinya ia berkata, “Kali ini aku gagal. Tetapi hari masih panjang. Aku akan segera mendapat kesempatan di suatu saat yang lain.”

Namun tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar. Ia mendengar seseorang mendehem. Ketika ia berusaha menembus gelapnya malam, ia melihat sesosok bayangan berjalan ke tikungan.

Temunggul menjadi semakin berdebar-debar dan bahkan wajahnya menegang. Bayangan yang datang itu justru dari arah yang lain dari yang diharapkannya.

“He, siapa orang itu?”

Orang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika orang itu mendehem sekali lagi. Temunggul pasti, bahwa orang itu sama sekali bukan orang yang diharapkan. Bahkan kemudian ia mengenal orang itu, orang yang akan disusulnya ke sawah seperti yang dikatakan kepada Bramanti.

“Ki Tambi,” desisnya, “Darimana orang itu?”

Denyut jantung Temunggul serasa telah melonjak. Kalau orang itu pergi ke Kademangan, maka Bramanti tidak akan lewat jalan ini seorang diri. Bramanti pasti mengatakan kepada orang tua itu tentang dirinya, dan mereka akan bersama-sama mencarinya.

“Persetan orang tua bodoh itu,” Temunggul mengumpat-umpat di dalam hatinya. “Apakah orang tua ini saja yang aku bunuh sekarang? Ia termasuk salah seorang yang ikut bertanggung jawab atas perlawanan Kademangan ini terhadap Panembahan Sekar Jagat.”

Namun kemudian, “Tetapi aku tidak mendapat manfaat apa-apa. Orang tua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ratri. Bahkan dengan demikian Bramanti akan menjadi semakin berhati-hati.”

Tidak habis-habisnya Temunggul mengumpat-umpat di dalam hatinya. Nafasnya justru menjadi terengah-engah, betapapun ia menahan agar Ki Tambi yang kemudian lewat dibawah pohon ketapang itu tidak mendengarnya.

“Tidak ada gunanya aku menunggu Bramanti lewat disini,” desisnya. “Lebih baik aku keluar dari neraka yang penuh dengan binatang-binatang buas ini.”

Namun Temunggul itu mengumpat semakin menjadi-jadi di dalam hati. Belum lagi sepuluh langkah, Ki Tambi tertegun. Kemudian Temunggul mendengar suara Bramanti menyapanya, “Kau paman?”

“He, kemana kau Bramanti?”

Temunggul menggeretakkan giginya. “Kalau orang tua gila itu tidak lewat dijalan ini pula, Bramant pasti sudah menjadi mayat.”

Dan kini Temunggul masih harus tetap bersembunyi di belakang pohon ketapang yang penuh dengan nyamuk dan semut-semut yang semakin banyak.

“Aku mencari Temunggul,” jawab Bramanti.

“Kemana anak itu?”

“Temunggul mencemaskan Ki Tambi. Biasanya Ki Tambi pasti datang ke Kademangan. Malam ini tidak. Karena itu, Temunggul ingin menengok paman ke sawah.”

“He, apakah seandainya aku tidak datang semalam aku sudah dapat dianggap memberontak?”

Bramanti tertawa, “Bukan begitu paman,” katanya, “Tetapi Temunggul menjadi cemas, kalau-kalau tiba-tiba saja paman disergap oleh orang-orang Panembahan Sekar Jagat, atau malahan Panembahan itu sendiri.”

“He, apakah Temunggul akan menolong aku dan membunuh Sekar Jagat?”

Bramanti masih tertawa. Jawabnya, “Tetapi maksudnya baik paman. Ia membawa kentongan kecil. Kalau terjadi sesuatu ia dapat memberi tanda kepada kami disini.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, “Kau sekarang akan mencarinya?”

“Ya.”

“Tidak ada apa-apa di sawah. Aku datang dari sawah. Tidak ada Panembahan Sekar Jagat, tidak ada Wanda Geni dan tidak apapun juga.”

“Paman berada di sawah sampai hampir fajar begini?”

“Ya. Airnya tidak begitu lancar. Aku menunggu sampai sawahku penuh. Dan…” Ki Tambi berhenti sejenak.

“Dan…”

“Tidak apa-apa. Tetapi aku kira kau tidak usah mencari Temunggul. Ia akan kembali lagi ke Kademangan.”

Sementara itu Temunggul mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Bramanti dan Ki Tambi justru bercakap-cakap beberapa langkah saja dari pohon Ketapang itu.

“Sungguh gila,” ia menggeram di dalam hatinya. “Kakiku sudah menjadi panas digigit semut. Tidak saja semut hitam, tetapi pasti ada semut merah pula.” Apalagi ketika ia membayangkan seekor ular yang mungkin tinggal di dalam liang dibawah akar-akar pohon ketapang ini pula.

“Setan, kenapa mereka tidak juga segera pergi?”

Tetapi Bramanti dan Ki Tambi masih juga bercakap-cakap, justru tentang diri Temunggul.

Keringat dingin telah mengalir memenuhi tubuhnya. Kekecewaan, kejengkelan, dan segala macam perasaan panas, gatal dan pedih bercampur baur pada kulitnya.

“Setan, setan,” ia mengumpat-umpat tidak habis-habisnya.

Dan ia masih dipaksa mendengar Bramanti berkata, “Tetapi biarlah aku berjalan-jalan Ki Tambi. Mungkin ia sengaja menunggu aku disudut desa, atau dimanapun.”

Ki Tambi tertawa, “Mungkin ia pergi ke gardu-gardu peronda.”

“Mungkin.”

“Ternyata Temunggul adalah anak yang cakap,” Ki Tambi kemudian berdesis.

“Ya,” jawab Bramanti. “Ia telah berhasil menyusun penjagaan yang kuat dan rapi. Aku hormat kepadanya. Jarang sekali anak-anak semuda itu mampu memegang pimpinan demikian tertib.”

“Kau bagaimana?” bertanya Tambi.

“Ah,” desis Bramanti. “Aku kira aku tidak akan dapat serapi Temunggul. Jaring-jaring yang dipasangnya cukup rapat tanpa melepaskan tenaga terlampau banyak. Caranya memimpin pun cukup baik. Tanpa diperintah lagi, anak-anak setiap hari pergi ke Kademangan.”

“Ia akan dapat menjadi pimpinan yang baik kelak,” desis Ki Tambi.

“Mudah-mudahan,” jawab Bramanti.

“Kenapa mudah-mudahan?” bertanya Ki Tambi.

“Tidak apa-apa.”

Ki Tambi tersenyum. “Aku mengerti. Tetapi bukan watak Temunggul itu melepaskan sifat-sifatnya hanya karena masalah-masalah yang tidak berarti sama sekali bagi Kademangannya. Aku mengenalnya dengan baik. Anak itu dapat membedakan, yang manakah yang lebih penting bagi Kademangan ini. Ini bukan seseorang yang mementingkan dirinya sendiri.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Ki Tambi. Selama ini Temunggul masih tetap didalam tugasnya, meskipun membayang juga kekecewaan yang membelit hatinya.

Temunggul yang mendengar percakapan itu dari balik pohon ketapang menjadi semakin berdebar-debar. Tanpa disengaja ia mendengar kedua orang itu senang menilainya. Dan setiap kali dadanya berdesir apabila sebuah pertanyaan melonjak dihatinya, “Apakah benar aku mempunyai sifat yang baik seperti yang dikatakan Ki Tambi itu? Apakah benar aku lebih mementingkan Kademangan ini daripada diriku sendiri?”

Tiba-tiba Temunggul menundukkan kepalanya. Kini perasaan sakit dan gatal-gatal seakan-akan lenyap. Segenap perhatiannya sedang tertumpah kepada dirinya sendiri. Kepada penilaian yang telah diberikan oleh Ki Tambi dan Bramanti yang sedang ditunggunya dengan sebilah pisau belati yang akan dihujamkannya langsung kejantungnya.

Temunggul itu pun kemudian tidak mengerti, kapan Bramanti dan Ki Tambi saling berpisah. Ia menyadari keadaan pada saat Bramanti terbatuk-batuk beberapa langkah daripadanya justru berjalan ke arah yang berlawanan dengan Ki Tambi. Lamat-lamat Temunggul masih melihat di arah yang berbeda-beda, keduanya semakin kabur di dalam gelapnya malam.

Sejenak Temunggul masih tetap ditempatnya. Ia ingin meyakinkan bahwa Bramanti dan Ki Tambi telah semakin jauh dari pohon ketapang itu.

Ketika ia sudah tidak mendengar apapun lagi, barulah Temunggul keluar dari persembunyiannya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengibas-ibaskan pakaiannya.

Tetapi Temunggul sudah tidak mengumpat-umpat lagi. Dengan sungguh-sungguh ia sedang berpikir. Berpikir tentang dirinya sendiri, tentang sikap Ki Demang dan tentang percakapan Ki Tambi dan Bramanti.

“Aku menjadi bingung,” desisnya.

Terbayang wajah Ki Demang yang kecewa menanggapi keadaan. Kemudian wajah Ki Tambi yang dilukiskan oleh garis-garis yang tegas, meskipun umurnya menjadi semakin tua. Kedua orang itu telah memberikan warna yang berlawanan bagi Kademangan ini menghadapi Panembahan Sekar Jagat.

“Seluruh Kademangan ini menggantungkan harapannya kepada Bramanti,” desisnya, “Tetapi kenapa Ki Demang mengharapkan anak itu tersingkirkan?”

Temunggul menjadi ragu-ragu.

Dan tiba-tiba ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Kenapa aku begitu mudah dibujuknya? O, alangkah bodohnya aku. Aku menyangka, bahwa setelah Bramanti, Ki Tambi dan orang-orang lain seperti Panjang, Suwela dan kawan-kawannya, aku akan dapat dengan mudah menyingkirkan Ki Demang itu sendiri? Alangkah bodohnya aku ini. Ki Demang adalah orang yang cukup mempunyai pengalaman. Namun permintaannya kali ini merupakan suatu permintaan yang aneh. Sangat aneh. Baru sekarang aku menyadarinya. Baru sekarang aku merasa bahwa kekecewaanku atas Ratri telah dimanfaatkannya dengan baik.”

Temunggul menjadi bersungguh-sungguh, “Aku memang terlalu bodoh. Hampir saja aku kehilangan kepribadianku karena Ki Demang berhasil menggelitik perasaanku dengan Ratri. Untunglah semuanya belum terjadi,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Tetapi aku harus mengetahui, apakah sebabnya Ki Demang berbuat demikian.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun segera melangkahkan kakinya menyusul Bramanti yang justru sedang mencarinya.

Bulu-bulu tengkuknya meremang ketika dikejauhan ia mendengar suara anjing-anjing liar menyalak. Kemudian lamat-lamat terdengar suara burung hantu yang ngelangut.

Namun disela-sela langkahnya yang tergesa-gesa Temunggul seolah-olah telah menemukan dirinya kembali setelah beberapa saat ia terbius oleh mimpi yang dihembuskan oleh Ki Demang. Ratri, sawah, bekal menjelang kawin, kemudian dibumbuinya sendiri, menyingkirkan Ki Demang itu pula.

“Aku wajib mengucap syukur,” desisnya, “bahwa aku belum terjerumus ke dalam jurang yang mengerikan itu,” namun Temunggul menjadi ragu-ragu, “Apakah aku harus memberitahukannya sama sekali.”

Tetapi Temunggul itu menggeleng, “Belum. Belum waktunya. Aku masih ingin mengetahui, apakah sebenarnya maksud Ki Demang. Aku masih harus berpura-pura menerima tawarannya itu.”

Temunggul pun kemudian mempercepat langkahnya. Bahkan kemudian ia meloncat memotong jalan, lewat beberapa kebun yang kosong, memintas jalan-jalan sempit untuk mendahului Bramanti yang berjalan seenaknya disepanjang jalan padukuhan. Meskipun kadang-kadang kakinya menginjak duri gadung dan bahkan menyenttuh kemarung, namun Temunggul sama sekali tidak menghiraukannya lagi.

Ketika ia meloncati pagar batu terakhir, dan muncul di jalan yang membujur dipinggir padukuhan, ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ia belum melihat Bramanti dipojok desa.

“Mudah-mudahan aku mendahuluinya,” desisnya.

Ternyata bahwa baru sejenak kemudian ia melihat Bramanti melangkah satu-satu ke arahnya.

“Hem,” Temunggul berdesis ketika Bramanti telah menjadi semakin dekat, “Kau seolah-olah sedang melihat-lihat daerah yang belum pernah kau kunjungi?”

Bramanti mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun tersenyum. Jawabnya, “Udara menjelang fajar terasa nyaman sekali.”

“Dingin sekali,” jawab Temunggul yang masih basah oleh keringat.

Bramanti tidak segera menyahut. Tetapi ketika ia menepuk pundak Temunggul terasa baju anak muda itu basah. “Apakah kau terjerumus ke dalam parit?” ia bertanya.

Temunggul pun tersenyum pula.

“Kalau malam ini terlampau dingin bagimu, maka kau pasti tidak akan berpeluh sampai seluruh pakaianmu menjadi basah.”

Temunggul tidak segera menjawab. Pakaiannya telah menjadi basah sejak ia tersiksa dibawah pohon ketapang. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak dapat mengatakannya.

“Kau benar-benar sehat Temunggul. Di malam begini kau dapat juga berkeringat demikian banyaknya.”

“Keringat dingin,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Aku menjadi sangat gelisah. Aku tidak menemukan Ki Tambi, kemudian aku kau siksa di pojok desa ini.”

“Maaf,” sahut Bramanti, “Aku telah bertemu dengan paman Tambi. Aku berbicara beberapa saat, sehingga karena itu aku agak terlambat datang.”

“Tidak ada batas waktu.”

“Tetapi,” tiba-tiba Bramanti mengerutkan keningnya. “Kalau kau sudah lama ditempat ini, kau pasti bertemu dengan paman Tambi.”

“Belum, belum terlalu lama. Aku berjalan menyusuri pematang. Dan, aku singgah juga melihat sawahku sejenak.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Kalau aku segera menyusulmu, maka akulah yang akan kau siksa disini.”

Keduanya tertawa. Sementara bayangan yang kemerah-merahan telah menyapu langit.

“Fajar,” desis Temunggul. “Ini berarti bahwa semalam suntuk aku tidak tidur.”

“Aku juga,” sahut Bramanti.

“Akibat kelambatan paman Tambi,” desis Temunggul sambil tertawa. Dan Bramanti pun kemudian tertawa pula.

Ketika kedua anak muda melangkah kembali ke Kademangan, maka Ki Tambi duduk terkantuk-kantuk di pojok gardu. Ki Jagabaya telah pulang dahulu, karena besok ia masih mempunyai banyak pekerjaan. Namun setiap kali terasa nada Tambi berdesir, apabila teringat olehnya pesan Panggiring yang harus disampaikan kepada Bramanti dan ibunya.

“Bagaimana aku akan memulainya,” katanya di dalam hati. “Bagaimana? Bramanti tampaknya tidak begitu senang kepada kakaknya. Apalagi setlah ia mendengar bahwa Panggiring pernah menjadi seorang penjahat yang sejahat-jahatnya. Aku tidak menyangka, bahwa begitu cepatnya Panggiring berhasrat untuk kembali ke kampung halaman.”

Sambil menguap Ki Tambi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kepalaku menjadi pusing karenanya. Tetapi aku berhasrat untuk mencari jalan.”

Namun Ki Tambi tidak segera dapat mengatakannya kepada Bramanti. Ketika Bramanti dan Temunggul datang, ia sama sekali tidak mengatakan apapun tentang seseorang yang telah menemuinya ditengah-tengah sawah.

Tetapi Ki Tambi menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar seseorang dengan nafas yang bekejaran berkata, “Aku baru pulang dari sawah.”

“Kenapa?” bertanya Temunggul.

“Aku bersama dua orang kawan sedang berada di dalam gubug ditengah sawah menunggi tanaman yang sedang berbuah. Tiba-tiba aku melihat seseorang berjalan ke arah Barat. Langkahnya belum pernah aku kenal. Dan rasa-rasanya memang bukan orang Kademangan ini. Kami menyangka bahwa orang itu bermaksud jahat, karena ketika kami menyapanya, ia sama sekali tidak berhenti.”

“Lalu apakah yang kalian lakukan?”

“Kami bertiga mengepungnya. Tetapi orang itu hilang seperti hantu. Kami sama sekali tidak menemukannya, meskipun menurut dugaan kami orang itu masih belum meninggalkan tempatnya. Kami menyangka, bahwa ia hanya sekadar bersembunyi disela-sela tanaman. Tetapi setelah kami cari beberapa lama, kami tetap tidak menemukannya.”

Kening Bramanti menjadi berkerut merut. Dengan nada yang berat ia bertanya, “Kau tidak melihat wajahnya?”

Orang itu menggeleng, “Tidak. Kami tidak sempat.”

“Pakaiannya,” menyela Ki Tambi.

“Kami juga tidak dapat melihat dengan jelas. Yang tampak kepada kami hanyalah bayangan yang kehitam-hitaman.”

“Tinggi atau pedek, gemuk?”

“Tinggi, besar.”

Terasa sesuatu melonjak di dalam dada Ki Tambi. Orang itu pasti sudah melihat Panggiring. Untunglah bahwa di dalam gelapnya malam orang-orang itu tidak segera dapat mengenalnya.

“Kenapa orang seperti Panggiring masih juga terjebak dalam pengamatan seseorang tanpa dapat menghindarinya, sehingga ia terpaksa bersembunyi setelah dikejar-kejar?” bertanya Ki Tambi di dalam hatinya. “Mungkin Panggiring memang sudah tidak berniat berbuat apapun sehingga ia menjadi lengah terhadap hal-hal serupa itu, atau bahkan dengan sengaja ia mulai menampakkan dirinya.”

Temunggul pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah ada kemungkinan bahwa orang itu adalah salah seorang kepercayaan Panembahan Sekar Jagat, atau bahkan Sekar Jagat sendiri?”

Bramanti menggeleng, “Aku tidak tahu.”

Dada Ki Tambi menjadi semakin berdebar-debar ketika Bramanti bertanya kepadanya, “Apakah paman tidak melihat seorang pun di sawah?”

Ki Tambi ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak melihat seorang pun.”

Bramanti mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Mungkin salah seorang dari kita. Tetapi karena malam yang gelap, kalian tidak segera dapat mengenalnya. Atau mungkin seseorang dari padukuhan tetangga yang oleh suatu keperluan terpaksa berjalan di malam hari.”

“Tetapi mereka tidak akan melalui jalan-jalan yang sulit atau bahkan lewat pematang.”

“Mungkin orang itu tergesa-gesa sehingga ia memilih jalan memintas.”

“Tetapi ia tidak berhenti ketika kami menyapanya.”

“Kalau begitu hampir pasti, ia sedang tergesa-gesa.”

Orang itu tidak menyahut. Meskipun ia tidak sependapat dengan Bramanti.

“Jangan cemas. Tidak ada apa-apa,” berkata Bramanti kemudian, “Kalau ia orang jahat, ia tidak akan lari atau bersembunyi. Kalian pasti sudah diganggunya. Tetapi ternyata orang itu tidak berbuat demikian.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Memang ia sama sekali tidak diganggu. Orang itu hanya bersembunyi demikian baiknya sehingga seolah-olah telah menghilang begitu saja dibawa angin malam yang dingin.

Tetapi kalau orang itu orang baik-baik, kenapa ia harus bersembunyi?

Namun demikian orang itu masih saja berdiam diri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berusaha untuk mengerti dan menahan pertanyaan-pertanyaan di dalam hati.

“Pulanglah,” berkata Bramanti. “Tidak ada apa-apa yang dapat mencemaskan kita semua.”

Sekali lagi orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, ketika ia keluar dari halaman Kademangan, hatinya masih tetap berdebar-debar. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk diam. Karena itu, maka bersamaan dengan terbitnya matahari, ceritera orang itu telah tersebar dari segala mulut ke segala telinga orang-orang padukuhan itu.

“Apakah Panembahan Sekar Jagat sudah akan mulai?” bertanya seseorang.

Yang lain hanya menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Tetapi kita sekarang sudah punya Putut Sabuk Tampar. Kita sudah tidak takut lagi kepada Panembahan Sekar Jagat.”

“Tetapi bagaimana kalau Panembahan Sekar Jagat datang bersama orang-orangnya yang buas dan liar?”

“Anak-anak muda kita sudah tidak tidur lagi. Setiap hari mereka mendapat petunjuk dan latihan dari Ki tambi dan bahkan dari Bramanti sendiri. Pada saatnya kita pasti sudah siap untuk melawan. Bahkan kami, laki-laki yang sudah melampaui masa-masa muda kami pun akan mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu bela diri. Setiap saat diperlukan, kami dapat membantu, menurut kekuatan dan kemampuan kami.”

Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak dapat melepaskan diri dari kecemasan yang mencekam jantungnya.

Di halaman Kademangan anak-anak muda yang bertugas malam, satu-satu telah meninggalkan halaman. Ada di antara mereka yang sama sekali tidak dapat tidur sekejap pun. Tetapi ada pula yang sama sekali tidak berhasil membuka matanya. Sejak ia berbaring di pendapa, langsung ia tidur nyenyak sampai ayam jantan berkokok di pagi hari.

Namun Ki Tambi, Bramanti dan Temunggul masih juga duduk di tangga pendapa. Mereka lagi asyik membicarakan orang yang dilihat oleh tiga orang yang sedang berada di dalam gubug di tengah-tengah sawah menunggui tanamannya.

“Berita itu tidak boleh mencemaskan rakyat Kademangan ini,” berkata Bramanti. “Meskipun kita tidak dapat tinggal diam, tetapi apa yang kita lakukan jangan langsung dapat dilihat orang, supaya mereka tidak menjadi ketakutan dan kehilangan ketentraman.”

Ki Tambi dan Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita harus membentuk sekelompok kecil di antara mereka yang dapat dipercaya. Mereka akan menjadi pengawas khusus di malam hari. Mereka akan berada di sawah-sawah dan pategalan.”

“Tetapi mereka harus diperlengkapi dengan alat-alat yang dapat mereka pakai untuk mengirim tanda-tanda,” berkata Temunggul kemudian, “Apabila benar orang itu salah seorang dari Panembahan Sekar Jagat, atau bahkan Sekar Jagat sendiri, maka anak-anak itu tidak akan berarti apa-apa baginya.”

“Tentu,” sahut Bramanti, “Mereka harus membawa alat-alat serupa itu.”

Mereka pun kemudian bersepakat untuk melakukan pengawasan langsung ditempat-tempat terbuka. Karena menurut tangkapan mereka, agaknya orang yang menyampaikan kabar itu bukanlah orang yang ingin membuat-membuat persoalan saja.

“Nah,” berkata Bramanti, “Aku sekarang akan pulang dulu.”

“Aku juga,” sahut Ki Tambi.

“Baiklah,” berkata Temunggul, “Aku akan tinggal disini sebentar, sambil menunggu anak-anak yang harus berada disini di siang hari.”

Bramanti pun kemudian meninggalkan Kademangan itu bersama Ki Tambi. Namun mereka itu pun kemudian berpisah menurut jalan ke rumah masing-masing.

Sementara itu Temunggul masih duduk di tangga Kademangan. Sambil bersungguh-sungguh ia menunggu anak-anak muda yang seharusnya berjaga-jaga di siang hari. Tetapi seperti biasanya, mereka tidak dapat datang tepat pada waktunya, tidak seperti apabila mereka bertugas di malam hari.

Temunggul terkejut ketika ia mendengar pintu pringgitan bergerit. Dengan serta merta ia memalingkan wajahnya. Dan dilihatnya sebuah kepala tersembul di antara pintu yang belum terbuka sepenuhnya itu.

“O, Ki Demang,” desis Temunggul.

“Dengan siapa kau tinggal Temunggul,” bertanya Ki Demang.

“Sendiri.”

Ki Demang seolah-olah tidak percaya kepada jawaban itu. Dengan nanar diedarkannya tatapan matanya berkeliling. Namun ia memang tidak melihat seorang pun dihalaman itu selain Temunggul.

Perlahan-lahan Ki Demang melangkah keluar pringgitan. Dengan hati-hati ia berjalan mendekati Temunggul. Meskipun rumah itu adalah rumahnya, tetapi nampaknya Ki Demang seperti orang asing.

“Duduk sajalah,” berkata Ki Demang ketika ia melihat Temunggul berdiri, “Aku pun akan duduk disitu pula.”

Temunggul pun duduk kembali. Di sampingnya Ki Demang meletakkan dirinya sambil berdesah, “Apa kabar Temunggul?”

Temunggul menggelengkan kepalanya, “Aku belum mendapat kesempatan Ki Demang.”

“Kau tidak berusaha.”

“Aku sudah berusaha. Bahkan aku kini membawa pisau dibawah bajuku. Kalau aku mempergunakan pedangku, sebelum aku sempat mencabutnya, leherku pasti sudah disobek oleh pedang pendek itu. Tetapi pisau ini pasti tidak akan diduganya sama sekali. Sehingga dari jarak yang tidak lebih dari sejengkal, apabila kami berjalan bersama-sama, aku dapat tiba-tiba saja menyerangnya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya. Tetapi jangan terlampau lama. Kalau Panembahan Sekar Jagat kehilangan kesabaran, maka ia pasti akan segera bertindak.”

Dada Temunggul berdesir mendengar kata-kata Ki Demang itu. Sekilas terbayang sebuah bayangan hitam yang tinggi dan besar berjalan di pematang seperti yang dikatakan oleh orang yang melihatnya.

“Apakah bayangan itu benar-benar Panembahan Sekar Jagat?” ia bertanya di dalam dirinya.

“Temunggul,” berkata Ki Demang, “Harus ada seorang yang bersedia berkorban untuk kepentingan Kademangan ini, tanpa mementingkan diri sendiri.

Persahabatan dan kawan baik yang bagaimanapun juga, harus dilupakan. Mungkin kau ragu-ragu karena kau merasa berhutang budi kepada Bramanti. Bramanti memang anak yang baik. Ia tidak membalas sakit hatinya kepadamu, meskipun ia pernah kau perlakukan dengan kasar. Tetapi Bramanti terlampau bodoh. Kebodohannya itulah yang berbahaya bagi Kademangan ini. Kebodohan dan kesombongannya itulah yang harus disingkirkan.”

Temunggul tidak menyahut.

“Menurut penilaianku, kau adalah seseorang yang lebih baik. Yang mementingkan Kademangan ini di atas segala-galanya. Selain kau juga akan menemukan kembali gadismu yang kini agaknya semakin dekat dengan Bramanti.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Sepercik keragu-raguan telah merambat lagi dihatinya. Setiap kali terbayang olehnya Ratri, maka setiap kali dadanya berdesir.

Tetapi Temunggul itu pun kemudian mengatupkan giginya rapat-rapat, “Aku tidak boleh hanyut oleh kata-katanya,” katanya dalam hati. “Aku harus yakin, bahwa Ki Demang mempunyai maksud-maksud tertentu. Aku hanya sekadar menjadi alatnya. Apabila sudah tidak diperlukannya lagi, biasanya alat-alat itu akan disingkirkannya pula. Demikian juga dengan aku nanti.”

Temunggul berhenti berangan-angan ketika ia mendengar Ki Demang berkata, “Apakah kau dapat berkata, “Apakah kau dapat mengerti Temunggul?”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya Ki Demang.”

“Nah, karena itu, jangan menunda-nunda terlampau lama. Lakukanlah pada kesempatan yang pertama.”

“Ya Ki Demang. Tetapi untuk mendapatkan kesempatan itu aku agaknya menemui kesulitan.”

“Ah,” Ki Demang berdesah, “Meskipun kau tidak dapat disejajarkan dengan Bramanti apabila kau harus melawannya beradu dada, namun kau bukan seseorang yang tidak berilmu sama sekali Temunggul. Ingat, kau adalah pemimpin pengawal Kademangan ini. Itu harus kau sadari.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nasib Kademangan ini memang sebagian tergantung di tanganmu Temunggul.”

Temunggul masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, itu kawan-kawanmu datang,” desis Ki Demang. Temunggul mengangkat kepalanya. Dilihatnya dua orang anak-anak muda memasuki regol Kademangan.

“Aku akan masuk,” berkata Ki Demang.

“Kenapa? Kenapa Ki Demang akhir-akhir ini tampaknya agak berubah?” bertanya Temunggul tiba-tiba.

“Tentu,” jawab Ki Demang. “Orang-orang Kademangan ini sudah tidak mendengarkan kata-kataku lagi. Sedang aku selama ini selalu prihatin, bagaimana mungkin aku dapat menyelamatkan Kademangan ini dari kehancuran mutlak.”

Temunggul tidak menyahut.

“Pikirkanlah Temunggul. Ingat, jangan menunda waktu sampai terlambat. Tidak akan ada gunanya lagi. Kau dengar? Dan kau pun pasti sudah kehilangan gadis itu.”

“Ya Ki Demang.”

Ki Demang menepuk bahu Temunggul sambil berdiri, “Kaulah satu-satunya orang yang aku harapkan kelak.”

Temunggul tidak menjawab. Dipandangiya langkah Ki Demang satu-satu melintas ke pendapa. Kemudian hilang dibalik pintu.

“Aku tidak tahu maksudnya,” desisnya, “Apakah Ki Demang takut bahwa pada suatu saat Bramanti akan mendesak kedudukannya?” Temunggul mengerutkan keningnya. “O, tentu. Ayah Bramanti adalah Demang Candi Sari. Karena itu, maka ia berhak atas jabatan itu.” Temunggul menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin inilah sebabnya.”

Tetapi ketika ia berdiri, teringatlah olehnya sesuatu sehingga ia menggelengkan kepalanya, “O, bukan. Bukan ayah Bramanti. Tetapi ayah Panggiring. Ayah Panggiringlah yang pernah menjadi Demang di Candisari.”

Akhirnya Temunggul menuruni tangga pendapa itu sambil berdesah di dalam hatinya, “Aku harus mengerti latar belakang dari tindakan Ki Demang. Seharusnya ia memanfaatkan keunggulan Bramanti untuk kepentingan Kademangan ini. Bukan sebaliknya.”

Temunggul pun kemudian melangkah ke regol halaman. Kedua anak-anak muda yang baru datang itu pun sudah duduk di dalam gardu.

“Kalian baru datang?” bertanya Temunggul.

“Ya,” jawab salah seorang dari mereka.

“Semalam suntuk aku disini tanpa tidur sekejap pun. Aku menunggu kalian.”

Keduanya tersenyum. Salah seorang daripadanya menjawab, “Aku terlambat bangun. Aku pun hampir semalam tidak tidur.”

“Kenapa?”

“Kakak perempuanku melahirkan semalam.”

“O,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya,” baik-baik semuanya.”

“Ya, semuanya selamat.”

“Syukurlah. Sekarang aku akan pulang. Mandi dan tidur.”

“Baiklah,” jawab yang lain. “Tetapi begitu kau pulang, aku pasti akan sendiri sebelum kawan-kawan yang lain datang. Anak ini sebentar lagi akan segera mendekur.”

Temunggul tersenyum, katanya, “Sebentar lagi mereka akan datang. Mungkin juga Ki Jagabaya.”

Temunggul pun kemudian meninggalkan halaman Kademangan itu, langsung pulang ke rumahnya.

Sementara itu, di rumahnya Ki Tambi berbaring di amben bambu. Tetapi meskipun semalam suntuk ia tidak dapat tidur, namun sama sekali matanya tidak mau terpejam. Yang selalu terlintas di dalam kepalanya adalah pertemuannya dengan Panggiring. Pesan orang itu yang harus disampaikannya kepada keluarganya.

“Aku harus mendapat kesempatan sebaik-baiknya,” desisnya, namun kemudian, “Tetapi aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Apabila pada suatu ketika seseorang dapat mengenali wajah Panggiring, dan bahkan terjadi salah paham, maka semuanya akan menjadi semakin kisruh.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia meraba kantong ikat pinggang kulitnya. Diambilnya sebuah lencana bergambar sebuah candi. Lencana Panggiring yang mengerikan di pesisir Utara. Tetapi beberapa saat yang lampau. Ternyata Panggiring sudah lenyap dari dunianya. Diketahui atau tidak diketahui oleh orang-orangnya. Namun pada suatu saat mereka akan segera menyadari, bahwa Panggiring sudah tidak ada lagi di antara mereka.

“Pada suatu saat salah seorang dari anak buahnya pasti akan mencarinya kemari,” berkata orang tua itu di dalam hatinya. “Sebab ada di antara mereka yang mengetahui, bahwa Panggiring berasal dari Kademangan ini.”

“Semuanya harus segera aku lakukan,” desis Ki Tambi.

Tiba-tiba Ki Tambi itu pun bangkit dari pembaringannya. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke sumur mencuci mukanya. Setelah membenahi pakaiannya, maka ia pun segera melangkah keluar rumahnya sambil menyambar senjatanya.

“Sebaiknya aku menemui Nyai Pruwita dahulu. Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa anaknya telah berada di daerah ini meskipun belum bersedia menampakkan dirinya karena berbagai pertimbangan.”

Ki Tambi pun kemudian melangkahkan kakinya disepanjang jalan padukuhan dengan kepala tunduk. Ia masih mereka-reka kalimat yang akan diucapkannya dihadapan ibu Panggiring nanti.

“Bagaimana kalau Bramanti ada dirumah pula?,” ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Terpaksa tertunda lagi. Tetapi aku harus mendapatkan kesempatan itu.”

Ketika ia sampai di regol rumah Bramanti, ia menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi akhirnya ia melompati tlundak pintu regol yang sudah terbuka.

“Anak itu tidak ada dibawah pohon sawo. Mungkin ia lelah dan kantuk,” desis Ki Tambi yang pergi perlahan-lahan melintasi halaman menuju ke kandang.

Perlahan-lahan Ki Tambi mendekati pintu. Tetapi pintu itu tertutup rapat.

“Anak itu tidak ada di dalam,” katanya di dalam hati, “Aku sama sekali tidak mendengar desah nafasnya.”

Karena itu Ki Tambi tidak membuka pintu itu. Adalah kebetulan sekali kalau Bramanti tidak berada di rumahnya. Ia akan dapat berbicara leluasa dengan ibunya.

Ki Tambi pun kemudian meninggalkan kandang yang kosong itu, langsung naik ke pendapa. Diketuknya pintu pringgitan beberapa kali.

Tetapi Ki Tambi menjadi kecewa. Yang didengarnya suara Bramanti menyapa, “Siapa?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus menjawab, “Aku Bramanti. Tambi.”

“O,” dengan tergesa-gesa Bramanti melangkah langsung membuka pintu, “Paman sudah sampai kemari? Apakah paman tidak beristirahat?”

“Masih terlampau pagi untuk tidur,” jawab Tambi sekenanya saja.

“Apakah ada sesuatu yang penting untuk segera dibicarakan?”

“O, tidak. Tidak. Sudah lama aku tidak singgah kemari.”

Bramanti mengerutkan keningnya, namun ia menjawab, “Ya, sejak kemarin.”

“O,” tambi mengerutkan keningnya pula. Kemudian ia tertawa pendek, “Ya, kemarin aku datang kemari. Tetapi maksudku sudah agak lama aku tidak bertemu dengan ibumu.”

“Ibu berada di dapur paman,” sahut Bramanti. “Apakah aku harus memanggilnya.”

“Jangan, biarkan aku pergi ke dapur,” jawab Tambi, “Tetapi kau tidak mempunyai keperluan yang lain?”

“Aku sedang mengumpulkan pakaianku yang kotor paman. Aku akan pergi ke bendungan, mencuci.”

“Ah,” desah Tambi, “Setiap hari kau mencuci. Pakaian yang itu-itu juga yang kau cuci. Bramanti, kalau begitu caramu memelihara pakaian, maka pakaianmu akan lekas rusak. Padahal belum tentu kau dapat membelinya lagi.”

“Tidak setiap hari paman,” jawab Bramanti.

“Setiap hari,” potong Tambi, “Kalau tidak ada pakaianmu yang kotor, maka pakaianmu yang bersih pula yang kau cuci. Jangan kau sangka aku tidak tahu bahwa kau hanya sekadar ingin pergi ke bendungan.”

“Ah, paman selalu mengganggu.”

“Aku pernah semuda kau Bramanti.”

“Itulah ibu,” berkata Bramanti tiba-tiba ketika ia melihat ibunya muncul dari pintu samping. Lalu katanya, Bu, paman Tambi.”

“O, marilah. Marilah, silakan duduk.”

“Terima kasih,” jawab Tambi. Kemudian kepada Bramanti ia berkata, “Kalau kau akan pergi ke bendungan. Pergilah. Kau akan kesiangan nanti, dan anak itu sudah terlanjur pulang.”

“Ah, aku tidak memerlukan siapapun paman,” sahut Bramanti. “Adalah kebetulan sekali kalau bendungan itu telah sepi.”

Ki Tambi tidak menjawab. Tetapi ia tertawa berkepanjangan.

Bramanti pun kemudian pergi ke Bendungan. Ditinggalkannya Ki Tambi bersama ibunya, duduk di pringgitan.

“Lama kita tidak saling berbincang tentang apa saja,” berkata Ki Tambi.

“Aku sudah terlampau biasa hidup seorang diri,” desis Nyi Pruwita. “Karena itu, aku sama sekali sudah tidak mengenal kesepian lagi.”

“Tetapi sekarang semua itu akan segera berubah.”

“Kenapa?”

“Ternyata Bramanti berhasil menumbuhkan kepercayaan rakyat Candisari kepada keluarga ini.”

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku memang merasakan, lambat laun sikap orang-orang di sekitar rumah ini telah berubah.”

“Bersyukurlah karena Nyai mempunyai anak seperti Bramanti. Ia adalah anak muda yang mengagumkan. Bahkan hampir-hampir sempurna. Ia adalah seorang yang luar biasa. Mumpuni dalam olah kanuragan. Namun kelebihan yang lain, anak itu rendah hati.”

Ibu Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa kebanggaan di dalam dadanya mengembang. Jawabnya, “Mudah-mudahan keluarga kami tidak semakin tenggelam.”

“Tentu tidak. Aku pasti. Kademangan ini pada suatu saat pasti menggantungkan diri kepada perlindungannya. Kini pengaruhnya menjadi semakin dalam, meskipun Bramanti sendiri sama sekali tidak berhasrat mendesak kedudukan siapapun.”

“Tentu. Bramanti tidak ingin kedudukan apapun. Aku selalu berpesan kepadanya, jangan mengecewakan apa lagi merugikan orang lain. Seseorang dapat saja mendorong dirinya sendiri untuk maju di dalam segala bidang, tetapi ia jangan mengorbankan orang lain untuk kepentingan itu.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan Bramanti selalu mematahi pesan-pesan itu,” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Kini Bramanti sedang memilih beberapa anak-anak muda yang terbaik, termasuk Temunggul, untuk diajarnya memimpin para pengawal, membela diri mereka sendiri dan Kademangan ini. Setiap kali mereka berada di Kademangan, maka meskipun hanya sebentar, mereka memerlukan waktu. Di halaman belakang yang terpisah, mereka berlatih sebaik-baiknya.”

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali kenangan lamanya membayang dipelupuk matanya. Di halaman rumah ini pun dahulu anak-anak muda selalu berkumpul. Melatih diri dan olah kanuragan. Bukan itu saja. Pendapa ini pun selalu dipakai oleh beberapa gadis dan anak-anak muda yang berlatih menari.

Tetapi ibu Bramanti tidak merindukan masa-masa itu lagi. Sudah dikatakannya, bahwa Bramanti tidak sebaiknya berusaha mendesak kedudukan orang lain. Ia dapat berbuat baik tanpa kedudukan apapun. Dan namanya dapat dikenal oleh setiap orang Candisari tanpa menjadi bebahu Kademangan yang manapun.

Sementara itu Ki Tambi masih saja mengangguk-angguk meskipun kepalanya kini tertunduk. Hatinya serasa menjadi semakin berdebar-debar. Ia sedang mencari kesempatan untuk mengatakan pesan Panggiring kepada perempuan itu.

“Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita kemudian, “Aku juga menitipkan anak itu kepadamu. Bukankah kau sering berada bersamanya di Kademangan? Ia harus tetap menjadi anak yang baik apapun yang pernah dilakukannya.”

“Tentu, tentu,” Ki Tambi tergagap. Namun kemudian ia tertunduk lagi sambil mengangguk-angguk.

Tetapi Ki Tambi merasa bahwa ia tidak akan dapat berbuat serupa itu untuk seterusnya. Ia harus mengatakannya. Lambat atau cepat.

“Nyai,” akhirnya dipaksanya juga mulutnya berbicara, “Ternyata Bramanti telah membuat hati setiap orang berbangga. Bukan saja ibunya, aku dan kawan-kawannya.”

Nyai Pruwita mengerutkan keningnya. Ia merasakan nada suara Ki Tambi agak berubah. Tetapi perempuan tua itu tidak segera menyahut.

“Keluarga ini lambat laun telah menjadi pusat perhatian rakyat Candisari, seperti beberapa puluh tahun yang lampau.”

Ibu Bramanti masih tetap diam.

“Bukankah Nyai mengharapkan demikian? Kesempurnaan yang bulat bagi pulihnya kembali keluarga ini?”

“Ah, itu tidak mungkin Ki Tambi,” sahut perempuan itu, “Yang lampau biarlah lampau. Aku bersyukur dan berterima kasih, bahwa aku kini sudah tidak berpisah lagi dari tetangga di sekitarku. Itu sudah cukup untuk saat ini.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit untuk memulainya. Bahkan agaknya ia sudah hampir tersesat jalan pada langkahnya yang pertama.

“Bukan begitu Nyai,” jawab Ki Tambi. “Sudah tentu keluarga yang bulat, yang masih mungkin dapat dicapai. Yang sudah tidak ada sudah tentu tidak akan dapat kembali. Tetapi yang masih ada itulah yang dirindukannya.”

“Maksudmu?”

“Seandainya, seandainya Nyai, keluarga ini berkumpul kembali, bukankah kebanggaan Nyai akan menjadi sempurna?”

“Maksudmu apabila Panggiring ada di rumah ini pula?”

“Misalnya Nyai.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepala itu tertunduk. Dengan nada yang dalam ia bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang Panggiring?”

Dada Ki Tambi berdesir mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia terdiam, dipandanginya wajah perempuan tua yang berkerut-merut itu. Kemudian dengan hati-hati ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, begitulah. Tiba-tiba saja aku membayangkan, alangkah senangnya rakyat Kademangan Candisari apabila keduanya ada disini. Keduanya bersama-sama melindungi rakyat yang masih dalam ketakutan ini.”

Wajah perempuan tua itu menjadi semakin berkerut-merut. Secercah kekecewaan mengambang disorot matanya. Sambil menggeleng lemah ia berkata, “Jangan membicarakan anak-anakku. Tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan.”

“Kenyataan yang mana Nyai?”

“Panggiring agaknya menjadi semakin jauh dari keluarga kecil ini. Bahkan dari Kademangan Candisari.”

“Tidak Nyai, Nyai keliru. Panggiring tidak pernah menjauhkan dirinya dari Kademangan ini. Pada saat Kademangan ini dilanda oleh ketakutan, ia sudah berusaha mengirimkan orang untuk menemui Panembahan Sekar Jagat. Ia minta agar Panembahan Sekar Jagat menghentikan perbuatannya, meskipun usaha itu sampai pada saat ini belum berhasil. Tetapi usaha itu baik juga dilakukan, berbareng dengan usaha Bramanti yang lebih nyata di Kademangan ini sendiri,” Ki Tambi berhenti sejenak, kemudian, “Bahkan untuk lebih dekat dari kampung halamannya, ia telah membuat lencana-lencana bergambar candi. Maksudnya sudah jelas, bahwa ia harus selalu ingat tanah yang ditinggalkannya.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mungkin ia bebuat begitu. Tetapi di samping itu, perbuatan-perbuatannya telah menumbuhkan jurang yang dalam di antara rakyat Candisari dan Panggiring. Itulah bujur lintangnya keluarga kecil ini Ki Tambi. Di satu pihak Bramanti berusaha dengan susah payah, mendekatkan diri kepada rakyat Candisari, di lain pihak Panggiring telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Dan jurang itu pun agaknya telah menganga pula di antara kami sendiri. Di antara Bramanti dan Panggiring.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kesulitan yang memang bakal datang.

“Tetapi jalan hidup seseorang kadang-kadang dapat berubah. Aku pernah melihat perubahan-perubahan yang terjadi, bahkan dengan tiba-tiba dan tidak terduga-duga. Panggiring pada dasarnya bukan orang jahat. Garis keturunannya bukan pula orang jahat.”

“Jangan membicarakan keturunan. Jika demikian kau akan menghukum orang-orang yang tidak bersalah hanya karena keturunan.”

“Ya, ya. Aku keliru. Maksudku, bagaimana kalau pada suatu saat Panggiring datang dengan hati yang sudah berubah?”

“Jangan kita pikirkan sekarang, Ki Tambi. Kalau pada suatu saat Panggiring datang dengan wajah dan hatinya yang baru, kita akan menyesuaikan dengan keadaan pada saat itu. Kita akan melihat perkembangan keadaan Bramanti, dan mungkin dengan hati-hati kita dapat menempatkan persoalannya pada tempat yang sewajarnya.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Tetapi apakah pada suatu saat Nyai tidak pernah merindukannya.”

Dengan serta-merta Nyai Pruwita mengangkat wajahnya. Sorot matanya serasa langsung menusuk ke jantung Ki Tambi. Terdengar suara perempuan itu gemetar, “Ki Tambi. Sebaiknya kau tidak menanyakan hal itu. Kau bukan seorang perempuan. Karena itu kau tidak merasakan betapa pahit perasaan seorang ibu menghadapi keadaan seperti keadaanku. Tidak ada seorang ibu yang wajar, tidak merindukan anak-anaknya, betapapun juga sifat, keadaan dan kelakuan anak itu. Bahkan seandainya anak itu akan membunuhnya sekalipun.”

“Maaf, maaf Nyai. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sama sekali tidak,” Ki Tambi berhenti sejenak. Namun ia memutuskan untuk mengatakannya. Ia tidak mau melingkar semakin jauh, supaya ia tidak lebih banyak membuat kesalahan-kesalahan.

Karena itu maka katanya, “Nyai. Apaboleh buat. Tetapi aku harus mengatakannya, bahwa Panggiring sekarang sudah berada di Kademangan ini.”

Kata-kata Ki Tambi itu ternyata telah menggoncangkan hati perempuan tua itu. Sejenak ia mematung. Darahnya serasa telah terhenti mengalir. Karena itu, maka ia sama sekali tidak segera dapat menjawab sepatah katapun.

Tambi pun kemudian terdiam. Ia memberi kesempatan Nyai Pruwita untuk mengendapkan perasaannya yang agaknya sedang terguncang.

Dalam kesenyapan itu terdengar suara burung perenjak berkicau di atas batang-batang perdu di halaman. Melonjak-lonjak dengan riangnya. Meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain.

Sejenak kemudian dengan terbata-bata perempuan tua itu bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya Ki Tambi?”

Ki Tambi mengangguk, “Ya Nyai. Aku berkata sebenarnya.”

Perlahan-lahan kepala Nyai Pruwita tertunduk. Tertunduk dalam-dalam. Betapapun ia bertahan, namun titik-titik air matanya telah jatuh satu-satu di pangkuannya.

“Begitu cepat, Ki Tambi,” desis Nyai Pruwita.

Ki Tambi tidak menjawab.

“Begitu cepat aku harus menjawab persoalan ini.”

Ki Tambi masih tetap berdiam diri. Dan perempuan tua itu pun terdiam pula. Yang terdengar adalah isak halus yang tertahan-tahan.

“Ki Tambi,” berkata Nyai Pruwita itu kemudian. “Adalah suatu kebahagiaan apabila aku dapat menyambut anakku itu memasuki rumah ini.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hal itu tidak dapat kau lakukan Nyai? Maksudku, apakah Bramanti tidak dapat diajak berbicara dengan baik? Bramanti adalah anak yang rendah hati. Anak yang baik. Mungkin ia dapat mengerti, apa yang kau risaukan.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keragu-raguan masih tetap membayang di wajahnya.

“Dimana anak itu sekarang Ki Tambi?” ia bertanya.

“Ia berada di seberang kali Kuning, Nyai.”

“Disembarang kali Kuning? Pada siapa ia tinggal disana?”

“Tidak ada siapapun juga. Ia tinggal di hutan rindang itu. Tetapi jangan kau cemaskan. Sudah menjadi kebiasaannya hidup disembarang tempat. Hal itu tidak akan membuatnya sakit. Badan maupun hatinya. Tetapi ia menyimpan suatu pengharapan, bahwa ia dapat diterima, hidup di antara masyarakat sewajarnya. Itulah pesan yang harus aku sampaikan kepadamu Nyai.”

“Apakah kau sudah bertemu dengan anak itu?”

“Panggiring menemui aku di tengah sawah tanpa seorang pun yang mengetahuinya.”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah katanya?”

“Nyai,” jawab Ki Tambi sambil bergeser sejengkal. “Panggiring ingin hidup seperti manusia sewajarnya. Ia berpesan kepadaku, apakah kau dan Bramanti dapat bermurah hati memberinya secuil tanah untuk mendirikan sebuah gubug kecil? Ia akan tinggal di Kademangan ini. Hidup disini, di tanah kelahirannya. Ia akan bekerja sebagai apapun juga. Menjadi orang upahan di sawah, mengangkut kayu atau apapun juga.”

“Oh,” titik air dari mata Nyai Pruwita menjadi semakin keras. “Bagaimana dengan cara hidupnya yang lama?”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian diceriterakannya tentang perempuan tua yang kehilangan anaknya karena dibunuh oleh Panggiring sendiri. Diceriterakannya, betapa hatinya menjadi luluh.

“Panggiring sebagai seorang perampok yang dahsyat sudah mati,” desis Ki Tambi kemudian.

Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku bersyukur kepada Tuhan, bahwa anakku telah direngut-Nya dari dunia yang hitam,” Nyai Pruwita berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan keluarga ini?”

“Nyai,” berkata Ki Tambi, “Berkatalah kepada Bramanti. Aku mengharap bahwa ia dapat mengerti.”

Nyai Pruwita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali dua dunia yang pernah dihuninya. Terbayang wajah dua orang laki-laki jantan yang pernah singgah dihatinya.

“Alangkah nistanya aku,” tangisnya di dalam hati. “Sekarang aku harus menghadapi persoalan yang paling sulit. Dua orang anak laki-laki jantan seperti ayahnya masing-masing. Tetapi justru perbedaan ayah itulah yang menjadi soal.”

Kembali mereka terlempar dalam kebekuan. Ki Tambi menundukkan kepalanya, sedang Nyai Pruwita sekali-kali mengusap matanya yang basah.

Berbagai kemungkinan telah membayang di angan-angannya. Sekali tampak olehnya wajah Bramanti yang tersenyum, namun sejenak kemudian wajah itu menjadi buram.

“Aku sama sekali tidak dapat menduga, apa yang akan dikatakannya,” desis perempuan tua itu.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti betapa sulitnya masalah yang dihadapi oleh Nyai Pruwita.

“Tetapi aku adalah ibunya,” berkata perempuan itu kemudian, “Apapun yang akan terjadi, adalah kuwajibanku untuk berusaha.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Itu adalah pendidian seorang ibu. Meskipun anaknya telah dewasa, dan bahkan telah lama tidak pernah dilihatnya, namun pada suatu saat dimana diperlukan, maka seorang ibu masih juga berkata, “Aku adalah ibunya.”

Bahkan seandainya masih juga mungkin, anak itu pasti masih akan ditimangnya di pangkuan.

“Aku berdosa,” berkata Ki Tambi. “Mudah-mudahan tidak akan ada kesulitan apapun juga.”

Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kapan Nyai berkesempatan untuk memberitahukan kepadaku, supaya apabila Panggiring menemuiku setiap saat aku akan dapat memberikan jawabannya.”

“Aku akan berusaha secepatnya Ki Tambi,” jawab ibu Bramanti. “Tetapi aku mengharap kau menemani aku. Mungkin akan mendapatkan kesulitan untuk mengatakannya. Dalam keadaan yang demikian, kau akan dapat membantuku Ki Tambi.”

Ki Tambi tidak segera menjawab. Ia sama sekali tidak berkeberatan untuk membantu Nyai Pruwita menyatakan maksud Panggiring, tetapi kapan?

Nya Pruwita yang masih dibayangi oleh kegelisahan dan kecemasan itu berkata,” Kapan kau dapat datang lagi?”

“Setiap saat Nyai.”

“Semakin cepat memang semakin baik Ki Tambi. Aku akan segera menemukan kepastian. Tidak lagi terumbang-ambing oleh ketidaktentuan seperti saat ini.”

“Ya, itu akan lebih baik.”

“Bagaimana kalau kau menunggu sejenak, sampai Bramanti pulang dari bendungan?”

“Sekarang?”

“Ya sekarang.”

“Apakah kita sudah siap untuk mengatakannya?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku kira tidak ada bedanya. Kita tinggal mengatakannya. Masalah selanjutnya akan tergantung sekali pada sikap Bramanti.”

Tambi mengangguk-angguk pula, “Ya, memang tergantung sekali pada sikap Bramanti.”

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan menunggunya sekarang?”

Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah Nyai, mumpung aku tidak mempunyai pekerjaan lain hari ini.”

“Terima kasih Ki Tambi. Kau akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya kau dengar dari mulut Panggiring. Sedang aku akan minta kerelaannya, agar ia tidak berkeberatan memberikan sepotong tanah kepada kakaknya.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan mencoba membantumu Nyai.”

“Tetapi kau harus berhati-hati, agar anak itu tidak tersinggung.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Nyai Pruwita pun kemudian terdiam pula. Kepalanya tertunduk dan jantungnya berdebaran. Terbayang betapa Bramanti akan melonjak mendengar permintaan yang tidak akan pernah disangka-sangkanya.

Keduanya terperanjat ketika pintu berderit. Sesosok tubuh melangkah tlundak pintu dengan kepala tertunduk.

“Kau Bramanti?” desis ibunya.

“Ya ibu.”

“Begitu cepat.”

Bramanti mengangguk-angguk.

Sejenak ibunya terdiam. Ditatapnya wajah Ki Tambi yang justru sedang menatapnya.

Tidak seperti biasanya. Bramanti langsung ikut duduk di antara mereka, di atas sehelai tikar pandan di pringgitan.

Ibunya menjadi berdebar-debar. Bramanti hampir tidak pernah berbuat demikian. Biasanya Bramanti selalu berada di luar, dibawah pohon sawo atau di kandangnya. Jarang sekali ia dengan begitu saja langsung duduk menemui tamu ibunya meskipun ia kenal betul dengan orang itu.

Tambi pun melihat sesuatu yang lain pada anak muda itu. Wajahnya tidak secerah wajahnya sehari-hari.

“Apakah sesuatu telah terjadi atasnya,” bertanya Tambi di dalam dirinya. “Apabila demikian, maka lebih bijaksana apabila masalah Panggiring ditundanya lebih dahulu.”

Namun ternyata Tambi tidak mendapat kesempatan. Agaknya ibu Bramanti yang gelisah tidak dapat menahan hatinya lagi, sehingga sebelum mereka membicarakan sesuatu yang lain, Nyai Pruwita dengan suara gemetar berkata, “Bramanti. Mumpung kita dapat bertemu. Ki Tambi agaknya telah menyimpan sesuatu yang perlu kau dengar langsung daripadanya. Aku minta kau dapat menanggapinya dengan tenang. Menurut aku Bramanti, apa yang akan dikatakan oleh Ki Tambi itu perlu mendapat perhatian yang seksama dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian keputusan yang kita ambil tidak akan kita sesali di kemudian hari,” perempuan tua itu berhenti sejenak. Sementara Bramanti masih tetap menundukkan kepalanya.

“Apakah kau mau mendengarnya Bramanti?”

Bramanti mengangkat wajahnya. Dipandanginya ibunya dan Ki Tambi berganti-ganti.

“Aku membawa pesan untuk keluarga ini Bramanti,” berkata Ki Tambi dengan hati-hati.

Bramanti masih tetap berdiam diri.

“Seperti pesan ibumu, dengarkanlah pesan itu dengan tenang tanpa prasangka apapun. Kami tahu, bahwa keputusan terakhir terletak ditanganmu. Kalau kau mengiakan, baiklah, dan kami akan berterima kasih. Tetapi kalau kau berkeberatan, apa boleh buat, asal kau telah memikirkannya baik-baik.”

“Seperti pesan ibumu, dengarkanlah pesan itu dengan tenang tanpa prasangka apapun. Kami tahu, bahwa keputusan terakhir terletak ditanganmu. Kalau kau mengiakan, baiklah, dan kami akan berterima kasih. Tetapi kalau kau berkeberatan, apaboleh buat, asal kau telah memikirkannya baik-baik.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja jawabnya telah mengejutkan Ki Tambi dan ibunya, sehingga sejenak merekalah yang kemudian membeku. Bahkan serasa jantung mereka pun berhenti berdetak.

“Aku sudah mendengar semuanya paman.”

Ki Tambi yang membeku itu kemudian berusaha mengatur perasaannya. Ketika dadanya telah mulai menjadi tenang, ia bertanya, “Apakah yang telah kau dengar Bramanti?”

“Kakang Panggiring telah datang. Bukankah begitu? Bukankah ia ingin tinggal di Kademangan ini pula, dan bahkan di atas tanahku ini?”

“Darimana kau tahu?” bertanya ibunya terbata-bata.

“Aku tidak pergi ke bendungan. Ketika aku melihat kelainan sikap paman Tambi, aku mencoba mendengar pembicaraan paman dan ibu. Mula-mula aku tidak bermaksud mendengarkan seluruhnya. Aku hanya sekadar ingin tahu. Tetapi yang paman bicarakan dengan ibu ternyata telah sangat menarik perhatianku.”

Ibu Bramanti itu berdesah. Darahnya menjadi semakin cepat mengalir seluruh tubuhnya.

“Karena itu, aku telah mendengar seluruh pembicaraan ibu dengan paman, sehingga paman Tambi tidak usah mengulanginya lagi.”

Tambi seakan-akan memang telah terbungkam. Dipandanginya saja wajah Bramanti tanpa berkedip.

Ternyata setelah berhadapan langsung dengan anak muda itu, ibu Bramantilah yang berhasil cepat menguasai perasaannya. Karena bagaimana pun juga Bramanti adalah anaknya, sehingga jalinan hubungan di antara mereka, jauh lebih rapat dari pada Ki Tambi. Sehingga dengan demikian, maka betapapun lambatnya, namun Bramanti mendengar ibunya bertanya, “Kalau kau sudah mendengar Bramanti, bagaimanakah jawabanmu?”

Bramanti tidak segera menjawab. Wajahnya menjadi semakin buram, dan dadanya menjadi semakin bergetar.

Pertanyaan serupa itu adalah pertanyaan yang paling sulit baginya. Sekilas terbayang di dalam angan-angannya, seorang perampok berambut panjang, berkumis dan bercambang. Dengan kasar ia merenggut nyawa orang-orang yang telah dipilih menjadi korbannya. Tanpa belas kasihan ia memeras, mengancam, membunuh dan segala macam kekejaman-kekejaman yang lain.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Terngiang di telinganya kata-kata Ki Tambi, bahwa Panggiring kini telah meninggalkan dunianya. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak yakin, bahwa orang yang telah menghayati hidup seperti kakang Panggiring itu dapat meninggalkan cara hidup yang demikian. Kakang Panggiring adalah perampok yang lebih kasar dan lebih buas dari Panembahan Sekar Jagat. Mungkin ia baru terguncang oleh suatu peristiwa yang dapat menyentuh jantungnya, tetapi pada suatu saat ia pasti akan kambuh lagi. Jika demikian, maka Kademangan ini pasti akan ditelannya. Seluruhnya, dan jauh lebih serakah dari Panembahan Sekar Jagat.”

Bramanti mengangkat wajahnya ketika ia mendengar ibunya mendesah, “Bagaimana Bramanti? Apakah kau dapat mengerti?”

Bramanti mengerutkan keningnya. Sekilas berdesir kecemasan tentang Kademangan, tentang halaman dan rumahnya yang kemudian mengguncang dadanya adalah tentang Ratri.

“Ratri selalu bertanya tentang Panggiring,” katanya di dalam hati. “Gila. Kenapa orang itu yang diharapkannya pulang? Pada saat kakang Panggiring pergi, Ratri masih seorang gadis kecil. Perasaan apakah yang telah membelit dihatinya saat itu sehingga seakan-akan ia telah merindukannya?”

Bramanti mengumpat di dalam hati. Sekali lagi ia menyalahkan Temunggul yang terlampau berprasangka kepadanya.

“Aku kini harus mengalami, disiksa oleh perasaan itu seperti yang pernah dialami oleh Temunggul, dan bahkan yang sampai saat ini masih juga dideritanya.”

Sekali lagi Bramanti menarik nafas ketika ibunya mendesaknya, “Bramanti. Aku mengharap bahwa kau dapat mengerti perasaanku. Aku adalah seorang ibu. Ibumu, namun juga ibu Panggiring.”

Sekilas dipandanginya wajah ibunya yang sayu. Kemudian wajah Ki Tambi yang menegang.
“Ibu,” berkata Bramanti kemudian, “Aku dapat mengerti perasaan ibu. Tetapi aku mengharap bahwa ibu pun mempertimbangkan masak-masak. Apakah kehadiran kakang Panggiring di Kademangan ini tidak akan menambah kesulitan kita semua? Aku tidak yakin bahwa sebenarnya itu. Mungkin sehari dua hari, tetapi pada suatu saat ia akan kambuh kembali.”

“Aku akan selalu berusaha Bramanti, agar ia tetap menjadi bagian dari keluarga kita. Bagian yang tidak akan mengotori nama yang selama ini telah kau bersihkan itu.”

Bramanti menggeleng perlahan-lahan, “Ibu, apakah yang telah dilakukan oleh kakang Panggiring selama ini telah cukup meyakinkan. Sejak ia lari dari keluarga ini, maka kakang Panggiring telah dengan sengaja memisahkan dirinya. Pada saat itu keluar ini masih utuh. Tetapi kakang Panggiring sama sekali tidak berusaha menyesuaikan dirinya. Ia terlampau bengal dan penentang. Aku tidak tahu benar apa yang telah terjadi saat itu ibu, tetapi aku tahu pasti bahwa Panggiring telah berani menentang ayah dan pasti telah meninggalkan ibu beserta keluarga ini,” Bramanti berhenti sejenak, kemudian, “Setelah kakang Panggiring seakan-akan telah hilang dari Kademangan ini dan hilang dari keluarga kita. Apakah yang telah dilakukannya itu adalah suatu jalan yang dibuatnya sendiri, yang membawanya semakin lama semakin jauh dari ibu. Sekarang, setelah semuanya seakan-akan pulih kembali, meskipun tidak semua segi, terutama kita tidak akan dapat menjadi seorang yang kaya seperti pada jaman itu, tetapi nama keluarga ini lambat laun akan menjadi semakin baik di hati rakyat Kademangan Candisari. Dan pada saat yang demikian kakang Panggiring itu kembali dengan membawa noda pada namanya,” Bramanti berhenti sejenak. Terasa dadanya berdesir ketika ia melihat setitik air dipelupuk mata ibunya.

“Ibu,” Bramanti bergeser maju, “Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati ibu. Aku tahu, bahwa kakang Panggiring adalah anak ibu seperti aku, yang berhak menerima kasih sayang ibu seperti aku pula. Tetapi kakang Panggiring sama sekali tidak pernah memikirkan ibu. Ia lebih tua daripadaku. Seharusnya ia mengetahui apa yang telah terjadi atas keluarga ini dan berusaha menolongnya. Tetapi justru ia berbuat lain. Justru ia menjadi seorang perampok yang buas dan liar di pesisir Utara,” Bramanti berhenti sejenak, kemudian tiba-tiba saja nada suaranya meninggi. “Ibu, apakah yang pernah dilakukannya bagi ibu? Apa? Apakah ia pernah menunjukkan bakti seorang anak laki-laki terhadap ibunya?”

“Sudahlah Bramanti, sudahlah,” potong ibunya. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi, sehingga titik air matanya semakin deras menetes dipangkuannya.

Bramanti pun kemudian menundukkan kepalanya. Sekali lagi ia berdesir perlahan-lahan, “Maafkan aku ibu.”

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang datar ia mencoba untuk ikut berbicara. “Tetapi kakakmu sudah menyesali semua perbuatan itu Bramanti. Seharusnya kau memberi kesempatan kepadanya. Kalau ia benar-benar menjadi seorang yang baik, maka keluarga ini akan menjadi utuh kembali. Lebih daripada itu, Kademangan Candisari akan menjadi Kademangan yang kuat, yang akan dengan mudah dapat menghindarkan dirinya dari pemerasan Panembahan Sekar Jagat.”

“Tidak mungkin,” sahut Bramanti cepat-cepat, “Justru kakang Panggiringlah yang akan memeras Kademangan ini sampai kering. Bagiku paman, lebih baik aku bertempur melawan Panembahan Sekar Jagat. Aku dapat mempertaruhkan nyawaku. Tetapi bagaimana dengan kakang Panggiring seandainya ia melakukan hal yang serupa disini? Apakah aku harus berkelahi melawannya?”

Tambi tidak menjawab.

“Aku dapat dengan dada terbuka membinasakan Panambehan Sekar Jagat apabila aku mampu, tetapi kakang Panggiring adalah putra ibu seperti aku.”

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. Ia dapat merasakan betapa pedih hati Nyai Pruwita. Tetapi ia tidak dapat membantunya lebih banyak daripada mencoba meyakinkan Bramanti bahwa Panggiring benar-benar akan berusaha memperbaiki dirinya.

“Paman,” berkata Bramanti, “Sebaiknya paman mengatakan kepada kakang Panggiring, untuk kepentingannya dan kepentingan keluarga yang sedang akan bangkit ini, lebih baik ia meninggalkan Kademangan Candisari.”

“Bramanti,” potong ibunya.

Bramanti berpaling. Ditatapnya ibunya yang masih menitikkan air matanya.

“Ibu, aku kira ini adalah jalan yang paling baik buat kita semuanya. Kakang Panggiring sebaiknya berada di tempat yang baru sama sekali, yang belum mengenalnya. Ia akan mendapat penghargaan yang wajar apabila ia benar-benar akan meninggalkan cara hidupnya itu. Ia akan menjadi warga tempat yang baru itu sebagai warga yang baik. Tetapi di sini, setiap orang akan berprasangka kepadanya.”

“Jadi, maksudmu kau telah menolak kedatangan kakakmu di rumah ini?”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sebaiknya, ibu. Sebaiknya kakang Panggiring tidak kembali.”

“Bramanti, itukah keputusanmu?”

Bramanti tidak menjawab. Tetapi kepalanya teranguk kecil.

Tiba-tiba tangis perempuan itu pun seakan-akan tercurah tanpa dapat ditahannya lagi. Betapa ia menyesali semua peristiwa yang pernah dilaluinya. Terbayang kembali berbagai macam tata kehidupan yang pernah dialaminya. Semakin lama menjadi semakin jelas.

Tetapi perempuan itu tidak dapat mengatakannya kepada Bramanti. Ia tidak sampai hati melukai hati anak yang baik itu. Tetapi apakah ia harus melepaskan Panggiring begitu saja dari hatinya?

Di antara isak tangis Nyai Pruwita itu terdengar suara Ki Tambi, “Bramanti, kalau kita lepaskan Panggiring itu ke mana ia kehendaki, maka pada suatu saat ia akan dengan mudah masuk kembali ke dalam dunianya yang hitam. Kita belum tahu, apakah yang dapat ditemuinya di daerahnya yang baru itu. Tetapi di sini, hampir setiap orang sudah dikenalnya. Justru kesediaannya mengakui kesalahannya tanpa bersembunyi itu adalah pertanda bahwa ia telah benar-benar berusaha menghentikan tata cara hidupnya yang kotor itu. Di antara kita, ia akan selalu dapat diperingatkan, bahwa jalannya telah tersesat.”

Tetapi Bramanti menggelengkan kepalanya. Dipandanginya ibunya yang sedang menangis. Tampaklah keningnya menjadi tegang. Perlahan-lahan ia berkata, “Paman. Aku tidak akan dapat mempertanggungjawabkannya. Mungkin sehari dua hari kita dapat memberinya peringatan. Tetapi pada hari-hari berikutnya, apabila ia telah jemu dengan pekerjaan yang didapatnya di Kademangan ini, dan apalagi apabila satu dua orang kawan-kawannya mencarinya, maka Kademangan inilah yang akan menjadi korban,” Bramanti berhenti sejenak, lalu, “Akhir-akhir ini dengan susah payah kita telah berusaha melawan Panembahan Sekar Jagat. Apakah kita akan mengundang lawan di dalam selimut sendiri?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Orang tua itu menjadi kehilangan harapan untuk dapat membujuk Bramanti. Karena itu, maka ia pun tidak mendesaknya lagi.

Sementara itu ibu Bramanti masih juga terisak. Hatinya serasa menjadi terluka.

“Ibu,” berkata Bramanti, “Aku sama sekali tidak ingin melukai hati ibu. Namun sebaiknya ibu tidak sekedar berbicara dengan perasaan seorang ibu, tetapi aku berharap ibu memandang ke dalam lingkungan yang lebih luas. Lingkungan keluarga kita yang kecil dan keluarga seluruh Kademangan Candisari.”

Ibunya sama sekali tidak menjawab.

“Aku minta maaf ibu, bahwa kali ini aku terpaksa menyulitkan perasaan ibu. Tetapi aku harap ibu pun dapat mengerti.”

Ibunya masih tetap berdiam diri.

Bramanti pun kemudian terdiam untuk sejenak. Betapa berat perasaannya menghadapi persoalan yang ternyata datang terlampau cepat untuk dipecahkannya.
Di kepalanya seakan-akan berputar bayang-bayang kakaknya Panggiring, ibunya, Ki Tambi, dan bahkan ayahnya yang sudah tidak ada lagi. Meskipun sudah terlampau lama peristiwa itu terjadi, namun seakan-akan tergambar jelas betapa buruknya hubungan antara kakaknya Panggiring dengan ayahnya itu.

Dan yang semakin jelas pula, mengatasi semuanya adalah bayangan Ratri yang selalu bertanya kepadanya, “Kapan Panggiring kembali?”

“Tidak,” ia menggeram di dalam hatinya, “Panggiring tidak akan kembali.”

Bramanti mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara ibunya di antara isak tangisnya, “Jadi kau sudah mengambil keputusan, Bramanti?”

“Terpaksa ibu. Aku tidak bersikap lain.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Apaboleh buat. Kalau ia memaksa Bramanti untuk menerima Panggiring, maka akibatnya akan semakin parah. Seandainya keduanya berkeras hati, maka akan mungkin sekali terjadi benturan di antara mereka. Siapa yang menang dan siapa yang kalah, baginya akan sama saja akibatnya. Keduanya adalah anak-anaknya. Karena itu, biarlah ia mengorbankan dirinya. Ia sendiri yang akan menolak kedatangan Panggiring. Biarlah ia memikul akibat dari penolakan itu. Biarlah Panggiring marah kepadanya. Dengan demikian ia akan dapat menghindarkan pertengkaran antara kedua anaknya.

Karena itu, ketika ia sudah tidak dapat mengharap untuk membuka hati Bramanti, perempuan tua itu pun berkata kepada Ki Tambi, “Ki Tambi, aku sudah berusaha untuk meyakinkan Bramanti, bahwa sebaiknya Panggiring dapat diterima. Tetapi ia mempunyai alasan-alasan untuk menolaknya. Karena itu, maka sebaiknya Ki Tambi mengatakan kepadanya, bahwa sebaiknya ia mencari tempat yang lain. Katakan kepadanya bahwa aku, ibunya, bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia telah meninggalkan dunianya yang kelam itu. Namun sayang, bahwa rumah ini tidak dapat menampungnya lagi.”

Ki Tambi menundukkan kepalanya. Alangkah beratnya untuk mengatakan hal itu kepada Panggiring. Ia adalah orang yang menyebut dengan penuh pengharapan, agar Panggiring dapat mengisi Kademangannya yang sedang selalu diganggu oleh Panembahan Sekar Jagat. Tetapi ia gagal.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: