Tanah Warisan | Jilid 8

Lanjutan dari jilid 7

Di sepanjang jalan, Temunggul masih saja bergulat di dalam angan-angan. Tanpa disadarinya ia telah berdiri di pinggir desa. Namun ia tidak tahu, kemana ia akan pergi.
Sejenak, Temunggul berdiri saja termenung memandangi dedaunan yang hijau

terhampar dihadapannya. Cahaya yang segar, bekejar-kejaran sambil berloncatan dengan riangnya.

Temunggul menarik nafas. Serasa segarnya udara pagi akan dihirupnya sepuas-puasnya.

Temunggul terkejut ketika ia mendengar sapa seorang gadis. Ketika ia berpaling, dilihatnya gadis yang menyapanya itu menjinjing sebuah bakul penuh dengan cucian yang akan dibawanya ke bendungan.

“Sepagi ini kau sudah berada disini Temunggul?”

“Ya, ya,” Temunggul tergagap.

“Apakah kau akan pergi ke bendungan?”

Temunggul ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak. Aku tidak bermaksud ke bendungan.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu telah membingungkan Temunggul. Namun kemudian ia menjawab, “Aku baru saja pulang dari Kademangan. Semalam aku berada disana. Aku ingin pulang dan beristirahat.”

Gadis itu mengerutkan keningnya. “Dimana rumahmu sekarang?”

Temunggul menjadi semakin bingung. Ia tahu gadis itu telah menyindirnya, karena jalan simpang yang menuju ke rumahnya telah lewat.

“Aku tahu,” sambung gadis itu. “Kau menunggu seseorang.”

Temunggul menggeleng, “Aku tidak menunggu siapapun.”

“Jalan ini adalah jalan ke rumahku. Di sebelah rumahku ada rumah yang paling kau kenal.”

“Ah,” segores sentuhan telah membekas dihatinya. Ia tahu bahwa rumah yang dimaksud adalah rumah Ratri. Gadis ini adalah gadis yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Ratri. Gadis yang pernah di antarnya bersama Ratri dimalam hari, setelah pertunjukan di Kademangan selesai. Ketika kedua gadis ini bersama Ratri, hampir saja diterkam oleh kebuasan orang-orang Panembahan Sekar Jagat.

“Bukan begitu?” bertanya gadis itu sambil tersenyum.

“Tidak. Aku tidak menunggunya.”

Gadis itu tertawa. Dan dengan manjanya ia berkata. “Tetapi tanpa Ratri kau pasti akan mau mengantarkan aku.”

“Ah.”

“Aku berani bertaruh hitam kukuku.”

“Jangan mengganggu. Kalau kau memerlukan kawan, marilah aku kawani kau ke bendungan.”

“Tidak mau. Kecuali bersama Ratri.”

“Tidak ada bedanya bagiku, siapapun orang itu. Ratri, atau Sumi, atau Sari atau kau.”

Gadis itu memandang Temunggul dengan sorot matanya yang cerah. Namun ketika tatapan mata mereka bertemu, gadis itu memalingkan wajahnya.

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah merasa tertarik oleh seorang gadis selain Ratri. Gadis ini pun tidak, meskipun ia telah lama mengenalnya, sepanjang perkenalannya dengan Ratri. Bahkan sejak mereka masih berlari-larian dengan telanjang di pematang sawah.

Tetapi tiba-tiba Temunggul menangkap sorot mata yang cerah itu dengan hati yang berdebar-debar.

Temunggul berpaling ketika ia mendengar gadis itu berkata, “Jalan inilah yang akan dilewatinya. Tunggulah disini.”

“Ah,” sekali lagi berdesah. “Aku tidak menunggunya.”

Gadis itu mencibirkan bibirnya sambil mengerling. Tiba-tiba ia melangkah sambil berkata, “Selamat pagi Temunggul.”

Temunggul memandangnya dengan tajam. Namun kemudian ia pun tersenyum. “Marilah, aku bawakan bakulmu.”

“Jangan.”

Tetapi gadis itu tidak mempertahankannya ketika Temunggul meraih bakul cuciannya.
Keduanya kemudian berjalan di sepanjang pematang menuju ke bendungan.

Hari pun ternyata memang masih terlampau pagi, sehingga belum ada seorang pun yang mendahului keduanya. Meskipun demikian keduanya hampir tidak berbicara apapun. Gadis itu langsung mencelupkan pakaian-pakaian kotor yang dibawanya ke dalam air. Terasa tubuhnya menggeramang karena air yang masih terlampau dingin.

“Kau tidak mandi?” bertanya gadis itu.

Temunggul menggeleng, “Tidak. Aku tidak membawa ganti pakaian.”

Gadis itu tersenyum. Wajahnya menjadi semburat merah.

“Aku akan menunggu Bramanti di sini,” tiba-tiba Temunggul berkata.

“He? Kenapa?” tiba-tiba gadis itu menjadi cemas. Ia pernah mendengar kabar bahwa keduanya pernah bertengkar, meskipun akhirnya mereka menjadi baik kembali.

“Tidak apa-apa. Aku mengharap ia tidak terlampau cepat datang, sebelum kau habis mandi.”

Sekali lagi wajah gadis itu menjadi semburat merah dan tertunduk dalam-dalam. Meskipun demikia ia masih sempat menyahut, “Temunggul. Ratri juga akan mandi nanti.”

Temunggul tidak menjawab. Tetapi ia melangkah ke atas pasir tepian menjauh. Sekilas terngiang kata-kata Ki Demang kepadanya. Tentang Bramanti, Panembahan Sekar Jagat dan tentang Ratri.

“Ratri berhak menentukan sikapnya,” katanya, “Agaknya ia tidak menanggapi perasaanku. Buat apa aku menjadi gila karenanya.”

Tetapi tiba-tiba teringat otaknya, bahaya yang mengancam Kademangannya seperti yang dikatakan oleh Ki Demang. Sehingga ia berdesis di dalam hatinya, “Aku harus segera bertemu dengan Bramanti.” Tetapi ketika terpandang olehnya gadis yang sedang mencuci sambil membenamkan dirinya di dalam air yang jernih itu, ia mengurungkan niatnya, “Biarlah aku menunggu Bramanti di sini. Hari masih cukup panjang.”

Dan Temunggul itu pun kemudian duduk berjuntai di atas sebuah batu sebesar kerbau.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, dan kawan-kawan gadis yang sedang mencuci itu berdatangan, Temunggul memutar dirinya, membelakangi bendungan. Dan bendungan itu kemudian sama sekali sudah tidak menarik lagi baginya.

Karena itu, tanpa memberitahukan kepada siapapun juga, Temunggul melangkah naik ke atas tebing yang landai, kemudian berjalan menyusur tanggul. Kepalanya sekali-kali tertunduk dan sekali-kali menengadah, oleh kepepatan isi dadanya.

Temunggul tertegun ketika ia melihat Suwela sedang sibuk memperbaiki pematang sawahnya. Perlahan-lahan ia mendekatinya sambil berkata, “Kenapa pematangmu?”

“Anak-anak nakal,” jawabnya, “Mereka mencuri belut disini, sehingga pematangku hampir putus.”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Suwela adalah orang yang pertama-tama ditemuinya, kecuali gadis-gadis dan orang-orang yang tidak begitu dekat. Sedang Suwela adalah salah seorang dari para pengawal yang dipimpinnya.

Tiba-tiba saja Temunggul yang merasa dadanya terlampau pepat itu pun ingin mengurangi beban yang serasa memberatinya. Maka katanya berbisik, “He, aku mendengar sebuah berita yang menarik. Apakah kau mau mendengar?”

Suwela meletakkan cangkulnya. “Tentang?”

Temunggul menjadi agak bingung. Yang manakah yang akan dikatakan kepada Suwela untuk mengurangi beban perasaannya. Tentang hubungan Ki Demang dengan Panembahan Sekar Jagat? Tentang Bramanti dan Panggiring atau tentang gadis yang sudah lama dikenalnya, tetapi baru pagi ini ia melihat matanya yang lincah dan cerah.

“Tentang apa?”

Temunggul menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyimpan semuanya di dalam hati tanpa menumpahkannya kau harus berjanji bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Suwela berpikir sejenak, kemudian, “Baiklah, aku berjanji.”
“Panggiring ada disini sekarang.”

“He? Panggiring kakak seibu Bramanti?”

“Ya. Dan Bramanti menjadi gelisah. Ia berusaha menolak kedatangan perampok yang ganas itu.”

“Tentu. Tentu Bramanti menolaknya.”

Sejenak mereka masih berbicara. Kening mereka berkerut merut. Dan pembicaraan mereka tampaknya menjadi bersunguh-sungguh.

“Tetapi ingat, jangan kau katakan kepada siapapun juga.”

Suwela menganggukkan kepalanya, “Tentu. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Temunggul pun kemudian meninggalkan Suwela yang melanjutkan kerjanya, memperbaiki pematang sawahnya. Namun Suwela itu pun terhenti pula ketika ia melihat kawannya, seorang pengawal yang lain lewat di atas pematang yang sedang diperbaiki.

“Hus, seharusnya kau mencari jalan lain.”

“Kenapa?”

“Bukankah kau lihat bahwa pematangku sedang aku perbaiki? Kalau kau injak juga, maka bagian yang baru saja aku tambal itu akan longsor.”

“Dukung aku, supaya pematangmu tidak rusak.”

“Aku memang ingin melemparkan kau ke dalam parit itu.”

Kawan Suwela itu tersenyum. Tetapi ia berjalan turun. Ketika ia sampai ke bagian yang baru diperbaiki, ia pun turun ke dalam parit sambil bergumam, “Aku masih menaruh belas kasihan kepadamu. Biar lah kakiku menjadi agak kotor dan dingin.”

“Kalau kau tidak mau turun, aku seret kau.”

Kawannya tertawa. Tetapi tiba-tiba Suwela berbisik, “He berhentilah sebentar.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dan Suwela mendekatinya, “Kau mau mendengar? Tetapi janji, bahwa kau tidak akan mengatakannya kepada orang lain.”

“Apa?”

“Bramanti telah siap melawan Panggiring.”

“He,” pengawal itu pun terkejut.

“Ya. Mereka memang sudah saling mendendam. Dan agaknya mereka akan bertempur.”

“Darimana kau dengar?”

“Temunggul. Tetapi ingat jangan kau katakan kepada orang lain lagi. Nanti aku dicekiknya.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih bertanya beberapa hal. Dan Suwelapun telah mengarang sebuah ceritera yang paling menyeramkan tentang Panggiring dan Bramanti.

“Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Sepeninggalan kawannya, Suwela pun telah tenggelam lagi di dalam kerjanya. Namun sementara itu berita tentang Panggiring telah merambat ke setiap telinga. Setiap kata mereka berpesan, “Ingat, jangan kau katakan kepada orang lain,” Namun belum tengah hari hampir seisi Kademangan telah mendengar bahwa Panggiring telah berada di sekitar Kademangan itu.

Dalam pada itu Ki Tambi telah memerlukan datang ke rumah Nyai Pruwita untuk menyampaikan permintaan Panggiring yang terakhir. Bagaimanapun juga, ia masih ingin bertemu dengan ibu dan adiknya. Sebentar saja, untuk melepaskan kerinduan dari anak yang selama ini terasing untuk menyampaikan bakti dan salam kepada keluarganya yang lebih dari dua orang itu saja.

Tetapi sekali lagi Ki Tambi menjadi kecewa. Sekali lagi Nyai Pruwita harus menitikkan air mata.

Dengan bersungguh-sungguh Bramanti berkata, “Aku tidak cepat mempercayainya paman,” Bahkan kemudian terngiang kembali ditelinganya kecurigaan Panjang. “Apakah tidak mungkin bahwa Panggiring itu juga menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?” Dan kata-kata itupun diulangnya dihadapan Ki Tambi dan ibunya.

“Tidak. Tidak mungkin,” bantah Ki Tambi dengan serta merta, “Aku bertemu dengan Panggiring di pesisir Utara, sedang Panembahan Sekar Jagat berada di daerah ini. “Panggiring bukan seorang anak yang dungu paman. Ia dapat berbuat lebih daripada itu. Ia dapat berada disepuluh tempat sekaligus meskipun hanya nama-namanya yang mungkin berbeda-beda.”

“Tidak. Aku yakin tidak. Ia tidak selicik itu. Meskipun ia seorang penjahat, tetapi ia adalah seorang lelaki jantan. Ia jantan sebagai seorang penjahat yang besar.”

Bramanti menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ada seorang penjahat yang dapat berlaku jujur. Ia mesti seorang yang tidak lagi dibatasi oleh adab yang manapun juga.”

“Sudahlah,” potong Nyai Pruwita di sela-sela tangisnya, “Jangan saling memaki. Biarlah anak-anakku masing-masing berada ditempatnya,” suara perempuan itu tenggelam di dalam isaknya yang mengeras, namun kemudian, “Ki Tambi sampaikan kepada Panggiring, bahwa kali ini aku jugalah yang menolak kehadirannya. Aku tidak dapat menerimanya.”

Ki Tambi menundukkan kepalanya. Tangis perempuan itu semakin mengeras, sehingga amben tempat duduknya itu pun terguncang-guncang. Sebelah tangannya memegangi dadanya, dan sebelah tangannya yang lain berpegangan pada bingkai amben bambunya, seakan-akan ia sedang mencari kekuatan untuk menahan kepahitan perasaannya.

Ki Tambi menarik nafas melihat perempuan itu menangis sampai terbungkuk-bungkuk ditempat duduknya.

Bramanti pun menjadi iba melihat ibunya menangis. Bahkan matanya pun menjadi basah, dan tenggorokannya serasa tersumbat.

Namun ia tidak dapat membiarkan Panggiring memasuki halaman rumahnya, bahkan memasuki Kademangan ini. Penjahat yang mengerikan itu dapat berbuat apa saja tanpa diduga-duga. Apabila tiba-tiba saja Ratri mengetahui kedatangannya dan menyongsongnya dalam kerinduan.

“Gila,” tiba-tiba Bramanti menggeram di dalam hatinya. “Ia harus segera pergi. Kalau perlu dengan kekerasan. Ia telah meninggalkan ibu dan ayah ada waktu itu. Bramanti mengerutkan keningnya, “Selama ini, selama ibu dalam kesulitan, ia tidak pernah memperhatikannya. Kini setelah semuanya menjadi baik, tiba-tiba saja ia datang dengan tuntutan-tuntutannya yang gila itu.”

“Aku tidak menyangka,” desis Ki Tambi perlahan hampir kepada dirinya sendiri.

Bramanti berpaling. Dipandanginya wajah orang tua yang suram itu. Namun wajah itu tiba-tiba menjadi merah seakan-akan membara. Dengan nada yang berat Ki Tambi berkata, “Bramanti, sayang. Selama ini aku telah mengagumimu. Kau aku anggap sebagai manusia yang terbaik didunia. Karena telah berhasil melepaskan dendam atas kematian ayahmu. Tetapi ternyata semua itu berhasil kau lakukan atas dasar nalar. Tetapi tidak dasar perasaanmu yang paling halus. Ternyata kau juga seorang pendendam, justru terhadap saudaramu sendiri. Sampai permintaannya yang begitu lembut dari dasar hati manusianya, sebagai seorang anak yang merasa berdosa itu pun kau tolak. Aku kecewa Bramanti. Kecewa sekali. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kau berhati batu.”

Dada Bramanti berdesir mendengar tuduhan itu. Secercah warna merahpun membayang pulang di wajahnya. Bagaimana pun juga terasa kata-kata Ki Tambi itu menyengat telinganya, dan membekas dijantungnya.

Meskipun ia masih berusaha menahan hati, namun terloncat pula jawabannya, “Paman tergesa-gesa melontarkan kata-kata itu. Apakah paman yakin bahwa kakang Panggiring berkata sebenarnya? Apakah paman percaya sepenuhnya bahwa kakang Panggiring mengatakan penyesalannya itu dari lubuk hatinya, dari dasar hati manusianya? Bagaimanakah jadinya apabila pada suatu ketika kakang Panggiring itu sendiri telah menelan paman dan seluruh Kademangan ini? Aku tidak percaya. Kalau dengan demikian paman menuduh aku tidak berperikemanusiaan, terserahlah. Tetapi aku ingin berhati-hati.”

Ki Tambi mengatubkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia pun segan bertengkar dengan Bramanti yang selama ini dikaguminya.

“Tidak ada gunanya kalian berbantah,” terdengar suara Nyai Pruwita yang tersendat-sendat. “Aku memang sudah mengambil keputusan, bahwa seandainya Panggiring meninggalkan Kademangan ini. Seandainya ia memaksa dan berkeras hati, akibatnya sama sekali tidak akan aku inginkan.”

Ki Tambi menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik Nyai. Aku akan mengatakannya. Aku bukan sanak dan bukan kadangnya. Apapun yang akan terjadi atas anak itu sama sekali bukan tanggung jawabku. Aku sudah menyampaikan pesan yang seharusnya aku sampaikan, dan aku sudah mendengar jawabannya.”

“Ki Tambi,” potong perempuan tua itu.

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan lesu ia berdiri dan berkata hambar, “Aku minta diri. Nanti malam aku akan menyampaikan jawaban ini kepadanya.”

Ki Tambi tidak menunggu jawaban siapapun. Segera ia melangkah meninggalkan ruangan itu.

Sejenak ruangan yang ditinggalkan oleh Ki Tambi itu serasa membeku. Nyai Pruwita masih tetap ditempatnya dan Bramanti pun belum beranjak pula.

Dan tiba-tiba saja kebekuan itu telah dipecahkan oleh tangis Nyai Pruwita yang tidak dapat ditahankannya pula. Sekali lagi ia menangis sejadi-jadinya, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati ibunya dan kemudian berjongkok di hadapannya. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ibu, aku telah menyakiti hati ibu.”

Nyai Pruwita mengangkat wajahnya, tetapi air matanya masih tetap mengalir tanpa tertahankan lagi.

Tiba-tiba diraihnya kepala anaknya sambil berdesis, “Kau tidak bersalah Bramanti. Kau tidak bersalah.”

Bramanti tidak menjawab. Dibiarkannya ibunya memeluk kepalanya dan dibiarkannya rambutnya dibasahi dengan air mata.

Meskipun tidak terucapkan namun perempuan tua itu melanjutkannya di dalam hati. “Akulah yang bersalah di masa muda itu. Akulah yang bersalah, sehingga terentang jurang yang dalam di antara kedua anak-anakku.”

Dan kata-kata itu selalu diulang-ulang. Selalu terucapkan didalam hatinya. Sehingga dengan demikian maka hati itupun terasa menjadi semakin pedih.

Ketika kemudian tangis perempuan itu mereda, dilepaskannya kepala anaknya. Perlahan-lahan perempuan itu berdiri. Alangkah hausnya. Serasa sudah berhari-hari ia tidak menenguk air.

Setelah menengguk air dari dalam kendi yang terletak digeledek kayu, maka perempuan itu pun berkata, “Aku akan menanak nasi, Bramanti.”

Bramanti mengangguk kaku. Jawabnya, “Sebaiknya ibu beristirahat meskipun hanya sejenak, untuk menentramkan perasaan ibu.”

“Aku tidak apa-apa.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dengan lesu ia menyeret kakinya keluar dari rumahnya, melintasi pendapa dan turun ke halaman. Dipandanginya kehijauan dedaunan yang selama ini dipeliharanya baik-baik. Pohon sawo yang sedang berbuah. Beberapa potong bambu anyaman dibawah pohon sawo itu. Kandang yang telah diberinya berdinding. Pagar batu, regol yang telah rapat dan atap rumahnya yang tidak berbahaya lagi. Keseluruhan rumahnya telah menjadi utuh lagi, meskipun belum berisi seperti masa hidup ayahnya.

Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya. Terbayang dikepalanya tangan-tangan yang halus sedang membersihkan regol rumahnya. Tangan Ratri. Tetapi apakah Ratri telah melakukan untuknya? Tidak untuk Panggiring.

Bramanti menggeram di dalam hatinya. “Tidak. Panggiring tidak akan pernah menyentuh halaman, regol dan apalagi rumah ini. Aku tidak akan memberikannya walaupun secuil tanah disudut yang paling jauh.”

Bramanti terperanjat ketika ia mendengar pintu regol itu bergerit. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok tubuh menyelinap masuk. Temunggul.

“O, kau,” sapa Bramanti.

Temunggul menganggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia melangkah masuk, “Tidak ada seorang pun yang datang kemari?” bertanya Temunggul.

“Baru saja paman Tambi datang kemari.”

“O,” Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang penting?”

Bramanti menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak ada sesuatu apapun. Paman Tambi hanya singgah sebentar.”

Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas terngiang pesan Ki Demang untuk membunuh anak muda itu. Dimana saja ada kesempatan. Di rumah, di sawah atau di manapun. Dengan demikian ia akan memiliki Ratri dan kesempatan yang baik.

“Tetapi Ratri acuh tak acuh kepadaku. Buat apa aku melakukan kegilaan itu apabila kelak justru Ratri akan mengutukku?”

“Marilah,” ajak Bramanti. Dan Temunggul yang bimbang itu tergagap.

Bramanti kemudian mengajak Temunggul duduk di bawah pohon sawo yang sedang berbuah, seperti kebiasaan mereka, apabila mereka tidak duduk di dalam kandang.

“Darimana kau Temunggul?” bertanya Bramanti.

Temunggul mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Itu tidak penting, Bramanti.”

“Apakah kau membawa berita atau pesan atau ada yang lebih penting?”

Temunggul masih saja dicekam oleh keragu-raguan.

Apakah bijaksana untuk mengatakan keseluruhannya dibumbui oleh prasangka yang belum dapat dibuktikannya atas Ki Demang.

“Kau tampak ragu-ragu,” tebak Bramanti.

“Ya, aku ragu-ragu,” jawab Temunggul. Namun kemudian ia mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari apa yang menggelepar di dalam dadanya. Kalau ia mengatakan seluruhnya tentang Ki Demang ia khawatir apabila Bramanti segera bertindak. Dengan demikian maka ia tidak akan dapat melihat peran apakah yang sebenarnya dilakukan oleh Ki Demang.

Karena itu, maka Temunggul pun kemudian berkata, “Bramanti, aku mendengar keterangan, bahwa Panembahan Sekar Jagat sudah merasa perlu untuk bertindak.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Dengan bersungguh-sungguh ia bertanya, “Dari siapa kau tahu?”

“Seseorang telah mengatakan kepadaku bahwa sehari dua hari ini, mereka akan datang. Terutama mereka ingin melepaskan sakit hati atas kekalahan Sapu Angin dan bahkan orang itu telah terbunuh pula.”

“Apakah kabar itu dapat dipercaya?”

“Aku menganggap bahwa kita harus meningkatkan kewaspadaan.”

“Ya, tetapi dari siapa kau mendengar?”

“Dari Ki Demang?.”

“Darimana ia tahu.”

Itulah yang ingin aku ketahui. Tetapi biarlah kita tidak menghiraukannya. Mungkin yang dikatakan itu mengandung kebenaran, meskipun maksudnya bukan suatu pemberitahuan untuk bersiap menyambut kedatangan mereka.”

Bramanti semakin tidak mengerti. Karena itu ia bertanya pula, “Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh Ki Demang?”

“Aku memang sedang mencari. Tetapi tentang Panembahan Sekar Jagat itu agaknya dapat kita percaya. Selebihnya aku belum dapat mengatakan sekarang. Meskipun aku sedang menduga bahwa perbuatan Ki Demang kurang menguntungkan. Mungkin ia dicengkam oleh ketakutan bahwa Kademangan ini benar-benar akan hancur atau kecemasan yang lain, sesuai dengan kepentingan pribadinya.”

“Supaya ia tetap menjadi seorang Demang, maksudmu?”

“Ya.”

“Bukankah tidak ada orang lain yang membayangkan jabatan itu sekarang?”

Temunggul menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Meskipun demikian, ia harus berhati-hati.”

Bramanti mengangguk pula. “Tetapi apakah sebenarnya maksudnya dengan keterangannya itu?”

Temunggul menarik nafas. Ia harus menahan dulu untuk menyimpan sebagian dari persoalan yang masih akan dibuktikannya itu. Maka jawabnya, “Akumasih kabur menangkap sikap Ki Demang, Bramanti. Tetapi yang penting bagi kita, Panembahan Sekar Jagat dapat datang setiap saat.”

“Sudah tentu kita harus semakin berhati-hati.”

Dan tiba-tiba saja Temunggul berkata, “Dan justru pada saat Panggiring ada di Kademangan ini.”

“He,” Bramanti terkejut, “Darimana kau tahu?”

Temunggul pun terkejut pula. Tanpa disengaja kata-kata itu terloncat dari mulutnya, sehingga karena itu, sejenak ia terdiam. Namun dadanya telah berdebaran. Terngiang pesan Panjang kepadanya, “Jangan kau katakan kepada orang lain. Kau janji?” Dan ia sudah berjanji.

“Darimana kau dengar bahwa kakang Panggiring telah berada disini?”

Temunggul tidak dapat ingkar lagi. Jawabnya, “Tetapi bukan salah Panjang, Bramanti. Aku memang melihat kegelisahan padamu dalam saat-saat terakhir ini. Aku sudah mencoba bertanya kepada Ki Tambi, tetapi ia tidak dapat memberikan jawaban. Bahkan Ki Tambi sendiripun tampaknya seperti orang bingung,” Temunggul berhenti sejenak lalu, “Kemudian aku berusaha mendesak Panjang untuk bertanya kepadamu tentang hal itu. Mula-mula ia berkeberatan, tetapi karena aku selalu mendesaknya akhirnya ia mengatakannya. Agaknya kau digelisahkan oleh kehadiran Panggiring di Kademangan ini.”

Bramanti mendengar keterangan itu dengan hati berdebar-debar. Kepalanya tertunduk, namun nafasnya serasa menjadi semakin cepat mengalir.

“Ya,” desisnya kemudian. “Kakang Panggiring memang telah berada di Kademangan ini.”

“Nah, apakah kau tidak mencoba menghubungkan kehadirannya dengan keterangan tentang Panembahan Sekar Jagat itu?”

Bramanti tidak segera menjawab. Tetapi kegelisahan padanya serasa menjadi semakin memuncak. Dicobanya untuk menarik kesimpulan seperti yang dilakukan oleh Temunggul. Tetapi untuk mengurangi getar di dadanya sendiri ia beratnya di dalam hati, “Tidak. Bukan Panggiring.”

Namun ia tidak dapat ingkar. Kecemasan di dalam dadanya serasa menggelepar semakin tajam.
“Tetapi apabila demikian,” katanya di dalam hati. “Langkah pahitnya. Apakah aku benar-benar harus bertempur melawan kakang Panggiring? Seandainya aku tidak menaruh keberatan apapun, namun bagaimana dengan ibu? Bagaimana pun juga kakang Panggiring adalah anaknya. Kebinasaannya pasti akan meruntuhkan kepedihan yang tidak ada taranya. Meskipun kakang Panggiring tidak pernah berbakti sebagai seorang anak, namun ibu tidak akan dapat memutuskan ikatan yang ada di antara mereka.”

Dengan demikian maka sejenak kemudian keduanya terdiam. Tetapi tampak guratan-guratan yang dalam di kening mereka. Berbagai gambaran telah membayang di dalam angan-angan.

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesis lambat, “Memang hal itu mungkin terjadi.”

“Ya,” sahut Temunggul, “Kematian Sapu Angin telah menurunkan keberanian Panembahan Sekar Jagat serta anak buah. Kemudian Panggiring mencoba menempuh jalan lain. Sebagai seorang kakak ia akan menyusup di antara kita. Terutama di rumahmu.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Katanya di dalam hati, “Kalau ia sampai hati berbuat demikian, apakah salahnya kalau aku tidak selalu dibayangi oleh keragu-raguan tentang dia.”

“Sudahlah Bramanti,” berkata Temunggul kemudian, “Aku hanya ingin memperingatkan kau supaya kau semakin hati-hati. Agaknya kaulah sasaran utama bagi Panembahan Sekar Jagat, karena kau telah membunuh Sapu Angin. Kemudian orang kedua adalah Ki Tambi yang telah membakar hati anak-anak muda Kademangan ini untuk melawan Panembahan Sekar Jagat.”

“Terima kasih Temunggul,” berkata Bramanti kemudian, “Aku akan sangat memperhatikan peringatanmu.”

“Mudah-mudahan kita dapat mengatasi setiap kesulitan. Panjagaan atas segala sudut Kademangan akan aku perkuat. Aku akan menganjurkan agar anak-anak muda yang meskipun tidak sedang bertugas dan tidak mempunyai keperluan lain, selalu berada di tempat-tempat yang dapat dihubungi. Di halaman Kademangan atau di gardu-gardu perondan. Mereka dapat tidur disana. Tetapi apabila sesuatu terjadi, tidak terlalu lama untuk mengumpulkan mereka.”

“Rencana yang bagus Temunggul. Kalau gardu-gardu tidak menampung, mereka dapat memilih rumah-rumah yang memungkinkan.”

“Ya. Aku masih mempunyai waktu setengah hari.”

“Lakukanlah.”

Temunggul pun kemudian minta diri. Setiap kali ia bertemu dengan anak-anak muda, apalagi para pengawal maka dianjurkannya anak-anak muda itu berkumpul dimanapun dimalam hari apabila mereka tidak sedang mempunyai keperluan pribadi yang mendesak.

“Untuk keselamatan kalian masing-masing dan untuk keselamatan Kademangan ini,” berkata Temunggul.

“Apakah keadaan menjadi semakin gawat?” bertanya seorang anak muda.

“Ya,” jawab Temunggul.

“Yang manakah yang menyebabkannya? Panembahan Sekar Jagat atau kehadiran Panggiring?”

“He,” Temunggul mengerutkan keningnya, “Apakah kau telah mendengar bahwa Panggiring ada di Kademangan ini?”

“Ya. Aku mendengar. Apakah kau belum? Tetapi ingat, jangan mengatakan kepada siapapun.”

Temunggul tertawa kecil sambil mengumpat-umpat di dalam hati. Pesan itu ternyata sama sekali tidak ada artinya, “Jangan mengatakannya kepada orang lain. Janji.”

Karena Temunggul tidak segera menjawab, maka orang itu pun mendesaknya, “Janji yang mana?”

“Kedua-duanya,” jawab Temunggul, “Kedua-duanya harus mendapat perhatian.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana kalau keduanya berbareng menyerang Kademangan ini?”

Temunggul mengerutkan keningnya. Ia melihat kecemasan membayang di wajah anak muda itu. Agaknya kecemasan itu adalah kecemasan yang memang sedang menghinggapi Kademangan ini.

“Jangan takut,” jawab Temunggul. “Keduanya tidak sepaham karena keduanya agaknya sedang bersaing. Kau bahkan tidak ada dua. Keduanya adalah satu.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung. Namun sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, katakan kepada kawan-kawanmu. Nanti malam sebaiknya kalian berkumpul. Kalau terjadi sesuatu, kalian tidak berdiri sendiri. Betapapun lemahnya seseorang, tetapi bersama-sama dengan beberapa orang kawan akan menjadi jauh lebih baik daripada seorang diri. Dan dalam keadaan tergesa-gesa, kalian akan segera dapat menempatkan diri kawan di dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik. Baik.”

Dan seperti menjalarnya ceritera tentang kedatangan Panggiring, maka pesan Temunggul itu pun segera memenuhi Kademangan. Hampir setiap anak muda mendengarnya. Dan hampir setiap anak muda membenarkannya. Namun bersama dengan merayapnya pesan itu ke seluruh telinga, maka merayap pulalah perasaan cemas ke setiap dada anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua, laki-laki dan perempuan.

Namun berita itu telah menyentuh hati seorang gadis yang memang sudah lama menunggu berita itu. Ratri.

Dengan dada yang berdebar-debar, ia mendengar kawannya bertanya kepadanya, “Kau dengar bahwa Panggiring telah datang?”

“He, Panggiring telah datang?”

“Ya.”

“O, begitu cepatnya.”

“Apa yang cepat?”

Ratri tergagap. Tetapi kemudian ia menjawab, “Berita itu. Tetapi dari siapa kau mendengar?”

‘’Setiap mulut sudah mempercakapkannya’’.

“Apakah sudah ada yang melihatnya?”

“Ia datang seperti hantu. Tetapi Bramanti tidak takut.”

“Kenapa takut? Bukankah mereka kakak beradik.”

“Tetapi Bramanti tidak senang menerima kedatangan seorang perampok yang ganas dirumahnya. Itu akan sangat berbahaya bagi dirinya dan bagi Kademangan ini. Mungkin Panggiring ingin merampok setiap rumah seperti yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat.”

Sepercik kekecewaan membayang di wajah Ratri. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Jadi bagaimana dengan Panggiring sekarang?”

“Ia harus pergi. Bramanti dan seluruh Kademangan ini tidak akan menerimanya.”

“Mustahil,” sahut Ratri, “Meskipun barangkali setiap orang Kademangan ini membencinya, tetapi Bramanti pasti akan menerimanya. Bukankah Panggiring itu kakaknya.

“Kakak seibu, tetapi tidak seayah.”

“Apakah salahnya? Mereka dilahirkan oleh seorang perempuan yang sama.”

Kawannya menjadi heran, “Kenapa kau begitu menaruh perhatian kepadanya?”

“O,” Ratri tergagap pula, “Tidak. Aku sama sekali tidak menaruh perhatian apapun.”

Namun ketika kawannya itu pergi meninggalkannya, maka mulailah Ratri tenggelam di dalam angan-angannya. Serasa masih baru kemarin saja terjadi.

Ratri menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali masa kanak-kanaknya yang manis. Terbayang di dalam ingatannya, seorang anak muda yang masih sangat remaja, yang sering dijumpainya duduk seorang diri dibawah bendungan. Wajahnya kelihatan pucat, tetapi ia sangat baik dan ramah.

“Kenapa kau selalu menyendiri?” bertanya Ratri.

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Dipaksanya bibirnya tersenyum sambil menjawab, “Tidak apa-apa,” lalu, “Hei kenapa kau kemari seorang diri? Tebing itu licin. Kau dapat tergelincir.”

“Ibu dan ayah berada di sawah, disebelah tanggul itu.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi jangan disini seorang diri. Mari, aku antar kau naik.”

Panggiring kemudian menggandengnya dan membawanya naik. Kemudian kembali Panggiring turun dan duduk seorang diri di atas sebuah batu.

Ratri menarik nafas dalam-dalam. Saat itu ia masih seorang kanak-kanak. Tetapi ia sangat tertarik kepada seorang yang bernama Panggiring. Meskipun ia seorang pendiam, tetapi terasa hatinya yang halus dan lembut.

“Panggiring bersikap manis pula terhadap Bramanti sejak kanak-kanak,” katanya di dalam hati. Sekilas terbayang anak itu mendukung adiknya berjalan di pematang. Mencarikan permainan apa saja yang diinginkannya.

“O,” desisnya. “Bramanti harus ingat hal itu. Kenapa ia menolaknya? Panggiring menangis kalau adiknya menangis, dan Panggiring tertawa kalau Bramanti tertawa.”

Ratri mengerutkan keningnya. Ia masih ingat jelas bagaimana Panggiring berkelahi dengan anak yang lebih besar daripadanya, karena anak itu telah memukul Bramanti.

“Luar biasa,” desis Ratri. Tiba-tiba ia tersenyum. Meskipun Panggiring lebih kecil dari lawannya, dan meskipun Panggiring kemudian berlumuran darah yang keluar dari mulutnya, namun ia berhasil mengusir anak itu.

Ratri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia mengeluh, “Memang sayang, Panggiring tidak sepantasnya menjadi seorang penjahat. Ia sama sekali tidak jahat.”

Tetapi Ratri tidak dapat melupakan kenangan dimasa kanak-kanaknya, meskipun hal itu sudah lama sekali lampau.

Sementara itu, anak-anak muda Kademangan Candi Sari menjadi sibuk, berkeliaran kian kemari. Mereka saling memberitahukan pesan Temunggul, agar mereka menjadi semakin berhati-hati. Keadaan serasa menjadi semakin panas. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka harapkan akan dapat terjadi setiap saat.

Tidak saja anak-anak muda, tetapi hampir semua laki-laki telah menjadi siaga. Mereka meletakkan senjata-senjata mereka dekat dengan pembaringan. Setiap saat mereka akan dapat meraih dan segera mempergunakan senjata-senjata itu.

Yang dibakar oleh kegelisahan yang hampir tidak tertahankan adalah Ki Demang. Matahari sudah menjadi semakin jauh ke Barat, namun Temunggul masih belum menemuinya dan mengatakan bahwa Bramanti telah dibunuhnya.

“Apakah anak itu tidak berhasil?” desisnya, “Jika demikian maka Panembahan Sekar Jagat akan mengambil cara yang disukainya. Menghancurkan Kademangan ini apabila Bramanti masih tetap melawan dan apalagi apabila di dalam pertempuran itu jatuh korban. Kematian Sapu Angin telah merupakan perlawanan yang tidak dapat dimaafkannya lagi.”

“Apa boleh buat,” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi dengan demikian pekerjaanku menjadi semakin berat. Aku harus membangun kembali Kademangan ini.”

Dalam kegelisahan setiap kali Ki Demang selalu menjenguk langit yang semakin suram. Warna merahpun kemudian membayang di ujung pepohonan. Satu-satu burung blekok beterbangan kembali kesarangnya.

“Gila,” desis Ki Demang itu, “Temunggul tidak mampu melakukan pekerjaannya, atau….” Ki Demang berhenti sejenak. “Atau anak itu akan berkhianat?”

Ki Demang menjadi semakin gelisah karenanya. Semakin rendah matahari yang menggantung di udara, semakin suram cahaya langit, maka hati Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar.

Setiap kali ia mengintip ke halaman, dan setiap kali ia melihat anak-anak muda yang berjalan hilir mudik, hatinya serasa menjadi semakin kecut. Agaknya ia benar-benar telah semakin jauh dari mereka. Ki Demang itu telah menjadi semakin jauh dari lingkungannya.

Dalam kesibukan yang memuncak di Kademangan Candisari, Ki Demang merasa terlampau terasing. Terlampau sendiri. Dan bahkan kesibukan di halaman rumahnya itu serasa telah menyengat-nyengat perasaannya.

“Apakah Temunggul benar-benar berkhianat?” Ki Demang menjadi semakin cemas. Kesiagaan di halaman rumahnya membuatnya seperti berdiri di atas bara. “Mereka akan menangkap aku. Setan, Temunggul benar-benar berkhianat. Ia sama sekali tidak membunuh Bramanti. Tetapi agaknya ia bahkan telah bersepakat dengan Bramanti.”

Ki Demang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, “Mungkin mereka telah bersetuju untuk membagi kepentingan masing-masing. Yang seorang akan menjadi seorang Demang setelah aku mereka singkirkan dan yang seorang akan mendapatkan Ratri. Gila, anak-anak sekarang memang sudah menjadi gila.”

Dan dalam kegelisahannya, Ki Demang pun membenahi pakaiannya. Kemudian menyandang sebilah pedang dilambung dan kerisnya di punggung.

“Aku tidak akan dapat tinggal diam. Ternyata tidak seorang pun lagi yang dapat aku percaya di Kademangan ini. Terpaksa aku mengorbankan segala-galanya.”

Ki Demang pun kemudian menutup semua pintu. Tidak seorang pun lagi yang tinggal di dalam rumah itu. Keluarganya benar-benar telah diungsikannya.

Dan di Kademangan itu sendiri kemudian dengan hati-hati keluar dari pintu belakang. Melintasi kebun dan keluar dari regol butulan yang hampir tidak pernah dibuka.

Dengan tergesa-gesa Ki Demang menyusur jalan padukuhannya yang sudah mulai gelap. Tanpa berpaling ia meninggalkan rumah dan halamannya, bahkan lingkungannya. Namun dengan harapan, bahwa ia akan kembali dan membangun Kademangannya yang sudah tidak menghiraukannya lagi itu menjadi sebuah Kademangan yang baru.

Tidak seorang pun yang mengetahui dan memperhatikan bahwa rumah Ki Demang itu sebenarnya telah kosong sama sekali. Mereka yang ada di halaman masih melihat sinar lampu minyak yang meloncat dari celah-celah genting dan lubang-lubang dinding, sehingga mereka menyangka, bahwa Ki Demang masih berada di dalam rumahnya dan tidak menampakkan dirinya seperti biasanya.

Demikianlah kesibukan di halaman rumah Ki Demang itu menjadi semakin meningkat. Sebentar kemudian ternyata bahwa Temunggul dan Bramanti telah hadir pula di halaman itu. Mereka segera memberikan beberapa petunjuk kepada para pengawal yang sedang bertugas untuk menghubungi gardu-gardu yang tersebar di seluruh Kademangan Candisari. Mereka harus menyiapkan alat-alat yang dapat dipergunakan untuk memberikan tanda-tanda. Kentongan, panah api atau panah sendaren atau apapun yang dapat menyalurkan tanda-tanda dengan cepat. Bahkan Temunggul telah meminjam beberapa ekor kuda yang disediakan ditempat-tempat yang penting.

“Aku selalu merasa cemas,” desis Temunggul. “Seakan-akan sesuatu memang akan terjadi.”

Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Seandainya tidak terjadi sesuatu pun, kita tidak boleh lengah untuk saat-saat mendatang.”

Temunggul menganggukkan kepalanya. Namun ia merasa bangga juga melihat kesiapan anak-anak muda Candisari. Bukan saja para pengawal, tetapi yang belum dapat diterima menjadi pengawal pun telah menunjukkan kesiagaan mereka, berbuat sesuatu untuk Kademangan ini. Bahkan di halaman itu pun terdapat sekelompok orang-orang yang sudah lebih tua, berbicara satu dengan yang lain dalam satu lingkaran bersama Ki Jagabaya.

Bukan saja di halaman Kademangan, tetapi disetiap gardu pun anak-anak muda Candisari telah berkumpul dalam kelompok-kelompok. Bukan saja mereka yang bertugas, tetapi anak-anak muda disekitar gardu itu telah berkumpul memenuhi pesan Temunggul.

“Bagaimana kami akan dapat tidur disini?” bertanya salah seorang dari mereka kepada kawannya.

“Apakah kau sekadar akan pindah tidur saja?”

“Bukankah menurut Temunggul, yang tidak sedang bertugas dapat tidur saja seenaknya? Kedatangan kami semata-mata hanya sekadar untuk mempercepat hubungan apabila terjadi sesuatu. Kalau tidak terjadi sesuatu, kami memang hanya sekadar pindah tidur.”

“Tidurlah di atap atau dimana saja kau suka,” sahut yang lain.

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun ia berkata, “Kami tidak perlu berjejal-jejal berada di dalam gardu. Kami dapat meminjam tempat untuk kepentingan ini,” ia berhenti sebentar, lalu, “He, apakah kita dapat meminjam rumah sebelah.”

“Cobalah.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian, “Baiklah, aku akan menemui pemiliknya. Kalau diperkenankan, maka sebagian dari kita akan dapat tidur di pendapa rumah itu. Kalau kalian memerlukan kami, kalian dapat dengan cepat menghubungi dan membangunkan kami yang berada disana. Begitu?”

“Terserah kepadamu.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian didatanginya penghuni rumah sebelah untuk meminjam pendapa rumahnya.

“Silakan, silakan. Dengan senang hati kami persilakan.”

Anak muda itu tersenyum. Kemudian dibawanya sebagian dari kawan-kawannya untuk naik ke pendapa. Beberapa helai tikar telah dibentangkan. Dan beberapa saat kemudian pendapa itu telah menjadi sepi. Anak-anak muda itu telah terbaring dan sebagian besar dari mereka pun segera tertidur.

“Bukan main,” gumam kawan-kawannya yang masih berada di gardu, “Sebagian terbesar dari mereka sudah tidur.”
“Baik. Mereka akan menghemat tenaga mereka, yang apabila perlu setiap saat akan kita pergunakan.”

Demikianlah, maka di gardu-gardu yang lainpun, sekelompok anak-anak muda telah berkerumun. Rasa-rasanya malam itu memang lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun hampir setiap malam mereka selalu diganggu oleh kecemasan, namun malam itu serasa menjadi lebih hangat.

Meskipun sebagian dari anak-anak muda itu tertidur, namun ada juga di antara mereka yang sibuk bermain-main. Macanan, bas-basan dan permainan-permainan yang lain. Bahkan ada juga di antara mereka yang berteka-teki dan ada juga yang sibuk berbantah tentang sesuatu yang sama-sama tidak mereka mengerti.

Demikianlah malam semakin lama menjadi semakin larut.

Dalam keremangan malam itu, sesosok tubuh yang berkerudung dalam-dalam, hampir menutup seluruh wajahnya, tertatih-tatih keluar dari rumahnya. dengan kaki gemetar dan dada berdebaran ia berjalan tersorok-sorok di sepanjang jalan padukuhan. Sekali-kali ia berhenti, menarik nafas dalam-dalam.

Kadang-kadang dengan kedua tangannya bertelekan pinggangnya ia mencoba untuk menggeliat. Dan sesaat kemudian dilanjutkannya langkahnya.

Dengan hati-hati ia memilih jalan yang jarang-jarang dilalui oleh para penjaga. Jalan-jalan sempit dan jalan-jalan memintas. Dihindarinya gardu-gardu peronda dan tikungan-tikungan yang mungkin diawasi.

Meskipun nafasnya seakan-akan berkejaran dilubang hidungnya, namun ia berjalan juga didalam gelapnya malam.

Orang itu menghirup udara malam yang segar ketika ia telah berada diluar padukuhan. Kini langkahnya satu-satu menyusur pematang yang terbujur disisi sebuah parit.

Ketika ia sampai ketempat yang ditujunya, ia menarik nafas sekali lagi. Belum ada seorangpun ditempat itu. Karena itu, maka ia pun segera mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya, berjongkok di dalam rimbunnya daun padi yang mulai subur.

Nyamuk yang menggigit bagian-bagian tubuhnya tidak dihiraukannya. Bahkan dinginnya air yang tergenang dibawah kakinya pun sama sekali tidak terasa. Hatinya telah terampas oleh ketegangan yang mencekamnya selama ini.

Orang itu semakin meringkas dirinya ketika ia melihat seseorang berjalan kearahnya. Perlahan-lahan dan kemudian berhenti beberapa langkah dari padanya.

Orang yang bersembunyi itu menarik nafas dalam-dalam. Orang yang datang itu memang orang yang diharapkannya. Ki Tambi. Namun dengan demikian ia masih harus menunggu sejenak.

Alangkah tersiksanya ia menunggu sambil berendam di dalam air. Namun ia sudah bertekad untuk menunggu. Karena itu, maka ia masih tetap pula berada di tempatnya.

Akhirnya yang ditunggunya itu pun datang pula. Sesosok tubuh yang hampir tidak dikenalnya sama sekali. Panggiring.

“Kau Panggiring?” terdengar suara Ki Tambi yang menyongsongnya.

“Ya paman. Aku datang memenuhi janjiku kemarin. Aku ingin mendengar apakah aku diijinkan untuk datang, meskipun hanya sekejap.”

“Duduklah,” desis Ki Tambi. Ia menjadi bingung, bagaimanapun ia harus menyampaikan kepada anak muda itu. Permintaannya yang paling sederhana tetapi merupakan ungkapan perasaan yang paling dalam itu pun tidak dikabulkannya.

“Terima kasih paman,” jawab Panggiring. “Tetapi agaknya aku tidak akan terlalu lama disini.”

“Kenapa?”

Panggiring mengangkat wajahnya.

“Apakah kau mendengar sesuatu?”

Bagaimana pun juga, telinga Panggiring adalah telinga yang memiliki ketajaman yang luar biasa. Tanpa dikehendaki sendiri, ia masih juga mendengar desah nafas seseorang disekitarnya, meskipun ia belum melihat orang itu. Namun beberapa saat kemudian, ia segera dapat mengetahui, dimana orang itu bersembunyi.

“Katakan, apakah kau mendengar atau melihat sesuatu?”

“Kalau begitu duduklah.”

Panggiring pun kemudian duduk pula di sampingnya. Dicobanya untuk mengendapkan perasaannya, agar ia dapat menyampaikan jawab keluarga Panggiring itu dengan baik.

“Bagaimana paman, apakah paman sudah sempat menemui ibu dan Bramanti?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

Namun ternyata tanggapan perasaan Panggiring terlampau tajam sehingga sebelum Ki Tambi menjawab, sudah terasa dihati anak muda itu. Seolah-olah ia dapat membaca wajah Ki Tambi yang bimbang.

Maka sejenak kemudian terdengar suara Panggiring di antara tarikan nafasnya, “Agaknya paman segan menyampaikan jawaban itu. Tetapi dengan demikian aku sudah dapat menduganya,” Panggiring berhenti sejenak. Suaranya merendah dan bergetar, “Baiklah paman. Aku memang sudah terlampau kotor untuk menyentuh keluargaku dan menginjak halaman rumah ibu. Aku menyadari hal itu. Namun alangkah berat hukuman yang harus aku sandang. Terpisah sama sekali dari ibu dan adikku. Agaknya pintu sudah tertutup rapat. Tidak ada kesempatan sama sekali, meskipun hanya sekadar menjenguk.”

Terasa sesuatu menyumbat kerongkongan Ki Tambi yang tua itu. Tiba-tiba saja ditepuknya pundak Panggiring kemudian diguncangkannya sambil berkata tersendat-sendat, “Panggiring, sudah aku katakan. Kau tinggal dirumahku.”

“Terima kasih paman. Aku harus menyadari sekarang, bahwa bukan saja keluargaku, tetapi seisi Kademangan itu tidak akan dapat menerima aku kembali.”

“Tidak. Bohong. Darimana kau dengar?”

“Aku melihat penjagaan yang menjadi demikian ketatnya. Agaknya memang sudah dipersiapkan, bahwa aku tidak boleh mendekati Kademangan ini. Mereka masih dipengaruhi oleh cara hidupku yang lama, sehingga cara yang mereka pergunakan untuk mencegah akupun masih dengan cara yang sesuai untuk Panggiring yang kotor itu.”

“Apakah kau melihat sendiri?”

Panggiring menganggukkan kepalanya.

“Tetapi kau salah Panggiring. Penjagaan yang ketat itu sama sekali tidak diperuntukkan bagimu. Mereka tidak dengan sengaja menjada Kademangan ini agar kau tidak memasukinya.”

Panggiring mengerutkan keningnya.

“Mereka berada dalam kesiap siagaan penuh karena mereka mendengar…..,” Ki Tambi berhenti sejenak. Tiba-tiba terbersit dugaan seperti yang pernah didengarnya dari mulut-mulut anak-anak muda, “Apakah tidak mungkin bahwa Panembahan Sekar Jagat itu juga Panggiring?”

“Tidak, tidak mungkin,” Ki Tambi berteriak di dalam hatinya. “Menurut perhitungan waktu, Panembahan Sekar Jagat telah ada disekitar daerah ini seperti yang mereka katakan, pada saat Panggiring masih berkuasa di pesisir Utara.”

Dan Ki Tambi itu berpaling ketika ia mendengar Panggiring bertanya, “Lalu, kenapa mereka kelihatan terlampau sibuk?”

“Kau pasti pernah mendengar Panggiring, bahwa Panembahan Sekar Jagat sering datang ke padukuhan ini.”

Panggiring mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Menurut pendengaran kami yang terakhir, Panembahan Sekar Jagat akan segera datang. Bahkan mungkin malam ini. Ia merasa terhina sekali karena kepercayaannya terbunuh oleh Bramanti.”

Panggiring mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja dadanya menjadi berdebar-debar.

“Jika demikian paman,” berkata Panggiring kemudian, “Sebaiknya aku tidak mengganggu kalian. Bukankah Ki Tambi pun memegang peranan dalam kesiapsiagaan itu?”

“Tidak Panggiring. Semuanya ada ditangan Bramanti dan Temunggul meskipun aku tidak dapat mencuci tangan. Tetapi tenagaku adalah tenaga orang tua. Dan orang tua yang paling bertanggung jawab adalah Ki Jagabaya.”

“Tetapi paman pasti diperlukan,” sahut Panggiring, “Karena itu, aku minta diri paman. Aku sangat berterima kasih kepada paman. Aku akan menjalani hukuman yang terasa terlampau berat bagiku. Tetapi percayalah, bahwa aku tidak akan tergelincir ke dalam dunia yang hitam itu kembali. Aku akan mencoba memenuhi nasehat ibu, untuk mencari daerah yang baru sama sekali. Daerah yang belum pernah mengenal Panggiring. Aku akan hidup seperti kebanyakan orang dan bekerja keras untuk mendapatkan makan dan minum seperti yang harus dijalani oleh setiap orang.”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang. Sayang sekali Panggiring. Aku tidak dapat berbuat lebih banyak.”

“Paman sudah berbuat terlampau banyak. Aku sangat berterima kasih,” Panggiring berhenti sejenak, kemudian, “Paman, karena aku tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan ibu dan Bramanti, maka biarlah aku menyampaikan baktiku lewat paman. Salamku buat Bramanti, mudah-mudahan ia kelak menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya yang kecil dan bagi Kademangannya.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Aku akan segera minta diri, supaya aku tidak mengganggu. Panembahan Sekar Jagat memang bukan seorang yang dapat dianggap ringan. Karena itu, tenaga paman dan setiap orang di Candisari pasti diperlukan.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

Panggiring pun kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali ia berpaling kesuatu arah sambil mengerutkan keningnya. Namun ia tidak berkata apapun tentang pendengarannya.

Ki Tambi yang kemudian juga berdiri memegang kedua bahu Panggiring sambil berkata, “Maafkan aku Panggiring. Aku sudah berusaha. Tetapi aku tidak berhasil.”

“Paman tidak bersalah. Memang sudah sepantasnya aku dihukum. Karena aku tidak terkena hukuman yang seharusnya dilakukan oleh orang lain atau oleh orang-orang yang memang berkewajiban, maka aku telah menerima hukuman dari keluargaku sendiri,” dan suara Panggiring merendah, “Tetapi hukuman ini terasa terlampau berat. Berat sekali.”

Ki Tambi tidak menyahut. Kepalanya pun kemudian tertunduk. Ia tidak sampai hati menatap wajah anak muda yang muram itu. Wajah itu sama sekali bukan wajah Panggiring yang ditemuinya di pesisir Utara. Bukan wajah seorang perampok yang ganas. Tetapi wajah itu adalah wajah yang sedih.

“Aku minta diri paman. Mungkin aku tidak akan pernah menjenguk paman lagi. Tanah kelahiran ini harus aku tinggalkan untuk selama-lamanya,” Panggiring berhenti sejenak, “Tetapi aku tidak akan pernah melupakannya. Di masa kanak-kanak aku bermain disini, disawah, dibendungan dan di halaman Candi tua itu. Tetapi semuanya itu hanya akan tinggal menjadi kenangan.”

Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa jantungnya menjadi berdentang dan dadanya menjadi pepat.

“Selamat tinggal paman. Aku masih tetap menyimpan lencana bergambar Candi. Lencana itu akan dapat merangkum semua kenangan hidupku yang pahit.”

“Panggiring,” desis Ki Tambi.

Dan Ki Tambi masih mendengar Panggiring, orang yang selama ini tidak pernah mendesah itu mengeluh, “Hidupku memang pahit paman.”

Ki Tambi tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa tersumbat.

“Selamat tinggal paman,” lalu dipandainginya bayangan hitam yang membujur dihadapannya, seperti sebuah bukit karang yang mencuat di atas lautan yang hijau, “Selamat tinggal kampung halaman, ibu dan Bramanti.”

Suasana jadi hening sejenak. Sepi. Yang terdengar adalah derik-derik bilalang bersahut-sahutan. Di atas daun-daun padi yang terhampar berkeredipan cahaya kunang-kunang yang muram.

Tiba-tiba suasana itu pecah oleh suara isak tangis. Ki Tambi terperanjat bukan kepalang. Dan Panggiring terkejut pula karenanya. Meskipun ia tahu benar, bahwa seseorang sedang mengintainya, namun ia tidak tahu siapakah orang itu. Dan kini tiba-tiba saja ia mendengar orang itu terisak.

Dari balik daun padi muncullah sesosok tubuh yang berkerundung dalam-dalam. Tanpa dapat mengendalikan dirinya, orang itu menangis sejadi-jadinya.

“Panggiring,” terdengar suara di antara isak tangis itu.

Panggiring tertegun.

Tertatih-tatih orang yang berkerudung itu melangkah mendekat. Sekali-kali kakinya terperosok ditanah berlumpur.

“Panggiring,” sekali lagi orang itu memanggil.

Dan kini Panggiring dan Ki Tambi tidak ragu-ragu lagi. Suara itu adalah suara Nyai Pruwita.

Sejenak Panggiring membeku ditempatnya. Wajahnya menjadi tegang. Bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang dapat diucapkan.

Ketika orang yang berkerundung itu telah berdiri dipematang, maka Panggiring tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta ia meloncat dan berjongkok dihadapannya, “Ibu, ibu.”

Tangan yang lemah itu pun kemudian meraih kepala Panggiring. Didekapnya kepala itu erat- erat. Namun justru mulut perempuan tua itu terasa terbungkam. Hanya air matanya saja yang meleleh, menitik di atas kepala anaknya.

Tetapi tangannya semakin erat memeluk kepala anaknya itu. Anaknya yang telah hilang dan kini diketemukannya kembali.

Ki Tambi berdiri tegak seperti patung. Ia melihat pertemuan yang tidak disangka-sangka itu dengan mata tuanya yang basah. Betapa hati seorang ibu yang merasa menemukan kembali apa yang telah hilang daripadanya.

“Ternyata Nyai Pruwita tidak dapat menahan perasaannya. Alangkah pedihnya hati perempuan itu,” berkata Ki Tambi dalam hatinya, “Ia tidak dapat melawan kehendak Bramanti, tetapi ia juga tidak dapat melawan perasaan seorang ibu.”

Dan Ki Tambi itu pun menyaksikannya sambil menyapu dadanya dengan telapak tangannya.
Dalam pada itu, seorang pengawal telah berlari-lari masuk kehalaman Kademangan dengan nafas terengah-engah. Ketika kawannya bertanya kepadanya, maka tanpa menghiraukan pertanyaan itu ia berdesis, “Dimana Bramanti?”

“Kenapa? Apakah kau melihat sesuatu? Panembahan Sekar Jagat barangkali?”

Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Langsung ia naik kependapa sambil bertanya-tanya, “Dimana Bramanti?”

“He,” terdengar suara Bramanti justru dihalaman, “Aku disini.”

“O,” pengawal itu pun kemudian berlari menemuinya. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir.

Bramanti pun menjadi berdebar-debar karenanya. Karena itu, maka ia pun menyongsong anak itu pula.

Sejenak kemudian, para pengawal telah mengerumuni kawannya yang barlari-lari itu. Dengan tidak sabar lagi, terdengar beberapa orang bertanya, “Kenapa kau berlari-lari he?”

“Bramanti,” katanya disela-sela nafasnya. “Adalah kebetulan sekali bahwa aku berada dipinggir desa melihat sawahku sebelum aku pergi ke gardu.”

“Ya.”

“Diperjalanan kembali, aku melihat sesosok yang mencurigakan. Yang berjalan terbungkuk-bungkuk sambil berkerudung. Karena itu maka aku segera bersembunyi dan mengintipnya.”

“Ya, lalu?”

“Orang itu pergi ketengah sawah.”

“Ya. Tetapi kau belum menyebutkan siapa orang itu.”

Pengawal itu menelan ludahnya. Dipandanginya wajah-wajah yang tegang diseputarnya. Kemudian dengan suara parau ia berkata, “Orang itu ternyata seorang perempuan.”

“Ya, tetapi siapa dan kenapa dengan perempuan itu?”

“Aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Tetapi perempuan itu adalah ibumu Bramanti.”

“Ibu? Ibuku?”

Pengawal itu mengaku, “Ya.”

“Apakah kau tidak salah lihat?”

“Tidak. Aku pasti bahwa perempuan itu adalah ibumu.”

Darah Bramanti serasa menjadi semakin cepat mengalir. Sejenak ia berpikir. Apakah yang sedang dilakukan oleh ibunya itu?”

Tiba-tiba teringat olehnya ceritera Ki Tambi, bahwa malam ini Panggiring akan menemui Ki Tambi untuk mendapatkan jawaban atas permintaannya.

“Apakah ibu berusaha bertemu dengan kakang Panggiring?” terbersit pertanyaan di dalam hatinya.

Dengan demikian maka keringat dingin telah mengalir di punggung Bramanti. Dengan serta merta ia berkata kepada para pengawal yang ada disekitarnya, “Aku akan pergi menyusul,” dan diluar sadar ia melanjutkan, “Mungkin ibu sedang pergi menemui Panggiring.”

“Panggiring?” hampir bersamaan beberapa buah mulut telah mengulang nama itu.

Bramanti tertegun sejenak. Barulah ia menyadari kekeliruannya. Tetapi ia tidak akan dapat lagi mencabut kata-kata yang sudah terucapkan, sehingga sambil mengangguk ia menjawab dengan nada dalam. “Ya Panggiring.”

Anak muda itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa sesadarnya pula ia meraba hulu pedang pendeknya. Kemudian dengan langkah yang tergesa-gesa ia meninggalkan halaman Kademangan.

Beberapa orang anak muda yang ada di halaman itu saling berpandangan sejenak. Tanpa berjanji maka mereka pun kemudian bergerak serentak menyusul langkah Bramanti.

Bramanti seakan-akan tidak sabar lagi dengan langkah kakinya. Ingin agaknya ia dapat melompat langsung ke tengah sawah. Sawah Ki Tambi. Pertemuan itu pasti telah terjadi disana.

Sekilas terngiang kata-kata anak-anak muda tentang Panggiring, “Apakah bukan orang itu pula yang telah menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat?”

Bramanti menggeram, “Siapapun orang itu, tetapi Panggiring tidak boleh kembali ke rumah dan Kademangan ini. Ia telah melumuri dirinya dengan noda dan darah.” Namun kemudian ia tidak dapat mengibaskan bayangan yang mengambang di angan-angannya, “Panggiring tidak boleh menyentuh gadis itu, Ratri.”

Langkah Bramanti menjadi semakin cepat. Berbondong-bondong anak-anak muda yang menyusulnya menjadi semakin cepat pula. Disepanjang jalan iring-iringan itu selalu bertambah. Meskipun tidak seorangpun yang membunyikan tanda bahaya, tetapi berita tentang Panggiring itu telah merambat secepat suara kentongan.

Tanpa diminta, setiap orang yang mendengar berita itu telah mengikuti dibelakang iring-iringan yang menjadi semakin panjang. Anak-anak muda dan para pengawal yang bertugas mengumpat di dalam hati, bahwa mereka tidak sempat mengikuti mereka, untuk melihat apa yang bakal terjadi.

Bersambung…

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: