Tanah Warisan | Jilid 10 Tamat

Lanjutan dari jilid 9

Bramanti tidak menjawab. Peluhnya telah membasahi seluruh tubuhnya. Setiap kali ia terkejut apabila ujung trisula lawannya hampir menyentuh keningnya. Bahkan semakin lama semakin sering. Ujung trisula itu rasa-rasanya menjadi semakin lama semakin banyak.

Tidak hanya bermata tiga, namun serasa menjadi bermata sepuluh, lima belas. O, bahkan kemudian seakan-akan trisula itulah yang menjadi sepuluh dan lima belas, sehingga ujungnya menjadi semakin banyak.

Bramanti mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Ia tidak mau terpengaruh oleh kecepatan bergerak tangan Panembahan Sekar Jagat.

Ia tidak mau dibingungkan oleh ujung-ujung senjata yang hanya sekadar semu. Tetapi ia tahu pasti, ujung trisula yang hanya sebuah itu adalah tiga pucuk.

Dengan sepenuh kemampuan Bramanti mengimbangi kecepatan bergera lawannya. Pedang pendeknya menyambar-nyambar seperti seberkas kumbang yang beterbangan diseputar lawannya.

Mereka yang menyaksikan pertempuran itu terpaku ditempatnya seperti kehilangan ke- sadaran. Baik orang-orang Panembahan Sekar Jagat, maupun para pengawal Kademangan Candisari.

Wanda Geni yang memiliki kemampuan yang cukup itupun berdiri tegak seperti tiang dengan mulut ternganga. Ia belum pernah menyaksikan pertempuran demikian dahsyatnya. Desak mendesak, dorong mendorong silih berganti. Ia belum pernah melihat Panembahan Sekar Jagat memerlukan waktu yang sekian banyaknya untuk menyelesaikan lawannya. Namun kini, mereka bahkan masih saja seimbang.

Ki Demang Candisari pun berdiri termangu-mangu.

Sama sekali tidak terlintas dikepalanya, bahwa anak Pruwita yang terbunuh itu benar-benar mampu bertempur melawan Panembahan Sekar Jagat.

Apalagi Ki Jagabaya, Temunggul, Panjang, Suwela dan kawan-kawannya. Mereka hampir tidak mengerti, bagaimana perkelahian yang demikian itu dapat terjadi.

Malam yang semakin dalam langsung menukik ke akhirnya. Semburat warna merah membayang dilangit.

Dan ayam jantan yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi di Kademangannya, masih juga berkokok bersahut-sahutan.

“Setan alas,” geram Panembahan Sekar Jagat, “Kau memang anak yang luar biasa. Agaknya kau masih sempat sekali lagi memandang fajar yang mekar di langit.”

Bramanti tidak menjawab. Tetapi nafasnya telah menjadi semakin memburu. Segala macam kemampuan dan ilmu yang pernah diterimanya telah ditumpahkannya dalam perlawanannya atas Panembahan Sekar Jagat kali ini.

Namun ternyata bahwa kali ini ia bertemu dengan seorang yang tidak dapat dikuasainya dengan ilmunya itu.

Ternyata bahwa Panembahan Sekar Jagat memiliki kelebihan dari lawannya yang masih terlampau muda itu. Sekar Jagat memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak untuk mengenal kelemahan lawan.

Dan kali ini Panembahan Sekar Jagat dengan tersenyum di dalam hati berkata kepada diri sendiri,

“Kalau kau terlampau banyak menghamburkan tenaga anak muda. Sebentar lagi kau akan kelelahan. Meskipun aku tidak dapat mengalahkan ilmumu, tetapi apabila tenagamu susut, maka kau akan segera dapat aku kuasai. Kau akan segera menjadi tontonan, bagaimana Panembahan Sekar Jagat menghukum orang yang berani menentangnya.”

Dan perhitungan Panembahan Sekar Jagat itu ternyata tepat. Betapapun dahsyatnya ilmu Bramanti, tetapi Panembahan Sekar Jagat lambat laun berhasil menguasainya.

Pengalaman yang panjang, serta sifat-sifatnya yang tidak pernah ragu-ragu melihat darah mengalir, telah membuatnya kali ini berhasil mendesak Bramanti.

Cahaya dilangitpun menjadi semakin lama semakin terang. Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman segera dapat melihat, selain keringat, pakaian Bramanti telah diwarnai oleh bintik-bintik darahnya. Ternyata ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berhasil menyentuhnya beberapa kali.

“Ha,” berkata Panembahan Sekar Jagat, “Kau akan segera melihat matahari yang terakhir. Kemudian setiap orang akan melihat kau terikat disebuah tiang ditengah-tengah halaman ini. Semua orang harus melukaimu dan menitikkan air garam ke luka itu.”

Suasana menjadi semakin lama semakin tegang. Tenaga Bramanti memang sudah mulai susut. Setiap kali ia terdesak dan berputaran. Bahkan beberapa kali Bramanti terdorong, dan hampir-hampir saja ia jatuh terlentang.

Hanya karena tekadnya yang menyala di dadanya, ia masih mampu melakukan perlawanan.

Ki Tambi berdiri membeku ditempatnya. Nafasnya pun ikut terengah-engah pula. Ada juga orang yang dapat melampaui kemampuan Bramanti. Dan kini Bramanti benar-benar berada dalam bahaya.

Tetapi Ki Tambi bukan seorang pengecut. Sekilas ia sambarkan wajah Temunggul yang merah membara. Urat-uratnya seakan-akan menonjol dikeningnya. Demikian tegangnya ia menyaksikan perkelahian itu, sehingga ia tidak lagi menyadari keadaan disekitarnya.

“Kalau Bramanti memang harus kalah,” berkata Ki Tambi di dalam hatinya. “Seluruh isi Kademangan harus mengangkat senjata.”

Tetapi Ki Tambi menyadari, bahwa dengan demikian hati para pengawal pasti sudah tergetar. Bramanti adalah kebanggaan mereka, dan Bramanti telah dikalahkan.

Semua orang yang menyaksikan perkelahian itu terkejut ketika mereka melihat benturan senjata keduanya. Ketika matahari telah menjatuhkan sinarnya pada kedua orang yang sedang bertempur itu, maka sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Bramanti yang kelelahan tidak dapat lagi bertahan lebih lama, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut. Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya lagi ia jatuh terlentang, dan senjatanya terlepas dari tangannya.

Sejenak, semua orang diam membeku. Bahkan darah para pengawal Kademangan, Temunggul, Ki Tambi, Ki Jagabaya, serasa berhenti mengalir. Dengan pandangan kosong mereka melihat Panembahan Sekar Jagat itu berdiri bertolak pinggang beberapa langkah dari Bramanti. Kemudian terdengar suara tertawanya membelah keheningan.

“Hem,” desahnya, “Kau memang anak yang luar biasa. Kau mampu menitikkan keringatku. Aku harus bertempur mengerahkan segenap kemampuanku untuk mengalahkan kau. Tetapi akhirnya, kau hanya sekadar menunggu matahari terbit. Dan kau akan mendapat hukuman picis di halaman Kademangan ini, setelah aku merobek perutmu, dan mematahkan tanganmu. Jangan takut, kau tidak akan segera mati karena kau harus mengalami rasa sakit dan ketakutan, penyesalan dan kekecewaan.

Kemudian aku akan membutakan matamu dan membiarkan kau sembuh, karena aku mempunyai seorang dukun yang baik. Persetan dengan ceritera tentang orang-orang buta dan orang-orang cacat. Orang yang lengkap dengan ilmu Sapta Pangrungu, Sapta Pamiyat dan Sapta Pangrasa, dengan kelebihan jasmaniah dan kelengkapan indera akan pasti lebih baik dari mereka yang cacat. Aku akan membuktikannya, dan kau akan menjadi percobaan. Aku akan menyempurnakan inderaku dan kau dapat mencari dalam kegelapan butamu. Lain kali kita akan bertemu, apakah kau akan dapat mengalahkan aku.”

Bramanti tidak menjawab. Tetapi yang dilakukan oleh Panembahan Sekar Jagat adalah siksaan yang tiada taranya. Meskipun ia sadar, tetapi ia tidak mengeluh.
Ketika Bramanti mencoba bangkit, tiba-tiba saja ujung trisula Panembahan Sekar Jagat telah berada setebal daun dihadapan mata Bramanti, sehingga Bramanti terpaksa mengurungkan niatnya.

“Jangan mencoba melawan. Aku masih mempunyai berjenis-jenis cara untuk menghukummu.”

Tidak terdengar sebuah desispun dari mulut Bramanti. Apalagi sebuah keluhan. Ditatapnya mata Panembahan Sekar Jagat dengan tajamnya.

Panembahan Sekar Jagat mengerutkan keningnya melihat ketajaman mata Bramanti. Sama sekali tidak terbayang ketakutan, kecemasan penyesalan dan perasaan-perasaan yang diharapkannya.

“Setan alas. Kenapa kau tidak merintih he?”

Bramanti tidak menyahut. Tetapi ia terdorong dan sekali lagi terbaring menelentang ketika kaki Panembahan Sekar Jagat mengenai dagunya.

“Kau memang keras kepala. Aku tidak tahan menunggu terlalu lama untuk melubangi matamu.”

Panembahan Sekar Jagat tiba-tiba menjadi semakin buas. Matanya menjadi merah dan giginya gemeretak menahan kekecewaannya. Ternyata Bramanti sama sekali tidak merengek dan merintih seperti yang diharapkannya.

Namun dalam keadaan itu, selagi dengan penuh nafsu yang menyala didadanya, Panembahan Sekar Jagat melangkah semakin mendekat, seluruh halaman itu seakan-akan terguncang ketika Panembahan Sekar Jagat itu tiba-tiba berhenti. Bahkan Panembahan Sekar Jagat itupun terkejut pula bukan buatan.

Dalam ketegangan itu melayanglah sebuah kepingan perak yang berkilat-kilat tepat dihadapan kaki Panembahan Sekar Jagat.

Panembahan Sekar Jagat tertegun sejenak. Dengan tangkai trisulanya ia mendorong benda itu lebih mendekat. Dan tiba-tiba dengan tangan gemetar dipungutnya kepingan perak itu, dan dengan suara gemetar ia berdesis, “Candisari.”

Dan semua jantung serasa berhenti berdetak ketika dari antara mereka yang berdiri mengitari halaman itu terdengar suara yang berat tertahan, “Panembahan Sekar Jagat, aku datang menemui tantanganmu.”

Ketika setiap mata berpaling ke arah suara itu, mereka melihat seseorang yang bertubuh kekar, berwajah sekeras batu padas di gerojogan meloncat masuk ke arena.

Ternyata semula tidak ada seorang pun yang memperhatikan kehadirannya. Namun kini tiba-tiba setiap mulut berdesis, “Panggiring. Ya, Panggiring.”
Ketegangan dihalaman itu menjadi semakin memuncak. Setiap dada menjadi bergejolak.

Perlahan-lahan Panggiring berjalan mendekati Panembahan Sekar Jagat. Tatapan matanya yang setajam ujung pedang itu langsung menusuk kemata Panembahan Sekar Jagat.

Baik Panembahan Sekar Jagat, maupun Bramanti yang masih terlentang ditanah, sejenak tidak bergerak. Mereka memandang langkah Panggiring yang tenang dan meyakinkan.

Bagaimanapun juga, terasa sesuatu berdetak dijantung Bramanti. Apalagi Ki Tambi. Langkah Panggiring kali ini bukan langkah Panggiring semalam yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tetapi Panggiring yang ini, maju selangkah demi selangkah dengan dada tengadah.

“Maaf Panembahan Sekar Jagat,” berkata Panggiring, “Baru sekarang aku datang memenuhi undanganmu. Aku berterima kasih, karena kau telah sudi mengundang aku yang selama ini berkuasa tanpa tanding di pesisir Utara. Agaknya kaupun merasa tanpa tanding dijaluran Selatan pulau ini, apalagi pada saat Pajang tenggelam dan lahir suatu pemerintahan baru yang masih belum mapan.

Panembahan Sekar Jagat agaknya telah dapat menguasai terkejutnya. Karena itu ia berkisar sambil menjawab,

“Huh, ternyata kau datang setelah sekian lama menjawab tantanganku. Kemanakah kau selama ini Panggiring?”

“Aku tidak ada ditempat Panembahan. Aku sedang mengitari semenanjung Melayu, menyusuri laut Cina Selatan, untuk melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan Naga Kuning yang menurut ceritera menakutkan. Tetapi ternyata mereka tidak lebih dari anak-anak yang baru belajar berenang dilaut yang diam.”

“Persetan,” potong Panembahan Sekar Jagat. “Kau mengigau. Aku jangan kau takut-takuti dengan ceritera ngayawara itu.”

Tiba-tiba Panggiring tertawa. Suaranya mengerikan seakan-akan mengguncang setiap dada mereka yang mendengarnya.

“Kau takut mendengar ceritera itu? Baiklah. Aku tidak akan berceritera tentang petualangan. Sekarang, aku telah datang memenuhi tantanganmu.”

“Baik. Baik. Kita akan meminjam arena ini.”

“Aku terima usulmu,” jawab Panggiring. “Tetapi agaknya kau masih lelah bermain-main dengan anak ini. Supaya adil aku akan memberimu kesempatan beristirahat Mungkin sehari atau dua hari, supaya ilmumu yang hanya sekadarnya itu dapat pulih kembali.”

Panembahan Sekar Jagat menggeretakkan giginya. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Tidak. Aku tidak memerlukan apa-apa. Sekarang juga kita bertempur. Aku kira kaupun tidak akan lebih baik dari anak ini. Dan aku akan menghancurkan kau lebih lumat dari Bramanti yang sombong ini.”

Panggiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sekali lagi ia tertawa pendek. Disapunya setiap wajah dengan tatapan matanya. Ki Tambi, Ki Jagabaya, Bramanti yang perlahan-lahan kini duduk ditanah, anak-anak muda pengawal Kademangan dan beberapa orang anak buah Panembahan Sekar Jagat. Sejenak ia menengadahkan kepalanya memandang cerahnya langit dan segarnya sinar matahari pagi yang bermain di dedaunan.

Kemudian ia menjawab, “Baiklah Panembahan. Kalau kau memang merasa cukup mampu untuk bertempur sekarang, marilah. Bagiku lebih cepat memang lebih baik. Aku harus segera meninggalkan Kademangan ini. Tetapi tentu tidak mungkin selagi aku belum memenuhi tantanganmu, supaya tidak menjadi duri dalam hidupku selanjutnya.”

“Persetan,” Panembahan Sekar Jagat menggeram.

Panggiring tersenyum. Ia bergeser beberapa langkah sambil memandang ujung trisula Panembahan Sekar Jagat yang bergetar. Tiba-tiba saja ia merunduk memungut pedang Bramanti yang tergolek di tanah.

“Aku meminjam pedang pendekmu Bramanti,” berkata Panggiring.

“Dimana senjatamu sendiri,” teriak Panembahan Sekar Jagat sebelum Bramanti menyahut.

“Aku tidak membawa senjata. Aku memang merasa tidak perlu memerlukan senjata. Hanya supaya kau merasa lebih terhormat aku meminjam senjata Bramanti.

Panembahan Sekar Jagat yang agak ketinggi-tinggian itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunnya, sehingga sambil melangkah maju ia berkata, “Kau memang terlampau sombong. Selama ini di pesisir Utara kau hanya melihat kelinci-kelinci. Tetapi di sini kau bertemu dengan harimau.”

“Tidak,” jawab Panggiring. “Di sebelah Timur Cirebon aku membunuh dua ekor harimau sekaligus dengan jari-jariku.”

“Gila, gila,” teriak Panembahan Sekar Jagat, “Kita akan segera melihat, siapakah yang menjadi seorang pembual diantara kita.”

Panggiring mengangguk sambil melangkah maju. “Baik. Kita segera mulai.”

Panembahan Sekar Jagat tidak berbicara lagi. Kini ia bersiaga. Kakinya seakan-akan berakar dalam-dalam menghujam kebumi, sedang kedua tangannya menggenggam tangkai trisulanya erat-erat. ia merendah sedikit diatas lututnya, sedang kakinya merenggang setengah langkah.

Panggiring masih menimang-nimang pedang pendek Bramanti yang akan dipergunakannya untuk melawan trisula Panembahan Sekar Jagat. Ditatapnya wajah lawannya yang licin, serta janggutnya yang terpelihara rapi. Pakaiannya yang bagus yang kini telah basah oleh keringat, selagi ia bertempur melawan Bramanti, dan keringat karena kemarahan yang menyesak didadanya.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Panggiring melihat dengan sepenuh kesadarannya, bahwa Panembahan Sekar Jagat memang seorang yang pilih tanding. Ia telah lama mengikuti perkelahian Panembahan itu melawan Bramanti, sehingga dengan demikian ia mengerti betapa besar kemampuannya menggerakkan senjatanya itu.

Panembahan Sekar Jagat yang telah bersiaga sepenuhnya itu bergeser maju selangkah. Panggiring pun kemudian menyilangkan pedang didadanya.

Kini keduanya telah berhadapan. Beberapa langkah mereka bergeser. Wajah-wajah mereka menjadi tegang, dan mata mereka tidak bergerak dari ujung senjata lawan masing-masing.

Semua orang yang berdiri diseputar arena menahan nafas. Wajah-wajah mereka pun menjadi tegang pula. Mereka sama sekali terikat oleh dua orang yang berdiri di tengah-tengah halaman Kademangan.

Sementara itu Bramanti perlahan-lahan berdiri dan bergerak menepi. Ia sadar, bahwa perkelahian yang bakal terjadi tidak akan kalah dahsyatnya dengan perkelahian yang baru saja dialaminya. Menurut pendengarannya Panggiring adalah seorang yang luar biasa. Agaknya kakaknya itu telah mengikuti perkelahian tanpa setahunya. Kalau Panggiring tidak mempunyai perhitungan tertentu, ia pasti tidak akan berani turun di arena.

Sesaat kemudian ujung trisula Panem- bahan Sekar Jagat bergetar. Panggiring yang telah bersiap sepenuhnya segera menyadari keadaan, karena itu, maka ketika ujung trisula itu tiba-tiba saja mematuknya, ia telah siap untuk menghindarinya.

Demikianlah, perkelahian telah berulang kembali dihalaman Kademangan itu. Kini antara dua orang yang merajai daerah yang luas di pesisir Utara dan didaerah sebelah Selatan. Keduanya adalah orang-orang yang namanya cukup menggetarkan. Panggiring dan Panembahan Sekar Jagat.

Sekar Jagat yang berkelahi dengan kemarahan yang menyala di dadanya, segera melibat lawannya seperti angin pusaran. Trisulanya mematuk-matuk, kemudian menyambar-nyambar dalam jarak yang mendatar. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali yang perkasa. Tangan Panggiring kadang-kadang mengembang seperti sayap. Dengan ringannya ia melontarkan dirinya, kemudian menukik dengan ujung pedang pendeknya menerkam lawannya.

Tetapi Panembahan Sekar Jagat cukup tangkas. Ujung-ujung trisulanya yang mendebarkan itu langsung menyongsong dada lawannya. Namun Panggiring pun tidak membiarkan dadanya berlubang tiga buah. Dengan menggeliat ia menarik pedang pendeknya, kemudian memukul sisi ujung-ujung trisula itu dengan sekuat tenaganya.

Sebuah benturan kemudian terjadi sehingga bunga api memercik ke udara, menyalakan sepercik kecemasan setiap hati yang menyaksikannya.

Tetapi dengan suatu loncatan yang manis Panggiring kemudian telah berdiri tegak di atas kedua kakinya, sedang Panembahan Sekar Jagat tergeser selangkah surut. Tetapi kedua kakinya kemudian seakan-akan telah menghujam kembali dalam-dalam sampai ke pusat bumi.

Mereka yang menyaksikan perkelahian itu, seakan-akan tidak sempat untuk bernafas. Mata mereka tidak lagi berkedip meskipun debu yang putih telah membuat mata itu menjadi pedih.

Tetapi mereka tidak mau kehilangan gerak yang kadang-kadang tidak mereka mengerti itu sedikitpun juga.

Bramanti yang kini berdiri tegak dipinggir arena menyaksikan pertempuran itu dengan pandangan yang hampir tidak terlepas sesaatpun juga. Justru karena ia mengerti apa yang telah terjadi, maka hatinya menjadi tegang bukan buatan.

Ia melihat dengan pasti ujung-ujung senjata itu menyambar-nyambar, dan kemungkinan-kemungkinan yang mendebarkan jantung.

Ia dapat memperhitungkan setiap gerak Panembahan Sekar Jagat, maupun yang dilakukan oleh Panggiring dan ia pun dapat menduga, jalan pikiran keduanya untuk mengatasi keadaan masing-masing. Justru karena ia berada diluar perkelahian itulah kini ia dapat melihat, Panembahan Sekar Jagat memang memiliki ilmu yang luar biasa. Gerakannya terlampau cepat, dan kadang-kadang diluar dugaan.

Dengan demikian maka bagaimanapun juga ia kini mengakui di dalam hati, memang sulitlah baginya untuk mengalahkannya, bagaimanapun juga ia berusaha.

Tetapi sejalan dengan itu, ia tidak juga dapat melepaskan pengakuannya atas kemampuan Panggiring. Berita tentang namanya yang bergema di pesisir Utara, bukanlah cerita ngaya-wara yang tidak berdasar. Kini ia menyaksikan bagaimana Panggiring berkelahi melawan Panembahan Sekar Jagat yang telah mengalahkannya.

Kini ternyata pada Bramanti, bahwa dengan demikian, lencana Panggiring memang dapat menggetarkan setiap jantung. Dan wajarlah kiranya apabila lencana bergambar candi itu di dada Ki Tambi akan mampu melindunginya dari kejahatan.

Perkelahian yang terjadi di halaman Kademangan Candisari memang hampir tidak masuk akal mereka yang menyaksikannya. Keduanya seolah-olah sudah bukan manusia wajar lagi. Benturan kekuatan mereka yang terjadi pada ujung-ujung senjata, seakan-akan merupakan benturan lidah api yang meledak di langit musim kesanga. Kemudian disusul dengan suara gemuruhnya guntur dan meloncatnya api membakar udara yang menjadi semakin panas.

Panembahan Sekar Jagat berkelahi seperti seekor harimau yang lapar, sedang Panggiring berlaga seperti seekor burung rajawali. Ujung-ujung trisula Panembahan Sekar Jagat menerkam dari segala penjuru bagaikan kuku-kuku yang tajam dan mengerikan, sedang pedang pendek ditangan Panggiring bagaikan paruh seekor burung raksasa yang dahsyat.

Matahari memanjat dilangit semakin tinggi. Panasnya sudah mulai terasa menggatalkan kulit. Tetapi tidak seorang pun yang menghiraukan lagi keringat yang membasahi pakaian dan kulit mereka. Mata mereka terpaku di arena, menyaksikan dua orang raksasa yang sedang bertaruh nyawa.

Namun lambat laun, keseimbangan perkelahian itu mulai bergerak. Panggiring benar-benar seorang pemimpin perampok yang pilih tanding. Tangannya yang kokoh kuat dengan sebuah pedang pendek benar-benar menjadi tangan-tangan maut yang sedang menari-nari mengitari Panembahan Sekar Jagat yang mencoba mempertahankan diri.

Bramanti menahan nafasnya ketika ia melihat perkembangan dari perkelahian itu. Agaknya Panembahan Sekar Jagat benar-benar telah memeras kemampuan yang ada padanya, sedang Panggiring pun telah berkelahi sekuat-kuat tenaganya.

Dalam penumpahan segenap ilmu itu, masing-masing sampai pada puncak usahanya untuk membinasakan lawannya. Dalam saat-saat yang demikian, sekali lagi ujung-ujung senjata Panembahan Sekar Jagat berhasil menyentuh lawannya seperti pada saat ia bertempur melawan Bramanti. Sekali-kali ujung trisula itu sempat menyobek kulit Panggiring.

Bramanti menjadi semakin tegang ketika ia melihat darah menitik dari kening Panggiring yang nyaris berlubang, kemudian pakaian Panggiring menjadi merah pula, karena punggungnya sobek menyilang meskipun tidak begitu dalam.

Tetapi luka dan bau darah itu agaknya benar-benar telah membuat Panggiring menjadi garang. Sekian lama ia berusaha untuk membuang senjatanya dan tidak mau lagi mengotori tangannya dengan tindak kekerasan apapun alasannya. Namun ia adalah seorang manusia biasa. Seorang manusia yang masih dipengaruhi oleh perasaan dan sifat-sifatnya.

Agaknya luka dan darah itu telah mengaburkan tekadnya untuk tidak menodai lagi tangannya dengan darah. Dan sebenarnyalah Panggiring tidak ingin membunuh dirinya di halaman Kademangan Candisari, yang pasti akan disusul dengan pembantaian yang mengerikan.

Karena itu maka sejenak kemudian Panggiring memusatkan segenap kemampuannya. Wajahnya yang tegang menjadi semakin merah membara.

Dalam ketegangan yang semakin membara, tiba-tiba terdengar Panggiring berteriak tinggi. Pedangnya terangkat, seakan-akan hendak menusuk langit. Hanya sejenak, dan sejenak kemudian Panggiring benar-benar bagaikan burung rajawali yang kehilangan anaknya, menyambar lawannya dengan dahsyatnya.

Perkelahian yang semakin sengit telah terjadi. Tetapi kali ini Panembahan Sekar Jagat tidak dapat berbangga karena ia berhasil melukai lawannya. Dalam beberapa saat ternyata bahwa ujung pedang pendek Panggiring telah berhasil menyentuhnya pula. Ketika Panembahan Sekar Jagat menusuk Panggiring dengan trisulanya, justru Panggiring berhasil menyusup maju dan dengan ujung goloknya ia mencoba menikam dada lawannya. Tetapi dengan tangkas Panembahan Sekar Jagat mencoba menghindarinya. Kegagalan itu telah membuat Panggiring semakin marah, kemudian digerakkannya pedang itu mendatar setinggi dada. Sekali lagi Panembahan Sekar Jagat mencoba bergeser surut. Tetapi gerakan yang cepat berikutnya, Panggiring berhasil menggores pundak kiri lawannya, kemudian serangannya yang berganda, membuat Panembahan Sekar Jagat terdorong ke belakang. Untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan berikutnya, Panembahan Sekar Jagat justru berguling ke belakang, kemudian melanting dengan lincahnya sambil memutar trisulanya.

Saat-saat yang datang berikutnya adalah saat-saat yang paling tegang. Keduanya seakan-akan telah menjadi gila. Bukan saja Panembahan Sekar Jagat, tetapi Panggiring pun seolah-olah telah berubah menjadi semakin buas dan liar.

Dan dalam puncak ketegangan, terdengarlah sebuah keluhan tertahan. Bramantilah yang pertama-tama melihat Panembahan Sekar Jagat terdorong surut sambil memegangi dadanya. Dari sela-sela jarinya melelehlah darah yang merah.

Tetapi Panembahan Sekar Jagat bukan seorang yang lekas menjadi putus asa. Meskipun dadanya telah terluka, tetapi tatapan matanya justru menjadi semakin menyala. Sambil menggeram ia mengangkat trisulanya, kemudian meloncat maju seakan-akan ingin menerkam Panggiring dan merobek-robeknya.

Panggiring masih sempat menghindar. Sambil menggeser diri, ia menggerakkan pedang pendeknya mendatar. Dari bawah ayunan trisula ia mencoba menjulurkan tangannya sejauh-jauhnya dapat dijangkau.

Sekali lagi Panembahan Sekar Jagat berdesah. Sekali lagi pedang pendek Panggiring menyambar. Kali ini mengenai lambung.

Panembahan Sekar Jagat yang terluka itu, menjadi semakin buas. Sambil berteriak nyaring ia melontarkan dirinya kembali, seakan-akan justru menjadi semakin garang. Kini ia menyerang Panggiring dengan sebuah putaran. Karena Panggiring masih menghindar sambil meloncat, maka ia pun segera memburunya. Dengan sekuat tenaganya ia mengayunkan trisulanya. Kali ini terlampau rendah.

Panggiring yang baru saja menjejakkan kakinya, tidak segera dapat meloncat kembali. Yang dapat dilakukan adalah menangkis serangan itu. Tetapi agaknya ayunan trisula itu terlampau kuat, sehingga benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang sangat dahsyat. Panggiring mencoba mengungkit trisula itu ke atas. Tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya, sehingga trisula itu sekali lagi menyambar pundaknya.

Beberapa langkah ia terhuyung-huyung. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesempatan yang terbuka. Selagi Panembahan Sekar Jagat mencoba memperbaiki genggamannya atas senjatanya, pada saat itulah Panggiring meloncat sambil menjulurkan pedangnya lurus-lurus ke depan.

Panembahan Sekar Jagat tidak sempat mengelakkan dirinya. Ia mencoba menangkis serangan itu dengan trisulanya yang belum mapan. Tetapi kali ini tidak berhasil. Tangkai trisulanya justru mengenai dada Panggiring yang berdesah tertahan. Namun dalam pada itu pedang Panggiring telah berhasil menembus dada lawannya.

Panggiring tidak sempat menarik pedangnya. Ketika Panembahan Sekar Jagat kemudian terhuyung-huyung surut, kemudian roboh ditanah. Panggiring melepaskan pedangnya, dan bahkan ia sendiri menjadi pening. Tetapi ketika terdengar desah nafas terakhir Panembahan Sekar Jagat, Panggiring masih tetap berdiri sambil merenggangkan kakinya ke arah kaki lawannya.

Sesaat arena dan seluruh halaman itu menjadi sepi. Semua mata terpaku pada apa yang telah terjadi di halaman. Dua orang yang mempunyai nama yang menakutkan agaknya telah benar-benar menyabung nyawa. Dan demikianlah akhir dari perkelahian itu. Panembahan Sekar Jagat terbunuh.

Ketika orang-orang yang menyaksikan kematian Panembahan Sekar Jagat itu masih terpukau ditempatnya, tiba-tiba Ki Tambi meloncat ke depan sambil berteriak nyaring, “Nah lihatlah kalian he orang-orang Sekar Jagat. Pemimpinmu telah mati. Dan kalian kini berhadapan dengan seluruh kekuatan Candisari. Lihat. Disini berdiri dua orang kakak beradik yang tidak ada taranya. Panggiring dan Bramanti. Apakah kalian akan melawannya.”

Orang-orang Panembahan Sekar Jagat seolah-oleh membeku ditempat masing-masing. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan penglihatannya, bahwa Panembahan Sekar Jagat telah terbunuh. Dan mereka pun mendengar apa yang diteriakkan oleh Ki Tambi, bahwa kini berdiri dua orang kakak beradik yang nggegirisi, Panggiring dan Bramanti.

“Kalau kalian mempunyai otak, kalian pasti akan lebih baik menyerah. Kami akan memperlakukan kalian sesuai dengan keharusan yang berlaku. Dan kami berharap bahwa dalam waktu singkat Mataram telah dapat menampung kalian, apapun hukuman yang akan ditimpakan.”

Orang pertama di dalam pasukan Sekar Jagat itu kini adalah Wanda Geni. Tanpa dapat berbuat apa-apa lagi ia melemparkan senjatanya ketanah sambil berkata, “Aku menyerah.”

Ki Tambi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Bagus. Bagus. Kau cukup bijaksana,” kemudian diedarkannya tatapan matanya sambil berkata, “Temunggul, Temunggul. Lucuti mereka semua.”

Tetapi Ki Tambi tidak segera menemukan Temunggul. Ketika ia melihat Panjang, maka ia pun segera berteriak, “Panjang, lakukan bersama semua pengawal.”

Tetapi sebelum Panjang beranjak, mereka melihat Temunggul menyusup maju sambil menggandeng Ki Demang Candisari. Katanya, “Ia akan mencoba melarikan dirinya.”

Kini semua mata terpaku kepada Ki Demang. Dan Temunggul berkata, “Ialah yang pernah membujukku membunuh Bramanti. Untunglah bahwa otakku masih jernih. Ternyata bahwa Ki Demang menjadi salah seorang penunjuk jalan bagi Panembahan Sekar Jagat dan sudah barang tentu ia pun mendapat banyak daripadanya.”

Ki Demang tidak menjawab, tetapi kepalanya tunduk dalam-dalam. Ia sama sekali tidak lagi berani menatap wajah rakyat di Kademangannya Candisari.

Dalam pada itu terdengar suara perempuan yang berdiri di antara para pengawal, “Panggiring, kau selamat?”

Panggiring yang berdiri membeku tiba-tiba berpaling. Dilihatnya seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih di antara para pengawal yang lagi sibuk melucuti senjata orang-orang Panembahan Sekar Jagat.
“Ibu,” desis Panggiring.

Ketika perempuan itu memasuki halaman, maka dengan serta merta Panggiring pun berlari mendapatkannya. Seperti semalam kini ia berjongkok pula di hadapan ibunya. Tetapi kali ini ditatapnya tangannya sendiri yang masih dilumuri darah yang memancar dari Panembahan Sekar Jagat. Dengan suara parau ia berkata, “Terpaksa, terpaksa aku lakukan ibu. Ternyata aku masih sekali lagi membunuh meskipun aku pernah berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Tetapi, tetapi tangan yang sedang aku coba untuk membersihkannya, kini telah diwarnai oleh darah. Darah.”

Tangan Panggiring itu menjadi gemetar.

Dibelainya kepala Panggiring sambil berdesis, “Tapi dengan demikian kau telah menyelamatkan beratus-ratus nyawa Panggiring, termasuk nyawa adikmu.”

Sejenak Panggiring mengangkat kepalanya. Namun kepala itu kemudian tunduk kembali memandangi jari-jari tangannya yang merah oleh darah.

“Aku telah membunuh satu orang lagi,” desisnya, “Terpaksa. Terpaksa aku melakukannya.”

“Tetapi yang satu ini tidak perlu disesali,” desis ibunya sambil membelai kepala anaknya itu seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.

“Kau telah menyelamatkan seluruh Kademangan ini Panggiring,” terdengar suara berat dibelakang anak muda yang berjongkok itu.

Panggiring perlahan-lahan berpaling. Dilihatnya Ki Jagabaya berdiri tegak berdampingan dengan Ki Tambi, sedang beberapa langkah dibelakang mereka, Bramanti berdiri termangu-mangu.

“Bramanti,” panggil ibunya, “Kemarilah. Bukankah kau juga selamat?”

Bramanti maju beberapa langkah. Namun kemudian langkahnya terhenti. Dipandanginya Panggiring yang kemudian berdiri pula perlahan-lahan. Sejenak keduanya saling berpandangan. Tetapi sejenak kemudian Braanti menundukkan kepalanya sambil berdesis, “Maafkan aku kakang.”

“Bramanti,” Nyai Pruwita terpekik. Kemudian berlari-lari ia memeluk anak laki-lakinya yang muda sambil menahan isak tangis, “Anakku.”

Bramanti menundukkan kepalanya. Sementara Nyai Pruwita kemudian membimbingnya menemui kakaknya.

“Kalian telah kembali,” Nyai Pruwita tidak dapat menahan air matanya yang mengalir dipipinya. Dan suaranya tersendat-sendat, “Kalian telah terluka. Marilah, aku ingin membersihkan luka-luka kalian di rumah.”

Tidak saja anak-anak muda, tetapi hampir semua laki-laki telah menjadi siaga. Mereka meletakkan senjata-senjata mereka dekat dengan pembaringan. Setiap saat mereka akan dapat meraih dan segera mempergunakan senjata-senjata itu.

Yang dibakar oleh kegelisahan yang hampir tidak tertahankan adalah Ki Demang. Matahari sudah menjadi semakin jauh ke Barat, namun Temunggul masih belum menemuinya dan mengatakan bahwa Bramanti telah dibunuhnya.

“Apakah anak itu tidak berhasil?” desisnya, “Jika demikian maka Panembahan Sekar Jagat akan mengambil cara yang disukainya. Menghancurkan Kademangan ini apabila Bramanti masih tetap melawan dan apalagi apabila di dalam pertempuran itu jatuh korban. Kematian Sapu Angin telah merupakan perlawanan yang tidak dapat dimaafkannya lagi.”

“Apa boleh buat,” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. “Tetapi dengan demikian pekerjaanku menjadi semakin berat. Aku harus membangun kembali Kademangan ini.”

Dalam kegelisahan setiap kali Ki Demang selalu menjenguk langit yang semakin suram. Warna merahpun kemudian membayang di ujung pepohonan. Satu-satu burung blekok beterbangan kembali kesarangnya.

“Gila,” desis Ki Demang itu, “Temunggul tidak mampu melakukan pekerjaannya, atau….” Ki Demang berhenti sejenak. “Atau anak itu akan berkhianat?”

Ki Demang menjadi semakin gelisah karenanya. Semakin rendah matahari yang menggantung di udara, semakin suram cahaya langit, maka hati Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar.

Setiap kali ia mengintip ke halaman, dan setiap kali ia melihat anak-anak muda yang berjalan hilir mudik, hatinya serasa menjadi semakin kecut. Agaknya ia benar-benar telah semakin jauh dari mereka. Ki Demang itu telah menjadi semakin jauh dari lingkungannya.

Dalam kesibukan yang memuncak di Kademangan Candisari, Ki Demang merasa terlampau terasing. Terlampau sendiri. Dan bahkan kesibukan di halaman rumahnya itu serasa telah menyengat-nyengat perasaannya.

“Apakah Temunggul benar-benar berkhianat?” Ki Demang menjadi semakin cemas. Kesiagaan di halaman rumahnya membuatnya seperti berdiri di atas bara. “Mereka akan menangkap aku. Setan, Temunggul benar-benar berkhianat. Ia sama sekali tidak membunuh Bramanti. Tetapi agaknya ia bahkan telah bersepakat dengan Bramanti.”

Ki Demang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, “Mungkin mereka telah bersetuju untuk membagi kepentingan masing-masing. Yang seorang akan menjadi seorang Demang setelah aku mereka singkirkan dan yang seorang akan mendapatkan Ratri. Gila, anak-anak sekarang memang sudah menjadi gila.”

Dan dalam kegelisahannya, Ki Demang pun membenahi pakaiannya. Kemudian menyandang sebilah pedang dilambung dan kerisnya di punggung.

“Aku tidak akan dapat tinggal diam. Ternyata tidak seorang pun lagi yang dapat aku percaya di Kademangan ini. Terpaksa aku mengorbankan segala-galanya.”

Ki Demang pun kemudian menutup semua pintu. Tidak seorang pun lagi yang tinggal di dalam rumah itu. Keluarganya benar-benar telah diungsikannya. Dan di Kademangan itu sendiri kemudian dengan hati-hati keluar dari pintu belakang. Melintasi kebun dan keluar dari regol butulan yang hampir tidak pernah dibuka.

Dengan tergesa-gesa Ki Demang menyusur jalan padukuhannya yang sudah mulai gelap. Tanpa berpaling ia meninggalkan rumah dan halamannya, bahkan lingkungannya. Namun dengan harapan, bahwa ia akan kembali dan membangun Kademangannya yang sudah tidak menghiraukannya lagi itu menjadi sebuah Kademangan yang baru.

Nyai Pruwita pun kemudian membimbing kedua anaknya itu tanpa menghiraukan orang lain. Baginya, ia adalah orang yang paling berhak atas kedua anak muda itu.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia mendengar suara seorang gadis, “Bramanti.”

Bramanti berpaling, bahkan ibunya dan Panggiring berpaling pula. Seorang gadis berdiri termangu-mangu di samping regol halaman Kademangan. dan gadis itu adalah Ratri.

“Ratri,” desis Bramanti.

Sejenak anak muda itu memandangi ibunya. Dan ternyata ibunya cukup bijaksana untuk melepaskannya.

Perlahan-lahan Bramanti mendekati Ratri. Tatapan mata gadis itu terasa langsung menembus jantungnya seperti tetesan embun di terik panasnya udara.

Meskipun demikian ia berdesis, “Apakah kau menanyakan kakang Panggiring?”

Ratri menggelengkan kepalanya, “Tidak Bramanti. Ternyata aku tidak mengharapkannya. Aku telah mencampurbaurkan penglihatanku atasmu pada saat kita pertama bertemu setelah sekian lama berpisah, dan kenangan atas Panggiring di masa kanak-kanak.”

“Sekarang?”

Ratri menundukkan kepalanya. Desisnya, “Sejak pertama kaulah yang sebenarnya aku sangka Panggiring atau barangkali kaulah yang sebenarnya aku bayangkan atau kenangan masa kanan-kanakku itu pada Panggiring.”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling ia melihat ibunya masih membimbing Panggiring berjalan tanpa menghiraukan apapun juga.

Bramanti tergagap ketika ia mendengar Ratri bertanya, “Kau terluka?”

Bramanti mengangguk, “Ya. Sedikit. Kakang Panggiring telah menyelamatkan nyawaku.”

Marilah, aku bersihkan luka itu. Kamu mau pulang juga bukan?”

Bramanti memandang wajah Ratri sejenak, kemudian sambil tersenyum ia mengangguk. “Ya, marilah.”

Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan regol halaman. Kademangan yang masih ribut dengan para pengawal yang sedang melucuti senjata anak buah Wanda Geni dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri.

Sementara Ki Tambi memandangi langkah-langkah Panggiring bersama ibunya dan Bramanti bersama Ratri sambil tersenyum. Di belakangnya beberapa langkah, Temunggul berdiri berpegangan pada sebatang pohon manggis. Dengan dahi berkerut merut, dipandanginya langkah-langkah itu juga semakin jauh.

Tiba-tiba Temunggul terkejut. Seorang gadis telah menggamitnya sambil berbisik, “Kau tidak mengantarkannya lagi?”

Temunggul berpaling. Dilihatnya gadis bermata cerah kawan Ratri yang diantarkannya malam-malam pada saat ia dicegat oleh Wanda Geni.

Sambil tersenyum Temunggul menjawab, “Buat apa aku tergila-gila kepada seorang gadis yang tidak mencintaiku.”

“Kalau ada yang mencintaimu?”

Temunggul tertawa. Keduanya kini menatap langkah-langkah Panggiring bersama ibunya dan Bramanti bersama Ratri semakin lama semakin jauh. Sedang matahari di langit semakin lama semakin cerah. Selembar awan yang putih lewat didorong oleh angin yang lembut mengalir ke Utara. Dan burung-burung liar masih saja berkicau seakan sedang mendendangkan kidung gembira.

Dan Kademangan Candisari pun memang sedang bergembira, menyongsong hari depan yang cerah.

T A M A T

________________________
Pengarang dan Hakcipta© oleh : Singgih Hadi Mintardja
Di kompilasi ulang oleh : Daniel SNS (taxdsns@yahoo.com

Iklan

10 Komentar

  1. Heru Setiawan said,

    Jumat, 26 Februari 2010 pada 23:31

    Suatu cerita silat jawa yang sederhana, banyak mengungkapkan perasaan manusia sewajarnya dan dengan alur cerita yang baik. Sebenarnya cerita ini tidak kalah dengan cerita-cerita silat daratan Tiongkok.
    Banyak cerita sejarah yang dapat diikut sertakan dalam cerita ini, dan cerita ini patut untuk dikembangkan..

  2. Anza said,

    Kamis, 13 Januari 2011 pada 02:27

    Ceritera menarik, kenangan di tahun 80an,
    kalau di ijinkan saya akan mengkopinya sebagai koleksi pribadi …
    Salam

  3. Satrio said,

    Jumat, 11 Februari 2011 pada 12:41

    Gambaran yang sederhana, realistis….menyentuh……sebagai tauladan bagi generasi bangsa ini agar menjiwai arti kesederhanaan dan jiwa satria…. Bangsa ini telah kehilangn jatidiri seperti gambaran dalam cerita diatas….. Tanah Warisan itu kini telah menjadi jarahan para penguasa yang rakus…. Sila pertama Pancasila telah mereka coret dan mereka ganti dengan Keuangan Yang Maha Kuasa… Naudzubillah mindzalik…. mau jadi apa bangsa ini kelak…………..?????????……..?????????…………. Trim’s Pak SH Mintardja….

  4. Giok said,

    Selasa, 10 April 2012 pada 21:10

    Ini cersil atau cerita drama..??
    Kisahnya terlalu bertele-tele. Nama jurus2 silatnya minim. Gaya tutur perkelahiannya kurang hidup.

  5. abu ammar said,

    Kamis, 3 Mei 2012 pada 02:26

    hebat

  6. Dewi KZ said,

    Kamis, 31 Januari 2013 pada 00:11

    Tanah warisan dalam buku cetaknya terdiri dari 8 buku lebar, dan tak pernah di cetak ulang, jadi bisa 10 jilid ini cetakan mana ?

  7. b e said,

    Kamis, 5 Desember 2013 pada 10:27

    kebesaran hati … bijak … serakah … licik dsb manusiawi. bergantung bgmn seseorang menyikapi

  8. ash jenar said,

    Senin, 21 April 2014 pada 09:09

    seolah-olah merasakan hidup di masa itu,…

  9. Kamis, 7 Agustus 2014 pada 10:23

    Menarik, kesabaran,ketekunan,kebijaksanaan,kedewasaan berpikir,kejujuran dan refleksi diri tercermin dalam ceritera ini.

    Beberapa penyajian penulisan yang berulang kiranya perlu diperbaiki.
    Contoh :
    Jilid 10, halaman ± 3/4 dari tebal buku :
    Kalian telah kembali………dst……dst…membersihkan luka luka kalian dirumah.
    *Tidak saja anak anak muda….dst…..dst….. Dengan tergesa gesa Ki Demang menyusur……….dst…..dst … menjadi sebuah Kademangan baru.*
    Nyai Pruwita pun kemudian membimbing kedua anaknya ……dst….dst…

    Urutan ceritera dalam tanda *…* tsb diatas sudah ada di Jilid 8 pada halaman ± 2/3 dari tebal buku :
    Sementara itu anak anak muda Kademangan Candi Sari ….dst……dst…..terjadi setiap saat.
    * Tidak saja……dst….dst…… Dengan tergesa gesa …..dst……dst …. sebuah Kademangan baru.*
    Tidak seorangpun yang mengetahui ….dst…..dst……dalam rumahnya dan tidak menampakkan dirinya seperti biasanya.
    Semoga bermanfaat.

  10. Novi Shima said,

    Jumat, 24 Maret 2017 pada 08:27

    Semoga nanti akan ada lagi tulisan karya pak Singgih yang dipublish di sini.

    tapi, eee…
    ini sudah minta ijin beliau gak ya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: