Tanah Warisan | Jilid 7

Lanjutan dari jilid 6

Terbersit sepercik kekecewaan Ki Tambi atas Bramanti yang selama ini dikaguminya. Memang, orang tua itu pun menyadari, tidak ada seorang pun yang sempurna, dalam segala hal. Bramanti yang rendah hati, berperasaan halus yang tidak mendendam meskipun ayahnya telah terbunuh dengan cara yang mengerikan, tetapi ia tidak dapat membuka hatinya untuk menerima kakaknya. Kakak seibu.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Tanah Warisan | Jilid 6

Lanjutan dari jilid 5

DEMIKIANLAH, maka setiap lorong masuk di Kademangan itu telah dijaga oleh tiga atau empat orang. Mereka harus selalu waspada.
Kalau tidak maka hidup mereka sendiri terancam dan Kademangan mereka pun terancam pula.
Baca entri selengkapnya »

Tanah Warisan | Jilid 5

Lanjutan dari jilid 4

KESEPIAN itu kemudian dipecahkan oleh suara Ki Demang lantang. “Aku percaya kepadanya Temunggul, kepada anak yang terluka itu. Nah, sekarang terserah kepadamu apakah yang akan kau lakukan.”
Beberapa orang terkejut mendengar keputusan yang tiba-tiba itu.
Baca entri selengkapnya »

Tanah Warisan | Jilid 4

Lanjutan dari jilid 3

Sementara itu Bramanti telah kembali duduk di bawah pohon sawo. Tangannya masih juga menggenggam rautan bambu. Tetapi matanya tidak menatap kepekerjaannya. Di pandanginya bayang-bayang dedaunan yang disiram oleh sinar matahari di atas tanah yang kering. Bergerak-gerak oleh angin yang lemah.
Baca entri selengkapnya »

Tanah Warisan | Jilid 3

Lanjutan dari jilid 2

Dengan demikian, maka sejak peristiwa itu Ratri jarang sekali keluar dari rumahnya, apalagi dari halaman. Ia selalu berada di dalam biliknya, atau berjalan-jalan di ruang dalam. Hanya kadang-kadang sekali ia turun ke halaman apabila ia telah menjadi rindu sekali menghirup cahaya matahari yang cerah.
Baca entri selengkapnya »

Tanah Warisan | Jilid 2

Lanjutan dari jilid 1

Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, ibunya telah berdiri di ambang pintu pringgitan. Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan serta merta ia bertanya, “Bukankah tidak terjadi sesuatu atasmu Bramanti?”

Bramanti tersenyum. Jawabnya, “Tidak ibu. Aku hanya menonton saja.”
Baca entri selengkapnya »

« Older entries